Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Hama pasca panen merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam
peningkatan produksi. Hasil panen yang disimpan khususnya biji-bijian setiap saat dapat
diserang oleh berbagai hama gudang yang dapat merugikan. Hama pasca panen yang banyak
menimbulkan kerugian adalah tikus gudang (Rattus diardi) dan golongan serangga. Kerugian
yang ditimbulkan oleh hama pasca panen ini berupa penurunan kualitas dan kuantitas yaitu
kerusakan bentuk, aroma, tercampur kotoran, daya tumbuh, nilai gizi dan nilai sosial ekonomi
materi yang disimpan (Syamsuddin, 2008).
Secara umum serangga pengganggu yang terjadi pada produk pascapanen adalah
merupakan investasi laten atau bagian stadia pertumbuhannya telah ada dalam buah sebelum
dipanen. Kerusakan bahan pakan akibat serangan serangga merupakan kasus yang paling sering
terjadi. Serangga mengambil dan memakan zat makanan dari bahan baku dan menyebabkan
kerusakan lapisan pelindung bahan. Selain kerusakan secara fisik, karena sifat serangga yang
suka bermigrasi, serangga juga dapat memindahkan spora jamur perusak bahan pakan dan
membuka jalan bagi kontaminasi jamur atau kapang yang menghasilkan mikotoksin. Serangga
perusak bahan pakan antara lain ngengat, penggerek dan kumbang. Kumbang padi karatan
(Cryptolestes ferrugineus) merusak gabah, beras, jagung dan biji-bijian lain. Kumbang dan larva
biasa memakan lembaga dan merusak bagian tengah biji. Bahan baku yang diserang menjadi
berjamur dan berbau apek. Tubuh kumbang dewasa berwarna coklat kemerahan dengan panjang
2-3 mm. Metamorfosis sempurna (telur-larva-pupa-dewasa) selama 21 hari pada suhu 31oC dan
kadar air 14.5% (Suparjo, 2011).
Penyimpanan merupakan salah satu tahapan pasca panen yang dapat menyebabkan
kehilangan hasil yang besar tidak hanya karena penanganan/pengelolaan yang tidak benar tetapi
juga karena lamanya waktu penyimpanan sehingga memudahkan berkembangnya hama.
Perkembangan hama pasca panen sangat dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan, keadaan
komoditas yang disimpan dan keadaan lingkungan fisik. Banyaknya komoditas yang disimpan
yang bercampur dengan komoditas lainnya sangat menguntungkan kehidupan hama pasca panen
karena penyimpanan merupakan tempat penimbunan yang berfungsi secara terus menerus atau
hanya kosong dalam waktu singkat.
Hama pasca panen dapat beradaptasi dengan baik untuk dapat berkembang pada sisa
komoditas, selama transportasi dan fasilitas pengolahan. Adaptasi tersebut termasuk kemampuan
untuk dapat berkembang pada berbagai komoditas ataukah kemampuan untuk mencari makan,
kawin dan meletakkan telur. Semua faktor-faktor ini merupakan hal yang sangat penting
terutama dalam pengelolaan hama pasca panen.

1.2 Rumusan Masalah


1 Hama apa saja yang menyerang tanaman kacang hijau pada pascapanen dan
pengendaliannya
2 Hama apa saja yang menyerang tanaman kacang kedelai pada pascapanen dan
pengendaliannya.

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui hama yang menyerang tanaman kacang hijau pada pascapanen dan
pengendaliannya?
2. Untuk mengetahui hama menyerang tanaman kacang kedelai pada pascapanen dan
pengendaliannya?

BAB 2
ISI

A. Hama Pascapanen Kacang Hijau


1. Callosobrucuhs chinensis
Serangan hama ini sering disebut kumbang biji. Kumbang jantan mempunyai
ukuran tubuh 2,4-3 mm, sedangkan betina 2,76-3,49mm. Salah satu serangga hama yang
sangat potensial merusak biji kacang hijau di gudang adalah Callosobruchus chinensis.
Serangga hama ini disebut kumbang biji.Kumbang Biji (Callosobruchus chinensis)
mempunyai moncong yang pendek dan femur tungkai belakang yang membesar. Bentuk
tubuh kumbang dewasa kebanyakan bulat atau lonjong. bentuk tubuhnya bulat telur
dengan bagian kepalanya yang agak runcing. Pada sayap depannya terdapat gambaran
gelap yang menyerupai huruf U dan pronotumnya halus. Warna sayap depannya coklat
kekuning-kuningan (Rioardi,2009)
a. Gejala serangan
Setelah imago betina bertelur, maka telur diletakkan pada permukaan produk
kekacangan dalam simpanan dan akan menetas setelah 3-5 hari. Larva biasanya tidak
keluar dari telur, tetapi hanya merobek bagian kulit telur yang melekat pada material.
Larva akan menggerek di sekitar tempat telur diletakkan. Lama stadia larva adalah 10-13
hari. Produk yang diserang akan tampak berlubang, karena larva terus menggerek biji dan
berada di dalam biji sampai menjadi imago. Setelah menjadi imago, maka lubang pada
biji menjadi tempat keluar imago dari dalam biji (Wikipedia, 2008).
b. Pengendalian
Serangga hama Callosobruchus chinensis, dapat dikendalikan dengan
caramelakukan fumigasi dan menggunakan musuh alami hama ini (Anisopteromalus
calandrae dan semut hitam). Musuh alaminya yang tidak lain berupa parasit parasitoid
larva yaitu Anisopteromalus calandrae (Howard) dan Dinarmus basalis (Rondani)
(Pteromalidae: Hymenoptera) yang biasanya juga menyerang Sitophilus sp. atau serangga
lain yang tergolong bangsa kumbang. Jenis parasit tersebut biasanya menyerang
kepompong. Semut juga dapat menyerang kumbang Callosobruchus chinensis dewasa,
terutama yang abnormal atau yang hampir mati. Perangkap lampu atau lem dapat
menangkap imago. Pengendalian di gudang dapat dilakukan dengan fumigasi
(Wordpress, 2008).
Gambar 1. Hama Callosobrucuhs chinensis dan gejala serangan

2. Trogoderma sp.
Serangga hama ini berwarna coklat, panjang 4-7 mm, telur diletakkan pada kulit
kacang. Larva dijumpai pada kotiledon, perkembangan dari telur sampai dewasa sekitar
42 hari pada kondisi optimum suhu 30oC dan kelembapan relative 70%.

Gambar 2. Hama trogoderma sp dan larva.


Pengendalian
Membersihkan tempat gudang penyimpanan sebelum digunakan, bahan disimpan
dalam keadaan kering dan penggunaan methyl bromide 16-24 g/m2 untuk selama 24 jam.
Penggunaan phosphine 3-5 tablet atau 25 pelet/ton, dengan periode fumigasi tidak kurang
dari 5 hari.
3. Cryptolestes sp.
Serangga hama ini berbentuk pipih, berwarna coklat kemerahan, panjang sekitar 2
mm, dan panjang antenna dua pertiga dari panjang tubuhnya. Larva selain merusak biji
juga memakan serangga yang sudah mati, perkembangan dari telur sampai dewasa adalah
5-9 minggu.

Gambar 3. Cryptolestes telur sampai dewasa


Pengendalian
Membersihkan tempat gudang penyimpanan sebelum digunakan, bahan disimpan
dalam keadaan kering dan penggunaan methyl bromide 16-24 g/m2 untuk selama 24 jam.
Penggunaan phosphine 3-5 tablet atau 25 pelet/ton, dengan periode fumigasi tidak kurang
dari 5 hari.
4. Rhyzopertha sp
Serangga hama ini merupakan hama gudang, larva merusak biji, kumbang dewasa
berukuran kecil, panjang sekitar 4 mm, berbentuk silindris berwarna coklat gelap atau
hitam. Kumbang betina menghasilkan telur 300-500 butir yang diletakkan secara tunggal
dalam biji. Lama periode kumbnga adalah 3-6 minggu, telur menetas setelah 5-11 hari
dan pupa berada dalam biji selama 7-8 hari.

Gambar 4. Rhizopertha
DAFTAR PUSTAKA
Fitriya dwi handayani. 2008. BIOLOGI Carpophilus hemipterus L. (Coleoptera: Nitidulidae) pada
Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.). Universitas brawijaya Fakultas pertanian Jurusan hama
dan penyakit tumbuhan Program studi hama dan penyakit tumbuhan. Malang.
Syamsuddin. 2008. Bioekologi Hama Pasca Panen Dan Pengendaliannya. Balai Penelitian Tanaman
Serealia, Maros. Sulawesi Selatan.
Supartha Utama. 2006. Pengendalian Organisme Pengganggu Pascapanen Produk Hortikultura dalam
Mendukung GAP. Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura. Bali.
Suparjo. 2011. Kerusakan Bahan Pakan Selama Penyimpanan. Laboratorium Makanan Ternak Fakultas
Peternakan Universitas Jambi. Sumatra.

Sylvia sjam. 2007. Pengelolaan Hama Pasca Panen Untuk Memenuhi Tuntutan Perdagangan
Internasional. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UNHAS. Sulawesi
selatan.
Rioardi, 2009. Ordo-Ordo Serangga. http :// rioardi. wordpress. com. Di akses pada tanggal 29 Oktober 2009
Wordpress, 2008. Hama tumbuhan. http://naynienay.wordpress.com/hama-tumbuhan. Diakses pada tanggal 29
oktober 2009