Anda di halaman 1dari 18

PENGENALAN GEJALA DAN TANDA PENYAKIT

(TANAMAN HORTIKULTURA)
(Laporan Praktikum Bioekologi Penyakit Tumbuhan)

Oleh
Andino Nurponco G.
1414121026
Kelompok 5

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam suatu penangan penyakit tanaman, tentu kita harus tahu terlebih dahulu
apa yang dialami oleh tanaman tersebut. Lain halnya dokter manusia yang
pasiennya dapat memberi tahu keluhan yang dia alami, tanaman tidak dapat
bertindak seperti manusia. Oleh karena itu kita sebagai orang yang akan
menangani tanaman harus mengerti dan memahami penyakit tanaman dari gejala
dan tanda-tanda yang diberikan tanaman.
Tanaman dapat menunjukan gejala perubahan bentuk, dan kelayuan pada
tanaman, tanaman dapat menujukan kelompok gejala yang membentuk gambaan
penyakit atau sidrom penyakit yang di sebakan oleh penyebab abiotik dan biotik.
Suatu tanaman dapat dikatakan sehat atau normal, jika tanaman tersebut dapat
menjalankan fungsi-fungsi fisiolgis dengan seperti perkembangan dan pembelah
sel (Setiadi, 2000).
Pada umumnya suatu gejala penyakit pada tumbuhan bisa dilihat dengan mata
telanjang. Gejala yang sudah berkembang ini disebut dengan tanda. Sebagai
petani, hal yang harus dilakukan adalah menanggulangi penyakit yang akan
muncul dari awal gejala sudah terlihat. Karena mencegah lebih baik daripada
mengobati. Sehingga jika dari awal sudah dapat ditangani maka kerugianpun
dapat diminimalisir sedini mungkin.
Penyakit Tumbuhan merupakan kerusakan yang disebabkan oleh organisme yang
tergolong ke dalam dunia tumbuhan seperti Tumbuhan Tinggi Parastis, Ganggang,

Jamur, bakteri, Mikoplasma dan Virus. Kerusakan ini dapat terjadi baik di
lapangan maupun setelah panen. Penyakit tumbuhan dapat ditinjau dari dua sudut
yaitu sudut biologi dan sudut ekonomi, demikian juga penyakit tanamannya.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh penyakit tumbuhan dapat menimbulkan
kerugian yang sangat besar terhadap masyarakat juga dapat berkembang dengan
cepat dan menjadi epidemi yang berat. Penyakit tanaman ini dapat disebabkan
oleh bakteri, virus, maupun jamur (Suliyansyah, 2013).

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui jenis penyakit penting tanaman hortikultura
2. Mengetahui gejala dan tanda penyakit

II. METODOLOGI PRAKTIKUM

2.1 Waktu dan Tempat


Praktikum pengenalan gejala dan tanda penyakit tanaman hortikultura
dilaksanakan pada pukul 08:00-10:00 hari Senin, 5 Oktober 2015, di
Laboratorium Hama Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

3.1 Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis, mikroskop
majemuk, kaca preparat.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah air dan bagian tanaman yang
menunjukan gejala, baik preparat maupun foto.

3.2 Cara Kerja


Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah pengamatan makroskopis dan
pengamatan mikroskopis. Pengamatan makroskopis dilakukan dengan gejala
penyakit yang sudah ada diamati dan digambar. Kemudian nama penyakit dan
patogen penyebabnya ditulis. Sedangkan pengamatan secara mikroskopis adalah
gejala penyakit diamati di bawah mikroskop dan air diteteskan di atas bagian
tanaman yang bergejala lalu dikorek dengan menggunakan jarum, kemudian
air/suspensi tersebut diambil menggunakan pipet tetes, suspensi tersebut diletakan
di atas kaca preparat lalu ditutup dengan cover glass lalu diamati di bawah
mikroskop, bentuk spora atau hifa diamati lalu digambar/foto.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Adapun hasil dan pembahasan dari praktikum ini adalah :


N
O
1

FOTO

GAMBAR

KETERANGAN
Kerdil pisang disebut
juga Bunchy Top
Virus. Vektornya
Pentalonia
nigronervosa.

2
Virus kuning pada
cabai atau virus
gemini. Dibawa oleh
vektor kutu kebul
(Bemisia tabaci).
3
Antraknosa pada
cabai disebabkan oleh
jamur Colletotrichum
capsici.

Antraknosa pada

sansivera disebabkan
oleh jamur
Colletotrichum
sansivieria.
5
Layu bakteri pisang
dibabkan oleh
Pseudomonas
solanacearum.
6
Antraknosa pada
bawang putih
disebabkan oleh
jamur Colletotrichum
gloesporiodes.

Adapun pembahasan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Antraknosa pada cabai (Colletotrichum capsici)


Penyebab Penyakit dan Mekanisme Penyerangan :
Penyebab penyakit ini disebabkan oleh jamur Colletotrichum capsici. Jamur ini
menyebar lewat udara dari cabai satu ke cabai lainnya, dan jamur ini mampu
bertahan lama pada buah cabai. Konidia yang sudah menempel pada satu buah
cabai akan bertambah banyak dan merusak buah cabai tersebut.
Siklus Hidup :

Jamur pada buah masuk ke dalam ruang biji dan menginfeksi biji. Kelak jamur
menginfeksi semai yang tumbuh dari biji buah yang sakit. Jamur menyerang daun
dan batang, kelak dapat menginfeksi buah - buah. Jamur hanya sedikit sekali
mengganggu tanaman yang sedang tumbuh, tetapi memakai tanaman ini untuk
bertahan sampai terbentuknya buah hijau. Selain itu jamur dapat mempertahankan
diri dalam sisa - sisa tanaman sakit. Seterusnya konidium disebarkan oleh angin
(Pusposendjojo 1985).
Gejala dan Tanda Penyakit :
Gejala serangan Jamur Colletotrichum capsici pada tanaman cabai mula-mula
membentuk bercak cokelat kehitaman, yang lalu meluas menjadi busuk lunak.
Pada tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri dari kelompok
seta dan konidium jamur. Serangan yang berat dapat menyebabkan seluruh buah
mengering dan mengerut (keriput). Buah yang seharusnya berwarna merah
menjadi berwarna seperti jerami. Jika cuaca kering jamur hanya membentuk
bercak kecil yang tidak meluas. Tetapi kelak setelah buah dipetik, karena
kelembaban udara yang tinggi selama disimpan dan diangkut, jamur akan
berkembang dengan cepat (Triharso, 2004).
Pengendalian :
Pengendalian yang dapat dilakukan pada tanaman cabai yang terserang
Collectotrichum capsici yaitu sanitasi, memperbaiki pengairan, menggunakan
benih sehat, pergiliran tanaman, memenfaatkan Trichoderma dan Gliocladium
serta dapat pula dengan menggunakan varietas tahan.

2. Virus kuning pada cabai (Bemisia tabaci)


Penyebab Penyakit dan Mekanisme Penyerangan :
Penyebab virus ini adalah kutu kebul (Bemisia tabaci). Mekanisme
penyerangannya dilakukan oleh vektor kutu kebul yang membawa virus gemini.
Kutu kebul merupakan hama yang sangat polifag menyerang berbagai jenis
tanaman, antara lain tanaman hias, sayuran, buah-buahan maupun tumbuhan liar

atau gulma. Beberapa contoh tanaman budidaya yang menjadi inang kutu kebul
antara lain tomat, cabai, kentang, mentimun, terung, kubis, buncis, selada, bunga
potong Gerbera, ubi jalar, singkong, kedelai, tembakau, lada; dan tanaman liar
yang paling disukai adalah babadotan (Ageratum conyzoides).
Siklus Hidup :
Telur berbentuk lonjong agak lengkung seperti pisang, berwarna kuning terang,
berukuran panjang antara 0,2 - 0,3 mm. Telur biasanya diletakkan di permukaan
bawah daun, pada daun teratas (pucuk). Serangga betina lebih menyukai daun
yang telah terinfeksi virus mosaik kuning sebagai tempat untuk meletakkan
telurnya daripada daun sehat. Rata-rata banyaknya telur yang diletakkan pada
daun yang terserang virus adalah 77 butir, sedangkan pada daun sehat hanya 14
butir. Lama stadium telur rata-rata 5,8 hari.
Nimfa terdiri atas tiga instar. Instar ke - 1 berbentuk bulat telur dan pipih,
berwarna kuning kehijauan, dan bertungkai yang berfungsi untuk merangkak.
Nimfa instar ke - 2 dan ke - 3 tidak bertungkai, dan selama masa pertumbuhannya
hanya melekat pada daun. Stadium nimfa rata-rata 9,2 hari.
Imago atau serangga dewasa tubuhnya berukuran kecil antara (1 - 1,5 mm),
berwarna putih, dan sayapnya jernih ditutupi lapisan lilin yang bertepung.
Serangga dewasa biasanya berkelompok pada bagian permukaan bawah daun, dan
bila tanaman tersentuh biasanya akan berterbangan seperti kabut atau kebul putih.
Lama siklus hidup (telur - nimfa - imago) pada tanaman sehat rata-rata 24,7 hari,
sedangkan pada tanaman terinfeksi virus mosaik kuning hanya 21,7 hari.
Gejala dan Tanda Penyakit :
Serangan yang disebabkan oleh B. tabaci dibagi atas 3 tipe:
(1) kerusakan langsung, (2) kerusakan tidak langsung, dan (3) penularan virus
(Berlinger, 1986). Kerusakan langsung pada tanaman disebabkan oleh imago dan
nimfa yang menghisap cairan daun (Deptan, 2007a) mengakibatkan daun tanaman
mengalami klorosis, layu, gugur daun dan mati (Mau and Kessing, 2007).
Pengendalian :

Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan virus, terutama tanaman yang bukan
famili Solanaceae seperti tomat, cabai, kentang dan Cucurbitaceae seperti
mentimun. Sanitasi lingkungan terutama mengendalikan gulma berdaun lebar
seperti babadotan dan ciplukan yang berpotensi menjadi inang virus. Penggunaan
tanaman yang resisten merupakan salah satu komponen dalam pengendalian hama
terpadu untuk menekan populasi kutu putih. Namun saat ini belum ditemukan
varietas tembakau yang resisten terhadap B. tabaci (Berlinger, 1986).

3. Kerdil pisang (Pentalonia negronervosa)


Penyebab Penyakit dan Mekanisme Penyerangan :
Kerdil pisang disebabkan oleh vektor Pentalonia nigronervosa. P. nigronervosa
menularkan virus kerdil pisang secara persisten. Virus tersirkulasi di dalam tubuh
kutu daun tersebut tetapi tidak mengalami replikasi di dalam tubuh vektornya dan
juga tidak ada penularan transovarial.
Siklus Hidup :
Siklus hidupnya, dari nimfa sampai imago, berlangsung selama 9 sampai 16 hari.
Dari sejak dilahirkan, nimfa P. nigronervosa memerlukan waktu 10 sampai 14 hari
untuk berkembang sampai ganti kulit yang terakhir. Umur P. nigronervosa
berkisar antara 19 sampai 26 hari dengan rata-rata 20,3 hari sehingga dalam satu
tahun dapat dihasilkan 30 generasi
Gejala dan Tanda Penyakit :
Pangkal daun dari tanaman yang dicurigai dilihat permukaan bawahnya dengan
cahaya menembus, tampak adanya garis-garis hijau tua sempit yang terputusputus dalam garis pendek atau titik seperti kode morse, terdapat diantara dan
sejajar dengan tulang daun sekunder. Kadang-kadang tulang daun menjadi jernih.
Sebagai gejala pertama terjadinya infeksi, pada cuaca yang sejuk tulang daun
yang menjadi jernih tadi akan tampak lebih jelas.
Pada tingkat yang lebih jauh daun-daun muda lebih tegak, lebih pendek, lebih
sempit dengan tangkai daun yang lebih pendek dari pada biasa, dan menguning

sepanjang tepingya. Daun-daun rapuh dan bila dipatahkan akan patah dengan
renyah. Tanaman terhambat pertumbuhannya dan daun-daun membentuk roset
pada ujung batang palsu.
Pengendalian :
Jangan membawa tanaman pisang atau Heliconia keluar dari daerah yang
terjangkit kerdil pisang. Rumpun yang sakit dibongkar bersih dan dicincang
menjadi potongan-potongan kecil. Hanya menanam bibit yang diambil dari
rumpun yang benar sehat. Menyemprot tanaman pisang dengan insektisida
sistemik untuk memberantas Pentalonia, khusus di pembimbitan (jika ada).

4. Layu bakteri pisang (Pseudomonas solanacearum)


Penyebab Penyakit dan Mekanisme Penyerangan :
Penyebab penyakit ini adalah bakteri Pseudomonas solanacearum. Infeksi
terutama melalui luka pada bagian tanaman. Bakteri terangkut dalam pembuluh
kayu dan pada batang yang lunak, masuk ke dalam ruang antara sel dalam kulit
dan empulur, menguraikan sel-sel sehingga terjadi rongga- rongga. Suhu yang
relatif tinggi mendukung perkembangan penyakit. Di dataran rendah penyakit
timbul lebih berat karena suhu udara relatif tinggi. Bakteri berkembang baik di
tanah alkalis yang suhunya agak tinggi di saat banyak hujan. Intensitas penyakit
sangat dipengaruhi oleh tanaman terinfeksi pada musim sebelumnya.
Siklus Hidup :
Adanya rangsangan dari lingkungan (luar tubuh) akan memicu pengaturan yang
memberikan sinyal kepada system penginderaan berupa sinyal mikroba.
Kemudian bakteri ini akan membenrtuk sel planktonik yang kemudian membuat
formasi biofilm. Pembentukan biofilm dimulai dengan terangkatnya
mikroorganisme bebas-mengambang ke permukaan. Koloni pertama menuju ke
permukaan secara perlahan (gaya van der Waals yang reversible). Jika koloni
tidak segera dipisahkan dari permukaan, mereka dapat membuat diri mereka lebih
permanen dengan menggunakan struktur sel adhesi seperti pili. Koloni pertama

memfasilitasi kedatangan sel lain dengan menyediakan situs adhesi lebih beragam
dan mulai membangun matriks yang memegang biofilm bersama-sama. Tahap
akhir pembentukan biofilm dikenal sebagai pembangunan, dan tahap di mana
biofilm didirikan dan hanya dapat berubah dalam bentuk dan ukuran.
Perkembangan biofilm memungkinkan untuk koloni sel agregat (ies) menjadi
semakin resisten antibiotik. Formasi biofilm ini akan mengirimkan sinyal ke sel
inang. Setelah proses pembentukkan biofilm, sel inang mengirimkan sinyal
sitokinesis kepada bakteri ini yang kemudian menghasilkan sinyal adanya
molekul metabolit sekunder.
Gejala dan Tanda Penyakit :
Beberapa daun muda layu dan daun tua sebelah bawah menguning. Apabila
bagian tanaman yang terinfeksi (batang, cabang, dan tangkai daun) dibelah akan
tampak pembuluh berwarna coklat, demikian juga empulur sering berwarna
kecoklatan. Pada penyakit stadium lanjut apabila batang dipotong, akan keluar
lendir bakteri berwarna putih susu. Lendir ini dapat dipakai untuk membedakan
penyakit layu bakteri dengan layu Fusarium.
Pengendalian :
Ada beberapa cara untuk mengendalikan virus ini :
1. Gunakan pupuk kandang yang telah masak. Pupuk kandang yang belum
masak dapat memacu perkembangan bakteri ini memalui kenaikan suhu tanah
yang disebabkan oleh proses fermentasi pupuk organik.
2. Kurangi penggunaan urea, Kalau perlu gunakan NPK saja. Penggunaan urea
yang berlebihan akan menyebabkan tanaman sukulen dan mudah terserang
penyakit.
3. Gunakan benih varietas yang tahan terhadap penyakit ini.
4. Pergiliran tanaman menggunakan tanaman selain famili solanaceae (terungterungan).
5. Hindari mengocor NPK maupun pupuk kimia lain pada akar tanaman.
Pengocoran pupuk kimia akan menyebabkan luka pada akar tanaman
6. Pencelupan bibit sebelum tanam menggunakan larutan bakterisida
7. Mencabut tanaman yang telah terserang penyakit layu bakteri ini.
8. Hindari mengairi lahan dengan menggenangi lahan terlalu tinggi, kalau perlu
jangan digenangi.

9. Berdasarkan pengalaman, jika tanaman telah terserang layu penggunaan


bakterisida menjadi kurang efektif.

5. Antraknosa pada sansivera (Colletotrichum sansevieria)


Penyebab Penyakit dan Mekanisme Penyerangan :
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colletotrichum sansevieria. Infeksi dimulai
dari ujung dan berkembang kebawah daun. Kedua daun muda dan dewasa
ditemukan terpengaruh. Pengeringan lengkap daun diamati ketika gejala lanjut
penyakit. Pemeriksaan lebih dekat dari lesi matang mengungkapkan adanya
acervuli hitam kecoklatan yang menjadi karakteristik Colletotrichum sp.
Penelitian lebih lanjut dari karakteristik morfologi mengidentifikasi penyebabnya
adalah Colletotrichum sansevieriae (Nakamura et al., 2006).
Siklus Hidup :
Konidia bereproduksi dari sel pembelahan mitosis dan hasilnya identik dengan sel
induknya. Konidia bereproduksi dalam jumlah yang besar dan merupakan satu
bentukan dari jamur untuk mempertahankan diri. Spora tersebar melalui udara
yang lembab dan percikan air hujan. Pada mulanya konidia akan menginfeksi
tanaman dan berkecambah membentuk apresoria. Kemudain akan melakukan
penetrasi langsung menembus kutikula dan merusak dinding sel pada tanaman
yang mula-mula kloroplas aka rusak dan diikuti dengan rusaknya mitokondria
(Semangun, 2000).

Gejala dan Tanda Penyakit :


Pada daun muda penyakit dapat menyebabkan matinya daun atau sebagian dari
helaian daun. Gejala ini yang sering disebut sebagai hawar daun (leaf blight)
(Semangun, 2000). Pada daun dewasa penyakit dapat menyebabkan terjadinya
bercak-bercak nekrosis (jaringan mati) yang terbatas tidak teratur. Bercak-bercak

ini kelak dapat menjadi 2 lubang. Daun-daun yang terserang berat akan mudah
gugur, sehingga ranting-ranting tanaman menjadi gundul (Sunanto,2002).
Pengendalian :
Penyemprotan fungisida dilakukan untuk mencegah terjadinya serangan
(preventif) yang dilaksanakan pada saat pembentukan daun-daun baru (flush)
setelah mencapai 10 % dengan daun pertama kira-kira berumur satu minggu
(panjang daun 5 cm). Interval penyemprotan 7 hari atau disesuaikan dengan
munculnya daun-daun baru. Fungisida yang digunakan adalah yang berbahan aktif
prokloras dengan konsentrasi 0,1% formulasi atau fungisida berbahan aktif
karbendazim dengan konsentrasi 0,2% formulasi. Penyemprotan dimulai pada
awal musim hujan menggunakan alat Knapsack Sprayer atau Mist Blower dengan
volume 200-300 liter per ha. Pada waktu flush besar dilakukan 2 kali
penyemprotan fungisida sistemik, misalnya benomil, karbendazim, metil tiofanat,
miklobutanil, atau prokloraz dengan interval 10 hari. Pada waktu flush lainnya
dilakukan 3 kali penyemprotan dengan fungisida kontak, antara lain mankozeb
atau oksiklorida tembaga, 9 dengan interval 7 hari. Penyemprotan dapat dilakukan
dengan mist blower atau power sprayer, dengan memakai air 200 liter/ha.

6. Antraknosa pada bawang putih (Colletotrichum gloesporioides)


Penyebab Penyakit dan Mekanisme Penyerangan :
Peyakit antraknosa disebabkan oleh cendawan Colletotricum gloesporioides.
Umumnya antraknosa ditemukan pada musim hujan. Di Brebes disebut dengan
penyakit otomatis karena serangannya yang tiba-tiba. Gejala serangan ditandai
dengan bercak putih pada daun selanjutnya terbentuk lekukan yang menyebabkan
patahnya daun-daun bawang.
Siklus Hidup :
Siklus hidupnya hampir sama dengan antraknosa lainnya. Diam dalam satu inang
dan menyebar melalui udara menunggu sampai pada tempat yang tepat untuk
kemudian berkembang biak lagi untuk mempertahankan hidupnya.

Gejala dan Tanda Penyakit :


Gejala serangan dapat dilihat secara fisiologis, tanaman mati serentak secara
cepat. Serangan awal ditandai adanya gejala bercak putih pada daun, selanjutnya
akan terbentuk lekukan ke dalam (invag1nasi), berlubang dan patah karena terkuai
tepat pada bercak tersebut. Jika serangan berlanjut akan membentuk koloni
konidia berwarna merah muda, lalu berubah menjadi cokelat tua, dan akhirnya
menjadi kehitaman. Umbi akan membusuk serta daun mengering.
Pengendalian :
Penyakit antraknosa dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida
sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat,
karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh
bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau
mankozeb.
Penyebab kudis pada jeruk
Jamur Sphaceloma fawcetti. Bagian yang diserang adalah daun, tangkai atau buah.
Gejala: bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau
oranye. Pengendalian: pemangkasan teratur. Kemudian gunakan Fungisida
Dithiocarbamate/ Benomyl (Benlate).

IV. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Penyakit tumbuhan yang diamati pada praktikum ini penyebabnya berasal
dari jamur dan mikoorganisme.
2. Tanaman dikatakan tidak sehat apabila kondisi fisiologisnya cacat dan
pertumbuhan tidak wajar.
3. Penyakit yang disebabkan oleh virus biasanya dibawa oleh vektor serangga.
4. Ukuran jamur lebih besar daripada bakteri dan virus, sehingga lebih mudah
diamati daripada yang lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Berlinger, M.S., 1986. Host plant resistance to Bemisia tabaci. Hirano, K.,
Budiyanto, E and S. Winarni., 2006. Biological characteristic and
forecastingoutbreak of whitefly B. tabaci a vector of virus disease in
soybean field.
Dwidjoseputro,D. 1998. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
Mau, R.F.L and Kessing J.L.M., 2007. Bemisia tabaci. Universitas Gadjah Mada
Press. Yogyakarta.
Nakamura M, Ohzono M, Iwai H,dan Arai K. 2006. Anthracnose of Sansevieria
trifasciata caused by Colletotrichum sansevieriae sp. nov. Journal of
General Plant Pathology. (72): 253256.
Pusposendjojo, N. Dan B.A. Rasyid (1985), Perkembangan Colletrichum capsici
pada berbagai tingkat umur buah lombok (Capsicum annuum).Kongr.Nas
VIII PFI, Cibubur, Jakarta.
Setiadi, 2000. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gajah Mada University.
Yogyakarta.
Setiawati. 2003. Pengenalan dan pengendalian hama penting pada Tanaman Cabai
Merah. Materi TOT Litkaji PTT Cabai Merah. 26 halaman.
Suliyansyah. 2013. Gejala Akibat Penyakit pada Tanaman. Gajah Mada
University. Yogyakarta.
Sunanto, H. 2002. Cokelat, Budidaya, Pengolahan Hasil Studi dan Aspek
Ekonominya. Penerbit Kanisius. Jakarta.
Triharso. 2004. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Universitas Gadjah Mada
Press. Yogyakarta.

LAMPIRAN

Pentalonia nigronervosa

Bemisia tabaci

Colletotrichum capsici

Colletotrichum sansivieria

Pseudomonas
solanacearum

Colletotrichum gloesporiodes