Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM

IDENTIFIKASI HAMA TANAMAN


PENGENALAN MORFOLOGI DAN TANDA SERANGAN HAMA TANAMAN

Nama

: Ayu Prihandani

NIM

: 13276

Gol/Hari

: C-1/ Senin

Asisten

: Mufidatun N. A.
Argawi Kandito
Intan Setyaningtyas
Annisa Ratu Aqilah

Tanggal Praktikum : 21 September 2015

LABORATORIUM ENTOMOLOGI TERAPAN


JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013

ACARA 1
PENGENALAN MORFOLOGI DAN TANDA SERANGAN HAMA TANAMAN

I.

TUJUAN

1. Mengetahui morfologi dan biologi hama tanaman.


2. Mengetahui tanda atau gejala serangan hama pada tanaman.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Serangga adalah penyebab utama kehilangan bahan selama penyimpanan, khususnya


di daerah tropika. Pernyataan ini diperkuat bahwa dari total angka perkiraan kehilangan
biji-bijian di seluruh dunia paling sedikit 50 persen disebabkan oleh serangga. Bagi
serangga, komoditas pangan yang disimpan di gudang merupakan sumber makanan
sekaligus habitat untuk berkembang biak dan selanjutnya menghancurkan lingkungan
tersebut.
Menurut Furqon (2011), serangga merupakan hama gudang penyebab kerusakan
terbesar. Kerusakan yang terjadi dapat mengakibatkan penurunan kualitas maupun
kuantitas dari bahan yang disimpan. Hal ini disebabkan serangga hama gudang
mempunyai kemampuan berkembang biak dengan cepat, mudah menyebar dan dapat
mengundang pertumbuhan kapang. Kegiatan insek memakan bagian dari biji-bijian dapat
menyebabkan meningkatnya kandungan air serta suhu secara lokal. Kegiatan bersama
serangga dan jamur dapat berakibat penurunan mutu yang disebabkan karena adanya
sisasisa insek, penimbunan uric acid, dan penyimpangan warna. Bila kerusakan sebutir
saja telah dapat nampak oleh mata, paling sedikit lima butir lagi telah mengalami
kerusakan bagi setiap butir yang rusak. Butir-butir demikian rendah gizinya serta
mempunyai

potensi

sebagai

bahan

beracun

(Triharso,

2010).

Kerusakan oleh serangga dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu kerusakan
langsung dan kerusakan tidak langsung. Kerusakan langsung terdiri dari konsumsi bahan
yang disimpan oleh serangga, kontaminasi oleh serangga dewasa, pupa, larva, telur, kulit
telur, dan bagian tubuhnya, serta kerusakan wadah bahan yang disimpan. Kerusakan tidak
langsung antara lain adalah timbulnya panas akibat metabolisme serta berkembangnya
kapang dan mikroba-mikroba lainnya (Jumar, 2000).

Jenis larva serangga yaitu: Polipoda, tipe larva ini memiliki ciri antara lain
tubuh berbentuk silindris, kepala berkembang baik serta dilengkapi dengan kaki
abdominal dan kaki thorakal. Tipe larva ini dijumpai pada larva ngengat/kupu
(Lepidoptera).Oligopoda, tipe larva ini dapat dikelompokkan menjadi : Campodeiform dan
Scarabaeiform, Campodeiform, yakni memiliki badan memanjang dan kadang-kadang
dorsovntral pipih. Kaki thorakal panjang dan berkembang baik dengan gerakan aktif.
Scarabaciform, yakni badan umumnya berbentuk melengkung dengan kepala berkembang
baik. Kaki thorakal pendek dan tidak aktif bergerak. Tipe larva oligopoda ini dimiliki oleh
larva dari bangsa kumbang (Coleoptera). Apodus (Apodous) atau apoda, tipe larva ini
memiliki badan yang memanjang dan tidak memiliki kaki. Kepala ada yang berkembang
baik ada yang tidak. Tipe larva ini dijumpai pada anggota ordo Diptera dan familia
Curculionidae (Coleoptera). ( Pane, 1980)
Perbedaan bentuk pupa didasarkan pada kedudukan alat tambahan (appendages),
seperti calon sayap, calon kaki, antene dan lainnya. Tipe pupa dikelompokkan menjadi tiga
tipe :
Tipe obtecta, yakni pupa yang memiliki alat tambahan (calon) melekat pada tubuh pupa.
Kadang-kadang pupa terbungkus cocon yang dibentuk dari liur dan bulu dari larva.
Tipe eksarat, yakni pupa yang memiliki alat tambahan bebas (tidak melekat pada tubuh
pupa ) dan tidak terbungkus oleh cocon.
Tipe coartacta, yakni pupa yang mirip dengan tipe eksarat, tetapi eksuviar tidak
mengelupas (membungkus tubuh pupa). Eksuviae mengeras dan membentuk rongga untuk
membungkus tubuh pupa dan disebut puparium.
Tipe pupa obtecta dijumpai pada anggota ordo Lepidoptera, pupa eksarat pada ordo
Hymenoptera dan Coleoptera, sedang pupa coartacta pada ordo Diptera.
Berdasarkan posisi mulutnya serangga dapat dibagi menjadi 3 diantaranya adalah
prognatous (menghadap ke depan), hypognatous (menghadap ke bawah), ophistognatous
(menghadap ke bawah dan belakang). Pada kepala terdapat dua organ penerima rangsang
yang tampak jelas yaitu mata tunggal dan antena. Mata terdiri dari dua jenis , mata
majemuk dan tunggal. Antena merupakan alat penting yang berfungsi sebagai alat perasa
dan alat pencium. Ruas pertama antena yang disebut skapus melekat pada kepala. Ruas
kedua disebut pedisel dan ruas-ruas berikutnya secara keseluruhan disebut flagelum.
Alat mulut pada serangga secara umum terdiri dari labrum (bibir atas), sepasang
mandibel (geraham pertama), sepasang maksila (geraham kedua), labium (bibir bawah),
epifaring (lidah). Beberapa tipe alat mulut serangga yaitu tipe alat mulut menggigit

mengunyah, tipe alat mulut mengunyah dan menghisap, tipe alat mulut menjilat
mengisap, tipe alat mulut mengisap, tipe alat mulut menusuk mengisap (

III.

METODOLOGI

Praktikum Pengamatan Morfologi dan Tanda Serangan Hama dilaksanakan pada hari
Senin, 21 September

2015 di Laboratorium Entomologi Terapan, Jurusan Hama dan

Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat dan
bahan yang digunakan yaitu alat tulis, preparat segar tanaman jagung, kacang tanah, kacang
panjang, kacang tolo dan tanaman cabai yang menunjukan gejala serangan hama. Selain itu
disediakan juga berbagai preparat.
Cara kerja pada praktikum ini yaitu mengamati gejala dan tanda serangan pada
tanaman yang sakit, kemudian gejala tersebut digambar. Setelah itu dicari informasi
selengkap-lengkapnya mengenai hama yang menyerang yang meliputi gejala dan tanda
serangan, bioekologi hama, deskripsi morfologi, pengendalian pada tiap tiap hama. Setelah
didapat informasi yang lengkap dari hama yang diamati, kemudian ditulis pada kertas yang
telah disediakan.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.PUPA

sumber: www.bioscript.net
A.OBTECTA
Nama : Ulat tentara
Ordo

: Lepidoptera

Family : Noctuidae
Seluruh calon alat tambahan berupa mata, alat mulut, antena, sayap, dan kaki tampak jelas
dan melekat erat dengan tubuhnya.
B.EXARATA/LIBERATA
Nama : Pupa lundi
Ordo

: Coleoptera

Family : Scarabaecidae
Mata dan alat tambahan lainnya setelah dari pangkal nya tidak melekat dengan tubuhnya.
2. LARVA
A.APODA

sumber: www.ocwus.us.es
Nama : Larva bentuk cacing

Ordo

: Hymenoptera

Family : Tenthredinidae
Tidak memiliki kaki, biasanya bergerak menggunakan gerakan peristaltik hidroskeleton
tubuhnya.
B.OLIGOPODA

sumber : www.everris.com
Ordo

: Lepidoptera

Memiliki 3 pasang kaki.


C.POLIPODA

Sumber : www.bbppketindan.bppsdmp.pertanian.go.id
Phylum : Arthropoda
Klas
: Insecta
Ordo
: Lepidoptera
Famili : Noctuidae
Genus : Chrysodeixis
Species : Chrysodeixis calcites
Memiliki kaki banyak, baik pada thoraks (kaki sesungguhnya) maupun pada ruas abdomen
(prolegs atau kaki semu).
3.IMAGO
A.VALANGA

Hama
Tipe Mulut
Sumber : www.gambarbinatang.com
Ordo
Tanda serangangan

:Valanga spp
: Penggigit-pengunyah
: Orthoptera
: Daun terlihat rusak karena serangan dari belalang
tersebut, jika populasinya banyak dan belalang sedang
dalam keadaan kelaparan, hama ini bisa menghabiskan
sekaligus dengan tulang tulang daunnya.

Deskripsi :
Ciri serangan hama belalang yaitu bagian tepi daun menjadi bergerigi. Belalang
merupakan spesies polimorfik yang secara morfologis terdapat perbedaan-perbedaan yang
jelas antara satu fase dengan lainnya. Belalang Acrididae mengalami 3 transformasi
populasi yang antara lain dipicu oleh tingkat kepadatannya yaitu fase soliter (populasi
rendah dan berperlaku individual), fase transisi (mulai berkelompok) dan fase gregarius
(kelompok-kelompok belalang bergabung dan membentuk twarm yang menjadi sangat
rakus dan merusak). Belalang merupakan serangga herbivora dari subordo Caelifera dalam
ordo Orthoptera. Serangga ini memiliki antena yang hampir selalu lebih pendek dari
tubuhnya dan juga memiliki ovipositor pendek. Pada umumnya serangga ini bersayap,
walaupun sayapnya kadang tidak dapat dipergunakan untuk terbang. Belalang betina
umumnya berukuran lebih besar dari belalang jantan. Suara yang ditimbulkan beberapa
spesies belalang biasanya dihasilkan dari gosokkan femur belakangnya terhadap sayap
depan atau abdomen (disebut stridulasi), atau karena kepakan sayapnya sewaktu terbang.
Femur belakang umumnya panjang dan kuat sehingga cocok untuk melompat. (wp).
Anggota dari ordo ini umumnya memilki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit
daripada sayap belakang dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina. Sayap
belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat

sayap belakang melipat di bawah sayap depan. Tipe mulutnya adalah penggigit dan
penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla
dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya
( Tjahjadi, 1989).
B.LEPIDIOTA

sumber : www.insect-sale.com
Ordo

: Coleoptera,

Famili

: Scarabaeidae

sub famili

: Melolonthinae

Gejala awal mirip dengan gejala tanaman yang kekeringan (kurang air). Mulanya
daun menguning pada rumpun bagian dalam dan menjadi gugur, selanjutnya menjadi gundul
dan batang menjadi rusak. Pada kasus yang parah, pangkal batang tanaman dapat terangkat
dan tercabut dengan sendirinya.
Kerusakan yang terberat terjadi pada saat stadia instar 3 karena pada stadia ini L.
stigma sangat rakus, khususnya saat masih muda. Stadia instar awal hidup di tanah organik.
Menurut Wiroatmojo, keberadaan populasi instar L. stigma sebanyak 4-5 ekor per pohon
dapat menyebabkan kerusakan secara ekonomis.
Serangga dewasa berwarna coklat gelap hampir hitam, L. stigma jantan bagian
dorsalnya menebal, berwarna coklat pucat, memanjang, bersisik tajam dengan sebuah
ambalan kecil yang tebal, dengan sisik berwarna putih yang tumpang tindih pada bagian
pangkal langit-langit elytral. Ambalan ini kadang-kadang sangat tereduksi. Pada serangga
betina dewasa biasanya bagian dorsalnya berwarna putih atau bersisik kuning pucat,
demikian halnya ambalan bagian pangkal langit-langit juga tidak begitu nampak, panjang
tubuhnya sekitar 35 - 50 mm.

Larvanya memiliki kepala berwarna coklat pucat dan berdiameter sekitar 10 11 mm;
panjang tubuhnya mencapai 75 mm. Tubuhnya berwarna putih susu dan berbentuk seperti
huruf C dengan tungkai yang berkembang dengan baik.
Kumbang

muncul

dari

dalam

tanah

pada

petang/malam

hari,

kemudian

melangsungkan perkawinan di dalam tanah atau pada tanaman. Selama itu, kumbang menjadi
tidak aktif pada tanaman, dan kebanyakan mereka berlindung di dalam tanah. Telur
dihasilkan 8 hari setelah kopulasi (kawin) di dalam tanah pada kedalaman tertentu. Selama
perkembangan larva terjadi pergantian instar (3 5). Setiap stadia ditandai dengan pergantian
kulit.
Instar 3 dari larva ini dikenal sangat rakus makan dan tumbuh dengan sangat cepat,
namun kemudian uret menjadi inaktif, bergerak masuk ke dalam tanah membuat semacam
saluran atau terowongan untuk masa berpupa. Siklus hidup serangga ini membutuhkan
waktu sekitar 1 tahun.
C.ORYCTES

sumber : www.flower-beetles.com
Nama Umum : Kumbang Badak
Kerajaan : Animalia
Filum : Arthropoda
Class : Kelas: Insecta
Ordo : Coleoptera
Family : Scarabaeidae
Subfamily : Dynastinae
Kumbang badak berwarna coklat tua mengkilat. Panjangnya bisa mencapai lebih
kurang 5-6cm. warna telurnya putih dengan garis tengah lebih kurang 3mm. pada waktu
hampir menetas, telur membengkak dan berwarna keabuan. Uret (larva) yang telah menetas
berwarna putih dengan kepala coklat sampai coklat tua. Panjang uret bisa mencapai lebih
kurang 10 cm biasanya jika terganggu uret akan melingkar. Kumbang badak betina bertelur

ditempat sampah, daun-daun yang telah membusuk, pupuk kandang, batang kelapa, sagu, dan
nipah yang telah membusuk. Tempat lainnya adalah sisa batang tebu (ampas) yang basah.,
tempat kompos dan tempat lainnya yang memungkinkan untuk bertelur. Jumlah telur 30 70
butir atau lebih. Setelah sekitar 17 hari telur kan menetas. Lamanya periode larva berubahubah menurut keadaan temperatur dan kelembaban, yaitu sekitar 2.5-6 bulan. Jika telah
cukup dewasa, larva berhenti makan, tidak aktif lagi dan mulai membentuk larva. Biasanya
larva mencari tempat berlindung dalam keadaan dingin dan lembab. Masa prapupa ini
biasanya berlangsung selama 6 hari. Periode pupa lebih kurang 2-4 minggu. Warna pupa
putih kekuningan dengan panjang 5-9cm. Selanjutnya pupa menjadi kumbang. Kumbang
badak ini bisa berunur lebih kurang 2-7 bulan. Serangan hama ini bisa mengakibatkan
kematian pada tanaman muda. Saat hama ini mengebor pucuk tanaman biasanya juga
merusak bagian daun muda yang belum terbuka sehingga pada waktu daun terbuka akan
terlihat bekas potongan yang simetris berebentuk segitiga atau seperti huruf V. akibatnya
adalah mahkota daun tampak compang-camping tidak teratur. Kadang pelepah daunnya putus
pada bagian pangkal pelepah daun akibatserangan hama tersebut.Kelapa sawit (inang utama),
tebu, pisang,pakis haji.Kumbang ini biasanya hidup di tumpukan batang kelapa sawit di area
re-planting. Tumpukan batang yang telah dicacah juga merupakan tempat perkembangbiakan
hama ini. Tanaman yang masih berdiri pada sistem underplanting juga menjadi sasaran
peletakan telur. Larva berkembang baik pada tandan kosong.
D.NEZARA

sumber : www.agrologica.es

Kingdom : Animalia (Hewan)

Filum : Arthropoda (arthropoda)

Kelas : Insecta (Serangga)

Order : Hemiptera

Subordo : Heteroptera

Family : Pentatomidae

Subfamily : Pentatominae

Genus : Nezara

Species : Nezara viridula


Hama kepik hijau ini pada stadia imago berwarna hijau polos, kepala berwarna hijau

serna pronotumnya berwarna jingga dan kuning keemasan, kuning kehijauan dengan tiga
bintik berwarn hijau dan kuning polos. Telur diletakkan berkelompok (10-90 butir/kelompok)
pada permukaan bawah daun. Nimfa terdiri dari 5 instar. Instar awal hidup bergerombol di
sekitar bekas telur, kemudian menyebar. Pada kedelai nimfa dan imago terutama mengisap
polong.
Gejala serangan hama kepik hijau menyerang Polong dan biji menjadi mengempis,
polong gugur, biji menjadi busuk, hingga berwarna hitam. Kulit biji menjadi keriput dan
adanya bercak coklat pada kulit biji. Periode kritis tanaman terhadap serangan penghisap
polong ini adalah pada stadia pengisian biji. Nimfa dan imago merusak polong dan biji
kedelai dengan cara mengisap cairan biji. Serangan yang terjadi pada fase pertumbuhan
polong dan perkembangan biji menyebabkan polong dan biji kempis, kemudian mengering.
Serangan terhadap polong muda menyebabkan biji kempis dan seringkali polong gugur.
Serangan yang terjadi pada fase pengisian biji menyebabkan biji
menghitam dan busuk.
Prinsip pengendalian hama secara terpadu atau PHT merupakan suatu cara
pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam
rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan masih
menjadi alternative utama dalam pengendalian hama pengisap polong kepik hijau (Nezara
viridula). Penggunaan pestisida merupakan alternative terakhir yang apabila serangan hama
kepik hijau telah melampaui batas ambang kendali yaitu bila telah ditemukan kerusakan
polong lebih dari 2% atau terdapat sepasang kepik dewasa per tanaman saat tanaman kedelai
berumur lebih dari 45 hari setelah tanam.

4. Padi bergejala akibat serangan walang sangit

sumber : apps.cs.ipb.ac.id
Walang sangit (L. oratorius L) adalah hama yang menyerang tanaman padi setelah
berbunga dengan cara menghisap cairan bulir padi menyebabkan bulir padi menjadi hampa
atau pengisiannya tidak sempurna. Di Indonesia walang sangit merupakan hama potensial
yang pada waktu-waktu tertentu menjadi hama penting dan dapat menyebabkan kehilangan
hasil mencapai 50%. Diduga bahwa populasi 100.000 ekor per hektar dapat menurunkan hasil
sampai 25%. Hasil penelitian menunjukkan populasi walang sangit 5 ekor per 9 rumpun padi
akan menurunkan hasil 15%. Hubungan antara kepadatan populasi walang sangit dengan
penurunan hasil menunjukkan bahwa serangan satu ekor walang sangit per malai dalam satu
minggu dapat menurunkan hasil 27%.
Kualitas gabah (beras) sangat dipengaruhi serangan walang sangit. Diantaranya
menyebabkan meningkatnya Grain dis-coloration. Sehingga serangan walang sangit
disamping secara langsung menurunkan hasil, secara tidak langsung juga sangat menurunkan
kualitas gabah.
Dewasa walang sangit meletakan telur pada bagian atas daun tanaman. Pada tanaman
padi daun bendera lebih disukai. Telur berbentuk oval dan pipih berwarna coklat kehitaman,
diletakan satu persatu dalam 1-2 baris sebanyak 12-16 butir. Lama periode bertelur 57 hari
dengan total produksi terlur per induk + 200 butir. Lama stadia telur 7 hari, terdapat lima
instar pertumbuhan nimpa yang total lamanya + 19 hari. Lama preoviposition + 21 hari,
sehingga lama satu siklus hidup hama walang sangit + 46 hari.
Nimpa setelah menetas bergerak ke malai mencari bulir padi yang masih stadia masak
susu, bulir yang sudah keras tidak disukai. Nimpa ini aktif bergerak untuk mencari bulir baru
yang cocok sebagai makanannya. Nimpa-nimpa dan dewasa pada siang hari yang panas
bersembunyi dibawah kanopi tanaman. Serangga dewasa pada pagi hari aktif terbang dari
rumpun ke rumpun sedangkan penerbangan yang relatif jauh terjadi pada sore atau malam
hari.

Pada masa tidak ada pertanaman padi atau tanaman padi masih stadia vegetatif,
dewasa walang sangit bertahan hidup/berlindung pada barbagai tanaman yang terdapat pada
sekitar sawah. Setelah tanaman padi berbunga dewasa walang sangit pindah ke pertanaman
padi dan berkembang biak satu generasi sebelum tanaman padi tersebut dipanen. Banyaknya
generasi dalam satu hamparan pertanaman padi tergantung dari lamanya dan banyaknya
interval tanam padi pada hamparan tersebut. Makin serempak tanam makin sedikit jumlah
generasi perkembangan hama walang sangit.
Sampai sekarang belum ada varietas padi yang tahan terhadap hama walang sangit.
Berdasarkan cara hidup walang sangit, tanam serempak dalam satu hamparan merupakan cara
pengendalian yang sangat dianjurkan. Setelah ada tanaman padi berbunga walang sangit akan
segera pindah dari rumput-rumputan atau tanaman sekitar sawah ke pertanaman padi yang
pertama kali berbunga. Sehingga jika pertanaman tidak serempak pertanaman yang berbunga
paling awal akan diserang lebih dahulu dan tempat berkembang biak . Pertanaman yang
paling lambat tanam akan mendapatkan serangan yang relatif lebih berat karena walang
sangit sudah berkembang biak pada pertanaman yang berbunga lebih dahulu. Dianjurkan
beda tanam dalam satu hamparan tidak lebih dari 2,5 bulan.
Plot-plot kecil ditanam lebih awal dari pertanaman sekitarnya dapat digunakan sebagai
tanaman perangkap. Setelah tanaman perangkap berbunga walang sangit akan tertarik pada
plot tanaman perangkan dan dilakukan pemberantasan sehingga pertanaman utama relatif
berkurang populasi walang sangitnya.
5. Hama Helicoverpa armigera pada Jagung

Sumber : http://diagnosajagung.com

Deskripsi :
Pada umumnya produksi telur imago betina kurang lebih adalah 730 butir telur,
selanjutnya telur- telur tersebut akan menetas 3 hari setelah diletakkan di rambut jagung.
Larva kemudian masuk ke dalam tongkol jagung, dengan tipe mulutnya penggigitpengunyah kemudian larva tersebut memakan biji pada jagung yang tengah mengalami masa
pertumbuhan, hal inilah yag kemudian menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung itu
sendiri karena tongkol jagung menjadi tidak terisi atau ompong. Larva memiliki sifat
kanibalisme. Spesies ini mengalami masa pra pupa selama satu sampai empat hari. Masa pra
pupa dan pupa. Pupa pada umumnya terbentuk pada kedalaman 2,5 - 17,5 cm
(Triharso,2010). Hama penggerek tongkol jagung menyerang pertanaman jagung pada saat
stadia larva nya.Pada awalnya imago betina meletakkan telurnya di rambut jagung hal itu
dikarenakan Helicoverpa armigera merupakan contoh hama yang polifag/ memakan semua
jenis tanaman, termasuk salah satu diantaranya adalah jagung (Kalshoven 1981). Untuk
meminimalisasi serangan hama penggerek tongkol ini dapat dilakukan pencegahan antara lain
denga menanam varietas jagung yang klobotnya menutup rapat dapat juga digunakan
predator atau musuh alaminya yakni Trichogramma sp. Dan Nuclear polyhidrosis. Sedangkan
bila serangan sudah mulai parah dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida pada
ambang kerusakan 3 tongkol per 50 tanaman dengan Azodrin 15 WSC, Hostation 40 EC atau
Nogos 50 EC ( Anonim, 2011). serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol
jagung. Terkadang pula serangga ini berpupa pada permukaan tumpukan limbah tanaman
atau pada kotoran serangga ini yang terdapat pada tanaman. Pada kondisi lingkungan
mendukung, fase pupa bervariasi dari enam hari pada suhu 35oC sampai 30 hari pada suhu
15oC,biasanya terjadi dalam tanah dan kedalamannya bergantung pada kekerasan tanah
(Pracaya,2008).

6. Hama Heliothis sp. Pada Tomat

sumber : www.allstarfieldhockey.com

Ulat buah Heliothis sp. menyerang daun, bunga serta buah tomat. Ulat ini bikin
lubang pada buah tomat dengan cara berpindah-pindah. Buah yang dilubangi akanmengalami
infeksi serta membusuk. Panjang badan ulat buah seputar 4-5 cm dengan permukaannya
berkutil serta dtumbuhi bulu. Warna ulat ini beragam mulai dari hijau, hijau kekuningan,
kecoklatan sampai hitam. Di bagian samping badan ada garis bergelombang.
Ulat buah dikendalikan dengan memungut manual ulat serta telurnya lalu dibakar. Jagalah
kebersihan kebun dari gulma serta semak belukar. Berbentuk ngegat dapat dikendalikan
dengan perangkap ultraviolet. Untuk penyemprotan memaakai type insektisida.
7. Hama Croccidolomia sp. Pada tanaman kubis

sumber : http://hamatanamankita.blogspot.co.id
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Arthropoda

Class

: Insecta

Ordo

: Lepidoptera

Family

: Pyralidae

Genus

: Crocidolomia

Species

: Crocidolomia binotalis Zell

Telurnya diletakkan di balik daun secara berkelompok, jumlah tiap kelompok sekitar
11 - 18, dan setiap kelompok berisi sekitar 30 - 80 butir telur. Telur berbentuk pipih dan
menyerupai genteng rumah, berwarna jernih. Diameter telur berkisar antara 1-2 mm. Stadium
telur berlangsung selama 3 hari.
Larva yang baru menetas hidup berkelompok di balik daun. Sesudah 4 - 5 hari,
mereka bergerak ke titik tumbuh. Ulat yang baru menetas berwarna kelabu, kemudian
berubah menjadi hijau muda. Pada punggungnya ada 3 baris putih kekuning-kuningan dan
dua garis di samping, kepalanya berwarna hitam. Panjang ulat sekitar 18 mm. Punggungnya

ada garis berwarna hijau muda. Sisi kiri dan kanan punggung warnanya lebih tua dan ada
rambut dari kitin yang warnanya hitam. Bagian sisi perut berwarna kuning. Ada juga yang
warnanya kuning disertai rambut hijau.
Pupa terletak dalam tanah di dekat pangkal batang inang. Panjang pupa sekitar 8,5 10,5 mm, berwarna hijau pudar dan coklat muda, kemudian berubah menjadi coklat tua
seperti tembaga. Imago jantan lebih besar dan lebih lebih panjang sedikitdaripada yang
betina. Warna sayap muka krem dengan bercak abu-abu coklat. Ngengat jantan berambut
hitam berumbia-rumbia di tepi masing-masing sayap muka di samping kepala, yang betina
kurang rimbun. Lama hidup untuk ngengat betina sekitar 16 - 24 hari. Daur hidupnya sekitar
22 - 30 hari. Panjang larva dapat mencapai 18 - 25 mm.
Larva kecil memakan bagian bawah daun dengan meninggalkan bekas berupa bercak
putih. Lapisan epidermis permukaan atas daun biasanya tidak ikut dimakan dan akan
berlubang setelah lapisan tersebut kering serta hanya tinggal tulang-tulang daunnya. Bila
bagian pucuk yang terserang maka tanaman tidak dapat membentuk krop sama sekali.
Larva instar II mulai memencar dan menyerang daun bagian lebih dalam dan sering
kali masuk ke dalam pucuk tanaman serta menghancurkan titik tumbuh. Apabila serangan
terjadi pada tanaman kubis yang telah membentik krop, larva yang telah mencapai instar III
akan menggerek ke dalam krop dan merusak bagain tersebut, sehingga dapat menurunkan
nilai ekonominya. Tidak jarang juga akan sering terjadi pembusukan krop karena serangan
tersebut yang diikuti oleh serangan skunder yaitu oleh jamur. Ulat krop kubis lebih banyak
ditemukan pda pertanaman yang telah membentuk krop, yaitu pada tanaman berumur 7- 11
minggu setelah tanam.
Tanaman kubis atau sawi yang diserang ulat ini selain rusak dan daunnya habis
dimakan, tanaman juga menjadi rusak dengan adanya sisa-sisa kotoran bekas ulat makan.
Bila telur dalam kelompok menetas, sekitar 300 ulat akan makan titik tumbuh sempurna. Ulat
akan menyerang dengan cepat pada tanaman lainnya sehingga ulat ini merupakan hama yang
berbahaya bagi tanaman sawi besar dan kol.

Sumber : http://hamatanamankita.blogspot.co.id
8. Hama Helopeltis sp. pada tanaman kakao

sumber: blogs.unpad.ac.id
Penghisap buah kakao (Helopeltis sp.) tersebar di beberapa negara penghasil kakao
seperti Malaysia, Indonesia, Afrika Barat, Afrika Timur, Papua New Guinea, dan Amerika
Selatan. Hingga saat ini Helopeltis sp. diketahui terdiri dari 13 spesies yang 2 spesies
diantaranya terdapat di Indonesia. Ke dua spesies tersebut adalah H. antonii Sign. dan H.
theivora Watt.
Imago helopeltis sp dapat diidentifikasi dari beberapa penampilan fisiknya yang
antara lain terdapatnya jarum penusuk pada mesoskutelumnya, berwarna coklat kehitamhitaman pada serangga jantan, berwarna coklat kemerah-merahan pada serangga betina,
tungkai berwarna coklat kelabu, punggung berwarna hijau kelabu, dan panjang tubuhnya 6,5
sd 7,5 mm. Serangga yang tumbuh optimal pada ketinggian 200 sd 1.400 meter di atas
permukaan laut ini, dapat hidup sampai 50 hari.
Imago betina dapat bertelur sebanyak 235 butir selama 34 hari. Telur tersebut
biasanya diletakan di permukaan buah muda. Telur berbentuk lonjong berwarna putih dengan
panjang sekitar 1 mm. Telur menetas dan menjadi nimfa setelah 6 sd 8 hari setelah diletakan.

Nimfa yang keluar berbulu halus dan belum memiliki jarum. Nimfa tersebut akan dewasa
setelah mengalami 4 kali ganti kulit dan jaru akan mulai nampak ketika ganti kulit pertama
pada nimfa. Periode nimfa biasanya berlangsung selama 12 sd 14 hari sebelum kemudian
berubah menjadi serangga dewasa (imago).
Populasi dan serangan hama penghisap buah kakao umumnya meningkat saat musim
hujan karena pada musim hujan intensitas penyinaran matahari semakin kecil, kelembaban
udara semakin tinggi, dan kecepatan angin semakin rendah. Kondisi seperti ini sangat cocok
untuk pertumbuhan dan perkembangan hama ini. Helopeltis dapat dikendalikan dengan
berbagai cara seperti pengendalian hayati, pengendalian kultur teknis, dan pengendalian
kimiawi.

9. Hama Chilo sacchariphagus pada tanaman tebu

sumber : http://ditjenbun.pertanian.go.id
Tanaman tebu yang terserang penggerek batang ditandai adanya bercak putih
yang cenderung lebar dan memanjang (tidak beraturan)

pada daun bekas gerekan dan

biasanya bercak ini tidak menembus kulit luar daun. Setelah menggerek daun, larva
masuk ke batang tebu melalui pelepah yang ditandai

adanya lubang gerek dipermukaan

batang dan jika dibelah terlihat lorong gerek yang memanjang. Jika gerekan kena pada titik
tumbuh, daun muda akan kering dan mati. Dalam satu ruas tebu biasanya terdapat satu atau
lebih larva.
Serangan hama ini pada tanaman tebu yang telah beruas menyebabkan
kerusakan ruas, pertumbuhan terhambat, batang mudah patah, dan dapat juga
menyebabkan kematian batang bila titik tumbuh batang terserang. Pada tebu yang telah
beruas, sebagian kerugian dapat berupa kerugian total dari batang-batang mati atau
busuk yang tidak dapat digiling (Gambar 1) dan sebagian lagi berupa penurunan bobot tebu
dan rendemen akibat kerusakan pada ruas-ruas batang. Hasil-hasil penelitian menunjukkan

bahwa serangan ruas sebesar 1% mampu menurunkan 0,74%

hasil kristal gula.

Sedangkan Wirioatmodjo, (1973 dalam Dianputri, 2013) menduga bahwa pada 20% ruas
yang terserang hama penggerek batang dapat menurunkan hasil gula paling sedikit 10%.
Konsep pengendalian hama terpadu selalu dijadikan rekomendasi dalam pengendalian
suatu OPT dilapang. Dalam hal ini yang penting adalah melakukan pengamatan
perkembangan populasi hama.
10. Hama Phaedonia inclusa pada tanaman Kedelai

sumber : http://cybex.pertanian.go.id
Kumbang daun kedelai, Phaedonia inclusa Stal. (Coleoptera, Chrysomelidae)
berbentuk hampir speris, kepala dan pronotum berwarna coklat-kemerahan, dan elytra
berwarna hitam-kebiruan dengan bagian tepi sempit berwarna coklat kekuningan. Elytra
panjangnya 4 - 5 mm. Pakan umumnya berupa daun yang telah membentang sempurna.
Perkembangan serangga ini berlangsung selama 3 - 4 minggu. Stadium kumbang berlangsung
selama 4 bulan. Pada keadaan tanaman tidak tumbuh, kumbang mampu bertahan hidup
hingga 5 buian. Kumbang ini bergerak lambat dan jarang terbang. Itulah sebabnya, kumbang
ini menyebar secara pasif setelah panenan melalui transportasi daun (15).
Produksi telur berkisar antara 200 - 250 butir. Telur biasanya diletakkan secara
berkelompok sebanyak 2 - 18 butir di permukaan bawah helaian daun (30). Telur berwarna
kuning muda, bentuknya agak melengkung dengan ujung bulat, panjangnya 1 1/3 mm dan
lebarnya 1/3 mm. Stadium telur berlangsung selama 4 hari (15).
Larva pada mulanya berwarna abu-abu gelap kemudian berubah menjadi agak muda.
Larva dilengkapi dengan tubercula dan setae yang hitam, bentuknya agak melengkung

dengan abdomen tebal, panjangnya mencapai 5 mm. Selama beberapa hari pertama, larva
tinggal pada daun, tempat telur diletakkan, kemudian segera merayap ke puncak batang,
bunga, dan polong. Larva tua sering memakan tangkai daun. Stadium larva terdiri atas 5
instar, berlangsung selama 8 hari. Pupa terbentuk di dalam rongga tanah dekat permukaan
tanah. Pupa menjadi kumbang setelah berumur seminggu.
Kelembaban merupakan faktor penentu dalam perkembangan serangga ini. Lembab
nisbi optimum yang dibutuhkan oleh kumbang untuk meletakkan telur berkisar antara 6080%. Hal ini mungkin merupakan salah satu faktor mengapa kumbang daun kedelai menjadi
hama penting di daerah beriklim kering.
Kumbang hadir di pertanaman sejak kecambah muncul ke permukaan tanah hingga
tanaman masih memiliki daun atau polong muda. Kumbang dan larva merusak pucuk, daun
muda, tangkai daun muda, bunga dan polong muda. Tanaman kedelai yang diserang larva
maupun kumbang mengalami perompesan sehingga mengakibatkan penurunan hasil panen.
Serangan hama pada tanaman muda mengakibatkan tanaman mati, serangan pada tanaman
stadium pembungaan mengakibatkan jumlah bunga dan polong berkurang, dan serangan pada
stadia perkembangan polong dan biii mengakibatkan jumlah polong dan kualitas biji
berkurang.

11. Hama Plusia sp. pada tanaman kedelai

sumber : magenta45ipb.files.wordpress.com
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda

Class : Insecta
Order : Lepidoptera
Family : Noctuidae
Genus : Plusia
Spesies : plusia chalcites
Gejala kerusakan akibat serangan ulat jengkal adalah kerusakan daun dari arah
pinggir. Serangan berat mengakibatkan kerusakan daun hingga hanya tersisa tulang-tulang
daun. Serangan larva, instar muda,menyebabkan bercak- bercak putih karena yang tinggal
hanyaepidermis dan tulang daunnya. Sebagian larva yang lebih besar dapat menyebabkan
daun terserang habis, serangan larva terjadi pada stadia vegetative.
Panjang ulat sekitar 2 cm, jika bejalan ulat melengkung seperti orang mengukur
panjang dengan jengkal panjang tangan. Ulat yang masih muda berwarna bening.
Sementara itu ulat dewasa berwrana hijau seperti daun tembakau dengan garis samping
berwarna lebih muda. Badannya mengecil dari belakang ke kepala. Kepalanya dapat
berukuran

kecil.

Hama

ini

memiliki

ciri-ciri: berukuran

1.5-2.0mm

menekan

pencemaran warna hitam mengkilat. Pengendalian secara kultur satu ekor betina dapat
berkembang biak cepat menghasilkan telur 100-300 butir selama perode dua minggu.
Bentuk telur lalat adalah lonjong, panjang

0.28-0.36 lebar 0.12-0.20mm, berwarna putih.

Telur menetas tanam serentak dalam setelah umur 2-4 hari. larva berwarna hijau pemangsa
segala jenis terang dan hidup dalam tanaman (polifag)dan gulungan daun muda..
Daur hidupnya yakni Ngengat betina meletakkan telur pada permukaan permukaan bawah
daun secara satu persatu. Mula-mula telur berwarna putih kemudian berubah menjadi
kuning. Setelah 3-4 hari, telur akan menetas. Ulat yang keluar berwarna hijau dan
dikenal dengan sebutan ulat jengkal karena perilaku jalannya. Panjang tubuh ulat yang
telah mencapai pertumbuhan pennuh sekitar 40 mm. Ulat dewasa membentuk kepompong
dalam daun yang dianyam. Setelah 7 hari, kepompong tumbuh menjadi ngengat.

12. Hama Cylas formicarius pada tanaman ketela rambat

sumber : http://bbpopt.tanamanpangan.pertanian.go.id
Deskripsi dan Biologi. Siklus hidup kumbang Cylas terdiri dari Telur Larva Pupa
Imago (metamorfosis sempurna : holometabola). Telur. Kumbang betina meletakkan
telurnya satu per satu kedalam rongga kecil pada bagian pangkal batang atau umbi. Telur
Cylas berbentuk bulat dan mengkilap. Rongga kecil tempat meletakkan telur ditutupi
dengan lapisan pelindung sehingga sulit untuk dilihat. Larva. Larva berkembang dan
membuat lubang gerekan di bagian dalam pangkal batang atau umbi. Larva berwarna
putih, mempunyai bentuk tubuh melengkung dan tidak berkaki. Pupa. Stadia pupa terjadi
didalam umbi. Pupa berwarna putih. Imago. Beberapa hari setelah keluar dari pupa,
kumbang dewasa muncul dari umbi. Kumbang betina mencari umbi sebagai tempat untuk
bertelur dengan cara masuk melalui celah/retakan tanah karena kumbang betina tidak bisa
menggali tanah. Jenis kelamin kumbang Cylas dapat dibedakan berdasarkan bentuk
antenanya. Antena kumbang jantan berbentuk filiform, ruas-ruas antena memiliki ukuran
sama dan silindris, sedangkan pada kumbang betina ruas terakhir/bagian ujung antena
berbentuk seperti gada. Kumbang Cylas jantan memiliki mata faset lebih besar daripada
betina. Pada suhu optimal yaitu sekitar 27-30C, satu siklus hidup C. formicarius
memerlukan waktu sekitar 33 hari. Umur kumbang (serangga dewasa) berkisar antara 2,5
s/d 3,5 bulan. Pada periode tersebut, kumbang betina dapat menghasilkan telur sekitar
100 250 telur. Pada kondisi suhu dibawah suhu optimal, perkembangan Cylas
membutuhkan waktu lebih lama.
Kerusakan. Kumbang Cylas dewasa memakan epidermis pangkal batang dan bagian
permukaan luar dari umbi sehingga menyebabkan terbentuknya lubang pada umbi.
Lubang yang disebabkan oleh aktivitas makan kumbang dapat dibedakan dengan lubang
yang diakibatkan oleh aktivitas oviposisi kumbang betina, karena lubang tersebut lebih
dalam dan ditemukan adanya kotoran/bekas gerekan (Gbr. 5). Larva yang berkembang
didalam umbi membuat lubang gerekan dan menyebabkan kerusakan. Akibat aktivitas
larva pada saat membuat lubang gerekan mengakibatkan terbentuknya serbuk/tepung

pada rongga bekas gerekan didalam umbi. Umbi yang rusak menghasilkan senyawa
beracun (senyawa terpene) sehingga mengakibatkan umbi tersebut tidak dapat
dikonsumsi meskipun kandungan senyawa terpene pada umbi kadarnya rendah dan
tingkat kerusakan fisiknya pun relatif ringan. Gejala kerusakan yang timbul pada pangkal
batang yaitu terjadinya malformasi, penebalan, dan adanya peretakan pada bagian dalam
jaringan yang terserang (Gbr. 6). Namun gejala pada pangkal batang sulit ditemukan.
Pengendalian. Pada kondisi populasi kumbang Cylas tinggi, tidak ada satu pun metode
pengendalian yang dapat memberikan perlindungan memadai terhadap pertanaman ubi
jalar. Integrasi beberapa teknik pengendalian, dengan penekanan pada pencegahan
serangan dari kumbang Cylas merupakan tindakan perlindungan tanaman yang lebih
efektif.

13. Hama Phthorimaea operculella pada tanaman Kentang

sumber : www.labscorner.org
Hama ulat penggulung pengganggu tanaman kentang adalah Phthorimaea operculella.
Serangan ulat jenis ini banyak terjadi saat musim kemarau. Selain menyerang tanaman
kentang, Phthorimaea operculella juga menyerang tanaman tembakau. Hama ulat ini dikenal
juga dengan nama Potato Tumbermoth (PTM). Hama PTM diduga sebagai hama pengundang
datangnya serangan jamur fusarium. Pada ketinggian 1.200 mdpl daur hidup ulat dapat
mencapai 40 hari sehingga sangat berbahaya bagi tanaman kentang. Selain menyerang
tanaman kentang, Phthorimaea operculella juga berpotensi menyerang umbi kentang di
dalam gudang. Serangga dewasa berupa kupu-kupu aktif di malam hari. Kupu-kupu ini
meletakkan telur yang sangat kecil di bawah daun atau di atas umbi terbuka (tidak tertutup
tanah).
Gejala serangan dimulai adanya perubahan warna daun dari hijau menjadi merah tua.
Selain itu, akan mucul jalinan menyerupai benang, didalamnya terdapat ulat kecil berwarna
abu-abu. Daun menggulung karena permukaan daun sebelah atas rusak. Serangan tidak hanya

terjadi

di

lapangan,

tetapi

juga

di

gudang

tempat

penyimpanan

umbi.

Upaya pengendalian hama ulat Phthorimaea operculella adalah sebagai berikut :


1. Usahakan tidak ada retakan tanah, karena larva ulat Phthorimaea operculella ini akan
masuk melalui retakan tanah serta merusak umbi.
2. Pembubunan harus dilakukan secara rutin untuk mencegah serangan larva ke dalam
umbi.
3. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
4. Upaya pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu menggunakan pestisida
nabati. Selain itu bisa juga menggunakan pestisida biologi (memanfaatkan Bacillus
thuringiensis atau Baculovirus).
5. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin,
deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo.
Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.
14. Hama penggerek polong Etiella zinckenella

sumber : sulsel.litbang.pertanian.go.id
Class : Insecta
Order : Lepidoptera
Family : Pyralidae
Subfamily : Phycitinae
Genus : Etiella
Species : Etiella zinckenella
Gejala kerusakan tanaman akibat serangan hama ini adalah terdapatnya bintik atau
lubang berwarna cokelat tua pada kulit polong, bekas jalan masuk larva ke dalam biji.
Seringkali, pada lubang bekas gereka terdapat butir-butir kotoran kering yang berwarna

coklat muda dan terikat benang pintal atau sisa-sisa biji terbalut benang pintalm merusak biji
dengan menggerek kulit polong muda dan kemudian masuk serta menggerek biji, sebelum
menggerek larva baru menetas menutupi dirinya dengan selubung putih hingga ada bintik
coklat tua sebagai jalan masuk hama tersebut.
Hama ini mempunyai panjang tubuhnya antara 8-11 mm, panjang sayapnya antara 1927 mm,sayapnya lebih panjang daripada abdomen. Perkembangantelurnya antara 4-21 hari ,
larvanya antara 19-40 hari,sedangkan perkembangan pupanya antara 12-18 hari, umur
imago lebih kurang 20 hari, rata-rataimagonya bertelur antara 100-600 butir telur dan
perkembangannya tergantung pada suhu lingkungan.
Ngengat hama ini berwarna keabu-abuan pada bagian tepi sayap ada pembatas
berwarna kuning muda, rentangan sayapnya antara 24-27 mm. Telur berwarna putih mengilap
dan berubah menjadi kemerah-merahan larvanya berwarna putih kekuningan. Kepala lebih
besar dari pada badan dan berwarna coklat sampai hitam.
Telur diletakkan berkelompok 4-15 butir di bagian bawah daun, kelopak bunga atau
pada polong. Telur berbentuk lonjong, diameter 0,6 mm. pada saatdiletakkan telur
berbah kemerahan dan berwarna warna putih mengkilap,kemudian berwarna jingga ketika
akan menetas. Setelah 3-4 hari, telur menetasdan keluar ulat berwarna putih kekuningan,
kemudian berubah menjadi hijaudengan garis merah memanjang . Ulat instar 1 dan 2
menggerek polong daun,menggerek biji dan hidup di dalam biji. Setelah instar 2, ulat hidup
di luar biji. Dalam satu polong sering dijumpai lebih dari 1 ekor ulat. Ulat instar akhir
mempunyai panjang 13-15 mm dengan lebar 2-3 mm. Kepompong berawarna coklat dengan
panjang 8-10 mm dan lebar 2 mm, dibentuk dalam tanah dengan terlebih dahulu membuat sel
dari tanah. Setelah 9-15 hari, kepompong berubahmenjadi ngengat.
15. Meloidogyne sp. pada Kedelai

sumber : eprints.upnjatim.ac.id

Nematoda Meloidogyne spp. adalah nematode parasit yang menyerang akar. Nematoda puru
akar (Meloidogyne spp.) merupakan parasit penting dan banyak menyerang tanaman di
lahan pengembangan maupun pembenihan, sehingga banyak menimbulkan kerugian bagi
petani karena terjadi penurunan produktivitasnya.Nematode ini masuk kedalam akar dan
menginfeksi akar, sehingga akar akan membengkak dan tidak dapat berfungsi dengan baik.
Pada bagian akar yang membengkak ini terdapat nematode yang bersarang di dalamnya.
Nematoda Meloidogyne

spp.

ini mempunyai beberapa

spesies. Antar spesies dapat

dibedakan dengan melihat ciri fisik dari nematode tersebut. Selain itu antar spesies dari
genus Meloidogyne spp ini dapat dibedakan dengan melihat sidik pantat dari nematode
tersebut. Dengan melihat sidik pantat ini dapat dibedakan spesiesnya. Meloidogyne spp.
melakukan siklus hidupnya mulai dari telur hingga masa dewasa. Meloidogyne spp. dimulai
dari fase telur, fase telur ini mengalami pergantian kulit jadi juvenile I. Setelah itu, telur
menetas, ganti kulit kedua jadi memasuki fase juvenile II. Kemudian bekembang anti kulit
ketiga lagi masuk ke fase juvenile III, tumbuh masuk fase juvenile IV setelah ganti kulit
keempat. Dari fase juvenile IV memasuki fase dewasa jantan dan betina. Meloidogyne spp.
jantan dan betina dewasa kemudian membengkak tubuhnya sehingga aktivitas geraknya
terbatasi, betina akan mengandung teluryang jumlanya banyak,ukuran tubuh betina akan
tetap membengkak terus, tetapi jantan dewasa akan kembali ke ukuran ramping semula lagi.
Untuk mengendalikan nematoda parasit pada tanaman,berbagai upaya pengendalian dapat
dilakukan. Saat ini diketahui tanaman tertentu dapat menjadi racun bagi nematoda, misalnya
Tagetes spp. atau kenikir ( jawa ). Tanaman ini ditanam sebagai tanaman sela atau ditanam
dalam rotasi dengan tanaman sayuran atau tanaman pangan yang lain. Tagetes spp mampu
mencegah menetesnya telur sehingga mengurngi perkembang biakan nematoda bengkak akar
(Meloidogyne spp.), karena tanaman ini mengeluarkan substansi yang beracun yang akan
meracuni nematoda.
16. Hama Sesamia inferens pada tanaman padi

sumber : http://cybex.pertanian.go.id

Hama penggerek batang termasuk hama paling penting pada tanaman padi, dapat menyerang
tanaman mulai dari fase vegetataif maupun generatif. Penyerangan di awal pertumbuhan
tanaman (fase vegetatif) dapat menyebabkan pucuk tanaman padi menjadi kering dan mati
karena batangnya digerek oleh ulat (larva) dari hama ini dari bagian dalam batang. Serangan
hama penggerek batang pada fase ini secara umum oleh petani dikenal dengan Hama Sundep.
Larva dari hama ini hidup di bagian dalam dari batang sehingga pengendalian dengan
insektisida yang bersifat kontak kurang efektif. Oleh karena itu pengendalian di fase awal
yaitu pada saat serangga (imago) hama ini meletakkan kelompok telurnya di permukaan
pelepah daun akan lebih efektif atau dapat juga digunakan insektisida sistemik seperti dengan
insektisida.
17. Hama Sesamia inferens pada tanaman Jagung

sumber : m.tabloidsinartani.com
Daun muda dan batang tanaman mengering. Serangan dapat berlanjut hingga ke tongkol dan
rambut jagung sehingga akhirnya pertumbuhan tanaman dapat berhenti.
Penyebab serangan ini adalah penggerek batang merah jambu (Sesamia inferens
Walker). Telur hama ini diletakkan berderet pada pelepah daun. Larva mudanya menyerang
pelepah hingga tulang daun, sedangkan larva dewasamenggerek batang dan tongkol.
Berikut langkah-langkah pengendalian serangan penggerek batang merah jambu
tersebut:

Cabut dan Bakar tanaman yang terserang,

Lakukan penanaman secara serentak,

Lakukan rotasi tanam dengan tanaman kacang-kacangan atau tanaman selain tebu
dan padi,

Semprot tanaman saat menjelang berbunga dan awal keluarnya bunga dengan
insektisida Nogos 50 EC dengan dosis 500 g/l sebagai usaha pencegahan,

Lakukan pemberantasan hama dengan insektisida Furadan 3 G atau Curaterr 3 G


dengan dosis anjuran

18. Hama lalat pengorok daun Liriomyza sp.

sumber : majalahserangga.wordpress.com
Serangga dewasa berupa lalat kecil berukuran sekitar 2 mm. Fase imago betina 10
hari dan jantan 6 hari. Serangga betina menusuk daun melalui ovipositor, sehingga
menimbulkan luka. Nisbah kelamin jantan dan betina 1:1. Serangga betina mampu
menghasilkan telur sebanyak 600 butir. Pada bagian ujung punggung L. huidobrensis terdapat
warna kuning seperti L. sativa, sedangkan pada lalat L. chinensis (yang diketahui menyerang
bawang merah) dibagian punggungnya berwarna hitam.Telur berwarna putih, berukuran 0,1
0,2 mm,berbentuk ginjal, diletakkan pada bagian epidermis daun melalui ovipositor. Lama
hidup 2 4 hari. Stadium larva atau belatung terdiri atas tiga instar, berbentuk silinder, tidak
mempunyai kepala atau kaki. Larva yang baru keluar berwarna putih susu atau putih
kekuningan, segera mengorok jaringan mesofil daun dan tinggal dalam liang korokan selama
hidupnya. Larva instar 2 dan 3 merupakan instar yang paling merusak karena terkait dengan
meningkatnya konsumsi pakan dan luas korokan yang ditimbulkannya. Ukuran larva 3,25
mm. Fase larva sekitar 6 - 12 hari. Pupa berwarna kuning kecoklatan dan terbentuk dalam
tanah. Lama hidup sekitar 8 hari. Dalam satu tahun biasanya terdapat 8 12 generasi. Siklus
hidup dari telur sampai dewasa 14 23 hari.
Kerusakan akibat larva Liriomya sp.s, dapat mengurangi kapasitas fotosintesa pada
tanaman serta dapat menggugurkan daun pada tanaman muda.Larva merusak tanaman
dengan cara mengorok daun sehingga yang tinggal bagian epidermisnya saja. Serangga
dewasa merusak tanaman dengan tusukanovipositor saat meletakkan telur dengan menusuk

dan mengisap cairan daun sehingga terlihat adanya liang korokan larva yang berkelok kelok
.Pada serangan parah daun tampak berwarna merah kecoklatan. Akibatnya seluruh
permukaan tanaman hancur. Didaerah tropika tanaman yangvterserang hama ini seperti
terbakar. Kerusakan langsung berupa luka bekas gigitan pada tanaman sehingga dapat
terinfeksi oleh fungi maupun oleh bakteri penyebab penyakit tanaman.

V.

KESIMPULAN

1. Hama pada tanaman pangan sangat beragam diantaranya adalah Valanga, Lepidiota,
Oryctes, Nezara.
2. Kerusakan pada tanaman yang disebabkan hama dapat dilihat melalui gejala ataupun
tanda serangannya.
3. Identifikasi hama juga dapat melalui bentuk atau morfologinya dan juga bioekologinya

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. http://www.karantina.deptan.go.id/optk/detail.php?id=215
Diakses tanggal 01 September 2015.
Anonim. 2011. http://www.ppdl.purdue.edu/ppdl/weeklypics/8-2-10.html
Diakses tanggal 01 September 2015.
Furqon, V. 2011. Bioekologi serangga. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian.Rineka Cipta. Jakarta
Pane, Y. 1980. Serangan Ulat Api (Limacodidae) dan Ulat Kantung (Psychidae) serta
pengendaliannya di Kebun Tinjowan II PTP VI (Persero), Sumatera Utara. IPB.
Bogor.
Pracaya.2008. Pengendalian Hama danPenyakitTanamansecaraOrganik.Kanisius.Yogyakarta.
Tjahjadi, N. 1989. Hama dan Penyakit Tumbuhan. Kanisius, Yogyakarta.
Triharso.2010.Dasar-Dasar PerlindunganTanaman.Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.