Anda di halaman 1dari 5

Bab 7 : KETERBALIKAN & SKALA TEMPERATUR KELVIN

7.1 Keterbalikan & ketakterbalikan

Suatu proses terbalikkan adalah proses yang berlangsung sedemikian, sehingga pada akhir
proses tersebut, baik sistem maupun lingkungan setempatnya dapat dikembalikkan ke
keadaan semula tanpa menimbulkan perubahan apapun pada sisa semesta (keadaan di luar
sistem dan lingkungan)

Proses alamiah (keseharian) adalah termasuk proses ketakterbalikkan, mengacu pada hukum
kedua termodinamika.

7.2 Keterbalikan mekanis eksternal

Pengalihan kerja menjadi energi internal dari sistem berlangsung melalui perantara gejala
seperti, kekentalan, gesekan, ketakkekenyalan, resistensi listrik dan histeresis magnetik
disebut efek lesap.

Proses yang menyangkut pelepasan kerja menjadi energi internal dikenal sebagai
ketakterbalikkan mekanis eksternal

Contoh proses keterbalikkan mekanis eksternal

Pengalihan kerja isoterm melalui suatu sistem (yang tetap tidak berubah) menjadi energi
internal suatu tandon. Agar sistem dan lingkungan setempatnya dapat dikembalikan ke
keadaan semula tanpa menimbulkan perubahan lingkungan, Q satuan kalor harus diambil dari
tandon dan diubah seluruhnya menjadi kerja. Namun karena hal ini melanggar Hukum Kedua
(pernyataan Kelvin), maka setiap proses jenis diatas adalah TAK TERBALIKKAN.

|  
  
  
kerja kalor
     
  

contoh lain:

1. Pengadukan ± tak teratur cairan kental yang bersentuhan dengan tandon

2. Berhentinya cairan berputar yang bersentuhan dengan tandon

3. Deformasi tak kenyal zat padat yang bersentuhan dengan tandon

7.3 KETAKTERBALIKAN MEKANIS INTERNAL

Salah satu proses alamiah yang menyangkut pengalihan energi internal suatu sistem menjadi
energi mekanis dan kembali menjadi energi internal lagi

Contoh : gas ideal yang masuk ke ruang hampa (pemuaian bebas)


Selama pemuaian bebas berlangsung, tidak terjadi antar aksikarena itu tidak ada lingkungan
setempat. Satu-satunya pengaruh yang timbul adalah perubahan keadaan gas ideal dari volum
Vf dan temperatur yang sama, ș menjadi volume yang lebih besar, Vf dan temperatur yang
sama, ș. Untuk mengembalikkan gas itu ke keadaan semula, kita harus memampatkankannya
secara isothermal sehingga volumenya menjadi Vi.

Jika pemampatan dilakukan secara kuasi statik dan tidak ada gesekan antara piston dan
silinder, jumlah kerja W harus dilakukan oleh gawai mekanis luar dan sejumlah kalor yang
sama harus mengalir keluar dari gas, masuk ke tandon pada temperatur ș. Jika gawai mekanis
dantandon dibiarkan tidak berubah, kalor harus diambil dari tandon dan dibah seluruhnya
menjadi kerja. Karena langkah terakhir ini tidak mungkin dilakukan, maka proses tersebut
TAKTERBALIKKAN.

7.4 ketakterbalikan termal eksternal dan internal

Meninjau suatu proses pengalihan kalor antara sistem dengan tandon berdasarkan perbedaan
temperatur yang berhingga.

1. penghantaran atau radiasi kalor dari sebuah sistem ke sebuah tandon yang lebih dingin

2. penghantaran atau radiasi melalui sebuah sistem (yang tetap tidak berubah) dari tandon
panas ke tandon yang lebih dingin

Proses diatas adalah proses ketakterbalikan termal eksternal karena bertentangan dengan
hukum kedua (pernyataan Clausius). Setelah proses diatas selesai, maka untuk
mengembalikaan keduanya (sistem dan lingkungan) ke keadaan semula tanpa mengubah,
kalor harus dipindahkan melalui gawai yang dapat beraksi sendiri dari benda yang lebih
dingin ke benda yang lebih panas.

Sebaliknya suatu proses yang menyangkut pemindahan kalor antara bagian-bagian dari
sistem yang sama oleh perbedaan temperatur, juga takterbalikkan menurut Clausius mengenai
HK II disebut ketakterbalikan termal internal.

7.5 ketakterbalikan kimiawi

Dapat diperlihatkan bahwa difusi dua jenis gas ideal yang lembam setara dengan dua
pemuaian bebas yang tak bergantung satu sama lain. Karea pemuaian bebas takterbalikan,
maka difusi juga takterbalikan. Proses yang menyangkut perubahan spontan struktur kimiawi,
kerapatan, fase dan sebagainya dikatakan memperlihatkan ÷ ÷ ÷÷ 
 

Contoh :

  ÷ 
÷  

-? Semua reaksi kimia

     

-? Digusi dua jenis gas ideal yang lembam


-? Pencampuran alkohol dengan air

   ÷

-? pembekuan cairan yang sangat dingin


-? Pengembunan uap yang sangat jenuh

÷     

-? Pelarutan zat padat dalam air


-? Osmosis

7.6 Syarat keterbalikan

Semua proses yang menyertai kehidupan ini adalah proses tak terbalikkan. Hal ini merupakan
akibat langsung dari Hukum Termodinamika yaitu, bahwa    ÷
 ÷÷

1.? Semua proses kesetimbangan mekanis, termal, atau kimia (kesetimbangan


termodinamika tida terpenuhi).
2.? pengaruh lesap, seperti, viskositas, gesekan, ketakkekenyalan, resistensi listrik dan
histeresis magnetik.

Maka suatu proses terbalikkan tidak boleh memiliki kekhasan diatas. Jika proses berlangsung
secara kuasi-statik, sistem melewati kesetimbangan termodinamika yang dapat dilalui satu
arah maupun arah yang berlawanan. Jika tidak terdapat pengaruh lesap, semua kerja yang
dilakukan oleh sistem ketika berlangsung dalam satu arah, dapat dikembalikkan dalam ke
sistem ketika proses baliknya berlangsung.

Jadi proses akan terbalikkan jika,

a)? Dilakukan secara kuasi-statik


b)? Tidak dipengaruhi pengaruh lesap apa pun.

Karena tidak mungkin memenuhi persyaratan itu dengan sempurna, jelas bahwa proses
terbalikkan hanya merupakan abstraksi ideal, ia hanya berguna untuk perhitungan teoritis,
namun tidak ada dalam kenyataan. Anggapan proses terbalikkan dalam termodinamika
serupa dengan anggapan yang sering diambil dalam mekanika yaitu, pegas tak bermassa,
katrol tak bergesekkan dan massa titik.

Seringkali kita menggunakan proses penolong untuk proses terbaliknya agar tercapainya
kesetimbangan sistem termodinamika, walaupun terkadang anggapan ini agak drastis.
Menganggap prosesnya kuasi-statik saja seringkali tidaklah cukup, karena jika terjadi proses
pelesapan, munkin ada aliran kalor atau perubahan energi internal dari sistem tetangganya
(selubungnya, wadahnya atau lingkungannya) yang bisa membatasi keaslian penalarannya.

7.7 keberadaan permukaan adiabat terbalikkan


Satu-satunya akibat yang telah tampak dari hukum kedua termdinamika ialah
ketakterbalikkan proses spontan alamia. Untk melihat akibat lainnya, orang biasanya
mengambil salah satu dari dua cara berikut : cara teknik menurut Carnot, Kelvin dan Clausius
atau metode aksiomatik menurut matematikawan Yunani C. Caratheodory.

Metode teknik berlandaskan perumusan hukum kedua menurut Kelin-Planck atau yang setara
dengan itu, yaitu pernyataan Clausius. Orang mulai mendefinisikan daur terbalikkan
sederhana yang khas, yang disebut  .

Yaitu mesin yang bekerja menurut daur ini, di antara dua tandon pada dua temperatur yang
berbeda, lebih efisien daripada mesin lainnya yang bekerja di antara pasangan tandon yang
sama. Setelah dibuktikan bahwa semua mesin Carnot yang bekerja di antara pasangan tandon
yang sama berefisiensi sama, maka tanpa bergantung pada jenis zat yang mengalamai daur
itu, skla tempertaur Kelvin ditetapkan sedemikian sehingga tidak bergantung pada sifat jenis
termometer tertentu.

Sebuah teorema yang disebut teorema Clausius dapat diturunkan dari hal diatas dan dari sini
dapat ditunjukan keberadaan entropi. Cara teknik yang dipakai untuk mencari akibat dari
hukum kedua menururt Kelvin-Planck atau Clausius, cukup ketat dan berlaku umum.

Jika seseorang berminat dalam produksi mesin dan pesawat pendingin, ia perlu memakai
prinsip yang berlaku tanpa menghiraukan sifat bahan yang dipakai. Namun jika berminat
mempelajari kelakuan sistem, koordinatnya, persamaan keadaannya, sifatnya, prosesnya dan
lain sebagainya, maka ia perlu menggunakan pendekatan metode yang lebih dekat
hubungannyadengan kordinat dan persamaan dari sistem yang sebenarnya.

Dalam dasawarsa pertama dari abad kedua puluh Caratheodory menggantikan pernyataan
hukum kedua Kelvin-Planck dan Clausius, mengemukakan aksioma sebgai berikut: 
 ÷   ÷÷        
       ÷    ÷    ÷   ÷ 
       ÷÷ Semua akibat aksioma Caratheodory timbul
langsung dari pernyataan hukum kedua menurut Planck.

Kita tinjau yang sederhana telah ditekankan bahwa dW dan dQ adalah diferensial tak
seksama. Bila suatu sistem dapat diberikan dengan pertolongan tiga koordinat termodinamik,
katakanlah, temperatur t, pergeseran X, maka jika Y menyatakan gaya rampatan, hukum
pertama dapat dtuliskan sebagai

dQ = dU ± Y dX

hanya dua koordinat termodinamia yang saling tak bergantung jika persamaan keadaannya
juga diketahui.

U sebagai fungsi t dan X, di dapatkan,


 
dQ = ´   dt +   ´
 
 
dengan ሺ߲ܷ Τ߲‫ ݐ‬ሻ
, Y,dan ሺ߲ܷ Τ ሻ sebagai fungsi t dan X yang diketahui. Suatu proses
adiabat terbalikkan untuk sistem ini dinyatakan oleh persamaan
 
´  dt +   ´   = 0 (7.1)
 


Dengan menyelesaikan ‫ ݐ‬Τ , kita dapatkan


  ሺ  Τ
ሻ೟
´  =
  ሺ  Τ  ሻೣ

Ruas kanan diketahui sebagai fungsi t dan X, sehingga turunannya, ‫ ݐ‬Τ , yang menyatakan
kemiringan adiabat pada diagram t-X, diketahui pada setiap titik. Jadi persamaan (7.1)
mempunyai penyelesaian yang terdiri atas kumpulan kurva, dan kurva yang melalui satu titik
mana pun dapat ditulis sebagai

ߪሺ‫ݐ‬ǡ ሻ ൌ ‫݌ܽݐ݁ݐ‬

Sekumpulan kurva diperoleh bila harga yang berbeda-beda diberikan pada harga tetap itu.
—   ÷   ÷  ߪ        ÷     ÷
÷  
     ÷    ÷  ÷ ÷÷   
    ÷      ÷

Bila tiga atau lebih banyak koordinat bebas yang diperlukan untuk menyatakan sebuah
sistem, keadaanya sangat berbeda. Hukum kedua termodinamika diperlukan supaya kita
dapat menarik kesimpulan bahwa:   ÷ ÷  
       
  ÷÷   ÷       ÷    ÷÷   
÷ 
   ÷  ÷    ÷÷