Anda di halaman 1dari 166

PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT 250 KPM

DENGAN PEMBELAJARAN LATIHAN BERJENJANG


DAN PENILAIAN AUTHENTIC ASSESSMENT
PADA SISWA KELAS VIIIA MTs MIFTAHUL ULUM
RENGASPENDAWA KABUPATEN BREBES

SKRIPSI
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

oleh
Nama : Elly Fatmawati
NIM : 2101401055
Program Studi : Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia

FAKULTAS BAHASA DAN SENI


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian
Skripsi.

Semarang, 14 September 2005


Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Wagiran, M.Hum. Drs. Subyantoro, M.Hum.


NIP 132058001 NIP 132005032

ii
PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan
Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri
Semarang

pada hari : Rabu


tanggal : 14 September 2005

Panitia Ujian Skripsi


Ketua, Sekretaris,

Prof. Dr. Rustono, M.Hum. Drs. Mukh Doyin, M.Si.


NIP 131281222 NIP 132106167

Penguji I, Penguji II, Penguji III,

Drs. Haryadi, M.Pd. Drs. Wagiran, M.Hum. Drs. Subyantoro, M.Hum.


NIP 132058082 NIP 132058001 NIP 132005032

iii
PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya
saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya.
Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau
dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, 14 September 2005

Elly Fatmawati

iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto: “Berdoa, berpikir, berusaha, dan bersabar merupakan kunci keberhasilan.”

Skripsi ini kupersembahkan kepada:


1. Bapak dan Ibu tercinta yang telah memberikan kasih
sayang tulus, semangat, dan iringan doa dalam setiap
langkahku;
2. Kedua kakakku yang tiada henti memberikan semangat
kepada penulis;
3. Teman hidupku, dan sahabat-sahabatku yang
menciptakan rajutan kisah persahabatan yang indah, dan
tanpa pamrih kepada penulis; dan
4. Guru dan almamaterku yang mengantarkan langkahku.

v
PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayahNya, sehingga skripsi ini dapat deselesaikan dengan baik.
Skripsi ini dapat diselesaikan berkat bantuan dan fasilitas yang diberikan oleh
berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada,
1. Prof. Dr. Rustono M. Hu,. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas
Negeri Semarang, yang telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan
skripsi ini.
2. Drs. Moh Doyin, M.Si, Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang
telah memberikan izin kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
3. Drs. Subyantoro, M.Hum., dosen pembimbing I yang telah
memberikan bimbingan, masuksn ide, dan dorongan sehingga skripsi ini
diselesaikan dengan baik.
4. Drs. Wagiran, M.Hum,, dosen pembimbing I yang telah memberikan
bimbingan, masuksn ide, dan dorongan sehingga skripsi ini diselesaikan
dengan baik.
5. Semua dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang telah memberikan
ilmu dan pengalamannya kepada penulis.
6. Petugas TU Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, TU Fakultas Bahasa dan
Seni, dan petigas KOMBAT, yang telah membantudan memberikan
kemudahan dalam urusan administrasi dan peminjaman buku.
7. Semua pihak dan instansi yang membantu terselesaikannya skripsi ini.
Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua yang membaca.

Semarang, 14 September 2005

Penulis

vi
SARI

Fatmawati, Elly.2005. Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat 250 Kpm


dengan Pembelajaran Latihan Berjenjang dan Penilaian Authentic
Assessment pada Siswa Kelas VIII A MTs. Miftahul Ulum
Rengaspendawa Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2004/2005.
Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan
Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I: Drs. Subyantoro,
M.Hum., Pembimbing II: Drs. Wagiran, M.Hum.
Kata kunci: kemampuan membaca cepat, pembelajaran kontekstual, elemen
authentic assessment

Pembelajaran membaca cepat mempunyai peranan penting dalam mata


pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Kecepatan membaca sangat mempengaruhi
keberhasilan seseorang untuk menyerap segala macam informasi yang ada dalam
media cetak maupun elektronik. Semua pendidik berharap agar para siswa
mempunyai kecepatan membaca yang memadai. Pemilihan strategi dan
pendekatan yang tepat dalam pembelajaran merupakan hal yang harus
dipertimbangkan oleh guru agar tujuan pem,belajaran yang telah dirumuskan
dapat mencapai sasaran. Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan guru
kelas pembelajaran membaca cepat kelas VIII A MTs Miftahul Ulum
Rengaspendawa Kabupaten Brebes masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan
kecepatan membaca siswa berkisar antara 90-170 kata per menit, demikian pula
pemahaman bacaan hanya mampu memahami sebesar 60%. Rendahnya
kemampuan siswa dalam membaca cepat disebabkan pada faktor internal dan
eksternal. Faktor internal ini berasal dari siswa, sedangkan faktor eksternal berasal
dari strategi guru dalam melaksanakan pembelajaran. Guru dalam melaksanakan
pembelajaran masih menggunakan pola pembelajaran tradisional. Pemilihan
pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment sebagai upaya untuk
meningkatkan kemampuan membaca cepat berdasarkan tuntutan kurikulum
berbasis kompetensi yang memberikan kebebasan para guru untuk memilih teknik
yang beragam disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Kurikulum berbasis
kompetensi ingin memusatkan diri pada pengembangan seluruh kompetensi siswa
termasuk keterampilan berbahasa yang didalamnya mencakup kemampuan
membaca cepat sebagai salah satu kompetensi dasar membaca.
Berdasarkan paparan di atas penelitian ini mengangkat permasalahan, yaitu
(1) bagaimanakah peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas VIII A
MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan menerapkan
pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment? dan (2) bagaimanakah
perubahan perilaku siswa kelas VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa
Kabupaten Brebes dengan diadakan membaca cepat dengan pembelajaran
kontekstual elemen authentic assessment? Tujuan penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas VIII A
MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti
pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Tujuan yang kedua adalah

vii
mendeskripsikan perubahan perilaku siswa kelas VIII A MTs Miftahul Ulum
Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti pembelajaran membaca
cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment.
Subjek dalam penelitian ini adalah kecepatan membaca cepat siswa kelas
VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes tahun pelajaran
2004/2005. Variabel dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca cepat dan
pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas dengan dua siklus
yang dilaksanakan pada siswa kelas VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa
Kabupaten Brebes. Tiap-tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, tindakan,
observasi, dan refleksi. Pengambilan data digunakan dengan tes dan nontes. Alat
pengambilan data yang digunakan berupa pedoman observasi, wawancara, dan
jurnal. Analisis data yang digunakan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.
Setelah dilakukan penelitian dalam dua siklus, dihasilkan simpulan bahwa
pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dapat meningkatkan
kecepatan membaca siswa. Pada kondisi awal rata-rata kecepatan membaca siswa
kelas VIII A hanya 148,03 kpm. Pada akhir siklus pertama meningkat menjadi
222,92 kpm. Hal ini menunjukkan kenaikan 74,89 kpm (50,59%). Pada akhir
siklus II rata-rata kecepatan membaca siswa 251,56 kpm ada kenaikan sebesar
28,64 kpm (12,85%). Perubahan tingkah laku dalam penelitian ini adalah para
siswa tampak lebih semangat, merasa senang, aktif mengikuti pembelajaran, dan
berusaha meminimalisir kebiasaan yang salah dalam membaca, serta siswa merasa
dihargai.
Hasil penelitian tersebut saran yang dapat direkomendasikan antara lain: (1)
guru Bahasa dan Sastra Indonesia seyogyanya berperan aktif sebagai inovator
untuk memilih teknik pembelajaran yang paling tepat sehingga pembelajaran yang
dilaksanakan menjadi pengalaman yang bermakna bagi siswa; (2) guru Bahasa
dan Sastra Indonesia dapat menggunakan pendekatan kontekstual elemen
authentic assessment dalam membelajarkan kemampuan membaca cepat; (3)
pembelajaran dengan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment dapat
dijadikan alternatif pilihan bagi guru bidang studi lain dalam membelajarkan
bidang garapannya; (4) para praktisi atau peneliti di bidang pendidikan dan bahasa
dapat melakukan penelitian serupa dengan teknik pembelajaran yang berbeda
sehingga didapatkan berbagai alternatif teknik pembelajaran membaca cepat.

viii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL......................................................................... i
PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ...................................... ii
PENGESAHAN KELULUSAN ....................................................... iii
PERNYATAAN................................................................................ iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................... v
PRAKATA........................................................................................ vi
SARI.................................................................................................. vii
DAFTAR ISI..................................................................................... ix
DAFTAR TABEL............................................................................. xii
DAFTAR BAGAN ........................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN..................................................................... xiv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah............................................................. 1
1.2 Identifikasi Masalah ................................................................... 7
1.3 Pembatasan Masalah .................................................................. 9
1.4 Rumusan Masalah ...................................................................... 9
1.5 Tujuan Penelitian ....................................................................... 10
1.6 Manfaat Penelitian ..................................................................... 10

BAB II LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS


2.1 Tinjauan Pustaka ........................................................................ 12
2.2 Landasan Teoretis ...................................................................... 18
2.2.1 Hakikat Membaca .................................................................. 18
2.2.2 Manfaat Membaca.................................................................. 19
2.2.3 Tujuan Membaca.................................................................... 21
2.2.4 Jenis-Jenis Membaca.............................................................. 23

ix
2.2.5 Pengertian Membaca Cepat.................................................... 25
2.2.6 Hambatan-Hambatan Membaca Cepat .................................. 26
2.2.7 Teknik Membaca Cepat ......................................................... 29
2.2.8 Pembelajaran Kontekstual...................................................... 31
2.2.9 Penilaian Sebenarnya ............................................................. 35
2.3 Kerangka Berpikir...................................................................... 42
2.4 Hipotesis..................................................................................... 43

BAB III METODE PENELITIAN


3.1 Desain Penelitian..................................................................... 44
3.1.1 Prosedur Tindakan pada Siklus I............................................. 45
3.1.2 Prosedur Tindakan pada Siklus II ........................................... 50
3.2 Subjek Penelitian..................................................................... 53
3.3 Variabel Penelitian .................................................................. 53
3.3.1 Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat ............................ 53
3.3.2 Pembelajaran Kontekstual Elemen Authentic assessment ...... 54
3.4 Instrumen Penelitian ............................................................... 55
3.4.1 Instrumen Tes.......................................................................... 55
3.4.2 Instrumen Nontes .................................................................... 57
3.5 Teknik Pengumpulan Data...................................................... 60
3.5.1 Teknik Tes............................................................................... 60
3.5.2 Teknik Nontes ......................................................................... 61
3.6 Teknik Analisis Data............................................................... 63
3.6.1 Teknik Kuantitatif (Analisis Data Tes) .................................. 63
3.6.2 Teknik Kualitatif (Analisis Data Nontes) ............................... 64

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Penelitian ..................................................................... 65
4.1.1 Kondisi Awal ........................................................................ 63
4.1 2 Kondisi Siklus I..................................................................... 70
4.1.2.1 Hasil Tes ............................................................................... 70

x
4.1.2.2 Hasil Nontes ......................................................................... 73
4.1.3 Hasil Penelitian Siklus II...................................................... 82
4.1.3.1 Hasil Tes .............................................................................. 82
4.1.3.2 Hasil Nontes ......................................................................... 85
4.2 Pembahasan.......................................................................... 91
4.4.1 Kecepatan Membaca ............................................................ 91
4.4.2 Perubahan Perilaku siswa..................................................... 95

BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan ................................................................................... 99
5.2 Saran.......................................................................................... 100

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... 102

LAMPIRAN..................................................................................... 105

xi
DAFTAR TABEL

TABEL Halaman
1. Pedoman Penilaian Tingkat Pemahaman............................... 87
2. Pedoman Kecepatan Membaca.............................................. 58
3. Pedoman Kecepatan Efektif Membaca.................................. 58
4. Hasil Kecepatan Membaca pada Kondisi Awal .................... 67
5. Hasil Pemahaman Membaca Siswa pada Kondisi Awal ....... 68
6. Hasil Kecepatan Efektif Membaca pada Kondisi Awal ........ 69
7. Hasil Kecepatan Membaca pada Siklus I .............................. 71
8. Hasil Pemahaman Membaca Siswa pada Siklus I ................. 72
9. Hasil Kecepatan Efektif Membaca pada Siklus I .................. 73
10. Hasil Kecepatan Membaca pada Siklus II ............................. 81
11. Hasil Pemahaman Membaca Siswa pada Siklus II................ 82
12. Hasil Kecepatan Efektif Membaca pada Siklus II ................. 83
13. Rekapitulasi Rata-Rata Pencapaian Kemampuan.................. 93
14. Perbandingan Observasi Kebiasaan Membaca ...................... 96
15. Perbandingan Observasi Penilaian Proses ............................. 99

xii
DAFTAR BAGAN

BAGAN Halaman
1. Kerangka berpikir.......................................................................... 44

2. Siklus Penelitian Tindakan Kelas ................................................. 46

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN Halaman
1. Tabel Hasil Kecepatan Membaca Pra Siklus .................................... 105
2. Tabel Hasil Pemahaman Isi Bacaan Tes Pra Siklus.......................... 106
3. Tabel Hasil Kecepatan Efektif Membaca Pra Siklus ......................... 107
4. Tabel Hasil Observasi Kebiasaan Membaca Pra Siklus .................... 108
5. Wacana Kondisi Awal........................................................................ 109
6. Soal-Soal Pemahaman Wacana Kondisi Awal .................................. 111
7. Tabel Hasil Kecepatan Membaca Tes Siklus I .................................. 113
8. Tabel Hasil Pemahaman Isi Bacaan Tes Siklus I............................... 114
9. Tabel Hasil Kecepatan Efektif Membaca Siklus I ............................. 115
10. Tabel Observasi Kebiasaan Membaca Siklus I................................ 116
11. Tabel Observasi Penilaian Proses Siklus I ...................................... 117
12. Wacana Latihan Siklus I .................................................................. 118
13. Soal-Soal Latihan Pemahaman Siklus I ........................................... 120
14. Rencana Pembelajaran Siklus I........................................................ 122
15 Kecepatan Membaca dan Gerakan Mata........................................... 134
16. Wacana Latihan Siklus I ................................................................. 156
17. Soal-Soal Pemahaman Latihan Siklus I ........................................... 158
18. Lembar Observasi Kebiasaan Membaca Siklus I............................. 168
19. Lembar Observasi Penilaian Proses ................................................. 170
20. Jurnal Guru Siklus I ......................................................................... 172
21. Jurnal Siswa Siklus I ........................................................................ 174
22. Kartu Data Pengontrolan Kecepatan Membaca ............................... 177
23. Pedoman Wawancara Siklus I.......................................................... 179
24. Tabel Hasil Kecepatan Membaca Tes Siklus II ............................... 182
25. Tabel Hasil Pemahaman Isi Bacaan Tes Siklus II ........................... 183
26. Tabel Hasil Kecepatan Efektif Membaca Siklus II.......................... 184
27. Tabel Observasi Kebiasaan Membaca Siklus II............................... 185

xiv
28. Tabel Observasi Penilaian Proses Siklus II..................................... 185
29. Wacana Latihan Siklus II ................................................................. 187
30. Soal-Soal Pemahaman Latihan Siklus II.......................................... 189
31. Wacana Latihan Siklus II ................................................................. 191
32. Soal-Soal Pemahaman Latihan Siklus II.......................................... 193
33. Wacana Latihan Siklus II ................................................................. 196
34. Soal-Soal Pemahaman Latihan Siklus II.......................................... 198
35. Wacana Tes Siklus II ....................................................................... 201
36. Soal-Soal Pemahaman Tes Siklus II ................................................ 203
37. Rencana Pembelajaran Siklus II....................................................... 205
38. Lembar Observasi Kebiasaan Membaca Siklus II ........................... 215
39. Lembar Observasi Penilaian Proses Siklus II .................................. 217
40. Jurnal Guru Siklus II ........................................................................ 219
41. Jurnal Siswa Siklus II....................................................................... 221
42. Kartu Data Pengontrolan Kecepatan Membaca Siklus II ................ 224
43. Pedoman Wawancara Siklus I.......................................................... 226
44. Gerakan Mata dan Latihannya pada Siklus II .................................. 229
45. Surat Keterangan ............................................................................. 236
46. Tabel Perbandingan Kecepatan Membaca ....................................... 238
47. Tabel Perbandingan Pemahaman Isi Bacaan ................................... 239
48. Tabel Perbandingan Kecepatan Efektif Membaca........................... 240
49. Tabel Perbandingan Observasi Kebiasaan Membaca ...................... 241
50. Tabel Perbandingan Observasi Penilaian Proses ............................. 242
51. Tabel Rekapitulasi Rata-Rata Pencapaian Kemampuan .................. 243

xv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pemberlakuan kurikulum 2004 oleh pemerintah menghendaki

terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara

aktif mengembangkan potensi dirinya. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi,

standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada

hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar berbahasa adalah belajar

berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-

nilai kemanusiaannya (Depdiknas 2003b: 2).

Kurikulum Berbasis Kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra

Indonesia adalah salah satu program untuk mengembangkan pengetahuan,

keterampilan berbahasa siswa, serta sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra

Indonesia (Depdiknas 2003b:3). Kegiatan-kegiatan ini sangat penting dilakukan

untuk perkembangan sikap dan bahasa anak. Dengan kata lain, melibatkan siswa

dalam proses pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia merupakan kebutuhan

dan keharusan untuk dilaksanakan.

Standar kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia SMP dan MTs adalah

(1) mampu mendengarkan dan memahami beraneka ragam wacana lisan, baik

sastra maupun nonsastra; (2) mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan,

dan perasaan secara lisan; (3) mampu membaca dan memahami suatu teks bacaan

sastra dan nonsastra dengan kecepatan yang memadai; (4) mampu


2

mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam

berbagai ragam tulisan; dan (5) mampu mengapresiasi berbagai ragam sastra

(Depdiknas 2003b:4).

Untuk mencapai Standar Kompetensi di atas, kegiatan sekolah adalah

lebih dari sekadar pengajaran. Kegiatan sekolah adalah kegiatan pembelajaran.

Siswa belajar, saling belajar, bukan hanya dari guru melainkan dari teman-teman

sekelas, sesekolah, dari sumber belajar lain. Dan pendekatan pembelajaran yang

digunakan oleh guru juga harus dapat membawa siswa ke pembelajaran yang

bermakna.

Berdasarkan pengamatan dan informasi media massa umumnya

beberapa sekolah telah mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi.

MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes merupakan salah satu

MTs swasta yang tengah menyiapkan diri terhadap implementasi KBK. Berbagai

usaha telah diupayakan untuk menerapkan KBK seperti: (1) mendorong guru

memahami konsep KBK; (2) mengirim guru mengikuti seminar atau work shop

KBK; dan ( 3) menyiapkan perangkat atau fasilitas yang dibutuhkan.

MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes juga

merupakan sekolah yang sudah menerapkan prinsip KBK tetapi baru diberlakukan

bagi kelas VII. MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes belum

menerapkan prinsip KBK pada kelas VIIIA Salah satu indikator penyebab belum

diberlakukannya/diterapkannya KBK pada kelas VIII adalah kurangnya kesiapan

dan motivasi guru dalam menciptakan kegiatan belajar mengajar yang berorientasi

kompetensi. Hal itu tampak pada masih diberlakukannya Kurikulum 1994 yang
3

sering menggunakan metode ceramah dalam kegiatan belajar mengajar daripada

metode-metode yang lain.

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan materi yang

disajikan secara sistematis sesuai dengan kenyataan bahasa di masyarakat,

diharapkan siswa mampu menyerap materi tentang berbagai hal; mampu mencari

sumber, mengumpulkan, menyaring, dan menyerap pelajaran yang sebanyak-

banyaknya sekaligus dapat berlatih mengenai Bahasa Indonesia khususnya

keterampilan membaca.

Siswa sekolah dasar seharusnya sudah memiliki kemampuan membaca

karena kemampuan membaca dapat dijadikan sebagai modal utama dalam proses

belajar mengajar. Dengan bekal kemampuan membaca, anak akan menjadi mudah

dalam proses belajarnya. Kelancaran dan kesuksesan prestasi yang akan diperoleh

anak adalah melalui membaca. Dengan sering membaca anak akan memperoleh

pengetahuan, serta mempermudah pola pikirnya untuk berpikir secara kritis.

Nurhadi (2004a:11) menyatakan hal-hal yang harus diperhatikan

apabila ingin meningkatkan kemampuan membaca sebagai berikut.

a. Menyadari adanya berbagai variasi tujuan membaca, yang berbeda dari satu

kegiatan membaca dengan kegiatan membaca yang lain.

b. Selalu merumuskan secara jelas setiap kegiatan membaca, minimal tahu apa

yang akan diperoleh dari bacaan.

c. Memerlukan pengembangan berbagai strategi membaca selaras dengan ragam

tujuan membaca.

d. Memerlukan latihan membaca dengan berbagai variasi tujuan membaca.


4

e. Menyadari bahwa seseorang mempunyai daya baca tinggi (baik) akan mampu

memanfaatkan teknik membaca yang bervariasi, sejalan dengan tujuan

membaca yang ingin dicapainya.

Keterampilan membaca merupakan suatu kesinambungan yang

berlangsung secara berangsur-angsur, berproses dari yang sederhana hingga yang

lebih rumit. Demikian juga kemampuan membaca siswa SMP/MTs merupakan

kelanjutan dari membaca dasar. Dalam menghadapi kenyataan pengajaran

membaca di SMP/MTs hendaknya mempertimbangkan hal-hal seperti

perkembangan program membaca, keadaan murid-murid SMP/MTs, metode, serta

bahan yang meliputi keterampilan-keterampilan yang perlu dikuasai, bidang isi,

dan pelayanan perpustakaan (Hardjasudjana 1997:61).

Sama halnya dengan siswa MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa

Kabupaten Brebes, dilihat dari usia siswanya yang berkisar antara 12-15 tahun,

pada usia tersebut merupakan periode sulit yang dapat mengundang banyak

tafsiran dengan adanya perubahan-perubahan psikofisik yang terjadi karena pada

usia tersebut merupakan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.

Berdasarkan observasi, kecepatan membaca dan pemahaman bacaan

siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes masih

kurang maksimal. Seperti yang telah dikemukakan di atas, keterampilan membaca

merupakan sesuatu yang berkesinambungan, sama halnya dengan siswa MTs

Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes ada yang cepat, ada yang

lambat, dan masih mempunyai kebiasaan jelek dalam membaca.


5

Berdasarkan observasi tersebut, peneliti bermaksud mengadakan

penelitian di kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes

karena kecepatan dan pemahaman dalam membaca sebuah teks masih sangat

kurang maksimal dibandingkan dengan kelas VIII yang lainnya. Kecepatan

membaca siswa kelas VIIIA masih dalam tingkat lambat, yaitu berkisar antara 90-

170 kata per menit. Demikian pula dengan pemahaman bacaan hanya mampu

memahami sebesar 60%. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara dengan guru

Bahasa dan Sastra Indonesia dan pengamatan, siswa di MTs Miftahul Ulum

Rengaspendawa Kabupaten Brebes disimpulkan bahwa upaya khusus untuk

meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca cepat masih belum banyak

dilakukan oleh guru. Kebanyakan guru hanya mengejar target materi yang harus

diajarkan pada siswa.

Berdasarkan hasil studi para ahli Amerika, kecepatan yang memadai

untuk siswa tingkat akhir sekolah dasar kurang lebih 200 kpm, siswa lanjutan

tingkat pertama anatra 200-250 kpm, siswa tingkat lanjutan atas antara 250-325

kpm, dan tingkat mahasiswa antara 325-400 kpm dengan pemahaman isi bacaan

minimal 70 %. Adapun di Indonesia KEM minimal untuk klarifikasi pembaca

adalah SD (140 kpm), SLTP (140-175 kpm), SMU (175-400kpm), PT (245-280

kpm) Hardjasudjana (1997:73). Dengan mengacu pada teori tersebut, kecepatan

membaca siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten

Brebes masih di bawah standard kecepatan membaca tingkat SMP/MTs.

Kondisi siswa dalam menerima pelajaran juga belum efektif.

Dikatakan belum efektif, karena dalam menerima pelajaran siswa ada yang ramai,
6

ada yang memperhatikan, dan berbicara sendiri dengan teman sebangku. Hal

tersebut bisa terjadi karena ada rasa jenuh pada diri siswa atau penyampaian

materi pelajaran yang kurang menarik.

Dalam proses belajar mengajar sangat diperlukan kecepatan membaca

untuk memahami bacaan. Dengan membaca cepat dan pemahaman cepat pula, isi

bacaan akan mudah ditemukan. Untuk meningkatkan keterampilan membaca

cepat, peneliti akan meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas VIIIA MTs

Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan menerapkan

pembelajaran kontekstual elemen authentic assesment/penilaian yang sebenarnya.

Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu

guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa

dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya

dengan penerapannya dalam kehidupannya sehari-hari dengan melibatkan tujuh

komponen utama pembelajaran efektifitas yakni, konstruktivisme

(Constructivisme), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat

belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian yang

sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdikbud 2002: 5).

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual elemen authentic

assesment diharapkan dapat meningkatkan kecepatan membaca. Dalam

pembelajaran tersebut akan dikaitkan antara materi yang diajarkan dengan dunia

nyata siswa. Di samping itu, adanya penekanan penilaian proses pembelajaran.

Penilaian pembelajaran didasarkan pada penilaian berbasis kelas. Penilaian

Berbasis Kelas (PBK) menekankan pencapaian hasil belajar, siswa sekaligus


7

mencakup seluruh proses mengajar dan belajar melalui kegiatan PBK yang

menilai karakteristik siswa, metode mengajar dan belajar, pencapaian kurikulum,

alat dan bahan belajar, dan administrasi sekolah. Assessment adalah proses

pengumpulan data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.

Siswa akan diberi latihan terstruktur, dan tugas-tugas yang berkaitan dengan

membaca cepat. Dari latihan dan tugas-tugas tersebut akan dijadikan data yang

dikumpulkan yang nantinya dapat mengetahui perkembangan belajar siswa.

1.2 Identifikasi Masalah

Dalam membaca cepat, masalah yang sering ditemukan yaitu: a) huruf

pada bacaan kurang standar, b) kecepatan membaca siswa masih dalam tahap per

suku kata, dan c) kurangnya latihan secara terstruktur yang dilakukan oleh siswa.

Kecepatan membaca siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa

Kabupaten Brebes masih kurang maksimal, yaitu 90-170 kpm.

Dalam proses belajar mengajar, kecepatan membaca siswa sangat

diperlukan untuk bisa mengetahui isi buku dan pemahaman isi buku dengan cepat.

Dengan membaca cepat dan pemahaman yang cepat pula, prestasi siswa bisa

semakin meningkat. Akan tetapi, kenyataannya minat membaca atau kecepatan

membaca dan pemahaman bacaan secara cepat, serta kurangnya latihan secara

terstruktur yang dilakukan oleh siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum

Rengaspendawa Kabupaten Brebes menyebabkan kecepatan membaca siswa

kurang maksimal. Selain minat, kecepatan membaca, dan pemahaman bacaan,

penilaian yang dilakukan guru di kelas kurang menggunakan cara dan alat yang
8

bervariasi. Penilaian diarahkan pada penguasaan bahan yang diujikan dalam

bentuk tes objektif. Ini disebabkan oleh adanya beberapa hal sebagai berikut.

a. Siswa kurang latihan dalam membaca secara benar.

b. Bacaan kurang menarik, yaitu isi bacaan tidak sesuai dengan keinginan siswa,

sehingga siswa membaca hanya sekadar pengisi waktu luang.

c. Guru kurang memberikan latihan pada siswa dalam kegiatan membaca.

d. Minat baca pada diri siswa yang kecil, yaitu pada diri kurang berminat pada

kegiatan membaca.

e. Guru kurang memiliki pengetahuan dan kemahiran tentang berbagai metode

dan teknik penilaian, sehingga kurang dapat memilih dan melaksanakan

dengan tepat metode dan teknik penilaian yang ada.

f. Guru kurang mengetahui perkembangan hasil belajar siswa dalam membaca

cepat.

Salah satu Kompetensi Dasar keterampilan membaca yang harus di

capai oleh siswa kelas VIII adalah membaca cepat 250 kpm dengan indikator

sebagai berikut: a) mampu mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan

teman; b) mampu meningkatkan kecepatan membaca dengan : 1) metode gerak

mata memperluas jangkauan mata, mengurangi regresi (mengulang), 2)

menghilangkan kebiasaan membaca dengan bersuara, 3) meningkatkan

konsentrasi: c) mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75%.

Berdasarkan Kompetensi Dasar tersebut, keterampilan yang

diharapkan adalah keterampilan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual

elemen authentic assessment (penilaian yang sebenarnya). Dengan pembelajaran


9

tersebut diharapkan siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa

Kabupaten Brebes mampu meningkatkan kemampuan membacanya lebih cepat,

efektif, menyenangkan, lebih cepat memahami bacaan sehingga siswa semakin

gemar membaca.

1.3 Pembatasan Masalah

Masalah yang dibahas dalam penelitian adalah peningkatan

kemampuan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic

assesment. Dalam penelitian ini peneliti berupaya mengatasi segala hambatan

dalam membaca dan meningkatkan kecepatan, serta memberikan tindakan

preventif untuk menghilangkan segala penghambat kecepatan membaca, serta

menggunakan sistem penilaian yang sebenarnya. Peneliti membatasi

permasalahan karena peneliti berfokus pada peningkatan kemampuan membaca

cepat, pemahaman bacaan dan sistem penilaian.

Agar kemampuan membaca cepat meningkat, penulis menggunakan

pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment yang mengacu pada

pengontrolan kecepatan efektif membaca.

1.4 Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang dan pembatasan masalah di atas,

rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

1. Bagaimanakah peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas

VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan

menerapkan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment?


10

2. Bagaimanakah perubahan perilaku siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum

Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan diadakan membaca cepat

dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment?

1.5 Tujuan Penelitian

Tujuan yang diharapkan dapat tercapai dalam penelitian ini adalah:

a. Mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas

VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah

menerapkan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment.

b. Mendeskripsikan perubahan perilaku siswa kelas VIIIA MTs Miftahul

Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah diadakan membaca

cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment.

1.6 Manfaat penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu

manfaat teoretis dan manfaat praktis.

1. Manfaat Teoretis

Manfaat teoretis setelah dilakukannya latihan membaca cepat

melalui pembelajaran bersiklus adalah menambah khasanah

pengembangan pengetahuan membaca cepat. Selain itu juga,

mengembangkan teori pembelajaran membaca cepat melalui pembelajaran

kontekstual elemen authentic assessment.


11

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat,

khususnya bagi siswa, guru, dan peneliti yang lain. Bagi siswa, dengan

adanya penelitian siswa mendapat pengalaman belajar yang bermakna

dengan pembelajaran kontekstual dan peningkatan kemampuan membaca

cepat. Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan

pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca cepat

siswa. Bagi peneliti yang lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan

pelengkap terutama dalam hal bagaimana cara meningkatkan kemampuan

membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual dan teknik membaca

cepat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS

2.1 Tinjauan Pustaka

Penelitian yang beranjak dari awal jarang ditemui, karena biasanya

suatu penelitian mengacu pada penelitian lain yang dapat dijadikan sebagai titik

tolak dalam penelitian selanjutnya. Dengan demikian, peninjauan terhadap

penelitian lain sangat penting, sebab bisa digunakan untuk mengetahui relevansi

penelitian yang telah lampau dengan penelitian yang akan dilakukan. Selain itu,

peninjauan penelitian sebelumnya dapat digunakan untuk membandingkan

seberapa besar keaslian dari penelitian yang akan dilakukan.

Penelitian tindakan kelas tentang membaca cepat merupakan

penelitian yang menarik. Banyaknya penelitian tentang membaca cepat itu dapat

dijadikan salah satu bukti bahwa membaca cepat di sekolah-sekolah sangat

menarik untuk diteliti. Penelitian membaca cepat telah banyak dilakukan, antara

lain oleh Dwi Sulistyowati (2001) dan Tri Apriyanti (2004). Penelitian tentang

kecepatan membaca efektif juga telah banyak dilakukan, antara lain oleh

Sihabudin (1998), S Sumarsono (1998), Yatmin (1998), Siti Alimah, (1999), Ibnu

Suparyanto (2000), Pujito (2000), Sri Wahyuningsih (2000), dan Asih Welasih

(2003).

Penelitian membaca cepat dilakukan oleh Dwi Sulistyowati (2001)

dalam skripsi yang berjudul Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat dengan

Teknik Pengontrolan Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas III SLTP 1 Kudus
13

Tahun Pelajaran 2000/2001 membahas kemampuan membaca cepat dengan

teknik pengontrolan kecepatan efektif membaca siswa kelas III SLTP 1 Kudus.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan membaca

cepat dengan teknik pengontrolan kecepatan efektif membaca siswa kelas III

SLTP 1 Kudus.

Penelitian membaca cepat juga dilakukan oleh Tri Apriyanti (2004)

dalam skripsi yang berjudul Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat dengan

Teknik Membaca Super Gaya Accelerated Learning pada Siswa Kelas II A SMP N

I Doro Kabupaten Pekalongan Tahun Pelajaran 2003/2004 membahas

kemampuan membaca cepat dengan teknik membaca super gaya accelerated

learning siswa kelas IIA SMP N 1 Doro Kabupaten Pekalongan. Hasil yang

diperoleh menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan membaca cepat dan

pemahaman dengan teknik membaca super gaya accelerated learning siswa kelas

IIA SMP N 1 Doro Kabupaten Pekalongan.

Penelitian mengenai Kecepatan Efektif Membaca dilakukan oleh

Mulyanto (1998) pada skripsi yang berjudul Perbedaan Kecepatan Efektif

Membaca (KEM) Siswa Kelas I SLTP dengan Mengacu Buku Krida Basa Jilid I

Terbitan Intan Pariwara Klaten yang Sesuai Tingkat Keterbacaannya Lebih Baik

daripada yang Tidak Sesuai Tingkat Keterbacaannya. Hasil penelitian yang

diperoleh adalah tingkat keterbacaan teks buku Krida Basa Jilid I tidak semuanya

sesuai dengan kemampuan siswa kelas I SLTP, sedangkan kecepatan membaca

efektif siswa kelas I SLTP berdasarkan teks bacaan yang sesuai tingkat
14

keterbacaannya lebih baik daripada kecepatan efektif membaca siswa dengan teks

yang sesuai tingkat keterbacaannya.

Sihabudin (1998) pada skripsi yang berjudul Perbedaan Kecepatan

Efektif Membaca Siswa Kelas III SLTP dari Teks Buku Pelajaran Bahasa Jawa

Terbitan Aneka Ilmu yang Sesuai dengan Tidak Sesuai Tingkat Keterbacaannya.

Masalah yang diteliti adalah apakah tingkat keterbacaan teks buku pelajaran

bahasa Jawa jilid III semuanya sesuai dengan kemampuan siswa SLTP kelas III.

Hasil yang dicapai dalam penelitian tersebut adalah tingkat keterbacaan teks buku

pelajaran bahasa Jawa jilid III tidak semuanya sesuai dengan kemampuan siswa

SLTP kelas III. Berdasarkan teks bacaan yang sesuai tingkat keterbacaannya lebih

baik daripada yang tidak sesuai tingkat keterbacaannya.

Sumarsono (1998) pada skripsi yang berjudul Perbedaan Kecepatan

Efektif Membaca Siswa Kelas I SLTP dari Teks Bahasa Indonesia yang Sesuai

dan Tidak Sesuai Tingkat Keterbacaannya. Masalah yang diteliti adalah apakah

kecepatan efektif membaca siswa dari buku Pintar Berbahasa Indonesia I Terbitan

Balai Pustaka yang sesuai tingkat keterbacaanya. Hasil penelitian diketahui bahwa

pemberian teks yang sesuai tingkat keterbacaannya memberi pengaruh positif

kecepatan efektif membaca siswa. Sebaliknya, teks yang tidak sesuai tingkat

keterbacaannya akan sedikit sulit dipahami.

Selain itu, Yatmin dalam skripsi yang berjudul Perbedaan Kecepatan

Membaca Siswa SLTP Kelas I Berdasarkan Teks Bacaan Buku Piwulang Basa

Jawa Jilid I Terbitan Yayasan Studi Bahasa Jawa Khantil Semarang. Masalah

yang diteliti adalah apakah kecepatan efektif membaca siswa SLTP Kelas I
15

berdasarkan teks bacaan yang sesuai tingkat keterbacaannya berbeda dengan yang

tidak sesuai dengan tingkat keterbacaannya. Hasil yang diperoleh menjelaskan

bahwa tingkat keterbacaan buku Piwulang bahasa Jawa jilid I tidak semuanya

sesuai dengan kemampuan siswa SLTP Kelas I. Adapun untuk kecepatan efektif

membaca siswa SLTP Kelas I berdasarkan teks bacaan yang sesuai lebih baik

daripada yang tidak sesuai dengan tingkat keterbacaannya.

Penelitian mengenai Kecepatan Efektif Membaca Wacana Berbahasa

Jawa SLTP (Studi Kasus di SLTP 3 Subah Kabupaten Batang) diteliti oleh

Alimah (1999). Permasalahan yang diangkat adalah bagaimanakah tingkat

kecepatan efektif membaca wacana berbahasa Jawa siswa. Hasil yang diperoleh

dari penelitian tersebut adalah tingkat kecepatan efektif membaca wacana

berbahasa Jawa belum baik.

Pengaruh Kecepatan Efektif Membaca terhadap Prestasi Belajar

Bahasa Indonesia SLTP diteliti oleh Ibnu Suparyanto (2000) dengan mengangkat

permasalahan adakah hubungan yang signifikan antara variabel X dan Y atau

antara kecepatan efektif membaca dengan prestasi belajar mata pelajaran bahasa

Indonesia siswa kelas I SLTP N 3 Wanasari.

Berkenaan dengan peningkatan Kecepatan Efektif Membaca, Pujito

(2000) dalam skripsi yang berjudul Peningkatan Kecepatan Efektif Membaca

dengan Mengintensitaskan Kegiatan Membaca Kolektif Perpustakaan pada Siswa

Kelas III SLTP 2 Jekulo Kudus Tahun 2000/2001 membahas bagaimanakah

peningkatan kecepatan efektif membaca siswa SLTP N 2 Jekulo Kudus dengan

mengintensitaskan kegiatan membaca kolektif perpustakaan serta bagaimana


16

perubahan perilaku siswa setelah itu. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa

ada peningkatan kecepatan efektif membaca siswa setelah mengintensitaskan

kegiatan membaca koleksi perpustakaan.

Wahyuningsih (2000) juga meneliti Peningkatan Kecepatan Efektif

Membaca dalam skripsi yang berjudul Peningkatan Kecepatan Efektif Membaca

dengan Pembelajaran Meresum Bacaan pada Siswa Kelas IIA SLTP Ksatrian I

Semarang. Dengan mengangkat permasalahan apakah meresum bisa digunakan

dalam pembelajaran membaca dengan tujuan untuk meningkatkan kecepatan

efektif membaca siswa SLTP. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan adanya

peningkatan kecepatan efektif membaca pada setiap siklusnya.

Asih Welasih (2003) dalam skripsi yang berjudul Optimalisasi

Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas 2 SMU 01 Keling Jepara dengan

Menggunakan Metode OK5R membahas apakah dengan digunakannya metode

OK5R dalam pembelajaran kecepatan efektif membaca siswa kelas 2.1 SMU 1

Keling Jepara meningkat? Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan

kecepatan efektif membaca siswa kelas 2 SMU 01 Keling.

Berdasarkan kajian pustaka tersebut, dapat diketahui bahwa penelitian

tindakan kelas tentang membaca cepat dan kecepatan efektif membaca sangat

menarik dan banyak dilakukan orang. Baik itu dari teks keterbacaan, pengaruh

kecepatan efektif membaca terhadap prestasi belajar dan peningkatan kecepatan

efektif membaca dengan mengintensitaskan kegiatan membaca koleksi

perpustakaan, meningkatkan kecepatan efektif membaca dengan melatihkan

teknik membaca cepat dan metode OK5R, meningkatkan keterampilan membaca


17

cepat dengan teknik pengontrolan kecepatan efektif membaca. Semuanya meneliti

tentang peningkatan membaca cepat dengan bermacam-macam cara. Berdasarkan

sumber dan penelitian yang dilakukan para mahasiswa, peneliti ini akan meneliti

tentang peningkatan membaca cepat pada siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum

Rengaspendawa Kabupaten Brebes. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan

kelas yang terdiri atas dua siklus. Pada penelitian ini akan dikaji tentang

peningkatan kemampuan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual

elemen authentic assessment dan perubahan tingkah laku siswa MTs Miftahul

Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes kelas VIIIA. Pada penelitian ini, guru

akan mengaitkan materi yang diajarkannya dengan dunia nyata siswa, dan guru

menggunakan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) untuk

mengetahui gambaran perkembangan belajar siswa mengenai kemampuan

membaca cepat.

Kebaruan yang dilakukan dalam penelitian ini terletak pada proses

pembelajaran dan proses penilaian membaca cepat yang masih jarang dilakukan

oleh peneliti. Selama ini penelitian tentang membaca cepat dengan menggunakan

teknik membaca cepat dan metode seperti OK5R, meningkatkan keterampilan

membaca cepat dengan teknik pengontrolan kecepatan efektif membaca. Hasil

kerja siswa harus dihargai oleh guru. Kemajuan hasil siswa juga harus diketahui

oleh guru. Dengan pengumpulan data tersebut dapat mengetahui perkembangan

hasil belajar membaca cepat siswa. Siswa akan termotivasi dengan hasil belajar

yang memuaskan. Hasil belajar yang memuaskan merupakan rangsangan bagi

siswa untuk melakukan tindakan. Apabila rangsangan diikuti oleh tindakan


18

(tingkah laku), maka hubungan di antara keduanya semakin diperkuat melalui

“exercise” atau latihan ulangan dan akan lebih kerap diulangi atau terjadi dan

siswa akan cenderung mengulang perbuatan tersebut.

Penelitian ini mempunyai kedudukan sebagai pelengkap bagi

penelitian-penelitian yang ada. Alasan penelitian ini dijadikan pelengkap karena

penelitian ini merupakan penelitian yang dapat melengkapi penelitian kecepatan

membaca yang sudah dilakukan oleh peneliti yang sebelumnya. Penelitian ini

dapat menambah khasanah pengembangan pengetahuan tentang membaca cepat.

Selain itu juga, dapat mengembangkan teori pembelajaran membaca cepat.

2.2 Landasan Teoretis

2.2.1 Hakikat Membaca

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh

pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis

melalui media kata-kata bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok

kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas,

dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini

tidak dipenuhi, maka pesan yang tersurat dan tersirat tidak akan tertangkap atau

dipahami, dan proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik (Hodgson, dalam

Tarigan 1987:7).

Membaca dari segi linguistik menurut Anderson (dalam Tarigan

1987:7) merupakan suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a

recording and decoding process) berlainan dengan berbicara dan menulis yang
19

justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi

(decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna

bahasa lisan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan/cetakan

menjadi bunyi yang bermakna.

Menurut Soedarso (2002:4) membaca adalah aktivitas yang kompleks

dengan menggerakkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Aktivitas

yang kompleks dalam membaca meliputi pengertian dan khayalan, mengamati,

serta mengingat-ingat. Sementara menurut Nurhadi, membaca melibatkan banyak

hal. Kekomplekan dalam membaca meliputi intelegensi (IQ), minat, sikap, bakat,

motivasi, dan tujuan membaca, sedangkan faktor eksternal meliputi sarana

membaca, teks bacaan, faktor lingkungan atau faktor latar belakang sosial

ekonomi, kebiasaan, dan tradisi membaca (Nurhadi 1987:13).

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan, membaca merupakan

kegiatan yang kompleks. Kompleksan dalam membaca meliputi faktor internal

dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi intelegensi (IQ), minat, sikap, bakat,

motivasi, dan tujuan membaca, sedangkan faktor eksternal meliputi sarana

membaca, teks bacaan, faktor lingkungan atau faktor latar belakang sosial

ekonomi, kebiasaan, dan tradisi membaca.

2.2.2 Manfaat Membaca

Membaca merupakan kunci utama pembuka ilmu yang sekaligus

pembuka tabir rahasia hidup dan kehidupan. Seseorang yang ingin maju harus

memiliki alternatif yang banyak berhubungan dengan buku. Selain itu, sering
20

berdialog dan beradu argumentasi dengan buku-buku atau istilah lain, banyak

membaca bacaan lain apapun bentuk dan wujudnya.

Membaca dapat memberi sumbangan bagi perkembangan persoalan

maupun sosial. Orang yang serius membaca akan dapat memberikan pengarahan

sikap berucap, berbuat dan berpikir. Pembaca yang baik akan selalu dapat

menangkap pengalaman-pengalaman yang sangat berharga, walaupun hal itu

belum atau tidak pernah dialami oleh pembaca secara langsung. Melalui bacaan

sastra, orang banyak sekali menemukan filsafat hidup yang tertuang secara

artistik, imajinatif dan persuasif. Dengan menekuninya orang akan dapat

menikmati berbagai cerita yang menarik tentang kehidupan manusia yang

multidimensi.

Membaca berarti berkomunikasi dengan pemikir-pemikir kenamaan

dari segala penjuru dunia. Begitu pula dengan membaca dapat mengetahui

peristiwa tentang sejarah dan kebudayaan suatu bangsa.

Emerson dalam Suyatmi (1984: 9) mengharapkan setiap orang

(termasuk pelajar) dapat membiasakan diri sebagai pembaca yang baik, karena

dengan kebiasaan membaca itu orang akan dapat menimba segala pengetahuan

dan pengalaman. Moral, peradapan, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi

dapat sampai pada tingkat perkembangannya yang sekarang ini merupakan akibat

langsung dari hasil pembacaan buku-buku besar.

Pada kenyataannya bacaan yang beredar dalam kehidupan sehari-hari

dapat dibedakan menjadi empat antara lain: (1) bacaan pemberi informasi.

Misalnya: surat kabar, majalah, pengumuman dan lain-lain; (2) bacaan yang perlu
21

dipelajari. Misalnya: buku pelajaran, karya ilmiah, diktat dan lain-lain: (3) bacaan

sastra. Misalnya: novel, sajak, cerpen, drama dan lain-lain; (4) bacaan hiburan.

Misalnya: cerita detektif, cerita silat, dan sebagainya (Suyatmi 1984:89)

Dengan membaca siswa dapat mengantongi segala pengetahuan dan

pengalaman. Orang menjadi cerdik, cendekia, mampu melaksanakan tugas sehari-

hari tanpa mengembangkan tenaga dan pikirannya kepada sesama, nusa, bangsa

dan negara. Hal tersebut akan mengakibatkan lebih percaya pada kemampuan diri

sendiri dengan dilandasi karya batin. Tidak mungkin seseorang dapat memberikan

sesuatu pada orang lain/sesama tanpa terlebih dahulu memilikinya. Dengan

membaca akan dapat memiliki apa saja tentang pengetahuan yang diinginkan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil simpulan bahwa manfaat

membaca antara lain dapat: (1) menemukan sejumlah informasi dan pengetahuan

yang sangat berguna dalam praktek hidup sehari-hari; (2) berkomunikasi dengan

pemikiran, pesan, dan kesan pemikir-pemikir kenamaan dari segala penjuru dunia;

(3) mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakir dunia; (4)

mengetahui peristiwa besar dalam sejarah, peradapan dan kebudayaan suatu

bangsa; (5) memecahkan berbagai masalah kehidupan dan menghantarkan

seseorang menjadi cerdik dan pandai.

2.2.3 Tujuan Membaca

Suatu kegiatan pasti memiliki tujuan. Demikian pula kegiatan

membaca, juga ada sesuatu yang ingin dicapai. Membaca mempunyai tujuan
22

utama yaitu mencari serta memperoleh informasi yang mencakup isi dan

memahami makna bacaan.

Anderson dalam Tarigan (1987:9-10) mengemukakan ada tujuh tujuan

membaca yaitu: (1) membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-

fakta (reading for facts), (2) membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading

for main ideas), (3) membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi

cerita (reading for sequence or organization), (4) membaca untuk menyimpulkan,

membaca inferensi (reading for inference), (5) membaca untuk mengelompokkan,

membaca untuk mengklasifikasikan (reading for classify), (6) membaca menilai,

membaca mengevaluasi (reading for evaluate), dan (7) membaca untuk

membandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast).

Nurhadi (2004:11) berpendapat bahwa tujuan membaca antara lain:

(1) memahami secara detail dan menyeluruh isi buku; (2) menangkap ide

pokok/gagasan utama buku secara cepat (waktu terbatas); (3) mendapatkan

informasi tentang sesuatu (misalnya, kebudayaan suku indian); (4) mengenali

makna kata-kata (istilah sulit); (5) ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi

di masyarakat sekitar; (7) ingin memperoleh kenikmatan dari karya fiksi; (8) ingin

memperoleh informasi tentang lowongan pekerjaan; (9) ingin mencari merek

barang yang cocok untuk dibeli; (10) ingin menilai kebenaran gagasan

pengarang/penulis; (11) ingin mendapatkan alat tertentu (instrument affect); (12)

ingin mendapatkan keterangan tentang pendapat seseorang (ahli) atau keterangan

tentang pendapat seseorang (ahli) atau keterangan tentang definisi suatu istilah.

Secara singkat tujuan membaca adalah (1) membaca untuk tujuan studi (telaah
23

ilmiah); (2) membaca untuk tujuan menangkap garis besar bacaan; (3) membaca

untuk menikmati karya sastra; (4) membaca untuk mengisi waktu luang; (5)

membaca untuk mencari keterangan tentang suatu istilah.

Berdasarkan kedua pendapat tersebut, pada dasarnya membaca

mempunyai tujuan keterampilan dan untuk mencari kepuasan batin. Dengan

demikian, untuk mencapai tujuan membaca tidak hanya diperlukan keterampilan

memahami yang tersirat saja, tetapi juga pemahaman yang tersurat dalam bacaan.

2.2.4 Jenis-Jenis Membaca

Membaca adalah suatu keterampilan yang sangat kompleks serta

melibatkan kerja fisik dan mental. Jenis membaca ada bermacam-macam.

Menurut tingkatannya membaca dibedakan menjadi dua, yaitu membaca

permulaan dan membaca lanjut. Membaca permulaan menitikberatkan pada

kelancaran, yang biasa dilakukan di kelas I dan II Sekolah Dasar. Adapun

membaca lanjut dilaksanakan mulai kelas III Sekolah Dasar sampai ke Perguruan

Tinggi. Selain kelancaran yang lebih dipentingkan, pemahaman dan penerapan

dalam praktek hidup sehari-hari sesuai dengan situasi dan kondisi juga

dipentingkan (Suyatmi 1984:46).

Tujuan kegiatan membaca ada beraneka ragam, berdasarkan tujuan

yang beragam itu muncul jenis membaca yang biasa dipakai, yaitu sebagai

berikut: (1) membaca intensif; (2) membaca kritis; (3) membaca cepat; (4)

membaca indah; (5) membaca teknik.


24

Keterampilan membaca intensif merupakan kunci untuk memperoleh

ilmu. Membaca jenis ini biasanya disebut membaca cermat, karena dilakukan

dengan hati-hati, teliti, dan secara lambat dengan tujuan untuk memahami

keseluruhan bahan bacaan secara mendalam sampai bagian-bagian yang sekecil-

kecilnya.

Membaca kritis dilakukan untuk menemukan fakta-fakta yang terdapat

dalam bacaan kemudian memberikan penilaian terhadap fakta-fakta tersebut.

Dalam membaca kritis yang perlu di ingat hanya gagasan pokoknya saja. Jika

bahan bacaan pendek dan bersahaja dapat dibaca dengan cepat. Bacaan perlu

dibaca dengan lambat apabila gagasan yang dikemukakan berbelit-belit, bila perlu

berhenti sebentar membacanya untuk memikirkan terlebih dahulu. Setelah

dipahami barulah melanjutkan fakta berikutnya.

Membaca cepat adalah menitikberatkan pada kecepatan memahami isi

bacaan dengan cepat dan tepat dalam waktu yang relatif singkat. Membaca cepat

dilakukan apabila pembaca hanya akan mengambil gagasan pokok dan garis

besarnya saja. Dalam hal ini waktu harus diperhatikan dan dimanfaatkan sebaik-

baiknya.

Membaca yang indah erat sekali hubungannya dengan keterampilan

membaca karya sastra. Membaca jenis ini menitikberatkan pada pengungkapan

segi keindahan yang terdapat pada suatu karya sastra. Alur suaranya hendaknya

jatuh pada gagasan-gagasan, sebagaimana layaknya orang bicara. Gerak-gerak

dan mimik sejalan dengan pokok gagasan yang terkandung dalam teks, agar apa

yang dibaca dapat dipahami oleh pendengar.


25

Membaca teknik biasanya disebut membaca bersuara atau membaca

nyaring. Tujuannya agar siswa memiliki keterampilan membaca dengan lagu

kalimat, intonasi kalimat, pemenggalan kata atau kalimat serta pengucapan fonem

yang benar dan tepat. Selain itu, diharapkan dapat membaca kalimat dengan

lancar tanpa cacat baca. Oleh karena itu, seseorang yang akan membaca teknik

agar dapat menangkap maksud atau isi bacaan harus mengerti makna, perasaan

dan jiwa yang terkandung pada bacaan.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca

adalah untuk memperoleh ilmu, untuk menemukan fakta-fakta yang terdapat

dalam bacaan kemudian memberikan penilaian terhadap fakta-fakta tersebut,

untuk mengambil gagasan pokok dan garis besar dalam bacaan, untuk

mengungkapkan keindahan yang terdapat dalam suatu karya sastra, agar siswa

memiliki keterampilan membaca dengan lagu kalimat, intonasi kalimat,

pemenggalan kata atau kalimat serta pengucapan fonem yang benar dan tepat.

2.2.5 Pengertian Membaca Cepat

Membaca cepat adalah kegiatan merespon lambang-lambang cetak

atau lambang tulis dengan pengertian yang tepat dan cepat (Hernowo 2003:9).

Soedarso, dalam buku Speed Reading (2002:18) mengatakan bahwa membaca

cepat adalah kemampuan dengan kecepatan yang sama. Menurutnya kecepatan

membaca harus fleksibel. Artinya, kecepatan itu tidak harus selalu sama, ada

kalanya diperlambat karena bahan-bahan dan tujuan kita membaca. Strategi


26

membaca cepat dilakukan dengan tujuan untuk memahami intisari bacaan, bukan

bagian-bagian rinciannya yang detil-detil ( Hardjasujana 1996/1997 : 164-165).

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca cepat

adalah proses membaca bacaan untuk memahami isi-isi bacaan dengan cepat.

Membaca cepat memberi kesempatan untuk membaca secara lebih luas, bagian-

bagian bacaan yang sudah sangat dikenal atau dipahami tidak usah dihiraukan.

Perhatian dapat difokuskan pada bagian-bagian yang baru atau bagian–bagian

yang belum dikuasai. Dengan membaca cepat bisa memperoleh pengetahuan yang

luas tentang apa yang dibacanya, sesuai dengan sifat bacaan yang tidak

memerlukan pendalaman.

2.2.6 Hambatan-Hambatan Membaca Cepat

Orang yang tidak mendapat bimbingan, latihan khusus membaca

cepat, sering mudah lelah dalam membaca karena lamban membaca, tidak ada

gairah, merasa bosan, tidak tahan membaca buku, dan terlalu lama untuk bisa

menyelesaikan buku yang tipis sekalipun.

Untuk dapat membaca dengan cepat, hal-hal dapat menghambat

kelancaran atau kecepatan membaca harus dihilangkan. Beberapa faktor yang

dapat menghambat kecepatan membaca adalah sebagai berikut.

Vokalisasi atau membaca dengan bersuara sangat memperlambat

membaca. Karena itu berarti mengucapkan kata demi kata dengan lengkap.

Menggumam, sekalipun dengan mulut terkatup dan suara tidak terdengar, jelas

termasuk membaca dengan bersuara.


27

Menggerakkan bibir atau komat-kamit sewaktu membaca, sekalipun

tidak mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersuara. Semasa

kanak-kanak penglihatan kita memang masih sulit menguasai penampang bacaan.

Akibatnya adalah bahwa kita menggerakkan kepala kiri ke kanan untuk dapat

membaca baris-baris secara lengkap.

Cara membaca dengan menunjuk dengan jari atau benda lain itu

sangat menghambat membaca sebab gerakan tangan lebih lambat daripada

gerakan mata.

Sering kali mata bergerak kembali ke belakang untuk membaca ulang

suatu kata atau beberapa kata sebelumnya. Gerakan tersebut disebut regresi.

Selain menghambat kecepatan membaca, regresi bahkan dapat mengaburkan

pemahaman bacaan. Menurut Soedarso (2002:8) beberapa alasan seorang

pembaca melakukan regresi adalah sebagai berikut: (1) pembaca merasa kurang

yakin dalam memahami tulisan yang dibacanya; (2) pembaca merasa ada

kesalahan cetak pada tulisan yang dibacanya, kemudian mempertanyakan hal

tersebut dalam hati; (3) pembaca merasa ada kesalahan ejaan; (4) ada kata sulit

atau baru; (5) pembaca terpaku pada detail; (6) pembaca salah persepsi, misalnya

bertanya-tanya angka ang baru dibacanya 266 atau 267; (7) pembaca merasa ada

sesuatu yang tertinggal.

Menurut Redway dalam Wahyuningsih (2000: 15) dengan berlatih

terus dan kecepatan membaca meningkat, maka usaha mencegah regresi ini akan

lebih mudah lagi. Kecepatan akan memaksa si pembaca untuk berkonsentrasi lagi.
28

Hasilnya akan lebih meningkatkan pemahaman secara keseluruhan dan akan

mendorong pembaca untuk lebih siap mengantisipasi.

Subvokalisasi atau melafalkan dalam batin atau pikiran kata-kata yang

dibaca dilakukan oleh pembaca yang kecepatannya lebih tinggi. Subvokalisasi

juga menghambat karena kita menjadi lebih memperhatikan bagaimana

melafalkan secara benar daripada berusaha memahami ide yang dikandung dalam

kata-kata yang kita baca itu (Soedarso 2002: 8).

Wiryodijoyo dalam Wahyuningsih (2000: 13) mengungkapkan bahwa

subvokalisasi ini merupakan pengaruh kebiasaan dalam pengajaran membaca di

sekolah dasar, yaitu: (1) mengeja kata-kata menjadi suku kata, kata menjadi huruf;

dan (2) mengucapkan berulang-ulang hal yang dianggap penting oleh guru. Usaha

menghilangkan sama sekali cara membaca dengan menghafalkan dalam hati hal

yang kita baca, memang tidak mungkin. Namun ada cara lain untuk memperkecil

akibat buruk dari subvokalisasi, yaitu dengan cara melebarkan jangkauan mata

sehinga satu fiksasi (pandangan mata) dapat menangkap beberapa kata sekaligus

dan langsung menyerap idenya. Cara ini lebih baik daripada melafalkannya

(Soedarso 2002: 9).

Ketiadaan perhatian hampir sama dengan ketidaksiapaan mental.

Pembaca mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan karena ia terpaksa

mempelajari bahan bacaan yang tidak menarik perhatiannya. Masalah ini lebih

serius lagi bila ada kosa kata yang sulit atau baru dan belum dipahami oleh

pembaca. Selain itu, pikiran pembaca tidak sepenuhnya tertuju pada bacaan

karena masih ada masalah lain yang lebih menarik dan menganggu perhatiannya.
29

Hambatan dalam membaca cepat yang terakhir adalah kurang

motivasi. Motivasi ini dapat berasal dari dalam diri sendiri, dapat pula dari luar.

Ini sangat penting karena dengan adanya motivasi, pembaca terpacu untuk

membaca dengan sungguh-sungguh. Dalam membaca cepat motivasi juga perlu

diperhatikan.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hambatan-hambatan

dalam membaca cepat adalah vokalisasi, gerakan bibir, gerakan kepala, menunjuk

dengan jari, regresi, subvokalisasi, ketiadaan perhatian, kurang motivasi.

2.2.7 Teknik Membaca Cepat

Untuk dapat membaca cepat dengan efisien kunci utamanya adalah

sering berlatih. Ada beberapa teknik membaca cepat, yaitu gerakan mata dalam

membaca, melebarkan jangkauan mata, gerakan otot mata, dan meningkatkan

konsentrasi. Berikut penjelasannya.

Gerakan mata tinggal tergantung pada jarak benda yang bergerak di

lapangan yang luas, mata akan bergerak halus dan rata. Akan tetapi, apabila mata

melihat benda-benda yang berjarak dekat seperti melihat gambar atau membaca

gerakan mata akan cepat, tersentak-sentak dalam irama tarikan-tarikan kecil

melompat. Dalam membaca mata tidak boleh mengambang liar, tetapi mengarah

ke suatu sasaran (kata) sebentar lalu melompat ke sasaran berikutnya (satu atau

dua kata berikutnya) melompat, berhenti, melompat dan seterusnya.

Pemberhentian ini disebut fiksasi. Pada saat berhenti itulah mata membaca. Dan

saat melompat mata tidak mengamati apa-apa.


30

Pembaca yang tidak efisien dalam fiksasi hanya dapat satu atau dua

kata yang terserap. Pembaca yang efisien dapat menyerap tiga atau empat kata.

Kesulitan fiksasi bukan karena kesulitan fisik, melainkan karena kesulitan mental.

Bukan karena otot mata, melainkan karena ketidakmampuan dari pikiran

menyerap dengan cepat dan tanpa salah informasi berikutnya (Soedarso 2002: 29).

Untuk mendapatkan kecepatan dan efisien dapat digunakan hal

berikut.

1. Melebarkan jangkauan mata dan lompatan mata, yaitu satu fiksasi

meliputi 2 atau 3 kata.

2. Membaca satu fiksasi untuk suatu unit pengertian. Cara ini lebih mudah

diserap oleh otak.

Contoh: Saya suka baju lengan panjang. Lebih mudah

daripada Saya suka baju lengan panjang.

3. Selalu membaca untuk mendapatkan isinya, artinya bukan untuk

menghafalkan kata-katanya.

4. Mempercepat peralihan dari fiksasi ke fiksasi, tidak terlalu lama

berhenti dalam satu fiksasi. Percepat gerak mata dari satu fiksasi ke

fiksasi berikutnya. Semakin sedikit waktu untuk berhenti semakin baik.

Pada saat mata berhenti, jangkauan mata dapat menangkap beberapa

kata sekaligus. Kata-kata dalam jangkauan mata itu dapat dikenali sekalipun

pembaca tidak memfokuskan pada setiap kata (Soedarso 2002:30).

Gerakan mata dikendalikan oleh enam otot kecil yang kuat. Otot-otot

ini bersama-sama menarik mata dalam rangkaian tarikan-tarikan kecil tatkala


31

menelusuri baris demi baris banyak memboroskan gerakan mata. Untuk merubah

kebiasaan itu diperlukan latihan gerakan ke bawah, gerakan menyamping,

pengurangan bidang baca, membaca kolom, membaca pola S. Latihan ini untuk

kemajuan gerakan mata secara otomatis, cepat dan berpola menurut kebutuhan

(Soedarso 2002:39).

Kurangnya daya konsentrasi pada setiap orang disebabkan oleh hal-hal

yang berbeda. Ada orang yang memerlukan tempat yang tenang untuk membaca,

sementara orang lain perlu ditemani radio. Kurangnya konsentrasi dapat juga

disebabkan oleh kurangnya minat perhatian terhadap apa yang dibaca, karena

tidak menarik, terlalu sulit atau terlalu mudah atau memang membosankan. Dapat

juga memang orang itu belum siap membaca misalnya karena badan terlalu lelah

sehingga perhatiannya pecah.

Untuk meningkatkan daya konsentrasi ada dua kegiatan penting, yaitu

(1) menghilangkan atau menjauhi hal-hal yang dapat menyebabkan pikiran

menjadi kusut dan; (2) memusatkan perhatian secara sungguh-sungguh. Hal ini

termasuk memilih tempat dan waktu yang sesuai dengan dirinya, serta memilih

bahan-bahan yang menarik. Teknik–teknik membaca seperti survai bahan bacaan

sebelum memulai membaca, dan menentukan tujuan membaca, termasuk cara-

cara untuk berkonsentrasi (Soedarso 2002:50).

2.2.8 Pembelajaran Kontekstual

Pendekatan apapun yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar

diharapkan selalu mendudukkan siswa sebagai pusat perhatian. Peranan guru


32

dalam menentukan pola KBM di kelas bukan ditentukan oleh diktatik metodik “

apa yang akan dipelajari” saja, tetapi pada “bagaimana menyediakan dan

memperkaya pengalaman belajar anak.” Pengalaman belajar diperoleh melalui

serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi secara aktif lingkungan alam,

lingkungan sosial, dan lingkungan buatan, serta berkonsultasi dengan narasumber

lain (Depdiknas 2002:1).

Pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar di mana

menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat

hubungan antara pengetahuan yang di milikinya dengan keluarga dan masyarakat.

Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan

persoalan, berpikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan

dalam kehidupan jangka panjang (Nurhadi 2003:4).

Nurhadi (2003:5) menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran

kontekstual adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan

pentingnya lingkungan alamiah itu diciptakan dalam proses belajar agar kelas

lebih “hidup”dan lebih “bermakna” karena siswa mengalami sendiri apa yang

dipelajarinya. Pendekatan kontekstual merupakan pendekatan yang

memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas dan menerapkan

pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan

kehidupan baik sekolah maupun di luar sekolah.

Pembelajaran kontekstual dikembangkan untuk meningkatkan kinerja

kelas yang “hidup” diharapkan menghasilkan output yang bermutu tinggi.


33

Beberapa defnisi pembelajaran yang pernah ditulis dalam beberapa sumber

menyatakan sebagai berikut (Nurhadi 2003:12).

Johnson (dalam Nurhadi 2003:12) merumuskan sistem CTL

merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat

makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara

menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan

konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya.

The Washington State Consortium for Contextual Teaching and

Learning (dalam Nurhadi 2003:12) pengajaran kontekstual adalah pengajaran

yang memungkinkan siswa memperkuat, memperluas, dan menerapkan

pengetahuan dan keterampilan akademisnya dalam berbagai lahan sekolah dan di

luar sekolah untuk memecahkan seluruh persoalan yang ada dalam dunia nyata.

Menurut para penulis NWREL (Johnson dalam Nurhadi 2003:12), ada

tujuh atribut yang mencirikan konsep CTL, yaitu kebermaknaan, penerapan ilmu,

berpikir tingkat tinggi, kurikulum yang digunakan harus standar, berfokus pada

budaya, keterlibatan siswa secara aktif, dan authentic assessment.

Center on Education and Work at the University of Wisconsin-Madison,

yang disebut TEACHNET (dalam Nurhadi 2003:12) mengemukakan pula bahwa

pengajaran dan pembelajaran kontekstual adalah suatu konsepsi belajar mengajar

yang membantu guru menghubungkan isi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan

memotivasi siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan dan

aplikasinya dalam kehidupan siswa sebagai anggota masyarakat, dan pekerja serta

meminta ketekunan belajar.


34

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual

(Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar di mana guru

menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat

hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam

kehidupan mereka sehari-hari; sementara siswa memperoleh pengetahuan dan

keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses

mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam

kehidupanya sebagai anggota masyarakat.

Pembelajaran Kontekstual akan menciptakan ruang kelas yang

dialaminya, siswa akan menjadi peserta aktif bukan pengamat yang pasif dan

bertanggung jawab terhadap belajarnya. Pembelajaran kontekstual menempatkan

siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa

dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor

kebutuhan individual siswa dan peranan guru (Nurhadi 2003:19).

Karakteristik pembelajaran berbasis kontekstual adalah (1) kerja sama;

(2) saling menunjang; (3) menyenangkan, tidak membosankan; (4) belajar dengan

gairah; (5) pembelajaran terintegrasi; (6) menggunakan berbagai sumber; (7)

siswa aktif; (8) sharing dengan teman; (9) siswa kritis guru kreatif; (10) dinding

kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar,

artikel, humor, dan lain-lain; (11) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor,

tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan-lain-lain

(Depdiknas 2002: 20-21).


35

Blanchard (2001) (dalam Depdiknas 2004:48) mengembangkan

strategi pembelajaran metode kontekstual dengan: (1) menekankan pemecahan

masalah; (2) menyadari kebutuhan pengajaran dan pembelajaran yang terjadi

dalam berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan pekerjaan; (3)

mengajarkan siswa memonitor dan mengarahkan pembelajaran mereka sendiri

sehingga menjadi mandiri; (4) mengaitkan pengajaran pada konteks kehidupan

siswa yang berbeda-beda; (5) mendorong siswa untuk belajar dari sesama teman

dan belajar bersama; dan (6) menerapkan penilaian authentic.

Pengajaran dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and

Learning) menawarkan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa dalam

belajar lebih bermakna dan menyenangkan. Strategi yang ditawarkan dalam CTL

ini diharapkan dapat membantu siswa aktif dan kreatif. Untuk itu, dalam

menjalankan strategi ini, guru dituntut lebih kreatif pula.

Dalam strategi pembelajaran kontekstual ini ada tujuh komponen

utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas.

Menurut Nurhadi (2003:31), ketujuh komponen utama itu adalah Konstruktivisme

(Constructivism), Bertanya (Questioning), Menemukan (Inquiry), Masyarakat

Belajar (Learning Community), Pemodelan (Modeling), Refleksi (Reflection), dan

Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment).

2.2.9 Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)

Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) merupakan bagian

dari strategi pembelajaran kontekstual. Assessment adalah proses pengumpulan


36

berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa

(Nurhadi 2003:52). Gambaran itu perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan

bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang

dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan

belajar, maka guru segera dapat mengambil tindakan yang tepat agar siswa

terbebas dari kemacetan belajar. Penilaian yang dilakukan bersama secara

terintegrasi dari kegiatan pembelajaran.

Penilaian otentik (authentic assessment) adalah nama lain dari

penilaian berbasis kelas (PBK). Landasan teoretis penilaian berbasis kelas

terangkum dalam landasan authentic assessment (Nurhadi 2004: 167). Penilaian

berbasis kelas dilakukan untuk memberikan keseimbangan pada ketiga ranah

kognitif, afektif, dan psikomotor dengan menggunakan berbagai bentuk dan

model penilaian secara resmi maupun tidak resmi dengan berkesinambungan.

Penilaian Berbasis Kelas merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan dan

penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-

prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti otentik, akurat dan

konsisten sebagai akuntabilitas publik. PBK dilakukan dengan pengumpulan

kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja

(performance), tes tertulis (paper and pencil) (Depdiknas 2002:1-2).

Tujuan penilaian berbasis kelas adalah untuk memberikan (1)

informasi tentang kemajuan hasil kerja siswa secara individual dalam mencapai

tujuan belajar sesuai dengan kegiatan belajar yang dilakukan; (2) informasi yang

dapat digunakan untuk membina kegiatan belajar lebih lanjut, baik terhadap
37

masing-masing siswa maupun terhadap siswa seluruh kelas; (3) informasi yang

dapat digunakan oleh guru dan siswa untuk mengetahui tingkat kemampuan

siswa, menetapkan tingkat kesulitan/kemudahan untuk melaksanakan remedial,

pendalaman atau pengayaan; (4) motivasi belajar siswa dengan cara memberikan

informasi kemajuannya dan rangsangannya untuk melakukan usaha pemantapan

atau perbaikan; (5) informasi semua aspek kemajuan setiap siswa dan pada

gilirannya guru dapat membantu pertumbuhannya secara afektif untuk menjadi

anggota masyarakat dan pribadi yang utuh; (6) bimbingan yang tepat untuk

memilih sekolah atau jabatan yang sesuai dengan keterampilan, minat, dan

kemampuannya (Depdiknas 2002: 6).

Ditinjau dari dimensi kompetensi yang ingin dicapai, ranah yang perlu

dinilai dalam penilaian berbasis kelas meliputi ranah kognitif, psikomotor, dan

afektif (Depdiknas 2002:17-18).

a. Ranah Kognitif

Kompetensi ranah kognitif meliputi tingkatan menghafal, memahami,

mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.

(1) Tingkatan hafalan mencakup kemampaun menghafal verbal atau

menghafal parafrase materi pembelajaran berupa fakta, konsep, prinsip,

dan prosedural.

(2) Tingkatan pemahaman meliputi kemampuan membandingkan

(menunjukkan persamaan dan perbedaan), mengidentifikasi karakteristik,

menggeneralisasi, dan menyimpulkan.


38

(3) Tingkatan aplikasi mencakup kemampuan menerapkan rumus, dalil atau

prinsip terhadap kasus-kasus nyata yang terjadi di lapangan.

(4) Tingkatan analisis meliputi kemampuan mengklasifikasi, menggolongkan,

memerinci, menguraikan suatu objek.

(5) Tingkatan sintesis meliputi kemampuan memadukan berbagai unsur atau

komponen, menyusun, membentuk bangunan, mengarang, melukis,

menggambar, dan sebagainya.

(6) Tingkatan evaluasi/penilaian mencakup kemampuan menilai terhadap

objek studi menggunakan kriteria tertentu.

Penguasaan kognitif diukur dengan menggunakan tes lisan di kelas

atau berupa tes tulis. Ranah kognitif juga dapat diukur menggunakan

portofolio. Portofolio adalah kumpulan tugas/pekerjaan seseorang. Hal yang

penting pada penilaian yang didasarkan pada portofolio adalah mampu

mengukur kecepatan membaca dan menulis yang luas, siswa menilai

kemajuan sendiri, mewakili sejumlah karya siswa.

b. Ranah Psikomotor

Berkenaan dengan ranah psikomotor, kompetensi yang dicapai

meliputi tingkatan gerakan awal, semi rutin. Penilaian terhadap pencapaian

kompetensi tersebut adalah

(1) Tingkatan penguasaan gerakan awal berisi kemampuan siswa dalam

menggerakkan sebagian anggotanya.

(2) Tingkatan semi rutin meliputi kemampuan melakukan atau menirukan

gerakan yang melibatkan seluruh anggota badan.


39

(3) Tingkatan gerakan rutin berisi kemampuan melakukan gerakan sempurna

dan sampai pada tingkatan otomatis.

Tes untuk mengukur aspek psikomotor adalah tes untuk mengukur

penampilan/perbuatan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai siswa.

c. Ranah Afektif

Berkenaan dengan ranah afektif, ada dua hal yang perlu dinilai, yaitu

pertama kompetensi afektif, dan kedua sikap dan minat siswa terhadap mata

pelajaran dan proses pembelajaran. Kompetensi yang ingin dicapai dalam

pembelajaran meliputi tingkatan pemberian respon, apresiasi, penilaian, dan

internalisasi.

Kemampuan afektif merupakan bagian dari hasil belajar dan memiliki

peran yang penting. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan

psikomotor sangat ditentukan oleh kondisi afektif siswa. Siswa yang memiliki

minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang

mempelajari mata pelajaran tersebut, sehingga dapat diharapkan akan

mencapai hasil belajar yang optimal (Depdiknas 2004: 4).

Berbagai jenis tingkatan ranah afektif yang dinilai adalah kemampuan

siswa dalam:

(1) memberikan respon atau reaksi terhadap nilai-nilai yang dihadapkan

kepadanya;

(2) menikmati atau menerima nilai, norma, serta objek yang mempunyai nilai

etika dan estetika;


40

(3) menilai ditinjau dari segi baik buruk, adil tidak adil, indah tidak indah

terhadap objek studi;

(4) menerapkan atau mempraktikkan nilai, norma, etika dan estetika dalam

perilaku kehidupan sehari-hari.

Penekanan penilaian berbasis kelas yaitu pada proses pembelajaran.

Oleh karena itu, data yang dikumpulkan pun harus diperoleh dari kegiatan nyata

yang dikerjakan siswa pada saat proses pembelajaran. Guru yang ingin

mengetahui perkembangan belajar bahasa Indonesia siswanya harus

mengumpulkan data dari kegiatan nyata saat siswa menggunakan Bahasa

Indonesia, baik lisan maupun tulisan, bukan pada saat para siswa mengerjakan tes

bahasa Indonesia. Data authentic adalah data yang dikumpulkan dari kegiatan

siswa pada saat siswa melakukan kegiatan berbahasa Indonesia, baik di kelas

maupun di luar kelas.

Ada beberapa teknik penilaian diantaranya adalah sebagai berikut

(Depdiknas 2003a:25-28).

1. Penilaian Kinerja (Performance Assessment). Penilaian kinerja

dikembangkan untuk mengetes kemampuan siswa dalam mendemostrasikan

pengetahuan dan keterampilannya pada berbagai situasi nyata dan konteks

tertentu.

2. Observasi Sistematik (Systematic Observation), yang bermanfaat untuk

menyajikan informasi tentang dampak aktivitas pembelajaran terhadap siswa.

3. Portofolio (Portofolio) adalah koleksi/kumpulan dari berbagai keterampilan,

ide, minat, dan keberhasilan atau prestasi siswa selama jangka waktu tertentu.
41

Portofolio pada kurikulum 2004 diposisikan sebagai tugas penilaian yang

terstruktur. Portofolio berisi hasil karya siswa atau tugas terstruktur yang

diberikan oleh guru. Jenis portofolio dibedakan menjadi dua macam, yaitu

portofolio untuk beberapa/semua mata pelajaran, dan portofolio untuk satu

mata pelajaran. Portofolio untuk semua mata pelajaran menggambarkan profil

kemampuan dari siswa. Portofolio untuk satu mata pelajaran disusun untuk

satu mata pelajaran tertentu seperti matematika, sains, pengetahuan sosial,

kesenian atau pendidikan jasmani. Isi portofolio ini terdiri dari hasil karya

siswa yang menggambarkan ketercapaian Kompetensi Dasar dari mata

pelajaran tertentu (Depdiknas 2004a: 5-6).

4. Jurnal Sains (Journal) merupakan suatu proses refleksi di mana siswa

berpikir tentang proses belajar dan hasilnya, kemudian menuliskan ide-ide,

minat, dan pengalamannya.

Prinsip yang dipakai dalam penilaian serta ciri-ciri penilaian authentic

adalah sebagai berikut: (1) harus mengukur semua aspek pembelajaran: proses,

kinerja, dan produk; (2) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran

berlangsung; (3) menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber; (4) tes hanya

salah satu alat pengumpul data penilaian; (5) tugas-tugas yang diberikan kepada

siswa harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari,

mereka lakukan setiap hari; (6) penilaian harus menekankan kedalaman

pengetahuan dan keahlian siswa, bukan keluasannya (kuantitas).


42

2.3 Kerangka Berpikir

Membaca cepat adalah membaca yang melaju terus tanpa kembali

pada bagian-bagian yang terlewati dengan pemahaman isi bacaan secara cepat,

serta menemukan gagasan atau pokok pikiran utamanya.

Masalah yang biasa ditemukan dalam pembelajaran membaca cepat

adalah siswa membaca diiringi dengan gerakan anggota badan atau siswa masih

mempunyai kebiasaan-kebiasan jelek dalam membaca, siswa kurang mendapat

latihan membaca dengan benar, guru belum menggunakan sistem penilaian yang

bervariasi sehingga guru belum mengetahui perkembangan membaca siswa. Siswa

belum mengetahui kemampuan dan kekurangan dalam kegiatan membaca cepat

sehingga siswa tidak termotivasi untuk memperbaiki hasil belajar membaca.

Dengan menerapkan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment

diharapkan segala hambatan membaca cepat akan hilang dan kecepatan membaca

siswa meningkat.

Pengumpulan data dari kegiatan siswa pada saat siswa melakukan

kegiatan membaca, baik di kelas maupun di luar kelas dapat mengetahui

perkembangan hasil belajar membaca cepat siswa. Siswa akan termotivasi dengan

hasil belajar yang memuaskan. Hasil belajar yang memuaskan merupakan

rangsangan bagi siswa untuk melakukan tindakan. Apabila rangsangan diikuti

oleh tindakan (tingkah laku), maka hubungan di antara keduanya semakin

diperkuat melalui “exercise” atau latihan ulangan dan akan lebih kerap diulangi

atau terjadi dan siswa akan cenderung mengulang perbuatan.


43

Agar kecepatan memebaca siswa mencapai 250 kpm, ada beberapa

faktor yang mendukung, yaitu dukungan pembelajaran membaca, orang tua, minat

dari diri sendiri, latihan secara terstruktur, dan perpustakaan, serta penilaian dalam

pembelajaran membaca. Pengaruh kemahiran guru memberikan umpan balik

(merespon terhadap keberhasilan siswa dalam belajar sangat bermakna, karena

siswa dapat mengutarakan segala pemahaman isi bacaan. Selain itu, dapat

meningkatkan semangat belajar dan minat membaca siswa.

Guru secara rutin melakukan tindakan pengontrolan kecepatan

membaca, memotivasi siswa berkunjung ke perpustakaan, dan melakukan latihan

membaca yang benar secara terstruktur, serta mengumpulkan hasil belajar siswa

sehingga akan meningkatkan kemampuan membaca cepat dan adanya perubahan

perilaku pada diri siswa.

2.4 Hipotesis

Berdasarkan uraian di atas, hipotesis yang diajukan adalah akan terjadi

peningkatan kemampuan membaca cepat dan perubahan tingkah laku siswa kelas

VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes jika

pembelajarannya menggunakan pembelajaran kontekstual elemen authentic

assessment.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian

tindakan kelas (PTK) merupakan penelitian yang berbasis kelas, maka masalah-

masalah yang diteliti dalam PTK adalah masalah-masalah yang muncul di kelas.

PTK juga mengupayakan perbaikan kondisi pembelajaran dan menyelesaikan

bermacam-macam permasalahan yang muncul di dalam kelas. Untuk mewujudkan

tujuan-tujuan tersebut, PTK dilaksanakan dalam bentuk proses pengkajian

berdaur. Proses pengkajian ini terdiri atas empat tahap yaitu perencanaan,

tindakan, observasi, dan refleksi. Keempat tahap atau siklus dalam sebuah

penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut.

Bagan I. Siklus PTK

P RP

OBA

R Siklus I T R Siklus II T

O O

Keterangan:
OBA : Observasi Awal O : Observasi
P : Perencanaan R : Refleksi
T : Tindakan RP : Revisi Perencanaan.
45

3.1.1 Prosedur Tindakan pada Siklus I

1. Perencanaan

Tahap Perencanaan ini berupa rencana kegiatan menentukan langkah-

langkah yang akan dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Langkah

ini merupakan upaya untuk memperbaiki kelemahan dalam proses

pembelajaran membaca cepat selama ini. Rencana kegiatan yang akan

dilakukan adalah (1) menyusun rencana pembelajaran membaca cepat dengan

menggunakan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment, (2)

membuat dan menyiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi,

lembar wawancara, lembar jurnal untuk memperoleh data nontes, kartu

kendali kecepatan membaca, dan (3) peneliti menyiapkan naskah atau teks

wacana untuk menguji kecepatan efektif membaca siswa. Menyusun 10

pertanyaan soal pilihan ganda untuk menguji pemahaman siswa terhadap

wacana. Siswa juga diminta untuk menyediakan alat tulis, jam tangan yang

nanti akan digunakan dalam menanggapi bacaan yang diberikan dan

mengukur waktu untuk membaca.

2. Tindakan

Tindakan adalah perbuatan yang dilakukan oleh guru sebagai upaya

untuk perbaikan. Peningkatan atau perubahan sebagai solusi. Tindakan yang

dilakukan oleh peneliti dalam meneliti proses pembelajaran membaca cepat

pada siklus I ini adalah sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.

Tindakan yang akan dilakukan peneliti secara garis besar adalah

melaksanakan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment, yaitu


46

mengumpulkan data yang authentic dari siswa yang berupa latihan-latihan dan

tugas-tugas yang nantinya akan menunjukkan perkembangan hasil belajar

membaca cepat siswa. Dalam pelaksanaan tindakan peneliti melakukan dua

tindakan, yaitu:

a) Tindakan di Kelas

Pada saat kegiatan belajar mengajar peneliti menyampaikan materi

pokok bahasan tentang membaca. Adapun pelaksanaannya adalah sebagai

berikut.

1) Ilustrasi

Peneliti mengawali kegiatan dengan pertanyaan bimbingan, yakni

pertanyaan awal untuk mengarahkan pikiran dan pandangan siswa. Tujuan

ilustrasi untuk mengkondisikan siswa agar siap dalam menerima pelajaran.

Guru juga melakukan kegiatan ”pemanasan” pikiran kepada siswa dengan

memanggil kembali pengalamannya yang berkaitan dengan isi bacaan

sebelum membaca teks. Pada kesempatan ini, peneliti memberikan

penjelasan tentang aturan atau teknik membaca cepat yang akan dilakukan

dalam pembelajaran.

b) Proses belajar mengajar

1. Melatih kecepatan membaca yang meliputi 4 tahap, yaitu: (a)

melihat dengan otak; (b) gerakan mata dalam membaca yaitu

dengan melebarkan jangkauan mata dan melakukan transisi fiksasi

ke fiksasi; (c) gerakan otot mata dan pelatihannya; dan (d)

meningkatkan konsentrasi membaca. Guru atau peneliti


47

menyiapkan sebuah wacana dan siswa membaca wacana sebagai

latihan kecepatan membaca.

2. Melatih pemahaman bacaan dengan menjawab pertanyaan yang

sudah disiapkan oleh guru (peneliti). Peneliti memberikan soal uji

yaitu 10 pilihan ganda untuk menguji pemahaman isi wacana.

3. Siswa menilai kecepatan membaca diri sendiri dan teman. Siswa

melakukan pengontrolan membaca cepat dengan menuliskan

kecepatan membacanya pada kartu kendali kecepatan membaca.

Dalam setiap akhir pelajaran, siswa mengumpulkan hasil latihan-

latihan yang telah dilakukan pada proses pembelajaran.

4. Melatih siswa mengukur kecepatan membaca diri sendiri dan

teman. Pengukuran kecepatan membaca dapat diperoleh melalui

suatu rumus yaitu jumlah kata yang di baca perwaktu tempuh baca

dalam satu menit kali skor bobot tes yang dapat dijawab dengan

benar perskoran ideal atau skor maksimal. Maka akan diperoleh

nilai kecepatan efektif membaca dalam satuan kata per menit.

Rumus kecepatan efektif membaca adalah sebagai berikut:

KEM = p x r x 60
q 100
Keterangan:

p = jumlah kata yang terdapat dalam bacaan

q = jumlah waktu dalam hitungan detik

r = jumlah jawaban yang benar


48

b.) Tindakan di Luar Kelas

Siswa melakukan kegiatan membaca koleksi perpustakaan. Kegiatan

ini bisa dilakukan di perpustakaan saat istirahat atau jam-jam tidak efektif

lain, atau dipinjam untuk dibaca di rumah. Koleksi (buku) perpustakaan

yang dibaca diserahkan kepada selera siswa.

3. Observasi atau Pengamatan

Observasi adalah mengamati hasil atau dampak dari tindakan-tindakan

yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran membaca cepat dengan

elemen authentic assessment. Observasi dilaksanakan peneliti dengan

bantuan guru mata pelajaran selama proses pembelajaran berlangsung.

Sasaran observasi meliputi keaktifan siswa dalam mendengarkan penjelasan

guru, keaktifan siswa selama pembelajaran membaca cepat, keaktifan siswa

dalam mengumpulkan hasil kerja (latihan-latihan, tugas yang diberikan

guru), dan keaktifan siswa dalam mengerjakan tes membaca cepat.

Selain itu, peneliti juga melakukan observasi atau pengamatan

terhadap kegiatan perpustakaan. Apakah siswa mau memanfaatkan

perpustakaan pada saat istirahat atau jam-jam tidak efektif. Untuk

meyakinkan data tersebut peneliti melakukan wawancara kepada petugas

perpustakaan mengenai keaktifan siswa dalam membaca koleksi

perpustakaan.
49

4. Refleksi

Refleksi adalah mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau

dampak dari tindakan. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dapat

melakukan revisi terhadap rencana selanjutnya atau terhadap rencana awal

tes siklus II. Pada tahap ini, peneliti menganalisis hasil tes dan nontes siklus

I. Jika hasil tes tersebut belum memenuhi nilai target/nilai yang telah

ditentukan, akan dilakukan tindakan siklus II dan masalah-masalah yang

timbul pada siklus I akan dicarikan alternatif pemecahannya pada siklus II.

Sedangkan kelebihan-kelebihannya akan dipertahankan dan ditingkatkan.

Berdasarkan data yang diperoleh selama pelaksanaan siklus I,

peningkatan yang terjadi pada siswa secara kualitatif, maupun kuantitatif

belum maksimal. Secara kualitatif, siswa belum melakukan aktivitas

membaca dengan sepenuh hati. Penyebab tidak maksimalnya peningkatan

adalah siswa baru pertama kali mengalami pembelajaran membaca cepat

dengan pengontrolan kecepatan efektif membaca dan mengukur sendiri

kecepatan membaca. Ada siswa yang belum begitu paham bagaimana cara

menghitung kecepatan membaca dan kecepatan efektif membaca. Siswa

kurang mendapat latihan membaca cepat sebelumnya dari guru. Siswa masih

mengalami keraguan, kecemasan, dan grogi (merasa tidak nyaman) pada

waktu diadakan pengukuran. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan siklus II

siswa akan dipersiapkan sebaik-baiknya untuk menghadapi pengukuran

selanjutnya. Siswa akan dibiasakan membaca cepat dan diberi latihan

membaca cepat secara intensif sehingga kecepatan membaca meningkat.


50

Perhatian khusus diberikan kepada para siswa yang banyak melakukan

kebiasaan yang salah pada waktu membaca. Siswa yang tidak membaca

dengan benar diperingatkan, supaya tetap ingat bahwa kebiasaan itu sangat

mengganggu kecepatan membaca.

3.1.2 Prosedur Tindakan pada Siklus II

Setelah melakukan refleksi pada siklus I, pada siklus yang II ini dilakukan

perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan yang meliputi strategi proses

pembelajaran, metode, dan sarana yang digunakan dalam penelitian mulai dari

tahap perencanaan sampai refleksi. Proses penelitian tindakan kelas dalam siklus

II dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Perencanaan

Perencanaan pada siklus II berdasarkan temuan hasil siklus I. Pada

siklus II ini lebih dititikberatkan pada kecepatan membaca. Adapun rencana

tindakan yang akan dilakukan adalah (1) membuat perbaikan rencana

pembelajaran membaca cepat menggunakan elemen authentic assessment yang

materinya masih sama dengan siklus I. Namun demikian, diupayakan dapat

memperbaiki masalah atau kekurangan-kekurangan pada siklus I, (2)

menyiapkan lembar wawancara, lembar observasi, dan lembar jurnal untuk

memperoleh data nontes siklus II, (3) menyiapkan perangkat tes membaca cepat

yang akan digunakan dalam evaluasi hasil belajar siklus II.


51

2. Tindakan

Tindakan pada siklus II adalah perbaikan-perbaikan atau

penyempurnaan tindakan pada siklus I. Pada tahap ini guru menjelaskan

kembali tentang materi pokok membaca cepat dan membahas kesalahan-

kesalahan yang terdapat pada latihan-latihan membaca cepat yang telah

dilakukan siswa pada saat membaca. Pada siklus II ini lebih dititikberatkan pada

kecepatan membaca dan menghilangkan kebiasan buruk membaca yang masih

dilakukan siswa, seperti regresi dan konsentrasi. Menugasi siswa untuk

membaca wacana yang sudah disiapkan dalam siklus II. Siswa langsung

menjawab pertanyaan pemahaman untuk menghindari kelupaan. Setelah siswa

mengerjakan pertanyaan-pertanyaan siswa bersama guru mencocokkan

jawaban. Kemudian siswa menghitung kecepatan membaca dan kecepatan

efektif membacanya. Siswa mencatat kecepatan efektif membaca dalam kartu

pengontrolan data. Kartu data tersebut diperlihatkan kepada guru dan

ditandatangani oleh guru dan ditandatangani oleh orang tua.

3. Observasi

Observasi pada siklus II juga masih sama dengan siklus I yaitu

difokuskan pada keaktifan siswa dalam menyimak penjelasan guru, keaktifan

siswa dalam proses pembelajaran, dan keaktifan siswa dalam mengerjakan tes.

Kemajuan-kemajuan yang dicapai dan kelemahan-kelemahan yang masih

muncul juga dijadikan pusat sasaran dalam observasi.


52

4. Refleksi

Refleksi pada siklus II untuk merefleksi hasil evaluasi belajar siswa

siklus I, untuk menentukan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai selama

proses pembelajaran, dan untuk mencari kelemahan-kelemahan yang masih

muncul dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan

jurnal diperoleh data sebagai berikut.

Aktivitas dan respon siswa pada saat membaca cepat sudah baik.

Siswa merasa tertarik dengan membelajaran, dan siswa merasa aktif dalam

proses pembelajaran. Kerjasama dengan teman terlihat pada saat siswa yang

tidak tahu atau belum paham tentang bagaimana cara menghitung kecepatan

efektif membaca, siswa tersebut langsung bertanya dengan teman sebangku

untuk mengetahui cara menghitung kecepatan membaca tersebut. Siswa juga

merasa senang dengan adanya pembelajaran membaca cepat dengan

pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment karena mereka

merasa dihargai hasil karyanya dan mereka merasa senang dapat mengukur

kecepatan membacanya kapan pun mereka mau. Siswa sudah mengurangi

kebiasaan buruk dalam membaca.

Kelebihan-kelebihan pada siklus I dapat dipertahankan, ditingkatkan,

dikembangkan pada siklus II. Kekurangan-kekurangan pasa siklus I telah

diperbaiki, diatasi, dimodifikasi pada siklus II.


53

3.2 Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah kemampuan membaca cepat MTs

Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes siswa kelas VIIIA tahun

pelajaran 2004-2005. Kelas VIIIA tersebut terdiri atas 36 siswa yaitu 11 laki-laki

dan 25 perempuan. Peneliti mengambil subjek tersebut dengan alasan yaitu

kemampuan membaca cepat siswa kelas VIIIA masih kurang maksimal atau

masih rendah. Penyebab kecepatan membaca siswa kurang maksimal adalah siswa

kurang latihan dalam membaca secara benar, bacaan kurang menarik, yaitu isi

bacaan tidak sesuai dengan keinginan siswa, sehingga siswa membaca hanya

sekadar pengisi waktu luang. Guru kurang memberikan latihan pada siswa dalam

kegiatan membaca. Minat baca pada diri siswa yang kecil, yaitu pada diri kurang

berminat pada kegiatan membaca. Guru kurang memiliki pengetahuan dan

kemahiran tentang berbagai metode dan teknik penilaian, sehingga kurang dapat

memilih dan melaksanakan dengan tepat metode dan teknik penilaian yang ada.

Guru kurang mengetahui perkembangan hasil belajar siswa dalam membaca

cepat.

3.3 Variabel Penelitian

Variabel yang diungkap dalam penelitian ini adalah kemampuan

membaca cepat dan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment.

3.3.1 Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat

Yang dimaksud membaca cepat dalam penelitian ini adalah proses

membaca bacaan untuk memahami isi-isi bacaan dengan cepat. Membaca cepat
54

memberi kesempatan untuk membaca secara lebih luas, bagian-bagian bacaan

yang sudah sangat dikenal atau dipahami tidak usah dihiraukan. Membaca cepat

memberikan pemahaman dan dapat menimbulkan motivasi belajar pada diri

siswa. Kemampuan membaca merupakan kemampuan untuk membuka jendela

informasi dunia. Target kemampuan yang diharapkan adalah siswa mempunyai

kecepatan membaca 250 kpm, siswa mampu menghilangkan kebiasaan-kebiasaan

buruk dalam membaca. Dengan pembelajaran membaca melalui teknis membaca

ini diharapkan dapat memenuhi target kemampuan membaca para siswa kelas

VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dan perilaku

dalam melakukan aktivitas membaca menjadi lebih baik.

3.3.2 Pembelajaran Kontekstual Elemen Authentic assessment

Variabel pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment

adalah pembelajaran membaca cepat 250 kpm dengan menggunakan pendekatan

kontekstual elemen authentic assessment. Dalam pembelajaran membaca cepat

ini, siswa secara berpasangan mengukur kemampuan membaca diri sendiri dan

secara bergantian mengukur kecepatan membaca temannya, setelah mengukur

kecepatan siswa diminta untuk menuliskan hasil pengamatan membaca siswa

pasangannya. Siswa melakukan latihan-latihan untuk menghilangkan kebiasaan

jelek dalam membaca dengan bimbingan guru, siswa diberi tugas untuk membaca

buku yang mereka sukai di perpustakaan dan di rumah. Setelah siswa melakukan

kegiatan membaca, siswa diminta selalu mengontrol kecepatan membacanya

setelah membaca buku baik di perpustakaan maupun di rumah. Siswa selalu


55

mengisi lembar/ kartu data pengontrolan kecepatan membaca dari minggu

pertama sampai minggu yang telah ditentukan dan mengisi kartu data kebiasaan-

kebiasaan buruk dalam membaca. Siswa selalu melaporkan hasil pengukuran

kecepatan membaca kepada guru setelah diketahui atau ditandatangani oleh orang

tua. Kemudian hasil kegiatan itu, dikumpulkan menjadi satu untuk mengetahui

perkembangan hasil belajar membaca cepat siswa. Siswa yang mempunyai

kecepatan membaca tinggi, kartu datanya ditempel di dinding kelas.

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data dalam

penelitian tindakan kelas ini berupa soal tes dan nontes. Soal tes digunakan untuk

mengungkap data tentang kemampuan membaca cepat siswa. Soal nontes (lembar

observasi, lembar jurnal, dan lembar wawancara) digunakan untuk

mengungkapkan perubahan tingkah laku siswa.

3.4.1 Instrumen Tes

Bentuk instrumen yang berupa tes yaitu berupa perintah kepada para

siswa untuk mengerjakan soal-soal yang berdasarkan bacaan yang telah

dibacanya dalam proses pembelajaran membaca, yang disediakan dalam

penelitian ini. Pertanyaan bacaan diberikan kepada para siswa untuk mengukur

tingkat pemahaman siswa terhadap teks bacaan yang dibacanya. Bentuk tes ini

berupa soal pilihan ganda sebanyak 10 butir, setiap nomor yang dijawab benar

akan memperoleh skor satu. Skor yang diperoleh siswa dalam menjawab
56

pertanyaan bacaan digunakan sebagai acuan untuk mengukur kecepatan

membaca siswa. Selain untuk mengukur kecepatan membaca, perolehan skor

juga digunakan sebagai dasar untuk menggolongkan tingkat pemahaman siswa.

Penggolongan tingkat pemahaman siswa terhadap suatu bacaan

didasarkan pada pedoman yang sudah ditentukan yaitu.

Tabel 1 Pedoman Penilaian Tingkat Pemahaman

No. Tingkat Pemahaman Kategori

1. 90-100 % sangat baik

2. 70-80 % baik

3. 50-60 % sedang

4. 30-40 % kurang

5. 10-20 % sangat kurang

Berdasarkan penghitungan kecepatan membaca yang dilakukan dapat

diperoleh penggolongan tingkat kecepatan membaca siswa. Penggolongan

tingkat kecepatan membaca didasarkan pada pedoman yang sudah dibuat yaitu.

Tabel 2 Pedoman Kecepatan Membaca

No. Kecepatan Membaca Kategori

1. Lebih dari 250 kpm cepat

2. 200-249 kpm sedang

3. 150-199 kpm lambat

4. < 150 kpm sangat lambat


57

Berdasarkan tabel 2 tersebut, siswa yang memiliki kecepatan membaca

lebih dari 250 kpm masuk kategori cepat. Siswa yang mempunyai kecepatan

membaca 200 kpm sampai 249 tergolong sedang. Siswa yang mempunyai

kecepatan membaca 150 sampai 199 kpm rendah, dan siswa yang kecepatan

membacanya kurang dari 150 kpm tergolong sangat rendah.

Penggolongan tingkat kecepatan efektif membaca (KEM) didasarkan

pada pedoman yang sudah dibuat yaitu.

Tabel 3 Pedoman Kecepatan Efektif Membaca

No. Kecepatan Efektif Membaca Kategori

1. Lebih dari 175 kpm cepat

2. 150-174 kpm sedang

3. 125-149 kpm lambat

4. < 125 kpm sangat lambat

Berdasarkan tabel di atas, siswa yang memiliki kecepatan efektif

membaca lebih dari 175 kpm masuk kategori cepat. Siswa yang mempunyai

kecepatan efektif membaca 150 kpm sampai 175 tergolong sedang. Siswa yang

mempunyai kecepatan efektif membaca 125 sampai 149 kpm lambat, dan siswa

yang kecepatan membacanya kurang dari 125 kpm tergolong sangat lambat.

3.4.2 Instrumen Nontes

Instrumen nontes yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan

data kualitatif sebagai berikut.


58

3.4.2.1 Pedoman Observasi

Pedoman observasi ini digunakan untuk mengamati perilaku, sikap dan

respons siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Aspek yang diamati dalam

penelitian ini adalah kebiasaan buruk yang masih dilakukan oleh siswa pada

saat membaca, sikap siswa terhadap bahan yang disajikan, keaktifan siswa

dalam pembelajaran, dan sikap siswa terhadap teknik pembelajaran, kerja

sama, sharing dengan teman, pembelajaran menyenangkan, tidak

membosankan, kekritisan siswa. Adapun intensitas membaca koleksi

perpustakaan dapat diobservasi melalui situasi setiap hari di perpustakaan.

3.4.2.2 Pedoman Wawancara

Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang keadaan

responden melalui tanya jawab dan diskusi kepada siswa. Pedoman

wawancara dibuat oleh peneliti dan ditujukan kepada siswa yang berhasil

maupun tidak berhasil tentang membaca cepat dan berbagai kendala dalam

membaca cepat. Untuk mengetahui hal tersebut peneliti menyiapkan sepuluh

pertanyaan untuk melakukan wawancara yang meliputi: kebiasaan dalam

membaca, kegemaran membaca siswa, bacaan yang disukai, konsentrasi siswa

pada saat membaca, gambaran isi bacaan, pemberian tanda baca/cek pada

bacaan, catatan tentang isi bacaan, dan membaca bacaan di perpustakaan.

Selain itu, wawancara juga digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa

tentang pembelajaran yang dilakukan, kendala-kendala yang dihadapi siswa


59

dalam melakukan aktivitas baca. Peneliti juga menyiapkan lembar wawancara

yang ditujukan kepada petugas perpustakaan untuk memperoleh data kegiatan

siswa dalam memanfaatkan koleksi perpustakaan.

3.4.2.3 Pedoman Jurnal

Setiap selesai pembelajaran membaca, jurnal dibuat sebagai bahan

sefleksi. Jurnal yang dibuat ada dua macam yaitu jurnal peneliti/guru dan

jurnal siswa. Jurnal siswa diisi oleh siswa, sedangkan jurnal guru diisi oleh

guru. Jurnal siswa berisi tentang kesan dan pesan siswa tentang proses

pembelajaran membaca dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic

assessment. Jurnal guru berisi tentang uraian pendapat dan seluruh kejadian

yang dilihat dan dirasakan oleh guru selama kegiatan pembelajaran membaca

berlangsung.

3.4.2.4 Uji Validitas dan Realibilitas Instrumen

Sebelum digunakan dalam penelitian bentuk soal tes diuji validitasnya.

Peneliti menggunakan uji validitas permukaan. Teknik uji validitas permukaan

ini dilakukan dengan cara mengujicobakan soal tes pada kelas lain, yaitu kelas

VIIIB dan kelas VIIIC. Selain itu juga dikonsultasikan kepada dosen

pembimbing dan kepada guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Setelah soal dan skor dinyatakan valid (layak guna), maka soal tersebut

digunakan sebagai instrument penelitian.


60

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, jurnal, dan

wawancara, serta perangkat tes untuk memperoleh gambaran hasil pembelajaran

membaca cepat menggunakan pembelajaran kontekstual elemen authentic

assessment.

3.5.1 Teknik Tes

Peneliti mengumpulkan data dengan mengadakan tes. Tes ini

dilakukan sebanyak dua kali pada siklus pertama dan siklus kedua. Bentuk tes

dan criteria penilaian yang digunakan dalam siklus I dan siklus II sama, yaitu

berbentuk tes objektif dengan jumlah sepuluh butir dengan skor penilaian

jawaban benar mendapat skor satu.

Langkah-langkah yang dilakukan di dalam pengambilan data dengan

teknik tes adalah:

a. Menyiapkan bahan tes berdasarkan bacaan;

b. Siswa ditugasi membaca wacana yang sudah disediakan;

c. Setelah selesai membaca para siswa menuliskan lama waktu yang diperlukan

untuk membaca bacaan secara utuh;

d. Setelah membaca, siswa mengerjakan soal-soal evaluasi;

e. Menilai dan mengolah data dari hasil penelitian; serta

f. Peneliti mengukur kemampuan membaca siswa berdasarkan hasil tes pada

siklus I dan siklus II.


61

Target tingkat keberhasilan siswa ditetapkan jika siswa dapat membaca

wacana dengan cepat dan dapat memahami isi bacaan 70%-100% yang

ditujukan dalam menjawab soal-soal tes yang sudah disiapkan.

3.5.2 Teknik Nontes

Teknik nontes yang digunakan adalah melalui observasi, jurnal, dan

wawancara.

3.5.2.1 Observasi

Observasi digunakan untuk mengungkap data keaktifan siswa selama

proses pembelajaran menggunakan pembelajaran kontekstual elemen

authentic assessment. Observasi dilakukan dengan cara meminta bantuan guru

mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, dan peneliti sendiri sambil

melakukan pembelajaran. Adapun tahap observasinya yaitu (1)

mempersiapkan lembar observasi yang berisi butir-butir sasaran amatan

tentang keaktifan siswa dalam mendengarkan penjelasan guru, keaktifan siswa

dalam proses pembelajaran, dan keaktifan siswa dalam mengerjakan tes, serta

keaktifan siswa dalam mengumpulkan hasil kerja, (2) melaksanakan observasi

selama proses pembelajaran yaitu mulai dari penjelasan guru, proses belajar-

mengajar sampai dengan cara mengerjakan tugas membaca cepat, (3)

mencatat hasil observasi dengan mengisi lembar observasi yang telah

dipersiapkan. Intensitas membaca koleksi perpustakaan diobservasi melalui

situasi setiap hari di perpustakaan.


62

3.5.2.2 Jurnal

Jurnal siswa dan guru dibuat setiap pembelajaran membaca cepat.

Jurnal siswa tersebut dibuat pada selembar kertas mengenai kesulitan siswa

dalam latihan-latihan dalam membaca cepat, mengenai hal-hal yang ingin

dikemukakan siswa berkaitan dengan pembelajaran membaca cepat yang

menggunakan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Jurnal

guru mengenai segala sesuatu yang terjadi pada proses pembelajaran.

3.5.2.3 Wawancara

Teknik wawancara digunakan untuk mengungkap data penyebab

kesulitan dan hambatan dalam pembelajaran membaca cepat. Wawancara

dilakukan pada 6 orang siswa yaitu 2 orang siswa yang memiliki kecepatan

membaca tinggi, 2 orang siswa yang memiliki kecepatan membaca sedang,

dan 2 orang siswa yang kecepatan membacanya rendah. Hal ini berdasarkan

nilai tes pada tiap siklus dan berdasarkan observasi yang dilakukan guru

selama proses pembelajaran.

Wawancara dilaksanakan peneliti setelah pembelajaran membaca cepat

dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment selesai

dilaksanakan. Adapun cara yang ditempuh peneliti dalam pelaksanaan

wawancara yaitu (1) mempersiapkan lembar wawancara yang berisi daftar

pertanyaan yang akan diajukan pada siswa, (2) menentukan siswa yang

kecepatan membacanya kurang, cukup, dan baik, untuk kemudian diajak


63

wawancara, (3) merekam dan mencatat hasil wawancara dengan menulis

tanggapan terhadap tiap butir pertanyaan.

3.6 Teknik Analisis Data

Data tes dianalisis dengan teknik kuanitatif, sedangkan data nontes

dianalisis dengan teknik kualitatif.

3.6.1 Teknik Kuantitatif (Analisis Data Tes)

Hasil analisis data tes diperoleh dari hasil tes siswa. Nilai hasil tiap-

tiap tes dihitung jumlahnya dalam satu kelas (∑N) kemudian dihitung dalam

persentase dengan menggunakan rumus:

Persentase kemampuan membaca siswa = (∑N) x 100%


nxs

Keterangan:

∑N = jumlah nilai dalam satu kelas

n = nilai maksimal soal tes

s = banyaknya siswa dalam satu kelas

Hasil persentase kemampuan siswa tiap-tiap tes kemudian

dibandingkan antara hasil tes awal dengan hasil siklus II. Hasil ini akan

memberikan gambaran mengenai persentase peningkatan kemampuan

membaca cepat anak dan tingkat keberhasilan penelitian.


64

3.6.2 Teknik Kualitatif (Analisis Data Nontes)

Teknik kualitatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif. Data

kualitatif ini diperoleh dari data nontes yaitu data observasi, jurnal, dan

wawancara. Adapun langkah penganalisisan data kualitatif adalah dengan

menganalisis lembar observasi yang telah diisi saat pembelajaran dan

mengklarifikasikannya dengan teman peneliti yang membantu dalam penelitian.

Data jurnal dianalisis dengan cara membaca seluruh jurnal siswa dan guru. Data

wawancara dianalisis dengan cara membaca lagi catatan wawancara, dan

dengan pemutaran kembali kaset rekaman jika catatan kurang jelas. Hasil

analisis-analisis tersebut untuk mengetahui siswa yang mengalami kesulitan

dalam latihan-latihan dalam membaca cepat, untuk mengetahui kelebihan,

kekurangan pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual

elemen authentic assessment, dan untuk dasar mengetahui peningkatan

kemampuan membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic

assessment.
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan hasil

penelitian.

4.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian meliputi keadaan yang sebelum penelitian dimulai

(kondisi awal), hasil penelitian pada siklus I, dan hasil penelitian pada siklus II.

4.1.1 Kondisi Awal

Pengukuran kecepatan membaca siswa kelas VIIIA dilakukan yang

pertama kali pada hari Sabtu 13 Mei 2005 untuk mengetahui gambaran

kemampuan membaca cepat siswa pada kondisi awal. Pengukuran ini

dimaksudkan sebagai tes awal dalam penelitian ini.

Teks bacaan dibagikan kepada siswa sebagai bahan untuk mengukur

kecepatan efektif membaca siswa. Setelah dijelaskan siswa ditugasi membaca teks

dengan teliti, dan waktu yang diperlukan untuk membaca dicatat. Lama waktu

yang diperlukan siswa untuk membaca teks secara utuh diukur dengan jam tangan

atau stop watch. Lama waktu membaca yang diperlukan siswa dicatat untuk

mengetahui kecepatan membaca siswa.

Setelah semua siswa selesai membaca, lembar soal dibagikan kepada

para siswa untuk dikerjakan. Pertanyaan yang diberikan adalah soal-sal tentang isi

bacaan yang berbentuk soal-soal isian yang berjumlah 10 butir. Soal-soal ini
66

diberikan kepada siswa untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang isi

bacaan.

Setelah siswa selesai mengerjakan, siswa diminta mengumpulkan

hasil pekerjaannya dan diperiksa. Skor perolehan siswa dalam mengerjakan soal

dianalisis untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap isi bacaan.

Setelah diketahui kecepatan membaca dan tingkat pemahaman siswa, maka data

dianalisis dan digabungkan antara kecepatan membaca dengan pemahaman isi

bacaan dan didapatkan kecepatan efektif membaca para siswa.

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan pertama kali maka

didapat kondisi awal perolehan kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA

dengan perincian sebagai berikut.

Tabel 4 Kecepatan Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Kondisi Awal

No. Kecepatan Kategori Frekuensi % Rata-rata

(kpm)

1 >250 Cepat - - 5773 : 39

2 200-249 Sedang 1 2,56 = 148,03

3 150-199 Lambat 8 20,51 Kategori

4 <150 Sangat lambat 30 76,92 Sangat

Jumlah 39 100 Lambat

Berdasarkan tabel 4 tersebut, dapat diketahui bahwa tidak terdapat

siswa yang kecepatan membacanya termasuk tinggi (cepat), siswa yang kecepatan

membacanya tergolong sedang adalah 1 orang atau 2,56%, siswa yang kecepatan
67

membacanya lambat adalah 8 orang atau 20,51%, dan siswa yang kecepatan

membacanya sangat lambat adalah 30 orang atau 76,92%. Hasil rata-rata

kecepatan membaca siswa kelas VIIIA pada kondisi awal adalah 148,03 kpm atau

dalam kategori sangat lambat.

Tabel 5 Pemahaman Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Kondisi Awal

No Skor Kategori Frekuensi % Rata-rata

1 90-100% Sangat baik 1 2,56

2 70-80% Baik 9 23,08 2300 : 39

3 50-60% Sedang 27 69,23 = 58,97%

4 30-40% Kurang 2 5,13 Kategori

5 10-20% Sangat kurang - - Sedang

Jumlah 39 100

Berdasarkan tabel 5 tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat 1 orang

siswa yang pemahaman isi bacaannya termasuk sangat baik atau 2,56%, siswa

yang pemahaman isi bacaannya tergolong baik adalah 9 orang atau 23,08%, siswa

yang pemahaman isi bacaannya sedang adalah 27 orang atau 69,23%, siswa yang

pemahaman isi bacaannya kurang adalah 2 orang atau 5,13%. Dan tidak terdapat

siswa yang pemahaman isi bacaannya sangat kurang. Hasil rata-rata pemahaman

isi bacaan siswa kelas VIIIA pada kondisi awal adalah 58,97% atau dalam

kategori sedang.
68

Tabel 6 Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Kondisi Awal

No. Kecepatan Kategori Frekuensi % Rata-rata

(kpm)

1 >175 Cepat 1 2,56 3492 : 39

2 150-174 Sedang - - = 89,54

3 125-149 Lambat 2 5,13 kpm

4 < 125 Sangat lambat 36 92,31 Kategori

Jumlah 39 100 Sangat

Lambat

Berdasarkan tabel 6 tersebut, dapat diketahui bahwa siswa yang

kecepatan efektif membacanya termasuk tinggi (cepat) adalah 1 orang atau 2,56%,

tidak terdapat siswa yang kecepatan efektif membacanya tergolong sedang, siswa

yang kecepatan efektif membacanya lambat adalah 2 orang atau 5,13%, dan siswa

yang kecepatan efektif membacanya sangat lambat adalah 36 orang atau 92,31%.

Hasil rata-rata kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA pada kondisi awal

adalah 89,54 kpm atau dalam kategori sangat lambat.

Kecepatan Efektif Membaca siswa kelas VIIIA tergolong sangat

lambat karena memang baru pertama kali ini diadakan pengukuran KEM. Hal ini

merupakan hal yang wajar karena selama ini mereka belum pernah mengalami

pengukuran KEM. Banyak siswa yang masih melakukan kesalahan teknik

membaca. Hal ini terjadi karena mereka mungkin belum mengetahui tentang

teknik membaca cepat dan efektif. Banyak siswa yang masih menunjukkan
69

ketegangan pada saat melakukan aktivitas membaca. Pengalaman pengukuran

kecepatan membaca ini akan memberi dorongan pada siswa untuk melakukan

latihan membaca secara efektif.

Melihat kondisi awal seperti ini, diputuskan untuk mengambil teknik

meningkatkan kecepatan membaca para siswa dengan cara melakukan

pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Pembelajaran kontekstual

elemen authentic assessment dilakukan untuk memotivasi siswa agar melakukan

aktivitas membaca dengan lebih bersungguh-sungguh, mengetahui gambaran

kemampuan membaca cepat siswa, dan menghargai kemampuan siswa.

Pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment ini diharapkan bisa

membantu para siswa untuk meningkatkan kecepatan membacanya. Pelaksanaan

pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dilakukan dengan

pengukuran kecepatan efektif membaca secara kontinyu sehingga siswa menjadi

terbiasa. Semakin sering melakukan pengukuran kecepatan membaca maka siswa

akan merasa senang. Dengan demikian, pembelajaran ini akan membantu para

siswa untuk meningkatkan kecepatan efektif membacanya, yang diperlukan dalam

menghadapi sekian buku pelajarannya.


70

4.1.2 Hasil Siklus Pertama

Pengukuran yang dilakukan pada siklus I ini meliputi hasil tes dan

nontes.

4.1.2.1 Hasil Tes

Setelah pengukuran kecepatan efektif membaca pada kondisi awal,

para siswa dijelaskan tentang kegiatan membaca, teknik membaca yang benar,

tentang pengontrolan KEM, manfaat pengukuran KEM, manfaat membaca cepat

bagi para siswa, dan cara-cara meningkatkan kemampuan membaca dan

kecepatan efektif membaca bagi para siswa. Selama kurang lebih dua kali siswa

diberikan latihan secara terus-menerus. Kegiatan membaca ini diawasi dan apabila

terjadi kesalahan teknik membaca, seperti menggerakkan bibir, menunjuk huruf

dengan jari, membaca sambil menggeleng-gelengkan kepala, membaca sambil

bermain, tidak bersungguh-sungguh dalam membaca, dan kegiatan lain yang akan

mengurangi kecepatan membaca.

Setelah dua kali latihan membaca efektif, selanjutnya diadakan

pengukuran KEM yang kedua. Hasil pengukuran KEM pada pengukuran yang ke

dua adalah sebagai berikut.


71

Tabel 7 Kecepatan Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Siklus I

No. Kecepatan Kategori Frekuensi % Rata-rata

(kpm)

1 >250 Cepat 2 5,13 8694 : 39

2 200-249 Sedang 34 87,18 = 222,92

3 150-199 Lambat 3 7,7 kpm

4 <150 Sangat lambat - - Kategori

Jumlah 39 100 Sedang

Berdasarkan tabel 7 tersebut, dapat diketahui bahwa siswa yang

kecepatan membacanya termasuk tinggi (cepat) adalah 2 orang atau 5,13%, siswa

yang kecepatan membacanya tergolong sedang adalah 34 orang atau 87,18%,

siswa yang kecepatan membacanya lambat adalah 3 orang atau 7,7%, dan tidak

terdapat siswa yang kecepatan membacanya sangat lambat Hasil rata-rata

kecepatan membaca siswa kelas VIIIA pada siklus I adalah 222,92 kpm atau

dalam kategori sedang.

Dalam pengukuran kecepatan efektif membaca, faktor pemahaman isi

bacaan juga menentukan tinggi rendahnya perolehan KEM karena yang diukur

bukan hanya kecepatannya, tetapi juga pemahaman isi bacaan. Adapun

pemahaman isi bacaan para siswa dalam siklus yang pertama adalah sebagai

berikut.
72

Tabel 8 Pemahaman Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Siklus I

No. Skor Kategori Frekuensi % Rata-rata

1 90-100% Sangat baik 8 20,51

2 70-80% Baik 22 56,41 2850 : 39

3 50-60% Sedang 8 20,51 = 73,08%

4 30-40% Kurang 1 2,56 Kategori

5 10-20% Sangat kurang - - Baik

Jumlah 39 100

Berdasarkan tabel 8 tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat 8 orang

siswa yang pemahaman isi bacaannya termasuk sangat baik atau 20,51%, siswa

yang pemahaman isi bacaannya tergolong baik adalah 22 orang atau 56,41%,

siswa yang pemahaman isi bacaannya sedang adalah 8 orang atau 20,51%, siswa

yang pemahaman isi bacaannya kurang adalah 1 orang atau 2,56%. Dan tidak

terdapat siswa yang pemahaman isi bacaannya sangat kurang. Hasil rata-rata

pemahaman isi bacaan siswa kelas VIIIA pada tes siklus I adalah 73,08%.

atau dalam kategori baik.

Berdasarkan kedua tabel tersebut, dapat dihitung kecepatan efektif

membaca siswa kelas VIIIA pada siklus I. Kecepatan efektif membaca diperoleh

dengan memadukan antara kecepatan membaca dengan rumus pengukuran KEM

yaitu kecepatan membaca dikalikan dengan skor perolehan yang benar dibagi 100.

berdasarkan pengukuran KEM yang dilakukan pada siklus I ini dapat diketahui
73

tingkat kecepatan membaca para siswa pada siklus I, yang tampak dalam tabel di

bawah ini.

Tabel 9 Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas VIII A pada Siklus I

No. Kecepatan Kategori Frekuensi % Rata-rata

(kpm)

1 >175 Cepat 15 38,46 6549 : 39

2 150-174 Sedang 14 35,9 = 167,92

3 125-149 Lambat 4 10,26 kpm

4 < 125 Sangat lambat 6 15,38 Kategori

Jumlah 39 100 Sedang

Berdasarkan tabel 9 tersebut, dapat diketahui bahwa siswa yang

kecepatan efektif membacanya termasuk tinggi (cepat) adalah 15 orang atau

38,46%, siswa yang kecepatan efektif membacanya termasuk tergolong sedang

adalah 14 orang atau 35,9, siswa yang kecepatan efektif membacanya lambat

adalah 4 orang atau 10,26%, dan siswa yang kecepatan efektif membacanya

sangat lambat adalah 6 orang atau 15,38%. Hasil rata-rata kecepatan efektif

membaca siswa kelas VIIIA pada siklus I adalah 167,92 kpm atau dalam kategori

sedang.

4.1.2.2 Hasil Nontes

Hasil penelitian nontes berupa hasil observasi, wawancara, dan jurnal.

Hasil penelitian nontes tersebut diuraikan sebagai berikut.


74

4.1.2.2.1 Hasil Observasi

Observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran membaca

berlangsung. Observasi dilakukan sejak awal proses pembelajaran ketika siswa

diberi penjelasan tentang kecepatan membaca, kecepatan efektif membaca dan

teknik membaca yang benar sampai siswa mengerjakan soal-soal evaluasi.

Observasi juga dilakukan untuk mengetahui kebiasaan buruk dalam membaca

yang masih dilakukan oleh siswa, sikap siswa terhadap bacaan yang disajikan,

keaktifan siswa dalam pembelajaran, kerja sama, sharing dengan teman,

pembelajaran menyenangkan atau tidak membosankan, kekritisan siswa.

Intensitas membaca koleksi perpustakaan juga diobservasi melalui situasi setiap

hari di perpustakaan. Observasi dilakukan kepada semua siswa kelas VIIIA yang

berjumlah 39.

Berdasarkan observasi siswa kelihatan tertarik sekali pada

pembelajaran membaca cepat. Ketika guru melakukan kegiatan “pemanasan”

pikiran kepada siswa dengan memanggil kembali pengalamannya yang berkaitan

dengan isi bacaan sebelum membaca teks bacaan, siswa kelihatan memperhatikan

dengan sungguh-sungguh, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan

oleh kepada siswa. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi,

siswa memperhatikan dengan antusias. Semua siswa tenang dan mendengarkan

penjelasan tentang kecepatan efektif membaca, teknik membaca yang benar, dan

manfaat membaca cepat, serta proses pembelajaran membaca cepat dengan

pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Hasil itu tersirat dari


75

sikap siswa memperhatikan dan ada beberapa siswa mengajukan pertanyaan

tentang manfaat membaca cepat, dan bagaimana mengukur kecepatan membaca.

Setelah selesai mendengarkan penjelasan tentang teknik membaca

yang benar siswa ditugasi membaca bacaan yang sudah disiapkan Lengkap

dengan prosedur pengukuran kecepatan efektif membaca, jumlah kata dalam

bacaan. Ketika teks dibagikan, siswa kelihatan sangat tertarik karena teks bacaan

tersebut dekat dengan dunia siswa atau lingkungan siswa, siswa juga tertarik

dengan bacaan karena menurut mereka dapat menambah pengalaman atau

pengetahuan baru. Mereka dengan serius membaca.

Siswa membaca bacaan yang sudah diberi petunjuk dan sudah diberi

cara pengukurannya. Siswa menulis mulai membaca dan akhir membaca. Setelah

ada aba-aba mulai, siswa mulai membaca teks bacaan. Pada waktu siswa diberi

tugas membaca ada 1 orang siswa yang tampak masih bingung apa yang harus

dilakukannya. Ia malah menonton teman-temannya yang sedang membaca dengan

serius. Melihat semua temannya serius, ia pun kemudian membaca.

Pada saat membaca ditemukan ada siswa yang masih melakukan

kesalahan dalam teknik membaca. Yang paling banyak adalah siswa yang

membaca dengan subvokalisasi, ada 29 siswa (74,4%). Siswa yang membaca

dengan vokalisasi ada 9 siswa (23,1%). Selain itu ada 9 siswa (23,1%) yang

membaca dengan menggerakkan bibir. Ada 18 siswa (46,2%) yang membaca

sambil menggerakkan kepala mengikuti bacaannya sampai di mana. Membaca

dengan konsentrasi yang tidak sempurna ada 19 siswa (48,7%). Dan siswa yang

membaca dengan menyangga kepala ada 2 siswa (5,13%). Menurut pengamatan,


76

semua siswa membaca dengan bacaan di depan. Jarak mata kurang lebih 30 cm

ada 25 siswa (64,1%), dan siswa membaca dengan sikap badan tegak ada 25 siswa

(64,1%).

Setelah selesai membaca, sebagian besar siswa langsung menuliskan

waktu akhir membaca. Hanya ada 2 orang yang kelihatan ragu-ragu. Ia menengok

ke kanan dan ke kiri dulu. Kemudian semua siswa mengumpulkan teks bacaan

siswa diberi soal pemahaman dan langsung mengerjakannya. Hal ini dilakukan

untuk menghindari kelupaan. Setelah menjawab pertanyaan, siswa bersama guru

membahas jawabannya. Setelah membahas jawaban siswa menghitung kecepatan

membaca mereka sesuai dengan petunjuk yang sudah ada dalam bacaan.

Kecepatan membaca mereka ditulis dalam kartu data yang sudah disediakan oleh

guru.

Setelah mengukur kecepatan membaca mereka melakukan latihan-

latihan jangkauan mata, persepsi, dan fiksasi. Setelah latihan-latihan siswa

mengukur kembali kecepatan membacanya. Kegiatan ini sama seperti kegiatan

membaca sebelumnya.

Dalam hal kerja sama dengan teman, tampak 74 siswa atau 63,24%

melakukan kerja sama ketika siswa ada yang tidak bisa cara menghitung

kecepatan membaca dan kecepatan efektif membaca, siswa tersebut langsung

bertanya dengan teman sebangkunya yang sudah bisa cara menghitung kecepatan

membaca dan kecepatan efektif membaca. Siswa aktif mengikuti proses

pembelajaran membaca cepat ini atau 67,52%. Sharing dengan teman juga terlihat

atau ada sekitar 63,25%. Kekritisan siswa ada 56,41%, terlihat pada siswa yang
77

belum paham dengan apa yang harus mereka lakukan dan masih ragu dengan cara

menghitung kecepatan membaca dan kecepatan efektif membaca.

Menurut pengamatan, 76,07% siswa merasa senang dan asyik dengan

bahan bacaan yang disediakan. Menurut mereka bacaan yang disediakan mudah

dipahami. Siswa juga merasa senang dan tidak membosankan dengan

pembelajaran membaca cepat atau ada 86,32%, karena menurut mereka waktu

terasa begitu cepat dengan keasyikan membaca bacaan yang disediakan.

Observasi yang dilakukan di luar kelas atau di perpustakaan adalah

mengamati langsung aktivitas siswa diperpustakaan. Peneliti juga melihat buku

daftar peminjam yang dimiliki oleh petugas perpustakaan. Selain itu, peneliti

meminta kartu anggota perpustakaan yang dimiliki oleh siswa untuk kegiatan

pemainjamannya.

Dari kegiatan tersebut, peneliti memperoleh gambaran bahwa dalam

jangka satu minggu siswa yang hanya satu kali memminjam dan membaca buku 6

siswa atau 15,38%. Siswa yang meminjam 2 kali, ada 17 siswa atau 43,59%, yang

meminjam 3 kali sebanyak 13 siswa atau 33,33%, sedangkan yang meminjam 4

kali ada 3 siswa atau 7,69%. Jadi, peneliti menyimpulkan bahwa semua siswa

telah melakukan kegiatan membaca koleksi perpustakaan sekolah. Kecuali itu,

peneliti juga melihat keadaan perpustakaan di saat istirahat. Ternyata ada

beberapa siswa yang mempunyai kebiasaan melihat-lahat dan membaca-baca

koleksi perpustakaan sekolah di saat istirahat tersebut.


78

Pengukuran yang dilakukan pada siklus I ini sudah berlangsung

dengan baik. Hasilnya pun juga baik. Para siswa kelihatan sangat tertarik dengan

kegiatan membaca cepat ini.

4.1.2.2.2 Hasil Wawancara

Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini tidak dilakukan

kepada semua siswa kelas VIIIA. Wawancara hanya dilakukan kepada 6 orang

siswa, yaitu 2 orang siswa yang kecepatan efektif membacanya termasuk tinggi, 2

siswa yang kecepatan efektif membacanya tergolong rendah, dan 2 siswa yang

kecepatan efektif membacanya tergolong sedang. Wawancara dilakukan untuk

mengetahui tanggapan tentang pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran

kontekstual elemen authentic assessment.

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh para siswa, mereka

memberikan tanggapan yang baik tentang pembelajaran membaca cepat ini.

Hanya saja mereka mengaku bahwa mereka masih grogi dan bingung, karena baru

dua kali mengalami tingkat kecepatan efektif membaca. Menurut pengakuan

siswa yang KEM-nya rendah, mereka membaca pokoknya asal cepat saja. Biar

lekas selesai atau mendapat waktu membaca yang sedikit. Mereka merasa grogi

ketika melihat teman-temannya sudah selesai membaca. Sehingga ketika mereka

harus mengerjakan soal-soal, mereka tidak dapat menjawab dengan benar. Bagi

yang KEM-nya tinggi, mereka senang sekali dengan pengukuran KEM ini karena

bagi mereka ini merupakan ajang untuk berlomba membaca. Selain itu juga, untuk

membantu memahami isi buku-buku pelajaran.


79

Menurut keterangan mereka, mereka gemar membaca buku atau

Koran. Bacaan yang paling mereka sukai sebagaian besar buku fiksi. Ketika diberi

pertanyaan mengenai bagaimana isi bacaan yang telah disajikan mereka

menjawab menarik dan mudah dipahami walaupun ada sedikit kata yang tidak

diketahui maknanya. Sebagian besar tidak memberikan cek atau tanda baca pada

bacaan.

Kebiasaan buruk yang agak sulit dihilangkan menurut siswa yang

KEM-nya rendah adalah menghilangkan regresi pada saat membaca dan membaca

dengan konsentrasi dengan penuh. Mereka mengaku merasa kesulitan untuk

menghilangkan regresi tersebut dan berkonsentrasi dengan baik, karena mereka

merasa grogi dan takut kalah cepat dengan temannya, serta ada bagian yang lupa

sehingga ingin untuk mengulang kembali. Bagi mereka yang KEM-nya tinggi

yang kebiasaan agak sulit dihilangkan adalah melakukan regresi. Mereka belum

tahu cara menghilangkan regresi tersebut. Siswa yang KEM-nya tinggi ada yang

mengaku sudah bisa tidak melakukan regresi dan sudah bisa konsentrasi dengan

baik.

Pertanyaan-pertanyaan bacaan yang diberikan kepada siswa, oleh para

siswa yang KEM-nya tinggi dikatakan soalnya mudah sekali sehingga mereka

bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar. Bagi siswa yang berkecepatan

sedang dan rendah mereka berpendapat bahwa soalnya mudah, sehingga mereka

juga bisa menjawab pertanyaan dengan baik, walaupun tidak benar semua.

Kesulitan yang dialami oleh siswa dalam membaca adalah memahami

kalimat-kalimat yang mengandung kata yang tidak mereka ketahui artinya,


80

kurangnya latihan membaca, dan jarangnya mereka diberi kesempatan membaca

baik di rumah maupun di sekolah. Di rumah yang ada adalah buku-buku pelajaran

dan televisi. Sehingga mereka lebih tertarik dengan televisi daripada membaca

buku pelajaran. Di sekolah, pelajaran membaca hanya dilakukan secara sekilas.

Yang banyak adalah pengetahuan bahasa, sehingga kemampuan membaca mereka

tidak terlatih dan masih melakukan kesalahan-kesalahan atau kebiasaan-kebiasaan

buruk dalam membaca. Siswa kurang mampu melihat kalimat secara utuh. Siswa

hanya mampu melihat kalimat secara kata demi kata. Siswa ada yang kurang

mampu memahami isi bacaan dengan cepat karena membaca kalimat secara

sekilas dan tanpa membaca ulang.

Peneliti juga melakukan wawancara dengan petugas perpustakaan

sekolah. Dari penjelasan petugas, peneliti dapat memperoleh gambaran bahwa

siswa berkunjung ke perpustakaan sebagian besar pada waktu istirahat. Hanya

sebagian kecil siswa mau memanfaatkan jam-jam kosong untuk membaca di

perpustakaan. Sedangkan peminjaman rata-rata setiap harinya mencapai 25 siswa.

Rendahnya rata-rata tersebut disebabkan oleh rendahnya minat siswa akan

membaca. Di samping itu, minimnya guru dalam memberikan tugas kepada siswa

untuk membaca buku perpustakaan, membuat rendahnya minat baca pada siswa.

4.1.2.2.3 Jurnal siswa

Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh siswa menunjukkan bahwa pada

kondisi awal para siswa belum mengetahui tentang pengukuran KEM dalam

pembelajaran membaca. Banyak siswa yang merasa tidak siap untuk menjalani
81

pengukuran, sehingga mereka grogi saat diberi pembelajaran membaca dan

mereka belum begitu paham tentang bagaimana mengukur kecepatan membaca.

Rata-rata kecepatan efektif membaca mereka tergolong rendah.

Setelah para siswa dijelaskan tentang kecepatan efektif membaca,

manfaat membaca cepat, dan teknik membaca cepat yang benar, dan diberi latihan

membaca cepat secara teratur, meskipun masih grogi tetapi ketika diukur KEM-

nya sudah dapat menunjukkan kemajuan yang cukup berarti. Rata-rata kecepatan

efektif membaca mereka yang semula tergolong sangat lambat meningkat menjadi

sedang. Hal ini menunjukkan bahwa para siswa berminat pada pembelajaran

membaca dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment ini.

Dari hasil jurnal siswa dapat disimpulkan bahwa siswa tertarik

mengikuti pembelajaran membaca cepat. Dengan adanya pembelajaran model ini,

memotivasi siswa untuk melakukan kegiatan membaca. Selain itu, tingkat

pemahaman mereka terhadap isi bacaan yang dibacanya juga bertambah.

4.1.2.2.4 Jurnal Guru

Dari hasil jurnal guru disimpulkan bahwa siswa masih belum

bersungguh-sungguh dalam melakukan kegiatan membaca. Suasana kelas masih

agak gaduh ketika mereka disuruh mengerjakan pertanyaan pemahaman. Ada

beberapa siswa masih kurang begitu paham dengan cara menghitung kecepatan

efektif membaca. Siswa masih memperhatikan stop watch yang dibawa oleh guru.
82

Ada siswa yang masih ingin berlomba dengan temannya. Kecepatan

dalam membaca dijadikan perlombaan. Dan hal itu yang memicu minat siswa

dalam kegiatan membaca cepat ini.

4.1.3 Hasil Penelitian Siklus II

4.1.3.1 Hasil Tes

Dalam siklus I, hasil membaca cepat masih kurang memuaskan. Oleh

karena itu, peneliti pembelajaran teknik membaca cepat dengan pembelajaran

kontekstual elemen authentic assessment dengan memperhatikan hasil pada siklus

I dan memberikan tindakan kelas terhadap segala penghambat kecepatan

membaca siswa. Selain itu juga, dijelaskan kembali tentang teknik membaca yang

benar, dan aspek-aspek yang mempengaruhi kecepatan efektif membaca. Setelah

itu, diadakan evaluasi pada siklus II. Adapun hasil pengukuran kecepatan efektif

membaca pada siklus II tampak dalam tabel di bawah ini.

Tabel 11 Kecepatan Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Siklus II

No. Kecepatan Kategori Frekuensi % Rata-rata

(kpm)

1 >250 Cepat 20 51,28 9811 : 39

2 200-249 Sedang 19 48,72 = 251,56

3 150-199 Lambat - - Kategori

4 <150 Sangat lambat - - Cepat

Jumlah 39 100
83

Berdasarkan tabel 11 tersebut, dapat diketahui bahwa siswa yang

kecepatan membacanya termasuk tinggi (cepat) adalah 20 orang atau 51,28%,

siswa yang kecepatan membacanya tergolong sedang adalah 19 orang atau

48,72%, tidak terdapat siswa yang kecepatan membacanya lambat, dan juga tidak

terdapat siswa yang kecepatan membacanya sangat lambat. Hasil rata-rata

kecepatan membaca siswa kelas VIIIA pada siklus I adalah 251,56 kpm atau

dalam kategori cepat.

Seperti dalam pengukuran KEM pada siklus I, yang menjadi pedoman

untuk menentukan KEM tidak hanya kecepatan membaca saja, tetapi juga

didukung oleh faktor pemahaman isi bacaan. Tingkat pemahaman isi bacaan siswa

kelas VIIIA tampak pada tabel di bawah ini.

Tabel 12 Pemahaman Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Siklus II

No. Skor Kategori Frekuensi % Rata-rata

1 90-100% Sangat baik 14 35,9


3200 : 39
2 70-80% Baik 21 53,87
= 82,055
3 50-60% Sedang 4 10,26
Kategori
4 30-40% Kurang - -
Baik
5 10-20% Sangat kurang - -

Jumlah 39 100

Berdasarkan tabel 12 tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat 14

orang siswa yang pemahaman isi bacaannya termasuk sangat baik atau 35,9%,

siswa yang pemahaman isi bacaannya tergolong baik adalah 21 orang atau
84

53,87%, siswa yang pemahaman isi bacaannya sedang adalah 4 orang atau

10,26%, tidak terdapat siswa yang pemahaman isi bacaannya kurang, dan tidak

terdapat siswa yang pemahaman isi bacaannya sangat kurang. Hasil rata-rata

pemahaman isi bacaan siswa kelas VIIIA pada tes siklus I adalah 82,05 atau

dalam kategori baik.

Berdasarkan tabel 11 dan 12 yang sudah ditampilkan (tabel kecepatan

membaca dan tingkat pemahaman isi bacaan) dapat diketahui tingkat kecepatan

efektif membaca siswa kelas VIIIA pada siklus II ini, dengan cara memadukan

antara kecepatan memabca siswa dengan pemahaman isi bacaan. Setelah dihitung

menggunakan rumus KEM, diperoleh data tentang kecepatan efektif membaca

siswa kelas VIIIA pada siklus II ini. Perolehan tingkat kecepatan efektif membaca

siswa kelas VIIIA pada siklus II, tampak dalam tabel 9.

Tabel 13 Kecepatan Efektif Membaca Siswa Kelas VIIIA pada Siklus II

No. Kecepatan Kategori Frekuensi % Rata-rata

(kpm)

1 >175 Cepat 31 79,49 8148 : 39

2 150-174 Sedang 4 10,26 = 208,92

3 125-149 Lambat 4 10,26 kpm

4 < 125 Sangat lambat - - kategori

cepat

Jumlah 39 100
85

Berdasarkan tabel 13 tersebut, dapat diketahui bahwa siswa yang

kecepatan efektif membacanya termasuk tinggi (cepat) adalah 31 orang atau

79,49%, siswa yang kecepatan efektif membacanya sedang adalah 4 orang atau

10,26%, siswa yang kecepatan efektif membacanya lambat adalah 4 orang atau

10,26%, dan tidak terdapat siswa yang kecepatan efektif membacanya sangat

lambat. Hasil rata-rata kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA pada kondisi

awal adalah 208,92 kpm , termasuk dalam kategori cepat.

4.1.3.2 Hasil Nontes

Pada siklus II, data nontes diperoleh melalui observasi, jurnal siswa

dan wawancara.

4.1.3.2.1 Observasi

Pengamatan dilakukan pada saat guru memberikan penjelasan kepada

siswa tentang perbaikan cara membaca siswa yang sering dilakukan oleh siswa

secara sadar atau pun tidak. Siswa tampak tertib dan antusias dalam menghadapi

kesalahan-kesalahan membaca yang masih sering dilakukannya. Mereka mengaku

masih melakukan subvokalisasi, membaca belum penuh konsentrasi, masih

melakukan regresi. Siswa memperhatikan penjelasan yang diberikan guru dengan

sungguh-sungguh, dan akan berusaha melakukan cara membaca yang benar.

Pengamatan pada siklus II ini lebih ditekankan pada kegiatan

membaca, terutama untuk mengamati perubahan kebiasaan salah dalam membaca

yang sering dilakukan oleh para siswa. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan,

pelaksanaan kegiatan membaca pada siklus II ini lebih baik daripada pelaksanaan
86

kegiatan membaca pada siklus I. Para siswa kelihatan lebih serius dalam

melaksanakan kegiatan membaca, dan lebih berusaha untuk mengurangi

kebiasaan buruk dalam membaca. Mereka melakukan kegiatan membaca dengan

baik.

Berdasarkan pengamatan, memang masih ada 3 siswa atau 7,69%

yang masih tampak menggerakkan bibir pada saat membaca. Siswa yang masih

mengeja ini memang termasuk siswa yang kecepatan efektif membacanya

termasuk kategori rendah. Siswa yang masih menggerakkan kepala ada 2 orang

atau 5,13%. Kedua siswa ini merasa sulit menghilangkan kebiasaan buruk ini

karena sudah merupakan kebiasaan mereka setiap kali mereka membaca. Sikap

duduk yang dilakukan oleh siswa pada saat membaca sudah benar, yaitu dengan

meletakkan teks di atas meja atau di depan siswa, duduk dengan tegak, dan jarak

antara mata dengan teks kurang lebih 30 cm.

Sebagian besar (80%) siswa sudah melakukan apa yang sudah

dijelaskan. Mereka berusaha membaca dengan benar. Para siswa tidak lagi adu

cepat dalam membaca, tetapi juga berusaha meningkatkan aspek pemahamannya

tentang isi bacaan. Sehingga ada 31 siswa yang mempunyai kecepatan efektif

yang tergolong cepat. Siswa tersebut tampak membaca dengan sangat serius dan

teliti, serta hati-hati. Penjelasan yang diberikan kepada siswa menyadarkan para

siswa, bahwa dalam membaca yang penting bukan hanya cepat, tetapi juga harus

memahami apa yang dibacanya.

Dari pengamatan aspek kerjasama dengan teman ada 93,16%, siswa

dalam kategori baik. Siswa selalu bekerja sama dengan teman sebangkunya untuk
87

lebih meningkatkan kemampuan membaca cepatnya. Siswa yang belum begitu

paham dengan cara menghitung kecepatan efektif membaca selalu berusaha

bertanya dengan temannya yang bisa menghitung kecepatan efektif membaca.

Dalam mengikuti pelajaran siswa aktif atau mencapai 93,16%, tidak

pasif. Siswa selalu bertanya dengan guru tentang hal yang tidak diketahuinya.

Siswa juga kritis menyikapi hal yang ada atau kekritisan siswa mencapai 80,34%.

Sharing dengan teman pun dilakukan oleh siswa bahkan mencapai 98,58%. Sikap

siswa terhadap bacaan yang disediakan, 93,16% siswa merasa tidak kesulitan

dalam membaca bacaan yang disediakan. Ada siswa yang merasa sulit dengan

kata yang tidak diketahui maknanya.

Sikap siswa terhadap teknik pembelajaran menunjukkan baik. Siswa

merasa senang dengan pembelajaran yang digunakan. Siswa merasa dihargai hasil

karyanya, siswa merasa kecepatan membacanya dapat meningkat dengan diukur

oleh diri sendiri. Mereka juga merasa senang karena mendapatkan pengetahun

yang baru. Siswa merasa tidak bosan dengan diadakan latihan membaca cepat

secara kontinyu atau terus menerus.

Observasi terhadap aktivitas siswa dalam membaca koleksi

perpustakaan sekolah. Melalui lembar bantu yang berisi daftar peminjaman buku,

peneliti dapat menegtahui bahwa siswa telah melakukan kegiatan membaca.

Hanya intensitas yang dilakukan oleh setiap siswa berbeda. Siswa yang

meminjam dan membaca buku sebanyak 1 kali, ada 4 orang siswa atau 10,26%.

Siswa yang meminjam dan membaca buku sebanyak 2 kali, ada 11 orang siswa

atau 28,21%. Siswa yang meminjam 3 kali, ada 14 orang siswa atau 35,89%, yang
88

meminjam 4 kali sebanyak 4 siswa atau 10,26%, yang meminjam 5 kali, ada 7

siswa atau 17,95%, sedangkan yang lebih dari 5 kali ada 6 siswa atau 15,38%.

4.1.3.2.2 Wawancara

Pada siklus II ini, wawancara dilakukan pada enam orang siswa, yaitu

dua orang siswa yang memiliki kategori KEM rendah, dua orang siswa yang

berkategori sedang, dan dua orang siswa yang berkategori tinggi. Wawancara

dilakukan untuk mengetahui tanggapan dan pendapat siswa tentang pembelajaran

membaca cepat dengan menggunakan pembelajaran kontekstual elemen authentic

assessment.

Para siswa yang diwawancarai mengungkapkan bahwa mereka sangat

tertarik pada pengukuran KEM ini. Mereka ingin pengukuran ini dilakukan terus

menerus, sehingga mereka mengetahui perkembangan kecepatan membacanya.

Apabila hasil pengukuran menunjukan bahwa kecepatan efektif membaca mereka

masih rendah, mereka akan berusaha untuk meningkatkan kecepatan

membacanya. Tetapi ada satu siswa yang hanya senyum-senyum ketika diberi

pertanyaan. Ia hanya menggeleng, mengangguk, dan senyum-senyum sambil

garuk-garuk kepala. Siswa ini sebenarnya cerewet, tetapi memang termasuk

lambat dalam kecepatan efektif membaca. Sehingga ia tidak segera menemukan

jawaban ketika ditanya. Meskipun lambat membaca tetapi ia juga mengungkapkan

rasa senangnya mengikuti pembelajaran model ini. Katanya, “Saya juga suka

membaca.
89

Berdasarkan hasil wawancara, para siswa senang dengan bacaan yang

diberikan. Soal-soal tentang isi bacaan yang harus dijawab juga tidak sulit. Hal ini

membuat para siswa ingin mengulangi membaca lagi, karena cerita yang

diberikan kepada siswa adalah bacaan yang menarik, dan sesuai dengan

kehidupan yang dialami siswa sehari-hari yaitu cerita tentang kemanusiaan, dan

tidak terlalu panjang. Menurut mereka cerita yang terlalu panjang akan

membosonkan. Selain membosankan, mereka juga merasa kesulitan memahami

isinya.

Wawancara yang dilakukan terhadap petugas perpustakaan sekolah,

peneliti memperoleh simpulan bahwa kunjungan siswa ke perpustakaan semakin

bertambah. Kunjungan tersebut masih seperti biasa, yaitu dilakukan pada saat

istirahat baik pertama atau kedua.

4.1.3.2.3 Hasil Jurnal

Berdasarkan hasil jurnal yang dibuat oleh siswa, dapat disimpulkan

bahwa siswa sangat tertarik pada pembelajaran membaca cepat dengan

pengukuran kecepatan efektif membaca. Selain bacaannya menarik dan mudah

dipahami, soal-soalnya mudah, siswa juga memperoleh pengalaman baru yaitu

mengukur kecepatan membacanya sendiri dan mengukur kecepatan temannya.

Sebagian besar siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan

setelah siswa membaca, meskipun ada dua orang yang tidak dapat menjawab

pertanyaan dengan benar.


90

Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh siswa, siswa semuanya menyukai

dengan pengukuran kecepatan efektif membaca ini. Tetapi ada siswa yang merasa

bosan karena setiap hari disuruh membaca walaupun hanya sebentar. Mereka

merasa bahwa membaca itu sebagai beban, dan merupakan hal yang sangat sulit

untuk dilakukan. Ia lebih suka kegiatan yang banyak bergerak. Memng dia anak

yang tidak bisa diam. Tangan dan kakinya sama lincahnya. Ia kelihatan tertekan

bila ada kegiatan membaca, karena ia memang tidak suka membaca maka

kecepatan efektif membacanya pun termasuk lambat.

Pengukuran kecepatan efektif membaca ini sangat menarik bagi

sebagian besar siswa kelas VIIIA, karena sebelum penelitian ini dilakukan mereka

belum pernah mengetahui cara pengukuran kecepatan efektif membaca.

Pengukuran yang dilakukan pada siklus II ini sudah tidak membuat mereka grogi.

Mereka merasa lebih tenang dalam melakukan kegiatan membaca. Mereka merasa

sudah terbiasa. Meskipun begitu, masih ada beberapa siswa yang mengaku masih

deg-degan, masih merasa cemas. Tetapi kecemasannya sudah tidak seperti ketika

pertama kali mereka mengalamai pengukuran kecepatan efektif membaca.

Siswa merasa senang dan bangga ketika mereka mengetahui

kecepatan efektif membacanya sendiri. Mereka merasa disanjung oleh orang

tuanya karena setiap kali melakukan pengukuran kecepatan efektif membaca

siswa meminta tanda tangan orang tua. Ada semangat atau minat untuk sering

melakukan pengukuran keceatan efektif membaca karena selalu dipantau dengan

kartu data pengukuran kecepatan efektif membaca. Berdasarkan jurnal yang

ditulis oleh anak-anak yang kecepatan efektif membacanya rendah, sebenarnya


91

mereka juga ingin mempunyai kecepatan efektif membaca yang tinggi, oleh

karena itu mereka akan banyak berlatih membaca.

4.2 Pembahasan

4.2.1 Pembahasan Kecepatan Membaca

Berdasarkan hasil penelitian tentang pembelajaran membaca cepat

dengan menggunakan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment

dengan megacu pada pengukuran kecepatan efektif membaca dengan latihan yang

terus menerus dapat diketahui bahwa ada peningkatan kecepatan efektif membaca

siswa kelas VIIIA. Peningkatan kecepatan efektif membaca tersebut berdasarkan

pengukuran yang dilakukan pada siklus I dan siklus ke II. Setelah siswa mengikuti

pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan pembelajaran kontekstual

elemen authentic assessment dengan mengacu pada pengukuran kecepatan efektif

membaca dengan latihan yang terus menerus ternyata kecepatan efektif membaca

meningkat tajam. Kecepatan efektif membaca siswa pada siklus pertama sudah

mengalami perubahan. Pada kondisi awal rata-rata kecepatan efektif membaca

siswa hanya 89,54 kpm, sehingga termasuk kategori sangat lambat. Pada

pengukuran kecepatan efektif membaca siklus yang pertama, para siswa dapat

mencapai rata-rata kecepatan efektif membaca 167,92 kpm. Kecepatan efektif

membaca siswa mengalami kenaikan sebesar 78,38 kpm pada siklus pertama.

Peningkatan tersebut dapat dirinci sebagai berikut. Kecepatan

membaca siswa kelas VIIIA pada kondisi awal rata-rata 148,03 kpm, termasuk

dalam kategori sangat lambat. Pada siklus pertama, rata-rata kecepatan membaca
92

siswa menjadi 222,92 kpm. Terjadi peningkatan 74,89 kpm. Kemampuan

pemahaman isi bacaan pada kondisi awal rata-rata 58,97% termasuk kategori

sedang. Pada siklus pertama rata-rata pemahaman isi bacaan siswa mencapai

73,08%, termasuk kategori baik. Dengan demikian, kecepatan efektif membaca

yang dimiliki siswa pada siklus yang pertama ini mengalami peningkatan.

Peningkatan tersebut disebabkan oleh faktor internal dan faktor

eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi peningkatan ini adalah faktor

intelegensi, minat dan motivasi. Sebenarnya para siswa kelas VIIIA adalah anak-

anak yang berintelegensi cukup tinggi. Ini bisa dilihat dari tes intelegensi yang

pernah dilakukan oleh siswa dan hasil nilai mata pelajaran bahasa dan sastra

Indonesia yang diperoleh oleh guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Dengan adanya pengukuran kecepatan efektif membaca ini, tumbuh motivasi para

siswa untuk membaca sehingga mereka mau membaca dengan sungguh-sungguh.

Mereka ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak kalah dengan teman-temannya.

Rasa ingin tahu yang dimiliki oleh para siswa terhadap kecepatan efektif

membacanya juga ikut mewarnai peningkatan kecepatan efektif membaca ini.

Faktor eksternal yang mempengaruhi peningkatan kecepatan efektif

membaca siswa kelas VIIIA adalah pelatihan membaca cepat atau membaca

efektif yang dilakukan secara kontinyu, penjelasan tentang manfaat membaca dan

cara membaca yang benar. Latihan membaca yang benar dilakukan kepada para

siswa setiap hari dalam waktu kurang lebih 15 menit sebelum pelajaran dimulai,

sehingga siswa tidak bosan. Teks bacaan diambil dari buku-buku pengetahuan

yang menarik untuk dibaca dan sesuai dengan konteks siswa. Bacaan yang
93

disajikan adalah bacaan yang dekat dengan kehidupan siswa sehingga siswa tidak

merasa asing. Hasil karya yang dihargai juga merupakan faktor yang

mempengaruhi kecepatan efektif membaca. Mereka merasa dapat mengetahui

kecepatan membaca dan dapat mengukur kecepatan membaca kapan pun mereka

mau.

Penjelasan tentang teknik membaca yang benar ikut mempengaruhi

peningkatan kecepatan efektif membaca siswa kelas VIIIA. Dengan pengetahuan

cara membaca yang baik para siswa mulai mengurangi kebiasaan buruk membaca

yang sering dilakukannya pada saat membaca. Siswa yang menggerakkan bibir

pada saat membaca sudah mulai berkurang, apabila dibandingkan dengan kondisi

awal. Peringatan selalu diberikan kepada para siswa yang masih melakukan

kesalahan teknik membaca sehingga para siswa merasa diperhatikan.

Pengetahuan bahwa membaca sangat berguna bagi para siswa, juga

ikut mempengaruhi peningkatan kecepatan efektif membaca para siswa. Mereka

mulai tahu bahwa membaca cepat itu perlu, karena mereka harus menguasai

berbagai macam buku pelajaran. Oleh karena itu, mereka berlatih membaca cepat

dengan sungguh-sungguh. Meskipun masih merupakan hal yang baru, tetapi para

siswa sudah dapat menunjukkan peningkatan kecepatan efektif membaca dalam

siklus pertama ini. Hal ini menunjukkan bahwa mereka bersungguh-sungguh

dalam mengikuti proses pembelajaran. Mereka juga merasa dihargai dengan hasil

karyanya sendiri.

Berdasarkan data hasil penelitian pada siklus II, rata-rata kecepatan

efektif membaca siswa kelas VIII A mencapai 208,92 kpm. Hasil ini termasuk
94

kategori tinggi atau cepat. Jika dibandingkan dengan siklus I yang mencapai rata-

rata-rata 167,92 kpm, berarti ada peningkatan sebesar 41 kpm atau kenaikan

sebesar 24,42%. Apabila dibandingkan dengan kondisi awal yang hanya mencapai

rata-rata 89,54 kpm, maka pada siklus II ini mengalami peningkatan sebesar

119,38 kpm atau 57,14 %.

Peningkatan kecepatan efektif membaca kelas VIIIA dari siklus I ke

siklus II dapat dirinci sebagai berikut. Kecepatan membaca pada siklus I rata-rata

mencapai 222,92 kpm, termasuk kategori sedang, dan pada siklus II mencapai

rata-rata 251,56 kpm, termasuk kategori cepat. Dengan demikian, terjadi

peningkatan sebesar 28,64 kpm atau 12,27 %. Peningkatan kecepatan membaca

ini terjadi karena para siswa sudah dapat mengatasi kelemahan-kelemahan siswa

dalam siswa dalam membaca, terutama karena mereka sudah dapat mengurangi

kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam membaca. Pada siklus II ini siswa sudah

semakin terbiasa untuk membaca cepat karena mereka sudah sering latihan

membaca cepat sehingga mereka lebih cepat daripada pada kondisi awal maupun

pada siklus I.

Dalam hal pemahaman isi bacaan, pada siklus I para siswa mencapai

rata-rata 73,08 %, termasuk kategori baik, sedangkan pada siklus II mencapai

rata-rata 82,05 %. Dalam aspek pemahaman para siswa mengalami kenaikan

sebesar 8,97(12,27%). Hal ini disebabkan karena bacaan yang diberikan kepada

siswa tidak terlalu sulit. Pada siklus II ini aspek pemahaman siswa terhadap isi

bacaan naik 28,13% dibandingkan dengan pada kondisi awal.


95

Secara lengkap peningkatan kecepatan membaca, tingkat pemahaman,

dan tingkat kecepatan efektif membaca siswa kelas VIII A dapat dilihat dalam

tabel rekapitulasi rata-rata yang tertera dalam tabel 10.

Tabel 10 Rekapitulasi Rata-Rata Pencapaian Kemampuan.

Pencapaian Kemampuan Peningkatan Kemampuan

Siklus K.Awal I II K.Awal- % I-II % K.Aw %

I al-II

KM 148,03 222,92 251,56 74,89 50,59 28,64 12,85 103,53 41,16

PIB 58,97 73,08 82,05 14,11 23,93 8,97 12,27 23,08 28,13

KEM 89,54 167,92 208,92 78,38 87,54 41 24,42 119,38 57,14

Keterangan:

KM : Kecepatan Membaca

PIB : Pemahaman Isi Bacaan

KEM : Kecepatan Efektif Membaca

4.2.2 Perubahan Tingkah Laku

Perubahan tingkah laku siswa selama pembelajaran membaca cepat

tampak jelas ketika siswa mendapat tugas membaca. Sebelum diadakan

pengukuran kecepatan efektif membaca dengan latihan membaca cepat secara

kontinyu para siswa bersikap enggan bila ditugasi membaca. Sekarang minat

siswa tampak terhadap pembelajaran membaca. Begitu siswa diminta untuk

membaca, mereka langsung membaca dengan sungguh-sungguh. Meskipun masih


96

ada dua siswa yang masih enggan membaca karena belum tumbuh motivasi

membaca pada diri mereka.

Kebiasaan yang salah yang sering mereka lakukan oleh para siswa

kelas VIIIA pada saat membaca juga sudah semakin berkurang. Para siswa mulai

memperhatikan sikap yang benar pada saat membaca. Mereka tidak lagi membaca

sambil bermain, membaca sambil menyelunjurkan badan, mendekatkan teks ke

matanya. Para siswa mulai bisa membaca dengan baik, meskipun masih ada

beberapa siswa yang masih melakukan kebiasaan yang salah. Dengan latihan terus

menerus, kebiasaan yang salah ini lama-kelamaan akan hilang.

Kebiasaan yang salah dalam membaca dari pra siklus ke siklus I, dan

siklus ke II sedikit demi sedikit hilang. Jarak mata kurang dari 30 cm pada saat

pra siklus ada 20,5%. Pada siklus I ada 64,1%. Hal ini menunjukkan bahwa ada

kenaikan dari pra siklus ke siklus I sebesar 43,6%. Sikap badan tegak pada saat

pra siklus ada 20,5%. Pada siklus I ada 64,1%. Hal ini menunjukkan bahwa ada

kenaikan dari pra siklus ke siklus I sebesar 43,6%. Semua siswa sudah membaca

bacaan di depan. Membaca dengan vokalisasi pada pra siklus ada 33,3%. Pada

siklus I ada 23,1. Hal ini menunjukkan bahwa ada penurunan dari pra siklus ke

siklus I sebesar 10,2%. Membaca dengan subvokalisasi dari pra siklus ada 66,6%.

Pada siklus I ada 74,4%. Hal ini dapat dikatakan ada penurunan sebesar 7,7%.

Membaca dengan gerakan bibir pada pra siklus ada 38,5. Pada siklus I ada

sebesar 23,1. Ada penurunan sebesar 15,4%. Membaca dengan gerakan kepala

ada sebesar 100.


97

Tabel 14 Perbandingan Observasi Kebiasaan Membaca

No Aspek Pra Siklus I Siklus II Perbandingan


Kebiasaan Jml % Jml % Jml % Pra-I Siklus I-II
Nilai Nilai Nilai Jml % Jml %
Nilai Nilai
1. Jarak mata
kurang lebih 8 20,5 25 64,1 39 100 17 43,6 14 35,9
30 cm
2. Sikap badan
8 20,5 25 64,1 39 100 17 43,6 14 35,9
tegak
3. Bacaan di
39 100 39 100 39 100 0 0 0 0
depan
4. Membaca
dengan 13 33,3 9 23,1 2 5,13 11 10,2 7 17,97
vokalisasi
5. Membaca
dengan 26 66,7 29 74,4 37 94,9 3 7,7 8 20,5
subvokalisasi
6. Membaca
dengan
15 38,5 9 23,1 3 7,69 6 15,4 6 15,41
gerakan
bibir
7. Membaca
dengan
39 100 18 46,2 2 5,13 21 53,8 16 41,07
gerakan
kepala
8. Membaca
dengan
menunjuk 11 28,2 0 0 0 0 11 28,2 0 0
baris dengan
jari/pena
9. Membaca
dengan
konsentrasi 32 82,1 19 48,7 0 0 13 33,4 19 48,7
yang tidak
sempurna
10. Menyangga
6 15,4 2 5,13 0 0 4 10,27 2 5,13
kepala

Siswa yang tadinya tidak suka dengan membaca bacaan, sekarang

mulai tertarik dengan bacaan yang fiksi atau bacaan yang ilmiah. Mereka mulai

terbiasa dengan bacaan yang pengetahuan dengan cara membaca cepat. Bacaan

yang dekat dengan dunia siswa sangat membantu mereka memahami isi bacaan
98

sehingga mereka mampu menangkap isi bacaan dengan cepat dan tepat. Dengan

demikian, akan membuat mereka semakin tertarik pada bacaan lain. Siswa juga

sudah memanfaatkan koleksi perpustakaan dengan baik.

Berdasarkan data hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada

perubahan tingkah laku membaca yang positif pada siswa kelas VIIIA MTs

Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes. Hal ini ditunjukkan dengan

berkurangnya kebiasaan yang buruk dalam membaca dan rasa senang ketika siswa

ditugasi membaca. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

membaca cepat melalui pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment

dapat mengubah perilaku siswa kelas VIIIA dalam kegiatan membaca cepat.

Tabel 15 Perbandingan Observasi Penilaian Proses

No Aspek yang Siklus I Siklus II Peningkatan


dinilai Observasi
Penilaian proses
Jml nilai % Jml Nilai % I-II %
1. Kerja sama
dengan teman 74 63,25 109 93,16 35 47,30

2. Keaktifan 79 67,52 109 93,16 30 37,97


3. Sharing 74 63,25 113 96,58 39 52,70
4. Kekritisan siswa 66 56,41 94 80,34 28 42,42
5. Sikap siswa
terhadap bacaan 77 65,81 109 93,16 32 41,56

6. Sikap siswa
terhadap teknik 89 76,07 113 96,58 24 26,97
pembelajaran.

7. Pembelajaran
menyenangkan, 101 86,32 113 96,58 12 11,88
tidak
membosankan
99

BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian, dan pembahasan,

dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Kemampuan membaca cepat siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum

Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti pembelajaran dengan

menggunakan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment mengalami

peningkatan. Pada kondisi awal tidak ada siswa yang mempunyai kemampuan

membaca dengan kecepatan tinggi (> 250 kpm), pada siklus I berubah menjadi

ada sebanyak 2 siswa dan pada siklus II meningkat menjadi 20 siswa. Yang

mempunyai kemampuan membaca dengan kecepatan memadai (200-249 kpm)

sebanyak 1 siswa, pada siklus I menjadi 34 siswa dan pada siklus II ada 19

siswa. Yang berkecepatan lambat atau rendah (150-199 kpm) sebanyak 8 siswa

pada siklus I berkurang menjadi 3 siswa dan pada siklus II sudah tidak ada.

Peningkatan kecepatan membaca siswa disebabkan siswa pada waktu kegiatan

pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen

authentic assessment serius mengikuti kegiatan belajar mengajar dan banyak

berlatih, serta mendapat penghargaan dari hasil kerjanya.

2. Perilaku siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten

Brebes setelah mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran


100

kontekstual elemen authentic assessment mengalami perubahan. Perubahan

perilaku siswa dapat dilihat secara jelas saat proses pembelajaran. Berdasarkan

data observasi pada siklus I kegiatan pembelajaran ada beberapa siswa yang

masih melakukan keburukan dalam membaca cepat. Selama pelaksanaan

pembelajaran siklus II telah terjadi perubahan perilaku siswa. Para siswa

kelihatan lebih serius dalam melaksanakan kegiatan membaca, dan lebih

berusaha untuk mengurangi kebiasaan buruk dalam membaca. Mereka

melakukan kegiatan membaca dengan baik. Siswa selalu bekerja sama dengan

teman sebangkunya untuk lebih meningkatkan kemampuan membaca cepatnya.

Dalam mengikuti pelajaran siswa aktif, tidak pasif. Siswa selalu bertanya

dengan guru tentang hal yang tidak diketahuinya. Dengan demikian, dapat

disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran kontekstual elemen authentic

assessment dapat meningkatkan perilaku positif siswa dan dapat mengubah

perilaku negatif siswa menjadi perilaku positif.

5.2 Saran

Berdasarkan pada simpulan hasil penelitian tersebut, peneliti

memberikan saran sebagai berikut.

1. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia berperan aktif sebagai inovator

untuk memilih teknik pembelajaran yang paling tepat sehingga

pembelajaran yang dilaksanakan menjadi pengalaman yang bermakna bagi

siswa.
101

2. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat menggunakan pendekatan

kontekstual elemen authentic assessment dalam membelajarkan

kemampuan membaca cepat.

3. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment

dapat dijadikan alternatif pilihan bagi guru bidang studi lain dalam

membelajarkan bidang garapannya.

4. Para praktisi atau peneliti di bidang pendidikan dan bahasa dapat

melakukan penelitian penelitian serupa dengan teknik pembelajaran yang

berbeda sehingga didapatkan berbagai alternatif teknik pembelajaran

membaca cepat.
102

DAFTAR PUSTAKA

Alimah, Siti.1999. Tingkat KEM Wacana Berbahasa Jawa SLTP (studi kasus di
SLTP N 3 Subah Kabupaten Batang).Skripsi. Semarang: Jurusan Sastra
Indonesia.

Apriyanti, Tri. 2004. Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat dengan Teknik


Membaca Super Gaya Accelerated Learning pada Siswa Kelas II A SMP
N 1 Doro Kabupaten Pekalongan Tahun Pelajaran 2003/2004. Skripsi.
Semarang: Jurusan Sastra Indonesia.

Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Dirjen Pend.Dasar dan


Menengah.

Depdiknas. 2003a. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah:


Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual. Jakarta:Dirjen Pend. Dasar
dan Menengah.

------------- 2003b. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra


Indonesia Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah.
Jakarta: Dirjen Pend. Dasar dan Menengah.

------------- 2004a. Pedoman Penilaian dengan Portofolio. Jakarta: Dirjen Pend.


Dasar dan Menengah.

------------- 2004b. Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen


Pend. Dasar dan Menengah.

-------------- 2004c. Pedoman Penilaian Afektif. Jakarta: Dirjen Pend. Dasar dan
Menengah.

Harjasujana, Ahmad.1996/1997. Membaca 2. Jakarta: Kurnia.

Hernowo.2003. Quantum Reading. Bandung: MLC.

Mulyanto.1998 Perbedaan KEM Siswa Kelas I SLTP dengan mengacu Buku


Krida Basa Jilid I Terbitan Intan Pariwara Klaten yang sesuai dan tidak
sesuai Tingkat Keterbacaannya. Skripsi. Semarang: Jurusan Sastra
Indonesia.

Nurhadi. 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: CV Sinar Baru.

---------- 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)


Dan Penerapannya Dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
103

--------- 2004a. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca? Bandung: CV


Sinar Baru.

---------- 2004b. Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Bandung: CV Sinar


Baru.

Pujito. 2000. Peningkatan KEM dengan Mengintensitaskan Kegiatan Membaca


Koleksi Perpustakaan pada siswa Kelas 3 SLTP N 2 Jekulo Kudus Tahun
2000/2001. Skripsi.Semarang:Jurusan Sastra Indonesia.

Puskur. 2002. Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta: Dirjen Pend. Dasar dan
Menengah.

Sihabudin.1998. Perbedaan KEM Kelas 3 SMP dari Teks Buku Pelajaran Bahasa
Jawa Terbitan Aneka Ilmu yang sesuai dengan yang tidak sesuai Tingkat
Keterbacaannya. Skripsi.Semarang:Jurusan Sastra Indonesia.

Soedarso.2002. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka


Utama.

Sumarsono, S.1998. Perbedaan KEM Kelas 1 SLTP dari Teks Bahasa Indonesia
yang sesuai dengan Tingkat Keterbacaannya. Skripsi.Semarang:Jurusan
Sastra Indonesia.

Sulistyowati, Dwi. 2001. Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat Dengan


Teknik Pengontrolan KEM Siswa Kelas III SLTP N 1 Kudus Tahun
Pelajaran 2000/2001. Skripsi. Semarang: Jurusan Sastra Indonesia.

Suparyanto, Ibnu. 2002. Pengaruh KEM Terhadap Prestasi Belajar pelajaran


Bahasa Indonesia Siswa SLTP. Skripsi.Semarang: Jurusan Sastra
Indonesia.

Suyatmi. 1984. Keterampilan Membaca I. Surakarta: UNS Press.

Tarigan, Henry Guntur. 1987. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.


Bandung: Angkasa.

Wahyuningsih, Sri. 2000. Peningkatan KEM Dengan Pembelajaran Meresum


Bacaan pada Siswa Kelas 2 SLTP Ksatrian 1 Semarang.
Skripsi.Semarang:Jurusan Sastra Indonesia

Welasih, Asih. 2003. Optimalisasi Kecepatan E.feftif Membaca Siswa Kelas 2


SMU 01 Keling Jepara Dengan Menggunakan Metode OK5R.
Skripsi.Semarang:Jurusan Sastra Indonesia.
104

Yatmin. 1998. Perbedaan KEM Siswa SLTP Kelas 1 Berdasarkan Teks Bacaan
Buku Piwulang Basa jawa Jilid 1 Terbitan Yayasan Studi Bahasa Jawa
Khantil Semarang yang sesuai Tingkat Keterbacaannya dengan yang tidak
sesuai Tingkat Keterbacaannya. Skripsi. Semarang: Jurusan Sastra
Indonesia.
105
106

SARI

Fatmawati, Elly.2005. Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat 250 Kpm


dengan Pembelajaran Kontekstual Eleman Authentic Assessment
pada Siswa Kelas VIII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa
Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2004/2005. Skripsi. Jurusan
Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas
Negeri Semarang. Pembimbing I: Drs. Subyantoro, M.Hum.,
Pembimbing II: Drs. Wagiran, M.Hum.
Kata kunci: kemampuan membaca cepat, pembelajaran kontekstual, elemen
authentic assessment

Pembelajaran membaca cepat mempunyai peranan penting dalam mata


pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Kecepatan membaca sangat mempengaruhi
keberhasilan seseorang untuk menyerap segala macam informasi yang ada dalam
media cetak maupun elektronik. Semua pendidik berharap agar para siswa
mempunyai kecepatan membaca yang memadai. Pemilihan strategi dan
pendekatan yang tepat dalam pembelajaran merupakan hal yang harus
dipertimbangkan oleh guru agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat
mencapai sasaran. Rendahnya kemampuan siswa dalam membaca cepat
disebabkan pada faktor internal dan eksternal. Faktor internal ini berasal dari
siswa, sedangkan faktor eksternal berasal dari strategi guru dalam melaksanakan
pembelajaran. Guru dalam melaksanakan pembelajaran masih menggunakan pola
pembelajaran tradisional. Pemilihan pembelajaran kontekstual elemen authentic
assessment sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat
berdasarkan tuntutan kurikulum berbasis kompetensi yang memberikan kebebasan
para guru untuk memilih teknik yang beragam disesuaikan dengan tujuan
pembelajaran. Kurikulum berbasis kompetensi ingin memusatkan diri pada
pengembangan seluruh kompetensi siswa termasuk keterampilan berbahasa yang
didalamnya mencakup kemampuan membaca cepat sebagai salah satu kompetensi
dasar membaca.
Berdasarkan paparan di atas penelitian ini mengangkat permasalahan, yaitu
(1) bagaimanakah peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas VIIIA
MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes dengan menerapkan
pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment? dan (2) bagaimanakah
perubahan perilaku siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa
Kabupaten Brebes dengan diadakan membaca cepat dengan pembelajaran
kontekstual elemen authentic assessment? Tujuan penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas VIIIA
MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti
pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Tujuan yang kedua adalah
mendeskripsikan perubahan perilaku siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum
Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti pembelajaran membaca
cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment.
107

Subjek dalam penelitian ini adalah kecepatan membaca cepat siswa kelas
VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes tahun pelajaran
2004/2005. Variabel dalam penelitian ini adalah kemampuan membaca cepat dan
pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas dengan dua siklus
yang dilaksanakan pada siswa kelas VIIIA MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa
Kabupaten Brebes. Tiap-tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, tindakan,
observasi, dan refleksi. Pengambilan data digunakan dengan tes dan nontes. Alat
pengambilan data yang digunakan berupa pedoman observasi, wawancara, dan
jurnal. Analisis data yang digunakan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.
Setelah dilakukan penelitian dalam dua siklus, dihasilkan simpulan bahwa
pembelajaran kontekstual elemen authentic assessment dapat meningkatkan
kecepatan membaca siswa. Pada kondisi awal rata-rata kecepatan membaca siswa
kelas VIIIA hanya 144,8 kpm. Pada akhir siklus pertama meningkat menjadi
227,82 kpm. Hal ini menunjukkan kenaikan 83,02 kpm (57,33%). Pada akhir
suklus II rata-rata kecepatn membaca siswa 251,59 kpm ada kenaikan sebesar
23,77 kpm (10,43%). Perubahan tingkah laku dalam penelitian ini adalah para
siswa tampak lebih semangat, merasa senang, aktif mengikuti pembelajaran, dan
berusaha meminimalisir kebiasaan yang salah dalam membaca, serta siswa merasa
dihargai.
Hasil penelitian tersebut saran yang dapat direkomendasikan antara lain: (1)
guru Bahasa dan Sastra Indonesia seyogyanya berperan aktif sebagai inovator
untuk memilih teknik pembelajaran yang paling tepat sehingga pembelajaran yang
dilaksanakan menjadi pengalaman yang bermakna bagi siswa; (2) guru Bahasa
dan Sastra Indonesia dapat menggunakan pendekatan kontekstual elemen
authentic assessment dalam membelajarkan kemampuan membaca cepat; (3)
pembelajaran dengan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment dapat
dijadikan alternatif pilihan bagi guru bidang studi lain dalam membelajarkan
bidang garapannya; (4) para praktisi atau peneliti di bidang pendidikan dan bahasa
dapat melakukan penelitian serupa dengan teknik pembelajaran yang berbeda
sehingga didapatkan berbagai alternatif teknik pembelajaran membaca cepat.
108

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang Panitia
Ujian Skripsi.

Semarang, September 2005


Pembimbing I, Pembimbing II,

Drs. Subyantoro, M.Hum Drs. Wagiran, M.Hum


NIP 132005032 NIP 132050001
109

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya

saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya.

Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau

dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, September 2005

Elly Fatmawati
110

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto: “Berdoa, berpikir, berusaha, dan bersabar merupakan kunci keberhasilan.”

Skripsi ini kupersembahkan kepada:

1. Bapak dan Ibu tercinta yang telah memberikan kasih


sayang tulus, semangat, dan iringan doa dlam setiap
langkahku;
2. Kedua kakakku yang tiada henti memberikan semangat
kepada penulis;
3. Teman hidupku, dan sahabat-sahabatku yang
menciptakan rajutan kisah persahabatan yang indah, dan
tanpa pamrih kepada penulis; dan
4. Guru dan almamaterku.
111

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah


memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan
dengan baik. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi
ini tidak terlepas dari bantuan pihak. Terima kasih kepada Drs. Subyantoro,
M.Hum. (pembimbing I) dan Drs. Wagiran, M.Hum. (pembimbing II) yang
telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan masukan, arahan, dan
bimbingan dengan penuh kesabaran kepada penulis. Tidak lupa penulis juga
menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang yang telah
memberikan izin penelitian kepada penulis;
2. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni,
Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan arahan dan izin
penelitian kepada penulis;
3. Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni,
Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ilmu dan pengalaman
yang tidak terlupakan selama perkuliahan;
4. Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah, Serta Dewan Guru MTs
Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes yang telah memberikan
izin penelitian dan bantuannya kepada penulis;
5. Teman hidupku dan teman-temanku yang telah memberikan semangat
kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini;
6. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Semoga amal budi Bapak, Ibu, dan Saudara mendapat balasan yang
setimpal darai Allah SWT. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat
memberikan manfaat bagi pembaca.

Semarang, September 2005

Penulis
112

PEDOMAN WAWANCARA UNTUK PETUGAS PERPUSTAKAAN

SIKLUS PERTAMA

1. Kapankah siswa mau memanfaatkan buku/koleksi perpustakaan sekolah?

2. Berapakah rata-rata siswa yang hadir ke perpustakaan untuk setiap

harinya?

3. Siswa yang datang ke perpustakaan itu untuk membaca, meminjam, atau

membaca lalu meminjamnya? Jelaskan!

4. Banyaknya siswa kelas VIIIA yang datang berkunjung dan memanfaatkan

buku/koleksi perpustakaan? Bagaimana jika dibandingkan dengan kelas

yang lain?

5. Bagaimanakah saran Anda kepada guru agar siswa semakin

tertarik/meningkat minat bacanya?


113

PEDOMAN WAWANCARA UNTUK PETUGAS PERPUSTAKAAN

SIKLUS KEDUA

1. Kapankah siswa mau memanfaatkan buku/koleksi perpustakaan sekolah?

2. Berapakah rata-rata siswa yang hadir ke perpustakaan untuk setiap

harinya, ada peningkatan atau tidak?

3. Siswa yang datang ke perpustakaan itu untuk membaca, meminjam, atau

membaca lalu meminjamnya? Jelaskan!

4. Semakin banyakkah siswa kelas VIIIA yang datang berkunjung dan

memanfaatkan buku/koleksi perpustakaan? Bagaimana jika dibandingkan

dengan kelas yang lain?

5. Bagaimanakah pendapat Anda terhadap minat bacanya?


114

HASIL WAWANCARA PETUGAS PERPUSTAKAAN

SIKLUS PERTAMA

Jawaban

1. Siswa memanfaatkan buku perpustakaan pada saat ada jam kosong atau

pada waktu istirahat baik pertama atau kedua setiap harinya.

2. Siswa yang berkunjung rata-rata 20 siswa setiap harinya.

3. Sebagian besar siswa datang hanya untuk melihat-lihat atau membaca

ditempat sedangkan sebagian kecil mau meminjam buku untuk dibawa

pulang.

4. Kelas VIIIA cukup banyak dibandingkan dengan kelas yang lain.

5. Agar para guru mau memberi tugas kepada siswanya untuk memanfaatkan

buku-buku di perpustakaan.
115

HASIL WAWANCARA PETUGAS PERPUSTAKAAN

SIKLUS KEDUA

Jawaban

1. Siswa memanfaatkan buku perpustakaan pada saat ada jam kosong atau

pada waktu istirahat baik pertama atau kedua setiap harinya.

2. Siswa yang berkunjung rata-rata meningkat menjadi 25 siswa setiap

harinya.

3. Sebagian besar siswa datang hanya untuk melihat-lihat atau membaca

ditempat. Namun siswa yang mau meminjam buku untuk dibawa pulang

semakin bertambah.

4. Kelas VIIIA cukup banyak dibandingkan dengan kelas yang lain, karena

ada tugas tertentu.

5. minat membaca siswa sedikit meningkat dibandingkan beberapa waktu

yang lalu. Hal ini kemungkinan besar karema ada dorongan/perintah dari

guru atau bahkan ada tugas dari guru sehingga semakin meningkat.
116
BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian, dan pembahasan,

dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Kemampuan membaca cepat siswa kelas VIII A MTs Miftahul Ulum

Rengaspendawa Kabupaten Brebes setelah mengikuti pembelajaran dengan

menggunakan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment mengalami

peningkatan. Pada kondisi awal tidak ada siswa yang mempunyai kemampuan

membaca dengan kecepatan tinggi (> 250 kpm), pada siklus I berubah menjadi

ada sebanyak 2 siswa dan pada siklus II meningkat menjadi 20 siswa. Yang

mempunyai kemampuan membaca dengan kecepatan memadai (200-249 kpm)

sebanyak 1 siswa, pada siklus I menjadi 34 siswa dan pada siklus II ada 19

siswa. Yang berkecepatan lambat atau rendah (150-199 kpm) sebanyak 8 siswa

pada siklus I berkurang menjadi 3 siswa dan pada siklus II sudah tidak ada.

Peningkatan kecepatan membaca siswa disebabkan siswa pada waktu kegiatan

pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran kontekstual elemen

authentic assessment serius mengikuti kegiatan belajar mengajar dan banyak

berlatih, serta mendapat penghargaan dari hasil kerjanya.

2. Perilaku siswa kelas VII A MTs Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten

Brebes setelah mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan pembelajaran

kontekstual elemen authentic assessment mengalami perubahan. Perubahan

perilaku siswa dapat dilihat secara jelas saat proses pembelajaran. Berdasarkan
101

data observasi pada siklus I kegiatan pembelajaran ada beberapa siswa yang

masih melakukan keburukan dalam membaca cepat. Selama pelaksanaan

pembelajaran siklus II telah terjadi perubahan perilaku siswa. Para siswa

kelihatan lebih serius dalam melaksanakan kegiatan membaca, dan lebih

berusaha untuk mengurangi kebiasaan buruk dalam membaca. Mereka

melakukan kegiatan membaca dengan baik. Siswa selalu bekerja sama dengan

teman sebangkunya untuk lebih meningkatkan kemampuan membaca cepatnya.

Dalam mengikuti pelajaran siswa aktif, tidak pasif. Siswa selalu bertanya

dengan guru tentang hal yang tidak diketahuinya. Dengan demikian, dapat

disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran kontekstual elemen authentic

assessment dapat meningkatkan perilaku positif siswa dan dapat mengubah

perilaku negatif siswa menjadi perilaku positif.

5.2 Saran

Berdasarkan pada simpulan hasil penelitian tersebut, peneliti

memberikan saran sebagai berikut.

1. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia berperan aktif sebagai inovator

untuk memilih teknik pembelajaran yang paling tepat sehingga

pembelajaran yang dilaksanakan menjadi pengalaman yang bermakna bagi

siswa.

2. Para guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat menggunakan pendekatan

kontekstual elemen authentic assessment dalam membelajarkan

kemampuan membaca cepat.


102

3. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual elemen authentic assessment

dapat dijadikan alternatif pilihan bagi guru bidang studi lain dalam

membelajarkan bidang garapannya.

4. Para praktisi atau peneliti di bidang pendidikan dan bahasa dapat

melakukan penelitian penelitian serupa dengan teknik pembelajaran yang

berbeda sehingga didapatkan berbagai alternatif teknik pembelajaran

membaca cepat.
PEDOMAN WAWANCARA KEPADA SISWA

1. Bagaimana tanggapan kamu tentang bacaan yang disajikan?

2. Apakah kamu mudah dalam memahami bacaan itu? Mengapa?

3. Kesulitan apa yang kamu alami dalam memahami bacaan tersebut?

4. Jenis buku apa yang kamu suka?

5. Apakah kamu berkonsentrasi penuh dalam membaca?

6. Bagaimana gambaran isi bacaan tersebut?

7. Apakah kamu sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam

membaca?

8. Apakah kamu dalam membaca memberi tanda baca/cek pada bacaan?

9. Apa yang kamu peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini?

10. Bagaimana pendapat kamu tentang pembelajaran yang telah dilakukan?


HASIL WAWANCARA KEPADA SISWA
SIKLUS PERTAMA

1. No. Responden : R-O32


KEM : 97 kpm
Kategori : sangat lambat
Jawaban:
a. Bacaan yang disajikan cukup menarik, dapat menambah pengetahuan dan
wawasan.
b. Lumayan mudah.
c. Belum mengerti jelas tentang bacaan.
d. Buku yang saya sukai adalah komik.
e. Saya belum bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena baru
pertama kali melakukan pengukuran KEM.
f. Isi bacaan tadi lumayan membuat saya harus menguras otak.
g. Saya belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca.
h. Dalam membaca saya memberi cek/tanda baca pada bacaan karena untuk
mempermudah saya.
i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara
pengukuran kecepatan membaca, dan KEM.
j. Pembelajaran tadi lumayan menyenangkan, guru dalam menjelaskan
mudah dipahami.

2. No. Responden : R-O25


KEM : 97 kpm
Kategori : sangat lambat
Jawaban:
a. Bacaan yang disajikan baik, sesuai dengan standar baca, dan menarik.
b. Lumayan mudah.
c. Belum mengerti jelas tentang bacaan.
d. Buku yang saya sukai adalah majalah
e. Saya belum bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena baru
pertama kali melakukan pengukuran KEM.
f. Isi bacaan tadi lumayan mudah.
g. Saya belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca, yaitu
masih melakukan subvokalisasi.
h. Dalam membaca saya memberi cek/tanda baca pada bacaan karena untuk
mempermudah saya.
i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara
pengukuran kecepatan membaca, dan KEM.
j. Pembelajaran tadi lumayan menyenangkan, guru dalam menjelaskan
mudah dipahami, dan saya suka dengan pembelajaran membaca cepat.

3. No. Responden : R-O30


KEM : 159 kpm
Kategori : sedang
Jawaban:
a. Bacaan yang disajikan cukup menarik.
b. Lumayan mudah.
c. Saya sudah paham/jelas tentang bacaan.
d. Buku yang saya sukai adalah koran.
e. Saya belum bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena baru
pertama kali melakukan pengukuran KEM.
f. Isi bacaan tadi lumayan mudah.
g. Saya belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca,
terutama subvokalisasi, vokalisasi, karena saya sudah terbiasa dengan
kedua hal tersebut.
h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan.
i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara
pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, serta saya merasa dihargai
hasil karya saya, saya bisa mengukur kecepatan membaca saya kapan pun
saya mau.
j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah
dipahami.

4. . No. Responden : R-O31


KEM : 152 kpm
Kategori : sedang
Jawaban:
a. Bacaan yang disajikan cukup menarik.
b. Lumayan mudah.
c. Saya sudah paham/jelas tentang bacaan.
d. Buku yang saya sukai adalah majalah.
e. Saya belum bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena baru
pertama kali melakukan pengukuran KEM.
f. Isi bacaan tadi lumayan mudah.
g. Saya belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca,
terutama subvokalisasi, vokalisasi, regresi, karena saya sudah terbiasa
dengan ketiga hal tersebut.
h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan.
i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara
pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, serta saya merasa dihargai
hasil karya saya, saya bisa mengukur kecepatan membaca saya kapan pun
saya mau.
j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah
dipahami.

5. . No. Responden : R-O07


KEM : 249 kpm
Kategori : tinggi
Jawaban:
a. Bacaan yang disajikan menarik.
b. Mudah dipahami.
c. Saya sudah paham/jelas tentang bacaan.
d. Buku yang saya sukai adalah koran.
e. Saya belum bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena baru
pertama kali melakukan pengukuran KEM.
f. Isi bacaan tadi lumayan mudah.
g. Saya belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca,
terutama subvokalisasi, regresi karena saya sudah terbiasa dengan kedua
hal tersebut.
h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan.
i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara
pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, serta saya merasa dihargai
hasil karya saya, saya bisa mengukur kecepatan membaca saya kapan pun
saya mau.
j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah
dipahami.

6. No. Responden : R-O28


KEM : 221 kpm
Kategori : tinggi
Jawaban:
a. Bacaan yang disajikan menarik.
b. Mudah.
c. Saya sudah paham/jelas tentang bacaan.
d. Buku yang saya sukai adalah koran.
e. Saya belum bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena baru
pertama kali melakukan pengukuran KEM.
f. Isi bacaan tadi mudah dipahami.
g. Saya belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca,
terutama subvokalisasi, regresi karena saya sudah terbiasa dengan kedua
hal tersebut.
h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan.
i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara
pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, serta saya merasa dihargai
hasil karya saya, saya bisa mengukur kecepatan membaca saya kapan pun
saya mau.
j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah
dipahami.
HASIL WAWANCARA KEPADA SISWA
SIKLUS KEDUA

1. No. Responden : R-O25


KEM : 139 kpm
Kategori : lambat
Jawaban:
a. Bacaan yang disajikan baik dan menarik.
b. Lumayan mudah.
c. Saya mengerti jelas tentang bacaan.
d. Buku yang saya sukai adalah komik.
e. Saya sudah bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena sudah
diajari cara berkonsentrasi.
f. Isi bacaan tadi lumayan mudah.
g. Saya sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca.
h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan.
i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara
pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, cara berkonsentrai, dan
menghilangkan regresi.
j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah
dipahami.

2. No. Responden : R-O8


KEM : 143 kpm
Kategori : lambat
Jawaban:
a. Bacaan yang disajikan baik dan menarik.
b. Lumayan mudah.
c. Saya mengerti jelas tentang bacaan.
d. Buku yang saya sukai adalah majalah.
e. Saya sudah bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena sudah
diajari cara berkonsentrasi.
f. Isi bacaan tadi mudah dipahami.
g. Saya sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca.
h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan.
i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara
pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, cara berkonsentrai, dan
menghilangkan regresi.
j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah
dipahami dan saya suka dengan pembelajaran membaca cepat.

3. No. Responden : R-O38


KEM : 167 kpm
Kategori : sedang
Jawaban:
a. Bacaan yang disajikan baik dan menarik.
b. Lumayan mudah.
c. Saya mengerti jelas tentang bacaan.
d. Buku yang saya sukai adalah majalah.
e. Saya sudah bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena sudah
diajari cara berkonsentrasi.
f. Isi bacaan tadi mudah dipahami.
g. Saya sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca.
h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan.
i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara
pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, cara berkonsentrai, dan
menghilangkan regresi.
j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah
dipahami dan saya

4. No. Responden : R-O15


KEM : 169 kpm
Kategori : sedang
Jawaban:
a. Bacaan yang disajikan baik dan menarik.
b. Mudah.
c. Saya mengerti jelas tentang bacaan.
d. Buku yang saya sukai adalah koran.
e. Saya sudah bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena sudah
diajari cara berkonsentrasi.
f. Isi bacaan tadi mudah dipahami.
g. Saya sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca.
h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan.
i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara
pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, cara berkonsentrai, dan
menghilangkan regresi.
j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah
dipahami dan saya

5. No. Responden : R-O07


KEM : 249 kpm
Kategori : tinggi
Jawaban:
a. Bacaan yang disajikan baik dan menarik.
b. Mudah.
c. Saya mengerti jelas tentang bacaan.
d. Buku yang saya sukai adalah koran.
e. Saya sudah bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca karena sudah
diajari cara berkonsentrasi.
f. Isi bacaan tadi mudah dipahami.
g. Saya sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca.
h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan.
i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara
pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, cara berkonsentrai, dan
menghilangkan regresi.
j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah
dipahami .

6. No. Responden : R-O21


KEM : 227 kpm
Kategori : tinggi
Jawaban:
a. Bacaan yang disajikan menarik.
b. Mudah.
c. Saya sudah paham/jelas tentang bacaan.
d. Buku yang saya sukai adalah koran.
e. Saya sudah bisa berkonsentrasi penuh dalam membaca.
f. Isi bacaan tadi mudah dipahami.
g. Saya sudah bisa menghilangkan kebiasaan buruk dalam membaca.
h. Dalam membaca saya tidak memberi cek/tanda baca pada bacaan.
i. Yang saya peroleh dari kegiatan belajar pada hari ini adalah cara
pengukuran kecepatan membaca, dan KEM, serta saya merasa dihargai
hasil karya saya, saya bisa mengukur kecepatan membaca saya kapan pun
saya mau.
j. Pembelajaran tadi menyenangkan, guru dalam menjelaskan mudah
dipahami.
105 106 107 108 109 110 111 112 113 114

115 116 117 118 119 120 121 122 123 124

125 126 127 128 129 130 131 132 133 134

135 136 137 138 139 140 141 142 143 144

145 146 147 148 149 150 151 152 153 154

155 156 157 158 159 160 161 162 163 164

165 166 167 168 169 170 171 172 173 174

175 178 179 180 181 182 183 184 185 186

187 188 189 190 191 192 193 194 195 196

197 198 199 200 201 202 203 204 205 2060

207 208 209 210 211 212 213 214 215 216

217 218 219 220 221 222 223 224 225 226

227 228 229 230 1 12 64 63 102 100


RENCANA PEMBELAJARAN SIKLUS I
PERTEMUAN 1

Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia


Jenjang Pendidikan : MTs MU Rengaspendawa-Brebes
Tema : Kesenian
Unit : III
Kelas/ Semester : VIII/ II
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran
(Budi Pekerti) : Menghargai waktu
(Life Skill) : Kecakapan lisan : Komunikasi tertulis

A. Standar Kompetensi
Mampu memahami ragam teks/bacaan dengan berbagai cara membaca:
membacakan teks untuk orang lain, membaca teks secara intensif, membaca
cepat, dan membaca memindai teks khusus.

B. Kompetensi Dasar
Membaca cepat 250 kata per menit

C. Indikator
• Mampu mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan teman.
• Mampu meningkatkan kecepatan membaca dengan:
(1) Metode gerak mata memperluas jangkauan mata, mengurangi regresi
(mengulang).
• Mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75 %.

D. Materi Pokok
Teks ± 250, 500, atau 750 kata
Kecepatan membaca:
- mengukur kecepatan membaca
- latihan jangkauan mata I,II,III,IV
- latihan persepsi I,II,III,IV
- menjawab pertanyaan
E. Skenario Pembelajaran
No Kegiatan Teknik Waktu
1. Pendahuluan 5’
a. Guru memberikan ilustrasi, betapa Pemberian
kebutuhan membaca cepat semakin tinggi. ilustrasi
Setiap orang dituntut menjadi pembaca
yang baik.
b.Membaca cepat diperlukan ketika kita
ingin memperoleh gambaran isi bacaan
dengan cepat.
c. Guru bertanya kepada siswa tentang hal- Tanya jawab
hal yang menghambat kecepatan
membaca: membaca kata demi kata,
menyuarakan, dan regresi (mengulang)
d.Guru memberikan prosedur pembelajaran Ceramah
pada hari itu.
e. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Ceramah
pada hari ini yaitu: (1) siswa dapat
mengukur kecepatan membaca untuk diri
sendiri dan teman, (2) siswa mampu
meningkatkan kecepatan membaca dengan
melakukan latihan jangkauan mata dan
persepsi,(3) siswa dapat menjawab
pertanyaan dengan peluang ketepatan 75%
2. Kegiatan Inti 70’
a. Pengukuran awal kecepatan membaca
siswa. Guru membagikan teks untuk Latihan
mengukur kecepatan membaca. Dalam mengukur
teks tersebut telah tercantumkan prosedur kecepatan
pengukuran kecepatan membaca, jumlah membaca
kata dalam teks, daftar kecepatan
membaca, dan soal-soal tes pemahaman.
Guru memberikan kartu data kepada setiap
siswa.
b.Dengan aba-aba bersama, siswa yang
membaca dengan kecepatan yang
menurutnya memadai, mengukur hasilnya,
dan menjawab soal pemahaman.
c. Guru meminta siswa untuk mencatat Authentic
kecepatan membacanya pada kartu data. assessment
d.Guru meminta siswa untuk berpasang- Latihan
pasangan. Guru meminta siswa untuk jangkauan
latihan jangkauan mata I,II,III,IV. Guru mata dengan
membagikan bahan latihan kepada siswa, learning
dan dengan aba-aba bersama siswa community
melakukan latihan tersebut.
e. Guru bersama siswa mengulas latihan Latihan
jangkauan mata tersebut, kemudian guru persepsi
meminta siswa untuk melanjutkan dengan
kegiatan belajar dengan latihan persepsi learning
I,II,III,IV. Guru membagikan bahan community
latihan persepsi kepada siswa dan dengan
aba-aba bersama siswa memulai latihan
persepsi tersebut.
f. Pengukuran kecepatan membaca siswa Pengukuran
kedua. Guru membagikan teks untuk kecepatan
mengukur kecapatan membaca. Dalam membaca
teks tersebut telah tercantumkan prosedur setelah latihan
pengukuran kecepatan membaca, jumlah jangkauan
kata dalam teks, daftar kecepatan mata dan
membaca, dan soal-soal tes pemahaman. fiksasi
g.Guru meminta siswa untuk merefleksi Refleksi
kebiasaan
kebiasaan siswa dalam membaca dengan
membaca
mengisi daftar pertanyaan yang disediakan
oleh guru.
h.Siswa diminta menuliskan kecepatan
Authentic
membacanya pada kartu data masing-
assessment
masing dan
mengumpulkan/menginventaris latihan
jangkauan mata dan fiksasi
3. Penutup
a. Siswa membuat catatan-catatan tentang 5’
Refleksi
hasil yang diperolehnya dalam berlatih
membaca cepat.
b.Siswa mengisi jurnal siswa. Pengisian
Jurnal
c. Guru meminta siswa di rumah untuk
latihan meningkatkan kecepatan
Pekerjaan
membacanya seperti yang dilakukan
rumah (PR)
disekolah dengan membaca buku yang
sesuai dengan kegemarannya/kesukaannya
yang dipinjam dari perpustakaan.

F. Sarana dan Sumber Pembelajaran


Sarana
• Teks untuk mengukur kecepatan membaca dan pemahamannya, yang telah
didesain lengkap: jumlah kata keseluruhan, daftar kecepatan membaca,
dan soal pengukuran pemahaman bacaan.
• Jam tangan/ stop wacth
Sumber Pembelajaran
• Sistem Membaca Cepat dan Efektif, Soedarso, 2002.
• Membaca Cepat, Depdiknas. 2004.
G. Penilaian
1.Penilaian proses dilaksanakan selama proses pembelajaran
Kategori
No Aspek yang dinilai
1 2 3
1. Kerja sama dengan teman
2. Keaktifan siswa
3. Sharing dengan teman
4. Kekritisan siswa
5. Sikap siswa terhadap bahan bacaan yang disajikan
6. Sikap siswa terhadap teknik pembelajaran
7. Pembelajaran menyenangkan, tidak membosankan

Jumlah

Skala Penilaian:
1 = kurang
2 = cukup
3 = baik

2. Penilaian Hasil
Kecepatan membaca dan pemahaman bacaan yang dicapai siswa di akhir
pertemuan.
-Kecepatan membaca yang dicapai:
Lebih dari 250 kpm : cepat (target yang diinginkan)
200-249 kpm : sedang
150-199 kpm : rendah
< 150 kpm : sangat rendah
- Tingkat Pemahaman

90-100 % : sangat baik


70-80 % : baik
50-60 % : sedang
30-40 % : kurang
10-20 % : sangat kurang

Semarang, 19 Mei 2005

Menyetujui
Guru Mata Pelajaran, Guru Pratikan,

Usnawati, S.Pd Elly Fatmawati

Mengetahui,
Kepala Sekolah,

M. Nadiri, B.A
RENCANA PEMBELAJARAN SIKLUS I
PERTEMUAN 2

Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia


Jenjang Pendidikan : MTs MU Rengaspendawa-Brebes
Tema : Kesenian
Unit : III
Kelas/ Semester : VIII/ II
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran
(Budi Pekerti) : Menghargai waktu
(Life Skill) : Kecakapan lisan : Komunikasi tertulis

A. Standar Kompetensi
Mampu memahami ragam teks/bacaan dengan berbagai cara membaca:
membacakan teks untuk orang lain, membaca teks secara intensif, membaca
cepat, dan membaca memindai teks khusus.

B. Kompetensi Dasar
Membaca cepat 250 kata per menit

C. Indikator
• Mampu meningkatkan kecepatan membaca dengan:
(1) Metode gerak mata memperluas jangkauan mata, mengurangi regresi
(mengulang).
(2) Menghilangkan kebiasaan membaca dengan bersuara.
(3) Meningkatkan konsentrasi.
• Mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75 %.

D. Materi Pokok
Teks ± 250, 500, atau 750 kata
Kecepatan membaca:
- mengukur kecepatan membaca
- latihan fiksasi
- menjawab pertanyaan
E. Skenario Pembelajaran
No Kegiatan Teknik Waktu
1. Pendahuluan 5’
a. Guru mengecek kartu data masing-masing Pengecekan
siswa, kumpulan hasil latihan-latihan
pada pertemuan sebelumnya, dan tugas
rumah.
b.Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Ceramah
pada hari ini yaitu: (1) latihan
meningkatkan kecepatan membaca
dengan memperbaiki gerak mata,
sehingga kecepatan kecepatan membaca
dapat ditingkatkan menjadi 250 kpm.
2. Kegiatan inti 70’
a. Guru meminta siswa untuk berpasangan Pengukuran
mengukur kecepatan membacanya. Satu kecepatan
siswa membaca, temannya menghitung membaca
kecepatan teman yang sedang membaca.
Kemudian mengerjakan soal pemahanan.
b.Guru mengulas hasil pengukuran.
c. Guru meminta siswa untuk berpasang- Latihan fiksasi
pasangan melakukan latihan fiksasi. dengan learning
latihan fiksasi I, dilanjutkan dengan community
fiksasi II, III, IV. Guru membagi bahan
latihan dan memberi aba-aba dimulainya
latihan.
d.Guru mengulas kegiatan latihan yang Ceramah
telah dilakukan siswa dan meminta siswa
untuk mengumpulkan latihan tersebut.
e. Guru mengadakan perlombaan membaca Perlombaan
cepat. Guru membagikan teks kepada membaca cepat
siswa. Guru menyediakan kartu data
dalam bentuk kertas karton. Bagi siswa
yang sudah selesai membaca langsung
mengisi kertas karton tersebut yang ada di
depan kelas.
f. Guru meminta siswa untuk menjawab Mengerjakan soal
soal pemahaman yang telah disediakan. pemahaman
g.Siswa bersama guru membahas soal
pertanyaan tersebut (siswa mencocokkan
jawaban).
h.Guru meminta siswa untuk merekap Authentic
kecepatan membacanya pada kartu data assessment
masing-masing.
i. Guru mengumumkan hasil perlombaan
tersebut.
3. Penutup
a. Siswa mengisi jurnal siswa. Pengisian jurnal
b.Guru memberikan reward kepada siswa Pemberian 5’
yang kecepatannya dan pemahamannya reward
tinggi.
c. Guru memberikan tugas kepada siswa. Pemberian PR
F. Sarana dan Sumber Pembelajaran
Sarana
• Teks untuk mengukur kecepatan membaca dan pemahamannya, yang telah
didesain lengkap: jumlah kata keseluruhan, daftar kecepatan membaca,
dan soal pengukuran pemahaman bacaan.
• Jam tangan/ stop wacth
• Kertas karton
Sumber Pembelajaran
• Sistem Membaca Cepat dan Efektif, Soedarso, 2002.
• Membaca Cepat, Depdiknas. 2004.
G. Penilaian
1.Penilaian proses dilaksanakan selama proses pembelajaran
Kategori
No Aspek yang dinilai
1 2 3
1. Kerja sama dengan teman
2. Keaktifan siswa
3. Sharing dengan teman
4. Kekritisan siswa
5. Sikap siswa terhadap bahan bacaan yang disajikan
6. Sikap siswa terhadap teknik pembelajaran
7. Pembelajaran menyenangkan, tidak membosankan

Jumlah
Skala Penilaian:
1 = kurang
2 = cukup
3 = baik
2. Penilaian Hasil
Kecepatan membaca dan pemahaman bacaan yang dicapai siswa di akhir
pertemuan.
-Kecepatan membaca yang dicapai:
Lebih dari 250 kpm : cepat (target yang diinginkan)
200-249 kpm : sedang
150-199 kpm : rendah
< 150 kpm : sangat rendah

- Tingkat Pemahaman

90-100 % : sangat baik


70-80 % : baik
50-60 % : sedang
30-40 % : kurang
10-20 % : sangat kurang

Semarang, 19 Mei 2005

Menyetujui
Guru Mata Pelajaran, Guru Pratikan,

Usnawati, S.Pd Elly Fatmawati

Mengetahui,
Kepala Sekolah,

M. Nadiri, B.A
RENCANA PEMBELAJARAN SIKLUS II
Pertemuan 1

Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia


Jenjang Pendidikan : MTs MU Rengaspendawa-Brebes
Tema : Transportasi
Kelas/ Semester : VIII/ II
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran
(Budi Pekerti) : Menghargai Waktu
(Life Skill) : Kecakapan lisan : Komunikasi tertulis

A. Standar Kompetensi
Mampu memahami ragam teks/bacaan dengan berbagai cara membaca:
membacakan teks untuk orang lain, membaca teks secara intensif, membaca
cepat, dan membaca memindai teks khusus.

B. Kompetensi Dasar
Membaca cepat 250 kata per menit

C. Indikator
• Mampu meningkatkan kecepatan membaca dengan
(1) metode gerak mata memperluas jangkauan mata, mengurangi regresi
(mengulang)
(2) meningkatkan konsentrasi
• Mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75 %.

D. Materi Pokok
Teks ± 250, 500, atau 750 kata
Kecepatan membaca
Gerakan otot mata dan latihannya:
- Latihan I : Gerakan ke bawah
- Latihan II : Gerakan menyamping
- Latihan III : Pengurangan Bidang Baca.
- Latihan IV : Membaca kolom
- Latihan V : Gerakan pola S
E. Skenario Pembelajaran
No Kegiatan Teknik Waktu
1. Pendahuluan 5’
a. Guru mengulas kembali tentang hasil Ceramah
kecepatan membaca yang telah lalu yang
diadakan pada setiap pertemuan di siklus 1.
b.Guru mengecek kartu data masing-masing Pengecekan
siswa dan tugas rumah. kartu data
c. Guru memberikan penjelasan mengenai Ceramah
manfaat membaca cepat, teknik membaca
cepat yang benar, memberi saran dan
pengarahan tentang latihan membaca cepat.
d.Guru memberikan motivasi kepada siswa
2. agar siswa tidak jenuh/aktif mengikuti
pelajaran. 70’
Kegiatan Inti Pengukuran

a. Guru meminta siswa untuk berpasangan kecepatan


membaca dengan
mengukur kecepatan membaca. Kemudian
learning
dilanjutkan dengan mengerjakan soal community
pemahaman.
b.Guru membahas pengukuran kecepatan
membaca yang telah dilakukan siswa. Latihan gerakan
c. Siswa secara berpasang-pasangan melakukan mata dengan
latihan gerakan mata dengan diawali latihan learning
gerakan ke bawah. Dilanjutkan dengan community
latihan II sampai dengan latihan ke V.
d.Guru mengulas hasil latihan siswa.
Kemudian guru meminta siswa untuk Ceramah
mengukur kecepatan membacanya kembali. Pengukuran
e. Siswa mengukur kecepatan membaca kecepatan
mereka. Guru membagikan teks untuk membaca
mengukur kecepatan membaca.Dalam teks
tersebut telah tercantumkan prosedur P
pengukuran kecepatan membaca, jumlah kata
dalam teks, daftar kecepatan membaca, dan
soal-soal tes pemahaman. engoreksian
f. Guru bersama siswa mengoreksi hasil kerja
mereka(mencocokkan jawaban). Authentic
g.Guru meminta siswa untuk menuliskan assessment
kecepatan membacanya pada kartu data dan
3. menginvestasi/mengumpulkan hasil kerjanya 5’
(latihan gerakan mata).
Penutup Refleksi
a. Siswa bersama guru mengadakan refleksi
terhadap proses pembelajaran hari itu. Pengisian jurnal
b.Siswa mengisi jurnal siswa Pemberian PR
c. Guru memberikan tugas rumah.

F. Sarana dan Sumber Pembelajaran


Sarana
• Teks untuk mengukur kecepatan membaca dan pemahamannya, yang telah
didesain lengkap: jumlah kata keseluruhan, daftar kecepatan membaca,
dan soal pengukuran pemahaman bacaan.
• Bahan latihan gerakan otot mata ke bawah
• Bahan latihan gerakan otot mata menyamping
• Bahan latihan gerakan otot mata kolom
• Bahan latihan gerakan otot mata pola S
• Jam tangan/ stopwatch
Sumber Pembelajaran
• Sistem Membaca Cepat dan Efektif, Soedarso, 2002.
• Membaca Cepat, Depdiknas. 2004
G. Penilaian
1.Penilaian proses dilaksanakan selama proses pembelajaran
Kategori
No Aspek yang dinilai
1 2 3
1. Kerja sama dengan teman
2. Keaktifan siswa
3. Sharing dengan teman
4. Kekritisan siswa
5. Sikap siswa terhadap bahan bacaan yang disajikan
6. Sikap siswa terhadap teknik pembelajaran
7. Pembelajaran menyenangkan, tidak membosankan

Jumlah

Skala Penilaian:
1 = kurang
2 = cukup
3 = baik

2. Penilaian Hasil
Kecepatan membaca dan pemahaman bacaan yang dicapai siswa di akhir
pertemuan.
-Kecepatan membaca yang dicapai:
Lebih dari 250 kpm : cepat (target yang diinginkan)
200-249 kpm : sedang
150-199 kpm : rendah
< 150 kpm : sangat rendah

- Tingkat Pemahaman

90-100 % : sangat baik


70-80 % : baik
50-60 % : sedang
30-40 % : kurang
10-20 % : sangat kurang

Semarang, 19 Mei 2005

Menyetujui
Guru Mata Pelajaran, Guru Pratikan,

Usnawati, S.Pd Elly Fatmawati

Mengetahui,
Kepala Sekolah,

M. Nadiri, B.A
RENCANA PEMBELAJARAN SIKLUS II
Pertemuan 2

Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia


Jenjang Pendidikan : MTs MU Rengaspendawa-Brebes
Tema : Transportasi
Kelas/ Semester : VIII/ II
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran
(Budi Pekerti) : Menghargai Waktu
(Life Skill) : Kecakapan lisan : Komunikasi tertulis

A. Standar Kompetensi
Mampu memahami ragam teks/bacaan dengan berbagai cara membaca:
membacakan teks untuk orang lain, membaca teks secara intensif, membaca
cepat, dan membaca memindai teks khusus.

B. Kompetensi Dasar
Membaca cepat 250 kata per menit

C. Indikator
• Mampu meningkatkan kecepatan membaca dengan
(1) metode gerak mata memperluas jangkauan mata, mengurangi regresi
(mengulang)
(2) meningkatkan konsentrasi
• Mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75 %.

D. Materi Pokok
Teks ± 250, 500, atau 750 kata
Kecepatan membaca
- mengukur kecepatan membaca
- menjawab pertanyaan
E. Skenario Pembelajaran
No Kegiatan Teknik Waktu
1. Pendahuluan 5’
a. Guru mengingatkan kembali materi yang Ilustrasi
lalu dan menjelaskan hasil kemajuan
kecepatan membaca siswa.
b. Guru mengecek kartu data dan kumpulan Pengecekan
hasil kerja siswa, serta tugas rumah.
c. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Ceramah
saat itu, yaitu siswa dapat meningkatkan
kecepatan membaca, melatih konsentrasi
sehingga kecepatan membaca dapat
mencapai target 250 kata per menit
2. Kegiatan Inti 70’
a. Guru meminta siswa mengukur kecepatan Pengukuran
membaca. Kemudian mengukur kecepatan membaca
dengan
pemahaman dengan menjawab soal
pemahaman.
b.Guru membahas pengukuran kecepatan
membaca siswa.
c. Guru melatihkan teknik membaca cepat
Latihan
yaitu dengan melatih meningkatkan
konsentrasi
konsentrasi dalam membaca.
d.Guru membagikan bahan latihan
konsentrasi dan memberikan aba-aba.
e. Siswa melatih konsentrasi dalam membaca
f. Guru membagikan teks bacaan untuk
Pengukuran
mengetahui kecepatan membaca siswa.
kecepatan
Apakah siswa membaca dengan penuh
membaca setelah
konsentrasi dan apakah kecepatan
membaca siswa meningkat setelah latihan latihan
meningkatkan konsentrasi konsentrasi
g.Siswa menjawab pertanyaan.
h.Siswa mencatat hasil kecepatan authentic
membacanya pada kartu data. assessment
i. Guru meminta siswa untuk Mengistirahatkan
mengistirahatkan mata sesuai dengan mata
instruksi guru
j. Guru meminta siswa untuk memberi authentic
tanggapan hasil kerja temannya, yaitu baik assessment
mengenai kecepatan membacanya maupun
hal-hal lain yang telah dikerjakan
temannya.
3. Penutup 5’
a. Siswa mengisi jurnal siswa. Pengisian jurnal
b.Guru menyimpulkan proses belajar yang
telah berlangsung.

F. Sarana dan Sumber Pembelajaran


Sarana
• Teks untuk mengukur kecepatan membaca dan pemahamannya, yang telah
didesain lengkap: jumlah kata keseluruhan, daftar kecepatan membaca,
dan soal pengukuran pemahaman bacaan.
• Bahan latihan meningkatkan konsentrasi.
• Jam tangan/ stopwatch
Sumber Pembelajaran
• Sistem Membaca Cepat dan Efektif, Soedarso, 2002.
• Membaca Cepat, Depdiknas. 2004
G. Penilaian
1.Penilaian proses dilaksanakan selama proses pembelajaran
Kategori
No Aspek yang dinilai
1 2 3
1. Kerja sama dengan teman
2. Keaktifan siswa
3. Sharing dengan teman
4. Kekritisan siswa
5. Sikap siswa terhadap bahan bacaan yang disajikan
6. Sikap siswa terhadap teknik pembelajaran
7. Pembelajaran menyenangkan, tidak membosankan

Jumlah

Skala Penilaian:
1 = kurang
2 = cukup
3 = baik

2. Penilaian Hasil
Kecepatan membaca dan pemahaman bacaan yang dicapai siswa di akhir
pertemuan.
-Kecepatan membaca yang dicapai:
250- Lebih dari 250 kpm : cepat (target yang diinginkan)
200-249 kpm : sedang
150-199 kpm : rendah
< 150 kpm : sangat rendah
- Tingkat Pemahaman

90-100 % : sangat baik


70-80 % : baik
50-60 % : sedang
30-40 % : kurang
10-20 % : sangat kurang

Semarang, 20 Mei 2005

Menyetujui
Guru Mata Pelajaran, Guru Pratikan,

Usnawati, S.Pd Elly Fatmawati

Mengetahui,
Kepala Sekolah,

M. Nadiri, B.A
MENGISTIRAHATKAN MATA

Instruksi
a. Letakkan kedua sikut Anda di atas meja. Bentuklah kedua telapak tangan Anda
seolah-olah menjadi dua mangkuk tempat mengistirahatkan mata Anda. Kata
“istirahat…..” di sini mempunyai pengertian yang amat penting. Jangan
menggunakan tekanan pada bola mata, karena hal ini akan menyebabkan latihan
tersebut tidak berguna. Anda harus nyaman.
b.Tutuplah mata Anda dan coba bayangkan sebuah gambar. Bayangkanlah diri
Anda sedang berdiri pada suatu kebun jagung yang kuning keemasan. Saat itu
adalah musim panas yang cerah. Tengoklah ke sekeliling Anda. Lihatlah ke kiri.
Di sana nampak pohon cemara yang menjulang tinggi ke angkasa. Lihatlah hal
itu mulai dari batang bawahnya menuju ke atas, lihatlah hal itu mulai dari
batang bawahnya menuju atas, lihatlah daun-daun menghijau berlatar warna
langit yang biru. Di atas langit, di bagian kanan tampak satu pesawat terbang
yang sedang melayang dari kiri ke kanan. Sekarang lihatlah bagian kaki Anda,
di sana tampak gerombolan bunga-bunga liar, yang berwarna merah terang dan
di kejauhan, di bagian sebelah kanan nampak ujung menara gereja yang
mencuat di kejauhan. Ingatlah bahwa kesemuanya ini harus dilakukan tanpa
menambah tekanan bagi mata Anda itu.
c. Pada saat Anda melepaskan kedua telapak tangan dan membuka mata, maka
keadaan di sekeliling Anda akan tampak menjadi lebih cerah dan mata menjadi
segar. Anda dapat merasakannya? Semoga mata Anda menjadi lebih segar.

Depdikbud. 2004. Membaca Cepat.Jakarta: Depdikbud


Tabel Perbandingan Observasi Kebiasaan Membaca

No Aspek Pra Siklus I Siklus II Peningkatan

Kebiasaan Jml % Jml % Jml % Pra-I Siklus I-II

Nilai Nilai Nilai Jml % Jml %

Nilai Nilai

1. Jarak mata 8 20,5 25 64,1 39 100 17 43,6 14 35,9

kurang lebih

30 cm

2. Sikap badan 8 20,5 25 64,1 39 100 17 43,6 14 35,9

tegak

3. Bacaan di 39 100 39 100 39 100 0 0 0 0

depan

4. Membaca 13 33,3 9 23,1 2 5,13 11 10,2 7 17,97

dengan

vokalisasi

5. Membaca 26 66,7 29 74,4 37 94,9 3 7,7 8 20,5

dengn

subvokalisasi

6. Membaca 15 38,5 9 23,1 3 7,69 6 15,4 6 15,41

dengan

gerakan bibir

7. Membaca 39 100 18 46,2 2 5,13 21 53,8 16 41,07

dengan
gerakan

kepala

8. Membaca 11 28,2 0 0 0 0 11 28,2 0 0

dengan

menunjuk

baris dengan

jari/pena

9. Membaca 32 82,1 19 48,7 0 0 13 33,4 19 48,7

dengan

konsentrasi

yang tidak

sempurna

10. Menyangga 6 15,4 2 5,13 0 0 4 10,27 2 5,13

kepala