P. 1
Hariman Dan Malari

Hariman Dan Malari

|Views: 2,619|Likes:
Dipublikasikan oleh larashati11

More info:

Published by: larashati11 on Jan 27, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2013

pdf

text

original

“Dia Tidak Punya Agenda Apa-Apa”

Saya kenal Hariman Siregar sekitar tahun 1987, sejak

saya mulai terlibat dalam gerakan mahasiswa dengan kawan­
kawan di Universitas Nasional, seperti Amir Husin Daulay.
Karena, hampir semua aktivis mahasiswa saat itu dan saya
kira sampai sekarang juga bersentuhan dengan Hariman.
Walaupun jauh sebelum berkenalan langsung de­
ngan dia, kami sebenarnya sudah banyak tahu dan kagum
dengan Hariman, lewat buku­buku yang kami baca tentang Malari. Kami tahu begitu
banyak godaan dari Soeharto terhadap dia, tapi Hariman memilih untuk tetap tidak
berada dalam barisan Soeharto. Dia memilih tetap di jalur gerakan mahasiswa. Ketika
itu lembaga swadaya masyarakat belum begitu banyak dan besar gaungnya seperti
sekarang, kecuali LBH dan Wahana Lingkungan Hidup, Walhi.
Dari perkenalan itu, setiap menyelenggarakan diskusi, kami selalu meng­
undang Hariman. Kami juga sering nongkrong dan diskusi dengan dia di klinik
miliknya, Klinik Baruna, di Cikini. Kami sering datang ke sana, terutama di sore hari,
karena memang dia ada di sana biasanya ketika sudah sore.
Kami ke Baruna utamanya setiap mau aksi unjuk rasa atau setelah aksi. Dia

juga membantu dari sisi fnansial aksi-aksi yang kami gelar. Ada peserta aksi yang

ditangkap, kami juga melapor ke dia. Kalau ada yang terluka dalam aksi juga kami
selalu bawa ke Klinik Baruna. Walaupun dengan sambil bercanda­canda, kami
sering menggoda dia dengan mengatakan kalau kami sangsi dengan keilmuannya di
bidang kedokteran. Kami sering candai dia, kalau berobat ke Baruna, kami khawatir

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 350

3/26/10 7:26:38 PM

~ ~

bukannya sembuh tapi jangan­jangan malah mati. Kalau sudah dicandai seperti itu,
dia suka marah­marah.

Selain membantu pendanaan demo­demo mahasiswa, banyak juga mahasiswa
yang indekos atau kuliahnya dibantu oleh Hariman. Saya termasuk orang yang cukup
sering dibantu oleh dia. Bantuan yang paling saya ingat ketika pada tahun 1991 saya
mau membuat izin pengacara, SKPT, yang biayanya sebesar Rp1,5 juta. Hariman
membantu Rp500 ribu. Sisanya ditutupi dari bantuan Mulyana W. Kusumah dan
Hendardi, masing­masing Rp500 ribu.
Kenapa dia mau membantu pembuatan SKPT ini? Hariman bilang, ‘Biar
lu nanti bisa membantu teman­teman mahasiswa.’ Ketika saya menikah pada tahun

1997, Hariman juga termasuk orang yang membantu dari sisi fnansial. Selain itu,
bantuan juga saya peroleh dari Taufq Kiemas, Adnan Buyung Nasution, Mulyana,

Hendardi, dan lain­lain.

Dengan sosok Hariman seperti itu, siapa orang yang tidak terkagum­kagum
dengan dia? Kalau saat itu dia mau kaya­raya, dia pasti bisa, walaupun saat itu Hariman
sudah tergolong kelas menengah. Maklum, ketika itu, siapa yang tidak bisa dikooptasi
oleh Soeharto? Hariman termasuk salah satu yang tidak bisa dikooptasi Soeharto
selain beberapa aktivis lainnya, seperti Marsillam Simandjuntak dan Sjahrir.
Selain itu, aktivis mahasiswa pada tahun 1980­an juga kagum terhadap Hariman
karena keberaniannya. Dia orang yang tidak pernah takut. Dia banyak mendapat
tekanan dan teror dari Soeharto karena dekat dengan mahasiswa, tapi Hariman tidak
pernah takut dengan tekanan dan teror. Satu hal yang tidak berubah dari Hariman
yang saya kenal dulu sampai sekarang, Hariman adalah orang yang bisa makan di
restoran hotel bintang lima tapi juga bisa makan di warung­warung kaki lima.
Meski Hariman dikenal dekat dengan tokoh­tokoh Partai Sosialis Indonesia,
dia tidak pernah memaksa kami untuk ikut PSI. Ketika saya bergabung dengan PDI
Perjuangan dan menjadi calon anggota legislatif, dia juga ikut mendukung. Hariman
sebagai senior, sebagai abang, cukup banyak bantuan yang dia berikan kepada saya.
Kalau saya diminta untuk mengkritik Hariman, beberapa hal yang menurut
hemat saya menjadi kelemahan Hariman adalah sifat temperamentalnya; tidak
memiliki target; karena tidak memiliki target, dia tidak punya agenda apa­apa, padahal
orang seperti dia harus punya agenda; terakhir, orang­orang di sekitar dia dari dulu
sejak saya dan kawan­kawan sering datang ke tempat dia tetap itu­itu saja. Tidak ada
yang berusaha untuk ‘meng­create’ Hariman agar menjadi ‘sesuatu’.
Mungkin hal itu sudah telat sekarang ini. Saya kira, seharusnya lima atau
sepuluh tahun lalu dia sudah bermain di lembaga eksekutif, apakah jadi menteri atau
yang lain. Dia selalu ingin menjadi seperti posisinya sekarang ini terus­menerus
selamanya. Padahal, orang seperti dia sayang kalau berperan seperti saat ini terus­
menerus. Dia berada di pinggiran tidak, di tengah pun tidak. Akhirnya dia menjadi
orang yang serba­tanggung.”
e

Mereka Bicara Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 351

3/26/10 7:26:38 PM

~ ~

Hariman & Malari

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->