P. 1
2-POTENSIOMETRI

2-POTENSIOMETRI

|Views: 1,090|Likes:
Dipublikasikan oleh Rhalvin Septian Putra

More info:

Published by: Rhalvin Septian Putra on Mar 03, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/25/2013

pdf

text

original

OLEH: Dr.ATIKAH, MSi,Apt LAB.

KIMIA ANALITIK JURUSAN KIMIA FMIPA –UB 2010

3/5/2010

2-potensiometri

1

Pengukuran potensiometri telah digunakan untuk :  menentukan letak titik akhir titrasi (reaksi asam-basa & redoks)
 Menentukan

konsentrasi ion-ion dalam larutan secara langsung melalui pengukuran potensial elektroda selektif ion (ESI)

3/5/2010

2-potensiometri

2

Adalah Pengukuran Potensial Listrik Dalam Sel Elektrokimia pada arus = nol Sel elektrokimia dapat dinyatakan sebagai 2 konduktor atau elektroda Elektoda : Alat Yang Dpt Mendeteksi Pergerakan & Pemisahan Muatan Pada Fasa Antarmuka Elektroda-larutan Yang Diinduksi (Didorong) Oleh Pengaliran Arus Listrik

3/5/2010

2-potensiometri

3

Metoda Potensiometri

Metoda Analisis kimia berdasarkan pengukuran potensial sel elektrokimia pada kondisi tidak ada arus listrik (i ≅ 0)

3/5/2010

2-potensiometri

4

Componen Dasar Pengukuran a) Elektroda pembanding: Memberikan harga standar pada pengukuran potensial b) Elektroda Indikator: memberikan harga potensial larutan ion yang diukur konsentrasinya c) Alat pengukur potensial (potensiometer) 3/5/2010 2-potensiometri 5 .

Eref SENSOR KIMIA Elektroda Selektif Ion (ESI) 3/5/2010 2-potensiometri 6 .SEL ELEKTROKIMIA   ES L E = Eesi .

3/5/2010 2-potensiometri 7 .

a b) Transduksi. Akibatnya timbul parameter fisikokimia bervariasi dengan konsentrasi analit. As a consequence.SENSOR KIMIA TERDIRI 2 BAGIAN: a) Reaksi Pengenal antara analit secara interaksi selektif/ spesifik antara analit dengan reseptor bagaian bhan akatif membran sensor . pengubahan parameter 3/5/2010 2-potensiometri 8 .

 Berharga konstan  Inert (tidak sensitif) terhadap komposisi larutan yang diukur 3/5/2010 2-potensiometri 9 . Adalah sel paro elektrokimia dimana potensialnya :  Telah diketahui.

SYARAT ELEKTRODA PEMBANDING       Reversibel & mengikuti persamaan Nernst Potensialnya berharga tertentu & konstan dengan waktu Harus kembali ke harga potensial semulanya setelah terjadi pengaliran arus listrik Sedikit berpengaruh (dapat diabaikan) terhadap pengaruh temperatur Bersifat sebagai elektroda tidak terpolarisasi ideal Tidak sensitif terhadap komposisi larutan 3/5/2010 2-potensiometri 10 .

Eo Hg2Cl2/Hg  Harga Eo tgt : konsentrasi KCl.1. Hg2Cl2 & suhu 3/5/2010 2-potensiometri 11 . ELEKTRODA KALOMEL : PALING UMUM DIGUNAKAN SEBAGAI EL. KONTAK DENGAN MERKURIUM (I) KLORIDA DAN LARUTAN KCl  REAKSI SETENGAH SELNYA : Hg2Cl2 + 2e 2 Hg(I) + 2 Cl.PEMBANDING  TERDIRI DARI PASTA MERKURIUM.

KCl (xM)|| ½ reaksi sel: Hg2Cl2 (s) + 2e2Hg(l) + 2Cl- Note: respon tergantung pada [Cl-] 3/5/2010 2-potensiometri 12 .Elektroda Kalomel Jenuh (EKJ) (Hg kontak Hg2Cl2 & KCl) dengan Elektroda Kalomel Jenuh (EKJ) merupakan elektroda yang sangat luas pemakaiannya ½ sel: Hg/Hg2Cl2 (pdtn ).

3/5/2010 2-potensiometri 13 .

1 M EoHg2Cl2/Hg Vs ENH + 0.TABEL POTENSIAL ELEKTRODA KALOMEL (Volt) TERHADAP ELEKTRODA HIDROGEN STANDAR PADA SUHU 25Oc Hg2Cl2 Jenuh Jenuh Jenuh KCl Jenuh 1M 0.2801 + 0.3337 3/5/2010 2-potensiometri 14 .2412 + 0.

Eo AgCl/Ag Pada 25oC .2221 V Potensial tergantung pada [Cl-] 2-potensiometri 15 3/5/2010 .= 1 M  Eo = 0.2. aCl. ELEKTRODA PERAK-PERAK KLORIDA (Ag/AgCl)     DIGUNAKAN SECARA LUAS TERDIRI DARI SEHELAI KAWAT PERAK (Ag) DILAPISI LAPISAN AgCL YANG MELEKAT SECARA ANODISASI Ag DALAM LARUTAN KCL YANG DIJENUHI AgCl POTENSIAL YANG TIMBUL KARENA REAKSI TRANSFER ELEKTRON LOGAM-ION LOGAM REAKSI SETENGAH SELNYA : AgCl +e Ag + Cl.

  Reaksi sel paro : // AgCl.1-3 M)/Ag AgCl 3/5/2010 2-potensiometri 16 .KCl (0.

Keuntungan & Kerugian Ag/AgCl Keuntungan:  Elektroda Ag/AgCl dapat digunakan pada temperatur > 60oC Kerugian Ag/AgCl:  Ag dapat bereaksi dengan banyak ion-ion 3/5/2010 2-potensiometri 17 .

yang menyebabkan kesalahan pengukuran 3/5/2010 2-potensiometri 18 .Perhatian khusus dalam penggunaan Elektroda pembanding    Perlu menjaga konsentrasi larutan pembanding diatas konsentrasi larutan analit Perlu mencegah pengaliran larutan analit ke dalam elektroda pembanding Karena dapat menimbulkan potensial junction pada elektroda .

314 J derajat-1 mol-1 F = tetapan Faraday = 96489 coulomb ekivalen aM= keaktifan logam = 1 -1 3/5/2010 2-potensiometri 19 .HARGA POTENSIAL SUATU SETENGAH SEL DITENTUKAN OLEH KONSENTRASI LARUTAN ELEKTROLITNYA    Mn+ + ne M EMn+ /M Bila keaktifan Mn+ = aMn+ maka potensial setengah sel menurut Nernst : E Mn+ /M = Eo Mn+ /M nF + 2.3RT log aMn+ Dengan R = tetapan gas ideal = 8.

  Adalah sel paro elektrokimia yang respon potensialnya tergantung pada konsentrasi larutan ion yang diukur Disebut juga sebagai elektroda kerja (WORKING Electrodes) 3/5/2010 2-potensiometri 20 .

  Adalah sel paro elektrokimia yang respon potensialnya tergantung pada konsentrasi larutan ion yang diukur Disebut juga sebagai elektroda kerja 3/5/2010 2-potensiometri 21 .

1.) Elektroda yang mendeteksi/merespon terhadap keberadaan analit Ada 3 Macam : a) Elektroda indikator logam b) Elektroda Indikator bermembran c) Elektroda selektif terhadap molekul 3/5/2010 2-potensiometri 22 .

Pendeteksian katoda diturunkan dari logam yang digunakan dalam elektroda iii.2) Elektroda Indikator Logam Ada 4 Macam: a) Elektroda logam Tipe I i. Contoh: Elektroda Cu untuk mendeteksi ion Cu2+ dalam larutan  3/5/2010 2-potensiometri 23 . Melibatkan reaksi tunggal ii.

reaksi ½sel : Cu2+ + 2e.0592/2) pCu 3/5/2010 2-potensiometri 24 .0592/2) log aCu(s)/aCu2+ Karena aCu(s) = 1: Eind = EoCu – (0.0592/2) log 1/aCu2+ Atau menggunakan pCu = -log aCu2+ : Eind = EoCu – (0.↔ Cu (s) • Eind digunakan untuk mengukur konsentrasi ion Cu2+ Eind = EoCu – (0.

Ni) tidak menghasilkan hasil reprodusibel pX versus aktivitas berbeda secara bermakna dan tidak sesuai dengan teori 3/5/2010 2-potensiometri 25 . Cr.Problem:      Sangat tidak selektif Beberapa hanya dapat digunakan pada pH netral. Co. karena logam dapat larut pada larutan asam Beberapa logam segera teroksidasi Beberapa logam keras (Fe.

b) Elektroda logam Tipe II   Untuk mendeteksi anionyang diturunkan dari interaksi anion dengan ion logam (Mn+) dari elektroda Anion membentuk endapan atau kompleks stabil dengan ion logam (Mn+) 3/5/2010 2-potensiometri 26 .

222 V: Eind = 0.0592/1)log aAg(s) aCl-/aAgCl(s) karena aAg(s) dan aAgCl(s)=1 & Eo = 0.222 – (0.0592/1) log aCl-       3/5/2010 2-potensiometri 27 .222 V Eind digunakan untuk mengukur secara langsung anion Cl-: Eind = Eo –(0.Example: Penentuan anion Clmenggunakan elektroda Ag  Reaksi ½ sel: AgCl(s) + eAg(s) + ClEO = 0.

Contoh Lain: Penentuan ion EDTA (Y4- ) dengan elektroda Hg
  

Reaksi ½ sel: HgY2- + 2e- Hg(l) + Y4- Eo = 0.21 V Eind responds to aY4- : Eind =Eo(0.0592/2)logaHg(l)aY4/aHgY2since aHg(l) = 1 and Eo = 0.21 V Eind = 0.21–(0.0592/1) log aY4- /aHgY2-

3/5/2010

2-potensiometri

28

c) Elektroda logam Tipe III

Elektroda logam yang merespon terhadap kation-kation yang berbeda Menghubungkan ke kation dengan reaksi intermediat Memungkinkan penentuan EDTA menggunakan elektroda Hg (Tipe II) Dapat digunakan untuk penentuan kation lain yang dapat bereaksi dengan EDTA  menghasilkan aY4Contoh : penentuan Ca yang membentuk kompleks dengan EDTA

  


3/5/2010

2-potensiometri

29

Reaksi kesetimbangan :

CaY2-

Ca2+ + Y4aca 2+ . aY4aCaY
2 -

Where: Kf =

dan

ay4- =

aCaY

2 -

Kf . aca 2+

Eind= 0.21 –(0.0592/1)log aY4/aHgY2Note: aY4- dan Eind juga berubah dengan aCa 2+

3/5/2010

2-potensiometri

30

d) Elektroda logam untuk Redoks
   

Elektroda yang terbuat dari logam –logam inert (Pt, Au, Pd) Digunakan untuk mendeteksi reaksi oksidasi/reduksi dalam larutan Elektroda yang bekerja sebagai sumber / penghantar elektron eExample: penentuan Ce3+menggunakan elektroda Pt Reaksi ½ sel: Ce4+ + eRespon Eind terhadap Ce4+: Ce3+

  

Eind = Eo – (0.0592/1) log aCe3+/aCe4+
2-potensiometri 31

3/5/2010

Problems:   Proses transfer elektron pada elektroda inert seringkali tidak reversibel Respon tidak dapat diprediksi sesuai dengan reaksi ½ sel dalam tabel 3/5/2010 2-potensiometri 32 .

059 log aFe 3+ a Fe 2+  kegunaan dalam praktek : penentuan titik akhir titrasi redoks  3/5/2010 2-potensiometri 33 .Potensial yg timbul : E = Eo Fe 3+ /Fe 2+ -0.

3.ELEKTRODA BERMEMBRAN KACA .ELEKTRODA BERMEMBRAN CAIRAN . ELEKTRODA BERMEMBRAN :  ELEKTRODA DAPAT DIBAGI EMPAT YAITU : .ELEKTRODA BERMEMBRAN PADAT .ELEKTRODA PENUNJUK GAS 3/5/2010 2-potensiometri 34 .

polymers. garam-garam anorganik dengan kelarutan rendah (AgX) dapat digunakan Menghantarkan arus listrik Berikatan secara selektif dengan ion analit 3/5/2010 2-potensiometri 35 .Umumnya:        Elektroda untuk penentuan kation atau anion secara adsorpsi selektif ion-ion analit pada permukaan membran Seringkali disebut sebagai elektroda selektif ion (ESI) atau elektroda pION Sifat ESI : minimal solubility – membran tidak larut dalam larutan selama pengukuran solution during – silica.

b) pH Electrode   Contoh yang paling umum dari elektroda pH ini adalah ESI bermembran kaca yang selektif terhadap ion H+ Tipikal sistem elektroda pH tersusun:  Terdiri dari 2 elektroda standar . elektroda EKJ pada bagian luar membran kaca dan satu elektroda standar Ag/AgCl pada bagian sisis dalam membran  Elemen yang mensensor pH adalah kaca yang diletakkan pada ujung elektroda Ag/AgCl 3/5/2010 2-potensiometri 36 .

3/5/2010 2-potensiometri 37 .

Pengukuran menggunakan ESI pH 3/5/2010 2-potensiometri 38 .

Struktur membran kaca -SiO-Na+ + H+ -SiO-H+ + Na+ 3/5/2010 2-potensiometri 39 .

timbul potensial lokal kecil karena membran secara selektif mengadsorpsi ion H+ pada permukaan membran kaca . dan timbul beda potensial antarmuka membran kaca-larutan : (Eb) = E1 -E2 3/5/2010 2-potensiometri 40 .pH ditentukan melalui pembentukan potensial antarmuka yang menembus membran kaca Pada masing-masing antarmuka membran –larutan .

592pH Konstanta -log aH+ (pada bagian permukaan luar membran kaca atau dalam larutan analit) 3/5/2010 2-potensiometri 41 .Besarnya potensial Eb menurut Persamaan Nernst: Eb = c – 0.

Elektroda standar sebelah kiri . Timbulnya beda potensial karena: Membran kaca ∆E -SiO-H+ air -SiO. cara penulisan sel elektrokimia : .Hg2Cl2 KCl jenuh larutan sampel HCl 0.Elektroda indikator sebelah kanan .1 M l –SiO-Na+ AgCl. Ag 3/5/2010 2-potensiometri 42 .Garis vertikal tunggal menyatakan antarmuka padat/larutan .Garis vertikal ganda menyatakan penghubung diantara 2 fasa cair Hg.+ H+ H+ antarmuka  Menurut perjanjian .

Kesalahan dalam Pengukuran pH   Kesalahan alkali (Alkali Error) Kesalahan asam (Acidi Error) 3/5/2010 2-potensiometri 43 .

terikat lemah pada permukaan membran kaca. K+.Alkali Error      H+ bukan satu-satunya kation yang dapat terikat pada permukaan membran kaca H+ pada umumnya terikat paling kuat. dsb. Sementara kation lain seperti Na+. Ikatannya sangat berarti bila [H+] atau aH+ rendah (pH tinggi) Pada umumnya terjadi pada pH ≅ 11-12 3/5/2010 2-potensiometri 44 .

ikatan membran kaca dengan Na+ atau K+ sangat berarti.sehingga dapat meningkatkan jumlah H+ yang terikat secara nyata ke permukaan membran 3/5/2010 2-potensiometri 45 .Alkali Error Pada pH tinggi (aH+ rendah).

menyebabkan pembacaan pH terlalu tinggi. Pada umumnya terjadi pada pH ≅ 0.5 3/5/2010 2-potensiometri 46 . secara pasti penyebabnya tidak diketahui .Acid Error Kesalahan pada pH rendah (Acid error).

NH4+ 3/5/2010 2-potensiometri 47 .c) Elektroda Kaca untuk kation-kation lainnya  Dengan mengubah komposisi membran kaca .ditambah dengan Al2O3 atau B2O3 dalam kaca  Meningkatkan selektivitas kaca terhadap ion-ion selain H+  Dihasilkan ESI untuk penentuan Na+. Li+.

3 RT log ai nF E (mV) pH 3/5/2010 2-potensiometri 48 .PENGUKURAN POTENSIAL SEL PENGUKURAN POTENSIAL SEL SUATU ELEKTROKIMIA SECARA LANGSUNG SUATU ELEKTROKIMIA SECARA LANGSUNG 1. MENGGUNAKAN KURVA BAKU .dengan mengalurkan harga E = f ( ± log ai ) .menggunakan persamaan Nernst : E = Eo ± 2.

Pengukuran potensial larutan  Pada umumnya larutan yg diukur dijaga agar kekuatan ionnya tetap(koef.keaktifan masing-masing ion tetap  Digunakan sistem penyangga kekuatan ion (bufer kakuatan ion) = TISAB ( Total Ionic Strength Adjustment Buffer ) 3/5/2010 2-potensiometri 49 .

CARA PENAMBAHAN STANDAR   UNTUK MENGATASI PENGARUH MATRIKS PRINSIP PENGUKURAN : .mula-mula diukur potensial Vu mL larutan cuplikan dg konsentrasi Cu misal Eu . Cs potensial E1 3/5/2010 2-potensiometri 50 .2.Ke dalam Vu mL larutan cuplikan ditambahkan Vs mL larutan baku dg konsentrasi tepat.

Contoh kurva penambahan standar Antilog (E/S) Ei pada Cs Eu (mL) Ci Cu s Penambahan volume V 3/5/2010 2-potensiometri 51 .

Vs V n + Vs 3/5/2010 2-potensiometri 52 .Vn + Cs.Vs Vn + Vs maka E1 = Eo + S log Cn.3 RT/nF E1 = Eo + S + log C1 karena C1 = Cn. Volume larutan baku Vs yang ditambahkan jumlahnya relatif kecil tdk memberikan efek pengenceran   Konsentrasi larutan baku harus ckp pekat (»10 X konsentrasi cuplikan Contoh perhitungan konsentrasi kation Cu : En = Eo + S log Cu dengan S = lereng = 2.Vn + Cs.

Vu + 10 ∆E1/S . Vs – Vu ) Bila Vs < < Vu maka persamaan dapat disederhanakan menjadi : Cu = Cs Vs Vu ( 10-1) 3/5/2010 2-potensiometri 53 .Vu + Cs.Cs = 10 ( V u + V s) C u ∆E1/S Sehingga : Cu = Cs Vs ( 10 ∆E1/S .Selisih potensial kedua pengukuran : ∆ E1 = E1 – En = S log Cu.Vu + Vs. Vs ( Vu+ Vs ) Cu Atau : Cu.

1. Mengukur Ph dengan elektroda kaca V pH meter ELEKTRODA KACA UTK pH EKJ Insulator lilin Kawat Ag Larutan yg diukur pH nya Kawat Ag Membran kaca Pengaduk magnet 3/5/2010 2-potensiometri Dinding kaca 0.1M HCl jenuh dgn AgCl Membran kaca yg tipis 54 .

pengendapan & pembentukan kompleks Elektroda penunjuk (indikator) digunakan sbg penunjuk potensial elektroda dlm larutan selama berlangsungnya titeasi PRINSIP PENGUKURAN : pH/ mV meter buret  elektroda Pembanding Elektroda bermembran larutan analit 3/5/2010 2-potensiometri Pengaduk magnet 55 .asam-basa.Titrasi potensiometri   Sebagai penunjuk titik akhir titrasi redoks.

Kb BASA TITIK AKHIR TITRASI REDOKS TITIK AKHIR TITRASI PENGENDAPAN TITIK AKHR TITRASI KOMPLEKS MENGHITUNG KSP . KKOMLEKS P 3/5/2010 2-potensiometri 56 .TITRASI POTENSIOMETRI       TITIK AKHIR TITRASI ASAM-BASA MENGHITUNG Ka ASAM .

7. 4.90.90.90 .Contoh : titrasi asam kuat 50 mL HCl 0. 5. 7.10 . 10.10.01M dengan larutan baku NaOH 0. 3.80 .2.11.40 .70 . 9. 10.85 . 3.01 M menggunakan elektroda indikator pH bermembran kaca & pembanding kalomel jenuh Diperoleh data sebagai berikut : pH (bufer) E ( mV) -100 pH (bufer) E (mV) 1.75 295 190 175 130 70 10 -55 8.90 .70 -160 -220 -255 -275 -390 Pengolahan secara regresi diperoleh persamaan Nernst : 3/5/2010 2-potensiometri 57 .00 .

2 pH ) mV Secara teoritis harga faktor Nernst (25 oC) adalah 59.5 – 59.0 mV.5 + 59. maka elektroda kaca yang digunakan sangat ideal bagi penetapan kuantitatif ion H+ (pH) suatu larutan CONTOH : DATA TEORITIS TITRASI POTENSIOMETRI ASAM-BASA MENGGUNAKAN ELEKTRODA BERMEMBRAN KACA UNTUK MENENTUKAN TITIK EKIVALEN TITRASI 3/5/2010 2-potensiometri 58 .2 log aH+ ) mV atau E = (359.E = (359.

9 81.PENENTUAN TTK EKIV.95 3. TITRASI ASAM-BASA TURUNAN I VOLUME NaOH (mL) 0 1 5 10 30 40 42 44 46 48 49 49.0 59 50.15 18.70 5.00 1184.00 7.08 1.00 2.30 3.5 49.3 170.9 178.09 2.07 3.60 78.0 .1 240.7 104.2 43.5 9.30 4.8 230.38 3.02 2.6 184.9 3/5/2010 pH (Teoritis) 2.65 9.40 35.4 205.0 235.69 4.18 2.1 99.3 1006.1 122.19 3.25 17.10 1.80 5.70 178.06 3.4 141.7 159.00 4.9 2-potensiometri 1.24 2.00 3.5 54.60 2.8 49.05 1.00 E (mV) ∆ E/∆V ∆ 2 E/ ∆ V2 241.3 63.

70 10.PENENTUAN TITIK EKIVALEN TITRASI ASAM-BASA LANJUTAN VOLUME NaOH (mL) 50.9 -4.3 .4 -279.214.30 1006.00 319.2 60 .2 -25 -7.68 10.272.7 .0 50.9 .50 3.5 51.00 9.0 -864.30 10.96 E (mV) ∆ E/∆V ∆ 2 E/ ∆ V2 54.40 7.9 .60 40.0 52 55 60 3/5/2010 pH (Teoritis) 7.234.8 -289.40 15.3 2-potensiometri 1184.04 10.250.

HASIL PENENTUAN DAPAT DITAMPILKAN DALAM KURVA SEBAGAI BERIKUT : E (mV) pH 3/5/2010 2-potensiometri 61 .

01 M yang ditambahkan 3/5/2010 2-potensiometri 62 .TURUNAN I TITIK EKIVALEN TITRASI .200 - 20 40 60 80 100 mL NaOH 0.E ( mV ) 200 0- METODA TITIK EKIV.

∆ E/∆V 1200 - METODA PENENTUAN TITIK EKIV.TURUNAN II TITIK EKIVALEN TITRASI 800- - 40020 40 60 80 mL NaOH yang ditambahkan 3/5/2010 2-potensiometri 63 .

400.800- 20 ditambahkan 3/5/2010 40 60 80 mL NaOH yg 100 2-potensiometri 64 .∆ 2 E/ ∆ V2 - METODA PENENTUAN TITIK EKIV.III 800400- 0- TITIK EKIV .

TITRASI H3PO4 DENGAN NaOH 3 4     Dalam pelaksanaannya digunakan kombinasi elektroda gelas dengan elektroda pembanding kalomel Yang diukur adalah pH larutan H3PO4 sebagai fungsi volume titran NaOH Hasil pengukuran potensial larutan dibuat kurva antara E sel terhadap volume titran yang ditambahkan Titik ekivalen masing-masing tingkat reaksi hidrolisis asam ditentukan berdasarkan titik tengan perubahan potensial terbesar dari larutan 3/5/2010 2-potensiometri 65 .

2.+ H3PO4 2.10-8 PO43.10-3 HPO42.0 mL H3PO4 0. pKa1 dan pKa2 dan pKa3untuk H3PO4 3/5/2010 2-potensiometri 66 . Ka3 = 4.10 M dengan NaOH 0.+ HPO42H2PO4.8. Ka1 =7.+ H2PO43.+ H2O .10-13  Harga E sel pada setengan titik ekivalen dapat diukur & digunakan untuk menghitung pH larutan.+ H2O .5. OH.OH. Ka2 = 6.Contoh : Titrasi 10.10 Msetiap penambanhan 1 mL  Reaksi kesetimbangan H3PO4 1. OH.+ H2O .

+ H3O+ [H3O+]=√ (Ka1)/[H3PO4] 2.+ H3O+   + = Ka1 = saat titik3O+]/ [H3PO4] : [H PO Ka1= [H3O ] ] [H2PO4-][H ekivalen I Pada [H3PO4 2 4 ] pH titik ekiv I = pKa1 = 2.12 3/5/2010 2-potensiometri 67 . pH pada titik ekivalen pertama  H3PO4 + H2O H2PO4.1. pH larutan H3PO4 sebelum titrasi :  H3PO4 + H2O [H3O+] = [H2PO4-] H2PO4.

+ H3O+  Ka2 = [HPO42.]    Pada saat titik ekivalen II : [HPO42.] Ka2 = [H3O+] pH =pKa2 = 7.] = H2PO4.Pada titik akhir II:  H2PO4 + H2O HPO42.21 3/5/2010 2-potensiometri 68 .] [H3O+] [H2PO4.3.

32   3/5/2010 2-potensiometri 69 .] [H3O+] [HPO42. Pada titik ekivalen III :  H2O + HPO42 PO43.4.] Saat penetralan : [PO43.+ H3O+  Ka3 = [PO43.] Ka3 = [H3O+] pH = pKa3 = 12.] = [HPO2.

KURVA TITRASI pH atau EMF (mV) E = NaOH D = Na3PO4 C= Na2HPO4 B = NaH2PO4 A = H3PO4 Volume NaOH ( mL)yang ditambahkan 3/5/2010 2-potensiometri 70 .

059 log [Fe2+]/[Fe 3+ ] – 0.Contoh : titrasi reaksi redoks besi (II) denga serium (IV) menggunakan elektroda indikator Pt dan pembanding EKJ Reaksi redoks yang terjadi : Fe 2+ + Ce 4+ Fe 3+ + Ce 2+ 3+ Sepanjang titrasi sistem redoks Fe 4+ -Fe 3+ dan Ce 3+ .Ce memiliki potensial yang sama yakni : E = Eo E = Eo 3/5/2010 Fe – 0.059 log [Ce 3+ Ce ]/[Ce 4+ ] 71 2-potensiometri .

dimana tdk lebih dari 0.Ce 4+ = 1.1 M.68 – 0.Misal : 5 m mol garam besi (II) dilarutkan dlm 100 mL asam sulfat & dititrasi dengan serium (IV)sulfat 0. dimana Fe2+ : Fe 3+ = 1000 : 1 sehingga : E = 0.059 log 1000 = 0.0/110 + x mmol/L sedangkan Fe 3+ yang terbentuk = Ce 1. Pada penambahan 10 mL Ce (IV) terjadi reaksi redoks : Fe 2+ + Ce 4+ Fe 3+ + Ce 3+ Maka Fe 2+ yang bereaksi = 4. Pada saat awal titrasi : potensial ditentukan oleh angka banding Fe2+ .0/110 + x mmol/L 3 + yang terbentuk adalah = 3/5/2010 2-potensiometri 72 .44 V 1.50 V 2.Fe 3+ .68 V dan Eo Ce 3+ . hitung potensial elektroda pada berbagai selang titrasi.1 % Fe dlm bentuk Fe3+ Diketahui : Eo Fe2+ .Fe 3+ = 0.

12 E = 1.Ce 4+ yang bereaksi adalah x mmol/L Potensial elektroda = E = 0.06 V 3/5/2010 2-potensiometri 73 .059 log [Fe ++ ] [Ce 3+ ] [ Fe 3+ ] [ Ce 4+ ] Karena Fe 2+ = Ce 4+ dan Fe 3+ = Ce 3+ maka : 2E = 2.059 log 4.68.0/110 3. Pada saat kesetaraan ( penambahan 50 mL Ce (IV) yaitu : Fe 2+ = Ce 4+ = x mmol/L dan Fe 3+ = Ce 3+ = (5.0/150 – x )mmol/L Hasil penjumlahan kedua persamaan setengah sel : 2E = 2.0.0/110 = 0.64 V 1.12 – 0.

JIKA JUMLAH ELEKTRON YANG DILEPAS OLEH PEREDUKSI = JUMLAH ELEKTRON YANG DIPAKAI OLEH PENGOKSIDASI MAKA : EEK = (Eo1 +Eo2 )/2 3.0/160 = 1.059 log 5.0.44 . maka konsentrasi masing-masing ion adalah : [Fe 2+ ] = x mmol/L [ Fe 3+ ] = [ Ce 3+ ] =( 5.44 .0/160 –x ) mmol/L [ Ce 4+ ] = ( 1.059 log [Ce 3+ ] = 1.40 V [Ce 4+ ] 1.Ce 3+ : E = 1. Pada saat penambahan 60 mL Ce(IV).0/160 + x) mmol/L Potensial elektroda diperoleh dari sistem Ce 4+ .0/160 Data titrasi redoks disajikan dalam tabel berikut ini : 3/5/2010 2-potensiometri 74 .0.

69 0.0 45.34 1.05 0.0 55.0 40.005 Mmol kelebihan Ce 4+ % Fe 2+ yang teroksidasi 0 2 40 60 80 90 99 99.9 100 E.95 50.50 49.67 0.50 1.VOLUME Ce (mL) 0.50 0.72 0.38 1.0 30.32 1.0 60.0 49.40 75 .0 10.005 0.05 50.06 50.0 4 + Mmol Fe 2+ yang tidak teroksidasi 5.0 1.80 0.05 0.0 4.74 0.50 51. V 0.0 3/5/2010 0.0 2-potensiometri 1.26 1.0 2.64 0.0 0.10 0.0 3.0 20.86 1.

Gambar kurva titrasi E.V 1.06 0 10 20 30 40 50 60 70 mL penambahan Ce 4+ 80 3/5/2010 2-potensiometri 76 .

EKJ .BEBERAPA CONTOH TITRASI POTENSIOMETRI Jenis titrasi Asam-basa Asam basa Reduksi. 2 + H+ Cl.oksidasi Reduksi . H+ + Ce 4 + .+ Ag+ Pengendapan Pengendapan Kompleksometri SO4 SO4 2 - + Ba + Pb 2 + ESI SO4 ESI SO4 2 + .EKJ Ag – EKJ dg penghubung NH4NO3 + MnO4.asetat + NaOH Fe Fe 2 + Elektroda penunjuk Elektroda kaca -EKJ Elektroda kaca -EKJ Pt ..EKJ Pt .oksidasi Pengendapan Contoh HCl + NaOH As.EKJ 2 - 2 + 2 + M n+ + EDTA Elektroda Hg -EKJ 3/5/2010 2-potensiometri 77 .

059 log [ In] [ In+ ] 3/5/2010 2-potensiometri 78 .INDIKATOR REDOKS TIPE INDIKATOR REDOKS YG DAPAT DIGUNAKAN TITRASI :  Zat yg dpt mengalami reaksi redoks yang dituliskan sbg : In+ + e Warna A  In Warna B Persamaan potensial sistem indikator adalah : E = Eoi – 0.

Bila angka banding [ In ] / [In warna B yang tampak oleh mata  + ] ≥ 10 : 1.12 V  Jadi diperlukan perubahan potensial sekitar 0. maka hanya  Bila angka banding [ In ] / [In + ] ≤ 10 : 1.059 log 10/1 = Eoi – 0.059 – ∆ E = ± 2 x 0. maka hanya warna Ayang tampak oleh mata Artinya : Warna B : E = Eoi – 0.059 = ± 0.059 Warna A : E = Eoi – 0.059 log 1/10 = Eoi + 0.12 V untuk mengubah warna indikator 3/5/2010 2-potensiometri 79 .

53 0.6 di.25 .5 M 1M 1M 1M 80 2 2 2 - 1.76 0.POTENSIAL TRANSISI BEBERAPA INDIKATOR REDOKS INDIKATOR WARNA WARNA PEREDUKSI PENGOKSID tbw tbw tbw tbw tbw tbw merah biru biru lembayung lembayung Merah lembayung POTENSIAL KONDISI TRANSISI.28 0.metilferoin Erioglausin A 5 Metilferoin Feroin Nitroferoin 3/5/2010 Asam 1 M Asam 1 M Asam 1 M H2SO4 H2SO4 2 2 - 1M 1M Asam encer H2SO4 H2SO4 H2SO4 H2SO4 H2SO4 2 2 - 1M 0.11 1.76 0.36 0.85 0. V 0.98 1.97 Kuninghijau Merah-kebiruan 0.02 merah merah Biru pucat Biru pucat 2-potensiometri Fenosafranin Indigo tetrasulfonat Biru metilen Difenilamin Difenilbenzidin Asam difenilamin sulfonat 5.

06 V Merah tua - Perubahan warna baru teramati pada 1.06 V. maka indikator apa yang cocok ? Indikator yang cocok adalah feroin karena : - Potensial standar feroin adalah 1.11 V.Contoh a : Titrasi besi (II) dengan Ce (IV) dalam asam sulfat 1 M menghasilkan E ek = 1.06 V Reaksi redoks indikator adalah : Ph3Fe3+ + e Biru muda Ph3 Fe 2+ Eo = 1. kaqrena diperlukan lebih banyak indikator bentuk teroksidasi (biru muda) dibandingkan bentuk tereduksi (merah tua) 3/5/2010 2-potensiometri 81 .

Contoh b :Besi (II) dititrasi dengan suatu oksidator dalam medium asam sulfat-asam fosfat.059 log [Fe 2+ ]/ [Fe 3+ ] E = 0.61 – 0.85 V 3/5/2010 2-potensiometri 82 .9 % Fe teroksidasi ? Bila Eo Fe 3+ .059 log 1/1000 = 0.79 V Indikator yang digunakan = asam difenilaminasulfonat dengan potensial transisi = 0.61 + 0.18 = 0. Berapa potensial transisi indikator yang berubah warna pd saat 99.61 – 0.Fe 2+ dalam H2SO4 1 F dan H3PO4 0.5 F Adalah 0.61 V maka : E = 0.

3/5/2010 2-potensiometri 83 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->