Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Hukum Islam

Kopertais Wilayah IV Surabaya

MAQASID AL-SYARI’AH
SEBAGAI LANDASAN ETIKA
GLOBAL
Isa Anshori, M. Ag. : Universitas Muhammadiyah Surabaya
Karangrejo Timur II/15 Surabaya. No. HP. 081330714719 e-mail:i_anshori@yahoo.com
Abstrak: This article examines the concept of maqasid al-syari’ah or al-maslahah al-tsanawiyah in the discipline
of ushul al-fiqh. It argues that maqasid al-syari’ah can be used to assess three things in relation to legal opinion;
text, historical fact and the target of law. The relationship between text and context (historical fact) is discerned from
the perspective of maqasid al-syari’ah developed by al-ImamAs-Syatibi, especially in coming to terms with the
so-called “ratio-legis” of the legal texts. The article particularly argues that in modern era, Muslims are required not
only to maintain their religious beliefs and cultural entities but also to contribute to the development of human
civilisation. The so-called Qur’anic ethics guide Muslims to deal with modernity problems so that they can maintain
their transcendental orientation in life.
Keywords : Ijtihad, instibath al-hukm,maqasid al-syari’ah, maslahat, etika global.

PENDAHULUAN hanya merupakan alat bantu untuksampai kepada


Berbicara tentang upaya pembentukan atau hukum-hukum yang dikandung oleh al-Qur’an dan
pengembangan hukum yang dalam istilah ushul fiqh as-sunnah- oleh sebagaian ulama fiqh menyebutnya
disebut dengan ijtihad –dalam arti istinbath al- sebagai metode istinbath.2
hukm. Menurut Abdul Wahab Khalaf ijtihad dapat Dalam memahami pengertian yang terdapat
dikatakan sebagai suatu upaya berfikir secara optimal dalam ayat-ayat al-Qur’an terdapat berbagai macam
dalam mengggali hukum islam dari sumber aslinya (al- cara karena gaya dan bahasa (teks) al-Qur’an
Qur’an dan as-Sunnah) guna memperoleh jawaban- memiliki berbagai macam bentuknya; ada yang
jawaban terhadap permasalahan-permasalahan menggunakan gaya bahasa yang tegas dan tidak
hukum yang muncul dalam masyarakat yang belum tegas, kadang ada yang melalui arti bahasanya dan
ada ketentuan hukumnya.1 ada pula yang melalui maksud hukumnya, disamping
Suatu hal yang harus diingat adalah bahwa itu pula kadang terdapat perbenturan antara satu dalil
masalah utama yang mendorong para ulama’ untuk dengan dalil lainnya yang membutuhkan penyelesaian
merumuskan berbagai teori dan metode ijtihad adalah guna memahami maksud dan makna yang terkandung
suatu kenyataan abadi umat Islam bahwa nash al- dalam teks al-Qur’an sehingga dapat diambil
Qur’an dan al-hadis terbatas secara kuantitatif kesimpulan dan keputusan hukum darinya. Ilm Ushul
sedangkan peradaban manusia (khususnya peristiwa Fiqh menyajikan berbagai cara dari berbagai
hukum) selalu berkembang seiring dengan aspeknya untuk menimba pesan-pesan hukum dan
perkembangan peradaban manusia. Untuk itu, moral yang terdapat dalam al-Qur’an dan al-sunnah.
berbagai teori dan metode ijtihad telah dirumuskan Secara garis besar metode istinbath dapat
oleh para ulama fiqh untuk mengembangkan nilai- dibagi kedalam tiga bagian; pertama, segi
nilai yang terdapat pada nash yang secara tekstual kebahasaan (semantik), kedua,segi tujuan hukum
terbatas ke dalam realitas yang tak terbatas. (maqasid al-syari’ah) dan segi penyelesaian
Sumber utama hukum Islam adalah al-Qur’an beberapa dalil yang seakan-akan bertentangan
dan al-Hadis,dimana dua sumber tersebut juga dalam ketentuan hukumya antara suatu dalil dengan
sering disebut dengan dalil-dalil pokok (ushul al- dalil lainnya (tarjih).3
ahkam) hukum Islam karena kedua sumber hukum Dalam artikel ini hanya akan memfokuskan
itu merupakan petunjuk (dalil) utama kepada pembahasan pada salah satu segi dalam metode
hukum yang telah ditentukan oleh Allah S.W.T. istinbath di atas,yaitu metode kedua atau metode
Dalam ilmu ushul fiqh terdapat dalil-dalil yang ijtihad dengan cara menemukan ratio legis suatu
disepakati dan dalil-dalil yang tidak disepakati-yang hukum(thoriq al-ijtihad al-ta’lili) dimana dalam

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025 14


Isa Anshori, M. Ag. :
Maqasidal Al-Syari’ah Sebagai Landasan Etika Global

metode ini tujuan yang ingin dicapai adalah secara lebih tegas as-Syatibi memberikan
menemukan ketentuan hukum baru di dasarkan definisinya dengan ungkapan,”sesungguhnya
pada maqasid al-syari’ah (tujuan hukum). syari’ah itu bertujuan mewujudkan kemaslahatan
Teori maqasid al-syari’ah sendiri adalah manusia di dunia dan di akhirat.”12
salah satu teori pengambilan hukum (istinbath al- Illal al-Fasi memberikan definisi maqasid as-
ahkam) yang pertama kali dicetuskan oleh al- syari’ah secara lebih ringkas, yaitu tujuan akhir yang
Juwaini, kemudian baru dikembangkan oleh salah ingin dicapai oleh syari’ah dan rahasia-rahasia dibalik
satu muridnya yang jenius yaitu Imam al-Ghozali setiap ketetapan dalam hukum syari’ah.13Dari definisi
dan setelah itu mengalami perkembangan puncaknya tersebut dapat diambil pengertian bahwa maqasid al-
melaui Imam as-Syatibi dalam al-Muwafaqat fi syari’ah adalah tujuan yang ingin dicapai dalam hukum
’ushul al-Ahkam.4karena itu dalam artikel ini fokus Islam yang telah ditentukan olehAllah dan Rasul-Nya,
pembahasan tentang teori maqasid al-Syari’ah untuk dapat mengetahui tujuan hukum tersebut dapat
secara khusus akan membahas teori tersebut yang ditelusuri lewat teks-teks al-Qur’an dan as-sunnah
telah dikembangkan oleh Imam as-Syatibi. sebagai alasan logis bagi rumusan suatu hukum yang
Pembahasan dalam tulisan ini secara berorientasi pada kemaslahatan umat manusia.
berturut-turut akan dibahas tentang pengertian
maqasid al-Syari’ah, tingkatan-tingkatannya dan Tingkatan-tingkatan maqasid al-syari’ah
peranannya dalam mengembangkan hukum Islam menurut Imam As-Syatibi
serta yang tidak kalah penting adalah implementasi Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam dan
dan konsekwensi serta urgensinya dalam menopang sebagai sumber utama dalam pengambilan keputusan
dinamika masyarakat muslim dalam era globalisasi hukum memberikan berbagai aturan yang berkaitan
seperti sekarang ini. dengan seluruh kehidupan umat manusia, akan tetapi
harus disadari bahwa al-quran tidak mengatur
PEMBAHASAN kehidupan umat manusia melalui dalil-dalilnya yang
Pengertian Maqasid al-Syari’ah sangat terperinci, al-Qur’an hanya memberikan
Secara etimologi maqasid al-syari’ah terdiri prinsip-prinsip dasar bagi pengaturan segala urusan
dari dua unsur kata yaitu; maqasid dan syari’ah, manusia dalam kehidupannya di dunia ini.
unsur pertama (maqasid) merupakan bentuk jama’ Oleh karena itu jumlah ayat-ayat al-Qur’an yang
dari kata maqsud yang merupakan kata jadian secara kuantitaf sangat terbatas tersebut (karena hanya
(masdar) Qasada yang berarti bermaksud atau mengatur prinsip-prinsip dasar) saat berhadapan
menuju sesuatu.5dengan demikian maqasid adalah dengan perkembangan peradaban manusia yang terus
tempat atau objek sasaran dari suatu tindakan. Unsur berkembang dan berubah “seakan-akan”
kedua, (syari’ah) berarti kebaisaan atau sunnah.6 menimbulkan kesenjangan antara teks yang tersurat
Pada mulanya kata syari’ah dimaksudkan bagi semua dengan realitas masyarakat yang ada, oleh karena itu
tuntutan Allah kepada umat-Nya yang disampaikan kebutuhan untuk menerjemahkan teks yang ada dalam
melalui Rasulullah.7Kemudian dalam istilah ahli ushul kehidupan real memiliki urgensinya.
fiqh mengalami penyempitan makna,bagi mereka Di dalam ilmu ushul fiqh paling tidak terdapat tiga
syari’ah merupakan bagian tertentu dari ajaran Islam model metode dalam mendekati teks al-Qur’an
secara keseluruhan. Kata syari’ah menurut mereka sebagaimana yang penulis jelaskan dimuka, yaitu
mempunyai kesesuaian dengan salah satu tema pokok pendekatan melalui bahasa (thariq al-ijtihad al-bayani),
al-Qur’an yang secara sederhana diungkapkan dalam kemudian melalui pendekatan kompromistis (thariq al-
tiga hal: aqidah, akhlak dan syari’ah, dalam kaitan ijtihad al-taufiqy) jika dalam dua atau beberapa teks
ini syari’ah dikaitkan dengan “hukum syara’ “ yang al-Qur’an seakan-akan terjadi pertentangan antara lain
berkaitan dengan amal lahiriah mukallaf.8 dengan menggunakan metode; al-jamu, al-naskh atau
Sedangkan secara terminologis terdapat al-tarjikh, sedangkan yang terakhir adalah melalui
beberapa pengertian yang diungkapkan oleh ulama’ metode al-ijtihad al-ta’lily salah satunya adalah dengan
ushul fiqh, as-Syatibi mempergunakan kata yang menggunakan metode maqasid al-syari’ah.14
berbeda-beda dengan sebutan tersebut, misalnya Metode maqasid al-syari’ah
maqasid al-syari’ah, 9 atau al-maqasid al- dikembangkan untuk mencapai tujuan akhir dari
Syar’iyyah fi al-Syari’ah,10 dan maqasid min dilaksanakannya syari’ah yaitu kemaslahatan umat
syar’i al-hukm,11walaupun kata-kata tersebut manusia, bagi Imam as-Syatibi kemaslahatan yang
secara redaksional berbeda-beda namun hendak diwujudkan itu terbagi kepada tiga
mengandung pengertian yang sama yakni berarti tingkatan,yaitu kebutuhan daruriyyah, kebutuhan
tujuan hukum yang diturunkan oleh Allah S.W.T., hajiyyah dan kebutuhan tahsiniyyah.
Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025 15
Jurnal Hukum Islam
Kopertais Wilayah IV Surabaya

Pertama, kebutuhan daruriyyah adalah sarana-sarana yang lainnya pemeliharaan akal melalui
tingkatan kebutuhan yang harus ada atau dapat disebut proses belajar mengajar tidak akan berhenti tetapi akan
sebagai kebutuhan primer. Bila dalam tingkatan mengalami banyak hambatan dan kesulitan-kesulitan.
kebutuhan ini tidak terpenuhi maka akan terancam Ketiga, kebutuhan takhsiniyyah, ialah
kemaslahatan seluruh umat manusia baik di dunia tingkatan kebutuhan yang apabila tidak dipenuhi tidak
maupun di akhirat kelak. Menurut Imam as-Syatibi akan mengancam eksistensi salah satu dari lima hal
ada lima hal yang termasuk dalam kategori ini, yaitu; pokok tadi dan tidak menimbulkan kesulitan. Tingkatan
memelihara agama (hifd al-din), memelihara jiwa (hifd kebutuhan ini berupa kebutuhan pelengkap atau tertier.
al-nafs), memelihara akal (hifd al-aql), memelihara Menurut Imam as-Syatibi pada tingkatan ini yang
keturunan (hifd al-nasl), dan yang terakhir adalah menjadi ukuran adalah hal-hal yang merupakan
memelihara harta benda (hifd al-mal).15 kepatutan menurut adat istiadat, menghindarkan hal-
Untuk menyelamatkan agama, Islam hal yang tidak enak dipandang menurut kepatutan dan
mewajibkan ibadah sekaligus melarang hal-hal yang sesuai dengan tuntutan norma sosial dan akhlak,
merusaknya, untuk menyelamatkan jiwa Islam dimana pilihan pribadi sangat dihormati, jadi pada
mewajibkan misalnya makan, tetapi Islam melarang tingkatan kebutuhan hajjiyyah bersifat relatif dan lokal
memakan makanan yang haram (dilarang oleh sejauh tidak bertentang dengan nash-nash al-Qur’an.
ketentuan agama karena adanya hal-hal yang tidak Sebagai contoh dalam tingkatan kebutuhan
baik bagidiri manusia) bahkan Islammelarang umatnya ini adalah apakah masjid yang dibutuhkan dalam
makan secara berlebihan (al-musrif), untuk rangka mewujudkan kebutuhan daruriyyah yakni
menyelamatkan akal Islammelarang hal-hal yang dapat memelihara agama melalui ibadah shalat, dalam
merusak fungsi akal, misalnya meminum minuman yang bentuk arsitekturnya baik dalam design eksterior atau
memabukkan sehingga menyebabkan menusia lupa interior itu akan diperindah sesuai dengan taraf
akan diri dan lingkungannya (kehilangan kesadaran perkembagan kebudayaan lokal misalnya
diri), untuk menyelamatkan keturunan Islam menggunakan model kubah ala Istanbul, Madinah,
mewajibkan nikah dan untuk menyelamatkan harta Kairo, Jawa, Cina atau bahkan tanpa menggunakan
Islam mensyari’atkan hukum mu’amalah yang baik kubah sama sekali, semua itu diserahkan kepada rasa
dan benar dan upaya-upaya yang merusaknya dilarang estetika dan kemampuan lokal.
seperti mencuri dan lain-lain. Untuk mencapai pemeliharaan lima unsur
Kedua, maqasid al-hajiyyah, ialah pokok diatas secara sempurna, maka ketiga
kebutuhan sekunder, dimana dalam tingkatan ini bila tingkatan maqasid al-syari’ah tersebut tidak dapat
kebutuhan tersebut tidak dapat diwujudkan tidak dipisahkan, kepentingan daruriyyah merupakan
sampai mengancam keselamatannya, namun akan dasar dan landasan bagi kepentingan yang lainnya,
mengalami hambatan dan kesulitan. Oleh karena itu dan kepentingan hajiyyah merupakan penyanggah
kebutuhan hajiyyah dibutuhkan untuk mempermudah dan penyempurna bagi kepentingan daruriyyah
mencapai kepentingan yang bersifat daruriyyah dan sedangan takhsiniyyah merupakan unsur penopang
menyingkirkan faktor-faktor yang mempersulit usaha bagi kepentingan sekunder.16
bagi terwujudnya hal-hal yang bersifat daruriyyah.
Oleh karena fungsinya yang mendukung dan Peranan Maqasid al-Syari’ah dalam
melengkapi tujuan primer, maka kebutuhan hajiyyah pengembangan hukum Islam
itu kehadirannya sangat dibutuhkan (sebagaimana Pengetahuan tentang maqasid al-syari’ah
makna kata hajiyyah itu sendiri). Misalnya untuk sebagaimana yang ditegaskan oleh Abdul Wahab
melaksanakan ibadah shalat sebagai tujuan primer Khalaf adalah hal yang sangat penting, mengerti dan
maka dibutuhkan berbagai fasilitas misalnya masjid, memahami tentang maqaid al-syari’ah dapat
tanpa adanya masjid tujuan untuk memelihara agama dijadikan sebagai alat bantu dalam memahami
(hifd al-din) tidaklah gagal atau rusak secara total redaksi al-Qur’an dan as-sunnah, membantu
tetapi akan mengalami berbagai kesulitan, atau untuk menyelesaikan dalil yang saling bertentangan
menyelamatkan akal (hifd al-aql) manusia sebagai (ta’arud al-adillah) dan yang sangat penting lagi
tujuan primer, Islam mencanangkan kegiatan wajib adalah untuk menetapkan suatu hukum dalam
belajar seumur hidup, dalam hal ini maka untuk sebuah kasus yang ketentuan hukumnya tidak
mendukung kebutuhan daruriyyah tersebut tercantum dalam al-Qur’an dan as-sunnah jika
dibutuhkan berbagai fasilitas pendidikan antara lain menggunakan kajian semantik (kebahasaan).
gedung sekolah dan sarana-sarana yang digunakan Metode istinbath al-hukum dengan
untuk mendukung kegiatan belajar mengajar yang menggunakan qiyas (analogi), istihsan, dan maslahah
lainnya, memang tanpa adanya gedung sekolah dan al-mursalah adalah metode-metode yang dapat
Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025 16
Isa Anshori, M. Ag. :
Maqasidal Al-Syari’ah Sebagai Landasan Etika Global

dipakai dalam pengembangan hukum Islam dengan panjang, berbagai gerakan perlawanan terhadap
mengunakan maqasid al-syari’ah sebagai dasarnya. Barat tidak muncul begitu saja (ahistoris), merujuk
Misalnya metode Qiyas baru bisa dilaksanakan pada sebagian pengalaman sejarah umat Islam mulai
bilamana dapat ditentukan maqasid al-syari’ahnya dari perang salib hingga sampai jatuhnya dinasti Turki
yaitu dengan menemukan ratio legis (illat al-hukm) Usmaniah dan kolonialisme serta imprialisme Barat
dari sebuah permasalahan hukum, sebagai contoh di asia tenggara nampaknya tidak bisa begitu saja
hukum tentang khamar menurut penelitian para ulama’ terlupakan, pengalaman-pengalaman itulah yang
bahwa maqasid al-syari’ah dari diharamkanya kemudian mendasari sebagian kalangan umat Islam
khamar adalah karena sifatnya yang dapat bersifat antipati terhadap segala yang berasal dari
memabukkan sehingga dapat merusak akal manusia, Barat dalam bentuk yang sering disebut oleh Barat
dengan demikian yang menjadi illat al-hukm dari dengan radikalisme atau fundamentalisme Islam.
khamar adalah sifat yang memabukkan dan merusak Munculnya gerakan-gerakan tersebut dalam
akal, sedangkan khamar hanya salah satu contoh dari Islam tidak hanya diilhami oleh rasa kebencian
sekian banyak hal yang memiliki kesamaan sifat terhadap Barat saja, tetapi menurut Karen
dengannya, apalagi dengan berkembangnya ilmu Armstrong,18 gerakan radikal dalam Islam karena
pengetahuan dan teknologi dewasa ini maka sangat umat Islam ingin mengatasi persoalan-persoalan
banyak sekali sifat-sifat dari zat-zat kimiawi yang dalam negeri dan mengatasi ketercerabutan budaya
memiliki kesamaan sifat dan fungsi dengan contoh akibat dominasi Barat sebagaimana dialami oleh
khamar diatas, dari sini pengembangan hukum Islam banyak orang di zaman modern ini. Dimana orang
dapat dilakukan dengan mengunakan metode-metode Islam merasa tercerabut dari akar budayanya : budaya
yang ada. barat telah memasuki semua celah-celah kehidupan
Metode penetapan hukum Islam melalui umat Islam, tidak hanya pada tingkat ideologi bahkan
pendekatan maqasid al-syari’ah dalam penetapan sampai pada perabot rumah tangga mereka telah
hukumnya dengan menggunakan qiyas, istislah mengalami perubahan besar dan menjadi tanda
(maslahah murslah), istishab, syad al-dzari’ah dominasi budaya asing dan hilangnya budaya asli.
dan ’urf oleh kalangan ushuliyyun disebut juga Berpijak dari persoalan-persoalan diatas,
dengan maqasid al-tsanawiyah.17 bagaimanakah semestinya umat Islam harus bertindak,
tidak hanya sebagai umat yang memiliki fungsi
Dari ketentuan hukum normativ legal-formal dasarnya sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia
menuju etika al-Qur’an tetapi juga sebagai umat yang tidak kehilangan
Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali kita landasan dasar atas keyakinan dan budayanya.
jumpai kesenjangan antara idealitas dengan realitas Telah banyak solusi yang telah ditawarkan oleh
atau antara teori dan praktek, oleh karena itu para pemikir dan ilmuan Islam terhadap pesoalan-
ketentuan-ketentuan dan ketetapan-ketetapan persoalan di atas, salah satunya adalah Fazlur Rahman
hukum yang dalam dataran idealitas bersifat baik melalui gerakan Neo-modernismenya, bagi Fazlur
bahkan bernilai sempurna dalam implementasinya Rahman bahwa persoalan umat Islam terutama
sering berbeda dalam kenyataannya. Orientasi disebabkan oleh semakin menjauhnya landasan etis yang
paham ke-Islaman yang berpihak pada maslahah solid, terutama dibidang hukum. Karena itu bagi
al-’ammah (kesejahteraan umum) dan sebagai titik Rahman sudah saatnya umat Islam menafsirkan kembali
puncaknya adalah berfungsi sebagai rahmat lil al- ajaran-ajaranya dalam sinaran teologi, etika dan moral
’alamin (rahmat bagi alam semesta) dalam dataran seperti yang diekspresikan dalam al-Qur’an atau dalam
historis malah sering ditampilkan oleh umat Islam bahasa Fazlur Rahman ditumbuhkannya kembali
sendiri dengan nilai yang sebaliknya. semangat etika al-Qur’an.19
Kritik dan stigma Barat terhadap Islam yang dinilai Etika al-Qur’an dalam gagasan Rahman adalah
memiliki ajaran yang mendorong dan mendukung upaya perumusan kembali tiga matra pemikiran
terorisme di seluruh dunia seakan-akan mendapat Islam,yaitu pertama tentang perumusan pandangan
legitimasinya saat melihat sebagai besar negara-negara dunia (weltanschauung) al-Qur’an, yang berkaitan
yang mengaku sebagai negara Islam atau mayoritas dengan konsepsi kita tentang Tuhan, hubungan Tuhan
penduduknya beragama Islam menampilkan gambaran dengan manusia dan alam semesta serta peranan-Nya
yang persis sama seperti teori-teori yang dibangun oleh dalam sejarah manusia dan masyarakat. Dengan
Barat dalam melihat dan menilai negatif atas Islam. menjernihkan kembali pemahaman tentang hakekat
Sikap konfrontatif yang dimunculkan oleh pentingnya Tuhan bagi eksistensi manusia akan
sebagian kalangan Islam terhadap Barat menghasilkan ajaran-ajaran moral al-Qur’an yang
sesungguhnya memiliki akar sejarah yang sangat pada giliranya menghasilkan etika al-Qur’an, inilah
Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025 17
Jurnal Hukum Islam
Kopertais Wilayah IV Surabaya

langkah kedua yang jika dilanjutkan akan menghasilkan bagian integral dari jagat religius manusia yang bersama-
rumusan sistemdan formula hukum yang selaras dengan sama mewarisi kehidupan dunia ini. 22Jadi manusia
kebutuhan kontemporer umat Islam. berfungsi sebagai khalifah fi al-ard, konsep alam
Permasalahan moral dan etika dalam literatur dalam Islam semacam ini tentu sangat berbeda dengan
keislaman sering dianggap sebagai kajian yang konsep positifisme dan rasionalisme cartesian yang
masuk dalam wilayah privat melalui perkembangan menjadi landasan dunia modern sekarang ini dimana
disiplin keilmuan tersendiri (tasawuf), karena itu manusia menempatkan alamsebagai sesuatu yang harus
perkembangan pemikiran dalam bidang ini ditundukkan,23sehingga yang terjadi alam dieksploitasi
dianggap tidak memiliki relefansinya dengan untuk kepentingan manusia tanpa mengindahkan prinsip
permasalahan-permasalahan publik, apalagi keseimbangan alam semesta, karena itu timbulnya
permaslahan global kemanusiaan. berbagai bencana yang ada di dunia seperti sekarang
Kecenderungan untuk menggunakan pendekatan ini adalah bermula dari cara pandang manusia (etis
hukum dalam menyelesaikan suatu permasalahan aksiologis) terhadap alam.
memang tidaklah salah sepenuhnya, dalam pilar Maka melalui gagasan etika al-Qur’an
masyarakat demokrasi, penegakan hukum (law seperti yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman diatas
inforcement) memang menjadi prasyarat mutlak bagi diharapkan umat Islam dapat mengatasi persoalan-
tumbuhnya masyarakat yang berkeadilan dan persoalan modern yang timbul tanpa harus
demokratis, akan tetapi apabila kita melihat persoalan- tercerabut dari keyakinannya dan akar budayanya,
persoalan yang terjadi dalam masyarakat sekarang tentu saja tawaran metodologi hermeneutika Fazlur
ini baik dalam masyarakat lokal atau global bukanlah Rahman (double movement) dalam mengkaji teks-
disebabkan oleh lemahnya penegakan hukum semata, teks al-Qur’an dan as-sunnah juga harus dibarengi
melainkan kurangnya landasan moralitas dan etika. dengan pemanfaatan pengetahuan yang amat kaya
Persoalan moralitas dan etika sesungguhnya dalam khazanah intelektual Islam (ilmu tafsir, ilmu
menyangkut persoalan filsafat (persoalan tentang nilai), hadis, ushul fiqh, dll) serta filsafat dan ilmu-ilmu
jika ditarik garis tegas antara keduanya maka moral sosial modern.
adalah aturan-aturan hidup yang bersifat normatif yang
ditanamkan dan dilestarikan melalui institusi keluarga, KESIMPULAN DAN SARAN
masyarakat hingga negara sehingga membentuk sikap Kesimpulan
dan pola prilaku hidup kita,20karena itu ia bersifat Perkembangan dunia yang semakin cepat dimotori
taken for granted. Sedangkan etika adalah realitas oleh ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong
moral dalam kehidupan masyarakat yang telah manusia untuk bertindak pragmatis dalam mensikapi
terjernihkan lewat studi kritis. kehidupan, agama Islam memberikan landasan yang
Pendekatan etika seperti saat ini memiliki kokoh bagi fungsi dasar manusia sebagai khalifatullah
maknanya yang signifikan saat institusi hukum tidak lagi fi al-ard melalui landasan ontologis.
dapat diandalkan untuk dapat membentuk dan mengubah Agar umat Islam tidak terjebak pada sikap hidup
prilaku kehidupan manusia, misalnya tentang persoalan kekinian dan kedisinian (hedonistis) maka selayaknya
lingkungan yang ada di sekitar kita sampai pada umat Islam mengembangkan landasan epistemologisnya
persoalan yang lebih mendunia (global warming), untuk mengembangkan prinsip-prinsip dasar yang telah
bagaimana manusia bersikap dan bertindak terhadap ditetapkan oleh al-Qur’an dan as-sunnah, dengan terus
lingkungan yang dihuninya tidak bisa dilepaskan dari menggali dan merevisiserta merevitalisasi khazanah ilmu
pandangannya tentang alam (aspek ontologis) karena pengetahuan yang telah ada, sesungguhnya kajian
dari pandangannya itulah akan membentuk tindakan- epistemologihukum Islam (ushul al-fiqh) awalnya adalah
tindakan dan kebiasaan-kebiasaan yang menjadi nilai dan ditujukan untuk memberikan solusi bagi persoalan-
norma yang dianut manusia. persoalan baru yang tidak terdapat ketentuan hukumnya
Sebagaimana diketahui bahwa al-Qur’an telah dalam ketetapan-ketetapan hukum yang ada (fiqh).
menggariskan pandangan bagi umat manusia tentang Melalui maqasid al-syari’ah maka kita
tatanan alam dan lingkungan, dalam suatu pengertian didorong untuk dapat menggunakan logika dalam
bahwa pesan al-Qur’an yang berasal dari Tuhan tentu mengembangkan hukum dan landasan moral dan
sesuai dengan fitrah makhluk-makhluk-Nya, karena itu etika, karena maqasid al-syari’ah berfungsi
Islam juga disebut sebagai agama fitri (berarti agama sebagai metode analisa terhadap realitas yang tak
yang ada dalam hakekat alamiah)21semangat yang terbatas berdasarkan pada teks yang secara
ditumbuhkan dalam peran manusia menurut al-Qur’an kuantitas terbatas, guna mengembangkan nilai-nilai
tidak diarahkan untuk memandang dunia alam sebagai yang Islami agar tidak terjebak sakralisasi dan
“musuh” yang harus ditundukkan, melainkan sebagai kevakuman moral, sehingga cita-cita penegakan
Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025 18
Isa Anshori, M. Ag. :
Maqasidal Al-Syari’ah Sebagai Landasan Etika Global
16
lima pilar al-maslahah al-mu’tabarah (hifd din, Ibid., p. 10,lihat juga Khalid Masood. (1989).
nafs, ’aql, nasl, dan mal) dapat terwujud. Islamic Legal Philosophy : a study of Abu Ishaq
al-Syatibi, life and thought, New delhi : Interna-
Saran tional Islamic Publisher. 232.
17
Satria Effendi, Ushul…,98.
Pembahasan dalam Artikel ini telah dipaparkan 18
Karen Armstrong. (2007). Sejarah Muhammad
secara maksimal. Ini adalah titik awal untuk Biografi Sang Nabi, Magelang: Pustaka Horizon. 54
melakukan penelitian dan kajian yang akan datang 19
Fazlur Rahman, “Hukum dan Etika dalam Islam”,
tentang tema tersebut selayaknya tetap diusahakan. terj. M.S. Nasrullah. (1993). al-Hikmah: Jurnal
Namun penulis menyadari terhadap Studi-Studi Islam, No.9, 1993, Bandung: Yayasan
kekurangan artikel ini baik dalam hal penelaahan, Mutohari. 41-42. lihat juga Taufiq Adnan Amal.
analisa, penggalian data, serta aspek akademis (1992). Islam dan Tantangan Modernitas: Studi
lainnya. oleh karena itu dari seluruh pihak dan Atas Pemikiran Hukum FazlurRahman, cet. 3.
pembaca penulis harapkan kritik konstruktif pada Bandung:Mizan. 204, juga Fazlur Rahman. (1990).
tulisan ini. Dengan memandang hasil penelitian ini, Metode dan Alternatif Neo-Modernisme Islam,
kami menyarankan pada peneliti untuk mengkaji Taufiq Adnan Amal (penyunting), cet. 3. Bandung:
ulang pembahasan ini, dan juga melengkapi segala Mizan.65-67.
20
M. Amin Abdullah. (1997). Falsafah Kalam di
kekurangan karena setiap penelitian adalah cermin Era Postmodernisme,cet.2, Yogayakarta: Pustaka
kesetiaan manusia kepada pengetahuan. Wallahu Pelajar. 166.
A’lam.... 21
Fritchof Schoun. (1992). Memahami Islam.
Bandung : Pustaka. 25.
22
Sayyed Hosen Nasr. (1994). “Islam dan Krisis
(Endnotes) Lingkungan” dalam Jurnal Islamika, No. 3, tahun 5-6.
23
1
Abdul Wahab Khalaf, (1968). ‘Ilm Ushul al-Fiqh, Van Peursen. (1997). Strategi
Cairo: Dar al-Quwaitiyyah. 216. Kebudayaan,Yogyakarta: Kanisius. 18.
2
Satria Effendi M.Zein, (1998). Ushul Fiqh,
Pendidikan Kader Ulama’ Angkatan ke-8 MUI,
Jakarta:tnp.26
3
Ibid., p. 67, lihat juga Syamsul Anwar. (
2003).“Dilalah al-khofi wa Alayat al-Ijtihad: dirosah
ushuliyah bi ikhalah khos ila qodiyah al-qotl al-
rakhim“ dalam al-Jami’ah Journal of Islamic
Studies, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga. 169.
4
Yudian W.Asmin. (1995). “Maqasid al-Syari’ah
sebagai Doktrin dan Metode”, dalam al-Jami’ah
Jurnal Ilmu Pengetahuan Islam,Yogyakarta: IAIN
Sunan Kalijaga. No. 58, 98.5 Louis Ma’luf. (1986).
al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam, Beirut: Dar
al-Masyriq. 632.
6
Ibid., p. 382
7
QS. (42) : 13, QS. (45) : 18, lihat juga penjelasan
yang diberikan oleh Fazlur Rahman. (1979). Islam.
Chicago: University of Chicago. 108.
8
Abdul Wahab Khalaf, ‘Ilm…,32.
9
As-Syatibi (1341 H). al-Muwafaqat fiUShul al-
Ahkam, V ; I edisi Muhammad al-Khadar Husein
al-Tulisi , Ttp.: Dar al-Fikr.4-5.
10
Ibid., p. 7.
11
Asfari Jaya Bahri. (1996). Konsep Maqasid
Syari’ah (menurut asy-Syatibi), Jakarta: Raja
Grafindo Persada. 1-2.
12
As-Syatibi, al-Muwafaqat…,V:II,p. 2.
13
Ilall al-Fasi. (tt.). Maqasid al-Syari’ah al-
Islamiyyah, Rabat: Maktabah al-Wahdah al-
Arabiyah, 50.
14
Syamsul Anwar,”dilalah …,169.
15
As-Syatibi, al-muwafaqat…, V:II. 4

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025 19


Jurnal Hukum Islam
Kopertais Wilayah IV Surabaya

DAFTAR PUSTAKA losophy : a study of Abu Ishaq al-Syatibi, life


and thought. New delhi : International Islamic Pub-
1.Abdul Wahab Khalaf. (1968). ‘Ilm Ushul al- lisher.
Fiqh, Cairo: Dar al-Quwaitiyyah. 11. Louis Ma’luf. (1986) al-Munjid fi al-Lughah
2. Abu Ishaq as-Syatibi. (1341 H). al-Muwafaqat wa al-A’lam. Beirut: Dar al-Masyriq.
fiUShul al-Ahkam, V ; I edisi Muhammad al- 12. M. Amin Abdullah. (1997) Falsafah Kalam di
Khadar Husein al-Tulisi Ttp.: Dar al-Fikr. Era Postmodernisme. cet.2, Yogyakarta: Pustaka
3. al-Fasi, Ilall al-Fasi. (tt.) Maqasid al-Syari’ah Pelajar.
al-Islamiyyah. Rabat: Maktabah al-Wahdah al- 13. Satria Effendi M. Zein. (1998) Ushul Fiqh,
Arabiyah. Pendidikan Kader Ulama’ Angkatan ke-8 MUI.
4. Asfari Jaya Bahri. (1996) Konsep Maqasid Jakarta: Tp.
Syari’ah Menurut asy-Syatibi. Jakarta: Raja Grafindo 14. Sayyed Hosen Nasr. (1994) “Islam dan Krisis
Persada. Lingkungan” dalam Jurnal Islamika, No. 3.
5. Fazlur Rahman. (1979) Islam. Chicago: Univer- 15. Syamsul Anwar. (2003) “Dilalah al-khofi wa
sity of Chicago. Alayat al-Ijtihad: dirosah ushuliyah bi ikhalah khos
6. Fazlur Rahman. (1993) “Hukum dan Etika ila qodiyah al-qotl al-rakhim” dalam al-Jami’ah
dalam Islam”, terj. M.S. Nasrullah, dalam al- Journal of Islamic Studies.Yogyakarta: IAIN
Hikmah:Jurnal Studi-Studi Islam. No.9, Bandung: Sunan Kalijaga, vol. 41 No. 1.
Yayasan Mutohari. 16. Taufiq Adnan Amal. (1992) Islam dan
7. Fazlur Rahman.(1990) Metode dan Alternatif Tantangan Modernitas: Studi Atas Pemikiran
Neo-Modernisme Islam. Taufiq Adnan Amal Hukum FazlurRahman. cet. 3, Bandung: Mizan.
(penyunting), cet. 3 Bandung: Mizan. 17. Van Peursen. (1997) Strategi Kebudayaan.
8. Fritchof Schoun. (1992) Memahami Islam. Yogyakarta: Kanisius.
Bandung : Pustaka. 18. Yudian W. Asmin. (1995) “Maqasid al-Syari’ah
9. Karen Armstrong. (2007) Sejarah Muhammad sebagai Doktrin dan Metode”, dalam al-Jami’ah
Biografi Sang Nabi. Magelang: Pustaka Horizon. Jurnal Ilmu Pengetahuan Islam. Yogyakarta:
10. Khalid Masood. (1989). Islamic Legal Phi- IAIN Sunan Kalijaga, No. 58.

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025 20