Anda di halaman 1dari 27

Mengenal Dunia Wayang

May 19, '07 10:05 PM


Petruk Jadi Ratu for everyone

Hening mencekam di istana Hastina wajah-wajah tegang


dan hawa ketidak-puasan mengawang ,rahang sang nata duryudana tampak mengatup keras ,
alir darah di wajah para adipati dan raja sekutu pun menderas durna, sangkuni, baladewa, karna,
jayadrata, dursasana semua tegang begitu juga para seratus kurawa sebuah negara kecil,
sonyawibawa, muncul tiba-tiba di sudut negeri astina , warganya semakin meruah dan tapal
batas semakin melela sebuah negeri rakyat yang menyatakan diri berdaulat berangsur melahap
tanah hastina tanpa takut kualat

para nayaka astina sepakat sudah bahwa sonyawibawa sungguh durhaka, negeri pembelot
haruslah musnah , walau harus dibayar dengan segala daya dan nyawa maka berangkatlah para
senapati menunaikan tugas menghapus aib negeri

di tapal batas terbelalak mata para nayaka dan punggawa , segala taman dan tugu telah berganti
kebun jagung dan palawija kuda tunggang dan peksi indah ,bertukar ayam-bebek petelur dan
kerbau pembajak sawah , keris beronce berganti dengan garu cangkul sabit , di mana-mana
aroma pupuk kandang legit menggigit ,candi pemujaan dan segala bangunan menawan kini
berubah fungsi menjadi kandang hewan piaraan

tak tampak lagi keagungan wilayah negeri astina , yang ada hanyalah keluguan sempurna , tak
ada lagi warna-warni meriah hanya ada hijaunya dedaunan diseling warna tanah, lugas, tatas,
dan tuntas ,lugu, lucu, bercampur dungu

menyerbulah dengan berani para punggawa astina namun terhalang para senapati sonyawibawa
, patih kanekaretna, detya kaladurga, arya sigargagang, tumenggung ardawalika yang muncul
tanpa terduga
semua nayaka astina tertawan sudah ,terikat kuat dihadapkan sang prabu belgeduwelbeh
tongtongsot upelgen para tawanan tertunduk kelu lesu menerima aturan sebagai pihak yang
kalah

baladewa juru pengangsu jayadrata mantri sawah ,karna juru pekatik sangkuni mantri olah-olah
sabda sang prabu belgeduwelbeh tongtongsot upelgen kemudian weh, lha wong sudah pada
bisa mangreh praja, pergilah kalian semua ngrembug negeri sana aku mau aminum wedang jahe
asantap ketan legi , para teledek segeralah bertayub menari buatlah aku segera kembali tenang
dengan nonton kalian
ngigel jaran goyang . . .

dan semburat berlompatanlah para nayaka dan tumenggung undur pasowanan untuk kembali
jengkeng rembugan ngariung di pinggir sawah berteduhkan dedaunan kebun jagung

mengguntur berita di telinga istana astina, gundah mencekam duryudana durna lesmana
aswatama, rasa pakewuh meminta sraya kadang pandada namun wibawa praja lebih perlu
ditimbang harus mengalahkan segala rikuh dan bimbang

para pandawa bertindak segera membantu sisa kurawa bima, arjuna, pancawala, gatotkaca,
antareja, abimanyu, bambang irawan, wisanggeni, segera mendampingi durna, duryudana,
aswatama, lesmana
,sementara kresna tut wuri handayani saja.

semar, gareng dan bagong ikut sambil berlenggang jula-juli di tapal batas para punakawan
berhenti memasang mata dan telinga awas mengamati mulai mencurigai suasana yang sangat
mereka kenali ini kental aroma seorang yang telah lama tak kembali

ternyata hanya dalam beberapa kejap narpati dan punggawa astina amarta sudah tersekap ,para
punakawan tercekat jenggirat , dan segera mengatur siasat syahdan sang prabu belgeduwelbeh
tongtongsot upelgen mendadak waswas tanpa jelas apa sebabnya ,rasa cemas tak hilang jua
walau sudah dijamu tujuh pesinden ,sang prabu memanggil para mantri jagabaya

wahai para tumenggung kapiten mantri jagabaya semua ucap sang prabu membelai cincin emas
yang melingkar di hidungnya , waspadalah pada tiga makhluk yang tampak konyol jenaka
seorang tua gendut berkucir bukan lelaki bukan wanita

seorang pincang bubulen penyandang cacad riyip mata dan seorang bermata belok tak becus
berkata-kata jangan sampai mereka bisa menembus istana cegahlah segala daya pertaruhkan
nyawa ,karena
mereka-lah sumber segala bencana bagi sang raja sesembahan kalian semua

namun siasat semar gareng bagong terbukti sangat ampuh rusak binasa semua alarm istana
paling mutakhir gas buang semar membuat semua mantri jagabaya lumpuh para pesinden
penghibur dan juru pengrawit terbirit-birit ngacir bahkan para tawanan pun mengaduh-aduh
,tersambar dahsyatnya serbuan aroma nan sungguh anyir

gareng bagong bermasker ninja datang menyerbu sang prabu tak sempat mengambil langkah
seribu jatuh tersungkur tersingkap segala pakaian dan baju tampaklah segala bekas kudis bintil
kadas putih panu

semar girang tertawa terkekeh-kekeh ternyata ini anakku sendiri kiai kantongbolong mengapa
engkau selalu bertindak aneh dan nyeleneh tak seperti kakangmu gareng dan adimu si bagong ?

duh rama semar yang rembes namun waskita anakmu hanya ingin merasakan bagaimana
enaknya jadi raja

siang malam hanya tayuban dan dahar kembul andrawina tiap hari tidak pusing memikirkan uang
belanja untuk pembeli beras rokok kopi gula dan minyak kelapa

anakmu ini sehari-hari hanya bekerja keras membanting tulang namun hasilnya hanya cukup
untuk beli beras setengah rantang

mana cukup untuk hidup sebulan ? cucumu kan juga perlu cukup uang jajan karena di
pamulangan dia cuma diajar caranya tawuran hanya gara-gara takut disebut tidak setia kawan
sampai di sini sang dhalang kehabisan kata-kata ternyata penyebab masalahnya adalah
perbedaan kesempatan kini balik sang dhalang bertanya sudahkah kita semua bersikap adil pada
para punakawan
yang ada di sekitar kita

akhir cerita aslinya adalah sebagai berikut bimasena segera menghantam patih kanekaretna
sampai semaput yang lalu babar berubah menjadi batara narada si perut gendut

sementara arjuna yang juga sudah dibebaskan segera menyerang detya kaladurga yang masih
keheranan dan babarlah sang detya menjadi batara guru si raja kahyangan

ah, itu semua kan hanya kata pak dalang . . .yang terpenting adalah apa makna di balik kisah
semacam ini agar kita tidak senantiasa kalah dan terbelakang cukup sekian sang dhalang
nyuwun pamit undur diri.

May 18, '07 8:44 PM


Facial and Gesture Expressions in the Wayang Performance for everyone

The wayang performance is a one of the


famous art performance from the Java Island. It is a kind of performance that told stories (usually
the epic Ramayana, Mahabharata and Bharatayudha) with the puppets as the actors on stage.
The puppeteer is known as dalang. There are several kinds of wayang forms, but two forms that
are the most famous are wayang kulit (shadow puppet, with a 2D puppet and played in front of a
white screen. The audience watched the silhouette projected on the other side of the screen) and
wayang golek (golek puppet, with a 3D puppet, just like the puppets in The Muppet Show).
Both the puppets in the wayang kulit and
wayang golek are one solid puppet, and during the play/performance, each puppet represents
one character. Each puppet would be used from the start until the end of the play, without any
changes in the middle play (such as changing the face) to show different kind of emotion, that
usually done in the 3D puppet animation.

To show different kind of characters and each characters changing of emotion during the
play, the dalang would relay on the gesture of each puppet. And the characterization of
each puppet could be seen in how the form itself.

Wayang Kulit Characters

The puppet used in the wayang kulit performance is made from lamb skin, and the form
is carved with care and detail to create each character. And every form that shapes the
face and its part has specific purpose and meaning regarding the personality and
characterization of each character. Basically, there are three kinds of character: The
Satria/noble type, The Ponggawa/warrior type and The Buta/giant type.

The form of the face for each type is mostly the same. Such as the form of the face of
every Satria type character is based on the same form. Because The Satria type is
described as gentle, polite and tender characters, they have a small, half closed eye with
sharp nose and half closed mouth. The small eye is symbolize the Satria’s ability to
persist the worldly temptation and desire, while the half closed mouth to symbolize that
they do not talk much as the noble.

The Ponggawa type is a brave and heroic character and is visualized as rougher character
than the Satria type. They have soy bean shaped eye with long and well-shaped nose.

The Buta type is the roughest and toughest character (in relation with physical abilities),
armed with anger, emotional and short tempered attitude. Therefore, they have rounded
and wide opened eyes, big nose and opened mouth.
Four basic eye shapes to differentiate the characterization in wayang kulit: the small half closed eye (top left), the soy
bean shaped eye (top right) and the rounded and wide opened eye (bottom left). There are variations such as in the
bottom right that is used to represent the tricky and cunning character.

To differentiate of each character from every type (because there many characters for each type), wayang
kulit uses the apparel, gesture and color of the face.

For characters that have calm, patience and dedication, they are presented through the bowed
head position. The more ambitious, aggressive, arrogant and impatient attitude characters are
presented through the head held high position. The neutral characters are presented in the head
facing straight ahead.

Three kinds of head position to represent each different character: from the most calm and patience (left), neutral
(middle) and aggressive (right)

Beside the gesture, the color of the face is another significant characterization in describing attitude and
personalities. Black represents mature and calmness. Red describes emotional and uncontrollable desire.
White represents noble heritage, young spirit, pureness and beauty. Yellow/Gold has double meaning: it
could represent noble heritage or beauty (and sometimes, both). Blue represent coward ness.
The character Bima from the noble Pandawa Lima is a robust, giant-man, with straight forward
attitude and kind heart. So he is presented in combination of ponggawa shaped nose, giant
shaped eye with the black color and bowed head.

This is Cakil character, a giant with arrogant (because he always refuses losing in the fight he faces),
cunning and tricky personalities. He is visualized with the head held high, a giant nose and mouth, cunning
shaped eyes and pink colored face.
The giant king that is evil, ambitious and arrogant. He is also very emotional and quick to anger, symbolize
by the red colored face, and the head held high. The crown he wears represents his status as king.

Sadewa -a noble satria type of character- is a mature, calm, patience personalities and yet a little proud of
himself. He is visualized in the head facing straight, with black colored face.
Drupadi is a princess and later becoming the queen of Amarta, after she married Yudhistira, King
of Amarta. She has calm and patience character and is very loyal to her husband. Therefore she
is visualized with the bowed head and black colored face.

Srikandi is also a princess but not just the ordinary princess. She has tomboyish character and
eventually is a skillful warrior especially in archery. To show the different with other princess that
usually calm and obedient, she is presented in the head held high position (to show her
aggressiveness, ambition and tomboyish personality). Because she is in fact a princess, she has
yellow/gold colored face.

The above samples are how the visualization of each character represents their unique personalities. In the
wayang performance, this visual characterization is also emphasized by the whole gesture of the body, the
kind of clothes they wear and how they moved.

The Wayang Golek Performance

The wayang golek puppets are made from wood, and have similar expression to show each character’s
personalities with wayang kulit. Because the puppets are in 3D form, the shape of each type of characters
(The Satria, Ponggawa and Giant type) could be show to the extreme.

The satria class usually has similar face form, with the eyes are drawn onto the surface of the face while the
ponggawa and giant’s eyes are carved to form the face. The position of the head and the face colors also
used to describe each character. But some colors, such as blue that is used to represent cowardness in
wayang kulit, have different meaning in wayang golek, since it is used for the Gatotkaca character that able
to fly -therefore blue resembles the sky. The expression of each character could be seen in the following
images.
The different personalities of each characters presented here is emphasizes with their specific gesture,
shape and colors (not showed here). In the same type (such as the Satria type, two pictures at the bottom),
we could acknowledge that the character in the bottom left has modest and calm type in contrast to the
character in the bottom right who seem more arrogant and confident.

UTAH-UTAHAN DAN GARUDA MUNGKUR

Utah-utahan merupakan hiasan kepala yang umunnya di gunakan di bagian belakang kepala
untuk pelengkap mahkota, topong ataupun hanya digunakan begitu saja. Dikatakan utah utahan
karena bentuknya seperti raksasa atau makhluk yang mengeluarkan isi mulutnya.
Gaya Yogyakarta dan Surakarta juga memiliki perbedaan yang sangat menonjol pada Utah-
utahan. Hal yang sama seperti pada irah-irahan yaitu pada pola isian dari utah-utahan ini. Bagian
atas kanan kepala bisa di lihat pola tatahan khas Yogyakarta dengan
adanya pola: Ω ( ( Ω ( ( Ω dan Surakarta juga sama denagn pola khasnya )))) dan ((((

Dan juga jik kita lihat, Surakarta memiliki ukiran yang lebih padat daripada gaya Yogyakarta
sehingga terlihat lebih rumit.

Pada utah-utahannya sendiri, Yogyakarta tetap menggunakan prinsip dasar pola


Ω ( ( Ω ( ( Ω di tepi, dengan bagian tengah berpola ))) ))) . (( ((

Utah-Utahan gaya Yogyakarta dan Surakarta

Di bagian hiasan Kepala Yogyakarta memiliki satu jenis hiasan lagi yang disebut Garudho
Mungkur. Hiasan ini hanya ditemui pada wayang gaya Yogyakarta. Garuda Mungkur berarti
garuda terbalik karena memang sesuai dengan bentuknya dengan ilustrasi seperti gambar
dibawah ini.

RAMBUT
Bagian Rambut ini akan dibagi kedalam dua kategori. Katgori pertama adalah rambut gelung
(sapit urang) yang umumnya ditatah halus dan kategori kedua adalah rambut ngore udalan yang
umumnya berbentuk gimbal dengan tatahan yang lebih besar.
Pada bagian rambut gelung yang umumnya adalah rambut dari ksatria dan dewa (kecuali dewa
raksasa seperti Batara Kala, dan Batara Kali) adalah pada bagian ujung dari gaya Yogyakarta
lebih ramping jika dibandingkan dengan gaya Surakarta dan juga isian dari gelung Yogyakarta
terlihat lebih besar sehingga terkesan padat, sedang gaya Surakarta sebaliknya. Perhatikan
gambar dibawah ini.

Gelung Sapit Urang gaya Surakarta (atas) dan Yogyakarta (bawah) Bagian kedua adalah rambut
ngore udalan atau gimbalan. Rambut ini umumnya digunakan pada wayang raksasa seperti
Dewa Mambang, Kumbakarna, dan wayang raksasa besar lainnya. Pada tatahan kedua gaya ini
hanya ada dua perbedaan yang dapat diperhatikan. Yang pertama adalah alur dari ukiran. Pada
gaya Yogyakarta ukiran yang jatuh kebawah, menggelung ke bawah atau ke dalam ( ) sedang
pada gaya Surakarta ukiran yang tampak adalah ukiran jatuh namun menggelung ke atas atau ke
luar ( ). Pada gambar ini untuk menunjukan luar dan dalam adalah bagian tengah yang berlaku
sebagai leher. Kedua adalah bentuk udalan gaya Surakarta lebih bulat dah berpangkal/buntut
lebih kecil sedang gaya Yogyakarta lebih membentuk huruf “S” terbalik.

Rambut Ngore Udalan gaya Yogyakarta dan Surakarta

SUMPING

Sumping adalah salah satu perhiasan atau aksesori pada tubuh Wayang Kulit Purwa, yakni
sebagai penghias telinga. Jenis-jenis sumping pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gaya

Yogyakarta, antara lain :


1. Sumping Mangkara
2. Sumping Surengpati
3. Sumping Kudhup Turi
4. Sumping Gajah Ngoling,
5. Sumping Mangkara Terate,
6. Sumping Pudhak Sategal
7. Sumping Setegal.

Surakarta, antara lain :


1. Sumping Waderan
2. Sumping Kembang Kluwih
3. Sumping Pudak Sinumpet
4. Sumping Surengpati
5. Sumping Gajah Ngoling
6. Sumping Kembang Pacar
7. Sumping Kembang Telekan.

Selain nama, perbedaan juga terletak pada tatahan seperti halnya yang ditemukan pada bagian
irah-irahan dan garudha mungkur. Di bawah ini adalah contoh sumping yang dimiliki Yogyakarta :
Sumping mangkoro setegal dan sumping gajah ngoling gaya Yogyakarta

Sumping Yogyakarta dan Surakarta

Tags: facial gesture, wayang kulit, javanese


reply share

May 18, '07 8:27 PM


Praba, Kelat Bahu dan Ulur-ulur for everyone
PRABA
Praba adalah hiasan yang digunakan oleh ksatria besar berwujud seperti sayap yang
melambangkan cahaya dari kehidupan atau lambang sebagai orang terpandang. Perbedaan
yang tampak pada praba adalah bentuk ukiran padat pada gaya Surakarta dan adanya tepian
pada gaya Yogyakarta. Selain itu pokok cabang pohon yang dilukiskan dengan warna merah dan
biru pada gaya Yogyakarta terkesan lebih besar dari pada gaya Surakarta sehingga praba gaya
Surakarta terlihat lebih rumit.

KELAT BAHU

Untuk hiasan tangan dan kaki saya rasa hanya kelat bahu yang memiliki sedikit perbedaan dari
gaya Yogyakarta dan Surakarta. Hal ini di sebabkan oleh bentuk gelang dan hiasan sejenisnya
memiliki bentuk yang sederhana sehingga terkadang tidak ada bedanya. Dalam kelat bahu biasa
ini yang dapat dijelaskan perbedaannya adalah banyaknya rongga pada gaya Yogyakarta karena
keduannya memiliki alur ukiran yang sama

Kelat Bahu biasa gaya Yogyakarta dan Surakarta

Satu lagi bentuk kelat bahu yang istimewa adalah Kelat Bahu Candrakirana. Kelat bahu ini
dikatakan istimewa karena hanya kelompok tunggal bayu yang menggunakan kelat bahu jenis ini
seperti Anoman, Bima, Batara Bayu, Pulasiya dan lainnya. Perbedaan keduannya ada pada
bagian tepi bawah dimana gaya Yogyakarta memiliki tepi bawah yang lebih panjang dari gada
gaya Surakarta dan juga mata panah pada bagian tengah lengan gaya Yogyakarta tidak ditemui
pada gaya Surakarta.

Kelat Bahu Candrakirana gaya Surakarta dan Yogyakarta

ULUR-ULUR

Pada Tubuh Wayang umumnya terdapat ulur-ulur yaitu semacam hiasan pada bagian dada yang
menyerupai tali yang terulur. Perbedaaan tatahan dari kedua gaya tampak sangat significan di
sini. Pada tali bagian atas dan bawah wayang gaya Yogyakarta hanya berbentuk garis tanpa
hiasan tatahan di dalamnya sedang pada gaya Surakarta, yang terjadi adalah sebaliknya, ulur-
ulur di tatah sampai pada talinya sehingga tampak lebih menarik jika dibandingkan gaya
Yogyakarta. Perbedaan lain adalah adanya pembatas beruap benjolan pada kiri dan kanan ulur-
ulur untuk membatasi tali dan pokok bunga (tengah) yang berbentuk belah ketupat pada ulur-ulur
gaya Yogyakarta sedang dalam gaya Surakarta yang ditemui adalah bentuk halus tanpa benjolan
signifikan antara tali dan pokok bunga gaya Surakarta.
Ulur-ulur gaya Yogyakarta dan Surakarta

May 15, '07 8:30 AM


Introduction for everyone

Category: Other
Membuka Takbir Wayang Purwa

Menurut cerita Jawa, awal adanya wayang yaitu pada masa raja Jayabaya di Kediri tahun 1135
Masehi. Pada saat itu raja Jayabaya ingin mengambarkan wajah para leluhurnya dengan lukisan
pada daun rontal, meniru wajahpara dewa-dewa maupun manusia purba (purwa) sehinga karya
raja Jayabaya itu kemudian disebut wayang purwa.

Menurut Dr. hazeu, cerita tentang wayang sudah ada sejak jamn raja Erlangga diKahuripan
permulaan abad ke sebelas, karena pada masa Erlanga tersebut sudah ada ahli sastra
kepercayaan raja Erlangga yakni Mpu Kanwa yang menulis kitab Arjuna Wiwaha. Isi dari kitab
Arjuna Wiwaha antara lain menceritakan Arjuna ketika bertapa di dalam goa Witaraga sebagai
brahmana dengan nama Ciptaning. Sebagai Pertapa, Arjuna berhasil membinasakan raksasa
Niwatakawaca dari kerajaan Manimantaka yang bermaksud melamar bidadari Dewi Supraba.
Atas jasanya itu, Arjuna mendapat penghargaan dari dewa Endra berupa sebuah panah lengkap
dengan busurnya bernama panah Pasopati.

Hagema dalam bukunya “Handleiding lot Degechiede denis Van Java” menyebutkan bahwa
pertama kali yang membuat wayang kulit adalah Raden Panji Inukertopati sekitar abad ke 13.
Seperti kita ketahui, seni sastra Jawa kuna berlangsung pada jaman Kediri yang hasilnya
sebagian besar berupa kakawin, misalnya kitab Kresnayana karangan Mpu Triguna,
Samanasantaka karya Mpu Meraguna, Bharatayudha karangan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh,
Smaradahana karangan Mpu Dharmaja, Gatutkacasraya karangan Mpu Panuluh dan
Wretasancaya karya Mpu Tanakung.

Seperti juga di Yunani dan India, pertunjukan wayang di Jawa juga berkembang dari upacara
keagamaan, yakni untuk menghormati para dewa-dewa atau arwah nenek moyang yang
dipandangsebagai para dewa. Sedangkan lakon atau ceritanya diambil dari hasil kesusastraan
Jawa kuna yang ditulis pada daun lontar, yakni berupa gancaran (prosa) dan tembang (puisi).
Tembang Jawa kuna inilah yang lazim disebut kakawin, sedangkan tembang tengahan
dinamakan kidung.

Ditinjau dari sudut isi, kesusastraan jawa kuna terdiri dari tutur (kitab keagamaan), sastra (kitab
hukum), wira carita atau epos seperti Mahabharata dan Ramayana.

Lakon merupakan gambaran tentang sifat dan karakter manusia di dunia. Karena sifat dan
karakter begitu khas, maka banyak yang tersugesti. Oleh karena itu pertunjukan wayang dapat
membuat penontonnya menjadi terharu. Pertunjukan yang pada awalnya hanya diceritakan oleh
juru tutur dan sangat menyentuh hati, mulai berkembang pada masa Prabu Lembuamiluhur pada
tahun 1244. Selanjutnya raja Brawijaya Majapahit mulai membuat wayang beber berwarna,
pertunjukan wayang saat itu juga telah menggunakan iringan gamelan slendro.

Wayang purwa semakin menanjak pada masa perkembangan agama Islam di Jawa. Pada masa
itu para wali menggunakan wayang sebagai media dakwah. Sunan Giri kemudian membuat
wayang raksasa berbiji mata dua. Raden Patah (raja Demak pertama) membuat gunungan atau
kayon. Sedangkan yang menyelenggarakan pertunjukan wayangs ecara lengkap seperti
menggunakan kelir, pohon pisang, blencong dan sebagainya adalah Sunan Kalijaga.

Wayang itu sendiri berasal dari kata ‘wod’ dan ‘yang’ serta merupakan kebudayaan asli
Indonesia. ‘Wod’ dan ‘Yang’ berarti bayangan yang bergerak atau bergoyang. Dr.Hazeu
berpendapat bahwa perkataan yang berasal dari Hyang, maksudnya adalah leluhur. Hal ini dapat
disamakan dengan perkataan Jawa “Eyang”.

Beberapa pendapat bahwa wayang adalah kebudayaan Nasional Indonesia asli:


1. Teori yang dikemukakan oleh Dr. J. Brandes dari segi penyelidikan bahasa bahwa semua
perabot-perabot/alat-alat pewayangan/pedalangan tidak ada yang bertalian dengan bahasa
Sansekerta, berarti tidaka da yang berasal dari India atau kata lain Indonesia asli dan bangsa
Indonesia mempunyai corak teater sendiri yang berbeda dengan corak teater India.
2. Teori yang dikemukakan oleh W.H Ressers dari segi penyelidikan Antropologi Budaya, bahwa
yang berasal dari kegiatan upacara Totenisme.
3. Teori yang dikemukakan oleh Dr. Albert C. Krujit dari segi penyelidikan tradisi Toraja, bahwa
wayang berasal dari kegiatan upacara Dukunisme.
4. Teori yang dikemukakan oleh W.H Stuterheim dari segi penyelidikan sejarah kebudayaan dan
teori yang dikemukakan oleh Dr. Hazeu, yang keduannya berpendapat bahwa wayang berasal
dari upacara pemujaan arwah nenek moyang.

Kesenian wayang khususnya wayang kulit purwa, selama lebih dari seribu tahun telah dikenal
dan digemari oleh rakyat Indonesia. Sebuah inskripsi dari tahun 907 Masehi pada masa
pertengahan raja Dyah Balitung telah menyebutnya dengan tegas dan jelas bahwa berita adanya
wayang kulit purwa tertera dalam sebuah kakawin karya Mpu Kanwa dari jama raja Erlanga dari
Jawa Timur dalam abad ke 11. Tidak henti-hentinya bentuk seni budaya yang dinamakan
wayang ini dalam berbagai gaya dan jenisnya benar-benar menarik perhatian rakyat dari
berbagai daerah dan selalu dibicarakan oleh berbagai ahli sosial seni budaya baik dari dalam
maupun luar negeri yang menulis tentang seni pewayangan di Indonesia.
Kesenian wayang yang berkembang dan hidup di Indonesia tersebar di pulau-pulau antara lain:
Jawa, Lombok, Kalimantan, Sumatra dan lain-lain, baik yang masih populer maupun yang hampir
punah atau dikenal dalam kepustakaan-kepustakaan dan yang terdapat di museum-museum,
dan timbulnya beberapa wayang baru akhir-akhir ini seperti wayang Sadar dan wayang Warta
dari daerah Klaten dan wayang Sadosa dari STSI Surakarta. Adapun macam dan jenis wayang
antara lain:
1. Wayang Purwa
2. Wayang Madya
3. Wayang Gedog
4. Wayang Kulit Menak
5. Wayang Wahyu
6. Wayang Klitik
7. Wayang Beber
8. Wayang Jawa
9. Wayang Dobel
10. Wayang Jemblung (Jawa)
11. Wayang Ramayana (Bali)
12. Wayang Purwa (Bali)
13. Wayang Gambuh (Bali)
14. Wayang Cupak (Bali)
15. Wayang Sasak (Lombok)
16. Wayang Betawi (Bali)
17. Wayang Banjar (Kalimantan)
18. Wayang Golek (Sunda)
19. Wayang Golek Menak (Jawa)
20. Wayang Pakuan (Sunda)
21. Wayang Orang (Jawa)
22. Wayang Topeng (dari berbagai suku)

Diantara wayang-wayang tersebut yang paling populer dan tersebar luas dan paling banyak
disoroti di dalam maupung di luar negeri adalah wayang purwa, yang sejarah dan
perkembangannya telah diketahui paling tidak sejak abad ke 11, yang telah dijadikan objek studi
para sarjana daam dan luar negeri selama berabad-abad.

Untuk mengenal wayang secara mendasar, hal-hal yang perlu diketahui adalah sebagai berikut:
a. Unsur Pelaku dan Peralatan. Pelaku terdiri dari Dalang, Niyaga (pengrawit atau penabuh
gamelan) dan Pesinden (swarawati atau penyanyi wanita). Perlengkapan/Peralatan terdiri dari
wayang kulit, kelir (layar dari katun), blencong (lampu), debog (batang pisang), cempala
(pemukul kotak), kotak (kotak kayu), kepyak atau keprak, dan gamelan. b. Unsur Pertunjukan.
ang dilihat adalah Sabetan (gerak wayang). Sedangkan yang didengar adalah janturan, catur
(ginem, pocapan), carios atau kanda, suluk, tembang, dhodhokan, kepyak atau kaprakan,
gending, gerongan, sindhenan.

Sumber Cerita Wayang Purwa

Pada jaman prasejarah telah kita ketahui bersama bahwa wayang itu adalah kebudayaan
nasional Indonesia asli yang kemudian kena pengaruh kebudayaan Hindu. Adapun cerita Jawa
asli yang sampai sekarang masih ada, misalnya cerita Prabu Watugunung yang akhirnya menjadi
pawukon dan Prabu Mikukuhan yang menceritakan asal mula adanya padi dan Semar, Gareng,
Petruk serta Bagong adalah wayang Indonesia kuno.

Sumber cerita yang akhirnya berkembang dari tanah Hindu tersebut adalah Ramayana dan
Mahabharata. Ada beberapa pendapat cerita Ramayana dikarang oleh pujangga besar dari India
bernama Walmiki, sedang Mahabharata oleh Wiyasa. Cerita Ramayana dan Mahabharata dalam
dunia sastra sangat terkenal tidak hanya di tanah Jawa saja melainkan sampai di tanah Asia.
Demikian besar pengaruh Ramayana dan Mahabharata merupakan pedoman hidup (pepakem)
yang berhubungan dengan masalah: agama, filsafat, politik, masyarakat, kepribadian, keluarga,
keperwiraan, keutamaan, dsb.

Pada intisari cerita Ramayana timbulnya peperangan antara Rahwana dan Rama adalah
memperebutkan Dewi Shinta, sedangkan intisari dari Mahabharata terjadinya perang
Bharatayuda antara Pandawa dan Kurawa yang diperebutkan adalah bumi Hastina. Dengan
demikian jelas bahwa tema kedua epos tersebut wanita dan bumi. Tema tersebut juga terdapat
pada kehidupan kita yang sifatnya universal. Dalam kehidupan kita ada istilah “Sedumuk bathuk
senyari bumi dipun labeti pecahing dhadha wutahing ludira”. Cerita Ramayana dan Mahabharata
yang mengandung nilai-nilai luhur tersebut oleh para leluhur kita dianggit disesuaikan dengan
kebutuhan bangsa kita seusai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Ada yang menyalin
Ramayana dan Mahabharata kedalam bahasa Jawa Kuno.

Ada sementara yang menyebut karangan baru tetapi tetap menggunakan kedua wiracarita
tersebut sebagai sumber (babon), dan membuat cerita yang dapat dipergelarkan dalam seni
pedalangan wayang purwa. Akhirnya kedua babon kitab tersebut berkembang menjadi pakem
lakon wayang purwa. Adapun kitab-kitab yang membuat sumber cerita pedalangan adalah
sebagai berikut:
1. Kitab Ramayana (Jaman Dyah Balitung 900 M)
2. Utarakandha (menceritakan lahirnya Kusa dan Lawa putera Dewi Sinta dan matinya Dewi
Sinta terperosok ke Bumi)
3. Adiparwa (Jaman Darmawangsa, terdapat cerita Dewi Lara Amis, Bale Segala-gala, Peksi
Dewata dan matinya Arimba)
4. Sabhaparwa (cerita Pandawa Dadu)
5. Wirataparwa (Para Pandawa mengabdi di Wirata)
6. Udyogaparwa (Kresna gugah)
7. Bismaparwa (Bisma Gugur)
8. Asramawasanaparwa (cerita Drestarasta mati)
9. maosalaparwa (cerita matinya darah Wresni dan Yadu)
10. Prastanikaparwa (cerita Pandawa Puterpuja)
11. Arjunawiwaha (Karya Mpu kanwa jaman raja Erlangga gubahan dari kitab wanaparwa yang
akhirnya menjadi cerita Mintaraga atau Begawan Ciptoning)
12. Kresnayana (Jaman Kediri 1104 M di dalam seni pedalangan menjadi cerita Kresnakembang)
13. Bomakawya (Matinya Prabu Boma oleh Kresna)
14. Baratayuda (Karya Mpu Sedah dan Panuluh pada jaman kediri, Prabu Jayabaya)
15. Gathutkacasraya (Perkawinan Abimanyu dan Siti Sendari)
16. Arjunawijaya (gubahan dari Utarakandha) cerita perangnya Prabu Dasamuka dengan
Danaraja
17. Korawasrama (cerita Wirataparwa)
18. Dewaruci (Karya pujangga jawa Empu Ciwamurti)
19. Sudamala )tergolong cerita ruwatan)
20. Manikmaya (Yasan jaman Kartasura, setelah orang jawa menganut agam Islam)
21. Kanda (serat kandha) yasan jaman Kartasura, disini mulai membaur cerita Hindu, Jawi dan
Islam.
22. Bhartayuda yasadipuran jaman Surakarta
23. Arjunasasra (Lokapala) Yasadipuran II petikan dari kitab Ajuna Wijaya
24. Arjunasasrabahu (karagan Kyai Sindusastra jaman PB VII, dalam kitab tersebut terdapat
ceritera Sugriwa Subali dengan mengambil babon serat Kandha)
25. Kitab Paramayoga (karya R. Ng. Rangawarsito isinya menceritakan Nabi Adam dan
keturunannya sampai jaman Tanah Jawa dihuni oleh manusia)
26. Pustakarajapurwa (karangan Ki Ng. Rangawarsito memuat cerita wayang).

Demikianlah beberapa sumber yang menjadi babon pakem cerita dalam seni pedalangan
wayang purwa. Lakon-lakon carangan yang berkembang akhir- akhir ini yang dihimpun oleh
proyek dokumentasi STSI Surakarta merupakan karya-karya yang menambah kekayaan
perbendaharaan cerita wayang.

Lakon dan Pengaturan Wayang

Secara garis besar lakon wayang purwa dibagi menjadi 4 bagian yaitu:
1. Prasejarah menceritakan tentang ksiah para dewa di Kahyangan, ajaran dewa kepada anak
manusia, juga kisah kejahatan raksasa maupun setan yang mengganggu manusia, juga kisah
kejahatan raksasa mapun setan yang mengganggu manusia, Sebagian besar cerita dewa-dewa
dan raksasa ini diambil dari Mahabharata, tetapi sebagian didasarkan pada dongen tutur tinular
yang berkembang di Jawa.
2. Cerita Arjunasasrabahu yang diawali dari keberadaan negara Maespati sebagai penerus dinasi
Purwacarita (penjilmaan dewa Wisnu) hingga tamatnya riwayat Prabu Harjunasasrabahu.
3. Cerita Rama, isinya diawali dari runtuhnya kerajaan Maespati dilanjutkan petualangan
Dasamuka, kisah Rama Sinta dan berakhir pada lakon Rama menjelma (nitis).
4. Cerita Mahabharata, isinya menceritakan para leluhur Pandawa hingga Pandawa muksa.

Pengaturan wayang adalah penataan wayang yang akan dipakai untuk pertunjukan sesuai
dengan letak maupun posisinya. Jumlah wayang lengkap dalam satu kotak hampir mencapai 500
buah, dand ari sekian banyak wayang tersebut, penataannya terbagi menurut jenisnya, yaitu
wayang simpingan, wayang eblekan dan wayang dudahan.

Wayang simpingan adalah wayang yang dijajar pada lajur kiri maupun lajur kanan, maka disebut
simpingan kiri dan simpingan kanan. Wayang simpingan kiri antara lain:
1. Raksasa raja atau dalam istilah pewayangan disebut buta raton terdiri dari Balasewu,
Niwatakawaca, Kumbakarna, Batara Kala, Maesasura dan sebagainya.
2. Raksasa muda atau buata patihan yang terdiri dari Suratimantra, Prahasta, Lembusura, dll.
3. Dasamuka terdiri beberapa wanda (wanda iblis, wanda belis, wanda barong, dll
4. Sugriwa – Subali
5. Wayang Bapang atau Ratu Sabrang seperti Susarma, Susarman, Manima, Maniman, dll
6. Wayang Boma tediri dari Bomanarakasura wanda iblis, Jaya Wikata, Bomawikata, Bogadenta,
Bomantara, Gardapura, Gardapati, dll
7. Patih Sabrang antara lain Trikaya, Trinetra, Trisirah, Kangsa, Indrajit, dll
8. Prabu Duryudana
9. Raden Kurupati
10. Prabu Baladewa dengan beberapa wanda.
11. Raden Kakrasana
12. Raja Wirata terdiri Basurata, Basukeswara, Basumurti, Basuketi, Matsyapati.
13. Prabu Salya
14. Prabu Drupada
15. Basukarna dengan beberapa wanda.
16. Wayang sabrang alusan misalnya Dewasrani, Sasramurti, dll
17. Setyaki dengan beberapa wanda.
18. Raden Seta, Utara dan Wratsangka
19. Raden Ugrasena
20. Yamawidura dan Drestarata
21. Lesmana Mandrakumara
22. Narayana dan Narasoma
23. Samba, Setyaka dan Rukmarata
24. Wayang bambangan antara lain Priyambada, Irawan, Wisanggeni, Bambang Srambahan,
Nakula dan Sadewa.

Wayang simpangan kanan antara lain:


1. Prabu Tuguwasesa dengan beberapa wanda.
2. Raden Werkudara dari beberapa wanda.
3. Raden Bratasena dari beberapa wanda.
4. Rama Bargawa
5. Prabu Suteja
6. Raden Gatotkaca dari beberapa wanda.
7. Raden Antareja
8. Anoman dari beberapa wanda
9. Batara Guru 10. Durga
11. WayangRama terdiri Prabu Arjunasasrabahu, Prabu Rama, Parikesit, Jayamurcita.
12. Prabu kresna dari beberapa wanda.
13. Prabu Yudistira
14. Raden Puntadewa
15. Arjuna dari beberapa wanda
16. Prabu Pandu
17. Raden Premadi, Suryatmaja, dan Kumajaya
18. Bambang Sekutrem
19. Raden Lesmana
20. Bambang Palasara
21. Raden Abimanyu
22. Wayang putren terdiri dari beberapa putri misalnya Banowati, Subadra, Srikandi.
23. Wayang putran atau wayang bayi.

Wayang simpingan yang disebutkan di atas hanya merupakan garis besar saja, jadi masih
banyak tokoh-tokoh yang belum disebutkan disini. Wayang eblekan yaitu wayang yang diatur rapi
di dalam kotak dan tidak termasuk disimping. Contoh wayang eblekan antara lain wayang dewa,
wayang wanara, wayang reksasa, wayang prajurit atau wayang tatagan dan lain-lain. Sedangkan
wayang duduhan yaitu wayang yang diatur pada sisi kanan dalang dan atau wayang yang akan
digunakan di dalam pakeliaran. Sedangkan yang termasuk wayang dudahan antara lain
rampogan, kreta, wayang kewan, pendita, panakawan, limbuk cangik dan lain-lain.

Jika anda nonton wayang purwa, baik yang dipagelarkan semalam maupun yang dipergelarkan
padat, maka jika direnungkan benar- benar didalamnya terkandung banyak nilai serta ajaran-
ajaran hidup yang sangat berguna. Semua yang ditampilkan baik berupa tokoh dan yang berupa
medium yang lain didalamnya banyak mengandung nilai filosofi. Secara gampang saja baru
melihat simpingan wayang, orang telah mempunyai penilaian, bahwa simpingan kanan
melambangkan tokoh yang baik, simpingan kiri melambangkan tokoh yang jelek atau buruk.
Kalau kita melihat perangnya wayang, wayang yang diletakkan atau diperangkan tangan kiri pasti
kalah. Tetapi hal ini tidak semua benar.

Didalam pdalangan kita kaya nilai-nilai didalamnya. Nilai-nilai didalam pedalangan antara lain:
kepahlawan, kesetiaan, keangkara murkaan, kejujuran, dll.
1. Nilai kepahlawanan ada pada tokoh: Kumbakarna, Adipati Karna.
2. Nilai kesetiaan terdapat pada tokoh: Dewi Sinta, Raden Sumantri, dll
3. Nilai keankaramurkaan terdapat pada tokoh: Rahwana, Duryudana, dll.
4. Nilai kejujuran terdapat pada tokoh: Puntadewa.

Kayon / Gunungan

Gunungan atau di dalam pakeliran disebut kayon, pertama diciptakan oleh Raden Patah.
Dinamakan gunungan karena bentuknya menyerupai gunung yang memiliki puncak dan terdapat
pada setiap pagelaran wayang (wayang purwa, wayang krucil, wayang golek, wayang gedok,
wayang suluh, dll).

Menurut bentuknya, gunungan atau kayon ini dapat dibedakan menjadi dua macam.

1. Kayon gapuran berbentuk ramping dan pada bagian bawah bergambar gapua yang pada sisi
sebelah kiri maupun kanan di jaga oleh raksasa Cingkarabala dan Balaupata. Sedangkan pada
bagian belakang terdapat lukisan api merah membara.

2. kayon blumbangan, bentuknya agak gemuk dan lebih pendek bila dibanding dengan kayon
gapuran, Pada bagian bawah terdapat lukisan kolam dengan air yang jernih yang ditengahnya
terdapat lukisan sepasang ikan berhadapan. Sedangkan pada bagian belakang berambar lautan
atau langit yang berawarna biru gradasi.

Gunungan secara lengkap biasanya terdapat lukisan teridiri:


1. Rumah atau balai yang indah dengan lantai bertingkat tiga dan pada bagian daun pintu rumah
dihiasi lukisan Kamajaya berhadapan dengan Dewi Ratih.
2. Dua raksasa berhadapand engan membawa senjata pedang atau gada lengkap dengan
tamengnya.
3. Duia naga bersayap.
4. Hutan belantara penuh dengan satwanya.
5. Gambar harimau berhadapan dengan banteng.
6. Pohon besar ditengah hutan yang dililit seokar ular.
7. Kepala makara di tengah pohon.
8. Dua ekor kera dan lutung sedang bermain diatas ranting.
9. Dua ekor ayam alas sedang bertengger diatas cabang pohon.

Gambar-gambar yang terdapat pada kayon tersebut menggambarkan alam semesta lengkap
dengan isinya. Gunungan di dalam pagelaran wayang kulit mempunyai fungsi yang sangat
penting, antara lain:
1. Sebagai tanda dimulaiya pentas pedalangan, yakni fungsi dengan dicabutnya kayon di tengah
kelir kemudian ditancapkan pada posisi sebelah kanan.
2. Sebagai tanda perubahan adegan atau menggambarkan suasana dengan cara gunungan
digerakkan diikuti cerita dalang.
3. Digunakan untuk tanda pergantian waktu, baik dari patet nem ke patet sanga, atau dari patet
swanga ke patet manyura dengan mengubah posisi kayon dari condong ke kanan menjadi tegak
lurus dan terakhir kayon condong ke arah kiri.
4. Untuk menggambarkan sebuah wahyu dari dewa, atau sebagai angin maupun udara dengan
menggerakkan gunungan sesuai arah yang dikehendaki.
5. Untuk menggambarkan api dengan membalik kayon sehingga yang tampak api membara dari
kepala makara.
6. Untuk menandai berakhirnya pertunjukan dengan menancapkan kayon di tengah-tengah, serta
digunakan untuk kepentingan pagelaran sesuai dengan kehendak dalang.

Th
e
im
ag
e
ca
nn
ot
be
dis
pl

Th The image cannot be


e display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to
dis delete the image and then
pl insert it again.
ay
ed
.
Yo
ur
co
m
pu
ter
m
ay
no
t
ha
ve
en
ou
gh
m
e
m
or
y
to
op
en
th
e
im
ag
e,
or
th
e
im
ag
e
m
ay
ha
ve
be
en
co
rr
up
te
d.
Re
st
art
yo
ur
co
m
pu
ter
,
an
d
th
en
op
en
th
e
fil
e
ag
ai
n.
If
th
e
re
d
x
sti
ll
ap
pe
ar
s,
yo
u
m
ay
ha
ve
to
de
let
e
th
e
im
ag
e
an
d
th
en
in
se
rt
it
ag
ai
n.

Th The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then The image cannot be
e insert it again. display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to d…

Th
e
im
ag
e
ca
nn
ot
be
dis
pl
Th The image cannot be
e display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to
dis delete the image and then
pl insert it again.
ay
ed
.
Yo
ur
co
m
pu
ter
m
ay
no
t
ha
ve
en
ou
gh
m
e
m
or
y
to
op
en
th
e
im
ag
e,
or
th
e
im
ag
e
m
ay
ha
ve
be
en
co
rr
up
te
d.
Re
st
art
yo
ur
co
m
pu
ter
,
an
d
th
en
op
en
th
e
fil
e
ag
ai
n.
If
th
e
re
d
x
sti
ll
ap
pe
ar
s,
yo
u
m
ay
ha
ve
to
de
let
e
th
e
im
ag
e
an
d
th
en
in
se
rt
it
ag
ai
n.

Th The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then insert it again. The image cannot be
e display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to d…

Th
e
im
ag
e
ca
nn
ot
be
dis
The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou
may hav e to delete the image and then insert it again.
The image cannot be
display ed. Your computer
may not hav e enough
memory to open the image,
or the image may hav e been
corrupted. Restart y our
computer, and then open the
file again. If the red x still
appears, y ou may hav e to
delete the image and then
kumpulan tokoh pewayangan generasi leluhur pandawa, mahabharata
s/d pandawa seda.
pl insert it again.

Th The image cannot be


e display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to
dis delete the image and then
pl insert it again.
ay
ed
.
Yo
ur
co
m
pu
ter
m
ay
no
t
ha
ve
en
ou
gh
m
e
m
or
y
to
op
en
th
e
im
ag
e,
or
th
e
im
ag
e
m
ay
ha
ve
be
en
co
rr
up
te
d.
Re
st
art
yo
ur
co
m
pu
ter
,
an
d
th
en
op
en
th
e
fil
e
ag
ai
n.
If
th
e
re
d
x
sti
ll
ap
pe
ar
s,
yo
u
m
ay
ha
ve
to
de
let
e
th
e
im
ag
e
an
d
th
en
in
se
rt
it
ag
ai
n.

Th The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou The image cannot be
e may hav e to delete the image and then insert it again. display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to d…

Tags: wayang kulit, wayang purwa, mahabharata, ramayana, shadow puppet, javanese
reply slideshow prints & gifts share

Th The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open The image cannot be
e the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then insert it again. display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to
dis delete the image and then
pl insert it again.

Th The image cannot be


e display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to
dis delete the image and then
pl insert it again.
ay
ed
.
Yo
ur
co
m
pu
ter
m
ay
no
t
ha
ve
en
ou
gh
m
e
m
or
y
to
op
en
th
e
im
ag
e,
or
th
e
im
ag
e
m
ay
ha
ve
be
en
co
rr
up
te
d.
Re
st
art
yo
ur
co
m
pu
ter
,
an
d
th
en
op
en
th
e
fil
e
ag
ai
n.
If
th
e
re
d
x
sti
ll
ap
pe
ar
s,
yo
u
m
ay
ha
ve
to
de
let
e
th
e
im
ag
e
an
d
th
en
in
se
rt
it
ag
ai
n.

Th The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open The image cannot be
e the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then insert it again. display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to d…

Tags: mahabharata, wayang kulit, shadow puppet, javanese


reply slideshow prints & gifts share
The image cannot be display ed. Your computer may not
hav e enough memory to open the image, or the image
may hav e been corrupted. Restart y our computer, and
then open the file again. If the red x still appears, y ou
may hav e to delete the image and then insert it again.

Th
e
im
ag
e
ca
nn
ot
be
dis
pl
The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then insert it again. The image cannot be
display ed. Your computer
may not hav e enough
memory to open the image,
or the image may hav e been
corrupted. Restart y our
computer, and then open the
file again. If the red x still
appears, y ou may hav e to
delete the image and then
insert it again.
(Javanese Wayang Kulit Performance)
Th The image cannot be
e display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to
dis delete the image and then
pl insert it again.
ay
ed

The Javanese wayang kulit or wayang purwa is one of


.
Yo
ur
co
m
pu
ter
m
ay
no
t
ha
ve
en
ou
gh

the great dramatic


m
e
m
or
y
to
op
en
th
e
im
ag
e,
or
th
e

forms of the East. Above and beyond its value as a


im
ag
e
m
ay
ha
ve
be
en
co
rr
up
te
d.
Re
st

wonderful entertainment,
art
yo
ur
co
m
pu
ter
,
an
d
th
en
op
en
th
e

it is important to the Javanese as a ceremony: It


fil
e
ag
ai
n.
If
th
e
re
d
x
sti
ll
ap
pe
ar

provides a means of contact


s,
yo
u
m
ay
ha
ve
to
de
let
e
th
e
im
ag

with ancestral spirits and establishes an atmosphere of


e
an
d
th
en
in
se
rt
it
ag
ai
n.

serenity and balance; it


Th The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then insert it again. The image cannot be
e display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to d…

is a means of educating the young in the wisdom of the


culture; and it
employs, as a frame of reference, philosophical and
mystical ideas relating to
the esoteric self-discipline known as semadi.

No one understand all the facets of a wayang


performance -- even the
dhalang (puppeteer) may not completely understand the
obscure imagery of
some of the beautiful songs he sings. One is not
expected to pay constant
attention throughout the nightlong course of the play,
and may wander away
for some tea or food. Children, who form a large part of
the audience in Java,
often fall asleep during the longer and more
philosophical dialogues and wake
up when the clowns appear.

In general, a play falls into three main divisions defined


by the planting of the kayon or gunungan (tree or
mountain) in the center of the stage, thus marking
the line between the forces to the dhalang's right, usually
positive, and the
forces of left, usually negative. (The Javanese are, of
course, too subtle to
imagine that human nature is all bad or all good -- even
the great heroes have
certain weaknesses, and some of the villains have a
great nobility.) The
division of the wayang play into three sections is
paralleled in the
accompanying music by its corresponding division into
three pathet (modes).
The dhalang is in a complete charge of the performance.
Before it begins, he
meditates; during the performance he manipulates the
puppets, delivers all the dialogue in many voices,
describes the scene, comments on the meaning -- often
drawing on events of the day -- and signals the orchestra
what and when to play. He must know the stories and
characters of more than two hundred puppets. A good
dhalang may be able to perform as many as two
hundred lakon (wayang episodes). In Java, he is often
revered for his deep understanding of life and his role as
a teacher and spiritual guide. Through him, one is
initiated into the "secrets of earthly existence" and
educated in the philosophical and mystical composition
of life: the nature of order in the world, of cosmic justice,
and of the laws of the universe.

GAMELAN
A gamelan (orchestra), using various combination of
instruments, is
traditionally and essentially accompaniment to puppet
shows, dances, feasts,
and ceremonies in Java. Most of the instruments are
bronze: tuned gongs,
suspended vertically or horizontally; and instruments
with tuned keys,
suspended over tubular resonators or a resonant cavity
in the base of the
instrument. Other instruments include a two-stringed
fiddle, xylophones,
flutes, and drums. A full Javanese gamelan comprises
two sets of instruments,
one in each of two tuning systems: sléndro, with five
tones per octave, and
pélog, with seven. The three pathet used in the course of
the wayang all have
their distinct manifestations in both tuning systems. In
the overall sound of the
gamelan, no instrument predominates: each has an
important function that
relates to the whole. As for the music, rather than
harmony and development
in the Western sense, the primary organizing feature is
vocally-inspired modal polyphony of a highly melodic
character. Gendhing (composition) are quite
formal, for all their quality of ethereal improvisation.
Every gamelan piece is
cast in one of a small number of forms defined by the
mutually subdividing
cycles of certain of the gongs, most prominently, the
gong ageng (great gong).
The cyclic organization allows great flexibility in the
creation of pieces of
differing character; even within a piece, subtle (or
dramatic) shifts in feeling
occur as cycles slow down or speed up.
Tags: mahabharata, ramayana, wayang kulit, pagelaran, javanese
reply slideshow prints & gifts share

Th
e
im
ag
e
ca
nn
ot
be
dis
The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then insert it again. The image cannot be
display ed. Your computer
may not hav e enough
memory to open the image,
or the image may hav e been
corrupted. Restart y our
computer, and then open the
file again. If the red x still
appears, y ou may hav e to
delete the image and then
A Dalang is a complete artist. It is said so because a
dalang is the director and the main player of the show.
pl insert it again.

Beside moving the wayang, they are also give them


voice; they are comedians, and also preaching the
Th The image cannot be
e display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to
dis delete the image and then
pl insert it again.
ay
ed
.
Yo
ur

spiritual teaching. A Dalang is also the conductor of the


co
m
pu
ter
m
ay
no
t
ha
ve
en
ou
gh
m
e
m

gamelan orchestra.In a wayang show, the languages


or
y
to
op
en
th
e
im
ag
e,
or
th
e
im
ag
e

used are not only one (Javanese/ Balinese) but also


m
ay
ha
ve
be
en
co
rr
up
te
d.
Re
st
art
yo
ur

Sanscrete or Old Javanese/Balinese Language. In the


co
m
pu
ter
,
an
d
th
en
op
en
th
e
fil
e
ag

modern time, there are a lot of Indonesian words and


ai
n.
If
th
e
re
d
x
sti
ll
ap
pe
ar
s,
yo

sentences slipped in the shows.Because of that the


u
m
ay
ha
ve
to
de
let
e
th
e
im
ag
e
an
d

story of wayang often contain spiritual teachings or the


th
en
in
se
rt
it
ag
ai
n.

Th The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then insert it again. The image cannot be
e display ed. Your computer
im may not hav e enough

shows are produced in connection of certain religious


ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to d…

ceremonies, a dalang was expected to fulfill high


standards of spirituality. Before they are initiated as
dalang, they need to practice meditation and asceticism.
In the shows, they are believed to be able to
communicate between the physical and spiritual world.
A Dalang is often be categorized as a communicator,
spiritual person, and of course a complete artist.

The puppets are stored in line, in a banana tree trunk,


behind the screen and in front of the puppeter. The
puppeter is called the dalang.The dalang is the
puppeteer in wayang kulit performance of Indonesia. In
a performance of wayang kulit, the dalang sits behind a
screen which is used to project the shadows. In front of
the dalang is a plangkan (a type of table with holes
punched in its surface), on which the necessary puppets
sit ready for use. In addition to moving the puppets and
speaking their lines, the dalang is also responsible for
giving cues to the gamelan. This is done principally by
playing the kepyak, a set of bronze plates played with
his foot.

The dalang manipulates the puppets, sings and taps out


signals to the orchestra. He also speaks the parts for all
characters; he must be able to render the shy
sweetness in the voice of a princess, the spiteful whine
of a lackey and the righteous but controlled anger of a
noble hero. Not everyone can be a dalang. A Dalang is
a most extraordinary man. First of all, he is a public
entertainer. To amuse a great number of people is not
an easy matter. He must be physically strong and
healthy, otherwise he would not be able to stand the
strain. Just imagine, he is seated cross-legged for nine
successive hours. He cannot even have a wink of sleep.
He cannot get up from his seat until six o'clock the next
morning. He also has to strike the kechrek (rattle) with
his right foot almost incessantly. He handles the
puppets with both hands, imitates their different voices,
tell jokes at the right times, and even sings every now
and then. In addition, he controls the musicians without
anyone among the audience ever noticing it.

Th The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then insert it again. The image cannot be
e display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to
dis delete the image and then
pl insert it again.
Th The image cannot be
e display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to
dis delete the image and then
pl insert it again.
ay
ed
.
Yo
ur
co
m
pu
ter
m
ay
no
t
ha
ve
en
ou
gh
m
e
m
or
y
to
op
en
th
e
im
ag
e,
or
th
e
im
ag
e
m
ay
ha
ve
be
en
co
rr
up
te
d.
Re
st
art
yo
ur
co
m
pu
ter
,
an
d
th
en
op
en
th
e
fil
e
ag
ai
n.
If
th
e
re
d
x
sti
ll
ap
pe
ar
s,
yo
u
m
ay
ha
ve
to
de
let
e
th
e
im
ag
e
an
d
th
en
in
se
rt
it
ag
ai
n.

Th The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then insert it again. The image cannot be
e display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to d…

Th
e
im
ag
e
ca
nn
ot
be
dis
pl

Th The image cannot be


e display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to
dis delete the image and then
pl insert it again.
ay
ed
.
Yo
ur
co
m
pu
ter
m
ay
no
t
ha
ve
en
ou
gh
m
e
m
or
y
to
op
en
th
e
im
ag
e,
or
th
e
im
ag
e
m
ay
ha
ve
be
en
co
rr
up
te
d.
Re
st
art
yo
ur
co
m
pu
ter
,
an
d
th
en
op
en
th
e
fil
e
ag
ai
n.
If
th
e
re
d
x
sti
ll
ap
pe
ar
s,
yo
u
m
ay
ha
ve
to
de
let
e
th
e
im
ag
e
an
d
th
en
in
se
rt
it
ag
ai
n.

Th The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete The image cannot be
e the image and then insert it again. display ed. Your computer
im may not hav e enough
ag memory to open the image,
e or the image may hav e been
ca corrupted. Restart y our
nn computer, and then open the
ot file again. If the red x still
be appears, y ou may hav e to d…