Anda di halaman 1dari 5

Ribuan Khasiat Labu Kuning Sungguh Luar Biasa

http://www.suaramedia.com/gaya-hidup/makanan/20255-
ribuan-khasiat-labu-kuning-sungguh-luar-biasa.html

Labu Kuning Penawar Racun dan Cacing Pita yang Kaya Antioksidan
Labu kuning atau waluh merupakan bahan pangan yang kaya vitamin A dan C, mineral, serta
karbohidrat. Daging buahnya pun mengandung antioksidan sebagai penangkal berbagai jenis
kanker. Sayang, sejauh ini pemanfaatannya belum optimal.

Buah labu dapat digunakan untuk berbagai jenis makanan dan cita rasanya enak. Daunnya
berfungsi sebagai sayur dan bijinya bermanfaat untuk dijadikan kuaci. Air buahnya berguna
sebagai penawar racun binatang berbisa, sementara bijinya menjadi obat cacing pita.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduk Indonesia yang hidup dalam lingkungan
yang majemuk, memiliki aneka ragam kebudayaan dan sumber pangan spesifik, strategi
pengembangan pangan perlu diarahkan pada potensi sumber daya wilayah.

Banyak bahan pangan lokal Indonesia yang mempunyai potensi gizi dan komponen bioaktif yang
baik, namun belum termanfaatkan secara optimum. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan
pengetahuan masyarakat akan manfaat komoditas pangan tersebut.
Penelitian tentang karakterisasi dan potensi pemanfaatan komoditas pangan minor masih sangat
sedikit dibandingkan komoditas pangan utama, seperti padi dan kedelai. Labu kuning atau waluh
(Cucurbita moschata), yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai pumpkin, termasuk dalam
komoditas pangan yang pemanfaatannya masih sangat terbatas.

Tanaman labu tumbuh merambat dengan daun yang besar dan berbulu. Pucuk daun dan daun
muda dapat digunakan sebagai bahan sayuran yang lezat, bisa dimakan sebagai sayuran
bersantan, oseng-oseng, atau gado-gado. Selain daun, bagian dari tanaman ini yang memiliki
nilai ekonomi dan zat gizi terpenting adalah buahnya.

Walaupun tanaman labu kuning dipercaya berasal dari Ambon (Indonesia), budi daya tanaman
tersebut secara monokultur dan besar-besaran belum lazim dilakukan oleh masyarakat kita.
Tingkat konsumsi labu kuning di Indonesia masih sangat rendah, kurang dari 5 kg per kapita per
tahun.

Konsumsi labu kuning mencapai puncak pada bulan puasa. Sebab, komoditas ini sangat cocok
untuk diolah menjadi kolak, yang umumnya menjadi menu utama pada bulan tersebut.

Sangat Awet

Ada lima spesies labu yang umum dikenal, yaitu Cucurbita maxima Duchenes, Cucurbita
ficifolia Bouche, Cucurbita mixta, Cucurbita moschata Duchenes, dan Cucurbita pipo L. Kelima
spesies cucurbita tersebut di Indonesia disebut labu kuning (waluh) karena mempunyai ciri-ciri
yang hampir sama.

Labu kuning tergolong bahan pangan minor, sehingga data statistik nasional belum tersedia.
Namun, di beberapa sentra produksi, baik di Jawa, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan
Kalimantan Selatan, komoditas ini telah ditanam pada luasan tidak kurang dari 300 hektar.

Penanaman labu dapat dilakukan di tanah tegalan, pekarangan, maupun di sawah setelah panen
padi, baik monokultur maupun tumpangsari.
Labu ditanam di tanah petak-petak, dengan mengatur tanaman berjajar, jarak tanam antara 1-1,5
meter. Dalam satu hektar dapat ditanami sekitar 5.000 tanaman.

Untuk jenis lokal, buah dapat dipanen pada umur 3-4 bulan, sedangkan jenis hibrida, seperti labu
kuning taiwan, pada umur 85-90 hari. Apabila ditanam secara monokultur, tiap hektar lahan
dapat menghasilkan buah sekitar 50 ton per musim.

Buah labu kuning berbentuk bulat pipih, lonjong, atau panjang dengan banyak alur (15-30 alur).
Ukuran pertumbuhannya cepat sekali, mencapai 350 gram per hari.

Buahnya besar dan warnanya bervariasi (buah muda berwarna hijau, sedangkan yang lebih tua
kuning pucat). Daging buah tebalnya sekitar tiga cm dan rasanya agak manis.

Bobot buah rata-rata 3-5 kg. Untuk labu ukuran besar, beratnya ada yang dapat mencapai 20 kg
per buah. Biji labu tua dapat dikonsumsi sebagai kuaci setelah digarami dan dipanggang.

Buah labu kuning mempunyai kulit yang sangat tebal dan keras, sehingga dapat bertindak
sebagai penghalang laju respirasi, keluarnya air melalui proses penguapan, maupun masuknya
udara penyebab proses oksidasi. Hal tersebutlah yang menyebabkan labu kuning relatif awet
dibanding buah-buahan lainnya. Daya awet dapat mencapai enam bulan atau lebih, tergantung
pada cara penyimpanannya.

Namun, buah yang telah dibelah harus segera diolah karena akan sangat mudah rusak. Hal
tersebut menjadi kendala dalam pemanfaatan labu pada skala rumah tangga sebab labu yang
besar tidak dapat diolah sekaligus. Oleh karena itu, di supermarket atau pasar tradisional, labu
sering dijual dalam bentuk irisan.

Olahan Segar

Buah labu dapat digunakan sebagai sayur, sup, atau desert. Masyarakat umumnya memanfaatkan
labu yang masih muda sebagai sayuran (lodeh, asem-asem, brongkos). Olahan tradisional yang
paling dikenal dari labu kuning ialah kolak.

Buah yang sudah tua digunakan sebagai campuran dalam membuat bubur Manado dan sayur
bayam ala Sulawesi Selatan. Labu kuning setelah dikukus dapat dibuat aneka makanan
tradisional, seperti dawet, lepet, jenang, dodol, dan lain-lain.

Sesuai namanya, labu kuning mempunyai warna kuning atau jingga akibat kandungan
karotenoidnya yang sangat tinggi. Itulah sebabnya air perasan labu kuning sering digunakan
sebagai pewarna alami dalam pengolahan berbagai makanan tradisional.

Tepung labu juga sering dicampurkan ke dalam berbagai produk olahan untuk mendapatkan
warna kuning. Karotenoid dalam buah labu sebagian besar berbentuk betakaroten.

Air perasan buah dipercaya dapat mengobati luka akibat racun binatang. Sekitar 500-800 biji
segar tanpa kulit bisa digunakan sebagai obat pembasmi cacing pita pada orang dewasa. Kadang-
kadang diberikan sebagai obat emulsi (diminum beserta obat pencahar), setelah dicampur dengan
air. Pengobatan demikian amat berkhasiat dan aman tanpa efek sampingan.

Biji labu dikenal sebagai Semen Cucurbitae, yang kaya minyak dan dapat digunakan sebagai
obat cacing pita. Kegunaan lain labu kuning adalah untuk obat digigit serangga berbisa (daging
buah dan getahnya), disentri, dan sembelit.

Labu kuning juga dapat digunakan untuk penyembuhan radang, pengobatan ginjal, demam, dan
diare. Berdasarkan pemanfaatan labu kuning secara empiris dan turun-temurun untuk berbagai
pengobatan, diduga komoditas ini mempunyai berbagai komponen bioaktif yang perlu
dibuktikan secara ilmiah.

Tepung Labu

Pengolahan produk setengah jadi merupakan salah satu cara pengawetan hasil panen, terutama
untuk komoditas pangan yang berkadar air tinggi, seperti umbi-umbian dan buah-buahan.
Keuntungan lain dari pengolahan produk setengah jadi, sebagai bahan baku yang fleksibel untuk
industri pengolahan lanjutan, aman dalam distribusi, serta hemat ruang dan biaya penyimpanan.

Teknologi pembuatan tepung merupakan salah satu proses alternatif produk setengah jadi yang
dianjurkan karena lebih tahan disimpan, mudah dicampur (dibuat komposit), dibentuk, diperkaya
zat gizi, dan lebih cepat dimasak sesuai tuntutan kehidupan modern yang serba praktis. Dari segi
proses, pembuatan tepung hanya membutuhkan air relatif sedikit dan ramah lingkungan
dibandingkan dengan pembuatan pati.

Pada umumnya buah-buahan dan umbi-umbian mudah mengalami pencokelatan setelah dikupas.
Hal ini disebabkan oksidasi oleh udara sehingga terbentuk reaksi pencokelatan oleh pengaruh
enzim yang terdapat dalam bahan pangan tersebut (browning enzymatic). Pencokelatan karena
enzim merupakan reaksi antara oksigen dan suatu senyawa fenol yang dikatalisis oleh enzim
polifenol oksidase.

Untuk menghindari terbentuknya warna cokelat pada bahan pangan yang akan dibuat tepung,
dapat dilakukan melalui pencegahan sesedikit mungkin kontak antara bahan yang telah dikupas
dan udara. Caranya, rendam dalam air (atau larutan garam 1 persen) dan/atau menginaktifkan
enzim dalam proses blansir (perlakuan uap air panas).

Tepung labu kuning mempunyai sifat spesifik dengan aroma khas. Secara umum, tepung tersebut
berpotensi sebagai pendamping terigu dan tepung beras dalam berbagai produk olahan pangan.
Produk olahan dari tepung labu kuning mempunyai warna dan rasa yang spesifik, sehingga lebih
disukai oleh konsumen.

Tahapan pembuatan tepung dari buah labu kuning sebagai berikut: Labu kuning harus dipilih
yang mengkal, yaitu buah sudah tua tetapi belum masak optimum. Buah dipanen kira-kira 5-10
hari lebih awal dari umur panen semestinya. Buah yang masak optimum tidak sesuai dibuat
tepung karena kadar airnya tinggi, daging buahnya lembek, serta kadar patinya rendah.

Setelah dikupas kulitnya, labu dibelah-belah dan dilakukan pemblansiran, yaitu perlakuan
dengan uap panas selama 5-10 menit. Dalam skala rumah tangga, tahapan ini dapat dilakukan
seperti mengukus nasi tetapi tidak perlu ditutup.

Selanjutnya labu dirajang dengan ketebalan 0,1-0,3 cm. Hasil perajangan tersebut dinamakan
sawut. Pengeringan sawut dilakukan sampai diperoleh kadar air sekitar 14 persen.

Agar lebih efisien, penepungan sawut dilakukan dalam dua tahapan, yaitu 1) penghancuran
sawut untuk menghasilkan butiran kecil (lolos 20 mesh), dan 2) penggilingan/penepungan
menggunakan saringan lebih halus (80 mesh). Penggilingan sawut kering menjadi tepung labu
kuning dapat menggunakan mesin penepung beras.

Labu kuning ternyata mempunyai manfaat lebih dari sekadar untuk hiasan Halloween. Mulai dari
mencegah penuaan dini sampai mencegah kanker. Hebat kan?
Apa sih rahasia labu kuning sampai sehebat itu? Ah, bukan rahasia kok, karena terlihat dari
warnanya saja, kuning kejingga-an, sudah bisa diduga bahwa buah ini mengandung beta-
carotene. Dan sudah banyak orang tahu bahwa beta-carotene adalah sumber antioksidan, yang
mampu mencegah penuaan dini dan kanker.
Selain beta-carotene, pada labu kuning juga terdapat vitamin A, vitamin C, dan Alpha -hydrox-
acid, yang bagus untuk kulit. Bertambah deh manfaatnya untuk mencegah penuaan dini.
Labu kuning juga mengandung cukup banyak potassium. Mineral ini disebut-sebut mampu
menurunkan risiko terkena hipertensi.
Mineral jagoan lainnya yang terdapat dalam labu kuning adalah zinc, yang mampu
meningkatkan system imun (pertahanan) tubuh. Belum lagi kemampuannya menurunkan risiko
osteoporosis, karena zinc berperan dalam mendukung kepadatan tulang.
Kandungan serat di labu kuning juga cukup tinggi, sehingga sangat berguna dalam kesehatan
pencernaan. Selain itu serat, menurut hasil penelitian, juga menurunkan risiko kanker dan
penyakit jantung.
Selain dagingnya, biji labu kuning juga mempunyai manfaat, yakni meringankan gejala arthritis,
karena di dalamnya terkandung zat anti-peradangan.
Wuih, banyak juga ya manfaatnya. Tak mengherankan jika Cinderella memilih kereta dari buah
ini. Tapi dimasak jadi apa ya labu kuning? Yang paling mudah sih jadi sop labu ala barat.
Daging labu kuning dihaluskan lalu dimasukkan ke kuah sop sehingga menjadi sop kental yang
enak disantap pada malam hari sebagai pengganti makan malam.
Daging labu kuning juga sudah dimanfaatkan sebagai pelengkap dalam penganan bubur Manado.
Campuran bubur, sayuran, labu kuning, dan ikan membuat penganan ini sangat lengkap dan
sehat.
Mau yang lebih gaya, santap labu kuning dalam bentuk pie. Uah ini juga bisa diolah menjadi
roti.
Biji labu kuning bisa dipanggang, dan disantap sebagai kuaci. Bisa juga biji tersebut dicampur
dengan sereal atau bubur gandum sebagai teman makan pagi.
Tak terlalu sulit kan? Atau bahkan Anda bisa berkreasi mengembangkan penganan lain dari labu
kuning? (fn/gz/wt) www.suaramedia.com