Anda di halaman 1dari 5

TUGAS AKHIR TATANIAGA

Ulasan Artikel atau Penelitian Tataniaga

Efisiensi Sistem Tataniaga Sayuran Untuk Pasar Tradisional dan Pasar Modern
Melalui Sub Terminal Agribisnis Cigombong Kabupaten Cianjur Jawa Barat

Disusun Oleh :

Faith Ahmad Mas’ud (H34076062),Pamela (H34076118),Refi Rifan Firmansyah (H34076

PROGRAM SARJANA AGRIBISNIS PENYELENGGARAAN KHUSUS

DEPT. AGRIBISNIS, FEM, IPB

Dosen : Ratna

Hari / Tgl Prak : Sabtu, Maret 2009

Ruang : Kimia

I. Pendahuluan

Adanya kebutuhan dan keinginan manusia menimbulkan permintaan terhadap


produk tertentu yang didukung oleh kemampuan membeli. Produk tersebut diciptakan
untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia, sehingga timbul proses
pertukaran untuk memperoleh produk yang diinginkan . Tataniaga merupakan suatu
kegiatan manusia yang diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui
proses pertukaran, yaitu meliputi kegiatan untuk memindahkan barang dan jasa dari
produsen ke konsumen.

Sayuran merupakan komoditas agribisnis yang menghasilkan vitamin dan mikro


elemen lainnya yang bermanfaat bagi tubuh. Agibisnis sayuran di Kabupaten Cianjur
berkembang dengan baik, karena didukung oleh keadaan topografi yang sebagian
besar berupa daerah pegunungan, dan sebagian merupakan daerah dataran rendah.
Tataniaga sayuran yang akan disoroti dalam ulasan ini adalah wortel, Brokoli, Selada
Keriting, dan Bawang Daun.

II. Pembahasan

2.1. Lembaga Tataniaga

Lembaga tataniaga adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan


atau fungsi tataniaga dimana barang bergerak dari produsen menuju konsumen.
Lembaga tataniaga yang terkait dengan distribusi sayuran di Kabupaten Cianjur ini
adalah pedagang tradisional yang terdiri dari pedagang pengumpul desa, pedagang
pengumpul kecamatan (pengumpul besar), pedagang pengumpul Sub Terminal
Agribisnis (STA), dan pedagang pasar induk. Selain itu untuk tataniaga pasar modern
terdapat pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang
pengumpul STA Putra Cianjur Mandiri (PCM), dan pedagang supermarket. Setiap
lembaga tataniaga umumnya melakukan fungsi-fungsi tataniaga berdasarkan
kepentingan dan tujuan pemasarannya.
2.1.1. Petani
Pada umumnya petani, melakukan penjualan langsung kepada berbagai
pedagang pengumpul yang terdekat dengan lokasi penanaman sayuran, hal ini
dilakukan untuk mengurangi tingkat penyusutan terhadap komoditi sayuran. Setelah
melakukan pemanenan, petani langsung melakukan transaksi penjualan kepada
lembaga tataniaga. Proses transaki kesepakatan harga, petani menawarkan harga
yang berlaku di pasar, tetapi pedagang lebih dominan dalam proses tawar-menawar
tersebut. Setelah terjadi transaksi, petani tradisional mngirim hasil panennya langsung
ke tempat pengumpul yang biasanya tidak jauh dari tempat petani. Lain halnya dengan
petani binaan, produknya diambil oleh PCM di tempat si petani, tetapi ada pula petani
yang mengantarkan sayurannya ke PCM apabila lokasinya dekat dengan petani.
Penjual sayuran kepada lembaga tataniaga atau pengumpul, petani biasanya tidak
melakukan pembersihan, sortasi, maupun grading. Istilah yang dikenal oleh petani
Cianjur abresan (berat kotor)
2.1.2. Pedagang pengumpul Desa (Pengumpul Kecil)
Pedagang pengumpul desa sebagian besar berperan sebagai perantara petani
dan pedagang besar atau pedagang pengumpul STA. hal ini terjadi karena petani lebih
memilih menjual hasil panennya kepada pedagang pengumpul desa karena dekat
dengan tempat tinggalnya, dan menghemat biaya distribusi.
Kebanyakan pedagang pengumpul untuk pasar tradisional sudah mengenal
karakteristik serta kualitas sayuran dari setiap petani yang menjadi langganannya, hal
ini dapat dijadikan dasar untuk pedagang pengumpul dalam menentukan harga. Lain
halnya dengan pedagang pengumpul desa untuk pasar modern, biasanya para
pedagang ini lebih spesifik membeli atau menampung komoditi sayuran sesuai
kebutuhan atau kontrak dengan pedagang pengumpul STA untuk pasar modern
dimana sebagai pelaku usahanya adalah PCM (Putra Cianjur Mandiri).
Pendistribusian sayuran dari petani kepada pedagang besar (pedagang
Kecamatan) terdapat beberapa tahapan kegiatan, dimana kegiatan tahap tersebut
menggambarkan fungsi-fungsi tataniaga yang dilakukan pedagang pengumpul desa.
Setelah melakukan transaksi dan terjadi kesepakatan harga dengan petani kemudian
pedagang pengumpul tersebut menerima sayuran dari petani, kemudian pedagang
melakukan penimbangan secara keseluruhan sebab petani menjual secara abresan.
Sistem pembayaran yang dilakukan pedagang pengumpul desa kepada petani dapat
berupa pembayaran tunai. Tetapi terkadang ada sebagian petani yang menukarkan
sebagian hasil panennya dengan bibit baru untuk periode penanaman selanjutnya.
Fungsi pemasaran lain yang dilakukan oleh pedagang pengumpul desa adalah
sebagai pengumpul sementara, melakukan pembersihan dan pengemasan. Biaya
pengiriman atau biaya operasional yang dilakukan pedagang pengumpul desa ke
tempat pedagang pengumpul besar biasanya ditanggung sepenuhnya oleh pedagang
pengumpul tradisional. Lain halnya yang dilakukan oleh pedagang pengumpul desa
yang memasok sayuran untuk pasar modern, biasanya sayuran sudah dikemas sesuai
pesanan dan penangkutan dilakukan oleh pihak PCM.
2.1.3. Pedagang Pengumpul Kecamatan (PPK)
Pedagang besar atau juga yang disebut dengan pedagang antar kecamatan,
melakukan pembelian baik dari petani langsung maupun dari pedagang pengumpul
desa, dengan tujuan utama penjualan adalah kepada pedagang pengumpul STA,
tetapi ada pula yang melakukan penjualan langsung kepada pedagang pasar
induk.keberadaan pedagang besar pada umumnya terkonsentrasi di perbatasan antar
kecamatan. Tahap awal kegiatan tataniaga yang dilakukan pedagang besar adalah
transaksi pembelian dan penentuan kesepakatan harga dengan petani atau pedagang
pengumpul . Kesepakatan harga yang terbentuk biasanya merupakan hasil tawar-
menawar. Jika pedagang besar mendistribusikan langsung ke pasar modern melalui
PCM di STA, harga ditentukan berdasarkan kontrak dagang yang telah disepakati
sebelumnya. Pedagang besar juga melakukan upaya penanggungan resiko berupa
pemotongan atau pengurangan berat sayuran sebesar lima sampai 10 persen baik
yang diterima dari petani langsung maupun dari pedagang pengumpul desa.
Pedagang pengumpul STA untuk pasar modern (PCM) menggunakan sistem
kontrak. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya resiko harga. Oleh sebab itu
sistem pembayaran kepada pedagang pengumpul binaan dan petani binaan
dibayarkan secara berkala, artinya sayuran yang dikirimkan hari ini akan dibayarkan
minggu berikutnya secara akumulasi.
2.1.4. Pedagang Pengumpul STA Untuk Pasar Tradisional
Pedagang pengumpul STA adalah para pedagang yang terkoordinasi
keberadaannya. Di Sub Terminal Agribisnis (STA), setiap kegiatan yang terjadi harus
dilaporkan, biasanya berupa catatan jenis sayuran yang keluar atau masuk melalui
STA, volume sayuran setiap harinya, dan yang terpenting adalah pencatatan
pergerakan harga setiap jenis sayuran yang diperdagangkan. Biasanya para pedagang
kecamatan mengantarkan langsung sayuran yang akan dijual melalui STA tradisional.
Kegiatan yang dilakukan adalah regrading sayuran yang sudah dibeli dari pengumpul
Kecamatan. Hal ini dilakukan untuk memberikan nilai tambah dan meminimalkan
volume sampah di pasar induk. Setelah kegiatan regrading selesai, selanjutnya masuk
pada proses packing.
2.1.5. Pedagang Pengumpul STA Untuk Pasar Modern (PCM)
Pedagang pengumpul STA untuk pasar modern adalah pelaku usaha yang
didirikan STA bernama Putra Cianjur Mandiri. Di dalamnya merupakan para
pengumpul yang bekerja sebagai staf organisasi Sub Terminal Agribisnis Cigombong,
Cianjur. Sepanjang perintisan pengumpul STA untuk PCM sudah memiliki empat mitra
pasar supermarket seperti Hari-hari Supermarket, Tip-Top, Aneka Buana, dan Lion
Superindo. PCM melakukan sistem penjualannya dengan cara kontrak kesepakatan
yang selalu akan diperbaharui seminggu sekali. Kesepakatan antara PCM dan
supermarket berdasarkan harga penawaran yang diajukan setiap satu minggunya oleh
PCM kepada supermarket sebelum pembaharuan kontrak di minggu berikutnya. Acuan
harga yang diajukan PCM kepada supermarket berdasarkan kondisi di lapangan.
2.1.6. Pedagang Pasar Induk
Pedagang pasar induk merupakan pembeli dari pedagang pengumpul STA,
atau pun pedagang pengirim lain. Pedagang pasar induk biasanya sudah memiliki
pedagang pengumpul langganan yang dipercaya untuk memasok sayuran ke pasar
induk Jakarta. Pedagang pasar induk melakukan penjualan sayuran kepada pasar
sasarannya diantaranya pedagang pengecer, perusahaan, catering, restoran, bahkan
langsung kepada konsumen akhir. Sistem pembayaran pedagang pasar induk kepada
pedagang pengumpul STA berupa tunai dan sistem pembayaran kemudian. Adanya
sistem pembayaran kemudian karena sudah terjalinnya kepercayaan antara kedua
belah pihak yang telah lama terjalin.
2.1.7. Pedagang Pasar Modern (Supermarket)
Pedagang pasar modern merupakan pedagang yang memasarkan sayuran
secara swalayan dengan fasilitas tempat yang nyaman bagi konsumen. Sayuran
tertata dengan rapi, tempat penyimpanan yang baik sehingga membuat sayuran selalu
segar. Sistem pembayaran yang dilakukan oleh pedagang pasar modern dengan
sistem kontrak. Resiko laku atau tidaknya sayuran yang sudah diorder sepenuhnya
ditanggung oleh pihak supermarket. Sedangkan konsumen akhir membayar secara
tunai kepada supermarket.
2.2. Fungsi-fungsi Tataniaga
Pada tataniaga terdapat kegiatan yang berhubungan dengan penyampaian
produk dari petani sampai ke konsumen. Kegiatan-kegiatan tersebut dengan fungsi
tataniaga. Setiap tataniaga yang terlibat dalam distribusi sayuran melaklukan berbagai
fungsi-fungsi tataniaga yang dikelompokkan dalam tiga fungsi utama yaitu fungsi
pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas.

Tabel 1. Fungsi-fungsi Tataniaga yang Dilaksanakan Oleh Lembaga-lembaga Tataniaga Sayuran


(Wortel, Brokoli, Selada Keriting, dan Bawang Daun) melalui STA Cianjur.
Fungsi Tataniaga Lembaga Tataniaga
Petani PPD PPK PP PPI PPM
STA
T M T M T M T M
Pertukaran
 Pembelian - - + + + + + + + +
 Penjualan + + + + + + + + + +
Fisik
 Pengemasan - # # + + + + - # -
 Penyimpanan - - - - # - - - # -
 Pengangkutan # # + # + - + + - -
 Pengolahan - - - - - - - - - -
Fasilitas
 Sortasi - - + + + + + - # -
 Grading - - + + + + + - # -
 Pembiayaan # # + + + + + + + +
 Penanggungan Resiko + + + + + + + + + +
 Informasi Pasar + + + + + + + + + +
Ket: PPD (Pedagang Pengumpul Desa), PPK (Pedagang Pengumpul Kecamatan), PP STA (Pedagang
Pengumpul STA), PPI (Pedagang Pasar Induk, PPM Pedagang Pasar Modern), T (Tradisional), M
(Modern).
(-) : Kegiatan tidak dilakukan
(+): Kegiatan dilakukan
(#): Kegiatan kadang-kadang dilakukan
2.3. Saluran Pemasaran
Saluran Tataniaga merupakan serangkaian lembaga-lembaga tataniaga yang
P1: 7.25% STA
P2:1 7.14%
: Pasartradisional
: Pasar modern Pasar Induk Pasar Sasaran
P3:21.54%
etani Tradisional
Pasar
P4:24.07% Tradisional 70%
PPD PPK

P1: 7.68%
mengambil Supermarket
alih30%hak atau Konsumen
membantu dalam
Petani Binaan Pasar Modern/PCM
P2:10.48%
pengalihan hakatas komoditi selama komoditi tersebut
berpindah P3:11.84% tangan. Komoditi sayuran dari Kabupaten Cianjur
sebagian yang dihasilkan adalah wortel, brokoli, selada keriting,
dan bawang daun.Sedangkan jenis sayuran lainnya masih dibeli dari luar
Cianjur seperti dariBandung danGarut.

Keterangan :

Gambar 1. Pola Saluran Tataniaga Komoditi Sayuran di Kabupaten Cianjur


Berdasarkan gambar 1, terbentuk empat pola saluran saluran tataniaga
komoditi sayuran untuk pasar tradisional melalui pedagang pengumpul yaitu:
Pola Saluran 1: Petani – Pedagang Pengumpul STA – Pasar Induk
Pola Saluran 2: Petani – Pengumpul Desa – Pedagang Pengumpul STA – Pasar Induk
Pola Saluran 3: Petani – Pengumpul Keacmatan – Pedagang Pengumpul Pasar Induk
Pola Saluran 4: Petani – Pengumpul Desa – Pengumpul Kecamatan
Berdasarkan penelusuran pola saluran tataniaga komoditi sayuran yang
melalui pedagang pengumpul STA untuk pasar modern dari petani sebagai produsen
hingga konsumen terbentuk tiga pola saluran tataniaga, yaitu:
Pola saluran 1: Petani Binaan – Pedagang Pengumpul STA atau PCM – Supermarket – Konsumen
Pola Saluran 2: Petani Binaan – Pedagang Pengumpul Desa – PCM – Supermarket – Konsumen
Pola Saluran 3: Petani Binaan – Pengumpul Desa – Pengumpul Kecamatan – PCM – Supermarket –
Konsumen