A. PENGERTIAN KONFLIK SOSIAL Manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan sesama manusia.

Ketika berinteraksi dengan sesama manusia, selalu diwarnai dua hal, yaitu konflik dan kerjasama. Dengan demikian konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik, dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2002) diartikan sebagai percekcokan, perselisihan, dan pertentangan. Menurut Kartono & Gulo (1987), konflik berarti ketidaksepakatan dalam satu pendapat emosi dan tindakan dengan orang lain. Keadaan mental merupakan hasil impuls-impuls, hasrat-hasrat, keinginan-keinginan dan sebagainya yang saling bertentangan, namun bekerja dalam saat yang bersamaan. Konflik biasanya diberi pengertian sebagai satu bentuk perbedaan atau pertentangan ide, pendapat, faham dan kepentingan di antara dua pihak atau lebih. Pertentangan ini bisa berbentuk pertentangan fisik dan non-fisik, yang pada umumnya berkembang dari pertentangan non-fisik menjadi benturan fisik, yang bisa berkadar tinggi dalam bentuk kekerasan (violent), bisa juga berkadar rendah yang tidak menggunakan kekerasan (non-violent). Gambar 6.1 menjelaskan tentang perilaku manusia yang muncul akibat dari perbedaan pendapat. Demonstrasi yang dilakukan untuk menentang kebijakan negara adalah salah satu bentuk perbedaan pendapat dan kepentingan antara kelompok masyarakat dengan negara atau dengan kelompok lainnya. Fenomena ini termasuk dalam kategori konflik, walaupun tidak mengarah kepada pertentangan fisik. Konflik juga dimaknai sebagai suatu proses yang mulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif, atau akan segera mempengaruhi secara negatif, sesuatu yang diperhatikan oleh pihak pertama. Suatu ketidakcocokan belum bisa dikatakan sebagai suatu konflik bilamana salah satu pihak tidak memahami adanya ketidakcocokan tersebut (Robbins, 1996). Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik bisa terjadi karena hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki tujuan-tujuan yang tidak sejalan (Fisher, dalam Saputro, 2003). Sedangkan White & Bednar (1991) mendefinisikan

konflik sebagai suatu interaksi antara orang-orang atau kelompok yang saling bergantung merasakan adanya tujuan yang saling bertentangan dan saling mengganggu satu sama lain dalam mencapai tujuan itu. Jika tindakan seseorang individu untuk memenuhi dan memaksimal kan kebutuhannya menghalangi atau membuat tindakan orang lain jadi tidak efektif untuk memenuhi dan memaksimalkan kebutuhan orang tersebut, maka terjadilah konflik kepentingan (conflict of interest) (Deustch dalam Johnson & Johnson, 1991). Cassel Concise dalam Lacey (2003) mengemukakan bahwa konflik sebagai ³a fight, a collision; a struggle, a contest; opposition of interest, opinion or purposes; mental strife, agony´. Pengertian tersebut memberikan penjelasan bahwa konflik adalah suatu pertarungan, suatu benturan; suatu pergulatan; pertentangan kepentingan, opini-opini atau tujuan-tujuan; pergulatan mental, penderitaan batin. Konflik adalah suatu pertentangan yang terjadi antara apa yang diharapkan oleh seorang terhadap dirinya, orang lain, orang dengan kenyataan apa yang diharapkan (Mangkunegara, 2001). Konflik juga merupakan perselisihan atau perjuangan di antara dua pihak (two parties)yang ditandai dengan menunjukkan permusuhan secara terbuka dan atau mengganggu dengan sengaja pencapaian tujuan pihak yang menjadi lawannya (Wexley &Yukl, 1988). Gambar 6.2 di bawah ini adalah salah satu contoh konflik yang sesuai dengan pendapat di atas, yaitu ketika apa yang diharapkan oleh suporter persebaya agar kesebelasan kesayangannya menang tidak terwujud, akibatnya dia melakukan berbagai tindakan penyerangan kepada siapa saja, termasuk kepada aparat keamanan.

Pertentangan dikatakan sebagai konflik manakala pertentangan itu bersifat langsung, yakni ditandai interaksi timbal balik di antara pihakpihak yang bertentangan. Selain itu, pertentangan itu juga dilakukan atas dasar kesadaran pada masing-masing pihak bahwa mereka saling berbeda atau berlawanan (Syaifuddin, dalam Soetopo dan Supriyanto, 2003). Dalam hubungannya dengan pertentangan sebagai konflik, Marck, Synder dan Gurr membuat kriteria yang menandai suatu pertentangan sebagai konflik. Pertama, sebuah konflik harus melibatkan dua atau lebih pihak di dalamnya; Kedua, pihak-pihak tersebut saling tarikmenarik dalam aksi-aksi saling memusuhi (mutualy opposing actions); Ketiga, mereka biasanya cenderung menjalankan perilaku koersif untuk menghadapi dan menghancurkan ³sang musuh´. Keempat, interaksi pertentangan di antara pihak-pihak itu berada dalam keadaan yang tegas, karena itu keberadaan peristiwa pertentangan itu dapat dideteksi dan dimufakati dengan mudah oleh para pengamat yang tidak terlibat dalam pertentangan (Gurr,

Konflik tidak selalu menghasilkan kerugian. Konflik adalah relasi-relasi psikologis yang antagonis. Banyak konflik yang tidak terselesaikan karena masing-masing pihak tidak memahami sifat saling ketergantungan. 2003). Jika kedua pihak merasa tidak perlu untuk menyelesaikan masalah. berkaitan dengan tujuan-tujuan yang tak bisa dipertemukan. sampai pada bentuk perlawanan terbuka (Clinton dalam Soetopo dan Supriyanto.dalam Soetopo. pihak lain akan terganggu maka terjadilah konflik diakibatkan sumberdaya. sedangkan agresi hanya membawa dampak-dampak yang merugikan bagi individu. tetapi juga membawa dampak yang konstruktif bagi pihak-pihak yang terlibat. maka bangku itu menjadi sumberdaya. maka perpecahan tidak dapat dihindari. organisasi-organisasi yang disebabkan oleh adanya berbagai macam perkembangan dan perubahan dalam bidang manajemen. scarce rewards. sehingga meskipun konflik yang ada sebenarnya merupakan konflik yang kecil. Konflik juga merupakan suatu interaksi yang antagonis mencakup tingkah laku lahiriah yang tampak jelas mulai dari bentuk perlawanan halus.3) adalah salah satu contoh konflik yang sering terjadi di kalangan pelajar. sikap-sikap emosional yang bermusuhan. Hocker & Wilmot (1991) memberikan definisi yang cukup luas terhadap konflik sebagai ³an expressed struggle betwen at least two interdependent parties who perceive incompatibel goal. Seseorang dikatakan terlibat konflik dengan pihak lain jika sejumlah ketidaksepakatan muncul antara keduanya. Selama ini konflik sering dihubungkan dengan agresi. Dengan kata lain. Broadman & Horowitz (dalam Kusnarwatiningsih. seolah-olah tampak sebagai konflik yang besar. and interference from the other parties in achieving their goals´. sedang yang lain tidak. tersembunyi. Konflik dapat dikatakan sebagai suatu oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang. keyakinan dan ide (Mulyasa. Semua konflik seringkali dipandang sebagai pencapaian tujuan satu pihak dan merupakan kegagalan pencapaian tujuan pihak lain. karena kepuasan seseorang tergantung perilaku pihak lain. Hal ini karena seringkali orang memandang tujuannya sendiri secara lebih penting. 2003). 1986). sampai pada bentuk perlawanan terbuka antara dua pihak atau lebih yang saling tergantung satu sama lain yang sama-sama merasakan tujuan yang saling tidak cocok. 2007) menyatakan bahwa konflik dan agresi merupakan dua hal yang berbeda. Jika hanya satu pihak yang merasakan ketidaksetujuan. dan masing-masing menyadari adanya ketidaksepakatan itu. Konflik dalam pengertian yang luas dapat dikatakan sebagai segala bentuk hubungan antar manusia yang bersifat berlawanan (antagonistik) (Indrawijaya. maka belum bisa dikatakan konflik antara dua pihak. 2001). dua pihak harus menyadari adanya masalah sebelum mereka berada di dalam konflik. terkontrol. kelompok-kelompok. Konflik muncul diakibatkan salah satunya perebutan sumberdaya. serta menimbulkan perbedaan pendapat. Apabila salah satu pihak bertingkah laku seakanakan mau menguasai kamar. tersembunyi. dan struktur-struktur nilai yang berbeda. Misalnya. Tawuran antar pelajar (Gambar 6. Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa konflik adalah suatu pertentangan dalam bentuk-bentuk perlawanan halus. tak langsung. jika dua orang duduk sebangku dalam kelas. kelangkaan sumber daya dan hambatan yang didapat dari pihak lain dalam mencapai tujuannya. Pihak-pihak yang berkonflik saling tergantung satu sama lain. tak langsung. . terkontrol.

(3) setiap unsur dalam masyarakat memeberikan kontribusi terhadap desintegrasi dan perubahan. 1994). konflik internasional. konflik terdapat di mana-mana. (2) setiap masyarakat memperlihatkan konflik dan pertentangan. Dengan demikian berarti. 1994). konflik yang menyentuh nilai-nilai inti akan dapat mengubah struktur sosial sedangkan konflik yang mempertentangkan nilai-nilai yang berada di daerah pinggiran tidak akan sampai menimbulkan perpecahan yang dapat membahayakan struktur sosial. Coser (1956) mengutip hasil pengamatan Simmel. Luas konflik. Intensitas konflik adalah luas-sempitnya komitmen sosial yang bisa terbangun akibat sebuah konflik. sehingga luas konflikpun mengembang. karena itu tidak ada masyarakat yang steril dari realitas konflik. yaitu: (1) setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan. membuat 4 postulat yang menunjukkan keniscayaan itu.Konflik pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan sosial. maka dapat dikatakan konflik sosial merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar. konflik etnis. Adapun ketampakan konflik adalah tingkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat di luar pihak-pihak yang berkonflik tentang peristiwa konflik yang terjadi. Konflik yang intensitasnya tinggi adalah konflik yang bisa membangun komitmen sosial yang luas. konflik nasional. Karena konflik merupakan bagian kehidupan sosial. Sebuah konflik dikatakan memiliki ketampakan yang tinggi manakala peristiwa konflik itu disadari dan diketahui detail keberadaannya oleh masyarakat secara luas. konflik agama dan sebagainya). Dahrendorf (1986). integrasi dan perpecahan adalah proses fundamental yang walau dalam porsi dan campuran yang berbeda merupakan bagian dari setiap sistem sosial yang dapat dimengerti (Poloma. dan menunjuk pula pada skala konflik yang terjadi (misalnya: konflik lokal. menunjukkan bahwa konflik mungkin positif sebab dapat meredakan ketegangan yang terjadi dalam suatu kelompok dengan memantapkan keutuhan dan keseimbangan. (4) setiap masyarakat dicirikan oleh adanya penguasaan sejumlah kecil orang terhadap sejumlah besar lainnya. dan (3) ketampakan konflik. . menunjuk pada jumlah perorangan atau kelompok yang terlibat dalam konflik. perubahan sosial terdapat di manamana. Coser menyatakan bahwa masyarakat yang terbuka dan berstruktur longgar membangun benteng untuk membendung tipe konflik yang akan membahayakan konsensus dasar kelompok itu dari serangan terhadap nilai intinya dengan membiarkan konflik itu berkembang di sekitar masalah-masalah yang tidak mendasar (Poloma. Coser (1956) menyatakan: konflik dan konsensus. (2) intensitas konflik. Cobb dan Elder (1972) mengungkapkan adanya tiga dimensi penting dalam konflik politik: (1) luas konflik.

Perlu ditegaskan. Pada umumnya penyebab munculnya konflik kepentingan sebagai berikut: (1) perbedaan kebutuhan. pengetahuan. B. demikian halnya sebaliknya. tenang. nilai. . adat istiadat. dan disinonimkan dengan istilah kekerasan (violence). bahkan ada kalanya konflik dapat bermanfaat pada kinerja kelompok. Hal ini dikarenakan sesuatu yang seharusnya bisa menjadi sumber konflik. tidak terelakkan. konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. bahwa pendekatan interaksionis tersebut tidak berarti memandangan semua konflik adalah suatu hal yang baik. salah paham. Pandangan tradisional tentang konflik mengandaikan konflik itu buruk. Begitu beragamnya sumber konflik yang terjadi antar manusia. ada pihak yang dirugikan. 1991). Dalam interaksi antara manusia. Kadang sesuatu yang sifatnya sepele bisa menjadi sumber konflik antara manusia. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik. dan lain sebagainya. konflik kepentingan akan muncul (Johnson & Johnson. (2) langkanya sumber daya seperti kekuatan. Berdasarkan pendekatan interaksionis memandang konflik atas dasar bahwa kelompok yang kooperatif. apalagi hanya didasarkan pada hal-hal yang sifatnya rasional. dan serasi cenderung menjadi statis. nilai dan tujuan saling bertentangan. ketegangan dan sebagainya. popularitas dan posisi. Menurut Anoraga (dalam Saputro. Oleh karena kita tidak bisa menetapkan secara tegas bahwa yang menjadi sumber konflik adalah sesuatu hal tertentu. kritis-diri dan kreatif. dan perasaan sensitif. konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial. sebuah konflik memiliki ketampakan rendah manakala konflik itu terselimuti oleh berbagai hal sehingga tingkat kesadaran dan pengetahuan masyarakat luas terhadap konflik itu sangat terbatas. dan ketidakrasionalan demi memperkuat konotasi negatifnya. dipandang secara negatif. kepandaian. tidak ada yang mau mengakui kesalahan. waktu. sedangkan ada konflik yang menghalangi kinerja kelompok atau yang disebut dengan konflik disfungsional atau destruktif. tetapi pada kelompok manusia tertentu ternyata tidak menjadi sumber konflik. sehingga cukup untuk membuat kelompok itu hidup. oleh karena itu harus dihindari (Robbins. dan ketika persaingan untuk suatu penghargaan serta hak-hak istimewa muncul. damai. 1996). ruang. sehingga sulit itu untuk dideskripsikan secara jelas dan terperinci sumber dari konflik. Ketika kebutuhan. pengaruh. destruksi. dan tujuan. dan apabila perbedaan pendapat tersebut amat tajam maka dapat menimbulkan rasa kurang enak. Perbedaan pendapat Suatu konflik yang terjadi karena pebedaan pendapat dimana masing-masing pihak merasa dirinya benar. SUMBER KONFLIK SOSIAL Konflik yang terjadi pada manusia bersumber pada berbagai macam sebab. Pandangan pada masa kini melihat konflik merupakan peristiwa yang wajar dalam kehidupan kelompok dan organisasi. 2003) suatu konflik dapat terjadi karena perbendaan pendapat. biasa disebut dengan konflik fungsional. Kesimpulannya sumber konflik itu sangat beragam dan kadang sifatnya tidak rasional. kaum interaksionis mendorong pemimpin suatu kelompok apapun untuk mempertahankan suatu tingkat minimum berkelanjutan dari konflik. uang. ketika sejumlah sumber daya menjadi terbatas. Konflik adalah merugikan. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. tetap memandang konflik adalah suatu hal yang tidak baik.Sebaliknya. Kaum interaksional memandang ada konflik yang mendukung tujuan kelompok dan memperbaiki kinerja kelompok. dan (3) persaingan. Oleh karena itu. 1. apatis. dan tidak tanggap terhadap kebutuhan akan perubahan dan inovasi. konflik tidak dapat disingkirkan. keyakinan.

mungkin tindakan seseorang wajar. 3. (3) sifat masalah yang menimbulkan konflik. atribusi dan kesalahan dalam berkomunikasi. Perasaan sensitif Seseorang yang terlalu perasa sehingga sering menyalah artikan tindakan orang lain. kurang senang atau bahkan membenci. dapat ditegaskan bahwa sumber konflik dapat berasal dari dalam dan luar . antara lain: (1) ciri umum dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Schmuck (dalam Soetopo dan Supriyanto. tetapi oleh pihak lain dianggap merugikan. dan (4) adanya tekanan yang dipaksakan dari luar kepada organisasi. (6) perbedaan persepsi.2. 1988). 1999) mengemukakan bahwa kategori sumbersumber konflik ada empat. (2) hubungan pihak-pihak yang mengalami konflik sebelum terjadi konflik. 4. 2007) mengemukakan konflik disebabkan antara lain oleh perebutan sumber daya. yaitu: (1) persaingan terhadap sumber-sumber (competition for resources). (2) ketergantungan dalam pelaksanaan tugas. dan perbedaan dalam nilai-nilai atau persepsi. (7) konsekuensi konflik terhadap pihak yang mengalami konflik dan terhadap pihak lain. dan (8) strategi permotivasian yang tidak tepat. (6) strategi yang biasa digunakan pihak-pihak yang mengalami konflik. (3) kekaburan bidang tugas (jurisdictional ambiguity). 2. Sedangkan Handoko (1998) menyatakan bahwa sumber-sumber konflik adalah sebagai berikut. Ada pihak yang dirugikan Tindakan salah satu pihak mungkin dianggap merugikan yang lain atau masing-masing pihak merasa dirugikan pihak lain sehingga seseorang yang dirugikan merasa kurang enak. (4) lingkungan sosial tempat konflik terjadi. Berbeda pula dengan pendapat Mangkunegara (2001) bahwa penyebab konflik dalam organisasi adalah: (1) koordinasi kerja yang tidak dilakukan. Salah paham Salah paham merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan konflik. Walton & Dutton dalam Wexley & Yukl. (4) problem status (status problem). yaitu (1) adanya perbedaan fungsi dalam organisasi. 3. (5) kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. (7) sistem kompetensi intensif (reward). (5) rintangan komunikasi (communication barriers). (2) ketergantungan pekerjaan (task interdependence). atau informasi yang mendua dan tidak lengkap. persaingan untuk memperebutkan sumber-sumber daya yang terbatas. Misalnya tindakan dari seseorang yang tujuan sebenarnya baik tetapi diterima sebaliknya oleh individu yang lain. dan (6) sifat-sifat individu (individual traits) (Robbins. bahasa yang sulit dimengerti. Pribadi: ketidaksesuaian tujuan atau nilai-nilai sosial pribadi karyawan dengan perilaku yang diperankan pada jabatan mereka. Sedangkan Soetopo (2001) juga mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya konflik. (2) adanya pertentangan kekuatan antar orang dan subsistem. (5) perbedaan dalam memahami tujuan organisasi. Baron & Byrne (dalam Kusnarwatiningsih. (3) adanya perbedaan peranan. Berdasarkan beberapa pendapat tentang sumber konflik sebagaimana dikemukakan oleh beberapa ahli. Komunikasi: salah pengertian yang berkenaan dengan kalimat. (4) perbedaan dalam orientasi kerja. pembalasan dendam. Struktur: pertarungan kekuasaan antar departemen dengan kepentingan-kepentingan atau sistem penilaian yang bertentangan. atau saling ketergantungan dua atau lebih kelompok-kelompok kegiatan kerja untuk mencapai tujuan mereka. Contoh. dan (8) tingkat kematangan pihak-pihak yang berkonflik. 1. (3) tugas yang tidak jelas (tidak ada diskripsi jabatan). serta gaya individu manajer yang tidak konsisten. Ada enam kategori penting dari kondisi-kondisi pemula (antecedent conditions) yang menjadi penyebab konflik.

misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. nilai. Ada yang merasa terganggu karena berisik. Para buruh menginginkan upah yang memadai. ekonomi. artinya setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok Manusia memiliki perasaan. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. c. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik. pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Dari luar diri individu misalnya adanya tekanan dari lingkungan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Faktor Penyebab Konflik a. masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda. Sebagai contoh. perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Bagi para pengusaha kayu. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial. sebab dalam menjalani hubungan sosial. pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Misalnya. serta langkanya sumber daya yang ada. tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotong royongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Perbedaan individu Perbedaan kepribadian antar individu bisa menjadi faktor penyebab terjadinya konflik. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. kebutuhan serta perasaan yang terlalu sensitif. tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak. biasanya perbedaan individu yang menjadi sumber konflik adalah perbedaan pendirian dan perasaan. Dari dalam diri individu misalnya adanya perbedaan tujuan. d.beda. tetapi ada pula yang merasa terhibur. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. dan budaya. tentu perasaan setiap warganya akan berbedabeda. Sedangkan bagi pecinta lingkungan. Misalnya. Oleh sebab itu. persaingan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan . dalam waktu yang bersamaan. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama. hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.diri individu. sosial. seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Setiap manusia adalah individu yang unik. 1. misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Perbedaan latar belakang kebudayaan Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka. b.

Konflik nilai Konflik nilai dapat muncul karena pada dasarnya nilai yang dimiliki setiap individu dalam organisasi tidak sama. Maka orang yang berbeda akan menggunakan conflict style yang berbeda pada saat mengalami konflik dengan orang lain. organisasi maupun antar negara. antar individu. dan jenisnya. Conflict style ini memiliki kaitan dengan kepribadian. dipandang dari segi materinya menjadi empat. Perubahan-perubahan ini.waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. 1996) menyatakan bahwa konflik timbul dalam berbagai situasi sosial. yaitu: 1. Ada banyak kemungkinan menghadapi konflik yang dikenal dengan istilah manajemen konflik. Konflik tujuan Konflik tujuan terjadi jika ada dua tujuan atau yang kompetitif bahkan yang kontradiktif. individu dengan kelompok. kelompok. Sedangkan Rubin (dalam Farida. kelompok dengan organisasi. 3. Konflik yang terjadi pada manusia ada berbagai macam ragamnya.kan oleh satu pihak dan kebijakan lainnya. 4. BENTUK KONFLIK SOSIAL Sasse (1981) mengajukan istilah yang bersinonim maknanya dengan nama conflict style. bentuknya. Konflik peranan Konflik peranan timbul karena manusia memiliki lebih dari satu peranan dan tiap peranan tidak selalu memiliki kepentingan yang sama. C. . akan membuat kegoncangan prosesproses sosial di masyarakat. baik terjadi dalam diri seseorang individu. Konflik kebijakan Konflik kebijakan dapat terjadi karena ada ketidaksetujuan individu atau kelompok terhadap perbedaan kebijakan yang dikemuka. sehingga konflik dapat terjadi antar individu. Soetopo (1999) mengklasifikasikan jenis konflik. bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada. yaitu cara orang bersikap ketika menghadapi pertentangan. jika terjadi seara cepat atau mendadak. 2.

Konflik dipandang destruktif dan disfungsional bagi individu yang terlibat apabila: 1. 1996) membedakan konflik dalam dua tipe yang berbeda. dan (4) konflik antar satuan nasional (perang saudara). (3) konflik antar individu dalam kelompok. Furman & McQuaid (dalam Farida. (5) konflik antar organisasi. Konflik berakhir dengan terputusnya interaksi antara pihak-pihak yang terlibat. Ini menandakan bahwa problem tidak diselesaikan secara kuat. misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role). dan (6) konflik interorganisasi. (2) konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga. (5) konflik intraorganisasi. Sebaliknya. Sedangkan Handoko (1984) membagi konflik menjadi 5 jenis yaitu: (1) konflik dari dalam individu. Menurut Dahrendorf (1986). (3) konflik intragroup. (4) konflik antara kelompok dalam organisasi. Berbeda dengan pendapat diatas Mulyasa (2003) membagi konflik berdasarkan tingkatannya menjadi enam yaitu: (1) konflik intrapersonal. Dipandang dari akibat maupun cara penyelesaiannya.Gambar 6. (2) konflik interpersonal. (4) konflik intergroup. antar gank). (2) konflik antar individu dalam organisasi yang sama. kelangsungan hubungan antara pihak-pihak yang terlibat akan tetap terjaga. Konflik diekspresikan dalam bentuk agresi seperti ancaman atau paksaan dan terjadi pembesaran konflik baik pembesaran masalah yang menjadi isu konflik maupun peningkatan jumlah individu yang terlibat.4 adalah contoh yang menunjukkan ragam dan bentuk konflik yang terjadi di masyarakat. Dalam konflik yang konstruktif isu akan tetap terfokus dan dirundingkan melalui proses pemecahan masalah yang saling menguntungkan. Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut: (1) meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (in- . Dalam konflik yang konstruktif. Konflik terjadi dalam frekuensi yang tinggi dan menyita sebagian besar kesempatan individu untuk berinteraksi. 3. konflik dibedakan menjadi 4 macam: (1) konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi). (3) konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa). 2. konflik yang konstruktif terjadi dalam frekuensi yang wajar dan masih memungkinkan individu-individunya berinteraksi secara harmonis. yaitu konflik destruktif dan konstruktif.

Kondisi ini tidak perlu langsung mengarah ke konflik. tegas dan tidak kooperatif. (3) maksud. Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik. gaya kepemimpinan. kecocokan anggotatujuan. benci. Bilamana hal ini terjadi dan berlanjut pada tingkan terasakan. saling curiga dan sebagainya. yaitu pelibatan emosional dalam suatu konflik yang akan menciptakan kecemasan. PROSES KONFLIK Menurut Robbins (1996) proses konflik terdiri dari lima tahap. pakaiannya dan sebagainya. Komunikasi yang buruk merupakan alasan utama dari konflik. (2) kognisi dan personalisasi. derajat spesialisasi dalam tugas yang diberikan kepada anggota kelompok. bila pihak-pihak yang berkonflik masing-masing berhasrat untuk memenuhi sepenuhnya kepentingan dari semua pihak. 2. yaitu suatu hasrat untuk memuaskan kepentingan seseorang atau diri sendiri. walaupun tidak selalu konsisten. Karakter pribadi yang mencakup sistem nilai individual tiap orang dan karakteristik kepribadian. (4) perilaku. Pernahkah kita mengalami situasi ketika bertemu dengan orang langsung tidak menyukainya? Apakah itu kumisnya. Maksud dalam penanganan suatu konflik ada lima. bila satu pihak berusaha untuk memuaskan seorang lawan. Kesadaran oleh satu pihak atau lebih akan eksistensi kondisi-kondisi yang menciptakan kesempatan untuk timbulnya konflik. misalnya timbul nya rasa dendam. Maksud dari pihak yang berkonflik ini akan tercermin atau terwujud dalam perilaku. Variabel pribadi juga bisa menjadi titik awal dari konflik. Oposisi atau ketidakcocokan potensial adalah adanya kondisi yang mencipta-kan kesempatan untuk munculnya koinflik. Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut. tidak peduli dampaknya terhadap pihak lain dalam suatu episode konflik. (3) perubahan kepribadian pada individu. yaitu: (1) bersaing. tetapi salah satu kondisi itu perlu jika konflik itu harus muncul.group) yang mengalami konflik dengan kelompok lain. atau kesediaan dari salah satu pihak dalam suatu konflik untuk menaruh kepentingan lawannya diatas . Para pakar teori konflik mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi. 4. ketegangan. Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik. (4) kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia. struktur. yaitu: (1) oposisi atau ketidakcocokan potensial. Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik. sistem imbalan. dan derajat ketergantungan antara kelompok-kelompok. frustasi dan pemusuhan. dan (5) hasil. D. selain itu masalah-masalah dalam proses komunikasi berperan dalam menghalangi kolaborasi dan merangsang kesalahpahaman. bilamana salah satu dari pihak-pihak yang berkonflik mempunyai hasrat untuk menarik diri. (3) mengindar. Kognisi dan personalisasi adalah persepsi dari salah satu pihak atau masing-masing pihak terhadap konflik yang sedang dihadapi. serta perbedaan individual bisa menjadi titik awal dari konflik. (4) mengakomodasi. kejelasan jurisdiksi. Struktur juga bisa menjadi titik awal dari konflik. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut. 1. pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. dan variabel pribadi. suaranya. Struktur dalam hal ini meliputi: ukuran. (2) keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai. mengabaikan dari atau menekan suatu konflik. Maksud adalah keputusan untuk bertindak dalam suatu cara tertentu dari pihak-pihak yang berkonflik. (2) berkolaborasi. dan (5) dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik. kooperatif dan pencaharian hasil yang bermanfaat bagi semua pihak. Kondisi tersebut dikelompokkan dalam kategori: komunikasi. 3.

dan selalu ada dalam kehidupan.kepentingannya. Pengelolaan konflik berarti mengusahakan agar konflik berada pada level yang optimal. maka konflik harus dibangkitkan (Riggio. atau disfungsional dalam arti merintangi kinerja kelompok. Di sisi lain. Perilaku mencakup pernyataan. Persoalannya. pertanyaan atau tantangan terang-terangan terhadap pihak lain. Hasil adalah jalinan aksi-reaksi antara pihak-pihak yang berkonflik dan menghasilkan konsekuensi. ancaman dan ultimatun. jika konflik berada pada level yang terlalu rendah. bagaimana konflik itu bisa dimanajemen sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan disintegrasi sosial. 1990). tindakan. . Hasil bisa fungsional dalam arti konflik menghasilkan suatu perbaikan kinerja kelompok. dapat ditegaskan bahwa pengelolaan konflik merupakan cara yang digunakan individu dalam mengontrol. serangan verbal yang tegas. dan pemecahan/penyelesaian suatu konflik sehingga menjadi sesuatu yang positif bagi perubahan dan pencapaian tujuan. dan reaksi yang dibuat an untuk menghancurkan pihak lain. Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengelolaan konflik. dan ketidaksepakatan atau salahpaham kecil. serangan fisik yang agresif. Oleh karena itu konflik hendaknya tidak serta merta harus ditiadakan. Hasil bisa fungsional dalam arti konflik menghasilkan suatu perbaikan kinerja kelompok. Jika konflik menjadi terlalu besar dan mengarah pada akibat yang buruk. Hasil adalah jalinan aksi-reaksi antara pihak-pihak yang berkonflik dan menghasilkan konsekuensi. adalah suatu situasi di mana masing-masing pihak dalam suatu konflik bersedia untuk melepaskan atau mengurangi tuntutannya masing-masing. serangan verbal yang tegas. ancaman dan ultimatun. maka konflik harus diselesaikan. evaluasi.oleh pihak-pihak yang berkonflik. serangan fisik yang agresif. Perilaku meliputi: upaya terang-terang an untuk menghancurkan pihak lain. atau disfungsional dalam arti merintangi kinerja kelompok. Berbeda lagi dengan yang dinyatakan oleh Soetopo (1999) bahwa strategi pengelolaan konflik menunjuk pada suatu aktivitas yang dimaksudkan untuk mengelola konflik mulai dari perencanaan. pertanyaan atau tantangan terang-terangan terhadap pihak lain. POLA PENYELESAIAN KONFLIK Konflik dapat berpengaruh positif atau negatif. dan ketidaksepakatan atau salahpaham kecil. E. dan (5) berkomromi.

dan menyelesaikan konflik. orang akan kebal dengan bujukan sehingga perselisihan akan semakin tajam. Dengan paksaan. yaitu dengan menggiring pihak-pihak yang berkonflik. dengan metode penggunaan paksaan. masing-masing pihak bisa menunjuk pihak ketiga untuk menjadi perantara yang berperan secara jujur dan adil serta tidak memihak.mengarahkan. yaitu suatu bentuk persekutuan untuk mengendalikan konflik. Ketiga. dalam arti hanya lembaga itulah yang berfungsi demikian. dan tidak hanya berkisar pada kepentingan sempit. Bisa berakibat psikologis. Hodge dan Anthony (1991). yang efektif dan yang paling efektif. sebagai berikut: Pertama. Cribbin (1985) mengelaborasi terhadap tiga hal. Jika penyelesaian konflik menemui jalan buntu. (2) dengan mediasi (perantaraan). konflik yang terjadi di antara beberapa kekuatan . (5) dengan tawar-menawar distribusi. dengan menetapkan peraturan yang mengacu pada perdamaian serta diterapkan secara ketat dan konsekuen. Sedangkan strategi yang dipandang paling efektif. mediasi (mediation). tanpa campur tangan dari badan-badan lain. yaitu dengan konsiliasi (conciliation). penyelesaian dengan cara demokratis. Nasikun (1993). mungkin konflik bisa diselesaikan dengan cepat. kelompok. yaitu mengendalikan konflik dengan cara tidak saling mengganggu dan saling merugikan. dalam hal ini adalah konflik interpersonal. (3) lembaga harus mampu mengikat kepentingan bagi pihak-pihak yang berkonflik. Artinya. golongan atau suku bangsa tertentu. dengan metode penghalusan (smoothing). misalnya kepentingan individu. untuk lebih berkonsentrasi pada kepentingan yang luas. Konflik dan integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. misalnya ditempuh cara: (1) dengan paksaan. dan perwasitan (arbitration). yang sedikitnya memenuhi empat hal: (1) harus mampu mengambil keputusan secara otonom. memberikan peluang kepada masing-masing pihak untuk mengemukakan pendapat dan memberikan keyakinan akan kebenaran pendapatnya sehing ga dapat diterima oleh kedua belah pihak. yang pada gilirannya bisa menambah kadar konflik konflik sebuah µperang¶. yaitu mulai yang cara yang paling tidak efektif. Strategi ini umumnya tidak disukai oleh kebanyakan orang. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. memberikan gambaran melalui berbagai metode resolusi (penyelesaian) konflik. untuk memecahkan dan memulihkan hubungan yang mengarah pada perdamaian. Orang sering menggunakan kekuasaan dan kewenangan agar konflik dapat diredam atau dipadamkan. dan jika terjadi konflik mereka merasa menjadi korban konflik. Konflik bertentangan dengan integrasi. Misalnya denga cara membangun sebuah kesadaran nasional yang lebih mantap. Pihak-pihak yang berkonflik hendaknya saling memahami konflik dengan bahasa kasihsayang. Tanpa keempat hal tersebut. Strategi ini sering tidak menyelesaikan masalah karena masing-masing pihak saling melepaskan beberapa hal penting yang mejadi haknya. Cara ini bisa berakibat penyelesaian konflik sampai berlarut-larut. dan (4) lembaga tersebut harus bersifat demokratis. Akan tetapi strategi ini bisa memaksa orang untuk memihak. mengidentifikasi pengendalian konflik melalui tiga cara. (2) tawarmenawar integratif. antara lain: (1) tujuan sekutu besar. (2) lembaga harus bersifat monopolistis. (2) dengan penundaan. Kedua. (3) dengan bujukan. Menurutnya. yaitu dengan melibatkan pihak-pihak yang berkonflik ke arah tujuan yang lebih besar dan kompleks. terwujud melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan tumbuhnya pola diskusi dan pengambilan keputusan di antara pihakpihak yang berkonflik. Sebaliknya. (4) dengan koalisi. Strategi yang dipandang lebih efektif dalam pengelolaan konflik meliputi: (1) koesistensi damai. integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik. Lembaga yang dimaksud diharapkan berfungsi secara efektif. namun bisa menimbulkan reaksi kemarahan atau reaksi negatif lainnya. Pengendalian konflik dengan cara konsiliasi. strategi yang dipandang paling tidak efektif.

dan untuk menunjukkan kewajaran. 1. prioritas. 1985). Berbeda dengan mediasi. 3. Individu berhubungan dengan yang lain dalam tiga cara. Pola penyelesaian konflik juga bisa dilakukan dengan menggunakan strategi seperti berikut: (1) gunakan persaingan dalam penyelesaian konflik. 1. Deffering to status power Individu dengan status yang lebih tinggi memiliki kekuasaan untuk membuat dan memaksakan solusi konflik yang ditawarkan. 1998) mengajukan tiga model pengelolaan konflik. Integrating interest Model ini menekankan pada perhatian pihak yang terlibat. Peraturan diterapkan secara merata pada seluruh anggota.sosial. Status sosial memegang peranan dalam menentukan aktivitas-aktivitasyang akan dilakukan. maka ada empat bentuk pengelolaan konflik. 1996) penelitian-penelitian mengenai cara-cara penyelesaian konflik menggunakan klasifikasi yang berbeda. dalam rangka menyelesaikan yang ada. Atau bisa berarti bahwa kedua belah pihak tidak sepakat untuk menyelesaikan konflik atau menemukan kesepakatan untuk mengatasi konflik tersebut. sebagai berikut. (3) gunakan penghindaran bila ada isyu sepele. 2. Applying regulations Model ini ditekankan oleh asumsi bahwa interaksi sosial diatur oleh hukum universal. untuk menemukan penyelesaian yang dapat mempertemukan minat mereka masing-masing. yang akan berperan untuk memberikan keputusan-keputusan. akan muncul ke bawah permukaan. Disini masingmasing pihak saling berbagi minat. atau ada isu lebih penting yang mendesak. dan (5) gunakan kompromis bila tujuan penting. Bentuk kalah-kalah (menghindari konflik) Bentuk pertama ini menjelaskan cara mengatasi konflik dengan menghindari konflik dan mengabaikan masalah yang timbul. berkaitan dengan penyelesaian terbaik terhadap konflik yang mereka alami. bila kita melihat tidak adanya peluang bagi terpuaskannya kepentingan anda. yaitu: 1. tetapi tidak layak mendapatkan upaya pendekatan-pendekatan yang lebih tegas disertai kemungkinan gangguan. moving toward others (mendapatkan dukungan). mengenai isu penting. untuk belajar. dan Goldberg (dalam Tinsley. Belum ada kesepakatan dari para ahli mengenai klasifikasi yang dianggap paling valid. dimaksudkan bahwa pihak-pihak yang berkonflik bersepakat untuk menerima pihak ketiga. Bentuk menang-kalah (persaingan) . Pengendalian konflik dengan cara perwasitan. dan moving away from other (menarik diri dari orang lain dan masalah yang menimbulkan konflik) (Horney dalam Hall. Ury. Brett. bila tindakan cepat dan tegas itu vital. (4) gunakan akomodasi bila diketahui kita keliru dan untuk memungkinkan pendirian yang lebih baik didengar. moving againts other (menyerang dan mendominasi). 2. yang pada saatnya akan meledak kem bali dalam bentuk kekerasan. untuk membuat hasilnya lebih bermanfaat bagi mereka daripada tidak mendapatkan kesepakatan satupun. Pola penyelesaian konflik bila dipandang dari sudut menang-kalah pada masing-masing pihak. (2) gunakan kolaborasi untuk menemukan pemecahan masalah integratif bila kedua perangkat kepentingan terlalu penting untuk dikompromikan. nilai maupun adat kebiasaan. dimana tindakan tidak populer perlu dilaksanakan. bukan berdasarkan orang yang terlibat. Berpijak dari perbedaan budaya. Pengendalian dengan cara mediasi. Peraturan dibakukan untuk menggambarkan hukuman dan penghargaan yang diberikan berdasarkan perilaku yang dilakukan. cara perwasitan mengharuskan pihak-pihak yang berkonflik untuk menerima keputusan yang diambil oleh pihak wasit. Macam-macam Pola Pengelolaan Konflik Menurut penelitian Vliert dan Euwema (dalam Farida. dengan maksud bahwa pihak-pihak yang berkonflik bersepakat untuk menunjuk pihak ketiga yang akan memberikan nasihatnasihat.

Avoiding (menghindar) Individu yang menggunakan gaya ini tidak menempatkan suatu nilai pada diri sendiri atau orang lain. Mereka cenderung menarik diri untuk menghindari konflik. Biasanya berorientasi pada kekuasaan dan penyelesaiannya cenderung dengan menggunakan kekuasaan. Individu yang menggunakan strategi ini percaya bahwa lebih mudah menarik diri (secara fisik dan psikologis) dari konflik daripada menghadapinya. Lima gaya yang dimaksud adalah: 1. Gaya ini meremehkan kepentingan orang lain. Tapi karena dipelajari. Berbeda dengan pendapat diatas. 4. Lebih lanjut Johnson & Johnson (1991) mengajukan beberapa gaya atau strategi dasar pengelolaan konflik. Kewajiban bisa saja diabaikan demi kepentingan pribadi. 2. Secara sederhana proses ini dapat dijelaskan bahwa masing masing pihak memahami dengan sepenuhnya keinginan atau tuntutan pihak lainnya dan berusaha dengan penuh komitmen untuk mencari titik temu kedua kepentingan tersebut (Prijosaksono dan Sembel. Perhatian tinggi pada orang lain menyebabkan seorang individu merasa puas dan merasa keinginannya terpenuhi oleh pihak lain. Kekuasaan diberikan pada orang lain. maka seseorangpun dapat mengubah strateginya dengan mempelajari cara baru dan lebih efektif dalam menangani konflik. 3. Bentuk menang-menang (kolaborasi) Bentuk keempat ini disebut dengan gaya pengelolaan konflik kolaborasi atau bekerja sama. yaitu: 1. termasuk di dalamnya menghindar dari tanggung jawab atau mengelak dari suatu isu.Bentuk kedua ini memastikan bahwa satu pihak memenangkan konflik dan pihak lain kalah. Baik tujuan pribadi maupun hubungan dengan orang lain dikorbankan. Ini adalah gaya menghindar dari persoalan. Disini ada keinginan untuk mengamati perbedaan dan mencari solusi yang dapat diterima semua kelompok. bentuk ketiga yaitu individu kalah-pihak lain menang ini berarti individu berada dalam posisi mengalah atau mengakomodasi kepentingan pihak lain. Gaya ini juga merupakan upaya untuk mengurangi tingkat ketegangan akibat dari konflik tersebut atau menciptakan perdamaian yang diinginkan. Biasanya kekuasaan atau pengaruh digunakan untuk memastikan bahwa dalam konflik tersebut individu tersebut yang keluar sebagai pemenangnya. 5. Cara ini menempatkan nilai yang tinggi untuk orang lain sementara dirinya sendiri dinilai rendah. Gaya ini digunakan untuk menghindari kesulitan atau masalah yang lebih besar. Gaya penyelesaian konflik seperti ini sangat tidak mengenakkan bagi pihak yang merasa terpaksa harus berada dalam posisi kalah. Integrating (menyatukan. Hendricks (2001) mengemukaan lima gaya pengelolaan konflik yang diorientasikan dalam organisasi maupun perusahaan. menggabungkan) Individu yang memilih gaya ini melakukan tukar-menukar informasi. 3. Compromising (kompromi) Perhatian pada diri sendiri maupun orang lain berada dalam tingkat sedang. 2002). Bentuk kalah-menang (mengakomodasi) Agak berbeda dengan bentuk kedua. Cara ini mendorong berpikir kreatif serta mengembangkan alternatif pemecahan masalah. Withdrawing (Menarik Diri). Berbeda dengan yang dikemukakan Johnson & Johnson (1991) bahwa strategi pengelolaan konflik ada karena dipelajari. Dominating (menguasai) Tekanan gaya ini adalah pada diri sendiri. Tujuannya adalah mengatasi konflik dengan menciptakan penyelesaian melalui konsensus atau kesepakatan bersama yang mengikat semua pihak yang bertikai. biasanya sejak masa kanak-kanak sehingga berfungsi secara otomatis dalam level bawah sadar (preconscious). Obliging (saling membantu) Disebut juga dengan kerelaan membantu. 4. kadang mengorbankan sesuatu yang penting untuk dirinya sendiri. Mereka menjauh dari isu yang dapat menimbulkan .

Individu berusaha memaksa lawannya menerima solusi konflik yang ditawarkannya. yang di dalamnya terdapat keterikatan interaksi. Faktorfaktor lain yang berpengaruh terhadap pengelolaan konflik. Individu dengan tipe ini menaruh perhatian sangat tinggi terhadap tujuan pribadi maupun kelangsungan hubungan dengan orang lain.konflik serta dari orangorang yang terlibat konflik dengannya. seperti dirangkum sebagai berikut. Mereka takut jika konflik berlanjut. dan akibatnya menentukan bagaimana seseorang menyelesaikan konflik. Dari karakteristik kepribadian dapat diprediksi bahwa subyek dengan skor tinggi pada . Sebaliknya subyek dengan skor intelektual yang tinggi lebih cenderung untuk menggunakan gaya-gaya pengelolaan konflik yang membuat konflik melunak. Mereka memandang konflik sebagai masalah yang harus dipecahkan dan solusi terhadap konflik haruslah mencapai tujuan pribadinya sendiri maupun tujuan orang lain. Individu yang menggunakan strategi ini berpendapat bahwa mempertahankan hubungan dengan orang lain jauh lebih penting dibandingkan dengan pencapaian tujuan pribadi. Dengan solusi yang memuaskan kedua belah pihak. 1996) berpendapat bahwa gaya pengelolaan konflik seorang individu dapat diprediksi dari karakteristik-karakteristik intelektual dan kepribadiannya. Dalam situasi sosial. Mereka mencari solusi konflik agar kedua belah pihak sama-sama mendapatkan keuntungan. Konflik dipandang dapat meningkatkan hubungan dengan menurunkan ketegangan antara dua pihak yang terlibat. Kepribadian Individu Yang Terlibat Konflik Stenberg dan Soriano (dalam Farida. 2. 2. Tujuan pribadinya dianggap sangat penting. Smoothing (Melunak). Forcing (Memaksa). Klasifikasi-klasifikasi yang diajukan beberapa ahli di atas. 3. Perbedaan yang ada hanya pada istilah yang dipakai namun memiliki pengertian yang hampir sama. Confronting (Konfrontasi). 1. Mereka menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya. Mereka menemukan bahwa subyek dengan skor intelektual yang rendah cenderung menggunakan aksi fisik dalam mengatasi konflik. Mereka menganggap konflik dapat diselesaikan dengan satu pihak yang menang dan pihak yang lain kalah. Strategi ini digunakan individu yang menaruh perhatian baik terhadap pribadinya sendiri maupun hubungan dengan orang lain. (2) seberapa penting hubungan atau interaksi itu untuk dipertahankan. serta apakah orang lain itu menerima solusi mereka atau tidak. jika diperhatikan tidak benar-benar berbeda. Konflik bisa terjadi karena tujuan dan kepentingan individu menghalangi tujuan dan kepentingan individu lain. maka orang lain akan kecewa dan ini menyebabkan rusaknya hubungan. mereka mencoba mempertahankan kelangsungan hubungan dapat memuaskan baik mereka sendiri maupun orang lain. Mereka ingin diterima dan dicintai. solusi pertengahan antara dua posisi yang ekstrim. 5. Compromising (Kompromi). Tiap orang memiliki tujuan pribadi yang ingin dicapai. Mereka mencapai kemenangan dengan jalan menyerang. Mereka berusaha berkompromi. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Penyelesaian Konflik Johnson & Johnson (1991) menyatakan beberapa hal yang harus diperhatikan bilamana seseorang terlibat dalam suatu konflik. Mereka tidak peduli akan kebutuhan dan minat orang lain. Mereka mengorbankan tujuan pribadinya demi mempertahankan kelangsungan hubungan. sebagai berikut: (1) tercapainya persetujuan yang dapat memuaskan kebutuhan serta tujuannya. dan mengintimidasi orang lain. 4. Oleh karena itu diperlukan interaksi yang efektif selama beberapa waktu. mengorbankan tujuannya sendiri dan mempengaruhi pihak lain untuk mengorbankan sebagian tujuannya juga. individu harus hidup bersama dengan orang lain dalam periode tertentu. Mereka merasa bahwa konflik harus dihindari demi keharmonisan dan bahwa orang tidak akan dapat membicarakan konflik tanpa mengakibatkan rusaknya hubungan. menghancurkan.

Tipe isu seperti ini mengarahkan partisipan konflik untuk memandang konflik sebagai permainan kalah-menang. 2. Menurut Broadman dan Horowitz (dalam Farida. hubungan baik pihak ketiga dengan pihak-pihak yang berselisih dapat melunakkan konflik karena pihak ketiga dapat berperan sebagai mediator. Perluasan ini dapat terjadi bila konflik antara dua individu yang berbeda dianggap sebagai konflik rasial. Interaksi Digunakannya pendekatan disposisional saja dalam mencari pemahaman akan perilaku sosial dianggap mempunyai manfaat yang terbatas. Isu Konflik Tipe isu tertentu kurang mendukung resolusi konflik yang konstruktif dibandingkan dengan isu yang lain. maka besar kemungkinan konflik akan diselesaikan dengan cara dominasi oleh pihak yang lebih kuat posisinya. lingkungan sosial dan pihak ketiga. Situasional Aspek situasi yang penting antara lain adalah perbedaan struktur kekuasaan. Tipe yang lain yang tidak berhubungan dengan hal-hal di atas dapat dipandang sebagai suatu permainan yang memungkinkan setiap pihak yang terlibat untuk menang. Pendekatan yang lebih dominan dalam menerangkan perilaku sosial adalah interaksi dan saling mempengaruhinya determinan situasional dan disposisional. kemenangan. sikap dan keyakinan terhadap pihak lain tersebut. 3. Pada umumnya. 4. riwayat hubungan. 1996) karakteristik kepribadian yang terutama berpengaruh terhadap gaya pengelolaan konflik adalah kecenderungan agresifitas. Robbins (1996) mengungkapkan ada beberapa teknik yang bisa dijadikan acuan dalam pemecahan konflik dan perangsangan konflik. adalah termasuk tipetipe isu yang cenderung diselesaikan dengan hasil menang-kalah. konflik yang sebenarnya kecil cenderung untuk membesar dan meluas. pemilikan akan sesuatu yang tidak tersedia substitusinya. Sedangkan campur tangan pihak ketiga yang memiliki hubungan buruk dengan salah satu pihak yang berselisih dapat menyebabkan membesarnya konflik. status. orientasi kooperatif dan kompetitif. Riwayat hubungan menunjuk pada pengalaman sebelumnya dengan pihak lain. Termasuk dalam aspek lingkungan sosial adalah norma-norma sosial dalam menghadapi konflik dan iklim sosial yang mendukung melunaknya konflik atau justru mempertajam konflik.need for deference (kebutuhan untuk mengikuti dan mendukung seseorang). Sebaliknya subyek dengan skor tinggi pada need for autonomy (kebutuhan untuk bebas dan lepas dari tekanan) dan need for change (kebutuhan untuk membuat perubahan) memiliki kecenderungan untuk memilih paling tidak satu gaya pengelolaan konflik yang membuat konflik semakin intensif. dan kekalahan. kemampuan untuk berempati. Akan tetapi pada konflik yang destruktif. . Isu yang berhubungan dengan kekuasaan. Apabila satu pihak memiliki kekuasaan lebih besar terhadap situasi konflik. kecenderungan untuk mengontrol dan menguasai. Sebaliknya. need for abasement (kebutuhan untuk menyerah atau tunduk) dan need for order (kebutuhan untuk membuat teratur) cenderung untuk memilih gayagaya pengelolaan konflik yang membuat konflik melunak. Selain itu bisa juga jika konflik tentang masalah biasa dipandang sebagai konflik yang bersifat substantif atau dipandang menyangkut harga diri dan kekuasaan. seperti berikut. dan kemampuan untuk menemukan pola penyelesaian konflik. konflik kecil lebih mudah diselesaikan secara konstruktif daripada konflik besar.

.

.

.

(4) setiap masyarakat dicirikan oleh adanya penguasaan sejumlah kecil orang terhadap sejumlah besar lainnya. Kadang sesuatu yang sifatnya sederhana bisa menjadi sumber konflik bagi kelompok manusia. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial. selalu diwarnai dua hal. Bilamana terjadi konflik diantara temanmu atau dengan gurumu. dan lain sebagainya. merupakan bagian dari setiap sistem sosial yang dapat dimengerti. sumber konflik sebagaimana dikemukakan oleh beberapa ahli. serta langkanya sumber daya yang ada. Karena konflik merupakan bagian kehidupan sosial. Konflik pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan sosial. integrasi dan perpecahan adalah proses fundamental yang walau dalam porsi dan campuran yang berbeda. (3) setiap unsur dalam masyarakat memeberikan kontribusi terhadap desintegrasi dan perubahan. keyakinan. perubahan sosial terdapat di manamana. Dengan demikian konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia. yang pada umumnya berkembang dari pertentangan non-fisik menjadi benturan fisik. adalah: (1) setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan. bisa juga berkadar rendah yang tidak menggunakan kekerasan (non-violent). pendapat. persaingan. konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik . Dari luar diri individu misalnya adanya tekanan dari lingkungan. karena itu tidak ada masyarakat yang steril dari realitas konflik.F. tetapi pada kelompok manusia tertentu ternyata tidak menjadi sumber konflik. Pertentangan dikatakan sebagai konflik manakala pertentangan itu bersifat langsung. demikian halnya sebaliknya. Hal ini dikarenakan sesuatu yang seharusnya bisa menjadi sumber konflik. maka dapat dikatakan konflik sosial merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar. adat istiadat. bagaimana cara penyelesaiannya?Apakah cara penyelesaian tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan di atas?Konflik yang terjadi pada manusia bersumber pada berbagaimacam sebab. kebutuhan serta perasaan yang terlalu sensitif. Begitu sumber konflik yang terjadi antar manusia. kepandaian. (2) setiap masyarakat memperlihatkan konflik dan pertentangan. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik. Pertentangan ini bisa berbentuk pertentangan fisik dan non-fisik. sehingga sulit itu untuk dideskripsikan secara jelas dan terperinci sumber dari konflik. RINGKASAN Manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan sesama manusia. konflik terdapat di manamana. nilai. Selain itu. yang bisa berkadar tinggi dalam bentuk kekerasan (violent). yaitu konflik dan kerjasama. dapat ditegaskan bahwa sumber konflik dapat berasal dari dalam dan luar diri individu. Dari dalam diri individu misalnya adanya perbedaan tujuan. pengetahuan. Konflik dan konsensus. Konflik biasanya diberi pengertian sebagai satu bentuk perbedaan atau pertentangan ide. faham dan kepentingan di antara dua pihak atau lebih. Empat postulat yang menunjukkan keniscayaan itu. Ketika berinteraksi dengan sesama manusia. pertentangan itu juga dilakukan di atas dasar kesadaran pada masing-masing pihak bahwa mereka saling berbeda atau berlawanan. yakni ditandai interaksi timbal balik di antara pihakpihak yang bertentangan. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi.

Sedangkan strategi yang dipandang paling efektif. dan menyelesaikan konflik. dalam hal ini adalah konflik interpersonal. yaitu dengan menggiring pihak-pihak yang berkonflik. (4) kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia. mengarahkan. yaitu mengendalikan konflik dengan cara tidak saling mengganggu dan saling merugikan. golongan atau suku bangsa tertentu. konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. untuk lebih berkonsentrasi pada kepentingan yang luas. Misalnya dengan cara membangun sebuah kesadaran nasional yang lebih mantap. antara lain: (1) tujuan sekutu besar.antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya. organisasi maupun antar negara. (3) perubahan kepribadian pada individu. (2) tawarmenawar integratif. dan tidak hanya berkisar pada kepentingan sempit. masing-masing pihak bisa menunjuk pihak ketiga untuk menjadi perantara yang berperan secara jujur dan adil serta tidak memihak. kelompok. yaitu dengan melibatkan pihak-pihak yang berkonflik ke arah tujuan yang lebih besar dan kompleks. Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut: (1) meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (in-group) yang mengalami konflik dengan kelompok lain. benci. dengan menetapkan peraturan yang mengacu pada perdamaian serta diterapkan secara ketat dan konsekuen. dan (5) dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik. baik terjadi dalam diri seseorang individu. (2) keretakan hubungan antar kelompokyang bertikai. misalnya kepentingan individu. saling curiga dan lain-lain. kelompok. Pengelolaan konflik merupakan cara yang digunakan individu dalam mengontrol. Strategi yang dipandang lebih efektif dalam pengelolaan konflik meliputi: (1) koesistensi damai. Konflik timbul dalam berbagai situasi sosial. Jika penyelesaian konflik menemui jalan buntu. (2) dengan mediasi (perantaraan). misalnya timbulnya rasa dendam. antar individu. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful