Anda di halaman 1dari 105

1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 1 Banyaknya tuntutan

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

1

Banyaknya tuntutan perusahaan yang menginginkan lulusan sarjana siap pakai menuntut para mahasiswa untuk mencari pengalaman tentang dunia kerja sebelum lulus. Hal ini menjadi titik tolak bagi program studi Teknik Mesin Universitas Indonesia untuk mengadakan mata kuliah Kerja Praktek yang merupakan salah satu syarat wajib kelulusan. Keadaan lapangan menunjukkan bahwa kemampuan intelejensi yang bagus disertai pengalaman dan keterampilan yang cukup akan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Mahasiswa juga diharapkan mengikuti akan perkembangann teknologi yang semakin pesat dalam dunia industri.

1.2 Maksud dan Tujuan Kerja Praktek

Melalui Kerja Praktek yang diadakan ini mahasiswa diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan serta mempelajari situasi pekerjaan kelak. Yang menjadi masalah adalah adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia industri, antara kualitas yang ditawarkan dengan persyaratan yang dibutuhkan tidak sesuai. Untuk itu perlu adanya jembatan antara dunia pendidikan dengan dunia industri. Dunia pendidikan lebih memfokuskan kepada masalah akademis, sedangkan dunia industri lebih memfokuskan pada pengalaman dan keterampilan kerja. Salah satu model yang dianggap dapat menjembatani kesenjangan itu adalah program link and match atau system kerja praktek yang dikenalkan saat ini. Model ini menawarkan keuntungan pada kedua belah pihak, dimana dunia pendidikan mendapatkan informasi tentang kondisi yang ada pada dunia kerja, sehingga dunia pendidikan dapat menerapkan system yang dapat menunjang ke arah dunia kerja dan pendidikan yang dapat dilakukan dengan efektif dan efisien. Sebaliknya dunia kerja mendapat informasi pemecahan-pemecahan masalah yang dihadapi perusahaan dan perusahaan tersebut tidak perlu lagi mengeluarkan biaya dan tenaga ekstra untuk melakukan training. Apabila diadakan training maka waktu training tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama karena tenaga kerja yang akan detraining sudah mengenal dunia kerja, sehingga lebih mudah mensosialisasikan ilmu yang dimilikinya.

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 2 Adapun tujuan dari pelaksanaan kerja praktek ini adalahIndonesia lebih dari 35 tahun, dan kini menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia, dengan investasi kumulatif lebih dari USD 5 Milyar .Pada Maret 2005 British Petroleum Indonesia mengakuisisi asset LNG Tanguh yang ada di Papua.Pada laporan ini penulis menitikberatkan pada 1.4 Metodologi Penulisan Dalam pelaksanaan kerja praktek ini metode yang digunakan adalah: 1. Orientasi lapangan Pengenalan profil dan produksi Pertamina UP-VI Balongan diperoleh dari penjelasan pembimbing kerja praktek, pengawas, operator, staff, dan teknisi di UP-VI Balongan, dalam hal ini penulis diorientasikan pada unit ARHDM. 2. Pengumpulan dasar teori Dasar teori dengan jalan studi literature dari buku-buku yang berhubungan dengan tema. Di samping itu penjelasan dari pembimbing kerja praktek mengenai dasar teori yang berkaitan dengan kasus yang dianalisa. 3. Diskusi Diskusi dilakukan dengan pembimbing, teman kerja praktek untuk memperoleh pengetahuan tentang analisa yang dilakukan. 4. Analisis permasalahan Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia " id="pdf-obj-1-2" src="pdf-obj-1-2.jpg">

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

2

Adapun tujuan dari pelaksanaan kerja praktek ini adalah :

  • 1. Memperkenalkan kondisi dan situasi dunia kerja kepada mahasiswa sehingga mahasiswa memiliki pengalaman dan dapat beradaptasi dengan cepat.

  • 2. Mahasiswa dapat melihat sendiri aplikasi dari ilmu pengetahuan dan dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh.

  • 3. Menjembatani keinginan antara dunia pendidikan dan dunia industri sehingga dapat tercipta sumber daya manusia yang berkualitas lebih baik.

  • 4. Mengetahui berbagai permasalahan yang terjadi dalam perusahaan yang berkaitan dengan ilmu keteknikan sehingga dapat dijadikan topik dalam membuat tugas akhir

  • 5. Memenuhi mata kuliah kerja praktek di Teknik Mesin Universitas Indonesia.

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan

British Petroleum merupakan perusahaan minyak dan gas bumi yang berkantor pusat di London,Inggris. British Petroleum telah beroperasi di Indonesia lebih dari 35 tahun, dan kini menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia, dengan investasi kumulatif lebih dari USD 5 Milyar.Pada Maret 2005 British Petroleum Indonesia mengakuisisi asset LNG Tanguh yang ada di Papua.Pada laporan ini penulis menitikberatkan pada

1.4 Metodologi Penulisan

Dalam pelaksanaan kerja praktek ini metode yang digunakan adalah:

  • 1. Orientasi lapangan Pengenalan profil dan produksi Pertamina UP-VI Balongan diperoleh dari penjelasan pembimbing kerja praktek, pengawas, operator, staff, dan teknisi di UP-VI Balongan, dalam hal ini penulis diorientasikan pada unit ARHDM.

  • 2. Pengumpulan dasar teori Dasar teori dengan jalan studi literature dari buku-buku yang berhubungan dengan tema. Di samping itu penjelasan dari pembimbing kerja praktek mengenai dasar teori yang berkaitan dengan kasus yang dianalisa.

  • 3. Diskusi Diskusi dilakukan dengan pembimbing, teman kerja praktek untuk memperoleh pengetahuan tentang analisa yang dilakukan.

  • 4. Analisis permasalahan

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Analisis dilakukan dengan arahan pembimbing sehingga analisis dapat diambil

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

Analisis dilakukan dengan arahan pembimbing sehingga analisis dapat diambil kesimpulan dan saran perbaikan yang sesuai dengan disiplin ilmu teknik mesin.

3

1.5 Sistematika Pembahasan

Laporan ini dibahas dan disusun secara berurutan untuk memberikan gambaran umum tentang PT. Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan serta analisa efisiensi dan pemeliharaan Pompa tipe sentrifugal 13-P-101 A. Adapun sistematika pembahasan yang digunakan adalah:

I.

BAB I PENDAHULUAN

II.

Berisi latar belakang penulisan laporan, maksud dan tujuan penulisan, ruang lingkup pembahasan, metode penelitian, dan sistematika pembahasan. BAB II GAMBARAN UMUM PT. PERTAMINA UP-VI BALONGAN

III.

Memberikan penjelasan secara umum tentang profil perusahaan. BAB III PROSES PRODUKSI

IV.

Memberikan penjelasan penjelasan mengenai proses pengolahan minyak pada masing-masing unit. BAB IV UTILITY

V.

Memberikan penjelasan mengenai sarana penunjang yang terdapat di wilayah Pertamina RU-VI Balongan.

VI.

BAB V LANDASAN TEORI POMPA DAN MAINTENANCE Bab ini berisi tentang dasar-dasar teori mengenai pompa dan maintenance. BAB VI PERAWATAN POMPA 13-P-101 A

VII.

Bab ini berisi tentang proses perawatan, spesifikasi, dan proses over haul pompa. BAB VII PENUTUP Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran dari pelaksanaan kerja praktek beserta pembuatan laporannya.

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 4 BAB II GAMBARAN UMUM PT. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

4

BAB II GAMBARAN UMUM PT. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN

  • 2.1 SEJARAH SINGKAT PERTAMINA Usaha pengeboran minyak di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Jan Raerink pada tahun 1871 di Cibodas dekat Majalengka (Jawa Barat). Namun usaha tersebut mengalami kegagalan. Kemudian dilanjutkan oleh Aeilko Jan Zijkler yang melakukan pengeboran di Telaga Tiga, Sumatera Utara pada tanggal 15 Juni 1885 dan berhasil menemukan sumber minyak yang pertama di Indonesia. Sejak itu berturut-turut ditemukan sumber minyak bumi di Kruka (Jawa Timur) tahun 1887, Ledok, Cepu (Jawa Tengah) pada tahun 1901. Pamusian, Tarakan tahun 1905 dan di Talang Akar Pendopo (Sumatera Selatan) tahun 1921. Penemuan-penemuan dari penghasil minyak lain mendorong keinginan maskapai perusahaan asing seperti Royal Deutche Company, Sheel, Caltex, Stanvac dan maskapai-maskapai lainnya untuk turut serta dalam usaha pengeboran minyak di Indonesia. Setelah Kemerdekaan Indonesia, terjadi beberapa perubahan pengelolaan perusahaan minyak di Indonesia. Pada tanggal 10 Desember 1957 atas perintah Mayjend Dr. Ibnu Soetowo, PT TMSU diubah menjadi PT PERMINA. Kemudian dengan PP. No. 198/1961, PT PERMINA dilebur menjadi PN PERMINA. Pada tanggal 20 Agustus 1968 berdasarkan PP. No. 27/1968 PN PERMINA diubah menjadi PN PERTAMINA. Sebagai landasan kerja baru lahirlah UU. No. 8/1971 pada tanggal 15 September 1971. Sejak saat itulah PN PERTAMINA diubah menjadi PERTAMINA, yang merupakan satu-satunya perusahaan minyak nasional yang berwenang mengolah semua bentuk kegiatan di bidang Industri dan Perminyakan di Indonesia dengan tiga tugas utama :

    • 1. Menyediakan dan menjamin pemenuhan BBM (Bahan Bakar Minyak)

    • 2. Sebagai sumber devisa negara

    • 3. Menyediakan kesempatan kerja sekaligus pelaksana alih teknologi dan pengetahuan

Ketika PERTAMINA membeli kilang minyak SEI Gerong dari PT STANVAC tahun 1970, pada saat itu tumbuh tekad untuk melaksanakan kemandirian bangsa

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia dibidang energi dengan mengoperasikan kilang minyak sendiri untuk memenuhi

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

dibidang energi dengan mengoperasikan kilang minyak sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Seiring dengan perubahan yang terjadi di dalam tubuh PERTAMINA maka pada tanggal 17 September 2003 kembali berubah menjadi PT. PERTAMINA (Persero). Hingga sekarang PERTAMINA telah mempunyai tujuh buah kilang, yaitu :

5

Tabel 2.1 Nama Kilang PERTAMINA dan Kapasitasnya

   

Kapasitas

Nama Kilang UP-I PANGKALAN BRANDAN

 

5.000 BPSD

UP-II

DUMAI

DAN

SUNGAI

170.000

BPSD

PAKNING

 

UP-III PLAJU DAN SUNGAI GERONG

133.700

BPSD

UP-IV CILACAP

 

300.000

BPSD

UP-V BALIKPAPAN

 

253.000

BPSD

UP-VI BALONGAN

 

125.000

BPSD

UP-VII KASIM-SORONG

 

10.000 BPSD

Total

996.700

BPSD

Keterangan : BPSD = Barrel Per Stream Day

Sumber : PERTAMINA, 2004

Sasaran utama pengadaan dan penyaluran BBM dalam menunjang pembangunan nasional adalah tersedianya BBM dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang memenuhi spesifikasi, suplai yang berkesinambungan, terjamin, dan ekonomis. Pemenuhan kebutuhan BBM merupakan tugas yang cukup berat karena peningkatan kapasitas pengolahan minyak yang dimiliki PERTAMINA tidak berjalan seiring dengan lonjakan konsumsi BBM yang dibutuhkan masyarakat. Kendala yang dihadapi dalam meningkatkan kapasitas pengolahan minyak dalam negeri adalah konsumsi minyak yang meningkat sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir ini sebagai dampak pesatnya kegiatan pembangunan. Di samping itu, kilang-kilang minyak yang dioperasikan menggunakan teknologi yang cukup tertinggal dan tidak efisien. Oleh karena itu, dalam pembangunan kilang-kilang baru dan memperluas kilang-kilang lama diterapkan teknologi baru yang berwawasan lingkungan. Dalam mengoperasikan kilang- kilang dalam negeri, tiga kebijakan utama selalu mendasari langkah PERTAMINA, yaitu kepastian dalam pengadaan, pertimbangan ekomomi, pengadaan, dan keluwesan pengadaan.

2.2 LOGO PERTAMINA

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Pemikiran perubahan logo sudah dimulai sejak 1976 setelah terjadi

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

Pemikiran perubahan logo sudah dimulai sejak 1976 setelah terjadi krisis PERTAMINA pada saat itu. Pemikiran tersebut dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dan diperkuat melalui Tim Restrukturisasi PERTAMINA tahun 2000 (Tim Citra) termasuk kajian yang mendalam dan komprehensif sampai pada pembuatan TOR dan perhitungan biaya. Akan tetapi, program tersebut tidak sempat terlaksana karena adanya perubahan kebijakan/pergantian Direksi. Wacana perubahan logo berlangsung sampai dengan terbentuknya PT. PERTAMINA (Persero) pada tahun 2003. Adapun pertimbangan penggantian logo yaitu untuk dapat membangun semangat/spirit baru,

6

mendorong perubahan Corporate Culture bagi seluruh pekerja, mendapatkan image yang lebih baik diantara perusahaan minyak dan gas global serta mendorong daya saing perusahaan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi, antara lain :

  • a. Perubahan peran dan status hukum perusahaan menjadi Perseroan.

  • b. Perubahan strategi perusahaan untuk menghadapi persaingan pasca PSO serta semakin banyak terbentuknya entitas bisnis baru di bidang Hulu dan Hilir.

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Pemikiran perubahan logo sudah dimulai sejak 1976 setelah terjadi

Gambar 2.1 Logo PERTAMINA (Persero) Elemen logo merupakan representasi huruf P yang secara keseluruhan merupakan representasi bentuk panah, dimaksudkan sebagai PERTAMINA yang bergerak maju dan progresif. Warna-warni yang berani menunjukkan langkah besar yang diambil PERTAMINA dan aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih positif dan dinamis. Warna-warna tersebut yaitu :

  • a. Biru : mencerminkan handal, dapat dipercaya dan bertanggung jawab.

  • b. Hijau : mencerminkan sumber daya energi yang berwawasan lingkungan.

  • c. Merah : keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam menghadapi berbagai macam keadaan.

2.3 SEJARAH PT. PERTAMINA (PERSERO) RU VI-BALONGAN

Dalam kaitannya dengan upaya mengamankan kebijakan nasional di bidang energi, keberadaan kilang Balongan mempunyai makna yang besar, tidak saja bagi PT. PERTAMINA (Persero) tetapi juga bagi bangsa dan negara. Di satu pihak hal ini dapat

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia meningkatkan kapasitas pengolahan di dalam negeri yang masih sangat

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

meningkatkan kapasitas pengolahan di dalam negeri yang masih sangat dibutuhkan, di lain pihak hal ini juga dapat mengatasi kendala sulitnya mengekspor beberapa jenis minyakdi dalam negeri dengan mengolahnya di kilang minyak di dalam negeri. Keberadaan kilang Balongan ini juga merupakan langkah proaktif PT. PERTAMINA (Persero) untuk dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri yang semakin hari semakin bertambah, khususnya untuk DKI Jakarta dan sekitarnya. Dari studi kelayakan yang telah dilakukan, pembangunan kilang Balongan diadakan dengan sasaran antara lain :

7

  • a. Pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri, terutama Jakarta dan sekitarnya.

  • b. Peningkatan nilai tambah dengan memanfaatkan peluang ekspor.

  • c. Memecahkan kesulitan pemasaran minyak mentah jenis Duri.

  • d. Pengembangan daerah.

Daerah Balongan dipilih sebagai lokasi kilang dan proyek kilang yang dinamakan Proyek EXOR (Export Oriented Refinery) I. Pemilihan Balongan sebagai lokasi Proyek EXOR I didasari atas berbagai hal, yaitu :

  • a. Relatif dekat dengan konsumen BBM terbesar, yaitu Jakarta dan Jawa Barat.

  • b. Telah tersedianya sarana penunjang yaitu : Depot UPMS III, Terminal DOH-JBB (Jawa Bagian barat), Conventional Buoy Mooring (CBM) dan Single Buoy Mooring (SBM).

  • c. Dekat dengan sumber gas alam yaitu DOH-JBB (Jawa Bagian Barat) dan BP.

  • d. Selaras dengan proyek pipanisasi BBM di Pulau Jawa.

  • e. Tersedianya lahan yang dibutuhkan yaitu bekas sawah yang kurang produktif.

  • f. Tersedianya sarana infrastruktur.

Start Up kilang PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan dilaksanakan pada bulan Oktober 1994, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 Mei 1995.

2.4 TATA LETAK PT. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Pabrik PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI didirikan di Balongan, yang

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

Pabrik PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI didirikan di Balongan, yang merupakan salah satu daerah kecamatan di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Untuk penyiapan lahan kilang, yang semula sawah tadah hujan, diperlukan pengurukan dengan

8

pasir laut yang diambil dari pulau Gosong Tengah. Pulau ini berjarak ±70 km arah bujur timur dari pantai Balongan. Kegiatan penimbunan ini dikerjakan dalam waktu empat bulan. Transportasi pasir dari tempat penambangan ke area penimbunan dilakukan dengan kapal yang selanjutnya dipompa ke arah kilang. Sejak tahun 1970, minyak dan gas bumi dieksploitasi di daerah ini. Sebanyak 224 buah sumur berhasil digali dan yang berhasil diproduksi adalah sumur Jatibarang, Cemara, Kandang Haur Barat, Kandang Haur Timur, Tugu Barat, dan lepas pantai. Sedangkan produksi minyak buminya sebesar 239,65 MMSCFD disalurkan ke PT. Krakatau Steel, PT. Pupuk Kujang, PT. Indocement, Semen Cibinong, dan Palimanan. Depot UPPDN III sendiri baru dibangun pada tahun 1980 untuk mensuplai kebutuhan bahan bakar di daerah Cirebon dan sekitarnya. Area kilang terdiri dari :

  • a. Sarana kilang

: 250 Ha daerah konstruksi kilang 200 Ha daerah penyangga

  • b. Sarana perumahan : 200 Ha

Ditinjau dari segi teknis dan ekonomis, lokasi ini cukup strategis dengan

adanya faktor pendukung, antara lain :

  • a. Bahan baku

Sumber bahan baku yang diolah di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan adalah :

  • 1. Minyak mentah Duri, Riau (awalnya 80%, saat ini 50% feed)

  • 2. Minyak mentah Minas, Dumai (awalnya 20%, saat ini 50% feed)

  • 3. Gas alam dari Jawa Barat bagian timur sebesar 18 Million Metric Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD).

  • b. Air Sumber air yang terdekat terletak di Waduk Salam Darma, Rejasari, kurang lebih 65 km dari Balongan ke arah Subang. Pengangkutan dilakukan secara

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3 pipanisasi dengan pipa berukuran 24 inci dan kecepatan

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

3

pipanisasi dengan pipa berukuran 24 inci dan kecepatan operasi normal 1.100 m serta kecepatan maksimum 1.200 m 3 . Air tersebut berfungsi untuk steam boiler, heat exchanger (sebagai pendingin) air minum, dan kebutuhan perumahan. Dalam pemanfaatan air, kilang Balongan ini mengolah kembali air buangan dengan sistem wasted water treatment, dimana air keluaran di-recycle ke sistem ini. Secara spesifik tugas unit ini adalah memperbaiki kualitas effluent parameter NH 3 , fenol, dan COD sesuai dengan persyaratan lingkungan.

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3 pipanisasi dengan pipa berukuran 24 inci dan kecepatan
  • c. Transportasi

Lokasi kilang PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan berdekatan dengan jalan raya dan lepas pantai utara yang menghubungkan kota-kota besar sehingga memperlancar distribusi hasil produksi, terutama untuk daerah Jakarta dan Jawa Barat. Marine facilities adalah fasilitas yang berada di tengah laut untuk keperluan bongkar muat crude oil dan produk kilang. Fasilitas ini terdiri dari area putar tangker, SBM, rambu laut, dan jalur pipa minyak. Fasilitas untuk pembongkaran peralatan dan produk (propylene) maupun pemuatan propylene dan LPG dilakukan dengan fasilitas yang dinamakan jetty facilities.

  • d. Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang dipakai di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan terdiri dari dua golongan yaitu golongan pertama, dipekerjakan pada proses pendirian kilang Balongan yang berupa tenaga kerja local non-skill sehingga meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar, sedangkan golongan kedua, dipekerjakan untuk proses pengoperasian, berupa tenaga kerja PT. PERTAMINA (Persero) yang telah berpengalaman dari berbagai kilang di Indonesia.

9

2.5 IDEOLOGI PT. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN

Visi, moto, dan logo PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan telah dirumuskan dan disahkan melalui Surat Keputusan General Manajer No. Kpts- 092/E6000/99-SO, tanggal 30 November 1999. Visi

1.

Menjadi Kilang Unggulan

  • a. Kilang, mengolah bahan baku minyak bumi menjadi produk BBM dan non-BBM.

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia b. Unggulan, masuk dalam nominasi kelompok kilang terbaik dunia,

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

  • b. Unggulan, masuk dalam nominasi kelompok kilang terbaik dunia, unggul dalam segala aspek bisnis misalnya : lebih aman, andal, efisien, professional, maju, berdaya saing tinggi, bermutu internasional, berwawasan lingkungan dan mampu menghasilkan laba sebesar-besarnya.

10

2.

Misi

  • a. Mengolah minyak bumi, untuk memroduksi BBM dan non-BBM secara tepat dalam jumlah, mutu, waktu, dan berorientsasi pada laba serta berdaya saing tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar.

  • b. Mengoperasikan kilang, yang berteknologi maju dan terpadu secara aman, handal, efisien serta berwawasan lingkungan.

  • c. Mengelola aset PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan secara professional yang didukung oleh sistem manajemen yang tangguh berdasarkan semangat kebersamaan, keterbukaan, dan prinsip saling menguntungkan.

Penjelasan dari misi :

  • a. Minyak bumi

: Crude Oil

  • b. Tepat jumlah : jumlah yang optimal

  • c. Tepat mutu : mutu produk yang memenuhi standar

  • d. Tepat waktu : penyerahan produk pada waktu yang diinginkan

  • e. Berorientasi laba sosial

: dititikberatkan pada pencarian laba disamping misi

  • f. Berdaya saing tinggi : mutu dan harga kompetitif

  • g. Pasar : domestik dan internasional

  • h. Teknologi maju : selalu menyempurnakan teknologi proses dan peralatan

  • i. : terintegrasi penuh antara kilang dan pipa penyalur

Terpadu

BBM

  • j. Aman : bagi pekerja, peralatan, masyarakat, dan lingkungan

  • k. :

Andal

mampu

tertentu

k. : Andal mampu tertentu Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia sescara kontinu dalam waktu

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

sescara

kontinu

dalam

waktu

beroperasi

11

  • l. Efisien : produktivitas tinggi

  • m. Berwawasan lingkungan : memenuhi peraturan perundangan yang berlaku tentang lingkungan hidup

  • n. Aset : peralatan, pekerja, dana

  • o. Profesional : SDM yang berprestasi, proaktif, dan inovatif

  • p. Manajemen tangguh : berani mengambil resiko, kompak, dan visioner

  • q. Semangat kebersamaan : kerja sama yang sinergi

  • r. Keterbukaan : bersih dan transparan

  • s. Saling menguntungkan : bagi pekerja dan mitra bisnis

  • 3. Motto

Meraih keunggulan komparatif dan kompetitif

  • 1. Meraih, menunjukkan upaya maksimum yang penuh dengan ketekunan dan keyakinan serta profesionalisme yang penuh dengan ketekunan dan keyakinan serta profesionalisme untuk visi PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan.

  • 2. Keunggulan komparatif, keunggulan dasar yang dimiliki PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan dibandingkan dengan kilang sejenis, yaitu lokasi yang strategis karena dekat dengan pasar BBM dan non-BBM.

  • 3. Keunggulan kempetitif, keunggulan daya saing terhadap kilang sejenis dalam hal efisiensi, mutu, produk, dan harga.

  • 4. Logo

Logo PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan merupakan hasil lomba dan desain original oleh sdr. H. M. Thamrin, SA. Nomor Pekerja 284742, Pekerja Bagian Fasilitas Engineering PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan. Penjelasan dan arti logo PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan yaitu :

  • 1. Lingkaran : fokus ke bisnis inti dan sinergi.

1. Lingkaran : fokus ke bisnis inti dan sinergi. Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

12

  • 2. Ganbar : konstruksi regenerator dan reaktor di unit RCC (Residue Catalic Cracker) yang menjadi cirri khas dalam proses pengolahan minyak di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan.

3.

Warna

:

  • a. Hijau, menunjukkan warna asli regenerator yang berarti selalu menjaga kelestarian lingkungan hidup.

  • b. Putih, menunjukkan warna asli reaktor yang berarti bersih, professional, proaktif, inovatif, dan dinamis dalam setiap tindakan yang selalu berdasarkan kebenaran.

  • c. Biru, warna logo Pertamina yang berarti loyal kepada visi Pertamina.

  • d. Biru, warna logo Pertamina yang berarti keagungan visi PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan.

5. Strategi

Dalam mendukung pencapaian visi dan misi telah dirumuskan Sembilan strategi utama PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan, yaitu :

  • 1. Keunggulan biaya (Cost Leadership) secara keseluruhan dilakukan dengan upaya meningkatkan kehandalan, keamanan, efisiensi, dan produktivitas serta optimasi operasi kilang, untuk menurunkan biaya produksi BBM, non-BBM, dan Petrokimia pada kualitas tetap. Dengan demikian produk akan mempunyai daya saing tinggi dan mampu menguasai pasar.

  • 2. Perluasan pasar atau produk (Market-Product Development) dengan melakukan penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk, dan divertifikasi, sehubungan masih tersedianya peluang pasar BBM, non-BBM, dan Petrokimia (di luar DKI Jakarta dan Jawa Barat). Untuk biaya survei dan riset pasar mutlak harus dilakukan agar menghasilkan produk yang berorientasi pasar, bernilai tinggi, bermutu tepat, berdaya saing tinggi.

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3. Meningkatkan produk bernilai tinggi ( Maximize High Value

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

  • 3. Meningkatkan produk bernilai tinggi (Maximize High Value Product), terutama Propylene dan LPG maupun produk lain, dalam rangka peningkatan laba PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan. Untuk itu pemilihan mode operasi yang sesuai serta jenis minyak yang diolah, mutlak diperlukan.

13

  • 4. Pengintegrasian kilang (Refinery Back-Forward Integration), dengan pemasok bahan baku (Crude Supplier) dan industry hilir. Hal tersebut dilakukan dengan memodifikasi dan ekspansi, profitisasi, aliansi, akuisisi, komersiansi dan divertasi.

  • 5. Penerapan sistem manajemen mutu (Quality Management System) secara intensif dan mencakup seluruh kegiatan operasional, yaitu : operasi kilang, lingkungan, sumber daya manusia, financial, dan lain-lain.

  • 6. Pengelolaan organisasi secara efektif (Effective Organization) dan modern, dengan menerapkan sistem pengendalian dan pengawasan perusahaan (good corporate governance) yang didukung sistem pelaporan kinerja yang berstandar nasional dan internasioanl.

  • 7. Pemberdayaan dan pengembanan pekerja (Employee Empowerment and Development) yag professional dan berbasis kompetensi, mempunyai motivasi kuat, persaingan dan lingkungan kerja yang sehat, dengan imbalan yang menarik secara berkesinambungan dan konsisten serta membentuk budaya kerja yang sinergis.

  • 8. Menampilkan citra perusahaan (Company Image) yang baik kepada pihak yang berkepentingan (stakeholder) seperti pekerja, pemerintah, masyarakat sekitarnya.

  • 9. Pembangunan hubungan dan kemitraan dengan pihak luar (Good Human Relationship) yang baik berdasarkan prinsip kemanusiaan, kebersamaan, keterbukaan, kesederhanaan dan prinsip saling menguntungkan.

2.6 KILANG PT. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN

Kilang PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan mempunyai kapasitas

125.000 BPSD dengan bahan baku yang terdiri dari minyak mentah Duri 80%, minyak

mentah Minas 20% dan gas alam dari Jatibarang sebagai bahan baku H 2

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3. Meningkatkan produk bernilai tinggi ( Maximize High Value

plant sebanyak

18 MMSCFD. Pengolahan bahan baku tersebut menghasilkan produk sebagai berikut :

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Tabel 2.2 Produk PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan 14

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

Tabel 2.2 Produk PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan

14

 

Jenis Produk

Kapasitas

Satuan

 

BBM :

   

Motor Gasoline

58,000

BPSD

A

Kerosene

11,900

BPSD

Automotive Diesel Oil

27,000

BPSD

Industrial Diesel Oil

16,000

BPSD

Decant Oil & Fuel Oil

9,300

BPSD

 

Non BBM :

   

LPG

565

Ton

B

Propylene

545

Ton

Ref. Fuel Gas

125

Ton

Sulfur

28,500

Ton

Sumber : PERTAMINA, 2004

2.7 PROYEK DAN KONSTRUKSI PT. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN

Proyek kilang PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan semula dinamakan EXOR-I, kemudian setelah beroperasi namanya menjadi kilang BBM PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan. Teknologi proses yang dipilih ditujukan untuk memproduksi premium, kerosene, dan solar sebanyak 72% sedangkan sisanya berupa propylene, LPG, IDF, fuel oil, dan decant oil. Bahan pembantu proses yang berupa bahan kimia dan katalis sebagian besar masih diimpor. Kegiatan Engineering Procurement and Construction (EPC) dilakukan oleh konsorsium, yang terdiri dari JGC, Foster Welter, dan diatur dalam EPC Agreement. Sebagai product offtaker (pembeli) adalah British Petroleum (BP). Jangka waktu pelaksanaan adalah 51 bulan, yaitu sejak EPC Agreement ditandatangani pada tanggal 1 September 1990 dan berakhir pada bulan November 1994. Lisensi proses pengolahan dari unit-unit kilang dapat dilihat pada table berikut :

Tabel 2.3 Unit-unit dan Sarana di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan

No

Unit Proses

Kode

Kapasitas

Lisensor

Kontraktor

Proses

Unit

(BPSD)

 

CDU

  • 1 125,000

 
  • 11 FW

 

FW

I

 

ARHDM

  • 2 58,000

  • 12 &

 

Chevron

JGC

II

 
15

15

   

13

   

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

   

3

GO HTU

14

32,000

UOP

JGC

I

4

RCC

15

83,000

UOP

FW

I

 

Unsaturated

         

Gas

5

Concentratio

16

-

UOP

FW

I

n

 

LPG

         

MERICH

6

Treatment

17

22,500

FW

I

EM

Unit

 

Gasoline

         

MERICH

7

Treatment

18

47,000

FW

I

EM

Unit

 

Propylene

         

8

Recovery

19

7,000

UOP

FW

I

9

Catalytic

20

13,000

UOP

FW

I

10

LCO

21

12,000

UOP

JGC

II

11

Hidrogen

22

76

FW

FW

II

Plant

MMSCFD

 

Amine

         

12

treater Plant

23

  • - JGC

JGC

I

 

Sour

Water

         

13

Stripper

24

  • - JGC

JGC

I

14

Sulphur

25

27

MT/Day

JGC

JGC

I

Plant

 

Sumber : PERTAMINA, 2004

2.8 BAHAN BAKU PT. PERTAMINA (PERSERO) RU-VI BALONGAN

1. Bahan Baku Utama Minyak mentah yang diolah di PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan adalah minyak Minas dan Duri dengan perbandingan Duri : Minas = 50% : 50%. Spesifikasi umpan minyak mentah yang masuk ke CDU dapat dilihat pada tabel berikut :

Minyak Mentah

Minas

Duri

API

35,2

21,1

Densitas (gr/ml) @15 0 C

 

0,8485

0,927

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Viskositas (cSt) : @30 C - 591 @40 C

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

Viskositas (cSt) :

   

@30 0 C

 

-

 

591

@40 0 C

23,6

274,4

@50 0 C

 

11,6

-

 

0,08

 

7,4

Sulphur (%-Weight) Carbon (%-Weight)

2,8

 

7,4

Titik Tuang ( 0 C)

 

3,6

24

Asphalt (%-Weight)

0,5

 

0,4

Vanadium (ppm wt)

< 1

 

1

Nickel (ppm wt)

 

8

 

32

Total Asam (mg KOH)

< 0,05

 

1,19

 

11

 

5

Salt (lb/1000 bbl) Water (%-volume)

0,6

 

0,3

Sumber ; PERTAMINA, 2004

16

2. Bahan Baku Pendukung Di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan, selain bahan baku utama digunakan juga bahan baku pendukung berupa bahan kimia, katalis, dan resin yang dipergunakan pada masing-masing unit beserta aplikasi dan fungsinya.

U

     

n

Jenis

Aplikasi

Fungsi

it

1

Cairan

Overhead

11-C-

Menetralisir

1

Amonia

105

HCL

Anti

Suction

Feed

Mencegah

Foulan

Pump

(11-P-101

terjadinya

A/B)

dan

Unit

fouling

pada

t

   

Desalter

 

HE

Corrosi

   

ve

Overhead

11-V-

Mencegah

Inhibit

101

korosi

or

 

Suction

Feed

 

Demuls

 

Memisahkan

ifier

Pump dan

Unit

emulsi

Desalter

Wetting

Preparasi

larutan

Membantu

Agent

pada 11-V-114

mempercepat

 
17

17

     

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

pemisahan

 
 

15-B-101,

15-E-

 

Mengatasi

Kalgen

104 A/B

kesadahan

 

Injeksi pada air dari cooling water untuk 16-E-103

 

Pencegah

Kurilex

A/B, E-104 A/B, E-105 A/B, E-111 A/B

korosi

1

     

Oksidasi

5

Katalis

18-A-202, 206

Sodium

,

mercaptide

1

 

11-V-101,

102,

 

6

Kaustik

103,

106 dan

18-

 

Mengikat H 2 S

V-102, 18-V-104

 

,

     

1

7

,

1

8

Anti

Aliran produk 18-

Oksida

 

Anti oksidan

,

V-102, 18-V-104

 

1

n

9

,

2

0

2

 

Preparasi

larutan

 

3

DIPA

dilakukan

pada

 

Mengikat H 2 S

,

23-V-102

 

2

Anti

Injeksi pada

 

Mencegah

4

Foam

kolom RCC (24- C-201) dan kolom NH 3 stripper (24- C-102) dan aliran

foaming

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia masuk 23-V-102 24-V-302, 24-V- Menetralisir Soda 303 dan 24-Z-301

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

   

masuk 23-V-102

 
 

24-V-302, 24-V-

Menetralisir

Soda

303 dan 24-Z-301

kaustik

18

Sumber : PERTAMINA, 2004 Tabel 2.5 Jenis Bahan Kimia PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan

 

Jenis

   

Unit

katalis/Resin

Aplikasi

 

Fungsi

   

12/13-

 

Mengurangi

12,13

ICR131KAQ

R.101/10

kandungan

2/103

 

14,21

Sulphur

22-R-102

 

logam Adsorbsi H 2 S

absorber

A/B

 
       

Memecah

15-R-

 
 

rantai

Katalis UOP

101/102/

 
 

hidrokarbon

103/104

 

15

 

panjang

     

Adsorbsi

 

Molsieve

Pru

19-V-

moisture

dari

ODG-442

104

A/B

LPG campuran

 

C

3

 

E-315

Katalis

19-V-

 

Menghilangkan

19

Propylene

111

kandungan

Metal Treater

metal

20

Alcoa

11-V-

 

Menghilangkan

Selecsorb

COS

COS

dari

 

112

A/B

 

1/8”

 

propylene

     

Menjenuhkan

Katalis SHP H-

19-R-101

senyawa

diolefin

14171

A/B

 
 

menjadi

monoolefin

   

Adsorbsi

14/21-V-

Rock Salt

 

moisture

dari

101

 
 

LPG

Hydrogenerato

22-R-101

 

Hidrogenasi

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia untuk melepas r kandungan sulfur High temperature Mengubah CO

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

       

untuk

melepas

r

kandungan

 

sulfur

 

High

   

temperature

 

Mengubah CO

Shift Conventer

22-R-103

menjadi CO 2

22

type C12-4

 

Hydrogen

   

Mengubah

gas

Reformer

22-F-101

alam

menjadi

Catalyst

H 2

 

23

Karbon Aktif

22-S-102

Menyerap komponen yang mengakibatkan

   

23-S-

foaming Menyaring

Amine Filter

101/103

partikel > 10 micron di Lean

25

 

25-R-

 
 

Mereaksikan

 

Claus Catalyst

101/102/

 

103

 

gas alam

 

55

Resin Anion

   

Mereaksikan

 

22-V-

 

ASB-1p & Resi

 

kation

dan

105

A/B

 

Kation C-249

   

anion

Lynde

   

Menyerap

 

Adsorbent

tipe

22-V-

pengotor

H 2

LA22LAC-612,

109

A-M

(CO,

CO 2 ,

N 2 ,

C-200F

 

HC)

 

55-A-

 

Menyaring

 

Karbon Aktif

101

A/B-

bahan-bahan

S1

organic

Strong

Acid

Kation

 

Menghilangkan

Resin Kation

pada 55-

kation/anion

 

A-101

 

A/B-V1,

19

 
20

20

   

anion

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

 

pada 55-

A-101

A/B-V2

 

58-D-

 

Activated

101

A/B-

Adsorbsi

Alumina

1/8”,

 

R1-R2

moisture dari

¼”,

ceramic

 

59-A-

LPG Adsorbsi

ball

Molsieve

Siliporite

101

A1

A/B-

moisture, CO 2

Sumber : PERTAMINA, 2004 Tabel 2.6 Jenis Katalis dan Resin PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan

2.9 STRUKTUR ORGANISASI

PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan mempunyai struktur organisasi yang menerangkan hubungan kerja antar bagian yang satu dengan yang lainnya dan juga

mengatur hak dan kewajiban masing-masing bagian. Tujuan dibuatnya struktur organisasi adalah untuk memperjelas dan mempertegas kedudukan suatu bagian dalam menjalankan

tugas sehingga akan mempermudah untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Berikut merupakan penjelasan singkat mengenai beberapa bidang dan bagian yang ada di PT. PERTAMINA (Persero) RU VI Balongan :

  • 1. Bidang Engineering

    • a. Bagian Fasilitas Engineering Bidang engineering dipimpin oleh bagian yang bertanggung jawab terhadap penggunaan fasilitas dalam proses operasi kilang, baik dari segi pengadaan, pengaturan berbagai peralatan dan menetapkan order kerja ke Office Engineering terhadap penyusunan spesifikasi mekanis, listrik, dan sebagainya.

    • b. Bagian Proses Engineering Tugas dari bagian proses engineering yaitu :

      • 1. Memonitor operasi kilang

      • 2. Memonitor perubahan-perubahan kondisi operasi

      • 3. Menetapkan bahan-bahan kimia yang dipakai

      • 4. Mengesahkan modifikasi

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 5. Bertanggung jawab terhadap perubahan-perubahan yang terjadi c. Bagian

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

5. Bertanggung jawab terhadap perubahan-perubahan yang terjadi

  • c. Bagian Proyek Engineering

  • 2. Bidang Inspeksi

21

Bagian ini berada di bawah bidang reliabilitas yang dipimpin oleh kepala bagian yang membawahi 3 orang Pengawas Utama (PUT), yaitu :

  • a. PUT Inspeksi Plant yang membawahi inspeksi plant dan kilang.

  • b. PUT Inspeksi Offsite Utilities yang membawahi inspeksi offsite dan utilities

  • c. Inspeksi NDT (Non Destructive Test/korosi)

Tugas umum dari bagian Inspeksi adalah memberikan saran dari hasil pemeriksa terhadap fasilitas produksi jika ada penyimpangan-penyimpangan yang tidak sesuai dengan standar. Inspeksi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

  • a. Inspeksi pada saat pekerjaan berjalan (on stream).

  • b. Inspeksi pada saat pekerjaan berhenti (equipment shutdown)

  • 3. Bagian Unit Produksi Bidang ini membawahi 6 bagian, yaitu :

    • a. Bagian SS produksi.

    • b. Bagian DHC (Distiling Hydrotreating Complex) Bagian ini mengelola dan mengawasi area ARHDM dan GO LCO H 2 .

Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 5. Bertanggung jawab terhadap perubahan-perubahan yang terjadi c. Bagian
  • c. Bagian RCC Bagian ini mengelola dan mengawasi area CDU (Crude Destillation Unit) dan RCC (Residue Catalytic Cracking).

  • d. Bagian Laboratorium Bagian ini dipimpin oleh kepala Laboratorium yang membawahi Pengawas Utama (PUT) pengamatan yang juga memipin dua pengawas (PWS), yaitu :

    • a. Pengawas jaga pengamatan

    • b. Pengawas harian pengamatan Masing-masing pengawas memimpin 2 orang pemuka (PWK).

  • e. Bagian Instalasi Tangki dan Perkapalan Tugas :

    • a. Menyediakan raw material crude

    • b. Menerima dan menyimpan produk

    • c. Mendistribusikan produk

    c. Mendistribusikan produk Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 22 d. Mengelola buangan minyak Fasilitas-fasilitas

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    22

    • d. Mengelola buangan minyak Fasilitas-fasilitas yang terdapat pada bagian ini adalah :

      • 1. Tangki yang digunakan untuk menyimpan produk-produk, baik minyak mentah maupun produk jadi. Jadi jumlah tangki yang dimiliki yaitu 50 unit yang terdiri dari 3 jenis :

        • a. Coone-roof tank digunakan untuk menyimpan minyak-minyak berat seperti solar dan minyak residu.

        • b. Floating-roof tank digunakan untuk menyimpan minyak-minyak ringan seperti mogasdan kerosin.

        • c. Spherical tank untuk menyimpan gas.

    Kapasitas tangki berbeda-beda. Kapasitas paling besar 67.000 m 3 dan

    c. Mendistribusikan produk Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 22 d. Mengelola buangan minyak Fasilitas-fasilitas

    terkecil 2.500 m 3 .

    • 2. Sistem perpipaan

    • 3. Fasilitas loading/unloading

    • 4. Truk tangki dan kapal untuk mengeluarkan produk

    • f. Bagian Utilities

    Bagian ini berfungsi menunjang operasi kilang dalam penyediaan :

    • a. Penyediaan uap air yang terdiri dari :

      • 1. Uap tekanan tinggi

      • 2. Uap tekanan menengah

      • 3. Uap tekanan rendah

  • b. Penyediaan tenaga listrik

  • c. Penyediaan bahan bakar

  • d. Instrument dan plant air

  • e. Penyediaan air (service water, fire water, dan cooling water)

    • 4. Bidang Jasa Pemeliharaan Kilang

    Bidang jasa pemeliharaan kilang memilki beberapa bagian yaitu :

    • a. Bagian Perencanaan Bagian ini dipimpin oleh seorang Kepala Perencanaan yang memiliki empat seksi, yaitu :

      • 1. Seksi Perencanaan Rutin Anggaran

    • 2. Seksi Perencanaan Program

    • 3. Seksi Perencanaan Material

    • 4. Seksi Administrasi

    2. Seksi Perencanaan Program 3. Seksi Perencanaan Material 4. Seksi Administrasi Laporan Kerja Praktek PT British

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    23

    • b. Bagian Bengkel Bagian ini dipimpin oleh seorang kepala bengkel yang membawahi satu orang Pengawas Utama (PUT) mekanik dan PUT alat-alat dan las konstruksi.

    • c. Bagian Pemeliharaan I Bagian ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan peralatan di unit RCC dan CDU. Dikepalai seorang kepala bagian yang membawahi tiga Pengawas Utama yaitu PUT CDU, PUT RCC, PUT Inst. dan Listrik.

    • d. Bagian Pemeliharaan II Bagian ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan parelatan di unit proses ARHDM dan GO LCO H 2 .

    2. Seksi Perencanaan Program 3. Seksi Perencanaan Material 4. Seksi Administrasi Laporan Kerja Praktek PT British
    • e. Bagian Pemeliharaan III Bagian ini bertanggung jawab terhadap pemeliharaan peralatan di Utillities, Offsite, Kilang LPG Mundu dan Water Intake Facility (WIF) Salamdarma.

    • f. Bagian Eng. Pem-JPK Bagian ini bertanggung jawab terhadap Quality Control pada saat pelaksanaan pemeliharaan peralatan kilang. Kepala Bagian Eng. Pem-JPK membawahi beberapa Pengawas Utama, yaitu Rotating Equipment, Stationary, Listrik dan Insturment, dan Material.

    • g. Bagian Pengadaan-JPK Bagian ini bertanggung jawab dalam pengadaan, penerimaan dan penyimpanan material.

    2.10 LINDUNGAN LINGKUNGAN, KESEHATAN, DAN KESELAMATAN KERJA

    PERTAMINA telah mengambil suatu kebijakan untuk selalu memprioritaskan aspek Kesehatan Kerja (KK) dan Lindung Lingkungan (LL) dalam semua kegiatan minyak dan gas bumi untuk mendukung pembangunan nasional. Manajemen PT.

    PERTAMINA (Persero) UP-VI Balongan mendukung dan ikut berpartisipasi dalam program pencegahan keraguan baik terhadap kesehatan karyawan, harta benda

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia perusahaan, terganggunya kegiatan operasi serta keamanan masyarakat yang diakibatkan

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    perusahaan, terganggunya kegiatan operasi serta keamanan masyarakat yang diakibatkan oleh kegiatan perusahaan.

    Pelaksanaan tugas dari LKKK ini berlandaskan :

    24

    • a. UU No. 1/1970 Mengenai keselamatan kerja karyawan yang dikeluarkan oleh Depnaker.

    • b. UU No. 2/1951 Mengenai ganti rugi akibat kecelakaan kerja yang dikeluarkan oleh Depnaker.

    • c. PP No. 11/1979 Mengenai persyaratan teknis pada kilang pengolahan untuk keselamatan kerja.

    • d. UU no. 4/1982 Mengenai ketentuan pokok pengolahan dan lingkungan hidup yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH).

    • e. PP No. 29/1986 Mengenai AMDAL yang dikeluarkan oleh KLH.

    Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh KK dan LL PT. PERTAMINA (Persero) UP-VI Balongan untuk mendukung program di atas terdiri atas 5 kegiatan :

    • 1. Seksi Keselamatan Kerja mempunyai tugas, antara lain :

      • a. Mengawasi keselamatan jalannya operasi kilang.

      • b. Bertanggung jawab terhadap alat-alat keselamatan kerja.

    • c. Bertindak sebagai instruktur safety.

    • d. Membuat rencana pencegahan.

    • 2. Seksi Pelatihan mempunyai tugas, antara lain :

      • a. Membuat rencana kerja pencegahan kebakaran.

      • b. Menyiapkan dan mengadakan pelatihan bagi karyawan dan kontraktor agar lebih menyadari tentang keselamatan kerja.

      • c. Membuat dan menyebarkan bulletin KK dan LL pada karyawan agar wawasan karyawan tentang KK dan LL meningkat.

  • 3. Seksi Penanggulangan Kebakaran mempunyai tugas, antara lain :

    • a. Membuat prosedur emergency agar penanggulangan berjalan dengan baik.

    • b. Mengelola regu kebakaran agar selalu siap bila suatu waktu diperlukan.

    • c. Mengadakan pemeriksaan kehandalan alat-alat firing.

    • 4. Seksi Lindungan Lingkungan mempunyai tugas, antara lain :

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia a. Memrogram Rencana Kelola Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan.

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    • a. Memrogram Rencana Kelola Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan.

    • b. Mengusulkan tempat-tempat pembuangan limbah dan house keeping.

    25

    • 5. Seksi Rekayasa mempunyai tugas, antara lain :

      • a. meninjau ulang gambar-gambar dan dokumen proyek.

      • b. Melakukan evaluasi-evaluasi yang berhubungan langsung dengan LKKK

    Adapun seksi-seksi tersebut di atas bertujuan untuk mencegah kecelakaan, kebakaran maupun pencemaran lingkungan dari segi engineering. Penerapan Lingkungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (LKKK) dilaksanakan dengan membuat program dengan pedoman A-850/E-6900/99-30 yang meliputi :

    1. Bendera Kecelakaaan

    • 1. Warna kuning (1 minggu dikibarkan), untuk kecelakaan ringan, yaitu tidak

    menimbulkan hari hilang (first aid accident).

    • 2. Abu-abu muda (2 minggu dikibarkan), untuk kecelakaan kerja yaitu kehilangan hari kerja.

    • 3. Hitam dengan sirip putih (1 bulan dikibarkan), untuk kecelakaan fatal yaitu menyebabkan kematian.

    • 2. Bendera Kebakaran

      • 1. (1 minggu dikibarkan), untuk kebakaran yaitu kerugian di bawah US$ 10,000.

    2. Merah strip hitam (1 bulan dikibarkan), untuk kebakaran yaitu kerugian melebihi US$ 10,000.

    • 3. Bendera Pencemaran

      • 1. Biru (1 minggu dikibarkan), untuk pencemaran dimana tidak terjadi klaim penduduk.

      • 2. Hitam (1 bulan dikibarkan), untuk pencemaran dimana terjadi klaim penduduk.

    • 4. Papan Informasi Kejadian Papan yang berisi lokasi, tanggal, tingkat keparahan kejadian yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja, kebakaran dan pencemaran. Tempat pemasangannya adalah :

    1. Di depan fire station 2. Lokasi Kejadian

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3. Ada di lemari bendera on call . Jam

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    3. Ada di lemari bendera on call. Jam Kerja Berdasarkan jam kerja, karyawan dapat dibedakan atas karyawan shift dan karyawan reguler.

    26

    • 1. Jam Kerja Shift Jam kerja shift dilakukan secara bergilir berlaku bagi karyawan yang terlibat langsung dalam kegiatan produksi dan pengamanan pabrik. Jam kerja shift diatur sebagai berikut : Day shift : 08.00 – 16.00 WIB Swing shift : 16.00 – 24.00 WIB Night shift : 24.00 – 08.00 WIB Karyawan shift terbagi atas 4 kelompok yaitu A, B, C, dan D dimana jadwal kerja dari masing-masing kelompok adalah bekerja selama 2 hari berturut-turut pada shift yang sama dan setelah itu bergeser ke jam shift berikutnya untuk 2 hari selanjutnya. Selama 6 hari bekerja berturut-turut, setiap kelompok akan mendapat libur selama 2 hari.

    • 2. Jam Kerja Regular Jam kerja regular ini berlaku bagi karyawan yang tidak terlibat langsung dalam kegiatan produksi dan pengamanan pabrik. Jam kerja ini berlaku bagi karyawan tingkat staf ke atas. Jadwal kerja jam regular adalah sebagai berikut : Senin – Kamis Istirahat

    : 07.00 – 16.00 WIB : 12.00 – 13.00 WIB

    Jumat : 07.00 – 15.30 WIB

    Istirahat Sabtu dan Minggu :

    : 11.30 – 13.30 WIB

    libur

    Sistem Penggajian Sistem penggajian di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan yang merupakan tanggung jawab bagian administrasi keuangan dibayar untuk 8 jam kerja setiap hari. Selain itu, juga diatur tentang lembur, cuti, uang dinas, bonus, kontrak

    jasa, dan peringatan karyawan (warning slip). Sistem penggajian dibedakan atas :

    • 1. Karyawan tetap, ikatan kerja, dan honorer

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Gaji diberikan setiap akhir bulan berupa gaji pokok ditambah

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    Gaji diberikan setiap akhir bulan berupa gaji pokok ditambah dengan tunjangan-

    27

    tunjangan yang ada. Besarnya gaji pokok tersebut selain ditentukan oleh golongan dan jabatan juga berdasarkan tanggung jawab pekerjaan masing-masing. Adapun susunan gaji adalah sebagai berikut :

    • a. Tunjangan (gaji) pokok

    • b. Tunjangan jabatan struktural

    • c. Tunjangan jabatan fungsional

    • d. Uang lembur

    • e. Biaya transportasi

    • 2. Tenaga harian lepas Gaji yang diberikan setiap hari Sabtu yang jumlahnya tergantung dari jumlah karyawan yang bekerja pada masing-masing hari. Di samping gaji rutin, karyawan akan mendapatkan bonus keuntungan yang jumlahnya tergantung dari laju produksi. Bagi karyawan yang lembur juga diberikan upah tambahan dengan perhitungan sebagai berikut :

      • a. Lembur hari biasa Untuk satu jam pertama besarnya satu setengah kali upah per kerja, untuk dua jam berikutnya dua kali upah per jam.

      • b. Lembur hari Minggu/libur Untuk setiap jam besarnya dua kali upah per jam.

    2.11 Penanganan Limbah

    PT.

    PERTAMINA

    (Persero)

    RU-VI

    Balongan

    menghasilkan

    berbagai

    macam

    limbah, yang terdiri dari :

    a.Limbah Cair

    • b. Limbah Gas

    • c. Limbah Padat

    • A. Pengolahan Limbah Cair

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Limbah industri yang dihasilkan industri minyak bumi umumnya mengandung

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    Limbah industri yang dihasilkan industri minyak bumi umumnya mengandung logam-logam berat maupun senyawa yang berbahaya. Selain lobam berat, limbah , atau air buangan indusri, minyak bumi juga mengandung senyawa-senyawa hidrokarbon yang sangat rawan terhadap bahaya kebakaran. Dalam setiap kegiatan industri, air buangan yang keluar dari kawasan industri minyak bumi harus diolah terlebih dahulu dalam unit pengolahan limbah, sehingga air buangan yang telah diproses dapat memenuhi spesifikasi dan persyaratan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Untuk mencapai tujuan tersebut, makan dibangun unit Sewage and Effluent water treatment di PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan ini. Secara garis besar effluent water treatment di PT. PERTAMINA (Persero) RU- VI Balongan dibagi menjadi dua, yaitu treatment oily water dan treatment air buangan proses. Treatment oily water dilakukan di rangkaian separator sedangkan treatment air buangan proses dilakukan menggunakan lumpur aktif (activated sludge) yang merupakan campuran dari koloni mikroba aerobik. Desain awal dari unit WWT (Waste Water Treatment) adalah untuk mengolah air buangan yang terbagi menjadi dua sistem pengolahan, yaitu :

    28

    1.Dissolved Air Floatation (DAF), untuk menisahkan kandungan padatan dan minyak dari air yang berasal dari air buangan (oily water) ex process area dan tank area. Pada proses ini yang diolah umumnya mempunyai kandungan minyak dan solid yang tinggi tetapi mempunyai kandungan COD dan BOD yang rendah.

    2.Activated Sludge Unit (ASU), untuk mengolah secara kimia, fisika dan biologi air buangan dari unit proses terutama : Treated Water ex Unit Sour Water Stripper (Unit 24) dan desalter effluent water ex Unit Crude Distillation (Unit 11). Air yang diolah umumnya mempunyai kandungan ammonia, COD, BOD dan fenol sedangkan kandungan minyak dan solid berasal dari desalter effluent water.

    • B. Pengolahan Limbah Gas

    Limbah gas dari kilang ini diolah di sulfur recovery unit dan sisanya dibakar di incinerator (untuk gas berupa H 2 S dan CO) maupun flare (gas hidrokarbon).

    • C. Pengolahan Limbah Padat

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Sludge merupakan suatu limbah yang dihasilkan dalam industri minyak

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    Sludge merupakan suatu limbah yang dihasilkan dalam industri minyak yang tidak dapat dibuang begitu saja ke alam bebas karena akan mencemari lingkungan. Pada sludge selain mengandung lumpur, pasir, dan air juga masih mengandung hidrokarbon fraksi berat yang tidak dapat di-recovery ke dalam proses. Sludge ini juga tidak dapat dibuang ke lingkungan sebab tidak terurai secara alamiah dalam waktu singkat. Pemusnahan hidrokarbon perlu dilakukan untuk menghindari pencemaran lingkungan. Dalam upaya tersebut, PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan melakukannya dengan membakar sludge dalam suatu ruang pembakar

    (incinerator) pada temperature tertentu. Lumpur/pasir yang tidak terbakar dapat digunakan untuk landfill atau dibuang di suatu area, sehingga pencemaran lingkungan dapat dihindari.

    29

    2.12 SARANA DAN PRASARANA

    PT.

    PERTAMINA

    (Persero)

    RU-VI

    Balongan

    menyediakan

    sarana

    dan

    prasarana bagi karyawan dan keluarganya. Sarana dan prasarana tersebut antara lain :

    • a. Perumahan

    Perumahan dinas dibangun di sekitar pabrik dengan tipe rumah, yaitu :

    1.Tipe B : untuk tim managemen

    2.Tipe C : untuk jabatan kepala bagian

    3.Tipe D : untuk staf

    4.Tipe E : untuk karyawan bidang produksi

    Di samping itu, PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan juga memberikan pinjaman uang bagi karyawan untuk kepemilikan rumah BTN di lokasi Kompleks Sibayak Permai.

    • b. Sekolah

    Untuk saat ini, PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan baru membangun sarana pendidikan Taman Kanak-kanak. Tujuan dibangunnya Taman Kanak-kanak ini adalah agar anak-anak karyawan dapat membaur dan bersosialisasi dengan

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia penduduk di sekitar lokasi pabrik agar tercipta kebersamaan dan

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    penduduk di sekitar lokasi pabrik agar tercipta kebersamaan dan menghindari adanya kecemburuan social.

    • c. Transportasi

    30

    Sarana transoprtasi telah tersedia untuk mengantar karyawan yang pulang dari kerja shift dan disediakan pula transportasi untuk antar-jemput anak-anak keluarga PT. PERTAMINA (Persero) RU-VI Balongan ke sekolah.

    • d. Sarana Ibadah Masdjid Jati dibangun di tengah Wisma Djati dan di lokasi perumahan juga telah dibangun sarana ibadah berupa masjid dan gereja.

    • e. Balai Kesehatan Balai kesehatan dibangun di dua tempat, yaitu di lokasi pabrik serta rumah sakit di lokasi perumahan. Fasilitas ini dapat digunakan oleh karyawan dan keluarga karyawan secara bersama-sama.

    • f. Kantin Disediakan kantin di lingkungan pabrik bagi karyawan-karyawan reguler. Sedangkan bagi karyawan shift disediakan dapur di gedung kontrol dan untuk karyawan yang mendapat tugas malam disediakan makanan ekstra oleh perusahaan.

    • g. Sarana Olahraga dan Rekreasi Sarana olahraga juga disediakan bagi karyawan dan keluarga dimana sarana tersebut terletak di dalam lingkungan perumahan karyawan, seperti :

      • 1. Lapangan tenis

      • 2. Lapangan voli

      • 3. Lapangan bulutangkis

      • 4. Kolam renang

      • 5. Lapangan basket

      • 6. Ruang serba guna

        • h. Asuransi

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Setiap karyawan dijamin oleh Asuransi Tenaga Kerja (ASTEK) dan

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    Setiap karyawan dijamin oleh Asuransi Tenaga Kerja (ASTEK) dan asuransi jiwa raya.

    31

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 32 BAB III PROSES PRODUKSI 3.1. Distillation and Treating

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    32

    BAB III PROSES PRODUKSI

    3.1. Distillation and Treating Unit (DTU)

    DTU terdiri dari Distillation and Treating Unit (Unit 11), Amine Treatment Unit (Unit 23), Sour Water Stripper (Unit24), Sulfur Plant (Unit 25), dan Caustic Soda (Unit 64). DTU merupakan unit pertama dalam rangkaian proses pengolahan crude oil menjadi produkproduknya dan juga terdapat beberapa unit treating yang mengolah aliran gas dan air untuk menurunkan kandungan sulfur dan ammonia.

    3.1.1. Unit 11 : Crude Distillation Unit CDU dibangun untuk mengolah campuran minyak Indonesia sebesar 125000 MBSD (828,1 m3/jam). Campuran minyak mentah ini terdiri dari 50 % crude oil Duri dan 50 % crude oil Minas. Unit yang dibangun oleh proyek EXOR-1 Pertamina ini terdiri dari 2 seksi sebagai berikut.

    3.1.1.1. Seksi Crude Distillation Seksi ini dirancang untuk mendistilasi campuran crude oil yang menghasilkan destilat overhead terkondensasi, gas oil, dan residu. Inlet CDU yang berupa campuran minyak mentah dari Duri dan Minas dipompakan menggunakan P-101 A/B menuju V-

    101 A dan V-101 B dan telah melewati 5 buah Heat Exchanger (HE) yang tersusun seri (E-101 sampai E-105) dimana crude dipanaskan hingga mencapai Temperatur

    • 147 o C menggunakan waste heat dari produk-produk yang dihasilkan fraksionator.

    Pada V-101 A dan V-101 B crude dicuci dari garam-garam yang dapat merusak katalis dan reaksi dalam reaktor. Washer yang digunakan adalah campuran dari Service Water (SW) dan Stripped Sour Water (SSW). Campuran minyak dan air akan membentuk emulsi sehingga dibutuhkan senyawa kimia tambahan sebagai demulsifier. Unit washer ini terdiri dari dua vessel, yaitu V-101 A dan V-101 B.

    Fresh water sebagai washer terlebih dahulu masuk ke V-101 B karena minyak dalam vessel tersebut memiliki kandungan garam yang lebih sedikit karena sudah

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia dicuci dalam V-101 A dengan washer yang berasal dari

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    dicuci dalam V-101 A dengan washer yang berasal dari V-101 B, sehinnga diharapkan fresh water yang belum jenuh dapat mengikat sisa-sisa garam secara lebih efektif. Crude oil yang telah bersih dari garam mengalami preheating melalui lima buah HE, sehinnga Temperaturnya mencapai 280oC sebelum memasuki furnace. Proses ini diperlukan untuk mencegah terjadinya crack pada furnace akibat temperatur yang terlalu tinggi dan dapat mengurangi jumlah fuel yang digunakan dalam furnace. Crude yang keluar dari furnace akan mencapai Temperatur 364 o C, lalu masuk ke dalam main fractinator pada tray 31.

    33

    3.1.1.2. Seksi Overhead Fraksinasi dan Stabilizer Seksi ini dirancang untuk destilasi lanjutan kondensat overhead menjadi produk LPG, Naphta, dan kerosene. Unit ini juga dirancang untuk mengolah campuran wild naphta dari gas oil dan Light Cycle Oil (LCO) Hydrotreater. Unit ini dapat beroperasi dengan baik pada kapasitas antara 50% - 100 % kapasitas desain dengan faktor On Stream 0,91. Produk-produk yang dihasilkan dari CDU adalah naphta, kerosene, Light Gas Oil (LGO), Heavy Gas Oil (HGO), dan Atmospheric Residu. 3.1.2. Unit 23 : Amine Treatment Unit Unit ini berfungsi untuk mengolah sour gas serta untuk menghilangkan kandungan H2S yang terikat dalam sour gas. Proses yang dipakai adalah SHELL ADIP dengan larutan DIPA (Diisopropanolamine) sebagai larutan penyerap. Kadar larutan DIPA yang digunakan adalah 2 kgmol/m3 . Unit ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu :

    1. Off Gas Absorber Berfungsi mengolah off gas dari CDU, ARHDM, GO HTU. Hasilnya digunakan untuk fuel gas system dan umpan gas Hydrogen Plant. Kapasitasnya 18522 Nm3/jam. 2. Residue Catalitic Cracking (RCC) Unsurated Gas untuk mengolah sour gas dari unit RCC dan hasilnya ke fuel gas system. Kapasitasnya 39252 Nm3/jam. 3. Amine Regenerator yang berfungsi untuk meregenerasi larutan amine yang telah digunakan kedua absorber di atas, dengan kapasitas 100 % gas yang keluar dari kedua menara penyerap.

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Spesifikasi produknya adalah kandungan H2S yang keluar dari masing-masing

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    Spesifikasi produknya adalah kandungan H2S yang keluar dari masing-masing menara maksimal 50 ppm volume.

    34

    3.1.3. Unit 24 : Sour Water Stripper Unit (SWS) Unit SWS secara garis besar dibagi menjadi dua seksi, yaitu seksi SWS dan Spent Caustic Treating.

    3.1.3.1. Seksi Sour Water Stripper (SWS) Seksi SWS terdiri dari dua train yang perbedaannya didasarkan atas feed berupa air buangan proses yang diolah. Kemampuan pengolahannya dirancang untuk train no.1 sebesar 67 m3/jam dan train no.2 sebesar 65,8 m3/jam. 1. Train no.1 Digunakan untuk memproses air buangan yang berasal dari CDU, ARHDM, dan LCO HTU. 2. Train no.2 Digunakan untuk memproses air buangan yang berasal dari RCC Complex. Fungsi kedua train di atas adalah menghilangkan H2S dan NH3 yang terdapat pada sisa air hasil proses. Selanjutnya air yang telah diolah tersebut dsalurkan ke Effluent Treatment Facility atau diolah kembali ke CDU dan ARHDM. Sedangkan gas yang mempunyai kandungan H2S yang cukup tinggi (sour gas) digunakan sebagai feed di sulfur Plant.

    3.1.3.2. Seksi Spent Caustic Treating. Seksi ini mempunyai kapasitas 17,7 m3 / hari. Seksi Spent Caustic berasal dari beberapa unit operasi, selanjutnya seluruh spent caustic dinetralkan dengan asam sulfat H2SO4 dan disalurkan ke effluent facility. Ditinjau dari sumbernya, Spent Caustic yang diproses dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :

    a. Spent Caustic yang rutin (routinous) dan non rutin (intermittent) yang berasal dari unit-unit :

    • - LPG Treater Unit (LPGTR)

    • - Gasoline Treater Unit (GTR)

    • - Propylene Recovery Unit (PRU)

    • - Catalytic condensation Unit (Cat.Cond)

    - Catalytic condensation Unit (Cat.Cond) Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 35 b. Spent Caustic

    Laporan Kerja Praktek

    PT British Petroleum Indonesia

    35

    b. Spent Caustic merupakan regenerasi dari unit-unit :

    • - Gas Oil Hydrotreater

    • - Light Cycle Oil Hydrotreater

    • 3.1.4. Unit 25 : Sulfur Plant

    Sulfur plant adalah suatu unit untuk mengambil unsur sulfur dari off gas unit amine treatment dan H2S stripper train no.1 Unit SWS. Unit ini terdiri dari unit Claus yang berfungsi menghasilkan cairan sulfur dan fasilitas pemuatan atau gudang sulfur padat. Pada unit ini terdapat fasilitas pembayaran untuk mengolah gas sisa dari unit claus, yang juga membakar gas-gas yang banyak mengandung NH3 dari unit SWS. Kapasitas unit ini dirancang untuk menghasilkan sulfur dengan kapasitas 30 ton/hari.

    3.2. Atmospheric Residue Hydrodemetallization (Unit ARHDM 12/13) Unit ARHDM merupakan unit yang mengolah Atmospheric Residue (AR) dari CDU menjadi produk yang disiapkan sebagai umpan untuk RCC. Unit ARHDM beroperasi dengan kapasitas 58000 BPSD (384 m3/jam). Selain mengolah residu, unit ini juga berfungsi mengurangi kandungan logam Nikel (Ni), Vanadium (V), dan karbon (C) yang dibawa oleh residu dari unit CDU. Unit ARHDM terdiri dari dua modul kembar, yaitu modul 12 dan modul 13 yang mempunyai susunan unit yang sama dan terdiri dari tiga buah reaktor. Kedua modul bertemu dalam aliran input fraksionator. Bahan baku yang digunakan adalah Atmospheric Residue (AR).

    • 3.2.1. Seksi feed (umpan)

    Yaitu pemanasan awal dan penyaringan kotoran pada feed menggunakan filter sebelum dialirkan ke feed surge drum. Feed AR yang digunakan didapat langsung dari Bottom CDU dengan Temperatur 145oC (Hot AR) atau AR yang berasal daritangki 42-T-104 A/B dengan Temperatur 50oC (cold AR). Setelah kedua feed digabung dan dipanaskan, feed melewati HE hingga mencapai temperatur 273 o C dan kemudian menuju filter yang membersihkan crude dari solid containment yang dapat menyebabkan deposit pada permukaan katalis di reaktor pertama untuk mengurangi beban reaktor. Pada seksi ini terdapat tiga buah filter yang bekerja secara otomatis berdasarkan tekanan, terdiri dari dua buah filter

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia berukuran 25 mikron, dan satu buah temporary filter yang

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    berukuran 25 mikron, dan satu buah temporary filter yang merupakan modifikasi dari desain dengan ukuran pori yang lebih besar sehingga flow rate menjadi lebih besar dan filtrasi menjadi tidak sempurna. Temporary filter ini tidak digunakan pada kondisi normal karena dapat mempercepat kenaikan perbedaan tekanan pada reaktor. Feed yang sudah difiltrasi dialirkan menuju Filtered Feed Surged Drum 12-V-501 yang berfungsi sebagai penampung awal feed yang akan dipompakan ke dalam furnace. Kemudian feed dipanaskan kembali di furnace sebelum dialirkan secara parallel ke modul 12 dan 13. Furnace bekerja berdasarkan Catalyst Average Temperature (CAT) yang ditentukan melalui kinerja katalis yang diharapkan, yaitu persentase dari Micro Carbon Residue (MCR) dalam minyak.

    36

    3.2.2. Seksi Reaksi

    Pada seksi ini, masing-masing modul terdiri atas tiga reaktor yang tersusun secara seri

    dengan spesifikasi yang sama. Karena reaksi Hydrotreating adalah eksotermis, maka temperatur campuran oil/gas akan naik pada saat bereaksi. Untuk mengatur kenaikan temperatur dan untuk mengendalikan kecepatan reaksi maka diinjeksikan cold quench recycle gas. Effluent reaktor kemudian dialirkan ke seksi pendinginan dan pemisahan produk.

    3.2.3. Seksi Pendinginan dan Pemisahan Produk Pendinginan pertama dilakukan di HE dimana sebagian panasnya diambil oleh combine feed reactor, selanjutnya reactor effluent feed mengalir ke Hot High Pressure Separator (HHPS). Fungsi HPPS ini adalah untuk mengambil residue oil dari effluent reactor sebelum didinginkan, karena residu yang mengandung endapan alumunium akan menyumbat exchanger pada effluents vapor cooling train. Dengan temperatur 37 oC maka residu sudah memiliki cukup sumber untuk mamisahkan naphta, kerosene, dan produk gas oil pada Atmospheric Fractionator. Aliran liquid panas dari HHPS mengalir menuju Hot Flow Pressure Separator, dimana uap yang terpisah dari Hot Liquid dalam HHPS ini banyak mengandung H2, NH3, CH4, gas ringan hidrokarbon, dan cairan hidrokarbon lainnya. Uap tersebut selanjutnya didinginkan di Heat Reactor, dimana panas dari HE ini akan ditransfer ke Combine Feed Reactor. Setelah itu aliran campuran uap akan dialirkan ke Effluent Air Cooler masuk ke Cold High Pressure Separator (CHPS). Recycle gas yang kaya hidrogen serta terpisah dari minyak dan air, masuk ke recycle gas compressor dan sebagian ke Unit Hydrogen Membrane

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Separator untuk dimurnikan. Minyak dan air tidak seluruhnya terpisahkan

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    Separator untuk dimurnikan. Minyak dan air tidak seluruhnya terpisahkan dalam CHPS, maka minyak dan air dari CHPS tidak seluruhnya dialirkan ke Cold Low Pressure Separator (CLPS). Air yang terkumpul di CLPS bottom drum dialirkan ke SWS, sedangkan minyaknya dipanaskan terlebih dahulu dengan HE kemudian dialirkan ke Atmospheric Fractionator. Liquid dari bottom HHPS kemudian di-flash di dalam Hot Low Pressure Separator (HLPS). Uap yang kaya H2 dipisahkan untuk recovery dan produk minyak berat digabung dengan produk HLPS modul 13 dialirkan ke fraksionator. Flash gas dari modul 12 dan 13 didinginkan melalui exchanger dan air cooler sebelum di-flash Cold Low Pressure Drum (CLPFD). Flash Gas dari CLPFD yang kaya akan H2 kemudian dialirkan ke make-up gas compressor untuk dikompresi dan dikembalikan ke unit ARHDM. Liquid ringan di-flash kembali bersama liquid dari CHPS ke CLPS.

    37

    3.2.4.

    Seksi Recycle Gas

     

    Aliran gas yang kaya H2 dari CHPS terbagi dua, sebagian dikembalikan ke reactor

    dengan

    Recycle

    Gas

    Compressor

    dan

    sebagian

    aliran

    (Bleed

    Stream)

    ke

    Membrane

    Separation Unit.

     

    3.2.5.

    Seksi Fraksionasi

     

    Seksi ini memisahkan produk ARHDM menjadi naphta, kerosene, diesel, dan Hydrodemetallized Atmospheric Residue (DMAR). Diperoleh dengan Atmospheric Fractionator dibantu dua buah stripper. Sebelum dikirim keluar, naphta dimurnikan di

    naphta stabilizer dan kerosene dimurnikan dalam clay treater. Atmospheric Fractionator terdiri dari dua seksi, yaitu seksi atap (top) yang memiliki 32 tray dengan diameter 3,2 meter dan seksi bawah (bottom) yang memiliki 15 tray dengan diameter 3,66 meter. Jarak antara kedua tray pada kedua seksi dalam kolom adalah 610 mm. produk Heavy oil dari HLPS masuk ke fraksionator pada tray 33. Cold feed dari CLPS masuk ke fraksionator pada tray 28 (tray di atas flash zone. Di seksi lanjut (superheated steam) di seksi konveksi pada furnace. Produk dari Atmospheric Fractionator adalah :

    • - Unstabillized Naphta

    • - Sour Gas

    • - Gas Oil

    • - Kerosene

    • - DMAR sebagai RCC feed

    - Kerosene - DMAR sebagai RCC feed 38 Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Overhead

    38

    Laporan Kerja Praktek

    PT British Petroleum Indonesia

    Overhead vapor dari fraksionator sebagian terkondensasi dalam Fractionator Overhead Air Cooler. Vapor dan liquid ini dialirkan ke overhead accumulator. Vapor dan air cooler dinaikkan tekanannya dengan off gas compressor. Kompresor ini memiliki dua stage, dimana outlet kompresor stage 1 didinginkan pada interstage cooler dan kondensat cairan dipisahkan dalam interstage KO drum, kemudian vapor dikompresikan pada stage kedua kompresor tersebut. Unstabilized Naphta dari Overhead Accumulator dicampur dengan aliran vapor yang sudah dikompresikan. Aliran dua fase ini selanjutnya didinginkan dengan cooler. Unstabilized Naphta, sour water, dan net off gas dipisahkan dalam Sour Gas Separator. Off Gas dialirkan ke fuel gas treating, sedangkan Unstabilized Naphta dipanaskan sebelum treating di Naphta Stabilizer kemudian didinginkan lalu dikirim ke tangki. Feed untuk Gas Oil Stripper diambil dari tray 24 dan direfluks ke tray 22. Produk gas oil dapat dikirim langsung ke Gas Oil Hydrotreating Unit, lalu ke tangki produk. Kerosene dialirkan dari down comer pada tray ke-10 fraksionator. Kemudian dipanaskan kembali dengan Bottom Fractionator Stripper Vapor pada kerosene side cut stripper untuk dikembalikan ke fraksionator melalui tray ke-9, selanjutnya diproses dalam clay treater untuk memperbaiki kestabilan warna sebelum dikirim ke tangki penimbunan. Bottom Fractionator yang menghasilkan DMAR dipompa dan dibagi menjadi dua aliran, yaitu :

    1. Aliran terbanyak digunakan untuk memanasi feed dingin fraksionator dan selanjutnya memanasi AR yang akan masuk ke Feed Filter. 2. Aliran yang sedikit digunakan untuk memanaskan Kerosene Stripper Reboiler.

    Hidrogen dan Desulfurisasi

    Tujuan dari proses ini adalah untuk menghilangkan kadar sulfur yang ada dalam feed gas agar memiliki kandungan sulfur seperti yang diijinkan untuk memasuki Reformer, karena sulfur merupakan racun bagi katalis di Reformer. Steam Reforming

    Bertujuan memproses atau merubah gas hidrokarbon yang direaksikan dengan steam menjadi gas hydrogen Pemurnian Hidrogen Pemurnian hidrogen dicapai melalui dua tahap, yaitu :

    ∑ Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia - High Temperature Shift Converter (HTSC) yang bertujuan

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    - High Temperature Shift Converter (HTSC) yang bertujuan mengubah CO menjadi CO2 dengan reaksi:

    CO + CO2 CO2 + H2 Pressure Swing Adsorption (PSA) Setelah melalui reaksi di HTSC, feed didinginkan dan kondensat dalam feed gas dipisahkan di Raw Gas KO Drum sebelum masuk ke unit PSA. Unit ini didesain untuk memurnikan gas hidrogen secara continue. Aliran yang keluar dari unit PSA ini terdiri dari Hidrogen murni pada tekanan tinggi dan Tail Gas yang mengandung impurities pada tekanan rendah. Kedua aliran di atas bergabung dan dapat langsung dialirkan ke unit RCC atau didinginkan lebih lanjut sebelum dialirkan ke tangki. Sebagian aliran bottom fractionators pada down stream digunakan sebagai back wash pada feed filter kemudian bergabung kembali dengan aliran produk DMAR ke RCC dan tangki.

    39

    3.3. Unit RCC Kompleks (Residue Catalytic Cracking Complex) RCC kompleks merupakan gabungan dari beberapa unit di kilang RU-VI Balongan yang berfungsi mengolah residue minyak (reduced cycle) menjadi produk-produk minyak bumi yang bernilai tinggi seperti Gasoline, Light Cycle Oil (LCO), Decant Oil, LPG, Propylene, dan Polygasoline. Unit ini berfungsi sebagai kilang minyak tingkat lanjut (secondary process) untuk mendapatkan nilai tambah dari pengolahan residu dengan cara cracking dengan memakai katalis. Unit ini berkaitan erat dengan Unsaturated Gas Plant Unit yang akan mengolah produk puncak Main Column Unit RCC menjadi Stabilized Gasoline, Non Condensable Lean Gas, dan LPG. Produk yang dihasilkan pada unit ini adalah Overhead Vapour Main Column, Light Cycle Oil, Decant Oil. RCC dirancang untuk mengolah Treated Atmospheric Residue yang berasal dari unit ARHDM dengan kapasitas 29500 BPSD (35,5 % volume) dan Untreated Atmospheric Residue yang berasal dari unit CDU dengan desain kapasitas 53000 BPSD (64,5 % volume). Kapasitas yang terpasang adalah 83000 BPSD. Berikut adalah uraian proses yang terjadi pada unit RCC ini. Di unit RCC ini terdapat reaktor, regenerator, column fractionators, catalyst cooler, main blower, dan CO boiler. Feed hydrocarbon ke unit dipanaskan dengan aliran produk dan di-crack dengan pemanas yang dibawa oleh Regenerated Catalyst di dalam sistem Reaktor. Reaksi cracking ini terjadi di dalam riser reaktor. Katalis setelah bereaksi dengan feed dipisahkan dari hidrokarbon untuk memperkecil terjadinya cracking sekunder dan

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia kemudian dikirim ke regenerator untuk diregenerasi dan coke yang

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    kemudian dikirim ke regenerator untuk diregenerasi dan coke yang terdeposit pada katalis dapat aktif kembali untuk mengolah hidrokarbon berikutnya. Vapor Hydrocarbon keluar dari top riser rector ke main column pada seksi fraksinasi. Spent katalis mengalir dari reactor stripper ke dalam upper regenerator, dimana coke yang terbentuk dibakar dengan udara. Karbon dalam bentuk coke ini menempel pada katalis sebagai hasil samping cracking. Adanya coke pada katalis mengakibatkan berkurangnya aktifitas katalis. Dengan memberikan pamanasan dengan temperatur tinggi dan dengan udara yang cukup, coke tersebut dalam upper regenerator diatur agar coke menjadi CO (Partial Combustion) agar panas yang dihasilkan tidak terlalu tinggi. Fuel gas yang mengandung CO keluar dari upper regenerator melalui cyclone dimana partikel katalis ikut terambil. Steam tekanan tinggi diproduksi dalam CO boiler dari hasil pembakaran CO menjadi CO2. Adanya catalyst cooler mengambil kelebihan panas dari Boiler Feed Water (BFW) regenerator dan diubah menjadi steam. Kelebihan udara dalam Lower Regenerator digunakan untuk membakar coke yang tersisa pada katalis dan diarahkan pembakarannya agar menjadi CO2. Katalis panas kemudian dialirkan dari lower regenerator ke riser reactor, kemudian disirkulasi kembali dari reaktor ke regenerator. Aliran katalis dalam sistem Reaktor-Regenerator adalah jantung dari unit RCC. Hidrokarbon hasil reaksi cracking dialirkan dari reaktor ke column fractionator untuk dipisahkan menjadi Overhead Vapor, Light Cycle Oil (LCO), dan DCO. Overhead vapor kemudian dikirim ke unit 16 (unsaturated gas plant) untuk dipisahkan menjadi Unsaturated LPG, naphta RCC.

    40

    3.4. LEU (Light End Unit) LEU merupakan unit lanjutan setelah RCU (Residue Catalytic Unit) yang berfungsi untuk mengolah produk keluaran RCU menjadi produk-produk akhir yang mempunyai nilai

    jual. LEU terdiri dari lima unit dengan tugas maupun produk akhir yang berbeda. Kelima unit tersebut adalah :

    • - Unit 16 : Unsaturated Gas Plant

    • - Unit 17 : LPG Treatment Unit

    • - Unit 18 : Naphta Treatment Unit

    • - Unit 19 : Propylene Recovery Unit

    • - Unit 20 : Catalytic Condensation Unit

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3.4.1. Unit 16 : Unsaturated Gas Plant Unit ini

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    3.4.1. Unit 16 : Unsaturated Gas Plant Unit ini berfungsi untuk memisahkan overhead product column RCCU menjadi stabilized naphta, LPG, dan non condensable lean gas, yang sebagian akan dipakai sebagai lift gas sebelum diolah di Amine Unit sebagai off gas. Produk yang dihasilkan adalah Gasoline (RCC Naphta), Untreated LPG, Non Condensable Lean Gas/Off gas. Unsaturated Gas Plant ini dirancang untuk mengolah 83000 BPSD AR. Unit ini menghasilkan Sweetened Fuel Gas yang dikirim ke Refinery Fuel Gas System untuk diproses lebih lanjut. Unit ini juga menghasilkan Untreated LPG yang akan diproses lebih lanjut di LPG Treatment Unit (Unit 17) dan naphta yang akan diproses lebih lanjut di Naphta Treatment Unit (Unit 18). Proses pada unit ini berlangsung seperti uraian berikut. Overhead product dari RCCU, yaitu off gas (campuran metana, etana, dan H2S), LPG (campuran propilen dan propana), serta naphta (campuran butana, butilena, dan C5+) masuk ke dalam vessel 16 V-101, sementara fraksi berat akan dipompa masuk ke dalam kolom 16 C-101. Fraksi ringan dari 15 V-106 akan masuk ke Wet Gas Column (WGC) dua tingkat, kemudian ke HE sampai akhirnya masuk ke dalam vessel 16 V-104. Fraksi ringannya akan masuk ke dalam absorber 16 C-101 sementara fraksi beratnya akan dipompa masuk ke dalam stripper 16-C 103 setelah melalui HE 16 E-108. Dalam stripper tersebut, fraksi ringan yang masih terkandung dalam fraksi berat yang masuk akan dikembalikan ke dalam vessel 16 V-104, sementara fraksi berat yang telah di-strip (LPG dan Naphta) akan masuk ke dalam debutanizer 16 C-104. Dalam debutanizer ini, LPG dan naphta akan dipisahkan untuk selanjutnya diolah secara terpisah di unit 17 dan unit 18. Fraksi berat dari vessel 15 V-106 akan bergabung dengan fraksi ringan dari vessel 16 V-104 dalam absorber 16 C-101 untuk dipisahkan fraksi beratnya. Absorber yang digunakan adalah naphta dari debutanizer. Karena proses absorbsi akan terjadi dengan baik pada Temperatur yang rendah, maka naphta yang berfungsi sebagai absorbent akan didinginkan terlebih dahulu oleh chilled water dengan menggunakan Freon. Fraksi ringan dari absorber tersebut dialirkan ke absorber 16 C-102 agar lebih banyak fraksi berat yang terambil. Absorbent yang digunakan adalah LCO. Di dalam absorber ini terdapat foul ring yang berfungsi untuk meningkatkan luas permukaan kontak antara fraksi yang akan di-absorb dengan absorbent. Fraksi ringan keluarannya akan masuk ke dalam unit amina dan ada juga yang menjadi off gas. Fraksi berat dari absorber akan masuk ke dalam vessel 16 V-104 menuju stripper.

    41

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia 3.4.2. Unit 17 : LPG Treatment Unit Unit ini

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    3.4.2. Unit 17 : LPG Treatment Unit Unit ini berfungsi untuk memurnikan LPG produk Unsaturated Gas Plant dengan cara mengambil senyawa merkaptan dan sulfur organik lainnya lalu mengubahnya menjadi senyawa disulfida. Produk yang dihasilkan adalah Treated Mixed LPG yang selanjutnya dikirim ke Propylene Recovery Unit (Unit 19). LPG Treatment Unit dirancang untuk megolah feed dari produk atas Debutanizer pada Unsaturated Gas Plant sebanyak 22500 BPSD. Berikut adalah uraian prosesnya :

    42

    1. Sistem Ekstraksi H2S Unsaturated LPG melewati strainer 17 S-101 untuk menghilangkan partikel-partikel padatan yang berukuran lebih besar dari 150 mikron. Lalu masuk H2S Fiber Film Contractor dimana akan terjadi kontak dengan Caustic (NaOH). Fiber Film Contractor ini berbentuk serabut yang kuat yang terbentuk dari logam yang tujuannya adalah untuk memperluas permukaan kontak antara untreated LPG dengan NaOH. Reaksi yang terjadi adalah :

    NaOH + H2S Na2S + H2O NaOH yang digunakan adalah 14% wt dan baru akan dibuang jika telah menjadi 7% wt karena sudah tidak dapat diregenerasi. Pemisahan antara fasa LPG dengan larutan Caustic akan terjadi di separator, dimana NaOH yang telah terpakai akan dibuang. Sementara itu, LPG yang telah dihilangkan H2S nya dialirkan ke sistem ekstraksi Merkaptan.

    2. Sistem Ekstraksi Merkaptan LPG yang berasal dari sistem ekstraksi H2S selanjutnya masuk ke dalam sistem ekstraksi merkaptan yang terdiri dari dua tingkat. Contractor yang digunakan adalah Fiber Film dengan senyawa pengikat merkaptan berupa caustic (NaOH). Reaksi yang terjadi adalah :

    NaOH + RSSH Na2SR + H2O NaOH yang digunakan dapat diregenerasi dengan oksigen dan katalis di vessel 17 V- 105 dan reaksinya adalah :

    Na2SR + O2 + H2O DSO + NaOH DSO yang terbentuk dari reaksi di atas berbentuk seperti minyak dan larut dalam naphta sehingga untuk memisahkan DSO dengan NaOH dapat digunakan Fiber Film

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia Contractor dengan absorbent berupa naphta . NaOH yang telah

    Laporan Kerja Praktek PT British Petroleum Indonesia

    Contractor dengan absorbent berupa naphta. NaOH yang telah bersih dari DSO kemudian dapat di-recycle. 3. Sistem Aquafining LPG yang telah bebas dari merkaptan kemudian dicuci dengan air untuk manghilangkan sejumlah kecil entrainment caustic. LPG tersebut masuk ke bagian puncak contractor dimana terjadi kontak dengan serat-serat logam yang dibasahi oleh sirkulasi air. LPG dan larutan air yang disirkulasikan mengalir secara counter current dan melalui Shoud Contactor dimana caustic yang terikat akan diambil. LPG yang telah tercuci kemudian diproses lebih lanjut di Propylene Recovery Unit.

    43

    3.4.3. Unit 18 : Naphta Treatment Unit Unit ini dirancang untuk mengekstraksi H2S dan mengoksidasi merkaptan sulfur dalam untreated naphta. Untuk menghasilkan produk dengan spesifikasi antara lain Doctor Test Negative, kandungan sulfur sebesar kurang dari 15 ppm wt dan kandungan Na+ (sebagai sodium) maksimum adalah 0,1% wt. Produk yang dihasilkan pada unit ini adalah Treated Naphta. Unit ini dirancang untuk memproses 47500 BPSD untrated RCC naphta yang dihasilkan oleh unit 16 (Unsaturated Gas Plant) dengan maksimum kandungan 5 ppm-wt H2S dan 90 ppm-wt merkaptan. Unit ini dirancang dapat beroperasi pada penurunan kapasitas hinnga 50 %. Proses yang terjadi pada unit ini adalah sebagai berikut :

    1. Oksidasi dan Ekstraksi Untreated RCC naphta masuk ke dalam sistem caustic treating melewati salah satu set basket strainer parallel 18-S-101 A/B untuk menghilangkan padatan yang terikut dan berukuran lebih dari 150 mikron. Udara untuk oksidasi diinjeksikan di Upstream Fiber Film Contractor 18-A-201/204 melewati Air Sparger 18-M-101/102. Udara proses disaring dengan Air Filter 18-S-102 A/B,104 A/B untk menghilangkan padatan yang berukuran kurang dari 5 mikron. RCC naphta melewati tahapan ekstraksi merkaptan di puncak 18-A-201/204 kemudian kontak dengan bahan-bahan film yang terbasahi oleh