Anda di halaman 1dari 18

PEKERJAAN STRUKTUR ATAS Pekerjaan struktur atas terdiri dari pekerjaan bekisting, penulangan/pembesian dan pengecoran.

1 Pekerjaan Bekisting

Dalam pekerjaan bekisting terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni : - Bekisting harus dibuat dan dipasang sesuai dengan bentuk, ukuran dan posisi seperti yang disyaratkan pada gambar kerja. - Bekisting harus cukup kuat untuk memikul tekanan atau beban yang diakibatkan oleh beton basah, beban pelaksanaan dan beban-beban lainnya. - Bekisting harus cukup kaku (stabil) artinya harus dapat menghasilkan bentuk yang tetap bagi struktur beton sesuai yang direncanakan. - Perencanaan bekisting harus didasarkan oleh kemudahan pemasangan, kemudahan pembongkaran, kecepatan pemasangan dan biaya yang efisien. - Sambungan bekisting harus baik sehingga tidak rusak/bocor pada saat pelaksanaan pengecoran dan juga tidak merusak beton. - Bahan bekisting harus terbuat dari bahan yang tidak menyerap air semen dan juga tidak merusak beton. Pemasangan bekisting harus benar-benar sesuai dengan gambar rencana baik secara vertical maupun horizontal. Adapun pemasangan bekisting meliputi pemasangan bekisting kolom, balok, slab/plat, tangga dan kanopi. a. Bekisting Kolom

Dalam pengecoran kolom terlebih dahulu harus memperhatikan : Vertikalisasi Axisnya terhadap kolom dibawahnya dan diatasnya

Vertikalitas kolom dijamin dengan struktur penopang ( support ) yang diberikan empat arah dan dijamin kuat menahan goyangan. Untuk kolom menggunakan form work dari kayu-kayu dan multypleks feno film 18 mm yang dengan mudah dapat dibongkar dan dipasang kembali yang sebelumnya di lapisi oleh mould oil agar mudah dalam pembongkaran dan tidak lengket yang dapat merusak beton. Untuk memindahkan as ( axis ) kolom bawah ke atas dibuat lubang lubang pada slab, untuk bantuan pemindahan proses memindahkan titik as kolom bawah ke level

atas berikutnya. Lubang tersebut kemudian ditutup kembali setelah proses pemindahan selesai. Dalam pengecoran digunakan pipa pengantar ( pipa tremi ).

Pemasangan sepatu kolom

Sebelum kolom dilaksanakan didahului oleh pembuatan sepatu kolom, yang bertujuan untuk membantu memastikan posisi kolom yang mana sepatu kolom terbuat dari baja siku. Sepatu kolom tersebut selain untuk memastikan posisi kolom, dalam proses pengecoran dapat digunakan sebagai pengikat, agar form work tidak bergeser. b. Bekisting Balok dan Slab/Lantai

Pengecoran balok dan pelat lantai dilakukan bersamaan sekaligus, menjadi satu kesatuan struktur, sehingga form work dan pelat/slab, dibuat sebagai satu kesatuan yang bersifat tetap. Sesudah selesai form work ini baru dibongkar dan sebagian yang kondisinya masih baik dapat digunakan kembali. Adapun pada sistem ini digunakan scaffolding. Kontak antara kaki scaffolding dengan tempat berpijaknya harus dijaga sempurna, demikian juga sambungan kaki scaffolding antara yang dibawah dengan yang diatas harus rapat. 2. Pekerjaan Pembesian/Penulangan Fungsi tulangan pada beton adalah untuk menahan gaya tarik, gaya geser dan momen torsi yang timbul akibat beban-beban yang bekerja pada konstruksi beton tersebut. Oleh karena itu perencanaan dan pelaksanaan pembesian harus dilakukan sesuai dengan spesifikasi teknis dan gambar kerja, RKS dan Aanvulling yang telah direncanakan oleh perencana struktur yaitu dalam hal : Ukuran diameter baja tulangan Kualitas baja tulangan Kuantitas baja tulangan Penempatan/pemasangan baja tulangan

Proses fabrikasi besi terdiri dari pemotongan dan pembengkokan besi tulangan. Sebelum mengerjakan proses fabrikasi besi bagian pembesian harus menyusun daftar pembengkokan dan pemotongan besi tulangan berdasarkan gambar pelaksanaan ( shop drawing ). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun daftar pembengkokan dan pemotongan adalah sebagai berikut :

a. Baja tulangan beton sebelum dipasang, harus bersih dari serpih-serpih, karat, minyak, gemuk dan zat kimia lainnya yang dapat merusak atau mengurangi daya lekat antara baja tulangan dengan beton. b. Sambungan antar tulangan harus ditempatkan sedemikian rupa pada daerah yang momennya nol atau dengan menggunakan sambungan lewatan sehingga gaya dari batang yang satu dapat disalurkan ke batang yang lain. Panjang sambungan lewatan diambil 40D ( D = diameter penampang baja tulangan ). c. Panjang dan bentuk baja tulangan harus direncanakan secara ekonomis sehingga bagianbagian sisa atau yang tidak terpakai didapat seminimal mungkin. Sedemikian rupa sehingga teknik pemasangan tulangan tidak menyulitkan dalam pelaksanaan lapangan. d. Penganyaman besi tulangan harus diikat kuat dengan memakai kawat beton agar waktu pengecoran posisi tulangan tidak bergeser. Penopang, ganjalan, jepit dan kawat beton harus berkualitas sama dengan bahan besi tulangan. 2.1 . Pekerjaan Pemasangan Tulangan

Baja tulangan dan sengkang yang telah dipotong dan dibengkokan dibawa ke lapangan untuk dipasang pada posisi sesuai dengan gambar pelaksanaan. Kegiatan yang dilakukan pada pekerjaan pemasangan tulangan antara lain : Pemeriksaan diameter, panjang dan bentuk tulangan sebelum baja tulangan tersebut terpasang. Jarak antar tulangan serta jumlah tulangan, baik untuk tulangan lentur maupun tulangan geser. Sengkang dipasang secara manual. Pemasangan sengkang dilakukan dengan kawat beton. Memastikan daerah-daerah dan ukuran panjang penyaluran, sambungan lewatan dan panjang penjangkaran sesuai yang direncanakan. Pemeriksaan tebal selimut beton dengan memasang tahu beton sebagai acuan sesuai tebal tebal selimut beton yang akan di cor. Adapun pekerjaan pembesian/penulangan meliputi pemasangan tulangan kolom, balok, slab/plat, tangga dan kanopi. a. Penulangan Kolom

Pada penulangan kolom, ujung bawah dihubungkan dengan pondasi sedangkan bagian atas dihubungkan dengan balok yang menekan pelat lantai sehingga merupakan satu kesatuan

struktur portal yang kaku. Penulangan kolom dilebihkan sampai sampai lantai atas untuk menyambung tulangan kolom lantai berikutnya. Besi kolom yang dipasang pertama kali berbentuk L dan diikatkan pada tulangan bawah tulangan pile cap. Pemasangan tulangan dimulai dengan memasang sebelah luar. Setelah itu dilakukan pemasangan besi-besi yang lain dan menyambungnya dengan tulangan yang sudah ada. Adapun tulangan yang digunakan pada pekerjaan pembesian/penulangan kolom pada proyek ini adalah :

Tulangan utama Tulangan geser Penulangan Balok

: :

D19, D16,12, 8

b.

Pemasangan tulangan balok dan pelat lantai dilakukan secara serentak setelah pemasangan bekisting balok dan pelat lantai. Pemasangan tulangan balok dilakukan sebagai berikut : Dipasang tulangan bawah diatas beton decking tebal 3,0 cm. ujung tulangan bawah dimasukkan ke dalam tulangan kolom sebagai penjangkaran sepanjang minimal 25D. Apabila terdapat sambungan pada penulangan dilakukan sambungan lewatan sekitar 40D. sambungan tulangan dilakukan selang seling dan harus dihindarkan penempatan sambungan ditempat-tempat dengan tegangan maksimum. Pemasangan tulangan sengkang yang diatur jaraknya dimana jarak pada tumpuan lebih rapat dibandingkan jarak tengah bentang. Sengkang diikat dengan kawat beton. Tulangan atas dipasang dengan cara dimasukkan satu per satu kedalam tulangan sengkang dibagian atas kemudian diikat dengan kawat. Ujung tulangan atas dimasukan kedalam tulangan kolom sebagai panjang penjangkaran sepanjang 40D atau kali tinggi manfaat balok jika balok berukuran besar. Sebagai pengaku dipakai tulangan pinggang sesuai dengan perencanaan. Adapun tulangan yang digunakan pada pekerjaan pembesian/penulangan balok pada proyek ini adalah :

Tulangan utama Tulangan geser Tulangan torsi Penulangan Plat Lantai

: : :

D19, D16 10, 8 12

c.

Tahapan penulangan pelat lantai adalah sebagai berikut : Dipasang tulangan bawah lapis 1 diatas beton decking dengan ketebalan 2 cm. Tulangan ini dipasang melewati tulangan atas balok.

Dipasang tulangan bawah lapis 2 diatas lapis 1 dengan arah tegak lurus lapis 1 kemudian persilangan tulangan diikat dengan kawat beton. Untuk mendapatkan jarak tertentu antara tulangan atas dan bawah dipasang tulangan kaki ayam yaitu potongan besi yang dipotong sedemikian rupa sehingga dapat menjaga jarak antara tulangan atas dengan tulangan bawah plat. Tulangan atas lapis 2 dipasang. Tulangan ini juga melewati dan diletakkan dibagian atas tulangan atas balok. Tulangan atas lapis 2 dipasang tegak lurus dengan tulangan atas lapis1. Persilangan tulangan atas diikat dengan kawat beton. Adapun tulangan yang digunakan pada pekerjaan pembesian/penulangan plat pada proyek ini adalah menggunakan besi 10 jarak 15. PEMBESIAN BALOK, KOLOM DAN PLAT LANTAI

2.3

Pekerjaan Pengecoran

Pelaksanaan pengecoran beton dilakukan setelah pemasangan bekisting dan tulangan selesai. Dalam hal ini pelaksanaan pengecoran dilakukan serentak untuk kolom, balok maupun pelat lantai sehingga akan mempercepat waktu, dimana pengecoran dimulai dari kolom lantai 1, balok lantai 1 dan pelat lantai diatasnya setelah selesai pengecoran kolom, balok, pelat lantai 1 selesai kemudian dilanjutkan ke lantai berikutnya. Sebelum pelaksanaan pengecoran, dilakukan hal-hal sebagai berikut : Menyiapkan alat-alat pendukung dilapangan seperti vibrator, pipa penyalur beton, air compressor, lampu penerangan jika pengecoran dilakukan malam hari. Sebelum adukan beton dimasukkan kedalam pompa, dilakukan pengambilan benda uji dan test slump dari truk mixer. Jika tidak memenuhi syarat maka adukan beton ditolak. Memeriksa jumlah, letak, jarak antara panjang penyaluran, panjang penjangkaran, diameter tulangan, beton decking dan kaki ayam yang harus sesuai dengan gambar rencana. Diperiksa pula posisi bekisting agar cukup kokoh menahan beban. - Membersihkan bekisting dan tulangan dari segala jenis sampah dan kotoran dengan kompresor, kemudian dilapisi dengan mud oil.

Lubang-lubang untuk instalasi listrik, air dan lain-lain harus terpasang dengan baik. Setelah hal-hal tersebut diatas telah dilaksanakan maka pengecoran dapat dilaksanakan. Adapun pekerjaan pengecoran pada proyek ini dilaksanakan dengan ketentuan :

Mutu beton Balok Kolom Plat

: : : : : : : 3 2,5 cm cm K 250 K 250 K 250

Tebal selimut beton Kolom Balok

Pekerjaan Rangka Baja Ringan dan Penutup Atap Urutan Pelaksanaan : Pekerjaan rangka baja dan penutup atap dilaksanakan setelah pekerjaan ring balok lantai akhir selesai. Terdiri dari : Pekerjaan Persiapan Shop drawing dan perhitungan computaroofnya telah dibuat sebelum pekerjaan rangka baja ringan dan penutup atap ini dilaksanakan. Pekerjaan Pabrikasi dan pemasangan Pekerjaan pabrikasi dilakukan di lapangan site proyek. Dimulai dari pemotongan material baja ringan sesuai shop drawing yang telah disetujui. Pekerjaan pennyambungan dilakukan dengan menggunakan skerup dengan jumlah yang telah ditentukan. Pekerjaan rangka atap baja ringan ini kami lengkapi dengan perhitungan menggunakan Computaroof seperti yang dipersyaratkan. Pekerjaan pemasangan penutup atap dilakukan setelah pekerjaan baja ringan selesai. PEKERJAAN FINISHING (Arsitektur) Pekerjan finishing merupakan rangkaian kelanjutan dari pekerjaan struktur, dalam hal ini memerlukan penanganan secara khusus serta suatu kerja yang sangat teliti dan jeli, karena

pekerjaan finishing ini merupakan wajah dari bangunan tersebut, strategi untuk mencapai hasil yang sangat baik diperlukan waktu yang cukup, disamping itu pemilihan tenaga kerja yang berkualitas merupakan kunci kesuksesan dari pekerjaan finishing. Kegiatan kegiatan dari pekerjaan finishing ini adalah pemasangan aksesoris daun pintu/jendela, pemasangan kaca, pengecatan. Kegiatan-kegiatan dari pekerjaan finishing ini waktu yang direncanakan dan rencana kebutuhan tenaga dapat dilihat di lampiran ( perhitungan tenaga dan waktu.) 1. Pekerjaan Pasangan Batu Bata dan Plesteran 1.1 Pekerjaan Pasangan Batu Bata ( Dinding ) Pelaksanaan pekerjaan pasangan batu bata ini dikerjakan setelah pekerjaan pasangan batu kali dan pengecoran beton ( foot plate, sloof, kolom, balok, pelat lantai selesai. Pemasangan batu bata harus mengikuti peraturan atau tahapan yang lazim dilakukan serta dibantu dengan pemasangan profil dan penarikan benang agar diperoleh hasil pasangan yang baik, semua pasangan bata harus lurus, rata horizontal maupun vertikal, setiap pasangan bata seluas 9 m2 harus diberikan kolom praktis dan pada tumpuan bentang lebih dari 1 m diberi balok latei demikian pula halnya dengan pertemuan antara pasangan atau pada dinding yang berdiri bebas. Spesi yang digunakan untuk pasangan batu bata adalah 1pc : 5ps, untuk pasangan rollag adalah 1pc : 2ps. Cara cara pemasangan dinding bata ini, dapat dijelaskan sebagai berikut : Dibuat marking sebagai tanda as dari dinding dan untuk menjamin siku ( sudut ) dari setiap pertemuan dinding. Bata dan dasar lantai yang akan dipasang bata, dibasahi ( disiram ) lebih dulu, agar tidak menyerap/mengurangi kadar air dari mortar/adukan pasangan. Bata dipasang selang seling, dimulai dari kolom perkuatan dinding, agar tidak membentuk siar tegak yang menerus, untuk mencegah keretakan dinding. Setiap tinggi bata 100 cm, pasangan dinding dihentikan untuk diikat dengan kolom penguatan ( kolom praktis ). Selama proses pemasangan bata, vertikalisasi dan kelurusan selalu dikontrol dengan benang. Pasangan harus dihentikan pada elevasi dasar balok perkuatan dinding, untuk memberi kesempatan untuk pengecoran balok perkuatan. Khusus untuk kolom dan balok yang bersifat structural, harus dicor terlebih dahulu kemudian baru pasangan bata. Untuk menjamin hubungan antara kolom dengan dinding disediakan besi stek yang tertanam pada kolom. Kegiatan-kegiatan dari pekerjaan batu bata ini waktu yang direncanakan dan rencana kebutuhan tenaga dapat dilihat di lampiran ( perhitungan tenaga dan waktu.)

1.2 Pekerjaan Plesteran Sebelum pekerjaan plesteran dimulai, dinding bata disiram terlebih dulu sampai merata, agar tidak menyerap/mengurangi kadar air dari mortar plesteran. Pasangan plesteran, dilakukan setelah pasangan bata berumur 1 sampai 3 hari. Langkah pertama sebelum pelaksanaan pekerjaan plester, adalah membuat kepalaan, yaitu plesteran selebar kurang lebih 30cm, untuk menjamin agar plesteran merata, vertical, dan horizontal, serta siku pada pojok pojoknya. Bidang bidang yang dibatasi oleh kepalaan, diberi kamprotan tipis, kurang lebih 5 sampai 10 mm, untuk enghindari penyusutan yang berlebihan. Plesteran dimulai pelaksanaannya setelah kepalaan berumur kurang lebih satu hari. Setelah pleteran setengah kering, maka plesteran diratakan dengan menggunakan jidar alumunium, yang dijalankanmenempel pada kepalaan yang ada. Setelah plesteran selesai, dicek kembali kerataanya, vertikalisasinya dengan menggunakan unting unting. Selama menunggu setting plesteran kurang lebih tujuh hari, plesteran disiram dua kali sehari, setelah itu dilakukan acian dengan trowel dan diratakan dengan jidar alumunium. Kemudian permukaan digosok dengan kertas semen. Selama curing, permukaan disiram air sehari sekali. Kegiatan-kegiatan dari pekerjaan plesteran ini waktu yang direncanakan dan rencana kebutuhan tenaga dapat dilihat di lampiran ( perhitungan tenaga dan waktu.) Pekerjaan batu temple. Ketepatan pemotongan untuk memastikan bentuk dan ukuran yang benar dan pas. Juga ketepatan hubungan pemasangan, sudut-sudut dan sisi-sisinya. Memotong bagian belakang paralel dengan bagian muka. Untuk bagian sudut luar dipotong sesuai gambar dan membuat sisi bevel pada sisi tersebut sesuai gambar. lain. Menyediakan potongan dan drilling sesuai kebutuhan untuk menerima bagian pekerjaan

Dalam pemotongan dan pengepasan dilakukan dengan hati-hati tanpa mengurangi kekuatan atau penampilan bahan dan meniadakan tambalan atau pengisisan daerah berlubang. Pemasangan Batu Tempel Sebelum pemasangan disiapkan batu dibersihkan tidak menggunakan sikat kawat atau implemen yang dapat merusak permukaan yang diekspose; dengan membasahi dengan air bersih sebelum diset di lapangan; khusus untuk pemasangan basah. Lalu memastikan bahwa permukaan tersebut sudah kuat, kering, bersih, dan bebas dari minyak, atau bekas lemak, adukan, tanah atau kotoran-kotoran asing. 7. Pemasangan kusen jendela dan pintu Penentuan Lokasi Pasang

Lokasi pasang harus rata permukaanya dan menyiku pada sudutnya dan harus pada dudukan beton (kolom praktis dan balok praktis). Bila kondisi tersebut belum rata, harus diratakan dahulu dengan plesteran atau dibobok, dan bila kurang sedikit kerataanya digurinda saja. Perlu di cek pula lebar dan tingginya sesuai rencana. Pemasangan Kusen

Kusen harus sudah distel sesuai rencana. Dalam pemasangannya dipakai perkuatan dynabolt sebagai pengikat kusen ke beton kolom dan balok. Setelah dipasang dicek lagi lebar dan tingginya supaya nantinya bila pintu dan jendela dipasang bisa tepat. Pemasangan Pintu dan Jendela

Setelah kusen terpasang dan tepat dudukannya terhadap pintu dan jendela kemudian dipasang engsel secukupnya sesuai kebutuhan. Pada waktu pemasangan jendela kaca harus sudah terpasang termasuk pengencangnya berupa karet khusus agar kaca tidak goyang. Setelah terpasang pada sisi yang bersinggungan langsung dengan kusen diberi kain khusus untuk menghindari gasekan langsung antar bahan aluminium yang bila dibuka tutup akan menimbulakan bunyi gesekan. 1. Fishing akhir dengan acian + plesteran Setelah terpasang kusen dan pintunya, untuk menutup bagian dinding yang masih terbuka pada bagian yang langsung bersinggungan dengan kusen, ditutup dengan pasta semen (bila kecil) atau plesteran (bila besar atau retak pada waktu pengeboran untuk menanamkan dynabolt) dengan terlebih dahulu menutup kusen dengan lakban / isolasi agar kusen akuminium tidak terkena cipratan pasta semen, karena bila hal tersebut terjadi akan sulit pembersihannya dan bila dapat dibersihkan akan menimbulkan warna buram pada kusen aluminium tersebut. PEKERJAAN MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL Pekerjaan secara garis besar meliputi: Penyambungan Daya PLN baru, Pekerjaan Penangkal petir, Pekerjaan Elektrikal, Pekerjaan CCTV Pekerjaan Pemadam Kebakaran Pekerjaan Instalasi air bersih

Pekerjaan Instalasi air kotor

Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal Pekerjaan mekanikal ini mencakup pekerjaan drainase, sanitasi dan sanitair yang terdiri dari pekerjaan : Instalasi air bersih

a. Sistem Perpipaan Air Bersih diperoleh dari PAM atau bila belum ada diperoleh dari air tanah yang dipompa (dengan pompa air Iistrik) dan ditampung kedalam bak penampung bawah/Ground reservoir dan kemudian dipompakan ke bak penampung atas/Water Tower/Roof Tank melalui pipa PVC AW. b. Bahan 1. Pipa yang dipakai untuk distribusi dari sumber ( PAM atau air tanah) memakai jenis Pipa PVC setara produk Wavin yang mampu menahan tekanan 10 Kg/Cm2. 2. Fitting terbuat dari bahan Melleaeble iron screwet setara merk Bonkan, Top Brand. 3. Stop Kran terbuat dari bahan Kuningan yang mampu menahan tekanan 8 Kg/Cm2 setara merk Kitz, Toyo. 4. Kran Air terbuat dari bahan Brass Chroom plated dengan handle/pemutar dari bahan sejenis tersebut untuk digunakan sebagai : Kran tembok/Wall faucet, KM/WC Produk San Ei c. Pemasangan 1. Pipa terpasang diluar bangunan (outbouw), ditanam pada kedalaman minimum 60 cm dari permukaan tanah dan tidak mengganggu pondasi. 2. Pipa yang berada dibawah area Parkir, jalan setapak, jalan dan daerah yang diatasnya difungsikan (terbebani) ditanam minimal 100 Cm dari permukaan perkerasan dengan diberi perlindungan khusus terhadap beban diatasnya. 3. Pipa ditimbun dengan pasir urug setebal 20 cm yang disebar disekeliling pipa, kemudian diurug dengan tanah urug yang bebas dari sampah dan puing. 4. Pipa yang terdapat didalam bangunan dipasang dilangit-Iangit untuk pipa horizontal, dan dipasang didalam shaff untuk pipa-pipa tegak, pemasangan harus menggunakan klem, hanger yang sesuai dan cukup kuat untuk menahan tekanan. 5. Pipa tegak yang inbouw harus diberi kolom praktis bila diameter pipa dilakukan dengan test PAM dalam kondisi tetap. 6. Setelah Pemasangan pipa selesai, harus dilakukan pengujian dengan test PAM dengan tekanan 3 atm selama 2 Jam dalam keadaan tekanan tetap. 7. Pipa distribusi ke unit fixtures memakai pipa Galvanized Iron Pipe (GIP) dengan tekanan 10 Kg/cm2.

d. Pompa Air bersih. Dipakal untuk menaikkan air bersih dari Bak penampung bawah/Ground reservoir ke Bak penampung atas/Water Tower/Roof Tank. -Instalasi air kotor : a. Sistem Desain : Sistem buangan terdiri dari beberapa bagian yang mencakup : 1. Buangan dari WC dan Urinoir yang dibuang kedalam pengolah limbah. 2. Buangan dari floor drain, teras/lantai dibuang kedalam saluran air hujan. 3. Buangan dari air hujan dibuang langsung kedalam saluran kota melalui saluran lobi terdekat. 4. Sistem perpipaan harus dilengkapl dengan pipa ventilasi. a. Material Pipa dan Fittings : 1. Jenis pipa beserta fittings adalah PVC setara produk Wavin, tekanan 10 Kg/Cm2 dengan Perekat menggunkan Isarplas. 2. Pipa PVC dengan tekanan 8 Kg/Cm2 sampai 10 Kg/Cm2 ketebalan dindingnya. 3. Fitting dan Yent Cap terbuat dari bahan PVC injection moulded menggunakn merk Wavin. 4. Floor Drain dan Floor Dean Out terbuat dari bahan Brass Chroom plated menggunakan produk San Ei, Kakudai. c. Sistem Jaringan :
1. Tidak ada pemisahan antara air kotor dari Kloset/WC dengan air buangan dari

KM/Urinoir dimana pada setiap fixture unit dipasang U trap dan pada awal saluran dipasang Cean Out (CO) untuk pemeliharaan/maintance. Kemiringan Pipa saluran antara 1 (satu) sampai 2 (dua) persen dan digabung dengan Pipa saluran induk Kotor yang berada didalam shaff untuk menuju ke pengolah limbah. 2. Pipa ventilasi pada setiap daerah basah dapat dipasang menyatu dengan dinding (in bouw), diameter pipa maksimal 1,5 . 3. Pengolah Limbah dibuat dengan sistem Septic Tank yang dalam pemasangan, spesifikasi, perhitungan besaran dan volume, instalasi dan operasinnya disesuaikan dengan persyaratan yang ditetapkan. -Instalasi air bekas -Instalasi air hujan -Septictank

-Sumur peresapan -Bak control -Contoh gambar pelaksanaan :

Sedangkan pekerjaan elektrikal yang dimaksud adalah : -Pekerjaan instalasi listrik 1. Menyiapkan satu set lengkap gambar-gambar pelaksanaan yang tepat pada lokasi dari seluruh jenis outlet, panel/kabinet, peralatan, perkabelan dan seterusnya dengan mengambil pedoman pada as center kolom. 2. Menyerahkan contoh bahan/material yang akan dipasang untuk dimintakan kepada owner. 3. Sistem distribusi yang dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah Distribusi Tegangan Rendah 220/380 Volt, 3 Phase 50 Hz dengan hantaran bawah tanah 4 kawat. 4. Sistem Proteksi terhadap Hubung singkat pada panel-panel Proteksi yang overload dan hubung singkat pada panel utama dan panel daya kecuali ditunjukkan lain dari ketentuan gambar kerja. 5. Semua bagian yang terbuat dari bahan metal dari peralatan listrik harus di-grounded (hubungkan ketanah) dan semua panel harus di-G kan dengan elektrode terpisah sebagai pengaman dari sentuhan. 6. Sistem Proteksi lain yang diperlukan sesuai kebutuhan pada pemasangan instalasi. 7. Pipa dan Fitting 8. Bahan Pipa dan Fitting adalah terbuat dari PVC ex-Iokal ukuran 3/4 untuk dalam bangunan dan Bahan Galvanis dicat dasar anti karat untuk luar bangunan dengan persyaratan mutu/kwalitas baik. b. Semua teknis pemasangan yang mencakup pencabangan, penyambungan, pembelokan, pengetapan, penghalusan ujung-ujung pipa dan sebaliknya harus menggunakan fitting yang sesuai yang meliputi : sok, elbouw, cross doos. terminal 3 puntir, isolasi band, klem dan lain-lain yang diperlukan. 1. Stop Kontak dan Skakelar 2. Outlet Stop kontak dan Skakelar dipasang inbow (tertanam dalam tembok) dengan ketinggian 1,5 m kecuali pada tempat khusus b. Pemasangan Skakelar dan Plug/Stop kontak halus lengkap dengan boks tempat dudukannya yang terbuat dari bahan scsuai produknya (PVC) pengecualian untuk Stop kontak tenaga yang terbuat dari bahan metal. 1. Pengkawatan untuk skakelar, stop kontak ditanam dalam tembok (inbouw) dengan pipa PVC type A W diameter 3/4 produk setara produk Wavin.

d. Mekanisme saklar ungkit rating 10 A 250 Volt 2 Kutub ditambah 1 untuk pentanahan. 1. Khusus untuk Stop Kontak tenaga dengan rating 15 250 Volt dengan terminal pentanahan dan cara pemasangan inbouw. 2. Instalasi Lampu/Lighting Fixtures 3. Panel Distribllsi Tegangan Rendah (LVDPN) 220/380 Volt. 4. Panel Listrik Utama/Panel pada Lantai dasar berfungsi untuk menerima daya dari PLN dengan pengamanan MCCB dan MCB sesuai dengan yang tertera dalam Gambar b. engaman terdiri dari jenis MCB dengan jumlah dan ukuran disesuaikan dengan Gambar Kerja. 1. Ukuran jumlah panel harus dapat mencakup semua peralatan dengan penempatan yang cukup secara elektis dan fisiknya. d. Pasangan semua komponen harus dapat dicapai dari bagian depan dengan mudah tanpa menunggu kunci. 1. Rumah panel terbuat dari plat baja dengan didasari lapisan anti karat dan difinish cat dengan warna standar abu-abu. 2. Ruangan Panel harus cukup untuk memudahkan kerja dan dilengkapi dengan ventilasi dari bagian sisi panel. g. Busbar dan teknik penyambungan harus menurut peraturan PUlL, bahan yang terbuat dari tembaga yang berdaya hantar tinggi bentuk persegi panjang dipasang pada polepole isolator dengan kekuatan dan jarak sesuai ketentuan untuk dapat menahan tekanan elektris maupun mekanis pada level hubungan singkat. 1. Batang penghubung antara busbar dan breaker mempunyai penampang yang cukup dengan rating ams tidak kurang dari 125 % dari rating breaker. 2. Ujung kabel harus diberi sepatu kabel dari bahan tembaga. 3. Kabel penghubung MCCB ke ivlCB menggunakan kabel NYM. 4. Pentanahan/Grounding 5. Hantaran pentanahan terus menerus (continuos) dan dalam setiap bangunan harus membentuk rangkaian tertutup (loop) dengan junction pada panel. b. Hantaran pentanahan terus menerus (continuos) dan dalam setiap bangunan harus membentuk rangkaian tertutup (loop) dengan junction pada panel. 1. Apabila terdapat beberapa panel yang berdekatan letaknya, maka elektroda pentanahan dapat digabungkan dengan hitungan jarak antar panel maksimum 5 m. d. Elektroda pentanahan harus dilengkapi dengan kontrol box dan teminal uji. 1. Tahanan pentanahan maksimum 5 ohm. 2. Elektroda pentanahan harus dipasang diluar bangunan.

g. Contoh gambar Instalasi listrik Pemesangan pipa conduit Instalasi titik lampu Saklar & Stop kontak Saklar HandleUnit lampuUnit Panel Distribusi -Pekerjaan penangkal petir 1. Bahan 1. Pengadaan/penyediaan dan pemasangan konduktor. b. Pengadaan/penyediaan dan pemasangan sistem pentanahan. 2. Ketentuan Tekllis
1. Protector head yang digunakan adalah sistem konvensional yang mempunyai bentuk

Instalasi stop kontak

perlindungan kenecal sesuai standar yang berlaku. b. Konduktor yang digunakan adalah bare copper conductor diameter 50 mm. 1. Sistem pentanahan menggunakan electroda pentanahan yang terbuat dari bahan tembaga diameter minimal 3/4 masih yang pada ujung batang tembaga sebagai electroda pentanahan minimal 6 mtr, tahanan pentanahannya 3 ohm. 3. Pemasangan
1. Batang Penegak yang terbuat dari bahan tembaga diameter minimal 3/4 dan dibagian

ujungnya diruncingkan dengan sudut 15 derajat terhadap tubuh batang, banyak batang penerima sesuai Gambar Kerja. b. Protector Head harus dipasang pada ujung Batang peninggi yang kuat terbuat dari tembaga atau copper rod sesuai gambar kerja, dimana terminal harus dapat dilapisi dari batang peninggi bila dipcrlukan pemcriksaan. Kctinggian batang peninggi sesuai yang tercantum dalam Gambar Kerja. 3. Penghantar Saluran Pengghantar harus dari bahan tembaga telanjang (bare cooper conductor) berukuran penampang minimal 50 mm2 (BCC 50), saluran penghantar dari Batang Peninggi sampai ke bak kontrol penranahan harus dipasang diluar bangunan. 4. Sambungan

Sambungan harus dapat menjamin kontak yang baik antara penghantar yang disambung dan tidak mudah lepas. Sambungan harus diusahakan agar dapat dibuka untuk keperluan pemeriksaan, sambungan harus terbuat dari bahan yang sejenis. 5. Penmabat/Kelm Konduktor/penghantar harus ditambatkan dengan kuat dengan alat penambat. Penambat harus dari bahan yang sama dengan konduktor. 6. Pelindung Mekanis Down Conductor harus dilindungi terhadap kerusakan mekanis dengan pipa galvanis. Penghantar yang dilindungi harus disambungkan secara baik terhadap pelindungnya dengan memakai klem. 7. Pelindung Mekanis Pada setiap Ground Rod harus dibuatkan bak pemeriksaan (bak kontrol). Sambungan dan down Conductor dari elektroda pentanahan harus dapat dibuka untuk keperluan pemeriksaan tahanan tanah. Jumlah bak kontrol sesuai Gambar Kerja. Contoh gambar pemasangan penangkal petir : Pemasangan Tiang Petir Ground rod PEMELIHARAAN Sebelum masuk masa pemeliharaan dilakukan pengecekan bersama antara Pengawas, Owner dan Kontraktor pada setiap bagian pekerjaan. Adapun hasil pengecekan bersama dituangkan dalam bentuk lembar defeklist pekerjaan guna mempermudah pelaksanaan perbaikan. Pemeliharaan bangunan dilaksanakan setelah masa pelaksanaan dan pengecekan akhir semua pekerjaan selesai serta disetujui oleh owner dan Pengawas. Pada masa pemeliharaan secara periodik dilakukan pengecekan berkala terhadap sistem mekanikal dan elektrikal yang dikerjakan, termasuk pekerjaan lainnya. Masa pemeliharaan wajib dilaksanakan oleh Pelaksana sesuai masa kontrak yang ditentukan. Untuk lebih jelasnya kapan dilaksanakan kegiatan pemeliharaan dapat dilihat pada schedule yang ada pada rencana mutu kontrak. Pemasangan Tiang Petir Digital Medel Tanah

Kesimpulan Dari metode pelaksanaan tersebut maka dapat diperkirakan waktu pelaksanaan tiap tiap pekerjaan dan dapat diperkirakan item item pekerjaan mana saja yang pelaksanaannya dapat dilaksanakan secara bersamaan untuk kemudian dapat dibuat time schedule proyek secara keseluruhan yang seefisien mungkin sehingga tuntutan pekerjaan dapat terpenuhi khususnya mengenai ketepatan waktu. Untuk mengetahui standart mutu pelaksanaan pekerjaan berikut juga kami lampirkan Rencana Mutu Kontrak. Demikian proposal ini kami sampaikan sebagai gambaran pelaksanaan pekerjaan.

Like this:
Suka Be the first to like this post. Comments RSS feed

2 Comments:

Petrus 22 Desember 2010 pukul 17:20 joinn trims Balas

MENGENAL 22 April 2011 pukul 12:28 OK Balas

Tinggalkan Balasan
Enter your comment here...

Guest Masuk Masuk Masuk

Email (wajib) (Belum diterbitkan)

Nama (wajib)

Situs web

Please log in to WordPress.com to post a comment to your blog.

You are commenting using your Twitter account. (Keluar)

You are commenting using your Facebook account. (Keluar) Connecting to %s Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik. Beritahu saya tulisan baru lewat surat elektronik.
Kirim Komentar

RMK

Recent entries
o o o o

METODE PELAKSANAAN RMK Analisa SNI metode pelaksanaan

Browse popular tags Meta


o o o o

Daftar Masuk log RSS Entri Komentar RSS