Anda di halaman 1dari 12

PENGERTIAN, PENGAKUAN, DAN PENGUKURAN AKTIVA Definisi Asset Canning memberikan definisi asset sebagai berikut: Asset adalah

jasa kemudian dalam bentuk uang (future service in money) atau jasa kemudian yang dapat diubah kedalam bentuk uang (future service convertible into money) yang manfaatntya bagi seseorang atau beberapa orang dijamin secara hukum. Jasa-jasa kemudian ini hanya merupakan asset bagi orang tersebut, mengenai jasa-jasa kemudian ini dikecualikan jasa-jasa yang berasal dari kontrak-kontrak yang belum dipenuhi oleh kedua belah pihak. Meskipun Canning merasa bahwa definisinya itu mencerminkan atau yang lazimnya diartikan akuntan sebagai asset ia merasa bahwa definisi itu akan menjadi lebih baik apabila kalimat terakhir dihilangkan. Karena penekanan sering diberikan kepada penentuan income, maka baik secara langsung maupun tidak langsung, asset sering diartikan sebagai biaya-biaya yang belum dialokasikan (unallocated costs) atau jumlah-jumlah yang dibawa ke periode-periode yang akan datang. Aktiva tetap menurut PSAK No. 16 (paragraph 05) yaitu: Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangunlebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalamrangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Asset menurut APB Statement No. 4 yaitu: Sumber-sumber ekonomi (economic resources) dari suatu perusahaan yang diukur dan diakui sesuai dengan prinsip akuntansi yang lazim diterima (generally accepted accounting principles) merupakan resources Definisi ini jelas memberikan penekanan kepada jumlah yang tertera didalam neraca percobaan, yakni dengan tujuan utamanya berupa perhitungan periodic income. Namun demikian, pernyataan bahwa asset harus merupakan suatu economic resources (dengan pengecualian tertentu) memang membatasi istilah ini dengan menolak pemasukkan loss. Selanjutnya definisi asset sebagai economic resources memungkinkan real-world interpretations. Sayangnya dengan mencantumkan generally accepted accounting principle, maka konsep asset disini kehilangan makna interpretatifnya. Sebagai sumber daya ekonomi (economic resources) asset merupakan potensi pemberian jasa dikemuian hari. Penekanan ini memberikan definisi all-inclusive dan memungkinkan dipisahkannya masalah pengukuran daripada definisi mengenai asset. Dengan definisi dasar ini maka cirri-ciri asset dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Harus ada hak tertentu atas manfaat-manfaat dikemudian hari atau potensi jasa dikemudian hari. Hak dan jasa yang telah habis tidak dapat dimasukkan. Hak ini termasuk deferred charges tertentu yang bukan

haruslah merupakan manfaat positif; apabila hak ini mempunyai manfaat nihil atau negative maka hak-hak ini tidak dapat disebut sebagai asset. 2. Hak ini harus menjadi milik orang atau perusahaan tertentu. 3. harus ada suatu klaim yang dapat dipaksakan berdasarkan kekuatan hokum. Jasa yang dapat diambil alih oleh seseorang, suatu perusahaan atau pemerintah tanpa imbalan apa pun, janganlah dimasukkan sebagai asset. Ini tentunya tidak berarti bahwa perusahaan harus mempunyai hak berdasarkan perjanjian atau kontrak yang formal. Perlu diperhatikan bahwa semua asset pada dasarnya mempunyai cirri-ciri yang sama, sekalipun secara konvensional diklasifikasikan dalam berbagai kategori. Kas dan asset tidak berwujud misalnya sama-sama merupakan hak atau manfaat yang dikemudian hari. Klasifikasi kedua pos ini secara berbeda tidaklah mengubah sifat mereka sebagai asset.

Tujuan Pengukuran Asset


Akuntansi memberikan penekanan kepada kuantifikasi daripada hubungan ekonomis atau perubahan ekonomis dalam bentuk satuan uang. kuantifikasi asset dalam bentuk satuan uang ini merupakan proses penilaian. Karena penilaian ini penting dalam proses akuntansi, maka tujuan dari pada penilaian ini sama dengan tujuan akuntansi. Sebagaimana halnya dengan income concept, suatu konsep yang tunggal dan menyeluruh akan sangat bermanfaat. Namun apabila ditinjau lebih dalam, suatu konsep tunggal tidak dapat memenuhi bermacam-macam tujuan dengan baik. Konsep yang tepat dalam setiap kasus tertentu memerlukan pengetahuan mengenai siapa yang akan mempergunakan informasi dan untuk apa informasi itu diperlukan.

Pengakuan Aktiva
Untuk menentukan berapa besarnya penyajian aktiva tetap dalam laporan keuangan dalam hal ini neraca, maka perlu ditetapkan terlabih dahulu nilai dari aktiva tetap tersebut, dengan kata lain melalui tahap penilaian aktiva tetap. SAK dengan pernyataan No.16 paragraf 13 menyatakan bahwa : Suatu benda berwujud harus diakui sebagai suatu aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan. Selanjutnya dalam PSAK yang sama paragraph No 06 menyatakan : Benda berwujud harus diakui sebagai suatu aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap bila : a. besar kemungkinan(probable) bahwa manfaat keekonomian dimasa yang akan datang yang berkaitan dengan aktiva tersebut akan mengalir kedalam perusahaan b. biaya perolehan aktiva dapat diukur secara andal.

Penjelasan dari pernyataan diatas diuraikan pada paragraph selanjutnya yaitu bahwa memenuhi kriteria: (a) suatu perusahaan harus menilai tingkat kepastian aliran manfaat keekonomian masa yang datang berdasarkan bukti yang tersedia pada waktu pengakuan awal (paragraph 08), selanjutnya dalam paragraph 09 dinyatakan bahwa criteria (b) biasanya dapat dipenuhi secara langsung karena transaksi pertukaran mempunyai bukti pembelian aktiva mengidentifikasikan biayanya. Disamping hal tersebut diatas, maka sangat essensial untuk melihat pengeluaranpengeluaran yang terjadi yang berkaitan dengan aktiva tetap atau setelah diperolehnya aktiva tetap tersebut. Hal inilah yang mendasari penyajian aktiva dalam neraca. Sofyan Syarif Harahap (1993;48) menambahi pengeluaran aktiva tetap menjadi dua bagian yaitu: Pengeluaran modal, jika pengeluaran tersebut dianggap menambah harga Pengeluaran biaya, pengeluaran biaya terjadi apabila pengeluaran tidak pokok. dianggap tidak menambah harga pokok dalam arti bahwa biaya tersebut harus dibebankan keperkiraan rugi laba. Adapun pengeluaran yang menyangkut aktiva tetap tersebut dapat berupa pemeliharaan, reparasi, perbaikan, penambahan dan perombakan. Dalam PSAK No.16 paragraf 23 dinyatakan bahwa Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aktiva tetap yang memperpanjang masa manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat keekonomian dimasa yang datang dalam bentuk peningkatan kapasitas, mutu produksi dan peningkatan standar kinerja harus ditambahkan pada yang bersangkutan

Penilaian Asset Bagi Pengukuran Income


Penilaian asset adalah proses pengukuran atribut-atribut keuangan (masa lalu, masa kini, dan masa mendatang) daripada asset atau kumpulan asset. Pengukuran asset harus dievaluasi atas dasr cirri-ciri perilaku asset disamping kadar interpretatifnya dan kemampuan pengukuran-pengukuran dalam menjadi bagian dari struktur pelaporan yang logis. Dalam bentuk yang tradisional structural, penilaian asset merupakan suatu langkah dengan proses matching. Dalam bentuk yang kedua, interpretasi mengenai income menggunakan konsep capital maintenance. Konsep ini mensyaratkan penilaian asset sedemikian rupa sehingga income dapat dihitung berdasarkan kenaikan asset dalam sutu periode. Dari segi behavioral, penilaian harus menungkinkan perhitungan income yang berguna untuk prediksi atau sebagai masukan langsung dalam investment decision models. Income merupakan hasil daripada matching antara expense yang dinilai dengan historical costs dan revenue yang bersangkutan. Dengan adanya perubahan nilai satuan

uang pengukuran income akan lebih baik apabila historical cost dinilai kembali dalam satuan uang yang mempunyai daya beli yang sama seperti current revenue. Kelemahan utama dari proses matching adalah karena banyak kegiatan perusahaan tidak memungkinkan matching secara teliti. Akibatnya adalah dalam kebanyakan kasus, alokasi daripada penilaian asset baik ke produk maupun ke expense dilakukan secara arbitrer. Oleh karena itu penilaian asset untuk masa yang akan datang sebenarnya tidaklah harus berhubungan dengan manfaatnya dikemudian hari. Hal ini sering menyebabkan dianutnya prosedur yang tidak mempunyai landasan yang logis.

Konsep-konsep Penilaian
Berikutnya dalam hal pengukuran aktiva tetap maka disajikan berdasarkan nilai perolehan aktiva tersebut dikurangi akumulasi penyusutan, dalam hal penyusutan ini maka PSAK mengurai dalam paragraph 30 yaitu bahwa jumlah dapat disusutkan suatu aktiva harus dialokasikan secara sistematis sepanjang masa manfaatnya metode penyusutan harus mencerminkan pola pemanfaatan keekonomian aktiva. Manfaat keekonomiaan yang diwujudkan dalam suatu aktiva tetap dikomsumsi oleh perusahaan sepanjang masa manfaat aktiva tetap faktor lain seperti keusangan teknis dan aus serta rusak saat suatu aktiva menganggur juga dapat mengurangi manfaat keekonomiannya. Pada dasarnya suatu perusahaan berada dalam dua pasar. Pasar yang pertama adalah pasar dimana perusahaan membeli bahan-bahan maupun tenaga kerja dan factorfaktor produksi yang lain; dalam pasar ini perusahaan menghadapi nilai-nilai masukan atau input values. Pasar yang kedua adalah pasar dimana perusahaan menjual produknya; disini terjadi nilai-nilai keluaran atau output values. Nilai keluaran mencerminkan dana-dana yang diharapkan akan diperoleh perusahaan dikemudian hari untuk barang yang dijualnya (output). Konsep-konsep penilaian atau valuation concept yang diterapkan untuk penilaian asset adalah sebagai berikut: A. Exchange Output Values 1. Discounted Future Cash Receipts atau discounted service potentials. 2. Current Output Prices 3. Current Cash Equivalents 4. Liquidation Values B. Exchange Input Values 1. 2. 3. 4. 5. Historical cost Current Input Cost Discounted Future Cost Standar Cost Absorption Costing dan Direct Cost

C. Lower Of Cost Or Market Berikut penjelasannya: A. Exchange Output Values Nilai-nilai keluaran (output values) didasarkan kepada jumlah cash atau nilai-nilai lain yang diterima untuk asset atau jasa yang ditimbulkan oleh asset yang meninggalkan perusahaan melalui suatu pertukaran atau konversi. Oleh karena itu output values juga sering disebut exit values. 1. Discounted Future Cash Receipts atau discounted service potentials. Cash jelas akan mencerminkan current value. Tetapi apabila suatu asset merupakan penundaan cash, maka untuk mengukur nilai sekarang maka kas yang akan diterima dikemudian hari harus didiskontokan. Asset juga dapat merupakan gangguan atau himpunan dari jasa-jasa yang akan diterima dikemudian hari. Oleh karena itu nilai sekarang dari asset ini merupakan pendiskontoan dari nilai jasa-jasa yang akan datang. Dalam penerapannya terhadap masing-masing asset memiliki keraguan karena: Arus kas sangat subjektif sifatnya dan sukar atau tidak mungkin diversify Sulit menentukan tingkat diskonto yang tepat, padahal angka ini menentukan nilai asset yang dihitung dengan metode ini Apabila cash flow dipengaruhi oleh kombinasi dari berbagai factor seperti SDM dan teknologi maupun peralatan yang ada, bagaimana pemisahan atau alokasi yang logis dari berbagai factor ini dapat dilakukan Jumlah dari present value masing-masing asset tidaklah sama dengan nilai perusahaan. Hal ini disebabkan karena bermacam-macam asset secara tergabung memberikan sumbangan terhadap service potentials dan asset tertentu tidak dapat diidentifikasikan secara terpisah. Meskipun konsep ini mengandung beberapa kelemahan yang telah diuraikan diatas, namun dalam hal tertentu konsep ini sangat relevan, misalnya dalam penilaian wesel tagih yang masa penagihannya cukup panjang dan apa bila tingkat diskontonya tinggi. 2. Current Output Prices Apabila produk perusahaan diperdagangkan dalam suatu pasar yang teratur maka harga pasar pada saat ini merupakan taksiran yang cukup layak mengenai harga pasar dikemudian hari dalam waktu yang tidak terlalu lama. Apabila produk ini belum akan dijual dalam waktu dekat, maka Current Output Prices ini sebaiknya didiskontokan atau dihitung net present valuenya.

Apabila masih ada biaya tambahan baik untuk produksi maupun penjualan yang harus dikeluarkan, maka Current Output Prices ini seharusnya dikurangi dengan biaya ini untuk mendapatkan net realizable value. Current Output Prices mempunyai kelemahan yang besar apabila dipergunakan sebagai konsep penilaian secara umum untuk semua asset. Kelemahan-kelemahan ini adalah sebagai berikut: 1. Konsep ini sebenarnya hanya berlaku bagi asset yang dimaksudkan untuk dijual seperti inventory, investasi dalam surat berharga yang diperdagangkan, dan aktiva tetap yang sudah tidak terpakai. 2. Current Output Prices bagi banyak asset hanyalah akan menjadi harga dimasa mendatang denagn asumsiceteris paribus 3. Karena tidak semua asset dapat dimulai dengan current sales price maka metode penilaian lain harus diterapkan sebagai penggantinya. Penjumlahan dari nilai semua asset hanya akan relevan apabila konsep penilaian lainnya benar-benar mendekati konsep current sales price ini. 3. Current Cash Equivalents Current Cash Equivalents merupakan harga-harga asset pada saat ini yang benarbenar dapat diwujudkan melalui penjualan yang normal (artinya bukan penjualan yang terpaksa seperti dalam hal likuidasi atau kebangkrutan perusahaan) dan yang lazimnya dapat diketahui dari catatan harga pasar untuk barang yang sejenis. Current Cash Equivalents ini dianggap relevan karena menunjukkan posisi perusahaan terhadap lingkungannya pada suatu saat, dengan konsep ini tidak perlu lagi menjumlahkan harga-harga dimasa lalu, masa sekarang dan masa mendatang karena semua asset dinilai dalam harga sekarang yang relevan. Kesulitan dalam konsep ini adalah tidak semua asset mempunyai harga pasar pada saat ini. 4. Liquidation Values

Konsep ini hamper sama dengan konsep current output price dan current cash equivalents. Perbedaannya adalah bahwa konsep Liquidation Values menggunakan harga-harga penjualan dalam keadaan perusahaan dilikuidasi. Dalam keadaan ini hargaharga berada dibawah harga jual yang normal. Oleh karena itu konsep ini hanya boleh diterapkan dalam dua keadaan berikut: 1. Apabila asset yang bersangkutan telah kehilangan kegunaannya yang lazim, atau menjadi usang atau telah kehilangan pasarannya yang normal. 2. Apabila dikandung maksud untuk menghentikan usaha dalam waktu dekat sedemikian rupa sehingga penjualan yang normal tidak dapat dilakukan.

B. Exchange Input Values Input values sering dianggap lebih tepat daripada output values karena mungkin input values lebih verifiable atau karena input values tidak memungkinkan pelaporan revenue sebelum direalisasi atau diwujudkan. Namun sebenarnya akuntansi bersifat electic, mencari atau menghubungkan mana yang dianggap baik, dalam hal-hal tertentu dipakai output values begitu juga dengan input values. Hal ini disebabkan karena input values menunjukkan nilai tertinggi bagi perusahaan atau karena tidak adanya output market. 1. Historical Cost

Merupakan konsep penilaian yang paling lazim dipergunakan dalam akuntansi yang tradisional. Assets biasanya dicatat dengan harga pembelian semula, harga histories ini kemudian dipergunakan dalam penyajian ikhtisar keuangan. Oleh karena itu historical costs merupakan harga pertukaran barang dan jasa pada saat pelaporan. Apabila dalam pertukaran ini suatu asset diperoleh melalui pemberian ninmonetery assets, maka nilai tukarnya ditentukan oleh current value dari asset yang diberikan. Historical cost mempunyai keuntungan tertentu dalam penerapannya, yaitu sifatnya yang verifiable, alasan yang paling kuat untuk menganut konsep historical costs ini ada hubungannya dengan konsep realisasi dalam pengukuran income. Kelemahan daripada Historical cost adalah karena nilai asset bagi perusahaan dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu. Kelemahan lain dari konsep ini adalah bahwa menutup kemungkinan untuk penggunaan konsep penilaian lainnya yang lebih penting. Hal ini dialami dalam teori akuntansi yang dipengaruhi oleh tradisi yang kuat dalam penggunaan Historical cost. 2. Current Input Cost

Konsep ini sama pada tanggal perolehan asset yang bersangkutan, setelah tanggal itu input cost dapat berubah-ubah sehingga Current assets mungkin lebih besar atau lebih kecil dari historical costs. Jadi Current Input Cost merupakan harga pertukaran yang harus dikeluarkan hari ini untuk memperoleh asset yang sama. Current Input Cost mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan konsep historical costs yaitu: 1. Current cost merupakan jumlah yang harus dibayar oleh perusahaan untuk mendapatkan asset 2. Matching ini memungkinkan pemisahan antara holding gains/ holding loss dari pengakuan laba atau rugi operasional. 3. Current cost merupakan nilai asset bagi perusahaan apabila perusahaan secara terus menerus membeli asset tersebut dan jika belum ada nilai tambah yang diberikan perusahaan kepada asset tersebut.

4. Penjumlahan asset yang dinyatakan dalam current input costs lebih mempunyai arti daripada penjumlahan asset berdasarkan historical input costs yang terjadi pada tanggal yang berbeda.

Dengan kelemahan bahwa konsep ini kehilangan objektivitas. Kecuali apabila asset yang sekarang diperjualbelikan di pasar memang persis sama dengan asset yang dimiliki perusahaan, maka mau tidak mau unsure subjektivitas akan terbawa dalam penerapan current exchange prices terhadap asset yang sekarang dimiliki. 3. Discounted Future Cost

Kebanyakkan non-monetery asset merupakan gangguan atau himpunan barang atau jasa yang diperoleh dimuka. Barang dan jasa diperoleh dimuka karena: 1. Pembelian dalam jumlah besar sekaligus, biasanya lebih murah 2. Beberapa asset tidak dapat dibeli sebagai jas yang terpisah dalam jumlah yang kecil 3. Sering lebih baik membeli sejumlah jasa dikemudian hari agae jasa ini tersedia jika diperlukan 4. Dalam hal tertentu ada baiknya suatu hak diperoleh untuk melindungi investasi lain. Meski konsep ini relevan dalam pembuatan keputusan untuk membeli jasa dalam bentuk suatu himpunan sekarang atau dalam jumlah yang kecil pada saat dibutuhkan, namun konsep ini mempunyai kelemahan tertentu. Seandainya current input price dapat diperoleh dikemudian hari, perusahaan tidak lagi mempunyai alternative untuk membeli jasa tersebut dalam jumlah yang kecil pada saat dibutuhkan, karena sekali pembelian jasa dalam suatu himpunan dilakukan maka komitmen telah dibuat. 4. Standar Cost

Meski standar cost terutama mempunyai makna sebagai alat manajemen dalam hal pengendalian biaya, konsep ini juga berguna dalam penilaian asset yang dihasilkan. Standar cost dapat didefinisikan sebagai penilaian berdasarkan biaya apa yang seharusnya dikeluarkan dalam keadaan produksi pada tingkat efisiensi dan kapasitas tertentu. Keuntungan utama dari konsep ini adalah bahwa biaya-biaya karena ketidak efisiensi diabaikan. Suatu produk tidaklah akan lebih nilainya karena dihasilkan secara tidak efisien, begitu sebaliknya. Losses jangan dibawa ke periode yang akan datang untuk di-match dengan revenue yang akan datang, karena losse ini tidaklah akan menghasilkan arus kas di kemudian hari. Standar yang ideal mungkin berguna bagi tujuan manajerial, akan tetapi standar cost seerti ini mempunyai kecenderungan menurunkan nilai asset karena biaya-biaya normal yang berkaitan dengan inegisiensi dan kapasitas menganggur. Standar yang memperhitungkan inefisiensi yang normal akan lebih tepat bagi penilaian assets, meski 8

penetapan seperti ini tidak selalu mudah jika harus memperhatikan perubahan harga dan teknologi produksi. 5. Absorption Costing dan Direct Cost Absorption Costing. Jika digunakan konsep biaya masukan total, maka semua biaya yang diperlukan dalam produksi harus dimasukkan dalam penilaian asset yang diproduksi (input cost yang tidak dapat dihindari dan harus timbul dalam proses produksi harus diperhitungkan dalam penilaian asset yang diproduksi). Konsep ini juga dikenal sebagai full costing, dianggap merupakan konsep yang tepat baik ditinjau dari segi service potential maupun dari segi matching. Direct Cost. Lebih tepatnya disebut sebagai variable costing atau marginal costing, hanya memperhitungkan variable costs untuk menilai asset yang diproduksi. Keuntungan utama dari konsep ini adalah memberikan informasi kepada manajemen untuk membuat keputusan dan bagi pengendalian biaya. C. Lower Of Cost Or Market Metode ini merupakan campuran antara konsep penilaian masukan (input valuation concept) dan konsep penilaian keluaran (output valuation concept). Istilah market disini dapat diartikan sebagai harga masukan maupun harga keluaran. Akibat dianutnya konsep ini maka income juga dinyatakan secara konservatif. Dengan diturunkannya penilaian asset pada akhir periode maka net income juga menjadi rendah. Disini semua kemungkinan kerugian langsung diperhitungkan dalam penentuan net income, sebaliknya kemungkinan untuk atau laba ditunda pengakuannya sampai saat penjualan atau realisasi. Criteria bagi pengakuan untung berbeda dengan criteria bagi pengakuan rugi. Dari uraian tersebut konsep ini pada dasarnya adalah penerapan suatu prosedur akuntansi yang sudah lazim diterima yang merupakan aplikasi dari konsep-konsep yang ada denagn mengambil segi baiknya (electic). Sebagai suatu konsep, konsep ini tidak mempunyai tempat dalam teori akuntansi karena hal berikut: Sebagai suatu metode yang konservatif, konsep ini mempunyai kecenderungan menekan jumlah asset, ini mungkin tidak merugikan para kreditor tapi jelas merupakan penipuan bagi pemegang saham maupun calon investor dan manajemen sendiri. Penilaian asset yang menekan pada saat ini akan menyebabkan Meski perusahaan menerapkan konsep ini secara konsisten dari Konsep ini juga diterapkan baik dalam turunnya cost maupun laba yang lebih besar atau rugi yang lebih kecil dikemudian hari. tahun ke tahun, namun secara internal tidaklah konsisten. karena turunnya utility dari asset tersebut.

terealisasi.

Konsep ini menunda pengakuan untung/ laba yang belum

Pengakuan dan Pengukuran Aktiva Tak Berwujud


Menurut PSAK 19 (Revisi 2009), dalam mengakui suatu pos sebagai aktiva tak berwujud, perusahaan perlu menunjukkan bahwa pos tersebut memenuhi: (a) Definisi aktiva tidak berwujud; dan (b) Kriteria pengakuan (silahkan baca: Kriteria Aktiva Tak Berwujud). Persyaratan tersebut diterapkan atas biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh (atau mengembangkan)secara internalaktiva tak berwujud dan biaya yang terjadi kemudian untuk menambahkan, mengganti sebagian, atau memperbaiki aktiva tersebut. Karakteristik Aktiva Tak Berwujud Karaktersitik aktiva tak berwujud adalah sedemikian, sehingga dalam banyak kasus tidak ada yang dapat ditambahkan. Sehubungan dengan hal tersebut, kebanyakan pengeluaran selanjutnya digunakan untuk menjaga manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari aktiva tidak berwujud yang sudah ada. Dengan demikian, maka pengeluaran tersebut tidak dapat memenuhi definisi dan kriteria pengakuan aktiva tidak berwujud. Selain itu, seringkali sulit untuk mengaitkan pengeluaran selanjutnya secara langsung terhadap aktiva tidak berwujud tertentu namun lebih terkait dengan usaha (bisnis) secara keseluruhan. Oleh sebab itu, jarang sekali terjadi pengeluaran selanjutnya yaitu: pengeluaran yang diakui setelah pengakuan awal yang diperoleh atau setelah penyelesaian dari aktiva tidak berwujud yang dihasilkan secara internaldiakui dalam jumlah tercatat sebuah aktiva. Pengeluaran selanjutnya atas merek, kepala surat kabar (mastheads), judul publisitas, daftar pelanggan dan halhal yang memiliki kemiripan substansi (baik diakui secara eksternal atau diperoleh secara internal) selalu diakui dalam laporan laba rugi sesuai terjadinya. Hal ini disebabkan pengeluaran tersebut tidak dapat dipisahkan dari pengeluaran untuk mengembangkan bisnis secara keseluruhan. Pengakuan Aktiva Tak Berwujud Sesuai dengan PSAK 19 (Revisi 2009), aktiva tak berwujud harus diakui jika, dan hanya jika:

10

(a) Kemungkinan besar perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomis masa depan dari asset tersebut; dan (b) Biaya perolehan aktiva tersebut dapat diukur secara andal.

Perolehan Aktiva Tak Berwujudu Secara Terpisah Biasanya, harga yang dibayarkan oleh perusahaan untuk perolehan terpisah suatu aktiva tidak berwujud akan menggambarkan kemungkinan manfaat ekonomis masa depan yang perusahaan harapkan untuk diperoleh dari aktiva tersebut. Dengan kata lain, perusahaan mengharapkan adanya arus masuk manfaat ekonomis, bahkan jika ada ketidakkepastian mengenai waktu dan jumlah arus masuk tersebut. Untuk itu, kriteria pengakuan probabilitas selalu dipertimbangkan untuk memenuhi kriteria perolehan terpisah aktiva tidak berwujud. Selain itu, biaya aktiva tidak berwujud yang diperoleh secara terpisah biasanya dapat diukur secara andal. Hal itu akan tampak jelas jika pembayaran dilakukan dalam bentuk uang tunai atau aktiva moneter lainnya/ Pengukuran Aktiva Tak Berwujud Aktiva tidak berwujud pada awalnya harus diakui sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan aktiva tidak berwujud terdiri dari: Harga beli, termasuk bea masuk (import), dan pajak pembelian yang tidak dapat dikembalikan, setelah dikurangkan diskon dan rabat: dan Segala biaya yang dapat dikaitkan secara langsung dalam mempersiapkan asset tersebut sehingga siap untuk digunakan. Pengakuan biaya dalam jumlah tercatat dari aktiva tidak berwujud dihentikan saat aktiva tersebut berada dalam kondisi dapat beroperasi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan manajemen. Oleh sebab itu, biaya yang terjadi dalam menggunakan atau mengembangkan kembali aktiva tidak berwujud tidak termasuk dalam jumlah tercatat aktiva.

11

DAFTAR PUSTAKA
Theodorus M. Tuanakotta, SE, MBA, Teori Akuntansi buku I (Edisi Revisi), Lembaga Penerbit FE UI, 1999. Sumber lain: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2061495pengakuandan-penilaian-aktiva-tetap/#ixzz1eaodRxL1

12