Anda di halaman 1dari 6

ANALISIS SITUASI SURVEILANS AFP TAHUN 1999 DAN 2005 Pendahuluan Secara umum ancaman keberhasilan eradikasi polio

(ERAPO) ditentukan oleh : 1. Adanya VPL di negara lain. 2. Periode waktu SAFP yang panjang. 3. Kinerja SAFP menurun. 4. Imunisasi cenderung menurun. 5. Perubahan struktur pemerintah.

Pada tahun 1999, masih terdapat Virus Polio Liar (VPL), terutama di India dan Bangladesh. VPL muncul kembali dibeberapa Negara yang tadinya sudah dinyatakan bebas VPL yaitu China. Hubungan yang semakin baik antara Indonesia dengan negaranegara yang masih ditemukan VPL dan lancarnya transportasi dapat menjadi ancaman terhadap kemungkinan penyebaran VPL di Indonesia. Keberhasilan eradikasi polio di Indonesia sangat tergantung pada kemampuan mengamankan hasil Pekan Imunisasi Nasional (PIN) tahun 1995, 1996, 1997 dan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) polio tahun 1998 serta tetap tingginya cakupan imunisasi rutin 1998 1999 2000. Pada akhir-akhir ini terdapat Indikasi penurunan cakupan imunisasi yang disebabkan beberapa hal antara lain : 1. Penurunan prioritas imunisasi polio, karena VPL sudah tidak ditemukan lagi. 2. Melemahnya Posyandu. 3. Daerah dengan konflik sosial. 4. Operasional, vaksin dan coldcahain. 5. Daerah-daerah dengan kerawanan imunisasi tersebut perlu diidentifikasi dengan cermat agar surveilans mampu menetapkan prioritas pemantauan VPL berdasarkan wilayah.

Surveilans AFP Secara umum kinerja surveilans AFP (S-AFP) Nasional tahun 2005 lebih baik dari tahun sebelumnya, yaitu : 1. Tetap dipertahankannya AFP rate > = 1 Per 100.000 anak usia < 15 tahun. 2. Spesimen adekuat >80%. 3. Mulai dibenahinya system "zero reporting". 4. Penegakkan diagnosa kasus AFP terutama kasus dengan residual paralysis positip pada follow-up 60 hari.

AFP rate Secara Nasional AFP rate tahun 1999 adalah 1.05 per 100.000 anak <15 tahun, lebih rendah dibandingkan dengan pencapaian tahun 1998 (1,22/100.000). Penurunan penemuan kasus AFP sangat mencolok pada bulan Desember tahun 1999 s/d Maret tahun 2000. Penurunan terutama terjadi di 12 Propinsi yaitu: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Yogyakarta dan Maluku. Sedangkan14 propinsi lainnya meningkat yaitu: Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Irian Jaya. Penurunan kasus AFP di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung dan Aceh pada tahun 1999 mempunyai kontribusi besar penyebab menurunnnya AFP rate Nasional

yang bermakna. Sementara itu, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan dan Bali mengalami peningkatan penemuan kasus AFP yang cukup besar. Spesimen adekuat Secara Nasional spesimen adekuat meningkat dari 73,3% pada tahun 1998' menjadi 80,2% pada tahun 1999. Jumlah propinsi dengan spesimen adekuat meningkat dari 7 propinsi tahun 1998 yaitu: Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat dan Bali menjadi 10 propinsi pada tahun 1999 dengan membaiknya spesimen adekuat di propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah dan Maluku. Sementara propinsi Lampung dan Sumatera Selatan menurun. Berdasarkan analisis kinerja, DKI Jakarta dan Yogyakarta merupakan propinsi dengan geografis relatif mudah terjangkau dan pelayanan kesehatan yang lebih merata ternyata masih memiliki spesimen adekuat < 80%. Kondisi tersebut seharusnya tidak perlu terjadi. Kinerja S-AFP berdasarkan AFP rate dan spesimen adekuat Berdasarkan indikator AFP rate dan spesimen adekuat, maka pada tahun 1998 terdapat 6 propinsi dengan AFP rate >=1 dan spesimen adekuat >80/o yaitu Propinsi : Aceh, Sumatera Utara, Riau Sumatera Selatan, Jawa Barat dan Bali. Pada tahun 1999 terdapat peningkatan di propinsi Jawa Timur dan Kalimantan Selatan. Sementera itu : Aceh dan Sumatera Selatan mengalami penurunan. Berdasarkan Kondisi tersebut, berarti harapan tercapainya kinerja Surveilans AFP berdasarkan AFP rate dan spesimen adekuat di setiap propinsi di Jawa dan Sumatera pada tahun 1999 belum tercapai. Laporan Nihil ("Zero reporting") "Zero reporting" pada dasarnya adalah laporan mingguan ada tidaknya kasus AFP dari Rumah Sakit dan Puskesmas pada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. "Zero reporting" Puskesmas telah dilakukan menggunakan laporan mingguan (W2), sedangkan Rumah 3

Sakit menggunakan cara Surveilans aktif ke Rumah Sakit oleh tim teknis Surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pada tahun 1998 "Zero Reporting" beum tertata dengan baik dan laporan pelaksanaannya belum terdokumentasi. Pada tahun 1999 dari 21 propinsi yang melaporkan, persentase kelengkapan "zero reporting" berkisar antara 52,1?o - 100% dengan 14 propinsi > = 80% yaitu: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Bali dan NTT. Pelaksanaan zero reporting membutuhkan tenaga yang memahami konsep surveilans AFP dan terampil. Penguasaan konsep Surveilans AFP oleh tenaga surveilans Dati II, Puskesmas dan Rumah Sakit berdasarkan evaluasi lapangan pada tahun 1999 lebih baik dibandingkan keadaan pada tahun 1998, tetapi masih terbatas phda tenga yang pernah mendapat pelatihan/mengikuti pertemuan. Tenaga Surveilans AFP di Dinas Kesehatan, Puskesmas dan Rumah Sakit sering mengalami mutasi, berkisar antara 15% 30% pertahun, sehingga mengurangi jumlah tenaga terlatih Surveilans AFP yang ada ditempat tersebut. Pada tahun 1999, komitmen dan pemahaman konsep surveilans AFP sebagian besar para ahli anak (DSA) sudah cukup baik dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu beberapa Direktur RS dan ahli syaraf (DSS) masih lemah dalam penguasaan konsep surveilans AFP, salah satu diantaranya disebabkan karena belum dilaksanakannya pertemuan berkala surveilans AFP. Polio Kompatibel Pada tahun 1999 masih terdapat 55 kasus polio kompatibel 18 diantaranya dengan residual paralysis positip, sisanya 37 kasus belum dilakukan pemeriksaan ulang 60 hari 2 kasus polio kompatibel diantaranya mempunyai spesimen dengan VP Vaksin positip yaitu di Bengkulu dan Jawa Timur.

Berbagai Permasalahan Pada akhir tahun 1999 dan tahun 2005 terdapat kecenderungan penurunan sosialisasi surveilans AFP terutama pada sektor terkait dan masyarakat. Kondisi ini menjadi sangat penting terutama semakin berkurangnya kegiatan posyandu didesa-desa Pada tahun 2000, kondisi propinsi-propinsi yang sudah memiliki kinerja surveilans AFP yang cukup baik pada tahun 1998 dan tahun 1999 akan dikurangi intensitas supervisi dan dukungan pendanaannya. Tetapi berdasarkan kecenderungan penurunan kinerja S AFP di propinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Selatan yang pada tahun 1998 dinyatakan baik ternyata mengalami penurunan kinerja pada tahun 1999, sehingga propinsi-propinsi yang sudah mengalami kinerja baikpun masih perlu supervisi dan pendanaan yang intensive. Dari diskusi yang dilaksanakan secara nasional maupun dari supervisi dapat diidentifiksasi adanya pernyataan bahwa ERAPO, terutama AFP tidak menjadi prioritas disuatu Daerah. Keadaan tersebut perlu mendapat perhatian pada saat pelaksanaan desentralisasi dan otonomi Daerah pada tahun. Beberapa Kabupaten/ Kota tidak memberikan prioritas anggaran (APBD) surveilans AFP pada tahun 2000 bahkan di beberapa propinsi tidak teralokasikan, seperti Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara dan Kalimantan Tengah. Hal ini menunjukkan lemahnya komitment Pemerintah Daerah setempat dalam upaya peningkatan surveilans AFP. Dukungan dana APBN maupun Internasional untuk Surveilans AFP tahun 2000 cenderung menurun dibandingkan tahun tahun sebelumnya. Kesimpulan Berdasarkan bahasan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa: 1. Kinerja surveilans AFP :

Surveilans AFP Nasional tahun 1999 terlaksana lebih baik

dengan AFP rate 1,02 per 100.000 pada anak usia <15 tahun dan spesimen adekuat 80%.

"Zero reporting" Puskesmas dan Rumah sakit telah dapat dengan dukungan .penguasaan konsep dan

dilaksanakan

keterampilan tim teknis yang terlatih. Tim teknis terlatih mengalami mutasi sebesar kurang lebih Kinerja Surveilans AFP belum merata di semua propinsi, 15% 30% pertahun yang perlu mendapatkan pelatihan kembali.

pada tahun 1999 terdapat 6 propinsi dengan kinerja baik. 2. Pada tahun 1999, tidak ditemukan virus polio liar di Indonesia. 3. Terdapat kecenderungan beberapa propinsi atau Kabupaten/Kota menurunkan prioritas kegiatan Surveilans AFP.