Anda di halaman 1dari 26

1

I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan adalah masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia. Visi yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan tersebut dirumuskan sebagai Indonesia Sehat

2010,menurut Depkes 1999. (http://www.litbang.depkes.go.id) Untuk dapat mencapai tujuan pembangunan kesehatan, maka penyelenggaraan upaya kesehatan perlu memperhatikan kebijakan umum, diantaranya adalah peningkatan upaya kesehatan melalui pencegahan dan pengurangan angka kesakitan (morbiditas), angka kematian (mortalitas) dan kecacatan dalam masyarakat terutama pada bayi, anak balita dan wanita hamil, melahirkan dan masa nifas melalui upaya peningkatan (promosi) hidup sehat, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular serta pengobatan dan rehabilitasi. (http://www.litbang.depkes.go.id)

Gangguan jiwa merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di Negara-negara maju,modern dan industri.Keempat masalah kesehatan utama tersebut adalah penyakit degeneratif,kangker,gangguan jiwa dan

kecelakaan (Mardjono dalam Hawari 2001).Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara

langsung,namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidakmampuan serta invaliditas baik secara individu maupun kelompok akan menghambat

pembangunan,karena mereka tidak produktif dan tidak efisien.

Mengingat masalah gangguan jiwa yang meningkat akhir-akhir ini dan terjadinya gempa dahsyat dengan kekuatan 8.9 Skala Richter pada tanggal 28 Maret 2005 yang melanda Kepulauan Nias, yang kesemuanya mengakibatkan dampak fisik dan psikologis, maka WHO memandang perlu program CMHN.

Kegiatan program CMHN merupakan serangkaian kegiatan yang dimulai dari proses rekruitmen perawat CMHN yang akan mengikuti pelatihan, pertemuan persiapan yang melibatkan beberapa sector yang terkait seperti Dinas Kesehatan dan pemerintah daerah setempat dalam rangka memperoleh dukungan pelaksanan CMHN, kegiatan Pelatihan Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa Masyarakat (Basic Course of Community Mental Health Nursing (BC-CMHN) berupa pemberian pengetahuan dan keterampilan bagi perawat Puskesmas, sehingga memiliki kompetensi melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien gangguan jiwa, selanjutnya implementasinya di masyarakat dan kegiatan supervisi.

WHO memandang pelaksanaan Program CMHN tersebut sangat positif karena dapat memenuhi sasaran dalam upaya penanganan masalah pasien gangguan jiwa di masyarakat.

Berdasarkan dari uraian diatas, maka penulis mencantumkan judul sebagai mana yaitu Community Mental Health Nursing (CMHN)yg berarti keperawatan kesehatan jiwa komunitas. B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan informasi tentang ilmu keperawatan khususnya pada bidang keperawatan kesehatan jiwa komunitas. 2. Tujuan Khusus a. Memperoleh informasi tentang keberadaan CMHN pada ilmu keperawatan saat ini. b. Mengetahui konseptual model keperawatan kesehatan jiwa

masayarakat yang ada. c. Memperoleh pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada

kesehatan jiwa komunitas

II PEMBAHASAN A. KONSEP DASAR COMMUNITY MENTAL HEART NURSING 1. Pengertian. a. Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain b. Keperawatan Jiwa adalah pelayan keperawatan profesional didasarkan pada ilmu perilaku, Ilmu keperawatan jiwa pada manusia sepanjang siklus kehidupan dengan respon psiko-sosial yang maladaptif yang disebabkan oleh gangguan bio-psiko-sosial, dengan menggunakan diri sendiri dan terapi keperawatan jiwa (komunikasi terapetik dan dan terapi modalitas keperawatan kesehatan jiwa) melalui pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan, mencegah, mempertahankan dan memulihkan masalah kesehatan jiwa. klien, (individu, keluarga, kelompok komunitas). c. Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku individu yang

menyokong kesatuan fungsi. d. Menurut ANA,keperawatan jiwa merupakan suatu bidang spesialisasi praktek keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai

ilmunya dan diri individu sendiri secara terapeutik sebagai seninya untuk meningkatkan ,memulihkan kesehatan jiwa klien dan

meningkatkan kesehatan mental masyarakat di mana klien berada. e. Kesehatan jiwa adalah suatu kondiri yang memungkinkan

perkembangan optimal bagi individu secara fisik,intelektual dan emosional sepanjang hal itu tidak bertentangn dengan kepentingan orang lain (WHO) f. Sehat jiwa menurut Dirjen Keswa Depkes RI (1991) adalah kondisi yang memungkinkan berkembangnya fisik,intelektual dan emosional seseorang secara oftimal sehingga ia mampu tumbuh dan beradaptasi dengan lingkungannya secara wajar dengan harkat martabat manusia g. Kesehatan jiwa deselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara oftimal baik intelektual maupun emosional (pasal 24,UU tentang kesehatan,1992).Upaya peningkatan kesehatan jiwa dilakukan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara oftimal,baik intelektual maupun emosional melalui pendekatan peningkatan

kesehatan,pencegahan dan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan,agar seseorang dapat tetap atau kembali hidup secara harmonis,baik dalam lingkungan keluarga,lingkungan kerja dan atau dalam lingkungan masyarakat. 2. Prinsip-Prinsip Keperawatan Kesehatan Jiwa a. Therapeutic Nurse patient relationship (hubungan yang terapeutik antara perawat dengan klien).

b. Conceptual models of psychiatric nursing (konsep model keperawatan jiwa). c. Stress adaptation model of psychiatric nursing (model stress dan adaptasi dalam keperawatan jiwa). d. Biological context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan biologis dalam keperawatan jiwa). e. Psychological context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan psikologis dalam keperawatan jiwa). f. Sociocultural context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan sosial budaya dalam keperawatan jiwa). g. Environmental context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan lingkungan dalam keperawatan jiwa). h. Legal ethical context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan legal etika dalam keperawatan jiwa). i. Implementing the nursing process : standards of care (penatalaksanaan proses keperawatan: dengan standar- standar perawatan). j. Actualizing the Psychiatric Nursing Role : Professional Performance Standards (aktualisasi peran keperawatan jiwa: melalui penampilan standar-standar professional).

B. KONSEPTUAL MODEL KEPERAWATAN JIWA KOMUNITAS

Model

View of behavioral deviation

Therapeutic process

Roles of a patient & therapist

Psychoanalytical (freud, Erickson)

Ego tidak mampu mengontrol ansietas, konflik tidak selesai

Asosiasi bebas analisa mimpi Transferen untuk memperbaiki traumatic masa lalu

Klien: & mengungkapkan semua pikiran & mimpi Terapist : menginterpretasi pikiran dan

mimpi pasien

Interpersonal peplau)

(Sullivan, Ansietas timbul

Build feeling Patient: & security anxieties

share

dialami secara Trusting interpersonal, relationship

Therapist : use empathy relationship &

basic fear is & fear rejection of interpersonal satisfaction

Social (caplan,szasz)

Social

& Environment

Pasien:

environmental manipulation menyampaikan factors create & stress, which support cause anxiety &symptom social masalah menggunakan sumber ada masyarakat Terapist: menggali system klien Existensial (Ellis, Rogers) Individu gagal menemukan Experience in relationship, Klien: berperan serta dalam social yang di

pengalaman berarti

dan menerima conducted in yang diri sendiri group Encouraged untuk

mempelajari diri

to accept self Terapist: & control memperluas kesadaran klien diri

behavior

Supportive

Faktor

Menguatkan

Klien: dalam

terlibat

Therapy(Wermon,Rockland) biopsikososial respon & respon koping adaptif

identifikasi coping Terapist: hubungan yang hangta empatik dan

maladaptive saat ini

Medical (Meyer,Kreaplin)

Combination from physiological, genetic,

Pemeriksaan diagnostic, terapi somatic,

Klien: menjalani prosedur diagnostic terapi &

jangka

environmental farmakologik panjang Terapist & social & teknik : Therapy,

interpersonal

Repport effects,Diagnose illness, Therapeutic Approach

Table 1. konseptual model keperawatan jiwa komunitas

10

1. Psycoanalytical (Freud, Erickson). Model ini menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapt terjadi pada seseorang apabila ego(akal) tidak berfungsi dalam mengontrol id (kehendak nafsu atau insting).

Ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan akalnya (ego) untuk mematuhi tata tertib, peraturan, norma, agama(super ego/das uber ich), akan mendorong terjadinya penyimpangan perilaku (deviation of Behavioral). Faktor penyebab lain gangguan jiwa dalam teori ini adalah adanya konflik intrapsikis terutama pada masa anak-anak. Misalnya ketidakpuasan pada masa oral dimana anak tidak mendapatkan air susu secara sempurna, tidak adanya stimulus untuk belajar berkata- kata, dilarang dengan kekerasan untuk memasukkan benda pada mulutnya pada fase oral dan sebagainya. Hal ini akan menyebabkan traumatic yang membekas pada masa dewasa. Proses terapi pada model ini adalah menggunakan metode asosiasi bebas dan analisa mimpi, transferen untuk memperbaiki traumatic masa lalu. Misalnya klien dibuat dalam keadaan ngantuk yang sangat. Dalam keadaan tidak berdaya pengalaman alam bawah sadarnya digali dengamn pertanyaan-pertanyaan untuk menggali traumatic masa lalu. Hal ini lebih dikenal dengan metode hypnotic yang memerlukan keahlian dan latihan yang khusus. Dengan cara demikian, klien akan mengungkapkan semua pikiran dan mimpinya, sedangkan therapist berupaya untuk menginterpretasi pikiran dan mimpi pasien. Peran perawat adalah berupaya melakukan assessment atau pengkajian mengenai keadaan-keadaan traumatic atau stressor yang dianggap bermakna pada

11

masa lalu misalnya ( pernah disiksa orang tua, pernah disodomi, diperlakukan secar kasar, diterlantarkan, diasuh dengan kekerasan, diperkosa pada masa anak), dengan menggunakan pendekatan komunikasi terapeutik setelah terjalin trust (saling percaya). 2. Interpersonal ( Sullivan, peplau). Menurut konsep model ini, kelainan jiwa seseorang bias muncul akibat adanya ancaman. Ancaman tersebut menimbulkan kecemasan (Anxiety). Ansietas timbul dan alami seseorang akibat adanya konflik saat berhubungan dengan orang lain (interpersonal). Menurut konsep ini perasaan takut seseorang didasari adnya ketakutan ditolak atau tidak diterima oleh orang sekitarnya. Proses terapi menurut konsep ini adalh Build Feeling Security (berupaya membangun rasa aman pada klien), Trusting Relationship and interpersonal Satisfaction (menjalin hubungan yang saling percaya) dan membina kepuasan dalam bergaul dengan orang lain sehingga klien merasa berharga dan dihormati. Peran perawat dalam terapi adalah share anxieties (berupaya melakukan sharing mengenai apa-apa yang dirasakan klien, apa yang biasa dicemaskan oleh klien saat berhubungan dengan orang lain), therapist use empathy and relationship ( perawat berupaya bersikap empati dan turut merasakan apaapa yang dirasakan oleh klien). Perawat memberiakan respon verbal yang mendorong rasa aman klien dalam berhubungan dengan orang lain. 3. Social ( Caplan, Szasz). Menurut konsep ini seseorang akan mengalami gangguan jiwa atau penyimpangan perilaku apabila banyaknya factor social dan factor lingkungan yang akan memicu munculnya stress pada

12

seseorang ( social and environmental factors create stress, which cause anxiety and symptom). Prinsip proses terapi yang sangat penting dalam konsep model ini adalah environment manipulation and social support ( pentingnya modifikasi lingkungan dan adanya dukungan sosial) Peran perawat dalam memberikan terapi menurut model ini adalah pasien harus menyampaikan masalah menggunakan sumber yang ada di masyarakat melibatkan teman sejawat, atasan, keluarga atau suami-istri. Sedangkan therapist berupaya : menggali system sosial klien seperti suasana dirumah, di kantor, di sekolah, di masyarakat atau tempat kerja. 4. Existensial ( Ellis, Rogers). Menurut teori model ekistensial gangguan perilaku atau gangguan jiwa terjadi bila individu gagal menemukan jati dirinya dan tujuan hidupnya. Individu tidak memiliki kebanggan akan dirinya. Membenci diri sendiri dan mengalami gangguan dalam Bodiimage-nya. Prinsip dalam proses terapinya adalah : mengupayakan individu agar berpengalaman bergaul dengan orang lain, memahami riwayat hidup orang lain yang dianggap sukses atau dapat dianggap sebagai panutan(experience in relationship), memperluas kesadaran diri dengan cara introspeksi (self assessment), bergaul dengan kelompok sosial dan kemanusiaan (conducted in group), mendorong untuk menerima jatidirinya sendiri dan menerima kritik atau feedback tentang perilakunya dari orang lain (encouraged to accept self and control behavior).. Prinsip keperawatannya adalah : klien dianjurkan untuk berperan serta dalam memperoleh pengalaman yang berarti untuk memperlajari dirinya dan

13

mendapatkan feed back dari orang lain, misalnya melalui terapi aktivitas kelompok. Terapist berupaya untuk memperluas kesadaran diri klien melalui feed back, kritik, saran atau reward & punishment. 5. Supportive Therapy ( Wermon, Rockland). Penyebab gangguan jiwa dalam konsep ini adalah: factor biopsikososial dan respo maladaptive saat ini. Aspek biologisnya menjadi masalah seperti: sering sakit maag, migraine, batuk-batuk. Aspek psikologisnya mengalami banyak keluhan seperti : mudah cemas, kurang percaya diri, perasaan bersalah, ragu-ragu, pemarah. Aspek sosialnya memiliki masalah seperti : susah bergaul, menarik diri,tidak disukai, bermusuhan, tidak mampu mendapatkan pekerjaan, dan sebagainya. Semua hal tersebut terakumulasi menjadi penyebab gangguan jiwa. Fenomena tersebut muncul akibat

ketidakmamupan dalam beradaptasi pada masalah-masalah yang muncul saat ini dan tidak ada kaitannya dengan masa lalu. Prinsip proses terapinya adalah menguatkan respon copinh adaptif, individu diupayakan mengenal telebih dahulu kekuatan-kekuatan apa yang ada pada dirinya; kekuatan mana yang dapat dipakai alternative pemecahan masalahnya. Perawat harus membantu individu dalam melakukan identifikasi coping yang dimiliki dan yang biasa digunakan klien. Terapist berupaya menjalin hubungan yang hangat dan empatik dengan klien untuk menyiapkan coping klien yang adaptif. 6. Medica ( Meyer, Kraeplin). Menurut konsep ini gangguan jiwa cenderung muncul akibat multifactor yang kompleks meliputi: aspek fisik, genetic,

14

lingkungan dan factor sosial. Sehingga focus penatalaksanaannya harus lengkap melalui pemeriksaan diagnostic, terapi somatic, farmakologik dan teknik interpersonal. Perawat berperan dalam berkolaborasi dengan tim medis dalam melakukan prosedur diagnostic dan terapi jangka panjang, therapist berperan dalam pemberian terapi, laporan mengenai dampak terapi, menentukan diagnose, dan menentukan jenis pendekatan terapi yang digunakan.

C. PERAN DAN FUNGSI PERAWAT KESEHATAN JIWA KOMUNITAS Keperawatan kesehatan jiwa merupakan proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang

mendukung pada fungsi yang terintegrasi sehingga sanggup mengembangkan diri secara wajar dan dapat melakukan fungsinya dengan baik, sanggup menjelaskan tugasnya sehari-hari sebagaimana mestinya, Dalam

mengembangkan upaya pelayanan keperawatan jiwa, perawat sangat penting untuk mengetahui dan meyakini akan peran dan fungsinya, serta memahami beberapa konsep dasar yangf berhubungan denga asuhan keperawatan jiwa. Center for Mental Health Services secara resmi mengakui keperawatan kesehatan jiwa sebagai salah satu dari lima inti disiplin kesehatan jiwa. Perawat jiwa menggunakan pengetahuan dari ilmu psikososial, biofisik,, teori kepribadian, dan perilaku manusia untuk mendapatkan suatu kerangka berpikir teoritis yang mendasari praktik keperawatan.

15

1. 2. 3. 4.

Pengkajian yg mempertimbangkan budaya Merancang dan mengimplementasikan rencana tindakan Berperan serta dlm pengelolaan kasus Meningkatkan dan memelihara kesehatan mental, mengatasi pengaruh penyakit mental - penyuluhan dan konseling

5.

Mengelola

dan

mengkoordinasikan

sistem

pelayanan

yang

mengintegrasikan kebutuhan pasien, keluarga staf dan pembuat kebijakan


6.

Memberikan pedoman pelayana kesehatan

D. KOMPETENSI

PERAWAT

KESEHATAN

JIWA

KOMUNITAS

COMPETENT OFCARING )

1. Pengkajian biopsikososial yang peka terhadap budaya. 2. Merancang dan implementasi rencana tindakan untuk klien dan keluarga. 3. Peran serta dalam pengelolaan kasus: mengorganisasikan, mengkaji, negosiasi, koordinasi pelayanan bagi individu dan keluarga. 4. Memberikan pedoman pelayanan bagi individu, keluarga, kelompok, untuk menggunakan sumber yang tersedia di komunitas kesehatan mental, termasuk pelayanan terkait, teknologi dan sistem sosial yang paling tepat. 5. Meningkatkan dan memelihara kesehatanmental serta mengatasi pengaruh penyakit mental melalui penyuluhan dan konseling. 6. Memberikan askep pada penyakit fisik yang mengalami masalah psikologis dan penyakit jiwa dengan masalah fisik.

16

7. Mengelola dan mengkoordinasi sistem pelayanan yang mengintegrasikan kebutuhan klien, keluarga, staf, dan pembuat kebijakan.

E. PERKEMBANGAN KEPERAWATAN JIWA KOMUNITAS

Menangani klien yang memiliki masalah sikap, perasaan dan konflik

Pencegahan primer

Penanganan multidisiplin

Spesialisasi keperawatan jiwa

1. DULU : Pasien Gangguan Jiwa dianggap sampah, memalukan dipasung 2. SEKARANG : a. Meningkatkan Iptek b. Pengetahuan masyarakat tentang gangguan jiwa meningkat c. Perlu pemahaman tentang human right d. Penting meningkatkan mutu pelayanan dan perlindungan

konsumen.

17

F. PROSES KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA MASYARAKAT 1. Tingkat Praktik Keperawatan Klinis Kesehatan Jiwa a. Psychiatric-mental health registered nurse (RN) adalah perawat terdaftar berlisensi yang menunjukkan keterampilan klinis dalam keperawatan kesehatan jiwa melebihi keterampilan perawat baru di lapangan. Sertifikasi adalah proses formal untuk mengakui bidang keahlian klinis perawat. b. Advanced practice registered nurse ini psychiatric-mental health (APRN-PMH) master, memiliki pengetahuan mendalam tentang teori keperawatan jiwa, membimbing praktik klinis, dan memiliki kompetensi

keterampilan keperawatan jiwa lanjutan. Perawat kesehatan jiwa pada praktik lanjutan dipersiapkan untuk memiliki gelar master dan doktor dalam bidang keperawatan atau bidang lain yang berhubungan. c. Rentang Asuhan Tatanan Tradisional Untuk perawat jiwa meliputi fasilitas psikiatri, pusat kesehatan jiwa masyarakat, unit psikitari di rumah sakit umum, fasilitas residential, dan praktik pribadi. Namun, dengan adanya reformasi perawatan kesehatan, timbul suatu tatanan alternatif sepanjang rentang asuhan bagi perawat jiwa, Banyak rumah sakit secara spesifik berubah bentuk menjadi sistem klinis terintegrasi yang memberikan asuhan rawat inap, hospitalisasi parsial atau terapi harian, perawatan residetial, perawatan di rumah, dan asuhan rawat jalan, Tatanan terapi di

18

komunitas saat ini berkembang menjadi foster care atau group home, hospice, lembaga kesehatan rumah, asosiasi perawat kunjungan, unit kedaruratan, shelter, nursing home, klinik perawatan utama, sekolah, penjara, industri, fasilitas managed care, dan organisasi pemeliharaan kesehatan. 2. Praktik Keperawatan Jiwa Kontemporer Fungsi penyuluhan, koordinasi, delegasi, dan kolaborasi pada peran perawat ditunjukkan dalam domain praktik yang tumpang tindih ini.Berbagai aktivitas perawat jiwa dalam tiap-tiap domain dijelaskan lebih lanjut. Aktivitas tersebut tetap mencerminkan sifat dan lingkup terbaru dari asuhan yang kompeten oleh perawat jiwa walaupun tidak semua perawat berperan serta pada semua aktivitas. a. Aktivitas asuhan langsung b. Aktivitas komunikasi c. Aktivitas penatalaksanaan 3. Manfaat Proses Keperawatan a. Bagi Perawat

1) Peningkatan otonomi, percaya diri dalam memberikan asuhan keperawatan. 2) Tersedia pola pikir/ kerja yang logis, ilmiah, sistematis, dan terorganisasi. 3) Pendokumentasian dalam proses keperawatan memperlihatkan bahwa perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat.

19

4) Peningkatan kepuasan kerja. 5) Sarana/wahana desimasi IPTEK keperawatan. 6) Pengembangan karier, melalui pola pikir penelitian.

a. Bagi Klien 1) Asuhan yang diterima bermutu dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 2) Partisipasi meningkat dalam menuju perawatan mandiri (independen care). 3) Terhindar dari malpraktik. G. PERAWATAN KLIEN GANGGUAN JIWA. 1. Perawatan di Rumah Sakit Jiwa. Rencana keperawatan klien di rumah sakit jiwa meliputi: a. Rencana tindakan keperawatan yang dilakukan selama klien dirawat: Pada awal klien di rawat,perawat hendaknya melakukan kontrak hubungan dengan klien dan keluarga.Keluarga mengetahui peran dan tanggung jawabnya dalam proses keperawatan yang direncanakan melalui kontrak yang telah disepakati.Hubungan saling percaya antara perawat dan klien merupakan dasar utama untuk membantu klien mengungkapkan kebutuhan dan dan mengenal perasaannya,mengidentifikasi alternative pemecahan

masalahnya,mencari

masalah,melaksanakan alternative yang dipilih serta mengevaluasi hasilnya.Tindakan keperawatan terhadap keluarga antara lain: 1) Menyertakan keluarga dalam rencana perawatan klien

20

2) Menjelaskan pola perilaku klien dan cara penanganannya 3) Membantu keluarga berperilaku terapeutik,yang dapat

menolong memecahkan masalah klien. 4) Mengadakan pertemuan antar keluarga klien:diskusi,membagi pengalaman,mengatasi masalah klien. 5) Melakukan terapi - keluarga. 6) Menganjurkan kunjungan keluarga yang teratur.

b.

Persiapan Pulang: Perawatan di rumah sakit akan bermakna jika dilajutkan dengan perawatan di rumah.Untuk itu,selama di rumah sakit perlu dilakukan persiapan pulang.Persiapan pulang dilakukan segera mungkin setelah dirawat serta diintegrasikan di dalam proses keperawatan.Persiapan atau rencana pulang bertujuan untuk:

1) Menyiapkan klien dan keluarga secara fisik,psikologis dan sosial 2) Meningkatkan kemandirian klien dan keluarga. 3) Melaksanakan rentang perawatan antara rumah sakit dan masyarakat 4) Melaksanakan proses pulang yang bertahap.

21

c. Beberapa tindakan keperawatan yang dapat dilakukan dalampersiapan pulang adalah:

1) Pendidikan

(edukasi,reedukasi,reorientasi).Youssef

menemukan penurunan angka kambuh pada klien dan keluarga yang mengikuti program pendidikan.Pendidikan kesehatan ini ditujukan pula untuk mencegah atau menguraikan dampak gangguan jiwa bagi klien. Program pendidikan yang dapat dilakukan adalah: a) Ketrampilan khusus: ADL,perilaku adaptif,aturan makan obat,penataan rumah tangga,identifikasi gejala kambuh,pemecahan masalah. b) Keterampilan umum: komunikasi efektif,ekspresi emosi yang

konstruktif,relaksasi,pengelolaan stress (stress management). 2) Program pulang bertahap.Setelah klien mempunyai

kemampuan dan ktrampilan mandiri maka klien dapat mengikuti program pulang bertahap.Tujuannya adalah melatih klien kembali ke lingkungan keluarga dan

masyarakat.Klien,keluarga,bahkan kalau perlu masyarakat dipersiapkan, antara laian apa yang harus dilakukan klien di rumah, apa yang harus dilakukan keluarga untuk membantu adaptasi.Kegiatan yang dilakukan klien dan keluarga di rumah dapat dibuat daftar dan dievaluasi keberhasilannya sebagai data untuk rencana berikut.

22

3) Rujukan. Integrasi kesehatan jiwa di Puskesmas sebaiknya mempunyai hubungan langsung dengan rumah sakit.Perawat komuniti (Puskesmas) sebaiknya mengetahui perkembangan klien di rumah sakit dan berperan serta dalam membuat rencana pulang. d. Rencana Perawatan di rumah.

Setelah klien pulang ke rumah, sebaiknya klien melakukan perawatan lanjutan pada Puskesmas di wilayahnya yang mempunyai program integrasi kesehatan jiwa.Perawat komuniti yang menangani klien dapat menganggap rumah klien sebagai ruang

perawatan.Perawat,klien dan keluarga bekerja sama untuk membantu proses adaptasi klien di dalam keluarga dan masyarakat.Perawat dapat membuat kontrak dengan keluarga tentang jadwal kunjungan rumah dan aftercare di Puskesmas.

Perawat

membantu

klien

dan

keluarga

menyesuaikan

diri

dilingkungan keluarga,dalam hal sosialisasi,perawatan mandiri dan kemampuan memecahkan masalah.

2. Penatalaksanaan Gangguan Jiwa Di Puskesmas

Perawat komuniti (Puskesmas) sebaiknya mengetahui perkembangan klien di rumah sakit dan berperan serta dalam membuat rencana pulang, dan sebaliknya pada klien gangguan jiwa yang akan dirujuk ke RSJ.

23

H. FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI MASYARAKAT Keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan klien,dan merupakan perawat utama bagi klien. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau asuhan yang diperlukan klien di rumah.Keberhasilan perawat di rumah sakit dapat sia-sia jika tidak diteruskan di rumah yang kemudian mengakibatkan klien harus dirawat kembali (kambuh). Peran serta keluarga sejak awal asuhan keperaatan di rumah sakit akan meningkatkan kemampuan keluarga merawat klien di rumah sehingga kemungkinan kambuh dapat dicegah.

Pentingnya peran serta keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa dapat dipandang dari berbagai segi:

1. Pertama, keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya.Keluarga merupakan institusi pendidikan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai,keyakinan,sikap dan perilaku.Individu menguji coba perilakunya di dalam keluarga, dan umpan balik keluarga mempengaruhi individu dalam mengadopsi perilaku tertentu.Semua ini merupakan persiapan individu untuk berperan dimasyarakat.

2. Jika keluarga dipandang sebagai suatu system, maka gangguan yang terjadi pada salah stu anggota dapat mempengaruhi seluruh system.Sebaliknya disfungsi keluarga dapat pula merupakan salah satu penyebab terjadinya gangguan pada anggota.

24

3. Berbagai pelayanan kesehatan jiwa bukan tempat klien seumur hidup tetapi hanya fasilitas yang membantu klien dan keluarga mengembangkan kemampuan dalam mencegah terjadinya masalah, menanggulangi berbagai masalah dan mempertahankan keadaan adaftif.

4. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor penyebab kambuh gangguan jiwa adalah keluarga yang tidak tahu cara menangani perilaku klien di rumah ( Keliet,1996).

Dari keempat pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga berperan penting dalam peristiwa terjadinya gangguan jiwa dan proses penyesuaian kembali setiap klien. Oleh karena itu,peran serta keluarga dalam proses pemulihan dan pencegahan kambuh kembali klien gangguan jiwa sangat diperlukan.

Penanggung jawab utama pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat adalah unit Integrasi kesehatan jiwa di Puskesmas.Fasilitas ini perlu dibantu oleh unit pelayanan yang lain dapat berupa pemerintah,swasta,atau sukarela,seperti: latihan kerja,half way house ,group home,klinik krisis,hot line servce, persatuan orang tua dan teman klien.

5. Balai latihan kerja (BLK). Program latihan kerja yang telah dilakukan klien di rumah sakit prlu dilanjutkan setelah klien pulang ke rumah. Dalam rencana pulang, identifikasi fasilitas BLK yang ada di daerah tempat tinggal klien telah dilakukan sehingga rujukan dapat

25

dilaksankan.Penyaluran tenaga kerja klien dapat dilakukan melalui kerja sama dengan departemen tenaga kerja.

6. Half Way House: Fasilitas perumahan yang dapat digunakan klien sebagai tempat tinggal peralihan dari rumah sakit ke keluarga perlu pula dikembangkan.Petugas di perumahan ini hanya sebagai motivator dan fasilitator.

7. Klinik krisis: Pelayanan 24 jam diperlukan untuk segera memberikan pelayanan pada keadaan kritis,sehingga setiap saat keuarga memerlukan dapat segera dilayani tanpa perlu langsung dirawat di rumah sakit jiwa.Petugas di klinik krisis dapat menentukan apakah klien perlu dirawat di rumah sakit atau cukup mendapat perawatan rumah yang intensif.

8. Hot line service : Pelayanan gratis melalui telepon.Pelayanan ini diperlukan pada keadaan darurat,misalnya klien yang ingin bunuh diri,klien amuk.Klien,keluarga dan masyarakat dapat mengungkapkan masalah,mendapat informasi yang diperlukan tanpa memberitahu identitas.

9. Sistem Pendukung: Persatuan keluarga klien dan klien, dan teman klien,atau kelompok masyarakat tertentu yang berminat dalam kesehatan jiwa merupakan system pendukung klien. Kelompok dapat membuat pertemuan yang teratur,mendiskusikan masalah yang dihadapi klien serta mencari pemecahan yang terbaik.Tukar pengalaman dalam merawat klien merupakan proses belajar yang baik yang dapat diselenggarakan

26

kelompok. Selain itu kelompok dapat mengadakan pertemuan ilmiah baik untuk keluarga klien maupun masyarakat luas. Semua pelayanan dan asuhan dilaksanakan secara terpadu dengan berbagai disiplin lain dalam tim kesehatan jiwa; dokter,psikiater,perawat,pekerja sosial,terapis

okupasi,psikolog,keluarga dan masyarakat.