Anda di halaman 1dari 11

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

1.Intoksikasi Kerosin ( Minyak Tanah )

1.2 Karakteristik Minyak Tanah : Minyak tanah (kerosene) merupakan cairan bahan bakar yang jernih, tidak berwarna, tidak larut dalam air, berbau, dan mudah terbakar. Termasuk dalam golongan petrolium terdistilasi hidrokarbon. Memiliki berat jenis 0,79. Titik didih 163oC 204oC, titik beku 54oC.

1.3Toksikologi Berat ringannya gejala yang ditimbulkan oleh keracunan minyak tanah, bergantung pada apakah minyak tanah selain tertelan, juga sebagian teraspirasi ke dalam paru atau tidak. Aspirasi ini dapat timbul tidak hanya pada saat tertelan, tetapi juga bila kemudian minyak tanah yang sudah ditelan itu dimuntahkan kembali. Bila minyak tanah ini diaspirasi ke dalam paru, dapat timbul keracunan akut, perdarahan dan bronkopneumonia yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini dapat berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam. Menurut Cohen (1953) perubahan dalam paru akibat keracunan minyak tanah dapat diikuti secara radiologis. Brunner (1964) mengatakan bahwa kelainan paru yang kadang-kadang sangat luas dapat terjadi tanpa didapatkannya gejala klinis lain. Kematian yang dapat timbul ialah sebagai akibat asfiksia karena edema dan konsolidasi paru. Sebagai akibat sistemik keracunan minyak tanah ini, terjadi depresi susunan saraf pusat.

Molekul minyak tanah

Minyak tanah yang diinhalasi menyebabkan efek sistemik yang lebih kuat daripada minyak tanah yang diminum. Hal ini disebabkan penyerapan minvak tanah dari usus lambat dan tidak lengkap. Kadang-

kadang minyak tanah yang terminum dapat menyebabkan kelainan pada paru.Hal ini disebabkan oleh minyak tanah yang sampai ke paru melalui aliran darah. Kadang-kadang dengan dosis minum yang lebih besar, kelainan paru tidak terjadi. Menurut Gerarde (1963) hal ini disebabkan karena sebagian besar minyak tanah diekskresi melalui paru.

Di samping kelainan iritasi lokal dan depresi susunan saraf pusat, keracunan minyak tanah dapat pula menyebabkan kerusakan pada alat tubuh lain berupa kelainan degeneratif dan perdarahan kecil-kecil di hati, ginjal, limpa dan sumsum tulang yang bersifat reversibel.

1.4 Insiden Intoksikasi Minyak Tanah : y y y y Terutama pada anak-anak < 6 tahun. Khususnya pada negara-negara berkembang. Daerah perkotaan > daerah pedesaan Pria > wanita Umumnya terjadi karena kelalaian orang tua

1.5 Patofisiologi : Efek toksis terpenting dari minyak tanah adalah pneumonitis aspirasi. Studi pada binatang menunjukkan toksisitas pada paru > 140 x dibanding pada saluran pencernaan. Aspirasi umumnya terjadi akibat penderita batuk atau muntah. Akibat viskositas yang rendah dan tekanan permukaan, aspirat dapat segera menyebar secara luas pada paru. Penyebaran melalui penetrasi pada membran

mukosa, merusak epithel jalan napas, septa alveoli, dan menurunkan jumlah surfactan sehingga memicu terjadinya perdarahan, edema paru, ataupun kolaps pada paru. Jumlah < 1 ml dari aspirasi pada paru dapat menyebabkan kerusakan yang bermakna. Kematian dapat terjadi karena aspirasi sebanyak + 2,5 ml pada paru (pada lambung + 350 ml). Selain itu, jumlah 1 ml/kg BB minyak tanah dapat menyebabkan depresi CNS ringan sedang, karditis, kerusakan hepar, kelenjar adrenal, ginjal, dan abnormalitas eritrosit. Namun efek sistemik tersebut jarang karena tidak diabsorbsi dalam jumlah banyak pada saluran pencernaan. Minyak tanah juga diekskresikan lewat urine.

1.6 Efek Toksik Minyak Tanah Efek pada paparan akut minyak tanah : Kontak kulit : kering, dapat iritasi, menyebabkan rash Absorbsi kulit : jarang Kontak mata : iritasi, dapat menyebabkan kerusakan permanen Inhalasi : iritasi, sakit kepala, pusing, mengantuk, intoksikasi Ingesti : sakit kepala, pusing, mengantuk, intoksikasi

Efek pada paparan kronis minyak tanah : Secara umum : kulit pecah-pecah, dermatitis, kerusakan hepar/kelenjar adrenal/ginjal, dan abnormalitas eritrosit Karsinogenik : terlihat pada studi eksperimental pada tikus. Pada manusia tidak ada data yang tercatat Sistem reproduksi : tidak ada data yang tercatat

1.7 Tanda / Gejala Klinis : Gejala dan tanda klinis utamanya berhubungan dengan saluran napas, pencernaan, dan CNS. Awalnya penderita akan segera batuk, tersedak, dan mungkin muntah, meskipun jumlah yang tertelan hanya sedikit. Sianosis, distress pernapasan, panas badan, dan batuk persisten dapat terjadi kemudian. Pada anak yang lebih besar mungkin mengeluh rasa panas pada lambung dan muntah secara spontan. Gejala CNS termasuk lethargi, koma, dan konvulsi. Pada kasus yang gawat, pembesaran jantung, atrial fibrilasi, dan fatal ventrikular fibrilasi dapat terjadi. Kerusakan ginjal dan sumsum tulang juga pernah dilaporkan. Gejala lain seperti bronchopneumonia, efusi pleura, pneumatocele, pneumomediastinum, pneumothorax, dan subcutaneus emphysema. Tanda lain seperti rash pada kulit dan dermatitis bila terjadi paparan pada kulit. Sedangkan pada mata akan terjadi tanda-tanda iritasi pada mata hingga kerusakan permanen mata.

1.8 Pemeriksaan Penunjang : y y Laboratorium : darah rutin, urine rutin, RFT, LFT, dan BGA Radiologis : foto thorax. Terbaik 1,5 2 jam setelah paparan. Penderita dengan pneumonia umumnya akan tampak di foto pada 6 18 jam, namun pernah juga dilaporkan baru tampak setelah 24 jam.

1.9 Penatalaksanaan : y y y y y y Monitor sistem respirasi Inhalasi oksigen Nebulisasi dengan Salbutamol : bila mulai timbul gangguan napas Antibiotika : bila telah timbul infeksi, tidak dianjurkan sebagai profilaksis Hidrokortison : dulu direkomendasikan, sekarang jarang dilakukan Kumbah lambung dan charcoal aktif (arang): beberapa literatur menolak penatalaksanaan dengan kumbah lambung, dengan alasan dapat menyebabkan aspirasi dan kerusakan paru. Sedangkan literatur lain memperbolehkannya, utamanya bila jumlah yang ditelan cukup banyak, karena dikhawatirkan terjadi penguapan dari lambung ke paru. y y y y Antasida : untuk mencegah iritasi mukosa lambung Pemberian susu atau bahan dilusi lain Anus dan perineum harus dibersihkan secepatnya untuk mencegah iritasi (skin burn) sekunder Bila terjadi gagal napas, dapat dilakukan ventilasi mekanik (Positive End Expiratory Pressure PEEP )

BAB II ILUSTRASI KASUS

Identitas Pasien Nama Umur : M. Ridwan : 9 bulan

Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat : Sei. Angek Baso

Alloanamnesis (diberikan oleh ibu kandung) Seorang anak laki-laki berumur 9 bulan dirawat di Bangsal Anak RSUD. Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi sejak tanggal 13 Desember 2011 dengan :

Keluhan Utama : Anak terminum minyak tanah 2 jam sebelum masuk RS.

Riwayat Penyakit Sekarang :

y y

Batuk sejak 2 jam sebelum masuk RS. terminum minyak tanah 2 jam sebelum masuk RS, setelah itu diberi susu oleh ibunya dan muntah sekali, muntah berisi apa yang dimakan dan diminum.

y y y y

Sesak nafas sejak 2 jam sebelum masuk RS, kebiruan tidak ada. Demam sejak 2 jam sebelum masuk RS, kejang tidak ada. Buang air besar dan kecil biasa. Pasien dibawa ke puskesmas dan dilakukan bilas lambung.

Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien tidak pernah menderita berak berak encer sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga: Ayah pasien menderita berak berak encer 3 hari yang lalu, ayah tidak berobat dan diare berhenti sendiri.

Riwayat kehamilan : Selama hamil, ibu tidak pernah menderita penyakit berat, tidak mengkonsumsi obat-obatan atau jamu, tidak pernah mendapat penyinaran selama hamil, kontrol kehamilan teratur ke bidan, mendapat imunisasi TT 2x, dan hamil cukup bulan.

Riwayat Kelahiran : Lahir spontan ditolong oleh bidan di rumah bersalin, saat lahir langsung menangis kuat, berat badan lahir 2000 gram, panjang badan lupa, tidak ada riwayat kuning atau biru saat lahir.

Riwayat Makanan dan Minuman : ASI Susu formula Buah biskuit Bubur susu Nasi tim : 0 6 bulan : 6 bulan sekarang : 4 bulan - sekarang : 6 bulan sekarang : belum

Makanan utama : susu formula 3- 4 x / hari , buah , biskuit , dan bubur susu 2 x / hari. Daging :-

Ikan Telur Sayur mayur

:::-

Kesan makanan/minuman : kualitas cukup, kuantitas cukup

Riwayat Imunisasi: - BCG - DPT - Polio - Campak - Hepatitis B : umur 2 bulan, scar ada : umur 3 bulan, 4 bulan : umur 2 bulan : umur 9 bulan : belum

Kesan : imunisasi dasar belum lengkap

Riwayat Sosial Ekonomi : Pasien merupakan anak kelima dari lima bersaudara. Ayah dan ibu tamat SMP, pekerjaan ayah tani dan ibu adalah ibu rumah tangga, penghasilan Rp 700.000 setiap bulan

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan : Pertumbuhan fisik Gigi pertama Tertawa Miring Tengkurap Duduk Merangkak : 6 bulan : 3 bulan : 3 bulan : 3 bulan : belum bisa : 7 bulan Perkembangan mental Isap jempol Gigit kuku Ngompol Aktif sekali Apati Membangkang : ada : tidak ada : ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

Berdiri Bicara satu kata

: belum bisa : belum bisa

Ketakutan

: tidak ada

Kesan : Pertumbuhan fisik dan perkembangan mental normal

Riwayat Lingkungan dan Perumahan : Tinggal di rumah tidak permanen, pekarangan sempit, sumber air minum PDAM, buang air besar di WC luar rumah, sampah dibakar. Kesan : higiene dan sanitasi lingkungan kurang.

Pemeriksaan Fisik: Tanda Vital : Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah : tampak sakit sedang : sadar : 110 / 60 mmHg

Frekuensi denyut nadi : 102x / menit Frekuensi Nafas Suhu Berat Badan Panjang badan Status Gizi : 31 x/menit : 37,6 C : 6,5 kg : 72 cm BB/U : 83,3 % TB/U : 104 %

BB/TB : 76 % Kesan : Gizi kurang (grafik terlampir)

Pemeriksaan Sistemik - Kulit - Kepala : teraba hangat, tidak ada ikterik, tidak ada sianosis : bentuk bulat, simetris, rambut hitam tidak mudah rontok, diameter kepala 43 cm (normal standar Nellhaus), ubun-ubun besar datar. - Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor,diameter 2mm, reflek cahaya +/+ (normal). - Mulut - Telinga - Hidung : mukosa mulut dan bibir basah, oral trush tidak ada : tidak ditemukan kelainan : nafas cuping hidung ada

- Tenggorokan : tonsil T1-T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis - Leher - Dada : tidak teraba pembesaran KGB, JVP sukar di nilai :

Paru : Inspeksi : Normochest, simetris kiri dan kanan, retraksi terlihat di epigastrium, intercostal, sub diafragma, supra sternum Palpasi : fremitus kiri = kanan Perkusi : Sonor Auskultasi : Bronkovesikuler, ronkhi basah kasar , wheezing tidak ada Jantung : Inspeksi : iktus tidak terlihat Palpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V Perkusi : batas jantung dalam batas normal Auskultasi : bunyi jantung murni, irama teratur, bising tidak ada - Abdomen : Inspeksi : distensi tidak ada

Palpasi Perkusi

: supel, hepar dan lien tidak teraba. : timpani

Auskultasi : bising usus (+) normal - Punggung - Alat Kelamin - Ekstrimitas : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan, status pubertas A1P1G1 : akral hangat, refilling kapiler baik, reflek fisiologis +/+, reflek patologis -/-

Pemeriksaan Laboratorium : Darah : Haemoglobin Leukosit Ht Hitung jenis LED Urin : Warna Protein Reduksi Bilirubin Urobilin Feses : Makroskopis : : 10,5 gr% : 22.820 / mm3 :31,7 % : 0 / 0 / 31 / 45 / 23 / 1 : 22 mm/ jam : kuning jernih : tidak ada : tidak ada : tidak ada : ada warna kuning konsistensi encer darah : tidak ada

lendir Mikroskopis : leukosit eritrosit amuba telur cacing

: tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

Kesan : Laboratorium dalam batas normal

Diagnosis Kerja : Terapi : IVFD KaEN 1 B 105 cc/kgBB/1jam = 28 tetes mikro/menit O2 2L/ menit Amoxicillin 3 x 175 mg IV Gentamisin x 16 mg IV Ambroxol 3 x cth Aspirasi Pneumonia e.c intoksikasi kerosin

Rencana : - DK - Rontgen Thoraks setelah 6 jam