Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II

DAYA HANTAR LISTRIK

Nama Praktikan
NIM
Kelompok
Fak/Jurusan
Nama asisten

: Handariatul Masruroh
: 121810301003
:2
: MIPA/KIMIA
: Eva M.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2014

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Arus listrik merupakan suatu hal yang tak dapat dipisahkan dalam setiap sudut
kehidupan saat ini. Hampir setiap aktifitas manusia mengandalkan listrik. Kehidupan
seperti berhenti bila tidak ada listrik. Listrik dalam kehidupan sehari-hari digunakan
sebagai salah satu sumber energi untuk dapat menggunakan segala macam teknologi
sehingga arus listrik merupakan suatu hal yang tak dapat dipisahkan dalam setiap sudut
kehidupan saat ini.
Arus listrik dapat didefinisikan sebagai arus elektron yang membawa muatan
negatif dan melewati suatu penghantar. Arus listrik yang dihasilkan oleh sutau penghantar
tergantung pada daya hantar listrik dari penghantar tersebut. Daya hantar listrik
merupakan kemampuan dari suatu penghantar dalam mengalirkan listrik. Hantaran listrik
ini terjadi karena adanya gerakan ion-ion yang terdapat dalam larutan tersebut. Hantaran
listrik yang seperti ini disebut dengan penghantar elektrolitik. Sedangkan hantaran listrik
yang timbul karena adanya elektron yang bergerak dengan adanya potensial disebut
dengan penghantar elektronik. Tidak semua bahan dapat menghantarkan arus listrik.
Terdapat bahan yang dapat menghantarkan arus listrik dan disebut sebagai konduktor,
sedangkan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik disebut dengan isolator. Begitu
juga pada senyawa, tidak semua dapat menghantarkan arus listrik dalam larutannya.
Senyawa yang dapat menghantarkan arus listrik dalam larutannya disebut dengan larutan
elektrolit, sedangkan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik merupakan senyawa non
elektrolit. Hantaran listrik yang seperti ini disebut dengan penghantar elektrolitik.
Sedangkan hantaran listrik yang timbul karena adanya elektron yang bergerak dengan
adanya potensial disebut dengan penghantar elektronik.
Kemampuan suatu senyawa dalam menghantarkan listrik dipengaruhi oleh
beberapa faktor, salah satunya adalah konsentrasi. Senyawa dengan konsentrasi tinggi
akan memiliki daya hantar listrik yang berbeda dengan senyawa dengan konsentrasi yang
rendah. Berdasarkan uraian ini, maka dilakukan percobaan daya hantar listrik dengan
mengukur daya hantar listrik pada berbagai senyawa dan mempelajari pengaruh
konsentrasi terhadap daya hantar listrik agar pemahaman tentang konsep ini semakin
matang.

1.2 Tujuan
-

Mengukur daya hantar listrik berbagai senyawa

Mempelajari pengaruh konsentrasi terhadap daya hantar listrik larutan elektrolit

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Material Safety Data Sheet (MSDS)


2.1.1 Minyak Tanah
Minyak tanah atau kerosene merupakan cairan hidrokarbon tak berwarna yang
mudah terbakar. Cara perolehan minyak tanah adalah dengan distilasi fraksional dari
petroleum pada 150C dan 275C (rantai karbon C12 sampai C15). Minyak tanah biasanya
didistilasi langsung dari minyak mentah membutuhkan perawatan khusus, dalam sebuah
unit Merox atau hidrotreater, untuk mengurangi kadar belerang dan pengaratannya.
Minyak tanah dapat juga diproduksi oleh hidrocracker, yang digunakan untuk
memperbaiki kualitas bagian dari minyak mentah yang akan bagus untuk bahan bakar
minyak (Anonim, 2014).
2.1.2 Asam Asetat Glasial
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik
yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Sifat dari asam asetat
antara lain, massa molar 60.05 g/mol, densitas dan fase 1.049 gcm3 (padatan) dan 1.266
gcm3 (cairan), titik lebur 16.5C (289.6 0.5 K) (61.6F), serta titik didih 118.1C
(391.2 0.6 K) (244.5F), keasaman (pKa) 4.76 pada 25C. Asam asetat ini tidak
berwarna atau kristal (Wikipedia, 2012).
Kontak dengan kulit menyebabkan luka bakar dan dermatis. Tindakan pertolongan
yang harus dilakukan adalah bilas daerah kulit yang terkena kontak asam klorida
menggunakan air bersih mengalir minimal 15 menit dan segera lepaskan pakaian yang
etrkontaminasi. Kontak dengan mata menyebabkan iritasibahkan dapat menyebabkan
kebutaan. Tindakan pertolongan yang harus dilakukan adalah cuci mata dengan air bersih
minimal 15 menit dengan sesekali mata diangkat dan ditutup. Bila terhirup dapat
menyebabkan bronchitis kronis. Tindakan pertolongan yang harus dilakukan adalah
dipindahkan ketempat yang cukup udara, diberikan nafas buatan atau oksigen. Jika tertelan
akan menyebabkan luka bakar pada membrane mukosa di mulut dan esophagus. Tindakan
pertolongan yang harus dilakukan adalah diberikan beberapa gelas air atau susu
(Anonim, 2014).

2.1.3 Akuades
Akuades merupakan molekul dengan rumus H2O yang berwujud cairan, tak berwana,
tak berbau dan memiliki berat molekul 18,02 gram/mol. Air memiliki kemampuan untuk
melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam, gula, asam, beberapa jenis gas, dan
banyak macam molekul organik. Air merupakan jenis senyawa liquid yang tidak berwarna,
tidak berasa, dan tidak berbau pada keadaan standar. Massa jenis air sebesar 1000 kg/cm3
dan viskositasnya 0,001 Pa/s (20 C).Titik didihnya 1000C dan tekanan uapnya 2,3 Kpa.
Akuades tidak menimbulkan korosif, tidak menyebabkan iritasi dan tidak sensitif terhadap
kulit. Akuades tidak menyebabkan bahaya dalam kasus terhirup dan dalam kasus tertelan
(Sciencelab, 2014).
2.1.4 NaCl
Natrium klorida, juga dikenal dengan garam dapur, atau halit, adalah senyawa kimia
dengan rumus kimia NaCl. Senyawa ini adalah garam yang paling mempengaruhi salinitas
laut dan cairan ekstraselular pada banyak organisme multiselular. Sebagai komponen
utama pada garam dapur, natrium klorida sering digunakan sebagai bumbu dan pengawet
makanan. Sodium Chlorida atau Natrium Chlorida (NaCl) yang dikenal sebagai garam
adalah zat yang memiliki tingkat osmotik yang tinggi. Massa molar 58.44 g/mol, tidak
berwarna/berbentuk kristal putih, densitas 2.16 g/cm3 ,titik leleh 801C (1074 K), titik
didih 1465C (1738 K), kelarutan dalam air 35.9 g/100 mL (25C) (Sciencelab, 2014).
Senyawa ini dapat berbahaya dalam kasus kontak kulit (iritan), menelan, dan
inhalasi. Tindakan pertama yang dapat dilakukan jika terjadi kontak mata ialah
memeriksakan dan lepaskan lensa kontak. Segera basuh mata dengan air mengalir selama
minimal 15 menit, menjaga kelopak mata
Mendapatkan perhatian medis.

terbuka. Air dingin dapat digunakan.

Apabila terjadi kontak kulit maka segera siram kulit

dengan banyak air. Tutupi kulit yang teriritasi dengan yang melunakkan. Hilangkan
terkontaminasi pada pakaian dan sepatu (Sciencelab, 2014).

2.1.5 NH4OH
NH4OH merupakan cairan tidak berwarna dan berbau. NH4OH mudah terbakar dan
reaktif. Senyawa ini memiliki pH 13,6, titik didih 36oC, titik lebur -77oC, dan mudah larut
dalam air. Kontak dengan kulit dapat menyebabkan iritasi, kemerahan dan gata-gatal.
Tindakan pertolongan yang harus dilakukan adalah lepaskan pakaian yang terkontaminasi.
Segera cuci kulit dengan air dan sabun yang lembut. Kontak dengan mata menyebabkan
iritasi jaringan mata. Tindakan pertolongan yang harus dilakukan adalah segera menahan

kelopak mata terbuka dan dibasuh dengan air selama minimal 15 menit.Bila terhirup tidak
dianggap sebagai bahaya dengan penggunaan laboratorium normal. Tindakan pertolongan
yang harus dilakukan adalah memberikan udara segar atau nafas buatan jika diperlukan.
Jika tertelan dapat menyebabkan iritasi pada sistem lambung dengan gejala mual, muntah,
kram, dan diare. Tindakan pertolongan yang harus dilakukan adalah diberikan beberapa
gelas air atau susu (Sciencelab, 2014).

2.1.6 NaBr
Natrium bromida dikenal sebagai garam yang memiliki rumus kimia NaBr. Senyawa
ini dapat digunakan sebagai obat pereda sakit yang banyak digunakan sejak abad 19 hingga
20. bentuk padatannya kristal putih menyerupai natrium klorida. Natrium bromida sangat
berbahaya jika digunakan dalam komposisi yang berlebih yang akan menyebabkan
kerusakan pada system sarah pada otak, mata. Bahan kimia penyusunnya menyebabkan
iritasi pada kulit, mata dan saluran pernafasan. Natrium bromida memiliki massa molar
102.89 g/mol, densitas 3.21 g/cm3, titik leleh 755C titik didih 1390C, kelarutan dalam air
73.3 g/100 mL (20C) dan 116.0 g/100 mL (50C) (Sciencelab, 2014).

2.1.7 NaI
NaI atau natrium iodida merupakan senyawa dengan berbentu padatan denagn warna
putih. Senyawa ini memiliki rasa pahit. NaI bersifat basa, memiliki berat molekul 149.89
g/mol dan titik leleh 651C. NaI larut dalam air dingin dan air panas. NaI larut sebagian
dalam metanol dan aseton. NaI sangat berbahaya jika terjadi kontak mata dan kontak
dengan kulit.. Kontak mata diatasi dengan mencuci mata dengan banyak air minimal 15
menit. Kontak kulit diatasi dengan membasuh air sedikitnya 15 menit kemudian lumuri
dengan emolien (Sciencelab, 2014).

2.1.8 NH4Cl
NH4Cl merupakan rumus kimia untuk amonium klorida. NH4Cl merupakan padatan
tak berbau dan berwarna putih dengan berat molekul 53,49 g/mol. NH4Cl memiliki titik
didih sebesar 520C (968F) dan titik leleh sebesar 338C (640.4F). NH4Cl larut dalam
air dingin,air panas dan metanol. NH4Cl tidak larut dalam dietieter dan aseton. NH4Cl
sangat sedikit larut dalam etanol. NH4Cl sangat berbahaya jika terjadi kontak mata dan
sedikit berbahaya jika kontak dengan kulit.. Kontak mata diatasi dengan mencuci mata
dengan banyak air minimal 15 menit. Kontak kulit diatasi dengan membasuh air sedikitnya

15 menit kemudian lumuri dengan emolien (Anonim, 2014).

2.1.9 HCl
HCl memiliki nama kimia hidrogen klorida mempunyai rumus HCl. Pada suhu
kamar, HCl adalah gas tidak berwarna yang membentuk kabut putih ketika melakukan
kontak dengan kelembaban udara. Gas hidrogen klorida dan asam klorida adalah senyawa
yang penting dalam bidang teknologi dan industri. Hidrogen klorida memiliki massa molar
36,4606 g/mol, densitas 1,477 g/l, gas (25C), titik leleh -114,2C (158.8 K), titik didih
85,1C (187.9 K), kelarutan dalam air 72 g/100 ml (20C), keasaman (pKa) -4 beracun,
dan korosif. Hidrogen klorida dapat menggangu pernafasan, apabila terkena kulit dapat
menyebabkan rasa sakit, menyebabkan kebutaan permanent dan kulit terbakar (Sciencelab,
2014).
2.2 Dasar Teori
Senyawa dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan kekuatannya sebagai
elektrolit yaitu elektrolit kuat, elektrolit lemah dan nonelektrolit. Kelarutan tiga kelompok
elektrolit tersebut sebagai berikut :
a. Elektrolit kuat
Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang mempunyai daya hantar listrik yang kuat,
karena zat terlarutnya didalam pelarut (umumnya air), seluruhnya berubah menjadi ion-ion.
Yang tergolong elektrolit kuat adalah:
-

Asam-asam kuat, seperti : HCl, HClO3, H2SO4, HNO3 dan lain-lain

Basa-basa kuat, yaitu basa-basa golongan alkali dan alkali tanah, seperti: NaOH, KOH,
Ca(OH)2, Ba(OH)2 dan lain-lain

Garam-garam yang mudah larut, seperti: NaCl, KI, Al2(SO4)3 dan lain-lain.

b. Elektrolit lemah
Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang daya hantar listriknya lemah. Yang
tergolong elektrolit lemah
- Asam-asam lemah, seperti : CH3COOH, HCN, H2CO3, H2S dan lain-lain.
- Basa-basa lemah seperti : NH4OH, Ni(OH)2 dan lain-lain.
- Garam-garam yang sukar larut, seperti : AgCl, CaCrO4, PbI2 dan lain-lain.
c. Larutan non elektrolit
Larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik,
karena zat terlarutnya di dalam pelarut tidak dapat menghasilkan ion-ion (tidak mengion).

Contoh, larutan urea, larutan sukrosa, larutan glukosa, larutan alkohol dan lain-lain
(Munawaroh, 2009).
Pertemuan antara dua larutan elektrolit memberikan suatu potensial terhadap sel.
Misalnya, larutan pekat asam klorida membentuk pertemuan dengan larutan encer. Kedua
ion hydrogen dan ion klorida berdifusi dari larutan yang pekat ke dalam larutan yang
encer. Ion hydrogen bergerak lebih cepat, maka larutan encernya menjadi bermuatan
positif karena adanya ion hydrogen berlebih. Larutan yang lebih pekat ditinggalkan dengan
kelebihan ion klorida dan dengan demikian mendapatkan muatan negatif. Pemisahan
muatan yang nyata adalah sangat kecil, tetapi beda potensial yang dihasilkan cukup berarti
(Alberty, 1992).
Arus listrik ialah arus muatan listrik, yaitu banyaknya muatan listrik yang melintas
penampang per satuan waktu, dan rapat arus listrik bagi arus listrik yang terdistribusi
secara kontinyu seperti misalnya oleh gerakan ion-ion yang berserakan di udara
didefinisikan sebagai banyaknya muatan listrik yang melintas penampang seluas satu
satuan luas per satuan waktu. Pada hakekatnya pembawa muatan listrik di dalam kawat
tahanan ialah elektron-elektron bebas, yaitu elektron-elektron yang lepas dari ikatan atomatom penyusun bahan konduktor itu, yang bersikap seperti molekul-molekul gas sehingga
disebut gas elektron. Sedangkan arus listrik di dalam cairan, khususnya larutan elektrolit,
adalah oleh ion-ion yang bergerak dari elektrode satu ke elektrode lainnya, dan di dalam
larutan tidak terdapat electron bebas (Soedojo,1999).
Arus listrik akan berbading lurus dengan tegangan dan akan berbanding terbalik
dengan hambatan. Pernyataan tersebut merupakan bunyi hukum ohm yang menjadi dasar
perhitungan arus pada rangkaian tertutup. Adapun rumus matematikanya adalah sebagai
berikut:
I

V
R

(2.1)

(Langley, 2002).
Daya hantar suatu larutan berubah jika konsentrasinya berubah. Oleh sebab itu
dalam membandingkan daya hantar digunakan pengertian daya hantar molar yang
didefinisikan dengan persamaan,:
= k/C

(2.2)

Kebergantungan pada elektrolit kuat pada konsentrasi tidak terlampau besar dan terjadi
penyimpangan yang disebabkan oleh antar aksi antar ion (Achmad, 1996).

Hal-hal yang dapat mempengaruhi daya hantar listrik antara lain:


a.

Konsentrasi
Daya hantar ekuivalen adalah daya hantar larutan elektrolit sebanyak 1 grek

diantaram2 elektrode dengan jarak 1 cm. Baik daya hantar jenis (Ls) atau daya hantar
ekuivalen ( ) berubah dengan konsentrasi. Untuk elektrolit kuat, Ls daya hantar listrik
naik dengan cepat dengan naiknya konsentrasi. Untuk elektrolit lemah, Ls naik secara
perlahan-lahan dengan naiknya konsentrasi. Perbedaan ini disebabkan karena elektrolit
kuat terurai sempurna, sedang elektrolit lemah tidak. Bila elektrolit kuat ataupun lemah
nya naik pada pengenceran disebut 0 , dan ini untuk masing- masing elektrolit
berbeda.
b. Temperatur
Daya hantar elektrolit naik dengan naiknya temperatur. Daya hantar pada
konsentrasi terntentu untuk elektrolit kuat, berubah sesuai 0 . Untuk elektrolit lemah,
perubahan ini tidak teratur, karena kecuali kecepatan dan gaya interionik berubah, juga
derajat ionisasi berubah (Sukardjo, 1997).

BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
-

Gelas piala 100 mL

Alat pengukur daya hantar listrik

Pipet tetes

Gelas ukur

3.1.2 Bahan
-

Minyak tanah

Asam cuka glasial

Akuades

NH4OH

CH3COOH

HCl

NaOH

NaCl

NaBr

NH4Cl

3.2 Skema Kerja


3.2.1 Penentuan daya hantar listrik berbagai senyawa
25 mL minyak tanah
-

dimasukkan ke dalam gelas piala 100 mL yang telah disediakan

dimasukkan 25 mL asam cuka gasial, akuades, dan larutan NaCl


kedalam gelas piala yang lainnya.

diukur daya hantar listrik masing-masing larutan

ditentukan sifat zat terhadap arus listrik

Hasil

3.2.2

Mempelajari Pengaruh Konsentrasi


NH4OH
-

dibuat 25 mL larutan dengan konsentrasi 0,01 M; 0,05 M; 0,10


M; 0,050 M; dan 1,00 M.

diukur DHL setiap larutan yang dimulai dari larutan terencer.

digambar

grafik

DHL

larutan

kelompok

tehadap

II

terhadap

konsentrasinya.
-

ditentukan elektrolit kuat dan lemahnya.

digambar

grafik

DHL

larutan

kelompok

konsentrasinya
-

dibandingkan DHL kation dan anion segolongan (antara Cl-, Br-,


I-, dan antara Na+, NH4)

Hasil

dilakukan percobaan yang sama untuk HCl, NaCl, dan NaBr

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Menetukan daya hantar listrik berbagai senyawa
No.

Senyawa

1.

Minyak tanah

2.

Asam asetat
glasial

I (A)

R (W)

DHL (W-1)

0,0

0,00

0,00

0,0

0,00

0,00

3.

Air suling

0,0002

25000

0,00004

4.

Larutan NaCl

0,0040

1250

0,0008

4.1.2 Daya hantar listrik elektrolit pada berbagai konsentrasi


a. Elektrolit-elektrolit kelompok I
Senyawa

CH3COOH

NH4OH

HCl

Konsentrasi

I (mA)

V (Volt)

R(W)

DHL (W-1)

0,01 M

0,0027

1851,8

0,00054

0,05 M

0,0031

1612,9

0,00062

0,10 M

0,0032

1562,5

0,00064

0,50 M

0,0037

1351,3

0,00074

1,00 M

0,0040

1250,0

0,00080

0,01 M

0,0019

2631,6

0,00038

0,05 M

0,0028

1785,7

0,00056

0,10 M

0,0038

1315,8

0,00076

0,50 M

0,0033

1515,1

0,00066

1,00 M

0,0041

1219,5

0,00082

0,01 M

0,0015

3333,3

0,00030

0,05 M

0,0030

1666,7

0,00059

0,10 M

0,0038

1315,8

0,00076

0,50 M

0,0030

1666,7

0,00059

1,00 M

0,0040

1250,0

0,00080

NaOH

0,01 M

0,0005

10000

0,00010

0,05 M

0,0011

4545,5

0,00022

0,10 M

0,0025

2000,0

0,00050

0,50 M

0,0031

1612,9

0,00062

1,00 M

0,0038

1315,8

0,00076

b. Elektrolit-elektrolit kelompok II
Senyawa

Konsentrasi

I (mA)

V (Volt)

R(W)

DHL (W-1)

0,01 M

0,0005

10000

0,00010

0,05 M

0,0022

2272,7

0,00044

0,10 M

0,0010

5000,0

0,0002

0,50 M

0,0023

2173,9

0,00046

1,00 M

0,0040

1250,0

0,0008

0,01 M

0,0009

5555,6

0,00018

0,05 M

0,0007

2272,7

0,00044

0,10 M

0,0019

7142,9

0,00014

0,50 M

0,0025

1785,7

0,00056

1,00 M

0,0039

1282,0

0,00078

0,01 M

0,0009

5555,6

0,00018

0,05 M

0,0034

1470,6

0,00068

0,10 M

0,015

333,30

0,00300

0,50 M

0,039

128,20

0,00780

1,00 M

0,037

135,10

0,00740

NaCl

NaBr

NH4Cl

4.2 Pembahasan
Percobaan yang dilakukan dalam praktikum kali ini adalah percobaan tentang daya
hantar listrik dimana dalam praktikum kali ini dilakukan 2 percobaan yaitu, mengukur
daya hantar listrik bebrbagai senyawa dan percobaan penentuan pengaruh konsentrasi
terhadap daya hantar listrik suatu senyawa. Daya hantar listrik merupakan suatu ukuran

kuat lemahnya kemampuan suatu penghantar dalam mengalirkan muatan listrik. Daya
hantar listrik sangat dipengaruhi oleh konsentrasi. Hal ini dikarenakan daya hantar listrik
dipengaruhi oleh molibilitas ion-ion di dalam larutan dimana dalam hal ini ion negatif akan
bergerak pada katoda dan ion positif akan bergerak ke anoda. Semakin tinggi konsentrasi
suatu larutan, maka akan semakin banyak ion-ion yang terdapat dalam larutan tersebut,
sehingga semakin banyak ion per cm-3 larutan untuk membawa arus.
Larutan berdasarkan daya hantar listriknya dibagi menjadi 2 yaitu, larutan elektrolit
dan larutan nonelektrolit. Larutan elektrolit merupakan suatu zat yang apabila dilarutan
dalam air dapat menghantarkan listrik. Sedangkan larutan nonelektrolit merupakan suatu
zat yang apabila dilarutkan dalam air tidak dapat menghantarkan listrik. Kemampuan
larutan elektrolit dalam menghantarkan listrik disebabkan oleh zat terlarutnya dapat terurai
menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan nonelektrolit tidak menghantarkan listrik
dikarenakan zat terlarutnya tidak dapat terurai menjadi ion-ionnya. Beberapa larutan
elektrolit dapat menghantarkan arus listrik dengan baik meskipun konsentrasinya lemah,
larutan ini disebut larutan elektrolit kuat. Salah satu penyebab larutan elektrolit kuat
mempunyai daya hantar listrik yang baik karena zat terlarut akan terurai sempurna (derajat
ionisasi=1) menjadi ion-ion. Sedangkan larutan elektrolit yang mempunyai daya hantar
lemah meskipun konsentrasinya tinggi disebut dengan larutan elektrolit lemah. Larutan
elektrolit lemah tidak dapat menghantarkan arus listrik dengan baik disebabkan karena zat
terlarut akan terurai sebagian (derajat ionisasi<1) menjadi ion-ion.
Hantaran jenis larutan tidak dapat diukur langsung, yang dapat diukur langsung
adalah adalah arusnya dengan menggunakan alat konduktometer. Arus yang dihasilkan
tergantung pada besarya tahanan. Semakin besar tahanan, semakin kecil arus yang
dihasilkan atau dengan kata lain arus berbanding terbalik dengan nilai tahanan. Nilai arus
yang didapat akan digunakan untuk menghitung tahanan (R). Secara matematis dituliskan
sebagai:

Nilai tahan yang didapat dari perhitungan kemudian digunakan untuk menghitung
daya hantar listrik dimana nilai dari daya hantar listrik berbanding terbalik dengan tahanan
(R). Semakin kecil tahanan dari sutu penghantar, kemampuan untuk menghantarkan
muatan listrik akan semakin besar. Jika ditulis secara matematis adalah:

Percobaan pertama yang dilakukan adalah menentukan daya hantar listrik berbagai
senyawa. Senyawa yang diukur daya hantar listriknya adalah akuades, minyak tanah,
CH3COOH glasial dan larutan NaCl. Tegangan pada konduktometer diatur dengan
tegangan 5 volt. Nilai arus yang ditunjukkan oleh kondukmeter untuk akuades, minyak
tanah, CH3COOH glasial dan larutan NaCl secara berturut-turut adalah 0,2 mA, 0,0 mA,
0,0 mA dan 4,0 mA. Nilai daya hantar listrik yang dihasilkan dari perhitungan untuk ke
empat senyawa tersebut secara berturut-turut adalah 0,00004 W-1, 0,00 W-1, 0,00 W-1 dan
0,0008 W-1. Berdasarkan daya hantar listrik yang dihasilkan ini, terlihat bahwa larutan
NaCl dan akuades dapat menghantarkan listrik, sedangkan untuk asam asetat glasial tidak
dapat menghantarkan listrik.
Larutan NaCl memiliki kemampuan daya hantar listrik paling kuat diantara senyawa
lainnya yang diukur. Hal ini ditunjukkan dengan nilai daya hantar listrik yang paling besar
diantara yang lainnya. Hal ini dikarenakan NaCl merupakan larutan elektrolit kuat. Zat
terlarut dari NaCl akan terurai sempurna di dalam air menjadi ion-ionnya dan ion ionnya
ini dapat bergerak bebas sehingga dapat menghantarkan arus listrik. Akuades dapat
menghantarkan listrik, namun sangat lemah. Hal ini terjadi karena akuades merupakan
senyawa kovalen polar yang ion-ionnya hanya dapat terurai sebagian, sehingga
kemampuan dalam menghantarkan listrik lemah karena hanya sedikit ion yang dapat
membawa arus. Larutan CH3COOH glasial dan minyak tanah tidak dapat menghantarkan
listrik. Larutan CH3COOH glasial merupakan asam lemah yang ion-ionnya hanya terurai
sebagian sehingga dapat menghantar listrik secara lemah. Arus yang dihasilkan oleh asam
asetat glasial kemungkinan terlalu kecil sehingga arus yang dihasilkan tidak dapat
dideteksi oleh konduktometer. Minyak tanah tidak dapat menghantarkan listrik karena
senyawa ini merupakan larutan non elektrolit. Minyak tanah merupakan senyawa kovalen
nonpolar yang memiliki rantai karbon panjang. Sifat kovalen yang dari minyak tanah
terlalu kuat sehingga senyawa ini sulit untuk terurai menjadi ion-ionnya. Hal inilah yang
menyebabkan minyak tanah tidak menghantarkan arus litrik karena tidak terdapat ion
pembawa arus. Berdasarkan hasil yang didapat, larutan NaCl dan akuades merupakan
konduktor merupakan konduktor, sedangkan CH3COOH glasial dan minyak tanah
merupakan isolator.
Percobaan kedua yang dilakukan adalah menentukan pengaruh konsentrasi terhadap
daya hantar listrik. Percobaan ini dilakukan dengan mengukur daya hantar listrik beberapa
senyawa dengan konsentrasi yang divariasikan. Konsentrasi dari setiap larutan larutan
divariasikan menjadi 0,01; 0,05; 0,1; 0,5 dan 1 M. Senyawa yang diukur daya hantar

listriknya dibagi ke dalam dua kelompok dimana kelompok pertama adalah CH3COOH,
NH4OH, HCl dan NaOH, sedangkan senyawa kelompok kedua adalah NaCl, NaBr dan
NH4Cl. Percobaan pada kelompok pertama dilakukan hanya untuk menentukan pengaruh
konsentrasi terhadap daya hantar listrik, sedangkan untuk kelompok kedua selain
menentukan pengaruh konsentrasi juga dilakukan untuk membandingkan kecenderungan
daya hantar listrik dari anion-anion segolongan.
Pengukuran daya hantar listrik yang pertama dilakukan pada kelompok 1 yaitu
CH3COOH, NH4OH, HCl dan NaOH. berdasarkan hasil percobaan, ke empat senyawa dari
kelompok 1 dapat menghantarkan listrik. CH3COOH ion-ionnya dapat terurai walaupun
hanya sedikit, sehingga dapat menghantarkan litrik. HCl merupakan asam kuat, senyawa
ini dapat terurai sempurna dalam air sehingga dapat menghantarkan listrik. NaOH
merupakan basa kuat. Sama halnya dengan asam kuat, basa kuat juga akan terurai
sempurna sehinggan dapat menghantarkan listrik. NH4OH merupakan garam dari basa
lemah dan asam lemah, senyawa ini akan terurai sebagian sehingga dapat menghantarkan
listrik. Hasil pengukuran daya hantar listrik dari masing-masing senyawa tersebut
kemudian dihubungkan dengan konsentrasi melalui sebuah grafik. Berdasarkan teori yang
telah disebutkan sebelumnya, semakin tinggi konsentrasi semakin besar daya hantar
listriknya sehingga jika konsentrasi dihubungkan dengan daya hantar listrik melalui sebuah
grafik maka akan didapatkan garis yang linier dengan kemiringan yang positif.
Berdasarkan data yang diperoleh, grafik hubungan antara konsentrasi dan daya hantar
listrik dari beberapa senyawa pada kelompok 1, yaitu sebagai berikut:

Grafik hubungan antara konsentrasi dan


DHL larutan CH3COOH
0.01

DHL

0.008
0.006

y = 0,0002x + 0,0006
R = 0,871

0.004

Series1

0.002

Linear (Series1)

0
0

0.5

1.5

Konsentrasi

Gambar 4.2.1. Grafik hubungan konsentrasi dengan DHL larutan CH3COOH

Grafik hubungan antara konsentrasi dan


DHL larutan NH4OH
0.01

DHL

0.008
0.006

y = 0,0003x + 0,0005
R = 0,473

0.004

Series1

0.002

Linear (Series1)

0
0

0.5

1.5

Konsentrasi

Gambar 4.2.2. Grafik hubungan konsentrasi dengan DHL larutan NH4OH

Grafik hubungan antara konsentrasi dan


DHL larutan HCl
0.01

DHL

0.008

y = 0,0003x + 0,0005
R = 0,341

0.006

Series1

0.004

Linear (Series1)

0.002
0
0

0.5

1.5

Konsentrasi

Gambar 4.2.3. Grafik hubungan konsentrasi dengan DHL larutan HCl

Grafik hubungan antara konsentrasi dan DHL


larutan NaOH
0.01

DHL

0.008
y = 0,0006x + 0,0003
R = 0,749

0.006

Series1

0.004

Linear (Series1)

0.002
0
0

0.2

0.4

0.6

0.8

1.2

Konsentrasi

Gambar 4.2.1. Grafik hubungan konsentrasi dengan DHL larutan NaOH

Berdasarkan hasil yang didapatkan, grafik hubungan konsentrasi dengan daya hantar
listrik dari ke empat senyawa tidak menujukkan garis yang linier. Hal ini menunjukkan
bahwa hubunngan konsentrasi dengan daya hantar listrik tidak berbanding lurus.
Berdasarkan teori yang telah disebutkan sebelumnya, seharusnya konsentrasi berbanding
lurus dengan daya hantar listrik dimana semakin besar konsentrasi semakin banyak ion-ion
yang berada di dalam larutan, sehingga daya hantar listrik semakin besar. Perbedaan hasil
yang didapatkan dari percobaan dengan teori yang telah ada kemungkinan disebabkan oleh
beberapa kesalahan saat melakukan praktikum. Pertama yaitu kesalahan pada alat yang
digunakan. Konduktometer yang digunakan dalam percobaan tidak stabil dimana saat
digunakan sering restart otomatis, sehingga memengaruhi hasil pengukuran. Kedua yaitu
kesalahan dari praktikan dimana saat mengukur volume larutan untuk pengenceran
praktikan kurang teliti, sehingga memengaruhi besarnya konsentrasi yang dihasilkan dari
pengenceran.
Pengukuran daya hantar listrik yang kedua dilakukan pada kelompok 2 yaitu NaCl,
NaBr dan NH4Cl. Berdasarkan hasil percobaan, ke tiga senyawa dari kelompok 2 dapat
menghantarkan listrik. NaCl dan NaBr merupakan senyawa ionik yang dapat terurai
sempurna menjadi ion-ionnya sehingga kedua senyawa ini dapat menghantarkan listrik.
NH4Cl merupakan garam dari asam kuat dan basa lemah dimana senyawa ini dapat terurai
sempurna menjadi ion-ionnya, sehingga dapat menghantarkan listrik. Hasil pengukuran
daya hantar listrik dari masing-masing senyawa tersebut kemudian dihubungkan dengan
konsentrasi melalui sebuah grafik. Berdasarkan teori yang telah disebutkan sebelumnya,
semakin tinggi konsentrasi semakin besar daya hantar listriknya sehingga jika konsentrasi
dihubungkan dengan daya hantar listrik melalui sebuah grafik maka akan didapatkan garis
yang linier dengan kemiringan yang positif. Berdasarkan data yang diperoleh, grafik
hubungan antara konsentrasi dan daya hantar listrik dari beberapa senyawa pada kelompok
1, yaitu sebagai berikut:

Gambar 4.2.5. Grafik hubungan konsentrasi dengan DHL larutan NaCl

Gambar 4.2.6. Grafik hubungan konsentrasi dengan DHL larutan NaBr

Gambar 4.2.7. Grafik hubungan konsentrasi dengan DHL larutan NH4Cl


Berdasarkan hasil yang didapatkan, grafik hubungan konsentrasi dengan daya hantar
listrik dari ke tiga senyawa tidak menujukkan garis yang linier. Hal ini menunjukkan
bahwa hubungan konsentrasi dengan daya hantar listrik tidak berbanding lurus.
Berdasarkan teori yang telah disebutkan sebelumnya, seharusnya konsentrasi berbanding
lurus dengan daya hantar listrik dimana semakin besar konsentrasi semakin banyak ion-ion
yang berada di dalam larutan, sehingga daya hantar listrik semakin besar. Perbedaan hasil
yang didapatkan dari percobaan dengan teori yang telah ada kemungkinan disebabkan oleh
beberapa kesalahan saat melakukan praktikum. Beberapa kesalahan yang terjadi
kemungkinan sama dengan kesalahan pada pengukuran daya hantar listrik pada kelompok
1 yaitu konduktometer yang digunakan dalam percobaan tidak stabil dan kesalahan
praktikan saat melakukan pengenceran.
Garam NaCl dan NaBr merupakan senyawa yang dibentuk dari kation yang sama
yatui Na+ dengan anion yang berbeda namun masih dalam satu golongan. Hasil daya
hantar listrik dari kedua larutan tersebut kemudian digunakan untuk membandingkan nilai
DHL dari senyawa-senyawa yang terbentuk oleh anion segolongan. Berdasarkan teori,
trend jari-jari atom dalam satu golongan dari atas ke bawah dalam satu golongan pada
sistem periodik unsur adalah semakin besar jari-jari atomnya, maka tarikan inti ke elektron
terluar semakin kecil, sehingga mereka akan lebih mudah lepas dan mengion. Kecepatan
mengion berpengaruh pada daya hantar listrik yang dihasilkan, dimana semakin tinggi
kecepatan mengion dari suatu unsur, maka akan semakin besar daya hantar listriknya.
Nilai daya hantar listrik NaCl dari percobaan pada konsentrasi 0,01; 0,05; 0,1; 0,5 dan 1 M
secara berturut-turut adalah 0,00010; 0,00044; 0,0002; 0,00046 dan 0,00080. Sedangkan
untuk NaBr nilai daya hantar listrik secara berturut-turut dari konsentrasi 0,01; 0,05; 0,1;
0,5 dan 1 M adalah 0,00018; 0,00044; 0,00014; 0,00056 dan 0,00078. Berdasarkan hasil
ini, nilai daya hantar listrik yang dihasilkan kedua garam pada konsentrasi yang sama
cenderung mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan bahwa unsur-unsur dalam satu
golongan dari atas ke bawah menghasilkan daya hantar listrik semakin besar. Hasil yang
didapat sesuai dengan teori yang telah ada.

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan
bahwa:
-

Daya hantar listrik dari berbagai senyawa dipengaruhi oleh kemampuannya untuk
terurai menjadi ion-ionnya. Senyawa yang dapat terurai menjadi ion-ionnya dalam
larutan akan dapat menghantarkan listrik.

Larutan yang dapat menghantarkan listrik disebut larutan elektrolit dan larutan
yang tidak dapat menghantarkan listrik disebut larutan nonlelektrolit.

Konsentrasi dari suatu senyawa mempengaruhi besarnya daya hantar listrik.


Semakin besar konsentrasi, daya hantar listriknya juga akan semakin besar
(berbanding lurus).

Semakin besar jari-jari, semakin lemah tarikan inti terhadap elektron terluar maka
semakin mudah mengion sehingga daya hantar listrik semakin besar.

Senyawa yang mengandung anion Cl- akan memiliki daya hantar listrik yang lebih
kecil daripada senyawa yang mengandung anion Br-.

5.2 Saran
-

Praktikan sebaiknya lebih teliti dalam mengukur volume pengenceran, sehingga


hasil yang didapatkan akurat.

Peralatan yang sudah tidak memenuhin standar sebaiknya tidak digunakan lagi
dalam praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiskia. 1996. Kimia Larutan. Bandung : PT Citra Aditya Bakti.


Alberty, Robert. 1992. Kimia Fisika Edisi 5 Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Anonim. 2014. MSDS Minyak tanah [serial online]. http://www.scienelab.com/msds/
php?msdsld = 9871680 [19 September 2014].
Anonim. 2014. MSDS asam asetat [serial online]. http://www.scienelab.com/msds/
php?msdsld = 9924120 [19 September 2014].
Anonim. 2014. NH4Cl MSDS [serial online]. http://www.scienelab.com/msds/ php?msdsld
= 9652890 [19 Septembar 2014].
Anonim. 2014. HCl MSDS [serial online]. http://www.scienelab.com/msds/ php?msdsld=
9923112 [19 Septembar 2014].
Langley, Billy C. 2002. Electrical Application for Air Conditioning & Refrigeration
System. USA : The Fairmont Press, Inc.
Munawaroh. 2009. Faktor-faktor daya hantar listrik. [Serial online].
https://www.scribd.com/doc/144436369/Faktor-Yang-Mempengaruhi-Daya-Hantar.
[30 Oktober 2014].
Sciencelab.com. 2014. Akuades. [ serial online] http://www.sciencelab.com/msds/php//id=
9927321. [diakses pada tanggal 29 September 2014, 18.50 WIB].
Sciencelab.com. 2014. NaCl. [ serial online] http://www.sciencelab.com/msds/php//id=
9927593. [diakses pada tanggal 29 September 2014, 18.50 WIB].
Sciencelab.com. 2014. NaBr. [ serial online] http://www.sciencelab.com/msds/php//id=
9927262. [diakses pada tanggal 29 September 2014, 18.50 WIB].
Sciencelab.com. 2014. NH4OH. [ serial online] http://www.sciencelab.com/msds/php//id=
9924997. [diakses pada tanggal 29 September 2014, 18.50 WIB].
Soedojo, Peter. 1999. Fisika Dasar. Yogyakarta : Penerbit Andi.
Tim Kimia Fisika. 2014. Buku Petunjuk Praktikum Kimia Fisik II. Jember: FMIPA UNEJ.

LAMPIRAN

1. Perhitungan Pengenceran
a. CH3COOH
-

Konsentrasi 0,01 M

b. NH4OH

M 1 V1 M 2 V2

1M V1 0,01M 25mL

M 1 V1 M 2 V2

0,01M 25mL
1M
V1 0,5mL

1M V1 0,01M 25mL

V1

0,01M 25mL
1M
V1 0,5mL
V1

Konsentrasi 0,05 M
M 1 V1 M 2 V2

1M V1 0,05M 25mL
0,05M 25mL
1M
V1 1,25mL

1M V1 0,05M 25mL
0,05M 25mL
1M
V1 1,25mL
V1

Konsentrasi 0,10 M
M 1 V1 M 2 V2

1M V1 0,10M 25mL
0,10M 25mL
1M
V1 2,5 mL

1M V1 0,10M 25mL
0,10M 25mL
1M
V1 2,5 mL
V1

Konsentrasi 0,50 M
M 1 V1 M 2 V2

1M V1 0,50M 25mL
0,50M 25mL
1M
V1 12,5mL

1M V1 0,50M 25mL
0,50M 25mL
1M
V1 12,5mL
V1

Konsentrasi 1,00 M
M 1 V1 M 2 V2
1M V1 1,00M 25mL
1,00M 25mL
1M
V1 25mL
V1

Konsentrasi 0,50 M
M 1 V1 M 2 V2

V1

Konsentrasi 0,10 M
M 1 V1 M 2 V2

V1

Konsentrasi 0,05 M
M 1 V1 M 2 V2

V1

Konsentrasi 0,01 M

Konsentrasi 1,00 M

M 1 V1 M 2 V2
1M V1 1,00M 25mL

1,00M 25mL
1M
V1 25mL

Konsentrasi 1,00 M
M 1 V1 M 2 V2

V1

1M V1 1,00M 25mL
1,00M 25mL
1M
V1 25mL
V1

c. HCl
-

Konsentrasi 0,01 M

d. NaOH

M 1 V1 M 2 V2

1M V1 0,01M 25mL

M 1 V1 M 2 V2

0,01M 25mL
1M
V1 0,5mL

1M V1 0,01M 25mL

V1

Konsentrasi 0,05 M

0,01M 25mL
1M
V1 0,5mL
V1

Konsentrasi 0,05 M

M 1 V1 M 2 V2

M 1 V1 M 2 V2

1M V1 0,05M 25mL

1M V1 0,05M 25mL

0,05M 25mL
1M
V1 1,25mL

0,05M 25mL
1M
V1 1,25mL

V1

V1

Konsentrasi 0,01 M

Konsentrasi 0,10 M

Konsentrasi 0,10 M

M 1 V1 M 2 V2

M 1 V1 M 2 V2

1M V1 0,10M 25mL
0,10M 25mL
1M
V1 2,5 mL

1M V1 0,10M 25mL
0,10M 25mL
1M
V1 2,5 mL

V1

V1

Konsentrasi 0,50 M
M 1 V1 M 2 V2

1M V1 0,50M 25mL

Konsentrasi 0,50 M

0,50M 25mL
1M
V1 12,5mL

M 1 V1 M 2 V2

V1

1M V1 0,50M 25mL
0,50M 25mL
1M
V1 12,5mL
V1

Konsentrasi 1,00 M

M 1 V1 M 2 V2

M 1 V1 M 2 V2

1M V1 1,00M 25mL

1M V1 1,00M 25mL

1,00M 25mL
1M
V1 25mL

1,00M 25mL
1M
V1 25mL

V1

V1

e. NaCl
-

Konsentrasi 0,01 M
M 1 V1 M 2 V2
1M V1 0,01M 25mL
0,01M 25mL
1M
V1 0,5mL
V1

f. NaBr
-

M 1 V1 M 2 V2
1M V1 0,01M 25mL

Konsentrasi 0,05 M

0,01M 25mL
1M
V1 0,5mL
V1

M 1 V1 M 2 V2
1M V1 0,05M 25mL
0,05M 25mL
1M
V1 1,25mL
V1

1M V1 0,05M 25mL
0,05M 25mL
1M
V1 1,25mL
V1

M 1 V1 M 2 V2
1M V1 0,10M 25mL
0,10M 25mL
1M
V1 2,5 mL

1M V1 0,10M 25mL
0,10M 25mL
1M
V1 2,5 mL
V1

M 1 V1 M 2 V2
1M V1 0,50M 25mL
0,50M 25mL
1M
V1 12,5mL

Konsentrasi 1,00 M

Konsentrasi 0,10 M
M 1 V1 M 2 V2

Konsentrasi 0,50 M

V1

Konsentrasi 0,05 M
M 1 V1 M 2 V2

Konsentrasi 0,10 M

V1

Konsentrasi 0,01 M

Konsentrasi 0,50 M
M 1 V1 M 2 V2
1M V1 0,50M 25mL
0,50M 25mL
1M
V1 12,5mL
V1

Konsentrasi 1,00 M

Konsentrasi 0,10 M

M 1 V1 M 2 V2

M 1 V1 M 2 V2

1M V1 1,00M 25mL

1M V1 0,10M 25mL

1,00M 25mL
1M
V1 25mL

0,10M 25mL
1M
V1 2,5 mL

V1

V1

Konsentrasi 0,50 M
M 1 V1 M 2 V2
1M V1 0,50M 25mL
0,50M 25mL
1M
V1 12,5mL
V1

g. NH4Cl
-

Konsentrasi 0,01 M
M 1 V1 M 2 V2
1M V1 0,01M 25mL
0,01M 25mL
V1
1M
V1 0,5mL

Konsentrasi 0,05 M
M 1 V1 M 2 V2
1M V1 0,05M 25mL
0,05M 25mL
1M
V1 1,25mL
V1

Konsentrasi 1,00 M
M 1 V1 M 2 V2
1M V1 1,00M 25mL
1,00M 25mL
1M
V1 25mL
V1

2. Menentukan DHL berbagai senyawa

3. Menetukan pengaruh Konsentrasi