Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH IMUNOLOGI

MEKANISME SISTEM KOMPLEMEN DALAM MELAWAN INFEKSI

DISUSUN OLEH :

RIA FAJARWATI ( 11/322097/PMU/6979)

PROGRAM STUDI MAGISTER BIOTEKNOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA 2011

BAB I PENDAHULUAN

Imunitas adalah kekebalan yang dikaitkan dengan adanya antibodi atau sel yang mempunyai tanggap kebal terhadap mikroorganisme dari penyakit infeksi tertentu atau terhadap toksinnya (Kadri, 2010). Begitu antibodi tanggap pada permukaan mikroorganisme yang menyerang, serangkaian protein plasma yang disebut komplemen akan teraktivasi. Protein komplemen ini mampu

menghancurkan penyerang tersebut (Ripani, 2010). Komplemen adalah bahan larut humoral yang berperanan dalam imunitas nonspesifik. Komplemen termasuk salah satu sistem enzim serum yang berfungsi dalam inflamasi, opsonisasi dan kerusakan (lisis) membran patogen. Dewasa ini, ada sekitar 20 jenis protein yang berperang dalam sistem komplemen (Baratawidjaja, 2004). Komplemen berupa molekul dari sistem imun nonspesifik larut dalam keadaan tidak aktif yang dapat diaktifkan berbagai bahan seperti toksin (LPS) bakteri. Komplemen dapat juga berperan dalam sistem imun spesifik yang setiap waktu dapat diaktifkan kompleks imun. Hasil aktivasi tersebut menghasilkan berbagai mediator yang mempunyai sifat biologik aktif dan beberapa diantaranya merupakan enzim untuk reaksi berikutnya. Produk lainnya berupa protein pengontrol dan beberapa lainnya tidak mempunyai aktivitas enzim. Aktivasi komplemen merupakan usaha tubuh untuk menghancurkan antigen asing (proteksi), namun sering pula menimbulkan kerusakan jaringan sehingga merugikan tubuh sendiri (Baratawidjaja, 2004).

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN

A. SISTEM KOMPLEMEN Sistem komplemen adalah suatu sistem yang terdiri dari seperangkat kompleks protein yang satu dengan lainnya sangat berbeda. Ada 9 komponen dasar komplemen yaitu C1 sampai C9 yang bila diaktifkan, dipecah menjadi bagian-bagian yang besar dan kecil (C3a, C4a dan sebagainya). Fragmen yang besar dapat berupa enzim tersendiri dan mengikat serta mengaktifkan molekul lain. Fragmen tersebut dapat juga berinteraksi dengan inhibitor yang menghentikan reaksi selanjutnya. Komplemen sangat sensitif terhadap sinyal kecil, misalnya jumlah bakteri yang sangat sedikit sudah dapat menimbulkan reaksi beruntun yang biasanya menimbulkan reaksi lokal

(Baratawidjaja, 2004). Unsur pokok sistem komplemen diwujudkan oleh sekumpulan komponen protein yang terdapat di dalam serum. Protein-protein ini dapat dibagi menjadi protein fungsional yang menggambarkan elemen dari berbagai jalur, dan protein pengatur yang menunjukkan fungsi pengendalian.

Komplemen sebagian besar disintesis di dalam hepar oleh sel hepatosit, dan juga oleh sel fagosit mononuklear yang berada dalam sirkulasi darah. Komplemen C l juga dapat di sintesis oleh sel epitel lain diluar hepar. Komplemen yang dihasilkan oleh sel

fagosit mononuklear terutama akan disintesis ditempat dan waktu terjadinya aktivasi. Komponen C3 mempunyai fungsi sangat penting pada aktivasi komplemen, baik melalui jalur klasik maupun jalur alternatif. Konsentrasi C3 jauh lebih besar dibandingkan dengan fraksi lainnya, hal ini menempatkan C3 pada kedudukan yang penting dalam

pengukuran kadar komplemen di dalam serum. Penurunan kadar C3 di dalam serum dapat dianggap menggambarkan keadaan konsentrasi komplemen yang menurun. Juga penurunan kadar C3 saja dapat dipakai sebagai gambaran adanya aktivasi pada sistem komplemen (Judarwanto, 2009). Aktivasi komplemen menghasilkan sejumlah molekul efektor antara lain anafilaktoisin, kemotaksin, adherens imun, opsonin dan membrane attack complex yang mempunyai efek biologik (Baratawidjaja, 2004). B. AKTIVASI KOMPLEMEN a. Aktivasi Komplemen melalui Jalur Klasik Jalur ini diawali dengan stimulasi dari kompleks antigen-antibodi yang kemudian mengaktivasi C1q, C1r, C1s, ketiga komponen ini menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi C4, C4 menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi C2, komponen C2 ini kemudian menghasilkan

komponen enzimatik dan menstimulasi C3 Convertase (pusat katalitik sistem komplemen).

(Gambar :Tiga Jenis Jalur Aktivasi Komplemen) b. Aktivasi Komplemen melalui Jalur Alternatif Jalur ini diawali oleh stimulasi dari permukaan patogen yang mengandung LPS (Lipopolisakarida) yang kemudian langsung menstimulasi C3, C3

menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi faktor B, faktor B menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi fakator D, faktor D kemudian menghasilkan komponen enzimatik yang akhirnya mensimulasi C3 convertase. c. Aktivasi Komplemen melalui Jalur Lektin Jalur ini diawali oleh stimulasi dari kompleks manosa binding protein pada permukaan patogen yang kemudian menstimulasi MBL, MASP-1, MASP-2. Ketiga komponen ini kemudian mnghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi C4, (seperti halnya pada jalur klasik) C4, C4 menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasiC2, komponen C2 ini kemudian

menghasilkan komponen enzimatik dan menstimulasi C3 convertase (pusat katalitik sistem komplemen).

Setelah ketiga jalur tersebut mengaktivasi C3 Convertase, C3 convertase ini kemudian

menghasilkan C3a, C5a dan C3b. C3a, C5a kemudian menstimulasi peptida mediator untuk inflamasi dan menstimulasi rekrutmen sel fagositik. C3b kemudian berikatan dengan reseptor komplemen pada sel fagositik dan kemudian menstimulasi opsonisasi dan penghilangan kompleks imun. Selain itu, C3b juga menstimulasi komponen terminal komplemen yang kemudian terjadi reaksi cascade : menstimulasi C5b,C6,C7,C8,C9 dan akhirnya membentuk Membran attack complex dan menyebabkan lisis pada patogen. C. RESEPTOR KOMPLEMEN Ada beberapa reseptor spesifik yang berikatan dengan komponen komplemen dan fragmen pada komplemen. CR1 dan CR3 adalah komponen penting dalam menginduksi proses fagositosis bakteri. CR2 terutaman ditemukan pada sel B yaitu kompleks sel B-koreseptor dan menjadi reseptor terhadap virus Epstein-Barr yang menyebabkan infeksi mononukleusis. CR1 dan CR2 saling membagi struktur komplemen-regulatory protein yang mengikat C3b dan C4b. CR3 dan CR4 saling berintegrasi, CR3 untuk proses migrasi dan adesi leukosit, sedangkan CR4 untuk respon fagositosis. Reseptor C5a dan C3a adalah bagian

dari tujuh pasang pada untaian G protein. FDC sebagai sel folikular dendritik tidak terlibat dalam imunitas bawaan (innate immunity) (Janeway et all, 2001). Anafilaksis dan kemotaksis C3a, C4a dan C5a disebut anafilatoksin oleh karena dapat memacu sel mast dan sel basofil untuk melepaskan mediator kimia yang dapat meningkatkan permeabilitas dan kontraksi otot polos vaskular. Reseptor C3a dan C4a terdapat pada permukaan sel mast, sel basofil, otot polos dan limfosit. Reseptor C5a terdapat pada permukaan sel mast, basofil, netrofil, monosit, makrofag, dan sel endotelium. Melekatnya anafilatoksin pada

reseptor yang terdapat pada otot polos

menyebabkan kontraksi otot polos tersebut. Untuk mekanisme ini C5a adalah yang paling poten dan C4a adalah yang paling lemah. C5a juga mempunyai sifat yang tidak dimiliki oleh C3a dan C4a; oleh karena C5a juga mempunyai reseptor yang spesifik pada permukaan sel-sel fagosit maka C5a dapat menarik sel-sel fagosit tersebut bergerak ke tempat mikroorganisme, benda asing atau jaringan yang rusak; proses ini disebut kemotaksis. Juga setelah melekat C5a dapat merangsang metabolisme oksidatif dari sel fagosit tersebut sehingga dapat meningkatkan daya untuk memusnahkan mikroorganisme atau benda asing tersebut (Judarwanto, 2009).

Opsonisasi dan peningkatan fungsi fagositosis Fagositosis yang diperkuat oleh proses opsonisasi C3b dan iC3b yang dibantu oleh IgG atau IgM mungkin merupakan mekanisme pertahanan utama terhadap infeksi bakteri dan jamur secara sistemik. Proses peradangan Kombinasi dari semua fungsi yang tersebut diatas mengakibatkan terkumpulnya sel-sel dan serum protein yang diperlukan untuk terjadinya proses dalam rangka memusnahkan mikroorganisme atau benda asing tersebut. Pelarutan dan eliminasi kompleks imun Kompleks imun yang beredar mengaktifkan komplemen dan mengaktifkan fragmen C3b yang menempel pada antigen. Kompleks tersebut akan berikatan dengan reseptor pada permukaan eritrosit. Pada waktu sirkulasi eritrosit melewati hati dan limpa, maka sel fagosit dalam limpa dan hati (sel Kupffer) dapat membersihkan kompleks imun yang terdapat pada permukaan sel eritrosit tersebut. D. REGULATOR Aktivasi komplemen dikontrol melalui tiga mekanisme utama, yaitu 1) komponen komplemen yang sudah diaktifkan biasanya ada dalam bentuk yang tidak stabil sehingga bila tidak berikatan dengan komplemen berikutnya akan rusak, 2) adanya beberapa inhibitor yang spesifik misalnya C1 esterase inhibitor, faktor I dan faktor H, 3) pada permukaan membran sel terdapat protein yang dapat merusak fragmen komplemen yang melekat.

BAB III PENUTUP

Sistem komplemen adalah salah satu mekanisme penting pada pengenalan infeksi patogen dan menjadi pertahanan awal yang efektif bagi tubuh saat infeksi awal patogen. Komplemen adalah sistem protein plasma yang dapat aktif secara langsung oleh ikatan patogen atau tidak langsung oleh ikatan antibodi-patogen, menyebabkan suatu reaksi kaskade pada permukaan patogen dan menghasilkan komponen yang aktif dengan berbagai fungsi efektor. Ada 3 macam jalur aktivasi komplemen yaitu jalur klasik, jalur alternatif dan jalur lektin. Ketiga jalur tersebut dapat menginduksi antibodi secara independen dalam imunitas bawaan (innate immunity). Ketiga jalur akan mengaktifkan enzim C3 convertase, yang akan

menghasilkan komponen C3b. Pengikatan C3b dengan molekul patogen menjadi pusat aktivasi komplemen yang akhirnya membentuk Membran attack complex dan menyebabkan lisis pada patogen.

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja,K.G. 2004. Imunologi Dasar Edisi Ke-6. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Bookshelf. 2001. The Complement System and Innate immunity. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK27100/. Janeway CA Jr, Travers P, Walport M, and shlomchik,M. Immunobiology: The Immune System in Health and Disease. 5th edition. New York: Garland Science. 2001. Diakses tanggal 9 Desember 2011. Brown EJ, Joiner KA, Frank MM. 2000. Complement. In fundamental immunology. New York: aven Press. Judarwanto, W. 2009. Sistem Komplemen. http://childrenallergyclinic. wordpress.com. Diakses tanggal 9 Desember 2011. Kadri. 2010. Pengertian Imunitas. http://kadri-blog.blogspot.com/2010/12/ pengertian-imunitas.html. Diakses tanggal 7 Desember 2011.

Mayer,G. 2011. Immunology Chapter Two. http://pathmicro.med.sc.edu/ghaffar /complement.htm. Diakses tanggal 9 November 2011. Ripani. 2010. Komplemen Sistem Imun. http://ripanimusyaffalab.blogspot.com/ 2010/02/komplemen-sistem-imun.html. Diakses tanggal 9 Desember 2011.