Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

MK.Nutrisi Ternak Kuda dan Olahraga

Tanggal: 12-13 November 2011

PRAKTIKUM LAPANG PETERNAKAN KUDA GEKBRONG

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 Anggota Gekbrong (12-13 November 2011)
1. Mutia Sari 2. Rika Zahera

(D24080005) (D24080011)

3. Meta Azteriska 4. Yolanda 5. Feri Anasari 6. Lujeng Q 7. Diani Novesa 8. Dewi Ayu L 9. Dea Justia N 10. Habibah Puspa N 11. Liza Nur Aziza 12. Irna Eka S 13. Ide Risentito P 14. Apdila Safitri 15. Friesgina Wiska 16. Selviana Yustika M 17. Niaka Mey F 18. Ira Dewiyana S 19. Shanty Nur S 20. Ari Akbar S 21. Iwan Purwanto 22. Emmy Ratna S 23. Ponam Lesianti W 24. Siti Syafaah 25. Indari Ici 26. Putri Hidayah 27. Ermana S. Dini 28. Denbetty N 29. Riadhi Gumilar 30. Tekad Urip PS

(D24080031) (D24080040) (D24080042) (D24080049) (D24080056) (D24080067) (D24080069) (D24080080) (D24080089) (D24080092) (D24080097) (D24080112) (D24080115) (D24080177) (D24080190) (D24080195) (D24080219) (D24080233) (D24080237) (D24080241) (D24080269) (D24080280) (D24080344) (D24080345) (D24080369) (D24080376) (D24080384) (D24080393)

PENDAHULUAN Latar Belakang Kuda merupakan salah satu jenis hewan yang cukup banyak diternakan di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Populasi ternak kuda di Jawa Barat sendiri masih

relatif tinggi, dan berada pada urutan kedelapan provinsi yang mempunyai populasi kuda terbanyak. Populasi ternak kuda secara nasional mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan populasi ini terjadi karena fungsi kuda sebagai alat transportasi telah banyak digantikan oleh kendaraan bermotor. Kuda merupakan salah satu jenis ternak yang mempunyai banyak peranan bagi masyarakat. Kuda berperan sebagai sumber pangan, alat transportasi, tenaga kerja dan olah raga, dan sebagai alat perang. Di beberapa kabupaten sekitar wilayah Priangan, kuda masih digunakan sebagai alat transportasi yang cukup penting. Kuda selain sebagai alat transportasi juga digunakan sebagai kuda pacu. Pacuan kuda wilayah Priangan tersebut diadakan minimal setahun sekali sebagai ajang olah raga dan rekreasi masyarakat. Kuda pacuan harus memiliki kualitas performa yang baik yang ditentukan oleh manajemen pemeliharaan, mulai dari sistem perkandangan, pemberian pakan, perawatan, hingga exercises. Sistem manajemen yang baik akan sangat mendukung kualitas domba, selain ditinjau dari faktor genetik ternak. Kuda sangat rentan terhadap penyakit, terutama penyakit kolik yang dipengaruhi oleh pakan, serta penyakit kuku yang berhubungan dengan manajemen perawatannya. Pengetahuan tentang sistem manajemen pemeliharaan kuda sangat penting untuk meningkatkan performa kuda dan mendukung pelestarian jenis ternak tersebut di Indonesia. Tujuan Tujuan dari praktikum lapang ini adalah untuk mengetahui sistem manajemen pemeliharaan kuda pacu, mulai dari sistem perkandangan, perawatan, dan pemberian pakan di peternakan Gekbrong, Jawa Barat.

TINJAUAN PUSTAKA Asal-usul Kuda Kuda (Equus caballus) yang saat ini terdapat diseluruh dunia berasal dari binatang kecil yang oleh beberapa ilmuwan disebut sebagai Eohippus atau Dawn horse yang telah mengalami proses evolusi sekitar 60 juta tahun yang lalu. Tahun

1867 kerangka lengkap dari fosil Eohippus telah ditemukan dibentukan tebing Eocene dan pada tahun 1931 kerangkanya disusun kembali di Big Horn Basin, Wyoming USA oleh palaeontologi dari Institut Teknologi California. Proses evolusi kuda terjadi melalui beberapa tahapan yang dimulai dari (1) Eohippus, berkembang pada zaman Eocene dengan tinggi badan 35 cm (20-50 cm), berat 5.5 kg, mempunyai empat jari kaki dan gigi geraham pendek yang sangat cocok untuk memakan tunastunas rumput, (2) Mesohippus, perkembangannya dimulai pada zaman Ologocene dengan tinggi badan 45 cm, bentuk punggung hampir sama dengan Eohippus, mempunyai kaki yang lebih panjang dengan tiga jari kaki, gigi premolar dan incisor lebih kuat dan mampu memotong daun-daun yang lebih beragam, (3) Miohippus, berkembang pada akhir zaman Oligocene dan awal zaman Miocene dengan tinggi sekitar 60 cm, bentuk kaki dan gigi lebih berkembang dibandingkan dengan Mesohippus, mempunyai tiga jari kaki dengan jari kaki bagian tengah lebih menonjol dan mempunyai gigi seri yang lebih jelas, (4) Merychippus, berkembang pada pertengahan dan akhir zaman Miocene dengan tinggi lebih dari 90 cm, jari kaki tengah semakin membesar sedangkan kedua jari lainnya mengecil, gigi seri semakin jelas dan semakin cocok untuk merumput, mempunyai leher yang panjang yang memungkinkan menggapai makanan dipermukaan dan meningkatkan jarak pandang, (5) Pliohippus, berkembang pada pertengahan zaman Pleistocene sekitar 6 juta tahun yang lalu. Pliohippus mempunyai tinggi sekitar 1.22 m, seluruh gigi untuk merumput telah lengkap, mempunyai persendian tulang yang sangat kuat dengan satu buah kuku dan merupakan prototype yang menggambarkan bentuk kuda modern yang ada saat ini. Pliohippus merupakan salah satu kelompok subgenerik yang mewakili zebra, keledai dan heminoid, (6) Equus caballus, berasal dari Pliohippus yang berkembang sekitar 5 juta tahun yang lalu pada zaman es. Menurut bahasa latin caballus berasal dari kata fons caballinus yang diambil dari cerita dongeng tentang Pegasus (Edward 1994). Manajemen Pemeliharaan Kuda Perkandangan Kandang kuda umumnya berbentuk single stall. Tempat untuk latihan (exercise) sebaiknya disediakan di areal perkandangan. Kandang untuk ternak kuda dapat dibuat dari bahan bangunan yang sederhana dan murah, namun harus memiliki konstruksi yang cukup kuat (Tim Karya Tani Mandiri, 2010). Membangun kandang di daerah tropis, sebaiknya disediakan ventilasi sehingga pertukaran udara dapat

berjalan lancar dan tidak menimbulkan hawa panas didalam kandang (Jacoebs, 1994). Atap kandang adalah naungan bagi ternak dan melindungi ternak terhadap air hujan, panas sinar surya, maupun terhadap udara dingin. Atap pada kandang kuda lebih baik jika jaraknya semakin tinggi, karena dapat menghasilkan sirkulasi udara yang baik. Tim Karya Tani Mandiri (2010) menambahkan atap kandang hendaknya dibuat dengan kemiringan sedang dan biasanya sekitar 30-45. Bahan atap sebaiknya dipilih yang memiliki permukaan yang memungkinkan pemantulan sebanyak mungkin atau yang memiliki koefisien refleksi radiasi surya atau bumi. Ketersediaan udara yang baik sangat dibutuhkan pada perkandangan kuda karena kuda mudah terkena penyakit pernafasan. Udara yang bersih sangat penting untuk kesehatan dan kenyaman kuda serta akan mempengaruhi kekuatan dari kuda tersebut. Ventilasi yang baik adalah berbentuk puncak pada atapnya dan akan sangat berpengaruh pada penanganan masalah kuda. Jendela pada kandang kuda juga harus berada pada posisi sejajar dengan kepala kuda (McBane, 1991). Nozawa et al. (1981) menyatakan di tiap bagian kandang harus tersedia air bersih. Air minum harus diperhatikan bagi induk kuda yang sedang menyusui, karena jika induk kuda tersebut kekurangan air dalam kondisi menyusui maka air susu induk akan berkurang pula. Kandang juga harus memiliki sistem pembuangan kotoran yang baik dan adanya ketersediaan listrik untuk lampu, kipas, dan lain sebagainya. Alas lantai kandang kuda harus selalu dalam keadaan bersih dan lunak serta beralaskan serbuk gergaji atau jerami. Alas lantai yang lunak bertujuan agar melindungi kuda ketika sedang berguling, memberikan kehangatan dan untuk kenyaman kuda serta melindungi kaki kuda, terutama untuk kuda olahraga dan kuda pacu (McBane,1994). Permukaan alas lantai kandang juga tidak boleh licin atau kasar yang dapat mengakibatkan goresan luka pada kuda. Selain itu, alas lantai kandang kuda tidak akan menjadi sarang parasit-parasit atau bakteri dan tidak akan mengakibatkan stres pada kuda yang dapat mengganggu tingkah laku atau produktivitas kuda (Tim Karya Tani Mandiri, 2010). Peternakan kuda lebih baik dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti tempat penyimpanan peralatan, tempat penyimpanan pakan, dan ruang groom pada setiap kandang sehingga memudahkan untuk pengawasan kuda (McBane,1994). Pakan

Kuda tidak memamahbiak dan secara fisiologis tidak dapat melakukan proses regurgitasi. Kuda memiliki cecum yang besar dan mengandung mikroorganisme yang mampu mencerna pakan berserat, sehingga kuda dapat memanfaatkan hijauan dan jerami serta mengubahnya menjadi zat- zat gizi yang dapat diserap. Kebutuhan pakan yang bersifat spesifik bervariasi, tergantung pada pemanfaatan kuda yang bersangkutan. Kuda yang istirahat kebutuhan energinya lebih sedikit dibandingkan kuda yang sedang bekerja, kuda yang sedang laktasi perlu lebih banyak protein, dan kebutuhan gizi kuda muda hampir seluruhnya lebih banyak dibanding kuda dewasa (Blakely dan Bade, 1991). Pakan utama kuda adalah rumput dengan berbagai jenis, seperti Panicum maximum dan Brachiaria mutica dengan ketinggian 1,2 m dan bermacam-macam jenis rumput yang tumbuh dimana-mana dengan ketinggian 40 cm yang biasa diarit untuk makanan ternak (Soehardjono, 1990). Pakan rumput hanya cukup untuk digunakan bagi kelangsungan hidup tetapi untuk kuda pacu atau olahraga perlu tambahan konsentrat dan vitamin. Untuk pakan kuda, hijauan yang paling penting dalam bentuk segar di pastura dan bentuk hay (Templeton, 1979). Pakan konsentrat merupakan pakan tambahan energi bagi kuda. Konsentrat yang dapat diberikan antara lain konsentrat sereal yang terdiri dari gandum, jagung, produk tepung, sorgum, berbagai produk padi dan produk non sereal yang terdiri dari gula bit, rumput kering, kacang-kacangan (legum) seperti kedelai dan kacang, sedangkan menurut NRC (1989), konsentrat atau sereal biji-bijian merupakan pakan utama yang menjadi sumber energi dan seluruh jenis biji-bijian yang bermanfaat bagi kuda. Selain rumput dan konsentrat juga diberi vitamin dan mineral (Soehardjono, 1990). Air juga sangat penting, tubuh kuda terdiri dari 70% air (McBane, 1994). Kualitas pakan kuda dipengaruhi oleh spesies tumbuhan tersebut, kesuburan tanah, dampak iklim (seperti suhu dan kelembaban), dan juga tidak kalah pentingnya yaitu umur panen tumbuhan. Hijauan untuk kuda harus bebas toksin dan bebas dari bahan lain yang berbahaya bagi kuda (NRC, 1989). Pakan dapat dianalisis untuk mengetahui nutrisi yang terkandung didalamnya, dan pengetahuan dasar tentang komposisi beberapa pakan penting ketika menyiapkan ransum untuk kuda. Jenis-jenis pakan untuk kuda terbagi dalam empat kategori menurut Pilliner (1993), yaitu :
1. Biji-bijian. Sebagai sumber energi dari ransum konsentrat, misalnya oat,

barley, dan jagung.

2. Pakan protein. Berasal dari hewan (misalnya meat bone meal dan tepung

susu) atau dari tumbuhan (misalnya biji rami, kedelai dan kacangkacangan atau polong-polongan).
3. Pakan intermediate. Pakan ini termasuk jerami, umbi-umbian dan tepung

rumput.
4. Hijauan. Rumput, hay, haylage, dan silase.

Pemberian pakan kuda untuk pemeliharaan yaitu pemberian secukupnya untuk menjaga kondisi sehari-hari. Hal ini berarti menyediakan energi untuk otototot usus, jantung dan paru-paru selama bekerja, energi untuk merumput, untuk mempertahankan suhu tubuh dan untuk menggantikan sel-sel yang menjaga tubuh agar dapat beraktivitas (Pilliner, 1993). Parakkasi (1986) menambahkan bahwa pemberian pakan hendaknya dibedakan berdasarkan umur, jenis, tipe kuda, dan aktivitas harian kuda. Setiap kuda yang menerima ransum atau pakan konsentrat penuh, sebaiknya pemberian makan diberikan tiga kali sehari. Jika kuda tidak menghabiskannya dalam tiga kali pemberian, berikan pakan pada larut malam, sehingga kuda mendapatkan jumlah makanan yang sama tetapi dengan empat kali pemberian pakan yang lebih sedikit (Pilliner, 1992). Kuda untuk olahraga dianggap dewasa pada umur tiga tahun. Saat umur tiga tahun baru mulai dilatih. Kuda olahraga tidak boleh terlalu dini dilatih karena punggungnya belum terlalu kuat dan mudah cedera. Pemberian makan disesuaikan dengan latihannya. Jika latihannya meningkat maka konsentrat ditambah. Lain halnya dengan kuda pacu, maka kuda olahraga lebih banyak memerlukan konsentrat dan serta kasar. Kebutuhan energi kuda olahraga biasanya terpenuhi dengan mengganti setengah hingga sepertiga pakan berserat dengan pakan yang mengandung zat tepung, terutama sereal biji-bijian (Medina et al., 2002). Kesehatan Menurut Blakely dan Bade (1991), program kesehatan pada ternak kuda mencakup pencegahan penyakit, pemberian obat cacing, dan tindakan pertolongan pertama. Merupakan suatu hal yang penting untuk senantiasa membuat diagnosa yang tepat dan memiliki pengetahuan yang benar tentang pengobatan yang memadai. Pemilik dan peternak kuda sebaiknya memanfaatkan jasa dokter hewan agar berhasil dalam mengendalikan gangguan-gangguan tersebut.

Salah satu gejala pertama dari masalah apapun biasanya adalah rendahnya nafsu makan atau bahkan tidak makan sama sekali. Kuda yang sehat hampir selalu lapar dan ingin makan (Blakely dan Bade, 1991). Hodges dan Pilliner (1991) menambahkan kondisi kuda yang baik terlihat dari bulu yang mengkilap, halus, dan lembut serta pada saat kulit dicubit kemudian dilepaskan haruslah kembali dengan cepat, dan mudah kembali pada posisi semula. Kulit yang lambat kembali setelah dicubit menunjukkan adanya tingkat dehidrasi atau kekurangan lemak subkutan. Manajemen Peternakan Kuda Manajemen peternakan kuda berkaitan dengan masalah perencanaan, pengorganisasian dan pelaksanaannya. Pelaksanaan prinsip-prinsip manajemen diperlukan kelengkapan yang saling terkait, seperti manusia, modal, serta material atau sarana. Faktor manusia sangat menentukan kelangsungan peternakan, karena tanpa kehadirannya tentu tidak akan ada peternakan kuda. Usaha modal sebagai tenaga penggerak, disamping manusia yang terampil dan memiliki keahlian khusus serta kelengkapan sarana, sangat menentukan usaha peternakan (Soehardjono, 1990). Setelah perencanaan yang matang dengan tersedianya modal, maka langkah berikutnya menentukan areal peternakan yang diperlukan, kemudian berupaya untuk pengadaan kuda pejantan dan betina. Langkah berikutnya mencari tenaga kerja yang ahli, seperti seorang manajer dan tenaga-tenaga ahli lainnya yang akan mengelola segala sesuatu kegiatan teknis didalam peternakan itu (Soehardjono, 1990). MATERI DAN METODE Tempat dan waktu Pengamatan dilakukan di Gekbrong Stable. Pengamatan dilakukan selama dua hari yaitu dimulai tanggal 12 November 2011 hingga 13 November 2011. Materi Alat yang digunakan pada praktikum kali ini terdiri dari alat-alat pribadi dan alat-alat yang telah disedialan di Gekbrong Stable. Alat-alat pribadi yang digunakan yaitu alat tulis, kamera dan sepatu boot sedangkan alat yang sudah disediakan yaitu kandang, alat-alat kebersihan kandang (skop, sapu lidi, serokan, tempat pengumpulan kotoran, karung, tempat minum dan konsentrat) dan alat-alat perawatan kuda (sikat, sisir, pembersih kuku, tali pengekang kuda). Metode

Data diperoleh dengan menggunakan metode survei, yaitu melalui pengamatan langsung, wawancara, praktek lapang, rekapitulasi data dan penyusunan laporan. Parameter manajemen yang diamati yaitu manajemen pemelihara dan pemberian pakan kuda.

PEMBAHASAN Kondisi Peternakan Kuda Gekbrong Lokasi Peternakan kuda gekbrong merupakan salah satu peternakan kuda milik Ibu Oetari Soeharjono (OS) yang terletak di Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur Sukabumi Jawa Barat. Lokasinya merupakan perbatasan antara Cianjur dan Sukabumi. Udara di peternakan ini tergolong dingin namun cukup kering dan tidak lembab. Kondisi ini mendukung pertumbuhan rumput yang lebih cepat. Di daerah peternakan ini terdapat kandang dan padang penggembalaan kuda yang terdiri dari beberapa peddock. Peternakan ini memiliki luas area sekitar 15 Ha. Terdapat tiga blok kandang kuda yaitu blok 1 untuk kandang induk dan anak, Blok 2 untuk kandang betina dan jantan, dan Blok 3 untuk penitipan kuda. Denah lokasi peternakan dapat di lihat secara lengkap pada Gambar di bawah ini. Gambar Denah Peternakan Gekbrong Stable

SUKABUMI CIANJUR

KETERANGAN :

rumput

Padang Kandang Rumah Jalan Jalan raya Kebun kol Jembatan

Fasilitas Fasilitas yang ada pada peternakan tersebut terdiri dari kandang dan peralatan pemeliharaan. Kandang seluruhnya adalah kandang individu, dengan ukuran setiap kotak adalah 3,5 x 4 meter. Atap kandang terbuat dari bahan seng. Tembok pada sekeliling kandang tingginya 2 meter dengan tembok tertutup. Hal ini karena keadaan iklim di gekbrong dingin. Pada setiap kandang dilengkapi dengan tempat minum dan konsentrat. Belum terdapat tempat untuk rumput atau hijauan. Tempat pakan rumput menurut pemilik kuda kurang perlu karena tingkah laku kuda ketika makan rumput yang kurang tanang sehingga rumput akan tetap dihamburkan ke

lantai untuk dipilih ketika makan. Lantai kandang (bedding) menggunakan serbuk gergaji dan serbuk pohon pinus. Ketebalan bedding adalah 15 cm yang diganti setiap 3 bulan sekali. Hal ini dikarenakan pasokan untuk bedding dari Sukabumi jarang. Kandang dibangun pada dua tempat/ gedung. Masing- masing kandang kuda berukuran 4 x 4 x 2m (p x l x t). Di bagian luar masing-masing gedung perkandangan dilengkapi dengan tempat pembersihan kuda (mandi, menyikat bulu, memotong kuku, dan lain-lain). Kandang kuda betina dan jantan dipisah dalam satu lorong, dari pintu masuk lorong sebelah kiri adalah kandang kuda betina dan lorong sebelah kanan adalah kandang kuda jantan. Suhu dan Kelembaban Suhu dan kelembaban udara (RH) yang sesuai untuk ketiga jenis kuda tersebut adalah suhu dan kelembaban yang relatif sedang, artinya lingkungan daerah tersebut tidak panas dan tidak terlalu dingin sehingga kuda tidak menggigil. Jenis-Jenis Kuda di Gekbrong Kuda Pacu Kuda pacu merupakan kuda yang digunakan untuk olahraga pacuan kuda. Kuda yang digunakan merupakan kuda yang tangguh dan cepat. Kuda pacu harus berasal dari proses perkawinan alami (tidak boleh dengan cara inseminasi buatan) karena hasil perkawinan alami dapat menghasilkan kuda yang lebih tangguh dan mampu menjadi kuda no.1.

Kuda Tunggang Kuda tunggang merupakan kuda yang digunakan untuk keperluan menunggang kuda, bukan sebagai pacuan. Kuda tunggang dapat berasal dari inseminasi buatan. Pada peternakan ini, semen pajantan didapatkan dari Jerman. Tahapan untuk memperoleh semen tersebut adalah sebagai berikut.
a. Sampel DNA indukan kuda dikirimkan ke Jerman. Sampel dapat berupa bulu

atau darah kering yang berasal dari indukan yang akan diinseminasi buatan.
b. Semen pejantan yang cocok dengan sampel DNA indukan tersebut akan

dipilih di Jerman..

c. Setelah terpilih semen yang cocok, semen dikirim ke Indonesia dan dilakukan inseminasi buatan. d. Semua data DNA disimpan di Jerman. Setelah anak kuda lahir, data DNA anak kuda dikirim ke Jerman untuk dicatat dan disimpan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui silsilah anak kuda tersebut. Kuda tunggang digunakan dalam beberapa cabang olahraga, misalnya tunggang serasi (keserasian antara penunggang dan kuda), loncat rintangan, dan endurance (ketahanan berkuda). Adapun olahraga lainnya yang menggunakan kuda adalah Polo. Jenis kuda yang terdapat di peternakan kuda Gekbrong, Sukabumi adalah kuda pacu. Kuda pacu tersebut ada yang merupakan kuda lokal (Indonesia), kuda Thoroughbred, kuda KPI. Kuda lokal Indonesia digolongkan ke dalam kuda poni. Tinggi badan kuda di Indonesia berkisar antara 1,15-1,35 m dengan bentuk kepala besar, berwajah rata, tegak, dan berdaun telinga kecil (Prabowo, 2003). Kuda lokal ini ada yang beberapa memiliki keungguluan sebagai kuda tunggang dan pacu (Soehardjono, 1990).

Gambar 1. Persilangan Kuda THb Indonesia, KPI dan G4 yang ada di Gekbrong

Di gekbrong jenis kuda tersebut terdapat warna pada papan nama kandangnya untuk memudahkan dalam recording. Warna merah menunjukkan kuda tersebut adalah kuda berjenis Thoroughbred dan warna putih menujukkan kuda tersebut jenis kuda KPI atau kuda lokal. Kuda pacu Indonesia (KPI) merupakan ternak yang dibentuk melalui program granding up untuk memenuhi permintaan kuda pacu. Proses pembentukan KPI dimulai dari G1 yang merupakan hasil persilangan betina lokal dengan pejantan Thoroughbred (THB) dengan darah lokal 50% dan darah THB 50%. G2 merupakan hasil silang betina G1 pada umur 3-4 tahun dengan pejantan THB. Kuda betina G2 disilangkan dengan jantan THB akan menghasilkan G3 dengan komposisi darah lokal 12,5% dan darah THB 87,5% yang sudah dirasa cukup baik untuk dijadikan bibit pejantan (parent-stock) pembentukan kuda pacu Indonesia. G4 selanjutnya dibentuk untuk dijadikan sebagai betina indukan KPI dengan darah lokal 6,25% dan darah Thoroughbred 93,75%, yang merupakan hasil persilangan antara betina G3 dan jantan Thoroughbred. Betina G4 selanjutnya disilangkan dengan jantan G4 atau G3 dan menghasilkan kuda pacu Indonesia saat ini.

Gambar 2. Diagram Persilangan KPI (Soehardjono, 1990). Pembentukan kuda pacu harus memenuhi standar kuda pacu Indonesia yang sesuai dengan SK Dirjenak no: 105/TN.220/Kpts/DJP/Deptan/95 tanggal 24/02/95 dengan syarat-syarat sebagai berikut: (1) standar komposisi darah, (2) standar fisik

atau performans seperti tinggi gumba, lebar dada, panjang badan, dan kecepatan lari, (3) standar warna bulu, (4) standar mutu atau siklus mutu seperti mutu istal, mutu pejantan atau induk, mutu pemeliharaan, mutu reproduksi, mutu pemuliabiakan (seleksi), mutu hasil keturunan, dan evaluasi mutu hasil, (5) sebagai bibit kuda pacu Indonesia harus mempunyai sertifikat lahir, sertifikat pacu dan kecepatan lari, dan sertifikat pemacek (PORDASI, 2000). Persyaratan sifat kualitatif untuk kuda pacu Indonesia adalah hasil persilangan kuda betina lokal dengan Thoroughbred, bentuk badan langsing, kaki kuat dan ringan, bentuknya mengarah pada kuda Thoroughbred, dan tempramen yang aktif. Persyaratan kuantitatif adalah tinggi gumba pada umur 6 tahun minimal 150 cm dan maksimal 170 cm, berat badan pada umur 6 tahun minimal 350 kg. Warna bulu pada kuda pacu Indonesia menurut peraturan No.011/DPP/75 Pordasi Pusat adalah hitam (black), hitam cokelat (brown black), cokelat (brown) jeragem (bay brown), cokelat muda keemasan, kelabu (grey), bopong (creamy), dan putih (PORDASI, 2000). Kuda Thoroughbred mempunyai keunggulan yaitu kecepatan lari dan daya tahan yang baik (Blakely dan Bade, 1991). Kuda Thoroughbred memiliki kondisi fisik yang memenuhi syarat untuk berpacu, seperti bentuk kepala yang kecil dan terlihat pintar, leher panjang, badan panjang, kaki langsing dan panjang, tulang yang ramping dengan panjang yang seimbang, serta warna bulu yang halus dan terang (Kidd, 1995). Edwards (1994) meyatakan bahwa ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh kuda Thoroughbred adalah tinggi 176-178 cm, bentuk kepala dan rahang bagus, perpaduan antara kepala dan leher terlihat bagus dan simetris dengan pundaknya, proporsi badan panjang, kaki bagian belakang panjang dan anggun dengan persendian yang baik sehingga memberikan daya dorong yang maksimum. Kaki bagian depan bagus dan panjang dengan otot yang besar serta persendian yang rata serta tulang di bawah lutut berukuran 20 cm, mempunyai bahu yang panjang dan membentuk slope yang tidak terlalu menonjol sehingga menghasilkan langkah yang panjang dan rendah. Cara Pemberian Pakan Pakan yang diberikan berupa pellet dan hijauan. Hijauan merupakan pakan utamanya dan pellet merupakan konsentrat atau pakan penguat yang dicetak dalam bentuk silinder. Menurut McBane (1994), pakan utama kuda adalah rumput dengan

berbagai jenis rumput seperti Panicum maticum dan Brachiaria mutica. Pakan rumput hanya cukup untuk digunakan bagi kelangsungan hidup tetapi untuk kuda pacu atau olahraga perlu tambahan konsentrat dan vitamin. Pakan konsentrat merupakan pakan tambahan energi bagi kuda. Konsentrat yang dapat diberikan antara lain konsentrat sereal yang terdiri dari gandum, jagung, produk tepung, sorgum, berbagai produk padi dan produk non sereal yang terdiri dari gula bit, rumput kering, kacang-kacangan (legum) seperti kedelai dan kacang. Kuda diberikan pellet pada pagi hari. Pellet yang diberikan terdiri dari 2 jenis pellet. Sebelum diberikan pellet ini dicampur hingga merata. Pukul 16.00 WIB, kuda diberikan pellet untuk kedua kalinya. Pellet yang diberikan juga terdiri dari 2 jenis pellet dan dicampur merata sebelum diberikan. Pukul 19.00 WIB, kuda diberikan rumput yang sudah disiapkan sejak sore hari. Pakan kuda yang diberikan harus sesuai dengan umur dan fungsi kuda tersebut. Umur kuda dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu 1-6 bulan, 6-12 bulan, 12-24 bulan, dan diatas 24 bulan. Kuda yang berumur 1-6 bulan tidak disediakan pakan khusus, karena masih dalam masa menyusu dengan induknya. Induk kuda yang sedang menyusui memerlukan kebutuhan pakan yang cukup banyak baik untuk induk kuda maupun anaknya. Induk menyusui dan induk bunting memerlukan pakan tiga kali lipat terutama untuk vitamin dan mineral, kacangkacangan dan bungkil yang dapat membantu pembentukan air susu dalam jumlah yang cukup. Pengaturan pemberian pakan dapat dilakukan 2-3 kali sehari yaitu pagi, siang, sore hari tergantung dari kuda dan fungsi kuda tersebut (Jacoebs, 1994). Umur 6 bulan anak kuda sudah dipisahkan dari induknya. Karena dia sudah terbiasa makan dengan induknya. Maka tidak banyak terjadi perubahan pada dirinya. Untuk beberapa hari dia akan kehilangan induknya, kemudian dia akan terbiasa karena akan berkumpul dengan anak kuda lainnya yang sebaya. Pengaturan makanan diberikan pagi dan sore, karena dia akan diumbar sepanjang hari dari pagi sampai sore. Keadan ini berlangsung sampai anak kuda berumur 24 bulan (2 tahun). Perawatan Kesehatan dan Pemeliharaan Kuda Manajemen perawatan kesehatan dan pemeliharaan kuda merupakan hal yang perlu diperhatikan. Hal ini mencakup pemandian kuda, penyikatan, penyisiran bulu dan ekor, pengepangan ekor, pemasangan dan penggantian tapal/ sepatu kuda, pengolesan kuku dan kulit. Kuda di peternakan ini dibersihkan pada pagi hari,

sebelum digiring ke peddock. Bagian tubuh yang dibersihkan meliputi leher, punggung hingga perut bagian bawah, bahu hingga ujung kaki, dan ekor. Pembersihan bagian ini dibersihkan dengan sikat dan sisir kuda. Selain itu, bagian bawah tapal/sepatu kuda juga dibersihkan. Bagian ini dibersihkan dengan cara membersihkan kotoran yang ada celah-celah di bagian bawah tapal tersebut. Setelah kuda bersih, kuda digiring ke peddock untuk digembalakan. Kuda adalah hewan perasa yang sensitif, sehingga memerlukan sentuhan dan penyikatan yang cukup sering, mereka pun dapat merasakan suasana hati pemilik atau pengurusnya. Dengan kata lain, kuda senang diajak berbicara, mereka merasa gembira saat mereka diperhatikan, disikat, disisir, ditepuk-tepuk, bahkan saat diajak berbincang ketika kita berada di dekat mereka. Pemeriksaan kesehatan ternak kuda dilakukan seminggu sekali oleh dokter hewan. Penyakit yang sering menyerang ternak kuda adalah Kholik dan Thandom (Irined, 2009). Perawatan terhadap kaki dan kuku, temasuk pemasangan dan penggantian tapal. Pemasangan tapal bertujuan untuk melindungi kaki (kuku) kuda dari benda tajam dan organisme pengganggu, serta untuk menjaga bentuk kuku kuda. Pemasangan tapal pertama kali dilakukan saat kuda berumur minimal dua tahun. Tapal diganti setiap satu bulan sekali, dengan pengecekan rutin setiap minggunya. Tapal yang sudah usang diganti dengan yang baru, dengan sebelumnya dilakukan pengikiran kuku agar rapi dan memudahkan pemasangan berikutnya. Dalam melakukan pemasangan tapal, paku yang digunakan berasal dari Sweden. Semakin ke arah belakang kuku, semakin kecil paku yang harus digunakan, mengingat semakin pendek kuku yang bertumbuh dan semakin dekat dengan daging. Perawatan terhadap kuku pun dilakukan dengan mengoleskan hoof-oil untuk menjaga agar kuku tetap sehat, tidak kering, dan tidak pecah-pecah. Rambut kuda yang ada pada bagian leher dicukur pendek supaya tidak mengganggu pergerakan tangan penunggangnya (Irined, 2009).

KESIMPULAN Sistem perkandangan di peternakan Gekbrong yaitu sistem individu. Pakan yang diberikan berupa pellet dan hijauan. Manajemen perawatan kesehatan dan pemeliharaan kuda mencakup pemandian kuda, penyikatan, penyisiran bulu dan ekor, pengepangan ekor, pemasangan dan penggantian tapal / sepatu kuda, pengolesan kuku dan kulit, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA Blakely, J. & D. H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Terjemahan: Bambang Srigandono. Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Edwards, E. H. 1994. The Encyclopedia of Horse. First Published in Great Britan, London. Hamer, D. 1993. Understanding Fitness and Training. Ward Lock Book, London. Irined. 2009. Peternakan Kuda di Nusantara Polo Club. http://irined14070168.wordpress.com. Diakses tanggal [18 Desember 2011].

Jacoebs, T. N. 1994. Budidaya Ternak Kuda. Kanisius. Yogyakarta. Kidd, J. 1995. Horses and Ponies of the World. Ward Lock Publishing, London. McBane, S. 1991. Horse and Ridding a Thinking Approach. Paperbeck. United Kingdom. McBane, S. 1994. Modern Stables Management. Ward Lock. United Kingdom. McBane, S. 1995. Know Your Pony. Ward Lock, London. McCall, C. A. 1997. Decreasing the cost of feeding horses. Animal and Dairy Sciences, Auburn University. Mediana, B., I. D. Girard, E. Jacotot, & V. Julliand. 2002. Effect of a preparation of saccharomyces cereviviae on microbial profiles and fermentation patterns in the large intestine of horses fed high fiber or high starch diet. J. Anim. Sci. 80: 2600-2609. Nozawa, K., T. Amanu, M. Katsumata, S. Suzuki, T. Nishida, T. Namikawa, H. Martojo, B. Pangestu, & H. Nadjib. 1981. Morfologi and gene contitution of the Indonesian horses. In: the origin and philogeni of Indonesian native livestock. Investigation on the cattle, fowl, and their wild forms. II: 9-30.

NRC. 1989. Nutrient Requirment of Horses. National Academy or Sciences, United States of Amerika. Parakkasi, A. 1986. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik. Vol. 1 B. UI Press, Jakarta. Pilliner, S. 1992. Horses Notrition and Feeding. Blackwell Science Ltd, London. Pilliner, S. 1993. Getting Horses Fit. Second edition. Blackwell Science Ltd, London. PORDASI. 2000. Peraturan Pacuan & Petunjuk Pelaksanaan Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda. Jakarta: PP. PORDASI. Prabowo, P.P. 2003. Produksi & Konsumen Daging Kuda di Yogyakarta. Makalah Semiloka. Perkudaan Indonesia, Jakarta. Soehardjono, O. 1990. Kuda. Yayasan Pamulang Equestrian Center, Jakarta. Templeton, W. 1979. Forages for Horses. Proc. Annu. Ky. Horsemens Shortcourse. 3: 81. Tim Karya Tani Mandiri. 2010. Pedoman Beternak Kuda. CV. Nuansa Aulia, Bandung.

LAMPIRAN

Pakan Konsentrat Berbentuk Pellet

Pakan Hijauan

Konsentrat GOLDEN HOURSE

Konsentrat HARAS-STUD

Tempat Pakan