ISBN 978-602-8937-18-4
351.770212
Ind
P

PROFIL
KESEHATAN INDONESIA
2009

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.
JAKARTA
2010

Katalog Dalam Terbitan Kementerian Kesehatan RI
Ind

P

Indonesia. Kementerian Kesehatan. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi
Profil Kesehatan Indonesia 2009. - - Jakarta :
Kementerian Kesehatan RI 2010
I. Judul

1. PROFIL KESEHATAN INDONESIA 2009

ISBN 978-602-8937-18-4
351.770212
Ind
P

Buku ini diterbitkan oleh
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jalan HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav 4-9, Jakarta 12950
Telepon no: 62-21-5229590, 5221432
Fax no: 62-21-5203874
E-mail: pusdatin@depkes .go.id
Web site: http://www.depkes.go.id
________________________________________________________________________

TIM PENYUSUN

Pengarah
dr. Ratna Rosita, MPH.M
Sekretaris Jenderal Kemenkes RI
Ketua
dr. Jane Soepardi
Kepala Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi
Editor
Hasnawati, SKM, MKes
drg. Vensya Sitohang, MEpid
Dra. Rahmaniar Brahim, Apt, MKes
Anggota
Sunaryadi, SKM,MKes; Iskandar Zulkarnain, SKM,MKes; Nuning Kurniasih, Apt,MSi;
Marlina Indah Susanti, SKM; Supriyono Pangribowo, SKM; Istiqomah, SS;
Athi Susilowati Rois, SKM; drg. Rudi Kurniawan, MKes; Margiyono, SKom;
Muslichatul Hidayah, Hanna Endang Wahyuni; Endang Kustanti; B.B. Sigit;
Sondang Tambunan; Hellena Maslinda; Doni Hadhi Kurnianto, SKom
Kontributor
dr. Leni Evanita; Lina Khasanah; dr. Rusmiyati, MQIH; Indah Susanti D,SSi,Apt;
dr. Lucas C Hermawan, MKes; Ingrat Padmosari; Mahmud Fauzi, SKM,MKes;
Linda Siti Rohaeti; drg. R. Edi Setiawan: Akhmad Rizky Taufik, SKom;
Ir. Ade Sutrisno,MKes; Astuti, SKM,MKes; dr. Theresia Hermin; Bunga Mayung DL ;
Dewi Minarni; Cipto Aris Purnomo; Indah Hartati; Heri Radison, SKM,MKM;
Nariyah Handayani; Ainol Mardhiah; Yopi Ananda; Anggi Ardhiasti, SKM;
Ira Oktaviani; Nelly Mustika Sari, SKM; Nurhayati Simanjuntak, SKom

.

Jika digunakan sebagai pemantau maka profil merupakan pemantauan rencana jangka panjang. file di website. baik narasi maupun lampiran. dan “eye-catching” dan bertujuan memudahkan para pembaca dalam menggunakannya. seperti tabel. disamakan dengan tahun dari data dan informasi yang disajikan. tidak hanya deskriptif. frekuensi poligon. baik jenis dan cakupannya. Profil kesehatan Tahun 2009 ini diupayakan disusun dengan tampilan yang lebih menarik. Beberapa data dan informasi tahun 2009 yang belum terdapat dalam Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini akan disajikan dalam bentuk sajian lain. Profil Kesehatan Indonesia harus tersusun secara sistematis. scater diagram. data sarana pelayanan kesehatan yang merupakan hasil pengolahan data oleh Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi. misal: Rencana lima tahun pembangunan kesehatan. tetapi juga analisis komparatif. i . Profil kesehatan sebagai “potret”saat ini lebih dinilai sebagai alat evaluasi daripada sebagai alat pemantauan. maka seperti profil kesehatan sebelumnya. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi sebagai koordinator Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia bersama-sama dengan seluruh program terkait di Kementerian Kesehatan berupaya menyusun bersama-sama. Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2009 ini. data diupayakan lengkap. termasuk kontribusi dari hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007 yang diselenggarakan Balitbangkes Depkes. Profil Kesehatan Indonesia 2009” ini selain memuat data dan informasi kesehatan dan faktor-faktor lain yang terkait. dan peta. seperti profil kesehatan pada tahun sebelumnya. dari suatu wilayah/Indonesia. Tahun yang terdapat dalam judul profil kesehatan. serta perbandingan Indonesia dengan negara-negara anggota ASEAN dan SEARO. narasi dikombinasi dengan bentuk-bentuk penyajian lain. upaya kesehatan. dimana analisis/narasi menggunakan model/kerangka teori yaitu teori blum/teori host-environment-agent/teori lain. sumber daya kesehatan. Penyajian dalam “Profil Kesehatan Indonesia 2009” ini masih terdapat keterbatasan karena ada beberapa indikator masih memuat data beberapa tahun ke belakang. misalnya data dan informasi terplih lainnya. juga data yang berasal dari program. dalam satu kurun waktu tertentu dalam hal ini tahunan dengan berbagai bentuk: tercetak dan digital (cd-rom. grafik – histogram/bar chart. Sebagai bentuk penyajian. line diagram. Data dan Informasi dalam “Profil Kesehatan Indonesia 2009” merupakan salah satu wujud akuntabilitas dari kinerja Kementerian Kesehatan yang mencerminkan Pembangunan Kesehatan secara menyeluruh.D KATA PENGANTAR Profil Kesehatan Indonesia merupakan sarana penyaji data dan informasi kesehatan serta yang berkaitan. bar diagram. dan faktor-faktor terkait lainnya. pictogram. dll). yang menggambarkan “potret” status kesehatan masyarakat dan faktor faktor yang mempengaruhi. sumber data berasal dari profil provinsi. Dalam Profil Kesehatan Indonesia ini menggambarkan secara umum tentang kondisi derajat kesehatan. yang berasal dari kabupaten/kota. pie diagram. analisis kecenderungan. analisis hubungan Profil kesehatan harus menarik. Jenis data adalah data “facility based” dan data “community based”. Analisis diupayakan semaksimal mungkin. juga memuat kejadian-kejadian penting yang terjadi pada tahun 2009.

.

.

iv .

Perbaikan Gizi Masyarakat E. Keadaan Pendidikan D.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i SAMBUTAN SEKRETARIS JENDERAL iii DAFTAR ISI v DAFTAR LAMPIRAN vii BAB I PENDAHULUAN 1 BAB II GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK A. Sarana Kesehatan B. Tenaga Kesehatan C. Pelayanan Kesehatan Rujukan C. Pelayanan Kesehatan dalam Situasi Bencana 58 59 83 88 106 115 BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN A. Keadaan Lingkungan E. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit D. Morbiditas 26 27 33 BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN A. Pelayanan Kesehatan Dasar B. Pembiayaan Kesehatan 117 118 133 137 v . Keadaan Ekonomi C. Mortalitas B. Keadaan Perilaku Masyarakat 5 6 9 14 19 24 BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN A. Keadaan Penduduk B.

Kependudukan B. Upaya Kesehatan DAFTAR PUSTAKA 143 144 154 164 170 LAMPIRAN *** vi . Derajat Kesehatan C.BAB VI PERBANDINGAN INDONESIA DENGAN NEGARA ANGGOTA ASEAN DAN SEARO A.

6 Lampiran 2.18 Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan Menurut Provinsi Tahun 2009 Hasil Sensus Penduduk 2010 dan Rasio Jenis Kelamin Menurut Provinsi Tahun 2010 Luas Wilayah.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 2.13 Lampiran 2.2009 Rata-rata Lama Sekolah (Tahun) Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2008 .2010 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Tertentu.2009 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Provinsi dan Usia Sekolah Tahun 2008 .7 Lampiran 2.1 Lampiran 2.11 Lampiran 2.14 Lampiran 2. Angka Beban Tanggungan dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Daerah Tertinggal Menurut Provinsi Tahun 2006 – 2010 Garis Kemiskinan Menurut Provinsi dan Daerah Tahun 2009 (Maret 2009) Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Provinsi dan Daerah Tahun 2009 Angka Melek Huruf Penduduk Berusia 15 Tahun Ke Atas Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2008 .4 Lampiran 2.10 Lampiran 2.15 Lampiran 2.2009 Persentase Keluarga Menurut Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Penduduk dengan Akses terhadap Air Minum yang Aman Menurut Provinsi dan Wilayah Tahun 2009 Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Penduduk dengan Akses Sanitasi Dasar yang Layak Menurut Provinsi dan Wilayah Tahun 2009 Persentase Rumah Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Institusi Dibina kesehatan Lingkungannya Menurut Provinsi Tahun 2009 vii .12 Lampiran 2.2 Lampiran 2.9 Lampiran 2.3 Lampiran 2.5 Lampiran 2.17 Lampiran 2.8 Lampiran 2.16 Lampiran 2. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Provinsi Tahun 2009 Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi Tahun 1971 .

1 Lampiran 3.000 Penduduk Menurut Provinsi s. dan Angka Kumulatif Kasus Per 100.19 Lampiran 2.4 Lampiran 3. dan Incidence Rate Campak Menurut Provinsi Tahun 2009 viii . dan Proporsi Kasus pada Anak Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Tetanus Neonatorum dan Faktor Risiko Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Campak Per Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Campak Menurut Kelompok Umur dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus.20 Lampiran 2.15 Lampiran 3.13 Lampiran 3.Lampiran 2. Meninggal.18 Lampiran 3.8 Lampiran 3.2008 10 Besar Penyakit Rawat Inap di Rumah Sakit Tahun 2009 10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2009 Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Malaria Menurut Provinsi Tahun 2009 Annual Parasite Incidence (API) Malaria di Jawa-Bali Tahun 2004 2009 Hasil Cakupan Penemuan Kasus Penyakit TB Paru Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Kelompok Umur (Tahun). Meninggal.d Desember 2009 Jumlah Kasus AIDS Kumulatif Per Triwulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Kasus AIDS Pada Pengguna NAPZA Suntikan (IDU) Menurut Provinsi s. Jenis Kelamin dan Provinsi Tahun 2009 Hasil Cakupan Pengobatan TB Paru Menurut Provinsi Tahun 2008 Jumlah Kumulatif Kasus AIDS. Angka Kematian Balita Tahun 2007 dan Angka Harapan Hidup Menurut Provinsi Tahun 2008 Indeks Pembangunan Manusia dan Komponen Menurut Provinsi Tahun 2007 .6 Lampiran 3.21 Lampiran 3.14 Lampiran 3. Kecacatan.2 Lampiran 3.19 Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Rumah Tangga Ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Wanita Umur Perkawinan Pertama Menurut Provinsi Tahun 2009 Estimasi Angka Kematian Bayi.5 Lampiran 3. Case Detection Rate (CDR).7 Lampiran 3.17 Lampiran 3.9 Lampiran 3.3 Lampiran 3.10 Lampiran 3.d 31 Desember 2009 Jumlah Kasus Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru Kusta.12 Lampiran 3.16 Lampiran 3.11 Lampiran 3.

27 Lampiran 3.32 Lampiran 3.22 Lampiran 3. Anak Balita. Case Fatality Rate (%).30 Lampiran 3.2009 Jumlah Kasus Demam Chikungunya Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Kabupaten Terjangkit dan Jumlah Kasus Gigitan Hewan Tertular Rabies serta Hasil Pemeriksaan Specimen Hewan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Penderita Filariasis Menurut Provinsi Tahun 2006 .2009 Jumlah Kasus dan Meninggal Flu Burung Menurut Provinsi Tahun 2005 .1 Lampiran 4.21 Lampiran 3. dan Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir dan Provinsi Tahun 2009 Cakupan Kunjungan Neonatus.28 Lampiran 3.33 Lampiran 3.4 Lampiran 4. Pelayanan Kesehatan Bayi dan Anak Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi.20 Lampiran 3.26 Lampiran 3.31 Lampiran 3. dan Non Polio AFP Rate Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus AFP Menurut Kriteria Klasifikasi Klinis dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Penderita. dan Incidence Rate Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD/DHF) Menurut Provinsi Tahun 2005 2009 Jumlah Kabupaten/Kota yang Terjangkit Demam Berdarah Dengue Menurut Provinsi Tahun 2005 – 2009 Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare Menurut Provinsi Tahun 2005 . K4.35 Lampiran 4.2009 Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas.Lampiran 3.5 Frekuensi KLB dan Jumlah Kasus pada KLB Campak Menurut Provinsi Tahun 2009 KLB Campak Berdasarkan Konfirmasi Laboratorium Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Difteri Menurut Kelompok Umur dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Difteri Per Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus AFP.2009 Situasi Pes Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus. dan Case Fatality Rate (CFR) Leptospirosis Menurut Provinsi Tahun 2004 .34 Lampiran 3.29 Lampiran 3. Meninggal.3 Lampiran 4. Jumlah Korban Luka dan Meninggal Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1. AFP Rate.24 Lampiran 3.23 Lampiran 3.2 Lampiran 4.25 Lampiran 3. dan Murid SD Kelas 1 dan Sederajat Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Penanganan Neonatal dan Obstetri Komplikasi Menurut Provinsi Tahun 2009 ix .

6 Lampiran 4.10 Lampiran 4.19 Lampiran 4.2009 Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Imunisasi TT pada Wanita Usia Subur Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kunjungan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Menurut Provinsi Tahun 2008 Indikator Pelayanan Rumah Sakit Umum Kemeterian Kesehatan dan Pemda Menurut Provinsi Tahun 2008 .21 Lampiran 4.23 Lampiran 4.13 Lampiran 4. Sembuh.14 Lampiran 4.Campak pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2006 .20 Lampiran 4.18 Lampiran 4.2009 Pemeriksaan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Rumah Sakit Umum Depkes dan Pemda Menurut Provinsi Tahun 2008 Jumlah Kunjungan Peserta Jamkesmas di Puskesmas Tahun 2009 Jumlah Kunjungan Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) Peserta Jamkesmas Tahun 2009 Jumlah Kasus Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL) Peserta Jamkesmas Tahun 2009 Cakupan TB Paru BTA Positif. Pengobatan Lengkap dan Success Rate (Hasil Pengobatan Penyakit TB Tahun 2008) Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Pemberian Tablet Besi (Fe) pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Umur 0-6 Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Yodium Menurut Provinsi Tahun 2007 x .12 Lampiran 4.26 Jumlah dan Persentase Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Hasil Pelayanan Peserta KB Baru Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Proporsi Peserta KB Baru Menurut Tempat Pelayanan dan Provinsi Tahun 2009 Pencapaian Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Menurut Provinsi Tahun 2007 .7 Lampiran 4.11 Lampiran 4.15 Lampiran 4.2009 Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2009 Drop Out Rate Cakupan Imunisasi Dpt1 .16 Lampiran 4.24 Lampiran 4.22 Lampiran 4.17 Lampiran 4.8 Lampiran 4.Lampiran 4.9 Lampiran 4.25 Lampiran 4.

17 Rekapitulasi Kejadian Bencana Menurut Jenis Bencana dan Jumlah Korban Tahun 2009 Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 (lanjutan) Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 (lanjutan) Rekapitulasi Data Kecukupan Obat Nasional Tahun 2009 Jumlah Puskesmas dan Rasionya terhadap Penduduk 'Menurut Provinsi Tahun 2005 .14 Lampiran 5.9 Lampiran 5.2009 Jumlah Tempat Tidur di Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus Menurut Kelas Perawatan dan Provinsi Tahun 2008 Jumlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Milik Kemenkes/Pemda Menurut Kelas Rumah Sakit dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit Khusus dan Tempat Tidurnya Menurut Jenis Rumah Sakit Tahun 2005 .15 Lampiran 5.3 Lampiran 5.28 Lampiran 4.2009 Jumlah Sarana Produksi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2007 .31 Lampiran 5.13 Lampiran 5.2009 Jumlah Puskesmas Perawatan dan Puskesmas Non Perawatan Menurut Provinsi Tahun 2005 .11 Lampiran 5.10 Lampiran 5.5 Lampiran 5.8 Lampiran 5.29 Lampiran 4.4 Lampiran 5.2 Lampiran 5.30 Lampiran 4.1 Lampiran 5.27 Lampiran 4.16 Lampiran 5.7 Lampiran 5.12 Lampiran 5.2009 Jumlah Sarana Distribusi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Institusi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Menurut Jurusan dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Jurusan/Program Studi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Menurut Akreditasi dan Strata Tahun 2009 Jumlah Institusi Non Politeknik Kesehatan (Non-Poltekkes) Menurut Jurusan/Program Studi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Institusi Non Politeknik Kesehatan (Non-Poltekkes) Menurut Akreditasi dan Strata Tahun 2009 Jumlah Institusi Diknakes Non-Poltekkes Menurut Status Kepemilikan Tahun 2009 Rekapitulasi Data SDM Kesehatan Per Provinsi Keadaan Desember 2009 Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Menurut Jenis dan Provinsi Tahun 2009 xi .2009 Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit di Indonesia Menurut Pengelola dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Menurut Pengelola Tahun 2005 .Lampiran 4.6 Lampiran 5.

21 Lampiran 5.24 Lampiran 5. Perawat dan Bidan terhadap Jumlah Puskesmas Menurut Provinsi Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Dokter Umum Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Distribusi Tingkat Keterlibatan Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia dalam Kegiatan Kediklatan Tahun 2009 Distribusi Widyaiswara Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2009 Distribusi Frekuensi Pelatihan dan Jumlah Peserta di Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia Berdasarkan Jenis Diklat Tahun 2009 Rekapitulasi Peserta Didik Poltekkes Perjenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Peserta Didik Poltekkes Per Jenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Peserta Didik Non Poltekkes Per Jenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Lulusan Diknakes Poltekkes dan Non Poltekkes Berdasarkan Jenis Tenaga Kesehatan Tahun 2009 Jumlah Lulusan Poltekkes Berdasarkan Jurusan/Program Studi Institusi Diknakes Seluruh Indonesia Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Lulusan Non Poltekkes Diknakes Seluruh Indonesia Berdasarkan Jenis dan Provinsi Tahun Ajaran 2009/2010 Alokasi dan Realisasi Kementerian Kesehatan RI Triwulan IV Tahun 2009 Data Cakupan Kepesertaan Jaminan Kesehatan Per Juni 2010 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Umum Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tahun 2009 Keadaan Dokter Spesialis PTT Kemenkes yang Masih Aktif s. Dokter Gigi.22 Lampiran 5.32 Lampiran 5.19 Lampiran 5.23 Lampiran 5.18 Lampiran 5.36 Lampiran 5.35 Lampiran 5.34 Lampiran 5.31 Lampiran 5.29 Lampiran 5.37 Lampiran 5.38 Rasio Dokter.27 Lampiran 5.25 Lampiran 5.33 Lampiran 5.26 Lampiran 5.28 Lampiran 5.30 Lampiran 5.20 Lampiran 5.Lampiran 5.d Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Umum PTT Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Gigi PTT Tahun 2009 xii .

8 Lampiran 6.Lampiran 5.6 Lampiran 6.5 Lampiran 6.7 Lampiran 6.2 Lampiran 6.1 Perbandingan Beberapa Data Kependudukan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2008 Angka Kelahiran.39 Distribusi Pegawai Kementerian Kesehatan RI Dirinci Menurut Jenis Pendidikan Tahun 2009 Lampiran 6. Angka Kematian. dan Indeks Pembangunan Manusia di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Penduduk yang Menggunakan Sumber Air Bersih dan yang Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2007 Perbandingan Data Tuberkulosis di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2007/2008 Angka Estimasi HIV dan AIDS di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2008 Jumlah Kasus Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi di Negara-Negara ASEAN & SEARO Perbandingan Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2008 Perbandingan Upaya Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2000-2009 Pembiayaan Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2007 Lampiran 6.9 *** xiii .4 Lampiran 6.3 Lampiran 6.

.

dan tidak efisiennya penggunaan sumber daya. serta terhambatnya aliran komunikasi data antar pengguna atau bahkan tertutupnya sumber informasi untuk diakses oleh pengguna lain sehingga menyebabkan sulitnya memperoleh informasi yang memadai (lack of informations). yang berisi data tahunan dari hasil pembangunan kesehatan. Situasi demikian menimbulkan tersendatnya pendistribusian informasi terutama dari sumber data di unit pelayanan kesehatan atau kabupaten/kota ke provinsi dan pusat yang mengakibatkan terjadinya krisis informasi di berbagai unit teknis di pusat. angka kematian. Satu-satunya alat yang dimiliki Kementerian Kesehatan adalah adanya Profil Kesehatan Indonesia. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Di samping itu. masih terjadi redundant data.Kita sadari bahwa sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih jauh dari kondisi ideal. Penyelenggaraan sistem informasi kesehatan itu sendiri masih belum dilakukan secara efisien. Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator. di mana masing-masing unit mengumpulkan datanya sendiri-sendiri dengan berbagai instrumennya di setiap unit kerja baik di pusat maupun di daerah. Sedangkan pembangunan kesehatan adanya upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. yaitu belum mampu menyediakan data dan informasi kesehatan yang evidence based sehingga belum mampu menjadi alat manajemen kesehatan yang efektif. dan status gizi masyarakat. adalah terhambatnya aliran komunikasi data baik dari sumber data di daerah ke pengguna di pusat atau sebaliknya. Berbagai masalah klasik masih dihadapi dalam penyelenggaraan sistem informasi kesehatan. duplikasi kegiatan. Adanya “overlapping” kegiatan dalam pengumpulan dan pengolahan data. yang meliputi indikator angka harapan hidup. 2 . angka kesakitan. Hal ini sebagai akibat dari adanya sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih terfragmentasi. kemauan. Situasi yang demikian pada akhirnya menyulitkan dalam pengambilan keputusan berdasarkan evidence based. Di antaranya adalah kegiatan pengelolaan data dan informasi belum terintegrasi dan terkoordinasi dalam satu mekanisme kerjasama yang baik.

2. 3. dengan Misinya adalah sebagai berikut. 4. Efektif. retensi dan mutu SDM. 7. efficient). 1. distribusi. merata. 3. Ketersediaan. strategi pertama yang perlu dilakukan adalah penguatan kebijakan dan perencanaan di bidang sistem informasi kesehatan. dimana Kementerian Kesehatan memiliki Visi adalah Masyarakat Sehat yang Mandiri dan berkeadilan. dan alat kesehatan. Untuk kelancaran proses Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia yang merupakan salah satu produk dari berhasilnya sistem informasi kesehatan yang terintegrasi. Revitalisasi pelayanan kesehatan. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan. Responsif (responsive). 5. Pro Rakyat (pro poor). yang berasal dari profil kesehatan provinsi ini selain sebagai alat ukur sampai dimana capaian indikator pembangunan kesehatan setiap provinsi dibanding target nasional bahkan target MDG (Millenium Development Goal). Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. efisien (effective. distribusi. Ketersediaan. 6. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. berkeadilan. 4. Jaminan kesehatan masyarakat. vaksin. Bersih (clean). juga disajikan dalam bentuk peringkat dari tiap indikator.Penyajian Profil Kesehatan Indonesia 2009. Reformasi birokrasi. sehingga provinsi dapat mengetahui dimana posisinya dalam setiap indikator pembangunan kesehatan dibandingkan provinsi lainnya. 2. Reformasi Pembangunan Kesehatan tahun 2010-2014: 1. Lima nilai Kementerian Kesehatan adalah: 1. keamanan. Keberpihakan pada DTPK (Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan) serta DBK (Daerah Bermasalah Kesehatan). Penguatan kebijakan sistem informasi kesehatan dilakukan dengan menyusun aturan-aturan yang menjamin sistem informasi kesehatan dapat diselenggarakan dengan baik. World class health care. 4. 5. di masa mendatang maka. 2. termasuk swasta dan madani. mutu. dengan menggunakan indikator yang sesuai. bermutu. diusahakan untuk ditampilkan berbagai data dan informasi yang menjawab Visi dan Misi serta berbagai data dan informasi yang menjelaskan tentang reformasi Birokrasi. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan paripurna. Pada pasal 168 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan telah diamanatkan bahwa penyelenggaraan sistem informasi 3 . Inklusif (inclusive). efektivitas. Dalam penyajiannya. 3. keterjangkauan obat.

Bab ini berisi uraian tentang upaya-upaya kesehatan yang telah dilaksanakan oleh bidang kesehatan sampai tahun 2009. angka kesakitan.Situasi Sumber Daya Kesehatan. perekonomian.Situasi Umum dan Perilaku Penduduk. pendidikan. pencapaian upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit. Bab IV .Situasi Upaya Kesehatan. kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. Bab ini juga menyajikan tentang gambaran umum. pencapaian pelayanan kesehatan rujukan. Dengan telah selesai dan dipublikasikannya hasil sensus penduduk 2010 yang diselenggarakan oleh BPS. Angka Kelahiran.Pendahuluan. Bab II . Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi bersama Biro Hukum dan Organisasi sedang menyiapkan bahan rancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang sistem informasi kesehatan.Situasi Derajat Kesehatan. dan lingkungan fisik. dan status gizi masyarakat. Bab VI . Bab ini menyajikan perbandingan beberapa indikator yang meliputi data kependudukan. Indeks Pembangunan Manusia. sedang dalam proses penyusunan. dan upaya perbaikan gizi masyarakat. yaitu: Bab I .Perbandingan Indonesia dengan Negara Anggota ASEAN dan SEARO. umur harapan hidup. Bab ini berisi uraian tentang hasil-hasil pembangunan kesehatan sampai dengan tahun 2009 yang mencakup tentang angka kematian. sarana kesehatan. Bab V . yang meliputi: kependudukan. *** 4 . data tuberkulosis. Bab III . angka estimasi HIV/AIDS. Demikian pula aturan-aturan di bawahnya. Bab ini menyajikan tentang latar belakang diterbitkannya Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini serta sistimatika penyajiannya. Gambaran tentang keadaan sumber daya mencakup tentang keadaan tenaga. cakupan imunisasi pada bayi dan upaya kesehatan.kesehatan diatur dalam peraturan pemerintah. Untuk ini. dan pembiayaan kesehatan. maka juga kami masukkan data jumlah penduduk tahun 2010. Gambaran tentang upaya kesehatan yang telah dilakukan itu meliputi pencapaian pelayanan kesehatan dasar. serta perilaku penduduk yang terkait dengan kesehatan. Angka Kematian. seperti pedoman dan petunjuk teknis. Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini terdiri atas 6 (enam) bab. Dalam penguatan perencanaan sistem informasi kesehatan. untuk tercapainya dan berhasilnya program-program pembangunan di bidang kesehatan. Bab ini menguraikan tentang sumber daya pembangunan bidang kesehatan sampai tahun 2009. juga Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi bersama unit-unit pengelola program dan lintas sektor terkait sedang menyusun Rencana Strategis Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan.

.

sosial.543 kecamatan dan 75. A.556.2). rasio jenis kelamin penduduk Indonesia tahun 2010 sebesar 101. Secara nasional. dan perilaku penduduk yang berkaitan dengan kesehatan. dan ekonomi.1 Pada bab ini akan diuraikan gambaran umum Indonesia dan perilaku penduduk pada tahun 2009 yang meliputi: keadaan penduduk. Jika dibandingkan dengan jumlah kabupaten/kota yang ada pada tahun 2008. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara.507.783 perempuan (Lampiran 2. keadaan ekonomi. Pembagian wilayah Indonesia secara administratif menurut provinsi pada tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2. dan dari 97 o sampai 141o garis Bujur Timur serta terletak antara dua benua yaitu benua Asia dan Australia. 6 . politik. jumlah pulau di Indonesia 17. yang artinya jumlah penduduk laki-laki satu persen lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan. KEADAAN PENDUDUK Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010. Keragaman dalam berbagai aspek tersebut juga terkait dengan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. atau setiap 100 perempuan terdapat 101 laki-laki.Indonesia terbentang antara 6o garis Lintang Utara sampai 11o garis Lintang Selatan.363 orang.226 kelurahan/desa. keadaan pendidikan. serta delta. jumlah penduduk Indonesia sebesar 237.504 pulau.048. Rasio jenis kelamin terbesar terdapat di Provinsi Papua yaitu sebesar 113 dan yang terkecil terdapat di Nusa Tenggara Barat yaitu sebesar 94. Posisi strategis ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kebudayaan. 6. keadaan lingkungan. maka selama tahun 2009 telah terjadi pembentukan 2 kabupaten baru. menurut data Bakosurtanal.580 laki-laki dan 118. yang terdiri dari 119. 497 kabupaten/kota (399 kabupaten dan 98 kota). Secara administratif wilayah Indonesia pada tahun 2009 terbagi atas 33 provinsi. Jumlah pulau itu termasuk yang berada di muara dan tengah sungai. Fakta ini membuat Indonesia memiliki keragaman budaya dan adat istiadat dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain.

647 perempuan (Lampiran 2. GAMBAR 2.49 persen. jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2009 tercatat sebesar 231.369.46 persen (SP 2010). Secara nasional. Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah yang memiliki 7 .910.931. yaitu sebesar 13.4.817. yaitu sebesar 5. Tingkat kepadatan yang tinggi masih didominasi oleh provinsi-provinsi di Pulau Jawa.551.37%. Estimasi Penduduk Indonesia Dirinci Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2008 Secara nasional. Berdasarkan distribusi penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur maka kita dapat memperoleh gambaran piramida penduduk Indonesia tahun 2009 sebagai berikut.1 PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2009 (dalam ribu) Sumber : Badan Pusat Statistik. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia secara rinci sejak Sensus Penduduk tahun 1971 sampai dengan Sensus Penduduk tahun 2010 dapat dilihat dalam Lampiran 2.592 jiwa terdiri dari 115.945 laki-laki dan 115. laju pertumbuhan penduduk Indonesia per tahun selama 2 dasawarsa terakhir adalah sebesar 1. Sedangkan provinsi dengan laju pertumbuhan terendah yaitu Jawa Tengah sebesar 0.Sedangkan pada tahun 2009. berdasarkan data estimasi penduduk Badan Pusat Statistik (SUPAS 2005).890 jiwa per km2.32 km2 maka tingkat kepadatan penduduk pada tahun 2009 sebesar 121 jiwa per km2.3). dengan luas wilayah Indonesia 1. Laju pertumbuhan penduduk Provinsi Papua adalah yang tertinggi dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Provinsi yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi adalah DKI Jakarta.

65%.12%.118 jiwa per km2.23%.44 %. Kalimantan 5.45%.kepadatan penduduk tertinggi ke-2 dengan kepadatan 1.77% wilayah Indonesia. Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 5.id. Provinsi dengan tingkat kepadatan tertinggi ke-3 yaitu DI Yogyakarta sebesar 1.go.depdagri. yaitu hanya 7 jiwa per km2. Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2009. yang berusia produktif (15-64 tahun) sebesar 67. Dari data distribusi penduduk menurut pulau dapat diketahui terdapat ketimpangan persebaran penduduk antar pulau yang nyata.99%. http://www.25%.3. Kepadatan penduduk terendah di Papua. Lebih dari separuh penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa. yang kemudian diikuti oleh Kalimantan Tengah dengan kepadatan 14 jiwa per km2.23%. Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur. GAMBAR 2. yaitu sebesar 57.2 PERSENTASE PERSEBARAN PENDUDUK INDONESIA MENURUT KELOMPOK PULAU-PULAU BESAR TAHUN 2009 Sumber : Badan Pusat Statistik. 8 . dengan luas hanya 6. Selebihnya tersebar di Sumatera sebesar 21.92% dan yang berusia tua (> 65 tahun) sebesar 5. Jumlah penduduk dan angka kepadatan penduduk per provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2. Dengan demikian maka Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio) penduduk Indonesia pada tahun 2009 sebesar 47. Maluku dan Papua 2.173 jiwa per km2. Sulawesi 7. Papua Barat merupakan provinsi dengan tingkat kepadatan penduduk terendah ke-2 yaitu sebesar 8 jiwa per km2.96%. menunjukkan bahwa penduduk yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 26.

3 ANGKA BEBAN TANGGUNGAN MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Badan Pusat Statistik.87%.Provinsi dengan persentase beban tanggungan tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur sebesar 59.5%. Perekonomian Indonesia selama tahun 2006-2009 mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 5. inflasi dan pertumbuhan perekonomian sangat saling berkaitan. inflasi tercatat sebesar 2. Angka Beban Tanggungan dan provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2. GAMBAR 2. Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2009 B. sudah dipastikan akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi.5. 6. Apabila tingkat inflasi tinggi.26% diikuti oleh DI Yogyakarta sebesar 37.53% dan Maluku sebesar 56. Sedangkan provinsi dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu DKI Jakarta sebesar 37.78%. Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diprakirakan tumbuh 4.5 persen (2006). 9 . Rendahnya tingkat inflasi ini merupakan pencapaian terbaik dalam 10 tahun terakhir.0 persen (2008) dan 4.65% dan Jawa Timur sebesar 39.3 persen (2007). KEADAAN EKONOMI Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara. Rincian jumlah penduduk menurut kelompok umur. 6.69%.45% diikuti oleh Sulawesi Tenggara sebesar 57.5 persen (2009). Mengkaji kondisi perekonomian tentu saja tidak terlepas dari tingkat inflasi.

definisi operasional Angkatan Kerja adalah penduduk usia kerja yang bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja. Dari Rp 4. kelompok pendidikan.0 triliun.9%. kelompok bahan makanan 3. Sedangkan PDB untuk non migas tumbuh 4.1%. Pengangguran terbuka tidak termasuk orang yang masih sekolah atau mengurus rumah tangga.4 triliun pada 2009.88%. Persentase pengangguran terbuka adalah perbandingan antara jumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja. rekreasi dan olahraga masing-masing memberikan kontribusi yang sama 3. Kelompok lainnya dalam tahun 2009 masing-masing kelompok sandang 6.89%. termasuk juga mereka yang baru mendapat kerja tetapi belum mulai bekerja. pembantu rumah tangga.951. dan kelompok transportasi. Menurut Sakernas. Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4.81%. maka nilai Produk Domestik Bruto (PDB) 2009 naik sebesar Rp 662.00%. Sakernas merumuskan konsep pengangguran sebelum tahun 2001 sebagai angkatan kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan. Hal ini disebabkan bertambahnya lapangan kerja pada sektor jasa kemasyarakatan seperti jasa pertukangan. Kegiatan itu termasuk juga kegiatan pekerja tak dibayar yang membantu dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi. gas dan bahan bakar menyumbang sebesar 1. dan penganggur. Pengangguran terbuka disini didefinisikan sebagai orang yang sedang mencari pekerjaan atau yang sedang mempersiapkan usaha atau juga yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin lagi mendapatkan pekerjaan.5% pada 2009. Untuk mengetahui tingkat pengangguran.4 triliun pada 2008 menjadi sebesar Rp 5.5%.67%.Selama tahun 2009 kelompok makanan jadi. air. perumahan. transportasi dan 10 .613. Sementara Bekerja menurut definisi Sakernas adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan. listrik. rokok dan tembakau memberi kontribusi terbesar pada inflasi sebesar 7. dilakukan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). kelompok kesehatan. komunikasi dan jasa keuangan -3. minuman. mempersiapkan usaha. yang mencakup angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan. paling sedikit satu jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. hotel dan restoran sebesar 1. tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan/putus asa (sebelumnya dikategorikan sebagai Bukan Angkatan Kerja) dan yang punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja (sebelumnya dikategorikan sebagai Bekerja).83% pada inflasi nasional. Berdasarkan data hasil Sakernas BPS tahun 2008-2010 ada penurunan angka pengangguran. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi 15. Pertumbuhan terendah terjadi di sektor perdagangan. Sejak tahun 2001 konsep pengangguran menjadi angkatan kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan.

perbatasan antar negara.00%. penduduk yang bekerja dan pengangguran pada Februari 2008 .04% dari 497 kabupaten/kota. serta berdasarkan kabupaten yang berada di daerah pedalaman.46 8. yaitu sebesar 100%.14 7. daerah tertinggal adalah daerah kabupaten yang relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional dan berpenduduk relatif tertinggal.1 PERKEMBANGAN ANGKATAN KERJA. Provinsi dengan persentase kabupaten tertinggal tertinggi adalah Sulawesi Barat.99 102.40 Jumlah Angkatan Kerja Jumlah penduduk yang bekerja Sumber: BPS. sumber daya manusia. Keterbatasan prasarana terhadap berbagai bidang termasuk di dalamnya kesehatan menyebabkan masyarakat di daerah tertinggal mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial.05 104. Unit terkecil daerah tertinggal yang digunakan dalam Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (STRANAS PPDT) adalah wilayah administrasi kabupaten. Berdasarkan pendekatan tersebut. TABEL 2. Jumlah dan persentase kabupaten tertinggal menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2. Saat ini Indonesia memiliki 19 kabupaten perbatasan. Survei Angkatan Kerja Nasional 2008-2010 Pembangunan ekonomi yang diupayakan diharapkan mampu mendorong kemajuan.6.26 8.pertanian. Menurut definisinya. daerah rawan bencana dan konflik sosial. diikuti oleh Sulawesi Tengah sebesar 81.Februari 2010 adalah sebagai berikut. prasarana dan sarana.82% dan Bengkulu 80. 33 pulau-pulau kecil terluar berpenduduk dan 183 daerah tertinggal (termasuk terpencil). Tahun 2009 persentase daerah tertinggal adalah 40.59 Pengangguran terbuka (%) 8. PENDUDUK YANG BEKERJA DAN PENGANGGURAN TERBUKA DI INDONESIA TAHUN 2008 – 2010 Feb 2008 (juta orang) 111. Suatu daerah dikategorikan menjadi daerah tertinggal karena beberapa faktor penyebab. kemampuan keuangan lokal (celah fiskal). sumber daya manusia. baik fisik. prasarana (infrastruktur). maka ditetapkan 199 kabupaten yang dikategorikan kabupaten tertinggal. 11 . Perkembangan angkatan kerja. kepulauan (pulau kecil dan gugus pulau). Penetapan kriteria daerah tertinggal dilakukan dengan menggunakan pendekatan berdasarkan pada perhitungan 6 (enam) kriteria dasar yaitu: perekonomian masyarakat. mental dan spiritual di segenap pelosok negeri terutama wilayah yang tergolong daerah tertinggal.48 Feb 2009 (juta orang) 113.74 Feb 2010 (juta orang) 115. daerah rawan bencana dan daerah rawan konflik dan sebagian besar wilayah daerah pesisir.43 9. sumber daya alam.41 Pengangguran terbuka 9. aksesibilitas dan karakteristik daerah.49 107. yaitu geografis. sosial. dan kebijakan pembangunan.

Fenomena gizi buruk dan kurang seringkali dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang buruk jika merujuk pada fakta bahwa keterbatasan pemenuhan pangan dapat menyebabkan busung lapar.02 juta (13. 1 Juli 2010 12 .4 PROVINSI DENGAN PERSENTASE KABUPATEN TERTINGGAL DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemiskinan menjadi isu yang cukup menyita perhatian berbagai kalangan termasuk kesehatan. XIII. Persentase penduduk miskin dari tahun 2006-2010 disajikan pada Gambar 2. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2010 Berita Resmi Statistik.GAMBAR 2. Pada bulan Maret 2010. BPS 2008. jumlah penduduk miskin menurun menjadi 31.51 juta penduduk miskin. Kwashiorkor. 45/07/Th. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan 1. GAMBAR 2.5 berikut ini. Scorbut. penyakit kekurangan vitamin seperti Xeropthalmia.3%) dari 32. Kemiskinan juga menjadi hambatan besar dalam pemenuhan kebutuhan terhadap makanan yang sehat sehingga dapat melemahkan daya tahan tubuh yang dapat berdampak pada kerentanan untuk terserang penyakitpenyakit tertentu. Keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan terkait dengan daya beli ekonomi. dan Beri-beri.53 juta (14. No.15%) penduduk miskin pada bulan Maret 2009.5 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2010 Sumber: BPS.

Lebih dari separuh penduduk miskin di Indonesia berada di Pulau Jawa yaitu 57.1% tahun 2008 dan menjadi 55.3 17. 45/07/Th.2 7.2 3.3 Maret 2010 Jumlah % (juta) 6.4%.1 17.1 2. Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) adalah keadaan/derajat kesehatan wilayah kabupaten/kota yang digambarkan melalui hasil Riskesdas/SUSENAS dengan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).5 4.5 14. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2010 Berita Resmi Statistik.2 1.5 8.6 Maluku dan Papua Total 1.1 18. sampai mampu mandiri dalam menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang kesehatan seluas-luasnya. Maluku dan Papua 4. Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK) adalah upaya kesehatan terfokus.9 Maret 2009 Jumlah % (juta) 5. wilayah menurut Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.9 15. Sulawesi 7. Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 7. 1 Juli 2010 Dalam roadmap reformasi kesehatan masyarakat Kementerian Kesehatan ada 7 prioritas yang harus dikerjakan untuk mencapai sasaran strategis pembangunan kesehatan. TABEL 2.6 7. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Kemiskinan (Pendataan Sosial Ekonomi/PSE BPS).1 Bali dan Nusa Tenggara 1.8 Kalimantan 2. dilakukan secara bertahap di daerah yang menjadi prioritas bersama kementerian terkait. dalam jangka waktu tertentu. Salah satu di antaranya adalah mengatasi permasalahan pelayanan kesehatan di Daerah yang Bermasalah Kesehatan (DBK) dengan pendekatan spesifik yang tidak bisa disamakan dengan daerah lainnya.8 2.2 31. dapat diketahui dimana daerah-daerah bermasalah tersebut dapat dipetakan berdasarkan peringkat 13 .8% (tahun 2010).9 1.3%.9 57. Kalimantan 3.3 Sulawesi 2. XIII.5 2.3 1. Menurut definisi.3 7.0 3. No.0 13.3 55.0 3.3 2.5 1.3 20. berbasis bukti.3 Sumber: BPS. Selebihnya tersebar di Sumatera 21.8% tahun 2010.1 59.2 PERSEBARAN DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT KELOMPOK BESAR PULAU DI INDONESIA TAHUN 2008 – 2010 Kelompok Pulau Sumatera Jawa Maret 2008 Jumlah % (juta) 7. Jumlah penduduk miskin dan persentase penduduk miskin menurut kelompok pulau tahun 2008-2010 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.8) terdapat persebaran penduduk miskin antar pulau yang nyata perbedaannya.Berdasarkan data jumlah penduduk miskin menurut provinsi dari BPS (Lampiran 2.5 4.4 32.8 34.6%.4 19.1%. BPS 2008.2 7. Dengan IPKM. terintegrasi. Hasil Riskesdas tahun 2007 menghasilkan instrumen pengukuran Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).5 4.7 21.4 6.

Tertinggal dan Perbatasan Jumlah Kabupaten 14 1 71 7 5 98 Kota 18 1 0 0 0 19 32 2 71 7 5 117 Jumlah Penduduk 37. Tiga provinsi mempunyai jumlah kabupaten/kota DBK terbanyak yaitu Aceh (16 kab/kota). Tertinggal dan Perbatasan. persentase penduduk yang buta huruf cenderung menurun karena akses terhadap pendidikan meningkat dalam 5 tahun terakhir ini. tetapi terdiri atas generasi muda dan tua. Berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditetapkan di atas. dari 440 kabupaten/kota yang menjadi daerah pelaksanaan Riskesdas 2007 terdapat 117 DBK yang berada di 22 provinsi. Berdasarkan data BPS 2005-2009. diikuti kelompok umur kurang dari 15 tahun. Persentase terbesar penduduk yang buta huruf berada dalam kelompok umur lebih dari 45 tahun. 2010 C. Besaran IPKM setiap kabupaten/kota dirumuskan berdasarkan 20 indikator kesehatan. 71 DBK Berat dan Tertinggal. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pencetus yang berperan dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku sehat. Tertinggal dan Kepulauan Terluar dan 5 DBK Berat. Jumlah penduduk buta huruf di Indonesia tidak hanya dialami satu generasi.501 Total Sumber: Ditjen Binkesmas. Sebab. Daerah yang mempunyai IPKM <0. penduduk yang tidak bisa membaca secara tidak langsung mendekatkan mereka pada kebodohan. Kemenkes. Melalui pengetahuan. Dengan 14 . TABEL 2. Tertinggal dan Kepulauan Terluar Berat. pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan. Tertinggal Berat. Papua (15 kab/kota) dan Nusa Tenggara Timur (12 kab/kota).337 merupakan Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK).3 JUMLAH KABUPATEN/KOTA DAERAH BERMASALAH KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2010 Kab/Kota Berat. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini. 2 DBK dan Perbatasan. Angka buta huruf berkorelasi dengan angka kemiskinan.kabupaten/kota. Kabupaten/kota bermasalah meliputi 32 DBK.741. sedangkan kebodohan itu sendiri mendekatkan mereka pada kemiskinan. Perbatasan Berat Berat. 7 DBK Berat. KEADAAN PENDIDIKAN Kondisi pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu negara.

11%). (3) menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis.58%.18%) dan Sulawesi Selatan (87.go.demikian. AMH nasional adalah 92. AMH secara rinci menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. Indikator pendidikan lainnya yang sejenis adalah Angka Melek Huruf (AMH) yaitu persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari.94%) dan Riau (98. pendidikan sebagai senjata utama penghapusan buta huruf itu senantiasa harus menyentuh baik generasi muda maupun generasi tuanya. Sebaliknya persentase AMH yang terendah adalah Papua (70.58% pada tahun 2009. www.bps.22%). terutama di daerah perdesaan di Indonesia dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD. GAMBAR 2. DKI Jakarta (98. NTB (80.29%). Penggunaan AMH adalah untuk (1) mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf.6 PERSENTASE PENDUDUK YANG BUTA HURUF MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. provinsi dengan persentase AMH tertinggi adalah Sulawesi Utara (99.9.id Tahun 2005-2009 persentase tertinggi penduduk yang buta huruf menurut kelompok umur adalah penduduk dengan kelompok umur di atas 45 tahun dengan persentase 22.02%). (2) menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media.83% pada tahun 2005 dan menurun setiap tahunnya menjadi 18. 15 . Sehingga angka melek huruf dapat berdasarkan kabupaten mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah.

2 tahun) lebih besar daripada perempuan (7. Mei 2010 Rata-rata lama sekolah mayoritas penduduk di Indonesia masih relatif rendah yaitu 7.8 RATA-RATA LAMA SEKOLAH MENURUT JENIS KELAMIN DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2009 .4 tahun. Gambar di bawah ini menunjukkan rata-rata lama sekolah menurut jenis kelamin secara nasional.3 tahun). rata-rata lama sekolah laki-laki (8. GAMBAR 2.7 ANGKA MELEK HURUF PENDUDUK BERUSIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: BPS.GAMBAR 2. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.7 tahun pada tahun 2009 atau setara dengan kelas dua SMP. Rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas pada tahun 2006 mencapai 7. Sumber: BPS.5 tahun. Dilihat dari jenis kelamin. Mei 2010 16 . sedangkan tahun 2008 mencapai 7.

go. Semakin tinggi tingkat pendidikan. berdasarkan 4 kelompok umur dimana kelompok umur 19-24 tahun mewakili umur setingkat perguruan tinggi. yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). dan 16-18 tahun mewakili umur setingkat SLTA. berapapun usianya. Kedua ukuran tersebut mengukur penyerapan penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan. 13-15 tahun mewakili umur setingkat SLTP.id Terdapat dua ukuran partisipasi sekolah yang utama.bps.Rata-rata lama sekolah secara rinci menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan.11. semakin rendah APS. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah rasio jumlah siswa. GAMBAR 2. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan Gambar di bawah ini menunjukkan persentase APK tertinggi adalah pada tingkat pendidikan SD/MI dan persentase APK yang terendah adalah pada tingkat 17 .9 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH MENURUT USIA SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. www. Gambar di bawah ini merupakan APS nasional menurut usia sekolah dari tahun 2005-2009. Angka Partisipasi Sekolah (APS) dari BPS secara umum dikategorikan menjadi 3 kelompok umur. yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. Persentase angka partisipasi sekolah menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.10. Perbedaan di antara keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang pendidikan. yaitu 7-12 tahun mewakili umur setingkat SD.

10 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI KASAR DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. Semakin tinggi tingkat pendidikan. APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut. SLTA dan perguruan tinggi. www.id Berbeda dengan APK. Jika dibandingkan APK. GAMBAR 2. Nilai APK dalam kurun waktu 2005-2009 meningkat secara perlahan untuk tingkat pendidikan SD/MI. GAMBAR 2. semakin rendah APM.11 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI MURNI DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS.bps.bps.id 18 . Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah persentase APK.go. www.pendidikan perguruan tinggi.go. Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan banyaknya penduduk usia sekolah yang masih bersekolah pada jenjang pendidikan yang sesuai dengan usianya. sedangkan APK tingkat SLTP/MTs cenderung tidak banyak perubahan.

12 PERSENTASE PENDIDIKAN TERTINGGI YANG DITAMATKAN PENDUDUK 10 TAHUN KE ATAS DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah persentase APM. rumah sehat serta rumah/bangunan yang diperiksa dan bebas jentik nyamuk Aedes. TPT adalah persentase jumlah penduduk. terutama untuk melihat kualifikasi pendidikan angkatan kerja di suatu wilayah. KEADAAN KESEHATAN LINGKUNGAN Lingkungan merupakan salah satu variabel yang kerap mendapat perhatian khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat. Untuk menggambarkan keadaan lingkungan.11 di atas persentase APM tertinggi pun terdapat pada tingkat pendidikan SD/MI dan APM yang terendah adalah pada tingkat pendidikan perguruan tinggi. akan disajikan indikatorindikator seperti.go. institusi dibina kesehatan lingkungannya. 19 . pelayanan kesehatan dan genetik. Nilai APM dalam kurun waktu 2005-2009 meningkat secara perlahan untuk setiap jenjang pendidikan.bps. TPT bermanfaat untuk menunjukkan pencapaian pembangunan pendidikan di suatu daerah.Berdasarkan Gambar 2. www. menurut pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan. akses terhadap sanitasi dasar. Gambar berikut di bawah ini menggambarkan perkembangan persentase tingkat pendidikan tertinggi (TPT) yang ditamatkan. lingkungan menentukan baik buruknya status derajat kesehatan masyarakat. GAMBAR 2. akses terhadap air bersih dan air minum yang aman. Bersama dengan faktor perilaku. baik yang masih sekolah ataupun tidak sekolah lagi. Menurut definisi. TPT juga berguna untuk melakukan perencanaan penawaran tenaga kerja. tempat umum dan pengelolaan makan (TUPM) sehat.id D.

13. Persentase tertinggi akses air minum yang aman terdapat di DI Yogyakarta (60.0%) Gambaran persentase akses air minum yang aman menurut provinsi dapat dilihat dalam Gambar 2.82% dan di perdesaan 45.11%).36%).13 di bawah ini.5%). 20 .4%). dan Sulawesi Tenggara (59. GAMBAR 2. sedangkan menurut wilayah.49%).0%). air kemasan (2.30%). sumur pompa tangan (10.1%). persentase tertinggi jenis sarana air bersih yang digunakan adalah sumur gali (45.29%). Bali (60. Secara nasional.1.6%) dan Bengkulu (33. Proporsi penduduk yang memiliki akses terhadap sarana air minum yang aman secara nasional adalah 47.72%.12. Sedangkan yang terendah terdapat di Banten (27. Aceh (30. penampungan air hujan (3. Rincian persentase keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan dapat dilihat dalam Lampiran 2. 2010 Secara rinci proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap air minum yang aman menurut wilayah (perkotaan dan perdesaan) dan provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. akses air minum yang aman di perkotaan 49. diikuti ledeng (27.13 PERSENTASE AKSES AIR MINUM YANG AMAN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen P2PL. Sarana Air Bersih yang Digunakan dan Akses Air Minum yang Aman Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui persentase keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan. serta lain-lain (11.71%.41%).

19%.72%. 2010 Secara rinci proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar yang layak menurut wilayah dan provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.2. Secara nasional. GAMBAR 2.15. sedangkan menurut wilayah.46%.30% dan tempat sampah sehat 53. Rincian persentase keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar dan sehat menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. 21 . pengelolaan air limbah sehat 55.14 PERSENTASE AKSES SANITASI DASAR YANG LAYAK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen P2PL. Dari seluruh sarana sanitasi dasar tersebut yang memiliki kriteria jamban sehat 55. Proporsi penduduk yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar yang layak secara nasional sebesar 51.14.96% di wilayah perdesaan.51% di perkotaan dan 33. persentase akses sanitasasi dasar yang layak sebesar 69. kepemilikan pengelolaan air limbah (73. Sarana dan Akses terhadap Sanitasi Dasar Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui persentase keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar.55%).37%) serta kepemilikan tempat sampah (72. persentase tertinggi akses keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar adalah kepemilikan terhadap jamban (81.03%).

25%).21%). Riau (81. Provinsi dengan persentase rumah sehat yang rendah adalah Sulawesi Barat (35.84%. persentase rumah sehat secara nasional sebesar 63.15 PERSENTASE RUMAH SEHAT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Persentase rumah sehat menurut provinsi secara rinci (data dari 429 kab/kota) disajikan pada Lampiran 2.69%). Secara nasional. Sedangkan menurut jenis TUPM.78%). Rumah Sehat Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009. 22 .61%) dan Nusa Tenggara Timur (50. maka yang sudah diperiksa dan dinyatakan sehat sebesar 64.85%).54%).13%). pasar sehat (54.58%). restoran/rumah makan sehat (70. dari keseluruhan TUPM.51%) dan Bali (77. Rincian persentase tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan yang sehat menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. persentase TUPM sehat yang tertinggi adalah hotel sehat (84.16.49%.3.17. GAMBAR 2. 4. Papua (43. Tempat Umum dan Pengelolaan Makan (TUPM) Sehat Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui gambaran tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan yang sehat. dan TUPM lainnya (63. Provinsi yang memiliki persentase tertinggi adalah DKI Jakarta (91.

sarana ibadah (58. perkantoran (59. Dari seluruh rumah/bangunan yang diperiksa maka rumah/bangunan yang sudah dinyatakan bebas jentik nyamuk Aedes sebesar 77. dari keseluruhan institusi yang ada telah dilakukan pembinaan terhadap kesehatan lingkungan sebesar 64. perkantoran.41%. Sedangkan menurut jenis institusi.18. sarana ibadah. Bali (87.23%) dan Bengkulu (47.98%) dan Banten (87.16 PERSENTASE RUMAH BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 23 . GAMBAR 2.26%).08%. Rincian persentase institusi dibina kesehatan lingkungannya menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.84%) dan sarana lainnya (62. sarana pendidikan. 6. sarana pendidikan (67.82%). Papua (46. sudah dilakukan pemeriksaan terhadap 26% rumah/bangunan.44%). persentase tertinggi institusi yang dibina kesehatan lingkungannya adalah sarana kesehatan (77.5. Sedangkan yang terendah persentasenya yaitu NTT (39.02%).08%). dan sarana lainnya. Provinsi yang persentase bebas jentik nyamuk Aedes tertinggi adalah DKI Jakarta (89. dari keseluruhan rumah/bangunan yang ada. Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009. Secara nasional.15%). Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui gambaran institusi yang diberikan pembinaan kesehatan lingkungan seperti institusi sarana kesehatan.52%).22%).

37%) dan Papua Barat (27. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap kesehatan.73%). akan disajikan beberapa indikator yaitu perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan usia wanita perkawinan pertama. persentase rumah tangga yang ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara nasional sebesar 48.20.17 PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria perilaku hidup bersih dan sehat yang baik menurut provinsi secara rinci (data dari 373 kab/kota) disajikan pada Lampiran 2. Banten (21. 24 . DI Yogyakarta (87.Persentase rumah/bangunan yang diperiksa dan bebas jentik nyamuk Aedes menurut provinsi (data dari 322 kabupaten/kota) secara rinci disajikan pada Lampiran 2. Provinsi dengan persentase PHBS yang rendah adalah Sumatera Barat (17. 1.97%).19. Provinsi yang memiliki persentase tertinggi adalah Jawa Tengah (88.41%.38%) dan Kalimantan Timur (79. 2. E.34%).57%). GAMBAR 2. Umur Perkawinan Pertama Umur perkawinan pertama adalah umur pada saat wanita melakukan perkawinan secara hukum dan biologis yang pertama kali.

33%. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.18 PERSENTASE WANITA MENURUT UMUR PERKAWINAN PERTAMA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: BPS. GAMBAR 2.Secara nasional. *** 25 .41%. umur wanita yang menikah/kawin yang pertama kali paling banyak terjadi pada umur 19-24 tahun sebesar 41.21. kemudian persentase cukup banyak terjadi pula pada umur yang relatif masih remaja (16-18 tahun) sebesar 33. Mei 2010 Persentase wanita menurut umur perkawinan pertama menurut provinsi secara rinci disajikan pada Lampiran 2.

.

Angka Kematian Ibu (AKI). mortalitas dan status gizi. Oleh karena itu banyak upaya kesehatan yang dilakukan dalam rangka menurunkan AKB. AKI. AKB merupakan indikator yang biasanya digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Pada bab berikut ini situasi derajat kesehatan di Indonesia digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB).D TAHUN 2007 27 . dapat berupa penyakit maupun sebab lainnya. Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Bayi (AKB) dapat didefinisikan sebagai banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 KELAHIRAN HIDUP DI INDONESIA TAHUN 1991 S. melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi. MORTALITAS Mortalitas merupakan angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu. 1. AKABA. A. keturunan. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan. Angka Kematian Balita (AKABA). dan Angka Kematian Kasar.Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Situasi derajat kesehatan masyarakat dapat tercermin melalui angka morbiditas. dan faktor lainnya. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. GAMBAR 3.1 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1. dan angka morbiditas beberapa penyakit. pendidikan. lingkungan sosial.

000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. Gambaran AKB per provinsi dapat dilihat pada Gambar 3. dan Kalimantan Timur serta Jawa Tengah sebesar 26 per 1. Pada tahun 1991 diestimasikan AKB sebesar 68 per 1.2 berikut. Hasil estimasi tersebut memperhitungkan Angka Kematian Bayi dalam periode 5 tahun terakhir sebelum survei. Berbagai faktor dapat menyebabkan adanya penurunan AKB seperti yang ditampilkan pada gambar di atas.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup dan Sulawesi Tengah sebesar 60 per 1. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 28 .000 KELAHIRAN HIDUP MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2007 Sumber: BPS.000 kelahiran hidup.Sumber: BPS. Hasil SDKI tahun 2007 juga mengestimasikan AKB pada tingkat provinsi. Selain itu. Rincian AKB menurut provinsi di Indonesia terdapat pada Lampiran 3. diantaranya pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya.000 kelahiran hidup. Provinsi dengan AKB terendah adalah DI Yogyakarta sebesar 19 per 1. Sedangkan AKB tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 74 per 1.1. Sedangkan hasil SDKI 2007 mengestimasikan AKB sebesar 34 per 1. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 Menurut hasil SDKI terjadi penurunan AKB sejak tahun 1991.000 kelahiran hidup. diikuti Aceh sebesar 25 per 1. perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit. Hal ini disebabkan AKB sangat sensitif terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. misalnya pada SDKI tahun 2007 diperoleh AKB untuk periode 5 tahun sebelumnya yaitu tahun 2003-2007 sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup.2 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 kelahiran hidup. diikuti oleh Nusa Tenggara Barat sebesar 72 per 1. GAMBAR 3.

Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan nilai normatif AKABA. AKABA merepresentasikan peluang terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun. yaitu sangat tinggi dengan nilai > 140.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. 2008 Berdasarkan estimasi terhadap nilai AKABA pada tingkat provinsi. SDKI tahun 2007 mengestimasikan nilai AKABA sebesar 44 per per 1. Gambaran AKABA menurut provinsi dapat dilihat pada gambar berikut.000 KELAHIRAN HIDUP DI INDONESIA TAHUN 1991 – 2007 Sumber: Badan Pusat Statistik. sedang dengan nilai 20-70 dan rendah dengan nilai < 20.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup.3 ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA) PER 1. GAMBAR 3.2. diketahui bahwa provinsi dengan AKABA terendah terdapat di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 22 per 1. 29 . tinggi dengan nilai 71-140.000 kelahiran hidup dan Nusa Tenggara Barat sebesar 92 per 1.000 kelahiran hidup dan Kalimantan Tengah sebesar 34 per 1. Sedangkan provinsi dengan AKABA tertinggi adalah Sulawesi Barat sebesar 96 per 1. diikuti oleh Maluku sebesar 93 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini merupakan estimasi untuk periode 5 tahun sebelum survei (2003-2007). diikuti oleh Jawa Tengah sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup.

Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan. dan nifas. 30 . Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 3. Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. Angka ini lebih rendah dibandingkan AKI hasil SDKI tahun 2002-2003 yang mencapai 307 per 100. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI untuk periode 5 tahun sebelum survei (2003-2007) sebesar 228 per 100. persalinan. AKI mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan.5 berikut nampak adanya kecenderungan penurunan AKI sejak tahun 1994 sampai dengan tahun 2007. Pada Gambar 3.GAMBAR 3.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100. AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan.4 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1. AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan.000 KELAHIRAN HIDUP MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2007 Sumber : BPS.000 kelahiran hidup. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum.

Tanda & Penemuan Laboratorium.74 4 Penyakit Sistem Napas 8.73 8 Penyakit Sistem Kemih Kelamin 4.70 4.332 4.91 6 Cedera. dan Metabolik 5. Kemkes RI.5 ANGKA KEMATIAN IBU (PER 100.000 KELAHIRAN HIDUP) DI INDONESIA TAHUN 1994-2007 Sumber : Badan Pusat Statistik.190 3.99 7 Penyakit Endokrin.000 penduduk.767 2.108 9.1 10 PENYAKIT UTAMA PENYEBAB KEMATIAN DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2008 Golongan Sebab Sakit Pasien CFR No Mati (%) 1 Penyakit Sistem Sirkulasi Darah 23. 5.56 4.99 5 Penyakit Sistem Cerna 6. Angka Kematian di Rumah Sakit Tabel berikut ini menyajikan 10 penyebab kematian terbanyak pada penderita rawat inap di rumah sakit pada tahun 2008.06 2 Penyakit Infeksi dan Parasit Tertentu 16.GAMBAR 3. Angka Kematian Kasar (AKK) Angka kematian kasar adalah jumlah kematian yang terjadi pada suatu waktu dan tempat tertentu per 1.9 per 1. TABEL 3.163 11.80 9 10 Neoplasma Gejala.542 3. Estimasi Angka Kematian Kasar (AKK) berdasarkan hasil SUPAS 2005.585 6. Nutrisi. Keracunan.000 penduduk pada pertengahan tahun. menyebutkan bahwa AKK tahun 2007 sebesar 6.825 2. Klinik Abnormal YTK Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.89 3 Kondisi Tertentu yang Bermula pada Masa Perinatal 9.238 2.2008 4.769 2. 2009 31 . dan Akibat Sebab Luar Tertentu Lainnya 5.

GAMBAR 3. UHH di Indonesia pada tahun 2008 sebesar 69 tahun. yaitu sebesar 73. UHH juga menjadi salah satu indikator yang diperhitungkan dalam menilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM).5 tahun dan 68. Kondisi UHH di Indonesia dalam kurun waktu 2006-2008 menunjukkan peningkatan.6 UMUR HARAPAN HIDUP WAKTU LAHIR MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2008 Sumber : Badan Pusat Statistik. UHH terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat. yang diikuti oleh Kalimantan Selatan sebesar 63. Penyakit sistem sirkulasi darah pada tahun 2008 menyebabkan kematian sebanyak 23. 2010 Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa UHH merupakan salah satu komponen dalam memformulasikan IPM. penyakit sistem sirkulasi darah merupakan penyakit yang menempati urutan teratas sebagai penyakit utama penyebab kematian di rumah sakit pada tahun 2008. Pada tahun 2008. Sedangkan. Berdasarkan data BPS.06%. Salah satu faktor yang berperan dalam peningkatan UHH adalah upaya di bidang kesehatan sebagai bagian dari pembangunan kesehatan.7 tahun. Gambaran UHH pada tahun 2007 dan 2008 menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3.6 tahun.163 orang dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 11. Berikut ini ditampilkan peringkat IPM 33 provinsi di Indonesia tahun 2008 yang disertai dengan nilai IPM.0 tahun. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir Derajat kesehatan masyarakat juga dapat diukur dengan melihat besarnya Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH). 32 . provinsi dengan UHH tertinggi adalah DI Yogyakarta. 6.2.Berdasarkan informasi pada tabel di atas.9 dan Sulawesi Utara sebesar 72. sebesar 61. Selain itu.1 tahun dan Banten sebesar 64. sedangkan pada tahun 2006 dan 2007 sebesar 68.1 yang diikuti oleh DKI Jakarta sebesar 72.5 tahun.

33 . diikuti oleh Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. MORBIDITAS Morbiditas dapat diartikan sebagai angka kesakitan. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat. Pola 10 Penyakit Terbanyak di Rumah Sakit Pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit tahun 2009 menurut Daftar Tabulasi Dasar (DTD) menunjukkan bahwa kasus terbanyak merupakan penyakit infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya dengan jumlah total kasus 488. 2010 Berdasarkan gambar di atas diketahui bahwa provinsi dengan IPM tertinggi adalah DKI Jakarta. baik insiden maupun prevalen dari suatu penyakit. 1. B.7 NILAI IPM MENUURT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2008 Sumber: BPS. Sedangkan provinsi dengan IPM terendah adalah Papua.794.GAMBAR 3. dan Riau. Rincian mengenai 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit dapat dilihat pada tabel berikut. Sulawesi Utara.

738 172.318 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. 2009 34 .647 2.262 41. pola gambaran 10 penyakit terbanyak menunjukkan pola yang sedikit berbeda.823 123.195 135. 2009 Sedangkan pada pasien rawat inap.231 89.087 275.243 49.497 47.953 247.083 53. Diare dan Gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) memiliki jumlah kasus terbanyak yaitu 143.3 POLA 10 PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009 No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) Kasus Laki-Laki Perempuan Total Kasus Meninggal CFR (%) 1 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 74.304 520 1.303 147.345 133.334 898 0.463 52.269 412.850 1.170 16.660 203.477 35.696 kasus.162 220.758 17.216 488.807 28.78 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.25 4 Demam yang sebabnya tidak diketahui 24.013 1.783 30.161 69.63 9 Penyakit apendiks 13. TABEL 3.200 462 0.380 52.76 10 Gastritis dan duodenitis 12.004 68.488 46.142 105.588 80.021 6 Dispepsia 55.254 358.747 1.629 121.94 5 Dispepsia 18.933 36.446 67.365 6.TABEL 3.794 781.535 143.677 935 2. Kemenkes RI.703 234 0.2 POLA 10 BESAR PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009 No Kasus Daftar Tabulasi dasar (DTD) Laki-Laki Perempuan Total Kasus Jumlah Kunjungan 5 Infeksi saluran nafas bagian atas akut lainnya Demam yang sebabnya tidak diketahui Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) Gangguan refraksi dan akomodasi 67.144 36.605 153.396 30.467 234.22 2 Demam berdarah dengue 60.74 3 Demam tifoid dan paratifoid 39.013 223.463 122.705 60.957 24.45 8 Pneumonia 19.10 6 Hipertensi esensial (primer) 15.533 21.429 156.696 1.578 245.167 132.275 83.048 162 0.817 77.749 1 2 3 4 9 10 Penyakit telinga dan prosesus mastoid Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtiva 243.55 7 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 19.364 8 Penyakit pulpa dan periapikal 54.920 16.154 235 0.881 143.375 7 Hipertensi esensial (primer) 55.256 371.115 16.942 99.673 88.815 99. Kemenkes RI.

2. Dihubungkan dengan target pencapaian MDGs. Endemis Sedang bila API berkisar antara 1 – < 5 per 1. Penyakit Menular a.02.Berdasarkan CFR. Sebesar 75.000 penduduk.5% dari kasus tersebut diperiksa sediaan darahnya. tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang rendah.1 per 1. Endemis Tinggi bila API > 5 per 1.63%.143.000 penduduki. Relatif tingginya cakupan pemeriksaan sediaan darah di 35 .45%. Wilayah endemis malaria pada umumnya adalah desa-desa terpencil dengan kondisi lingkungan yang tidak baik. angka API 2009 sudah memenuhi target. 2. penyakit yang memiliki CFR paling tinggi di antara 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di RS adalah Pneumonia sebesar 6. 2010 API nasional pada tahun 2009 adalah 1. Kemenkes RI. serta buruknya perilaku masyarakat terhadap kebiasaan hidup sehat. akses pelayanan kesehatan kurang.85 per 1.024 kasus. dan dihasilkan 23. Malaria disebabkan oleh hewan bersel satu (protozoa) Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. sarana transportasi dan komunikasi yang sulit. GAMBAR 3.8 STRATIFIKASI ENDEMISITAS MALARIA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Angka ini jauh menurun dibandingkan API tahun 1990 yaitu 4. Kasus malaria klinis tahun 2009 di Indonesia dilaporkan sebanyak 1.000 penduduk.68 per 1.1% sediaan darah yang positif. 3. Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratifikasi endemisitas malaria suatu wilayah di Indonesia menjadi 4 strata yaitu : 1.27.000 penduduk. Sedangkan penyakit dengan CFR terendah adalah Infeksi Saluran Napas Bagian Atas Akut Lainnya sebesar 0. Malaria Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi komitmen global dalam Millenium Development Goals (MDGs).66 per 1.000 penduduk.000 penduduk dengan kisaran provinsi 0. 4. Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria (Daerah pembebasan malaria) atau API = 0. Endemis Rendah bila API 0 .

2010 Upaya pengendalian malaria untuk wilayah di luar Jawa-Bali menggunakan Annual Malaria Incidence (AMI). Namun. yaitu di bawah 0.27 per 1.17 per 1.75 per 1. Pada gambar di atas nampak bahwa AMI di wilayah luar Jawa-Bali pada tahun 2005-2009 menunjukkan kecenderungan penurunan. Angka ini terus turun hingga 12. Kemenkes RI.000 penduduk. yaitu semua kasus malaria klinis harus dikonfirmasi laboratorium. GAMBAR 3.000 penduduk. Pada tahun 2009 API Jawa-Bali sebesar 0.9 ANNUAL PARASITE INCIDENCE MALARIA (‰) DI JAWA BALI TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 2010 Indikator untuk upaya penemuan penderita di wilayah Jawa-Bali menggunakan Annual Parasite Incidence (API) atau Angka Parasit Malaria per 1. GAMBAR 3.000 penduduk. Angka ini telah mencapai target yang ditentukan. API senantiasa memenuhi target.000 penduduk.000 penduduk pada tahun 2009.25 per 1.laboratorium tersebut merupakan pelaksanaan kebijakan nasional pengendalian malaria dalam mencapai eliminasi malaria.10 ANNUAL MALARIA INCIDENCE (‰) DI LUAR JAWA BALI TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Kemenkes RI. pada tahun 2004-2009 pencapaian AMI masih belum 36 . Pada tahun 2005 AMI di luar Jawa-Bali sebesar 24. Pada gambar di atas nampak bahwa dari tahun 2004-2009.

Dalam mengukur keberhasilan pengobatan TB digunakan Angka Keberhasilan Pengobatan (SR=Success Rate) yang mengindikasikan persentase pasien baru TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan. Angka ini telah memenuhi target minimal yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70%. baik yang sembuh maupun yang menjalani pengobatan lengkap diantara pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat. Kemenkes RI. yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.11 CAKUPAN CASE DETECTION RATE (CDR) TB DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS. 2010 Pencapaian CDR pada tahun 2009 sebesar 73. DKI Jakarta. 37 .7%. Berikut ini disajikan pencapaian CDR menurut provinsi tahun 2009. Kementerian Kesehatan menetapkan target CDR minimal pada tahun 2009 sebesar 70%. Berikut ini ditampilkan SR tahun 2004-2008. Sedangkan provinsi dengan CDR terendah adalah Kalimantan Tengah sebesar 30. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. dan Jawa Barat. karena pada kurun waktu tersebut AMI berada di atas target yang telah ditentukan. Maluku.6% diikuti oleh Kalimantan Timur sebesar 31. Banten.1% dan Kepulauan Riau sebesar 32. yaitu Sulawesi Utara.3%. TB Paru Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. GAMBAR 3. b. Pada tingkat provinsi.5. Success Rate dapat membantu dalam mengetahui kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut.1%. Rincian API dan AMI menurut provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 3.2%. CDR tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 85.memenuhi target. TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR). diikuti DKI Jakarta sebesar 81% dan Banten sebesar 77. Pada gambar di atas nampak bahwa terdapat 5 provinsi yang telah memenuhi target CDR 70%.

Sampai dengan Desember 2009 jumlah kumulatif kasus AIDS mencapai 19. 3.8. transfusi darah.10. HIV & AIDS HIV & AIDS disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. Gambar berikut menampilkan kasus baru dan kumulatif penderita AIDS yang terjadi sampai tahun 2009.973 kasus. 38 . 2010 Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa pencapaian Success Rate (SR) pada tahun 2004-2008 telah memenuhi target 85%. c. penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi secara bergantian. Gambaran kasus TB dan keberhasilan pengobatannya dapat dilihat pada Lampiran 3. 3. Penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh penderita yang terjadi melalui proses hubungan seksual.6% pada tahun 2006. Kasus HIV dan AIDS menunjukkan trend peningkatan setiap tahun. dan penularan dari ibu ke anak dalam kandungan melalui plasenta dan kegiatan menyusui. Namun demikian terjadi penurunan Success Rate (SR) dari 91% pada tahun 2005 menjadi 87.GAMBAR 3.9 dan 3.12 SUCCESS RATE (SR) TB DI INDONESIA TAHUN 2004-2008 Sumber: Ditjen PP-PL. Kemenkes RI. Angka ini kemudian kembali naik menjadi 91% pada tahun 2007 dan 2008.7.

Kemenkes RI.1.969 kasus baru pada tahun 2008. 2010 Pada gambar di atas nampak adanya peningkatan penemuan kasus baru yang cukup signifikan pada tahun 2008.14 CASE RATE AIDS MENURUT PROVINSI DI INDONESIA SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.13 JUMLAH KASUS BARU DAN KUMULATIF PENDERITA AIDS YANG TERDETEKSI DARI BERBAGAI SARANA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2001 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. diikuti oleh Bali sebesar 45.947 kasus baru pada tahun 2007 menjadi 4. 2010 39 . GAMBAR 3. Besaran kasus juga dapat dilihat dengan menggunakan Case Rate AIDS yang diperoleh dengan membandingkan jumlah kasus kumulatif terhadap jumlah penduduk per 100. dari 2. Pada tahun 2009. Kemenkes RI. dan DKI Jakarta 31.GAMBAR 3.4.000 penduduk. provinsi dengan Case Rate tertinggi adalah Papua sebesar 133.7 per 100.000 penduduk.

16 JUMLAH KASUS BARU AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIK DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. GAMBAR 3. Kemenkes RI. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya upaya promosi kesehatan pada kelompok pengguna NAPZA suntik yang menyampaikan pesan bahwa penggunaan jarum suntik secara bergantian merupakan perilaku risiko tinggi terhadap penularan HIV.1%. persentase kasus kumulatif tertinggi adalah melalui hubungan heteroseksual sebesar 50.HIV/AIDS memiliki beberapa faktor risiko. yaitu hubungan seksual lawan jenis (heteroseksual).2009 seperti yang nampak pada gambar berikut. Kemenkes RI.3%. transfusi darah dan perinatal. Berikut ini disajikan persentase kasus kumulatif menurut faktor risiko. GAMBAR 3. hubungan sejenis melalui Lelaki Seks Lelaki (LSL). 2010 Berdasarkan cara penularan. namun jika kita melihat kecenderungan kasus baru AIDS pada pengguna NAPZA suntik menunjukkan penurunan selama tahun 2006. penggunaan Narkoba suntik secara bergantian.15 PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT CARA PENULARAN DI INDONESIA SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Sedangkan persentase terendah adalah melalui transfusi darah sebesar 0. 2010 40 . Meskipun penggunaan IDU menempati urutan ke-2 terbesar.

Pada tahun 2009 jumlah kasus baru AIDS yang menggunakan NAPZA suntik
sebanyak 1.156 kasus. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan tahun 2008 sebesar 1.255
kasus.
Berdasarkan jenis kelamin, proporsi kasus kumulatif AIDS laki-laki lebih besar
terhadap perempuan yaitu 73,7% berbanding 25,8%.
GAMBAR 3.17
PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT JENIS KELAMIN DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Proporsi kasus kumulatif AIDS menurut kelompok umur menunjukkan gambaran
bahwa sebagian besar kasus kumulatif AIDS terdapat pada usia 20-29 tahun, 30-39 tahun,
dan 40-49 tahun. Kelompok umur tersebut memang termasuk ke dalam usia produktif yang
tentu saja juga aktif secara seksual.
GAMBAR 3.18
PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

41

Informasi lebih rinci tentang HIV/AIDS dapat dilihat pada Lampiran 3.11, 3.12, dan
3.13.
d. Pneumonia

Pneumonia merupakan infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi
dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat
kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang
Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau
orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Pada tahun 2009, cakupan penemuan Pneumonia pada balita sebesar 22,18%
dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 390.319 kasus. Berikut ini ditampilkan
angka cakupan penemuan pneumonia balita menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 3.19
CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA BALITA
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Pada tingkat provinsi, dapat diketahui bahwa tiga provinsi dengan cakupan tertinggi
berturut-turut adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 71,45%, Jawa Barat sebesar
46,16% dan Kepulauan Bangka Belitung sebesar 41,41%. Sedangkan tiga provinsi dengan
cakupan terendah adalah Provinsi Kepulauan Riau sebesar 0,32%, Aceh sebesar 2,16%,
dan Kalimantan Barat sebesar 2,54%. Data cakupan masing-masing provinsi terdapat pada
Lampiran 3.14.
e. Kusta

Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri
Mycobacterium leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan Kusta
menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan
mata. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut :
a. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa
b. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan
kelemahan/kelumpuhan otot.
42

c. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif).
Pada tahun 2009, dilaporkan terdapat kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 14.227
kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 3.033 dengan Newly Case Detection Rate (NCDR)
sebesar 7,49 per 100.000 penduduk. Berikut ini disajikan kecenderungan kasus baru tipe
PB dan MB serta NCDR.
GAMBAR 3.20
JUMLAH KASUS BARU KUSTA TIPE PB DAN MB
DAN NCDR PER 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Penemuan kasus baru sejak tahun 2005-2009 menunjukkan kecenderungan
penurunan. Pada tahun 2005 NCDR sebesar 8,99 per 100.000 penduduk, angka ini turun
terus hingga 7,49 per 100.000 penduduk pada tahun 2009. Kecenderungan penurunan
tersebut juga terjadi pada jumlah kasus baru kusta tipe PB dan MB.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen
PP&PL) telah menetapkan 33 provinsi di Indonesia ke dalam 2 kelompok beban kusta,
yaitu provinsi dengan beban kusta tinggi (high endemic) dan beban kusta rendah (low
endemic). Provinsi dengan high endemic jika NCDR > 10 per 100.000 penduduk atau
jumlah kasus baru lebih dari 1.000, sedangkan low endemic jika NCDR < 10 per 100.000
penduduk.

43

GAMBAR 3.21
STATUS BEBAN KUSTA DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya
proporsi cacat tingkat II, sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat
digunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru. Proporsi cacat
tingkat II pada tahun 2009 sebesar 10,37%. Sedangkan proporsi anak di antara penderita
baru pada tahun 2009 sebesar 11,44%.
GAMBAR 3.22
PROPORSI CACAT TINGKAT II DAN PROPORSI ANAK DI ANTARA KASUS BARU KUSTA
DI INDONESIA TAHUN 2001-2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Pada kurun waktu 2002-2009 terjadi kecenderungan peningkatan proporsi cacat
tingkat II. Sedangkan proporsi kusta pada anak di antara penderita baru nampak
berfluktuasi sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2005. Kecenderunggan peningkatan
proporsi pada anak nampak dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Informasi menurut
provinsi terkait penyakit kusta terdapat pada Lampiran 3.15.

44

2. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
a.Tetanus Neonatorum

Tetanus Neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk ke
tubuh melalui luka. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir yang salah satunya disebabkan
oleh pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Kasus TN banyak ditemukan di
negara berkembang khususnya dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
rendah.
Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 158 kasus dengan jumlah meninggal 76,
dengan demikian CFR Tetanus Neonatorum pada tahun 2009 sebesar 48,1%. Pada tahun
2009 kasus TN terjadi di 20 provinsi, dan 14 provinsi melaporkan adanya kasus meninggal.
Gambaran kasus Tetanus Neonatorum beserta persentase kasus berdasarkan faktor
risiko menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.16.
b.Campak

Campak merupakan salah satu penyakit PD3I yang disebabkan oleh virus campak.
Sebagian besar kasus campak menyerang anak-anak. Penularan dapat terjadi melalui udara
yang telah terkontaminasi oleh sekret orang yang telah terinfeksi. Berikut ini ditampilkan
Incidence Rate (IR) Campak menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 3.23
INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK PER 10.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 18.055 kasus campak dengan Incidence Rate
sebesar 0,77 per 10.000 penduduk. Incidence Rate tertinggi pada tahun 2009 terdapat di
Provinsi Kepulauan Riau sebesar 3,52; diikuti oleh Sumatera Barat sebesar 2 per 10.000
penduduk, dan Kalimantan Selatan sebesar 1,98 per 10.000 penduduk. Sedangkan Maluku
dan Nusa Tenggara Barat memiliki IR sebesar 0 per 10.000 penduduk.
Informasi mengenai penyakit campak menurut provinsi terdapat pada Lampiran
3.17, 3.18, 3.19, 3.20, dan 3.21.
45

c. Difteri

Penyakit Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang
menyerang sistem pernafasan bagian atas. Penyakit ini memiliki gejala sakit leher, demam
ringan, sakit tekak. Difteri juga kerap ditandai dengan tumbuhnya membran kelabu yang
menutupi tonsil serta bagian saluran pernafasan.
Jumlah kasus Difteri pada tahun 2009 sebanyak 189 kasus, dengan Incidence Rate
per 10.000 penduduk menurut kelompok umur menunjukkan umur < 1 tahun memiliki IR
sebesar 0,01; umur 1-4 tahun sebesar 0,02 ; dan umur 5-14 tahun sebesar 0,02 per 10.000
penduduk.
GAMBAR 3.24
INCIDENCE RATE (IR) DIFTERI PER 10.000 PENDUDUK
MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2003-2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Gambaran penyakit Difteri menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.22 dan
3.23.
d. Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut)

Polio merupakan salah satu penyakit menular yang termasuk ke dalam PD3I yang
disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf higga penderita mengalami
kelumpuhan. Penyakit yang pada umumnya menyerang anak berumur 0-3 tahun ini
ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher dan sakit di
tungkai dan lengan.
Sedangkan AFP merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami
penurunan kekuatan otot tanpa penyebab yang jelas kemudian berakibat pada kelumpuhan.
Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan indikator surveilans AFP yaitu
ditemukannya Non Polio AFP Rate minimal sebesar 2/100.0000 anak usia < 15 tahun. Pada
tahun 2009 non Polio AFP Rate sebesar 2,65 per 100.000 anak < 15 tahun.

46

02 per 100.GAMBAR 3. IR DBD pada tahun 2009 adalah 68.64 per 100.000 penduduk dan CFR sebesar 0. Informasi lebih rinci menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3.000 anak < 15 tahun. diikuti oleh DIY dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 5.67 dan 5.000 anak < 15 tahun. 47 .000 ANAK < 15 TAHUN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL.89%.29 dan 1.000 anak < 15 tahun.000 anak < 15 tahun.24 dan 3. Pada tahun 2009.25 NON POLIO AFP RATE PER 100. di antaranya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).57 per 100. diikuti oleh NTB dan Kalimantan Tengah masing-masing sebesar 1.4 per 100.420 orang. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur < 15 tahun.86%.912 kasus dengan jumlah kematian 1.25. 3.22 per 100.000 penduduk dan CFR sebesar 0. namun dapat juga menyerang orang dewasa.Demam Berdarah Dengue (DBD) Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty. Sedangkan provinsi dengan non Polio AFP Rate terendah adalah Papua sebesar 1 per 100. Penyakit Potensial KLB/Wabah Terdapat beberapa penyakit yang berpotensi KLB/wabah yang sering terjadi di Indonesia. Diare dan Chikungunya. terdapat 158. Kemenkes RI 2009 Provinsi dengan non Polio AFP Rate tertinggi adalah Gorontalo sebesar 8. a. Angka-angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2008 dengan IR sebesar 59. Seluruh penyakit potensial KLB ini banyak mengakibatkan kematian dan kerugian secara ekonomi. Dengan demikian.

000 penduduk.000 penduduk.44 dan Jambi sebesar 8. Provinsi Maluku melaporkan 0 kasus.000 penduduk.000 penduduk.26 INCIDENCE RATE DBD PER 100.000 penduduk dan Kalimantan Timur sebesar 173.27 INCIDENCE RATE DBD PER 100. diikuti oleh Kalimantan Barat sebesar 228. Kemenkes RI 2009 Meskipun CFR tahun 2009 lebih tinggi dibandingkan tahun 2008.84 per 100.GAMBAR 3. Sedangkan IR terendah di Provinsi NTT sebesar 8. Kecenderungan penurunan tersebut tidak nampak pada IR per 100. namun sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2008.000 PENDUDUK DAN CASE FATALITY RATE DBD DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP&PL. yaitu 313.3 per 100. Angka Insidens (IR) tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta. GAMBAR 3.55 per 100. nampak adanya kecenderungan penurunan CFR. Kemenkes RI 2009 48 .000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL.41 per 100.

Puncak peningkatan kasus tahun 2009 terjadi pada bulan Januari. provinsi dengan CFR tertinggi adalah Kep.28 CASE FATALITY RATE DBD DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. Sedangkan CFR terendah terdapat di provinsi Sulawesi Barat.58%.29 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA TERJANGKIT DBD DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. kemudian meningkat kembali sampai tahun 2007. Februari dan Maret. Puncak IR DBD terjadi pada tahun 1973. GAMBAR 3. namun terjadi peningkatan sedikit pada bulan November dan Desember.08%.11%.26%. 1998 dan 2005. Jumlah kabupaten/kota terjangkit DBD terus meningkat sampai tahun 1998.5% kabupaten/kota terjangkit.2%. Jumlah kabupaten/kota terjangkit DBD sejak tahun 1968 sampai dengan 2009 cenderung mengalami peningkatan seiring dengan terjadinya pemekaran wilayah di Indonesia. Kemenkes RI 2009 49 . Kemenkes RI 2009 Pola perkembangan DBD pada tahun 2009 secara nasional menunjukkan terjadinya peningkatan kasus dan kematian DBD dibandingkan tahun 2008. Bangka Belitung sebesar 4.Pada tahun 2009. kemudian kasus menurun kembali setelah bulan Juli dan mencapai titik terendah pada bulan September. dimana tidak ada kasus meninggal. Pada tahun 2008 sebesar 73. sedangkan tahun 2009 tercatat 384 Kabupaten/kota dari 497 Kabupaten/kota yang ada atau sebesar 77. diikuti oleh Bengkulu sebesar 3. dan sedikit menurun di tahun 1999. GAMBAR 3. dan DKI Jakarta sebesar 0. 1988. Gorontalo sebesar 2.

Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare terjadi di 15 provinsi dengan jumlah penderita sebanyak 5.30 CASE FATALITY RATE (CFR) DIARE DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. GAMBAR 3. b.756 orang.26 dan Lampiran 3.48% pada tahun 2008. atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam.52% menjadi 1. Penurunan ini dapat disebabkan oleh adanya perbaikan penatalaksanaan kasus Diare.74%. Kemkes RI.48%. jumlah kematian sebanyak 100 orang atau CFR sebesar 1. Diare Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. 2010 Pada gambar di atas terlihat adanya penurunan CFR yang cukup signifikan pada tahun 2006-2007. Kecenderungan CFR Diare pada periode tahun 2005-2009 terdapat pada gambar berikut. atau bila buang air besar tiga kali atau lebih. Kemkes RI. 2010 50 . Angka ini naik menjadi 2. Seseorang dikatakan menderita Diare bila feses lebih berair dari biasanya. dari 2.Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait dengan penyakit DBD dapat dilihat pada Lampiran 3. GAMBAR 3.31 KLB DIARE DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.27. Berikut ini disajikan gambaran distribusi provinsi dengan KLB Diare pada tahun 2009. CFR tahun 2009 tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.74% pada tahun 2009.26%. pada tahun 2008 CFR Diare sebesar 2. Angka ini turun menjadi 1.

756 kasus tanpa kematian. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya penyakit ini antara lain rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat. Sumatera Selatan. kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan. Lampung. Jawa Timur. Kalimantan Barat. dan Kalimantan Timur dengan jumlah 83.Chikungunya Chikungunya adalah penyakit infeksi akut yang ditandai gejala utama demam. penyakit disebabkan oleh infeksi virus Chik yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kemkes RI.28. Banten. dan makin meningkatnya arus mobilisasi penduduk. ruam /bercak-bercak kemerahan di kulit dan nyeri persendian.29.32 JUMLAH KASUS CHIKUNGUNYA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Pada tahun 2008 dilaporkan di Provinsi Jawa Barat. c. NTB. 2010 Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan kasus Chikungunya secara signifikan pada tahun 2009 antara lain semakin banyaknya tempat-tempat perindukan nyamuk penular. Berikut ini disajikan gambaran kasus Chikungunya menurut provinsi pada tahun 2009. Sedangkan pada tahun 2009 dilaporkan di Aceh. DKI Jakarta. Jawa Barat. DKI Jakarta. Jambi. GAMBAR 3.Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait Diare dapat dilihat pada Lampiran 3. Jawa Tengah. Bangka Belitung. Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun-tahun sebelumnya masih banyak daerah-daerah yang belum melaporkan kejadian kasus Chikungunya. Penyakit ini kerap dijumpai terutama di daerah tropis/subtropis dan sering menimbulkan epidemi. Gambaran kasus Chikungunya menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3. 51 .592 kasus tanpa kematian. Sumatera Utara. Sumbar dan DI Yogyakarta dengan jumlah 3. Bali. Bengkulu. Sumatera Barat. Kep. Kalimantan Selatan.

Kalimantan Selatan dan Sulawesi Barat. Jawa Tengah. Jawa Timur. Kemkes RI. kelelawar. GAMBAR 3.d. daerah tertular rabies adalah 24 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. kera. Dengan demikian hanya 9 provinsi yaitu: Kep. yaitu : GHPR (kasus Gigitan Hewan Penular Rabies). Pada tahun 2009 terjadi peningkatan kasus GHPR menjadi 45.996 dengan 7. kasus yang divaksinasi dengan Vaksin Anti Rabies (VAR).30. NTB. nampak adanya kecenderungan peningkatan jumlah kasus GHPR dan kasus VAR. Berikut ini disajikan gambaran GHPR. DI Yogyakarta. sedangkan provinsi yang berhasil menekan jumlah lyssa menjadi 0 kasus pada tahun 2009 adalah Jambi.Rabies Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus rabies yang ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing. dan Lyssa. Jawa Barat.33 JUMLAH KASUS GHPR. kucing. Kasus GHPR pada tahun 2004 dilaporkan sebanyak 14. Papua Barat. Bengkulu. dan Lyssa pada tahun 2004-2009.466 kasus dengan kasus divaksinasi 35. Kalimantan Barat. DKI Jakarta. Berikut ini ditampilkan peta wilayah endemis rabies tahun 2009 52 . Sampai akhir tahun 2009. VAR DAN LYSSA DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL.316 dan lyssa sebesar 195 kasus.Bangka Belitung. Terdapat beberapa indikator yang digunakan dalam memantau upaya pengendalian Rabies. musang dan serigala yang di dalam tubuhnya mengandung virus Rabies. Gambaran situasi Rabies di Indonesia menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Lampiran 3. 2010 Selama tahun 2004-2009. kasus divaksinasi. Pada tahun 2009 provinsi dengan kasus GHPR terbanyak adalah Bali. Penyakit dengan CFR tinggi ini terus menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia.895 kasus divaksinasi dan 109 kasus lyssa. dan Papua yang masih dinyatakan sebagai daerah bebas rabies.

Pada tahun 2008. maka provinsi yang bebas rabies pada tahun 2009 yaitu Kep. DI Yogyakarta. Penyakit ini menginfeksi jaringan limfe (getah bening). 2010 Berdasarkan gambar di atas. Dalam tubuh manusia. baik penderita lama yang baru ditemukan maupun penderita baru.34 WILAYAH TERTULAR RABIES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. NTB. Jawa Timur. Jumlah kasus klinis filariasis ini merupakan jumlah kumulatif yang dilaporkan dari waktu ke waktu.699. jumlah kasus klinis yang dilaporkan sebanyak 11. Filariasis menular melalui gigitan nyamuk yang mengandung cacing filaria dalam tubuhnya. Kemkes RI. yang terdiri dari Wuchereria bancrofti.914 yang tersebar di 401 kabupaten/kota. Kemkes RI. Bangka Belitung. Filariasis Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria. e. Jawa Tengah. Brugia malayi dan Brugia timori. DKI Jakarta. 2010 Sampai tahun 2009 jumlah kasus klinis filariasis yang dilaporkan sebanyak 11. 53 . Papua Barat. Kalimantan Barat.35 JUMLAH KASUS FILARIASI DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. cacing tersebut tumbuh menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe sehingga menyebabkan pembengkakan di lengan dan organ genital. dan Papua.GAMBAR 3.31. GAMBAR 3. Informasi lebih rinci terkait penyakit filariasis terdapat pada Lampiran 3.

Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Boyolali. Umumnya penyakit ini terjadi pada mamalia herbivora baik yang liar maupun peliharaan. Surveilans aktif dan pasif terhadap rodent dan pinjalnya masih tetap dilakukan secara rutin di empat daerah fokus Pes tersebut untuk mengantisipasi terjadinya KLB Pes yang biasa terjadi setiap 10 tahun.175 spesimen rodent yang diperiksa di BLK Surabaya dan hasilnya menunjukkan negatif. Seluruh daerah tersebut adalah merupakan daerah pegunungan (daerah ketinggian) seperti Kecamatan Tutur Nongkojajar di kaki Gunung Bromo. Kecamatan Ciwidey di daerah kawah putih Ciwidey.76%). dimana terdapat 40 spesimen manusia dan 3. Selama tahun 2009 telah dilaporkan kasus antraks pada manusia sebanyak 17 kasus 2 orang diantaranya meninggal (CFR 11. Manusia dapat tertular Antraks melalui kontak langsung maupun tidak langsung atau mengkonsumsi binatang yang terinfeksi atau produk hewan yang terkontaminasi bakteri/spora Antraks. Pes Penyakit pes atau bubonic plaque disebabkan oleh infeksi bakteri Pasteurella pestis melalui hewan pengerat liar. Kecamatan Ciwidey. Desa Kayukebek. Provinsi Jawa Timur. meskipun dapat juga menyerang mamalia lain dan beberapa jenis unggas. 3. Kecamatan Tutur Nongkojajar Kabupaten Pasuruan. Pada tahun 2009. KLB Pes terakhir terjadi pada tahun 2007 di Dusun Sulorowo. Berikut ini ditampilkan hasil surveilans aktif dan pasif pes pada manusia selama tahun 2004-2009. Terdapat 2 kasus yang meninggal akibat antraks tipe pencernaan yang bersifat sangat akut. Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Pasuruan. Provinsi DI Yogyakarta di Kabupaten Sleman. Kecamatan Selo dan Cepogo. Provinsi Jawa Barat di Kabupaten Bandung. Kecamatan Tutur Nongkojajar 2. Terdapat 4 wilayah yang merupakan wilayah fokus Pes yaitu 1. Semua kasus berasal dari Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Kecamatan Cangkringan 4. g. Spora Bacillus anthracis dapat bertahan hidup di lingkungan selama bertahun-tahun hingga mendapatkan host baru. provinsi yang masih melaporkan kegiatan trapping hanya Jawa Timur. 54 . Kecamatan Selo & Cepogo serta Cangkringan di Kaki Gunung Merapi.f. Antraks Penyakit Antraks adalah penyakit infeksi yang akut yang disebabkan oleh spora dari bakteri Bacillus anthracis.

Pada tahun 2009 terdapat tiga wilayah yang melaporkan adanya kasus leptospirosis yaitu Provinsi DKI Jakarta. Secara nasional. Kasus Leptospirosis seringkali dilaporkan dari wilayah yang terkena banjir. tanah basah yang telah terkontaminasi urin tersebut.36 HASIL SURVEILANS PES PADA MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. meninggal dan CFR Leptospirosis selama tahun 2004-2009. dimana sedang terjadi bencana banjir di wilayah tersebut. Manusia dapat terinfeksi jika terpapar dengan air. Data dan Informasi mengenai penyakit pes terdapat pada Lampiran 3. Leptospirosis Leptospirosis ditularkan melalui urin hewan pengerat yang telah terinfeksi bakteri penyebab Leptospirosis. Kemkes RI. Berikut ini ditampilkan gambaran jumlah kasus.37 JUMLAH KASUS. Pada tahun 2008 dan 2009 tidak ditemukan lagi kasus positif pada manusia. Penyakit ini ditandai dengan beberapa gejala seperti flu sampai dengan gangguan serius yang dapat menyebabkan kematian.GAMBAR 3. 2010 Pada gambar di atas nampak terjadi peningkatan jumlah manusia yang diperiksa maupun yang menunjukkan hasil positif pada tahun 2004-2007. pada tahun 2009 terdapat 378 kasus dengan 23 kasus meninggal. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan kasus Leptospirosis di Jawa Tengah pada bulan Januari sampai dengan April 2009. GAMBAR 3. h. Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.32. Kemkes RI. MENINGGAL DAN CFR LEPTOSPIROSIS DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 2010 55 .

Kecenderungan penurunan terjadi dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009. Penyakit ini bisa menular kepada manusia dan dapat menimbulkan penyakit flu yang berakibat kematian. GAMBAR 3. khususnya Provinsi DKI Jakarta. Kasus Flu Burung di Indonesia pada manusia pertama kali dilaporkan pada bulan Juni tahun 2005.48%. Angka kematian ini naik pada tahun 2007 dengan CFR 8. Namun angka ini turun menjadi 6. Informasi lebih rinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3. Angka CFR ini merupakan yang tertinggi selama kurun waktu tahun 2005-2009. Flu Burung Avian Influenza atau flu burung disebabkan oleh infeksi virus influenza tipe A (H5N1) yang umumnya menginfeksi unggas dan sedikit kemungkinan menginfeksi babi. Jika dilihat secara kumulatif sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. tiga provinsi dengan jumlah kasus Flu Burung tertinggi yaitu DKI Jakarta.33. Pada tahun 2009 dilaporkan kasus sebanyak 21 dengan kasus meninggal sebanyak 19 dan CFR sebesar 90.38 JUMLAH KASUS. Berikut ini ditampilkan jumlah kasus. Sedangkan CFR menunjukkan kecenderungan peningkatan sejak kasus pertama kali ditemukan pada tahun 2005. MENINGGAL DAN CFR FLU BURUNG DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 56 .55%. Sedangkan CFR menunjukkan kecenderungan penurunan pada tahun 2004-2006. Pada tahun 2007 memang terjadi banjir di beberapa wilayah di Indonesia. i. Jawa Barat dan Banten. Kemkes RI. 2010 Jumlah kasus Flu Burung dan jumlah meninggal dilaporkan terbanyak pada tahun 2006.08 pada tahun 2009. kasus meninggal dan CFR Flu Burung tahun 2005-2009.Gambar di atas menampilkan adanya peningkatan kasus pada tahun 2007 dengan jumlah kasus 667 dan jumlah meninggal 57.

Lampung.34. DIY.40 WILAYAH PENYEBARAN KASUS FLU BURUNG DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Jawa Barat. *** 57 . Bali. Gambaran situasi Flu Burung menurut provinsi juga dapat dilihat pada Lampiran 3. Kemkes RI. Riau. Jawa Tengah. Sumatera Selatan. Sumatera Barat. Jawa Timur.GAMBAR 3. DKI Jakarta.39 JUMLAH KASUS DAN MENINGGAL AKIBAT FLU BURUNG DI 13 PROVINSI TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 2010 Berikut ini ditampilkan pemetaan kasus Flu Burung sampai dengan tahun 2009. flu burung telah menyebar ke beberapa Provinsi di Indonesia. Banten. dan Sulawesi Selatan. yaitu Sumatera Utara. Kemkes RI. GAMBAR 3. 2010 Pada gambar di atas nampak bahwa sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.

.

untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi. khususnya untuk tahun 2009. PELAYANAN KESEHATAN DASAR Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah penting dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.Secara umum upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama. penyehatan lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar. serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan. perbaikan gizi masyarakat. pengamanan penggunaan zat aditif dalam makanan dan minuman. 1. zat adiktif dan bahan berbahaya. untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat. psikotropika. pengobatan rawat jalan. pemberantasan penyakit menular. yaitu upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan adalah sebagai berikut ini. pemeliharaan kesehatan. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. pengobatan rawat inap. pembatasan dan pemulihan kecacatan yang ditujukan terhadap perorangan. Dengan pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan cepat. Upaya kesehatan perorangan mencakup upaya-upaya promosi kesehatan. kesehatan jiwa. A. pencegahan penyakit. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu yang sedang hamil dapat 59 . pengamanan narkotika. Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta. Berikut ini diuraikan situasi upaya kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Upaya kesehatan masyarakat mencakup upaya-upaya promosi kesehatan. pengendalian penyakit tidak menular. pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan. Upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta.

AKB 34 per 1. dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Kebijakan tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir secara khusus berhubungan dengan pelayanan antenatal.mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungannya hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100. dokter. Upaya untuk mempercepat penurunan AKI telah dimulai sejak akhir tahun 1980-an melalui program Safe Motherhood Initiative yang mendapat perhatian besar dan dukungan dari berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri. nifas dan perawatan bayi baru lahir yang diberikan di semua jenis fasilitas pelayanan kesehatan. serta temu wicara (konseling). Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (K1 dan K4) Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya. tinggi fundus uteri. pengukuran tinggi badan. Pelayanan antenatal yang sesuai standar meliputi timbang berat badan. Dewasa ini AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Dalam upaya pencapaian MDG’s dan tujuan pembangunan kesehatan. termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Angka Kematian Neonatus (AKN). Angka Kematian Bayi (AKB). nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas).000 kelahiran hidup pada tahun 1992 (SKRT). skrining status imunisasi tetanus dan memberikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan.000 kelahiran hidup. dan AKABA 44 per 1. 60 . pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan. Target Cakupan kesehatan ibu yang harus dicapai pada tahun 2009 masing-masing sebesar 94% untuk Akses Pelayanan Antenatal (cakupan ibu hamil K1). 84% untuk cakupan pelayanan ibu hamil sesuai standar (K4). menentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ). dan Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan beberapa indikator status kesehatan masyarakat. dan 82% untuk cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (Pn). persalinan. tatalaksana kasus. tekanan darah. Pada akhir tahun 1990-an secara konseptual telah diperkenalkan lagi upaya untuk menajamkan strategi dan intervensi dalam menurunkan AKI melalui Making Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2000. a.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. AKN 19 per 1. AKI sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. bidan dan perawat. test laboratorium (rutin dan khusus). Sedangkan tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelayanan antenatal kepada ibu hamil antara lain dokter spesialis kebidanan. serta KB pasca persalinan. peningkatan pelayanan kesehatan ibu diprioritaskan yaitu dengan menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 102 per 100. Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. Angka Kematian Ibu (AKI). dari posyandu sampai rumah sakit pemerintah maupun fasilitas pelayanan kesehatan swasta.

45% pada tahun 2009.51% pada tahun 2009. GAMBAR 4. Ditetapkan pula bahwa distribusi frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan. 1 kali pada triwulan kedua. Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan kepada ibu hamil. Hasil pencapaian program pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan indikator cakupan K1 dan K4 yang dihitung dengan membagi jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan (untuk penghitungan indikator K1) atau jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali sesuai standar oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu (untuk penghitungan indikator K4) dengan jumlah sasaran ibu hamil yang ada di wilayah kerja dalam 1 tahun. Namun. Sedangkan cakupan K4 pada tahun 2004-2008 cenderung meningkat. dan 2 kali pada triwulan ketiga.Pelayanan antenatal disebut lengkap apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan serta memenuhi standar tersebut. pada tahun 2009 kesenjangan kembali meningkat menjadi 9%. Gambar 4. Kemenkes RI Dari gambar tersebut di atas dapat dilihat kesenjangan yang terjadi antara cakupan K1 dan K4. berupa deteksi dini faktor risiko.09% pada tahun 2004 menjadi 94.6%. pencegahan dan penanganan komplikasi.1 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K1 DAN K4 DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. dengan ketentuan waktu pemberian pelayanan yang dianjurkan yaitu: minimal 1 kali pada triwulan pertama. Terlihat bahwa cakupan K1 selama tahun 2004 sampai 2009 terus mengalami peningkatan dari 88. Kesenjangan antara cakupan K1 dan K4 menunjukkan angka drop out K1-K4. yaitu 6.04% pada tahun 2008 menjadi 85.1 memperlihatkan cakupan kunjungan K1 dan K4 pada ibu hamil selama enam tahun terakhir. Pada tahun 2004 terjadi selisih antara cakupan K1 dan K4 sebesar 11% kemudian tahun 2006 menjadi 10% dan pada tahun 2008 semakin kecil. namun pada tahun 2009 sedikit menurun dari 86. dengan kata lain jika kesenjangan K1 dan K4 kecil maka hampir semua ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal 61 .

Sedangkan Papua adalah provinsi dengan pencapaian K4 terendah (29. 62 . Sedangkan Papua adalah provinsi dengan pencapaian K1 terendah. Kemenkes RI Dari 33 provinsi di Indonesia. Sebanyak 18 provinsi telah mencapai target cakupan K4. GAMBAR 4. Untuk lebih jelasnya.85% dan 77.22%.44%). 16 provinsi telah mencapai target cakupan K1 sebesar 94%.45% yang berarti telah mencapai target K4 tahun 2009 yang sebesar 84%.11%) dan Jawa Tengah (93.2 CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL (K1) TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas.51%. Gambar 4. sehingga kehamilannya dapat terus dipantau oleh petugas kesehatan. diikuti provinsi Bangka Belitung (94.85%. kecuali provinsi Papua dan Sulawesi Barat dengan pencapaian masing-masing 57.3 di bawah ini.04%). dapat dilihat pada Gambar 4.79%) dan Sulawesi Barat (57. yang menunjukkan pencapaian indikator K1 sebesar 94. yaitu sebesar 57. diikuti Papua Barat (55. yang berarti telah mencapai target K1 tahun 2009 yaitu sebesar 94%.39%). Pada tahun 2009. Sementara provinsi yang lainnya telah mencapai cakupan K1 tidak kurang dari 80%.2 menyajikan hasil pencapaian cakupan K1 tahun 2009. Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian K4 tertinggi (96. Kepulauan Bangka Belitung dan DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian K1 100%.53%). hasil pencapaian indikator cakupan pelayanan K4 di Indonesia sebesar 85. Oleh karena itu perlu dilakukan percepatan peningkatan pelayanan kesehatan ibu di Provinsi Papua dan Sulawesi Barat.meneruskan hingga kunjungan keempat pada triwulan 3.

Kemenkes RI Sedangkan cakupan pelayanan K4 menurut provinsi dapat dilihat melalui Gambar 4. Terlihat bahwa hanya 7 provinsi di Indonesia dengan cakupan K4 lebih dari 90%. Papua Barat. Sulawesi Barat.3 CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K4 TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Kemenkes RI 63 . 20 provinsi memiliki cakupan antara 75% . Maluku. dan Papua. Sebanyak 6 provinsi lainnya memiliki cakupan kurang dari 75% dan semuanya merupakan bagian dari Kawasan Timur Indonesia.GAMBAR 4.4 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K4 IBU HAMIL TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Maluku Utara.4 di bawah ini. GAMBAR 4. Provinsi-provinsi tersebut adalah NTT.90%.

6 bahwa DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian tertinggi (100%). Sedangkan dalam target MDG’s.38%.5 memperlihatkan cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan sejak tahun 2004 sampai tahun 2009 yang cenderung meningkat.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100. diikuti Provinsi Maluku Utara (61.b.45%). Dari indikator cakupan Persalinan oleh Nakes tahun 2009. telah mencapai target K4 tahun 2009 yang sebesar 82%. 64 . Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan (Pn) Periode persalinan merupakan salah satu periode yang berkontribusi besar terhadap Angka Kematian Ibu di Indonesia. when. Gambar 4. where and why. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan.I Yogyakarta (95.30%).90%). GAMBAR 4.24%) dan D.7% pada tahun 1992 (BPS).000 kelahiran hidup pada tahun 1992 (SKRT) serta meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menjadi 90% pada tahun 2015 dari 40.75%) dan Sulawesi Barat (62. Sedangkan Papua merupakan provinsi dengan pencapaian Pn terendah (39. diikuti Provinsi Kepulauan Riau (96.38%.5 PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. Kematian saat bersalin dan 1 minggu pertama diperkirakan 60% dari seluruh kematian ibu (Maternal Mortality: who. Pada tahun 2009 cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia telah mencapai 84. dapat dilihat pada Gambar 4. Lancet 2006). Kemenkes RI Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan (Pn) di Indonesia pada tahun 2009 yang sebesar 84. salah satu upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah menurunkan angka kematian ibu menjadi 102 per 100.

Persentase penolong kelahiran pada 65 . serta peningkatan kualitas surveilans kesehatan ibu melalui pelaksanaan Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA). model rumah tunggu di Kabupaten dengan Puskesmas di daerah terpencil untuk pencegahan terhadap komplikasi yang terjadi selama persalinan.9%) pertolongan persalinan dilakukan di rumah dengan fasilitas seadanya. Berdasarkan Susenas tahun 2008.34% kelahiran pada balita ditolong oleh tenaga kesehatan. peningkatan persalinan di fasilitas Kesehatan melalui jaminan program persalinan.6 PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. masih terdapat 25.6 terlihat bahwa sebanyak 7 provinsi di Indonesia yang memiliki cakupan Pn di atas 90%. Kenyataan di lapangan.13% persalinan ditolong bukan oleh nakes dan lebih dari setengahnya (53. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2009. Kemenkes RI Pada tahun 2009 sebanyak 19 provinsi di Indonesia telah mencapai target cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu 82%. Pada Gambar 4. revitalisasi Bidan Koordinator melalui pelaksanaan supervisi fasilitatif untuk peningkatan mutu dan kualitas tenaga penolong persalinan. masih terdapat penolong persalinan yang bukan tenaga kesehatan dan dilakukan di luar fasilitas pelayanan kesehatan.GAMBAR 4. provinsi lainnya memiliki pencapaian kurang sama dengan 90%. sebesar 77. Sehingga dalam upaya peningkatan cakupan persalinan perlu dilakukan melalui upaya pelaksanaan program unggulan kesehatan ibu. di antaranya adalah Kemitraan Bidan Dukun. Oleh karena itu secara bertahap diupayakan seluruh persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan.

66 . persentase penolong kelahiran pada balita oleh tenaga kesehatan meningkat pada tahun 2009. Dibandingkan dengan hasil survei yang sama pada tahun 2008.45%).48%). nadi. respirasi dan suhu. dan 3) kunjungan nifas ke-3 (KF3) dilakukan minggu ke-6 setelah persalinan.24%). Maluku Utara (47. dan 5) pelayanan KB pasca persalinan. Perbandingan persentase penolong persalinan antara tahun 2008 dan 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas (KF3) Pelayanan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan.000 IU sebanyak dua kali (2 x 24 jam). persentase penolong kelahiran pada balita oleh tenaga kesehatan di atas 90% pada tahun 2009 adalah DKI Jakarta. Pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan meliputi: 1) pemeriksaan tekanan darah. DI Yogyakarta. GAMBAR 4.21%). Sedangkan yang terendah adalah Provinsi Maluku (42. 2) kunjungan nifas ke-2 (KF2) dilakukan pada minggu ke-2 setelah persalinan.28%). dan Sulawesi Barat (47.balita yang tertinggi adalah oleh bidan (61. 2) pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya. 3) pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan.7 PERSENTASE BALITA MENURUT PENOLONG KELAHIRAN TAHUN 2008-2009 Sumber : BPS. Susenas Berdasarkan provinsi. diikuti oleh dukun (21.2. Persentase balita menurut penolong kelahiran dan provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4. Diupayakan kunjungan nifas ini dilakukan pada saat dilaksanakannya kegiatan di posyandu dan dilakukan bersamaan pada kunjungan bayi. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu: 1) kunjungan nifas pertama (KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari.29%) dan dokter (15. dan Bali.7 berikut ini. c. 4) pemberian kapsul Vitamin A 200.

Bangka Belitung (94. Kalimantan Timur (36. Sebanyak 14 Provinsi memiliki cakupan kunjungan ibu nifas 3 kali sebesar 50% . Provinsi dengan cakupan terendah adalah Riau (16.67%) dan Jawa Timur (93. 67 . d. ketiga provinsi tersebut bahkan telah mencapai cakupan 90% (target SPM tahun 2015).54%). karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan. ibu hamil yang memiliki risiko tinggi (risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan.75%. kemudian Kep.15%). Sementara target cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2015 adalah 90%. Kemenkes RI Cakupan kunjungan ibu nifas rata-rata pada tahun 2009 adalah 71.8 berikut ini menyajikan persentase pelayanan ibu nifas menurut provinsi di Indonesia. GAMBAR 4. dan Kalimantan Barat (40.8 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN IBU NIFAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. Bali merupakan provinsi dengan pencapaian cakupan KF3 tertinggi (101. Dari 30 provinsi yang melaporkan data. Penanganan Komplikasi Obstetri dan Neonatal Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh tenaga bidan di desa dan Puskesmas.52%).51%). Berdasarkan provinsi.54%).54%.Gambar 4. maka kasus tersebut perlu dilakukan upaya rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai.

dan persalinan prematur.82%. Bahkan sebagian besar provinsi memiliki cakupan kurang dari 50%. Gambar 4. letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu. perdarahan per vaginam. infeksi berat/sepsis. ketuban pecah dini. Risti/komplikasi kebidanan meliputi Hb < 8 g%.500 gram). sindroma gangguan pernafasan dan kelainan neonatal. Kemenkes RI Neonatus risti/komplikasi meliputi asfiksia. Seluruh provinsi belum mencapai cakupan penanganan komplikasi kebidanan 80%. trauma lahir. puskesmas. dengan kisaran cakupan antar provinsi yang cukup lebar. yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. tetanus neonatorum.9 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. letak sungsang pada primigravida. diastole > 90 mmHg). tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg. Neonatus risti/komplikasi yang ditangani adalah neonatus risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih yaitu dokter dan bidan di polindes. eklampsia.8%. rumah bersalin dan rumah sakit. kecuali Provinsi Jawa Timur yang mencapai 84. sepsis. GAMBAR 4.9 memperlihatkan cakupan penanganan komplikasi kebidanan menurut provinsi pada tahun 2009.Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal. Sementara target standar pelayanan minimal bidang kesehatan untuk indikator tersebut yang harus dicapai pada tahun 68 . oedeme nyata. BBLR (Berat Badan Lahir < 2. Pada tahun 2009 cakupan penanganan neonatal komplikasi yang dilaporkan sebesar 23.

Kunjungan Neonatal Bayi sampai umur 28 hari merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal tiga kali. Maluku. pencegahan infeksi berupa perawatan mata.10 berikut ini GAMBAR 4. pada hari ke 3 – 7 hari. petugas kesehatan di samping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. Kemenkes RI Pencapaian cakupan penanganan neonatal komplikasi tertinggi adalah NTT 76. Sedangkan cakupan terendah adalah provinsi Maluku Utara. tali 69 . pemberian ASI dini dan eksklusif. dan hari ke 8 – 28 hari. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi. Dalam melaksanakan pelayanan neonatal.2010 yaitu 80%.2%. Gambaran cakupan penanganan komplikasi neonatal per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4. e. yaitu pada 6 jam . pencegahan hipotermia. dan Sulawesi Tenggara.10 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binakesmas.3% dan DIY 58%.48 jam setelah lahir. Sulawesi Utara 63.

kulit dan pemberian imunisasi).6%. Maluku Utara 31%. dan Jawa Tengah 94. cakupan KN1 tertinggi adalah Provinsi Bali 99. Sebanyak 13 dari 33 provinsi di Indonesia telah mencapai target.11 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL (KN1) MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binakesmas. Kecenderungan cakupan kunjungan neonatal 2 kali (KN2) tahun 2003-2008 dapat dilihat pada Gambar 4. Babel 99.8%. Kep.11 memperlihatkan cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) per provinsi di Indonesia tahun 2009.12 berikut ini. Semenjak tahun 2006 hingga 2008 cakupan KN2 selalu di atas 75%.5%. cakupan terendah adalah Provinsi Papua Barat 30%. dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA. Gambar 4. pemberian vitamin K. Pencapaian target pelayanan kesehatan bayi berdasarkan laporan rutin tahun 2009 yaitu cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) yang sebesar 80. dan Papua 32.pusat. GAMBAR 4.7%. masih belum mencapai target yang diharapkan yaitu 82%. 70 . Manajemen Terpadu Balita Muda (MTBM).6%. Kemenkes RI Terdapat disparitas yang sangat lebar antar provinsi.

Kemenkes RI Sejak tahun 2008 terjadi perubahan kebijakan waktu pelaksanaan kunjungan dari semula minimal 2 kali menjadi 3 kali. Provinsi-provinsi yang telah mencapai target dapat dilihat pada Gambar 4. GAMBAR 4.13 PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI 71 .13 berikut ini. sementara cakupan yang dicapai baru sebesar 69. yang mulai disosialisasikan pada tahun 2008.GAMBAR 4.12 PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL (KN2) DI INDONESIA TAHUN 2003 – 2008 Sumber: Ditjen Binkesmas. Pada tahun 2009 target cakupan kunjungan neonatal lengkap (KN Lengkap) adalah sebesar 75%.7%.

14 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam melindungi bayi sehingga kesehatannya terjamin melalui penyediaan pelayanan kesehatan. Sebanyak 4 provinsi telah mencapai target yaitu Bali. tempat penitipan anak. dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi.3% dan Kepulauan Riau 28%. Cakupan pelayanan kesehatan bayi per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4. dan 1 kali pada umur 9-11 bulan. Kalimantan Barat 23. Pada tahun 2009 cakupan pelayanan kesehatan bayi sebesar 81.3% dan Jawa Timur 92.Sebanyak 17 provinsi telah mencapai target cakupan KN Lengkap sebesar 75%. Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG. f. Kemenkes RI 72 .4%.2%. Sedangkan cakupan terendah adalah provinsi Kalimantan Tengah 21. GAMBAR 4.5%. Kep. Jawa Timur. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan kunjungan bayi umur 29 hari – 11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes. 1 kali pada umur 6-9 bulan. dan Campak). Jawa Tengah. 1 kali pada umur 3-6 bulan. pustu. yaitu satu kali pada umur 29 hari-3 bulan. Bangka Belitung 95.8%. DPT/ HB1-3. Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali dalam setahun. panti asuhan dan sebagainya melalui kunjungan petugas kesehatn.14 berikut ini. Polio 1-4. stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi. puskesmas. posyandu. rumah bersalin dan rumah sakit) maupun di rumah. sementara target SPM Kesehatan yang harus dicapai pada tahun 2010 sebesar 90%. dan Banten. Provinsi dengan cakupan KN Lengkap tertinggi adalah Provinsi Bali 99.

Jawa Timur dan Jawa Tengah 92.15 berikut: GAMBAR 4. g.4%. Kemenkes RI Pencapaian cakupan pelayanan kesehatan anak balita. Pelayanan Kesehatan pada Balita Pada tahun 2009 cakupan pelayanan kesehatan anak balita (1 . Bengkulu.15 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. sementara target yang harus dicapai 70%. Sulawesi Tengah 82. Cakupan terendah adalah provinsi Papua Barat 21. Pencapaian target cakupan kunjungan bayi sangat dipengaruhi oleh keaktifan posyandu tiap bulannya dan partisipasi keluarga untuk membawa bayi ke posyandu.05%.8%.4% dan Papua 27%.5%. sehingga provinsi yang memiliki wilayah sulit dijangkau mempunyai cakupan yang relatif rendah. Bali 79. 73 . Provinsi dengan cakupan terendah adalah DI Yogyakarta. dan Kalimantan Tengah. dari 31 provinsi yang menyampaikan laporan sebanyak 6 provinsi yang mencapai target 70%.8%. Maluku Utara 23.7%. yaitu Provinsi Jambi 92. Cakupan pelayanan kesehatan anak balita per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.9%. Sumatera Utara 80. Sulawesi Utara 71% dan Sumatera Barat 70.1%.5%.4 tahun) sebesar 52.Cakupan kunjungan bayi tertinggi adalah provinsi Bali 100.

Gambar 4. sebesar 1. Untuk proporsi masalah kesehatan gigi dan mulut. Hasil survei kecacingan 2009 oleh Ditjen P2PL menyebutkan 31. Angka anemi pada anak usia <14 tahun 9.2% mengalami kebutaan.8 % siswa SD menderita kecacingan. Pada anak usia sekolah dasar biasanya berkaitan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti menggosok gigi dengan baik dan benar. Sedangkan anak usia 12 tahun dengan karies gigi sebanyak 36. Berdasarkan hasil Riskesdas 2007 disebutkan bahwa untuk masalah kesehatan mata. yang kurus 14. GAMBAR 4.6% pada anak usia 10-14 tahun. Pelayanan Kesehatan Pada Siswa SD dan setingkat Berbagai data menunjukkan bahwa masalah kesehatan anak usia sekolah semakin kompleks. pada perempuan 19.16 memperlihatkan persentase murid SD kelas satu yang mendapatkan pelayanan kesehatan.8% dan anak di atas usia 12 tahun adalah 43.1%.1% dan anak di atas usia 12 tahun sebanyak 72.1% anak usia 6-14 tahun mengalami kelainan refraksi dan 0.8%. mencuci tangan menggunakan sabun.8% adapun yang obesitas 10. sementara pada anak usia >15 tahun. Sementara karies gigi aktif yang terjadi pada anak usia 12 tahun adalah 29.1%.3%. Kemenkes RI 74 . kecacingan.6% terjadi pada anak usia 5-9 tahun dan 20.9%. Beberapa masalah kesehatan yang sering dialami anak usia sekolah adalah karies gigi.7% dan pada laki-laki 13. kelainan refraksi/ketajaman penglihatan dan masalah gizi. sebesar 21.16 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN MURID KELAS SATU SD/SETINGKAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Untuk status gizi pada anak usia >15 tahun.h.

Provinsi dengan capaian cakupan penjaringan murid SD dan setingkat tertinggi adalah
Jawa Barat (97,1%), Jawa Timur (90,1%), dan DI Yogyakarta (86%). Sedangkan yang
terendah adalah Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan NTT. Pencapaian nasional tahun
2009 sebesar 67,8%.
2. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
Menurut hasil penelitian, usia subur seorang wanita biasanya antara 15 – 49 tahun.
Oleh karena itu untuk mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran,
wanita/pasangan ini lebih diprioritaskan untuk menggunakan alat/cara KB.
Tingkat pencapaian pelayanan keluarga berencana dapat dilihat dari cakupan peserta
KB yang sedang/pernah menggunakan alat kontrasepsi, tempat pelayanan KB, dan jenis
kontrasepsi yang digunakan akseptor. Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus menikah
(pasangan usia subur/PUS) yang sedang dan yang pernah menggunakan/memakai alat KB
dapat dilihat pada Gambar 4.17 berikut ini.
GAMBAR 4.17
PROPORSI WANITA BERUMUR 15-49 TAHUN BERSTATUS KAWIN
YANG SEDANG DAN YANG PERNAH MENGGUNAKAN ALAT KB
TAHUN 2004-2008

Sumber : BPS, Susenas 2008

Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus kawin yang sedang menggunakan/
memakai alat KB menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2008 sebesar 56,62%, tidak
banyak mengalami perkembangan sejak tahun 2004. Berdasarkan data BKKBN, pada tahun
2009 peserta KB aktif sebesar 75,70%. Gambar 4.18 menyajikan persentase peserta KB aktif
menurut provinsi.

75

GAMBAR 4.18
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT PROVINSI
TAHUN 2009

Sumber : BKKBN

Provinsi dengan persentase peserta KB aktif tertinggi adalah Bengkulu (85,5%), Bali
(85,1%), dan DKI Jakarta (82%). Sedangkan persentase peserta KB aktif terendah adalah
Papua (33,9%), Maluku Utara (59,5%), dan Kepulauan Riau (64,3%).
Persentase peserta KB aktif menurut metode kontrasepsi yang sedang digunakan tahun
2009 terlihat dalam Gambar 4.19 berikut ini. Pada tahun 2009 suntikan dan Pil KB masih
banyak diminati sebagai alat KB oleh pasangan usia subur yaitu masing-masing sebesar
50,2% dan 28,3%. Sebaliknya, MOP (Metode Operasi Pria) dan MOW (Metode Operasi
Wanita) merupakan metode kontrasepsi yang terendah diminati oleh para akseptor KB.
GAMBAR 4.19
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI
TAHUN 2009

Sumber: BKKBN

76

Berdasarkan metode kontrasepsi menurut provinsi, alat kontrasepsi dalam rahim
(AKDR/IUD) banyak digunakan di Provinsi Bali dan DI Yogyakarta dengan persentase jauh
di atas provinsi yang lain yaitu masing-masing 47,88% dan 25,44%, sementara untuk
persentase terendah pemakaian IUD adalah 1,78% di Kalimantan Selatan dan persentase
nasional adalah 4,3%. Begitu pula untuk metode MOW kedua provinsi tersebut relatif lebih
tinggi dibandingkan provinsi lainnya yaitu 3,79% (Bali) dan 5,10% (DI Yogyakarta). Rincian
persentase KB aktif menurut metode kontrasepsi dan provinsi terdapat pada Lampiran 4.8.
Persentase tempat pelayanan peserta KB baru tahun 2006-2009 dapat dilihat pada
gambar berikut ini.
GAMBAR 4.20
PERSENTASE TEMPAT PELAYANAN PESERTA KB BARU
DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2009

Sumber : BKKBN

Sesuai dengan data BKKBN, tempat pelayanan peserta KB baru pada tahun 2009 tidak
jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyak peserta KB baru yang memanfaatkan
klinik KB pemerintah sebagai tempat pelayanan KB (62,94%). Selain klinik KB pemerintah,
sebesar 29,65% peserta KB baru memanfaatkan bidan praktek swasta sebagai tempat
pelayanan KB.
Berdasarkan provinsi, terdapat 4 provinsi dengan pemanfaatan klinik KB pemerintah
sebagai tempat pelayanan KB lebih dari 90%, yaitu NTT (97,61%), Maluku Utara (92,73%),
Sulawesi Tenggara (92,05%), dan Sulawesi Tengah (90,69%). Sebaliknya, di Provinsi DI
Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Bali pemanfaatan klinik KB pemerintah sangat rendah, bahkan
kurang dari 40%. Ketiga provinsi tersebut lebih banyak memanfaatkan pelayanan KB swasta.
Data lebih rinci proporsi KB Baru menurut tempat pelayanan KB dan provinsi dapat dilihat
pada Lampiran 4.9.

77

3. Pelayanan Imunisasi
Bayi dan anak-anak memiliki risiko yang lebih tinggi terserang penyakit menular yang
dapat mematikan, seperti: Difteri, Tetanus, Hepatitis B, Typhus, radang selaput otak, radang
paru-paru, dan masih banyak penyakit lainnya. Untuk itu salah satu pencegahan yang terbaik
dan sangat vital agar kelompok berisiko ini terlindungi adalah melalui imunisasi.
Pada saat pertama kali kuman (antigen) masuk ke dalam tubuh, maka sebagai
reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi. Pada umumnya, reaksi
pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat, karena tubuh belum mempunyai
"pengalaman." Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai
memori untuk mengenali antigen tersebut sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam
waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak. Itulah sebabnya, pada beberapa
jenis penyakit yang dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini
dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut, atau
seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal.
Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah
pemberian kuman atau kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk
merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah imunisasi Polio atau
Campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar
antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum)
pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi
yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui
darah plasenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap Tetanus dan Campak.
a. Imunisasi Dasar pada Bayi
Program imunisasi dasar lengkap (LIL/Lima Imunisasi dasar Lengkap) pada bayi
meliputi: 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B, dan 1 dosis Campak.
Di antara penyakit pada balita yang dapat dicegah dengan imunisasi, campak adalah
penyebab utama kematian pada balita. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor
penting dalam mengurangi angka kematian balita. Dari beberapa tujuan yang disepakati
dalam pertemuan dunia mengenai anak, salah satunya adalah mempertahankan cakupan
imunisasi campak sebesar 90%. Target tersebut sejalan dengan target Renstra Kemenkes RI
yang menetapkan target cakupan imunisasi campak 90% pada tahun 2014. Di seluruh negara
ASEAN dan SEARO, imunisasi Campak diberikan pada bayi umur 9-11 bulan dan
merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada bayi di antara imunisasi wajib lainnya.
Pada tahun 2009, Indonesia telah mencapai cakupan imunisasi campak sebesar
92,09%. Dengan demikian Indonesia telah mampu mencapai target imunisasi campak yang
78

telah ditetapkan oleh WHO dan target Renstra Kementerian Kesehatan RI tahun 2014. Angka
tersebut meningkat dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 90,5%.
Gambar 4.21 berikut ini adalah peta cakupan imunisasi campak menurut provinsi
tahun 2009.
GAMBAR 4.21
PERSENTASE PENCAPAIAN IMUNISASI CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI

Dari 33 provinsi di Indonesia, 18 provinsi telah mencapai cakupan imunisasi campak
≥ 90%, 8 provinsi mencapai cakupan 80%-89,99%, dan 7 provinsi lainnya masih di bawah
80%, bahkan ada yang baru mencapai cakupan 65,64%. Dibandingkan tahun 2008 yang
terdapat 14 provinsi dengan cakupan imunisasi campak ≥ 90%, pada tahun 2009 terjadi
peningkatan cakupan provinsi yang mencapai target. Cakupan tertinggi dicapai DKI Jakarta,
DI Yogyakarta, dan Bali. Ketiga provinsi tersebut telah berhasil mencapai cakupan imunisasi
campak sebesar 100%. Sedangkan cakupan terendah adalah di Papua Barat (65,64%), Maluku
(72,76%), dan Riau (73,78%). Data mengenai cakupan imunisasi dasar pada bayi menurut
provinsi tahun 2009 terdapat pada Lampiran 4.11.
Menurut hasil Riskesdas 2007, pendidikan dan pengeluaran per kapita berhubungan
dengan persentase anak umur 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar termasuk juga
campak. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga maka semakin tinggi pula anak
mendapat imunisasi. Begitu pula dengan pengeluaran per kapita, bahwa semakin tinggi
tingkat pengeluaran per kapita semakin tinggi pula anak mendapat imunisasi dasar. Persentase
di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan. Tabel 4.1 berikut ini menjelaskan hubungan
tersebut.

79

TABEL 4.1
PERSENTASE ANAK UMUR 12-23 BULAN YANG MENDAPATKAN IMUNISASI DASAR
MENURUT KARAKTERISTIK RESPONDEN, 2007
Karakteristik responden

BCG

Polio3

Tipe daerah
Perkotaan
92,4
Perdesaan
83,5
Pendidikan Kepala Keluarga
Tidak sekolah
78,6
Tidak tamat SD
79,3
Tamat SD
84,8
Tamat SMP
88,4
Tamat SMA
92,4
Tamat PT
95,7
Tingkat pengeluaran per kapita
Kuintil 1
83,0
Kuintil 2
85,7
Kuintil 3
87,2
Kuintil 4
89,6
Kuintil 5
91,9
Sumber: Balitbangkes Kemenkes RI, Riskesdas 2007

Jenis imunisasi
DPT3
HB3

Campak

78,7
66,2

74,9
63,1

71,0
57,3

86,0
78,8

61,9
62,4
67,4
71,6
79,7
82,6

54,0
59,1
63,3
68,2
76,9
81,8

50,5
53,7
57,5
62,8
72,3
75,9

71,6
74,1
78,2
82,3
88,6
93,1

66,6
68,1
72,8
73,6
77,6

62,9
64,7
69,1
71,0
74,7

58,7
59,7
63,2
65,5
70,9

78,1
78,5
83,1
84,3
86,8

Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proksi
terhadap cakupan atas imunisasi dasar secara lengkap pada bayi (0 -11 bulan). Desa UCI
merupakan gambaran desa/kelurahan dengan ≥ 80% jumlah bayi yang ada di desa tersebut
sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun. Target UCI tahun 2009
adalah 98%. Sedangkan standar pelayanan minimal menetapkan target 100% desa/kelurahan
UCI pada tahun 2010 untuk setiap kabupaten/kota.
Gambar 4.22 berikut menyajikan persentase desa/kelurahan UCI yang belum
menunjukkan perkembangan yang bermakna selama enam tahun terakhir. Pencapaian
tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 76,23%. Capaian tahun 2009 hanya sebesar
69,76% desa/kelurahan UCI di Indonesia, lebih rendah dibandingkan tahun 2008 yang sebesar
74,02%. Provinsi dengan capaian desa/kelurahan UCI tertinggi sekaligus mencapai target
cakupan desa/kelurahan UCI tahun 2009 (98%) adalah DKI Jakarta (100%), Bali (99,58%),
dan DI Yogyakarta (98,63%). Sementara 6 provinsi memiliki cakupan desa/kelurahan UCI
<50%, yaitu Papua Barat (21,15%), Papua (23,14%), Aceh (37,97%), Sulawesi Tenggara
(38,61%), Sulawesi Barat (42,11), dan Lampung (44,86). Rincian capaian desa/kelurahan UCI
menurut provinsi tahun 2007-2009 terdapat pada Lampiran 4.10.

80

Kemenkes RI 81 .2%. Imunisasi DPT1Hb adalah jenis imunisasi yang pertama kali diberikan pada bayi.23. Namun kenyataannya. Angka drop out di Indonesia tahun 2009 sebesar 5. Kemenkes RI Idealnya. Rincian tentang angka drop out menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4. angka drop out nasional paling rendah terjadi pada tahun 2005 yaitu 1. sebagian anak tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Selama enam tahun terakhir.12. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 4. Untuk itu maka angka drop out imunisasi bayi dapat diketahui dengan perhitungan yang didasarkan atas persentase penurunan cakupan imunisasi campak terhadap cakupan imunisasi DPT1-Hb. imunisasi campak adalah imunisasi dasar yang terakhir diberikan pada bayi.CAMPAK PADA BAYI DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Diasumsikan bayi yang mendapat imunisasi campak telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.22 PERSENTASE PENCAPAIAN UCI DI TINGKAT DESA/KELURAHAN DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL.4%. provinsi dengan angka drop out terendah adalah DI Yogyakarta dan yang tertinggi adalah Maluku.GAMBAR 4. Anak-anak inilah yang disebut dengan drop out imunisasi. sehingga kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dapat optimal. GAMBAR 4. Sebaliknya.23 ANGKA DROP OUT CAKUPAN IMUNISASI DPT1Hb . seorang anak mendapatkan seluruh imunisasi dasar sesuai umurnya.

24 CAKUPAN TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Beberapa permasalahan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada wanita usia subur yaitu pelaksanaan skrining yang belum optimal. 2) cakupan imunisasi rutin TT yang tinggi dan merata. Dari Gambar 4. Tetanus juga bisa menyerang pada bayi baru lahir (Tetanus Neonatorum) pada saat persalinan dan perawatan tali pusat. pencatatan yang dimulai dari kohort WUS (baik kohort ibu maupun WUS tidak hamil) belum seragam. Maternal and Neonatal Tetanus Elimination (MNTE) merupakan program eliminasi tetanus pada neonatal dan wanita usia subur termasuk ibu hamil. bahkan cenderung menurun.56%). kemudian meningkat lagi menjadi 62.9% pada tahun 2008.02%) dan terendah adalah Papua (8. Akan tetapi masih banyak calon ibu di masyarakat terutama yang tinggal di daerahdaerah terpencil berada dalam kondisi yang bisa disebut masih "jauh" dari kondisi steril saat persalinan.25 82 . Imunisasi pada Ibu Hamil Tetanus disebabkan oleh toksin yang diproduksi oleh bakteri yang disebut Clostridium tetani. Kemenkes RI Pada tahun 2009 provinsi dengan cakupan ibu hamil yang mendapat imunisasi TT2+ tertinggi adalah Provinsi Bali (101.24 terlihat keadaan cakupan imunisasi TT2 selama tahun 2003-2007 tidak mengalami perkembangan. Tetanus merupakan salah satu penyebab kematian bayi di Indonesia.b. dan cakupan imunisasi TT2 bumil jauh lebih rendah dari cakupan K4. Namun sejak dua tahun terakhir terjadi peningkatan cakupan imunisasi TT2+. GAMBAR 4. dan 3) penyelenggaraan surveilans. Gambar 4. Hal inilah yang bisa menimbulkan risiko ibu maupun bayinya terkena tetanus.52% pada tahun 2009. Strategi yang dilakukan untuk mengeliminasi tetanus neonatorum dan maternal adalah 1) pertolongan persalinan yang aman dan bersih. dari 26% pada tahun 2007 menjadi 42.

Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR). rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (Turn of Interval/TOI). Sedangkan provinsi dengan capaian 60%-80% sebanyak 10 provinsi. pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di kelas III di rumah sakit. cakupan pelayanan gawat darurat. persentase pasien keluar yang meninggal (Gross Death Rate/GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal ≥ 48 jam perawatan (Net Death Rate/NDR).memperlihatkan bahwa dari 33 provinsi di Indonesia hanya 3 provinsi yang berhasil mencapai cakupan imunisasi TT2+ pada ibu hamil >80% yaitu Bali. Berdasarkan data Ditjen Pelayanan Medik. yaitu T1-T5. NTT. rata-rata lama hari perawatan (Length of Stay/LOS). tingkat pemanfaatan tempat tidur (BOR) di rumah sakit umum (yang dikelola Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Daerah) selama enam tahun terakhir cenderung meningkat setiap tahunnya walaupun pada tahun 2003-2006 83 .25 CAKUPAN TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PPPL. Kemenkes RI Beberapa langkah yang perlu segera dilakukan adalah sosialisasi ke seluruh petugas lapangan agar mengacu pada kriteria Antenatal Care (ANC) berkualitas. dan Banten. rata-rata tempat tidur dipakai (Bed Turn Over/BTO). GAMBAR 4. dan semua sistem pencatatan dalam pelaksanaan imunisasi TT WUS termasuk ibu hamil memakai sistem pencatatan yang sama. 1. B. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN Beberapa kegiatan pokok upaya kesehatan perorangan adalah peningkatan pelayanan kesehatan rujukan. mutu dan tingkat efisiensi pelayanan. Indikator Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit biasanya dilihat dari berbagai segi yaitu tingkat pemanfaatan sarana. dan lain-lain. yang salah satunya dengan imunisasi TT. Sebanyak 20 provinsi lainnya memiliki capaian <60%.

26 berikut ini.belum mencapai angka ideal yang diharapkan (yaitu 60-85%). apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut.27 memperlihatkan rata-rata LOS nasional di rumah sakit umum selama tahun 2003-2009 yang berkisar antara 484 . dari 79. GAMBAR 4.7% pada tahun 2009.26 PENCAPAIAN BOR DAN BTO RSU KEMENKES DAN PEMDA DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.7 kali) dan Jambi (43. dan BUMN lainnya tidak tersedia. Tingkat pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit sejak tahun 2003-2009 dapat dilihat pada Gambar 4. Padahal selama enam tahun sebelumnya BTO di rumah sakit selalu berada pada kisaran 40-50 kali. Gambar 4. yaitu hanya sebesar 25 kali. Indikator ini di samping memberikan gambaran tingkat efisiensi. Idealnya dalam satu tahun.8% pada tahun 2008 turun menjadi 58. LOS adalah rata-rata lama rawat (hari) seorang pasien. Sementara tidak ada satu provinsi pun yang memiliki BOR lebih tinggi dari 85%. satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali. yaitu Bali (45. Secara umum nilai LOS yang ideal antara 6-9 hari.4 kali). hanya 2 provinsi yang mencapai BTO ideal. TNI/POLRI. Pada tahun 2007 dan 2008 BOR nasional telah mencapai angka ideal. berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Dari 33 provinsi. Namun pada tahun 2009 BOR mengalami penurunan yang cukup besar. Kemenkes RI Keterangan: BOR = Bed Occupation Rate/persentase pemanfaatan tempat tidur BTO = Bed Turn Over/rata-rata tempat tidur dipakai selama setahun BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode (biasanya satu tahun). Dari 31 provinsi yang menyampaikan data. Pada tahun 2009 BTO rumah sakit belum mencapai angka ideal. Data tentang pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit umum yang dikelola oleh swasta. juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan. sebanyak 17 provinsi telah mencapai BOR ideal. Hal itu berarti jumlah rumah sakit di Indonesia untuk masing-masing provinsi relatif mencukupi kemampuannya dalam menyediakan tempat tidur bagi pasien rawat inap.

tidak melihat berapa lama pasien berada di rumah sakit dari masuk sampai meninggal. Pada tahun 2009 angka TOI tempat tidur rumah sakit di Indonesia memiliki selang waktu 6. Selama tahun 2003-2009 TOI di rumah sakit berkisar antara 2.2). Kemenkes RI Keterangan: LOS = Length of Stay/rata-rata hari rawat seorang pasien TOI = Turn over Interval/rata-rata tempat tidur tidak dipakai antar dua episode pemakaian Indikator pelayanan rumah sakit yang lain adalah TOI.000 penderita keluar dari rumah sakit. Bangka Belitung memiliki LOS terendah (3. Pada GDR. Sumatera Barat (48.9-6. hanya Bali (2 hari) dan Jambi (2. Jawa Timur (49.8).6 hari) yang memiliki TOI ideal. 85 . dan Sulawesi Barat (48. GAMBAR 4.6 hari) dan Kep. 4 provinsi memiliki GDR > 45 per 1.5 kematian per 1. TOI adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah digunakan sampai saat digunakan kembali (rata-rata lama tempat tidur kosong antar pasien satu dengan pasien berikutnya).1 hari). Dari 31 provinsi yang menyampaikan laporan. GDR adalah angka kematian umum untuk setiap 1. Hanya pada tahun 2007 dan 2008 TOI mencapai angka ideal 1-3 hari. Pada tahun 2009 angka GDR di Indonesia sebesar 36.3 hari dan belum mencapai angka ideal.000 pasien keluar rumah sakit. Nilai ideal GDR adalah < 45 per 1. yaitu Sumatera Utara (52).000 pasien keluar. Berdasarkan provinsi. Kalimantan Barat memiliki LOS tertinggi (5.3 hari. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.5).000 pasien keluar.5. Berdasarkan provinsi.3 hari tempat tidur tidak terisi.27 PENCAPAIAN LOS DAN TOI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.

2.000 pasien keluar.000 pasien keluar. NDR sejak tahun 2003 hingga 2009 berada pada kisaran 18-23. Asumsinya jika pasien meninggal setelah mendapatkan perawatan 48 jam berarti ada faktor pelayanan rumah sakit yang terlibat dengan kondisi meninggalnya pasien. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tujuan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yaitu untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan hampir miskin agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit.000 pasien keluar.000 pasien keluar) NDR adalah angka kematian pasien setelah dirawat ≥ 48 jam per 1. Namun jika pasien meninggal kurang dari 48 jam masa perawatan. Melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu. Program ini telah berjalan lima tahun.28 PENCAPAIAN NDR DAN GDR PER 1. dan telah memberikan banyak manfaat bagi peningkatan akses pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan hampir miskin di puskesmas dan jaringannya serta pelayanan kesehatan di rumah sakit. dianggap faktor keterlambatan pasien datang ke rumah sakit yang menjadi penyebab utama pasien meninggal. Kemenkes RI Keterangan: NDR = Net Death Rate (per 1.000 pasien keluar) GDR = Gross Death Rate (per 1. Sejak tahun 2005 hingga 2007 sasaran Jamkesmas (yaitu jumlah orang miskin dan hampir miskin) terus bertambah kecuali sejak tahun 2007-2009 dengan jumlah sasaran sama 86 . menurunkan angka kematian bayi dan balita serta menurunkan angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan bagi masyarakat miskin umumnya.GAMBAR 4.000 PASIEN KELUAR RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.000 pasien keluar. Dengan demikian NDR telah mencapai angka ideal yaitu < 25 per 1. Nilai NDR yang ideal adalah < 25 per 1.6 per 1.

Sedangkan jumlah kunjungan rawat inap tingkat lanjut dapat dilihat pada Lampiran 4. Rincian kujungan rawat jalan tingkat pertama dan tingkat lanjut menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4.4 juta jiwa. Sedangkan pemberi pelayanan kesehatan Jamkesmas tingkat lanjut pada tahun 2008 berjumlah 920 dengan rincian sebagai berikut: 56% rumah sakit pemerintah.234 unit.19.29 REALISASI PROGRAM JPKM TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.30.60 juta memanfaatkan sarana kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama dan tingkat lanjut. Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) Jamkesmas terdiri dari pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan tingkat lanjut.22 juta jiwa. dari 76. Gambar 4. Provinsi dengan jumlah sasaran terbesar adalah Jawa Tengah. 7% rumah sakit TNI/POLRI. dan 4% balai pengobatan seperti yang terlihat pada Gambar 4. Pemberi pelayanan kesehatan dasar Jamkesmas adalah seluruh puskesmas dan jaringannya (pustu. pusling) yang berjumlah 8.4 juta sasaran masyarakat miskin dan hampir miskin. 87 . GAMBAR 4.20. 33% rumah sakit swasta. sebanyak 23. Jawa Barat.29 berikut ini menyajikan realisasi program JPKM tahun 2005-2009. Kemenkes RI Pada tahun 2009. Angka tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 26.18 dan 4. dan Jawa Timur.yaitu 76. polindes/poskesdes.

dan Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah PPK tertinggi untuk pelayanan tingkat lanjut. Jika di provinsi lain. Kemenkes RI Provinsi Jawa Barat. sidang ke-41 WHA (World Health Assembly) telah menetapkan program eradikasi polio secara global (global polio eradication initiative) yang ditujukan untuk mengeradikasi penyakit polio pada tahun 2000.30 PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN JAMKESMAS TINGKAT LANJUT TAHUN 2008 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. Layak dilaksanakan secara operasional. Besarnya jumlah PPK di tiga provinsi tersebut juga disebabkan tingginya jumlah sasaran Jamkesmas. dan 80 PPK. namun di tiga provinsi tersebut mencapai lebih dari 10 juta jiwa. 115. yaitu menghentikan terjadinya transmisi virus polio liar di seluruh dunia. 88 . Kesepakatan ini diperkuat oleh sidang World Summit for Children pada tahun 1989. Eradikasi dalam hal ini bukan sekedar mencegah terjadinya penyakit polio. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT 1. Dasar pemikiran Eradikasi Polio adalah: 1. 4.GAMBAR 4. melainkan mempunyai arti yang lebih luas lagi. 2. Pengendalian Penyakit Polio Pada tahun 1988. Manusia satu-satunya reservoir dan tidak ada longterm carrier pada manusia. Sifat virus polio yang tidak tahan lama hidup di lingkungan. yaitu masing-masing 140. Jawa Tengah. C. jumlah anggota masyarakat miskin dan hampir miskin kurang dari 5 juta jiwa (bahkan beberapa di antaranya kurang dari 1 juta jiwa). Pengertian Eradikasi Polio adalah apabila tidak ditemukan virus polio liar indigenous selama 3 tahun berturut-turut di suatu region yang dibuktikan dengan surveilans AFP yang sesuai standar sertifikasi. Tersedianya vaksin yang mempunyai efektivitas > 90% dan mudah dalam pemberian. di mana Indonesia turut menandatangani kesepakatan tersebut. 3.

Berdasarkan kegiatan surveilans AFP pada penduduk <15 tahun selama tahun 2003 – 2009. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit Polio telah dilakukan melalui gerakan imunisasi polio. artinya minimal 80% spesimen tinja penderita harus sesuai dengan persyaratan yaitu diambil ≤ 14 hari setelah kelumpuhan dan suhu spesimen 0-8ºC sampai di laboratorium.31 menunjukkan bahwa persentase spesimen adekuat yang dikirim untuk pemeriksaan virus Polio semakin meningkat.10%. secara nasional diperoleh gambaran seperti terlihat pada Gambar 4.31 PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT DAN NON POLIO AFP RATE TAHUN 2003 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Upaya ini juga ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans epidemiologi secara aktif terhadap kasus-kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP) kelompok umur <15 tahun dalam kurun waktu tertentu. selama 10 tahun terakhir tidak ditemukan kasus AFP yang disebabkan virus Polio liar.000 anak umur < 15 tahun. Surveilans AFP di Indonesia dilaksanakan sejak pertengahan tahun 1995. untuk mencari kemungkinan adanya virus Polio liar yang berkembang di masyarakat dengan pemeriksaan spesimen tinja dari kasus AFP yang dijumpai. kecuali pada tahun 2006 yaitu 79. namun sejak adanya tenaga khusus (surveillance officer) di tingkat provinsi. Kemenkes RI Setiap kasus AFP yang ditemukan dalam kegiatan intensifikasi surveilans. Sedangkan untuk standar spesimen adekuat adalah >80%. kinerja menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna. akan dilakukan pemeriksaan spesimen tinja untuk mengetahui ada tidaknya virus Polio liar yang menyerang masyarakat. dengan demikian hasil pemeriksaan yang dilakukan menjadi semakin mewakili kondisi di lapangan. GAMBAR 4.Di Indonesia. Gambar 4. 89 . Target untuk non Polio AFP rate ditetapkan sebesar ≥ 2 per 100.31 berikut ini. Dengan demikian sejak tahun 2003 hingga 2009 spesimen adekuat telah sesuai standar. Pencapaian kinerja sampai tahun 2002 berfluktuasi.

2) menurunkan prevalensi TB Paru dan angka kematian akibat TB Paru menjadi setengahnya pada tahun 2015 dibandingkan tahun 1990.32b PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Dengan menggunakan strategi DOTS.43%) 90 . 3) sedikitnya 70% kasus TB Paru BTA+ terdeteksi dan diobati melalui program DOTS (Directly Observed Treatment Shortcource Chemotherapy) atau pengobatan TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). Strategi DOTS direkomendasikan oleh WHO secara global untuk menanggulangi TB Paru. Selama tahun 2001-2009 persentase TB Paru BTA+ terhadap suspek TB Paru tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu 13. Strategi DOTS memberikan angka kesembuhan yang tinggi. dapat mencapai angka 95%. a. Pengendalian TB-Paru Tujuan utama pengendalian TB Paru adalah: 1) menurunkan insidens TB Paru pada tahun 2015.01% dan terendah terjadi pada tahun 2001 (8. GAMBAR 4. dan 4) sedikitnya 85% tercapai succes rate.32 berikut ini. Gambar 4. Kemenkes RI 2. maka proses penyembuhan TB Paru dapat berlangsung secara cepat. Kemenkes RI Sumber: Ditjen PP-PL. Hal ini dapat terlihat dari meningkatnya jumlah penderita yang ditemukan dan disembuhkan setiap tahun.000 ANAK UMUR < 15 TAHUN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 GAMBAR 4.32a NON POLIO AFP RATE/ 100. Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di antara Suspek yang diperiksa Upaya Pemerintah dalam menanggulangi TB Paru setiap tahunnya semakin menunjukkan kemajuan. DOTS menekankan pentingnya pengawasan terhadap penderita TB Paru agar menelan obatnya secara teratur sesuai ketentuan sampai dinyatakan sembuh.Provinsi yang telah memenuhi target non polio AFP rate ≥ 2 per 100.000 anak umur < 15 tahun dan spesimen adekuat sesuai standar dapat dilihat pada Gambar 4.33 memperlihatkan persentase TB Paru BTA+ terhadap suspek TB Paru selama tahun 2001-2009. DOTS adalah strategi penyembuhan TB Paru jangka pendek dengan pengawasan secara langsung.

Kemenkes RI 91 . Dengan demikian.33 PERSENTASE BTA POSITIF TERHADAP SUSPEK TAHUN 2001-2009 Sumber : Ditjen PP-PL. petugas kesehatan mampu mendiagnosis kasus BTA+ sesuai standar. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (negatif palsu). Berarti. sejak tahun 2001-2009 persentase BTA+ terhadap suspek masih dalam batas yang ditolerir. Sedangkan bila angka ini terlalu besar (> 15%) kemungkinan disebabkan penjaringan terlalu ketat atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positif palsu). Kemenkes RI Menurut standar. Bila angka ini terlalu kecil (< 5%) kemungkinan disebabkan penjaringan suspek terlalu longgar. persentase BTA+ diperkirakan 10% dari suspek yang diperkirakan di masyarakat dengan nilai yang ditoleransi antara 5-15%. Untuk hasil proporsi pasien TB Paru BTA Positif di antara suspek yang diperiksa per provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4.34 PERSENTASE PASIEN TB PARU BTA+ TERHADAP SUSPEK YANG DIPERIKSA DAHAKNYA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen PPPL. GAMBAR 4.GAMBAR 4.34 berikut ini.

35 menyajikan kecenderungan angka penemuan kasus baru (Case Detection Rate).7%. CDR mengalami peningkatan yang berarti. Dengan demikian sejak tahun 2006 sampai 2009 (kecuali tahun 2007) Indonesia telah mampu mencapai target tersebut. CDR tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 75. dan DKI Jakarta.35 PERSENTASE PENEMUAN KASUS BARU DAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU DI INDONESIA TAHUN 2000-2009 Sumber : Ditjen PPPL. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA+ (Case Detection Rate) dan Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate) Angka penemuan kasus TB Paru BTA+ memperlihatkan penemuan TB Paru BTA+ terhadap jumlah perkiraan TB Paru. Selama tahun 2000-2009. Angka keberhasilan pengobatan semenjak 20002009 telah mencapai target keberhasilan pengobatan yang distandarkan oleh WHO yaitu minimal 85%. b. Bahkan pada tahun 2009 keberhasilan pengobatan mencapai 91% Angka keberhasilan pengobatan penderita pada tahun 2008 menurut provinsi dapat dilihat pada gambar berikut: 92 .Sebanyak 30 provinsi dengan persentase pasien TB Paru BTA+ di antara suspek yang diperiksa per provinsi sebesar 5-15%. Sementara standar CDR TB Paru sebesar 70%.9% pada tahun 2009. Maluku. Gambar 4. Kemenkes RI Keberhasilan pengobatan TB paru ditentukan oleh kepatuhan dan keteraturan dalam berobat. GAMBAR 4. dari 20% pada tahun 2000 menjadi 71. Sedangkan provinsi dengan persentase pasien TB Paru BTA+ terhadap suspek yang diperiksa >15% sebanyak 3 provinsi yaitu Maluku Utara. pemeriksaan fisik dan laboratorium.

Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan 93 . Studi mortalitas pada Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada bayi (post neonatal) karena pneumonia sebesar 23. Kemenkes RI Sebanyak 28 provinsi telah berhasil mencapai target keberhasilan pengobatan 85% dengan SR tertinggi yaitu Bengkulu (97. dan Riau. Papua. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu Pneumonia berat dan Pneumonia tidak berat.60%. Penyakit batuk pilek seperti rinitis.11%).36 PERSENTASE KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA TB PARU (SUCCESS RATE) TAHUN 2008 MENURUT PROVINSI Sumber : Ditjen PPPL. 3.30% dari seluruh kematian bayi. DI Yogyakarta. dan Gorontalo (97. tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan Pneumonia.5%. Maluku (97. diketahui bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia. Maluku Utara. Sedangkan provinsi yang belum mencapai target SR 85% adalah Papua Barat. Program Pemberantasan Penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu Pneumonia dan yang bukan Pneumonia.GAMBAR 4.29%). yaitu sebanyak 22. faringitis.41%). Survei yang sama juga menunjukkan bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada anak balita yaitu 23. Pengendalian Penyakit ISPA ISPA merupakan penyebab kematian terbesar baik pada bayi maupun pada anak balita. Hal ini dapat dilihat melalui hasil survei mortalitas subdit ISPA pada tahun 2005 di 10 provinsi. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik.8% dan pada anak balita sebesar 15.

Hambatan yang ditemui dalam meningkatkan cakupan penemuan Pneumonia balita di puskesmas yaitu: a. b. e.pada balita.37 di bawah ini. Kemenkes RI Cakupan penemuan penderita pneumonia tetap rendah sejak tahun 2005 hingga 2009. Rata-rata cakupan penemuan pneumonia pada balita tahun 2009 sebesar 22. 4. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS di samping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan juga diarahkan pada upaya 94 . yang berarti masih jauh dari target yang sebesar 86%. ISPA merupakan pandemi yang dilupakan/tidak prioritas sedangkan masalah ISPA merupakan masalah multisektoral. Tenaga terlatih tidak melaksanakan MTBS/Tatalaksana Standar ISPA di puskesmas. semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik. c. d. Gejala Pneumonia sukar dikenali oleh orang awam maupun tenaga kesehatan yang tidak terlatih. monitoring dan evaluasi) secara berjenjang masih sangat kurang. Program pengendalian ISPA menetapkan bahwa semua kasus yang ditemukan harus ditatalaksanakan sesuai standar.37 CAKUPAN PENEMUAN PENDERITA PNEUMONIA PADA BALITA DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber : Ditjen PPPL.45%. Pembiayaan (logistik dan operasional) terbatas. dengan demikian angka penemuan kasus pneumonia juga menggambarkan penatalaksanaan kasus ISPA. Secara nasional. angka cakupan penemuan penderita pneumonia pada balita hingga saat ini masih belum mencapai target. seperti tampak pada Gambar 4. Pembinaan (bimbingan teknis.41%). GAMBAR 4.18%. Bangka Belitung (41. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin.16%) dan Kep. Provinsi NTB memiliki cakupan relatif tinggi yaitu sebesar 71. Provinsi dengan cakupan tertinggi berikutnya adalah Jawa Barat (46.

2 berikut ini. Pada kelompok ini di samping dilakukan pengobatan. pemantauan pada kelompok berisiko penderita Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Wanita Penjaja Seks (WPS).pencegahan melalui penemuan penderita secara dini yang dilanjutkan dengan kegiatan konseling.066 2. 95 .638 5.720 316 1. Kemenkes RI Dalam perjalanan penyakit dari HIV positif menjadi AIDS dikenal istilah ”window periods”.846 2008 2009 6.110 993 3. Keberhasilan kegiatan PSN antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ).682 361 740 2005 875 4.244 2.487 261 479 2004 649 3.195 2.321 592 1.973 484 3.369 4.947 11. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia.863 19. 5.141 498 2. Upaya penemuan penderita dilakukan melalui skrining HIV/AIDS terhadap darah donor.969 16.015 Sumber: Ditjen PPPL. Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang perjalanan penyakitnya cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.362 3.2 PENEMUAN PENDERITA HIV/AIDS DI INDONESIA TAHUN 2003 – 2009 Tahun Pengidap HIV Per tahun Kumulatif Penderita AIDS Per tahun Kumulatif Penderita AIDS Meninggal Per tahun Kumulatif 2003 168 2.230 2. penghuni Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) atau sesekali dilakukan penelitian pada kelompok berisiko rendah seperti ibu rumah tangga dan sebagainya. yang lebih utama adalah dilakukan konseling untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam ikut aktif mencegah terjadinya penularan lebih lanjut. TABEL 4. penyalahguna obat dengan suntikan (IDUs). Upaya pemberantasan vektor ini yaitu dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pemeriksaan jentik berkala.332 2006 986 5.871 2007 836 6.369 1. dan 3) peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal yaitu: 1) peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor. 2) diagnosis dini dan pengobatan dini. yang tidak diketahui dengan pasti periodisasinya sehingga kelompok ini menjadi sangat potensial dalam menularkan penyakit. Hasil pelaksanaan surveilans HIV/AIDS selama tujuh tahun terakhir terlihat pada Tabel 4.873 8.194 539 1.

Pengembangan sistem surveilans vektor secara berkala perlu terus dilakukan terutama dalam kaitannya dengan perubahan iklim dan pola penyebaran kasus.39 memperlihatkan bahwa persentase kasus DBD yang ditangani meningkat setiap tahun. Selama jangka waktu 2004-2009 ABJ masih di bawah target 95%. yakni 40% pada tahun 2006 menjadi 83. hal ini dikarenakan kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) belum menjadi prioritas kegiatan program di sebagian besar wilayah.Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. GAMBAR 4. Gambar 4. Sejak tahun 2005 sampai tahun 2008 ABJ cenderung meningkat. Metode yang tepat guna untuk mencegah DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M plus (Menguras. Kemenkes RI Gambar 4.38 menyajikan perkembangan ABJ tahun 2004-2009. 96 . Sejak tahun 2004 sampai dengan 2009 hanya beberapa provinsi yang melaporkan data ABJ. penyebaran ikan pada tempat penampungan air serta kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat mencegah/memberantas nyamuk Aedes berkembang biak.21% pada tahun 2008. namun pada tahun 2009 menurun. Surveilans vektor dilakukan melalui kegiatan pemantauan jentik oleh petugas kesehatan maupun juru/kader pemantau jentik (Jumantik/Kamantik). Menutup dan Mengubur) plus menabur larvasida.38 PERBANDINGAN ANGKA BEBAS JENTIK TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PPPL. Oleh karena itu pendekatan pemberantasan DBD yang berwawasan kepedulian masyarakat merupakan salah satu alternatif pendekatan baru. Angka Bebas Jentik (ABJ) sebagai tolak ukur upaya pemberantasan vektor melalui PSN-3M menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD.

Kemenkes RI Sejak tahun 2004 telah diperkenalkan suatu metode komunikasi/penyampaian informasi/pesan yang berdampak pada perubahan perilaku dalam pelaksanaan PSN DBD melalui pendekatan sosial budaya setempat yaitu metode Communication for Behavioral Impact (COMBI). 6. 2) Mobilitas penduduk yang cukup tinggi. 5) Tidak efektifnya pengobatan karena terjadi Plasmodium falciparum resisten klorokuin dan meluasnya daerah resisten. 3) Perubahan iklim yang menyebabkan musim hujan lebih panjang dari musim kemarau. Pemberantasan malaria digalakkan melalui gerakan masyarakat yang dikenal dengan Gerakan Berantas Kembali Malaria atau ”Gebrak Malaria” telah dicetuskan pada tahun 2000. yang terbebas dari penularan malaria secara bertahap sampai tahun 2030. Gerakan ini merupakan embrio pengendalian malaria yang berbasis kemitraan dengan berbagai sektor dengan slogan “Ayo Berantas Malaria” . Sasaran wilayah eliminasi dilaksanakan secara bertahap sebagai berikut : 97 . Kegiatan PSN dengan metode pendekatan COMBI tersebut menjadi salah satu prioritas kegiatan dalam program P2DBD di masa yang akan datang. 4) Krisis ekonomi yang berkepanjangan memberikan dampak pada daerah-daerah tertentu dengan adanya masyarakat yang mengalami gizi buruk sehingga lebih rentan untuk terserang malaria.GAMBAR 4.39 CAKUPAN KASUS DBD DITANGANI TAHUN 2006 – 2008 Sumber: Ditjen PPPL. Pengendalian malaria di Indonesia yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 293/MENKES/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi Malaria di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang hidup sehat. serta 6) Menurunnya perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap upaya penanggulangan malaria secara terpadu. Pengendalian Penyakit Malaria Di Indonesia meningkatnya jumlah penderita malaria dan terjadinya kejadian luar biasa malaria sangat berkaitan erat dengan beberapa hal sebagai berikut: 1) Adanya perubahan lingkungan yang berakibat meluasnya tempat perindukan nyamuk penular malaria.

Pada tahun 2008 berdasarkan survei di Aceh. Persentase Penderita Malaria yang Diobati Persentase penderita malaria yang diobati merupakan persentase penderita malaria yang diobati sesuai pengobatan standar dalam kurun waktu 1 tahun dibandingkan dengan tersangka malaria dan atau positif malaria yang datang ke sarana pelayanan kesehatan. 2. Kepulauan Seribu (Provinsi DKI Jakarta). dunia usaha. Persentase penderita malaria yang diobati sejak tahun 2003 hingga 2009 sebesar 100%. Pulau Jawa. Sumut (Kab. dan 4. Selama periode tahun 2004-2009 persentase pemeriksaan sediaan darah 98 . Sumba Barat.1. Pencapaian Pemeriksaan Sediaan Darah (Konfirmasi Laboratorium) Berdasarkan cakupan konfirmasi laboratorium belum semua penderita klinis malaria dilakukan pemeriksaan sediaan darahnya. c. Papua Barat. Pulau Bali. Pulau Kalimantan. organisasi kemasyarakatan dan masyarakat. Provinsi NTB. a. Provinsi Aceh. Kebijakan eliminasi malaria dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh pemerintah. 3. Maluku. Target penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria pada tahun 2009 adalah sebesar 75%. Selain itu eliminasi dilaksanakan secara bertahap dari kabupaten/kota.75%. dan Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2015. dan Papua pada tahun 2030. Pada tahun 2005 diketahui sebesar 1%. dan pulau Batam pada tahun 2010. lembaga donor. Maluku Utara. berarti semua penderita tersangka malaria dan/atau positif malaria yang datang ke sarana kesehatan diobati sesuai pengobatan standar. Konfirmasi laboratorium 100% telah dilakukan di Jawa dan Bali. dan Flores Timur) dan beberapa kabupaten di wilayah Sumatera rata-rata sebesar 24%. dan pada tahun 2006 berdasarkan survei yang dilaksanakan di NTT (Alor. Provinsi NTT. Persentase penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria Situasi penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria diketahui berdasarkan survei penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria dengan kelambu. dan dari satu pulau atau ke beberapa pulau sampai ke seluruh wilayah Indonesia menurut tahapan yang didasarkan pada situasi malaria dan kondisi sumber daya yang tersedia. Nias dan Nias Selatan) serta di 5 provinsi wilayah timur diketahui bahwa persentase penduduk yang menggunakan kelambu yaitu pada balita rata-rata sebesar 86. pemerintah daerah bersama mitra kerja pembangunan termasuk LSM. provinsi. b. organisasi profesi.7% dan pada ibu hamil sebesar 87. dan Pulau Sulawesi pada tahun 2020. Pulau Sumatera (kecuali Provinsi Aceh dan Kepulauan Riau). Beberapa capaian upaya pengendalian penyakit malaria disajikan pada uraian berikut ini.

3 HASIL PEMERIKSAAN PENDUDUK. Pengendalian Penyakit Kusta Untuk menilai kinerja petugas dalam penemuan kasus penyakit kusta.000 penduduk) 2004 3.3. PB = Pausi Basiller. Kemenkes RI Catatan : MB = Multi Basiller. Penderita cacat tingkat II selama tahun 2004-2007 relatif stabil (8.1 10.27 Sumber: Ditjen PPPL. Tingginya proporsi cacat tingkat II menunjukkan keterlambatan dalam penemuan kasus atau dengan kata lain kinerja petugas yang rendah dalam menemukan kasus serta pengetahuan masyarakat yang rendah. TABEL 4.40 CAKUPAN KONFIRMASI LABORATORIUM/MIKROSKOP MALARIA TAHUN 2004 .643 14.2009 Tahun Suspek Positif Penderita Cacat Tingkat II (%) PB MB NCDR (per 100. NCDR = New Case Detection Rate 99 . GAMBAR 4.6 2008 3.500 7. Pada tahun 2004 sebesar 48% menjadi 76% pada tahun 2009 seperti diperlihatkan pada gambar berikut ini.2009 Sumber: Ditjen PPPL.6%-8.27% seperti yang diperlihatkan pada Tabel 4.6 2009 2.dibandingkan kasus malaria klinis cenderung meningkat.6% dan 10.957 7.6 2005 4 056 15 639 89 87 2006 3 550 14 750 83 86 2007 3.7%).8 8.958 13.8 8. PENEMUAN KASUS BARU (NCDR) DAN PENDERITA CACAT TINGKAT II DI INDONESIA TAHUN 2004 . Hal itu berarti penularan masih terjadi di masyarakat dan kasus ditemukan terlambat sehingga pada saat penemuan penderita sudah mengalami cacat tingkat II.328 7. Proporsi cacat tingkat II hingga tahun 2009 belum mencapai target program yaitu < 5%.083 7. Kemenkes RI 7.41 9. digunakan angka proporsi cacat tingkat II (cacat akibat kerusakan syaraf dan cacat terlihat).113 14.615 12. namun pada tahun 2008 dan 2009 terjadi kenaikan yaitu 9.

Kegiatan tatalaksana kasus klinis filariasis harus dilakukan pada semua penderita. Bila suatu kabupaten/kota sudah endemis filariasis. Pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis kepada semua penduduk di kabupaten/kota endemis filariasis dengan menggunakan DEC 6 mg/kg BB dikombinasikan dengan Albendazole 400 mg sekali setahun selama 5 tahun.8. guna memutuskan rantai penularan. Implementation Unit (IU) yang digunakan dalam program eliminasi filariasis sejak tahun 2005 adalah Kabupaten/Kota. Tatalaksana kasus klinis filariasis guna mencegah dan mengurangi kecatatan. Setiap penderita mempunyai status rekam medis di puskesmas dan mendapatkan kunjungan dari petugas kesehatan minimal 6 kali setahun. Pada tahun 2007 kasus klinis yang ditangani sebesar 29. 100 . sedangkan tahun 2008 mencapai 40. Satuan wilayah terkecil dalam program ini adalah kabupaten/kota. dan balita dengan marasmus/kwasiorkor dapat ditunda pengobatannya. penderita kronis filariasis yang dalam serangan akut. Pengendalian Penyakit Filariasis Program eliminasi filariasis di Indonesia dilaksanakan atas dasar kesepakatan global WHO tahun 2000 yaitu “The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem the year 2020” yang merupakan realisasi dari resolusi WHA pada tahun 1997. Tatalaksana ini bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kecacatan dan agar penderita mandiri merawat diri. Gambar 4. baik untuk penentuan endemisitas maupun pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis.00%.41 memperlihatkan kegiatan penatalaksanaan kasus klinis filariasis yang cenderung meningkat. dengan sasaran pemberian obat adalah semua penduduk di kabupaten/kota tersebut kecuali anak berumur < 2 tahun. Program Eliminasi ini dilaksanakan melalui dua pilar kegiatan yaitu : 1. Diharapkan pada tahun-tahun selanjutnya kasus klinis filariasis yang ditatalaksana meningkat lagi sebagaimana yang ditargetkan yaitu 90%. maka kegiatan POMP filariasis harus segera dilaksanakan untuk memutus rantai penularan. ibu hamil. dan pada tahun 2009 sebesar 40.13% yang ditangani.40%. 2. orang yang sedang sakit berat.

101 .GAMBAR 4. Kemenkes RI Gambaran sebaran kabupaten/kota yang telah melaksanakan pengobatan massal filariasis dapat dilihat pada gambar berikut ini. baru 59 kabupaten/kota yang sasaran pengobatan massalnya seluas kabupaten/kota. baru 97 kabupaten/kota yang tersebar di 26 propinsi melaksanakan pemberian obat massal pencegahan filariasis (POMP Filariasis). GAMBAR 4. Sejak tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan POMP Filariasis setiap tahunnya. Namun.41 PERSENTASE PENATALAKSANAAN KASUS KLINIS FILARIASIS TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL. belum semua kabupaten/kota dalam pelaksanaannya sasaran penduduknya seluas kabupaten/kota.42 JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG MELAKUKAN PEMBERIAN OBAT MASSAL PENCEGAHAN (POMP) FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL. Kemenkes RI Dari 337 kabupaten/kota endemis filariasis pada tahun 2009.

Kemenkes RI Pada tahun 2009.44 berikut ini.3 juta penduduk (51%). Cakupan POMP filariasis setiap tahunnya dari tahun 2005 sampai tahun 2009 terlihat ada peningkatan seperti terlihat pada Gambar 4. target pemberian obat massal pencegahan filariasis adalah sekitar 32 juta penduduk. Kemenkes RI 9. sedangkan realisasinya sebanyak 16. GAMBAR 4.GAMBAR 4. TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL.43 KABUPATEN/KOTA ENDEMIS FILARIASIS YANG MELAKSANAKAN PENGOBATAN MASSAL DI INDONESIA. Surveilans Vektor Salah satu kegiatan yang harus diperhatikan dalam surveilans vektor adalah monitoring resistensi vektor terhadap insektisida yang dapat digunakan sebagai acuan bagi Dinas Kesehatan serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) dalam kebijakan pengendalian vektor di lapangan. TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PPPL.44 CAKUPAN POMP FILARIASIS DI INDONESIA. 102 .

dan hasil survei jentik nyamuk demam berdarah dengue. Kemenkes RI Kegiatan yang dilakukan tahun 2007-2009 meliputi monitoring kerentanan vektor dan efikasi insektisida serta evaluasi terhadap mutu pengendalian vektor malaria. Kegiatan pengendalian vektor yang dilaksanakan antara lain monitoring efikasi dan resistensi serta cakupan mutu pengendalian vektor malaria dan demam berdarah dengue. Pengendalian vektor saat ini identik dengan penggunaan insektisida. Hasil pengendalian vektor sampai dengan tahun 2009 dapat dilihat pada beberapa gambar berikut ini.46 menyajikan cakupan kerentanan vektor penyakit bersumber binatang tahun 2007 – 2009.Pengendalian vektor yang dilakukan oleh swasta serta pemakaian insektisida rumah tangga merupakan permasalahan tersendiri yang tidak bisa diabaikan.45 CAKUPAN PEMBERANTASAN VEKTOR MALARIA BERDASARKAN SURVEILANS VEKTOR TAHUN 2005 . Pada Gambar 4. Pada tahun 2008 dan 2009 cakupan pemberantasan vektor malaria berada di bawah target pada tahun tersebut. maka pengawasan atau monitoring terhadap penggunaan insektisida dan dampaknya perlu dilakukan agar hasilnya tetap efektif. 103 . karena penggunaan di masyarakat tidak terpantau yang akan dapat mempercepat terjadinya resistensi. GAMBAR 4. Dengan kondisi seperti itu. Gambar 4.45 terlihat bahwa terjadi penurunan kegiatan pemberantasan vektor malaria berdasarkan surveilans vektor. meskipun upaya pengendalian dengan metode lain juga perlu dipertimbangkan.2009 Sumber: Ditjen PPPL. demam berdarah dengue.

104 .2009 Sumber: Ditjen PPPL. Kemenkes RI Gambar 4. GAMBAR 4.2009 Sumber: Ditjen PPPL.GAMBAR 4.47 CAKUPAN EVALUASI MUTU PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA TAHUN 2007 . 2008 dan 2009) mutu pengendalian vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD) belum mencapai target. 2008 dan 2009) mutu pengendalian vektor malaria belum mencapai target. karena belum semua kabupaten/kota melakukan pengendalian vektor berdasarkan informasi dan data entomologi. Kemenkes RI Gambar 4.48 menunjukkan bahwa selama tiga tahun (2007. karena belum semua kabupaten/kota melakukan pengendalian vektor berdasarkan fakta yaitu data entomologi dan faktor risiko lingkungan.47 menunjukkan bahwa selama tiga tahun (2007.46 CAKUPAN KERENTANAN VEKTOR PENYAKIT BERSUMBER BINATANG TAHUN 2007 .

Kemenkes RI Untuk mengetahui peta penyebaran vektor penular penyakit malaria. GAMBAR 4. An. An. Di Indonesia sejak tahun 1919 telah dilakukan konfirmasi vektor. Gambar 4.balabacensis 4.minimus 18 An. An. sinensis 23.letifer 15. Dua cara tersebut dipakai untuk memastikan nyamuk yang menjadi vektor penyakit malaria di suatu wilayah.ludlowi 14. An. An. Dari 25 spesies tersebut ada 7 spesies merupakan spesies langka dan konfirmasi terakhir sebelum tahun 1960. An. An.barbirostris 5.barbumbrosus 7.aconitus 2. An. An. Sampai dengan tahun 2009 jumlah vektor penyakit malaria yang tercatat di Subdit Pengendalian Vektor sebanyak 25 spesies yang dihimpun dari berbagai sumber. An.bancrofti 6.koliensis 11. subpictus 22.karwari 10.An. flavirostris 8.48 CAKUPAN EVALUASI MUTU PENGENDALIAN VEKTOR DBD TAHUN 2007 . An.GAMBAR 4. An. An. tessellatus . An. An. kochi 12.punctulatus 13.49 PETA PENYEBARAN VEKTOR MALARIA TAHUN 2009 18 11 19 17 22 20 25 14 16 2 14 25 13 15 23 5 21 8 9 10 16 6 15 21 12 21 1 24 1 22 3 16 20 20 17 4 20 7 21 24 Keterangan : 1.nigerimus 19.farauti 9.leucosphyrus 105 16. vagus 25.49 berikut ini menyajikan peta penyebaran vektor malaria di Indonesia tahun 2009.annularis 3. An. An. dilakukan kegiatan antara lain dengan melakukan pembedahan kelenjar ludah (konfirmasi saliva) dan uji elisa terhadap nyamuk Anopheles. An. Maculatus 17. An. An. An. Sundaicus 21. parangensis 20.2009 Sumber: Ditjen PPPL. An. An. umbrosus 24.

1% dan pada tahun 2007 turun menjadi 24. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan ditemukan beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada kelompok masyarakat antara lain anemia gizi besi. Namun demikian keadaan ini mengindikasikan bahwa anemia gizi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. namun meningkat pada tahun 2009.5% (Riskesdas. Ibu hamil mendapat tablet tambah darah 90 tablet selama kehamilannya. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001. GAMBAR 4. Di Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) hingga disebut anemia kekurangan zat besi atau anemia gizi besi. Penanggulangan masalah anemia gizi besi saat ini terfokus pada pemberian tablet tambah darah (Fe) pada ibu hamil. 1. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Upaya perbaikan gizi masyarakat dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. kekurangan Vitamin A. Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah (Fe) selama 4 tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.D. Cakupan Fe1 dan Fe3 tahun 2006 masing-masing sebesar 71. 2007).50 PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT TABLET FE TAHUN 2006 .2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah (Fe) selama tahun 20062008 terlihat ada kecenderungan turun setiap tahun baik cakupan Fe1 maupun Fe3. Pemberian Tablet Tambah Darah (Fe) Anemia gizi adalah kekurangan kadar haemoglobin (Hb) dalam darah yang disebabkan karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan Hb tersebut. dan gangguan akibat kekurangan yodium. Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan masalah gizi terutama anemia gizi besi.1% 106 . prevalensi anemia ibu hamil sebesar 40.

dan 64,5%, sedangkan pada tahun 2008 turun menjadi 53,1% dan 48,1%. Pada tahun 2009
cakupan pemberian Fe1 naik menjadi 76,9% dan Fe3 naik menjadi 68,7%. Sebaran cakupan
pemberian tablet tambah darah (Fe3) pada ibu hamil menurut provinsi dapat dilihat pada
Gambar 4.51 berikut ini.
GAMBAR 4.51
PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT TABLET TAMBAH DARAH (FE3)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Provinsi Bali (90,43%), Kep. Bangka
Belitung (84,85%) dan Nusa Tenggara Barat (81,51%). Sedangkan cakupan terendah adalah
Provinsi Papua (31,57%), Sulawesi Tengah (36,12%), dan Sulawesi Barat (38,19%).
Cakupan pemberian tablet tambah darah terkait erat dengan antenatal care (ANC).
Analisis cakupan K4 dengan Fe3 sering menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar,
hal ini disebabkan karena belum optimalnya koordinasi sistem pencatatan dan pelaporan antar
program terkait.
2. Pemberian Kapsul Vitamin A

Tujuan pemberian kapsul vitamin A pada balita adalah untuk menurunkan prevalensi
dan mencegah kekurangan vitamin A pada balita. Kapsul vitamin A dosis tinggi terbukti
efektif untuk mengatasi masalah kekurangan vitamin A (KVA) pada masyarakat apabila
cakupannya tinggi. Bukti-bukti lain menunjukkan peranan vitamin A dalam menurunkan
secara bermakna angka kematian anak, maka selain untuk mencegah kebutaan, pentingnya
pemberian vitamin A saat ini lebih dikaitkan dengan kelangsungan hidup, kesehatan dan
pertumbuhan anak.
107

Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, serta meningkatkan
daya tahan tubuh. Anak-anak yang mendapat cukup vitamin A, bila terkena diare, campak
atau penyakit infeksi lain, maka penyakit-penyakit tersebut tidak mudah menjadi parah,
sehingga tidak membahayakan jiwa anak.
Sasaran pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi adalah bayi (umur 6-11 bulan)
diberikan kapsul vitamin A 100.000 SI, anak balita (umur 1-4 tahun) diberikan kapsul vitamin
A 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan
memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Pada bayi (6-11 bulan) diberikan setahun
sekali pada bulan Februari atau Agustus; dan untuk anak balita enam bulan sekali, yang
diberikan secara serentak pada bulan Februari dan Agustus. Sedangkan pemberian kapsul
vitamin A pada ibu nifas, diharapkan dapat dilakukan terintegrasi dengan pelayanan
kesehatan ibu nifas. Namun dapat pula diberikan di luar pelayanan tersebut selama ibu nifas
tersebut belum mendapatkan kapsul vitamin A.
Persentase cakupan pemberian vitamin A balita dan ibu nifas, pada 3 tahun terakhir
dapat dilihat pada Gambar 4.52 berikut ini.
GAMBAR 4.52
PERSENTASE BALITA DAN IBU NIFAS YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
TAHUN 2007 - 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Cakupan pemberian vitamin A pada bayi dan balita tiga tahun terakhir sudah
menunjukkan angka diatas 80% dan relatif angka cakupannya tidak berbeda jauh dari tahun
ke tahun. Namun demikian untuk cakupan vitamin A ibu nifas angkanya masih di bawah
80%, walaupun demikian ada kecenderungan cakupannya makin meningkat selama tiga tahun
terakhir. Dengan demikian masih diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan cakupan
tersebut, antara lain melalui peningkatan integrasi pelayanan kesehatan ibu nifas, sweeping
pada daerah yang cakupannya masih rendah, dan kampanye pemberian kapsul vitamin A.
Masalah vitamin A pada balita secara klinis sudah tidak merupakan masalah kesehatan
masyarakat (prevalensi xeropthalmia < 0,5%). Hasil studi masalah gizi mikro di 10 kota pada
108

10 provinsi tahun 2006, diperoleh prevalensi xeropthalmia pada balita 0.13%, sedangkan hasil
survey vitamin A tahun 1992 menunjukkan prevalensi xeropthalmia sebesar 0,33%.
Namun demikian kekurangan vitamin A (KVA) subklinis, yaitu tingkat yang belum
menampakkan gejala nyata, masih menimpa masyarakat luas terutama kelompok balita. KVA
tingkat subklinis ini hanya dapat diketahui dengan memeriksa kadar vitamin A dalam darah di
laboratorium. Di samping itu sebaran cakupan pemberian vitamin A pada balita menurut
provinsi masih ada yang di bawah 80%. Dengan demikian kegiatan pemberian vitamin A
pada balita dan ibu nifas masih perlu dilanjutkan, karena bukan hanya untuk kesehatan mata
dan mencegah kebutaan, dan lebih penting lagi, vitamin A meningkatkan kelangsungan hidup
anak, kesehatan dan pertumbuhan anak.
Gambar berikut menyajikan persentase balita dan ibu nifas yang mendapat kapsul
vitamin A menurut provinsi.
GAMBAR 4.53
PERSENTASE BALITA YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Hasil laporan Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009, cakupan pemberian kapsul
vitamin A pada balita 83,3%. Provinsi dengan cakupan tertinggi, masing-masing: Jawa
Tengah (98,6%), DI Yogjakarta (96,1%) dan Kalimantan Selatan (93,2%). Sedangkan
provinsi yang cakupannya terendah, masing-masing: Papua Barat (29,1%), Papua (43,5%)
dan Maluku (65,0%).

109

GAMBAR 4.54
PERSENTASE IBU NIFAS YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009, cakupan pemberian kapsul
vitamin A pada Ibu Nifas sebesar 63,0%. Provinsi dengan cakupan tertinggi, masing-masing:
Riau (100,0%), Bali (91,0%), Gorontalo (87,4%) dan Jawa Tengah (87,4%). Sedangkan
Provinsi yang cakupannya terendah, masing-masing Papua Barat (27,4%), Jambi (32,4%) dan
Aceh (33,2%).
3. Cakupan Konsumsi Garam Beryodium

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala yang
timbul karena tubuh seseorang kurang unsur Iodium secara terus-menerus dalam jangka
waktu lama. Kekurangan Iodium saat ini tidak terbatas pada gondok dan kretinisme saja,
tetapi ternyata kekurangan Iodium berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia secara
luas, meliputi tumbuh kembang, termasuk perkembangan otak sehingga terjadi penurunan
potensi tingkat kecerdasan (Intelligence Quotient=IQ).
Pemantauan GAKY dilakukan melalui Ekskresi Yodium dalam Urine (EYU) sebagai
refleksi asupan yodium dan cakupan rumah tangga mengonsumsi garam beryodium. Hasil
Studi Intensifikasi Penanggulangan GAKY (IP-GAKY) tahun 2003 dan Riskesdas 2007
menunjukkan bahwa rata-rata EYU <100 µg/L sebesar 16,7% dan 12,9%, namun cakupan
rumah tangga dengan garam cukup Iodium rata-rata nasional baru mencapai 62,3%
(Riskesdas 2007). Terdapat disparitas antar daerah yang cukup tinggi seperti terlihat pada
Gambar 4.55 berikut ini.

110

GAMBAR 4.55
PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MENGKONSUMSI
GARAM BERYODIUM CUKUP MENURUT PROVINSI TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Provinsi dengan cakupan konsumsi garam cukup beryodium terendah adalah Nusa
Tenggara Barat (27,9%), Nusa Tenggara Timur (31,0%) dan Sulawesi Barat (34,2%),
sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Kep. Bangka Belitung (98,7%), Jambi
(94,4%) dan Sumatera Selatan (93,0%).
Masalah masih rendahnya cakupan konsumsi garam beryodium di masyarakat antara
lain karena belum optimalnya penggerakan masyarakat dan kampanye dalam mengkonsumsi
garam beryodium, serta dukungan regulasi yang belum memadai. Di samping itu masalah lain
adalah belum rutinnya pelaksanaan pemantauan garam beryodium di masyarakat secara terus
menerus.
4. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif

Cara pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi secara
eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak sampai
umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayi mendapat makanan pendamping ASI yang bergizi
sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.
Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia berfluktuasi selama 3
tahun terakhir. Pada Gambar 4.56 terlihat bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
0–5 bulan turun dari 62,2% tahun 2007 menjadi 56,2% pada tahun 2008, namun meningkat
lagi pada tahun 2009 menjadi 61,3%. Sedangkan cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi

111

sampai 6 bulan turun dari 28,6% pada tahun 2007 menjadi 24,3% pada tahun 2008 dan naik
lagi menjadi 34,3% pada tahun 2009.
GAMBAR 4.56
PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 0-5 BULAN DAN 6 BULAN
TAHUN 2004 - 2009

Sumber: BPS, Susenas 2009

Cakupan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi beberapa hal, terutama masih sangat
terbatasnya tenaga konselor ASI, belum adanya peraturan perundangan tentang pemberian
ASI serta belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait
pemberian ASI maupun MP-ASI, masih kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana KIE
ASI dan MP-ASI dan belum optimalnya membina kelompok pendukung ASI dan MP-ASI.
Gambar 4.57 berikut ini menyajikan persentase cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
0-5 bulan dan 6 bulan menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 4.57
PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 0-6 BULAN
MENURUT PROVINSI 2009

Sumber: BPS, Susenas 2009

112

3%).1%). Selain itu perlu juga penerapan 10 (sepuluh) langkah menuju 113 .58 berikut ini. Bengkulu (75. penyediaan fasilitas menyusui di tempat kerja.2%). Mungkin pula masih banyak Rumah Sakit (RS) yang belum mendukung peningkatan pemberian ASI eksklusif. Di lain pihak adanya promosi dan pemasaran yang begitu intensif terkait susu formula yang kadang sulit untuk dikendalikan.5%). peningkatan dukungan keluarga dan masyarakat serta upaya untuk mengendalikan pemasaran susu formula. GAMBAR 4.2%) dan Maluku (53. Bengkulu (54. Papua Barat (16. Cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 4. Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif 0-5 bulan maupun 6 bulan dapat disebabkan karena masih kurangnya pemahaman masyarakat bahkan petugas kesehatan sekalipun tentang manfaat dan pentingnya pemberian ASI eksklusif kepada bayi usia 0-5 bulan. Sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (54. dan belum atau masih rendahnya melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) serta masih bebas beredarnya susu formula di lingkungan RS.2%). yang dapat ditandai dengan belum melakukan rawat gabung antara ibu dan bayinya.8%) dan Nusa Tenggara Timur (75.58 PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 6 BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan terendah adalah Gorontalo (14.2%) dan Aceh (52.7%) dan Kalimantan Barat (19.Berdasarkan data Susenas 2009.3%). provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif 06 bulan bulan terendah adalah Jawa Timur (48. peningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu. Jawa Tengah (52. Sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (78. Upaya terobosan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif antara lain melalui upaya peningkatan pengetahuan petugas tentang manfaat ASI eksklusif.3%).8%).

3) KIE kepada ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui. 5) membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu dipisah dari bayinya. Sepuluh langkah tersebut meliputi : 1) membuat kebijakan tentang menyusui. 2) melatih staf pelayanan kesehatan. 9) Tidak memberi dot kepada bayi. Frekuensi kunjungan balita ke posyandu semakin berkurang dengan semakin meningkatnya umur anak. Sebagai gambaran proporsi anak 6-11 bulan yang ditimbang di posyandu 91. 4) membantu ibu untuk IMD dalam 60 menit pertama persalinan.5%. semakin tinggi cakupan imunisasi dan semakin rendah prevalensi gizi kurang.6%. Cakupan penimbangan balita di posyandu menurut provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. dan 10) mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut setelah keluar dari sarana pelayanan kesehatan.3%. Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009 cakupan penimbangan balita di posyandu sebesar 63. pada anak usia 12-23 bulan turun menjadi 83. 5. 114 . Hasil Riskesdas 2007 menunjukan secara nasional cakupan penimbangan balita (anak pernah ditimbang di Posyandu sekurang-kurangnnya satu kali selama sebulan terakhir) di posyandu sebesar 74.3%. semakin tinggi cakupan vitamin A. Semakin tinggi cakupan D/S. 6) memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis. 8) menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi. cakupan pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi serta prevalensi gizi kurang.59 berikut ini. 7) menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu (24 jam). dan pada usia 24-35 bulan turun menjadi 73.9%.keberhasilan menyusui (LMKM) di RS dan sarana pelayanan kesehatan lainnya yang melakukan kegiatan persalinan. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S) Cakupan penimbangan balita di posyandu (D/S) merupakan indikator yang berkaitan dengan cakupan pelayanan gizi pada balita.

yang terjadi di 11 provinsi. tingkat pemahaman keluarga dan masyarakat akan manfaat posyandu. kecelakaan industri. tumpahan minyak di laut.6%). E.6%). tingkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling. Bencana lingkungan hidup terjadi akibat dari kerusakan lingkungan seperti banjir. 53 luka berat yang memerlukan rawat inap. 37. badai atau angin ribut yang kejadiannya sulit diprediksi. Bencana alam yang menelan korban yang paling banyak adalah gempa bumi. Jumlah 115 . Jawa Timur (76. Masalah yang berkaitan dengan kunjungan posyandu antara lain: dana operasional dan sarana prasarana untuk menggerakkan kegiatan posyandu.854 pengungsi.GAMBAR 4. banjir dan banjir bandang merupakan bencana yang paling sering terjadi dan melanda 23 provinsi di Indonesia. gelombang tsunami. Sedangkan cakupan terendah ada di Provinsi Papua Barat (27.0%). kekeringan. dan Jawa Tengah (76. dan sebanyak 229. tanah longsor. Jumlah korban akibat bencana banjir dan banjir bandang selama tahun 2009 sebanyak 157 meninggal.706 luka ringan/rawat jalan. Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Penanggulangan Krisis Kementerian Kesehatan pada tahun 2009. PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA Bencana di Indonesia dapat dikategorikan menjadi 2 macam yaitu bencana lingkungan hidup dan bencana alam.3%) dan Kalimantan Timur (39. kebakaran hutan dan lahan. Papua (35. serta pelaksanaan pembinaan kader. 15 korban hilang. sedangkan bencana alam terjadi sebagai akibat aktivitas lapisan/kerak bumi/fenomena alam seperti gempa bumi.1%).7%).59 PERSENTASE KUNJUNGAN BALITA YANG DITIMBANG DI POSYANDU (D/S) MENURUT PROVINSI 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Cakupan penimbangan balita di posyandu yang tertinggi ada di DI Yogjakarta (75. letusan gunung berapi.

dan sebanyak 205.210 pengungsi. 1. Rincian kejadian bencana menurut jenis dan jumlah korban pada tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 4.209 meninggal. *** 116 . 27 korban hilang.234 luka berat yang memerlukan rawat inap.27.korban akibat bencana gempa bumi selama tahun 2009 sebanyak 1. Demikian gambaran mengenai situasi upaya kesehatan di Indonesia sampai dengan tahun 2009. 9.224 luka ringan/rawat jalan.

.

kebutuhan. rumah sakit (rumah sakit umum dan rumah sakit khusus). Pada bab ini. dan 4) pusat pelayanan kesehatan perorangan primer. rasio ini menunjukkan adanya peningkatan. kemampuan dan inovasi serta kebijakan pemerintah daerah setempat.78. sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM).000 penduduk pada tahun 2005 sebesar 3. Jumlah puskesmas di Indonesia sampai dengan akhir tahun 2009 sebanyak 8. Puskesmas memiliki fungsi sebagai : 1) pusat pembangunan berwawasan kesehatan.1 berikut ini. 118 . serta institusi pendidikan tenaga kesehatan. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui keterjangkauan penduduk terhadap puskesmas adalah rasio puskesmas per 100. dan pembiayaan kesehatan. Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat atau yang biasa disebut Puskesmas merupakan salah satu unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. seperti terlihat pada Gambar 5. A.704 unit dan puskesmas non perawatan sebanyak 6. sarana produksi dan distribusi kefarmasian dan alat kesehatan. yang diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. 2) pusat pemberdayaan masyarakat. 3) pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer.737 unit. Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan tingkat pertama dan terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan. tuntutan.50. tenaga kesehatan. dengan rincian jumlah puskesmas perawatan 2.000 penduduk. sumber daya kesehatan diulas dengan menyajikan gambaran keadaan sarana kesehatan.Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas. SARANA KESEHATAN Sarana kesehatan yang disajikan dalam bab ini meliputi: puskesmas.033 unit. Dalam kurun waktu 2005 hingga 2009. pada tahun 2009 meningkat menjadi 3. 1. harus melakukan upaya kesehatan wajib (basic six) dan beberapa upaya kesehatan pilihan yang disesuikan dengan kondisi. Rasio puskesmas per 100.

Kemenkes. Sedangkan rincian jumlah dan rasio puskesmas per 100. sedangkan rasio terendah Provinsi Banten.000 PENDUDUK TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas.GAMBAR 5. yaitu sebesar 14.704 119 .2. yaitu tahun 2005-2009 telah terjadi peningkatan jumlah puskesmas perawatan dari 2. Kemenkes Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi. Gambaran rasio puskesmas menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Gambar 5. 2010 Rasio puskesmas per 100. Binkesmas. yaitu sebesar 2. 2010 Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat di puskesmas.000 PENDUDUK TAHUN 2005-2009 Sumber : Ditjen.00. beberapa puskesmas non perawatan telah ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas perawatan.2 RASIO PUSKESMAS PER 100.000 penduduk menurut provinsi menunjukkan bahwa rasio tertinggi pada tahun 2009 adalah di Provinsi Papua Barat.1 RASIO PUSKESMAS PER 100.1. GAMBAR 5.000 penduduk menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. Kemenkes Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi. Kemenkes.077 unit pada tahun 2005 menjadi 2.12. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Rumah sakit juga berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan rujukan. 2. Perkembangan jumlah puskesmas perawatan dan non perawatan pada tahun 2005-2009 dapat dilihat pada Gambar 5.unit pada tahun 2009. Rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang bergerak dalam kegiatan kuratif dan rehabilitatif. TNI/POLRI.523 unit. Kemenkes Pusat data dan Surveilans Epidemiologi. Rumah sakit tersebut dikelola oleh Kementerian Kesehatan. kementerian lain/BUMN serta sektor swasta. pemerintah provinsi. Rincian mengenai jumlah puskesmas perawatan dan non perawatan menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5. baik rumah sakit umum maupun rumah sakit 120 . di dalamnya juga terdapat pembangunan kesehatan bersifat kuratif dan rehabilitatif. pemerintah kabupaten/kota.2. 2010 Untuk meningkatkan jangkauan pelayanan puskesmas terhadap masyarakat di wilayah kerjanya. Jumlah pustu pada tahun 2009 dilaporkan sebanyak 22. Rumah Sakit Ruang lingkup pembangunan kesehatan selain upaya promotif dan preventif. maka terjadi peningkatan jumlah rumah sakit.202 unit dan rumah sakit khusus (RSK) berjumlah 321 unit.650 unit dengan rasio pustu terhadap puskesmas 2. puskesmas didukung oleh sarana pelayanan kesehatan berupa puskesmas pembantu (pustu). Pada tahun 2009 jumlah rumah sakit di Indonesia sebanyak 1. Kemenkes. GAMBAR 5.3. Bila melihat perkembangan sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.6.3.3 JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN NON PERAWATAN TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Rincian jumlah pustu per provinsi tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. yang terdiri atas rumah sakit umum (RSU) berjumlah 1.

2010 121 .523 unit pada tahun 2009.11% menjadi 1.1 berikut menampilkan perkembangan jumlah rumah sakit (umum dan khusus) di Indonesia tahun 2005-2009.319 1. Pengelola/Kepemilikan 2005 2006 2007 2008 2009 1 Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/Kota 452 464 477 509 552 2 TNI/POLRI 112 112 112 112 125 3 BUMN/Kementerian Lain 78 78 78 78 78 4 Swasta 626 638 652 673 768 1.292 1.khusus. Kemenkes.268 1. TABEL 5.523 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. Jumlah rumah sakit umum di Indonesia menurut pengelolanya dapat dilihat pada Lampiran 5. jumlah ini naik 20.4. pada tahun 2005 terdapat 995 unit menjadi 1. 2010 Selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2005-2009) jumlah rumah sakit umum baik yang dikelola oleh institusi pemerintah maupun sektor swasta mengalami peningkatan.4. Perkembangan RSU di Indonesia selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5.372 1.5. Pada tahun 2005 terdapat 1.4 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. GAMBAR 5. Kemenkes. Tabel 5.202 unit pada tahun 2009.268 rumah sakit di Indonesia. Sedangkan jumlah seluruh rumah sakit pada tahun 2009 menurut pengelola dan provinsi terdapat pada Lampiran 5. dan jumlah rumah sakit umum dan khusus di Indonesia menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.4 berikut ini.1 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT (UMUM & KHUSUS) DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 No.

Dari jumlah 465 RSU.78%) kelas D dan 10 unit (2.5 berikut ini menyajikan persentase RSU menurut kelas. Semarang. yang terdapat di 10 kota yaitu Medan.Dari rumah sakit umum yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah menunjukkan bahwa sebagian besar tergolong RSU kelas C. terdapat 245 unit (52.38%) kelas B. Informasi lebih rinci mengenai jumlah RSU yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah menurut kelas rumah sakit dan provinsi terdapat pada Lampiran 5. Kemenkes. 2010 Terdapat 10 RSU milik Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah yang termasuk kelas A. Bandung. Surabaya. Jumlah rumah sakit khusus (RSK) baik milik pemerintah maupun swasta dalam kurun waktu tahun 2005-2009 menunjukkan adanya peningkatan.6. 118 unit (25. Perkembangan jumlah RSK selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5.5 PERSENTASE RUMAH SAKIT UMUM MILIK KEMENTERIAN KESEHATAN DAN PEMERINTAH DAERAH MENURUT KELAS TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. Surakarta.69%) kelas C.6 berikut ini.15%) kelas A. meningkat menjadi 321 pada tahun 2009. Pada tahun 2005 terdapat 273 unit rumah sakit khusus. 92 unit (19. Yogyakarta. Jakarta.7. Gambar 5. GAMBAR 5. Malang. pemerintah daerah. Denpasar dan Makassar. 122 . Informasi lebih rinci mengenai jumlah RSU yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan. BUMN/kementerian lain dan swasta menurut kelas perawatan dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.

6 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.7 JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.7. GAMBAR 5. Gambaran peningkatan tersebut dapat 123 . 2010 Jumlah tempat tidur suatu rumah sakit dapat digunakan untuk menggambarkan kemampuan rumah sakit tersebut dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Jumlah rumah sakit khusus beserta jumlah tempat tidurnya tahun 2005-2009 terdapat pada Lampiran 5. Kemenkes.8.GAMBAR 5. Jumlah tempat tidur pada rumah sakit umum dan rumah sakit khusus dalam 5 tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan. 2010 Sebagian besar rumah sakit khusus tersebut adalah RS Ibu dan Anak sebanyak 95 unit dan RS Bersalin sebanyak 60 unit. Kemenkes. seperti dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5.74 pada tahun 2009. Rasio tempat tidur per 100.000 penduduk di rumah sakit pada tahun 2005-2009. Rincian jumlah tempat tidur pada rumah sakit khusus dapat dilihat pada Lampiran 5.8 PERKEMBANGAN JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT UMUM (RSU) DAN RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.8. 2010 Rasio tempat tidur rumah sakit terhadap penduduk juga dapat menggambarkan tingkat ketersediaan sarana pelayanan kesehatan rujukan.49 naik menjadi 70.000 penduduk dari tahun 2005-2009 juga mengalami peningkatan. GAMBAR 5. GAMBAR 5.9 menyajikan jumlah tempat tidur dan rasio tempat tidur per 100. Kemenkes.000 PENDUDUK TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. 2010 124 . rasio pada tahun 2005 sebesar 62.8 di bawah ini. Kemenkes.dilihat pada Gambar 5.9 JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT DAN RASIONYA PER 100.

yaitu sebesar 39.10.10.6%. Jumlah sarana produksi di Indonesia pada tahun 2009 dirinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.2% dan Kelas I sebesar 10.5%. Jumlah sarana distribusi di Indonesia pada tahun 2009 dirinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. diikuti oleh Kelas II sebesar 20.Proporsi tempat tidur di rumah sakit umum dan rumah sakit khusus menurut kelas perawatan menunjukkan gambaran bahwa sebagian besar adalah Kelas III. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Salah satu kebijakan pelaksanaan dalam Program Obat dan Perbekalan Kesehatan adalah pengendalian obat dan perbekalan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan.10 JUMLAH SARANA PRODUKSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen Binfar & Alkes. Sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan dapat digunakan untuk melihat kemampuan ketersediaan obat dan alat kesehatan bagi masyarakat. 2010 Jumlah sarana distribusi kefarmasian dan alat kesehatan selama lima tahun terakhir (2005-2009) terdapat pada Gambar 5. Rincian mengenai jumlah dan persentase tempat tidur di RSU dan RSK menurut jenis kelas perawatan dan provinsi terdapat pada Lampiran 5. 3.11.6. 125 . Selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir terlihat adanya kecenderungan peningkatan jumlah sarana produksi kefarmasian dan alat kesehatan. GAMBAR 5. Kemenkes.9. terdapat kelas VIP sebesar 7. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 5. Selain tiga jenis kelas perawatan tersebut.5% dan tanpa kelas sebesar 22.1%.

Hal ini sejalan dengan konsep pemberdayaan pengembangan masyarakat. dan penanggulangan diare. Dalam rangka menilai kinerja dan perkembangannya. 2010 4. UKBM di antaranya terdiri dari Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).GAMBAR 5. posyandu diklasifikasikan menjadi 4 strata. posyandu diharapkan dapat melaksanakan 5 program prioritas yaitu kesehatan ibu dan anak.12 berikut ini. Pada tahun 2009 terdapat 266. termasuk di dalamnya dengan melibatkan potensi masyarakat. Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) di Desa Siaga. Dalam menjalankan fungsinya. imunisasi. Tanaman Obat Keluarga (Toga). yaitu Posyandu Pratama. Posyandu Purnama dan Posyandu Mandiri. Kemenkes. Salah satu jenis UKBM yang telah sejak lama dikembangkan dan mengakar di masyarakat adalah posyandu.55 posyandu per desa/kelurahan. dan Pos Obat Desa (POD). Langkah tersebut tercermin dalam pengembangan sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat Upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dilakukan dengan menerapkan berbagai pendekatan. Posyandu Madya. perbaikan gizi.11 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN 2005 -2009 Sumber: Ditjen Binfar & Alkes. keluarga berencana. 126 . Informasi selengkapnya mengenai rasio posyandu menurut provinsi pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 5. dengan demikian maka rasio posyandu terhadap desa/kelurahan sebesar 3.827 posyandu.

13 berikut ini menyajikan rasio poskesdes menurut provinsi pada tahun 2009 (tidak termasuk Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Sumatera Barat). Sedangkan data mengenai sarana kesehatan tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. dengan kata lain salah satu wujud upaya untuk mempermudah akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.996 unit poskesdes/desa siaga. 127 . Kemenkes. Bina Kesmas.GAMBAR 5.69. Gambar 5. lingkungan dan masalah kesehatan lainnya). Poskesdes merupakan salah satu indikator sebuah desa disebut desa siaga. Data menyebutkan bahwa pada tahun 2009 terdapat 51. Jumlah desa siaga di Provinsi DKI Jakarta merupakan jumlah RW siaga dan jumlah desa siaga di Provinsi Sumatera Barat merupakan jumlah desa siaga ditambah nagari siaga. 2010 Poskesdes merupakan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. Kegiatan utama poskesdes yaitu pengamatan dan kewaspadaan dini (surveilans perilaku berisiko. Pelayanan yang diberikan poskesdes juga mencakup tempat pertolongan persalinan dan pelayanan KIA.3. Rasio poskesdes/desa siaga terhadap desa secara nasional pada tahun 2009 sebesar 0.12 RASIO POSYANDU TERHADAP JUMLAH DESA/KELURAHAN TAHUN 2009 Sumber: Ditjen. penanganan kegawatdaruratan kesehatan dan kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan kesehatan.

Program pendidikan D-III institusi pendidikan tenaga kesehatan (Diknakes) saat ini berkembang dengan pesat. Bina Kesmas. Jumlah. Jenis dan Persebaran Institusi Pembangunan kesehatan berkelanjutan membutuhkan tenaga kesehatan yang memadai baik dari segi jumlah maupun kualitas. Untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang berkualitas tentu saja dibutuhkan proses pendidikan yang berkualitas pula. Dalam penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan jenjang pendidikan menengah dan Diploma (D-III) yang berada di bawah pembinaan Kementerian Kesehatan dikelompokkan dalam Politeknik Kesehatan (milik Kemenkes) dan Non Poltekkes (milik Swasta. Kementerian Kesehatan merupakan institusi dari sektor pemerintah yang berperan di dalam penyediaan tenaga kesehatan yang berkualitas tersebut. Perkembangan jumlah program studi (prodi) pada institusi Poltekkes dan Non Poltekkes terdapat pada Gambar 5. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan a. Sampai dengan Desember 2009 jumlah institusi Diknakes sebanyak 1. Kemenkes. baik jenis maupun jumlah di masing-masing provinsi. 128 . 2010 5.13 RASIO POSKESDES TERHADAP JUMLAH DESA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen.TNI/POLRI dan Pemda). Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. yang terdiri dari 221 jurusan/program studi (yang berada pada 33 Poltekkes) dan 919 institusi Non Poltekkes. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan juga menyelenggarakan program D-IV.14 berikut ini.GAMBAR 5.140 institusi. Selain menyelenggarakan program D-III.

14 dapat dilihat adanya peningkatan jumlah Jurusan/Prodi Poltekkes setiap tahunnya.14 PERKEMBANGAN JUMLAH PROGRAM STUDI INSTITUSI DIKNAKES POLTEKKES DAN NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2002-2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. Tahun 2009 terjadi penambahan 7 prodi. dari 214 prodi pada tahun 2008 menjadi 221 prodi. okupasi terapi. untuk prodi keperawatan terdiri dari keperawatan. 2010 Pada Gambar 5. GAMBAR 5. untuk prodi keterapian fisik terdiri dari fisioterapi. 2010 Gambar 5. Kemenkes. hal ini sesuai dengan kebutuhan jenis tenaga kesehatan dan pemerataan produksi tenaga kesehatan.16 menunjukan jumlah program studi pada institusi Diknakes Non Poltekkes. Kemenkes. terapi wicara dan 129 .GAMBAR 5.15 JUMLAH PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. kebidanan dan kesehatan gigi.

akupunktur. Untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada Poltekkes. Kemenkes. untuk lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 5. Pada tahun 2002. mulai tahun 2004 Pusdiknakes melakukan akreditasi terhadap jurusan/program studi Poltekkes yang ada. Gambar 5.12.15. Sampai tahun 2009 ada 180 prodi Poltekkes (81.17 berikut ini menunjukkan persentase akreditasi program studi pada institusi Poltekkes. Jika dilihat berdasarkan kepemilikan dari 919 institusi Diknakes Non Poltekkes tahun 2009 sebanyak 793 institusi (86. Akreditasi merupakan salah satu upaya pembinaan yang dilakukan pemerintah terhadap institusi-institusi pendidikan kesehatan yang ada. 2010 b. terdapat 77 prodi (42.16 JUMLAH PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. Dari jumlah yang sudah terakreditasi. Akreditasi Institusi Dengan banyaknya institusi pendidikan tenaga kesehatan yang ada saat ini. GAMBAR 5.3%) dengan strata B dan 7 prodi (3.8%) dengan strata A. institusi Diknakes milik Kemenkes mengalami perubahan status kelembagaan dari Akademi menjadi Poltekkes. 130 . Informasi selengkapnya mengenai jumlah dan persentase program studi Poltekkes yang telah terakreditasi menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. dan institusi lama yang telah habis masa berlaku akreditasinya. selain itu juga untuk melihat kualitas dari masing-masing institusi. Akreditasi dilaksanakan bagi institusi baru yang telah menjalankan perkuliahan sampai dengan semester V (lima). Kementerian Kesehatan berusaha melakukan upaya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. 96 prodi (53.55%).29%) dengan status kepemilikan swasta sedangkan selebihnya milik TNI/POLRI dan Pemda.45%) telah diakreditasi dan yang belum terakreditasi sebanyak 32 prodi (18.9%) dengan strata C.

428 institusi (78. Kemenkes.18 PERSENTASE STRATA AKREDITASI INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. terdapat 72 institusi (13. Dari jumlah yang sudah terakreditasi.18 berikut ini menunjukkan persentase strata akreditasi institusi Diknakes Non Poltekkes pada tahun 2009. yaitu sebesar 86. Jumlah institusi yang telah terakreditasi sebanyak 546 institusi (59. Gambar 5.41%) dan yang belum terakreditasi sebanyak 373 institusi (40.53%) dengan strata B dan 46 institusi (8.14. Sedangkan informasi selengkapnya menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.21%) dengan strata A.44%) dengan strata C. Kemenkes. 131 . 2010 Akreditasi juga dilakukan pada institusi Diknakes Non Poltekkes.29%.59%).17 PERSENTASE STRATA AKREDITASI PROGRAM STUDI POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.GAMBAR 5. 2010 Jumlah institusi Diknakes Non Poltekkes menurut status kepemilikan menunjukkan sebagian besar institusi dimiliki oleh swasta. GAMBAR 5.

5%. Informasi lebih rinci mengenai jumlah dan persentase institusi Diknakes Non Poltekkes menurut kepemilikan dapat dilihat pada Lampiran 5.26%.15. keperawatan kardiovaskuler. d. Jenis institusi keperawatan terdiri dari keperawatan medical bedah.sedangkan kepemilikan oleh Pemerintah Daerah sebesar 10. Informasi lebih rinci mengenai jumlah peserta didik program D-IV menurut jenis institusi pendidikan dapat dilihat pada Lampiran 5.014 orang (76. Hal ini disebabkan karena jumlah institusi pendidikan tenaga kesehatan yang juga mengalami kenaikan. Jenis institusi kebidanan terdiri dari bidan pendidik dan kebidanan komunitas. Dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. 132 .98%).02%) dan lulusan Non Poltekkes sebanyak 48. Peserta didik Jumlah peserta didik institusi pendidikan tenaga kesehatan baik poltekes maupun non poltekkes jalur umum tahun ajaran 2009/2010 (296.920 orang kemudian jurusan kebidanan sebanyak 18. keperawatan gawat darurat. c. kebidanan dan kesehatan gigi. Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes terbanyak pada jurusan keperawatan sebanyak 29. keperawatan anestesi.27. Sehubungan dengan hal tersebut sejak tahun 2004. Pada tahun 2009 program D-IV yang ada di seluruh Indonesia memiliki peserta didik sebanyak 2020.371 orang. selain menyelenggarakan D-III Poltekkes juga menyelenggarakan program D-IV dan Kelas Internasional. dental bedah mulut dan perawat gigi pendidik.278 orang atau 13. Lulusan Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes pada tahun 2009 adalah 62.45% dan TNI/POLRI sebesar 3. kesehatan gigi prothodansia.545 orang. kesehatan gigi komunitas. Jenis institusi kesehatan gigi terdiri dari kesehatan gigi.357 orang (23. keperawatan klinik kemahiran. yang terdiri dari lulusan Poltekkes adalah 14. Program D-IV mempunyai jenis institusi pendidikan yang lebih khusus bidang keilmuannya yaitu untuk jenis institusi keperawatan. keperawatan jiwa.132 orang) dibanding tahun ajaran 2008/2009 (260. diperlukan tenaga kesehatan yang lebih berkualitas.854 orang) mengalami kenaikan sebanyak 35. keperawatan intensive dan keperawatan anestesi reanimasi.

877 41.131 4.948 3. dengan lulusan terbanyak adalah D-III Keperawatan (rata-rata 23.553 3. sedangkan yang terendah adalah Banten dengan rasio 3.562 4.689 28.515 3.014 38.569 432 581 740 739 858 965 998 781 6.836 2.200 26.685 13.425 23. dikarenakan: 1.349 orang) dan Jawa Timur (7.545 1.983 42. yang tersebar di semua provinsi.131 18. Kabupaten/Kota belum memiliki data SDM Kesehatan secara lengkap.864 21.139 18.722 1.366 1. dengan rasio sebesar 12.811 25.094 762 Kebidanan Kesehatan Gigi Keterapian Fisik Keteknisian Medis Jumlah 3. Tiga provinsi yang menghasilkan lulusan tenaga kesehatan terbanyak (Poltekkes dan Non Poltekkes) tahun 2009 adalah Provinsi Jawa Tengah (9.415 1.2 di atas terlihat bahwa rata-rata selama 8 tahun terakhir lulusan Diknakes Diploma III Poltekkes dan Non Poltekkes adalah 43.347 orang.312 2. terutama data rumah sakit baik milik pemerintah.121 2. Rasio dokter umum terhadap 133 .446 28.250 5. Provinsi dengan rasio tertinggi adalah Bali sebesar 33.553 orang).2 JUMLAH LULUSAN PROGRAM DIPLOMA III POLTEKKES DAN NON POLTEKKES TAHUN 2002-2009 Rerata Tahun Jenis Tenaga Total 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Lulusan per tahun Keperawatan 17.923 8.557 1. B. Belum semua Provinsi mendapatkan data SDM Kesehatan dari semua Kabupaten/ Kota di wilayahnya.356 49.400 800 Kefarmasian 1.722 25. Menurut pendataan Badan PPSDMK.694 Gizi 1.25 dokter per 100.951 8.329 22.519 1.166 1.332 orang.285 5.812 12.615 439 711 627 773 742 857 1166 1.545 68.573 1. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Salah satu unsur yang berperan dalam percepatan pembangunan kesehatan adalah tenaga kesehatan yang bertugas di sarana pelayanan kesehatan di masyarakat.039 1.000 penduduk.TABEL 5.870 1.453 31.337 9.923 1.774 43.067 3.343 62. Sumatera Utara (8.957 6.371 346. 3.550 1. TNI/POLRI dan Swasta.644 5.236 2.659 orang).835 188.664 Kesehatan Lingkungan 1.347 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.693 2.943 23.000 penduduk. TENAGA KESEHATAN Data Sumber Daya Masyarakat Kesehatan (SDM Kesehatan) yang terkumpul dari 33 Provinsi belum sepenuhnya dapat menggambarkan SDM Kesehatan secara lengkap.264 13. jumlah dokter umum di Indonesia sebanyak 28.712 1.000 penduduk.396 1.367 3. 2010 Dari Tabel 5.60 dokter per 100. 1.855 1.095 1.377 52.085 6.764 29. Belum ada sistem yang handal yang mengatur manajemen pengumpulan data SDM di daerah.555 1.555 orang).473 3. 2.488 3.54 dokter per 100.691 1. Kemenkes.

Pada tahun 2009 terdapat 3 provinsi yang telah mencapai rasio 100 bidan per 100. Tenaga kesehatan terdiri dari 51. rasio bidan terhadap penduduk pada tahun 2010 diharapkan mencapai 100 bidan per 100. PTT. 134 .000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. TNI/POLRI dan swasta.000 penduduk. Jumlah bidan pada tahun 2009 sebanyak 93.889 orang.000 penduduk. Dinas Kabupaten/Kota dan UPT. SDM Kesehatan tersebut bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi dan unit pelaksana teknis (UPT).000 penduduk.jumlah penduduk di tiap provinsi pada tahun 2009 dijelaskan pada Gambar 5. sedangkan terendah adalah Sumatera Selatan dengan rasio 0.221 tenaga keperawatan (184.19 berikut ini.64 dan Papua Barat sebanyak 111. yaitu Aceh sebesar 153.067 tenaga kesehatan dan 109.332 tenaga perawat dan perawat gigi.16. 2010 Jumlah tenaga dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 9.000 penduduk. 2. rumah sakit/poliklinik dan sarana kesehatan lainnya milik pemerintah pusat. 278.532 tenaga non kesehatan.3. CPNS.000 penduduk. Provinsi dengan rasio tertinggi adalah DI Yogyakarta sebesar 12. GAMBAR 5.000 penduduk. Kemenkes. Persebaran Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan SDM Kesehatan di daerah terdiri dari SDM Kesehatan yang bertugas di unit kesehatan (sarana pelayanan dan non pelayanan) di Provinsi dan Kabupaten/Kota.73 dokter gigi per 100. Bengkulu sebanyak 123. swasta dan TNI/POLRI. Jumlah tenaga kesehatan dan non kesehatan tahun 2009 menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. pemerintah daerah. dengan status kepegawaian PNS. Dari data yang diterima tercatat sebanyak 519.599 orang yang terdiri dari 410.18 bidan per 100. sehingga rasionya terhadap penduduk sebesar 40.19 RASIO DOKTER UMUM TERHADAP 100. Menurut Indikator Indonesia Sehat 2010.65 dokter gigi per 100.22 dokter gigi per 100.774 orang dengan rasio sebesar 4.000 penduduk.805 tenaga medis.58 bidan per 100.

2010 Jumlah dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 6. a.03 dokter umum per puskesmas.737 puskesmas yang ada.762 tenaga gizi. 19. 2.509 puskesmas dari 8.311 orang yang bertugas di puskesmas dengan rincian 215.13 dan Riau sebesar 3.953 tenaga kefarmasian.776 tenaga kesehatan dan 29.483 keteknisian medis.701 orang.61 dokter umum per puskesmas. Rasio dokter umum di puskesmas terhadap jumlah puskesmas (yang terdata tenaganya) tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 5.20 RASIO DOKTER UMUM DI PUSKESMAS TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.858 tenaga kesehatan masyarakat. Beberapa provinsi memiliki tenaga dokter spesialis yang bertugas di puskesmas. diikuti oleh Kepulauan Riau sebesar 3. maka rasio dokter umum adalah 1. Rasio dokter umum terhadap puskesmas tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta sebesar 13 dokter umum per puskesmas (327 dokter umum pada 25 puskesmas yang terdata). dokter umum yang bertugas di puskesmas sebanyak 13. 135 . Tenaga Kesehatan di Puskesmas Puskesmas yang merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Bila dibandingkan dengan jumlah seluruh puskesmas maka dapat diartikan bahwa belum seluruh puskesmas memiliki dokter gigi. Bila dibandingkan antara jumlah puskesmas yang terdata tenaganya (8.509 puskesmas) dengan jumlah dokter.93. terdapat 245. 12. Pada tahun 2009. Kemenkes. Dari seluruh jumlah tenaga kesehatan. 28. GAMBAR 5.889 tenaga bidan). hanya 8.985 tenaga keterapian fisik dan 15.535 tenaga non kesehatan. Tahun 2009 tidak semua puskesmas terdata jumlah tenaganya.141 orang. terutama ketersediaan tenaga kesehatan.20 berikut ini. kinerjanya sangat dipengaruhi ketersediaan sumber daya manusia yang dimiliki.

sedangkan rasio dokter umum.5%). sedangkan untuk daerah dengan kriteria Biasa dan Sangat Terpencil masing-masing sejumlah 9 orang. Keberadaan dokter umum PTT terbanyak di Nusa Tenggara Timur sejumlah 301 orang.Pada tahun 2009 terdapat 160 dokter spesialis yang bertugas di puskesmas. Jumlah perawat di seluruh puskesmas sebanyak 76. Provinsi dengan jumlah keberadaan dokter spesialis PTT terbanyak adalah Sumatera Utara sebanyak 8 orang dan Provinsi Kalimantan Timur sebanyak 7 orang.054 orang. sebagian besar dokter spesialis tersebut berada di Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah 84 orang (52. dokter gigi. Rincian jumlah tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 5.104 orang. dokter gigi sejumlah 1.403 tenaga kesehatan PTT Pusat yang masih aktif bertugas di daerah dengan kriteria Biasa.21 JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. Sampai dengan tahun 2009 terdapat 30.21 di bawah ini.940 orang. dan bidan sejumlah 25. Jumlah masing-masing tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Gambar 5.17. Tenaga Kesehatan dengan Status Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tenaga kesehatan dengan status PTT terdiri dari dokter spesialis. dokter umum sejumlah 3. 2010 3. Terpencil.784 orang. yaitu sejumlah 29 orang.518 orang. Kemenkes.18. dan Sangat Terpencil dengan komposisi dokter spesialis sejumlah 47 orang. sehingga rata-rata tiap puskesmas memiliki 9-10 orang perawat. Dokter spesialis PTT sebagian besar tersebar di daerah dengan kriteria Terpencil. GAMBAR 5. dokter umum. diikuti oleh Sumatera Utara sejumlah 288 orang dan Aceh sejumlah 282 orang. dokter gigi dan bidan. Dokter umum PTT dan dokter gigi PTT sebagian besar tersebar di wilayah dengan kriteria sangat terpencil yaitu 1. perawat dan bidan terhadap jumlah puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 5.898 orang dokter umum dan 666 orang dokter gigi. sedangkan dokter gigi PTT terbanyak bertugas di Nusa Tenggara Timur sejumlah 118 136 . sedangkan bidan PTT sebagian besar tersebar di wilayah biasa sejumlah 16.

179 orang dengan pengangkatan untuk daerah dengan kriteria Terpencil 77 orang dan 1. Bidan PTT terbanyak bertugas di Sumatera Utara.22 menampilkan keadaan tenaga PTT di Indonesia tahun 2009.269 orang dan bidan PTT sejumlah 11.006 orang.24 menampilkan pengangkatan tenaga PTT di Indonesia tahun 2009. Kemenkes. diikuti Jawa Tengah sejumlah 4. 5.797 orang.orang.102 orang untuk daerah dengan kriteria Biasa. Gambar 5. yaitu sejumlah 4. 5. DOKTER GIGI PTT DAN BIDAN PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian. Pengangkatan bidan PTT terbanyak berada di Provinsi Sumatera Utara sejumlah 1.33. Terpencil. 2010 Pada tahun 2009 telah diangkat tenaga kesehatan PTT untuk daerah dengan kriteria Biasa. Data selengkapnya mengenai pengangkatan tenaga kesehatan PTT di seluruh provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. Adapun pengangkatan dokter umum PTT dan dokter gigi PTT terbanyak berada di Provinsi Maluku dengan jumlah 420 orang dan 155 orang dengan pengangkatan untuk daerah terpencil adalah sejumlah 406 orang untuk dokter umum dan 153 orang untuk dokter gigi diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan jumlah 373 dokter umum dan 149 dokter gigi.487 orang. 137 . diikuti oleh Aceh sebanyak 75 orang dan Sumatera Utara sejumlah 66 orang. dokter umum PTT sejumlah 4.807 orang.22 KEBERADAAN DOKTER UMUM PTT.20 dan 5. yang terdiri dari dokter spesialis PTT sejumlah 35 orang. GAMBAR 5. Data selengkapnya mengenai distribusi tenaga kesehatan PTT di seluruh provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.234 orang.23 dan 5. dan Sangat Terpencil sebanyak 16.21.395 orang dan Jawa Timur 3.19. dokter gigi PTT sebanyak 1. Gambar 5.34 dan 5.598 orang dengan jumlah pengangkatan untuk daerah dengan kriteria Terpencil 806 orang dan 792 orang untuk daerah dengan kriteria Biasa diikuti provinsi kedua terbanyak adalah Jawa Timur sejumlah 1.35.

Fasilitas Pelatihan Kesehatan Fasilitas unit pelatihan kesehatan merupakan komponen yang sangat penting dari penunjang kegiatan pelatihan. aula dan ruang diskusi untuk unit Pelatihan Kesehatan UPT Pusat. Kapasitas asrama. Kapasitas asrama yang terbesar di BBPK Ciloto (220). Kemenkes. Ketersediaan fasilitas juga menentukan performance kinerja unit pelatihan kesehatan. 2010 GAMBAR 5. 2010 4.GAMBAR 5. Kemenkes. kapasitas ruang diskusi terbesar di BBPK Ciloto. (50 kursi). (260 kursi).23 PENGANGKATAN DOKTER UMUM PTT DAN DOKTER GIGI PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian. Tidak terlihat 138 . kelas. kapasitas aula yang terbesar BBPK Ciloto. (400 kursi).24 PENGANGKATAN BIDAN PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian. masih beragam (belum standar/sama) khususnya untuk unit pelatihan kesehatan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK). kapasitas kelas yang terbanyak BBPK Jakarta.

5% dan unit pelatihan kesehatan dengan kapasitas asrama kurang dari 100 tempat tidur sebanyak 12. Unit pelatihan kesehatan UPT daerah dengan kapasitas terkecil adalah Bapelkes Palu.29% (6.84% (851 orang).74% tahun 2008) sedangkan non pelatihan 5. swasta 20.11% (56.40% (30. tersedikit di S3 dan D-III masing-masing 2 orang. Berdasarkan pendidikan jumlah terbanyak di kelompok pendidikan S2 (112 orang).60% (28. pelatihan fungsional 6. Pemanfaatan Unit Pelatihan Kesehatan pada tahun 2009 sebagian besar 39. Sedangkan tingkat libat 5 (perancang pelatihan) hanya sebanyak 19.5%) yang tidak terakreditasi (Bapelkes Jantho.8% dimanfaatkan sebagai tempat saja. Berdasarkan kelompok umur.38% (309 kegiatan). Bapelkes Provinsi Kalimantan Selatan.5%.136 orang.222 orang). pelatihan prajabatan 13. jumlah Widyaiswara berkisar antara 1 sampai 11 orang dengan rata-rata 5 orang. tingkat libat 4 (tempat. Jumlah peserta yang dilatih selama tahun 2009 berdasarkan 5 jenis kategori pelatihan. Untuk unit pelatihan kesehatan UPT pusat khususnya BBPK. Variasi yang cukup tinggi terlihat pada unit pelatihan kesehatan UPT daerah untuk seluruh fasilitas unit pelatihan kesehatan dengan kapasitas asrama diatas atau sama dengan 100 tempat tidur ada sebanyak 87. Dari pemanfaatan fasilitas tersebut.98% (3. ternyata 68.38% tahun 2008) digunakan untuk kegiatan pelatihan. dan tersedikit di usia kurang dari 40 tahun (16 orang).23.24% tahun 2008). Sedangkan Seat Occupancy Rate (SOR) untuk kegiatan pelatihan rata-rata 34. dan pelatihan penjenjangan 1.86% (687 kegiatan). Jika 139 .5%) unit pelatihan kesehatan sudah diakreditasi oleh Pusdiklat SDM Kesehatan. Sebagian besar (87. Distribusi tenaga Widyaiswara kesehatan sangat bervariasi mulai dari yang paling sedikit yaitu 1 (satu) orang dan terbanyak 14 orang. dan Bapelkes Provinsi Maluku). pelatihan manajemen 17.5%. dan sisanya dipergunakan oleh institusi pemerintah non Kemenkes 9.867 orang). jumlah Widyaiswara berkisar antara 6 sampai 14 orang. Widyaiswara berdasarkan golongan kepangkatan jumlah terbanyak pada golongan IVA (42 orang) dan tersedikit pada golongan IVE (3 orang).62% tahun 2008) digunakan untuk kegiatan non pelatihan dan 31.78% tahun 2008).64% (23. Distribusi tingkat keterlibatan institusi diklat dalam kediklatan tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 5. jumlah terbanyak pada usia 51-60 tahun (86 orang). penyelenggara/oc dan sc) sebanyak 26.perbedaan yang jelas antara Kapasitas yang dimiliki oleh BBPK dan Bapelkes UPT Pusat.76% (2298 kegiatan). hanya 3 (12.5%. Ternyata masih ada Widyaiswara yang berpendidikan D-III sebanyak 2 orang (3 orang di tahun 2008).5% (7.133 orang). Sedangkan unit pelatihan kesehatan UPT daerah.86% (3. Diharapkan Widyaiswara unit pelatihan kesehatan banyak di kelompok usia kurang dari 50 tahun. Jumlah tenaga yang bekerja pada sektor kesehatan yang terlatih di Unit Pelatihan Kesehatan pada tahun 2009 adalah sebanyak 46.89% (43. ternyata Bapelkes Lemah Abang dan Bapelkes Salaman mempunyai kapasitas yang lebih besar daripada BBPK Makassar. dan Bed Occupancy Rate (BOR) 28.361 orang). Fasilitas sarana unit pelatihan kesehatan pada tahun 2009 sebagian besar digunakan untuk kegiatan Kemenkes yaitu 69. berturut-turut mulai dari yang terbanyak adalah pelatihan teknis kesehatan 50. pelatih.

Program/kegiatan yang bersifat kuratif yaitu program upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat.31. Berikut ini diuraikan anggaran kesehatan yang dialokasikan untuk Kementerian Kesehatan dan anggaran yang disediakan untuk pembiayaan pemeliharaan kesehatan masyarakat.737. Distribusi Widyaiswara di setiap institusi diklat tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 5.05%). program pencegahan dan pemberantasan penyakit.dilihat berdasarkan frekuensinya. kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan dan program pendidikan kedinasan. Peningkatan tersebut dijelaskan dalam Gambar 5.52%). Realisasi anggaran tertinggi adalah program yang bersifat kuratif dengan jumlah Rp 10. sedangkan alokasi terkecil untuk program yang bersifat promotif sebesar Rp 117.229.44 trilyun (80.003. Pada Tahun 2005 Kementarian Kesehatan memiliki alokasi anggaran sebesar Rp 10. Program/kegiatan yang bersifat promotif yaitu promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Informasi selengkapnya tentang alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5.491. Pembiayaan kesehatan bersumber dari pemerintah dan pembiayaan yang bersumber dari masyarakat. 140 .689. program sumber daya kesehatan.25 di bawah ini. Distribusi anggaran menurut program/kegiatan menunjukkan bahwa alokasi terbesar untuk program yang bersifat kuratif dengan jumlah Rp 12. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir terdapat peningkatan alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan.57%). kuratif dan preventif. sedangkan realisasi terkecil untuk program yang bersifat promotif sebesar Rp 86. Anggaran Kementerian Kesehatan Anggaran Kementerian Kesehatan dibagi berdasarkan program/kegiatan kesehatan yang berjumlah 14 program/kegiatan.535. yang dikelompokkan dalam 4 kelompok besar.438. penelitian dan pengembangan kesehatan.513 (62.629 (80.000 (60.23. PEMBIAYAAN KESEHATAN Salah satu komponen sumber daya yang diperlukan dalam menjalankan pembangunan kesehatan adalah pembiayaan kesehatan. C.400. Kementerian Kesehatan pada tahun 2009 mengalokasikan anggaran sebesar Rp 20. datanya sama dengan berdasarkan jumlah peserta.006 (0. program obat dan perbekalan kesehatan.418.000 dengan jumlah realisasi sebesar Rp 16.522. yaitu program/kegiatan yang bersifat promotif. preventif. 1.44%).407.220.723. Program/kegiatan yang bersifat preventif antara lain penerapan kepemerintahan yang baik.52 trilyun (61.403.67 trilyun dengan realisasi Rp 6.54 trilyun dengan realisasi Rp 16. jumlah tersebut meningkat pada tahun 2009 menjadi Rp 20.494.11%).000 (0.412. Sedangkan program/kegiatan yang bersifat rehabilitatif yaitu perbaikan gizi masyarakat.04%).23%).

25 ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Biro Keuangan dan Perlengkapan.32. Kemenkes. GAMBAR 5. 2010 2.95% penduduk yang tercakup oleh jaminan pembiayaan/asuransi kesehatan.26 di bawah ini menurut sumber pembiyaan sampai pertengahan tahun 2010.GAMBAR 5. Kemenkes. Persentase penduduk yang memiliki jaminan pembiayaan kesehatan oleh program Jaminan pembiayaan/asuransi disajikan pada Gambar 5. Pembiayaan Jaminan Kesehatan Masyarakat Menurut data Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan.26 PERSENTASE PENDUDUK YANG DILINDUNGI JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT/ ASURANSI KESEHATAN DI INDONESIA PER JUNI 2010 Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. Data mengenai persentase penduduk yang memiliki jaminan pembiayaan/asuransi kesehatan menurut provinsi sampai tahun 2010 terdapat pada Lampiran 5. sampai Juni tahun 2010 hanya 55. 2010 141 .

Peserta Jamkesmas mendapatkan pelayanan kesehatan komprehensif dan berjenjang dari pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya hingga pelayanan kesehatan rujukan di RS. Untuk pelayanan kesehatan rujukan tersedia 946 RS/Balai/Klinik yang persentase terbesarnya merupakan RS umum dan khusus milik Pemerintah sebanyak 538 RS (57%).000 jiwa. 2010 Dalam upaya meningkatkan keterjangkauan masyarakat miskin dan hampir miskin terhadap pelayanan kesehatan. Jumlah penduduk yang ditanggung oleh program Jamkesmas pada tahun 2009 sebanyak 76. Kemenkes. diikuti RS swasta umum dan khusus 304 RS (32%).27 PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. Secara keseluruhan peserta Jamkesmas dilayani oleh 9. pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan beberapa pemerintah daerah telah memberikan jaminan pelayanan kesehatan secara gratis di puskesmas dan kelas III di rumah sakit bagi peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Gambar 5.27 di bawah ini menunjukkan persentase pemberi pelayanan kesehatan rujukan peserta Jamkesmas tahun 2009. *** 142 . GAMBAR 5. 40 Balai Kesehatan (4%) dan 63 RS TNI/POLRI (7%).541 PPK.541 unit Puskesmas di seluruh Indonesia yang melayani peserta Jamkesmas.400. Pada tahun 2009 terdapat 8.

.

ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) merupakan sebuah organisasi geopolitik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. dan Timor Leste. dilakukan untuk melihat posisi Indonesia terhadap negara-negara lain dalam kawasan yang sama. dan upaya kesehatan. Singapura (Singapore). Filipina. A. KEPENDUDUKAN Informasi tentang penduduk penting diketahui agar pembangunan dapat diarahkan sesuai kebutuhan penduduk sebagai sasaran sekaligus pelaku pembangunan. Myanmar. Perbandingan antar negara. Indonesia termasuk dalam negara SEARO (South East Asia Region/SEARO) bersama 10 negara lainnya. Bhutan. Thailand. India. dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggota. Thailand. kemajuan sosial. Anggota ASEAN ada 10 negara yaitu Brunei Darussalam. Indonesia. Myanmar. Jumlah penduduk yang besar dapat dipandang sebagai beban sekaligus juga modal dalam pembangunan. dan Vietnam. derajat kesehatan. serta memajukan perdamaian di tingkat regional. baik dengan negara-negara ASEAN maupun SEARO. Kamboja (Cambodia). Nepal. yaitu Bangladesh. Korea Utara (Democratic People's Republic of Korea). Laos (Lao People's Democratic Republic). Maladewa (Maldives). Malaysia. Bab ini akan membahas perbandingan antara Indonesia dengan negara ASEAN dan SEARO dari aspek yang berhubungan dengan kesehatan yaitu aspek kependudukan. Sri Lanka. Berdasarkan pengelompokan negara menurut WHO. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengetahui keadaan penduduk 144 .

Sedangkan Brunei Darussalam memiliki jumlah penduduk paling rendah yaitu sekitar 0. di kawasan SEARO Indonesia menempati peringkat kedua setelah India (dengan jumlah penduduk 1. laju pertumbuhan penduduk. Jumlah penduduk di kawasan ASEAN dan SEARO dapat kita lihat pada Gambar 6. Jika di kawasan ASEAN.1 JUMLAH PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Menurut World Populations Data Sheet 2009. Dengan wilayah negara terluas. 8 negara lainnya berpenduduk kurang dari 100 juta jiwa.171 juta jiwa). pada tahun 2009. Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak di antara negara anggota ASEAN lainnya dengan jumlah penduduk 243. 2009 Bila dilihat berdasarkan kepadatan penduduk.486 penduduk per km2. Selain Bangladesh yang berpenduduk 162.2 juta jiwa.3 juta jiwa (data BPS menyatakan penduduk Indonesia tahun 2009 berjumlah 231.7 juta). dan angka kelahiran.1. USAID. bahkan terdapat 2 negara dengan jumlah penduduk kurang dari 1 juta. 1.4 juta jiwa.3 juta).4 juta jiwa). yaitu Bhutan (0. Angka tersebut 145 . angka beban tanggungan. GAMBAR 6.yaitu jumlah penduduk. dan Maladewa (0. kepadatan penduduk. Indonesia selalu menempati peringkat satu negara dengan jumlah penduduk tertinggi di ASEAN. Indonesia menempati peringkat pertama dengan jumlah penduduk terbesar. Singapura tercatat sebagai negara yang paling padat di kawasan ASEAN dengan kepadatan 7.

127 jiwa per km2. 2. Maladewa merupakan negara dengan kepadatan penduduk tertinggi kedua di wilayah SEARO. Selanjutnya. Bangladesh memiliki kepadatan penduduk tertinggi dengan 1.jauh di atas negara anggota ASEAN lainnya.2 di bawah ini. Kepadatan penduduk di Indonesia sebesar 128 jiwa per km2. Sedangkan di kawasan SEARO. kepadatan penduduk Indonesia menurut BPS tahun 2009 adalah 121 jiwa per km2. Indonesia menempati peringkat ke delapan terpadat. walaupun memiliki jumlah penduduk terkecil. Laju Pertumbuhan Penduduk 146 . dengan luas wilayah yang juga kecil. Di kawasan SEARO. Sementara.2 KEPADATAN PENDUDUK DI NEGARA ASEAN & SEARO (Jiwa per km2) TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet. Indonesia di kawasan ASEAN berada pada peringkat ke lima terpadat. Negara dengan kepadatan penduduk terendah adalah Bhutan yaitu 15 jiwa per km2. Tingkat kepadatan penduduk negara-negara ASEAN dan SEARO tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 6. negara dengan kepadatan penduduk terendah adalah Laos dengan 27 penduduk per km2. yaitu 1. atau peringkat ke empat untuk negara dengan kepadatan paling rendah di antara 11 negara. USAID. GAMBAR 6.057 jiwa per km2. 2009 Secara nasional.

Indonesia menduduki peringkat ke-5 dengan laju pertumbuhan penduduk terendah dari 11 negara. Di kawasan ASEAN.1%.2008 Sumber: The State of The Worlds Children. yakni kelahiran. Laju pertumbuhan penduduk dipengaruhi tiga faktor. Indonesia menduduki peringkat ke-3 terendah (bersama dengan Vietnam) untuk laju pertumbuhan penduduk. 2010 Pada periode 1998-2008.3%. laju pertumbuhan penduduk per tahun yang tertinggi di antara negara anggota ASEAN adalah Brunei Darussalam dengan laju pertumbuhan penduduk 2. Laju pertumbuhan penduduk terendah pada Korea Utara dan tertinggi di Timor Leste. Laju pertumbuhan penduduk di negara-negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Gambar 6.3 di bawah ini. kematian dan migrasi penduduk. laju pertumbuhan penduduk berkisar antara 0. Data kependudukan negaranegara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. GAMBAR 6. sedangkan Myanmar merupakan negara dengan laju pertumbuhan penduduk paling rendah yaitu 0.9%.3 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK PER TAHUN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 1998 . Indikator tersebut biasa dikenal dengan laju pertumbuhan penduduk. diketahui pula kebutuhan dasar penduduk di segenap bidang kehidupan termasuk di bidang kesehatan. Dengan diketahuinya jumlah penduduk yang akan datang.6% hingga 2. 147 . Pada negara-negara SEARO selama periode yang sama.1.8%. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah 1.Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk di suatu wilayah atau negara di masa yang akan datang. Sedangkan bila dilihat dari kawasan SEARO.

yang dapat dilihat pada Gambar 6. USAID 148 . Di antara negara-negara di kawasan SEARO. Semakin tinggi persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif (kelompok umur 0-14 tahun) dan tidak produktif lagi (kelompok umur 65 tahun keatas). Persentase penduduk menurut kelompok umur non produktif (kelompok umur 0-14 tahun dan kelompok umur 65 tahun keatas) untuk keadaan tahun 2009. negara dengan penduduk non produktif terendah di kawasan tersebut adalah Thailand yaitu 29%. Penduduk Menurut Kelompok Umur Salah satu indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang adalah Angka Beban Tanggungan (dependency ratio). Sebaliknya Singapura merupakan negara dengan komposisi penduduk kelompok umur non produktif terendah yaitu 27%. Sebaliknya.4 di bawah ini.4 KOMPOSISI PENDUDUK YANG PRODUKTIF DAN NON PRODUKTIF DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet 2009. Timor Leste adalah negara dengan komposisi penduduk usia non produktif tertinggi yaitu 48%. GAMBAR 6.3. Laos merupakan negara yang terbesar untuk kelompok umur tersebut dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN yaitu 43% dari total penduduk.

500-0.734. 149 . Ini berarti setiap 100 penduduk usia produktif di Indonesia menanggung 54 penduduk yang belum produktif dan yang dianggap tidak produktif lagi. Laos merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan tertinggi di kawasan ASEAN yaitu 75%.800 – 0.Dengan distribusi penduduk seperti yang telah digambarkan di atas. jika IPM > 0. 4. kategori tinggi. jika IPM <0. sedangkan Indonesia berada pada peringkat ke-111. yaitu Singapura dan Brunai Darussalam. jika IPM 0. kategori sedang.799.500.729). dan kategori rendah. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dikategorikan sebagai berikut: kategori sangat tinggi.900. berada pada kategori IPM sedang. Komposisi penduduk menurut kelompok umur serta besar Angka Beban Tanggungan di negara-negara kawasan ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6. terdidik (diukur dari angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah) dan memiliki standar hidup yang layak (diukur dari penghasilan/pengeluaran riil per kapita). dan yang terendah adalah Myanmar dengan peringkat ke-138.899. Berdasarkan standar internasional. IPM Indonesia pada tahun 2007 sebesar 0. termasuk Indonesia. Menurut kategori tersebut di atas.1. Malaysia masuk dalam kategori tinggi. pada tahun 2007 terdapat 2 (dua) negara anggota ASEAN masuk dalam kategori sangat tinggi. Timor Leste merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan tertinggi yaitu 92% sedangkan Thailand merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu 41%. Singapura merupakan negara dengan peringkat IPM tertinggi yaitu pada peringkat ke-24 dari 182 negara di dunia. Bila dilihat dari peringkat di negara ASEAN pada tahun yang sama. yaitu panjang umur dan menjalani hidup sehat (diukur dari usia harapan hidup). Sementara Indonesia memiliki Angka Beban Tanggungan sebesar 54%. sedangkan 7 negara anggota ASEAN lainnya. Di kawasan SEARO. bila dibandingkan dengan tahun 2006 IPM Indonesia mengalami peningkatan (IPM 2006 adalah 0. Sedangkan Singapura merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu 37%. jika IPM > 0. Indeks Pembangunan Manusia Human Development Index (HDI) merupakan suatu ukuran gabungan tiga dimensi tentang pembangunan manusia.

5 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Sumber: Human Development Report 2009 Pada tahun 2007 di kawasan SEARO.2. Data IPM negara-negara di kawasan ASEAN dan SEARO tahun 2006 2007 dapat dilihat pada Lampiran 6. 5. dari 11 negara (Korea Utara tidak ada data). 9 negara memiliki IPM dengan kategori sedang. dan satu negara yaitu Timor Leste masuk dalam kategori rendah.GAMBAR 6. Angka TFR yang tinggi merupakan cerminan rata-rata usia kawin yang rendah. tingkat sosial ekonomi rendah atau tingkat kemiskinan yang tinggi. Perbandingan angka TFR antar negara dapat menunjukkan keberhasilan negara dalam melaksanakan pembangunan sosial ekonominya. Total Fertility Rate Angka Fertilitas Total atau Total Fertility Rate (TFR) merupakan gambaran mengenai rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan dari usia 15 sampai 49 tahun. terutama perempuannya. 150 . tidak ada negara yang memiliki IPM dengan kategori sangat tinggi dan tinggi. Selain itu tentu saja menunjukkan tingkat keberhasilan program keluarga berencana yang dilaksanakan di negara tersebut. tingkat pendidikan yang rendah.

Korea Utara dan Maladewa termasuk negara dengan Angka Fertilitas Total berkategori rendah.3). diantara 11 negara SEARO. Sri Lanka. USAID Data Angka Fertilitas Total di negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6. Thailand. Pada tahun 2008. Bhutan.3. dan meningkatkan program pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan ibu hamil dan perawatan anak. dan kesuburan tinggi jika angka kesuburan wanita 4 atau lebih. GAMBAR 6. sedang. Key Indicators 2002).5. Dengan menggunakan klasifikasi tersebut. India.2 yang berarti untuk setiap wanita di Indonesia rata-rata memiliki anak 2 sampai 3 orang selama masa suburnya. kesuburan sedang antara 2. dan Nepal) masuk dalam kategori sedang.9. Besaran Angka Fertilitas Total di negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Gambar 6.2. yaitu Singapura (1. Bangladesh. Kesuburan rendah terjadi ketika angka kesuburan wanita 2. Myanmar. 151 . maka pada tahun 2008 ada 4 negara yang termasuk dalam kategori angka kesuburan wanita rendah. Angka Fertilitas Total dapat diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan yaitu rendah.6 berikut ini.Angka Fertilitas Total suatu negara dapat dipergunakan bagi para perencana program pembangunan untuk meningkatkan rata-rata usia kawin. Thailand (1.8).6 ANGKA KESUBURAN WANITA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Layer 1 Sumber: World Population Data Sheet 2009. Sedangkan Indonesia masuk dalam kategori sedang dengan angka kesuburan wanita 2.2 . serta Brunei Darussalam dan Vietnam (masing-masing 2.1). Sedangkan Timor Leste merupakan satu-satunya negara di SEARO yang masuk dalam kategori tinggi yaitu sebesar 6. dan tinggi (ADB.1 atau kurang. 7 negara (Indonesia.

Terendah di Thailand (15) dan Korea Utara (16) sedangkan tertinggi di Timor Leste (40) dan Nepal (29). Singapura memiliki Angka Kelahiran Kasar terendah yaitu 10 kelahiran per 1.000 penduduk. Angka Kelahiran Kasar pada tahun 2008 di negara-negara ASEAN dengan kisaran 10 sampai 28 per 1. di kawasan ASEAN Indonesia menempati peringkat ke-4 tertinggi. GAMBAR 6. Angka Kelahiran Kasar di negara-negara SEARO berkisar antara 15 sampai 40 per 1. Dengan 21 kelahiran per 1. Pada tahun 2008. sedangkan di kawasan SEARO menempati peringkat ke-6 tertinggi untuk Angka Kelahiran Kasar.2. Data Angka Kelahiran Kasar di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.000 penduduk.000 penduduk dan diikuti oleh Filipina yaitu 26 per 1.6.7 ANGKA KELAHIRAN KASAR DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 152 . Angka tertinggi terjadi di Laos dengan Angka Kelahiran Kasar 28 per 1. Sedangkan Indonesia memiliki Angka Kelahiran Kasar sebesar 21 kelahiran untuk setiap 1.000 penduduk.000 penduduk.000 penduduk. Angka Kelahiran Kasar Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR) adalah angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1.000 penduduk.7 memperlihatkan perbandingan Angka Kelahiran Kasar negara-negara kawasan ASEAN dan SEARO. Gambar 6.000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama.

200 perkapita) diikuti oleh Singapura (US$ 47. Indonesia berada di peringkat ke-6 tertinggi pendapatan nasional bruto per kapita. Sosial Ekonomi Pendapatan Nasional merupakan salah satu indikator untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pendapatan Nasional Bruto perkapita (Gross National Income) terdiri atas sejumlah nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara.830. Myanmar dan Kamboja merupakan negara dengan Pendapatan Nasional Bruto perkapita terendah.990. Pendapatan Nasional Bruto di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Gambar 6. beserta pendapatan yang diterima dari negara lain. dan terendah adalah Nepal dengan US$ 1. yaitu masing-masing US$ 1. Jika dibandingkan dengan 19 negara di ASEAN dan SEARO.8 PENDAPATAN NASIONAL BRUTO DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009.Sumber: World Population Data Sheet 2009.820.8 di bawah ini. 153 . Sedangkan Indonesia memiliki pendapatan nasional bruto perkapita sebesar US$ 3.940 per kapita). USAID 7.290 dan US$ 1. GAMBAR 6.120.000. Negara dengan pendapatan nasional bruto perkapita tertinggi adalah Thailand yaitu sebesar US$ 5. seluruhnya memiliki Pendapatan Nasional Bruto perkapita kurang dari US$ 6. USAID Dari sepuluh negara di SEARO (tidak ada data untuk Korea Utara). Pendapatan Nasional Bruto perkapita tertinggi di 2008 antara negara anggota ASEAN adalah Brunei Darussalam (US$ 50.

Indonesia dan Laos. Angka Kematian Bayi Angka kematian bayi diklasifikasikan menjadi empat kelompok yaitu rendah jika AKB kurang dari 20. sedang 20-49. dan sangat tinggi jika AKB di atas 100 per 1. DERAJAT KESEHATAN MORTALITAS 1. Brunei Darussalam. GAMBAR 6. Lima Negara masuk kategori sedang dan selebihnya. Malaysia. yaitu Filipina. yaitu 4 negara termasuk kategori tinggi. Dari 10 negara anggota ASEAN tidak ada yang masuk dalam kelompok angka kematian bayi sangat tinggi (>100 per 1. sementara 2 negara lainnya (Kamboja dan Myanmar) masuk dalam kelompok negara yang memiliki Angka Kematian Bayi tinggi. Berdasarkan klasifikasi yang sama maka 2 negara di SEARO.000 kelahiran hidup). tinggi 50-99. USAID Sumber: World Health Statistics WHO.000 kelahiran hidup. 154 . Tiga negara.9 ANGKA KEMATIAN BAYI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2007.B. termasuk kelompok sedang.9 menunjukkan bahwa pada tahun 2008.000 kelahiran hidup.Vietnam dan Thailand termasuk negara dengan Angka Kematian Bayi rendah. 2010 Gambar 6. lima negara ASEAN yaitu Singapura. yaitu Sri Lanka dan Thailand masuk dalam kategori negara dengan angka kematian bayi rendah dengan angka 13 per 1.

Jika di ASEAN hanya terdapat 3 negara (dari 10 negara) dengan AKABA lebih dari 50 per 1. malaria.10 ANGKA KEMATIAN BALITA (PER 1. dan Laos yang memiliki Angka Kematian Balita di atas 50 per 1. Menurut sumber yang sama. Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 70% kematian balita disebabkan diare. sedangkan yang tertinggi adalah di . Angka Kematian Balita di SEARO berkisar antara 14 sampai 122 per 1. Pada kasus kematian yang tinggi biasanya jumlah kematian terbanyak terjadi pada usia balita saat mereka rentan terhadap penyakit. Angka Kematian Balita terendah dicapai Singapura yaitu 3 kematian per 1. pneumonia.000 KELAHIRAN HIDUP) DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Health Statistics 2010 Data yang didapat dari “World Health Statistics 2010” memperlihatkan perbedaan yang mencolok Angka Kematian Balita di antara negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2008.000 kelahiran hidup. Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Balita tertinggi. Indonesia memiliki angka kematian bayi 31 per 1000 kelahiran hidup dan berada di peringkat 9 di antara 18 negara tersebut.000 kelahiran hidup. Kamboja. dan malnutrisi. 155 . hanya Myanmar.000 kelahiran hidup. Data Angka Kematian Bayi di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. sedangkan terendah adalah Thailand.000 kelahiran hidup.Myanmar yaitu sebesar 122 kematian per 1.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.Besaran Angka Kematian Bayi di negara-negara ASEAN dan SEARO berkisar antara 2 dan 75. 2. Sebagian besar negara ASEAN memiliki Angka Kematian Balita kurang dari 50 per 1. Angka Kematian Balita Penurunan kasus kematian pada anak merupakan salah satu hal yang dianggap penting dalam tujuan pembangunan milenium. GAMBAR 6. Seperti di ASEAN. sebaliknya di SEARO hanya 4 negara dengan AKABA kurang dari 50. campak.2.

di Indonesia terdapat 41 kematian balita per 1. Di kawasan ASEAN.000.000 kelahiran hidup (menurut SDKI 2007 AKABA Indonesia adalah 44). Angka Kematian Ibu Berdasarkan klasifikasi Angka Kematian Ibu dari WHO adalah sebagai berikut.2.000. Indonesia menempati peringkat ke-4 terendah kematian balita per 1. Data Angka Kematian Balita di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. negara-negara di SEARO tidak ada yang mencapai Angka Kematian Ibu <15. dan ≥1. 3. Negara-negara dengan Angka Kematian Ibu > 500 di ASEAN ada 2 negara yaitu Laos (660 per 100. <15 per 100.10 terlihat bahwa negara-negara ASEAN memiliki Angka Kematian Balita relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara SEARO.11 ANGKA KEMATIAN MATERNAL DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2005 Sumber: World Health Statistics 2009 Pada tahun 2005 hanya 2 negara ASEAN yaitu Brunei Darussalam dan Singapura yang mencapai Angka Kematian Ibu <15 masing-masing 13 dan 14 per 100. Pada tahun 2008. Indonesia menempati peringkat ke-4 tertinggi kematian balitanya.000 156 .Pada Gambar 6. dan malnutrisi. Pada tahun yang sama. 15-199 per 100. Telah dipaparkan sebelumnya bahwa sebagian besar kematian balita disebabkan oleh diare.000 kelahiran hidup) dan Kamboja (540 per 100. 500-999 per 100.000 kelahiran hidup.000. pneumonia.000 kelahiran hidup).000. 200-499 per 100.000 per 100. sedangkan pada kawasan SEARO. Hal itu berarti negara-negara ASEAN mungkin memiliki sanitasi dan keadaan ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara-negara SEARO. Sekitar 55% memiliki Angka Kematian Ibu 200-499 per 100. GAMBAR 6.

Sementara. pada tahun 2008 Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Kasar atau Crude Death Rate (CDR) tertinggi. GAMBAR 6. yakni sebesar 10 per 1. Keadaan Angka Kematian Kasar di negara-negara kawasan SEARO.000 penduduk. Angka Kematian Kasar Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1.kelahiran hidup. 157 . Jika tidak ada indikator kematian yang lain angka ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan. berdasarkan data SDKI 2007. Angka nasional untuk Angka Kematian Ibu di Indonesia adalah 228 per 100. Korea Utara dan Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Kasar tertinggi yaitu 10 per 1.000 penduduk.000 penduduk. Di antara kedua kawasan tersebut. tidak berbeda jauh dengan negara-negara di kawasan ASEAN. Indonesia berada di peringkat ke-12 (dari 18 negara di ASEAN dan SEARO) untuk Angka Kematian Ibu yaitu 420 per 100.000 penduduk. 4.2. Data Angka Kematian Ibu di negara ASEAN dan SEARO tahun 2005 dapat dilihat pada Lampiran 6.000 PENDUDUK) DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009. sementara terendah adalah Maladewa dengan 4 kematian per 1. yaitu Nepal (830) dan Bangladesh (570).000 kelahiran hidup. Dan 18% memiliki Angka Kematian Ibu >500. USAID Di antara negara-negara anggota ASEAN. Pada umumnya penduduk tua mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda.000 kelahiran hidup.12 ANGKA KEMATIAN KASAR (PER 1.

Angka Harapan Hidup Angka Harapan Hidup merupakan indikator untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya. sedangkan di kawasan SEARO menempati peringkat ke4 tertinggi. Di kawasan ASEAN. Singapura merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir (Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 81 tahun.13 memperlihatkan bahwa pada tahun 2008 di antara sepuluh negara anggota ASEAN. 158 . USAID Untuk kawasan SEARO. Indonesia dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir 67 tahun menempati peringkat ke-4 terendah. Data Angka Kematian Kasar di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. Indonesia menduduki peringkat ke-5 tertinggi Angka Kematian Kasar sedangkan di kawasan SEARO.000 penduduk. Negara yang memiliki umur harapan hidup waktu lahir terendah adalah Myanmar yaitu 54 tahun. di Indonesia terdapat 6 kematian per 1.Pada tahun 2008. Indonesia menduduki peringkat ke-2 terendah. GAMBAR 6. Maladewa merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir (Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 74 tahun. 5. dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Di kawasan ASEAN. Data Angka Harapan Hidup di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. Negara yang memiliki Angka Harapan Hidup waktu lahir terendah adalah Myanmar yaitu 54 tahun.2.2. Gambar 6.13 ANGKA HARAPAN HIDUP DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009.

Masih menurut sumber yang sama.000 PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Health Statistics 2010 Seperti halnya negara-negara di ASEAN. Negara dengan prevalensi tuberkulosis tertinggi tahun 2008 adalah Timor Leste (660 per 100.000 penduduk.000 ribu penduduk.000 penduduk yaitu masing-masing 27 dan 43 kasus per 100. Kamboja merupakan negara dengan prevalensi tuberkulosis tertinggi di ASEAN yaitu 680 per 100.000 penduduk. angka prevalensi tuberkulosis pada tahun 2008 di negara-negara SEARO memiliki kesenjangan yang cukup besar.000 penduduk. Sedangkan Singapura dan Brunei Darussalam memiliki prevalensi tuberkulosis di bawah 50 kasus per 100.MORBIDITAS 1.000 penduduk di negara-negara ASEAN dan SEARO.000 penduduk. Prevalensi Tuberkulosis (TBC) Data dari “World Health Statistics 2010” menunjukkan besarnya perbedaan prevalensi tuberkulosis per 100.000 penduduk dan kematian yang berhubungan dengan tuberkulosis per 100.000 penduduk) dan terendah adalah Maladewa (13 per 100. Angka prevalensi tuberkulosis pada tahun 2008 di negara-negara anggota ASEAN berkisar antara 27 sampai 680 per 100. Sedangkan kasus kematian akibat tuberkulosis terendah terjadi di Singapura dan Brunei Darussalam masing-masing 3 dan 4 kematian per 100. GAMBAR 6. 159 .000 penduduk.000 penduduk). kematian akibat tuberkulosis pada tahun 2008 tertinggi terjadi di Kamboja yaitu 79 per 100.14 PREVALENSI DAN KEMATIAN AKIBAT TUBERKULOSIS PER 100. berkisar antara 13 sampai 660 per 100.

15 JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2003-2009 160 .4. 3 orang dinyatakan menderita penyakit tersebut dan seluruhnya meninggal. Sebelum tahun 1997. Akibatnya sebanyak 18 orang harus dirawat di rumah sakit.000 penduduk. Avian Influenza Kemunculan strain virus influenza yang baru pada manusia (strain H5N1) pertama kali terdeteksi di Hongkong. Indonesia dengan prevalensi 210 per 100. Seperti halnya angka prevalensi. dan 6 diantaranya meninggal dunia. ilmuwan meyakini penularan virus influenza dari unggas ke manusia tidak terjadi secara langsung. Myanmar dan Kamboja. Di antara 18 negara di ASEAN dan SEARO. Indonesia.00 penduduk). 2.000 penduduk berada pada urutan ke-9 tertinggi yang dapat dilihat pada Lampiran 6. 6 negara di wilayah ASEAN telah terinfeksi Avian Influenza yaitu Vietnam. Seperti angka prevalensi tuberkulosis. GAMBAR 6. Thailand. Laos.Sedangkan kematian akibat tuberkulosis di negara-negara kawasan SEARO berkisar antara 3 sampai 83 per 100. Avian Influenza pertama kali masuk ke wilayah ASEAN pada tahun 2003 melalui Vietnam. Ditemukan fakta pertama kali bahwa virus Avian Influenza dapat menular langsung dari unggas ke manusia. angka kematian tertinggi akibat tuberkulosis juga terjadi di Timor Leste yaitu 83 kematian per 100.000 penduduk. Sampai dengan akhir tahun 2009. angka kematian akibat tuberkulosis yang terendah juga di Maladewa (3 per 100.

yaitu Kamboja. Pada tahun tersebut selain Vietnam. Semenjak itu jumlah kasus Avian Influenza terus menurun. virus Avian Influenza menyebar di 3 negara ASEAN.: K = Kasus M = Meninggal Tabel 6.who. Kasus pertama kali menyerang Vietnam dengan 3 korban yang keseluruhannya berakhir pada kematian.65%).Sumber: WHO. 161 . TABEL 6.1 memperlihatkan bahwa selama 2 tahun terakhir. Thailand pun telah terinfeksi virus H5N1 ini. Vietnam dan Indonesia. Pada tahun 2008 terdapat 31 kasus dari 3 negara di ASEAN dengan 25 kematian (CFR = 80. jika sebelumnya hampir 100% berakhir pada kematian. terjadi peningkatan CFR menjadi 88. Tahun 2004 jumlah kasus meningkat menjadi 46 dengan 32 kematian. tahun 2005 dari 90 penderita 38 meninggal (42. Tahun 2009. namun tidak demikian dengan angka kematiannya (CFR).1 JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA MENURUT NEGARA TAHUN 2003-2009 NEGARA Kamboja Laos Vietnam   Indonesia    Myanmar   Thailand   Bangladesh   ASEAN SEARO 2003 K M 0 0 0 0 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3 0 0 2004 K M 0 0 0 0 29 20 0 0 0 0 17 12 0 0 46 32 17 12 2005 K M 4 4 0 0 61 19 20 13 0 0 5 2 0 0 90 38 25 15 2006 K M 2 2 0 0 0 0 55 45 0 0 3 3 0 0 60 50 58 48 2007 K M 1 1 2 2 8 5 42 37 1 0 0 0 0 0 54 45 43 37 2008 K M 1 0 0 0 6 5 24 20 0 0 0 0 1 0 31 25 25 20 2009 K M 1 0 0 0 5 5 21 19 0 0 0 0 0 0 27 24 21 19 Total K M 9 7 2 2 112 57 162 134 1 0 25 17 1 0 311 217 189 151 Sumber: http://www.int/csr/disease/avian_influenza/country/cases_table_2010_03_16/en/index. Akhir tahun 2005 jumlah penderita dan negara yang terinfeksi Avian Influenza terus bertambah.22%).89% (27 kasus dengan 24 kematian). Di 3 negara yang pernah terjangkit virus ini (Laos. 90 orang menjadi korban. Myanmar dan Thailand) sudah tidak menunjukkan adanya penemuan kasus. 2008 Gambar 6.15 memperlihatkan jumlah kasus dan kematian akibat Avian Influenza di wilayah ASEAN sejak tahun 2003 sampai 2009.html Ket. Namun kali ini jumlah kematian bisa ditekan.

349 di antaranya terjadi di Indonesia. hanya Myanmar yang masih ditemukan kasus polio bahkan jumlahnya meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya ditemukan 1 kasus menjadi 15 kasus. POLIO Beberapa penyakit dapat berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa. Namun. Dilaporkan terdapat 1 kasus ditemukan di Laos. Tetanus Neonatorum. Negara-negara di SEARO yang terjangkit flu burung sejak 2004 adalah negara-negara yang juga tergabung dalam ASEAN. pada tahun 2004 virus polio liar kembali menyerang penduduk di kawasan ASEAN. Negara-negara tersebut adalah Thailand dan Indonesia. Penyakit-penyakit tersebut adalah Tuberkulosis. atau biasa disebut dengan PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi). 2 penderita berasal dari Indonesia dan masing-masing 1 penderita berasal dari Kamboja dan Myanmar. Pertusis. yaitu di Thailand. Tetanus.2 JUMLAH KASUS POLIO PER NEGARA TAHUN 2004-2008 NEGARA 2004 2005 2006 2007 2008 Kamboja 0 1 1 0 0 Laos 1 0 0 0 0 Indonesia 0 349 2 0 0 Myanmar 0 0 1 15 0 Bangladesh 0 0 18 0 0 India 134 66 676 873 559 Nepal 0 4 5 5 6 ASEAN 1 350 4 15 0 SEARO 134 419 702 893 565 Sumber: WHO vaccine-preventable disease monitoring system. di antara negara-negara anggota ASEAN. Pada tahun 2005 jumlah kasus polio mencapai puncaknya.Penyakit flu burung mulai menyerang manusia di kawasan SEARO pada tahun 2004. Indonesia yang pada tahun 2005 terjadi kejadian luar biasa dengan ditemukannya 349 kasus polio mampu mengendalikan kejadian tersebut sehingga pada sejak 2007 tidak ditemukan lagi kasus polio. Hepatitis B. 162 . Difteri. Tahun 2006 penularan penyakit polio mulai dapat dikendalikan. Pada tahun 2007. 3. Campak. di antara penyakit-penyakit tersebut terdapat penyakit yang dapat dicegah dengan melakukan imunisasi. Namun. dan Polio. sehingga hanya ditemukan 4 penderita di kawasan ini. sebanyak 350 penduduk dari 2 negara di ASEAN yaitu Kamboja dan Indonesia terserang penyakit polio. TABEL 6. 2009 global summary Sejak tahun 2001 kasus polio tidak ditemukan di negara-negara di ASEAN.

India mengalami penurunan 36% dari tahun sebelumnya. Penyebabnya. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan. dikenal dengan istilah Tetanus Neonatorum. Tetanus adalah salah satu penyakit menular dan paling berisiko mengakibatkan kematian. Tingginya angka kejadian ini karena kontribusi jumlah kasus yang sangat besar oleh India yang merupakan salah satu dari 4 negara endemis polio. karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan. Namun. yaitu India dan Nepal. 4. 163 . Semenjak 2004 sampai 2006 jumlah kasus lambat laun kembali meningkat.16 JUMLAH KASUS POLIO DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2004-2008 Sumber: WHO vaccine-preventable disease monitoring system. namun 99% kasus di SEARO terjadi di India. kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. wilayah ASEAN sudah tidak ditemukan lagi kasus Polio. 2009 global summary Jika dibandingkan dengan kawasan ASEAN. GAMBAR 6. jumlah seluruh kejadian polio di kawasan SEARO cukup tinggi sejak tahun 2002 dan tahun-tahun sebelumnya. Tetanus pada bayi. karena umumnya terjadi pada bayi baru lahir atau usia di bawah satu bulan.Pada tahun 2008. Walau pada 2008 India telah berhasil menekan jumlah kasus polio. Tetanus Neonatorum Kasus tetanus banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan lingkungan rendah. spora Clostridium tetani yang masuk melalui luka tali pusat. di SEARO masih ditemukan sebanyak 565 kasus dari 2 negara. sementara Nepal mengalami kenaikan 20%.

dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia dan Filipina yang melebihi 100 orang. imunisasi polio membutuhkan 3 dosis. Imunisasi polio merupakan imunisasi untuk mencegah penyakit polio. Tetanus Neonatorum terjadi di 8 negara ASEAN. dan campak.158. vaksin lain yang wajib diberikan pada bayi adalah polio. Di antara penyakit pada anak-anak yang dapat dicegah dengan imunisasi. dan juga digunakan sebagai salah satu indikator akses ke pelayanan kesehatan. Beberapa imunisasi yang wajib diberikan pada bayi adalah imunisasi polio. Thailand merupakan negara dengan kasus terendah. C. campak adalah penyebab utama kematian anak. angka tertinggi kasus tetanus neonatorum terjadi di Kamboja. Indonesia dan Bangladesh menempati urutan kedua dan ketiga terbesar dengan masing-masing 183 dan 152 kasus. BCG.6. Korea Utara dan Maladewa dilaporkan tidak ada kasus tetanus neonatorum. Sedangkan di Bhutan. tahun 2008 pada kawasan SEARO jumlah kasus tetanus neonatorum yang terjadi di India jauh melebihi kasus di negara lain di kawasan ASEAN. imunisasi campak 164 . Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk. salah satunya adalah mempertahankan cakupan imunisasi campak sebesar 90%. Maka untuk mengukur keberhasilan upaya kesehatan yang digunakan adalah polio3 yaitu ketika bayi telah mendapatkan imunisasi polio sebanyak 3 dosis (3 kali). Di Singapura dan Brunei Darussalam dilaporkan tidak ada kasus Tetanus Neonatorum. BCG seringkali digunakan sebagai cerminan proporsi anak-anak yang dilindungi dari bentuk tuberkulosis yang parah selama 1 tahun pertama hidupnya. Di seluruh negara ASEAN dan SEARO. Jumlah kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi di negara-negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6. baik dari jumlah kasus maupun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk.Pada tahun 2008. Berdasarkan Vaccine-Preventable Disease Monitoring System 2009. Selain BCG. yaitu 811 kasus. Akan tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Tidak seperti imunisasi BCG atau campak yang membutuhkan 1 dosis. Dari 22 tujuan yang disepakati dalam pertemuan dunia tentang anak. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor penting dalam mengurangi angka kematian balita. UPAYA KESEHATAN 1. sementara Indonesia justru berada di urutan ke-5. Cakupan Imunisasi Imunisasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah kematian pada bayi dengan memberikan vaksin. India tetap menjadi negara di urutan pertama dengan angka 1.57.

Korea Utara. Bhutan. Bangladesh. Jika dibandingkan dengan imunisasi lainnya pada Gambar 6. 2010: A Statistical Reference Containing Data through 2008 Pada tahun 2008. dan Campak).diberikan pada bayi usia 9-12 bulan dan merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada bayi di antara imunisasi wajib lainnya (BCG. GAMBAR 6. Indonesia dan Sri Lanka. cakupan imunisasi BCG pada bayi umumnya lebih tinggi. Hal tersebut terjadi karena jadwal pemberian imunisasi BCG yang relatif lebih awal dibandingkan dengan imunisasi yang lain—bahkan beberapa negara memberikan imunisasi BCG sesaat setelah bayi dilahirkan—sehingga bayi masih dalam pantauan petugas kesehatan. Pada tahun 2008 cakupan imunisasi BCG tertinggi di antara negara anggota ASEAN dicapai Thailand dan Singapura 99% dan terendah Laos 68%. Hepatitis. Cakupan tertinggi dicapai oleh Brunei Darussalam dan Thailand yaitu 99% dan terendah adalah Laos yaitu 60%. DPT. Di kawasan SEARO. Negara-negara tersebut adalah Thailand. diasumsikan bayi yang mendapatkan imunisasi campak telah mendapatkan imunisasi lengkap. 6 dari 165 . Polio. Maladewa.17. Berarti besarnya cakupan imunisasi campak juga menggambarkan besarnya cakupan bayi yang telah mendapat imunisasi lengkap. 7 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi BCG 90%. Menurut sumber yang sama. Sedangkan Timor Leste merupakan negara dengan cakupan imunisasi BCG terendah yaitu 68%.17 CAKUPAN BEBERAPA IMUNISASI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber : WHO Immunization Summary. 7 dari 10 negara anggota ASEAN telah mencapai target cakupan imunisasi polio3 sebesar 90%. Dengan demikian.

Hal tersebut berarti pencapaian kedua indikator tersebut belum mencapai target walaupun untuk angka kesembuhan hampir mencapai target. Negara-negara tersebut adalah Brunei Darussalam. Cakupan 5 imunisasi dasar di ASEAN dan SEARO lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6.67%. Sedangkan negara-negara lain telah mencapai imunisasi tersebut di atas 60%. Malaysia. Enam negara ASEAN lainnya belum mencapai target penemuan penderita penyakit paru karena masih berkisar 43% . Indonesia (80%). Vietnam dan Thailand. 5 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi Campak 90%. Singapura (87%). Sedangkan yang terendah adalah Laos dengan cakupan campak sebesar 52%.7 dapat dilihat hanya India yang merupakan negara dengan persentase rendah bayi yang mendapat imunisasi hepatitis3. maka pada Lampiran 6.11 negara di kawasan SEARO telah mencapai cakupan imunisasi polio3 sebesar 90%. 77% mendapatkan imunisasi polio3. Pada tahun yang sama. Sedangkan India merupakan negara dengan cakupan imunisasi Campak terendah yaitu 70%. 166 . Thailand merupakan negara dengan cakupan imunisasi campak tertinggi yaitu 98%. bahkan beberapa di antaranya telah melebihi 90%. Negara-negara tersebut adalah Thailand. Sementara di Indonesia sebanyak 89% bayi telah mendapatkan imunisasi BCG. Bhutan. Di kawasan SEARO. Singapura. Hampir di seluruh negara ASEAN dan SEARO imunisasi hepatitis merupakan imunisasi dasar yang diberikan pada bayi. namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi di India. Cakupan imunisasi polio tertinggi adalah Thailand 99% dan terendah adalah India dengan 67%. 6 negara anggota ASEAN juga telah mencapai target imunisasi campak yaitu 90%. Sementara pencapaian secara global temuan kasus TB Paru adalah 60% dan angka kesembuhan mencapai 84%. dan 83% mendapatkan imunisasi campak.7. Korea Utara. 2. yaitu 21%. 4 negara ASEAN telah mencapai target penemuan penderita yang ditetapkan WHO yaitu 70%. Filipina. Maladewa dan Sri Lanka. dan Malaysia (76%). Empat negara tersebut adalah Brunei Darussalam (87%). Di India imunisasi hepatitis bukan merupakan imunisasi dasar. Cakupan imunisasi Campak di Indonesia 2008 sebesar 83%. Pada tahun 2008. Pengendalian TB Paru WHO telah menetapkan target untuk temuan kasus TB Paru melalui strategi DOTS 70% dan angka kesembuhan 85%.

Ada penurunan angka drastis pada tahun ini. Pada Gambar 6. yaitu 91%.19 terlihat bahwa 7 negara di kawasan SEARO telah mencapai angka penyembuhan penderita. Tertinggi dicapai Buthan dengan angka kesembuhan 93% dan terendah adalah Bangladesh dengan angka kesembuhan 62%. pada tahun 2007 terdapat 6 negara di ASEAN dengan angka kesembuhan mencapai target (85%).Dari 11 negara-negara di kawasan SEARO hanya 6 negara yang sudah mencapai target penemuan penderita Tuberkulosis.18 dan 6. Sementara itu. Malaysia. Angka kesembuhan tertinggi dicapai Kamboja dengan 94% dan terendah adalah Malaysia dengan 72%. dari Gambar 6. Penemuan penderita tuberkulosis terendah terdapat di Timor Leste dengan cakupan 33%.19 ANGKA KESEMBUHAN TB PARU DI NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Sumber: World Health Statistic 2010 Sumber: World Health Statistic 2010 Menurut sumber yang sama. Brunei.19 terlihat bahwa Indonesia telah mencapai target yang ditetapkan terhadap indikator case detection rate (angka penemuan penderita) dan 167 . dan Thailand termasuk negara yang belum mencapai target penyembuhan penderita. Bangladesh yang pada tahun 2006 memiliki angka kesembuhan tertinggi (92%) turun menjadi negara dengan angka kesembuhan terendah (62%) di tahun 2007. Negara dengan angka cakupan penemuan tertinggi adalah Maladewa dengan 86%.18 PENEMUAN PENDERITA TB PARU DI NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 GAMBAR 6. GAMBAR 6. Indonesia termasuk salah satu negara yang mencapai target untuk angka kesembuhan ini. Singapura.

succes rate (angka kesembuhan). Bahkan untuk angka kesembuhan, Indonesia mencapai
angka tertinggi ke-2 di kawasan SEARO.

3. Sumber Air Bersih dan Sanitasi
Pada tahun 2008, di antara 10 negara anggota ASEAN (Brunei Darussalam tidak ada
data), penduduk yang menggunakan sumber air bersih yang telah mencapai 80% atau lebih
sebanyak 6 negara. Hanya Kamboja, Laos dan Myanmar dengan persentase penduduk yang
memiliki akses terhadap air bersih kurang dari 80%. Persentase tertinggi dicapai Malaysia
dan Singapura yaitu 100% dan terendah Laos dengan 57%.
Pada tahun yang sama, di antara negara-negara di kawasan SEARO hampir seluruh
negara dengan penduduk yang menggunakan sumber air bersih 80% atau lebih, kecuali
Timor Leste dengan persentase sebesar 69%. Negara dengan persentase tertinggi adalah
Korea Utara yaitu 100%.
GAMBAR 6. 20
PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SUMBER AIR BERSIH DAN
SARANA SANITASI SEHAT DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008

Sumber: World Health Statistics 2010

Berdasarkan Gambar 6.20 di atas terlihat bahwa di antara negara-negara di ASEAN
dan SEARO terdapat perbedaan persentase yang besar antar negara dengan penduduk yang
menggunakan sarana sanitasi sehat tertinggi dan yang terendah dengan kisaran 29% dan
100%. Negara dengan cakupan 29% adalah Kamboja dan negara dengan cakupan 100%
adalah Singapura. Dibandingkan persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih,
168

maka persentase penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat relatif rendah, masih
terdapat 10 negara di kawasan ini dengan penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat
di bawah 80%. Persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih dan sarana
sanitasi sehat di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.3.

4. Pelayanan Kesehatan Ibu
Dari 10 anggota ASEAN (Brunei, Laos, Malaysia dan Singapura tidak ada data),
Indonesia merupakan negara dengan persentase pemeriksaan ibu hamil (K4) tertinggi yaitu
sebesar 81%. Sedangkan yang terendah tercatat di Kamboja yaitu sebesar 27%. Untuk
kawasan SEARO cakupan pemeriksaaan ibu hamil (K4) tertinggi dicapai oleh Korea Utara
yaitu sebesar 95%, diikuti oleh Maladewa (91%), dan yang terendah adalah Bangladesh
sebesar 21 %.
Cakupan pertolongan persalinan di negara-negara ASEAN bervariasi dengan cakupan
tertinggi di Negara Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia masing-masing sebesar
100% dan yang terendah di Laos dengan cakupan 20%. Indonesia dengan cakupan salinakes
73% berada pada peringkat ke-6 dari 10 negara. Untuk kawasan SEARO cakupan salinakes
tertinggi dicapai oleh Thailand dan Sri Lanka yaitu sebesar 99% dan yang terendah di
Bangladesh sebesar 18%.
Persentase peserta KB aktif pada wanita subur tahun 2009 di negara-negara anggota
ASEAN (Brunei Darussalam dan Malaysia tidak ada data) yang tertinggi dicapai oleh
Thailand dengan cakupan sebesar 70%, dan yang terendah di Kamboja sebesar 27%.
Indonesia dengan cakupan peserta KB aktif sebesar 57% berada pada peringkat ke-3 dari 10
negara ASEAN. Untuk negara-negara anggota SEARO cakupan peserta KB aktif tertinggi
dicapai oleh Thailand sebesar 70% dan yang terendah di Bangladesh sebesar 18%.

***

169

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2006. Estimasi Parameter Demografi SUPAS 2005. BPS, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2005. BPS, Jakarta.
___________. 2007. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2006. BPS, Jakarta.
___________. 2008. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2007. BPS, Jakarta.
___________. 2009. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2008. BPS, Jakarta.
___________. 2005. Beberapa Indikator Penting Sosial-Ekonomi Indonesia 2005. BPS,
Jakarta.
___________. 2007. Beberapa Indikator Penting mengenai Indonesia. BPS, Jakarta.
___________. 2010. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.
BPS, Jakarta.
___________. 2010. Analisis Dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan 2010. BPS, Jakarta.
___________. 2004. Statistik Indonesia 2003. BPS, Jakarta.
___________. 2005. Statistik Indonesia 2004. BPS, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Indonesia 2005/2006. BPS, Jakarta.
___________. 2007. Statistik Indonesia 2007. BPS, Jakarta.
___________. 2004. Statistik Kesehatan 2004. BPS, Jakarta.
___________. 2008.. Pedoman Millenium Development Goals. BPS, Jakarta.
___________. 2008.. Press Release BPS 2008: Jumlah Kemiskinan. www.bps.go.id, Jakarta.
___________. 2010.. Berita Resmi Statistik, BPS, No. 45/07/Th. XIII, 1 Juli 2010.
___________. 2010.. Data Strategis BPS, BPS, Jakarta.
___________. 2010.. Hasil Sensus Penduduk 2010, Data Agregat Per Provinsi, BPS, Jakarta.
170

Badan Pusat Statistik (BPS) dan Macro International, 1998. Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 1997. Calverton, Maryland, USA.
___________. 2003. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003.
Calverton, Maryland, USA.
___________. 2008. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. Macro.
Calverton, Maryland, USA.
Badan Pusat Statistik, BAPPENAS, UNFPA. 2005. Proyeksi Penduduk Indonesia (Indonesia
Population Projection 2000 - 2025). BPS, Jakarta.
Kementerian Dalam Negeri. 2010. Kode Dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
2010. Depdagri, Jakarta.
www.depdagri.goid
Kementerian Kesehatan. 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
___________. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar, RISKESDAS Indonesia Tahun
2007. Depkes, Jakarta.
___________. 2008. Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
2008. Depkes, Jakarta.
___________. 2008. Profil Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan 2007.
Depkes, Jakarta.
___________.2008. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) KIA, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
___________. 2006. Profil Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumberdaya Manusia
Kesehatan 2005. Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 1: Kegiatan Pelayanan.
Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 2: Ketenagaan. Depkes, Jakarta.
___________. 2006.Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 3:Morbiditas/Mortalitas.
Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Profil Pendidikan Tenaga Kesehatan Tahun 2006. Pusdiknakes, Depkes
RI, Jakarta.

171

___________. 2005. Publikasi Hasil Analisis Data Survei Kesehatan Nasional 2004. Badan
Litbangkes, Depkes RI, Jakarta.
___________.2005. Pencegahan dan Pemberantasan DBD di Indonesia, Dirjen PPPL
Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
___________.2000. Indonesia Sehat 2010, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
___________.1996. Publikasi Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995. Badan
Litbangkes, Jakarta.
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2010. Strategi Nasional
Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal 2004-2009. Jakarta.
USAID, 2008. The World Population Data Sheet. Population Reference Bureau.
The United Nations Development Programme. 2008. Human Development Report
2007/2008. UNDP, New York.
UNAIDS. 2008. 2008 Report on The Global AIDS Epidemic. UNAIDS/WHO.
UNICEF. 2008. The State of the World’s Children 2008. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2009. The State of the World’s Children 2009. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2008. Incidence Series Immunization 2007. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2008. Immunization Summary: The 2007 Edition. UNICEF/WHO, New York.
WHO. 2008. World Health Statistics 2007. WHO Press, Geneva.
___________. World Health Statistics 2008. WHO Press, Geneva.
___________. 2008. WHO Vaccine – Preventable Diseases, Monitoring System. WHO, New
York.

***

172

Lampiran 2.1

PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kepulauan Bangka Belitung
Kepulauan Riau
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Maluku
Maluku Utara
Papua Barat
Papua

Indonesia
Sumber: Kementerian Dalam Negeri, 2010

Kabupaten

Kota

Pembagian Wilayah
Kabupaten + Kota

Kecamatan

Kelurahan + Desa

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

18
25
12
10
9
11
9
12
6
5
1
17
29
4
29
4
8
8
20
12
13
11
10
11
10
21
10
5
5
9
7
10
28

5
8
7
2
2
4
1
2
1
2
5
9
6
1
9
4
1
2
1
2
1
2
4
4
1
3
2
1
0
2
2
1
1

23
33
19
12
11
15
10
14
7
7
6
26
35
5
38
8
9
10
21
14
14
13
14
15
11
24
12
6
5
11
9
11
29

275
408
169
153
128
217
116
206
43
59
44
625
573
78
662
154
57
116
286
175
120
151
136
150
147
301
199
65
66
76
109
149
330

399

98

497

6,543

6,420
5,649
964
1,500
1,319
2,869
1,442
2,358
361
331
267
5,827
8,577
438
8,502
1,530
698
913
2,775
1,777
1,439
1,973
1,404
1,510
1,712
2,874
1,825
595
564
898
1,041
1,291
3,583

75,226

042 1.499 1.721 5.817 505.855 4.202.534 2.024 2.921.644.543.243.268 1.108.149.292 837.633.740 1.038.559 1.170 2.145.285 119.030 3.272 21.926 21.265.618 7.531.488.783 4.746.789.998 5.363 100 100 98 106 105 104 105 106 108 105 103 103 99 98 97 105 102 94 99 104 109 102 111 104 105 95 101 101 101 102 105 112 113 101 .428 4.265 821.985.657.713.109 875.578 6.401 1.316.290 5.479.791.570 12.987.845.728.526 2.323.393.730 3.446.782 2.599 3.157.876.088.999 237.441.035.855 2.054.365 4.885 581.203.338 3.688.110.585 529.Lampiran 2.783 1.452.031 3.048.586 2.119 3.543 1.115 1.158.299.486.225 3.569 1.663 3.572 16.826 32.645 402.928 1.316 4.687 3.851.404 18.510.052 757.721 1.986 18.679.402 1.705.578.239 2.284 773.587 1.930.008 1.198 43.120.690.230.550.420 8.478 760.507.476.032.580 2.390 37.714 118.783 864.868.393 7.687 2.440.021.961.588.196 1.700 577.547 1.378 1.180.333 4.390 1.496.698 9. BPS 2.336 1.380.254 16.284.989 1.2 HASIL SENSUS PENDUDUK 2010 DAN RASIO JENIS KELAMIN MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 No Provinsi Laki-Laki Perempuan Laki-Laki dan Perempuan Rasio Jenis Kelamin (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Sensus Penduduk 2010.905.404.551 2.168 2.366 634.626.223.195 4.596.937 2.878 1.355.075 4.891.243.051 2.191 1.048 1.081.685.506.247 1.749 588.556.585 1.854.510.349.472 2.140 1.344 517.011 10.833 358.111.258 2.225 520.682.859.280 3.242.834.992 6.341.147.

800.412 3.097.70 1.058.939.020 4.035 819.551.047.228.547.202 1.072.661 4.18 46.002 1.659 2.64 61.539 4.584 530.794.50 38.go.307.956.864.23 204.742.926.350 1.816 3.510 497.57 1.89 87.511.03 31.00 72.192.80 1.572.319.527 2.313.369 6.50 97.554 1.69 1.075 20.257.248.17 1.69 3.46 1.520.496 493.012 614 239 95 29 14 90 15 161 40 169 56 87 62 29 30 8 7 1.834.46 1.Lampiran 2.353 2.094.88 1.919.377.799.908.980 4.914.444.199 1.id (b) Badan Pusat Statistik: Estimasi Penduduk Sasaran Program Kesehatan.036.780.045.298 983.688 16.819.551.012 4.01 35.306.753.983 1.286.725 661.372 517.910.934 20.309 2.438 737.363.3 LUAS WILAYAH.27 1. 2009.165 7.05 2.666. Depkes RI.931.987 18.753 3.788 486.137.916 7.501.594.15 47.989 1.945 115.298.814.29 0.138.067.743 1.491.093.843.83 1.181.434.201.782.572.716 2.223.502 974.485 537.2011".082 2.66 50.654.759.654.01 3.647 231. dari "Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2007 .79 2.930 2.43 3.006 481.510.266 4.64 4.135.142 2.48 38.877 16.588 998.120.223 2.12 1.534.133 1.717.34 13.994 743.886 18.282 4.55 2.085.650.827.118 780 1.982.76 32.602 847.262.572 4.463 600.177 1.619.863 2.018 678.33 34.087.27 319.087.010.32 48.718.023.799 2.415 389.056 1.246 9.45 1.741.391 4.672.565 32.570 3.92 5.617 1.10 1.424.725 1.501.20 2.380.447.637 1.339.592 100 121 1.13 0.149 1.515.956 1.607 1.981.70 11.81 1.496.758.491.890 1.759 4. .623.316.564.171.695 777.298 9.32 115.781 3.06 8.009 41.200 2.841.80 16.792.31 1.851.948 1.164.787.531 1.00 153.817.662.479 13.222.132 3.661 1.024.133.267 7.012.695 3.23 42.86 1.592.78 2.482 99 99 97 111 104 102 103 104 112 95 96 102 99 101 98 102 102 92 99 102 109 101 110 104 104 93 97 102 102 103 102 110 108 75 182 115 61 57 79 84 216 69 185 13.43 2.173 1.579 353.72 664.29 46.755 2.389.873 37.574.090 2.52 1.35 Sumber: (a) http://www.06 18.702.480.10 147.75 9.532 2.16 91.43 19.978 5. JUMLAH PENDUDUK DAN KEPADATAN PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Luas Wilayah (Km²) (a) (3) Jumlah Penduduk (Jiwa) [b] Laki-laki (4) Perempuan (5) Total (6) Sex Ratio Kepadatan Penduduk Per Km² Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2008-2009 (7) (8) (9) 57.744.60 1.868 1.945 2.depdagri.118.110 6.369.13 2.925 1.924 1.34 1.11 1.268 1.217.857 2.246 3.21 1.68 0.320.670 3.07 16.794.646 1.

49 1.78 2.11 1.57 1.55 1.88 2.Lampiran 2.57 1.91 1.66 1.32 0.60 2. 2000.86 1. 1980.49 1.17 2.57 1.35 1.15 1.65 3.32 4.63 4.93 2.45 2.98 1.17 0.14 4.82 1.39 2.11 4.31 1.24 2.70 3.72 2.97 1.4 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 1971 .79 3.72 0.23 3.73 2.48 3.26 1.18 0.88 2.31 3.67 2.85 1.64 1.22 1.08 0.59 0.74 1.17 2.06 1.64 2.02 0.30 3.99 1.33 2.15 1.80 1.16 5.39 5.66 2.93 2.21 1.37 1.97 0.15 4.98 3.29 2.44 3.59 2.15 1.03 0.84 2.94 0. 1990.35 1.18 2.72 5.42 2.43 2.66 1.49 3.46 1.40 3.62 4.09 2.79 2.31 2.08 1.99 1.69 2.07 3.21 3.07 2.94 1.38 2.79 2.60 2.67 2.74 3.17 2.34 3.42 3.06 0.49 Sumber : Sensus Penduduk 1971.89 0.31 3.81 1.77 3.32 4.46 1.67 2.39 1.76 2.10 1.95 2.2010 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1971-1980 Laju Pertumbuhan Penduduk 1980-1990 1990-2000 2000-2010 (3) (4) (5) (6) 2. Sensus Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995 dan Sensus Penduduk 2010 .46 1.42 1.87 1.36 1.

ANGKA BEBAN TANGGUNGAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Laki-laki No Provinsi Perempuan Kelompok Umur (Tahun) Laki-laki + Perempuan Kelompok Umur (Tahun) Kelompok Umur Jumlah (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 4 0-14 15-64 65+ (3) (4) (5) (6) Angka Beban Jumlah 0-14 15-64 65+ (7) (8) (9) (10) Jumlah 0-14 15-64 65+ (11) (12) (13) Tanggungan (14) (15) 678.682 497.900 17.902 968.601 1.748.719.802 60.301 683.781 50.203 1.281 1.699 350.471.904 22.504 101.503 16.504 102.083.431.434.723 2.585 1.657.539 467.967.360 737.660.800 3.592 47.503 287.260.041 2.622 517.600 815.302 5.203 2.23 Sumber: Badan Pusat Statistik: Estimasi Penduduk Sasaran Program Kesehatan.496.017 2.264.157 2.901 661.309 4.431 1.304.103 59.701 2.939.205 94.799 113.397.703 159.508.666.260.094.799 734.510 352.000 81.509 9.601 2.984.801 2.16 22 Kalimantan Selatan 489.454.415 156.900 412.020 54.503 50.807 35.485 2.816 48.001 28.320.374.339.414 1.299 848.616 2.171.Lampiran 2.607 789.500 140.028.551.202 262.814.298 49.152.800 1.301 25.489.801 70.012.898 81.344.819.507.223.740 1.515.725 2.802 2.372 283.599 42.688 5.00 30 Maluku 220.901 127.657 4.329.363.817.092 389.989 112.200 801.503 181.062.800 1.499 551.601 14.601 234.401 679.303 214.932 777.350 2.802 1.301 1.795 678.611 1.102 1.987 634.400 1.189 2.901 3.863 42.399 1.401 267.357 1.594.90 7 Bengkulu 250.87 16 Banten 1.400 432.67 17 Bali 423.5 JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN.359 743.838.565 47.491.786.605 6.267 353.048.907 17.498 1.120.402 75.501.741.908.097.755 711.568.563 2. .716 1.547.277 481.124 2.199 75.689.087.286.370 819.229.579 318.127.132 45.020.045.414.203 115.500 4.39 33 Papua Indonesia 331.925 1.901 322.873 37.695 359.562.554 657.300 779.078 9.110.028.001 233.33 31.998 36.08 8 Lampung 1.930 1.21 6 Sumatera Selatan 1.670 489.142 52.383 3.35 2.727 157.834.798 131.551.499 162.926.702.69 25 Sulawesi Tengah 370.100 2.251 1.964 11.402 184.085.03 10 Kepulauan Riau 233.886 308.133 46.270 3.282 648.806 661.672.292 1.468 3.402 47.31 24 Sulawesi Utara 275.53 28 Gorontalo 146.463 1.300 126.602 1.223 1.950 1.118 1.101 2.646 8.647 62.012 42.782.759 233.501 3.584 137.26 12 Jawa Barat 5.201 23.200 1.810.874 4.445 1.510.108 78.634 7.980 3.802 6.009 37.318.164.798 1.169.072.701 8.901 78.219.61 11 DKI Jakarta 1.057.502 56.825 6.139 5.014.566 1.901 1.934 2.351 2.500 3.424 4.705 112.659 826.444 7.22 19 Nusa Tenggara Timur 772.319 7.988 2.301 3.479 53.228.504 521.003 317.742.245.407 2.501 2.507.588 1.654.251.000 5.983 958.698 69.177 1.438 148.141 4.900 566.061 3.725 298.937 600.301 13.158.410.100 35.467 18.412 837.600 14.948 49.47 27 Sulawesi Tenggara 352.582.499 970.022 16.677.319.703 86.899 1.499 669.897.800 3.924 4.100 1.431 1.300 6.703 265.602 4.102 26.222.104 44.701 148.192.2011".401.695 311.085.266 7.799 45.201 4.63 18 Nusa Tenggara Barat 693.883 1.369.845.480.475 4.496.751 983.200 1.047.570 47.301 108.503 760.061.600 422.400 237.018 141.106.369 655.199 501.637 50.000 854.299 1.802 625.200 930.869 2.702 42.306.546 37.939.165 49.087.794.758.380.875.069 486.182 2.902 76.197.101 1.018.138.002 1.591.459.997 3.255.402 11.100 224.507 2.192.299 11.163.576.901 48.663.035 2.200 316.199 1.635 4.654 4.80 32 Papua Barat 118.994 55.520.299 333.801 30.391 974.223.205.843.399 2.101 2.563.531 904.945 30.415.202 58.501 1.601 24.532 51.401 2.572.082 2.118.298 14.868 231.801 160.246 39.65 15 Jawa Timur 4.260.001 1.400 13.857 48.498 738.759.200 1.527 50.111.572.056 1.71 Sumatera Barat 740.788 704.405.135.494 537.389.650.69 31 Maluku Utara 162.302 27.004 323.268 442.000 1.906 392.792.703 1.304 38.901 53.201 4.353 403002 1.115.527.200 69.292 1.499 486.148.836.799 308.010.600 27.385.149.23 9 Kepulauan Bangka Belitung 162.801 28.877 11.55 13 Jawa Tengah 4.001 31.661 59.451.075 1.357 1.711 4.619.434.520.61 23 Kalimantan Timur 462.491.801 348.997 1.619 78.114 493.753.501.006 431.654.373.298 39.298.766 41.500 698.400 2.608 3.504 319.806 168.186 13. KELOMPOK UMUR TERTENTU.041 16.602 1.665 2.098 7.501 141.799 264.221.292.945 735.598 62.500 20.003 129.496 210.978 55.118 530.425.336.149 468.276 4.137.105 136.599 48.34 14 DI Yogyakarta 325.093.700 32.313.199 1.603 2.952 2.956 48.333.864.200 3.916 49.21 Riau 888.900 1.661 537.044 847.373 1.168.801 29. 2009.400 1.527 3.411.262.16 21 Kalimantan Tengah 318.110 1.846.701 21.082 1.407.389.899.797.602 327.598 2.969.203 60.199 660.326 2.743 50.298 57.601 151.090.08 26 Sulawesi Selatan 1.603 17.588 20.246 238.572 729.617 299.199 617.201 2.45 20 Kalimantan Barat 672.273.794.106 173.178.000 165.899 998.248.308.999 1.544. dari "Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2007 .998 153.316.118.500 2.833 5.698 115.527.447.801 13.122.267 49.400 366.901 231.217.444.79 29 Sulawesi Barat 156.489 1.200 311. Kemenkes RI.801 1.75 5 Jambi 426.391 54.049 4.801 22.063 32.601 1.451.876.079 18.502 11.901 156.302 30.613 1.500 97.203.178 20.563.492.090 692.753 410.138.511.581 6.827.699 1.433.482 48.574.181.347.201 1.500 1.700 525.803 2.434 3.

00 28 Gorontalo 5 4 80.00 13 2 15.67 9 6 66.00 8 6 75.00 6 0 0.71 14 5 35.78 11 7 63.69 26 2 7.00 28 6 21.29 10 Kepulauan Riau 6 1 16.00 15 6 40.64 11 7 63.57 35 3 8.00 10 6 60.16 16 Banten 6 2 33.00 5 2 40.86 7 3 42.00 11 9 81.89 9 8 88.00 8 2 25.86 7 3 42.05 38 8 21.00 19 Nusa Tenggara Timur 16 15 93.67 6 4 66.78 10 7 70.78 32 Papua Barat 9 7 77.78 9 6 66.48 29 19 65.00 5 5 100.00 25 Sulawesi Tengah 10 9 90.00 6 0 0.67 10 6 60.00 10 7 70.43 14 3 21.00 14 7 50.57 35 3 8.43 14 10 71.00 10 2 20.00 26 2 7.05 38 5 13.00 11 7 63.67 6 4 66.17 24 13 54.00 5 5 100.86 15 6 40.00 5 5 100.67 27 Sulawesi Tenggara 10 8 80.37 19 9 47.57 35 3 8.29 7 1 14.00 12 Jawa Barat 25 2 8.67 7 Bengkulu 9 8 88.00 6 0 0.86 7 1 14.29 7 2 28.43 14 3 21.67 7 1 14.82 11 10 90.38 13 2 15.57 11 DKI Jakarta 6 0 0.43 21 Kalimantan Tengah 14 7 50.00 17 Bali 9 1 11.37 19 9 47.00 5 Jambi 10 2 20.43 21 20 95.24 20 Kalimantan Barat 12 9 75.00 8 Lampung 10 5 50.78 9 7 77.18 3 Sumatera Barat 19 9 47.37 19 9 47.71 14 4 28.00 5 2 40.52 24 13 54.00 15 Jawa Timur 38 8 21.00 5 5 100.80 495 199 40.43 24 Sulawesi Utara 9 2 22.67 6 3 50.11 9 1 11.57 8 2 25.67 6 1 16.00 6 Sumatera Selatan 14 6 42.57 23 16 69.00 8 2 25.17 2 Sumatera Utara 25 6 24.14 22 Kalimantan Selatan 13 0 0.89 10 8 80.00 9 6 66.00 11 2 18.52 29 27 93.57 23 16 69.19 23 16 69.20 497 199 40.00 21 19 90.18 11 2 18.75 20 15 75.43 21 15 71.2010 2006 No Provinsi (1) (2) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal 2007 2008 (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (8) 2009 2010 (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (11) (12) (13) (%) (14) Jumlah Kabupaten Kab/Kota Tertinggal (15) (16) (%) (3) (4) (5) (6) (7) (9) (10) 1 Aceh 21 16 76.67 9 7 77.73 31 Maluku Utara 8 6 75.50 9 7 77.43 33 6 18.00 29 Sulawesi Barat 5 5 100.57 23 12 (17) 52.69 13 Jawa Tengah 35 3 8.00 14 1 7.11 9 1 11.00 15 7 46.18 12 2 16.05 38 8 21.69 26 2 7.38 23 Kalimantan Timur 13 5 38.73 33 Papua Indonesia 20 19 95.43 14 3 21.00 21 15 71.18 11 2 18.11 9 1 11.37 19 8 42.29 14 10 71.82 Sumber: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.43 14 9 64.91 26 Sulawesi Selatan 23 13 56.00 5 2 40.00 14 10 71.33 15 3 20.00 6 4 66.67 12 8 66.67 12 0 0.00 11 5 45.18 11 2 18.52 23 13 56.00 10 9 90.86 7 3 42.52 29 19 65.18 33 6 18.23 465 199 42.6 JUMLAH DAN PERSENTASE DAERAH TERTINGGAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .Lampiran 2.33 7 2 28.11 9 0 0.38 13 2 15.04 497 183 36.00 12 8 66.69 26 2 7.45 14 5 35.67 12 9 75. 2010 .00 30 Maluku 8 7 87.00 10 8 80.22 13 2 15.00 14 7 50.10 440 199 45.64 11 8 72.82 11 9 81.05 38 8 21.00 18 Nusa Tenggara Barat 9 7 77.18 11 0 0.38 13 2 15.00 15 6 40.11 4 Riau 11 2 18.18 33 6 18.00 14 7 50.33 15 2 13.38 15 2 13.46 14 3 21.00 10 8 80.00 6 0 0.00 5 0 0.00 14 DI Yogyakarta 5 2 40.57 35 0 0.67 12 8 66.17 24 4 16.64 11 8 72.57 9 Kepulauan Bangka Belitung 7 3 42.

850 156.478 156.317 16 Banten 212. 45/07/Th.Lampiran 2. 1 Juli 2010 .525 201.734 188.238 198.612 22 Kalimantan Selatan 216.500 32 Papua Barat 304.466 18 Nusa Tenggara Barat 213.241 153.185 23 Kalimantan Timur 283.025 19 Nusa Tenggara Timur 218.872 142.210 256.653 26 Sulawesi Selatan 177.815 174.168 175.732 190.354 277.515 14 DI Yogyakarta 228.109 212.084 8 Lampung 224.469 4 Riau 265.965 316.771 31 Maluku Utara 226.712 189.730 269.750 17 Bali 211.317 199.416 33 Papua 285.838 201.772 25 Sulawesi Tengah 217.978 15 Jawa Timur 202.381 7 Bengkulu 242.835 246.059 195.351 210.623 6 Sumatera Selatan 247.538 181.224 30 Maluku 230.529 182.262 Indonesia Sumber: Berita Resmi Statistik No.901 156.7 GARIS KEMISKINAN MENURUT PROVINSI DAN DAERAH (MARET 2009) No Provinsi (1) (2) Garis Kemiskinan (Rupiah/Kapita/Bulan) Perkotaan Perdesaan (3) (4) Perkotaan + Perdesaan (5) 1 Aceh 292.516 178.225 200.271 184.707 226.251 178.742 11 DKI Jakarta 316.866 163.812 9 Kepulauan Bangka Belitung 272.715 27 Sulawesi Tenggara 175.796 142.936 - 283.070 157.898 2 Sumatera Utara 234.596 207.583 28 Gorontalo 173.236 182.554 161.873 162.661 190.003 196.913 199.751 175.546 261.158 234.985 13 Jawa Tengah 196.241 189.809 261.624 174.526 185.936 12 Jawa Barat 203.506 24 Sulawesi Utara 193.189 29 Sulawesi Barat 175.191 20 Kalimantan Barat 194.617 21 Kalimantan Tengah 209.XIII.727 222.193 191.306 210.945 246.787 261.628 188.481 5 Jambi 244.461 176.310 178.428 249.157 202.735 192.123 179.257 217.843 10 Kepulauan Riau 308.706 211.312 182.881 166.378 266.478 169.472 224.107 199.450 164.241 3 Sumatera Barat 248.

110.7 1.54 28.0 8.7 9.80 18.9 237.70 6.20 7.26 8.2 36.35 10.5 86.9 209.61 8.8 1.7 20.6 585.96 5.38 7.10 9.7 8.87 10.33 10.78 7.06 15.0 341.0 17.17 3.6 735.2 206.9 19.70 13.31 15.93 18.0 346.6 114.0 903.097.7 10.40 10.50 7.5 21.89 23.72 18.2 500.16 16.7 22.0 577.9 734.3 408.023.8 19.07 21.9 47.530.41 6.63 9.0 20 Kalimantan Barat 127.6 50.8 137.5 208.4 9.00 3.50 14.7 181.02 9.2 164.7 17.60 10.70 23.20 19.7 105.3 124.76 4.4 32 Papua Barat 9.80 7.7 38.9 2.7 8.00 43.1 1558.7 788.5 10 Kepulauan Riau 69.5 35.20 9.16 46.2 816.4 98.5 286.10 27.0 54.6 6.4 7.6 9.7 221.50 5.7 246.3 4.1 5.73 9.22 16.5 979.7 688.0 128.73 14.167.85 21.619.0 408.3 176.94 14.58 7.25 34.80 23.52 20.6 28.310.9 76.7 5.9 4.2 566.00 16.8 35.1 378.350.5 67.21 5.5 324.7 246.452.369.5 7 Bengkulu 131.92 7.7 1.910.0 6.6 391.8 224.7 158.3 117.7 20.59 5.9 1.18 4.2 7.10 5.0 2.90 8.4 710.10 5.51 12.5 4 Riau 245.19 5.768.9 697.9 62.1 28 Gorontalo 27.2 248.420.8 JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT PROVINSI DAN DAERAH 2008 .4 45.7 35.7 31 Maluku Utara 9.30 8.7 109.77 9.84 10.7 13.3 3.19 13.76 4.1 732.18 6.Lampiran 2.725.9 430.1 434.20 8.75 6.2 340.50 10.9 19.7 8.7 132.7 24 Sulawesi Utara 72.50 4.3 6 Sumatera Selatan 514.18 4.75 19.0 6.08 8.5 68.23 4.9 839.21 18.10 13.76 19.5 89.17 21.3 323.499.8 323.2 3.4 260.60 4.591.3 1.30 11.4 11.0 21 Kalimantan Tengah 45.6 24.3 9.0 301.6 150.24 4.25 14.080.0 5.1 25 Sulawesi Tengah 60.0 2.3 380.6 12.37 10.60 17.2 2.3 20.013.2 524.89 10.1 122.5 861.8 1.2 308.1 11.09 23.8 215.1 37.3 3.7 107.1 83.1 8.5 313.18 5.3 18.6 3.67 10.79 10.7 1.00 7.3 311.8 173.99 18.5 520.90 16.5 182.6 12.90 17.39 13.8 54.0 22.16 7.48 23.78 4.28 18.2 62.36 14.3 3 Sumatera Barat 127.9 194.4 32.71 25.20 20.9 913.3 474.0 174.0 33.1 89.5 811.3 801.29 44.8 9.53 10.30 16.655.7 763.20 5.7 115.6 16.1 206.37 14.2 10.1 140.3 - - 379.651.1 65.479.59 8.0 349.3 345.1 79.50 9.8 130.529.63 27.0 439.73 9.2 301.20 5.0 701.2 23.8 493.0 292.80 22.0 130.6 25.00 14.8 207.43 11.70 7.66 6.10 15.XIII.6 1.44 46.62 36.3 18.3 15.4 758.1 324.43 32.06 4.9 239.5 77.2 342.7 5.3 8.1 434.304.7 470.9 249.8 11.98 7.8 2.36 21.0 733.10 24.24 34.0 181.40 5.75 9.05 30.89 11.9 176.098.0 223.194.74 16.3 192.72 15.2 15.85 15.5 130.014.3 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 371.04 11.03 16.1 1.7 79.62 28.3 165.41 14.5 10.5 12 Jawa Barat 2.1 1.40 29.5 256.5 463.0 268.8 21.7 5.1 321.0 218.3 471.5 116.6 439.3 25.51 12.705.06 4.9 34.189.2 456.60 12.19 6.30 14.53 9.6 - - 323.2 8.1 880.226.8 557.5 26.1 219.2 129.32 10.2 17 Bali 115.97 21.022.28 33.0 1.1 16.3 8 Lampung 365.76 13.20 19.2 4.90 11.9 1.34 13.9 1.7 243.29 5.423.9 22.60 13.6 31.7 6.43 6.556.74 5.90 12.5 106.5 508.19 7.77 20.531.29 12.925.16 13.6 688. 45/07/Th.3 274.6 318.8 435.99 8.18 3.0 2 Sumatera Utara 761.08 7.90 11.6 906.633.3 616.1 428.50 11.6 65.3 83.7 256.340.2010) Maret Tahun 2008 No Provinsi (1) (2) Perkotaan Jumlah (ribu) (3) % Jumlah (ribu) (5) (4) Maret Tahun 2010 Maret Tahun 2009 Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (7) (6) Perkotaan % Jumlah (ribu) (9) (8) Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (11) (10) % Jumlah (ribu) (13) (12) Perkotaan % Jumlah (ribu) (15) (14) Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (17) (16) % Jumlah (ribu) (19) (18) % (20) 1 Aceh 195.8 76.1 7.4 13.7 1.00 11.2 92.4 892.2 11. 1 Juli 2010 .5 141.8 67.617.6 225.9 5.10 15.18 3.10 12.490.3 18.8 1.44 12.983.8 12.9 6.8 130.031.44 17.67 8.0 91.6 136.7 5 Jambi 120.7 23.0 381.8 12.8 110.6 17.82 11.60 19.77 11.84 6.22 18.178.22 6.9 18 Nusa Tenggara Barat 560.72 3.1 26 Sulawesi Selatan 150.3 96.9 7.3 9.9 22.94 22.94 15.6 117.70 11.31 16.62 4.8 107.0 162.874.79 6.31 22.47 14.4 37.3 140.35 10.74 25.6 4.8 552.93 18.8 17.2 445.60 7.72 11.1 11 DKI Jakarta 379.25 8.6 19 Nusa Tenggara Timur 119.9 352.70 18.7 83.20 14.2 348.3 2.00 22.4 2.78 5.009.30 15.64 11.258.0 429.10 22.22 9.0 220.61 15.1 435.7 2.3 Sumber: Berita Resmi Statistik No.0 10.773.70 12.7 11.8 760.53 18.0 171.322.7 43.62 16.873.60 8.2 110.6 117.93 4.72 16.6 23.15 23.70 35.7 794.48 10.4 1.1 28.6 324.70 17.9 202.9 852.3 29.41 18.9 9 Kepulauan Bangka Belitung 36.2 29 Sulawesi Barat 48.8 154.8 963.08 9.5 9.613.55 5.85 4.10 31.38 13.4 3.9 400.80 18.3 959.2 291.3 33.208.8 420.3 107.4 489.85 8.7 100.00 6.6 27 Sulawesi Tenggara 27.60 23.55 10.10 9.3 67.50 46.0 14.9 16.051.6 30 Maluku 44.4 1.9 33 Papua Indonesia 31.7 654.3 119.3 91.9 378.9 527.125.27 13.3 349.64 2.963.6 21.148.5 689.6 19.3 1.31 6.80 16.9 477.2 200.30 5.249.3 2.90 26.6 312.0 28.0 163.66 43.20 15.4 9.5 2.89 11.34 10.68 24.31 11.80 6.0 761.6 7.7 241.0 20.17 3.3 1.5 - - 312.1 93.50 16.5 26.8 22 Kalimantan Selatan 23 Kalimantan Timur 81.

36 99.41 93.55 96.59 97.73 92.63 97.39 97.88 90.10 95.28 98.28 95.69 95.31 95.97 96.15 72.64 82.66 88.80 74.41 96.78 93.27 97.18 87.22 80.21 94.64 92.68 97.42 95.79 95.71 87.02 91.23 94.34 89.26 97.37 95.63 95.49 98.18 97.95 87.13 98.82 99.71 98.15 95.97 95.24 94.05 94.25 85.85 85.96 93.57 99.41 97.51 95.80 95.26 85.89 98.70 94.13 64.27 95.59 97.Lampiran 2.19 92.04 90.69 95.19 99.46 95. BPS.31 97.96 84.89 99.99 95.46 90.47 92.96 97.37 97.87 98.31 97.65 Laki + Perempuan (8) 94.58 .41 96.54 97.11 95.19 88.43 97.45 96.65 98.68 83.21 86.74 95.09 94.97 95.90 93.50 92.61 93.50 84.95 98.04 92.15 87.62 95.38 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.82 94.29 89.18 87.51 87.36 96.24 90.02 94.44 92.98 89.68 86.54 92.09 98.94 97.17 66.95 98.39 95.9 ANGKA MELEK HURUF PENDUDUK BERUSIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2008 2009 Laki-laki Perempuan Laki + Perempuan Laki-laki Perempuan (3) (4) (5) (6) (7) 97.46 97.30 97.35 91.29 92.15 96.89 89.94 79.70 97.55 96.66 97.52 95.47 85.74 92.02 95.38 98.25 95.19 97.94 70.53 89.08 96.56 97.29 94.63 93.07 90.81 98.32 98.41 96.61 89.77 98.61 98.50 97.56 85.22 95.34 95.51 97.32 97.53 83.88 81.99 99.26 92.46 92.45 95.96 89.04 96.00 97.29 93.68 96.17 84.52 97.24 89.25 92.77 84.97 77.86 90.20 73.92 87.66 90.57 75.98 96.28 95.78 87.76 94.28 93.89 95.53 91.35 96.31 95.36 97.70 93.81 98.85 87.45 87.24 98.14 81.90 94.80 87.34 94.37 84.68 99. 2010 94.50 97.76 95.08 98.18 90.35 97.89 84.16 93.60 93.94 95.43 93.24 94.74 92.51 99.

1 10.7 5.7 8.1 7.6 7.5 7.0 8.0 6.6 8.0 7.4 6.6 9.2 7.8 8.1 7.8 6.7 6.6 7.8 8.7 8.2 8.6 8.4 8.8 9.7 8.1 6.5 6.7 7.0 6.8 7.2 7.0 6.8 8.0 6.2 6.7 8.7 7.8 7.5 7.2 8. BPS.0 9.6 7.8 7.2 6.8 8.8 8.3 8.9 7.5 7.3 8.6 8.4 7.6 7.2 7.10 RATA-RATA LAMA SEKOLAH (TAHUN) MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 2008 Perempuan Laki-laki+Perempuan Laki-laki 2009 Perempuan (3) (4) (5) (6) (7) 8.3 7.0 8.1 8.5 7.2 8.3 8.3 7.9 7.9 8.9 8.2 7.1 8.5 7.6 8.8 8.5 6.1 8.1 6.5 8.9 7.0 8. 2010 7.8 7.5 8.3 8.2 7.4 6.0 7.8 8.2 7.5 7.2 Laki-laki+Perempuan (8) 8.4 7.4 7.6 7.4 8.1 7.3 7.3 8.0 6.8 7.2 6.2 7.0 7.0 8.Lampiran 2.0 8.1 8.2 7.3 7.0 8.8 9.7 7.4 7.1 8.9 7.2 7.5 7.1 10.1 7.3 6.8 7.8 7.2 7.4 8.6 7.3 8.4 8.5 8.6 7.7 7.0 7.9 7.3 6.2 8.7 7.6 6.1 8.0 9.2 8.9 7.5 7.5 6.6 7.3 8.8 7.6 7.6 6.0 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.0 7.2 7.1 6.2 7.4 7.5 8.7 7.5 9.1 8.0 7.4 10.1 8.7 8.8 8.3 6.3 9.6 8.7 7.1 7.7 7.8 6.3 7.7 7.2 8.3 7.8 7.7 8.6 8.3 8.2 7.7 7.0 7.7 7.4 6.4 8.7 7.7 7.8 8.7 6.4 8.8 8.5 7.7 7.1 8.4 10.9 8.9 7.1 5.9 8.6 7.0 8.1 7.7 .8 7.9 9.6 7.2 7.6 8.6 8.6 7.6 8.3 7.1 8.

77 43.41 80.56 49.15 91.59 56.52 98.85 98.44 49.75 81.08 98.29 59.52 96.84 50.65 87.87 96.46 58.07 56.17 50.07 85.80 93.10 88.50 86.80 99.68 75.81 79.70 98.68 85.31 64.30 51.40 83.45 97.27 92. BPS.25 63.11 97.72 97.09 91.26 96.00 84.07 98.28 63.06 52.10 79.59 98.42 85.26 90.39 58.88 98.99 96.73 53.71 97.55 95.68 90.02 98.71 56.73 65.92 47.02 88.94 98.07 98.86 47.75 91.30 64.87 65.47 85.63 97.83 53.50 99.70 91.13 55.55 88.66 98.38 83.28 83.53 97.35 97.80 98.66 94.11 ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH*) MENURUT PROVINSI DAN USIA SEKOLAH (%) TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 7-12 thn 2008 13-15 thn 16-18 thn 7-12 thn 2009 13-15 thn 16-18 thn (3) (4) (5) (6) (7) (8) 99.92 86.76 98.42 88.31 91.88 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.15 54.36 97.55 87.72 54.16 95.62 61. 2010 Catatan : *) Termasuk Paket A.59 93.38 57.22 98.43 64.53 96.53 98.24 98.67 59.62 61.76 84.48 98.87 97.99 85.26 58.11 55.92 55.19 48.42 97.80 50.35 76.57 97.35 63.59 97.00 80.23 94.25 93.83 84.85 84.55 78.10 90.75 52.98 90.31 98.03 98.71 91.12 95.53 81.34 65.27 58.95 63.13 78.58 72.64 79.47 72.90 98.82 97.65 98.83 99.43 85.89 72.16 .06 98.20 80.95 99.95 47.69 96.78 84.64 50.54 81.64 50.22 84.78 88.96 87.17 45.62 77.83 91.75 98.92 79.38 98.51 55.57 77.58 53.13 54.20 89.50 97.44 46.79 91.86 88.71 97.53 47.28 88.Lampiran 2.43 88.45 97.69 47. Paket B dan Paket C 94.20 88.14 50.95 94.36 57.82 98.67 50.42 79.84 72.46 81.74 66.91 86.10 84.94 77.36 72.62 98.12 58.22 49.22 96.85 93.38 97.55 98.59 73.70 64.09 97.58 85.68 71.96 64.95 49.73 64.65 49.53 97.98 91.

36 9 0.19 685.542 42.39 35.85 983 1.00 2 Sumatera Utara 3.00 100.46 25.408.632 35.049.20 1.92 788.709 26.477 9.639 360.144 8.03 13.85 127.854.00 607.611 24.079 2.208 2.27 26.14 31.67 30.984 33.95 13.43 62.91 7.395 6.621 60.628.67 1.86 2.348 3.74 11.150 1.167 9.866 6.660 48.425 5.973.563 290.313 100.46 4.63 37.036 100.518 54.54 13.764 15.77 27 0.338 2.37 20.72 491.904 60.383 8.437 0.84 1.84 1.619 67.00 1.292.431 44.312.325.031.103 13.11 43.12 196.458 56.775 0.019 4.075 322.773 2.49 81.899 100.77 73.338 0.637 1.205 4.257 7.757 100.737 2.667 2.321 17.70 11.351 0.78 1.88 45.231 17.819 958.541 41.042 276.632 75.266 0.37 73.55 364.00 734.00 7 Bengkulu 436.77 1.868.607 432.820 16.40 1.55 20.091.124 100.27 325 0.631 80.00 8 Lampung 1.00 120.216 0.191 1.200.474 62.38 670.58 23.42 185.08 12.62 196.13 5.54 24.Lampiran 2.32 8.65 5.824 1.320 43.721 284.905 24.27 824.85 115.060 4.25 543.090 1.00 25 Sulawesi Tengah 457.199 0.14 159.79 32.137.677 22.58 96.65 462 0.00 1.057 1.35 141 0.33 253.00 3 Sumatera Barat 1.608 0.48 40.68 1.070 1.273 61.862 8.62 32 Papua Barat 180.70 291.923 100.28 19.172 1.125 22.672 5.596 0.29 1.78 3.11 22.069 98.88 98.28 746.69 3.952.883 41.59 22.00 41.39 358.421 100.649 53.04 436.609 100.842 28.49 1.261 44.963 100.134 36.207 22 Kalimantan Selatan 1.270 1.393 100.430 1.32 88.46 25.452 4.614 27.184.511 340.46 2.827 0.45 5.14 36 0.77 10.319 1.367 31.803.932 611.547.710 34.876 58.47 224.29 475.00 36.40 5 0.402 8.393 16.000 0.32 1.83 473.523 39.995 9.401 39.219 46.264.281 281.225.324 100.489.691 2.01 271 0.93 32.198 97.194 201.033.539 54.767 7.88 369.468 48.892 3.00 5.44 56.423 31.680 24.00 29 Sulawesi Barat 248.833 71.03 564.636.01 4.59 4 Riau 5 Jambi - 35.533 0.931 6.80 522.63 6.125 674.04 16.77 101.279 100.00 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 867.46 53.312 3.126.55 232.812 50.030 58.81 79.476 375.516 100.00 13.582 100.852 100.190 100.201 249.578 10.79 6.00 1.29 2.237.27 800 2.00 48.536 30 Maluku 419.87 196.21 324 0.503 52.55 173.66 923.432 7.47 304.00 28 Gorontalo 267.592 4.791 45.674 100.90 70.974 1.312 20.725 0.765 10.943 6.589 2.01 8.20 607.041 2.393 100.06 279.95 61.649 68.42 1.792 328.225.651 1.34 556.347 58.090 2.408 26.563 256.43 27 0.00 37.29 67 3.18 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 27.093 60.531 53.884.196 28.531 2.570 16.748 0.336 3.19 272.49 131.92 90.11 40.376.171 2.824.04 9.250 50.397 0.00 28.910 57.25 20.027.06 343.215 4.302 37.00 27 Sulawesi Tenggara 520.30 3.671 19.765 50.369 1.43 25.819 30.59 52.19 20.128 26.03 28.30 29.315 81.72 601.289 16.877 10.269 23.983.12 90.705 81.338 5.105 19.01 5.59 86.035.626 0.101 18.66 168.994 66.631 100.989 38.772 24.613 24.166 201.382 100.167 4.61 242.457 18.423.56 137 0.253 19.00 341.67 984.019.24 23.00 12 Jawa Barat 11.12 207 0.22 100.443 2.428 7.48 306.083 32.166.86 814 8.911 22.017 1.316.825 41.05 358.10 461 0.00 7.25 133.32 793.171 37.68 82.55 153.47 11.15 37.490 40.761 20.48 5.351 3.877 12.17 94.302 39.142 8.00 100.618 51.432 3.029 3.14 61.532 4.749 67.09 448.20 2.19 1.728 2.41 3.718 35.956 0.16 5.73 3.429 4.52 279.52 9.05 29.811 13.57 7.953 100.04 31 Maluku Utara 167.22 342.17 2.672 100.00 21 Kalimantan Tengah 246.878 30.766 1.27 64.340 65.54 195.441 100.29 1.12 1.129 100.868 57.419.517.180 75.362.895 32.508 62.38 73.20 36.86 29.91 17.14 122.029.217 2.32 97.13 3.00 22.71 935.43 166.61 582.201 49.00 26 Sulawesi Selatan 1.08 66.81 5.841 0.589 7.30 10.36 10.82 209.073 12.62 779.82 1.90 433.939.540 100.932 23.29 .949 535.07 87.220 0.688 2.285 100.00 11.09 46.281 5.77 247.49 713.35 201.731 5.054 3.02 737 0.016 66.752 38.43 15.427 232.239 7.01 88.70 497.382 1.23 34.061 6.637 100.97 85.11 235.67 745 0.43 134.31 292 0.224 100.793 9.044 11.17 28.00 23 Kalimantan Timur 24 Sulawesi Utara 582.29 11.627 16.625 38.00 21.00 576.23 4.00 886.97 24.83 102.155 38.813 12.00 6 Sumatera Selatan 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 2.46 811.945 1.484 62.71 6.66 240.775 14.181 100.44 19.787 39.424 3.11 611 1.117 13.515 36.16 13.96 10.232 22.610 18.780 82.37 499 0.59 173.72 5.772 48.719 5.311 35.100 4.803.734 60.69 462.17 3.07 276.89 9.783 10.29 172.82 4.354 64.17 61.12 PERSENTASE KELUARGA MENURUT JENIS SARANA AIR BERSIH YANG DIGUNAKAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan No Provinsi (1) (2) Jumlah Keluarga yang Ada (3) Jumlah Keluarga Diperiksa (4) % Keluarga Diperiksa (5) Ledeng Sumur Pompa Tangan Sumur Gali Penampungan Air Hujan Air Kemasan Lainnya Total Sarana Air Bersih Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 1 Aceh 1.993 93.332 57.49 279 0.54 31.250 1.507.539 281.772 100.417 18.869 6.12 689.063 45.953 9.899 6.38 28.77 6.65 9.47 191.690 100.49 2.00 10.501 18.00 887.390 100.

10 43.02 40.85 42.59 34.92 55.20 41.71 34.04 46.03 76.56 55.85 57.71 44.70 27.38 71.60 51.08 35.84 37.54 45.82 (5) 29.50 43.31 36.71 28.47 65.38 55.44 47.22 34.50 37.19 48.99 44.29 45.76 76.06 27.72 30.45 54.61 54.63 49.33 40.72 66.12 30.51 58. Depkes RI Perdesaan Perkotaan + Perdesaan (4) 34.25 27.36 50.18 32.79 49.71 .20 53.81 40.75 48.19 62.59 59.74 34.12 44.60 41.28 53.45 58.83 63.64 65.66 43.29 36.97 55.16 45.42 41.01 63.53 39.77 55.13 PROPORSI PENDUDUK DENGAN AKSES TERHADAP AIR MINUM YANG AMAN MENURUT PROVINSI DAN WILAYAH TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Perkotaan (2) (3) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen P2PL.97 76.13 61.49 44.00 45.51 39.54 57.56 34.28 48.47 59.14 35.13 43.30 60.13 59.79 40.18 39.03 43.54 51.62 40.46 39.96 45.04 61.74 55.81 41.15 37.20 39.96 51.91 27.28 65.53 33.35 71.56 49.89 51.01 74.46 45.Lampiran 2.44 41.02 36.

032 106.39 36.860 173.824.195 101.36 27 Sulawesi Tenggara 520.141 80.753 558.83 335.85 28 Gorontalo 267.258.028.186.39 1.539 125.321 123.50 2.39 357.281 406.949 492.06 54.19 37.292.689 238.75 310.23 73.203 (2) % KK Memiliki (5) 1.06 40.102 76.87 341.32 46.300 319.04 57.871 279.884.01 32.910 56.167 4.233 76.570 20.370 259.034 22.46 24.82 301.510 73.974 1.847 16.680 260.976.00 321.327 237.158 23.485.93 62.525 17.869 96.995 226.819 857.370 254.028.14 206.264.00 59.32 69.08 886.666 40.778 375.122 8.25 73.49 262.26 71.47 21 Kalimantan Tengah 246.563 216.20 41.664 196.203 123.86 665.10 4.27 15 Jawa Timur 16 Banten 10.549 270.Lampiran 2.34 87.019 50.824 59.206 74.501 63.18 41.733 35.738 156.011.71 79.647 231.68 317.733 510.945 1.400 50.643 94.814 40.997 26 Sulawesi Selatan 74.00 68.35 4.441.56 % Sehat % Sehat (8) 104.594 58.97 295.63 1.070 237.78 64.654 41.012 414.096.843 116.636.63 79.51 64.247 669.88 42.691 15.449 106.213 216.26 49.387 250.69 1.778 753.041 44.938 43.475 110.252 74.98 72.233 146.21 30 Maluku 419.659 253.47 50.68 30.246 264.050 28.130 126.336 416.55 0.618 113.291 59.323 35.46 44.18 99.50 57.22 19 Nusa Tenggara Timur 867.940 1.87 109.94 206.520 45.62 28.20 45.023 12.675 57.383 49.99 293.607 63.471 72.136 403.201 278.390 163.164 3.85 64.423 551.460 291.166 179.598 349.397 128.65 67.16 3.919 354.308 74.885 82.25 65.275 1.980 242.60 75.73 30.42 195.05 0.38 36.72 68.477 561.30 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 48.262.693.853 1.513 7.287.21 8 Lampung 1.004 70.812.46 120.608 251.912 92.646 14.63 79.187 1.227 51.345 22.754 75.565 2.124 205.837 73.475 32.981 27.075.276 172.863 91.723 129.064 2.862 76.234 2.937 105.123 137.59 25.678 173.708 239.18 29 Sulawesi Barat 248.194 202.23 3.001 760.600 20.34 67.876 70.815 195.427 306.643.632.827 59.09 53.508 1.96 83.836 79.852 29.075 265.131 488.49 282.791 131.64 73.130.18 50.180 13.032 102.29 31 Maluku Utara 167.237 63.452 109.27 391.541 42.265 795.61 14 DI Yogyakarta 887.069 110.671 79.198 97.000 154.620 542.69 23 Kalimantan Timur 686.99 49.480 265.999 221.173 47.668 14.490 32.58 59.007 232.21 74.010 127.62 5 Jambi 734.527 92.654 25.480.88 41.951 270.992.717 177.210 28.649 15.180 96.183 75.80 34.898 77.22 541.54 36.63 41.551 224.29 46.382 194.571.617 1.067 64.582 72.044 % KK Memiliki (7) 412.393 49.90 633.050 200.298 298.849 75.100.65 66.32 29.023 961.76 48.39 6.207.965 4 Riau 713.672 47.504 18.231 73.01 37.721 104.139 37.85 90.46 56.113.43 880.01 12.71 90.166.41 27.443 2.935 179.55 291.20 301.80 304.639 310.92 69.675 12 Jawa Barat 14.00 311.973.73 30.304 58.438 62.18 6 Sumatera Selatan 70.95 38.001 1.070 929.26 165.88 43.427 118.669 106.64 32 Papua Barat 180.031.736 170.56 397.21 81.598 471.462 340.04 218.746.222 .90 759.317 1.16 70.496.755 384.72 51.440 61.345 2.986 61.060 15.769 76.146 89.17 41.383 32.70 48.059 138.345 85.97 78.145 63.94 87.581 52.464 4.172 753.246.575 71.95 45.77 20 Kalimantan Barat 859.071 41.996 274.047 8.05 88.39 287.398 30.773 129.417 70.83 62.010 265.084.652.35 81.623 20.999 73.0298 14.507.688 16.595 56.17 2.722 77.787 1.78 55.278.429 622.885 51.17 163.190 500.68 86.168 794.236 7.460 2 Sumatera Utara 3.64 41.71 45.538 77.203 56.20 41.191.21 58.87 73.21 1.22 82.676 197.369 1.499 44.803.63 55.46 659.69 661.666 104.585 73.982 45.939 157.837 699.651 73.80 59.545 3.157 24.518 27.404 1.78 76.583 39.58 295.203 372.514 66.858 (1) Jumlah KK Jumlah Sehat (4) 1 Aceh Provinsi Jumlah KK Memiliki Jumlah Sehat Pengelolaan Air Limbah Jumlah KK Memiliki Tempat Sampah Jumlah KK Diperiksa Jumlah KK Diperiksa Jamban No (18) 49.503 998.55 78.59 53.734.11 725.339 61.656 11 DKI Jakarta 2.160 343.528.33 91.467.100 - - - - - 1.829 58.14 157.94 51.32 70.60 73.721 310.411 252.461 31.319 44.151.640 20.188 111.861 1.604 1.952.809 25 Sulawesi Tengah 457.906 39.40 40.22 11.061.088 392.22 106.517 66.488 80.97 29.14 PERSENTASE KELUARGA DENGAN KEPEMILIKAN SARANA SANITASI DASAR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah KK Diperiksa Jumlah KK Memiliki Jumlah Sehat % KK Memiliki (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 66.15 293.474.891 205.027 32.471.005 5.455 20.539 376.272 25.416 83.70 18 Nusa Tenggara Barat 1.98 62.654 67.697 64.33 37.80 939.38 14.221 9.34 271.003 8.17 98.962.164 6.55 8.408 147.569 100.246 3 Sumatera Barat 1.913 205.227.202 69.860 29.36 63.782 74.240.23 462.789.625 624.197 15.877 8.88 193.419 370.119 46.561 99.328.716 172.417 387.430 63.644 64.904 1.697 9.67 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 576.01 7 Bengkulu 436.014 1.71 341.235 246.69 27.340 822.78 56.549 8.368 4.10 22 Kalimantan Selatan 17 Bali 1.28 40.398 189.504 77.248 74.01 61.37 7.825 99.385 198.523 46.48 39.126 707.43 0.133 85.910 240.243 514.316 (3) % Sehat (6) 619.309 57.763 64.315 566.192 30.816 62.55 13 Jawa Tengah 7.41 70.35 55.786 171.428 74.143.563 358.831 18.66 305.806 37.21 24 Sulawesi Utara 582.79 19.552 3.316.259 30.746 71.967 219.92 13.592 4.22 1.607 349.511 342.855 113.91 81.

31 35.15 PROPORSI PENDUDUK DENGAN AKSES SANITASI DASAR YANG LAYAK MENURUT PROVINSI DAN WILAYAH TAHUN 2009 No Provinsi Perkotaan (2) (3) (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen P2PL.00 38.99 69.53 73.16 57.50 56.71 45.23 56.16 58.82 75.17 66.48 22.50 85.37 62.91 43.18 32.65 51.98 40.43 81.21 52.60 63.47 41.11 25.60 32.27 25.76 56.13 64.10 62.51 77.77 10.31 75.03 85.98 30.88 65.73 75.84 70.39 22.04 75.09 25.59 42.66 38.19 .48 34.49 44.12 67.96 34.60 77.Lampiran 2.24 0.10 59.35 51.43 60.05 30.05 54.84 45.19 29.78 42.92 39.03 51.07 58.69 43.58 45.96 42.95 39.03 69.78 41.83 14.18 35.51 (5) 29.63 30.45 33.80 24.26 33.59 70.51 12.72 49.02 57.41 85.55 31.13 27.96 30.38 78.75 40.87 73.69 51.66 45.06 75.48 63.20 84.03 72.17 54.69 78.03 52.93 41.89 12.35 38.43 80.63 21. Depkes RI Perdesaan Perkotaan + Perdesaan (4) 73.51 35.89 34.71 21.86 10.12 25.

38 29.307 175.54 54.37 71.075 88.463 294.26 40.634 266.343 1.195.85 39.106 375.835 705.275 509.025.717 30.12 51.67 64.96 53.427 11.142.185 431.29 81.236 49.194 1.611 98.23 56.526 62.031 311.53 68.578.56 44.035.582.534 150.281.58 45.959 775.368 324.257 1.01 64.12 34.603 1.467.315 744.098.06 61.67 61.46 62.884 196.361 155.43 91.263 223.251 522.09 43.102.371 63.71 39.84 47.349 1.Lampiran 2.787 23.903 178.484 4.580.569 344.706 20.35 57.580 9.198 53.98 26.608 97.515.57 56.91 50.592 6.49 .378 500.345 208.102 148.22 34.328 687.316.937 2.479 116.420.475 58.90 73.390 13.57 37.959 3.210 516.063.796 187.216 1.00 41.97 55.521 332.883 1.70 61.048 222.074.19 56.07 49.518.112.024 741.048 2.52 64.68 62.181 313.65 40.51 72.741 270.059 337.85 61.613 280.25 80.74 53.675 1.48 60.482.296 122.123 71.160 100.82 31.16 PERSENTASE RUMAH SEHAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Rumah No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Jumlah % Jumlah % Seluruhnya Diperiksa Diperiksa Sehat Sehat (3) (4) (5) (6) (7) 690.436 228.13 59.509 2.888 948.48 66.33 52.36 35.782 887.549 354.257 161.062 894.590 230.21 58.559 1.329 23.96 56.291 13.14 73.61 63.56 80.107 838.978 2.879 494.941 292.103 468.90 22.722 623.40 69.648 110.000 242.16 32.836 347.577 702.982 380.78 66.82 35.744 766.48 38.666 65.260 55.351 716.406.93 63.36 204.267 313.055 523.402 170.268 128.487 341.204 68.437 44.66 53.963 116.509 257.78 79.950 224.657 303.240 479.003.866 227.63 40.55 66.747.41 77.65 72.635 1.75 29.

98 13.018 2.81 12 Jawa Barat 996 680 546 80.549 3.656 13.182 1.958 62.235 4.975 1.541 87.068 56.753 64.75 350.33 1.00 278 85 31 35.941 1.034 5.02 25 23 8 34.505 1.56 103 88 19 21.830 1.539 962 574 59.236 4.623 3.407 5.27 443.817 1.559 3.56 99 65 36 55.32 9.62 549 462 400 86.087 2.798 6.52 5.315 668 50.334 61.265 38.946 60.487 943 63.870 1.211 47.694 54.365 76.170 67.87 6.431 79.59 1.062 79.437 812 56.855 10.477 24.210 867 71.840 74.02 25 Sulawesi Tengah 166 128 107 83.92 145 138 73 52.220 1.98 2.406 5.977 7.92 9.931 6.08 13 Jawa Tengah 750 488 436 89.38 31 Maluku Utara 115 110 87 79.770 2.52 7.79 #VALUE! 51 20 12 60.127 64.928 3.295 4.109 15.112 1.18 498 408 200 49.356 75.961 2.927 1.763 1.425 69 369.239 % Sehat (7) 86.455 59.69 12.475 66.58 42 36 27 75.219 812 66.91 209 202 103 50.414 839 59.671 4.668 4.124 73.22 1.761 57.017 511 435 85.69 4.826 8.134 9.076 2.71 949 842 525 62.89 30 Maluku 111 104 93 89.96 72.95 2.461 1.633 29.15 572 367 187 50.54 450 382 242 63.467 9.78 1.02 14 DI Yogyakarta 314 90 89 98.52 6.27 1.298 871 67.641 27.74 4 Riau % Sehat Jumlah Sehat (10) 1.59 2.10 1.05 24 Sulawesi Utara 208 148 123 83.798 1.50 12.414 34.15 1.445 1.240 4.140 75.60 4.341 1.613 1.09 402 383 227 59.529 936 61.34 221 211 92 43.332 1.52 2.730 5.22 19 Nusa Tenggara Timur 212 162 133 82.50 19.418 66.160 41.835 81.81 3.544 66.963 64.20 5.318 1.197 2.72 6.91 236 183 115 62.223 65.262 81.191 15.337 172.88 175 90 68 75.26 18 Nusa Tenggara Barat 352 258 230 89.286 86.346 3.04 5.17 8.806 15 Jawa Timur 523 408 364 89.066 6.055 6.688 1.22 22 Kalimantan Selatan 185 125 68 54.233 15.766 1.401 61 0.373 2.68 20.163 127.27 23 Kalimantan Timur 438 346 302 87.502 1.129 947 83.700 6.00 2.58 1.860 Jumlah yg Ada (8) 2.55 124 87 78 89.622 12.16 7 Bengkulu 108 108 107 82.57 19.554 80.353 1.56 7.98 4.59 2.317 3.28 10.219 72.811 72.190 1.167 83.890 1.235 2.014 28.15 66.523 1.75 2.08 17.12 2.13 34 34 24 70.065 69.202 1.150 54.709 65.24 1.655 6.932 12.943 5.96 180 132 68 51.34 4.123 2.121 3.912 4.787 1.494 64.00 442 346 233 67.56 3.439 5.27 37 34 13 38.354 5.224 8.707 5.633 62.407 1.40 263 196 118 60.997 266.981 1.364 2.85 6.26 10 Kepulauan Riau 232 169 149 88.Lampiran 2.41 3.399 84.51 8.046 1.730 3.603 57.452 8.366 5.72 1.936 8.771 1.143 518 45.21 799 563 333 59.920 9.35 344 318 75 23.57 2.51 28 Gorontalo - - - - #VALUE! 62.490 1.92 6.982 2.23 236 200 93 46.096 62.52 2.73 16.322 3.86 .507 1.903 45.308 4.75 4.13 27.165 66.58 155 130 44 33.46 32 Papua Barat 59 54 38 70.244 918 706 76.94 7.11 1.156 71.259 1.921 2.569 1.37 3.792 69.150 Jumlah Diperiksa (9) 1.335 2.182 2.99 3.178 981 663 67.113 51.647 81.49 26 Sulawesi Selatan 365 222 174 78.011 1.24 20 Kalimantan Barat 184 161 130 80.750 1.09 191 112 32 28.42 151 107 65 60.35 811 580 445 76.011 2.788 13.74 17 Bali 1.67 2.520 54.22 3.00 101.35 6 Sumatera Selatan 190 183 165 90.536 973 63.342 831 61.38 1.308 53.813 30.23 720 558 231 41.72 29 Sulawesi Barat 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 61 44 30 68.95 24.387 91.487 79.039 75.96 9.385 1.973 2.32 335 243 54 22.145 749 65.077 1.83 87.589 9.35 262 253 111 43.721 49.776 83.226 1.309 1.247 2.976 2.38 2.66 1.19 8.05 2 Sumatera Utara 531 412 351 85.21 3 Sumatera Barat Jumlah Sehat (6) 50 (2) (5) JUMLAH TUPM 58 (1) (4) TUPM Lainnya 149 Provinsi (3) Pasar 1 Aceh No Jumlah Diperiksa Restoran/R-Makan Jumlah yg Ada Hotel (14) (15) (16) (17) (18) 5 Jambi 144 119 98 82.348 85.608 3.65 5.61 #VALUE! #VALUE! 16 Banten 117 106 58 54.06 5.15 3.123 1.98 8 Lampung 133 102 86 84.664 6.023 646 63.46 5.89 2.28 3.30 56 52 32 61.662 7.31 1.07 441 331 217 65.59 985 904 807 89.06 2.008 3.198 68.933 70.382 43.073 87.288 5.614 913 56.344 3.352 980 963 98.29 7.061 3.252 66.17 1.580 2.480 1.632 1.282 925 72.62 75.55 27 Sulawesi Tenggara 188 140 106 75.386 12.83 23.848 2.40 20.51 15 11 10 90.094 2.37 402 402 298 74.897 4.366 10.42 601 553 433 78.881 3.839 2.481 1.61 138 128 70 54.70 4.84 113 82 30 36.279 3.273 63.394 1.27 1.009 34.07 332 298 222 74.90 6.73 267 249 129 51.566 64.402 2.059 794 74.514 70.04 21 Kalimantan Tengah 114 87 54 62.364 1.656 55.988 76.530 1.59 11 DKI Jakarta 291 137 85 62.211 201.757 1.80 10.691 66.983 60.10 1.74 9 Kepulauan Bangka Belitung 54 42 41 97.106 2.83 760 697 97 13.639 4.735 1.72 654 428 270 63.903 40.17 PERSENTASE TEMPAT UMUM DAN PENGELOLAAN MAKANAN (TUPM) SEHAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah yg Ada Jumlah Diperiksa Jumlah Sehat % Sehat % Sehat Jumlah Sehat Jumlah Sehat Jumlah Diperiksa Jumlah Diperiksa Jumlah yg Ada Jumlah yg Ada % Sehat (11) (12) (13) (19) (20) (21) (22) 61.170 2.34 8.328 73.869 1.13 98 75 64 85.54 2.474 1.036 228 2.72 16.00 365 257 157 61.840 1.

534 18.26 28 Gorontalo 749 678 90.98 25 Sulawesi Tengah 2.690 22.060 69.536 1.296 237 10.88 30 Maluku 490 349 71.29 3.10 4.85 116.296 50.567 6.05 31.169 753 64.316 34.34 3.335 75.165 2.594 1.681 70.52 261.985 49.218 5.88 3.64 23 Kalimantan Timur 1.638 67.078 4 421 4.678 71.066 86.906 2.125 67.140 38.483 4.65 6.004 55.04 1.55 805 554 68.198 857 71.285.68 4.177 8.220 1.25 501 311 62.885 41.833 72.941 217 127 58.43 2.908 60.544 10.499 2.075 82.63 2.414 63.89 4.278 1.91 3.669 1.367 831 60.28 11.02 80.18 PERSENTASE INSTITUSI DIBINA KESEHATAN LINGKUNGANNYA TAHUN 2009 Sarana Pendidikan Sarana Kesehatan No Sarana Ibadah Perkantoran Sarana Lain Jumlah Provinsi (1) (2) Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) 1 Aceh 2.99 5.93 747 461 61.729 77.23 1.667 67.350 39.076 5.01 9.51 29 Sulawesi Barat 674 565 83.282 72.202 69.653 50.26 13 Jawa Tengah 7.290 153.08 1.19 3.22 1.264 68.887 2.438 3 707 3.074 6.20 435 304 69.71 708 487 68.089 53.17 5.137 2.96 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 2.59 9.208 3.076 1.47 293 240 81.842 1.278 74.23 3.25 537 353 65.31 5.02 9.86 14.956 12.88 1.43 12.759 56.581 73.354 31.14 4.10 440 230 52.76 3.088 2.67 1.92 7.03 732 503 68.114 60.40 1.412 2.39 22 Kalimantan Selatan 2.86 3.349 64.03 3.85 4.209 55.474 78.465 52.854 838 45.701 77.295 72.64 3.869 26.495 1.612.717 70.286 7.532 1.097 82.474 53.370 811 59.565 2.15 2.69 3.483 63.202 3.32 1.54 12 Jawa Barat 7.350 64.847 1.88 813 680 83.497 2.663 89.350 1.164 608 28.18 3.84 5.290 2.67 31 Maluku Utara 297 232 78.644 25.614 81.81 5.77 5.618 2.11 969 730 75.60 2.537 3.316 643 48.22 96 94 97.940 61.603 6.109 66.84 76.04 582 439 75.319 457 19.494 83.736 62.29 2.78 74 29 39.830 5.899 8.19 3.10 2 Sumatera Utara 7.26 725 342 47.621 48.64 22.540 88.396 59.139 2.00 54.585 71.552 59.859 71.684 75.71 578 217 37.310 2.19 4 438 4.709 79.879 41.06 14 DI Yogyakarta 1.681 83.03 1.82 5.15 11.77 544 355 65.961 - 1.54 76 9 11.791.303 53.055 516 48.416 680 48.501 62.854 6.365 6.919 41.345 1.817 87.881 62.32 16.061 74.37 101 78 77.510 80.06 2 092 2.28 608 327 53.72 1.248 800 64.516 81.67 3.742 1.11 2.573 98 19 98.78 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali - - 2060 1731 - - - 1.79 1.11 3.01 4.007 848 42.Lampiran 2.72 2.720 71.072 54.014 61.93 16.755 2.944 1.12 653 268 41.275 10.378 1.415 8.08 257 140 54.411 16.68 128.707 82.889 90.129 840 74.808 33.446 65.39 1.198 61.29 - - - - - - 84.570 72.602 1 573 1.499 4.412 2.49 10.342 6.51 5.43 4.092 1 806 1.18 3.624 85.57 1.157 759 65.415 878 62.86 196 147 75.58 7.10 1.93 752 583 77.417 7.169 86.176 1.084 68.160 43.74 1.407 21.167 69.52 14.070 9.501 711 28.729 797 46.571 40.00 69.92 9.046 643 61.769 6.346 71.256 86.629 844 51.41 175 56 32.54 680 529 77.91 13.445 1.069 2.372 45.18 1.74 18.42 10.715 55.516 46.43 2.15 77.955 45.34 1.928 3.02 163.47 7.31 1.20 23.081 1.613 19.815 69.559 3.22 - - 1.960 84 10 84.00 34.905 7.56 2.842 2.76 1.66 18.82 1.08 12.302 78.08 4.33 1 040 1.01 1.46 20 Kalimantan Barat 50.13 .660 1.373 21 Kalimantan Tengah 531 473 89.560 3.60 7.702 65.74 5.160 71.584 78.882 110.303 3.689 1.165 80.380 73.00 4.707 83 53 83.05 447 254 56.040 453 43 56 43.810 74.656 1.516 59.350 1.05 38.92 641 515 80.623 6.55 467 341 73.778 73.91 11.791 1.51 4.301 13.822 2.04 7.89 1.53 36 - 32 Papua Barat 352 228 64.76 3.73 19.40 1.806 86 33 86.00 1.522 67.48 2.82 8.723 9.86 3.93 1.42 54.10 19 Nusa Tenggara Timur 1.767.110 809 72.543 96.370 7.27 12.31 59.457 21.133 1.896 48.85 18 Nusa Tenggara Barat 1 602 1.219 42.16 1.339 67.595 95.072 9.85 3 Sumatera Barat 1.53 5 078 5.890 69.082 2.83 1.421 87 06 87.003 76.075 47.00 11.047 495 47.274 2.148 1.685 85.608 68.04 26 Sulawesi Selatan 3.214 999 82.624 69.47 1.798 560 31.79 311 241 77.70 24.56 14 221 14.889 1.678 1.152 945 82.670 1.598 2.56 2.593 1.19 8 Lampung 1.82 246 119 48.49 7.316 1.73 66.740 7 Bengkulu 1.31 2.515 64.264 3.578 84.618 2.278 2.124 66.424 71.79 34.768 249 14.79 5.52 1.74 25.607 1.34 11.719 77.17 4 Riau 1.336 1.214 4.085 737 67.248 403.41 943 598 63.162 3.375 1.00 5.17 347 200 57.752 70.043 6.66 5 Jambi 899 726 6 Sumatera Selatan 1.94 27 Sulawesi Tenggara 24 Sulawesi Utara 1.221 11 960 11.93 662 623 94.232 4.620 7.02 1.613 5.755 58.653 1.292 1.555 71.345 4.650 67.34 1.53 568 236 41.142 92.41 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 88.646 69.266 70.169 69.26 626.65 17.

02 50.61 39.391 934.958 t.426.563 1.204 58.08 t.933 148.57 20.725 36.919 116.36 59.598 265.704.06 8.654 61.11 31.030 204.891 496.58 71.98 87.934 8.935 2.784 479.877 170.014 893.d 32.32 12.368 17.94 78.56 38 94 38.529 103.95 21.a.596 58.93 60.990 22.733 173.22 74.60 54.342 193.31 62.a.460 39.114 375.701 55.768 193.87 66.11 21.096 110.065 98.19 PERSENTASE RUMAH/BANGUNAN YANG DIPERIKSA DAN BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah/Bangunan yang Ada (3) 921.062 930.503.262 418 799 418.690 392.58 81.d 2.103 468.56 70.91 20.580 9.807 71.148.377 19.376 348.634 266.077 178.665 516.483 t.098.799 737.316.623.51 46.005.27 89.100 3.99 83.837 5.53 47.591 291.11 50.142 86.45 67.833 1.675 872.980 9.031.34 t.316 1.474 43.744 766.83 74.696 414.23 77.89 68.42 82.283 12.772 75.62 17.48 49.86 29.024 741.741 225.747.846 10.096 226.d 74.518 64 936 64.324 795.877 Rumah/Bangunan Bebas Jentik Rumah/Bangunan Diperiksa Jumlah % (4) (5) 100.516 337.92 53.102.47 83.29 26.790.10 39 82 39.479 116.427 11.67 64.448 838.900 1.959 450.04 46.131 25.032 306.82 41.343 1.35 7.272 28.081 734.157 4.642 24.006 74.349 466.88 7.257 971.18 48.a.70 14.53 61.296 116.095 489.590 44.39 57.605.884 196.826 128.749 47.08 .Lampiran 2.37 42.a.94 21.40 7.903 81.081 157.568 559.578.203 170.17 51.711 90.263 305.517 163 081 163.671 817.64 46.44 87.00 41.953 3.00 Jumlah % (6) (7) 63.592 6.82 63.580.d 1.82 66.961 321.38 20.589 226.57 13.49 56.494 62.616 239.29 64.052 182.930 194.67 87.32 85.936 99.

620 37.22 62.006.812 183.685 1.642.173 66.649 196.995 1.933 63.209 244.77 57.408 30.824 91.824 407.085 1.883 5.37 52.095 % (5) 111.16 49.79 8.973.454 10.858 108.750 105.066 22.Lampiran 2.02 45.45 17.45 51.91 49.37 61.57 87.235 26.09 65.701 19.007 375.253 233.861 38.822 302.829.469.18 30.035 855.75 55.708 755.292 56.955 738.020 91.629 91.669 409.923 330.511 881.866 6.20 PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Rumah Tangga Jumlah Dipantau Ber PHBS * (3) (4) 237.850 276.432 136.58 46.94 41.848.764 461.73 50.611 47.838 21.986 126.018 93.860 123.301.625 48.88 88.275 17.28 61.51 59.243 44.681 7.97 48.643 112.026 2.85 43.407 45.91 36.537 525.268 140.39 39.69 65.942 42.49 54.35 50.905 15.248 88.28 79.897 108.87 21.984 87.145 85.787 17.47 .934 7.037 115.774 346.236 1.50 42.349 118.331 242.38 32.463 39.617 94.182.112 18.75 37.804 13.75 25.

31 46.20 28.45 Kepulauan Riau 14.14 Kep.25 27.65 54.31 23.12 9.12 40.76 54.25 Kalimantan Timur 10.91 36.05 31.71 37.41 Bengkulu 7.15 53.58 50.I.07 44.03 Bali 2.37 9.77 30.27 41.86 .80 43.76 40.74 53.56 9.53 11.49 Maluku Utara 5.16 35.86 Kalimantan Tengah 10.84 DKI Jakarta 6.45 31.02 24.84 Nusa Tenggara Timur 2.89 47.38 23.42 11.21 PERSENTASE WANITA MENURUT UMUR PERKAWINAN PERTAMA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 10 .96 20.41 (6) 46.51 15.47 20. Yogyakarta 18.56 20.20 38.66 9.01 Sulawesi Selatan 10.98 24.23 11.15 11.96 18.61 10.01 29.85 Maluku 4.07 18.36 Jambi 11.08 Sumatera Selatan 11.78 Jawa Timur 17.72 51.31 14.69 8.83 21.16 36.61 8.88 42.06 19.64 Gorontalo 10.53 19.29 13.45 29.95 22.96 35.02 15.93 14.97 51.74 31.24 (3) Aceh 8.87 37.42 10.48 Sulawesi Tengah 13.38 50.34 15.64 34.57 36.63 D.63 32.Lampiran 2.61 27.72 25.26 35.21 21.76 47.12 13.Bangka Belitung 13.02 Kalimantan Selatan 18.30 35.97 38.05 57.15 Umur Wanita pada Perkawinan Pertama 16 .91 45.00 Lampung 6.79 36.60 Sulawesi Tenggara 10.24 47.46 8.02 Indonesia 13.65 Jawa Tengah 3.40 Sumatera Utara 4.02 34.97 Jawa Barat 19.29 33.36 20.05 35.25 Kalimantan Barat 7.73 22.89 Sulawesi Utara 3.18 19 .08 43.66 9.08 Sumatera Barat 8.23 48.78 47.54 36.71 Papua Barat 10.64 14.41 46. BPS (4) 25+ (5) 32.16 49.11 15.43 Banten 13.33 13.78 42.40 Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.24 33.75 11.53 17.08 Riau 7.29 41.22 Papua 8.14 Sulawesi Barat 7.91 Nusa Tenggara Barat 5.27 44.55 36.

Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008 25 46 47 37 39 42 46 43 39 43 28 39 26 19 35 46 34 72 57 46 30 58 26 35 60 41 41 52 74 59 51 41 36 34 45 67 62 47 47 52 65 55 46 58 36 49 32 22 45 58 38 92 80 59 34 75 38 43 69 53 62 69 96 93 74 62 64 44 68.0 65.1 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI.5 69.1 69. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 * : Periode lima tahunan sebelum survei.4 67.9 68.6 67.1 73. ANGKA KEMATIAN BALITA TAHUN 2007 DAN ANGKA HARAPAN HIDUP TAHUN 2008 MENURUT PROVINSI No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Sumber: Provinsi *Angka Kematian Bayi (IMR) Estimasi *Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Harapan Hidup (eo) 2008 (2) (3) (4) (5) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia BPS.1 68.8 71.3 71. AHH :BPS.1 69.8 72.4 66.2 69.1 70.8 69.6 61.1 69.0 .4 67.2 67.Lampiran 3.7 72.0 66.0 71.2 69.5 67.6 70.1 64.6 69.0 68.0 66.4 69.9 67.0 63.

53 626.71 69.96 18 67.51 97.69 8.35 14 DI Yogyakarta 73.00 620.0 7.36 31 67.94 96.10 8.98 69.67 74.37 95.60 97.78 8 69.00 637.10 87.89 11 DKI Jakarta 72.59 71.81 15 Jawa Timur 68.69 68.60 95.40 6.96 9 2.81 95.83 24 66.59 71.07 67.23 86.9 10.12 72.35 70.96 20 Kalimantan Barat 66.00 624.4 8.80 98.00 63.90 87.83 68.65 592.01 26 63.23 625.50 8.77 5 70.40 6.28 1.66 599.42 611.90 70.52 5 2.85 6 Sumatera Selatan 69.74 9 Kepulauan Bangka Belitung 68.81 638.86 89.75 6.99 87.42 31 Maluku Utara 65.52 92.52 69.60 95.70 87.90 3 Sumatera Barat 68.16 2 1.52 74.80 620.46 29 Sulawesi Barat 67.07 72.20 8.94 73.44 95.75 71.46 12 68.36 634.81 86.00 96.38 18 2.58 75.66 631.6 7.38 18 1.30 93.72 28 67.08 629.62 10 68.09 3 1.2008 2008 2007 No.75 619.18 631.70 617.32 7.05 623.53 29 66.60 624.49 72.10 6.93 66.67 92.81 70.87 625.60 14 2.90 67.38 13 Jawa Tengah 70.98 16 1.70 91.72 26 2.90 75.40 96.13 633.Lampiran 3.31 625.95 70.10 95.23 69.9 7.000) (2) (3) (4) (5) (6) (1) IPM Peringkat Angka Harapan Hidup (tahun) (7) (8) (9) Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Angka Melek Huruf (%) Pengeluaran Riil / Kapita (Rp.56 70.99 71.15 31 2.60 90.63 96.88 74.70 630.50 600.55 27 2.80 99.62 21 69.52 72.48 63.40 634.14 19 Nusa Tenggara Timur 66.18 625.67 628.4 6.4 7.63 70.20 80.80 98.70 80.44 595.86 12 Jawa Barat 67.60 601.0 7.04 68.39 1.37 70.1 7.50 95.74 68.30 7.00 7.26 96.99 8 Lampung 68.50 623.80 96.41 6.00 97.60 96.00 94.8 7.41 599.5 8.24 7.50 95.29 71.57 11 69.01 10 Kepulauan Riau 69.74 91.05 628.68 622.000) IPM (10) (11) (12) (13) Reduksi Peringkat Short Fall (14) (15) 1 Aceh 68.15 28 Gorontalo 65. Provinsi Angka Harapan Hidup (tahun) Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Angka Melek Huruf (%) Pengeluaran Riil / Kapita (Rp.32 17 Bali 70.70 23 1.30 610.62 4 Riau 71.17 Indonesia Sumber: Badan Pusat Statistik.70 89.00 8.53 630.32 7.71 89.96 68.60 8.78 8.90 67.34 22 66.55 18 Nusa Tenggara Barat 61.05 12 2.4 8.18 6 1.09 69.97 73.80 619.18 28 1.78 19 69.5 6.63 3 71.8 8.25 71.62 68.76 625.6 7.64 73.47 22 Kalimantan Selatan 62.29 8 1.15 4 73.82 27 65.59 639.12 15 1.19 628.88 67.20 91.80 93.1 7.80 68.40 624.32 25 67.30 630.59 1 72.17 29 21 Kalimantan Tengah 70.14 11 1.45 25 Sulawesi Tengah 65.52 593.92 14 71.25 6.0 8.60 617.03 8.23 9 69.72 69.90 88.60 625.47 7.10 73.40 7.28 65.30 8.87 24 Sulawesi Utara 72.51 622.26 69.91 2.47 624.49 7 71.63 615.12 605.94 68.20 8.99 27 Sulawesi Tenggara 67.29 23 64.35 17 68.2 6.65 64.39 74.20 94.10 95.94 7.60 624.91 615.94 626.40 13 69. Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008 Ket: Reduksi Short Fall : Percepatan pembangunan manusia untuk mencapai angka IPM ideal 1.90 97.46 643.10 97.1 6.42 594.00 8.60 95.00 33 1.40 86.91 95.2 7.2 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KOMPONEN MENURUT PROVINSI TAHUN 2007.80 96.15 593.1 6.00 99.0 8.52 75.81 71.05 33 Papua 67.43 636.20 605.50 95.21 7.94 631.6 8.26 7.57 636.60 96.25 74.0 8.1 8.80 8.12 32 1.66 7.98 .22 21 1.00 97.87 7.90 94.99 13 1.68 6 69.60 86.20 23 Kalimantan Timur 70.53 16 70.09 22 26 Sulawesi Selatan 69.13 67.95 87.79 73.93 72.33 71.20 86.64 70.90 630.78 76.11 32 Papua Barat 67.00 69.82 5 Jambi 68.1 6.59 30 Maluku 66.58 64.73 616.0 8.0 6.95 30 2.8 7.3 6.61 70.30 20 1.59 69.24 633.10 621.88 4 2.80 628.71 32 61.41 33 68.40 625.53 70.31 75.60 95.00 25 2.88 7 1.19 10 2.42 6.29 24 1.80 98.55 87.76 10.03 70.10 89.60 593.60 97.70 69.28 30 67.60 98.50 96.31 625.1 8.02 70.80 628.28 7 Bengkulu 69.2 8.70 8.00 16 Banten 64.78 20 69.7 8.90 95.70 77.62 6.71 604.6 7.03 1 1.63 622.76 17 2 Sumatera Utara 69.71 15 67.11 74.66 72.68 2 72.

758 17. 2010 .703 234 10 Gastritis dan duodenitis 12.783 30.013 4 Demam yang sebabnya tidak diketahui 24.144 36. Kemkes RI.Lampiran 3.200 462 5 Dispepsia 18.154 235 Sumber: Ditjen Yanmed.705 60.334 898 3 Demam tifoid dan paratifoid 39.243 49.262 41.161 69.170 16.957 24.115 16.920 16.647 2365 9 Penyakit apendiks 13.477 35.535 143.747 2 Demam Berdarah Dengue 60.807 28.396 30.696 1.533 21.588 80.850 1.629 121.048 162 8 Pneumonia 19.497 47.677 935 7 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 19.304 520 6 Hipertensi esensial (primer) 15.933 36.3 10 BESAR PENYAKIT RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT TAHUN 2009 Kasus No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) Laki-laki Perempuan Total Kasus Meninggal (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 74.

004 68.216 488.167 132.380 52.364 54.817 77.087 275.083 53.673 88.Lampiran 3.446 67.953 247.256 371.4 10 BESAR PENYAKIT RAWAT JALAN TAHUN 2009 Kasus No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) (1) (2) 1 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 2 Demam yang sebabnya tidak diketahui 3 Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya 4 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 5 Gangguan refraksi dan akomodasi 6 Dispepsia 7 Hipertensi esensial (primer) 8 Penyakit pulpa dan periapikal 9 Penyakit telinga dan prosesus mastoid 10 Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtiva Sumber: Ditjen Yanmed.254 358.375 55.162 220.429 156.749 .794 781.269 412.660 203.303 147.275 83.823 123.815 99.467 234.738 172.881 143.142 105.942 99.195 135.463 122.021 55. 2010 Laki-laki Perempuan Total Kasus Jumlah Kunjungan (3) (4) (5) (6) 243.463 52.578 245. Kemkes RI.231 89.345 133.013 223.605 153.318 67.488 46.

966.920 4.5 JUMLAH KASUS DAN ANGKA KESAKITAN PENYAKIT MALARIA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Populasi Berisiko Klinis SD Periksa Positif API (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.204.136 769 44.648 863.635 49.531 40.78 5.459 6.651 543 24 8.294 58.85 0.295.78 7.933 483 3.813 24.421.92 54.568 14.66 9.402 21.87 1.902 194.709 9.536.02 1.895 4.380 2.024 176.849 73.08 0.986 4.75 1.859 23.04 3.818 20.063 51.674 8.922 14.42 133.635 45.Lampiran 3.94 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jawa-Bali Luar Jawa-Bali Sumber: Ditjen PP & PL.160 391 12.89 0.843.885 37.09 6.572 3.848 3.726 10.389 5.46 29.89 8.052 22.48 5.196 3.376 8.074 2.391.94 11.088 1.06 15.053 15.94 8.274 1.473 6.06 2.920 4.268 701. 2010 4.676 3.536 1.403 13.535 76.040 38.971 966.17 2.932 165.675 AMI (8) 0.189 2.36 0.816 2.51 10.075 1.435 2.27 .93 15.171 2.883 9.36 1.168 2.54 5.03 0.888 33.51 5.98 39.940 966.70 12.15 3.14 0.968 51.530 3.05 1.661.308 5.683 93.888 8.32 13.143.928 8.92 8.949 1.12 0.934 8.001 2.897 1.275 6.41 0.14 9.812 11.973 41.834 3.31 0.48 0.283 6.540 2.25 0.516 63.212 39.082 5.202.675 20.13 0.511 176.096 33.264 2.572 3.159 6.849 102.54 1.353.292 1.386 11.461 1.09 41.384.792 2.644 44.949 75.37 1.025.696.132.015 957 5.478 10.15 2.017 13.074.51 30.403 13.58 3.580 21.350.647 60.538.80 11.759 6.35 0.325 12.034.401 83.71 10.606 19.23 1.083.971 686.392 397 1.572 5.62 0.135 5.453.48 20.946 1.213 54.995.65 51.148 8.706.244.25 2.515 1.71 0.907 49.093.016.59 6.040 38.030 168.424 1.260.385 4.210 26.97 18.841 685.487 5.953 15.91 27.59 16.36 0.939 2.45 4.242 765.864.22 4.401 83.642.561 1.449 4.206.866 4.039 2.530.472 1. Kemkes RI.768 2.292 5.220 67 2.873 29.654 27.39 1.05 12.577 4.57 8.47 4.755.927 199.

07 4 DI Yogyakarta 0.16 0.2009 Tahun No Provinsi (1) (2) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 (8) (9) (10) (11) (12) (13) 1 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 2 Jawa Barat 0.Lampiran 3.12 0.02 0.51 0.37 0.19 0.05 0.13 0.18 0.71 6 Banten - 0. 2010 0 0.03 0.16 0.03 5 Jawa Timur 0.03 0.96 0.14 .03 0.02 0.71 0.42 0.97 0. Kemkes RI.16 0.08 0.18 0.58 3 Jawa Tengah 0.00 0.6 ANNUAL PARASITE INCIDENCE (API) MALARIA DI JAWA-BALI TAHUN 2004 .10 0.47 0.15 0.55 0.05 0.06 0.06 0.17 7 Bali 0.08 0.36 0.15 0.17 Jawa-Bali Sumber: Ditjen PP & PL.52 0.02 0.

667 11.010 15.369 4.433 16.7 33.8 59.6 66.2 36.5 56.397 8.821 2.987 1.731 169.988 1.380 7.8 231.181 1.6 39.405 1.6 77.6 56. Kemkes RI.241 39. Bangka Belitung Kep.504 638 43.663 1.779 1.096 7.725 8.588 4.559 3.695 25. HASIL CAKUPAN PENEMUAN KASUS PENYAKIT TB PARU TAHUN 2009 Cakupan No.266 1.1 .165 2.7.1 51.345 38.4 31.291 7.074 61.428 2.Lampiran 3.2 32.646 4.155 22.065 13.179 2.8 48.681 5.209 16.694 4.880 2.407 35.346 5.200 2.989 31.671 2.6 48.089 3.964 34.702 1.701 9.3 33. 2010 Perkiraan Kasus Baru TB Paru BTA Positif Semua Kasus Kasus Baru TB Paru BTA Positif Case Detection Rate (CDR) % (3) (4) (5) (6) 6.229 1.339 2.906 1.5 41.896 10.5 44.562 3.732 2.197 7.325 3.7 66.891 2.813 2.8 71.311 9.156 1.535 11.342 6.134 1.8 38.070 4.0 70.609 3.490 4.608 4.2 52.048 4. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.7 45.620 1.815 5.8 30.745 5.7 51.499 2.943 951 784 7.3 81.556 2.989 2.897 3.370 942 2.966 16.6 34.424 9.448 2.468 2.8 40.227 5.9 65.629 3.065 3.9 60.598 8. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.014 708 2.223 2.517 3.918 6.941 7.054 1.273 9.3 42.302 5.482 4.090 4.213 73.370 294.869 44.982 21.1 85.2 34.066 2.296 1.

2010 Perempuan (3) Jumlah (4) 2.97 65.29 59.517 3.77 60.01 40.339 2.03 34.41 60.03 38.67 41.91 57.918 6.72 55.433 1.989 31.191 787 1.943 951 784 7.488 1.906 1.68 40.72 44.78 39.296 1.56 61.862 1.Lampiran 3.087 437 1.47 61.59 39.156 1.299 1.93 41.897 3.94 3.439 7.938 % (5) 65.07 58.44 38.28 40.25 55.974 606 1.472 1.19 63.134 1.994 9.89 61.057 2.33 58.334 777 559 1.538 460 10.123 13.34 53.050 1.22 58.60 60.10 56.700 1.673 793 1.516 783 2.20 38.22 60.891 2.83 64.227 1.21 38.75 44.213 .631 962 593 383 927 271 1.53 38.90 43.83 45.221 3.881 2. Kemkes RI.065 13.052 1.828 1.840 1.80 61.8 JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF MENURUT JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jenis Kelamin No Laki-laki Provinsi Laki-laki+ Perempuan % Jumlah (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.81 36.951 614 480 4.988 1.09 42.75 61.907 889 1.433 16.99 59.866 17.84 59.17 54.227 628 1.83 34.11 38.504 638 169.135 3.207 982 2.40 39.992 337 304 3.732 2.588 4.16 40.797 1.369 4.23 39.10 38.97 61.28 55.022 9.30 35.107 247 69.28 44.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.014 708 2.370 942 2.089 3.368 695 12.66 46.06 (6) 1.181 1.278 2.70 64.275 (7) 34.79 61.043 4.065 3.25 38.17 65.397 391 99.598 8.18 59.428 2.17 35.90 61.483 546 1.745 5. Bangka Belitung Kep.78 41.32 59.71 40.695 3.155 22.880 2.72 59.377 4.82 40.

988 1.091 8.025 3.488 1.538 460 10.296 1.428 2.695 3.369 4.755 99.914 Sumber: Ditjen PP & PL.907 889 1.052 1.055 172 347 330 503 147 355 270 469 266 733 273 148 96 196 73 238 72 206 926 222 247 223 417 117 394 69 47 624 2.992 337 304 3.076 1.017 162 2.578 1.491 325 86 228 228 230 61 144 85 192 115 418 148 90 57 108 19 58 14 129 475 236 74 139 266 73 284 56 29 152 996 778 86 938 194 81 129 207 210 46 92 91 241 69 342 95 38 43 100 24 23 19 2.472 1.34 L P L P L P (3) (4) (5) (6) (7) (8) 24 65 17 13 12 15 6 26 3 4 29 145 65 1 99 38 2 11 16 29 9 22 14 26 14 10 11 4 7 37 6 23 8 19 92 27 19 16 24 6 47 2 56 168 95 7 135 42 5 11 27 24 12 15 10 26 16 25 12 5 5 59 1 41 5 229 1.516 783 2.470 1.580 954 128 253 279 307 111 197 174 334 128 540 224 119 71 199 85 397 92 161 943 291 172 163 334 99 330 67 71 765 3.206 340 241 206 420 131 377 82 81 1.057 2.673 793 1.216 799 183 245 350 341 126 229 210 320 179 611 202 121 87 197 72 361 74 811 1.439 7.797 1.918 6.558 6.300 574 141 351 299 530 117 275 199 406 196 653 231 122 93 150 64 99 29 169 608 173 97 159 248 92 277 37 21 220 1.483 546 1.416 1.14 Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.891 2.065 13.598 8.135 3.44 45 .655 1.275 169.277 77 2.700 1.014 708 2.994 9.011 16.168 273 310 248 447 148 450 82 113 918 3.227 1.226 1.64 P P L L P L > 65 L L Total P T (9) (15) (17) (18) (19) (10) (11) (12) (13) (14) 398 1.897 3.353 949 58 1.974 606 1.339 2.840 1.278 2.631 962 593 383 927 271 1.299 1.914 561 537 369 705 194 640 150 129 1.865 91 2.221 3. Bangka Belitung Kep.732 2.065 3.880 2.123 13.057 454 309 343 640 201 576 123 82 746 2.588 4.906 1.481 19.516 1.334 777 559 1.938 69.951 614 480 4.424 88 2.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 15 .862 1.054 15.762 820 107 187 271 252 93 204 159 273 134 388 187 121 65 177 79 391 87 415 1.Lampiran 3.181 1.191 787 1. 2010 K e l o m p o k U m u r ( t a h u n) 35 .520 105 2.946 428 434 345 642 178 585 113 107 936 3.866 17.810 104 2.072 654 117 248 244 263 113 273 166 314 161 531 199 111 87 164 54 152 38 443 2.433 16.306 1.54 55 .134 1.517 3.943 951 784 7.523 13.087 437 1.089 3.022 9.433 1.931 1.989 31.156 1.377 4.155 22.881 2.050 1.182 1.039 23.394 397 220 281 519 199 463 87 48 463 2.9 JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF MENURUT KELOMPOK UMUR (TAHUN).107 247 3.504 638 19.515 4.043 4.24 25 .660 122 2. Kemkes RI.518 115 1.266 215 375 405 552 175 380 280 516 222 837 254 177 140 236 110 445 120 223 1.721 14.213 .087 15.557 103 1.370 942 2.026 12. JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2009 No 0 .227 628 1.692 2.745 5.368 695 12.828 1.738 826 150 396 345 542 188 379 250 480 240 682 246 169 109 169 75 172 51 209 880 227 163 188 400 114 359 70 39 455 2.087 511 86 259 241 291 123 267 132 273 143 491 156 108 72 152 38 95 28 384 1.207 982 2.397 391 1.

582 6.455 8.711 5.896 3.951 2.210 1.1 31.428 835 606 7.9 1.9 16.6 0. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.093 941 21.0 10.663 15.10 HASIL CAKUPAN PENGOBATAN TB PARU MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 Semua Kasus BTA Pos Jumlah % Jumlah % Sembuh & Pengobatan Lengkap Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 3.6 5.079 450 1.9 78.9 4.315 5.2 1.133 5.3 77.478 2.0 8.4 69.055 4.134 3.1 83.1 2.251 3.831 14.298 2.0 16.3 1.205 2.860 4.2 1.3 2.4 2.161 2.721 1.2 3.413 3.509 547 264 408 339 173 159 131 374 406 288 215 345 197 131 90 168 677 168 13.224 2.592 1.2 52.141 23.4 91.884 1.637 13.169 27.7 3.9 95.818 25.403 3.544 2.752 1.2 85.2 3.0 2.1 3.3 4.244 1.7 87.8 13.3 94.059 1.1 4.434 3.454 93.451 1.5 32.894 370 151.8 93.376 2.7 93.8 6.557 35.894 1.4 92.329 2.8 87.771 958 685 8.850 2.1 92.461 39.5 3.8 80.2 3.558 1.5 77.5 87.1 88.159 5.372 30.960 8.864 945 790 989 282 1.1 27.113 17.170 2.999 5.6 1.1 2.8 6.1 6.158 3.881 4.9 238 366 377 249 195 364 62 332 22 144 1.452 1.4 6.701 2.3 89.4 80.9 9.096 813 462 5.8 90.091 7.3 1.3 1.351 2.303 2.566 1.176 1.5 38.3 1.6 92.329 1.0 2.4 1.6 3.4 2. Bangka Belitung Kep.243 4.002 2.360 4.261 1.4 1.8 94.999 84.468 2.724 1.048 3.0 92.3 83.990 3.9 84.6 80.0 66 167 117 34 84 63 14 100 37 9 135 400 285 45 557 80 77 133 121 76 17 72 51 76 46 185 53 19 59 4 18 50 21 3.4 13.080 1.4 3.5 14.3 8.6 10.399 13.5 91.209 1.9 85. Kemkes RI.829 4.5 82.601 1.9 7.060 47 1.490 61.0 2.1 82.Lampiran 3.787 4.1 83.5 97.6 83.2 88.164 2.6 96.7 86.0 4.828 17.461 525 166.259 298.655 8.930 1.7 80.8 85.5 66.0 97.8 18.279 981 6.276 4.0 70.0 90. 2010 Sembuh Pengobatan Lengkap Success Rate (%) Meninggal .109 540 2.7 93.8 78.3 2.6 85.971 1.8 1.1 96.618 1.1 6.1 89.1 12.688 5.5 89.709 3.2 49.060 1.5 85.9 92.7 4.4 8.142 921 1.905 960 2.155 2.8 2.181 4.858 2.604 14.217 202 137.4 4.4 74.120 6.6 88.5 85. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.033 894 19.521 1.0 5.9 67.500 25.227 5.088 4.1 86.876 3.6 1.8 67.2 92.312 1.8 12.4 82.9 97.781 8.271 2.284 1.8 1.5 89.2 11.189 1.598 7.607 3.0 Cakupan Tahun 2008 No.9 2.840 1.1 80.1 17.241 2.024 1.9 72.3 21.072 16.

MENINGGAL.11 JUMLAH KUMULATIF KASUS AIDS.04 8.598 717 290 3.91 0.86 11.000 Penduduk (3) (4) (5) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.06 45.33 14. DAN ANGKA KUMULATIF KASUS PER 100.000 PENDUDUK MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN DESEMBER 2009 Jumlah Kasus No Provinsi (1) (2) Case Rate Meninggal Kumulatif 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.77 3.51 8. 2010 Per 100. Kemkes RI.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.227 318 1.36 5.22 8.45 2.20 1.828 3.Lampiran 3.17 16.846 8.57 3.05 3.78 0.07 19.973 3.35 7.46 6.88 0.93 133.93 3.23 31. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.65 0.71 7.32 8.91 0.67 8.04 5.60 2.808 11 93 81 131 50 38 21 42 18 130 426 634 246 81 691 54 283 63 25 107 2 5 10 62 6 62 5 1 70 8 19 371 1.66 .36 22.69 0.21 1.

770 (5) 36 485 293 371 165 219 85 144 117 333 2.263 92 117 730 10 27 11 173 12 143 11 3 190 9 58 2.808 19.12 JUMLAH KASUS AIDS KUMULATIF PER TRIWULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.710 819 290 3. Bangka Belitung Kep. 2010 Triwulan I (3) 30 485 234 368 165 184 52 144 111 325 2.442 Triwulan IV (6) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Jumlah Sumber: Ditjen PP & PL.964 Jumlah Kasus AIDS Kumulatif Triwulan II Triwulan III (4) 48 485 410 477 166 219 113 144 120 341 3. Kemkes RI.681 18.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.807 3.506 107 138 730 15 27 11 173 12 143 20 3 192 10 58 2.652 78 1.540 323 1.233 669 247 3.740 3.811 3.598 717 290 3.747 142 139 794 40 27 11 173 12 591 22 3 192 16 58 2.499 16.973 .227 318 1.Lampiran 3.858 21.828 3.133 275 1.162 573 246 2.

70 62.022 199 261 46 12 132 7 9 4 40 6 209 1 2 79 2 5 2 39.10 67.20 45.966 39.227 318 1.60 16.30 36.10 20.00 70.808 17 209 224 135 96 104 47 112 40 30 2.90 .973 7.40 23.70 41.20 9.20 47. Kemkes RI.598 717 290 3.60 77.00 8.10 19.Lampiran 3.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.80 66.50 43. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.00 35.40 58.80 34.90 28.628 152 132 1.60 0.70 8.00 21.002 2.50 51.828 3.13 JUMLAH DAN PERSENTASE KASUS AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIKAN (IDU) MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.30 33.10 50.80 73.60 33. 2010 Jumlah Kasus Jumlah Kasus Kumulatif Persentase Kasus Kumulatif Kumulatif Pada IDU Pada IDU (3) (4) (5) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.20 38.70 16.50 31.40 4.

64 14.332 424.915 95.685 51 17.621 11.313 16.38 9.078 13 6.735 1.306.721 6.191 9.914 21.491 19.70 21.455 812 11.607 38 11.387 6.533 2.562 74.344 185.873 690.062.880 3.914 197.30 46.176 7.271 1.41 0.328 2.45 11.781 111.173 390.16 2.32 19.42 10.349 4.034 3.15 71.37 20.139 211.261 732 518 258 183 - 732 16.905 5.306 196.191 - 56.010 67.20 5. Kemkes RI.384 2.666 46.657 1.21 10.226 28.639 3.682 113.91 13.912 98.829 1.130 161.277 11.83 17.977 44.846 1.072.749 2.318 18.575 233.842 1.05 3.56 15.315 1.175 725.159 107.126 223 4.566 3.287 9.4 Tahun Jumlah % (3) (4) (5) (8) (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.187 69.806 3.701 32.752 896.376 9.360 662 570 - 2. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.655 32.866 130.118 72.92 5.034 18.296 129.Lampiran 3.402.083 344.16 21.660 469.369 1. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Realisasi Penemuan Penderita Pneumonia Balita Jumlah Penduduk Usia Balita Wil.907 2.081 1.881 10.310 429.552 1.392 9.993 3.82 41.985 34.892 252.524 842 404 387 - 1.868 11.578 11. PKM Program Target Penemuan Pneumonia Balita (10%) < 1 Tahun 1 .701 201.595 30.989 3.671 4.652 425.256 1.915 709 758 2.175 89.18 .431 42.050 136.760.153 890 1.034 20.014 323.521 4.319 22.329 589 7.677 372 309 1.14 JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.54 5.12 5.558 23.766 449.16 12.621 748.593 1.380 1.925 43.370 20.075 7.067 3.81 - 17.624 2.438 249.458 354.819 - 494 11.91 13.433 42.249 434. 2010 (6) (7) 568.246 35.491.646 1.96 9.

13 0.00 13 35.559 1.35 33.00 206 236.10 0.923 499 84 267 193 104 99 200 199 425 313 1.05 2.17 0.812 (9) 0.06 0.01 0.02 0 0. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.44 .02 0.00 83 1.11 0.08 0.62 19.25 11.06 48 33 0.49 1.227 17.033 (5) Case Detection Rate Per 100.14 Tahun Jumlah % % (8) 359 163 65 151 59 200 9 87 27 7 471 1351 1348 39 4979 434 69 216 159 97 90 188 180 340 230 1003 220 174 140 325 286 139 622 480 200 78 195 63 220 11 111 33 10 573 1.07 0.06 0.13 0.00 20 15. 2 Jumlah (7) 0 .574 52 5.00 25 25.91 1.11 0. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.06 0.56 40.00 6 651.07 0 0.00 7 11.00 188 151.00 25 30.12 0.01 40.17 0.00 62 1.69 4.00 2.42 4.21 0 0.05 0. DAN PROPORSI KASUS PADA ANAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.12 0.000 Penduduk (6) Cacat Tkt.00 45 13.11 0.17 0.18 0 0.00 0 42.26 3.62 27.260 7.00 35 0 9 0 17 5.15 JUMLAH KASUS BARU KUSTA.10 0.13 0.05 0.53 6.63 1.42 2.00 133 17.09 0.13 0.07 0.05 2.60 6.03 0.00 51 65.13 0.10 0.20 11.00 143 11.24 0.85 2.00 1. KECACATAN.16 6.51 15.55 1.08 14.30 0.98 0.33 3.93 16.00 0 13.07 0.89 6.69 0.00 14 6.00 18 8.12 0.17 0.04 0.08 0.Lampiran 3.12 0.00 21 21.05 0.82 5.10 0.236 249 193 195 397 391 247 887 11.10 0.00 31 11.16 0.00 47 0 33 1. Kemkes RI.11 0.04 0.06 0. CASE DETECTION RATE (CDR).07 7.79 12.09 0.37 (10) 40 14 6.13 0.00 56 30.00 14.29 0.12 0.00 3 710.07 0.02 3.04 0 0. 2010 PB MB (3) Jumlah (4) 121 37 13 44 4 20 2 24 6 3 102 208 226 13 944 65 15 51 34 7 9 12 19 85 83 233 29 19 55 72 105 108 265 3.00 10 24.04 0.00 72 219.78 18.00 10 10.01 0.15 0.71 4.15 0.074 0.03 10.

Lampiran 3.16 JUMLAH KASUS TETANUS NEONATORUM DAN FAKTOR RISIKO MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Faktor Risiko 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Tidak Diketahui Ya Tidak Tidak Diketahui (14) 0 0 1 0 1 3 0 2 0 0 0 6 0 0 12 2 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 31 Lain-lain (13) 5 0 0 0 3 3 1 5 2 0 0 11 5 0 0 31 0 0 0 14 0 0 1 0 0 0 1 2 0 0 0 0 1 85 Bambu (12) 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5 2 0 5 4 0 0 0 2 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 21 Gunting (11) 1 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 1 0 0 6 6 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 22 Tidak Diketahui (10) 1 0 0 0 1 3 0 2 0 0 0 7 0 0 1 2 0 0 2 6 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 28 Lain-lain (9) 0 0 0 0 2 3 1 0 0 0 0 4 2 0 2 12 0 0 0 3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Tradisional (8) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 6 2 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 13 Dirawat di RS Alkohol/Iodium Dokter (7) 5 0 1 0 1 1 0 10 2 0 0 10 3 0 11 27 0 0 0 7 0 0 0 0 1 2 0 3 0 0 0 0 0 84 Pemotongan Tali Pusat Tidak Diketahui Tidak Diketahui (6) Perawatan Tali Pusat Bidan/Perawat Tidak Diimunisasi (5) TT1 Dokter Sumber: Ditjen PP & PL. 2010 1 0 1 0 2 4 0 8 0 0 0 10 3 0 15 17 0 0 2 8 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 1 0 76 TT2+ (4) 6 0 1 0 4 7 1 12 2 0 0 23 7 0 22 43 0 0 3 16 0 0 1 0 2 2 1 3 0 0 0 1 1 158 Tidak Diketahui (3) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Bara Nusa Tenggara Timur Kalimantan Bara Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tanpa pemeriksaan (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Penolong Persalinan Tradisional Meninggal (1) No Status Imunisasi Bidan/Perawat Provinsi Total Pemeriksaan Kehamilan (15) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28) 3 0 1 0 1 1 0 2 0 0 0 2 1 0 6 3 0 0 0 6 0 0 0 0 1 1 0 2 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 1 3 0 2 0 0 0 7 0 0 0 2 0 0 3 3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 23 0 0 0 0 1 0 0 5 0 0 0 3 0 0 14 9 0 0 0 3 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 37 0 0 0 0 2 3 1 3 0 0 0 0 3 0 6 16 0 0 1 10 0 0 1 0 0 0 1 3 0 0 0 0 0 50 0 0 0 0 0 1 0 2 2 0 0 11 3 0 1 17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 39 6 0 1 0 1 3 0 2 0 0 0 9 1 0 1 1 0 0 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 32 3 0 1 0 1 0 0 5 2 0 0 12 5 0 15 27 0 0 0 6 0 0 0 0 2 2 1 2 0 0 0 0 0 84 2 0 0 0 2 2 1 4 0 0 0 1 0 0 2 8 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 27 1 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 2 2 0 2 8 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 21 6 0 0 0 0 1 0 0 1 1 3 3 0 1 1 12 0 2 0 0 0 0 8 15 0 7 0 0 3 21 0 35 0 0 0 0 2 1 5 9 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 2 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 26 121 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 8 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 17 0 0 0 0 1 3 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 2 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 20 . Kemkes RI.

816 75 100 82 136 0 82 13 145 5 53 62 501 176 4 154 204 4 0 0 19 11 99 5 20 8 103 14 17 5 0 26 3 2 2. Kemkes RI.281 39 1.197 1.128 81 121 74 130 34 87 16 182 8 40 45 121 216 0 201 199 0 0 3 26 11 112 9 2 9 181 7 5 3 0 0 4 0 1.927 112 18 102 99 93 75 25 219 9 28 67 62 297 0 103 194 1 0 2 36 9 88 12 17 5 139 27 5 8 0 0 1 0 1.447 72 533 813 1.536 43 8 62 35 29 83 10 87 7 56 130 35 219 3 58 105 12 0 0 17 15 35 0 21 7 76 20 8 0 0 2 0 0 1.807 67 47 101 34 56 88 32 133 3 30 85 65 338 1 58 104 8 0 1 20 19 88 11 3 10 77 41 4 1 0 0 11 0 1.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 18.055 .276 693 476 964 798 510 872 219 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.333 3.853 53 41 125 105 35 117 36 176 20 39 98 120 254 0 98 190 4 0 4 14 20 90 38 11 1 80 5 19 4 0 0 6 4 1.17 JUMLAH KASUS CAMPAK PER BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus per Bulan No. 2010 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 163 132 61 72 0 88 21 121 3 39 17 429 135 21 164 138 5 0 8 18 8 72 3 16 10 45 3 16 8 0 0 0 0 1. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.183 19 0 66 7 10 63 14 78 6 32 83 0 228 0 71 105 10 0 13 16 10 65 9 19 3 30 6 4 3 0 0 2 0 972 3 0 37 44 0 63 13 50 0 40 120 0 296 3 40 80 0 0 0 13 6 24 0 34 7 24 2 1 0 0 0 0 0 900 2 9 104 55 67 24 9 81 3 59 106 0 320 5 93 169 47 0 5 32 10 14 7 14 0 76 3 0 0 0 0 0 0 1.314 24 0 84 49 100 46 15 71 2 67 0 0 402 0 94 178 25 0 0 22 13 3 0 9 1 100 2 15 0 0 5 16 0 1.Lampiran 3.343 51 0 66 32 86 56 15 104 6 50 0 0 400 2 63 128 49 0 9 25 1 3 0 25 16 59 0 14 0 0 0 16 0 1.

164 750 3.18 JUMLAH KASUS CAMPAK MENURUT KELOMPOK UMUR DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Tahun) No.890 1.Lampiran 3.369 3.540 5.055 .447 72 533 813 1.197 1.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 507 1.775 4. Kemkes RI. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.941 18.227 2.333 3.698 1. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.076 6. 2010 <1 1-4 10-14 5-9 > 14 Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) Total Divaksinasi Total Kasus (13) (14) 3 42 20 35 8 22 11 35 1 10 0 0 92 0 84 12 2 0 3 4 5 37 4 7 1 58 2 4 1 0 3 1 0 78 101 79 98 50 114 30 123 7 66 86 134 236 3 148 229 3 0 2 19 28 67 17 15 11 106 9 12 3 0 4 10 2 26 73 109 85 66 105 11 172 4 14 0 0 333 1 179 130 6 0 10 41 24 85 24 23 5 188 23 17 8 0 6 7 0 283 143 211 209 95 220 27 240 10 146 318 300 602 14 211 542 6 0 12 55 29 129 29 46 27 217 33 21 9 0 18 25 0 29 89 154 92 77 98 37 340 10 13 0 0 574 0 321 126 37 0 6 28 21 143 14 50 4 206 33 24 6 0 0 5 3 197 154 290 210 129 228 78 496 20 160 156 453 1277 4 374 582 39 0 16 64 30 246 19 82 21 260 46 35 7 0 6 16 3 7 12 90 46 48 67 13 188 6 11 0 0 252 0 198 43 62 0 7 18 8 78 14 11 1 159 8 14 7 0 1 0 0 72 38 169 105 97 147 44 324 12 49 97 251 672 3 250 234 71 0 13 38 13 155 14 24 9 197 25 26 7 0 5 3 0 4 17 53 22 11 44 10 109 2 6 0 0 115 0 115 18 28 0 0 7 10 4 4 14 0 142 3 4 6 0 0 2 0 63 40 215 176 139 163 40 264 23 112 156 195 494 15 214 207 46 0 2 82 33 96 15 24 9 210 17 14 6 0 0 5 1 69 233 426 280 210 336 82 844 23 54 0 0 1366 1 897 329 135 0 26 98 68 347 60 105 11 753 69 63 28 0 10 15 3 693 476 964 798 510 872 219 1.281 39 1.

77 .00 0. 2010 Meninggal (3) 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Kasus IR (per 10.25 0.32 1.61 1.64 1.88 0.93 0.19 JUMLAH KASUS.055 1.36 2. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. MENINGGAL.31 1.31 1.00 1.333 3.63 3.98 0.46 0.281 39 1.197 1.86 0.83 0.21 1.60 0.10 0.52 0.31 0.50 1.000 penduduk) (4) (5) 693 476 964 798 510 872 219 1. Kemkes RI.80 1.Lampiran 3.32 1.11 0.30 0.79 0. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.03 0. DAN INCIDENCE RATE CAMPAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Laporan Rutin No.00 0.34 0.00 0.59 0.10 0.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 18.447 72 533 813 1.

KLB Dengan Spesimen > 5 Frek. Kemkes RI. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.Lampiran 3. KLB Dengan Investigasi Penuh Frek. 2010 Total KLB Frek. KLB Dgn Laporan ke Pusat Total Kasus Meninggal (3) (4) (5) (6) (7) (8) 5 5 8 1 17 8 2 24 3 0 3 26 25 6 8 8 0 0 0 1 2 2 2 6 0 4 3 3 0 1 5 4 8 190 4 3 7 1 9 8 2 20 2 0 2 20 21 6 6 7 0 0 0 1 2 2 1 4 0 4 3 3 0 0 5 2 3 148 0 1 5 0 9 4 0 20 2 0 0 17 0 4 0 7 0 0 0 1 1 2 1 4 0 4 3 2 0 0 4 2 1 94 0 1 5 0 17 4 0 24 2 0 0 23 0 4 0 8 0 0 0 1 1 2 2 6 0 4 3 3 0 0 4 4 3 121 28 38 185 5 167 70 17 409 30 0 14 280 122 50 49 221 0 0 0 17 45 20 18 63 0 30 66 26 0 2 100 68 630 2. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.20 FREKUENSI KLB DAN JUMLAH KASUS PADA KLB CAMPAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Laporan KLB No.770 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 34 42 .

Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.Lampiran 3.151 9 49 28 252 0 0 9 142 . Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 28 23 40 5 71 43 17 115 13 0 14 136 122 48 48 46 0 0 0 5 10 10 9 28 0 21 17 15 0 2 26 12 37 2 4 3 0 3 0 0 0 0 0 2 6 2 3 1 6 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 2 0 0 1 5 1 2 9 34 48 0 18 0 0 0 0 0 9 70 9 23 11 183 0 0 0 0 0 0 0 37 0 0 49 0 0 2 100 30 544 1 0 3 1 7 1 1 19 2 0 1 13 21 2 7 2 0 0 0 1 2 1 1 2 0 3 1 3 0 0 0 0 3 6 0 127 5 81 12 12 325 27 0 5 159 107 22 38 38 0 0 0 17 45 14 8 19 0 23 17 26 0 0 0 0 18 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 8 0 0 0 6 0 5 0 0 0 0 7 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 7 3 1 1 2 0 6 7 0 2 1 0 0 4 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 5 4 10 0 62 58 0 52 3 0 0 30 0 5 0 0 0 0 0 0 0 6 10 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 32 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 65 961 46 1.176 98 1. Kemkes RI. Provinsi (1) (2) Campak Total Darah (Serum) Sampel Frekuensi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 (3) (4) Gabungan (Campak dan Rubella) Rubella Negatif Tanpa Spesimen Pending Lab.21 KLB CAMPAK BERDASARKAN KONFIRMASI LABORATORIUM MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Konfirmasi Laboratorium No.

Kemkes RI. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 <1 1-4 5-9 10-14 > 15 Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) . Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 1 1 6 0 32 1 0 0 0 2 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 8 0 60 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 5 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 0 23 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 5 0 3 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 3 12 24 0 119 4 0 0 0 4 0 4 0 0 0 10 3 0 0 0 0 0 0 Indonesia 6 53 84 29 17 189 Sumber: Ditjen PP & PL.Lampiran 3.22 JUMLAH KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Bulan) No.

Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 3 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 9 2 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 5 0 11 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3 0 12 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 0 14 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 0 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 10 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 9 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 3 12 24 0 119 4 0 0 0 4 0 4 0 0 0 10 3 0 0 0 0 0 0 Indonesia 19 22 22 22 20 19 13 17 9 9 5 12 189 Sumber: Ditjen PP & PL.23 JUMLAH KASUS DIFTERI PER BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus per Bulan No. Kemkes RI.Lampiran 3. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 .

80 2.29 5.21 3.29 4.24 JUMLAH KASUS AFP.43 2.13 1.59 3.682 2.96 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.38 2.80 2.93 8.65 .60 2.00 1.95 2.15 2.57 2.30 2.Lampiran 3.40 2.80 2.59 4.00 2.96 3.220 1.67 3.83 2.57 2.64 1.31 5.14 1.43 2.64 1.00 2.15 2.00 1.00 2. 2010 24 80 26 37 7 17 10 42 6 43 42 62 224 162 12 151 28 14 18 17 11 5 15 43 7 15 17 28 27 8 6 4 12 35 95 40 69 19 85 18 57 10 12 62 246 188 35 241 84 25 19 58 30 11 23 29 31 14 66 22 21 7 9 7 8 6 2.00 1.91 3.83 3.36 4. AFP RATE DAN NON POLIO AFP RATE MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Minimal Kasus per Tahun Jumlah Kasus AFP AFP Rate / 100.93 8.25 2.95 3.72 2.00 2.13 1.20 5.60 2.01 2.06 2.40 2.75 2.00 3. Kemkes RI.21 2.000 penduduk Non Polio AFP Rate / 100.60 3.75 3.33 4.33 4.00 3.42 3.41 5.93 2.38 2.14 1.75 3.62 2.24 3.73 2.87 2.000 penduduk (2) (3) (4) (5) (6) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.

25 JUMLAH KASUS AFP MENURUT KRITERIA KLASIFIKASI KLINIS DAN PROVINSI TAHUN 2009 Klasifikasi Klinis No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.636 .Lampiran 3. 2010 Virus Polio Liar Kompatibel Bukan Polio (3) (4) (5) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 35 95 40 67 12 17 18 85 9 59 55 84 234 186 34 230 30 11 21 28 31 21 13 63 7 22 25 18 56 8 7 8 7 1. Kemkes RI.

83 0.85 1.97 0.83 0.272 129 1.184 20.59 193.90 3.00 1.656 1.813 1.59 1.932 25.360 339 4.462 25.59 1.248 19.65 39.64 78.02 758 2.50 19.10 0.94 27.12 1.73 34.279 1.3 173.20 48.49 0.732 944 236 2 0 275 208 103 13 34 24 15 5 13 7 23 2 11 86 288 327 26 372 98 14 2 11 7 8 16 102 24 17 30 7 4 0 0 7 2 4 1.697 2.89 2.80 1.39 0.05 18.22 0.89 68.58 0.80 74.44 42.41 1.72 8.35 2.55 2007 M CFR (10) 1.35 1.250 5. DAN INCIDENCE RATE PER 100.00 1.187 CFR P (15) (17) 1.06 1.92 26.08 5.43 1.00 0.97 1.41 54.39 0.850 353 1.81 2.91 1.235 2.18 16.87 47. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia P 2005 CFR IR P 2006 CFR IR P (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 629 3.470 145 950 31.46 11.53 IR (20) 36.203 18.006 172 43 0 250 510 228 32 49 11 10 9 3 1 40 22 26 231 228 21 168 53 19 4 22 32 7 11 105 16 17 27 9 4 0 0 7 2 1 1.75 25.000 PENDUDUK DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD/DHF) MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .61 20.73 1.19 26.98 1.25 23.92 170.04 52.51 3.10 1.64 1.659 513 455 2.37 2.950 5.36 Sumber: Ditjen PP & PL.22 .762 1.62 0.00 0.60 10.24 1.66 0.361 23.32 1.306 5.74 1.38 1.22 193.338 2.254 777 695 947 531 576 5.73 3.42 114.44 2009 M CFR (18) 1.16 0.64 59.91 1.65 32.08 33.03 4.26 1.66 3.2009 No.87 108.71 31.05 61.77 0.00 4.44 24.7 59.79 36.09 0.244 1.69 0.00 19.75 9.926 780 2.36 35.80 0.75 1.48 158.75 0.62 17.94 23.724 28.86 158.32 0.954 6.88 IR P (12) (13) 38.569 3.39 167.15 54.22 1. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.321 5.807 34 1.19 13.73 2.00 0.54 4.98 35.01 35.34 0.01 71.26 JUMLAH PENDERITA.15 1.862 349 1.21 3.714 1.36 1.8 68.00 29.90 0.310 3.38 1.924 2.87 21.165 1.251 2.538 1.29 1.38 3.631 5.189 795 309 3.430 1.00 1.85 31.44 228.80 1.309 1.17 3.113 5.411 692 91 149 0 384 204 196 20 58 18 27 5 6 8 20 16 14 32 307 248 15 185 70 9 4 7 171 16 20 68 20 7 23 12 2 0 0 7 2 3 0.96 3.68 0.65 1.89 1.79 48.17 3.6 313.17 15.15 0.74 0.640 952 3.865 1.16 0.57 15.28 0.27 1.09 2008 M (14) 2.33 0.55 0.032 37.76 0.22 0.062 735 1.375 720 518 508 696 1.22 56.09 0.90 0.62 20.836 30.65 69.98 1.78 137.58 296.89 50.17 66.115 1.72 66.33 0.00 0.00 2.35 3.51 1.71 0.74 119.78 1.01 0.74 0 38.20 25.42 12.43 16.00 2.480 274 4.32 3.27 0.29 8.92 31.125 1.82 0.38 1.22 28.00 16.3 65.50 2.19 13.02 36.36 65.63 4.00 0.67 15.01 1.21 1.290 492 2.374 2.21 10.12 1.15 86.52 0.00 2.466 18.09 22.454 1.854 260 1.469 1.81 2.27 1.00 2.30 1.99 1.89 0.907 828 245 2.22 1.95 65.90 3.822 758 206 27 0 24 184 183 1.00 2.48 7.78 1.30 0.13 12.810 615 399 9.08 1.81 63.24 0.29 0.33 392.13 0.20 0.99 0.38 18.990 2.573 4.40 103.53 2.23 0.341 1.119 17.29 1.05 1.99 1.55 0.23 0. Kemkes RI.74 1.583 971 15.93 0.912 1.596 1.19 0.04 13.402 58 969 24.5 44. CASE FATALITY RATE (%).80 1.62 64.31 1.89 28.66 48.86 30.56 3.621 61 736 46 746 23.10 0.154 1.54 2.067 948 365 2. 2010 14.73 32.01 13.629 623 251 2.99 1.657 1.64 1.59 6.587 6.83 32.21 1.Lampiran 3.436 4.881 2.389 3.16 1.220 491 341 3.67 73.60 57.62 11.84 3.81 1.53 0.09 95.861 17.590 6.00 0.47 2.61 29.03 56.50 1.07 4.55 25.06 0.391 2.75 1.563 254 1.82 1.07 0.792 1.828 28.20 0.76 6.60 1.20 1.612 95 302 31 0 138 128 60 43.4 89.89 31.90 13.97 26.86 23.22 0.34 1.851 10.69 3.96 74.045 3.27 0.60 1.28 2.420 (19) 1.54 35.536 20.11 0.67 0.00 2.54 115.94 1.86 9.599 (11) 0.75 29.25 29.79 316.06 2.89 41.29 121.12 0.75 31.28 1.58 1.4 13.67 1.

00 92.00 85.14 100.91 85.00 100.00 64.63 100.22 73.00 81.00 50.00 90.50 22.00 96.00 70.00 91.33 89.33 83.33 42.14 68.00 20.29 100. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.23 90.00 92.33 100.00 100.Lampiran 3.00 100.29 77.00 100.43 50.00 100.00 0.96 50.00 91.00 100.00 88.00 0.00 90.00 100.15 100.00 100.00 88.00 100.71 57.86 100.00 80.00 63.50 44.71 83.00 15 20 15 11 8 12 9 10 7 4 6 25 35 5 38 6 9 8 5 10 12 13 13 9 9 21 7 5 1 0 6 3 4 361 65.00 40.00 100.05 77.86 69.00 100.33 42.25 83.00 80.00 0.00 100.00 71.00 100.00 80.00 15 19 12 11 10 9 7 10 5 3 5 25 35 5 38 6 9 8 1 10 6 12 13 9 7 20 5 5 2 0 3 2 3 330 71.33 19.00 100. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.71 100.00 100.50 17 22 16 11 7 12 10 11 7 5 6 26 35 5 38 8 9 7 6 14 13 13 13 11 9 22 6 5 4 0 4 5 7 384 .63 17 22 17 10 9 9 9 10 6 4 6 26 35 5 38 6 9 8 5 10 9 13 13 9 9 21 3 6 1 0 4 0 6 355 73.95 100.00 90.89 25.91 73.75 58.00 100.00 52.00 100.00 75.22 15.00 85.44 20.00 37.00 33.89 6.00 70.47 90.86 60.00 0.00 100.30 60.31 100.00 75.00 22. Kemkes RI.31 100.82 87.00 86.00 100.16 100.00 0.00 64.00 66.00 25.00 92.33 83.00 37.71 100.78 100.29 33.00 100.43 64.50 25.43 85.00 75.27 JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG TERJANGKIT DEMAM BERDARAH DENGUE MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .00 100.00 71.91 100.71 100.00 83.00 100.00 71.00 20.33 100.43 76.22 71.30 58.43 78.82 60.33 100.00 100. 2010 Tahun Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota 2005/2006 2007 2008 2009 Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 20 440 23 28 19 11 10 15 9 11 7 6 6 26 35 5 38 7 9 9 20 14 14 13 14 13 10 23 12 6 5 9 8 9 21 465 23 30 19 11 11 15 10 11 7 7 6 26 35 5 38 7 9 10 20 14 14 13 14 15 11 24 12 6 5 11 8 9 27 483 23 33 19 12 11 15 10 14 7 7 6 26 35 5 38 8 9 10 21 14 14 13 14 15 11 24 12 6 5 11 9 11 29 497 2005 12 17 10 11 7 9 3 10 6 5 5 25 35 5 38 6 9 9 7 7 6 13 12 9 10 21 6 5 1 0 3 4 4 330 2006 2007 2008 2009 % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 57.86 92.00 100.91 81.00 85.00 43.33 20.67 100.2009 No.

26 7.71 - 178 636 380 216 362 1.14 13.14 1.78 15.44 0.68 0.48 5.00 1.68 1.544 5 13 6 12 1 1 45 7 1 7 12 3 6 158 3.51 10.26 8.25 4.28 6.540 0 12 2 1 9 4 1 3 2 1 13 23 18 14 106 0.38 0.24 2.07 3.023 130 169 1.88 45 86 11 1.223 488 50 269 177 20 133 6.756 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.84 5.00 1.443 209 2.79 0.051 127 2.44 2.425 95 351 1.371 2.980 277 2. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.88 2.147 416 437 37 423 205 605 473 6.51 2.Lampiran 3. 2010 2005 2006 2007 2008 2009 P M CFR P M CFR P M CFR P M CFR P CFR (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (17) 267 145 95 95 148 48 1.75 1.43 2.85 8.67 1.74 .98 3.89 0.2009 No.661 46 1.52 3.28 18.194 69 133 486 6 6 1 2 1 0 26 28 13 7 37 2.23 1.047 814 217 106 41 584 2.60 6.46 2.28 2.61 163 401 40 46 218 880 226 102 1.49 0. Kemkes RI.00 2.67 0 18 1 6 3 0 4 5 3 2 1 0 1 5.89 2.90 1.057 104 120 163 66 293 - 7 8 3 3 3 6 11 5 - 1.00 4.38 1.53 0.68 16.41 390 1.468 1.54 0.12 1.11 0.28 KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DIARE MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .50 3.05 2.36 0.

Feb Jan . Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Kasus Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.Des - .Lampiran 3.291 117 2.Nov Feb .Des Jan .095 1.045 6.Mei Feb.609 528 12. Kemkes RI.Des Okt Nov .Juni Okt Jan .Des Jan -Des Jan .Des Apr .Des Des Jan .756 0 60 63 181 5.Sept Mei .355 Periode Kab/Kota Kecamatan Desa/Kelurahan (5) (6) (7) (8) - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 1 7 7 8 7 7 2 17 1 3 - 8 24 25 2 1 1 2 - 12 88 70 2 1 2 6 - 83.098 276 - - - - - Jan .862 7.Des Nov .29 JUMLAH KASUS DEMAM CHIKUNGUNYA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.622 24.742 8.Des Jan .759 5.982 103 814 - 458 - 3. 2010 Jumlah Wilayah Terjangkit P M (3) (4) 3.

Kemkes RI.316 195 1.237 346 104 173 689 512 805 827 139 215 933 276 - 5 18 14 5 0 9 0 7 1 0 2 28 33 1 0 1 12 4 4 3 5 0 35 8 - 12 39 275 35 40 211 0 7 0 2 0 0 65 0 1 0 0 7 0 0 0 0 534 0 - - 216 - - - - 45.825 3.994 947 284 325 1.061 636 303 1. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.818 653 502 2.Lampiran 3.718 2.518 422 1.288 276 - 294 1.806 3.30 JUMLAH DAERAH TERTULAR RABIES DAN JUMLAH KASUS GIGITAN HEWAN PENULAR RABIES (GHPR) SERTA HASIL PEMERIKSAAN SPECIMEN HEWAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No. 2010 Jumlah Daerah Tertular Jumlah Kabupaten/Kota Jumlah Kasus Desa Kecamatan Seluruhnya Terjangkit % GHPR (3) (4) (5) (6) (7) (8) Pemberian VAR Lyssa (9) (10) Jumlah Specimen Hewan Diperiksa Positif (11) (12) 12 26 18 11 10 2 10 1 1 12 1 9 8 10 10 8 13 8 23 8 6 2 2 5 - - - - - 329 2.386 2.274 9 288 264 21.123 575 1.095 0 83 105 18. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.859 605 1.882 629 110 240 1.466 35.228 - .

699 11.359 141 274 532 257 210 94 74 207 31 53 404 395 37 219 91 18 71 1.127 2.914 .682 232 202 385 409 30 451 60 181 224 92 70 12 355 1.730 253 225 385 409 30 451 128 201 224 96 70 27 988 1.359 104 231 532 255 191 94 74 151 31 53 252 224 5 207 67 18 62 1.158 10.473 11. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.682 253 225 385 409 30 451 60 208 224 96 70 27 985 1.359 141 274 532 257 210 94 74 207 31 53 474 412 37 219 76 18 71 1.427 11.359 104 274 532 255 191 94 74 207 31 53 265 395 37 238 67 18 69 1. 2010 Tahun 2006 2007 2008 2009 (3) (4) (5) (6) 2.682 244 226 385 409 30 451 60 208 224 92 70 12 985 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.Lampiran 3. Kemkes RI.2009 No.132 2.31 JUMLAH PENDERITA FILARIASIS MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .132 2.

175 0 0 0 0 . (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 Kabupaten/Kota (3) Bandung Boyolali Sleman Pasuruan - Jumlah Spesimen Diperiksa Hasil Spesimen Positif Spesimen Pool Human Rodent Human Rodent Diperiksa Positif (4) (5) (6) (7) (8) (9) 0 0 0 40 - 0 0 0 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.Lampiran 3. Kemkes RI.32 SITUASI PES MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.175 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 40 3.

55 263 16 6.08 378 23 6. 2010 Keterangan : K= Kasus.2009 2004 No. Provinsi (1) (2) 2005 2006 2007 2008 2009 K M CFR K M CFR K M CFR K M CFR K M CFR K M (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) CFR (20) 1 Aceh 0 0 0 0 0 0 49 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Jambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 Kep.33 JUMLAH KASUS.06 114 16 14.97 667 57 8.04 138 11 7. Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 DKI Jakarta 78 6 8 62 0 0 51 0 0 470 34 7 37 2 5 8 2 25 12 Jawa Barat 7 0 0 0 0 0 0 0 0 9 1 11 0 0 0 0 0 0 13 Jawa Tengah 40 10 25 34 10 29 35 9 26 70 8 11 72 9 13 275 14 5 14 DI Yogyakarta 20 1 5 8 2 25 0 0 0 3 1 33 125 1 1 95 7 7 15 Jawa Timur 3 0 0 1 0 0 1 0 0 65 5 8 29 4 14 0 0 0 16 Banten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 34 3 9 0 0 0 0 0 0 17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 26 Sulawesi Selatan 18 8 44 9 4 44 2 2 100 16 5 31 0 0 0 0 0 0 27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 166 25 15.08 Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.Lampiran 3. Kemkes RI. MENINGGAL. DAN CASE FATALITY RATE (CFR) LEPTOSPIROSIS MENURUT PROVINSI TAHUN 2004 . M= Meninggal .

2009 2005 No. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.Lampiran 3.34 JUMLAH KASUS DAN MENINGGAL FLU BURUNG MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 . Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 Keterangan : K= Kasus. M= Meninggal 2006 2007 2009 2008 2005-2009 K M K M K M K M K M K M (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 8 3 1 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 2 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 2 0 0 0 0 0 0 0 11 22 3 0 5 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 10 18 3 0 3 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 6 0 1 0 0 0 0 8 5 5 0 2 11 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 5 0 1 0 0 0 0 8 4 5 0 1 9 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 7 4 2 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 4 2 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 10 6 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 8 6 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 4 8 0 1 0 3 0 0 44 40 12 1 8 30 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 7 1 6 0 1 0 0 0 0 38 34 11 1 5 27 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 20 13 55 45 42 37 24 20 21 19 162 134 . Kemkes RI.

610 3.74 71.07 31.159 99.47 46.022 1.17 18.00 100.675 678 495 438 263 765 53.00 100.02 28.00 100.34 21.00 100.781 717 523 811 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jumlah Korban Jumlah Kecelakaan Meninggal % (3) (4) (5) 608 3.34 43.44 13.00 100.367 1.111 268 127 - Luka 21.013 444 339 461 226 182 360 492 348 512 252 173 20.97 19.44 24. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.00 100.00 100.61 35.15 28.16 33.83 39.83 19.79 17.00 100.167 401 447 - 58.735 1.57 12.35 JUMLAH KEJADIAN KECELAKAAN LALU LINTAS DAN JUMLAH KORBAN LUKA DAN MENINGGAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No. 2010 % Jumlah % (7) (8) (9) (10) (11) 27.636 931 709 542 367 1.929 145 150 - 19.18 26.00 100.21 58.61 25.04 25.14 31.50 80.00 100.661 499 1.00 100.456 561 2.00 100.245 811 1.16 - - - 378 20.80 52.47 4.91 51.00 100.62 18.00 100.907 4.96 42.013 411 409 313 164 524 61.00 100.40 118 118 - 22.617 1.69 33.210 727 4.69 57.571 749 759 415 1.173 1.96 33.15 57.61 20.07 24.46 28.580 1.290 821 403 1.77 32.73 17.15 14.397 1.878 7.44 24.051 318 203 158 189 - - Sumber: Ditlantas Babankam.170 2.08 7.42 27. Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia.626 859 5.00 100.69 45.202 12.75 44.794 792 666 848 987 513 1.592 1.83 17.90 44.244 1.36 55.199 4.Lampiran 3.106 4.574 617 2.16 - % 406 2.02 26.57 2.00 .83 39.00 100.48 23.00 100.30 82.035 98 108 - - 257 18.57 30.20 28.07 38.46 Luka Ringan 1.62 14.10 9.470 297 1.038 1.28 1.00 100.203 1.00 100.36 18.73 36.00 100.126 2.11 17.09 30.00 100.50 24.638 1.15 32.40 42.951 100.254 850 1.07 61.69 15.73 69.828 984 1.169 203 3.04 34.00 100.56 - 1.050 1.95 48.91 111 85 - Berat 34.81 42.885 1.00 100.00 100.697 565 1.07 52.485 2.78 39.00 100.929 14.21 61.368 1.43 44.035 2.278 12.00 100.047 38.134 381 1.834 2.448 (6) 22.499 1.00 100.10 18.341 5.00 100.45 20.35 26.167 20.00 100.43 44.687 195 573 456 341 463 289 414 474 355 366 1.09 27.087 1.407 1.07 35.147 1.466 6.87 12.08 2.278 218 218 4.28 82.213 10.313 388 665 1.27 40.120 1.474 7.40 10.70 51.

845 143.51 88.162 110.36 94.28 61.693 183.792 1.54 81 76.58 76 74.96 95.28 98.692 61.766 107.72 81.63 63. Kemenkes RI Jumlah K1 % K1 K4 % K4 Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) (8) 113.707.474 176.520 12.428.763 61.927 102.04 84.731 59.235 571.652 22.823 55.54 .67 91.80 90.31 92.441 33.457 19.946 29.45 67.592 39.968 566.489 144.455 113.947 13.563 152.900 155.645 7.08 86.30 84.24 98.410 145.541 67.59 80.11 55.52 75 52.275 87.90 92.00 75.215 83.28 93.51 93.807 32.161 54.421 665.58 47 71.678 26.73 89.170 27.256 18.73 64 67.629 171.849 64.24 77.03 95.43 102.204 16.464 563.590 50.71 85.541 967.320 48.264 22.359 73.179 83.412 590.645 43.80 90.456 65.028 75.734 884.29 90.845 46.071 23.833 18.096 90.104 42.25 93.205 17.142 36.130 108. DAN PERSALINAN DITOLONG TENAGA KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Ibu Hamil No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.327 62.68 85.198 38.663 14.74 82.36 84.049 72.173 21.632 81.51 74 101.08 96.817 40.33 95.452 425.04 97.320 185.245 50.114 45.799 27.793 303.67 64 85.39 89.039 126.505 32.129 175.24 100.44 85.09 81.179 96.804 45.73 89.790 137.38 Ibu Nifas Kunjungan % KF3 Nifas 3 kali (9) 56.318 85.215 76.060 99.554 118.444 25.687 47.Lampiran 4.91 91.358 (10) 59.33 57.788 164.838 3.418 155.032 43.283 15. K4.374 90.450 174.239 32.238 45.105 58.226 31.16 51 63.19 92.637 45.898 638.69 72.921 4.402 103.38 75 93.18 85.867 153.339 624.055 290.859 26.08 80.02 96.23 85.50 92.73 96.178 64.127 308.516 15.1 CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL K1.552 43.097 107.402 37.945 77.723 27.727 11.488 38.612 990.03 88.681 65.240 25.507 62.000 61.26 87.91 90.892.100 68.889 568.516 35.708 73.067 51.719 86.01 90.64 101.04 69.79 29.75 78.812 Ibu Bersalin Ditolong Nakes % Ditolong Nakes (9) (10) 85.362 271.555 26.128.017 163.711 104.76 95.02 86.611 20.895 47.012 4.21 41 87 36.02 97.898.76 75.063 32.79 93.10 61.59 80.15 84 70.031 4.07 80.472 202.371 24.36 82.963 29.710 46.57 93.49 98.051 5.648 62.96 79.74 86.883 107.75 98.37 17 66.533 77.65 57.037.62 62.757 24.053 177.686 140.60 83.423 23.21 81.53 85.594 77.678 41.96 85.354 139.308 75.85 94.425 28.506 25.496 67.569 168.82 93.25 88.054 125.38 39.345 24.75 48 73.182.11 80.185 37.31 88.35 83.158 176.550 42.287 605.87 83.517 20.551 17.211 10.036 47.763 611.060 49.595 180.079 15.213 36.01 85.032 175.992 95.875 39.07 91.169 77.647 54.864 109.90 79.214 176.979 103.480 56.37 99.22 82.658 2.370 89.86 84.534 4.285 53.47 84.09 94.186 26.92 98.616 206.00 94.05 93.422 71.58 94.032 42.261 221.064 162.811 409.612 745.761 322.54 73.257 115.880 42.11 79.277 158.35 84 94.91 77.45 100.491 24.443 632.769 38.081 53.664 49.412 118.878 131.

86 0.06 12.88 23.80 0.74 17.69 36.25 12.33 0.29 15.32 0.78 42.53 36.38 0. Statistik Kesejahteraan Rakyat Penolong Waktu Lahir Dokter Bidan Tenaga Medis Lain Dukun Famili (3) (4) (5) (6) (7) Jumlah (8) 8.30 0.48 0.29 1.00 64.44 27.62 62.71 0.16 12.76 0.67 8.20 34.59 0.39 27.53 29.46 35.47 2.13 0.58 66.04 1.98 16.48 42.48 20.39 60.74 0.83 3.87 0.67 0.93 33.35 30.51 0.89 1.53 2.51 0.97 15.52 3.22 47.43 0.25 62.08 0.08 67.70 29.61 13.75 65.18 0.91 9.84 58.07 1.94 1.60 35.31 1.40 8.10 23.78 0.13 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 99 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 99 99 100 0.24 0.40 49.61 1.51 39.85 55.53 0.22 .62 0.86 1.14 10.44 16.49 1.28 75.84 5.61 1.70 8.65 35.58 50.88 15.71 40.92 63.34 0.86 21.30 1.60 37.38 3.19 62.95 13.74 2.60 10.15 20.40 68.41 33.19 3.91 2.40 1.44 13.79 21.75 31.38 9.24 71.54 0.77 76.47 13.26 14.92 1.53 32.64 0.62 15.44 1.32 11.Lampiran 4.53 14.69 0.01 52.45 7.83 3.63 27.27 0.25 0.64 50.65 3.18 49.98 6.31 15.82 0.41 0.06 1.07 6.88 8.59 48.11 0.00 55.99 0.70 5.84 15.39 9.59 12.43 61.05 14.79 5.98 54.86 13.42 0.86 18.82 100 12.57 5.46 40.2 PERSENTASE BALITA MENURUT PENOLONG KELAHIRAN TERAKHIR DAN PROVINSI TAHUN 2009 Perkotaan + Perdesaan No Provinsi (1) 1 (2) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : BPS.65 0.41 70.54 68.23 57.76 41.70 12.47 66.58 13.11 0.15 0.61 0.40 49.65 0.97 61.

371 33.30 99.925 196.763 35.90 74.157 101.68 70.70 86.60 81.887 38.590 22.15 86.318 273.920 44.25 83.3 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS.50 78.85 75.70 35.752 48.316 518. Kemenkes RI KN1 % KN1 KN LENGKAP %KN LENGKAP (4) (5) (6) (7) 98.303 547.943 21.223 27.477 18.971 22.582.50 31.946 3.449 130.653 87.53 66.10 32.574 48.70 91.391 132.885 170.524 51.632 14.970 43.554 65.964 152.681 170.20 73.598 696.865 23.10 83.20 93.104 107.30 70.858 79.972 99.065 93.59 68.91 88.525 157.819 53.380 807.278 5.00 90.40 85.40 83.201 40.55 73.842 534.493 14.77 80.344 92.80 23.422 7.807 144.991 87.80 33.366 23.80 80.Lampiran 4.391 37.232 43.576 16.59 90.60 82.888 21.741 49.70 99.01 78.33 28.00 95.474 155.765 33.401 104.986 112.434 38.344 171.015 23.805 78.831 153.584 42.30 82.098.50 92.00 30.60 77.64 3.17 99.747 5.60 82.619 54.503 44.854 150.670 43.70 83.714 58.74 .60 73.041 54.222 23.75 82.953 48.095 27.00 92.687 18.857 7.25 21.00 94.90 88.442.161 77.60 68.57 4.667 30.084 133.362 48.786 269.661 77.80 76.90 64.376 67.344 31.20 75.60 81.552 563.00 30.114 19.153 8.724 54.058 22.50 74.431 80.70 86.505 118.110 426.663 119.040 41.244 299.462 15.310 71.202 66.751 80.101 508.819 15.71 77. PELAYANAN KESEHATAN BAYI DAN ANAK BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 KUNJUNGAN NEONATUS NO PROVINSI JUMLAH BAYI (1) (2) (3) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.386 10.00 75.31 85.60 92.98 89.80 79.600 69.73 91.953 90.30 94.278 688.20 60.20 80.754 121.

926 38.591 79.90 20.70 574.977 65.198 172.776 75.067 64.00 166. DAN MURID SD KELAS 1 DAN SEDERAJAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO PROVINSI JUMLAH BAYI (1) (2) (3) 1 Aceh 2 Sumatera Utara CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI JUMLAH % (4) (5) JUMLAH ANAK BALITA (6) CAKUPAN PELAYANAN JUMLAH MURID CAKUPAN PELAYANAN MURID SD KELAS SATU KESEHATAN ANAK BALITA SD KELAS SATU JUMLAH % JUMLAH % (7) (8) (9) (10) 98.514 71.272 67.78 .077 70.590 120.013 32.08 344.310 30.40 426.00 140. ANAK BALITA.00 196.80 74.00 369.108.352 29 Sulawesi Barat 21.093.222 28.819 125.514 64.50 2.495 27.923 18.900 12 16 - 1.86 244.471 - 37.137 Jawa Barat Banten 46 529.589 46 431.304 73 97.061 80.148 57.816 76.42 1.334.00 1.455 161.00 1.867 92.672 18 Nusa Tenggara Barat 107.407.659 450.115 39.136.768 42.001 654.876 1.72 2.63 242.79 790.038 21.391 48.250 82.083.963 39.935 29.78 5.649 17 Bali 49.00 60.50 232.70 312.206 73.107.110 243.31 300.594 275.197 7.515 81.584 79.845 10.376 - 33 Papua 51.816 137.38 388.480 60 331.617 92.341 88.417 144.81 101.91 804.344 41.031 91.83 432.933 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 58.754 84.326 9.94 132.534 38.380 196.779.694 207.73 122.555 - 66 30.05 82.571 24 Sulawesi Utara 37.84 153.920 522.80 169.984 31 Maluku Utara 23.471 30 178.52 216.305.867 13 Jawa Tengah 563.682 320.124 22.442.44 28.303 39.114 40.244 65.387 217.493 36.540 48.587 78.00 86.909 115.22 30.00 364.80 200.854 23.556 191.80 579.11 14.937 10 Kepulauan Riau 38.778 27 Sulawesi Tenggara 53.435.072 170.154 54.23 206.45 608.539 82.870 32 Papua Barat 18.166 66.925 54 416.131 4 Riau 118.009 46.62 230.85 117.943 3.14 268.946 13.097 36.017 64.00 140.840 16.219.028 138.504 28 Gorontalo 19.238 22 Kalimantan Selatan 71.071 30 65.324.704 70.252 811.935 81 86.527.681 27.96 411.56 - 299.508.714 90.085 52.554 58.136 7.768 51.000 36 - 27.60 1.44 207. Kemenkes RI 4.851 26.25 1.944 18.80 66.375 105.567 46.199 8 Lampung 150.780 821.526 65.00 38.524 4.10 110.505 78.984 7 Bengkulu 33.676 57.765 14.26 224.22 - 8.633 80.571 22 88.36 184.902.695 20 Kalimantan Barat 99.299 905.04 4.86 1.124 78.40 84.338 21 Kalimantan Tengah 42.10 620.198 80.041 29.477 5.64 260.20 45.4 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI.24 844.419 0 (11) - 76.00 351.160 99.298 73.40 80.47 195.620 352.786 76.390 19 Nusa Tenggara Timur 121.845 77.484 5 41.92 123.745 169.912 45.78 125.693 25 Sulawesi Tengah 54.602.726 81.50 389.70 2.823 67.844 34.537 42.937 37.806.133 26 Sulawesi Selatan 171.614.513 48.434 15.401 242.552 547.371 119.807 47.50 470.256 507.234 23 Kalimantan Timur 65.00 363.552 70.085 75.562 42.68 1.330 47 86.117 180.549 1.00 3.628 - 52.667 80.661 Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.104 49.141 30 Maluku 33.802.99 81.60 116.417 81.333.578 56.137 5.339 68.829 386.Lampiran 4.99 3.111 3 Sumatera Barat 104.171.222.507 46.952 4.965 14 DI Yogyakarta 44.888 15.927 807.00 227.761 90 929.234 9 Kepulauan Bangka Belitung 22.972 79.121.246 155.097 11 15 85.871 79.124.623 130.588 16.359 100.463 72.20 421.048 66.600 73.020 79.494 23.358 92.741 38.00 3.808 DKI Jakarta Jawa Timur 62.106 84.809 23 42.

589 3.371 33.939 36.363 48.75 22.2 5.8 1.222 23.807 8. Kemenkes RI CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL KOMPLIKASI JUMLAH % (5) (6) OBSTETRI KOMPLIKASI (4) CAKUPAN PENANGANAN OBSTETRI KOMPLIKASI JUMLAH % (5) (6) 98.443 16.941 4.86 32.Lampiran 4.983 3.5 63.77 63.051 3.381 1.983 3.779 7.898 1.685 5.162 10.802 25.6 12.585 440.117 6.888 21.34 32.846 1.854 27.354 112.821 21.958 207.517 2.50 .152 25.380 807.3 0.489 126.854 150.696 11.031 1.670 4.972 99.1 27.265 4.765 33.634 5.645 82.16 21.434 38.065 2.94 4.108 12.0 30.206 4.01 84.593 23.693 6.749 5.084 133.31 49.442 158.319 36.016 10.737 44.522 2.30 72.588 6.490 34.35 45.918 17.481 7.68 41.505 118.681 170.656 5.366 16.073 2.621 3.946 666.260 638 3.558 3.442.27 12.1 8.30 24.133 84.926 5.6 6.2 20.0 29.733 9.4 33.34 44.732 22.33 50.39 39.656 86.682 23.104 1.60 13.807 144.527 18.518 10.809 5.920 44.477 18.401 104.8 26.0 33.034 15.988 554 4.210 11.163 18.189 29.181 2.21 22.114 19.710 8.76 13.511 7.391 37.478 52.406 8.5 CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL DAN OBSTETRI KOMPLIKASI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PROVINSI JUMLAH BAYI NEONATAL KOMPLIKASI (2) (3) (4) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.422 812 1.563 792 4.925 196.2 29.737 271 119 843 164 14 225 625 39.303 547.036.879 215 1.584 42.5 3.445 3.621 11.938 6.104 107.8 11.613 10.9 21.078 22.661 16.165 39.773 7.8 10.082 29.849 6.0 14.760 5.318 1.85 33.897 2.524 51.3 30.365 5.626 21.557 121.741 49.244 299.32 41.142 2.67 13.5 24.451 23.661 14.4 4.1 22.82 42.238 5.754 121.98 24.0 25.910 15.390 3.0 31.676 17.682 781 2.0 44.296 14.590 22.39 27.913 4.967 2.556 8.815 9.7 13.012 9.2 32.554 65.743 13.752 64.122 8.8 3.511 23.33 52.42 12.65 6.041 54.707 15.4 8.464 37.77 34.140 13.7 6.299 13.403 8.61 51.582 42.498 7.144 15.82 23.819 53.552 563.123 41.211 4.8 76.911 1.714 58.347 10.344 171.701 5.5 58.68 44.56 18.310 71.

51 75.92 55.910.301 339.600 37.787 179.526.166 132.19 67.501 311.471 386. 2010 Peserta KB Baru Jumlah PUS (3) Peserta KB Aktif Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) 742.735 63.819 688.933 89.71 75.6 JUMLAH DAN PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : BKKBN.916 455.211.85 48.32 78.402 352.487 787.003 474.63 21.997 284.354 306.67 85.41 29.099 1.70 .359 882.13 69.25 22.74 15.073 554.85 74.87 59.214 20.55 558.228 1.678.346 287.416 24.52 27.706 164.366 261.876 1.075.045 92.64 70.098 6.995.78 23.836.15 28.731 62.664 35.480 1.467 215.84 18.32 17.34 20.62 80.073 419.488.224 391.580 432.297 315.84 71.36 33.462 418.614 71.882 198.55 70.28 78.66 73.451.58 33.668 993.560 77.642 119.12 16.91 18.45 77.86 13.02 77.968 915.31 71.30 82.65 75.182 575.731 726.813 37.271 166.204 128.024 5.04 81.793 1.057.895 37.53 81.935 182.05 9.50 70.707 165.20 29.737 66.628 43.266 1.345 424.377 139.203 551.778 6.772 75.352 72.30 16.445 162.504 50.040 1.80 24.538 101.538 642.728 584.832 547.75 69.072.486 592.15 17.05 15.675 75.62 18.791 490.404.61 18.581 39.264.030 1.88 71.724 117.396 367.025 549.88 23.437 1.15 9.348 638.328 368.313 7.367 8.959 653.86 43.659 2.892 7.27 76.75 17.030.684 1.606.218 46.13 17.669.286 784.148.60 9.525 369.14 85.667 17.216 452.77 23.311 198.62 20.43 79.230 39.Lampiran 4.12 16.480 305.666 138.371 493.61 80.273.26 13.36 64.961 106.960 157.745.287 5.35 66.487.076 910.093 57.006 392.366 1.080.99 74.

89 168.359 17.940 7.590 3.61 38.082 8.01 148.07 14.50 51 0.058 0.45 16.310 11.417 59.36 119.52 14.70 211 0.441 27.990 1.45 22.072 52.036 3.416 10.81 2.60 233 0.574 6.059 7.560 25 Sulawesi Tengah 2.26 54.19 13.25 46.09 107.158 10.28 57.02 537.03 17.10 19.204 22 Kalimantan Selatan 1.297 2.93 62.246 25.063 1.03 354 0.451.01 Sumatera Utara 17.990 15.075 47.147 4.218 0.22 45.088 5.66 226 0.352 27 Sulawesi Tenggara 28 Gorontalo 29 819 1.02 7.876 5.587 2.701 3.501 26 Sulawesi Selatan 4.03 15.554 36.793 15.55 46.402 0.112 62.854 1.700 12 Jawa Barat 107.33 5.472 9 Kepulauan Bangka Belitung 589 1.593 4.18 40.67 24 0.016 42.44 27.356 0.19 8.99 175. 2010 .99 20.667 Indonesia Sumber: BKKBN.75 512 0.25 71.538 8.895 2.072 44.504 17.62 255 0.43 15.401 0.60 80.835 1.39 11 10 Kepulauan Riau 1.646 32.78 16.723 28.91 6.482 (10) 16.96 1.26 65.16 740 0.53 5.469 8.030.170 48.45 23.706 Suntikan Jumlah % % (12) (13) (14) Pil Jumlah % (15) (16) Total (17) 1.243 24.052 51.214 32 Papua Barat 256 1.37 6.854.86 213 0.672 5.88 809 0.26 66.522 34.39 1.25 3.94 46.73 1.58 368.731 30 Maluku 823 1.66 63.464 31.081 5.09 10.093 39 0.39 8.49 37.68 37.323 8.06 10.50 617.91 2.863 12.07 12.091 45.44 853 0.08 3.05 2.Lampiran 4.066 12.819 52.27 128.684 7.39 4.012 34.910 36.62 191 0.813 33 Papua 298 0.06 4.016 3.47 5.57 39.17 28.51 352.36 1.16 52.50 2.960 37.48 158.31 452 0.905 0.045 24 Sulawesi Utara 3.485 50.18 13.05 809 0.719 7.38 13 Jawa Tengah 32.27 16.299 1.27 3.28 181 0.295 0.999 11.733 41.675 3.05 4 Riau 3.96 165.961 19 Nusa Tenggara Timur 5.809 2.704 5.307 27.48 25.23 64 0.57 2.66 153 0.919 12.02 130 0.024 15 Jawa Timur 52.150 60.55 752.24 10.570 19.63 28.036 3.06 191.67 1.07 8 Lampung 9.146 28.174 0.08 18.422 40.05 56.21 322 0.72 991 0.813 7 Bengkulu 2.991 30.92 233.062 15.577 4.13 10.500 42.12 453 0.716 50.226 13.29 8.666 20 Kalimantan Barat 1.21 10.294 19.445 10.208 16 Banten 17 Bali 18 1 Aceh 2 3 29.94 10.36 52 0.328 26.21 668.180 1.281 8.87 139.74 33.703 27.18 1.20 16 0.602 5.66 43.38 26.484 7.77 61.481 15.746 6.777 11.487 9.31 452.51 79.941 6.7 HASIL PELAYANAN PESERTA KB BARU MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) IUD Metode Kon trasepsi Kondom Implan Jumlah % Jumlah MOP MOW Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (11) 1.65 6 Sumatera Selatan 3.652 4.31 54.003 5.764 51.113 8.47 1.35 12.185 43.642 10.328 1.33 50 0.299 45.618 17.552 25.378 7.142 44.06 106.382 4.39 961 1.74 26.33 7.757 13.811 36.03 103.481 44.71 155 0.739 29.828 38.596 7.469 48.74 1.42 425 0.339 33.20 2.133 2.781 33.35 777 0.15 659 0.060 32.040 7.289 3.671 51.481 1.94 2.51 162.98 424.44 2.16 7.528 46.11 10.03 9.186 2.14 50.70 14 DI Yogyakarta 9.693 6.267 2.88 41.40 1.243 38.03 4.40 11.26 230 0.135 4.23 Sumatera Barat 6.87 441.26 3.009 30.17 8.625 7.13 20.342 18.44 18.430 6.614 21 Kalimantan Tengah 440 0.500 33.21 25.510 0.652 30.92 72.377 10.51 119 0.71 5.09 6.980 40.362 3.37 2.362 44.939 4.319 18.53 2.26 12.80 1.748 4.97 77.62 12.112 2.82 1.88 814 0.34 127.470 0.25 7.15 21.933 23 Kalimantan Timur 3.087 7.464 9.208 11.502 33.73 100.37 85.81 7.735 9.17 73 0.54 57.65 9.71 180 0.16 1.48 733 0.13 26.863 38.34 43.634 30.150 16.430 37.73 74 0.583 23.84 34.08 101 0.17 525 1.14 13.14 34.71 37.33 5.216 0.70 5.169.03 100.010 53.85 63.079 7.931 7.898 5.26 27.62 112 0.54 5 Jambi 2.338 59.874 27.377 16.194 24.182 32.33 68.33 311.18 115.718 2.82 9.21 20.994 15.600 31 Maluku Utara 595 1.11 11.40 11 DKI Jakarta 27.416 334.383 30.839 1.725 37.35 78.86 25.87 150.16 41.45 92.75 138.20 5.87 242 0.674 1.612 3.953 5.89 89.349 15.230 Sulawesi Barat 407 1.56 179.72 68 0.70 558.137 6.463 9.37 29.07 5.83 197 0.300 4.64 1.274 17.34 112.26 8.345 9.462 7.579 22.13 67.03 64.678.63 97 0.707 Nusa Tenggara Barat 6.354 306.13 26.43 355 0.643 11.70 176.990 45.927 13.23 85.43 18.80 624 1.916 0.052 16.06 5.10 101.337 0.21 97.31 41 0.03 882.

706 70.86 3.487.462 75.25 54.38 2.08 6 Sumatera Selatan 1.52 229.70 30.172 0.94 55.274 1.780 9.224 3.07 20.203 77.122 2. 2010 43.45 13 Jawa Tengah 6.437 75.47 14.208 13.35 174.48 4.935 76.749 3.99 40.718 8.50 47.24 194.796 50.40 9.90 284.123 1.459 3.649 0.88 20.95 39.313 432.982 8.69 24.23 14.413 7.031 11.14 7 Bengkulu 369.575 22.31 53.591 1.520 41.882 287.65 109.968 547.462 13.34 12.48 329 0.03 40.45 6.97 130.85 4.978 14.437 26.58 57.64 55.77 293.368 1.128 5.35 326.12 6.48 10.55 19.662 43.829 6.018 9.70 3.063 2.239 17.221 42.31 9.67 22 Kalimantan Selatan 726.622 5.70 140 0.467 1.664 59.073 69.05 1.753 8.737 198.348 85.53 1.378 0.346 71.286 1.10 134.14 251.927 0.103 5.724 79.006 554.72 149.27 123.354 1.20 65.28 756.39 149.480 70.311 70.676 22.82 283.29 9.41 14.731 7.795.606.099 182.782 1.37 102.504 37.33 1.741 3.170 1.60 71.476 13.89 137.271 157.540 26.12 40.81 149.613 42.82 27 Sulawesi Tenggara 386.083 1.506 42.255 0.12 76.99 11 DKI Jakarta 1.030 0.024 78.221 36.45 31.072.960 74.19 11.13 262.71 16 Banten 24.325.718 6.05 4.30 186.50 303.86 103 0.14 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Sumber : BKKBN.09 485.68 15 Jawa Timur 7.35 27.227 35.56 2.38 34.830 1.663 0.778 82.581 75.28 8.534 3.113 46.03 872 0.882 14.74 5.811 4.364 6.400 2.925 1.896 13.728 551.386 1.369 6.381 0.83 19.19 8.853 9.26 389.02 445.88 57.383 19.867 6.44 196.04 211.266 75.715 8.995 48.59 4.787 132.84 19.52 159.791 1.30 11.07 9.11 8.34 209.35 845.94 57.61 221.87 198.525 1.51 34.551 7.689 11.485 9.23 7.72 384.564 4.61 .164 2.14 45.25 87.26 67.12 66.25 458 0.88 394.834.91 43.580 78.53 61.759 1.56 28 Gorontalo 198.566 34.486 493.805 34.73 41.892 33.771 3.073 418.304 8.525 12.355 7.76 17.806 55.487 455.538 1.10 113.021 2.54 16.45 1.18 110.339.67 409 0.10 3.739 2.786 12.701 4.46 144.526.168 1.75 73.605 9.61 42.960 3.869 2.13 5.02 7.71 488.02 31.78 6.62 43.278 5.480 367.61 22.98 22.076 74.55 118.012 2.003 71.28 374.71 4 Riau 688.09 1.51 3.633 7.616.211.164.072 0.996 4.552 41.37 76.366 474.482 12.119 3.488.06 3.22 569 0.367 1.500 8.080.313 32.891 55.025 5.264 5.905 11.416 38.37 59.322 1.33 2.72 319.14 1.77 63.746 3.844 41.72 24 Sulawesi Utara 419.476 1.41 66.406 4.93 140.339 3.098 6.682 34.18 16.838 2.299 0.742 2.400 23.317 10.212 17.964 1.228 315.31 5 Jambi 592.99 372 0.210 43.91 10 Kepulauan Riau 14 DI Yogyakarta 1.36 5.752 21.43 54.519 49.81 171.148.479 40.396 80.09 477.768 11.69 711.757 3.901 25.645 1.58 4.057.748 11.77 7.33 307 0.136 3.67 139.74 38.675 33.76 4.650 29.916 69.471 910.8 JUMLAH DAN PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Jumlah PUS (3) Peserta KB Aktif IUD Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) MOW Jumlah (8) MOP % Jumlah % (9) (10) (11) Metode Kontrasepsi Kondom Implan Jumlah % Jumlah % (12) (13) (14) Suntikan Jumlah % (15) (16) (17) Pil Jumlah % (18) (19) 742.49 47.580 3.598 391.33 1.495 33.72 7.63 2.745.714 16.224 35.030 5.88 160.79 2.88 1.684 7.94 9 Kepulauan Bangka Belitung 215.006 0.833.72 18 Nusa Tenggara Barat 915.79 62.48 15.229 2.066 35.832 66.44 3.09 6.301 71.14 81.836.94 619 0.578 36.284 45.34 7.170 36.243.628 39.13 21.722 1.894 10.67 29 Sulawesi Barat 166.016 49.143 13.836 10.910.724 10.772 75.967 5.863 8.53 142.11 20.648 46.68 34.701 1.919 39.075.700 0.324 3.959 638.669.791 339.56 1.365 5.173 41.21 10.838 2.668 64.65 21 Kalimantan Tengah 392.208 1.31 34.653 1.94 1.367 993.69 260.594 49.80 317.054 36.986 1.423 3.10 2.456 2.79 3.69 4.52 Sumatera Utara 2.03 685.375 25.811 2.50 53.38 84.273.850.517 46.13 25 Sulawesi Tengah 490.063 12.341 4.939 4.67 261.76 92.55 16.532 0.93 224 0.87 236.766 52.82 304.77 115 0.20 7.81 420 0.42 4.105 1.040 80.61 33.36 2.23 17.127 10.50 13.09 549.182 67.305 49.089 1.648 33.021 0.622 2.07 73.36 1.875 2.12 4.88 9.90 15.75 26 Sulawesi Selatan 1.09 232 0.997 164.00 19 Nusa Tenggara Timur 653.45 33.80 868.27 23 Kalimantan Timur 584.216 6.59 3 Sumatera Barat 784.264.21 1.71 5.66 142.61 2.264 17 Bali 642.297 77.86 20 Kalimantan Barat 787.61 10.44 22.83 1.287 81.108 0.38 50.15 2.67 231.36 111.507 0.452 1.684 85.959 2.273 12.567 40.43 7.54 14.071 39.166 81.30 8.863 27.028 40.371 73.179 7.882 44.87 4.659 558.44 98.733 5.788 6.Lampiran 4.01 83 0.50 20.26 23.44 464.32 445.993 55.73 19.840 3.147 2.720 0.049 5.164 5.13 65.70 13.75 80.896 5.280 38.017 12.19 16.272 30.02 7.340 1.59 334.85 39.31 77.855 1.496 46.47 196.995.44 5.21 21.731 305.591 38.49 1.366 117.14 436 0.083 47.695 34.093 5.884 29.10 23.39 6.40 8.04 52.363 53.454 45.610.10 8.35 299.145 2.11 30 Maluku 261.87 7.192 0.819 575.059 26.13 9.257 1.222 6.36 16.404.75 113.32 12 Jawa Barat 8.608 49.42 8 Lampung 1.

00 3 Sumatera Barat 93.79 22.975 2.32 34.456 1.50 72.00 Indonesia Sumber: BKKBN.276.699 4.652 1.64 165.530 4.666 64.024 62.00 23 Kalimantan Timur 51.630 36.75 3.00 11 DKI Jakarta 136.584 29.36 8.540 75.88 31.163 87.435 3.26 179.681 7.597 4.665 100.00 8 Lampung 268.26 77.22 573 2.00 178.47 6.41 4.24 9.04 2.24 708 0.16 27.640 87.97 161.345 100.39 504 0.54 3.388 1.303 55.18 43.11 1.89 374.51 19.47 30.354 5.901 31.00 100.75 20.34 62.271 1.71 54.73 6.967 2.36 1.560 100.66 57.00 33 Papua 27.036 3.58 3.717 1.666 100.29 20.813 100.13 12.958 3.19 137.34 101.18 573 1. 2010 .104 4.538 100.009 5.760 30.94 37.41 63.00 4.98 5.451.653 40.00 304.328 100.443 3.142 65.00 21 Kalimantan Tengah 53.083 1.564 0.045 100.404 59.699 9.24 25.89 2.00 20 Kalimantan Barat 84.722 2.895 28 Gorontalo 31.230 100.204 100.639 32.972 4.96 1.00 31 Maluku Utara 34.00 26 Sulawesi Selatan 268.107 1.439 3.24 139.98 93.678.838 2.97 31.19 763 1.00 25 Sulawesi Tengah 70.69 1.364 8.76 1.868 6.818 58.032 9.581 5.989 30.961 100.31 6.19 36.71 368.377 100.51 39.16 4.577 9.52 106.091 70.00 22 Kalimantan Selatan 84.938 11.48 38.43 4.49 14.935 3.06 361.87 37.771 1.568 17.515 2.23 18.182 0.75 6.00 32 Papua Barat 18.614 100.214 100.16 306.982 48.937 17.57 400 0.00 12 Jawa Barat 846.652 38.12 2.50 1.82 3.507 92.185 3.00 2 Sumatera Utara 273.709 10.416 100.98 92.00 3.501 100.600 100.64 1.00 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 148.445 100.627 2.19 471.631 3.177 10.53 1.859 74.00 30 Maluku 51.942 82.27 3.793 100.86 311.00 100.00 24.185 37.19 3.736 32.787 26.61 416 0.70 2.590 89.296 70.862 2.133 86.73 1.392 71.728 64.32 50.352 100.15 10.303 57.72 128.833.74 35.26 2.989 37.218 100.65 71.00 9 Kepulauan Bangka Belitung 29.33 3.028 83.27 2.73 45.37 40.856 6.179 14.984 61.747 11.00 4.80 36.56 41.00 13 Jawa Tengah 457.121 97.19 3.352 100.9 JUMLAH DAN PROPORSI PESERTA KB BARU MENURUT TEMPAT PELAYANAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Klinik KB No Provinsi (1) (2) Pemerintah Peserta % (3) Swasta Peserta (4) (5) Dokter Praktik Swasta Bidan Praktik Swasta % Peserta % Peserta % Peserta Jumlah % (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Aceh 126.235 72.090 4.51 452.96 424.852 6.805 4.88 37.636 3.298 25.84 19.97 3.79 7.098 92.316 28.41 46.065 34.80 1.627 45.228 21.92 151 0.630 2.096 1.933 100.68 209.199 2.216 100.60 162.75 119.735 100.98 882.82 14.452 3.597 58.Lampiran 4.47 1.550 44.47 98.46 8.60 228 0.731 100.34 1.565 2.093 10 Kepulauan Riau 27.47 101.38 4.53 19 Nusa Tenggara Timur 104.642 100.03 1.308 19.131 6.678 67.116 51.64 1.70 18.770 58.268 34.471 10.18 83 0.71 12.930 5.938 32.34 30.22 1.504 100.60 393 0.163 66.402 100.00 15 Jawa Timur 610.00 7 Bengkulu 71.00 24 Sulawesi Utara 59.60 26.00 29 Sulawesi Barat 34.29 849 1.50 1.89 89.94 359.00 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 80.81 352.030.32 8.119 1.707 100.13 138.00 27 Sulawesi Tenggara 67.65 7.96 1.282 90.876 100.319 33.73 2.96 56.81 1.421 3.625 1.345 21.00 4 Riau 94.508 2.061 0.935 5.00 14 DI Yogyakarta 18.930 59.569 31.381 3.76 45 0.359 100.05 939 1.73 15.

297 67.310 1.95 1.754 80.00 707 705 99.000 3.96 2.591 1.11 1.167 83.560 7.69 683 98 14.483 1.86 8.745 2.52 438 432 98.61 28 Gorontalo 493 250 50.893 66.14 14 DI Yogyakarta 438 428 97.161 21 Kalimantan Tengah 1.42 95.082 71.69 3.97 6 Sumatera Selatan 2.065 85.2009 No Provinsi (1) (2) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Jumlah Desa Desa UCI % Jumlah Desa Desa UCI % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Desa Desa UCI (9) (10) % (11) 1 Aceh 6.116 83.66 2.06 1.377 70.968 69.127 2.380 782 23.22 967 499 51.405 82.61 27 Sulawesi Tenggara 1.67 5.114 76.866 2.883 87.82 282 234 82.269 64.81 17 Bali 702 702 100.80 339 294 86.504 875 58.858 1.828 3.689 69.559 1.221 448 36.898 2.273 72.079 70.00 11 DKI Jakarta 282 211 74.80 6.42 22 Kalimantan Selatan 1.520 1.606 89.48 317 222 70.96 25 Sulawesi Tengah 1.454 986 67.55 3 Sumatera Barat 3.223 76.437 3.40 6.012 68.054 79.73 606 399 65.41 2.75 1.78 2.53 26 Sulawesi Selatan 2.00 62.96 3.978 4.252 1.877 4.277 65.11 1.930 51.60 897 823 91.603 1.958 1.085 76.813 2.919 2.77 1.21 1.87 3.63 15 Jawa Timur 6.272 73.318 84.189 69.92 543 196 36.171 75.67 100.72 715 712 99.443 67.18 1.096 76.842 80.44 2.361 503 21.155 1.51 1.54 1.68 1.88 1.45 16 Banten 1.23 1.88 10 Kepulauan Riau 291 176 60.642 935 56.389 885 63.048 726 69.435 1.150 69.461 1.410 1.325 1.25 44.27 1.939 1.106 82.21 1.199 5.069 572 53.75 78.772 4.606 874 54.329 1.103 2.813 1.38 2.43 24 Sulawesi Utara 1.03 333 222 66.546 1.53 967 476 49.459 83.55 5.253 265 21.012 2.33 23 Kalimantan Timur 1.42 2.49 1.505 6.008 9 Kepulauan Bangka Belitung 321 269 83.419 72.76 .559 82.941 2.295 926 71.989 768 38.Lampiran 4.71 1.51 893 579 64.886 92.380 2.98 267 267 12 Jawa Barat 5. Kemenkes RI 496 74 14.045 71.43 8.30 3.72 1.94 5 Jambi 1.10 PENCAPAIAN DESA/KELURAHANUNIVERSAL CHILD IMMUNIZATION (UCI) MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 .38 1.710 1.643 4.27 1.095 86.89 13 Jawa Tengah 8.634 1.841 28.49 20 Kalimantan Barat 1.284 4 Riau 1.15 1.080 67.481 881 59.86 8 Lampung 2.155 54.55 1.417 828 58.194 78.082 717 66.456 1.097 72.221 74.359 5.14 75.962 1.444 37.057 69.73 346 311 89.15 1.97 2 Sumatera Utara 5.271 1.47 7 Bengkulu 1.479 1.369 82.60 5.466 81.370 81.436 2.84 827 451 54.933 65.72 438 414 94.559 7.316 85.175 76.10 558 235 42.60 1.508 1.84 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Sumber : Ditjen PP & PL.345 1.709 1.392 54.75 19 Nusa Tenggara Timur 2.14 71.35 1.433 86.86 1.64 8.569 7.305 83.247 1.71 601 371 61.17 885 793 89.097 70.492 6.511 65.28 3.965 1.58 18 Nusa Tenggara Barat 803 700 87.83 8.29 1.76 6.

434 88.611 98.27 39.138 96.406 80.56 605.26 20.18 85.84 4.038 95.86 80.91 162.01 32 Papua Barat 20.308 26.561 74.57 86.163 85.21 64.325 100.377 51.46 159.242 92.681 89.08 117.031 48.11 572.95 208.43 20.988 80.202 95.71 37.762 83.66 14 DI Yogyakarta 43.93 289.676 76.176 87.79 18 Nusa Tenggara Barat 105.459 86.99 197.533 72.820 91.643 89.662 92.379 91.23 171.789 91.648 89.07 19.601 99.908 89.156 94.550 102.998 92.980 58.676 48.23 159.57 5.67 45.92 24.86 119.09 11 DKI Jakarta 188.63 167.01 20.677 99.144 93.30 303.627 86.702 97.93 36.15 34.00 19.38 30 Maluku 36.235 81.80 88.64 44.849 93.481 13.01 31.05 84.98 6.528 93.530.88 49.59 89.46 69.12 35.42 582.87 16 Banten 206.934 92.06 44.104 26.020 93.28 40.03 80.00 37.36 69.34 101.36 28.937 97.038 100.70 22.63 160.201 31.26 3 Sumatera Barat 106.46 4.060 117.429 80.45 171.107 93.48 4.169 93.948 91.512 69.969 96.399 102.804 589.98 110.188 93.640 99.987.921 96.914 94.06 11.513 96.535 70.298 77.500 70.965 88.81 105.868 32.971 98.45 38.789.94 599.75 93.489 71.219 93.70 62.95 47.183 98.581 78.35 90.04 168.607 84.67 23.80 38.170 20.605 79.88 572.677 97.19 54.761 68.00 118.679 98.733 122.067 97.47 67.343 97.908 100.04 144.74 22 Kalimantan Selatan 71.604.869 102.72 64.627 94.943 91.790 111.89 84.49 214.98 40.95 35.925 85.872 37.02 143.13 558.408 91.70 907.597 31.186 99.753 78.131 82.40 45.732 58.098 93.429 92.66 49.56 4.494 49.85 164.19 117.54 62.50 44.212 62.667 90.60 46.05 26.64 33 Papua 49.68 80.19 166.753 97.552 79.20 68.03 594.143 99.31 32.86 46.599 92.148 89.97 24.35 49.96 857.336 97.78 925.30 94.65 20.00 230.27 71.581 88.395 86.25 13 Jawa Tengah 577.02 105.127 87.826 42.978 88.758 82.33 20 Kalimantan Barat 99.532 81.66 27 Sulawesi Tenggara 53.453 89.429 37.74 215.11 CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO PROVINSI (1) (2) SASARAN (3) BCG DPT/HB(1) JUMLAH % HB0 JUMLAH % (4) (5) JUMLAH % (6) (7) (8) (9) IMUNISASI PADA BAYI POLIO1 DPT/HB(3) JUMLAH % JUMLAH % (10) (11) (12) (13) POLIO3 JUMLAH % (14) (15) POLIO4 JUMLAH % (16) (17) CAMPAK JUMLAH % (18) (19) 1 Aceh 105.440 119.297 89.95 24. Kemenkes RI.916 50.736 94.71 36.15 44.062 69.30 39.773 93.192 93.663 95.13 21 Kalimantan Tengah 52.480.16 195.723 83.706 85.510 94.77 14.02 286.19 96.462.91 60.99 68.875 81.39 47.05 26 Sulawesi Selatan 168.981 21.960 607.00 2.890 51.221 95.566 165.940 15.95 23.11 40.795 93.813 90.607 77.733 140.086 90.76 31 Maluku Utara 23.165 71.86 21.172 99.51 161.25 134.102 98.134 102.12 220.994 102.607 90.84 4.41 52.321 116.555 18.10 38.82 613.951 95.480 97.25 9 Kepulauan Bangka Belitung 24.395 91.619 82.80 47.53 230.378 100.031 96.89 49.36 40.59 45.50 49.812 100.066 66.408 89.73 42.986 96.046 96.119 90.15 20.868 57.191 95.50 25 Sulawesi Tengah 53.636 102.661 97.861 24.360 89.305 86.873 98.49 11.972 76.778 85.51 20.36 102.04 505.41 26.449 87.95 15.22 86.261 90.065 91.66 69.93 102.21 574.603 89.282 101.84 25.20 2 Sumatera Utara 325.618 89.408 94.349 70.00 22.23 23 Kalimantan Timur 77.38 11.Lampiran 4.885 96.20 598. 2010 .37 874.565 88.204 53.060 113.012 103.08 24 Sulawesi Utara 45.982 102.114 92.96 139.058 85.234 94.792 98.004 34.042 99.66 49.78 196.39 23.66 4 Riau 137.12 150.053 877.74 25.668 94.74 73.89 24.933 99.62 35.821 80.69 172.281 200.18 69.434 95.207 93.737 83.906 84.46 34.036 89.040 97.844 85.238 82.025 107.97 21.75 147.75 33.233 101.98 97.88 31.39 102.23 51.904 99.78 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 40.397 91.567 84.82 64.70 24.81 2.40 19 Nusa Tenggara Timur 127.121 86.78 17 Bali 61.670 88.72 73.604 39.075 42.61 28 Gorontalo 25.06 47.034 91.51 38.905 101.35 83.480 102.870 92.974 96.82 12 Jawa Barat 931.313 4.74 97.03 70.467 92.313 93.48 34.487 72.99 157.990 85.966 97.72 292.899 77.274 101.672 43.148 88.536 165.110 116.943 96.28 29 Sulawesi Barat 24.28 147.87 101.87 586.822 92.359 96.333 95.95 60.33 23.77 19.647 83.149 62.374 91.55 311.63 11.907 96.37 72.11 6.791 73.85 81.846.27 50.40 19.83 589.959 100.41 97.534 50.46 117.86 14.984 96.943 89.176 80.931 44.23 291.582.405 28.128 88.39 63.64 36.944 219.64 4.569 102.97 201.292 95.443 65.487 19.370 64.950 97.882 122.948 80.754 99.87 100.705.143 87.937 24.94 86.99 94.898 113.51 85.757 57.20 7.020 9.693 96.279 76.48 873.59 112.763 93.393 8 Lampung 173.517 83.08 24.91 31.07 23.329 103.201 86.19 40.60 36.92 38.20 222.03 73.386 90.627 85.995 91.660 23.929 103.421 39.02 23.796 95.706 93.397 56.242 10 Kepulauan Riau 38.351 76.402 46.62 12.106 96.83 116.06 67.218 91.120 88.30 95.68 54.663 95.005 112.16 104.09 4.60 23.25 119.480 72.305 70.72 61.219 62.431 61.16 37.307 92.83 45.697 100.09 868.57 156.41 39.23 532.76 61.853 96.464 83.22 14.157 93.60 27.527 40.33 61.40 13.34 101.020 95.09 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.747 91.183 97.135 93.888 67.80 621.199 92.137 292.554 97.437 61.80 33.005 74.78 15 Jawa Timur 605.82 212.826 73.067 99.08 89.743 85.879 93.26 117.317 93.

6 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 21.4 5.12 DROP OUT RATE CAKUPAN IMUNISASI DPT1 .7 9 Kepulauan Bangka Belitung - 4.5 22 Kalimantan Selatan 8.8 5.4 7.9 10 Kepulauan Riau - 10.7 11.3 4.8 4.1 8 Lampung - (1.8 31 Maluku Utara 5.3 16 Banten 15.1 6.8 11.1 5.7 4.9 4 Riau 2.9 3.2 17 Bali 8.6 19.2 17.8) (0.5 4.7 23 Kalimantan Timur 7.6 13.6 5.0 5.9 6.6 4.3 6.1 2.8 29 Sulawesi Barat 15.6 13.2 6.7 5.8 5 Jambi 1.0 7.7 4.1 5.0 9.3 3.5 5.9 15.8 7.0 6.Lampiran 4.5 10.2 Sumatera Utara - 1.8 7.0 7.6 1.4 8.5 4.1) 2.0 26 Sulawesi Selatan 8.0 4.5 11 DKI Jakarta 23.2 4.8 3.3 21 Kalimantan Tengah 1.0 0.5 28 Gorontalo 11.8 (1.1 18 Nusa Tenggara Barat 3.2 5.3 10.0 7.4 9.4 6.2 7.8 2.2009 NO PROVINSI (1) (2) 1 Aceh 2 3 TAHUN 2006 2007 2008 (3) (4) (5) 2009 (6) 10.7 21.8 8. 2010 .6 15.3 33 Papua - 21.8 5.8 7.3 7.2 14 DI Yogyakarta 0.8 3.4 6.0 19 Nusa Tenggara Timur - 22.9 12 Jawa Barat 21.7 3.4 5.9 4.4 4.9 3.4 (0.2 13.5) 9.5 3.3 25 Sulawesi Tengah 9.2 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.0 3.6 8.2 20 Kalimantan Barat 8. Kemenkes RI.1 13.8 6.4 7.CAMPAK PADA BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .2 30 Maluku 5.8) (1.3 5.3 Sumatera Barat 9.1 27 Sulawesi Tenggara 4.3 24 Sulawesi Utara 4.8 9.0 3.8 12.1 8.2 7.4 4.0) 15 Jawa Timur 4.1 5.2 6.1 4.3 32 Papua Barat 7.4 5.8 4.1 1.7 5.9 4.3 4.0 8.7 9.8 19.3 13 Jawa Tengah 4.8 6.4 4.3 3.

468 8.72 15 Jawa Timur 338.182 11.632 31.602 124.53 129.836 16.00 21 Kalimantan Tengah 56.75 19.20 98 0.812 52.20 104 0.671 56.078 103.81 1.808 11.63 13.40 22 Kalimantan Selatan 78.169 1.13 1.60 1.562 50.331 12.89 4.79 32 Papua Barat 23.764 46.668 20.081 0.194 40.446 19.53 8 Lampung 189.909 88. Kemenkes RI.339 71.571 22.264 14.72 605 2.36 27 Sulawesi Tenggara 59.51 12.381 44.294 18.188 35.721 20.527 56.54 10.10 72 0.799 42.59 188.486 64.455 72.057 69.38 3.77 3.16 3 Sumatera Barat 115.42 14 DI Yogyakarta 48.755 8.530 62.57 58.415 0.093 114.333 34.42 13.02 18 Nusa Tenggara Barat 115.22 29.21 29.613 7.301 34.53 1.00 0 0.515 5.786 33.159 45.92 2.921 14.158 822.46 78.72 962 3.43 686.607 63.12 14.592 148.89 231 0.116 49.49 50.909 78.42 42.197 71.32 880 0.721 1.09 406 0.782 67.23 37.18 13.733 24.214 67.155 9.270 28.317 23.874 12.88 21.285 23.88 7 Bengkulu 43.70 4.590 32.132 47.887 8.14 12.942 15.908 14.60 111.032 63.57 28.85 23 Kalimantan Timur 85.750 6.60 557.340 2.942 66.073 25.35 530 0.593 4.209 0.34 11.880 88.13 23.08 12 Jawa Barat 1.06 2.92 753.39 245 0.20 15.95 11 DKI Jakarta 158.049 11.81 550 0.171 43.28 47.98 52.52 44.675 10.217 13.342 56.34 15.973 13.64 91.07 19.86 199.70 9.130 1.777 23.329 26.41 2 Sumatera Utara 357.05 133.382 13.974 155.99 111 0.45 1.81 680 0.11 3.401 38.567 1.565 160.29 11.25 41.553 5.97 45.74 225 0.103 51.335 50.Lampiran 4.91 432.37 10.76 18.14 68.550 5.551 10.65 74.53 86.617 1.384 83.90 82.84 33.385.96 16.146 55.177 245.202 20.32 13.00 13 Jawa Tengah 924.961 40.31 5.707 19.45 28.330 25.32 32.00 0 0.56 136.22 21.85 268 0. 2010 .681 72.99 9 Kepulauan Bangka Belitung 26.00 20.98 9.725 78.91 33 Papua 55.070 45.35 145.06 8.74 4.609 59.966 26.39 25.39 21.00 50.456 59.122 49.670 52.343 69.88 26.207 62.59 0 0.47 29.09 97.504 76.67 170 0.919 44.00 0 0.453 12.261 41.33 40.19 4.410 58.33 3.02 7.270.63 17 Bali 67.956 69.88 0 0.99 28 Gorontalo 28.586.018 21.089 6.994 7.984 35.28 84.862 47.41 30.11 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 79.818.46 2.85 10.15 100.38 6.03 18.169 77.26 244.702 46.72 52.810 102.124 234.69 1.03 20.419 36.641 55.839 2.893 17.43 43.92 54.09 1.230.328 76.528 3.28 29 Sulawesi Barat 27.44 115.22 24 Sulawesi Utara 50.18 16.56 4 Riau 151.60 286 0.541 76.65 1.169 5.75 20 Kalimantan Barat 106.26 2.521 22.494 43.172 12.19 0 0.028 101.836 58.64 24.216 8.462 2.174 17.24 25 Sulawesi Tengah 59.753 1.309 67.933 10.029 13.213 22.963 10.22 30 Maluku 33.10 2.438 141.210 16.943 29.515 121.69 37.035 3.45 21.13 CAKUPAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) Jumlah Ibu Hamil (2) (3) TT1 Ibu Hamil Diimunisasi TT3 % Jumlah TT2 Jumlah % Jumlah % Jumlah (4) (5) (6) (7) (8) (9) TT4 (10) TT5 TT2+ % Jumlah % Jumlah % (11) (12) (13) (14) (15) 1 Aceh 110.05 108.912 9.31 82.466 49.085 26.34 14.277 8.66 466.16 2.75 31 Maluku Utara 25.318 8.658 39.11 1.603 0.98 6.54 247.13 49.385 45.06 7.434 10.02 49.766 45.53 147.935 54.28 3.578 80.026 24.05 109 0.84 29.960 16.429 35.945 52.210 4.22 16 Banten 225.966 82.169 77.70 10.239 48.825 32.78 22.114 21.089 14.024.00 147.002 219.22 9.85 71.976 25.266 11.026 67.87 2.265 12.958 16.754 61.53 34.024 21.69 16.622 17.351 89.289 38.37 19 Nusa Tenggara Timur 134.00 0 0.065 7.031 32.42 234.623 53.90 7.930 0.51 140 0.965 14.15 10 Kepulauan Riau 41.625 6.41 11.19 69.27 493.08 2.62 292 0.773 8.009 311.269 4.76 26 Sulawesi Selatan 198.18 19.879 65.321 56.17 4.99 46.391 9.28 4.850 47.155 27.77 8.22 6.56 5.62 10.228 80.09 76.44 2.00 0 0.85 23.580 49.021 4.806 62.955 41.34 6.383 66.142 2.735 47.443 8.691 4.951 28.482 3.52 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.763 39.00 34.651 144.09 7.

550 30.449 - 31.53 798.08 10 Kepulauan Riau 387.46 61.020 8.697 0.56 1.35 5.401 6.870 0.12 12.03 65.38 9.399 0.36 3.37 33 Papua 433.69 5.31 1.135 0.16 196 0.261 0.127 1.14 23 Kalimantan Timur 526.84 5.822 2.06 2.07 221 0.788.83 59.61 18.82 13.887 1.70 1.503.109 11.253 0.10 9.11 3.036 1.877 10.833 2.060 0.42 11.835 1.189 2.68 Indonesia Sumber : Ditjen PP & PL.25 - - 134.824 7.174 0.547 0.20 345 0.08 760.530 1.18 22 Kalimantan Selatan 673.815 5.88 10.839.174 0.63 2.293 1.32 392 0.404 20.01 25 Sulawesi Tengah 538.26 2.00 0 0.271 2.966 1.12 3.754 2.875 0.91 514 0.62 1.86 4.45 7.46 6.40 880 15.934 20.60 1.387 0.156.70 2.10 417 0.58 23.609 1.88 1.390 3.021 0.32 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 191.06 1. Kemkes RI.46 474.66 16 Banten 2.16 94.21 2.39 980 0.51 0.055 0.735.72 31 Maluku Utara 251.110 2.633 0.20 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 691.438 14.95 17.07 8.371 0.69 11.11 8 Lampung 1.96 2.060 2.924 4.90 7.81 953.702 1.264 1.357 12.51 10.500 0.13 8.43 31.58 8.997 2.77 Jawa Timur 5.32 30.43 58.29 12.248 1.84 1.428.561 7.456 0.043 6.07 2.093 0.00 0 0.570 0.201 - 33.538 7.544 0.019 0.944 508.160 3.06 9.39 811 14.843 2.869 4.14 1.673 1.34 598 0.033 1.51 780 0.674.82 32 Papua Barat 148.447 1.46 - 6.27 - - - - - - - - - - - 9 Kepulauan Bangka Belitung 247.05 0 0.984 0.717 18 Nusa Tenggara Barat - - - - - - - - - - - - 1.756 1.134.00 26 Sulawesi Selatan 1.94 484.362 3.11 5.874 2.18 437 0.629 4.03 31.433 1.662 1.28 776 0.714 5.478 62.20 789 0.037 1.544 2.111 7.145 0.03 2.86 1.604 0.09 203 0.072 0.84 6.58 1.401 0.967 228 0.21 433 0.99 10.304 0.665 843 0.939 1.162 0.14 1.12 216 0.044 0.98 23.098 0.932 30.477 14.358 1.086 7.81 735.010.871 1.014 1.014 1.13 172 0.32 4.098 4.19 243 4.019 0.688 0.513 181 0.53 650.33 2.766 6.09 24 Sulawesi Utara 443.681 2.51 7.58 - - 97.407 0.69 24.965 989 0.649 12.46 12.844 1.46 36.754 1.92 - - 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 845.13 - 28 Gorontalo 194.23 1.959 1.122 4.11 21 Kalimantan Tengah 244.046 0.789 2.17 13 0.054 0.84 - - 50.169 2.125 1.266 3.09 7.44 442.933 2.42 17.126 2.14 CAKUPAN IMUNISASI TT PADA WANITA USIA SUBUR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO JUMLAH WUS PROVINSI (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara TT1 (3) TT2 JUMLAH % JUMLAH % (4) (5) (6) (7) WANITA USIA SUBUR DIIMUNISASI TT3 JUMLAH % JUMLAH (8) (9) TT5 TT4 (10) % JUMLAH % (11) (12) (13) 913.39 778.12 127 0.23 949 0.26 901 15.04 47 0.959 3.674 0.868 27 Sulawesi Tenggara - - - - - - - - - - - - - - - - - 0.33 2.409 29 Sulawesi Barat 208.03 4.32 13.01 30 Maluku 173.265 3.16 252 0.557 0.74 11.310 38.221 7.62 1.Lampiran 4.87 43.05 - - 19.174 6.695 0.373 10.80 1.138 12.022 2. 2010 .794 101.921 2.866 0.540 1.99 2.151 0.19 10.07 130 0.24 8.16 2.345 0.82 18.48 17 Bali 715.171 0.112 0.33 4.097 1.100 864.

866 978.372.252 550.098.999 92.436 36.452 97.236 96.930 1.191 209.891 79.850 3.941 33.115 41.038 205.028 701 611 597 2.913 35.867 73.259 256.886 118.306 316.132 1.864 153.459 809 2.019 22.954 1.145.232.408 21.094 82.955 8.127 264 3.137 10.063 1.549 31.237 185.003 130.601 182.944 466.071 119.990 352.806 70.402 302.539 52.810 35.885 5.088 844.626.920 128 377 97.413 405 5.433 65.374 163.564 383.084 331.987 263.Lampiran 4.907 30.109 279.571 206.124 931.744 37.000 182.353 11 1.956 4.901 52.164 747.808 301.341 186.806 278.280 855.380.606 417.974 194.833 44.880 8.553 21.239.269 178.707.998 89.306 1.188 59.728 1.710 510.737 245 753 2.063 417.550 19.292 3.934 2.210. Kemkes RI (3) Lama Dirawat Hari Perawatan Total Kunjungan (6) (7) (8) ≥48 jam (4) (5) 37.162 1.332 283.971 989 1.262 5.472 126.893 83.492 115.463 23.576 61.420 1.736 225.614 4.651 3.497 93.756 212.207 297.074 15.277 455 893 168 586 822 755 337 1.403 472 6.254 44 46 27.352 185.150 .784 443.224 20.488 496.142 13.370 189.757 8.750 217.122 1.886 409.264 27.772 2.028 11.902 185.752 3.154.438 140 192.558 614.162 188.886 247.442 11.129 43.409 5.727 508 714 268 1.358 275.230 46.514 48.247.277 25.704 29.338 195.766 258.15 JUMLAH KUNJUNGAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 No Provinsi Pasien Keluar Mati Pasien Keluar Hidup <48 jam (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.028.358 161.924.558 4 1.294 505.164 1.223 374 812 126 492 796 652 223 748 281 909.481 1.134 1.336.994 56.

5 18 16 23 Kalimantan Timur 99.0 - 13 27.7 2 2.7 31 32.0 59.16 INDIKATOR PELAYANAN RUMAH SAKIT UMUM DEPKES DAN PEMDA MENURUT PROVINSI TAHUN 2008-2009 No Bed Occupancy Rate (BOR) Provinsi (1) (2) Length of Stay (LOS) Bed Turn Over (BTO) 2008 2009 2008 2009 2008 2009 Turn Over Interval (TOI) 2008 2009 Gross Death Rate (GDR) 2008 2009 Net Death Rate (NDR) 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 2009 (14) 1 Aceh 92.4 67.3 42.9 31 28.9 15 14 9 91.7 38 21.6 1 11.0 11 14 26 Sulawesi Selatan 92.4 36 39.1 47 16.2 8 Lampung 74.1 51 35.8 5 3.2 4 4.5 18 20 2 Sumatera Utara 64.6 5 5.8 22 19 14 DI Yogyakarta 79.2 43 34.6 58 49.4 39 29.8 2 5.7 66 29.9 15 18 7 Bengkulu 45.6 6 36.1 58.9 6 4.8 58.3 61.8 4 14.5 20 14.2 - 12 29 - 29 - .1 45 19.2 35 19 79.0 4 4.5 62.3 5 3.7 20 19 82.5 47.9 4 3.3 42 36.1 21 23 15 Jawa Timur 96.9 5 18.9 4 4.3 42 25.9 4 4.4 1 4.0 39 29.7 48 42.8 69.9 14 15 20 Kalimantan Barat 73.9 3 3.6 16 28 Gorontalo - 29 Sulawesi Barat - 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 74.4 27 11.9 24 20 18 Nusa Tenggara Barat 50.4 2 4.8 2 14.8 34 35.7 31 30.6 5 3.6 13 13 25 Sulawesi Tengah 83.5 19 18 - Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.0 42 39.7 2 8.7 - - - 9.1 22 14 17 Bali 80.0 52.0 4 4.2 18 16 13 Jawa Tengah 69.7 63.3 66.5 75.9 2 5.2 63.2 70.6 3 37.9 2 4.2 2 9.9 3 3.7 59.8 26 11.0 Indonesia - - 34.3 - 31.9 4 4.8 4 4.8 28 25 16 Banten 97.5 - 14 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 69.7 30 30.7 5 4.6 3 3.0 4 4.0 45 35.2 51 25.3 13 10 24 Sulawesi Utara 83.1 48.9 6 3.9 44 20.4 8 7.8 26 28.2 3 6.5 - - - 3.0 67.7 1 8.0 17 19.7 1 3.7 53.9 4 10.6 37 21.0 38 31.0 58.6 1 3. Kemenkes RI - 60.3 - 3.5 30 21.6 46 41.0 52.0 - - - 24.4 2 2.1 16 6.4 18 11 5 Jambi 77.8 5 7.0 54 52.9 5 4.8 8 - 19.9 4 - 4.1 4 3.1 3 4.9 50 26.4 3 8.3 44 41.0 30 29 3 Sumatera Barat 57.6 5 3.7 9 10 33 Papua 51.1 4 5.Lampiran 4.8 - - 19 - 48.6 36.4 34 28.2 41 28.0 Kepulauan Bangka Belitung - 53.8 2 5.6 49.2 32 40.7 45 37.1 26 17.3 4 3.4 6 3.9 44 29.8 40 18.9 39 22.7 57.1 1 12.6 40 43.0 26 21.9 48 36.6 42 35.5 26 18 12 Jawa Barat 85.2 22 - 11.0 12 14 27 Sulawesi Tenggara 71.0 11 12 22 Kalimantan Selatan 76.3 4 3.5 16 25 4 Riau 68.0 19 19 19 Nusa Tenggara Timur 59.5 30 31.8 46 27.8 3 3.3 11 9 6 Sumatera Selatan 55.0 67.3 63.0 15 16 21 Kalimantan Tengah 47.1 2 5.1 5 4.6 51 28.8 69.6 50 45.6 35 25.8 4 3.7 4 3.7 4 4.4 58 43.0 1 21.1 36 48.2 40 - 33.6 45 14.7 62.6 32 32.7 44 32.5 61.8 - 5.

115 1.140 994 2.092 2.933 24 183 6 45 230 2 14 10 4 179 7 5 15 13 1 231 24 275 123 713 500 218 41 314 74 563 5.218 781 374 1.760 39.164 985 1.694 23.270 3.625 623 666 755 851 1.980 644 4.496 1.891 1.805 15.413 1.921 1.658 1.449 3.236 23.469 698 97 494 5.633 955 2.569 99 877 7.179 769 1.905 3 149 63.744 8.897 1.217 12.650 3.999 3.626 607 408 4.123 1.956 48 225 42.443 4.273 41.106 2.049 29.708 2.977 5.248 7.675 686 262 130 1.321 408 433 1.320 1.565 149 661 199.690 4.264 1.939 6.756 16.294 6.543 1.346 9.899 8.465 1. Kemenkes RI Pencabutan Pengobatan Pengobatan Gigi Periodontal Abses Sulung (7) (8) (9) Pembersihan Karang Gigi Prothese Lengkap Prothese Sebagian Prothese Cekat Orthodonsi Bedah Mulut (10) (11) (12) (13) (14) (15) 221 30 29 9 31 4 55 34 86 15 77 1 21 140 28 15 1 67 1.619 858 407 4.692 1.17 PEMERIKSAAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA RUMAH SAKIT UMUM DEPKES DAN PEMDA MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 Provinsi Tumpatan Gigi Tetap Tumpatan Gigi Sulung Pengobatan Pulpa/ tumpatan Sementara Pencabutan Gigi Tetap (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1.030 1.130 1.514 17.550 2.287 4.487 5.875 6.919 3.814 11.487 1.539 1.905 844 2.230 660 210 1.186 8 83 33.477 10 9.006 422 373 1.772 1.690 413 694 2.115 1.366 553 365 589 191 174 648 87 66 1.128 3.621 800 1.705 737 641 3.898 24.031 35.873 .687 1.749 581 1.082 2.530 406 560 2.011 611 268 647 861 466 4.723 531 130 61 132 181 146 567 25 107 482 80 21 2.973 4.342 1.422 396 106 560 48 94 26 7 159 172 4 56 1 101 15.865 334 250 123.871 2.624 2.005 826 318 2.233 1.685 792 642 111 51 109 356 173 288 67 7 281 292 1.617 1.070 1.458 1.220 121 3 1 109 439 473 235 36 433 175 23 14 14 1 881 3.842 21.302 1.729 8.031 8.764 9.343 420 1.866 1.282 2.905 720 826 2.967 17.528 1.698 478 1.958 1.076 2.854 1.509 79 421 83.571 10.772 15.780 No Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.270 5.356 779 3.840 1.614 5.548 6.147 6.723 2.240 656 871 3.526 5.035 5.538 1.416 102 124 53.775 2.423 2.339 360 649 159 309 732 233 290 1.692 5.030 2.609 709 215 517 502 611 1.Lampiran 4.501 17.377 1.217 6.950 4.250 1.379 1.079 108 80 1.958 119 53 121 362 901 275 345 87 90 26 222 168.736 124 23.912 446 160 848 4.069 2.190 5.494 379 3.949 31.

204 1.339 478.211 3.224 2.376 50.429 42 25 1.533 130.968 7.113 402.167 2.909 20.770 3.417 11.309 383 396 103 1.447 567.767 822.027 68.800 7.18 JUMLAH KUNJUNGAN PESERTA JAMKESMAS DI PUSKESMAS TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi RJTP RITP (2) (3) (4) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2.091 5.162 169.364.378 3.827 19.303 766 3.678 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) Keterangan: RJTP = Rawat Jalan Tingkat Pertama 1.430 340.756 144.689 7.792 Kunjungan Neonatus (KN2) (5) 249.609 699 1.182.025 6.252 176 1.500 174.368 16.154 6.705 1.558 193.413 1.711 22.134 444.952 210.161 703 302 1.225 8.130 - 1.855 22.388 392 781 1.892 396.564 2.116 743 1.292 949.872 368 3.575 736.757 655 1.939 148 50 179.139 943 277 2.754 7.363 16.467 19.201 28.334 70 393 1.649 Kunjungan Ibu Hamil (K4) 253 6.142.023 2.962 - - - - 5 5.795 30.342 1.260 150.073 14.166 527.910 46.301 838 98 - 393 28 414 1 414 64.866 421 21.941 279.644 44 118 1.131 2.Lampiran 4.121 1.307 1.675 2.201 1.295 11.069 4.306 61.556.849 1.058 335 2.850 4.708 1.763 1.836 14.753 20.377 876.058.121 283 914 291 1.004 577 3.693 - Rujukan - - - - - Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (6) (7) (8) 65.161.863 4 256 2.365 6.130 292 459 21 9.593 147.781 547 91 2.212 10.285 4.481 3.356 7.679 4.821 94.804 4.154 289.305 7.040 59 194 - 87 1.447 36.297 - .017.953 45.438 - 130.050 487 6.717 5.417 62 343 9 343 19.772 1.154 3.515 5.295 247 8.680 21.268 13.649 151 138 18 293 - 1.139 46.193 5.517 4.321 1.

801 71.450 5.487 81.366.992 569.429 4.635 4.692 21.326 38.258 222.601 13.Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah D.815 39.827 4.935 37.418 9.797 17.896 2.963 94.444 25.958 18.037 730.917 5.Lampiran 4.591 387.637 82.029 25.350 318.547 13.827 142.371 55.870 91.580 18.549 18.708 59.004 7.662 43.972 8.784 88.516 30.976 15.722 22.554 132.151 21.426 17.942 39.672 42.642 251.064 2.145 21.585 160.846 73.660 20.834 474.729 18.909 81.579 33.512 40.450 328.425 862.041 17.575 37.237 253.396 14.Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat NusaTenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat TOTAL L Jumlah Rawat Jalan Tingkat Lanjut P L+P (3) (4) (5) 111.186 8.545 55.583 42.745 33.097 138.125 42.089 82.012.197 8.052 177.627 71.294 45.570 36.201 107.869 83.801 22.19 JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN TINGKAT LANJUT (RJTL) PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.451 40.667 25.822 32.630 7.757 3.304 11.843 12.470 66.208 48.587 402.723 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) .315 69.901 19.162 8.351 33.952 44.388 10.085 10.568 44.750 108.310 15.514 71.618 38.057 114.352 10.379.379 52.I.

501 1.340 1.933 10.222 7.874 128.231 16.479 9.134.840 4.I.441 11.20 JUMLAH KASUS RAWAT INAP TINGKAT LANJUT (RITL) PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 L Jumlah Rawat Inap Tingkat Lanjut P L+P (3) (4) (5) Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepualauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.492 8.820 10.702 1.051 33.130 73.376 20.948 6.468 12.029 49.768 60.630 1.983 83.863 5.365 6.633 3.818 6.096 14.948 4.420 33.278 4.Lampiran 4.338 19.788 32.351 26.773 36.501 17.959 17.398 99.Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah D.824 3.220 25.541 12.272 227.951 5.163 14.872 5.390 15.607 36.495 2.798 7.629 59.520 5.981 5.194 899 5.831 26.008 57.701 8.981 13.Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat NusaTenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat 26.272 18.749 5.543 21.659 29.409 12.783 1.382 9.057 18.889 2.335 122.396 4.882 10.556 5.091 13.297 16.667 4.533 5.612 142.985 7.700 12.541 3.608 24.955 19.824 2.171 45.114 27.494 7.199 11.610 10.448 7.138 2.398 3.597 5.564 14.416 647.205 48.689 45.895 2.039 27.092 2.756 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) .990 21.188 TOTAL 487.158 10.259 5.215 5.

861 237 5.70 4.91 73.84 74.201 732 2.33 2.363 403 1.289 1.03 38.068 811 1.83 94.065 1.58 68.96 65.61 86.257 579 11. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber: Ditjen PPPL.91 Sembuh & Pengobatan Lengkap Success Rate (%) (9) (10) 670 3.46 87.611 223 5.921 3.011 245 781 5.50 62.00 87.77 89.229 276 6.72 56.928 86.93 13.19 91.53 11.253 801 878 2.513 36 258 588 454 645 205 765 320 893 97 1.85 2.157 8.92 68.21 CAKUPAN TB PARU BTA POSITIF.39 80.08 87.75 60.926 608 2.91 5.07 4.572 613 299 230 186 128 282 32.598 8.044 393 1.44 3. SEMBUH.11 55.33 14.064 587 1.32 76.82 91.353 873 537 696 1.375 868 1.05 69.74 36.28 1.470 78.036 116 1.76 90.73 5.15 68.Lampiran 4.627 707 3.349 1.90 12.71 4.93 16.334 333 1.28 74.486 9.230 760 395 320 489 209 432 1.19 93.68 5.044 298 841 487 1.52 85.502 3.98 1.288 4.928 664 398 504 772 180 945 233 701 5.12 72.87 8.42 39.44 66.13 62 86 71 37 58 38 8 66 12 80 419 250 14 429 64 96 58 47 18 28 70 143 19 79 76 74 47 20 60 69 2.25 80.13 6.78 68.158 270 139 2.44 3.30 85.19 62.014 735 435 562 810 188 1.22 97.37 19.50 6.92 85. PENGOBATAN LENGKAP DAN SUCCES RATE (HASIL PENGOBATAN PENYAKIT TB TAHUN 2008) MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.08 97.56 8.526 94.942 36 322 684 512 692 223 793 390 1.24 4.743 672 308 263 244 115 177 544 43.37 13.66 79.20 33.08 7.23 72.89 8.07 6.87 87.493 537 225 183 166 68 213 29.40 5.19 81.29 80. 2010 Cakupan TB 2008 Sembuh Pengobatan Lengkap Semua Kasus BTA Pos Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) 905 4.32 51.31 90.77 2.06 74.808 1. Kemenkes RI.01 80.21 66.41 57.79 90.31 24.876 378 734 820 1.05 81.30 16.45 76.89 84.04 3.799 325 309 6.03 17.87 54.05 .481 18.80 80.30 32.09 85.71 83.37 61.861 4.

685 51 17.735 56.562 74.914 197.318 18.010 67.159 107.752 896.657 1.701 32.868 11.846 1.12 5.491.989 3.22 JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.524 842 404 387 252.32 19.624 2.173 1.402.552 1.30 46.881 10.56 15.380 1.54 5.310 429.271 1.176 7.126 223 4.433 42.892 732 16.993 3. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.034 3.261 732 518 258 183 136.187 69.45 11.20 5.329 589 7.392 9.21 10.491 19.4 Tahun Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) 568.072.130 161.16 12.455 812 11.175 89.315 1.806 3.655 32.880 3.191 9.083 2.915 95.287 9.034 18.578 11.749 2.558 23.249 434.139 211.431 42.458 354.760.925 43.328 2.96 9.38 9.369 1.175 725.907 2.607 38 11.306.256 1.16 21.81 22.82 41.050 Realisasi Penemuan Penderita Pneumonia Balita 494 11.226 28.332 424.92 5.277 11.639 3.660 469.521 4.075 7.985 249. Puskesmas Program Target Penemuan Pneumonia Balita (10%) < 1 Tahun 1 .819 1.595 30.Lampiran 4.376 9.15 71.18 .977 44.067 3.70 21.344 185.914 21.682 113.313 16.41 0.575 233.081 1.533 2.062. Kemenkes RI Jumlah Penduduk Usia Balita Wil.360 662 570 390.912 98.014 323.646 1.666 46.370 20.677 372 309 1.153 890 1.652 425.387 6.64 14.701 201.246 35.034 20.593 1.91 13.621 748.296 129.42 10.566 3.37 20. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PPPL.191 17.319 2.721 6.781 111.349 4.915 709 758 2.306 196.05 3.91 13.873 690.671 4.078 13 6.842 1.766 449.16 2.905 5.829 1.621 11.866 130.83 17.118 72.

254 45.72 47.51 82.556 58.51 52.763 80.07 92.48 84.451 48.914 78.42 72.80 63.540 93.28 71.499 49.02 82.832 46.47 74.54 83.75 79.628 199.82 74.885 23.429 137.28 41.037.667 115.67 90.73 79.94 74.093 27.09 82.43 92.77 95.764 711.985 1.59 69.85 56.20 92.340 109.122 3.600 28.973 29.293 148.475 44.212 25.979 18.915 75.11 51.43 81.50 38.500 806.283.667 106.52 77.474 245.05 53.097 Fe-1 Fe-3 Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) 84.51 84.744 25.963 10.97 82.92 63.061 529.28 77.410 151.443 311.064 60.928 24.80 73.066 37.787 44.10 76.03 68.97 73.95 60.43 75.97 71.873 67.357 239.150 212.29 65.39 90.104 58.693 16.782. Kemenkes RI Jumlah Ibu Hamil (3) 113.979 41.57 68.771 488.693 194.244 53.755 62.11 89.882 71.600 34.564 21.458 64.653 17.337 32.690 18.422 134.02 77.057 90.387 162.886 48.794 118.396 246.88 39.585 665.144 64.788 25.68 76.71 83.98 66.38 36.351 35.253 159.19 46.47 54.069 4.906 74.303 96.058 76.905 180.816 40.92 38.65 .202 43.266 42.51 55.973 107.942 61.12 38.836 196.314 13.707 115.31 31.150 11.269 2.664 158.453 115.110 148.20 78.23 CAKUPAN PEMBERIAN TABLET BESI (Fe) PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Cakupan Fe Ibu Hamil No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Ditjen Binkesmas.75 79.504 106.09 80.625 58.86 90.359 2.427 180.96 54.24 75.76 67.445 16.715 8.67 84.95 71.028 19.684 76.Lampiran 4.182 28.680.58 78.352 22.114 4.48 89.034 22.282 38.43 49.330 3.469 49.358 330.775 67.715 30.714 28.

283 64.982 84.537 51.575 78.870 957.335 114.22 414.040 206.835 78.055 107.95 18 Nusa Tenggara Barat 60.405 46.098 83.156 52.609 36.377 44.752 92.228 17 Bali 35.866 100.622 90.247 213.69 65.00 6 Jambi 7 Sumatera Selatan 44.40 5 Kepulauan Riau 33.491.47 15.226 51.29 216.103 63.020 763.038 104.07 33.24 61.035 1.76 9 Bengkulu 46.462 483.08 87.02 651.217.754 143.69 27 Sulawesi Tenggara 33.458 38.704 84.272 39.969 15 DI Yogyakarta 31.45 143.855 74.25 60.484 89.837 47.35 23.56 609.031 17.196 95.532 86.36 770.624 74.035 150.13 41.05 265.04 1.201 87.08 13 Banten 128.83 180.750 64.115 73.444 34.21 6.604 99.714 31.396 83.17 23.03 81.25 460.178 97.962 72.053 84.433 6.554 77.54 2.845 45.381 301.082.596 10.95 141.559 12.271 139.090 204.612 92.000 86.357 81.176 82.67 321.146 611.60 1.467 397.091 443.156 75.786 2.280 504.31 56.96 19 Nusa Tenggara Timur 63.969 41.945 82.040 75.903 247.11 16 Jawa Timur 316.333 73.83 246.07 177.090 551.825 901.23 35.20 83.825 166.11 31.753 88.434 26.087 77.084 3.79 81.46 26 Sulawesi Tengah 40.884.442 77.117 144.552 271.520 67.098 2.86 584.624 97.430.021.830 98.01 13.941.778 83.435 393.024 75.61 21 Kalimantan Tengah 34.514 12.18 236.57 30 Maluku 32.604 87.24 CAKUPAN DISTRIBUSI KAPSUL VITAMIN A MENURUT PROPINSI TAHUN 2009 No PROPINSI 6-11bln (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara (3) Sasaran Balita 12 .28 871.43 13.013 238.39 32 Papua Barat 33 Papua INDONESIA 6.397 84.20 358.06 10.48 22 Kalimantan Selatan 40.48 75.601 21.264 185.30 148.754 2.94 93.550 73.24 144. Ditjen Bina Kesmas Kemenkes RI .32 112.260 462.746 24.143 96.592 53.318.Bina Gizi Masyarakat.671 77.480 78.050 84.494 188.271 79.809 175.781 91.340 106.184 96.293 71.728 77.39 12 Jawa Barat 471.92 510.87 595.58 90.922 206.276 25.72 126.201 53.767 83.05 518.59 2.473 80.562 236.838.504 78.799 51.531 11.080 89.210 82.69 58.724 103.817 32.276 62.86 727.079 420.43 14 Jawa Tengah 304.387 154.45 25 Sulawesi Barat 19.212 68.526 1.862 23.868 458.59 bln % (9) (10) Ibu Nifas Jumlah 6-59 bln % (11) (12) (13) % (4) (5) (6) 70.782 53.26 2.82 431.31 20 Kalimantan Barat 88.14 16.39 54.22 360.380 55.61 440.842 61.866 69.212 1.126 613.603 71.38 31 Maluku Utara 8.120 31.528 75.382.749.795 96.55 141.331 59.36 115.137 80.21 23.026 3.12 112.491 291.285 53.45 23 Kalimantan Timur 48.58 55.887.Lampiran 4.292 63.778 400.283 88.668 90.031 15.44 212.034 70.19 114.655 35.38 382.574 185.449 74.550 168.358 4.127 42.98 Sumber: Dit.21 21.446 236.871 78.20 4 Riau 89.815 211.896 772.31 500.955 65.948 80.682.455 34.11 23.695 75.434 98.92 8 Kepulauan Bangka Belitung 13.076 77.057 61.817 224.524 336.778 26.11 329.953 35.570 63.998 64.976 90.289.721 226.33 192.351 86.569 104.788 84.46 127.91 318.331 77.98 14.38 850.800 24.808 79.11 237.541 2.021 724.90 2.16 81.241 691.48 33.333 72.603 27.172 41.63 27.12 303.917.19 136.693 83.602 457.34 537.455 79.076.142 81.502 75.027 640.912.42 120.90 41.620 81.875 83.825 33.930 170.689 70.382 75.50 10 Lampung 178.358.384 85.409 258.99 306.025 100.057 21.81 53.77 57.625 70.34 2.950 221.433.738 29 Sulawesi Utara 24.104 88.561 29.503 285.15 71.894 93.851 118.696 56.449.22 386.443 72.64 26.191 40.934 306.238 (14) 33.423 546.05 169.29 2.36 3 Sumatera Barat 61.876 73.758 21.617 86.800 76.59 bln 6-59 bln Cakupan Vitamin A Ibu Nifas 6-11bln % (7) (8) Balita 12 .835 73.144 92.136 87.225 613.171 384.865 118.10 2.231 96.244 941.155 79.33 245.253 79.49 91.57 276.776 40.37 24 Sulawesi Selatan 118.207 79.28 208.849 43.147 46.555 73.121 62.338 10.059 247.985 93.728 90.327 20.907 24.489 731.233 81.628 79.506.760 82.60 102.988 81.091 94.613 37.82 171.53 40.26 153.331 91.400 74.79 198.028 2.615 86.249 373.926 43.53 330.541 101.246 70.904 74.622 143.594 85.469 40.531 326.98 11 DKI Jakarta 80.54 28.434 183.729 74.186.32 2.17 28 Gorontalo 16.718 82.315 56.804 609.174 83.15 19.347.054 87.50 374.

25 PROPORSI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI UMUR 0-6 BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber : BPS. Susenas 2009 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jumlah Sampel Bayi 0 .20 61.02 56.33 .64 54.53 73.79 62.50 57.18 63.44 68.55 70.6 bulan (3) 341 769 448 246 208 317 186 272 129 118 208 608 734 82 814 191 151 207 602 273 182 241 249 188 251 534 320 146 128 206 120 97 189 9.14 52.45 61.81 55.Lampiran 4.30 78.32 63.25 52.983 52.67 59.19 65.14 71.20 55.26 75.46 64.35 75.65 64.22 62.41 48.15 62.755 ASI Eksklusif 0-6 bulan Jumlah (%) (4) (5) 178 424 319 141 132 204 141 150 80 67 122 390 383 52 397 112 82 162 453 144 115 157 165 103 157 375 200 84 94 141 74 58 127 5.77 58.21 57.75 63.79 67.15 66.27 54.78 58.

0 69.7 76.1 27.6 82.8 94.1 68.7 76.1 34.4 45.2 83.3 89.1 83.3 58.4 88.9 31.9 86.7 45.7 89.0 84.0 43.0 90.4 93.Lampiran 4.8 89.5 90.9 90.7 58.26 PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MEMPUNYAI GARAM CUKUP YODIUM MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 No Provinsi Rumah Tangga Mempunyai Garam Cukup Yodium (1) (2) (3) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber : Riskesdas 2007 47.8 98.2 45.2 62.2 62.3 .3 82.3 61.1 46.

27 REKAPITULASI KEJADIAN BENCANA MENURUT JENIS BENCANA DAN JUMLAH KORBAN TAHUN 2009 No Jenis Bencana Jumlah Provinsi (1) (2) (3) Jumlah Korban Luka Berat/ Luka Ringan/ Rawat Inap Rawat Jalan Meninggal (4) (5) Pengungsi Hilang (6) (7) (8) 1 Banjir 23 30 25 33.210 8 Letusan Gunung Api 2 - - 9 Kecelakaan Industri 3 33 17 50 10 Kegagalan Teknologi 2 6 2 11 - - 11 Ledakan (bom.234 9. dll) 3 9 60 2 - - 12 Konflik 4 16 45 12 - - 13 Kebakaran 5 2 4 60 - 10.788 132 6 Angin Siklon Tropis (Angin Kencang dan Angin Puting Beliung) 13 4 31 222 1 2.224 27 205.254 2 Banjir Bandang 11 127 28 3.083 14 Banjir Lahar Dingin 1 - - Jumlah Sumber : Pusat Penanggulangan Krisis.495 56.600 6 4 \ 73 5 95 44 9. Kemenkes RI 75 - - - 1.513 1.651 - 89 5 72 696 459.Lampiran 4.209 1. tabung gas.935 13 24.564 24 - 6.194 3 Banjir disertai Tanah Longsor 4 Tanah Longsor 5 Gelombang Pasang 13 1 - - - - 3.771 2 205.387 .971 7 Gempa Bumi 11 1.

33 14.87 14.04 10.01 29.89 76.96 19.50 15.56 5.14 13.75 5.12 14 DI Yogyakarta 8.02 10.81 6.12 21. Bangka Belitung 14.76 14.90 11.76 4.00 Maluku 6.32 12.70 19.02 9.15 7.45 20.62 5.67 16.37 5.87 7.24 6. (1) (2) Antasida DOEN Antalgin tablet Amoksisilin Amoksisilin tablet 500 mg sirup kering 125 kapsul 500 mg Btl 60 ml Ktk @ 120 kap Btl @ 1000 tab Btl @ 1000 tab Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat Deksametason Dekstrometorfa Dekstrometorfa Difenhidramin inj 5 mg/ml – n Sirup 10 n Tab 15 mg HCl inj 10 Ktk @ 100 Btl 60 ml Btl @ 1000 tab Ktk @ 100 Gliserin Guaiakolat tab Btl @ 1000 tab Glukosa Ibuprofen tablet Kloramfenikol Larutan Infus 5 200 mg kapsul 250 mg Btl 500 ml Btl @ 100 tab Btl @ 250 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 1 Aceh 4.24 19.20 6.55 21.79 8.91 20.89 39.26 19.17 9.74 22.28 6 Bengkulu 9.18 17.48 7.03 13.00 13.13 7.53 4.95 7.70 10.88 10.05 5.91 7.60 10.90 18.13 9.94 13.29 18.53 4 Riau 13.41 2.34 13.70 15.84 5.81 2227.19 20.55 8.71 8.34 22.07 14.16 27.25 24.59 29.52 0.57 20.06 6.41 5.28 10.49 10.08 9.07 18.85 14.65 8.43 33 Papua 4.15 20.98 44.76 5.22 13.64 24.21 9.48 21.06 27.08 18.89 13.44 0.18 2.83 25.51 14.08 3.17 10.03 7.06 18.60 11.75 0.43 10 Kepulauan Riau 11.98 10.55 16.82 13.07 11.68 9.55 14.93 22.11 21 Kalimantan Tengah 12.37 14.10 9 Kep.98 8.46 9.10 26.99 17.38 16.05 10.23 10.07 13.08 10.20 15.83 8.19 17.68 2.72 2 Sumatera Utara 9.41 41.23 9.88 13.78 21.20 22 Kalimantan Timur 9.84 18.52 14.71 14.63 7.75 14.19 15.56 17.80 21.64 17.54 3.41 12.22 1006.88 10.50 23.36 20.64 35.80 20.31 9.50 14.30 5.79 14.26 19.50 8.26 38.51 10.07 18.51 11.69 9.58 Indonesia Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.95 18.90 13.01 20.50 10.75 7.94 24.52 68.64 11.95 18.43 9.86 7.52 68.35 19.91 24.84 12.09 1.73 28.35 26.35 32 Papua Barat 6.85 140.68 10.00 5 Jambi 10.30 25.99 11.46 15.84 5.08 9.12 9.08 9.93 6.10 18 Nusa Tenggara Barat 14.06 35.48 15.72 14.64 10.33 34.23 30.42 18.27 9.41 13.63 14.87 6.56 14.21 19.28 10.81 14.14 23 Kalimantan Selatan 9.03 8.95 11.84 13.43 108.84 10.25 11.12 6.35 8.74 15.15 12.68 97.12 9.55 28.79 11.29 19.96 5.12 7.47 15.39 36.35 13.09 19.80 7.83 2.52 28.28 21.66 24.59 45.18 9.46 10.42 42.88 19.14 2753.00 33.00 16.42 11.73 7.50 14.70 32.76 10.17 9.67 19 Nusa Tenggara Timur 12.56 49.53 19.33 0.59 0.64 14.19 15.65 601.14 23.55 11.95 24 Sulawesi Utara 5.94 3.24 16.10 12 Jawa Barat 8.99 5.81 17.25 14.42 16.68 2.25 19.68 16.97 22.00 8.53 18.26 18.17 16.67 12.19 17 Bali 33.62 42.95 17.55 12.81 42.11 15.68 26.37 17.60 15.50 14.71 14.97 21.86 20.70 3 Sumatera Barat 9.04 12.10 11 DKI Jakarta 4.53 459.33 15.62 61.78 4.09 10.85 7.30 11.13 4.16 0.83 26 Sulawesi Tenggara 27 Sulawesi Selatan 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 10.69 7.58 17.23 14.12 14.49 24.40 8.62 7.25 13.30 15 Jawa Timur 10.23 24.93 12.90 5.29 13.62 81.11 15.39 8.42 17.49 26.30 10.39 42.88 34.77 0.58 28.60 4.87 7 Sumatera Selatan 7. Kemenkes RI .64 8 Lampung 12.37 1.02 8.62 77.92 17.39 25.66 142.98 6.90 5.70 17.73 25.78 16.25 33.24 12.25 24.29 9.22 22.64 3.03 7.78 4.11 12.56 12.90 32.43 25 Sulawesi Tengah 4.52 10.08 14.17 13.50 16.02 13.65 15.93 3.76 17.60 9.22 5.68 10.47 11.73 10.29 14.70 23.45 17.Lampiran 4.05 47.98 5.20 15.17 0.97 5.79 22.06 16.83 16 Banten 7.44 15.83 6.57 13 Jawa Tengah 9.34 5.64 6.57 19.38 10.32 36.87 16.13 39.98 4.64 20 Kalimantan Barat 11.46 8.51 26.15 12.33 90.28 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Provinsi No.75 10.23 10.39 48.06 6.18 5.61 6.33 15.90 31 Maluku Utara 4.71 9.05 32.64 18.00 17.42 13.43 17.09 71.28 6.56 22.42 9.91 13.06 19.37 1.

83 141.71 32 Papua Barat 6.11 42.23 8.05 21 Kalimantan Tengah 17.73 2.29 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat No.31 4 Riau 5 Jambi 6 7 4.98 23.16 31.38 11.38 7.97 23.94 14.08 0.25 11.39 15.78 12.38 10.20 50.37 11.21 25.10 11.00 Kep.94 4.90 57.88 8.25 122.47 9.42 28 Gorontalo 24.61 9.62 20.51 736.75 5.10 10.13 15.46 10.13 39.81 10.68 8.05 15.26 21.83 13.03 6.22 16.16 16.98 21.00 23 Kalimantan Selatan 13. Bangka Belitung 10.33 22.08 38.24 11.77 5.90 11.69 0.91 3.84 9.50 22 Kalimantan Timur 18.47 20.83 8.55 9.79 5.00 10.95 7.64 12.98 4.79 2.30 5.93 7.64 16.53 63.61 16.36 8.26 58.04 9.50 8.24 7.52 36.52 19.51 12.53 13.18 13.87 30.18 8.56 14.13 11.96 2.18 11.31 8.12 10.25 11.71 7.92 4.45 13.03 2.36 28.01 19.86 16.33 10.80 480.19 48.02 7.70 18 Nusa Tenggara Barat 16.00 17.74 4.84 26.90 4.46 2234.85 4.34 5.42 16.92 8.35 25.89 27 Sulawesi Selatan 23.98 12.83 3 Sumatera Barat 27.70 13.93 Sumatera Selatan 5.68 15.72 0.40 Indonesia 6.55 14.78 20.73 18.04 5.17 16.41 193.21 11.40 4.30 18.40 8.47 15.46 9.25 9.14 6.36 58.42 4.66 21.00 8.89 20 Kalimantan Barat 6.18 26 Sulawesi Tenggara 10.95 7.08 25.53 4.06 8 Lampung 2.54 24 Sulawesi Utara 14.80 11.61 2.69 4.96 199.61 8.00 14.38 37.04 2.84 17.39 4.47 21.90 14.52 57.33 4.49 4.47 12.03 11.000 IU Btl @ 30 Tablet Tambah darah Ktk @ 30 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 5.76 8.72 52.84 12.69 61.38 11.31 17 Bali 20. Provinsi (1) (2) Kotrimoksazol tablet 480 mg Btl @ 100 tab Kotrimoksazol tablet 120 mg Btl @ 100 tab Kotrimoksazol Sirup Btl 60 ml Klorfeniramini Kloroquin tablet Natrium Klorida Parasetamol Maleat tab 4 Tablet 500 mg Infus 0.24 12.75 8.02 10.85 9 25.75 45.26 11.65 13.83 15 Jawa Timur 15.25 5.45 49.65 4.10 0.05 3.56 9.17 10.40 21.84 15.97 7.54 13 Jawa Tengah 11.11 6.68 14.05 19.54 7.89 77.13 18.86 16.89 34.25 31 Maluku Utara 9.04 29.67 2.15 2.35 14.16 54.22 10.15 Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.54 17.44 929.42 6.55 6.44 1.68 31.03 28.50 16.89 25.17 39.89 13.00 19.17 11.66 0.61 42.98 34.81 10.18 16.62 48.58 7.63 14.96 15.53 5.79 11.04 30.69 11.31 58.09 9.27 16.68 39.85 22.65 9.05 9.86 33.05 20.90 18.65 15.01 16 Banten 25.85 32.28 7.10 3.36 12.55 7.91 10.44 18.78 30.47 34.65 8.79 9.32 12 Jawa Barat 42.51 45.03 11.06 22.75 10.67 17.85 10.93 12.78 158.00 11.95 18.81 11.69 15.92 8.00 13.28 16.24 32.51 11 DKI Jakarta 41.35 .90 29.70 2.52 17.92 14.88 9.46 13.81 139.38 9.39 14.62 20.59 8.47 17.74 1.23 11.50 22.17 7.14 16.04 3.52 14 DI Yogyakarta 18.57 17.89 3.74 34.83 21.40 5.34 33 Papua 16.70 18.53 7.17 27.52 6.67 12.63 7.60 8.28 4.99 21.60 9.61 16.31 4.29 9.51 34.76 10.93 10.93 21.08 11.91 20.77 5.92 0.34 26.92 10.51 6.72 10 Kepulauan Riau 12.Lampiran 4.84 24. Kemenkes RI 10.49 22.23 16.98 17.53 10.01 26.88 39.9 % Tablet Tablet Btl 500 ml Btl @ 1000 tab Ringer Laktat Infus steril Btl 500 ml Vitamin B Kompleks Btl @ 1000 Retinol 200.75 15.43 114.06 243.68 10.13 1 Aceh 2 Sumatera Utara 16.94 29 Sulawesi Barat 10.06 25.79 7.31 16.07 19 Nusa Tenggara Timur 14.74 7.65 10.10 8.61 15.05 30.48 25.80 25 Sulawesi Tengah 260.58 5.66 9.06 5.66 14.55 6.42 30 Maluku 23.92 53.00 12.75 14.99 12.36 7.15 9.22 5.05 Bengkulu 3.60 7.99 23.77 14.05 9.

13 Pkt 21.40 25.49 7.48 27.46 28.00 16.85 17.87 2.48 1.09 11.05 10.11 24.00 4.19 16.81 4.03 0.31 2.22 0.04 Pyrantel Pamoat 125 Pkt Salep 2-4 (10) 181.94 14.96 4.42 8.14 8.00 3.02 2.81 7.79 12.92 13.61 10.54 9.64 48.58 10.48 7.40 29.71 11.44 5.00 0.66 10.29 9.89 18.14 24.37 2.38 7.95 24.92 9.49 8.36 5.20 11.40 2.00 0.76 41.78 13.20 9.33 34.18 8.24 24.88 9.68 18.51 13.81 Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.00 11.06 3.39 14.30 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.00 144.45 2.00 15.98 4.85 9.00 14.16 27.38 8.00 22.33 4.14 9.49 5.95 7.72 1.25 4.67 0.78 13.50 2.62 19.40 38.23 8.26 3.85 7.25 20.48 17.51 32.00 11.00 0.58 .30 10.06 6.28 37.37 6.36 9.44 18.13 12.79 12.00 4. Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Bengkulu 7 Sumatera Selatan 8 Lampung 9 Kep.85 3.87 24.10 13.55 15.34 3.43 11.45 0.29 15.19 7.41 9.96 46.12 2.38 5.28 33.03 2.03 49.00 12.58 3.08 3.00 9.83 34.13 7.02 4.22 5.62 0.70 7.80 6.50 20.06 0.51 31.63 2.01 4.03 35. Kemenkes RI Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat OAT Kat 3 OAT Kat OAT Kat Anak Sisipan Tablet Botol Bungkus (7) (8) (9) 7.12 317.18 26.29 14.75 4.95 18.76 27.18 7.72 0.50 0.41 16.27 7.83 15.55 10.36 27.93 17.20 12.00 0.55 13.99 8.17 28.17 18.83 52.88 8.68 15.77 23.00 0.60 3.17 7.52 10.04 13.98 2.29 11.27 8.36 10.21 7.51 45.26 10.63 102.93 11.81 9.79 29.16 9.73 4.79 17.00 35.30 13.37 25.16 19.60 8.56 4.93 15.30 14.76 8.85 6.16 16.83 16.39 14.14 3.89 10.50 7.75 6.09 25.19 5.15 22.24 0.28 8.76 16.38 4.05 32.00 1.68 30.29 0.20 34.83 11.12 24.16 4.58 28.57 18.00 12.87 Infus set anak Pkt Infus set dewasa Pkt (11) (12) (13) 9.51 7.03 7.83 3.98 12.30 3.00 7.00 7.08 15.68 14.20 9.00 3.30 13.48 13.41 5.32 7.17 0.96 6.93 5.62 8.39 131.18 12.90 3.41 14.42 17.16 11.90 10.50 24.07 6.00 16.39 8.Lampiran 4.85 5.77 19.50 12.03 4.34 10.11 8.45 17.20 6.16 28.67 12.79 7.06 3.30 2.56 5.18 19.82 6.18 13.93 33.82 10.80 11.23 55.86 7.63 18.98 4.63 3.11 52.66 21.24 6.50 14.30 14.34 36.96 11.77 11.69 45.63 3. Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 22 Kalimantan Timur 23 Kalimantan Selatan 24 Sulawesi Utara 25 Sulawesi Tengah 26 Sulawesi Tenggara 27 Sulawesi Selatan 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Multivitamin Sirup Btl @ 100 tab Garam Oralit OAT Kat 1 OAT Kat 2 Btl @ 100 tab Btl 60 ml Tablet (3) (4) (5) (6) 23.50 3.36 7.53 12.82 7.53 5.50 1.22 13.00 12.92 5.66 8.93 32.88 12.75 6.63 12.41 4.67 35.05 19.83 7.

555 36.08 13.00 24.00 24.83 5.027.066 560.048.762 2.24 2.00 .79 7.000 IU Btl @ 30 Kapsul Ktk @ 30 Tablet 23 Tablet Tambah darah Botol 24 Multivitamin Sirup Bungkus 25 Garam Oralit 26 OAT Kat 1 Pkt 27 OAT Kat 2 Pkt 28 OAT Kat 3 Pkt Pkt 29 OAT Kat Sisipan Pkt 30 OAT Kat Anak Btl @ 1000 Tablet 31 Pyrantel Pamoat 125 mg tablet Pot 32 Salep 2-4 Kantong 33 Infus set dewasa Kantong 34 Infus set anak Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.85 2.31 REKAPITULASI DATA KECUKUPAN OBAT NASIONAL TAHUN 2009 Rekap Nasional No.55 7.51 3.25 1.942 236.60 1.168.06 2.469.96 9.719.00 24.867.71 0.827 5.792 12.37 7.00 24.78 0.698.9 % steril Btl @ 1000 tab 19 Parasetamol Tablet 500 mg Btl 500 ml 20 Ringer Laktat Infus steril Btl @ 1000 Kapsul 21 Vitamin B Kompleks Kapsul 22 Retinol 200.860 6.378 780 779 314 1.00 24.75 0.337 45.074.455.121 11.00 24.02 0.873.468.054 582.655 215.98 14.18 17.81 21.552 163.58 11.28 3.15 10.224.364 3.00 24.43 2.486 2.827.179.00 24.090 144.18 9.10 10.456.370 1.68 0.668 795.92 17.772 4.714.48 7.25 24.269.00 24.87 13.00 24.717.758.924.572 2.304 4.87 12.00 24.222 378.04 12.29 24.07 0.931.21 0.84 10.880 102.00 24.000 1.06 3.626 19.81 9.00 24.00 24.728.62 7.113.977.56 9.213 62.773 3.338 671.00 24.798 248.07 0.14 0.159 419.453.00 21.810 1.00 24.00 24.434 8.00 24.36 0.707.151 464.00 24.69 12.542 77. Kemenkes RI Stok Obat Pemakaian Rata-rata/ Bulan (4) (5) 8. Nama Obat Satuan (1) (2) (3) 1 Amoksisilin sirup kering 125 mg/ml Btl 60 ml Amoksisilin kapsul 500 mg Ktk @ 120 kap 2 Antasida DOEN tablet Btl @ 1000 tab 3 Antalgin tablet 500 mg Btl @ 1000 tab 4 Ktk @ 100 ampul 5 Deksametason inj 5 mg/ml – 2ml Btl 60 ml 6 Dekstrometorfan Sirup 10 mg/5ml Btl @ 1000 tab 7 Dekstrometorfan Tab 15 mg Ktk @ 100 ampul 8 Difenhidramin HCl inj 10 mg/ml-1ml Btl @ 1000 tab 9 Gliserin Guaiakolat tab 100 mg Btl 500 ml 10 Glukosa Larutan Infus 5 % steril Btl @ 100 tab 11 Ibuprofen tablet 200 mg Btl @ 250 Kapsul 12 Kloramfenikol kapsul 250 mg Btl @ 100 tab 13 Kotrimoksazol tablet 480 mg Btl @ 100 tab 14 Kotrimoksazol tablet 120 mg Btl 60 ml 15 Kotrimoksazol Sirup Tablet 16 Klorfeniramini Maleat tab 4 mg Tablet 17 Kloroquin tablet Btl 500 ml 18 Natrium Klorida Infus 0.281.366 1.22 10.427 521.32 9.40 17.990 12.29 2.579 1.911 7.787.310.00 24.63 0.85 6.717 8.42 10.20 - 24.782 6.00 24.145.30 0.130.00 24.00 24.393 67.075.056 155.989 24.705 7.298.758 58.03 3.00 24.335 157.858 3.65 3.776 1.Lampiran 4.438 7.94 14.50 0.00 24.93 0.00 24.17 0.52 0.64 7.256.635 80.883 12.154.593 5.38 2.40 0.080 50.848 9.275 346.210.36 15.729.119 2.386 Tingkat Kecukupan (Bulan) (6) 1.031 134.00 22.44 0.29 2.977.816.89 10.968 2.428.58 Kisaran Tingkat Kecukupan MinMaks (Bulan) (7) 4.398 10.00 24.348 36.00 24.06 0.00 24.234 1.08 2.263 228.782.598 1.

2009 .65 3.65 4.60 3.42 4.2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jumlah Puskesmas 2005 2006 2007 2008 2009 2005 (3) (4) (5) (6) (7) (8) Rasio Puskesmas per 100.11 7.21 3.68 7.93 10.02 3.48 7.30 8.84 2.04 6.28 5.48 13.52 4.66 3.46 2.35 6.91 6.1 JUMLAH PUSKESMAS DAN RASIONYA TERHADAP PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .35 10.77 3.88 8.12 3.20 7.61 4.54 1.92 3.02 3.01 3.21 6.84 2.26 4.01 6.43 2.06 10.76 4.53 5.52 5.05 5.08 3.85 3.15 11.61 3.92 3.08 4.27 6.49 10.22 3.69 3.09 6.05 4.06 5.53 2.234 8.008 849 119 944 196 114 145 288 229 169 213 207 159 165 395 223 75 77 135 96 105 266 6.85 6.21 3.40 3.94 5.62 7.25 3.67 3.13 5.06 3.09 7.04 3.52 2.62 6.53 5.78 2.35 5.52 1.69 3.69 5.61 8.99 10.12 5.36 3.27 8.74 3.90 8.49 6.29 3.75 3.06 4.002 871 117 929 180 112 134 253 211 163 204 192 142 145 374 153 55 66 142 64 83 246 301 495 227 183 158 278 142 253 50 59 351 999 842 120 940 194 114 142 278 224 169 214 205 144 144 395 208 73 70 153 91 96 236 309 500 242 176 163 284 167 264 55 61 339 1.65 3.71 6.59 6.000 Penduduk 2006 2007 2008 (9) (10) (11) 2009 (12) 266 426 214 150 135 242 113 224 47 41 335 996 853 117 919 173 110 128 228 207 134 192 187 119 139 347 139 45 50 109 56 60 168 274 445 224 154 140 249 126 235 47 45 342 999 858 117 930 177 110 130 251 205 154 201 186 130 144 362 159 55 62 125 62 81 236 311 463 228 156 148 259 140 248 51 51 341 1.53 7.13 4.44 2.66 3.61 3.57 7.80 4.24 3.67 3.76 2.83 6.22 3.84 6.25 6.23 5.02 7.37 3.00 3.67 3.737 3.56 2.78 11.02 6.68 2.15 4.51 6.56 5.52 4.83 4.78 11.015 8.25 9.41 2.669 8.Lampiran 5.40 2.54 7.78 Sumber: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.42 4.08 5.91 3.53 2.58 9.73 3.21 6.40 4.52 5.58 3.34 6.69 8.77 8. Kemenkes.85 14.01 6.45 2.05 7.82 2.58 3.98 7.59 2.548 8.86 7.50 3.73 6.87 7.10 6.95 6.08 9.50 3.00 5.91 5.01 3.22 3.45 4.75 11.77 5.53 1.03 3.48 2.13 6.50 2.33 6.32 5.36 3.05 8.67 6.12 12.

438 115 129 81 51 56 80 37 51 20 24 51 171 234 41 365 46 27 80 93 94 55 46 100 72 63 205 69 22 31 48 27 36 84 2.518 186 341 144 107 89 173 105 168 32 34 291 852 602 79 564 146 89 76 142 140 109 164 110 77 81 185 105 37 42 83 34 50 114 5.077 Sumber: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.683 66 144 68 45 51 77 35 37 14 24 54 140 232 41 392 42 24 86 69 82 47 42 96 66 67 168 63 17 22 29 27 26 45 2.551 235 351 159 138 107 201 107 216 36 35 297 859 610 79 548 152 90 56 209 142 122 172 109 78 77 227 145 56 48 124 64 70 191 6.704 Puskesmas PONED 2009 (8) 50 62 73 32 43 45 23 55 10 18 17 143 145 27 217 42 29 39 61 18 26 54 41 34 54 67 29 19 16 26 16 0 6 1.592 189 300 143 108 99 173 92 196 30 29 292 857 617 79 594 143 88 86 127 134 102 165 99 71 80 183 107 38 40 71 31 40 115 5. Kemenkes. 2009 85 145 81 46 41 76 34 39 17 16 50 142 241 38 336 34 22 44 124 71 52 36 87 59 64 179 52 17 22 54 31 41 121 2.Lampiran 5.033 .2 JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN PUSKESMAS NON PERAWATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .537 Jumlah Puskesmas Non Perawatan 2005 2006 2007 2008 2009 (9) (10) (11) (12) (13) 177 328 150 111 92 167 89 193 33 24 285 864 635 85 609 155 87 82 156 137 99 159 117 63 80 200 94 31 31 78 39 38 104 5.110 194 371 161 125 107 204 130 213 35 37 288 837 615 78 579 150 87 65 195 135 114 167 107 87 102 190 154 53 46 87 69 69 182 6.2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jumlah Puskesmas Perawatan Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2005 2006 2007 2008 2009 (3) (4) (5) (6) (7) 89 98 64 39 43 75 24 31 14 17 50 132 218 32 310 18 23 46 72 70 35 33 70 56 59 147 45 14 19 31 17 22 64 2.497 125 122 84 49 59 86 35 80 19 17 50 150 269 38 365 34 23 58 111 71 54 40 82 65 64 189 48 18 24 59 30 33 132 2.

Lampiran 5.874 1.480 948 903 4.190 266.680 4.24 6. Bina Kesehatan Masyarakat.319 2.649 964 1.441 1.88 0.79 3.226 3.96 0.048 7.83 5.41 0.91 0.66 0.712 2.133 5.55 2.11 1. Kemenkes.654 46.262 3.737 318 2.88 0.442 2.21 0.825 595 564 898 1.057 2.404 1.577 438 8.91 5.55 .455 2.33 0.01 0.632 47.27 2.14 0.763 5.55 0.57 0.502 1.015 8. 2010 6.226 919 1.63 2.72 2.583 75.190 45.894 1.827 8.65 0.27 2.506 1.775 1.373 256 503 481 846 779 745 574 613 447 702 1.812 7.64 0.76 0.3 JUMLAH SARANA KESEHATAN MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Jumlah Desa / Kelurahan Puskesmas Pembantu Desa / Kelurahan / RW Siaga / Poskesdes Kader / Toma Terlatih Posyandu Rasio Desa Siaga/Poskesdes terhadap Desa/Kel Rasio Posyandu terhadap Desa/Kel (2) (3) (4) (6) (5) (9) (10) (11) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Ditjen.31 0.060 9.775 1.719 6.01 1.47 1.76 2.87 0.538 4.40 0.797 822 668 547 937 497 733 121 189 2 1.61 3.097 2. 2010 Pusat Promosi Kesehatan.318 1.358 361 331 267 5.827 0.47 0.58 4.291 3.99 0.439 1.82 0.973 1.28 0.17 2.10 2.041 1.500 1.17 1.57 1.28 1.45 6.510 1.58 0.228 1.420 5.82 1.93 3.26 3.73 15.650 2021 3660 2328 1142 854 2362 1274 1371 275 192 1176 5378 7529 420 8446 508 462 888 574 1014 410 1668 636 984 1080 2610 1008 280 79 574 211 532 50 51.69 1.861 6..122 2.530 698 913 2.792 4.45 0.42 6.20 0.65 0. Kemenkes.09 2.679 2.65 2.992 5.41 0.324 1.85 0.76 0.92 0.134 499 235 289 340 242 249 550 22.548 4.63 0.76 6.06 2.27 0.12 2.869 1.777 1.039 13.996 4500 3548 200 1950 4754 1878 4050 714 1059 990 4500 3750 714 4086 1800 780 2664 600 199 515 1770 4459 2520 1968 612 660 1248 360 1200 58.69 7.97 0.57 12.

Kemenkes. 2010 Kemenkes/Pemda RS RS Jumlah Umum Khusus (3) (4) (5) RS Umum (6) TNI/POLRI RS Jumlah Khusus (7) (8) Kementerian Lain/BUMN RS RS Jumlah Umum Khusus (9) (10) (11) RS Umum Swasta RS Khusus (12) (13) Jumlah RS Umum (14) (15) Semua RS RS Jumlah Khusus (16) (17) 21 31 18 13 11 18 9 10 7 7 8 34 46 6 48 5 9 7 16 13 14 13 15 8 11 25 9 4 3 9 8 5 12 3 5 2 1 1 4 1 1 1 0 7 8 9 1 8 1 2 3 0 3 0 1 3 1 1 7 1 1 0 1 0 0 2 24 36 20 14 12 22 10 11 8 7 15 42 55 7 56 6 11 10 16 16 14 14 18 9 12 32 10 5 3 10 8 5 14 4 8 3 3 2 2 2 2 0 2 8 12 11 2 20 2 2 2 2 3 1 4 3 3 1 6 2 0 0 3 2 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 8 3 3 2 2 2 2 0 2 9 12 11 2 21 2 2 2 2 3 1 4 3 3 1 6 2 0 0 3 2 3 3 3 17 1 4 2 5 0 0 0 2 5 6 3 0 13 2 0 0 0 1 0 2 2 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 3 18 1 4 2 5 0 0 0 2 6 7 3 1 15 2 0 0 0 1 0 2 2 0 0 2 1 0 0 0 0 1 0 8 69 9 10 3 7 1 15 2 7 57 73 87 13 62 14 17 4 10 7 0 4 9 14 4 12 3 0 1 6 1 2 4 2 7 10 3 1 2 0 2 0 2 41 36 43 18 25 11 7 0 1 3 0 4 1 0 4 8 1 0 0 1 0 0 0 10 76 19 13 4 9 1 17 2 9 98 109 130 31 87 25 24 4 11 10 0 8 10 14 8 20 4 0 1 7 1 2 4 36 125 31 30 18 32 12 27 9 18 78 125 147 21 143 23 28 13 28 24 15 23 29 25 16 44 15 4 4 18 11 11 19 5 13 12 4 2 6 1 3 1 2 50 45 52 20 36 12 9 3 1 6 0 5 4 1 5 16 2 1 0 2 0 0 2 41 138 43 34 20 38 13 30 10 20 128 170 199 41 179 35 37 16 29 30 15 28 33 26 21 60 17 5 4 20 11 11 21 473 79 552 123 2 125 71 7 78 535 233 768 1.4 JUMLAH RUMAH SAKIT DI INDONESIA MENURUT PENGELOLA DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.Lampiran 5.202 321 1.523 .

074 467 47.896 334 35.Lampiran 5.182 43 13.814 110 10.821 5 Kementerian Lain / BUMN 71 6.364 441 43.064 995 116.605 44 14.907 123 11.375 345 37.131 2 Pemerintah Provinsi 43 12.5 JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR MENURUT PENGELOLA TAHUN 2005 .202 141.789 451 45.012 118.286 1.834 43 13.811 4 TNI/POLRI 110 10. Kemenkes.285 416 47.033 122.784 13 8.603 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.079 128.902 43 12.044 13 9.266 535 52.842 110 10.295 1.836 110 10. 2010 .483 13 8.643 71 6.747 6 Swasta 436 43.750 1.851 71 6.880 71 6.827 71 6.777 13 9.504 1.2009 Tahun 2005 No Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Pengelola (1) (2) Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Kementerian Kesehatan 13 8.029 3 Pemerintah Kab/Kota 322 33.575 375 41.

556 24 14 D.351 129 4 241 7 556 17 1.Lampiran 5.450 47 586 19 9 Bangka Belitung 861 32 4 52 6 211 25 377 44 189 22 10 Kepulauan Riau 1.542 48 665 21 25 Sulawesi Tengah 1.I.039 42 581 24 20 Kalimantan Barat 3.294 10 2.305 7.069 25 1.952 45 3.268 30 27 Sulawesi Tenggara 1.160 39 654 22 5 Jambi 1.653 48 3 68 4 192 12 894 54 451 27 31 Maluku Utara 696 20 3 20 3 83 12 214 31 359 52 32 Papua Barat 686 53 8 22 3 66 10 445 65 100 15 33 Papua 1.211 57 5 108 9 161 13 479 40 406 34 28 Gorontalo 510 35 7 24 5 81 16 204 40 166 33 29 Sulawesi Barat 279 28 10 22 8 58 21 125 45 46 16 30 Maluku 1.1 .432 35 969 23 15 Jawa Timur 22.708 73 4 196 11 279 16 712 42 448 26 26 Sulawesi Selatan 7.164 21 13 Jawa Tengah 23.250 22.247 37 1.362 20 12 Jawa Barat 19.503 16 16 Banten 3.163 46 3.123 32 865 25 18 Nusa Tenggara Barat 1.6 33.404 7 2.574 2.886 35 3.544 638 5 1.334 10 2.198 46 779 16 7 Bengkulu 987 55 6 56 6 130 13 210 21 536 54 8 Lampung 3.601 7 2.319 154 5 411 12 693 21 1.141 323 8 506 12 911 22 1.491 23 7.186 16 2.547 48 730 22 21 Kalimantan Tengah 1.650 21 5.178 35 Sumatera Utara 13.191 36 870 26 17 Bali 3.998 1.054 92 9 88 8 150 14 394 37 330 31 22 Kalimantan Selatan 2.315 17 6.983 266 9 303 10 600 20 1.126 13 3.602 112 7 167 10 289 18 818 51 216 13 19 Nusa Tenggara Timur 2.974 12 2. Yogyakarta 4.2 64.041 23 9.094 23 3 Sumatera Barat 4.167 37 4.473 392 11 457 13 636 18 1.936 12 5.448 129 5 273 11 426 17 1.756 37 2.5 36.100 20.653 21 1 98 6 229 14 824 50 481 29 Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.312 350 8 442 10 1. 2010 163.374 10.6 JUMLAH TEMPAT TIDUR DI RUMAH SAKIT UMUM DAN RUMAH SAKIT KHUSUS MENURUT KELAS PERAWATAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Total Tempat Tidur (3) VIP Jumlah % (4) Kelas Perawatan Kelas II Jumlah % Kelas I Jumlah (5) % (6) (7) (8) Kelas III (9) Jumlah % (10) (11) Tanpa Kelas Jumlah % (12) (13) 3.218 85 3 284 9 642 20 1.265 22 7.662 151 9 210 13 300 18 571 34 430 26 6 Sumatera Selatan 4.680 12.523 32 5.5 17.575 280 8 327 9 702 20 1.268 1.727 322 7 588 12 840 18 2.909 44 542 13 4 Riau 2.254 123 4 291 9 563 17 1.458 41 808 23 24 Sulawesi Utara 3. Kemenkes.651 39.171 10 5.368 1.439 247 10 230 9 464 19 994 41 504 21 23 Kalimantan Timur 3.447 473 6 764 10 1.091 253 8 251 8 551 18 1.142 11 4.588 91 6 166 10 270 17 647 41 414 26 11 DKI Jakarta 16.

152 648 441 640 212 282 0 353 0 0 348 14 18 14 8 9 9 3 6 3 7 1 15 20 2 19 1 4 6 4 7 5 10 8 4 6 20 5 1 2 2 3 4 5 1.546 9.189 1.056 415 273 905 332 812 0 0 2.903 661 450 221 765 478 394 1.804 1.203 .619 9.031 92 5.361 673 2.034 852 1. 2010 Kelas B Kelas C Kelas D Total Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Tempat Tidur (12) 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 2 1 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 600 0 0 0 0 0 0 0 0 1.752 3.050 1.657 299 68 119 147 278 394 522 4 3 2 4 1 7 4 2 4 0 0 2 6 0 4 0 0 0 11 4 7 1 1 1 3 1 3 2 1 5 4 0 5 204 133 127 265 50 340 200 100 220 0 0 92 372 0 220 0 0 0 790 200 265 50 50 75 153 26 150 100 102 265 200 0 292 21 31 18 13 11 18 8 10 7 7 8 34 46 6 48 5 9 7 16 13 14 13 14 6 11 25 9 4 3 8 7 4 11 1.Lampiran 5.565 1.041 465 66.069 245 24.682 2.960 903 593 289 284 458 329 565 1.640 1.405 1.274 909 2.290 504 4.210 711 1.202 980 1.382 594 586 965 179 533 296 480 214 1.051 3.440 442 2. Kemenkes.299 6.793 989 1.264 0 698 0 0 0 0 0 0 0 0 580 0 0 0 0 0 0 0 3 9 2 1 1 2 1 2 0 0 6 16 18 3 23 4 4 1 1 2 2 2 5 1 2 3 1 1 0 1 0 0 1 525 1.052 2.062 118 29.463 1.349 86 367 761 502 544 386 790 602 466 458 1.445 516 480 3.023 1.309 1.809 4.7 JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR MILIK KEMENKES/PEMDA MENURUT KELAS RUMAH SAKIT DAN PROVINSI TAHUN 2009 Kelas A No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.658 1.793 3.576 1.162 10 8.

516 66 1.556 79 3.635 57 2.788 321 22.591 11 RS Khusus Lainnya 56 1.446 22 2.Lampiran 5.630 51 8.133 22 2.527 51 8.458 57 2. Kemenkes.577 61 2.726 51 8.804 95 4.427 57 1. 2010 .480 280 19.206 2 RS Kusta 22 2.762 273 20.8 JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DAN TEMPAT TIDURNYA MENURUT JENIS RUMAH SAKIT TAHUN 2005 .450 57 1.137 22 2.2009 No Jenis Rumah Sakit (1) (2) Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 RS TT RS TT RS TT RS TT RS TT (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 RS Jiwa 51 8.168 22 2.629 69 3.077 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.388 74 3.412 292 20.533 57 2.781 51 9.475 10 RS Ibu dan Anak 64 3.224 3 RS Tuberkulosa Paru 9 766 9 718 10 757 11 782 10 731 4 RS Mata 10 475 10 459 10 418 10 418 11 423 5 RS Ortopedi 1 187 1 187 1 187 1 187 1 127 6 RS Penyakit Infeksi 1 127 1 144 1 144 1 144 1 144 7 RS Jantung 2 234 2 234 2 234 2 239 2 222 8 RS Kanker 1 129 1 172 1 172 1 172 1 172 9 RS Bersalin 56 2.420 57 1.947 286 20.

293 125 164 214 416 507 600 515 453 492 TOTAL Sumber: Ditjen Binfar dan Alkes.Lampiran 5.9 JUMLAH SARANA PRODUKSI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2007-2009 NO PROVINSI (1) (2) Industri Farmasi Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) Industri Obat Tradisional (IOT) Perbekalan Kesehatan dan Rumah Tangga (PKRT) Produksi Alat Kesehatan Industri Kosmetika 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 2009 (20) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 0 2 2 0 4 Kepulauan Riau 0 2 2 0 5 Riau 0 0 0 0 6 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 7 Jambi 1 1 8 Bengkulu 0 9 Sumatera Selatan 10 Lampung 11 Banten 12 DKI Jakarta 22 22 23 7 7 7 28 28 116 29 37 46 84 103 120 99 20 70 13 Jawa Barat 76 77 91 32 32 32 184 184 184 49 63 80 137 162 192 108 108 107 14 Jawa Tengah 31 31 25 0 0 0 36 36 282 11 14 18 42 50 55 45 45 26 15 DI Yogyakarta 1 1 1 0 0 0 42 42 40 3 3 3 2 3 3 8 8 0 16 Jawa Timur 59 54 54 17 17 17 343 411 388 13 17 25 55 64 80 150 150 151 17 Bali 1 1 1 0 0 0 13 13 12 0 0 0 0 0 0 2 5 24 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 9 9 9 1 2 3 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 9 9 10 0 0 0 2 2 1 0 0 0 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 24 26 29 0 0 0 2 2 3 18 19 20 23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 11 15 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 8 9 9 0 0 0 2 3 3 0 0 0 25 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 26 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 27 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Sulawesi Selatan 0 0 0 0 0 0 8 10 13 0 0 0 1 1 2 0 0 0 29 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 Maluku 0 0 0 0 0 0 4 6 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 231 232 238 60 67 78 862 951 1. 2010 0 0 0 0 0 0 0 0 10 0 0 1 1 2 3 0 0 0 10 10 9 2 3 3 78 78 79 6 9 13 22 26 37 39 41 41 0 0 11 11 13 1 1 1 2 3 3 6 15 13 0 0 0 0 0 2 2 1 1 1 1 0 0 0 0 0 4 4 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 4 4 0 0 0 2 2 2 1 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 2 2 2 5 6 6 1 1 1 2 3 3 1 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 3 3 3 0 0 0 30 30 28 0 6 17 43 47 54 9 15 20 56 76 87 38 38 37 . Kemenkes.

931 13.566 TOTAL Sumber: Ditjen Binfar dan Alkes.586 218 218 217 22 27 34 399 274 274 17 Bali 81 81 82 179 383 462 104 159 165 2 3 4 52 109 96 18 Nusa Tenggara Barat 31 38 38 34 162 173 100 102 102 0 0 0 6 92 92 19 Nusa Tenggara Timur 27 27 28 39 103 103 81 183 183 0 0 0 99 153 153 20 Kalimantan Barat 67 69 74 99 130 160 244 270 337 0 0 0 82 97 107 21 Kalimantan Tengah 11 14 15 80 84 126 148 162 141 0 0 0 0 49 50 22 Kalimantan Selatan 69 59 61 134 171 199 233 433 460 0 0 0 135 154 159 23 Kalimantan Timur 45 52 47 197 263 349 315 300 336 0 0 0 80 111 152 24 Sulawesi Utara 43 43 43 100 122 139 49 40 73 0 0 0 82 109 143 25 Sulawesi Barat 0 1 1 29 28 45 33 33 44 0 0 0 0 8 8 26 Sulawesi Tengah 31 23 24 41 124 148 112 112 174 0 0 0 35 102 103 27 Gorontalo 28 Sulawesi Selatan 29 Sulawesi Tenggara 30 Maluku Utara 31 Maluku 32 Papua Barat 13 13 13 57 71 75 45 44 46 0 0 0 2 2 3 33 Papua 36 38 37 83 127 142 94 13 14 0 0 0 108 151 212 2.953 567 667 826 2.821 6.256 2.296 3.256 420 872 872 43 58 73 295 244 244 14 Jawa Tengah 328 329 325 522 522 1.586 1. 2010 5 5 6 36 55 61 42 41 40 0 0 0 41 25 18 123 134 134 210 468 518 451 436 116 2 2 3 59 150 150 19 13 13 62 105 109 96 165 165 0 0 0 64 90 139 3 6 6 34 34 54 25 25 29 0 0 0 12 64 42 15 18 19 47 60 59 80 125 125 0 0 0 32 62 77 .940 7.820 361 361 361 13 17 23 0 0 0 15 DI Yogyakarta 55 42 44 123 355 359 43 52 57 3 4 5 28 96 96 16 Jawa Timur 370 461 461 890 1.Lampiran 5.230 2.611 3.915 7.671 5.743 2.789 2.746 349 732 604 435 499 618 268 268 268 13 Jawa Barat 343 365 393 1.10 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Pedagang Besar Farmasi NO PROVINSI (1) (2) Toko Obat Apotek Penyalur Alat Kesehatan (PAK) Sub Penyalur Alat Kesehatan (Sub PAK) 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 71 4 Kepulauan Riau 20 5 Riau 44 6 Kepulauan Bangka Belitung 6 7 Jambi 31 8 Bengkulu 9 2009 (17) 58 51 52 119 170 209 534 576 560 0 0 0 98 99 125 110 103 106 386 769 768 259 738 737 10 13 15 0 128 128 74 81 193 296 295 361 482 478 0 0 0 101 57 89 28 33 98 129 160 286 336 377 2 2 2 19 38 55 81 91 269 313 346 290 328 546 2 3 5 195 235 235 10 14 46 62 70 72 79 92 2 2 2 28 30 30 47 49 121 151 166 137 167 176 0 0 0 85 44 55 17 17 19 77 96 99 104 95 90 0 0 0 64 72 72 Sumatera Selatan 88 95 95 175 225 243 97 95 114 5 5 4 91 106 106 10 Lampung 74 48 53 162 212 225 123 157 113 1 1 1 39 65 65 11 Banten 34 79 81 137 137 401 9 9 9 25 31 37 12 12 20 12 DKI Jakarta 521 279 283 807 1.162 1. Kemenkes.816 10.

8 0.1 3.5 0.8 0.5 8.5 6.9 1.5 0.Lampiran 5. 2010 67 52 18 7 1 21 26 2 1 1 1 15 2 3 1 2 1 221 30.11 JUMLAH INSTITUSI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES) MENURUT JURUSAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jurusan / Program Studi (1) (2) (3) (4) (6) (7) (8) (9) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Perekam Informasi Kesehatan Ortotik Prostetik Teknik Gigi Teknik Radiodiagnostik Teknik Elektromedik Akupunktur Terapi Wicara Okupasi Terapi (10) KETEKNISIAN MEDIS Analis Kesehatan KETERAPIAN FISIK GIZI Gizi Kesehatan Lingkungan Analis Farmasi & Makanan Farmasi (5) KESMAS Fisioterapi KEFARMASIAN Kesehatan Gigi Poltekkes Kebidanan No Keperawatan KEPERAWATAN (17) (18) (19) TOTAL (20) 1 Banda Aceh 3 3 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 2 Medan 1 3 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9 3 Pekanbaru 2 2 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 4 Padang 2 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 5 Jambi 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 6 Bengkulu 3 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8 7 Palembang 2 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 8 Tanjung Karang 2 2 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8 9 Jakarta I 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 4 10 Jakarta II 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 7 11 Jakarta III 3 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 12 Bandung 3 4 1 0 0 1 1 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 12 13 Tasikmalaya 2 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 14 Yogyakarta 5 3 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 13 15 Semarang 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 7 16 Surakarta 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 17 Surabaya 4 3 1 0 0 2 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 12 18 Malang 3 3 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 19 Denpasar 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 7 20 Mataram 2 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5 21 Kupang 3 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 22 Pontianak 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 23 Palangkaraya 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 24 Samarinda 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 25 Banjarmasin 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 4 26 Palu 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 27 Makassar 2 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 28 Kendari 2 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9 29 Manado 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 30 Gorontalo 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 31 Ambon 3 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 32 Ternate 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 33 Jayapura 7 2 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 TOTAL % Sumber: BPPSDM Kesehatan.4 0.5 9.5 0. Kemenkes.5 100 .5 11.9 0.9 0.3 23.2 0.

12 JUMLAH JURUSAN/PROGRAM STUDI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES) MENURUT AKREDITASI DAN STRATA TAHUN 2009 Strata No Poltekkes Jumlah Jurusan/Program Studi (1) (2) (3) Jurusan Terakreditasi Belum Terakreditasi A B C Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) (8) (9) (12) (13) (14) (15) 1 Banda Aceh 10 7 70 1 14 6 86 0 0 3 2 Medan 9 9 100 2 22 5 56 2 22 0 0 3 Pekanbaru 7 6 86 5 83 1 17 0 0 1 14 4 Padang 5 2 40 0 0 2 100 0 0 3 60 5 Jambi 4 4 100 2 50 2 50 0 0 0 0 6 Bengkulu 8 8 100 0 0 8 100 0 0 0 0 7 Palembang 6 2 33 2 100 0 0 0 0 2 33 8 Tanjung Karang 8 7 88 0 0 7 100 0 0 1 13 9 Jakarta I 4 3 75 2 67 1 33 0 0 0 0 10 Jakarta II 7 7 100 4 57 3 43 0 0 0 0 11 Jakarta III 6 6 100 6 100 0 0 0 0 0 0 12 Bandung 12 11 92 9 82 2 18 0 0 0 0 13 Tasikmalaya 5 5 100 5 100 0 0 0 0 0 0 14 Yogyakarta 6 6 100 4 67 2 33 0 0 0 0 15 Semarang 13 11 85 9 82 2 18 0 0 2 15 16 Surakarta 7 4 57 2 50 2 50 0 0 3 43 17 Surabaya 12 12 100 7 58 5 42 0 0 0 0 18 Malang 7 7 100 5 71 2 29 0 0 0 0 19 Denpasar 7 5 71 2 40 3 60 0 0 0 0 20 Mataram 5 5 100 3 60 2 40 0 0 0 0 21 Kupang 8 7 88 0 0 7 100 0 0 1 13 22 Pontianak 6 4 67 2 50 2 50 0 0 2 33 23 Palangkaraya 3 2 67 0 0 2 100 0 0 1 33 24 Samarinda 6 6 100 3 50 3 50 0 0 0 0 25 Banjarmasin 4 2 50 1 50 1 50 0 0 2 50 26 Palu 6 4 67 0 0 4 100 0 0 2 33 27 Makassar 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Kendari 4 4 100 0 0 4 100 0 0 0 0 29 Manado 9 8 89 1 13 7 88 0 0 1 11 30 Gorontalo 3 3 100 0 0 0 0 3 100 0 0 31 Ambon 6 6 100 0 0 4 67 2 33 0 0 32 Ternate 33 Jayapura Jumlah Sumber: BPPSDM Kesehatan.48 .9 32 14.Lampiran 5. 2010 30 3 2 67 0 0 2 100 0 0 1 33 12 5 42 0 0 5 100 0 0 7 58 221 180 81.45 77 42.8 96 53.3 7 3. Kemenkes.

Lampiran 5. 2010 .13 JUMLAH INSTITUSI NON POLITEKNIK KESEHATAN (NON-POLTEKKES) MENURUT JURUSAN/PROGRAM STUDI DAN PROVINSI TAHUN 2009 (4) (8) (9) (10) (12) (13) (14) (15) (17) (18) (19) (20) (21) (22) D-III Kardiovaskuler D-I PTTD ATEM APIKES ARO AAK ATG SMAK (16) ATRO Keteknisian Medis D-III AKUPUNTUR ATW AKFIS AKL (11) Keterapian Fisik Gizi AKZI Kesmas AKFAR (7) AKAFARMA (6) SMKF (5) SMF AKG (3) AKBID (2) (1) Kefarmasian AKPER Provinsi SPRG No SPK Keperawatan (23) (24) Jumlah (25) (26) 1 Aceh 1 0 14 33 0 0 0 1 1 1 0 2 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 57 2 Sumatera Utara 0 0 42 53 0 4 0 3 1 1 2 2 0 0 1 0 2 1 1 0 1 0 0 114 3 Sumatera Barat 0 0 13 10 0 1 0 1 3 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 2 0 0 0 34 4 Riau 0 0 7 20 0 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 34 5 Jambi 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 5 6 Sumatera Selatan 0 0 7 6 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 15 7 Bengkulu 0 0 12 16 0 1 0 0 2 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 35 8 Lampung 0 0 4 4 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 5 10 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 17 10 Kepulauan Riau 1 0 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 11 DKI Jakarta 1 2 31 21 0 8 0 2 2 1 2 2 1 0 2 1 0 1 2 2 1 1 1 84 12 Jawa Barat 0 0 14 12 0 4 40 0 2 0 0 1 0 0 0 0 2 1 1 1 0 0 0 78 13 Jawa Tengah 2 0 44 52 0 4 0 3 12 3 2 3 0 0 2 0 4 1 2 6 2 0 0 142 14 DI Yogyakarta 0 0 4 9 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 15 Jawa Timur 0 0 5 2 0 1 0 0 2 0 0 0 0 3 0 0 1 1 0 2 1 1 0 19 16 Banten 0 1 42 27 0 5 2 3 2 1 2 2 0 0 1 1 4 0 1 2 0 0 0 96 17 Bali 1 0 1 2 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 7 18 Nusa Tenggara Barat 1 0 4 7 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 16 19 Nusa Tenggara Timur 2 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 20 Kalimantan Barat 0 0 6 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 21 Kalimantan Tengah 0 0 3 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 7 22 Kalimantan Selatan 0 0 6 6 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 23 Kalimantan Timur 0 0 6 7 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 24 Sulawesi Utara 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 25 Sulawesi Tengah 0 0 5 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 26 Sulawesi Selatan 1 1 24 19 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 52 27 Sulawesi Tenggara 0 0 6 2 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 12 28 Gorontalo 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 31 Maluku Utara 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 3 10 4 319 329 1 33 44 15 43 13 9 16 1 3 8 2 22 9 8 20 7 2 1 919 JUMLAH Sumber: BPPSDM Kesehatan. Kemenkes.

14 JUMLAH INSTITUSI NON POLITEKNIK KESEHATAN (NON-POLTEKKES) MENURUT AKREDITASI DAN STRATA TAHUN 2009 Strata Institusi yang Belum Terakreditasi No Provinsi Jumlah Institusi (1) (2) (3) A B C telah terakreditasi Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 57 1 4 21 75 6 21 28 49 29 51 114 4 5 61 75 16 20 81 71 33 29 3 Sumatera Barat 34 2 10 16 4 Riau 34 2 13 13 76 3 14 21 62 13 38 87 0 0 15 44 19 56 5 Jambi 5 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 15 0 0 9 100 0 0 9 0 5 100 60 6 7 Bengkulu 35 3 13 15 65 5 22 23 66 40 12 34 8 Lampung 9 1 20 4 80 0 0 5 56 4 44 9 Kepulauan Bangka Belitung 17 0 0 10 91 1 9 11 65 6 35 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 4 0 0 2 100 0 0 2 50 2 50 84 7 10 65 89 1 1 73 87 11 13 12 Jawa Barat 78 3 19 13 81 0 0 16 21 62 79 13 Jawa Tengah 142 16 17 71 76 6 6 93 65 49 35 14 DI Yogyakarta 16 1 11 8 89 0 0 9 56 7 44 15 Jawa Timur 99 20 27 54 72 1 1 75 76 24 24 16 Banten 15 1 20 4 80 0 0 5 33 10 67 17 Bali 7 0 0 3 100 0 0 3 43 4 57 18 Nusa Tenggara Barat 16 1 25 3 75 0 0 4 25 12 75 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 7 0 22 Kalimantan Selatan 15 4 23 Kalimantan Timur 16 2 24 Sulawesi Utara 5 0 25 Sulawesi Tengah 7 1 26 Sulawesi Selatan 52 27 Sulawesi Tenggara 12 28 Gorontalo 2 29 Sulawesi Barat 30 5 0 0 3 100 0 0 3 60 2 40 11 2 25 6 75 0 0 8 73 3 27 0 3 100 0 0 3 43 4 57 40 6 60 0 0 10 67 5 33 25 5 63 1 13 8 50 8 50 0 4 80 1 20 5 100 0 0 14 5 71 1 14 7 100 0 0 1 5 14 74 4 21 19 37 33 63 0 0 7 100 0 0 7 58 5 42 0 0 1 100 0 0 1 50 1 50 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Maluku 1 0 0 1 100 0 0 1 100 0 0 31 Maluku Utara 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 100 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 3 0 0 1 100 0 0 1 33 2 67 919 72 13.2 428 46 8.4 0 .Lampiran 5.4 546 59. Kemenkes.59 Jumlah Sumber: BPPSDM Kesehatan.41 373 40. 2010 78.

15 JUMLAH INSTITUSI DIKNAKES NON-POLTEKKES MENURUT STATUS KEPEMILIKAN TAHUN 2009 No. 2010 2 69 18 0 0 89 3 16 1 3 0 23 5 234 310 1 1 551 10 319 329 4 1 663 0 0 0 2 2 3 0 0 1 4 30 44 15 40 129 33 44 15 43 135 1 1 0 0 12 12 13 13 1 1 0 0 8 8 9 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 0 1 3 20 16 0 1 3 20 1 2 0 0 0 0 0 0 0 3 96 10.Lampiran 5. Kemenkes.45 1 0 1 0 0 0 1 0 0 3 30 3.26 6 20 1 2 8 20 6 9 1 73 793 86.29 8 22 2 2 8 20 7 9 1 79 919 100 . Jenis Tenaga Kesehatan Pemda TNI / Polri Swasta Jumlah (2) (3) (4) (5) (6) (1) A B C D E F KEPERAWATAN 1 Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) 2 Akademi Keperawatan (AKPER) 3 Akademi Kebidanan (AKBID) 4 Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG) 5 Akademi Kesehatan Gigi (AKG) Sub Total KEFARMASIAN 1 Sekolah Menengah Farmasi (SMF) 2 SMKF 3 Akademi Analis Farmasi dan Makanan (AKAFARMA) 4 Akademi Farmasi (AKFAR) Sub Total KESEHATAN MASYARAKAT 1 Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Sub Total GIZI 1 Akademi Gizi (AKZI) Sub Total KETERAPIAN FISIK 1 Akademi Fisioterapi (AKFIS) 2 Akademi Okupasi Terapi (AOT) 3 Akademi Terapi Wicara (ATW) 4 Akademi Akupunktur Sub Total KETEKNISIAN MEDIS 1 Sekolah Menengah Analis Kesehatan (SMAK) 2 Akademi Analis Kesehatan (AAK) 3 Akademi Tekniker Gigi (ATG) 4 D-I Pendidikan Teknik Transfusi Darah (PTTD) 5 Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO) 6 Akademi Perekam Informasi Kesehatan (APIKES) 7 Akademi Teknik Elektromedik (ATEM) 8 Akademi Refraksionis Optisi (ARO) 9 Akademi Teknik Kardiovaskuler Sub Total Total % Sumber: BPPSDM Kesehatan.

917 11.957 517 298 280 674 238 25.419 2.035 954 634 547 368 120 206 524 156 160 573 1.182 7.050 489 109.889 278.394 337 371 433 381 372 246 454 261 375 102 452 540 77 70 221 239 311 96 112 83 48 44 30 55 17 23 195 103 583 115 243 192 76 37 88 29 28 41 71 92 22 98 30 18 34 17 39 1.030 5.163 4.214 9.858 285 12.656 200 423 155 44 132 90 128 297 79 85 267 23 46 38 40 44 1.326 21.023 3.985 98 15.291 6.247 9.446 8.576 11.532 109.798 8.646 1.588 5.145 1.275 1.483 15.662 19.113 1.575 2.574 2.581 10.138 17.912 46.025 3.384 TOTAL PER KATEGORI 51.582 297 370 115 176 199 90 167 269 61 59 297 64 39 62 97 36 8.975 563 794 1.568 6.436 2.048 3.399 6.930 17.682 215 28.826 6.035 2.394 308 395 155 467 237 106 442 363 242 171 256 148 37 41 53 46 Sarjana Kesmas 1.303 2.545 12.948 10.032 6.796 8.057 519.715 968 1.071 1.234 2.456 456 988 516 437 402 435 203 236 474 305 296 337 618 728 151 139 170 451 Keterapian Fisik Keteknisian Medis Jumlah Nakes SDM Non Nakes Total SDM Kesehatan Sanitarian 467 626 523 315 118 34 27 231 20 176 1.244 893 Sarjana Farmasi & Apoteker 460 851 204 259 132 142 94 197 42 74 758 252 1.086 3.Lampiran 5.705 6.277 2.193 445 493 575 416 530 831 599 352 981 233 150 172 345 203 188 1.067 6.253 952 3.659 895 938 521 282 395 785 228 456 896 2.499 8.153 222 380 386 604 337 243 449 332 427 326 393 450 79 75 236 102 544 729 477 293 171 203 140 241 109 106 354 946 1.268 13.466 4.947 342 4.953 253 16. Kemenkes.657 5.16 REKAPITULASI DATA SDM KESEHATAN PER PROVINSI KEADAAN DESEMBER 2009 MEDIS NO KEPERAWATAN KEFARMASIAN PROVINSI Dokter Spesialis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Gorontalo Maluku Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Perawat Gigi Bidan 6.389 13.436 2.186 1.762 12.317 9.985 129 TOTAL 9.061 2.401 294 1.851 3.906 1.663 16.613 5.200 4.298 13.633 71.686 7.068 1.234 2.410 7.887 1.762 10 2.801 4.490 20.957 1.470 4. 2010 984 93.395 2.774 173.036 1.310 5.399 24.255 352 361 1.745 6.908 1. melalui pengumpulan data Badan PPSDMK.988 1.755 2.917 7.543 13.673 7.633 27.155 1.568 410.072 509 570 6.683 11.177 12.985 2.792 14.706 20.786 2.473 640 632 95 112 102 168 78 101 121 204 112 228 122 133 26 45 47 208 KESMAS Tenaga Gizi Asisten Aptoteker 368 166 654 388 428 120 208 287 140 114 108 991 837 763 2.221 106 8.337 1.951 583 616 361 368 299 151 103 178 90 60 180 1.849 6.449 1.298 1.467 1.765 21.521 4.119 3.956 10.341 255 12.489 4.188 258 1.948 346 1.540 51.837 4.385 5.945 14.582 .433 183 364 266 520 351 232 501 465 18 86 214 142 41 95 29 130 22.763 840 4.182 850 2.602 1.956 35.563 3.542 8.050 410.986 14.517 28.165 776 789 493 532 611 673 115 255 168 236 1.702 7.940 13.617 54 192 28 2.959 20.532 2.387 3.083 1.191 785 1.279 1.601 9.027 2.119 35 827 73 66 179 178 144 5 47 3.303 3.424 10.364 12.332 32 2.666 2.002 2.788 Sumber : Dinas Kesehatan seluruh Indonesia.289 53 13.119 322 348 138 53 80 209 52 135 725 946 976 443 1.483 5.480 2.905 8.010 6.458 16.971 995 2.007 1.951 12.030 71.307 50.379 3.077 6.086 2.917 3.319 2.007 1.775 2.994 5.291 163 11.128 3.308 2.532 6.150 975 2.862 12.531 314 903 225 380 153 474 329 247 384 158 284 28 498 134 79 48 18 37 685 564 335 233 420 351 207 260 95 56 83 1.

665 762 7.252 41 577 239 268 358 36 165 13.570 26 Sulawesi Selatan 393 318 270 2.151 76 65 269 214 133 11 48 5.835 788 5.053 194 2.796 12 278 188 205 200 2 173 6.776 29.112 28.461 86 1.728 224 1.591 154 2.481 19 118 100 265 266 2 228 5.103 28 Gorontalo 61 75 35 587 36 312 22 17 52 44 45 6 23 1.505 280 1.468 711 10.053 16 Banten 205 379 202 1.981 300 6.833 777 5.950 184 1.743 5.140 230 1.329 13 Jawa Tengah 871 1.961 30 Maluku 159 94 152 1.744 8.973 91 2.181 7.401 60 53 180 283 90 0 47 4.229 4 Riau 174 527 196 2.728 17 Bali 117 346 192 1.796 165 1.606 7 Bengkulu 152 173 68 2.896 12 Jawa Barat 1.198 15 73 97 128 146 2 145 4.691 133 808 18 25 30 128 174 3 13 3.737 499 6.934 14 DI Yogyakarta 120 321 169 801 237 762 90 73 78 151 137 8 221 3.535 245.451 66 2.049 919 3.766 337 5.621 111 54 174 264 117 2 46 5.459 5 Jambi 163 85 85 1.680 158 163 552 482 277 38 203 12.659 7.155 3 Sumatera Barat 245 442 207 1.092 10.130 298 906 45 84 331 329 338 0 19 4.270 210 3.673 2 Sumatera Utara 513 1.115 36 564 30 54 33 49 63 3 47 2.862 237 2.311 TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.042 564 5.610 24 Sulawesi Utara 165 332 46 2.040 228 1.346 543 5.417 290 4.603 626 7.018 799 6.910 530 4.071 30 105 128 195 147 0 91 4.164 36 178 117 137 123 3 109 6.177 244 5.Lampiran 5.024 886 7.370 85 221 509 365 353 44 159 7.546 226 4.310 30 98 171 344 322 5 160 6.958 20 Kalimantan Barat 227 225 58 2.213 34 75 170 240 134 0 69 5.248 322 4.133 43 20 161 123 128 3 47 4.071 8.517 33 Papua 287 299 70 2.141 76.486 1. 2010 .452 422 262 438 814 721 8 351 20.707 6 Sumatera Selatan 214 188 39 1.986 742 5.170 788 7.701 6.440 18 Nusa Tenggara Barat 149 250 87 2.995 360 1.673 1.672 393 274 422 727 706 69 624 23.067 174 2.253 121 722 265 800 778 19 654 24.405 10 104 67 233 116 1 66 3.385 129 2.305 591 2.509 24.025 1.17 JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS MENURUT JENIS DAN PROVINSI TAHUN 2010 No Provinsi Jumlah Puskesmas yang terdata tenaganya (2) (3) (1) Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Perawat Gigi Bidan Apoteker & S1 Farmasi Asisten Apoteker (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) Kesmas Sanitarian (13) (14) Keterapian Keteknisia Fisik n Medis Gizi (15) (16) (17) Jumlah JUMLAH TENAGA NON KESEHATAN TOTAL SDM KESEHATAN (19) (20) (21) 1 Aceh 291 534 97 4.338 122 1.396 215.847 77.259 286 2.480 31 Maluku Utara 105 101 18 842 23 551 50 22 137 78 119 7 23 1.730 118 2.387 228 4.822 5.545 11 DKI Jakarta 25 327 292 582 80 535 22 63 30 52 201 5 32 2.379 4.273 306 1.817 19 Nusa Tenggara Timur 300 260 130 2.615 158 1.393 21 622 36 26 52 75 98 0 10 2.716 957 13.889 21 Kalimantan Tengah 176 258 58 1.623 23 Kalimantan Timur 224 427 179 2.645 34 1.857 214 5.549 11 167 76 212 86 15 178 4.332 29 Sulawesi Barat 101 100 21 689 62 422 22 26 132 185 135 0 1 1.254 78 1.054 723 7.968 15 Jawa Timur 942 1.159 196 115 57 161 189 0 60 4.337 41 262 160 481 267 13 178 7.188 344 5.662 379 2.109 350 6.081 447 3.773 10 Kepulauan Riau 64 200 60 1.777 27 Sulawesi Tenggara 233 230 56 2.567 36 203 143 306 256 5 160 4.064 32 Papua Barat 120 103 13 1.544 350 4.689 7. Kemenkes.835 82 1.746 409 14.820 3.744 607 6.421 8 Lampung 267 411 141 2.615 22 Kalimantan Selatan 188 256 118 1.509 13.011 29 141 121 297 257 40 3 4.394 32.236 9 Kepulauan Bangka Belitung 55 113 32 703 67 414 35 25 65 54 64 0 43 1.142 2.772 25 Sulawesi Tengah 178 164 53 1.940 7.

181 7.452 1.81 0.42 8.70 7. 2010 .024 7.468 10.133 1.27 13 Jawa Tengah 871 1.393 622 0.252 2.01 8.71 12.18 8.81 11 DKI Jakarta 25 327 292 582 535 13.22 4.34 23 Kalimantan Timur 224 427 179 2.61 5.84 0.645 1.47 0.Lampiran 5.19 10.94 17.96 10.96 0.662 2.081 447 3.940 77.01 18 Nusa Tenggara Barat 149 250 87 2.74 12.405 2.59 22 Kalimantan Selatan 188 256 118 1.78 24 Sulawesi Utara 165 332 46 2.60 11.63 8.02 5.862 2.509 13. DOKTER GIGI.680 1.11 0.28 21.03 1.337 0.672 2.141 76.49 27 Sulawesi Tenggara 233 230 56 2.461 1.401 0.85 7.52 21 Kalimantan Tengah 176 258 58 1.26 10.92 0.981 6.99 0.80 0.701 6.87 0.88 16 Banten 205 379 202 1.99 0.36 6.50 19 Nusa Tenggara Timur 300 260 130 2.44 5 Jambi 163 85 85 1.68 0.78 7.66 8 Lampung 267 411 141 2.591 2.68 1.17 8.08 6.310 1.93 10.23 0.11 29 Sulawesi Barat 101 100 21 689 422 0.69 8.011 2.25 32 Papua Barat 120 103 13 1.18 33 Papua 287 299 70 2.59 0.87 26 Sulawesi Selatan 393 318 270 2.64 5.385 2. PERAWAT DAN BIDAN TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi Jumlah Puskesmas yang terdata tenaganya Dokter Umum Dokter Gigi (2) (3) (4) (5) (1) Perawat Bidan (6) (7) Rasio Dokter Umum Rasio Dokter Gigi Rasio Perawat Rasio Bidan (8) (9) (10) (11) 1 Aceh 291 534 97 4.728 1.64 9.164 3.62 3.40 12 Jawa Barat 1.115 564 3.24 9.370 0.33 11.142 1.481 0.28 12.41 6.72 9.071 1.05 7 Bengkulu 152 173 68 2.08 31 Maluku Utara 105 101 18 842 551 0.159 1.053 2.130 906 0.79 20 Kalimantan Barat 227 225 58 2.43 8.35 15 Jawa Timur 942 1.87 7.213 1.673 1.87 15.62 0.04 0.621 1.29 9 Bangka Belitung 55 113 32 703 414 2.53 7.744 607 6.14 3.76 12.14 0.11 11.58 12.00 0.691 808 0.60 9.50 6 Sumatera Selatan 214 188 39 1.54 0.151 0.30 10.188 5.08 11.36 0.18 RASIO DOKTER UMUM.665 762 7.995 1.87 7.549 0.13 0.950 1.253 1.68 23.85 0. Kemenkes.140 1.62 5.05 0.31 7.19 3 Sumatera Barat 245 442 207 1.33 14.18 30 Maluku 159 94 152 1.52 2 Sumatera Utara 513 1.338 1.78 1.273 1.17 8.040 1.198 1.13 13.01 6.88 0.86 0.89 28 Gorontalo 61 75 35 587 312 1.44 4.84 7.025 1.07 TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.21 6.68 6.99 0.53 10 Kepulauan Riau 64 200 60 1.82 4.08 10.13 25 Sulawesi Tengah 178 164 53 1.835 1.52 0.74 6.96 1.91 0.505 1.486 10.40 17 Bali 117 346 192 1.067 2.04 9.58 13.567 1.76 10.25 14 DI Yogyakarta 120 321 169 801 762 2.45 12.52 10.25 7.730 2.39 19.69 7.01 0.45 16.57 9.61 0.796 1.41 4 Riau 174 527 196 2.24 9.80 10.99 7.

184 1.94 714 1. Kemenkes.518 .Lampiran 5.19 REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER UMUM PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) (4) Jumlah % (5) (6) 6 Bln 12 Bln (7) (8) Jumlah % (9) (10) (11) 1 Aceh 13 5 103 37 5 161 166 59 282 2 Sumatera Utara 96 33 141 49 24 27 51 18 288 3 Sumatera Barat 13 11 62 54 17 23 40 35 115 4 Riau 41 39 44 42 0 20 20 19 105 5 Jambi 20 17 54 47 0 42 42 36 116 6 Sumatera Selatan 11 19 45 76 0 3 3 5 59 7 Bengkulu 0 0 51 55 0 41 41 45 92 8 Lampung 15 17 54 62 0 18 18 21 87 9 Kepulauan Bangka Belitung 2 20 4 40 0 4 4 40 10 10 Kepulauan Riau 7 14 15 31 0 27 27 55 49 11 DKI Jakarta 14 100 0 0 0 0 0 0 14 12 Jawa Barat 63 100 0 0 0 0 0 0 63 13 Jawa Tengah 135 100 0 0 0 0 0 0 135 14 DI Yogyakarta 19 100 0 0 0 0 0 0 19 15 Jawa Timur 106 100 0 0 0 0 0 0 106 16 Banten 26 100 0 0 0 0 0 0 26 17 Bali 20 100 0 0 0 0 0 0 20 18 Nusa Tenggara Barat 8 14 30 54 0 18 18 32 56 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 28 9 29 244 273 91 301 20 Kalimantan Barat 0 0 28 22 0 99 99 78 127 21 Kalimantan Tengah 0 0 30 37 0 52 52 63 82 22 Kalimantan Selatan 0 0 51 42 0 71 71 58 122 23 Kalimantan Timur 7 9 43 54 0 30 30 38 80 24 Sulawesi Utara 0 0 45 42 0 63 63 58 108 25 Sulawesi Tengah 0 0 20 17 63 37 100 83 120 26 Sulawesi Selatan 18 22 44 53 4 17 21 25 83 27 Sulawesi Tenggara 1 1 18 11 34 116 150 89 169 28 Gorontalo 0 0 9 17 0 44 44 83 53 29 Sulawesi Barat 0 0 5 9 26 24 50 91 55 30 Maluku 2 1 10 5 174 0 174 94 186 31 Maluku Utara 0 0 8 13 55 0 55 87 63 32 Papua Barat 0 0 13 12 99 0 99 88 112 33 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian. 2010 0 0 28 13 184 3 187 87 215 637 18.95 3.898 53.11 983 27.

03 197 469 666 63. Kemenkes.20 REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER GIGI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) Jumlah (4) % (5) 6 Bln (6) 12 Bln (7) Jumlah (8) % (9) (10) (11) 1 Aceh 0 0 13 17 5 57 62 83 2 Sumatera Utara 75 15 23 38 58 4 9 13 20 66 3 Sumatera Barat 2 5 13 30 9 20 29 66 44 4 Riau 2 6 18 51 0 15 15 43 35 5 Jambi 0 0 5 20 0 20 20 80 25 6 Sumatera Selatan 0 0 4 50 0 4 4 50 8 7 Bengkulu 0 0 1 6 0 16 16 94 17 8 Lampung 3 16 7 37 0 9 9 47 19 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 2 40 0 3 3 60 5 10 Kepulauan Riau 1 4 11 46 0 12 12 50 24 11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 Jawa Barat 15 100 0 0 0 0 0 0 15 13 Jawa Tengah 30 100 0 0 0 0 0 0 30 14 DI Yogyakarta 13 100 0 0 0 0 0 0 13 15 Jawa Timur 83 100 0 0 0 0 0 0 83 16 Banten 17 Bali 18 5 100 0 0 0 0 0 0 5 14 100 0 0 0 0 0 0 14 Nusa Tenggara Barat 6 26 9 39 0 8 8 35 23 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 6 5 23 89 112 95 118 20 Kalimantan Barat 0 0 1 3 0 38 38 97 39 21 Kalimantan Tengah 0 0 1 4 0 22 22 96 23 22 Kalimantan Selatan 0 0 7 18 0 32 32 82 39 23 Kalimantan Timur 2 5 12 32 0 24 24 63 38 24 Sulawesi Utara 0 0 1 20 0 4 4 80 5 25 Sulawesi Tengah 0 0 1 4 15 8 23 96 24 26 Sulawesi Selatan 7 14 28 56 3 12 15 30 50 27 Sulawesi Tenggara 0 0 4 8 13 33 46 92 50 28 Gorontalo 0 0 1 6 0 17 17 94 18 29 Sulawesi Barat 0 0 3 9 13 16 29 91 32 30 Maluku 0 0 0 0 63 1 64 100 64 31 Maluku Utara 0 0 0 0 16 0 16 100 16 32 Papua Barat 0 0 0 0 17 0 17 100 17 33 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.79 190 18.19 1. 2010 0 0 4 20 16 0 16 80 20 198 18.054 .Lampiran 5.

41 54 32 Papua Barat 0 0.00 350 18 Nusa Tenggara Barat 91 61.01 2.21 REKAPITULASI KEBERADAAN BIDAN PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) (4) Jumlah % (5) (6) Jumlah % (7) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 942 82.38 198 7 Bengkulu 46 10.807 1 0.00 0 0.00 50 0.Lampiran 5.99 0 0.036 0.95 7 2.93 4 7.46 2.07 0 0.00 0 0.28 712 Gorontalo 3 12.64 245 0.57 174 0.87 105 4.00 18 0.75 593 0.82 68 22 Kalimantan Selatan 1 0.06 194 26 Sulawesi Selatan 27 Sulawesi Tenggara 28 64 25.00 169 11 DKI Jakarta 0 0.97 283 0.633 0.78 252 20 Kalimantan Barat 4 1.33 60 31 Maluku Utara 0 0.00 220 15 Jawa Timur 3.00 50 24 Sulawesi Utara 1 3.93 3 0.00 175 23 Kalimantan Timur 32 64.00 32 25 Sulawesi Tengah 4 2.36 0 0.78 0 0.113 96.13 31 0.74 5 Jambi 128 17.00 434 134 0.104 62.56 8 32.43 3.784 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.00 1.22 1.40 2 0.392 99.82 6 Sumatera Selatan 409 67.07 57 0.00 10 185 0.00 0 0.97 0 0.00 721 0.00 253 427 59.44 271 0.75 0 0.80 11 18.47 61 0.89 0 0.495 1.91 15 6.33 0 0.00 0 0.218 9 Kepulauan Bangka Belitung 55 93.89 132 0.57 5 0.00 10 16.85 219 30 Maluku 1 1.00 25 29 Sulawesi Barat 4 1.90 6 8.00 713 17 Bali 345 98.234 16 Banten 468 65.46 9.00 0 0.00 4.55 0 0.00 14 0.14 4 0.72 25.00 1 1.26 107 0.01 0 0.11 0 0.00 0 0.60 388 8 Lampung 1.22 4 0.17 4 Riau 260 26.00 0.67 149 19 Nusa Tenggara Timur 5 1.67 48 0.00 4. 2010 0 0.836 13 Jawa Tengah 4.395 14 DI Yogyakarta 220 100.00 59 10 Kepulauan Riau 37 21.03 14 0.37 .139 0 0.38 1 0.08 737 0.084 89.09 1.174 45.34 0 0.23 2.00 (8) (9) 212 9.06 186 0.00 607 0.70 196 0.00 1 33 Papua 0 0. Kemenkes.353 2.96 4 2.98 240 0.97 3 1.00 997 0 0.30 189 0.00 0 12 Jawa Barat 1.83 200 0.08 278 21 Kalimantan Tengah 1 1.11 251 0.581 86.

Sulawesi Tenggara 20 2 3 7 8 0 0 29 Bapelkes Prov. Maluku 11 0 0 0 10 1 0 30 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 41 7 0 0 23 11 0 15 BPTKM Dinkes Prov. Papua 19 13 0 0 0 6 0 SUB TOTAL 845 418 34 89 219 75 10 TOTAL 1052 419 36 98 279 205 15 Sumber : BPPSDM Kesehatan. Tenaga Kes kupang 28 13 6 4 5 0 0 22 Upelkes Prov. 2010 . Kalimantan Selatan 28 20 0 2 3 3 0 26 Bapelkes Prov.Sumatera utara 36 0 0 0 30 6 0 9 Bapelkes Prov.Bengkulu 52 37 2 3 9 0 1 13 Bapelkes Prov. Kalimantan Barat 41 29 0 0 1 8 3 23 Bapelkes Prov.Sumatera Barat 87 63 1 2 14 7 0 SUB TOTAL 58 4 32 0 0 0 42 1 10 Bapelkes Prov. Kalimantan Tengah 24 7 0 3 14 0 0 24 Bapelkes Prov.LAMPIRAN 5. Sulawesi Utara 33 24 0 5 4 0 0 27 Bapelkes Palu 29 9 1 0 1 18 0 28 Bapelkes Prov. Kemenkes. Jawa Barat 62 62 0 0 0 0 0 16 BPTPK Gombong 22 0 0 0 22 0 0 17 Bapelkes Yogja 21 5 0 1 8 7 0 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 61 26 2 1 30 2 0 19 UPTD BPKKTK Prov. Kalimantan Timur 35 6 1 17 8 1 2 25 Bapelkes Prov.Jambi 40 1 18 13 8 0 0 12 Bapelkes Prov.Riau 15 4 0 5 3 3 0 11 Bapelkes Prov.22 DISTRIBUSI TINGKAT KETERLIBATAN INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA DALAM KEGIATAN KEDIKLATAN TAHUN 2009 NO INSTITUSI DIKLAT FREQUENSI PELATIHAN I II TINGKAT LIBAT (FREQ) III IV V (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) TDK Jelas (9) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 74 0 0 2 10 2 BBPK Cilandak 33 0 0 1 3 BPPK Ciloto 46 1 1 1 4 Bapelkesnas Lemahabang 16 0 1 2 8 5 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 19 0 0 3 10 6 0 6 Bapelkesnas Makasar 19 0 0 0 0 19 0 207 1 2 9 60 130 5 7 BLTKM Jantho 25 23 0 0 2 0 0 8 Bapelkes Prov. Bali 25 17 0 4 3 0 1 20 Bapelkes Mataram 62 50 0 0 8 1 3 21 UPTD Pel.Lampung 28 0 0 22 5 1 0 14 Bapelkes Prov.

Sumatera Barat 5 0 0 4 1 0 10 Bapelkes Prov.Maluku 1 0 0 0 1 0 30 Bapelkes Prov. Jawa Barat 9 0 2 5 2 0 16 BPTPK Gombong 5 0 0 0 0 5 17 Bapelkes Yogja 10 0 1 6 3 0 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 7 1 4 1 1 0 19 UPTD BPKKTK Prov.50 (4) 51 . 2010 .Kalimantan Selatan 6 4 2 0 0 0 26 Bapelkes Prov.Papua 2 0 0 0 1 1 SUB TOTAL 114 14 30 52 11 7 TOTAL 172 16 42 86 21 7 Sumber : BPPSDM Kesehatan.Sulawesi Utara 5 1 3 1 0 0 27 Bapelkes Palu 2 0 0 2 0 0 28 Bapelkes Prov.23 DISTRIBUSI WIDYAISWARA INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA BERDASARKAN KELOMPOK UMUR TAHUN 2009 UMUR NO INSTITUSI DIKLAT JUMLAH TIDAK JELAS < 40 (1) (2) (3) 41 .Lampung 10 2 1 6 0 1 14 Bapelkes Prov.60 (5) KETERANGAN > 60 (6) (7) (8) (9) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 14 0 2 10 2 0 2 BBPK Cilandak 11 0 0 7 4 0 3 BPPK Ciloto 7 2 2 3 0 0 4 Bapelkesnas Lemahabang 8 0 3 5 0 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 12 0 5 6 1 0 6 Bapelkesnas Makasar 6 0 0 3 3 0 SUB TOTAL 58 2 12 34 10 0 7 BLTKM Jantho 1 0 0 1 0 0 8 Bapelkes Prov. Bali 2 0 0 2 0 0 20 Bapelkes Mataram 11 0 4 6 1 0 21 UPTD Pel.Bengkulu 3 0 0 3 0 0 13 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 4 1 1 2 0 0 25 Bapelkes Prov.Sumatera utara 9 2 5 2 0 0 9 Bapelkes Prov.Riau 5 0 3 2 0 0 11 Bapelkes Prov.Jambi 3 0 0 3 0 0 12 Bapelkes Prov.Sulawesi Tenggara 2 0 1 1 0 0 29 Bapelkes Prov. Kemenkes. Kalimantan Barat 1 0 0 1 0 0 23 Bapelkes Prov.LAMPIRAN 5. Tenaga Kes kupang 6 2 1 3 0 0 22 Upelkes Prov.Sumatera Selatan 3 0 1 1 1 0 15 BPTKM Dinkes Prov.Kalimantan Tengah 2 1 1 0 0 0 24 Bapelkes Prov.

Riau 439 15 69 5 0 0 60 2 120 4 0 0 190 4 11 Bapelkes Prov.Papua 874 19 0 0 93 1 60 2 691 15 30 1 0 0 SUB TOTAL 35567 845 2208 42 476 9 7389 181 20402 478 2372 56 2720 79 TOTAL 46136 1052 6133 96 851 20 7867 192 23361 552 3222 81 4702 111 Sumber : BPPSDM Kesehatan.Kalimantan Selatan 1417 28 816 21 50 1 0 0 0 0 766 20 0 0 0 0 3327 61 401 5 42 1 606 11 1661 34 617 10 0 0 1033 25 89 3 0 0 30 1 551 12 0 0 363 9 1947 62 0 0 0 0 385 12 1157 37 30 1 375 12 666 28 0 0 0 0 209 8 457 20 0 0 0 0 1974 41 0 0 0 0 1782 36 0 0 112 3 80 2 24 0 0 0 0 140 3 160 3 623 18 0 0 0 0 35 1 387 15 195 16 30 1 110 2 161 1 0 0 145 2 1088 24 23 1 0 0 26 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 1420 41 198 4 0 0 30 1 1132 34 60 2 0 0 15 BPTKM Dinkes Prov. Tenaga Kes kupang 22 Upelkes Prov. Bali 20 Bapelkes Mataram 21 UPTD Pel.Sumatera utara 1099 36 77 2 0 0 150 6 842 27 30 1 0 0 9 Bapelkes Prov.Lampung 2749 28 0 0 0 0 60 2 2399 25 290 1 0 0 14 Bapelkes Prov.Sumatera Barat 3014 87 56 2 151 3 1239 25 913 32 78 3 577 22 10 Bapelkes Prov.Maluku 356 11 0 0 0 0 0 0 356 11 0 0 0 0 30 Bapelkes Prov.Jambi 906 40 0 0 0 0 575 25 236 11 75 3 20 1 12 Bapelkes Prov. Kemenkes.Sulawesi Utara 1070 33 86 2 115 2 71 2 798 27 0 0 0 0 27 Bapelkes Palu 1014 29 0 0 0 0 85 1 649 22 102 2 178 4 28 Bapelkes Prov. Jawa Barat 2355 62 961 16 0 0 0 0 1235 41 0 0 159 5 16 BPTPK Gombong 1165 22 0 0 0 0 860 12 204 7 101 3 0 0 17 Bapelkes Yogja 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 19 UPTD BPKKTK Prov.Bengkulu 1827 52 0 0 40 1 290 9 829 24 0 0 668 18 13 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 757 35 25 Bapelkes Prov.Kalimantan Tengah 923 24 Bapelkes Prov. Kalimantan Barat 23 Bapelkes Prov.Sulawesi Tenggara 565 20 0 0 0 0 0 0 394 14 171 6 0 0 29 Bapelkes Prov.Lampiran 5. 2010 .24 DISTRIBUSI FREKUENSI PELATIHAN DAN JUMLAH PESERTA DI INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA BERDASARKAN JENIS DIKLAT TAHUN 2009 Total No Prajabatan Penjenjangan Manajemen Teknis Fungsional Dan Lain-lain Institusi Diklat (1) (2) Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 2385 74 752 22 204 6 453 10 396 14 557 18 23 2 BBPK Cilandak 1093 33 356 9 171 5 0 0 514 18 0 0 52 1 3 BPPK Ciloto 3438 46 2001 16 0 0 25 1 944 18 110 3 358 8 4 Bapelkesnas Lemahabang 1325 16 758 6 0 0 0 0 537 9 30 1 0 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 1549 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1549 19 6 Bapelkesnas Makasar SUB TOTAL 4 779 19 58 1 0 0 0 0 568 15 153 3 0 0 10569 207 3925 54 375 11 478 11 2959 74 850 25 1982 32 7 BLTKM Jantho 3854 25 60 1 0 0 225 6 3569 18 0 0 0 0 8 Bapelkes Prov.

065 1380 1.402 0 615 100 0 190 0 225 0 60 0 1.340 0 19657 13923 0 4220 37.800 0 125 625 750 0 125 625 750 0 125 285 410 0 375 1535 1.510 2265 2.25 REKAPITULASI PESERTA DIDIK POLTEKKES PERJENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN AJARAN 2009/2010 P0LTEKKES NO (1) A B C D E F JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.910 2065 2.812 0 2825 300 0 450 0 675 0 100 0 4.380 5510 5.065 2065 2.156 0 7476 5298 0 1530 14.Lampiran 5.066 0 1105 100 0 160 0 225 0 20 0 1.550 21.353 1250 1. Kemenkes.868 190 50 0 40 280 190 50 40 40 320 102 80 60 0 242 482 180 100 80 842 0 1105 100 0 100 0 225 0 20 0 1.190 13.265 2353 2.304 0 4705 3600 0 1035 9.250 5868 5.280 .350 56.610 21. 2010 JUMLAH TINGKAT I TINGKAT II TINGKAT III (3) (4) (5) (6) 0 7476 5025 0 1655 14.

120 3320 1545 2740 7.605 14123 4690 9360 28.815 1320 0 100 220 1.640 1260 0 100 160 1.173 1100 1.157 2640 5545 600 320 2150 4543 1640 2080 0 180 19.769 92.900 62.448 4790 1490 2840 9. Kemenkes.Lampiran 5.346 6013 1655 3780 11.667 4465 92801 83740 1200 140 182.520 950 1950 200 160 800 1589 640 680 0 60 7.148 1280 30795 41016 400 40 73.520 1140 0 100 120 1.180 1020 1.020 3300 3. 2010 TINGKAT I TINGKAT II TINGKAT III (3) (4) (5) (6) 1760 31980 28908 400 100 63.725 800 1705 200 0 650 1285 480 720 0 60 5.100 1180 1.300 605 605 605 605 605 605 1815 1.698 239.852 .970 890 1890 200 160 700 1669 520 680 0 60 6.029 84.531 1425 30026 13816 400 0 45.26 REKAPITULASI PESERTA DIDIK NON POLTEKKES PERJENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN AJARAN 2009/2010 NON POLTEKKES NO (1) A B C D E F JUMLAH JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.360 3720 0 300 500 4.

Kemenkes.Lampiran 5. 2010 170 70 0 0 0 0 0 0 240 657 400 40 40 40 0 0 0 1177 380 280 20 20 0 20 20 20 760 80 0 80 100 520 0 520 320 440 20 440 180 .27 JUMLAH PESERTA DIDIK PROGRAM DIPLOMA IV BERDASARKAN JENIS INSTITUSI PENDIDIKAN TAHUN 2007.2009 Tahun No JENIS INSTITUSI (1) (2) I 2007 2008 2009 (3) (4) (5) III KEPERAWATAN Keperawatan Medical Bedah Keperawatan Gawat Darurat Keperawatan Klinik Kemahiran Keperawatan Kardiovaskuler Keperawatan Anestesi Keperawatan Jiwa Keperawatan Intensive Keperawatan Anestesi Reanimasi Sub Total KEBIDANAN Bidan Pendidik Kebidanan Komunitas Sub Total KESLING IV GIZI 30 580 280 V FISIOTERAPI 40 80 40 VI TEHNIK ELEKTROMEDIK 0 80 40 VII RADIOLOGI 40 80 40 40 160 80 0 0 20 0 0 0 0 0 0 570 0 0 0 0 0 0 2997 60 20 20 20 20 140 2020 II VIII ANALIS KESEHATAN IX PROMOSI KESEHATAN X KESEHATAN GIGI Kesehatan Gigi Kesehatan Gigi Komunitas Kesehatan Gigi Prothodansia Dental Bedah Mulut Perawat Gigi Pendidik Sub Total TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.

Lampiran 5. Kemenkes.28 LULUSAN DIKNAKES POLTEKKES DAN NON POLTEKKES BERDASARKAN JENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN 2009 TAHUN 2009 NO (1) A B C D E F JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan. 2010 JUMLAH POLTEKKES NON POLTEKKES (3) (4) (5) 855 10111 38354 929 27906 18545 230 855 48465 80 462 542 2594 469 1259 4322 2594 549 1721 4864 973 973 712 712 1685 1685 1388 1388 424 424 1812 1812 79 50 571 650 50 30 51 781 4743 4513 129 696 64 243 181 929 23163 14032 230 30 51 652 553 1013 90 104 256 805 223 506 553 1709 154 104 499 805 404 506 30 3550 48.371 30 1214 14.357 .014 4764 62.

030 0 159 0 0 50 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 209 14 Semarang 214 145 84 81 69 0 0 0 131 0 0 0 0 0 0 724 15 Surakarta 79 0 0 0 56 0 0 0 0 0 0 40 50 30 0 255 13 Tasikmalaya 16 Yogyakarta 48 39 198 84 0 0 82 0 0 0 0 0 0 0 0 403 17 Malang 219 385 0 108 80 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 792 18 Surabaya 270 284 85 0 31 0 86 68 0 0 0 0 0 0 0 824 19 Denpasar 99 40 35 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 220 20 Mataram 96 37 0 37 36 0 84 0 0 0 0 0 0 0 0 290 21 Kupang 265 57 60 72 34 70 0 0 0 0 0 0 0 0 0 558 99 140 67 73 0 0 50 0 0 0 0 0 0 0 0 429 23 Palangkaraya 112 34 0 30 68 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 244 24 Banjarmasin 308 37 41 56 0 0 47 0 0 0 0 0 0 0 0 489 25 Samarinda 166 171 0 0 44 0 43 0 0 0 0 0 0 0 0 424 26 Manado 100 24 20 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 163 0 165 39 0 51 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 255 138 163 47 49 0 90 0 0 0 0 0 39 0 0 0 526 29 Kendari 98 326 0 98 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 522 30 Ambon 191 0 36 47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 274 31 Ternate 90 17 0 29 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 136 32 Gorontalo 152 107 0 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 305 33 Jayapura 227 51 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 324 4743 4513 973 1388 855 462 696 181 243 64 80 79 50 30 0 14357 22 Pontianak 27 Palu 28 Makassar Jumlah Sumber : BPPSDM Kesehatan. Kemenkes.29 JUMLAH LULUSAN POLTEKKES BERDASARKAN JURUSAN/PROGRAM STUDI INSTITUSI DIKNAKES SELURUH INDONESIA TAHUN AJARAN 2009/2010 Jurusan / Program Studi No Poltekkes (1) (2) 1 Banda Aceh 2 Keperawatan Kebidanan Kesehatan Lingkungan (3) (4) (5) Gizi Kesehatan Gigi (6) (7) Farmasi Analisis Kesehatan Teknik Elektromedik Teknik Diagnostik Teknik Gigi AKAFARMA Fisioterapi Okupasi Terapi Ortotik Prostetik Terapi Wicara (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Jumlah (18) 204 82 95 5 107 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 493 Medan 85 410 40 90 0 129 60 0 0 0 0 0 0 0 0 814 3 Padang 187 177 69 56 48 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 537 4 Pekanbaru 96 203 47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 346 5 Jambi 0 104 53 0 38 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 195 6 Bengkulu 114 181 0 74 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 369 7 Palembang 238 110 0 63 35 79 38 0 0 0 0 0 0 0 0 563 8 Tanjung Karang 159 214 17 0 37 0 90 0 0 0 0 0 0 0 0 517 9 Jakarta I 60 114 0 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 193 10 Jakarta II 0 85 0 94 0 113 112 64 80 0 0 0 0 596 11 Jakarta III 135 167 0 0 0 36 0 0 0 0 0 0 0 0 338 12 Bandung 503 211 7 177 52 0 80 0 0 0 0 0 0 0 0 1. 2010 .Lampiran 5.

034 60 Keteknisian Gizi AKL 28 340 568 16 Jawa Timur (10) Keterapian Kesmas 719 80 289 120 23 635 279 179 48 717 18 174 27 237 42 100 52 911 17 580 27 414 97 147 100 379 548 45 23 50 82 53 40 44 80 60 2.040 554 28 Gorontalo 0 29 Maluku 0 30 Maluku Utara 0 31 Papua 49 JUMLAH Sumber : BPPSDM Kesehatan.796 36 7. 2010 929 230 23. Kemenkes.615 41 28 500 60 2.Lampiran 5.127 63 61 23 1.082 656 60 8 Bengkulu 372 65 79 9 Lampung 435 221 205 60 94 34 2.939 104 160 251 36 6 79 26 51 80 80 231 64 20 104 4.30 REKAPITULASI LULUSAN NON POLTEKKES DIKNAKES SELURUH INDONESIA BERDASARKAN JENIS DAN PROVINSI TAHUN AJARAN 2009/2010 Keperawatan No Provinsi (1) (2) Kefarmasian SPK SPRG AKPER AKBID AKG SMF (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 1.944 3.014 .241 2.135 776 5 900 1.678 14 149 22 Kalimantan Selatan APIKES (11) 17 310 192 ARO 210 395 21 Kalimantan Tengah ATRO 60 412 490 AAK 29 1.013 256 506 805 223 104 0 0 48.163 30 14.361 ATEM PTTD (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) 67 120 90 60 50 39 99 (25) (26) Jumlah (27) 14 80 67 38 80 2.420 (9) 1 10 Kepulauan Bangka Belitung 80 AKAFAR AKFAR MA 80 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 49 100 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 160 15 DI Yogyakarta 80 14 Banten 17 Bali 695 23 Kalimantan Timur 411 24 Sulawesi Utara 387 25 Sulawesi Tengah 451 26 Sulawesi Selatan 80 50 27 Sulawesi Tenggara 1.259 30 712 424 571 0 30 51 553 109 90 1.062 365 4 Riau 605 703 6 Jambi 298 50 7 Sumatera Selatan 1.463 220 2.284 20 Kalimantan Barat ATG 80 3.032 0 2.535 516 12 21 689 345 128 420 26 81 109 168 147 106 7 48 134 85 103 50 49 78 30 140 10 19 340 152 80 44 60 80 266 17 725 54 115 5.594 469 1.043 57 8.354 100 AKFIS 80 908 18 Nusa Tenggara Barat AKZI 51 3.105 80 26 28 KARDIOV ORTOTIK ASKULER PROSTETIK 35 83 60 80 109 50 2.140 179 SMAK 88 337 100 AKUPUN KTUR 35 420 19 Nusa Tenggara Timur ATW 27 502 392 AOT 58 3.

080.091.541.640 25.114 14.418.743.1. Kemenkes.360 74.671.000 26.170.405.821 81.000 186.1 Program Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat 117.Lampiran 5.755.1.3 Program Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aaparatur 61.49 3.000 633.07 3.346 7.2 Program Upaya Kesehatan Masyarakat 2.300.654 92.000 922.3 Program Pencegahan & Pemberantasan Penyakit 726.970.809.5.866.000 582.26 2.061.797.491.638.2.44 1.525.329.) (4) Total Realisasi (Rp.006 73.873.737.587.700.01 20.385.199.000 8.000.96 3.913.576.082.74 22.938.07 3.275.1 Program Sumber Daya Kesehatan 873.500.51 663.046 41.947.096.541.889.946.03 Program Peningkatan Pengawasan & Akuntabilitas Aparatur Negara 50.416.2 Pagu Revisi (Rp.765 22.000 128.978 28.000 39.886 85.994 26. 2010 .064.141.498.351.000. Kementerian/Fungsi/Sub Fungsi/Program/Kegiatan (1) (2) 1.1.509 15.117.137.181.629 80.844.561.319.608.3.000 86.954 58.371 19.348.94 4.563.06 253.1 Program Pendidikan Kedinasan 1.3.699 66.086.884.535.226.95 KEMENTERIAN KESEHATAN Sumber: Biro Perencanaan dan Anggaran.97 602.46 3.161 19.438.839 80.666.753.93 70.494.54 262.000.1 Program Upaya Kesehatan Perorangan 10.000 187.000 1.301 33.) (7) % (8) 2.57 37.5.80 3.000 494.000.130.491 84.99 182.659.182.563.462.043.000 1.908.519.04 43.458.689.886.400.348.3.4 Program Perbaikan Gizi Masyarakat 449.445.817.290 27.1.1.1.794.1 Program Penerapan Kepemerintahan Yang Baik 1.398.038.117.300.1 Program Penelitian & Pengembangan Kesehatan 165.202.) % (5) (6) Sisa Anggaran (Rp.500.14 144.000 1.401.803.215.483.220.251.629.05 4.20 31.235 77.935.1 Program Lingkungan Sehat 231.854 36.551.482.286 47.179 18.221.038.714 52.86 3.43 3.728.56 24.1 Program Obat & Perbekalan Kesehatan 992.2 Program Kebijakan & Manajemen Pembangunan Kesehatan 748.44 3.124.56 239.4.022 71.003.328.000 16.537.3.490.146 63.710 72.93 1.31 ALOKASI DAN REALISASI KEMENTERIAN KESEHATAN RI TRIWULAN IV TAHUN 2009 No.

046.225 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.231 2.512 132.627 2.01 55.601 6.539 279.363 45.500 673.594 4.32 22 Kalimantan Selatan 3.388.300 - 103.005.856 485.469.230 900.016.573 115.517 - - 339.710.434.000 - 27.043 4. 2010 3.202.400.349 - - 4.516.388.362.471 1.144.589 82.13 32 Papua Barat 33 Papua Pusat NASIONAL 236.028.91 30 Maluku 2.393 63.308.842 234.I.792 18.898 43.679 - - 366 - 7.429 - 47.751 5.086 - 106.210 - - 114.079.692 6 Sumatera Selatan 7.881 16.00 - - - - 13.265 784.804 85.464 - - - - - - - 1.697.540.080 524.000 16.569.016.000 - - - 98.605 - 60.61 24 Sulawesi Utara 2.381.427 8 Lampung 8.034 169.233 - - 4.716 136.942 57.891 111.476 - - 89.659 85.969 - 714.721 56.749.951 10.317 449.886 3.737 730.560.910 - 48.224 851.250 3.175 2.953.164.829 8.853 42.350.798.624 223.143.491 288.016.605 - - - - 86.67 17 Bali 3.60 - - - - - - 4.558 75.021 - - - - 1.157 1.451 308.790 64.584.450 55.649 578.000 - 167.271 31.071 - 204.133 98.670.564 100.95 .454.811 - 1.042.992 - - 87.084 265.564.000 537.24 29 Sulawesi Barat 1.319.76 2.549 81.643 1.587 - - 78.622 - 298.14 21 Kalimantan Tengah 2.510.617 744.77 1.568 7.894.941.072.912 80.505 - 545.078 23.55 1.875 15.982 39.498.281.35 20 Kalimantan Barat 4.623 - - - - 6.256.09 13 Jawa Tengah 32.477 - 57.760 1.102.715 924.514.161 60.098 173.398 337.870 437.002 4.988 - - - - 4.358 - - 67.649.396.756 5.473 5.29 - - - - 199.002.268 - - - 40 - - 714.643 - 89.302 - - 41.880 - 980.844 - - 572.969 2.976 - 572.536 3.002.234 27.962 521.73 18 Nusa Tenggara Barat 4.163.356 65.884 - 134.143 100.723 - - 1.098.56 11 DKI Jakarta 9.434.594 - 339.857 966.299 - 3.506 395.000 1.857 - 147.822 81.576 - 3.207 - - 565.837 310.963.658 76.010 - - 20.881 2.506.074 - 10.006 4.581 1.236.789 632.317.47 25 Sulawesi Tengah 2.338 100.051 248.868.870 56.067 - - 175 - 304.601.961 - 4.962 1.854 854.599 99.206.268 - - - 40 - - 170.20 31 Maluku Utara 1.259.193 24.533 942.683 - - 10.717.070 1.391 - 534.964 1.817 84. Askes Pemda Lain-lain (11) (12) (13) (14) Total Total Jaminan Jamkesda (15) (16) % (17) 4.099 - 107.961 5 Jambi 2.689 - 353.673 55.043 4.25 729.027 241.053 79.579.202 - 80.166 44.516 621.711.710 - 421.797 - 112.145 - - - - 559 - - - - 0 517.318 2.871 344.800 777.001 47.228.422.358 2.160.672 7 Bengkulu 1.375 3.248 - - - - 0 3.447 205.002.351 12.618 - 14.971 50.261 496.443 - 67.205 - 114.057 1.Lampiran 5.432.589.809 84.156 - 100.291.006 0 31.233.444 843.840.006.146.210 1.278 613.576.768 - 333.440.525 25.910.764 4 Riau 5.129 398.500 - - 14.792 - 323.676 9 Kepulauan Bangka Belitung Jamkesmas Non Quota (Jamkesda) Dana Sehat Asuransi Komersial TNI / POLRI Jamsostek (7) (8) (9) (10) Bapel / Uptd P.358 6.012 2.395.370 218.167 310.976 2.666 21.135.468 60.001 - - 17.868.225 - 60.833 - 405.142.281 - - - - 202.579.693.577.700.640.108.961 79.951 306.142 1.38 23 Kalimantan Timur 3.776 328.175 3.129.599 - 35.338 2.540 61.402.358.181 - 909.774.38 13.184 405.972 277.32 DATA CAKUPAN KEPESERTAAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2010 PER JUNI 2010 Peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Jiwa) No Provinsi (1) (2) Jumlah Penduduk Jamkesmas (3) (4) Askes PNS Jpkm / Bapel (5) (6) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4.647 2.T.946.69 26 Sulawesi Selatan 7. Yogyakarata 10.350.86 15 Jawa Timur 37.312 - 37.164 - 16.535 - - - - - - - - - 0 2.003.00 - - 18.00 27 Sulawesi Tenggara 1.474 - 10.419 405.051 2.264 - - - - - - - - - 0 596.32 28 Gorontalo 1.649 - 170.135 95.097 2.390 1.891 - 14.356.317 3.809 2.414 48.00 12 Jawa Barat 42.886 - 2.259.793.014 179.952.848 2.770.32 10 Kepulauan Riau 1.004 - 493.032 - 87.12 16 Banten 14 D.37 19 Nusa Tenggara Timur 4.333 81.732 - 6.000 - 1.095 - 89. Kemenkes.455 11.005 2.483 1.680 3 14.498 - - - - 100.904 - - 2.290 - 217.474 77.342 473.310 - 8.23 1.000 - 1.473 - 565.020 10.825 323.596.710 88.898.172.525 1.706 57.478 1.582.390 939.535.978 3.663 49.399 527.349 7.749 - 5.849 80.588.053 2.119 5.364 129.449.488 - - 147.535.166 854.715.113.089 10.912 - 708.12 3.252 204.911 277.211 55.854 4.693.472 - 21.054.645 431.213 - - - - 0 2.

23 164 86.00 0 0.73 36 40.43 331 94.38 19 31.00 125 14 DI Yogyakarta 23 100.15 61 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.48 12 2.97 45 33.48 35 57.07 59 11 DKI Jakarta 15 100.97 202 90.58 223 28 Gorontalo 0 0.00 22 18 Nusa Tenggara Barat 7 11.65 76 73.86 406 96.59 2.19 79 86.04 139 40.37 26 44.00 51 40.20 125 23 Kalimantan Timur 10 11.00 15 12 Jawa Barat 62 100.00 12 13.58 134 4 Riau 18 18.27 4.00 12 18.73 41 80.89 77 53.14 1.77 189 26 Sulawesi Selatan 17 16.00 13 6.26 44 40.00 64 16 Banten 20 100.00 23 15 Jawa Timur 64 100.42 104 22 Kalimantan Selatan 0 0.52 197 57.00 0 0.00 36 9.00 0 0.00 62 13 Jawa Tengah 125 100.62 70 57.Lampiran 5.56 25 42.34 29 28.00 52 42. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali .81 91 29.45 11 10 Kepulauan Riau 8 13.08 19 18.00 20 17 Bali 22 100.35 373 20 Kalimantan Barat 0 0.00 100 5 Jambi 17 11.58 67 64.00 0 0.27 143 6 Sumatera Selatan 7 13.00 0 0.75 52 81.17 312 3 Sumatera Barat 14 10.81 91 30 Maluku 2 0.16 103 27 Sulawesi Tenggara 1 0.88 51 7 Bengkulu 0 0.00 26 26.00 0 0.85 49 34.33 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER UMUM PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Terpencil Sangat Terpencil Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Total (9) 7 2.00 0 0.91 88 24 Sulawesi Utara 0 0.00 56 56.03 171 54.00 31 21.36 5 45.45 20 8.00 37 35.00 0 0.00 64 59.00 19 5. Kemenkes.01 141 21 Kalimantan Tengah 0 0.67 420 31 Maluku Utara 0 0.13 199 93.00 0 0.00 0 0.20 125 32 Papua Barat 0 0.27 104 9 Kepulauan Bangka Belitung 2 18.87 212 33 Papua 0 0.74 108 8 Lampung 9 8.80 74 59.80 114 91.45 75 55.794 62.00 11 8.00 25 13.00 0 0.57 350 500 11.65 337 90.38 122 25 Sulawesi Tengah 0 0.487 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.39 3 5.00 0 0.99 110 78.50 57 55.25 64 29 Sulawesi Barat 0 0.18 4 36.193 26.36 42 47.00 0 0.00 0 0.43 343 Sumatera Utara 50 16.

15 26 11 DKI Jakarta 0 0.00 0 0.71 1.97 15 38.43 70 3 Sumatera Barat 3 5.00 0 12 Jawa Barat 15 100.10 58 28 Gorontalo 0 0.00 2 33.50 40 21 Kalimantan Tengah 0 0.89 35 92.36 19 34.00 0 0.00 0 0.00 0 0.46 39 5 Jambi 0 0.00 2 40.56 23 58.67 6 25 Sulawesi Tengah 0 0.89 45 30 Maluku 0 0.71 33 94.67 51 4 Riau 1 2.86 39 55.83 11 45.00 6 60.11 40 88.00 0 0.86 28 22 Kalimantan Selatan 0 0.00 0 0.00 5 3.55 55 27 Sulawesi Tenggara 0 0.00 30 100.56 17 94.02 910 71.71 155 31 Maluku Utara 0 0.00 0 0.00 4 6.64 149 20 Kalimantan Barat 0 0.269 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.00 15 13 Jawa Tengah 29 100.00 0 0.50 39 97.00 9 45.00 4 40.00 14 16.23 21 80.11 38 143 11.44 18 8 Lampung 0 0.77 26 6 Sumatera Selatan 0 0.36 144 96.00 1 5.00 7 18 Nusa Tenggara Barat 5 20.00 0 0.00 1 2.29 35 26 Sulawesi Selatan 5 9.00 2 7.00 19 95.00 0 0.00 2 5. Kemenkes.97 33 33 Papua 0 0.77 43 24 Sulawesi Utara 0 0.03 32 96.40 43 23 Kalimantan Timur 2 4.00 10 7 Bengkulu 0 0.00 1 3.65 11 25.72 86 2 Sumatera Utara 9 12.60 35 81.09 31 56.00 30 32 Papua Barat 0 0.83 8 33.00 5 19.29 153 98.00 0 0.00 1 5.00 20 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0.00 46 16 Banten 6 100.00 2 1.Lampiran 5.00 29 14 DI Yogyakarta 13 100.14 26 92.00 3 60.27 216 17.00 11 55.00 0 0.34 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER GIGI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) Terpencil Sangat Terpencil Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Total (9) 1 Aceh 0 0.00 0 0.00 20 29 Sulawesi Barat 0 0.00 0 0.90 54 93.33 24 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.00 8 18.71 22 31.88 14 27.69 12 46.15 12 46. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali .00 3 7.00 13 15 Jawa Timur 46 100.00 5 10 Kepulauan Riau 2 7.00 0 0.58 30 69.00 5 11.45 34 66.33 4 66.28 72 83.00 6 17 Bali 7 100.

00 34 100.00 8 20.14 7 29 Sulawesi Barat 0 0. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali 40.86 4 57.00 186 21 Kalimantan Tengah 0 0.65 340 6 Sumatera Selatan 172 72.15 138 16.35 281 82.00 0 0 6.16 190 18 Nusa Tenggara Barat 55 58.02 606 9 Kepulauan Bangka Belitung 32 80.00 23 22 Kalimantan Selatan 0 0.00 0 0 0 12 Jawa Barat 681 83.12 139 40.90 110 99.00 120 20 Kalimantan Barat 0 0.00 21 100.43 237 7 Bengkulu 18 9.00 109 30 Maluku 0 0.00 29 100.56 806 50.006 .84 6 3.00 23 100.06 164 30.00 186 100.72 1174 2 Sumatera Utara 792 49.47 77 6.456 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.08 308 5 Jambi 59 17. Kemenkes.77 195 8 Lampung 515 84.07 213 41.00 6 33 Papua 0 0.92 222 72.85 819 13 Jawa Tengah 1732 100.33 45 24 Sulawesi Utara 0 0.00 125 26 Sulawesi Selatan 295 58.00 118 23 Kalimantan Timur 21 46.00 34 32 Papua Barat 0 0.00 6 100.00 40 10 Kepulauan Riau 13 18.550 59.53 1179 16 Banten 201 59.67 24 53.49 94 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.93 508 27 Sulawesi Tenggara 1 0.51 39 41.00 0 0 113 15 Jawa Timur 1102 93.Lampiran 5.10 111 28 Gorontalo 3 42.00 125 100.51 4.35 REKAPITULASI PENGANGKATAN BIDAN PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) Terpencil Jumlah Total Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) 1 Aceh 109 9.44 1598 3 Sumatera Barat 366 69.23 177 90.00 21 25 Sulawesi Tengah 0 0.00 120 100.94 530 4 Riau 86 27.57 65 27.16 69 11 DKI Jakarta 0 0.98 91 15.00 0 0 1732 14 DI Yogyakarta 113 100.49 0 11.84 56 81.00 118 100.00 29 31 Maluku Utara 0 0.28 1065 90.88 340 17 Bali 184 96.00 109 100.

2010 . Kemenkes.36 KEADAAN DOKTER SPESIALIS PTT DEPKES YANG MASIH AKTIF SAMPAI DENGAN TAHUN 2009 PENGANGKATAN TAHUN 2008 NO PROVINSI (1) (2) APRIL PENGANGKATAN TAHUN 2009 JUNI APRIL JUNI TOTAL PERPANJANGAN APRIL TAHUN 2009 SEPTEMBER B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) B T ST ∑ (26) (27) (28) (29) 1 Aceh 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 4 1 5 2 Sumatera Utara 3 0 0 3 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 5 3 0 8 3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 5 Jambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 5 0 5 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 2 10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 Jawa Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 Jawa Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 Jawa Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 Banten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 2 0 0 0 0 1 2 3 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 0 3 0 3 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 23 Kalimantan Timur 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 3 2 0 7 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 26 Sulawesi Selatan 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 2 0 1 4 0 5 27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 2 31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 4 0 0 4 4 0 0 4 1 10 6 17 0 5 1 6 0 10 2 12 0 4 0 9 29 9 47 TOTAL Sumber : Biro Kepegawaian.Lampiran 5.

0 6 41 47 3 41 44 50.0 100.0 100.3 8 5 13 8 3 11 100.0 12 0 12 12 0 12 100.9 100.0 85.0 100.1 100.0 6 Sumatera Selatan 11 2 13 11 2 13 100.0 0.0 9 8 17 9 8 17 100.0 70.0 2 37 39 2 37 39 100.6 12 Nusa Tenggara Timur 14 73 87 13 72 85 92.0 100.7 8 34 42 2 34 36 25.0 100.0 100.1 79.0 100.0 84.3 97.0 100.0 77.0 100.5 100.0 100.2 92.0 19 7 26 19 7 26 100.0 4 Riau 13 5 18 13 5 18 100.8 24 3 27 16 3 19 66.0 92.5 13 Kalimantan Barat 21 24 45 8 19 27 38.0 12 21 33 7 21 28 58.1 425 Sumber : Biro Kepegawaian.0 11 21 32 6 21 27 54.0 100.0 100.0 100.0 95.0 4 9 13 4 9 13 100.1 14 9 23 13 9 22 92.0 22 Sulawesi Barat 23 Maluku 24 Maluku Utara 25 Papua Barat 0 39 39 0 37 37 0.3 16 20 36 7 19 26 43.0 17 Sulawesi Utara 27 4 31 13 4 17 48.0 100.1 100.0 100.0 100.0 70.0 4 6 10 4 6 10 100.8 35 21 56 11 21 32 31.0 100.0 100.0 100.7 100.0 61.0 100.Lampiran 5.7 13 9 22 3 9 12 23.0 84.3 100.0 100.0 100.57704 .2 11 6 17 4 6 10 36.9 6 45 51 6 43 49 100.0 100.0 97.0 100.0 95.0 100.9 98.0 84.3 320 342 662 262 331 593 26 Papua Jumlah 81.0 26 1 27 26 1 27 100.0 87.2 10 17 27 2 10 12 20.0 82.0 100.0 100.0 100.0 85.0 93.8 0 2 2 0 2 2 0.0 0.875 96.0 30 99 129 10 89 99 33. Bangka Belitung 6 3 9 4 3 7 66.0 100.9 100.0 95.6 100.0 100.0 82.0 93.0 100.0 65.0 100.3 100.0 100.0 93.0 100.9 76.9 94.0 58.0 57.0 100.8% 96.0 60.7 95.8 3 5 8 3 5 8 100.1 100.0 100.0 0.4 100.0 100.2 100.0 3 Sumatera Barat 22 19 41 22 16 38 100.0 100.0 0 0 0 0 0 0 0.6 97.0 69.1 2 36 38 1 36 37 50.7 100.6 100.8 99.9 18 Sulawesi Tengah 12 25 37 1 25 26 8.9 100.0 72.7 57.0 21 7 28 21 7 28 100.6 0 5 5 0 5 5 0.0 7 Bengkulu 28 13 41 22 13 35 78.9 7 60 67 6 58 64 85.8 83.0 73.0 100. 2010 475 900 288 460 748 67.6 3 23 26 3 23 26 100.0 72.5 13 8 21 13 8 21 100.0 100.0 8 Lampung 26 8 34 26 8 34 100.7 12 54 66 8 54 62 66.1 100.0 100.0 100.1 368 335 703 268 332 600 72.8 95.7 22 9 31 22 9 31 100.0 100.0 100.0 10 Kepulauan Riau 11 Nusa Tenggara Barat 14 4 18 8 4 12 57.0 57.0 16 4 20 16 4 20 100.1 85.0 100.6 19 5 24 12 5 17 63.0 66.0 14 1 15 14 1 15 100.7 16 Kalimantan Timur 19 15 34 14 15 29 73.37 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER UMUM PTT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (3) (4) (5) April Realisasi Kriteria Jumlah T ST (6) (7) (8) Persentase Kriteria Jumlah T ST (9) (10) (11) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (12) (13) (14) Juni Realisasi Kriteria Jumlah T ST (15) (16) (17) Persentase Kriteria Jumlah T ST (18) (19) (20) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (21) (22) (23) September Realisasi Kriteria Jumlah T ST (24) (25) (26) T Persentase Kriteria Jumlah ST (27) (28) (29) 1 Aceh 43 42 85 39 42 81 90.2 23 26 49 6 26 32 26.4 9 23 32 9 23 32 100.0 55.0 18 4 22 18 4 22 100.6 21 Gorontalo 16 15 31 1 15 16 6.5 8 10 18 3 10 13 37.0 100.78363 89.0 5 Jambi 18 13 31 18 13 31 100.8 100.0 84.7 100.3 100.0 8 2 10 8 2 10 100.7 14 4 18 11 4 15 78.0 100.0 100.3 89.4 20 Sulawesi Tenggara 17 46 63 6 45 51 35.0 9 Kep.0 54.5 100.0 100.0 58.2 60.0 100.8 44.9 2 Sumatera Utara 16 12 28 16 12 28 100.0 100.0 82.6 21 7 28 9 7 16 42.4 19 Sulawesi Selatan 16 7 23 12 7 19 75.0 100.7 100.4 100.6 96.8 10 37 47 7 37 44 70.0 100.8 81.0 100.0 100.8 100.3 16 13 29 11 13 24 68.0 100.0 0.0 5 22 27 5 22 27 100. Kemenkes.0 100.8 15 Kalimantan Selatan 28 18 46 14 18 32 50.1 35 7 42 19 7 26 54.0 14 Kalimantan Tengah 20 17 37 9 14 23 45.0 100.0 83.4 22 12 34 22 12 34 100.0 100.0 51.0 28 1 29 28 1 29 100.3 18 18 36 18 18 36 100.0 100.0 100.3 100.4 15 12 27 3 12 15 20.7 10 60 70 3 37 40 30.0 100.0 54.0 13 4 17 13 4 17 100.0 94.0 100.0 100.0 100.7 100.0 61.0 4 0 4 4 0 4 100.0 100.0 19 2 21 19 2 21 100.4 62.3 11 5 16 9 5 14 81.7 96.0 45 25 70 40 25 65 88.0 100.6 10 9 19 5 9 14 50.0 70.0 100.0 85.

0 0.6 0 40 40 0 18 18 0.3 0.0 0.1 9 5 14 0 0 0 0.5 0.2 53.3 15 54 69 0 21 21 0.2 30 22 52 3 11 14 0.6 0.4 2 1 3 2 1 3 1.6 0.0 .3 0.6 20 Sulawesi Tenggara 11 31 42 1 13 14 0.4 15 4 19 6 2 8 4 Riau 15 3 18 9 3 12 0.2 0.6 23 1 24 8 1 9 0.2 6 6 12 1 5 6 0.0 0.4 0.7 0.4 0.0 0.5 3 6 9 1 4 5 0.0 0.4 0.0 0.9 0.3 18 14 32 3 4 7 0.2 0.0 0.0 0.0 1.2 0.38 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER GIGI PTT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (3) (4) (5) April Realisasi Kriteria Jumlah T ST (6) (7) (8) Persentase Kriteria Jumlah T ST (9) (10) (11) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (12) (13) (14) Juni Realisasi Kriteria Jumlah T ST (15) (16) (17) Persentase Kriteria Jumlah T ST (18) (19) (20) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (21) (22) (23) September Realisasi Kriteria Jumlah T ST (24) (25) (26) T Persentase Kriteria Jumlah ST (27) (28) 1 Aceh 44 37 81 3 12 15 0.1 8 12 20 1 2 3 0.6 0.7 0 0 0 0 0 0 2 13 15 0 4 4 0.7 0.2 0.1 1.3 4 6 10 0 2 2 0.1 1.2 12 12 24 5 8 13 0.0 219 225 444 53 121 174 24.3 4 0 4 0 0 0 0.1 1.4 3 4 7 2 4 5 Jambi 12 0 12 1 0 1 0.1 13 0 13 6 9 Kepulauan Bangka Belitung 3 2 5 0 2 2 0.1 0.5 1.6 0.2 0.5 0.5 0 0 5 5 10 2 5 7 0.2 20 4 24 3 3 6 Sumatera Selatan 11 2 13 4 2 6 0.0 0.4 0. Kemenkes. 2010 0.0 0.6 0.3 0.0 0.0 0.3 8 41 49 1 21 22 0.4 6 0.2 1.1 0.1 21 11 32 0 5 5 0.1 0.3 0 6 0.2 6 8 14 1 2 3 0.5 0 9 9 0 9 9 1.5 0.8 39.0 0.0 0.5 17 0 17 6 0 6 0.5 0.0 0.4 46.3 0.7 0.0 0.5 0.2 0.0 0.0 386 360 746 48 168 216 12.8 0.3 21 25 46 2 16 18 0.0 0.4 1.4 0.2 2 10 12 0 7 7 0.6 11 Nusa Tenggara Barat 14 4 18 2 4 6 0.4 0.0 13 Kalimantan Barat 13 15 28 0 9 9 0.3 0.8 0.0 0.4 21 Gorontalo 14 8 22 0 3 3 0.3 0.7 0.0 0.4 0.5 0.5 5 0 5 0 0 0 0.2 28 1 29 2 1 3 0.0 0.3 0.3 21 9 30 0 5 5 0.5 0.4 48.6 25 Papua Barat 0 13 13 0 9 9 0.7 0.4 0.3 0.7 1.5 0.2 22 Sulawesi Barat 26 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.5 16 Kalimantan Timur 19 18 37 4 8 12 0.3 29 16 45 2 16 18 0.4 0.3 1.4 0.8 0.0 1.7 6 3 9 1 3 4 0.9 6 0.0 0.0 0.Lampiran 5.0 0.1 0.1 2 Sumatera Utara 15 9 24 4 6 10 0.2 0.1 0.4 20 2 22 9 2 11 0.0 0.1 25.4 3 Sumatera Barat 21 13 34 2 7 9 0.1 0.0 0.0 12 Nusa Tenggara Timur 16 72 88 1 26 27 0.3 0.3 0.7 9 3 12 4 3 7 0.6 2 4 6 2 2 4 1.1 0.0 1.0 0.3 17 2 19 4 1 5 0.5 1.1 20 7 27 0 6 6 0.0 0.6 0.5 0.3 0.0 0.0 0.1 9 16 25 0 7 7 0.1 0.0 24 Maluku Utara 6 5 11 0 3 3 0.0 0.0 1.2 30 7 37 0 7 7 0.8 0.3 20 11 31 0 4 4 0.0 0.4 0.0 5 2 7 1 7 Bengkulu 26 11 37 0 5 5 0.4 0.6 1.4 6 7 0.0 0.7 0.3 19 Sulawesi Selatan 14 4 18 7 4 11 0.6 0.0 0.0 0.0 0 0 0 0 10 Kepulauan Riau (29) 0.3 3 18 21 0 1 1 0.1 27 11 38 0 3 3 0.1 14 10 24 1 8 Lampung 28 3 31 2 3 5 0.7 0.4 0.1 0.5 0.1 13 12 25 0 4 4 0.2 0.0 0.0 0.2 1.2 0.2 14 Kalimantan Tengah 21 22 43 0 6 6 0.1 0.1 0.2 15 Kalimantan Selatan 34 7 41 4 4 8 0.5 1.4 6 21 27 1 11 12 0.0 0.6 7 2 9 4 2 6 0.0 1.1 0.4 16 5 21 8 4 12 0.2 5 13 18 0 5 5 0.0 0.0 0.0 0.1 35 30 65 0 7 7 0.7 23 Maluku 0 40 40 0 23 23 0.7 29.5 0.2 0.4 1.2 0.2 7 7 14 2 5 7 0.3 0.5 17 Sulawesi Utara 22 4 26 1 1 2 0.0 9 4 13 1 0 1 0.1 1.0 0.0 0.1 18 Sulawesi Tengah 16 26 42 0 5 5 0.4 1.0 385 262 647 36 126 162 9.3 2 3 0.0 0.3 3 4 7 0 3 3 0.1 8 10 18 0 2 2 0.

0 7 3.5 13 2.4 3655 11.5 215 32.8 10845 34.9 182 14.6 10 0.6 15 51.9 14.39 DISTRIBUSI PEGAWAI KEMENTERIAN KESEHATAN RI DIRINCI MENURUT JENIS PENDIDIKAN TAHUN 2009 PENDIDIKAN No Nama Satuan Organisasi (1) (2) I IV VI VII % SPESIALIS 1/2/AV % S1 % D III % D1 % SMA % SMP % SD % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) JUMLAH (21) 0 0.8 237 3 0.7 796 23.6 160 31.9 1 0.0 1378 4.0 727 2.056 .4 3296 36.7 1.1 11221 35.6 471 0.2 133 26.2 0 0.8 11182 36.7 66 8.0 3393 SUBTOTAL 5 0.9 422 35.4 280 22.4 11 40 1.3 951 23.8 421 28.1 2 0.4 3815 12.7 2744 0 0.6 660 UPT 2 0.3 1 0.0 98 18.1 4053 DITJEN BINA KEFARMASIAN DAN ALKES 0 0.1 375 4.7 127 3.2 20 0.3 37 0.6 54 8.6 5 0.0 24 10.0 INSPEKTORAT JENDERAL 266 18.0 1052 0.2 4 0.3 31067 SUBTOTAL 26 0.4 88 37.8 1.5 192 29.0 1131 27.1 38 0.855 3.6 1722 20.6 1096 27.2 82 19.2 2007 22.0 711 67.9 26 3.9 526 UPT 14 0.8 1278 4.8 35 86 17.6 15 1.1 8 1.9 14.1 345 10.8 31 5.0 9.0 35 16.0 208 22.6 4 0.4 123 KANTOR PUSAT 0 0.1 78 17.3 907 DITJEN BINA BINKESMAS DITJEN BINA YANMED KANTOR PUSAT V S2 10 SUBTOTAL III % SETJEN KANTOR PUSAT II S3 2 0.7 UPT 0 0.0 149 28.3 31575 DITJEN PP DAN PL KANTOR PUSAT 3 0.6 1 0.4 155 30.3 173 238 26.4 984 35.0 DPK/DPB 0 0.2 508 UPT 24 0.9 1274 4.0 43 4.8 75 31.9 0.7 6 1.1 1889 6.1 537 13.5 270 21.2 1909 22.7 51 0.4 4 0 0.7 134 31.0 215 BADAN PPSDM KESEHATAN KANTOR PUSAT 0 0.0 202 24.6 8 0.9 46 3.2 123 25.8 6 1.3 489 33.0 2 0.7 0 0.3 1049 11.9 180 12.6 28 1.0 110 46.0 218 24.326 28.4 322 3.7 12 1.2 69 2.3 20 3.4 1 0. Kemenkes.9 9074 30 3.2 58 13.7 1 0.8 485 2 0.7 22 5.2 8 1.3 1.0 152 36.1 721 2.7 212 26.8 215 20.2 205 22.2 35 4.1 116 26.0 108 50.2 1455 0.0 1077 31.1 0 0.8 1.2 23 0.3 0 0.5 89 2.6 50.3 0 0.2 6.479 18.5 76 2.3 40 18.6 395 4.9 16 3.7 1 0.0 233 28.900 29.4 240 8.5 571 20.Lampiran 5.8 10978 34.4 7 1.0 3 0.0 17 2.3 2 0.5 39 7.1 0 29 2.6 0 0.5 0 0.8 483 17.6 1871 20.3 12 5.0 262 0.0 140 32.4 3120 36.5 263 0. 2010 87 0.0 436 31 2.4 57 4.9 135 3.0 SUBTOTAL 0 0.2 9 1.6 5 1.5 51 9.3 812 1 0.4 353 3.5 8 1.6 1248 VIII BADAN LITBANGKES KANTOR PUSAT UPT SUBTOTAL TOTAL Sumber: Biro Kepegawaian.6 881 26.498 3.2 176 33.4 42 3.6 1370 4.5 560 20.2 86 2.8 40 3.1 3 0.1 1734 5.6 373 29.8 2 0.4 33 1.5 998 11.2 84 17.3 11 0.8 1 0.2 155 23.156 12.7 8 1.8 8548 SUBTOTAL 14 0.284 2.4 8 1.0 UPT 0 0.0 31 14.0 28 11.2 48 1.6 51 0.

3 27 31 1.200 Filipina 92.8 27 68 5 47 1. jumlah penduduk Indonesia tahun 2009 adalah 231.700 8 Indonesia 243.127 27 1.9 18 73 9 37 47.5 187 17 2.64 Tahun (%) Tahun 2008 1998-2008 Atas (%) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 0.7 188 63 0.1 7.3 86 70 2.0 74 33 0.8 82 22 1.060 5 Malaysia 28.8 26 67 7 49 4.5 312 15 0.990 11 Bangladesh 162.830 9 Myanmar 50.4 juta jiwa .690 Sumber : .3 1.8 39 57 4 75 2.9 45 52 3 92 4.1 26 70 4 43 50.World Population Data Sheet.960 14 Korea Utara 22.7 35 62 3 61 1.486 100 1.880 13 India 1171.290 10 Thailand 67.7 15 35 2. 2010 : Laju pertumbuhan penduduk Ket: *) pada data BPS.1 PERBANDINGAN BEBERAPA DATA KEPENDUDUKAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 No Negara Jumlah Penduduk (Juta Jiwa) (1) (2) (3) 1 Brunei Darussalam 2 Kepadatan Penduduk (per Km²) Persentase Penduduk di Daerah Perkotaan (4) (5) Laju Persentase Persentase Persentase Angka Beban GNI PPP per Pertumbuhan Penduduk Usia Penduduk Usia Penduduk Usia Tanggungan kapita (US$) Penduduk 65 Tahun Ke 0-14 Tahun 15 .3 * 128 52 1.5 30 65 5 54 5.6 22 69 9 45 - 15 Maladewa 0. 2009 .820 4 Laos 6.3 263 28 1.057 38 1.1 37 59 4 69 1.4 66 75 2.740 6 Singapura 5.2 1.9 22 71 7 41 5.6 32 64 4 56 1.0 32 64 4 56 13. USAID.900 3 Kamboja 14.440 12 Bhutan 0.3 26 67 7 49 2.8 132 33 0.9 35 61 4 64 3.Lampiran 6.940 7 Vietnam 87.6 32 63 5 59 2.280 16 Nepal 27.2 307 65 1.480 18 Timor Leste 1.0 356 29 1.The State of The Worlds Children.3 29 65 6 54 3.1 76 27 2.6 32 63 5 59 4.120 17 Sri Lanka 20.

612 63 66 64 2.1 17 5 12 12 12 14 13 14 150 8 Indonesia 111 0. Angka kematian maternal .553 63 64 63 2.755 102 0.765 95 0.619 61 65 63 2.World Population Data Sheet.3 19 7 15 12 13 19 15 17 58 18 Timor Leste 162 0.619 61 63 62 3. USAID.747 105 0.829 71 76 73 2.604 134 0.484 162 0.1 26 5 30 22 26 38 27 30 230 3 Kamboja 137 0.771 73 75 74 2.944 79 83 81 1.725 70 75 73 2.World Health Statistics 2010 WHO: AKABA.919 30 0.920 75 77 76 2.593 59 64 62 2.547 144 0. ANGKA KEMATIAN.759 63 76 69 2.2 ANGKA KELAHIRAN.535 148 0.783 87 0.9 16 10 43 41 42 57 53 55 370 15 Maladewa 97 0.000 lahir hidup) 2005 (12) (19) 30 0.8 15 9 14 11 13 16 12 14 110 11 Bangladesh 146 0.5 40 9 84 65 75 105 80 93 380 Sumber : .72 115 0.Human Development Report 2009: Indeks Pembangunan Manusia .613 132 0.729 111 0. 2009 .2 21 6 34 28 31 * 44 37 41 * 420 * 9 Myanmar 138 0.751 67 74 70 3.78 66 74 70 1.584 138 0.825 66 0.Lampiran 6.5 28 7 53 41 48 65 58 61 660 5 Malaysia 66 0.734 66 69 67 * 2.9 25 8 76 62 69 97 82 89 540 4 Laos 133 0.543 64 65 65 2.3 10 4 3 2 2 3 2 3 14 7 Vietnam 116 0.1 16 3 5 6 5 6 7 7 13 Filipina 105 0.3 23 7 45 40 43 56 53 54 570 12 Bhutan 132 0.9 29 9 41 41 41 52 51 51 830 17 Sri Lanka 102 0. DAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO No Negara Indeks Pembangunan Manusia Peringkat IPM dunia Peringkat IPM dunia 2006 (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 (3) Usia Harapan Hidup Waktu Angka Kelahiran Angka Kematian Total Fertility Lahir Kasar per 1000 Kasar per 1000 Rate (TFR) Penduduk Penduduk L P L+P Indeks Pembangunan Manusia 2007 (4) (5) Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Balita (AKABA) L P L+P L P L+P (13) (14) (15) (16) (17) (18) 2008 (6) (7) (8) (9) (10) (11) Angka Kematian Maternal (per 100.6 25 8 58 49 54 87 75 81 440 13 India 134 0.608 133 0.7 23 7 52 53 52 65 73 69 450 14 Korea Utara - - - - 65 69 67 1.942 24 0.586 53 56 54 2.489 59 64 62 6.584 137 0.6 21 5 7 5 6 7 6 6 62 6 Singapura 23 0.3 21 10 85 66 76 133 111 122 380 10 Thailand 86 0.0 22 4 27 21 24 30 25 28 120 16 Nepal 144 0.

3 PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SUMBER AIR BERSIH DAN YANG MENGGUNAKAN SARANA SANITASI SEHAT DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 (%) No Negara (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 Filipina 3 Kamboja 4 Laos 5 Malaysia 6 Singapura 7 Vietnam 8 Indonesia 9 Myanmar 10 Thailand 11 Bangladesh 12 Bhutan 13 India 14 Korea Utara 15 Maladewa 16 Nepal 17 Sri Lanka 18 Timor Leste Sumber : World Health Statistics 2010. WHO Penduduk Yang Menggunakan Sumber Air Bersih (%) Penduduk Yang Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat Perkotaan Perdesaan Total Perkotaan Perdesaan Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) - - - - - - 93 87 91 80 69 76 81 56 61 67 18 29 72 51 57 86 38 53 100 99 100 96 95 96 100 - 100 100 - 100 99 92 94 94 67 75 89 71 80 67 36 52 75 69 71 86 79 81 99 98 98 95 96 96 85 78 80 56 52 53 99 88 92 87 54 65 96 84 88 54 21 31 100 100 100 - - - 99 86 91 100 96 98 93 87 88 51 27 31 98 88 90 88 92 91 86 63 69 76 40 50 .Lampiran 6.

2 87 76 Filipina 550 280 41 52 67 89 3 Kamboja 680 490 77 79 56 94 4 Laos 260 150 22 32 67 92 5 Malaysia 120 100 13 15 76 72 6 Singapura 27 39 3 2.Lampiran 6.000 Penduduk Insidens TB Paru per 100.000 Penduduk Proporsi Kasus TB Paru melalui DOTS Case Detection Rate Succes Rate 2007 2008 2008 2007 (6) (7) (8) (9) 43 65 7 4.9 86 68 16 Nepal 170 160 22 22 64 88 17 Sri Lanka 73 66 8 9.4 PERBANDINGAN DATA TUBERKULOSIS DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007/2008 No Negara Prevalensi TB Paru per 100.CDR = Case Detection Rate (Penemuan kasus baru) .000 Penduduk 2008 (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 (3) (4) Kematian yang berhubungan dengan TB Paru per 100. WHO Keterangan : .6 73 86 18 Timor Leste 660 500 47 83 33 84 Sumber : World Health Statistics 2010.SR = Succes Rate (Angka kesembuhan) .5 87 81 7 Vietnam 280 200 20 34 62 92 8 Indonesia 210 190 37 27 80 91 9 Myanmar 470 400 11 57 43 85 10 Thailand 160 140 15 19 64 83 11 Bangladesh 410 220 44 50 72 62 12 Bhutan 96 160 43 15 64 93 13 India 190 170 26 23 70 87 14 Korea Utara 270 340 65 39 70 87 15 Maladewa 13 42 4 2.

500 ] [ <100 .5 ] [ <100 ] … [ < 0.7 ] 17.000 [ 50.000 .000 .000 ] 4.000 ] 0.5 [ 0.000 .000 12.000 [ 400.000 [ 410.000] 0.200 ] 0.5 [ 0.300 ] 4.000 .120.9 ] [ 0.500 [ 3.470.1 ] 1 300 3.3 .000 ] 0.000 .2 9 Myanmar 240.200 [ 2.0.000 … < 100 70.3.000 ] 8.000 [ 36.000 .000 . Angka Estimasi HIV No Negara (1) (2) Dewasa dan Anak-anak Dewasa (15+) 2.000 [ 12.400 ] < 500 [ <1000 ] [ < 200 ] … [ <100 ] 880.1 ] … [ <100 ] … [ <100 ] < 500 2.200 .5 ANGKA ESTIMASI HIV DAN AIDS DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 1.000 ] 8.000 [ 67.2.470.700 [ 4.860.000 .200 [ <1.800 .800.400 .000 ] 4.000 [ 670.5 [ 0.360.000 .000 ] … 5.3.000 .000 ] [ 7.600 .000 .2 .000 ] 280.000 [ 63.1 .100.000 .000 .000 [ 190.000 ] 0.000 .100 ] <100 80.3 ] … [ 0.400.000 .900 .<500 ] … [ <200 ] [ 2.8 [ 0.120.8 ] 21.000 ] … [ < 0.1 ] 1.000 ] … 10 Thailand 610.000] 0.3 ] 1.0.000 .80.000 ] 70.000 .400.1.500 .000 ] [ 7.000 .000 ] … [ < 0.19.000 .800 ] … < 500 … … … … … … … Sumber: 2008 Report on the global AIDS epidemic. Kematian Akibat AIDS Dewasa (15–49) Rate (%) Wanita (15+) Dewasa dan Anak-anak Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Brunei Darussalam … … … … … 2 Filipina 3 Kamboja 4 Laos 5 Malaysia 6 Singapura 7 Vietnam 290.000 ] … … … … … [ 1.000 [ 160.700 [ 2.000 ] 54.300 .1 .000 ] 20.400.11.3.000 [ 1.2 ] 2.13.34.4 .2.000 [ 150.300 [ 6.000 ] 270.4.000 .13.900 .100] [ 180.000 .000 [ 170.000 [ 46.4 ] [ <1.200.99.000 ] [ <1000 ] 2.000 [ 51.000 ] 600.000 ] 240.1 ] 2.1 ] … [ <100 ] … [ <100 ] [ <100 ] … [ < 0.3 .3.300 ] 3. UNAIDS/WHO … … … .7 .600 .25.5.100 .3.19.370.000 .4 11 Bangladesh 12.000 .87.000 [ 13.000 ] 0.000 ] … … 250.000 .120.9 ] 20.0.000 12 Bhutan < 500 13 India 14 Korea Utara … [ <100 ] … 15 Maladewa … [ <100 ] … 16 Nepal 17 Sri Lanka 18 Timor Leste … … … … 8.9 .0.000 8 Indonesia 270.200 [ 1.900 [ 3.000 [ 190.100 ] 3.100 ] < 200 75.700.000 [ 49.0.100 [ 2.7.100 < 200 … [ <100 .13.23.000 [ 12.1 [ < 0.0.11.000 1.2 [ 0.000 [ 170.000 .3 [ 0.1 .7.1 ] [ <1000 ] 0.000 ] 0.400 [ 3.000 .000 [ 17.800 [ 2.000 .000 ] … [ < 0.700 .0.000 [ 52.300 .2 [ 0.00 ] 1.Lampiran 6.000 ] 5.300.33.000 ] 79.800 .7.360.0.200.84.0.880.400 [ 1.000 .200 [ 5.600 .5.000 ] 68.1.<500 ] 76.97.1 .

297 308 53 2.180 3.181 559 14 Korea Utara 0 395 0 0 82 0 15 Maladewa 0 0 0 0 0 0 16 Nepal 149 2.016 0 11 Bangladesh 43 33 943 152 2.714 811 48.6 JUMLAH KASUS PENYAKIT MENULAR YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 No Negara Difteri Pertusis Tetanus Tetanus Neonatorum Campak Polio (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1 Brunei Darussalam 2 Filipina 3 0 2 0 0 3 0 65 46 813 132 341 0 Kamboja 7 1212 324 34 4211 0 4 Laos 2 26 12 5 174 0 5 Malaysia 4 11 29 13 334 0 6 Singapura 0 33 0 0 18 0 7 Vietnam 17 280 221 34 352 0 8 Indonesia 219 - 183 183 15.477 1.770 565 Sumber : WHO vaccine .231 75.369 0 9 Myanmar 3 5 147 25 333 0 10 Thailand 7 18 137 5 7.660 0 12 Bhutan 0 0 7 0 7 0 13 India 6.151 0 S E A R O 6. 2009 .502 46.preventable diseases: monitoring system.633 1.089 6 17 Sri Lanka 0 9 29 1 33 0 18 Timor Leste 0 0 9 1 0 0 A S E A N 324 1.Lampiran 6.866 431 28.937 5.081 44.

7 PERBANDINGAN CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 No Negara BCG (%) DPT3 (%) Polio3 (%) Campak (%) Hepatitis B3 (%) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Brunei Darussalam 96 99 99 97 99 2 Filipina 93 91 91 92 88 3 Kamboja 98 91 91 89 91 4 Laos 68 61 60 52 61 5 Malaysia 90 90 90 95 90 6 Singapura 99 97 97 95 96 7 Vietnam 92 93 93 92 87 8 Indonesia 89 77 77 83 78 9 Myanmar 88 85 85 82 84 10 Thailand 99 99 99 98 98 11 Bangladesh 98 95 95 89 95 12 Bhutan 99 96 96 99 96 13 India 87 66 67 70 21 14 Korea Utara 97 92 98 98 92 15 Maladewa 99 98 98 97 98 16 Nepal 87 82 82 79 82 17 Sri Lanka 99 98 98 98 98 18 Timor Leste 85 79 79 73 79 Sumber : WHO Immunization Summary. 2010: A Statistical Reference Containing Data through 2008 .Lampiran 6.

2009 (3) (4) (5) (6) - - 100 - Filipina 34 78 62 34 3 Kamboja 27 27 44 66 4 Laos 29 - 20 26 5 Malaysia - - 100 - 6 Singapura 55 - 100 - 7 Vietnam 68 29 88 17 8 Indonesia 57 81 73 32 9 Myanmar 33 66 57 11 10 Thailand 70 74 99 5 11 Bangladesh 48 21 18 43 12 Bhutan 31 - 51 10 13 India 49 37 47 46 14 Korea Utara 58 95 97 65 15 Maladewa 34 91 84 10 16 Nepal 44 29 19 53 17 Sri Lanka 53 - 99 76 18 Timor Leste 9 30 19 31 Sumber : .World Population Data Sheet.Lampiran 6. 2009 : Persentase KB aktif . USAID.8 PERBANDINGAN UPAYA KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2000 .World Health Statistics 2010.2009 No Negara (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 Persentase KB aktif pada PUS Pemeriksaan antenatal kali) (4 Persalinan oleh tenaga kesehatan Anak dengan ASI eksklusif (6 bulan) 2009 2000 .2008 2000 .2009 2000 . WHO .

9 98 Sumber : World Health Statistics 2010.8 13.1 39.6 84.6 67.9 268 6 Singapura 3.7 16 5 Malaysia 4.3 60.9 PEMBIAYAAN KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Persentase Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran di Bidang Kesehatan Persentase Pengeluaran Sektor Swasta di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran di Bidang Kesehatan Persentase Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran per Kapita di Bidang Kesehatan Oleh Pemerintah (PPP int.7 72 8 Indonesia 2.3 19.1 39.5 45.4 55.4 7.8 65.7 60.9 81.2 47.2 26.7 88.4 44.3 10.5 8.4 81.5 336 16 Nepal 5.6 66.2 31 4 Laos 4 18.1 80.6 15.4 34.5 52.1 26.7 65.2 73.3 0.5 18.7 8.2 54. WHO .1 209 11 Bangladesh 3.6 6.2 536 7 Vietnam 7.5 85 18 Timor Leste 13.9 29 71 11.1 32.4 33.4 14.8 3.9 34. $) No Negara Persentase Keseluruhan Pengeluaran di Bidang Kesehatan terhadap Produk Domestik Bruto (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Brunei Darussalam 2.7 151 13 India 4.Lampiran 6.6 10.7 10.7 958 2 Filipina 3.9 2 10 Thailand 3.7 45 3 Kamboja 5.5 6.1 3.7 29 14 Korea Utara - - - - - 15 Maladewa 9.4 8 14 12 Bhutan 4.2 44 9 Myanmar 1.7 73.9 11.3 6.9 21 17 Sri Lanka 4.5 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful