ISBN 978-602-8937-18-4
351.770212
Ind
P

PROFIL
KESEHATAN INDONESIA
2009

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.
JAKARTA
2010

Katalog Dalam Terbitan Kementerian Kesehatan RI
Ind

P

Indonesia. Kementerian Kesehatan. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi
Profil Kesehatan Indonesia 2009. - - Jakarta :
Kementerian Kesehatan RI 2010
I. Judul

1. PROFIL KESEHATAN INDONESIA 2009

ISBN 978-602-8937-18-4
351.770212
Ind
P

Buku ini diterbitkan oleh
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jalan HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav 4-9, Jakarta 12950
Telepon no: 62-21-5229590, 5221432
Fax no: 62-21-5203874
E-mail: pusdatin@depkes .go.id
Web site: http://www.depkes.go.id
________________________________________________________________________

TIM PENYUSUN

Pengarah
dr. Ratna Rosita, MPH.M
Sekretaris Jenderal Kemenkes RI
Ketua
dr. Jane Soepardi
Kepala Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi
Editor
Hasnawati, SKM, MKes
drg. Vensya Sitohang, MEpid
Dra. Rahmaniar Brahim, Apt, MKes
Anggota
Sunaryadi, SKM,MKes; Iskandar Zulkarnain, SKM,MKes; Nuning Kurniasih, Apt,MSi;
Marlina Indah Susanti, SKM; Supriyono Pangribowo, SKM; Istiqomah, SS;
Athi Susilowati Rois, SKM; drg. Rudi Kurniawan, MKes; Margiyono, SKom;
Muslichatul Hidayah, Hanna Endang Wahyuni; Endang Kustanti; B.B. Sigit;
Sondang Tambunan; Hellena Maslinda; Doni Hadhi Kurnianto, SKom
Kontributor
dr. Leni Evanita; Lina Khasanah; dr. Rusmiyati, MQIH; Indah Susanti D,SSi,Apt;
dr. Lucas C Hermawan, MKes; Ingrat Padmosari; Mahmud Fauzi, SKM,MKes;
Linda Siti Rohaeti; drg. R. Edi Setiawan: Akhmad Rizky Taufik, SKom;
Ir. Ade Sutrisno,MKes; Astuti, SKM,MKes; dr. Theresia Hermin; Bunga Mayung DL ;
Dewi Minarni; Cipto Aris Purnomo; Indah Hartati; Heri Radison, SKM,MKM;
Nariyah Handayani; Ainol Mardhiah; Yopi Ananda; Anggi Ardhiasti, SKM;
Ira Oktaviani; Nelly Mustika Sari, SKM; Nurhayati Simanjuntak, SKom

.

maka seperti profil kesehatan sebelumnya. data diupayakan lengkap. dan peta. Tahun yang terdapat dalam judul profil kesehatan. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi sebagai koordinator Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia bersama-sama dengan seluruh program terkait di Kementerian Kesehatan berupaya menyusun bersama-sama. misalnya data dan informasi terplih lainnya. i . analisis kecenderungan. dan faktor-faktor terkait lainnya. tidak hanya deskriptif. juga data yang berasal dari program. misal: Rencana lima tahun pembangunan kesehatan. seperti profil kesehatan pada tahun sebelumnya. Dalam Profil Kesehatan Indonesia ini menggambarkan secara umum tentang kondisi derajat kesehatan. tetapi juga analisis komparatif. dimana analisis/narasi menggunakan model/kerangka teori yaitu teori blum/teori host-environment-agent/teori lain. upaya kesehatan. termasuk kontribusi dari hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007 yang diselenggarakan Balitbangkes Depkes. Beberapa data dan informasi tahun 2009 yang belum terdapat dalam Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini akan disajikan dalam bentuk sajian lain. sumber daya kesehatan. Profil kesehatan Tahun 2009 ini diupayakan disusun dengan tampilan yang lebih menarik. Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2009 ini. Profil kesehatan sebagai “potret”saat ini lebih dinilai sebagai alat evaluasi daripada sebagai alat pemantauan. yang menggambarkan “potret” status kesehatan masyarakat dan faktor faktor yang mempengaruhi. analisis hubungan Profil kesehatan harus menarik. serta perbandingan Indonesia dengan negara-negara anggota ASEAN dan SEARO. bar diagram. Jenis data adalah data “facility based” dan data “community based”. Penyajian dalam “Profil Kesehatan Indonesia 2009” ini masih terdapat keterbatasan karena ada beberapa indikator masih memuat data beberapa tahun ke belakang. juga memuat kejadian-kejadian penting yang terjadi pada tahun 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2009” ini selain memuat data dan informasi kesehatan dan faktor-faktor lain yang terkait. narasi dikombinasi dengan bentuk-bentuk penyajian lain. dalam satu kurun waktu tertentu dalam hal ini tahunan dengan berbagai bentuk: tercetak dan digital (cd-rom. Jika digunakan sebagai pemantau maka profil merupakan pemantauan rencana jangka panjang. dan “eye-catching” dan bertujuan memudahkan para pembaca dalam menggunakannya. baik jenis dan cakupannya. sumber data berasal dari profil provinsi. dari suatu wilayah/Indonesia. file di website. Profil Kesehatan Indonesia harus tersusun secara sistematis. scater diagram. pictogram. Data dan Informasi dalam “Profil Kesehatan Indonesia 2009” merupakan salah satu wujud akuntabilitas dari kinerja Kementerian Kesehatan yang mencerminkan Pembangunan Kesehatan secara menyeluruh. disamakan dengan tahun dari data dan informasi yang disajikan.D KATA PENGANTAR Profil Kesehatan Indonesia merupakan sarana penyaji data dan informasi kesehatan serta yang berkaitan. yang berasal dari kabupaten/kota. Analisis diupayakan semaksimal mungkin. data sarana pelayanan kesehatan yang merupakan hasil pengolahan data oleh Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi. pie diagram. baik narasi maupun lampiran. dll). grafik – histogram/bar chart. seperti tabel. Sebagai bentuk penyajian. frekuensi poligon. line diagram.

.

.

iv .

Pelayanan Kesehatan dalam Situasi Bencana 58 59 83 88 106 115 BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN A. Pelayanan Kesehatan Rujukan C. Keadaan Lingkungan E. Pembiayaan Kesehatan 117 118 133 137 v . Keadaan Penduduk B. Perbaikan Gizi Masyarakat E. Pelayanan Kesehatan Dasar B. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit D. Tenaga Kesehatan C. Morbiditas 26 27 33 BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN A. Keadaan Ekonomi C.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i SAMBUTAN SEKRETARIS JENDERAL iii DAFTAR ISI v DAFTAR LAMPIRAN vii BAB I PENDAHULUAN 1 BAB II GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK A. Keadaan Perilaku Masyarakat 5 6 9 14 19 24 BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN A. Mortalitas B. Keadaan Pendidikan D. Sarana Kesehatan B.

Upaya Kesehatan DAFTAR PUSTAKA 143 144 154 164 170 LAMPIRAN *** vi . Kependudukan B. Derajat Kesehatan C.BAB VI PERBANDINGAN INDONESIA DENGAN NEGARA ANGGOTA ASEAN DAN SEARO A.

8 Lampiran 2.2 Lampiran 2.7 Lampiran 2.17 Lampiran 2.3 Lampiran 2. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Provinsi Tahun 2009 Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi Tahun 1971 .16 Lampiran 2.2009 Persentase Keluarga Menurut Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Penduduk dengan Akses terhadap Air Minum yang Aman Menurut Provinsi dan Wilayah Tahun 2009 Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Penduduk dengan Akses Sanitasi Dasar yang Layak Menurut Provinsi dan Wilayah Tahun 2009 Persentase Rumah Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Institusi Dibina kesehatan Lingkungannya Menurut Provinsi Tahun 2009 vii .2009 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Provinsi dan Usia Sekolah Tahun 2008 .13 Lampiran 2. Angka Beban Tanggungan dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Daerah Tertinggal Menurut Provinsi Tahun 2006 – 2010 Garis Kemiskinan Menurut Provinsi dan Daerah Tahun 2009 (Maret 2009) Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Provinsi dan Daerah Tahun 2009 Angka Melek Huruf Penduduk Berusia 15 Tahun Ke Atas Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2008 .2009 Rata-rata Lama Sekolah (Tahun) Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2008 .5 Lampiran 2.10 Lampiran 2.11 Lampiran 2.15 Lampiran 2.4 Lampiran 2.9 Lampiran 2.2010 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Tertentu.1 Lampiran 2.12 Lampiran 2.18 Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan Menurut Provinsi Tahun 2009 Hasil Sensus Penduduk 2010 dan Rasio Jenis Kelamin Menurut Provinsi Tahun 2010 Luas Wilayah.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 2.6 Lampiran 2.14 Lampiran 2.

8 Lampiran 3.3 Lampiran 3.2008 10 Besar Penyakit Rawat Inap di Rumah Sakit Tahun 2009 10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2009 Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Malaria Menurut Provinsi Tahun 2009 Annual Parasite Incidence (API) Malaria di Jawa-Bali Tahun 2004 2009 Hasil Cakupan Penemuan Kasus Penyakit TB Paru Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Kelompok Umur (Tahun).1 Lampiran 3.2 Lampiran 3.16 Lampiran 3. Jenis Kelamin dan Provinsi Tahun 2009 Hasil Cakupan Pengobatan TB Paru Menurut Provinsi Tahun 2008 Jumlah Kumulatif Kasus AIDS. dan Incidence Rate Campak Menurut Provinsi Tahun 2009 viii .11 Lampiran 3. dan Proporsi Kasus pada Anak Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Tetanus Neonatorum dan Faktor Risiko Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Campak Per Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Campak Menurut Kelompok Umur dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus.6 Lampiran 3.12 Lampiran 3. Meninggal. Case Detection Rate (CDR).13 Lampiran 3.19 Lampiran 2.20 Lampiran 2.10 Lampiran 3.21 Lampiran 3.19 Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Rumah Tangga Ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Wanita Umur Perkawinan Pertama Menurut Provinsi Tahun 2009 Estimasi Angka Kematian Bayi.d Desember 2009 Jumlah Kasus AIDS Kumulatif Per Triwulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Kasus AIDS Pada Pengguna NAPZA Suntikan (IDU) Menurut Provinsi s.5 Lampiran 3.Lampiran 2.17 Lampiran 3.000 Penduduk Menurut Provinsi s.7 Lampiran 3.d 31 Desember 2009 Jumlah Kasus Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru Kusta.14 Lampiran 3. Meninggal.4 Lampiran 3. dan Angka Kumulatif Kasus Per 100. Kecacatan.15 Lampiran 3.18 Lampiran 3.9 Lampiran 3. Angka Kematian Balita Tahun 2007 dan Angka Harapan Hidup Menurut Provinsi Tahun 2008 Indeks Pembangunan Manusia dan Komponen Menurut Provinsi Tahun 2007 .

32 Lampiran 3.34 Lampiran 3.33 Lampiran 3.4 Lampiran 4. Pelayanan Kesehatan Bayi dan Anak Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi.2009 Situasi Pes Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus.29 Lampiran 3.35 Lampiran 4.27 Lampiran 3.22 Lampiran 3.2009 Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas.25 Lampiran 3. Jumlah Korban Luka dan Meninggal Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1. dan Incidence Rate Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD/DHF) Menurut Provinsi Tahun 2005 2009 Jumlah Kabupaten/Kota yang Terjangkit Demam Berdarah Dengue Menurut Provinsi Tahun 2005 – 2009 Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare Menurut Provinsi Tahun 2005 .23 Lampiran 3.Lampiran 3.20 Lampiran 3.3 Lampiran 4. AFP Rate. Anak Balita. dan Non Polio AFP Rate Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus AFP Menurut Kriteria Klasifikasi Klinis dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Penderita.30 Lampiran 3.2009 Jumlah Kasus Demam Chikungunya Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Kabupaten Terjangkit dan Jumlah Kasus Gigitan Hewan Tertular Rabies serta Hasil Pemeriksaan Specimen Hewan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Penderita Filariasis Menurut Provinsi Tahun 2006 .21 Lampiran 3.2 Lampiran 4. K4.26 Lampiran 3. Case Fatality Rate (%). dan Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir dan Provinsi Tahun 2009 Cakupan Kunjungan Neonatus.28 Lampiran 3. dan Murid SD Kelas 1 dan Sederajat Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Penanganan Neonatal dan Obstetri Komplikasi Menurut Provinsi Tahun 2009 ix .24 Lampiran 3.31 Lampiran 3. dan Case Fatality Rate (CFR) Leptospirosis Menurut Provinsi Tahun 2004 .5 Frekuensi KLB dan Jumlah Kasus pada KLB Campak Menurut Provinsi Tahun 2009 KLB Campak Berdasarkan Konfirmasi Laboratorium Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Difteri Menurut Kelompok Umur dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Difteri Per Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus AFP.1 Lampiran 4. Meninggal.2009 Jumlah Kasus dan Meninggal Flu Burung Menurut Provinsi Tahun 2005 .

22 Lampiran 4.16 Lampiran 4.9 Lampiran 4.18 Lampiran 4. Pengobatan Lengkap dan Success Rate (Hasil Pengobatan Penyakit TB Tahun 2008) Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Pemberian Tablet Besi (Fe) pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Umur 0-6 Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Yodium Menurut Provinsi Tahun 2007 x .25 Lampiran 4.26 Jumlah dan Persentase Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Hasil Pelayanan Peserta KB Baru Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Proporsi Peserta KB Baru Menurut Tempat Pelayanan dan Provinsi Tahun 2009 Pencapaian Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Menurut Provinsi Tahun 2007 .2009 Pemeriksaan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Rumah Sakit Umum Depkes dan Pemda Menurut Provinsi Tahun 2008 Jumlah Kunjungan Peserta Jamkesmas di Puskesmas Tahun 2009 Jumlah Kunjungan Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) Peserta Jamkesmas Tahun 2009 Jumlah Kasus Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL) Peserta Jamkesmas Tahun 2009 Cakupan TB Paru BTA Positif.11 Lampiran 4.10 Lampiran 4.6 Lampiran 4.19 Lampiran 4.2009 Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2009 Drop Out Rate Cakupan Imunisasi Dpt1 .Campak pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2006 .12 Lampiran 4.17 Lampiran 4.21 Lampiran 4.23 Lampiran 4.7 Lampiran 4.14 Lampiran 4.2009 Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Imunisasi TT pada Wanita Usia Subur Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kunjungan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Menurut Provinsi Tahun 2008 Indikator Pelayanan Rumah Sakit Umum Kemeterian Kesehatan dan Pemda Menurut Provinsi Tahun 2008 .8 Lampiran 4.24 Lampiran 4.15 Lampiran 4.13 Lampiran 4.Lampiran 4. Sembuh.20 Lampiran 4.

11 Lampiran 5.2 Lampiran 5.14 Lampiran 5.4 Lampiran 5.5 Lampiran 5.2009 Jumlah Sarana Produksi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2007 .15 Lampiran 5.1 Lampiran 5.2009 Jumlah Tempat Tidur di Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus Menurut Kelas Perawatan dan Provinsi Tahun 2008 Jumlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Milik Kemenkes/Pemda Menurut Kelas Rumah Sakit dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit Khusus dan Tempat Tidurnya Menurut Jenis Rumah Sakit Tahun 2005 .12 Lampiran 5.28 Lampiran 4.27 Lampiran 4.8 Lampiran 5.2009 Jumlah Puskesmas Perawatan dan Puskesmas Non Perawatan Menurut Provinsi Tahun 2005 .3 Lampiran 5.13 Lampiran 5.7 Lampiran 5.2009 Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit di Indonesia Menurut Pengelola dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Menurut Pengelola Tahun 2005 .29 Lampiran 4.30 Lampiran 4.6 Lampiran 5.17 Rekapitulasi Kejadian Bencana Menurut Jenis Bencana dan Jumlah Korban Tahun 2009 Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 (lanjutan) Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 (lanjutan) Rekapitulasi Data Kecukupan Obat Nasional Tahun 2009 Jumlah Puskesmas dan Rasionya terhadap Penduduk 'Menurut Provinsi Tahun 2005 .10 Lampiran 5.2009 Jumlah Sarana Distribusi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Institusi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Menurut Jurusan dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Jurusan/Program Studi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Menurut Akreditasi dan Strata Tahun 2009 Jumlah Institusi Non Politeknik Kesehatan (Non-Poltekkes) Menurut Jurusan/Program Studi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Institusi Non Politeknik Kesehatan (Non-Poltekkes) Menurut Akreditasi dan Strata Tahun 2009 Jumlah Institusi Diknakes Non-Poltekkes Menurut Status Kepemilikan Tahun 2009 Rekapitulasi Data SDM Kesehatan Per Provinsi Keadaan Desember 2009 Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Menurut Jenis dan Provinsi Tahun 2009 xi .9 Lampiran 5.31 Lampiran 5.16 Lampiran 5.Lampiran 4.

27 Lampiran 5.28 Lampiran 5.34 Lampiran 5.31 Lampiran 5.20 Lampiran 5.26 Lampiran 5. Dokter Gigi.d Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Umum PTT Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Gigi PTT Tahun 2009 xii .36 Lampiran 5.24 Lampiran 5.33 Lampiran 5.32 Lampiran 5.38 Rasio Dokter.18 Lampiran 5.21 Lampiran 5.29 Lampiran 5.Lampiran 5. Perawat dan Bidan terhadap Jumlah Puskesmas Menurut Provinsi Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Dokter Umum Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Distribusi Tingkat Keterlibatan Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia dalam Kegiatan Kediklatan Tahun 2009 Distribusi Widyaiswara Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2009 Distribusi Frekuensi Pelatihan dan Jumlah Peserta di Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia Berdasarkan Jenis Diklat Tahun 2009 Rekapitulasi Peserta Didik Poltekkes Perjenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Peserta Didik Poltekkes Per Jenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Peserta Didik Non Poltekkes Per Jenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Lulusan Diknakes Poltekkes dan Non Poltekkes Berdasarkan Jenis Tenaga Kesehatan Tahun 2009 Jumlah Lulusan Poltekkes Berdasarkan Jurusan/Program Studi Institusi Diknakes Seluruh Indonesia Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Lulusan Non Poltekkes Diknakes Seluruh Indonesia Berdasarkan Jenis dan Provinsi Tahun Ajaran 2009/2010 Alokasi dan Realisasi Kementerian Kesehatan RI Triwulan IV Tahun 2009 Data Cakupan Kepesertaan Jaminan Kesehatan Per Juni 2010 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Umum Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tahun 2009 Keadaan Dokter Spesialis PTT Kemenkes yang Masih Aktif s.37 Lampiran 5.23 Lampiran 5.25 Lampiran 5.22 Lampiran 5.30 Lampiran 5.19 Lampiran 5.35 Lampiran 5.

39 Distribusi Pegawai Kementerian Kesehatan RI Dirinci Menurut Jenis Pendidikan Tahun 2009 Lampiran 6. Angka Kematian.9 *** xiii .Lampiran 5.7 Lampiran 6.8 Lampiran 6.3 Lampiran 6.1 Perbandingan Beberapa Data Kependudukan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2008 Angka Kelahiran.2 Lampiran 6.4 Lampiran 6.6 Lampiran 6. dan Indeks Pembangunan Manusia di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Penduduk yang Menggunakan Sumber Air Bersih dan yang Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2007 Perbandingan Data Tuberkulosis di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2007/2008 Angka Estimasi HIV dan AIDS di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2008 Jumlah Kasus Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi di Negara-Negara ASEAN & SEARO Perbandingan Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2008 Perbandingan Upaya Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2000-2009 Pembiayaan Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2007 Lampiran 6.5 Lampiran 6.

.

Di samping itu. Situasi yang demikian pada akhirnya menyulitkan dalam pengambilan keputusan berdasarkan evidence based. masih terjadi redundant data. dan status gizi masyarakat. yang berisi data tahunan dari hasil pembangunan kesehatan. angka kematian. Hal ini sebagai akibat dari adanya sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih terfragmentasi. Situasi demikian menimbulkan tersendatnya pendistribusian informasi terutama dari sumber data di unit pelayanan kesehatan atau kabupaten/kota ke provinsi dan pusat yang mengakibatkan terjadinya krisis informasi di berbagai unit teknis di pusat. Sedangkan pembangunan kesehatan adanya upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Berbagai masalah klasik masih dihadapi dalam penyelenggaraan sistem informasi kesehatan. angka kesakitan. kemauan. yaitu belum mampu menyediakan data dan informasi kesehatan yang evidence based sehingga belum mampu menjadi alat manajemen kesehatan yang efektif.Kita sadari bahwa sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih jauh dari kondisi ideal. di mana masing-masing unit mengumpulkan datanya sendiri-sendiri dengan berbagai instrumennya di setiap unit kerja baik di pusat maupun di daerah. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Adanya “overlapping” kegiatan dalam pengumpulan dan pengolahan data. Penyelenggaraan sistem informasi kesehatan itu sendiri masih belum dilakukan secara efisien. adalah terhambatnya aliran komunikasi data baik dari sumber data di daerah ke pengguna di pusat atau sebaliknya. Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator. yang meliputi indikator angka harapan hidup. Satu-satunya alat yang dimiliki Kementerian Kesehatan adalah adanya Profil Kesehatan Indonesia. serta terhambatnya aliran komunikasi data antar pengguna atau bahkan tertutupnya sumber informasi untuk diakses oleh pengguna lain sehingga menyebabkan sulitnya memperoleh informasi yang memadai (lack of informations). 2 . Di antaranya adalah kegiatan pengelolaan data dan informasi belum terintegrasi dan terkoordinasi dalam satu mekanisme kerjasama yang baik. dan tidak efisiennya penggunaan sumber daya. duplikasi kegiatan.

mutu. Lima nilai Kementerian Kesehatan adalah: 1. 4. Ketersediaan. dimana Kementerian Kesehatan memiliki Visi adalah Masyarakat Sehat yang Mandiri dan berkeadilan. dan alat kesehatan. 6. Ketersediaan. Jaminan kesehatan masyarakat. sehingga provinsi dapat mengetahui dimana posisinya dalam setiap indikator pembangunan kesehatan dibandingkan provinsi lainnya. Penguatan kebijakan sistem informasi kesehatan dilakukan dengan menyusun aturan-aturan yang menjamin sistem informasi kesehatan dapat diselenggarakan dengan baik. yang berasal dari profil kesehatan provinsi ini selain sebagai alat ukur sampai dimana capaian indikator pembangunan kesehatan setiap provinsi dibanding target nasional bahkan target MDG (Millenium Development Goal). Inklusif (inclusive). efektivitas. 2. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan. efficient). Responsif (responsive). 3. Keberpihakan pada DTPK (Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan) serta DBK (Daerah Bermasalah Kesehatan). 3. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan paripurna. keterjangkauan obat. World class health care. Bersih (clean). Untuk kelancaran proses Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia yang merupakan salah satu produk dari berhasilnya sistem informasi kesehatan yang terintegrasi. efisien (effective. bermutu. merata. di masa mendatang maka. 7. termasuk swasta dan madani. keamanan. 2. Revitalisasi pelayanan kesehatan. 4. Reformasi birokrasi. dengan Misinya adalah sebagai berikut. 3. juga disajikan dalam bentuk peringkat dari tiap indikator. 2. strategi pertama yang perlu dilakukan adalah penguatan kebijakan dan perencanaan di bidang sistem informasi kesehatan. Dalam penyajiannya.Penyajian Profil Kesehatan Indonesia 2009. retensi dan mutu SDM. 4. dengan menggunakan indikator yang sesuai. Pada pasal 168 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan telah diamanatkan bahwa penyelenggaraan sistem informasi 3 . berkeadilan. Pro Rakyat (pro poor). distribusi. 5. vaksin. 5. Efektif. distribusi. Reformasi Pembangunan Kesehatan tahun 2010-2014: 1. 1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. diusahakan untuk ditampilkan berbagai data dan informasi yang menjawab Visi dan Misi serta berbagai data dan informasi yang menjelaskan tentang reformasi Birokrasi.

Pendahuluan. pendidikan. Angka Kematian. yang meliputi: kependudukan. Bab IV . dan pembiayaan kesehatan. sarana kesehatan. dan upaya perbaikan gizi masyarakat. juga Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi bersama unit-unit pengelola program dan lintas sektor terkait sedang menyusun Rencana Strategis Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan. Bab ini menguraikan tentang sumber daya pembangunan bidang kesehatan sampai tahun 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini terdiri atas 6 (enam) bab. Dengan telah selesai dan dipublikasikannya hasil sensus penduduk 2010 yang diselenggarakan oleh BPS. pencapaian pelayanan kesehatan rujukan. umur harapan hidup. Bab III . kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. Bab II . pencapaian upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit. perekonomian. Gambaran tentang upaya kesehatan yang telah dilakukan itu meliputi pencapaian pelayanan kesehatan dasar. Bab VI . Bab ini berisi uraian tentang upaya-upaya kesehatan yang telah dilaksanakan oleh bidang kesehatan sampai tahun 2009. data tuberkulosis.kesehatan diatur dalam peraturan pemerintah. Bab ini juga menyajikan tentang gambaran umum. angka kesakitan. cakupan imunisasi pada bayi dan upaya kesehatan.Situasi Derajat Kesehatan.Perbandingan Indonesia dengan Negara Anggota ASEAN dan SEARO. Bab ini berisi uraian tentang hasil-hasil pembangunan kesehatan sampai dengan tahun 2009 yang mencakup tentang angka kematian. seperti pedoman dan petunjuk teknis. Bab V . Indeks Pembangunan Manusia. Dalam penguatan perencanaan sistem informasi kesehatan. *** 4 .Situasi Upaya Kesehatan. Gambaran tentang keadaan sumber daya mencakup tentang keadaan tenaga. maka juga kami masukkan data jumlah penduduk tahun 2010. dan status gizi masyarakat. dan lingkungan fisik. yaitu: Bab I . angka estimasi HIV/AIDS. serta perilaku penduduk yang terkait dengan kesehatan. untuk tercapainya dan berhasilnya program-program pembangunan di bidang kesehatan. Demikian pula aturan-aturan di bawahnya. Untuk ini. Bab ini menyajikan tentang latar belakang diterbitkannya Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini serta sistimatika penyajiannya.Situasi Umum dan Perilaku Penduduk. Angka Kelahiran. sedang dalam proses penyusunan. Bab ini menyajikan perbandingan beberapa indikator yang meliputi data kependudukan.Situasi Sumber Daya Kesehatan. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi bersama Biro Hukum dan Organisasi sedang menyiapkan bahan rancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang sistem informasi kesehatan.

.

Posisi strategis ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kebudayaan.048. KEADAAN PENDUDUK Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010. Fakta ini membuat Indonesia memiliki keragaman budaya dan adat istiadat dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain. keadaan ekonomi. dan dari 97 o sampai 141o garis Bujur Timur serta terletak antara dua benua yaitu benua Asia dan Australia.Indonesia terbentang antara 6o garis Lintang Utara sampai 11o garis Lintang Selatan.783 perempuan (Lampiran 2. menurut data Bakosurtanal. Secara administratif wilayah Indonesia pada tahun 2009 terbagi atas 33 provinsi. politik. 6 . keadaan lingkungan.1 Pada bab ini akan diuraikan gambaran umum Indonesia dan perilaku penduduk pada tahun 2009 yang meliputi: keadaan penduduk. rasio jenis kelamin penduduk Indonesia tahun 2010 sebesar 101. Jumlah pulau itu termasuk yang berada di muara dan tengah sungai. jumlah pulau di Indonesia 17.226 kelurahan/desa. Rasio jenis kelamin terbesar terdapat di Provinsi Papua yaitu sebesar 113 dan yang terkecil terdapat di Nusa Tenggara Barat yaitu sebesar 94. Keragaman dalam berbagai aspek tersebut juga terkait dengan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. dan perilaku penduduk yang berkaitan dengan kesehatan. yang terdiri dari 119. Jika dibandingkan dengan jumlah kabupaten/kota yang ada pada tahun 2008. sosial. keadaan pendidikan. serta delta. 6.580 laki-laki dan 118.363 orang. 497 kabupaten/kota (399 kabupaten dan 98 kota).2). A.507. jumlah penduduk Indonesia sebesar 237. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara. dan ekonomi. maka selama tahun 2009 telah terjadi pembentukan 2 kabupaten baru.543 kecamatan dan 75.556. Secara nasional.504 pulau. Pembagian wilayah Indonesia secara administratif menurut provinsi pada tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2. yang artinya jumlah penduduk laki-laki satu persen lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan. atau setiap 100 perempuan terdapat 101 laki-laki.

yaitu sebesar 13.592 jiwa terdiri dari 115. Laju pertumbuhan penduduk Provinsi Papua adalah yang tertinggi dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Estimasi Penduduk Indonesia Dirinci Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2008 Secara nasional. berdasarkan data estimasi penduduk Badan Pusat Statistik (SUPAS 2005).931.1 PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2009 (dalam ribu) Sumber : Badan Pusat Statistik. yaitu sebesar 5.369. laju pertumbuhan penduduk Indonesia per tahun selama 2 dasawarsa terakhir adalah sebesar 1.890 jiwa per km2.3). GAMBAR 2. Tingkat kepadatan yang tinggi masih didominasi oleh provinsi-provinsi di Pulau Jawa.32 km2 maka tingkat kepadatan penduduk pada tahun 2009 sebesar 121 jiwa per km2. Sedangkan provinsi dengan laju pertumbuhan terendah yaitu Jawa Tengah sebesar 0.37%. jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2009 tercatat sebesar 231. dengan luas wilayah Indonesia 1.4.551.647 perempuan (Lampiran 2. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia secara rinci sejak Sensus Penduduk tahun 1971 sampai dengan Sensus Penduduk tahun 2010 dapat dilihat dalam Lampiran 2.817. Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah yang memiliki 7 .Sedangkan pada tahun 2009. Provinsi yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi adalah DKI Jakarta. Secara nasional.49 persen.910.945 laki-laki dan 115. Berdasarkan distribusi penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur maka kita dapat memperoleh gambaran piramida penduduk Indonesia tahun 2009 sebagai berikut.46 persen (SP 2010).

173 jiwa per km2. Kepadatan penduduk terendah di Papua. yang kemudian diikuti oleh Kalimantan Tengah dengan kepadatan 14 jiwa per km2. yaitu hanya 7 jiwa per km2. yaitu sebesar 57. http://www. Kalimantan 5. Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 5.3. Dengan demikian maka Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio) penduduk Indonesia pada tahun 2009 sebesar 47.2 PERSENTASE PERSEBARAN PENDUDUK INDONESIA MENURUT KELOMPOK PULAU-PULAU BESAR TAHUN 2009 Sumber : Badan Pusat Statistik. Lebih dari separuh penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa. Selebihnya tersebar di Sumatera sebesar 21. Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2009.96%. Provinsi dengan tingkat kepadatan tertinggi ke-3 yaitu DI Yogyakarta sebesar 1. dengan luas hanya 6.depdagri. yang berusia produktif (15-64 tahun) sebesar 67.45%.25%. Sulawesi 7. Papua Barat merupakan provinsi dengan tingkat kepadatan penduduk terendah ke-2 yaitu sebesar 8 jiwa per km2. Dari data distribusi penduduk menurut pulau dapat diketahui terdapat ketimpangan persebaran penduduk antar pulau yang nyata. menunjukkan bahwa penduduk yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 26.23%.44 %. 8 . GAMBAR 2.kepadatan penduduk tertinggi ke-2 dengan kepadatan 1.65%.23%. Maluku dan Papua 2. Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur.id.99%.12%.92% dan yang berusia tua (> 65 tahun) sebesar 5.go.118 jiwa per km2.77% wilayah Indonesia. Jumlah penduduk dan angka kepadatan penduduk per provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2.

87%. inflasi dan pertumbuhan perekonomian sangat saling berkaitan. 9 .5 persen (2009). Rendahnya tingkat inflasi ini merupakan pencapaian terbaik dalam 10 tahun terakhir.5 persen (2006). Perekonomian Indonesia selama tahun 2006-2009 mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 5. 6.5%.26% diikuti oleh DI Yogyakarta sebesar 37. 6.69%. Sedangkan provinsi dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu DKI Jakarta sebesar 37.45% diikuti oleh Sulawesi Tenggara sebesar 57.0 persen (2008) dan 4. GAMBAR 2.Provinsi dengan persentase beban tanggungan tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur sebesar 59.78%. Angka Beban Tanggungan dan provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2.53% dan Maluku sebesar 56. KEADAAN EKONOMI Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara. Apabila tingkat inflasi tinggi. inflasi tercatat sebesar 2. Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diprakirakan tumbuh 4.3 ANGKA BEBAN TANGGUNGAN MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Badan Pusat Statistik.5. Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2009 B. Mengkaji kondisi perekonomian tentu saja tidak terlepas dari tingkat inflasi. sudah dipastikan akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi. Rincian jumlah penduduk menurut kelompok umur.3 persen (2007).65% dan Jawa Timur sebesar 39.

Menurut Sakernas. yang mencakup angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan. Pengangguran terbuka disini didefinisikan sebagai orang yang sedang mencari pekerjaan atau yang sedang mempersiapkan usaha atau juga yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin lagi mendapatkan pekerjaan. definisi operasional Angkatan Kerja adalah penduduk usia kerja yang bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja.5%.00%.9%. Sedangkan PDB untuk non migas tumbuh 4. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi 15.4 triliun pada 2008 menjadi sebesar Rp 5. rekreasi dan olahraga masing-masing memberikan kontribusi yang sama 3. Sementara Bekerja menurut definisi Sakernas adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan. Pengangguran terbuka tidak termasuk orang yang masih sekolah atau mengurus rumah tangga. kelompok pendidikan.4 triliun pada 2009.67%. gas dan bahan bakar menyumbang sebesar 1. hotel dan restoran sebesar 1.81%.88%. perumahan. rokok dan tembakau memberi kontribusi terbesar pada inflasi sebesar 7. kelompok kesehatan. dan kelompok transportasi. listrik.83% pada inflasi nasional. Untuk mengetahui tingkat pengangguran. transportasi dan 10 . kelompok bahan makanan 3. minuman.1%. Pertumbuhan terendah terjadi di sektor perdagangan.89%.951. Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4. dan penganggur.613. tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan/putus asa (sebelumnya dikategorikan sebagai Bukan Angkatan Kerja) dan yang punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja (sebelumnya dikategorikan sebagai Bekerja). air.Selama tahun 2009 kelompok makanan jadi. komunikasi dan jasa keuangan -3. Hal ini disebabkan bertambahnya lapangan kerja pada sektor jasa kemasyarakatan seperti jasa pertukangan. dilakukan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). mempersiapkan usaha. termasuk juga mereka yang baru mendapat kerja tetapi belum mulai bekerja. pembantu rumah tangga. Dari Rp 4. Sejak tahun 2001 konsep pengangguran menjadi angkatan kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan. Kegiatan itu termasuk juga kegiatan pekerja tak dibayar yang membantu dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi. Sakernas merumuskan konsep pengangguran sebelum tahun 2001 sebagai angkatan kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan.0 triliun. maka nilai Produk Domestik Bruto (PDB) 2009 naik sebesar Rp 662. Persentase pengangguran terbuka adalah perbandingan antara jumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja. Berdasarkan data hasil Sakernas BPS tahun 2008-2010 ada penurunan angka pengangguran.5% pada 2009. paling sedikit satu jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kelompok lainnya dalam tahun 2009 masing-masing kelompok sandang 6.

43 9. prasarana dan sarana.26 8. daerah rawan bencana dan konflik sosial. Suatu daerah dikategorikan menjadi daerah tertinggal karena beberapa faktor penyebab.99 102. Keterbatasan prasarana terhadap berbagai bidang termasuk di dalamnya kesehatan menyebabkan masyarakat di daerah tertinggal mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial. Survei Angkatan Kerja Nasional 2008-2010 Pembangunan ekonomi yang diupayakan diharapkan mampu mendorong kemajuan. serta berdasarkan kabupaten yang berada di daerah pedalaman. Menurut definisinya.74 Feb 2010 (juta orang) 115. Jumlah dan persentase kabupaten tertinggal menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2. sosial. aksesibilitas dan karakteristik daerah. maka ditetapkan 199 kabupaten yang dikategorikan kabupaten tertinggal. kemampuan keuangan lokal (celah fiskal). kepulauan (pulau kecil dan gugus pulau).6.00%. daerah tertinggal adalah daerah kabupaten yang relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional dan berpenduduk relatif tertinggal. daerah rawan bencana dan daerah rawan konflik dan sebagian besar wilayah daerah pesisir. Unit terkecil daerah tertinggal yang digunakan dalam Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (STRANAS PPDT) adalah wilayah administrasi kabupaten. sumber daya manusia. mental dan spiritual di segenap pelosok negeri terutama wilayah yang tergolong daerah tertinggal. Berdasarkan pendekatan tersebut. Provinsi dengan persentase kabupaten tertinggal tertinggi adalah Sulawesi Barat.46 8. sumber daya alam. Perkembangan angkatan kerja.04% dari 497 kabupaten/kota.82% dan Bengkulu 80.1 PERKEMBANGAN ANGKATAN KERJA. baik fisik. diikuti oleh Sulawesi Tengah sebesar 81. yaitu geografis. Penetapan kriteria daerah tertinggal dilakukan dengan menggunakan pendekatan berdasarkan pada perhitungan 6 (enam) kriteria dasar yaitu: perekonomian masyarakat. PENDUDUK YANG BEKERJA DAN PENGANGGURAN TERBUKA DI INDONESIA TAHUN 2008 – 2010 Feb 2008 (juta orang) 111. Saat ini Indonesia memiliki 19 kabupaten perbatasan.48 Feb 2009 (juta orang) 113. dan kebijakan pembangunan.59 Pengangguran terbuka (%) 8. perbatasan antar negara.14 7.Februari 2010 adalah sebagai berikut.49 107.pertanian. TABEL 2. sumber daya manusia.41 Pengangguran terbuka 9.05 104. Tahun 2009 persentase daerah tertinggal adalah 40.40 Jumlah Angkatan Kerja Jumlah penduduk yang bekerja Sumber: BPS. penduduk yang bekerja dan pengangguran pada Februari 2008 . 11 . prasarana (infrastruktur). 33 pulau-pulau kecil terluar berpenduduk dan 183 daerah tertinggal (termasuk terpencil). yaitu sebesar 100%.

GAMBAR 2. Kwashiorkor. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2010 Berita Resmi Statistik. Fenomena gizi buruk dan kurang seringkali dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang buruk jika merujuk pada fakta bahwa keterbatasan pemenuhan pangan dapat menyebabkan busung lapar.51 juta penduduk miskin. 1 Juli 2010 12 . jumlah penduduk miskin menurun menjadi 31.15%) penduduk miskin pada bulan Maret 2009. BPS 2008. XIII.5 berikut ini.4 PROVINSI DENGAN PERSENTASE KABUPATEN TERTINGGAL DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemiskinan menjadi isu yang cukup menyita perhatian berbagai kalangan termasuk kesehatan. dan Beri-beri. Kemiskinan juga menjadi hambatan besar dalam pemenuhan kebutuhan terhadap makanan yang sehat sehingga dapat melemahkan daya tahan tubuh yang dapat berdampak pada kerentanan untuk terserang penyakitpenyakit tertentu. Keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan terkait dengan daya beli ekonomi. Scorbut.5 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2010 Sumber: BPS. No.02 juta (13. penyakit kekurangan vitamin seperti Xeropthalmia. Pada bulan Maret 2010.53 juta (14. Persentase penduduk miskin dari tahun 2006-2010 disajikan pada Gambar 2.3%) dari 32. GAMBAR 2. 45/07/Th. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan 1.

Dengan IPKM.8 34.5 14.0 3. Selebihnya tersebar di Sumatera 21. BPS 2008.3 55.3 20. Maluku dan Papua 4.2 1.7 21. dapat diketahui dimana daerah-daerah bermasalah tersebut dapat dipetakan berdasarkan peringkat 13 .4 32.1% tahun 2008 dan menjadi 55.5 4. 45/07/Th.1 Bali dan Nusa Tenggara 1. Hasil Riskesdas tahun 2007 menghasilkan instrumen pengukuran Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).3 7.6 Maluku dan Papua Total 1. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2010 Berita Resmi Statistik. berbasis bukti. dalam jangka waktu tertentu. dilakukan secara bertahap di daerah yang menjadi prioritas bersama kementerian terkait.9 15.1 18. Jumlah penduduk miskin dan persentase penduduk miskin menurut kelompok pulau tahun 2008-2010 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.8 Kalimantan 2.1%.6%.3 1.9 1.4%.3 2.3 Sumber: BPS.9 Maret 2009 Jumlah % (juta) 5. Salah satu di antaranya adalah mengatasi permasalahan pelayanan kesehatan di Daerah yang Bermasalah Kesehatan (DBK) dengan pendekatan spesifik yang tidak bisa disamakan dengan daerah lainnya.4 19.8) terdapat persebaran penduduk miskin antar pulau yang nyata perbedaannya. 1 Juli 2010 Dalam roadmap reformasi kesehatan masyarakat Kementerian Kesehatan ada 7 prioritas yang harus dikerjakan untuk mencapai sasaran strategis pembangunan kesehatan.1 59.2 7.5 8. Lebih dari separuh penduduk miskin di Indonesia berada di Pulau Jawa yaitu 57. TABEL 2. terintegrasi. Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 7. Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK) adalah upaya kesehatan terfokus.9 57. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Kemiskinan (Pendataan Sosial Ekonomi/PSE BPS).1 2.5 2.Berdasarkan data jumlah penduduk miskin menurut provinsi dari BPS (Lampiran 2. sampai mampu mandiri dalam menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang kesehatan seluas-luasnya.2 3.2 PERSEBARAN DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT KELOMPOK BESAR PULAU DI INDONESIA TAHUN 2008 – 2010 Kelompok Pulau Sumatera Jawa Maret 2008 Jumlah % (juta) 7.2 31.2 7.3 Maret 2010 Jumlah % (juta) 6.5 1.4 6.0 13.1 17. wilayah menurut Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. Sulawesi 7.8% tahun 2010. XIII.5 4.6 7.3%.0 3. Kalimantan 3.3 Sulawesi 2. Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) adalah keadaan/derajat kesehatan wilayah kabupaten/kota yang digambarkan melalui hasil Riskesdas/SUSENAS dengan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM). Menurut definisi.5 4.8 2. No.8% (tahun 2010).3 17.

penduduk yang tidak bisa membaca secara tidak langsung mendekatkan mereka pada kebodohan. tetapi terdiri atas generasi muda dan tua. 71 DBK Berat dan Tertinggal. Angka buta huruf berkorelasi dengan angka kemiskinan. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pencetus yang berperan dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku sehat. Kemenkes. Perbatasan Berat Berat. TABEL 2. Sebab. Daerah yang mempunyai IPKM <0.741. Tertinggal dan Kepulauan Terluar Berat. dari 440 kabupaten/kota yang menjadi daerah pelaksanaan Riskesdas 2007 terdapat 117 DBK yang berada di 22 provinsi. Tertinggal Berat. Besaran IPKM setiap kabupaten/kota dirumuskan berdasarkan 20 indikator kesehatan. sedangkan kebodohan itu sendiri mendekatkan mereka pada kemiskinan. KEADAAN PENDIDIKAN Kondisi pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu negara. Berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditetapkan di atas. 2 DBK dan Perbatasan. 2010 C. pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan. Melalui pengetahuan.501 Total Sumber: Ditjen Binkesmas. Tiga provinsi mempunyai jumlah kabupaten/kota DBK terbanyak yaitu Aceh (16 kab/kota). Tertinggal dan Perbatasan. persentase penduduk yang buta huruf cenderung menurun karena akses terhadap pendidikan meningkat dalam 5 tahun terakhir ini. Jumlah penduduk buta huruf di Indonesia tidak hanya dialami satu generasi.kabupaten/kota. Papua (15 kab/kota) dan Nusa Tenggara Timur (12 kab/kota). Dengan 14 . Tertinggal dan Perbatasan Jumlah Kabupaten 14 1 71 7 5 98 Kota 18 1 0 0 0 19 32 2 71 7 5 117 Jumlah Penduduk 37. 7 DBK Berat.3 JUMLAH KABUPATEN/KOTA DAERAH BERMASALAH KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2010 Kab/Kota Berat. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini. Kabupaten/kota bermasalah meliputi 32 DBK.337 merupakan Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). Berdasarkan data BPS 2005-2009. diikuti kelompok umur kurang dari 15 tahun. Tertinggal dan Kepulauan Terluar dan 5 DBK Berat. Persentase terbesar penduduk yang buta huruf berada dalam kelompok umur lebih dari 45 tahun.

29%). provinsi dengan persentase AMH tertinggi adalah Sulawesi Utara (99. terutama di daerah perdesaan di Indonesia dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD.id Tahun 2005-2009 persentase tertinggi penduduk yang buta huruf menurut kelompok umur adalah penduduk dengan kelompok umur di atas 45 tahun dengan persentase 22. DKI Jakarta (98. www. Penggunaan AMH adalah untuk (1) mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf.go.bps.83% pada tahun 2005 dan menurun setiap tahunnya menjadi 18.58%. Indikator pendidikan lainnya yang sejenis adalah Angka Melek Huruf (AMH) yaitu persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. NTB (80.02%).58% pada tahun 2009.18%) dan Sulawesi Selatan (87. 15 . AMH nasional adalah 92.9. Sehingga angka melek huruf dapat berdasarkan kabupaten mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah.6 PERSENTASE PENDUDUK YANG BUTA HURUF MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. pendidikan sebagai senjata utama penghapusan buta huruf itu senantiasa harus menyentuh baik generasi muda maupun generasi tuanya. (2) menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media. Sebaliknya persentase AMH yang terendah adalah Papua (70.94%) dan Riau (98. GAMBAR 2.demikian. AMH secara rinci menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.11%). (3) menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis.22%).

Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.5 tahun.GAMBAR 2. Sumber: BPS. Mei 2010 16 .3 tahun). Rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas pada tahun 2006 mencapai 7. Dilihat dari jenis kelamin. GAMBAR 2. sedangkan tahun 2008 mencapai 7. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.2 tahun) lebih besar daripada perempuan (7.7 ANGKA MELEK HURUF PENDUDUK BERUSIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: BPS. Mei 2010 Rata-rata lama sekolah mayoritas penduduk di Indonesia masih relatif rendah yaitu 7.7 tahun pada tahun 2009 atau setara dengan kelas dua SMP.4 tahun.8 RATA-RATA LAMA SEKOLAH MENURUT JENIS KELAMIN DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2009 . rata-rata lama sekolah laki-laki (8. Gambar di bawah ini menunjukkan rata-rata lama sekolah menurut jenis kelamin secara nasional.

GAMBAR 2. Perbedaan di antara keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang pendidikan. dan 16-18 tahun mewakili umur setingkat SLTA. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan Gambar di bawah ini menunjukkan persentase APK tertinggi adalah pada tingkat pendidikan SD/MI dan persentase APK yang terendah adalah pada tingkat 17 . yaitu 7-12 tahun mewakili umur setingkat SD. Gambar di bawah ini merupakan APS nasional menurut usia sekolah dari tahun 2005-2009.bps. berapapun usianya.10.11. Persentase angka partisipasi sekolah menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2. Semakin tinggi tingkat pendidikan.9 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH MENURUT USIA SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah rasio jumlah siswa. Kedua ukuran tersebut mengukur penyerapan penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan. yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM).id Terdapat dua ukuran partisipasi sekolah yang utama. Angka Partisipasi Sekolah (APS) dari BPS secara umum dikategorikan menjadi 3 kelompok umur. 13-15 tahun mewakili umur setingkat SLTP. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan. semakin rendah APS.go. www. yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. berdasarkan 4 kelompok umur dimana kelompok umur 19-24 tahun mewakili umur setingkat perguruan tinggi.Rata-rata lama sekolah secara rinci menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.

bps. sedangkan APK tingkat SLTP/MTs cenderung tidak banyak perubahan. www. GAMBAR 2.go. semakin rendah APM. Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan banyaknya penduduk usia sekolah yang masih bersekolah pada jenjang pendidikan yang sesuai dengan usianya. SLTA dan perguruan tinggi. Nilai APK dalam kurun waktu 2005-2009 meningkat secara perlahan untuk tingkat pendidikan SD/MI.11 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI MURNI DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS.id Berbeda dengan APK. Semakin tinggi tingkat pendidikan.id 18 . Jika dibandingkan APK.bps. www.pendidikan perguruan tinggi. APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut.go. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah persentase APK. GAMBAR 2.10 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI KASAR DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS.

19 . pelayanan kesehatan dan genetik. tempat umum dan pengelolaan makan (TUPM) sehat.bps. menurut pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan. Bersama dengan faktor perilaku. institusi dibina kesehatan lingkungannya. terutama untuk melihat kualifikasi pendidikan angkatan kerja di suatu wilayah.go. Untuk menggambarkan keadaan lingkungan. TPT adalah persentase jumlah penduduk. GAMBAR 2. TPT bermanfaat untuk menunjukkan pencapaian pembangunan pendidikan di suatu daerah. baik yang masih sekolah ataupun tidak sekolah lagi. Gambar berikut di bawah ini menggambarkan perkembangan persentase tingkat pendidikan tertinggi (TPT) yang ditamatkan.12 PERSENTASE PENDIDIKAN TERTINGGI YANG DITAMATKAN PENDUDUK 10 TAHUN KE ATAS DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. Menurut definisi. KEADAAN KESEHATAN LINGKUNGAN Lingkungan merupakan salah satu variabel yang kerap mendapat perhatian khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat.Berdasarkan Gambar 2. rumah sehat serta rumah/bangunan yang diperiksa dan bebas jentik nyamuk Aedes. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah persentase APM.id D. www.11 di atas persentase APM tertinggi pun terdapat pada tingkat pendidikan SD/MI dan APM yang terendah adalah pada tingkat pendidikan perguruan tinggi. akan disajikan indikatorindikator seperti. akses terhadap sanitasi dasar. akses terhadap air bersih dan air minum yang aman. lingkungan menentukan baik buruknya status derajat kesehatan masyarakat. Nilai APM dalam kurun waktu 2005-2009 meningkat secara perlahan untuk setiap jenjang pendidikan. TPT juga berguna untuk melakukan perencanaan penawaran tenaga kerja.

Bali (60.5%). 20 .36%).13 di bawah ini.41%).71%. diikuti ledeng (27.29%). Sarana Air Bersih yang Digunakan dan Akses Air Minum yang Aman Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui persentase keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan. Rincian persentase keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan dapat dilihat dalam Lampiran 2.11%).82% dan di perdesaan 45.4%). akses air minum yang aman di perkotaan 49.72%.1.12. dan Sulawesi Tenggara (59.13.0%).6%) dan Bengkulu (33. sumur pompa tangan (10.0%) Gambaran persentase akses air minum yang aman menurut provinsi dapat dilihat dalam Gambar 2. Sedangkan yang terendah terdapat di Banten (27. serta lain-lain (11. Secara nasional.30%). penampungan air hujan (3. persentase tertinggi jenis sarana air bersih yang digunakan adalah sumur gali (45. Aceh (30. Proporsi penduduk yang memiliki akses terhadap sarana air minum yang aman secara nasional adalah 47.1%). GAMBAR 2. Persentase tertinggi akses air minum yang aman terdapat di DI Yogyakarta (60.49%). 2010 Secara rinci proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap air minum yang aman menurut wilayah (perkotaan dan perdesaan) dan provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.13 PERSENTASE AKSES AIR MINUM YANG AMAN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen P2PL. air kemasan (2. sedangkan menurut wilayah.

persentase akses sanitasasi dasar yang layak sebesar 69.30% dan tempat sampah sehat 53.51% di perkotaan dan 33. kepemilikan pengelolaan air limbah (73. persentase tertinggi akses keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar adalah kepemilikan terhadap jamban (81.03%). Dari seluruh sarana sanitasi dasar tersebut yang memiliki kriteria jamban sehat 55.15.55%).19%. Secara nasional.37%) serta kepemilikan tempat sampah (72. 21 .14.2. pengelolaan air limbah sehat 55. GAMBAR 2. 2010 Secara rinci proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar yang layak menurut wilayah dan provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.14 PERSENTASE AKSES SANITASI DASAR YANG LAYAK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen P2PL. Proporsi penduduk yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar yang layak secara nasional sebesar 51.72%.46%. Rincian persentase keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar dan sehat menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. Sarana dan Akses terhadap Sanitasi Dasar Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui persentase keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar.96% di wilayah perdesaan. sedangkan menurut wilayah.

16.78%). dan TUPM lainnya (63.3. Rumah Sehat Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009.54%). maka yang sudah diperiksa dan dinyatakan sehat sebesar 64.25%).15 PERSENTASE RUMAH SEHAT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Persentase rumah sehat menurut provinsi secara rinci (data dari 429 kab/kota) disajikan pada Lampiran 2.49%. Provinsi dengan persentase rumah sehat yang rendah adalah Sulawesi Barat (35. pasar sehat (54. Rincian persentase tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan yang sehat menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.69%).21%).58%). GAMBAR 2.51%) dan Bali (77.85%).17. Papua (43. 22 . persentase rumah sehat secara nasional sebesar 63. Tempat Umum dan Pengelolaan Makan (TUPM) Sehat Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui gambaran tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan yang sehat. Secara nasional. Provinsi yang memiliki persentase tertinggi adalah DKI Jakarta (91.84%. persentase TUPM sehat yang tertinggi adalah hotel sehat (84.13%).61%) dan Nusa Tenggara Timur (50. dari keseluruhan TUPM. Sedangkan menurut jenis TUPM. restoran/rumah makan sehat (70. 4. Riau (81.

5.41%.26%).23%) dan Bengkulu (47. Sedangkan menurut jenis institusi. perkantoran.02%). sarana pendidikan (67. sudah dilakukan pemeriksaan terhadap 26% rumah/bangunan. 6.98%) dan Banten (87. Bali (87.82%). Dari seluruh rumah/bangunan yang diperiksa maka rumah/bangunan yang sudah dinyatakan bebas jentik nyamuk Aedes sebesar 77.08%.08%). Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui gambaran institusi yang diberikan pembinaan kesehatan lingkungan seperti institusi sarana kesehatan.22%). sarana ibadah (58. Provinsi yang persentase bebas jentik nyamuk Aedes tertinggi adalah DKI Jakarta (89.44%). sarana pendidikan.18. sarana ibadah. Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009.15%). dari keseluruhan institusi yang ada telah dilakukan pembinaan terhadap kesehatan lingkungan sebesar 64. persentase tertinggi institusi yang dibina kesehatan lingkungannya adalah sarana kesehatan (77. Papua (46.52%).84%) dan sarana lainnya (62. dari keseluruhan rumah/bangunan yang ada. Sedangkan yang terendah persentasenya yaitu NTT (39. Rincian persentase institusi dibina kesehatan lingkungannya menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. dan sarana lainnya.16 PERSENTASE RUMAH BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 23 . GAMBAR 2. perkantoran (59. Secara nasional.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009. 1.37%) dan Papua Barat (27.Persentase rumah/bangunan yang diperiksa dan bebas jentik nyamuk Aedes menurut provinsi (data dari 322 kabupaten/kota) secara rinci disajikan pada Lampiran 2. Provinsi yang memiliki persentase tertinggi adalah Jawa Tengah (88.97%).57%).41%. DI Yogyakarta (87. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap kesehatan. akan disajikan beberapa indikator yaitu perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan usia wanita perkawinan pertama. E. persentase rumah tangga yang ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara nasional sebesar 48.17 PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria perilaku hidup bersih dan sehat yang baik menurut provinsi secara rinci (data dari 373 kab/kota) disajikan pada Lampiran 2.19.38%) dan Kalimantan Timur (79.73%).34%).20. 2. Umur Perkawinan Pertama Umur perkawinan pertama adalah umur pada saat wanita melakukan perkawinan secara hukum dan biologis yang pertama kali. Banten (21. GAMBAR 2. 24 . Provinsi dengan persentase PHBS yang rendah adalah Sumatera Barat (17.

33%. umur wanita yang menikah/kawin yang pertama kali paling banyak terjadi pada umur 19-24 tahun sebesar 41. kemudian persentase cukup banyak terjadi pula pada umur yang relatif masih remaja (16-18 tahun) sebesar 33.41%.Secara nasional. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. *** 25 .18 PERSENTASE WANITA MENURUT UMUR PERKAWINAN PERTAMA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: BPS.21. Mei 2010 Persentase wanita menurut umur perkawinan pertama menurut provinsi secara rinci disajikan pada Lampiran 2. GAMBAR 2.

.

pendidikan. dapat berupa penyakit maupun sebab lainnya. dan faktor lainnya. lingkungan sosial. 1. AKABA.1 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1. MORTALITAS Mortalitas merupakan angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu. Angka Kematian Ibu (AKI). dan Angka Kematian Kasar. GAMBAR 3. A. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan. AKI. mortalitas dan status gizi.000 KELAHIRAN HIDUP DI INDONESIA TAHUN 1991 S.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.D TAHUN 2007 27 . AKB merupakan indikator yang biasanya digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Situasi derajat kesehatan masyarakat dapat tercermin melalui angka morbiditas. Pada bab berikut ini situasi derajat kesehatan di Indonesia digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB).Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Bayi (AKB) dapat didefinisikan sebagai banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1. melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi. Oleh karena itu banyak upaya kesehatan yang dilakukan dalam rangka menurunkan AKB. keturunan. Angka Kematian Balita (AKABA). Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB. dan angka morbiditas beberapa penyakit.

Berbagai faktor dapat menyebabkan adanya penurunan AKB seperti yang ditampilkan pada gambar di atas.000 kelahiran hidup. Rincian AKB menurut provinsi di Indonesia terdapat pada Lampiran 3. Hasil estimasi tersebut memperhitungkan Angka Kematian Bayi dalam periode 5 tahun terakhir sebelum survei.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. Provinsi dengan AKB terendah adalah DI Yogyakarta sebesar 19 per 1. Sedangkan AKB tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 74 per 1. dan Kalimantan Timur serta Jawa Tengah sebesar 26 per 1. Sedangkan hasil SDKI 2007 mengestimasikan AKB sebesar 34 per 1.2 berikut.1. Hasil SDKI tahun 2007 juga mengestimasikan AKB pada tingkat provinsi. diikuti Aceh sebesar 25 per 1. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 Menurut hasil SDKI terjadi penurunan AKB sejak tahun 1991. Selain itu. perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit.000 KELAHIRAN HIDUP MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2007 Sumber: BPS.000 kelahiran hidup dan Sulawesi Tengah sebesar 60 per 1. Hal ini disebabkan AKB sangat sensitif terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. Gambaran AKB per provinsi dapat dilihat pada Gambar 3.000 kelahiran hidup.Sumber: BPS.2 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1. Pada tahun 1991 diestimasikan AKB sebesar 68 per 1.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 28 .000 kelahiran hidup. diantaranya pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya. misalnya pada SDKI tahun 2007 diperoleh AKB untuk periode 5 tahun sebelumnya yaitu tahun 2003-2007 sebesar 34 per 1. diikuti oleh Nusa Tenggara Barat sebesar 72 per 1. GAMBAR 3.

29 .000 kelahiran hidup dan Nusa Tenggara Barat sebesar 92 per 1. Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1. Angka ini merupakan estimasi untuk periode 5 tahun sebelum survei (2003-2007). tinggi dengan nilai 71-140. AKABA merepresentasikan peluang terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun.3 ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA) PER 1. Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan nilai normatif AKABA.2. 2008 Berdasarkan estimasi terhadap nilai AKABA pada tingkat provinsi.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. SDKI tahun 2007 mengestimasikan nilai AKABA sebesar 44 per per 1. Gambaran AKABA menurut provinsi dapat dilihat pada gambar berikut.000 kelahiran hidup dan Kalimantan Tengah sebesar 34 per 1. yaitu sangat tinggi dengan nilai > 140.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. diikuti oleh Maluku sebesar 93 per 1. diikuti oleh Jawa Tengah sebesar 32 per 1.000 KELAHIRAN HIDUP DI INDONESIA TAHUN 1991 – 2007 Sumber: Badan Pusat Statistik. diketahui bahwa provinsi dengan AKABA terendah terdapat di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 22 per 1.000 kelahiran hidup. GAMBAR 3. sedang dengan nilai 20-70 dan rendah dengan nilai < 20. Sedangkan provinsi dengan AKABA tertinggi adalah Sulawesi Barat sebesar 96 per 1.000 kelahiran hidup.

Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum. 30 . pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan.000 kelahiran hidup. persalinan. Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.000 kelahiran hidup. dan nifas. AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan. AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. Pada Gambar 3.000 kelahiran hidup. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI untuk periode 5 tahun sebelum survei (2003-2007) sebesar 228 per 100. Angka ini lebih rendah dibandingkan AKI hasil SDKI tahun 2002-2003 yang mencapai 307 per 100. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 3.GAMBAR 3. AKI mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan. melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.5 berikut nampak adanya kecenderungan penurunan AKI sejak tahun 1994 sampai dengan tahun 2007. Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat.000 KELAHIRAN HIDUP MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2007 Sumber : BPS.4 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1.

74 4 Penyakit Sistem Napas 8.585 6.06 2 Penyakit Infeksi dan Parasit Tertentu 16. Kemkes RI.56 4. Keracunan.108 9.91 6 Cedera. dan Metabolik 5. Nutrisi. 5.769 2.238 2.767 2.99 5 Penyakit Sistem Cerna 6.1 10 PENYAKIT UTAMA PENYEBAB KEMATIAN DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2008 Golongan Sebab Sakit Pasien CFR No Mati (%) 1 Penyakit Sistem Sirkulasi Darah 23.5 ANGKA KEMATIAN IBU (PER 100.70 4.GAMBAR 3.80 9 10 Neoplasma Gejala. TABEL 3.000 KELAHIRAN HIDUP) DI INDONESIA TAHUN 1994-2007 Sumber : Badan Pusat Statistik. Klinik Abnormal YTK Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. menyebutkan bahwa AKK tahun 2007 sebesar 6.2008 4.73 8 Penyakit Sistem Kemih Kelamin 4.000 penduduk.190 3.163 11. Angka Kematian di Rumah Sakit Tabel berikut ini menyajikan 10 penyebab kematian terbanyak pada penderita rawat inap di rumah sakit pada tahun 2008.542 3.89 3 Kondisi Tertentu yang Bermula pada Masa Perinatal 9.825 2. Estimasi Angka Kematian Kasar (AKK) berdasarkan hasil SUPAS 2005.99 7 Penyakit Endokrin. dan Akibat Sebab Luar Tertentu Lainnya 5. Tanda & Penemuan Laboratorium. Angka Kematian Kasar (AKK) Angka kematian kasar adalah jumlah kematian yang terjadi pada suatu waktu dan tempat tertentu per 1.000 penduduk pada pertengahan tahun. 2009 31 .332 4.9 per 1.

Berikut ini ditampilkan peringkat IPM 33 provinsi di Indonesia tahun 2008 yang disertai dengan nilai IPM. Salah satu faktor yang berperan dalam peningkatan UHH adalah upaya di bidang kesehatan sebagai bagian dari pembangunan kesehatan.9 dan Sulawesi Utara sebesar 72. Kondisi UHH di Indonesia dalam kurun waktu 2006-2008 menunjukkan peningkatan.5 tahun dan 68.2.Berdasarkan informasi pada tabel di atas.5 tahun. sedangkan pada tahun 2006 dan 2007 sebesar 68.1 tahun dan Banten sebesar 64. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir Derajat kesehatan masyarakat juga dapat diukur dengan melihat besarnya Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH). 6. UHH terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat.7 tahun.06%. Penyakit sistem sirkulasi darah pada tahun 2008 menyebabkan kematian sebanyak 23. 2010 Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa UHH merupakan salah satu komponen dalam memformulasikan IPM.163 orang dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 11. yang diikuti oleh Kalimantan Selatan sebesar 63. Berdasarkan data BPS. sebesar 61. Gambaran UHH pada tahun 2007 dan 2008 menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3. UHH juga menjadi salah satu indikator yang diperhitungkan dalam menilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sedangkan. penyakit sistem sirkulasi darah merupakan penyakit yang menempati urutan teratas sebagai penyakit utama penyebab kematian di rumah sakit pada tahun 2008. provinsi dengan UHH tertinggi adalah DI Yogyakarta. GAMBAR 3.6 UMUR HARAPAN HIDUP WAKTU LAHIR MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2008 Sumber : Badan Pusat Statistik.0 tahun.6 tahun. Pada tahun 2008. 32 . Selain itu. UHH di Indonesia pada tahun 2008 sebesar 69 tahun.1 yang diikuti oleh DKI Jakarta sebesar 72. yaitu sebesar 73.

dan Riau. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.794. Rincian mengenai 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit dapat dilihat pada tabel berikut. Sulawesi Utara. baik insiden maupun prevalen dari suatu penyakit. MORBIDITAS Morbiditas dapat diartikan sebagai angka kesakitan. Pola 10 Penyakit Terbanyak di Rumah Sakit Pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit tahun 2009 menurut Daftar Tabulasi Dasar (DTD) menunjukkan bahwa kasus terbanyak merupakan penyakit infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya dengan jumlah total kasus 488. diikuti oleh Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.7 NILAI IPM MENUURT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2008 Sumber: BPS. 2010 Berdasarkan gambar di atas diketahui bahwa provinsi dengan IPM tertinggi adalah DKI Jakarta. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. Sedangkan provinsi dengan IPM terendah adalah Papua. 1. 33 .GAMBAR 3. B.

013 1.364 8 Penyakit pulpa dan periapikal 54.396 30. pola gambaran 10 penyakit terbanyak menunjukkan pola yang sedikit berbeda. TABEL 3.497 47.55 7 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 19.747 1.74 3 Demam tifoid dan paratifoid 39.578 245.920 16.957 24.087 275.817 77.823 123.200 462 0.142 105.144 36.738 172.303 147.004 68.304 520 1.269 412.021 6 Dispepsia 55.318 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.231 89.013 223. 2009 34 .673 88.850 1.942 99.794 781.375 7 Hipertensi esensial (primer) 55.477 35.463 122.660 203.429 156.703 234 0.76 10 Gastritis dan duodenitis 12.605 153.953 247.45 8 Pneumonia 19.262 41. Kemenkes RI.275 83.167 132. Diare dan Gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) memiliki jumlah kasus terbanyak yaitu 143.78 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.783 30.749 1 2 3 4 9 10 Penyakit telinga dan prosesus mastoid Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtiva 243.94 5 Dispepsia 18.647 2.696 kasus.195 135.446 67.815 99.216 488.10 6 Hipertensi esensial (primer) 15.243 49.588 80.63 9 Penyakit apendiks 13.380 52.115 16.3 POLA 10 PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009 No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) Kasus Laki-Laki Perempuan Total Kasus Meninggal CFR (%) 1 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 74.162 220.533 21.535 143.161 69. 2009 Sedangkan pada pasien rawat inap.083 53.365 6.758 17.629 121.705 60.170 16.256 371.696 1.154 235 0.254 358.807 28. Kemenkes RI.463 52.22 2 Demam berdarah dengue 60.933 36.488 46.345 133.TABEL 3.677 935 2.467 234.334 898 0.881 143.2 POLA 10 BESAR PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009 No Kasus Daftar Tabulasi dasar (DTD) Laki-Laki Perempuan Total Kasus Jumlah Kunjungan 5 Infeksi saluran nafas bagian atas akut lainnya Demam yang sebabnya tidak diketahui Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) Gangguan refraksi dan akomodasi 67.048 162 0.25 4 Demam yang sebabnya tidak diketahui 24.

angka API 2009 sudah memenuhi target. tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang rendah. Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria (Daerah pembebasan malaria) atau API = 0. Kemenkes RI. GAMBAR 3. Penyakit Menular a. Angka ini jauh menurun dibandingkan API tahun 1990 yaitu 4.63%. Sedangkan penyakit dengan CFR terendah adalah Infeksi Saluran Napas Bagian Atas Akut Lainnya sebesar 0.68 per 1.66 per 1. penyakit yang memiliki CFR paling tinggi di antara 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di RS adalah Pneumonia sebesar 6.1 per 1. Malaria disebabkan oleh hewan bersel satu (protozoa) Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles.143. Malaria Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi komitmen global dalam Millenium Development Goals (MDGs). Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratifikasi endemisitas malaria suatu wilayah di Indonesia menjadi 4 strata yaitu : 1.1% sediaan darah yang positif.000 penduduk. Dihubungkan dengan target pencapaian MDGs. 3. dan dihasilkan 23.024 kasus. 2. Relatif tingginya cakupan pemeriksaan sediaan darah di 35 .85 per 1. Endemis Sedang bila API berkisar antara 1 – < 5 per 1.8 STRATIFIKASI ENDEMISITAS MALARIA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 4.000 penduduki.000 penduduk. 2. Wilayah endemis malaria pada umumnya adalah desa-desa terpencil dengan kondisi lingkungan yang tidak baik.27. Kasus malaria klinis tahun 2009 di Indonesia dilaporkan sebanyak 1.Berdasarkan CFR.000 penduduk.000 penduduk. Endemis Rendah bila API 0 . serta buruknya perilaku masyarakat terhadap kebiasaan hidup sehat.02.000 penduduk dengan kisaran provinsi 0.5% dari kasus tersebut diperiksa sediaan darahnya.45%. sarana transportasi dan komunikasi yang sulit. Sebesar 75. Endemis Tinggi bila API > 5 per 1. akses pelayanan kesehatan kurang. 2010 API nasional pada tahun 2009 adalah 1.

Pada gambar di atas nampak bahwa dari tahun 2004-2009.27 per 1. Angka ini terus turun hingga 12. 2010 Upaya pengendalian malaria untuk wilayah di luar Jawa-Bali menggunakan Annual Malaria Incidence (AMI).10 ANNUAL MALARIA INCIDENCE (‰) DI LUAR JAWA BALI TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Kemenkes RI. yaitu di bawah 0. Namun.17 per 1.25 per 1.000 penduduk pada tahun 2009. Kemenkes RI. pada tahun 2004-2009 pencapaian AMI masih belum 36 .000 penduduk.9 ANNUAL PARASITE INCIDENCE MALARIA (‰) DI JAWA BALI TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.75 per 1. GAMBAR 3.000 penduduk.laboratorium tersebut merupakan pelaksanaan kebijakan nasional pengendalian malaria dalam mencapai eliminasi malaria. GAMBAR 3. Pada tahun 2005 AMI di luar Jawa-Bali sebesar 24. 2010 Indikator untuk upaya penemuan penderita di wilayah Jawa-Bali menggunakan Annual Parasite Incidence (API) atau Angka Parasit Malaria per 1. Angka ini telah mencapai target yang ditentukan. Pada gambar di atas nampak bahwa AMI di wilayah luar Jawa-Bali pada tahun 2005-2009 menunjukkan kecenderungan penurunan. Pada tahun 2009 API Jawa-Bali sebesar 0. yaitu semua kasus malaria klinis harus dikonfirmasi laboratorium.000 penduduk. API senantiasa memenuhi target.000 penduduk.

yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.7%. dan Jawa Barat. b. 2010 Pencapaian CDR pada tahun 2009 sebesar 73.5.11 CAKUPAN CASE DETECTION RATE (CDR) TB DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. DKI Jakarta. baik yang sembuh maupun yang menjalani pengobatan lengkap diantara pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat. Pada tingkat provinsi. Sedangkan provinsi dengan CDR terendah adalah Kalimantan Tengah sebesar 30. GAMBAR 3. TB Paru Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.2%. Berikut ini disajikan pencapaian CDR menurut provinsi tahun 2009. Pada gambar di atas nampak bahwa terdapat 5 provinsi yang telah memenuhi target CDR 70%.memenuhi target.1% dan Kepulauan Riau sebesar 32. yaitu Sulawesi Utara. diikuti DKI Jakarta sebesar 81% dan Banten sebesar 77. Kemenkes RI. CDR tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 85. 37 . karena pada kurun waktu tersebut AMI berada di atas target yang telah ditentukan. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB.6% diikuti oleh Kalimantan Timur sebesar 31. Angka ini telah memenuhi target minimal yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70%. Success Rate dapat membantu dalam mengetahui kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut.3%. Dalam mengukur keberhasilan pengobatan TB digunakan Angka Keberhasilan Pengobatan (SR=Success Rate) yang mengindikasikan persentase pasien baru TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan.1%. Rincian API dan AMI menurut provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 3. Maluku. Berikut ini ditampilkan SR tahun 2004-2008. TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR). Banten. Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS. Kementerian Kesehatan menetapkan target CDR minimal pada tahun 2009 sebesar 70%.

Sampai dengan Desember 2009 jumlah kumulatif kasus AIDS mencapai 19.10. Gambar berikut menampilkan kasus baru dan kumulatif penderita AIDS yang terjadi sampai tahun 2009.GAMBAR 3. HIV & AIDS HIV & AIDS disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. c.7. 3. Gambaran kasus TB dan keberhasilan pengobatannya dapat dilihat pada Lampiran 3. Kemenkes RI. 3.8. 38 . dan penularan dari ibu ke anak dalam kandungan melalui plasenta dan kegiatan menyusui.973 kasus. Penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh penderita yang terjadi melalui proses hubungan seksual. penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi secara bergantian.9 dan 3.12 SUCCESS RATE (SR) TB DI INDONESIA TAHUN 2004-2008 Sumber: Ditjen PP-PL.6% pada tahun 2006. Kasus HIV dan AIDS menunjukkan trend peningkatan setiap tahun. 2010 Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa pencapaian Success Rate (SR) pada tahun 2004-2008 telah memenuhi target 85%. Namun demikian terjadi penurunan Success Rate (SR) dari 91% pada tahun 2005 menjadi 87. transfusi darah. Angka ini kemudian kembali naik menjadi 91% pada tahun 2007 dan 2008.

2010 Pada gambar di atas nampak adanya peningkatan penemuan kasus baru yang cukup signifikan pada tahun 2008. dan DKI Jakarta 31.4. diikuti oleh Bali sebesar 45.1. Kemenkes RI.GAMBAR 3.13 JUMLAH KASUS BARU DAN KUMULATIF PENDERITA AIDS YANG TERDETEKSI DARI BERBAGAI SARANA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2001 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Pada tahun 2009. provinsi dengan Case Rate tertinggi adalah Papua sebesar 133. 2010 39 .969 kasus baru pada tahun 2008.000 penduduk.14 CASE RATE AIDS MENURUT PROVINSI DI INDONESIA SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. GAMBAR 3. Kemenkes RI. dari 2.000 penduduk. Besaran kasus juga dapat dilihat dengan menggunakan Case Rate AIDS yang diperoleh dengan membandingkan jumlah kasus kumulatif terhadap jumlah penduduk per 100.7 per 100.947 kasus baru pada tahun 2007 menjadi 4.

1%. transfusi darah dan perinatal.16 JUMLAH KASUS BARU AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIK DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. yaitu hubungan seksual lawan jenis (heteroseksual).2009 seperti yang nampak pada gambar berikut. persentase kasus kumulatif tertinggi adalah melalui hubungan heteroseksual sebesar 50. hubungan sejenis melalui Lelaki Seks Lelaki (LSL). Berikut ini disajikan persentase kasus kumulatif menurut faktor risiko. GAMBAR 3. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya upaya promosi kesehatan pada kelompok pengguna NAPZA suntik yang menyampaikan pesan bahwa penggunaan jarum suntik secara bergantian merupakan perilaku risiko tinggi terhadap penularan HIV. 2010 40 . Meskipun penggunaan IDU menempati urutan ke-2 terbesar. 2010 Berdasarkan cara penularan.HIV/AIDS memiliki beberapa faktor risiko.15 PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT CARA PENULARAN DI INDONESIA SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.3%. Kemenkes RI. namun jika kita melihat kecenderungan kasus baru AIDS pada pengguna NAPZA suntik menunjukkan penurunan selama tahun 2006. Kemenkes RI. Sedangkan persentase terendah adalah melalui transfusi darah sebesar 0. GAMBAR 3. penggunaan Narkoba suntik secara bergantian.

Pada tahun 2009 jumlah kasus baru AIDS yang menggunakan NAPZA suntik
sebanyak 1.156 kasus. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan tahun 2008 sebesar 1.255
kasus.
Berdasarkan jenis kelamin, proporsi kasus kumulatif AIDS laki-laki lebih besar
terhadap perempuan yaitu 73,7% berbanding 25,8%.
GAMBAR 3.17
PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT JENIS KELAMIN DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Proporsi kasus kumulatif AIDS menurut kelompok umur menunjukkan gambaran
bahwa sebagian besar kasus kumulatif AIDS terdapat pada usia 20-29 tahun, 30-39 tahun,
dan 40-49 tahun. Kelompok umur tersebut memang termasuk ke dalam usia produktif yang
tentu saja juga aktif secara seksual.
GAMBAR 3.18
PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

41

Informasi lebih rinci tentang HIV/AIDS dapat dilihat pada Lampiran 3.11, 3.12, dan
3.13.
d. Pneumonia

Pneumonia merupakan infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi
dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat
kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang
Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau
orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Pada tahun 2009, cakupan penemuan Pneumonia pada balita sebesar 22,18%
dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 390.319 kasus. Berikut ini ditampilkan
angka cakupan penemuan pneumonia balita menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 3.19
CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA BALITA
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Pada tingkat provinsi, dapat diketahui bahwa tiga provinsi dengan cakupan tertinggi
berturut-turut adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 71,45%, Jawa Barat sebesar
46,16% dan Kepulauan Bangka Belitung sebesar 41,41%. Sedangkan tiga provinsi dengan
cakupan terendah adalah Provinsi Kepulauan Riau sebesar 0,32%, Aceh sebesar 2,16%,
dan Kalimantan Barat sebesar 2,54%. Data cakupan masing-masing provinsi terdapat pada
Lampiran 3.14.
e. Kusta

Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri
Mycobacterium leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan Kusta
menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan
mata. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut :
a. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa
b. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan
kelemahan/kelumpuhan otot.
42

c. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif).
Pada tahun 2009, dilaporkan terdapat kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 14.227
kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 3.033 dengan Newly Case Detection Rate (NCDR)
sebesar 7,49 per 100.000 penduduk. Berikut ini disajikan kecenderungan kasus baru tipe
PB dan MB serta NCDR.
GAMBAR 3.20
JUMLAH KASUS BARU KUSTA TIPE PB DAN MB
DAN NCDR PER 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Penemuan kasus baru sejak tahun 2005-2009 menunjukkan kecenderungan
penurunan. Pada tahun 2005 NCDR sebesar 8,99 per 100.000 penduduk, angka ini turun
terus hingga 7,49 per 100.000 penduduk pada tahun 2009. Kecenderungan penurunan
tersebut juga terjadi pada jumlah kasus baru kusta tipe PB dan MB.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen
PP&PL) telah menetapkan 33 provinsi di Indonesia ke dalam 2 kelompok beban kusta,
yaitu provinsi dengan beban kusta tinggi (high endemic) dan beban kusta rendah (low
endemic). Provinsi dengan high endemic jika NCDR > 10 per 100.000 penduduk atau
jumlah kasus baru lebih dari 1.000, sedangkan low endemic jika NCDR < 10 per 100.000
penduduk.

43

GAMBAR 3.21
STATUS BEBAN KUSTA DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya
proporsi cacat tingkat II, sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat
digunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru. Proporsi cacat
tingkat II pada tahun 2009 sebesar 10,37%. Sedangkan proporsi anak di antara penderita
baru pada tahun 2009 sebesar 11,44%.
GAMBAR 3.22
PROPORSI CACAT TINGKAT II DAN PROPORSI ANAK DI ANTARA KASUS BARU KUSTA
DI INDONESIA TAHUN 2001-2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Pada kurun waktu 2002-2009 terjadi kecenderungan peningkatan proporsi cacat
tingkat II. Sedangkan proporsi kusta pada anak di antara penderita baru nampak
berfluktuasi sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2005. Kecenderunggan peningkatan
proporsi pada anak nampak dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Informasi menurut
provinsi terkait penyakit kusta terdapat pada Lampiran 3.15.

44

2. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
a.Tetanus Neonatorum

Tetanus Neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk ke
tubuh melalui luka. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir yang salah satunya disebabkan
oleh pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Kasus TN banyak ditemukan di
negara berkembang khususnya dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
rendah.
Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 158 kasus dengan jumlah meninggal 76,
dengan demikian CFR Tetanus Neonatorum pada tahun 2009 sebesar 48,1%. Pada tahun
2009 kasus TN terjadi di 20 provinsi, dan 14 provinsi melaporkan adanya kasus meninggal.
Gambaran kasus Tetanus Neonatorum beserta persentase kasus berdasarkan faktor
risiko menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.16.
b.Campak

Campak merupakan salah satu penyakit PD3I yang disebabkan oleh virus campak.
Sebagian besar kasus campak menyerang anak-anak. Penularan dapat terjadi melalui udara
yang telah terkontaminasi oleh sekret orang yang telah terinfeksi. Berikut ini ditampilkan
Incidence Rate (IR) Campak menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 3.23
INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK PER 10.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 18.055 kasus campak dengan Incidence Rate
sebesar 0,77 per 10.000 penduduk. Incidence Rate tertinggi pada tahun 2009 terdapat di
Provinsi Kepulauan Riau sebesar 3,52; diikuti oleh Sumatera Barat sebesar 2 per 10.000
penduduk, dan Kalimantan Selatan sebesar 1,98 per 10.000 penduduk. Sedangkan Maluku
dan Nusa Tenggara Barat memiliki IR sebesar 0 per 10.000 penduduk.
Informasi mengenai penyakit campak menurut provinsi terdapat pada Lampiran
3.17, 3.18, 3.19, 3.20, dan 3.21.
45

c. Difteri

Penyakit Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang
menyerang sistem pernafasan bagian atas. Penyakit ini memiliki gejala sakit leher, demam
ringan, sakit tekak. Difteri juga kerap ditandai dengan tumbuhnya membran kelabu yang
menutupi tonsil serta bagian saluran pernafasan.
Jumlah kasus Difteri pada tahun 2009 sebanyak 189 kasus, dengan Incidence Rate
per 10.000 penduduk menurut kelompok umur menunjukkan umur < 1 tahun memiliki IR
sebesar 0,01; umur 1-4 tahun sebesar 0,02 ; dan umur 5-14 tahun sebesar 0,02 per 10.000
penduduk.
GAMBAR 3.24
INCIDENCE RATE (IR) DIFTERI PER 10.000 PENDUDUK
MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2003-2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Gambaran penyakit Difteri menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.22 dan
3.23.
d. Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut)

Polio merupakan salah satu penyakit menular yang termasuk ke dalam PD3I yang
disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf higga penderita mengalami
kelumpuhan. Penyakit yang pada umumnya menyerang anak berumur 0-3 tahun ini
ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher dan sakit di
tungkai dan lengan.
Sedangkan AFP merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami
penurunan kekuatan otot tanpa penyebab yang jelas kemudian berakibat pada kelumpuhan.
Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan indikator surveilans AFP yaitu
ditemukannya Non Polio AFP Rate minimal sebesar 2/100.0000 anak usia < 15 tahun. Pada
tahun 2009 non Polio AFP Rate sebesar 2,65 per 100.000 anak < 15 tahun.

46

Seluruh penyakit potensial KLB ini banyak mengakibatkan kematian dan kerugian secara ekonomi.67 dan 5. Pada tahun 2009.29 dan 1. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur < 15 tahun. Kemenkes RI 2009 Provinsi dengan non Polio AFP Rate tertinggi adalah Gorontalo sebesar 8. a.000 anak < 15 tahun.000 penduduk dan CFR sebesar 0. 47 .000 anak < 15 tahun.GAMBAR 3.000 anak < 15 tahun. IR DBD pada tahun 2009 adalah 68. terdapat 158.000 ANAK < 15 TAHUN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL.24 dan 3.912 kasus dengan jumlah kematian 1.25 NON POLIO AFP RATE PER 100.86%. 3.02 per 100. namun dapat juga menyerang orang dewasa.000 anak < 15 tahun.4 per 100. diikuti oleh NTB dan Kalimantan Tengah masing-masing sebesar 1.25. diikuti oleh DIY dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 5.57 per 100. di antaranya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Dengan demikian. Diare dan Chikungunya. Sedangkan provinsi dengan non Polio AFP Rate terendah adalah Papua sebesar 1 per 100. Angka-angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2008 dengan IR sebesar 59.22 per 100. Penyakit Potensial KLB/Wabah Terdapat beberapa penyakit yang berpotensi KLB/wabah yang sering terjadi di Indonesia. Informasi lebih rinci menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3.64 per 100.420 orang.89%.000 penduduk dan CFR sebesar 0.Demam Berdarah Dengue (DBD) Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty.

3 per 100.84 per 100. Kemenkes RI 2009 48 . Provinsi Maluku melaporkan 0 kasus.GAMBAR 3.000 penduduk. Angka Insidens (IR) tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. Kecenderungan penurunan tersebut tidak nampak pada IR per 100.26 INCIDENCE RATE DBD PER 100.000 penduduk. namun sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2008.000 PENDUDUK DAN CASE FATALITY RATE DBD DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP&PL.55 per 100. GAMBAR 3. diikuti oleh Kalimantan Barat sebesar 228.000 penduduk. nampak adanya kecenderungan penurunan CFR. Kemenkes RI 2009 Meskipun CFR tahun 2009 lebih tinggi dibandingkan tahun 2008.27 INCIDENCE RATE DBD PER 100.44 dan Jambi sebesar 8.000 penduduk. yaitu 313.41 per 100. Sedangkan IR terendah di Provinsi NTT sebesar 8.000 penduduk dan Kalimantan Timur sebesar 173.

kemudian meningkat kembali sampai tahun 2007. Sedangkan CFR terendah terdapat di provinsi Sulawesi Barat. Puncak IR DBD terjadi pada tahun 1973.5% kabupaten/kota terjangkit. 1998 dan 2005. namun terjadi peningkatan sedikit pada bulan November dan Desember. dimana tidak ada kasus meninggal. Gorontalo sebesar 2. GAMBAR 3.08%. Kemenkes RI 2009 Pola perkembangan DBD pada tahun 2009 secara nasional menunjukkan terjadinya peningkatan kasus dan kematian DBD dibandingkan tahun 2008. 1988. dan DKI Jakarta sebesar 0. Februari dan Maret.28 CASE FATALITY RATE DBD DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. Puncak peningkatan kasus tahun 2009 terjadi pada bulan Januari. Jumlah kabupaten/kota terjangkit DBD terus meningkat sampai tahun 1998.58%. GAMBAR 3. dan sedikit menurun di tahun 1999.11%. provinsi dengan CFR tertinggi adalah Kep. Pada tahun 2008 sebesar 73. kemudian kasus menurun kembali setelah bulan Juli dan mencapai titik terendah pada bulan September. sedangkan tahun 2009 tercatat 384 Kabupaten/kota dari 497 Kabupaten/kota yang ada atau sebesar 77.26%. Jumlah kabupaten/kota terjangkit DBD sejak tahun 1968 sampai dengan 2009 cenderung mengalami peningkatan seiring dengan terjadinya pemekaran wilayah di Indonesia.29 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA TERJANGKIT DBD DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. Bangka Belitung sebesar 4. diikuti oleh Bengkulu sebesar 3.Pada tahun 2009. Kemenkes RI 2009 49 .2%.

30 CASE FATALITY RATE (CFR) DIARE DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Penurunan ini dapat disebabkan oleh adanya perbaikan penatalaksanaan kasus Diare. atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam.74% pada tahun 2009.48%. Diare Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Angka ini turun menjadi 1.26 dan Lampiran 3. Seseorang dikatakan menderita Diare bila feses lebih berair dari biasanya. GAMBAR 3. GAMBAR 3. 2010 50 . pada tahun 2008 CFR Diare sebesar 2. jumlah kematian sebanyak 100 orang atau CFR sebesar 1. CFR tahun 2009 tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Kecenderungan CFR Diare pada periode tahun 2005-2009 terdapat pada gambar berikut. Angka ini naik menjadi 2. 2010 Pada gambar di atas terlihat adanya penurunan CFR yang cukup signifikan pada tahun 2006-2007. atau bila buang air besar tiga kali atau lebih. Kemkes RI. Berikut ini disajikan gambaran distribusi provinsi dengan KLB Diare pada tahun 2009.52% menjadi 1.31 KLB DIARE DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.74%.26%.Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait dengan penyakit DBD dapat dilihat pada Lampiran 3. Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare terjadi di 15 provinsi dengan jumlah penderita sebanyak 5.27. b. Kemkes RI.756 orang.48% pada tahun 2008. dari 2.

c. Jawa Tengah.Chikungunya Chikungunya adalah penyakit infeksi akut yang ditandai gejala utama demam. DKI Jakarta.28. Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun-tahun sebelumnya masih banyak daerah-daerah yang belum melaporkan kejadian kasus Chikungunya. dan Kalimantan Timur dengan jumlah 83. 51 . GAMBAR 3. Sumatera Selatan. Kep. Bengkulu. Gambaran kasus Chikungunya menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3. Kemkes RI. Bali. kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan. Sumatera Barat.29. Penyakit ini kerap dijumpai terutama di daerah tropis/subtropis dan sering menimbulkan epidemi. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya penyakit ini antara lain rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat. dan makin meningkatnya arus mobilisasi penduduk. Sumbar dan DI Yogyakarta dengan jumlah 3. Sumatera Utara. Jawa Barat. Jambi.Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait Diare dapat dilihat pada Lampiran 3. Bangka Belitung. Berikut ini disajikan gambaran kasus Chikungunya menurut provinsi pada tahun 2009. DKI Jakarta. Sedangkan pada tahun 2009 dilaporkan di Aceh. ruam /bercak-bercak kemerahan di kulit dan nyeri persendian. Lampung. Pada tahun 2008 dilaporkan di Provinsi Jawa Barat. Jawa Timur. NTB. Banten.592 kasus tanpa kematian. Kalimantan Barat. 2010 Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan kasus Chikungunya secara signifikan pada tahun 2009 antara lain semakin banyaknya tempat-tempat perindukan nyamuk penular.32 JUMLAH KASUS CHIKUNGUNYA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Kalimantan Selatan.756 kasus tanpa kematian. penyakit disebabkan oleh infeksi virus Chik yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

d.Bangka Belitung. Sampai akhir tahun 2009.996 dengan 7. nampak adanya kecenderungan peningkatan jumlah kasus GHPR dan kasus VAR. DKI Jakarta. yaitu : GHPR (kasus Gigitan Hewan Penular Rabies). Jawa Tengah. Jawa Barat.Rabies Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus rabies yang ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing.33 JUMLAH KASUS GHPR. dan Lyssa. Berikut ini ditampilkan peta wilayah endemis rabies tahun 2009 52 . Pada tahun 2009 provinsi dengan kasus GHPR terbanyak adalah Bali. DI Yogyakarta. sedangkan provinsi yang berhasil menekan jumlah lyssa menjadi 0 kasus pada tahun 2009 adalah Jambi. kera.895 kasus divaksinasi dan 109 kasus lyssa. Bengkulu. Kasus GHPR pada tahun 2004 dilaporkan sebanyak 14. Kalimantan Selatan dan Sulawesi Barat.30. dan Papua yang masih dinyatakan sebagai daerah bebas rabies. kelelawar. VAR DAN LYSSA DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. musang dan serigala yang di dalam tubuhnya mengandung virus Rabies. NTB. Gambaran situasi Rabies di Indonesia menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Lampiran 3. dan Lyssa pada tahun 2004-2009.466 kasus dengan kasus divaksinasi 35. Penyakit dengan CFR tinggi ini terus menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Jawa Timur. Dengan demikian hanya 9 provinsi yaitu: Kep. Terdapat beberapa indikator yang digunakan dalam memantau upaya pengendalian Rabies. Kemkes RI. Kalimantan Barat. kasus yang divaksinasi dengan Vaksin Anti Rabies (VAR). 2010 Selama tahun 2004-2009. Berikut ini disajikan gambaran GHPR. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan kasus GHPR menjadi 45. kasus divaksinasi.316 dan lyssa sebesar 195 kasus. kucing. GAMBAR 3. daerah tertular rabies adalah 24 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. Papua Barat.

Dalam tubuh manusia. Jumlah kasus klinis filariasis ini merupakan jumlah kumulatif yang dilaporkan dari waktu ke waktu. 53 . Filariasis Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria. cacing tersebut tumbuh menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe sehingga menyebabkan pembengkakan di lengan dan organ genital.GAMBAR 3. Kemkes RI. Pada tahun 2008. Bangka Belitung. GAMBAR 3. Jawa Tengah. Kalimantan Barat. DI Yogyakarta. Brugia malayi dan Brugia timori. Kemkes RI. DKI Jakarta. Jawa Timur. yang terdiri dari Wuchereria bancrofti. baik penderita lama yang baru ditemukan maupun penderita baru.914 yang tersebar di 401 kabupaten/kota. dan Papua. Filariasis menular melalui gigitan nyamuk yang mengandung cacing filaria dalam tubuhnya. jumlah kasus klinis yang dilaporkan sebanyak 11. e.31.35 JUMLAH KASUS FILARIASI DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 2010 Sampai tahun 2009 jumlah kasus klinis filariasis yang dilaporkan sebanyak 11. maka provinsi yang bebas rabies pada tahun 2009 yaitu Kep. Papua Barat. Informasi lebih rinci terkait penyakit filariasis terdapat pada Lampiran 3. Penyakit ini menginfeksi jaringan limfe (getah bening). 2010 Berdasarkan gambar di atas.34 WILAYAH TERTULAR RABIES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. NTB.699.

meskipun dapat juga menyerang mamalia lain dan beberapa jenis unggas. Antraks Penyakit Antraks adalah penyakit infeksi yang akut yang disebabkan oleh spora dari bakteri Bacillus anthracis. Surveilans aktif dan pasif terhadap rodent dan pinjalnya masih tetap dilakukan secara rutin di empat daerah fokus Pes tersebut untuk mengantisipasi terjadinya KLB Pes yang biasa terjadi setiap 10 tahun.76%). Kecamatan Tutur Nongkojajar 2. KLB Pes terakhir terjadi pada tahun 2007 di Dusun Sulorowo. Kecamatan Cangkringan 4. Desa Kayukebek. Pada tahun 2009.f. Kecamatan Tutur Nongkojajar Kabupaten Pasuruan. 54 . Berikut ini ditampilkan hasil surveilans aktif dan pasif pes pada manusia selama tahun 2004-2009. Manusia dapat tertular Antraks melalui kontak langsung maupun tidak langsung atau mengkonsumsi binatang yang terinfeksi atau produk hewan yang terkontaminasi bakteri/spora Antraks.175 spesimen rodent yang diperiksa di BLK Surabaya dan hasilnya menunjukkan negatif. dimana terdapat 40 spesimen manusia dan 3. Seluruh daerah tersebut adalah merupakan daerah pegunungan (daerah ketinggian) seperti Kecamatan Tutur Nongkojajar di kaki Gunung Bromo. Provinsi Jawa Timur. Pes Penyakit pes atau bubonic plaque disebabkan oleh infeksi bakteri Pasteurella pestis melalui hewan pengerat liar. Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Boyolali. Provinsi DI Yogyakarta di Kabupaten Sleman. Kecamatan Ciwidey. Kecamatan Selo dan Cepogo. Terdapat 2 kasus yang meninggal akibat antraks tipe pencernaan yang bersifat sangat akut. Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Pasuruan. Umumnya penyakit ini terjadi pada mamalia herbivora baik yang liar maupun peliharaan. g. Semua kasus berasal dari Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Kecamatan Selo & Cepogo serta Cangkringan di Kaki Gunung Merapi. Selama tahun 2009 telah dilaporkan kasus antraks pada manusia sebanyak 17 kasus 2 orang diantaranya meninggal (CFR 11. 3. Kecamatan Ciwidey di daerah kawah putih Ciwidey. provinsi yang masih melaporkan kegiatan trapping hanya Jawa Timur. Provinsi Jawa Barat di Kabupaten Bandung. Spora Bacillus anthracis dapat bertahan hidup di lingkungan selama bertahun-tahun hingga mendapatkan host baru. Terdapat 4 wilayah yang merupakan wilayah fokus Pes yaitu 1.

Pada tahun 2008 dan 2009 tidak ditemukan lagi kasus positif pada manusia.36 HASIL SURVEILANS PES PADA MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Leptospirosis Leptospirosis ditularkan melalui urin hewan pengerat yang telah terinfeksi bakteri penyebab Leptospirosis. Berikut ini ditampilkan gambaran jumlah kasus. meninggal dan CFR Leptospirosis selama tahun 2004-2009. tanah basah yang telah terkontaminasi urin tersebut. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan kasus Leptospirosis di Jawa Tengah pada bulan Januari sampai dengan April 2009. Kasus Leptospirosis seringkali dilaporkan dari wilayah yang terkena banjir. 2010 Pada gambar di atas nampak terjadi peningkatan jumlah manusia yang diperiksa maupun yang menunjukkan hasil positif pada tahun 2004-2007. dimana sedang terjadi bencana banjir di wilayah tersebut. MENINGGAL DAN CFR LEPTOSPIROSIS DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Kemkes RI. Data dan Informasi mengenai penyakit pes terdapat pada Lampiran 3. 2010 55 . Penyakit ini ditandai dengan beberapa gejala seperti flu sampai dengan gangguan serius yang dapat menyebabkan kematian.GAMBAR 3. GAMBAR 3. h. Secara nasional.37 JUMLAH KASUS. Manusia dapat terinfeksi jika terpapar dengan air. pada tahun 2009 terdapat 378 kasus dengan 23 kasus meninggal.32. Pada tahun 2009 terdapat tiga wilayah yang melaporkan adanya kasus leptospirosis yaitu Provinsi DKI Jakarta. Kemkes RI. Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

48%. Angka CFR ini merupakan yang tertinggi selama kurun waktu tahun 2005-2009. Flu Burung Avian Influenza atau flu burung disebabkan oleh infeksi virus influenza tipe A (H5N1) yang umumnya menginfeksi unggas dan sedikit kemungkinan menginfeksi babi. Sedangkan CFR menunjukkan kecenderungan peningkatan sejak kasus pertama kali ditemukan pada tahun 2005. GAMBAR 3.33. Informasi lebih rinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.Gambar di atas menampilkan adanya peningkatan kasus pada tahun 2007 dengan jumlah kasus 667 dan jumlah meninggal 57. Kasus Flu Burung di Indonesia pada manusia pertama kali dilaporkan pada bulan Juni tahun 2005. Namun angka ini turun menjadi 6. MENINGGAL DAN CFR FLU BURUNG DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Berikut ini ditampilkan jumlah kasus. Kemkes RI. 2010 Jumlah kasus Flu Burung dan jumlah meninggal dilaporkan terbanyak pada tahun 2006. Penyakit ini bisa menular kepada manusia dan dapat menimbulkan penyakit flu yang berakibat kematian. tiga provinsi dengan jumlah kasus Flu Burung tertinggi yaitu DKI Jakarta.08 pada tahun 2009. 56 . Jawa Barat dan Banten. Pada tahun 2007 memang terjadi banjir di beberapa wilayah di Indonesia. khususnya Provinsi DKI Jakarta.38 JUMLAH KASUS.55%. i. Sedangkan CFR menunjukkan kecenderungan penurunan pada tahun 2004-2006. Jika dilihat secara kumulatif sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Angka kematian ini naik pada tahun 2007 dengan CFR 8. Kecenderungan penurunan terjadi dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009. kasus meninggal dan CFR Flu Burung tahun 2005-2009. Pada tahun 2009 dilaporkan kasus sebanyak 21 dengan kasus meninggal sebanyak 19 dan CFR sebesar 90.

GAMBAR 3. GAMBAR 3. 2010 Pada gambar di atas nampak bahwa sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Kemkes RI. Jawa Tengah. 2010 Berikut ini ditampilkan pemetaan kasus Flu Burung sampai dengan tahun 2009. dan Sulawesi Selatan. DKI Jakarta. Riau. DIY.40 WILAYAH PENYEBARAN KASUS FLU BURUNG DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Jawa Barat.39 JUMLAH KASUS DAN MENINGGAL AKIBAT FLU BURUNG DI 13 PROVINSI TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL.34. Kemkes RI. Lampung. Banten. yaitu Sumatera Utara. *** 57 . Bali. Sumatera Selatan. Sumatera Barat. flu burung telah menyebar ke beberapa Provinsi di Indonesia. Jawa Timur. Gambaran situasi Flu Burung menurut provinsi juga dapat dilihat pada Lampiran 3.

.

pengamanan penggunaan zat aditif dalam makanan dan minuman. Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta. pengobatan rawat jalan. 1. perbaikan gizi masyarakat. PELAYANAN KESEHATAN DASAR Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah penting dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. yaitu upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan. pengendalian penyakit tidak menular. Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan adalah sebagai berikut ini. pemeliharaan kesehatan. pengobatan rawat inap. penyehatan lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar. untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat.Secara umum upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu yang sedang hamil dapat 59 . khususnya untuk tahun 2009. pembatasan dan pemulihan kecacatan yang ditujukan terhadap perorangan. Dengan pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan cepat. pemberantasan penyakit menular. Berikut ini diuraikan situasi upaya kesehatan selama beberapa tahun terakhir. zat adiktif dan bahan berbahaya. Upaya kesehatan perorangan mencakup upaya-upaya promosi kesehatan. A. kesehatan jiwa. Upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta. pencegahan penyakit. untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi. pengamanan narkotika. serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan. psikotropika. Upaya kesehatan masyarakat mencakup upaya-upaya promosi kesehatan. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak.

tekanan darah. test laboratorium (rutin dan khusus).000 kelahiran hidup. Angka Kematian Neonatus (AKN). serta temu wicara (konseling). nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas). Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu (AKI).000 kelahiran hidup. Angka Kematian Bayi (AKB). dan AKABA 44 per 1. a. tinggi fundus uteri. bidan dan perawat. persalinan.000 kelahiran hidup pada tahun 1992 (SKRT).mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungannya hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya. Pada akhir tahun 1990-an secara konseptual telah diperkenalkan lagi upaya untuk menajamkan strategi dan intervensi dalam menurunkan AKI melalui Making Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2000. AKB 34 per 1. Pelayanan antenatal yang sesuai standar meliputi timbang berat badan. AKI sebesar 228 per 100. dokter. dari posyandu sampai rumah sakit pemerintah maupun fasilitas pelayanan kesehatan swasta. Kebijakan tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir secara khusus berhubungan dengan pelayanan antenatal. tatalaksana kasus. 60 . skrining status imunisasi tetanus dan memberikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan. Sedangkan tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelayanan antenatal kepada ibu hamil antara lain dokter spesialis kebidanan. termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). nifas dan perawatan bayi baru lahir yang diberikan di semua jenis fasilitas pelayanan kesehatan. serta KB pasca persalinan. pengukuran tinggi badan. 84% untuk cakupan pelayanan ibu hamil sesuai standar (K4). peningkatan pelayanan kesehatan ibu diprioritaskan yaitu dengan menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 102 per 100. Dalam upaya pencapaian MDG’s dan tujuan pembangunan kesehatan. dan Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan beberapa indikator status kesehatan masyarakat. Upaya untuk mempercepat penurunan AKI telah dimulai sejak akhir tahun 1980-an melalui program Safe Motherhood Initiative yang mendapat perhatian besar dan dukungan dari berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri. AKN 19 per 1. Dewasa ini AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. dan 82% untuk cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (Pn). dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (K1 dan K4) Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya. Target Cakupan kesehatan ibu yang harus dicapai pada tahun 2009 masing-masing sebesar 94% untuk Akses Pelayanan Antenatal (cakupan ibu hamil K1).000 kelahiran hidup. menentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).

GAMBAR 4.04% pada tahun 2008 menjadi 85. dengan kata lain jika kesenjangan K1 dan K4 kecil maka hampir semua ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal 61 .6%. Sedangkan cakupan K4 pada tahun 2004-2008 cenderung meningkat. Ditetapkan pula bahwa distribusi frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan. dengan ketentuan waktu pemberian pelayanan yang dianjurkan yaitu: minimal 1 kali pada triwulan pertama. 1 kali pada triwulan kedua. Namun.09% pada tahun 2004 menjadi 94. Hasil pencapaian program pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan indikator cakupan K1 dan K4 yang dihitung dengan membagi jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan (untuk penghitungan indikator K1) atau jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali sesuai standar oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu (untuk penghitungan indikator K4) dengan jumlah sasaran ibu hamil yang ada di wilayah kerja dalam 1 tahun. namun pada tahun 2009 sedikit menurun dari 86. Pada tahun 2004 terjadi selisih antara cakupan K1 dan K4 sebesar 11% kemudian tahun 2006 menjadi 10% dan pada tahun 2008 semakin kecil.1 memperlihatkan cakupan kunjungan K1 dan K4 pada ibu hamil selama enam tahun terakhir. Gambar 4. Kesenjangan antara cakupan K1 dan K4 menunjukkan angka drop out K1-K4. dan 2 kali pada triwulan ketiga. pencegahan dan penanganan komplikasi.51% pada tahun 2009. Terlihat bahwa cakupan K1 selama tahun 2004 sampai 2009 terus mengalami peningkatan dari 88.45% pada tahun 2009. yaitu 6. berupa deteksi dini faktor risiko. Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan kepada ibu hamil.1 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K1 DAN K4 DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas.Pelayanan antenatal disebut lengkap apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan serta memenuhi standar tersebut. Kemenkes RI Dari gambar tersebut di atas dapat dilihat kesenjangan yang terjadi antara cakupan K1 dan K4. pada tahun 2009 kesenjangan kembali meningkat menjadi 9%.

Untuk lebih jelasnya.2 CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL (K1) TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas.44%). GAMBAR 4.39%). dapat dilihat pada Gambar 4. Kepulauan Bangka Belitung dan DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian K1 100%.45% yang berarti telah mencapai target K4 tahun 2009 yang sebesar 84%.meneruskan hingga kunjungan keempat pada triwulan 3. yang menunjukkan pencapaian indikator K1 sebesar 94. Sementara provinsi yang lainnya telah mencapai cakupan K1 tidak kurang dari 80%.2 menyajikan hasil pencapaian cakupan K1 tahun 2009. kecuali provinsi Papua dan Sulawesi Barat dengan pencapaian masing-masing 57. Kemenkes RI Dari 33 provinsi di Indonesia. Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian K4 tertinggi (96. hasil pencapaian indikator cakupan pelayanan K4 di Indonesia sebesar 85. Sedangkan Papua adalah provinsi dengan pencapaian K4 terendah (29. 62 .51%. yang berarti telah mencapai target K1 tahun 2009 yaitu sebesar 94%. yaitu sebesar 57.85%.11%) dan Jawa Tengah (93.85% dan 77. diikuti Papua Barat (55. Sebanyak 18 provinsi telah mencapai target cakupan K4. 16 provinsi telah mencapai target cakupan K1 sebesar 94%. Gambar 4. Sedangkan Papua adalah provinsi dengan pencapaian K1 terendah. diikuti provinsi Bangka Belitung (94.79%) dan Sulawesi Barat (57. sehingga kehamilannya dapat terus dipantau oleh petugas kesehatan. Oleh karena itu perlu dilakukan percepatan peningkatan pelayanan kesehatan ibu di Provinsi Papua dan Sulawesi Barat.04%).3 di bawah ini. Pada tahun 2009.53%).22%.

Terlihat bahwa hanya 7 provinsi di Indonesia dengan cakupan K4 lebih dari 90%. Kemenkes RI Sedangkan cakupan pelayanan K4 menurut provinsi dapat dilihat melalui Gambar 4. Papua Barat.4 di bawah ini. dan Papua. GAMBAR 4. Sebanyak 6 provinsi lainnya memiliki cakupan kurang dari 75% dan semuanya merupakan bagian dari Kawasan Timur Indonesia. Maluku. 20 provinsi memiliki cakupan antara 75% . Provinsi-provinsi tersebut adalah NTT. Kemenkes RI 63 .GAMBAR 4. Maluku Utara. Sulawesi Barat.3 CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K4 TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas.90%.4 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K4 IBU HAMIL TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas.

90%). Pada tahun 2009 cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia telah mencapai 84. 64 .000 kelahiran hidup pada tahun 1992 (SKRT) serta meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menjadi 90% pada tahun 2015 dari 40. telah mencapai target K4 tahun 2009 yang sebesar 82%. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan.7% pada tahun 1992 (BPS).5 PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas.6 bahwa DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian tertinggi (100%). Sedangkan dalam target MDG’s. where and why. dapat dilihat pada Gambar 4. diikuti Provinsi Maluku Utara (61.5 memperlihatkan cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan sejak tahun 2004 sampai tahun 2009 yang cenderung meningkat.45%).000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100. Dari indikator cakupan Persalinan oleh Nakes tahun 2009. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan (Pn) Periode persalinan merupakan salah satu periode yang berkontribusi besar terhadap Angka Kematian Ibu di Indonesia.I Yogyakarta (95.24%) dan D.38%.30%). Gambar 4.38%. Kematian saat bersalin dan 1 minggu pertama diperkirakan 60% dari seluruh kematian ibu (Maternal Mortality: who. salah satu upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah menurunkan angka kematian ibu menjadi 102 per 100. Sedangkan Papua merupakan provinsi dengan pencapaian Pn terendah (39. Kemenkes RI Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan (Pn) di Indonesia pada tahun 2009 yang sebesar 84. diikuti Provinsi Kepulauan Riau (96.b.75%) dan Sulawesi Barat (62. when. GAMBAR 4. Lancet 2006).

di antaranya adalah Kemitraan Bidan Dukun. masih terdapat 25. Kemenkes RI Pada tahun 2009 sebanyak 19 provinsi di Indonesia telah mencapai target cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu 82%. sebesar 77. peningkatan persalinan di fasilitas Kesehatan melalui jaminan program persalinan. model rumah tunggu di Kabupaten dengan Puskesmas di daerah terpencil untuk pencegahan terhadap komplikasi yang terjadi selama persalinan. Pada Gambar 4. revitalisasi Bidan Koordinator melalui pelaksanaan supervisi fasilitatif untuk peningkatan mutu dan kualitas tenaga penolong persalinan. Kenyataan di lapangan.34% kelahiran pada balita ditolong oleh tenaga kesehatan. Persentase penolong kelahiran pada 65 . masih terdapat penolong persalinan yang bukan tenaga kesehatan dan dilakukan di luar fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan Susenas tahun 2008. provinsi lainnya memiliki pencapaian kurang sama dengan 90%. Oleh karena itu secara bertahap diupayakan seluruh persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan.6 terlihat bahwa sebanyak 7 provinsi di Indonesia yang memiliki cakupan Pn di atas 90%.13% persalinan ditolong bukan oleh nakes dan lebih dari setengahnya (53.6 PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas.GAMBAR 4. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2009. Sehingga dalam upaya peningkatan cakupan persalinan perlu dilakukan melalui upaya pelaksanaan program unggulan kesehatan ibu.9%) pertolongan persalinan dilakukan di rumah dengan fasilitas seadanya. serta peningkatan kualitas surveilans kesehatan ibu melalui pelaksanaan Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA).

c. Dibandingkan dengan hasil survei yang sama pada tahun 2008. Diupayakan kunjungan nifas ini dilakukan pada saat dilaksanakannya kegiatan di posyandu dan dilakukan bersamaan pada kunjungan bayi. Persentase balita menurut penolong kelahiran dan provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4.45%).48%). Perbandingan persentase penolong persalinan antara tahun 2008 dan 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. respirasi dan suhu.29%) dan dokter (15. dan 5) pelayanan KB pasca persalinan. 2) pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya. 3) pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan.24%). 66 . DI Yogyakarta. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu: 1) kunjungan nifas pertama (KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari.7 PERSENTASE BALITA MENURUT PENOLONG KELAHIRAN TAHUN 2008-2009 Sumber : BPS. Sedangkan yang terendah adalah Provinsi Maluku (42.2. diikuti oleh dukun (21. dan Sulawesi Barat (47. dan 3) kunjungan nifas ke-3 (KF3) dilakukan minggu ke-6 setelah persalinan.28%).7 berikut ini. dan Bali.21%).balita yang tertinggi adalah oleh bidan (61. Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas (KF3) Pelayanan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. persentase penolong kelahiran pada balita oleh tenaga kesehatan di atas 90% pada tahun 2009 adalah DKI Jakarta.000 IU sebanyak dua kali (2 x 24 jam). 2) kunjungan nifas ke-2 (KF2) dilakukan pada minggu ke-2 setelah persalinan. persentase penolong kelahiran pada balita oleh tenaga kesehatan meningkat pada tahun 2009. GAMBAR 4. Maluku Utara (47. 4) pemberian kapsul Vitamin A 200. nadi. Pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan meliputi: 1) pemeriksaan tekanan darah. Susenas Berdasarkan provinsi.

Sementara target cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2015 adalah 90%.8 berikut ini menyajikan persentase pelayanan ibu nifas menurut provinsi di Indonesia.8 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN IBU NIFAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas.15%). Berdasarkan provinsi. 67 .67%) dan Jawa Timur (93. Kemenkes RI Cakupan kunjungan ibu nifas rata-rata pada tahun 2009 adalah 71.51%).52%). kemudian Kep. Bangka Belitung (94. Dari 30 provinsi yang melaporkan data.54%). Kalimantan Timur (36. GAMBAR 4.Gambar 4. ibu hamil yang memiliki risiko tinggi (risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan. dan Kalimantan Barat (40.75%. Bali merupakan provinsi dengan pencapaian cakupan KF3 tertinggi (101. Penanganan Komplikasi Obstetri dan Neonatal Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh tenaga bidan di desa dan Puskesmas. d. maka kasus tersebut perlu dilakukan upaya rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. ketiga provinsi tersebut bahkan telah mencapai cakupan 90% (target SPM tahun 2015). Sebanyak 14 Provinsi memiliki cakupan kunjungan ibu nifas 3 kali sebesar 50% .54%. karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan. Provinsi dengan cakupan terendah adalah Riau (16.54%).

tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg. Sementara target standar pelayanan minimal bidang kesehatan untuk indikator tersebut yang harus dicapai pada tahun 68 .82%.500 gram).8%. Pada tahun 2009 cakupan penanganan neonatal komplikasi yang dilaporkan sebesar 23. yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi.9 memperlihatkan cakupan penanganan komplikasi kebidanan menurut provinsi pada tahun 2009.9 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. eklampsia. trauma lahir. Seluruh provinsi belum mencapai cakupan penanganan komplikasi kebidanan 80%. dengan kisaran cakupan antar provinsi yang cukup lebar.Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal. tetanus neonatorum. infeksi berat/sepsis. rumah bersalin dan rumah sakit. BBLR (Berat Badan Lahir < 2. Gambar 4. GAMBAR 4. diastole > 90 mmHg). Neonatus risti/komplikasi yang ditangani adalah neonatus risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih yaitu dokter dan bidan di polindes. puskesmas. letak sungsang pada primigravida. dan persalinan prematur. sindroma gangguan pernafasan dan kelainan neonatal. ketuban pecah dini. oedeme nyata. kecuali Provinsi Jawa Timur yang mencapai 84. Risti/komplikasi kebidanan meliputi Hb < 8 g%. Kemenkes RI Neonatus risti/komplikasi meliputi asfiksia. perdarahan per vaginam. letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu. sepsis. Bahkan sebagian besar provinsi memiliki cakupan kurang dari 50%.

yaitu pada 6 jam . Gambaran cakupan penanganan komplikasi neonatal per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4. petugas kesehatan di samping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal tiga kali. pemberian ASI dini dan eksklusif. pencegahan infeksi berupa perawatan mata.2%. dan Sulawesi Tenggara. Sedangkan cakupan terendah adalah provinsi Maluku Utara. Maluku. Dalam melaksanakan pelayanan neonatal. Kunjungan Neonatal Bayi sampai umur 28 hari merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. e. pada hari ke 3 – 7 hari.2010 yaitu 80%.10 berikut ini GAMBAR 4.3% dan DIY 58%. dan hari ke 8 – 28 hari.10 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binakesmas. tali 69 . pencegahan hipotermia.48 jam setelah lahir. Sulawesi Utara 63. Kemenkes RI Pencapaian cakupan penanganan neonatal komplikasi tertinggi adalah NTT 76.

Kecenderungan cakupan kunjungan neonatal 2 kali (KN2) tahun 2003-2008 dapat dilihat pada Gambar 4. Sebanyak 13 dari 33 provinsi di Indonesia telah mencapai target.6%.8%. Gambar 4. Kep.pusat. Semenjak tahun 2006 hingga 2008 cakupan KN2 selalu di atas 75%.12 berikut ini. Kemenkes RI Terdapat disparitas yang sangat lebar antar provinsi. cakupan KN1 tertinggi adalah Provinsi Bali 99.6%. Pencapaian target pelayanan kesehatan bayi berdasarkan laporan rutin tahun 2009 yaitu cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) yang sebesar 80. dan Papua 32. kulit dan pemberian imunisasi). Maluku Utara 31%. cakupan terendah adalah Provinsi Papua Barat 30%. masih belum mencapai target yang diharapkan yaitu 82%. GAMBAR 4. Babel 99. pemberian vitamin K. dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA. dan Jawa Tengah 94. 70 .5%.11 memperlihatkan cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) per provinsi di Indonesia tahun 2009. Manajemen Terpadu Balita Muda (MTBM).7%.11 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL (KN1) MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binakesmas.

7%. sementara cakupan yang dicapai baru sebesar 69.12 PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL (KN2) DI INDONESIA TAHUN 2003 – 2008 Sumber: Ditjen Binkesmas.GAMBAR 4. Kemenkes RI Sejak tahun 2008 terjadi perubahan kebijakan waktu pelaksanaan kunjungan dari semula minimal 2 kali menjadi 3 kali. Provinsi-provinsi yang telah mencapai target dapat dilihat pada Gambar 4. GAMBAR 4. yang mulai disosialisasikan pada tahun 2008.13 PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI 71 .13 berikut ini. Pada tahun 2009 target cakupan kunjungan neonatal lengkap (KN Lengkap) adalah sebesar 75%.

dan Banten. Sebanyak 4 provinsi telah mencapai target yaitu Bali. posyandu. tempat penitipan anak. Jawa Tengah. DPT/ HB1-3.3% dan Jawa Timur 92. Polio 1-4. Bangka Belitung 95. 1 kali pada umur 6-9 bulan. pustu.Sebanyak 17 provinsi telah mencapai target cakupan KN Lengkap sebesar 75%. 1 kali pada umur 3-6 bulan. Cakupan pelayanan kesehatan bayi per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.8%. Kep. dan 1 kali pada umur 9-11 bulan.3% dan Kepulauan Riau 28%. dan Campak). Sedangkan cakupan terendah adalah provinsi Kalimantan Tengah 21. stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam melindungi bayi sehingga kesehatannya terjamin melalui penyediaan pelayanan kesehatan. rumah bersalin dan rumah sakit) maupun di rumah. yaitu satu kali pada umur 29 hari-3 bulan. puskesmas.5%. Jawa Timur. Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG. f. Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali dalam setahun. dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi.4%.14 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. GAMBAR 4. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan kunjungan bayi umur 29 hari – 11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes. Kemenkes RI 72 . Provinsi dengan cakupan KN Lengkap tertinggi adalah Provinsi Bali 99.14 berikut ini. sementara target SPM Kesehatan yang harus dicapai pada tahun 2010 sebesar 90%. Kalimantan Barat 23. panti asuhan dan sebagainya melalui kunjungan petugas kesehatn.2%. Pada tahun 2009 cakupan pelayanan kesehatan bayi sebesar 81.

Sulawesi Utara 71% dan Sumatera Barat 70.4% dan Papua 27%.1%.Cakupan kunjungan bayi tertinggi adalah provinsi Bali 100. Cakupan pelayanan kesehatan anak balita per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.8%.05%.15 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas.4 tahun) sebesar 52. 73 .4%. Jawa Timur dan Jawa Tengah 92. sementara target yang harus dicapai 70%. Kemenkes RI Pencapaian cakupan pelayanan kesehatan anak balita. Maluku Utara 23. dan Kalimantan Tengah.15 berikut: GAMBAR 4.5%. Cakupan terendah adalah provinsi Papua Barat 21.9%. Sulawesi Tengah 82.5%. sehingga provinsi yang memiliki wilayah sulit dijangkau mempunyai cakupan yang relatif rendah. Bengkulu. Sumatera Utara 80. Provinsi dengan cakupan terendah adalah DI Yogyakarta. Bali 79. Pelayanan Kesehatan pada Balita Pada tahun 2009 cakupan pelayanan kesehatan anak balita (1 . g.7%. Pencapaian target cakupan kunjungan bayi sangat dipengaruhi oleh keaktifan posyandu tiap bulannya dan partisipasi keluarga untuk membawa bayi ke posyandu.8%. dari 31 provinsi yang menyampaikan laporan sebanyak 6 provinsi yang mencapai target 70%. yaitu Provinsi Jambi 92.

yang kurus 14.16 memperlihatkan persentase murid SD kelas satu yang mendapatkan pelayanan kesehatan. Pelayanan Kesehatan Pada Siswa SD dan setingkat Berbagai data menunjukkan bahwa masalah kesehatan anak usia sekolah semakin kompleks. Sementara karies gigi aktif yang terjadi pada anak usia 12 tahun adalah 29. Pada anak usia sekolah dasar biasanya berkaitan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti menggosok gigi dengan baik dan benar. Kemenkes RI 74 . kelainan refraksi/ketajaman penglihatan dan masalah gizi. Untuk proporsi masalah kesehatan gigi dan mulut.1% dan anak di atas usia 12 tahun sebanyak 72.2% mengalami kebutaan.1%. Gambar 4. mencuci tangan menggunakan sabun. Sedangkan anak usia 12 tahun dengan karies gigi sebanyak 36. GAMBAR 4. Angka anemi pada anak usia <14 tahun 9. kecacingan. Hasil survei kecacingan 2009 oleh Ditjen P2PL menyebutkan 31. Beberapa masalah kesehatan yang sering dialami anak usia sekolah adalah karies gigi.6% terjadi pada anak usia 5-9 tahun dan 20. Untuk status gizi pada anak usia >15 tahun.8% adapun yang obesitas 10.8% dan anak di atas usia 12 tahun adalah 43.3%. Berdasarkan hasil Riskesdas 2007 disebutkan bahwa untuk masalah kesehatan mata. sebesar 1.h.9%.1%. pada perempuan 19.6% pada anak usia 10-14 tahun.16 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN MURID KELAS SATU SD/SETINGKAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas.7% dan pada laki-laki 13. sebesar 21.1% anak usia 6-14 tahun mengalami kelainan refraksi dan 0. sementara pada anak usia >15 tahun.8%.8 % siswa SD menderita kecacingan.

Provinsi dengan capaian cakupan penjaringan murid SD dan setingkat tertinggi adalah
Jawa Barat (97,1%), Jawa Timur (90,1%), dan DI Yogyakarta (86%). Sedangkan yang
terendah adalah Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan NTT. Pencapaian nasional tahun
2009 sebesar 67,8%.
2. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
Menurut hasil penelitian, usia subur seorang wanita biasanya antara 15 – 49 tahun.
Oleh karena itu untuk mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran,
wanita/pasangan ini lebih diprioritaskan untuk menggunakan alat/cara KB.
Tingkat pencapaian pelayanan keluarga berencana dapat dilihat dari cakupan peserta
KB yang sedang/pernah menggunakan alat kontrasepsi, tempat pelayanan KB, dan jenis
kontrasepsi yang digunakan akseptor. Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus menikah
(pasangan usia subur/PUS) yang sedang dan yang pernah menggunakan/memakai alat KB
dapat dilihat pada Gambar 4.17 berikut ini.
GAMBAR 4.17
PROPORSI WANITA BERUMUR 15-49 TAHUN BERSTATUS KAWIN
YANG SEDANG DAN YANG PERNAH MENGGUNAKAN ALAT KB
TAHUN 2004-2008

Sumber : BPS, Susenas 2008

Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus kawin yang sedang menggunakan/
memakai alat KB menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2008 sebesar 56,62%, tidak
banyak mengalami perkembangan sejak tahun 2004. Berdasarkan data BKKBN, pada tahun
2009 peserta KB aktif sebesar 75,70%. Gambar 4.18 menyajikan persentase peserta KB aktif
menurut provinsi.

75

GAMBAR 4.18
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT PROVINSI
TAHUN 2009

Sumber : BKKBN

Provinsi dengan persentase peserta KB aktif tertinggi adalah Bengkulu (85,5%), Bali
(85,1%), dan DKI Jakarta (82%). Sedangkan persentase peserta KB aktif terendah adalah
Papua (33,9%), Maluku Utara (59,5%), dan Kepulauan Riau (64,3%).
Persentase peserta KB aktif menurut metode kontrasepsi yang sedang digunakan tahun
2009 terlihat dalam Gambar 4.19 berikut ini. Pada tahun 2009 suntikan dan Pil KB masih
banyak diminati sebagai alat KB oleh pasangan usia subur yaitu masing-masing sebesar
50,2% dan 28,3%. Sebaliknya, MOP (Metode Operasi Pria) dan MOW (Metode Operasi
Wanita) merupakan metode kontrasepsi yang terendah diminati oleh para akseptor KB.
GAMBAR 4.19
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI
TAHUN 2009

Sumber: BKKBN

76

Berdasarkan metode kontrasepsi menurut provinsi, alat kontrasepsi dalam rahim
(AKDR/IUD) banyak digunakan di Provinsi Bali dan DI Yogyakarta dengan persentase jauh
di atas provinsi yang lain yaitu masing-masing 47,88% dan 25,44%, sementara untuk
persentase terendah pemakaian IUD adalah 1,78% di Kalimantan Selatan dan persentase
nasional adalah 4,3%. Begitu pula untuk metode MOW kedua provinsi tersebut relatif lebih
tinggi dibandingkan provinsi lainnya yaitu 3,79% (Bali) dan 5,10% (DI Yogyakarta). Rincian
persentase KB aktif menurut metode kontrasepsi dan provinsi terdapat pada Lampiran 4.8.
Persentase tempat pelayanan peserta KB baru tahun 2006-2009 dapat dilihat pada
gambar berikut ini.
GAMBAR 4.20
PERSENTASE TEMPAT PELAYANAN PESERTA KB BARU
DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2009

Sumber : BKKBN

Sesuai dengan data BKKBN, tempat pelayanan peserta KB baru pada tahun 2009 tidak
jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyak peserta KB baru yang memanfaatkan
klinik KB pemerintah sebagai tempat pelayanan KB (62,94%). Selain klinik KB pemerintah,
sebesar 29,65% peserta KB baru memanfaatkan bidan praktek swasta sebagai tempat
pelayanan KB.
Berdasarkan provinsi, terdapat 4 provinsi dengan pemanfaatan klinik KB pemerintah
sebagai tempat pelayanan KB lebih dari 90%, yaitu NTT (97,61%), Maluku Utara (92,73%),
Sulawesi Tenggara (92,05%), dan Sulawesi Tengah (90,69%). Sebaliknya, di Provinsi DI
Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Bali pemanfaatan klinik KB pemerintah sangat rendah, bahkan
kurang dari 40%. Ketiga provinsi tersebut lebih banyak memanfaatkan pelayanan KB swasta.
Data lebih rinci proporsi KB Baru menurut tempat pelayanan KB dan provinsi dapat dilihat
pada Lampiran 4.9.

77

3. Pelayanan Imunisasi
Bayi dan anak-anak memiliki risiko yang lebih tinggi terserang penyakit menular yang
dapat mematikan, seperti: Difteri, Tetanus, Hepatitis B, Typhus, radang selaput otak, radang
paru-paru, dan masih banyak penyakit lainnya. Untuk itu salah satu pencegahan yang terbaik
dan sangat vital agar kelompok berisiko ini terlindungi adalah melalui imunisasi.
Pada saat pertama kali kuman (antigen) masuk ke dalam tubuh, maka sebagai
reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi. Pada umumnya, reaksi
pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat, karena tubuh belum mempunyai
"pengalaman." Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai
memori untuk mengenali antigen tersebut sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam
waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak. Itulah sebabnya, pada beberapa
jenis penyakit yang dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini
dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut, atau
seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal.
Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah
pemberian kuman atau kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk
merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah imunisasi Polio atau
Campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar
antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum)
pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi
yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui
darah plasenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap Tetanus dan Campak.
a. Imunisasi Dasar pada Bayi
Program imunisasi dasar lengkap (LIL/Lima Imunisasi dasar Lengkap) pada bayi
meliputi: 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B, dan 1 dosis Campak.
Di antara penyakit pada balita yang dapat dicegah dengan imunisasi, campak adalah
penyebab utama kematian pada balita. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor
penting dalam mengurangi angka kematian balita. Dari beberapa tujuan yang disepakati
dalam pertemuan dunia mengenai anak, salah satunya adalah mempertahankan cakupan
imunisasi campak sebesar 90%. Target tersebut sejalan dengan target Renstra Kemenkes RI
yang menetapkan target cakupan imunisasi campak 90% pada tahun 2014. Di seluruh negara
ASEAN dan SEARO, imunisasi Campak diberikan pada bayi umur 9-11 bulan dan
merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada bayi di antara imunisasi wajib lainnya.
Pada tahun 2009, Indonesia telah mencapai cakupan imunisasi campak sebesar
92,09%. Dengan demikian Indonesia telah mampu mencapai target imunisasi campak yang
78

telah ditetapkan oleh WHO dan target Renstra Kementerian Kesehatan RI tahun 2014. Angka
tersebut meningkat dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 90,5%.
Gambar 4.21 berikut ini adalah peta cakupan imunisasi campak menurut provinsi
tahun 2009.
GAMBAR 4.21
PERSENTASE PENCAPAIAN IMUNISASI CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI

Dari 33 provinsi di Indonesia, 18 provinsi telah mencapai cakupan imunisasi campak
≥ 90%, 8 provinsi mencapai cakupan 80%-89,99%, dan 7 provinsi lainnya masih di bawah
80%, bahkan ada yang baru mencapai cakupan 65,64%. Dibandingkan tahun 2008 yang
terdapat 14 provinsi dengan cakupan imunisasi campak ≥ 90%, pada tahun 2009 terjadi
peningkatan cakupan provinsi yang mencapai target. Cakupan tertinggi dicapai DKI Jakarta,
DI Yogyakarta, dan Bali. Ketiga provinsi tersebut telah berhasil mencapai cakupan imunisasi
campak sebesar 100%. Sedangkan cakupan terendah adalah di Papua Barat (65,64%), Maluku
(72,76%), dan Riau (73,78%). Data mengenai cakupan imunisasi dasar pada bayi menurut
provinsi tahun 2009 terdapat pada Lampiran 4.11.
Menurut hasil Riskesdas 2007, pendidikan dan pengeluaran per kapita berhubungan
dengan persentase anak umur 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar termasuk juga
campak. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga maka semakin tinggi pula anak
mendapat imunisasi. Begitu pula dengan pengeluaran per kapita, bahwa semakin tinggi
tingkat pengeluaran per kapita semakin tinggi pula anak mendapat imunisasi dasar. Persentase
di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan. Tabel 4.1 berikut ini menjelaskan hubungan
tersebut.

79

TABEL 4.1
PERSENTASE ANAK UMUR 12-23 BULAN YANG MENDAPATKAN IMUNISASI DASAR
MENURUT KARAKTERISTIK RESPONDEN, 2007
Karakteristik responden

BCG

Polio3

Tipe daerah
Perkotaan
92,4
Perdesaan
83,5
Pendidikan Kepala Keluarga
Tidak sekolah
78,6
Tidak tamat SD
79,3
Tamat SD
84,8
Tamat SMP
88,4
Tamat SMA
92,4
Tamat PT
95,7
Tingkat pengeluaran per kapita
Kuintil 1
83,0
Kuintil 2
85,7
Kuintil 3
87,2
Kuintil 4
89,6
Kuintil 5
91,9
Sumber: Balitbangkes Kemenkes RI, Riskesdas 2007

Jenis imunisasi
DPT3
HB3

Campak

78,7
66,2

74,9
63,1

71,0
57,3

86,0
78,8

61,9
62,4
67,4
71,6
79,7
82,6

54,0
59,1
63,3
68,2
76,9
81,8

50,5
53,7
57,5
62,8
72,3
75,9

71,6
74,1
78,2
82,3
88,6
93,1

66,6
68,1
72,8
73,6
77,6

62,9
64,7
69,1
71,0
74,7

58,7
59,7
63,2
65,5
70,9

78,1
78,5
83,1
84,3
86,8

Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proksi
terhadap cakupan atas imunisasi dasar secara lengkap pada bayi (0 -11 bulan). Desa UCI
merupakan gambaran desa/kelurahan dengan ≥ 80% jumlah bayi yang ada di desa tersebut
sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun. Target UCI tahun 2009
adalah 98%. Sedangkan standar pelayanan minimal menetapkan target 100% desa/kelurahan
UCI pada tahun 2010 untuk setiap kabupaten/kota.
Gambar 4.22 berikut menyajikan persentase desa/kelurahan UCI yang belum
menunjukkan perkembangan yang bermakna selama enam tahun terakhir. Pencapaian
tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 76,23%. Capaian tahun 2009 hanya sebesar
69,76% desa/kelurahan UCI di Indonesia, lebih rendah dibandingkan tahun 2008 yang sebesar
74,02%. Provinsi dengan capaian desa/kelurahan UCI tertinggi sekaligus mencapai target
cakupan desa/kelurahan UCI tahun 2009 (98%) adalah DKI Jakarta (100%), Bali (99,58%),
dan DI Yogyakarta (98,63%). Sementara 6 provinsi memiliki cakupan desa/kelurahan UCI
<50%, yaitu Papua Barat (21,15%), Papua (23,14%), Aceh (37,97%), Sulawesi Tenggara
(38,61%), Sulawesi Barat (42,11), dan Lampung (44,86). Rincian capaian desa/kelurahan UCI
menurut provinsi tahun 2007-2009 terdapat pada Lampiran 4.10.

80

seorang anak mendapatkan seluruh imunisasi dasar sesuai umurnya.23 ANGKA DROP OUT CAKUPAN IMUNISASI DPT1Hb . Untuk itu maka angka drop out imunisasi bayi dapat diketahui dengan perhitungan yang didasarkan atas persentase penurunan cakupan imunisasi campak terhadap cakupan imunisasi DPT1-Hb. Rincian tentang angka drop out menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4. Kemenkes RI 81 .CAMPAK PADA BAYI DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. sehingga kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dapat optimal. Anak-anak inilah yang disebut dengan drop out imunisasi. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 4. Imunisasi DPT1Hb adalah jenis imunisasi yang pertama kali diberikan pada bayi. Kemenkes RI Idealnya.12. provinsi dengan angka drop out terendah adalah DI Yogyakarta dan yang tertinggi adalah Maluku. Diasumsikan bayi yang mendapat imunisasi campak telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap. GAMBAR 4. Sebaliknya.4%. sebagian anak tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Angka drop out di Indonesia tahun 2009 sebesar 5.2%.23. Selama enam tahun terakhir. Namun kenyataannya.GAMBAR 4.22 PERSENTASE PENCAPAIAN UCI DI TINGKAT DESA/KELURAHAN DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. imunisasi campak adalah imunisasi dasar yang terakhir diberikan pada bayi. angka drop out nasional paling rendah terjadi pada tahun 2005 yaitu 1.

Hal inilah yang bisa menimbulkan risiko ibu maupun bayinya terkena tetanus. Beberapa permasalahan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada wanita usia subur yaitu pelaksanaan skrining yang belum optimal. dan 3) penyelenggaraan surveilans. dari 26% pada tahun 2007 menjadi 42. 2) cakupan imunisasi rutin TT yang tinggi dan merata. bahkan cenderung menurun.b. Dari Gambar 4.9% pada tahun 2008.24 terlihat keadaan cakupan imunisasi TT2 selama tahun 2003-2007 tidak mengalami perkembangan. Maternal and Neonatal Tetanus Elimination (MNTE) merupakan program eliminasi tetanus pada neonatal dan wanita usia subur termasuk ibu hamil. Strategi yang dilakukan untuk mengeliminasi tetanus neonatorum dan maternal adalah 1) pertolongan persalinan yang aman dan bersih. GAMBAR 4.56%).24 CAKUPAN TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Akan tetapi masih banyak calon ibu di masyarakat terutama yang tinggal di daerahdaerah terpencil berada dalam kondisi yang bisa disebut masih "jauh" dari kondisi steril saat persalinan. Tetanus merupakan salah satu penyebab kematian bayi di Indonesia. Gambar 4. kemudian meningkat lagi menjadi 62.02%) dan terendah adalah Papua (8. Tetanus juga bisa menyerang pada bayi baru lahir (Tetanus Neonatorum) pada saat persalinan dan perawatan tali pusat.52% pada tahun 2009. dan cakupan imunisasi TT2 bumil jauh lebih rendah dari cakupan K4. Namun sejak dua tahun terakhir terjadi peningkatan cakupan imunisasi TT2+. pencatatan yang dimulai dari kohort WUS (baik kohort ibu maupun WUS tidak hamil) belum seragam.25 82 . Imunisasi pada Ibu Hamil Tetanus disebabkan oleh toksin yang diproduksi oleh bakteri yang disebut Clostridium tetani. Kemenkes RI Pada tahun 2009 provinsi dengan cakupan ibu hamil yang mendapat imunisasi TT2+ tertinggi adalah Provinsi Bali (101.

1. Berdasarkan data Ditjen Pelayanan Medik. Indikator Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit biasanya dilihat dari berbagai segi yaitu tingkat pemanfaatan sarana. Sedangkan provinsi dengan capaian 60%-80% sebanyak 10 provinsi. cakupan pelayanan gawat darurat. Kemenkes RI Beberapa langkah yang perlu segera dilakukan adalah sosialisasi ke seluruh petugas lapangan agar mengacu pada kriteria Antenatal Care (ANC) berkualitas. dan Banten. NTT. rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (Turn of Interval/TOI). B. Sebanyak 20 provinsi lainnya memiliki capaian <60%. yang salah satunya dengan imunisasi TT. Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR). PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN Beberapa kegiatan pokok upaya kesehatan perorangan adalah peningkatan pelayanan kesehatan rujukan.memperlihatkan bahwa dari 33 provinsi di Indonesia hanya 3 provinsi yang berhasil mencapai cakupan imunisasi TT2+ pada ibu hamil >80% yaitu Bali. GAMBAR 4. dan semua sistem pencatatan dalam pelaksanaan imunisasi TT WUS termasuk ibu hamil memakai sistem pencatatan yang sama. yaitu T1-T5. rata-rata tempat tidur dipakai (Bed Turn Over/BTO). rata-rata lama hari perawatan (Length of Stay/LOS). mutu dan tingkat efisiensi pelayanan. pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di kelas III di rumah sakit.25 CAKUPAN TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PPPL. tingkat pemanfaatan tempat tidur (BOR) di rumah sakit umum (yang dikelola Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Daerah) selama enam tahun terakhir cenderung meningkat setiap tahunnya walaupun pada tahun 2003-2006 83 . dan lain-lain. persentase pasien keluar yang meninggal (Gross Death Rate/GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal ≥ 48 jam perawatan (Net Death Rate/NDR).

dan BUMN lainnya tidak tersedia. Namun pada tahun 2009 BOR mengalami penurunan yang cukup besar. Tingkat pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit sejak tahun 2003-2009 dapat dilihat pada Gambar 4. hanya 2 provinsi yang mencapai BTO ideal. Hal itu berarti jumlah rumah sakit di Indonesia untuk masing-masing provinsi relatif mencukupi kemampuannya dalam menyediakan tempat tidur bagi pasien rawat inap. Padahal selama enam tahun sebelumnya BTO di rumah sakit selalu berada pada kisaran 40-50 kali. yaitu Bali (45. Dari 31 provinsi yang menyampaikan data. Secara umum nilai LOS yang ideal antara 6-9 hari. apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Indikator ini di samping memberikan gambaran tingkat efisiensi. sebanyak 17 provinsi telah mencapai BOR ideal. Kemenkes RI Keterangan: BOR = Bed Occupation Rate/persentase pemanfaatan tempat tidur BTO = Bed Turn Over/rata-rata tempat tidur dipakai selama setahun BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode (biasanya satu tahun). Gambar 4. GAMBAR 4. Pada tahun 2009 BTO rumah sakit belum mencapai angka ideal.26 PENCAPAIAN BOR DAN BTO RSU KEMENKES DAN PEMDA DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.belum mencapai angka ideal yang diharapkan (yaitu 60-85%). Idealnya dalam satu tahun. berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu.4 kali). juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan. yaitu hanya sebesar 25 kali. LOS adalah rata-rata lama rawat (hari) seorang pasien. Dari 33 provinsi.7% pada tahun 2009. TNI/POLRI.26 berikut ini. Pada tahun 2007 dan 2008 BOR nasional telah mencapai angka ideal.7 kali) dan Jambi (43. satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali. Sementara tidak ada satu provinsi pun yang memiliki BOR lebih tinggi dari 85%. dari 79. Data tentang pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit umum yang dikelola oleh swasta.8% pada tahun 2008 turun menjadi 58.27 memperlihatkan rata-rata LOS nasional di rumah sakit umum selama tahun 2003-2009 yang berkisar antara 484 .

dan Sulawesi Barat (48.000 pasien keluar rumah sakit.1 hari). Kemenkes RI Keterangan: LOS = Length of Stay/rata-rata hari rawat seorang pasien TOI = Turn over Interval/rata-rata tempat tidur tidak dipakai antar dua episode pemakaian Indikator pelayanan rumah sakit yang lain adalah TOI. 85 . Bangka Belitung memiliki LOS terendah (3.2). Berdasarkan provinsi. yaitu Sumatera Utara (52).000 penderita keluar dari rumah sakit. GAMBAR 4. Sumatera Barat (48. Pada GDR. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.3 hari.000 pasien keluar. Pada tahun 2009 angka GDR di Indonesia sebesar 36. tidak melihat berapa lama pasien berada di rumah sakit dari masuk sampai meninggal. GDR adalah angka kematian umum untuk setiap 1. hanya Bali (2 hari) dan Jambi (2.27 PENCAPAIAN LOS DAN TOI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.000 pasien keluar.3 hari dan belum mencapai angka ideal. Dari 31 provinsi yang menyampaikan laporan.6 hari) yang memiliki TOI ideal.3 hari tempat tidur tidak terisi. Pada tahun 2009 angka TOI tempat tidur rumah sakit di Indonesia memiliki selang waktu 6. Jawa Timur (49. 4 provinsi memiliki GDR > 45 per 1. Berdasarkan provinsi. Kalimantan Barat memiliki LOS tertinggi (5.5).9-6. Hanya pada tahun 2007 dan 2008 TOI mencapai angka ideal 1-3 hari. Nilai ideal GDR adalah < 45 per 1.5.6 hari) dan Kep. Selama tahun 2003-2009 TOI di rumah sakit berkisar antara 2. TOI adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah digunakan sampai saat digunakan kembali (rata-rata lama tempat tidur kosong antar pasien satu dengan pasien berikutnya).5 kematian per 1.8).

Namun jika pasien meninggal kurang dari 48 jam masa perawatan. Melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu.000 pasien keluar. Dengan demikian NDR telah mencapai angka ideal yaitu < 25 per 1. Sejak tahun 2005 hingga 2007 sasaran Jamkesmas (yaitu jumlah orang miskin dan hampir miskin) terus bertambah kecuali sejak tahun 2007-2009 dengan jumlah sasaran sama 86 . 2. menurunkan angka kematian bayi dan balita serta menurunkan angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan bagi masyarakat miskin umumnya. Kemenkes RI Keterangan: NDR = Net Death Rate (per 1.000 pasien keluar.000 PASIEN KELUAR RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik. dan telah memberikan banyak manfaat bagi peningkatan akses pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan hampir miskin di puskesmas dan jaringannya serta pelayanan kesehatan di rumah sakit.000 pasien keluar) NDR adalah angka kematian pasien setelah dirawat ≥ 48 jam per 1. Program ini telah berjalan lima tahun.GAMBAR 4. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit.6 per 1. Nilai NDR yang ideal adalah < 25 per 1.000 pasien keluar.000 pasien keluar) GDR = Gross Death Rate (per 1.000 pasien keluar. Asumsinya jika pasien meninggal setelah mendapatkan perawatan 48 jam berarti ada faktor pelayanan rumah sakit yang terlibat dengan kondisi meninggalnya pasien. dianggap faktor keterlambatan pasien datang ke rumah sakit yang menjadi penyebab utama pasien meninggal. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tujuan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yaitu untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan hampir miskin agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.28 PENCAPAIAN NDR DAN GDR PER 1. NDR sejak tahun 2003 hingga 2009 berada pada kisaran 18-23.

60 juta memanfaatkan sarana kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama dan tingkat lanjut. Kemenkes RI Pada tahun 2009. Angka tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 26.4 juta sasaran masyarakat miskin dan hampir miskin. 87 . Provinsi dengan jumlah sasaran terbesar adalah Jawa Tengah. Rincian kujungan rawat jalan tingkat pertama dan tingkat lanjut menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4. Pemberi pelayanan kesehatan dasar Jamkesmas adalah seluruh puskesmas dan jaringannya (pustu.29 REALISASI PROGRAM JPKM TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.30. 7% rumah sakit TNI/POLRI. Jawa Barat. sebanyak 23.19. pusling) yang berjumlah 8.20.29 berikut ini menyajikan realisasi program JPKM tahun 2005-2009. dari 76. 33% rumah sakit swasta.18 dan 4. Sedangkan pemberi pelayanan kesehatan Jamkesmas tingkat lanjut pada tahun 2008 berjumlah 920 dengan rincian sebagai berikut: 56% rumah sakit pemerintah.22 juta jiwa. Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) Jamkesmas terdiri dari pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan tingkat lanjut.4 juta jiwa. polindes/poskesdes. Gambar 4. Sedangkan jumlah kunjungan rawat inap tingkat lanjut dapat dilihat pada Lampiran 4. dan Jawa Timur.yaitu 76.234 unit. GAMBAR 4. dan 4% balai pengobatan seperti yang terlihat pada Gambar 4.

C. Tersedianya vaksin yang mempunyai efektivitas > 90% dan mudah dalam pemberian. Kemenkes RI Provinsi Jawa Barat. 3. yaitu menghentikan terjadinya transmisi virus polio liar di seluruh dunia. namun di tiga provinsi tersebut mencapai lebih dari 10 juta jiwa. Pengendalian Penyakit Polio Pada tahun 1988. 2. sidang ke-41 WHA (World Health Assembly) telah menetapkan program eradikasi polio secara global (global polio eradication initiative) yang ditujukan untuk mengeradikasi penyakit polio pada tahun 2000. di mana Indonesia turut menandatangani kesepakatan tersebut.GAMBAR 4. Kesepakatan ini diperkuat oleh sidang World Summit for Children pada tahun 1989. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT 1.30 PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN JAMKESMAS TINGKAT LANJUT TAHUN 2008 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. Eradikasi dalam hal ini bukan sekedar mencegah terjadinya penyakit polio. Jika di provinsi lain. 115. Jawa Tengah. Pengertian Eradikasi Polio adalah apabila tidak ditemukan virus polio liar indigenous selama 3 tahun berturut-turut di suatu region yang dibuktikan dengan surveilans AFP yang sesuai standar sertifikasi. melainkan mempunyai arti yang lebih luas lagi. Besarnya jumlah PPK di tiga provinsi tersebut juga disebabkan tingginya jumlah sasaran Jamkesmas. jumlah anggota masyarakat miskin dan hampir miskin kurang dari 5 juta jiwa (bahkan beberapa di antaranya kurang dari 1 juta jiwa). dan 80 PPK. Dasar pemikiran Eradikasi Polio adalah: 1. 4. Manusia satu-satunya reservoir dan tidak ada longterm carrier pada manusia. yaitu masing-masing 140. dan Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah PPK tertinggi untuk pelayanan tingkat lanjut. 88 . Sifat virus polio yang tidak tahan lama hidup di lingkungan. Layak dilaksanakan secara operasional.

namun sejak adanya tenaga khusus (surveillance officer) di tingkat provinsi. artinya minimal 80% spesimen tinja penderita harus sesuai dengan persyaratan yaitu diambil ≤ 14 hari setelah kelumpuhan dan suhu spesimen 0-8ºC sampai di laboratorium. kecuali pada tahun 2006 yaitu 79. Target untuk non Polio AFP rate ditetapkan sebesar ≥ 2 per 100. selama 10 tahun terakhir tidak ditemukan kasus AFP yang disebabkan virus Polio liar. kinerja menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna.31 PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT DAN NON POLIO AFP RATE TAHUN 2003 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Sedangkan untuk standar spesimen adekuat adalah >80%. Berdasarkan kegiatan surveilans AFP pada penduduk <15 tahun selama tahun 2003 – 2009. Surveilans AFP di Indonesia dilaksanakan sejak pertengahan tahun 1995.000 anak umur < 15 tahun.31 menunjukkan bahwa persentase spesimen adekuat yang dikirim untuk pemeriksaan virus Polio semakin meningkat.10%.31 berikut ini.Di Indonesia. secara nasional diperoleh gambaran seperti terlihat pada Gambar 4. Kemenkes RI Setiap kasus AFP yang ditemukan dalam kegiatan intensifikasi surveilans. Gambar 4. GAMBAR 4. Upaya ini juga ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans epidemiologi secara aktif terhadap kasus-kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP) kelompok umur <15 tahun dalam kurun waktu tertentu. Pencapaian kinerja sampai tahun 2002 berfluktuasi. 89 . Dengan demikian sejak tahun 2003 hingga 2009 spesimen adekuat telah sesuai standar. dengan demikian hasil pemeriksaan yang dilakukan menjadi semakin mewakili kondisi di lapangan. akan dilakukan pemeriksaan spesimen tinja untuk mengetahui ada tidaknya virus Polio liar yang menyerang masyarakat. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit Polio telah dilakukan melalui gerakan imunisasi polio. untuk mencari kemungkinan adanya virus Polio liar yang berkembang di masyarakat dengan pemeriksaan spesimen tinja dari kasus AFP yang dijumpai.

000 anak umur < 15 tahun dan spesimen adekuat sesuai standar dapat dilihat pada Gambar 4. DOTS adalah strategi penyembuhan TB Paru jangka pendek dengan pengawasan secara langsung. 2) menurunkan prevalensi TB Paru dan angka kematian akibat TB Paru menjadi setengahnya pada tahun 2015 dibandingkan tahun 1990.33 memperlihatkan persentase TB Paru BTA+ terhadap suspek TB Paru selama tahun 2001-2009. dapat mencapai angka 95%. GAMBAR 4. Dengan menggunakan strategi DOTS. Gambar 4. Kemenkes RI 2.000 ANAK UMUR < 15 TAHUN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 GAMBAR 4. DOTS menekankan pentingnya pengawasan terhadap penderita TB Paru agar menelan obatnya secara teratur sesuai ketentuan sampai dinyatakan sembuh. Kemenkes RI Sumber: Ditjen PP-PL.32b PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.Provinsi yang telah memenuhi target non polio AFP rate ≥ 2 per 100. Strategi DOTS memberikan angka kesembuhan yang tinggi. dan 4) sedikitnya 85% tercapai succes rate. Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di antara Suspek yang diperiksa Upaya Pemerintah dalam menanggulangi TB Paru setiap tahunnya semakin menunjukkan kemajuan.43%) 90 . maka proses penyembuhan TB Paru dapat berlangsung secara cepat. a.01% dan terendah terjadi pada tahun 2001 (8.32 berikut ini. Hal ini dapat terlihat dari meningkatnya jumlah penderita yang ditemukan dan disembuhkan setiap tahun. Selama tahun 2001-2009 persentase TB Paru BTA+ terhadap suspek TB Paru tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu 13.32a NON POLIO AFP RATE/ 100. Strategi DOTS direkomendasikan oleh WHO secara global untuk menanggulangi TB Paru. Pengendalian TB-Paru Tujuan utama pengendalian TB Paru adalah: 1) menurunkan insidens TB Paru pada tahun 2015. 3) sedikitnya 70% kasus TB Paru BTA+ terdeteksi dan diobati melalui program DOTS (Directly Observed Treatment Shortcource Chemotherapy) atau pengobatan TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO).

33 PERSENTASE BTA POSITIF TERHADAP SUSPEK TAHUN 2001-2009 Sumber : Ditjen PP-PL. Untuk hasil proporsi pasien TB Paru BTA Positif di antara suspek yang diperiksa per provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. Berarti.34 PERSENTASE PASIEN TB PARU BTA+ TERHADAP SUSPEK YANG DIPERIKSA DAHAKNYA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen PPPL.34 berikut ini. Sedangkan bila angka ini terlalu besar (> 15%) kemungkinan disebabkan penjaringan terlalu ketat atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positif palsu). sejak tahun 2001-2009 persentase BTA+ terhadap suspek masih dalam batas yang ditolerir. Dengan demikian. GAMBAR 4. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (negatif palsu). Kemenkes RI Menurut standar. Bila angka ini terlalu kecil (< 5%) kemungkinan disebabkan penjaringan suspek terlalu longgar.GAMBAR 4. persentase BTA+ diperkirakan 10% dari suspek yang diperkirakan di masyarakat dengan nilai yang ditoleransi antara 5-15%. Kemenkes RI 91 . petugas kesehatan mampu mendiagnosis kasus BTA+ sesuai standar.

dan DKI Jakarta. Sementara standar CDR TB Paru sebesar 70%.Sebanyak 30 provinsi dengan persentase pasien TB Paru BTA+ di antara suspek yang diperiksa per provinsi sebesar 5-15%.9% pada tahun 2009. Selama tahun 2000-2009. Maluku. Sedangkan provinsi dengan persentase pasien TB Paru BTA+ terhadap suspek yang diperiksa >15% sebanyak 3 provinsi yaitu Maluku Utara. Gambar 4. dari 20% pada tahun 2000 menjadi 71. Dengan demikian sejak tahun 2006 sampai 2009 (kecuali tahun 2007) Indonesia telah mampu mencapai target tersebut. Bahkan pada tahun 2009 keberhasilan pengobatan mencapai 91% Angka keberhasilan pengobatan penderita pada tahun 2008 menurut provinsi dapat dilihat pada gambar berikut: 92 . Kemenkes RI Keberhasilan pengobatan TB paru ditentukan oleh kepatuhan dan keteraturan dalam berobat. CDR tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 75.7%. CDR mengalami peningkatan yang berarti.35 PERSENTASE PENEMUAN KASUS BARU DAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU DI INDONESIA TAHUN 2000-2009 Sumber : Ditjen PPPL. b.35 menyajikan kecenderungan angka penemuan kasus baru (Case Detection Rate). Angka keberhasilan pengobatan semenjak 20002009 telah mencapai target keberhasilan pengobatan yang distandarkan oleh WHO yaitu minimal 85%. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA+ (Case Detection Rate) dan Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate) Angka penemuan kasus TB Paru BTA+ memperlihatkan penemuan TB Paru BTA+ terhadap jumlah perkiraan TB Paru. GAMBAR 4. pemeriksaan fisik dan laboratorium.

Sedangkan provinsi yang belum mencapai target SR 85% adalah Papua Barat. Studi mortalitas pada Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada bayi (post neonatal) karena pneumonia sebesar 23. DI Yogyakarta. Program Pemberantasan Penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu Pneumonia dan yang bukan Pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Pengendalian Penyakit ISPA ISPA merupakan penyebab kematian terbesar baik pada bayi maupun pada anak balita. Maluku Utara. tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan Pneumonia. Hal ini dapat dilihat melalui hasil survei mortalitas subdit ISPA pada tahun 2005 di 10 provinsi. Papua.60%. faringitis.29%). diketahui bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia. dan Riau.GAMBAR 4.5%. Penyakit batuk pilek seperti rinitis. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu Pneumonia berat dan Pneumonia tidak berat. Kemenkes RI Sebanyak 28 provinsi telah berhasil mencapai target keberhasilan pengobatan 85% dengan SR tertinggi yaitu Bengkulu (97. Survei yang sama juga menunjukkan bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada anak balita yaitu 23. dan Gorontalo (97. yaitu sebanyak 22.36 PERSENTASE KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA TB PARU (SUCCESS RATE) TAHUN 2008 MENURUT PROVINSI Sumber : Ditjen PPPL. 3. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan 93 .30% dari seluruh kematian bayi.8% dan pada anak balita sebesar 15. Maluku (97.41%).11%).

Bangka Belitung (41. Rata-rata cakupan penemuan pneumonia pada balita tahun 2009 sebesar 22. Gejala Pneumonia sukar dikenali oleh orang awam maupun tenaga kesehatan yang tidak terlatih. b. Kemenkes RI Cakupan penemuan penderita pneumonia tetap rendah sejak tahun 2005 hingga 2009. semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik.pada balita. seperti tampak pada Gambar 4. ISPA merupakan pandemi yang dilupakan/tidak prioritas sedangkan masalah ISPA merupakan masalah multisektoral. Pembinaan (bimbingan teknis. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin.45%. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS di samping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan juga diarahkan pada upaya 94 .37 CAKUPAN PENEMUAN PENDERITA PNEUMONIA PADA BALITA DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber : Ditjen PPPL.18%. dengan demikian angka penemuan kasus pneumonia juga menggambarkan penatalaksanaan kasus ISPA. Pembiayaan (logistik dan operasional) terbatas. monitoring dan evaluasi) secara berjenjang masih sangat kurang. Hambatan yang ditemui dalam meningkatkan cakupan penemuan Pneumonia balita di puskesmas yaitu: a. Provinsi NTB memiliki cakupan relatif tinggi yaitu sebesar 71.16%) dan Kep. d. angka cakupan penemuan penderita pneumonia pada balita hingga saat ini masih belum mencapai target.41%). GAMBAR 4. Secara nasional. Program pengendalian ISPA menetapkan bahwa semua kasus yang ditemukan harus ditatalaksanakan sesuai standar. c. yang berarti masih jauh dari target yang sebesar 86%. Tenaga terlatih tidak melaksanakan MTBS/Tatalaksana Standar ISPA di puskesmas. 4. Provinsi dengan cakupan tertinggi berikutnya adalah Jawa Barat (46.37 di bawah ini. e.

2 PENEMUAN PENDERITA HIV/AIDS DI INDONESIA TAHUN 2003 – 2009 Tahun Pengidap HIV Per tahun Kumulatif Penderita AIDS Per tahun Kumulatif Penderita AIDS Meninggal Per tahun Kumulatif 2003 168 2.873 8. 95 .332 2006 986 5.369 1. Pada kelompok ini di samping dilakukan pengobatan.015 Sumber: Ditjen PPPL. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia. yang tidak diketahui dengan pasti periodisasinya sehingga kelompok ini menjadi sangat potensial dalam menularkan penyakit. TABEL 4.244 2.720 316 1. penghuni Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) atau sesekali dilakukan penelitian pada kelompok berisiko rendah seperti ibu rumah tangga dan sebagainya. dan 3) peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. Upaya penemuan penderita dilakukan melalui skrining HIV/AIDS terhadap darah donor.194 539 1. Keberhasilan kegiatan PSN antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ).969 16.846 2008 2009 6. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal yaitu: 1) peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor. 2) diagnosis dini dan pengobatan dini.369 4.195 2. penyalahguna obat dengan suntikan (IDUs).871 2007 836 6. yang lebih utama adalah dilakukan konseling untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam ikut aktif mencegah terjadinya penularan lebih lanjut. Hasil pelaksanaan surveilans HIV/AIDS selama tujuh tahun terakhir terlihat pada Tabel 4.141 498 2.487 261 479 2004 649 3.973 484 3.638 5. Kemenkes RI Dalam perjalanan penyakit dari HIV positif menjadi AIDS dikenal istilah ”window periods”.230 2. Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang perjalanan penyakitnya cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.2 berikut ini.066 2.947 11. 5.321 592 1.362 3. pemantauan pada kelompok berisiko penderita Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Wanita Penjaja Seks (WPS).pencegahan melalui penemuan penderita secara dini yang dilanjutkan dengan kegiatan konseling.682 361 740 2005 875 4.110 993 3.863 19. Upaya pemberantasan vektor ini yaitu dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pemeriksaan jentik berkala.

Metode yang tepat guna untuk mencegah DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M plus (Menguras. Kemenkes RI Gambar 4. Menutup dan Mengubur) plus menabur larvasida. namun pada tahun 2009 menurun.21% pada tahun 2008. Selama jangka waktu 2004-2009 ABJ masih di bawah target 95%.38 menyajikan perkembangan ABJ tahun 2004-2009. yakni 40% pada tahun 2006 menjadi 83. Pengembangan sistem surveilans vektor secara berkala perlu terus dilakukan terutama dalam kaitannya dengan perubahan iklim dan pola penyebaran kasus.Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. Sejak tahun 2005 sampai tahun 2008 ABJ cenderung meningkat. GAMBAR 4. Gambar 4.38 PERBANDINGAN ANGKA BEBAS JENTIK TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PPPL. hal ini dikarenakan kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) belum menjadi prioritas kegiatan program di sebagian besar wilayah. Angka Bebas Jentik (ABJ) sebagai tolak ukur upaya pemberantasan vektor melalui PSN-3M menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD. 96 . penyebaran ikan pada tempat penampungan air serta kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat mencegah/memberantas nyamuk Aedes berkembang biak. Oleh karena itu pendekatan pemberantasan DBD yang berwawasan kepedulian masyarakat merupakan salah satu alternatif pendekatan baru.39 memperlihatkan bahwa persentase kasus DBD yang ditangani meningkat setiap tahun. Sejak tahun 2004 sampai dengan 2009 hanya beberapa provinsi yang melaporkan data ABJ. Surveilans vektor dilakukan melalui kegiatan pemantauan jentik oleh petugas kesehatan maupun juru/kader pemantau jentik (Jumantik/Kamantik).

Pengendalian Penyakit Malaria Di Indonesia meningkatnya jumlah penderita malaria dan terjadinya kejadian luar biasa malaria sangat berkaitan erat dengan beberapa hal sebagai berikut: 1) Adanya perubahan lingkungan yang berakibat meluasnya tempat perindukan nyamuk penular malaria. 3) Perubahan iklim yang menyebabkan musim hujan lebih panjang dari musim kemarau. Kegiatan PSN dengan metode pendekatan COMBI tersebut menjadi salah satu prioritas kegiatan dalam program P2DBD di masa yang akan datang. Sasaran wilayah eliminasi dilaksanakan secara bertahap sebagai berikut : 97 . 4) Krisis ekonomi yang berkepanjangan memberikan dampak pada daerah-daerah tertentu dengan adanya masyarakat yang mengalami gizi buruk sehingga lebih rentan untuk terserang malaria. yang terbebas dari penularan malaria secara bertahap sampai tahun 2030. 2) Mobilitas penduduk yang cukup tinggi. Pemberantasan malaria digalakkan melalui gerakan masyarakat yang dikenal dengan Gerakan Berantas Kembali Malaria atau ”Gebrak Malaria” telah dicetuskan pada tahun 2000. Kemenkes RI Sejak tahun 2004 telah diperkenalkan suatu metode komunikasi/penyampaian informasi/pesan yang berdampak pada perubahan perilaku dalam pelaksanaan PSN DBD melalui pendekatan sosial budaya setempat yaitu metode Communication for Behavioral Impact (COMBI).GAMBAR 4. Gerakan ini merupakan embrio pengendalian malaria yang berbasis kemitraan dengan berbagai sektor dengan slogan “Ayo Berantas Malaria” .39 CAKUPAN KASUS DBD DITANGANI TAHUN 2006 – 2008 Sumber: Ditjen PPPL. serta 6) Menurunnya perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap upaya penanggulangan malaria secara terpadu. 6. 5) Tidak efektifnya pengobatan karena terjadi Plasmodium falciparum resisten klorokuin dan meluasnya daerah resisten. Pengendalian malaria di Indonesia yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 293/MENKES/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi Malaria di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang hidup sehat.

dan Flores Timur) dan beberapa kabupaten di wilayah Sumatera rata-rata sebesar 24%. Kebijakan eliminasi malaria dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh pemerintah. berarti semua penderita tersangka malaria dan/atau positif malaria yang datang ke sarana kesehatan diobati sesuai pengobatan standar. Papua Barat. dan Papua pada tahun 2030. Persentase Penderita Malaria yang Diobati Persentase penderita malaria yang diobati merupakan persentase penderita malaria yang diobati sesuai pengobatan standar dalam kurun waktu 1 tahun dibandingkan dengan tersangka malaria dan atau positif malaria yang datang ke sarana pelayanan kesehatan. dan Pulau Sulawesi pada tahun 2020. Target penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria pada tahun 2009 adalah sebesar 75%.75%. Pada tahun 2008 berdasarkan survei di Aceh. Sumut (Kab. b. Provinsi NTB. dan dari satu pulau atau ke beberapa pulau sampai ke seluruh wilayah Indonesia menurut tahapan yang didasarkan pada situasi malaria dan kondisi sumber daya yang tersedia. Beberapa capaian upaya pengendalian penyakit malaria disajikan pada uraian berikut ini. Kepulauan Seribu (Provinsi DKI Jakarta). Persentase penderita malaria yang diobati sejak tahun 2003 hingga 2009 sebesar 100%. Konfirmasi laboratorium 100% telah dilakukan di Jawa dan Bali. Pada tahun 2005 diketahui sebesar 1%. c. lembaga donor. Nias dan Nias Selatan) serta di 5 provinsi wilayah timur diketahui bahwa persentase penduduk yang menggunakan kelambu yaitu pada balita rata-rata sebesar 86.7% dan pada ibu hamil sebesar 87. Pulau Jawa. 2. dan Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2015. dunia usaha. organisasi kemasyarakatan dan masyarakat. 3. dan pada tahun 2006 berdasarkan survei yang dilaksanakan di NTT (Alor. Pulau Kalimantan. Sumba Barat. Pencapaian Pemeriksaan Sediaan Darah (Konfirmasi Laboratorium) Berdasarkan cakupan konfirmasi laboratorium belum semua penderita klinis malaria dilakukan pemeriksaan sediaan darahnya. a. organisasi profesi. provinsi. Maluku. Pulau Sumatera (kecuali Provinsi Aceh dan Kepulauan Riau). pemerintah daerah bersama mitra kerja pembangunan termasuk LSM. dan 4. Provinsi NTT. dan pulau Batam pada tahun 2010. Persentase penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria Situasi penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria diketahui berdasarkan survei penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria dengan kelambu. Maluku Utara. Pulau Bali.1. Selama periode tahun 2004-2009 persentase pemeriksaan sediaan darah 98 . Selain itu eliminasi dilaksanakan secara bertahap dari kabupaten/kota. Provinsi Aceh.

7%).083 7.328 7.500 7. GAMBAR 4.3. Pada tahun 2004 sebesar 48% menjadi 76% pada tahun 2009 seperti diperlihatkan pada gambar berikut ini.40 CAKUPAN KONFIRMASI LABORATORIUM/MIKROSKOP MALARIA TAHUN 2004 . Pengendalian Penyakit Kusta Untuk menilai kinerja petugas dalam penemuan kasus penyakit kusta. digunakan angka proporsi cacat tingkat II (cacat akibat kerusakan syaraf dan cacat terlihat).2009 Tahun Suspek Positif Penderita Cacat Tingkat II (%) PB MB NCDR (per 100.6 2008 3.dibandingkan kasus malaria klinis cenderung meningkat. Penderita cacat tingkat II selama tahun 2004-2007 relatif stabil (8.1 10.957 7. NCDR = New Case Detection Rate 99 .6 2009 2.41 9.3 HASIL PEMERIKSAAN PENDUDUK. Kemenkes RI 7.8 8. PENEMUAN KASUS BARU (NCDR) DAN PENDERITA CACAT TINGKAT II DI INDONESIA TAHUN 2004 . Proporsi cacat tingkat II hingga tahun 2009 belum mencapai target program yaitu < 5%.6% dan 10.113 14.27% seperti yang diperlihatkan pada Tabel 4.8 8.27 Sumber: Ditjen PPPL.6%-8. TABEL 4. Tingginya proporsi cacat tingkat II menunjukkan keterlambatan dalam penemuan kasus atau dengan kata lain kinerja petugas yang rendah dalam menemukan kasus serta pengetahuan masyarakat yang rendah.643 14. Hal itu berarti penularan masih terjadi di masyarakat dan kasus ditemukan terlambat sehingga pada saat penemuan penderita sudah mengalami cacat tingkat II.2009 Sumber: Ditjen PPPL.615 12.958 13. namun pada tahun 2008 dan 2009 terjadi kenaikan yaitu 9.6 2005 4 056 15 639 89 87 2006 3 550 14 750 83 86 2007 3. PB = Pausi Basiller.000 penduduk) 2004 3. Kemenkes RI Catatan : MB = Multi Basiller.

Pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis kepada semua penduduk di kabupaten/kota endemis filariasis dengan menggunakan DEC 6 mg/kg BB dikombinasikan dengan Albendazole 400 mg sekali setahun selama 5 tahun. orang yang sedang sakit berat. dengan sasaran pemberian obat adalah semua penduduk di kabupaten/kota tersebut kecuali anak berumur < 2 tahun. sedangkan tahun 2008 mencapai 40. Tatalaksana ini bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kecacatan dan agar penderita mandiri merawat diri.40%. Implementation Unit (IU) yang digunakan dalam program eliminasi filariasis sejak tahun 2005 adalah Kabupaten/Kota. maka kegiatan POMP filariasis harus segera dilaksanakan untuk memutus rantai penularan. penderita kronis filariasis yang dalam serangan akut.13% yang ditangani. baik untuk penentuan endemisitas maupun pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis.8. Gambar 4. guna memutuskan rantai penularan. Program Eliminasi ini dilaksanakan melalui dua pilar kegiatan yaitu : 1. Bila suatu kabupaten/kota sudah endemis filariasis. 100 . dan balita dengan marasmus/kwasiorkor dapat ditunda pengobatannya. Satuan wilayah terkecil dalam program ini adalah kabupaten/kota. Pengendalian Penyakit Filariasis Program eliminasi filariasis di Indonesia dilaksanakan atas dasar kesepakatan global WHO tahun 2000 yaitu “The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem the year 2020” yang merupakan realisasi dari resolusi WHA pada tahun 1997. dan pada tahun 2009 sebesar 40. Kegiatan tatalaksana kasus klinis filariasis harus dilakukan pada semua penderita. 2.00%. Tatalaksana kasus klinis filariasis guna mencegah dan mengurangi kecatatan. ibu hamil. Setiap penderita mempunyai status rekam medis di puskesmas dan mendapatkan kunjungan dari petugas kesehatan minimal 6 kali setahun.41 memperlihatkan kegiatan penatalaksanaan kasus klinis filariasis yang cenderung meningkat. Pada tahun 2007 kasus klinis yang ditangani sebesar 29. Diharapkan pada tahun-tahun selanjutnya kasus klinis filariasis yang ditatalaksana meningkat lagi sebagaimana yang ditargetkan yaitu 90%.

Sejak tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan POMP Filariasis setiap tahunnya.41 PERSENTASE PENATALAKSANAAN KASUS KLINIS FILARIASIS TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL. baru 97 kabupaten/kota yang tersebar di 26 propinsi melaksanakan pemberian obat massal pencegahan filariasis (POMP Filariasis).42 JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG MELAKUKAN PEMBERIAN OBAT MASSAL PENCEGAHAN (POMP) FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL. Namun.GAMBAR 4. belum semua kabupaten/kota dalam pelaksanaannya sasaran penduduknya seluas kabupaten/kota. 101 . baru 59 kabupaten/kota yang sasaran pengobatan massalnya seluas kabupaten/kota. Kemenkes RI Gambaran sebaran kabupaten/kota yang telah melaksanakan pengobatan massal filariasis dapat dilihat pada gambar berikut ini. GAMBAR 4. Kemenkes RI Dari 337 kabupaten/kota endemis filariasis pada tahun 2009.

GAMBAR 4.3 juta penduduk (51%).GAMBAR 4. Kemenkes RI Pada tahun 2009. 102 .44 CAKUPAN POMP FILARIASIS DI INDONESIA. target pemberian obat massal pencegahan filariasis adalah sekitar 32 juta penduduk. Kemenkes RI 9.44 berikut ini. Surveilans Vektor Salah satu kegiatan yang harus diperhatikan dalam surveilans vektor adalah monitoring resistensi vektor terhadap insektisida yang dapat digunakan sebagai acuan bagi Dinas Kesehatan serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) dalam kebijakan pengendalian vektor di lapangan. TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL. sedangkan realisasinya sebanyak 16. TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PPPL. Cakupan POMP filariasis setiap tahunnya dari tahun 2005 sampai tahun 2009 terlihat ada peningkatan seperti terlihat pada Gambar 4.43 KABUPATEN/KOTA ENDEMIS FILARIASIS YANG MELAKSANAKAN PENGOBATAN MASSAL DI INDONESIA.

Gambar 4. Dengan kondisi seperti itu. meskipun upaya pengendalian dengan metode lain juga perlu dipertimbangkan. Pengendalian vektor saat ini identik dengan penggunaan insektisida.2009 Sumber: Ditjen PPPL. Kegiatan pengendalian vektor yang dilaksanakan antara lain monitoring efikasi dan resistensi serta cakupan mutu pengendalian vektor malaria dan demam berdarah dengue. dan hasil survei jentik nyamuk demam berdarah dengue.45 CAKUPAN PEMBERANTASAN VEKTOR MALARIA BERDASARKAN SURVEILANS VEKTOR TAHUN 2005 . Pada tahun 2008 dan 2009 cakupan pemberantasan vektor malaria berada di bawah target pada tahun tersebut.45 terlihat bahwa terjadi penurunan kegiatan pemberantasan vektor malaria berdasarkan surveilans vektor. Hasil pengendalian vektor sampai dengan tahun 2009 dapat dilihat pada beberapa gambar berikut ini. GAMBAR 4. karena penggunaan di masyarakat tidak terpantau yang akan dapat mempercepat terjadinya resistensi. demam berdarah dengue. Pada Gambar 4. Kemenkes RI Kegiatan yang dilakukan tahun 2007-2009 meliputi monitoring kerentanan vektor dan efikasi insektisida serta evaluasi terhadap mutu pengendalian vektor malaria. maka pengawasan atau monitoring terhadap penggunaan insektisida dan dampaknya perlu dilakukan agar hasilnya tetap efektif.Pengendalian vektor yang dilakukan oleh swasta serta pemakaian insektisida rumah tangga merupakan permasalahan tersendiri yang tidak bisa diabaikan.46 menyajikan cakupan kerentanan vektor penyakit bersumber binatang tahun 2007 – 2009. 103 .

GAMBAR 4. 2008 dan 2009) mutu pengendalian vektor malaria belum mencapai target. karena belum semua kabupaten/kota melakukan pengendalian vektor berdasarkan fakta yaitu data entomologi dan faktor risiko lingkungan.2009 Sumber: Ditjen PPPL. 104 . Kemenkes RI Gambar 4.47 CAKUPAN EVALUASI MUTU PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA TAHUN 2007 .47 menunjukkan bahwa selama tiga tahun (2007.48 menunjukkan bahwa selama tiga tahun (2007.2009 Sumber: Ditjen PPPL.GAMBAR 4. Kemenkes RI Gambar 4. 2008 dan 2009) mutu pengendalian vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD) belum mencapai target. karena belum semua kabupaten/kota melakukan pengendalian vektor berdasarkan informasi dan data entomologi.46 CAKUPAN KERENTANAN VEKTOR PENYAKIT BERSUMBER BINATANG TAHUN 2007 .

karwari 10. Kemenkes RI Untuk mengetahui peta penyebaran vektor penular penyakit malaria. An.48 CAKUPAN EVALUASI MUTU PENGENDALIAN VEKTOR DBD TAHUN 2007 . Sampai dengan tahun 2009 jumlah vektor penyakit malaria yang tercatat di Subdit Pengendalian Vektor sebanyak 25 spesies yang dihimpun dari berbagai sumber. An. Gambar 4.bancrofti 6. dilakukan kegiatan antara lain dengan melakukan pembedahan kelenjar ludah (konfirmasi saliva) dan uji elisa terhadap nyamuk Anopheles.letifer 15. An. An. An.balabacensis 4. An. subpictus 22. kochi 12. An.2009 Sumber: Ditjen PPPL. An. Dua cara tersebut dipakai untuk memastikan nyamuk yang menjadi vektor penyakit malaria di suatu wilayah. An.aconitus 2. An. An.koliensis 11. An.minimus 18 An. An. umbrosus 24.ludlowi 14.49 PETA PENYEBARAN VEKTOR MALARIA TAHUN 2009 18 11 19 17 22 20 25 14 16 2 14 25 13 15 23 5 21 8 9 10 16 6 15 21 12 21 1 24 1 22 3 16 20 20 17 4 20 7 21 24 Keterangan : 1.leucosphyrus 105 16. An. An. vagus 25. flavirostris 8.annularis 3. Dari 25 spesies tersebut ada 7 spesies merupakan spesies langka dan konfirmasi terakhir sebelum tahun 1960.GAMBAR 4. Di Indonesia sejak tahun 1919 telah dilakukan konfirmasi vektor. An.nigerimus 19. tessellatus . An.punctulatus 13. An. An.farauti 9.An. An.49 berikut ini menyajikan peta penyebaran vektor malaria di Indonesia tahun 2009. An. Maculatus 17. parangensis 20. An.barbirostris 5. Sundaicus 21. An. sinensis 23. GAMBAR 4.barbumbrosus 7.

5% (Riskesdas. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001. Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah (Fe) selama 4 tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. GAMBAR 4. namun meningkat pada tahun 2009. Cakupan Fe1 dan Fe3 tahun 2006 masing-masing sebesar 71.1% 106 . prevalensi anemia ibu hamil sebesar 40. Penanggulangan masalah anemia gizi besi saat ini terfokus pada pemberian tablet tambah darah (Fe) pada ibu hamil. 1. kekurangan Vitamin A. Ibu hamil mendapat tablet tambah darah 90 tablet selama kehamilannya.D. 2007).2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah (Fe) selama tahun 20062008 terlihat ada kecenderungan turun setiap tahun baik cakupan Fe1 maupun Fe3. dan gangguan akibat kekurangan yodium. Pemberian Tablet Tambah Darah (Fe) Anemia gizi adalah kekurangan kadar haemoglobin (Hb) dalam darah yang disebabkan karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan Hb tersebut. Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan masalah gizi terutama anemia gizi besi. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan ditemukan beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada kelompok masyarakat antara lain anemia gizi besi. Di Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) hingga disebut anemia kekurangan zat besi atau anemia gizi besi.50 PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT TABLET FE TAHUN 2006 . PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Upaya perbaikan gizi masyarakat dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. Namun demikian keadaan ini mengindikasikan bahwa anemia gizi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.1% dan pada tahun 2007 turun menjadi 24.

dan 64,5%, sedangkan pada tahun 2008 turun menjadi 53,1% dan 48,1%. Pada tahun 2009
cakupan pemberian Fe1 naik menjadi 76,9% dan Fe3 naik menjadi 68,7%. Sebaran cakupan
pemberian tablet tambah darah (Fe3) pada ibu hamil menurut provinsi dapat dilihat pada
Gambar 4.51 berikut ini.
GAMBAR 4.51
PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT TABLET TAMBAH DARAH (FE3)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Provinsi Bali (90,43%), Kep. Bangka
Belitung (84,85%) dan Nusa Tenggara Barat (81,51%). Sedangkan cakupan terendah adalah
Provinsi Papua (31,57%), Sulawesi Tengah (36,12%), dan Sulawesi Barat (38,19%).
Cakupan pemberian tablet tambah darah terkait erat dengan antenatal care (ANC).
Analisis cakupan K4 dengan Fe3 sering menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar,
hal ini disebabkan karena belum optimalnya koordinasi sistem pencatatan dan pelaporan antar
program terkait.
2. Pemberian Kapsul Vitamin A

Tujuan pemberian kapsul vitamin A pada balita adalah untuk menurunkan prevalensi
dan mencegah kekurangan vitamin A pada balita. Kapsul vitamin A dosis tinggi terbukti
efektif untuk mengatasi masalah kekurangan vitamin A (KVA) pada masyarakat apabila
cakupannya tinggi. Bukti-bukti lain menunjukkan peranan vitamin A dalam menurunkan
secara bermakna angka kematian anak, maka selain untuk mencegah kebutaan, pentingnya
pemberian vitamin A saat ini lebih dikaitkan dengan kelangsungan hidup, kesehatan dan
pertumbuhan anak.
107

Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, serta meningkatkan
daya tahan tubuh. Anak-anak yang mendapat cukup vitamin A, bila terkena diare, campak
atau penyakit infeksi lain, maka penyakit-penyakit tersebut tidak mudah menjadi parah,
sehingga tidak membahayakan jiwa anak.
Sasaran pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi adalah bayi (umur 6-11 bulan)
diberikan kapsul vitamin A 100.000 SI, anak balita (umur 1-4 tahun) diberikan kapsul vitamin
A 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan
memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Pada bayi (6-11 bulan) diberikan setahun
sekali pada bulan Februari atau Agustus; dan untuk anak balita enam bulan sekali, yang
diberikan secara serentak pada bulan Februari dan Agustus. Sedangkan pemberian kapsul
vitamin A pada ibu nifas, diharapkan dapat dilakukan terintegrasi dengan pelayanan
kesehatan ibu nifas. Namun dapat pula diberikan di luar pelayanan tersebut selama ibu nifas
tersebut belum mendapatkan kapsul vitamin A.
Persentase cakupan pemberian vitamin A balita dan ibu nifas, pada 3 tahun terakhir
dapat dilihat pada Gambar 4.52 berikut ini.
GAMBAR 4.52
PERSENTASE BALITA DAN IBU NIFAS YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
TAHUN 2007 - 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Cakupan pemberian vitamin A pada bayi dan balita tiga tahun terakhir sudah
menunjukkan angka diatas 80% dan relatif angka cakupannya tidak berbeda jauh dari tahun
ke tahun. Namun demikian untuk cakupan vitamin A ibu nifas angkanya masih di bawah
80%, walaupun demikian ada kecenderungan cakupannya makin meningkat selama tiga tahun
terakhir. Dengan demikian masih diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan cakupan
tersebut, antara lain melalui peningkatan integrasi pelayanan kesehatan ibu nifas, sweeping
pada daerah yang cakupannya masih rendah, dan kampanye pemberian kapsul vitamin A.
Masalah vitamin A pada balita secara klinis sudah tidak merupakan masalah kesehatan
masyarakat (prevalensi xeropthalmia < 0,5%). Hasil studi masalah gizi mikro di 10 kota pada
108

10 provinsi tahun 2006, diperoleh prevalensi xeropthalmia pada balita 0.13%, sedangkan hasil
survey vitamin A tahun 1992 menunjukkan prevalensi xeropthalmia sebesar 0,33%.
Namun demikian kekurangan vitamin A (KVA) subklinis, yaitu tingkat yang belum
menampakkan gejala nyata, masih menimpa masyarakat luas terutama kelompok balita. KVA
tingkat subklinis ini hanya dapat diketahui dengan memeriksa kadar vitamin A dalam darah di
laboratorium. Di samping itu sebaran cakupan pemberian vitamin A pada balita menurut
provinsi masih ada yang di bawah 80%. Dengan demikian kegiatan pemberian vitamin A
pada balita dan ibu nifas masih perlu dilanjutkan, karena bukan hanya untuk kesehatan mata
dan mencegah kebutaan, dan lebih penting lagi, vitamin A meningkatkan kelangsungan hidup
anak, kesehatan dan pertumbuhan anak.
Gambar berikut menyajikan persentase balita dan ibu nifas yang mendapat kapsul
vitamin A menurut provinsi.
GAMBAR 4.53
PERSENTASE BALITA YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Hasil laporan Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009, cakupan pemberian kapsul
vitamin A pada balita 83,3%. Provinsi dengan cakupan tertinggi, masing-masing: Jawa
Tengah (98,6%), DI Yogjakarta (96,1%) dan Kalimantan Selatan (93,2%). Sedangkan
provinsi yang cakupannya terendah, masing-masing: Papua Barat (29,1%), Papua (43,5%)
dan Maluku (65,0%).

109

GAMBAR 4.54
PERSENTASE IBU NIFAS YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009, cakupan pemberian kapsul
vitamin A pada Ibu Nifas sebesar 63,0%. Provinsi dengan cakupan tertinggi, masing-masing:
Riau (100,0%), Bali (91,0%), Gorontalo (87,4%) dan Jawa Tengah (87,4%). Sedangkan
Provinsi yang cakupannya terendah, masing-masing Papua Barat (27,4%), Jambi (32,4%) dan
Aceh (33,2%).
3. Cakupan Konsumsi Garam Beryodium

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala yang
timbul karena tubuh seseorang kurang unsur Iodium secara terus-menerus dalam jangka
waktu lama. Kekurangan Iodium saat ini tidak terbatas pada gondok dan kretinisme saja,
tetapi ternyata kekurangan Iodium berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia secara
luas, meliputi tumbuh kembang, termasuk perkembangan otak sehingga terjadi penurunan
potensi tingkat kecerdasan (Intelligence Quotient=IQ).
Pemantauan GAKY dilakukan melalui Ekskresi Yodium dalam Urine (EYU) sebagai
refleksi asupan yodium dan cakupan rumah tangga mengonsumsi garam beryodium. Hasil
Studi Intensifikasi Penanggulangan GAKY (IP-GAKY) tahun 2003 dan Riskesdas 2007
menunjukkan bahwa rata-rata EYU <100 µg/L sebesar 16,7% dan 12,9%, namun cakupan
rumah tangga dengan garam cukup Iodium rata-rata nasional baru mencapai 62,3%
(Riskesdas 2007). Terdapat disparitas antar daerah yang cukup tinggi seperti terlihat pada
Gambar 4.55 berikut ini.

110

GAMBAR 4.55
PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MENGKONSUMSI
GARAM BERYODIUM CUKUP MENURUT PROVINSI TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Provinsi dengan cakupan konsumsi garam cukup beryodium terendah adalah Nusa
Tenggara Barat (27,9%), Nusa Tenggara Timur (31,0%) dan Sulawesi Barat (34,2%),
sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Kep. Bangka Belitung (98,7%), Jambi
(94,4%) dan Sumatera Selatan (93,0%).
Masalah masih rendahnya cakupan konsumsi garam beryodium di masyarakat antara
lain karena belum optimalnya penggerakan masyarakat dan kampanye dalam mengkonsumsi
garam beryodium, serta dukungan regulasi yang belum memadai. Di samping itu masalah lain
adalah belum rutinnya pelaksanaan pemantauan garam beryodium di masyarakat secara terus
menerus.
4. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif

Cara pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi secara
eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak sampai
umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayi mendapat makanan pendamping ASI yang bergizi
sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.
Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia berfluktuasi selama 3
tahun terakhir. Pada Gambar 4.56 terlihat bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
0–5 bulan turun dari 62,2% tahun 2007 menjadi 56,2% pada tahun 2008, namun meningkat
lagi pada tahun 2009 menjadi 61,3%. Sedangkan cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi

111

sampai 6 bulan turun dari 28,6% pada tahun 2007 menjadi 24,3% pada tahun 2008 dan naik
lagi menjadi 34,3% pada tahun 2009.
GAMBAR 4.56
PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 0-5 BULAN DAN 6 BULAN
TAHUN 2004 - 2009

Sumber: BPS, Susenas 2009

Cakupan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi beberapa hal, terutama masih sangat
terbatasnya tenaga konselor ASI, belum adanya peraturan perundangan tentang pemberian
ASI serta belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait
pemberian ASI maupun MP-ASI, masih kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana KIE
ASI dan MP-ASI dan belum optimalnya membina kelompok pendukung ASI dan MP-ASI.
Gambar 4.57 berikut ini menyajikan persentase cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
0-5 bulan dan 6 bulan menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 4.57
PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 0-6 BULAN
MENURUT PROVINSI 2009

Sumber: BPS, Susenas 2009

112

Sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (54.58 berikut ini.5%). Bengkulu (54. dan belum atau masih rendahnya melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) serta masih bebas beredarnya susu formula di lingkungan RS. Di lain pihak adanya promosi dan pemasaran yang begitu intensif terkait susu formula yang kadang sulit untuk dikendalikan. Bengkulu (75.2%).1%).2%) dan Aceh (52.7%) dan Kalimantan Barat (19. Cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.3%). peningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu. Upaya terobosan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif antara lain melalui upaya peningkatan pengetahuan petugas tentang manfaat ASI eksklusif. provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif 06 bulan bulan terendah adalah Jawa Timur (48.8%) dan Nusa Tenggara Timur (75.2%).8%). Jawa Tengah (52. Sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (78. penyediaan fasilitas menyusui di tempat kerja. yang dapat ditandai dengan belum melakukan rawat gabung antara ibu dan bayinya. peningkatan dukungan keluarga dan masyarakat serta upaya untuk mengendalikan pemasaran susu formula.2%) dan Maluku (53. Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif 0-5 bulan maupun 6 bulan dapat disebabkan karena masih kurangnya pemahaman masyarakat bahkan petugas kesehatan sekalipun tentang manfaat dan pentingnya pemberian ASI eksklusif kepada bayi usia 0-5 bulan.Berdasarkan data Susenas 2009.3%).58 PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 6 BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan terendah adalah Gorontalo (14. Papua Barat (16.3%). Mungkin pula masih banyak Rumah Sakit (RS) yang belum mendukung peningkatan pemberian ASI eksklusif. Selain itu perlu juga penerapan 10 (sepuluh) langkah menuju 113 . GAMBAR 4.

Cakupan penimbangan balita di posyandu menurut provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. dan pada usia 24-35 bulan turun menjadi 73.keberhasilan menyusui (LMKM) di RS dan sarana pelayanan kesehatan lainnya yang melakukan kegiatan persalinan.6%. Frekuensi kunjungan balita ke posyandu semakin berkurang dengan semakin meningkatnya umur anak.3%. Sebagai gambaran proporsi anak 6-11 bulan yang ditimbang di posyandu 91.3%. Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009 cakupan penimbangan balita di posyandu sebesar 63. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S) Cakupan penimbangan balita di posyandu (D/S) merupakan indikator yang berkaitan dengan cakupan pelayanan gizi pada balita. 5) membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu dipisah dari bayinya. 6) memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis. 2) melatih staf pelayanan kesehatan. 4) membantu ibu untuk IMD dalam 60 menit pertama persalinan. 5. Semakin tinggi cakupan D/S. 114 . cakupan pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi serta prevalensi gizi kurang.59 berikut ini.5%. semakin tinggi cakupan vitamin A. semakin tinggi cakupan imunisasi dan semakin rendah prevalensi gizi kurang. 7) menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu (24 jam). dan 10) mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut setelah keluar dari sarana pelayanan kesehatan. pada anak usia 12-23 bulan turun menjadi 83.9%. Hasil Riskesdas 2007 menunjukan secara nasional cakupan penimbangan balita (anak pernah ditimbang di Posyandu sekurang-kurangnnya satu kali selama sebulan terakhir) di posyandu sebesar 74. 8) menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi. Sepuluh langkah tersebut meliputi : 1) membuat kebijakan tentang menyusui. 3) KIE kepada ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui. 9) Tidak memberi dot kepada bayi.

0%).6%). sedangkan bencana alam terjadi sebagai akibat aktivitas lapisan/kerak bumi/fenomena alam seperti gempa bumi. gelombang tsunami. Bencana lingkungan hidup terjadi akibat dari kerusakan lingkungan seperti banjir. Sedangkan cakupan terendah ada di Provinsi Papua Barat (27. serta pelaksanaan pembinaan kader. tanah longsor. Papua (35.GAMBAR 4. yang terjadi di 11 provinsi. dan sebanyak 229. tingkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling.1%). kecelakaan industri. Masalah yang berkaitan dengan kunjungan posyandu antara lain: dana operasional dan sarana prasarana untuk menggerakkan kegiatan posyandu. kebakaran hutan dan lahan. tingkat pemahaman keluarga dan masyarakat akan manfaat posyandu.706 luka ringan/rawat jalan. kekeringan. Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Penanggulangan Krisis Kementerian Kesehatan pada tahun 2009. E. tumpahan minyak di laut. Jumlah 115 .3%) dan Kalimantan Timur (39. 15 korban hilang. letusan gunung berapi.7%). 37.6%). 53 luka berat yang memerlukan rawat inap. Jumlah korban akibat bencana banjir dan banjir bandang selama tahun 2009 sebanyak 157 meninggal. PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA Bencana di Indonesia dapat dikategorikan menjadi 2 macam yaitu bencana lingkungan hidup dan bencana alam. dan Jawa Tengah (76.59 PERSENTASE KUNJUNGAN BALITA YANG DITIMBANG DI POSYANDU (D/S) MENURUT PROVINSI 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Cakupan penimbangan balita di posyandu yang tertinggi ada di DI Yogjakarta (75. banjir dan banjir bandang merupakan bencana yang paling sering terjadi dan melanda 23 provinsi di Indonesia. Jawa Timur (76. badai atau angin ribut yang kejadiannya sulit diprediksi.854 pengungsi. Bencana alam yang menelan korban yang paling banyak adalah gempa bumi.

224 luka ringan/rawat jalan.234 luka berat yang memerlukan rawat inap. Rincian kejadian bencana menurut jenis dan jumlah korban pada tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 4. 1.korban akibat bencana gempa bumi selama tahun 2009 sebanyak 1.209 meninggal.210 pengungsi. 27 korban hilang. Demikian gambaran mengenai situasi upaya kesehatan di Indonesia sampai dengan tahun 2009. *** 116 . dan sebanyak 205. 9.27.

.

50. Puskesmas memiliki fungsi sebagai : 1) pusat pembangunan berwawasan kesehatan. A. dan 4) pusat pelayanan kesehatan perorangan primer.033 unit. serta institusi pendidikan tenaga kesehatan. seperti terlihat pada Gambar 5.000 penduduk pada tahun 2005 sebesar 3. 3) pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer. sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). harus melakukan upaya kesehatan wajib (basic six) dan beberapa upaya kesehatan pilihan yang disesuikan dengan kondisi. Rasio puskesmas per 100. SARANA KESEHATAN Sarana kesehatan yang disajikan dalam bab ini meliputi: puskesmas. dengan rincian jumlah puskesmas perawatan 2. rasio ini menunjukkan adanya peningkatan. Dalam kurun waktu 2005 hingga 2009. Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan tingkat pertama dan terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan. tuntutan. 2) pusat pemberdayaan masyarakat. yang diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.704 unit dan puskesmas non perawatan sebanyak 6. Jumlah puskesmas di Indonesia sampai dengan akhir tahun 2009 sebanyak 8.78. dan pembiayaan kesehatan. kemampuan dan inovasi serta kebijakan pemerintah daerah setempat. sumber daya kesehatan diulas dengan menyajikan gambaran keadaan sarana kesehatan. 1.000 penduduk. Pada bab ini. Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat atau yang biasa disebut Puskesmas merupakan salah satu unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. kebutuhan. sarana produksi dan distribusi kefarmasian dan alat kesehatan. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui keterjangkauan penduduk terhadap puskesmas adalah rasio puskesmas per 100. 118 . tenaga kesehatan.Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas. pada tahun 2009 meningkat menjadi 3.1 berikut ini. rumah sakit (rumah sakit umum dan rumah sakit khusus).737 unit.

GAMBAR 5.00. 2010 Rasio puskesmas per 100. sedangkan rasio terendah Provinsi Banten.704 119 . Kemenkes Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.000 penduduk menurut provinsi menunjukkan bahwa rasio tertinggi pada tahun 2009 adalah di Provinsi Papua Barat.000 penduduk menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. Kemenkes. Binkesmas. yaitu sebesar 2. beberapa puskesmas non perawatan telah ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas perawatan.12.000 PENDUDUK TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas.1. Kemenkes.2. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.077 unit pada tahun 2005 menjadi 2. yaitu tahun 2005-2009 telah terjadi peningkatan jumlah puskesmas perawatan dari 2. GAMBAR 5.1 RASIO PUSKESMAS PER 100. 2010 Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat di puskesmas.2 RASIO PUSKESMAS PER 100. Gambaran rasio puskesmas menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Gambar 5. yaitu sebesar 14. Kemenkes Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.000 PENDUDUK TAHUN 2005-2009 Sumber : Ditjen. Sedangkan rincian jumlah dan rasio puskesmas per 100.

2.523 unit.202 unit dan rumah sakit khusus (RSK) berjumlah 321 unit. Rumah Sakit Ruang lingkup pembangunan kesehatan selain upaya promotif dan preventif. pemerintah kabupaten/kota.2. 2010 Untuk meningkatkan jangkauan pelayanan puskesmas terhadap masyarakat di wilayah kerjanya. maka terjadi peningkatan jumlah rumah sakit. Kemenkes. di dalamnya juga terdapat pembangunan kesehatan bersifat kuratif dan rehabilitatif. puskesmas didukung oleh sarana pelayanan kesehatan berupa puskesmas pembantu (pustu). TNI/POLRI. GAMBAR 5. Kemenkes Pusat data dan Surveilans Epidemiologi. Bila melihat perkembangan sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Rincian mengenai jumlah puskesmas perawatan dan non perawatan menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5. Rumah sakit juga berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan rujukan. Jumlah pustu pada tahun 2009 dilaporkan sebanyak 22. baik rumah sakit umum maupun rumah sakit 120 .6.650 unit dengan rasio pustu terhadap puskesmas 2.3. Perkembangan jumlah puskesmas perawatan dan non perawatan pada tahun 2005-2009 dapat dilihat pada Gambar 5. Rumah sakit tersebut dikelola oleh Kementerian Kesehatan. kementerian lain/BUMN serta sektor swasta.unit pada tahun 2009. yang terdiri atas rumah sakit umum (RSU) berjumlah 1.3. Rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang bergerak dalam kegiatan kuratif dan rehabilitatif. Pada tahun 2009 jumlah rumah sakit di Indonesia sebanyak 1. pemerintah provinsi. Rincian jumlah pustu per provinsi tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5.3 JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN NON PERAWATAN TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas.

268 rumah sakit di Indonesia. 2010 121 . pada tahun 2005 terdapat 995 unit menjadi 1.4.5.523 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.319 1. Kemenkes.292 1.4. Perkembangan RSU di Indonesia selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5.11% menjadi 1. GAMBAR 5. Tabel 5.372 1. TABEL 5.1 berikut menampilkan perkembangan jumlah rumah sakit (umum dan khusus) di Indonesia tahun 2005-2009. 2010 Selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2005-2009) jumlah rumah sakit umum baik yang dikelola oleh institusi pemerintah maupun sektor swasta mengalami peningkatan.1 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT (UMUM & KHUSUS) DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 No. Pada tahun 2005 terdapat 1.202 unit pada tahun 2009.4 berikut ini. Kemenkes. Sedangkan jumlah seluruh rumah sakit pada tahun 2009 menurut pengelola dan provinsi terdapat pada Lampiran 5. Jumlah rumah sakit umum di Indonesia menurut pengelolanya dapat dilihat pada Lampiran 5.khusus. jumlah ini naik 20.4 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.523 unit pada tahun 2009.268 1. Pengelola/Kepemilikan 2005 2006 2007 2008 2009 1 Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/Kota 452 464 477 509 552 2 TNI/POLRI 112 112 112 112 125 3 BUMN/Kementerian Lain 78 78 78 78 78 4 Swasta 626 638 652 673 768 1. dan jumlah rumah sakit umum dan khusus di Indonesia menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.

5 PERSENTASE RUMAH SAKIT UMUM MILIK KEMENTERIAN KESEHATAN DAN PEMERINTAH DAERAH MENURUT KELAS TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. Yogyakarta.Dari rumah sakit umum yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah menunjukkan bahwa sebagian besar tergolong RSU kelas C. Kemenkes. Dari jumlah 465 RSU.6 berikut ini.78%) kelas D dan 10 unit (2. GAMBAR 5.6. 122 . Informasi lebih rinci mengenai jumlah RSU yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah menurut kelas rumah sakit dan provinsi terdapat pada Lampiran 5. 2010 Terdapat 10 RSU milik Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah yang termasuk kelas A. meningkat menjadi 321 pada tahun 2009. terdapat 245 unit (52. Semarang.15%) kelas A.7. Malang. Bandung. Jakarta. Surakarta. Jumlah rumah sakit khusus (RSK) baik milik pemerintah maupun swasta dalam kurun waktu tahun 2005-2009 menunjukkan adanya peningkatan. 92 unit (19. Pada tahun 2005 terdapat 273 unit rumah sakit khusus. Perkembangan jumlah RSK selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5.69%) kelas C. Surabaya. Denpasar dan Makassar. 118 unit (25.5 berikut ini menyajikan persentase RSU menurut kelas.38%) kelas B. pemerintah daerah. Gambar 5. Informasi lebih rinci mengenai jumlah RSU yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan. yang terdapat di 10 kota yaitu Medan. BUMN/kementerian lain dan swasta menurut kelas perawatan dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.

GAMBAR 5. 2010 Jumlah tempat tidur suatu rumah sakit dapat digunakan untuk menggambarkan kemampuan rumah sakit tersebut dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.6 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. 2010 Sebagian besar rumah sakit khusus tersebut adalah RS Ibu dan Anak sebanyak 95 unit dan RS Bersalin sebanyak 60 unit. Gambaran peningkatan tersebut dapat 123 . Kemenkes.GAMBAR 5.8. Jumlah rumah sakit khusus beserta jumlah tempat tidurnya tahun 2005-2009 terdapat pada Lampiran 5.7 JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. seperti dapat dilihat pada Gambar 5. Jumlah tempat tidur pada rumah sakit umum dan rumah sakit khusus dalam 5 tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan.7. Kemenkes.

Rincian jumlah tempat tidur pada rumah sakit khusus dapat dilihat pada Lampiran 5. Kemenkes.74 pada tahun 2009. rasio pada tahun 2005 sebesar 62. Rasio tempat tidur per 100.000 penduduk dari tahun 2005-2009 juga mengalami peningkatan.9 JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT DAN RASIONYA PER 100. Gambar 5. GAMBAR 5. 2010 Rasio tempat tidur rumah sakit terhadap penduduk juga dapat menggambarkan tingkat ketersediaan sarana pelayanan kesehatan rujukan. 2010 124 .000 penduduk di rumah sakit pada tahun 2005-2009.49 naik menjadi 70.8.dilihat pada Gambar 5.9 menyajikan jumlah tempat tidur dan rasio tempat tidur per 100. Kemenkes.8 PERKEMBANGAN JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT UMUM (RSU) DAN RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.8 di bawah ini. GAMBAR 5.000 PENDUDUK TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.

GAMBAR 5.10.1%. Rincian mengenai jumlah dan persentase tempat tidur di RSU dan RSK menurut jenis kelas perawatan dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.11.Proporsi tempat tidur di rumah sakit umum dan rumah sakit khusus menurut kelas perawatan menunjukkan gambaran bahwa sebagian besar adalah Kelas III. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Salah satu kebijakan pelaksanaan dalam Program Obat dan Perbekalan Kesehatan adalah pengendalian obat dan perbekalan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan.6%. terdapat kelas VIP sebesar 7. 2010 Jumlah sarana distribusi kefarmasian dan alat kesehatan selama lima tahun terakhir (2005-2009) terdapat pada Gambar 5. Kemenkes. Jumlah sarana produksi di Indonesia pada tahun 2009 dirinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. Selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir terlihat adanya kecenderungan peningkatan jumlah sarana produksi kefarmasian dan alat kesehatan. Jumlah sarana distribusi di Indonesia pada tahun 2009 dirinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.9.10 JUMLAH SARANA PRODUKSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen Binfar & Alkes. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 5. Sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan dapat digunakan untuk melihat kemampuan ketersediaan obat dan alat kesehatan bagi masyarakat. 125 .5%. Selain tiga jenis kelas perawatan tersebut.10.5% dan tanpa kelas sebesar 22. 3. diikuti oleh Kelas II sebesar 20. yaitu sebesar 39.2% dan Kelas I sebesar 10.6.

Pada tahun 2009 terdapat 266.827 posyandu.12 berikut ini. keluarga berencana. Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) di Desa Siaga.11 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN 2005 -2009 Sumber: Ditjen Binfar & Alkes. Dalam menjalankan fungsinya. 126 . Hal ini sejalan dengan konsep pemberdayaan pengembangan masyarakat. Salah satu jenis UKBM yang telah sejak lama dikembangkan dan mengakar di masyarakat adalah posyandu. yaitu Posyandu Pratama. Posyandu Purnama dan Posyandu Mandiri. dan penanggulangan diare. perbaikan gizi. Kemenkes. dengan demikian maka rasio posyandu terhadap desa/kelurahan sebesar 3. Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat Upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dilakukan dengan menerapkan berbagai pendekatan. imunisasi.GAMBAR 5. Posyandu Madya. Dalam rangka menilai kinerja dan perkembangannya. dan Pos Obat Desa (POD). 2010 4. Informasi selengkapnya mengenai rasio posyandu menurut provinsi pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 5. UKBM di antaranya terdiri dari Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Langkah tersebut tercermin dalam pengembangan sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). Tanaman Obat Keluarga (Toga).55 posyandu per desa/kelurahan. posyandu diharapkan dapat melaksanakan 5 program prioritas yaitu kesehatan ibu dan anak. termasuk di dalamnya dengan melibatkan potensi masyarakat. posyandu diklasifikasikan menjadi 4 strata.

Jumlah desa siaga di Provinsi DKI Jakarta merupakan jumlah RW siaga dan jumlah desa siaga di Provinsi Sumatera Barat merupakan jumlah desa siaga ditambah nagari siaga. Sedangkan data mengenai sarana kesehatan tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5.69. Kemenkes. Data menyebutkan bahwa pada tahun 2009 terdapat 51. 2010 Poskesdes merupakan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa.12 RASIO POSYANDU TERHADAP JUMLAH DESA/KELURAHAN TAHUN 2009 Sumber: Ditjen. dengan kata lain salah satu wujud upaya untuk mempermudah akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.3. lingkungan dan masalah kesehatan lainnya).GAMBAR 5. Gambar 5.996 unit poskesdes/desa siaga. Bina Kesmas. Kegiatan utama poskesdes yaitu pengamatan dan kewaspadaan dini (surveilans perilaku berisiko. Pelayanan yang diberikan poskesdes juga mencakup tempat pertolongan persalinan dan pelayanan KIA.13 berikut ini menyajikan rasio poskesdes menurut provinsi pada tahun 2009 (tidak termasuk Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Sumatera Barat). penanganan kegawatdaruratan kesehatan dan kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan kesehatan. Rasio poskesdes/desa siaga terhadap desa secara nasional pada tahun 2009 sebesar 0. 127 . Poskesdes merupakan salah satu indikator sebuah desa disebut desa siaga.

Kementerian Kesehatan merupakan institusi dari sektor pemerintah yang berperan di dalam penyediaan tenaga kesehatan yang berkualitas tersebut. yang terdiri dari 221 jurusan/program studi (yang berada pada 33 Poltekkes) dan 919 institusi Non Poltekkes. baik jenis maupun jumlah di masing-masing provinsi.14 berikut ini. Kemenkes. Program pendidikan D-III institusi pendidikan tenaga kesehatan (Diknakes) saat ini berkembang dengan pesat. Perkembangan jumlah program studi (prodi) pada institusi Poltekkes dan Non Poltekkes terdapat pada Gambar 5. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan a. 2010 5.GAMBAR 5. Jumlah.140 institusi. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan juga menyelenggarakan program D-IV. 128 . Bina Kesmas. Dalam penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan jenjang pendidikan menengah dan Diploma (D-III) yang berada di bawah pembinaan Kementerian Kesehatan dikelompokkan dalam Politeknik Kesehatan (milik Kemenkes) dan Non Poltekkes (milik Swasta. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan.13 RASIO POSKESDES TERHADAP JUMLAH DESA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen.TNI/POLRI dan Pemda). Sampai dengan Desember 2009 jumlah institusi Diknakes sebanyak 1. Untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang berkualitas tentu saja dibutuhkan proses pendidikan yang berkualitas pula. Selain menyelenggarakan program D-III. Jenis dan Persebaran Institusi Pembangunan kesehatan berkelanjutan membutuhkan tenaga kesehatan yang memadai baik dari segi jumlah maupun kualitas.

kebidanan dan kesehatan gigi. dari 214 prodi pada tahun 2008 menjadi 221 prodi. GAMBAR 5.GAMBAR 5.14 dapat dilihat adanya peningkatan jumlah Jurusan/Prodi Poltekkes setiap tahunnya. hal ini sesuai dengan kebutuhan jenis tenaga kesehatan dan pemerataan produksi tenaga kesehatan. untuk prodi keperawatan terdiri dari keperawatan. 2010 Gambar 5. Tahun 2009 terjadi penambahan 7 prodi. terapi wicara dan 129 .14 PERKEMBANGAN JUMLAH PROGRAM STUDI INSTITUSI DIKNAKES POLTEKKES DAN NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2002-2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.15 JUMLAH PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. okupasi terapi. Kemenkes. 2010 Pada Gambar 5. Kemenkes.16 menunjukan jumlah program studi pada institusi Diknakes Non Poltekkes. untuk prodi keterapian fisik terdiri dari fisioterapi.

8%) dengan strata A. Kementerian Kesehatan berusaha melakukan upaya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. untuk lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 5. mulai tahun 2004 Pusdiknakes melakukan akreditasi terhadap jurusan/program studi Poltekkes yang ada. GAMBAR 5. Akreditasi merupakan salah satu upaya pembinaan yang dilakukan pemerintah terhadap institusi-institusi pendidikan kesehatan yang ada. Dari jumlah yang sudah terakreditasi. Akreditasi Institusi Dengan banyaknya institusi pendidikan tenaga kesehatan yang ada saat ini. 2010 b.3%) dengan strata B dan 7 prodi (3. selain itu juga untuk melihat kualitas dari masing-masing institusi. institusi Diknakes milik Kemenkes mengalami perubahan status kelembagaan dari Akademi menjadi Poltekkes. Akreditasi dilaksanakan bagi institusi baru yang telah menjalankan perkuliahan sampai dengan semester V (lima). Kemenkes. 96 prodi (53.55%). Informasi selengkapnya mengenai jumlah dan persentase program studi Poltekkes yang telah terakreditasi menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. dan institusi lama yang telah habis masa berlaku akreditasinya.29%) dengan status kepemilikan swasta sedangkan selebihnya milik TNI/POLRI dan Pemda. Sampai tahun 2009 ada 180 prodi Poltekkes (81. Jika dilihat berdasarkan kepemilikan dari 919 institusi Diknakes Non Poltekkes tahun 2009 sebanyak 793 institusi (86. 130 .17 berikut ini menunjukkan persentase akreditasi program studi pada institusi Poltekkes.45%) telah diakreditasi dan yang belum terakreditasi sebanyak 32 prodi (18.akupunktur. terdapat 77 prodi (42.16 JUMLAH PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. Untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada Poltekkes. Gambar 5.15. Pada tahun 2002.12.9%) dengan strata C.

Dari jumlah yang sudah terakreditasi. GAMBAR 5. Kemenkes.44%) dengan strata C. 2010 Akreditasi juga dilakukan pada institusi Diknakes Non Poltekkes.18 PERSENTASE STRATA AKREDITASI INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.14. Gambar 5. 131 . 428 institusi (78.18 berikut ini menunjukkan persentase strata akreditasi institusi Diknakes Non Poltekkes pada tahun 2009. 2010 Jumlah institusi Diknakes Non Poltekkes menurut status kepemilikan menunjukkan sebagian besar institusi dimiliki oleh swasta.53%) dengan strata B dan 46 institusi (8.41%) dan yang belum terakreditasi sebanyak 373 institusi (40.21%) dengan strata A.59%). Kemenkes. terdapat 72 institusi (13.17 PERSENTASE STRATA AKREDITASI PROGRAM STUDI POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. Sedangkan informasi selengkapnya menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5. yaitu sebesar 86. Jumlah institusi yang telah terakreditasi sebanyak 546 institusi (59.GAMBAR 5.29%.

diperlukan tenaga kesehatan yang lebih berkualitas. Informasi lebih rinci mengenai jumlah peserta didik program D-IV menurut jenis institusi pendidikan dapat dilihat pada Lampiran 5.371 orang. keperawatan gawat darurat.357 orang (23.26%.854 orang) mengalami kenaikan sebanyak 35.132 orang) dibanding tahun ajaran 2008/2009 (260. selain menyelenggarakan D-III Poltekkes juga menyelenggarakan program D-IV dan Kelas Internasional. Lulusan Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes pada tahun 2009 adalah 62.98%). Informasi lebih rinci mengenai jumlah dan persentase institusi Diknakes Non Poltekkes menurut kepemilikan dapat dilihat pada Lampiran 5.sedangkan kepemilikan oleh Pemerintah Daerah sebesar 10. 132 .545 orang. Pada tahun 2009 program D-IV yang ada di seluruh Indonesia memiliki peserta didik sebanyak 2020. keperawatan jiwa. yang terdiri dari lulusan Poltekkes adalah 14.278 orang atau 13. c.920 orang kemudian jurusan kebidanan sebanyak 18.014 orang (76. keperawatan intensive dan keperawatan anestesi reanimasi. Sehubungan dengan hal tersebut sejak tahun 2004. Jenis institusi kebidanan terdiri dari bidan pendidik dan kebidanan komunitas. kebidanan dan kesehatan gigi. keperawatan anestesi. kesehatan gigi prothodansia. Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes terbanyak pada jurusan keperawatan sebanyak 29. Dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. keperawatan kardiovaskuler.15. dental bedah mulut dan perawat gigi pendidik.45% dan TNI/POLRI sebesar 3. Jenis institusi keperawatan terdiri dari keperawatan medical bedah. keperawatan klinik kemahiran. Jenis institusi kesehatan gigi terdiri dari kesehatan gigi.5%. d. Peserta didik Jumlah peserta didik institusi pendidikan tenaga kesehatan baik poltekes maupun non poltekkes jalur umum tahun ajaran 2009/2010 (296.02%) dan lulusan Non Poltekkes sebanyak 48.27. Hal ini disebabkan karena jumlah institusi pendidikan tenaga kesehatan yang juga mengalami kenaikan. kesehatan gigi komunitas. Program D-IV mempunyai jenis institusi pendidikan yang lebih khusus bidang keilmuannya yaitu untuk jenis institusi keperawatan.

415 1.250 5.488 3. Sumatera Utara (8.121 2.356 49.329 22.689 28. dengan lulusan terbanyak adalah D-III Keperawatan (rata-rata 23.131 4. TNI/POLRI dan Swasta.550 1.166 1.446 28.923 1.685 13. 1.332 orang.312 2.453 31.000 penduduk.722 1.285 5.835 188.864 21.343 62. B.377 52.337 9.836 2.557 1.774 43.951 8. Kemenkes.693 2. sedangkan yang terendah adalah Banten dengan rasio 3.553 3. Rasio dokter umum terhadap 133 .TABEL 5. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Salah satu unsur yang berperan dalam percepatan pembangunan kesehatan adalah tenaga kesehatan yang bertugas di sarana pelayanan kesehatan di masyarakat. 3.664 Kesehatan Lingkungan 1.347 orang.545 1. yang tersebar di semua provinsi.085 6.366 1.811 25.712 1.545 68.014 38.54 dokter per 100.877 41.367 3.264 13.000 penduduk.764 29.139 18.555 orang).519 1.371 346.615 439 711 627 773 742 857 1166 1.131 18. 2010 Dari Tabel 5.722 25. Provinsi dengan rasio tertinggi adalah Bali sebesar 33.25 dokter per 100.659 orang). Tiga provinsi yang menghasilkan lulusan tenaga kesehatan terbanyak (Poltekkes dan Non Poltekkes) tahun 2009 adalah Provinsi Jawa Tengah (9.473 3.569 432 581 740 739 858 965 998 781 6. Kabupaten/Kota belum memiliki data SDM Kesehatan secara lengkap.855 1. terutama data rumah sakit baik milik pemerintah.396 1. Belum semua Provinsi mendapatkan data SDM Kesehatan dari semua Kabupaten/ Kota di wilayahnya.573 1.236 2.562 4.923 8.2 JUMLAH LULUSAN PROGRAM DIPLOMA III POLTEKKES DAN NON POLTEKKES TAHUN 2002-2009 Rerata Tahun Jenis Tenaga Total 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Lulusan per tahun Keperawatan 17.957 6. dikarenakan: 1.948 3.067 3. Belum ada sistem yang handal yang mengatur manajemen pengumpulan data SDM di daerah.691 1.943 23.039 1.200 26.094 762 Kebidanan Kesehatan Gigi Keterapian Fisik Keteknisian Medis Jumlah 3. dengan rasio sebesar 12.870 1.694 Gizi 1. Menurut pendataan Badan PPSDMK.400 800 Kefarmasian 1.515 3.095 1.983 42. 2.60 dokter per 100.349 orang) dan Jawa Timur (7.2 di atas terlihat bahwa rata-rata selama 8 tahun terakhir lulusan Diknakes Diploma III Poltekkes dan Non Poltekkes adalah 43.553 orang).555 1.000 penduduk. jumlah dokter umum di Indonesia sebanyak 28.425 23.812 12. TENAGA KESEHATAN Data Sumber Daya Masyarakat Kesehatan (SDM Kesehatan) yang terkumpul dari 33 Provinsi belum sepenuhnya dapat menggambarkan SDM Kesehatan secara lengkap.347 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.644 5.

221 tenaga keperawatan (184.805 tenaga medis.65 dokter gigi per 100.599 orang yang terdiri dari 410.000 penduduk. Tenaga kesehatan terdiri dari 51. sedangkan terendah adalah Sumatera Selatan dengan rasio 0. Dari data yang diterima tercatat sebanyak 519.18 bidan per 100.000 penduduk.16. SDM Kesehatan tersebut bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi dan unit pelaksana teknis (UPT).067 tenaga kesehatan dan 109.22 dokter gigi per 100. 2010 Jumlah tenaga dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 9.58 bidan per 100. dengan status kepegawaian PNS.332 tenaga perawat dan perawat gigi. Jumlah bidan pada tahun 2009 sebanyak 93.000 penduduk.000 penduduk. rumah sakit/poliklinik dan sarana kesehatan lainnya milik pemerintah pusat. Bengkulu sebanyak 123. Jumlah tenaga kesehatan dan non kesehatan tahun 2009 menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. yaitu Aceh sebesar 153. GAMBAR 5. PTT. Provinsi dengan rasio tertinggi adalah DI Yogyakarta sebesar 12. CPNS. Pada tahun 2009 terdapat 3 provinsi yang telah mencapai rasio 100 bidan per 100.19 berikut ini. Persebaran Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan SDM Kesehatan di daerah terdiri dari SDM Kesehatan yang bertugas di unit kesehatan (sarana pelayanan dan non pelayanan) di Provinsi dan Kabupaten/Kota. rasio bidan terhadap penduduk pada tahun 2010 diharapkan mencapai 100 bidan per 100. pemerintah daerah. 2. 278. TNI/POLRI dan swasta.532 tenaga non kesehatan. swasta dan TNI/POLRI.889 orang. Kemenkes. 134 . Dinas Kabupaten/Kota dan UPT.000 penduduk.73 dokter gigi per 100.64 dan Papua Barat sebanyak 111.000 penduduk.3.000 penduduk.jumlah penduduk di tiap provinsi pada tahun 2009 dijelaskan pada Gambar 5. Menurut Indikator Indonesia Sehat 2010. sehingga rasionya terhadap penduduk sebesar 40.774 orang dengan rasio sebesar 4.19 RASIO DOKTER UMUM TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.

Rasio dokter umum di puskesmas terhadap jumlah puskesmas (yang terdata tenaganya) tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 5. Kemenkes.61 dokter umum per puskesmas. diikuti oleh Kepulauan Riau sebesar 3.535 tenaga non kesehatan. 2.737 puskesmas yang ada.953 tenaga kefarmasian. terutama ketersediaan tenaga kesehatan.762 tenaga gizi. Beberapa provinsi memiliki tenaga dokter spesialis yang bertugas di puskesmas. Bila dibandingkan dengan jumlah seluruh puskesmas maka dapat diartikan bahwa belum seluruh puskesmas memiliki dokter gigi. GAMBAR 5.509 puskesmas) dengan jumlah dokter. 135 .701 orang. terdapat 245.776 tenaga kesehatan dan 29.889 tenaga bidan). hanya 8. a. 2010 Jumlah dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 6. maka rasio dokter umum adalah 1. Bila dibandingkan antara jumlah puskesmas yang terdata tenaganya (8.985 tenaga keterapian fisik dan 15. Dari seluruh jumlah tenaga kesehatan. 28.509 puskesmas dari 8.858 tenaga kesehatan masyarakat. 12.13 dan Riau sebesar 3. Pada tahun 2009. Rasio dokter umum terhadap puskesmas tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta sebesar 13 dokter umum per puskesmas (327 dokter umum pada 25 puskesmas yang terdata).483 keteknisian medis. Tahun 2009 tidak semua puskesmas terdata jumlah tenaganya.141 orang. kinerjanya sangat dipengaruhi ketersediaan sumber daya manusia yang dimiliki.03 dokter umum per puskesmas. 19.20 berikut ini. dokter umum yang bertugas di puskesmas sebanyak 13.311 orang yang bertugas di puskesmas dengan rincian 215.20 RASIO DOKTER UMUM DI PUSKESMAS TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. Tenaga Kesehatan di Puskesmas Puskesmas yang merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan masyarakat.93.

518 orang.784 orang. Keberadaan dokter umum PTT terbanyak di Nusa Tenggara Timur sejumlah 301 orang. Dokter spesialis PTT sebagian besar tersebar di daerah dengan kriteria Terpencil.Pada tahun 2009 terdapat 160 dokter spesialis yang bertugas di puskesmas. dokter gigi. Dokter umum PTT dan dokter gigi PTT sebagian besar tersebar di wilayah dengan kriteria sangat terpencil yaitu 1.21 JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.21 di bawah ini. Tenaga Kesehatan dengan Status Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tenaga kesehatan dengan status PTT terdiri dari dokter spesialis.5%). sebagian besar dokter spesialis tersebut berada di Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah 84 orang (52. 2010 3.940 orang. dan bidan sejumlah 25.403 tenaga kesehatan PTT Pusat yang masih aktif bertugas di daerah dengan kriteria Biasa. Terpencil. sedangkan rasio dokter umum. Sampai dengan tahun 2009 terdapat 30. dan Sangat Terpencil dengan komposisi dokter spesialis sejumlah 47 orang. Rincian jumlah tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 5. Kemenkes. GAMBAR 5. Provinsi dengan jumlah keberadaan dokter spesialis PTT terbanyak adalah Sumatera Utara sebanyak 8 orang dan Provinsi Kalimantan Timur sebanyak 7 orang. sehingga rata-rata tiap puskesmas memiliki 9-10 orang perawat. sedangkan untuk daerah dengan kriteria Biasa dan Sangat Terpencil masing-masing sejumlah 9 orang. Jumlah perawat di seluruh puskesmas sebanyak 76. dokter umum sejumlah 3. yaitu sejumlah 29 orang. dokter gigi dan bidan. sedangkan dokter gigi PTT terbanyak bertugas di Nusa Tenggara Timur sejumlah 118 136 . Jumlah masing-masing tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Gambar 5.17. dokter umum.104 orang.054 orang.18. perawat dan bidan terhadap jumlah puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 5. diikuti oleh Sumatera Utara sejumlah 288 orang dan Aceh sejumlah 282 orang. dokter gigi sejumlah 1. sedangkan bidan PTT sebagian besar tersebar di wilayah biasa sejumlah 16.898 orang dokter umum dan 666 orang dokter gigi.

33. 5.598 orang dengan jumlah pengangkatan untuk daerah dengan kriteria Terpencil 806 orang dan 792 orang untuk daerah dengan kriteria Biasa diikuti provinsi kedua terbanyak adalah Jawa Timur sejumlah 1. diikuti Jawa Tengah sejumlah 4. yaitu sejumlah 4. GAMBAR 5. Terpencil. Adapun pengangkatan dokter umum PTT dan dokter gigi PTT terbanyak berada di Provinsi Maluku dengan jumlah 420 orang dan 155 orang dengan pengangkatan untuk daerah terpencil adalah sejumlah 406 orang untuk dokter umum dan 153 orang untuk dokter gigi diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan jumlah 373 dokter umum dan 149 dokter gigi. 5. diikuti oleh Aceh sebanyak 75 orang dan Sumatera Utara sejumlah 66 orang.487 orang.22 menampilkan keadaan tenaga PTT di Indonesia tahun 2009.22 KEBERADAAN DOKTER UMUM PTT.24 menampilkan pengangkatan tenaga PTT di Indonesia tahun 2009.395 orang dan Jawa Timur 3. yang terdiri dari dokter spesialis PTT sejumlah 35 orang.807 orang. Kemenkes.234 orang. dan Sangat Terpencil sebanyak 16. 2010 Pada tahun 2009 telah diangkat tenaga kesehatan PTT untuk daerah dengan kriteria Biasa.19. dokter umum PTT sejumlah 4.797 orang. Gambar 5. DOKTER GIGI PTT DAN BIDAN PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian. Bidan PTT terbanyak bertugas di Sumatera Utara.269 orang dan bidan PTT sejumlah 11. Gambar 5. dokter gigi PTT sebanyak 1. 137 .179 orang dengan pengangkatan untuk daerah dengan kriteria Terpencil 77 orang dan 1. Data selengkapnya mengenai pengangkatan tenaga kesehatan PTT di seluruh provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.23 dan 5. Pengangkatan bidan PTT terbanyak berada di Provinsi Sumatera Utara sejumlah 1.34 dan 5.006 orang.102 orang untuk daerah dengan kriteria Biasa.20 dan 5.35.21.orang. Data selengkapnya mengenai distribusi tenaga kesehatan PTT di seluruh provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.

2010 GAMBAR 5.GAMBAR 5. kapasitas ruang diskusi terbesar di BBPK Ciloto. Kemenkes. Ketersediaan fasilitas juga menentukan performance kinerja unit pelatihan kesehatan. masih beragam (belum standar/sama) khususnya untuk unit pelatihan kesehatan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK). (260 kursi). Kemenkes. Tidak terlihat 138 . Kapasitas asrama yang terbesar di BBPK Ciloto (220). kapasitas kelas yang terbanyak BBPK Jakarta. Kapasitas asrama. 2010 4. Fasilitas Pelatihan Kesehatan Fasilitas unit pelatihan kesehatan merupakan komponen yang sangat penting dari penunjang kegiatan pelatihan. (50 kursi).23 PENGANGKATAN DOKTER UMUM PTT DAN DOKTER GIGI PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian. (400 kursi).24 PENGANGKATAN BIDAN PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian. kapasitas aula yang terbesar BBPK Ciloto. aula dan ruang diskusi untuk unit Pelatihan Kesehatan UPT Pusat. kelas.

Dari pemanfaatan fasilitas tersebut. Fasilitas sarana unit pelatihan kesehatan pada tahun 2009 sebagian besar digunakan untuk kegiatan Kemenkes yaitu 69.64% (23.867 orang). Jumlah peserta yang dilatih selama tahun 2009 berdasarkan 5 jenis kategori pelatihan.11% (56. Untuk unit pelatihan kesehatan UPT pusat khususnya BBPK. jumlah Widyaiswara berkisar antara 6 sampai 14 orang.62% tahun 2008) digunakan untuk kegiatan non pelatihan dan 31. berturut-turut mulai dari yang terbanyak adalah pelatihan teknis kesehatan 50. hanya 3 (12. jumlah Widyaiswara berkisar antara 1 sampai 11 orang dengan rata-rata 5 orang. Bapelkes Provinsi Kalimantan Selatan. Distribusi tenaga Widyaiswara kesehatan sangat bervariasi mulai dari yang paling sedikit yaitu 1 (satu) orang dan terbanyak 14 orang. pelatihan prajabatan 13. Jumlah tenaga yang bekerja pada sektor kesehatan yang terlatih di Unit Pelatihan Kesehatan pada tahun 2009 adalah sebanyak 46.5%.5% (7. ternyata 68.5%) unit pelatihan kesehatan sudah diakreditasi oleh Pusdiklat SDM Kesehatan.40% (30.133 orang). Sedangkan Seat Occupancy Rate (SOR) untuk kegiatan pelatihan rata-rata 34.23.5%. ternyata Bapelkes Lemah Abang dan Bapelkes Salaman mempunyai kapasitas yang lebih besar daripada BBPK Makassar.98% (3. pelatihan fungsional 6.136 orang.84% (851 orang).76% (2298 kegiatan). dan tersedikit di usia kurang dari 40 tahun (16 orang). dan pelatihan penjenjangan 1.74% tahun 2008) sedangkan non pelatihan 5. jumlah terbanyak pada usia 51-60 tahun (86 orang).5% dan unit pelatihan kesehatan dengan kapasitas asrama kurang dari 100 tempat tidur sebanyak 12. Sebagian besar (87. tersedikit di S3 dan D-III masing-masing 2 orang. Berdasarkan pendidikan jumlah terbanyak di kelompok pendidikan S2 (112 orang). dan Bapelkes Provinsi Maluku). Ternyata masih ada Widyaiswara yang berpendidikan D-III sebanyak 2 orang (3 orang di tahun 2008). Variasi yang cukup tinggi terlihat pada unit pelatihan kesehatan UPT daerah untuk seluruh fasilitas unit pelatihan kesehatan dengan kapasitas asrama diatas atau sama dengan 100 tempat tidur ada sebanyak 87.perbedaan yang jelas antara Kapasitas yang dimiliki oleh BBPK dan Bapelkes UPT Pusat.222 orang). Widyaiswara berdasarkan golongan kepangkatan jumlah terbanyak pada golongan IVA (42 orang) dan tersedikit pada golongan IVE (3 orang). pelatihan manajemen 17. Sedangkan unit pelatihan kesehatan UPT daerah.38% tahun 2008) digunakan untuk kegiatan pelatihan.60% (28.24% tahun 2008).89% (43. Berdasarkan kelompok umur.361 orang).38% (309 kegiatan).78% tahun 2008). pelatih. dan sisanya dipergunakan oleh institusi pemerintah non Kemenkes 9.5%.86% (687 kegiatan). dan Bed Occupancy Rate (BOR) 28. swasta 20.86% (3. Diharapkan Widyaiswara unit pelatihan kesehatan banyak di kelompok usia kurang dari 50 tahun. Pemanfaatan Unit Pelatihan Kesehatan pada tahun 2009 sebagian besar 39. Jika 139 .8% dimanfaatkan sebagai tempat saja. Unit pelatihan kesehatan UPT daerah dengan kapasitas terkecil adalah Bapelkes Palu.5%) yang tidak terakreditasi (Bapelkes Jantho. penyelenggara/oc dan sc) sebanyak 26. Sedangkan tingkat libat 5 (perancang pelatihan) hanya sebanyak 19.29% (6. tingkat libat 4 (tempat. Distribusi tingkat keterlibatan institusi diklat dalam kediklatan tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 5.

Pada Tahun 2005 Kementarian Kesehatan memiliki alokasi anggaran sebesar Rp 10.418. Anggaran Kementerian Kesehatan Anggaran Kementerian Kesehatan dibagi berdasarkan program/kegiatan kesehatan yang berjumlah 14 program/kegiatan.229. Informasi selengkapnya tentang alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. PEMBIAYAAN KESEHATAN Salah satu komponen sumber daya yang diperlukan dalam menjalankan pembangunan kesehatan adalah pembiayaan kesehatan.438.000 (60.11%). Distribusi Widyaiswara di setiap institusi diklat tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 5.400.31.006 (0. preventif.44 trilyun (80.dilihat berdasarkan frekuensinya.629 (80.23.689. sedangkan realisasi terkecil untuk program yang bersifat promotif sebesar Rp 86.52%). Berikut ini diuraikan anggaran kesehatan yang dialokasikan untuk Kementerian Kesehatan dan anggaran yang disediakan untuk pembiayaan pemeliharaan kesehatan masyarakat. 140 .000 (0.737.513 (62.723. program sumber daya kesehatan. kuratif dan preventif. kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan dan program pendidikan kedinasan. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir terdapat peningkatan alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan. Pembiayaan kesehatan bersumber dari pemerintah dan pembiayaan yang bersumber dari masyarakat.403. penelitian dan pengembangan kesehatan.23%). jumlah tersebut meningkat pada tahun 2009 menjadi Rp 20.04%).412.05%). yaitu program/kegiatan yang bersifat promotif. C.522.57%).44%).54 trilyun dengan realisasi Rp 16.67 trilyun dengan realisasi Rp 6.535. Sedangkan program/kegiatan yang bersifat rehabilitatif yaitu perbaikan gizi masyarakat.003. program pencegahan dan pemberantasan penyakit. program obat dan perbekalan kesehatan.407. Realisasi anggaran tertinggi adalah program yang bersifat kuratif dengan jumlah Rp 10. datanya sama dengan berdasarkan jumlah peserta. Peningkatan tersebut dijelaskan dalam Gambar 5.25 di bawah ini. Program/kegiatan yang bersifat preventif antara lain penerapan kepemerintahan yang baik.52 trilyun (61. Program/kegiatan yang bersifat kuratif yaitu program upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat.491. Program/kegiatan yang bersifat promotif yaitu promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. 1.000 dengan jumlah realisasi sebesar Rp 16.494. sedangkan alokasi terkecil untuk program yang bersifat promotif sebesar Rp 117. Kementerian Kesehatan pada tahun 2009 mengalokasikan anggaran sebesar Rp 20. Distribusi anggaran menurut program/kegiatan menunjukkan bahwa alokasi terbesar untuk program yang bersifat kuratif dengan jumlah Rp 12.220. yang dikelompokkan dalam 4 kelompok besar.

sampai Juni tahun 2010 hanya 55.32. Data mengenai persentase penduduk yang memiliki jaminan pembiayaan/asuransi kesehatan menurut provinsi sampai tahun 2010 terdapat pada Lampiran 5. Kemenkes. 2010 2. Persentase penduduk yang memiliki jaminan pembiayaan kesehatan oleh program Jaminan pembiayaan/asuransi disajikan pada Gambar 5.25 ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Biro Keuangan dan Perlengkapan.95% penduduk yang tercakup oleh jaminan pembiayaan/asuransi kesehatan. Kemenkes. Pembiayaan Jaminan Kesehatan Masyarakat Menurut data Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan.26 di bawah ini menurut sumber pembiyaan sampai pertengahan tahun 2010. GAMBAR 5. 2010 141 .26 PERSENTASE PENDUDUK YANG DILINDUNGI JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT/ ASURANSI KESEHATAN DI INDONESIA PER JUNI 2010 Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.GAMBAR 5.

pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan beberapa pemerintah daerah telah memberikan jaminan pelayanan kesehatan secara gratis di puskesmas dan kelas III di rumah sakit bagi peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).541 unit Puskesmas di seluruh Indonesia yang melayani peserta Jamkesmas. 2010 Dalam upaya meningkatkan keterjangkauan masyarakat miskin dan hampir miskin terhadap pelayanan kesehatan.541 PPK. *** 142 .Peserta Jamkesmas mendapatkan pelayanan kesehatan komprehensif dan berjenjang dari pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya hingga pelayanan kesehatan rujukan di RS.27 PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. Kemenkes.27 di bawah ini menunjukkan persentase pemberi pelayanan kesehatan rujukan peserta Jamkesmas tahun 2009. diikuti RS swasta umum dan khusus 304 RS (32%). Untuk pelayanan kesehatan rujukan tersedia 946 RS/Balai/Klinik yang persentase terbesarnya merupakan RS umum dan khusus milik Pemerintah sebanyak 538 RS (57%). 40 Balai Kesehatan (4%) dan 63 RS TNI/POLRI (7%).400. Jumlah penduduk yang ditanggung oleh program Jamkesmas pada tahun 2009 sebanyak 76. Secara keseluruhan peserta Jamkesmas dilayani oleh 9. Pada tahun 2009 terdapat 8. Gambar 5. GAMBAR 5.000 jiwa.

.

Malaysia. Berdasarkan pengelompokan negara menurut WHO. Kamboja (Cambodia). Anggota ASEAN ada 10 negara yaitu Brunei Darussalam. Indonesia. derajat kesehatan. Bhutan. baik dengan negara-negara ASEAN maupun SEARO. dan Timor Leste.ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) merupakan sebuah organisasi geopolitik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengetahui keadaan penduduk 144 . Thailand. Perbandingan antar negara. Filipina. dilakukan untuk melihat posisi Indonesia terhadap negara-negara lain dalam kawasan yang sama. Korea Utara (Democratic People's Republic of Korea). Maladewa (Maldives). Laos (Lao People's Democratic Republic). Bab ini akan membahas perbandingan antara Indonesia dengan negara ASEAN dan SEARO dari aspek yang berhubungan dengan kesehatan yaitu aspek kependudukan. serta memajukan perdamaian di tingkat regional. India. A. Singapura (Singapore). KEPENDUDUKAN Informasi tentang penduduk penting diketahui agar pembangunan dapat diarahkan sesuai kebutuhan penduduk sebagai sasaran sekaligus pelaku pembangunan. Thailand. Myanmar. Indonesia termasuk dalam negara SEARO (South East Asia Region/SEARO) bersama 10 negara lainnya. dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggota. Jumlah penduduk yang besar dapat dipandang sebagai beban sekaligus juga modal dalam pembangunan. Myanmar. dan Vietnam. yaitu Bangladesh. dan upaya kesehatan. kemajuan sosial. Nepal. Sri Lanka.

Dengan wilayah negara terluas. Jumlah penduduk di kawasan ASEAN dan SEARO dapat kita lihat pada Gambar 6.3 juta jiwa (data BPS menyatakan penduduk Indonesia tahun 2009 berjumlah 231. Sedangkan Brunei Darussalam memiliki jumlah penduduk paling rendah yaitu sekitar 0. yaitu Bhutan (0.yaitu jumlah penduduk. 1.1 JUMLAH PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet. Selain Bangladesh yang berpenduduk 162. Singapura tercatat sebagai negara yang paling padat di kawasan ASEAN dengan kepadatan 7.171 juta jiwa). kepadatan penduduk.3 juta). bahkan terdapat 2 negara dengan jumlah penduduk kurang dari 1 juta. dan angka kelahiran. pada tahun 2009.2 juta jiwa.4 juta jiwa. 2009 Bila dilihat berdasarkan kepadatan penduduk. 8 negara lainnya berpenduduk kurang dari 100 juta jiwa. laju pertumbuhan penduduk. USAID. di kawasan SEARO Indonesia menempati peringkat kedua setelah India (dengan jumlah penduduk 1. Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak di antara negara anggota ASEAN lainnya dengan jumlah penduduk 243. Angka tersebut 145 . Indonesia selalu menempati peringkat satu negara dengan jumlah penduduk tertinggi di ASEAN. angka beban tanggungan.7 juta).486 penduduk per km2.4 juta jiwa).1. Indonesia menempati peringkat pertama dengan jumlah penduduk terbesar. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Menurut World Populations Data Sheet 2009. dan Maladewa (0. Jika di kawasan ASEAN. GAMBAR 6.

negara dengan kepadatan penduduk terendah adalah Laos dengan 27 penduduk per km2. Indonesia di kawasan ASEAN berada pada peringkat ke lima terpadat. Di kawasan SEARO.057 jiwa per km2. 2009 Secara nasional.2 di bawah ini. kepadatan penduduk Indonesia menurut BPS tahun 2009 adalah 121 jiwa per km2.jauh di atas negara anggota ASEAN lainnya. yaitu 1. Selanjutnya. Kepadatan penduduk di Indonesia sebesar 128 jiwa per km2. Sedangkan di kawasan SEARO. Bangladesh memiliki kepadatan penduduk tertinggi dengan 1. USAID. atau peringkat ke empat untuk negara dengan kepadatan paling rendah di antara 11 negara. 2.2 KEPADATAN PENDUDUK DI NEGARA ASEAN & SEARO (Jiwa per km2) TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet. dengan luas wilayah yang juga kecil. GAMBAR 6. Negara dengan kepadatan penduduk terendah adalah Bhutan yaitu 15 jiwa per km2.127 jiwa per km2. walaupun memiliki jumlah penduduk terkecil. Tingkat kepadatan penduduk negara-negara ASEAN dan SEARO tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 6. Laju Pertumbuhan Penduduk 146 . Indonesia menempati peringkat ke delapan terpadat. Sementara. Maladewa merupakan negara dengan kepadatan penduduk tertinggi kedua di wilayah SEARO.

sedangkan Myanmar merupakan negara dengan laju pertumbuhan penduduk paling rendah yaitu 0. Dengan diketahuinya jumlah penduduk yang akan datang. kematian dan migrasi penduduk. GAMBAR 6. yakni kelahiran. Indonesia menduduki peringkat ke-5 dengan laju pertumbuhan penduduk terendah dari 11 negara. Indonesia menduduki peringkat ke-3 terendah (bersama dengan Vietnam) untuk laju pertumbuhan penduduk.Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk di suatu wilayah atau negara di masa yang akan datang. 147 . laju pertumbuhan penduduk berkisar antara 0. laju pertumbuhan penduduk per tahun yang tertinggi di antara negara anggota ASEAN adalah Brunei Darussalam dengan laju pertumbuhan penduduk 2.1. Di kawasan ASEAN. Pada negara-negara SEARO selama periode yang sama.2008 Sumber: The State of The Worlds Children. Indikator tersebut biasa dikenal dengan laju pertumbuhan penduduk. 2010 Pada periode 1998-2008. Laju pertumbuhan penduduk terendah pada Korea Utara dan tertinggi di Timor Leste. Sedangkan bila dilihat dari kawasan SEARO.8%.6% hingga 2.3 di bawah ini.1%.3%. Laju pertumbuhan penduduk di negara-negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Gambar 6. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah 1. diketahui pula kebutuhan dasar penduduk di segenap bidang kehidupan termasuk di bidang kesehatan. Laju pertumbuhan penduduk dipengaruhi tiga faktor.9%. Data kependudukan negaranegara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.3 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK PER TAHUN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 1998 .

Di antara negara-negara di kawasan SEARO. Persentase penduduk menurut kelompok umur non produktif (kelompok umur 0-14 tahun dan kelompok umur 65 tahun keatas) untuk keadaan tahun 2009. yang dapat dilihat pada Gambar 6. Penduduk Menurut Kelompok Umur Salah satu indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang adalah Angka Beban Tanggungan (dependency ratio). Laos merupakan negara yang terbesar untuk kelompok umur tersebut dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN yaitu 43% dari total penduduk.4 KOMPOSISI PENDUDUK YANG PRODUKTIF DAN NON PRODUKTIF DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet 2009. negara dengan penduduk non produktif terendah di kawasan tersebut adalah Thailand yaitu 29%.4 di bawah ini. Timor Leste adalah negara dengan komposisi penduduk usia non produktif tertinggi yaitu 48%. Sebaliknya. Sebaliknya Singapura merupakan negara dengan komposisi penduduk kelompok umur non produktif terendah yaitu 27%. USAID 148 . GAMBAR 6.3. Semakin tinggi persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif (kelompok umur 0-14 tahun) dan tidak produktif lagi (kelompok umur 65 tahun keatas).

kategori sedang. Komposisi penduduk menurut kelompok umur serta besar Angka Beban Tanggungan di negara-negara kawasan ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6.Dengan distribusi penduduk seperti yang telah digambarkan di atas. Di kawasan SEARO. jika IPM > 0. Singapura merupakan negara dengan peringkat IPM tertinggi yaitu pada peringkat ke-24 dari 182 negara di dunia. jika IPM 0.799. yaitu panjang umur dan menjalani hidup sehat (diukur dari usia harapan hidup). kategori tinggi. 4.800 – 0.899. sedangkan Indonesia berada pada peringkat ke-111. Sementara Indonesia memiliki Angka Beban Tanggungan sebesar 54%. Laos merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan tertinggi di kawasan ASEAN yaitu 75%. dan kategori rendah. Indeks Pembangunan Manusia Human Development Index (HDI) merupakan suatu ukuran gabungan tiga dimensi tentang pembangunan manusia. jika IPM <0.500-0. Bila dilihat dari peringkat di negara ASEAN pada tahun yang sama.1. Ini berarti setiap 100 penduduk usia produktif di Indonesia menanggung 54 penduduk yang belum produktif dan yang dianggap tidak produktif lagi.734. Menurut kategori tersebut di atas. berada pada kategori IPM sedang. 149 . bila dibandingkan dengan tahun 2006 IPM Indonesia mengalami peningkatan (IPM 2006 adalah 0. IPM Indonesia pada tahun 2007 sebesar 0.500. Timor Leste merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan tertinggi yaitu 92% sedangkan Thailand merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu 41%. pada tahun 2007 terdapat 2 (dua) negara anggota ASEAN masuk dalam kategori sangat tinggi. sedangkan 7 negara anggota ASEAN lainnya. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dikategorikan sebagai berikut: kategori sangat tinggi. Berdasarkan standar internasional. Malaysia masuk dalam kategori tinggi. terdidik (diukur dari angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah) dan memiliki standar hidup yang layak (diukur dari penghasilan/pengeluaran riil per kapita). dan yang terendah adalah Myanmar dengan peringkat ke-138.729). jika IPM > 0. Sedangkan Singapura merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu 37%. yaitu Singapura dan Brunai Darussalam. termasuk Indonesia.900.

tingkat pendidikan yang rendah. dari 11 negara (Korea Utara tidak ada data).5 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Sumber: Human Development Report 2009 Pada tahun 2007 di kawasan SEARO. dan satu negara yaitu Timor Leste masuk dalam kategori rendah. 5. 150 . Perbandingan angka TFR antar negara dapat menunjukkan keberhasilan negara dalam melaksanakan pembangunan sosial ekonominya. 9 negara memiliki IPM dengan kategori sedang. Angka TFR yang tinggi merupakan cerminan rata-rata usia kawin yang rendah. tidak ada negara yang memiliki IPM dengan kategori sangat tinggi dan tinggi. Total Fertility Rate Angka Fertilitas Total atau Total Fertility Rate (TFR) merupakan gambaran mengenai rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan dari usia 15 sampai 49 tahun. tingkat sosial ekonomi rendah atau tingkat kemiskinan yang tinggi.GAMBAR 6. Data IPM negara-negara di kawasan ASEAN dan SEARO tahun 2006 2007 dapat dilihat pada Lampiran 6. terutama perempuannya.2. Selain itu tentu saja menunjukkan tingkat keberhasilan program keluarga berencana yang dilaksanakan di negara tersebut.

151 . dan tinggi (ADB. USAID Data Angka Fertilitas Total di negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6.2 yang berarti untuk setiap wanita di Indonesia rata-rata memiliki anak 2 sampai 3 orang selama masa suburnya. Key Indicators 2002). Korea Utara dan Maladewa termasuk negara dengan Angka Fertilitas Total berkategori rendah.1). diantara 11 negara SEARO.9. Thailand. kesuburan sedang antara 2.3). Angka Fertilitas Total dapat diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan yaitu rendah.1 atau kurang.6 ANGKA KESUBURAN WANITA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Layer 1 Sumber: World Population Data Sheet 2009. dan meningkatkan program pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan ibu hamil dan perawatan anak. yaitu Singapura (1.3. Sedangkan Timor Leste merupakan satu-satunya negara di SEARO yang masuk dalam kategori tinggi yaitu sebesar 6. GAMBAR 6. Sri Lanka. Dengan menggunakan klasifikasi tersebut. sedang.5. Sedangkan Indonesia masuk dalam kategori sedang dengan angka kesuburan wanita 2.Angka Fertilitas Total suatu negara dapat dipergunakan bagi para perencana program pembangunan untuk meningkatkan rata-rata usia kawin. Bangladesh. Bhutan. dan Nepal) masuk dalam kategori sedang.6 berikut ini. India. 7 negara (Indonesia. Pada tahun 2008. Besaran Angka Fertilitas Total di negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Gambar 6. Thailand (1. serta Brunei Darussalam dan Vietnam (masing-masing 2. Myanmar. maka pada tahun 2008 ada 4 negara yang termasuk dalam kategori angka kesuburan wanita rendah.2. Kesuburan rendah terjadi ketika angka kesuburan wanita 2.8).2 . dan kesuburan tinggi jika angka kesuburan wanita 4 atau lebih.

Sedangkan Indonesia memiliki Angka Kelahiran Kasar sebesar 21 kelahiran untuk setiap 1. Data Angka Kelahiran Kasar di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. Terendah di Thailand (15) dan Korea Utara (16) sedangkan tertinggi di Timor Leste (40) dan Nepal (29). Angka Kelahiran Kasar pada tahun 2008 di negara-negara ASEAN dengan kisaran 10 sampai 28 per 1.000 penduduk. GAMBAR 6.000 penduduk dan diikuti oleh Filipina yaitu 26 per 1. Pada tahun 2008.000 penduduk. di kawasan ASEAN Indonesia menempati peringkat ke-4 tertinggi. Angka Kelahiran Kasar Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR) adalah angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1. sedangkan di kawasan SEARO menempati peringkat ke-6 tertinggi untuk Angka Kelahiran Kasar.6.7 ANGKA KELAHIRAN KASAR DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 152 . Angka Kelahiran Kasar di negara-negara SEARO berkisar antara 15 sampai 40 per 1.7 memperlihatkan perbandingan Angka Kelahiran Kasar negara-negara kawasan ASEAN dan SEARO.000 penduduk.2. Singapura memiliki Angka Kelahiran Kasar terendah yaitu 10 kelahiran per 1. Dengan 21 kelahiran per 1. Gambar 6.000 penduduk.000 penduduk. Angka tertinggi terjadi di Laos dengan Angka Kelahiran Kasar 28 per 1.000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama.000 penduduk.

Sumber: World Population Data Sheet 2009.820. dan terendah adalah Nepal dengan US$ 1. yaitu masing-masing US$ 1. USAID Dari sepuluh negara di SEARO (tidak ada data untuk Korea Utara). Negara dengan pendapatan nasional bruto perkapita tertinggi adalah Thailand yaitu sebesar US$ 5.8 PENDAPATAN NASIONAL BRUTO DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009.940 per kapita). USAID 7. Jika dibandingkan dengan 19 negara di ASEAN dan SEARO. seluruhnya memiliki Pendapatan Nasional Bruto perkapita kurang dari US$ 6. beserta pendapatan yang diterima dari negara lain. Sosial Ekonomi Pendapatan Nasional merupakan salah satu indikator untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu negara. GAMBAR 6.990. Pendapatan Nasional Bruto perkapita (Gross National Income) terdiri atas sejumlah nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara.290 dan US$ 1. Pendapatan Nasional Bruto di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Gambar 6.8 di bawah ini.000.200 perkapita) diikuti oleh Singapura (US$ 47. Sedangkan Indonesia memiliki pendapatan nasional bruto perkapita sebesar US$ 3.830. Myanmar dan Kamboja merupakan negara dengan Pendapatan Nasional Bruto perkapita terendah. 153 . Pendapatan Nasional Bruto perkapita tertinggi di 2008 antara negara anggota ASEAN adalah Brunei Darussalam (US$ 50.120. Indonesia berada di peringkat ke-6 tertinggi pendapatan nasional bruto per kapita.

Vietnam dan Thailand termasuk negara dengan Angka Kematian Bayi rendah. Tiga negara. yaitu Sri Lanka dan Thailand masuk dalam kategori negara dengan angka kematian bayi rendah dengan angka 13 per 1.000 kelahiran hidup. sementara 2 negara lainnya (Kamboja dan Myanmar) masuk dalam kelompok negara yang memiliki Angka Kematian Bayi tinggi. Berdasarkan klasifikasi yang sama maka 2 negara di SEARO.9 ANGKA KEMATIAN BAYI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2007. termasuk kelompok sedang. USAID Sumber: World Health Statistics WHO.000 kelahiran hidup. Dari 10 negara anggota ASEAN tidak ada yang masuk dalam kelompok angka kematian bayi sangat tinggi (>100 per 1. sedang 20-49.B. Brunei Darussalam. Angka Kematian Bayi Angka kematian bayi diklasifikasikan menjadi empat kelompok yaitu rendah jika AKB kurang dari 20.000 kelahiran hidup). yaitu 4 negara termasuk kategori tinggi. DERAJAT KESEHATAN MORTALITAS 1. Indonesia dan Laos. tinggi 50-99. GAMBAR 6. Lima Negara masuk kategori sedang dan selebihnya. Malaysia. 154 . 2010 Gambar 6. lima negara ASEAN yaitu Singapura. yaitu Filipina.9 menunjukkan bahwa pada tahun 2008. dan sangat tinggi jika AKB di atas 100 per 1.

dan malnutrisi. sedangkan yang tertinggi adalah di . Kamboja. campak. Angka Kematian Balita di SEARO berkisar antara 14 sampai 122 per 1. Angka Kematian Balita Penurunan kasus kematian pada anak merupakan salah satu hal yang dianggap penting dalam tujuan pembangunan milenium.Myanmar yaitu sebesar 122 kematian per 1. sedangkan terendah adalah Thailand. dan Laos yang memiliki Angka Kematian Balita di atas 50 per 1.000 kelahiran hidup. Sebagian besar negara ASEAN memiliki Angka Kematian Balita kurang dari 50 per 1. Menurut sumber yang sama. Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 70% kematian balita disebabkan diare.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.000 KELAHIRAN HIDUP) DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Health Statistics 2010 Data yang didapat dari “World Health Statistics 2010” memperlihatkan perbedaan yang mencolok Angka Kematian Balita di antara negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2008. pneumonia.2.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.10 ANGKA KEMATIAN BALITA (PER 1. sebaliknya di SEARO hanya 4 negara dengan AKABA kurang dari 50. Pada kasus kematian yang tinggi biasanya jumlah kematian terbanyak terjadi pada usia balita saat mereka rentan terhadap penyakit.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Balita terendah dicapai Singapura yaitu 3 kematian per 1. malaria. GAMBAR 6. Jika di ASEAN hanya terdapat 3 negara (dari 10 negara) dengan AKABA lebih dari 50 per 1. 2.Besaran Angka Kematian Bayi di negara-negara ASEAN dan SEARO berkisar antara 2 dan 75. Indonesia memiliki angka kematian bayi 31 per 1000 kelahiran hidup dan berada di peringkat 9 di antara 18 negara tersebut. Data Angka Kematian Bayi di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. hanya Myanmar. Seperti di ASEAN. Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Balita tertinggi. 155 .

dan malnutrisi.000 kelahiran hidup.000 156 .000 kelahiran hidup) dan Kamboja (540 per 100. Pada tahun yang sama. Negara-negara dengan Angka Kematian Ibu > 500 di ASEAN ada 2 negara yaitu Laos (660 per 100.000. Sekitar 55% memiliki Angka Kematian Ibu 200-499 per 100.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.000.000 kelahiran hidup (menurut SDKI 2007 AKABA Indonesia adalah 44). sedangkan pada kawasan SEARO. Di kawasan ASEAN.10 terlihat bahwa negara-negara ASEAN memiliki Angka Kematian Balita relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara SEARO. 200-499 per 100. di Indonesia terdapat 41 kematian balita per 1.000.000 per 100. Pada tahun 2008. Indonesia menempati peringkat ke-4 tertinggi kematian balitanya. Data Angka Kematian Balita di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. Telah dipaparkan sebelumnya bahwa sebagian besar kematian balita disebabkan oleh diare. Angka Kematian Ibu Berdasarkan klasifikasi Angka Kematian Ibu dari WHO adalah sebagai berikut. 3. Indonesia menempati peringkat ke-4 terendah kematian balita per 1. dan ≥1.Pada Gambar 6. 500-999 per 100.2. GAMBAR 6. Hal itu berarti negara-negara ASEAN mungkin memiliki sanitasi dan keadaan ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara-negara SEARO. pneumonia. <15 per 100.11 ANGKA KEMATIAN MATERNAL DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2005 Sumber: World Health Statistics 2009 Pada tahun 2005 hanya 2 negara ASEAN yaitu Brunei Darussalam dan Singapura yang mencapai Angka Kematian Ibu <15 masing-masing 13 dan 14 per 100. negara-negara di SEARO tidak ada yang mencapai Angka Kematian Ibu <15. 15-199 per 100.000.000 kelahiran hidup).

berdasarkan data SDKI 2007. Data Angka Kematian Ibu di negara ASEAN dan SEARO tahun 2005 dapat dilihat pada Lampiran 6.000 kelahiran hidup. Di antara kedua kawasan tersebut.kelahiran hidup. 4.000 penduduk. Jika tidak ada indikator kematian yang lain angka ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan.2. Indonesia berada di peringkat ke-12 (dari 18 negara di ASEAN dan SEARO) untuk Angka Kematian Ibu yaitu 420 per 100. 157 . yakni sebesar 10 per 1.000 penduduk. Keadaan Angka Kematian Kasar di negara-negara kawasan SEARO. USAID Di antara negara-negara anggota ASEAN.12 ANGKA KEMATIAN KASAR (PER 1.000 penduduk.000 PENDUDUK) DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009. tidak berbeda jauh dengan negara-negara di kawasan ASEAN. yaitu Nepal (830) dan Bangladesh (570). Angka nasional untuk Angka Kematian Ibu di Indonesia adalah 228 per 100. sementara terendah adalah Maladewa dengan 4 kematian per 1. GAMBAR 6. Pada umumnya penduduk tua mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda. Dan 18% memiliki Angka Kematian Ibu >500.000 penduduk. pada tahun 2008 Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Kasar atau Crude Death Rate (CDR) tertinggi. Korea Utara dan Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Kasar tertinggi yaitu 10 per 1.000 kelahiran hidup. Sementara. Angka Kematian Kasar Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1.

Indonesia dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir 67 tahun menempati peringkat ke-4 terendah. Data Angka Kematian Kasar di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. USAID Untuk kawasan SEARO. Di kawasan ASEAN.13 ANGKA HARAPAN HIDUP DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009. Indonesia menduduki peringkat ke-2 terendah. Maladewa merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir (Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 74 tahun. dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. 158 . GAMBAR 6. Data Angka Harapan Hidup di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. 5. Negara yang memiliki umur harapan hidup waktu lahir terendah adalah Myanmar yaitu 54 tahun. Negara yang memiliki Angka Harapan Hidup waktu lahir terendah adalah Myanmar yaitu 54 tahun. Di kawasan ASEAN.13 memperlihatkan bahwa pada tahun 2008 di antara sepuluh negara anggota ASEAN.2.000 penduduk. Gambar 6. di Indonesia terdapat 6 kematian per 1.Pada tahun 2008. sedangkan di kawasan SEARO menempati peringkat ke4 tertinggi.2. Angka Harapan Hidup Angka Harapan Hidup merupakan indikator untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya. Singapura merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir (Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 81 tahun. Indonesia menduduki peringkat ke-5 tertinggi Angka Kematian Kasar sedangkan di kawasan SEARO.

000 penduduk yaitu masing-masing 27 dan 43 kasus per 100.14 PREVALENSI DAN KEMATIAN AKIBAT TUBERKULOSIS PER 100.000 penduduk di negara-negara ASEAN dan SEARO. angka prevalensi tuberkulosis pada tahun 2008 di negara-negara SEARO memiliki kesenjangan yang cukup besar.000 penduduk. berkisar antara 13 sampai 660 per 100.000 penduduk.000 penduduk.000 penduduk) dan terendah adalah Maladewa (13 per 100. GAMBAR 6. Angka prevalensi tuberkulosis pada tahun 2008 di negara-negara anggota ASEAN berkisar antara 27 sampai 680 per 100. Sedangkan Singapura dan Brunei Darussalam memiliki prevalensi tuberkulosis di bawah 50 kasus per 100. Masih menurut sumber yang sama.000 penduduk.000 penduduk.000 penduduk). Negara dengan prevalensi tuberkulosis tertinggi tahun 2008 adalah Timor Leste (660 per 100.000 penduduk dan kematian yang berhubungan dengan tuberkulosis per 100.000 ribu penduduk. Prevalensi Tuberkulosis (TBC) Data dari “World Health Statistics 2010” menunjukkan besarnya perbedaan prevalensi tuberkulosis per 100.000 PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Health Statistics 2010 Seperti halnya negara-negara di ASEAN. Kamboja merupakan negara dengan prevalensi tuberkulosis tertinggi di ASEAN yaitu 680 per 100. 159 .MORBIDITAS 1. kematian akibat tuberkulosis pada tahun 2008 tertinggi terjadi di Kamboja yaitu 79 per 100. Sedangkan kasus kematian akibat tuberkulosis terendah terjadi di Singapura dan Brunei Darussalam masing-masing 3 dan 4 kematian per 100.

Akibatnya sebanyak 18 orang harus dirawat di rumah sakit.00 penduduk).15 JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2003-2009 160 . Indonesia dengan prevalensi 210 per 100. Avian Influenza pertama kali masuk ke wilayah ASEAN pada tahun 2003 melalui Vietnam. Seperti angka prevalensi tuberkulosis. angka kematian akibat tuberkulosis yang terendah juga di Maladewa (3 per 100. Thailand. angka kematian tertinggi akibat tuberkulosis juga terjadi di Timor Leste yaitu 83 kematian per 100. Myanmar dan Kamboja. Sampai dengan akhir tahun 2009. ilmuwan meyakini penularan virus influenza dari unggas ke manusia tidak terjadi secara langsung. Avian Influenza Kemunculan strain virus influenza yang baru pada manusia (strain H5N1) pertama kali terdeteksi di Hongkong.4.000 penduduk. dan 6 diantaranya meninggal dunia. Ditemukan fakta pertama kali bahwa virus Avian Influenza dapat menular langsung dari unggas ke manusia. Laos. Sebelum tahun 1997.Sedangkan kematian akibat tuberkulosis di negara-negara kawasan SEARO berkisar antara 3 sampai 83 per 100. 2. GAMBAR 6. Seperti halnya angka prevalensi.000 penduduk berada pada urutan ke-9 tertinggi yang dapat dilihat pada Lampiran 6. 3 orang dinyatakan menderita penyakit tersebut dan seluruhnya meninggal. Indonesia.000 penduduk. Di antara 18 negara di ASEAN dan SEARO. 6 negara di wilayah ASEAN telah terinfeksi Avian Influenza yaitu Vietnam.

Vietnam dan Indonesia. Semenjak itu jumlah kasus Avian Influenza terus menurun. namun tidak demikian dengan angka kematiannya (CFR). terjadi peningkatan CFR menjadi 88. Thailand pun telah terinfeksi virus H5N1 ini. 161 . Tahun 2009. Myanmar dan Thailand) sudah tidak menunjukkan adanya penemuan kasus. Kasus pertama kali menyerang Vietnam dengan 3 korban yang keseluruhannya berakhir pada kematian.1 memperlihatkan bahwa selama 2 tahun terakhir. 90 orang menjadi korban.15 memperlihatkan jumlah kasus dan kematian akibat Avian Influenza di wilayah ASEAN sejak tahun 2003 sampai 2009.Sumber: WHO.int/csr/disease/avian_influenza/country/cases_table_2010_03_16/en/index.html Ket.22%). Pada tahun tersebut selain Vietnam. jika sebelumnya hampir 100% berakhir pada kematian. yaitu Kamboja.: K = Kasus M = Meninggal Tabel 6. Di 3 negara yang pernah terjangkit virus ini (Laos.89% (27 kasus dengan 24 kematian). Tahun 2004 jumlah kasus meningkat menjadi 46 dengan 32 kematian. Akhir tahun 2005 jumlah penderita dan negara yang terinfeksi Avian Influenza terus bertambah. 2008 Gambar 6. Pada tahun 2008 terdapat 31 kasus dari 3 negara di ASEAN dengan 25 kematian (CFR = 80.1 JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA MENURUT NEGARA TAHUN 2003-2009 NEGARA Kamboja Laos Vietnam   Indonesia    Myanmar   Thailand   Bangladesh   ASEAN SEARO 2003 K M 0 0 0 0 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3 0 0 2004 K M 0 0 0 0 29 20 0 0 0 0 17 12 0 0 46 32 17 12 2005 K M 4 4 0 0 61 19 20 13 0 0 5 2 0 0 90 38 25 15 2006 K M 2 2 0 0 0 0 55 45 0 0 3 3 0 0 60 50 58 48 2007 K M 1 1 2 2 8 5 42 37 1 0 0 0 0 0 54 45 43 37 2008 K M 1 0 0 0 6 5 24 20 0 0 0 0 1 0 31 25 25 20 2009 K M 1 0 0 0 5 5 21 19 0 0 0 0 0 0 27 24 21 19 Total K M 9 7 2 2 112 57 162 134 1 0 25 17 1 0 311 217 189 151 Sumber: http://www. virus Avian Influenza menyebar di 3 negara ASEAN. Namun kali ini jumlah kematian bisa ditekan.65%). TABEL 6.who. tahun 2005 dari 90 penderita 38 meninggal (42.

Difteri. di antara negara-negara anggota ASEAN. 2 penderita berasal dari Indonesia dan masing-masing 1 penderita berasal dari Kamboja dan Myanmar. Pertusis.2 JUMLAH KASUS POLIO PER NEGARA TAHUN 2004-2008 NEGARA 2004 2005 2006 2007 2008 Kamboja 0 1 1 0 0 Laos 1 0 0 0 0 Indonesia 0 349 2 0 0 Myanmar 0 0 1 15 0 Bangladesh 0 0 18 0 0 India 134 66 676 873 559 Nepal 0 4 5 5 6 ASEAN 1 350 4 15 0 SEARO 134 419 702 893 565 Sumber: WHO vaccine-preventable disease monitoring system. Namun.Penyakit flu burung mulai menyerang manusia di kawasan SEARO pada tahun 2004. pada tahun 2004 virus polio liar kembali menyerang penduduk di kawasan ASEAN. Negara-negara di SEARO yang terjangkit flu burung sejak 2004 adalah negara-negara yang juga tergabung dalam ASEAN. Penyakit-penyakit tersebut adalah Tuberkulosis. 349 di antaranya terjadi di Indonesia. Tahun 2006 penularan penyakit polio mulai dapat dikendalikan. TABEL 6. sebanyak 350 penduduk dari 2 negara di ASEAN yaitu Kamboja dan Indonesia terserang penyakit polio. 3. sehingga hanya ditemukan 4 penderita di kawasan ini. atau biasa disebut dengan PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi). hanya Myanmar yang masih ditemukan kasus polio bahkan jumlahnya meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya ditemukan 1 kasus menjadi 15 kasus. Indonesia yang pada tahun 2005 terjadi kejadian luar biasa dengan ditemukannya 349 kasus polio mampu mengendalikan kejadian tersebut sehingga pada sejak 2007 tidak ditemukan lagi kasus polio. Pada tahun 2007. di antara penyakit-penyakit tersebut terdapat penyakit yang dapat dicegah dengan melakukan imunisasi. Tetanus Neonatorum. Dilaporkan terdapat 1 kasus ditemukan di Laos. yaitu di Thailand. Namun. Negara-negara tersebut adalah Thailand dan Indonesia. dan Polio. Campak. 162 . Tetanus. POLIO Beberapa penyakit dapat berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa. 2009 global summary Sejak tahun 2001 kasus polio tidak ditemukan di negara-negara di ASEAN. Hepatitis B. Pada tahun 2005 jumlah kasus polio mencapai puncaknya.

Tetanus Neonatorum Kasus tetanus banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan lingkungan rendah. Tingginya angka kejadian ini karena kontribusi jumlah kasus yang sangat besar oleh India yang merupakan salah satu dari 4 negara endemis polio. 4.Pada tahun 2008. jumlah seluruh kejadian polio di kawasan SEARO cukup tinggi sejak tahun 2002 dan tahun-tahun sebelumnya. karena umumnya terjadi pada bayi baru lahir atau usia di bawah satu bulan. wilayah ASEAN sudah tidak ditemukan lagi kasus Polio. 2009 global summary Jika dibandingkan dengan kawasan ASEAN. karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan. Namun. spora Clostridium tetani yang masuk melalui luka tali pusat. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan.16 JUMLAH KASUS POLIO DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2004-2008 Sumber: WHO vaccine-preventable disease monitoring system. yaitu India dan Nepal. Tetanus pada bayi. GAMBAR 6. Walau pada 2008 India telah berhasil menekan jumlah kasus polio. sementara Nepal mengalami kenaikan 20%. di SEARO masih ditemukan sebanyak 565 kasus dari 2 negara. India mengalami penurunan 36% dari tahun sebelumnya. namun 99% kasus di SEARO terjadi di India. 163 . dikenal dengan istilah Tetanus Neonatorum. kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. Penyebabnya. Semenjak 2004 sampai 2006 jumlah kasus lambat laun kembali meningkat. Tetanus adalah salah satu penyakit menular dan paling berisiko mengakibatkan kematian.

salah satunya adalah mempertahankan cakupan imunisasi campak sebesar 90%. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor penting dalam mengurangi angka kematian balita. Tetanus Neonatorum terjadi di 8 negara ASEAN. UPAYA KESEHATAN 1. Maka untuk mengukur keberhasilan upaya kesehatan yang digunakan adalah polio3 yaitu ketika bayi telah mendapatkan imunisasi polio sebanyak 3 dosis (3 kali). Dari 22 tujuan yang disepakati dalam pertemuan dunia tentang anak. Di seluruh negara ASEAN dan SEARO. dan campak. baik dari jumlah kasus maupun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. imunisasi polio membutuhkan 3 dosis. Tidak seperti imunisasi BCG atau campak yang membutuhkan 1 dosis. campak adalah penyebab utama kematian anak. Cakupan Imunisasi Imunisasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah kematian pada bayi dengan memberikan vaksin. dan juga digunakan sebagai salah satu indikator akses ke pelayanan kesehatan. Indonesia dan Bangladesh menempati urutan kedua dan ketiga terbesar dengan masing-masing 183 dan 152 kasus. sementara Indonesia justru berada di urutan ke-5. Beberapa imunisasi yang wajib diberikan pada bayi adalah imunisasi polio. Selain BCG. tahun 2008 pada kawasan SEARO jumlah kasus tetanus neonatorum yang terjadi di India jauh melebihi kasus di negara lain di kawasan ASEAN. C. BCG seringkali digunakan sebagai cerminan proporsi anak-anak yang dilindungi dari bentuk tuberkulosis yang parah selama 1 tahun pertama hidupnya. Berdasarkan Vaccine-Preventable Disease Monitoring System 2009. BCG. yaitu 811 kasus. Imunisasi polio merupakan imunisasi untuk mencegah penyakit polio. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk. Sedangkan di Bhutan. Akan tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Di Singapura dan Brunei Darussalam dilaporkan tidak ada kasus Tetanus Neonatorum. vaksin lain yang wajib diberikan pada bayi adalah polio. dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia dan Filipina yang melebihi 100 orang. angka tertinggi kasus tetanus neonatorum terjadi di Kamboja.57.Pada tahun 2008. Di antara penyakit pada anak-anak yang dapat dicegah dengan imunisasi.158. imunisasi campak 164 . Korea Utara dan Maladewa dilaporkan tidak ada kasus tetanus neonatorum. India tetap menjadi negara di urutan pertama dengan angka 1. Jumlah kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi di negara-negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6.6. Thailand merupakan negara dengan kasus terendah.

Bangladesh. Jika dibandingkan dengan imunisasi lainnya pada Gambar 6. Dengan demikian. Polio. Sedangkan Timor Leste merupakan negara dengan cakupan imunisasi BCG terendah yaitu 68%. 7 dari 10 negara anggota ASEAN telah mencapai target cakupan imunisasi polio3 sebesar 90%. dan Campak).diberikan pada bayi usia 9-12 bulan dan merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada bayi di antara imunisasi wajib lainnya (BCG. diasumsikan bayi yang mendapatkan imunisasi campak telah mendapatkan imunisasi lengkap. Berarti besarnya cakupan imunisasi campak juga menggambarkan besarnya cakupan bayi yang telah mendapat imunisasi lengkap. Pada tahun 2008 cakupan imunisasi BCG tertinggi di antara negara anggota ASEAN dicapai Thailand dan Singapura 99% dan terendah Laos 68%. Di kawasan SEARO. Hepatitis.17 CAKUPAN BEBERAPA IMUNISASI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber : WHO Immunization Summary. Menurut sumber yang sama. Indonesia dan Sri Lanka. 2010: A Statistical Reference Containing Data through 2008 Pada tahun 2008. DPT. Negara-negara tersebut adalah Thailand. cakupan imunisasi BCG pada bayi umumnya lebih tinggi. Korea Utara. GAMBAR 6. Cakupan tertinggi dicapai oleh Brunei Darussalam dan Thailand yaitu 99% dan terendah adalah Laos yaitu 60%. 7 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi BCG 90%. Maladewa.17. Bhutan. Hal tersebut terjadi karena jadwal pemberian imunisasi BCG yang relatif lebih awal dibandingkan dengan imunisasi yang lain—bahkan beberapa negara memberikan imunisasi BCG sesaat setelah bayi dilahirkan—sehingga bayi masih dalam pantauan petugas kesehatan. 6 dari 165 .

6 negara anggota ASEAN juga telah mencapai target imunisasi campak yaitu 90%. Pada tahun yang sama. namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi di India. Hampir di seluruh negara ASEAN dan SEARO imunisasi hepatitis merupakan imunisasi dasar yang diberikan pada bayi. Thailand merupakan negara dengan cakupan imunisasi campak tertinggi yaitu 98%. Sementara di Indonesia sebanyak 89% bayi telah mendapatkan imunisasi BCG.67%. 2. Cakupan imunisasi Campak di Indonesia 2008 sebesar 83%. Enam negara ASEAN lainnya belum mencapai target penemuan penderita penyakit paru karena masih berkisar 43% . Indonesia (80%). Sedangkan negara-negara lain telah mencapai imunisasi tersebut di atas 60%. Empat negara tersebut adalah Brunei Darussalam (87%). 166 . 4 negara ASEAN telah mencapai target penemuan penderita yang ditetapkan WHO yaitu 70%. Malaysia. Sedangkan yang terendah adalah Laos dengan cakupan campak sebesar 52%. 5 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi Campak 90%. Di kawasan SEARO. Korea Utara.7. dan 83% mendapatkan imunisasi campak. Negara-negara tersebut adalah Brunei Darussalam. Bhutan. Sementara pencapaian secara global temuan kasus TB Paru adalah 60% dan angka kesembuhan mencapai 84%. 77% mendapatkan imunisasi polio3. Di India imunisasi hepatitis bukan merupakan imunisasi dasar. Pengendalian TB Paru WHO telah menetapkan target untuk temuan kasus TB Paru melalui strategi DOTS 70% dan angka kesembuhan 85%. maka pada Lampiran 6. Singapura.7 dapat dilihat hanya India yang merupakan negara dengan persentase rendah bayi yang mendapat imunisasi hepatitis3. Cakupan imunisasi polio tertinggi adalah Thailand 99% dan terendah adalah India dengan 67%. Sedangkan India merupakan negara dengan cakupan imunisasi Campak terendah yaitu 70%. Pada tahun 2008. Hal tersebut berarti pencapaian kedua indikator tersebut belum mencapai target walaupun untuk angka kesembuhan hampir mencapai target. Maladewa dan Sri Lanka. Vietnam dan Thailand. yaitu 21%. Negara-negara tersebut adalah Thailand. dan Malaysia (76%). Filipina. Singapura (87%). bahkan beberapa di antaranya telah melebihi 90%. Cakupan 5 imunisasi dasar di ASEAN dan SEARO lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6.11 negara di kawasan SEARO telah mencapai cakupan imunisasi polio3 sebesar 90%.

Negara dengan angka cakupan penemuan tertinggi adalah Maladewa dengan 86%.18 PENEMUAN PENDERITA TB PARU DI NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 GAMBAR 6.18 dan 6. dan Thailand termasuk negara yang belum mencapai target penyembuhan penderita.19 terlihat bahwa Indonesia telah mencapai target yang ditetapkan terhadap indikator case detection rate (angka penemuan penderita) dan 167 . yaitu 91%. Brunei. pada tahun 2007 terdapat 6 negara di ASEAN dengan angka kesembuhan mencapai target (85%). Ada penurunan angka drastis pada tahun ini. Pada Gambar 6. Indonesia termasuk salah satu negara yang mencapai target untuk angka kesembuhan ini. Malaysia. Singapura. Bangladesh yang pada tahun 2006 memiliki angka kesembuhan tertinggi (92%) turun menjadi negara dengan angka kesembuhan terendah (62%) di tahun 2007.Dari 11 negara-negara di kawasan SEARO hanya 6 negara yang sudah mencapai target penemuan penderita Tuberkulosis. GAMBAR 6. Tertinggi dicapai Buthan dengan angka kesembuhan 93% dan terendah adalah Bangladesh dengan angka kesembuhan 62%. Penemuan penderita tuberkulosis terendah terdapat di Timor Leste dengan cakupan 33%. Angka kesembuhan tertinggi dicapai Kamboja dengan 94% dan terendah adalah Malaysia dengan 72%.19 terlihat bahwa 7 negara di kawasan SEARO telah mencapai angka penyembuhan penderita. Sementara itu.19 ANGKA KESEMBUHAN TB PARU DI NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Sumber: World Health Statistic 2010 Sumber: World Health Statistic 2010 Menurut sumber yang sama. dari Gambar 6.

succes rate (angka kesembuhan). Bahkan untuk angka kesembuhan, Indonesia mencapai
angka tertinggi ke-2 di kawasan SEARO.

3. Sumber Air Bersih dan Sanitasi
Pada tahun 2008, di antara 10 negara anggota ASEAN (Brunei Darussalam tidak ada
data), penduduk yang menggunakan sumber air bersih yang telah mencapai 80% atau lebih
sebanyak 6 negara. Hanya Kamboja, Laos dan Myanmar dengan persentase penduduk yang
memiliki akses terhadap air bersih kurang dari 80%. Persentase tertinggi dicapai Malaysia
dan Singapura yaitu 100% dan terendah Laos dengan 57%.
Pada tahun yang sama, di antara negara-negara di kawasan SEARO hampir seluruh
negara dengan penduduk yang menggunakan sumber air bersih 80% atau lebih, kecuali
Timor Leste dengan persentase sebesar 69%. Negara dengan persentase tertinggi adalah
Korea Utara yaitu 100%.
GAMBAR 6. 20
PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SUMBER AIR BERSIH DAN
SARANA SANITASI SEHAT DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008

Sumber: World Health Statistics 2010

Berdasarkan Gambar 6.20 di atas terlihat bahwa di antara negara-negara di ASEAN
dan SEARO terdapat perbedaan persentase yang besar antar negara dengan penduduk yang
menggunakan sarana sanitasi sehat tertinggi dan yang terendah dengan kisaran 29% dan
100%. Negara dengan cakupan 29% adalah Kamboja dan negara dengan cakupan 100%
adalah Singapura. Dibandingkan persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih,
168

maka persentase penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat relatif rendah, masih
terdapat 10 negara di kawasan ini dengan penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat
di bawah 80%. Persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih dan sarana
sanitasi sehat di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.3.

4. Pelayanan Kesehatan Ibu
Dari 10 anggota ASEAN (Brunei, Laos, Malaysia dan Singapura tidak ada data),
Indonesia merupakan negara dengan persentase pemeriksaan ibu hamil (K4) tertinggi yaitu
sebesar 81%. Sedangkan yang terendah tercatat di Kamboja yaitu sebesar 27%. Untuk
kawasan SEARO cakupan pemeriksaaan ibu hamil (K4) tertinggi dicapai oleh Korea Utara
yaitu sebesar 95%, diikuti oleh Maladewa (91%), dan yang terendah adalah Bangladesh
sebesar 21 %.
Cakupan pertolongan persalinan di negara-negara ASEAN bervariasi dengan cakupan
tertinggi di Negara Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia masing-masing sebesar
100% dan yang terendah di Laos dengan cakupan 20%. Indonesia dengan cakupan salinakes
73% berada pada peringkat ke-6 dari 10 negara. Untuk kawasan SEARO cakupan salinakes
tertinggi dicapai oleh Thailand dan Sri Lanka yaitu sebesar 99% dan yang terendah di
Bangladesh sebesar 18%.
Persentase peserta KB aktif pada wanita subur tahun 2009 di negara-negara anggota
ASEAN (Brunei Darussalam dan Malaysia tidak ada data) yang tertinggi dicapai oleh
Thailand dengan cakupan sebesar 70%, dan yang terendah di Kamboja sebesar 27%.
Indonesia dengan cakupan peserta KB aktif sebesar 57% berada pada peringkat ke-3 dari 10
negara ASEAN. Untuk negara-negara anggota SEARO cakupan peserta KB aktif tertinggi
dicapai oleh Thailand sebesar 70% dan yang terendah di Bangladesh sebesar 18%.

***

169

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2006. Estimasi Parameter Demografi SUPAS 2005. BPS, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2005. BPS, Jakarta.
___________. 2007. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2006. BPS, Jakarta.
___________. 2008. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2007. BPS, Jakarta.
___________. 2009. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2008. BPS, Jakarta.
___________. 2005. Beberapa Indikator Penting Sosial-Ekonomi Indonesia 2005. BPS,
Jakarta.
___________. 2007. Beberapa Indikator Penting mengenai Indonesia. BPS, Jakarta.
___________. 2010. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.
BPS, Jakarta.
___________. 2010. Analisis Dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan 2010. BPS, Jakarta.
___________. 2004. Statistik Indonesia 2003. BPS, Jakarta.
___________. 2005. Statistik Indonesia 2004. BPS, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Indonesia 2005/2006. BPS, Jakarta.
___________. 2007. Statistik Indonesia 2007. BPS, Jakarta.
___________. 2004. Statistik Kesehatan 2004. BPS, Jakarta.
___________. 2008.. Pedoman Millenium Development Goals. BPS, Jakarta.
___________. 2008.. Press Release BPS 2008: Jumlah Kemiskinan. www.bps.go.id, Jakarta.
___________. 2010.. Berita Resmi Statistik, BPS, No. 45/07/Th. XIII, 1 Juli 2010.
___________. 2010.. Data Strategis BPS, BPS, Jakarta.
___________. 2010.. Hasil Sensus Penduduk 2010, Data Agregat Per Provinsi, BPS, Jakarta.
170

Badan Pusat Statistik (BPS) dan Macro International, 1998. Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 1997. Calverton, Maryland, USA.
___________. 2003. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003.
Calverton, Maryland, USA.
___________. 2008. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. Macro.
Calverton, Maryland, USA.
Badan Pusat Statistik, BAPPENAS, UNFPA. 2005. Proyeksi Penduduk Indonesia (Indonesia
Population Projection 2000 - 2025). BPS, Jakarta.
Kementerian Dalam Negeri. 2010. Kode Dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
2010. Depdagri, Jakarta.
www.depdagri.goid
Kementerian Kesehatan. 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
___________. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar, RISKESDAS Indonesia Tahun
2007. Depkes, Jakarta.
___________. 2008. Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
2008. Depkes, Jakarta.
___________. 2008. Profil Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan 2007.
Depkes, Jakarta.
___________.2008. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) KIA, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
___________. 2006. Profil Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumberdaya Manusia
Kesehatan 2005. Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 1: Kegiatan Pelayanan.
Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 2: Ketenagaan. Depkes, Jakarta.
___________. 2006.Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 3:Morbiditas/Mortalitas.
Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Profil Pendidikan Tenaga Kesehatan Tahun 2006. Pusdiknakes, Depkes
RI, Jakarta.

171

___________. 2005. Publikasi Hasil Analisis Data Survei Kesehatan Nasional 2004. Badan
Litbangkes, Depkes RI, Jakarta.
___________.2005. Pencegahan dan Pemberantasan DBD di Indonesia, Dirjen PPPL
Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
___________.2000. Indonesia Sehat 2010, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
___________.1996. Publikasi Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995. Badan
Litbangkes, Jakarta.
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2010. Strategi Nasional
Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal 2004-2009. Jakarta.
USAID, 2008. The World Population Data Sheet. Population Reference Bureau.
The United Nations Development Programme. 2008. Human Development Report
2007/2008. UNDP, New York.
UNAIDS. 2008. 2008 Report on The Global AIDS Epidemic. UNAIDS/WHO.
UNICEF. 2008. The State of the World’s Children 2008. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2009. The State of the World’s Children 2009. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2008. Incidence Series Immunization 2007. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2008. Immunization Summary: The 2007 Edition. UNICEF/WHO, New York.
WHO. 2008. World Health Statistics 2007. WHO Press, Geneva.
___________. World Health Statistics 2008. WHO Press, Geneva.
___________. 2008. WHO Vaccine – Preventable Diseases, Monitoring System. WHO, New
York.

***

172

Lampiran 2.1

PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kepulauan Bangka Belitung
Kepulauan Riau
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Maluku
Maluku Utara
Papua Barat
Papua

Indonesia
Sumber: Kementerian Dalam Negeri, 2010

Kabupaten

Kota

Pembagian Wilayah
Kabupaten + Kota

Kecamatan

Kelurahan + Desa

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

18
25
12
10
9
11
9
12
6
5
1
17
29
4
29
4
8
8
20
12
13
11
10
11
10
21
10
5
5
9
7
10
28

5
8
7
2
2
4
1
2
1
2
5
9
6
1
9
4
1
2
1
2
1
2
4
4
1
3
2
1
0
2
2
1
1

23
33
19
12
11
15
10
14
7
7
6
26
35
5
38
8
9
10
21
14
14
13
14
15
11
24
12
6
5
11
9
11
29

275
408
169
153
128
217
116
206
43
59
44
625
573
78
662
154
57
116
286
175
120
151
136
150
147
301
199
65
66
76
109
149
330

399

98

497

6,543

6,420
5,649
964
1,500
1,319
2,869
1,442
2,358
361
331
267
5,827
8,577
438
8,502
1,530
698
913
2,775
1,777
1,439
1,973
1,404
1,510
1,712
2,874
1,825
595
564
898
1,041
1,291
3,583

75,226

705.157.479. BPS 2.618 7.679.119 3.341.048.556.202.290 5.292 837.075 4.687 2.316 4.052 757.854.730 3.081.247 1.876.833 358.985.645 402.472 2.580 2.011 10.905.110.258 2.578 6.323.930.268 1.510.855 4.042 1.225 3.363 100 100 98 106 105 104 105 106 108 105 103 103 99 98 97 105 102 94 99 104 109 102 111 104 105 95 101 101 101 102 105 112 113 101 .344 517.499 1.782 2.789.526 2.644.826 32.265 821.446.299.506.783 1.316.008 1.999 237.140 1.195 4.336 1.420 8.404.885 581.272 21.230.243.700 577.168 2.158.239 2.365 4.393.030 3.048 1.578.032.284 773.992 6.987.921.543.891.531.108.441.452.284.035.428 4.663 3.488.031 3.690.496.265.476.051 2.254 16.401 1.486.280 3.242.390 37.961.109 875.713.851.380.378 1.170 2.366 634.390 1.855 2.149.626.986 18.243.688.145.586 2.147.817 505.682.559 1.989 1.783 864.223.440.551 2.746.333 4.543 1.685.355.198 43.021.054.203.Lampiran 2.510.633.115 1.783 4.588.404 18.714 118.507.196 1.926 21.791.721 5.225 520.572 16.834.585 1.749 588.547 1.402 1.859.038.596.845.721 1.570 12.191 1.088.657.698 9.111.534 2.2 HASIL SENSUS PENDUDUK 2010 DAN RASIO JENIS KELAMIN MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 No Provinsi Laki-Laki Perempuan Laki-Laki dan Perempuan Rasio Jenis Kelamin (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Sensus Penduduk 2010.285 119.349.120.550.878 1.478 760.868.024 2.928 1.998 5.937 2.587 1.599 3.180.728.740 1.569 1.585 529.393 7.687 3.338 3.

799.32 115.753.68 0.06 18.35 Sumber: (a) http://www.501.743 1.282 4.584 530.438 737.00 72.520.00 153.192.164.914.934 20.982.956 1.83 1.142 2.527 2.48 38.006 481.222.792.46 1.511.60 1.11 1.43 2.024.118.023.06 8.983 1.32 48.047.496.067.248.925 1.05 2.097.118 780 1.082 2.268 1.908.120.46 1.10 147.79 2.799 2.931.075 20.181.794.741.18 46.369.23 42.662.744.539 4.945 115.286.607 1.501.69 1.133.672.479 13.246 9.800.13 2.930 2. Depkes RI.491.058.76 32.085.298 983.262.602 847.956.173 1.444.661 1.072.572.316.72 664.03 31.133 1.510 497.66 50.654.012 4.534.353 2.17 1.31 1.267 7.716 2.695 3.670 3.980 4.313.447.510.29 46.01 3.id (b) Badan Pusat Statistik: Estimasi Penduduk Sasaran Program Kesehatan.110 6.717.485 537. dari "Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2007 .21 1.Lampiran 2.369 6.753 3.306.223 2.391 4.33 34.834.045.307.087.857 2.177 1.794.890 1.948 1.go.688 16.309 2.171.877 16.619.551.661 4.320.377.002 1.987 18.27 319.78 2.868 1.814.617 1.29 0.654.257.12 1.994 743.780.69 3.491.864.564.666.592.623. .339.532 2.137.70 11.742.087.554 1.135.574.480.036.70 1.787.759 4.926.863 2.035 819.319.012.424.020 4.919.910.64 61.725 661.34 13.515.547.217.412 3.52 1.07 16.012 614 239 95 29 14 90 15 161 40 169 56 87 62 29 30 8 7 1.2011".202 1.138.702.34 1.64 4.496 493.594.827.781 3.939.009 41.945 2.570 3.43 19.502 974.372 517.80 1. 2009.01 35.886 18.758.199 1.13 0.572.873 37.depdagri.819.89 87.149 1.647 231.056 1.588 998.165 7.363.200 2.782.434.350 1.50 38.201.989 1.75 9.924 1.10 1.755 2.3 LUAS WILAYAH. JUMLAH PENDUDUK DAN KEPADATAN PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Luas Wilayah (Km²) (a) (3) Jumlah Penduduk (Jiwa) [b] Laki-laki (4) Perempuan (5) Total (6) Sex Ratio Kepadatan Penduduk Per Km² Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2008-2009 (7) (8) (9) 57.646 1.81 1.551.592 100 121 1.981.228.23 204.010.650.725 1.86 1.45 1.572 4.978 5.482 99 99 97 111 104 102 103 104 112 95 96 102 99 101 98 102 102 92 99 102 109 101 110 104 104 93 97 102 102 103 102 110 108 75 182 115 61 57 79 84 216 69 185 13.43 3.579 353.851.80 16.223.695 777.788 486.018 678.20 2.16 91.090 2.531 1.565 32.246 3.843.916 7.92 5.50 97.132 3.298 9.094.816 3.841.659 2.57 1.88 1.637 1.093.27 1.817.759.718.298.55 2.389.463 600.266 4.415 389.15 47.380.

14 4.37 1.11 4.93 2. 1990.74 3.43 2.32 4.39 1.99 1.79 3.29 2.72 5.18 2.39 5.69 2.33 2.18 0.59 0.98 1. 1980.31 3.32 4.11 1.46 1.06 1.48 3.77 3.66 2.36 1.42 2.06 0.26 1.80 1.Lampiran 2.39 2.34 3.79 2. Sensus Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995 dan Sensus Penduduk 2010 .16 5.32 0.81 1.73 2.35 1.07 2.49 3.49 Sumber : Sensus Penduduk 1971.74 1.30 3.22 1.42 3.17 0.89 0.67 2.21 3.2010 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1971-1980 Laju Pertumbuhan Penduduk 1980-1990 1990-2000 2000-2010 (3) (4) (5) (6) 2.08 0.64 2.85 1.07 3.15 1.57 1.49 1.57 1.31 3.94 0.38 2.17 2.63 4.88 2.66 1.64 1.78 2.70 3.31 2.15 4.67 2.97 0.87 1.98 3.31 1.95 2. 2000.10 1.97 1.76 2.60 2.86 1.02 0.21 1.66 1.23 3.88 2.55 1.15 1.44 3.24 2.57 1.94 1.65 3.40 3.09 2.67 2.60 2.17 2.42 1.72 2.46 1.99 1.17 2.15 1.59 2.79 2.82 1.46 1.45 2.49 1.35 1.91 1.03 0.72 0.84 2.08 1.4 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 1971 .62 4.93 2.

001 31.901 48.723 2.969.572.570 47.141 4.425. 2009.454.303 214.507 2.299 1.202 58.336.319.135.654.47 27 Sulawesi Tenggara 352.2011".090 692.16 22 Kalimantan Selatan 489.041 2.33 31.299 848.502 56.703 1.298 49.619.200 69.600 14.701 148.498 738.843.304 38.806 168.326 2.501 3.666.743 50.199 501.475 4.085.431.047.899 998.357 1.572 729.599 48.001 28.350 2.100 35.845.900 412.500 140.412 837.501 1.063 32.753 410.503 287.807 35.020 54.391 974.900 566.964 11.276 4.300 779.120.292 1.192.302 5.248.588 20.753.205 94.203.501.157 2.682 497.994 55.447.298 39.402 11.499 162.048.108 78.411.90 7 Bengkulu 250.221.695 359.301 3.501 141.984.827.711 4.298 57.286.061 3.35 2.792.391 54.79 29 Sulawesi Barat 156.320.100 224.101 2.090.527 3.299 11.725 2. ANGKA BEBAN TANGGUNGAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Laki-laki No Provinsi Perempuan Kelompok Umur (Tahun) Laki-laki + Perempuan Kelompok Umur (Tahun) Kelompok Umur Jumlah (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 4 0-14 15-64 65+ (3) (4) (5) (6) Angka Beban Jumlah 0-14 15-64 65+ (7) (8) (9) (10) Jumlah 0-14 15-64 65+ (11) (12) (13) Tanggungan (14) (15) 678.499 486.199 660.665 2.798 1.010.988 2.302 30.292.268 442.158.496 210.863 42.591.574.260.819.802 1.611 1.987 634.742.500 3.353 403002 1.223.072.246 39.902 76.049 4.138.799 113.876.899 1.489 1.504 521.100 2.63 18 Nusa Tenggara Barat 693.301 25.846.203 115.16 21 Kalimantan Tengah 318.492.69 25 Sulawesi Tengah 370.200 801.504 319.399 2.407 2.547.282 648.298 14.654 4.500 2.500 4.056 1.799 308.554 657.299 333.503 760.101 1.222.400 2.661 59.899.825 6.998 153.201 4.520.08 26 Sulawesi Selatan 1.500 1.510 352.104 44.372 283.601 14.491.751 983.817.579 318.619 78.800 1.719.61 11 DKI Jakarta 1.740 1.659 826.924 4.415.370 819.598 2.438 148.433.028.003 129.794.199 1.952 2.800 1.498 1.301 13.444.262.400 1.496.001 1.301 1.101 2.798 131.501.402 184.748.834.898 81.309 4.566 1.485 2.800 3. dari "Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2007 .400 1.000 81.369 655.229.306.23 Sumber: Badan Pusat Statistik: Estimasi Penduduk Sasaran Program Kesehatan.637 50.26 12 Jawa Barat 5.300 126.698 69.801 160.163.544.689.079 18.200 930.39 33 Papua Indonesia 331.000 165.515.635 4.020.802 625.168.200 311.08 8 Lampung 1.339.149.018.956 48. Kemenkes RI.267 49.581 6.118 1.102 1.106 173.939.608 3.814.397.100 1.925 1.904 22.014.400 237.802 60.270 3.344.980 3.00 30 Maluku 220.5 JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN.716 1.588 1.703 86.001 233.601 151.527 50.703 159.65 15 Jawa Timur 4.997 3.503 181.414 1.562.124 2.833 5.374.380.402 75.203 1.565 47.877 11.873 37.874 4.201 1.182 2.138.601 24.601 2.246 238.592 47.062.122.700 32.245.989 112.901 1.431 1.463 1.105 136.217.939.223.758.069 486.801 28.000 854.700 525.520.178.698 115.118.801 13.546 37.901 3.701 8.503 16.035 2.584 137.657.057.782.869 2.901 322.725 298.459. KELOMPOK UMUR TERTENTU.902 968.657 4.539 467.004 323.219.111.699 1.401 267.431 1.471.883 1.803 2.999 1.598 62.273.318.223 1.489.801 29.082 2.501 2.142 52.634 7.801 30.601 234.572.301 108.799 45.399 1.300 6.494 537.499 970.500 698.292 1.22 19 Nusa Tenggara Timur 772.118 530.702 42.500 20.983 958.908.836.607 789.660.916 49.304.503 50.551.563 2.978 55.755 711.351 2.507.901 78.600 815.264.092 389.012.148.298.23 9 Kepulauan Bangka Belitung 162.360 737.401.369.511.622 517.602 1.504 102.617 299.802 6.800 3.103 59.255.028.302 27.87 16 Banten 1.998 36.527.900 17.930 1.165 49.816 48.479 53.45 20 Kalimantan Barat 672.251 1.444 7.948 49.786.401 2.228.189 2.500 97.55 13 Jawa Tengah 4.907 17.078 9.670 489.415 156.509 9.781 50.405.34 14 DI Yogyakarta 325.53 28 Gorontalo 146.801 70.087.585 1.906 392.316.499 551.133 46.094.199 617.801 22.602 327.801 348.482 48.044 847.313.319 7.137.563.110.31 24 Sulawesi Utara 275.699 350.510.201 4.799 734.203 2.801 2.197.434.260.602 4.203 60.600 422.266 7.205.308.937 600.347.646 8.410.695 311.507.400 13.766 41.018 141.568.200 316.181.149 468.401 679.277 481.576.663. .797.499 669.102 26.169.21 Riau 888.400 366.75 5 Jambi 426.106.532 51.61 23 Kalimantan Timur 462.759 233.508.504 101.002 1.901 231.383 3.003 317.491.67 17 Bali 423.71 Sumatera Barat 740.093.110 1.838.901 53.424 4.701 2.727 157.363.603 2.200 1.926.061.967.041 16.199 75.200 1.075 1.21 6 Sumatera Selatan 1.186 13.650.022 16.087.69 31 Maluku Utara 162.132 45.857 48.900 1.599 42.702.934 2.688 5.602 1.359 743.794.901 156.795 678.868 231.Lampiran 2.03 10 Kepulauan Riau 233.260.434.083.192.654.098 7.945 735.251.886 308.451.385.164.594.672.601 1.468 3.201 23.115.000 5.201 2.502 11.703 265.118.810.806 661.901 127.701 21.373.045.997 1.402 47.932 777.527.389.531 904.139 5.127.199 1.200 3.647 62.451.017 2.281 1.202 262.801 1.603 17.178 20.414.434 3.400 432.012 42.097.496.445 1.009 37.177 1.759.616 2.605 6.114 493.357 1.741.267 353.788 704.333.864.389.799 264.551.480.705 112.407.901 661.301 683.006 431.945 30.373 1.000 1.875.613 1.802 2.601 1.661 537.082 1.582.600 27.950 1.171.467 18.200 1.152.677.329.80 32 Papua Barat 118.563.897.085.

2010 2006 No Provinsi (1) (2) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal 2007 2008 (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (8) 2009 2010 (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (11) (12) (13) (%) (14) Jumlah Kabupaten Kab/Kota Tertinggal (15) (16) (%) (3) (4) (5) (6) (7) (9) (10) 1 Aceh 21 16 76.33 15 3 20.57 23 16 69.64 11 8 72.05 38 8 21.67 12 9 75.29 7 1 14.67 12 8 66.00 26 2 7.16 16 Banten 6 2 33.43 14 9 64.57 23 16 69.00 10 7 70.00 18 Nusa Tenggara Barat 9 7 77.00 10 2 20.43 24 Sulawesi Utara 9 2 22.00 19 Nusa Tenggara Timur 16 15 93.67 9 7 77.00 6 0 0.37 19 8 42.69 26 2 7.52 24 13 54.00 14 10 71.00 6 0 0.82 11 9 81.86 7 1 14.67 7 1 14.11 9 0 0.29 7 2 28.00 15 6 40.57 35 0 0.78 11 7 63.05 38 8 21.78 10 7 70.00 11 2 18.33 7 2 28.00 5 0 0.71 14 4 28.05 38 5 13.18 11 2 18.43 14 3 21.78 9 6 66.00 28 Gorontalo 5 4 80.52 29 27 93.57 35 3 8.57 8 2 25.20 497 199 40.67 6 1 16.00 6 4 66.00 11 9 81.89 9 8 88.00 5 5 100.73 33 Papua Indonesia 20 19 95.48 29 19 65.00 29 Sulawesi Barat 5 5 100.22 13 2 15.14 22 Kalimantan Selatan 13 0 0.18 11 0 0.43 14 10 71.00 6 0 0.00 5 2 40.80 495 199 40.38 15 2 13.00 15 6 40.00 11 5 45.00 9 6 66.00 12 Jawa Barat 25 2 8.64 11 8 72.43 21 20 95.00 5 2 40.00 8 6 75.00 8 Lampung 10 5 50.00 15 Jawa Timur 38 8 21.67 12 0 0.11 9 1 11.18 11 2 18.67 6 3 50.00 28 6 21.69 26 2 7.00 11 7 63.37 19 9 47.11 4 Riau 11 2 18.18 33 6 18.11 9 1 11.00 10 9 90.00 15 7 46.33 15 2 13.00 13 2 15.38 23 Kalimantan Timur 13 5 38.67 27 Sulawesi Tenggara 10 8 80.52 23 13 56.00 25 Sulawesi Tengah 10 9 90.43 21 Kalimantan Tengah 14 7 50.00 5 5 100.00 6 Sumatera Selatan 14 6 42.29 14 10 71.71 14 5 35.23 465 199 42.00 17 Bali 9 1 11.00 5 5 100.6 JUMLAH DAN PERSENTASE DAERAH TERTINGGAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .67 6 4 66.86 7 3 42.89 10 8 80.75 20 15 75.67 9 6 66.00 5 2 40.38 13 2 15.38 13 2 15.00 21 15 71.78 32 Papua Barat 9 7 77.57 35 3 8.00 14 7 50.57 23 12 (17) 52.64 11 7 63.17 24 13 54.67 10 6 60.43 14 3 21.82 Sumber: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.43 14 3 21.67 12 8 66.18 12 2 16.00 10 6 60.00 14 DI Yogyakarta 5 2 40.37 19 9 47.50 9 7 77.45 14 5 35.73 31 Maluku Utara 8 6 75.86 15 6 40.00 14 7 50.18 33 6 18.57 11 DKI Jakarta 6 0 0.00 8 2 25.00 12 8 66.67 7 Bengkulu 9 8 88.37 19 9 47.00 14 7 50.00 5 5 100.11 9 1 11.00 6 0 0.91 26 Sulawesi Selatan 23 13 56.67 6 4 66.57 35 3 8.69 13 Jawa Tengah 35 3 8.00 8 2 25.38 13 2 15.00 30 Maluku 8 7 87.00 14 1 7.57 9 Kepulauan Bangka Belitung 7 3 42.10 440 199 45.00 5 Jambi 10 2 20.00 10 8 80.05 38 8 21.43 33 6 18.69 26 2 7.24 20 Kalimantan Barat 12 9 75.86 7 3 42.43 21 15 71.04 497 183 36.82 11 10 90.29 10 Kepulauan Riau 6 1 16.19 23 16 69.00 21 19 90. 2010 .46 14 3 21.18 3 Sumatera Barat 19 9 47.00 10 8 80.18 11 2 18.78 9 7 77.17 2 Sumatera Utara 25 6 24.86 7 3 42.17 24 4 16.52 29 19 65.Lampiran 2.

734 188.850 156.238 198.596 207.617 21 Kalimantan Tengah 209.251 178.873 162.306 210.478 156.310 178.526 185.653 26 Sulawesi Selatan 177.107 199.191 20 Kalimantan Barat 194.898 2 Sumatera Utara 234.835 246.428 249.271 184.450 164.469 4 Riau 265.157 202.706 211. 45/07/Th.945 246.628 188.381 7 Bengkulu 242.881 166.466 18 Nusa Tenggara Barat 213.Lampiran 2.481 5 Jambi 244.210 256.224 30 Maluku 230.059 195.727 222.257 217.317 16 Banten 212.317 199.225 200.796 142.815 174.351 210.623 6 Sumatera Selatan 247.936 12 Jawa Barat 203.546 261.838 201.241 3 Sumatera Barat 248.787 261.525 201.661 190.742 11 DKI Jakarta 316.712 189.872 142.843 10 Kepulauan Riau 308.478 169.070 157.025 19 Nusa Tenggara Timur 218.506 24 Sulawesi Utara 193.750 17 Bali 211.189 29 Sulawesi Barat 175.809 261.472 224.236 182.084 8 Lampung 224.416 33 Papua 285.123 179.516 178.901 156.500 32 Papua Barat 304.461 176.583 28 Gorontalo 173.866 163.158 234.812 9 Kepulauan Bangka Belitung 272.378 266.262 Indonesia Sumber: Berita Resmi Statistik No.185 23 Kalimantan Timur 283.715 27 Sulawesi Tenggara 175.515 14 DI Yogyakarta 228.XIII.913 199.529 182.751 175.978 15 Jawa Timur 202.732 190.312 182.965 316. 1 Juli 2010 .538 181.241 153.168 175.193 191.707 226.7 GARIS KEMISKINAN MENURUT PROVINSI DAN DAERAH (MARET 2009) No Provinsi (1) (2) Garis Kemiskinan (Rupiah/Kapita/Bulan) Perkotaan Perdesaan (3) (4) Perkotaan + Perdesaan (5) 1 Aceh 292.985 13 Jawa Tengah 196.003 196.771 31 Maluku Utara 226.612 22 Kalimantan Selatan 216.554 161.241 189.936 - 283.772 25 Sulawesi Tengah 217.109 212.730 269.354 277.624 174.735 192.

080.90 17.4 11.80 22.38 7.3 20.9 16.3 124.925.7 17.9 378.1 11.1 11 DKI Jakarta 379.73 9.68 24.5 861.10 9.1 16.3 2.2 308.29 12.009.63 27.4 1.2 3.5 10 Kepulauan Riau 69.7 107.00 43.8 12.18 3.19 7.2 301.70 13.529.369.2 8.8 760.7 31 Maluku Utara 9.6 31.3 18.48 23.5 463.2 7.10 22.8 130.1 25 Sulawesi Tengah 60.2 248.0 6.44 12.1 8.7 38.50 7.08 8.1 37.20 20.0 17.85 8.5 520.50 4.1 28 Gorontalo 27.34 13.0 346.9 5.08 9.94 22.8 76.6 906.38 13.7 5.619.60 10.3 408.7 24 Sulawesi Utara 72.18 5.249.20 14.22 9.7 158.59 8.0 439.5 182.72 18.10 27.6 19.1 434.4 45.3 311.7 1.3 - - 379.18 4.2 500.2 340.1 1558.9 62.60 4.1 65.7 23.72 3.7 109.7 470.5 77.2 2.7 5.22 18.06 4.420.9 239.6 50.00 11.9 22.310.34 10.76 4.7 11.62 28.0 1.74 25.07 21.7 115.1 140.72 11.5 313.60 7.7 105.3 8 Lampung 365.1 880.725.9 19.35 10.7 8.9 237.60 8.2 36.1 26 Sulawesi Selatan 150.6 324.8 207.3 471.08 7.0 761.3 323.97 21.67 8.75 6.62 16.0 181.110.8 107.655.5 89.48 10.4 489.3 616.6 7.90 8.24 34.3 83.00 3.3 91.3 25.80 16.60 12. 1 Juli 2010 .27 13.70 23.85 21.8 224.3 3.0 268.XIII.7 1.7 100.613.70 7.17 3.531.7 788.3 9.1 7.18 4.76 19.0 20.7 5.5 116.8 1.490.50 11.6 27 Sulawesi Tenggara 27.9 430.84 6.0 162.53 10.78 5.31 22.2010) Maret Tahun 2008 No Provinsi (1) (2) Perkotaan Jumlah (ribu) (3) % Jumlah (ribu) (5) (4) Maret Tahun 2010 Maret Tahun 2009 Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (7) (6) Perkotaan % Jumlah (ribu) (9) (8) Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (11) (10) % Jumlah (ribu) (13) (12) Perkotaan % Jumlah (ribu) (15) (14) Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (17) (16) % Jumlah (ribu) (19) (18) % (20) 1 Aceh 195.9 2.36 14.8 11.0 2.5 21.20 7.8 963.178.6 150.7 246.6 136.3 1.1 219.00 22.340.67 10.5 67.43 32.4 892.3 18.31 11.6 117.3 192.19 6.3 9.6 6.7 8.Lampiran 2.77 11.189.0 14.6 117.16 46.9 1.3 380.44 17.2 29 Sulawesi Barat 48.2 23.30 14.0 130.72 15.93 4.8 435.25 8.8 JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT PROVINSI DAN DAERAH 2008 .85 15.2 206.1 428.6 30 Maluku 44.10 24.5 10.6 4.51 12.89 11.9 913.64 2.3 Sumber: Berita Resmi Statistik No.8 215.40 29.90 26.87 10.0 292.1 79.0 10.8 22 Kalimantan Selatan 23 Kalimantan Timur 81.61 8.4 32 Papua Barat 9.60 19.8 173.9 7.5 256.0 903.80 18.3 119.2 524.322.8 2.705.499.7 1.50 14.1 83.8 21.031.5 7 Bengkulu 131.63 9.0 349.9 477.1 1.3 107.3 15.4 98.1 434.21 18.8 1.9 1.5 2.479.9 734.3 1.10 5.226.5 12 Jawa Barat 2.93 18.6 9.0 733.3 8.70 35.59 5.8 54.76 13.06 15.30 5.5 324.41 6.9 527.125.20 19.0 128.41 14.0 218.194.10 13.4 9.8 552.530.773.79 6.6 312.2 200.20 5.9 22.37 14.89 23.50 9.16 7.3 1.80 6.0 223.35 10.79 10.5 68.7 794.51 12.0 220.9 18 Nusa Tenggara Barat 560.64 11.0 22.9 202.7 8.7 132.0 163.8 493.6 17.097.99 8.8 19.20 15.1 93.7 35.9 47.023.50 5.7 181.7 79.21 5.76 4.5 811.9 209.18 6.3 6 Sumatera Selatan 514.4 2.47 14.7 22.2 4.6 585.6 114.5 9.02 9.7 1.0 301.6 391.4 37.5 106.19 13.2 11.90 16.89 11.3 2.167.03 16.80 7.73 9.768.10 12.20 19.022.6 12.53 18.24 4.58 7.00 7.8 110.423.8 420.0 171.3 33.72 16.4 9.3 801.9 4.7 241.7 13.19 5.40 5.90 12.0 8.78 4.30 8.2 816.5 130.617.5 508.3 117.8 17.3 176.9 697.6 25.7 5 Jambi 120.556.1 122.148.90 11.32 10.55 10.10 5.6 12.15 23.28 18.7 9.92 7.8 130.94 14.80 23.3 29.0 20 Kalimantan Barat 127.7 221.873.4 32.2 17 Bali 115.4 13.26 8.3 3.31 16.55 5.39 13.6 - - 323.6 688.10 9.90 11.8 1.9 1.50 46.4 7.3 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 371.7 6.70 11.0 701.6 1.2 164.2 15.1 435.013.9 34.9 19.4 260.5 208.82 11.633.31 15.651.2 129.258.0 2 Sumatera Utara 761.17 21.31 6.963.53 9.70 17.6 24.0 2.0 6.8 323.3 474.20 9.70 6.1 5.00 6.3 3 Sumatera Barat 127.5 4 Riau 245.874.05 30.71 25.50 10.8 9.50 16.18 3.43 11.3 140.8 12.208.96 5.3 274.77 20.9 194.6 65.0 429.54 28.1 321.4 710.06 4.09 23.3 959.2 566.66 43.2 348.0 577.80 18.25 34.1 378.3 67.7 243.66 6.52 20.8 35.28 33.0 54.10 31.0 408.6 735.16 16.93 18.62 36.6 16.74 16.36 21.7 688.04 11.0 28.10 15.94 15.8 154.5 86.9 33 Papua Indonesia 31.73 14.7 256.40 10.2 456.9 6.5 26.3 165.2 445.75 9.7 2.3 345.25 14.7 10.2 291.75 19. 45/07/Th.22 16.37 10.2 110.10 15.17 3.1 1.00 14.051.3 96.7 763.9 400.1 89.1 324.1 206.4 3.2 92.3 4.9 249.99 18.6 23.70 18.22 6.62 4.304.44 46.591.33 10.350.4 758.5 26.60 17.0 5.9 352.7 246.0 33.30 11.9 9 Kepulauan Bangka Belitung 36.7 20.6 28.5 141.1 732.20 5.98 7.2 62.7 83.00 16.6 439.6 21.3 349.78 7.8 67.6 225.8 557.29 44.3 18.5 35.6 3.7 654.60 13.0 341.5 689.43 6.6 19 Nusa Tenggara Timur 119.6 318.16 13.0 91.41 18.9 852.098.30 15.30 16.89 10.60 23.2 10.61 15.9 76.8 137.0 174.4 1.29 5.910.014.452.7 43.23 4.7 20.5 - - 312.5 979.2 342.77 9.5 286.74 5.85 4.84 10.9 176.70 12.0 21 Kalimantan Tengah 45.983.20 8.0 381.1 28.9 839.

77 98.89 99.55 96.50 97.46 97.38 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.53 91.51 95.28 95.49 98.35 96.97 95.34 95.95 98.98 89.71 87.15 87.70 93.28 98.05 94.59 97.13 98.38 98.76 94.07 90.02 91.97 77.04 90.90 94.22 95.18 87.46 95.89 98.41 97.24 89.35 97.19 88.89 95.26 97.43 97.58 .32 97.52 95.50 84.70 97.26 92.31 95.64 82.61 98.77 84.46 90.42 95.64 92.19 97.88 90.16 93.59 97.61 89.53 83.57 99. 2010 94.15 72.04 96.74 92.53 89.82 99.09 98.96 97.45 96.24 98.94 70.18 97.30 97.09 94.63 93.68 99.89 84.39 97.39 95.31 97.66 88.70 94.63 95.51 87.Lampiran 2.66 90.29 92.68 86.85 85.79 95.47 85.78 87.98 96.68 97.45 95.54 92.31 95.82 94.20 73.65 Laki + Perempuan (8) 94.95 98.76 95.81 98.17 66.18 90.55 96.44 92.36 96.18 87.35 91.41 96.51 99.45 87.68 83.94 97.89 89.08 98.47 92.60 93.57 75.13 64.95 87.41 96.99 99.88 81.99 95.81 98.25 85.37 95.02 94. BPS.86 90.43 93.00 97.54 97.15 96.96 93.29 94.19 92.80 74.51 97.17 84.27 95.36 99.97 95.80 95.02 95.73 92.24 90.37 84.85 87.36 97.63 97.28 95.21 94.50 92.15 95.74 92.92 87.9 ANGKA MELEK HURUF PENDUDUK BERUSIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2008 2009 Laki-laki Perempuan Laki + Perempuan Laki-laki Perempuan (3) (4) (5) (6) (7) 97.96 89.56 97.27 97.21 86.41 96.97 96.68 96.78 93.04 92.24 94.74 95.29 89.65 98.24 94.34 94.19 99.62 95.28 93.94 79.32 98.22 80.37 97.25 92.96 84.94 95.80 87.69 95.41 93.69 95.87 98.10 95.50 97.29 93.14 81.56 85.90 93.26 85.25 95.34 89.66 97.31 97.08 96.46 92.61 93.52 97.11 95.71 98.23 94.

4 7.0 8.9 7.3 7.10 RATA-RATA LAMA SEKOLAH (TAHUN) MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 2008 Perempuan Laki-laki+Perempuan Laki-laki 2009 Perempuan (3) (4) (5) (6) (7) 8.8 8.0 7.3 8.2 6.8 9.4 6.8 9.7 7.2 8.9 7.8 7.9 7.6 7.0 9.9 8.1 7.3 7.0 9.1 8.0 6.2 8.9 8.4 8.8 7.7 7.1 7.6 6.4 7.4 7.8 8.1 8.6 8.7 8.5 6.9 8.6 7.8 6.4 6.5 8.2 6.2 7.6 8.7 8.4 7.3 8.1 10.1 8.3 8.3 8.7 .7 7.3 6.0 7.6 7.6 8.1 8.0 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.8 6.7 7.0 7.2 7.5 7.1 7.4 10.1 8.3 9.0 7.0 6.1 8.7 6.9 8.0 7.7 5.6 8.Lampiran 2.4 8.2 7.2 7.5 7.8 7.7 8.0 8.1 8.6 7.0 8.3 8.5 7.1 6.2 6. 2010 7.1 7.8 8.2 Laki-laki+Perempuan (8) 8.0 6.5 7.5 9.7 7.6 8.7 7.7 8.8 8.7 7.8 8.7 6.7 7.5 8.6 7.0 7.8 7.9 7.3 7.2 8.5 7.6 8.0 8.5 6.4 8.4 8.2 7.5 7.1 5.5 7.4 7.8 7.9 7. BPS.6 7.4 8.6 7.2 7.9 9.2 8.1 7.2 8.2 7.2 7.8 8.8 8.6 8.6 7.1 8.1 8.3 8.7 7.1 8.8 7.0 6.0 7.5 8.6 8.7 7.8 7.7 7.8 7.5 7.6 8.4 10.3 7.2 8.7 8.2 7.3 6.2 7.8 8.3 8.1 7.3 8.0 6.8 7.6 7.2 7.6 9.3 7.6 7.5 7.3 7.1 6.6 6.5 6.3 6.8 8.5 8.8 8.6 7.7 7.1 6.7 8.4 6.8 7.7 7.2 7.0 8.9 7.6 7.1 10.4 8.3 7.2 7.9 7.7 7.0 8.0 8.2 7.

38 98.02 98.02 88.65 87.57 77.42 85.22 98.28 88.58 85.57 97.84 50.82 98.53 81.83 53.52 96.23 94.55 98.10 90.54 81.03 98.16 .78 88.68 71.53 97.10 88.91 86.86 47.64 50.26 58.62 77.43 64.73 64.75 98.63 97.69 47.48 98.53 96.80 50.59 98.20 88.68 85.70 98.30 51.35 76.35 63.27 58.22 49.12 95.92 55.53 98.36 97.83 91.76 84.28 63.46 81.12 58.30 64.46 58.43 85.56 49.29 59.16 95.39 58.06 98.64 79.88 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.92 79.75 81.47 85.28 83.55 95.98 90.95 49.70 64.09 91.31 98.17 45.15 54.83 84.75 52.43 88.08 98.20 80.95 47.68 90.00 84.83 99.86 88.31 91.51 55.92 86.25 63.95 63.94 98.44 49.84 72.Lampiran 2.82 97.68 75.45 97.85 93.78 84.17 50.59 73.26 90.80 99.96 64.53 97.44 46.73 65.52 98.87 97.95 99.62 61.34 65.07 98.24 98.00 80.55 87.59 93.98 91.76 98.67 50.36 72.58 72.85 84. Paket B dan Paket C 94.71 91.59 97.74 66.38 83.87 96.71 97.13 54. BPS.42 88.50 99.72 97.07 98.19 48.07 85.09 97.10 79.92 47.13 55.26 96.47 72.88 98.99 96. 2010 Catatan : *) Termasuk Paket A.72 54.06 52.80 93.25 93.67 59.35 97.81 79.70 91.85 98.69 96.27 92.38 97.11 ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH*) MENURUT PROVINSI DAN USIA SEKOLAH (%) TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 7-12 thn 2008 13-15 thn 16-18 thn 7-12 thn 2009 13-15 thn 16-18 thn (3) (4) (5) (6) (7) (8) 99.40 83.13 78.71 56.62 61.62 98.53 47.89 72.75 91.42 79.50 86.65 98.77 43.73 53.96 87.65 49.11 97.71 97.90 98.95 94.36 57.50 97.80 98.22 84.55 88.22 96.79 91.07 56.31 64.59 56.20 89.11 55.55 78.41 80.38 57.42 97.87 65.99 85.94 77.58 53.45 97.15 91.66 94.66 98.64 50.10 84.14 50.

393 100.539 281.49 1.48 306.36 10.58 23.49 2.14 122.060 4.11 22.767 7.91 7.091.017 1.625 38.200.45 5.877 10.37 73.37 20.674 100.06 343.77 101.501 18.827 0.311 35.20 1.68 82.270 1.00 48.04 31 Maluku Utara 167.393 16.00 37.85 115.772 24.43 15.190 100.21 324 0.23 4.892 3.11 235.390 100.30 10.813 12.324 100.166.19 20.061 6.541 41.627 16.582 100.945 1.090 2.00 607.963 100.611 24.61 242.00 887.868 57.129 100.67 745 0.423 31.765 10.033.04 436.191 1.441 100.791 45.607 432.91 17.868.905 24.027.250 50.452 4.126.931 6.783 10.62 196.825 41.984 33.719 5.532 4.289 16.19 685.78 1.88 98.128 26.27 824.142 8.773 2.00 3 Sumatera Barat 1.989 38.511 340.00 576.517.42 1.85 127.38 28.01 88.62 779.432 3.093 60.313 100.508 62.54 31.66 240.79 6.04 9.269 23.637 100.054 3.15 37.841 0.155 38.180 75.16 13.338 5.28 746.911 22.570 16.348 3.54 195.427 232.382 1.281 281.20 36.953 100.88 369.651 1.649 68.749 67.70 291.12 196.531 2.812 50.59 4 Riau 5 Jambi - 35.171 37.775 0.201 249.00 120.00 25 Sulawesi Tengah 457.217 2.376.14 61.00 886.321 17.672 5.319 1.00 12 Jawa Barat 11.338 0.430 1.29 11.705 81.134 36.65 9.362.734 60.690 100.639 360.325.25 20.691 2.075 322.019 4.83 473.17 3.167 4.869 6.67 1.29 1.95 13.166 201.48 40.196 28.43 62.250 1.031.68 1.636.709 26.144 8.48 5.79 32.29 475.88 45.69 3.621 60.125 22.01 4.167 9.49 131.47 191.105 19.00 5.72 5.32 793.952.983.029.66 923.29 2.876 58.43 25.878 30.32 97.84 1.02 737 0.484 62.772 48.29 .041 2.503 52.216 0.432 7.842 28.59 86.65 462 0.205 4.55 20.312 3.083 32.973.17 94.59 52.41 3.01 271 0.36 9 0.637 1.137.547.312 20.35 201.184.302 39.84 1.610 18.27 64.752 38.336 3.904 60.04 16.00 41.07 276.101 18.12 90.490 40.626 0.417 18.563 256.90 433.780 82.279 100.618 51.55 153.428 7.608 0.20 2.96 10.367 31.82 4.728 2.895 32.117 13.00 29 Sulawesi Barat 248.340 65.852 100.89 9.00 341.65 5.01 8.67 984.266 0.12 207 0.231 17.347 58.125 674.44 56.59 22.62 32 Papua Barat 180.631 80.803.609 100.424 3.00 1.201 49.70 497.425 5.87 196.029 3.619 67.22 342.05 358.52 9.10 461 0.58 96.429 4.949 535.207 22 Kalimantan Selatan 1.765 50.232 22.52 279.016 66.764 15.423.507.03 564.43 27 0.351 0.688 2.11 40.787 39.00 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 867.199 0.993 93.46 4.70 11.08 12.302 37.77 6.01 5.731 5.044 11.49 713.42 185.27 26.77 27 0.401 39.100 4.468 48.316.932 23.08 66.95 61.40 5 0.803.793 9.181 100.632 35.257 7.531 53.92 788.443 2.47 11.224 100.994 66.00 28.49 81.402 8.16 5.83 102.61 582.97 24.00 13.07 87.215 4.00 100.923 100.198 97.103 13.81 5.589 7.974 1.00 36.18 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 27.171 2.27 325 0.72 491.264.035.393 100.86 2.55 173.17 2.383 8.073 12.82 1.38 670.43 134.11 43.56 137 0.632 75.69 462.995 9.20 607.49 279 0.540 100.253 19.596 0.811 13.19 272.59 173.063 45.667 2.13 5.25 133.38 73.613 24.523 39.72 601.042 276.32 8.515 36.292.833 71.00 21 Kalimantan Tengah 246.93 32.30 3.19 1.671 19.85 983 1.32 1.67 30.737 2.29 1.46 25.23 34.820 16.956 0.27 800 2.86 29.220 0.281 5.09 448.437 0.30 29.939.631 100.39 358.124 100.225.285 100.772 100.899 100.86 814 8.28 19.03 13.32 88.90 70.819 958.00 11.943 6.458 56.78 3.00 1.748 0.14 36 0.17 28.910 57.312.725 0.408.354 64.320 43.46 25.Lampiran 2.225.57 7.12 1.757 100.92 90.63 6.71 935.397 0.237.533 0.261 44.71 6.25 543.39 35.660 48.899 6.17 61.00 22.477 9.12 PERSENTASE KELUARGA MENURUT JENIS SARANA AIR BERSIH YANG DIGUNAKAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan No Provinsi (1) (2) Jumlah Keluarga yang Ada (3) Jumlah Keluarga Diperiksa (4) % Keluarga Diperiksa (5) Ledeng Sumur Pompa Tangan Sumur Gali Penampungan Air Hujan Air Kemasan Lainnya Total Sarana Air Bersih Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 1 Aceh 1.22 100.77 73.672 100.884.46 2.13 3.24 23.710 34.408 26.80 522.019.563 290.73 3.00 26 Sulawesi Selatan 1.351 3.09 46.677 22.00 21.34 556.55 232.824.824 1.54 13.29 67 3.877 12.578 10.33 253.792 328.00 100.539 54.614 27.315 81.866 6.883 41.382 100.172 1.208 2.932 611.77 10.338 2.46 53.54 24.718 35.457 18.47 304.00 8 Lampung 1.239 7.00 734.00 7 Bengkulu 436.589 2.036 100.369 1.474 62.431 44.44 19.00 6 Sumatera Selatan 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 2.953 9.00 1.819 30.81 79.74 11.00 2 Sumatera Utara 3.00 28 Gorontalo 267.518 54.63 37.06 279.069 98.66 168.35 141 0.273 61.194 201.079 2.775 14.649 53.419.43 166.536 30 Maluku 419.049.29 172.761 20.05 29.489.070 1.721 284.03 28.77 247.592 4.150 1.057 1.14 31.000 0.542 42.40 1.854.00 7.476 375.00 10.332 57.12 689.628.00 27 Sulawesi Tenggara 520.421 100.030 58.00 23 Kalimantan Timur 24 Sulawesi Utara 582.55 364.97 85.862 8.82 209.37 499 0.47 224.77 1.766 1.219 46.46 811.31 292 0.395 6.090 1.14 159.516 100.680 24.11 611 1.

18 32.20 39.89 51.04 46.84 37.28 53.44 47.19 48.76 76.08 35.54 57.81 41.62 40.Lampiran 2.74 34.85 57.96 51.77 55.42 41.63 49.45 58.59 59.15 37.54 45.53 33.66 43.02 36.13 61.54 51.97 55.20 53.46 39.25 27.56 34.59 34.51 39.01 74.03 76.02 40.03 43.10 43.56 49.13 43.60 41.72 30.28 48.16 45.28 65.82 (5) 29.20 41.56 55.91 27.79 40.92 55. Depkes RI Perdesaan Perkotaan + Perdesaan (4) 34.29 45.35 71.83 63.45 54.13 PROPORSI PENDUDUK DENGAN AKSES TERHADAP AIR MINUM YANG AMAN MENURUT PROVINSI DAN WILAYAH TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Perkotaan (2) (3) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen P2PL.13 59.38 71.18 39.49 44.79 49.71 34.97 76.60 51.61 54.71 .96 45.44 41.31 36.33 40.71 28.04 61.74 55.14 35.75 48.36 50.46 45.85 42.47 65.12 44.51 58.50 37.47 59.30 60.72 66.81 40.53 39.71 44.29 36.64 65.22 34.12 30.50 43.06 27.01 63.38 55.00 45.19 62.99 44.70 27.

35 81.995 226.173 47.247 669.563 216.183 75.075.345 2.246.Lampiran 2.25 65.99 293.427 118.68 86.678 173.806 37.46 56.951 270.592 4.539 376.680 260.90 759.00 59.130.654 25.167 4.17 98.003 8.011.504 77.992.56 % Sehat % Sehat (8) 104.26 71.877 8.35 55.88 41.383 32.38 36.461 31.754 75.203 372.46 44.55 78.11 725.390 163.664 196.012 414.523 46.855 113.235 246.575 71.697 64.885 51.17 163.243 514.913 205.518 27.499 44.47 21 Kalimantan Tengah 246.075 265.982 45.423 551.39 36.393 49.607 349.42 195.29 46.22 541.538 77.01 37.666 104.490 32.264.113.291 59.55 13 Jawa Tengah 7.640 20.862 76.672 47.61 14 DI Yogyakarta 887.85 28 Gorontalo 267.666 40.63 55.488 80.01 12.997 26 Sulawesi Selatan 74.91 81.938 43.323 35.34 87.95 45.18 41.541 42.85 64.27 391.00 321.166.248 74.36 63.778 375.76 48.63 79.583 39.58 59.213 216.14 206.654 67.778 753.733 510.20 41.96 83.671 79.400 50.48 39.94 87.508 1.501 63.746 71.160 343.86 665.143.51 64.70 48.88 42.21 1.067 64.19 37.549 270.278.26 49.21 30 Maluku 419.837 699.949 492.385 198.186.449 106.80 34.304 58.860 29.791 131.668 14.41 27.716 172.262.837 73.427 306.004 70.141 80.010 127.891 205.652.33 37.480.188 111.070 929.39 1.829 58.691 15.131 488.999 73.643 94.967 219.327 237.246 3 Sumatera Barat 1.319 44.29 31 Maluku Utara 167.032 102.480 265.65 66.000 154.600 20.443 2.259 30.876 70.233 146.98 62.647 231.398 30.050 200.38 14.80 59.980 242.164 6.87 109.49 262.411 252.133 85.191.549 8.78 76.21 58.119 46.525 17.236 7.41 70.569 100.151.471 72.507.27 15 Jawa Timur 16 Banten 10.514 66.669 106.675 57.814 40.130 126.20 301.67 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 576.071 41.100.618 113.203 123.50 2.58 295.309 57.328.787 1.39 287.64 73.01 7 Bengkulu 436.08 886.222 .69 23 Kalimantan Timur 686.237 63.460 291.815 195.598 349.124 205.336 416.430 63.172 753.639 310.54 36.659 253.005 5.17 41.884.825 99.847 16.73 30.654 41.231 73.59 25.863 91.734.0298 14.40 40.858 (1) Jumlah KK Jumlah Sehat (4) 1 Aceh Provinsi Jumlah KK Memiliki Jumlah Sehat Pengelolaan Air Limbah Jumlah KK Memiliki Tempat Sampah Jumlah KK Diperiksa Jumlah KK Diperiksa Jamban No (18) 49.16 3.996 274.084.462 340.272 25.17 2.032 106.187 1.246 264.789.227.201 278.604 1.281 406.275 1.34 271.69 661.455 20.139 37.88 193.56 397.18 50.35 4.05 0.80 304.952.157 24.87 73.517 66.382 194.345 22.976.689 238.94 51.78 55.23 3.417 70.485.608 251.812.646 14.028.94 206.14 157.43 0.321 123.945 1.471.316.93 62.72 51.044 % KK Memiliki (7) 412.210 28.39 6.910 56.168 794.69 1.308 74.561 99.88 43.441.404 1.585 73.836 79.769 76.25 73.34 67.625 624.32 29.786 171.651 73.18 6 Sumatera Selatan 70.565 2.164 3.736 170.90 633.986 61.04 218.68 30.843 116.46 659.869 96.594 58.92 69.315 566.693.22 1.60 73.06 54.050 28.63 41.01 32.096.831 18.060 15.68 317.912 92.723 129.571.69 27.981 27.428 74.71 90.28 40.77 20 Kalimantan Barat 859.496.102 76.041 44.910 240.438 62.180 96.04 57.656 11 DKI Jakarta 2.477 561.234 2.20 45.504 18.146 89.22 106.10 4.75 310.62 28.464 4.649 15.240.180 13.300 319.340 822.398 189.440 61.763 64.617 1.511 342.39 357.316 (3) % Sehat (6) 619.369 1.688 16.190 500.370 259.82 301.83 335.738 156.904 1.563 358.37 7.126 707.722 77.598 471.63 79.16 70.198 97.85 90.79 19.460 2 Sumatera Utara 3.158 23.136 403.80 939.00 311.33 91.853 1.527 92.65 67.00 68.14 PERSENTASE KELUARGA DENGAN KEPEMILIKAN SARANA SANITASI DASAR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah KK Diperiksa Jumlah KK Memiliki Jumlah Sehat % KK Memiliki (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 66.860 173.18 29 Sulawesi Barat 248.64 32 Papua Barat 180.70 18 Nusa Tenggara Barat 1.059 138.83 62.09 53.697 9.145 63.71 45.78 64.581 52.551 224.467.71 341.429 622.01 61.885 82.510 73.62 5 Jambi 734.258.755 384.010 265.73 30.819 857.233 76.408 147.123 137.721 310.023 961.50 57.974 1.46 120.824.22 19 Nusa Tenggara Timur 867.32 69.71 79.419 370.027 32.05 88.15 293.10 22 Kalimantan Selatan 17 Bali 1.63 1.97 78.528.87 341.582 72.64 41.824 59.503 998.088 392.070 237.276 172.803.21 24 Sulawesi Utara 582.607 63.962.034 22.001 1.001 760.014 1.028.06 40.194 202.387 250.47 50.940 1.370 254.98 72.849 75.965 4 Riau 713.475 110.32 46.46 24.207.23 462.97 295.60 75.816 62.539 125.595 56.227 51.21 74.59 53.069 110.383 49.644 64.95 38.475 32.252 74.623 20.32 70.97 29.287.66 305.203 56.339 61.520 45.753 558.21 8 Lampung 1.20 41.939 157.345 85.416 83.827 59.919 354.632.292.368 4.18 99.898 77.809 25 Sulawesi Tengah 457.417 387.620 542.36 27 Sulawesi Tenggara 520.782 74.676 197.973.206 74.202 69.49 282.197 15.031.474.773 129.22 82.733 35.55 8.397 128.999 221.570 20.708 239.937 105.513 7.195 101.023 12.636.221 9.545 3.22 11.100 - - - - - 1.122 8.21 81.203 (2) % KK Memiliki (5) 1.72 68.78 56.92 13.064 2.43 880.26 165.452 109.935 179.552 3.265 795.166 179.906 39.007 232.861 1.061.721 104.643.317 1.99 49.746.871 279.852 29.55 0.298 298.192 30.55 291.30 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 48.019 50.047 8.23 73.675 12 Jawa Barat 14.717 177.

03 51.86 10.00 38.99 69.73 75.48 34.37 62.60 63.78 42.16 58.66 38.93 41.04 75.13 27.63 21.75 40.95 39.80 24.69 43.48 22.Lampiran 2.50 56.17 66.59 70.21 52.17 54.39 22.98 40.89 34.26 33.13 64.19 29.69 51.02 57.18 32.88 65. Depkes RI Perdesaan Perkotaan + Perdesaan (4) 73.84 70.10 59.63 30.51 12.05 54.78 41.16 57.12 67.72 49.24 0.43 81.09 25.69 78.82 75.92 39.12 25.55 31.91 43.49 44.84 45.96 42.71 21.38 78.11 25.65 51.19 .41 85.05 30.15 PROPORSI PENDUDUK DENGAN AKSES SANITASI DASAR YANG LAYAK MENURUT PROVINSI DAN WILAYAH TAHUN 2009 No Provinsi Perkotaan (2) (3) (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen P2PL.03 69.03 85.51 (5) 29.35 38.18 35.31 35.89 12.20 84.35 51.83 14.76 56.03 52.06 75.71 45.51 77.60 32.87 73.96 30.60 77.23 56.48 63.45 33.31 75.77 10.07 58.27 25.50 85.98 30.51 35.03 72.59 42.58 45.47 41.43 80.96 34.53 73.10 62.66 45.43 60.

78 66.251 522.509 2.84 47.371 63.46 62.582.70 61.549 354.521 332.43 91.257 161.722 623.963 116.903 178.123 71.98 26.059 337.349 1.48 66.747.260 55.97 55.578.402 170.26 40.463 294.267 313.112.796 187.475 58.666 65.40 69.181 313.613 280.329 23.275 509.634 266.257 1.91 50.01 64.82 31.378 500.67 64.608 97.603 1.06 61.41 77.216 1.515.102.437 44.436 228.063.66 53.744 766.263 223.65 40.048 222.51 72.236 49.00 41.580.35 57.467.526 62.307 175.343 1.062 894.57 56.534 150.950 224.16 PERSENTASE RUMAH SEHAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Rumah No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Jumlah % Jumlah % Seluruhnya Diperiksa Diperiksa Sehat Sehat (3) (4) (5) (6) (7) 690.63 40.12 51.959 775.210 516.648 110.48 60.787 23.978 2.296 122.33 52.106 375.38 29.420.035.96 56.835 705.657 303.592 6.75 29.61 63.107 838.406.836 347.941 292.281.58 45.25 80.71 39.351 716.291 13.22 34.268 128.390 13.959 3.031 311.160 100.580 9.706 20.78 79.53 68.866 227.185 431.Lampiran 2.328 687.56 44.74 53.67 61.195.37 71.54 54.96 53.559 1.098.07 49.717 30.479 116.879 494.90 22.345 208.82 35.075 88.024 741.19 56.52 64.49 .025.518.884 196.368 324.482.315 744.12 34.509 257.937 2.240 479.204 68.85 39.569 344.48 38.055 523.611 98.048 2.888 948.102 148.003.982 380.883 1.675 1.14 73.741 270.142.316.487 341.36 35.68 62.65 72.194 1.93 63.103 468.23 56.074.36 204.427 11.361 155.590 230.198 53.16 32.57 37.635 1.09 43.21 58.56 80.29 81.90 73.000 242.55 66.782 887.484 4.577 702.13 59.85 61.

00 278 85 31 35.973 2.394 1.065 69.763 1.21 3 Sumatera Barat Jumlah Sehat (6) 50 (2) (5) JUMLAH TUPM 58 (1) (4) TUPM Lainnya 149 Provinsi (3) Pasar 1 Aceh No Jumlah Diperiksa Restoran/R-Makan Jumlah yg Ada Hotel (14) (15) (16) (17) (18) 5 Jambi 144 119 98 82.04 5.282 925 72.62 549 462 400 86.49 26 Sulawesi Selatan 365 222 174 78.614 913 56.02 25 Sulawesi Tengah 166 128 107 83.27 1.10 1.641 27.34 221 211 92 43.32 335 243 54 22.771 1.74 17 Bali 1.37 3.059 794 74.520 54.298 871 67.59 11 DKI Jakarta 291 137 85 62.80 10.79 #VALUE! 51 20 12 60.639 4.52 2.210 867 71.835 81.54 450 382 242 63.96 9.224 8.61 138 128 70 54.04 21 Kalimantan Tengah 114 87 54 62.00 2.352 980 963 98.334 61.017 511 435 85.309 1.062 79.58 42 36 27 75.35 811 580 445 76.981 1.69 12.529 936 61.903 45.328 73.342 831 61.150 54.317 3.62 75.202 1.127 64.530 1.40 20.811 72.813 30.890 1.490 1.932 12.399 84.26 18 Nusa Tenggara Barat 352 258 230 89.467 9.88 175 90 68 75.98 13.140 75.109 15.766 1.539 962 574 59.011 2.72 6.066 6.150 Jumlah Diperiksa (9) 1.839 2.933 70.608 3.730 3.700 6.662 7.29 7.461 1.622 12.860 Jumlah yg Ada (8) 2.961 2.943 5.27 37 34 13 38.223 65.74 4 Riau % Sehat Jumlah Sehat (10) 1.81 12 Jawa Barat 996 680 546 80.344 3.27 443.35 344 318 75 23.259 1.13 98 75 64 85.694 54.589 9.008 3.98 8 Lampung 133 102 86 84.70 4.17 1.40 263 196 118 60.414 839 59.09 191 112 32 28.52 5.74 9 Kepulauan Bangka Belitung 54 42 41 97.24 1.59 2.039 75.81 3.407 5.72 654 428 270 63.881 3.56 7.92 6.05 24 Sulawesi Utara 208 148 123 83.096 62.67 2.322 3.165 66.366 5.580 2.603 57.855 10.33 1.52 7.273 63.65 5.354 5.121 3.35 6 Sumatera Selatan 190 183 165 90.936 8.009 34.655 6.96 72.554 80.671 4.55 124 87 78 89.41 3.481 1.046 1.265 38.22 19 Nusa Tenggara Timur 212 162 133 82.170 67.167 83.170 2.32 9.51 28 Gorontalo - - - - #VALUE! 62.806 15 Jawa Timur 523 408 364 89.406 5.963 64.474 1.382 43.86 .613 1.647 81.011 1.279 3.076 2.163 127.356 75.318 1.308 53.00 365 257 157 61.182 2.502 1.252 66.848 2.407 1.59 2.988 76.22 1.235 2.633 62.903 40.566 64.72 29 Sulawesi Barat 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 61 44 30 68.50 12.753 64.332 1.233 15.921 2.46 5.750 1.07 441 331 217 65.99 3.57 19.927 1.869 1.00 101.505 1.56 3.42 601 553 433 78.541 87.668 4.219 812 66.13 27.91 236 183 115 62.477 24.337 172.087 2.58 1.31 1.664 6.85 6.69 4.286 86.244 918 706 76.975 1.770 2.364 2.07 332 298 222 74.02 25 23 8 34.98 2.145 749 65.10 1.28 3.09 402 383 227 59.66 1.235 4.52 6.51 15 11 10 90.75 4.840 74.22 3.455 59.72 1.709 65.98 4.036 228 2.494 64.71 949 842 525 62.34 8.38 1.425 69 369.735 1.15 3.15 66.982 2.958 62.211 201.46 32 Papua Barat 59 54 38 70.373 2.387 91.730 5.123 2.124 73.341 1.191 15.59 1.633 29.34 4.920 9.Lampiran 2.941 1.50 19.240 4.366 10.830 1.308 4.295 4.23 720 558 231 41.92 145 138 73 52.239 % Sehat (7) 86.160 41.05 2 Sumatera Utara 531 412 351 85.75 350.418 66.28 10.721 49.13 34 34 24 70.87 6.288 5.431 79.798 1.83 760 697 97 13.26 10 Kepulauan Riau 232 169 149 88.54 2.57 2.247 2.688 1.757 1.346 3.094 2.897 4.656 55.89 30 Maluku 111 104 93 89.18 498 408 200 49.16 7 Bengkulu 108 108 107 82.96 180 132 68 51.72 16.536 973 63.353 1.414 34.055 6.61 #VALUE! #VALUE! 16 Banten 117 106 58 54.559 3.08 17.219 72.08 13 Jawa Tengah 750 488 436 89.38 31 Maluku Utara 115 110 87 79.35 262 253 111 43.113 51.37 402 402 298 74.123 1.870 1.817 1.11 1.17 8.776 83.452 8.798 6.134 9.112 1.401 61 0.014 28.95 2.197 2.569 1.178 981 663 67.56 103 88 19 21.190 1.977 7.912 4.23 236 200 93 46.788 13.315 668 50.83 87.364 1.22 22 Kalimantan Selatan 185 125 68 54.220 1.55 27 Sulawesi Tenggara 188 140 106 75.656 13.523 1.129 947 83.58 155 130 44 33.106 2.840 1.487 943 63.51 8.78 1.068 56.30 56 52 32 61.226 1.023 646 63.21 799 563 333 59.385 1.073 87.544 66.707 5.487 79.15 1.691 66.06 5.623 3.00 442 346 233 67.928 3.84 113 82 30 36.514 70.68 20.42 151 107 65 60.38 2.83 23.73 16.402 2.077 1.17 PERSENTASE TEMPAT UMUM DAN PENGELOLAAN MAKANAN (TUPM) SEHAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah yg Ada Jumlah Diperiksa Jumlah Sehat % Sehat % Sehat Jumlah Sehat Jumlah Sehat Jumlah Diperiksa Jumlah Diperiksa Jumlah yg Ada Jumlah yg Ada % Sehat (11) (12) (13) (19) (20) (21) (22) 61.787 1.262 81.143 518 45.348 85.95 24.507 1.12 2.91 209 202 103 50.761 57.94 7.75 2.983 60.236 4.89 2.24 20 Kalimantan Barat 184 161 130 80.018 2.976 2.27 23 Kalimantan Timur 438 346 302 87.549 3.198 68.931 6.439 5.56 99 65 36 55.437 812 56.632 1.59 985 904 807 89.02 14 DI Yogyakarta 314 90 89 98.20 5.445 1.034 5.792 69.156 71.386 12.182 1.27 1.19 8.946 60.480 1.826 8.06 2.60 4.92 9.15 572 367 187 50.52 2.211 47.365 76.997 266.061 3.73 267 249 129 51.475 66.335 2.90 6.

92 9.08 1.93 662 623 94.74 5.22 1.629 844 51.58 7.214 999 82.559 3.01 9.296 50.755 58.759 56.98 25 Sulawesi Tengah 2.608 68.55 805 554 68.940 61.373 21 Kalimantan Tengah 531 473 89.769 6.620 7.956 12.729 77.415 8.955 45.089 53.534 18.05 31.54 12 Jawa Barat 7.04 582 439 75.00 4.709 79.66 18.17 5.54 76 9 11.474 53.10 1.719 77.689 1.438 3 707 3.91 11.167 69.214 4.56 14 221 14.367 831 60.34 1.593 1.303 53.53 5 078 5.928 3.73 19.20 23.56 2.339 67.830 5.84 5.01 1.810 74.681 83.53 568 236 41.26 725 342 47.817 87.88 30 Maluku 490 349 71.10 4.082 2.678 1.Lampiran 2.354 31.088 2.822 2.555 71.165 80.515 64.01 4.202 3.302 78.148 1.644 25.232 4.380 73.71 708 487 68.264 3.60 7.567 6.621 48.125 67.08 12.99 5.653 1.88 1.791 1.345 4.684 75.084 68.74 1.133 1.499 2.202 69.152 945 82.43 4.544 10.319 457 19.889 1.678 71.879 41.076 5.198 61.040 453 43 56 43.715 55.47 293 240 81.707 83 53 83.93 16.76 1.40 1.598 2.003 76.77 544 355 65.624 85.86 3.274 2.03 732 503 68.34 1.014 61.63 2.02 1.350 1.264 68.278 2.25 537 353 65.421 87 06 87.19 3.412 2.27 12.32 1.162 3.346 71.960 84 10 84.47 1.218 5.720 71.49 10.854 838 45.905 7.00 11.22 - - 1.316 1.00 5.075 47.791.74 25.070 9.29 3.06 2 092 2.219 42.19 3.881 62.614 81.137 2.91 3.69 3.752 70.740 7 Bengkulu 1.944 1.906 2.624 69.177 8.114 60.282 72.15 11.129 840 74.34 3.43 2.37 101 78 77.768 249 14.303 3.08 4.457 21.407 21.919 41.889 90.501 711 28.29 - - - - - - 84.295 72.669 1.10 19 Nusa Tenggara Timur 1.84 76.081 1.494 83.51 4.638 67.160 43.350 1.290 2.04 26 Sulawesi Selatan 3.32 16.842 1.60 2.11 3.12 653 268 41.72 1.221 11 960 11.047 495 47.414 63.046 643 61.00 34.573 98 19 98.742 1.68 128.86 14.370 7.301 13.139 2.656 1.08 257 140 54.815 69.00 54.17 4 Riau 1.40 1.646 69.806 86 33 86.412 2.65 17.055 516 48.650 67.33 1 040 1.46 20 Kalimantan Barat 50.076 1.292 1.578 84.707 82.10 440 230 52.68 4.350 39.157 759 65.043 6.05 38.20 435 304 69.81 5.79 34.072 54.859 71.004 55.78 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali - - 2060 1731 - - - 1.70 24.607 1.497 2.069 2.613 19.378 1.446 65.176 1.06 14 DI Yogyakarta 1.65 6.85 116.670 1.372 45.02 163.02 9.667 67.74 18.290 153.67 3.603 6.483 63.985 49.13 .066 86.71 578 217 37.22 96 94 97.18 1.316 643 48.86 3.28 11.05 447 254 56.82 246 119 48.169 86.663 89.19 4 438 4.56 2.537 3.536 1.248 800 64.266 70.198 857 71.584 78.29 2.03 3.88 3.445 1.702 65.060 69.847 1.310 2.49 7.594 1.85 18 Nusa Tenggara Barat 1 602 1.160 71.82 8.092 1 806 1.165 2.075 82.83 1.885 41.76 3.278 1.41 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 88.39 22 Kalimantan Selatan 2.560 3.96 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 2.516 46.18 PERSENTASE INSTITUSI DIBINA KESEHATAN LINGKUNGANNYA TAHUN 2009 Sarana Pendidikan Sarana Kesehatan No Sarana Ibadah Perkantoran Sarana Lain Jumlah Provinsi (1) (2) Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) 1 Aceh 2.93 747 461 61.31 59.04 1.571 40.140 38.296 237 10.76 3.14 4.31 1.365 6.55 467 341 73.43 12.169 69.31 2.82 1.66 5 Jambi 899 726 6 Sumatera Selatan 1.47 7.00 69.52 261.23 3.349 64.501 62.899 8.248 403.64 22.854 6.64 3.54 680 529 77.28 608 327 53.474 78.278 74.82 5.581 73.729 797 46.03 1.110 809 72.89 1.72 2.91 13.48 2.074 6.540 88.085 737 67.941 217 127 58.11 2.26 13 Jawa Tengah 7.007 848 42.79 5.685 85.208 3.51 5.42 54.755 2.495 1.375 1.653 50.411 16.89 4.424 71.18 3.736 62.88 813 680 83.465 52.483 4.370 811 59.613 5.342 6.345 1.164 608 28.53 36 - 32 Papua Barat 352 228 64.061 74.52 1.570 72.73 66.57 1.522 67.285.92 7.18 3.585 71.02 80.896 48.79 1.220 1.595 95.26 28 Gorontalo 749 678 90.396 59.43 2.316 34.078 4 421 4.93 1.767.10 2 Sumatera Utara 7.52 14.612.565 2.723 9.869 26.39 1.602 1 573 1.808 33.209 55.690 22.85 4.23 1.618 2.15 2.77 5.169 753 64.16 1.92 641 515 80.350 64.552 59.256 86.94 27 Sulawesi Tenggara 24 Sulawesi Utara 1.67 1.778 73.882 110.142 92.516 81.41 175 56 32.78 74 29 39.93 752 583 77.072 9.124 66.499 4.67 31 Maluku Utara 297 232 78.00 1.85 3 Sumatera Barat 1.798 560 31.532 1.19 8 Lampung 1.516 59.286 7.717 70.79 311 241 77.417 7.64 23 Kalimantan Timur 1.097 82.04 7.109 66.890 69.961 - 1.17 347 200 57.416 680 48.543 96.842 2.31 5.415 878 62.275 10.623 6.335 75.15 77.26 626.42 10.41 943 598 63.34 11.701 77.833 72.618 2.59 9.25 501 311 62.887 2.510 80.51 29 Sulawesi Barat 674 565 83.681 70.86 196 147 75.908 60.660 1.11 969 730 75.336 1.

316.89 68.27 89.18 48.36 59.51 46.784 479.711 90.a.616 239.032 306.95 21.148.980 9.39 57.701 55.934 8.10 39 82 39.60 54.474 43.098.479 116.953 3.517 163 081 163.833 1.516 337.316 1.589 226.31 62.263 305.67 87.744 766.376 348.19 PERSENTASE RUMAH/BANGUNAN YANG DIPERIKSA DAN BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah/Bangunan yang Ada (3) 921.448 838.592 6.70 14.203 170.324 795.826 128.131 25.64 46.44 87.93 60.57 20.56 38 94 38.747.933 148.891 496.57 13.02 50.690 392.665 516.062 930.634 266.768 193.733 173.799 737.d 32.005.11 21.38 20.11 50.34 t.580 9.a.37 42.065 98.623.377 19.343 1.725 36.503.82 66.030 204.08 .580.749 47.052 182.936 99.47 83.930 194.d 1.67 64.081 157.87 66.58 71.142 86.262 418 799 418.40 7.00 41.483 t.a.103 468.031.081 734.82 41.17 51.32 12.877 Rumah/Bangunan Bebas Jentik Rumah/Bangunan Diperiksa Jumlah % (4) (5) 100.096 110.961 321.077 178.460 39.157 4.884 196.342 193.675 872.518 64 936 64.590 44.88 7.82 63.368 17.272 28.Lampiran 2.642 24.45 67.06 8.23 77.d 2.790.102.598 265.958 t.696 414.56 70.846 10.62 17.08 t.903 81.772 75.095 489.568 559.61 39.563 1.990 22.29 64.900 1.04 46.53 61.704.605.935 2.100 3.22 74.837 5.11 31.00 Jumlah % (6) (7) 63.a.014 893.671 817.296 116.91 20.426.427 11.99 83.257 971.86 29.83 74.654 61.959 450.591 291.92 53.006 74.807 71.d 74.94 21.114 375.58 81.204 58.096 226.391 934.024 741.35 7.29 26.94 78.741 225.42 82.98 87.578.49 56.877 170.919 116.53 47.596 58.48 49.529 103.349 466.494 62.283 12.32 85.

275 17.006.681 7.47 .75 25.45 51.235 26.829.511 881.85 43.066 22.897 108.349 118.79 8.942 42.883 5.804 13.77 57.50 42.02 45.28 61.243 44.861 38.469.620 37.085 1.58 46.97 48.292 56.750 105.701 19.236 1.923 330.18 30.625 48.774 346.16 49.28 79.Lampiran 2.812 183.649 196.822 302.611 47.020 91.39 39.866 6.09 65.037 115.37 52.035 855.407 45.75 37.095 % (5) 111.454 10.933 63.787 17.764 461.88 88.209 244.432 136.35 50.173 66.708 755.22 62.860 123.685 1.57 87.629 91.537 525.026 2.905 15.824 407.955 738.007 375.268 140.463 39.643 112.75 55.331 242.91 36.301.995 1.018 93.73 50.248 88.838 21.38 32.87 21.145 85.617 94.824 91.858 108.112 18.973.934 7.408 30.37 61.69 65.984 87.20 PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Rumah Tangga Jumlah Dipantau Ber PHBS * (3) (4) 237.45 17.642.669 409.49 54.986 126.94 41.253 233.182.91 49.850 276.51 59.848.

29 41.30 35.03 Bali 2.36 20.56 20.08 Sumatera Barat 8.40 Sumatera Utara 4.21 PERSENTASE WANITA MENURUT UMUR PERKAWINAN PERTAMA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 10 .46 8.71 37.65 Jawa Tengah 3.77 30.73 22.85 Maluku 4.91 45.24 (3) Aceh 8.38 23.02 Kalimantan Selatan 18.42 10.45 Kepulauan Riau 14.26 35.29 13.78 42.41 (6) 46.20 28.96 20.02 15.63 32.64 Gorontalo 10.48 Sulawesi Tengah 13.79 36.25 27.31 14.22 Papua 8.83 21.66 9.16 49.40 Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.91 Nusa Tenggara Barat 5.24 47.45 31.15 53.76 47.41 46.74 31.78 Jawa Timur 17.87 37.02 24.69 8.97 Jawa Barat 19.01 Sulawesi Selatan 10.57 36.23 11.49 Maluku Utara 5.61 8.38 50.16 35.I.72 51.12 9.54 36.98 24.63 D.07 44.31 23.96 18.02 34.66 9.Bangka Belitung 13.61 10.88 42.97 38.53 17.36 Jambi 11.16 36.72 25.91 36.74 53.05 57.11 15.84 Nusa Tenggara Timur 2.15 Umur Wanita pada Perkawinan Pertama 16 .45 29.08 Riau 7.89 Sulawesi Utara 3.12 13.33 13.89 47. BPS (4) 25+ (5) 32.84 DKI Jakarta 6.34 15.86 .05 35.21 21.25 Kalimantan Barat 7.02 Indonesia 13.Lampiran 2.24 33.27 41.76 54.08 Sumatera Selatan 11.53 19.97 51.64 34.56 9.60 Sulawesi Tenggara 10.80 43.53 11.29 33.14 Kep.55 36.43 Banten 13.65 54.00 Lampung 6.47 20. Yogyakarta 18.64 14.42 11.08 43.27 44.23 48.05 31.71 Papua Barat 10.14 Sulawesi Barat 7.58 50.12 40.51 15.95 22.78 47.37 9.61 27.25 Kalimantan Timur 10.86 Kalimantan Tengah 10.41 Bengkulu 7.31 46.96 35.93 14.18 19 .06 19.15 11.01 29.07 18.76 40.20 38.75 11.

9 68.6 70.0 .0 66. ANGKA KEMATIAN BALITA TAHUN 2007 DAN ANGKA HARAPAN HIDUP TAHUN 2008 MENURUT PROVINSI No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Sumber: Provinsi *Angka Kematian Bayi (IMR) Estimasi *Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Harapan Hidup (eo) 2008 (2) (3) (4) (5) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia BPS.1 68.2 67.4 66.9 67. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 * : Periode lima tahunan sebelum survei.1 69.5 69.2 69.1 64.1 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI.8 71.5 67.0 66.4 67.6 61.8 72.0 71.1 69.2 69.8 69.0 63. AHH :BPS.3 71.7 72.4 67. Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008 25 46 47 37 39 42 46 43 39 43 28 39 26 19 35 46 34 72 57 46 30 58 26 35 60 41 41 52 74 59 51 41 36 34 45 67 62 47 47 52 65 55 46 58 36 49 32 22 45 58 38 92 80 59 34 75 38 43 69 53 62 69 96 93 74 62 64 44 68.Lampiran 3.0 68.6 67.1 69.1 70.0 65.1 73.6 69.4 69.

28 7 Bengkulu 69.93 72.95 30 2.12 32 1.63 96.66 7.20 91.3 6.59 30 Maluku 66.63 70.28 65.71 15 67.10 6.07 72.78 8 69.14 11 1.47 22 Kalimantan Selatan 62.12 72.60 95.70 77.40 634.52 92.09 69.80 93.50 600.0 8.00 97.80 96.83 24 66.94 631.82 27 65.90 67.30 20 1.63 622.63 3 71.24 633.65 592.80 619.56 70.60 95.32 7.15 31 2.42 594.12 605.47 7.71 89.99 8 Lampung 68.81 70.60 95.39 74.000) IPM (10) (11) (12) (13) Reduksi Peringkat Short Fall (14) (15) 1 Aceh 68.6 7.35 17 68.60 14 2.17 29 21 Kalimantan Tengah 70.59 71.72 26 2.00 99.95 87.10 621.81 71.90 88.00 63.99 27 Sulawesi Tenggara 67.28 1.52 75.4 8.78 19 69.70 8.87 24 Sulawesi Utara 72.81 86.2 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KOMPONEN MENURUT PROVINSI TAHUN 2007.69 8.99 71.4 8.94 96.00 620.60 624.0 7.85 6 Sumatera Selatan 69.60 593.7 8.18 631.28 30 67.81 95.71 32 61.05 33 Papua 67.0 8.92 14 71.1 6.52 74.96 18 67.29 71.50 8.29 8 1.59 1 72.18 28 1.44 595.70 87.75 71.18 6 1.00 94.67 74.1 8.88 7 1.44 95.22 21 1.33 71.36 634.10 95.67 628.34 22 66.0 6.94 626.10 97.23 9 69.55 27 2.10 73.99 13 1.74 9 Kepulauan Bangka Belitung 68.80 8.53 16 70.00 69.09 22 26 Sulawesi Selatan 69.6 7.03 1 1.29 23 64.87 7.82 5 Jambi 68.29 24 1.6 8.62 10 68.41 33 68.0 7.15 4 73.94 73.76 17 2 Sumatera Utara 69.96 9 2.50 96.32 7.88 74.66 631.23 69.88 67.2 6.57 636.00 25 2.45 25 Sulawesi Tengah 65.1 7.37 95.48 63.89 11 DKI Jakarta 72.09 3 1.05 628.32 25 67.62 4 Riau 71.91 95.52 5 2.40 13 69.00 33 1.03 8.80 96.78 20 69.40 6.31 75.59 69.76 10.1 6.60 90.75 6.37 70.15 593.46 643.26 69.25 71.80 68.38 18 2.81 638.26 96.60 8.70 630.000) (2) (3) (4) (5) (6) (1) IPM Peringkat Angka Harapan Hidup (tahun) (7) (8) (9) Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Angka Melek Huruf (%) Pengeluaran Riil / Kapita (Rp.90 67.4 7.39 1.60 95.00 637. Provinsi Angka Harapan Hidup (tahun) Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Angka Melek Huruf (%) Pengeluaran Riil / Kapita (Rp.03 70.94 7.00 96.20 86.60 96.80 98.25 74.96 20 Kalimantan Barat 66.6 7.46 29 Sulawesi Barat 67.90 75.70 23 1.1 7.91 2.01 10 Kepulauan Riau 69.90 3 Sumatera Barat 68.19 10 2.30 610.4 6.53 626.10 95.05 12 2.80 628.68 622.31 625.62 6.42 31 Maluku Utara 65.30 8.58 64.00 97.60 86.87 625.98 .66 599.81 15 Jawa Timur 68.74 91.70 617.9 10.1 8.41 6.51 97.18 625.00 7.10 8.61 70.99 87.32 17 Bali 70.93 66.59 71.23 86.40 96.64 73.53 29 66.10 89.80 628.02 70.52 593.77 5 70.60 98.50 95.35 70.30 7.40 7.86 12 Jawa Barat 67.78 8.42 6.53 70.72 28 67.68 6 69.64 70.10 87.23 625.20 605.58 75.26 7.12 15 1.40 624.20 23 Kalimantan Timur 70.9 7.80 620.2008 2008 2007 No.Lampiran 3.20 8.38 13 Jawa Tengah 70.40 6.04 68.38 18 1.59 639.19 628.50 95.86 89.60 625.43 636.97 73.98 16 1.31 625.88 4 2.55 87.46 12 68.60 97.60 97.35 14 DI Yogyakarta 73.08 629.94 68.36 31 67.72 69.79 73.11 32 Papua Barat 67.90 95.8 7.66 72.60 617.62 68.15 28 Gorontalo 65.2 7.71 69.05 623.51 622.53 630.40 86.00 8.65 64.90 630.71 604.63 615.60 601.5 8.80 99.17 Indonesia Sumber: Badan Pusat Statistik.50 95.20 94.90 70.70 91.14 19 Nusa Tenggara Timur 66.68 2 72.41 599.70 69.47 624.95 70.91 615.0 8.00 16 Banten 64.00 624.49 72.25 6.40 625.21 7.55 18 Nusa Tenggara Barat 61.13 633.2 8.57 11 69.8 7.24 7.1 6.60 96.67 92.01 26 63.8 8.73 616.83 68.96 68.0 8.52 69.52 72.78 76.90 87.30 93.5 6.70 80.60 624.16 2 1.80 98.98 69.20 8.49 7 71.11 74.13 67.90 94.76 625.70 89.00 8.50 623.62 21 69.42 611.75 619. Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008 Ket: Reduksi Short Fall : Percepatan pembangunan manusia untuk mencapai angka IPM ideal 1.90 97.20 80.74 68.80 98.07 67.30 630.69 68.

920 16.705 60.334 898 3 Demam tifoid dan paratifoid 39.013 4 Demam yang sebabnya tidak diketahui 24.144 36.396 30.262 41.497 47.243 49.477 35.200 462 5 Dispepsia 18. Kemkes RI.850 1.535 143.115 16.677 935 7 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 19.629 121.170 16.647 2365 9 Penyakit apendiks 13.783 30.957 24.807 28.154 235 Sumber: Ditjen Yanmed.533 21.3 10 BESAR PENYAKIT RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT TAHUN 2009 Kasus No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) Laki-laki Perempuan Total Kasus Meninggal (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 74.696 1.758 17. 2010 .703 234 10 Gastritis dan duodenitis 12.048 162 8 Pneumonia 19.588 80.Lampiran 3.747 2 Demam Berdarah Dengue 60.304 520 6 Hipertensi esensial (primer) 15.161 69.933 36.

881 143.578 245.004 68.446 67.488 46.231 89.942 99.195 135.823 123.953 247.364 54.463 52. 2010 Laki-laki Perempuan Total Kasus Jumlah Kunjungan (3) (4) (5) (6) 243.429 156.162 220.216 488.167 132.275 83.Lampiran 3.673 88.256 371.318 67.817 77.794 781.375 55.254 358.660 203.463 122.269 412.142 105.021 55.380 52.467 234.083 53.815 99.303 147. Kemkes RI.749 .087 275.738 172.013 223.605 153.345 133.4 10 BESAR PENYAKIT RAWAT JALAN TAHUN 2009 Kasus No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) (1) (2) 1 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 2 Demam yang sebabnya tidak diketahui 3 Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya 4 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 5 Gangguan refraksi dan akomodasi 6 Dispepsia 7 Hipertensi esensial (primer) 8 Penyakit pulpa dan periapikal 9 Penyakit telinga dan prosesus mastoid 10 Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtiva Sumber: Ditjen Yanmed.

04 3.866 4.392 397 1.171 2.268 701.933 483 3.136 769 44.088 1.421.85 0.971 686.082 5.895 4.92 8.530 3.516 63.953 15.074 2.644 44.818 20.949 75.472 1.053 15.402 21.264 2.242 765.024 176.706. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jawa-Bali Luar Jawa-Bali Sumber: Ditjen PP & PL.075 1.75 1.202.94 8.841 685. Kemkes RI.647 60.143.45 4.391.39 1.35 0.294 58.05 1.212 39.32 13.47 4.189 2.515 1.91 27.897 1.424 1.196 3.849 73.568 14.292 1.683 93.577 4.87 1.873 29.401 83.66 9.353.063 51.675 20.654 27.41 0.096 33.89 8.02 1.966.536.001 2.274 1.932 165.48 5.920 4.040 38.94 11.848 3.642.816 2.06 15.213 54.159 6.864.034.531 40.459 6.Lampiran 3.25 2.025.206.538.54 5.23 1.461 1.384.42 133.015 957 5.039 2.922 14.812 11.017 13.709 9.78 5.14 9.59 16.572 5.473 6.834 3.92 54.907 49.36 1.040 38.648 863.651 543 24 8.09 41.934 8.210 26.511 176.888 8.204.51 30.06 2.292 5.635 45.759 6.5 JUMLAH KASUS DAN ANGKA KESAKITAN PENYAKIT MALARIA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Populasi Berisiko Klinis SD Periksa Positif API (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.31 0.928 8.888 33. 2010 4.27 .435 2.380 2.971 966.635 49.401 83.478 10.148 8.927 199.883 9.572 3.97 18.487 5.849 102.283 6.386 11.71 0.030 168.968 51.768 2.17 2.48 20.94 1.449 4.902 194.51 10.78 7.350.46 29.093.295.940 966.05 12.89 0.325 12.920 4.15 2.535 76.675 AMI (8) 0.08 0.57 8.973 41.755.453.275 6.25 0.536 1.260.22 4.58 3.132.62 0.308 5.074.389 5.403 13.726 10.135 5.813 24.939 2.03 0.70 12.37 1.859 23.71 10.93 15.36 0.59 6.65 51.885 37.661.13 0.15 3.51 5.168 2.083.949 1.674 8.792 2.220 67 2.696.48 0.12 0.36 0.016.385 4.561 1.244.995.580 21.80 11.986 4.052 22.160 391 12.606 19.843.540 2.676 3.376 8.09 6.530.946 1.14 0.98 39.572 3.54 1.403 13.

19 0.51 0. 2010 0 0.16 0.2009 Tahun No Provinsi (1) (2) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 (8) (9) (10) (11) (12) (13) 1 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 2 Jawa Barat 0.06 0.52 0.36 0.18 0.71 6 Banten - 0. Kemkes RI.10 0.05 0.42 0.96 0.08 0.13 0.17 7 Bali 0.71 0.18 0.16 0.15 0.00 0.02 0.06 0.6 ANNUAL PARASITE INCIDENCE (API) MALARIA DI JAWA-BALI TAHUN 2004 .16 0.14 .97 0.55 0.02 0.12 0.05 0.03 5 Jawa Timur 0.03 0.08 0.03 0.07 4 DI Yogyakarta 0.17 Jawa-Bali Sumber: Ditjen PP & PL.58 3 Jawa Tengah 0.03 0.15 0.37 0.47 0.02 0.Lampiran 3.

7 66.8 59.3 42.048 4.7.629 3.620 1.Lampiran 3.6 56.325 3.448 2.702 1.424 9.5 56.407 35.227 5.1 .9 65.517 3.943 951 784 7.8 30.070 4.065 3.880 2.273 9.896 10.074 61.428 2.4 31.134 1.732 2.302 5.499 2.213 73.397 8.681 5. Kemkes RI.6 39.8 38.7 45.2 32.9 60.380 7.311 9.535 11.6 66.090 4.988 1.2 34.8 48.966 16.342 6.5 44.066 2.156 1.179 2.646 4.609 3.8 71.165 2.556 2.468 2.7 33.296 1.779 1.266 1.0 70.291 7.197 7.014 708 2.065 13.559 3.588 4.6 34.964 34.815 5.8 40.6 77.1 51.370 942 2.490 4.345 38. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.989 2.598 8.096 7.745 5.229 1.155 22.3 33.731 169.8 231.1 85.667 11.695 25.906 1.821 2.891 2.897 3.663 1.346 5.608 4. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.339 2.869 44.813 2.369 4.694 4.433 16.2 52.3 81.209 16.5 41.671 2.054 1.982 21.010 15.181 1.6 48.241 39.482 4.405 1.987 1. HASIL CAKUPAN PENEMUAN KASUS PENYAKIT TB PARU TAHUN 2009 Cakupan No.089 3.7 51.223 2.941 7.918 6.562 3.2 36.701 9. 2010 Perkiraan Kasus Baru TB Paru BTA Positif Semua Kasus Kasus Baru TB Paru BTA Positif Case Detection Rate (CDR) % (3) (4) (5) (6) 6.370 294.200 2.504 638 43. Bangka Belitung Kep.989 31.725 8.

588 4.278 2.29 59.135 3.906 1.052 1.28 55.66 46.369 4.09 42.992 337 304 3.517 3.97 61.78 39.94 3.181 1.30 35.59 39.03 38.Lampiran 3.439 7.72 55.22 60.22 58.134 1.880 2.191 787 1.695 3.866 17. 2010 Perempuan (3) Jumlah (4) 2.60 60.90 61.23 39.07 58.32 59.483 546 1.065 3.21 38.123 13.91 57.538 460 10.17 65.994 9.44 38.70 64.891 2.918 6.227 1.221 3.155 22.989 31.296 1.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.79 61.022 9.840 1.83 64.71 40.050 1.732 2.83 45.428 2.97 65.41 60.99 59.28 40.974 606 1.897 3.72 44.516 783 2.67 41.10 56.53 38. Kemkes RI.339 2.93 41.227 628 1.90 43.862 1.17 35.89 61.8 JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF MENURUT JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jenis Kelamin No Laki-laki Provinsi Laki-laki+ Perempuan % Jumlah (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.78 41.433 1.16 40.83 34.275 (7) 34.797 1.34 53.75 61.11 38.19 63.77 60.014 708 2.397 391 99.943 951 784 7.10 38.107 247 69.06 (6) 1.01 40.47 61.72 59.907 889 1.18 59.057 2.089 3.82 40.17 54.28 44.03 34.299 1.881 2.368 695 12.488 1.504 638 169.68 40.087 437 1.25 38.988 1.84 59.75 44.700 1.951 614 480 4. Bangka Belitung Kep.56 61.745 5.065 13.370 942 2.81 36.25 55.043 4.334 777 559 1.631 962 593 383 927 271 1.938 % (5) 65.20 38.207 982 2.377 4.472 1.673 793 1.40 39.33 58.156 1.80 61.598 8.433 16.828 1.213 .

057 2.738 826 150 396 345 542 188 379 250 480 240 682 246 169 109 169 75 172 51 209 880 227 163 188 400 114 359 70 39 455 2.368 695 12.135 3.087 511 86 259 241 291 123 267 132 273 143 491 156 108 72 152 38 95 28 384 1.54 55 .227 1. 2010 K e l o m p o k U m u r ( t a h u n) 35 .275 169.156 1.054 15.557 103 1. Bangka Belitung Kep.091 8.377 4.692 2. JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2009 No 0 .278 2.523 13.134 1.182 1.862 1.918 6.123 13.416 1.370 942 2.072 654 117 248 244 263 113 273 166 314 161 531 199 111 87 164 54 152 38 443 2.907 889 1.943 951 784 7.277 77 2.931 1.797 1.300 574 141 351 299 530 117 275 199 406 196 653 231 122 93 150 64 99 29 169 608 173 97 159 248 92 277 37 21 220 1.481 19.221 3.891 2.087 15.065 13.755 99.052 1.207 982 2.470 1.631 962 593 383 927 271 1.24 25 .517 3.107 247 3.394 397 220 281 519 199 463 87 48 463 2.014 708 2.026 12.518 115 1.745 5.914 Sumber: Ditjen PP & PL.025 3.022 9.840 1.491 325 86 228 228 230 61 144 85 192 115 418 148 90 57 108 19 58 14 129 475 236 74 139 266 73 284 56 29 152 996 778 86 938 194 81 129 207 210 46 92 91 241 69 342 95 38 43 100 24 23 19 2.580 954 128 253 279 307 111 197 174 334 128 540 224 119 71 199 85 397 92 161 943 291 172 163 334 99 330 67 71 765 3.762 820 107 187 271 252 93 204 159 273 134 388 187 121 65 177 79 391 87 415 1.306 1.353 949 58 1.334 777 559 1.050 1.538 460 10.906 1.721 14.810 104 2.520 105 2.673 793 1.424 88 2.897 3.700 1.206 340 241 206 420 131 377 82 81 1.988 1.076 1.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 15 .339 2.043 4.017 162 2.14 Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.227 628 1.428 2.558 6. Kemkes RI.299 1.181 1.34 L P L P L P (3) (4) (5) (6) (7) (8) 24 65 17 13 12 15 6 26 3 4 29 145 65 1 99 38 2 11 16 29 9 22 14 26 14 10 11 4 7 37 6 23 8 19 92 27 19 16 24 6 47 2 56 168 95 7 135 42 5 11 27 24 12 15 10 26 16 25 12 5 5 59 1 41 5 229 1.515 4.Lampiran 3.598 8.880 2.266 215 375 405 552 175 380 280 516 222 837 254 177 140 236 110 445 120 223 1.695 3.089 3.439 7.226 1.216 799 183 245 350 341 126 229 210 320 179 611 202 121 87 197 72 361 74 811 1.866 17.057 454 309 343 640 201 576 123 82 746 2.433 1.989 31.64 P P L L P L > 65 L L Total P T (9) (15) (17) (18) (19) (10) (11) (12) (13) (14) 398 1.397 391 1.065 3.946 428 434 345 642 178 585 113 107 936 3.488 1.881 2.578 1.087 437 1.588 4.011 16.168 273 310 248 447 148 450 82 113 918 3.9 JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF MENURUT KELOMPOK UMUR (TAHUN).472 1.655 1.504 638 19.732 2.938 69.992 337 304 3.994 9.191 787 1.951 614 480 4.828 1.055 172 347 330 503 147 355 270 469 266 733 273 148 96 196 73 238 72 206 926 222 247 223 417 117 394 69 47 624 2.516 783 2.296 1.44 45 .660 122 2.155 22.039 23.483 546 1.974 606 1.865 91 2.914 561 537 369 705 194 640 150 129 1.433 16.516 1.213 .369 4.

1 2.109 540 2.4 3.5 66.4 80.1 83.5 89.10 HASIL CAKUPAN PENGOBATAN TB PARU MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 Semua Kasus BTA Pos Jumlah % Jumlah % Sembuh & Pengobatan Lengkap Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 3.1 80.8 13.896 3.133 5.351 2.607 3.9 1.4 1.399 13.999 5.1 92.582 6.1 82.055 4.271 2.6 92.205 2.850 2.8 12.142 921 1.096 813 462 5.701 2.951 2.8 87.048 3.243 4.2 3.9 92.9 95.637 13.176 1.6 10.189 1.0 8.860 4.4 92.721 1.1 12.161 2.5 82. Bangka Belitung Kep.8 80.3 4.454 93.329 2.461 525 166.259 298.1 6.209 1.3 2.5 3.169 27.999 84.298 2.1 89.8 94.0 2.478 2.060 47 1.224 2.6 5.0 4.088 4.4 13.0 10.509 547 264 408 339 173 159 131 374 406 288 215 345 197 131 90 168 677 168 13.3 1.8 90. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.4 69.500 25.9 2.1 4.1 3.9 72.2 3.9 97.0 2.7 93.091 7.598 7.2 1.1 27.521 1.858 2.8 1.1 31.905 960 2.4 1.831 14.376 2.9 4.120 6.4 8.829 4.3 1.227 5.1 86.818 25.930 1.7 86.8 85.113 17.5 85.Lampiran 3.0 90.2 3.557 35.0 2.403 3.601 1.7 80.093 941 21.210 1.2 92.894 370 151.0 92.884 1.558 1.8 18.4 91.1 96.0 5.4 2.752 1.5 14.279 981 6.217 202 137.6 88.468 2.002 2.7 93.164 2.155 2.7 3.6 3.5 89.8 6.276 4.6 83.6 85.3 77.566 1.9 16.372 30.1 17. Kemkes RI.6 80.971 1.3 1.828 17.8 67.5 87.329 1.072 16.876 3.141 23. 2010 Sembuh Pengobatan Lengkap Success Rate (%) Meninggal .0 70.4 6.9 67.4 74.2 85.8 93.6 0.655 8.881 4.592 1.8 1.1 83.9 78.2 88.663 15.455 8.6 96.312 1.024 1.604 14.0 16.0 66 167 117 34 84 63 14 100 37 9 135 400 285 45 557 80 77 133 121 76 17 72 51 76 46 185 53 19 59 4 18 50 21 3.5 32.241 2.2 1.5 85.3 8.864 945 790 989 282 1.360 4.709 3.6 1.9 238 366 377 249 195 364 62 332 22 144 1.059 1.251 3.452 1.1 88.261 1.490 61.787 4.7 4.1 2.181 4.711 5.5 77.428 835 606 7.5 97. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.2 52.9 85.4 4.1 6.060 1.990 3.7 87.840 1.2 49.781 8.461 39.688 5.033 894 19.3 83.451 1.284 1.3 94.0 97.3 1.6 1.8 78.4 2.134 3.9 9.303 2.771 958 685 8.618 1.3 2.894 1.724 1.960 8.315 5.0 Cakupan Tahun 2008 No.434 3.170 2.4 82.2 11.079 450 1.8 6.5 91.3 89.080 1.5 38.544 2.9 84.159 5.413 3.8 2.3 21.244 1.9 7.158 3.

828 3. 2010 Per 100.91 0.51 8.17 16.22 8.36 5.93 133.65 0.67 8.78 0. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.973 3.11 JUMLAH KUMULATIF KASUS AIDS.35 7.46 6.36 22.86 11.227 318 1.598 717 290 3.07 19.91 0.66 .77 3.000 PENDUDUK MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN DESEMBER 2009 Jumlah Kasus No Provinsi (1) (2) Case Rate Meninggal Kumulatif 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.000 Penduduk (3) (4) (5) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.06 45.04 5.93 3. MENINGGAL.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.05 3. DAN ANGKA KUMULATIF KASUS PER 100.20 1.88 0.45 2.04 8. Kemkes RI.Lampiran 3.21 1.57 3.23 31.60 2.808 11 93 81 131 50 38 21 42 18 130 426 634 246 81 691 54 283 63 25 107 2 5 10 62 6 62 5 1 70 8 19 371 1.32 8.69 0.846 8.33 14.71 7.

811 3.828 3.747 142 139 794 40 27 11 173 12 591 22 3 192 16 58 2.808 19.442 Triwulan IV (6) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2. Bangka Belitung Kep.973 .263 92 117 730 10 27 11 173 12 143 11 3 190 9 58 2.681 18.710 819 290 3.858 21. 2010 Triwulan I (3) 30 485 234 368 165 184 52 144 111 325 2.506 107 138 730 15 27 11 173 12 143 20 3 192 10 58 2.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.162 573 246 2.133 275 1.740 3.12 JUMLAH KASUS AIDS KUMULATIF PER TRIWULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.807 3.Lampiran 3.964 Jumlah Kasus AIDS Kumulatif Triwulan II Triwulan III (4) 48 485 410 477 166 219 113 144 120 341 3.598 717 290 3.227 318 1.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Jumlah Sumber: Ditjen PP & PL.770 (5) 36 485 293 371 165 219 85 144 117 333 2.233 669 247 3. Kemkes RI.499 16.652 78 1.540 323 1.

80 73.10 19.00 21.10 67.20 47.30 36.50 51. 2010 Jumlah Kasus Jumlah Kasus Kumulatif Persentase Kasus Kumulatif Kumulatif Pada IDU Pada IDU (3) (4) (5) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.022 199 261 46 12 132 7 9 4 40 6 209 1 2 79 2 5 2 39.598 717 290 3.80 34.20 45.00 70.70 16.50 43.20 9.80 66.828 3.70 62.973 7.90 28. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.60 33.13 JUMLAH DAN PERSENTASE KASUS AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIKAN (IDU) MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.90 .60 0.00 8.Lampiran 3.40 4.40 58.628 152 132 1. Kemkes RI.002 2.70 8.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.00 35.40 23.60 16.20 38.10 50.966 39.50 31.30 33.227 318 1.70 41.60 77.808 17 209 224 135 96 104 47 112 40 30 2.10 20.

191 - 56.062.880 3.752 896. PKM Program Target Penemuan Pneumonia Balita (10%) < 1 Tahun 1 .380 1.575 233.915 95.034 20.54 5.914 21.139 211.370 20.15 71.458 354.159 107.701 32.455 812 11.552 1.646 1.660 469.905 5.721 6.624 2.433 42.82 41.376 9. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.533 2.12 5.41 0.92 5.64 14.Lampiran 3.438 249.701 201.881 10.226 28.360 662 570 - 2.328 2.666 46.18 .329 589 7.176 7.81 - 17.819 - 494 11.42 10.682 113.175 725.130 161.735 1.387 6.249 434.914 197.524 842 404 387 - 1. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Realisasi Penemuan Penderita Pneumonia Balita Jumlah Penduduk Usia Balita Wil.915 709 758 2.83 17.866 130.402.829 1.392 9.078 13 6.56 15.277 11.892 252.187 69.310 429.32 19.657 1.70 21.677 372 309 1.271 1.38 9.261 732 518 258 183 - 732 16.067 3.21 10.671 4.806 3.287 9.30 46.072.766 449.655 32.977 44.344 185.349 4.907 2.37 20.034 18.384 2.639 3.306 196.607 38 11.318 18.075 7.491.050 136.685 51 17.749 2.652 425.14 JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.191 9.842 1.332 424.593 1.313 16.4 Tahun Jumlah % (3) (4) (5) (8) (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.45 11.621 11.126 223 4.989 3.558 23.010 67.873 690.985 34.153 890 1.562 74.05 3.315 1.081 1.083 344.91 13.306.16 2.16 12.912 98.431 42.175 89.578 11.014 323.96 9.491 19.566 3.846 1.781 111.925 43.256 1.173 390.369 1.993 3. 2010 (6) (7) 568.034 3.621 748.760.296 129.118 72.20 5. Kemkes RI.16 21.246 35.91 13.595 30.521 4.319 22.868 11.

00 51 65.55 1.42 4.06 0.00 1.10 0.00 14.00 25 30.00 72 219.08 0. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.923 499 84 267 193 104 99 200 199 425 313 1.000 Penduduk (6) Cacat Tkt.16 0.05 2.00 47 0 33 1.10 0.11 0.25 11.04 0.09 0.13 0.62 27.07 0. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.82 5.02 0 0. KECACATAN.01 40.03 0.05 0.00 18 8.06 0.03 10.559 1.10 0.06 48 33 0.074 0.13 0.17 0.11 0.18 0 0.63 1.07 0.21 0 0.00 0 42. 2010 PB MB (3) Jumlah (4) 121 37 13 44 4 20 2 24 6 3 102 208 226 13 944 65 15 51 34 7 9 12 19 85 83 233 29 19 55 72 105 108 265 3.26 3.04 0 0.24 0.93 16.12 0.13 0.37 (10) 40 14 6.00 25 25.91 1.17 0.04 0.42 2.00 35 0 9 0 17 5.11 0.05 0.812 (9) 0.89 6.05 0.033 (5) Case Detection Rate Per 100.35 33.71 4.49 1.00 133 17.00 13 35. DAN PROPORSI KASUS PADA ANAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.00 31 11.79 12.01 0.00 20 15.13 0.15 JUMLAH KASUS BARU KUSTA.44 .56 40.13 0.09 0.Lampiran 3.00 21 21.06 0.07 0. Kemkes RI.85 2.12 0.00 6 651.260 7.00 206 236.10 0.98 0.05 2.11 0.14 Tahun Jumlah % % (8) 359 163 65 151 59 200 9 87 27 7 471 1351 1348 39 4979 434 69 216 159 97 90 188 180 340 230 1003 220 174 140 325 286 139 622 480 200 78 195 63 220 11 111 33 10 573 1.00 83 1.16 6.12 0.07 0.02 3.574 52 5.10 0. CASE DETECTION RATE (CDR).236 249 193 195 397 391 247 887 11.12 0.51 15.20 11.08 14.02 0.00 2.78 18.60 6.00 0 13.07 7.04 0.01 0.00 188 151.17 0.30 0.00 143 11. 2 Jumlah (7) 0 .17 0.29 0.07 0 0.00 56 30.53 6.69 4.13 0.00 62 1.00 14 6.62 19.227 17.00 3 710.00 10 10.33 3.08 0.06 0.69 0.00 45 13.15 0.00 10 24.00 7 11.12 0.15 0.

Lampiran 3. 2010 1 0 1 0 2 4 0 8 0 0 0 10 3 0 15 17 0 0 2 8 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 1 0 76 TT2+ (4) 6 0 1 0 4 7 1 12 2 0 0 23 7 0 22 43 0 0 3 16 0 0 1 0 2 2 1 3 0 0 0 1 1 158 Tidak Diketahui (3) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Bara Nusa Tenggara Timur Kalimantan Bara Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tanpa pemeriksaan (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Penolong Persalinan Tradisional Meninggal (1) No Status Imunisasi Bidan/Perawat Provinsi Total Pemeriksaan Kehamilan (15) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28) 3 0 1 0 1 1 0 2 0 0 0 2 1 0 6 3 0 0 0 6 0 0 0 0 1 1 0 2 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 1 3 0 2 0 0 0 7 0 0 0 2 0 0 3 3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 23 0 0 0 0 1 0 0 5 0 0 0 3 0 0 14 9 0 0 0 3 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 37 0 0 0 0 2 3 1 3 0 0 0 0 3 0 6 16 0 0 1 10 0 0 1 0 0 0 1 3 0 0 0 0 0 50 0 0 0 0 0 1 0 2 2 0 0 11 3 0 1 17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 39 6 0 1 0 1 3 0 2 0 0 0 9 1 0 1 1 0 0 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 32 3 0 1 0 1 0 0 5 2 0 0 12 5 0 15 27 0 0 0 6 0 0 0 0 2 2 1 2 0 0 0 0 0 84 2 0 0 0 2 2 1 4 0 0 0 1 0 0 2 8 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 27 1 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 2 2 0 2 8 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 21 6 0 0 0 0 1 0 0 1 1 3 3 0 1 1 12 0 2 0 0 0 0 8 15 0 7 0 0 3 21 0 35 0 0 0 0 2 1 5 9 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 2 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 26 121 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 8 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 17 0 0 0 0 1 3 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 2 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 20 .16 JUMLAH KASUS TETANUS NEONATORUM DAN FAKTOR RISIKO MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Faktor Risiko 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Tidak Diketahui Ya Tidak Tidak Diketahui (14) 0 0 1 0 1 3 0 2 0 0 0 6 0 0 12 2 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 31 Lain-lain (13) 5 0 0 0 3 3 1 5 2 0 0 11 5 0 0 31 0 0 0 14 0 0 1 0 0 0 1 2 0 0 0 0 1 85 Bambu (12) 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5 2 0 5 4 0 0 0 2 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 21 Gunting (11) 1 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 1 0 0 6 6 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 22 Tidak Diketahui (10) 1 0 0 0 1 3 0 2 0 0 0 7 0 0 1 2 0 0 2 6 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 28 Lain-lain (9) 0 0 0 0 2 3 1 0 0 0 0 4 2 0 2 12 0 0 0 3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Tradisional (8) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 6 2 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 13 Dirawat di RS Alkohol/Iodium Dokter (7) 5 0 1 0 1 1 0 10 2 0 0 10 3 0 11 27 0 0 0 7 0 0 0 0 1 2 0 3 0 0 0 0 0 84 Pemotongan Tali Pusat Tidak Diketahui Tidak Diketahui (6) Perawatan Tali Pusat Bidan/Perawat Tidak Diimunisasi (5) TT1 Dokter Sumber: Ditjen PP & PL. Kemkes RI.

927 112 18 102 99 93 75 25 219 9 28 67 62 297 0 103 194 1 0 2 36 9 88 12 17 5 139 27 5 8 0 0 1 0 1.276 693 476 964 798 510 872 219 1. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.055 .314 24 0 84 49 100 46 15 71 2 67 0 0 402 0 94 178 25 0 0 22 13 3 0 9 1 100 2 15 0 0 5 16 0 1.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 18.816 75 100 82 136 0 82 13 145 5 53 62 501 176 4 154 204 4 0 0 19 11 99 5 20 8 103 14 17 5 0 26 3 2 2.17 JUMLAH KASUS CAMPAK PER BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus per Bulan No.128 81 121 74 130 34 87 16 182 8 40 45 121 216 0 201 199 0 0 3 26 11 112 9 2 9 181 7 5 3 0 0 4 0 1.447 72 533 813 1.197 1.Lampiran 3.853 53 41 125 105 35 117 36 176 20 39 98 120 254 0 98 190 4 0 4 14 20 90 38 11 1 80 5 19 4 0 0 6 4 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. Kemkes RI.281 39 1.343 51 0 66 32 86 56 15 104 6 50 0 0 400 2 63 128 49 0 9 25 1 3 0 25 16 59 0 14 0 0 0 16 0 1.807 67 47 101 34 56 88 32 133 3 30 85 65 338 1 58 104 8 0 1 20 19 88 11 3 10 77 41 4 1 0 0 11 0 1.333 3.536 43 8 62 35 29 83 10 87 7 56 130 35 219 3 58 105 12 0 0 17 15 35 0 21 7 76 20 8 0 0 2 0 0 1.183 19 0 66 7 10 63 14 78 6 32 83 0 228 0 71 105 10 0 13 16 10 65 9 19 3 30 6 4 3 0 0 2 0 972 3 0 37 44 0 63 13 50 0 40 120 0 296 3 40 80 0 0 0 13 6 24 0 34 7 24 2 1 0 0 0 0 0 900 2 9 104 55 67 24 9 81 3 59 106 0 320 5 93 169 47 0 5 32 10 14 7 14 0 76 3 0 0 0 0 0 0 1. 2010 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 163 132 61 72 0 88 21 121 3 39 17 429 135 21 164 138 5 0 8 18 8 72 3 16 10 45 3 16 8 0 0 0 0 1.

076 6.698 1.540 5. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.941 18.164 750 3.055 .281 39 1.333 3. 2010 <1 1-4 10-14 5-9 > 14 Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) Total Divaksinasi Total Kasus (13) (14) 3 42 20 35 8 22 11 35 1 10 0 0 92 0 84 12 2 0 3 4 5 37 4 7 1 58 2 4 1 0 3 1 0 78 101 79 98 50 114 30 123 7 66 86 134 236 3 148 229 3 0 2 19 28 67 17 15 11 106 9 12 3 0 4 10 2 26 73 109 85 66 105 11 172 4 14 0 0 333 1 179 130 6 0 10 41 24 85 24 23 5 188 23 17 8 0 6 7 0 283 143 211 209 95 220 27 240 10 146 318 300 602 14 211 542 6 0 12 55 29 129 29 46 27 217 33 21 9 0 18 25 0 29 89 154 92 77 98 37 340 10 13 0 0 574 0 321 126 37 0 6 28 21 143 14 50 4 206 33 24 6 0 0 5 3 197 154 290 210 129 228 78 496 20 160 156 453 1277 4 374 582 39 0 16 64 30 246 19 82 21 260 46 35 7 0 6 16 3 7 12 90 46 48 67 13 188 6 11 0 0 252 0 198 43 62 0 7 18 8 78 14 11 1 159 8 14 7 0 1 0 0 72 38 169 105 97 147 44 324 12 49 97 251 672 3 250 234 71 0 13 38 13 155 14 24 9 197 25 26 7 0 5 3 0 4 17 53 22 11 44 10 109 2 6 0 0 115 0 115 18 28 0 0 7 10 4 4 14 0 142 3 4 6 0 0 2 0 63 40 215 176 139 163 40 264 23 112 156 195 494 15 214 207 46 0 2 82 33 96 15 24 9 210 17 14 6 0 0 5 1 69 233 426 280 210 336 82 844 23 54 0 0 1366 1 897 329 135 0 26 98 68 347 60 105 11 753 69 63 28 0 10 15 3 693 476 964 798 510 872 219 1.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 507 1.890 1.197 1.369 3.Lampiran 3.18 JUMLAH KASUS CAMPAK MENURUT KELOMPOK UMUR DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Tahun) No.227 2. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.775 4.447 72 533 813 1. Kemkes RI.

34 0. MENINGGAL.25 0.50 1.055 1.46 0.80 1.00 1.98 0.61 1.Lampiran 3.30 0. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.03 0.52 0.197 1. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.21 1. Kemkes RI.10 0.31 0.11 0.32 1.63 3.32 1.19 JUMLAH KASUS.77 .281 39 1.000 penduduk) (4) (5) 693 476 964 798 510 872 219 1.86 0. DAN INCIDENCE RATE CAMPAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Laporan Rutin No.59 0.88 0.333 3.83 0.31 1.447 72 533 813 1.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 18.64 1.31 1.00 0.00 0.79 0.93 0.60 0.36 2.10 0.00 0. 2010 Meninggal (3) 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Kasus IR (per 10.

KLB Dengan Spesimen > 5 Frek.20 FREKUENSI KLB DAN JUMLAH KASUS PADA KLB CAMPAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Laporan KLB No. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.770 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 34 42 . KLB Dengan Investigasi Penuh Frek. 2010 Total KLB Frek. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. KLB Dgn Laporan ke Pusat Total Kasus Meninggal (3) (4) (5) (6) (7) (8) 5 5 8 1 17 8 2 24 3 0 3 26 25 6 8 8 0 0 0 1 2 2 2 6 0 4 3 3 0 1 5 4 8 190 4 3 7 1 9 8 2 20 2 0 2 20 21 6 6 7 0 0 0 1 2 2 1 4 0 4 3 3 0 0 5 2 3 148 0 1 5 0 9 4 0 20 2 0 0 17 0 4 0 7 0 0 0 1 1 2 1 4 0 4 3 2 0 0 4 2 1 94 0 1 5 0 17 4 0 24 2 0 0 23 0 4 0 8 0 0 0 1 1 2 2 6 0 4 3 3 0 0 4 4 3 121 28 38 185 5 167 70 17 409 30 0 14 280 122 50 49 221 0 0 0 17 45 20 18 63 0 30 66 26 0 2 100 68 630 2.Lampiran 3. Kemkes RI.

Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 28 23 40 5 71 43 17 115 13 0 14 136 122 48 48 46 0 0 0 5 10 10 9 28 0 21 17 15 0 2 26 12 37 2 4 3 0 3 0 0 0 0 0 2 6 2 3 1 6 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 2 0 0 1 5 1 2 9 34 48 0 18 0 0 0 0 0 9 70 9 23 11 183 0 0 0 0 0 0 0 37 0 0 49 0 0 2 100 30 544 1 0 3 1 7 1 1 19 2 0 1 13 21 2 7 2 0 0 0 1 2 1 1 2 0 3 1 3 0 0 0 0 3 6 0 127 5 81 12 12 325 27 0 5 159 107 22 38 38 0 0 0 17 45 14 8 19 0 23 17 26 0 0 0 0 18 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 8 0 0 0 6 0 5 0 0 0 0 7 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 7 3 1 1 2 0 6 7 0 2 1 0 0 4 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 5 4 10 0 62 58 0 52 3 0 0 30 0 5 0 0 0 0 0 0 0 6 10 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 32 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 65 961 46 1. 2010 (3) (4) Gabungan (Campak dan Rubella) Rubella Negatif Tanpa Spesimen Pending Lab.151 9 49 28 252 0 0 9 142 .21 KLB CAMPAK BERDASARKAN KONFIRMASI LABORATORIUM MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Konfirmasi Laboratorium No.176 98 1. Kemkes RI.Lampiran 3. Provinsi (1) (2) Campak Total Darah (Serum) Sampel Frekuensi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.

2010 <1 1-4 5-9 10-14 > 15 Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) .Lampiran 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 1 1 6 0 32 1 0 0 0 2 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 8 0 60 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 5 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 0 23 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 5 0 3 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 3 12 24 0 119 4 0 0 0 4 0 4 0 0 0 10 3 0 0 0 0 0 0 Indonesia 6 53 84 29 17 189 Sumber: Ditjen PP & PL.22 JUMLAH KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Bulan) No. Kemkes RI. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.

Kemkes RI.Lampiran 3. 2010 . Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.23 JUMLAH KASUS DIFTERI PER BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus per Bulan No. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 3 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 9 2 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 5 0 11 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3 0 12 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 0 14 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 0 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 10 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 9 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 3 12 24 0 119 4 0 0 0 4 0 4 0 0 0 10 3 0 0 0 0 0 0 Indonesia 19 22 22 22 20 19 13 17 9 9 5 12 189 Sumber: Ditjen PP & PL.

93 2.00 2.95 2.00 3.64 1. Kemkes RI.83 2.93 8.00 1.57 2.00 2.000 penduduk (2) (3) (4) (5) (6) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.00 1.01 2.00 2.38 2.13 1.24 JUMLAH KASUS AFP.75 3.80 2.60 3.60 2.93 8.Lampiran 3.20 5.60 2.14 1. 2010 24 80 26 37 7 17 10 42 6 43 42 62 224 162 12 151 28 14 18 17 11 5 15 43 7 15 17 28 27 8 6 4 12 35 95 40 69 19 85 18 57 10 12 62 246 188 35 241 84 25 19 58 30 11 23 29 31 14 66 22 21 7 9 7 8 6 2.21 2.87 2.80 2.15 2.42 3.33 4.59 4.41 5.00 3.65 .43 2.31 5.62 2.57 2.33 4. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.64 1.75 2.15 2.67 3.96 3.80 2.000 penduduk Non Polio AFP Rate / 100.220 1.40 2.25 2.06 2.72 2.00 2.83 3.13 1.38 2.96 3.73 2.21 3. AFP RATE DAN NON POLIO AFP RATE MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Minimal Kasus per Tahun Jumlah Kasus AFP AFP Rate / 100.40 2.14 1.682 2.91 3.24 3.43 2.30 2.29 4.59 3.75 3.29 5.95 3.00 1.36 4.

2010 Virus Polio Liar Kompatibel Bukan Polio (3) (4) (5) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 35 95 40 67 12 17 18 85 9 59 55 84 234 186 34 230 30 11 21 28 31 21 13 63 7 22 25 18 56 8 7 8 7 1. Kemkes RI.25 JUMLAH KASUS AFP MENURUT KRITERIA KLASIFIKASI KLINIS DAN PROVINSI TAHUN 2009 Klasifikasi Klinis No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.Lampiran 3.636 .

57 15.39 0.38 1.85 1.08 33.59 1.00 1.66 0.54 35.73 2.828 28.74 0.00 0.90 0.46 11.125 1.86 158.78 1.29 8.65 69. DAN INCIDENCE RATE PER 100.21 3.54 115.55 0.53 2.98 1.00 0.04 52. CASE FATALITY RATE (%).89 2.436 4.950 5.80 74.244 1.96 74.74 1.60 1.83 0.67 73.115 1.30 0.10 0.79 316.29 1.33 0.374 2.56 3.42 12.04 13.810 615 399 9.00 2.656 1.22 0.836 30.95 65.50 2.75 1.272 129 1. 2010 14.39 0.28 2.43 16.113 5.251 2.4 89.65 32.17 3.00 0.26 JUMLAH PENDERITA.75 0.36 65.54 2.92 170.932 25.00 2.11 0.98 1.00 19.536 20.32 0.59 193.15 86.55 25.58 296.38 18.912 1.89 68.154 1.06 2.67 15.35 3.850 353 1.81 63.640 952 3.03 56.067 948 365 2.79 48.338 2.22 0.97 26.59 6.76 0.629 623 251 2.32 3.48 158.40 103.00 0.80 0.990 2.659 513 455 2.02 36.29 0.26 1.60 10.462 25.44 228.792 1.391 2.306 5.165 1.454 1.17 66.38 1.310 3.74 0 38.73 34.82 0.98 35.09 0.71 0.924 2.248 19.36 35.00 4.23 0.22 1.91 1.79 36.83 0.61 29.89 31.81 1.49 0.37 2.06 1.80 1.19 13.01 35.36 Sumber: Ditjen PP & PL.51 3.00 2.50 19.12 0.17 15.430 1.76 6.15 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia P 2005 CFR IR P 2006 CFR IR P (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 629 3.75 25.64 78.19 13.697 2.97 1.250 5.15 0.74 1.24 0.43 1.99 1.402 58 969 24.6 313.563 254 1.42 114.19 26.35 2.07 4.00 29.58 1.61 20.807 34 1.74 119.862 349 1.16 1.13 12.84 3.65 1.621 61 736 46 746 23.31 1.90 0.66 48.5 44.587 6.00 0.22 193.97 0.822 758 206 27 0 24 184 183 1.854 260 1.62 64.279 1.72 8.87 108.89 50.612 95 302 31 0 138 128 60 43.254 777 695 947 531 576 5.20 0.08 5.17 3.3 65.06 0.29 1.20 25.44 42.235 2.01 71.73 3.926 780 2.00 2.34 0.27 1.80 1.20 48.Lampiran 3.89 0.21 1.62 11.13 0.90 13.73 32.51 1.220 491 341 3.72 66.714 1.47 2.23 0.27 0.00 2.28 1.09 2008 M (14) 2.865 1.55 2007 M CFR (10) 1.64 59.33 392.006 172 43 0 250 510 228 32 49 11 10 9 3 1 40 22 26 231 228 21 168 53 19 4 22 32 7 11 105 16 17 27 9 4 0 0 7 2 1 1.75 1.92 26.67 1.60 57.420 (19) 1.25 23.90 3.62 17.851 10.32 1.8 68.88 IR P (12) (13) 38.411 692 91 149 0 384 204 196 20 58 18 27 5 6 8 20 16 14 32 307 248 15 185 70 9 4 7 171 16 20 68 20 7 23 12 2 0 0 7 2 3 0.02 758 2.813 1.22 0.86 30.119 17.10 0.22 1.360 339 4.54 4.69 3.75 31.05 61.81 2.4 13.44 24.19 0.81 2.09 22.94 23.78 1.20 0.83 32.724 28.08 1.27 1.38 1.05 18.00 16.53 0.321 5.24 1.657 1.55 0.64 1.12 1.538 1.33 0.12 1.80 1.86 9.87 21.18 16.99 1.573 4.85 31.28 0.000 PENDUDUK DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD/DHF) MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .20 1.00 1.21 1.22 56.62 0.62 20.44 2009 M CFR (18) 1.00 1.187 CFR P (15) (17) 1.77 0.881 2.062 735 1.69 0.05 1.75 9.39 167.16 0.469 1.290 492 2. Kemkes RI.30 1.41 1.10 1.66 3.00 2.184 20.36 1.189 795 309 3.631 5.309 1.3 173.01 0.94 27.89 1.35 1.583 971 15.58 0.60 1.2009 No.590 6. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.29 121.64 1.22 28.63 4.954 6.03 4.82 1.50 1.480 274 4.045 3.07 0.75 29.89 28.68 0.25 29.99 1.86 23.732 944 236 2 0 275 208 103 13 34 24 15 5 13 7 23 2 11 86 288 327 26 372 98 14 2 11 7 8 16 102 24 17 30 7 4 0 0 7 2 4 1.569 3.341 1.22 .7 59.34 1.21 10.87 47.67 0.599 (11) 0.38 3.73 1.91 1.375 720 518 508 696 1.53 IR (20) 36.59 1.01 13.09 95.15 54.41 54.96 3.65 39.92 31.389 3.203 18.762 1.48 7.361 23.90 3.470 145 950 31.907 828 245 2.032 37.78 137.27 0.52 0.94 1.861 17.89 41.596 1.93 0.71 31.466 18.00 0.16 0.01 1.09 0.99 0.

Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.67 100.00 43.00 88.31 100.00 20.00 86.00 80.00 15 20 15 11 8 12 9 10 7 4 6 25 35 5 38 6 9 8 5 10 12 13 13 9 9 21 7 5 1 0 6 3 4 361 65.47 90.29 77.33 42.91 73.00 71.89 6.82 60.15 100.05 77.29 100.50 25.00 100.27 JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG TERJANGKIT DEMAM BERDARAH DENGUE MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .00 91.82 87.63 100.00 52.00 83.50 17 22 16 11 7 12 10 11 7 5 6 26 35 5 38 8 9 7 6 14 13 13 13 11 9 22 6 5 4 0 4 5 7 384 .Lampiran 3.00 15 19 12 11 10 9 7 10 5 3 5 25 35 5 38 6 9 8 1 10 6 12 13 9 7 20 5 5 2 0 3 2 3 330 71.71 100.00 100.43 64.33 20.50 22.71 100.71 100.23 90.75 58.00 100.25 83.00 80.00 71.63 17 22 17 10 9 9 9 10 6 4 6 26 35 5 38 6 9 8 5 10 9 13 13 9 9 21 3 6 1 0 4 0 6 355 73.00 75.91 85.33 89.00 88.00 100.22 15.44 20.00 100.00 0.00 40.00 100.33 83.00 0.00 100.00 0.00 90.33 100.78 100. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.00 81.33 83.86 60.43 76. 2010 Tahun Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota 2005/2006 2007 2008 2009 Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 20 440 23 28 19 11 10 15 9 11 7 6 6 26 35 5 38 7 9 9 20 14 14 13 14 13 10 23 12 6 5 9 8 9 21 465 23 30 19 11 11 15 10 11 7 7 6 26 35 5 38 7 9 10 20 14 14 13 14 15 11 24 12 6 5 11 8 9 27 483 23 33 19 12 11 15 10 14 7 7 6 26 35 5 38 8 9 10 21 14 14 13 14 15 11 24 12 6 5 11 9 11 29 497 2005 12 17 10 11 7 9 3 10 6 5 5 25 35 5 38 6 9 9 7 7 6 13 12 9 10 21 6 5 1 0 3 4 4 330 2006 2007 2008 2009 % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 57.00 100.00 92.00 0.2009 No.00 100.96 50.00 85. Kemkes RI.00 71.00 22.00 100.22 71.00 100.86 92.95 100.33 19.00 75.71 57.86 100.71 83.00 33.00 100.00 80.00 70.00 63.00 37.00 20.00 90.31 100.00 64.00 100.00 100.91 81.00 100.00 100.00 50.00 100.00 90.43 78.00 0.00 66.43 50.00 75.00 85.43 85.00 100.00 91.33 42.16 100.89 25.33 100.22 73.00 70.30 60.00 37.33 100.00 64.86 69.14 100.00 100.00 100.00 92.00 92.50 44.29 33.91 100.00 100.00 85.00 100.14 68.00 96.00 100.00 25.00 100.30 58.

047 814 217 106 41 584 2.00 1.14 1.44 2.38 0.68 0.36 0.051 127 2.38 1. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.11 0.54 0.60 6.74 .443 209 2.147 416 437 37 423 205 605 473 6.28 2.544 5 13 6 12 1 1 45 7 1 7 12 3 6 158 3.26 7.980 277 2.07 3.756 1.43 2.41 390 1.24 2.67 0 18 1 6 3 0 4 5 3 2 1 0 1 5.057 104 120 163 66 293 - 7 8 3 3 3 6 11 5 - 1.540 0 12 2 1 9 4 1 3 2 1 13 23 18 14 106 0.98 3.84 5.61 163 401 40 46 218 880 226 102 1.00 2.23 1.00 1. 2010 2005 2006 2007 2008 2009 P M CFR P M CFR P M CFR P M CFR P CFR (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (17) 267 145 95 95 148 48 1.468 1.28 18.371 2.Lampiran 3.25 4.223 488 50 269 177 20 133 6.52 3.68 16.14 13.46 2.2009 No.12 1.05 2.28 KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DIARE MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .51 10.78 15.28 6.75 1.71 - 178 636 380 216 362 1.67 1.023 130 169 1.00 4.90 1.49 0. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.88 45 86 11 1.88 2.51 2.194 69 133 486 6 6 1 2 1 0 26 28 13 7 37 2.68 1.425 95 351 1.661 46 1. Kemkes RI.26 8.89 0.53 0.44 0.89 2.79 0.48 5.85 8.50 3.

Des Okt Nov .Mei Feb.Des Jan .742 8. 2010 Jumlah Wilayah Terjangkit P M (3) (4) 3.759 5.Des Jan -Des Jan .Des Des Jan .Des Jan .045 6. Kemkes RI.Des Nov .Des Apr .355 Periode Kab/Kota Kecamatan Desa/Kelurahan (5) (6) (7) (8) - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 1 7 7 8 7 7 2 17 1 3 - 8 24 25 2 1 1 2 - 12 88 70 2 1 2 6 - 83.756 0 60 63 181 5.095 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.Des - .29 JUMLAH KASUS DEMAM CHIKUNGUNYA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.098 276 - - - - - Jan .291 117 2.Juni Okt Jan .Sept Mei .609 528 12.862 7.Lampiran 3.Feb Jan .Nov Feb . (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Kasus Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.982 103 814 - 458 - 3.622 24.

994 947 284 325 1.237 346 104 173 689 512 805 827 139 215 933 276 - 5 18 14 5 0 9 0 7 1 0 2 28 33 1 0 1 12 4 4 3 5 0 35 8 - 12 39 275 35 40 211 0 7 0 2 0 0 65 0 1 0 0 7 0 0 0 0 534 0 - - 216 - - - - 45. 2010 Jumlah Daerah Tertular Jumlah Kabupaten/Kota Jumlah Kasus Desa Kecamatan Seluruhnya Terjangkit % GHPR (3) (4) (5) (6) (7) (8) Pemberian VAR Lyssa (9) (10) Jumlah Specimen Hewan Diperiksa Positif (11) (12) 12 26 18 11 10 2 10 1 1 12 1 9 8 10 10 8 13 8 23 8 6 2 2 5 - - - - - 329 2.123 575 1.386 2.Lampiran 3.859 605 1.316 195 1.518 422 1.806 3.095 0 83 105 18. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.882 629 110 240 1.718 2.061 636 303 1.818 653 502 2.30 JUMLAH DAERAH TERTULAR RABIES DAN JUMLAH KASUS GIGITAN HEWAN PENULAR RABIES (GHPR) SERTA HASIL PEMERIKSAAN SPECIMEN HEWAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.228 - . Kemkes RI.825 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.274 9 288 264 21.466 35.288 276 - 294 1.

473 11.158 10. Kemkes RI. 2010 Tahun 2006 2007 2008 2009 (3) (4) (5) (6) 2.132 2.2009 No.699 11.359 104 274 532 255 191 94 74 207 31 53 265 395 37 238 67 18 69 1.427 11.730 253 225 385 409 30 451 128 201 224 96 70 27 988 1.359 104 231 532 255 191 94 74 151 31 53 252 224 5 207 67 18 62 1.682 253 225 385 409 30 451 60 208 224 96 70 27 985 1.682 232 202 385 409 30 451 60 181 224 92 70 12 355 1.31 JUMLAH PENDERITA FILARIASIS MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .Lampiran 3.127 2.132 2.359 141 274 532 257 210 94 74 207 31 53 404 395 37 219 91 18 71 1.682 244 226 385 409 30 451 60 208 224 92 70 12 985 1. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.359 141 274 532 257 210 94 74 207 31 53 474 412 37 219 76 18 71 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.914 .

Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. 2010 Kabupaten/Kota (3) Bandung Boyolali Sleman Pasuruan - Jumlah Spesimen Diperiksa Hasil Spesimen Positif Spesimen Pool Human Rodent Human Rodent Diperiksa Positif (4) (5) (6) (7) (8) (9) 0 0 0 40 - 0 0 0 3. Kemkes RI.32 SITUASI PES MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.Lampiran 3.175 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 40 3.175 0 0 0 0 .

55 263 16 6. M= Meninggal . Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 DKI Jakarta 78 6 8 62 0 0 51 0 0 470 34 7 37 2 5 8 2 25 12 Jawa Barat 7 0 0 0 0 0 0 0 0 9 1 11 0 0 0 0 0 0 13 Jawa Tengah 40 10 25 34 10 29 35 9 26 70 8 11 72 9 13 275 14 5 14 DI Yogyakarta 20 1 5 8 2 25 0 0 0 3 1 33 125 1 1 95 7 7 15 Jawa Timur 3 0 0 1 0 0 1 0 0 65 5 8 29 4 14 0 0 0 16 Banten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 34 3 9 0 0 0 0 0 0 17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 26 Sulawesi Selatan 18 8 44 9 4 44 2 2 100 16 5 31 0 0 0 0 0 0 27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 166 25 15. 2010 Keterangan : K= Kasus. MENINGGAL.33 JUMLAH KASUS. Provinsi (1) (2) 2005 2006 2007 2008 2009 K M CFR K M CFR K M CFR K M CFR K M CFR K M (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) CFR (20) 1 Aceh 0 0 0 0 0 0 49 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Jambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 Kep. DAN CASE FATALITY RATE (CFR) LEPTOSPIROSIS MENURUT PROVINSI TAHUN 2004 .04 138 11 7.Lampiran 3.2009 2004 No.06 114 16 14.08 Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.97 667 57 8. Kemkes RI.08 378 23 6.

M= Meninggal 2006 2007 2009 2008 2005-2009 K M K M K M K M K M K M (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 8 3 1 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 2 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 2 0 0 0 0 0 0 0 11 22 3 0 5 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 10 18 3 0 3 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 6 0 1 0 0 0 0 8 5 5 0 2 11 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 5 0 1 0 0 0 0 8 4 5 0 1 9 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 7 4 2 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 4 2 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 10 6 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 8 6 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 4 8 0 1 0 3 0 0 44 40 12 1 8 30 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 7 1 6 0 1 0 0 0 0 38 34 11 1 5 27 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 20 13 55 45 42 37 24 20 21 19 162 134 .2009 2005 No. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.Lampiran 3.34 JUMLAH KASUS DAN MENINGGAL FLU BURUNG MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 . Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. 2010 Keterangan : K= Kasus. Kemkes RI.

126 2.00 100.21 58.02 28.48 23.173 1.15 57.087 1.07 38.470 297 1.878 7.661 499 1.90 44.34 43.474 7.341 5.15 28.00 100.07 52.00 100.00 100. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jumlah Korban Jumlah Kecelakaan Meninggal % (3) (4) (5) 608 3. 2010 % Jumlah % (7) (8) (9) (10) (11) 27.00 100.70 51.022 1.00 100.571 749 759 415 1.57 2.43 44.035 2.834 2.69 33.00 100.43 44.16 - - - 378 20.00 100.00 100.794 792 666 848 987 513 1.08 7.00 100.013 411 409 313 164 524 61.30 82.00 100.907 4.199 4.574 617 2.781 717 523 811 1.368 1.91 111 85 - Berat 34.56 - 1.62 14.929 14.00 100.106 4.00 100.77 32.203 1.50 24.638 1.828 984 1.02 26.35 JUMLAH KEJADIAN KECELAKAAN LALU LINTAS DAN JUMLAH KORBAN LUKA DAN MENINGGAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.485 2.44 24.95 48.73 17.170 2.62 18.04 25.407 1.57 30.00 100.626 859 5.00 100.951 100.69 15.735 1.397 1.40 10.46 28.18 26.09 30.69 45.07 31.28 1.42 27.57 12.44 24. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.96 42.47 4.81 42.167 20.00 100.367 1.36 55.87 12.15 32.213 10.75 44.050 1.00 100.61 35.00 .675 678 495 438 263 765 53.885 1.00 100.035 98 108 - - 257 18.00 100.00 100.16 - % 406 2.35 26.047 38.04 34.10 18.07 24.15 14.73 69.134 381 1.038 1.07 35.697 565 1.Lampiran 3.91 51.69 57.051 318 203 158 189 - - Sumber: Ditlantas Babankam.00 100.245 811 1.00 100.96 33.466 6.456 561 2.50 80.202 12.169 203 3.636 931 709 542 367 1.73 36.40 42.80 52.448 (6) 22.47 46.97 19.16 33.167 401 447 - 58.20 28.21 61.27 40.36 18.278 218 218 4.610 3.74 71.929 145 150 - 19.83 17.00 100.17 18.00 100.00 100.00 100.687 195 573 456 341 463 289 414 474 355 366 1.147 1.617 1.290 821 403 1.45 20.00 100.592 1.210 727 4.11 17.79 17.00 100.34 21.120 1.46 Luka Ringan 1.111 268 127 - Luka 21.244 1.61 20.28 82.580 1.10 9.83 39.08 2.83 19.499 1.159 99.278 12.00 100.07 61.78 39.00 100.83 39.14 31.013 444 339 461 226 182 360 492 348 512 252 173 20.44 13.313 388 665 1.40 118 118 - 22.61 25. Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia.09 27.254 850 1.

327 62.01 85.28 98.710 46.105 58.45 67.489 144.563 152.261 221.169 77.60 83.44 85.456 65.867 153.45 100.28 93.31 92.552 43.845 143.517 20.734 884.28 61.318 85.02 86.96 79.000 61.921 4.215 76.25 93.678 41.833 18.67 91.053 177.59 80.38 75 93.80 90.128.880 42.017 163.00 94.757 24.31 88.039 126.214 176.845 46.287 605.612 990.36 82.256 18.02 97. Kemenkes RI Jumlah K1 % K1 K4 % K4 Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) (8) 113. K4.186 26.205 17.864 109.516 35.08 96.612 745.63 63.79 93.33 57.50 92.457 19.060 99.213 36.82 93.29 90.15 84 70.895 47.91 90.49 98.488 38.38 Ibu Nifas Kunjungan % KF3 Nifas 3 kali (9) 56.96 95.173 21.410 145.727 11.652 22.452 425.067 51.10 61.51 88.238 45.793 303.028 75.62 62.26 87.142 36.240 25.158 176.73 89.761 322.788 164.611 20.85 94.24 98.472 202.129 175.39 89.51 93.799 27.25 88.58 94.04 84.849 64.35 83.946 29.75 98.055 290.731 59.87 83.198 38.464 563.012 4.245 50.569 168.277 158.616 206.07 80.823 55.37 17 66.92 98.769 38.359 73.96 85.594 77.031 4.892.428.811 409.693 183.422 71.185 37.51 74 101.211 10.38 39.130 108.049 72.21 41 87 36.58 76 74.096 90.320 185.09 81.08 80.506 25.875 39.647 54.19 92.645 7.412 590.91 91. DAN PERSALINAN DITOLONG TENAGA KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Ibu Hamil No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.425 28.992 95.11 80.423 23.71 85.257 115.76 75.402 37.100 68.80 90.54 .838 3.418 155.658 2.74 82.533 77.33 95.30 84.86 84.491 24.534 4.516 15.79 29.898 638.412 118.723 27.05 93.362 271.53 85.03 95.945 77.76 95.73 89.01 90.57 93.097 107.060 49.54 81 76.686 140.637 45.68 85.65 57.374 90.00 75.719 86.73 64 67.371 24.708 73.036 47.36 94.541 967.883 107.474 176.74 86.079 15.817 40.051 5.678 26.345 24.064 162.480 56.23 85.968 566.632 81.629 171.496 67.114 45.859 26.037.24 77.75 48 73.592 39.11 79.11 55.02 96.275 87.790 137.264 22.64 101.812 Ibu Bersalin Ditolong Nakes % Ditolong Nakes (9) (10) 85.03 88.421 665.179 96.444 25.804 45.104 42.648 62.47 84.161 54.032 42.590 50.18 85.595 180.645 43.766 107.91 77.09 94.807 32.162 110.320 48.354 139.127 308.08 86.900 155.441 33.551 17.1 CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL K1.455 113.763 611.36 84.04 69.443 632.054 125.550 42.370 89.554 118.170 27.555 26.763 61.204 16.58 47 71.664 49.215 83.35 84 94.235 571.37 99.90 79.90 92.979 103.75 78.67 64 85.071 23.663 14.178 64.69 72.179 83.878 131.04 97.54 73.52 75 52.692 61.308 75.Lampiran 4.339 624.681 65.182.687 47.889 568.898.24 100.032 175.520 12.73 96.283 15.43 102.358 (10) 59.063 32.72 81.07 91.450 174.226 31.239 32.285 53.507 62.21 81.963 29.032 43.792 1.081 53.16 51 63.927 102.947 13.22 82.505 32.707.59 80.711 104.402 103.541 67.

59 48.77 76.26 14.62 15.13 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 99 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 99 99 100 0.67 8.08 0.28 75.79 5.57 5.48 42.53 29.43 61.44 13.60 37.98 54.07 1.80 0.30 0.47 13.95 13.06 12.14 10.32 0.07 6.05 14.11 0.69 36.59 12.99 0.06 1.94 1.53 0.24 71.65 0.40 68.86 21.71 0.22 47.49 1.29 15.48 20.82 100 12.65 35.97 61.34 0.40 1.61 1.86 0.40 8.18 49.00 55.76 41.88 23.58 66.35 30.59 0.64 50.93 33.39 27.83 3.46 35.15 20.30 1.18 0.45 7.43 0.15 0.74 17.98 6.38 3.89 1.42 0.75 31.27 0.33 0.97 15.92 1.88 8.51 0.58 13.47 2.20 34.32 11.51 0.85 55.52 3.86 13.84 58.91 9.10 23.01 52.61 1.86 18.22 .67 0.11 0.44 1.69 0.47 66.71 40.87 0.31 15.40 49.82 0.41 70.98 16.08 67.25 62.74 2.39 9.04 1.24 0.48 0.83 3.25 12.53 2.63 27.53 14.65 3.54 0.78 42.62 62.40 49.92 63.44 27.38 9.70 12.88 15.58 50.61 0.44 16.75 65.54 68.86 1.53 36.60 10.41 33.91 2.39 60.13 0.70 5.00 64.25 0.64 0.70 29.19 3.60 35.53 32.16 12.76 0.62 0.41 0.51 39.2 PERSENTASE BALITA MENURUT PENOLONG KELAHIRAN TERAKHIR DAN PROVINSI TAHUN 2009 Perkotaan + Perdesaan No Provinsi (1) 1 (2) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : BPS.78 0. Statistik Kesejahteraan Rakyat Penolong Waktu Lahir Dokter Bidan Tenaga Medis Lain Dukun Famili (3) (4) (5) (6) (7) Jumlah (8) 8.79 21.19 62.23 57.65 0.Lampiran 4.46 40.70 8.61 13.84 15.74 0.38 0.84 5.29 1.31 1.

687 18.00 94.75 82.763 35.25 83.747 5. PELAYANAN KESEHATAN BAYI DAN ANAK BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 KUNJUNGAN NEONATUS NO PROVINSI JUMLAH BAYI (1) (2) (3) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.244 299.60 81.40 83.30 70.590 22.888 21.376 67.842 534.70 99.493 14.00 90.434 38.318 273.380 807. Kemenkes RI KN1 % KN1 KN LENGKAP %KN LENGKAP (4) (5) (6) (7) 98.3 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS.525 157.442.90 74.964 152.59 90.40 85.77 80.095 27.819 15.084 133.20 93.632 14.953 48.01 78.865 23.574 48.90 64.20 80.554 65.20 75.278 688.807 144.503 44.362 48.153 8.925 196.991 87.576 16.391 132.344 92.17 99.10 32.55 73.946 3.25 21.98 89.157 101.386 10.90 88.222 23.30 94.663 119.754 121.714 58.60 82.751 80.371 33.681 170.752 48.70 35.15 86.00 30.391 37.201 40.670 43.50 74.310 71.854 150.70 86.31 85.80 76.30 82.477 18.60 68.73 91.344 31.50 78.00 75.00 30.30 99.600 69.058 22.316 518.20 60.114 19.953 90.00 95.505 118.920 44.278 5.80 80.57 4.805 78.015 23.20 73.60 82.80 79.598 696.202 66.552 563.887 38.Lampiran 4.00 92.831 153.449 130.50 92.524 51.422 7.970 43.431 80.161 77.366 23.33 28.303 547.653 87.401 104.60 73.80 23.041 54.724 54.60 92.885 170.70 83.50 31.040 41.584 42.70 91.065 93.858 79.91 88.661 77.986 112.619 54.462 15.59 68.857 7.53 66.582.110 426.104 107.60 77.71 77.70 86.765 33.10 83.098.74 .60 81.101 508.344 171.80 33.943 21.667 30.819 53.786 269.972 99.741 49.474 155.223 27.64 3.85 75.971 22.232 43.68 70.

471 30 178.807 47.20 45.334.40 80.935 81 86.588 16.097 36.514 64.549 1.417 81.920 522.25 1.78 .40 426.912 45.94 132.60 1.714 90.562 42.78 125.56 - 299.198 172.870 32 Papua Barat 18. DAN MURID SD KELAS 1 DAN SEDERAJAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO PROVINSI JUMLAH BAYI (1) (2) (3) 1 Aceh 2 Sumatera Utara CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI JUMLAH % (4) (5) JUMLAH ANAK BALITA (6) CAKUPAN PELAYANAN JUMLAH MURID CAKUPAN PELAYANAN MURID SD KELAS SATU KESEHATAN ANAK BALITA SD KELAS SATU JUMLAH % JUMLAH % (7) (8) (9) (10) 98.571 22 88.768 51.816 137.50 2.272 67.45 608.741 38.937 37.104 49.083.048 66.909 115.148 57.077 70.305.780 821.72 2.845 10.590 120.110 243.22 - 8.108.63 242.36 184.013 32.80 579.Lampiran 4.390 19 Nusa Tenggara Timur 121.136.26 224.754 84.946 13.527.539 82.984 31 Maluku Utara 23.114 40.238 22 Kalimantan Selatan 71.943 3.171. ANAK BALITA.726 81.944 18.552 547.154 54.845 77.23 206.554 58.802.44 28.222 28.86 244.888 15.584 79.111 3 Sumatera Barat 104.38 388.70 312.50 232.339 68.42 1.676 57.494 23.419 0 (11) - 76.160 99.60 116.303 39.391 48.840 16.246 155.927 807.206 73.819 125.91 804.067 64.80 74.115 39.304 73 97.198 80.038 21.017 64.338 21 Kalimantan Tengah 42.537 42.591 79.219.136 7.493 36.70 574.876 1.299 905.00 369.085 75.380 196.028 138.933 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 58.124 22.52 216.10 110.85 117.84 153.387 217.83 432.589 46 431.649 17 Bali 49.556 191.633 80.009 46.442.00 364.141 30 Maluku 33.508.00 38.371 119.694 207.000 36 - 27.507 46.86 1.765 14.352 29 Sulawesi Barat 21.00 3.693 25 Sulawesi Tengah 54.62 230.778 27 Sulawesi Tenggara 53.79 790.333.78 5.50 470.81 101.137 Jawa Barat Banten 46 529. Kemenkes RI 4.031 91.776 75.10 620.24 844.867 92.704 70.00 363.900 12 16 - 1.480 60 331.926 38.768 42.515 81.04 4.375 105.50 389.681 27.617 92.00 351.925 54 416.00 1.829 386.4 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI.628 - 52.020 79.614.344 41.495 27.514 71.222.513 48.401 242.417 144.463 72.08 344.73 122.244 65.937 10 Kepulauan Riau 38.816 76.623 130.455 161.44 207.844 34.602.667 80.326 9.567 46.093.92 123.234 23 Kalimantan Timur 65.806.935 29.00 86.96 411.124 78.809 23 42.786 76.05 82.14 268.682 320.434 15.11 14.252 811.587 78.695 20 Kalimantan Barat 99.00 1.298 73.745 169.133 26 Sulawesi Selatan 171.534 38.106 84.594 275.00 166.00 196.121.124.984 7 Bengkulu 33.902.867 13 Jawa Tengah 563.526 65.00 227.505 78.117 180.952 4.571 24 Sulawesi Utara 37.977 65.097 11 15 85.341 88.199 8 Lampung 150.68 1.99 3.600 73.00 140.90 20.477 5.250 82.672 18 Nusa Tenggara Barat 107.072 170.80 66.761 90 929.552 70.923 18.071 30 65.578 56.871 79.234 9 Kepulauan Bangka Belitung 22.524 4.47 195.001 654.137 5.484 5 41.540 48.358 92.085 52.324.359 100.40 84.854 23.851 26.779.661 Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.330 47 86.555 - 66 30.041 29.80 169.256 507.31 300.22 30.972 79.659 450.376 - 33 Papua 51.80 200.70 2.471 - 37.823 67.808 DKI Jakarta Jawa Timur 62.963 39.197 7.407.061 80.107.965 14 DI Yogyakarta 44.310 30.99 81.64 260.166 66.00 140.00 3.504 28 Gorontalo 19.435.620 352.131 4 Riau 118.20 421.00 60.

988 554 4.078 22.714 58.238 5.556 8.94 4.918 17.621 3.910 15.752 64.0 31.35 45.084 133.012 9.911 1.265 4.682 23.498 7.5 24.584 42.Lampiran 4.854 27.86 32.33 50.39 27.972 99.1 8.517 2.363 48.807 8.0 14.051 3.505 118.593 23.941 4.181 2.082 29.518 10.821 21.68 44.558 3.133 84.925 196.401 104.75 22.846 1.260 638 3.554 65.434 38.244 299.8 11.371 33.034 15.189 29.114 19.123 41.552 563.926 5.3 30.938 6.34 44.888 21.511 7.76 13.815 9.104 107.144 15.939 36.108 12.5 58.656 86.682 781 2.733 9.626 21.661 16.0 29.30 24.983 3.210 11.511 23.380 807.443 16.710 8.60 13.2 5.451 23.34 32.165 39.585 440.142 2.1 27. Kemenkes RI CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL KOMPLIKASI JUMLAH % (5) (6) OBSTETRI KOMPLIKASI (4) CAKUPAN PENANGANAN OBSTETRI KOMPLIKASI JUMLAH % (5) (6) 98.21 22.613 10.8 26.442 158.036.5 3.42 12.222 23.5 CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL DAN OBSTETRI KOMPLIKASI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PROVINSI JUMLAH BAYI NEONATAL KOMPLIKASI (2) (3) (4) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.527 18.967 2.732 22.163 18.2 29.3 0.681 170.749 5.849 6.354 112.366 16.390 3.2 20.50 .82 42.406 8.98 24.707 15.4 8.6 12.524 51.296 14.073 2.819 53.140 13.0 25.588 6.589 3.445 3.4 4.310 71.920 44.152 25.879 215 1.656 5.8 76.122 8.8 10.031 1.676 17.32 41.0 30.4 33.303 547.490 34.464 37.854 150.754 121.983 3.39 39.670 4.913 4.31 49.27 12.0 33.489 126.2 32.347 10.117 6.481 7.0 44.582 42.041 54.478 52.065 2.661 14.344 171.802 25.391 37.477 18.807 144.56 18.61 51.898 1.5 63.162 10.645 82.1 22.701 5.7 13.634 5.8 3.779 7.01 84.958 207.68 41.696 11.737 271 119 843 164 14 225 625 39.211 4.016 10.33 52.621 11.7 6.773 7.693 6.16 21.590 22.741 49.365 5.760 5.104 1.522 2.206 4.557 121.8 1.319 36.946 666.442.563 792 4.897 2.403 8.30 72.743 13.737 44.65 6.82 23.685 5.765 33.318 1.77 34.809 5.77 63.85 33.6 6.67 13.422 812 1.9 21.381 1.299 13.

935 182.025 549.525 369.20 29.55 558.538 642.86 13.43 79.66 73.724 117.678.36 64.36 33.030 1.214 20.05 15.614 71.832 547.787 179.19 67.84 71.67 85.728 584.467 215.731 726. 2010 Peserta KB Baru Jumlah PUS (3) Peserta KB Aktif Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) 742.504 50.667 17.86 43.791 490.076 910.02 77.51 75.404.895 37.416 24.84 18.26 13.706 164.892 7.52 27.560 77.045 92.735 63.62 18.12 16.737 66.669.301 339.53 81.487 787.352 72.040 1.6 JUMLAH DAN PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : BKKBN.78 23.451.080.664 35.437 1.34 20.328 368.073 419.882 198.71 75.480 305.371 493.910.182 575.63 21.30 82.77 23.075.072.203 551.28 78.287 5.961 106.960 157.271 166.04 81.675 75.31 71.793 1.264.995.836.487.813 37.297 315.60 9.098 6.006 392.606.15 28.62 20.707 165.819 688.628 43.359 882.45 77.346 287.70 .642 119.073 554.486 592.933 89.538 101.13 17.85 48.480 1.003 474.313 7.348 638.600 37.14 85.75 69.580 432.32 78.99 74.377 139.311 198.211.218 46.15 17.093 57.62 80.224 391.80 24.204 128.659 2.366 261.684 1.35 66.50 70.959 653.668 993.396 367.91 18.030.61 80.30 16.55 70.15 9.099 1.286 784.745.88 71.230 39.488.13 69.273.876 1.501 311.65 75.85 74.12 16.32 17.345 424.731 62.402 352.58 33.772 75.216 452.88 23.166 132.997 284.057.526.41 29.916 455.92 55.87 59.05 9.64 70.228 1.266 1.75 17.354 306.471 386.74 15.367 8.61 18.024 5.778 6.666 138.Lampiran 4.445 162.25 22.968 915.366 1.27 76.581 39.462 418.148.

49 37.342 18.01 148.47 5.112 62.50 617.501 26 Sulawesi Selatan 4.274 17.71 180 0.96 1.92 72.150 16.701 3.43 355 0.045 24 Sulawesi Utara 3.079 7.300 4.339 33.43 15.7 HASIL PELAYANAN PESERTA KB BARU MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) IUD Metode Kon trasepsi Kondom Implan Jumlah % Jumlah MOP MOW Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (11) 1.72 991 0.35 12.91 2.916 0.472 9 Kepulauan Bangka Belitung 589 1.733 41.13 26.087 7.81 7.299 45.678.39 4.150 60.445 10.86 25.73 1.036 3.51 162.377 16.87 441.25 7.45 16.642 10.323 8.70 558.02 130 0.06 106.839 1.19 13.36 1.735 9.600 31 Maluku Utara 595 1.590 3.63 97 0.538 8.194 24.072 44.953 5.522 34.11 10.208 11.21 20.625 7.20 2.319 18.716 50.075 47.40 11 DKI Jakarta 27.469 48.09 10.147 4.19 8.180 1.310 11.980 40.671 51.39 8.74 1.48 158.05 56.463 9.999 11.612 3.725 37.25 46.430 37.94 10.216 0.500 42.243 38.016 42.18 1.081 5.337 0.554 36.75 138.98 424.378 7.66 43.356 0.67 1.26 54.416 334.487 9.674 1.70 14 DI Yogyakarta 9.94 46.863 12.71 37.21 322 0.693 6.854.06 10.417 59.281 8.51 352.74 26.08 18.03 4.469 8.811 36.441 27.672 5.169.33 5.37 85.991 30.481 44.25 71.86 213 0.243 24.64 1.704 5.47 1.919 12.059 7.052 16.587 2.67 24 0.34 43.723 28.36 52 0.31 54.112 2.23 Sumatera Barat 6.990 15.819 52.246 25.62 255 0.602 5.703 27.113 8.204 22 Kalimantan Selatan 1.55 46.349 15.739 29.464 9.80 624 1.66 226 0.96 165.718 2.13 67.17 8.60 80.354 306.470 0.31 41 0.634 30.99 175.38 13 Jawa Tengah 32.39 11 10 Kepulauan Riau 1.25 3.74 33.54 57.297 2.73 100.990 1.82 9.21 10.091 45.10 19.87 139.174 0.53 5.26 65.813 33 Papua 298 0.26 27.135 4.45 22.05 2.040 7.137 6.036 3.44 18.39 961 1.13 20.579 22.57 39.502 33.35 777 0.482 (10) 16.40 1.43 18.072 52.666 20 Kalimantan Barat 1.430 6.06 4.17 28.89 168.16 7.003 5.646 32.362 3.570 19.31 452. 2010 .37 29.Lampiran 4.18 13.62 112 0.596 7.07 14.23 85.182 32.99 20.010 53.42 425 0.40 11.030.26 230 0.88 41.13 10.895 2.36 119.828 38.024 15 Jawa Timur 52.764 51.08 101 0.338 59.02 537.05 4 Riau 3.18 115.652 4.80 1.362 44.61 38.990 45.71 155 0.328 1.185 43.77 61.898 5.294 19.060 32.208 16 Banten 17 Bali 18 1 Aceh 2 3 29.03 64.84 34.31 452 0.34 127.06 5.142 44.809 2.643 11.345 9.45 23.422 40.940 7.382 4.50 51 0.48 733 0.33 311.777 11.75 512 0.34 112.21 25.07 12.614 21 Kalimantan Tengah 440 0.94 2.87 150.560 25 Sulawesi Tengah 2.28 181 0.88 814 0.941 6.510 0.307 27.063 1.186 2.20 5.26 8.052 51.062 15.066 12.39 1.731 30 Maluku 823 1.13 26.267 2.927 13.994 15.44 27.33 7.835 1.62 191 0.874 27.299 1.92 233.12 453 0.481 1.748 4.24 10.54 5 Jambi 2.230 Sulawesi Barat 407 1.416 10.33 5.876 5.377 10.33 68.933 23 Kalimantan Timur 3.45 92.05 809 0.50 2.02 7.06 191.08 3.781 33.960 37.146 28.27 3.574 6.48 25.16 740 0.44 853 0.66 63.33 50 0.383 30.37 2.60 233 0.133 2.618 17.07 8 Lampung 9.667 Indonesia Sumber: BKKBN.295 0.38 26.652 30.51 79.451.21 97.484 7.03 100.552 25.939 4.03 103.359 17.72 68 0.214 32 Papua Barat 256 1.504 17.707 Nusa Tenggara Barat 6.57 2.51 119 0.78 16.18 40.70 211 0.854 1.09 107.58 368.15 659 0.402 0.16 1.675 3.89 89.26 12.26 3.01 Sumatera Utara 17.17 73 0.03 354 0.91 6.26 66.37 6.961 19 Nusa Tenggara Timur 5.093 39 0.53 2.793 15.03 882.500 33.700 12 Jawa Barat 107.485 50.55 752.44 2.73 74 0.009 30.14 34.593 4.03 17.289 3.88 809 0.09 6.684 7.93 62.81 2.65 6 Sumatera Selatan 3.87 242 0.11 11.29 8.016 3.058 0.481 15.14 13.746 6.56 179.17 525 1.71 5.28 57.012 34.170 48.401 0.462 7.088 5.158 10.83 197 0.82 1.70 176.63 28.22 45.35 78.16 52.082 8.328 26.905 0.863 38.528 46.226 13.16 41.464 31.10 101.352 27 Sulawesi Tenggara 28 Gorontalo 29 819 1.757 13.910 36.218 0.21 668.931 7.97 77.66 153 0.577 4.14 50.15 21.706 Suntikan Jumlah % % (12) (13) (14) Pil Jumlah % (15) (16) Total (17) 1.03 15.719 7.27 16.27 128.85 63.813 7 Bengkulu 2.583 23.68 37.70 5.23 64 0.20 16 0.03 9.62 12.65 9.52 14.07 5.

701 4.742 2.916 69.059 26.128 5.44 3.87 4.255 0.48 4.37 102.406 4.675 33.40 9.72 384.578 36.81 171.049 5.72 18 Nusa Tenggara Barat 915.79 62.45 33.78 6.71 4 Riau 688.030 5.211.182 67.896 13.42 4.462 75.791 1.437 26.722 1.08 6 Sumatera Selatan 1.164.228 315.65 109.41 14.77 7.105 1.28 8.88 394.50 303.28 756.36 1.575 22.482 12.113 46.88 160.68 15 Jawa Timur 7.867 6.03 40.79 3.64 55.025 5.664 59.35 299.273. 2010 43.75 26 Sulawesi Selatan 1.81 149.14 436 0.731 7.21 1.591 38.30 11.714 16.45 1.746 3.648 46.108 0.540 26.20 65.227 35.844 41.968 547.87 198.264 17 Bali 642.18 110.297 77.99 11 DKI Jakarta 1.192 0.208 13.15 2.145 2.59 3 Sumatera Barat 784.075.21 21.10 8.80 868.82 27 Sulawesi Tenggara 386.383 19.71 488.339 3.229 2.791 339.55 118.14 81.30 8.68 34.768 11.Lampiran 4.61 22.016 49.653 1.72 149.30 186.006 0.99 40.700 0.960 74.23 14.83 19.69 260.67 29 Sulawesi Barat 166.795.487.892 33.580 3.995.50 53.26 67.526.628 39.13 262.208 1.365 5.028 40.33 307 0.61 33.05 1.62 43.61 42.018 9.14 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Sumber : BKKBN.416 38.301 71.136 3.70 140 0.959 638.459 3.40 8.534 3.304 8.832 66.894 10.59 4.54 14.525 1.925 1.939 4.19 16.869 2.863 8.77 115 0.03 872 0.083 1.11 8.003 71.396 80.072 0.07 9.964 1.31 77.325.69 4.12 40.286 1.122 2.224 3.86 20 Kalimantan Barat 787.021 0.33 1.386 1.74 38.967 5.030 0.87 7.06 3.978 14.203 77.853 9.564 4.82 283.173 41.456 2.61 221.339.340 1.264.487 455.43 54.341 4.210 43.46 144.748 11.830 1.123 1.486 493.605 9.423 3.759 1.413 7.88 1.901 25.60 71.48 329 0.829 6.662 43.94 9 Kepulauan Bangka Belitung 215.37 76.170 1.896 5.148.272 30.164 2.040 80.993 55.519 49.37 59.09 1.86 103 0.221 42.378 0.24 194.648 33.56 2.55 19.27 23 Kalimantan Timur 584.724 79.364 6.61 10.34 209.324 3.95 39.071 39.98 22.057.986 1.739 2.910.659 558.143 13.55 16.09 485.172 0.28 374.080.00 19 Nusa Tenggara Timur 653.368 1.313 32.58 57.476 1.480 70.284 45.695 34.221 36.13 25 Sulawesi Tengah 490.995 48.836 10.19 11.021 2.52 Sumatera Utara 2.024 78.054 36.224 35.782 1.366 117.01 83 0.25 87.239 17.23 17.164 5.787 132.363 53.551 7.500 8.59 334.12 76.462 13.299 0.45 31.684 7.27 123.996 4.42 8 Lampung 1.14 45.72 24 Sulawesi Utara 419.50 20.778 82.07 20.006 554.598 391.960 3.266 75.84 19.724 10.875 2.38 2.35 326.280 38.75 80.43 7.317 10.44 5.997 164.12 66.753 8.170 36.649 0.718 8.786 12.58 4.13 5.73 19.63 2.733 5.066 35.51 3.14 7 Bengkulu 369.12 4.44 196.07 73.689 11.063 12.11 30 Maluku 261.375 25.731 305.834.53 61.454 45.09 549.69 24.10 134.35 845.87 236.863 27.622 5.79 2.66 142.504 37.85 39.273 12.88 57.728 551.50 13.67 22 Kalimantan Selatan 726.36 2.49 1.12 6.012 2.26 23.82 304.31 5 Jambi 592.04 211.274 1.38 84.127 10.212 17.479 40.633 7.81 420 0.772 75.882 44.47 14.88 9.796 50.076 74.33 2.61 .89 137.71 5.77 293.13 21.476 13.311 70.982 8.706 70.93 224 0.400 2.147 2.94 1.74 5.29 9.610.840 3.089 1.45 13 Jawa Tengah 6.305 49.452 1.741 3.780 9.10 23.75 113.90 15.76 4.480 367.580 78.48 10.02 7.05 4.552 41.017 12.25 458 0.682 34.31 9.715 8.488.257 1.216 6.905 11.072.10 2.20 7.371 73.264 5.54 16.063 2.71 16 Banten 24.766 52.367 1.21 10.51 34.22 569 0.90 284.467 1.495 33.959 2.02 31.506 42.8 JUMLAH DAN PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Jumlah PUS (3) Peserta KB Aktif IUD Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) MOW Jumlah (8) MOP % Jumlah % (9) (10) (11) Metode Kontrasepsi Kondom Implan Jumlah % Jumlah % (12) (13) (14) Suntikan Jumlah % (15) (16) (17) Pil Jumlah % (18) (19) 742.48 15.919 39.517 46.02 445.701 1.18 16.093 5.13 9.09 477.819 575.507 0.19 8.70 3.94 57.50 47.44 464.749 3.369 6.606.720 0.34 7.676 22.67 231.591 1.669.94 55.67 409 0.31 34.39 149.09 6.471 910.520 41.32 445.836.567 40.684 85.36 5.56 28 Gorontalo 198.88 20.67 261.38 50.70 30.09 232 0.668 64.35 27.525 12.02 7.49 47.45 6.222 6.53 1.891 55.75 73.61 2.91 10 Kepulauan Riau 14 DI Yogyakarta 1.485 9.52 159.348 85.538 1.663 0.04 52.532 0.355 7.86 3.14 1.94 619 0.884 29.771 3.33 1.91 43.36 16.44 22.073 418.103 5.25 54.757 3.11 20.496 46.83 1.31 53.23 7.47 196.36 111.243.745.927 0.278 5.437 75.613 42.566 34.56 1.073 69.287 81.14 251.313 432.099 182.76 17.838 2.69 711.788 6.97 130.166 81.34 12.99 372 0.594 49.850.811 4.031 11.737 198.608 49.855 1.882 287.26 389.41 66.35 174.322 1.52 229.752 21.93 140.72 7.179 7.622 2.718 6.833.03 685.838 2.354 1.650 29.85 4.271 157.38 34.77 63.44 98.083 47.10 3.811 2.882 14.13 65.616.346 71.168 1.10 113.76 92.119 3.935 76.366 474.70 13.65 21 Kalimantan Tengah 392.581 75.404.67 139.72 319.098 6.645 1.39 6.53 142.400 23.381 0.806 55.32 12 Jawa Barat 8.80 317.805 34.367 993.73 41.

31 6.49 14.747 11.16 27.296 70.50 1.00 27 Sulawesi Tenggara 67.58 3.00 32 Papua Barat 18.627 45.564 0.00 7 Bengkulu 71.967 2.47 101.23 18.235 72.859 74.73 6.303 55.54 3.73 2.852 6.92 151 0.81 352.625 1.678 67.731 100.666 100.895 28 Gorontalo 31.179 14.00 3 Sumatera Barat 93.933 100.18 43.093 10 Kepulauan Riau 27.009 5.36 8.636 3.24 9.00 8 Lampung 268.631 3.88 37.345 21.717 1.13 138.27 2.00 20 Kalimantan Barat 84.19 3.652 1.961 100.00 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 148.722 2.75 119.97 31.82 14.061 0.46 8.577 9.33 3.876 100.268 34.00 29 Sulawesi Barat 34.73 45.52 106.80 36.937 17.00 100.84 19.590 89.699 9.818 58.735 100.104 4.028 83.70 18.50 72.359 100.133 86.901 31.00 21 Kalimantan Tengah 53.00 23 Kalimantan Timur 51.37 40.60 26.29 849 1.41 4.709 10.86 311.627 2.60 393 0.00 15 Jawa Timur 610.24 708 0.032 9.73 1.74 35.030.930 5.298 25.107 1.19 471.163 66.230 100.471 10.51 452.06 361.813 100.989 30.177 10.11 1.142 65.935 5.568 17.352 100.597 4.60 228 0.642 100.185 3.538 100.75 3.39 504 0.045 100.652 38.18 83 0.271 1.9 JUMLAH DAN PROPORSI PESERTA KB BARU MENURUT TEMPAT PELAYANAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Klinik KB No Provinsi (1) (2) Pemerintah Peserta % (3) Swasta Peserta (4) (5) Dokter Praktik Swasta Bidan Praktik Swasta % Peserta % Peserta % Peserta Jumlah % (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Aceh 126.36 1.421 3.456 1.218 100.00 24.856 6.666 64.41 46.787 26.707 100.805 4.34 62.581 5.958 3.833.452 3.404 59.98 92.630 36.72 128.00 33 Papua 27.48 38.03 1.00 26 Sulawesi Selatan 268.00 100.090 4.13 12.185 37.443 3. 2010 .22 573 2.975 2.989 37.065 34.68 209.19 36.65 7.19 3.34 1.65 71.98 882.282 90.935 3.984 61.47 6.00 13 Jawa Tengah 457.53 1.97 3.75 20.24 25.352 100.71 12.16 306.32 34.276.00 14 DI Yogyakarta 18.18 573 1.19 137.678.639 32.89 2.116 51.119 1.81 1.26 77.228 21.75 6.550 44.00 25 Sulawesi Tengah 70.60 162.04 2.94 359.091 70.381 3.507 92.00 24 Sulawesi Utara 59.51 39.70 2.182 0.736 32.96 1.00 4.15 10.930 59.32 8.66 57.439 3.214 100.71 54.653 40.00 4.163 87.88 31.26 179.972 4.32 50.22 1.26 2.76 1.942 82.630 2.402 100.345 100.79 7.216 100.24 139.34 101.00 178.862 2.96 424.560 100.43 4.71 368.56 41.121 97.98 93.600 100.94 37.328 100.00 22 Kalimantan Selatan 84.38 4.199 2.569 31.00 9 Kepulauan Bangka Belitung 29.96 56.51 19.41 63.89 89.05 939 1.530 4.728 64.793 100.540 75.508 2.00 4 Riau 94.868 6.64 1.27 3.681 7.131 6.00 2 Sumatera Utara 273.80 1.34 30.12 2.96 1.665 100.451.354 5.87 37.89 374.204 100.036 3.00 30 Maluku 51.416 100.97 161.319 33.00 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 80.584 29.00 31 Maluku Utara 34.771 1.53 19 Nusa Tenggara Timur 104.938 32.083 1.00 Indonesia Sumber: BKKBN.00 304.82 3.435 3.640 87.024 62.445 100.938 11.388 1.699 4.565 2.79 22.57 400 0.377 100.47 1.770 58.316 28.614 100.098 92.501 100.838 2.00 12 Jawa Barat 846.76 45 0.98 5.392 71.64 165.504 100.982 48.69 1.597 58.50 1.29 20.16 4.515 2.73 15.47 98.64 1.303 57.00 3.61 416 0.47 30.096 1.364 8.760 30.Lampiran 4.19 763 1.00 11 DKI Jakarta 136.308 19.

72 1.42 95.898 2.962 1.520 1.86 8.842 80.155 54.508 1.94 5 Jambi 1.175 76.606 874 54.10 PENCAPAIAN DESA/KELURAHANUNIVERSAL CHILD IMMUNIZATION (UCI) MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 .841 28.11 1.60 5.310 1.392 54.Lampiran 4.709 1.96 25 Sulawesi Tengah 1.318 84.67 5.481 881 59.86 8 Lampung 2.930 51.72 438 414 94.00 707 705 99.17 885 793 89.23 1.436 2.38 1.745 2.58 18 Nusa Tenggara Barat 803 700 87.21 1.329 1.167 83.71 601 371 61.49 20 Kalimantan Barat 1.437 3.642 935 56.359 5.55 1.88 10 Kepulauan Riau 291 176 60.60 1.189 69.43 24 Sulawesi Utara 1.95 1.22 967 499 51.369 82.41 2.14 75.461 1.2009 No Provinsi (1) (2) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Jumlah Desa Desa UCI % Jumlah Desa Desa UCI % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Desa Desa UCI (9) (10) % (11) 1 Aceh 6.866 2.454 986 67.828 3.560 7.883 87.21 1.221 448 36.82 282 234 82.73 346 311 89.591 1.277 65.72 715 712 99.51 893 579 64.68 1.06 1.419 72.71 1.008 9 Kepulauan Bangka Belitung 321 269 83.433 86.27 1.466 81.325 1.61 28 Gorontalo 493 250 50.968 69.511 65.161 21 Kalimantan Tengah 1.435 1.199 5.965 1.247 1.012 68.444 37.380 782 23.559 7.252 1.35 1.150 69.18 1.84 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Sumber : Ditjen PP & PL.253 265 21.483 1.079 70.61 27 Sulawesi Tenggara 1.069 572 53.085 76.171 75.772 4.00 11 DKI Jakarta 282 211 74.893 66.559 82.012 2.272 73.33 23 Kalimantan Timur 1.40 6.057 69.082 717 66.194 78.223 76.47 7 Bengkulu 1.634 1.345 1.080 67.75 19 Nusa Tenggara Timur 2.389 885 63.886 92.271 1.377 70.114 76.380 2.504 875 58.405 82.67 100.10 558 235 42.14 71.76 .000 3.295 926 71.505 6.73 606 399 65.269 64.03 333 222 66.53 26 Sulawesi Selatan 2.69 3.48 317 222 70.116 83.60 897 823 91.44 2.813 2.52 438 432 98.53 967 476 49.14 14 DI Yogyakarta 438 428 97.606 89.459 83.045 71.54 1.443 67.559 1.55 3 Sumatera Barat 3.106 82.919 2.456 1.048 726 69.155 1.96 2.370 81.96 3.88 1.76 6.63 15 Jawa Timur 6.98 267 267 12 Jawa Barat 5.569 7.054 79.77 1.80 6.00 62.86 1.27 1.410 1.42 2.858 1.103 2.38 2.417 828 58.11 1.66 2.689 69.316 85.095 86.082 71.284 4 Riau 1.754 80.97 6 Sumatera Selatan 2.305 83.479 1.87 3.92 543 196 36.42 22 Kalimantan Selatan 1.097 70.097 72.989 768 38.933 65.97 2 Sumatera Utara 5.273 72.29 1.710 1.877 4.84 827 451 54.941 2.30 3.15 1.603 1.978 4.43 8.297 67.361 503 21.221 74.75 78.096 76.78 2.55 5.546 1.939 1.64 8.80 339 294 86.25 44.49 1.643 4.127 2.89 13 Jawa Tengah 8.51 1.958 1.28 3.83 8.75 1.69 683 98 14.15 1.813 1. Kemenkes RI 496 74 14.492 6.81 17 Bali 702 702 100.065 85.45 16 Banten 1.

060 113.71 36.31 32.885 96.92 24.88 49.39 47.868 32.297 89.971 98.219 93.13 558.99 157.058 85.99 94.78 17 Bali 61.148 89.820 91.36 40.207 93.733 122.402 46.374 91.48 4.48 873.143 99.969 96.97 201.706 85.63 160.233 101.660 23.70 22.157 93.948 80.78 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 40.308 26.94 599.46 159.114 92.22 14.84 4.663 95.406 80.47 67.98 40.925 85.33 23.91 60.500 70.19 117.480 102.528 93.668 94.619 82.54 62.984 96.582.990 85.706 93.74 97.408 91.513 96.38 30 Maluku 36.87 586.143 87.974 96.18 85.28 29 Sulawesi Barat 24.951 95.238 82.34 101.30 303.379 91.49 214.075 42.83 45.46 117.005 112.386 90.138 96.603 89.292 95.449 87.395 91.662 92.73 42.38 11.261 90.56 4. Kemenkes RI.67 45.83 589.183 97.494 49.00 19.242 92.235 81.821 80.192 93.07 23.890 51.826 73.02 286.85 164.39 23.40 13.790 111.581 88.581 78.55 311.70 907.697 100.50 25 Sulawesi Tengah 53.23 23 Kalimantan Timur 77.63 167.904 99.74 73.098 93.82 12 Jawa Barat 931.10 38.937 97.282 101.611 98.467 92.72 64.120 88.212 62.42 582.527 40.135 93.921 96.566 165.04 168.93 102.176 87.405 28.85 81.57 86.038 95.640 99.218 91.148 88.067 99.012 103.12 150.96 139.565 88.34 101.41 97.86 80.95 23.78 15 Jawa Timur 605.861 24.636 102.83 116.95 47.804 589.08 117.75 93.75 147.25 134.065 91.93 289.06 47.23 291.104 26.102 98.81 2.510 94.663 95.397 91.80 33.61 28 Gorontalo 25.822 92.59 45.693 96.201 86.08 89.131 82.95 24.517 83.99 68.09 11 DKI Jakarta 188.35 49.48 34.18 69.487 72.51 85.948 91.176 80. 2010 .677 97.66 69.453 89.737 83.19 166.813 90.274 101.40 19 Nusa Tenggara Timur 127.40 19.89 49.965 88.69 172.732 58.82 64.395 86.480.06 67.982 102.869 102.201 31.533 72.01 32 Papua Barat 20.09 868.80 621.27 50.19 40.647 83.370 64.004 34.317 93.627 86.25 119.480 97.74 215.30 39.28 147.667 90.26 20.51 161.82 613.648 89.78 925.25 9 Kepulauan Bangka Belitung 24.46 4.98 97.75 33.89 24.443 65.11 40.128 88.15 34.872 37.33 61.12 220.23 171.11 572.561 74.98 6.27 71.09 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.72 73.45 171.743 85.72 61.08 24.60 46.36 69.01 20.80 47.56 605.778 85.459 86.434 95.25 13 Jawa Tengah 577.170 20.11 6.00 230.60 23.149 62.95 35.82 212.50 49.186 99.762 83.325 100.03 73.550 102.188 93.534 50.27 39.333 95.66 4 Riau 137.04 505.13 21 Kalimantan Tengah 52.107 93.23 159.067 97.84 4.567 84.169 93.04 144.336 97.37 874.360 89.943 91.19 96.736 94.41 52.88 572.627 85.853 96.552 79.96 857.81 105.172 99.20 2 Sumatera Utara 325.87 101.042 99.79 18 Nusa Tenggara Barat 105.00 118.71 37.234 94.66 27 Sulawesi Tenggara 53.429 80.95 60.20 598.437 61.43 20.51 38.279 76.106 96.03 70.931 44.15 20.601 99.30 94.036 89.929 103.199 92.791 73.434 88.440 119.351 76.796 95.789.64 4.761 68.933 99.773 93.204 53.21 64.15 44.604 39.62 35.980 58.480 72.68 80.39 102.536 165.305 70.40 45.677 99.020 93.978 88.46 34.00 22.607 77.950 97.49 11.86 14.09 4.78 196.060 117.812 100.87 100.Lampiran 4.906 84.914 94.242 10 Kepulauan Riau 38.792 98.23 532.025 107.64 36.05 26 Sulawesi Selatan 168.00 2.60 27.37 72.554 97.987.219 62.66 49.034 91.972 76.70 24.74 25.995 91.487 19.80 88.91 31.07 19.20 68.607 84.532 81.066 66.555 18.35 83.97 21.849 93.03 594.11 CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO PROVINSI (1) (2) SASARAN (3) BCG DPT/HB(1) JUMLAH % HB0 JUMLAH % (4) (5) JUMLAH % (6) (7) (8) (9) IMUNISASI PADA BAYI POLIO1 DPT/HB(3) JUMLAH % JUMLAH % (10) (11) (12) (13) POLIO3 JUMLAH % (14) (15) POLIO4 JUMLAH % (16) (17) CAMPAK JUMLAH % (18) (19) 1 Aceh 105.134 102.908 89.95 208.64 33 Papua 49.23 51.020 9.481 13.313 93.873 98.98 110.80 38.397 56.45 38.672 43.679 98.753 78.905 101.313 4.70 62.01 31.597 31.26 3 Sumatera Barat 106.882 122.02 23.399 102.67 23.986 96.46 69.754 99.39 63.826 42.33 20 Kalimantan Barat 99.747 91.50 44.943 96.907 96.535 70.72 292.908 100.36 102.97 24.183 98.408 94.599 92.661 97.127 87.429 92.165 71.875 81.569 102.046 96.41 26.038 100.137 292.944 219.940 15.19 54.005 74.020 95.298 77.898 113.281 200.16 195.163 85.758 82.846.643 89.627 94.343 97.06 44.76 31 Maluku Utara 23.93 36.74 22 Kalimantan Selatan 71.88 31.89 84.00 37.994 102.307 92.757 57.329 103.489 71.618 89.156 94.753 97.60 36.676 76.16 104.64 44.110 116.36 28.062 69.421 39.26 117.464 83.63 11.998 92.040 97.06 11.607 90.408 89.86 119.916 50.84 25.053 877.431 61.94 86.888 67.763 93.605 79.95 15.65 20.51 20.733 140.966 97.934 92.28 40.031 96.462.512 69.05 26.87 16 Banten 206.530.62 12.21 574.35 90.76 61.789 91.86 46.870 92.723 83.53 230.144 93.30 95.16 37.20 7.377 51.702 97.960 607.393 8 Lampung 173.681 89.05 84.959 100.91 162.12 35.031 48.676 48.359 96.868 57.66 14 DI Yogyakarta 43.86 21.202 95.57 5.92 38.119 90.305 86.41 39.03 80.429 37.66 49.77 14.08 24 Sulawesi Utara 45.68 54.59 89.899 77.99 197.59 112.879 93.086 90.77 19.670 88.988 80.795 93.937 24.604.20 222.981 21.321 116.943 89.121 86.02 105.378 100.02 143.57 156.844 85.191 95.221 95.705.22 86.349 70.

4 5.4 4.1 5.8 9.2 14 DI Yogyakarta 0.2009 NO PROVINSI (1) (2) 1 Aceh 2 3 TAHUN 2006 2007 2008 (3) (4) (5) 2009 (6) 10.8 7.7 21.9 15.3 Sumatera Barat 9.7 11.9 12 Jawa Barat 21.4 4.8) (0.8 4.4 6.2 6.4 6.1 1.8 5.8 3.8 8.7 9.6 19.8 6.4 7.6 1.2 17 Bali 8.8 3.2 20 Kalimantan Barat 8.8 19.3 16 Banten 15.0 5.0) 15 Jawa Timur 4.8 12.9 3.7 5.4 5.9 6.0 4.3 5.1 13.3 25 Sulawesi Tengah 9.2 13.3 33 Papua - 21.1 27 Sulawesi Tenggara 4.8 29 Sulawesi Barat 15.7 9 Kepulauan Bangka Belitung - 4.8 11.0 8.0 7.5 22 Kalimantan Selatan 8.5 10.6 13.1 4.0 6.9 3.2 5.5 4. Kemenkes RI.8 5 Jambi 1.3 3.2 6.3 13 Jawa Tengah 4.0 9.7 3.8 4.6 5.3 7.1 5.4 8.3 21 Kalimantan Tengah 1.1 8 Lampung - (1.4 7.8) (1.3 32 Papua Barat 7.8 2.9 10 Kepulauan Riau - 10.4 (0.0 3.0 7.7 23 Kalimantan Timur 7.2 17.6 13.1 18 Nusa Tenggara Barat 3.CAMPAK PADA BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .3 3.0 19 Nusa Tenggara Timur - 22.6 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 21.1 5.5 28 Gorontalo 11.2 Sumatera Utara - 1.Lampiran 4.5 5.0 0.2 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.4 5.1 2.3 10.1) 2.9 4.6 4.3 4. 2010 .0 3.5 4.7 4.3 4.7 4.5 11 DKI Jakarta 23.4 9.6 8.0 7.1 8.3 24 Sulawesi Utara 4.1 6.12 DROP OUT RATE CAKUPAN IMUNISASI DPT1 .8 7.0 26 Sulawesi Selatan 8.8 (1.6 15.9 4.2 4.5) 9.8 31 Maluku Utara 5.8 6.2 7.3 6.2 7.8 7.8 5.9 4 Riau 2.2 30 Maluku 5.7 5.4 4.5 3.

91 432.799 42.494 43.024 21.10 2.725 78.08 12 Jawa Barat 1.504 76.09 97.541 76.86 199.912 9.592 148.57 28.958 16.228 80.69 16.836 58.024.961 40.942 66.02 7.51 140 0.116 49.66 466.00 21 Kalimantan Tengah 56.72 52.60 286 0.031 32.217 13.45 28.174 17.81 1.339 71.00 0 0.658 39.382 13.16 3 Sumatera Barat 115.586.41 30.42 234.28 3.85 23 Kalimantan Timur 85.52 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.057 69.277 8.43 43.52 44.00 50.419 36.209 0.00 0 0.00 0 0.081 0.81 550 0.34 15.551 10.99 28 Gorontalo 28.23 37.567 1.085 26.521 22.707 19.035 3.37 19 Nusa Tenggara Timur 134.335 50.88 0 0.05 109 0.956 69.60 111.63 13.909 88.733 24.721 1.590 32.46 78.60 557.31 82.39 245 0.093 114.06 7.468 8.96 16.073 25.261 41.632 31.438 141.945 52.202 20.850 47.56 4 Riau 151.530 62.54 247.381 44.15 10 Kepulauan Riau 41.75 19.565 160.64 24.40 22 Kalimantan Selatan 78.42 14 DI Yogyakarta 48.839 2.825 32.239 48.515 121.755 8.76 26 Sulawesi Selatan 198.00 34.21 29.00 0 0.28 47.810 102.98 6.25 41.321 56.122 49.49 50.28 84.550 5.43 686.03 20.976 25.03 18.22 30 Maluku 33.65 74.33 40.35 145.593 4.330 25.328 76.966 26.00 13 Jawa Tengah 924.754 61.47 29.41 11.20 104 0.77 3.466 49.18 19.456 59.56 136.130 1.09 406 0.22 9.786 33.90 82.270 28.455 72.13 CAKUPAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) Jumlah Ibu Hamil (2) (3) TT1 Ibu Hamil Diimunisasi TT3 % Jumlah TT2 Jumlah % Jumlah % Jumlah (4) (5) (6) (7) (8) (9) TT4 (10) TT5 TT2+ % Jumlah % Jumlah % (11) (12) (13) (14) (15) 1 Aceh 110.53 86.721 20.177 245.753 1.623 53.75 31 Maluku Utara 25.09 7.05 108.351 89.98 9.95 11 DKI Jakarta 158.317 23.00 0 0.329 26.933 10.331 12.11 1.54 10.880 88.44 115.671 56.76 18.879 65.462 2.28 29 Sulawesi Barat 27.06 8.812 52.57 58.155 27.172 12.53 129.580 49.97 45.02 49.401 38.34 11.98 52.264 14.210 16.22 16 Banten 225.35 530 0.446 19.343 69.88 26.340 2.99 46.70 10.681 72.617 1.609 59.026 24.74 225 0.764 46.22 21.53 1.02 18 Nusa Tenggara Barat 115.429 35.887 8.32 880 0.434 10.921 14.00 20.88 21.24 25 Sulawesi Tengah 59.230.194 40.651 144.75 20 Kalimantan Barat 106.301 34.613 7.59 0 0.018 21.919 44.85 23.78 22.07 19.482 3.70 9.026 67.065 7.53 8 Lampung 189.182 11.13 23.197 71.22 24 Sulawesi Utara 50.333 34.56 5.078 103.99 9 Kepulauan Bangka Belitung 26.59 188.527 56.39 25.26 2.963 10.171 43.285 23.453 12.169 77.965 14.032 63.935 54.34 6.79 32 Papua Barat 23.92 54.207 62.69 1.114 21.12 14.874 12.270.571 22.908 14.124 234.049 11.36 27 Sulawesi Tenggara 59.67 170 0.18 16.22 29.735 47.994 7.85 10.029 13.021 4.578 80.08 2.103 51.39 21.415 0.142 2.675 10.44 2.146 55.670 52.19 4.984 35.955 41.691 4.51 12.974 155.09 1.750 6.070 45.84 33.385.214 67.009 311.11 3.602 124.806 62.62 292 0.29 11.216 8.763 39.188 35.45 21.951 28.089 6.960 16.702 46.13 1.028 101.641 55.11 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 79.773 8.53 34.92 2.38 3.342 56.72 15 Jawa Timur 338.19 0 0.210 4.289 38.553 5.607 63.528 3.159 45.74 4.782 67.309 67.38 6.17 4.05 133.46 2.20 15.862 47.88 7 Bengkulu 43.603 0.318 8.909 78.15 100.41 2 Sumatera Utara 357.943 29.45 1.64 91.486 64.00 147.84 29.766 45.18 13.668 20.85 71.893 17.72 962 3.20 98 0.91 33 Papua 55.155 9.42 13.63 17 Bali 67.10 72 0.385 45.443 8.09 76.92 753.27 493.19 69.87 2.62 10.31 5.77 8.265 12.294 18.Lampiran 4.89 231 0.65 1.14 12.60 1.383 66.28 4.99 111 0.32 32.089 14.32 13.89 4.06 2.002 219.391 9.410 58.213 22.622 17.85 268 0.818.34 14.930 0.169 5.384 83.132 47.70 4.81 680 0.266 11.966 82.26 244.269 4.777 23.169 77.808 11.158 822.72 605 2.562 50.625 6. Kemenkes RI.14 68.37 10.515 5.16 2.90 7.42 42.169 1.13 49.22 6. 2010 .69 37.836 16.942 15.33 3.973 13.53 147.

11 21 Kalimantan Tengah 244.401 6.53 798.94 484.604 0.835 1.138 12.538 7.839.12 3.20 345 0.06 1.35 5.01 25 Sulawesi Tengah 538.16 196 0.054 0.020 8.32 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 191.46 6.387 0.358 1.959 1.036 1.00 0 0.24 8.100 864.29 12.125 1.25 - - 134.88 1.174 6.20 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 691.934 20.13 172 0.500 0.46 61.390 3.373 10.07 2.77 Jawa Timur 5.702 1.14 1.46 36.33 2.456 0.14 CAKUPAN IMUNISASI TT PADA WANITA USIA SUBUR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO JUMLAH WUS PROVINSI (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara TT1 (3) TT2 JUMLAH % JUMLAH % (4) (5) (6) (7) WANITA USIA SUBUR DIIMUNISASI TT3 JUMLAH % JUMLAH (8) (9) TT5 TT4 (10) % JUMLAH % (11) (12) (13) 913.513 181 0.310 38.869 4.39 778.547 0.438 14.04 47 0.261 0.530 1.98 23.174 0.45 7.673 1.503.875 0.27 - - - - - - - - - - - 9 Kepulauan Bangka Belitung 247.055 0.42 17.09 24 Sulawesi Utara 443.81 953. 2010 .093 0.84 6.51 10.03 4.07 130 0.714 5.021 0.145 0.401 0.03 31.96 2.674.766 6.06 2.965 989 0.82 18.23 1.32 392 0.58 23.10 417 0.32 4.86 1.815 5.48 17 Bali 715.88 10.70 2.688 0.12 127 0.42 11.043 6.135 0.00 26 Sulawesi Selatan 1.80 1.997 2.82 13.409 29 Sulawesi Barat 208.033 1.84 - - 50.74 11.162 0.870 0.16 252 0.478 62.46 474.58 1.Lampiran 4.570 0.23 949 0.966 1.70 1.984 0.51 0.09 203 0.665 843 0.924 4.28 776 0.111 7.695 0.265 3.788.866 0.019 0.53 650.43 58.14 23 Kalimantan Timur 526.097 1.16 94.72 31 Maluku Utara 251.08 10 Kepulauan Riau 387.31 1.127 1.754 1.10 9.086 7.874 2.61 18.32 30.609 1.03 65.26 2. Kemkes RI.221 7.51 780 0.14 1.939 1.371 0.253 0.12 12.959 3.11 3.544 0.86 4.550 30.014 1.649 12.967 228 0.169 2.95 17.822 2.09 7.662 1.399 0.833 2.735.05 - - 19.11 5.271 2.843 2.629 4.63 2.112 0.46 12.18 437 0.407 0.060 2.17 13 0.05 0 0.794 101.92 - - 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 845.21 2.84 1.433 1.151 0.887 1.01 30 Maluku 173.044 0.010.098 4.37 33 Papua 433.404 20.19 243 4.20 789 0.098 0.18 22 Kalimantan Selatan 673.99 2.32 13.40 880 15.633 0.877 10.201 - 33.824 7.293 1.43 31.39 980 0.933 2.789 2.82 32 Papua Barat 148.060 0.932 30.022 2.00 0 0.122 4.189 2.34 598 0.756 1.21 433 0.68 Indonesia Sumber : Ditjen PP & PL.174 0.81 735.12 216 0.561 7.557 0.06 9.91 514 0.69 24.33 2.56 1.62 1.38 9.69 11.871 1.449 - 31.60 1.477 14.754 2.13 8.921 2.717 18 Nusa Tenggara Barat - - - - - - - - - - - - 1.447 1.26 901 15.037 1.266 3.357 12.109 11.13 - 28 Gorontalo 194.03 2.69 5.697 0.362 3.90 7.156.84 5.08 760.87 43.544 2.126 2.83 59.540 1.46 - 6.16 2.345 0.58 8.072 0.07 8.33 4.844 1.39 811 14.019 0.134.014 1.99 10.58 - - 97.046 0.36 3.62 1.66 16 Banten 2.51 7.171 0.681 2.304 0.44 442.868 27 Sulawesi Tenggara - - - - - - - - - - - - - - - - - 0.07 221 0.264 1.110 2.19 10.674 0.428.160 3.11 8 Lampung 1.248 1.944 508.

757 8.306 1.913 35.Lampiran 4.737 245 753 2.488 496.038 205.145.164 1.207 297.223 374 812 126 492 796 652 223 748 281 909.990 352.550 19.998 89.237 185.232.806 278.606 417.142 13.380.955 8.752 3.306 316.492 115.497 93.162 1.372.162 188.280 855.134 1.459 809 2.558 614.784 443.341 186.370 189.901 52.750 217.902 185.262 5.336.553 21.188 59.224 20.074 15.806 70.352 185.413 405 5.403 472 6.864 153.028 701 611 597 2.893 83.934 2.269 178.338 195.332 283.514 48.191 209.880 8.402 302.442 11.122 1.353 11 1.358 275.954 1.727 508 714 268 1.292 3.408 21.833 44.124 931.420 1.885 5.164 747.000 182.109 279.539 52.626.129 43.886 409.472 126.247.994 56.704 29.436 36.063 1.15 JUMLAH KUNJUNGAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 No Provinsi Pasien Keluar Mati Pasien Keluar Hidup <48 jam (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.374 163.601 182.433 65.920 128 377 97.481 1.866 978.987 263.891 79.956 4.019 22.150 .463 23.971 989 1.974 194.236 96.886 247.924.264 27.252 550.063 417.132 1.772 2.944 466.239.094 82.028.254 44 46 27.736 225.886 118.003 130.564 383.137 10.810 35.728 1.294 505.651 3.115 41.614 4. Kemkes RI (3) Lama Dirawat Hari Perawatan Total Kunjungan (6) (7) (8) ≥48 jam (4) (5) 37.409 5.808 301.230 46.756 212.084 331.210.028 11.941 33.549 31.999 92.744 37.098.571 206.576 61.707.907 30.259 256.277 25.710 510.867 73.277 455 893 168 586 822 755 337 1.438 140 192.558 4 1.154.071 119.127 264 3.930 1.850 3.088 844.766 258.358 161.452 97.

3 66.5 75.7 2 8.9 5 4.5 20 14.2 2 9.6 58 49.8 - - 19 - 48.9 15 14 9 91.4 6 3.8 22 19 14 DI Yogyakarta 79.0 1 21.9 2 4.2 18 16 13 Jawa Tengah 69.2 22 - 11.3 - 31.5 18 20 2 Sumatera Utara 64.4 2 4.6 42 35.0 4 4.0 - - - 24.0 17 19.0 38 31.2 35 19 79.1 47 16.6 3 3.0 4 4.6 5 5.7 31 30.9 6 4.6 51 28.1 36 48.5 30 31.7 63.9 15 18 7 Bengkulu 45.6 36.8 34 35.6 1 3.4 36 39.6 13 13 25 Sulawesi Tengah 83.0 19 19 19 Nusa Tenggara Timur 59.5 19 18 - Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.1 4 3.0 42 39.0 Indonesia - - 34.2 70.8 5 7.0 - 13 27.6 49.0 30 29 3 Sumatera Barat 57.9 44 20.9 4 - 4.8 40 18.8 3 3.1 48.3 63.5 18 16 23 Kalimantan Timur 99.0 39 29.7 59.4 39 29.0 11 12 22 Kalimantan Selatan 76.7 4 3.8 28 25 16 Banten 97.6 40 43.9 4 4.2 40 - 33.1 45 19.5 - - - 3.1 51 35.9 4 10.7 66 29.3 5 3.4 2 2.6 50 45.9 48 36.0 52.3 - 3.7 44 32.7 20 19 82.6 5 3.1 26 17.7 62.8 2 14.0 59.6 35 25.2 51 25.3 42.4 58 43.3 61.3 11 9 6 Sumatera Selatan 55.2 3 6.2 - 12 29 - 29 - .8 46 27.2 43 34.1 5 4. Kemenkes RI - 60.4 8 7.3 44 41.3 13 10 24 Sulawesi Utara 83.8 2 5.6 1 11.9 39 22.7 53.6 5 3.7 5 4.5 16 25 4 Riau 68.7 57.8 26 11.3 4 3.6 16 28 Gorontalo - 29 Sulawesi Barat - 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 74.8 2 5.0 52.5 26 18 12 Jawa Barat 85.6 37 21.7 9 10 33 Papua 51.7 48 42.9 14 15 20 Kalimantan Barat 73.9 44 29.0 67.0 58.5 47.9 31 28.2 32 40.6 32 32.1 22 14 17 Bali 80.3 42 36.9 4 4.9 3 3.7 1 3.4 67.9 3 3.Lampiran 4.2 63.8 26 28.16 INDIKATOR PELAYANAN RUMAH SAKIT UMUM DEPKES DAN PEMDA MENURUT PROVINSI TAHUN 2008-2009 No Bed Occupancy Rate (BOR) Provinsi (1) (2) Length of Stay (LOS) Bed Turn Over (BTO) 2008 2009 2008 2009 2008 2009 Turn Over Interval (TOI) 2008 2009 Gross Death Rate (GDR) 2008 2009 Net Death Rate (NDR) 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 2009 (14) 1 Aceh 92.8 - 5.3 42 25.7 1 8.7 30 30.6 3 37.8 4 14.3 4 3.9 6 3.6 6 36.4 34 28.0 11 14 26 Sulawesi Selatan 92.8 8 - 19.7 2 2.4 3 8.6 46 41.8 4 3.5 30 21.7 4 4.8 4 4.0 Kepulauan Bangka Belitung - 53.9 4 3.7 45 37.8 58.0 26 21.9 4 4.1 1 12.5 62.0 12 14 27 Sulawesi Tenggara 71.0 45 35.9 24 20 18 Nusa Tenggara Barat 50.1 2 5.6 45 14.5 - 14 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 69.0 54 52.1 58.2 4 4.0 67.9 2 5.0 4 4.2 41 28.9 50 26.1 4 5.7 - - - 9.4 1 4.0 15 16 21 Kalimantan Tengah 47.7 31 32.2 8 Lampung 74.8 69.8 69.9 5 18.7 38 21.5 61.8 5 3.1 3 4.1 16 6.4 18 11 5 Jambi 77.4 27 11.1 21 23 15 Jawa Timur 96.

273 41.956 48 225 42.617 1.756 16.744 8.076 2.705 737 641 3.973 4.866 1.030 2.115 1.130 1.240 656 871 3.698 478 1.736 124 23.764 9.233 1.538 1.339 360 649 159 309 732 233 290 1.220 121 3 1 109 439 473 235 36 433 175 23 14 14 1 881 3.343 420 1.217 6.539 1.905 720 826 2.919 3.958 1.528 1.186 8 83 33.609 709 215 517 502 611 1.248 7.912 446 160 848 4.115 1.092 2.650 3.530 406 560 2.449 3.967 17.692 5.270 5.772 1.958 119 53 121 362 901 275 345 87 90 26 222 168.379 1.082 2.780 No Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.179 769 1.685 792 642 111 51 109 356 173 288 67 7 281 292 1.840 1.565 149 661 199.621 800 1.675 686 262 130 1.905 844 2.282 2.342 1.729 8.692 1.270 3.891 1.079 108 80 1.501 17.897 1.694 23.164 985 1.526 5.871 2.123 1.035 5.550 2.690 4.005 826 318 2.814 11.423 2.413 1.366 553 365 589 191 174 648 87 66 1.487 5.999 3.458 1.723 2.106 2.465 1.030 1.190 5.772 15.898 24.416 102 124 53.690 413 694 2.624 2.933 24 183 6 45 230 2 14 10 4 179 7 5 15 13 1 231 24 275 123 713 500 218 41 314 74 563 5.049 29.140 994 2.569 99 877 7.875 6.287 4.949 31.250 1.921 1.633 955 2.487 1.147 6.548 6.842 21.854 1.477 10 9.321 408 433 1.543 1.356 779 3.571 10.070 1.346 9.760 39.905 3 149 63.264 1.011 611 268 647 861 466 4.619 858 407 4.230 660 210 1.496 1.625 623 666 755 851 1.217 12.658 1.377 1.494 379 3.749 581 1.626 607 408 4.775 2.469 698 97 494 5.031 8.Lampiran 4.977 5.805 15.218 781 374 1.687 1.708 2.865 334 250 123.128 3.723 531 130 61 132 181 146 567 25 107 482 80 21 2.950 4.514 17.980 644 4.899 8.069 2.17 PEMERIKSAAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA RUMAH SAKIT UMUM DEPKES DAN PEMDA MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 Provinsi Tumpatan Gigi Tetap Tumpatan Gigi Sulung Pengobatan Pulpa/ tumpatan Sementara Pencabutan Gigi Tetap (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1.873 .320 1. Kemenkes RI Pencabutan Pengobatan Pengobatan Gigi Periodontal Abses Sulung (7) (8) (9) Pembersihan Karang Gigi Prothese Lengkap Prothese Sebagian Prothese Cekat Orthodonsi Bedah Mulut (10) (11) (12) (13) (14) (15) 221 30 29 9 31 4 55 34 86 15 77 1 21 140 28 15 1 67 1.614 5.509 79 421 83.236 23.443 4.031 35.302 1.006 422 373 1.939 6.294 6.422 396 106 560 48 94 26 7 159 172 4 56 1 101 15.

025 6.058 335 2.204 1.154 3.438 - 130.224 2.017.836 14.952 210.953 45.307 1.679 4.182.161.800 7.968 7.962 - - - - 5 5.795 30.18 JUMLAH KUNJUNGAN PESERTA JAMKESMAS DI PUSKESMAS TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi RJTP RITP (2) (3) (4) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2.939 148 50 179.770 3.649 151 138 18 293 - 1.763 1.334 70 393 1.378 3.023 2.193 5.134 444.872 368 3.130 292 459 21 9.154 6.252 176 1.417 62 343 9 343 19.027 68.515 5.363 16.004 577 3.368 16.717 5.753 20.430 340.285 4.941 279.850 4.792 Kunjungan Neonatus (KN2) (5) 249.417 11.212 10.113 402.295 11.309 383 396 103 1.675 2.167 2.116 743 1.342 1.295 247 8.849 1.139 46.069 4.306 61.467 19.321 1.388 392 781 1.447 36.575 736.305 7.413 1.429 42 25 1.909 20.772 1.447 567.303 766 3.781 547 91 2.211 3.225 8.533 130.757 655 1.268 13.593 147.827 19.040 59 194 - 87 1.754 7.705 1.050 487 6.365 6.689 7.517 4.767 822.649 Kunjungan Ibu Hamil (K4) 253 6.756 144.292 949.564 2.131 2.130 - 1.866 421 21.154 289.297 - .201 1.201 28.910 46.356 7.260 150.121 283 914 291 1.073 14.058.091 5.500 174.863 4 256 2.142.364.376 50.301 838 98 - 393 28 414 1 414 64.644 44 118 1.558 193.680 21.708 1.481 3.339 478.377 876.139 943 277 2.804 4.821 94.162 169.693 - Rujukan - - - - - Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (6) (7) (8) 65.855 22.121 1.556.161 703 302 1.678 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) Keterangan: RJTP = Rawat Jalan Tingkat Pertama 1.711 22.166 527.Lampiran 4.892 396.609 699 1.

Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah D.19 JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN TINGKAT LANJUT (RJTL) PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.660 20.388 10.630 7.151 21.722 22.470 66.429 4.992 569.745 33.085 10.635 4.667 25.366.958 18.843 12.549 18.568 44.587 402.379.426 17.642 251.004 7.579 33.846 73.512 40.029 25.784 88.935 37.637 82.451 40.708 59.723 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) .379 52.662 43.827 4.580 18.909 81.487 81.729 18.444 25.545 55.450 5.258 222.315 69.570 36.208 48.396 14.692 21.237 253.618 38.145 21.326 38.976 15.125 42.963 94.554 132.041 17.952 44.822 32.Lampiran 4.I.Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat NusaTenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat TOTAL L Jumlah Rawat Jalan Tingkat Lanjut P L+P (3) (4) (5) 111.815 39.585 160.514 71.801 71.601 13.801 22.201 107.351 33.162 8.037 730.012.304 11.583 42.450 328.186 8.797 17.757 3.547 13.425 862.294 45.310 15.575 37.197 8.591 387.827 142.057 114.896 2.052 177.917 5.972 8.352 10.870 91.371 55.750 108.901 19.869 83.089 82.516 30.627 71.418 9.942 39.350 318.097 138.064 2.672 42.834 474.

501 17.541 12.130 73.985 7.889 2.029 49.272 227.492 8.959 17.633 3.351 26.205 48.874 128.863 5.494 7.Lampiran 4.441 11.134.702 1.138 2.039 27.057 18.948 6.840 4.667 4.798 7.222 7.990 21.541 3.783 1.398 99.051 33.092 2.824 2.955 19.543 21.597 5.220 25.199 11.773 36.630 1.981 5.533 5.416 647.409 12.872 5.194 899 5.376 20.096 14.895 2.398 3.259 5.981 13.520 5.420 33.495 2.701 8.231 16.820 10.818 6.448 7.951 5.831 26.20 JUMLAH KASUS RAWAT INAP TINGKAT LANJUT (RITL) PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 L Jumlah Rawat Inap Tingkat Lanjut P L+P (3) (4) (5) Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepualauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.365 6.700 12.171 45.824 3.983 83.338 19.610 10.272 18.468 12.948 4.756 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) .Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat NusaTenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat 26.933 10.297 16.340 1.158 10.564 14.390 15.689 45.188 TOTAL 487.382 9.768 60.I.114 27.612 142.396 4.501 1.882 10.556 5.607 36.278 4.608 24.479 9.335 122.008 57.215 5.659 29.788 32.749 5.091 13.163 14.629 59.Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah D.

19 62.21 CAKUPAN TB PARU BTA POSITIF.23 72.71 83.28 74.349 1.611 223 5.30 85.201 732 2.334 333 1.05 69.928 86.30 32.83 94.353 873 537 696 1.470 78.80 80.79 90. 2010 Cakupan TB 2008 Sembuh Pengobatan Lengkap Semua Kasus BTA Pos Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) 905 4.011 245 781 5.87 87.044 393 1.808 1.21 66.87 8.93 13.743 672 308 263 244 115 177 544 43.72 56.89 84.93 16.58 68.03 38.77 2.70 4.15 68.90 12. Kemenkes RI.40 5.00 87.75 60.502 3.07 6.92 68.08 97.45 76.50 62.82 91.61 86.Lampiran 4.08 7.19 91.32 51.861 4.91 Sembuh & Pengobatan Lengkap Success Rate (%) (9) (10) 670 3.926 608 2.486 9.13 6.56 8.493 537 225 183 166 68 213 29.19 81.91 73.39 80.91 5.46 87.05 81.41 57.84 74.33 2.04 3.42 39.598 8.87 54.253 801 878 2.76 90.08 87.37 13.03 17.68 5.71 4.25 80.876 378 734 820 1.13 62 86 71 37 58 38 8 66 12 80 419 250 14 429 64 96 58 47 18 28 70 143 19 79 76 74 47 20 60 69 2.05 .31 24.77 89.33 14.572 613 299 230 186 128 282 32.96 65.73 5.921 3.32 76. PENGOBATAN LENGKAP DAN SUCCES RATE (HASIL PENGOBATAN PENYAKIT TB TAHUN 2008) MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.799 325 309 6.288 4.014 735 435 562 810 188 1.24 4.068 811 1.44 66.31 90.53 11.01 80.85 2.37 61.363 403 1. SEMBUH.157 8.513 36 258 588 454 645 205 765 320 893 97 1.98 1.66 79.861 237 5.12 72.74 36.229 276 6.50 6.064 587 1.158 270 139 2.07 4.28 1.526 94.78 68.20 33.230 760 395 320 489 209 432 1.257 579 11.92 85.30 16.44 3.942 36 322 684 512 692 223 793 390 1.52 85.89 8.11 55.06 74.22 97.627 707 3.044 298 841 487 1.19 93.481 18.289 1.37 19.29 80.928 664 398 504 772 180 945 233 701 5.09 85. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber: Ditjen PPPL.375 868 1.065 1.44 3.036 116 1.

558 23.22 JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.735 56.666 46.18 .256 1.433 42.593 1.42 10.866 130.118 72.062.671 4.621 748.329 589 7.91 13.Lampiran 4.050 Realisasi Penemuan Penderita Pneumonia Balita 494 11.868 11.721 6.344 185.126 223 4.881 10.925 43.595 30.32 19.96 9.873 690.402.175 725.187 69.130 161. Puskesmas Program Target Penemuan Pneumonia Balita (10%) < 1 Tahun 1 .819 1.82 41.81 22.139 211. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.38 9.37 20.533 2.246 35.914 197.287 9.624 2.16 2.369 1.993 3.4 Tahun Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) 568.249 434.749 2.682 113. Kemenkes RI Jumlah Penduduk Usia Balita Wil.524 842 404 387 252.318 18.521 4.067 3.078 13 6.989 3.578 11.491.315 1.16 12.081 1.332 424.915 709 758 2.646 1.12 5.30 46.173 1.41 0.261 732 518 258 183 136.915 95.083 2.313 16.892 732 16.010 67.977 44.458 354.70 21.842 1.376 9.310 429.685 51 17.370 20.83 17.191 17.387 6.752 896.176 7.360 662 570 390.15 71.985 249. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PPPL.034 20.21 10.153 890 1.552 1.296 129.880 3.45 11.677 372 309 1.54 5.306 196.607 38 11.91 13.271 1.277 11.034 3.226 28.575 233.392 9.914 21.349 4.175 89.014 323.319 2.912 98.621 11.431 42.64 14.16 21.701 201.328 2.075 7.660 469.639 3.766 449.907 2.380 1.159 107.072.191 9.20 5.701 32.566 3.905 5.562 74.655 32.657 1.491 19.806 3.034 18.652 425.846 1.92 5.306.05 3.781 111.56 15.760.829 1.455 812 11.

451 48.114 4.667 106.20 78.29 65.928 24.09 80.23 CAKUPAN PEMBERIAN TABLET BESI (Fe) PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Cakupan Fe Ibu Hamil No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Ditjen Binkesmas. Kemenkes RI Jumlah Ibu Hamil (3) 113.337 32.985 1.387 162.914 78.182 28.72 47.67 84.05 53.715 8.97 82.885 23.51 55.253 159.82 74.458 64.832 46.266 42.43 49.03 68.453 115.942 61.85 56.314 13.144 64.600 34.775 67.38 36.427 180.293 148.48 84.57 68.684 76.979 18.061 529.744 25.973 29.357 239.39 90.86 90.097 Fe-1 Fe-3 Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) 84.816 40.09 82.52 77.77 95.95 60.358 330.80 73.282 38.269 2.359 2.150 11.905 180.65 .51 82.47 54.58 78.244 53.396 246.283.11 89.122 3.693 194.066 37.76 67.564 21.43 75.963 10.96 54.664 158.475 44.771 488.150 212.714 28.104 58.31 31.28 71.54 83.707 115.499 49.653 17.48 89.093 27.715 30.873 67.95 71.80 63.906 74.504 106.11 51.02 77.782.97 71.693 16.058 76.556 58.667 115.02 82.43 81.20 92.882 71.51 84.034 22.069 4.352 22.351 35.24 75.625 58.979 41.97 73.340 109.68 76.585 665.110 148.755 62.500 806.028 19.98 66.73 79.422 134.12 38.51 52.28 41.886 48.763 80.10 76.600 28.690 18.469 49.973 107.540 93.429 137.75 79.410 151.057 90.787 44.Lampiran 4.92 38.42 72.303 96.445 16.915 75.764 711.443 311.794 118.330 3.67 90.836 196.628 199.07 92.788 25.28 77.75 79.92 63.202 43.50 38.064 60.59 69.94 74.680.254 45.212 25.43 92.037.474 245.71 83.47 74.88 39.19 46.

090 204.455 34.340 106.22 386.830 98.592 53.409 258.23 35.21 21.318.272 39.32 2.446 236.05 169.696 56.953 35.79 81.778 400.61 440.550 73.55 141.962 72.876 73.434 26.809 175.201 87.524 336.718 82.08 13 Banten 128.969 15 DI Yogyakarta 31.03 81.46 26 Sulawesi Tengah 40.11 16 Jawa Timur 316.34 537.776 40.36 770.17 28 Gorontalo 16.704 84.333 72.45 143.42 120.226 51.655 35.786 2.283 88.11 237.231 96.59 2.024 75.800 76.541 2.02 651.537 51.400 74.020 763.480 78.76 9 Bengkulu 46.604 87.82 171.91 318.035 150.603 27.233 81.276 25.104 88.36 115.21 23.038 104.176 82.283 64.382 75.000 86.930 170.434 183.48 75.83 246.782 53.81 53.31 56.19 136.998 64.397 84.34 2.754 143.575 78.021 724.594 85.12 303.835 78.60 1.449.28 871.11 329.331 91.835 73.609 36.327 20.855 74.894 93.604 99.504 78.347.05 265.870 957.136 87.738 29 Sulawesi Utara 24.013 238.570 63.06 10.137 80.825 166.868 458.082.601 21.377 44.61 21 Kalimantan Tengah 34.98 11 DKI Jakarta 80.815 211.285 53.753 88.622 90.076 77.624 74.620 81.948 80.804 609.381 301.838.603 71.45 23 Kalimantan Timur 48.11 23.799 51.758 21.54 2.58 55.055 107.39 32 Papua Barat 33 Papua INDONESIA 6.491.562 236.040 206.271 79.38 382.825 33.59 bln 6-59 bln Cakupan Vitamin A Ibu Nifas 6-11bln % (7) (8) Balita 12 .922 206.778 26.26 153.559 12.98 14.228 17 Bali 35.469 40.57 276.462 483.246 70.693 83.53 40.396 83.845 45.552 271.20 358.69 27 Sulawesi Tenggara 33.260 462.059 247.92 510.613 37.574 185.Lampiran 4.04 1.20 83.37 24 Sulawesi Selatan 118.38 31 Maluku Utara 8.724 103.11 31.86 584.103 63.800 24.05 518.315 56.264 185.031 15.760 82.028 2.817 224.788 84.917.45 25 Sulawesi Barat 19.Bina Gizi Masyarakat.24 144.865 118.554 77.56 609.435 393.926 43.57 30 Maluku 32.49 91.668 90.455 79.695 75.808 79.473 80.63 27.67 321.142 81.862 23.69 58.561 29.241 691.26 2.795 96.434 98.528 75.00 6 Jambi 7 Sumatera Selatan 44.728 77.433 6.430.969 41.271 139.035 1.94 93.53 330.625 70.752 92.767 83.293 71.90 41.95 18 Nusa Tenggara Barat 60.79 198.896 772.120 31.33 245.750 64.144 92.031 17.99 306.87 595.25 460.126 613.60 102.29 2.59 bln % (9) (10) Ibu Nifas Jumlah 6-59 bln % (11) (12) (13) % (4) (5) (6) 70.884.18 236.617 86.054 87.934 306.48 33.15 71.384 85.851 118.520 67.387 154.506.746 24.076.098 2.28 208.091 94.050 84.382.24 61.721 226.247 213.08 87.178 97.121 62.950 221.849 43.057 21.43 14 Jawa Tengah 304.866 100.19 114.817 32.225 613.749.31 20 Kalimantan Barat 88.238 (14) 33.127 42.484 89.982 84.622 143.514 12.13 41.64 26.903 247.98 Sumber: Dit. Ditjen Bina Kesmas Kemenkes RI .778 83.244 941.22 360.25 60.90 2.955 65.191 40.32 112.087 77.17 23.146 611.21 6.502 75.098 83.92 8 Kepulauan Bangka Belitung 13.07 33.021.174 83.842 61.117 144.682.47 15.249 373.29 216.43 13.555 73.541 101.941.83 180.380 55.147 46.155 79.212 1.143 96.48 22 Kalimantan Selatan 40.444 34.596 10.331 59.907 24.22 414.351 86.54 28.39 54.494 188.837 47.985 93.86 727.358.20 4 Riau 89.24 CAKUPAN DISTRIBUSI KAPSUL VITAMIN A MENURUT PROPINSI TAHUN 2009 No PROPINSI 6-11bln (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara (3) Sasaran Balita 12 .569 104.82 431.212 68.196 95.14 16.491 291.72 126.39 12 Jawa Barat 471.10 2.210 82.96 19 Nusa Tenggara Timur 63.026 3.184 96.171 384.253 79.503 285.040 75.338 10.276 62.405 46.912.331 77.079 420.433.449 74.628 79.467 397.988 81.526 1.904 74.50 374.333 73.871 78.30 148.729 74.531 11.053 84.423 546.945 82.090 551.36 3 Sumatera Barat 61.69 65.77 57.12 112.31 500.172 41.034 70.40 5 Kepulauan Riau 33.887.612 92.754 2.624 97.615 86.443 72.714 31.728 90.217.01 13.080 89.875 83.458 38.976 90.550 168.489 731.084 3.292 63.15 19.027 640.38 850.866 69.156 52.357 81.335 114.358 4.781 91.825 901.671 77.025 100.201 53.35 23.07 177.057 61.115 73.091 443.289.58 90.186.532 86.280 504.50 10 Lampung 178.44 212.16 81.46 127.207 79.33 192.156 75.689 70.531 326.602 457.442 77.95 141.

18 63.02 56.15 62.25 52.65 64.14 52.78 58.33 .67 59.44 68.19 65.35 75.755 ASI Eksklusif 0-6 bulan Jumlah (%) (4) (5) 178 424 319 141 132 204 141 150 80 67 122 390 383 52 397 112 82 162 453 144 115 157 165 103 157 375 200 84 94 141 74 58 127 5.21 57.27 54.79 67.46 64.75 63.41 48.15 66.53 73.Lampiran 4.45 61.20 55.79 62.50 57.64 54.20 61.14 71.32 63.30 78.983 52.55 70.26 75.6 bulan (3) 341 769 448 246 208 317 186 272 129 118 208 608 734 82 814 191 151 207 602 273 182 241 249 188 251 534 320 146 128 206 120 97 189 9.22 62.81 55.77 58.25 PROPORSI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI UMUR 0-6 BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber : BPS. Susenas 2009 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jumlah Sampel Bayi 0 .

1 34.0 43.7 58.2 62.9 86.3 61.2 45.4 88.26 PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MEMPUNYAI GARAM CUKUP YODIUM MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 No Provinsi Rumah Tangga Mempunyai Garam Cukup Yodium (1) (2) (3) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber : Riskesdas 2007 47.8 98.4 93.9 31.8 94.Lampiran 4.2 83.1 83.4 45.7 89.1 27.5 90.7 76.3 82.1 46.9 90.0 90.7 76.8 89.1 68.3 .7 45.3 58.2 62.6 82.0 84.3 89.0 69.

254 2 Banjir Bandang 11 127 28 3.083 14 Banjir Lahar Dingin 1 - - Jumlah Sumber : Pusat Penanggulangan Krisis.224 27 205.513 1.600 6 4 \ 73 5 95 44 9.194 3 Banjir disertai Tanah Longsor 4 Tanah Longsor 5 Gelombang Pasang 13 1 - - - - 3.564 24 - 6.27 REKAPITULASI KEJADIAN BENCANA MENURUT JENIS BENCANA DAN JUMLAH KORBAN TAHUN 2009 No Jenis Bencana Jumlah Provinsi (1) (2) (3) Jumlah Korban Luka Berat/ Luka Ringan/ Rawat Inap Rawat Jalan Meninggal (4) (5) Pengungsi Hilang (6) (7) (8) 1 Banjir 23 30 25 33.495 56. dll) 3 9 60 2 - - 12 Konflik 4 16 45 12 - - 13 Kebakaran 5 2 4 60 - 10.971 7 Gempa Bumi 11 1. Kemenkes RI 75 - - - 1.387 .234 9.651 - 89 5 72 696 459. tabung gas.771 2 205.209 1.788 132 6 Angin Siklon Tropis (Angin Kencang dan Angin Puting Beliung) 13 4 31 222 1 2.935 13 24.Lampiran 4.210 8 Letusan Gunung Api 2 - - 9 Kecelakaan Industri 3 33 17 50 10 Kegagalan Teknologi 2 6 2 11 - - 11 Ledakan (bom.

48 15.19 17 Bali 33.20 15.16 0.50 14.81 2227.95 18.35 19.68 97.42 16.67 19 Nusa Tenggara Timur 12.55 8.56 49.68 10.60 10.07 13.91 24.11 15.99 17.15 12.38 16.22 22.51 14.04 10.03 8.83 2.29 14.88 13.90 11.60 11.80 7.18 5.75 5.06 19.68 10.89 39.55 16.87 7 Sumatera Selatan 7.85 140.68 9.98 10.22 13.52 10.87 7.08 3.78 16.15 20.06 18.12 7.37 1.52 0.09 19.98 6.12 14 DI Yogyakarta 8.33 14.79 8.96 19.70 32.39 8.35 13.92 17.83 25.70 10.36 20.12 9.64 11.52 68.02 13.94 13.09 10.91 13.24 6.95 7.39 36.23 14.23 10.65 15.01 20.06 6.34 22.55 12.70 3 Sumatera Barat 9.10 11 DKI Jakarta 4.76 14.54 3.13 39.93 6.68 16.58 28.83 8.24 16.39 42.43 108.56 12.68 2.76 5.76 17.88 10.00 33.88 10.28 10.46 8.43 9.50 14.48 7.69 9.25 13.17 16.11 21 Kalimantan Tengah 12.94 24.19 17.49 10.07 14.64 24.81 17.11 12.22 1006.23 9.57 13 Jawa Tengah 9.74 22.62 61.84 18.41 5.74 15.89 76.79 22.30 10.79 14.27 9.50 23.90 5.18 17.17 9.29 19.87 6.90 18.19 20.30 11.89 13.20 15.72 14.09 71.62 5.08 9.41 41.42 11.84 12.71 14.64 8 Lampung 12.20 6.75 0.37 17.59 29.47 15. Kemenkes RI .02 8.08 9.24 12.57 20.70 17.72 2 Sumatera Utara 9.82 13.83 26 Sulawesi Tenggara 27 Sulawesi Selatan 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 10.73 10.51 11.43 10 Kepulauan Riau 11.41 13.81 14.56 22.25 14.05 32.87 16.84 13.25 33.30 5.83 6.07 18.64 20 Kalimantan Barat 11.08 18.12 21.42 9.Lampiran 4.31 9.62 7.80 20.47 11.05 47.64 17.28 21.12 9.21 19.93 22.57 19.05 5.71 14.62 77.70 23.70 15.25 24.66 24.95 18.32 12.56 17.28 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Provinsi No.13 7. (1) (2) Antasida DOEN Antalgin tablet Amoksisilin Amoksisilin tablet 500 mg sirup kering 125 kapsul 500 mg Btl 60 ml Ktk @ 120 kap Btl @ 1000 tab Btl @ 1000 tab Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat Deksametason Dekstrometorfa Dekstrometorfa Difenhidramin inj 5 mg/ml – n Sirup 10 n Tab 15 mg HCl inj 10 Ktk @ 100 Btl 60 ml Btl @ 1000 tab Ktk @ 100 Gliserin Guaiakolat tab Btl @ 1000 tab Glukosa Ibuprofen tablet Kloramfenikol Larutan Infus 5 200 mg kapsul 250 mg Btl 500 ml Btl @ 100 tab Btl @ 250 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 1 Aceh 4.30 15 Jawa Timur 10.50 10.02 10.63 7.88 19.88 34.73 28.73 7.42 17.62 42.46 10.85 14.32 36.60 9.00 16.18 2.33 90.06 6.84 5.67 16.12 14.08 9.46 15.09 1.77 0.53 4.41 2.90 31 Maluku Utara 4.08 14.06 35.64 3.55 21.42 42.50 8.64 14.56 14.14 23.14 2753.64 6.25 11.53 18.15 7.43 17.49 24.40 8.70 19.23 30.52 14.99 11.83 16 Banten 7.66 142.39 25.95 11.44 15.35 26.97 22.34 13.30 25.76 10.33 15.24 19.15 12.81 6.63 14.97 21.62 81.75 10.10 18 Nusa Tenggara Barat 14.51 26.20 22 Kalimantan Timur 9.00 13.08 10.43 33 Papua 4.44 0.86 20.00 8.33 34.95 24 Sulawesi Utara 5.75 14.52 28.49 26.00 17.37 5.68 26.98 44.78 4.53 19.14 23 Kalimantan Selatan 9.84 5.16 27.52 68.01 29.69 7.85 7.28 6 Bengkulu 9.17 13.33 15.50 14.91 20.19 15.26 18.73 25.04 12.46 9.68 2.26 38.17 10.60 15.98 5.90 32.42 13.17 9.26 19.06 27.50 16.56 5.43 25 Sulawesi Tengah 4.33 0.71 8.58 Indonesia Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.35 32 Papua Barat 6.55 11.25 24.96 5.45 17.53 459.03 7.95 17.93 12.93 3.37 1.11 15.22 5.00 5 Jambi 10.61 6.23 10.07 18.14 13.02 9.90 13.90 5.06 16. Bangka Belitung 14.05 10.64 10.78 21.55 28.12 6.48 21.50 15.35 8.99 5.51 10.29 9.65 8.65 601.91 7.59 0.87 14.28 10.80 21.81 42.37 14.10 12 Jawa Barat 8.13 4.29 18.60 4.29 13.42 18.41 12.98 8.21 9.10 26.58 17.55 14.34 5.67 12.10 9 Kep.39 48.26 19.59 45.53 4 Riau 13.94 3.64 18.78 4.86 7.75 7.18 9.64 35.13 9.17 0.28 6.38 10.25 19.03 13.71 9.07 11.97 5.79 11.98 4.03 7.23 24.84 10.45 20.00 Maluku 6.76 4.19 15.

08 25.98 34.29 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat No.77 14.9 % Tablet Tablet Btl 500 ml Btl @ 1000 tab Ringer Laktat Infus steril Btl 500 ml Vitamin B Kompleks Btl @ 1000 Retinol 200.96 15.90 29.15 Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.04 5.55 6.74 34.13 11.30 18.13 39.81 139.67 12.55 7.18 8.71 7.51 11 DKI Jakarta 41.54 24 Sulawesi Utara 14.42 28 Gorontalo 24.06 8 Lampung 2.03 2.44 929.73 18.66 14.53 4.26 11.77 5.62 20.94 14.78 12.34 26.17 39.84 26. Kemenkes RI 10.42 30 Maluku 23.79 9.40 4.80 480.05 19.31 4.56 14.81 10.92 4.69 61.37 11.95 18.86 16.54 17.31 8.83 21.65 9.05 3.92 53.03 11.77 5.93 Sumatera Selatan 5.10 0.39 14.22 16.96 199.79 7.59 8.51 34.95 7.41 193.81 11.38 9.47 15.15 9.28 7.25 11.24 7.14 16.93 10.31 17 Bali 20.19 48.61 15.25 9.64 16.68 10.69 11.05 9.00 23 Kalimantan Selatan 13.54 13 Jawa Tengah 11.93 21.02 10.17 7.66 21.69 0.38 7.00 10.00 12.01 26.26 58.46 9.44 1.15 2.61 16.21 11.57 17.10 3.10 11.38 11.05 Bengkulu 3.23 16.14 6.61 42.38 37.23 11.84 9.13 18.51 6.78 30.89 27 Sulawesi Selatan 23.86 33.98 17.89 3.05 20.35 14.85 22.83 8.97 7.47 9.00 13.40 5. Bangka Belitung 10.65 8.99 23.89 77.60 7.90 4.78 158.53 63.40 8.69 4.36 28.50 16.05 15.84 24.47 12.Lampiran 4.72 0.22 10.33 4.42 16.05 21 Kalimantan Tengah 17.66 9.63 7.04 29.39 4.53 5.03 28.81 10.03 6.16 31.83 3 Sumatera Barat 27.16 16.90 11.54 7.55 14.99 12.00 19.91 20.47 34.53 10.92 0.79 11.89 34.00 14.78 20.21 25.65 10.10 8.79 5.25 11.92 8.33 10.33 22.90 14.16 54.28 4.87 30.25 5.80 11.84 15.91 10.62 20.89 20 Kalimantan Barat 6.47 20.31 58.25 31 Maluku Utara 9.58 7.72 52.000 IU Btl @ 30 Tablet Tambah darah Ktk @ 30 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 5.75 45.68 39.94 29 Sulawesi Barat 10.40 21.42 4.68 15.92 14.46 13.00 8.51 45.04 9.73 2.18 16.04 2.20 50.10 10.52 6.35 .64 12.68 14.00 11.93 12.79 2.31 16.86 16.47 17.70 18 Nusa Tenggara Barat 16.02 7.67 2.76 10.08 38.89 25.06 25.47 21.27 16.74 1.11 6.72 10 Kepulauan Riau 12.12 10.34 33 Papua 16.23 8.09 9.65 15.56 9.63 14.75 10.92 8.60 9.18 13.98 4.75 8.34 5.95 7.44 18.13 15.36 7.70 13.66 0.17 10.85 32.74 4.61 2.97 23.98 21.61 8.88 8.00 Kep.11 42.83 141.49 4.91 3.88 39.31 4 Riau 5 Jambi 6 7 4.67 17.92 10.40 Indonesia 6.29 9.65 13.46 10.08 0.50 22.17 27.42 6.84 12.46 2234.45 13.85 10.36 58.55 6.36 8.90 57.89 13.00 17.17 11.18 11.45 49.06 22.04 30.58 5.75 15.52 14 DI Yogyakarta 18.50 22 Kalimantan Timur 18.68 8.06 243.18 26 Sulawesi Tenggara 10.69 15.06 5.05 9.50 8.08 11.51 12.05 30.17 16.99 21.65 4.93 7.98 23.35 25.24 12.51 736.53 13.96 2.26 21.38 11.01 16 Banten 25.84 17.61 16.74 7.39 15.70 18.01 19.71 32 Papua Barat 6.04 3.90 18.88 9.70 2.07 19 Nusa Tenggara Timur 14.28 16.36 12.83 15 Jawa Timur 15.52 17.85 9 25.60 8.85 4. Provinsi (1) (2) Kotrimoksazol tablet 480 mg Btl @ 100 tab Kotrimoksazol tablet 120 mg Btl @ 100 tab Kotrimoksazol Sirup Btl 60 ml Klorfeniramini Kloroquin tablet Natrium Klorida Parasetamol Maleat tab 4 Tablet 500 mg Infus 0.24 11.24 32.30 5.55 9.76 8.75 5.52 36.68 31.48 25.83 13.94 4.61 9.25 122.98 12.13 1 Aceh 2 Sumatera Utara 16.62 48.49 22.22 5.43 114.52 19.38 10.32 12 Jawa Barat 42.03 11.80 25 Sulawesi Tengah 260.75 14.52 57.53 7.

39 14.14 3.17 7.93 33.36 27.83 34.00 0.19 5.30 10. Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Bengkulu 7 Sumatera Selatan 8 Lampung 9 Kep.93 11.20 9.12 24.49 8.18 19.92 13.30 14.81 9.83 15.81 4.49 7.00 22.79 12.63 3.50 3.34 36.23 55.30 3.78 13.17 0.83 52.67 12.51 32. Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 22 Kalimantan Timur 23 Kalimantan Selatan 24 Sulawesi Utara 25 Sulawesi Tengah 26 Sulawesi Tenggara 27 Sulawesi Selatan 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Multivitamin Sirup Btl @ 100 tab Garam Oralit OAT Kat 1 OAT Kat 2 Btl @ 100 tab Btl 60 ml Tablet (3) (4) (5) (6) 23.60 3.40 2.93 32.31 2.61 10.75 4.85 3.68 15.00 0.51 13.25 20.03 0.12 2.56 5.50 7.00 1.93 15.11 52.87 2.85 7.09 11.04 13.41 14.60 8.49 5.48 27.68 18.22 13.98 4.88 8.76 16.89 10.93 5.83 7.68 30.48 7.20 12.46 28.53 12.79 12.83 11.96 4.39 14.29 15.24 24.29 0.72 1.02 2.16 27.54 9.24 6.00 0.81 Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.96 46.24 0.78 13.62 8.34 3.82 10.11 8.63 102.36 9.03 35.16 4.71 11.52 10.48 13.05 10.86 7.82 7.81 7.50 2.29 11.75 6.85 17.66 21.50 14.75 6.66 10.48 1.44 5.00 12.30 14.16 11.88 12.26 10.58 3.16 9.72 0.00 35.27 7.16 19.67 35.00 3.58 28.33 4.38 5.05 32.37 6.37 25.00 7.29 14.20 34.90 10.41 5.16 16.55 15.77 23.36 7.87 24.17 18.18 26.44 18.79 29.00 16.95 24.08 3.90 3.77 19.88 9.95 7.51 7.45 17.36 10.95 18.28 8.45 2.41 16.00 144.00 12.98 2.96 11.16 28.03 49.63 12.36 5.57 18.80 11.94 14.18 7.43 11.02 4.00 9.53 5.63 18.00 7.12 317.03 7.50 20.42 8.41 9.00 4.13 7.85 6.64 48.96 6.22 0.26 3.62 19.55 13.79 17.85 5.73 4.01 4.09 25.14 8.67 0.70 7.76 27.13 Pkt 21.21 7.10 13.93 17.56 4.68 14.83 3.14 9.50 1. Kemenkes RI Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat OAT Kat 3 OAT Kat OAT Kat Anak Sisipan Tablet Botol Bungkus (7) (8) (9) 7.15 22.40 29.55 10.05 19.38 8.00 14.23 8.80 6.76 8.98 12.30 13.40 38.00 0.17 28.51 45.45 0.Lampiran 4.50 24.39 131.03 4.18 12.03 2.50 0.06 3.28 33.77 11.98 4.00 3.18 13.63 2.06 6.76 41.92 5.42 17.83 16.06 0.40 25.00 0.20 9.29 9.00 11.25 4.92 9.38 7.89 18.19 16.33 34.85 9.14 24.30 2.27 8.30 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.11 24.08 15.20 6.82 6.06 3.13 12.30 13.48 17.51 31.00 11.41 4.39 8.07 6.00 16.00 12.63 3.19 7.37 2.62 0.20 11.50 12.69 45.00 15.34 10.38 4.58 .28 37.18 8.79 7.66 8.87 Infus set anak Pkt Infus set dewasa Pkt (11) (12) (13) 9.00 4.99 8.58 10.04 Pyrantel Pamoat 125 Pkt Salep 2-4 (10) 181.22 5.32 7.

00 24.931.883 12.593 5.364 3.00 24.00 24.281.75 0.71 0.00 24.598 1.52 0.07 0.20 - 24.762 2.552 163.310.92 17.434 8.51 3.68 0.00 24.304 4.00 24.130.378 780 779 314 1.81 21.942 236.29 2.728.798 248.772 4.69 12.00 24.000 1.63 0.9 % steril Btl @ 1000 tab 19 Parasetamol Tablet 500 mg Btl 500 ml 20 Ringer Laktat Infus steril Btl @ 1000 Kapsul 21 Vitamin B Kompleks Kapsul 22 Retinol 200.393 67.867.705 7.00 24.159 419.269.36 15.626 19.154.07 0.21 0.81 9.782 6.29 2.486 2.427 521.873.729.256.880 102.758 58.827.55 7.60 1.990 12.968 2.98 14.Lampiran 4.42 10. Nama Obat Satuan (1) (2) (3) 1 Amoksisilin sirup kering 125 mg/ml Btl 60 ml Amoksisilin kapsul 500 mg Ktk @ 120 kap 2 Antasida DOEN tablet Btl @ 1000 tab 3 Antalgin tablet 500 mg Btl @ 1000 tab 4 Ktk @ 100 ampul 5 Deksametason inj 5 mg/ml – 2ml Btl 60 ml 6 Dekstrometorfan Sirup 10 mg/5ml Btl @ 1000 tab 7 Dekstrometorfan Tab 15 mg Ktk @ 100 ampul 8 Difenhidramin HCl inj 10 mg/ml-1ml Btl @ 1000 tab 9 Gliserin Guaiakolat tab 100 mg Btl 500 ml 10 Glukosa Larutan Infus 5 % steril Btl @ 100 tab 11 Ibuprofen tablet 200 mg Btl @ 250 Kapsul 12 Kloramfenikol kapsul 250 mg Btl @ 100 tab 13 Kotrimoksazol tablet 480 mg Btl @ 100 tab 14 Kotrimoksazol tablet 120 mg Btl 60 ml 15 Kotrimoksazol Sirup Tablet 16 Klorfeniramini Maleat tab 4 mg Tablet 17 Kloroquin tablet Btl 500 ml 18 Natrium Klorida Infus 0.06 2.338 671.074.386 Tingkat Kecukupan (Bulan) (6) 1.698.89 10.87 12.00 .40 0.366 1.075.655 215.776 1.04 12.02 0.43 2.810 1.00 24.348 36.275 346.08 2.827 5.40 17.78 0.924.58 11.00 24.93 0.056 155.298.30 0.00 24.717 8.370 1.00 21.787.00 24.210.054 582. Kemenkes RI Stok Obat Pemakaian Rata-rata/ Bulan (4) (5) 8.15 10.635 80.00 24.83 5.37 7.456.179.00 24.453.17 0.080 50.00 24.222 378.858 3.96 9.860 6.848 9.44 0.08 13.14 0.816.00 22.719.031 134.911 7.758.542 77.64 7.00 24.10 10.145.00 24.00 24.22 10.31 REKAPITULASI DATA KECUKUPAN OBAT NASIONAL TAHUN 2009 Rekap Nasional No.989 24.00 24.62 7.119 2.00 24.263 228.85 2.668 795.00 24.25 24.977.792 12.00 24.714.455.06 0.06 3.48 7.213 62.00 24.000 IU Btl @ 30 Kapsul Ktk @ 30 Tablet 23 Tablet Tambah darah Botol 24 Multivitamin Sirup Bungkus 25 Garam Oralit 26 OAT Kat 1 Pkt 27 OAT Kat 2 Pkt 28 OAT Kat 3 Pkt Pkt 29 OAT Kat Sisipan Pkt 30 OAT Kat Anak Btl @ 1000 Tablet 31 Pyrantel Pamoat 125 mg tablet Pot 32 Salep 2-4 Kantong 33 Infus set dewasa Kantong 34 Infus set anak Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.32 9.090 144.85 6.234 1.066 560.707.28 3.579 1.977.717.398 10.18 17.00 24.00 24.87 13.121 11.113.84 10.224.03 3.00 24.79 7.337 45.00 24.438 7.00 24.56 9.50 0.048.24 2.555 36.38 2.29 24.36 0.58 Kisaran Tingkat Kecukupan MinMaks (Bulan) (7) 4.469.94 14.65 3.335 157.782.168.572 2.25 1.027.428.18 9.151 464.00 24.773 3.468.

66 3.11 7. 2009 .42 4.48 13.008 849 119 944 196 114 145 288 229 169 213 207 159 165 395 223 75 77 135 96 105 266 6.40 2.45 4.92 3.85 14.2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jumlah Puskesmas 2005 2006 2007 2008 2009 2005 (3) (4) (5) (6) (7) (8) Rasio Puskesmas per 100.50 3.77 8.51 6.77 3.67 3.36 3.25 6.48 7.1 JUMLAH PUSKESMAS DAN RASIONYA TERHADAP PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .02 3.50 3.09 7.61 3.000 Penduduk 2006 2007 2008 (9) (10) (11) 2009 (12) 266 426 214 150 135 242 113 224 47 41 335 996 853 117 919 173 110 128 228 207 134 192 187 119 139 347 139 45 50 109 56 60 168 274 445 224 154 140 249 126 235 47 45 342 999 858 117 930 177 110 130 251 205 154 201 186 130 144 362 159 55 62 125 62 81 236 311 463 228 156 148 259 140 248 51 51 341 1.82 2.21 3.05 4.67 3.35 10.69 3.78 Sumber: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.73 3.62 7.12 3.43 2.45 2.90 8.57 7.53 1.04 6.Lampiran 5.02 7.58 3.56 5.91 3.50 2.69 8.80 4.29 3.77 5.71 6.06 4.35 6.36 3.22 3.27 6.53 7.59 6.10 6.30 8.98 7.08 3.13 4.93 10.22 3.37 3.52 5.06 5.53 5.669 8.88 8.42 4.66 3.61 4.48 2.99 10.76 4.15 11.52 2.21 6.84 2.06 3.737 3.61 3.52 4.015 8.49 10.75 11.20 7.68 2.03 3.06 10.78 11.25 9.44 2.53 2.52 1.49 6.84 6.35 5.94 5.75 3.234 8.26 4.05 7.13 6.24 3.08 9.002 871 117 929 180 112 134 253 211 163 204 192 142 145 374 153 55 66 142 64 83 246 301 495 227 183 158 278 142 253 50 59 351 999 842 120 940 194 114 142 278 224 169 214 205 144 144 395 208 73 70 153 91 96 236 309 500 242 176 163 284 167 264 55 61 339 1.02 3.54 7.91 6.67 3.32 5.74 3.76 2.00 5.52 5.58 3. Kemenkes.08 5.53 2.21 6.01 3.09 6.85 6.01 6.56 2.65 3.92 3.41 2.23 5.65 3.73 6.62 6.05 5.95 6.33 6.548 8.69 5.78 2.05 8.59 2.83 6.21 3.58 9.69 3.12 5.02 6.91 5.25 3.65 4.61 8.28 5.01 6.46 2.60 3.34 6.15 4.78 11.22 3.54 1.40 3.08 4.53 5.01 3.86 7.68 7.13 5.04 3.40 4.85 3.52 4.00 3.12 12.84 2.27 8.67 6.87 7.83 4.

438 115 129 81 51 56 80 37 51 20 24 51 171 234 41 365 46 27 80 93 94 55 46 100 72 63 205 69 22 31 48 27 36 84 2.704 Puskesmas PONED 2009 (8) 50 62 73 32 43 45 23 55 10 18 17 143 145 27 217 42 29 39 61 18 26 54 41 34 54 67 29 19 16 26 16 0 6 1.2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jumlah Puskesmas Perawatan Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2005 2006 2007 2008 2009 (3) (4) (5) (6) (7) 89 98 64 39 43 75 24 31 14 17 50 132 218 32 310 18 23 46 72 70 35 33 70 56 59 147 45 14 19 31 17 22 64 2. 2009 85 145 81 46 41 76 34 39 17 16 50 142 241 38 336 34 22 44 124 71 52 36 87 59 64 179 52 17 22 54 31 41 121 2. Kemenkes.110 194 371 161 125 107 204 130 213 35 37 288 837 615 78 579 150 87 65 195 135 114 167 107 87 102 190 154 53 46 87 69 69 182 6.592 189 300 143 108 99 173 92 196 30 29 292 857 617 79 594 143 88 86 127 134 102 165 99 71 80 183 107 38 40 71 31 40 115 5.497 125 122 84 49 59 86 35 80 19 17 50 150 269 38 365 34 23 58 111 71 54 40 82 65 64 189 48 18 24 59 30 33 132 2.Lampiran 5.518 186 341 144 107 89 173 105 168 32 34 291 852 602 79 564 146 89 76 142 140 109 164 110 77 81 185 105 37 42 83 34 50 114 5.537 Jumlah Puskesmas Non Perawatan 2005 2006 2007 2008 2009 (9) (10) (11) (12) (13) 177 328 150 111 92 167 89 193 33 24 285 864 635 85 609 155 87 82 156 137 99 159 117 63 80 200 94 31 31 78 39 38 104 5.033 .2 JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN PUSKESMAS NON PERAWATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .077 Sumber: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.683 66 144 68 45 51 77 35 37 14 24 54 140 232 41 392 42 24 86 69 82 47 42 96 66 67 168 63 17 22 29 27 26 45 2.551 235 351 159 138 107 201 107 216 36 35 297 859 610 79 548 152 90 56 209 142 122 172 109 78 77 227 145 56 48 124 64 70 191 6.

869 1.480 948 903 4.79 3.41 0.825 595 564 898 1.76 0..319 2. Bina Kesehatan Masyarakat.82 0. Kemenkes.894 1.88 0.680 4.55 . Kemenkes.58 0.996 4500 3548 200 1950 4754 1878 4050 714 1059 990 4500 3750 714 4086 1800 780 2664 600 199 515 1770 4459 2520 1968 612 660 1248 360 1200 58.039 13.439 1.719 6.92 0.11 1.69 7.55 0.27 0.82 1.21 0.06 2.679 2.76 2.64 0.041 1.47 1.40 0.577 438 8.69 1.88 0.99 0.506 1. 2010 6.72 2.097 2.228 1.85 0.992 5.42 6.291 3.55 2.797 822 668 547 937 497 733 121 189 2 1.66 0.28 0.97 0.502 1.060 9.500 1.861 6.538 4.792 4.226 919 1.93 3.973 1.048 7.63 0.Lampiran 5.262 3.712 2.27 2.91 5.65 0.27 2.24 6.28 1.96 0.01 0.190 45.65 2.874 1.31 0.26 3.583 75.441 1.548 4.510 1.65 0.17 2.134 499 235 289 340 242 249 550 22.76 6.358 361 331 267 5.318 1.17 1.47 0.775 1.63 2.190 266.57 12.122 2.827 0.654 46.530 698 913 2.015 8.777 1.133 5.775 1.14 0.83 5.373 256 503 481 846 779 745 574 613 447 702 1.649 964 1.226 3.812 7.87 0.58 4.33 0.57 0.420 5.73 15.763 5.10 2.20 0.41 0.324 1.827 8.057 2.91 0.01 1.45 0. 2010 Pusat Promosi Kesehatan.76 0.632 47.455 2.404 1.12 2.57 1.61 3.45 6.650 2021 3660 2328 1142 854 2362 1274 1371 275 192 1176 5378 7529 420 8446 508 462 888 574 1014 410 1668 636 984 1080 2610 1008 280 79 574 211 532 50 51.09 2.737 318 2.442 2.3 JUMLAH SARANA KESEHATAN MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Jumlah Desa / Kelurahan Puskesmas Pembantu Desa / Kelurahan / RW Siaga / Poskesdes Kader / Toma Terlatih Posyandu Rasio Desa Siaga/Poskesdes terhadap Desa/Kel Rasio Posyandu terhadap Desa/Kel (2) (3) (4) (6) (5) (9) (10) (11) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Ditjen.

523 .4 JUMLAH RUMAH SAKIT DI INDONESIA MENURUT PENGELOLA DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. Kemenkes.Lampiran 5. 2010 Kemenkes/Pemda RS RS Jumlah Umum Khusus (3) (4) (5) RS Umum (6) TNI/POLRI RS Jumlah Khusus (7) (8) Kementerian Lain/BUMN RS RS Jumlah Umum Khusus (9) (10) (11) RS Umum Swasta RS Khusus (12) (13) Jumlah RS Umum (14) (15) Semua RS RS Jumlah Khusus (16) (17) 21 31 18 13 11 18 9 10 7 7 8 34 46 6 48 5 9 7 16 13 14 13 15 8 11 25 9 4 3 9 8 5 12 3 5 2 1 1 4 1 1 1 0 7 8 9 1 8 1 2 3 0 3 0 1 3 1 1 7 1 1 0 1 0 0 2 24 36 20 14 12 22 10 11 8 7 15 42 55 7 56 6 11 10 16 16 14 14 18 9 12 32 10 5 3 10 8 5 14 4 8 3 3 2 2 2 2 0 2 8 12 11 2 20 2 2 2 2 3 1 4 3 3 1 6 2 0 0 3 2 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 8 3 3 2 2 2 2 0 2 9 12 11 2 21 2 2 2 2 3 1 4 3 3 1 6 2 0 0 3 2 3 3 3 17 1 4 2 5 0 0 0 2 5 6 3 0 13 2 0 0 0 1 0 2 2 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 3 18 1 4 2 5 0 0 0 2 6 7 3 1 15 2 0 0 0 1 0 2 2 0 0 2 1 0 0 0 0 1 0 8 69 9 10 3 7 1 15 2 7 57 73 87 13 62 14 17 4 10 7 0 4 9 14 4 12 3 0 1 6 1 2 4 2 7 10 3 1 2 0 2 0 2 41 36 43 18 25 11 7 0 1 3 0 4 1 0 4 8 1 0 0 1 0 0 0 10 76 19 13 4 9 1 17 2 9 98 109 130 31 87 25 24 4 11 10 0 8 10 14 8 20 4 0 1 7 1 2 4 36 125 31 30 18 32 12 27 9 18 78 125 147 21 143 23 28 13 28 24 15 23 29 25 16 44 15 4 4 18 11 11 19 5 13 12 4 2 6 1 3 1 2 50 45 52 20 36 12 9 3 1 6 0 5 4 1 5 16 2 1 0 2 0 0 2 41 138 43 34 20 38 13 30 10 20 128 170 199 41 179 35 37 16 29 30 15 28 33 26 21 60 17 5 4 20 11 11 21 473 79 552 123 2 125 71 7 78 535 233 768 1.202 321 1.

131 2 Pemerintah Provinsi 43 12.605 44 14.896 334 35.902 43 12.286 1.064 995 116.907 123 11.603 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.814 110 10.285 416 47.074 467 47.811 4 TNI/POLRI 110 10.012 118.029 3 Pemerintah Kab/Kota 322 33.575 375 41.295 1.Lampiran 5.364 441 43.834 43 13.182 43 13.827 71 6.789 451 45.483 13 8.044 13 9.777 13 9.5 JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR MENURUT PENGELOLA TAHUN 2005 .079 128.750 1.033 122.836 110 10.851 71 6.504 1.2009 Tahun 2005 No Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Pengelola (1) (2) Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Kementerian Kesehatan 13 8.202 141.880 71 6. Kemenkes.747 6 Swasta 436 43.643 71 6.821 5 Kementerian Lain / BUMN 71 6.784 13 8.375 345 37.842 110 10.266 535 52. 2010 .

6 JUMLAH TEMPAT TIDUR DI RUMAH SAKIT UMUM DAN RUMAH SAKIT KHUSUS MENURUT KELAS PERAWATAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Total Tempat Tidur (3) VIP Jumlah % (4) Kelas Perawatan Kelas II Jumlah % Kelas I Jumlah (5) % (6) (7) (8) Kelas III (9) Jumlah % (10) (11) Tanpa Kelas Jumlah % (12) (13) 3.268 30 27 Sulawesi Tenggara 1.268 1.315 17 6.651 39.163 46 3.218 85 3 284 9 642 20 1.294 10 2.247 37 1.265 22 7.191 36 870 26 17 Bali 3.983 266 9 303 10 600 20 1.374 10.575 280 8 327 9 702 20 1.708 73 4 196 11 279 16 712 42 448 26 26 Sulawesi Selatan 7.974 12 2.523 32 5.450 47 586 19 9 Bangka Belitung 861 32 4 52 6 211 25 377 44 189 22 10 Kepulauan Riau 1.094 23 3 Sumatera Barat 4.432 35 969 23 15 Jawa Timur 22.351 129 4 241 7 556 17 1.I.439 247 10 230 9 464 19 994 41 504 21 23 Kalimantan Timur 3.544 638 5 1.164 21 13 Jawa Tengah 23.5 36.491 23 7.952 45 3.909 44 542 13 4 Riau 2.653 21 1 98 6 229 14 824 50 481 29 Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.100 20.662 151 9 210 13 300 18 571 34 430 26 6 Sumatera Selatan 4.756 37 2.448 129 5 273 11 426 17 1.Lampiran 5.998 1.141 323 8 506 12 911 22 1.160 39 654 22 5 Jambi 1.727 322 7 588 12 840 18 2.588 91 6 166 10 270 17 647 41 414 26 11 DKI Jakarta 16.167 37 4.039 42 581 24 20 Kalimantan Barat 3.091 253 8 251 8 551 18 1.886 35 3.2 64.547 48 730 22 21 Kalimantan Tengah 1.601 7 2.473 392 11 457 13 636 18 1.334 10 2.602 112 7 167 10 289 18 818 51 216 13 19 Nusa Tenggara Timur 2.458 41 808 23 24 Sulawesi Utara 3.556 24 14 D.653 48 3 68 4 192 12 894 54 451 27 31 Maluku Utara 696 20 3 20 3 83 12 214 31 359 52 32 Papua Barat 686 53 8 22 3 66 10 445 65 100 15 33 Papua 1.254 123 4 291 9 563 17 1.171 10 5.198 46 779 16 7 Bengkulu 987 55 6 56 6 130 13 210 21 536 54 8 Lampung 3.126 13 3. 2010 163.041 23 9.305 7.936 12 5.054 92 9 88 8 150 14 394 37 330 31 22 Kalimantan Selatan 2.368 1.186 16 2.069 25 1. Yogyakarta 4.1 .178 35 Sumatera Utara 13.123 32 865 25 18 Nusa Tenggara Barat 1.503 16 16 Banten 3.447 473 6 764 10 1.574 2.142 11 4.211 57 5 108 9 161 13 479 40 406 34 28 Gorontalo 510 35 7 24 5 81 16 204 40 166 33 29 Sulawesi Barat 279 28 10 22 8 58 21 125 45 46 16 30 Maluku 1.319 154 5 411 12 693 21 1.250 22.5 17.6 33. Kemenkes.362 20 12 Jawa Barat 19.680 12.312 350 8 442 10 1.542 48 665 21 25 Sulawesi Tengah 1.650 21 5.404 7 2.

051 3. 2010 Kelas B Kelas C Kelas D Total Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Tempat Tidur (12) 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 2 1 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 600 0 0 0 0 0 0 0 0 1.189 1.619 9.640 1.793 989 1.682 2.445 516 480 3.031 92 5.069 245 24.290 504 4.440 442 2.309 1.299 6.050 1.903 661 450 221 765 478 394 1.052 2.382 594 586 965 179 533 296 480 214 1.056 415 273 905 332 812 0 0 2.576 1.658 1.752 3.546 9.062 118 29.463 1.7 JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR MILIK KEMENKES/PEMDA MENURUT KELAS RUMAH SAKIT DAN PROVINSI TAHUN 2009 Kelas A No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.349 86 367 761 502 544 386 790 602 466 458 1.203 .041 465 66.804 1.405 1.361 673 2.809 4.023 1.Lampiran 5.657 299 68 119 147 278 394 522 4 3 2 4 1 7 4 2 4 0 0 2 6 0 4 0 0 0 11 4 7 1 1 1 3 1 3 2 1 5 4 0 5 204 133 127 265 50 340 200 100 220 0 0 92 372 0 220 0 0 0 790 200 265 50 50 75 153 26 150 100 102 265 200 0 292 21 31 18 13 11 18 8 10 7 7 8 34 46 6 48 5 9 7 16 13 14 13 14 6 11 25 9 4 3 8 7 4 11 1.960 903 593 289 284 458 329 565 1.162 10 8.152 648 441 640 212 282 0 353 0 0 348 14 18 14 8 9 9 3 6 3 7 1 15 20 2 19 1 4 6 4 7 5 10 8 4 6 20 5 1 2 2 3 4 5 1.565 1. Kemenkes.202 980 1.210 711 1.264 0 698 0 0 0 0 0 0 0 0 580 0 0 0 0 0 0 0 3 9 2 1 1 2 1 2 0 0 6 16 18 3 23 4 4 1 1 2 2 2 5 1 2 3 1 1 0 1 0 0 1 525 1.274 909 2.793 3.034 852 1.

630 51 8.577 61 2.475 10 RS Ibu dan Anak 64 3.947 286 20.224 3 RS Tuberkulosa Paru 9 766 9 718 10 757 11 782 10 731 4 RS Mata 10 475 10 459 10 418 10 418 11 423 5 RS Ortopedi 1 187 1 187 1 187 1 187 1 127 6 RS Penyakit Infeksi 1 127 1 144 1 144 1 144 1 144 7 RS Jantung 2 234 2 234 2 234 2 239 2 222 8 RS Kanker 1 129 1 172 1 172 1 172 1 172 9 RS Bersalin 56 2.2009 No Jenis Rumah Sakit (1) (2) Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 RS TT RS TT RS TT RS TT RS TT (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 RS Jiwa 51 8.388 74 3.Lampiran 5.168 22 2. Kemenkes.420 57 1.556 79 3.635 57 2.726 51 8.458 57 2.480 280 19.516 66 1.629 69 3.077 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.762 273 20.133 22 2. 2010 .788 321 22.527 51 8.427 57 1.533 57 2.137 22 2.804 95 4.591 11 RS Khusus Lainnya 56 1.412 292 20.781 51 9.8 JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DAN TEMPAT TIDURNYA MENURUT JENIS RUMAH SAKIT TAHUN 2005 .206 2 RS Kusta 22 2.446 22 2.450 57 1.

2010 0 0 0 0 0 0 0 0 10 0 0 1 1 2 3 0 0 0 10 10 9 2 3 3 78 78 79 6 9 13 22 26 37 39 41 41 0 0 11 11 13 1 1 1 2 3 3 6 15 13 0 0 0 0 0 2 2 1 1 1 1 0 0 0 0 0 4 4 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 4 4 0 0 0 2 2 2 1 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 2 2 2 5 6 6 1 1 1 2 3 3 1 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 3 3 3 0 0 0 30 30 28 0 6 17 43 47 54 9 15 20 56 76 87 38 38 37 .293 125 164 214 416 507 600 515 453 492 TOTAL Sumber: Ditjen Binfar dan Alkes.9 JUMLAH SARANA PRODUKSI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2007-2009 NO PROVINSI (1) (2) Industri Farmasi Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) Industri Obat Tradisional (IOT) Perbekalan Kesehatan dan Rumah Tangga (PKRT) Produksi Alat Kesehatan Industri Kosmetika 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 2009 (20) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 0 2 2 0 4 Kepulauan Riau 0 2 2 0 5 Riau 0 0 0 0 6 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 7 Jambi 1 1 8 Bengkulu 0 9 Sumatera Selatan 10 Lampung 11 Banten 12 DKI Jakarta 22 22 23 7 7 7 28 28 116 29 37 46 84 103 120 99 20 70 13 Jawa Barat 76 77 91 32 32 32 184 184 184 49 63 80 137 162 192 108 108 107 14 Jawa Tengah 31 31 25 0 0 0 36 36 282 11 14 18 42 50 55 45 45 26 15 DI Yogyakarta 1 1 1 0 0 0 42 42 40 3 3 3 2 3 3 8 8 0 16 Jawa Timur 59 54 54 17 17 17 343 411 388 13 17 25 55 64 80 150 150 151 17 Bali 1 1 1 0 0 0 13 13 12 0 0 0 0 0 0 2 5 24 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 9 9 9 1 2 3 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 9 9 10 0 0 0 2 2 1 0 0 0 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 24 26 29 0 0 0 2 2 3 18 19 20 23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 11 15 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 8 9 9 0 0 0 2 3 3 0 0 0 25 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 26 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 27 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Sulawesi Selatan 0 0 0 0 0 0 8 10 13 0 0 0 1 1 2 0 0 0 29 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 Maluku 0 0 0 0 0 0 4 6 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 231 232 238 60 67 78 862 951 1.Lampiran 5. Kemenkes.

821 6.296 3.746 349 732 604 435 499 618 268 268 268 13 Jawa Barat 343 365 393 1.611 3.10 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Pedagang Besar Farmasi NO PROVINSI (1) (2) Toko Obat Apotek Penyalur Alat Kesehatan (PAK) Sub Penyalur Alat Kesehatan (Sub PAK) 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 71 4 Kepulauan Riau 20 5 Riau 44 6 Kepulauan Bangka Belitung 6 7 Jambi 31 8 Bengkulu 9 2009 (17) 58 51 52 119 170 209 534 576 560 0 0 0 98 99 125 110 103 106 386 769 768 259 738 737 10 13 15 0 128 128 74 81 193 296 295 361 482 478 0 0 0 101 57 89 28 33 98 129 160 286 336 377 2 2 2 19 38 55 81 91 269 313 346 290 328 546 2 3 5 195 235 235 10 14 46 62 70 72 79 92 2 2 2 28 30 30 47 49 121 151 166 137 167 176 0 0 0 85 44 55 17 17 19 77 96 99 104 95 90 0 0 0 64 72 72 Sumatera Selatan 88 95 95 175 225 243 97 95 114 5 5 4 91 106 106 10 Lampung 74 48 53 162 212 225 123 157 113 1 1 1 39 65 65 11 Banten 34 79 81 137 137 401 9 9 9 25 31 37 12 12 20 12 DKI Jakarta 521 279 283 807 1.Lampiran 5.743 2.566 TOTAL Sumber: Ditjen Binfar dan Alkes.940 7.162 1.789 2.586 218 218 217 22 27 34 399 274 274 17 Bali 81 81 82 179 383 462 104 159 165 2 3 4 52 109 96 18 Nusa Tenggara Barat 31 38 38 34 162 173 100 102 102 0 0 0 6 92 92 19 Nusa Tenggara Timur 27 27 28 39 103 103 81 183 183 0 0 0 99 153 153 20 Kalimantan Barat 67 69 74 99 130 160 244 270 337 0 0 0 82 97 107 21 Kalimantan Tengah 11 14 15 80 84 126 148 162 141 0 0 0 0 49 50 22 Kalimantan Selatan 69 59 61 134 171 199 233 433 460 0 0 0 135 154 159 23 Kalimantan Timur 45 52 47 197 263 349 315 300 336 0 0 0 80 111 152 24 Sulawesi Utara 43 43 43 100 122 139 49 40 73 0 0 0 82 109 143 25 Sulawesi Barat 0 1 1 29 28 45 33 33 44 0 0 0 0 8 8 26 Sulawesi Tengah 31 23 24 41 124 148 112 112 174 0 0 0 35 102 103 27 Gorontalo 28 Sulawesi Selatan 29 Sulawesi Tenggara 30 Maluku Utara 31 Maluku 32 Papua Barat 13 13 13 57 71 75 45 44 46 0 0 0 2 2 3 33 Papua 36 38 37 83 127 142 94 13 14 0 0 0 108 151 212 2.230 2.915 7.953 567 667 826 2.256 2.256 420 872 872 43 58 73 295 244 244 14 Jawa Tengah 328 329 325 522 522 1.931 13. 2010 5 5 6 36 55 61 42 41 40 0 0 0 41 25 18 123 134 134 210 468 518 451 436 116 2 2 3 59 150 150 19 13 13 62 105 109 96 165 165 0 0 0 64 90 139 3 6 6 34 34 54 25 25 29 0 0 0 12 64 42 15 18 19 47 60 59 80 125 125 0 0 0 32 62 77 .671 5.820 361 361 361 13 17 23 0 0 0 15 DI Yogyakarta 55 42 44 123 355 359 43 52 57 3 4 5 28 96 96 16 Jawa Timur 370 461 461 890 1.586 1.816 10. Kemenkes.

5 6.9 0.5 9.5 0.2 0.5 100 . 2010 67 52 18 7 1 21 26 2 1 1 1 15 2 3 1 2 1 221 30.11 JUMLAH INSTITUSI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES) MENURUT JURUSAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jurusan / Program Studi (1) (2) (3) (4) (6) (7) (8) (9) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Perekam Informasi Kesehatan Ortotik Prostetik Teknik Gigi Teknik Radiodiagnostik Teknik Elektromedik Akupunktur Terapi Wicara Okupasi Terapi (10) KETEKNISIAN MEDIS Analis Kesehatan KETERAPIAN FISIK GIZI Gizi Kesehatan Lingkungan Analis Farmasi & Makanan Farmasi (5) KESMAS Fisioterapi KEFARMASIAN Kesehatan Gigi Poltekkes Kebidanan No Keperawatan KEPERAWATAN (17) (18) (19) TOTAL (20) 1 Banda Aceh 3 3 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 2 Medan 1 3 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9 3 Pekanbaru 2 2 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 4 Padang 2 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 5 Jambi 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 6 Bengkulu 3 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8 7 Palembang 2 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 8 Tanjung Karang 2 2 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8 9 Jakarta I 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 4 10 Jakarta II 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 7 11 Jakarta III 3 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 12 Bandung 3 4 1 0 0 1 1 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 12 13 Tasikmalaya 2 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 14 Yogyakarta 5 3 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 13 15 Semarang 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 7 16 Surakarta 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 17 Surabaya 4 3 1 0 0 2 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 12 18 Malang 3 3 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 19 Denpasar 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 7 20 Mataram 2 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5 21 Kupang 3 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 22 Pontianak 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 23 Palangkaraya 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 24 Samarinda 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 25 Banjarmasin 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 4 26 Palu 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 27 Makassar 2 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 28 Kendari 2 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9 29 Manado 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 30 Gorontalo 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 31 Ambon 3 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 32 Ternate 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 33 Jayapura 7 2 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 TOTAL % Sumber: BPPSDM Kesehatan.Lampiran 5.9 0.5 11.5 8.5 0.5 0.1 3.4 0.8 0.9 1. Kemenkes.8 0.3 23.

9 32 14.8 96 53.48 .Lampiran 5.12 JUMLAH JURUSAN/PROGRAM STUDI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES) MENURUT AKREDITASI DAN STRATA TAHUN 2009 Strata No Poltekkes Jumlah Jurusan/Program Studi (1) (2) (3) Jurusan Terakreditasi Belum Terakreditasi A B C Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) (8) (9) (12) (13) (14) (15) 1 Banda Aceh 10 7 70 1 14 6 86 0 0 3 2 Medan 9 9 100 2 22 5 56 2 22 0 0 3 Pekanbaru 7 6 86 5 83 1 17 0 0 1 14 4 Padang 5 2 40 0 0 2 100 0 0 3 60 5 Jambi 4 4 100 2 50 2 50 0 0 0 0 6 Bengkulu 8 8 100 0 0 8 100 0 0 0 0 7 Palembang 6 2 33 2 100 0 0 0 0 2 33 8 Tanjung Karang 8 7 88 0 0 7 100 0 0 1 13 9 Jakarta I 4 3 75 2 67 1 33 0 0 0 0 10 Jakarta II 7 7 100 4 57 3 43 0 0 0 0 11 Jakarta III 6 6 100 6 100 0 0 0 0 0 0 12 Bandung 12 11 92 9 82 2 18 0 0 0 0 13 Tasikmalaya 5 5 100 5 100 0 0 0 0 0 0 14 Yogyakarta 6 6 100 4 67 2 33 0 0 0 0 15 Semarang 13 11 85 9 82 2 18 0 0 2 15 16 Surakarta 7 4 57 2 50 2 50 0 0 3 43 17 Surabaya 12 12 100 7 58 5 42 0 0 0 0 18 Malang 7 7 100 5 71 2 29 0 0 0 0 19 Denpasar 7 5 71 2 40 3 60 0 0 0 0 20 Mataram 5 5 100 3 60 2 40 0 0 0 0 21 Kupang 8 7 88 0 0 7 100 0 0 1 13 22 Pontianak 6 4 67 2 50 2 50 0 0 2 33 23 Palangkaraya 3 2 67 0 0 2 100 0 0 1 33 24 Samarinda 6 6 100 3 50 3 50 0 0 0 0 25 Banjarmasin 4 2 50 1 50 1 50 0 0 2 50 26 Palu 6 4 67 0 0 4 100 0 0 2 33 27 Makassar 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Kendari 4 4 100 0 0 4 100 0 0 0 0 29 Manado 9 8 89 1 13 7 88 0 0 1 11 30 Gorontalo 3 3 100 0 0 0 0 3 100 0 0 31 Ambon 6 6 100 0 0 4 67 2 33 0 0 32 Ternate 33 Jayapura Jumlah Sumber: BPPSDM Kesehatan.45 77 42. Kemenkes. 2010 30 3 2 67 0 0 2 100 0 0 1 33 12 5 42 0 0 5 100 0 0 7 58 221 180 81.3 7 3.

2010 . Kemenkes.13 JUMLAH INSTITUSI NON POLITEKNIK KESEHATAN (NON-POLTEKKES) MENURUT JURUSAN/PROGRAM STUDI DAN PROVINSI TAHUN 2009 (4) (8) (9) (10) (12) (13) (14) (15) (17) (18) (19) (20) (21) (22) D-III Kardiovaskuler D-I PTTD ATEM APIKES ARO AAK ATG SMAK (16) ATRO Keteknisian Medis D-III AKUPUNTUR ATW AKFIS AKL (11) Keterapian Fisik Gizi AKZI Kesmas AKFAR (7) AKAFARMA (6) SMKF (5) SMF AKG (3) AKBID (2) (1) Kefarmasian AKPER Provinsi SPRG No SPK Keperawatan (23) (24) Jumlah (25) (26) 1 Aceh 1 0 14 33 0 0 0 1 1 1 0 2 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 57 2 Sumatera Utara 0 0 42 53 0 4 0 3 1 1 2 2 0 0 1 0 2 1 1 0 1 0 0 114 3 Sumatera Barat 0 0 13 10 0 1 0 1 3 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 2 0 0 0 34 4 Riau 0 0 7 20 0 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 34 5 Jambi 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 5 6 Sumatera Selatan 0 0 7 6 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 15 7 Bengkulu 0 0 12 16 0 1 0 0 2 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 35 8 Lampung 0 0 4 4 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 5 10 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 17 10 Kepulauan Riau 1 0 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 11 DKI Jakarta 1 2 31 21 0 8 0 2 2 1 2 2 1 0 2 1 0 1 2 2 1 1 1 84 12 Jawa Barat 0 0 14 12 0 4 40 0 2 0 0 1 0 0 0 0 2 1 1 1 0 0 0 78 13 Jawa Tengah 2 0 44 52 0 4 0 3 12 3 2 3 0 0 2 0 4 1 2 6 2 0 0 142 14 DI Yogyakarta 0 0 4 9 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 15 Jawa Timur 0 0 5 2 0 1 0 0 2 0 0 0 0 3 0 0 1 1 0 2 1 1 0 19 16 Banten 0 1 42 27 0 5 2 3 2 1 2 2 0 0 1 1 4 0 1 2 0 0 0 96 17 Bali 1 0 1 2 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 7 18 Nusa Tenggara Barat 1 0 4 7 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 16 19 Nusa Tenggara Timur 2 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 20 Kalimantan Barat 0 0 6 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 21 Kalimantan Tengah 0 0 3 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 7 22 Kalimantan Selatan 0 0 6 6 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 23 Kalimantan Timur 0 0 6 7 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 24 Sulawesi Utara 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 25 Sulawesi Tengah 0 0 5 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 26 Sulawesi Selatan 1 1 24 19 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 52 27 Sulawesi Tenggara 0 0 6 2 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 12 28 Gorontalo 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 31 Maluku Utara 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 3 10 4 319 329 1 33 44 15 43 13 9 16 1 3 8 2 22 9 8 20 7 2 1 919 JUMLAH Sumber: BPPSDM Kesehatan.Lampiran 5.

Lampiran 5. 2010 78.2 428 46 8.59 Jumlah Sumber: BPPSDM Kesehatan.4 546 59.4 0 .14 JUMLAH INSTITUSI NON POLITEKNIK KESEHATAN (NON-POLTEKKES) MENURUT AKREDITASI DAN STRATA TAHUN 2009 Strata Institusi yang Belum Terakreditasi No Provinsi Jumlah Institusi (1) (2) (3) A B C telah terakreditasi Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 57 1 4 21 75 6 21 28 49 29 51 114 4 5 61 75 16 20 81 71 33 29 3 Sumatera Barat 34 2 10 16 4 Riau 34 2 13 13 76 3 14 21 62 13 38 87 0 0 15 44 19 56 5 Jambi 5 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 15 0 0 9 100 0 0 9 0 5 100 60 6 7 Bengkulu 35 3 13 15 65 5 22 23 66 40 12 34 8 Lampung 9 1 20 4 80 0 0 5 56 4 44 9 Kepulauan Bangka Belitung 17 0 0 10 91 1 9 11 65 6 35 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 4 0 0 2 100 0 0 2 50 2 50 84 7 10 65 89 1 1 73 87 11 13 12 Jawa Barat 78 3 19 13 81 0 0 16 21 62 79 13 Jawa Tengah 142 16 17 71 76 6 6 93 65 49 35 14 DI Yogyakarta 16 1 11 8 89 0 0 9 56 7 44 15 Jawa Timur 99 20 27 54 72 1 1 75 76 24 24 16 Banten 15 1 20 4 80 0 0 5 33 10 67 17 Bali 7 0 0 3 100 0 0 3 43 4 57 18 Nusa Tenggara Barat 16 1 25 3 75 0 0 4 25 12 75 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 7 0 22 Kalimantan Selatan 15 4 23 Kalimantan Timur 16 2 24 Sulawesi Utara 5 0 25 Sulawesi Tengah 7 1 26 Sulawesi Selatan 52 27 Sulawesi Tenggara 12 28 Gorontalo 2 29 Sulawesi Barat 30 5 0 0 3 100 0 0 3 60 2 40 11 2 25 6 75 0 0 8 73 3 27 0 3 100 0 0 3 43 4 57 40 6 60 0 0 10 67 5 33 25 5 63 1 13 8 50 8 50 0 4 80 1 20 5 100 0 0 14 5 71 1 14 7 100 0 0 1 5 14 74 4 21 19 37 33 63 0 0 7 100 0 0 7 58 5 42 0 0 1 100 0 0 1 50 1 50 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Maluku 1 0 0 1 100 0 0 1 100 0 0 31 Maluku Utara 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 100 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 3 0 0 1 100 0 0 1 33 2 67 919 72 13. Kemenkes.41 373 40.

26 6 20 1 2 8 20 6 9 1 73 793 86. Kemenkes. Jenis Tenaga Kesehatan Pemda TNI / Polri Swasta Jumlah (2) (3) (4) (5) (6) (1) A B C D E F KEPERAWATAN 1 Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) 2 Akademi Keperawatan (AKPER) 3 Akademi Kebidanan (AKBID) 4 Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG) 5 Akademi Kesehatan Gigi (AKG) Sub Total KEFARMASIAN 1 Sekolah Menengah Farmasi (SMF) 2 SMKF 3 Akademi Analis Farmasi dan Makanan (AKAFARMA) 4 Akademi Farmasi (AKFAR) Sub Total KESEHATAN MASYARAKAT 1 Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Sub Total GIZI 1 Akademi Gizi (AKZI) Sub Total KETERAPIAN FISIK 1 Akademi Fisioterapi (AKFIS) 2 Akademi Okupasi Terapi (AOT) 3 Akademi Terapi Wicara (ATW) 4 Akademi Akupunktur Sub Total KETEKNISIAN MEDIS 1 Sekolah Menengah Analis Kesehatan (SMAK) 2 Akademi Analis Kesehatan (AAK) 3 Akademi Tekniker Gigi (ATG) 4 D-I Pendidikan Teknik Transfusi Darah (PTTD) 5 Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO) 6 Akademi Perekam Informasi Kesehatan (APIKES) 7 Akademi Teknik Elektromedik (ATEM) 8 Akademi Refraksionis Optisi (ARO) 9 Akademi Teknik Kardiovaskuler Sub Total Total % Sumber: BPPSDM Kesehatan.Lampiran 5.29 8 22 2 2 8 20 7 9 1 79 919 100 .45 1 0 1 0 0 0 1 0 0 3 30 3. 2010 2 69 18 0 0 89 3 16 1 3 0 23 5 234 310 1 1 551 10 319 329 4 1 663 0 0 0 2 2 3 0 0 1 4 30 44 15 40 129 33 44 15 43 135 1 1 0 0 12 12 13 13 1 1 0 0 8 8 9 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 0 1 3 20 16 0 1 3 20 1 2 0 0 0 0 0 0 0 3 96 10.15 JUMLAH INSTITUSI DIKNAKES NON-POLTEKKES MENURUT STATUS KEPEMILIKAN TAHUN 2009 No.

917 3.050 489 109.666 2.467 1.387 3.706 20.337 1.214 9.489 4.837 4.291 163 11.531 314 903 225 380 153 474 329 247 384 158 284 28 498 134 79 48 18 37 685 564 335 233 420 351 207 260 95 56 83 1.050 410.762 10 2.499 8.200 4.268 13.959 20.275 1.395 2.289 53 13.193 445 493 575 416 530 831 599 352 981 233 150 172 345 203 188 1.908 1.182 850 2.568 410.532 2.010 6.775 2.657 5.119 322 348 138 53 80 209 52 135 725 946 976 443 1.385 5.613 5.071 1.291 6.303 2.532 6.542 8.532 109.027 2.298 13.763 840 4.765 21.253 952 3.568 6.456 456 988 516 437 402 435 203 236 474 305 296 337 618 728 151 139 170 451 Keterapian Fisik Keteknisian Medis Jumlah Nakes SDM Non Nakes Total SDM Kesehatan Sanitarian 467 626 523 315 118 34 27 231 20 176 1.025 3.543 13.975 563 794 1.399 24.310 5.16 REKAPITULASI DATA SDM KESEHATAN PER PROVINSI KEADAAN DESEMBER 2009 MEDIS NO KEPERAWATAN KEFARMASIAN PROVINSI Dokter Spesialis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Gorontalo Maluku Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Perawat Gigi Bidan 6.985 129 TOTAL 9.582 .912 46.036 1.917 11.145 1.007 1.663 16.956 10.473 640 632 95 112 102 168 78 101 121 204 112 228 122 133 26 45 47 208 KESMAS Tenaga Gizi Asisten Aptoteker 368 166 654 388 428 120 208 287 140 114 108 991 837 763 2.446 8.277 2.086 3.379 3.796 8.956 35.788 Sumber : Dinas Kesehatan seluruh Indonesia.745 6.401 294 1.659 895 938 521 282 395 785 228 456 896 2.119 35 827 73 66 179 178 144 5 47 3.483 5.326 21.574 2.994 5.786 2.424 10.234 2.155 1.030 71.317 9.906 1.951 583 616 361 368 299 151 103 178 90 60 180 1.086 2.971 995 2.826 6.399 6.951 12.905 8.165 776 789 493 532 611 673 115 255 168 236 1.930 17.433 183 364 266 520 351 232 501 465 18 86 214 142 41 95 29 130 22.582 297 370 115 176 199 90 167 269 61 59 297 64 39 62 97 36 8.466 4.153 222 380 386 604 337 243 449 332 427 326 393 450 79 75 236 102 544 729 477 293 171 203 140 241 109 106 354 946 1.646 1.083 1.686 7.947 342 4.862 12.576 11.244 893 Sarjana Farmasi & Apoteker 460 851 204 259 132 142 94 197 42 74 758 252 1.Lampiran 5.581 10.851 3.303 3.948 346 1.545 12.191 785 1.540 51.673 7.308 2.279 1.436 2.077 6.988 1.575 2.332 32 2.113 1.035 2.394 337 371 433 381 372 246 454 261 375 102 452 540 77 70 221 239 311 96 112 83 48 44 30 55 17 23 195 103 583 115 243 192 76 37 88 29 28 41 71 92 22 98 30 18 34 17 39 1.119 3.798 8.588 5.887 1.601 9.801 4.002 2.755 2.858 285 12.792 14.762 12.948 10.307 50.458 16.662 19.521 4.186 1.410 7. Kemenkes.057 519.384 TOTAL PER KATEGORI 51.849 6.188 258 1.007 1.682 215 28.364 12.247 9.221 106 8.633 71.985 98 15.048 3.945 14.705 6.177 12. melalui pengumpulan data Badan PPSDMK.341 255 12.617 54 192 28 2.023 3.940 13.480 2.072 509 570 6.255 352 361 1.068 1.656 200 423 155 44 132 90 128 297 79 85 267 23 46 38 40 44 1.889 278.517 28.490 20.061 2.298 1.602 1.985 2.419 2.470 4.394 308 395 155 467 237 106 442 363 242 171 256 148 37 41 53 46 Sarjana Kesmas 1.389 13.067 6.774 173.683 11. 2010 984 93.702 7.917 7.953 253 16.150 975 2.633 27.483 15.715 968 1.449 1.234 2.035 954 634 547 368 120 206 524 156 160 573 1.957 517 298 280 674 238 25.957 1.138 17.986 14.436 2.128 3.563 3.032 6.319 2.163 4.182 7.030 5.

973 91 2.071 30 105 128 195 147 0 91 4.545 11 DKI Jakarta 25 327 292 582 80 535 22 63 30 52 201 5 32 2.766 337 5.451 66 2.229 4 Riau 174 527 196 2.040 228 1. Kemenkes.394 32.236 9 Kepulauan Bangka Belitung 55 113 32 703 67 414 35 25 65 54 64 0 43 1.401 60 53 180 283 90 0 47 4.421 8 Lampung 267 411 141 2.109 350 6.645 34 1.549 11 167 76 212 86 15 178 4.151 76 65 269 214 133 11 48 5.049 919 3.847 77.776 29.707 6 Sumatera Selatan 214 188 39 1.716 957 13.170 788 7.387 228 4.728 224 1.311 TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.833 777 5.452 422 262 438 814 721 8 351 20.940 7.103 28 Gorontalo 61 75 35 587 36 312 22 17 52 44 45 6 23 1.159 196 115 57 161 189 0 60 4.346 543 5.198 15 73 97 128 146 2 145 4.610 24 Sulawesi Utara 165 332 46 2.181 7.270 210 3.623 23 Kalimantan Timur 224 427 179 2.665 762 7.067 174 2.081 447 3.950 184 1.857 214 5.188 344 5.567 36 203 143 306 256 5 160 4.142 2.480 31 Maluku Utara 105 101 18 842 23 551 50 22 137 78 119 7 23 1.379 4.310 30 98 171 344 322 5 160 6.958 20 Kalimantan Barat 227 225 58 2.018 799 6.140 230 1.481 19 118 100 265 266 2 228 5.746 409 14.730 118 2.459 5 Jambi 163 85 85 1.130 298 906 45 84 331 329 338 0 19 4.603 626 7.701 6.273 306 1.025 1.461 86 1.737 499 6.689 7.662 379 2.773 10 Kepulauan Riau 64 200 60 1.862 237 2.822 5.164 36 178 117 137 123 3 109 6.673 1.486 1.253 121 722 265 800 778 19 654 24.259 286 2.305 591 2.570 26 Sulawesi Selatan 393 318 270 2.509 24.744 607 6.370 85 221 509 365 353 44 159 7.17 JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS MENURUT JENIS DAN PROVINSI TAHUN 2010 No Provinsi Jumlah Puskesmas yang terdata tenaganya (2) (3) (1) Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Perawat Gigi Bidan Apoteker & S1 Farmasi Asisten Apoteker (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) Kesmas Sanitarian (13) (14) Keterapian Keteknisia Fisik n Medis Gizi (15) (16) (17) Jumlah JUMLAH TENAGA NON KESEHATAN TOTAL SDM KESEHATAN (19) (20) (21) 1 Aceh 291 534 97 4.505 280 1.606 7 Bengkulu 152 173 68 2.177 244 5.680 158 163 552 482 277 38 203 12.332 29 Sulawesi Barat 101 100 21 689 62 422 22 26 132 185 135 0 1 1.064 32 Papua Barat 120 103 13 1.509 13.544 350 4.796 165 1.468 711 10.691 133 808 18 25 30 128 174 3 13 3.042 564 5.Lampiran 5.071 8.615 22 Kalimantan Selatan 188 256 118 1.817 19 Nusa Tenggara Timur 300 260 130 2.053 16 Banten 205 379 202 1.728 17 Bali 117 346 192 1.986 742 5.896 12 Jawa Barat 1.743 5.535 245.796 12 278 188 205 200 2 173 6.133 43 20 161 123 128 3 47 4.385 129 2.393 21 622 36 26 52 75 98 0 10 2.417 290 4.338 122 1.591 154 2.744 8. 2010 .835 82 1.615 158 1.252 41 577 239 268 358 36 165 13.672 393 274 422 727 706 69 624 23.961 30 Maluku 159 94 152 1.155 3 Sumatera Barat 245 442 207 1.440 18 Nusa Tenggara Barat 149 250 87 2.248 322 4.112 28.517 33 Papua 287 299 70 2.092 10.673 2 Sumatera Utara 513 1.054 723 7.934 14 DI Yogyakarta 120 321 169 801 237 762 90 73 78 151 137 8 221 3.213 34 75 170 240 134 0 69 5.835 788 5.405 10 104 67 233 116 1 66 3.968 15 Jawa Timur 942 1.659 7.329 13 Jawa Tengah 871 1.011 29 141 121 297 257 40 3 4.777 27 Sulawesi Tenggara 233 230 56 2.889 21 Kalimantan Tengah 176 258 58 1.396 215.910 530 4.621 111 54 174 264 117 2 46 5.820 3.772 25 Sulawesi Tengah 178 164 53 1.981 300 6.053 194 2.995 360 1.141 76.546 226 4.254 78 1.337 41 262 160 481 267 13 178 7.115 36 564 30 54 33 49 63 3 47 2.024 886 7.

198 1.84 0.728 1.486 10.18 33 Papua 287 299 70 2.21 6.87 7.87 0.067 2.52 21 Kalimantan Tengah 176 258 58 1.85 0.142 1.140 1.181 7.25 7.053 2.94 17.691 808 0.401 0.33 11.43 8.130 906 0.96 0.468 10.338 1.50 6 Sumatera Selatan 214 188 39 1.213 1.28 21.509 13.252 2.07 TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.72 9.87 15.310 1.01 6.62 3.47 0.99 0.02 5.18 8.69 8.730 2.23 0.91 0.31 7.01 0.370 0.159 1.040 1.26 10.11 29 Sulawesi Barat 101 100 21 689 422 0.42 8.950 1.01 8.61 5.60 9.05 0.796 1.024 7.665 762 7.80 0.79 20 Kalimantan Barat 227 225 58 2.40 17 Bali 117 346 192 1.03 1.52 10.19 10.28 12.621 1.385 2.52 0.41 4 Riau 174 527 196 2.70 7.74 6.071 1.96 1.29 9 Bangka Belitung 55 113 32 703 414 2.22 4.96 10.85 7.68 1.13 0.141 76.78 24 Sulawesi Utara 165 332 46 2.89 28 Gorontalo 61 75 35 587 312 1.78 7.133 1.995 1. PERAWAT DAN BIDAN TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi Jumlah Puskesmas yang terdata tenaganya Dokter Umum Dokter Gigi (2) (3) (4) (5) (1) Perawat Bidan (6) (7) Rasio Dokter Umum Rasio Dokter Gigi Rasio Perawat Rasio Bidan (8) (9) (10) (11) 1 Aceh 291 534 97 4.36 0.981 6.405 2.57 9.44 5 Jambi 163 85 85 1.84 7.025 1.59 22 Kalimantan Selatan 188 256 118 1.81 11 DKI Jakarta 25 327 292 582 535 13.701 6.151 0.11 0.34 23 Kalimantan Timur 224 427 179 2.93 10.58 13.08 11.744 607 6.76 12.27 13 Jawa Tengah 871 1.68 0.081 447 3.452 1.253 1.672 2.86 0.50 19 Nusa Tenggara Timur 300 260 130 2.99 0.64 5.87 7.673 1.60 11.40 12 Jawa Barat 1.18 30 Maluku 159 94 152 1.30 10.164 3.17 8.44 4.88 0.68 6.76 10.13 25 Sulawesi Tengah 178 164 53 1.35 15 Jawa Timur 942 1.80 10.24 9.11 11.45 12.63 8.99 7.52 2 Sumatera Utara 513 1.64 9. DOKTER GIGI.481 0.393 622 0.13 13.25 14 DI Yogyakarta 120 321 169 801 762 2.74 12.337 0.49 27 Sulawesi Tenggara 233 230 56 2.92 0.461 1.00 0.54 0.835 1.78 1.58 12.862 2.39 19.53 7.04 9.567 1.273 1.17 8.69 7.08 31 Maluku Utara 105 101 18 842 551 0.04 0. Kemenkes.115 564 3.08 10.62 0.68 23.25 32 Papua Barat 120 103 13 1.940 77.24 9.18 RASIO DOKTER UMUM.549 0.08 6.011 2.680 1.88 16 Banten 205 379 202 1.81 0.99 0.71 12.53 10 Kepulauan Riau 64 200 60 1.505 1.Lampiran 5.662 2.19 3 Sumatera Barat 245 442 207 1.591 2.645 1. 2010 .61 0.41 6.01 18 Nusa Tenggara Barat 149 250 87 2.14 0.62 5.188 5.36 6.87 26 Sulawesi Selatan 393 318 270 2.59 0.33 14.05 7 Bengkulu 152 173 68 2.14 3.66 8 Lampung 267 411 141 2.82 4.45 16.

94 714 1.19 REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER UMUM PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) (4) Jumlah % (5) (6) 6 Bln 12 Bln (7) (8) Jumlah % (9) (10) (11) 1 Aceh 13 5 103 37 5 161 166 59 282 2 Sumatera Utara 96 33 141 49 24 27 51 18 288 3 Sumatera Barat 13 11 62 54 17 23 40 35 115 4 Riau 41 39 44 42 0 20 20 19 105 5 Jambi 20 17 54 47 0 42 42 36 116 6 Sumatera Selatan 11 19 45 76 0 3 3 5 59 7 Bengkulu 0 0 51 55 0 41 41 45 92 8 Lampung 15 17 54 62 0 18 18 21 87 9 Kepulauan Bangka Belitung 2 20 4 40 0 4 4 40 10 10 Kepulauan Riau 7 14 15 31 0 27 27 55 49 11 DKI Jakarta 14 100 0 0 0 0 0 0 14 12 Jawa Barat 63 100 0 0 0 0 0 0 63 13 Jawa Tengah 135 100 0 0 0 0 0 0 135 14 DI Yogyakarta 19 100 0 0 0 0 0 0 19 15 Jawa Timur 106 100 0 0 0 0 0 0 106 16 Banten 26 100 0 0 0 0 0 0 26 17 Bali 20 100 0 0 0 0 0 0 20 18 Nusa Tenggara Barat 8 14 30 54 0 18 18 32 56 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 28 9 29 244 273 91 301 20 Kalimantan Barat 0 0 28 22 0 99 99 78 127 21 Kalimantan Tengah 0 0 30 37 0 52 52 63 82 22 Kalimantan Selatan 0 0 51 42 0 71 71 58 122 23 Kalimantan Timur 7 9 43 54 0 30 30 38 80 24 Sulawesi Utara 0 0 45 42 0 63 63 58 108 25 Sulawesi Tengah 0 0 20 17 63 37 100 83 120 26 Sulawesi Selatan 18 22 44 53 4 17 21 25 83 27 Sulawesi Tenggara 1 1 18 11 34 116 150 89 169 28 Gorontalo 0 0 9 17 0 44 44 83 53 29 Sulawesi Barat 0 0 5 9 26 24 50 91 55 30 Maluku 2 1 10 5 174 0 174 94 186 31 Maluku Utara 0 0 8 13 55 0 55 87 63 32 Papua Barat 0 0 13 12 99 0 99 88 112 33 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.518 . 2010 0 0 28 13 184 3 187 87 215 637 18.95 3. Kemenkes.898 53.184 1.Lampiran 5.11 983 27.

Kemenkes.20 REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER GIGI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) Jumlah (4) % (5) 6 Bln (6) 12 Bln (7) Jumlah (8) % (9) (10) (11) 1 Aceh 0 0 13 17 5 57 62 83 2 Sumatera Utara 75 15 23 38 58 4 9 13 20 66 3 Sumatera Barat 2 5 13 30 9 20 29 66 44 4 Riau 2 6 18 51 0 15 15 43 35 5 Jambi 0 0 5 20 0 20 20 80 25 6 Sumatera Selatan 0 0 4 50 0 4 4 50 8 7 Bengkulu 0 0 1 6 0 16 16 94 17 8 Lampung 3 16 7 37 0 9 9 47 19 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 2 40 0 3 3 60 5 10 Kepulauan Riau 1 4 11 46 0 12 12 50 24 11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 Jawa Barat 15 100 0 0 0 0 0 0 15 13 Jawa Tengah 30 100 0 0 0 0 0 0 30 14 DI Yogyakarta 13 100 0 0 0 0 0 0 13 15 Jawa Timur 83 100 0 0 0 0 0 0 83 16 Banten 17 Bali 18 5 100 0 0 0 0 0 0 5 14 100 0 0 0 0 0 0 14 Nusa Tenggara Barat 6 26 9 39 0 8 8 35 23 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 6 5 23 89 112 95 118 20 Kalimantan Barat 0 0 1 3 0 38 38 97 39 21 Kalimantan Tengah 0 0 1 4 0 22 22 96 23 22 Kalimantan Selatan 0 0 7 18 0 32 32 82 39 23 Kalimantan Timur 2 5 12 32 0 24 24 63 38 24 Sulawesi Utara 0 0 1 20 0 4 4 80 5 25 Sulawesi Tengah 0 0 1 4 15 8 23 96 24 26 Sulawesi Selatan 7 14 28 56 3 12 15 30 50 27 Sulawesi Tenggara 0 0 4 8 13 33 46 92 50 28 Gorontalo 0 0 1 6 0 17 17 94 18 29 Sulawesi Barat 0 0 3 9 13 16 29 91 32 30 Maluku 0 0 0 0 63 1 64 100 64 31 Maluku Utara 0 0 0 0 16 0 16 100 16 32 Papua Barat 0 0 0 0 17 0 17 100 17 33 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.79 190 18.Lampiran 5. 2010 0 0 4 20 16 0 16 80 20 198 18.03 197 469 666 63.19 1.054 .

00 1 33 Papua 0 0.55 0 0.95 7 2.395 14 DI Yogyakarta 220 100.09 1.30 189 0.99 0 0.82 6 Sumatera Selatan 409 67.08 278 21 Kalimantan Tengah 1 1.44 271 0.78 252 20 Kalimantan Barat 4 1.836 13 Jawa Tengah 4.104 62.72 25.03 14 0.13 31 0.00 997 0 0.56 8 32.00 713 17 Bali 345 98.00 (8) (9) 212 9.60 388 8 Lampung 1.28 712 Gorontalo 3 12.75 0 0.00 32 25 Sulawesi Tengah 4 2.97 283 0.22 4 0.47 61 0.06 186 0.08 737 0.91 15 6.46 9.40 2 0.74 5 Jambi 128 17.00 0.90 6 8.96 4 2.00 50 24 Sulawesi Utara 1 3.57 5 0.07 57 0.139 0 0.06 194 26 Sulawesi Selatan 27 Sulawesi Tenggara 28 64 25.00 220 15 Jawa Timur 3.00 4.17 4 Riau 260 26.Lampiran 5.67 149 19 Nusa Tenggara Timur 5 1.00 10 185 0.83 200 0.174 45.38 198 7 Bengkulu 46 10.11 251 0.11 0 0.00 18 0.353 2.00 0 0.01 0 0.218 9 Kepulauan Bangka Belitung 55 93.22 1.00 0 0.89 132 0.70 196 0.00 169 11 DKI Jakarta 0 0.00 253 427 59.392 99.93 4 7.97 0 0.00 175 23 Kalimantan Timur 32 64.82 68 22 Kalimantan Selatan 1 0.57 174 0.00 14 0.00 10 16.234 16 Banten 468 65.67 48 0.00 350 18 Nusa Tenggara Barat 91 61.00 50 0.34 0 0.00 1.00 1 1.38 1 0.633 0.43 3.87 105 4.00 59 10 Kepulauan Riau 37 21.084 89.00 0 0.78 0 0. Kemenkes.00 25 29 Sulawesi Barat 4 1.00 434 134 0.98 240 0.64 245 0.807 1 0.97 3 1.33 0 0.00 721 0.00 0 0.23 2.21 REKAPITULASI KEBERADAAN BIDAN PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) (4) Jumlah % (5) (6) Jumlah % (7) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 942 82.85 219 30 Maluku 1 1.33 60 31 Maluku Utara 0 0.113 96.36 0 0.26 107 0.00 0 12 Jawa Barat 1.14 4 0.93 3 0.41 54 32 Papua Barat 0 0.46 2.00 4. 2010 0 0.89 0 0.784 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.75 593 0.00 0 0.07 0 0.00 607 0.495 1.581 86.036 0.37 .00 0 0.01 2.80 11 18.

Tenaga Kes kupang 28 13 6 4 5 0 0 22 Upelkes Prov.Riau 15 4 0 5 3 3 0 11 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 35 6 1 17 8 1 2 25 Bapelkes Prov. Kalimantan Selatan 28 20 0 2 3 3 0 26 Bapelkes Prov. 2010 . Kalimantan Tengah 24 7 0 3 14 0 0 24 Bapelkes Prov.LAMPIRAN 5. Kalimantan Barat 41 29 0 0 1 8 3 23 Bapelkes Prov.Sumatera Barat 87 63 1 2 14 7 0 SUB TOTAL 58 4 32 0 0 0 42 1 10 Bapelkes Prov.Lampung 28 0 0 22 5 1 0 14 Bapelkes Prov.22 DISTRIBUSI TINGKAT KETERLIBATAN INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA DALAM KEGIATAN KEDIKLATAN TAHUN 2009 NO INSTITUSI DIKLAT FREQUENSI PELATIHAN I II TINGKAT LIBAT (FREQ) III IV V (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) TDK Jelas (9) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 74 0 0 2 10 2 BBPK Cilandak 33 0 0 1 3 BPPK Ciloto 46 1 1 1 4 Bapelkesnas Lemahabang 16 0 1 2 8 5 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 19 0 0 3 10 6 0 6 Bapelkesnas Makasar 19 0 0 0 0 19 0 207 1 2 9 60 130 5 7 BLTKM Jantho 25 23 0 0 2 0 0 8 Bapelkes Prov. Sulawesi Utara 33 24 0 5 4 0 0 27 Bapelkes Palu 29 9 1 0 1 18 0 28 Bapelkes Prov.Sumatera utara 36 0 0 0 30 6 0 9 Bapelkes Prov. Papua 19 13 0 0 0 6 0 SUB TOTAL 845 418 34 89 219 75 10 TOTAL 1052 419 36 98 279 205 15 Sumber : BPPSDM Kesehatan. Sulawesi Tenggara 20 2 3 7 8 0 0 29 Bapelkes Prov.Bengkulu 52 37 2 3 9 0 1 13 Bapelkes Prov. Kemenkes. Maluku 11 0 0 0 10 1 0 30 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 41 7 0 0 23 11 0 15 BPTKM Dinkes Prov. Bali 25 17 0 4 3 0 1 20 Bapelkes Mataram 62 50 0 0 8 1 3 21 UPTD Pel.Jambi 40 1 18 13 8 0 0 12 Bapelkes Prov. Jawa Barat 62 62 0 0 0 0 0 16 BPTPK Gombong 22 0 0 0 22 0 0 17 Bapelkes Yogja 21 5 0 1 8 7 0 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 61 26 2 1 30 2 0 19 UPTD BPKKTK Prov.

Tenaga Kes kupang 6 2 1 3 0 0 22 Upelkes Prov. Jawa Barat 9 0 2 5 2 0 16 BPTPK Gombong 5 0 0 0 0 5 17 Bapelkes Yogja 10 0 1 6 3 0 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 7 1 4 1 1 0 19 UPTD BPKKTK Prov.60 (5) KETERANGAN > 60 (6) (7) (8) (9) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 14 0 2 10 2 0 2 BBPK Cilandak 11 0 0 7 4 0 3 BPPK Ciloto 7 2 2 3 0 0 4 Bapelkesnas Lemahabang 8 0 3 5 0 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 12 0 5 6 1 0 6 Bapelkesnas Makasar 6 0 0 3 3 0 SUB TOTAL 58 2 12 34 10 0 7 BLTKM Jantho 1 0 0 1 0 0 8 Bapelkes Prov.Sumatera utara 9 2 5 2 0 0 9 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 4 1 1 2 0 0 25 Bapelkes Prov.Bengkulu 3 0 0 3 0 0 13 Bapelkes Prov.Maluku 1 0 0 0 1 0 30 Bapelkes Prov. Kemenkes.Riau 5 0 3 2 0 0 11 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 3 0 1 1 1 0 15 BPTKM Dinkes Prov.Sulawesi Utara 5 1 3 1 0 0 27 Bapelkes Palu 2 0 0 2 0 0 28 Bapelkes Prov.Lampung 10 2 1 6 0 1 14 Bapelkes Prov. 2010 .Sulawesi Tenggara 2 0 1 1 0 0 29 Bapelkes Prov.23 DISTRIBUSI WIDYAISWARA INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA BERDASARKAN KELOMPOK UMUR TAHUN 2009 UMUR NO INSTITUSI DIKLAT JUMLAH TIDAK JELAS < 40 (1) (2) (3) 41 .Sumatera Barat 5 0 0 4 1 0 10 Bapelkes Prov.Kalimantan Tengah 2 1 1 0 0 0 24 Bapelkes Prov. Bali 2 0 0 2 0 0 20 Bapelkes Mataram 11 0 4 6 1 0 21 UPTD Pel.50 (4) 51 .Jambi 3 0 0 3 0 0 12 Bapelkes Prov.Papua 2 0 0 0 1 1 SUB TOTAL 114 14 30 52 11 7 TOTAL 172 16 42 86 21 7 Sumber : BPPSDM Kesehatan.LAMPIRAN 5.Kalimantan Selatan 6 4 2 0 0 0 26 Bapelkes Prov. Kalimantan Barat 1 0 0 1 0 0 23 Bapelkes Prov.

Sulawesi Tenggara 565 20 0 0 0 0 0 0 394 14 171 6 0 0 29 Bapelkes Prov. Jawa Barat 2355 62 961 16 0 0 0 0 1235 41 0 0 159 5 16 BPTPK Gombong 1165 22 0 0 0 0 860 12 204 7 101 3 0 0 17 Bapelkes Yogja 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 19 UPTD BPKKTK Prov.Lampung 2749 28 0 0 0 0 60 2 2399 25 290 1 0 0 14 Bapelkes Prov. Tenaga Kes kupang 22 Upelkes Prov.Sumatera Selatan 1420 41 198 4 0 0 30 1 1132 34 60 2 0 0 15 BPTKM Dinkes Prov.Sumatera utara 1099 36 77 2 0 0 150 6 842 27 30 1 0 0 9 Bapelkes Prov. 2010 . Bali 20 Bapelkes Mataram 21 UPTD Pel.Sumatera Barat 3014 87 56 2 151 3 1239 25 913 32 78 3 577 22 10 Bapelkes Prov.Bengkulu 1827 52 0 0 40 1 290 9 829 24 0 0 668 18 13 Bapelkes Prov.Kalimantan Tengah 923 24 Bapelkes Prov.Maluku 356 11 0 0 0 0 0 0 356 11 0 0 0 0 30 Bapelkes Prov.Riau 439 15 69 5 0 0 60 2 120 4 0 0 190 4 11 Bapelkes Prov.Lampiran 5.24 DISTRIBUSI FREKUENSI PELATIHAN DAN JUMLAH PESERTA DI INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA BERDASARKAN JENIS DIKLAT TAHUN 2009 Total No Prajabatan Penjenjangan Manajemen Teknis Fungsional Dan Lain-lain Institusi Diklat (1) (2) Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 2385 74 752 22 204 6 453 10 396 14 557 18 23 2 BBPK Cilandak 1093 33 356 9 171 5 0 0 514 18 0 0 52 1 3 BPPK Ciloto 3438 46 2001 16 0 0 25 1 944 18 110 3 358 8 4 Bapelkesnas Lemahabang 1325 16 758 6 0 0 0 0 537 9 30 1 0 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 1549 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1549 19 6 Bapelkesnas Makasar SUB TOTAL 4 779 19 58 1 0 0 0 0 568 15 153 3 0 0 10569 207 3925 54 375 11 478 11 2959 74 850 25 1982 32 7 BLTKM Jantho 3854 25 60 1 0 0 225 6 3569 18 0 0 0 0 8 Bapelkes Prov.Papua 874 19 0 0 93 1 60 2 691 15 30 1 0 0 SUB TOTAL 35567 845 2208 42 476 9 7389 181 20402 478 2372 56 2720 79 TOTAL 46136 1052 6133 96 851 20 7867 192 23361 552 3222 81 4702 111 Sumber : BPPSDM Kesehatan.Jambi 906 40 0 0 0 0 575 25 236 11 75 3 20 1 12 Bapelkes Prov. Kemenkes. Kalimantan Barat 23 Bapelkes Prov.Sulawesi Utara 1070 33 86 2 115 2 71 2 798 27 0 0 0 0 27 Bapelkes Palu 1014 29 0 0 0 0 85 1 649 22 102 2 178 4 28 Bapelkes Prov.Kalimantan Selatan 1417 28 816 21 50 1 0 0 0 0 766 20 0 0 0 0 3327 61 401 5 42 1 606 11 1661 34 617 10 0 0 1033 25 89 3 0 0 30 1 551 12 0 0 363 9 1947 62 0 0 0 0 385 12 1157 37 30 1 375 12 666 28 0 0 0 0 209 8 457 20 0 0 0 0 1974 41 0 0 0 0 1782 36 0 0 112 3 80 2 24 0 0 0 0 140 3 160 3 623 18 0 0 0 0 35 1 387 15 195 16 30 1 110 2 161 1 0 0 145 2 1088 24 23 1 0 0 26 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 757 35 25 Bapelkes Prov.

066 0 1105 100 0 160 0 225 0 20 0 1.190 13. Kemenkes.Lampiran 5.510 2265 2.380 5510 5.265 2353 2.250 5868 5.610 21.550 21.280 .065 1380 1.353 1250 1.350 56.910 2065 2.25 REKAPITULASI PESERTA DIDIK POLTEKKES PERJENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN AJARAN 2009/2010 P0LTEKKES NO (1) A B C D E F JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan. 2010 JUMLAH TINGKAT I TINGKAT II TINGKAT III (3) (4) (5) (6) 0 7476 5025 0 1655 14.304 0 4705 3600 0 1035 9.800 0 125 625 750 0 125 625 750 0 125 285 410 0 375 1535 1.868 190 50 0 40 280 190 50 40 40 320 102 80 60 0 242 482 180 100 80 842 0 1105 100 0 100 0 225 0 20 0 1.065 2065 2.156 0 7476 5298 0 1530 14.812 0 2825 300 0 450 0 675 0 100 0 4.340 0 19657 13923 0 4220 37.402 0 615 100 0 190 0 225 0 60 0 1.

640 1260 0 100 160 1.173 1100 1.852 .26 REKAPITULASI PESERTA DIDIK NON POLTEKKES PERJENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN AJARAN 2009/2010 NON POLTEKKES NO (1) A B C D E F JUMLAH JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.448 4790 1490 2840 9.725 800 1705 200 0 650 1285 480 720 0 60 5.020 3300 3.360 3720 0 300 500 4.605 14123 4690 9360 28.120 3320 1545 2740 7.667 4465 92801 83740 1200 140 182.300 605 605 605 605 605 605 1815 1.Lampiran 5.157 2640 5545 600 320 2150 4543 1640 2080 0 180 19.100 1180 1.180 1020 1.531 1425 30026 13816 400 0 45.029 84.900 62.769 92.148 1280 30795 41016 400 40 73.520 950 1950 200 160 800 1589 640 680 0 60 7.698 239.346 6013 1655 3780 11. Kemenkes.970 890 1890 200 160 700 1669 520 680 0 60 6.520 1140 0 100 120 1.815 1320 0 100 220 1. 2010 TINGKAT I TINGKAT II TINGKAT III (3) (4) (5) (6) 1760 31980 28908 400 100 63.

2010 170 70 0 0 0 0 0 0 240 657 400 40 40 40 0 0 0 1177 380 280 20 20 0 20 20 20 760 80 0 80 100 520 0 520 320 440 20 440 180 .27 JUMLAH PESERTA DIDIK PROGRAM DIPLOMA IV BERDASARKAN JENIS INSTITUSI PENDIDIKAN TAHUN 2007.Lampiran 5.2009 Tahun No JENIS INSTITUSI (1) (2) I 2007 2008 2009 (3) (4) (5) III KEPERAWATAN Keperawatan Medical Bedah Keperawatan Gawat Darurat Keperawatan Klinik Kemahiran Keperawatan Kardiovaskuler Keperawatan Anestesi Keperawatan Jiwa Keperawatan Intensive Keperawatan Anestesi Reanimasi Sub Total KEBIDANAN Bidan Pendidik Kebidanan Komunitas Sub Total KESLING IV GIZI 30 580 280 V FISIOTERAPI 40 80 40 VI TEHNIK ELEKTROMEDIK 0 80 40 VII RADIOLOGI 40 80 40 40 160 80 0 0 20 0 0 0 0 0 0 570 0 0 0 0 0 0 2997 60 20 20 20 20 140 2020 II VIII ANALIS KESEHATAN IX PROMOSI KESEHATAN X KESEHATAN GIGI Kesehatan Gigi Kesehatan Gigi Komunitas Kesehatan Gigi Prothodansia Dental Bedah Mulut Perawat Gigi Pendidik Sub Total TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan. Kemenkes.

28 LULUSAN DIKNAKES POLTEKKES DAN NON POLTEKKES BERDASARKAN JENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN 2009 TAHUN 2009 NO (1) A B C D E F JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.357 . 2010 JUMLAH POLTEKKES NON POLTEKKES (3) (4) (5) 855 10111 38354 929 27906 18545 230 855 48465 80 462 542 2594 469 1259 4322 2594 549 1721 4864 973 973 712 712 1685 1685 1388 1388 424 424 1812 1812 79 50 571 650 50 30 51 781 4743 4513 129 696 64 243 181 929 23163 14032 230 30 51 652 553 1013 90 104 256 805 223 506 553 1709 154 104 499 805 404 506 30 3550 48. Kemenkes.371 30 1214 14.Lampiran 5.014 4764 62.

Lampiran 5. 2010 .030 0 159 0 0 50 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 209 14 Semarang 214 145 84 81 69 0 0 0 131 0 0 0 0 0 0 724 15 Surakarta 79 0 0 0 56 0 0 0 0 0 0 40 50 30 0 255 13 Tasikmalaya 16 Yogyakarta 48 39 198 84 0 0 82 0 0 0 0 0 0 0 0 403 17 Malang 219 385 0 108 80 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 792 18 Surabaya 270 284 85 0 31 0 86 68 0 0 0 0 0 0 0 824 19 Denpasar 99 40 35 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 220 20 Mataram 96 37 0 37 36 0 84 0 0 0 0 0 0 0 0 290 21 Kupang 265 57 60 72 34 70 0 0 0 0 0 0 0 0 0 558 99 140 67 73 0 0 50 0 0 0 0 0 0 0 0 429 23 Palangkaraya 112 34 0 30 68 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 244 24 Banjarmasin 308 37 41 56 0 0 47 0 0 0 0 0 0 0 0 489 25 Samarinda 166 171 0 0 44 0 43 0 0 0 0 0 0 0 0 424 26 Manado 100 24 20 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 163 0 165 39 0 51 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 255 138 163 47 49 0 90 0 0 0 0 0 39 0 0 0 526 29 Kendari 98 326 0 98 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 522 30 Ambon 191 0 36 47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 274 31 Ternate 90 17 0 29 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 136 32 Gorontalo 152 107 0 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 305 33 Jayapura 227 51 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 324 4743 4513 973 1388 855 462 696 181 243 64 80 79 50 30 0 14357 22 Pontianak 27 Palu 28 Makassar Jumlah Sumber : BPPSDM Kesehatan.29 JUMLAH LULUSAN POLTEKKES BERDASARKAN JURUSAN/PROGRAM STUDI INSTITUSI DIKNAKES SELURUH INDONESIA TAHUN AJARAN 2009/2010 Jurusan / Program Studi No Poltekkes (1) (2) 1 Banda Aceh 2 Keperawatan Kebidanan Kesehatan Lingkungan (3) (4) (5) Gizi Kesehatan Gigi (6) (7) Farmasi Analisis Kesehatan Teknik Elektromedik Teknik Diagnostik Teknik Gigi AKAFARMA Fisioterapi Okupasi Terapi Ortotik Prostetik Terapi Wicara (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Jumlah (18) 204 82 95 5 107 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 493 Medan 85 410 40 90 0 129 60 0 0 0 0 0 0 0 0 814 3 Padang 187 177 69 56 48 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 537 4 Pekanbaru 96 203 47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 346 5 Jambi 0 104 53 0 38 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 195 6 Bengkulu 114 181 0 74 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 369 7 Palembang 238 110 0 63 35 79 38 0 0 0 0 0 0 0 0 563 8 Tanjung Karang 159 214 17 0 37 0 90 0 0 0 0 0 0 0 0 517 9 Jakarta I 60 114 0 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 193 10 Jakarta II 0 85 0 94 0 113 112 64 80 0 0 0 0 596 11 Jakarta III 135 167 0 0 0 36 0 0 0 0 0 0 0 0 338 12 Bandung 503 211 7 177 52 0 80 0 0 0 0 0 0 0 0 1. Kemenkes.

135 776 5 900 1.594 469 1.032 0 2.354 100 AKFIS 80 908 18 Nusa Tenggara Barat AKZI 51 3. 2010 929 230 23.082 656 60 8 Bengkulu 372 65 79 9 Lampung 435 221 205 60 94 34 2.034 60 Keteknisian Gizi AKL 28 340 568 16 Jawa Timur (10) Keterapian Kesmas 719 80 289 120 23 635 279 179 48 717 18 174 27 237 42 100 52 911 17 580 27 414 97 147 100 379 548 45 23 50 82 53 40 44 80 60 2.043 57 8.30 REKAPITULASI LULUSAN NON POLTEKKES DIKNAKES SELURUH INDONESIA BERDASARKAN JENIS DAN PROVINSI TAHUN AJARAN 2009/2010 Keperawatan No Provinsi (1) (2) Kefarmasian SPK SPRG AKPER AKBID AKG SMF (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 1.140 179 SMAK 88 337 100 AKUPUN KTUR 35 420 19 Nusa Tenggara Timur ATW 27 502 392 AOT 58 3.615 41 28 500 60 2.463 220 2.361 ATEM PTTD (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) 67 120 90 60 50 39 99 (25) (26) Jumlah (27) 14 80 67 38 80 2.284 20 Kalimantan Barat ATG 80 3.013 256 506 805 223 104 0 0 48.105 80 26 28 KARDIOV ORTOTIK ASKULER PROSTETIK 35 83 60 80 109 50 2.944 3.Lampiran 5.939 104 160 251 36 6 79 26 51 80 80 231 64 20 104 4.241 2.796 36 7.163 30 14.535 516 12 21 689 345 128 420 26 81 109 168 147 106 7 48 134 85 103 50 49 78 30 140 10 19 340 152 80 44 60 80 266 17 725 54 115 5.259 30 712 424 571 0 30 51 553 109 90 1.062 365 4 Riau 605 703 6 Jambi 298 50 7 Sumatera Selatan 1.127 63 61 23 1.678 14 149 22 Kalimantan Selatan APIKES (11) 17 310 192 ARO 210 395 21 Kalimantan Tengah ATRO 60 412 490 AAK 29 1.040 554 28 Gorontalo 0 29 Maluku 0 30 Maluku Utara 0 31 Papua 49 JUMLAH Sumber : BPPSDM Kesehatan. Kemenkes.420 (9) 1 10 Kepulauan Bangka Belitung 80 AKAFAR AKFAR MA 80 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 49 100 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 160 15 DI Yogyakarta 80 14 Banten 17 Bali 695 23 Kalimantan Timur 411 24 Sulawesi Utara 387 25 Sulawesi Tengah 451 26 Sulawesi Selatan 80 50 27 Sulawesi Tenggara 1.014 .

064.95 KEMENTERIAN KESEHATAN Sumber: Biro Perencanaan dan Anggaran.839 80.000 1.301 33.873.2.794.1 Program Pendidikan Kedinasan 1.57 37.541.181.500. Kemenkes.3.844.398.Lampiran 5.220.699 66.49 3.1 Program Sumber Daya Kesehatan 873.000 1.000 922.809.54 262.462.86 3.563.3.1 Program Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat 117.418.137.182.01 20.753.913.215.43 3.202.1.385.170.082.3.854 36.2 Program Kebijakan & Manajemen Pembangunan Kesehatan 748.000 128.99 182.000 186.74 22.3 Program Pencegahan & Pemberantasan Penyakit 726.886.561.000 26.1.03 Program Peningkatan Pengawasan & Akuntabilitas Aparatur Negara 50.221.46 3.003.022 71.130.04 43.80 3.659.000.821 81.000 494.319.351.946.608.519.56 239.046 41.94 4.97 602.091.908.329.458.348.482.640 25.889.978 28.290 27.401.07 3.728.525.000 39.491.541.1 Program Upaya Kesehatan Perorangan 10.490.689.700.3.56 24.797.235 77.20 31.714 52.4 Program Perbaikan Gizi Masyarakat 449.360 74.666.93 70.14 144.328.954 58.803.5.445.1 Program Penelitian & Pengembangan Kesehatan 165.05 4.086.500.000 187.765 22.938. 2010 .576.07 3.1.146 63.038.) (4) Total Realisasi (Rp.1 Program Lingkungan Sehat 231.563.817.935.043.535.000 1.438.117.096.629 80.44 1.1.348.1.4. Kementerian/Fungsi/Sub Fungsi/Program/Kegiatan (1) (2) 1.251.371 19.006 73.416.400.629.587.000 8.1 Program Penerapan Kepemerintahan Yang Baik 1.1.061.498.000.141.300.884.000 633.117.551.1 Program Obat & Perbekalan Kesehatan 992.26 2.51 663.671.743.3 Program Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aaparatur 61.346 7.96 3.494.2 Program Upaya Kesehatan Masyarakat 2.286 47.179 18.710 72.000 16.509 15.886 85.) (7) % (8) 2.114 14.275.161 19.947.000 582.000.199.44 3.5.) % (5) (6) Sisa Anggaran (Rp.405.737.654 92.124.300.491 84.755.866.038.226.31 ALOKASI DAN REALISASI KEMENTERIAN KESEHATAN RI TRIWULAN IV TAHUN 2009 No.93 1.06 253.970.000.638.537.000 86.080.483.2 Pagu Revisi (Rp.994 26.

338 100.207 - - 565.000 537.390 1.350.798.398 337.992 - - 87.363 45.133 98.471 1.443 - 67.804 85.706 57.248 - - - - 0 3.910 - 48.256.647 2.23 1.358 2.450 55.099 - 107.469.535.233 - - 4.042.47 25 Sulawesi Tengah 2.596.732 - 6.333 81.281 - - - - 202.809 2.506.010 - - 20.871 344.881 2.599 - 35.051 248.422.825 323.142.317 3.564.338 2.163.505 - 545.319.342 473.000 - 1.002.535.951 306.310 - 8. 2010 3.211 55.427 8 Lampung 8.951 10.079.840.193 24.000 - 27.618 - 14.689 - 353.290 - 217.700.T.146.119 5.381.449.356.225 - 60.32 28 Gorontalo 1.Lampiran 5.962 521.649.268 - - - 40 - - 714.988 - - - - 4.12 16 Banten 14 D.434.715.160.500 - - 14.516 621.963.60 - - - - - - 4.440.857 966.649 - 170.723 - - 1.822 81.24 29 Sulawesi Barat 1.317 449.579.884 - 134.627 2.711.166 44.589 82.234 27.56 11 DKI Jakarta 9.00 12 Jawa Barat 42.001 47.584.961 - 4.683 - - 10.870 437.751 5.853 42.236.38 13.291.261 496.870 56.161 60.202.774.38 23 Kalimantan Timur 3.37 19 Nusa Tenggara Timur 4.164 - 16.811 - 1.358 6.886 3.692 6 Sumatera Selatan 7.844 - - 572.577.142 1.868.350.000 1.673 55.643 1.102.252 204.868.540.362.978 3.672 7 Bengkulu 1.498 - - - - 100.640.842 234.250 3.349 - - 4.622 - 298.512 132.76 2.175 3.558 75.086 - 106.721 56.680 3 14.962 1.00 - - 18.581 1.549 81.400.020 10.000 - 167.476 - - 89.768 - 333.474 77.167 310.349 7.444 843.002 4.776 328.390 939.793.210 1.817 84.666 21.693. Kemenkes.12 3.454.961 5 Jambi 2.135.737 730.972 277.912 80.770.184 405.098 173.001 - - 17.271 31.61 24 Sulawesi Utara 2.525 25.857 - 147.157 1.969 2.976 - 572.599 99.358.166 854.568 7.370 218.089 10.69 26 Sulawesi Selatan 7.351 12.388.388.299 - 3.09 13 Jawa Tengah 32.145 - - - - 559 - - - - 0 517.164.000 - - - 98.971 50.601 6.356 65.472 - 21.32 10 Kepulauan Riau 1.912 - 708.143 100.645 431.004 - 493.20 31 Maluku Utara 1.32 22 Kalimantan Selatan 3.25 729.027 241.447 205.29 - - - - 199.067 - - 175 - 304.800 777.764 4 Riau 5.942 57.854 4.080 524.364 129.224 851.300 - 103.605 - - - - 86.451 308.875 15.576 - 3.012 2.792 - 323.86 15 Jawa Timur 37.205 - 114.488 - - 147.230 900.143.113.016.77 1.468 60.982 39.228.946.016. Yogyakarata 10.233.953.797 - 112.393 63.649 578.210 - - 114.679 - - 366 - 7.I.071 - 204.533 942.213 - - - - 0 2. Askes Pemda Lain-lain (11) (12) (13) (14) Total Total Jaminan Jamkesda (15) (16) % (17) 4.043 4.910.108.144.464 - - - - - - - 1.419 405.202 - 80.510.848 2.00 - - - - 13.135 95.074 - 10.35 20 Kalimantan Barat 4.156 - 100.434.886 - 2.396.573 115.941.693.432.676 9 Kepulauan Bangka Belitung Jamkesmas Non Quota (Jamkesda) Dana Sehat Asuransi Komersial TNI / POLRI Jamsostek (7) (8) (9) (10) Bapel / Uptd P.317.715 924.057 1.054.516.952.072.790 64.517 - - 339.005.391 - 534.582.891 - 14.032 - 87.016.969 - 714.281.569.006 0 31.976 2.833 - 405.034 169.536 3.006.278 613.312 - 37.097 2.749.576.579.710 - 421.098.73 18 Nusa Tenggara Barat 4.002.000 16.181 - 909.021 - - - - 1.095 - 89.964 1.473 - 565.308.659 85.67 17 Bali 3.13 32 Papua Barat 33 Papua Pusat NASIONAL 236.000 - 1.904 - - 2.402.00 27 Sulawesi Tenggara 1.01 55.829 8.670.617 744.749 - 5.259.535 - - - - - - - - - 0 2.898 43.717.881 16.358 - - 67.478 1.084 265.760 1.540 61.375 3.491 288.006 4.206.002.589.587 - - 78.789 632.172.588.414 48.003.792 18.856 485.14 21 Kalimantan Tengah 2.259.894.231 2.129 398.477 - 57.624 223.697.658 76.268 - - - 40 - - 170.525 1.880 - 980.005 2.55 1.837 310.623 - - - - 6.265 784.429 - 47.594 4.710.560.643 - 89.302 - - 41.710 88.849 80.32 DATA CAKUPAN KEPESERTAAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2010 PER JUNI 2010 Peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Jiwa) No Provinsi (1) (2) Jumlah Penduduk Jamkesmas (3) (4) Askes PNS Jpkm / Bapel (5) (6) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4.716 136.043 4.498.809 84.500 673.070 1.455 11.564 100.601.175 2.911 277.605 - 60.854 854.395.539 279.051 2.264 - - - - - - - - - 0 596.399 527.514.318 2.594 - 339.483 1.891 111.663 49.474 - 10.078 23.046.053 2.129.014 179.898.95 .053 79.506 395.473 5.961 79.225 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.028.91 30 Maluku 2.756 5.

33 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER UMUM PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Terpencil Sangat Terpencil Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Total (9) 7 2.99 110 78.80 74 59.97 45 33.74 108 8 Lampung 9 8.00 22 18 Nusa Tenggara Barat 7 11.38 19 31.58 223 28 Gorontalo 0 0.36 42 47.45 11 10 Kepulauan Riau 8 13.193 26.00 15 12 Jawa Barat 62 100.00 0 0.38 122 25 Sulawesi Tengah 0 0.45 75 55. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali .25 64 29 Sulawesi Barat 0 0.67 420 31 Maluku Utara 0 0.00 0 0.00 23 15 Jawa Timur 64 100.85 49 34.50 57 55.58 67 64.77 189 26 Sulawesi Selatan 17 16.88 51 7 Bengkulu 0 0.26 44 40.27 4.00 19 5.04 139 40.80 114 91.00 0 0.00 62 13 Jawa Tengah 125 100.Lampiran 5.81 91 30 Maluku 2 0.34 29 28.45 20 8.00 0 0. Kemenkes.00 36 9.14 1.00 31 21.27 104 9 Kepulauan Bangka Belitung 2 18.00 25 13.00 0 0.86 406 96.487 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.52 197 57.35 373 20 Kalimantan Barat 0 0.00 0 0.00 12 13.00 52 42.27 143 6 Sumatera Selatan 7 13.89 77 53.57 350 500 11.65 76 73.00 51 40.36 5 45.58 134 4 Riau 18 18.00 26 26.91 88 24 Sulawesi Utara 0 0.00 0 0.00 37 35.08 19 18.48 12 2.39 3 5.00 20 17 Bali 22 100.59 2.00 0 0.00 100 5 Jambi 17 11.65 337 90.01 141 21 Kalimantan Tengah 0 0.37 26 44.00 0 0.03 171 54.97 202 90.00 12 18.19 79 86.13 199 93.73 36 40.75 52 81.00 56 56.00 13 6.00 64 16 Banten 20 100.23 164 86.00 11 8.56 25 42.16 103 27 Sulawesi Tenggara 1 0.15 61 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.43 343 Sumatera Utara 50 16.62 70 57.43 331 94.20 125 23 Kalimantan Timur 10 11.17 312 3 Sumatera Barat 14 10.00 0 0.42 104 22 Kalimantan Selatan 0 0.00 0 0.00 0 0.73 41 80.18 4 36.87 212 33 Papua 0 0.00 125 14 DI Yogyakarta 23 100.00 64 59.48 35 57.794 62.07 59 11 DKI Jakarta 15 100.81 91 29.00 0 0.00 0 0.20 125 32 Papua Barat 0 0.

97 15 38.83 11 45.29 153 98.00 0 0.00 0 0.65 11 25.36 19 34.56 17 94.00 2 33.00 0 0.23 21 80.00 1 5.00 29 14 DI Yogyakarta 13 100.88 14 27.11 38 143 11.00 14 16.86 39 55.00 0 0.00 1 3.00 0 0.71 1.64 149 20 Kalimantan Barat 0 0.56 23 58.58 30 69.77 26 6 Sumatera Selatan 0 0.86 28 22 Kalimantan Selatan 0 0.00 1 2.Lampiran 5.00 11 55.00 5 19.00 10 7 Bengkulu 0 0.00 20 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0.00 0 0.69 12 46.72 86 2 Sumatera Utara 9 12. Kemenkes.10 58 28 Gorontalo 0 0.09 31 56.03 32 96.00 8 18.55 55 27 Sulawesi Tenggara 0 0.00 9 45.02 910 71.43 70 3 Sumatera Barat 3 5.00 19 95.00 0 0.00 7 18 Nusa Tenggara Barat 5 20.00 6 60.00 0 0.44 18 8 Lampung 0 0.28 72 83.14 26 92.00 2 5.00 4 6.00 13 15 Jawa Timur 46 100.89 35 92.00 0 0.00 0 0.71 22 31.29 35 26 Sulawesi Selatan 5 9.71 155 31 Maluku Utara 0 0.27 216 17. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali .00 2 40.11 40 88.15 26 11 DKI Jakarta 0 0.00 5 3.45 34 66.33 24 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.00 30 100.60 35 81.46 39 5 Jambi 0 0.83 8 33.00 6 17 Bali 7 100.00 0 0.00 0 12 Jawa Barat 15 100.40 43 23 Kalimantan Timur 2 4.00 3 7.00 3 60.36 144 96.50 39 97.71 33 94.15 12 46.00 20 29 Sulawesi Barat 0 0.269 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.00 0 0.50 40 21 Kalimantan Tengah 0 0.00 0 0.00 5 10 Kepulauan Riau 2 7.00 2 7.67 6 25 Sulawesi Tengah 0 0.89 45 30 Maluku 0 0.33 4 66.00 0 0.97 33 33 Papua 0 0.00 46 16 Banten 6 100.00 15 13 Jawa Tengah 29 100.67 51 4 Riau 1 2.00 5 11.34 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER GIGI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) Terpencil Sangat Terpencil Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Total (9) 1 Aceh 0 0.00 4 40.77 43 24 Sulawesi Utara 0 0.00 30 32 Papua Barat 0 0.90 54 93.00 0 0.00 2 1.00 1 5.

86 4 57.00 118 100.07 213 41.43 237 7 Bengkulu 18 9.90 110 99.00 23 22 Kalimantan Selatan 0 0.00 0 0 113 15 Jawa Timur 1102 93.00 186 100.51 39 41.85 819 13 Jawa Tengah 1732 100.00 109 100.84 56 81.98 91 15.92 222 72.00 186 21 Kalimantan Tengah 0 0.14 7 29 Sulawesi Barat 0 0.00 120 100.57 65 27.51 4.00 6 33 Papua 0 0.00 34 32 Papua Barat 0 0.00 34 100.00 0 0 6.49 94 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.56 806 50.00 109 30 Maluku 0 0.35 281 82.15 138 16.44 1598 3 Sumatera Barat 366 69.006 .16 69 11 DKI Jakarta 0 0.00 29 31 Maluku Utara 0 0.93 508 27 Sulawesi Tenggara 1 0.00 21 25 Sulawesi Tengah 0 0.00 6 100.456 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.28 1065 90.00 29 100.67 24 53.Lampiran 5.23 177 90.00 21 100.84 6 3.00 23 100.00 125 100.00 125 26 Sulawesi Selatan 295 58.00 120 20 Kalimantan Barat 0 0.16 190 18 Nusa Tenggara Barat 55 58.77 195 8 Lampung 515 84.49 0 11.08 308 5 Jambi 59 17.00 0 0 1732 14 DI Yogyakarta 113 100.47 77 6.33 45 24 Sulawesi Utara 0 0.65 340 6 Sumatera Selatan 172 72.35 REKAPITULASI PENGANGKATAN BIDAN PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) Terpencil Jumlah Total Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) 1 Aceh 109 9. Kemenkes.00 8 20.88 340 17 Bali 184 96.53 1179 16 Banten 201 59.02 606 9 Kepulauan Bangka Belitung 32 80.94 530 4 Riau 86 27.00 40 10 Kepulauan Riau 13 18.00 0 0 0 12 Jawa Barat 681 83.00 118 23 Kalimantan Timur 21 46. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali 40.72 1174 2 Sumatera Utara 792 49.550 59.10 111 28 Gorontalo 3 42.12 139 40.06 164 30.

Kemenkes.36 KEADAAN DOKTER SPESIALIS PTT DEPKES YANG MASIH AKTIF SAMPAI DENGAN TAHUN 2009 PENGANGKATAN TAHUN 2008 NO PROVINSI (1) (2) APRIL PENGANGKATAN TAHUN 2009 JUNI APRIL JUNI TOTAL PERPANJANGAN APRIL TAHUN 2009 SEPTEMBER B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) B T ST ∑ (26) (27) (28) (29) 1 Aceh 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 4 1 5 2 Sumatera Utara 3 0 0 3 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 5 3 0 8 3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 5 Jambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 5 0 5 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 2 10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 Jawa Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 Jawa Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 Jawa Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 Banten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 2 0 0 0 0 1 2 3 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 0 3 0 3 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 23 Kalimantan Timur 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 3 2 0 7 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 26 Sulawesi Selatan 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 2 0 1 4 0 5 27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 2 31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 4 0 0 4 4 0 0 4 1 10 6 17 0 5 1 6 0 10 2 12 0 4 0 9 29 9 47 TOTAL Sumber : Biro Kepegawaian. 2010 .Lampiran 5.

0 100.1 85. Bangka Belitung 6 3 9 4 3 7 66.0 100.0 54.0 100.0 61.4 9 23 32 9 23 32 100.8 15 Kalimantan Selatan 28 18 46 14 18 32 50.1 368 335 703 268 332 600 72.0 100.0 100.0 100.0 82.6 97.0 4 0 4 4 0 4 100.4 22 12 34 22 12 34 100.5 13 Kalimantan Barat 21 24 45 8 19 27 38.0 100.0 100.0 12 0 12 12 0 12 100.0 100.4 100.2 100.8 99.6 100.0 100.0 100.9 98.0 0.0 82.0 30 99 129 10 89 99 33.6 96.0 11 21 32 6 21 27 54.7 100.1 100.0 95.0 100.8 95.0 8 2 10 8 2 10 100.7 12 54 66 8 54 62 66.0 100.0 84.0 95.7 100.0 100.8 44.0 100.0 100.0 18 4 22 18 4 22 100.0 100.0 0.0 100.0 2 37 39 2 37 39 100.0 100.0 100. Kemenkes.4 100.0 100.8 24 3 27 16 3 19 66.9 100.0 100.0 100.2 10 17 27 2 10 12 20.0 70.0 10 Kepulauan Riau 11 Nusa Tenggara Barat 14 4 18 8 4 12 57.0 100.0 100.0 84.0 6 41 47 3 41 44 50.9 7 60 67 6 58 64 85.0 94.1 425 Sumber : Biro Kepegawaian.0 77.3 16 13 29 11 13 24 68.0 100.1 100.0 9 8 17 9 8 17 100.9 94.0 51.1 2 36 38 1 36 37 50. 2010 475 900 288 460 748 67.6 100.0 100.0 100.0 100.0 85.0 100.1 100.37 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER UMUM PTT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (3) (4) (5) April Realisasi Kriteria Jumlah T ST (6) (7) (8) Persentase Kriteria Jumlah T ST (9) (10) (11) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (12) (13) (14) Juni Realisasi Kriteria Jumlah T ST (15) (16) (17) Persentase Kriteria Jumlah T ST (18) (19) (20) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (21) (22) (23) September Realisasi Kriteria Jumlah T ST (24) (25) (26) T Persentase Kriteria Jumlah ST (27) (28) (29) 1 Aceh 43 42 85 39 42 81 90.0 100.0 100.0 100.0 66.5 100.3 100.0 100.0 100.0 100.0 45 25 70 40 25 65 88.9 100.1 79.0 93.0 100.0 6 Sumatera Selatan 11 2 13 11 2 13 100.0 12 21 33 7 21 28 58.0 57.4 62.6 0 5 5 0 5 5 0.7 100.0 0.0 100.8 81.Lampiran 5.0 54.0 100.7 14 4 18 11 4 15 78.5 100.0 100.0 4 6 10 4 6 10 100.3 97.0 19 2 21 19 2 21 100.0 100.0 72.6 3 23 26 3 23 26 100.1 35 7 42 19 7 26 54.2 23 26 49 6 26 32 26.0 28 1 29 28 1 29 100.0 4 9 13 4 9 13 100.8% 96.9 18 Sulawesi Tengah 12 25 37 1 25 26 8.0 100.0 100.0 100.8 100.0 100.0 100.57704 .0 100.9 100.0 95.0 21 7 28 21 7 28 100.0 84.0 100.8 100.7 13 9 22 3 9 12 23.0 14 1 15 14 1 15 100.0 3 Sumatera Barat 22 19 41 22 16 38 100.0 100.0 100.0 100.0 100.9 6 45 51 6 43 49 100.0 65.3 100.0 8 Lampung 26 8 34 26 8 34 100.7 16 Kalimantan Timur 19 15 34 14 15 29 73.3 100.1 100.1 14 9 23 13 9 22 92.0 4 Riau 13 5 18 13 5 18 100.0 92.0 14 Kalimantan Tengah 20 17 37 9 14 23 45.8 83.6 19 5 24 12 5 17 63.0 82.0 19 7 26 19 7 26 100.5 13 8 21 13 8 21 100.0 7 Bengkulu 28 13 41 22 13 35 78.8 3 5 8 3 5 8 100.3 16 20 36 7 19 26 43.0 93.0 100.0 22 Sulawesi Barat 23 Maluku 24 Maluku Utara 25 Papua Barat 0 39 39 0 37 37 0.0 87.6 21 7 28 9 7 16 42.6 10 9 19 5 9 14 50.4 15 12 27 3 12 15 20.7 96.0 16 4 20 16 4 20 100.0 100.7 100.0 100.0 83.0 100.6 21 Gorontalo 16 15 31 1 15 16 6.0 100.0 5 Jambi 18 13 31 18 13 31 100.3 11 5 16 9 5 14 81.3 8 5 13 8 3 11 100.7 22 9 31 22 9 31 100.7 57.0 84.0 100.7 95.0 0.0 100.7 10 60 70 3 37 40 30.4 20 Sulawesi Tenggara 17 46 63 6 45 51 35.875 96.78363 89.0 100.0 9 Kep.0 100.3 320 342 662 262 331 593 26 Papua Jumlah 81.2 60.0 60.7 100.0 70.0 100.0 100.8 10 37 47 7 37 44 70.0 70.0 57.0 58.3 100.0 61.0 93.7 8 34 42 2 34 36 25.0 58.0 5 22 27 5 22 27 100.0 85.5 8 10 18 3 10 13 37.0 72.0 85.0 69.0 97.0 13 4 17 13 4 17 100.6 12 Nusa Tenggara Timur 14 73 87 13 72 85 92.2 92.4 19 Sulawesi Selatan 16 7 23 12 7 19 75.0 26 1 27 26 1 27 100.0 17 Sulawesi Utara 27 4 31 13 4 17 48.3 18 18 36 18 18 36 100.9 2 Sumatera Utara 16 12 28 16 12 28 100.0 55.8 0 2 2 0 2 2 0.9 76.0 100.8 35 21 56 11 21 32 31.0 73.0 100.0 100.3 89.0 100.0 0 0 0 0 0 0 0.0 100.2 11 6 17 4 6 10 36.

3 0.0 0.6 25 Papua Barat 0 13 13 0 9 9 0.6 7 2 9 4 2 6 0.4 6 7 0.1 0.0 0.0 5 2 7 1 7 Bengkulu 26 11 37 0 5 5 0.5 0.0 1.0 24 Maluku Utara 6 5 11 0 3 3 0.0 0.0 0.0 0.5 0 0 5 5 10 2 5 7 0.3 0.7 6 3 9 1 3 4 0.3 1.5 1.4 3 4 7 2 4 5 Jambi 12 0 12 1 0 1 0.0 0.3 0.0 0.5 0.5 1.2 0.1 0.8 0.6 0.0 386 360 746 48 168 216 12.6 2 4 6 2 2 4 1.6 23 1 24 8 1 9 0.3 17 2 19 4 1 5 0. Kemenkes.4 1.4 0.0 0.4 0.1 0.0 9 4 13 1 0 1 0.5 0.0 0.0 0.4 0.4 0.0 219 225 444 53 121 174 24.1 20 7 27 0 6 6 0.7 0.5 0.1 18 Sulawesi Tengah 16 26 42 0 5 5 0.0 0.5 16 Kalimantan Timur 19 18 37 4 8 12 0.3 0.0 1.3 29 16 45 2 16 18 0.0 0.6 0.4 0.3 2 3 0.1 25.5 0.7 23 Maluku 0 40 40 0 23 23 0.0 0.0 0.7 0.0 13 Kalimantan Barat 13 15 28 0 9 9 0.3 4 0 4 0 0 0 0.6 0.3 18 14 32 3 4 7 0.7 0 0 0 0 0 0 2 13 15 0 4 4 0.0 0.5 0.4 6 21 27 1 11 12 0.7 29.9 6 0.3 8 41 49 1 21 22 0.2 0.2 0.1 0.6 1.2 28 1 29 2 1 3 0.4 0.3 0.2 22 Sulawesi Barat 26 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.8 0.2 0.6 0.3 20 11 31 0 4 4 0.6 0.5 0.1 0.4 0.Lampiran 5.5 0 9 9 0 9 9 1.4 0.5 0.1 0.2 2 10 12 0 7 7 0.6 11 Nusa Tenggara Barat 14 4 18 2 4 6 0.2 1.4 16 5 21 8 4 12 0.2 30 7 37 0 7 7 0.9 0.0 12 Nusa Tenggara Timur 16 72 88 1 26 27 0.4 1.4 3 Sumatera Barat 21 13 34 2 7 9 0.5 0.8 0.0 0.0 0.0 0.0 0.3 0.2 0.2 7 7 14 2 5 7 0.4 46.3 4 6 10 0 2 2 0.0 0.2 0.3 3 18 21 0 1 1 0.0 0.1 1.0 0.3 0.0 0.5 0.3 21 25 46 2 16 18 0.6 20 Sulawesi Tenggara 11 31 42 1 13 14 0.0 0.1 21 11 32 0 5 5 0.3 0.0 0.3 21 9 30 0 5 5 0.7 0.5 17 0 17 6 0 6 0.2 15 Kalimantan Selatan 34 7 41 4 4 8 0.0 0.2 6 8 14 1 2 3 0.0 0.8 39.5 1.4 6 0.5 5 0 5 0 0 0 0.0 0.0 0.1 0.2 30 22 52 3 11 14 0.4 1.3 19 Sulawesi Selatan 14 4 18 7 4 11 0.4 48.2 0.0 0.1 13 12 25 0 4 4 0.0 .7 0.7 0.0 0.2 0.3 15 54 69 0 21 21 0.0 0.3 0.3 3 4 7 0 3 3 0.0 385 262 647 36 126 162 9.4 21 Gorontalo 14 8 22 0 3 3 0.7 0.5 3 6 9 1 4 5 0.0 0 0 0 0 10 Kepulauan Riau (29) 0.1 0.1 0.4 0.1 1.0 1.0 1.2 14 Kalimantan Tengah 21 22 43 0 6 6 0.0 0.4 20 2 22 9 2 11 0.7 1.1 8 10 18 0 2 2 0.4 0.4 0.2 1.1 35 30 65 0 7 7 0.1 13 0 13 6 9 Kepulauan Bangka Belitung 3 2 5 0 2 2 0.5 17 Sulawesi Utara 22 4 26 1 1 2 0.1 27 11 38 0 3 3 0.1 0.2 53.2 0.2 5 13 18 0 5 5 0.0 0.0 0.6 0.4 0.7 9 3 12 4 3 7 0.0 0.1 1.4 0.3 0 6 0.2 0.1 2 Sumatera Utara 15 9 24 4 6 10 0.2 6 6 12 1 5 6 0.6 0 40 40 0 18 18 0.4 15 4 19 6 2 8 4 Riau 15 3 18 9 3 12 0.0 0.0 0.0 0.3 0.1 9 5 14 0 0 0 0.2 20 4 24 3 3 6 Sumatera Selatan 11 2 13 4 2 6 0.7 0.3 0.0 1.1 9 16 25 0 7 7 0.0 0.2 12 12 24 5 8 13 0.1 14 10 24 1 8 Lampung 28 3 31 2 3 5 0.1 0.8 0.0 0.5 0.3 0.0 0.4 2 1 3 2 1 3 1.1 8 12 20 1 2 3 0.1 1. 2010 0.2 0.0 0.0 0.1 0.6 0.38 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER GIGI PTT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (3) (4) (5) April Realisasi Kriteria Jumlah T ST (6) (7) (8) Persentase Kriteria Jumlah T ST (9) (10) (11) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (12) (13) (14) Juni Realisasi Kriteria Jumlah T ST (15) (16) (17) Persentase Kriteria Jumlah T ST (18) (19) (20) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (21) (22) (23) September Realisasi Kriteria Jumlah T ST (24) (25) (26) T Persentase Kriteria Jumlah ST (27) (28) 1 Aceh 44 37 81 3 12 15 0.

0 28 11.9 46 3.0 711 67.5 0 0.3 907 DITJEN BINA BINKESMAS DITJEN BINA YANMED KANTOR PUSAT V S2 10 SUBTOTAL III % SETJEN KANTOR PUSAT II S3 2 0.9 9074 30 3.5 270 21.2 1455 0.6 54 8.2 69 2.5 51 9.2 155 23.9 0.0 35 16.498 3.0 202 24.2 35 4.7 UPT 0 0.1 345 10.0 3 0.1 8 1.6 395 4.8 1.3 1049 11.156 12.39 DISTRIBUSI PEGAWAI KEMENTERIAN KESEHATAN RI DIRINCI MENURUT JENIS PENDIDIKAN TAHUN 2009 PENDIDIKAN No Nama Satuan Organisasi (1) (2) I IV VI VII % SPESIALIS 1/2/AV % S1 % D III % D1 % SMA % SMP % SD % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) JUMLAH (21) 0 0.2 48 1.6 51 0.7 796 23.8 1.8 8548 SUBTOTAL 14 0.0 9.5 560 20.4 322 3.4 240 8.900 29.2 123 25.0 1052 0.4 57 4.8 1278 4.2 176 33.3 31575 DITJEN PP DAN PL KANTOR PUSAT 3 0.3 951 23.2 4 0.6 1 0.0 215 BADAN PPSDM KESEHATAN KANTOR PUSAT 0 0.4 353 3.7 22 5.5 215 32.8 40 3.2 9 1. 2010 87 0.6 15 1.8 421 28.6 881 26.8 6 1.1 2 0.2 84 17.9 14.1 0 0.4 123 KANTOR PUSAT 0 0.8 483 17.6 4 0.7 0 0.3 1 0.1 38 0.2 6.7 1 0.5 571 20.5 89 2.4 1 0.3 31067 SUBTOTAL 26 0.0 UPT 0 0.2 205 22.4 33 1.0 31 14.0 SUBTOTAL 0 0.1 3 0.9 180 12.5 76 2.0 3393 SUBTOTAL 5 0.8 485 2 0.1 1734 5.1 1889 6.6 1248 VIII BADAN LITBANGKES KANTOR PUSAT UPT SUBTOTAL TOTAL Sumber: Biro Kepegawaian.0 1131 27.1 78 17.8 10845 34.1 375 4.7 12 1.2 20 0.7 51 0.6 1871 20.8 215 20.1 721 2.3 1.9 526 UPT 14 0.6 471 0.6 1370 4.0 727 2.1 116 26.6 8 0.9 16 3.1 11221 35.3 173 238 26. Kemenkes.6 50.2 82 19.0 152 36.0 24 10.3 2 0.9 422 35.1 4053 DITJEN BINA KEFARMASIAN DAN ALKES 0 0.3 0 0.4 984 35.2 508 UPT 24 0.3 489 33.4 3655 11.7 6 1.855 3.3 40 18.2 8 1.5 192 29.5 39 7.7 212 26.5 263 0.8 35 86 17.0 262 0.3 37 0.6 1096 27.3 812 1 0.8 31 5.9 1 0.6 5 1.0 INSPEKTORAT JENDERAL 266 18.0 17 2.8 10978 34.4 155 30.4 3296 36.4 88 37.1 537 13.0 149 28.4 42 3.4 4 0 0.2 86 2.0 218 24.326 28.0 43 4.3 20 3.0 DPK/DPB 0 0.5 998 11.8 1 0.9 135 3.0 1077 31.6 373 29.8 11182 36.8 75 31.7 1 0.7 8 1.2 0 0.0 436 31 2.5 13 2.0 110 46.2 2007 22.4 7 1.6 1722 20.7 2744 0 0.6 15 51.2 23 0.1 0 29 2.2 58 13.6 0 0.6 5 0.6 660 UPT 2 0.3 12 5.4 8 1.4 3120 36.8 2 0.9 26 3.4 11 40 1.2 133 26.0 7 3.2 1909 22.0 98 18.6 160 31.0 208 22.Lampiran 5.9 182 14.6 10 0.0 1378 4.5 8 1.3 0 0.7 1.9 1274 4.0 140 32.8 237 3 0.3 11 0.0 2 0.0 108 50.4 3815 12.0 233 28.7 66 8.7 134 31.056 .479 18.4 280 22.6 28 1.7 127 3.284 2.9 14.

290 10 Thailand 67.2 1.0 356 29 1. USAID.World Population Data Sheet. 2010 : Laju pertumbuhan penduduk Ket: *) pada data BPS.7 35 62 3 61 1.1 76 27 2.3 29 65 6 54 3.440 12 Bhutan 0.6 32 63 5 59 4.880 13 India 1171.820 4 Laos 6.486 100 1.Lampiran 6.120 17 Sri Lanka 20.480 18 Timor Leste 1.64 Tahun (%) Tahun 2008 1998-2008 Atas (%) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 0.057 38 1.0 32 64 4 56 13.200 Filipina 92.0 74 33 0.7 188 63 0.7 15 35 2.990 11 Bangladesh 162.3 86 70 2.1 37 59 4 69 1.The State of The Worlds Children.8 26 67 7 49 4.700 8 Indonesia 243. 2009 .9 35 61 4 64 3.6 32 63 5 59 2.280 16 Nepal 27.8 132 33 0.5 30 65 5 54 5.900 3 Kamboja 14.9 18 73 9 37 47.740 6 Singapura 5.1 7.5 312 15 0.3 26 67 7 49 2.1 PERBANDINGAN BEBERAPA DATA KEPENDUDUKAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 No Negara Jumlah Penduduk (Juta Jiwa) (1) (2) (3) 1 Brunei Darussalam 2 Kepadatan Penduduk (per Km²) Persentase Penduduk di Daerah Perkotaan (4) (5) Laju Persentase Persentase Persentase Angka Beban GNI PPP per Pertumbuhan Penduduk Usia Penduduk Usia Penduduk Usia Tanggungan kapita (US$) Penduduk 65 Tahun Ke 0-14 Tahun 15 .3 27 31 1.4 66 75 2.2 307 65 1.9 45 52 3 92 4.8 27 68 5 47 1.8 39 57 4 75 2.6 32 64 4 56 1.5 187 17 2.8 82 22 1.060 5 Malaysia 28.3 1.4 juta jiwa .127 27 1.9 22 71 7 41 5.940 7 Vietnam 87.960 14 Korea Utara 22.6 22 69 9 45 - 15 Maladewa 0. jumlah penduduk Indonesia tahun 2009 adalah 231.1 26 70 4 43 50.3 * 128 52 1.830 9 Myanmar 50.690 Sumber : .3 263 28 1.

755 102 0.489 59 64 62 6. USAID. Angka kematian maternal .8 15 9 14 11 13 16 12 14 110 11 Bangladesh 146 0.7 23 7 52 53 52 65 73 69 450 14 Korea Utara - - - - 65 69 67 1.919 30 0.584 137 0.619 61 65 63 2.Lampiran 6.942 24 0.3 23 7 45 40 43 56 53 54 570 12 Bhutan 132 0.593 59 64 62 2.612 63 66 64 2.759 63 76 69 2.0 22 4 27 21 24 30 25 28 120 16 Nepal 144 0.5 40 9 84 65 75 105 80 93 380 Sumber : .World Population Data Sheet.1 17 5 12 12 12 14 13 14 150 8 Indonesia 111 0.547 144 0.1 16 3 5 6 5 6 7 7 13 Filipina 105 0.535 148 0.3 10 4 3 2 2 3 2 3 14 7 Vietnam 116 0.9 29 9 41 41 41 52 51 51 830 17 Sri Lanka 102 0.825 66 0.584 138 0.613 132 0.543 64 65 65 2.5 28 7 53 41 48 65 58 61 660 5 Malaysia 66 0.829 71 76 73 2.1 26 5 30 22 26 38 27 30 230 3 Kamboja 137 0.6 25 8 58 49 54 87 75 81 440 13 India 134 0.751 67 74 70 3.586 53 56 54 2.729 111 0.2 ANGKA KELAHIRAN.783 87 0.Human Development Report 2009: Indeks Pembangunan Manusia . DAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO No Negara Indeks Pembangunan Manusia Peringkat IPM dunia Peringkat IPM dunia 2006 (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 (3) Usia Harapan Hidup Waktu Angka Kelahiran Angka Kematian Total Fertility Lahir Kasar per 1000 Kasar per 1000 Rate (TFR) Penduduk Penduduk L P L+P Indeks Pembangunan Manusia 2007 (4) (5) Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Balita (AKABA) L P L+P L P L+P (13) (14) (15) (16) (17) (18) 2008 (6) (7) (8) (9) (10) (11) Angka Kematian Maternal (per 100.771 73 75 74 2.944 79 83 81 1. 2009 .78 66 74 70 1.920 75 77 76 2. ANGKA KEMATIAN.604 134 0.553 63 64 63 2.3 19 7 15 12 13 19 15 17 58 18 Timor Leste 162 0.World Health Statistics 2010 WHO: AKABA.72 115 0.000 lahir hidup) 2005 (12) (19) 30 0.619 61 63 62 3.6 21 5 7 5 6 7 6 6 62 6 Singapura 23 0.9 25 8 76 62 69 97 82 89 540 4 Laos 133 0.2 21 6 34 28 31 * 44 37 41 * 420 * 9 Myanmar 138 0.9 16 10 43 41 42 57 53 55 370 15 Maladewa 97 0.747 105 0.3 21 10 85 66 76 133 111 122 380 10 Thailand 86 0.608 133 0.734 66 69 67 * 2.484 162 0.725 70 75 73 2.765 95 0.

WHO Penduduk Yang Menggunakan Sumber Air Bersih (%) Penduduk Yang Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat Perkotaan Perdesaan Total Perkotaan Perdesaan Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) - - - - - - 93 87 91 80 69 76 81 56 61 67 18 29 72 51 57 86 38 53 100 99 100 96 95 96 100 - 100 100 - 100 99 92 94 94 67 75 89 71 80 67 36 52 75 69 71 86 79 81 99 98 98 95 96 96 85 78 80 56 52 53 99 88 92 87 54 65 96 84 88 54 21 31 100 100 100 - - - 99 86 91 100 96 98 93 87 88 51 27 31 98 88 90 88 92 91 86 63 69 76 40 50 .Lampiran 6.3 PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SUMBER AIR BERSIH DAN YANG MENGGUNAKAN SARANA SANITASI SEHAT DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 (%) No Negara (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 Filipina 3 Kamboja 4 Laos 5 Malaysia 6 Singapura 7 Vietnam 8 Indonesia 9 Myanmar 10 Thailand 11 Bangladesh 12 Bhutan 13 India 14 Korea Utara 15 Maladewa 16 Nepal 17 Sri Lanka 18 Timor Leste Sumber : World Health Statistics 2010.

CDR = Case Detection Rate (Penemuan kasus baru) . WHO Keterangan : .9 86 68 16 Nepal 170 160 22 22 64 88 17 Sri Lanka 73 66 8 9.000 Penduduk Insidens TB Paru per 100.SR = Succes Rate (Angka kesembuhan) .6 73 86 18 Timor Leste 660 500 47 83 33 84 Sumber : World Health Statistics 2010.000 Penduduk Proporsi Kasus TB Paru melalui DOTS Case Detection Rate Succes Rate 2007 2008 2008 2007 (6) (7) (8) (9) 43 65 7 4.2 87 76 Filipina 550 280 41 52 67 89 3 Kamboja 680 490 77 79 56 94 4 Laos 260 150 22 32 67 92 5 Malaysia 120 100 13 15 76 72 6 Singapura 27 39 3 2.5 87 81 7 Vietnam 280 200 20 34 62 92 8 Indonesia 210 190 37 27 80 91 9 Myanmar 470 400 11 57 43 85 10 Thailand 160 140 15 19 64 83 11 Bangladesh 410 220 44 50 72 62 12 Bhutan 96 160 43 15 64 93 13 India 190 170 26 23 70 87 14 Korea Utara 270 340 65 39 70 87 15 Maladewa 13 42 4 2.Lampiran 6.000 Penduduk 2008 (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 (3) (4) Kematian yang berhubungan dengan TB Paru per 100.4 PERBANDINGAN DATA TUBERKULOSIS DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007/2008 No Negara Prevalensi TB Paru per 100.

0.4 11 Bangladesh 12.000 [ 170.120.000 .300 .0.000 .000 ] … 10 Thailand 610.500 ] [ <100 .000 ] … [ < 0.200.400 [ 3.900 .880.800 ] … < 500 … … … … … … … Sumber: 2008 Report on the global AIDS epidemic.000 12.3.1 [ < 0.300 ] 3.1 .000 .000 [ 63.3 .5.000 [ 17.400.000 ] [ <1000 ] 2.200 [ 2.000 .34.3 .400.000 ] 0.300 .25.4 .3.200 [ 1.5 [ 0.000 ] 20.2 .000 ] … … 250.400 ] < 500 [ <1000 ] [ < 200 ] … [ <100 ] 880.2.000 .000 [ 51.Lampiran 6.100.000 ] 79.0.000 ] 0.000 .000 ] … [ < 0.000 [ 170.000 .3 ] 1.600 .000 .5 ANGKA ESTIMASI HIV DAN AIDS DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 1.000 .000 [ 190.5.800 .1 ] 1.000 ] 70.100 ] 3.200 [ <1.000 [ 160.1 ] 2.100 [ 2.00 ] 1.000 .000 [ 190. Angka Estimasi HIV No Negara (1) (2) Dewasa dan Anak-anak Dewasa (15+) 2.000 .9 ] 20.700 [ 2.000 ] 5.000 [ 13.000 .000 ] 240.2 ] 2.860. Kematian Akibat AIDS Dewasa (15–49) Rate (%) Wanita (15+) Dewasa dan Anak-anak Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Brunei Darussalam … … … … … 2 Filipina 3 Kamboja 4 Laos 5 Malaysia 6 Singapura 7 Vietnam 290.600 .4.1 .23.000 [ 670.000 ] 270.13.1 .000 .000 ] 4.000 .000 [ 67.000 [ 36.000 .3.000 ] 0.000 .3.000 [ 1.360.500 .200 .000 [ 52.800 [ 2.000 .000 ] … 5.9 .<500 ] 76.1 ] [ <1000 ] 0.000 ] … … … … … [ 1.700.3.000] 0.000 .7.100] [ 180.80.0.000 .000 ] … [ < 0.370.100 ] < 200 75.1.000 ] 8.000 [ 12.470.900 .400 [ 1.5 [ 0.000 ] 4.2 9 Myanmar 240.120.1.8 [ 0.2 [ 0.470.900 [ 3.000 .000 ] 8.7 ] 17.4 ] [ <1.11.7 .11.500 [ 3.800.000 .600 .0.7.0.000 .1 ] 1 300 3.300 ] 4.000 ] 280.200 [ 5.000 .100 ] <100 80.000 .000 ] 68.700 .19.2 [ 0.200 ] 0.19.7.000 ] [ 7.000 .5 ] [ <100 ] … [ < 0.360.400 .5 [ 0.000 [ 150.3 ] … [ 0.<500 ] … [ <200 ] [ 2.000 [ 410.000 ] 0.000 ] 600.000 … < 100 70.000 [ 49.400.13.87.120.700 [ 4.0.0.1 .300 [ 6.200.000 ] 0.33.000] 0.000 [ 50.1 ] … [ <100 ] … [ <100 ] [ <100 ] … [ < 0.99.000 ] 54.13.000 .100 . UNAIDS/WHO … … … .000 [ 400.8 ] 21.000 12 Bhutan < 500 13 India 14 Korea Utara … [ <100 ] … 15 Maladewa … [ <100 ] … 16 Nepal 17 Sri Lanka 18 Timor Leste … … … … 8.100 < 200 … [ <100 .0.000 .97.000 .2.9 ] [ 0.800 .1 ] … [ <100 ] … [ <100 ] < 500 2.000 8 Indonesia 270.3 [ 0.84.300.000 [ 46.000 1.000 ] [ 7.000 [ 12.

151 0 S E A R O 6.016 0 11 Bangladesh 43 33 943 152 2.660 0 12 Bhutan 0 0 7 0 7 0 13 India 6.714 811 48.Lampiran 6.081 44.181 559 14 Korea Utara 0 395 0 0 82 0 15 Maladewa 0 0 0 0 0 0 16 Nepal 149 2.6 JUMLAH KASUS PENYAKIT MENULAR YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 No Negara Difteri Pertusis Tetanus Tetanus Neonatorum Campak Polio (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1 Brunei Darussalam 2 Filipina 3 0 2 0 0 3 0 65 46 813 132 341 0 Kamboja 7 1212 324 34 4211 0 4 Laos 2 26 12 5 174 0 5 Malaysia 4 11 29 13 334 0 6 Singapura 0 33 0 0 18 0 7 Vietnam 17 280 221 34 352 0 8 Indonesia 219 - 183 183 15.180 3. 2009 .preventable diseases: monitoring system.633 1.866 431 28.089 6 17 Sri Lanka 0 9 29 1 33 0 18 Timor Leste 0 0 9 1 0 0 A S E A N 324 1.477 1.502 46.369 0 9 Myanmar 3 5 147 25 333 0 10 Thailand 7 18 137 5 7.770 565 Sumber : WHO vaccine .231 75.297 308 53 2.937 5.

7 PERBANDINGAN CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 No Negara BCG (%) DPT3 (%) Polio3 (%) Campak (%) Hepatitis B3 (%) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Brunei Darussalam 96 99 99 97 99 2 Filipina 93 91 91 92 88 3 Kamboja 98 91 91 89 91 4 Laos 68 61 60 52 61 5 Malaysia 90 90 90 95 90 6 Singapura 99 97 97 95 96 7 Vietnam 92 93 93 92 87 8 Indonesia 89 77 77 83 78 9 Myanmar 88 85 85 82 84 10 Thailand 99 99 99 98 98 11 Bangladesh 98 95 95 89 95 12 Bhutan 99 96 96 99 96 13 India 87 66 67 70 21 14 Korea Utara 97 92 98 98 92 15 Maladewa 99 98 98 97 98 16 Nepal 87 82 82 79 82 17 Sri Lanka 99 98 98 98 98 18 Timor Leste 85 79 79 73 79 Sumber : WHO Immunization Summary.Lampiran 6. 2010: A Statistical Reference Containing Data through 2008 .

8 PERBANDINGAN UPAYA KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2000 .2009 2000 . USAID.World Population Data Sheet.2009 (3) (4) (5) (6) - - 100 - Filipina 34 78 62 34 3 Kamboja 27 27 44 66 4 Laos 29 - 20 26 5 Malaysia - - 100 - 6 Singapura 55 - 100 - 7 Vietnam 68 29 88 17 8 Indonesia 57 81 73 32 9 Myanmar 33 66 57 11 10 Thailand 70 74 99 5 11 Bangladesh 48 21 18 43 12 Bhutan 31 - 51 10 13 India 49 37 47 46 14 Korea Utara 58 95 97 65 15 Maladewa 34 91 84 10 16 Nepal 44 29 19 53 17 Sri Lanka 53 - 99 76 18 Timor Leste 9 30 19 31 Sumber : . 2009 : Persentase KB aktif .Lampiran 6.World Health Statistics 2010. WHO .2009 No Negara (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 Persentase KB aktif pada PUS Pemeriksaan antenatal kali) (4 Persalinan oleh tenaga kesehatan Anak dengan ASI eksklusif (6 bulan) 2009 2000 .2008 2000 .

5 336 16 Nepal 5.2 73.4 33.Lampiran 6.1 39.4 14.4 8 14 12 Bhutan 4.8 3.9 81.6 10.4 7.2 536 7 Vietnam 7.9 34.2 26.5 52.3 6.8 65.1 3.7 88.3 60. WHO .7 16 5 Malaysia 4.5 6.7 45 3 Kamboja 5.4 81.4 44.6 6.6 66.7 65.4 55.3 19.7 73.1 209 11 Bangladesh 3.2 44 9 Myanmar 1.1 32.5 18.3 10.2 54.7 10.8 13.6 15.2 31 4 Laos 4 18.1 39.3 0.9 11.2 47.6 84.7 151 13 India 4.5 8.7 72 8 Indonesia 2.7 958 2 Filipina 3.9 98 Sumber : World Health Statistics 2010.5 85 18 Timor Leste 13.1 80.7 29 14 Korea Utara - - - - - 15 Maladewa 9.7 60.4 34.9 PEMBIAYAAN KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Persentase Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran di Bidang Kesehatan Persentase Pengeluaran Sektor Swasta di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran di Bidang Kesehatan Persentase Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran per Kapita di Bidang Kesehatan Oleh Pemerintah (PPP int.6 67.5 6. $) No Negara Persentase Keseluruhan Pengeluaran di Bidang Kesehatan terhadap Produk Domestik Bruto (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Brunei Darussalam 2.9 21 17 Sri Lanka 4.9 268 6 Singapura 3.9 2 10 Thailand 3.9 29 71 11.5 45.7 8.1 26.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful