ISBN 978-602-8937-18-4
351.770212
Ind
P

PROFIL
KESEHATAN INDONESIA
2009

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.
JAKARTA
2010

Katalog Dalam Terbitan Kementerian Kesehatan RI
Ind

P

Indonesia. Kementerian Kesehatan. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi
Profil Kesehatan Indonesia 2009. - - Jakarta :
Kementerian Kesehatan RI 2010
I. Judul

1. PROFIL KESEHATAN INDONESIA 2009

ISBN 978-602-8937-18-4
351.770212
Ind
P

Buku ini diterbitkan oleh
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jalan HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav 4-9, Jakarta 12950
Telepon no: 62-21-5229590, 5221432
Fax no: 62-21-5203874
E-mail: pusdatin@depkes .go.id
Web site: http://www.depkes.go.id
________________________________________________________________________

TIM PENYUSUN

Pengarah
dr. Ratna Rosita, MPH.M
Sekretaris Jenderal Kemenkes RI
Ketua
dr. Jane Soepardi
Kepala Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi
Editor
Hasnawati, SKM, MKes
drg. Vensya Sitohang, MEpid
Dra. Rahmaniar Brahim, Apt, MKes
Anggota
Sunaryadi, SKM,MKes; Iskandar Zulkarnain, SKM,MKes; Nuning Kurniasih, Apt,MSi;
Marlina Indah Susanti, SKM; Supriyono Pangribowo, SKM; Istiqomah, SS;
Athi Susilowati Rois, SKM; drg. Rudi Kurniawan, MKes; Margiyono, SKom;
Muslichatul Hidayah, Hanna Endang Wahyuni; Endang Kustanti; B.B. Sigit;
Sondang Tambunan; Hellena Maslinda; Doni Hadhi Kurnianto, SKom
Kontributor
dr. Leni Evanita; Lina Khasanah; dr. Rusmiyati, MQIH; Indah Susanti D,SSi,Apt;
dr. Lucas C Hermawan, MKes; Ingrat Padmosari; Mahmud Fauzi, SKM,MKes;
Linda Siti Rohaeti; drg. R. Edi Setiawan: Akhmad Rizky Taufik, SKom;
Ir. Ade Sutrisno,MKes; Astuti, SKM,MKes; dr. Theresia Hermin; Bunga Mayung DL ;
Dewi Minarni; Cipto Aris Purnomo; Indah Hartati; Heri Radison, SKM,MKM;
Nariyah Handayani; Ainol Mardhiah; Yopi Ananda; Anggi Ardhiasti, SKM;
Ira Oktaviani; Nelly Mustika Sari, SKM; Nurhayati Simanjuntak, SKom

.

line diagram. baik narasi maupun lampiran. Sebagai bentuk penyajian. dalam satu kurun waktu tertentu dalam hal ini tahunan dengan berbagai bentuk: tercetak dan digital (cd-rom. Jenis data adalah data “facility based” dan data “community based”. Beberapa data dan informasi tahun 2009 yang belum terdapat dalam Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini akan disajikan dalam bentuk sajian lain. analisis kecenderungan. juga memuat kejadian-kejadian penting yang terjadi pada tahun 2009. pictogram. file di website. Penyajian dalam “Profil Kesehatan Indonesia 2009” ini masih terdapat keterbatasan karena ada beberapa indikator masih memuat data beberapa tahun ke belakang. frekuensi poligon. pie diagram. yang menggambarkan “potret” status kesehatan masyarakat dan faktor faktor yang mempengaruhi. Profil Kesehatan Indonesia 2009” ini selain memuat data dan informasi kesehatan dan faktor-faktor lain yang terkait. grafik – histogram/bar chart. dan “eye-catching” dan bertujuan memudahkan para pembaca dalam menggunakannya. dan faktor-faktor terkait lainnya. Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2009 ini. sumber data berasal dari profil provinsi. tidak hanya deskriptif. dimana analisis/narasi menggunakan model/kerangka teori yaitu teori blum/teori host-environment-agent/teori lain. seperti profil kesehatan pada tahun sebelumnya. serta perbandingan Indonesia dengan negara-negara anggota ASEAN dan SEARO. Profil Kesehatan Indonesia harus tersusun secara sistematis. Data dan Informasi dalam “Profil Kesehatan Indonesia 2009” merupakan salah satu wujud akuntabilitas dari kinerja Kementerian Kesehatan yang mencerminkan Pembangunan Kesehatan secara menyeluruh. data diupayakan lengkap. Profil kesehatan sebagai “potret”saat ini lebih dinilai sebagai alat evaluasi daripada sebagai alat pemantauan. disamakan dengan tahun dari data dan informasi yang disajikan. maka seperti profil kesehatan sebelumnya. seperti tabel. narasi dikombinasi dengan bentuk-bentuk penyajian lain. yang berasal dari kabupaten/kota. baik jenis dan cakupannya. dll). Jika digunakan sebagai pemantau maka profil merupakan pemantauan rencana jangka panjang.D KATA PENGANTAR Profil Kesehatan Indonesia merupakan sarana penyaji data dan informasi kesehatan serta yang berkaitan. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi sebagai koordinator Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia bersama-sama dengan seluruh program terkait di Kementerian Kesehatan berupaya menyusun bersama-sama. bar diagram. sumber daya kesehatan. analisis hubungan Profil kesehatan harus menarik. misalnya data dan informasi terplih lainnya. dari suatu wilayah/Indonesia. upaya kesehatan. tetapi juga analisis komparatif. Dalam Profil Kesehatan Indonesia ini menggambarkan secara umum tentang kondisi derajat kesehatan. dan peta. juga data yang berasal dari program. data sarana pelayanan kesehatan yang merupakan hasil pengolahan data oleh Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi. scater diagram. misal: Rencana lima tahun pembangunan kesehatan. Tahun yang terdapat dalam judul profil kesehatan. Profil kesehatan Tahun 2009 ini diupayakan disusun dengan tampilan yang lebih menarik. termasuk kontribusi dari hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007 yang diselenggarakan Balitbangkes Depkes. i . Analisis diupayakan semaksimal mungkin.

.

.

iv .

Perbaikan Gizi Masyarakat E. Keadaan Pendidikan D. Mortalitas B.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i SAMBUTAN SEKRETARIS JENDERAL iii DAFTAR ISI v DAFTAR LAMPIRAN vii BAB I PENDAHULUAN 1 BAB II GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK A. Tenaga Kesehatan C. Pelayanan Kesehatan dalam Situasi Bencana 58 59 83 88 106 115 BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN A. Keadaan Penduduk B. Pelayanan Kesehatan Dasar B. Morbiditas 26 27 33 BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN A. Keadaan Ekonomi C. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit D. Pembiayaan Kesehatan 117 118 133 137 v . Sarana Kesehatan B. Keadaan Lingkungan E. Keadaan Perilaku Masyarakat 5 6 9 14 19 24 BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN A. Pelayanan Kesehatan Rujukan C.

Upaya Kesehatan DAFTAR PUSTAKA 143 144 154 164 170 LAMPIRAN *** vi .BAB VI PERBANDINGAN INDONESIA DENGAN NEGARA ANGGOTA ASEAN DAN SEARO A. Derajat Kesehatan C. Kependudukan B.

3 Lampiran 2.9 Lampiran 2.18 Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan Menurut Provinsi Tahun 2009 Hasil Sensus Penduduk 2010 dan Rasio Jenis Kelamin Menurut Provinsi Tahun 2010 Luas Wilayah.1 Lampiran 2.16 Lampiran 2.4 Lampiran 2.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 2. Angka Beban Tanggungan dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Daerah Tertinggal Menurut Provinsi Tahun 2006 – 2010 Garis Kemiskinan Menurut Provinsi dan Daerah Tahun 2009 (Maret 2009) Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Provinsi dan Daerah Tahun 2009 Angka Melek Huruf Penduduk Berusia 15 Tahun Ke Atas Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2008 .2010 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Tertentu.13 Lampiran 2.8 Lampiran 2.11 Lampiran 2.2009 Rata-rata Lama Sekolah (Tahun) Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2008 .17 Lampiran 2.7 Lampiran 2.6 Lampiran 2.5 Lampiran 2.2 Lampiran 2.10 Lampiran 2.12 Lampiran 2.15 Lampiran 2.2009 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Provinsi dan Usia Sekolah Tahun 2008 . Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Provinsi Tahun 2009 Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi Tahun 1971 .2009 Persentase Keluarga Menurut Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Penduduk dengan Akses terhadap Air Minum yang Aman Menurut Provinsi dan Wilayah Tahun 2009 Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Penduduk dengan Akses Sanitasi Dasar yang Layak Menurut Provinsi dan Wilayah Tahun 2009 Persentase Rumah Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Institusi Dibina kesehatan Lingkungannya Menurut Provinsi Tahun 2009 vii .14 Lampiran 2.

Meninggal.000 Penduduk Menurut Provinsi s.9 Lampiran 3.20 Lampiran 2.15 Lampiran 3.5 Lampiran 3.d 31 Desember 2009 Jumlah Kasus Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru Kusta. dan Angka Kumulatif Kasus Per 100.13 Lampiran 3.19 Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Rumah Tangga Ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Wanita Umur Perkawinan Pertama Menurut Provinsi Tahun 2009 Estimasi Angka Kematian Bayi.16 Lampiran 3.19 Lampiran 2.d Desember 2009 Jumlah Kasus AIDS Kumulatif Per Triwulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Kasus AIDS Pada Pengguna NAPZA Suntikan (IDU) Menurut Provinsi s.2008 10 Besar Penyakit Rawat Inap di Rumah Sakit Tahun 2009 10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2009 Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Malaria Menurut Provinsi Tahun 2009 Annual Parasite Incidence (API) Malaria di Jawa-Bali Tahun 2004 2009 Hasil Cakupan Penemuan Kasus Penyakit TB Paru Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Kelompok Umur (Tahun). dan Incidence Rate Campak Menurut Provinsi Tahun 2009 viii .Lampiran 2.18 Lampiran 3.1 Lampiran 3. Case Detection Rate (CDR). Jenis Kelamin dan Provinsi Tahun 2009 Hasil Cakupan Pengobatan TB Paru Menurut Provinsi Tahun 2008 Jumlah Kumulatif Kasus AIDS.14 Lampiran 3.3 Lampiran 3.6 Lampiran 3.21 Lampiran 3.17 Lampiran 3.12 Lampiran 3.7 Lampiran 3.11 Lampiran 3.10 Lampiran 3.2 Lampiran 3.8 Lampiran 3.4 Lampiran 3. Meninggal. Angka Kematian Balita Tahun 2007 dan Angka Harapan Hidup Menurut Provinsi Tahun 2008 Indeks Pembangunan Manusia dan Komponen Menurut Provinsi Tahun 2007 . dan Proporsi Kasus pada Anak Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Tetanus Neonatorum dan Faktor Risiko Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Campak Per Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Campak Menurut Kelompok Umur dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus. Kecacatan.

27 Lampiran 3. Meninggal. AFP Rate.21 Lampiran 3. Jumlah Korban Luka dan Meninggal Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1.20 Lampiran 3.4 Lampiran 4.25 Lampiran 3.28 Lampiran 3. dan Case Fatality Rate (CFR) Leptospirosis Menurut Provinsi Tahun 2004 .34 Lampiran 3. Anak Balita.22 Lampiran 3. dan Non Polio AFP Rate Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus AFP Menurut Kriteria Klasifikasi Klinis dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Penderita. dan Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir dan Provinsi Tahun 2009 Cakupan Kunjungan Neonatus.33 Lampiran 3.3 Lampiran 4. dan Incidence Rate Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD/DHF) Menurut Provinsi Tahun 2005 2009 Jumlah Kabupaten/Kota yang Terjangkit Demam Berdarah Dengue Menurut Provinsi Tahun 2005 – 2009 Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare Menurut Provinsi Tahun 2005 . Pelayanan Kesehatan Bayi dan Anak Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi.30 Lampiran 3.2009 Jumlah Kasus dan Meninggal Flu Burung Menurut Provinsi Tahun 2005 . dan Murid SD Kelas 1 dan Sederajat Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Penanganan Neonatal dan Obstetri Komplikasi Menurut Provinsi Tahun 2009 ix .5 Frekuensi KLB dan Jumlah Kasus pada KLB Campak Menurut Provinsi Tahun 2009 KLB Campak Berdasarkan Konfirmasi Laboratorium Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Difteri Menurut Kelompok Umur dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Difteri Per Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus AFP.32 Lampiran 3.1 Lampiran 4.2009 Jumlah Kasus Demam Chikungunya Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Kabupaten Terjangkit dan Jumlah Kasus Gigitan Hewan Tertular Rabies serta Hasil Pemeriksaan Specimen Hewan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Penderita Filariasis Menurut Provinsi Tahun 2006 .24 Lampiran 3.26 Lampiran 3.29 Lampiran 3.2009 Situasi Pes Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus. K4.Lampiran 3.23 Lampiran 3.35 Lampiran 4.2 Lampiran 4.31 Lampiran 3.2009 Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas. Case Fatality Rate (%).

2009 Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Imunisasi TT pada Wanita Usia Subur Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kunjungan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Menurut Provinsi Tahun 2008 Indikator Pelayanan Rumah Sakit Umum Kemeterian Kesehatan dan Pemda Menurut Provinsi Tahun 2008 .19 Lampiran 4.Campak pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2006 .15 Lampiran 4.11 Lampiran 4. Sembuh.21 Lampiran 4.12 Lampiran 4.14 Lampiran 4.24 Lampiran 4.2009 Pemeriksaan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Rumah Sakit Umum Depkes dan Pemda Menurut Provinsi Tahun 2008 Jumlah Kunjungan Peserta Jamkesmas di Puskesmas Tahun 2009 Jumlah Kunjungan Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) Peserta Jamkesmas Tahun 2009 Jumlah Kasus Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL) Peserta Jamkesmas Tahun 2009 Cakupan TB Paru BTA Positif.16 Lampiran 4.13 Lampiran 4.18 Lampiran 4.7 Lampiran 4.9 Lampiran 4.17 Lampiran 4.2009 Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2009 Drop Out Rate Cakupan Imunisasi Dpt1 .20 Lampiran 4.25 Lampiran 4.Lampiran 4.6 Lampiran 4.10 Lampiran 4.26 Jumlah dan Persentase Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Hasil Pelayanan Peserta KB Baru Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Proporsi Peserta KB Baru Menurut Tempat Pelayanan dan Provinsi Tahun 2009 Pencapaian Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Menurut Provinsi Tahun 2007 . Pengobatan Lengkap dan Success Rate (Hasil Pengobatan Penyakit TB Tahun 2008) Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Pemberian Tablet Besi (Fe) pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Umur 0-6 Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Yodium Menurut Provinsi Tahun 2007 x .8 Lampiran 4.22 Lampiran 4.23 Lampiran 4.

3 Lampiran 5.2009 Jumlah Sarana Distribusi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Institusi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Menurut Jurusan dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Jurusan/Program Studi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Menurut Akreditasi dan Strata Tahun 2009 Jumlah Institusi Non Politeknik Kesehatan (Non-Poltekkes) Menurut Jurusan/Program Studi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Institusi Non Politeknik Kesehatan (Non-Poltekkes) Menurut Akreditasi dan Strata Tahun 2009 Jumlah Institusi Diknakes Non-Poltekkes Menurut Status Kepemilikan Tahun 2009 Rekapitulasi Data SDM Kesehatan Per Provinsi Keadaan Desember 2009 Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Menurut Jenis dan Provinsi Tahun 2009 xi .2009 Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit di Indonesia Menurut Pengelola dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Menurut Pengelola Tahun 2005 .8 Lampiran 5.5 Lampiran 5.12 Lampiran 5.1 Lampiran 5.27 Lampiran 4.16 Lampiran 5.15 Lampiran 5.2009 Jumlah Sarana Produksi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2007 .13 Lampiran 5.2 Lampiran 5.29 Lampiran 4.2009 Jumlah Puskesmas Perawatan dan Puskesmas Non Perawatan Menurut Provinsi Tahun 2005 .31 Lampiran 5.28 Lampiran 4.Lampiran 4.2009 Jumlah Tempat Tidur di Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus Menurut Kelas Perawatan dan Provinsi Tahun 2008 Jumlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Milik Kemenkes/Pemda Menurut Kelas Rumah Sakit dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit Khusus dan Tempat Tidurnya Menurut Jenis Rumah Sakit Tahun 2005 .30 Lampiran 4.4 Lampiran 5.10 Lampiran 5.14 Lampiran 5.11 Lampiran 5.9 Lampiran 5.17 Rekapitulasi Kejadian Bencana Menurut Jenis Bencana dan Jumlah Korban Tahun 2009 Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 (lanjutan) Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 (lanjutan) Rekapitulasi Data Kecukupan Obat Nasional Tahun 2009 Jumlah Puskesmas dan Rasionya terhadap Penduduk 'Menurut Provinsi Tahun 2005 .7 Lampiran 5.6 Lampiran 5.

38 Rasio Dokter.27 Lampiran 5.18 Lampiran 5.29 Lampiran 5.21 Lampiran 5.31 Lampiran 5. Perawat dan Bidan terhadap Jumlah Puskesmas Menurut Provinsi Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Dokter Umum Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Distribusi Tingkat Keterlibatan Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia dalam Kegiatan Kediklatan Tahun 2009 Distribusi Widyaiswara Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2009 Distribusi Frekuensi Pelatihan dan Jumlah Peserta di Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia Berdasarkan Jenis Diklat Tahun 2009 Rekapitulasi Peserta Didik Poltekkes Perjenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Peserta Didik Poltekkes Per Jenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Peserta Didik Non Poltekkes Per Jenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Lulusan Diknakes Poltekkes dan Non Poltekkes Berdasarkan Jenis Tenaga Kesehatan Tahun 2009 Jumlah Lulusan Poltekkes Berdasarkan Jurusan/Program Studi Institusi Diknakes Seluruh Indonesia Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Lulusan Non Poltekkes Diknakes Seluruh Indonesia Berdasarkan Jenis dan Provinsi Tahun Ajaran 2009/2010 Alokasi dan Realisasi Kementerian Kesehatan RI Triwulan IV Tahun 2009 Data Cakupan Kepesertaan Jaminan Kesehatan Per Juni 2010 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Umum Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tahun 2009 Keadaan Dokter Spesialis PTT Kemenkes yang Masih Aktif s.36 Lampiran 5.33 Lampiran 5. Dokter Gigi.35 Lampiran 5.20 Lampiran 5.25 Lampiran 5.Lampiran 5.30 Lampiran 5.32 Lampiran 5.28 Lampiran 5.26 Lampiran 5.34 Lampiran 5.37 Lampiran 5.22 Lampiran 5.23 Lampiran 5.d Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Umum PTT Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Gigi PTT Tahun 2009 xii .24 Lampiran 5.19 Lampiran 5.

8 Lampiran 6.1 Perbandingan Beberapa Data Kependudukan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2008 Angka Kelahiran.6 Lampiran 6.2 Lampiran 6. Angka Kematian.9 *** xiii .3 Lampiran 6.7 Lampiran 6.5 Lampiran 6.39 Distribusi Pegawai Kementerian Kesehatan RI Dirinci Menurut Jenis Pendidikan Tahun 2009 Lampiran 6.Lampiran 5. dan Indeks Pembangunan Manusia di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Penduduk yang Menggunakan Sumber Air Bersih dan yang Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2007 Perbandingan Data Tuberkulosis di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2007/2008 Angka Estimasi HIV dan AIDS di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2008 Jumlah Kasus Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi di Negara-Negara ASEAN & SEARO Perbandingan Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2008 Perbandingan Upaya Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2000-2009 Pembiayaan Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2007 Lampiran 6.4 Lampiran 6.

.

Di antaranya adalah kegiatan pengelolaan data dan informasi belum terintegrasi dan terkoordinasi dalam satu mekanisme kerjasama yang baik. Situasi yang demikian pada akhirnya menyulitkan dalam pengambilan keputusan berdasarkan evidence based. dan status gizi masyarakat. Situasi demikian menimbulkan tersendatnya pendistribusian informasi terutama dari sumber data di unit pelayanan kesehatan atau kabupaten/kota ke provinsi dan pusat yang mengakibatkan terjadinya krisis informasi di berbagai unit teknis di pusat. Sedangkan pembangunan kesehatan adanya upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. dan tidak efisiennya penggunaan sumber daya. yang berisi data tahunan dari hasil pembangunan kesehatan. adalah terhambatnya aliran komunikasi data baik dari sumber data di daerah ke pengguna di pusat atau sebaliknya. Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator. duplikasi kegiatan. kemauan. yang meliputi indikator angka harapan hidup. Penyelenggaraan sistem informasi kesehatan itu sendiri masih belum dilakukan secara efisien. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Di samping itu. Hal ini sebagai akibat dari adanya sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih terfragmentasi.Kita sadari bahwa sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih jauh dari kondisi ideal. serta terhambatnya aliran komunikasi data antar pengguna atau bahkan tertutupnya sumber informasi untuk diakses oleh pengguna lain sehingga menyebabkan sulitnya memperoleh informasi yang memadai (lack of informations). di mana masing-masing unit mengumpulkan datanya sendiri-sendiri dengan berbagai instrumennya di setiap unit kerja baik di pusat maupun di daerah. angka kesakitan. Satu-satunya alat yang dimiliki Kementerian Kesehatan adalah adanya Profil Kesehatan Indonesia. yaitu belum mampu menyediakan data dan informasi kesehatan yang evidence based sehingga belum mampu menjadi alat manajemen kesehatan yang efektif. masih terjadi redundant data. 2 . Adanya “overlapping” kegiatan dalam pengumpulan dan pengolahan data. Berbagai masalah klasik masih dihadapi dalam penyelenggaraan sistem informasi kesehatan. angka kematian.

distribusi. dan alat kesehatan.Penyajian Profil Kesehatan Indonesia 2009. Lima nilai Kementerian Kesehatan adalah: 1. Pro Rakyat (pro poor). Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. Dalam penyajiannya. 4. di masa mendatang maka. strategi pertama yang perlu dilakukan adalah penguatan kebijakan dan perencanaan di bidang sistem informasi kesehatan. Jaminan kesehatan masyarakat. Untuk kelancaran proses Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia yang merupakan salah satu produk dari berhasilnya sistem informasi kesehatan yang terintegrasi. bermutu. Efektif. Reformasi Pembangunan Kesehatan tahun 2010-2014: 1. dengan menggunakan indikator yang sesuai. efficient). mutu. Ketersediaan. 2. retensi dan mutu SDM. Bersih (clean). 5. merata. Penguatan kebijakan sistem informasi kesehatan dilakukan dengan menyusun aturan-aturan yang menjamin sistem informasi kesehatan dapat diselenggarakan dengan baik. juga disajikan dalam bentuk peringkat dari tiap indikator. Keberpihakan pada DTPK (Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan) serta DBK (Daerah Bermasalah Kesehatan). efisien (effective. Ketersediaan. keamanan. dengan Misinya adalah sebagai berikut. yang berasal dari profil kesehatan provinsi ini selain sebagai alat ukur sampai dimana capaian indikator pembangunan kesehatan setiap provinsi dibanding target nasional bahkan target MDG (Millenium Development Goal). 2. 3. Responsif (responsive). Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan. World class health care. distribusi. 6. 4. Pada pasal 168 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan telah diamanatkan bahwa penyelenggaraan sistem informasi 3 . Reformasi birokrasi. dimana Kementerian Kesehatan memiliki Visi adalah Masyarakat Sehat yang Mandiri dan berkeadilan. Revitalisasi pelayanan kesehatan. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. vaksin. termasuk swasta dan madani. 4. sehingga provinsi dapat mengetahui dimana posisinya dalam setiap indikator pembangunan kesehatan dibandingkan provinsi lainnya. 7. 3. 3. berkeadilan. diusahakan untuk ditampilkan berbagai data dan informasi yang menjawab Visi dan Misi serta berbagai data dan informasi yang menjelaskan tentang reformasi Birokrasi. efektivitas. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan paripurna. keterjangkauan obat. 1. 5. Inklusif (inclusive). 2.

seperti pedoman dan petunjuk teknis. dan upaya perbaikan gizi masyarakat. cakupan imunisasi pada bayi dan upaya kesehatan. Bab ini menyajikan perbandingan beberapa indikator yang meliputi data kependudukan. Untuk ini. Gambaran tentang keadaan sumber daya mencakup tentang keadaan tenaga. Bab ini juga menyajikan tentang gambaran umum. yaitu: Bab I . Bab III . Bab IV . Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini terdiri atas 6 (enam) bab. Bab V . data tuberkulosis. Dengan telah selesai dan dipublikasikannya hasil sensus penduduk 2010 yang diselenggarakan oleh BPS. serta perilaku penduduk yang terkait dengan kesehatan. dan pembiayaan kesehatan. maka juga kami masukkan data jumlah penduduk tahun 2010. Bab VI . Bab ini berisi uraian tentang hasil-hasil pembangunan kesehatan sampai dengan tahun 2009 yang mencakup tentang angka kematian.Perbandingan Indonesia dengan Negara Anggota ASEAN dan SEARO. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi bersama Biro Hukum dan Organisasi sedang menyiapkan bahan rancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang sistem informasi kesehatan. Angka Kelahiran.Situasi Umum dan Perilaku Penduduk. Demikian pula aturan-aturan di bawahnya. kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi.Pendahuluan. Bab ini berisi uraian tentang upaya-upaya kesehatan yang telah dilaksanakan oleh bidang kesehatan sampai tahun 2009. untuk tercapainya dan berhasilnya program-program pembangunan di bidang kesehatan. pendidikan. pencapaian pelayanan kesehatan rujukan. yang meliputi: kependudukan.Situasi Upaya Kesehatan. Angka Kematian. *** 4 . Bab ini menyajikan tentang latar belakang diterbitkannya Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini serta sistimatika penyajiannya. juga Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi bersama unit-unit pengelola program dan lintas sektor terkait sedang menyusun Rencana Strategis Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan. Bab II .Situasi Derajat Kesehatan.kesehatan diatur dalam peraturan pemerintah. Bab ini menguraikan tentang sumber daya pembangunan bidang kesehatan sampai tahun 2009. sedang dalam proses penyusunan. perekonomian.Situasi Sumber Daya Kesehatan. Gambaran tentang upaya kesehatan yang telah dilakukan itu meliputi pencapaian pelayanan kesehatan dasar. pencapaian upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit. angka kesakitan. umur harapan hidup. Indeks Pembangunan Manusia. sarana kesehatan. Dalam penguatan perencanaan sistem informasi kesehatan. dan lingkungan fisik. dan status gizi masyarakat. angka estimasi HIV/AIDS.

.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara.580 laki-laki dan 118. rasio jenis kelamin penduduk Indonesia tahun 2010 sebesar 101. maka selama tahun 2009 telah terjadi pembentukan 2 kabupaten baru. Fakta ini membuat Indonesia memiliki keragaman budaya dan adat istiadat dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain. 6. KEADAAN PENDUDUK Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010.048. 6 . atau setiap 100 perempuan terdapat 101 laki-laki. sosial. dan perilaku penduduk yang berkaitan dengan kesehatan. menurut data Bakosurtanal. Rasio jenis kelamin terbesar terdapat di Provinsi Papua yaitu sebesar 113 dan yang terkecil terdapat di Nusa Tenggara Barat yaitu sebesar 94. yang terdiri dari 119. yang artinya jumlah penduduk laki-laki satu persen lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan. dan ekonomi. serta delta. Keragaman dalam berbagai aspek tersebut juga terkait dengan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. keadaan ekonomi.Indonesia terbentang antara 6o garis Lintang Utara sampai 11o garis Lintang Selatan. Secara nasional.363 orang.2). Secara administratif wilayah Indonesia pada tahun 2009 terbagi atas 33 provinsi.226 kelurahan/desa. jumlah penduduk Indonesia sebesar 237.556.543 kecamatan dan 75. politik. Pembagian wilayah Indonesia secara administratif menurut provinsi pada tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2. 497 kabupaten/kota (399 kabupaten dan 98 kota). Jika dibandingkan dengan jumlah kabupaten/kota yang ada pada tahun 2008.507. keadaan pendidikan.783 perempuan (Lampiran 2. keadaan lingkungan. A. Posisi strategis ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kebudayaan. jumlah pulau di Indonesia 17.504 pulau. dan dari 97 o sampai 141o garis Bujur Timur serta terletak antara dua benua yaitu benua Asia dan Australia. Jumlah pulau itu termasuk yang berada di muara dan tengah sungai.1 Pada bab ini akan diuraikan gambaran umum Indonesia dan perilaku penduduk pada tahun 2009 yang meliputi: keadaan penduduk.

647 perempuan (Lampiran 2.4.49 persen.931. Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah yang memiliki 7 . laju pertumbuhan penduduk Indonesia per tahun selama 2 dasawarsa terakhir adalah sebesar 1. yaitu sebesar 5. berdasarkan data estimasi penduduk Badan Pusat Statistik (SUPAS 2005). Tingkat kepadatan yang tinggi masih didominasi oleh provinsi-provinsi di Pulau Jawa. GAMBAR 2. Sedangkan provinsi dengan laju pertumbuhan terendah yaitu Jawa Tengah sebesar 0.890 jiwa per km2.910.37%. jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2009 tercatat sebesar 231. Secara nasional.Sedangkan pada tahun 2009. Berdasarkan distribusi penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur maka kita dapat memperoleh gambaran piramida penduduk Indonesia tahun 2009 sebagai berikut.3).592 jiwa terdiri dari 115.32 km2 maka tingkat kepadatan penduduk pada tahun 2009 sebesar 121 jiwa per km2. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia secara rinci sejak Sensus Penduduk tahun 1971 sampai dengan Sensus Penduduk tahun 2010 dapat dilihat dalam Lampiran 2. Laju pertumbuhan penduduk Provinsi Papua adalah yang tertinggi dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Provinsi yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi adalah DKI Jakarta.1 PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2009 (dalam ribu) Sumber : Badan Pusat Statistik.817. yaitu sebesar 13. Estimasi Penduduk Indonesia Dirinci Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2008 Secara nasional.945 laki-laki dan 115.46 persen (SP 2010). dengan luas wilayah Indonesia 1.369.551.

23%.2 PERSENTASE PERSEBARAN PENDUDUK INDONESIA MENURUT KELOMPOK PULAU-PULAU BESAR TAHUN 2009 Sumber : Badan Pusat Statistik. yaitu sebesar 57.depdagri. Jumlah penduduk dan angka kepadatan penduduk per provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2. menunjukkan bahwa penduduk yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 26. Provinsi dengan tingkat kepadatan tertinggi ke-3 yaitu DI Yogyakarta sebesar 1.173 jiwa per km2.23%. yang kemudian diikuti oleh Kalimantan Tengah dengan kepadatan 14 jiwa per km2.kepadatan penduduk tertinggi ke-2 dengan kepadatan 1. Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur. Selebihnya tersebar di Sumatera sebesar 21. Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 5.77% wilayah Indonesia. GAMBAR 2.id.96%. Kepadatan penduduk terendah di Papua.12%.44 %. Lebih dari separuh penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa. Sulawesi 7.45%.92% dan yang berusia tua (> 65 tahun) sebesar 5.25%. Dari data distribusi penduduk menurut pulau dapat diketahui terdapat ketimpangan persebaran penduduk antar pulau yang nyata. Dengan demikian maka Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio) penduduk Indonesia pada tahun 2009 sebesar 47. Papua Barat merupakan provinsi dengan tingkat kepadatan penduduk terendah ke-2 yaitu sebesar 8 jiwa per km2. Maluku dan Papua 2. Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2009. Kalimantan 5.3. dengan luas hanya 6. yaitu hanya 7 jiwa per km2. yang berusia produktif (15-64 tahun) sebesar 67. 8 .65%.118 jiwa per km2. http://www.99%.go.

69%. Mengkaji kondisi perekonomian tentu saja tidak terlepas dari tingkat inflasi. 6. Rincian jumlah penduduk menurut kelompok umur. Apabila tingkat inflasi tinggi. Rendahnya tingkat inflasi ini merupakan pencapaian terbaik dalam 10 tahun terakhir.45% diikuti oleh Sulawesi Tenggara sebesar 57.78%. Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diprakirakan tumbuh 4. 9 . inflasi tercatat sebesar 2.3 ANGKA BEBAN TANGGUNGAN MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Badan Pusat Statistik.3 persen (2007). KEADAAN EKONOMI Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara. inflasi dan pertumbuhan perekonomian sangat saling berkaitan. Sedangkan provinsi dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu DKI Jakarta sebesar 37.53% dan Maluku sebesar 56.26% diikuti oleh DI Yogyakarta sebesar 37. 6.5.5%.65% dan Jawa Timur sebesar 39.5 persen (2009).5 persen (2006).Provinsi dengan persentase beban tanggungan tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur sebesar 59. Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2009 B. GAMBAR 2. sudah dipastikan akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi. Perekonomian Indonesia selama tahun 2006-2009 mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 5.87%.0 persen (2008) dan 4. Angka Beban Tanggungan dan provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2.

Kegiatan itu termasuk juga kegiatan pekerja tak dibayar yang membantu dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi. pembantu rumah tangga. Berdasarkan data hasil Sakernas BPS tahun 2008-2010 ada penurunan angka pengangguran. listrik.1%. Hal ini disebabkan bertambahnya lapangan kerja pada sektor jasa kemasyarakatan seperti jasa pertukangan.Selama tahun 2009 kelompok makanan jadi.5%. Sakernas merumuskan konsep pengangguran sebelum tahun 2001 sebagai angkatan kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan.4 triliun pada 2009. Pertumbuhan terendah terjadi di sektor perdagangan. definisi operasional Angkatan Kerja adalah penduduk usia kerja yang bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja. air. Persentase pengangguran terbuka adalah perbandingan antara jumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja.613. tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan/putus asa (sebelumnya dikategorikan sebagai Bukan Angkatan Kerja) dan yang punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja (sebelumnya dikategorikan sebagai Bekerja). transportasi dan 10 . Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi 15. Dari Rp 4.4 triliun pada 2008 menjadi sebesar Rp 5.89%. rekreasi dan olahraga masing-masing memberikan kontribusi yang sama 3.5% pada 2009.9%. dilakukan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). rokok dan tembakau memberi kontribusi terbesar pada inflasi sebesar 7.88%. dan kelompok transportasi.00%. komunikasi dan jasa keuangan -3. Sejak tahun 2001 konsep pengangguran menjadi angkatan kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan. Untuk mengetahui tingkat pengangguran.951. kelompok kesehatan.81%.83% pada inflasi nasional. mempersiapkan usaha. termasuk juga mereka yang baru mendapat kerja tetapi belum mulai bekerja. gas dan bahan bakar menyumbang sebesar 1. perumahan. dan penganggur. paling sedikit satu jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Pengangguran terbuka tidak termasuk orang yang masih sekolah atau mengurus rumah tangga. Sementara Bekerja menurut definisi Sakernas adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan.67%.0 triliun. maka nilai Produk Domestik Bruto (PDB) 2009 naik sebesar Rp 662. Menurut Sakernas. kelompok pendidikan. hotel dan restoran sebesar 1. Kelompok lainnya dalam tahun 2009 masing-masing kelompok sandang 6. Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4. minuman. Pengangguran terbuka disini didefinisikan sebagai orang yang sedang mencari pekerjaan atau yang sedang mempersiapkan usaha atau juga yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin lagi mendapatkan pekerjaan. kelompok bahan makanan 3. yang mencakup angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan. Sedangkan PDB untuk non migas tumbuh 4.

6. Keterbatasan prasarana terhadap berbagai bidang termasuk di dalamnya kesehatan menyebabkan masyarakat di daerah tertinggal mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial. prasarana dan sarana.40 Jumlah Angkatan Kerja Jumlah penduduk yang bekerja Sumber: BPS. baik fisik.43 9.99 102. TABEL 2. diikuti oleh Sulawesi Tengah sebesar 81.26 8. aksesibilitas dan karakteristik daerah. PENDUDUK YANG BEKERJA DAN PENGANGGURAN TERBUKA DI INDONESIA TAHUN 2008 – 2010 Feb 2008 (juta orang) 111. daerah rawan bencana dan konflik sosial. Perkembangan angkatan kerja. sumber daya alam.41 Pengangguran terbuka 9. Provinsi dengan persentase kabupaten tertinggal tertinggi adalah Sulawesi Barat. daerah tertinggal adalah daerah kabupaten yang relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional dan berpenduduk relatif tertinggal. kepulauan (pulau kecil dan gugus pulau).pertanian. perbatasan antar negara. Saat ini Indonesia memiliki 19 kabupaten perbatasan. daerah rawan bencana dan daerah rawan konflik dan sebagian besar wilayah daerah pesisir. Menurut definisinya. maka ditetapkan 199 kabupaten yang dikategorikan kabupaten tertinggal.14 7.05 104. prasarana (infrastruktur).04% dari 497 kabupaten/kota. Penetapan kriteria daerah tertinggal dilakukan dengan menggunakan pendekatan berdasarkan pada perhitungan 6 (enam) kriteria dasar yaitu: perekonomian masyarakat. mental dan spiritual di segenap pelosok negeri terutama wilayah yang tergolong daerah tertinggal.00%.74 Feb 2010 (juta orang) 115. 33 pulau-pulau kecil terluar berpenduduk dan 183 daerah tertinggal (termasuk terpencil). Berdasarkan pendekatan tersebut. kemampuan keuangan lokal (celah fiskal). serta berdasarkan kabupaten yang berada di daerah pedalaman.49 107. Survei Angkatan Kerja Nasional 2008-2010 Pembangunan ekonomi yang diupayakan diharapkan mampu mendorong kemajuan. Suatu daerah dikategorikan menjadi daerah tertinggal karena beberapa faktor penyebab. 11 .1 PERKEMBANGAN ANGKATAN KERJA. sumber daya manusia.Februari 2010 adalah sebagai berikut.46 8. yaitu sebesar 100%. penduduk yang bekerja dan pengangguran pada Februari 2008 . sosial. Jumlah dan persentase kabupaten tertinggal menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.82% dan Bengkulu 80.48 Feb 2009 (juta orang) 113. sumber daya manusia. yaitu geografis. dan kebijakan pembangunan. Tahun 2009 persentase daerah tertinggal adalah 40.59 Pengangguran terbuka (%) 8. Unit terkecil daerah tertinggal yang digunakan dalam Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (STRANAS PPDT) adalah wilayah administrasi kabupaten.

Pada bulan Maret 2010. No. jumlah penduduk miskin menurun menjadi 31. GAMBAR 2. Keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan terkait dengan daya beli ekonomi.51 juta penduduk miskin. 1 Juli 2010 12 . Fenomena gizi buruk dan kurang seringkali dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang buruk jika merujuk pada fakta bahwa keterbatasan pemenuhan pangan dapat menyebabkan busung lapar.02 juta (13.3%) dari 32. dan Beri-beri.5 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2010 Sumber: BPS. Kemiskinan juga menjadi hambatan besar dalam pemenuhan kebutuhan terhadap makanan yang sehat sehingga dapat melemahkan daya tahan tubuh yang dapat berdampak pada kerentanan untuk terserang penyakitpenyakit tertentu. Persentase penduduk miskin dari tahun 2006-2010 disajikan pada Gambar 2.5 berikut ini.GAMBAR 2. XIII. Kwashiorkor. penyakit kekurangan vitamin seperti Xeropthalmia. BPS 2008. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan 1.15%) penduduk miskin pada bulan Maret 2009.4 PROVINSI DENGAN PERSENTASE KABUPATEN TERTINGGAL DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemiskinan menjadi isu yang cukup menyita perhatian berbagai kalangan termasuk kesehatan. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2010 Berita Resmi Statistik. 45/07/Th. Scorbut.53 juta (14.

1 2.Berdasarkan data jumlah penduduk miskin menurut provinsi dari BPS (Lampiran 2.2 3. No. Dengan IPKM. 1 Juli 2010 Dalam roadmap reformasi kesehatan masyarakat Kementerian Kesehatan ada 7 prioritas yang harus dikerjakan untuk mencapai sasaran strategis pembangunan kesehatan. XIII.3 Sumber: BPS. Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK) adalah upaya kesehatan terfokus.1% tahun 2008 dan menjadi 55. sampai mampu mandiri dalam menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang kesehatan seluas-luasnya. wilayah menurut Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.3 7.2 7.5 4. BPS 2008.5 1.9 1.8) terdapat persebaran penduduk miskin antar pulau yang nyata perbedaannya. dalam jangka waktu tertentu.8% tahun 2010.7 21.5 8.6 Maluku dan Papua Total 1.2 PERSEBARAN DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT KELOMPOK BESAR PULAU DI INDONESIA TAHUN 2008 – 2010 Kelompok Pulau Sumatera Jawa Maret 2008 Jumlah % (juta) 7.9 15. Kalimantan 3.5 4.1 Bali dan Nusa Tenggara 1.6%. dapat diketahui dimana daerah-daerah bermasalah tersebut dapat dipetakan berdasarkan peringkat 13 .5 2.3 17. Jumlah penduduk miskin dan persentase penduduk miskin menurut kelompok pulau tahun 2008-2010 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.3 Maret 2010 Jumlah % (juta) 6.1%. Sulawesi 7.3 2.4 32.3 55. Selebihnya tersebar di Sumatera 21.5 4. Maluku dan Papua 4.3 Sulawesi 2.8 2.1 59.8 Kalimantan 2.2 31.4 6.2 1.3 1.0 13.6 7. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2010 Berita Resmi Statistik. Lebih dari separuh penduduk miskin di Indonesia berada di Pulau Jawa yaitu 57.4%. dilakukan secara bertahap di daerah yang menjadi prioritas bersama kementerian terkait. Salah satu di antaranya adalah mengatasi permasalahan pelayanan kesehatan di Daerah yang Bermasalah Kesehatan (DBK) dengan pendekatan spesifik yang tidak bisa disamakan dengan daerah lainnya.2 7. berbasis bukti.8 34.4 19.3%. Menurut definisi.9 57. TABEL 2.0 3.3 20. 45/07/Th.1 18. terintegrasi.9 Maret 2009 Jumlah % (juta) 5. Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 7.8% (tahun 2010).1 17. Hasil Riskesdas tahun 2007 menghasilkan instrumen pengukuran Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Kemiskinan (Pendataan Sosial Ekonomi/PSE BPS).0 3.5 14. Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) adalah keadaan/derajat kesehatan wilayah kabupaten/kota yang digambarkan melalui hasil Riskesdas/SUSENAS dengan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).

Tertinggal Berat. Angka buta huruf berkorelasi dengan angka kemiskinan. persentase penduduk yang buta huruf cenderung menurun karena akses terhadap pendidikan meningkat dalam 5 tahun terakhir ini. Tertinggal dan Kepulauan Terluar dan 5 DBK Berat. pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan. tetapi terdiri atas generasi muda dan tua. TABEL 2. Papua (15 kab/kota) dan Nusa Tenggara Timur (12 kab/kota). Sebab. Tertinggal dan Perbatasan. Tertinggal dan Perbatasan Jumlah Kabupaten 14 1 71 7 5 98 Kota 18 1 0 0 0 19 32 2 71 7 5 117 Jumlah Penduduk 37. 71 DBK Berat dan Tertinggal. Besaran IPKM setiap kabupaten/kota dirumuskan berdasarkan 20 indikator kesehatan.337 merupakan Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). sedangkan kebodohan itu sendiri mendekatkan mereka pada kemiskinan. Tertinggal dan Kepulauan Terluar Berat.501 Total Sumber: Ditjen Binkesmas. Jumlah penduduk buta huruf di Indonesia tidak hanya dialami satu generasi. 7 DBK Berat.kabupaten/kota. Berdasarkan data BPS 2005-2009. Berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditetapkan di atas.741. Melalui pengetahuan. dari 440 kabupaten/kota yang menjadi daerah pelaksanaan Riskesdas 2007 terdapat 117 DBK yang berada di 22 provinsi. 2 DBK dan Perbatasan.3 JUMLAH KABUPATEN/KOTA DAERAH BERMASALAH KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2010 Kab/Kota Berat. Kemenkes. Tiga provinsi mempunyai jumlah kabupaten/kota DBK terbanyak yaitu Aceh (16 kab/kota). Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pencetus yang berperan dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku sehat. Daerah yang mempunyai IPKM <0. KEADAAN PENDIDIKAN Kondisi pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu negara. Kabupaten/kota bermasalah meliputi 32 DBK. 2010 C. penduduk yang tidak bisa membaca secara tidak langsung mendekatkan mereka pada kebodohan. diikuti kelompok umur kurang dari 15 tahun. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini. Persentase terbesar penduduk yang buta huruf berada dalam kelompok umur lebih dari 45 tahun. Perbatasan Berat Berat. Dengan 14 .

29%). provinsi dengan persentase AMH tertinggi adalah Sulawesi Utara (99. GAMBAR 2.94%) dan Riau (98. (2) menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media.18%) dan Sulawesi Selatan (87. Indikator pendidikan lainnya yang sejenis adalah Angka Melek Huruf (AMH) yaitu persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Sebaliknya persentase AMH yang terendah adalah Papua (70.9. (3) menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis.22%).6 PERSENTASE PENDUDUK YANG BUTA HURUF MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. AMH nasional adalah 92. Penggunaan AMH adalah untuk (1) mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf.58%.02%).demikian.58% pada tahun 2009.id Tahun 2005-2009 persentase tertinggi penduduk yang buta huruf menurut kelompok umur adalah penduduk dengan kelompok umur di atas 45 tahun dengan persentase 22.bps. NTB (80.83% pada tahun 2005 dan menurun setiap tahunnya menjadi 18. DKI Jakarta (98. pendidikan sebagai senjata utama penghapusan buta huruf itu senantiasa harus menyentuh baik generasi muda maupun generasi tuanya.go. AMH secara rinci menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. terutama di daerah perdesaan di Indonesia dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD. www. Sehingga angka melek huruf dapat berdasarkan kabupaten mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah.11%). 15 .

8 RATA-RATA LAMA SEKOLAH MENURUT JENIS KELAMIN DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2009 .7 tahun pada tahun 2009 atau setara dengan kelas dua SMP. Sumber: BPS.7 ANGKA MELEK HURUF PENDUDUK BERUSIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: BPS. Mei 2010 Rata-rata lama sekolah mayoritas penduduk di Indonesia masih relatif rendah yaitu 7. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.GAMBAR 2. rata-rata lama sekolah laki-laki (8. GAMBAR 2. sedangkan tahun 2008 mencapai 7. Rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas pada tahun 2006 mencapai 7. Dilihat dari jenis kelamin.2 tahun) lebih besar daripada perempuan (7.3 tahun).4 tahun. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. Mei 2010 16 .5 tahun. Gambar di bawah ini menunjukkan rata-rata lama sekolah menurut jenis kelamin secara nasional.

GAMBAR 2. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah rasio jumlah siswa.bps. semakin rendah APS.go. berdasarkan 4 kelompok umur dimana kelompok umur 19-24 tahun mewakili umur setingkat perguruan tinggi. Semakin tinggi tingkat pendidikan. Kedua ukuran tersebut mengukur penyerapan penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan.id Terdapat dua ukuran partisipasi sekolah yang utama. Persentase angka partisipasi sekolah menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan Gambar di bawah ini menunjukkan persentase APK tertinggi adalah pada tingkat pendidikan SD/MI dan persentase APK yang terendah adalah pada tingkat 17 .11. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan.9 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH MENURUT USIA SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. 13-15 tahun mewakili umur setingkat SLTP. yaitu 7-12 tahun mewakili umur setingkat SD. www. berapapun usianya. Angka Partisipasi Sekolah (APS) dari BPS secara umum dikategorikan menjadi 3 kelompok umur. dan 16-18 tahun mewakili umur setingkat SLTA. yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). Gambar di bawah ini merupakan APS nasional menurut usia sekolah dari tahun 2005-2009.10.Rata-rata lama sekolah secara rinci menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. Perbedaan di antara keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang pendidikan.

11 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI MURNI DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. www. Nilai APK dalam kurun waktu 2005-2009 meningkat secara perlahan untuk tingkat pendidikan SD/MI. GAMBAR 2. Semakin tinggi tingkat pendidikan. semakin rendah APM.bps. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah persentase APK.bps.go.go. sedangkan APK tingkat SLTP/MTs cenderung tidak banyak perubahan.10 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI KASAR DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. Jika dibandingkan APK. SLTA dan perguruan tinggi.pendidikan perguruan tinggi. Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan banyaknya penduduk usia sekolah yang masih bersekolah pada jenjang pendidikan yang sesuai dengan usianya. APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut.id 18 . www.id Berbeda dengan APK. GAMBAR 2.

KEADAAN KESEHATAN LINGKUNGAN Lingkungan merupakan salah satu variabel yang kerap mendapat perhatian khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat. 19 . institusi dibina kesehatan lingkungannya. GAMBAR 2. TPT adalah persentase jumlah penduduk. rumah sehat serta rumah/bangunan yang diperiksa dan bebas jentik nyamuk Aedes. Bersama dengan faktor perilaku. akses terhadap sanitasi dasar.11 di atas persentase APM tertinggi pun terdapat pada tingkat pendidikan SD/MI dan APM yang terendah adalah pada tingkat pendidikan perguruan tinggi. baik yang masih sekolah ataupun tidak sekolah lagi. Untuk menggambarkan keadaan lingkungan. TPT juga berguna untuk melakukan perencanaan penawaran tenaga kerja. pelayanan kesehatan dan genetik.12 PERSENTASE PENDIDIKAN TERTINGGI YANG DITAMATKAN PENDUDUK 10 TAHUN KE ATAS DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS.id D. Gambar berikut di bawah ini menggambarkan perkembangan persentase tingkat pendidikan tertinggi (TPT) yang ditamatkan. menurut pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan. www. akses terhadap air bersih dan air minum yang aman.bps.go. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah persentase APM. akan disajikan indikatorindikator seperti. tempat umum dan pengelolaan makan (TUPM) sehat. lingkungan menentukan baik buruknya status derajat kesehatan masyarakat. TPT bermanfaat untuk menunjukkan pencapaian pembangunan pendidikan di suatu daerah. Nilai APM dalam kurun waktu 2005-2009 meningkat secara perlahan untuk setiap jenjang pendidikan. terutama untuk melihat kualifikasi pendidikan angkatan kerja di suatu wilayah.Berdasarkan Gambar 2. Menurut definisi.

sumur pompa tangan (10. Bali (60. akses air minum yang aman di perkotaan 49.13 di bawah ini. 2010 Secara rinci proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap air minum yang aman menurut wilayah (perkotaan dan perdesaan) dan provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. Rincian persentase keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan dapat dilihat dalam Lampiran 2. Secara nasional.82% dan di perdesaan 45. 20 .1%).4%).1.36%).11%). diikuti ledeng (27.0%). serta lain-lain (11. GAMBAR 2. persentase tertinggi jenis sarana air bersih yang digunakan adalah sumur gali (45.6%) dan Bengkulu (33. Aceh (30.30%).29%). Sedangkan yang terendah terdapat di Banten (27.5%).13 PERSENTASE AKSES AIR MINUM YANG AMAN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen P2PL. penampungan air hujan (3. Proporsi penduduk yang memiliki akses terhadap sarana air minum yang aman secara nasional adalah 47. Sarana Air Bersih yang Digunakan dan Akses Air Minum yang Aman Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui persentase keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan.72%.41%).13.0%) Gambaran persentase akses air minum yang aman menurut provinsi dapat dilihat dalam Gambar 2.71%. sedangkan menurut wilayah.12.49%). Persentase tertinggi akses air minum yang aman terdapat di DI Yogyakarta (60. dan Sulawesi Tenggara (59. air kemasan (2.

2010 Secara rinci proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar yang layak menurut wilayah dan provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. sedangkan menurut wilayah.14 PERSENTASE AKSES SANITASI DASAR YANG LAYAK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen P2PL.15.46%. Secara nasional.72%. persentase akses sanitasasi dasar yang layak sebesar 69. GAMBAR 2. Sarana dan Akses terhadap Sanitasi Dasar Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui persentase keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar.30% dan tempat sampah sehat 53. Dari seluruh sarana sanitasi dasar tersebut yang memiliki kriteria jamban sehat 55.2. pengelolaan air limbah sehat 55.51% di perkotaan dan 33. 21 . Proporsi penduduk yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar yang layak secara nasional sebesar 51.37%) serta kepemilikan tempat sampah (72. kepemilikan pengelolaan air limbah (73.03%). persentase tertinggi akses keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar adalah kepemilikan terhadap jamban (81.19%.55%). Rincian persentase keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar dan sehat menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.14.96% di wilayah perdesaan.

58%). persentase rumah sehat secara nasional sebesar 63.49%. Riau (81. Provinsi yang memiliki persentase tertinggi adalah DKI Jakarta (91.78%).84%.16. Provinsi dengan persentase rumah sehat yang rendah adalah Sulawesi Barat (35.85%).25%).69%). dan TUPM lainnya (63. Rincian persentase tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan yang sehat menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. maka yang sudah diperiksa dan dinyatakan sehat sebesar 64.3. Rumah Sehat Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009. 4. Sedangkan menurut jenis TUPM. restoran/rumah makan sehat (70.21%). persentase TUPM sehat yang tertinggi adalah hotel sehat (84. Papua (43. pasar sehat (54. Secara nasional.17. dari keseluruhan TUPM.51%) dan Bali (77.61%) dan Nusa Tenggara Timur (50. GAMBAR 2.15 PERSENTASE RUMAH SEHAT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Persentase rumah sehat menurut provinsi secara rinci (data dari 429 kab/kota) disajikan pada Lampiran 2.13%). Tempat Umum dan Pengelolaan Makan (TUPM) Sehat Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui gambaran tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan yang sehat.54%). 22 .

Dari seluruh rumah/bangunan yang diperiksa maka rumah/bangunan yang sudah dinyatakan bebas jentik nyamuk Aedes sebesar 77. Provinsi yang persentase bebas jentik nyamuk Aedes tertinggi adalah DKI Jakarta (89.16 PERSENTASE RUMAH BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 23 . Papua (46.98%) dan Banten (87. Sedangkan menurut jenis institusi. dari keseluruhan institusi yang ada telah dilakukan pembinaan terhadap kesehatan lingkungan sebesar 64. perkantoran (59. sarana ibadah. Bali (87. Sedangkan yang terendah persentasenya yaitu NTT (39.08%).15%).82%). 6. sarana pendidikan.26%).02%). sarana pendidikan (67. dan sarana lainnya.08%.18.84%) dan sarana lainnya (62.44%). sudah dilakukan pemeriksaan terhadap 26% rumah/bangunan.5. Secara nasional. GAMBAR 2. Rincian persentase institusi dibina kesehatan lingkungannya menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. perkantoran.41%.23%) dan Bengkulu (47. persentase tertinggi institusi yang dibina kesehatan lingkungannya adalah sarana kesehatan (77.52%).22%). Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009. sarana ibadah (58. Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui gambaran institusi yang diberikan pembinaan kesehatan lingkungan seperti institusi sarana kesehatan. dari keseluruhan rumah/bangunan yang ada.

34%). 24 . Umur Perkawinan Pertama Umur perkawinan pertama adalah umur pada saat wanita melakukan perkawinan secara hukum dan biologis yang pertama kali. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap kesehatan.Persentase rumah/bangunan yang diperiksa dan bebas jentik nyamuk Aedes menurut provinsi (data dari 322 kabupaten/kota) secara rinci disajikan pada Lampiran 2. akan disajikan beberapa indikator yaitu perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan usia wanita perkawinan pertama. Provinsi yang memiliki persentase tertinggi adalah Jawa Tengah (88.57%).38%) dan Kalimantan Timur (79. Banten (21.19. GAMBAR 2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009. persentase rumah tangga yang ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara nasional sebesar 48.20. Provinsi dengan persentase PHBS yang rendah adalah Sumatera Barat (17. DI Yogyakarta (87. 1. E.17 PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria perilaku hidup bersih dan sehat yang baik menurut provinsi secara rinci (data dari 373 kab/kota) disajikan pada Lampiran 2.97%).37%) dan Papua Barat (27.73%). 2.41%.

41%. Mei 2010 Persentase wanita menurut umur perkawinan pertama menurut provinsi secara rinci disajikan pada Lampiran 2. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. kemudian persentase cukup banyak terjadi pula pada umur yang relatif masih remaja (16-18 tahun) sebesar 33.33%.21.18 PERSENTASE WANITA MENURUT UMUR PERKAWINAN PERTAMA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: BPS. *** 25 . GAMBAR 2. umur wanita yang menikah/kawin yang pertama kali paling banyak terjadi pada umur 19-24 tahun sebesar 41.Secara nasional.

.

MORTALITAS Mortalitas merupakan angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu. pendidikan. AKB merupakan indikator yang biasanya digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Bayi (AKB) dapat didefinisikan sebagai banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1. Angka Kematian Balita (AKABA). AKI.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. lingkungan sosial. keturunan. dan Angka Kematian Kasar. GAMBAR 3. Situasi derajat kesehatan masyarakat dapat tercermin melalui angka morbiditas. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB.1 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1. Angka Kematian Ibu (AKI). dan faktor lainnya. Oleh karena itu banyak upaya kesehatan yang dilakukan dalam rangka menurunkan AKB.Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. mortalitas dan status gizi. Pada bab berikut ini situasi derajat kesehatan di Indonesia digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB). dan angka morbiditas beberapa penyakit. A. AKABA. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan.000 KELAHIRAN HIDUP DI INDONESIA TAHUN 1991 S. dapat berupa penyakit maupun sebab lainnya. 1.D TAHUN 2007 27 . melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi.

GAMBAR 3. Pada tahun 1991 diestimasikan AKB sebesar 68 per 1.000 kelahiran hidup. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 28 .000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. Sedangkan hasil SDKI 2007 mengestimasikan AKB sebesar 34 per 1. Hasil SDKI tahun 2007 juga mengestimasikan AKB pada tingkat provinsi.2 berikut. Hasil estimasi tersebut memperhitungkan Angka Kematian Bayi dalam periode 5 tahun terakhir sebelum survei.000 kelahiran hidup. dan Kalimantan Timur serta Jawa Tengah sebesar 26 per 1. Rincian AKB menurut provinsi di Indonesia terdapat pada Lampiran 3. diikuti Aceh sebesar 25 per 1. Gambaran AKB per provinsi dapat dilihat pada Gambar 3.000 kelahiran hidup dan Sulawesi Tengah sebesar 60 per 1.2 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.1. perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit. Berbagai faktor dapat menyebabkan adanya penurunan AKB seperti yang ditampilkan pada gambar di atas.000 kelahiran hidup. misalnya pada SDKI tahun 2007 diperoleh AKB untuk periode 5 tahun sebelumnya yaitu tahun 2003-2007 sebesar 34 per 1. diantaranya pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 Menurut hasil SDKI terjadi penurunan AKB sejak tahun 1991. Provinsi dengan AKB terendah adalah DI Yogyakarta sebesar 19 per 1.000 KELAHIRAN HIDUP MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2007 Sumber: BPS.Sumber: BPS.000 kelahiran hidup. Hal ini disebabkan AKB sangat sensitif terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. Selain itu.000 kelahiran hidup. diikuti oleh Nusa Tenggara Barat sebesar 72 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan AKB tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 74 per 1.

000 kelahiran hidup dan Nusa Tenggara Barat sebesar 92 per 1. Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan nilai normatif AKABA. diikuti oleh Jawa Tengah sebesar 32 per 1. Sedangkan provinsi dengan AKABA tertinggi adalah Sulawesi Barat sebesar 96 per 1.000 kelahiran hidup. SDKI tahun 2007 mengestimasikan nilai AKABA sebesar 44 per per 1. diikuti oleh Maluku sebesar 93 per 1. sedang dengan nilai 20-70 dan rendah dengan nilai < 20. tinggi dengan nilai 71-140.000 kelahiran hidup dan Kalimantan Tengah sebesar 34 per 1.3 ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA) PER 1.2.000 kelahiran hidup. 29 . yaitu sangat tinggi dengan nilai > 140.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. Gambaran AKABA menurut provinsi dapat dilihat pada gambar berikut.000 KELAHIRAN HIDUP DI INDONESIA TAHUN 1991 – 2007 Sumber: Badan Pusat Statistik.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1. diketahui bahwa provinsi dengan AKABA terendah terdapat di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 22 per 1. 2008 Berdasarkan estimasi terhadap nilai AKABA pada tingkat provinsi. AKABA merepresentasikan peluang terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun. GAMBAR 3. Angka ini merupakan estimasi untuk periode 5 tahun sebelum survei (2003-2007).

AKI mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan. Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan. melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100. Angka ini lebih rendah dibandingkan AKI hasil SDKI tahun 2002-2003 yang mencapai 307 per 100. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum. Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan.GAMBAR 3. pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan.4 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI untuk periode 5 tahun sebelum survei (2003-2007) sebesar 228 per 100. persalinan.000 KELAHIRAN HIDUP MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2007 Sumber : BPS. Pada Gambar 3.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. dan nifas. 30 . Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 3.000 kelahiran hidup.5 berikut nampak adanya kecenderungan penurunan AKI sejak tahun 1994 sampai dengan tahun 2007. AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan.

769 2.190 3.99 7 Penyakit Endokrin. 5.GAMBAR 3.767 2.000 KELAHIRAN HIDUP) DI INDONESIA TAHUN 1994-2007 Sumber : Badan Pusat Statistik.000 penduduk.5 ANGKA KEMATIAN IBU (PER 100. Kemkes RI.80 9 10 Neoplasma Gejala.73 8 Penyakit Sistem Kemih Kelamin 4.585 6.89 3 Kondisi Tertentu yang Bermula pada Masa Perinatal 9.06 2 Penyakit Infeksi dan Parasit Tertentu 16.2008 4. TABEL 3. Estimasi Angka Kematian Kasar (AKK) berdasarkan hasil SUPAS 2005.91 6 Cedera.74 4 Penyakit Sistem Napas 8.542 3. menyebutkan bahwa AKK tahun 2007 sebesar 6.238 2.108 9.70 4. Keracunan.1 10 PENYAKIT UTAMA PENYEBAB KEMATIAN DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2008 Golongan Sebab Sakit Pasien CFR No Mati (%) 1 Penyakit Sistem Sirkulasi Darah 23.332 4.000 penduduk pada pertengahan tahun. dan Akibat Sebab Luar Tertentu Lainnya 5.56 4.9 per 1. dan Metabolik 5. Klinik Abnormal YTK Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.163 11.99 5 Penyakit Sistem Cerna 6. Angka Kematian Kasar (AKK) Angka kematian kasar adalah jumlah kematian yang terjadi pada suatu waktu dan tempat tertentu per 1. Angka Kematian di Rumah Sakit Tabel berikut ini menyajikan 10 penyebab kematian terbanyak pada penderita rawat inap di rumah sakit pada tahun 2008. Nutrisi.825 2. 2009 31 . Tanda & Penemuan Laboratorium.

penyakit sistem sirkulasi darah merupakan penyakit yang menempati urutan teratas sebagai penyakit utama penyebab kematian di rumah sakit pada tahun 2008. Sedangkan.9 dan Sulawesi Utara sebesar 72.163 orang dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 11. provinsi dengan UHH tertinggi adalah DI Yogyakarta.06%.6 UMUR HARAPAN HIDUP WAKTU LAHIR MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2008 Sumber : Badan Pusat Statistik. UHH juga menjadi salah satu indikator yang diperhitungkan dalam menilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM).6 tahun. 6.5 tahun.7 tahun. Selain itu. Kondisi UHH di Indonesia dalam kurun waktu 2006-2008 menunjukkan peningkatan. yang diikuti oleh Kalimantan Selatan sebesar 63. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir Derajat kesehatan masyarakat juga dapat diukur dengan melihat besarnya Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH).Berdasarkan informasi pada tabel di atas.1 tahun dan Banten sebesar 64. sebesar 61. yaitu sebesar 73. Salah satu faktor yang berperan dalam peningkatan UHH adalah upaya di bidang kesehatan sebagai bagian dari pembangunan kesehatan. Gambaran UHH pada tahun 2007 dan 2008 menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3. Berdasarkan data BPS. GAMBAR 3. Penyakit sistem sirkulasi darah pada tahun 2008 menyebabkan kematian sebanyak 23. UHH di Indonesia pada tahun 2008 sebesar 69 tahun.5 tahun dan 68. UHH terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat.0 tahun. Pada tahun 2008.2. 2010 Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa UHH merupakan salah satu komponen dalam memformulasikan IPM.1 yang diikuti oleh DKI Jakarta sebesar 72. 32 . sedangkan pada tahun 2006 dan 2007 sebesar 68. Berikut ini ditampilkan peringkat IPM 33 provinsi di Indonesia tahun 2008 yang disertai dengan nilai IPM.

Sedangkan provinsi dengan IPM terendah adalah Papua. Rincian mengenai 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit dapat dilihat pada tabel berikut. 1. 33 . Sulawesi Utara. Pola 10 Penyakit Terbanyak di Rumah Sakit Pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit tahun 2009 menurut Daftar Tabulasi Dasar (DTD) menunjukkan bahwa kasus terbanyak merupakan penyakit infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya dengan jumlah total kasus 488.GAMBAR 3. MORBIDITAS Morbiditas dapat diartikan sebagai angka kesakitan. diikuti oleh Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.794.7 NILAI IPM MENUURT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2008 Sumber: BPS. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat. baik insiden maupun prevalen dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. 2010 Berdasarkan gambar di atas diketahui bahwa provinsi dengan IPM tertinggi adalah DKI Jakarta. B. dan Riau.

Diare dan Gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) memiliki jumlah kasus terbanyak yaitu 143.446 67.696 1.45 8 Pneumonia 19.942 99.647 2.463 122.673 88.588 80.815 99.380 52.254 358. Kemenkes RI.013 223.3 POLA 10 PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009 No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) Kasus Laki-Laki Perempuan Total Kasus Meninggal CFR (%) 1 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 74.275 83.497 47.783 30.004 68.162 220.144 36.216 488.142 105.304 520 1.703 234 0.TABEL 3.63 9 Penyakit apendiks 13.25 4 Demam yang sebabnya tidak diketahui 24.154 235 0.10 6 Hipertensi esensial (primer) 15.749 1 2 3 4 9 10 Penyakit telinga dan prosesus mastoid Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtiva 243. TABEL 3.375 7 Hipertensi esensial (primer) 55.269 412.605 153.303 147.318 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. 2009 34 .705 60.920 16.807 28.22 2 Demam berdarah dengue 60.933 36.477 35.365 6.488 46.758 17.74 3 Demam tifoid dan paratifoid 39.170 16.048 162 0. 2009 Sedangkan pada pasien rawat inap.013 1.78 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.677 935 2.535 143. pola gambaran 10 penyakit terbanyak menunjukkan pola yang sedikit berbeda.396 30.467 234.167 132.747 1.696 kasus.76 10 Gastritis dan duodenitis 12.957 24.881 143.231 89.200 462 0.823 123.55 7 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 19.345 133.738 172.463 52.94 5 Dispepsia 18. Kemenkes RI.115 16.794 781.087 275.817 77.850 1.161 69.021 6 Dispepsia 55.429 156.364 8 Penyakit pulpa dan periapikal 54.2 POLA 10 BESAR PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009 No Kasus Daftar Tabulasi dasar (DTD) Laki-Laki Perempuan Total Kasus Jumlah Kunjungan 5 Infeksi saluran nafas bagian atas akut lainnya Demam yang sebabnya tidak diketahui Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) Gangguan refraksi dan akomodasi 67.243 49.195 135.953 247.334 898 0.578 245.083 53.256 371.533 21.660 203.262 41.629 121.

Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria (Daerah pembebasan malaria) atau API = 0.000 penduduki. Sebesar 75.1% sediaan darah yang positif.27.000 penduduk. akses pelayanan kesehatan kurang. Endemis Sedang bila API berkisar antara 1 – < 5 per 1. Kemenkes RI.02. 2. Malaria Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi komitmen global dalam Millenium Development Goals (MDGs). Relatif tingginya cakupan pemeriksaan sediaan darah di 35 .000 penduduk dengan kisaran provinsi 0.000 penduduk. sarana transportasi dan komunikasi yang sulit.5% dari kasus tersebut diperiksa sediaan darahnya.45%.68 per 1.63%.1 per 1. 4.000 penduduk. Penyakit Menular a. Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratifikasi endemisitas malaria suatu wilayah di Indonesia menjadi 4 strata yaitu : 1. Endemis Rendah bila API 0 . Angka ini jauh menurun dibandingkan API tahun 1990 yaitu 4. penyakit yang memiliki CFR paling tinggi di antara 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di RS adalah Pneumonia sebesar 6. serta buruknya perilaku masyarakat terhadap kebiasaan hidup sehat. 2010 API nasional pada tahun 2009 adalah 1. Malaria disebabkan oleh hewan bersel satu (protozoa) Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Endemis Tinggi bila API > 5 per 1.85 per 1. tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang rendah.66 per 1. angka API 2009 sudah memenuhi target.143.Berdasarkan CFR. GAMBAR 3. Wilayah endemis malaria pada umumnya adalah desa-desa terpencil dengan kondisi lingkungan yang tidak baik. 3.024 kasus. Sedangkan penyakit dengan CFR terendah adalah Infeksi Saluran Napas Bagian Atas Akut Lainnya sebesar 0.8 STRATIFIKASI ENDEMISITAS MALARIA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Dihubungkan dengan target pencapaian MDGs.000 penduduk. 2. Kasus malaria klinis tahun 2009 di Indonesia dilaporkan sebanyak 1. dan dihasilkan 23.

API senantiasa memenuhi target.000 penduduk. yaitu di bawah 0. yaitu semua kasus malaria klinis harus dikonfirmasi laboratorium.000 penduduk.000 penduduk. Kemenkes RI. Angka ini terus turun hingga 12.10 ANNUAL MALARIA INCIDENCE (‰) DI LUAR JAWA BALI TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Pada tahun 2009 API Jawa-Bali sebesar 0. GAMBAR 3.17 per 1. Angka ini telah mencapai target yang ditentukan. pada tahun 2004-2009 pencapaian AMI masih belum 36 . Pada gambar di atas nampak bahwa AMI di wilayah luar Jawa-Bali pada tahun 2005-2009 menunjukkan kecenderungan penurunan. Pada gambar di atas nampak bahwa dari tahun 2004-2009. GAMBAR 3. Namun.000 penduduk pada tahun 2009.25 per 1. Pada tahun 2005 AMI di luar Jawa-Bali sebesar 24. Kemenkes RI.000 penduduk.27 per 1.9 ANNUAL PARASITE INCIDENCE MALARIA (‰) DI JAWA BALI TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.75 per 1. 2010 Upaya pengendalian malaria untuk wilayah di luar Jawa-Bali menggunakan Annual Malaria Incidence (AMI). 2010 Indikator untuk upaya penemuan penderita di wilayah Jawa-Bali menggunakan Annual Parasite Incidence (API) atau Angka Parasit Malaria per 1.laboratorium tersebut merupakan pelaksanaan kebijakan nasional pengendalian malaria dalam mencapai eliminasi malaria.

7%.6% diikuti oleh Kalimantan Timur sebesar 31. b. Banten.memenuhi target. TB Paru Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Berikut ini disajikan pencapaian CDR menurut provinsi tahun 2009.1%. Maluku. Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS. dan Jawa Barat. 2010 Pencapaian CDR pada tahun 2009 sebesar 73. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. baik yang sembuh maupun yang menjalani pengobatan lengkap diantara pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat.5.11 CAKUPAN CASE DETECTION RATE (CDR) TB DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. DKI Jakarta. Berikut ini ditampilkan SR tahun 2004-2008. 37 . diikuti DKI Jakarta sebesar 81% dan Banten sebesar 77. karena pada kurun waktu tersebut AMI berada di atas target yang telah ditentukan. yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.3%. Dalam mengukur keberhasilan pengobatan TB digunakan Angka Keberhasilan Pengobatan (SR=Success Rate) yang mengindikasikan persentase pasien baru TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan.2%. yaitu Sulawesi Utara. Rincian API dan AMI menurut provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 3. Pada gambar di atas nampak bahwa terdapat 5 provinsi yang telah memenuhi target CDR 70%.1% dan Kepulauan Riau sebesar 32. TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR). Pada tingkat provinsi. CDR tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 85. GAMBAR 3. Sedangkan provinsi dengan CDR terendah adalah Kalimantan Tengah sebesar 30. Kemenkes RI. Success Rate dapat membantu dalam mengetahui kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. Angka ini telah memenuhi target minimal yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70%. Kementerian Kesehatan menetapkan target CDR minimal pada tahun 2009 sebesar 70%.

6% pada tahun 2006. dan penularan dari ibu ke anak dalam kandungan melalui plasenta dan kegiatan menyusui. Kemenkes RI. 38 . 3.7. Gambar berikut menampilkan kasus baru dan kumulatif penderita AIDS yang terjadi sampai tahun 2009. 3. HIV & AIDS HIV & AIDS disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. Kasus HIV dan AIDS menunjukkan trend peningkatan setiap tahun. Sampai dengan Desember 2009 jumlah kumulatif kasus AIDS mencapai 19. Angka ini kemudian kembali naik menjadi 91% pada tahun 2007 dan 2008. 2010 Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa pencapaian Success Rate (SR) pada tahun 2004-2008 telah memenuhi target 85%.973 kasus.9 dan 3. Gambaran kasus TB dan keberhasilan pengobatannya dapat dilihat pada Lampiran 3.12 SUCCESS RATE (SR) TB DI INDONESIA TAHUN 2004-2008 Sumber: Ditjen PP-PL. Namun demikian terjadi penurunan Success Rate (SR) dari 91% pada tahun 2005 menjadi 87.GAMBAR 3. c. Penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh penderita yang terjadi melalui proses hubungan seksual. transfusi darah. penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi secara bergantian.10.8.

GAMBAR 3.000 penduduk. dan DKI Jakarta 31. dari 2. diikuti oleh Bali sebesar 45. GAMBAR 3. provinsi dengan Case Rate tertinggi adalah Papua sebesar 133. Kemenkes RI.969 kasus baru pada tahun 2008. Kemenkes RI.13 JUMLAH KASUS BARU DAN KUMULATIF PENDERITA AIDS YANG TERDETEKSI DARI BERBAGAI SARANA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2001 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 2010 39 . Pada tahun 2009. 2010 Pada gambar di atas nampak adanya peningkatan penemuan kasus baru yang cukup signifikan pada tahun 2008.1.4.947 kasus baru pada tahun 2007 menjadi 4. Besaran kasus juga dapat dilihat dengan menggunakan Case Rate AIDS yang diperoleh dengan membandingkan jumlah kasus kumulatif terhadap jumlah penduduk per 100.14 CASE RATE AIDS MENURUT PROVINSI DI INDONESIA SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.7 per 100.000 penduduk.

GAMBAR 3. 2010 40 . yaitu hubungan seksual lawan jenis (heteroseksual).1%. namun jika kita melihat kecenderungan kasus baru AIDS pada pengguna NAPZA suntik menunjukkan penurunan selama tahun 2006.15 PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT CARA PENULARAN DI INDONESIA SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya upaya promosi kesehatan pada kelompok pengguna NAPZA suntik yang menyampaikan pesan bahwa penggunaan jarum suntik secara bergantian merupakan perilaku risiko tinggi terhadap penularan HIV. transfusi darah dan perinatal. Sedangkan persentase terendah adalah melalui transfusi darah sebesar 0.2009 seperti yang nampak pada gambar berikut. 2010 Berdasarkan cara penularan. Kemenkes RI. Meskipun penggunaan IDU menempati urutan ke-2 terbesar. hubungan sejenis melalui Lelaki Seks Lelaki (LSL). Kemenkes RI.3%. penggunaan Narkoba suntik secara bergantian.HIV/AIDS memiliki beberapa faktor risiko. Berikut ini disajikan persentase kasus kumulatif menurut faktor risiko. GAMBAR 3.16 JUMLAH KASUS BARU AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIK DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. persentase kasus kumulatif tertinggi adalah melalui hubungan heteroseksual sebesar 50.

Pada tahun 2009 jumlah kasus baru AIDS yang menggunakan NAPZA suntik
sebanyak 1.156 kasus. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan tahun 2008 sebesar 1.255
kasus.
Berdasarkan jenis kelamin, proporsi kasus kumulatif AIDS laki-laki lebih besar
terhadap perempuan yaitu 73,7% berbanding 25,8%.
GAMBAR 3.17
PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT JENIS KELAMIN DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Proporsi kasus kumulatif AIDS menurut kelompok umur menunjukkan gambaran
bahwa sebagian besar kasus kumulatif AIDS terdapat pada usia 20-29 tahun, 30-39 tahun,
dan 40-49 tahun. Kelompok umur tersebut memang termasuk ke dalam usia produktif yang
tentu saja juga aktif secara seksual.
GAMBAR 3.18
PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

41

Informasi lebih rinci tentang HIV/AIDS dapat dilihat pada Lampiran 3.11, 3.12, dan
3.13.
d. Pneumonia

Pneumonia merupakan infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi
dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat
kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang
Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau
orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Pada tahun 2009, cakupan penemuan Pneumonia pada balita sebesar 22,18%
dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 390.319 kasus. Berikut ini ditampilkan
angka cakupan penemuan pneumonia balita menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 3.19
CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA BALITA
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Pada tingkat provinsi, dapat diketahui bahwa tiga provinsi dengan cakupan tertinggi
berturut-turut adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 71,45%, Jawa Barat sebesar
46,16% dan Kepulauan Bangka Belitung sebesar 41,41%. Sedangkan tiga provinsi dengan
cakupan terendah adalah Provinsi Kepulauan Riau sebesar 0,32%, Aceh sebesar 2,16%,
dan Kalimantan Barat sebesar 2,54%. Data cakupan masing-masing provinsi terdapat pada
Lampiran 3.14.
e. Kusta

Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri
Mycobacterium leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan Kusta
menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan
mata. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut :
a. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa
b. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan
kelemahan/kelumpuhan otot.
42

c. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif).
Pada tahun 2009, dilaporkan terdapat kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 14.227
kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 3.033 dengan Newly Case Detection Rate (NCDR)
sebesar 7,49 per 100.000 penduduk. Berikut ini disajikan kecenderungan kasus baru tipe
PB dan MB serta NCDR.
GAMBAR 3.20
JUMLAH KASUS BARU KUSTA TIPE PB DAN MB
DAN NCDR PER 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Penemuan kasus baru sejak tahun 2005-2009 menunjukkan kecenderungan
penurunan. Pada tahun 2005 NCDR sebesar 8,99 per 100.000 penduduk, angka ini turun
terus hingga 7,49 per 100.000 penduduk pada tahun 2009. Kecenderungan penurunan
tersebut juga terjadi pada jumlah kasus baru kusta tipe PB dan MB.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen
PP&PL) telah menetapkan 33 provinsi di Indonesia ke dalam 2 kelompok beban kusta,
yaitu provinsi dengan beban kusta tinggi (high endemic) dan beban kusta rendah (low
endemic). Provinsi dengan high endemic jika NCDR > 10 per 100.000 penduduk atau
jumlah kasus baru lebih dari 1.000, sedangkan low endemic jika NCDR < 10 per 100.000
penduduk.

43

GAMBAR 3.21
STATUS BEBAN KUSTA DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya
proporsi cacat tingkat II, sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat
digunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru. Proporsi cacat
tingkat II pada tahun 2009 sebesar 10,37%. Sedangkan proporsi anak di antara penderita
baru pada tahun 2009 sebesar 11,44%.
GAMBAR 3.22
PROPORSI CACAT TINGKAT II DAN PROPORSI ANAK DI ANTARA KASUS BARU KUSTA
DI INDONESIA TAHUN 2001-2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Pada kurun waktu 2002-2009 terjadi kecenderungan peningkatan proporsi cacat
tingkat II. Sedangkan proporsi kusta pada anak di antara penderita baru nampak
berfluktuasi sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2005. Kecenderunggan peningkatan
proporsi pada anak nampak dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Informasi menurut
provinsi terkait penyakit kusta terdapat pada Lampiran 3.15.

44

2. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
a.Tetanus Neonatorum

Tetanus Neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk ke
tubuh melalui luka. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir yang salah satunya disebabkan
oleh pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Kasus TN banyak ditemukan di
negara berkembang khususnya dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
rendah.
Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 158 kasus dengan jumlah meninggal 76,
dengan demikian CFR Tetanus Neonatorum pada tahun 2009 sebesar 48,1%. Pada tahun
2009 kasus TN terjadi di 20 provinsi, dan 14 provinsi melaporkan adanya kasus meninggal.
Gambaran kasus Tetanus Neonatorum beserta persentase kasus berdasarkan faktor
risiko menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.16.
b.Campak

Campak merupakan salah satu penyakit PD3I yang disebabkan oleh virus campak.
Sebagian besar kasus campak menyerang anak-anak. Penularan dapat terjadi melalui udara
yang telah terkontaminasi oleh sekret orang yang telah terinfeksi. Berikut ini ditampilkan
Incidence Rate (IR) Campak menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 3.23
INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK PER 10.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 18.055 kasus campak dengan Incidence Rate
sebesar 0,77 per 10.000 penduduk. Incidence Rate tertinggi pada tahun 2009 terdapat di
Provinsi Kepulauan Riau sebesar 3,52; diikuti oleh Sumatera Barat sebesar 2 per 10.000
penduduk, dan Kalimantan Selatan sebesar 1,98 per 10.000 penduduk. Sedangkan Maluku
dan Nusa Tenggara Barat memiliki IR sebesar 0 per 10.000 penduduk.
Informasi mengenai penyakit campak menurut provinsi terdapat pada Lampiran
3.17, 3.18, 3.19, 3.20, dan 3.21.
45

c. Difteri

Penyakit Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang
menyerang sistem pernafasan bagian atas. Penyakit ini memiliki gejala sakit leher, demam
ringan, sakit tekak. Difteri juga kerap ditandai dengan tumbuhnya membran kelabu yang
menutupi tonsil serta bagian saluran pernafasan.
Jumlah kasus Difteri pada tahun 2009 sebanyak 189 kasus, dengan Incidence Rate
per 10.000 penduduk menurut kelompok umur menunjukkan umur < 1 tahun memiliki IR
sebesar 0,01; umur 1-4 tahun sebesar 0,02 ; dan umur 5-14 tahun sebesar 0,02 per 10.000
penduduk.
GAMBAR 3.24
INCIDENCE RATE (IR) DIFTERI PER 10.000 PENDUDUK
MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2003-2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Gambaran penyakit Difteri menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.22 dan
3.23.
d. Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut)

Polio merupakan salah satu penyakit menular yang termasuk ke dalam PD3I yang
disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf higga penderita mengalami
kelumpuhan. Penyakit yang pada umumnya menyerang anak berumur 0-3 tahun ini
ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher dan sakit di
tungkai dan lengan.
Sedangkan AFP merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami
penurunan kekuatan otot tanpa penyebab yang jelas kemudian berakibat pada kelumpuhan.
Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan indikator surveilans AFP yaitu
ditemukannya Non Polio AFP Rate minimal sebesar 2/100.0000 anak usia < 15 tahun. Pada
tahun 2009 non Polio AFP Rate sebesar 2,65 per 100.000 anak < 15 tahun.

46

420 orang.000 anak < 15 tahun. Kemenkes RI 2009 Provinsi dengan non Polio AFP Rate tertinggi adalah Gorontalo sebesar 8. diikuti oleh DIY dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 5.67 dan 5.000 penduduk dan CFR sebesar 0. Informasi lebih rinci menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3. 47 . Penyakit Potensial KLB/Wabah Terdapat beberapa penyakit yang berpotensi KLB/wabah yang sering terjadi di Indonesia. namun dapat juga menyerang orang dewasa.25 NON POLIO AFP RATE PER 100. terdapat 158. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur < 15 tahun.86%.64 per 100.GAMBAR 3. Diare dan Chikungunya.89%.57 per 100.25.22 per 100.02 per 100. diikuti oleh NTB dan Kalimantan Tengah masing-masing sebesar 1. Angka-angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2008 dengan IR sebesar 59. Sedangkan provinsi dengan non Polio AFP Rate terendah adalah Papua sebesar 1 per 100.000 ANAK < 15 TAHUN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. 3.000 anak < 15 tahun. a.000 anak < 15 tahun.912 kasus dengan jumlah kematian 1.000 penduduk dan CFR sebesar 0.000 anak < 15 tahun. Dengan demikian.Demam Berdarah Dengue (DBD) Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty.29 dan 1.24 dan 3. IR DBD pada tahun 2009 adalah 68. Pada tahun 2009.4 per 100. Seluruh penyakit potensial KLB ini banyak mengakibatkan kematian dan kerugian secara ekonomi. di antaranya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).

55 per 100.GAMBAR 3. Kecenderungan penurunan tersebut tidak nampak pada IR per 100.41 per 100. diikuti oleh Kalimantan Barat sebesar 228.44 dan Jambi sebesar 8.000 penduduk. yaitu 313.000 penduduk. Provinsi Maluku melaporkan 0 kasus.27 INCIDENCE RATE DBD PER 100.3 per 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. namun sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2008.000 penduduk. Kemenkes RI 2009 Meskipun CFR tahun 2009 lebih tinggi dibandingkan tahun 2008. Sedangkan IR terendah di Provinsi NTT sebesar 8. Angka Insidens (IR) tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta. Kemenkes RI 2009 48 .000 penduduk.000 PENDUDUK DAN CASE FATALITY RATE DBD DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP&PL.84 per 100.26 INCIDENCE RATE DBD PER 100. nampak adanya kecenderungan penurunan CFR. GAMBAR 3.000 penduduk dan Kalimantan Timur sebesar 173.

58%. diikuti oleh Bengkulu sebesar 3. Pada tahun 2008 sebesar 73. Februari dan Maret. provinsi dengan CFR tertinggi adalah Kep. 1988. GAMBAR 3. namun terjadi peningkatan sedikit pada bulan November dan Desember.11%. Puncak IR DBD terjadi pada tahun 1973.5% kabupaten/kota terjangkit.2%. Gorontalo sebesar 2. sedangkan tahun 2009 tercatat 384 Kabupaten/kota dari 497 Kabupaten/kota yang ada atau sebesar 77. Sedangkan CFR terendah terdapat di provinsi Sulawesi Barat. Puncak peningkatan kasus tahun 2009 terjadi pada bulan Januari.26%. dimana tidak ada kasus meninggal.29 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA TERJANGKIT DBD DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. Jumlah kabupaten/kota terjangkit DBD sejak tahun 1968 sampai dengan 2009 cenderung mengalami peningkatan seiring dengan terjadinya pemekaran wilayah di Indonesia. Jumlah kabupaten/kota terjangkit DBD terus meningkat sampai tahun 1998. GAMBAR 3. 1998 dan 2005.28 CASE FATALITY RATE DBD DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. Kemenkes RI 2009 49 .08%. Bangka Belitung sebesar 4. kemudian kasus menurun kembali setelah bulan Juli dan mencapai titik terendah pada bulan September. Kemenkes RI 2009 Pola perkembangan DBD pada tahun 2009 secara nasional menunjukkan terjadinya peningkatan kasus dan kematian DBD dibandingkan tahun 2008.Pada tahun 2009. dan sedikit menurun di tahun 1999. dan DKI Jakarta sebesar 0. kemudian meningkat kembali sampai tahun 2007.

Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare terjadi di 15 provinsi dengan jumlah penderita sebanyak 5.74% pada tahun 2009.Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait dengan penyakit DBD dapat dilihat pada Lampiran 3. pada tahun 2008 CFR Diare sebesar 2. GAMBAR 3.48% pada tahun 2008. atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam.74%.31 KLB DIARE DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. CFR tahun 2009 tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Diare Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Kemkes RI. dari 2. atau bila buang air besar tiga kali atau lebih. Penurunan ini dapat disebabkan oleh adanya perbaikan penatalaksanaan kasus Diare. Berikut ini disajikan gambaran distribusi provinsi dengan KLB Diare pada tahun 2009. GAMBAR 3. Angka ini turun menjadi 1.48%. Kemkes RI. Seseorang dikatakan menderita Diare bila feses lebih berair dari biasanya. Angka ini naik menjadi 2. b. 2010 50 . Kecenderungan CFR Diare pada periode tahun 2005-2009 terdapat pada gambar berikut.26 dan Lampiran 3.30 CASE FATALITY RATE (CFR) DIARE DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.26%. 2010 Pada gambar di atas terlihat adanya penurunan CFR yang cukup signifikan pada tahun 2006-2007. jumlah kematian sebanyak 100 orang atau CFR sebesar 1.52% menjadi 1.27.756 orang.

756 kasus tanpa kematian. Banten. Berikut ini disajikan gambaran kasus Chikungunya menurut provinsi pada tahun 2009. DKI Jakarta. penyakit disebabkan oleh infeksi virus Chik yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya penyakit ini antara lain rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat. Sumbar dan DI Yogyakarta dengan jumlah 3. Jawa Timur.Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait Diare dapat dilihat pada Lampiran 3.28. Penyakit ini kerap dijumpai terutama di daerah tropis/subtropis dan sering menimbulkan epidemi. Bangka Belitung.29. Jawa Barat. ruam /bercak-bercak kemerahan di kulit dan nyeri persendian. Jawa Tengah. Sedangkan pada tahun 2009 dilaporkan di Aceh.592 kasus tanpa kematian.Chikungunya Chikungunya adalah penyakit infeksi akut yang ditandai gejala utama demam. Bengkulu. Kep. dan makin meningkatnya arus mobilisasi penduduk. Bali. Jambi. Kalimantan Selatan.32 JUMLAH KASUS CHIKUNGUNYA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. NTB. Gambaran kasus Chikungunya menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3. Pada tahun 2008 dilaporkan di Provinsi Jawa Barat. 51 . Kemkes RI. 2010 Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan kasus Chikungunya secara signifikan pada tahun 2009 antara lain semakin banyaknya tempat-tempat perindukan nyamuk penular. dan Kalimantan Timur dengan jumlah 83. c. Lampung. Kalimantan Barat. kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan. GAMBAR 3. Sumatera Selatan. Sumatera Utara. Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun-tahun sebelumnya masih banyak daerah-daerah yang belum melaporkan kejadian kasus Chikungunya. DKI Jakarta. Sumatera Barat.

Kasus GHPR pada tahun 2004 dilaporkan sebanyak 14. kasus divaksinasi. DKI Jakarta. sedangkan provinsi yang berhasil menekan jumlah lyssa menjadi 0 kasus pada tahun 2009 adalah Jambi. Bengkulu. kucing. dan Lyssa. Jawa Timur. Kalimantan Barat.Rabies Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus rabies yang ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing. Pada tahun 2009 provinsi dengan kasus GHPR terbanyak adalah Bali. kasus yang divaksinasi dengan Vaksin Anti Rabies (VAR).466 kasus dengan kasus divaksinasi 35. Terdapat beberapa indikator yang digunakan dalam memantau upaya pengendalian Rabies. Jawa Tengah. Berikut ini disajikan gambaran GHPR.Bangka Belitung.33 JUMLAH KASUS GHPR.996 dengan 7. nampak adanya kecenderungan peningkatan jumlah kasus GHPR dan kasus VAR. 2010 Selama tahun 2004-2009. Kemkes RI. GAMBAR 3.316 dan lyssa sebesar 195 kasus.30. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan kasus GHPR menjadi 45. Penyakit dengan CFR tinggi ini terus menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. dan Lyssa pada tahun 2004-2009. NTB. Berikut ini ditampilkan peta wilayah endemis rabies tahun 2009 52 . dan Papua yang masih dinyatakan sebagai daerah bebas rabies. Dengan demikian hanya 9 provinsi yaitu: Kep.895 kasus divaksinasi dan 109 kasus lyssa. Papua Barat. Jawa Barat. yaitu : GHPR (kasus Gigitan Hewan Penular Rabies). daerah tertular rabies adalah 24 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. kelelawar. Sampai akhir tahun 2009. VAR DAN LYSSA DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. kera.d. musang dan serigala yang di dalam tubuhnya mengandung virus Rabies. Gambaran situasi Rabies di Indonesia menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Lampiran 3. Kalimantan Selatan dan Sulawesi Barat. DI Yogyakarta.

Kemkes RI.34 WILAYAH TERTULAR RABIES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. jumlah kasus klinis yang dilaporkan sebanyak 11. dan Papua. yang terdiri dari Wuchereria bancrofti. 53 . 2010 Berdasarkan gambar di atas. Jawa Timur. Kalimantan Barat. Jumlah kasus klinis filariasis ini merupakan jumlah kumulatif yang dilaporkan dari waktu ke waktu. 2010 Sampai tahun 2009 jumlah kasus klinis filariasis yang dilaporkan sebanyak 11.914 yang tersebar di 401 kabupaten/kota. NTB. Pada tahun 2008. maka provinsi yang bebas rabies pada tahun 2009 yaitu Kep. DKI Jakarta. Kemkes RI. Informasi lebih rinci terkait penyakit filariasis terdapat pada Lampiran 3. Filariasis Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria. Bangka Belitung. baik penderita lama yang baru ditemukan maupun penderita baru. Jawa Tengah.35 JUMLAH KASUS FILARIASI DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. e. Brugia malayi dan Brugia timori. Dalam tubuh manusia.699. Papua Barat. Penyakit ini menginfeksi jaringan limfe (getah bening).31. cacing tersebut tumbuh menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe sehingga menyebabkan pembengkakan di lengan dan organ genital. Filariasis menular melalui gigitan nyamuk yang mengandung cacing filaria dalam tubuhnya. DI Yogyakarta. GAMBAR 3.GAMBAR 3.

Terdapat 4 wilayah yang merupakan wilayah fokus Pes yaitu 1. Kecamatan Tutur Nongkojajar Kabupaten Pasuruan. Antraks Penyakit Antraks adalah penyakit infeksi yang akut yang disebabkan oleh spora dari bakteri Bacillus anthracis. Umumnya penyakit ini terjadi pada mamalia herbivora baik yang liar maupun peliharaan. Seluruh daerah tersebut adalah merupakan daerah pegunungan (daerah ketinggian) seperti Kecamatan Tutur Nongkojajar di kaki Gunung Bromo. Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Pasuruan. Kecamatan Cangkringan 4. KLB Pes terakhir terjadi pada tahun 2007 di Dusun Sulorowo. dimana terdapat 40 spesimen manusia dan 3. Kecamatan Tutur Nongkojajar 2. Provinsi Jawa Barat di Kabupaten Bandung. Desa Kayukebek. meskipun dapat juga menyerang mamalia lain dan beberapa jenis unggas. 3.175 spesimen rodent yang diperiksa di BLK Surabaya dan hasilnya menunjukkan negatif. provinsi yang masih melaporkan kegiatan trapping hanya Jawa Timur. Pada tahun 2009. Spora Bacillus anthracis dapat bertahan hidup di lingkungan selama bertahun-tahun hingga mendapatkan host baru. Manusia dapat tertular Antraks melalui kontak langsung maupun tidak langsung atau mengkonsumsi binatang yang terinfeksi atau produk hewan yang terkontaminasi bakteri/spora Antraks. Provinsi Jawa Timur. Pes Penyakit pes atau bubonic plaque disebabkan oleh infeksi bakteri Pasteurella pestis melalui hewan pengerat liar. Berikut ini ditampilkan hasil surveilans aktif dan pasif pes pada manusia selama tahun 2004-2009. Kecamatan Ciwidey di daerah kawah putih Ciwidey. Surveilans aktif dan pasif terhadap rodent dan pinjalnya masih tetap dilakukan secara rutin di empat daerah fokus Pes tersebut untuk mengantisipasi terjadinya KLB Pes yang biasa terjadi setiap 10 tahun.76%). 54 . Kecamatan Ciwidey. Kecamatan Selo dan Cepogo. Terdapat 2 kasus yang meninggal akibat antraks tipe pencernaan yang bersifat sangat akut. Kecamatan Selo & Cepogo serta Cangkringan di Kaki Gunung Merapi. Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Boyolali. Semua kasus berasal dari Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Selama tahun 2009 telah dilaporkan kasus antraks pada manusia sebanyak 17 kasus 2 orang diantaranya meninggal (CFR 11. Provinsi DI Yogyakarta di Kabupaten Sleman.f. g.

Kemkes RI.36 HASIL SURVEILANS PES PADA MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. pada tahun 2009 terdapat 378 kasus dengan 23 kasus meninggal. GAMBAR 3. MENINGGAL DAN CFR LEPTOSPIROSIS DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Data dan Informasi mengenai penyakit pes terdapat pada Lampiran 3. Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. meninggal dan CFR Leptospirosis selama tahun 2004-2009. Kemkes RI.GAMBAR 3. 2010 Pada gambar di atas nampak terjadi peningkatan jumlah manusia yang diperiksa maupun yang menunjukkan hasil positif pada tahun 2004-2007. h. 2010 55 . Manusia dapat terinfeksi jika terpapar dengan air. Penyakit ini ditandai dengan beberapa gejala seperti flu sampai dengan gangguan serius yang dapat menyebabkan kematian. Pada tahun 2008 dan 2009 tidak ditemukan lagi kasus positif pada manusia. tanah basah yang telah terkontaminasi urin tersebut. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan kasus Leptospirosis di Jawa Tengah pada bulan Januari sampai dengan April 2009. Pada tahun 2009 terdapat tiga wilayah yang melaporkan adanya kasus leptospirosis yaitu Provinsi DKI Jakarta. dimana sedang terjadi bencana banjir di wilayah tersebut. Kasus Leptospirosis seringkali dilaporkan dari wilayah yang terkena banjir.32. Berikut ini ditampilkan gambaran jumlah kasus. Leptospirosis Leptospirosis ditularkan melalui urin hewan pengerat yang telah terinfeksi bakteri penyebab Leptospirosis. Secara nasional.37 JUMLAH KASUS.

Jika dilihat secara kumulatif sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Berikut ini ditampilkan jumlah kasus. GAMBAR 3. Pada tahun 2009 dilaporkan kasus sebanyak 21 dengan kasus meninggal sebanyak 19 dan CFR sebesar 90. tiga provinsi dengan jumlah kasus Flu Burung tertinggi yaitu DKI Jakarta.48%. Sedangkan CFR menunjukkan kecenderungan penurunan pada tahun 2004-2006. MENINGGAL DAN CFR FLU BURUNG DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Namun angka ini turun menjadi 6. Sedangkan CFR menunjukkan kecenderungan peningkatan sejak kasus pertama kali ditemukan pada tahun 2005.08 pada tahun 2009. Kemkes RI. Angka kematian ini naik pada tahun 2007 dengan CFR 8. kasus meninggal dan CFR Flu Burung tahun 2005-2009. Kasus Flu Burung di Indonesia pada manusia pertama kali dilaporkan pada bulan Juni tahun 2005. 56 . Penyakit ini bisa menular kepada manusia dan dapat menimbulkan penyakit flu yang berakibat kematian. Jawa Barat dan Banten.38 JUMLAH KASUS. khususnya Provinsi DKI Jakarta. 2010 Jumlah kasus Flu Burung dan jumlah meninggal dilaporkan terbanyak pada tahun 2006. i.33.55%. Pada tahun 2007 memang terjadi banjir di beberapa wilayah di Indonesia. Informasi lebih rinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.Gambar di atas menampilkan adanya peningkatan kasus pada tahun 2007 dengan jumlah kasus 667 dan jumlah meninggal 57. Flu Burung Avian Influenza atau flu burung disebabkan oleh infeksi virus influenza tipe A (H5N1) yang umumnya menginfeksi unggas dan sedikit kemungkinan menginfeksi babi. Kecenderungan penurunan terjadi dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009. Angka CFR ini merupakan yang tertinggi selama kurun waktu tahun 2005-2009.

Sumatera Selatan. Kemkes RI. *** 57 .39 JUMLAH KASUS DAN MENINGGAL AKIBAT FLU BURUNG DI 13 PROVINSI TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. flu burung telah menyebar ke beberapa Provinsi di Indonesia. 2010 Berikut ini ditampilkan pemetaan kasus Flu Burung sampai dengan tahun 2009. Riau. Jawa Tengah. GAMBAR 3.GAMBAR 3. Bali. Banten. Sumatera Barat. Jawa Timur. yaitu Sumatera Utara. 2010 Pada gambar di atas nampak bahwa sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. DKI Jakarta.34. Lampung. dan Sulawesi Selatan. DIY. Kemkes RI. Gambaran situasi Flu Burung menurut provinsi juga dapat dilihat pada Lampiran 3.40 WILAYAH PENYEBARAN KASUS FLU BURUNG DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Jawa Barat.

.

Secara umum upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama. khususnya untuk tahun 2009. Upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta. pencegahan penyakit. pengamanan narkotika. Berikut ini diuraikan situasi upaya kesehatan selama beberapa tahun terakhir. pembatasan dan pemulihan kecacatan yang ditujukan terhadap perorangan. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. pemeliharaan kesehatan. psikotropika. Upaya kesehatan perorangan mencakup upaya-upaya promosi kesehatan. penyehatan lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar. pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan. serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan. pengamanan penggunaan zat aditif dalam makanan dan minuman. untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. pemberantasan penyakit menular. Upaya kesehatan masyarakat mencakup upaya-upaya promosi kesehatan. Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta. kesehatan jiwa. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu yang sedang hamil dapat 59 . pengobatan rawat jalan. diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi. pengobatan rawat inap. zat adiktif dan bahan berbahaya. Dengan pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan cepat. yaitu upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat. 1. Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan adalah sebagai berikut ini. A. pengendalian penyakit tidak menular. perbaikan gizi masyarakat. PELAYANAN KESEHATAN DASAR Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah penting dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

dari posyandu sampai rumah sakit pemerintah maupun fasilitas pelayanan kesehatan swasta. termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Target Cakupan kesehatan ibu yang harus dicapai pada tahun 2009 masing-masing sebesar 94% untuk Akses Pelayanan Antenatal (cakupan ibu hamil K1). 60 . skrining status imunisasi tetanus dan memberikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan.mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungannya hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya. persalinan.000 kelahiran hidup. Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. Upaya untuk mempercepat penurunan AKI telah dimulai sejak akhir tahun 1980-an melalui program Safe Motherhood Initiative yang mendapat perhatian besar dan dukungan dari berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri. dan 82% untuk cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (Pn). dan AKABA 44 per 1. Sedangkan tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelayanan antenatal kepada ibu hamil antara lain dokter spesialis kebidanan. serta KB pasca persalinan. Dewasa ini AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. dokter. tinggi fundus uteri.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100. serta temu wicara (konseling). AKB 34 per 1. Angka Kematian Neonatus (AKN). 84% untuk cakupan pelayanan ibu hamil sesuai standar (K4). a. tekanan darah. AKI sebesar 228 per 100. Pelayanan antenatal yang sesuai standar meliputi timbang berat badan. Kebijakan tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir secara khusus berhubungan dengan pelayanan antenatal. nifas dan perawatan bayi baru lahir yang diberikan di semua jenis fasilitas pelayanan kesehatan. pengukuran tinggi badan. bidan dan perawat. menentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ). test laboratorium (rutin dan khusus). nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas).000 kelahiran hidup. tatalaksana kasus. dan Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan beberapa indikator status kesehatan masyarakat.000 kelahiran hidup pada tahun 1992 (SKRT). Angka Kematian Bayi (AKB).000 kelahiran hidup. peningkatan pelayanan kesehatan ibu diprioritaskan yaitu dengan menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup. Dalam upaya pencapaian MDG’s dan tujuan pembangunan kesehatan. AKN 19 per 1. Pada akhir tahun 1990-an secara konseptual telah diperkenalkan lagi upaya untuk menajamkan strategi dan intervensi dalam menurunkan AKI melalui Making Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2000. Angka Kematian Ibu (AKI). pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan. dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (K1 dan K4) Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya.

dengan ketentuan waktu pemberian pelayanan yang dianjurkan yaitu: minimal 1 kali pada triwulan pertama. Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan kepada ibu hamil. Namun. Sedangkan cakupan K4 pada tahun 2004-2008 cenderung meningkat.51% pada tahun 2009. yaitu 6.6%. pencegahan dan penanganan komplikasi. Gambar 4.1 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K1 DAN K4 DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. pada tahun 2009 kesenjangan kembali meningkat menjadi 9%. namun pada tahun 2009 sedikit menurun dari 86.45% pada tahun 2009. Terlihat bahwa cakupan K1 selama tahun 2004 sampai 2009 terus mengalami peningkatan dari 88. Pada tahun 2004 terjadi selisih antara cakupan K1 dan K4 sebesar 11% kemudian tahun 2006 menjadi 10% dan pada tahun 2008 semakin kecil. Hasil pencapaian program pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan indikator cakupan K1 dan K4 yang dihitung dengan membagi jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan (untuk penghitungan indikator K1) atau jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali sesuai standar oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu (untuk penghitungan indikator K4) dengan jumlah sasaran ibu hamil yang ada di wilayah kerja dalam 1 tahun. Kesenjangan antara cakupan K1 dan K4 menunjukkan angka drop out K1-K4. 1 kali pada triwulan kedua. dan 2 kali pada triwulan ketiga.1 memperlihatkan cakupan kunjungan K1 dan K4 pada ibu hamil selama enam tahun terakhir. Kemenkes RI Dari gambar tersebut di atas dapat dilihat kesenjangan yang terjadi antara cakupan K1 dan K4. GAMBAR 4.Pelayanan antenatal disebut lengkap apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan serta memenuhi standar tersebut.04% pada tahun 2008 menjadi 85. Ditetapkan pula bahwa distribusi frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan. dengan kata lain jika kesenjangan K1 dan K4 kecil maka hampir semua ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal 61 .09% pada tahun 2004 menjadi 94. berupa deteksi dini faktor risiko.

Gambar 4. Sebanyak 18 provinsi telah mencapai target cakupan K4.22%. yang berarti telah mencapai target K1 tahun 2009 yaitu sebesar 94%. GAMBAR 4.39%). Kepulauan Bangka Belitung dan DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian K1 100%. Kemenkes RI Dari 33 provinsi di Indonesia.79%) dan Sulawesi Barat (57. yang menunjukkan pencapaian indikator K1 sebesar 94.04%).2 CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL (K1) TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas.53%).51%. Oleh karena itu perlu dilakukan percepatan peningkatan pelayanan kesehatan ibu di Provinsi Papua dan Sulawesi Barat. Sedangkan Papua adalah provinsi dengan pencapaian K1 terendah. diikuti provinsi Bangka Belitung (94.11%) dan Jawa Tengah (93. Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian K4 tertinggi (96. dapat dilihat pada Gambar 4.3 di bawah ini.85%. yaitu sebesar 57. Sementara provinsi yang lainnya telah mencapai cakupan K1 tidak kurang dari 80%. sehingga kehamilannya dapat terus dipantau oleh petugas kesehatan. kecuali provinsi Papua dan Sulawesi Barat dengan pencapaian masing-masing 57. Pada tahun 2009. diikuti Papua Barat (55.45% yang berarti telah mencapai target K4 tahun 2009 yang sebesar 84%. 62 .44%). hasil pencapaian indikator cakupan pelayanan K4 di Indonesia sebesar 85. Sedangkan Papua adalah provinsi dengan pencapaian K4 terendah (29. Untuk lebih jelasnya.85% dan 77. 16 provinsi telah mencapai target cakupan K1 sebesar 94%.meneruskan hingga kunjungan keempat pada triwulan 3.2 menyajikan hasil pencapaian cakupan K1 tahun 2009.

90%. Sebanyak 6 provinsi lainnya memiliki cakupan kurang dari 75% dan semuanya merupakan bagian dari Kawasan Timur Indonesia. dan Papua. 20 provinsi memiliki cakupan antara 75% . GAMBAR 4. Kemenkes RI 63 . Kemenkes RI Sedangkan cakupan pelayanan K4 menurut provinsi dapat dilihat melalui Gambar 4.GAMBAR 4. Provinsi-provinsi tersebut adalah NTT.3 CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K4 TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Terlihat bahwa hanya 7 provinsi di Indonesia dengan cakupan K4 lebih dari 90%. Sulawesi Barat. Maluku Utara.4 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K4 IBU HAMIL TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Papua Barat. Maluku.4 di bawah ini.

Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan (Pn) Periode persalinan merupakan salah satu periode yang berkontribusi besar terhadap Angka Kematian Ibu di Indonesia. Gambar 4. diikuti Provinsi Maluku Utara (61.5 PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. Kematian saat bersalin dan 1 minggu pertama diperkirakan 60% dari seluruh kematian ibu (Maternal Mortality: who.75%) dan Sulawesi Barat (62.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100. Pada tahun 2009 cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia telah mencapai 84. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan. where and why. GAMBAR 4. diikuti Provinsi Kepulauan Riau (96. telah mencapai target K4 tahun 2009 yang sebesar 82%. salah satu upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah menurunkan angka kematian ibu menjadi 102 per 100.b.38%. Dari indikator cakupan Persalinan oleh Nakes tahun 2009.38%.90%).5 memperlihatkan cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan sejak tahun 2004 sampai tahun 2009 yang cenderung meningkat.000 kelahiran hidup pada tahun 1992 (SKRT) serta meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menjadi 90% pada tahun 2015 dari 40. Sedangkan dalam target MDG’s.45%).7% pada tahun 1992 (BPS). Lancet 2006). dapat dilihat pada Gambar 4.24%) dan D.I Yogyakarta (95.6 bahwa DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian tertinggi (100%). 64 .30%). Sedangkan Papua merupakan provinsi dengan pencapaian Pn terendah (39. when. Kemenkes RI Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan (Pn) di Indonesia pada tahun 2009 yang sebesar 84.

13% persalinan ditolong bukan oleh nakes dan lebih dari setengahnya (53.GAMBAR 4. Sehingga dalam upaya peningkatan cakupan persalinan perlu dilakukan melalui upaya pelaksanaan program unggulan kesehatan ibu. di antaranya adalah Kemitraan Bidan Dukun. sebesar 77. model rumah tunggu di Kabupaten dengan Puskesmas di daerah terpencil untuk pencegahan terhadap komplikasi yang terjadi selama persalinan. Pada Gambar 4.6 terlihat bahwa sebanyak 7 provinsi di Indonesia yang memiliki cakupan Pn di atas 90%.34% kelahiran pada balita ditolong oleh tenaga kesehatan. Kenyataan di lapangan. serta peningkatan kualitas surveilans kesehatan ibu melalui pelaksanaan Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA). Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2009.6 PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. masih terdapat penolong persalinan yang bukan tenaga kesehatan dan dilakukan di luar fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan Susenas tahun 2008. revitalisasi Bidan Koordinator melalui pelaksanaan supervisi fasilitatif untuk peningkatan mutu dan kualitas tenaga penolong persalinan. Oleh karena itu secara bertahap diupayakan seluruh persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. provinsi lainnya memiliki pencapaian kurang sama dengan 90%. Kemenkes RI Pada tahun 2009 sebanyak 19 provinsi di Indonesia telah mencapai target cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu 82%. Persentase penolong kelahiran pada 65 . masih terdapat 25.9%) pertolongan persalinan dilakukan di rumah dengan fasilitas seadanya. peningkatan persalinan di fasilitas Kesehatan melalui jaminan program persalinan.

DI Yogyakarta.48%). diikuti oleh dukun (21.balita yang tertinggi adalah oleh bidan (61.2.000 IU sebanyak dua kali (2 x 24 jam).28%). dan Bali. Perbandingan persentase penolong persalinan antara tahun 2008 dan 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. 2) kunjungan nifas ke-2 (KF2) dilakukan pada minggu ke-2 setelah persalinan. Persentase balita menurut penolong kelahiran dan provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4. 2) pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya.7 berikut ini.24%).21%). respirasi dan suhu. persentase penolong kelahiran pada balita oleh tenaga kesehatan di atas 90% pada tahun 2009 adalah DKI Jakarta. c.7 PERSENTASE BALITA MENURUT PENOLONG KELAHIRAN TAHUN 2008-2009 Sumber : BPS. 3) pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan. 66 . Dibandingkan dengan hasil survei yang sama pada tahun 2008. Pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan meliputi: 1) pemeriksaan tekanan darah. dan Sulawesi Barat (47. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu: 1) kunjungan nifas pertama (KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari. persentase penolong kelahiran pada balita oleh tenaga kesehatan meningkat pada tahun 2009. 4) pemberian kapsul Vitamin A 200. Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas (KF3) Pelayanan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. GAMBAR 4. Sedangkan yang terendah adalah Provinsi Maluku (42. Susenas Berdasarkan provinsi. Maluku Utara (47. dan 5) pelayanan KB pasca persalinan. dan 3) kunjungan nifas ke-3 (KF3) dilakukan minggu ke-6 setelah persalinan.29%) dan dokter (15.45%). nadi. Diupayakan kunjungan nifas ini dilakukan pada saat dilaksanakannya kegiatan di posyandu dan dilakukan bersamaan pada kunjungan bayi.

51%). Provinsi dengan cakupan terendah adalah Riau (16. ibu hamil yang memiliki risiko tinggi (risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan.54%. Kalimantan Timur (36. Berdasarkan provinsi. kemudian Kep.54%).67%) dan Jawa Timur (93. 67 . dan Kalimantan Barat (40. d. Bali merupakan provinsi dengan pencapaian cakupan KF3 tertinggi (101.Gambar 4.8 berikut ini menyajikan persentase pelayanan ibu nifas menurut provinsi di Indonesia.75%. Bangka Belitung (94. ketiga provinsi tersebut bahkan telah mencapai cakupan 90% (target SPM tahun 2015).8 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN IBU NIFAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan.52%). Sementara target cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2015 adalah 90%. Penanganan Komplikasi Obstetri dan Neonatal Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh tenaga bidan di desa dan Puskesmas. Sebanyak 14 Provinsi memiliki cakupan kunjungan ibu nifas 3 kali sebesar 50% . maka kasus tersebut perlu dilakukan upaya rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Kemenkes RI Cakupan kunjungan ibu nifas rata-rata pada tahun 2009 adalah 71. Dari 30 provinsi yang melaporkan data.54%).15%). GAMBAR 4.

sindroma gangguan pernafasan dan kelainan neonatal.9 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu. Pada tahun 2009 cakupan penanganan neonatal komplikasi yang dilaporkan sebesar 23. yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. ketuban pecah dini. infeksi berat/sepsis. Gambar 4. diastole > 90 mmHg). puskesmas.Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal.82%. eklampsia. Risti/komplikasi kebidanan meliputi Hb < 8 g%.9 memperlihatkan cakupan penanganan komplikasi kebidanan menurut provinsi pada tahun 2009. trauma lahir. dengan kisaran cakupan antar provinsi yang cukup lebar.500 gram). letak sungsang pada primigravida. rumah bersalin dan rumah sakit.8%. Bahkan sebagian besar provinsi memiliki cakupan kurang dari 50%. Seluruh provinsi belum mencapai cakupan penanganan komplikasi kebidanan 80%. perdarahan per vaginam. GAMBAR 4. kecuali Provinsi Jawa Timur yang mencapai 84. dan persalinan prematur. Sementara target standar pelayanan minimal bidang kesehatan untuk indikator tersebut yang harus dicapai pada tahun 68 . Kemenkes RI Neonatus risti/komplikasi meliputi asfiksia. Neonatus risti/komplikasi yang ditangani adalah neonatus risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih yaitu dokter dan bidan di polindes. tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg. tetanus neonatorum. BBLR (Berat Badan Lahir < 2. oedeme nyata. sepsis.

pemberian ASI dini dan eksklusif.3% dan DIY 58%. Dalam melaksanakan pelayanan neonatal. yaitu pada 6 jam . Gambaran cakupan penanganan komplikasi neonatal per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.10 berikut ini GAMBAR 4.48 jam setelah lahir. Maluku. petugas kesehatan di samping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu.10 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binakesmas.2010 yaitu 80%. Kemenkes RI Pencapaian cakupan penanganan neonatal komplikasi tertinggi adalah NTT 76. Sedangkan cakupan terendah adalah provinsi Maluku Utara. Sulawesi Utara 63. dan Sulawesi Tenggara. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal tiga kali. pada hari ke 3 – 7 hari. tali 69 .2%. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi. pencegahan hipotermia. dan hari ke 8 – 28 hari. e. pencegahan infeksi berupa perawatan mata. Kunjungan Neonatal Bayi sampai umur 28 hari merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi.

Babel 99. GAMBAR 4.7%.12 berikut ini. kulit dan pemberian imunisasi). masih belum mencapai target yang diharapkan yaitu 82%. Sebanyak 13 dari 33 provinsi di Indonesia telah mencapai target. dan Jawa Tengah 94. Manajemen Terpadu Balita Muda (MTBM). cakupan terendah adalah Provinsi Papua Barat 30%. Maluku Utara 31%.11 memperlihatkan cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) per provinsi di Indonesia tahun 2009. dan Papua 32. Kep. 70 . dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA. Pencapaian target pelayanan kesehatan bayi berdasarkan laporan rutin tahun 2009 yaitu cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) yang sebesar 80.pusat. pemberian vitamin K.8%.5%.6%. Semenjak tahun 2006 hingga 2008 cakupan KN2 selalu di atas 75%.11 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL (KN1) MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binakesmas. cakupan KN1 tertinggi adalah Provinsi Bali 99. Kecenderungan cakupan kunjungan neonatal 2 kali (KN2) tahun 2003-2008 dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4.6%. Kemenkes RI Terdapat disparitas yang sangat lebar antar provinsi.

sementara cakupan yang dicapai baru sebesar 69. Provinsi-provinsi yang telah mencapai target dapat dilihat pada Gambar 4.13 PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI 71 . yang mulai disosialisasikan pada tahun 2008.7%. Kemenkes RI Sejak tahun 2008 terjadi perubahan kebijakan waktu pelaksanaan kunjungan dari semula minimal 2 kali menjadi 3 kali.12 PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL (KN2) DI INDONESIA TAHUN 2003 – 2008 Sumber: Ditjen Binkesmas.GAMBAR 4. Pada tahun 2009 target cakupan kunjungan neonatal lengkap (KN Lengkap) adalah sebesar 75%.13 berikut ini. GAMBAR 4.

puskesmas. Sedangkan cakupan terendah adalah provinsi Kalimantan Tengah 21. stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi. DPT/ HB1-3. posyandu. rumah bersalin dan rumah sakit) maupun di rumah. Sebanyak 4 provinsi telah mencapai target yaitu Bali. Kalimantan Barat 23. dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi. f.Sebanyak 17 provinsi telah mencapai target cakupan KN Lengkap sebesar 75%. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan kunjungan bayi umur 29 hari – 11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes. sementara target SPM Kesehatan yang harus dicapai pada tahun 2010 sebesar 90%. Bangka Belitung 95. yaitu satu kali pada umur 29 hari-3 bulan. panti asuhan dan sebagainya melalui kunjungan petugas kesehatn. Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG.8%.14 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Pada tahun 2009 cakupan pelayanan kesehatan bayi sebesar 81.3% dan Kepulauan Riau 28%. Kemenkes RI 72 . tempat penitipan anak. GAMBAR 4. Kep. Polio 1-4. Jawa Timur. dan Campak). Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali dalam setahun.2%. Cakupan pelayanan kesehatan bayi per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4. 1 kali pada umur 3-6 bulan.5%.14 berikut ini. pustu. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam melindungi bayi sehingga kesehatannya terjamin melalui penyediaan pelayanan kesehatan.3% dan Jawa Timur 92. dan Banten.4%. 1 kali pada umur 6-9 bulan. Provinsi dengan cakupan KN Lengkap tertinggi adalah Provinsi Bali 99. Jawa Tengah. dan 1 kali pada umur 9-11 bulan.

4%. Sumatera Utara 80. Maluku Utara 23.5%. sementara target yang harus dicapai 70%. dari 31 provinsi yang menyampaikan laporan sebanyak 6 provinsi yang mencapai target 70%.15 berikut: GAMBAR 4. Jawa Timur dan Jawa Tengah 92. dan Kalimantan Tengah.8%.4% dan Papua 27%.1%.7%.5%. yaitu Provinsi Jambi 92. Bengkulu. sehingga provinsi yang memiliki wilayah sulit dijangkau mempunyai cakupan yang relatif rendah.05%.4 tahun) sebesar 52. Bali 79. Sulawesi Utara 71% dan Sumatera Barat 70. Provinsi dengan cakupan terendah adalah DI Yogyakarta.Cakupan kunjungan bayi tertinggi adalah provinsi Bali 100. g.9%. Cakupan pelayanan kesehatan anak balita per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.8%. 73 . Pencapaian target cakupan kunjungan bayi sangat dipengaruhi oleh keaktifan posyandu tiap bulannya dan partisipasi keluarga untuk membawa bayi ke posyandu. Sulawesi Tengah 82.15 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Cakupan terendah adalah provinsi Papua Barat 21. Kemenkes RI Pencapaian cakupan pelayanan kesehatan anak balita. Pelayanan Kesehatan pada Balita Pada tahun 2009 cakupan pelayanan kesehatan anak balita (1 .

Hasil survei kecacingan 2009 oleh Ditjen P2PL menyebutkan 31.3%.1% anak usia 6-14 tahun mengalami kelainan refraksi dan 0.8% dan anak di atas usia 12 tahun adalah 43. sebesar 1. Untuk status gizi pada anak usia >15 tahun.h.8% adapun yang obesitas 10. Beberapa masalah kesehatan yang sering dialami anak usia sekolah adalah karies gigi.2% mengalami kebutaan. sebesar 21. Angka anemi pada anak usia <14 tahun 9.6% pada anak usia 10-14 tahun.8%. yang kurus 14.1%. Kemenkes RI 74 . kelainan refraksi/ketajaman penglihatan dan masalah gizi.1% dan anak di atas usia 12 tahun sebanyak 72.8 % siswa SD menderita kecacingan. GAMBAR 4. Pada anak usia sekolah dasar biasanya berkaitan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti menggosok gigi dengan baik dan benar. sementara pada anak usia >15 tahun. Sedangkan anak usia 12 tahun dengan karies gigi sebanyak 36.16 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN MURID KELAS SATU SD/SETINGKAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Untuk proporsi masalah kesehatan gigi dan mulut. Gambar 4. Berdasarkan hasil Riskesdas 2007 disebutkan bahwa untuk masalah kesehatan mata.16 memperlihatkan persentase murid SD kelas satu yang mendapatkan pelayanan kesehatan.6% terjadi pada anak usia 5-9 tahun dan 20. mencuci tangan menggunakan sabun. kecacingan.9%.7% dan pada laki-laki 13. Pelayanan Kesehatan Pada Siswa SD dan setingkat Berbagai data menunjukkan bahwa masalah kesehatan anak usia sekolah semakin kompleks.1%. Sementara karies gigi aktif yang terjadi pada anak usia 12 tahun adalah 29. pada perempuan 19.

Provinsi dengan capaian cakupan penjaringan murid SD dan setingkat tertinggi adalah
Jawa Barat (97,1%), Jawa Timur (90,1%), dan DI Yogyakarta (86%). Sedangkan yang
terendah adalah Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan NTT. Pencapaian nasional tahun
2009 sebesar 67,8%.
2. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
Menurut hasil penelitian, usia subur seorang wanita biasanya antara 15 – 49 tahun.
Oleh karena itu untuk mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran,
wanita/pasangan ini lebih diprioritaskan untuk menggunakan alat/cara KB.
Tingkat pencapaian pelayanan keluarga berencana dapat dilihat dari cakupan peserta
KB yang sedang/pernah menggunakan alat kontrasepsi, tempat pelayanan KB, dan jenis
kontrasepsi yang digunakan akseptor. Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus menikah
(pasangan usia subur/PUS) yang sedang dan yang pernah menggunakan/memakai alat KB
dapat dilihat pada Gambar 4.17 berikut ini.
GAMBAR 4.17
PROPORSI WANITA BERUMUR 15-49 TAHUN BERSTATUS KAWIN
YANG SEDANG DAN YANG PERNAH MENGGUNAKAN ALAT KB
TAHUN 2004-2008

Sumber : BPS, Susenas 2008

Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus kawin yang sedang menggunakan/
memakai alat KB menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2008 sebesar 56,62%, tidak
banyak mengalami perkembangan sejak tahun 2004. Berdasarkan data BKKBN, pada tahun
2009 peserta KB aktif sebesar 75,70%. Gambar 4.18 menyajikan persentase peserta KB aktif
menurut provinsi.

75

GAMBAR 4.18
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT PROVINSI
TAHUN 2009

Sumber : BKKBN

Provinsi dengan persentase peserta KB aktif tertinggi adalah Bengkulu (85,5%), Bali
(85,1%), dan DKI Jakarta (82%). Sedangkan persentase peserta KB aktif terendah adalah
Papua (33,9%), Maluku Utara (59,5%), dan Kepulauan Riau (64,3%).
Persentase peserta KB aktif menurut metode kontrasepsi yang sedang digunakan tahun
2009 terlihat dalam Gambar 4.19 berikut ini. Pada tahun 2009 suntikan dan Pil KB masih
banyak diminati sebagai alat KB oleh pasangan usia subur yaitu masing-masing sebesar
50,2% dan 28,3%. Sebaliknya, MOP (Metode Operasi Pria) dan MOW (Metode Operasi
Wanita) merupakan metode kontrasepsi yang terendah diminati oleh para akseptor KB.
GAMBAR 4.19
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI
TAHUN 2009

Sumber: BKKBN

76

Berdasarkan metode kontrasepsi menurut provinsi, alat kontrasepsi dalam rahim
(AKDR/IUD) banyak digunakan di Provinsi Bali dan DI Yogyakarta dengan persentase jauh
di atas provinsi yang lain yaitu masing-masing 47,88% dan 25,44%, sementara untuk
persentase terendah pemakaian IUD adalah 1,78% di Kalimantan Selatan dan persentase
nasional adalah 4,3%. Begitu pula untuk metode MOW kedua provinsi tersebut relatif lebih
tinggi dibandingkan provinsi lainnya yaitu 3,79% (Bali) dan 5,10% (DI Yogyakarta). Rincian
persentase KB aktif menurut metode kontrasepsi dan provinsi terdapat pada Lampiran 4.8.
Persentase tempat pelayanan peserta KB baru tahun 2006-2009 dapat dilihat pada
gambar berikut ini.
GAMBAR 4.20
PERSENTASE TEMPAT PELAYANAN PESERTA KB BARU
DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2009

Sumber : BKKBN

Sesuai dengan data BKKBN, tempat pelayanan peserta KB baru pada tahun 2009 tidak
jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyak peserta KB baru yang memanfaatkan
klinik KB pemerintah sebagai tempat pelayanan KB (62,94%). Selain klinik KB pemerintah,
sebesar 29,65% peserta KB baru memanfaatkan bidan praktek swasta sebagai tempat
pelayanan KB.
Berdasarkan provinsi, terdapat 4 provinsi dengan pemanfaatan klinik KB pemerintah
sebagai tempat pelayanan KB lebih dari 90%, yaitu NTT (97,61%), Maluku Utara (92,73%),
Sulawesi Tenggara (92,05%), dan Sulawesi Tengah (90,69%). Sebaliknya, di Provinsi DI
Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Bali pemanfaatan klinik KB pemerintah sangat rendah, bahkan
kurang dari 40%. Ketiga provinsi tersebut lebih banyak memanfaatkan pelayanan KB swasta.
Data lebih rinci proporsi KB Baru menurut tempat pelayanan KB dan provinsi dapat dilihat
pada Lampiran 4.9.

77

3. Pelayanan Imunisasi
Bayi dan anak-anak memiliki risiko yang lebih tinggi terserang penyakit menular yang
dapat mematikan, seperti: Difteri, Tetanus, Hepatitis B, Typhus, radang selaput otak, radang
paru-paru, dan masih banyak penyakit lainnya. Untuk itu salah satu pencegahan yang terbaik
dan sangat vital agar kelompok berisiko ini terlindungi adalah melalui imunisasi.
Pada saat pertama kali kuman (antigen) masuk ke dalam tubuh, maka sebagai
reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi. Pada umumnya, reaksi
pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat, karena tubuh belum mempunyai
"pengalaman." Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai
memori untuk mengenali antigen tersebut sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam
waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak. Itulah sebabnya, pada beberapa
jenis penyakit yang dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini
dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut, atau
seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal.
Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah
pemberian kuman atau kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk
merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah imunisasi Polio atau
Campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar
antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum)
pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi
yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui
darah plasenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap Tetanus dan Campak.
a. Imunisasi Dasar pada Bayi
Program imunisasi dasar lengkap (LIL/Lima Imunisasi dasar Lengkap) pada bayi
meliputi: 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B, dan 1 dosis Campak.
Di antara penyakit pada balita yang dapat dicegah dengan imunisasi, campak adalah
penyebab utama kematian pada balita. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor
penting dalam mengurangi angka kematian balita. Dari beberapa tujuan yang disepakati
dalam pertemuan dunia mengenai anak, salah satunya adalah mempertahankan cakupan
imunisasi campak sebesar 90%. Target tersebut sejalan dengan target Renstra Kemenkes RI
yang menetapkan target cakupan imunisasi campak 90% pada tahun 2014. Di seluruh negara
ASEAN dan SEARO, imunisasi Campak diberikan pada bayi umur 9-11 bulan dan
merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada bayi di antara imunisasi wajib lainnya.
Pada tahun 2009, Indonesia telah mencapai cakupan imunisasi campak sebesar
92,09%. Dengan demikian Indonesia telah mampu mencapai target imunisasi campak yang
78

telah ditetapkan oleh WHO dan target Renstra Kementerian Kesehatan RI tahun 2014. Angka
tersebut meningkat dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 90,5%.
Gambar 4.21 berikut ini adalah peta cakupan imunisasi campak menurut provinsi
tahun 2009.
GAMBAR 4.21
PERSENTASE PENCAPAIAN IMUNISASI CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI

Dari 33 provinsi di Indonesia, 18 provinsi telah mencapai cakupan imunisasi campak
≥ 90%, 8 provinsi mencapai cakupan 80%-89,99%, dan 7 provinsi lainnya masih di bawah
80%, bahkan ada yang baru mencapai cakupan 65,64%. Dibandingkan tahun 2008 yang
terdapat 14 provinsi dengan cakupan imunisasi campak ≥ 90%, pada tahun 2009 terjadi
peningkatan cakupan provinsi yang mencapai target. Cakupan tertinggi dicapai DKI Jakarta,
DI Yogyakarta, dan Bali. Ketiga provinsi tersebut telah berhasil mencapai cakupan imunisasi
campak sebesar 100%. Sedangkan cakupan terendah adalah di Papua Barat (65,64%), Maluku
(72,76%), dan Riau (73,78%). Data mengenai cakupan imunisasi dasar pada bayi menurut
provinsi tahun 2009 terdapat pada Lampiran 4.11.
Menurut hasil Riskesdas 2007, pendidikan dan pengeluaran per kapita berhubungan
dengan persentase anak umur 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar termasuk juga
campak. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga maka semakin tinggi pula anak
mendapat imunisasi. Begitu pula dengan pengeluaran per kapita, bahwa semakin tinggi
tingkat pengeluaran per kapita semakin tinggi pula anak mendapat imunisasi dasar. Persentase
di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan. Tabel 4.1 berikut ini menjelaskan hubungan
tersebut.

79

TABEL 4.1
PERSENTASE ANAK UMUR 12-23 BULAN YANG MENDAPATKAN IMUNISASI DASAR
MENURUT KARAKTERISTIK RESPONDEN, 2007
Karakteristik responden

BCG

Polio3

Tipe daerah
Perkotaan
92,4
Perdesaan
83,5
Pendidikan Kepala Keluarga
Tidak sekolah
78,6
Tidak tamat SD
79,3
Tamat SD
84,8
Tamat SMP
88,4
Tamat SMA
92,4
Tamat PT
95,7
Tingkat pengeluaran per kapita
Kuintil 1
83,0
Kuintil 2
85,7
Kuintil 3
87,2
Kuintil 4
89,6
Kuintil 5
91,9
Sumber: Balitbangkes Kemenkes RI, Riskesdas 2007

Jenis imunisasi
DPT3
HB3

Campak

78,7
66,2

74,9
63,1

71,0
57,3

86,0
78,8

61,9
62,4
67,4
71,6
79,7
82,6

54,0
59,1
63,3
68,2
76,9
81,8

50,5
53,7
57,5
62,8
72,3
75,9

71,6
74,1
78,2
82,3
88,6
93,1

66,6
68,1
72,8
73,6
77,6

62,9
64,7
69,1
71,0
74,7

58,7
59,7
63,2
65,5
70,9

78,1
78,5
83,1
84,3
86,8

Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proksi
terhadap cakupan atas imunisasi dasar secara lengkap pada bayi (0 -11 bulan). Desa UCI
merupakan gambaran desa/kelurahan dengan ≥ 80% jumlah bayi yang ada di desa tersebut
sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun. Target UCI tahun 2009
adalah 98%. Sedangkan standar pelayanan minimal menetapkan target 100% desa/kelurahan
UCI pada tahun 2010 untuk setiap kabupaten/kota.
Gambar 4.22 berikut menyajikan persentase desa/kelurahan UCI yang belum
menunjukkan perkembangan yang bermakna selama enam tahun terakhir. Pencapaian
tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 76,23%. Capaian tahun 2009 hanya sebesar
69,76% desa/kelurahan UCI di Indonesia, lebih rendah dibandingkan tahun 2008 yang sebesar
74,02%. Provinsi dengan capaian desa/kelurahan UCI tertinggi sekaligus mencapai target
cakupan desa/kelurahan UCI tahun 2009 (98%) adalah DKI Jakarta (100%), Bali (99,58%),
dan DI Yogyakarta (98,63%). Sementara 6 provinsi memiliki cakupan desa/kelurahan UCI
<50%, yaitu Papua Barat (21,15%), Papua (23,14%), Aceh (37,97%), Sulawesi Tenggara
(38,61%), Sulawesi Barat (42,11), dan Lampung (44,86). Rincian capaian desa/kelurahan UCI
menurut provinsi tahun 2007-2009 terdapat pada Lampiran 4.10.

80

imunisasi campak adalah imunisasi dasar yang terakhir diberikan pada bayi. sehingga kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dapat optimal.CAMPAK PADA BAYI DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL.22 PERSENTASE PENCAPAIAN UCI DI TINGKAT DESA/KELURAHAN DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Selama enam tahun terakhir.23 ANGKA DROP OUT CAKUPAN IMUNISASI DPT1Hb .2%. Rincian tentang angka drop out menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4.GAMBAR 4. Kemenkes RI 81 . Diasumsikan bayi yang mendapat imunisasi campak telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap. provinsi dengan angka drop out terendah adalah DI Yogyakarta dan yang tertinggi adalah Maluku.4%. Sebaliknya. GAMBAR 4. angka drop out nasional paling rendah terjadi pada tahun 2005 yaitu 1.23. sebagian anak tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Imunisasi DPT1Hb adalah jenis imunisasi yang pertama kali diberikan pada bayi. Namun kenyataannya. Kemenkes RI Idealnya. seorang anak mendapatkan seluruh imunisasi dasar sesuai umurnya. Anak-anak inilah yang disebut dengan drop out imunisasi. Angka drop out di Indonesia tahun 2009 sebesar 5. Untuk itu maka angka drop out imunisasi bayi dapat diketahui dengan perhitungan yang didasarkan atas persentase penurunan cakupan imunisasi campak terhadap cakupan imunisasi DPT1-Hb. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.12.

2) cakupan imunisasi rutin TT yang tinggi dan merata. Tetanus juga bisa menyerang pada bayi baru lahir (Tetanus Neonatorum) pada saat persalinan dan perawatan tali pusat. Kemenkes RI Pada tahun 2009 provinsi dengan cakupan ibu hamil yang mendapat imunisasi TT2+ tertinggi adalah Provinsi Bali (101. Hal inilah yang bisa menimbulkan risiko ibu maupun bayinya terkena tetanus. pencatatan yang dimulai dari kohort WUS (baik kohort ibu maupun WUS tidak hamil) belum seragam.56%).02%) dan terendah adalah Papua (8.24 terlihat keadaan cakupan imunisasi TT2 selama tahun 2003-2007 tidak mengalami perkembangan. bahkan cenderung menurun. Dari Gambar 4.9% pada tahun 2008. Namun sejak dua tahun terakhir terjadi peningkatan cakupan imunisasi TT2+. dari 26% pada tahun 2007 menjadi 42. kemudian meningkat lagi menjadi 62. Tetanus merupakan salah satu penyebab kematian bayi di Indonesia.b. Strategi yang dilakukan untuk mengeliminasi tetanus neonatorum dan maternal adalah 1) pertolongan persalinan yang aman dan bersih.25 82 . Imunisasi pada Ibu Hamil Tetanus disebabkan oleh toksin yang diproduksi oleh bakteri yang disebut Clostridium tetani. dan 3) penyelenggaraan surveilans.24 CAKUPAN TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Beberapa permasalahan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada wanita usia subur yaitu pelaksanaan skrining yang belum optimal.52% pada tahun 2009. Gambar 4. Akan tetapi masih banyak calon ibu di masyarakat terutama yang tinggal di daerahdaerah terpencil berada dalam kondisi yang bisa disebut masih "jauh" dari kondisi steril saat persalinan. GAMBAR 4. dan cakupan imunisasi TT2 bumil jauh lebih rendah dari cakupan K4. Maternal and Neonatal Tetanus Elimination (MNTE) merupakan program eliminasi tetanus pada neonatal dan wanita usia subur termasuk ibu hamil.

25 CAKUPAN TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PPPL. yaitu T1-T5. pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di kelas III di rumah sakit. Sedangkan provinsi dengan capaian 60%-80% sebanyak 10 provinsi. dan semua sistem pencatatan dalam pelaksanaan imunisasi TT WUS termasuk ibu hamil memakai sistem pencatatan yang sama. rata-rata lama hari perawatan (Length of Stay/LOS). Berdasarkan data Ditjen Pelayanan Medik. B. rata-rata tempat tidur dipakai (Bed Turn Over/BTO). yang salah satunya dengan imunisasi TT. rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (Turn of Interval/TOI). Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR). PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN Beberapa kegiatan pokok upaya kesehatan perorangan adalah peningkatan pelayanan kesehatan rujukan. tingkat pemanfaatan tempat tidur (BOR) di rumah sakit umum (yang dikelola Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Daerah) selama enam tahun terakhir cenderung meningkat setiap tahunnya walaupun pada tahun 2003-2006 83 . Sebanyak 20 provinsi lainnya memiliki capaian <60%. Kemenkes RI Beberapa langkah yang perlu segera dilakukan adalah sosialisasi ke seluruh petugas lapangan agar mengacu pada kriteria Antenatal Care (ANC) berkualitas. GAMBAR 4. dan Banten. 1. cakupan pelayanan gawat darurat. NTT. mutu dan tingkat efisiensi pelayanan. Indikator Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit biasanya dilihat dari berbagai segi yaitu tingkat pemanfaatan sarana.memperlihatkan bahwa dari 33 provinsi di Indonesia hanya 3 provinsi yang berhasil mencapai cakupan imunisasi TT2+ pada ibu hamil >80% yaitu Bali. dan lain-lain. persentase pasien keluar yang meninggal (Gross Death Rate/GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal ≥ 48 jam perawatan (Net Death Rate/NDR).

berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. sebanyak 17 provinsi telah mencapai BOR ideal.26 PENCAPAIAN BOR DAN BTO RSU KEMENKES DAN PEMDA DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik. apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Sementara tidak ada satu provinsi pun yang memiliki BOR lebih tinggi dari 85%. hanya 2 provinsi yang mencapai BTO ideal. Pada tahun 2007 dan 2008 BOR nasional telah mencapai angka ideal.7 kali) dan Jambi (43. juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan. Padahal selama enam tahun sebelumnya BTO di rumah sakit selalu berada pada kisaran 40-50 kali. yaitu hanya sebesar 25 kali. Dari 33 provinsi. Pada tahun 2009 BTO rumah sakit belum mencapai angka ideal.belum mencapai angka ideal yang diharapkan (yaitu 60-85%).8% pada tahun 2008 turun menjadi 58. Gambar 4. dan BUMN lainnya tidak tersedia. Kemenkes RI Keterangan: BOR = Bed Occupation Rate/persentase pemanfaatan tempat tidur BTO = Bed Turn Over/rata-rata tempat tidur dipakai selama setahun BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode (biasanya satu tahun). Hal itu berarti jumlah rumah sakit di Indonesia untuk masing-masing provinsi relatif mencukupi kemampuannya dalam menyediakan tempat tidur bagi pasien rawat inap.7% pada tahun 2009. Secara umum nilai LOS yang ideal antara 6-9 hari.4 kali). dari 79. Tingkat pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit sejak tahun 2003-2009 dapat dilihat pada Gambar 4. LOS adalah rata-rata lama rawat (hari) seorang pasien. Namun pada tahun 2009 BOR mengalami penurunan yang cukup besar. yaitu Bali (45.27 memperlihatkan rata-rata LOS nasional di rumah sakit umum selama tahun 2003-2009 yang berkisar antara 484 . TNI/POLRI.26 berikut ini. Dari 31 provinsi yang menyampaikan data. Indikator ini di samping memberikan gambaran tingkat efisiensi. GAMBAR 4. satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali. Idealnya dalam satu tahun. Data tentang pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit umum yang dikelola oleh swasta.

yaitu Sumatera Utara (52).000 penderita keluar dari rumah sakit. Pada tahun 2009 angka GDR di Indonesia sebesar 36.000 pasien keluar. dan Sulawesi Barat (48.6 hari) dan Kep.000 pasien keluar. Selama tahun 2003-2009 TOI di rumah sakit berkisar antara 2. Jawa Timur (49.5). Hanya pada tahun 2007 dan 2008 TOI mencapai angka ideal 1-3 hari.6 hari) yang memiliki TOI ideal. 4 provinsi memiliki GDR > 45 per 1. TOI adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah digunakan sampai saat digunakan kembali (rata-rata lama tempat tidur kosong antar pasien satu dengan pasien berikutnya). Kalimantan Barat memiliki LOS tertinggi (5. Bangka Belitung memiliki LOS terendah (3.5 kematian per 1. Pada GDR. Kemenkes RI Keterangan: LOS = Length of Stay/rata-rata hari rawat seorang pasien TOI = Turn over Interval/rata-rata tempat tidur tidak dipakai antar dua episode pemakaian Indikator pelayanan rumah sakit yang lain adalah TOI.9-6. Sumatera Barat (48.5.000 pasien keluar rumah sakit. 85 . GDR adalah angka kematian umum untuk setiap 1. Berdasarkan provinsi.1 hari). Berdasarkan provinsi. Nilai ideal GDR adalah < 45 per 1. Pada tahun 2009 angka TOI tempat tidur rumah sakit di Indonesia memiliki selang waktu 6. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.27 PENCAPAIAN LOS DAN TOI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.2).3 hari. hanya Bali (2 hari) dan Jambi (2.3 hari tempat tidur tidak terisi.3 hari dan belum mencapai angka ideal. tidak melihat berapa lama pasien berada di rumah sakit dari masuk sampai meninggal. Dari 31 provinsi yang menyampaikan laporan. GAMBAR 4.8).

NDR sejak tahun 2003 hingga 2009 berada pada kisaran 18-23. Asumsinya jika pasien meninggal setelah mendapatkan perawatan 48 jam berarti ada faktor pelayanan rumah sakit yang terlibat dengan kondisi meninggalnya pasien. Namun jika pasien meninggal kurang dari 48 jam masa perawatan.000 pasien keluar) GDR = Gross Death Rate (per 1. 2. dianggap faktor keterlambatan pasien datang ke rumah sakit yang menjadi penyebab utama pasien meninggal. Melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit. Program ini telah berjalan lima tahun.6 per 1. Dengan demikian NDR telah mencapai angka ideal yaitu < 25 per 1. Nilai NDR yang ideal adalah < 25 per 1. Sejak tahun 2005 hingga 2007 sasaran Jamkesmas (yaitu jumlah orang miskin dan hampir miskin) terus bertambah kecuali sejak tahun 2007-2009 dengan jumlah sasaran sama 86 .000 pasien keluar. menurunkan angka kematian bayi dan balita serta menurunkan angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan bagi masyarakat miskin umumnya.000 pasien keluar.000 pasien keluar.000 pasien keluar) NDR adalah angka kematian pasien setelah dirawat ≥ 48 jam per 1.28 PENCAPAIAN NDR DAN GDR PER 1.000 pasien keluar.GAMBAR 4. dan telah memberikan banyak manfaat bagi peningkatan akses pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan hampir miskin di puskesmas dan jaringannya serta pelayanan kesehatan di rumah sakit.000 PASIEN KELUAR RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tujuan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yaitu untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan hampir miskin agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. Kemenkes RI Keterangan: NDR = Net Death Rate (per 1.

Sedangkan pemberi pelayanan kesehatan Jamkesmas tingkat lanjut pada tahun 2008 berjumlah 920 dengan rincian sebagai berikut: 56% rumah sakit pemerintah. 87 . pusling) yang berjumlah 8. Kemenkes RI Pada tahun 2009. Pemberi pelayanan kesehatan dasar Jamkesmas adalah seluruh puskesmas dan jaringannya (pustu. Sedangkan jumlah kunjungan rawat inap tingkat lanjut dapat dilihat pada Lampiran 4.29 REALISASI PROGRAM JPKM TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) Jamkesmas terdiri dari pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan tingkat lanjut.19.20. 7% rumah sakit TNI/POLRI.234 unit. Gambar 4.4 juta jiwa. Provinsi dengan jumlah sasaran terbesar adalah Jawa Tengah.22 juta jiwa. Rincian kujungan rawat jalan tingkat pertama dan tingkat lanjut menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4.30. dan 4% balai pengobatan seperti yang terlihat pada Gambar 4. dari 76.60 juta memanfaatkan sarana kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama dan tingkat lanjut. 33% rumah sakit swasta. Angka tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 26. dan Jawa Timur.29 berikut ini menyajikan realisasi program JPKM tahun 2005-2009. GAMBAR 4.yaitu 76. polindes/poskesdes.18 dan 4. sebanyak 23.4 juta sasaran masyarakat miskin dan hampir miskin. Jawa Barat.

Layak dilaksanakan secara operasional. dan Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah PPK tertinggi untuk pelayanan tingkat lanjut. Sifat virus polio yang tidak tahan lama hidup di lingkungan. di mana Indonesia turut menandatangani kesepakatan tersebut. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT 1. dan 80 PPK. 88 . Tersedianya vaksin yang mempunyai efektivitas > 90% dan mudah dalam pemberian. yaitu masing-masing 140. Jika di provinsi lain. Pengertian Eradikasi Polio adalah apabila tidak ditemukan virus polio liar indigenous selama 3 tahun berturut-turut di suatu region yang dibuktikan dengan surveilans AFP yang sesuai standar sertifikasi. 115. Kesepakatan ini diperkuat oleh sidang World Summit for Children pada tahun 1989. 3. melainkan mempunyai arti yang lebih luas lagi. Eradikasi dalam hal ini bukan sekedar mencegah terjadinya penyakit polio. sidang ke-41 WHA (World Health Assembly) telah menetapkan program eradikasi polio secara global (global polio eradication initiative) yang ditujukan untuk mengeradikasi penyakit polio pada tahun 2000. jumlah anggota masyarakat miskin dan hampir miskin kurang dari 5 juta jiwa (bahkan beberapa di antaranya kurang dari 1 juta jiwa).GAMBAR 4. 4. C. namun di tiga provinsi tersebut mencapai lebih dari 10 juta jiwa.30 PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN JAMKESMAS TINGKAT LANJUT TAHUN 2008 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. Manusia satu-satunya reservoir dan tidak ada longterm carrier pada manusia. Dasar pemikiran Eradikasi Polio adalah: 1. 2. yaitu menghentikan terjadinya transmisi virus polio liar di seluruh dunia. Jawa Tengah. Besarnya jumlah PPK di tiga provinsi tersebut juga disebabkan tingginya jumlah sasaran Jamkesmas. Pengendalian Penyakit Polio Pada tahun 1988. Kemenkes RI Provinsi Jawa Barat.

Pencapaian kinerja sampai tahun 2002 berfluktuasi. Target untuk non Polio AFP rate ditetapkan sebesar ≥ 2 per 100. kinerja menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna.31 berikut ini. GAMBAR 4. secara nasional diperoleh gambaran seperti terlihat pada Gambar 4. selama 10 tahun terakhir tidak ditemukan kasus AFP yang disebabkan virus Polio liar. Dengan demikian sejak tahun 2003 hingga 2009 spesimen adekuat telah sesuai standar.000 anak umur < 15 tahun. dengan demikian hasil pemeriksaan yang dilakukan menjadi semakin mewakili kondisi di lapangan. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit Polio telah dilakukan melalui gerakan imunisasi polio. Berdasarkan kegiatan surveilans AFP pada penduduk <15 tahun selama tahun 2003 – 2009.Di Indonesia.31 menunjukkan bahwa persentase spesimen adekuat yang dikirim untuk pemeriksaan virus Polio semakin meningkat. akan dilakukan pemeriksaan spesimen tinja untuk mengetahui ada tidaknya virus Polio liar yang menyerang masyarakat. Surveilans AFP di Indonesia dilaksanakan sejak pertengahan tahun 1995.10%. Gambar 4. kecuali pada tahun 2006 yaitu 79. 89 . untuk mencari kemungkinan adanya virus Polio liar yang berkembang di masyarakat dengan pemeriksaan spesimen tinja dari kasus AFP yang dijumpai. artinya minimal 80% spesimen tinja penderita harus sesuai dengan persyaratan yaitu diambil ≤ 14 hari setelah kelumpuhan dan suhu spesimen 0-8ºC sampai di laboratorium. Upaya ini juga ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans epidemiologi secara aktif terhadap kasus-kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP) kelompok umur <15 tahun dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan untuk standar spesimen adekuat adalah >80%. Kemenkes RI Setiap kasus AFP yang ditemukan dalam kegiatan intensifikasi surveilans. namun sejak adanya tenaga khusus (surveillance officer) di tingkat provinsi.31 PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT DAN NON POLIO AFP RATE TAHUN 2003 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.

Kemenkes RI 2.32 berikut ini. dan 4) sedikitnya 85% tercapai succes rate. Selama tahun 2001-2009 persentase TB Paru BTA+ terhadap suspek TB Paru tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu 13. maka proses penyembuhan TB Paru dapat berlangsung secara cepat. a. 3) sedikitnya 70% kasus TB Paru BTA+ terdeteksi dan diobati melalui program DOTS (Directly Observed Treatment Shortcource Chemotherapy) atau pengobatan TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO).01% dan terendah terjadi pada tahun 2001 (8. DOTS adalah strategi penyembuhan TB Paru jangka pendek dengan pengawasan secara langsung.32b PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 2) menurunkan prevalensi TB Paru dan angka kematian akibat TB Paru menjadi setengahnya pada tahun 2015 dibandingkan tahun 1990. Strategi DOTS direkomendasikan oleh WHO secara global untuk menanggulangi TB Paru. dapat mencapai angka 95%. Dengan menggunakan strategi DOTS.Provinsi yang telah memenuhi target non polio AFP rate ≥ 2 per 100. Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di antara Suspek yang diperiksa Upaya Pemerintah dalam menanggulangi TB Paru setiap tahunnya semakin menunjukkan kemajuan. Pengendalian TB-Paru Tujuan utama pengendalian TB Paru adalah: 1) menurunkan insidens TB Paru pada tahun 2015.43%) 90 .000 anak umur < 15 tahun dan spesimen adekuat sesuai standar dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4.33 memperlihatkan persentase TB Paru BTA+ terhadap suspek TB Paru selama tahun 2001-2009. DOTS menekankan pentingnya pengawasan terhadap penderita TB Paru agar menelan obatnya secara teratur sesuai ketentuan sampai dinyatakan sembuh.32a NON POLIO AFP RATE/ 100. Kemenkes RI Sumber: Ditjen PP-PL. GAMBAR 4.000 ANAK UMUR < 15 TAHUN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 GAMBAR 4. Strategi DOTS memberikan angka kesembuhan yang tinggi. Hal ini dapat terlihat dari meningkatnya jumlah penderita yang ditemukan dan disembuhkan setiap tahun.

persentase BTA+ diperkirakan 10% dari suspek yang diperkirakan di masyarakat dengan nilai yang ditoleransi antara 5-15%. sejak tahun 2001-2009 persentase BTA+ terhadap suspek masih dalam batas yang ditolerir. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (negatif palsu). Bila angka ini terlalu kecil (< 5%) kemungkinan disebabkan penjaringan suspek terlalu longgar.GAMBAR 4. Dengan demikian. GAMBAR 4. Berarti. Untuk hasil proporsi pasien TB Paru BTA Positif di antara suspek yang diperiksa per provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. Kemenkes RI 91 . Sedangkan bila angka ini terlalu besar (> 15%) kemungkinan disebabkan penjaringan terlalu ketat atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positif palsu).34 berikut ini.34 PERSENTASE PASIEN TB PARU BTA+ TERHADAP SUSPEK YANG DIPERIKSA DAHAKNYA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen PPPL. petugas kesehatan mampu mendiagnosis kasus BTA+ sesuai standar.33 PERSENTASE BTA POSITIF TERHADAP SUSPEK TAHUN 2001-2009 Sumber : Ditjen PP-PL. Kemenkes RI Menurut standar.

Sedangkan provinsi dengan persentase pasien TB Paru BTA+ terhadap suspek yang diperiksa >15% sebanyak 3 provinsi yaitu Maluku Utara.35 PERSENTASE PENEMUAN KASUS BARU DAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU DI INDONESIA TAHUN 2000-2009 Sumber : Ditjen PPPL. CDR mengalami peningkatan yang berarti. Gambar 4.35 menyajikan kecenderungan angka penemuan kasus baru (Case Detection Rate). dari 20% pada tahun 2000 menjadi 71. Bahkan pada tahun 2009 keberhasilan pengobatan mencapai 91% Angka keberhasilan pengobatan penderita pada tahun 2008 menurut provinsi dapat dilihat pada gambar berikut: 92 . Angka keberhasilan pengobatan semenjak 20002009 telah mencapai target keberhasilan pengobatan yang distandarkan oleh WHO yaitu minimal 85%. Dengan demikian sejak tahun 2006 sampai 2009 (kecuali tahun 2007) Indonesia telah mampu mencapai target tersebut. Selama tahun 2000-2009. b. Sementara standar CDR TB Paru sebesar 70%. Kemenkes RI Keberhasilan pengobatan TB paru ditentukan oleh kepatuhan dan keteraturan dalam berobat.Sebanyak 30 provinsi dengan persentase pasien TB Paru BTA+ di antara suspek yang diperiksa per provinsi sebesar 5-15%. GAMBAR 4.9% pada tahun 2009. pemeriksaan fisik dan laboratorium. Maluku. CDR tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 75. dan DKI Jakarta. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA+ (Case Detection Rate) dan Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate) Angka penemuan kasus TB Paru BTA+ memperlihatkan penemuan TB Paru BTA+ terhadap jumlah perkiraan TB Paru.7%.

dan Gorontalo (97.11%). Sedangkan provinsi yang belum mencapai target SR 85% adalah Papua Barat.41%).36 PERSENTASE KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA TB PARU (SUCCESS RATE) TAHUN 2008 MENURUT PROVINSI Sumber : Ditjen PPPL. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan 93 . Hal ini dapat dilihat melalui hasil survei mortalitas subdit ISPA pada tahun 2005 di 10 provinsi. DI Yogyakarta.GAMBAR 4. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu Pneumonia berat dan Pneumonia tidak berat. Kemenkes RI Sebanyak 28 provinsi telah berhasil mencapai target keberhasilan pengobatan 85% dengan SR tertinggi yaitu Bengkulu (97. tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan Pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Papua. diketahui bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia. yaitu sebanyak 22. Program Pemberantasan Penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu Pneumonia dan yang bukan Pneumonia. dan Riau. 3.5%.8% dan pada anak balita sebesar 15. Penyakit batuk pilek seperti rinitis. Survei yang sama juga menunjukkan bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada anak balita yaitu 23. Studi mortalitas pada Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada bayi (post neonatal) karena pneumonia sebesar 23.60%. Maluku (97.29%). faringitis. Maluku Utara. Pengendalian Penyakit ISPA ISPA merupakan penyebab kematian terbesar baik pada bayi maupun pada anak balita.30% dari seluruh kematian bayi.

e. b. Pembinaan (bimbingan teknis. Hambatan yang ditemui dalam meningkatkan cakupan penemuan Pneumonia balita di puskesmas yaitu: a.37 CAKUPAN PENEMUAN PENDERITA PNEUMONIA PADA BALITA DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber : Ditjen PPPL.41%). 4. Kemenkes RI Cakupan penemuan penderita pneumonia tetap rendah sejak tahun 2005 hingga 2009. Provinsi dengan cakupan tertinggi berikutnya adalah Jawa Barat (46. GAMBAR 4. Gejala Pneumonia sukar dikenali oleh orang awam maupun tenaga kesehatan yang tidak terlatih. Program pengendalian ISPA menetapkan bahwa semua kasus yang ditemukan harus ditatalaksanakan sesuai standar. dengan demikian angka penemuan kasus pneumonia juga menggambarkan penatalaksanaan kasus ISPA. Tenaga terlatih tidak melaksanakan MTBS/Tatalaksana Standar ISPA di puskesmas.45%. semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik. monitoring dan evaluasi) secara berjenjang masih sangat kurang. Secara nasional.37 di bawah ini.18%. Pembiayaan (logistik dan operasional) terbatas. ISPA merupakan pandemi yang dilupakan/tidak prioritas sedangkan masalah ISPA merupakan masalah multisektoral. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin. yang berarti masih jauh dari target yang sebesar 86%. Bangka Belitung (41.pada balita. seperti tampak pada Gambar 4. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS di samping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan juga diarahkan pada upaya 94 . c.16%) dan Kep. angka cakupan penemuan penderita pneumonia pada balita hingga saat ini masih belum mencapai target. d. Provinsi NTB memiliki cakupan relatif tinggi yaitu sebesar 71. Rata-rata cakupan penemuan pneumonia pada balita tahun 2009 sebesar 22.

871 2007 836 6. yang lebih utama adalah dilakukan konseling untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam ikut aktif mencegah terjadinya penularan lebih lanjut.110 993 3.846 2008 2009 6.244 2.369 4.066 2.947 11. Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang perjalanan penyakitnya cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.pencegahan melalui penemuan penderita secara dini yang dilanjutkan dengan kegiatan konseling. yang tidak diketahui dengan pasti periodisasinya sehingga kelompok ini menjadi sangat potensial dalam menularkan penyakit.863 19.638 5.2 berikut ini. Pada kelompok ini di samping dilakukan pengobatan. 95 . 5. Hasil pelaksanaan surveilans HIV/AIDS selama tujuh tahun terakhir terlihat pada Tabel 4.321 592 1. Kemenkes RI Dalam perjalanan penyakit dari HIV positif menjadi AIDS dikenal istilah ”window periods”. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia. Upaya penemuan penderita dilakukan melalui skrining HIV/AIDS terhadap darah donor. TABEL 4.369 1.973 484 3. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal yaitu: 1) peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor. dan 3) peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. penghuni Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) atau sesekali dilakukan penelitian pada kelompok berisiko rendah seperti ibu rumah tangga dan sebagainya.2 PENEMUAN PENDERITA HIV/AIDS DI INDONESIA TAHUN 2003 – 2009 Tahun Pengidap HIV Per tahun Kumulatif Penderita AIDS Per tahun Kumulatif Penderita AIDS Meninggal Per tahun Kumulatif 2003 168 2.230 2.362 3.720 316 1.332 2006 986 5. Keberhasilan kegiatan PSN antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ).682 361 740 2005 875 4. penyalahguna obat dengan suntikan (IDUs).487 261 479 2004 649 3.141 498 2.873 8.969 16. 2) diagnosis dini dan pengobatan dini. pemantauan pada kelompok berisiko penderita Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Wanita Penjaja Seks (WPS).015 Sumber: Ditjen PPPL.194 539 1. Upaya pemberantasan vektor ini yaitu dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pemeriksaan jentik berkala.195 2.

21% pada tahun 2008. Kemenkes RI Gambar 4. penyebaran ikan pada tempat penampungan air serta kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat mencegah/memberantas nyamuk Aedes berkembang biak. Surveilans vektor dilakukan melalui kegiatan pemantauan jentik oleh petugas kesehatan maupun juru/kader pemantau jentik (Jumantik/Kamantik). Oleh karena itu pendekatan pemberantasan DBD yang berwawasan kepedulian masyarakat merupakan salah satu alternatif pendekatan baru. Menutup dan Mengubur) plus menabur larvasida. Angka Bebas Jentik (ABJ) sebagai tolak ukur upaya pemberantasan vektor melalui PSN-3M menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD. Gambar 4.39 memperlihatkan bahwa persentase kasus DBD yang ditangani meningkat setiap tahun.38 menyajikan perkembangan ABJ tahun 2004-2009. 96 . Selama jangka waktu 2004-2009 ABJ masih di bawah target 95%.Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. namun pada tahun 2009 menurun. Metode yang tepat guna untuk mencegah DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M plus (Menguras. Sejak tahun 2004 sampai dengan 2009 hanya beberapa provinsi yang melaporkan data ABJ. yakni 40% pada tahun 2006 menjadi 83. hal ini dikarenakan kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) belum menjadi prioritas kegiatan program di sebagian besar wilayah.38 PERBANDINGAN ANGKA BEBAS JENTIK TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PPPL. Pengembangan sistem surveilans vektor secara berkala perlu terus dilakukan terutama dalam kaitannya dengan perubahan iklim dan pola penyebaran kasus. Sejak tahun 2005 sampai tahun 2008 ABJ cenderung meningkat. GAMBAR 4.

Kemenkes RI Sejak tahun 2004 telah diperkenalkan suatu metode komunikasi/penyampaian informasi/pesan yang berdampak pada perubahan perilaku dalam pelaksanaan PSN DBD melalui pendekatan sosial budaya setempat yaitu metode Communication for Behavioral Impact (COMBI). Kegiatan PSN dengan metode pendekatan COMBI tersebut menjadi salah satu prioritas kegiatan dalam program P2DBD di masa yang akan datang.GAMBAR 4. yang terbebas dari penularan malaria secara bertahap sampai tahun 2030. Pemberantasan malaria digalakkan melalui gerakan masyarakat yang dikenal dengan Gerakan Berantas Kembali Malaria atau ”Gebrak Malaria” telah dicetuskan pada tahun 2000. 4) Krisis ekonomi yang berkepanjangan memberikan dampak pada daerah-daerah tertentu dengan adanya masyarakat yang mengalami gizi buruk sehingga lebih rentan untuk terserang malaria. Pengendalian malaria di Indonesia yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 293/MENKES/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi Malaria di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang hidup sehat. 3) Perubahan iklim yang menyebabkan musim hujan lebih panjang dari musim kemarau.39 CAKUPAN KASUS DBD DITANGANI TAHUN 2006 – 2008 Sumber: Ditjen PPPL. 6. 2) Mobilitas penduduk yang cukup tinggi. Sasaran wilayah eliminasi dilaksanakan secara bertahap sebagai berikut : 97 . Pengendalian Penyakit Malaria Di Indonesia meningkatnya jumlah penderita malaria dan terjadinya kejadian luar biasa malaria sangat berkaitan erat dengan beberapa hal sebagai berikut: 1) Adanya perubahan lingkungan yang berakibat meluasnya tempat perindukan nyamuk penular malaria. 5) Tidak efektifnya pengobatan karena terjadi Plasmodium falciparum resisten klorokuin dan meluasnya daerah resisten. Gerakan ini merupakan embrio pengendalian malaria yang berbasis kemitraan dengan berbagai sektor dengan slogan “Ayo Berantas Malaria” . serta 6) Menurunnya perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap upaya penanggulangan malaria secara terpadu.

Pulau Bali. dan pulau Batam pada tahun 2010. Sumba Barat. b. Pada tahun 2008 berdasarkan survei di Aceh. Provinsi Aceh.7% dan pada ibu hamil sebesar 87. Kepulauan Seribu (Provinsi DKI Jakarta). dunia usaha. c. a. dan Pulau Sulawesi pada tahun 2020. Persentase penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria Situasi penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria diketahui berdasarkan survei penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria dengan kelambu. Kebijakan eliminasi malaria dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh pemerintah. organisasi kemasyarakatan dan masyarakat. dan Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2015. berarti semua penderita tersangka malaria dan/atau positif malaria yang datang ke sarana kesehatan diobati sesuai pengobatan standar. pemerintah daerah bersama mitra kerja pembangunan termasuk LSM. Maluku.75%. 2. Pulau Sumatera (kecuali Provinsi Aceh dan Kepulauan Riau). dan pada tahun 2006 berdasarkan survei yang dilaksanakan di NTT (Alor.1. Target penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria pada tahun 2009 adalah sebesar 75%. Papua Barat. Persentase penderita malaria yang diobati sejak tahun 2003 hingga 2009 sebesar 100%. dan Flores Timur) dan beberapa kabupaten di wilayah Sumatera rata-rata sebesar 24%. Beberapa capaian upaya pengendalian penyakit malaria disajikan pada uraian berikut ini. dan 4. Sumut (Kab. dan dari satu pulau atau ke beberapa pulau sampai ke seluruh wilayah Indonesia menurut tahapan yang didasarkan pada situasi malaria dan kondisi sumber daya yang tersedia. Pulau Kalimantan. Provinsi NTT. Pencapaian Pemeriksaan Sediaan Darah (Konfirmasi Laboratorium) Berdasarkan cakupan konfirmasi laboratorium belum semua penderita klinis malaria dilakukan pemeriksaan sediaan darahnya. organisasi profesi. Provinsi NTB. Nias dan Nias Selatan) serta di 5 provinsi wilayah timur diketahui bahwa persentase penduduk yang menggunakan kelambu yaitu pada balita rata-rata sebesar 86. 3. Maluku Utara. Persentase Penderita Malaria yang Diobati Persentase penderita malaria yang diobati merupakan persentase penderita malaria yang diobati sesuai pengobatan standar dalam kurun waktu 1 tahun dibandingkan dengan tersangka malaria dan atau positif malaria yang datang ke sarana pelayanan kesehatan. provinsi. Pulau Jawa. dan Papua pada tahun 2030. Konfirmasi laboratorium 100% telah dilakukan di Jawa dan Bali. Pada tahun 2005 diketahui sebesar 1%. Selain itu eliminasi dilaksanakan secara bertahap dari kabupaten/kota. Selama periode tahun 2004-2009 persentase pemeriksaan sediaan darah 98 . lembaga donor.

Hal itu berarti penularan masih terjadi di masyarakat dan kasus ditemukan terlambat sehingga pada saat penemuan penderita sudah mengalami cacat tingkat II. digunakan angka proporsi cacat tingkat II (cacat akibat kerusakan syaraf dan cacat terlihat).3.dibandingkan kasus malaria klinis cenderung meningkat.083 7.6% dan 10. Penderita cacat tingkat II selama tahun 2004-2007 relatif stabil (8.6 2005 4 056 15 639 89 87 2006 3 550 14 750 83 86 2007 3. Proporsi cacat tingkat II hingga tahun 2009 belum mencapai target program yaitu < 5%.27% seperti yang diperlihatkan pada Tabel 4.40 CAKUPAN KONFIRMASI LABORATORIUM/MIKROSKOP MALARIA TAHUN 2004 .6%-8.2009 Sumber: Ditjen PPPL. Kemenkes RI Catatan : MB = Multi Basiller.8 8.6 2009 2. PB = Pausi Basiller. Pengendalian Penyakit Kusta Untuk menilai kinerja petugas dalam penemuan kasus penyakit kusta.000 penduduk) 2004 3.7%). Pada tahun 2004 sebesar 48% menjadi 76% pada tahun 2009 seperti diperlihatkan pada gambar berikut ini.328 7.8 8.41 9. Tingginya proporsi cacat tingkat II menunjukkan keterlambatan dalam penemuan kasus atau dengan kata lain kinerja petugas yang rendah dalam menemukan kasus serta pengetahuan masyarakat yang rendah. Kemenkes RI 7. GAMBAR 4.113 14. PENEMUAN KASUS BARU (NCDR) DAN PENDERITA CACAT TINGKAT II DI INDONESIA TAHUN 2004 . TABEL 4.643 14.500 7.615 12.6 2008 3.958 13. namun pada tahun 2008 dan 2009 terjadi kenaikan yaitu 9.3 HASIL PEMERIKSAAN PENDUDUK.1 10.27 Sumber: Ditjen PPPL. NCDR = New Case Detection Rate 99 .2009 Tahun Suspek Positif Penderita Cacat Tingkat II (%) PB MB NCDR (per 100.957 7.

maka kegiatan POMP filariasis harus segera dilaksanakan untuk memutus rantai penularan.00%. ibu hamil. Tatalaksana kasus klinis filariasis guna mencegah dan mengurangi kecatatan. orang yang sedang sakit berat. penderita kronis filariasis yang dalam serangan akut. Gambar 4. Pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis kepada semua penduduk di kabupaten/kota endemis filariasis dengan menggunakan DEC 6 mg/kg BB dikombinasikan dengan Albendazole 400 mg sekali setahun selama 5 tahun. Pengendalian Penyakit Filariasis Program eliminasi filariasis di Indonesia dilaksanakan atas dasar kesepakatan global WHO tahun 2000 yaitu “The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem the year 2020” yang merupakan realisasi dari resolusi WHA pada tahun 1997. Setiap penderita mempunyai status rekam medis di puskesmas dan mendapatkan kunjungan dari petugas kesehatan minimal 6 kali setahun. Implementation Unit (IU) yang digunakan dalam program eliminasi filariasis sejak tahun 2005 adalah Kabupaten/Kota. dan pada tahun 2009 sebesar 40. baik untuk penentuan endemisitas maupun pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis.40%. dan balita dengan marasmus/kwasiorkor dapat ditunda pengobatannya. Diharapkan pada tahun-tahun selanjutnya kasus klinis filariasis yang ditatalaksana meningkat lagi sebagaimana yang ditargetkan yaitu 90%. Satuan wilayah terkecil dalam program ini adalah kabupaten/kota.8. dengan sasaran pemberian obat adalah semua penduduk di kabupaten/kota tersebut kecuali anak berumur < 2 tahun. sedangkan tahun 2008 mencapai 40. Bila suatu kabupaten/kota sudah endemis filariasis. Pada tahun 2007 kasus klinis yang ditangani sebesar 29. 2.13% yang ditangani. guna memutuskan rantai penularan. Tatalaksana ini bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kecacatan dan agar penderita mandiri merawat diri. Kegiatan tatalaksana kasus klinis filariasis harus dilakukan pada semua penderita. 100 .41 memperlihatkan kegiatan penatalaksanaan kasus klinis filariasis yang cenderung meningkat. Program Eliminasi ini dilaksanakan melalui dua pilar kegiatan yaitu : 1.

41 PERSENTASE PENATALAKSANAAN KASUS KLINIS FILARIASIS TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL. Kemenkes RI Dari 337 kabupaten/kota endemis filariasis pada tahun 2009. Namun. Kemenkes RI Gambaran sebaran kabupaten/kota yang telah melaksanakan pengobatan massal filariasis dapat dilihat pada gambar berikut ini. Sejak tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan POMP Filariasis setiap tahunnya. 101 .42 JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG MELAKUKAN PEMBERIAN OBAT MASSAL PENCEGAHAN (POMP) FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL. baru 59 kabupaten/kota yang sasaran pengobatan massalnya seluas kabupaten/kota. baru 97 kabupaten/kota yang tersebar di 26 propinsi melaksanakan pemberian obat massal pencegahan filariasis (POMP Filariasis). belum semua kabupaten/kota dalam pelaksanaannya sasaran penduduknya seluas kabupaten/kota. GAMBAR 4.GAMBAR 4.

Kemenkes RI 9.GAMBAR 4. Surveilans Vektor Salah satu kegiatan yang harus diperhatikan dalam surveilans vektor adalah monitoring resistensi vektor terhadap insektisida yang dapat digunakan sebagai acuan bagi Dinas Kesehatan serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) dalam kebijakan pengendalian vektor di lapangan.44 CAKUPAN POMP FILARIASIS DI INDONESIA.44 berikut ini. 102 . Kemenkes RI Pada tahun 2009. TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL. sedangkan realisasinya sebanyak 16. Cakupan POMP filariasis setiap tahunnya dari tahun 2005 sampai tahun 2009 terlihat ada peningkatan seperti terlihat pada Gambar 4. target pemberian obat massal pencegahan filariasis adalah sekitar 32 juta penduduk.3 juta penduduk (51%). GAMBAR 4. TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PPPL.43 KABUPATEN/KOTA ENDEMIS FILARIASIS YANG MELAKSANAKAN PENGOBATAN MASSAL DI INDONESIA.

45 terlihat bahwa terjadi penurunan kegiatan pemberantasan vektor malaria berdasarkan surveilans vektor. 103 . Pada tahun 2008 dan 2009 cakupan pemberantasan vektor malaria berada di bawah target pada tahun tersebut. meskipun upaya pengendalian dengan metode lain juga perlu dipertimbangkan. Gambar 4. Pada Gambar 4. Hasil pengendalian vektor sampai dengan tahun 2009 dapat dilihat pada beberapa gambar berikut ini. GAMBAR 4.45 CAKUPAN PEMBERANTASAN VEKTOR MALARIA BERDASARKAN SURVEILANS VEKTOR TAHUN 2005 . demam berdarah dengue. Kemenkes RI Kegiatan yang dilakukan tahun 2007-2009 meliputi monitoring kerentanan vektor dan efikasi insektisida serta evaluasi terhadap mutu pengendalian vektor malaria. Dengan kondisi seperti itu. maka pengawasan atau monitoring terhadap penggunaan insektisida dan dampaknya perlu dilakukan agar hasilnya tetap efektif. karena penggunaan di masyarakat tidak terpantau yang akan dapat mempercepat terjadinya resistensi. Kegiatan pengendalian vektor yang dilaksanakan antara lain monitoring efikasi dan resistensi serta cakupan mutu pengendalian vektor malaria dan demam berdarah dengue.46 menyajikan cakupan kerentanan vektor penyakit bersumber binatang tahun 2007 – 2009. Pengendalian vektor saat ini identik dengan penggunaan insektisida.2009 Sumber: Ditjen PPPL. dan hasil survei jentik nyamuk demam berdarah dengue.Pengendalian vektor yang dilakukan oleh swasta serta pemakaian insektisida rumah tangga merupakan permasalahan tersendiri yang tidak bisa diabaikan.

karena belum semua kabupaten/kota melakukan pengendalian vektor berdasarkan fakta yaitu data entomologi dan faktor risiko lingkungan.48 menunjukkan bahwa selama tiga tahun (2007.2009 Sumber: Ditjen PPPL.47 CAKUPAN EVALUASI MUTU PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA TAHUN 2007 . Kemenkes RI Gambar 4.47 menunjukkan bahwa selama tiga tahun (2007. GAMBAR 4. 2008 dan 2009) mutu pengendalian vektor malaria belum mencapai target.GAMBAR 4. 104 .2009 Sumber: Ditjen PPPL.46 CAKUPAN KERENTANAN VEKTOR PENYAKIT BERSUMBER BINATANG TAHUN 2007 . Kemenkes RI Gambar 4. karena belum semua kabupaten/kota melakukan pengendalian vektor berdasarkan informasi dan data entomologi. 2008 dan 2009) mutu pengendalian vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD) belum mencapai target.

49 berikut ini menyajikan peta penyebaran vektor malaria di Indonesia tahun 2009. umbrosus 24. kochi 12. An. An. An.49 PETA PENYEBARAN VEKTOR MALARIA TAHUN 2009 18 11 19 17 22 20 25 14 16 2 14 25 13 15 23 5 21 8 9 10 16 6 15 21 12 21 1 24 1 22 3 16 20 20 17 4 20 7 21 24 Keterangan : 1. subpictus 22.nigerimus 19. Gambar 4. An.balabacensis 4.letifer 15. Di Indonesia sejak tahun 1919 telah dilakukan konfirmasi vektor.farauti 9. tessellatus . An. An. An. An.ludlowi 14.GAMBAR 4. An. An. Maculatus 17. An. An.punctulatus 13. An. An. An.aconitus 2. An. Sundaicus 21. An. An.barbirostris 5.annularis 3. An.An. An.barbumbrosus 7. Sampai dengan tahun 2009 jumlah vektor penyakit malaria yang tercatat di Subdit Pengendalian Vektor sebanyak 25 spesies yang dihimpun dari berbagai sumber.koliensis 11. sinensis 23. parangensis 20. dilakukan kegiatan antara lain dengan melakukan pembedahan kelenjar ludah (konfirmasi saliva) dan uji elisa terhadap nyamuk Anopheles. An.karwari 10.2009 Sumber: Ditjen PPPL.leucosphyrus 105 16. vagus 25.bancrofti 6. flavirostris 8. Kemenkes RI Untuk mengetahui peta penyebaran vektor penular penyakit malaria. GAMBAR 4.48 CAKUPAN EVALUASI MUTU PENGENDALIAN VEKTOR DBD TAHUN 2007 .minimus 18 An. Dua cara tersebut dipakai untuk memastikan nyamuk yang menjadi vektor penyakit malaria di suatu wilayah. An. Dari 25 spesies tersebut ada 7 spesies merupakan spesies langka dan konfirmasi terakhir sebelum tahun 1960. An.

2007).50 PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT TABLET FE TAHUN 2006 . GAMBAR 4. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Upaya perbaikan gizi masyarakat dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. Cakupan Fe1 dan Fe3 tahun 2006 masing-masing sebesar 71.5% (Riskesdas. dan gangguan akibat kekurangan yodium. prevalensi anemia ibu hamil sebesar 40. Penanggulangan masalah anemia gizi besi saat ini terfokus pada pemberian tablet tambah darah (Fe) pada ibu hamil.D. kekurangan Vitamin A. Pemberian Tablet Tambah Darah (Fe) Anemia gizi adalah kekurangan kadar haemoglobin (Hb) dalam darah yang disebabkan karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan Hb tersebut. namun meningkat pada tahun 2009. Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan masalah gizi terutama anemia gizi besi. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan ditemukan beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada kelompok masyarakat antara lain anemia gizi besi. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001. Namun demikian keadaan ini mengindikasikan bahwa anemia gizi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.1% 106 . Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah (Fe) selama 4 tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. Ibu hamil mendapat tablet tambah darah 90 tablet selama kehamilannya.2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah (Fe) selama tahun 20062008 terlihat ada kecenderungan turun setiap tahun baik cakupan Fe1 maupun Fe3. 1.1% dan pada tahun 2007 turun menjadi 24. Di Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) hingga disebut anemia kekurangan zat besi atau anemia gizi besi.

dan 64,5%, sedangkan pada tahun 2008 turun menjadi 53,1% dan 48,1%. Pada tahun 2009
cakupan pemberian Fe1 naik menjadi 76,9% dan Fe3 naik menjadi 68,7%. Sebaran cakupan
pemberian tablet tambah darah (Fe3) pada ibu hamil menurut provinsi dapat dilihat pada
Gambar 4.51 berikut ini.
GAMBAR 4.51
PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT TABLET TAMBAH DARAH (FE3)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Provinsi Bali (90,43%), Kep. Bangka
Belitung (84,85%) dan Nusa Tenggara Barat (81,51%). Sedangkan cakupan terendah adalah
Provinsi Papua (31,57%), Sulawesi Tengah (36,12%), dan Sulawesi Barat (38,19%).
Cakupan pemberian tablet tambah darah terkait erat dengan antenatal care (ANC).
Analisis cakupan K4 dengan Fe3 sering menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar,
hal ini disebabkan karena belum optimalnya koordinasi sistem pencatatan dan pelaporan antar
program terkait.
2. Pemberian Kapsul Vitamin A

Tujuan pemberian kapsul vitamin A pada balita adalah untuk menurunkan prevalensi
dan mencegah kekurangan vitamin A pada balita. Kapsul vitamin A dosis tinggi terbukti
efektif untuk mengatasi masalah kekurangan vitamin A (KVA) pada masyarakat apabila
cakupannya tinggi. Bukti-bukti lain menunjukkan peranan vitamin A dalam menurunkan
secara bermakna angka kematian anak, maka selain untuk mencegah kebutaan, pentingnya
pemberian vitamin A saat ini lebih dikaitkan dengan kelangsungan hidup, kesehatan dan
pertumbuhan anak.
107

Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, serta meningkatkan
daya tahan tubuh. Anak-anak yang mendapat cukup vitamin A, bila terkena diare, campak
atau penyakit infeksi lain, maka penyakit-penyakit tersebut tidak mudah menjadi parah,
sehingga tidak membahayakan jiwa anak.
Sasaran pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi adalah bayi (umur 6-11 bulan)
diberikan kapsul vitamin A 100.000 SI, anak balita (umur 1-4 tahun) diberikan kapsul vitamin
A 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan
memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Pada bayi (6-11 bulan) diberikan setahun
sekali pada bulan Februari atau Agustus; dan untuk anak balita enam bulan sekali, yang
diberikan secara serentak pada bulan Februari dan Agustus. Sedangkan pemberian kapsul
vitamin A pada ibu nifas, diharapkan dapat dilakukan terintegrasi dengan pelayanan
kesehatan ibu nifas. Namun dapat pula diberikan di luar pelayanan tersebut selama ibu nifas
tersebut belum mendapatkan kapsul vitamin A.
Persentase cakupan pemberian vitamin A balita dan ibu nifas, pada 3 tahun terakhir
dapat dilihat pada Gambar 4.52 berikut ini.
GAMBAR 4.52
PERSENTASE BALITA DAN IBU NIFAS YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
TAHUN 2007 - 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Cakupan pemberian vitamin A pada bayi dan balita tiga tahun terakhir sudah
menunjukkan angka diatas 80% dan relatif angka cakupannya tidak berbeda jauh dari tahun
ke tahun. Namun demikian untuk cakupan vitamin A ibu nifas angkanya masih di bawah
80%, walaupun demikian ada kecenderungan cakupannya makin meningkat selama tiga tahun
terakhir. Dengan demikian masih diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan cakupan
tersebut, antara lain melalui peningkatan integrasi pelayanan kesehatan ibu nifas, sweeping
pada daerah yang cakupannya masih rendah, dan kampanye pemberian kapsul vitamin A.
Masalah vitamin A pada balita secara klinis sudah tidak merupakan masalah kesehatan
masyarakat (prevalensi xeropthalmia < 0,5%). Hasil studi masalah gizi mikro di 10 kota pada
108

10 provinsi tahun 2006, diperoleh prevalensi xeropthalmia pada balita 0.13%, sedangkan hasil
survey vitamin A tahun 1992 menunjukkan prevalensi xeropthalmia sebesar 0,33%.
Namun demikian kekurangan vitamin A (KVA) subklinis, yaitu tingkat yang belum
menampakkan gejala nyata, masih menimpa masyarakat luas terutama kelompok balita. KVA
tingkat subklinis ini hanya dapat diketahui dengan memeriksa kadar vitamin A dalam darah di
laboratorium. Di samping itu sebaran cakupan pemberian vitamin A pada balita menurut
provinsi masih ada yang di bawah 80%. Dengan demikian kegiatan pemberian vitamin A
pada balita dan ibu nifas masih perlu dilanjutkan, karena bukan hanya untuk kesehatan mata
dan mencegah kebutaan, dan lebih penting lagi, vitamin A meningkatkan kelangsungan hidup
anak, kesehatan dan pertumbuhan anak.
Gambar berikut menyajikan persentase balita dan ibu nifas yang mendapat kapsul
vitamin A menurut provinsi.
GAMBAR 4.53
PERSENTASE BALITA YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Hasil laporan Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009, cakupan pemberian kapsul
vitamin A pada balita 83,3%. Provinsi dengan cakupan tertinggi, masing-masing: Jawa
Tengah (98,6%), DI Yogjakarta (96,1%) dan Kalimantan Selatan (93,2%). Sedangkan
provinsi yang cakupannya terendah, masing-masing: Papua Barat (29,1%), Papua (43,5%)
dan Maluku (65,0%).

109

GAMBAR 4.54
PERSENTASE IBU NIFAS YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009, cakupan pemberian kapsul
vitamin A pada Ibu Nifas sebesar 63,0%. Provinsi dengan cakupan tertinggi, masing-masing:
Riau (100,0%), Bali (91,0%), Gorontalo (87,4%) dan Jawa Tengah (87,4%). Sedangkan
Provinsi yang cakupannya terendah, masing-masing Papua Barat (27,4%), Jambi (32,4%) dan
Aceh (33,2%).
3. Cakupan Konsumsi Garam Beryodium

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala yang
timbul karena tubuh seseorang kurang unsur Iodium secara terus-menerus dalam jangka
waktu lama. Kekurangan Iodium saat ini tidak terbatas pada gondok dan kretinisme saja,
tetapi ternyata kekurangan Iodium berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia secara
luas, meliputi tumbuh kembang, termasuk perkembangan otak sehingga terjadi penurunan
potensi tingkat kecerdasan (Intelligence Quotient=IQ).
Pemantauan GAKY dilakukan melalui Ekskresi Yodium dalam Urine (EYU) sebagai
refleksi asupan yodium dan cakupan rumah tangga mengonsumsi garam beryodium. Hasil
Studi Intensifikasi Penanggulangan GAKY (IP-GAKY) tahun 2003 dan Riskesdas 2007
menunjukkan bahwa rata-rata EYU <100 µg/L sebesar 16,7% dan 12,9%, namun cakupan
rumah tangga dengan garam cukup Iodium rata-rata nasional baru mencapai 62,3%
(Riskesdas 2007). Terdapat disparitas antar daerah yang cukup tinggi seperti terlihat pada
Gambar 4.55 berikut ini.

110

GAMBAR 4.55
PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MENGKONSUMSI
GARAM BERYODIUM CUKUP MENURUT PROVINSI TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Provinsi dengan cakupan konsumsi garam cukup beryodium terendah adalah Nusa
Tenggara Barat (27,9%), Nusa Tenggara Timur (31,0%) dan Sulawesi Barat (34,2%),
sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Kep. Bangka Belitung (98,7%), Jambi
(94,4%) dan Sumatera Selatan (93,0%).
Masalah masih rendahnya cakupan konsumsi garam beryodium di masyarakat antara
lain karena belum optimalnya penggerakan masyarakat dan kampanye dalam mengkonsumsi
garam beryodium, serta dukungan regulasi yang belum memadai. Di samping itu masalah lain
adalah belum rutinnya pelaksanaan pemantauan garam beryodium di masyarakat secara terus
menerus.
4. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif

Cara pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi secara
eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak sampai
umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayi mendapat makanan pendamping ASI yang bergizi
sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.
Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia berfluktuasi selama 3
tahun terakhir. Pada Gambar 4.56 terlihat bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
0–5 bulan turun dari 62,2% tahun 2007 menjadi 56,2% pada tahun 2008, namun meningkat
lagi pada tahun 2009 menjadi 61,3%. Sedangkan cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi

111

sampai 6 bulan turun dari 28,6% pada tahun 2007 menjadi 24,3% pada tahun 2008 dan naik
lagi menjadi 34,3% pada tahun 2009.
GAMBAR 4.56
PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 0-5 BULAN DAN 6 BULAN
TAHUN 2004 - 2009

Sumber: BPS, Susenas 2009

Cakupan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi beberapa hal, terutama masih sangat
terbatasnya tenaga konselor ASI, belum adanya peraturan perundangan tentang pemberian
ASI serta belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait
pemberian ASI maupun MP-ASI, masih kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana KIE
ASI dan MP-ASI dan belum optimalnya membina kelompok pendukung ASI dan MP-ASI.
Gambar 4.57 berikut ini menyajikan persentase cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
0-5 bulan dan 6 bulan menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 4.57
PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 0-6 BULAN
MENURUT PROVINSI 2009

Sumber: BPS, Susenas 2009

112

3%).7%) dan Kalimantan Barat (19. penyediaan fasilitas menyusui di tempat kerja. Bengkulu (54. Di lain pihak adanya promosi dan pemasaran yang begitu intensif terkait susu formula yang kadang sulit untuk dikendalikan. Bengkulu (75. Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif 0-5 bulan maupun 6 bulan dapat disebabkan karena masih kurangnya pemahaman masyarakat bahkan petugas kesehatan sekalipun tentang manfaat dan pentingnya pemberian ASI eksklusif kepada bayi usia 0-5 bulan.2%).58 berikut ini.1%). Jawa Tengah (52. Sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (78.2%). peningkatan dukungan keluarga dan masyarakat serta upaya untuk mengendalikan pemasaran susu formula. GAMBAR 4.58 PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 6 BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan terendah adalah Gorontalo (14.2%) dan Aceh (52. yang dapat ditandai dengan belum melakukan rawat gabung antara ibu dan bayinya. Papua Barat (16. Mungkin pula masih banyak Rumah Sakit (RS) yang belum mendukung peningkatan pemberian ASI eksklusif.8%) dan Nusa Tenggara Timur (75. provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif 06 bulan bulan terendah adalah Jawa Timur (48.3%).5%). Upaya terobosan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif antara lain melalui upaya peningkatan pengetahuan petugas tentang manfaat ASI eksklusif. peningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu.Berdasarkan data Susenas 2009. Selain itu perlu juga penerapan 10 (sepuluh) langkah menuju 113 . Sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (54.8%).3%).2%) dan Maluku (53. Cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 4. dan belum atau masih rendahnya melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) serta masih bebas beredarnya susu formula di lingkungan RS.

Sepuluh langkah tersebut meliputi : 1) membuat kebijakan tentang menyusui. 4) membantu ibu untuk IMD dalam 60 menit pertama persalinan.59 berikut ini. 5) membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu dipisah dari bayinya. Frekuensi kunjungan balita ke posyandu semakin berkurang dengan semakin meningkatnya umur anak. semakin tinggi cakupan imunisasi dan semakin rendah prevalensi gizi kurang. cakupan pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi serta prevalensi gizi kurang. 2) melatih staf pelayanan kesehatan. 8) menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi.6%. 3) KIE kepada ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui. Cakupan penimbangan balita di posyandu menurut provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. pada anak usia 12-23 bulan turun menjadi 83. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S) Cakupan penimbangan balita di posyandu (D/S) merupakan indikator yang berkaitan dengan cakupan pelayanan gizi pada balita. 5. 6) memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis.3%. semakin tinggi cakupan vitamin A. 7) menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu (24 jam). dan pada usia 24-35 bulan turun menjadi 73.5%. Semakin tinggi cakupan D/S. 114 .keberhasilan menyusui (LMKM) di RS dan sarana pelayanan kesehatan lainnya yang melakukan kegiatan persalinan.3%. dan 10) mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut setelah keluar dari sarana pelayanan kesehatan. Sebagai gambaran proporsi anak 6-11 bulan yang ditimbang di posyandu 91. Hasil Riskesdas 2007 menunjukan secara nasional cakupan penimbangan balita (anak pernah ditimbang di Posyandu sekurang-kurangnnya satu kali selama sebulan terakhir) di posyandu sebesar 74. 9) Tidak memberi dot kepada bayi. Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009 cakupan penimbangan balita di posyandu sebesar 63.9%.

6%). Bencana lingkungan hidup terjadi akibat dari kerusakan lingkungan seperti banjir.1%).854 pengungsi. sedangkan bencana alam terjadi sebagai akibat aktivitas lapisan/kerak bumi/fenomena alam seperti gempa bumi. Papua (35. 53 luka berat yang memerlukan rawat inap.59 PERSENTASE KUNJUNGAN BALITA YANG DITIMBANG DI POSYANDU (D/S) MENURUT PROVINSI 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Cakupan penimbangan balita di posyandu yang tertinggi ada di DI Yogjakarta (75. Bencana alam yang menelan korban yang paling banyak adalah gempa bumi. PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA Bencana di Indonesia dapat dikategorikan menjadi 2 macam yaitu bencana lingkungan hidup dan bencana alam.6%). kecelakaan industri. dan Jawa Tengah (76. Jumlah korban akibat bencana banjir dan banjir bandang selama tahun 2009 sebanyak 157 meninggal. Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Penanggulangan Krisis Kementerian Kesehatan pada tahun 2009. letusan gunung berapi. E. tingkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling.7%).GAMBAR 4.706 luka ringan/rawat jalan. dan sebanyak 229. kekeringan. Jawa Timur (76. tanah longsor. tumpahan minyak di laut. Sedangkan cakupan terendah ada di Provinsi Papua Barat (27. banjir dan banjir bandang merupakan bencana yang paling sering terjadi dan melanda 23 provinsi di Indonesia.0%). Masalah yang berkaitan dengan kunjungan posyandu antara lain: dana operasional dan sarana prasarana untuk menggerakkan kegiatan posyandu.3%) dan Kalimantan Timur (39. yang terjadi di 11 provinsi. serta pelaksanaan pembinaan kader. kebakaran hutan dan lahan. tingkat pemahaman keluarga dan masyarakat akan manfaat posyandu. badai atau angin ribut yang kejadiannya sulit diprediksi. 37. Jumlah 115 . gelombang tsunami. 15 korban hilang.

224 luka ringan/rawat jalan. 1. Rincian kejadian bencana menurut jenis dan jumlah korban pada tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 4. Demikian gambaran mengenai situasi upaya kesehatan di Indonesia sampai dengan tahun 2009.210 pengungsi.27.234 luka berat yang memerlukan rawat inap. 27 korban hilang. 9.korban akibat bencana gempa bumi selama tahun 2009 sebanyak 1.209 meninggal. dan sebanyak 205. *** 116 .

.

Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas.1 berikut ini. seperti terlihat pada Gambar 5. rasio ini menunjukkan adanya peningkatan. Pada bab ini.033 unit. tenaga kesehatan. kebutuhan.78. 2) pusat pemberdayaan masyarakat. Rasio puskesmas per 100. sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). dengan rincian jumlah puskesmas perawatan 2. kemampuan dan inovasi serta kebijakan pemerintah daerah setempat. 3) pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer. sumber daya kesehatan diulas dengan menyajikan gambaran keadaan sarana kesehatan. dan pembiayaan kesehatan. SARANA KESEHATAN Sarana kesehatan yang disajikan dalam bab ini meliputi: puskesmas. A. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui keterjangkauan penduduk terhadap puskesmas adalah rasio puskesmas per 100. Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat atau yang biasa disebut Puskesmas merupakan salah satu unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. pada tahun 2009 meningkat menjadi 3.000 penduduk. Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan tingkat pertama dan terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan. Dalam kurun waktu 2005 hingga 2009. yang diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. 1. 118 .000 penduduk pada tahun 2005 sebesar 3.737 unit. harus melakukan upaya kesehatan wajib (basic six) dan beberapa upaya kesehatan pilihan yang disesuikan dengan kondisi.50. dan 4) pusat pelayanan kesehatan perorangan primer. serta institusi pendidikan tenaga kesehatan. Puskesmas memiliki fungsi sebagai : 1) pusat pembangunan berwawasan kesehatan.704 unit dan puskesmas non perawatan sebanyak 6. tuntutan. Jumlah puskesmas di Indonesia sampai dengan akhir tahun 2009 sebanyak 8. sarana produksi dan distribusi kefarmasian dan alat kesehatan. rumah sakit (rumah sakit umum dan rumah sakit khusus).

yaitu sebesar 14. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. 2010 Rasio puskesmas per 100. Gambaran rasio puskesmas menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Gambar 5.704 119 .000 penduduk menurut provinsi menunjukkan bahwa rasio tertinggi pada tahun 2009 adalah di Provinsi Papua Barat. GAMBAR 5.000 PENDUDUK TAHUN 2005-2009 Sumber : Ditjen. beberapa puskesmas non perawatan telah ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas perawatan. Kemenkes. yaitu tahun 2005-2009 telah terjadi peningkatan jumlah puskesmas perawatan dari 2.1. Binkesmas. Sedangkan rincian jumlah dan rasio puskesmas per 100.2 RASIO PUSKESMAS PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas.GAMBAR 5. Kemenkes.077 unit pada tahun 2005 menjadi 2.12. Kemenkes Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi. sedangkan rasio terendah Provinsi Banten.000 penduduk menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. yaitu sebesar 2. 2010 Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat di puskesmas. Kemenkes Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.1 RASIO PUSKESMAS PER 100.2.00.

Rincian jumlah pustu per provinsi tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. Kemenkes. di dalamnya juga terdapat pembangunan kesehatan bersifat kuratif dan rehabilitatif. Perkembangan jumlah puskesmas perawatan dan non perawatan pada tahun 2005-2009 dapat dilihat pada Gambar 5. TNI/POLRI.2. 2. pemerintah provinsi. puskesmas didukung oleh sarana pelayanan kesehatan berupa puskesmas pembantu (pustu). baik rumah sakit umum maupun rumah sakit 120 . Rincian mengenai jumlah puskesmas perawatan dan non perawatan menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.202 unit dan rumah sakit khusus (RSK) berjumlah 321 unit. kementerian lain/BUMN serta sektor swasta.6. GAMBAR 5. Rumah sakit juga berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan rujukan. Bila melihat perkembangan sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. pemerintah kabupaten/kota. Rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang bergerak dalam kegiatan kuratif dan rehabilitatif.3. Rumah sakit tersebut dikelola oleh Kementerian Kesehatan. Rumah Sakit Ruang lingkup pembangunan kesehatan selain upaya promotif dan preventif. Pada tahun 2009 jumlah rumah sakit di Indonesia sebanyak 1. yang terdiri atas rumah sakit umum (RSU) berjumlah 1.650 unit dengan rasio pustu terhadap puskesmas 2.523 unit. Kemenkes Pusat data dan Surveilans Epidemiologi. maka terjadi peningkatan jumlah rumah sakit. Jumlah pustu pada tahun 2009 dilaporkan sebanyak 22.3 JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN NON PERAWATAN TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas.3. 2010 Untuk meningkatkan jangkauan pelayanan puskesmas terhadap masyarakat di wilayah kerjanya.unit pada tahun 2009.

GAMBAR 5. Sedangkan jumlah seluruh rumah sakit pada tahun 2009 menurut pengelola dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.372 1.523 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.4 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. 2010 121 .292 1. Kemenkes. dan jumlah rumah sakit umum dan khusus di Indonesia menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.1 berikut menampilkan perkembangan jumlah rumah sakit (umum dan khusus) di Indonesia tahun 2005-2009. jumlah ini naik 20.khusus. 2010 Selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2005-2009) jumlah rumah sakit umum baik yang dikelola oleh institusi pemerintah maupun sektor swasta mengalami peningkatan.523 unit pada tahun 2009.268 rumah sakit di Indonesia. Kemenkes.4 berikut ini.1 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT (UMUM & KHUSUS) DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 No. Tabel 5.319 1. TABEL 5.268 1. Perkembangan RSU di Indonesia selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5.202 unit pada tahun 2009.5. Pengelola/Kepemilikan 2005 2006 2007 2008 2009 1 Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/Kota 452 464 477 509 552 2 TNI/POLRI 112 112 112 112 125 3 BUMN/Kementerian Lain 78 78 78 78 78 4 Swasta 626 638 652 673 768 1. pada tahun 2005 terdapat 995 unit menjadi 1. Jumlah rumah sakit umum di Indonesia menurut pengelolanya dapat dilihat pada Lampiran 5.11% menjadi 1.4.4. Pada tahun 2005 terdapat 1.

5 berikut ini menyajikan persentase RSU menurut kelas. 118 unit (25.38%) kelas B.7. GAMBAR 5.78%) kelas D dan 10 unit (2. BUMN/kementerian lain dan swasta menurut kelas perawatan dan provinsi terdapat pada Lampiran 5. Dari jumlah 465 RSU. terdapat 245 unit (52. 2010 Terdapat 10 RSU milik Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah yang termasuk kelas A. Bandung. Jakarta. 92 unit (19. Kemenkes.69%) kelas C. Pada tahun 2005 terdapat 273 unit rumah sakit khusus. Surabaya. Denpasar dan Makassar. Surakarta.5 PERSENTASE RUMAH SAKIT UMUM MILIK KEMENTERIAN KESEHATAN DAN PEMERINTAH DAERAH MENURUT KELAS TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. Informasi lebih rinci mengenai jumlah RSU yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan. meningkat menjadi 321 pada tahun 2009. Gambar 5. 122 .15%) kelas A. Jumlah rumah sakit khusus (RSK) baik milik pemerintah maupun swasta dalam kurun waktu tahun 2005-2009 menunjukkan adanya peningkatan.6. Semarang. yang terdapat di 10 kota yaitu Medan. Informasi lebih rinci mengenai jumlah RSU yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah menurut kelas rumah sakit dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.Dari rumah sakit umum yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah menunjukkan bahwa sebagian besar tergolong RSU kelas C. Yogyakarta.6 berikut ini. pemerintah daerah. Perkembangan jumlah RSK selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5. Malang.

Jumlah tempat tidur pada rumah sakit umum dan rumah sakit khusus dalam 5 tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan. Kemenkes. Jumlah rumah sakit khusus beserta jumlah tempat tidurnya tahun 2005-2009 terdapat pada Lampiran 5.8. Kemenkes.6 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.7. 2010 Jumlah tempat tidur suatu rumah sakit dapat digunakan untuk menggambarkan kemampuan rumah sakit tersebut dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. seperti dapat dilihat pada Gambar 5. 2010 Sebagian besar rumah sakit khusus tersebut adalah RS Ibu dan Anak sebanyak 95 unit dan RS Bersalin sebanyak 60 unit.GAMBAR 5. GAMBAR 5. Gambaran peningkatan tersebut dapat 123 .7 JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.

rasio pada tahun 2005 sebesar 62. GAMBAR 5.8 PERKEMBANGAN JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT UMUM (RSU) DAN RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.8.74 pada tahun 2009.9 menyajikan jumlah tempat tidur dan rasio tempat tidur per 100. GAMBAR 5.9 JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT DAN RASIONYA PER 100.000 penduduk dari tahun 2005-2009 juga mengalami peningkatan. Kemenkes. Rasio tempat tidur per 100. 2010 Rasio tempat tidur rumah sakit terhadap penduduk juga dapat menggambarkan tingkat ketersediaan sarana pelayanan kesehatan rujukan. 2010 124 .8 di bawah ini. Rincian jumlah tempat tidur pada rumah sakit khusus dapat dilihat pada Lampiran 5. Kemenkes.49 naik menjadi 70.000 penduduk di rumah sakit pada tahun 2005-2009.000 PENDUDUK TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. Gambar 5.dilihat pada Gambar 5.

1%. GAMBAR 5.5% dan tanpa kelas sebesar 22.10.6. Selain tiga jenis kelas perawatan tersebut.Proporsi tempat tidur di rumah sakit umum dan rumah sakit khusus menurut kelas perawatan menunjukkan gambaran bahwa sebagian besar adalah Kelas III. diikuti oleh Kelas II sebesar 20.9. Jumlah sarana produksi di Indonesia pada tahun 2009 dirinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.10 JUMLAH SARANA PRODUKSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen Binfar & Alkes. 125 . Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.6%. 3. terdapat kelas VIP sebesar 7. 2010 Jumlah sarana distribusi kefarmasian dan alat kesehatan selama lima tahun terakhir (2005-2009) terdapat pada Gambar 5.5%.11.10. Jumlah sarana distribusi di Indonesia pada tahun 2009 dirinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. yaitu sebesar 39. Selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir terlihat adanya kecenderungan peningkatan jumlah sarana produksi kefarmasian dan alat kesehatan. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Salah satu kebijakan pelaksanaan dalam Program Obat dan Perbekalan Kesehatan adalah pengendalian obat dan perbekalan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan. Rincian mengenai jumlah dan persentase tempat tidur di RSU dan RSK menurut jenis kelas perawatan dan provinsi terdapat pada Lampiran 5. Sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan dapat digunakan untuk melihat kemampuan ketersediaan obat dan alat kesehatan bagi masyarakat.2% dan Kelas I sebesar 10. Kemenkes.

126 . Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat Upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dilakukan dengan menerapkan berbagai pendekatan.GAMBAR 5. imunisasi. dan Pos Obat Desa (POD). termasuk di dalamnya dengan melibatkan potensi masyarakat. Pada tahun 2009 terdapat 266. Posyandu Madya. Langkah tersebut tercermin dalam pengembangan sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). keluarga berencana. Dalam menjalankan fungsinya. 2010 4. Posyandu Purnama dan Posyandu Mandiri. Salah satu jenis UKBM yang telah sejak lama dikembangkan dan mengakar di masyarakat adalah posyandu.55 posyandu per desa/kelurahan. dengan demikian maka rasio posyandu terhadap desa/kelurahan sebesar 3. dan penanggulangan diare. yaitu Posyandu Pratama. Dalam rangka menilai kinerja dan perkembangannya. Informasi selengkapnya mengenai rasio posyandu menurut provinsi pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 5.11 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN 2005 -2009 Sumber: Ditjen Binfar & Alkes.12 berikut ini. Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) di Desa Siaga. Hal ini sejalan dengan konsep pemberdayaan pengembangan masyarakat. Kemenkes. perbaikan gizi. posyandu diklasifikasikan menjadi 4 strata. posyandu diharapkan dapat melaksanakan 5 program prioritas yaitu kesehatan ibu dan anak. Tanaman Obat Keluarga (Toga).827 posyandu. UKBM di antaranya terdiri dari Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).

penanganan kegawatdaruratan kesehatan dan kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan kesehatan. Gambar 5. Jumlah desa siaga di Provinsi DKI Jakarta merupakan jumlah RW siaga dan jumlah desa siaga di Provinsi Sumatera Barat merupakan jumlah desa siaga ditambah nagari siaga. dengan kata lain salah satu wujud upaya untuk mempermudah akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.3.12 RASIO POSYANDU TERHADAP JUMLAH DESA/KELURAHAN TAHUN 2009 Sumber: Ditjen. 127 .996 unit poskesdes/desa siaga. Rasio poskesdes/desa siaga terhadap desa secara nasional pada tahun 2009 sebesar 0. Data menyebutkan bahwa pada tahun 2009 terdapat 51.13 berikut ini menyajikan rasio poskesdes menurut provinsi pada tahun 2009 (tidak termasuk Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Sumatera Barat).69.GAMBAR 5. Sedangkan data mengenai sarana kesehatan tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. Kegiatan utama poskesdes yaitu pengamatan dan kewaspadaan dini (surveilans perilaku berisiko. Pelayanan yang diberikan poskesdes juga mencakup tempat pertolongan persalinan dan pelayanan KIA. 2010 Poskesdes merupakan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. Kemenkes. Bina Kesmas. lingkungan dan masalah kesehatan lainnya). Poskesdes merupakan salah satu indikator sebuah desa disebut desa siaga.

TNI/POLRI dan Pemda). Untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang berkualitas tentu saja dibutuhkan proses pendidikan yang berkualitas pula. Sampai dengan Desember 2009 jumlah institusi Diknakes sebanyak 1. Jenis dan Persebaran Institusi Pembangunan kesehatan berkelanjutan membutuhkan tenaga kesehatan yang memadai baik dari segi jumlah maupun kualitas. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan juga menyelenggarakan program D-IV. 128 . Selain menyelenggarakan program D-III. Perkembangan jumlah program studi (prodi) pada institusi Poltekkes dan Non Poltekkes terdapat pada Gambar 5. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. yang terdiri dari 221 jurusan/program studi (yang berada pada 33 Poltekkes) dan 919 institusi Non Poltekkes. Jumlah.13 RASIO POSKESDES TERHADAP JUMLAH DESA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen. Dalam penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan jenjang pendidikan menengah dan Diploma (D-III) yang berada di bawah pembinaan Kementerian Kesehatan dikelompokkan dalam Politeknik Kesehatan (milik Kemenkes) dan Non Poltekkes (milik Swasta. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan a.GAMBAR 5. Kementerian Kesehatan merupakan institusi dari sektor pemerintah yang berperan di dalam penyediaan tenaga kesehatan yang berkualitas tersebut. Program pendidikan D-III institusi pendidikan tenaga kesehatan (Diknakes) saat ini berkembang dengan pesat.140 institusi. baik jenis maupun jumlah di masing-masing provinsi.14 berikut ini. Bina Kesmas. 2010 5. Kemenkes.

kebidanan dan kesehatan gigi.14 PERKEMBANGAN JUMLAH PROGRAM STUDI INSTITUSI DIKNAKES POLTEKKES DAN NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2002-2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.16 menunjukan jumlah program studi pada institusi Diknakes Non Poltekkes. Kemenkes.GAMBAR 5. untuk prodi keperawatan terdiri dari keperawatan. Kemenkes. 2010 Pada Gambar 5. untuk prodi keterapian fisik terdiri dari fisioterapi. 2010 Gambar 5. dari 214 prodi pada tahun 2008 menjadi 221 prodi. GAMBAR 5.14 dapat dilihat adanya peningkatan jumlah Jurusan/Prodi Poltekkes setiap tahunnya. terapi wicara dan 129 . okupasi terapi. hal ini sesuai dengan kebutuhan jenis tenaga kesehatan dan pemerataan produksi tenaga kesehatan. Tahun 2009 terjadi penambahan 7 prodi.15 JUMLAH PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.

selain itu juga untuk melihat kualitas dari masing-masing institusi. dan institusi lama yang telah habis masa berlaku akreditasinya. Gambar 5. Untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada Poltekkes.12. Akreditasi merupakan salah satu upaya pembinaan yang dilakukan pemerintah terhadap institusi-institusi pendidikan kesehatan yang ada.29%) dengan status kepemilikan swasta sedangkan selebihnya milik TNI/POLRI dan Pemda.16 JUMLAH PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. institusi Diknakes milik Kemenkes mengalami perubahan status kelembagaan dari Akademi menjadi Poltekkes. Akreditasi Institusi Dengan banyaknya institusi pendidikan tenaga kesehatan yang ada saat ini. Sampai tahun 2009 ada 180 prodi Poltekkes (81.akupunktur. 2010 b.9%) dengan strata C. Kemenkes. Akreditasi dilaksanakan bagi institusi baru yang telah menjalankan perkuliahan sampai dengan semester V (lima). GAMBAR 5. Informasi selengkapnya mengenai jumlah dan persentase program studi Poltekkes yang telah terakreditasi menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. Kementerian Kesehatan berusaha melakukan upaya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. terdapat 77 prodi (42. Jika dilihat berdasarkan kepemilikan dari 919 institusi Diknakes Non Poltekkes tahun 2009 sebanyak 793 institusi (86.45%) telah diakreditasi dan yang belum terakreditasi sebanyak 32 prodi (18.3%) dengan strata B dan 7 prodi (3. mulai tahun 2004 Pusdiknakes melakukan akreditasi terhadap jurusan/program studi Poltekkes yang ada. 96 prodi (53. untuk lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 5. Dari jumlah yang sudah terakreditasi. Pada tahun 2002.55%).17 berikut ini menunjukkan persentase akreditasi program studi pada institusi Poltekkes. 130 .15.8%) dengan strata A.

Sedangkan informasi selengkapnya menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5. 2010 Jumlah institusi Diknakes Non Poltekkes menurut status kepemilikan menunjukkan sebagian besar institusi dimiliki oleh swasta. 2010 Akreditasi juga dilakukan pada institusi Diknakes Non Poltekkes. 428 institusi (78.44%) dengan strata C. GAMBAR 5. yaitu sebesar 86.59%). Kemenkes.41%) dan yang belum terakreditasi sebanyak 373 institusi (40.18 berikut ini menunjukkan persentase strata akreditasi institusi Diknakes Non Poltekkes pada tahun 2009. 131 .14. terdapat 72 institusi (13. Kemenkes.29%. Jumlah institusi yang telah terakreditasi sebanyak 546 institusi (59. Dari jumlah yang sudah terakreditasi.18 PERSENTASE STRATA AKREDITASI INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.21%) dengan strata A.53%) dengan strata B dan 46 institusi (8.GAMBAR 5.17 PERSENTASE STRATA AKREDITASI PROGRAM STUDI POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. Gambar 5.

Program D-IV mempunyai jenis institusi pendidikan yang lebih khusus bidang keilmuannya yaitu untuk jenis institusi keperawatan. Informasi lebih rinci mengenai jumlah dan persentase institusi Diknakes Non Poltekkes menurut kepemilikan dapat dilihat pada Lampiran 5.014 orang (76. kebidanan dan kesehatan gigi.98%).15. yang terdiri dari lulusan Poltekkes adalah 14.854 orang) mengalami kenaikan sebanyak 35. d.371 orang. kesehatan gigi prothodansia. kesehatan gigi komunitas. Informasi lebih rinci mengenai jumlah peserta didik program D-IV menurut jenis institusi pendidikan dapat dilihat pada Lampiran 5. Lulusan Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes pada tahun 2009 adalah 62. keperawatan anestesi. selain menyelenggarakan D-III Poltekkes juga menyelenggarakan program D-IV dan Kelas Internasional. Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes terbanyak pada jurusan keperawatan sebanyak 29. diperlukan tenaga kesehatan yang lebih berkualitas. dental bedah mulut dan perawat gigi pendidik.132 orang) dibanding tahun ajaran 2008/2009 (260. c. Sehubungan dengan hal tersebut sejak tahun 2004.278 orang atau 13. keperawatan intensive dan keperawatan anestesi reanimasi. Peserta didik Jumlah peserta didik institusi pendidikan tenaga kesehatan baik poltekes maupun non poltekkes jalur umum tahun ajaran 2009/2010 (296.26%.545 orang.45% dan TNI/POLRI sebesar 3.sedangkan kepemilikan oleh Pemerintah Daerah sebesar 10. keperawatan kardiovaskuler. Jenis institusi kebidanan terdiri dari bidan pendidik dan kebidanan komunitas.357 orang (23. Jenis institusi kesehatan gigi terdiri dari kesehatan gigi.920 orang kemudian jurusan kebidanan sebanyak 18. keperawatan gawat darurat.02%) dan lulusan Non Poltekkes sebanyak 48. Jenis institusi keperawatan terdiri dari keperawatan medical bedah. Dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. keperawatan klinik kemahiran. Hal ini disebabkan karena jumlah institusi pendidikan tenaga kesehatan yang juga mengalami kenaikan. 132 .27. keperawatan jiwa. Pada tahun 2009 program D-IV yang ada di seluruh Indonesia memiliki peserta didik sebanyak 2020.5%.

131 18.131 4. yang tersebar di semua provinsi.488 3.356 49.415 1.343 62.TABEL 5. Tiga provinsi yang menghasilkan lulusan tenaga kesehatan terbanyak (Poltekkes dan Non Poltekkes) tahun 2009 adalah Provinsi Jawa Tengah (9. B.550 1.25 dokter per 100.951 8.691 1.014 38.689 28. dikarenakan: 1. 2010 Dari Tabel 5.573 1. Kabupaten/Kota belum memiliki data SDM Kesehatan secara lengkap.349 orang) dan Jawa Timur (7. Menurut pendataan Badan PPSDMK. dengan lulusan terbanyak adalah D-III Keperawatan (rata-rata 23.948 3.200 26.659 orang).812 12.877 41.396 1.367 3. TENAGA KESEHATAN Data Sumber Daya Masyarakat Kesehatan (SDM Kesehatan) yang terkumpul dari 33 Provinsi belum sepenuhnya dapat menggambarkan SDM Kesehatan secara lengkap.095 1. sedangkan yang terendah adalah Banten dengan rasio 3. Provinsi dengan rasio tertinggi adalah Bali sebesar 33.094 762 Kebidanan Kesehatan Gigi Keterapian Fisik Keteknisian Medis Jumlah 3.983 42.000 penduduk. dengan rasio sebesar 12. Belum semua Provinsi mendapatkan data SDM Kesehatan dari semua Kabupaten/ Kota di wilayahnya.085 6. Sumatera Utara (8.039 1. 3.557 1.2 di atas terlihat bahwa rata-rata selama 8 tahun terakhir lulusan Diknakes Diploma III Poltekkes dan Non Poltekkes adalah 43.864 21.545 1.774 43.236 2.545 68. 2.446 28.264 13.644 5.2 JUMLAH LULUSAN PROGRAM DIPLOMA III POLTEKKES DAN NON POLTEKKES TAHUN 2002-2009 Rerata Tahun Jenis Tenaga Total 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Lulusan per tahun Keperawatan 17.615 439 711 627 773 742 857 1166 1.553 orang).722 25.250 5.694 Gizi 1.855 1.139 18.332 orang. Belum ada sistem yang handal yang mengatur manajemen pengumpulan data SDM di daerah.569 432 581 740 739 858 965 998 781 6.555 1.957 6.835 188.337 9.371 346. 1.722 1.553 3.555 orang).312 2.347 orang. jumlah dokter umum di Indonesia sebanyak 28. TNI/POLRI dan Swasta. Kemenkes.712 1.000 penduduk.519 1.943 23.685 13.366 1.347 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. Rasio dokter umum terhadap 133 .000 penduduk.166 1.400 800 Kefarmasian 1. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Salah satu unsur yang berperan dalam percepatan pembangunan kesehatan adalah tenaga kesehatan yang bertugas di sarana pelayanan kesehatan di masyarakat.60 dokter per 100.067 3.923 1.764 29.870 1.473 3.121 2.811 25.693 2.453 31.562 4.285 5.54 dokter per 100.923 8. terutama data rumah sakit baik milik pemerintah.515 3.836 2.425 23.329 22.377 52.664 Kesehatan Lingkungan 1.

TNI/POLRI dan swasta.000 penduduk.19 berikut ini.889 orang. Pada tahun 2009 terdapat 3 provinsi yang telah mencapai rasio 100 bidan per 100.jumlah penduduk di tiap provinsi pada tahun 2009 dijelaskan pada Gambar 5. Provinsi dengan rasio tertinggi adalah DI Yogyakarta sebesar 12. Dari data yang diterima tercatat sebanyak 519.067 tenaga kesehatan dan 109. dengan status kepegawaian PNS.16. SDM Kesehatan tersebut bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi dan unit pelaksana teknis (UPT). Jumlah bidan pada tahun 2009 sebanyak 93.221 tenaga keperawatan (184.000 penduduk.73 dokter gigi per 100. sedangkan terendah adalah Sumatera Selatan dengan rasio 0. CPNS. 2.64 dan Papua Barat sebanyak 111.22 dokter gigi per 100.805 tenaga medis.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.000 penduduk.000 penduduk. rasio bidan terhadap penduduk pada tahun 2010 diharapkan mencapai 100 bidan per 100.18 bidan per 100.000 penduduk.58 bidan per 100.000 penduduk. 134 . Persebaran Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan SDM Kesehatan di daerah terdiri dari SDM Kesehatan yang bertugas di unit kesehatan (sarana pelayanan dan non pelayanan) di Provinsi dan Kabupaten/Kota.774 orang dengan rasio sebesar 4.532 tenaga non kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan dan non kesehatan tahun 2009 menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. swasta dan TNI/POLRI.19 RASIO DOKTER UMUM TERHADAP 100. yaitu Aceh sebesar 153. Bengkulu sebanyak 123. Tenaga kesehatan terdiri dari 51. Menurut Indikator Indonesia Sehat 2010.332 tenaga perawat dan perawat gigi.599 orang yang terdiri dari 410. sehingga rasionya terhadap penduduk sebesar 40.65 dokter gigi per 100.3.000 penduduk. rumah sakit/poliklinik dan sarana kesehatan lainnya milik pemerintah pusat. 2010 Jumlah tenaga dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 9. GAMBAR 5. Dinas Kabupaten/Kota dan UPT. 278. PTT. Kemenkes. pemerintah daerah.

28. a. kinerjanya sangat dipengaruhi ketersediaan sumber daya manusia yang dimiliki. Bila dibandingkan dengan jumlah seluruh puskesmas maka dapat diartikan bahwa belum seluruh puskesmas memiliki dokter gigi.311 orang yang bertugas di puskesmas dengan rincian 215.762 tenaga gizi.483 keteknisian medis. Rasio dokter umum di puskesmas terhadap jumlah puskesmas (yang terdata tenaganya) tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 5. 135 .889 tenaga bidan). maka rasio dokter umum adalah 1. hanya 8. 12. diikuti oleh Kepulauan Riau sebesar 3.03 dokter umum per puskesmas. 19. Dari seluruh jumlah tenaga kesehatan. 2010 Jumlah dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 6. Rasio dokter umum terhadap puskesmas tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta sebesar 13 dokter umum per puskesmas (327 dokter umum pada 25 puskesmas yang terdata). Tenaga Kesehatan di Puskesmas Puskesmas yang merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan masyarakat.61 dokter umum per puskesmas. terdapat 245. Tahun 2009 tidak semua puskesmas terdata jumlah tenaganya.20 RASIO DOKTER UMUM DI PUSKESMAS TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.93.858 tenaga kesehatan masyarakat.701 orang.141 orang.13 dan Riau sebesar 3.985 tenaga keterapian fisik dan 15.535 tenaga non kesehatan. dokter umum yang bertugas di puskesmas sebanyak 13. 2. GAMBAR 5.953 tenaga kefarmasian. terutama ketersediaan tenaga kesehatan. Bila dibandingkan antara jumlah puskesmas yang terdata tenaganya (8.737 puskesmas yang ada. Pada tahun 2009.776 tenaga kesehatan dan 29. Kemenkes.509 puskesmas) dengan jumlah dokter. Beberapa provinsi memiliki tenaga dokter spesialis yang bertugas di puskesmas.509 puskesmas dari 8.20 berikut ini.

21 JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.104 orang. Dokter umum PTT dan dokter gigi PTT sebagian besar tersebar di wilayah dengan kriteria sangat terpencil yaitu 1.518 orang.054 orang. sehingga rata-rata tiap puskesmas memiliki 9-10 orang perawat. Keberadaan dokter umum PTT terbanyak di Nusa Tenggara Timur sejumlah 301 orang. sedangkan bidan PTT sebagian besar tersebar di wilayah biasa sejumlah 16. perawat dan bidan terhadap jumlah puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 5.403 tenaga kesehatan PTT Pusat yang masih aktif bertugas di daerah dengan kriteria Biasa. Jumlah perawat di seluruh puskesmas sebanyak 76. dokter gigi. dokter umum sejumlah 3. dan bidan sejumlah 25. dokter gigi sejumlah 1. Rincian jumlah tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 5. sebagian besar dokter spesialis tersebut berada di Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah 84 orang (52.5%).898 orang dokter umum dan 666 orang dokter gigi. sedangkan rasio dokter umum.18. yaitu sejumlah 29 orang. Provinsi dengan jumlah keberadaan dokter spesialis PTT terbanyak adalah Sumatera Utara sebanyak 8 orang dan Provinsi Kalimantan Timur sebanyak 7 orang. Dokter spesialis PTT sebagian besar tersebar di daerah dengan kriteria Terpencil. sedangkan untuk daerah dengan kriteria Biasa dan Sangat Terpencil masing-masing sejumlah 9 orang.940 orang. sedangkan dokter gigi PTT terbanyak bertugas di Nusa Tenggara Timur sejumlah 118 136 . diikuti oleh Sumatera Utara sejumlah 288 orang dan Aceh sejumlah 282 orang. dan Sangat Terpencil dengan komposisi dokter spesialis sejumlah 47 orang.21 di bawah ini.784 orang. GAMBAR 5. dokter gigi dan bidan. Tenaga Kesehatan dengan Status Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tenaga kesehatan dengan status PTT terdiri dari dokter spesialis.Pada tahun 2009 terdapat 160 dokter spesialis yang bertugas di puskesmas.17. dokter umum. Kemenkes. Terpencil. 2010 3. Jumlah masing-masing tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Gambar 5. Sampai dengan tahun 2009 terdapat 30.

21. dokter umum PTT sejumlah 4. Kemenkes. Terpencil. 5.807 orang. Pengangkatan bidan PTT terbanyak berada di Provinsi Sumatera Utara sejumlah 1. Data selengkapnya mengenai pengangkatan tenaga kesehatan PTT di seluruh provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. dan Sangat Terpencil sebanyak 16.33.23 dan 5.22 menampilkan keadaan tenaga PTT di Indonesia tahun 2009.35. Bidan PTT terbanyak bertugas di Sumatera Utara. diikuti Jawa Tengah sejumlah 4.797 orang.598 orang dengan jumlah pengangkatan untuk daerah dengan kriteria Terpencil 806 orang dan 792 orang untuk daerah dengan kriteria Biasa diikuti provinsi kedua terbanyak adalah Jawa Timur sejumlah 1. DOKTER GIGI PTT DAN BIDAN PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian. diikuti oleh Aceh sebanyak 75 orang dan Sumatera Utara sejumlah 66 orang.234 orang. Gambar 5.006 orang. GAMBAR 5. yaitu sejumlah 4.487 orang.102 orang untuk daerah dengan kriteria Biasa. 137 .orang.20 dan 5. 5.19.395 orang dan Jawa Timur 3. Adapun pengangkatan dokter umum PTT dan dokter gigi PTT terbanyak berada di Provinsi Maluku dengan jumlah 420 orang dan 155 orang dengan pengangkatan untuk daerah terpencil adalah sejumlah 406 orang untuk dokter umum dan 153 orang untuk dokter gigi diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan jumlah 373 dokter umum dan 149 dokter gigi. 2010 Pada tahun 2009 telah diangkat tenaga kesehatan PTT untuk daerah dengan kriteria Biasa. Data selengkapnya mengenai distribusi tenaga kesehatan PTT di seluruh provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.179 orang dengan pengangkatan untuk daerah dengan kriteria Terpencil 77 orang dan 1. yang terdiri dari dokter spesialis PTT sejumlah 35 orang. dokter gigi PTT sebanyak 1.269 orang dan bidan PTT sejumlah 11.34 dan 5.24 menampilkan pengangkatan tenaga PTT di Indonesia tahun 2009.22 KEBERADAAN DOKTER UMUM PTT. Gambar 5.

aula dan ruang diskusi untuk unit Pelatihan Kesehatan UPT Pusat.GAMBAR 5. masih beragam (belum standar/sama) khususnya untuk unit pelatihan kesehatan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK). (50 kursi). kapasitas aula yang terbesar BBPK Ciloto. Kemenkes.23 PENGANGKATAN DOKTER UMUM PTT DAN DOKTER GIGI PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian. Kapasitas asrama.24 PENGANGKATAN BIDAN PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian. Kapasitas asrama yang terbesar di BBPK Ciloto (220). 2010 GAMBAR 5. Kemenkes. kapasitas ruang diskusi terbesar di BBPK Ciloto. (400 kursi). (260 kursi). 2010 4. kapasitas kelas yang terbanyak BBPK Jakarta. kelas. Fasilitas Pelatihan Kesehatan Fasilitas unit pelatihan kesehatan merupakan komponen yang sangat penting dari penunjang kegiatan pelatihan. Ketersediaan fasilitas juga menentukan performance kinerja unit pelatihan kesehatan. Tidak terlihat 138 .

Ternyata masih ada Widyaiswara yang berpendidikan D-III sebanyak 2 orang (3 orang di tahun 2008). dan Bapelkes Provinsi Maluku).38% tahun 2008) digunakan untuk kegiatan pelatihan.5%.78% tahun 2008). Jika 139 . tingkat libat 4 (tempat. berturut-turut mulai dari yang terbanyak adalah pelatihan teknis kesehatan 50.24% tahun 2008).74% tahun 2008) sedangkan non pelatihan 5. Unit pelatihan kesehatan UPT daerah dengan kapasitas terkecil adalah Bapelkes Palu.62% tahun 2008) digunakan untuk kegiatan non pelatihan dan 31.84% (851 orang).perbedaan yang jelas antara Kapasitas yang dimiliki oleh BBPK dan Bapelkes UPT Pusat. tersedikit di S3 dan D-III masing-masing 2 orang. jumlah Widyaiswara berkisar antara 6 sampai 14 orang.76% (2298 kegiatan).64% (23.40% (30.11% (56.98% (3.5% dan unit pelatihan kesehatan dengan kapasitas asrama kurang dari 100 tempat tidur sebanyak 12. Sebagian besar (87. Jumlah tenaga yang bekerja pada sektor kesehatan yang terlatih di Unit Pelatihan Kesehatan pada tahun 2009 adalah sebanyak 46. Widyaiswara berdasarkan golongan kepangkatan jumlah terbanyak pada golongan IVA (42 orang) dan tersedikit pada golongan IVE (3 orang).29% (6. Distribusi tenaga Widyaiswara kesehatan sangat bervariasi mulai dari yang paling sedikit yaitu 1 (satu) orang dan terbanyak 14 orang.5% (7. Dari pemanfaatan fasilitas tersebut.222 orang). ternyata Bapelkes Lemah Abang dan Bapelkes Salaman mempunyai kapasitas yang lebih besar daripada BBPK Makassar. pelatihan manajemen 17. Untuk unit pelatihan kesehatan UPT pusat khususnya BBPK. Distribusi tingkat keterlibatan institusi diklat dalam kediklatan tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 5.361 orang). dan Bed Occupancy Rate (BOR) 28.60% (28. dan tersedikit di usia kurang dari 40 tahun (16 orang). jumlah terbanyak pada usia 51-60 tahun (86 orang). Fasilitas sarana unit pelatihan kesehatan pada tahun 2009 sebagian besar digunakan untuk kegiatan Kemenkes yaitu 69.8% dimanfaatkan sebagai tempat saja. Variasi yang cukup tinggi terlihat pada unit pelatihan kesehatan UPT daerah untuk seluruh fasilitas unit pelatihan kesehatan dengan kapasitas asrama diatas atau sama dengan 100 tempat tidur ada sebanyak 87. Berdasarkan pendidikan jumlah terbanyak di kelompok pendidikan S2 (112 orang). jumlah Widyaiswara berkisar antara 1 sampai 11 orang dengan rata-rata 5 orang. pelatih. dan pelatihan penjenjangan 1.5%. Bapelkes Provinsi Kalimantan Selatan.5%. ternyata 68. swasta 20.136 orang. pelatihan prajabatan 13. dan sisanya dipergunakan oleh institusi pemerintah non Kemenkes 9.5%) yang tidak terakreditasi (Bapelkes Jantho. Sedangkan unit pelatihan kesehatan UPT daerah.86% (3.86% (687 kegiatan). hanya 3 (12. pelatihan fungsional 6.5%) unit pelatihan kesehatan sudah diakreditasi oleh Pusdiklat SDM Kesehatan. Sedangkan Seat Occupancy Rate (SOR) untuk kegiatan pelatihan rata-rata 34. Diharapkan Widyaiswara unit pelatihan kesehatan banyak di kelompok usia kurang dari 50 tahun.133 orang).867 orang). Jumlah peserta yang dilatih selama tahun 2009 berdasarkan 5 jenis kategori pelatihan. Pemanfaatan Unit Pelatihan Kesehatan pada tahun 2009 sebagian besar 39. Sedangkan tingkat libat 5 (perancang pelatihan) hanya sebanyak 19.23. Berdasarkan kelompok umur.89% (43. penyelenggara/oc dan sc) sebanyak 26.38% (309 kegiatan).

11%). kuratif dan preventif. datanya sama dengan berdasarkan jumlah peserta. Kementerian Kesehatan pada tahun 2009 mengalokasikan anggaran sebesar Rp 20. 1.403. Realisasi anggaran tertinggi adalah program yang bersifat kuratif dengan jumlah Rp 10.006 (0.23. Berikut ini diuraikan anggaran kesehatan yang dialokasikan untuk Kementerian Kesehatan dan anggaran yang disediakan untuk pembiayaan pemeliharaan kesehatan masyarakat.000 (0.05%). Program/kegiatan yang bersifat kuratif yaitu program upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Pembiayaan kesehatan bersumber dari pemerintah dan pembiayaan yang bersumber dari masyarakat.000 dengan jumlah realisasi sebesar Rp 16.54 trilyun dengan realisasi Rp 16. C.229. Informasi selengkapnya tentang alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5.513 (62.25 di bawah ini. yaitu program/kegiatan yang bersifat promotif.67 trilyun dengan realisasi Rp 6.000 (60.535. Anggaran Kementerian Kesehatan Anggaran Kementerian Kesehatan dibagi berdasarkan program/kegiatan kesehatan yang berjumlah 14 program/kegiatan. Program/kegiatan yang bersifat promotif yaitu promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.52%).522.400. 140 . kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan dan program pendidikan kedinasan. Program/kegiatan yang bersifat preventif antara lain penerapan kepemerintahan yang baik.57%). Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir terdapat peningkatan alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan.407. program pencegahan dan pemberantasan penyakit. Sedangkan program/kegiatan yang bersifat rehabilitatif yaitu perbaikan gizi masyarakat. PEMBIAYAAN KESEHATAN Salah satu komponen sumber daya yang diperlukan dalam menjalankan pembangunan kesehatan adalah pembiayaan kesehatan. program obat dan perbekalan kesehatan. Distribusi Widyaiswara di setiap institusi diklat tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 5. Distribusi anggaran menurut program/kegiatan menunjukkan bahwa alokasi terbesar untuk program yang bersifat kuratif dengan jumlah Rp 12.629 (80.491.689.412. sedangkan realisasi terkecil untuk program yang bersifat promotif sebesar Rp 86.418. Peningkatan tersebut dijelaskan dalam Gambar 5.438.44%). Pada Tahun 2005 Kementarian Kesehatan memiliki alokasi anggaran sebesar Rp 10.31. yang dikelompokkan dalam 4 kelompok besar.737.494.04%).52 trilyun (61.dilihat berdasarkan frekuensinya. program sumber daya kesehatan.723.003.44 trilyun (80. jumlah tersebut meningkat pada tahun 2009 menjadi Rp 20.220. sedangkan alokasi terkecil untuk program yang bersifat promotif sebesar Rp 117. preventif.23%). penelitian dan pengembangan kesehatan.

26 di bawah ini menurut sumber pembiyaan sampai pertengahan tahun 2010. Kemenkes. Persentase penduduk yang memiliki jaminan pembiayaan kesehatan oleh program Jaminan pembiayaan/asuransi disajikan pada Gambar 5. Pembiayaan Jaminan Kesehatan Masyarakat Menurut data Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan. GAMBAR 5.26 PERSENTASE PENDUDUK YANG DILINDUNGI JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT/ ASURANSI KESEHATAN DI INDONESIA PER JUNI 2010 Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. sampai Juni tahun 2010 hanya 55. Data mengenai persentase penduduk yang memiliki jaminan pembiayaan/asuransi kesehatan menurut provinsi sampai tahun 2010 terdapat pada Lampiran 5.32. 2010 2. Kemenkes.25 ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Biro Keuangan dan Perlengkapan. 2010 141 .GAMBAR 5.95% penduduk yang tercakup oleh jaminan pembiayaan/asuransi kesehatan.

541 unit Puskesmas di seluruh Indonesia yang melayani peserta Jamkesmas.000 jiwa.541 PPK. diikuti RS swasta umum dan khusus 304 RS (32%). Untuk pelayanan kesehatan rujukan tersedia 946 RS/Balai/Klinik yang persentase terbesarnya merupakan RS umum dan khusus milik Pemerintah sebanyak 538 RS (57%). pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan beberapa pemerintah daerah telah memberikan jaminan pelayanan kesehatan secara gratis di puskesmas dan kelas III di rumah sakit bagi peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).Peserta Jamkesmas mendapatkan pelayanan kesehatan komprehensif dan berjenjang dari pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya hingga pelayanan kesehatan rujukan di RS.27 di bawah ini menunjukkan persentase pemberi pelayanan kesehatan rujukan peserta Jamkesmas tahun 2009.27 PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.400. 2010 Dalam upaya meningkatkan keterjangkauan masyarakat miskin dan hampir miskin terhadap pelayanan kesehatan. 40 Balai Kesehatan (4%) dan 63 RS TNI/POLRI (7%). Jumlah penduduk yang ditanggung oleh program Jamkesmas pada tahun 2009 sebanyak 76. Gambar 5. GAMBAR 5. Pada tahun 2009 terdapat 8. *** 142 . Secara keseluruhan peserta Jamkesmas dilayani oleh 9. Kemenkes.

.

Thailand. dan upaya kesehatan. baik dengan negara-negara ASEAN maupun SEARO. Jumlah penduduk yang besar dapat dipandang sebagai beban sekaligus juga modal dalam pembangunan. Sri Lanka. Myanmar. Singapura (Singapore). Filipina. Bhutan. Maladewa (Maldives). Laos (Lao People's Democratic Republic). Myanmar. dilakukan untuk melihat posisi Indonesia terhadap negara-negara lain dalam kawasan yang sama. KEPENDUDUKAN Informasi tentang penduduk penting diketahui agar pembangunan dapat diarahkan sesuai kebutuhan penduduk sebagai sasaran sekaligus pelaku pembangunan. dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggota. serta memajukan perdamaian di tingkat regional. India. yaitu Bangladesh. Kamboja (Cambodia). Nepal. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengetahui keadaan penduduk 144 . kemajuan sosial. Indonesia. Indonesia termasuk dalam negara SEARO (South East Asia Region/SEARO) bersama 10 negara lainnya. dan Timor Leste.ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) merupakan sebuah organisasi geopolitik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Bab ini akan membahas perbandingan antara Indonesia dengan negara ASEAN dan SEARO dari aspek yang berhubungan dengan kesehatan yaitu aspek kependudukan. Korea Utara (Democratic People's Republic of Korea). Anggota ASEAN ada 10 negara yaitu Brunei Darussalam. derajat kesehatan. Perbandingan antar negara. Berdasarkan pengelompokan negara menurut WHO. Malaysia. A. Thailand. dan Vietnam.

pada tahun 2009. 8 negara lainnya berpenduduk kurang dari 100 juta jiwa. Sedangkan Brunei Darussalam memiliki jumlah penduduk paling rendah yaitu sekitar 0. laju pertumbuhan penduduk.3 juta).171 juta jiwa). Indonesia selalu menempati peringkat satu negara dengan jumlah penduduk tertinggi di ASEAN. bahkan terdapat 2 negara dengan jumlah penduduk kurang dari 1 juta. Angka tersebut 145 .yaitu jumlah penduduk. 2009 Bila dilihat berdasarkan kepadatan penduduk. Indonesia menempati peringkat pertama dengan jumlah penduduk terbesar. angka beban tanggungan.3 juta jiwa (data BPS menyatakan penduduk Indonesia tahun 2009 berjumlah 231. Selain Bangladesh yang berpenduduk 162. Singapura tercatat sebagai negara yang paling padat di kawasan ASEAN dengan kepadatan 7.1 JUMLAH PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet. 1.4 juta jiwa. kepadatan penduduk. USAID.486 penduduk per km2. yaitu Bhutan (0. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Menurut World Populations Data Sheet 2009. dan Maladewa (0. Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak di antara negara anggota ASEAN lainnya dengan jumlah penduduk 243. GAMBAR 6. dan angka kelahiran. Jumlah penduduk di kawasan ASEAN dan SEARO dapat kita lihat pada Gambar 6. Dengan wilayah negara terluas.1. Jika di kawasan ASEAN.7 juta).2 juta jiwa. di kawasan SEARO Indonesia menempati peringkat kedua setelah India (dengan jumlah penduduk 1.4 juta jiwa).

2. Indonesia di kawasan ASEAN berada pada peringkat ke lima terpadat. USAID. Kepadatan penduduk di Indonesia sebesar 128 jiwa per km2. negara dengan kepadatan penduduk terendah adalah Laos dengan 27 penduduk per km2.jauh di atas negara anggota ASEAN lainnya. Maladewa merupakan negara dengan kepadatan penduduk tertinggi kedua di wilayah SEARO.057 jiwa per km2. Tingkat kepadatan penduduk negara-negara ASEAN dan SEARO tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 6. kepadatan penduduk Indonesia menurut BPS tahun 2009 adalah 121 jiwa per km2. Laju Pertumbuhan Penduduk 146 .2 KEPADATAN PENDUDUK DI NEGARA ASEAN & SEARO (Jiwa per km2) TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet.2 di bawah ini. Selanjutnya. Bangladesh memiliki kepadatan penduduk tertinggi dengan 1. Sementara. atau peringkat ke empat untuk negara dengan kepadatan paling rendah di antara 11 negara. Indonesia menempati peringkat ke delapan terpadat. GAMBAR 6.127 jiwa per km2. Di kawasan SEARO. yaitu 1. Negara dengan kepadatan penduduk terendah adalah Bhutan yaitu 15 jiwa per km2. 2009 Secara nasional. Sedangkan di kawasan SEARO. dengan luas wilayah yang juga kecil. walaupun memiliki jumlah penduduk terkecil.

laju pertumbuhan penduduk berkisar antara 0. kematian dan migrasi penduduk. Data kependudukan negaranegara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. sedangkan Myanmar merupakan negara dengan laju pertumbuhan penduduk paling rendah yaitu 0. Pada negara-negara SEARO selama periode yang sama. Laju pertumbuhan penduduk dipengaruhi tiga faktor. Dengan diketahuinya jumlah penduduk yang akan datang. Sedangkan bila dilihat dari kawasan SEARO. Indonesia menduduki peringkat ke-3 terendah (bersama dengan Vietnam) untuk laju pertumbuhan penduduk.1%.Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk di suatu wilayah atau negara di masa yang akan datang.1.8%. Indonesia menduduki peringkat ke-5 dengan laju pertumbuhan penduduk terendah dari 11 negara.3 di bawah ini. 147 . laju pertumbuhan penduduk per tahun yang tertinggi di antara negara anggota ASEAN adalah Brunei Darussalam dengan laju pertumbuhan penduduk 2. yakni kelahiran.9%. 2010 Pada periode 1998-2008. Laju pertumbuhan penduduk terendah pada Korea Utara dan tertinggi di Timor Leste.3 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK PER TAHUN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 1998 . Laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah 1.6% hingga 2. diketahui pula kebutuhan dasar penduduk di segenap bidang kehidupan termasuk di bidang kesehatan. Indikator tersebut biasa dikenal dengan laju pertumbuhan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk di negara-negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Gambar 6.2008 Sumber: The State of The Worlds Children.3%. Di kawasan ASEAN. GAMBAR 6.

Sebaliknya. Sebaliknya Singapura merupakan negara dengan komposisi penduduk kelompok umur non produktif terendah yaitu 27%.3. Semakin tinggi persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif (kelompok umur 0-14 tahun) dan tidak produktif lagi (kelompok umur 65 tahun keatas). Penduduk Menurut Kelompok Umur Salah satu indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang adalah Angka Beban Tanggungan (dependency ratio). USAID 148 . GAMBAR 6. Timor Leste adalah negara dengan komposisi penduduk usia non produktif tertinggi yaitu 48%. Laos merupakan negara yang terbesar untuk kelompok umur tersebut dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN yaitu 43% dari total penduduk. Persentase penduduk menurut kelompok umur non produktif (kelompok umur 0-14 tahun dan kelompok umur 65 tahun keatas) untuk keadaan tahun 2009. yang dapat dilihat pada Gambar 6.4 di bawah ini. Di antara negara-negara di kawasan SEARO.4 KOMPOSISI PENDUDUK YANG PRODUKTIF DAN NON PRODUKTIF DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet 2009. negara dengan penduduk non produktif terendah di kawasan tersebut adalah Thailand yaitu 29%.

Di kawasan SEARO.729).899. Laos merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan tertinggi di kawasan ASEAN yaitu 75%.Dengan distribusi penduduk seperti yang telah digambarkan di atas. Komposisi penduduk menurut kelompok umur serta besar Angka Beban Tanggungan di negara-negara kawasan ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6. Malaysia masuk dalam kategori tinggi. Sementara Indonesia memiliki Angka Beban Tanggungan sebesar 54%. jika IPM 0. termasuk Indonesia. Menurut kategori tersebut di atas. jika IPM > 0.500. dan kategori rendah. bila dibandingkan dengan tahun 2006 IPM Indonesia mengalami peningkatan (IPM 2006 adalah 0.800 – 0. 4. sedangkan 7 negara anggota ASEAN lainnya. IPM Indonesia pada tahun 2007 sebesar 0. yaitu Singapura dan Brunai Darussalam.500-0. Indeks Pembangunan Manusia Human Development Index (HDI) merupakan suatu ukuran gabungan tiga dimensi tentang pembangunan manusia. berada pada kategori IPM sedang. Timor Leste merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan tertinggi yaitu 92% sedangkan Thailand merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu 41%.1. kategori sedang. Bila dilihat dari peringkat di negara ASEAN pada tahun yang sama. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dikategorikan sebagai berikut: kategori sangat tinggi. pada tahun 2007 terdapat 2 (dua) negara anggota ASEAN masuk dalam kategori sangat tinggi. sedangkan Indonesia berada pada peringkat ke-111. Ini berarti setiap 100 penduduk usia produktif di Indonesia menanggung 54 penduduk yang belum produktif dan yang dianggap tidak produktif lagi. Berdasarkan standar internasional. yaitu panjang umur dan menjalani hidup sehat (diukur dari usia harapan hidup).734. Singapura merupakan negara dengan peringkat IPM tertinggi yaitu pada peringkat ke-24 dari 182 negara di dunia. jika IPM > 0. jika IPM <0.799. Sedangkan Singapura merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu 37%.900. dan yang terendah adalah Myanmar dengan peringkat ke-138. 149 . terdidik (diukur dari angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah) dan memiliki standar hidup yang layak (diukur dari penghasilan/pengeluaran riil per kapita). kategori tinggi.

tingkat pendidikan yang rendah. dan satu negara yaitu Timor Leste masuk dalam kategori rendah. Perbandingan angka TFR antar negara dapat menunjukkan keberhasilan negara dalam melaksanakan pembangunan sosial ekonominya. 5. Selain itu tentu saja menunjukkan tingkat keberhasilan program keluarga berencana yang dilaksanakan di negara tersebut. terutama perempuannya.5 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Sumber: Human Development Report 2009 Pada tahun 2007 di kawasan SEARO. Data IPM negara-negara di kawasan ASEAN dan SEARO tahun 2006 2007 dapat dilihat pada Lampiran 6. 9 negara memiliki IPM dengan kategori sedang.2. Total Fertility Rate Angka Fertilitas Total atau Total Fertility Rate (TFR) merupakan gambaran mengenai rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan dari usia 15 sampai 49 tahun. 150 . Angka TFR yang tinggi merupakan cerminan rata-rata usia kawin yang rendah. tidak ada negara yang memiliki IPM dengan kategori sangat tinggi dan tinggi. dari 11 negara (Korea Utara tidak ada data). tingkat sosial ekonomi rendah atau tingkat kemiskinan yang tinggi.GAMBAR 6.

2 .2.1). India. Angka Fertilitas Total dapat diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan yaitu rendah.3). Key Indicators 2002). Besaran Angka Fertilitas Total di negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Gambar 6.9.5. Thailand (1.6 ANGKA KESUBURAN WANITA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Layer 1 Sumber: World Population Data Sheet 2009. Sri Lanka. Korea Utara dan Maladewa termasuk negara dengan Angka Fertilitas Total berkategori rendah.6 berikut ini. USAID Data Angka Fertilitas Total di negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6.3.1 atau kurang.Angka Fertilitas Total suatu negara dapat dipergunakan bagi para perencana program pembangunan untuk meningkatkan rata-rata usia kawin. Dengan menggunakan klasifikasi tersebut. dan meningkatkan program pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan ibu hamil dan perawatan anak. Pada tahun 2008. Myanmar. Sedangkan Indonesia masuk dalam kategori sedang dengan angka kesuburan wanita 2. 7 negara (Indonesia. Thailand.2 yang berarti untuk setiap wanita di Indonesia rata-rata memiliki anak 2 sampai 3 orang selama masa suburnya. diantara 11 negara SEARO. Bhutan. dan kesuburan tinggi jika angka kesuburan wanita 4 atau lebih.8). GAMBAR 6. yaitu Singapura (1. maka pada tahun 2008 ada 4 negara yang termasuk dalam kategori angka kesuburan wanita rendah. serta Brunei Darussalam dan Vietnam (masing-masing 2. Kesuburan rendah terjadi ketika angka kesuburan wanita 2. Sedangkan Timor Leste merupakan satu-satunya negara di SEARO yang masuk dalam kategori tinggi yaitu sebesar 6. Bangladesh. 151 . dan tinggi (ADB. kesuburan sedang antara 2. dan Nepal) masuk dalam kategori sedang. sedang.

Terendah di Thailand (15) dan Korea Utara (16) sedangkan tertinggi di Timor Leste (40) dan Nepal (29). Angka tertinggi terjadi di Laos dengan Angka Kelahiran Kasar 28 per 1. Sedangkan Indonesia memiliki Angka Kelahiran Kasar sebesar 21 kelahiran untuk setiap 1.000 penduduk.000 penduduk. Singapura memiliki Angka Kelahiran Kasar terendah yaitu 10 kelahiran per 1.000 penduduk.2.000 penduduk. Angka Kelahiran Kasar di negara-negara SEARO berkisar antara 15 sampai 40 per 1. sedangkan di kawasan SEARO menempati peringkat ke-6 tertinggi untuk Angka Kelahiran Kasar. Data Angka Kelahiran Kasar di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. Pada tahun 2008.000 penduduk. di kawasan ASEAN Indonesia menempati peringkat ke-4 tertinggi.7 memperlihatkan perbandingan Angka Kelahiran Kasar negara-negara kawasan ASEAN dan SEARO.7 ANGKA KELAHIRAN KASAR DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 152 . GAMBAR 6.000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Angka Kelahiran Kasar Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR) adalah angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1. Dengan 21 kelahiran per 1. Angka Kelahiran Kasar pada tahun 2008 di negara-negara ASEAN dengan kisaran 10 sampai 28 per 1.000 penduduk dan diikuti oleh Filipina yaitu 26 per 1. Gambar 6.6.000 penduduk.

8 PENDAPATAN NASIONAL BRUTO DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009. Sosial Ekonomi Pendapatan Nasional merupakan salah satu indikator untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu negara. USAID 7.Sumber: World Population Data Sheet 2009. Negara dengan pendapatan nasional bruto perkapita tertinggi adalah Thailand yaitu sebesar US$ 5.820. beserta pendapatan yang diterima dari negara lain.940 per kapita). Pendapatan Nasional Bruto perkapita (Gross National Income) terdiri atas sejumlah nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara.830.290 dan US$ 1. Pendapatan Nasional Bruto di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Gambar 6. seluruhnya memiliki Pendapatan Nasional Bruto perkapita kurang dari US$ 6.120. 153 . Pendapatan Nasional Bruto perkapita tertinggi di 2008 antara negara anggota ASEAN adalah Brunei Darussalam (US$ 50.8 di bawah ini.990.000. yaitu masing-masing US$ 1.200 perkapita) diikuti oleh Singapura (US$ 47. GAMBAR 6. Myanmar dan Kamboja merupakan negara dengan Pendapatan Nasional Bruto perkapita terendah. Jika dibandingkan dengan 19 negara di ASEAN dan SEARO. Indonesia berada di peringkat ke-6 tertinggi pendapatan nasional bruto per kapita. USAID Dari sepuluh negara di SEARO (tidak ada data untuk Korea Utara). Sedangkan Indonesia memiliki pendapatan nasional bruto perkapita sebesar US$ 3. dan terendah adalah Nepal dengan US$ 1.

yaitu 4 negara termasuk kategori tinggi. Brunei Darussalam. 154 . Angka Kematian Bayi Angka kematian bayi diklasifikasikan menjadi empat kelompok yaitu rendah jika AKB kurang dari 20. 2010 Gambar 6.B.000 kelahiran hidup. Berdasarkan klasifikasi yang sama maka 2 negara di SEARO. lima negara ASEAN yaitu Singapura. DERAJAT KESEHATAN MORTALITAS 1. Lima Negara masuk kategori sedang dan selebihnya. Dari 10 negara anggota ASEAN tidak ada yang masuk dalam kelompok angka kematian bayi sangat tinggi (>100 per 1. Tiga negara.000 kelahiran hidup). Malaysia.000 kelahiran hidup. termasuk kelompok sedang. yaitu Sri Lanka dan Thailand masuk dalam kategori negara dengan angka kematian bayi rendah dengan angka 13 per 1. sedang 20-49.9 menunjukkan bahwa pada tahun 2008. USAID Sumber: World Health Statistics WHO. sementara 2 negara lainnya (Kamboja dan Myanmar) masuk dalam kelompok negara yang memiliki Angka Kematian Bayi tinggi. Indonesia dan Laos. GAMBAR 6. dan sangat tinggi jika AKB di atas 100 per 1.Vietnam dan Thailand termasuk negara dengan Angka Kematian Bayi rendah. tinggi 50-99.9 ANGKA KEMATIAN BAYI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2007. yaitu Filipina.

Angka Kematian Balita di SEARO berkisar antara 14 sampai 122 per 1.000 kelahiran hidup.10 ANGKA KEMATIAN BALITA (PER 1. Angka Kematian Balita Penurunan kasus kematian pada anak merupakan salah satu hal yang dianggap penting dalam tujuan pembangunan milenium.2. GAMBAR 6.Myanmar yaitu sebesar 122 kematian per 1. sedangkan yang tertinggi adalah di . Data Angka Kematian Bayi di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. Seperti di ASEAN. 155 .000 kelahiran hidup.Besaran Angka Kematian Bayi di negara-negara ASEAN dan SEARO berkisar antara 2 dan 75. campak. pneumonia. malaria.000 kelahiran hidup. sedangkan terendah adalah Thailand. dan malnutrisi. 2. sebaliknya di SEARO hanya 4 negara dengan AKABA kurang dari 50. Angka Kematian Balita terendah dicapai Singapura yaitu 3 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Balita tertinggi. dan Laos yang memiliki Angka Kematian Balita di atas 50 per 1. Pada kasus kematian yang tinggi biasanya jumlah kematian terbanyak terjadi pada usia balita saat mereka rentan terhadap penyakit. Sebagian besar negara ASEAN memiliki Angka Kematian Balita kurang dari 50 per 1.000 KELAHIRAN HIDUP) DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Health Statistics 2010 Data yang didapat dari “World Health Statistics 2010” memperlihatkan perbedaan yang mencolok Angka Kematian Balita di antara negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2008.000 kelahiran hidup. Jika di ASEAN hanya terdapat 3 negara (dari 10 negara) dengan AKABA lebih dari 50 per 1.000 kelahiran hidup. Indonesia memiliki angka kematian bayi 31 per 1000 kelahiran hidup dan berada di peringkat 9 di antara 18 negara tersebut. Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 70% kematian balita disebabkan diare. Kamboja. Menurut sumber yang sama. hanya Myanmar.

3.000.000. Telah dipaparkan sebelumnya bahwa sebagian besar kematian balita disebabkan oleh diare. GAMBAR 6. Negara-negara dengan Angka Kematian Ibu > 500 di ASEAN ada 2 negara yaitu Laos (660 per 100. di Indonesia terdapat 41 kematian balita per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2008.000. 15-199 per 100.2. pneumonia. Indonesia menempati peringkat ke-4 terendah kematian balita per 1.000. sedangkan pada kawasan SEARO. Di kawasan ASEAN. Sekitar 55% memiliki Angka Kematian Ibu 200-499 per 100. Angka Kematian Ibu Berdasarkan klasifikasi Angka Kematian Ibu dari WHO adalah sebagai berikut.000 kelahiran hidup (menurut SDKI 2007 AKABA Indonesia adalah 44). negara-negara di SEARO tidak ada yang mencapai Angka Kematian Ibu <15. Indonesia menempati peringkat ke-4 tertinggi kematian balitanya.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup). Hal itu berarti negara-negara ASEAN mungkin memiliki sanitasi dan keadaan ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara-negara SEARO. dan malnutrisi. 200-499 per 100.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup) dan Kamboja (540 per 100. Pada tahun yang sama.11 ANGKA KEMATIAN MATERNAL DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2005 Sumber: World Health Statistics 2009 Pada tahun 2005 hanya 2 negara ASEAN yaitu Brunei Darussalam dan Singapura yang mencapai Angka Kematian Ibu <15 masing-masing 13 dan 14 per 100.000 per 100. 500-999 per 100.000 156 .Pada Gambar 6. Data Angka Kematian Balita di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. dan ≥1. <15 per 100.10 terlihat bahwa negara-negara ASEAN memiliki Angka Kematian Balita relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara SEARO.

Angka nasional untuk Angka Kematian Ibu di Indonesia adalah 228 per 100.kelahiran hidup. USAID Di antara negara-negara anggota ASEAN.12 ANGKA KEMATIAN KASAR (PER 1.000 penduduk.000 penduduk.000 kelahiran hidup.2. Pada umumnya penduduk tua mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda. Sementara. Di antara kedua kawasan tersebut.000 PENDUDUK) DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009.000 penduduk. Korea Utara dan Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Kasar tertinggi yaitu 10 per 1. 157 . GAMBAR 6. berdasarkan data SDKI 2007. Data Angka Kematian Ibu di negara ASEAN dan SEARO tahun 2005 dapat dilihat pada Lampiran 6. 4. yaitu Nepal (830) dan Bangladesh (570). Indonesia berada di peringkat ke-12 (dari 18 negara di ASEAN dan SEARO) untuk Angka Kematian Ibu yaitu 420 per 100. Angka Kematian Kasar Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1. pada tahun 2008 Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Kasar atau Crude Death Rate (CDR) tertinggi. Keadaan Angka Kematian Kasar di negara-negara kawasan SEARO.000 kelahiran hidup. sementara terendah adalah Maladewa dengan 4 kematian per 1. yakni sebesar 10 per 1. tidak berbeda jauh dengan negara-negara di kawasan ASEAN. Jika tidak ada indikator kematian yang lain angka ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan.000 penduduk. Dan 18% memiliki Angka Kematian Ibu >500.

13 memperlihatkan bahwa pada tahun 2008 di antara sepuluh negara anggota ASEAN. Angka Harapan Hidup Angka Harapan Hidup merupakan indikator untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya. Di kawasan ASEAN. Maladewa merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir (Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 74 tahun. Negara yang memiliki Angka Harapan Hidup waktu lahir terendah adalah Myanmar yaitu 54 tahun. Gambar 6. 5. di Indonesia terdapat 6 kematian per 1. 158 .Pada tahun 2008. USAID Untuk kawasan SEARO. Indonesia dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir 67 tahun menempati peringkat ke-4 terendah.2. Negara yang memiliki umur harapan hidup waktu lahir terendah adalah Myanmar yaitu 54 tahun. dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. sedangkan di kawasan SEARO menempati peringkat ke4 tertinggi. Indonesia menduduki peringkat ke-5 tertinggi Angka Kematian Kasar sedangkan di kawasan SEARO. Di kawasan ASEAN.13 ANGKA HARAPAN HIDUP DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009. Data Angka Kematian Kasar di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. Singapura merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir (Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 81 tahun. GAMBAR 6.2. Indonesia menduduki peringkat ke-2 terendah. Data Angka Harapan Hidup di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.000 penduduk.

Angka prevalensi tuberkulosis pada tahun 2008 di negara-negara anggota ASEAN berkisar antara 27 sampai 680 per 100.000 penduduk.14 PREVALENSI DAN KEMATIAN AKIBAT TUBERKULOSIS PER 100.000 penduduk.000 penduduk.000 ribu penduduk. GAMBAR 6. Negara dengan prevalensi tuberkulosis tertinggi tahun 2008 adalah Timor Leste (660 per 100. Masih menurut sumber yang sama.000 penduduk.MORBIDITAS 1. Sedangkan kasus kematian akibat tuberkulosis terendah terjadi di Singapura dan Brunei Darussalam masing-masing 3 dan 4 kematian per 100.000 penduduk). berkisar antara 13 sampai 660 per 100.000 PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Health Statistics 2010 Seperti halnya negara-negara di ASEAN. 159 .000 penduduk) dan terendah adalah Maladewa (13 per 100. Kamboja merupakan negara dengan prevalensi tuberkulosis tertinggi di ASEAN yaitu 680 per 100.000 penduduk di negara-negara ASEAN dan SEARO.000 penduduk yaitu masing-masing 27 dan 43 kasus per 100.000 penduduk dan kematian yang berhubungan dengan tuberkulosis per 100. angka prevalensi tuberkulosis pada tahun 2008 di negara-negara SEARO memiliki kesenjangan yang cukup besar. kematian akibat tuberkulosis pada tahun 2008 tertinggi terjadi di Kamboja yaitu 79 per 100. Sedangkan Singapura dan Brunei Darussalam memiliki prevalensi tuberkulosis di bawah 50 kasus per 100.000 penduduk. Prevalensi Tuberkulosis (TBC) Data dari “World Health Statistics 2010” menunjukkan besarnya perbedaan prevalensi tuberkulosis per 100.

Seperti halnya angka prevalensi.000 penduduk. Avian Influenza Kemunculan strain virus influenza yang baru pada manusia (strain H5N1) pertama kali terdeteksi di Hongkong.00 penduduk).4. Ditemukan fakta pertama kali bahwa virus Avian Influenza dapat menular langsung dari unggas ke manusia. 3 orang dinyatakan menderita penyakit tersebut dan seluruhnya meninggal. angka kematian akibat tuberkulosis yang terendah juga di Maladewa (3 per 100. 2. Thailand. dan 6 diantaranya meninggal dunia. Akibatnya sebanyak 18 orang harus dirawat di rumah sakit. Myanmar dan Kamboja. angka kematian tertinggi akibat tuberkulosis juga terjadi di Timor Leste yaitu 83 kematian per 100. Indonesia. Sampai dengan akhir tahun 2009.15 JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2003-2009 160 . Sebelum tahun 1997.000 penduduk berada pada urutan ke-9 tertinggi yang dapat dilihat pada Lampiran 6.000 penduduk. Avian Influenza pertama kali masuk ke wilayah ASEAN pada tahun 2003 melalui Vietnam. Indonesia dengan prevalensi 210 per 100. Di antara 18 negara di ASEAN dan SEARO. Laos. ilmuwan meyakini penularan virus influenza dari unggas ke manusia tidak terjadi secara langsung. GAMBAR 6. Seperti angka prevalensi tuberkulosis. 6 negara di wilayah ASEAN telah terinfeksi Avian Influenza yaitu Vietnam.Sedangkan kematian akibat tuberkulosis di negara-negara kawasan SEARO berkisar antara 3 sampai 83 per 100.

who.: K = Kasus M = Meninggal Tabel 6.int/csr/disease/avian_influenza/country/cases_table_2010_03_16/en/index. Pada tahun tersebut selain Vietnam. 161 .1 memperlihatkan bahwa selama 2 tahun terakhir. virus Avian Influenza menyebar di 3 negara ASEAN. Tahun 2004 jumlah kasus meningkat menjadi 46 dengan 32 kematian. jika sebelumnya hampir 100% berakhir pada kematian.html Ket. Namun kali ini jumlah kematian bisa ditekan. Tahun 2009. terjadi peningkatan CFR menjadi 88. Thailand pun telah terinfeksi virus H5N1 ini. TABEL 6. Pada tahun 2008 terdapat 31 kasus dari 3 negara di ASEAN dengan 25 kematian (CFR = 80. 2008 Gambar 6. Semenjak itu jumlah kasus Avian Influenza terus menurun. 90 orang menjadi korban.15 memperlihatkan jumlah kasus dan kematian akibat Avian Influenza di wilayah ASEAN sejak tahun 2003 sampai 2009. Di 3 negara yang pernah terjangkit virus ini (Laos.22%). namun tidak demikian dengan angka kematiannya (CFR). tahun 2005 dari 90 penderita 38 meninggal (42. Akhir tahun 2005 jumlah penderita dan negara yang terinfeksi Avian Influenza terus bertambah.1 JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA MENURUT NEGARA TAHUN 2003-2009 NEGARA Kamboja Laos Vietnam   Indonesia    Myanmar   Thailand   Bangladesh   ASEAN SEARO 2003 K M 0 0 0 0 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3 0 0 2004 K M 0 0 0 0 29 20 0 0 0 0 17 12 0 0 46 32 17 12 2005 K M 4 4 0 0 61 19 20 13 0 0 5 2 0 0 90 38 25 15 2006 K M 2 2 0 0 0 0 55 45 0 0 3 3 0 0 60 50 58 48 2007 K M 1 1 2 2 8 5 42 37 1 0 0 0 0 0 54 45 43 37 2008 K M 1 0 0 0 6 5 24 20 0 0 0 0 1 0 31 25 25 20 2009 K M 1 0 0 0 5 5 21 19 0 0 0 0 0 0 27 24 21 19 Total K M 9 7 2 2 112 57 162 134 1 0 25 17 1 0 311 217 189 151 Sumber: http://www. Vietnam dan Indonesia.Sumber: WHO. Kasus pertama kali menyerang Vietnam dengan 3 korban yang keseluruhannya berakhir pada kematian. yaitu Kamboja. Myanmar dan Thailand) sudah tidak menunjukkan adanya penemuan kasus.89% (27 kasus dengan 24 kematian).65%).

3. POLIO Beberapa penyakit dapat berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa. pada tahun 2004 virus polio liar kembali menyerang penduduk di kawasan ASEAN. dan Polio.2 JUMLAH KASUS POLIO PER NEGARA TAHUN 2004-2008 NEGARA 2004 2005 2006 2007 2008 Kamboja 0 1 1 0 0 Laos 1 0 0 0 0 Indonesia 0 349 2 0 0 Myanmar 0 0 1 15 0 Bangladesh 0 0 18 0 0 India 134 66 676 873 559 Nepal 0 4 5 5 6 ASEAN 1 350 4 15 0 SEARO 134 419 702 893 565 Sumber: WHO vaccine-preventable disease monitoring system. Hepatitis B.Penyakit flu burung mulai menyerang manusia di kawasan SEARO pada tahun 2004. Dilaporkan terdapat 1 kasus ditemukan di Laos. Negara-negara tersebut adalah Thailand dan Indonesia. Namun. hanya Myanmar yang masih ditemukan kasus polio bahkan jumlahnya meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya ditemukan 1 kasus menjadi 15 kasus. Tahun 2006 penularan penyakit polio mulai dapat dikendalikan. Tetanus Neonatorum. Penyakit-penyakit tersebut adalah Tuberkulosis. Negara-negara di SEARO yang terjangkit flu burung sejak 2004 adalah negara-negara yang juga tergabung dalam ASEAN. Pertusis. 2009 global summary Sejak tahun 2001 kasus polio tidak ditemukan di negara-negara di ASEAN. Indonesia yang pada tahun 2005 terjadi kejadian luar biasa dengan ditemukannya 349 kasus polio mampu mengendalikan kejadian tersebut sehingga pada sejak 2007 tidak ditemukan lagi kasus polio. Namun. atau biasa disebut dengan PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi). yaitu di Thailand. sebanyak 350 penduduk dari 2 negara di ASEAN yaitu Kamboja dan Indonesia terserang penyakit polio. di antara negara-negara anggota ASEAN. 349 di antaranya terjadi di Indonesia. 162 . Tetanus. Pada tahun 2007. Difteri. TABEL 6. Pada tahun 2005 jumlah kasus polio mencapai puncaknya. Campak. sehingga hanya ditemukan 4 penderita di kawasan ini. 2 penderita berasal dari Indonesia dan masing-masing 1 penderita berasal dari Kamboja dan Myanmar. di antara penyakit-penyakit tersebut terdapat penyakit yang dapat dicegah dengan melakukan imunisasi.

kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. di SEARO masih ditemukan sebanyak 565 kasus dari 2 negara. Penyebabnya. Tetanus adalah salah satu penyakit menular dan paling berisiko mengakibatkan kematian. wilayah ASEAN sudah tidak ditemukan lagi kasus Polio. Semenjak 2004 sampai 2006 jumlah kasus lambat laun kembali meningkat. 2009 global summary Jika dibandingkan dengan kawasan ASEAN. India mengalami penurunan 36% dari tahun sebelumnya. Tetanus Neonatorum Kasus tetanus banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan lingkungan rendah. karena umumnya terjadi pada bayi baru lahir atau usia di bawah satu bulan. GAMBAR 6. Tingginya angka kejadian ini karena kontribusi jumlah kasus yang sangat besar oleh India yang merupakan salah satu dari 4 negara endemis polio. namun 99% kasus di SEARO terjadi di India. Walau pada 2008 India telah berhasil menekan jumlah kasus polio. jumlah seluruh kejadian polio di kawasan SEARO cukup tinggi sejak tahun 2002 dan tahun-tahun sebelumnya.16 JUMLAH KASUS POLIO DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2004-2008 Sumber: WHO vaccine-preventable disease monitoring system. Namun. yaitu India dan Nepal. sementara Nepal mengalami kenaikan 20%. spora Clostridium tetani yang masuk melalui luka tali pusat.Pada tahun 2008. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan. Tetanus pada bayi. 4. karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan. dikenal dengan istilah Tetanus Neonatorum. 163 .

sementara Indonesia justru berada di urutan ke-5. imunisasi polio membutuhkan 3 dosis.Pada tahun 2008. Maka untuk mengukur keberhasilan upaya kesehatan yang digunakan adalah polio3 yaitu ketika bayi telah mendapatkan imunisasi polio sebanyak 3 dosis (3 kali). vaksin lain yang wajib diberikan pada bayi adalah polio. angka tertinggi kasus tetanus neonatorum terjadi di Kamboja. dan campak. Imunisasi polio merupakan imunisasi untuk mencegah penyakit polio. Sedangkan di Bhutan.158. Berdasarkan Vaccine-Preventable Disease Monitoring System 2009. yaitu 811 kasus. Akan tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. salah satunya adalah mempertahankan cakupan imunisasi campak sebesar 90%. baik dari jumlah kasus maupun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk. BCG seringkali digunakan sebagai cerminan proporsi anak-anak yang dilindungi dari bentuk tuberkulosis yang parah selama 1 tahun pertama hidupnya. campak adalah penyebab utama kematian anak. imunisasi campak 164 . Dari 22 tujuan yang disepakati dalam pertemuan dunia tentang anak.57. Jumlah kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi di negara-negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6. BCG. UPAYA KESEHATAN 1. Beberapa imunisasi yang wajib diberikan pada bayi adalah imunisasi polio. Cakupan Imunisasi Imunisasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah kematian pada bayi dengan memberikan vaksin. dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia dan Filipina yang melebihi 100 orang. Indonesia dan Bangladesh menempati urutan kedua dan ketiga terbesar dengan masing-masing 183 dan 152 kasus. Di antara penyakit pada anak-anak yang dapat dicegah dengan imunisasi. India tetap menjadi negara di urutan pertama dengan angka 1. dan juga digunakan sebagai salah satu indikator akses ke pelayanan kesehatan. Thailand merupakan negara dengan kasus terendah.6. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor penting dalam mengurangi angka kematian balita. Korea Utara dan Maladewa dilaporkan tidak ada kasus tetanus neonatorum. Selain BCG. tahun 2008 pada kawasan SEARO jumlah kasus tetanus neonatorum yang terjadi di India jauh melebihi kasus di negara lain di kawasan ASEAN. Tidak seperti imunisasi BCG atau campak yang membutuhkan 1 dosis. Di seluruh negara ASEAN dan SEARO. Di Singapura dan Brunei Darussalam dilaporkan tidak ada kasus Tetanus Neonatorum. C. Tetanus Neonatorum terjadi di 8 negara ASEAN.

Indonesia dan Sri Lanka. Jika dibandingkan dengan imunisasi lainnya pada Gambar 6. 7 dari 10 negara anggota ASEAN telah mencapai target cakupan imunisasi polio3 sebesar 90%. cakupan imunisasi BCG pada bayi umumnya lebih tinggi. 6 dari 165 . Korea Utara. diasumsikan bayi yang mendapatkan imunisasi campak telah mendapatkan imunisasi lengkap. Cakupan tertinggi dicapai oleh Brunei Darussalam dan Thailand yaitu 99% dan terendah adalah Laos yaitu 60%. Di kawasan SEARO. Dengan demikian. Pada tahun 2008 cakupan imunisasi BCG tertinggi di antara negara anggota ASEAN dicapai Thailand dan Singapura 99% dan terendah Laos 68%. Hepatitis.17. dan Campak). Polio. Maladewa. Negara-negara tersebut adalah Thailand.17 CAKUPAN BEBERAPA IMUNISASI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber : WHO Immunization Summary. Berarti besarnya cakupan imunisasi campak juga menggambarkan besarnya cakupan bayi yang telah mendapat imunisasi lengkap. 7 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi BCG 90%. Bangladesh. Menurut sumber yang sama. Hal tersebut terjadi karena jadwal pemberian imunisasi BCG yang relatif lebih awal dibandingkan dengan imunisasi yang lain—bahkan beberapa negara memberikan imunisasi BCG sesaat setelah bayi dilahirkan—sehingga bayi masih dalam pantauan petugas kesehatan. 2010: A Statistical Reference Containing Data through 2008 Pada tahun 2008. GAMBAR 6. Bhutan.diberikan pada bayi usia 9-12 bulan dan merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada bayi di antara imunisasi wajib lainnya (BCG. Sedangkan Timor Leste merupakan negara dengan cakupan imunisasi BCG terendah yaitu 68%. DPT.

Hampir di seluruh negara ASEAN dan SEARO imunisasi hepatitis merupakan imunisasi dasar yang diberikan pada bayi. Empat negara tersebut adalah Brunei Darussalam (87%). 77% mendapatkan imunisasi polio3. Sementara pencapaian secara global temuan kasus TB Paru adalah 60% dan angka kesembuhan mencapai 84%. Enam negara ASEAN lainnya belum mencapai target penemuan penderita penyakit paru karena masih berkisar 43% . Hal tersebut berarti pencapaian kedua indikator tersebut belum mencapai target walaupun untuk angka kesembuhan hampir mencapai target. Cakupan 5 imunisasi dasar di ASEAN dan SEARO lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6. Bhutan. namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi di India. 2. bahkan beberapa di antaranya telah melebihi 90%. Korea Utara. Thailand merupakan negara dengan cakupan imunisasi campak tertinggi yaitu 98%. Negara-negara tersebut adalah Thailand. maka pada Lampiran 6. Negara-negara tersebut adalah Brunei Darussalam. Sedangkan India merupakan negara dengan cakupan imunisasi Campak terendah yaitu 70%. Sementara di Indonesia sebanyak 89% bayi telah mendapatkan imunisasi BCG. Indonesia (80%). Di kawasan SEARO. Singapura.67%.7 dapat dilihat hanya India yang merupakan negara dengan persentase rendah bayi yang mendapat imunisasi hepatitis3. 6 negara anggota ASEAN juga telah mencapai target imunisasi campak yaitu 90%. 5 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi Campak 90%. Di India imunisasi hepatitis bukan merupakan imunisasi dasar. 4 negara ASEAN telah mencapai target penemuan penderita yang ditetapkan WHO yaitu 70%.11 negara di kawasan SEARO telah mencapai cakupan imunisasi polio3 sebesar 90%. Cakupan imunisasi Campak di Indonesia 2008 sebesar 83%. Cakupan imunisasi polio tertinggi adalah Thailand 99% dan terendah adalah India dengan 67%. yaitu 21%. dan Malaysia (76%). Malaysia. Pada tahun 2008. dan 83% mendapatkan imunisasi campak. Sedangkan yang terendah adalah Laos dengan cakupan campak sebesar 52%. Maladewa dan Sri Lanka.7. Vietnam dan Thailand. Pada tahun yang sama. Filipina. Sedangkan negara-negara lain telah mencapai imunisasi tersebut di atas 60%. Pengendalian TB Paru WHO telah menetapkan target untuk temuan kasus TB Paru melalui strategi DOTS 70% dan angka kesembuhan 85%. 166 . Singapura (87%).

dan Thailand termasuk negara yang belum mencapai target penyembuhan penderita.18 PENEMUAN PENDERITA TB PARU DI NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 GAMBAR 6. Ada penurunan angka drastis pada tahun ini.19 terlihat bahwa 7 negara di kawasan SEARO telah mencapai angka penyembuhan penderita. Bangladesh yang pada tahun 2006 memiliki angka kesembuhan tertinggi (92%) turun menjadi negara dengan angka kesembuhan terendah (62%) di tahun 2007. Tertinggi dicapai Buthan dengan angka kesembuhan 93% dan terendah adalah Bangladesh dengan angka kesembuhan 62%. Singapura.19 terlihat bahwa Indonesia telah mencapai target yang ditetapkan terhadap indikator case detection rate (angka penemuan penderita) dan 167 . Indonesia termasuk salah satu negara yang mencapai target untuk angka kesembuhan ini. Brunei. Sementara itu. Pada Gambar 6. Angka kesembuhan tertinggi dicapai Kamboja dengan 94% dan terendah adalah Malaysia dengan 72%. yaitu 91%.19 ANGKA KESEMBUHAN TB PARU DI NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Sumber: World Health Statistic 2010 Sumber: World Health Statistic 2010 Menurut sumber yang sama.Dari 11 negara-negara di kawasan SEARO hanya 6 negara yang sudah mencapai target penemuan penderita Tuberkulosis. Negara dengan angka cakupan penemuan tertinggi adalah Maladewa dengan 86%. dari Gambar 6. GAMBAR 6. Malaysia.18 dan 6. Penemuan penderita tuberkulosis terendah terdapat di Timor Leste dengan cakupan 33%. pada tahun 2007 terdapat 6 negara di ASEAN dengan angka kesembuhan mencapai target (85%).

succes rate (angka kesembuhan). Bahkan untuk angka kesembuhan, Indonesia mencapai
angka tertinggi ke-2 di kawasan SEARO.

3. Sumber Air Bersih dan Sanitasi
Pada tahun 2008, di antara 10 negara anggota ASEAN (Brunei Darussalam tidak ada
data), penduduk yang menggunakan sumber air bersih yang telah mencapai 80% atau lebih
sebanyak 6 negara. Hanya Kamboja, Laos dan Myanmar dengan persentase penduduk yang
memiliki akses terhadap air bersih kurang dari 80%. Persentase tertinggi dicapai Malaysia
dan Singapura yaitu 100% dan terendah Laos dengan 57%.
Pada tahun yang sama, di antara negara-negara di kawasan SEARO hampir seluruh
negara dengan penduduk yang menggunakan sumber air bersih 80% atau lebih, kecuali
Timor Leste dengan persentase sebesar 69%. Negara dengan persentase tertinggi adalah
Korea Utara yaitu 100%.
GAMBAR 6. 20
PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SUMBER AIR BERSIH DAN
SARANA SANITASI SEHAT DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008

Sumber: World Health Statistics 2010

Berdasarkan Gambar 6.20 di atas terlihat bahwa di antara negara-negara di ASEAN
dan SEARO terdapat perbedaan persentase yang besar antar negara dengan penduduk yang
menggunakan sarana sanitasi sehat tertinggi dan yang terendah dengan kisaran 29% dan
100%. Negara dengan cakupan 29% adalah Kamboja dan negara dengan cakupan 100%
adalah Singapura. Dibandingkan persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih,
168

maka persentase penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat relatif rendah, masih
terdapat 10 negara di kawasan ini dengan penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat
di bawah 80%. Persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih dan sarana
sanitasi sehat di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.3.

4. Pelayanan Kesehatan Ibu
Dari 10 anggota ASEAN (Brunei, Laos, Malaysia dan Singapura tidak ada data),
Indonesia merupakan negara dengan persentase pemeriksaan ibu hamil (K4) tertinggi yaitu
sebesar 81%. Sedangkan yang terendah tercatat di Kamboja yaitu sebesar 27%. Untuk
kawasan SEARO cakupan pemeriksaaan ibu hamil (K4) tertinggi dicapai oleh Korea Utara
yaitu sebesar 95%, diikuti oleh Maladewa (91%), dan yang terendah adalah Bangladesh
sebesar 21 %.
Cakupan pertolongan persalinan di negara-negara ASEAN bervariasi dengan cakupan
tertinggi di Negara Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia masing-masing sebesar
100% dan yang terendah di Laos dengan cakupan 20%. Indonesia dengan cakupan salinakes
73% berada pada peringkat ke-6 dari 10 negara. Untuk kawasan SEARO cakupan salinakes
tertinggi dicapai oleh Thailand dan Sri Lanka yaitu sebesar 99% dan yang terendah di
Bangladesh sebesar 18%.
Persentase peserta KB aktif pada wanita subur tahun 2009 di negara-negara anggota
ASEAN (Brunei Darussalam dan Malaysia tidak ada data) yang tertinggi dicapai oleh
Thailand dengan cakupan sebesar 70%, dan yang terendah di Kamboja sebesar 27%.
Indonesia dengan cakupan peserta KB aktif sebesar 57% berada pada peringkat ke-3 dari 10
negara ASEAN. Untuk negara-negara anggota SEARO cakupan peserta KB aktif tertinggi
dicapai oleh Thailand sebesar 70% dan yang terendah di Bangladesh sebesar 18%.

***

169

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2006. Estimasi Parameter Demografi SUPAS 2005. BPS, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2005. BPS, Jakarta.
___________. 2007. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2006. BPS, Jakarta.
___________. 2008. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2007. BPS, Jakarta.
___________. 2009. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2008. BPS, Jakarta.
___________. 2005. Beberapa Indikator Penting Sosial-Ekonomi Indonesia 2005. BPS,
Jakarta.
___________. 2007. Beberapa Indikator Penting mengenai Indonesia. BPS, Jakarta.
___________. 2010. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.
BPS, Jakarta.
___________. 2010. Analisis Dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan 2010. BPS, Jakarta.
___________. 2004. Statistik Indonesia 2003. BPS, Jakarta.
___________. 2005. Statistik Indonesia 2004. BPS, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Indonesia 2005/2006. BPS, Jakarta.
___________. 2007. Statistik Indonesia 2007. BPS, Jakarta.
___________. 2004. Statistik Kesehatan 2004. BPS, Jakarta.
___________. 2008.. Pedoman Millenium Development Goals. BPS, Jakarta.
___________. 2008.. Press Release BPS 2008: Jumlah Kemiskinan. www.bps.go.id, Jakarta.
___________. 2010.. Berita Resmi Statistik, BPS, No. 45/07/Th. XIII, 1 Juli 2010.
___________. 2010.. Data Strategis BPS, BPS, Jakarta.
___________. 2010.. Hasil Sensus Penduduk 2010, Data Agregat Per Provinsi, BPS, Jakarta.
170

Badan Pusat Statistik (BPS) dan Macro International, 1998. Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 1997. Calverton, Maryland, USA.
___________. 2003. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003.
Calverton, Maryland, USA.
___________. 2008. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. Macro.
Calverton, Maryland, USA.
Badan Pusat Statistik, BAPPENAS, UNFPA. 2005. Proyeksi Penduduk Indonesia (Indonesia
Population Projection 2000 - 2025). BPS, Jakarta.
Kementerian Dalam Negeri. 2010. Kode Dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
2010. Depdagri, Jakarta.
www.depdagri.goid
Kementerian Kesehatan. 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
___________. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar, RISKESDAS Indonesia Tahun
2007. Depkes, Jakarta.
___________. 2008. Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
2008. Depkes, Jakarta.
___________. 2008. Profil Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan 2007.
Depkes, Jakarta.
___________.2008. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) KIA, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
___________. 2006. Profil Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumberdaya Manusia
Kesehatan 2005. Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 1: Kegiatan Pelayanan.
Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 2: Ketenagaan. Depkes, Jakarta.
___________. 2006.Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 3:Morbiditas/Mortalitas.
Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Profil Pendidikan Tenaga Kesehatan Tahun 2006. Pusdiknakes, Depkes
RI, Jakarta.

171

___________. 2005. Publikasi Hasil Analisis Data Survei Kesehatan Nasional 2004. Badan
Litbangkes, Depkes RI, Jakarta.
___________.2005. Pencegahan dan Pemberantasan DBD di Indonesia, Dirjen PPPL
Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
___________.2000. Indonesia Sehat 2010, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
___________.1996. Publikasi Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995. Badan
Litbangkes, Jakarta.
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2010. Strategi Nasional
Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal 2004-2009. Jakarta.
USAID, 2008. The World Population Data Sheet. Population Reference Bureau.
The United Nations Development Programme. 2008. Human Development Report
2007/2008. UNDP, New York.
UNAIDS. 2008. 2008 Report on The Global AIDS Epidemic. UNAIDS/WHO.
UNICEF. 2008. The State of the World’s Children 2008. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2009. The State of the World’s Children 2009. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2008. Incidence Series Immunization 2007. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2008. Immunization Summary: The 2007 Edition. UNICEF/WHO, New York.
WHO. 2008. World Health Statistics 2007. WHO Press, Geneva.
___________. World Health Statistics 2008. WHO Press, Geneva.
___________. 2008. WHO Vaccine – Preventable Diseases, Monitoring System. WHO, New
York.

***

172

Lampiran 2.1

PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kepulauan Bangka Belitung
Kepulauan Riau
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Maluku
Maluku Utara
Papua Barat
Papua

Indonesia
Sumber: Kementerian Dalam Negeri, 2010

Kabupaten

Kota

Pembagian Wilayah
Kabupaten + Kota

Kecamatan

Kelurahan + Desa

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

18
25
12
10
9
11
9
12
6
5
1
17
29
4
29
4
8
8
20
12
13
11
10
11
10
21
10
5
5
9
7
10
28

5
8
7
2
2
4
1
2
1
2
5
9
6
1
9
4
1
2
1
2
1
2
4
4
1
3
2
1
0
2
2
1
1

23
33
19
12
11
15
10
14
7
7
6
26
35
5
38
8
9
10
21
14
14
13
14
15
11
24
12
6
5
11
9
11
29

275
408
169
153
128
217
116
206
43
59
44
625
573
78
662
154
57
116
286
175
120
151
136
150
147
301
199
65
66
76
109
149
330

399

98

497

6,543

6,420
5,649
964
1,500
1,319
2,869
1,442
2,358
361
331
267
5,827
8,577
438
8,502
1,530
698
913
2,775
1,777
1,439
1,973
1,404
1,510
1,712
2,874
1,825
595
564
898
1,041
1,291
3,583

75,226

119 3.926 21.268 1.749 588.868.687 3.021.247 1.626.730 3.441.645 402.507.556.157.569 1.336 1.202.551 2.008 1.746.203.700 577.928 1.230.478 760.048.698 9.663 3.989 1.149.987.115 1.596.280 3.341.633.791.088.290 5.120.Lampiran 2.284.618 7.688.147.024 2.316.265 821.170 2.284 773.428 4.390 37.559 1.452.380.180.258 2.285 119.534 2.572 16.393.243.365 4.547 1.587 1.390 1.550.510.578 6.921.404.333 4.042 1.570 12.682.510.817 505.378 1.479.440.299.526 2.030 3.420 8.2 HASIL SENSUS PENDUDUK 2010 DAN RASIO JENIS KELAMIN MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 No Provinsi Laki-Laki Perempuan Laki-Laki dan Perempuan Rasio Jenis Kelamin (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Sensus Penduduk 2010.580 2.402 1.075 4.496.499 1.272 21.488.404 18.038.366 634.355.685.855 2.783 4.323.543.292 837.783 864.035.344 517.081.728.854.721 5.851.937 2.349.782 2.826 32.393 7.401 1.585 1.363 100 100 98 106 105 104 105 106 108 105 103 103 99 98 97 105 102 94 99 104 109 102 111 104 105 95 101 101 101 102 105 112 113 101 .876.992 6.986 18.891.705.338 3.446.052 757.644.740 1.714 118.110.316 4.168 2.855 4.054.721 1.878 1. BPS 2.239 2.011 10.789.486.833 358.859.476.885 581.783 1.690.687 2.543 1.242.961.586 2.578.905.472 2.108.158.599 3.031 3.109 875.225 520.243.265.225 3.679.506.588.999 237.930.834.657.254 16.191 1.140 1.198 43.585 529.713.985.531.223.845.195 4.145.111.051 2.048 1.998 5.032.196 1.

363.792.248.80 1.313.05 2.32 115.501.16 91.92 5.045.662.350 1.532 2.142 2.372 517.994 743.444.841.006 481.890 1.480.57 1.501.926.919.592.930 2.654.742. Depkes RI.010.75 9.217.79 2.415 389.68 0.2011".572.257.138.087.864.574.085.438 737.01 3.3 LUAS WILAYAH.924 1.659 2.89 87.268 1.298.592 100 121 1.132 3.377.45 1.06 8.646 1.depdagri.43 19.688 16.565 32.695 3.510.551.353 2.135.307.463 600.650.55 2.316.090 2.181.339.298 9.570 3.816 3.70 1.485 537.118.48 38.009 41.788 486.093.753 3.910.695 777.246 3. 2009.479 13.491.69 3.246 9.177 1.18 46.222.137.868 1.023.266 4.843.201.094.34 1. .780.81 1.78 2.925 1.554 1.075 20.192.035 819.13 2.908.978 5.32 48.877 16.69 1.755 2.72 664.27 319.223 2.20 2.Lampiran 2.412 3.794.86 1. dari "Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2007 .13 0.228.531 1.980 4.989 1.983 1.647 231.76 32.491.047.80 16.914.66 50.27 1.584 530.948 1.165 7.520.082 2.956 1.666.672.758.539 4.133 1.744.067.60 1.434.617 1.588 998.987 18.753.171.110 6.781 3.800.06 18.id (b) Badan Pusat Statistik: Estimasi Penduduk Sasaran Program Kesehatan.534.851.594.551.623. JUMLAH PENDUDUK DAN KEPADATAN PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Luas Wilayah (Km²) (a) (3) Jumlah Penduduk (Jiwa) [b] Laki-laki (4) Perempuan (5) Total (6) Sex Ratio Kepadatan Penduduk Per Km² Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2008-2009 (7) (8) (9) 57.931.956.369 6.496 493.502 974.939.036.223.50 38.654.282 4.814.29 46.572.564.46 1.725 661.799.787.579 353.298 983.380.759 4.873 37.799 2.52 1.819.34 13.10 1.702.857 2.619.547.527 2.46 1.817.389.35 Sumber: (a) http://www.11 1.64 61.863 2.07 16.018 678.03 31.29 0.087.88 1.794.00 153.306.43 2.716 2.200 2.602 847.916 7.202 1.661 4.012.515.199 1.go.309 2.725 1.012 4.945 2.024.50 97.12 1.020 4.447.01 35.827.23 42.637 1.319.424.934 20.661 1.267 7.482 99 99 97 111 104 102 103 104 112 95 96 102 99 101 98 102 102 92 99 102 109 101 110 104 104 93 97 102 102 103 102 110 108 75 182 115 61 57 79 84 216 69 185 13.496.164.10 147.83 1.23 204.118 780 1.286.056 1.511.64 4.058.70 11.391 4.886 18.369.31 1.743 1.002 1.982.133.320.262.17 1.759.00 72.072.717.15 47.945 115.012 614 239 95 29 14 90 15 161 40 169 56 87 62 29 30 8 7 1.21 1.981.120.572 4.718.607 1.149 1.173 1.33 34.097.782.741.834.670 3.43 3.510 497.

46 1.4 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 1971 .39 2.84 2.98 3. 1990.26 1.88 2.86 1.94 1.79 2.16 5.97 1.21 1.73 2.17 2.59 2.33 2.60 2.85 1.81 1.99 1. 1980.82 1. Sensus Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995 dan Sensus Penduduk 2010 .65 3.63 4.48 3.67 2.29 2.08 0.10 1.76 2.49 1.35 1.18 0.87 1.32 4. 2000.17 2.72 2.66 2.02 0.77 3.03 0.59 0.24 2.31 3.34 3.43 2.Lampiran 2.66 1.37 1.95 2.64 1.46 1.35 1.49 1.62 4.72 5.60 2.64 2.57 1.55 1.18 2.49 3.97 0.57 1.74 1.30 3.89 0.67 2.06 0.70 3.74 3.42 1.07 2.42 3.91 1.42 2.72 0.15 1.38 2.08 1.80 1.32 0.15 4.31 1.79 3.69 2.22 1.23 3.39 5.99 1.66 1.67 2.44 3.93 2.49 Sumber : Sensus Penduduk 1971.17 0.94 0.78 2.17 2.15 1.46 1.31 2.36 1.39 1.88 2.14 4.31 3.98 1.06 1.09 2.32 4.2010 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1971-1980 Laju Pertumbuhan Penduduk 1980-1990 1990-2000 2000-2010 (3) (4) (5) (6) 2.57 1.40 3.07 3.21 3.11 1.15 1.45 2.11 4.93 2.79 2.

369.267 49.611 1.500 97.677.165 49.588 1.600 27.301 683.115.222.316. dari "Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2007 .178 20.501 1.672.833 5.520.444.262.000 165.302 27.798 1.63 18 Nusa Tenggara Barat 693.900 412.31 24 Sulawesi Utara 275.110 1.47 27 Sulawesi Tenggara 352.703 86.800 1.056 1.301 1.149 468.267 353.602 1.414.702 42.983 958.08 26 Sulawesi Selatan 1.075 1.087. .000 81.020.876.482 48.515.431 1.554 657.527 3.480.799 308. KELOMPOK UMUR TERTENTU.670 489.407 2.748.989 112.138.485 2.53 28 Gorontalo 146.319.740 1.309 4.21 6 Sumatera Selatan 1.459.61 11 DKI Jakarta 1.063 32.049 4.501 141.101 1.203 115.551.702.255.069 486.801 13.570 47.199 1.572.857 48.585 1.320.539 467.400 237.698 69.302 30.228.843.090.276 4.333.588 20.800 1.510.000 854.201 23.23 9 Kepulauan Bangka Belitung 162.978 55.203 60.300 6.924 4.572.467 18.511.085.000 1.906 392.753 410.402 184.260.431.127.494 537.08 8 Lampung 1.601 14.646 8.582.402 75.041 16.178.806 661.766 41.200 3.414 1.181.908.807 35.574.503 16.496 210.500 698.619 78.499 970.245.759.301 3.510 352.67 17 Bali 423.503 50.899.489 1.661 59.122.300 126.270 3.350 2.163.344.563.792.102 26.221.904 22.177 1.298 57.199 617.527.010.090 692.603 2.299 1.300 779.26 12 Jawa Barat 5.608 3.999 1.085.566 1.527 50.415.956 48.498 738.727 157.901 53.157 2.810.003 129.292 1.359 743.002 1.987 634.598 2.094.602 4.34 14 DI Yogyakarta 325.00 30 Maluku 220.532 51.801 30.022 16.898 81.500 20.202 262.103 59.389.383 3.507.503 181.544.087.169.118.654.251 1.572 729.001 28.205 94.415 156.61 23 Kalimantan Timur 462.502 11.298.786.617 299.499 162.141 4.797.836.298 49.701 21.339.496.782.001 31.950 1.637 50.967.725 298.945 30.351 2.799 45.695 311.028.700 32.203 1.647 62.794.719.118 530.834.565 47.39 33 Papua Indonesia 331.69 31 Maluku Utara 162. Kemenkes RI.405.601 1.801 348.434 3.801 29.219.500 140.199 660.508.298 14.451.401.945 735.082 2.292 1.369 655.079 18.948 49.411.282 648.598 62.705 112.108 78.801 22.603 17.759 233.751 983.200 801.491.445 1.000 5.200 1.057.313.100 35.925 1.433.563 2.788 704.489.825 6.014.622 517.599 48.044 847.03 10 Kepulauan Riau 233.964 11.503 760.701 148.814.201 1.223.197.838.801 2.093.743 50.205.035 2.802 6.139 5.802 60.400 2.741.110.592 47.444 7.434.400 432.934 2.886 308. ANGKA BEBAN TANGGUNGAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Laki-laki No Provinsi Perempuan Kelompok Umur (Tahun) Laki-laki + Perempuan Kelompok Umur (Tahun) Kelompok Umur Jumlah (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 4 0-14 15-64 65+ (3) (4) (5) (6) Angka Beban Jumlah 0-14 15-64 65+ (7) (8) (9) (10) Jumlah 0-14 15-64 65+ (11) (12) (13) Tanggungan (14) (15) 678.360 737.199 75.380.199 501.703 265.877 11.666.304 38.009 37.203 2.118.475 4.937 600.22 19 Nusa Tenggara Timur 772.5 JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN.547.078 9.347.082 1.171.410.047.984.563.869 2.326 2.133 46.875.661 537.802 1.106 173.659 826.400 1.602 327.223 1.531 904.200 1.939.105 136.507 2.004 323.028.899 998.402 11.688 5.304.599 42.200 311.363.336.164.148.301 13.499 486.605 6.100 1.501.801 70.062.200 316.711 4.201 2.601 234.654.100 224.400 366.479 53.083.045.75 5 Jambi 426.701 2.873 37.401 2.504 101.158.200 69.660.71 Sumatera Barat 740.246 238.412 837.132 45.601 24.401 679.061 3.816 48.431 1.373.69 25 Sulawesi Tengah 370.795 678.018 141.939.018.501 3.827.385.817.138.562.201 4.266 7.001 233.600 815.106.200 930.389.374.012 42.424 4.600 14.601 2.657.799 734.020 54.65 15 Jawa Timur 4.801 160.969.192.998 36.434.695 359.901 127.619.372 283.425.576.716 1.142 52.35 2.551.33 31.463 1.301 25.902 76.102 1.703 1.602 1.87 16 Banten 1.900 17.802 2.118 1.794.901 78.80 32 Papua Barat 118.299 11.800 3.192.248.092 389.16 22 Kalimantan Selatan 489.742.930 1.012.491.447.502 56.700 525.114 493.203.407.819.048.003 317.663.268 442.725 2.600 422.901 322.607 789.299 333.613 1.703 159. 2009.260.496.101 2.303 214.584 137.901 3.399 1.438 148.401 267.189 2.500 3.682 497.800 3.306.863 42.699 1.292.932 777.698 115.301 108.370 819.907 17.357 1.16 21 Kalimantan Tengah 318.806 168.650.799 113.006 431.397.137.302 5.152.273.601 151.45 20 Kalimantan Barat 672.689.23 Sumber: Badan Pusat Statistik: Estimasi Penduduk Sasaran Program Kesehatan.591.657 4.883 1.997 1.635 4.900 566.281 1.101 2.501 2.229.579 318.654 4.308.899 1.802 625.504 102.845.509 9.202 58.Lampiran 2.001 1.400 13.402 47.781 50.504 319.264.507.799 264.520.260.901 48.803 2.451.391 54.217.298 39.061.90 7 Bengkulu 250.79 29 Sulawesi Barat 156.901 156.723 2.041 2.798 131.900 1.097.897.399 2.755 711.527.329.501.149.124 2.373 1.200 1.901 661.500 4.901 231.353 403002 1.492.400 1.471.498 1.299 848.926.277 481.874 4.391 974.701 8.223.318.499 551.286.864.634 7.753.998 153.988 2.072.758.504 521.499 669.098 7.168.2011".868 231.801 1.500 2.801 28.454.980 3.546 37.199 1.952 2.568.104 44.997 3.901 1.902 968.616 2.503 287.994 55.699 350.100 2.135.846.581 6.111.601 1.357 1.21 Riau 888.55 13 Jawa Tengah 4.500 1.665 2.201 4.594.120.246 39.182 2.468 3.251.017 2.186 13.916 49.319 7.

78 9 7 77.89 9 8 88.24 20 Kalimantan Barat 12 9 75.00 15 6 40.57 23 12 (17) 52.00 10 6 60.52 29 19 65.57 35 0 0.00 6 0 0.37 19 9 47.43 24 Sulawesi Utara 9 2 22.89 10 8 80.00 10 8 80.82 Sumber: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.52 29 27 93.67 9 7 77.43 14 10 71.05 38 8 21.82 11 9 81.00 8 2 25.00 5 0 0.33 15 2 13.19 23 16 69.18 3 Sumatera Barat 19 9 47.46 14 3 21.18 11 0 0.29 7 1 14.64 11 7 63.11 9 1 11.00 5 2 40.18 12 2 16.00 14 7 50.69 26 2 7.00 10 8 80.00 19 Nusa Tenggara Timur 16 15 93.57 23 16 69.73 31 Maluku Utara 8 6 75.86 7 3 42.05 38 5 13.2010 2006 No Provinsi (1) (2) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal 2007 2008 (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (8) 2009 2010 (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (11) (12) (13) (%) (14) Jumlah Kabupaten Kab/Kota Tertinggal (15) (16) (%) (3) (4) (5) (6) (7) (9) (10) 1 Aceh 21 16 76.57 23 16 69.67 10 6 60.80 495 199 40.38 13 2 15.67 7 Bengkulu 9 8 88.43 14 3 21.37 19 8 42.00 11 7 63.00 14 10 71.78 9 6 66.82 11 10 90.00 14 DI Yogyakarta 5 2 40.00 14 7 50.67 27 Sulawesi Tenggara 10 8 80.05 38 8 21.00 12 8 66.86 7 1 14.38 13 2 15.67 12 8 66.67 7 1 14.00 8 2 25.00 8 Lampung 10 5 50.69 26 2 7.16 16 Banten 6 2 33.67 6 4 66.00 14 7 50.37 19 9 47.00 10 2 20.86 7 3 42.43 14 3 21.00 30 Maluku 8 7 87.11 9 1 11.29 10 Kepulauan Riau 6 1 16.67 12 8 66.Lampiran 2.57 35 3 8.00 5 2 40.00 10 7 70.69 26 2 7.52 23 13 56.52 24 13 54.78 10 7 70.00 6 Sumatera Selatan 14 6 42.78 32 Papua Barat 9 7 77.00 25 Sulawesi Tengah 10 9 90.00 11 5 45.00 10 9 90.11 9 1 11.73 33 Papua Indonesia 20 19 95.43 21 20 95.00 5 5 100.11 4 Riau 11 2 18.69 13 Jawa Tengah 35 3 8.14 22 Kalimantan Selatan 13 0 0.00 11 9 81.43 14 3 21.00 28 Gorontalo 5 4 80.86 15 6 40.67 12 0 0.00 28 6 21.33 15 3 20.20 497 199 40. 2010 .57 8 2 25.29 7 2 28.67 9 6 66.00 5 2 40.00 9 6 66.17 2 Sumatera Utara 25 6 24.17 24 13 54.43 33 6 18.45 14 5 35.64 11 8 72.57 11 DKI Jakarta 6 0 0.17 24 4 16.00 12 Jawa Barat 25 2 8.67 6 3 50.00 17 Bali 9 1 11.86 7 3 42.50 9 7 77.38 23 Kalimantan Timur 13 5 38.23 465 199 42.91 26 Sulawesi Selatan 23 13 56.00 26 2 7.18 11 2 18.00 21 19 90.11 9 0 0.33 7 2 28.18 33 6 18.64 11 8 72.75 20 15 75.00 15 7 46.38 15 2 13.38 13 2 15.18 33 6 18.00 29 Sulawesi Barat 5 5 100.00 15 Jawa Timur 38 8 21.00 5 5 100.29 14 10 71.00 11 2 18.43 21 Kalimantan Tengah 14 7 50.71 14 4 28.43 14 9 64.67 6 1 16.00 6 0 0.78 11 7 63.67 12 9 75.00 6 4 66.37 19 9 47.71 14 5 35.43 21 15 71.22 13 2 15.57 35 3 8.00 18 Nusa Tenggara Barat 9 7 77.18 11 2 18.00 15 6 40.57 9 Kepulauan Bangka Belitung 7 3 42.48 29 19 65.00 5 5 100.00 8 6 75.00 14 1 7.00 6 0 0.00 5 5 100.04 497 183 36.67 6 4 66.10 440 199 45.05 38 8 21.00 13 2 15.00 5 Jambi 10 2 20.00 21 15 71.18 11 2 18.6 JUMLAH DAN PERSENTASE DAERAH TERTINGGAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .57 35 3 8.00 6 0 0.

317 199.025 19 Nusa Tenggara Timur 218.450 164.158 234.596 207.617 21 Kalimantan Tengah 209.354 277.107 199.901 156.538 181.526 185.123 179.XIII.583 28 Gorontalo 173.546 261.416 33 Papua 285.210 256.873 162.732 190.881 166.241 153.236 182.612 22 Kalimantan Selatan 216.271 184.787 261.843 10 Kepulauan Riau 308.225 200.661 190.945 246.478 156.241 189.796 142.472 224.742 11 DKI Jakarta 316.809 261.070 157. 45/07/Th.624 174.516 178.Lampiran 2.913 199.772 25 Sulawesi Tengah 217.712 189.735 192.251 178.191 20 Kalimantan Barat 194.306 210.241 3 Sumatera Barat 248.461 176.109 212.727 222.815 174.193 191.381 7 Bengkulu 242.838 201.469 4 Riau 265.351 210.428 249.466 18 Nusa Tenggara Barat 213.850 156.706 211.059 195.506 24 Sulawesi Utara 193.312 182.185 23 Kalimantan Timur 283.525 201.734 188.898 2 Sumatera Utara 234.835 246.751 175.653 26 Sulawesi Selatan 177.378 266.872 142.224 30 Maluku 230.936 - 283.317 16 Banten 212. 1 Juli 2010 .500 32 Papua Barat 304.189 29 Sulawesi Barat 175.750 17 Bali 211.238 198.515 14 DI Yogyakarta 228.812 9 Kepulauan Bangka Belitung 272.257 217.965 316.730 269.478 169.310 178.978 15 Jawa Timur 202.707 226.481 5 Jambi 244.529 182.262 Indonesia Sumber: Berita Resmi Statistik No.554 161.157 202.628 188.003 196.715 27 Sulawesi Tenggara 175.936 12 Jawa Barat 203.866 163.168 175.771 31 Maluku Utara 226.084 8 Lampung 224.623 6 Sumatera Selatan 247.7 GARIS KEMISKINAN MENURUT PROVINSI DAN DAERAH (MARET 2009) No Provinsi (1) (2) Garis Kemiskinan (Rupiah/Kapita/Bulan) Perkotaan Perdesaan (3) (4) Perkotaan + Perdesaan (5) 1 Aceh 292.985 13 Jawa Tengah 196.

910.20 5.89 10.38 13.4 32.014.1 7.90 11.0 28.0 223.Lampiran 2.5 141.00 11.20 7.178.3 3 Sumatera Barat 127.9 1.304.8 137.3 176.89 11.72 15.3 9.92 7.43 11.58 7.8 12.0 33.22 6.52 20.3 474.249.167.3 - - 379.8 22 Kalimantan Selatan 23 Kalimantan Timur 81.6 225.0 20 Kalimantan Barat 127.0 733.4 489.4 2.8 35. 1 Juli 2010 .19 5.0 21 Kalimantan Tengah 45.6 25.3 18.34 10.06 4.0 128.1 435.60 23.55 5.8 130.53 10.6 117.5 861.3 96.3 140.24 4.16 16.94 15.6 906.2 10.18 3.70 13.2 164.93 18.1 434.90 8.68 24.0 577.983.3 2.61 15.6 6.5 35.23 4.9 9 Kepulauan Bangka Belitung 36.0 268.21 5.0 6.00 43.20 19.6 19.3 4.1 28 Gorontalo 27.1 26 Sulawesi Selatan 150.77 9.2 36.99 8.3 6 Sumatera Selatan 514.4 45.07 21.8 552.5 67.5 979.17 3.5 324.9 697.3 345.62 36.6 735.3 20.8 107.080.30 14.226.3 8.78 7.43 6.1 25 Sulawesi Tengah 60.322.7 246.4 260.24 34.8 1.4 7.531.8 130.76 13.6 30 Maluku 44.2 200.36 21.59 8.7 470.9 477.5 - - 312.9 18 Nusa Tenggara Barat 560.16 7.6 65.3 1.30 11.2 308.70 17.9 19.7 43.80 6.8 963.6 114.7 8.0 1.41 18.7 9.0 761.6 17.41 6.50 14.8 173.74 16.2 524.1 434.70 6.2 301.20 14.5 463.71 25.529.7 20.31 11.963.9 237.7 132.0 181.2 23.90 12.XIII.499.6 312.4 13.7 10.77 20.9 62.99 18.1 79.0 408.1 37.6 27 Sulawesi Tenggara 27.3 2.18 6.10 22.6 585.7 5 Jambi 120.32 10.1 1558.1 83.73 9.369.85 21.80 7.9 7.6 324.3 15.17 3.9 22.51 12.30 8.0 301.7 1.0 10.54 28.29 5.3 83.8 9.530.9 22.10 15.10 13.94 14.80 23.2 4.64 11.6 19 Nusa Tenggara Timur 119.873.82 11.9 6.7 107.70 23.7 38.0 174.5 116.0 346.19 7.2 206.7 8.7 20.10 31.06 15.89 11.22 16.6 150.6 688.5 68.44 46.0 17.17 21.5 256.0 439.20 9.1 122.4 1.40 10.60 4.0 5.77 11.3 165.773.28 18.2 348.70 18.725.7 763.2 129.10 5.3 616.0 54.20 19.00 3.6 136.0 6.479.7 13.452.08 7.19 6.9 734.5 21.9 176.0 91.93 18.26 8.8 76.09 23.5 286.5 130.00 16.7 115.40 5.1 16.08 9.7 6.8 493.3 Sumber: Berita Resmi Statistik No.3 25.0 701.10 15.73 14.9 209.4 98.7 11.61 8.50 4.6 117.8 435.44 17.96 5.67 10.72 11.1 8.874.4 11.8 207.62 16.20 5.2 445.20 8.6 23.7 181.0 2.8 JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT PROVINSI DAN DAERAH 2008 .2 816.48 23.7 83.0 220.9 378.53 18.0 429.33 10.5 182.4 892.1 732.63 9.7 8.8 1.1 11.1 428.16 46.78 5.5 313.2 340.4 1.8 215.6 16.06 4.0 381.3 91.3 9.613.35 10.66 6.5 77.8 12.76 19.75 6.098.619.5 10 Kepulauan Riau 69.655.31 22.10 27.617.2 291.3 1.7 241.5 26.148.98 7.25 34.2 248.7 31 Maluku Utara 9.10 12.9 47.0 20.20 20.6 28.6 50.208.3 29.75 9.59 5.6 1.64 2.1 206.4 32 Papua Barat 9.1 11 DKI Jakarta 379.74 25.60 19.18 4.05 30.6 21.0 14.3 408.1 1.5 26.3 8 Lampung 365.47 14.0 2 Sumatera Utara 761.51 12.00 22.633.7 158.03 16.85 4.6 31.90 26.9 1.8 54.3 18.25 14.34 13.009.60 17.20 15.70 12.6 9.8 17.7 794.7 221.97 21.39 13.651.3 471.89 23.9 239.556.8 110.31 16.031.7 35.36 14.7 17.63 27.051.2 3.00 14.6 24.8 1.7 100.5 9.90 11.0 341.3 274.50 5.0 292.2 456.1 65.1 5.16 13.9 194.5 208.85 15.60 10.2 15.9 19.08 8.79 10.3 107.9 430.18 5.3 380.66 43.7 256.70 7.350.80 18.423.022.04 11.70 11.6 391.1 93.2 62.50 7.420.50 10.5 7 Bengkulu 131.00 7.7 5.30 16.10 9.3 67.097.5 508.6 439.9 1.40 29.22 18.7 2.2 110.0 2.125.5 12 Jawa Barat 2.2 11.4 710.8 2.0 130.19 13.8 19.21 18.9 839.7 246.76 4.80 18.7 654.76 4.7 5.7 5.194.50 46.2 17 Bali 115.4 9.72 18.31 6.53 9.5 10.43 32.80 16.9 249.3 117.18 3.6 318.5 689.7 109.1 321.0 163.00 6.3 192.5 520.9 2.1 324. 45/07/Th.62 4.30 15.7 688.2 8.8 154.75 19.85 8.90 16.7 243.189.72 3.38 7.3 33.0 22.1 1.9 34.37 10.8 224.9 400.84 6.2 29 Sulawesi Barat 48.258.50 9.80 22.22 9.8 67.3 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 371.3 311.7 23.60 12.84 10.9 202.0 162.67 8.013.7 1.6 4.9 5.3 959.6 3.6 12.78 4.31 15.55 10.9 33 Papua Indonesia 31.70 35.35 10.3 18.2 2.7 788.925.4 758.50 16.60 13.7 105.705.7 24 Sulawesi Utara 72.5 86.30 5.7 79.44 12.90 17.3 3.02 9.0 349.1 140.3 124.2010) Maret Tahun 2008 No Provinsi (1) (2) Perkotaan Jumlah (ribu) (3) % Jumlah (ribu) (5) (4) Maret Tahun 2010 Maret Tahun 2009 Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (7) (6) Perkotaan % Jumlah (ribu) (9) (8) Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (11) (10) % Jumlah (ribu) (13) (12) Perkotaan % Jumlah (ribu) (15) (14) Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (17) (16) % Jumlah (ribu) (19) (18) % (20) 1 Aceh 195.37 14.72 16.5 106.3 323.48 10.73 9.8 760.9 527.25 8.5 4 Riau 245.10 5.6 7.3 349.8 557.8 420.768.3 3.60 7.0 903.9 913.79 6.1 89.2 342.7 22.28 33.8 11.50 11.3 119.3 1.4 9.6 - - 323.10 9.0 8.6 12.0 171.3 801.591.9 4.29 12.8 21.5 89.110.7 1.7 1.62 28.1 219.74 5.2 7.18 4.93 4.4 37.27 13.9 16.41 14.94 22.1 28.2 92.9 852.87 10.5 2.9 352.310.2 566.023.10 24.29 44.1 880.2 500.0 218.4 3.8 323.60 8.9 76.1 378.15 23.340.5 811.490.

99 99.80 74.18 97.51 95.47 92.76 94.70 93.10 95.25 95.29 94.69 95.74 92.34 95.53 91.80 87.Lampiran 2.46 95.15 96.98 89.49 98.51 97.30 97.25 85.22 80.26 97.60 93.34 89.54 92.14 81.46 92.41 93.42 95.68 83.82 99.76 95.96 89.04 96.94 97.56 97.26 92.80 95.21 94.89 95.32 98.04 90.31 95.99 95.57 75.66 88.52 95.85 87.61 93.46 90.24 94.24 90.94 70.50 92.38 98.45 95.18 87.71 87.45 96.92 87.90 93.43 93.00 97.86 90.89 84.35 91.19 92.96 93.34 94.53 89.47 85.36 97.96 84.32 97.59 97.28 95.87 98.18 87.68 99.70 97. 2010 94.51 99.58 .24 94.41 97.28 93.26 85.17 84.31 97.57 99.46 97.02 94.64 92.94 95.97 77.45 87.63 97.52 97.18 90.62 95.73 92.44 92.43 97.66 90.94 79.71 98.08 96.36 96.65 Laki + Perempuan (8) 94.19 88.81 98.77 84.68 97.16 93.27 95.09 98.24 98.15 87.70 94.17 66.61 98.81 98.50 97.69 95.50 84.27 97.51 87.23 94.63 95.04 92.63 93.89 98.9 ANGKA MELEK HURUF PENDUDUK BERUSIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2008 2009 Laki-laki Perempuan Laki + Perempuan Laki-laki Perempuan (3) (4) (5) (6) (7) 97.85 85.59 97.37 95.31 95. BPS.41 96.88 90.95 98.54 97.15 95.95 87.29 92.07 90.90 94.53 83.35 96.61 89.82 94.64 82.28 98.56 85.05 94.98 96.37 84.97 96.39 97.24 89.50 97.77 98.79 95.97 95.28 95.55 96.96 97.78 87.41 96.89 99.38 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.13 98.02 95.11 95.37 97.22 95.35 97.88 81.13 64.74 95.09 94.41 96.15 72.20 73.97 95.65 98.68 96.31 97.74 92.21 86.29 93.68 86.02 91.29 89.19 99.08 98.25 92.66 97.36 99.39 95.95 98.19 97.78 93.89 89.55 96.

5 7.2 7.6 7.0 8.3 7.3 7.0 7.2 7.8 8.1 6.8 8.0 7.5 9.5 8.6 8.2 8.6 7.Lampiran 2.8 9.1 8.0 9.10 RATA-RATA LAMA SEKOLAH (TAHUN) MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 2008 Perempuan Laki-laki+Perempuan Laki-laki 2009 Perempuan (3) (4) (5) (6) (7) 8.1 8.2 7.2 8.0 7.8 8.9 7.6 8.0 7.9 8.5 7.5 6.0 8.4 8.6 7.4 8.8 8.4 6.0 8.7 7.2 7.6 7.6 8.7 8.4 10.3 8.9 7.5 7.8 8.7 8.1 7.6 8.6 8.6 9.5 7.9 9.3 7.4 8.7 5.0 8.5 6.3 8.8 7.1 8.2 8.2 8.2 7.7 7.0 7.5 8.0 8.6 7.1 8.3 8.6 6.1 8.6 7.1 6.7 8.4 6.8 8.2 7.2 8.1 8.1 7.1 7.7 7.2 7.9 7.2 7.9 7.5 7.7 6.1 7.1 7.6 8.0 6.4 8.3 9.7 7.6 7.7 8.9 7.9 8.6 7.1 10.8 8.3 8.1 10.0 6.7 7.0 6.2 8.1 7.2 6.8 7.4 7.6 8.8 7.6 8.7 7.3 8.7 7.4 10.1 8.2 7.0 7.5 8.8 9.2 7.0 6.8 7.8 7.5 7.2 7.3 6.6 6.3 7.3 8.8 7.7 7.1 8.7 7.4 7.3 6.5 7.6 8.4 7.7 7.8 6.8 8. 2010 7.4 7.7 6.7 7.8 7.5 6.3 8.9 7.1 6.8 8.4 8.0 8.7 8.6 7.4 7.9 8.4 8. BPS.2 6.0 9.6 7.2 7.9 7.8 7.5 7.4 6.3 6.7 7.7 7.1 8.7 .9 8.6 7.2 7.2 6.3 8.1 5.5 8.0 6.3 7.5 7.3 7.0 7.8 7.6 7.3 7.8 7.8 6.2 Laki-laki+Perempuan (8) 8.2 7.7 8.7 7.0 8.1 8.8 8.0 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.

82 98.55 98.64 50.83 53.56 49.53 97.79 91.30 51.11 ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH*) MENURUT PROVINSI DAN USIA SEKOLAH (%) TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 7-12 thn 2008 13-15 thn 16-18 thn 7-12 thn 2009 13-15 thn 16-18 thn (3) (4) (5) (6) (7) (8) 99.59 97.68 90.87 65.55 87.83 91.90 98.64 79.70 91.84 72.91 86.74 66.76 84.88 98.07 56.58 72.55 88.65 49. 2010 Catatan : *) Termasuk Paket A.16 95.95 94.17 50.92 47.86 47.10 88.89 72.59 56.26 58.75 98. Paket B dan Paket C 94.98 91.50 99.50 86.69 96.00 80.53 96.59 98.12 58.38 97.96 64.63 97.07 98.42 97.10 84.13 54.50 97.52 96.28 88.88 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.75 91.82 97.17 45.95 49.59 93.87 97.80 93.20 80.43 88.11 97.09 91.35 97.43 85.57 77.06 98.95 47.85 93.73 65.47 72.22 84.55 95.78 88.35 63.76 98.83 84.95 99.59 73.55 78.65 87.19 48.09 97.36 97.20 89.75 81.26 90.54 81.70 98.31 91.13 78.27 92.07 85.71 56.46 81.62 98.45 97.57 97.15 91.72 97.51 55.78 84.77 43.27 58.24 98.85 98.62 61.41 80.22 98.42 79.34 65.12 95.10 90.62 61.71 97.26 96.84 50.16 .25 63.99 85.99 96.53 97.07 98.38 98.81 79.42 85.68 85.67 59.10 79.22 96.29 59.31 64.02 98.44 46.48 98.65 98.71 97.40 83.96 87. BPS.46 58.92 86.31 98.14 50.28 63.30 64.73 53.47 85.87 96.80 98.71 91.15 54.39 58.80 99.62 77.83 99.20 88.36 57.80 50.38 83.68 75.28 83.58 53.69 47.67 50.44 49.73 64.86 88.66 98.64 50.53 98.36 72.70 64.06 52.94 77.85 84.66 94.43 64.13 55.03 98.58 85.95 63.53 47.23 94.11 55.92 55.22 49.98 90.25 93.Lampiran 2.42 88.35 76.68 71.53 81.45 97.94 98.72 54.00 84.08 98.38 57.75 52.92 79.02 88.52 98.

05 29.80 522.37 499 0.201 249.030 58.542 42.868.14 159.69 3.14 31.761 20.749 67.11 43.48 306.29 2.100 4.105 19.95 61.200.721 284.563 290.97 24.32 793.250 50.820 16.877 12.22 100.198 97.126.029.84 1.292.86 814 8.00 1.55 232.85 983 1.88 98.511 340.54 13.351 0.325.00 886.609 100.431 44.862 8.77 10.93 32.803.63 37.340 65.250 1.45 5.97 85.17 3.239 7.46 4.632 35.474 62.128 26.43 25.77 27 0.07 87.13 5.869 6.11 235.86 29.00 21.00 1.783 10.103 13.833 71.090 1.312 20.570 16.59 173.25 543.518 54.302 39.42 185.649 53.11 22.336 3.734 60.827 0.842 28.507.631 80.67 745 0.81 5.35 201.866 6.261 44.618 51.536 30 Maluku 419.01 4.54 195.32 8.68 1.69 462.792 328.313 100.582 100.852 100.563 256.44 19.00 28.00 36.691 2.432 7.757 100.155 38.87 196.00 341.29 67 3.266 0.09 46.523 39.019 4.224 100.000 0.311 35.963 100.854.00 120.167 9.49 81.332 57.395 6.531 53.01 8.767 7.28 746.27 26.68 82.166.484 62.12 196.38 670.939.607 432.432 3.672 5.124 100.19 272.973.772 24.090 2.637 100.00 22.824 1.66 923.877 10.878 30.166 201.47 304.02 737 0.30 10.43 62.134 36.172 1.88 369.362.49 279 0.825 41.984 33.171 2.08 66.302 37.54 31.508 62.989 38.945 1.490 40.824.00 23 Kalimantan Timur 24 Sulawesi Utara 582.42 1.060 4.611 24.029 3.37 20.338 2.773 2.88 45.626 0.32 97.00 5.533 0.03 13.32 1.55 20.41 3.430 1.883 41.04 436.49 1.049.47 11.042 276.01 88.093 60.00 100.476 375.29 1.48 40.91 7.772 100.402 8.55 364.00 607.25 133.868 57.812 50.382 100.77 247.351 3.895 32.709 26.65 9.932 611.427 232.232 22.34 556.00 26 Sulawesi Selatan 1.19 20.190 100.393 16.14 36 0.77 73.125 22.29 .71 6.281 281.257 7.589 2.458 56.215 4.06 343.803.719 5.793 9.21 324 0.63 6.46 25.40 1.00 28 Gorontalo 267.00 11.196 28.46 2.12 1.217 2.541 41.71 935.931 6.142 8.035.82 1.949 535.79 32.775 0.315 81.765 50.225.627 16.596 0.515 36.705 81.019.382 1.12 PERSENTASE KELUARGA MENURUT JENIS SARANA AIR BERSIH YANG DIGUNAKAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan No Provinsi (1) (2) Jumlah Keluarga yang Ada (3) Jumlah Keluarga Diperiksa (4) % Keluarga Diperiksa (5) Ledeng Sumur Pompa Tangan Sumur Gali Penampungan Air Hujan Air Kemasan Lainnya Total Sarana Air Bersih Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 1 Aceh 1.503 52.884.73 3.044 11.00 41.66 168.540 100.710 34.899 6.780 82.00 1.437 0.61 582.876 58.13 3.59 4 Riau 5 Jambi - 35.04 9.61 242.00 13.680 24.43 27 0.167 4.943 6.00 10.10 461 0.219 46.054 3.408 26.47 224.46 25.14 61.04 16.12 207 0.19 685.621 60.16 5.00 6 Sumatera Selatan 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 2.29 11.354 64.00 37.911 22.312.237.910 57.070 1.70 291.17 61.33 253.027.425 5.041 2.468 48.207 22 Kalimantan Selatan 1.725 0.191 1.Lampiran 2.77 6.592 4.20 1.62 196.20 2.016 66.00 25 Sulawesi Tengah 457.101 18.92 788.312 3.49 713.057 1.393 100.953 100.83 473.748 0.17 2.48 5.017 1.608 0.441 100.791 45.501 18.031.46 811.77 1.38 73.289 16.59 86.625 38.428 7.772 48.338 5.628.547.348 3.516 100.01 271 0.00 8 Lampung 1.44 56.061 6.369 1.23 4.892 3.35 141 0.036 100.65 5.677 22.270 1.90 433.58 23.397 0.85 115.731 5.77 101.46 53.66 240.70 497.08 12.84 1.619 67.82 209.091.269 23.00 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 867.953 9.199 0.201 49.539 54.01 5.423 31.279 100.00 2 Sumatera Utara 3.216 0.17 28.00 21 Kalimantan Tengah 246.54 24.639 360.194 201.319 1.65 462 0.11 611 1.063 45.205 4.390 100.401 39.457 18.589 7.95 13.14 122.285 100.28 19.667 2.421 100.62 779.180 75.03 28.253 19.956 0.91 17.125 674.47 191.718 35.96 10.220 0.67 30.52 9.904 60.539 281.393 100.079 2.20 36.07 276.72 491.688 2.81 79.27 824.43 15.636.613 24.22 342.30 3.517.12 90.367 31.443 2.073 12.90 70.144 8.376.181 100.27 64.39 358.43 166.383 8.117 13.16 13.324 100.671 19.25 20.264.347 58.83 102.932 23.15 37.30 29.58 96.316.660 48.408.32 88.55 153.00 7.12 689.27 800 2.423.05 358.231 17.17 94.27 325 0.00 27 Sulawesi Tenggara 520.23 34.79 6.952.57 7.429 4.819 30.04 31 Maluku Utara 167.67 984.674 100.614 27.36 9 0.281 5.819 958.424 3.320 43.083 32.52 279.62 32 Papua Barat 180.069 98.532 4.00 734.85 127.19 1.00 29 Sulawesi Barat 248.993 93.00 3 Sumatera Barat 1.24 23.321 17.983.03 564.00 887.38 28.775 14.56 137 0.974 1.578 10.37 73.89 9.00 12 Jawa Barat 11.40 5 0.70 11.417 18.00 7 Bengkulu 436.78 3.67 1.92 90.632 75.766 1.129 100.728 2.55 173.00 100.737 2.637 1.31 292 0.82 4.29 475.610 18.72 5.531 2.74 11.00 576.43 134.631 100.29 1.06 279.39 35.672 100.787 39.994 66.923 100.765 10.225.651 1.29 172.813 12.208 2.59 52.171 37.18 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 27.20 607.137.841 0.075 322.09 448.11 40.59 22.86 2.49 131.995 9.033.36 10.690 100.00 48.764 15.49 2.752 38.489.72 601.452 4.338 0.419.649 68.184.811 13.273 61.477 9.78 1.150 1.905 24.899 100.

36 50.22 34.04 46.12 30.Lampiran 2.56 49.56 34.01 74.51 58.97 55.79 49.02 36.85 42.54 45.10 43.13 PROPORSI PENDUDUK DENGAN AKSES TERHADAP AIR MINUM YANG AMAN MENURUT PROVINSI DAN WILAYAH TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Perkotaan (2) (3) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen P2PL.81 41.50 43.16 45.38 71.30 60.00 45.13 59.71 28.51 39.47 59.75 48.25 27.97 76.64 65.19 62.04 61.70 27.02 40.96 45.44 47.18 32.33 40.81 40.53 33.59 34.99 44.47 65.74 55.82 (5) 29.20 53.71 44.38 55.77 55.03 43. Depkes RI Perdesaan Perkotaan + Perdesaan (4) 34.08 35.60 41.19 48.20 41.15 37.13 61.83 63.91 27.60 51.44 41.03 76.63 49.31 36.96 51.62 40.71 34.89 51.06 27.72 30.84 37.28 65.72 66.85 57.50 37.45 54.71 .29 36.45 58.28 48.46 45.61 54.74 34.76 76.66 43.54 57.12 44.35 71.13 43.54 51.59 59.29 45.56 55.53 39.42 41.49 44.46 39.79 40.01 63.14 35.20 39.92 55.18 39.28 53.

59 25.007 232.829 58.806 37.935 179.76 48.63 41.496.234 2.221 9.503 998.041 44.471 72.370 254.39 287.385 198.94 206.639 310.78 76.32 46.336 416.172 753.87 341.427 118.471.55 0.78 55.54 36.862 76.00 68.910 240.88 42.814 40.06 40.240.183 75.464 4.912 92.187 1.97 29.438 62.231 73.467.08 886.26 71.659 253.716 172.151.49 262.64 41.70 18 Nusa Tenggara Barat 1.012 414.43 880.23 3.79 19.047 8.131 488.10 4.237 63.592 4.847 16.315 566.443 2.786 171.858 (1) Jumlah KK Jumlah Sehat (4) 1 Aceh Provinsi Jumlah KK Memiliki Jumlah Sehat Pengelolaan Air Limbah Jumlah KK Memiliki Tempat Sampah Jumlah KK Diperiksa Jumlah KK Diperiksa Jamban No (18) 49.000 154.69 23 Kalimantan Timur 686.387 250.55 78.011.965 4 Riau 713.00 321.247 669.565 2.452 109.47 50.91 81.652.649 15.34 271.824.581 52.73 30.50 57.77 20 Kalimantan Barat 859.370 259.20 301.738 156.508 1.14 206.18 41.345 22.654 67.298 298.300 319.236 7.21 58.321 123.143.001 760.831 18.195 101.523 46.316.675 12 Jawa Barat 14.417 70.94 51.876 70.23 462.940 1.501 63.837 699.04 57.906 39.583 39.259 30.369 1.644 64.62 28.210 28.222 .56 % Sehat % Sehat (8) 104.246.64 32 Papua Barat 180.340 822.460 2 Sumatera Utara 3.167 4.885 51.133 85.028.34 87.227 51.059 138.10 22 Kalimantan Selatan 17 Bali 1.95 38.582 72.180 96.477 561.504 18.203 56.430 63.594 58.885 82.252 74.064 2.123 137.525 17.647 231.258.733 35.48 39.995 226.877 8.292.06 54.43 0.35 4.999 73.Lampiran 2.001 1.825 99.198 97.19 37.070 237.227.22 106.25 73.22 11.25 65.188 111.20 41.852 29.499 44.408 147.50 2.815 195.21 1.585 73.39 6.898 77.69 27.68 86.66 305.21 81.98 72.778 753.651 73.904 1.480 265.235 246.075 265.328.539 376.032 102.88 41.317 1.595 56.203 372.654 41.275 1.060 15.46 24.527 92.01 12.507.913 205.996 274.55 8.069 110.85 28 Gorontalo 267.63 79.78 64.75 310.20 41.967 219.419 370.763 64.809 25 Sulawesi Tengah 457.58 59.83 62.518 27.827 59.672 47.145 63.871 279.01 61.575 71.773 129.71 90.60 73.044 % KK Memiliki (7) 412.697 64.666 104.545 3.22 19 Nusa Tenggara Timur 867.607 349.23 73.65 66.33 37.68 30.513 7.146 89.427 306.010 265.26 49.678 173.643.429 622.992.398 189.99 293.86 665.97 295.180 13.075.29 46.92 13.32 70.15 293.80 34.004 70.837 73.618 113.717 177.34 67.291 59.21 24 Sulawesi Utara 582.708 239.64 73.023 12.96 83.49 282.569 100.16 3.00 311.35 81.203 (2) % KK Memiliki (5) 1.319 44.999 221.22 541.345 85.423 551.276 172.675 57.35 55.21 74.398 30.393 49.027 32.139 37.164 3.39 36.791 131.01 32.787 1.207.734.440 61.33 91.689 238.561 99.46 120.90 633.855 113.390 163.754 75.449 106.100.824 59.191.721 310.18 50.18 99.693.910 56.233 76.654 25.623 20.37 7.65 67.94 87.56 397.803.126 707.124 205.722 77.18 29 Sulawesi Barat 248.46 44.050 28.14 157.68 317.160 343.981 27.949 492.563 358.607 63.514 66.72 68.383 49.031.551 224.316 (3) % Sehat (6) 619.323 35.119 46.490 32.98 62.746.528.67 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 576.157 24.019 50.538 77.404 1.14 PERSENTASE KELUARGA DENGAN KEPEMILIKAN SARANA SANITASI DASAR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah KK Diperiksa Jumlah KK Memiliki Jumlah Sehat % KK Memiliki (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 66.82 301.860 173.59 53.272 25.78 56.95 45.85 90.22 82.17 2.504 77.30 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 48.136 403.339 61.27 391.55 13 Jawa Tengah 7.26 165.141 80.939 157.265 795.863 91.206 74.309 57.05 88.100 - - - - - 1.937 105.46 659.753 558.986 61.233 146.166 179.400 50.919 354.63 79.21 30 Maluku 419.190 500.769 76.570 20.952.63 55.843 116.47 21 Kalimantan Tengah 246.460 291.571.16 70.023 961.04 218.475 110.202 69.475 32.666 40.697 9.938 43.88 193.671 79.63 1.976.861 1.71 45.41 70.668 14.01 37.455 20.951 270.643 94.90 759.600 20.17 98.28 40.36 27 Sulawesi Tenggara 520.789.604 1.014 1.166.71 341.383 32.186.441.608 251.243 514.664 196.20 45.122 8.782 74.32 29.130 126.032 106.39 1.327 237.010 127.05 0.41 27.812.72 51.816 62.192 30.549 8.598 349.552 3.203 123.92 69.860 29.262.973.09 53.278.80 59.0298 14.38 36.88 43.51 64.982 45.067 64.60 75.680 260.281 406.173 47.485.746 71.287.69 1.549 270.849 75.945 1.46 56.721 104.005 5.997 26 Sulawesi Selatan 74.113.853 1.40 40.00 59.084.201 278.461 31.636.11 725.80 939.80 304.474.510 73.691 15.617 1.62 5 Jambi 734.382 194.42 195.417 387.488 80.869 96.778 375.197 15.416 83.620 542.028.625 624.29 31 Maluku Utara 167.58 295.17 41.38 14.539 125.736 170.18 6 Sumatera Selatan 70.669 106.646 14.17 163.598 471.93 62.974 1.411 252.61 14 DI Yogyakarta 887.27 15 Jawa Timur 16 Banten 10.462 340.99 49.511 342.83 335.819 857.480.248 74.891 205.213 216.130.168 794.676 197.563 216.428 74.87 73.632.397 128.87 109.980 242.304 58.836 79.368 4.656 11 DKI Jakarta 2.55 291.246 264.21 8 Lampung 1.755 384.01 7 Bengkulu 436.520 45.345 2.003 8.70 48.061.070 929.36 63.102 76.723 129.733 510.85 64.962.69 661.264.246 3 Sumatera Barat 1.22 1.050 200.517 66.541 42.164 6.71 79.884.97 78.158 23.096.39 357.73 30.071 41.32 69.034 22.088 392.194 202.640 20.308 74.688 16.

76 56.87 73.86 10.19 .50 85.58 45.60 63.63 30. Depkes RI Perdesaan Perkotaan + Perdesaan (4) 73.02 57.78 41.03 85.82 75.04 75.27 25.35 51.66 45.48 63.63 21.21 52.17 66.53 73.88 65.69 51.16 58.98 30.19 29.12 25.59 42.59 70.80 24.18 32.13 27.84 70.92 39.41 85.91 43.96 34.20 84.96 42.03 52.31 75.78 42.48 22.51 12.23 56.12 67.98 40.37 62.51 77.15 PROPORSI PENDUDUK DENGAN AKSES SANITASI DASAR YANG LAYAK MENURUT PROVINSI DAN WILAYAH TAHUN 2009 No Provinsi Perkotaan (2) (3) (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen P2PL.Lampiran 2.51 (5) 29.71 45.16 57.95 39.43 80.13 64.24 0.51 35.03 72.39 22.99 69.48 34.05 54.45 33.03 69.49 44.65 51.10 62.66 38.05 30.03 51.38 78.89 34.69 78.75 40.77 10.17 54.72 49.18 35.10 59.55 31.35 38.26 33.47 41.43 81.83 14.60 77.71 21.93 41.07 58.84 45.31 35.11 25.60 32.69 43.96 30.50 56.06 75.73 75.09 25.43 60.00 38.89 12.

36 35.33 52.706 20.01 64.26 40.744 766.54 54.268 128.402 170.427 11.475 58.291 13.328 687.577 702.257 161.518.160 100.57 56.982 380.195.836 347.866 227.181 313.549 354.91 50.56 44.75 29.57 37.098.78 79.048 222.883 1.103 468.102 148.275 509.578.00 41.048 2.941 292.437 44.112.93 63.521 332.67 64.484 4.263 223.963 116.835 705.51 72.48 60.351 716.216 1.345 208.71 39.66 53.198 53.590 230.142.371 63.782 887.959 775.63 40.349 1.603 1.123 71.378 500.031 311.36 204.98 26.85 39.78 66.12 34.569 344.343 1.003.059 337.482.368 324.025.479 116.74 53.14 73.29 81.96 53.85 61.67 61.420.741 270.559 1.281.316.90 73.82 35.90 22.467.024 741.635 1.251 522.13 59.884 196.16 32.55 66.390 13.68 62.509 2.613 280.463 294.515.35 57.82 31.185 431.888 948.000 242.46 62.210 516.879 494.240 479.978 2.634 266.509 257.58 45.19 56.16 PERSENTASE RUMAH SEHAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Rumah No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Jumlah % Jumlah % Seluruhnya Diperiksa Diperiksa Sehat Sehat (3) (4) (5) (6) (7) 690.648 110.23 56.25 80.315 744.40 69.959 3.102.307 175.950 224.796 187.12 51.580 9.075 88.055 523.608 97.611 98.074.526 62.49 .260 55.06 61.84 47.361 155.204 68.97 55.70 61.65 40.41 77.675 1.194 1.534 150.329 23.65 72.Lampiran 2.37 71.96 56.582.52 64.53 68.436 228.21 58.592 6.657 303.035.106 375.487 341.48 66.43 91.717 30.062 894.107 838.903 178.296 122.267 313.22 34.236 49.56 80.666 65.257 1.747.38 29.61 63.787 23.937 2.722 623.063.406.580.09 43.07 49.48 38.

26 10 Kepulauan Riau 232 169 149 88.62 549 462 400 86.27 1.05 24 Sulawesi Utara 208 148 123 83.94 7.840 74.817 1.92 145 138 73 52.036 228 2.127 64.37 3.328 73.407 1.461 1.17 1.55 124 87 78 89.Lampiran 2.235 4.406 5.88 175 90 68 75.17 8.34 8.811 72.520 54.437 812 56.295 4.061 3.145 749 65.134 9.73 267 249 129 51.494 64.730 5.840 1.15 3.279 3.233 15.890 1.32 9.068 56.22 22 Kalimantan Selatan 185 125 68 54.505 1.226 1.58 1.402 2.69 4.15 66.936 8.920 9.00 365 257 157 61.99 3.34 4.639 4.163 127.219 812 66.20 5.224 8.480 1.309 1.52 7.75 350.346 3.958 62.16 7 Bengkulu 108 108 107 82.387 91.622 12.633 62.72 1.13 27.11 1.143 518 45.00 2.798 1.348 85.58 42 36 27 75.414 839 59.788 13.07 332 298 222 74.273 63.477 24.903 40.160 41.72 6.055 6.219 72.094 2.912 4.08 13 Jawa Tengah 750 488 436 89.931 6.855 10.011 2.065 69.286 86.613 1.71 949 842 525 62.23 236 200 93 46.981 1.74 4 Riau % Sehat Jumlah Sehat (10) 1.046 1.869 1.78 1.182 2.608 3.474 1.59 2.02 25 Sulawesi Tengah 166 128 107 83.757 1.087 2.559 3.50 19.09 191 112 32 28.58 155 130 44 33.24 20 Kalimantan Barat 184 161 130 80.83 23.018 2.394 1.337 172.83 760 697 97 13.062 79.787 1.431 79.165 66.35 6 Sumatera Selatan 190 183 165 90.98 2.56 103 88 19 21.344 3.91 236 183 115 62.580 2.414 34.52 5.770 2.614 913 56.541 87.33 1.961 2.860 Jumlah yg Ada (8) 2.317 3.04 21 Kalimantan Tengah 114 87 54 62.59 985 904 807 89.27 23 Kalimantan Timur 438 346 302 87.40 20.988 76.68 20.32 335 243 54 22.72 654 428 270 63.707 5.190 1.963 64.31 1.13 98 75 64 85.92 9.52 6.566 64.81 3.61 138 128 70 54.67 2.198 68.182 1.475 66.56 3.52 2.352 980 963 98.983 60.07 441 331 217 65.439 5.382 43.109 15.318 1.298 871 67.22 3.51 15 11 10 90.50 12.034 5.00 442 346 233 67.98 4.59 11 DKI Jakarta 291 137 85 62.792 69.282 925 72.123 1.354 5.121 3.662 7.445 1.813 30.06 2.655 6.80 10.81 12 Jawa Barat 996 680 546 80.46 32 Papua Barat 59 54 38 70.023 646 63.57 2.536 973 63.341 1.356 75.235 2.40 263 196 118 60.977 7.75 4.113 51.167 83.332 1.129 947 83.623 3.21 799 563 333 59.19 8.664 6.244 918 706 76.197 2.502 1.239 % Sehat (7) 86.633 29.75 2.28 10.641 27.06 5.761 57.87 6.073 87.366 10.90 6.85 6.096 62.603 57.35 262 253 111 43.10 1.72 16.202 1.240 4.124 73.73 16.178 981 663 67.753 64.72 29 Sulawesi Barat 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 61 44 30 68.530 1.123 2.933 70.46 5.57 19.973 2.27 443.51 28 Gorontalo - - - - #VALUE! 62.539 962 574 59.37 402 402 298 74.927 1.385 1.00 278 85 31 35.569 1.656 13.27 37 34 13 38.220 1.806 15 Jawa Timur 523 408 364 89.017 511 435 85.96 72.191 15.252 66.975 1.86 .523 1.335 2.211 47.60 4.014 28.70 4.10 1.22 19 Nusa Tenggara Timur 212 162 133 82.766 1.921 2.039 75.008 3.839 2.730 3.38 31 Maluku Utara 115 110 87 79.51 8.487 79.928 3.62 75.632 1.763 1.407 5.74 9 Kepulauan Bangka Belitung 54 42 41 97.27 1.668 4.262 81.02 14 DI Yogyakarta 314 90 89 98.150 Jumlah Diperiksa (9) 1.364 1.04 5.353 1.549 3.452 8.69 12.49 26 Sulawesi Selatan 365 222 174 78.656 55.140 75.315 668 50.13 34 34 24 70.932 12.84 113 82 30 36.700 6.425 69 369.41 3.490 1.26 18 Nusa Tenggara Barat 352 258 230 89.05 2 Sumatera Utara 531 412 351 85.21 3 Sumatera Barat Jumlah Sehat (6) 50 (2) (5) JUMLAH TUPM 58 (1) (4) TUPM Lainnya 149 Provinsi (3) Pasar 1 Aceh No Jumlah Diperiksa Restoran/R-Makan Jumlah yg Ada Hotel (14) (15) (16) (17) (18) 5 Jambi 144 119 98 82.308 4.342 831 61.223 65.56 99 65 36 55.17 PERSENTASE TEMPAT UMUM DAN PENGELOLAAN MAKANAN (TUPM) SEHAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah yg Ada Jumlah Diperiksa Jumlah Sehat % Sehat % Sehat Jumlah Sehat Jumlah Sehat Jumlah Diperiksa Jumlah Diperiksa Jumlah yg Ada Jumlah yg Ada % Sehat (11) (12) (13) (19) (20) (21) (22) 61.34 221 211 92 43.18 498 408 200 49.647 81.688 1.170 2.59 1.997 266.92 6.54 450 382 242 63.373 2.38 1.735 1.401 61 0.42 601 553 433 78.066 6.35 344 318 75 23.386 12.903 45.98 13.211 201.366 5.156 71.709 65.694 54.30 56 52 32 61.22 1.29 7.95 24.308 53.288 5.55 27 Sulawesi Tenggara 188 140 106 75.38 2.02 25 23 8 34.941 1.65 5.23 720 558 231 41.259 1.09 402 383 227 59.15 1.077 1.481 1.009 34.418 66.12 2.897 4.771 1.059 794 74.364 2.42 151 107 65 60.011 1.96 9.96 180 132 68 51.544 66.08 17.322 3.89 2.076 2.210 867 71.750 1.59 2.24 1.95 2.98 8 Lampung 133 102 86 84.91 209 202 103 50.54 2.798 6.89 30 Maluku 111 104 93 89.671 4.514 70.28 3.943 5.66 1.79 #VALUE! 51 20 12 60.265 38.589 9.170 67.554 80.835 81.52 2.455 59.691 66.56 7.721 49.247 2.848 2.83 87.529 936 61.236 4.399 84.74 17 Bali 1.00 101.507 1.15 572 367 187 50.106 2.487 943 63.870 1.467 9.826 8.776 83.365 76.881 3.830 1.946 60.35 811 580 445 76.334 61.150 54.112 1.61 #VALUE! #VALUE! 16 Banten 117 106 58 54.982 2.976 2.

43 2.198 61.081 1.346 71.88 813 680 83.736 62.702 65.55 467 341 73.86 3.00 69.316 1.220 1.316 643 48.004 55.22 96 94 97.494 83.19 3.165 2.003 76.17 347 200 57.208 3.04 26 Sulawesi Selatan 3.653 50.10 440 230 52.879 41.940 61.18 3.961 - 1.83 1.10 1.650 67.085 737 67.05 447 254 56.82 246 119 48.881 62.54 680 529 77.06 2 092 2.833 72.64 23 Kalimantan Timur 1.93 662 623 94.51 5.25 537 353 65.296 50.720 71.02 163.58 7.43 12.274 2.303 53.202 69.278 2.424 71.499 4.00 54.67 3.380 73.26 725 342 47.075 47.810 74.06 14 DI Yogyakarta 1.076 1.707 83 53 83.78 74 29 39.960 84 10 84.63 2.248 800 64.74 25.573 98 19 98.516 81.18 PERSENTASE INSTITUSI DIBINA KESEHATAN LINGKUNGANNYA TAHUN 2009 Sarana Pendidikan Sarana Kesehatan No Sarana Ibadah Perkantoran Sarana Lain Jumlah Provinsi (1) (2) Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) 1 Aceh 2.670 1.908 60.29 2.074 6.79 34.20 435 304 69.264 3.806 86 33 86.56 14 221 14.11 969 730 75.92 9.501 711 28.26 626.01 9.571 40.483 63.77 5.17 4 Riau 1.86 14.05 31.349 64.723 9.516 46.854 838 45.04 1.540 88.10 19 Nusa Tenggara Timur 1.89 4.603 6.678 1.43 2.55 805 554 68.52 1.64 22.00 5.13 .275 10.14 4.76 3.64 3.23 3.04 7.88 30 Maluku 490 349 71.729 797 46.08 1.92 641 515 80.584 78.02 9.82 5.17 5.396 59.088 2.31 2.808 33.85 18 Nusa Tenggara Barat 1 602 1.082 2.646 69.370 7.047 495 47.202 3.614 81.536 1.94 27 Sulawesi Tenggara 24 Sulawesi Utara 1.532 1.65 17.681 70.114 60.51 4.815 69.49 7.072 54.282 72.373 21 Kalimantan Tengah 531 473 89.889 90.887 2.02 1.370 811 59.594 1.04 582 439 75.34 11.34 1.620 7.689 1.593 1.93 16.10 2 Sumatera Utara 7.47 293 240 81.72 1.218 5.350 1.05 38.84 5.656 1.905 7.653 1.560 3.906 2.303 3.292 1.014 61.15 2.415 8.82 8.73 19.515 64.27 12.842 2.644 25.623 6.097 82.354 31.495 1.93 1.638 67.110 809 72.791 1.162 3.84 76.407 21.660 1.889 1.537 3.209 55.264 68.578 84.465 52.941 217 127 58.22 1.285.140 38.070 9.585 71.445 1.25 501 311 62.890 69.23 1.290 153.31 59.03 3.167 69.474 78.28 11.778 73.18 3.075 82.342 6.77 544 355 65.02 80.278 1.91 11.759 56.137 2.69 3.86 196 147 75.301 13.52 14.148 1.51 29 Sulawesi Barat 674 565 83.124 66.53 568 236 41.060 69.066 86.49 10.613 5.618 2.96 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 2.412 2.365 6.48 2.709 79.345 4.40 1.11 2.089 53.798 560 31.40 1.602 1 573 1.125 67.93 752 583 77.41 943 598 63.33 1 040 1.701 77.00 4.12 653 268 41.56 2.52 261.822 2.417 7.919 41.32 16.56 2.375 1.847 1.79 5.755 58.336 1.421 87 06 87.885 41.669 1.03 1.266 70.715 55.830 5.160 71.316 34.414 63.543 96.896 48.19 8 Lampung 1.690 22.129 840 74.043 6.595 95.03 732 503 68.624 85.169 86.71 578 217 37.31 1.93 747 461 61.74 5.16 1.522 67.555 71.278 74.076 5.286 7.928 3.415 878 62.73 66.88 1.411 16.76 1.350 39.41 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 88.667 67.598 2.302 78.165 80.74 18.817 87.66 18.214 999 82.71 708 487 68.98 25 Sulawesi Tengah 2.621 48.82 1.91 13.10 4.221 11 960 11.685 85.446 65.219 42.109 66.15 77.882 110.869 26.85 116.214 4.31 5.85 4.290 2.29 - - - - - - 84.367 831 60.85 3 Sumatera Barat 1.944 1.65 6.08 4.319 457 19.607 1.501 62.60 2.092 1 806 1.497 2.76 3.078 4 421 4.956 12.81 5.78 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali - - 2060 1731 - - - 1.899 8.86 3.740 7 Bengkulu 1.007 848 42.438 3 707 3.061 74.74 1.567 6.985 49.069 2.46 20 Kalimantan Barat 50.28 608 327 53.544 10.34 3.663 89.11 3.565 2.39 1.232 4.608 68.139 2.41 175 56 32.768 249 14.00 11.176 1.248 403.681 83.767.678 71.559 3.00 1.142 92.752 70.18 1.67 31 Maluku Utara 297 232 78.32 1.42 54.29 3.68 128.01 4.612.34 1.570 72.684 75.046 643 61.040 453 43 56 43.68 4.296 237 10.70 24.416 680 48.483 4.92 7.47 7.89 1.256 86.618 2.310 2.88 3.79 311 241 77.169 753 64.169 69.42 10.79 1.791.581 73.717 70.157 759 65.457 21.474 53.629 844 51.08 257 140 54.152 945 82.755 2.43 4.198 857 71.53 36 - 32 Papua Barat 352 228 64.164 608 28.177 8.345 1.72 2.613 19.57 1.99 5.15 11.66 5 Jambi 899 726 6 Sumatera Selatan 1.53 5 078 5.516 59.552 59.955 45.160 43.00 34.26 13 Jawa Tengah 7.378 1.742 1.59 9.39 22 Kalimantan Selatan 2.729 77.372 45.055 516 48.133 1.510 80.01 1.54 76 9 11.719 77.769 6.Lampiran 2.624 69.22 - - 1.534 18.295 72.19 4 438 4.084 68.91 3.19 3.26 28 Gorontalo 749 678 90.54 12 Jawa Barat 7.67 1.08 12.499 2.20 23.60 7.335 75.854 6.350 64.350 1.339 67.859 71.707 82.842 1.412 2.47 1.072 9.37 101 78 77.

616 239.578.591 291.460 39.70 14.35 7.833 1.86 29.953 3.316 1.58 71.67 87.39 57.19 PERSENTASE RUMAH/BANGUNAN YANG DIPERIKSA DAN BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah/Bangunan yang Ada (3) 921.958 t.283 12.596 58.377 19.263 305.342 193.61 39.930 194.959 450.376 348.427 11.60 54.654 61.11 31.990 22.077 178.529 103.a.784 479.790.d 1.580.642 24.030 204.53 61.296 116.40 7.56 38 94 38.634 266.733 173.82 63.598 265.48 49.747.204 58.51 46.098.203 170.081 157.87 66.568 559.95 21.100 3.08 t.807 71.368 17.065 98.343 1.391 934.44 87.563 1.06 8.93 60.58 81.005.448 838.94 78.891 496.349 466.32 85.d 2.696 414.32 12.024 741.d 32.936 99.114 375.91 20.725 36.665 516.64 46.37 42.837 5.903 81.34 t.11 50.49 56.18 48.272 28.262 418 799 418.17 51.741 225.57 20.04 46.56 70.474 43.88 7.82 66.877 170.503.772 75.316.08 .934 8.36 59.22 74.517 163 081 163.623.483 t.02 50.23 77.701 55.a.877 Rumah/Bangunan Bebas Jentik Rumah/Bangunan Diperiksa Jumlah % (4) (5) 100.711 90.095 489.98 87.11 21.014 893.935 2.919 116.148.00 41.29 64.94 21.99 83.744 766.961 321.42 82.67 64.589 226.006 74.103 468.131 25.081 734.690 392.590 44.031.45 67.142 86.29 26.704.31 62.580 9.671 817.518 64 936 64.675 872.53 47.980 9.89 68.605.479 116.426.749 47.Lampiran 2.d 74.27 89.83 74.a.00 Jumlah % (6) (7) 63.592 6.102.82 41.096 226.157 4.47 83.826 128.933 148.768 193.494 62.052 182.799 737.062 930.38 20.884 196.57 13.900 1.846 10.a.62 17.324 795.096 110.032 306.92 53.257 971.516 337.10 39 82 39.

764 461.035 855.620 37.253 233.09 65.007 375.85 43.685 1.37 61.020 91.407 45.923 330.933 63.408 30.026 2.774 346.49 54.812 183.173 66.16 49.73 50.850 276.838 21.182.39 39.511 881.75 55.701 19.955 738.463 39.35 50.973.268 140.829.432 136.669 409.824 407.095 % (5) 111.275 17.986 126.883 5.787 17.112 18.235 26.804 13.28 79.750 105.243 44.331 242.45 51.75 37.97 48.681 7.58 46.617 94.866 6.037 115.77 57.642.349 118.824 91.905 15.942 42.822 302.537 525.643 112.22 62.454 10.51 59.47 .995 1.236 1.91 36.209 244.18 30.860 123.934 7.292 56.88 88.085 1.69 65.28 61.50 42.45 17.066 22.75 25.629 91.87 21.897 108.301.Lampiran 2.625 48.018 93.02 45.37 52.94 41.861 38.91 49.79 8.848.57 87.38 32.984 87.858 108.248 88.469.20 PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Rumah Tangga Jumlah Dipantau Ber PHBS * (3) (4) 237.006.145 85.708 755.649 196.611 47.

37 9.02 Indonesia 13.71 37.72 25.65 Jawa Tengah 3.20 38.Bangka Belitung 13.85 Maluku 4.12 40.05 35.24 33.21 21.95 22.76 47.16 49.79 36.08 Riau 7.29 33. Yogyakarta 18.21 PERSENTASE WANITA MENURUT UMUR PERKAWINAN PERTAMA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 10 .96 35.61 8.84 DKI Jakarta 6.15 53.30 35.07 44.83 21.78 47.27 41.29 41.89 47.98 24.49 Maluku Utara 5.38 50.88 42.77 30.00 Lampung 6.86 Kalimantan Tengah 10.40 Sumatera Utara 4.02 24.31 23.61 27.84 Nusa Tenggara Timur 2.93 14.18 19 .74 31.54 36.66 9.22 Papua 8.78 Jawa Timur 17.36 Jambi 11.86 .63 32.25 27.64 14.69 8.91 Nusa Tenggara Barat 5.06 19.26 35.01 Sulawesi Selatan 10.91 36.Lampiran 2.14 Sulawesi Barat 7.43 Banten 13.71 Papua Barat 10.76 40.89 Sulawesi Utara 3.41 (6) 46.56 9.57 36.05 57.74 53.91 45.07 18.40 Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.31 14.01 29.97 Jawa Barat 19.61 10.65 54.66 9.02 34.16 35.23 48.78 42.45 29.64 34.08 Sumatera Barat 8.15 11.27 44.87 37.12 9.56 20.53 19.31 46.24 47.15 Umur Wanita pada Perkawinan Pertama 16 .55 36.11 15.60 Sulawesi Tenggara 10.I.45 31.38 23.42 10.20 28.53 17.72 51.51 15.34 15.73 22.97 38.36 20.63 D.64 Gorontalo 10.80 43.41 Bengkulu 7.02 15.25 Kalimantan Timur 10.03 Bali 2.76 54.29 13.58 50.33 13.96 20.14 Kep.46 8.45 Kepulauan Riau 14.41 46.75 11.02 Kalimantan Selatan 18.97 51.12 13.25 Kalimantan Barat 7.08 43.42 11.08 Sumatera Selatan 11.47 20.48 Sulawesi Tengah 13.24 (3) Aceh 8.96 18.53 11.16 36.05 31.23 11. BPS (4) 25+ (5) 32.

8 72.0 66.8 71.0 .0 65.6 69.Lampiran 3.9 67.1 68.2 67.4 67.1 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI.1 73.1 69.6 61. AHH :BPS.0 66.1 64.1 70.1 69.2 69.0 68.9 68. ANGKA KEMATIAN BALITA TAHUN 2007 DAN ANGKA HARAPAN HIDUP TAHUN 2008 MENURUT PROVINSI No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Sumber: Provinsi *Angka Kematian Bayi (IMR) Estimasi *Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Harapan Hidup (eo) 2008 (2) (3) (4) (5) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia BPS.2 69.4 66.3 71.6 70. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 * : Periode lima tahunan sebelum survei.0 71.4 69.0 63.5 67.4 67.7 72.1 69. Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008 25 46 47 37 39 42 46 43 39 43 28 39 26 19 35 46 34 72 57 46 30 58 26 35 60 41 41 52 74 59 51 41 36 34 45 67 62 47 47 52 65 55 46 58 36 49 32 22 45 58 38 92 80 59 34 75 38 43 69 53 62 69 96 93 74 62 64 44 68.5 69.8 69.6 67.

39 1.46 643.2 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KOMPONEN MENURUT PROVINSI TAHUN 2007.66 631.0 8.10 6.47 22 Kalimantan Selatan 62.40 625.90 67.70 80.60 98.5 6.02 70.70 77.41 6.80 620.80 628.63 622.60 8.95 30 2.35 70.94 7.96 18 67.53 626.45 25 Sulawesi Tengah 65.00 8.6 8.20 605.25 74.99 71.52 74.47 624.14 11 1.99 13 1.99 8 Lampung 68.96 9 2.98 .49 7 71.31 625.59 69. Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008 Ket: Reduksi Short Fall : Percepatan pembangunan manusia untuk mencapai angka IPM ideal 1.11 74.40 7.59 71.80 8.10 95.68 2 72.63 96.52 75.53 29 66.18 28 1.30 7.91 2.36 634.28 65.97 73.41 599.75 71.0 8.00 624.21 7.10 89.95 70.20 8.15 4 73.81 15 Jawa Timur 68.88 67.72 28 67.50 600.58 64.38 18 2.60 97.64 73.94 73.03 8.90 87.64 70.81 638.80 96.90 95.1 8.2008 2008 2007 No.78 19 69.50 95.40 6.40 634.62 4 Riau 71.05 623. Provinsi Angka Harapan Hidup (tahun) Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Angka Melek Huruf (%) Pengeluaran Riil / Kapita (Rp.46 12 68.80 98.86 89.72 69.28 7 Bengkulu 69.1 6.60 95.0 8.5 8.99 27 Sulawesi Tenggara 67.42 594.8 7.30 630.4 6.80 96.33 71.40 13 69.00 8.46 29 Sulawesi Barat 67.90 630.1 7.23 69.29 71.78 76.000) (2) (3) (4) (5) (6) (1) IPM Peringkat Angka Harapan Hidup (tahun) (7) (8) (9) Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Angka Melek Huruf (%) Pengeluaran Riil / Kapita (Rp.37 70.59 1 72.73 616.71 15 67.05 33 Papua 67.1 6.19 628.03 70.43 636.70 87.00 25 2.31 75.96 68.000) IPM (10) (11) (12) (13) Reduksi Peringkat Short Fall (14) (15) 1 Aceh 68.8 8.51 97.18 631.60 86.17 29 21 Kalimantan Tengah 70.55 18 Nusa Tenggara Barat 61.Lampiran 3.50 623.87 7.13 67.55 27 2.40 6.83 24 66.6 7.90 94.70 630.71 32 61.20 23 Kalimantan Timur 70.50 8.55 87.42 611.4 8.9 10.2 6.80 619.48 63.67 92.40 96.53 630.60 625.23 86.67 628.00 96.62 68.20 80.70 69.16 2 1.51 622.76 17 2 Sumatera Utara 69.10 621.10 95.50 95.00 63.1 8.34 22 66.23 9 69.52 72.90 3 Sumatera Barat 68.32 17 Bali 70.26 7.88 4 2.1 6.35 14 DI Yogyakarta 73.32 7.90 67.81 95.2 7.44 595.60 624.71 89.70 617.03 1 1.90 70.12 605.70 89.60 95.69 8.65 592.80 93.15 28 Gorontalo 65.0 7.31 625.40 86.60 95.9 7.60 97.88 7 1.81 70.80 68.01 10 Kepulauan Riau 69.82 27 65.75 619.09 22 26 Sulawesi Selatan 69.57 11 69.62 10 68.91 615.20 91.4 8.72 26 2.19 10 2.75 6.10 87.25 71.00 94.00 69.7 8.94 626.14 19 Nusa Tenggara Timur 66.15 31 2.10 8.62 21 69.98 69.78 20 69.82 5 Jambi 68.53 16 70.29 23 64.62 6.63 3 71.00 33 1.56 70.71 69.70 8.91 95.93 66.59 71.23 625.13 633.29 24 1.29 8 1.6 7.40 624.99 87.90 75.87 24 Sulawesi Utara 72.24 633.28 30 67.20 94.50 95.59 639.44 95.60 14 2.52 92.18 6 1.90 88.30 610.12 32 1.52 593.15 593.65 64.78 8 69.04 68.32 25 67.09 69.30 20 1.57 636.37 95.60 624.50 96.60 95.2 8.58 75.86 12 Jawa Barat 67.70 23 1.63 615.68 6 69.05 628.53 70.79 73.94 631.20 8.10 73.09 3 1.66 72.0 8.11 32 Papua Barat 67.95 87.60 90.94 68.98 16 1.32 7.80 628.71 604.80 99.07 72.00 99.60 601.08 629.17 Indonesia Sumber: Badan Pusat Statistik.76 625.61 70.47 7.68 622.93 72.18 625.6 7.42 31 Maluku Utara 65.0 7.8 7.74 91.77 5 70.4 7.96 20 Kalimantan Barat 66.63 70.76 10.80 98.00 16 Banten 64.52 5 2.81 71.00 620.89 11 DKI Jakarta 72.07 67.00 97.35 17 68.30 8.0 6.87 625.88 74.81 86.30 93.59 30 Maluku 66.80 98.90 97.85 6 Sumatera Selatan 69.39 74.60 617.20 86.49 72.66 7.01 26 63.38 18 1.52 69.83 68.78 8.00 637.69 68.12 15 1.00 97.41 33 68.74 68.60 593.12 72.26 69.60 96.38 13 Jawa Tengah 70.00 7.36 31 67.92 14 71.25 6.66 599.42 6.24 7.70 91.94 96.28 1.10 97.67 74.05 12 2.3 6.1 7.60 96.22 21 1.74 9 Kepulauan Bangka Belitung 68.26 96.

3 10 BESAR PENYAKIT RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT TAHUN 2009 Kasus No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) Laki-laki Perempuan Total Kasus Meninggal (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 74.933 36.705 60.262 41.334 898 3 Demam tifoid dan paratifoid 39.161 69.677 935 7 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 19.535 143.920 16.703 234 10 Gastritis dan duodenitis 12.957 24.497 47.048 162 8 Pneumonia 19.Lampiran 3.013 4 Demam yang sebabnya tidak diketahui 24.533 21.200 462 5 Dispepsia 18.850 1.747 2 Demam Berdarah Dengue 60.304 520 6 Hipertensi esensial (primer) 15.647 2365 9 Penyakit apendiks 13.758 17. Kemkes RI.115 16.396 30.154 235 Sumber: Ditjen Yanmed.477 35. 2010 .629 121.144 36.170 16.588 80.696 1.783 30.807 28.243 49.

429 156.162 220.673 88.881 143.269 412.303 147.231 89.087 275.021 55. Kemkes RI.256 371.817 77.254 358.605 153.953 247.318 67.794 781.4 10 BESAR PENYAKIT RAWAT JALAN TAHUN 2009 Kasus No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) (1) (2) 1 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 2 Demam yang sebabnya tidak diketahui 3 Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya 4 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 5 Gangguan refraksi dan akomodasi 6 Dispepsia 7 Hipertensi esensial (primer) 8 Penyakit pulpa dan periapikal 9 Penyakit telinga dan prosesus mastoid 10 Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtiva Sumber: Ditjen Yanmed.446 67.463 52.275 83.463 122.738 172.815 99.380 52.216 488.823 123.195 135.488 46.167 132.467 234.749 .013 223.Lampiran 3.004 68.578 245.364 54.375 55.083 53. 2010 Laki-laki Perempuan Total Kasus Jumlah Kunjungan (3) (4) (5) (6) 243.142 105.942 99.660 203.345 133.

755. Kemkes RI.644 44.204.384.97 18.040 38.683 93.295.274 1.016.849 73.511 176.818 20.843.48 20.572 3.08 0.864.213 54.922 14.568 14.082 5.487 5.385 4.971 686.995.940 966.897 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jawa-Bali Luar Jawa-Bali Sumber: Ditjen PP & PL.02 1.54 1.85 0.572 5.075 1.401 83.268 701.59 16.654 27.45 4.895 4.001 2.933 483 3.642.03 0.647 60.36 0.768 2.478 10.04 3.65 51.36 0.71 0.859 23.143.22 4.088 1.934 8.530 3.244.812 11.92 54.41 0.25 0.706.966.09 41.37 1.949 75.58 3.25 2.132.94 1.06 15.05 1.083.168 2.09 6.515 1.932 165.210 26.31 0.292 1.675 20.35 0.51 5.939 2.074 2.220 67 2.834 3.57 8.391.885 37.561 1.039 2. 2010 4.030 168.32 13.015 957 5.402 21.759 6.93 15.888 33.87 1.380 2.12 0.648 863.325 12.034.017 13.389 5.294 58.66 9.23 1.580 21.17 2.661.040 38.89 8.953 15.71 10.709 9.726 10.888 8.535 76.54 5.873 29.403 13.973 41.053 15.51 30.866 4.386 11.096 33.70 12.62 0.36 1.14 0.05 12.516 63.971 966.841 685.472 1.435 2.48 5.473 6.093.461 1.292 5.353.15 2.5 JUMLAH KASUS DAN ANGKA KESAKITAN PENYAKIT MALARIA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Populasi Berisiko Klinis SD Periksa Positif API (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.675 AMI (8) 0.949 1.928 8.577 4.59 6.39 1.401 83.47 4.283 6.025.052 22.94 11.449 4.453.907 49.968 51.189 2.14 9.848 3.171 2.063 51.94 8.392 397 1.48 0.350.074.51 10.376 8.883 9.674 8.92 8.15 3.536 1.024 176.986 4.136 769 44.927 199.421.538.308 5.196 3.148 8.160 391 12.135 5.78 5.920 4.920 4.403 13.159 6.424 1.275 6.459 6.98 39.242 765.75 1.202.27 .946 1.540 2.212 39.46 29.Lampiran 3.696.206.06 2.530.13 0.816 2.42 133.792 2.260.902 194.80 11.606 19.531 40.635 45.676 3.89 0.813 24.651 543 24 8.91 27.635 49.849 102.536.572 3.78 7.264 2.

6 ANNUAL PARASITE INCIDENCE (API) MALARIA DI JAWA-BALI TAHUN 2004 .06 0.02 0.96 0.19 0.15 0.18 0.71 0.17 Jawa-Bali Sumber: Ditjen PP & PL.16 0.2009 Tahun No Provinsi (1) (2) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 (8) (9) (10) (11) (12) (13) 1 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 2 Jawa Barat 0.13 0.71 6 Banten - 0.06 0.37 0.07 4 DI Yogyakarta 0.16 0.17 7 Bali 0.05 0.14 .03 5 Jawa Timur 0.36 0.15 0.16 0. Kemkes RI. 2010 0 0.02 0.08 0.08 0.00 0.51 0.03 0.52 0.47 0.58 3 Jawa Tengah 0.42 0.55 0.18 0.03 0.Lampiran 3.12 0.97 0.02 0.05 0.10 0.03 0.

014 708 2.629 3. HASIL CAKUPAN PENEMUAN KASUS PENYAKIT TB PARU TAHUN 2009 Cakupan No.089 3.813 2.369 4.302 5.6 66.405 1.1 85.065 3.8 48.989 2.342 6.815 5.448 2.701 9.906 1.964 34.608 4.7 66.2 52.096 7.5 41. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.424 9.821 2.134 1.8 59.3 81.556 2.490 4.325 3.880 2.0 70.8 71.054 1.197 7.504 638 43.6 39.667 11.468 2.229 1.681 5.066 2.156 1.311 9.982 21.209 16.562 3.2 32.227 5.988 1.4 31.346 5.8 40. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.620 1.7. Kemkes RI.891 2.987 1.731 169.609 3.779 1.5 44.7 45.694 4.918 6.155 22.048 4.223 2.897 3.6 48.241 39.1 51.482 4.1 .6 56.345 38.663 1.273 9.941 7.200 2.2 34.070 4.6 77.535 11.065 13.213 73.598 8.179 2.370 294.9 65.702 1.370 942 2.7 51.869 44.646 4.8 30.407 35.397 8.8 38. 2010 Perkiraan Kasus Baru TB Paru BTA Positif Semua Kasus Kasus Baru TB Paru BTA Positif Case Detection Rate (CDR) % (3) (4) (5) (6) 6.499 2.745 5.428 2.380 7.671 2.9 60.010 15.074 61.3 42.090 4.943 951 784 7.5 56.559 3.296 1.291 7.7 33.6 34.896 10.732 2. Bangka Belitung Kep.Lampiran 3.695 25.8 231.989 31.181 1.966 16.2 36.165 2.433 16.266 1.3 33.588 4.725 8.517 3.339 2.

97 65.155 22.80 61.83 34.992 337 304 3.29 59.065 3.47 61.428 2.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.974 606 1.59 39.68 40.135 3.339 2.16 40.043 4.90 61.840 1.213 .10 38.56 61.34 53.28 55.296 1.488 1.943 951 784 7.897 3.483 546 1.03 38.299 1.40 39.891 2.17 65.44 38.17 54.732 2.918 6.77 60.75 61.504 638 169.227 628 1.01 40.433 1.30 35.369 4.75 44.28 44.78 39.66 46.050 1.700 1.72 55.33 58.278 2.598 8.07 58. Kemkes RI.433 16.906 1.21 38.370 942 2.797 1.25 55.8 JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF MENURUT JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jenis Kelamin No Laki-laki Provinsi Laki-laki+ Perempuan % Jumlah (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.087 437 1.334 777 559 1.79 61.18 59.94 3.22 60.631 962 593 383 927 271 1.123 13.588 4.989 31.17 35.22 58. Bangka Belitung Kep.99 59.227 1. 2010 Perempuan (3) Jumlah (4) 2.052 1.32 59.91 57.377 4.745 5.97 61.191 787 1.516 783 2.907 889 1.022 9.014 708 2.988 1.06 (6) 1.057 2.951 614 480 4.107 247 69.472 1.089 3.Lampiran 3.207 982 2.866 17.517 3.67 41.72 44.82 40.938 % (5) 65.20 38.83 45.862 1.275 (7) 34.70 64.25 38.538 460 10.93 41.156 1.368 695 12.23 39.81 36.881 2.60 60.71 40.89 61.78 41.11 38.84 59.09 42.03 34.28 40.994 9.10 56.065 13.72 59.439 7.181 1.397 391 99.83 64.90 43.41 60.221 3.53 38.673 793 1.828 1.880 2.695 3.19 63.134 1.

135 3. Kemkes RI.988 1.377 4.862 1.181 1.914 561 537 369 705 194 640 150 129 1.660 122 2.369 4.891 2.631 962 593 383 927 271 1.043 4.906 1.107 247 3.943 951 784 7.306 1.738 826 150 396 345 542 188 379 250 480 240 682 246 169 109 169 75 172 51 209 880 227 163 188 400 114 359 70 39 455 2.065 3.156 1.025 3.54 55 .168 273 310 248 447 148 450 82 113 918 3.989 31.207 982 2.840 1.732 2.810 104 2.518 115 1.191 787 1.516 783 2.299 1.700 1.992 337 304 3.026 12.14 Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.334 777 559 1.538 460 10.488 1.520 105 2.Lampiran 3.931 1.227 628 1.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 15 .673 793 1.504 638 19.745 5.057 454 309 343 640 201 576 123 82 746 2.515 4.974 606 1.914 Sumber: Ditjen PP & PL.022 9.339 2.9 JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF MENURUT KELOMPOK UMUR (TAHUN).516 1.433 16.557 103 1.881 2.227 1.416 1.014 708 2.091 8.050 1.491 325 86 228 228 230 61 144 85 192 115 418 148 90 57 108 19 58 14 129 475 236 74 139 266 73 284 56 29 152 996 778 86 938 194 81 129 207 210 46 92 91 241 69 342 95 38 43 100 24 23 19 2.866 17.64 P P L L P L > 65 L L Total P T (9) (15) (17) (18) (19) (10) (11) (12) (13) (14) 398 1.182 1.483 546 1.828 1. Bangka Belitung Kep.918 6.394 397 220 281 519 199 463 87 48 463 2.266 215 375 405 552 175 380 280 516 222 837 254 177 140 236 110 445 120 223 1.897 3. JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2009 No 0 .052 1.353 949 58 1.428 2.865 91 2.087 15.938 69.598 8.017 162 2.481 19.558 6.368 695 12.216 799 183 245 350 341 126 229 210 320 179 611 202 121 87 197 72 361 74 811 1.880 2.24 25 .951 614 480 4.797 1.296 1.055 172 347 330 503 147 355 270 469 266 733 273 148 96 196 73 238 72 206 926 222 247 223 417 117 394 69 47 624 2.300 574 141 351 299 530 117 275 199 406 196 653 231 122 93 150 64 99 29 169 608 173 97 159 248 92 277 37 21 220 1.517 3.424 88 2.762 820 107 187 271 252 93 204 159 273 134 388 187 121 65 177 79 391 87 415 1.076 1.087 511 86 259 241 291 123 267 132 273 143 491 156 108 72 152 38 95 28 384 1.206 340 241 206 420 131 377 82 81 1.370 942 2.34 L P L P L P (3) (4) (5) (6) (7) (8) 24 65 17 13 12 15 6 26 3 4 29 145 65 1 99 38 2 11 16 29 9 22 14 26 14 10 11 4 7 37 6 23 8 19 92 27 19 16 24 6 47 2 56 168 95 7 135 42 5 11 27 24 12 15 10 26 16 25 12 5 5 59 1 41 5 229 1.692 2.470 1.472 1.578 1.44 45 .755 99.123 13.072 654 117 248 244 263 113 273 166 314 161 531 199 111 87 164 54 152 38 443 2.039 23.089 3.275 169.695 3.278 2.721 14.054 15.011 16.994 9.277 77 2.087 437 1.523 13.134 1.226 1.221 3.655 1.155 22.397 391 1. 2010 K e l o m p o k U m u r ( t a h u n) 35 .213 .588 4.946 428 434 345 642 178 585 113 107 936 3.433 1.907 889 1.057 2.439 7.580 954 128 253 279 307 111 197 174 334 128 540 224 119 71 199 85 397 92 161 943 291 172 163 334 99 330 67 71 765 3.065 13.

376 2.831 14.711 5.4 3.4 13.227 5.951 2.079 450 1.224 2.6 3.454 93.9 7.2 88.209 1.1 80.134 3.279 981 6.3 94.170 2.329 2.6 10.096 813 462 5.828 17.9 238 366 377 249 195 364 62 332 22 144 1.3 2.709 3.521 1.9 72.243 4.7 86.451 1.033 894 19.724 1.1 83.655 8.971 1.241 2.7 87.158 3.8 1.860 4.8 94.999 5.721 1.3 1.9 4.8 90.8 87.5 14.544 2.2 85.312 1.7 80.3 89.3 8.0 2.8 2.663 15.461 525 166.142 921 1.850 2.0 10.8 85.566 1.8 78.1 86.468 2.10 HASIL CAKUPAN PENGOBATAN TB PARU MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 Semua Kasus BTA Pos Jumlah % Jumlah % Sembuh & Pengobatan Lengkap Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 3.113 17.055 4.372 30.5 89.217 202 137.0 70.1 92.3 83.4 1.060 47 1.210 1.960 8.161 2.8 93.189 1.9 67.9 85.176 1.002 2.0 90.9 92.169 27.509 547 264 408 339 173 159 131 374 406 288 215 345 197 131 90 168 677 168 13.141 23.2 3.4 69.8 80.0 Cakupan Tahun 2008 No.4 2.818 25.5 89.829 4.876 3.8 13.896 3.5 82.6 92.2 11.6 80.999 84.1 96.6 83.490 61.9 9.3 1.905 960 2.0 92.1 27.598 7.259 298.159 5.2 1.9 78.4 1.2 92.894 1.8 1.558 1. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.9 97.2 3.601 1.858 2.0 66 167 117 34 84 63 14 100 37 9 135 400 285 45 557 80 77 133 121 76 17 72 51 76 46 185 53 19 59 4 18 50 21 3.701 2.6 1.840 1.4 82.315 5.2 3.2 52.276 4.3 2.9 95.7 93.4 8.1 3.0 2.8 18.604 14. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.781 8.3 21.9 84.9 2.Lampiran 3.8 12.5 32.0 2.428 835 606 7.9 1.5 38.7 93.0 4.298 2.4 91.048 3.6 85.478 2.3 1.1 4.0 5.1 82.787 4.1 2.434 3.7 3.251 3.1 6.607 3.0 16.8 67.0 97.024 1.9 16.244 1.582 6.894 370 151.461 39.4 6.884 1.261 1.155 2.752 1.1 12.1 2.6 88.2 1.120 6.360 4.2 49.133 5.3 77. Kemkes RI.5 3.688 5.5 85.4 80.091 7.351 2.6 0.271 2.4 4.1 89.413 3.093 941 21.399 13.5 77.881 4.6 5.1 6.5 91.080 1.1 83.1 31.5 66.059 1.4 2.618 1.4 74.8 6.8 6.303 2.284 1.4 92.109 540 2. Bangka Belitung Kep.088 4.990 3.5 87.592 1.5 85.164 2.3 1.205 2.072 16.864 945 790 989 282 1.452 1.637 13.403 3.557 35.329 1.7 4.181 4.6 96.3 4.771 958 685 8.455 8.1 17. 2010 Sembuh Pengobatan Lengkap Success Rate (%) Meninggal .060 1.500 25.1 88.930 1.0 8.5 97.6 1.

86 11.05 3.828 3.93 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.Lampiran 3.69 0.36 5.93 133.07 19.35 7.91 0.846 8.598 717 290 3.04 8.227 318 1.88 0.21 1.06 45.000 Penduduk (3) (4) (5) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.66 .615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.36 22.71 7.000 PENDUDUK MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN DESEMBER 2009 Jumlah Kasus No Provinsi (1) (2) Case Rate Meninggal Kumulatif 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 Per 100.65 0.60 2. Kemkes RI.91 0.17 16.77 3.04 5.808 11 93 81 131 50 38 21 42 18 130 426 634 246 81 691 54 283 63 25 107 2 5 10 62 6 62 5 1 70 8 19 371 1.45 2.78 0.67 8.11 JUMLAH KUMULATIF KASUS AIDS.22 8.46 6. DAN ANGKA KUMULATIF KASUS PER 100.20 1.57 3.32 8.973 3.33 14. MENINGGAL.51 8.23 31.

Bangka Belitung Kep.499 16.770 (5) 36 485 293 371 165 219 85 144 117 333 2.598 717 290 3.233 669 247 3.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Jumlah Sumber: Ditjen PP & PL.652 78 1.681 18.858 21.973 .506 107 138 730 15 27 11 173 12 143 20 3 192 10 58 2.710 819 290 3.811 3.263 92 117 730 10 27 11 173 12 143 11 3 190 9 58 2.442 Triwulan IV (6) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.227 318 1.Lampiran 3.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.162 573 246 2. 2010 Triwulan I (3) 30 485 234 368 165 184 52 144 111 325 2.964 Jumlah Kasus AIDS Kumulatif Triwulan II Triwulan III (4) 48 485 410 477 166 219 113 144 120 341 3.133 275 1.540 323 1. Kemkes RI.747 142 139 794 40 27 11 173 12 591 22 3 192 16 58 2.828 3.807 3.12 JUMLAH KASUS AIDS KUMULATIF PER TRIWULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.740 3.808 19.

00 35.10 19.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2. 2010 Jumlah Kasus Jumlah Kasus Kumulatif Persentase Kasus Kumulatif Kumulatif Pada IDU Pada IDU (3) (4) (5) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.90 28.808 17 209 224 135 96 104 47 112 40 30 2.80 66.40 4.828 3.40 23.50 51.60 0.227 318 1.50 31.30 36.70 8. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.80 73.13 JUMLAH DAN PERSENTASE KASUS AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIKAN (IDU) MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.20 45.80 34.30 33.60 77.973 7.598 717 290 3.002 2.10 50.70 16.50 43.00 21.70 62.10 20.00 8.20 9.70 41. Kemkes RI.966 39.Lampiran 3.628 152 132 1.00 70.20 47.60 33.90 .60 16.20 38.022 199 261 46 12 132 7 9 4 40 6 209 1 2 79 2 5 2 39.40 58.10 67.

41 0.318 18.369 1.558 23.993 3.16 2.118 72.829 1.677 372 309 1.191 9.912 98.914 21.989 3.657 1.376 9.159 107.621 748.45 11.42 10.16 12.271 1.187 69.914 197.881 10.749 2.96 9.842 1.349 4.15 71.566 3.Lampiran 3. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Realisasi Penemuan Penderita Pneumonia Balita Jumlah Penduduk Usia Balita Wil.646 1.491.16 21.329 589 7.781 111.607 38 11.91 13.70 21.639 3.402.438 249.328 2.985 34.82 41.56 15.387 6.671 4.64 14.455 812 11.37 20.92 5.866 130.191 - 56.766 449.892 252.139 211.18 .752 896.666 46.915 709 758 2.873 690.034 20.721 6.819 - 494 11.226 28.552 1.735 1.652 425.313 16.010 67.296 129.078 13 6.83 17.319 22.685 51 17.050 136.521 4. 2010 (6) (7) 568.315 1.246 35.660 469.760.306 196.175 725.701 32.261 732 518 258 183 - 732 16.431 42.034 18.868 11.083 344.81 - 17.655 32.384 2.595 30.173 390.277 11.20 5.256 1.12 5.175 89.062.624 2.30 46. PKM Program Target Penemuan Pneumonia Balita (10%) < 1 Tahun 1 .067 3.014 323.344 185.578 11.130 161.905 5.524 842 404 387 - 1.21 10.287 9.14 JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.370 20.126 223 4.907 2.701 201.32 19.4 Tahun Jumlah % (3) (4) (5) (8) (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.54 5.392 9.925 43.081 1.682 113.332 424.91 13.05 3.533 2.458 354.034 3.176 7.575 233.806 3.846 1.621 11.306. Kemkes RI.380 1.593 1.249 434.977 44.360 662 570 - 2.915 95.075 7.491 19.153 890 1.38 9.562 74.880 3.433 42.072.310 429.

37 (10) 40 14 6.00 47 0 33 1.35 33.01 0.51 15.79 12.11 0.00 6 651.26 3.25 11.02 0 0.21 0 0.55 1.03 0.260 7.20 11.00 35 0 9 0 17 5.07 0.00 13 35.01 40.12 0.00 0 13.33 3.29 0.16 0.00 10 24. CASE DETECTION RATE (CDR).02 3.00 2.00 56 30.000 Penduduk (6) Cacat Tkt.00 7 11.16 6.93 16.98 0.00 133 17.13 0.62 27.13 0.53 6.12 0.05 0.574 52 5.00 21 21.07 7.15 JUMLAH KASUS BARU KUSTA.02 0.08 0.10 0.08 14.85 2.04 0.12 0.00 25 30.05 0.00 14. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.00 0 42.08 0.63 1.60 6.06 48 33 0. Kemkes RI.17 0. DAN PROPORSI KASUS PADA ANAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.10 0.00 206 236.04 0.89 6.15 0.04 0 0.06 0.56 40.07 0.00 31 11.18 0 0.00 25 25.00 14 6.12 0.00 3 710.00 188 151.227 17.05 2.11 0.17 0.04 0.13 0.09 0.69 0.49 1. 2010 PB MB (3) Jumlah (4) 121 37 13 44 4 20 2 24 6 3 102 208 226 13 944 65 15 51 34 7 9 12 19 85 83 233 29 19 55 72 105 108 265 3. KECACATAN.Lampiran 3.00 72 219.12 0.236 249 193 195 397 391 247 887 11.06 0.13 0.00 10 10.10 0.13 0.00 1.71 4.06 0.13 0.10 0.42 2.07 0.00 20 15.07 0.69 4.559 1.00 62 1.06 0.82 5.05 2.923 499 84 267 193 104 99 200 199 425 313 1.30 0.10 0.78 18.05 0.11 0.15 0.42 4.074 0.17 0.00 51 65.01 0.11 0.44 .00 45 13.14 Tahun Jumlah % % (8) 359 163 65 151 59 200 9 87 27 7 471 1351 1348 39 4979 434 69 216 159 97 90 188 180 340 230 1003 220 174 140 325 286 139 622 480 200 78 195 63 220 11 111 33 10 573 1.62 19. 2 Jumlah (7) 0 .17 0.00 83 1. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.09 0.00 18 8.91 1.812 (9) 0.03 10.033 (5) Case Detection Rate Per 100.00 143 11.07 0 0.24 0.

16 JUMLAH KASUS TETANUS NEONATORUM DAN FAKTOR RISIKO MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Faktor Risiko 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Tidak Diketahui Ya Tidak Tidak Diketahui (14) 0 0 1 0 1 3 0 2 0 0 0 6 0 0 12 2 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 31 Lain-lain (13) 5 0 0 0 3 3 1 5 2 0 0 11 5 0 0 31 0 0 0 14 0 0 1 0 0 0 1 2 0 0 0 0 1 85 Bambu (12) 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5 2 0 5 4 0 0 0 2 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 21 Gunting (11) 1 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 1 0 0 6 6 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 22 Tidak Diketahui (10) 1 0 0 0 1 3 0 2 0 0 0 7 0 0 1 2 0 0 2 6 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 28 Lain-lain (9) 0 0 0 0 2 3 1 0 0 0 0 4 2 0 2 12 0 0 0 3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Tradisional (8) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 6 2 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 13 Dirawat di RS Alkohol/Iodium Dokter (7) 5 0 1 0 1 1 0 10 2 0 0 10 3 0 11 27 0 0 0 7 0 0 0 0 1 2 0 3 0 0 0 0 0 84 Pemotongan Tali Pusat Tidak Diketahui Tidak Diketahui (6) Perawatan Tali Pusat Bidan/Perawat Tidak Diimunisasi (5) TT1 Dokter Sumber: Ditjen PP & PL.Lampiran 3. Kemkes RI. 2010 1 0 1 0 2 4 0 8 0 0 0 10 3 0 15 17 0 0 2 8 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 1 0 76 TT2+ (4) 6 0 1 0 4 7 1 12 2 0 0 23 7 0 22 43 0 0 3 16 0 0 1 0 2 2 1 3 0 0 0 1 1 158 Tidak Diketahui (3) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Bara Nusa Tenggara Timur Kalimantan Bara Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tanpa pemeriksaan (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Penolong Persalinan Tradisional Meninggal (1) No Status Imunisasi Bidan/Perawat Provinsi Total Pemeriksaan Kehamilan (15) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28) 3 0 1 0 1 1 0 2 0 0 0 2 1 0 6 3 0 0 0 6 0 0 0 0 1 1 0 2 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 1 3 0 2 0 0 0 7 0 0 0 2 0 0 3 3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 23 0 0 0 0 1 0 0 5 0 0 0 3 0 0 14 9 0 0 0 3 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 37 0 0 0 0 2 3 1 3 0 0 0 0 3 0 6 16 0 0 1 10 0 0 1 0 0 0 1 3 0 0 0 0 0 50 0 0 0 0 0 1 0 2 2 0 0 11 3 0 1 17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 39 6 0 1 0 1 3 0 2 0 0 0 9 1 0 1 1 0 0 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 32 3 0 1 0 1 0 0 5 2 0 0 12 5 0 15 27 0 0 0 6 0 0 0 0 2 2 1 2 0 0 0 0 0 84 2 0 0 0 2 2 1 4 0 0 0 1 0 0 2 8 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 27 1 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 2 2 0 2 8 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 21 6 0 0 0 0 1 0 0 1 1 3 3 0 1 1 12 0 2 0 0 0 0 8 15 0 7 0 0 3 21 0 35 0 0 0 0 2 1 5 9 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 2 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 26 121 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 8 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 17 0 0 0 0 1 3 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 2 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 20 .

Kemkes RI.17 JUMLAH KASUS CAMPAK PER BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus per Bulan No. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.536 43 8 62 35 29 83 10 87 7 56 130 35 219 3 58 105 12 0 0 17 15 35 0 21 7 76 20 8 0 0 2 0 0 1.197 1.816 75 100 82 136 0 82 13 145 5 53 62 501 176 4 154 204 4 0 0 19 11 99 5 20 8 103 14 17 5 0 26 3 2 2.314 24 0 84 49 100 46 15 71 2 67 0 0 402 0 94 178 25 0 0 22 13 3 0 9 1 100 2 15 0 0 5 16 0 1.055 .281 39 1.343 51 0 66 32 86 56 15 104 6 50 0 0 400 2 63 128 49 0 9 25 1 3 0 25 16 59 0 14 0 0 0 16 0 1. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.447 72 533 813 1.128 81 121 74 130 34 87 16 182 8 40 45 121 216 0 201 199 0 0 3 26 11 112 9 2 9 181 7 5 3 0 0 4 0 1.807 67 47 101 34 56 88 32 133 3 30 85 65 338 1 58 104 8 0 1 20 19 88 11 3 10 77 41 4 1 0 0 11 0 1. 2010 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 163 132 61 72 0 88 21 121 3 39 17 429 135 21 164 138 5 0 8 18 8 72 3 16 10 45 3 16 8 0 0 0 0 1.183 19 0 66 7 10 63 14 78 6 32 83 0 228 0 71 105 10 0 13 16 10 65 9 19 3 30 6 4 3 0 0 2 0 972 3 0 37 44 0 63 13 50 0 40 120 0 296 3 40 80 0 0 0 13 6 24 0 34 7 24 2 1 0 0 0 0 0 900 2 9 104 55 67 24 9 81 3 59 106 0 320 5 93 169 47 0 5 32 10 14 7 14 0 76 3 0 0 0 0 0 0 1.333 3.Lampiran 3.276 693 476 964 798 510 872 219 1.927 112 18 102 99 93 75 25 219 9 28 67 62 297 0 103 194 1 0 2 36 9 88 12 17 5 139 27 5 8 0 0 1 0 1.853 53 41 125 105 35 117 36 176 20 39 98 120 254 0 98 190 4 0 4 14 20 90 38 11 1 80 5 19 4 0 0 6 4 1.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 18.

941 18.076 6. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.447 72 533 813 1.227 2.Lampiran 3.369 3.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 507 1.333 3.540 5.197 1.18 JUMLAH KASUS CAMPAK MENURUT KELOMPOK UMUR DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Tahun) No. Kemkes RI. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.775 4.698 1.055 .164 750 3.281 39 1.890 1. 2010 <1 1-4 10-14 5-9 > 14 Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) Total Divaksinasi Total Kasus (13) (14) 3 42 20 35 8 22 11 35 1 10 0 0 92 0 84 12 2 0 3 4 5 37 4 7 1 58 2 4 1 0 3 1 0 78 101 79 98 50 114 30 123 7 66 86 134 236 3 148 229 3 0 2 19 28 67 17 15 11 106 9 12 3 0 4 10 2 26 73 109 85 66 105 11 172 4 14 0 0 333 1 179 130 6 0 10 41 24 85 24 23 5 188 23 17 8 0 6 7 0 283 143 211 209 95 220 27 240 10 146 318 300 602 14 211 542 6 0 12 55 29 129 29 46 27 217 33 21 9 0 18 25 0 29 89 154 92 77 98 37 340 10 13 0 0 574 0 321 126 37 0 6 28 21 143 14 50 4 206 33 24 6 0 0 5 3 197 154 290 210 129 228 78 496 20 160 156 453 1277 4 374 582 39 0 16 64 30 246 19 82 21 260 46 35 7 0 6 16 3 7 12 90 46 48 67 13 188 6 11 0 0 252 0 198 43 62 0 7 18 8 78 14 11 1 159 8 14 7 0 1 0 0 72 38 169 105 97 147 44 324 12 49 97 251 672 3 250 234 71 0 13 38 13 155 14 24 9 197 25 26 7 0 5 3 0 4 17 53 22 11 44 10 109 2 6 0 0 115 0 115 18 28 0 0 7 10 4 4 14 0 142 3 4 6 0 0 2 0 63 40 215 176 139 163 40 264 23 112 156 195 494 15 214 207 46 0 2 82 33 96 15 24 9 210 17 14 6 0 0 5 1 69 233 426 280 210 336 82 844 23 54 0 0 1366 1 897 329 135 0 26 98 68 347 60 105 11 753 69 63 28 0 10 15 3 693 476 964 798 510 872 219 1.

32 1.98 0.25 0.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 18.281 39 1. MENINGGAL.055 1.000 penduduk) (4) (5) 693 476 964 798 510 872 219 1.36 2.03 0.88 0.31 0.86 0. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.77 .31 1.21 1.50 1.52 0.46 0.59 0.10 0.333 3.79 0.00 1.447 72 533 813 1.83 0. DAN INCIDENCE RATE CAMPAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Laporan Rutin No.64 1.31 1.93 0. 2010 Meninggal (3) 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Kasus IR (per 10.00 0. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.80 1.61 1.30 0.60 0.00 0.11 0.32 1.10 0.00 0.197 1.34 0.19 JUMLAH KASUS. Kemkes RI.Lampiran 3.63 3.

Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. KLB Dengan Investigasi Penuh Frek. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. KLB Dgn Laporan ke Pusat Total Kasus Meninggal (3) (4) (5) (6) (7) (8) 5 5 8 1 17 8 2 24 3 0 3 26 25 6 8 8 0 0 0 1 2 2 2 6 0 4 3 3 0 1 5 4 8 190 4 3 7 1 9 8 2 20 2 0 2 20 21 6 6 7 0 0 0 1 2 2 1 4 0 4 3 3 0 0 5 2 3 148 0 1 5 0 9 4 0 20 2 0 0 17 0 4 0 7 0 0 0 1 1 2 1 4 0 4 3 2 0 0 4 2 1 94 0 1 5 0 17 4 0 24 2 0 0 23 0 4 0 8 0 0 0 1 1 2 2 6 0 4 3 3 0 0 4 4 3 121 28 38 185 5 167 70 17 409 30 0 14 280 122 50 49 221 0 0 0 17 45 20 18 63 0 30 66 26 0 2 100 68 630 2. KLB Dengan Spesimen > 5 Frek.20 FREKUENSI KLB DAN JUMLAH KASUS PADA KLB CAMPAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Laporan KLB No.Lampiran 3. Kemkes RI. 2010 Total KLB Frek.770 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 34 42 .

Provinsi (1) (2) Campak Total Darah (Serum) Sampel Frekuensi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Kemkes RI. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. 2010 (3) (4) Gabungan (Campak dan Rubella) Rubella Negatif Tanpa Spesimen Pending Lab.Lampiran 3.21 KLB CAMPAK BERDASARKAN KONFIRMASI LABORATORIUM MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Konfirmasi Laboratorium No.176 98 1.151 9 49 28 252 0 0 9 142 . Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 28 23 40 5 71 43 17 115 13 0 14 136 122 48 48 46 0 0 0 5 10 10 9 28 0 21 17 15 0 2 26 12 37 2 4 3 0 3 0 0 0 0 0 2 6 2 3 1 6 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 2 0 0 1 5 1 2 9 34 48 0 18 0 0 0 0 0 9 70 9 23 11 183 0 0 0 0 0 0 0 37 0 0 49 0 0 2 100 30 544 1 0 3 1 7 1 1 19 2 0 1 13 21 2 7 2 0 0 0 1 2 1 1 2 0 3 1 3 0 0 0 0 3 6 0 127 5 81 12 12 325 27 0 5 159 107 22 38 38 0 0 0 17 45 14 8 19 0 23 17 26 0 0 0 0 18 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 8 0 0 0 6 0 5 0 0 0 0 7 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 7 3 1 1 2 0 6 7 0 2 1 0 0 4 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 5 4 10 0 62 58 0 52 3 0 0 30 0 5 0 0 0 0 0 0 0 6 10 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 32 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 65 961 46 1.

22 JUMLAH KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Bulan) No.Lampiran 3. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Kemkes RI. 2010 <1 1-4 5-9 10-14 > 15 Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) . Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 1 1 6 0 32 1 0 0 0 2 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 8 0 60 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 5 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 0 23 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 5 0 3 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 3 12 24 0 119 4 0 0 0 4 0 4 0 0 0 10 3 0 0 0 0 0 0 Indonesia 6 53 84 29 17 189 Sumber: Ditjen PP & PL.

Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 .23 JUMLAH KASUS DIFTERI PER BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus per Bulan No. Kemkes RI.Lampiran 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 3 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 9 2 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 5 0 11 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3 0 12 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 0 14 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 0 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 10 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 9 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 3 12 24 0 119 4 0 0 0 4 0 4 0 0 0 10 3 0 0 0 0 0 0 Indonesia 19 22 22 22 20 19 13 17 9 9 5 12 189 Sumber: Ditjen PP & PL.

AFP RATE DAN NON POLIO AFP RATE MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Minimal Kasus per Tahun Jumlah Kasus AFP AFP Rate / 100.60 3.06 2.40 2.38 2.75 3.83 2.64 1.96 3.96 3. Kemkes RI.73 2.59 3.80 2.00 2.000 penduduk Non Polio AFP Rate / 100. 2010 24 80 26 37 7 17 10 42 6 43 42 62 224 162 12 151 28 14 18 17 11 5 15 43 7 15 17 28 27 8 6 4 12 35 95 40 69 19 85 18 57 10 12 62 246 188 35 241 84 25 19 58 30 11 23 29 31 14 66 22 21 7 9 7 8 6 2.60 2.00 1.00 2.83 3.64 1.60 2.93 8.62 2.80 2.33 4.14 1.75 3.21 2. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.00 1.29 5.59 4.13 1.000 penduduk (2) (3) (4) (5) (6) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.24 JUMLAH KASUS AFP.43 2.80 2.93 2.20 5.13 1.93 8.Lampiran 3.15 2.36 4.72 2.01 2.42 3.30 2.43 2.41 5.95 3.57 2.21 3.00 3.220 1.75 2.91 3.38 2.40 2.95 2.25 2.67 3.29 4.24 3.87 2.31 5.682 2.00 2.15 2.65 .00 3.14 1.57 2.00 1.33 4.00 2.

Lampiran 3.25 JUMLAH KASUS AFP MENURUT KRITERIA KLASIFIKASI KLINIS DAN PROVINSI TAHUN 2009 Klasifikasi Klinis No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Kemkes RI. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.636 . 2010 Virus Polio Liar Kompatibel Bukan Polio (3) (4) (5) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 35 95 40 67 12 17 18 85 9 59 55 84 234 186 34 230 30 11 21 28 31 21 13 63 7 22 25 18 56 8 7 8 7 1.

09 0.37 2.32 3.59 1.29 1.656 1.26 1.39 0.07 0.254 777 695 947 531 576 5.50 1.250 5.563 254 1.621 61 736 46 746 23.94 1.244 1.00 2.2009 No.045 3.7 59.54 2.03 4.44 24.62 17.375 720 518 508 696 1.98 1.08 5.454 1.54 115.09 22.99 1.950 5.17 3.00 19.54 35.64 78.22 0.374 2.81 2.13 12.854 260 1.861 17.067 948 365 2.51 3.86 158.26 JUMLAH PENDERITA.87 108.27 1.00 16.697 2.33 392.12 1.5 44.15 1.35 1.Lampiran 3.16 1.01 1.89 50.56 3.00 0.41 1.912 1.04 13.93 0.69 0.990 2.34 1.24 0.629 623 251 2.47 2.67 0.00 1. CASE FATALITY RATE (%).470 145 950 31.573 4.17 66.00 2.64 1.80 1.69 3.21 1.79 48.469 1.828 28.27 0.924 2.89 68.73 3.926 780 2.822 758 206 27 0 24 184 183 1.80 0.41 54.19 13.74 1.10 0.35 2.29 8.90 3.813 1.42 12.115 1.08 33.87 21.43 1.50 2.33 0.22 56.10 0.99 0.154 1.92 170.59 1.61 29.58 0.46 11.75 9.10 1.81 2.32 0.75 25.25 23.86 23.83 0.72 8.006 172 43 0 250 510 228 32 49 11 10 9 3 1 40 22 26 231 228 21 168 53 19 4 22 32 7 11 105 16 17 27 9 4 0 0 7 2 1 1.907 828 245 2.272 129 1.86 9.73 32.538 1.599 (11) 0.40 103.38 1.35 3.881 2.279 1.09 95.290 492 2.65 39.52 0.20 0.90 3.248 19.85 31.08 1.66 48.74 119.78 1.389 3.97 26.631 5.00 2.94 27.89 31.42 114.76 6.60 10.62 0.66 0.01 13.79 316.24 1.58 1.58 296.73 1.23 0.50 19.55 25.62 11.96 74.16 0.48 7.22 193.125 1.74 0.954 6.309 1.01 35.91 1.341 1.89 28.79 36.306 5.00 1.19 13.714 1.02 758 2.338 2.75 31.30 0.220 491 341 3.28 1.99 1.17 15.25 29.60 57.75 1.391 2.187 CFR P (15) (17) 1.32 1.15 54.29 1.062 735 1.420 (19) 1.850 353 1.90 13.119 17.80 74.00 29.20 25.84 3.462 25.20 1.762 1.05 61.92 26.583 971 15.82 0.60 1.28 0.6 313.20 48.189 795 309 3.38 1.12 0.94 23.05 18.38 3.00 2.88 IR P (12) (13) 38.34 0.38 1.67 15.51 1.20 0.23 0.78 1.657 1.932 25.59 193.62 20.113 5.33 0.97 0.44 228.251 2.72 66.184 20.36 Sumber: Ditjen PP & PL.05 1.00 2.15 86.19 26.81 1.98 35.89 2.4 89.865 1.724 28.640 952 3.04 52.43 16.480 274 4.67 1.68 0.00 1.466 18.82 1.30 1. Kemkes RI.000 PENDUDUK DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD/DHF) MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .44 2009 M CFR (18) 1.38 18.29 0.27 0.12 1.00 0.75 1.032 37.09 2008 M (14) 2.06 1.55 0.8 68.83 0.36 1.203 18.06 0.44 42.21 1.90 0.587 6.75 29.39 0.74 0 38.92 31.67 73.27 1.402 58 969 24.77 0.590 6.22 1.18 16. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia P 2005 CFR IR P 2006 CFR IR P (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 629 3.22 28.86 30.63 4.65 32.36 65.22 .3 173.00 4.31 1.3 65.76 0.235 2.57 15.89 41.85 1.65 69. DAN INCIDENCE RATE PER 100.612 95 302 31 0 138 128 60 43.810 615 399 9.53 IR (20) 36.360 339 4.07 4.97 1.59 6.851 10.29 121.21 3.64 1.596 1.80 1.03 56.569 3.836 30.87 47.11 0.22 0.321 5.95 65. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.28 2.54 4.862 349 1.60 1.807 34 1.98 1.13 0.62 64.19 0.732 944 236 2 0 275 208 103 13 34 24 15 5 13 7 23 2 11 86 288 327 26 372 98 14 2 11 7 8 16 102 24 17 30 7 4 0 0 7 2 4 1.80 1.55 2007 M CFR (10) 1.310 3.02 36.01 71.00 0.21 10.91 1.09 0.81 63.65 1.96 3.48 158.83 32.01 0.16 0.99 1.78 137. 2010 14.89 1.73 2.792 1.39 167.55 0.66 3.53 2.36 35.06 2.411 692 91 149 0 384 204 196 20 58 18 27 5 6 8 20 16 14 32 307 248 15 185 70 9 4 7 171 16 20 68 20 7 23 12 2 0 0 7 2 3 0.361 23.73 34.90 0.436 4.61 20.64 59.22 1.536 20.00 2.00 0.165 1.430 1.00 0.75 0.71 0.4 13.49 0.53 0.74 1.00 0.22 0.17 3.15 0.659 513 455 2.89 0.71 31.

00 100.15 100.82 60.00 64.00 91.00 37.63 17 22 17 10 9 9 9 10 6 4 6 26 35 5 38 6 9 8 5 10 9 13 13 9 9 21 3 6 1 0 4 0 6 355 73.00 100.00 70.00 64.00 100.33 20.43 85.71 57.86 100.44 20.00 20.00 80.00 83.05 77.33 42.71 100.00 100.00 40.00 80.00 81.95 100.31 100.29 100.00 0.00 20.71 83.00 100.43 64.86 60.00 0.96 50.00 100.50 44.00 100. Kemkes RI.33 83.2009 No.00 90.00 0.00 66.00 100.00 100.00 100.00 88.78 100.00 71.00 100.00 85.00 100.00 63.33 42.71 100.22 71.33 100.00 90.00 0.91 81.00 85.00 90.Lampiran 3.43 50.00 86.00 22.00 15 19 12 11 10 9 7 10 5 3 5 25 35 5 38 6 9 8 1 10 6 12 13 9 7 20 5 5 2 0 3 2 3 330 71.00 100.00 100.00 92.14 68.33 100. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.43 78.43 76.00 52.00 25.00 88.00 100.91 100.23 90.30 58.00 85.33 19.00 0.33 89.00 43.00 92.00 92.00 91.00 100.27 JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG TERJANGKIT DEMAM BERDARAH DENGUE MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .33 83.29 77.00 100.00 71.86 92.71 100.00 75.75 58.00 100.33 100.86 69.00 71.50 17 22 16 11 7 12 10 11 7 5 6 26 35 5 38 8 9 7 6 14 13 13 13 11 9 22 6 5 4 0 4 5 7 384 .22 15.00 37.00 75.82 87.89 25.31 100.00 100.00 75.00 80.67 100.22 73.30 60.29 33.00 15 20 15 11 8 12 9 10 7 4 6 25 35 5 38 6 9 8 5 10 12 13 13 9 9 21 7 5 1 0 6 3 4 361 65.00 33.00 96. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.89 6.63 100.47 90.50 25.50 22.16 100. 2010 Tahun Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota 2005/2006 2007 2008 2009 Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 20 440 23 28 19 11 10 15 9 11 7 6 6 26 35 5 38 7 9 9 20 14 14 13 14 13 10 23 12 6 5 9 8 9 21 465 23 30 19 11 11 15 10 11 7 7 6 26 35 5 38 7 9 10 20 14 14 13 14 15 11 24 12 6 5 11 8 9 27 483 23 33 19 12 11 15 10 14 7 7 6 26 35 5 38 8 9 10 21 14 14 13 14 15 11 24 12 6 5 11 9 11 29 497 2005 12 17 10 11 7 9 3 10 6 5 5 25 35 5 38 6 9 9 7 7 6 13 12 9 10 21 6 5 1 0 3 4 4 330 2006 2007 2008 2009 % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 57.00 100.00 50.00 100.00 100.91 85.91 73.00 70.00 100.14 100.25 83.00 100.

00 1.26 8.68 1.28 2. 2010 2005 2006 2007 2008 2009 P M CFR P M CFR P M CFR P M CFR P CFR (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (17) 267 145 95 95 148 48 1.50 3.14 13.Lampiran 3.79 0.90 1.28 18.14 1.52 3.443 209 2.36 0.68 16.661 46 1.051 127 2.84 5.75 1. Kemkes RI. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.425 95 351 1.71 - 178 636 380 216 362 1.51 10.540 0 12 2 1 9 4 1 3 2 1 13 23 18 14 106 0.057 104 120 163 66 293 - 7 8 3 3 3 6 11 5 - 1.371 2.38 1.44 0.00 1.88 45 86 11 1.60 6.68 0.28 6.047 814 217 106 41 584 2.49 0.48 5.00 4.223 488 50 269 177 20 133 6.38 0.980 277 2.23 1.25 4.26 7. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.05 2.468 1.67 1.98 3.54 0.89 2.12 1.2009 No.43 2.41 390 1.61 163 401 40 46 218 880 226 102 1.51 2.00 2.78 15.53 0.28 KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DIARE MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .44 2.147 416 437 37 423 205 605 473 6.194 69 133 486 6 6 1 2 1 0 26 28 13 7 37 2.24 2.89 0.544 5 13 6 12 1 1 45 7 1 7 12 3 6 158 3.023 130 169 1.67 0 18 1 6 3 0 4 5 3 2 1 0 1 5.46 2.88 2.07 3.756 1.85 8.74 .11 0.

622 24.095 1. 2010 Jumlah Wilayah Terjangkit P M (3) (4) 3.291 117 2. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Kasus Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.Des Jan .862 7.Feb Jan .Des Apr .Des Okt Nov .Des Jan . Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.759 5.742 8.Lampiran 3.Des Jan -Des Jan .756 0 60 63 181 5.355 Periode Kab/Kota Kecamatan Desa/Kelurahan (5) (6) (7) (8) - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 1 7 7 8 7 7 2 17 1 3 - 8 24 25 2 1 1 2 - 12 88 70 2 1 2 6 - 83.Des Nov .Sept Mei .Des Des Jan .982 103 814 - 458 - 3.609 528 12.045 6. Kemkes RI.098 276 - - - - - Jan .Nov Feb .29 JUMLAH KASUS DEMAM CHIKUNGUNYA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.Juni Okt Jan .Mei Feb.Des - .

Lampiran 3.994 947 284 325 1. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.806 3.288 276 - 294 1.518 422 1.818 653 502 2.123 575 1.061 636 303 1. Kemkes RI.30 JUMLAH DAERAH TERTULAR RABIES DAN JUMLAH KASUS GIGITAN HEWAN PENULAR RABIES (GHPR) SERTA HASIL PEMERIKSAAN SPECIMEN HEWAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.274 9 288 264 21.228 - . 2010 Jumlah Daerah Tertular Jumlah Kabupaten/Kota Jumlah Kasus Desa Kecamatan Seluruhnya Terjangkit % GHPR (3) (4) (5) (6) (7) (8) Pemberian VAR Lyssa (9) (10) Jumlah Specimen Hewan Diperiksa Positif (11) (12) 12 26 18 11 10 2 10 1 1 12 1 9 8 10 10 8 13 8 23 8 6 2 2 5 - - - - - 329 2.718 2.386 2.316 195 1.825 3.859 605 1.095 0 83 105 18.237 346 104 173 689 512 805 827 139 215 933 276 - 5 18 14 5 0 9 0 7 1 0 2 28 33 1 0 1 12 4 4 3 5 0 35 8 - 12 39 275 35 40 211 0 7 0 2 0 0 65 0 1 0 0 7 0 0 0 0 534 0 - - 216 - - - - 45.466 35.882 629 110 240 1.

31 JUMLAH PENDERITA FILARIASIS MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .132 2.158 10.359 141 274 532 257 210 94 74 207 31 53 474 412 37 219 76 18 71 1.127 2.427 11.730 253 225 385 409 30 451 128 201 224 96 70 27 988 1. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.682 232 202 385 409 30 451 60 181 224 92 70 12 355 1.359 141 274 532 257 210 94 74 207 31 53 404 395 37 219 91 18 71 1.473 11.914 .699 11.359 104 231 532 255 191 94 74 151 31 53 252 224 5 207 67 18 62 1.359 104 274 532 255 191 94 74 207 31 53 265 395 37 238 67 18 69 1.682 253 225 385 409 30 451 60 208 224 96 70 27 985 1.Lampiran 3.132 2. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.682 244 226 385 409 30 451 60 208 224 92 70 12 985 1. Kemkes RI. 2010 Tahun 2006 2007 2008 2009 (3) (4) (5) (6) 2.2009 No.

175 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 40 3. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 Kabupaten/Kota (3) Bandung Boyolali Sleman Pasuruan - Jumlah Spesimen Diperiksa Hasil Spesimen Positif Spesimen Pool Human Rodent Human Rodent Diperiksa Positif (4) (5) (6) (7) (8) (9) 0 0 0 40 - 0 0 0 3. Kemkes RI.175 0 0 0 0 . Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.32 SITUASI PES MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.Lampiran 3.

MENINGGAL.08 Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.2009 2004 No.08 378 23 6.06 114 16 14.97 667 57 8.04 138 11 7.Lampiran 3. DAN CASE FATALITY RATE (CFR) LEPTOSPIROSIS MENURUT PROVINSI TAHUN 2004 . 2010 Keterangan : K= Kasus. Kemkes RI. M= Meninggal . Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 DKI Jakarta 78 6 8 62 0 0 51 0 0 470 34 7 37 2 5 8 2 25 12 Jawa Barat 7 0 0 0 0 0 0 0 0 9 1 11 0 0 0 0 0 0 13 Jawa Tengah 40 10 25 34 10 29 35 9 26 70 8 11 72 9 13 275 14 5 14 DI Yogyakarta 20 1 5 8 2 25 0 0 0 3 1 33 125 1 1 95 7 7 15 Jawa Timur 3 0 0 1 0 0 1 0 0 65 5 8 29 4 14 0 0 0 16 Banten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 34 3 9 0 0 0 0 0 0 17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 26 Sulawesi Selatan 18 8 44 9 4 44 2 2 100 16 5 31 0 0 0 0 0 0 27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 166 25 15. Provinsi (1) (2) 2005 2006 2007 2008 2009 K M CFR K M CFR K M CFR K M CFR K M CFR K M (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) CFR (20) 1 Aceh 0 0 0 0 0 0 49 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Jambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 Kep.33 JUMLAH KASUS.55 263 16 6.

34 JUMLAH KASUS DAN MENINGGAL FLU BURUNG MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 . Kemkes RI.Lampiran 3. M= Meninggal 2006 2007 2009 2008 2005-2009 K M K M K M K M K M K M (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 8 3 1 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 2 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 2 0 0 0 0 0 0 0 11 22 3 0 5 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 10 18 3 0 3 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 6 0 1 0 0 0 0 8 5 5 0 2 11 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 5 0 1 0 0 0 0 8 4 5 0 1 9 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 7 4 2 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 4 2 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 10 6 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 8 6 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 4 8 0 1 0 3 0 0 44 40 12 1 8 30 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 7 1 6 0 1 0 0 0 0 38 34 11 1 5 27 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 20 13 55 45 42 37 24 20 21 19 162 134 . Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.2009 2005 No. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. 2010 Keterangan : K= Kasus.

80 52.013 444 339 461 226 182 360 492 348 512 252 173 20.087 1.21 61.02 28.43 44.574 617 2.697 565 1.474 7.57 30. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.00 100. Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia.00 100.44 24.77 32.10 9.91 51.120 1.00 100.97 19.278 218 218 4.27 40.202 12.245 811 1.885 1.17 18.341 5.00 100.20 28.56 - 1.571 749 759 415 1.00 100.61 35.50 24.87 12.907 4.83 39.40 118 118 - 22.15 32.035 98 108 - - 257 18.499 1.580 1.43 44.00 100.00 100.07 31.16 33.213 10.290 821 403 1.00 100.16 - % 406 2.36 18.00 100.79 17.28 1.96 33.244 1.07 24.00 100.167 401 447 - 58.617 1.199 4.57 12.203 1.61 20. 2010 % Jumlah % (7) (8) (9) (10) (11) 27.73 36.626 859 5.210 727 4.794 792 666 848 987 513 1.047 38.675 678 495 438 263 765 53.36 55.00 100.09 30.73 17.10 18.30 82.69 45.91 111 85 - Berat 34.48 23.62 18.28 82.04 25.00 100.07 35.04 34.69 57.828 984 1.69 15.466 6.07 38.661 499 1.781 717 523 811 1.254 850 1.173 1.051 318 203 158 189 - - Sumber: Ditlantas Babankam.147 1.878 7.00 100.929 14.111 268 127 - Luka 21.170 2.735 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jumlah Korban Jumlah Kecelakaan Meninggal % (3) (4) (5) 608 3.75 44.90 44.46 Luka Ringan 1.11 17.02 26.83 17.00 .00 100.74 71.78 39.07 61.73 69.470 297 1.834 2.44 13.44 24.00 100.00 100.638 1.038 1.397 1.34 21.592 1.Lampiran 3.00 100.610 3.61 25.34 43.035 2.106 4.00 100.636 931 709 542 367 1.18 26.09 27.00 100.35 26.00 100.313 388 665 1.40 42.00 100.96 42.00 100.00 100.47 46.456 561 2.08 2.00 100.00 100.929 145 150 - 19.15 14.485 2.57 2.407 1.00 100.00 100.15 28.70 51.07 52.83 19.40 10.16 - - - 378 20.368 1.46 28.00 100.278 12.62 14.15 57.022 1.14 31.08 7.951 100.50 80.47 4.95 48.00 100.00 100.42 27.134 381 1.35 JUMLAH KEJADIAN KECELAKAAN LALU LINTAS DAN JUMLAH KORBAN LUKA DAN MENINGGAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.050 1.169 203 3.45 20.159 99.367 1.013 411 409 313 164 524 61.81 42.21 58.126 2.687 195 573 456 341 463 289 414 474 355 366 1.69 33.167 20.83 39.448 (6) 22.

03 88.24 77.060 99.69 72.719 86.450 174.569 168.362 271.761 322.734 884.31 92.354 139.82 93.127 308.645 7.62 62.02 86.35 83.681 65.215 76.036 47.474 176.90 79.081 53.49 98.67 64 85.031 4.374 90.064 162.849 64.788 164.763 61.96 79.198 38.898 638.491 24.245 50.554 118.947 13.91 77.488 38.256 18.240 25.423 23.402 37.693 183.663 14.65 57.79 93.39 89.804 45.235 571.611 20.76 95.21 41 87 36.632 81.73 96.859 26.173 21.552 43.550 42.35 84 94.708 73.817 40.037.26 87.551 17.11 55.214 176.811 409.028 75.64 101.711 104.72 81.264 22.08 80.51 88.182.963 29.04 69.25 93.883 107.257 115.541 967.54 73.648 62.04 84.945 77.51 74 101.723 27.000 61.067 51.345 24. K4.055 290.16 51 63.162 110.25 88.161 54.845 46.211 10.793 303.412 590.308 75.277 158.358 (10) 59.239 32.555 26.36 94.28 61.968 566.80 90.790 137.22 82.053 177.517 20.261 221.09 81.032 43.590 50.67 91.96 95.452 425.87 83.178 64.541 67.864 109.75 48 73.00 75.21 81.898.283 15.563 152.063 32.692 61.878 131.731 59.38 Ibu Nifas Kunjungan % KF3 Nifas 3 kali (9) 56.75 78.47 84.204 16.07 91.51 93.100 68.09 94.287 605.441 33.318 85.57 93.455 113.38 75 93.74 82.215 83.456 65.226 31.114 45.838 3.727 11.37 99.012 4.11 79.422 71.845 143.071 23.54 .52 75 52.50 92.18 85.07 80.90 92.686 140.766 107.054 125.58 94.769 38.833 18.472 202.03 95.179 96.792 1.457 19.33 95.129 175.186 26.24 98.75 98.707.96 85.91 91.85 94.370 89.428.43 102.645 43.80 90.36 82. Kemenkes RI Jumlah K1 % K1 K4 % K4 Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) (8) 113.71 85.799 27.895 47.443 632.37 17 66.496 67.58 76 74.371 24.464 563.238 45.889 568.616 206.533 77.158 176.44 85.051 5.Lampiran 4.658 2.664 49.59 80.105 58.489 144.79 29.05 93.45 67.205 17.28 98.31 88.823 55.02 97.516 15.421 665.763 611.24 100.15 84 70.927 102. DAN PERSALINAN DITOLONG TENAGA KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Ibu Hamil No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.687 47.595 180.92 98.921 4.08 96.507 62.875 39.128.505 32.410 145.185 37.678 26.339 624.320 185.11 80.76 75.629 171.032 175.506 25.710 46.00 94.19 92.079 15.33 57.73 89.039 126.867 153.032 42.59 80.520 12.130 108.992 95.179 83.807 32.142 36.02 96.652 22.880 42.418 155.74 86.169 77.412 118.534 4.757 24.812 Ibu Bersalin Ditolong Nakes % Ditolong Nakes (9) (10) 85.592 39.612 990.612 745.86 84.647 54.900 155.637 45.30 84.73 89.73 64 67.402 103.327 62.54 81 76.275 87.516 35.04 97.096 90.28 93.63 63.38 39.946 29.320 48.60 83.285 53.45 100.58 47 71.68 85.979 103.049 72.594 77.213 36.892.097 107.359 73.444 25.104 42.1 CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL K1.36 84.08 86.060 49.425 28.01 85.91 90.53 85.170 27.017 163.01 90.480 56.678 41.23 85.29 90.10 61.

62 15.65 0.51 0.18 49.71 0.11 0.31 1.78 0.48 0.61 1.34 0.69 0.13 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 99 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 99 99 100 0.58 50.32 0.04 1. Statistik Kesejahteraan Rakyat Penolong Waktu Lahir Dokter Bidan Tenaga Medis Lain Dukun Famili (3) (4) (5) (6) (7) Jumlah (8) 8.67 0.53 14.06 12.35 30.58 66.65 35.30 0.87 0.47 13.86 0.53 0.74 17.40 68.84 15.98 6.45 7.91 2.53 29.43 61.42 0.18 0.07 1.29 15.61 1.48 20.85 55.61 13.43 0.60 37.22 47.92 1.65 3.74 2.33 0.61 0.24 0.48 42.64 50.88 15.62 62.75 65.31 15.06 1.76 41.14 10.91 9.05 14.74 0.49 1.58 13.80 0.15 20.08 0.82 100 12.47 2.47 66.44 27.26 14.29 1.71 40.39 9.20 34.24 71.11 0.86 13.Lampiran 4.07 6.41 0.38 9.97 15.00 64.59 0.53 2.44 13.69 36.40 1.88 8.70 8.15 0.44 16.39 27.62 0.60 10.19 3.59 12.77 76.84 5.52 3.40 8.99 0.76 0.39 60.54 0.32 11.70 29.13 0.51 39.01 52.92 63.22 .60 35.16 12.94 1.79 21.08 67.83 3.78 42.83 3.63 27.86 1.46 40.54 68.27 0.95 13.51 0.28 75.84 58.88 23.98 54.25 0.53 36.70 12.86 18.70 5.2 PERSENTASE BALITA MENURUT PENOLONG KELAHIRAN TERAKHIR DAN PROVINSI TAHUN 2009 Perkotaan + Perdesaan No Provinsi (1) 1 (2) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : BPS.41 33.46 35.64 0.59 48.40 49.23 57.30 1.00 55.25 12.44 1.38 3.57 5.65 0.98 16.67 8.82 0.89 1.75 31.19 62.10 23.97 61.86 21.41 70.25 62.93 33.38 0.53 32.40 49.79 5.

972 99.70 86.752 48.70 35.70 86.970 43.80 33.110 426.670 43.401 104.80 76.920 44.20 73.222 23.681 170.90 64.747 5.50 92.30 82.576 16.524 51.74 .Lampiran 4.653 87.00 94.10 32.104 107.807 144.819 53.90 88.525 157.661 77.552 563.85 75.40 85.278 688.751 80.667 30.819 15.50 31.60 81.60 73.098.754 121.77 80. Kemenkes RI KN1 % KN1 KN LENGKAP %KN LENGKAP (4) (5) (6) (7) 98.278 5.20 60.842 534.391 132.885 170.232 43.687 18.10 83.00 75.986 112.946 3.80 80.503 44.30 94.763 35.71 77.70 83.065 93.98 89.925 196.60 92.344 31.344 171.505 118.391 37.964 152.201 40.70 91.318 273.00 95.202 66.20 93.25 21.60 82.574 48.449 130.015 23.663 119.73 91.598 696.590 22.161 77.805 78.366 23.431 80.582.244 299.493 14.223 27.477 18.462 15.619 54.854 150.157 101.953 90.60 82.600 69.040 41.084 133.434 38.714 58.17 99.53 66.310 71.971 22.15 86.442.474 155.376 67.50 78.316 518.831 153.422 7.75 82.380 807.887 38.114 19.303 547.153 8.865 23.00 30.991 87.57 4.31 85.786 269.3 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS.64 3.50 74.953 48.371 33.59 68.30 70.095 27.25 83.724 54.60 68.68 70.00 30.858 79.60 77.80 23.40 83.058 22.00 92.55 73.888 21.584 42.362 48.041 54.80 79.60 81. PELAYANAN KESEHATAN BAYI DAN ANAK BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 KUNJUNGAN NEONATUS NO PROVINSI JUMLAH BAYI (1) (2) (3) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.90 74.943 21.101 508.765 33.59 90.554 65.20 80.857 7.30 99.00 90.741 49.386 10.33 28.91 88.70 99.632 14.20 75.344 92.01 78.

623 130.80 169.222 28.00 363.252 811.013 32.05 82.380 196.555 - 66 30.505 78. Kemenkes RI 4.40 426.845 10.676 57.587 78.136 7.442.68 1.45 608.136.108.765 14.40 80.649 17 Bali 49.602.375 105.694 207.334.70 312.972 79.000 36 - 27.60 1.493 36.00 3.912 45.60 116.92 123.115 39.463 72.020 79.614.031 91.234 9 Kepulauan Bangka Belitung 22.10 620.352 29 Sulawesi Barat 21.888 15.937 10 Kepulauan Riau 38.514 64.00 140.206 73.435.198 172.571 22 88.562 42.417 144.80 74.628 - 52.527.471 30 178.359 100.326 9.114 40.434 15.963 39.726 81.844 34.86 1.526 65.50 470.584 79.455 161.00 140.927 807.554 58.85 117.471 - 37.00 364.946 13.148 57.507 46.124.695 20 Kalimantan Barat 99.219.933 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 58.00 351.00 1.133 26 Sulawesi Selatan 171.984 7 Bengkulu 33.780 821.4 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI.38 388.84 153.840 16.549 1.121.871 79.244 65.166 66.495 27.131 4 Riau 118.028 138.851 26.47 195.42 1.00 196.571 24 Sulawesi Utara 37.20 45.238 22 Kalimantan Selatan 71.40 84.524 4.017 64.556 191.867 92.823 67.387 217.04 4.36 184.001 654.124 22.401 242. ANAK BALITA.107.00 86.943 3.303 39.845 77.925 54 416.80 66.508.376 - 33 Papua 51.52 216.537 42.79 790.704 70.540 48.197 7.754 84.106 84.141 30 Maluku 33.745 169.816 76.419 0 (11) - 76.391 48.682 320.515 81.99 81.407.067 64.633 80.693 25 Sulawesi Tengah 54.Lampiran 4.99 3.097 11 15 85.50 232.854 23.64 260.809 23 42.072 170. DAN MURID SD KELAS 1 DAN SEDERAJAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO PROVINSI JUMLAH BAYI (1) (2) (3) 1 Aceh 2 Sumatera Utara CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI JUMLAH % (4) (5) JUMLAH ANAK BALITA (6) CAKUPAN PELAYANAN JUMLAH MURID CAKUPAN PELAYANAN MURID SD KELAS SATU KESEHATAN ANAK BALITA SD KELAS SATU JUMLAH % JUMLAH % (7) (8) (9) (10) 98.867 13 Jawa Tengah 563.304 73 97.077 70.672 18 Nusa Tenggara Barat 107.093.944 18.768 42.338 21 Kalimantan Tengah 42.600 73.22 30.154 54.310 30.071 30 65.90 20.246 155.778 27 Sulawesi Tenggara 53.417 81.806.22 - 8.539 82.222.681 27.137 Jawa Barat Banten 46 529.339 68.802.977 65.171.80 200.50 389.00 60.048 66.659 450.807 47.819 125.08 344.00 38.083.78 .009 46.097 36.761 90 929.477 5.256 507.902.776 75.63 242.935 29.44 207.085 75.923 18.484 5 41.984 31 Maluku Utara 23.20 421.085 52.935 81 86.926 38.23 206.588 16.552 70.81 101.965 14 DI Yogyakarta 44.513 48.741 38.567 46.617 92.44 28.25 1.808 DKI Jakarta Jawa Timur 62.78 125.829 386.199 8 Lampung 150.62 230.298 73.534 38.78 5.00 166.234 23 Kalimantan Timur 65.330 47 86.56 - 299.117 180.358 92.590 120.667 80.00 369.73 122.591 79.494 23.920 522.31 300.552 547.80 579.110 243.104 49.91 804.137 5.86 244.124 78.72 2.299 905.94 132.250 82.620 352.00 3.83 432.272 67.10 110.909 115.816 137.041 29.594 275.870 32 Papua Barat 18.768 51.900 12 16 - 1.160 99.341 88.305.952 4.333.70 574.661 Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.578 56.344 41.061 80.111 3 Sumatera Barat 104.11 14.70 2.00 227.24 844.937 37.779.390 19 Nusa Tenggara Timur 121.96 411.038 21.714 90.514 71.00 1.786 76.480 60 331.50 2.589 46 431.324.876 1.198 80.26 224.14 268.504 28 Gorontalo 19.371 119.

260 638 3.707 15.846 1.347 10.77 34.363 48.925 196.626 21.773 7.946 666.162 10.406 8.913 4.122 8.621 3.4 33.084 133.390 3.3 30.511 7.434 38.310 71.75 22.926 5.61 51.012 9.809 5.879 215 1.613 10.4 8.911 1.554 65.464 37.0 25.34 44.21 22.556 8.888 21.743 13.590 22.85 33.634 5.682 781 2.849 6.490 34.354 112.036.714 58.144 15.5 58.854 27.32 41.2 32.0 31.585 440.983 3.518 10.939 36.1 27.391 37.318 1.16 21.656 86.303 547.807 144.296 14.98 24.983 3.451 23.732 22. Kemenkes RI CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL KOMPLIKASI JUMLAH % (5) (6) OBSTETRI KOMPLIKASI (4) CAKUPAN PENANGANAN OBSTETRI KOMPLIKASI JUMLAH % (5) (6) 98.165 39.Lampiran 4.77 63.2 29.265 4.563 792 4.238 5.621 11.807 8.371 33.35 45.86 32.299 13.56 18.517 2.0 44.50 .39 27.802 25.741 49.661 16.108 12.76 13.552 563.31 49.0 30.5 63.584 42.0 14.065 2.527 18.819 53.910 15.27 12.589 3.94 4.588 6.582 42.8 1.7 6.8 76.031 1.693 6.765 33.403 8.670 4.696 11.920 44.477 18.073 2.2 5.39 39.489 126.65 6.33 50.181 2.104 107.760 5.133 84.381 1.041 54.7 13.4 4.051 3.401 104.078 22.710 8.210 11.114 19.68 44.5 CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL DAN OBSTETRI KOMPLIKASI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PROVINSI JUMLAH BAYI NEONATAL KOMPLIKASI (2) (3) (4) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.422 812 1.8 3.593 23.319 36.752 64.8 26.366 16.0 33.211 4.749 5.82 42.821 21.2 20.222 23.941 4.443 16.967 2.01 84.1 22.8 10.189 29.9 21.558 3.645 82.938 6.676 17.5 24.034 15.380 807.445 3.681 170.117 6.142 2.344 171.244 299.685 5.958 207.701 5.656 5.140 13.897 2.737 271 119 843 164 14 225 625 39.737 44.972 99.68 41.30 24.524 51.8 11.754 121.67 13.854 150.1 8.442 158.163 18.5 3.34 32.522 2.498 7.733 9.918 17.442.779 7.016 10.0 29.478 52.82 23.206 4.898 1.682 23.30 72.33 52.505 118.104 1.082 29.42 12.6 12.365 5.815 9.60 13.661 14.152 25.481 7.6 6.3 0.557 121.988 554 4.511 23.123 41.

876 1.467 215.666 138.402 352.148.787 179.075.216 452.099 1.61 80.735 63.345 424.404.297 315.707 165.74 15.58 33.451.791 490.684 1.968 915.34 20.371 493.66 73.003 474.65 75.85 48.642 119.84 18.182 575.997 284.882 198.31 71.04 81.75 69.35 66.628 43.92 55.728 584.832 547.51 75.12 16.080.05 15.05 9.15 17.204 128.71 75.667 17.328 368.61 18.218 46.88 23.072.819 688.678.706 164.53 81.560 77.614 71.20 29.073 554.28 78.916 455.745.301 339.813 37.006 392.313 7.41 29.19 67.352 72.793 1.80 24.211.487 787.895 37.961 106.731 62.266 1.30 82.960 157.62 18.77 23.606.057.487.659 2.669.538 101.14 85.27 76.287 5.32 78.030.273.737 66.25 22.486 592.62 20.166 132.538 642.45 77.995.396 367.60 9.26 13.70 .526.228 1.416 24.224 391.778 6.87 59.772 75.13 17.073 419.933 89.286 784.88 71.36 64.43 79.093 57.354 306.6 JUMLAH DAN PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : BKKBN.731 726.203 551.311 198.935 182.02 77.581 39.366 1.488.Lampiran 4.15 9.366 261.045 92.959 653.025 549.75 17.910.525 369.377 139.724 117.346 287.030 1.501 311.84 71.64 70.076 910.13 69.91 18.63 21.15 28.580 432.480 1.86 43.024 5.664 35.30 16.55 558.32 17.86 13.62 80.78 23.471 386.67 85.12 16.445 162.480 305.230 39.36 33.367 8.99 74.348 638.85 74.271 166.264.52 27.892 7. 2010 Peserta KB Baru Jumlah PUS (3) Peserta KB Aktif Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) 742.504 50.50 70.462 418.675 75.437 1.600 37.040 1.214 20.359 882.668 993.55 70.836.098 6.

382 4.739 29.45 22.63 97 0.18 1.700 12 Jawa Barat 107.34 127.500 42.980 40.230 Sulawesi Barat 407 1.733 41.813 7 Bengkulu 2.70 5.300 4.158 10.03 882.05 56.07 5.48 158.927 13.652 4.91 6.45 92.226 13.72 68 0.96 1.08 101 0.863 38.354 306.13 67.416 334.16 7.78 16.98 424.61 38.26 27.17 73 0.43 18.574 6.14 34.377 10.21 668.510 0.961 19 Nusa Tenggara Timur 5.045 24 Sulawesi Utara 3.208 11.94 10.757 13.02 7.74 33.362 3.27 16.174 0.35 78.36 52 0.328 26.538 8.52 14.03 4.441 27.052 51.34 112.481 44.451.03 354 0.50 2.33 311.35 777 0.339 33.811 36.169.349 15.44 2.793 15.062 15.57 39.66 226 0.422 40.764 51.51 79.905 0.356 0.39 1.25 3.813 33 Papua 298 0.082 8.246 25.500 33.243 24.44 18.723 28.704 5.748 4.528 46.26 230 0.504 17.26 8.26 65.37 6.50 617.14 13.74 1.703 27.15 21.71 180 0.081 5.185 43.323 8.17 28.37 2.931 7.07 14.80 624 1.91 2.469 8.67 24 0.895 2.13 20.01 148.25 46.45 23.45 16.910 36.66 153 0.501 26 Sulawesi Selatan 4.51 119 0.73 74 0.735 9.075 47.89 89.093 39 0.02 537.62 255 0.941 6.809 2.602 5.08 3.182 32.487 9.024 15 Jawa Timur 52.83 197 0.94 46.99 20.672 5.953 5.991 30.12 453 0.716 50.26 3.596 7.89 168.919 12.960 37.828 38.37 29.671 51.03 9.87 242 0.71 5.05 809 0.819 52.401 0.560 25 Sulawesi Tengah 2.854.481 15.56 179.990 1.052 16.48 25.72 991 0.06 5.746 6.642 10.030.036 3.142 44.445 10.170 48.186 2.36 119.96 165.73 100.09 10.484 7.299 1.614 21 Kalimantan Tengah 440 0.99 175.113 8.933 23 Kalimantan Timur 3.731 30 Maluku 823 1.53 5.60 233 0.13 26.469 48.570 19.707 Nusa Tenggara Barat 6.86 213 0.26 54.23 64 0.463 9.352 27 Sulawesi Tenggara 28 Gorontalo 29 819 1.402 0.81 2.03 64.71 155 0.08 18.43 15.25 7.18 115.342 18.51 162.47 5.552 25.612 3.7 HASIL PELAYANAN PESERTA KB BARU MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) IUD Metode Kon trasepsi Kondom Implan Jumlah % Jumlah MOP MOW Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (11) 1.88 809 0.667 Indonesia Sumber: BKKBN.53 2.20 2.010 53.43 355 0.05 2.012 34.31 452 0.67 1.839 1.310 11.112 2.31 452.70 211 0.294 19.146 28.088 5.593 4.016 3.80 1.42 425 0.208 16 Banten 17 Bali 18 1 Aceh 2 3 29.147 4.18 13.643 11.84 34.06 10.64 1.48 733 0.016 42.289 3.066 12.07 8 Lampung 9.40 11.47 1.112 62.77 61.94 2.05 4 Riau 3.51 352.16 1.583 23.378 7.38 13 Jawa Tengah 32.58 368.70 14 DI Yogyakarta 9.40 1.39 4.54 57.319 18.133 2.359 17.20 5.854 1.482 (10) 16.059 7.874 27.62 112 0.634 30.24 10.82 9.33 7.678.06 106.60 80.88 41.85 63.337 0.65 9.625 7.87 139.06 191.863 12.19 13.072 44.618 17.267 2.66 63.27 128.383 30.135 4.522 34.33 5.10 101.009 30.92 72.701 3.876 5.060 32.40 11 DKI Jakarta 27.87 441.86 25.10 19.345 9.150 60.462 7.29 8.079 7.26 66.485 50.13 10.990 45.03 15.675 3.297 2.502 33.377 16.36 1.214 32 Papua Barat 256 1.33 50 0.31 54.66 43.63 28.55 752.430 37.20 16 0.003 5.472 9 Kepulauan Bangka Belitung 589 1.49 37.072 52.091 45.939 4.063 1.14 50.16 41. 2010 .990 15.39 11 10 Kepulauan Riau 1.35 12.674 1.97 77.554 36.75 512 0.13 26.68 37.39 961 1.180 1.470 0.21 322 0.243 38.18 40.03 103.916 0.718 2.295 0.218 0.150 16.01 Sumatera Utara 17.898 5.652 30.058 0.416 10.464 9.70 558.82 1.39 8.81 7.17 8.27 3.23 85.725 37.587 2.54 5 Jambi 2.481 1.16 740 0.194 24.33 68.71 37.719 7.11 10.777 11.464 31.600 31 Maluku Utara 595 1.684 7.21 25.338 59.994 15.38 26.03 100.Lampiran 4.65 6 Sumatera Selatan 3.50 51 0.579 22.328 1.09 6.040 7.03 17.204 22 Kalimantan Selatan 1.666 20 Kalimantan Barat 1.28 57.16 52.281 8.25 71.28 181 0.307 27.706 Suntikan Jumlah % % (12) (13) (14) Pil Jumlah % (15) (16) Total (17) 1.70 176.62 191 0.646 32.73 1.781 33.44 853 0.23 Sumatera Barat 6.087 7.299 45.21 20.44 27.036 3.430 6.274 17.55 46.835 1.37 85.87 150.06 4.19 8.137 6.07 12.09 107.34 43.26 12.92 233.216 0.57 2.577 4.33 5.417 59.93 62.22 45.75 138.31 41 0.11 11.21 97.21 10.74 26.693 6.62 12.15 659 0.362 44.999 11.02 130 0.940 7.17 525 1.590 3.88 814 0.

787 132.768 11.459 3.580 78.03 872 0.179 7.594 49.016 49.55 19.221 36.212 17.53 61.210 43.365 5.564 4.354 1.208 13.772 75.648 33.94 57.25 87.50 13.90 284.286 1.724 10.741 3.45 31.07 20.42 4.580 3.960 74.311 70.74 5.145 2.78 6.32 445.076 74.080.10 23.13 65.25 54.09 549.12 6.274 1.030 0.89 137.720 0.257 1.986 1.608 49.72 24 Sulawesi Utara 419.745.684 85.724 79.66 142.341 4.50 20.423 3.50 303.659 558.538 1.836.838 2.75 73.81 420 0.495 33.375 25.224 3.413 7.622 5.11 20.35 174.51 34.737 198.37 59.40 9.53 1.400 23.506 42.14 251.99 40.578 36.18 16.520 41.26 389.33 1.507 0.610.083 47.228 315.21 10.27 123.71 16 Banten 24.063 2.87 198.86 3.31 34.264 5.700 0.36 2.192 0.61 .48 10.85 39.76 4.79 2.959 2.164 5.480 70.11 8.796 50.108 0.50 47.689 11.224 35.905 11.367 1.43 54.795.605 9.003 71.91 43.30 8.88 57.211.668 64.243.363 53.85 4.012 2.054 36.20 65.50 53.496 46.227 35.833.369 6.86 20 Kalimantan Barat 787.09 232 0.30 11.598 391.591 1.896 5.575 22.11 30 Maluku 261.313 32.72 384.73 19.346 71.37 76.35 299.45 6.93 140.88 20.166 81.68 15 Jawa Timur 7.13 9.19 16.663 0.378 0.28 756.838 2.386 1.287 81.891 55. 2010 43.896 13.935 76.79 62.52 159.09 1.766 52.239 17.48 15.273 12.13 5.028 40.14 81.222 6.68 34.23 7.45 1.02 31.355 7.28 8.882 287.757 3.910.366 117.14 7 Bengkulu 369.80 868.071 39.278 5.616.75 80.916 69.471 910.089 1.485 9.99 372 0.94 55.093 5.049 5.36 111.650 29.33 2.301 71.168 1.71 4 Riau 688.87 236.894 10.54 16.313 432.715 8.63 2.31 53.339 3.526.88 9.272 30.62 43.67 231.170 36.21 1.30 186.44 5.09 6.72 18 Nusa Tenggara Barat 915.12 40.476 1.49 47.722 1.61 42.995 48.70 3.Lampiran 4.105 1.61 2.540 26.322 1.025 5.869 2.34 209.67 22 Kalimantan Selatan 726.170 1.77 63.072.006 554.91 10 Kepulauan Riau 14 DI Yogyakarta 1.82 27 Sulawesi Tenggara 386.649 0.017 12.25 458 0.75 26 Sulawesi Selatan 1.324 3.20 7.467 1.58 57.45 33.69 711.901 25.348 85.61 22.113 46.38 84.83 1.27 23 Kalimantan Timur 584.780 9.02 7.982 8.832 66.706 70.606.383 19.182 67.456 2.26 67.462 75.701 4.14 1.36 16.024 78.317 10.10 2.52 Sumatera Utara 2.778 82.452 1.021 0.53 142.28 374.76 17.364 6.021 2.836 10.136 3.479 40.718 6.682 34.97 130.676 22.437 75.43 7.164.073 69.56 28 Gorontalo 198.739 2.396 80.664 59.29 9.462 13.404.04 211.959 638.525 12.13 25 Sulawesi Tengah 490.882 44.42 8 Lampung 1.040 80.669.67 139.70 140 0.018 9.273.834.02 7.567 40.939 4.10 113.749 3.806 55.67 409 0.12 66.057.581 75.67 29 Sulawesi Barat 166.44 464.05 4.01 83 0.701 1.76 92.482 12.437 26.791 339.381 0.52 229.662 43.340 1.653 1.063 12.12 76.486 493.995.49 1.75 113.099 182.728 551.88 160.81 149.69 24.64 55.552 41.65 21 Kalimantan Tengah 392.19 11.534 3.753 8.00 19 Nusa Tenggara Timur 653.488.59 4.15 2.072 0.476 13.454 45.551 7.79 3.059 26.36 5.10 8.030 5.892 33.073 418.72 7.487 455.759 1.41 66.38 50.221 42.04 52.44 98.99 11 DKI Jakarta 1.752 21.59 3 Sumatera Barat 784.695 34.964 1.628 39.325.36 1.819 575.791 1.07 73.164 2.31 77.05 1.960 3.90 15.03 685.500 8.840 3.684 7.147 2.855 1.56 2.23 17.07 9.173 41.805 34.19 8.122 2.26 23.44 3.299 0.480 367.33 307 0.69 4.51 3.44 196.40 8.714 16.371 73.09 485.13 262.633 7.60 71.83 19.39 6.73 41.14 45.863 27.59 334.14 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Sumber : BKKBN.172 0.22 569 0.58 4.74 38.55 118.645 1.84 19.996 4.811 2.853 9.87 4.884 29.305 49.400 2.77 7.61 10.591 38.255 0.38 34.850.532 0.88 394.71 488.264.967 5.48 4.075.94 619 0.203 77.367 993.675 33.148.71 5.39 149.968 547.927 0.33 1.919 39.70 30.487.416 38.77 115 0.67 261.829 6.10 3.811 4.406 4.95 39.02 445.56 1.119 3.35 27.788 6.10 134.613 42.098 6.34 7.517 46.746 3.271 157.77 293.31 9.08 6 Sumatera Selatan 1.925 1.083 1.875 2.266 75.742 2.786 12.94 1.32 12 Jawa Barat 8.61 33.863 8.24 194.748 11.066 35.44 22.09 477.366 474.993 55.143 13.86 103 0.98 22.81 171.69 260.94 9 Kepulauan Bangka Belitung 215.8 JUMLAH DAN PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Jumlah PUS (3) Peserta KB Aktif IUD Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) MOW Jumlah (8) MOP % Jumlah % (9) (10) (11) Metode Kontrasepsi Kondom Implan Jumlah % Jumlah % (12) (13) (14) Suntikan Jumlah % (15) (16) (17) Pil Jumlah % (18) (19) 742.14 436 0.622 2.006 0.35 845.55 16.229 2.867 6.844 41.31 5 Jambi 592.882 14.06 3.368 1.733 5.34 12.35 326.93 224 0.771 3.87 7.82 283.70 13.47 196.54 14.997 164.504 37.48 329 0.280 38.41 14.103 5.13 21.031 11.284 45.216 6.128 5.18 110.264 17 Bali 642.127 10.03 40.21 21.339.566 34.297 77.525 1.23 14.65 109.304 8.45 13 Jawa Tengah 6.82 304.830 1.37 102.648 46.782 1.80 317.61 221.123 1.72 319.978 14.731 305.731 7.718 8.208 1.47 14.46 144.88 1.38 2.519 49.12 4.72 149.

345 21.163 87.581 5.51 19.515 2.735 100.328 100.681 7.421 3.640 87.230 100.185 37.54 3.030.276.18 83 0.96 1.771 1.083 1.938 11.185 3.818 58.584 29.303 57.214 100.061 0.093 10 Kepulauan Riau 27.00 21 Kalimantan Tengah 53.652 1.89 374.98 93.96 424.00 14 DI Yogyakarta 18.65 7.709 10.319 33.64 1.47 98.39 504 0.938 32.381 3.204 100.60 162.46 8.354 5.97 31.89 2.87 37.627 45.107 1.26 77.631 3.57 400 0.228 21.56 41.359 100.625 1.79 22.770 58.53 1.00 2 Sumatera Utara 273.00 8 Lampung 268.065 34.235 72.32 34.00 20 Kalimantan Barat 84.216 100.972 4.142 65.352 100.96 1.41 46.27 3.22 573 2.47 1.653 40.00 33 Papua 27.79 7.74 35.81 1.34 101.00 31 Maluku Utara 34.11 1.560 100.032 9.71 368.838 2.29 20.268 34.163 66.028 83.16 27.045 100.699 9.177 10.577 9.29 849 1.530 4.24 25.787 26.833.933 100.00 25 Sulawesi Tengah 70.121 97.665 100.69 1.04 2.Lampiran 4.133 86.636 3.501 100.52 106.80 36.00 29 Sulawesi Barat 34.00 13 Jawa Tengah 457.443 3.600 100.961 100.51 39.984 61.00 24.036 3.895 28 Gorontalo 31.614 100.504 100.345 100.00 12 Jawa Barat 846.00 9 Kepulauan Bangka Belitung 29.813 100.51 452.19 763 1.00 26 Sulawesi Selatan 268.090 4.569 31.009 5.73 15.33 3.862 2.50 1.445 100.352 100.00 15 Jawa Timur 610.66 57.16 4.86 311.00 27 Sulawesi Tenggara 67.24 708 0.564 0.23 18.53 19 Nusa Tenggara Timur 104.58 3.303 55.859 74.96 56.868 6.00 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 80.64 1.64 165.747 11.60 26.48 38.75 3.707 100.439 3.451.71 12.98 92.00 7 Bengkulu 71.377 100.471 10.9 JUMLAH DAN PROPORSI PESERTA KB BARU MENURUT TEMPAT PELAYANAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Klinik KB No Provinsi (1) (2) Pemerintah Peserta % (3) Swasta Peserta (4) (5) Dokter Praktik Swasta Bidan Praktik Swasta % Peserta % Peserta % Peserta Jumlah % (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Aceh 126.36 1.282 90.316 28.84 19.098 92.94 37.82 14.32 50.678 67.24 9.76 1.38 4.70 2.47 101.00 100.958 3.00 4.22 1.98 5.82 3.73 6.05 939 1.935 3.416 100.88 31.937 17.00 22 Kalimantan Selatan 84.47 30.678.597 58.19 3.16 306.98 882.901 31.199 2.24 139.182 0.80 1.717 1.00 23 Kalimantan Timur 51.639 32.41 63.435 3.76 45 0.03 1.271 1.92 151 0.856 6.13 12.00 304.930 5.72 128.36 8.699 4.73 1.104 4.00 4.60 393 0.50 72.00 100.89 89.49 14.00 3 Sumatera Barat 93.73 2.935 5.388 1.50 1.630 2.00 30 Maluku 51.024 62.75 6.00 Indonesia Sumber: BKKBN.75 20.975 2.13 138.06 361.967 2.131 6.722 2.34 62.60 228 0.876 100.091 70.298 25.456 1.68 209.61 416 0.70 18.34 1.116 51.666 100.642 100.404 59.942 82.308 19.00 32 Papua Barat 18.00 4 Riau 94.15 10.00 24 Sulawesi Utara 59.00 178.218 100.75 119.402 100.296 70.627 2.88 37.982 48.19 3.179 14.666 64.73 45.565 2.71 54.19 36.538 100.43 4.364 8.568 17.590 89.97 161.930 59.392 71.31 6.652 38.793 100.597 4.26 179.760 30.00 3.47 6.852 6.41 4.540 75.12 2.728 64.736 32.32 8.18 573 1.731 100.989 37.507 92.94 359.18 43.19 137.00 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 148.81 352.34 30.508 2. 2010 .65 71.805 4.26 2.630 36.119 1.452 3.97 3.37 40.989 30.550 44.27 2.19 471.00 11 DKI Jakarta 136.096 1.

83 8.606 874 54.25 44.15 1.045 71.443 67.86 8.77 1.189 69.893 66.297 67.15 1.10 558 235 42.054 79.21 1.175 76.877 4.11 1.958 1.569 7.417 828 58.559 82.64 8.11 1.520 1.389 885 63.504 875 58.18 1.559 1.419 72.14 71.72 438 414 94.082 71.392 54.361 503 21.989 768 38.14 14 DI Yogyakarta 438 428 97.591 1.55 3 Sumatera Barat 3.199 5.73 346 311 89.466 81.42 2.68 1.84 827 451 54.60 897 823 91.933 65.085 76.96 25 Sulawesi Tengah 1.095 86.012 68.76 6.96 3.155 54.53 26 Sulawesi Selatan 2.106 82.48 317 222 70.55 1.14 75.161 21 Kalimantan Tengah 1. Kemenkes RI 496 74 14.277 65.405 82.968 69.772 4.61 28 Gorontalo 493 250 50.898 2.710 1.96 2.87 3.359 5.866 2.86 8 Lampung 2.61 27 Sulawesi Tenggara 1.Lampiran 4.436 2.962 1.435 1.096 76.28 3.38 2.67 5.76 .97 2 Sumatera Utara 5.44 2.171 75.84 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Sumber : Ditjen PP & PL.60 5.2009 No Provinsi (1) (2) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Jumlah Desa Desa UCI % Jumlah Desa Desa UCI % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Desa Desa UCI (9) (10) % (11) 1 Aceh 6.75 19 Nusa Tenggara Timur 2.88 10 Kepulauan Riau 291 176 60.95 1.433 86.42 22 Kalimantan Selatan 1.559 7.965 1.097 72.194 78.754 80.709 1.941 2.057 69.079 70.69 683 98 14.47 7 Bengkulu 1.150 69.89 13 Jawa Tengah 8.03 333 222 66.51 893 579 64.511 65.461 1.52 438 432 98.813 2.22 967 499 51.98 267 267 12 Jawa Barat 5.689 69.221 74.10 PENCAPAIAN DESA/KELURAHANUNIVERSAL CHILD IMMUNIZATION (UCI) MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 .305 83.481 881 59.00 11 DKI Jakarta 282 211 74.012 2.048 726 69.53 967 476 49.42 95.127 2.72 715 712 99.643 4.45 16 Banten 1.454 986 67.841 28.377 70.271 1.97 6 Sumatera Selatan 2.828 3.75 78.82 282 234 82.49 1.80 339 294 86.71 1.886 92.75 1.284 4 Riau 1.097 70.06 1.86 1.919 2.318 84.560 7.00 707 705 99.483 1.71 601 371 61.272 73.00 62.082 717 66.295 926 71.78 2.069 572 53.67 100.603 1.29 1.92 543 196 36.73 606 399 65.269 64.606 89.410 1.43 24 Sulawesi Utara 1.223 76.479 1.43 8.380 2.978 4.247 1.66 2.310 1.930 51.155 1.634 1.939 1.167 83.813 1.38 1.253 265 21.000 3.325 1.221 448 36.21 1.008 9 Kepulauan Bangka Belitung 321 269 83.370 81.842 80.456 1.508 1.49 20 Kalimantan Barat 1.94 5 Jambi 1.35 1.116 83.492 6.380 782 23.27 1.316 85.17 885 793 89.444 37.080 67.81 17 Bali 702 702 100.30 3.60 1.27 1.55 5.54 1.58 18 Nusa Tenggara Barat 803 700 87.858 1.505 6.23 1.459 83.345 1.63 15 Jawa Timur 6.41 2.883 87.40 6.88 1.065 85.546 1.33 23 Kalimantan Timur 1.369 82.51 1.80 6.103 2.745 2.642 935 56.252 1.329 1.273 72.114 76.437 3.72 1.69 3.

379 91.36 40.21 574.534 50.67 45.437 61.020 93.908 100.99 68.39 47.08 24 Sulawesi Utara 45.78 17 Bali 61.192 93.282 101.72 61.91 60.54 62.393 8 Lampung 173.374 91.75 33.30 39.96 857.681 89.607 77.68 80.02 105.73 42.91 31.188 93.22 86.677 97.20 2 Sumatera Utara 325.08 24.00 118.05 26 Sulawesi Selatan 168.09 4.397 56.676 48.944 219.988 80.201 86.281 200.25 134.636 102.667 90.78 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 40.72 292.467 92.434 95.743 85.20 7.86 119.12 35.02 286.062 69.49 214.066 66.778 85.63 11.702 97.888 67.00 19.93 36.527 40.753 97.51 20.663 95.67 23.261 90.57 86.440 119.921 96.607 84.489 71.882 122.853 96.943 89.106 96.535 70.998 92.00 37.753 78.64 44.01 20.020 95.351 76.846.11 572.581 78.969 96.597 31.35 83.462.677 99.09 11 DKI Jakarta 188.429 37.15 44.618 89.754 99.35 90.148 89.292 95.201 31.408 91.605 79.46 34.040 97.53 230.480 102.86 21.706 93.36 102.360 89.78 15 Jawa Timur 605.408 89.131 82.676 76.04 505.66 27 Sulawesi Tenggara 53.13 21 Kalimantan Tengah 52.532 81.19 40.321 116.966 97.19 117.868 57.66 49.23 171.70 907.959 100.297 89.50 49.279 76.28 29 Sulawesi Barat 24.931 44.119 90.359 96.26 117.581 88.02 143.552 79.33 20 Kalimantan Barat 99.95 60.96 139.68 54.733 140.481 13.555 18.012 103.20 598.679 98.00 22.305 86.86 14.03 594.39 23.83 45.565 88.820 91.875 81.510 94.449 87.204 53.51 38.662 92.87 101.45 171.82 613.046 96.33 23.604.35 49.86 80.429 80.813 90.06 47.83 116.163 85.058 85.036 89.76 61.128 88.149 62.85 81.60 46.795 93.487 19.906 84.107 93.872 37.65 20.19 166.74 22 Kalimantan Selatan 71.554 97.74 73.950 97.25 9 Kepulauan Bangka Belitung 24.46 4.11 6.70 24.402 46.937 97.33 61.980 58.01 31.397 91.72 64.238 82.186 99.87 586.274 101.57 156.135 93.55 311.453 89.960 607.169 93.43 20.121 86.97 24.336 97.27 50. Kemenkes RI.99 94.41 52.005 74.89 24.93 289.916 50.143 99.02 23.199 92.12 150.92 24.643 89.80 33.792 98.176 80.943 91.661 97.61 28 Gorontalo 25.63 160.434 88.212 62.308 26.480.88 31.978 88.15 34.04 144.28 147.06 11.11 40.09 868.660 23.480 97.705.80 47.627 85.74 25.429 92.736 94.143 87.218 91.59 112.899 77.31 32.78 196.23 532.566 165.974 96.170 20.59 45.37 874.965 88.647 83.48 4.948 91.937 24.758 82.59 89.951 95.05 84.89 49.329 103.157 93.567 84.08 117.060 113.480 72.47 67.04 168.536 165.95 47.77 19.826 73.038 100.137 292.46 159.16 104.64 4.487 72.821 80.307 92.530.925 85.81 105.07 19.70 22.86 46.51 161.325 100.732 58.844 85.733 122.41 97.804 589.23 23 Kalimantan Timur 77.879 93.80 621.464 83.01 32 Papua Barat 20.004 34.905 101.761 68.582.26 3 Sumatera Barat 106.668 94.907 96.38 11.995 91.25 13 Jawa Tengah 577.30 95.88 572.933 99.183 98.053 877.99 197.95 23.067 97.533 72.46 69.757 57.031 48.025 107.95 35.313 93.406 80.986 96.19 54.85 164.234 94.038 95.21 64.031 96.599 92.127 87.98 110.69 172.443 65.940 15.64 33 Papua 49.191 95.172 99.826 42.120 88.30 303.550 102.66 49.067 99.990 85.604 39.74 97.27 39.042 99.71 37.60 36.60 23.156 94.97 201.763 93.Lampiran 4.601 99.08 89.39 102.242 92.349 70.494 49.13 558.23 51.849 93.00 230.27 71.40 45.98 40.789 91.92 38.981 21.020 9.305 70.45 38.399 102.796 95.603 89.648 89.34 101.219 62.16 195.869 102.07 23.87 100.16 37.298 77.086 90.62 35.06 67.670 88.25 119.790 111.165 71.97 21.148 88.30 94.03 80.431 61.60 27.065 91.984 96.395 91.868 32.28 40.36 69.914 94.80 88.110 116.034 91.42 582.317 93.51 85.005 112.26 20.66 69.500 70.569 102.84 4.48 34.88 49.23 291.18 85.104 26.890 51.791 73.56 605.10 38.95 24.934 92.80 38.82 212.66 4 Riau 137.377 51.91 162.76 31 Maluku Utara 23.82 64.619 82.343 97.40 13.37 72.812 100.15 20.93 102.672 43.235 81.561 74.904 99.395 86.11 CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO PROVINSI (1) (2) SASARAN (3) BCG DPT/HB(1) JUMLAH % HB0 JUMLAH % (4) (5) JUMLAH % (6) (7) (8) (9) IMUNISASI PADA BAYI POLIO1 DPT/HB(3) JUMLAH % JUMLAH % (10) (11) (12) (13) POLIO3 JUMLAH % (14) (15) POLIO4 JUMLAH % (16) (17) CAMPAK JUMLAH % (18) (19) 1 Aceh 105.23 159.242 10 Kepulauan Riau 38.873 98.987.84 4.517 83.77 14.39 63.70 62.05 26.176 87.40 19.971 98.607 90.134 102.898 113.46 117.40 19 Nusa Tenggara Timur 127.78 925.94 599.994 102.66 14 DI Yogyakarta 43.861 24.81 2.63 167.219 93.929 103.41 39.144 93.95 15.421 39.41 26.333 95.38 30 Maluku 36.75 93.098 93.513 96.948 80.627 94.20 68.943 96.72 73.386 90.83 589.459 86.706 85.408 94.12 220.22 14.221 95.56 4.03 70.982 102.00 2.18 69.82 12 Jawa Barat 931.71 36.233 101.405 28.89 84.972 76.75 147.138 96.98 6.773 93.34 101.697 100.50 25 Sulawesi Tengah 53.202 95.50 44.79 18 Nusa Tenggara Barat 105.95 208.663 95.183 97.908 89.98 97.114 92.737 83.870 92.06 44.102 98.822 92.611 98.640 99.84 25.207 93.378 100.789.74 215.627 86.885 96.09 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.370 64.747 91. 2010 .20 222.03 73.48 873.62 12.313 4.64 36.94 86.512 69.49 11.075 42.762 83.723 83.693 96.528 93.87 16 Banten 206.36 28.19 96.99 157.060 117.57 5.

0 26 Sulawesi Selatan 8.2 17.9 3.3 16 Banten 15.2 7.3 3.4 4.2 30 Maluku 5.8 7.6 1.0 0.6 4.0 6.2 4.9 15.8 3.7 11.4 4.7 23 Kalimantan Timur 7.0 7.8 7.5 11 DKI Jakarta 23.8 11.8 4.0 3.0 4.8 5.4 8.2 Sumatera Utara - 1.1 18 Nusa Tenggara Barat 3.4 5.7 21.6 13.CAMPAK PADA BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .6 19.1) 2.6 15.1 27 Sulawesi Tenggara 4.4 6.3 13 Jawa Tengah 4.2009 NO PROVINSI (1) (2) 1 Aceh 2 3 TAHUN 2006 2007 2008 (3) (4) (5) 2009 (6) 10.2 5.3 3.5 28 Gorontalo 11.5 5.8 29 Sulawesi Barat 15.12 DROP OUT RATE CAKUPAN IMUNISASI DPT1 .4 4.9 10 Kepulauan Riau - 10.0) 15 Jawa Timur 4. Kemenkes RI.3 32 Papua Barat 7.1 13.3 Sumatera Barat 9.7 4.6 5.3 4.2 17 Bali 8.0 9.4 7.7 9.8 (1.8 5.8 6.6 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 21.5 3.3 21 Kalimantan Tengah 1.4 9.8 5 Jambi 1.2 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.9 4.7 9 Kepulauan Bangka Belitung - 4.3 25 Sulawesi Tengah 9.5 22 Kalimantan Selatan 8.8 31 Maluku Utara 5.1 2.1 5.1 8 Lampung - (1.0 3.5) 9.1 1.3 24 Sulawesi Utara 4.8 2.9 3.5 4.2 13.1 8.7 4.9 4.3 33 Papua - 21.3 7.1 5.0 19 Nusa Tenggara Timur - 22.8 19.3 10.7 5.8) (0.0 7.8 6.6 13.6 8.8 4.8 7.8 12.0 5.9 4 Riau 2.2 6.1 6.5 10.3 5.9 12 Jawa Barat 21.7 3.5 4.1 4.1 5.8 9.4 5.8) (1.2 7. 2010 .9 6.4 7.4 6.3 4.4 5.2 14 DI Yogyakarta 0.8 3.8 8.0 7.0 8.7 5.4 (0.2 20 Kalimantan Barat 8.3 6.Lampiran 4.2 6.

607 63.99 9 Kepulauan Bangka Belitung 26.79 32 Papua Barat 23.456 59.562 50.35 530 0.590 32.733 24.266 11.735 47.632 31.515 5.812 52.093 114.130 1.98 9.57 28.142 2.874 12.330 25.032 63.77 3.070 45.443 8.05 109 0.031 32.33 3.261 41.88 21.935 54.59 188.54 247.951 28.024 21.89 231 0.836 16.239 48.018 21.34 6.09 76.943 29.85 268 0.90 82.81 1.64 24.613 7.081 0.328 76.571 22.06 8.329 26.401 38.172 12.12 14.754 61.455 72.419 36.567 1.617 1.681 72.86 199.073 25.675 10.342 56.893 17.462 2.34 11.159 45.00 0 0.00 34.721 1.721 20.089 14.217 13.194 40.446 19.177 245.625 6.188 35.85 23.158 822.391 9.53 1.453 12.550 5.933 10.565 160.92 2.887 8.725 78.19 4.57 58.44 115.116 49.065 7.51 140 0.18 13.18 19. Kemenkes RI.46 78.078 103.836 58.197 71.72 962 3.28 4.Lampiran 4.035 3.70 9.85 10.103 51.70 10.339 71.028 101.321 56.381 44.72 605 2.45 1.486 64.26 2.72 52.382 13.14 12.00 21 Kalimantan Tengah 56.11 3.270 28.974 155.43 686.24 25 Sulawesi Tengah 59.965 14.42 14 DI Yogyakarta 48.602 124.92 54.41 2 Sumatera Utara 357.956 69.85 23 Kalimantan Timur 85.49 50.39 21.984 35.202 20.32 880 0.171 43.20 104 0.63 17 Bali 67.132 47.39 245 0.318 8.18 16.335 50.773 8.155 27.528 3.966 82.340 2.42 42.53 86.09 1.799 42.945 52.53 34.34 14.66 466.63 13.958 16.60 111.51 12.691 4.214 67.169 1.879 65.96 16.89 4.45 28.057 69.963 10.909 78.210 4.021 4.15 100.580 49.08 12 Jawa Barat 1.75 31 Maluku Utara 25.213 22.29 11.515 121.22 9.755 8.383 66.13 23.00 0 0.69 1.622 17.06 2.707 19.88 0 0.84 33.331 12.47 29.70 4.782 67.81 550 0.88 26.702 46. 2010 .69 37.62 10.317 23.976 25.024.763 39.114 21.77 8.97 45.210 16.09 406 0.593 4.28 47.002 219.21 29.32 32.658 39.029 13.38 3.880 88.98 6.764 46.294 18.026 67.009 311.17 4.99 28 Gorontalo 28.269 4.00 0 0.230.955 41.668 20.494 43.07 19.277 8.54 10.592 148.38 6.44 2.78 22.753 1.52 44.95 11 DKI Jakarta 158.45 21.651 144.08 2.81 680 0.23 37.60 557.385 45.11 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 79.37 19 Nusa Tenggara Timur 134.670 52.14 68.961 40.99 46.586.00 13 Jawa Tengah 924.65 74.22 24 Sulawesi Utara 50.174 17.59 0 0.228 80.02 7.52 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.415 0.43 43.99 111 0.973 13.22 6.35 145.41 11.11 1.207 62.384 83.53 129.818.049 11.76 18.124 234.03 20.31 82.155 9.15 10 Kepulauan Riau 41.53 147.410 58.65 1.33 40.434 10.87 2.26 244.64 91.22 16 Banten 225.74 4.19 0 0.919 44.00 0 0.351 89.85 71.521 22.085 26.530 62.810 102.578 80.90 7.25 41.10 72 0.671 56.912 9.02 49.76 26 Sulawesi Selatan 198.28 3.88 7 Bengkulu 43.13 1.301 34.00 50.09 97.468 8.482 3.03 18.20 98 0.808 11.28 84.19 69.089 6.766 45.806 62.22 21.06 7.527 56.122 49.13 CAKUPAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) Jumlah Ibu Hamil (2) (3) TT1 Ibu Hamil Diimunisasi TT3 % Jumlah TT2 Jumlah % Jumlah % Jumlah (4) (5) (6) (7) (8) (9) TT4 (10) TT5 TT2+ % Jumlah % Jumlah % (11) (12) (13) (14) (15) 1 Aceh 110.75 19.960 16.31 5.930 0.36 27 Sulawesi Tenggara 59.169 77.786 33.609 59.209 0.385.343 69.265 12.553 5.62 292 0.921 14.16 2.32 13.98 52.22 29.00 147.09 7.91 33 Papua 55.22 30 Maluku 33.74 225 0.56 4 Riau 151.60 286 0.777 23.39 25.908 14.026 24.750 6.504 76.10 2.169 5.16 3 Sumatera Barat 115.20 15.285 23.40 22 Kalimantan Selatan 78.60 1.00 20.466 49.05 108.28 29 Sulawesi Barat 27.551 10.34 15.72 15 Jawa Timur 338.53 8 Lampung 189.309 67.27 493.46 2.216 8.942 15.00 0 0.289 38.909 88.966 26.75 20 Kalimantan Barat 106.37 10.56 5.994 7.42 234.641 55.92 753.41 30.91 432.69 16.839 2.333 34.67 170 0.169 77.438 141.05 133.264 14.429 35.146 55.84 29.13 49.862 47.42 13.270.56 136.942 66.182 11.02 18 Nusa Tenggara Barat 115.850 47.603 0.825 32.541 76.623 53.

407 0.019 0.072 0.127 1.756 1.91 514 0.221 7.477 14.293 1.046 0.033 1.054 0.96 2.53 798.530 1.88 1.23 949 0.789 2.399 0.261 0.629 4.27 - - - - - - - - - - - 9 Kepulauan Bangka Belitung 247.13 - 28 Gorontalo 194.037 1.13 8.697 0.248 1.122 4.086 7.32 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 191.08 10 Kepulauan Riau 387.21 2.570 0.51 780 0.959 1.19 243 4.266 3.110 2.014 1.112 0.28 776 0.12 127 0.966 1.544 2.51 7.14 23 Kalimantan Timur 526.688 0.42 17.10 9.32 30.70 2.07 2.07 221 0.839.547 0.33 2.03 31.478 62.11 3.387 0.967 228 0.06 9.03 65.944 508.69 11.869 4.16 196 0.111 7.69 24.924 4. Kemkes RI.934 20.959 3.35 5.310 38.43 58.23 1.09 24 Sulawesi Utara 443.84 1.503.82 32 Papua Barat 148.162 0.21 433 0.019 0.843 2.022 2.540 1.126 2.00 0 0.11 8 Lampung 1.433 1.00 26 Sulawesi Selatan 1.46 474.46 12.19 10.189 2.Lampiran 4.169 2.174 6.88 10.25 - - 134.39 778.822 2.093 0.138 12.887 1.20 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 691.098 0.13 172 0.62 1.46 6.456 0.07 8.754 1.69 5.997 2.766 6.46 36.681 2.010.95 17.51 0.94 484.10 417 0.33 4.044 0.014 1.86 4.53 650.557 0.984 0.921 2.86 1.401 6.14 1.06 2.58 1.875 0.81 953.060 0.06 1.174 0.844 1.134.145 0.48 17 Bali 715.500 0.01 30 Maluku 173.965 989 0.84 5.32 13.868 27 Sulawesi Tenggara - - - - - - - - - - - - - - - - - 0.932 30.56 1.447 1.74 11.271 2.12 216 0.26 901 15.42 11.20 345 0.40 880 15.151 0.12 12.14 1.109 11.34 598 0.87 43.32 4.37 33 Papua 433.58 - - 97.135 0.39 811 14.674.538 7.09 203 0.098 4.020 8.17 13 0.81 735.788.201 - 33.20 789 0.674 0.29 12.77 Jawa Timur 5.24 8.939 1.835 1.58 23.33 2.44 442.409 29 Sulawesi Barat 208.82 18.833 2.38 9.70 1.16 2.043 6.357 12.877 10.04 47 0.08 760.51 10.097 1.14 CAKUPAN IMUNISASI TT PADA WANITA USIA SUBUR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO JUMLAH WUS PROVINSI (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara TT1 (3) TT2 JUMLAH % JUMLAH % (4) (5) (6) (7) WANITA USIA SUBUR DIIMUNISASI TT3 JUMLAH % JUMLAH (8) (9) TT5 TT4 (10) % JUMLAH % (11) (12) (13) 913.58 8.717 18 Nusa Tenggara Barat - - - - - - - - - - - - 1.84 6.72 31 Maluku Utara 251.100 864.39 980 0.82 13.174 0.16 94.63 2.304 0.404 20.544 0.513 181 0.055 0.438 14.371 0.07 130 0.60 1.90 7.036 1.66 16 Banten 2.401 0.68 Indonesia Sumber : Ditjen PP & PL.874 2.171 0.824 7.358 1.01 25 Sulawesi Tengah 538.98 23.265 3.665 843 0.866 0.05 0 0.754 2.702 1.060 2.662 1.18 22 Kalimantan Selatan 673.84 - - 50.26 2.32 392 0.99 2.160 3.43 31.11 21 Kalimantan Tengah 244.264 1.609 1.05 - - 19.156.695 0.61 18.31 1.16 252 0.253 0.604 0.345 0.46 - 6.03 2.373 10.362 3.871 1.021 0.633 0.428.09 7.561 7.18 437 0.83 59.80 1.673 1.00 0 0. 2010 .46 61.870 0.794 101.125 1.92 - - 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 845.735.03 4.649 12.550 30.815 5.99 10.933 2.390 3.36 3.449 - 31.12 3.45 7.11 5.62 1.714 5.

028.459 809 2.492 115.806 278.944 466.550 19.924.891 79.901 52.269 178.109 279.084 331.254 44 46 27.003 130.737 245 753 2.306 1.806 70.Lampiran 4.606 417.576 61.137 10.028 701 611 597 2.262 5.063 1.150 .074 15.252 550.707.280 855.902 185.358 161.028 11.452 97.224 20.433 65.420 1.098.306 316.088 844.974 194.920 128 377 97.191 209.999 92.142 13.710 510.571 206.223 374 812 126 492 796 652 223 748 281 909.210.864 153.162 1.885 5.601 182.956 4.886 409.353 11 1.207 297.332 283.038 205.736 225.955 8.553 21.338 195.907 30.413 405 5.514 48.913 35. Kemkes RI (3) Lama Dirawat Hari Perawatan Total Kunjungan (6) (7) (8) ≥48 jam (4) (5) 37.998 89.408 21.294 505.164 747.990 352.019 22.230 46.549 31.259 256.071 119.728 1.094 82.886 247.247.380.352 185.886 118.403 472 6.264 27.866 978.651 3.756 212.497 93.409 5.757 8.358 275.934 2.374 163.134 1.810 35.727 508 714 268 1.472 126.954 1.463 23.614 4.880 8.341 186.893 83.481 1.000 182.145.558 614.784 443.124 931.15 JUMLAH KUNJUNGAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 No Provinsi Pasien Keluar Mati Pasien Keluar Hidup <48 jam (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.122 1.766 258.971 989 1.436 36.558 4 1.442 11.129 43.772 2.232.239.744 37.833 44.277 455 893 168 586 822 755 337 1.372.750 217.132 1.867 73.941 33.438 140 192.188 59.237 185.987 263.704 29.162 188.164 1.336.370 189.063 417.930 1.850 3.752 3.488 496.626.402 302.115 41.292 3.277 25.564 383.994 56.236 96.539 52.127 264 3.808 301.154.

1 36 48.8 34 35.8 4 3.9 44 20.7 48 42.9 15 14 9 91.1 4 5.9 5 18.7 2 8.6 51 28.8 40 18.4 36 39.4 2 2.0 67.9 3 3.16 INDIKATOR PELAYANAN RUMAH SAKIT UMUM DEPKES DAN PEMDA MENURUT PROVINSI TAHUN 2008-2009 No Bed Occupancy Rate (BOR) Provinsi (1) (2) Length of Stay (LOS) Bed Turn Over (BTO) 2008 2009 2008 2009 2008 2009 Turn Over Interval (TOI) 2008 2009 Gross Death Rate (GDR) 2008 2009 Net Death Rate (NDR) 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 2009 (14) 1 Aceh 92.7 4 4.5 30 21.8 4 14.2 35 19 79.2 32 40.6 3 37.5 18 20 2 Sumatera Utara 64.2 4 4.1 2 5.2 22 - 11.7 59.1 21 23 15 Jawa Timur 96.7 4 3.6 49.2 2 9.0 19 19 19 Nusa Tenggara Timur 59.4 6 3.1 58.0 30 29 3 Sumatera Barat 57.6 58 49.5 75.7 31 30.1 1 12.6 3 3.8 69.6 5 5.8 46 27.0 11 14 26 Sulawesi Selatan 92.1 45 19.0 58.9 5 4.6 35 25.6 37 21.8 22 19 14 DI Yogyakarta 79.7 45 37.3 - 3. Kemenkes RI - 60.0 11 12 22 Kalimantan Selatan 76.6 32 32.2 8 Lampung 74.0 52.3 63.2 70.6 45 14.7 30 30.1 22 14 17 Bali 80.7 2 2.2 18 16 13 Jawa Tengah 69.7 - - - 9.2 41 28.7 44 32.5 - - - 3.9 4 10.0 Kepulauan Bangka Belitung - 53.0 26 21.5 26 18 12 Jawa Barat 85.7 57.6 6 36.0 17 19.3 13 10 24 Sulawesi Utara 83.6 1 11.7 1 3.9 39 22.0 54 52.9 50 26.0 Indonesia - - 34.8 4 4.9 4 - 4.3 4 3.3 42 36.6 13 13 25 Sulawesi Tengah 83.8 2 5.7 38 21.1 3 4.7 62.3 11 9 6 Sumatera Selatan 55.9 4 4.7 66 29.1 16 6.8 58.9 3 3.5 18 16 23 Kalimantan Timur 99.4 39 29.9 4 3.4 18 11 5 Jambi 77.3 44 41.5 47.8 28 25 16 Banten 97.8 8 - 19.Lampiran 4.9 4 4.3 66.3 42 25.2 43 34.3 - 31.4 58 43.1 4 3.7 31 32.0 39 29.6 40 43.6 16 28 Gorontalo - 29 Sulawesi Barat - 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 74.0 42 39.0 15 16 21 Kalimantan Tengah 47.0 59.9 2 5.8 5 7.7 1 8.4 1 4.2 63.1 51 35.9 6 4.8 69.2 51 25.2 40 - 33.8 2 14.4 2 4.9 15 18 7 Bengkulu 45.8 - - 19 - 48.1 47 16.9 48 36.9 4 4.1 5 4.6 1 3.0 12 14 27 Sulawesi Tenggara 71.3 4 3.3 42.0 52.8 5 3.9 24 20 18 Nusa Tenggara Barat 50.4 8 7.3 61.9 14 15 20 Kalimantan Barat 73.9 2 4.0 45 35.4 34 28.0 - - - 24.0 4 4.6 42 35.7 20 19 82.5 19 18 - Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.4 27 11.0 - 13 27.2 3 6.0 38 31.5 - 14 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 69.7 63.1 26 17.3 5 3.8 3 3.0 1 21.6 5 3.0 67.0 4 4.5 20 14.8 2 5.7 5 4.8 26 11.4 3 8.6 50 45.5 61.2 - 12 29 - 29 - .5 62.1 48.5 16 25 4 Riau 68.8 - 5.9 6 3.0 4 4.5 30 31.6 46 41.9 31 28.6 36.6 5 3.9 44 29.8 26 28.7 53.7 9 10 33 Papua 51.4 67.

106 2.469 698 97 494 5.956 48 225 42.011 611 268 647 861 466 4.539 1.Lampiran 4.220 121 3 1 109 439 473 235 36 433 175 23 14 14 1 881 3.321 408 433 1.413 1.933 24 183 6 45 230 2 14 10 4 179 7 5 15 13 1 231 24 275 123 713 500 218 41 314 74 563 5.698 478 1.230 660 210 1.633 955 2.416 102 124 53.465 1.571 10.958 119 53 121 362 901 275 345 87 90 26 222 168.494 379 3.031 8.366 553 365 589 191 174 648 87 66 1.294 6.179 769 1.270 3.958 1.030 2.035 5.775 2.17 PEMERIKSAAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA RUMAH SAKIT UMUM DEPKES DAN PEMDA MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 Provinsi Tumpatan Gigi Tetap Tumpatan Gigi Sulung Pengobatan Pulpa/ tumpatan Sementara Pencabutan Gigi Tetap (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1.609 709 215 517 502 611 1.921 1.377 1.190 5.270 5.115 1.687 1.690 413 694 2.949 31.905 720 826 2.218 781 374 1.069 2.526 5.076 2.756 16.514 17.422 396 106 560 48 94 26 7 159 172 4 56 1 101 15.477 10 9.030 1.780 No Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.528 1.250 1.871 2.692 5.565 149 661 199.423 2.690 4.346 9.842 21.569 99 877 7.614 5.320 1.866 1.729 8.217 6.379 1.530 406 560 2.658 1.694 23.873 .814 11.487 1.070 1.621 800 1.692 1.736 124 23.130 1.905 3 149 63.977 5.891 1.840 1.443 4.875 6.999 3.705 737 641 3.973 4.240 656 871 3.092 2.115 1.217 12.980 644 4.939 6.897 1.049 29.302 1.186 8 83 33.919 3. Kemenkes RI Pencabutan Pengobatan Pengobatan Gigi Periodontal Abses Sulung (7) (8) (9) Pembersihan Karang Gigi Prothese Lengkap Prothese Sebagian Prothese Cekat Orthodonsi Bedah Mulut (10) (11) (12) (13) (14) (15) 221 30 29 9 31 4 55 34 86 15 77 1 21 140 28 15 1 67 1.898 24.501 17.650 3.617 1.339 360 649 159 309 732 233 290 1.749 581 1.287 4.865 334 250 123.082 2.147 6.006 422 373 1.264 1.248 7.723 531 130 61 132 181 146 567 25 107 482 80 21 2.496 1.282 2.764 9.128 3.624 2.548 6.772 1.343 420 1.123 1.626 607 408 4.356 779 3.854 1.031 35.005 826 318 2.140 994 2.760 39.538 1.543 1.744 8.458 1.236 23.708 2.342 1.723 2.805 15.675 686 262 130 1.967 17.550 2.899 8.273 41.772 15.905 844 2.950 4.685 792 642 111 51 109 356 173 288 67 7 281 292 1.625 623 666 755 851 1.079 108 80 1.487 5.233 1.619 858 407 4.912 446 160 848 4.509 79 421 83.164 985 1.449 3.

154 6.910 46.18 JUMLAH KUNJUNGAN PESERTA JAMKESMAS DI PUSKESMAS TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi RJTP RITP (2) (3) (4) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2.804 4.754 7.941 279.204 1.334 70 393 1.027 68.781 547 91 2.297 - .593 147.675 2.481 3.201 1.309 383 396 103 1.303 766 3.564 2.909 20.705 1.025 6.678 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) Keterangan: RJTP = Rawat Jalan Tingkat Pertama 1.689 7.609 699 1.711 22.680 21.121 1.575 736.417 62 343 9 343 19.863 4 256 2.952 210.892 396.004 577 3.693 - Rujukan - - - - - Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (6) (7) (8) 65.849 1.679 4.447 36.Lampiran 4.649 151 138 18 293 - 1.378 3.091 5.224 2.866 421 21.438 - 130.154 3.225 8.763 1.130 292 459 21 9.121 283 914 291 1.447 567.850 4.058.142.356 7.376 50.017.069 4.268 13.644 44 118 1.201 28.212 10.792 Kunjungan Neonatus (KN2) (5) 249.772 1.339 478.167 2.139 46.417 11.413 1.307 1.388 392 781 1.756 144.795 30.517 4.295 247 8.321 1.364.161 703 302 1.533 130.365 6.116 743 1.193 5.556.131 2.363 16.855 22.295 11.130 - 1.166 527.500 174.953 45.968 7.301 838 98 - 393 28 414 1 414 64.836 14.073 14.872 368 3.040 59 194 - 87 1.962 - - - - 5 5.161.649 Kunjungan Ibu Hamil (K4) 253 6.058 335 2.515 5.368 16.342 1.770 3.939 148 50 179.430 340.139 943 277 2.306 61.285 4.023 2.292 949.708 1.757 655 1.154 289.429 42 25 1.467 19.305 7.827 19.113 402.800 7.134 444.050 487 6.162 169.558 193.717 5.377 876.252 176 1.821 94.753 20.211 3.260 150.767 822.182.

579 33.186 8.601 13.470 66.451 40.097 138.869 83.745 33.351 33.388 10.660 20.729 18.843 12.583 42.723 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) .418 9.064 2.580 18.952 44.162 8.834 474.554 132.942 39.057 114.549 18.822 32.575 37.350 318.815 39.145 21.089 82.801 71.Lampiran 4.750 108.630 7.379 52.258 222.326 38.797 17.208 48.722 22.635 4.Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat NusaTenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat TOTAL L Jumlah Rawat Jalan Tingkat Lanjut P L+P (3) (4) (5) 111.896 2.041 17.801 22.197 8.935 37.972 8.512 40.627 71.037 730.545 55.004 7.757 3.Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah D.667 25.237 253.352 10.085 10.618 38.901 19.125 42.429 4.963 94.870 91.444 25.784 88.379.692 21.976 15.366.I.310 15.487 81.426 17.909 81.917 5.371 55.672 42.591 387.029 25.587 402.201 107.958 18.827 4.547 13.662 43.315 69.637 82.992 569.516 30.450 328.012.514 71.19 JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN TINGKAT LANJUT (RJTL) PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.450 5.570 36.642 251.151 21.304 11.827 142.846 73.708 59.294 45.396 14.052 177.568 44.585 160.425 862.

933 10.501 17.Lampiran 4.831 26.874 128.158 10.659 29.610 10.272 227.194 899 5.Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat NusaTenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat 26.382 9.091 13.783 1.008 57.199 11.955 19.667 4.990 21.338 19.420 33.114 27.492 8.824 3.Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah D.163 14.872 5.051 33.701 8.20 JUMLAH KASUS RAWAT INAP TINGKAT LANJUT (RITL) PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 L Jumlah Rawat Inap Tingkat Lanjut P L+P (3) (4) (5) Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepualauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.889 2.882 10.533 5.205 48.029 49.607 36.981 5.773 36.134.818 6.448 7.376 20.948 4.501 1.948 6.564 14.335 122.495 2.788 32.756 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) .057 18.171 45.365 6.597 5.840 4.396 4.138 2.340 1.629 59.I.981 13.820 10.543 21.689 45.702 1.556 5.983 83.541 12.824 2.297 16.985 7.959 17.633 3.494 7.798 7.220 25.272 18.096 14.398 3.468 12.441 11.700 12.479 9.390 15.520 5.215 5.398 99.130 73.278 4.188 TOTAL 487.409 12.608 24.259 5.749 5.351 26.222 7.895 2.541 3.863 5.951 5.630 1.416 647.039 27.092 2.612 142.768 60.231 16.

Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber: Ditjen PPPL.068 811 1.41 57.13 62 86 71 37 58 38 8 66 12 80 419 250 14 429 64 96 58 47 18 28 70 143 19 79 76 74 47 20 60 69 2.25 80.257 579 11.03 17.33 14.044 393 1.334 333 1.74 36. 2010 Cakupan TB 2008 Sembuh Pengobatan Lengkap Semua Kasus BTA Pos Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) 905 4.611 223 5.19 81.157 8.627 707 3.513 36 258 588 454 645 205 765 320 893 97 1.07 6.56 8. PENGOBATAN LENGKAP DAN SUCCES RATE (HASIL PENGOBATAN PENYAKIT TB TAHUN 2008) MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.90 12.80 80.91 Sembuh & Pengobatan Lengkap Success Rate (%) (9) (10) 670 3.50 6.05 69.77 89.24 4.493 537 225 183 166 68 213 29.46 87.68 5.253 801 878 2.45 76.66 79.08 7.05 .799 325 309 6.37 19.353 873 537 696 1.743 672 308 263 244 115 177 544 43.928 664 398 504 772 180 945 233 701 5.08 87.375 868 1.19 62.486 9.92 68.30 32.09 85.98 1.72 56.93 13.50 62.921 3.31 24.044 298 841 487 1.861 237 5.13 6.011 245 781 5.79 90.201 732 2.44 66.33 2.349 1. Kemenkes RI.07 4.92 85.19 93.78 68.29 80.942 36 322 684 512 692 223 793 390 1.502 3.03 38.71 4.70 4.05 81.61 86.014 735 435 562 810 188 1.06 74.91 5.75 60.158 270 139 2.Lampiran 4.926 608 2.23 72.96 65.11 55.19 91.064 587 1.15 68.44 3.32 76.21 CAKUPAN TB PARU BTA POSITIF.37 61.32 51.89 8.04 3.40 5.28 1.73 5.598 8.230 760 395 320 489 209 432 1.876 378 734 820 1.30 16. SEMBUH.91 73.28 74.31 90.229 276 6.065 1.77 2.01 80.22 97.89 84.76 90.526 94.363 403 1.58 68.71 83.288 4.53 11.30 85.861 4.87 87.93 16.470 78.82 91.21 66.08 97.44 3.481 18.83 94.036 116 1.39 80.52 85.572 613 299 230 186 128 282 32.37 13.42 39.87 54.808 1.00 87.928 86.85 2.289 1.84 74.12 72.87 8.20 33.

566 3.175 725.050 Realisasi Penemuan Penderita Pneumonia Balita 494 11.072.881 10.306.329 589 7.81 22.176 7.701 32.306 196.671 4.431 42.173 1.524 842 404 387 252.985 249.191 17.977 44.621 748.16 2.310 429.578 11.126 223 4.271 1.866 130.533 2.575 233.657 1.319 2.829 1.595 30.914 21.491 19.37 20.925 43.315 1.64 14.010 67.261 732 518 258 183 136.455 812 11.392 9.593 1.328 2.914 197.034 18.42 10.660 469.360 662 570 390.842 1.130 161.014 323.806 3.369 1.766 449.296 129.139 211.30 46.91 13.344 185.905 5.760. Kemenkes RI Jumlah Penduduk Usia Balita Wil.249 434.685 51 17.277 11.624 2.491.655 32. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.034 20.05 3.318 18.Lampiran 4.175 89.387 6.82 41.332 424.91 13.21 10.41 0.226 28.735 56.701 201.191 9.873 690.15 71.54 5.370 20.22 JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.892 732 16.56 15.781 111.666 46.12 5.846 1.118 72.062.993 3.989 3.16 21.38 9.83 17.552 1.256 1.187 69.313 16.677 372 309 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PPPL.639 3.433 42.915 95.075 7.621 11.45 11.402.18 .868 11.70 21.96 9.92 5.749 2.034 3.558 23.752 896.915 709 758 2.16 12.4 Tahun Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) 568.083 2.521 4.458 354.376 9.078 13 6.907 2.067 3.646 1.349 4.562 74.607 38 11. Puskesmas Program Target Penemuan Pneumonia Balita (10%) < 1 Tahun 1 .682 113.32 19.159 107.912 98.721 6.153 890 1.652 425.819 1.380 1.880 3.20 5.081 1.246 35.287 9.

244 53.92 38.475 44.58 78.066 37.064 60.94 74.057 90.05 53.469 49.75 79.80 63.915 75.357 239.034 22.20 78.269 2.755 62.973 107.763 80.028 19.499 49.283.95 60.714 28.114 4.410 151.359 2.47 74.82 74.68 76.963 10.667 106.625 58.474 245.061 529.690 18.832 46.54 83.43 92.43 81.24 75.882 71.337 32.693 16.28 71.782.556 58.504 106.330 3.387 162.97 71.664 158.12 38.873 67.942 61.182 28.764 711.96 54.458 64.76 67.85 56.38 36.905 180.28 77.058 76.886 48.914 78.600 28.09 82.254 45.51 52.787 44.282 38.92 63.069 4.340 109.667 115.50 38.351 35.67 84.67 90.429 137.97 73.71 83.979 18.212 25.445 16.43 49.600 34.23 CAKUPAN PEMBERIAN TABLET BESI (Fe) PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Cakupan Fe Ibu Hamil No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Ditjen Binkesmas.744 25.65 .628 199.10 76.51 82.427 180.42 72.97 82.43 75.788 25.52 77.906 74.396 246.771 488.585 665.451 48.693 194.266 42.98 66.775 67.09 80.680.20 92.303 96.104 58.77 95.28 41.03 68.453 115.75 79.11 89.07 92.293 148.80 73.51 55.11 51.314 13.979 41. Kemenkes RI Jumlah Ibu Hamil (3) 113.928 24.122 3.29 65.19 46.422 134.352 22.48 89.86 90.150 212.500 806.097 Fe-1 Fe-3 Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) 84.02 77.150 11.794 118.715 8.715 30.973 29.02 82.985 1.72 47.144 64.684 76.73 79.88 39.093 27.31 31.202 43.707 115.48 84.47 54.Lampiran 4.95 71.57 68.540 93.836 196.564 21.39 90.59 69.110 148.253 159.816 40.653 17.885 23.443 311.358 330.037.51 84.

81 53.226 51.05 265.201 87.07 177.48 33.554 77.92 8 Kepulauan Bangka Belitung 13.83 246.178 97.950 221.11 31.10 2.035 150.738 29 Sulawesi Utara 24.05 169.33 192.98 Sumber: Dit.040 75.815 211.44 212.934 306.28 871.776 40.870 957.126 613.144 92.318.603 71.055 107.817 224.491 291.45 25 Sulawesi Barat 19.555 73.260 462.17 28 Gorontalo 16.054 87.091 443.552 271.315 56.718 82.749.624 97.693 83.896 772.767 83.201 53.462 483.156 52.59 bln % (9) (10) Ibu Nifas Jumlah 6-59 bln % (11) (12) (13) % (4) (5) (6) 70.45 23 Kalimantan Timur 48.120 31.06 10.053 84.03 81.876 73.54 28.13 41.60 1.24 144.434 26.29 2.61 440.96 19 Nusa Tenggara Timur 63.331 59.778 400.25 60.031 17.615 86.837 47.721 226.19 114.830 98.217.17 23.027 640.945 82.904 74.423 546.484 89.231 96.532 86.11 237.95 141.99 306.090 551.724 103.15 71.800 76.026 3.082.506.327 20.271 139.985 93.782 53.076 77.246 70.136 87.778 26.155 79.91 318.849 43.469 40.868 458.86 584.184 96.07 33.37 24 Sulawesi Selatan 118.622 90.176 82.467 397.825 901.87 595.38 31 Maluku Utara 8.19 136.387 154.331 77.625 70.866 69.570 63.61 21 Kalimantan Tengah 34.526 1.08 13 Banten 128.704 84.103 63.480 78.60 102.46 127.087 77.39 32 Papua Barat 33 Papua INDONESIA 6.55 141.442 77.865 118.076.760 82.912.871 78.212 68.22 386.537 51.117 144.604 87.040 206.449.825 33.26 2.752 92.31 20 Kalimantan Barat 88.39 12 Jawa Barat 471.434 183.862 23.77 57.781 91.603 27.729 74.142 81.241 691.104 88.32 112.035 1.397 84.172 41.575 78.12 112.561 29.147 46.98 11 DKI Jakarta 80.21 6.49 91.82 171.433.292 63.72 126.04 1.30 148.46 26 Sulawesi Tengah 40.333 73.40 5 Kepulauan Riau 33.69 58.903 247.800 24.682.244 941.962 72.084 3.33 245.31 500.20 4 Riau 89.528 75.596 10.69 27 Sulawesi Tenggara 33.358 4.624 74.057 21.091 94.926 43.609 36.39 54.36 770.455 79.000 86.059 247.171 384.622 143.838.57 30 Maluku 32.127 42.601 21.444 34.11 23.207 79.14 16.67 321.45 143.64 26.247 213.405 46.15 19.31 56.289.156 75.617 86.174 83.948 80.00 6 Jambi 7 Sumatera Selatan 44.08 87.728 90.16 81.502 75.347.34 2.228 17 Bali 35.028 2.930 170.331 91.22 360.875 83.24 CAKUPAN DISTRIBUSI KAPSUL VITAMIN A MENURUT PROPINSI TAHUN 2009 No PROPINSI 6-11bln (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara (3) Sasaran Balita 12 .435 393.212 1.668 90.620 81.655 35.358.443 72.58 55.894 93.504 78.559 12.434 98.95 18 Nusa Tenggara Barat 60.754 2.021.276 62.982 84.340 106.057 61.377 44.191 40.57 276.11 16 Jawa Timur 316.90 41.293 71.021 724.137 80.842 61.Bina Gizi Masyarakat.43 14 Jawa Tengah 304.845 45.955 65.69 65.253 79.22 414.50 374.917.804 609.28 208.20 83.210 82.90 2.92 510.024 75.941.988 81.233 81.59 2.21 23.446 236.455 34.604 99.53 40.835 78.382.59 bln 6-59 bln Cakupan Vitamin A Ibu Nifas 6-11bln % (7) (8) Balita 12 .494 188.817 32.825 166.50 10 Lampung 178.21 21.335 114.031 15.38 382.098 83.020 763.400 74.430.43 13.695 75.541 2.628 79.520 67.34 537.32 2.714 31.969 15 DI Yogyakarta 31.29 216. Ditjen Bina Kesmas Kemenkes RI .338 10.034 70.76 9 Bengkulu 46.449 74.754 143.11 329.272 39.196 95.038 104.795 96.54 2.94 93.013 238.689 70.489 731.143 96.23 35.998 64.121 62.907 24.98 14.750 64.24 61.186.433 6.280 504.249 373.56 609.503 285.396 83.602 457.835 73.115 73.36 3 Sumatera Barat 61.550 73.02 651.53 330.264 185.524 336.357 81.696 56.42 120.48 75.48 22 Kalimantan Selatan 40.36 115.613 37.788 84.969 41.531 326.58 90.079 420.18 236.612 92.550 168.562 236.79 198.47 15.569 104.63 27.851 118.381 301.05 518.491.382 75.671 77.753 88.79 81.728 77.276 25.12 303.351 86.238 (14) 33.953 35.409 258.887.778 83.746 24.25 460.83 180.473 80.574 185.38 850.808 79.285 53.20 358.283 88.080 89.855 74.271 79.531 11.283 64.922 206.799 51.380 55.26 153.01 13.884.594 85.Lampiran 4.384 85.866 100.458 38.809 175.976 90.541 101.82 431.225 613.025 100.86 727.050 84.592 53.786 2.514 12.098 2.758 21.090 204.35 23.333 72.146 611.

67 59.44 68.18 63. Susenas 2009 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jumlah Sampel Bayi 0 .77 58.6 bulan (3) 341 769 448 246 208 317 186 272 129 118 208 608 734 82 814 191 151 207 602 273 182 241 249 188 251 534 320 146 128 206 120 97 189 9.19 65.14 71.78 58.53 73.64 54.50 57.30 78.35 75.75 63.20 61.55 70.983 52.20 55.65 64.Lampiran 4.25 52.14 52.27 54.21 57.32 63.15 66.02 56.81 55.79 67.22 62.755 ASI Eksklusif 0-6 bulan Jumlah (%) (4) (5) 178 424 319 141 132 204 141 150 80 67 122 390 383 52 397 112 82 162 453 144 115 157 165 103 157 375 200 84 94 141 74 58 127 5.41 48.45 61.79 62.25 PROPORSI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI UMUR 0-6 BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber : BPS.26 75.33 .15 62.46 64.

1 27.8 89.6 82.0 43.26 PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MEMPUNYAI GARAM CUKUP YODIUM MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 No Provinsi Rumah Tangga Mempunyai Garam Cukup Yodium (1) (2) (3) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber : Riskesdas 2007 47.3 82.8 94.4 88.7 89.0 84.7 45.2 83.4 45.1 83.9 86.2 62.8 98.7 76.9 31.7 76.5 90.3 .4 93.1 46.7 58.0 69.2 62.1 34.Lampiran 4.3 89.3 61.3 58.9 90.0 90.1 68.2 45.

564 24 - 6. tabung gas.209 1.788 132 6 Angin Siklon Tropis (Angin Kencang dan Angin Puting Beliung) 13 4 31 222 1 2.Lampiran 4.27 REKAPITULASI KEJADIAN BENCANA MENURUT JENIS BENCANA DAN JUMLAH KORBAN TAHUN 2009 No Jenis Bencana Jumlah Provinsi (1) (2) (3) Jumlah Korban Luka Berat/ Luka Ringan/ Rawat Inap Rawat Jalan Meninggal (4) (5) Pengungsi Hilang (6) (7) (8) 1 Banjir 23 30 25 33.495 56.224 27 205.971 7 Gempa Bumi 11 1.771 2 205.651 - 89 5 72 696 459.387 .083 14 Banjir Lahar Dingin 1 - - Jumlah Sumber : Pusat Penanggulangan Krisis. Kemenkes RI 75 - - - 1.935 13 24.254 2 Banjir Bandang 11 127 28 3.513 1.600 6 4 \ 73 5 95 44 9.194 3 Banjir disertai Tanah Longsor 4 Tanah Longsor 5 Gelombang Pasang 13 1 - - - - 3.210 8 Letusan Gunung Api 2 - - 9 Kecelakaan Industri 3 33 17 50 10 Kegagalan Teknologi 2 6 2 11 - - 11 Ledakan (bom.234 9. dll) 3 9 60 2 - - 12 Konflik 4 16 45 12 - - 13 Kebakaran 5 2 4 60 - 10.

90 13.29 9.43 17.59 29.60 10.29 18.60 15.50 8.27 9.41 12.91 24.25 33.89 39.74 15.50 16.43 108.06 6.67 19 Nusa Tenggara Timur 12.04 10.56 49.15 12.36 20.76 10.08 14.38 10.28 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Provinsi No.07 11.66 142.65 8.19 20.95 11.73 25.05 5.28 10.25 19.35 19.85 14.05 10.48 21.09 71.62 81.97 22.93 6.79 8.35 13.29 13.16 27.26 18.64 6.75 14.82 13.48 15.71 14.34 22.00 8.01 20.99 17.65 15.12 6.09 1.87 16.35 8.83 25.55 12.98 8.42 42.49 10.08 9.35 32 Papua Barat 6.33 15.45 17.68 97.12 9.18 2.59 45.90 31 Maluku Utara 4.25 24.98 4.76 5.23 10.32 36.70 15.87 14.76 17.57 20.58 17.68 26.11 15.15 7.96 19.97 5.28 21.56 17.30 10.17 0.87 7 Sumatera Selatan 7.12 9.80 20.70 17.75 10.55 28.53 18.64 24.68 2.09 19.69 7.51 26.70 3 Sumatera Barat 9.26 19.00 Maluku 6.67 16.39 25.88 10.73 10.98 44.08 3.49 24.12 14 DI Yogyakarta 8.63 14.39 8.41 2.19 17.78 4.07 18.90 18.68 2.06 35.70 10.83 26 Sulawesi Tenggara 27 Sulawesi Selatan 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 10.63 7.17 9.88 10.93 22.13 39.55 8.70 19.57 13 Jawa Tengah 9.02 13.53 459.14 2753.88 19.89 13.60 11.22 5.46 9.64 14.41 13.10 18 Nusa Tenggara Barat 14.42 18.20 15.81 14.10 12 Jawa Barat 8.50 14.34 5.06 6.62 42.06 18.46 15.60 4.72 2 Sumatera Utara 9.20 6.92 17.01 29.08 10.83 8.64 17.55 16.08 9.05 32.94 13.08 9.75 7.72 14.30 25.55 11.81 17.47 15.62 61.84 18.93 3.02 9.95 18.77 0.39 48.55 14.84 10.13 4.12 21.51 11.76 14.89 76.29 14.16 0.61 6.20 15.56 22.07 14.18 9.28 6 Bengkulu 9.20 22 Kalimantan Timur 9.38 16.15 12.64 18.37 1.41 5.43 10 Kepulauan Riau 11.12 7.80 21.47 11.58 28.15 20.78 16.30 5.56 14.29 19.24 6.00 13.53 4.64 8 Lampung 12.99 11. (1) (2) Antasida DOEN Antalgin tablet Amoksisilin Amoksisilin tablet 500 mg sirup kering 125 kapsul 500 mg Btl 60 ml Ktk @ 120 kap Btl @ 1000 tab Btl @ 1000 tab Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat Deksametason Dekstrometorfa Dekstrometorfa Difenhidramin inj 5 mg/ml – n Sirup 10 n Tab 15 mg HCl inj 10 Ktk @ 100 Btl 60 ml Btl @ 1000 tab Ktk @ 100 Gliserin Guaiakolat tab Btl @ 1000 tab Glukosa Ibuprofen tablet Kloramfenikol Larutan Infus 5 200 mg kapsul 250 mg Btl 500 ml Btl @ 100 tab Btl @ 250 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 1 Aceh 4.68 10.64 20 Kalimantan Barat 11.23 30.78 4.30 15 Jawa Timur 10.95 24 Sulawesi Utara 5.14 23.54 3.90 5.62 7.52 10.87 6.44 15.33 90.71 14.30 11.50 10.43 25 Sulawesi Tengah 4.14 23 Kalimantan Selatan 9.86 7.24 19.19 17 Bali 33.93 12.59 0.26 38.13 9.50 15.23 24.57 19.25 13.23 9. Bangka Belitung 14.53 4 Riau 13.23 10.94 3.25 14.90 5.84 13.17 13.26 19.53 19.28 6.02 8.06 19.85 7.80 7.70 23.33 15.64 3.17 10.79 11.00 16.39 36.71 9.11 21 Kalimantan Tengah 12.51 14.43 9.25 11.09 10.90 11.11 15.35 26.32 12.33 0.81 42.74 22.06 16.21 19.98 5.05 47.52 14.68 9.00 33.94 24.85 140.97 21.98 10.91 7.11 12.17 9.67 12.46 10.24 12.10 9 Kep.23 14.19 15.22 1006.73 7.25 24.83 16 Banten 7.03 7.Lampiran 4.03 7.56 5.52 68.24 16.49 26.78 21.75 5.79 22.68 10.90 32.95 17.43 33 Papua 4.84 12.91 13.88 13.64 10.84 5.42 9.58 Indonesia Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.42 17.07 13.37 5.03 13.86 20.88 34.69 9.83 2.37 1.81 2227.95 7.42 13.06 27.33 34.22 22.56 12.04 12.22 13.70 32.64 35.51 10.00 5 Jambi 10.40 8.00 17.75 0.52 68.39 42.83 6.31 9.68 16.12 14.08 18.14 13.87 7.99 5.79 14.07 18.52 28.52 0.02 10.96 5.50 23.48 7.45 20.42 16.62 77.41 41.21 9.33 14.62 5.10 26.19 15.50 14.76 4. Kemenkes RI .60 9.18 17.44 0.46 8.10 11 DKI Jakarta 4.18 5.42 11.13 7.03 8.37 17.66 24.34 13.37 14.71 8.65 601.28 10.50 14.73 28.84 5.91 20.98 6.95 18.64 11.81 6.55 21.17 16.

24 11.30 5.50 16.31 4 Riau 5 Jambi 6 7 4.18 16.40 5.27 16.14 16.68 39.14 6.69 0.95 18.47 20.91 3.25 31 Maluku Utara 9.44 929.01 26.76 8.47 15.61 2.89 3.84 17.05 15.68 15.16 54.73 18.46 9.00 10.52 57.55 9.74 1.25 11.51 45.11 6.08 25.92 0.35 14.20 50.70 13.00 14.75 10.53 13.03 11.41 193.31 58.84 26.17 7.85 4.66 14.79 11.98 12.10 3.67 17.66 21.04 3. Provinsi (1) (2) Kotrimoksazol tablet 480 mg Btl @ 100 tab Kotrimoksazol tablet 120 mg Btl @ 100 tab Kotrimoksazol Sirup Btl 60 ml Klorfeniramini Kloroquin tablet Natrium Klorida Parasetamol Maleat tab 4 Tablet 500 mg Infus 0.78 12.89 20 Kalimantan Barat 6.93 12.86 16.13 39.94 29 Sulawesi Barat 10.04 29.22 5.36 8.34 5.34 33 Papua 16.12 10.69 15.05 3.48 25.49 22.90 4.17 27.66 0.03 11.76 10.91 20.06 25.07 19 Nusa Tenggara Timur 14.54 13 Jawa Tengah 11.94 14.08 38.51 6.24 32.74 34.15 Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.42 30 Maluku 23.50 22 Kalimantan Timur 18.95 7.40 Indonesia 6.06 243.25 122.75 14.98 23.87 30.13 15.71 7.28 7.05 Bengkulu 3.99 12.24 12.99 23.62 48.89 77.42 4.67 2.00 11.46 2234.72 10 Kepulauan Riau 12.11 42.98 17.21 11.77 14.28 4.31 17 Bali 20.16 31.18 11.54 17.42 6.89 25.22 10.69 11.40 8.35 .49 4.00 23 Kalimantan Selatan 13.05 9.88 8.18 13.63 7.40 21.00 Kep.96 2.00 19.47 12.21 25. Kemenkes RI 10.62 20.97 23.50 22.79 9.97 7.04 30.39 14.31 16.75 5.71 32 Papua Barat 6.53 7.53 10.80 25 Sulawesi Tengah 260. Bangka Belitung 10.28 16.81 11.38 9.52 36.80 11.96 199.40 4.18 8.00 17.84 15.93 7.90 14.15 2.89 34.55 6.51 736.83 13.61 42.63 14.96 15.36 12.01 16 Banten 25.88 9.84 12.25 5.18 26 Sulawesi Tenggara 10.56 14.000 IU Btl @ 30 Tablet Tambah darah Ktk @ 30 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 5.03 2.47 34.68 14.50 8.39 15.61 16.39 4.46 13.17 10.22 16.42 28 Gorontalo 24.00 8.04 5.64 12.83 141.78 158.13 1 Aceh 2 Sumatera Utara 16.00 12.60 9.68 31.75 15.19 48.85 22.10 11.26 11.33 22.05 19.65 15.89 27 Sulawesi Selatan 23.30 18.17 16.67 12.10 10.59 8.90 57.94 4.23 11.98 4.04 2.15 9.34 26.58 7.77 5.78 20.51 34.66 9.64 16.93 21.74 4.03 6.90 18.88 39.10 0.92 10.43 114.05 30.36 58.93 10.85 32.52 17.53 5.83 3 Sumatera Barat 27.60 8.26 21.03 28.06 22.17 39.44 1.79 7.75 45.33 10.36 28.65 9.58 5.65 10.23 16.83 21.92 4.70 18 Nusa Tenggara Barat 16.33 4.95 7.51 11 DKI Jakarta 41.17 11.92 8.75 8.52 14 DI Yogyakarta 18.77 5.32 12 Jawa Barat 42.79 5.26 58.72 0.81 10.85 10.04 9.65 13.54 24 Sulawesi Utara 14.05 21 Kalimantan Tengah 17.47 9.09 9.78 30.38 11.38 7.06 5.31 8.83 8.70 2.90 29.98 21.55 6.08 0.29 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat No.02 10.70 18.92 53.53 4.Lampiran 4.69 61.52 19.81 139.92 8.02 7.29 9.38 10.01 19.45 49.13 11.06 8 Lampung 2.84 24.05 20.25 9.16 16.90 11.91 10.55 7.84 9.31 4.86 33.86 16.80 480.74 7.65 8.10 8.25 11.23 8.08 11.36 7.47 21.55 14.46 10.89 13.92 14.65 4.53 63.61 15.85 9 25.79 2.68 10.69 4.60 7.68 8.61 8.52 6.61 9.42 16.81 10.98 34.83 15 Jawa Timur 15.38 11.38 37.54 7.99 21.44 18.72 52.93 Sumatera Selatan 5.13 18.35 25.62 20.37 11.73 2.56 9.45 13.00 13.47 17.9 % Tablet Tablet Btl 500 ml Btl @ 1000 tab Ringer Laktat Infus steril Btl 500 ml Vitamin B Kompleks Btl @ 1000 Retinol 200.05 9.24 7.61 16.51 12.57 17.

15 22.00 35.50 2.83 11.83 3.27 8. Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Bengkulu 7 Sumatera Selatan 8 Lampung 9 Kep.76 8.63 2.43 11.68 15.28 8.83 16.00 12.37 2.64 48.05 10.16 11.00 16.98 2.33 34.08 15.45 2.73 4.53 5.99 8.58 28.14 9.00 144.77 11.51 31.23 55.50 20.79 12.36 9.77 23.60 3.00 9.51 7.30 13.06 6.50 0.86 7.29 0.00 3.29 14.30 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No. Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 22 Kalimantan Timur 23 Kalimantan Selatan 24 Sulawesi Utara 25 Sulawesi Tengah 26 Sulawesi Tenggara 27 Sulawesi Selatan 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Multivitamin Sirup Btl @ 100 tab Garam Oralit OAT Kat 1 OAT Kat 2 Btl @ 100 tab Btl 60 ml Tablet (3) (4) (5) (6) 23.18 7.14 3.95 18.79 7.72 0.20 12.19 5.12 2.23 8.55 15.13 7.14 24.56 5.48 1.20 9.00 12.31 2.00 0.00 0.93 11.00 14.19 16.44 18.16 19.03 49.Lampiran 4.95 7.93 17.24 6.78 13.11 24.39 8.00 0.85 3.87 Infus set anak Pkt Infus set dewasa Pkt (11) (12) (13) 9.37 6.16 16.87 24.63 18.00 7.17 28.28 37.85 17.03 2.83 15.76 27.79 12.00 3.68 30.79 17.83 52.45 0.93 15.27 7.07 6.33 4.09 11.09 25.41 9.48 17.03 4.50 3.30 13.63 3.68 14.81 7.88 12.05 32.37 25.78 13.82 6.80 6.67 0.41 5.38 5.24 0.98 4.34 10.88 9.55 10.26 3.63 3.29 11.29 9.20 9.67 12.01 4.20 11.36 10.39 14.55 13.36 27.22 0.06 0.82 10.75 6.34 3.51 32.22 13.24 24.30 3.00 4.96 46.92 9.00 15.60 8.00 11.20 6.00 0.81 4.69 45.11 8.85 5.70 7.94 14.22 5.42 8.30 14.00 1.02 2.10 13.90 10.38 7.51 13.39 14.96 6.53 12.62 0.30 14.03 0.04 13.63 12.03 7.87 2.00 22.71 11.89 10.18 26.41 16.14 8.13 12.58 10.00 16.93 33.76 16.16 9.77 19.62 8.96 4.04 Pyrantel Pamoat 125 Pkt Salep 2-4 (10) 181.42 17. Kemenkes RI Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat OAT Kat 3 OAT Kat OAT Kat Anak Sisipan Tablet Botol Bungkus (7) (8) (9) 7.39 131.72 1.18 13.41 14.29 15.85 6.76 41.50 24.44 5.48 7.83 7.54 9.66 8.56 4.49 8.28 33.63 102.66 21.38 8.16 4.30 10.95 24.00 4.80 11.06 3.92 13.48 27.46 28.75 6.34 36.11 52.98 12.00 7.49 5.36 7.25 4.41 4.89 18.62 19.00 12.13 Pkt 21.49 7.92 5.17 0.58 .85 9.00 0.51 45.45 17.82 7.96 11.40 29.68 18.25 20.12 317.38 4.08 3.02 4.17 7.12 24.26 10.36 5.50 14.30 2.88 8.93 32.40 38.16 27.20 34.03 35.32 7.21 7.83 34.06 3.50 7.66 10.61 10.50 12.48 13.52 10.16 28.05 19.81 Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.79 29.57 18.67 35.40 2.18 8.00 11.40 25.75 4.98 4.81 9.50 1.85 7.19 7.18 19.90 3.17 18.18 12.58 3.93 5.

36 15.668 795.398 10.848 9.827.00 24.00 24.858 3.348 36.07 0.168.776 1.31 REKAPITULASI DATA KECUKUPAN OBAT NASIONAL TAHUN 2009 Rekap Nasional No.00 24.06 3.00 24.729.792 12.00 24.977.00 24.782 6.00 22.38 2.9 % steril Btl @ 1000 tab 19 Parasetamol Tablet 500 mg Btl 500 ml 20 Ringer Laktat Infus steril Btl @ 1000 Kapsul 21 Vitamin B Kompleks Kapsul 22 Retinol 200.719.154.29 24.113.14 0.Lampiran 4.00 24.860 6.96 9.00 24.468.00 24.762 2.393 67.00 .42 10.00 24.10 10.256.798 248.64 7.552 163.707.772 4.428.02 0.40 0.873.438 7.00 24.717 8.30 0.63 0.031 134.542 77.338 671.00 24.728.00 21.98 14.486 2.427 521.968 2.787.65 3.15 10.81 9.924. Kemenkes RI Stok Obat Pemakaian Rata-rata/ Bulan (4) (5) 8.434 8.758 58.364 3.18 17.58 Kisaran Tingkat Kecukupan MinMaks (Bulan) (7) 4.635 80.027.00 24.977.00 24.880 102.453.714.555 36.263 228.00 24.50 0.69 12.87 13.066 560.52 0. Nama Obat Satuan (1) (2) (3) 1 Amoksisilin sirup kering 125 mg/ml Btl 60 ml Amoksisilin kapsul 500 mg Ktk @ 120 kap 2 Antasida DOEN tablet Btl @ 1000 tab 3 Antalgin tablet 500 mg Btl @ 1000 tab 4 Ktk @ 100 ampul 5 Deksametason inj 5 mg/ml – 2ml Btl 60 ml 6 Dekstrometorfan Sirup 10 mg/5ml Btl @ 1000 tab 7 Dekstrometorfan Tab 15 mg Ktk @ 100 ampul 8 Difenhidramin HCl inj 10 mg/ml-1ml Btl @ 1000 tab 9 Gliserin Guaiakolat tab 100 mg Btl 500 ml 10 Glukosa Larutan Infus 5 % steril Btl @ 100 tab 11 Ibuprofen tablet 200 mg Btl @ 250 Kapsul 12 Kloramfenikol kapsul 250 mg Btl @ 100 tab 13 Kotrimoksazol tablet 480 mg Btl @ 100 tab 14 Kotrimoksazol tablet 120 mg Btl 60 ml 15 Kotrimoksazol Sirup Tablet 16 Klorfeniramini Maleat tab 4 mg Tablet 17 Kloroquin tablet Btl 500 ml 18 Natrium Klorida Infus 0.867.00 24.18 9.210.00 24.931.298.83 5.000 1.44 0.151 464.337 45.24 2.22 10.269.705 7.51 3.28 3.29 2.054 582.213 62.758.222 378.56 9.29 2.145.275 346.234 1.782.048.03 3.37 7.79 7.386 Tingkat Kecukupan (Bulan) (6) 1.990 12.000 IU Btl @ 30 Kapsul Ktk @ 30 Tablet 23 Tablet Tambah darah Botol 24 Multivitamin Sirup Bungkus 25 Garam Oralit 26 OAT Kat 1 Pkt 27 OAT Kat 2 Pkt 28 OAT Kat 3 Pkt Pkt 29 OAT Kat Sisipan Pkt 30 OAT Kat Anak Btl @ 1000 Tablet 31 Pyrantel Pamoat 125 mg tablet Pot 32 Salep 2-4 Kantong 33 Infus set dewasa Kantong 34 Infus set anak Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.00 24.056 155.366 1.85 6.989 24.579 1.87 12.810 1.55 7.75 0.304 4.06 2.68 0.07 0.572 2.00 24.281.78 0.94 14.911 7.335 157.00 24.593 5.04 12.20 - 24.598 1.655 215.773 3.17 0.25 24.00 24.310.370 1.43 2.89 10.40 17.456.469.074.698.119 2.075.00 24.84 10.942 236.85 2.827 5.71 0.08 13.00 24.36 0.93 0.816.378 780 779 314 1.159 419.00 24.121 11.130.25 1.58 11.00 24.06 0.60 1.48 7.08 2.179.455.717.00 24.00 24.224.883 12.32 9.81 21.00 24.090 144.626 19.92 17.21 0.080 50.62 7.00 24.

42 4.95 6.61 4.69 5.67 6.21 3.35 10.40 4.65 3.Lampiran 5.93 10.58 3.52 4.44 2.548 8.02 7.69 8.85 6.01 6.56 5.04 6.00 3.67 3.35 6.27 8.61 3.66 3.05 8.09 6.99 10.29 3.75 3.49 10.000 Penduduk 2006 2007 2008 (9) (10) (11) 2009 (12) 266 426 214 150 135 242 113 224 47 41 335 996 853 117 919 173 110 128 228 207 134 192 187 119 139 347 139 45 50 109 56 60 168 274 445 224 154 140 249 126 235 47 45 342 999 858 117 930 177 110 130 251 205 154 201 186 130 144 362 159 55 62 125 62 81 236 311 463 228 156 148 259 140 248 51 51 341 1.04 3.62 6.27 6.65 3.00 5.15 4.78 11.234 8.10 6.61 3.05 5.57 7.66 3.74 3.30 8.53 5.737 3.58 9.52 5.20 7.08 5.78 11.73 6.91 3.62 7.60 3.76 4.21 6.87 7.40 2.01 3.015 8.03 3.25 6.13 6.86 7.76 2.46 2.2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jumlah Puskesmas 2005 2006 2007 2008 2009 2005 (3) (4) (5) (6) (7) (8) Rasio Puskesmas per 100.52 4.22 3.83 4.06 4.09 7.48 13.61 8.54 1.88 8.84 6.26 4.45 4.05 7.59 2.02 3.05 4.83 6.669 8.42 4.37 3.77 3.08 9.32 5.54 7.65 4.48 2.01 3.43 2. 2009 .06 3.06 5.91 6.67 3.02 6.13 4.58 3.98 7.45 2. Kemenkes.02 3.24 3.06 10.92 3.73 3.36 3.12 5.11 7.69 3.78 2.002 871 117 929 180 112 134 253 211 163 204 192 142 145 374 153 55 66 142 64 83 246 301 495 227 183 158 278 142 253 50 59 351 999 842 120 940 194 114 142 278 224 169 214 205 144 144 395 208 73 70 153 91 96 236 309 500 242 176 163 284 167 264 55 61 339 1.35 5.36 3.25 9.33 6.92 3.50 3.25 3.13 5.68 2.53 5.84 2.77 8.80 4.21 3.52 5.82 2.49 6.84 2.77 5.69 3.21 6.15 11.12 12.56 2.53 2.008 849 119 944 196 114 145 288 229 169 213 207 159 165 395 223 75 77 135 96 105 266 6.23 5.85 14.08 4.51 6.53 1.91 5.28 5.34 6.53 7.22 3.48 7.1 JUMLAH PUSKESMAS DAN RASIONYA TERHADAP PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .75 11.52 1.40 3.94 5.50 2.12 3.01 6.68 7.08 3.52 2.53 2.78 Sumber: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.22 3.90 8.41 2.85 3.67 3.50 3.59 6.71 6.

Kemenkes.551 235 351 159 138 107 201 107 216 36 35 297 859 610 79 548 152 90 56 209 142 122 172 109 78 77 227 145 56 48 124 64 70 191 6.438 115 129 81 51 56 80 37 51 20 24 51 171 234 41 365 46 27 80 93 94 55 46 100 72 63 205 69 22 31 48 27 36 84 2.497 125 122 84 49 59 86 35 80 19 17 50 150 269 38 365 34 23 58 111 71 54 40 82 65 64 189 48 18 24 59 30 33 132 2.518 186 341 144 107 89 173 105 168 32 34 291 852 602 79 564 146 89 76 142 140 109 164 110 77 81 185 105 37 42 83 34 50 114 5.110 194 371 161 125 107 204 130 213 35 37 288 837 615 78 579 150 87 65 195 135 114 167 107 87 102 190 154 53 46 87 69 69 182 6.033 .2 JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN PUSKESMAS NON PERAWATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jumlah Puskesmas Perawatan Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2005 2006 2007 2008 2009 (3) (4) (5) (6) (7) 89 98 64 39 43 75 24 31 14 17 50 132 218 32 310 18 23 46 72 70 35 33 70 56 59 147 45 14 19 31 17 22 64 2. 2009 85 145 81 46 41 76 34 39 17 16 50 142 241 38 336 34 22 44 124 71 52 36 87 59 64 179 52 17 22 54 31 41 121 2.683 66 144 68 45 51 77 35 37 14 24 54 140 232 41 392 42 24 86 69 82 47 42 96 66 67 168 63 17 22 29 27 26 45 2.537 Jumlah Puskesmas Non Perawatan 2005 2006 2007 2008 2009 (9) (10) (11) (12) (13) 177 328 150 111 92 167 89 193 33 24 285 864 635 85 609 155 87 82 156 137 99 159 117 63 80 200 94 31 31 78 39 38 104 5.Lampiran 5.704 Puskesmas PONED 2009 (8) 50 62 73 32 43 45 23 55 10 18 17 143 145 27 217 42 29 39 61 18 26 54 41 34 54 67 29 19 16 26 16 0 6 1.592 189 300 143 108 99 173 92 196 30 29 292 857 617 79 594 143 88 86 127 134 102 165 99 71 80 183 107 38 40 71 31 40 115 5.077 Sumber: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.

61 3..583 75.262 3.41 0.41 0.291 3.20 0.76 2.65 2. Kemenkes.28 1.737 318 2.825 595 564 898 1.45 0.228 1.76 0.12 2.66 0.992 5.79 3. 2010 Pusat Promosi Kesehatan.506 1.73 15.530 698 913 2.973 1.64 0.47 1.85 0.06 2.812 7.11 1.14 0.91 5. Bina Kesehatan Masyarakat. Kemenkes.96 0.01 1.33 0.83 5.861 6.28 0.55 2.041 1.827 0.55 0.17 1.3 JUMLAH SARANA KESEHATAN MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Jumlah Desa / Kelurahan Puskesmas Pembantu Desa / Kelurahan / RW Siaga / Poskesdes Kader / Toma Terlatih Posyandu Rasio Desa Siaga/Poskesdes terhadap Desa/Kel Rasio Posyandu terhadap Desa/Kel (2) (3) (4) (6) (5) (9) (10) (11) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Ditjen.88 0.057 2.358 361 331 267 5.47 0.190 45.82 1.439 1.63 2.797 822 668 547 937 497 733 121 189 2 1.632 47.Lampiran 5.58 4.57 1.502 1.060 9.318 1.76 6.69 1.226 919 1.324 1.27 2.792 4.226 3.55 .72 2. 2010 6.91 0.455 2.319 2.874 1.039 13.65 0.048 7.10 2.26 3.442 2.92 0.87 0.88 0.712 2.719 6.57 12.09 2.63 0.45 6.649 964 1.99 0.17 2.775 1.40 0.654 46.827 8.404 1.777 1.24 6.58 0.27 2.763 5.680 4.538 4.134 499 235 289 340 242 249 550 22.775 1.01 0.76 0.122 2.420 5.015 8.190 266.21 0.69 7.500 1.97 0.31 0.510 1.869 1.679 2.27 0.996 4500 3548 200 1950 4754 1878 4050 714 1059 990 4500 3750 714 4086 1800 780 2664 600 199 515 1770 4459 2520 1968 612 660 1248 360 1200 58.577 438 8.133 5.57 0.097 2.894 1.441 1.82 0.650 2021 3660 2328 1142 854 2362 1274 1371 275 192 1176 5378 7529 420 8446 508 462 888 574 1014 410 1668 636 984 1080 2610 1008 280 79 574 211 532 50 51.548 4.42 6.373 256 503 481 846 779 745 574 613 447 702 1.65 0.480 948 903 4.93 3.

2010 Kemenkes/Pemda RS RS Jumlah Umum Khusus (3) (4) (5) RS Umum (6) TNI/POLRI RS Jumlah Khusus (7) (8) Kementerian Lain/BUMN RS RS Jumlah Umum Khusus (9) (10) (11) RS Umum Swasta RS Khusus (12) (13) Jumlah RS Umum (14) (15) Semua RS RS Jumlah Khusus (16) (17) 21 31 18 13 11 18 9 10 7 7 8 34 46 6 48 5 9 7 16 13 14 13 15 8 11 25 9 4 3 9 8 5 12 3 5 2 1 1 4 1 1 1 0 7 8 9 1 8 1 2 3 0 3 0 1 3 1 1 7 1 1 0 1 0 0 2 24 36 20 14 12 22 10 11 8 7 15 42 55 7 56 6 11 10 16 16 14 14 18 9 12 32 10 5 3 10 8 5 14 4 8 3 3 2 2 2 2 0 2 8 12 11 2 20 2 2 2 2 3 1 4 3 3 1 6 2 0 0 3 2 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 8 3 3 2 2 2 2 0 2 9 12 11 2 21 2 2 2 2 3 1 4 3 3 1 6 2 0 0 3 2 3 3 3 17 1 4 2 5 0 0 0 2 5 6 3 0 13 2 0 0 0 1 0 2 2 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 3 18 1 4 2 5 0 0 0 2 6 7 3 1 15 2 0 0 0 1 0 2 2 0 0 2 1 0 0 0 0 1 0 8 69 9 10 3 7 1 15 2 7 57 73 87 13 62 14 17 4 10 7 0 4 9 14 4 12 3 0 1 6 1 2 4 2 7 10 3 1 2 0 2 0 2 41 36 43 18 25 11 7 0 1 3 0 4 1 0 4 8 1 0 0 1 0 0 0 10 76 19 13 4 9 1 17 2 9 98 109 130 31 87 25 24 4 11 10 0 8 10 14 8 20 4 0 1 7 1 2 4 36 125 31 30 18 32 12 27 9 18 78 125 147 21 143 23 28 13 28 24 15 23 29 25 16 44 15 4 4 18 11 11 19 5 13 12 4 2 6 1 3 1 2 50 45 52 20 36 12 9 3 1 6 0 5 4 1 5 16 2 1 0 2 0 0 2 41 138 43 34 20 38 13 30 10 20 128 170 199 41 179 35 37 16 29 30 15 28 33 26 21 60 17 5 4 20 11 11 21 473 79 552 123 2 125 71 7 78 535 233 768 1.202 321 1.523 .4 JUMLAH RUMAH SAKIT DI INDONESIA MENURUT PENGELOLA DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. Kemenkes.Lampiran 5.

285 416 47.814 110 10.747 6 Swasta 436 43. 2010 .079 128.836 110 10.131 2 Pemerintah Provinsi 43 12.643 71 6.5 JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR MENURUT PENGELOLA TAHUN 2005 .896 334 35.902 43 12.603 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.Lampiran 5.504 1.907 123 11.789 451 45.266 535 52.842 110 10. Kemenkes.012 118.182 43 13.029 3 Pemerintah Kab/Kota 322 33.784 13 8.834 43 13.044 13 9.777 13 9.851 71 6.064 995 116.811 4 TNI/POLRI 110 10.286 1.074 467 47.375 345 37.605 44 14.033 122.483 13 8.202 141.364 441 43.750 1.295 1.2009 Tahun 2005 No Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Pengelola (1) (2) Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Kementerian Kesehatan 13 8.827 71 6.575 375 41.880 71 6.821 5 Kementerian Lain / BUMN 71 6.

I.305 7.374 10.250 22.094 23 3 Sumatera Barat 4.439 247 10 230 9 464 19 994 41 504 21 23 Kalimantan Timur 3.100 20.054 92 9 88 8 150 14 394 37 330 31 22 Kalimantan Selatan 2.041 23 9.191 36 870 26 17 Bali 3.680 12.651 39.473 392 11 457 13 636 18 1.974 12 2.126 13 3.6 33.574 2.254 123 4 291 9 563 17 1.265 22 7.503 16 16 Banten 3. Kemenkes.Lampiran 5.523 32 5.164 21 13 Jawa Tengah 23.091 253 8 251 8 551 18 1.1 .575 280 8 327 9 702 20 1.211 57 5 108 9 161 13 479 40 406 34 28 Gorontalo 510 35 7 24 5 81 16 204 40 166 33 29 Sulawesi Barat 279 28 10 22 8 58 21 125 45 46 16 30 Maluku 1.039 42 581 24 20 Kalimantan Barat 3.218 85 3 284 9 642 20 1.601 7 2.171 10 5.334 10 2.450 47 586 19 9 Bangka Belitung 861 32 4 52 6 211 25 377 44 189 22 10 Kepulauan Riau 1.936 12 5.142 11 4.602 112 7 167 10 289 18 818 51 216 13 19 Nusa Tenggara Timur 2.708 73 4 196 11 279 16 712 42 448 26 26 Sulawesi Selatan 7.178 35 Sumatera Utara 13.727 322 7 588 12 840 18 2.983 266 9 303 10 600 20 1.458 41 808 23 24 Sulawesi Utara 3.662 151 9 210 13 300 18 571 34 430 26 6 Sumatera Selatan 4.653 48 3 68 4 192 12 894 54 451 27 31 Maluku Utara 696 20 3 20 3 83 12 214 31 359 52 32 Papua Barat 686 53 8 22 3 66 10 445 65 100 15 33 Papua 1.432 35 969 23 15 Jawa Timur 22.653 21 1 98 6 229 14 824 50 481 29 Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.247 37 1.542 48 665 21 25 Sulawesi Tengah 1.650 21 5.198 46 779 16 7 Bengkulu 987 55 6 56 6 130 13 210 21 536 54 8 Lampung 3.069 25 1.886 35 3.404 7 2.362 20 12 Jawa Barat 19.167 37 4.5 36.756 37 2.556 24 14 D.909 44 542 13 4 Riau 2.5 17.998 1. Yogyakarta 4.186 16 2.491 23 7.588 91 6 166 10 270 17 647 41 414 26 11 DKI Jakarta 16.368 1.315 17 6. 2010 163.319 154 5 411 12 693 21 1.312 350 8 442 10 1.6 JUMLAH TEMPAT TIDUR DI RUMAH SAKIT UMUM DAN RUMAH SAKIT KHUSUS MENURUT KELAS PERAWATAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Total Tempat Tidur (3) VIP Jumlah % (4) Kelas Perawatan Kelas II Jumlah % Kelas I Jumlah (5) % (6) (7) (8) Kelas III (9) Jumlah % (10) (11) Tanpa Kelas Jumlah % (12) (13) 3.268 1.351 129 4 241 7 556 17 1.447 473 6 764 10 1.294 10 2.123 32 865 25 18 Nusa Tenggara Barat 1.448 129 5 273 11 426 17 1.547 48 730 22 21 Kalimantan Tengah 1.2 64.952 45 3.544 638 5 1.141 323 8 506 12 911 22 1.268 30 27 Sulawesi Tenggara 1.160 39 654 22 5 Jambi 1.163 46 3.

960 903 593 289 284 458 329 565 1.309 1.463 1.152 648 441 640 212 282 0 353 0 0 348 14 18 14 8 9 9 3 6 3 7 1 15 20 2 19 1 4 6 4 7 5 10 8 4 6 20 5 1 2 2 3 4 5 1.203 .405 1.050 1.576 1.052 2.062 118 29.349 86 367 761 502 544 386 790 602 466 458 1.210 711 1.299 6.023 1.804 1.793 3.657 299 68 119 147 278 394 522 4 3 2 4 1 7 4 2 4 0 0 2 6 0 4 0 0 0 11 4 7 1 1 1 3 1 3 2 1 5 4 0 5 204 133 127 265 50 340 200 100 220 0 0 92 372 0 220 0 0 0 790 200 265 50 50 75 153 26 150 100 102 265 200 0 292 21 31 18 13 11 18 8 10 7 7 8 34 46 6 48 5 9 7 16 13 14 13 14 6 11 25 9 4 3 8 7 4 11 1.274 909 2. Kemenkes.640 1.682 2.264 0 698 0 0 0 0 0 0 0 0 580 0 0 0 0 0 0 0 3 9 2 1 1 2 1 2 0 0 6 16 18 3 23 4 4 1 1 2 2 2 5 1 2 3 1 1 0 1 0 0 1 525 1.565 1.7 JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR MILIK KEMENKES/PEMDA MENURUT KELAS RUMAH SAKIT DAN PROVINSI TAHUN 2009 Kelas A No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.440 442 2.031 92 5.658 1.903 661 450 221 765 478 394 1.290 504 4.051 3.445 516 480 3.056 415 273 905 332 812 0 0 2.034 852 1.162 10 8.793 989 1.041 465 66.Lampiran 5.069 245 24.619 9.752 3.809 4.202 980 1.546 9. 2010 Kelas B Kelas C Kelas D Total Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Tempat Tidur (12) 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 2 1 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 600 0 0 0 0 0 0 0 0 1.361 673 2.189 1.382 594 586 965 179 533 296 480 214 1.

427 57 1.446 22 2.516 66 1.781 51 9.137 22 2. Kemenkes.556 79 3.Lampiran 5.533 57 2.591 11 RS Khusus Lainnya 56 1.224 3 RS Tuberkulosa Paru 9 766 9 718 10 757 11 782 10 731 4 RS Mata 10 475 10 459 10 418 10 418 11 423 5 RS Ortopedi 1 187 1 187 1 187 1 187 1 127 6 RS Penyakit Infeksi 1 127 1 144 1 144 1 144 1 144 7 RS Jantung 2 234 2 234 2 234 2 239 2 222 8 RS Kanker 1 129 1 172 1 172 1 172 1 172 9 RS Bersalin 56 2.2009 No Jenis Rumah Sakit (1) (2) Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 RS TT RS TT RS TT RS TT RS TT (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 RS Jiwa 51 8.133 22 2.629 69 3.527 51 8.412 292 20.762 273 20.388 74 3.635 57 2.420 57 1.168 22 2.475 10 RS Ibu dan Anak 64 3.206 2 RS Kusta 22 2.458 57 2. 2010 .450 57 1.726 51 8.804 95 4.788 321 22.577 61 2.947 286 20.480 280 19.8 JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DAN TEMPAT TIDURNYA MENURUT JENIS RUMAH SAKIT TAHUN 2005 .077 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.630 51 8.

293 125 164 214 416 507 600 515 453 492 TOTAL Sumber: Ditjen Binfar dan Alkes. 2010 0 0 0 0 0 0 0 0 10 0 0 1 1 2 3 0 0 0 10 10 9 2 3 3 78 78 79 6 9 13 22 26 37 39 41 41 0 0 11 11 13 1 1 1 2 3 3 6 15 13 0 0 0 0 0 2 2 1 1 1 1 0 0 0 0 0 4 4 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 4 4 0 0 0 2 2 2 1 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 2 2 2 5 6 6 1 1 1 2 3 3 1 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 3 3 3 0 0 0 30 30 28 0 6 17 43 47 54 9 15 20 56 76 87 38 38 37 .9 JUMLAH SARANA PRODUKSI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2007-2009 NO PROVINSI (1) (2) Industri Farmasi Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) Industri Obat Tradisional (IOT) Perbekalan Kesehatan dan Rumah Tangga (PKRT) Produksi Alat Kesehatan Industri Kosmetika 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 2009 (20) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 0 2 2 0 4 Kepulauan Riau 0 2 2 0 5 Riau 0 0 0 0 6 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 7 Jambi 1 1 8 Bengkulu 0 9 Sumatera Selatan 10 Lampung 11 Banten 12 DKI Jakarta 22 22 23 7 7 7 28 28 116 29 37 46 84 103 120 99 20 70 13 Jawa Barat 76 77 91 32 32 32 184 184 184 49 63 80 137 162 192 108 108 107 14 Jawa Tengah 31 31 25 0 0 0 36 36 282 11 14 18 42 50 55 45 45 26 15 DI Yogyakarta 1 1 1 0 0 0 42 42 40 3 3 3 2 3 3 8 8 0 16 Jawa Timur 59 54 54 17 17 17 343 411 388 13 17 25 55 64 80 150 150 151 17 Bali 1 1 1 0 0 0 13 13 12 0 0 0 0 0 0 2 5 24 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 9 9 9 1 2 3 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 9 9 10 0 0 0 2 2 1 0 0 0 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 24 26 29 0 0 0 2 2 3 18 19 20 23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 11 15 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 8 9 9 0 0 0 2 3 3 0 0 0 25 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 26 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 27 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Sulawesi Selatan 0 0 0 0 0 0 8 10 13 0 0 0 1 1 2 0 0 0 29 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 Maluku 0 0 0 0 0 0 4 6 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 231 232 238 60 67 78 862 951 1. Kemenkes.Lampiran 5.

162 1. Kemenkes.816 10.820 361 361 361 13 17 23 0 0 0 15 DI Yogyakarta 55 42 44 123 355 359 43 52 57 3 4 5 28 96 96 16 Jawa Timur 370 461 461 890 1.Lampiran 5.940 7.789 2.931 13.915 7.953 567 667 826 2.821 6.256 420 872 872 43 58 73 295 244 244 14 Jawa Tengah 328 329 325 522 522 1.671 5.296 3.256 2.611 3.10 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Pedagang Besar Farmasi NO PROVINSI (1) (2) Toko Obat Apotek Penyalur Alat Kesehatan (PAK) Sub Penyalur Alat Kesehatan (Sub PAK) 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 71 4 Kepulauan Riau 20 5 Riau 44 6 Kepulauan Bangka Belitung 6 7 Jambi 31 8 Bengkulu 9 2009 (17) 58 51 52 119 170 209 534 576 560 0 0 0 98 99 125 110 103 106 386 769 768 259 738 737 10 13 15 0 128 128 74 81 193 296 295 361 482 478 0 0 0 101 57 89 28 33 98 129 160 286 336 377 2 2 2 19 38 55 81 91 269 313 346 290 328 546 2 3 5 195 235 235 10 14 46 62 70 72 79 92 2 2 2 28 30 30 47 49 121 151 166 137 167 176 0 0 0 85 44 55 17 17 19 77 96 99 104 95 90 0 0 0 64 72 72 Sumatera Selatan 88 95 95 175 225 243 97 95 114 5 5 4 91 106 106 10 Lampung 74 48 53 162 212 225 123 157 113 1 1 1 39 65 65 11 Banten 34 79 81 137 137 401 9 9 9 25 31 37 12 12 20 12 DKI Jakarta 521 279 283 807 1.586 218 218 217 22 27 34 399 274 274 17 Bali 81 81 82 179 383 462 104 159 165 2 3 4 52 109 96 18 Nusa Tenggara Barat 31 38 38 34 162 173 100 102 102 0 0 0 6 92 92 19 Nusa Tenggara Timur 27 27 28 39 103 103 81 183 183 0 0 0 99 153 153 20 Kalimantan Barat 67 69 74 99 130 160 244 270 337 0 0 0 82 97 107 21 Kalimantan Tengah 11 14 15 80 84 126 148 162 141 0 0 0 0 49 50 22 Kalimantan Selatan 69 59 61 134 171 199 233 433 460 0 0 0 135 154 159 23 Kalimantan Timur 45 52 47 197 263 349 315 300 336 0 0 0 80 111 152 24 Sulawesi Utara 43 43 43 100 122 139 49 40 73 0 0 0 82 109 143 25 Sulawesi Barat 0 1 1 29 28 45 33 33 44 0 0 0 0 8 8 26 Sulawesi Tengah 31 23 24 41 124 148 112 112 174 0 0 0 35 102 103 27 Gorontalo 28 Sulawesi Selatan 29 Sulawesi Tenggara 30 Maluku Utara 31 Maluku 32 Papua Barat 13 13 13 57 71 75 45 44 46 0 0 0 2 2 3 33 Papua 36 38 37 83 127 142 94 13 14 0 0 0 108 151 212 2.230 2.566 TOTAL Sumber: Ditjen Binfar dan Alkes.743 2.586 1.746 349 732 604 435 499 618 268 268 268 13 Jawa Barat 343 365 393 1. 2010 5 5 6 36 55 61 42 41 40 0 0 0 41 25 18 123 134 134 210 468 518 451 436 116 2 2 3 59 150 150 19 13 13 62 105 109 96 165 165 0 0 0 64 90 139 3 6 6 34 34 54 25 25 29 0 0 0 12 64 42 15 18 19 47 60 59 80 125 125 0 0 0 32 62 77 .

5 0.5 8.11 JUMLAH INSTITUSI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES) MENURUT JURUSAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jurusan / Program Studi (1) (2) (3) (4) (6) (7) (8) (9) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Perekam Informasi Kesehatan Ortotik Prostetik Teknik Gigi Teknik Radiodiagnostik Teknik Elektromedik Akupunktur Terapi Wicara Okupasi Terapi (10) KETEKNISIAN MEDIS Analis Kesehatan KETERAPIAN FISIK GIZI Gizi Kesehatan Lingkungan Analis Farmasi & Makanan Farmasi (5) KESMAS Fisioterapi KEFARMASIAN Kesehatan Gigi Poltekkes Kebidanan No Keperawatan KEPERAWATAN (17) (18) (19) TOTAL (20) 1 Banda Aceh 3 3 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 2 Medan 1 3 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9 3 Pekanbaru 2 2 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 4 Padang 2 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 5 Jambi 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 6 Bengkulu 3 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8 7 Palembang 2 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 8 Tanjung Karang 2 2 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8 9 Jakarta I 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 4 10 Jakarta II 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 7 11 Jakarta III 3 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 12 Bandung 3 4 1 0 0 1 1 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 12 13 Tasikmalaya 2 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 14 Yogyakarta 5 3 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 13 15 Semarang 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 7 16 Surakarta 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 17 Surabaya 4 3 1 0 0 2 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 12 18 Malang 3 3 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 19 Denpasar 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 7 20 Mataram 2 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5 21 Kupang 3 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 22 Pontianak 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 23 Palangkaraya 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 24 Samarinda 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 25 Banjarmasin 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 4 26 Palu 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 27 Makassar 2 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 28 Kendari 2 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9 29 Manado 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 30 Gorontalo 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 31 Ambon 3 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 32 Ternate 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 33 Jayapura 7 2 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 TOTAL % Sumber: BPPSDM Kesehatan. 2010 67 52 18 7 1 21 26 2 1 1 1 15 2 3 1 2 1 221 30.8 0.5 100 .1 3.9 1.Lampiran 5.5 0.8 0.9 0.9 0.2 0.5 0. Kemenkes.4 0.5 6.5 11.5 9.3 23.

2010 30 3 2 67 0 0 2 100 0 0 1 33 12 5 42 0 0 5 100 0 0 7 58 221 180 81.48 .45 77 42.8 96 53.3 7 3.Lampiran 5. Kemenkes.9 32 14.12 JUMLAH JURUSAN/PROGRAM STUDI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES) MENURUT AKREDITASI DAN STRATA TAHUN 2009 Strata No Poltekkes Jumlah Jurusan/Program Studi (1) (2) (3) Jurusan Terakreditasi Belum Terakreditasi A B C Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) (8) (9) (12) (13) (14) (15) 1 Banda Aceh 10 7 70 1 14 6 86 0 0 3 2 Medan 9 9 100 2 22 5 56 2 22 0 0 3 Pekanbaru 7 6 86 5 83 1 17 0 0 1 14 4 Padang 5 2 40 0 0 2 100 0 0 3 60 5 Jambi 4 4 100 2 50 2 50 0 0 0 0 6 Bengkulu 8 8 100 0 0 8 100 0 0 0 0 7 Palembang 6 2 33 2 100 0 0 0 0 2 33 8 Tanjung Karang 8 7 88 0 0 7 100 0 0 1 13 9 Jakarta I 4 3 75 2 67 1 33 0 0 0 0 10 Jakarta II 7 7 100 4 57 3 43 0 0 0 0 11 Jakarta III 6 6 100 6 100 0 0 0 0 0 0 12 Bandung 12 11 92 9 82 2 18 0 0 0 0 13 Tasikmalaya 5 5 100 5 100 0 0 0 0 0 0 14 Yogyakarta 6 6 100 4 67 2 33 0 0 0 0 15 Semarang 13 11 85 9 82 2 18 0 0 2 15 16 Surakarta 7 4 57 2 50 2 50 0 0 3 43 17 Surabaya 12 12 100 7 58 5 42 0 0 0 0 18 Malang 7 7 100 5 71 2 29 0 0 0 0 19 Denpasar 7 5 71 2 40 3 60 0 0 0 0 20 Mataram 5 5 100 3 60 2 40 0 0 0 0 21 Kupang 8 7 88 0 0 7 100 0 0 1 13 22 Pontianak 6 4 67 2 50 2 50 0 0 2 33 23 Palangkaraya 3 2 67 0 0 2 100 0 0 1 33 24 Samarinda 6 6 100 3 50 3 50 0 0 0 0 25 Banjarmasin 4 2 50 1 50 1 50 0 0 2 50 26 Palu 6 4 67 0 0 4 100 0 0 2 33 27 Makassar 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Kendari 4 4 100 0 0 4 100 0 0 0 0 29 Manado 9 8 89 1 13 7 88 0 0 1 11 30 Gorontalo 3 3 100 0 0 0 0 3 100 0 0 31 Ambon 6 6 100 0 0 4 67 2 33 0 0 32 Ternate 33 Jayapura Jumlah Sumber: BPPSDM Kesehatan.

2010 . Kemenkes.Lampiran 5.13 JUMLAH INSTITUSI NON POLITEKNIK KESEHATAN (NON-POLTEKKES) MENURUT JURUSAN/PROGRAM STUDI DAN PROVINSI TAHUN 2009 (4) (8) (9) (10) (12) (13) (14) (15) (17) (18) (19) (20) (21) (22) D-III Kardiovaskuler D-I PTTD ATEM APIKES ARO AAK ATG SMAK (16) ATRO Keteknisian Medis D-III AKUPUNTUR ATW AKFIS AKL (11) Keterapian Fisik Gizi AKZI Kesmas AKFAR (7) AKAFARMA (6) SMKF (5) SMF AKG (3) AKBID (2) (1) Kefarmasian AKPER Provinsi SPRG No SPK Keperawatan (23) (24) Jumlah (25) (26) 1 Aceh 1 0 14 33 0 0 0 1 1 1 0 2 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 57 2 Sumatera Utara 0 0 42 53 0 4 0 3 1 1 2 2 0 0 1 0 2 1 1 0 1 0 0 114 3 Sumatera Barat 0 0 13 10 0 1 0 1 3 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 2 0 0 0 34 4 Riau 0 0 7 20 0 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 34 5 Jambi 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 5 6 Sumatera Selatan 0 0 7 6 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 15 7 Bengkulu 0 0 12 16 0 1 0 0 2 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 35 8 Lampung 0 0 4 4 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 5 10 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 17 10 Kepulauan Riau 1 0 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 11 DKI Jakarta 1 2 31 21 0 8 0 2 2 1 2 2 1 0 2 1 0 1 2 2 1 1 1 84 12 Jawa Barat 0 0 14 12 0 4 40 0 2 0 0 1 0 0 0 0 2 1 1 1 0 0 0 78 13 Jawa Tengah 2 0 44 52 0 4 0 3 12 3 2 3 0 0 2 0 4 1 2 6 2 0 0 142 14 DI Yogyakarta 0 0 4 9 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 15 Jawa Timur 0 0 5 2 0 1 0 0 2 0 0 0 0 3 0 0 1 1 0 2 1 1 0 19 16 Banten 0 1 42 27 0 5 2 3 2 1 2 2 0 0 1 1 4 0 1 2 0 0 0 96 17 Bali 1 0 1 2 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 7 18 Nusa Tenggara Barat 1 0 4 7 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 16 19 Nusa Tenggara Timur 2 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 20 Kalimantan Barat 0 0 6 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 21 Kalimantan Tengah 0 0 3 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 7 22 Kalimantan Selatan 0 0 6 6 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 23 Kalimantan Timur 0 0 6 7 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 24 Sulawesi Utara 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 25 Sulawesi Tengah 0 0 5 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 26 Sulawesi Selatan 1 1 24 19 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 52 27 Sulawesi Tenggara 0 0 6 2 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 12 28 Gorontalo 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 31 Maluku Utara 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 3 10 4 319 329 1 33 44 15 43 13 9 16 1 3 8 2 22 9 8 20 7 2 1 919 JUMLAH Sumber: BPPSDM Kesehatan.

2 428 46 8.41 373 40. 2010 78.14 JUMLAH INSTITUSI NON POLITEKNIK KESEHATAN (NON-POLTEKKES) MENURUT AKREDITASI DAN STRATA TAHUN 2009 Strata Institusi yang Belum Terakreditasi No Provinsi Jumlah Institusi (1) (2) (3) A B C telah terakreditasi Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 57 1 4 21 75 6 21 28 49 29 51 114 4 5 61 75 16 20 81 71 33 29 3 Sumatera Barat 34 2 10 16 4 Riau 34 2 13 13 76 3 14 21 62 13 38 87 0 0 15 44 19 56 5 Jambi 5 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 15 0 0 9 100 0 0 9 0 5 100 60 6 7 Bengkulu 35 3 13 15 65 5 22 23 66 40 12 34 8 Lampung 9 1 20 4 80 0 0 5 56 4 44 9 Kepulauan Bangka Belitung 17 0 0 10 91 1 9 11 65 6 35 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 4 0 0 2 100 0 0 2 50 2 50 84 7 10 65 89 1 1 73 87 11 13 12 Jawa Barat 78 3 19 13 81 0 0 16 21 62 79 13 Jawa Tengah 142 16 17 71 76 6 6 93 65 49 35 14 DI Yogyakarta 16 1 11 8 89 0 0 9 56 7 44 15 Jawa Timur 99 20 27 54 72 1 1 75 76 24 24 16 Banten 15 1 20 4 80 0 0 5 33 10 67 17 Bali 7 0 0 3 100 0 0 3 43 4 57 18 Nusa Tenggara Barat 16 1 25 3 75 0 0 4 25 12 75 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 7 0 22 Kalimantan Selatan 15 4 23 Kalimantan Timur 16 2 24 Sulawesi Utara 5 0 25 Sulawesi Tengah 7 1 26 Sulawesi Selatan 52 27 Sulawesi Tenggara 12 28 Gorontalo 2 29 Sulawesi Barat 30 5 0 0 3 100 0 0 3 60 2 40 11 2 25 6 75 0 0 8 73 3 27 0 3 100 0 0 3 43 4 57 40 6 60 0 0 10 67 5 33 25 5 63 1 13 8 50 8 50 0 4 80 1 20 5 100 0 0 14 5 71 1 14 7 100 0 0 1 5 14 74 4 21 19 37 33 63 0 0 7 100 0 0 7 58 5 42 0 0 1 100 0 0 1 50 1 50 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Maluku 1 0 0 1 100 0 0 1 100 0 0 31 Maluku Utara 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 100 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 3 0 0 1 100 0 0 1 33 2 67 919 72 13.4 0 .59 Jumlah Sumber: BPPSDM Kesehatan.4 546 59.Lampiran 5. Kemenkes.

Jenis Tenaga Kesehatan Pemda TNI / Polri Swasta Jumlah (2) (3) (4) (5) (6) (1) A B C D E F KEPERAWATAN 1 Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) 2 Akademi Keperawatan (AKPER) 3 Akademi Kebidanan (AKBID) 4 Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG) 5 Akademi Kesehatan Gigi (AKG) Sub Total KEFARMASIAN 1 Sekolah Menengah Farmasi (SMF) 2 SMKF 3 Akademi Analis Farmasi dan Makanan (AKAFARMA) 4 Akademi Farmasi (AKFAR) Sub Total KESEHATAN MASYARAKAT 1 Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Sub Total GIZI 1 Akademi Gizi (AKZI) Sub Total KETERAPIAN FISIK 1 Akademi Fisioterapi (AKFIS) 2 Akademi Okupasi Terapi (AOT) 3 Akademi Terapi Wicara (ATW) 4 Akademi Akupunktur Sub Total KETEKNISIAN MEDIS 1 Sekolah Menengah Analis Kesehatan (SMAK) 2 Akademi Analis Kesehatan (AAK) 3 Akademi Tekniker Gigi (ATG) 4 D-I Pendidikan Teknik Transfusi Darah (PTTD) 5 Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO) 6 Akademi Perekam Informasi Kesehatan (APIKES) 7 Akademi Teknik Elektromedik (ATEM) 8 Akademi Refraksionis Optisi (ARO) 9 Akademi Teknik Kardiovaskuler Sub Total Total % Sumber: BPPSDM Kesehatan.Lampiran 5. Kemenkes.26 6 20 1 2 8 20 6 9 1 73 793 86.29 8 22 2 2 8 20 7 9 1 79 919 100 .45 1 0 1 0 0 0 1 0 0 3 30 3. 2010 2 69 18 0 0 89 3 16 1 3 0 23 5 234 310 1 1 551 10 319 329 4 1 663 0 0 0 2 2 3 0 0 1 4 30 44 15 40 129 33 44 15 43 135 1 1 0 0 12 12 13 13 1 1 0 0 8 8 9 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 0 1 3 20 16 0 1 3 20 1 2 0 0 0 0 0 0 0 3 96 10.15 JUMLAH INSTITUSI DIKNAKES NON-POLTEKKES MENURUT STATUS KEPEMILIKAN TAHUN 2009 No.

068 1.025 3.399 24.948 346 1.702 7.563 3.887 1.200 4.410 7.521 4.959 20.255 352 361 1.483 5.956 10.755 2.633 71.601 9.007 1.517 28.399 6.646 1.275 1.540 51. melalui pengumpulan data Badan PPSDMK.007 1.745 6.291 163 11.483 15.545 12.308 2.268 13.385 5.762 12.951 583 616 361 368 299 151 103 178 90 60 180 1.150 975 2.086 2.035 954 634 547 368 120 206 524 156 160 573 1.994 5.908 1.389 13.466 4.531 314 903 225 380 153 474 329 247 384 158 284 28 498 134 79 48 18 37 685 564 335 233 420 351 207 260 95 56 83 1.947 342 4.659 895 938 521 282 395 785 228 456 896 2.303 2.480 2.083 1.774 173.071 1.113 1.951 12.582 .683 11.036 1.673 7.394 308 395 155 467 237 106 442 363 242 171 256 148 37 41 53 46 Sarjana Kesmas 1.341 255 12.986 14.048 3.182 850 2.319 2.917 7.940 13.945 14.310 5.588 5.988 1.532 109.234 2.657 5.971 995 2.917 3.032 6.155 1.656 200 423 155 44 132 90 128 297 79 85 267 23 46 38 40 44 1.889 278.458 16.193 445 493 575 416 530 831 599 352 981 233 150 172 345 203 188 1.975 563 794 1.837 4.666 2.419 2.765 21.145 1.436 2.002 2.Lampiran 5.291 6.489 4.706 20.542 8.775 2.395 2.582 297 370 115 176 199 90 167 269 61 59 297 64 39 62 97 36 8.379 3.317 9.715 968 1.912 46.792 14.394 337 371 433 381 372 246 454 261 375 102 452 540 77 70 221 239 311 96 112 83 48 44 30 55 17 23 195 103 583 115 243 192 76 37 88 29 28 41 71 92 22 98 30 18 34 17 39 1.574 2.010 6.067 6.050 489 109.663 16.456 456 988 516 437 402 435 203 236 474 305 296 337 618 728 151 139 170 451 Keterapian Fisik Keteknisian Medis Jumlah Nakes SDM Non Nakes Total SDM Kesehatan Sanitarian 467 626 523 315 118 34 27 231 20 176 1.762 10 2.289 53 13.568 410.119 3.532 6.279 1.387 3.16 REKAPITULASI DATA SDM KESEHATAN PER PROVINSI KEADAAN DESEMBER 2009 MEDIS NO KEPERAWATAN KEFARMASIAN PROVINSI Dokter Spesialis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Gorontalo Maluku Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Perawat Gigi Bidan 6.182 7.077 6.057 519.633 27.384 TOTAL PER KATEGORI 51.826 6.191 785 1.303 3.153 222 380 386 604 337 243 449 332 427 326 393 450 79 75 236 102 544 729 477 293 171 203 140 241 109 106 354 946 1.532 2.436 2.035 2.061 2.433 183 364 266 520 351 232 501 465 18 86 214 142 41 95 29 130 22.128 3.307 50.326 21.613 5.801 4.786 2.849 6.467 1. Kemenkes.662 19.253 952 3.948 10.686 7.957 517 298 280 674 238 25.930 17.244 893 Sarjana Farmasi & Apoteker 460 851 204 259 132 142 94 197 42 74 758 252 1.247 9.682 215 28.796 8.050 410.214 9.030 71.956 35.473 640 632 95 112 102 168 78 101 121 204 112 228 122 133 26 45 47 208 KESMAS Tenaga Gizi Asisten Aptoteker 368 166 654 388 428 120 208 287 140 114 108 991 837 763 2.163 4.763 840 4.364 12.221 106 8.906 1.027 2.298 1.332 32 2.985 2.234 2.446 8.953 253 16.030 5.298 13.705 6.165 776 789 493 532 611 673 115 255 168 236 1.798 8.581 10.177 12.617 54 192 28 2.449 1.138 17.490 20.575 2. 2010 984 93.858 285 12.072 509 570 6.917 11.543 13.985 129 TOTAL 9.186 1.401 294 1.424 10.277 2.188 258 1.568 6.602 1.862 12.905 8.985 98 15.119 322 348 138 53 80 209 52 135 725 946 976 443 1.470 4.499 8.023 3.788 Sumber : Dinas Kesehatan seluruh Indonesia.957 1.086 3.576 11.119 35 827 73 66 179 178 144 5 47 3.337 1.851 3.

394 32.461 86 1.054 723 7.673 2 Sumatera Utara 513 1.071 8.833 777 5.417 290 4.707 6 Sumatera Selatan 214 188 39 1.665 762 7.691 133 808 18 25 30 128 174 3 13 3.567 36 203 143 306 256 5 160 4.728 224 1.053 194 2.615 22 Kalimantan Selatan 188 256 118 1.981 300 6.835 788 5.259 286 2.817 19 Nusa Tenggara Timur 300 260 130 2.103 28 Gorontalo 61 75 35 587 36 312 22 17 52 44 45 6 23 1.934 14 DI Yogyakarta 120 321 169 801 237 762 90 73 78 151 137 8 221 3.067 174 2.773 10 Kepulauan Riau 64 200 60 1.177 244 5.049 919 3.011 29 141 121 297 257 40 3 4.421 8 Lampung 267 411 141 2.140 230 1.822 5.393 21 622 36 26 52 75 98 0 10 2.151 76 65 269 214 133 11 48 5.505 280 1.141 76.346 543 5.025 1.387 228 4.615 158 1.042 564 5.606 7 Bengkulu 152 173 68 2.459 5 Jambi 163 85 85 1.796 165 1.847 77.164 36 178 117 137 123 3 109 6.486 1.910 530 4.337 41 262 160 481 267 13 178 7.517 33 Papua 287 299 70 2.040 228 1.081 447 3.071 30 105 128 195 147 0 91 4.610 24 Sulawesi Utara 165 332 46 2.744 607 6.229 4 Riau 174 527 196 2.170 788 7.662 379 2.480 31 Maluku Utara 105 101 18 842 23 551 50 22 137 78 119 7 23 1.092 10.673 1.950 184 1.689 7.744 8.973 91 2.370 85 221 509 365 353 44 159 7.672 393 274 422 727 706 69 624 23.198 15 73 97 128 146 2 145 4.889 21 Kalimantan Tengah 176 258 58 1.796 12 278 188 205 200 2 173 6.379 4.133 43 20 161 123 128 3 47 4.623 23 Kalimantan Timur 224 427 179 2.273 306 1.181 7.546 226 4.338 122 1.481 19 118 100 265 266 2 228 5.311 TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.777 27 Sulawesi Tenggara 233 230 56 2.332 29 Sulawesi Barat 101 100 21 689 62 422 22 26 132 185 135 0 1 1.591 154 2.213 34 75 170 240 134 0 69 5.253 121 722 265 800 778 19 654 24.064 32 Papua Barat 120 103 13 1.545 11 DKI Jakarta 25 327 292 582 80 535 22 63 30 52 201 5 32 2.835 82 1.468 711 10.236 9 Kepulauan Bangka Belitung 55 113 32 703 67 414 35 25 65 54 64 0 43 1.310 30 98 171 344 322 5 160 6.252 41 577 239 268 358 36 165 13.396 215.405 10 104 67 233 116 1 66 3.018 799 6.115 36 564 30 54 33 49 63 3 47 2.109 350 6.862 237 2.857 214 5.053 16 Banten 205 379 202 1.701 6.645 34 1.544 350 4.737 499 6.940 7.659 7.254 78 1.142 2.986 742 5.772 25 Sulawesi Tengah 178 164 53 1.603 626 7.440 18 Nusa Tenggara Barat 149 250 87 2.766 337 5. Kemenkes.112 28.452 422 262 438 814 721 8 351 20.385 129 2.305 591 2.549 11 167 76 212 86 15 178 4.730 118 2.995 360 1.896 12 Jawa Barat 1.Lampiran 5.188 344 5.716 957 13.968 15 Jawa Timur 942 1.509 24.680 158 163 552 482 277 38 203 12.958 20 Kalimantan Barat 227 225 58 2.155 3 Sumatera Barat 245 442 207 1.401 60 53 180 283 90 0 47 4.746 409 14.130 298 906 45 84 331 329 338 0 19 4.270 210 3.820 3.248 322 4.024 886 7.961 30 Maluku 159 94 152 1.17 JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS MENURUT JENIS DAN PROVINSI TAHUN 2010 No Provinsi Jumlah Puskesmas yang terdata tenaganya (2) (3) (1) Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Perawat Gigi Bidan Apoteker & S1 Farmasi Asisten Apoteker (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) Kesmas Sanitarian (13) (14) Keterapian Keteknisia Fisik n Medis Gizi (15) (16) (17) Jumlah JUMLAH TENAGA NON KESEHATAN TOTAL SDM KESEHATAN (19) (20) (21) 1 Aceh 291 534 97 4.535 245.509 13.621 111 54 174 264 117 2 46 5. 2010 .570 26 Sulawesi Selatan 393 318 270 2.451 66 2.159 196 115 57 161 189 0 60 4.743 5.329 13 Jawa Tengah 871 1.728 17 Bali 117 346 192 1.776 29.

70 7.01 8. DOKTER GIGI.486 10. 2010 .36 6.025 1.744 607 6.337 0.673 1.45 12.43 8.71 12.84 0.11 0.68 1.730 2.35 15 Jawa Timur 942 1.835 1.33 14.011 2.62 3.69 7.13 0.115 564 3.61 0.63 8.44 5 Jambi 163 85 85 1.03 1.62 5.58 13.08 6.213 1.310 1.11 11.69 8.41 6.25 32 Papua Barat 120 103 13 1.60 11.57 9.96 10.64 9.05 7 Bengkulu 152 173 68 2.40 17 Bali 117 346 192 1.02 5.58 12.940 77.862 2.30 10.59 0.45 16.338 1.04 9.44 4.27 13 Jawa Tengah 871 1.87 7.691 808 0.665 762 7.33 11.08 31 Maluku Utara 105 101 18 842 551 0.87 0.89 28 Gorontalo 61 75 35 587 312 1.80 10.05 0.188 5.17 8.81 11 DKI Jakarta 25 327 292 582 535 13.19 10.024 7.040 1.11 29 Sulawesi Barat 101 100 21 689 422 0.468 10.87 7.21 6.50 19 Nusa Tenggara Timur 300 260 130 2.52 0.54 0.99 0.00 0.81 0.66 8 Lampung 267 411 141 2.49 27 Sulawesi Tenggara 233 230 56 2.39 19.94 17.18 30 Maluku 159 94 152 1.50 6 Sumatera Selatan 214 188 39 1.680 1.701 6.80 0.621 1.25 7.796 1. Kemenkes.85 7.29 9 Bangka Belitung 55 113 32 703 414 2.61 5.142 1.26 10.23 0.133 1.01 18 Nusa Tenggara Barat 149 250 87 2.18 RASIO DOKTER UMUM.24 9.76 10.78 24 Sulawesi Utara 165 332 46 2.99 0. PERAWAT DAN BIDAN TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi Jumlah Puskesmas yang terdata tenaganya Dokter Umum Dokter Gigi (2) (3) (4) (5) (1) Perawat Bidan (6) (7) Rasio Dokter Umum Rasio Dokter Gigi Rasio Perawat Rasio Bidan (8) (9) (10) (11) 1 Aceh 291 534 97 4.86 0.130 906 0.950 1.981 6.549 0.74 6.672 2.081 447 3.067 2.42 8.591 2.52 10.88 0.47 0.99 0.18 33 Papua 287 299 70 2.99 7.18 8.14 0.13 25 Sulawesi Tengah 178 164 53 1.62 0.01 0.28 21.393 622 0.28 12.25 14 DI Yogyakarta 120 321 169 801 762 2.85 0.728 1.405 2.40 12 Jawa Barat 1.31 7.41 4 Riau 174 527 196 2.60 9.461 1.253 1.071 1.481 0.68 0.88 16 Banten 205 379 202 1.13 13.72 9.14 3.164 3.53 7.662 2.141 76.140 1.74 12.96 0.645 1.08 10.68 6.385 2.96 1.91 0.82 4.181 7.52 21 Kalimantan Tengah 176 258 58 1.87 26 Sulawesi Selatan 393 318 270 2.76 12.452 1.36 0.053 2.64 5.22 4.08 11.04 0.151 0.84 7.252 2.370 0.59 22 Kalimantan Selatan 188 256 118 1.01 6.93 10.198 1.505 1.995 1.159 1.24 9.87 15.34 23 Kalimantan Timur 224 427 179 2.53 10 Kepulauan Riau 64 200 60 1.92 0.401 0.78 7.07 TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.273 1.79 20 Kalimantan Barat 227 225 58 2.68 23.509 13.17 8.52 2 Sumatera Utara 513 1.78 1.19 3 Sumatera Barat 245 442 207 1.Lampiran 5.567 1.

11 983 27.94 714 1.518 .19 REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER UMUM PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) (4) Jumlah % (5) (6) 6 Bln 12 Bln (7) (8) Jumlah % (9) (10) (11) 1 Aceh 13 5 103 37 5 161 166 59 282 2 Sumatera Utara 96 33 141 49 24 27 51 18 288 3 Sumatera Barat 13 11 62 54 17 23 40 35 115 4 Riau 41 39 44 42 0 20 20 19 105 5 Jambi 20 17 54 47 0 42 42 36 116 6 Sumatera Selatan 11 19 45 76 0 3 3 5 59 7 Bengkulu 0 0 51 55 0 41 41 45 92 8 Lampung 15 17 54 62 0 18 18 21 87 9 Kepulauan Bangka Belitung 2 20 4 40 0 4 4 40 10 10 Kepulauan Riau 7 14 15 31 0 27 27 55 49 11 DKI Jakarta 14 100 0 0 0 0 0 0 14 12 Jawa Barat 63 100 0 0 0 0 0 0 63 13 Jawa Tengah 135 100 0 0 0 0 0 0 135 14 DI Yogyakarta 19 100 0 0 0 0 0 0 19 15 Jawa Timur 106 100 0 0 0 0 0 0 106 16 Banten 26 100 0 0 0 0 0 0 26 17 Bali 20 100 0 0 0 0 0 0 20 18 Nusa Tenggara Barat 8 14 30 54 0 18 18 32 56 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 28 9 29 244 273 91 301 20 Kalimantan Barat 0 0 28 22 0 99 99 78 127 21 Kalimantan Tengah 0 0 30 37 0 52 52 63 82 22 Kalimantan Selatan 0 0 51 42 0 71 71 58 122 23 Kalimantan Timur 7 9 43 54 0 30 30 38 80 24 Sulawesi Utara 0 0 45 42 0 63 63 58 108 25 Sulawesi Tengah 0 0 20 17 63 37 100 83 120 26 Sulawesi Selatan 18 22 44 53 4 17 21 25 83 27 Sulawesi Tenggara 1 1 18 11 34 116 150 89 169 28 Gorontalo 0 0 9 17 0 44 44 83 53 29 Sulawesi Barat 0 0 5 9 26 24 50 91 55 30 Maluku 2 1 10 5 174 0 174 94 186 31 Maluku Utara 0 0 8 13 55 0 55 87 63 32 Papua Barat 0 0 13 12 99 0 99 88 112 33 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.184 1.95 3.Lampiran 5. Kemenkes. 2010 0 0 28 13 184 3 187 87 215 637 18.898 53.

Kemenkes.03 197 469 666 63.054 .19 1. 2010 0 0 4 20 16 0 16 80 20 198 18.79 190 18.Lampiran 5.20 REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER GIGI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) Jumlah (4) % (5) 6 Bln (6) 12 Bln (7) Jumlah (8) % (9) (10) (11) 1 Aceh 0 0 13 17 5 57 62 83 2 Sumatera Utara 75 15 23 38 58 4 9 13 20 66 3 Sumatera Barat 2 5 13 30 9 20 29 66 44 4 Riau 2 6 18 51 0 15 15 43 35 5 Jambi 0 0 5 20 0 20 20 80 25 6 Sumatera Selatan 0 0 4 50 0 4 4 50 8 7 Bengkulu 0 0 1 6 0 16 16 94 17 8 Lampung 3 16 7 37 0 9 9 47 19 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 2 40 0 3 3 60 5 10 Kepulauan Riau 1 4 11 46 0 12 12 50 24 11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 Jawa Barat 15 100 0 0 0 0 0 0 15 13 Jawa Tengah 30 100 0 0 0 0 0 0 30 14 DI Yogyakarta 13 100 0 0 0 0 0 0 13 15 Jawa Timur 83 100 0 0 0 0 0 0 83 16 Banten 17 Bali 18 5 100 0 0 0 0 0 0 5 14 100 0 0 0 0 0 0 14 Nusa Tenggara Barat 6 26 9 39 0 8 8 35 23 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 6 5 23 89 112 95 118 20 Kalimantan Barat 0 0 1 3 0 38 38 97 39 21 Kalimantan Tengah 0 0 1 4 0 22 22 96 23 22 Kalimantan Selatan 0 0 7 18 0 32 32 82 39 23 Kalimantan Timur 2 5 12 32 0 24 24 63 38 24 Sulawesi Utara 0 0 1 20 0 4 4 80 5 25 Sulawesi Tengah 0 0 1 4 15 8 23 96 24 26 Sulawesi Selatan 7 14 28 56 3 12 15 30 50 27 Sulawesi Tenggara 0 0 4 8 13 33 46 92 50 28 Gorontalo 0 0 1 6 0 17 17 94 18 29 Sulawesi Barat 0 0 3 9 13 16 29 91 32 30 Maluku 0 0 0 0 63 1 64 100 64 31 Maluku Utara 0 0 0 0 16 0 16 100 16 32 Papua Barat 0 0 0 0 17 0 17 100 17 33 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.

218 9 Kepulauan Bangka Belitung 55 93.113 96.98 240 0.41 54 32 Papua Barat 0 0.01 2.17 4 Riau 260 26.00 220 15 Jawa Timur 3.104 62.00 4.836 13 Jawa Tengah 4.00 50 0.78 0 0.11 0 0.495 1.87 105 4.93 4 7.234 16 Banten 468 65.26 107 0.34 0 0.44 271 0.43 3.47 61 0.00 25 29 Sulawesi Barat 4 1.83 200 0.33 60 31 Maluku Utara 0 0.036 0.00 175 23 Kalimantan Timur 32 64.00 169 11 DKI Jakarta 0 0.22 4 0.00 997 0 0.00 607 0.38 198 7 Bengkulu 46 10.00 0 0.00 253 427 59.64 245 0.67 149 19 Nusa Tenggara Timur 5 1.82 6 Sumatera Selatan 409 67.40 2 0.89 132 0.Lampiran 5.74 5 Jambi 128 17.00 18 0.084 89.97 283 0.395 14 DI Yogyakarta 220 100.00 0 0.00 434 134 0.30 189 0.08 278 21 Kalimantan Tengah 1 1.00 350 18 Nusa Tenggara Barat 91 61.01 0 0.00 1 1.00 1.82 68 22 Kalimantan Selatan 1 0.353 2.07 0 0.33 0 0.633 0. 2010 0 0.96 4 2.392 99.00 1 33 Papua 0 0.72 25.00 0 0.807 1 0.57 174 0.28 712 Gorontalo 3 12.00 4.06 186 0.67 48 0.70 196 0.09 1.60 388 8 Lampung 1.23 2.174 45.75 593 0.93 3 0.80 11 18.00 14 0.581 86.46 9.00 (8) (9) 212 9.07 57 0.00 50 24 Sulawesi Utara 1 3.38 1 0. Kemenkes.21 REKAPITULASI KEBERADAAN BIDAN PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) (4) Jumlah % (5) (6) Jumlah % (7) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 942 82.139 0 0.46 2.00 0 0.00 713 17 Bali 345 98.37 .56 8 32.85 219 30 Maluku 1 1.57 5 0.00 32 25 Sulawesi Tengah 4 2.99 0 0.90 6 8.08 737 0.00 59 10 Kepulauan Riau 37 21.97 0 0.22 1.95 7 2.00 0 12 Jawa Barat 1.00 721 0.97 3 1.00 0 0.00 0 0.13 31 0.75 0 0.91 15 6.06 194 26 Sulawesi Selatan 27 Sulawesi Tenggara 28 64 25.78 252 20 Kalimantan Barat 4 1.784 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.00 10 185 0.55 0 0.03 14 0.36 0 0.00 0.11 251 0.00 10 16.14 4 0.89 0 0.

LAMPIRAN 5. Papua 19 13 0 0 0 6 0 SUB TOTAL 845 418 34 89 219 75 10 TOTAL 1052 419 36 98 279 205 15 Sumber : BPPSDM Kesehatan. Kalimantan Timur 35 6 1 17 8 1 2 25 Bapelkes Prov. Kalimantan Tengah 24 7 0 3 14 0 0 24 Bapelkes Prov. Kalimantan Barat 41 29 0 0 1 8 3 23 Bapelkes Prov.Jambi 40 1 18 13 8 0 0 12 Bapelkes Prov. 2010 .Sumatera Barat 87 63 1 2 14 7 0 SUB TOTAL 58 4 32 0 0 0 42 1 10 Bapelkes Prov.Riau 15 4 0 5 3 3 0 11 Bapelkes Prov.22 DISTRIBUSI TINGKAT KETERLIBATAN INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA DALAM KEGIATAN KEDIKLATAN TAHUN 2009 NO INSTITUSI DIKLAT FREQUENSI PELATIHAN I II TINGKAT LIBAT (FREQ) III IV V (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) TDK Jelas (9) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 74 0 0 2 10 2 BBPK Cilandak 33 0 0 1 3 BPPK Ciloto 46 1 1 1 4 Bapelkesnas Lemahabang 16 0 1 2 8 5 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 19 0 0 3 10 6 0 6 Bapelkesnas Makasar 19 0 0 0 0 19 0 207 1 2 9 60 130 5 7 BLTKM Jantho 25 23 0 0 2 0 0 8 Bapelkes Prov. Sulawesi Tenggara 20 2 3 7 8 0 0 29 Bapelkes Prov. Sulawesi Utara 33 24 0 5 4 0 0 27 Bapelkes Palu 29 9 1 0 1 18 0 28 Bapelkes Prov.Bengkulu 52 37 2 3 9 0 1 13 Bapelkes Prov. Bali 25 17 0 4 3 0 1 20 Bapelkes Mataram 62 50 0 0 8 1 3 21 UPTD Pel.Lampung 28 0 0 22 5 1 0 14 Bapelkes Prov. Tenaga Kes kupang 28 13 6 4 5 0 0 22 Upelkes Prov. Kemenkes. Jawa Barat 62 62 0 0 0 0 0 16 BPTPK Gombong 22 0 0 0 22 0 0 17 Bapelkes Yogja 21 5 0 1 8 7 0 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 61 26 2 1 30 2 0 19 UPTD BPKKTK Prov.Sumatera utara 36 0 0 0 30 6 0 9 Bapelkes Prov. Kalimantan Selatan 28 20 0 2 3 3 0 26 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 41 7 0 0 23 11 0 15 BPTKM Dinkes Prov. Maluku 11 0 0 0 10 1 0 30 Bapelkes Prov.

Sulawesi Tenggara 2 0 1 1 0 0 29 Bapelkes Prov.Papua 2 0 0 0 1 1 SUB TOTAL 114 14 30 52 11 7 TOTAL 172 16 42 86 21 7 Sumber : BPPSDM Kesehatan.50 (4) 51 . Kalimantan Barat 1 0 0 1 0 0 23 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 3 0 1 1 1 0 15 BPTKM Dinkes Prov.Sulawesi Utara 5 1 3 1 0 0 27 Bapelkes Palu 2 0 0 2 0 0 28 Bapelkes Prov.LAMPIRAN 5.Riau 5 0 3 2 0 0 11 Bapelkes Prov.Bengkulu 3 0 0 3 0 0 13 Bapelkes Prov. Jawa Barat 9 0 2 5 2 0 16 BPTPK Gombong 5 0 0 0 0 5 17 Bapelkes Yogja 10 0 1 6 3 0 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 7 1 4 1 1 0 19 UPTD BPKKTK Prov.Kalimantan Selatan 6 4 2 0 0 0 26 Bapelkes Prov. 2010 . Kalimantan Timur 4 1 1 2 0 0 25 Bapelkes Prov. Kemenkes.Kalimantan Tengah 2 1 1 0 0 0 24 Bapelkes Prov.60 (5) KETERANGAN > 60 (6) (7) (8) (9) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 14 0 2 10 2 0 2 BBPK Cilandak 11 0 0 7 4 0 3 BPPK Ciloto 7 2 2 3 0 0 4 Bapelkesnas Lemahabang 8 0 3 5 0 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 12 0 5 6 1 0 6 Bapelkesnas Makasar 6 0 0 3 3 0 SUB TOTAL 58 2 12 34 10 0 7 BLTKM Jantho 1 0 0 1 0 0 8 Bapelkes Prov.Jambi 3 0 0 3 0 0 12 Bapelkes Prov. Bali 2 0 0 2 0 0 20 Bapelkes Mataram 11 0 4 6 1 0 21 UPTD Pel. Tenaga Kes kupang 6 2 1 3 0 0 22 Upelkes Prov.Maluku 1 0 0 0 1 0 30 Bapelkes Prov.Sumatera utara 9 2 5 2 0 0 9 Bapelkes Prov.Sumatera Barat 5 0 0 4 1 0 10 Bapelkes Prov.Lampung 10 2 1 6 0 1 14 Bapelkes Prov.23 DISTRIBUSI WIDYAISWARA INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA BERDASARKAN KELOMPOK UMUR TAHUN 2009 UMUR NO INSTITUSI DIKLAT JUMLAH TIDAK JELAS < 40 (1) (2) (3) 41 .

Riau 439 15 69 5 0 0 60 2 120 4 0 0 190 4 11 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 757 35 25 Bapelkes Prov.Sumatera Barat 3014 87 56 2 151 3 1239 25 913 32 78 3 577 22 10 Bapelkes Prov. Kalimantan Barat 23 Bapelkes Prov.Sumatera utara 1099 36 77 2 0 0 150 6 842 27 30 1 0 0 9 Bapelkes Prov. 2010 . Bali 20 Bapelkes Mataram 21 UPTD Pel.Sulawesi Utara 1070 33 86 2 115 2 71 2 798 27 0 0 0 0 27 Bapelkes Palu 1014 29 0 0 0 0 85 1 649 22 102 2 178 4 28 Bapelkes Prov.Lampiran 5.Maluku 356 11 0 0 0 0 0 0 356 11 0 0 0 0 30 Bapelkes Prov. Tenaga Kes kupang 22 Upelkes Prov. Jawa Barat 2355 62 961 16 0 0 0 0 1235 41 0 0 159 5 16 BPTPK Gombong 1165 22 0 0 0 0 860 12 204 7 101 3 0 0 17 Bapelkes Yogja 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 19 UPTD BPKKTK Prov.Kalimantan Tengah 923 24 Bapelkes Prov.Sulawesi Tenggara 565 20 0 0 0 0 0 0 394 14 171 6 0 0 29 Bapelkes Prov.Papua 874 19 0 0 93 1 60 2 691 15 30 1 0 0 SUB TOTAL 35567 845 2208 42 476 9 7389 181 20402 478 2372 56 2720 79 TOTAL 46136 1052 6133 96 851 20 7867 192 23361 552 3222 81 4702 111 Sumber : BPPSDM Kesehatan. Kemenkes.Jambi 906 40 0 0 0 0 575 25 236 11 75 3 20 1 12 Bapelkes Prov.Lampung 2749 28 0 0 0 0 60 2 2399 25 290 1 0 0 14 Bapelkes Prov.24 DISTRIBUSI FREKUENSI PELATIHAN DAN JUMLAH PESERTA DI INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA BERDASARKAN JENIS DIKLAT TAHUN 2009 Total No Prajabatan Penjenjangan Manajemen Teknis Fungsional Dan Lain-lain Institusi Diklat (1) (2) Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 2385 74 752 22 204 6 453 10 396 14 557 18 23 2 BBPK Cilandak 1093 33 356 9 171 5 0 0 514 18 0 0 52 1 3 BPPK Ciloto 3438 46 2001 16 0 0 25 1 944 18 110 3 358 8 4 Bapelkesnas Lemahabang 1325 16 758 6 0 0 0 0 537 9 30 1 0 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 1549 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1549 19 6 Bapelkesnas Makasar SUB TOTAL 4 779 19 58 1 0 0 0 0 568 15 153 3 0 0 10569 207 3925 54 375 11 478 11 2959 74 850 25 1982 32 7 BLTKM Jantho 3854 25 60 1 0 0 225 6 3569 18 0 0 0 0 8 Bapelkes Prov.Kalimantan Selatan 1417 28 816 21 50 1 0 0 0 0 766 20 0 0 0 0 3327 61 401 5 42 1 606 11 1661 34 617 10 0 0 1033 25 89 3 0 0 30 1 551 12 0 0 363 9 1947 62 0 0 0 0 385 12 1157 37 30 1 375 12 666 28 0 0 0 0 209 8 457 20 0 0 0 0 1974 41 0 0 0 0 1782 36 0 0 112 3 80 2 24 0 0 0 0 140 3 160 3 623 18 0 0 0 0 35 1 387 15 195 16 30 1 110 2 161 1 0 0 145 2 1088 24 23 1 0 0 26 Bapelkes Prov.Bengkulu 1827 52 0 0 40 1 290 9 829 24 0 0 668 18 13 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 1420 41 198 4 0 0 30 1 1132 34 60 2 0 0 15 BPTKM Dinkes Prov.

910 2065 2.350 56.304 0 4705 3600 0 1035 9.190 13.868 190 50 0 40 280 190 50 40 40 320 102 80 60 0 242 482 180 100 80 842 0 1105 100 0 100 0 225 0 20 0 1.066 0 1105 100 0 160 0 225 0 20 0 1.550 21.250 5868 5.812 0 2825 300 0 450 0 675 0 100 0 4.510 2265 2.065 2065 2.Lampiran 5.340 0 19657 13923 0 4220 37.065 1380 1.353 1250 1.610 21.380 5510 5.280 .156 0 7476 5298 0 1530 14. Kemenkes.265 2353 2.402 0 615 100 0 190 0 225 0 60 0 1. 2010 JUMLAH TINGKAT I TINGKAT II TINGKAT III (3) (4) (5) (6) 0 7476 5025 0 1655 14.800 0 125 625 750 0 125 625 750 0 125 285 410 0 375 1535 1.25 REKAPITULASI PESERTA DIDIK POLTEKKES PERJENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN AJARAN 2009/2010 P0LTEKKES NO (1) A B C D E F JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.

520 1140 0 100 120 1.173 1100 1.300 605 605 605 605 605 605 1815 1. Kemenkes.100 1180 1.148 1280 30795 41016 400 40 73.815 1320 0 100 220 1.531 1425 30026 13816 400 0 45.769 92.029 84.157 2640 5545 600 320 2150 4543 1640 2080 0 180 19.852 .520 950 1950 200 160 800 1589 640 680 0 60 7.605 14123 4690 9360 28.120 3320 1545 2740 7.26 REKAPITULASI PESERTA DIDIK NON POLTEKKES PERJENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN AJARAN 2009/2010 NON POLTEKKES NO (1) A B C D E F JUMLAH JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.725 800 1705 200 0 650 1285 480 720 0 60 5.Lampiran 5.640 1260 0 100 160 1.667 4465 92801 83740 1200 140 182.346 6013 1655 3780 11.970 890 1890 200 160 700 1669 520 680 0 60 6. 2010 TINGKAT I TINGKAT II TINGKAT III (3) (4) (5) (6) 1760 31980 28908 400 100 63.448 4790 1490 2840 9.900 62.360 3720 0 300 500 4.020 3300 3.698 239.180 1020 1.

27 JUMLAH PESERTA DIDIK PROGRAM DIPLOMA IV BERDASARKAN JENIS INSTITUSI PENDIDIKAN TAHUN 2007. Kemenkes.Lampiran 5.2009 Tahun No JENIS INSTITUSI (1) (2) I 2007 2008 2009 (3) (4) (5) III KEPERAWATAN Keperawatan Medical Bedah Keperawatan Gawat Darurat Keperawatan Klinik Kemahiran Keperawatan Kardiovaskuler Keperawatan Anestesi Keperawatan Jiwa Keperawatan Intensive Keperawatan Anestesi Reanimasi Sub Total KEBIDANAN Bidan Pendidik Kebidanan Komunitas Sub Total KESLING IV GIZI 30 580 280 V FISIOTERAPI 40 80 40 VI TEHNIK ELEKTROMEDIK 0 80 40 VII RADIOLOGI 40 80 40 40 160 80 0 0 20 0 0 0 0 0 0 570 0 0 0 0 0 0 2997 60 20 20 20 20 140 2020 II VIII ANALIS KESEHATAN IX PROMOSI KESEHATAN X KESEHATAN GIGI Kesehatan Gigi Kesehatan Gigi Komunitas Kesehatan Gigi Prothodansia Dental Bedah Mulut Perawat Gigi Pendidik Sub Total TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan. 2010 170 70 0 0 0 0 0 0 240 657 400 40 40 40 0 0 0 1177 380 280 20 20 0 20 20 20 760 80 0 80 100 520 0 520 320 440 20 440 180 .

2010 JUMLAH POLTEKKES NON POLTEKKES (3) (4) (5) 855 10111 38354 929 27906 18545 230 855 48465 80 462 542 2594 469 1259 4322 2594 549 1721 4864 973 973 712 712 1685 1685 1388 1388 424 424 1812 1812 79 50 571 650 50 30 51 781 4743 4513 129 696 64 243 181 929 23163 14032 230 30 51 652 553 1013 90 104 256 805 223 506 553 1709 154 104 499 805 404 506 30 3550 48.Lampiran 5.28 LULUSAN DIKNAKES POLTEKKES DAN NON POLTEKKES BERDASARKAN JENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN 2009 TAHUN 2009 NO (1) A B C D E F JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.014 4764 62.357 .371 30 1214 14. Kemenkes.

030 0 159 0 0 50 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 209 14 Semarang 214 145 84 81 69 0 0 0 131 0 0 0 0 0 0 724 15 Surakarta 79 0 0 0 56 0 0 0 0 0 0 40 50 30 0 255 13 Tasikmalaya 16 Yogyakarta 48 39 198 84 0 0 82 0 0 0 0 0 0 0 0 403 17 Malang 219 385 0 108 80 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 792 18 Surabaya 270 284 85 0 31 0 86 68 0 0 0 0 0 0 0 824 19 Denpasar 99 40 35 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 220 20 Mataram 96 37 0 37 36 0 84 0 0 0 0 0 0 0 0 290 21 Kupang 265 57 60 72 34 70 0 0 0 0 0 0 0 0 0 558 99 140 67 73 0 0 50 0 0 0 0 0 0 0 0 429 23 Palangkaraya 112 34 0 30 68 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 244 24 Banjarmasin 308 37 41 56 0 0 47 0 0 0 0 0 0 0 0 489 25 Samarinda 166 171 0 0 44 0 43 0 0 0 0 0 0 0 0 424 26 Manado 100 24 20 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 163 0 165 39 0 51 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 255 138 163 47 49 0 90 0 0 0 0 0 39 0 0 0 526 29 Kendari 98 326 0 98 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 522 30 Ambon 191 0 36 47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 274 31 Ternate 90 17 0 29 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 136 32 Gorontalo 152 107 0 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 305 33 Jayapura 227 51 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 324 4743 4513 973 1388 855 462 696 181 243 64 80 79 50 30 0 14357 22 Pontianak 27 Palu 28 Makassar Jumlah Sumber : BPPSDM Kesehatan.Lampiran 5.29 JUMLAH LULUSAN POLTEKKES BERDASARKAN JURUSAN/PROGRAM STUDI INSTITUSI DIKNAKES SELURUH INDONESIA TAHUN AJARAN 2009/2010 Jurusan / Program Studi No Poltekkes (1) (2) 1 Banda Aceh 2 Keperawatan Kebidanan Kesehatan Lingkungan (3) (4) (5) Gizi Kesehatan Gigi (6) (7) Farmasi Analisis Kesehatan Teknik Elektromedik Teknik Diagnostik Teknik Gigi AKAFARMA Fisioterapi Okupasi Terapi Ortotik Prostetik Terapi Wicara (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Jumlah (18) 204 82 95 5 107 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 493 Medan 85 410 40 90 0 129 60 0 0 0 0 0 0 0 0 814 3 Padang 187 177 69 56 48 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 537 4 Pekanbaru 96 203 47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 346 5 Jambi 0 104 53 0 38 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 195 6 Bengkulu 114 181 0 74 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 369 7 Palembang 238 110 0 63 35 79 38 0 0 0 0 0 0 0 0 563 8 Tanjung Karang 159 214 17 0 37 0 90 0 0 0 0 0 0 0 0 517 9 Jakarta I 60 114 0 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 193 10 Jakarta II 0 85 0 94 0 113 112 64 80 0 0 0 0 596 11 Jakarta III 135 167 0 0 0 36 0 0 0 0 0 0 0 0 338 12 Bandung 503 211 7 177 52 0 80 0 0 0 0 0 0 0 0 1. Kemenkes. 2010 .

Lampiran 5.354 100 AKFIS 80 908 18 Nusa Tenggara Barat AKZI 51 3.014 .135 776 5 900 1.140 179 SMAK 88 337 100 AKUPUN KTUR 35 420 19 Nusa Tenggara Timur ATW 27 502 392 AOT 58 3.284 20 Kalimantan Barat ATG 80 3.30 REKAPITULASI LULUSAN NON POLTEKKES DIKNAKES SELURUH INDONESIA BERDASARKAN JENIS DAN PROVINSI TAHUN AJARAN 2009/2010 Keperawatan No Provinsi (1) (2) Kefarmasian SPK SPRG AKPER AKBID AKG SMF (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 1.241 2. Kemenkes.939 104 160 251 36 6 79 26 51 80 80 231 64 20 104 4.127 63 61 23 1.678 14 149 22 Kalimantan Selatan APIKES (11) 17 310 192 ARO 210 395 21 Kalimantan Tengah ATRO 60 412 490 AAK 29 1.163 30 14.105 80 26 28 KARDIOV ORTOTIK ASKULER PROSTETIK 35 83 60 80 109 50 2.535 516 12 21 689 345 128 420 26 81 109 168 147 106 7 48 134 85 103 50 49 78 30 140 10 19 340 152 80 44 60 80 266 17 725 54 115 5.796 36 7.032 0 2.463 220 2. 2010 929 230 23.420 (9) 1 10 Kepulauan Bangka Belitung 80 AKAFAR AKFAR MA 80 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 49 100 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 160 15 DI Yogyakarta 80 14 Banten 17 Bali 695 23 Kalimantan Timur 411 24 Sulawesi Utara 387 25 Sulawesi Tengah 451 26 Sulawesi Selatan 80 50 27 Sulawesi Tenggara 1.361 ATEM PTTD (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) 67 120 90 60 50 39 99 (25) (26) Jumlah (27) 14 80 67 38 80 2.043 57 8.040 554 28 Gorontalo 0 29 Maluku 0 30 Maluku Utara 0 31 Papua 49 JUMLAH Sumber : BPPSDM Kesehatan.594 469 1.615 41 28 500 60 2.013 256 506 805 223 104 0 0 48.034 60 Keteknisian Gizi AKL 28 340 568 16 Jawa Timur (10) Keterapian Kesmas 719 80 289 120 23 635 279 179 48 717 18 174 27 237 42 100 52 911 17 580 27 414 97 147 100 379 548 45 23 50 82 53 40 44 80 60 2.082 656 60 8 Bengkulu 372 65 79 9 Lampung 435 221 205 60 94 34 2.062 365 4 Riau 605 703 6 Jambi 298 50 7 Sumatera Selatan 1.259 30 712 424 571 0 30 51 553 109 90 1.944 3.

170.1.418.3.1.576.3 Program Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aaparatur 61.44 3.1 Program Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat 117.889.061.994 26.080.300.385.99 182.086.161 19.003.866.563.220.43 3.714 52.275. Kemenkes.737.3.753.44 1.765 22.03 Program Peningkatan Pengawasan & Akuntabilitas Aparatur Negara 50.4 Program Perbaikan Gizi Masyarakat 449.130.51 663.000.137.000 39.401.348. Kementerian/Fungsi/Sub Fungsi/Program/Kegiatan (1) (2) 1.743.525.3 Program Pencegahan & Pemberantasan Penyakit 726.797.096.038.490.551.638.535.14 144.654 92.4.000.000 1.700.54 262.1 Program Pendidikan Kedinasan 1.235 77.629.) % (5) (6) Sisa Anggaran (Rp.96 3.537.1 Program Obat & Perbekalan Kesehatan 992.04 43.2 Program Upaya Kesehatan Masyarakat 2.56 24.728.844.215.884.935.146 63.509 15.1.360 74.416.5.199.755.2 Program Kebijakan & Manajemen Pembangunan Kesehatan 748.07 3.) (7) % (8) 2.97 602.226.286 47.794.141.445.082.114 14. 2010 .022 71.5.3.371 19.629 80.221.301 33.57 37.181.94 4.000 86.491.117.300.947.671.329.438.000 1.351.946.20 31.93 1.000 16.873.26 2.006 73.93 70.000 922.046 41.000 494.05 4.500.689.978 28.803.000 26.839 80.000.46 3.500.124.000 187.1.854 36.328.1.348.1 Program Lingkungan Sehat 231.Lampiran 5.182.202.000 582.07 3.710 72.000 633.000 128.1.563.938.821 81.886 85.699 66.541.346 7.038.400.000 8.1 Program Penelitian & Pengembangan Kesehatan 165.31 ALOKASI DAN REALISASI KEMENTERIAN KESEHATAN RI TRIWULAN IV TAHUN 2009 No.608.251.482.913.01 20.405.064.56 239.462.000 186.666.640 25.587.117.817.179 18.80 3.000.1 Program Upaya Kesehatan Perorangan 10.458.491 84.954 58.290 27.3.06 253.541.908.091.498.519.970.043.1 Program Penerapan Kepemerintahan Yang Baik 1.2.886.) (4) Total Realisasi (Rp.95 KEMENTERIAN KESEHATAN Sumber: Biro Perencanaan dan Anggaran.494.000 1.809.561.659.319.483.86 3.49 3.1 Program Sumber Daya Kesehatan 873.398.74 22.2 Pagu Revisi (Rp.

961 5 Jambi 2.432.451 308.516 621.539 279.663 49.356.230 900.210 - - 114.516.312 - 37.455 11.790 64.601 6.390 939.809 2.770.992 - - 87.689 - 353.560.447 205.079.666 21.071 - 204.768 - 333.715 924.582.225 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.842 234.95 .56 11 DKI Jakarta 9.468 60.800 777.350.265 784.640.498.167 310.576.912 - 708.474 77.005.715.868.12 3.38 23 Kalimantan Timur 3.891 - 14.25 729.822 81.449.875 15.506 395.732 - 6.358.853 42.097 2.370 218.224 851.857 966.225 - 60.618 - 14.825 323.643 - 89.381.60 - - - - - - 4.649 - 170.002.525 1.00 - - 18.205 - 114.233.471 1.006 0 31.002.533 942. Askes Pemda Lain-lain (11) (12) (13) (14) Total Total Jaminan Jamkesda (15) (16) % (17) 4.37 19 Nusa Tenggara Timur 4.91 30 Maluku 2.054.476 - - 89.113.000 - 167.723 - - 1.692 6 Sumatera Selatan 7.Lampiran 5.764 4 Riau 5.051 2.228.261 496.891 111.483 1.000 16.00 - - - - 13.564 100.388.588.000 - 27.319.35 20 Kalimantan Barat 4.252 204.399 527.971 50.001 - - 17.881 16.535 - - - - - - - - - 0 2.32 28 Gorontalo 1.351 12.317 449.395.29 - - - - 199.364 129.308.649.000 537.514.710 88.414 48.579.012 2.291.I.391 - 534.080 524.596.427 8 Lampung 8.233 - - 4.057 1.679 - - 366 - 7.605 - 60.76 2.358 6.310 - 8.911 277.599 99.231 2.01 55.969 2.693.829 8.390 1.549 81.599 - 35.871 344.737 730.584.175 2.512 132.193 24.078 23.067 - - 175 - 304.477 - 57.756 5.248 - - - - 0 3.006 4.001 47.749 - 5.016.210 1.268 - - - 40 - - 714.429 - 47.290 - 217.13 32 Papua Barat 33 Papua Pusat NASIONAL 236.910 - 48. Yogyakarata 10.443 - 67.145 - - - - 559 - - - - 0 517.594 4.053 2.809 84.952.676 9 Kepulauan Bangka Belitung Jamkesmas Non Quota (Jamkesda) Dana Sehat Asuransi Komersial TNI / POLRI Jamsostek (7) (8) (9) (10) Bapel / Uptd P.776 328.402.053 79.910.904 - - 2.317 3.144.792 18.317.569.854 4.175 3.000 - - - 98.38 13.798.868.792 - 323.605 - - - - 86.400.440.342 473.535.454.184 405.234 27.473 - 565.043 4.77 1.268 - - - 40 - - 170.849 80.135.129 398.963.886 3.164.006.55 1.760 1.710.659 85.444 843.20 31 Maluku Utara 1.142.472 - 21.982 39.962 1.898 43.098.884 - 134.564.146.941.706 57.375 3.558 75.102.964 1.510.000 1.594 - 339.051 248.032 - 87.67 17 Bali 3.028.00 27 Sulawesi Tenggara 1.271 31.672 7 Bengkulu 1.042.070 1.422.774.211 55.854 854.622 - 298.856 485.680 3 14.535.299 - 3.793.647 2.002.434.259.004 - 493.002 4.617 744.804 85.T.976 - 572.000 - 1.589.016.358 - - 67.47 25 Sulawesi Tengah 2.003.506.711.393 63.857 - 147.898.450 55.250 3.135 95.160.961 - 4.349 - - 4.016.358 2.61 24 Sulawesi Utara 2.710 - 421.881 2.491 288.020 10.587 - - 78.23 1.469.962 521.972 277.536 3.156 - 100.478 1.349 7.202 - 80.837 310.143.953.318 2.014 179.488 - - 147.751 5.833 - 405.278 613.281 - - - - 202.099 - 107.027 241.69 26 Sulawesi Selatan 7.129.946.517 - - 339.043 4.164 - 16.721 56.089 10.264 - - - - - - - - - 0 596.474 - 10.143 100.649 578.256.700.464 - - - - - - - 1.32 10 Kepulauan Riau 1.568 7.623 - - - - 6.988 - - - - 4.844 - - 572.010 - - 20.12 16 Banten 14 D.259.581 1.362.206.624 223.811 - 1.09 13 Jawa Tengah 32.693.573 115.388.14 21 Kalimantan Tengah 2.356 65.717.396.789 632.969 - 714.643 1.645 431.181 - 909.951 306.577.951 10.961 79.589 82.976 2.236.333 81.300 - 103.202.505 - 545.498 - - - - 100.084 265.157 1.302 - - 41.163.434.942 57.500 673.161 60.034 169.912 80.540 61.172. Kemenkes.579.32 22 Kalimantan Selatan 3.576 - 3.73 18 Nusa Tenggara Barat 4.870 437.119 5.978 3.072.095 - 89.880 - 980.363 45.350.673 55.00 12 Jawa Barat 42.601.046.894.000 - 1.166 44.627 2.021 - - - - 1.817 84.24 29 Sulawesi Barat 1.848 2.281.338 100.683 - - 10.525 25.473 5.697.797 - 112.658 76.540.749.670.207 - - 565.86 15 Jawa Timur 37.074 - 10.886 - 2.108.870 56.32 DATA CAKUPAN KEPESERTAAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2010 PER JUNI 2010 Peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Jiwa) No Provinsi (1) (2) Jumlah Penduduk Jamkesmas (3) (4) Askes PNS Jpkm / Bapel (5) (6) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4.419 405.098 173.005 2.398 337.133 98. 2010 3.716 136.338 2.086 - 106.142 1.213 - - - - 0 2.840.500 - - 14.166 854.

Lampiran 5.42 104 22 Kalimantan Selatan 0 0.00 11 8.17 312 3 Sumatera Barat 14 10.00 62 13 Jawa Tengah 125 100.00 0 0.43 343 Sumatera Utara 50 16.00 0 0.00 20 17 Bali 22 100.38 19 31.04 139 40.00 37 35.33 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER UMUM PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Terpencil Sangat Terpencil Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Total (9) 7 2.18 4 36.36 5 45.13 199 93.26 44 40.80 74 59.20 125 32 Papua Barat 0 0.00 0 0.25 64 29 Sulawesi Barat 0 0.58 223 28 Gorontalo 0 0.20 125 23 Kalimantan Timur 10 11.14 1.45 20 8.74 108 8 Lampung 9 8.00 31 21.81 91 29.97 202 90.00 12 18.67 420 31 Maluku Utara 0 0.00 23 15 Jawa Timur 64 100.73 36 40.65 337 90.07 59 11 DKI Jakarta 15 100.27 104 9 Kepulauan Bangka Belitung 2 18. Kemenkes.15 61 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.23 164 86.00 22 18 Nusa Tenggara Barat 7 11.73 41 80.00 0 0.00 36 9.00 0 0.27 143 6 Sumatera Selatan 7 13.52 197 57.00 125 14 DI Yogyakarta 23 100.00 0 0.36 42 47.00 19 5.43 331 94. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali .59 2.00 13 6.62 70 57.99 110 78.00 0 0.58 134 4 Riau 18 18.87 212 33 Papua 0 0.00 0 0.65 76 73.56 25 42.48 12 2.88 51 7 Bengkulu 0 0.193 26.89 77 53.00 26 26.38 122 25 Sulawesi Tengah 0 0.97 45 33.19 79 86.00 12 13.86 406 96.85 49 34.00 52 42.75 52 81.00 100 5 Jambi 17 11.487 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.57 350 500 11.81 91 30 Maluku 2 0.03 171 54.00 51 40.00 0 0.77 189 26 Sulawesi Selatan 17 16.39 3 5.00 0 0.45 11 10 Kepulauan Riau 8 13.00 0 0.16 103 27 Sulawesi Tenggara 1 0.794 62.45 75 55.34 29 28.08 19 18.58 67 64.00 15 12 Jawa Barat 62 100.27 4.00 0 0.00 0 0.00 64 59.48 35 57.00 56 56.00 0 0.00 25 13.35 373 20 Kalimantan Barat 0 0.00 64 16 Banten 20 100.91 88 24 Sulawesi Utara 0 0.50 57 55.37 26 44.01 141 21 Kalimantan Tengah 0 0.80 114 91.

00 0 0.33 24 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.65 11 25.97 33 33 Papua 0 0.11 38 143 11.00 2 40.00 0 12 Jawa Barat 15 100.77 26 6 Sumatera Selatan 0 0.03 32 96.10 58 28 Gorontalo 0 0.56 17 94.44 18 8 Lampung 0 0.00 0 0.00 9 45.72 86 2 Sumatera Utara 9 12.36 144 96.00 20 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0.00 19 95.71 22 31.46 39 5 Jambi 0 0.00 5 10 Kepulauan Riau 2 7.71 155 31 Maluku Utara 0 0.00 0 0.83 11 45.00 2 7.67 6 25 Sulawesi Tengah 0 0.00 2 33.56 23 58.00 10 7 Bengkulu 0 0.00 0 0. Kemenkes.45 34 66.00 20 29 Sulawesi Barat 0 0.90 54 93.58 30 69.89 35 92.00 4 6.89 45 30 Maluku 0 0.77 43 24 Sulawesi Utara 0 0.00 5 11.71 1.33 4 66.00 0 0.00 14 16.15 12 46.Lampiran 5.14 26 92.00 0 0.27 216 17.00 3 60.269 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.71 33 94.00 0 0.00 2 5.29 35 26 Sulawesi Selatan 5 9.28 72 83.00 6 60.23 21 80.00 5 19.00 6 17 Bali 7 100.86 28 22 Kalimantan Selatan 0 0.29 153 98.02 910 71.00 1 2.00 0 0.40 43 23 Kalimantan Timur 2 4.11 40 88.69 12 46.00 29 14 DI Yogyakarta 13 100.00 3 7.00 2 1.09 31 56.50 40 21 Kalimantan Tengah 0 0.34 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER GIGI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) Terpencil Sangat Terpencil Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Total (9) 1 Aceh 0 0.00 13 15 Jawa Timur 46 100.64 149 20 Kalimantan Barat 0 0.00 0 0.00 0 0.00 0 0.97 15 38.00 0 0.36 19 34.60 35 81.00 46 16 Banten 6 100.00 30 32 Papua Barat 0 0.00 0 0.00 1 5.00 1 5.00 4 40.00 1 3.00 0 0.00 8 18.83 8 33.00 0 0.43 70 3 Sumatera Barat 3 5.15 26 11 DKI Jakarta 0 0. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali .00 7 18 Nusa Tenggara Barat 5 20.00 11 55.00 5 3.67 51 4 Riau 1 2.86 39 55.00 30 100.50 39 97.00 15 13 Jawa Tengah 29 100.88 14 27.55 55 27 Sulawesi Tenggara 0 0.

56 806 50.006 .00 21 100.16 190 18 Nusa Tenggara Barat 55 58.00 186 21 Kalimantan Tengah 0 0.86 4 57.51 39 41.00 109 30 Maluku 0 0.12 139 40.00 0 0 1732 14 DI Yogyakarta 113 100.Lampiran 5.16 69 11 DKI Jakarta 0 0.02 606 9 Kepulauan Bangka Belitung 32 80.00 34 100.94 530 4 Riau 86 27.00 29 100.35 281 82.77 195 8 Lampung 515 84.00 125 100.28 1065 90.10 111 28 Gorontalo 3 42.00 34 32 Papua Barat 0 0.43 237 7 Bengkulu 18 9.23 177 90.88 340 17 Bali 184 96.92 222 72.00 0 0 0 12 Jawa Barat 681 83.00 125 26 Sulawesi Selatan 295 58. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali 40.14 7 29 Sulawesi Barat 0 0.15 138 16.84 56 81.72 1174 2 Sumatera Utara 792 49.93 508 27 Sulawesi Tenggara 1 0.47 77 6.00 120 20 Kalimantan Barat 0 0.00 120 100.00 118 23 Kalimantan Timur 21 46.49 94 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.49 0 11.65 340 6 Sumatera Selatan 172 72.00 21 25 Sulawesi Tengah 0 0.98 91 15.00 8 20.07 213 41.53 1179 16 Banten 201 59.67 24 53.00 109 100.00 118 100.51 4.06 164 30.00 40 10 Kepulauan Riau 13 18.00 29 31 Maluku Utara 0 0.33 45 24 Sulawesi Utara 0 0.85 819 13 Jawa Tengah 1732 100.00 6 33 Papua 0 0.00 23 22 Kalimantan Selatan 0 0.08 308 5 Jambi 59 17.456 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.00 6 100.84 6 3.57 65 27.00 0 0 6.35 REKAPITULASI PENGANGKATAN BIDAN PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) Terpencil Jumlah Total Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) 1 Aceh 109 9.90 110 99.44 1598 3 Sumatera Barat 366 69.00 186 100. Kemenkes.00 0 0 113 15 Jawa Timur 1102 93.00 23 100.550 59.

Lampiran 5.36 KEADAAN DOKTER SPESIALIS PTT DEPKES YANG MASIH AKTIF SAMPAI DENGAN TAHUN 2009 PENGANGKATAN TAHUN 2008 NO PROVINSI (1) (2) APRIL PENGANGKATAN TAHUN 2009 JUNI APRIL JUNI TOTAL PERPANJANGAN APRIL TAHUN 2009 SEPTEMBER B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) B T ST ∑ (26) (27) (28) (29) 1 Aceh 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 4 1 5 2 Sumatera Utara 3 0 0 3 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 5 3 0 8 3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 5 Jambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 5 0 5 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 2 10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 Jawa Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 Jawa Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 Jawa Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 Banten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 2 0 0 0 0 1 2 3 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 0 3 0 3 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 23 Kalimantan Timur 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 3 2 0 7 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 26 Sulawesi Selatan 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 2 0 1 4 0 5 27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 2 31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 4 0 0 4 4 0 0 4 1 10 6 17 0 5 1 6 0 10 2 12 0 4 0 9 29 9 47 TOTAL Sumber : Biro Kepegawaian. Kemenkes. 2010 .

3 97.0 19 7 26 19 7 26 100.3 89.0 100.7 100.1 100.7 12 54 66 8 54 62 66.0 28 1 29 28 1 29 100.0 95.0 51.0 100.6 10 9 19 5 9 14 50.9 7 60 67 6 58 64 85.0 100.0 100.0 100.0 70.78363 89.7 13 9 22 3 9 12 23.4 100.0 100.0 26 1 27 26 1 27 100.7 10 60 70 3 37 40 30.0 3 Sumatera Barat 22 19 41 22 16 38 100.0 70.0 95.2 23 26 49 6 26 32 26.0 100.0 82.0 54.9 98.0 100.0 100.0 6 41 47 3 41 44 50.0 10 Kepulauan Riau 11 Nusa Tenggara Barat 14 4 18 8 4 12 57.0 85.0 100.0 84.8% 96.0 8 2 10 8 2 10 100.7 95.8 100.0 7 Bengkulu 28 13 41 22 13 35 78.5 13 Kalimantan Barat 21 24 45 8 19 27 38.0 100.0 100.0 18 4 22 18 4 22 100.0 100.0 9 8 17 9 8 17 100.4 22 12 34 22 12 34 100.0 100.1 100.0 100.2 10 17 27 2 10 12 20.7 100.4 100.0 100.0 69.8 15 Kalimantan Selatan 28 18 46 14 18 32 50.0 12 21 33 7 21 28 58.1 425 Sumber : Biro Kepegawaian.3 100.0 8 Lampung 26 8 34 26 8 34 100.1 14 9 23 13 9 22 92.0 2 37 39 2 37 39 100.6 19 5 24 12 5 17 63.0 72.9 100.0 100.0 100.7 16 Kalimantan Timur 19 15 34 14 15 29 73.7 100.0 100.1 2 36 38 1 36 37 50.3 18 18 36 18 18 36 100.0 100.4 9 23 32 9 23 32 100.0 95.0 100.7 96.3 100.0 0.9 94.8 83.0 58.0 100.0 0.8 3 5 8 3 5 8 100.0 100.0 92.0 100.0 57.0 100.0 100.0 12 0 12 12 0 12 100.0 100.0 100.0 72.0 93.0 100.6 100.8 24 3 27 16 3 19 66.0 61.6 3 23 26 3 23 26 100.0 100. 2010 475 900 288 460 748 67.0 54.1 100.0 100.9 2 Sumatera Utara 16 12 28 16 12 28 100.8 81.0 45 25 70 40 25 65 88.0 5 22 27 5 22 27 100.0 4 0 4 4 0 4 100.8 99. Kemenkes.0 82.0 85.0 11 21 32 6 21 27 54.0 61.4 20 Sulawesi Tenggara 17 46 63 6 45 51 35.0 100.0 4 6 10 4 6 10 100.0 58.0 94.0 100.0 82.875 96.9 6 45 51 6 43 49 100.0 65.3 11 5 16 9 5 14 81.4 15 12 27 3 12 15 20.1 35 7 42 19 7 26 54.3 320 342 662 262 331 593 26 Papua Jumlah 81.0 100.37 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER UMUM PTT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (3) (4) (5) April Realisasi Kriteria Jumlah T ST (6) (7) (8) Persentase Kriteria Jumlah T ST (9) (10) (11) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (12) (13) (14) Juni Realisasi Kriteria Jumlah T ST (15) (16) (17) Persentase Kriteria Jumlah T ST (18) (19) (20) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (21) (22) (23) September Realisasi Kriteria Jumlah T ST (24) (25) (26) T Persentase Kriteria Jumlah ST (27) (28) (29) 1 Aceh 43 42 85 39 42 81 90.4 19 Sulawesi Selatan 16 7 23 12 7 19 75.6 97.5 100.3 16 13 29 11 13 24 68.2 92.Lampiran 5.0 30 99 129 10 89 99 33. Bangka Belitung 6 3 9 4 3 7 66.0 100.0 100.1 100.5 8 10 18 3 10 13 37.0 4 Riau 13 5 18 13 5 18 100.0 100.0 100.0 100.8 35 21 56 11 21 32 31.0 93.0 6 Sumatera Selatan 11 2 13 11 2 13 100.0 100.4 62.0 100.57704 .0 100.8 10 37 47 7 37 44 70.0 83.3 8 5 13 8 3 11 100.0 100.0 100.0 100.8 100.9 100.9 100.0 93.8 0 2 2 0 2 2 0.0 87.0 9 Kep.7 8 34 42 2 34 36 25.0 66.0 100.7 14 4 18 11 4 15 78.7 57.0 84.0 0.0 16 4 20 16 4 20 100.7 100.6 0 5 5 0 5 5 0.0 100.1 79.6 96.0 22 Sulawesi Barat 23 Maluku 24 Maluku Utara 25 Papua Barat 0 39 39 0 37 37 0.9 76.0 84.0 100.5 100.0 0.0 100.7 22 9 31 22 9 31 100.0 85.0 100.0 100.0 100.0 84.1 85.8 95.0 100.1 368 335 703 268 332 600 72.7 100.2 11 6 17 4 6 10 36.0 19 2 21 19 2 21 100.0 14 1 15 14 1 15 100.0 100.3 16 20 36 7 19 26 43.0 70.0 4 9 13 4 9 13 100.3 100.0 55.0 57.0 14 Kalimantan Tengah 20 17 37 9 14 23 45.9 18 Sulawesi Tengah 12 25 37 1 25 26 8.0 100.2 100.0 100.0 100.0 5 Jambi 18 13 31 18 13 31 100.3 100.6 100.0 100.5 13 8 21 13 8 21 100.0 100.0 100.0 100.0 60.6 12 Nusa Tenggara Timur 14 73 87 13 72 85 92.0 100.6 21 7 28 9 7 16 42.0 21 7 28 21 7 28 100.0 97.0 17 Sulawesi Utara 27 4 31 13 4 17 48.0 0 0 0 0 0 0 0.8 44.0 100.0 13 4 17 13 4 17 100.0 73.0 100.0 100.0 77.2 60.0 100.0 100.6 21 Gorontalo 16 15 31 1 15 16 6.0 100.

0 0.2 7 7 14 2 5 7 0.8 0.0 0.6 0.7 0.1 0.5 0 9 9 0 9 9 1.4 6 21 27 1 11 12 0.2 0.0 386 360 746 48 168 216 12.0 0.3 1.1 0.4 3 Sumatera Barat 21 13 34 2 7 9 0.5 0.2 14 Kalimantan Tengah 21 22 43 0 6 6 0.Lampiran 5.0 1.1 20 7 27 0 6 6 0.3 18 14 32 3 4 7 0.6 0.1 2 Sumatera Utara 15 9 24 4 6 10 0.0 0.0 1.1 35 30 65 0 7 7 0.0 0.4 0.1 0.0 0.3 8 41 49 1 21 22 0.3 0.1 0.5 1.0 0.8 0.4 21 Gorontalo 14 8 22 0 3 3 0.7 9 3 12 4 3 7 0.7 0 0 0 0 0 0 2 13 15 0 4 4 0.0 1.6 23 1 24 8 1 9 0.0 24 Maluku Utara 6 5 11 0 3 3 0.2 6 6 12 1 5 6 0.6 0.6 0.4 48.3 0.2 15 Kalimantan Selatan 34 7 41 4 4 8 0.4 15 4 19 6 2 8 4 Riau 15 3 18 9 3 12 0.4 16 5 21 8 4 12 0. Kemenkes.6 0.3 0 6 0.0 0.38 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER GIGI PTT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (3) (4) (5) April Realisasi Kriteria Jumlah T ST (6) (7) (8) Persentase Kriteria Jumlah T ST (9) (10) (11) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (12) (13) (14) Juni Realisasi Kriteria Jumlah T ST (15) (16) (17) Persentase Kriteria Jumlah T ST (18) (19) (20) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (21) (22) (23) September Realisasi Kriteria Jumlah T ST (24) (25) (26) T Persentase Kriteria Jumlah ST (27) (28) 1 Aceh 44 37 81 3 12 15 0.0 0.5 17 Sulawesi Utara 22 4 26 1 1 2 0.0 0.4 0.2 30 7 37 0 7 7 0.1 13 0 13 6 9 Kepulauan Bangka Belitung 3 2 5 0 2 2 0.5 0.2 5 13 18 0 5 5 0.5 0.6 25 Papua Barat 0 13 13 0 9 9 0.1 0.4 0.6 20 Sulawesi Tenggara 11 31 42 1 13 14 0.4 0.0 0.0 0.3 21 9 30 0 5 5 0.0 0.1 14 10 24 1 8 Lampung 28 3 31 2 3 5 0.1 13 12 25 0 4 4 0.0 0. 2010 0.2 30 22 52 3 11 14 0.0 .1 9 16 25 0 7 7 0.5 1.0 385 262 647 36 126 162 9.7 0.2 0.0 0.5 0 0 5 5 10 2 5 7 0.0 219 225 444 53 121 174 24.7 1.7 0.3 3 18 21 0 1 1 0.3 4 6 10 0 2 2 0.5 0.4 0.5 0.0 1.3 21 25 46 2 16 18 0.3 29 16 45 2 16 18 0.0 0.0 13 Kalimantan Barat 13 15 28 0 9 9 0.4 0.6 7 2 9 4 2 6 0.4 20 2 22 9 2 11 0.3 4 0 4 0 0 0 0.0 0.0 0.4 0.3 20 11 31 0 4 4 0.5 0.0 0.1 0.2 0.4 3 4 7 2 4 5 Jambi 12 0 12 1 0 1 0.5 0.4 2 1 3 2 1 3 1.0 0.0 0.2 0.5 3 6 9 1 4 5 0.4 46.2 20 4 24 3 3 6 Sumatera Selatan 11 2 13 4 2 6 0.2 0.1 8 10 18 0 2 2 0.4 0.0 0.0 0.4 1.7 0.0 0.2 22 Sulawesi Barat 26 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.2 1.4 0.2 0.1 25.0 1.0 0.0 0.5 0.4 0.0 0.2 0.6 2 4 6 2 2 4 1.0 0.1 0.9 0.3 0.5 0.0 0.0 0.0 0.7 23 Maluku 0 40 40 0 23 23 0.3 0.6 1.1 27 11 38 0 3 3 0.0 0.2 0.1 1.0 0.1 1.5 0.2 0.4 1.0 0.0 0.3 0.3 0.4 0.3 3 4 7 0 3 3 0.5 0.2 0.3 0.0 0.3 15 54 69 0 21 21 0.7 6 3 9 1 3 4 0.4 6 7 0.0 0.0 0.7 0.0 9 4 13 1 0 1 0.9 6 0.5 16 Kalimantan Timur 19 18 37 4 8 12 0.2 28 1 29 2 1 3 0.1 0.2 0.6 0.0 12 Nusa Tenggara Timur 16 72 88 1 26 27 0.3 0.3 0.4 6 0.1 18 Sulawesi Tengah 16 26 42 0 5 5 0.5 5 0 5 0 0 0 0.2 2 10 12 0 7 7 0.6 0.6 11 Nusa Tenggara Barat 14 4 18 2 4 6 0.3 0.0 5 2 7 1 7 Bengkulu 26 11 37 0 5 5 0.3 0.2 1.1 21 11 32 0 5 5 0.1 1.4 0.1 0.8 0.1 9 5 14 0 0 0 0.5 17 0 17 6 0 6 0.1 8 12 20 1 2 3 0.1 1.8 0.0 0.2 12 12 24 5 8 13 0.0 0.4 0.1 0.4 1.0 0.0 0.8 39.7 0.3 0.0 0.3 2 3 0.2 6 8 14 1 2 3 0.1 0.0 0.3 19 Sulawesi Selatan 14 4 18 7 4 11 0.3 17 2 19 4 1 5 0.1 0.0 0 0 0 0 10 Kepulauan Riau (29) 0.7 0.5 1.7 29.6 0 40 40 0 18 18 0.2 53.

7 212 26.6 660 UPT 2 0.2 1909 22.0 DPK/DPB 0 0.8 8548 SUBTOTAL 14 0.0 3393 SUBTOTAL 5 0.9 180 12.0 2 0.8 10978 34.9 46 3.2 58 13.0 149 28.0 152 36.6 160 31.0 108 50.7 1 0.6 395 4.2 48 1.5 192 29.6 54 8.2 133 26.2 123 25.4 123 KANTOR PUSAT 0 0.0 140 32.7 8 1.7 134 31.5 571 20.2 155 23.2 69 2.7 127 3.5 560 20.8 35 86 17.6 1248 VIII BADAN LITBANGKES KANTOR PUSAT UPT SUBTOTAL TOTAL Sumber: Biro Kepegawaian.3 31575 DITJEN PP DAN PL KANTOR PUSAT 3 0.8 421 28.6 28 1.0 233 28.2 4 0.4 155 30.6 1 0.8 1.8 1.3 2 0.8 485 2 0.7 UPT 0 0.5 998 11.4 8 1.1 1889 6.6 373 29.6 10 0.0 3 0.9 14.0 43 4.7 796 23.0 711 67.1 11221 35.2 1455 0.3 11 0.7 51 0.5 13 2.2 20 0.0 UPT 0 0.8 75 31.0 110 46.0 98 18.056 .9 182 14.8 1 0.0 436 31 2.8 215 20.8 40 3.3 1.3 31067 SUBTOTAL 26 0.9 16 3.5 8 1.0 208 22.2 86 2.3 1 0.8 483 17.3 37 0.7 6 1.6 5 1.2 35 4.284 2.9 1274 4.6 881 26.0 7 3.Lampiran 5.9 26 3.5 89 2.3 40 18.8 237 3 0.4 11 40 1.3 0 0.9 0.0 17 2.7 22 5.479 18.5 263 0.7 12 1.6 1722 20.6 50.0 9.3 20 3.1 375 4.5 215 32.6 1370 4.2 205 22.1 8 1.2 9 1.4 33 1.9 135 3.2 6.4 42 3.9 422 35.498 3.39 DISTRIBUSI PEGAWAI KEMENTERIAN KESEHATAN RI DIRINCI MENURUT JENIS PENDIDIKAN TAHUN 2009 PENDIDIKAN No Nama Satuan Organisasi (1) (2) I IV VI VII % SPESIALIS 1/2/AV % S1 % D III % D1 % SMA % SMP % SD % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) JUMLAH (21) 0 0.326 28.8 6 1.0 31 14.4 88 37.2 82 19.6 1871 20.3 0 0.9 9074 30 3.1 345 10.4 4 0 0.4 322 3.8 2 0. Kemenkes.3 489 33.7 1 0.2 2007 22.6 4 0.1 3 0.8 11182 36.3 951 23.6 0 0.1 0 0.6 1096 27.6 15 51.5 51 9.6 8 0.6 5 0.0 35 16.4 3655 11.4 353 3.2 0 0.900 29.4 1 0.3 173 238 26.1 4053 DITJEN BINA KEFARMASIAN DAN ALKES 0 0.6 51 0. 2010 87 0.8 1278 4.0 1052 0.0 28 11.2 23 0.6 15 1.0 SUBTOTAL 0 0.0 202 24.1 78 17.9 1 0.2 508 UPT 24 0.3 907 DITJEN BINA BINKESMAS DITJEN BINA YANMED KANTOR PUSAT V S2 10 SUBTOTAL III % SETJEN KANTOR PUSAT II S3 2 0.0 INSPEKTORAT JENDERAL 266 18.5 39 7.3 1049 11.5 270 21.7 66 8.2 84 17.7 2744 0 0.1 1734 5.8 31 5.4 3296 36.1 116 26.1 537 13.9 14.7 1.5 76 2.1 0 29 2.156 12.1 38 0.0 218 24.855 3.0 1077 31.4 7 1.4 3120 36.4 240 8.0 1131 27.2 8 1.6 471 0.0 1378 4.4 280 22.5 0 0.0 24 10.7 0 0.1 721 2.1 2 0.4 984 35.8 10845 34.0 727 2.4 57 4.4 3815 12.3 12 5.3 812 1 0.0 262 0.2 176 33.0 215 BADAN PPSDM KESEHATAN KANTOR PUSAT 0 0.9 526 UPT 14 0.

740 6 Singapura 5. USAID.5 30 65 5 54 5.960 14 Korea Utara 22.1 PERBANDINGAN BEBERAPA DATA KEPENDUDUKAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 No Negara Jumlah Penduduk (Juta Jiwa) (1) (2) (3) 1 Brunei Darussalam 2 Kepadatan Penduduk (per Km²) Persentase Penduduk di Daerah Perkotaan (4) (5) Laju Persentase Persentase Persentase Angka Beban GNI PPP per Pertumbuhan Penduduk Usia Penduduk Usia Penduduk Usia Tanggungan kapita (US$) Penduduk 65 Tahun Ke 0-14 Tahun 15 .480 18 Timor Leste 1.1 7.8 39 57 4 75 2.280 16 Nepal 27.9 22 71 7 41 5.290 10 Thailand 67.1 26 70 4 43 50.6 32 63 5 59 2.8 27 68 5 47 1.9 35 61 4 64 3.830 9 Myanmar 50.200 Filipina 92.7 15 35 2.900 3 Kamboja 14.486 100 1.990 11 Bangladesh 162.2 1.1 37 59 4 69 1.0 32 64 4 56 13. 2009 .3 263 28 1.0 356 29 1.880 13 India 1171.9 45 52 3 92 4.2 307 65 1.3 26 67 7 49 2.4 juta jiwa .3 86 70 2.5 187 17 2.120 17 Sri Lanka 20.820 4 Laos 6.6 22 69 9 45 - 15 Maladewa 0.4 66 75 2.8 26 67 7 49 4.440 12 Bhutan 0.7 35 62 3 61 1.6 32 64 4 56 1.Lampiran 6. 2010 : Laju pertumbuhan penduduk Ket: *) pada data BPS.The State of The Worlds Children.5 312 15 0.3 * 128 52 1.127 27 1.3 27 31 1.6 32 63 5 59 4.64 Tahun (%) Tahun 2008 1998-2008 Atas (%) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 0.1 76 27 2.World Population Data Sheet.8 132 33 0.690 Sumber : .060 5 Malaysia 28. jumlah penduduk Indonesia tahun 2009 adalah 231.700 8 Indonesia 243.940 7 Vietnam 87.3 1.0 74 33 0.7 188 63 0.9 18 73 9 37 47.3 29 65 6 54 3.057 38 1.8 82 22 1.

Human Development Report 2009: Indeks Pembangunan Manusia .825 66 0.619 61 63 62 3.755 102 0.5 28 7 53 41 48 65 58 61 660 5 Malaysia 66 0.535 148 0.829 71 76 73 2.765 95 0.3 21 10 85 66 76 133 111 122 380 10 Thailand 86 0.9 16 10 43 41 42 57 53 55 370 15 Maladewa 97 0.World Population Data Sheet.Lampiran 6.751 67 74 70 3.584 138 0.593 59 64 62 2.543 64 65 65 2. USAID.729 111 0.8 15 9 14 11 13 16 12 14 110 11 Bangladesh 146 0.612 63 66 64 2.7 23 7 52 53 52 65 73 69 450 14 Korea Utara - - - - 65 69 67 1.6 25 8 58 49 54 87 75 81 440 13 India 134 0.2 ANGKA KELAHIRAN.484 162 0.0 22 4 27 21 24 30 25 28 120 16 Nepal 144 0.489 59 64 62 6.72 115 0.World Health Statistics 2010 WHO: AKABA.9 25 8 76 62 69 97 82 89 540 4 Laos 133 0.3 19 7 15 12 13 19 15 17 58 18 Timor Leste 162 0.759 63 76 69 2.944 79 83 81 1.584 137 0.608 133 0.9 29 9 41 41 41 52 51 51 830 17 Sri Lanka 102 0. DAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO No Negara Indeks Pembangunan Manusia Peringkat IPM dunia Peringkat IPM dunia 2006 (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 (3) Usia Harapan Hidup Waktu Angka Kelahiran Angka Kematian Total Fertility Lahir Kasar per 1000 Kasar per 1000 Rate (TFR) Penduduk Penduduk L P L+P Indeks Pembangunan Manusia 2007 (4) (5) Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Balita (AKABA) L P L+P L P L+P (13) (14) (15) (16) (17) (18) 2008 (6) (7) (8) (9) (10) (11) Angka Kematian Maternal (per 100.613 132 0.1 17 5 12 12 12 14 13 14 150 8 Indonesia 111 0. 2009 .734 66 69 67 * 2.919 30 0. Angka kematian maternal .5 40 9 84 65 75 105 80 93 380 Sumber : .1 26 5 30 22 26 38 27 30 230 3 Kamboja 137 0.586 53 56 54 2.619 61 65 63 2.3 10 4 3 2 2 3 2 3 14 7 Vietnam 116 0.604 134 0.78 66 74 70 1.553 63 64 63 2.547 144 0.771 73 75 74 2.6 21 5 7 5 6 7 6 6 62 6 Singapura 23 0.725 70 75 73 2.3 23 7 45 40 43 56 53 54 570 12 Bhutan 132 0.1 16 3 5 6 5 6 7 7 13 Filipina 105 0.942 24 0.783 87 0.747 105 0.000 lahir hidup) 2005 (12) (19) 30 0.2 21 6 34 28 31 * 44 37 41 * 420 * 9 Myanmar 138 0. ANGKA KEMATIAN.920 75 77 76 2.

WHO Penduduk Yang Menggunakan Sumber Air Bersih (%) Penduduk Yang Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat Perkotaan Perdesaan Total Perkotaan Perdesaan Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) - - - - - - 93 87 91 80 69 76 81 56 61 67 18 29 72 51 57 86 38 53 100 99 100 96 95 96 100 - 100 100 - 100 99 92 94 94 67 75 89 71 80 67 36 52 75 69 71 86 79 81 99 98 98 95 96 96 85 78 80 56 52 53 99 88 92 87 54 65 96 84 88 54 21 31 100 100 100 - - - 99 86 91 100 96 98 93 87 88 51 27 31 98 88 90 88 92 91 86 63 69 76 40 50 .3 PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SUMBER AIR BERSIH DAN YANG MENGGUNAKAN SARANA SANITASI SEHAT DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 (%) No Negara (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 Filipina 3 Kamboja 4 Laos 5 Malaysia 6 Singapura 7 Vietnam 8 Indonesia 9 Myanmar 10 Thailand 11 Bangladesh 12 Bhutan 13 India 14 Korea Utara 15 Maladewa 16 Nepal 17 Sri Lanka 18 Timor Leste Sumber : World Health Statistics 2010.Lampiran 6.

9 86 68 16 Nepal 170 160 22 22 64 88 17 Sri Lanka 73 66 8 9.5 87 81 7 Vietnam 280 200 20 34 62 92 8 Indonesia 210 190 37 27 80 91 9 Myanmar 470 400 11 57 43 85 10 Thailand 160 140 15 19 64 83 11 Bangladesh 410 220 44 50 72 62 12 Bhutan 96 160 43 15 64 93 13 India 190 170 26 23 70 87 14 Korea Utara 270 340 65 39 70 87 15 Maladewa 13 42 4 2.Lampiran 6.SR = Succes Rate (Angka kesembuhan) .000 Penduduk Insidens TB Paru per 100.2 87 76 Filipina 550 280 41 52 67 89 3 Kamboja 680 490 77 79 56 94 4 Laos 260 150 22 32 67 92 5 Malaysia 120 100 13 15 76 72 6 Singapura 27 39 3 2.4 PERBANDINGAN DATA TUBERKULOSIS DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007/2008 No Negara Prevalensi TB Paru per 100.000 Penduduk 2008 (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 (3) (4) Kematian yang berhubungan dengan TB Paru per 100.CDR = Case Detection Rate (Penemuan kasus baru) . WHO Keterangan : .6 73 86 18 Timor Leste 660 500 47 83 33 84 Sumber : World Health Statistics 2010.000 Penduduk Proporsi Kasus TB Paru melalui DOTS Case Detection Rate Succes Rate 2007 2008 2008 2007 (6) (7) (8) (9) 43 65 7 4.

000 ] 240.4 ] [ <1.000 ] 0.470.1 ] 1 300 3.13.000 [ 170.300 .5 [ 0.200 .Lampiran 6.000 ] [ <1000 ] 2.9 ] 20.000 [ 52.2 [ 0.000 8 Indonesia 270.000 .13.2 ] 2.100.<500 ] 76.400 [ 1.9 .3.84.100 .13.1.100 < 200 … [ <100 .000 12.19.3 ] … [ 0.000 .0.000 ] 20.900 .300 [ 6.000 … < 100 70.1 .1 ] 1.000 [ 670.000 .470.000 ] … [ < 0.000 .100 ] < 200 75.000 ] 0.120.000 ] 8.000 [ 46.000 .000 ] [ 7.000 .400 .1 ] … [ <100 ] … [ <100 ] < 500 2.900 .1.400 ] < 500 [ <1000 ] [ < 200 ] … [ <100 ] 880.120.000 ] … 5.000 [ 190.200 ] 0.7.000 ] [ 7.200 [ 5.000 .2 [ 0.000 .370.000 ] 70.7.0.860.000 ] 8.200 [ 1.000 .000 ] 4.7 ] 17.000 [ 160.000 ] 4.200.000 .000 [ 13.7 .000 ] 79.000 .0.000 .000 1.1 .000 [ 17.800.34.400.000 [ 36.360.000 ] … … … … … [ 1.9 ] [ 0.19.0.700 [ 4.3 .25.1 ] 2.2.0.000 [ 12.000 ] … [ < 0.000 ] 0.400.000 .2.00 ] 1.5 [ 0.1 [ < 0.700 .0.000 12 Bhutan < 500 13 India 14 Korea Utara … [ <100 ] … 15 Maladewa … [ <100 ] … 16 Nepal 17 Sri Lanka 18 Timor Leste … … … … 8.000 ] … [ < 0.0.3 [ 0.000 .800 .880.100 [ 2. UNAIDS/WHO … … … .500 .000 [ 400.600 .11.000 .000 ] … 10 Thailand 610.000 ] 280.000 [ 63.1 .1 .000 [ 410.11.99.000] 0.800 [ 2.4 .000 ] 68.000 [ 190.1 ] [ <1000 ] 0.000 .3 .000 ] 0.800 ] … < 500 … … … … … … … Sumber: 2008 Report on the global AIDS epidemic.7.1 ] … [ <100 ] … [ <100 ] [ <100 ] … [ < 0.0.2 .000 [ 170.000 [ 51.3.3.360.80.000 [ 67.300 .23.300 ] 4.4.600 .87.5 ANGKA ESTIMASI HIV DAN AIDS DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 1.3.8 [ 0.3.200.5 [ 0.400 [ 3.5.000 .000 [ 1.000 .700.800 .400.33.4 11 Bangladesh 12.900 [ 3.<500 ] … [ <200 ] [ 2.000 .8 ] 21.120.000 .0.000 .000] 0.000 ] 54.300.000 .3 ] 1.000 ] 600.200 [ <1.000 .500 [ 3.000 [ 50.600 .000 .100] [ 180.000 ] 5.200 [ 2.100 ] <100 80.300 ] 3. Angka Estimasi HIV No Negara (1) (2) Dewasa dan Anak-anak Dewasa (15+) 2.5 ] [ <100 ] … [ < 0.000 .000 .97.000 ] 270.000 [ 49.000 [ 12.000 ] … … 250.100 ] 3.000 .000 ] 0.500 ] [ <100 .5.000 [ 150.700 [ 2.000 .2 9 Myanmar 240. Kematian Akibat AIDS Dewasa (15–49) Rate (%) Wanita (15+) Dewasa dan Anak-anak Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Brunei Darussalam … … … … … 2 Filipina 3 Kamboja 4 Laos 5 Malaysia 6 Singapura 7 Vietnam 290.

2009 .Lampiran 6.231 75.866 431 28.633 1.151 0 S E A R O 6.502 46.714 811 48.477 1.preventable diseases: monitoring system.016 0 11 Bangladesh 43 33 943 152 2.6 JUMLAH KASUS PENYAKIT MENULAR YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 No Negara Difteri Pertusis Tetanus Tetanus Neonatorum Campak Polio (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1 Brunei Darussalam 2 Filipina 3 0 2 0 0 3 0 65 46 813 132 341 0 Kamboja 7 1212 324 34 4211 0 4 Laos 2 26 12 5 174 0 5 Malaysia 4 11 29 13 334 0 6 Singapura 0 33 0 0 18 0 7 Vietnam 17 280 221 34 352 0 8 Indonesia 219 - 183 183 15.297 308 53 2.770 565 Sumber : WHO vaccine .081 44.937 5.660 0 12 Bhutan 0 0 7 0 7 0 13 India 6.369 0 9 Myanmar 3 5 147 25 333 0 10 Thailand 7 18 137 5 7.180 3.181 559 14 Korea Utara 0 395 0 0 82 0 15 Maladewa 0 0 0 0 0 0 16 Nepal 149 2.089 6 17 Sri Lanka 0 9 29 1 33 0 18 Timor Leste 0 0 9 1 0 0 A S E A N 324 1.

7 PERBANDINGAN CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 No Negara BCG (%) DPT3 (%) Polio3 (%) Campak (%) Hepatitis B3 (%) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Brunei Darussalam 96 99 99 97 99 2 Filipina 93 91 91 92 88 3 Kamboja 98 91 91 89 91 4 Laos 68 61 60 52 61 5 Malaysia 90 90 90 95 90 6 Singapura 99 97 97 95 96 7 Vietnam 92 93 93 92 87 8 Indonesia 89 77 77 83 78 9 Myanmar 88 85 85 82 84 10 Thailand 99 99 99 98 98 11 Bangladesh 98 95 95 89 95 12 Bhutan 99 96 96 99 96 13 India 87 66 67 70 21 14 Korea Utara 97 92 98 98 92 15 Maladewa 99 98 98 97 98 16 Nepal 87 82 82 79 82 17 Sri Lanka 99 98 98 98 98 18 Timor Leste 85 79 79 73 79 Sumber : WHO Immunization Summary. 2010: A Statistical Reference Containing Data through 2008 .Lampiran 6.

2009 (3) (4) (5) (6) - - 100 - Filipina 34 78 62 34 3 Kamboja 27 27 44 66 4 Laos 29 - 20 26 5 Malaysia - - 100 - 6 Singapura 55 - 100 - 7 Vietnam 68 29 88 17 8 Indonesia 57 81 73 32 9 Myanmar 33 66 57 11 10 Thailand 70 74 99 5 11 Bangladesh 48 21 18 43 12 Bhutan 31 - 51 10 13 India 49 37 47 46 14 Korea Utara 58 95 97 65 15 Maladewa 34 91 84 10 16 Nepal 44 29 19 53 17 Sri Lanka 53 - 99 76 18 Timor Leste 9 30 19 31 Sumber : .World Population Data Sheet. 2009 : Persentase KB aktif .8 PERBANDINGAN UPAYA KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2000 .Lampiran 6.2009 2000 .World Health Statistics 2010. USAID.2008 2000 .2009 No Negara (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 Persentase KB aktif pada PUS Pemeriksaan antenatal kali) (4 Persalinan oleh tenaga kesehatan Anak dengan ASI eksklusif (6 bulan) 2009 2000 . WHO .

7 10.1 32.7 151 13 India 4.9 21 17 Sri Lanka 4.1 39.1 80.2 44 9 Myanmar 1.1 26.3 0.6 10.7 88.7 60.3 10.4 55.Lampiran 6.7 65.6 15.9 98 Sumber : World Health Statistics 2010.5 8.4 14.2 47.5 18.2 26.9 268 6 Singapura 3.5 85 18 Timor Leste 13. WHO . $) No Negara Persentase Keseluruhan Pengeluaran di Bidang Kesehatan terhadap Produk Domestik Bruto (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Brunei Darussalam 2.8 13.4 34.7 72 8 Indonesia 2.2 73.9 11.2 54.7 16 5 Malaysia 4.7 73.5 6.1 39.4 44.4 8 14 12 Bhutan 4.2 536 7 Vietnam 7.6 66.5 52.7 958 2 Filipina 3.9 81.4 33.9 29 71 11.7 45 3 Kamboja 5.1 3.6 6.3 19.5 45.1 209 11 Bangladesh 3.7 8.6 84.6 67.9 PEMBIAYAAN KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Persentase Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran di Bidang Kesehatan Persentase Pengeluaran Sektor Swasta di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran di Bidang Kesehatan Persentase Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran per Kapita di Bidang Kesehatan Oleh Pemerintah (PPP int.8 65.5 336 16 Nepal 5.4 81.3 60.8 3.7 29 14 Korea Utara - - - - - 15 Maladewa 9.4 7.3 6.2 31 4 Laos 4 18.9 2 10 Thailand 3.9 34.5 6.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.