ISBN 978-602-8937-18-4
351.770212
Ind
P

PROFIL
KESEHATAN INDONESIA
2009

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.
JAKARTA
2010

Katalog Dalam Terbitan Kementerian Kesehatan RI
Ind

P

Indonesia. Kementerian Kesehatan. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi
Profil Kesehatan Indonesia 2009. - - Jakarta :
Kementerian Kesehatan RI 2010
I. Judul

1. PROFIL KESEHATAN INDONESIA 2009

ISBN 978-602-8937-18-4
351.770212
Ind
P

Buku ini diterbitkan oleh
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jalan HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav 4-9, Jakarta 12950
Telepon no: 62-21-5229590, 5221432
Fax no: 62-21-5203874
E-mail: pusdatin@depkes .go.id
Web site: http://www.depkes.go.id
________________________________________________________________________

TIM PENYUSUN

Pengarah
dr. Ratna Rosita, MPH.M
Sekretaris Jenderal Kemenkes RI
Ketua
dr. Jane Soepardi
Kepala Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi
Editor
Hasnawati, SKM, MKes
drg. Vensya Sitohang, MEpid
Dra. Rahmaniar Brahim, Apt, MKes
Anggota
Sunaryadi, SKM,MKes; Iskandar Zulkarnain, SKM,MKes; Nuning Kurniasih, Apt,MSi;
Marlina Indah Susanti, SKM; Supriyono Pangribowo, SKM; Istiqomah, SS;
Athi Susilowati Rois, SKM; drg. Rudi Kurniawan, MKes; Margiyono, SKom;
Muslichatul Hidayah, Hanna Endang Wahyuni; Endang Kustanti; B.B. Sigit;
Sondang Tambunan; Hellena Maslinda; Doni Hadhi Kurnianto, SKom
Kontributor
dr. Leni Evanita; Lina Khasanah; dr. Rusmiyati, MQIH; Indah Susanti D,SSi,Apt;
dr. Lucas C Hermawan, MKes; Ingrat Padmosari; Mahmud Fauzi, SKM,MKes;
Linda Siti Rohaeti; drg. R. Edi Setiawan: Akhmad Rizky Taufik, SKom;
Ir. Ade Sutrisno,MKes; Astuti, SKM,MKes; dr. Theresia Hermin; Bunga Mayung DL ;
Dewi Minarni; Cipto Aris Purnomo; Indah Hartati; Heri Radison, SKM,MKM;
Nariyah Handayani; Ainol Mardhiah; Yopi Ananda; Anggi Ardhiasti, SKM;
Ira Oktaviani; Nelly Mustika Sari, SKM; Nurhayati Simanjuntak, SKom

.

Profil kesehatan Tahun 2009 ini diupayakan disusun dengan tampilan yang lebih menarik. tetapi juga analisis komparatif. Profil Kesehatan Indonesia 2009” ini selain memuat data dan informasi kesehatan dan faktor-faktor lain yang terkait. analisis hubungan Profil kesehatan harus menarik. tidak hanya deskriptif. Analisis diupayakan semaksimal mungkin. seperti profil kesehatan pada tahun sebelumnya. pie diagram. dll). sumber data berasal dari profil provinsi. analisis kecenderungan. i . Profil Kesehatan Indonesia harus tersusun secara sistematis. Jika digunakan sebagai pemantau maka profil merupakan pemantauan rencana jangka panjang. dimana analisis/narasi menggunakan model/kerangka teori yaitu teori blum/teori host-environment-agent/teori lain. Dalam Profil Kesehatan Indonesia ini menggambarkan secara umum tentang kondisi derajat kesehatan. Sebagai bentuk penyajian. grafik – histogram/bar chart. line diagram.D KATA PENGANTAR Profil Kesehatan Indonesia merupakan sarana penyaji data dan informasi kesehatan serta yang berkaitan. Tahun yang terdapat dalam judul profil kesehatan. Beberapa data dan informasi tahun 2009 yang belum terdapat dalam Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini akan disajikan dalam bentuk sajian lain. sumber daya kesehatan. file di website. bar diagram. yang menggambarkan “potret” status kesehatan masyarakat dan faktor faktor yang mempengaruhi. serta perbandingan Indonesia dengan negara-negara anggota ASEAN dan SEARO. pictogram. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi sebagai koordinator Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia bersama-sama dengan seluruh program terkait di Kementerian Kesehatan berupaya menyusun bersama-sama. scater diagram. data diupayakan lengkap. Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2009 ini. juga data yang berasal dari program. dan faktor-faktor terkait lainnya. narasi dikombinasi dengan bentuk-bentuk penyajian lain. Jenis data adalah data “facility based” dan data “community based”. frekuensi poligon. juga memuat kejadian-kejadian penting yang terjadi pada tahun 2009. Penyajian dalam “Profil Kesehatan Indonesia 2009” ini masih terdapat keterbatasan karena ada beberapa indikator masih memuat data beberapa tahun ke belakang. dalam satu kurun waktu tertentu dalam hal ini tahunan dengan berbagai bentuk: tercetak dan digital (cd-rom. disamakan dengan tahun dari data dan informasi yang disajikan. yang berasal dari kabupaten/kota. dari suatu wilayah/Indonesia. termasuk kontribusi dari hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007 yang diselenggarakan Balitbangkes Depkes. baik jenis dan cakupannya. misal: Rencana lima tahun pembangunan kesehatan. dan peta. baik narasi maupun lampiran. maka seperti profil kesehatan sebelumnya. data sarana pelayanan kesehatan yang merupakan hasil pengolahan data oleh Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi. misalnya data dan informasi terplih lainnya. dan “eye-catching” dan bertujuan memudahkan para pembaca dalam menggunakannya. seperti tabel. Profil kesehatan sebagai “potret”saat ini lebih dinilai sebagai alat evaluasi daripada sebagai alat pemantauan. upaya kesehatan. Data dan Informasi dalam “Profil Kesehatan Indonesia 2009” merupakan salah satu wujud akuntabilitas dari kinerja Kementerian Kesehatan yang mencerminkan Pembangunan Kesehatan secara menyeluruh.

.

.

iv .

Keadaan Ekonomi C. Keadaan Perilaku Masyarakat 5 6 9 14 19 24 BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN A.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i SAMBUTAN SEKRETARIS JENDERAL iii DAFTAR ISI v DAFTAR LAMPIRAN vii BAB I PENDAHULUAN 1 BAB II GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK A. Keadaan Lingkungan E. Pelayanan Kesehatan Rujukan C. Keadaan Pendidikan D. Sarana Kesehatan B. Morbiditas 26 27 33 BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN A. Keadaan Penduduk B. Mortalitas B. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit D. Tenaga Kesehatan C. Pelayanan Kesehatan dalam Situasi Bencana 58 59 83 88 106 115 BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN A. Pelayanan Kesehatan Dasar B. Perbaikan Gizi Masyarakat E. Pembiayaan Kesehatan 117 118 133 137 v .

BAB VI PERBANDINGAN INDONESIA DENGAN NEGARA ANGGOTA ASEAN DAN SEARO A. Upaya Kesehatan DAFTAR PUSTAKA 143 144 154 164 170 LAMPIRAN *** vi . Derajat Kesehatan C. Kependudukan B.

7 Lampiran 2.2009 Persentase Keluarga Menurut Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Penduduk dengan Akses terhadap Air Minum yang Aman Menurut Provinsi dan Wilayah Tahun 2009 Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Penduduk dengan Akses Sanitasi Dasar yang Layak Menurut Provinsi dan Wilayah Tahun 2009 Persentase Rumah Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Institusi Dibina kesehatan Lingkungannya Menurut Provinsi Tahun 2009 vii .2 Lampiran 2.3 Lampiran 2.16 Lampiran 2. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Provinsi Tahun 2009 Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi Tahun 1971 .15 Lampiran 2.17 Lampiran 2.4 Lampiran 2.2009 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Provinsi dan Usia Sekolah Tahun 2008 .8 Lampiran 2. Angka Beban Tanggungan dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Daerah Tertinggal Menurut Provinsi Tahun 2006 – 2010 Garis Kemiskinan Menurut Provinsi dan Daerah Tahun 2009 (Maret 2009) Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Provinsi dan Daerah Tahun 2009 Angka Melek Huruf Penduduk Berusia 15 Tahun Ke Atas Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2008 .1 Lampiran 2.10 Lampiran 2.6 Lampiran 2.13 Lampiran 2.12 Lampiran 2.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 2.18 Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan Menurut Provinsi Tahun 2009 Hasil Sensus Penduduk 2010 dan Rasio Jenis Kelamin Menurut Provinsi Tahun 2010 Luas Wilayah.11 Lampiran 2.5 Lampiran 2.2010 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Tertentu.14 Lampiran 2.2009 Rata-rata Lama Sekolah (Tahun) Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2008 .9 Lampiran 2.

d 31 Desember 2009 Jumlah Kasus Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru Kusta.18 Lampiran 3.11 Lampiran 3.2 Lampiran 3.5 Lampiran 3.Lampiran 2.1 Lampiran 3.13 Lampiran 3. Jenis Kelamin dan Provinsi Tahun 2009 Hasil Cakupan Pengobatan TB Paru Menurut Provinsi Tahun 2008 Jumlah Kumulatif Kasus AIDS.19 Lampiran 2. Meninggal.20 Lampiran 2.3 Lampiran 3.7 Lampiran 3.2008 10 Besar Penyakit Rawat Inap di Rumah Sakit Tahun 2009 10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2009 Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Malaria Menurut Provinsi Tahun 2009 Annual Parasite Incidence (API) Malaria di Jawa-Bali Tahun 2004 2009 Hasil Cakupan Penemuan Kasus Penyakit TB Paru Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Kelompok Umur (Tahun).000 Penduduk Menurut Provinsi s.4 Lampiran 3. Case Detection Rate (CDR). dan Proporsi Kasus pada Anak Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Tetanus Neonatorum dan Faktor Risiko Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Campak Per Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Campak Menurut Kelompok Umur dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus.12 Lampiran 3.19 Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Rumah Tangga Ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Wanita Umur Perkawinan Pertama Menurut Provinsi Tahun 2009 Estimasi Angka Kematian Bayi. Meninggal. dan Incidence Rate Campak Menurut Provinsi Tahun 2009 viii .15 Lampiran 3. Kecacatan.16 Lampiran 3.6 Lampiran 3.d Desember 2009 Jumlah Kasus AIDS Kumulatif Per Triwulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Kasus AIDS Pada Pengguna NAPZA Suntikan (IDU) Menurut Provinsi s.17 Lampiran 3.9 Lampiran 3.14 Lampiran 3. dan Angka Kumulatif Kasus Per 100. Angka Kematian Balita Tahun 2007 dan Angka Harapan Hidup Menurut Provinsi Tahun 2008 Indeks Pembangunan Manusia dan Komponen Menurut Provinsi Tahun 2007 .10 Lampiran 3.8 Lampiran 3.21 Lampiran 3.

24 Lampiran 3.34 Lampiran 3. Jumlah Korban Luka dan Meninggal Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1.35 Lampiran 4.2009 Jumlah Kasus dan Meninggal Flu Burung Menurut Provinsi Tahun 2005 .20 Lampiran 3.21 Lampiran 3.4 Lampiran 4. K4. AFP Rate.23 Lampiran 3. dan Case Fatality Rate (CFR) Leptospirosis Menurut Provinsi Tahun 2004 .33 Lampiran 3.2 Lampiran 4.29 Lampiran 3. Meninggal.5 Frekuensi KLB dan Jumlah Kasus pada KLB Campak Menurut Provinsi Tahun 2009 KLB Campak Berdasarkan Konfirmasi Laboratorium Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Difteri Menurut Kelompok Umur dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Difteri Per Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus AFP.27 Lampiran 3. dan Murid SD Kelas 1 dan Sederajat Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Penanganan Neonatal dan Obstetri Komplikasi Menurut Provinsi Tahun 2009 ix .2009 Situasi Pes Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus.28 Lampiran 3. Anak Balita. dan Non Polio AFP Rate Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus AFP Menurut Kriteria Klasifikasi Klinis dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Penderita.2009 Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas.22 Lampiran 3.26 Lampiran 3.32 Lampiran 3.3 Lampiran 4. Case Fatality Rate (%).1 Lampiran 4.2009 Jumlah Kasus Demam Chikungunya Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Kabupaten Terjangkit dan Jumlah Kasus Gigitan Hewan Tertular Rabies serta Hasil Pemeriksaan Specimen Hewan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Penderita Filariasis Menurut Provinsi Tahun 2006 . dan Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir dan Provinsi Tahun 2009 Cakupan Kunjungan Neonatus.31 Lampiran 3. Pelayanan Kesehatan Bayi dan Anak Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi. dan Incidence Rate Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD/DHF) Menurut Provinsi Tahun 2005 2009 Jumlah Kabupaten/Kota yang Terjangkit Demam Berdarah Dengue Menurut Provinsi Tahun 2005 – 2009 Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare Menurut Provinsi Tahun 2005 .Lampiran 3.30 Lampiran 3.25 Lampiran 3.

13 Lampiran 4.Campak pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2006 .18 Lampiran 4.17 Lampiran 4.24 Lampiran 4.21 Lampiran 4.20 Lampiran 4.16 Lampiran 4.Lampiran 4.22 Lampiran 4.14 Lampiran 4.23 Lampiran 4.2009 Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Imunisasi TT pada Wanita Usia Subur Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kunjungan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Menurut Provinsi Tahun 2008 Indikator Pelayanan Rumah Sakit Umum Kemeterian Kesehatan dan Pemda Menurut Provinsi Tahun 2008 . Sembuh.19 Lampiran 4.25 Lampiran 4.26 Jumlah dan Persentase Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Hasil Pelayanan Peserta KB Baru Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Proporsi Peserta KB Baru Menurut Tempat Pelayanan dan Provinsi Tahun 2009 Pencapaian Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Menurut Provinsi Tahun 2007 .10 Lampiran 4. Pengobatan Lengkap dan Success Rate (Hasil Pengobatan Penyakit TB Tahun 2008) Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Pemberian Tablet Besi (Fe) pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Umur 0-6 Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Yodium Menurut Provinsi Tahun 2007 x .7 Lampiran 4.15 Lampiran 4.12 Lampiran 4.2009 Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2009 Drop Out Rate Cakupan Imunisasi Dpt1 .6 Lampiran 4.9 Lampiran 4.11 Lampiran 4.2009 Pemeriksaan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Rumah Sakit Umum Depkes dan Pemda Menurut Provinsi Tahun 2008 Jumlah Kunjungan Peserta Jamkesmas di Puskesmas Tahun 2009 Jumlah Kunjungan Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) Peserta Jamkesmas Tahun 2009 Jumlah Kasus Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL) Peserta Jamkesmas Tahun 2009 Cakupan TB Paru BTA Positif.8 Lampiran 4.

10 Lampiran 5.4 Lampiran 5.3 Lampiran 5.12 Lampiran 5.2 Lampiran 5.29 Lampiran 4.28 Lampiran 4.2009 Jumlah Puskesmas Perawatan dan Puskesmas Non Perawatan Menurut Provinsi Tahun 2005 .27 Lampiran 4.11 Lampiran 5.2009 Jumlah Sarana Produksi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2007 .13 Lampiran 5.15 Lampiran 5.2009 Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit di Indonesia Menurut Pengelola dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Menurut Pengelola Tahun 2005 .2009 Jumlah Tempat Tidur di Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus Menurut Kelas Perawatan dan Provinsi Tahun 2008 Jumlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Milik Kemenkes/Pemda Menurut Kelas Rumah Sakit dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit Khusus dan Tempat Tidurnya Menurut Jenis Rumah Sakit Tahun 2005 .30 Lampiran 4.2009 Jumlah Sarana Distribusi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Institusi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Menurut Jurusan dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Jurusan/Program Studi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Menurut Akreditasi dan Strata Tahun 2009 Jumlah Institusi Non Politeknik Kesehatan (Non-Poltekkes) Menurut Jurusan/Program Studi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Institusi Non Politeknik Kesehatan (Non-Poltekkes) Menurut Akreditasi dan Strata Tahun 2009 Jumlah Institusi Diknakes Non-Poltekkes Menurut Status Kepemilikan Tahun 2009 Rekapitulasi Data SDM Kesehatan Per Provinsi Keadaan Desember 2009 Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Menurut Jenis dan Provinsi Tahun 2009 xi .5 Lampiran 5.16 Lampiran 5.31 Lampiran 5.8 Lampiran 5.6 Lampiran 5.7 Lampiran 5.Lampiran 4.9 Lampiran 5.1 Lampiran 5.17 Rekapitulasi Kejadian Bencana Menurut Jenis Bencana dan Jumlah Korban Tahun 2009 Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 (lanjutan) Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 (lanjutan) Rekapitulasi Data Kecukupan Obat Nasional Tahun 2009 Jumlah Puskesmas dan Rasionya terhadap Penduduk 'Menurut Provinsi Tahun 2005 .14 Lampiran 5.

Perawat dan Bidan terhadap Jumlah Puskesmas Menurut Provinsi Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Dokter Umum Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Distribusi Tingkat Keterlibatan Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia dalam Kegiatan Kediklatan Tahun 2009 Distribusi Widyaiswara Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2009 Distribusi Frekuensi Pelatihan dan Jumlah Peserta di Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia Berdasarkan Jenis Diklat Tahun 2009 Rekapitulasi Peserta Didik Poltekkes Perjenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Peserta Didik Poltekkes Per Jenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Peserta Didik Non Poltekkes Per Jenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Lulusan Diknakes Poltekkes dan Non Poltekkes Berdasarkan Jenis Tenaga Kesehatan Tahun 2009 Jumlah Lulusan Poltekkes Berdasarkan Jurusan/Program Studi Institusi Diknakes Seluruh Indonesia Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Lulusan Non Poltekkes Diknakes Seluruh Indonesia Berdasarkan Jenis dan Provinsi Tahun Ajaran 2009/2010 Alokasi dan Realisasi Kementerian Kesehatan RI Triwulan IV Tahun 2009 Data Cakupan Kepesertaan Jaminan Kesehatan Per Juni 2010 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Umum Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tahun 2009 Keadaan Dokter Spesialis PTT Kemenkes yang Masih Aktif s.d Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Umum PTT Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Gigi PTT Tahun 2009 xii .25 Lampiran 5.20 Lampiran 5.33 Lampiran 5.36 Lampiran 5.30 Lampiran 5.21 Lampiran 5.24 Lampiran 5.38 Rasio Dokter.19 Lampiran 5.22 Lampiran 5.29 Lampiran 5.28 Lampiran 5.35 Lampiran 5.Lampiran 5. Dokter Gigi.26 Lampiran 5.32 Lampiran 5.23 Lampiran 5.27 Lampiran 5.31 Lampiran 5.18 Lampiran 5.37 Lampiran 5.34 Lampiran 5.

5 Lampiran 6.9 *** xiii . dan Indeks Pembangunan Manusia di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Penduduk yang Menggunakan Sumber Air Bersih dan yang Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2007 Perbandingan Data Tuberkulosis di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2007/2008 Angka Estimasi HIV dan AIDS di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2008 Jumlah Kasus Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi di Negara-Negara ASEAN & SEARO Perbandingan Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2008 Perbandingan Upaya Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2000-2009 Pembiayaan Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2007 Lampiran 6. Angka Kematian.3 Lampiran 6.39 Distribusi Pegawai Kementerian Kesehatan RI Dirinci Menurut Jenis Pendidikan Tahun 2009 Lampiran 6.1 Perbandingan Beberapa Data Kependudukan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2008 Angka Kelahiran.4 Lampiran 6.6 Lampiran 6.2 Lampiran 6.8 Lampiran 6.7 Lampiran 6.Lampiran 5.

.

dan status gizi masyarakat. masih terjadi redundant data. Situasi demikian menimbulkan tersendatnya pendistribusian informasi terutama dari sumber data di unit pelayanan kesehatan atau kabupaten/kota ke provinsi dan pusat yang mengakibatkan terjadinya krisis informasi di berbagai unit teknis di pusat. dan tidak efisiennya penggunaan sumber daya. di mana masing-masing unit mengumpulkan datanya sendiri-sendiri dengan berbagai instrumennya di setiap unit kerja baik di pusat maupun di daerah. Sedangkan pembangunan kesehatan adanya upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. yaitu belum mampu menyediakan data dan informasi kesehatan yang evidence based sehingga belum mampu menjadi alat manajemen kesehatan yang efektif. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. serta terhambatnya aliran komunikasi data antar pengguna atau bahkan tertutupnya sumber informasi untuk diakses oleh pengguna lain sehingga menyebabkan sulitnya memperoleh informasi yang memadai (lack of informations). Di samping itu. kemauan. angka kesakitan. Berbagai masalah klasik masih dihadapi dalam penyelenggaraan sistem informasi kesehatan. Satu-satunya alat yang dimiliki Kementerian Kesehatan adalah adanya Profil Kesehatan Indonesia. Adanya “overlapping” kegiatan dalam pengumpulan dan pengolahan data. Hal ini sebagai akibat dari adanya sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih terfragmentasi. Di antaranya adalah kegiatan pengelolaan data dan informasi belum terintegrasi dan terkoordinasi dalam satu mekanisme kerjasama yang baik. Situasi yang demikian pada akhirnya menyulitkan dalam pengambilan keputusan berdasarkan evidence based. Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator. yang meliputi indikator angka harapan hidup. adalah terhambatnya aliran komunikasi data baik dari sumber data di daerah ke pengguna di pusat atau sebaliknya. angka kematian. yang berisi data tahunan dari hasil pembangunan kesehatan.Kita sadari bahwa sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih jauh dari kondisi ideal. Penyelenggaraan sistem informasi kesehatan itu sendiri masih belum dilakukan secara efisien. duplikasi kegiatan. 2 .

dan alat kesehatan. Inklusif (inclusive). mutu. sehingga provinsi dapat mengetahui dimana posisinya dalam setiap indikator pembangunan kesehatan dibandingkan provinsi lainnya. juga disajikan dalam bentuk peringkat dari tiap indikator. dengan menggunakan indikator yang sesuai. 3. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. 2. strategi pertama yang perlu dilakukan adalah penguatan kebijakan dan perencanaan di bidang sistem informasi kesehatan. efisien (effective. efficient). vaksin. 1. 4. 5. merata. diusahakan untuk ditampilkan berbagai data dan informasi yang menjawab Visi dan Misi serta berbagai data dan informasi yang menjelaskan tentang reformasi Birokrasi. 6. Ketersediaan. dimana Kementerian Kesehatan memiliki Visi adalah Masyarakat Sehat yang Mandiri dan berkeadilan. keamanan. Jaminan kesehatan masyarakat. Revitalisasi pelayanan kesehatan. Efektif. Reformasi birokrasi. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. Responsif (responsive). Ketersediaan. Lima nilai Kementerian Kesehatan adalah: 1. 3. Bersih (clean). Dalam penyajiannya. World class health care. 7. termasuk swasta dan madani. 4. berkeadilan. 4. distribusi. 5. Pro Rakyat (pro poor). 3. Untuk kelancaran proses Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia yang merupakan salah satu produk dari berhasilnya sistem informasi kesehatan yang terintegrasi. Keberpihakan pada DTPK (Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan) serta DBK (Daerah Bermasalah Kesehatan). di masa mendatang maka. Pada pasal 168 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan telah diamanatkan bahwa penyelenggaraan sistem informasi 3 . retensi dan mutu SDM. bermutu. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan paripurna. distribusi. dengan Misinya adalah sebagai berikut. keterjangkauan obat. Reformasi Pembangunan Kesehatan tahun 2010-2014: 1.Penyajian Profil Kesehatan Indonesia 2009. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan. yang berasal dari profil kesehatan provinsi ini selain sebagai alat ukur sampai dimana capaian indikator pembangunan kesehatan setiap provinsi dibanding target nasional bahkan target MDG (Millenium Development Goal). 2. 2. efektivitas. Penguatan kebijakan sistem informasi kesehatan dilakukan dengan menyusun aturan-aturan yang menjamin sistem informasi kesehatan dapat diselenggarakan dengan baik.

seperti pedoman dan petunjuk teknis.Situasi Sumber Daya Kesehatan. Bab ini menyajikan tentang latar belakang diterbitkannya Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini serta sistimatika penyajiannya. Bab ini menyajikan perbandingan beberapa indikator yang meliputi data kependudukan. dan lingkungan fisik. perekonomian. Bab ini berisi uraian tentang upaya-upaya kesehatan yang telah dilaksanakan oleh bidang kesehatan sampai tahun 2009. Gambaran tentang upaya kesehatan yang telah dilakukan itu meliputi pencapaian pelayanan kesehatan dasar. Untuk ini. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi bersama Biro Hukum dan Organisasi sedang menyiapkan bahan rancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang sistem informasi kesehatan. yaitu: Bab I . juga Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi bersama unit-unit pengelola program dan lintas sektor terkait sedang menyusun Rencana Strategis Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan. yang meliputi: kependudukan. Bab ini juga menyajikan tentang gambaran umum. Angka Kematian. pendidikan.Pendahuluan. Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini terdiri atas 6 (enam) bab. Bab ini berisi uraian tentang hasil-hasil pembangunan kesehatan sampai dengan tahun 2009 yang mencakup tentang angka kematian. Indeks Pembangunan Manusia. Bab II . dan pembiayaan kesehatan.Situasi Derajat Kesehatan. dan upaya perbaikan gizi masyarakat. pencapaian upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit. Dalam penguatan perencanaan sistem informasi kesehatan. Gambaran tentang keadaan sumber daya mencakup tentang keadaan tenaga. Demikian pula aturan-aturan di bawahnya.Situasi Umum dan Perilaku Penduduk. Dengan telah selesai dan dipublikasikannya hasil sensus penduduk 2010 yang diselenggarakan oleh BPS. cakupan imunisasi pada bayi dan upaya kesehatan. Bab V . dan status gizi masyarakat. maka juga kami masukkan data jumlah penduduk tahun 2010. sarana kesehatan. pencapaian pelayanan kesehatan rujukan. serta perilaku penduduk yang terkait dengan kesehatan. angka kesakitan. Bab ini menguraikan tentang sumber daya pembangunan bidang kesehatan sampai tahun 2009. umur harapan hidup. *** 4 .Perbandingan Indonesia dengan Negara Anggota ASEAN dan SEARO. untuk tercapainya dan berhasilnya program-program pembangunan di bidang kesehatan. kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. angka estimasi HIV/AIDS. sedang dalam proses penyusunan. Bab IV . Bab VI . Bab III .Situasi Upaya Kesehatan.kesehatan diatur dalam peraturan pemerintah. Angka Kelahiran. data tuberkulosis.

.

sosial. 497 kabupaten/kota (399 kabupaten dan 98 kota).543 kecamatan dan 75. serta delta. Pembagian wilayah Indonesia secara administratif menurut provinsi pada tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2. yang artinya jumlah penduduk laki-laki satu persen lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan. politik. keadaan pendidikan. 6 . Secara administratif wilayah Indonesia pada tahun 2009 terbagi atas 33 provinsi. A.507. menurut data Bakosurtanal. Jika dibandingkan dengan jumlah kabupaten/kota yang ada pada tahun 2008. jumlah pulau di Indonesia 17.504 pulau. Jumlah pulau itu termasuk yang berada di muara dan tengah sungai.783 perempuan (Lampiran 2.048. keadaan lingkungan. Secara nasional. Keragaman dalam berbagai aspek tersebut juga terkait dengan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara. 6.363 orang.Indonesia terbentang antara 6o garis Lintang Utara sampai 11o garis Lintang Selatan. dan perilaku penduduk yang berkaitan dengan kesehatan.580 laki-laki dan 118. jumlah penduduk Indonesia sebesar 237. KEADAAN PENDUDUK Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010. Rasio jenis kelamin terbesar terdapat di Provinsi Papua yaitu sebesar 113 dan yang terkecil terdapat di Nusa Tenggara Barat yaitu sebesar 94. keadaan ekonomi. dan ekonomi. Fakta ini membuat Indonesia memiliki keragaman budaya dan adat istiadat dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain.2). yang terdiri dari 119.556.226 kelurahan/desa. atau setiap 100 perempuan terdapat 101 laki-laki. maka selama tahun 2009 telah terjadi pembentukan 2 kabupaten baru.1 Pada bab ini akan diuraikan gambaran umum Indonesia dan perilaku penduduk pada tahun 2009 yang meliputi: keadaan penduduk. rasio jenis kelamin penduduk Indonesia tahun 2010 sebesar 101. Posisi strategis ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kebudayaan. dan dari 97 o sampai 141o garis Bujur Timur serta terletak antara dua benua yaitu benua Asia dan Australia.

910.931.551. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia secara rinci sejak Sensus Penduduk tahun 1971 sampai dengan Sensus Penduduk tahun 2010 dapat dilihat dalam Lampiran 2. Sedangkan provinsi dengan laju pertumbuhan terendah yaitu Jawa Tengah sebesar 0. Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah yang memiliki 7 .592 jiwa terdiri dari 115. laju pertumbuhan penduduk Indonesia per tahun selama 2 dasawarsa terakhir adalah sebesar 1.3). dengan luas wilayah Indonesia 1. Estimasi Penduduk Indonesia Dirinci Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2008 Secara nasional. jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2009 tercatat sebesar 231.647 perempuan (Lampiran 2.945 laki-laki dan 115. Berdasarkan distribusi penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur maka kita dapat memperoleh gambaran piramida penduduk Indonesia tahun 2009 sebagai berikut. Provinsi yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi adalah DKI Jakarta. GAMBAR 2. Laju pertumbuhan penduduk Provinsi Papua adalah yang tertinggi dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia.890 jiwa per km2. yaitu sebesar 13.817.369.32 km2 maka tingkat kepadatan penduduk pada tahun 2009 sebesar 121 jiwa per km2.49 persen. Tingkat kepadatan yang tinggi masih didominasi oleh provinsi-provinsi di Pulau Jawa.Sedangkan pada tahun 2009. Secara nasional.1 PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2009 (dalam ribu) Sumber : Badan Pusat Statistik. yaitu sebesar 5.37%.4.46 persen (SP 2010). berdasarkan data estimasi penduduk Badan Pusat Statistik (SUPAS 2005).

Sulawesi 7. Kepadatan penduduk terendah di Papua. GAMBAR 2. yaitu hanya 7 jiwa per km2.44 %.depdagri.12%.65%. Lebih dari separuh penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa.25%.23%. Selebihnya tersebar di Sumatera sebesar 21. dengan luas hanya 6.77% wilayah Indonesia.kepadatan penduduk tertinggi ke-2 dengan kepadatan 1. yang berusia produktif (15-64 tahun) sebesar 67. 8 .92% dan yang berusia tua (> 65 tahun) sebesar 5. Dengan demikian maka Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio) penduduk Indonesia pada tahun 2009 sebesar 47.3. Dari data distribusi penduduk menurut pulau dapat diketahui terdapat ketimpangan persebaran penduduk antar pulau yang nyata. menunjukkan bahwa penduduk yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 26.99%. Provinsi dengan tingkat kepadatan tertinggi ke-3 yaitu DI Yogyakarta sebesar 1.45%. yaitu sebesar 57. Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur. yang kemudian diikuti oleh Kalimantan Tengah dengan kepadatan 14 jiwa per km2. Papua Barat merupakan provinsi dengan tingkat kepadatan penduduk terendah ke-2 yaitu sebesar 8 jiwa per km2.118 jiwa per km2.id. Jumlah penduduk dan angka kepadatan penduduk per provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2. Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 5. Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2009. http://www. Kalimantan 5.96%.23%.173 jiwa per km2.2 PERSENTASE PERSEBARAN PENDUDUK INDONESIA MENURUT KELOMPOK PULAU-PULAU BESAR TAHUN 2009 Sumber : Badan Pusat Statistik. Maluku dan Papua 2.go.

3 ANGKA BEBAN TANGGUNGAN MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Badan Pusat Statistik.45% diikuti oleh Sulawesi Tenggara sebesar 57. KEADAAN EKONOMI Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara. 9 .Provinsi dengan persentase beban tanggungan tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur sebesar 59. Rendahnya tingkat inflasi ini merupakan pencapaian terbaik dalam 10 tahun terakhir. Rincian jumlah penduduk menurut kelompok umur. 6.5. Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diprakirakan tumbuh 4. GAMBAR 2. Sedangkan provinsi dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu DKI Jakarta sebesar 37. sudah dipastikan akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi.53% dan Maluku sebesar 56. Mengkaji kondisi perekonomian tentu saja tidak terlepas dari tingkat inflasi. Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2009 B. Perekonomian Indonesia selama tahun 2006-2009 mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 5. 6.87%. Apabila tingkat inflasi tinggi. Angka Beban Tanggungan dan provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2. inflasi dan pertumbuhan perekonomian sangat saling berkaitan.5 persen (2009). inflasi tercatat sebesar 2.3 persen (2007).78%.65% dan Jawa Timur sebesar 39.5%.5 persen (2006).0 persen (2008) dan 4.26% diikuti oleh DI Yogyakarta sebesar 37.69%.

613. Kelompok lainnya dalam tahun 2009 masing-masing kelompok sandang 6.67%. termasuk juga mereka yang baru mendapat kerja tetapi belum mulai bekerja.1%. dilakukan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). transportasi dan 10 .4 triliun pada 2009. maka nilai Produk Domestik Bruto (PDB) 2009 naik sebesar Rp 662. rekreasi dan olahraga masing-masing memberikan kontribusi yang sama 3.951.4 triliun pada 2008 menjadi sebesar Rp 5. hotel dan restoran sebesar 1. perumahan. gas dan bahan bakar menyumbang sebesar 1. Menurut Sakernas. dan penganggur. paling sedikit satu jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. komunikasi dan jasa keuangan -3.5% pada 2009. Hal ini disebabkan bertambahnya lapangan kerja pada sektor jasa kemasyarakatan seperti jasa pertukangan. Pengangguran terbuka disini didefinisikan sebagai orang yang sedang mencari pekerjaan atau yang sedang mempersiapkan usaha atau juga yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin lagi mendapatkan pekerjaan.Selama tahun 2009 kelompok makanan jadi. Dari Rp 4.88%. Kegiatan itu termasuk juga kegiatan pekerja tak dibayar yang membantu dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi. tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan/putus asa (sebelumnya dikategorikan sebagai Bukan Angkatan Kerja) dan yang punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja (sebelumnya dikategorikan sebagai Bekerja). Persentase pengangguran terbuka adalah perbandingan antara jumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja.9%.00%. listrik. definisi operasional Angkatan Kerja adalah penduduk usia kerja yang bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja.5%. kelompok kesehatan. Sakernas merumuskan konsep pengangguran sebelum tahun 2001 sebagai angkatan kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan. Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4. dan kelompok transportasi. pembantu rumah tangga. Pertumbuhan terendah terjadi di sektor perdagangan.81%. mempersiapkan usaha. Berdasarkan data hasil Sakernas BPS tahun 2008-2010 ada penurunan angka pengangguran.0 triliun.83% pada inflasi nasional. air. Untuk mengetahui tingkat pengangguran. kelompok pendidikan. kelompok bahan makanan 3. rokok dan tembakau memberi kontribusi terbesar pada inflasi sebesar 7. Sementara Bekerja menurut definisi Sakernas adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan. yang mencakup angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan. Pengangguran terbuka tidak termasuk orang yang masih sekolah atau mengurus rumah tangga. Sejak tahun 2001 konsep pengangguran menjadi angkatan kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi 15.89%. Sedangkan PDB untuk non migas tumbuh 4. minuman.

Penetapan kriteria daerah tertinggal dilakukan dengan menggunakan pendekatan berdasarkan pada perhitungan 6 (enam) kriteria dasar yaitu: perekonomian masyarakat. TABEL 2. Provinsi dengan persentase kabupaten tertinggal tertinggi adalah Sulawesi Barat.48 Feb 2009 (juta orang) 113.05 104. Keterbatasan prasarana terhadap berbagai bidang termasuk di dalamnya kesehatan menyebabkan masyarakat di daerah tertinggal mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial. prasarana dan sarana. maka ditetapkan 199 kabupaten yang dikategorikan kabupaten tertinggal.00%. Survei Angkatan Kerja Nasional 2008-2010 Pembangunan ekonomi yang diupayakan diharapkan mampu mendorong kemajuan.04% dari 497 kabupaten/kota. Perkembangan angkatan kerja. daerah tertinggal adalah daerah kabupaten yang relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional dan berpenduduk relatif tertinggal. sumber daya manusia. yaitu geografis. kemampuan keuangan lokal (celah fiskal). dan kebijakan pembangunan.1 PERKEMBANGAN ANGKATAN KERJA. perbatasan antar negara. Menurut definisinya. yaitu sebesar 100%. Tahun 2009 persentase daerah tertinggal adalah 40.40 Jumlah Angkatan Kerja Jumlah penduduk yang bekerja Sumber: BPS.6. 33 pulau-pulau kecil terluar berpenduduk dan 183 daerah tertinggal (termasuk terpencil).14 7. serta berdasarkan kabupaten yang berada di daerah pedalaman. PENDUDUK YANG BEKERJA DAN PENGANGGURAN TERBUKA DI INDONESIA TAHUN 2008 – 2010 Feb 2008 (juta orang) 111. sumber daya manusia.Februari 2010 adalah sebagai berikut.46 8. aksesibilitas dan karakteristik daerah. Suatu daerah dikategorikan menjadi daerah tertinggal karena beberapa faktor penyebab. 11 . baik fisik. mental dan spiritual di segenap pelosok negeri terutama wilayah yang tergolong daerah tertinggal. Jumlah dan persentase kabupaten tertinggal menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.26 8.99 102.49 107. sosial.43 9.pertanian.74 Feb 2010 (juta orang) 115. diikuti oleh Sulawesi Tengah sebesar 81. penduduk yang bekerja dan pengangguran pada Februari 2008 . sumber daya alam. daerah rawan bencana dan daerah rawan konflik dan sebagian besar wilayah daerah pesisir. kepulauan (pulau kecil dan gugus pulau). prasarana (infrastruktur). Saat ini Indonesia memiliki 19 kabupaten perbatasan.59 Pengangguran terbuka (%) 8. Unit terkecil daerah tertinggal yang digunakan dalam Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (STRANAS PPDT) adalah wilayah administrasi kabupaten. daerah rawan bencana dan konflik sosial.41 Pengangguran terbuka 9. Berdasarkan pendekatan tersebut.82% dan Bengkulu 80.

Keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan terkait dengan daya beli ekonomi. Persentase penduduk miskin dari tahun 2006-2010 disajikan pada Gambar 2. Fenomena gizi buruk dan kurang seringkali dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang buruk jika merujuk pada fakta bahwa keterbatasan pemenuhan pangan dapat menyebabkan busung lapar.3%) dari 32. Kemiskinan juga menjadi hambatan besar dalam pemenuhan kebutuhan terhadap makanan yang sehat sehingga dapat melemahkan daya tahan tubuh yang dapat berdampak pada kerentanan untuk terserang penyakitpenyakit tertentu.GAMBAR 2. BPS 2008. No. 1 Juli 2010 12 . 45/07/Th. Scorbut. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2010 Berita Resmi Statistik. penyakit kekurangan vitamin seperti Xeropthalmia. Pada bulan Maret 2010.5 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2010 Sumber: BPS. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan 1.02 juta (13. Kwashiorkor.5 berikut ini.53 juta (14. jumlah penduduk miskin menurun menjadi 31. GAMBAR 2.51 juta penduduk miskin. XIII.15%) penduduk miskin pada bulan Maret 2009.4 PROVINSI DENGAN PERSENTASE KABUPATEN TERTINGGAL DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemiskinan menjadi isu yang cukup menyita perhatian berbagai kalangan termasuk kesehatan. dan Beri-beri.

dalam jangka waktu tertentu.5 1.2 PERSEBARAN DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT KELOMPOK BESAR PULAU DI INDONESIA TAHUN 2008 – 2010 Kelompok Pulau Sumatera Jawa Maret 2008 Jumlah % (juta) 7.4 19.3 Sumber: BPS.2 7. BPS 2008. dilakukan secara bertahap di daerah yang menjadi prioritas bersama kementerian terkait. Lebih dari separuh penduduk miskin di Indonesia berada di Pulau Jawa yaitu 57.4%.9 57. Salah satu di antaranya adalah mengatasi permasalahan pelayanan kesehatan di Daerah yang Bermasalah Kesehatan (DBK) dengan pendekatan spesifik yang tidak bisa disamakan dengan daerah lainnya. 1 Juli 2010 Dalam roadmap reformasi kesehatan masyarakat Kementerian Kesehatan ada 7 prioritas yang harus dikerjakan untuk mencapai sasaran strategis pembangunan kesehatan.8 Kalimantan 2.3 17.1%.6 Maluku dan Papua Total 1.8 34.5 2. Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 7.8% (tahun 2010). Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK) adalah upaya kesehatan terfokus.Berdasarkan data jumlah penduduk miskin menurut provinsi dari BPS (Lampiran 2.3 55. TABEL 2.5 4.7 21. Maluku dan Papua 4. Kalimantan 3. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2010 Berita Resmi Statistik. terintegrasi. 45/07/Th. Jumlah penduduk miskin dan persentase penduduk miskin menurut kelompok pulau tahun 2008-2010 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.5 14. Hasil Riskesdas tahun 2007 menghasilkan instrumen pengukuran Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).2 3.3 1. XIII.4 6. Menurut definisi.5 4.3 Maret 2010 Jumlah % (juta) 6.3 7. sampai mampu mandiri dalam menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang kesehatan seluas-luasnya.1 18.1 Bali dan Nusa Tenggara 1.1 2.3 2.8% tahun 2010. Selebihnya tersebar di Sumatera 21. Dengan IPKM.2 7.1 17. No. berbasis bukti.2 31.5 8.9 Maret 2009 Jumlah % (juta) 5.0 3.0 3. dapat diketahui dimana daerah-daerah bermasalah tersebut dapat dipetakan berdasarkan peringkat 13 .8 2. wilayah menurut Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. Sulawesi 7.6%.1% tahun 2008 dan menjadi 55.3 Sulawesi 2.1 59.0 13.6 7.9 1.5 4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Kemiskinan (Pendataan Sosial Ekonomi/PSE BPS).9 15.4 32.8) terdapat persebaran penduduk miskin antar pulau yang nyata perbedaannya. Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) adalah keadaan/derajat kesehatan wilayah kabupaten/kota yang digambarkan melalui hasil Riskesdas/SUSENAS dengan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).3 20.3%.2 1.

Tiga provinsi mempunyai jumlah kabupaten/kota DBK terbanyak yaitu Aceh (16 kab/kota). Papua (15 kab/kota) dan Nusa Tenggara Timur (12 kab/kota).337 merupakan Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). Besaran IPKM setiap kabupaten/kota dirumuskan berdasarkan 20 indikator kesehatan. Jumlah penduduk buta huruf di Indonesia tidak hanya dialami satu generasi. TABEL 2. Tertinggal Berat. 2 DBK dan Perbatasan. Berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditetapkan di atas. pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan. Kemenkes. Berdasarkan data BPS 2005-2009. penduduk yang tidak bisa membaca secara tidak langsung mendekatkan mereka pada kebodohan. Angka buta huruf berkorelasi dengan angka kemiskinan. 7 DBK Berat. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini. Dengan 14 . Tertinggal dan Perbatasan. Kabupaten/kota bermasalah meliputi 32 DBK. Tertinggal dan Perbatasan Jumlah Kabupaten 14 1 71 7 5 98 Kota 18 1 0 0 0 19 32 2 71 7 5 117 Jumlah Penduduk 37. tetapi terdiri atas generasi muda dan tua. dari 440 kabupaten/kota yang menjadi daerah pelaksanaan Riskesdas 2007 terdapat 117 DBK yang berada di 22 provinsi. Melalui pengetahuan. KEADAAN PENDIDIKAN Kondisi pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu negara. 2010 C. Daerah yang mempunyai IPKM <0. 71 DBK Berat dan Tertinggal.741. Persentase terbesar penduduk yang buta huruf berada dalam kelompok umur lebih dari 45 tahun. Tertinggal dan Kepulauan Terluar Berat. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pencetus yang berperan dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku sehat.3 JUMLAH KABUPATEN/KOTA DAERAH BERMASALAH KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2010 Kab/Kota Berat.501 Total Sumber: Ditjen Binkesmas. Sebab.kabupaten/kota. sedangkan kebodohan itu sendiri mendekatkan mereka pada kemiskinan. diikuti kelompok umur kurang dari 15 tahun. Tertinggal dan Kepulauan Terluar dan 5 DBK Berat. Perbatasan Berat Berat. persentase penduduk yang buta huruf cenderung menurun karena akses terhadap pendidikan meningkat dalam 5 tahun terakhir ini.

22%). AMH secara rinci menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.18%) dan Sulawesi Selatan (87. (3) menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis.94%) dan Riau (98. terutama di daerah perdesaan di Indonesia dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD.29%). pendidikan sebagai senjata utama penghapusan buta huruf itu senantiasa harus menyentuh baik generasi muda maupun generasi tuanya. www.83% pada tahun 2005 dan menurun setiap tahunnya menjadi 18. Sehingga angka melek huruf dapat berdasarkan kabupaten mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah.11%). provinsi dengan persentase AMH tertinggi adalah Sulawesi Utara (99.58% pada tahun 2009. GAMBAR 2. DKI Jakarta (98.58%.6 PERSENTASE PENDUDUK YANG BUTA HURUF MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. Sebaliknya persentase AMH yang terendah adalah Papua (70.id Tahun 2005-2009 persentase tertinggi penduduk yang buta huruf menurut kelompok umur adalah penduduk dengan kelompok umur di atas 45 tahun dengan persentase 22.go. Penggunaan AMH adalah untuk (1) mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf. 15 . (2) menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media.demikian.9. AMH nasional adalah 92.bps. Indikator pendidikan lainnya yang sejenis adalah Angka Melek Huruf (AMH) yaitu persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. NTB (80.02%).

Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.7 tahun pada tahun 2009 atau setara dengan kelas dua SMP. Sumber: BPS. Mei 2010 Rata-rata lama sekolah mayoritas penduduk di Indonesia masih relatif rendah yaitu 7.4 tahun. sedangkan tahun 2008 mencapai 7. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.7 ANGKA MELEK HURUF PENDUDUK BERUSIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: BPS. Gambar di bawah ini menunjukkan rata-rata lama sekolah menurut jenis kelamin secara nasional.3 tahun). Mei 2010 16 . Rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas pada tahun 2006 mencapai 7. Dilihat dari jenis kelamin.2 tahun) lebih besar daripada perempuan (7. rata-rata lama sekolah laki-laki (8. GAMBAR 2.GAMBAR 2.8 RATA-RATA LAMA SEKOLAH MENURUT JENIS KELAMIN DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2009 .5 tahun.

semakin rendah APS. GAMBAR 2. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan Gambar di bawah ini menunjukkan persentase APK tertinggi adalah pada tingkat pendidikan SD/MI dan persentase APK yang terendah adalah pada tingkat 17 . Gambar di bawah ini merupakan APS nasional menurut usia sekolah dari tahun 2005-2009.10.id Terdapat dua ukuran partisipasi sekolah yang utama.9 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH MENURUT USIA SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. 13-15 tahun mewakili umur setingkat SLTP. yaitu 7-12 tahun mewakili umur setingkat SD. Perbedaan di antara keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang pendidikan. yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah rasio jumlah siswa. Angka Partisipasi Sekolah (APS) dari BPS secara umum dikategorikan menjadi 3 kelompok umur.Rata-rata lama sekolah secara rinci menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. Semakin tinggi tingkat pendidikan. dan 16-18 tahun mewakili umur setingkat SLTA. berapapun usianya. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan.11. Kedua ukuran tersebut mengukur penyerapan penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan. Persentase angka partisipasi sekolah menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2. www.go. berdasarkan 4 kelompok umur dimana kelompok umur 19-24 tahun mewakili umur setingkat perguruan tinggi.bps. yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu.

APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut. Semakin tinggi tingkat pendidikan.10 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI KASAR DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS.bps.pendidikan perguruan tinggi.bps.go. Nilai APK dalam kurun waktu 2005-2009 meningkat secara perlahan untuk tingkat pendidikan SD/MI. www. www.11 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI MURNI DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS.id 18 . GAMBAR 2. sedangkan APK tingkat SLTP/MTs cenderung tidak banyak perubahan. semakin rendah APM. Jika dibandingkan APK.id Berbeda dengan APK. Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan banyaknya penduduk usia sekolah yang masih bersekolah pada jenjang pendidikan yang sesuai dengan usianya. SLTA dan perguruan tinggi. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah persentase APK. GAMBAR 2.go.

rumah sehat serta rumah/bangunan yang diperiksa dan bebas jentik nyamuk Aedes. www. menurut pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan. institusi dibina kesehatan lingkungannya. lingkungan menentukan baik buruknya status derajat kesehatan masyarakat. pelayanan kesehatan dan genetik. 19 . Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah persentase APM. akses terhadap sanitasi dasar. tempat umum dan pengelolaan makan (TUPM) sehat.bps. GAMBAR 2.Berdasarkan Gambar 2. Menurut definisi. Nilai APM dalam kurun waktu 2005-2009 meningkat secara perlahan untuk setiap jenjang pendidikan. Untuk menggambarkan keadaan lingkungan. akan disajikan indikatorindikator seperti. TPT adalah persentase jumlah penduduk.id D. akses terhadap air bersih dan air minum yang aman. TPT bermanfaat untuk menunjukkan pencapaian pembangunan pendidikan di suatu daerah.go. Gambar berikut di bawah ini menggambarkan perkembangan persentase tingkat pendidikan tertinggi (TPT) yang ditamatkan. terutama untuk melihat kualifikasi pendidikan angkatan kerja di suatu wilayah. TPT juga berguna untuk melakukan perencanaan penawaran tenaga kerja. Bersama dengan faktor perilaku.12 PERSENTASE PENDIDIKAN TERTINGGI YANG DITAMATKAN PENDUDUK 10 TAHUN KE ATAS DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS.11 di atas persentase APM tertinggi pun terdapat pada tingkat pendidikan SD/MI dan APM yang terendah adalah pada tingkat pendidikan perguruan tinggi. baik yang masih sekolah ataupun tidak sekolah lagi. KEADAAN KESEHATAN LINGKUNGAN Lingkungan merupakan salah satu variabel yang kerap mendapat perhatian khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat.

13 PERSENTASE AKSES AIR MINUM YANG AMAN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen P2PL. air kemasan (2. 2010 Secara rinci proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap air minum yang aman menurut wilayah (perkotaan dan perdesaan) dan provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. sedangkan menurut wilayah. GAMBAR 2.12. persentase tertinggi jenis sarana air bersih yang digunakan adalah sumur gali (45. Sedangkan yang terendah terdapat di Banten (27. Secara nasional. penampungan air hujan (3.71%.36%).49%).0%).13 di bawah ini. sumur pompa tangan (10. Proporsi penduduk yang memiliki akses terhadap sarana air minum yang aman secara nasional adalah 47. dan Sulawesi Tenggara (59. 20 .1%).82% dan di perdesaan 45. Bali (60.1.6%) dan Bengkulu (33.29%). Rincian persentase keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan dapat dilihat dalam Lampiran 2.4%). serta lain-lain (11. Sarana Air Bersih yang Digunakan dan Akses Air Minum yang Aman Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui persentase keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan.72%. Persentase tertinggi akses air minum yang aman terdapat di DI Yogyakarta (60. akses air minum yang aman di perkotaan 49.11%).5%). Aceh (30. diikuti ledeng (27.30%).41%).13.0%) Gambaran persentase akses air minum yang aman menurut provinsi dapat dilihat dalam Gambar 2.

55%).72%. Sarana dan Akses terhadap Sanitasi Dasar Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui persentase keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar.96% di wilayah perdesaan.19%.37%) serta kepemilikan tempat sampah (72.46%. kepemilikan pengelolaan air limbah (73. persentase tertinggi akses keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar adalah kepemilikan terhadap jamban (81. Proporsi penduduk yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar yang layak secara nasional sebesar 51. persentase akses sanitasasi dasar yang layak sebesar 69.2. sedangkan menurut wilayah. Dari seluruh sarana sanitasi dasar tersebut yang memiliki kriteria jamban sehat 55. Secara nasional.51% di perkotaan dan 33. Rincian persentase keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar dan sehat menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.14 PERSENTASE AKSES SANITASI DASAR YANG LAYAK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen P2PL.14. 21 . GAMBAR 2.15.30% dan tempat sampah sehat 53. pengelolaan air limbah sehat 55.03%). 2010 Secara rinci proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar yang layak menurut wilayah dan provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.

Rincian persentase tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan yang sehat menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.15 PERSENTASE RUMAH SEHAT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Persentase rumah sehat menurut provinsi secara rinci (data dari 429 kab/kota) disajikan pada Lampiran 2. pasar sehat (54.58%). Secara nasional.49%.16.13%). GAMBAR 2. dan TUPM lainnya (63.17.84%. Papua (43. Sedangkan menurut jenis TUPM.85%). Rumah Sehat Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009.25%). Riau (81. Provinsi yang memiliki persentase tertinggi adalah DKI Jakarta (91.51%) dan Bali (77. 22 .78%). Tempat Umum dan Pengelolaan Makan (TUPM) Sehat Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui gambaran tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan yang sehat.54%). Provinsi dengan persentase rumah sehat yang rendah adalah Sulawesi Barat (35. dari keseluruhan TUPM.61%) dan Nusa Tenggara Timur (50. 4. persentase TUPM sehat yang tertinggi adalah hotel sehat (84. persentase rumah sehat secara nasional sebesar 63.21%).3. restoran/rumah makan sehat (70.69%). maka yang sudah diperiksa dan dinyatakan sehat sebesar 64.

Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui gambaran institusi yang diberikan pembinaan kesehatan lingkungan seperti institusi sarana kesehatan.82%).18.41%. sarana pendidikan (67. sarana ibadah (58. Sedangkan menurut jenis institusi.08%). Sedangkan yang terendah persentasenya yaitu NTT (39.98%) dan Banten (87. Bali (87.15%). persentase tertinggi institusi yang dibina kesehatan lingkungannya adalah sarana kesehatan (77. sarana pendidikan. Dari seluruh rumah/bangunan yang diperiksa maka rumah/bangunan yang sudah dinyatakan bebas jentik nyamuk Aedes sebesar 77. Rincian persentase institusi dibina kesehatan lingkungannya menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. Provinsi yang persentase bebas jentik nyamuk Aedes tertinggi adalah DKI Jakarta (89.52%). dari keseluruhan institusi yang ada telah dilakukan pembinaan terhadap kesehatan lingkungan sebesar 64. GAMBAR 2. Papua (46.5. dan sarana lainnya.23%) dan Bengkulu (47.02%). sudah dilakukan pemeriksaan terhadap 26% rumah/bangunan. sarana ibadah. perkantoran. Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009. Secara nasional. 6.16 PERSENTASE RUMAH BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 23 .22%).84%) dan sarana lainnya (62.26%). dari keseluruhan rumah/bangunan yang ada. perkantoran (59.44%).08%.

Persentase rumah/bangunan yang diperiksa dan bebas jentik nyamuk Aedes menurut provinsi (data dari 322 kabupaten/kota) secara rinci disajikan pada Lampiran 2. 2.20.34%). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009. GAMBAR 2.57%). Provinsi yang memiliki persentase tertinggi adalah Jawa Tengah (88.38%) dan Kalimantan Timur (79.73%). Provinsi dengan persentase PHBS yang rendah adalah Sumatera Barat (17. Umur Perkawinan Pertama Umur perkawinan pertama adalah umur pada saat wanita melakukan perkawinan secara hukum dan biologis yang pertama kali. Banten (21.41%. DI Yogyakarta (87. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap kesehatan. E. 1.17 PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria perilaku hidup bersih dan sehat yang baik menurut provinsi secara rinci (data dari 373 kab/kota) disajikan pada Lampiran 2. 24 .37%) dan Papua Barat (27. persentase rumah tangga yang ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara nasional sebesar 48. akan disajikan beberapa indikator yaitu perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan usia wanita perkawinan pertama.19.97%).

33%. umur wanita yang menikah/kawin yang pertama kali paling banyak terjadi pada umur 19-24 tahun sebesar 41. kemudian persentase cukup banyak terjadi pula pada umur yang relatif masih remaja (16-18 tahun) sebesar 33.41%. Mei 2010 Persentase wanita menurut umur perkawinan pertama menurut provinsi secara rinci disajikan pada Lampiran 2.18 PERSENTASE WANITA MENURUT UMUR PERKAWINAN PERTAMA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: BPS.21. *** 25 . GAMBAR 2.Secara nasional. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.

.

Pada bab berikut ini situasi derajat kesehatan di Indonesia digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB). AKABA. A. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan. AKB merupakan indikator yang biasanya digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. dan Angka Kematian Kasar. melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi. Angka Kematian Ibu (AKI). Situasi derajat kesehatan masyarakat dapat tercermin melalui angka morbiditas.000 KELAHIRAN HIDUP DI INDONESIA TAHUN 1991 S. keturunan.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. dan angka morbiditas beberapa penyakit. 1. lingkungan sosial. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB.1 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.D TAHUN 2007 27 . mortalitas dan status gizi. pendidikan. GAMBAR 3. dan faktor lainnya. Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Bayi (AKB) dapat didefinisikan sebagai banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1. dapat berupa penyakit maupun sebab lainnya. Angka Kematian Balita (AKABA). AKI. MORTALITAS Mortalitas merupakan angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu. Oleh karena itu banyak upaya kesehatan yang dilakukan dalam rangka menurunkan AKB.

Sedangkan AKB tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 74 per 1.000 kelahiran hidup.1.2 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 28 . diantaranya pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 Menurut hasil SDKI terjadi penurunan AKB sejak tahun 1991.2 berikut.000 KELAHIRAN HIDUP MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2007 Sumber: BPS. Gambaran AKB per provinsi dapat dilihat pada Gambar 3. diikuti oleh Nusa Tenggara Barat sebesar 72 per 1. Hasil SDKI tahun 2007 juga mengestimasikan AKB pada tingkat provinsi.Sumber: BPS.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. Hal ini disebabkan AKB sangat sensitif terhadap perbaikan pelayanan kesehatan. misalnya pada SDKI tahun 2007 diperoleh AKB untuk periode 5 tahun sebelumnya yaitu tahun 2003-2007 sebesar 34 per 1. dan Kalimantan Timur serta Jawa Tengah sebesar 26 per 1. perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit. GAMBAR 3. Berbagai faktor dapat menyebabkan adanya penurunan AKB seperti yang ditampilkan pada gambar di atas. Sedangkan hasil SDKI 2007 mengestimasikan AKB sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. Hasil estimasi tersebut memperhitungkan Angka Kematian Bayi dalam periode 5 tahun terakhir sebelum survei. Pada tahun 1991 diestimasikan AKB sebesar 68 per 1. Selain itu. Provinsi dengan AKB terendah adalah DI Yogyakarta sebesar 19 per 1. Rincian AKB menurut provinsi di Indonesia terdapat pada Lampiran 3.000 kelahiran hidup dan Sulawesi Tengah sebesar 60 per 1. diikuti Aceh sebesar 25 per 1.

GAMBAR 3. yaitu sangat tinggi dengan nilai > 140.000 kelahiran hidup. 2008 Berdasarkan estimasi terhadap nilai AKABA pada tingkat provinsi.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup dan Kalimantan Tengah sebesar 34 per 1.3 ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA) PER 1. AKABA merepresentasikan peluang terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun.2.000 kelahiran hidup. Angka ini merupakan estimasi untuk periode 5 tahun sebelum survei (2003-2007).000 KELAHIRAN HIDUP DI INDONESIA TAHUN 1991 – 2007 Sumber: Badan Pusat Statistik. diikuti oleh Maluku sebesar 93 per 1.000 kelahiran hidup. 29 . Sedangkan provinsi dengan AKABA tertinggi adalah Sulawesi Barat sebesar 96 per 1.000 kelahiran hidup. tinggi dengan nilai 71-140. Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1. Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan nilai normatif AKABA. diikuti oleh Jawa Tengah sebesar 32 per 1. SDKI tahun 2007 mengestimasikan nilai AKABA sebesar 44 per per 1. sedang dengan nilai 20-70 dan rendah dengan nilai < 20. diketahui bahwa provinsi dengan AKABA terendah terdapat di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 22 per 1.000 kelahiran hidup dan Nusa Tenggara Barat sebesar 92 per 1.000 kelahiran hidup. Gambaran AKABA menurut provinsi dapat dilihat pada gambar berikut.

4 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1. dan nifas. melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 3. AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum.000 KELAHIRAN HIDUP MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2007 Sumber : BPS. 30 . Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI untuk periode 5 tahun sebelum survei (2003-2007) sebesar 228 per 100. Pada Gambar 3.000 kelahiran hidup. AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. Angka ini lebih rendah dibandingkan AKI hasil SDKI tahun 2002-2003 yang mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup. AKI mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan. persalinan. Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat.5 berikut nampak adanya kecenderungan penurunan AKI sejak tahun 1994 sampai dengan tahun 2007.GAMBAR 3. Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.000 kelahiran hidup. pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan.

332 4.542 3. Tanda & Penemuan Laboratorium. 2009 31 .238 2.06 2 Penyakit Infeksi dan Parasit Tertentu 16. Angka Kematian Kasar (AKK) Angka kematian kasar adalah jumlah kematian yang terjadi pada suatu waktu dan tempat tertentu per 1.91 6 Cedera.1 10 PENYAKIT UTAMA PENYEBAB KEMATIAN DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2008 Golongan Sebab Sakit Pasien CFR No Mati (%) 1 Penyakit Sistem Sirkulasi Darah 23.000 KELAHIRAN HIDUP) DI INDONESIA TAHUN 1994-2007 Sumber : Badan Pusat Statistik.74 4 Penyakit Sistem Napas 8. dan Metabolik 5. TABEL 3.73 8 Penyakit Sistem Kemih Kelamin 4.56 4.70 4. Klinik Abnormal YTK Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. 5. dan Akibat Sebab Luar Tertentu Lainnya 5.767 2.5 ANGKA KEMATIAN IBU (PER 100. Keracunan.99 5 Penyakit Sistem Cerna 6.80 9 10 Neoplasma Gejala. Nutrisi.585 6.89 3 Kondisi Tertentu yang Bermula pada Masa Perinatal 9.000 penduduk pada pertengahan tahun. Kemkes RI.9 per 1.163 11.2008 4. Angka Kematian di Rumah Sakit Tabel berikut ini menyajikan 10 penyebab kematian terbanyak pada penderita rawat inap di rumah sakit pada tahun 2008.108 9. menyebutkan bahwa AKK tahun 2007 sebesar 6.190 3. Estimasi Angka Kematian Kasar (AKK) berdasarkan hasil SUPAS 2005.GAMBAR 3.99 7 Penyakit Endokrin.769 2.825 2.000 penduduk.

Berikut ini ditampilkan peringkat IPM 33 provinsi di Indonesia tahun 2008 yang disertai dengan nilai IPM. Berdasarkan data BPS. Selain itu. Salah satu faktor yang berperan dalam peningkatan UHH adalah upaya di bidang kesehatan sebagai bagian dari pembangunan kesehatan. 2010 Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa UHH merupakan salah satu komponen dalam memformulasikan IPM. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir Derajat kesehatan masyarakat juga dapat diukur dengan melihat besarnya Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH).Berdasarkan informasi pada tabel di atas. yaitu sebesar 73. Pada tahun 2008. penyakit sistem sirkulasi darah merupakan penyakit yang menempati urutan teratas sebagai penyakit utama penyebab kematian di rumah sakit pada tahun 2008. UHH terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat. sedangkan pada tahun 2006 dan 2007 sebesar 68. provinsi dengan UHH tertinggi adalah DI Yogyakarta. sebesar 61.163 orang dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 11. GAMBAR 3. 6.2.1 yang diikuti oleh DKI Jakarta sebesar 72.7 tahun.6 UMUR HARAPAN HIDUP WAKTU LAHIR MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2008 Sumber : Badan Pusat Statistik. Kondisi UHH di Indonesia dalam kurun waktu 2006-2008 menunjukkan peningkatan.1 tahun dan Banten sebesar 64. 32 .6 tahun. UHH di Indonesia pada tahun 2008 sebesar 69 tahun. Sedangkan.5 tahun. Penyakit sistem sirkulasi darah pada tahun 2008 menyebabkan kematian sebanyak 23. yang diikuti oleh Kalimantan Selatan sebesar 63. UHH juga menjadi salah satu indikator yang diperhitungkan dalam menilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM).0 tahun.9 dan Sulawesi Utara sebesar 72.06%.5 tahun dan 68. Gambaran UHH pada tahun 2007 dan 2008 menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3.

Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. diikuti oleh Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. 2010 Berdasarkan gambar di atas diketahui bahwa provinsi dengan IPM tertinggi adalah DKI Jakarta.7 NILAI IPM MENUURT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2008 Sumber: BPS. 33 .GAMBAR 3. baik insiden maupun prevalen dari suatu penyakit. Sulawesi Utara. Sedangkan provinsi dengan IPM terendah adalah Papua. B. dan Riau.794. MORBIDITAS Morbiditas dapat diartikan sebagai angka kesakitan. Rincian mengenai 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit dapat dilihat pada tabel berikut. Pola 10 Penyakit Terbanyak di Rumah Sakit Pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit tahun 2009 menurut Daftar Tabulasi Dasar (DTD) menunjukkan bahwa kasus terbanyak merupakan penyakit infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya dengan jumlah total kasus 488. 1. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.

477 35.63 9 Penyakit apendiks 13.3 POLA 10 PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009 No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) Kasus Laki-Laki Perempuan Total Kasus Meninggal CFR (%) 1 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 74.535 143.375 7 Hipertensi esensial (primer) 55.957 24.463 122.696 1.488 46.243 49.850 1.22 2 Demam berdarah dengue 60.758 17.696 kasus.10 6 Hipertensi esensial (primer) 15. Kemenkes RI.588 80.380 52.154 235 0.446 67.162 220.815 99.933 36.275 83.467 234.142 105.823 123.195 135.334 898 0.318 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.021 6 Dispepsia 55.013 223.254 358.783 30.578 245.304 520 1.087 275.673 88.170 16.004 68.807 28. 2009 Sedangkan pada pasien rawat inap. Kemenkes RI.705 60.083 53.231 89.200 462 0.013 1.2 POLA 10 BESAR PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009 No Kasus Daftar Tabulasi dasar (DTD) Laki-Laki Perempuan Total Kasus Jumlah Kunjungan 5 Infeksi saluran nafas bagian atas akut lainnya Demam yang sebabnya tidak diketahui Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) Gangguan refraksi dan akomodasi 67.942 99.161 69.749 1 2 3 4 9 10 Penyakit telinga dan prosesus mastoid Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtiva 243.429 156.303 147.74 3 Demam tifoid dan paratifoid 39.269 412.364 8 Penyakit pulpa dan periapikal 54.533 21.463 52.953 247.216 488.605 153.497 47.55 7 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 19.115 16.78 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.629 121.144 36.TABEL 3.738 172.262 41. pola gambaran 10 penyakit terbanyak menunjukkan pola yang sedikit berbeda.817 77.345 133.747 1.703 234 0.794 781.76 10 Gastritis dan duodenitis 12.167 132.920 16. TABEL 3.94 5 Dispepsia 18.45 8 Pneumonia 19. 2009 34 .677 935 2.256 371.881 143.396 30.25 4 Demam yang sebabnya tidak diketahui 24.647 2.048 162 0. Diare dan Gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) memiliki jumlah kasus terbanyak yaitu 143.365 6.660 203.

68 per 1.143. 2.02. 3. Dihubungkan dengan target pencapaian MDGs. Sebesar 75. Relatif tingginya cakupan pemeriksaan sediaan darah di 35 . Penyakit Menular a. Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria (Daerah pembebasan malaria) atau API = 0. angka API 2009 sudah memenuhi target.024 kasus.1 per 1.000 penduduk. 4. Endemis Tinggi bila API > 5 per 1.000 penduduk.8 STRATIFIKASI ENDEMISITAS MALARIA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.63%.Berdasarkan CFR. 2. Wilayah endemis malaria pada umumnya adalah desa-desa terpencil dengan kondisi lingkungan yang tidak baik. Endemis Sedang bila API berkisar antara 1 – < 5 per 1.000 penduduk.66 per 1. Kemenkes RI.45%.85 per 1. GAMBAR 3.000 penduduk. Endemis Rendah bila API 0 . Sedangkan penyakit dengan CFR terendah adalah Infeksi Saluran Napas Bagian Atas Akut Lainnya sebesar 0. dan dihasilkan 23. akses pelayanan kesehatan kurang. serta buruknya perilaku masyarakat terhadap kebiasaan hidup sehat. Malaria Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi komitmen global dalam Millenium Development Goals (MDGs).5% dari kasus tersebut diperiksa sediaan darahnya.1% sediaan darah yang positif.27. 2010 API nasional pada tahun 2009 adalah 1.000 penduduki. Angka ini jauh menurun dibandingkan API tahun 1990 yaitu 4. penyakit yang memiliki CFR paling tinggi di antara 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di RS adalah Pneumonia sebesar 6. Kasus malaria klinis tahun 2009 di Indonesia dilaporkan sebanyak 1. Malaria disebabkan oleh hewan bersel satu (protozoa) Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles.000 penduduk dengan kisaran provinsi 0. sarana transportasi dan komunikasi yang sulit. tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang rendah. Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratifikasi endemisitas malaria suatu wilayah di Indonesia menjadi 4 strata yaitu : 1.

17 per 1. yaitu semua kasus malaria klinis harus dikonfirmasi laboratorium.75 per 1.000 penduduk. GAMBAR 3.25 per 1. Pada gambar di atas nampak bahwa AMI di wilayah luar Jawa-Bali pada tahun 2005-2009 menunjukkan kecenderungan penurunan. API senantiasa memenuhi target. Angka ini terus turun hingga 12. 2010 Upaya pengendalian malaria untuk wilayah di luar Jawa-Bali menggunakan Annual Malaria Incidence (AMI). Pada gambar di atas nampak bahwa dari tahun 2004-2009.000 penduduk pada tahun 2009. Pada tahun 2009 API Jawa-Bali sebesar 0.9 ANNUAL PARASITE INCIDENCE MALARIA (‰) DI JAWA BALI TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.000 penduduk.27 per 1.10 ANNUAL MALARIA INCIDENCE (‰) DI LUAR JAWA BALI TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Kemenkes RI. Angka ini telah mencapai target yang ditentukan. pada tahun 2004-2009 pencapaian AMI masih belum 36 . Namun. Kemenkes RI.000 penduduk. GAMBAR 3.laboratorium tersebut merupakan pelaksanaan kebijakan nasional pengendalian malaria dalam mencapai eliminasi malaria. Pada tahun 2005 AMI di luar Jawa-Bali sebesar 24. yaitu di bawah 0. 2010 Indikator untuk upaya penemuan penderita di wilayah Jawa-Bali menggunakan Annual Parasite Incidence (API) atau Angka Parasit Malaria per 1.000 penduduk.

3%. Kemenkes RI. Sedangkan provinsi dengan CDR terendah adalah Kalimantan Tengah sebesar 30. CDR tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 85.memenuhi target. Rincian API dan AMI menurut provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 3.1% dan Kepulauan Riau sebesar 32. 37 . Banten. Pada gambar di atas nampak bahwa terdapat 5 provinsi yang telah memenuhi target CDR 70%. Maluku. Kementerian Kesehatan menetapkan target CDR minimal pada tahun 2009 sebesar 70%. Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS.2%.7%.6% diikuti oleh Kalimantan Timur sebesar 31. Berikut ini disajikan pencapaian CDR menurut provinsi tahun 2009. dan Jawa Barat. yaitu Sulawesi Utara. TB Paru Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.5. b. 2010 Pencapaian CDR pada tahun 2009 sebesar 73. baik yang sembuh maupun yang menjalani pengobatan lengkap diantara pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat. diikuti DKI Jakarta sebesar 81% dan Banten sebesar 77. Success Rate dapat membantu dalam mengetahui kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR). karena pada kurun waktu tersebut AMI berada di atas target yang telah ditentukan. Berikut ini ditampilkan SR tahun 2004-2008.1%. Dalam mengukur keberhasilan pengobatan TB digunakan Angka Keberhasilan Pengobatan (SR=Success Rate) yang mengindikasikan persentase pasien baru TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan. Angka ini telah memenuhi target minimal yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70%. Pada tingkat provinsi.11 CAKUPAN CASE DETECTION RATE (CDR) TB DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. GAMBAR 3. yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. DKI Jakarta. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB.

2010 Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa pencapaian Success Rate (SR) pada tahun 2004-2008 telah memenuhi target 85%. 3. Gambaran kasus TB dan keberhasilan pengobatannya dapat dilihat pada Lampiran 3.9 dan 3.GAMBAR 3.10. 38 .6% pada tahun 2006. dan penularan dari ibu ke anak dalam kandungan melalui plasenta dan kegiatan menyusui. 3.973 kasus. Gambar berikut menampilkan kasus baru dan kumulatif penderita AIDS yang terjadi sampai tahun 2009. Angka ini kemudian kembali naik menjadi 91% pada tahun 2007 dan 2008.7. Sampai dengan Desember 2009 jumlah kumulatif kasus AIDS mencapai 19.8. Kasus HIV dan AIDS menunjukkan trend peningkatan setiap tahun. Namun demikian terjadi penurunan Success Rate (SR) dari 91% pada tahun 2005 menjadi 87.12 SUCCESS RATE (SR) TB DI INDONESIA TAHUN 2004-2008 Sumber: Ditjen PP-PL. Kemenkes RI. penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi secara bergantian. Penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh penderita yang terjadi melalui proses hubungan seksual. c. HIV & AIDS HIV & AIDS disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. transfusi darah.

GAMBAR 3.GAMBAR 3. diikuti oleh Bali sebesar 45.000 penduduk.14 CASE RATE AIDS MENURUT PROVINSI DI INDONESIA SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.000 penduduk.13 JUMLAH KASUS BARU DAN KUMULATIF PENDERITA AIDS YANG TERDETEKSI DARI BERBAGAI SARANA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2001 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 2010 Pada gambar di atas nampak adanya peningkatan penemuan kasus baru yang cukup signifikan pada tahun 2008. provinsi dengan Case Rate tertinggi adalah Papua sebesar 133.7 per 100. dari 2.947 kasus baru pada tahun 2007 menjadi 4. Besaran kasus juga dapat dilihat dengan menggunakan Case Rate AIDS yang diperoleh dengan membandingkan jumlah kasus kumulatif terhadap jumlah penduduk per 100. Kemenkes RI. 2010 39 . Pada tahun 2009. dan DKI Jakarta 31. Kemenkes RI.1.969 kasus baru pada tahun 2008.4.

Berikut ini disajikan persentase kasus kumulatif menurut faktor risiko.1%.15 PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT CARA PENULARAN DI INDONESIA SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Kemenkes RI.3%. Meskipun penggunaan IDU menempati urutan ke-2 terbesar. GAMBAR 3. Sedangkan persentase terendah adalah melalui transfusi darah sebesar 0. hubungan sejenis melalui Lelaki Seks Lelaki (LSL). Hal ini dapat disebabkan oleh adanya upaya promosi kesehatan pada kelompok pengguna NAPZA suntik yang menyampaikan pesan bahwa penggunaan jarum suntik secara bergantian merupakan perilaku risiko tinggi terhadap penularan HIV.16 JUMLAH KASUS BARU AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIK DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. namun jika kita melihat kecenderungan kasus baru AIDS pada pengguna NAPZA suntik menunjukkan penurunan selama tahun 2006. penggunaan Narkoba suntik secara bergantian. yaitu hubungan seksual lawan jenis (heteroseksual).HIV/AIDS memiliki beberapa faktor risiko. persentase kasus kumulatif tertinggi adalah melalui hubungan heteroseksual sebesar 50. 2010 40 .2009 seperti yang nampak pada gambar berikut. Kemenkes RI. transfusi darah dan perinatal. 2010 Berdasarkan cara penularan. GAMBAR 3.

Pada tahun 2009 jumlah kasus baru AIDS yang menggunakan NAPZA suntik
sebanyak 1.156 kasus. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan tahun 2008 sebesar 1.255
kasus.
Berdasarkan jenis kelamin, proporsi kasus kumulatif AIDS laki-laki lebih besar
terhadap perempuan yaitu 73,7% berbanding 25,8%.
GAMBAR 3.17
PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT JENIS KELAMIN DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Proporsi kasus kumulatif AIDS menurut kelompok umur menunjukkan gambaran
bahwa sebagian besar kasus kumulatif AIDS terdapat pada usia 20-29 tahun, 30-39 tahun,
dan 40-49 tahun. Kelompok umur tersebut memang termasuk ke dalam usia produktif yang
tentu saja juga aktif secara seksual.
GAMBAR 3.18
PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

41

Informasi lebih rinci tentang HIV/AIDS dapat dilihat pada Lampiran 3.11, 3.12, dan
3.13.
d. Pneumonia

Pneumonia merupakan infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi
dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat
kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang
Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau
orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Pada tahun 2009, cakupan penemuan Pneumonia pada balita sebesar 22,18%
dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 390.319 kasus. Berikut ini ditampilkan
angka cakupan penemuan pneumonia balita menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 3.19
CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA BALITA
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Pada tingkat provinsi, dapat diketahui bahwa tiga provinsi dengan cakupan tertinggi
berturut-turut adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 71,45%, Jawa Barat sebesar
46,16% dan Kepulauan Bangka Belitung sebesar 41,41%. Sedangkan tiga provinsi dengan
cakupan terendah adalah Provinsi Kepulauan Riau sebesar 0,32%, Aceh sebesar 2,16%,
dan Kalimantan Barat sebesar 2,54%. Data cakupan masing-masing provinsi terdapat pada
Lampiran 3.14.
e. Kusta

Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri
Mycobacterium leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan Kusta
menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan
mata. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut :
a. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa
b. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan
kelemahan/kelumpuhan otot.
42

c. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif).
Pada tahun 2009, dilaporkan terdapat kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 14.227
kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 3.033 dengan Newly Case Detection Rate (NCDR)
sebesar 7,49 per 100.000 penduduk. Berikut ini disajikan kecenderungan kasus baru tipe
PB dan MB serta NCDR.
GAMBAR 3.20
JUMLAH KASUS BARU KUSTA TIPE PB DAN MB
DAN NCDR PER 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Penemuan kasus baru sejak tahun 2005-2009 menunjukkan kecenderungan
penurunan. Pada tahun 2005 NCDR sebesar 8,99 per 100.000 penduduk, angka ini turun
terus hingga 7,49 per 100.000 penduduk pada tahun 2009. Kecenderungan penurunan
tersebut juga terjadi pada jumlah kasus baru kusta tipe PB dan MB.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen
PP&PL) telah menetapkan 33 provinsi di Indonesia ke dalam 2 kelompok beban kusta,
yaitu provinsi dengan beban kusta tinggi (high endemic) dan beban kusta rendah (low
endemic). Provinsi dengan high endemic jika NCDR > 10 per 100.000 penduduk atau
jumlah kasus baru lebih dari 1.000, sedangkan low endemic jika NCDR < 10 per 100.000
penduduk.

43

GAMBAR 3.21
STATUS BEBAN KUSTA DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya
proporsi cacat tingkat II, sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat
digunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru. Proporsi cacat
tingkat II pada tahun 2009 sebesar 10,37%. Sedangkan proporsi anak di antara penderita
baru pada tahun 2009 sebesar 11,44%.
GAMBAR 3.22
PROPORSI CACAT TINGKAT II DAN PROPORSI ANAK DI ANTARA KASUS BARU KUSTA
DI INDONESIA TAHUN 2001-2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Pada kurun waktu 2002-2009 terjadi kecenderungan peningkatan proporsi cacat
tingkat II. Sedangkan proporsi kusta pada anak di antara penderita baru nampak
berfluktuasi sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2005. Kecenderunggan peningkatan
proporsi pada anak nampak dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Informasi menurut
provinsi terkait penyakit kusta terdapat pada Lampiran 3.15.

44

2. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
a.Tetanus Neonatorum

Tetanus Neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk ke
tubuh melalui luka. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir yang salah satunya disebabkan
oleh pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Kasus TN banyak ditemukan di
negara berkembang khususnya dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
rendah.
Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 158 kasus dengan jumlah meninggal 76,
dengan demikian CFR Tetanus Neonatorum pada tahun 2009 sebesar 48,1%. Pada tahun
2009 kasus TN terjadi di 20 provinsi, dan 14 provinsi melaporkan adanya kasus meninggal.
Gambaran kasus Tetanus Neonatorum beserta persentase kasus berdasarkan faktor
risiko menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.16.
b.Campak

Campak merupakan salah satu penyakit PD3I yang disebabkan oleh virus campak.
Sebagian besar kasus campak menyerang anak-anak. Penularan dapat terjadi melalui udara
yang telah terkontaminasi oleh sekret orang yang telah terinfeksi. Berikut ini ditampilkan
Incidence Rate (IR) Campak menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 3.23
INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK PER 10.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 18.055 kasus campak dengan Incidence Rate
sebesar 0,77 per 10.000 penduduk. Incidence Rate tertinggi pada tahun 2009 terdapat di
Provinsi Kepulauan Riau sebesar 3,52; diikuti oleh Sumatera Barat sebesar 2 per 10.000
penduduk, dan Kalimantan Selatan sebesar 1,98 per 10.000 penduduk. Sedangkan Maluku
dan Nusa Tenggara Barat memiliki IR sebesar 0 per 10.000 penduduk.
Informasi mengenai penyakit campak menurut provinsi terdapat pada Lampiran
3.17, 3.18, 3.19, 3.20, dan 3.21.
45

c. Difteri

Penyakit Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang
menyerang sistem pernafasan bagian atas. Penyakit ini memiliki gejala sakit leher, demam
ringan, sakit tekak. Difteri juga kerap ditandai dengan tumbuhnya membran kelabu yang
menutupi tonsil serta bagian saluran pernafasan.
Jumlah kasus Difteri pada tahun 2009 sebanyak 189 kasus, dengan Incidence Rate
per 10.000 penduduk menurut kelompok umur menunjukkan umur < 1 tahun memiliki IR
sebesar 0,01; umur 1-4 tahun sebesar 0,02 ; dan umur 5-14 tahun sebesar 0,02 per 10.000
penduduk.
GAMBAR 3.24
INCIDENCE RATE (IR) DIFTERI PER 10.000 PENDUDUK
MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2003-2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Gambaran penyakit Difteri menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.22 dan
3.23.
d. Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut)

Polio merupakan salah satu penyakit menular yang termasuk ke dalam PD3I yang
disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf higga penderita mengalami
kelumpuhan. Penyakit yang pada umumnya menyerang anak berumur 0-3 tahun ini
ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher dan sakit di
tungkai dan lengan.
Sedangkan AFP merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami
penurunan kekuatan otot tanpa penyebab yang jelas kemudian berakibat pada kelumpuhan.
Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan indikator surveilans AFP yaitu
ditemukannya Non Polio AFP Rate minimal sebesar 2/100.0000 anak usia < 15 tahun. Pada
tahun 2009 non Polio AFP Rate sebesar 2,65 per 100.000 anak < 15 tahun.

46

24 dan 3.000 ANAK < 15 TAHUN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL.Demam Berdarah Dengue (DBD) Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty.000 penduduk dan CFR sebesar 0. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur < 15 tahun.000 anak < 15 tahun. Sedangkan provinsi dengan non Polio AFP Rate terendah adalah Papua sebesar 1 per 100.02 per 100. Informasi lebih rinci menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3. 47 .64 per 100.67 dan 5.22 per 100.000 anak < 15 tahun.4 per 100.89%. 3.000 anak < 15 tahun.000 anak < 15 tahun.420 orang. namun dapat juga menyerang orang dewasa. Penyakit Potensial KLB/Wabah Terdapat beberapa penyakit yang berpotensi KLB/wabah yang sering terjadi di Indonesia. Pada tahun 2009.57 per 100. diikuti oleh NTB dan Kalimantan Tengah masing-masing sebesar 1. Diare dan Chikungunya. Dengan demikian. terdapat 158.29 dan 1.912 kasus dengan jumlah kematian 1. IR DBD pada tahun 2009 adalah 68.25. Seluruh penyakit potensial KLB ini banyak mengakibatkan kematian dan kerugian secara ekonomi. diikuti oleh DIY dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 5.GAMBAR 3.86%. a.25 NON POLIO AFP RATE PER 100. Angka-angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2008 dengan IR sebesar 59. Kemenkes RI 2009 Provinsi dengan non Polio AFP Rate tertinggi adalah Gorontalo sebesar 8.000 penduduk dan CFR sebesar 0. di antaranya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).

000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL.55 per 100.44 dan Jambi sebesar 8.27 INCIDENCE RATE DBD PER 100. diikuti oleh Kalimantan Barat sebesar 228. Provinsi Maluku melaporkan 0 kasus. Kemenkes RI 2009 48 .000 penduduk. Sedangkan IR terendah di Provinsi NTT sebesar 8. yaitu 313.84 per 100.000 penduduk. Kemenkes RI 2009 Meskipun CFR tahun 2009 lebih tinggi dibandingkan tahun 2008.GAMBAR 3.26 INCIDENCE RATE DBD PER 100.000 penduduk dan Kalimantan Timur sebesar 173.000 penduduk. nampak adanya kecenderungan penurunan CFR.000 penduduk. namun sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2008.3 per 100.000 PENDUDUK DAN CASE FATALITY RATE DBD DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP&PL. Angka Insidens (IR) tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta. GAMBAR 3. Kecenderungan penurunan tersebut tidak nampak pada IR per 100.41 per 100.

Februari dan Maret.58%.11%. GAMBAR 3.26%.Pada tahun 2009. Puncak peningkatan kasus tahun 2009 terjadi pada bulan Januari. Kemenkes RI 2009 Pola perkembangan DBD pada tahun 2009 secara nasional menunjukkan terjadinya peningkatan kasus dan kematian DBD dibandingkan tahun 2008. 1998 dan 2005. dan DKI Jakarta sebesar 0. Sedangkan CFR terendah terdapat di provinsi Sulawesi Barat. kemudian kasus menurun kembali setelah bulan Juli dan mencapai titik terendah pada bulan September. Gorontalo sebesar 2. provinsi dengan CFR tertinggi adalah Kep. namun terjadi peningkatan sedikit pada bulan November dan Desember. Bangka Belitung sebesar 4.08%. dan sedikit menurun di tahun 1999.5% kabupaten/kota terjangkit. Puncak IR DBD terjadi pada tahun 1973. kemudian meningkat kembali sampai tahun 2007.29 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA TERJANGKIT DBD DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. 1988. Kemenkes RI 2009 49 . GAMBAR 3. sedangkan tahun 2009 tercatat 384 Kabupaten/kota dari 497 Kabupaten/kota yang ada atau sebesar 77.28 CASE FATALITY RATE DBD DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. Jumlah kabupaten/kota terjangkit DBD sejak tahun 1968 sampai dengan 2009 cenderung mengalami peningkatan seiring dengan terjadinya pemekaran wilayah di Indonesia. diikuti oleh Bengkulu sebesar 3. Jumlah kabupaten/kota terjangkit DBD terus meningkat sampai tahun 1998. dimana tidak ada kasus meninggal. Pada tahun 2008 sebesar 73.2%.

jumlah kematian sebanyak 100 orang atau CFR sebesar 1. dari 2. Kecenderungan CFR Diare pada periode tahun 2005-2009 terdapat pada gambar berikut. Penurunan ini dapat disebabkan oleh adanya perbaikan penatalaksanaan kasus Diare.48% pada tahun 2008.52% menjadi 1.31 KLB DIARE DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 2010 50 .74% pada tahun 2009. Kemkes RI.Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait dengan penyakit DBD dapat dilihat pada Lampiran 3. Kemkes RI. Berikut ini disajikan gambaran distribusi provinsi dengan KLB Diare pada tahun 2009. GAMBAR 3. atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam. pada tahun 2008 CFR Diare sebesar 2. Diare Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar.26 dan Lampiran 3. Angka ini turun menjadi 1.27. b. atau bila buang air besar tiga kali atau lebih. Seseorang dikatakan menderita Diare bila feses lebih berair dari biasanya.74%. Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare terjadi di 15 provinsi dengan jumlah penderita sebanyak 5.756 orang. Angka ini naik menjadi 2. CFR tahun 2009 tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.30 CASE FATALITY RATE (CFR) DIARE DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.26%. 2010 Pada gambar di atas terlihat adanya penurunan CFR yang cukup signifikan pada tahun 2006-2007. GAMBAR 3.48%.

29. Sedangkan pada tahun 2009 dilaporkan di Aceh. kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan. penyakit disebabkan oleh infeksi virus Chik yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kalimantan Barat. Kep. Jawa Tengah.28. Berikut ini disajikan gambaran kasus Chikungunya menurut provinsi pada tahun 2009. GAMBAR 3. Sumatera Barat.756 kasus tanpa kematian. Lampung. Bengkulu. Bali. Pada tahun 2008 dilaporkan di Provinsi Jawa Barat. Kemkes RI. dan makin meningkatnya arus mobilisasi penduduk. DKI Jakarta. Gambaran kasus Chikungunya menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3. ruam /bercak-bercak kemerahan di kulit dan nyeri persendian. Sumatera Utara. 2010 Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan kasus Chikungunya secara signifikan pada tahun 2009 antara lain semakin banyaknya tempat-tempat perindukan nyamuk penular.592 kasus tanpa kematian. Jawa Barat. Banten.32 JUMLAH KASUS CHIKUNGUNYA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. DKI Jakarta. Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun-tahun sebelumnya masih banyak daerah-daerah yang belum melaporkan kejadian kasus Chikungunya.Chikungunya Chikungunya adalah penyakit infeksi akut yang ditandai gejala utama demam. Jambi. Bangka Belitung. dan Kalimantan Timur dengan jumlah 83. NTB. c. 51 . Jawa Timur. Penyakit ini kerap dijumpai terutama di daerah tropis/subtropis dan sering menimbulkan epidemi. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya penyakit ini antara lain rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat. Kalimantan Selatan.Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait Diare dapat dilihat pada Lampiran 3. Sumbar dan DI Yogyakarta dengan jumlah 3. Sumatera Selatan.

316 dan lyssa sebesar 195 kasus. Jawa Timur. daerah tertular rabies adalah 24 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. Kalimantan Selatan dan Sulawesi Barat. kasus divaksinasi. Pada tahun 2009 provinsi dengan kasus GHPR terbanyak adalah Bali. Terdapat beberapa indikator yang digunakan dalam memantau upaya pengendalian Rabies. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan kasus GHPR menjadi 45. DKI Jakarta. kera. sedangkan provinsi yang berhasil menekan jumlah lyssa menjadi 0 kasus pada tahun 2009 adalah Jambi. DI Yogyakarta. Papua Barat. kelelawar. NTB. dan Lyssa pada tahun 2004-2009. musang dan serigala yang di dalam tubuhnya mengandung virus Rabies.33 JUMLAH KASUS GHPR. Kalimantan Barat. Kemkes RI. dan Papua yang masih dinyatakan sebagai daerah bebas rabies. Jawa Barat.466 kasus dengan kasus divaksinasi 35. Dengan demikian hanya 9 provinsi yaitu: Kep. dan Lyssa. Kasus GHPR pada tahun 2004 dilaporkan sebanyak 14. 2010 Selama tahun 2004-2009. kasus yang divaksinasi dengan Vaksin Anti Rabies (VAR). Jawa Tengah. Gambaran situasi Rabies di Indonesia menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Lampiran 3. Berikut ini disajikan gambaran GHPR.30. VAR DAN LYSSA DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL.895 kasus divaksinasi dan 109 kasus lyssa.Rabies Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus rabies yang ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing. kucing.d. GAMBAR 3. Berikut ini ditampilkan peta wilayah endemis rabies tahun 2009 52 . Penyakit dengan CFR tinggi ini terus menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. yaitu : GHPR (kasus Gigitan Hewan Penular Rabies). Sampai akhir tahun 2009. Bengkulu.996 dengan 7. nampak adanya kecenderungan peningkatan jumlah kasus GHPR dan kasus VAR.Bangka Belitung.

cacing tersebut tumbuh menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe sehingga menyebabkan pembengkakan di lengan dan organ genital. Jumlah kasus klinis filariasis ini merupakan jumlah kumulatif yang dilaporkan dari waktu ke waktu. 53 . Filariasis Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria. DKI Jakarta. Penyakit ini menginfeksi jaringan limfe (getah bening). Kemkes RI. Filariasis menular melalui gigitan nyamuk yang mengandung cacing filaria dalam tubuhnya. 2010 Berdasarkan gambar di atas. Pada tahun 2008. Jawa Tengah.34 WILAYAH TERTULAR RABIES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Papua Barat. NTB. Informasi lebih rinci terkait penyakit filariasis terdapat pada Lampiran 3. yang terdiri dari Wuchereria bancrofti. e. Dalam tubuh manusia. Kemkes RI. Jawa Timur.35 JUMLAH KASUS FILARIASI DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Kalimantan Barat. maka provinsi yang bebas rabies pada tahun 2009 yaitu Kep.31. Brugia malayi dan Brugia timori. GAMBAR 3. DI Yogyakarta. jumlah kasus klinis yang dilaporkan sebanyak 11.914 yang tersebar di 401 kabupaten/kota. dan Papua. 2010 Sampai tahun 2009 jumlah kasus klinis filariasis yang dilaporkan sebanyak 11. Bangka Belitung.699.GAMBAR 3. baik penderita lama yang baru ditemukan maupun penderita baru.

Kecamatan Ciwidey di daerah kawah putih Ciwidey. 54 . Surveilans aktif dan pasif terhadap rodent dan pinjalnya masih tetap dilakukan secara rutin di empat daerah fokus Pes tersebut untuk mengantisipasi terjadinya KLB Pes yang biasa terjadi setiap 10 tahun. Provinsi Jawa Barat di Kabupaten Bandung. provinsi yang masih melaporkan kegiatan trapping hanya Jawa Timur.175 spesimen rodent yang diperiksa di BLK Surabaya dan hasilnya menunjukkan negatif. Terdapat 4 wilayah yang merupakan wilayah fokus Pes yaitu 1. dimana terdapat 40 spesimen manusia dan 3. Kecamatan Selo dan Cepogo. Seluruh daerah tersebut adalah merupakan daerah pegunungan (daerah ketinggian) seperti Kecamatan Tutur Nongkojajar di kaki Gunung Bromo. KLB Pes terakhir terjadi pada tahun 2007 di Dusun Sulorowo. Selama tahun 2009 telah dilaporkan kasus antraks pada manusia sebanyak 17 kasus 2 orang diantaranya meninggal (CFR 11. Kecamatan Ciwidey. 3. Manusia dapat tertular Antraks melalui kontak langsung maupun tidak langsung atau mengkonsumsi binatang yang terinfeksi atau produk hewan yang terkontaminasi bakteri/spora Antraks. Desa Kayukebek. Pada tahun 2009. Semua kasus berasal dari Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Kecamatan Tutur Nongkojajar Kabupaten Pasuruan. Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Pasuruan. Terdapat 2 kasus yang meninggal akibat antraks tipe pencernaan yang bersifat sangat akut.f. Kecamatan Cangkringan 4. Kecamatan Selo & Cepogo serta Cangkringan di Kaki Gunung Merapi. Provinsi Jawa Timur. Berikut ini ditampilkan hasil surveilans aktif dan pasif pes pada manusia selama tahun 2004-2009. Provinsi DI Yogyakarta di Kabupaten Sleman. Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Boyolali. Kecamatan Tutur Nongkojajar 2. Antraks Penyakit Antraks adalah penyakit infeksi yang akut yang disebabkan oleh spora dari bakteri Bacillus anthracis. Umumnya penyakit ini terjadi pada mamalia herbivora baik yang liar maupun peliharaan.76%). Spora Bacillus anthracis dapat bertahan hidup di lingkungan selama bertahun-tahun hingga mendapatkan host baru. Pes Penyakit pes atau bubonic plaque disebabkan oleh infeksi bakteri Pasteurella pestis melalui hewan pengerat liar. meskipun dapat juga menyerang mamalia lain dan beberapa jenis unggas. g.

Penyakit ini ditandai dengan beberapa gejala seperti flu sampai dengan gangguan serius yang dapat menyebabkan kematian. tanah basah yang telah terkontaminasi urin tersebut. Berikut ini ditampilkan gambaran jumlah kasus. Kasus Leptospirosis seringkali dilaporkan dari wilayah yang terkena banjir. GAMBAR 3. pada tahun 2009 terdapat 378 kasus dengan 23 kasus meninggal. Secara nasional. dimana sedang terjadi bencana banjir di wilayah tersebut. Kemkes RI. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan kasus Leptospirosis di Jawa Tengah pada bulan Januari sampai dengan April 2009. Pada tahun 2009 terdapat tiga wilayah yang melaporkan adanya kasus leptospirosis yaitu Provinsi DKI Jakarta. h. meninggal dan CFR Leptospirosis selama tahun 2004-2009. 2010 Pada gambar di atas nampak terjadi peningkatan jumlah manusia yang diperiksa maupun yang menunjukkan hasil positif pada tahun 2004-2007. Data dan Informasi mengenai penyakit pes terdapat pada Lampiran 3. Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.36 HASIL SURVEILANS PES PADA MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Leptospirosis Leptospirosis ditularkan melalui urin hewan pengerat yang telah terinfeksi bakteri penyebab Leptospirosis. Manusia dapat terinfeksi jika terpapar dengan air.GAMBAR 3. 2010 55 .32. MENINGGAL DAN CFR LEPTOSPIROSIS DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Pada tahun 2008 dan 2009 tidak ditemukan lagi kasus positif pada manusia.37 JUMLAH KASUS. Kemkes RI.

khususnya Provinsi DKI Jakarta. Berikut ini ditampilkan jumlah kasus. Namun angka ini turun menjadi 6. Sedangkan CFR menunjukkan kecenderungan penurunan pada tahun 2004-2006. Jawa Barat dan Banten. Jika dilihat secara kumulatif sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Informasi lebih rinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.48%. Sedangkan CFR menunjukkan kecenderungan peningkatan sejak kasus pertama kali ditemukan pada tahun 2005. MENINGGAL DAN CFR FLU BURUNG DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 2010 Jumlah kasus Flu Burung dan jumlah meninggal dilaporkan terbanyak pada tahun 2006. Flu Burung Avian Influenza atau flu burung disebabkan oleh infeksi virus influenza tipe A (H5N1) yang umumnya menginfeksi unggas dan sedikit kemungkinan menginfeksi babi. tiga provinsi dengan jumlah kasus Flu Burung tertinggi yaitu DKI Jakarta. Kasus Flu Burung di Indonesia pada manusia pertama kali dilaporkan pada bulan Juni tahun 2005. Kemkes RI. GAMBAR 3.33. Pada tahun 2009 dilaporkan kasus sebanyak 21 dengan kasus meninggal sebanyak 19 dan CFR sebesar 90. Angka kematian ini naik pada tahun 2007 dengan CFR 8.55%. 56 .08 pada tahun 2009. kasus meninggal dan CFR Flu Burung tahun 2005-2009. i. Pada tahun 2007 memang terjadi banjir di beberapa wilayah di Indonesia.38 JUMLAH KASUS. Penyakit ini bisa menular kepada manusia dan dapat menimbulkan penyakit flu yang berakibat kematian.Gambar di atas menampilkan adanya peningkatan kasus pada tahun 2007 dengan jumlah kasus 667 dan jumlah meninggal 57. Kecenderungan penurunan terjadi dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009. Angka CFR ini merupakan yang tertinggi selama kurun waktu tahun 2005-2009.

Lampung. dan Sulawesi Selatan.40 WILAYAH PENYEBARAN KASUS FLU BURUNG DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Riau. Gambaran situasi Flu Burung menurut provinsi juga dapat dilihat pada Lampiran 3. Kemkes RI. Jawa Barat.GAMBAR 3. Kemkes RI. 2010 Berikut ini ditampilkan pemetaan kasus Flu Burung sampai dengan tahun 2009. *** 57 . Sumatera Barat.34. Bali. Banten. yaitu Sumatera Utara. Jawa Tengah.39 JUMLAH KASUS DAN MENINGGAL AKIBAT FLU BURUNG DI 13 PROVINSI TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. flu burung telah menyebar ke beberapa Provinsi di Indonesia. 2010 Pada gambar di atas nampak bahwa sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. DKI Jakarta. Jawa Timur. Sumatera Selatan. GAMBAR 3. DIY.

.

penyehatan lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar. pencegahan penyakit. psikotropika. pengamanan penggunaan zat aditif dalam makanan dan minuman. perbaikan gizi masyarakat. untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. Berikut ini diuraikan situasi upaya kesehatan selama beberapa tahun terakhir. pengendalian penyakit tidak menular. 1. Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan adalah sebagai berikut ini.Secara umum upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama. Dengan pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan cepat. yaitu upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. pengamanan narkotika. PELAYANAN KESEHATAN DASAR Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah penting dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. pemberantasan penyakit menular. zat adiktif dan bahan berbahaya. pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan. Upaya kesehatan masyarakat mencakup upaya-upaya promosi kesehatan. khususnya untuk tahun 2009. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. pengobatan rawat jalan. Upaya kesehatan perorangan mencakup upaya-upaya promosi kesehatan. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu yang sedang hamil dapat 59 . pemeliharaan kesehatan. diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi. A. Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta. untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat. serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan. Upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta. pembatasan dan pemulihan kecacatan yang ditujukan terhadap perorangan. pengobatan rawat inap. kesehatan jiwa.

Angka Kematian Bayi (AKB). AKB 34 per 1. termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). dan 82% untuk cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (Pn). Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. tinggi fundus uteri. dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). skrining status imunisasi tetanus dan memberikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100.000 kelahiran hidup. peningkatan pelayanan kesehatan ibu diprioritaskan yaitu dengan menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 102 per 100. dan AKABA 44 per 1.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Neonatus (AKN). dari posyandu sampai rumah sakit pemerintah maupun fasilitas pelayanan kesehatan swasta. tatalaksana kasus. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (K1 dan K4) Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya. Pada akhir tahun 1990-an secara konseptual telah diperkenalkan lagi upaya untuk menajamkan strategi dan intervensi dalam menurunkan AKI melalui Making Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2000. Upaya untuk mempercepat penurunan AKI telah dimulai sejak akhir tahun 1980-an melalui program Safe Motherhood Initiative yang mendapat perhatian besar dan dukungan dari berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri. test laboratorium (rutin dan khusus). pengukuran tinggi badan. menentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ). AKI sebesar 228 per 100. tekanan darah. dokter. pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan. 84% untuk cakupan pelayanan ibu hamil sesuai standar (K4). persalinan. Angka Kematian Ibu (AKI). Pelayanan antenatal yang sesuai standar meliputi timbang berat badan. a. Target Cakupan kesehatan ibu yang harus dicapai pada tahun 2009 masing-masing sebesar 94% untuk Akses Pelayanan Antenatal (cakupan ibu hamil K1). nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas).000 kelahiran hidup. Dewasa ini AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. serta temu wicara (konseling). dan Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan beberapa indikator status kesehatan masyarakat.mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungannya hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya. AKN 19 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1992 (SKRT). 60 .000 kelahiran hidup. bidan dan perawat. Sedangkan tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelayanan antenatal kepada ibu hamil antara lain dokter spesialis kebidanan. nifas dan perawatan bayi baru lahir yang diberikan di semua jenis fasilitas pelayanan kesehatan. serta KB pasca persalinan. Kebijakan tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir secara khusus berhubungan dengan pelayanan antenatal. Dalam upaya pencapaian MDG’s dan tujuan pembangunan kesehatan.

Namun. GAMBAR 4.6%.45% pada tahun 2009.1 memperlihatkan cakupan kunjungan K1 dan K4 pada ibu hamil selama enam tahun terakhir. berupa deteksi dini faktor risiko.1 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K1 DAN K4 DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. yaitu 6. dengan kata lain jika kesenjangan K1 dan K4 kecil maka hampir semua ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal 61 . Hasil pencapaian program pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan indikator cakupan K1 dan K4 yang dihitung dengan membagi jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan (untuk penghitungan indikator K1) atau jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali sesuai standar oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu (untuk penghitungan indikator K4) dengan jumlah sasaran ibu hamil yang ada di wilayah kerja dalam 1 tahun. pada tahun 2009 kesenjangan kembali meningkat menjadi 9%.09% pada tahun 2004 menjadi 94. Pada tahun 2004 terjadi selisih antara cakupan K1 dan K4 sebesar 11% kemudian tahun 2006 menjadi 10% dan pada tahun 2008 semakin kecil. namun pada tahun 2009 sedikit menurun dari 86. Ditetapkan pula bahwa distribusi frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan. Kesenjangan antara cakupan K1 dan K4 menunjukkan angka drop out K1-K4. Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan kepada ibu hamil. dengan ketentuan waktu pemberian pelayanan yang dianjurkan yaitu: minimal 1 kali pada triwulan pertama.51% pada tahun 2009. Sedangkan cakupan K4 pada tahun 2004-2008 cenderung meningkat.04% pada tahun 2008 menjadi 85. pencegahan dan penanganan komplikasi. dan 2 kali pada triwulan ketiga. 1 kali pada triwulan kedua.Pelayanan antenatal disebut lengkap apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan serta memenuhi standar tersebut. Terlihat bahwa cakupan K1 selama tahun 2004 sampai 2009 terus mengalami peningkatan dari 88. Gambar 4. Kemenkes RI Dari gambar tersebut di atas dapat dilihat kesenjangan yang terjadi antara cakupan K1 dan K4.

51%. yang menunjukkan pencapaian indikator K1 sebesar 94. diikuti provinsi Bangka Belitung (94. Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian K4 tertinggi (96. 62 . Kepulauan Bangka Belitung dan DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian K1 100%. Oleh karena itu perlu dilakukan percepatan peningkatan pelayanan kesehatan ibu di Provinsi Papua dan Sulawesi Barat.2 CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL (K1) TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. diikuti Papua Barat (55. yaitu sebesar 57. Sebanyak 18 provinsi telah mencapai target cakupan K4. hasil pencapaian indikator cakupan pelayanan K4 di Indonesia sebesar 85. Untuk lebih jelasnya.22%. sehingga kehamilannya dapat terus dipantau oleh petugas kesehatan. GAMBAR 4. Kemenkes RI Dari 33 provinsi di Indonesia.45% yang berarti telah mencapai target K4 tahun 2009 yang sebesar 84%.53%).11%) dan Jawa Tengah (93. dapat dilihat pada Gambar 4. kecuali provinsi Papua dan Sulawesi Barat dengan pencapaian masing-masing 57. yang berarti telah mencapai target K1 tahun 2009 yaitu sebesar 94%.3 di bawah ini.44%). Sedangkan Papua adalah provinsi dengan pencapaian K1 terendah. Sementara provinsi yang lainnya telah mencapai cakupan K1 tidak kurang dari 80%. Pada tahun 2009.39%).meneruskan hingga kunjungan keempat pada triwulan 3. Sedangkan Papua adalah provinsi dengan pencapaian K4 terendah (29.2 menyajikan hasil pencapaian cakupan K1 tahun 2009. 16 provinsi telah mencapai target cakupan K1 sebesar 94%.85%.04%).79%) dan Sulawesi Barat (57.85% dan 77. Gambar 4.

Papua Barat. 20 provinsi memiliki cakupan antara 75% .3 CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K4 TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Maluku. Provinsi-provinsi tersebut adalah NTT. Terlihat bahwa hanya 7 provinsi di Indonesia dengan cakupan K4 lebih dari 90%. Maluku Utara.90%.4 di bawah ini. Kemenkes RI 63 . Sebanyak 6 provinsi lainnya memiliki cakupan kurang dari 75% dan semuanya merupakan bagian dari Kawasan Timur Indonesia. dan Papua.GAMBAR 4. Sulawesi Barat.4 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K4 IBU HAMIL TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Kemenkes RI Sedangkan cakupan pelayanan K4 menurut provinsi dapat dilihat melalui Gambar 4. GAMBAR 4.

64 . where and why. Kematian saat bersalin dan 1 minggu pertama diperkirakan 60% dari seluruh kematian ibu (Maternal Mortality: who. GAMBAR 4.000 kelahiran hidup pada tahun 1992 (SKRT) serta meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menjadi 90% pada tahun 2015 dari 40. Sedangkan Papua merupakan provinsi dengan pencapaian Pn terendah (39. when.30%). Sedangkan dalam target MDG’s.75%) dan Sulawesi Barat (62.I Yogyakarta (95. Dari indikator cakupan Persalinan oleh Nakes tahun 2009. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan (Pn) Periode persalinan merupakan salah satu periode yang berkontribusi besar terhadap Angka Kematian Ibu di Indonesia. telah mencapai target K4 tahun 2009 yang sebesar 82%. diikuti Provinsi Maluku Utara (61.6 bahwa DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian tertinggi (100%). Kemenkes RI Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan (Pn) di Indonesia pada tahun 2009 yang sebesar 84. diikuti Provinsi Kepulauan Riau (96.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100. salah satu upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah menurunkan angka kematian ibu menjadi 102 per 100.24%) dan D.38%.7% pada tahun 1992 (BPS). Gambar 4.90%). Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan.5 memperlihatkan cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan sejak tahun 2004 sampai tahun 2009 yang cenderung meningkat. dapat dilihat pada Gambar 4.5 PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas.45%). Pada tahun 2009 cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia telah mencapai 84.b.38%. Lancet 2006).

serta peningkatan kualitas surveilans kesehatan ibu melalui pelaksanaan Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA). Persentase penolong kelahiran pada 65 .9%) pertolongan persalinan dilakukan di rumah dengan fasilitas seadanya. di antaranya adalah Kemitraan Bidan Dukun.6 PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. provinsi lainnya memiliki pencapaian kurang sama dengan 90%. masih terdapat penolong persalinan yang bukan tenaga kesehatan dan dilakukan di luar fasilitas pelayanan kesehatan. Sehingga dalam upaya peningkatan cakupan persalinan perlu dilakukan melalui upaya pelaksanaan program unggulan kesehatan ibu. masih terdapat 25.13% persalinan ditolong bukan oleh nakes dan lebih dari setengahnya (53.34% kelahiran pada balita ditolong oleh tenaga kesehatan.GAMBAR 4. Kenyataan di lapangan. model rumah tunggu di Kabupaten dengan Puskesmas di daerah terpencil untuk pencegahan terhadap komplikasi yang terjadi selama persalinan. Pada Gambar 4. Berdasarkan Susenas tahun 2008. Kemenkes RI Pada tahun 2009 sebanyak 19 provinsi di Indonesia telah mencapai target cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu 82%. Oleh karena itu secara bertahap diupayakan seluruh persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. peningkatan persalinan di fasilitas Kesehatan melalui jaminan program persalinan. revitalisasi Bidan Koordinator melalui pelaksanaan supervisi fasilitatif untuk peningkatan mutu dan kualitas tenaga penolong persalinan. sebesar 77. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2009.6 terlihat bahwa sebanyak 7 provinsi di Indonesia yang memiliki cakupan Pn di atas 90%.

c. persentase penolong kelahiran pada balita oleh tenaga kesehatan meningkat pada tahun 2009. 66 . dan Bali. Diupayakan kunjungan nifas ini dilakukan pada saat dilaksanakannya kegiatan di posyandu dan dilakukan bersamaan pada kunjungan bayi. persentase penolong kelahiran pada balita oleh tenaga kesehatan di atas 90% pada tahun 2009 adalah DKI Jakarta.balita yang tertinggi adalah oleh bidan (61. diikuti oleh dukun (21. nadi. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu: 1) kunjungan nifas pertama (KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari.7 PERSENTASE BALITA MENURUT PENOLONG KELAHIRAN TAHUN 2008-2009 Sumber : BPS.29%) dan dokter (15. 4) pemberian kapsul Vitamin A 200.48%).21%). Pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan meliputi: 1) pemeriksaan tekanan darah.2. 3) pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan. Dibandingkan dengan hasil survei yang sama pada tahun 2008.000 IU sebanyak dua kali (2 x 24 jam). dan Sulawesi Barat (47.7 berikut ini. Maluku Utara (47. 2) kunjungan nifas ke-2 (KF2) dilakukan pada minggu ke-2 setelah persalinan. Perbandingan persentase penolong persalinan antara tahun 2008 dan 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. Susenas Berdasarkan provinsi.24%). 2) pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya.28%). DI Yogyakarta. Persentase balita menurut penolong kelahiran dan provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4. dan 3) kunjungan nifas ke-3 (KF3) dilakukan minggu ke-6 setelah persalinan. dan 5) pelayanan KB pasca persalinan. respirasi dan suhu. GAMBAR 4. Sedangkan yang terendah adalah Provinsi Maluku (42.45%). Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas (KF3) Pelayanan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan.

GAMBAR 4. Sebanyak 14 Provinsi memiliki cakupan kunjungan ibu nifas 3 kali sebesar 50% . ibu hamil yang memiliki risiko tinggi (risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan.15%). Dari 30 provinsi yang melaporkan data. ketiga provinsi tersebut bahkan telah mencapai cakupan 90% (target SPM tahun 2015). Provinsi dengan cakupan terendah adalah Riau (16.8 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN IBU NIFAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. d.52%). Penanganan Komplikasi Obstetri dan Neonatal Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh tenaga bidan di desa dan Puskesmas. Berdasarkan provinsi. dan Kalimantan Barat (40.51%).54%.8 berikut ini menyajikan persentase pelayanan ibu nifas menurut provinsi di Indonesia. maka kasus tersebut perlu dilakukan upaya rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Kalimantan Timur (36. Kemenkes RI Cakupan kunjungan ibu nifas rata-rata pada tahun 2009 adalah 71.75%. 67 .54%).Gambar 4. Sementara target cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2015 adalah 90%. Bali merupakan provinsi dengan pencapaian cakupan KF3 tertinggi (101. kemudian Kep.54%). Bangka Belitung (94. karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan.67%) dan Jawa Timur (93.

Neonatus risti/komplikasi yang ditangani adalah neonatus risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih yaitu dokter dan bidan di polindes. infeksi berat/sepsis. diastole > 90 mmHg). yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg. dan persalinan prematur. Seluruh provinsi belum mencapai cakupan penanganan komplikasi kebidanan 80%.9 memperlihatkan cakupan penanganan komplikasi kebidanan menurut provinsi pada tahun 2009. ketuban pecah dini. perdarahan per vaginam. rumah bersalin dan rumah sakit. puskesmas.82%. letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu.8%. Sementara target standar pelayanan minimal bidang kesehatan untuk indikator tersebut yang harus dicapai pada tahun 68 . sindroma gangguan pernafasan dan kelainan neonatal. Risti/komplikasi kebidanan meliputi Hb < 8 g%. Pada tahun 2009 cakupan penanganan neonatal komplikasi yang dilaporkan sebesar 23. Gambar 4. sepsis. letak sungsang pada primigravida. Bahkan sebagian besar provinsi memiliki cakupan kurang dari 50%. oedeme nyata.9 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. trauma lahir.500 gram). GAMBAR 4.Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal. tetanus neonatorum. BBLR (Berat Badan Lahir < 2. dengan kisaran cakupan antar provinsi yang cukup lebar. kecuali Provinsi Jawa Timur yang mencapai 84. eklampsia. Kemenkes RI Neonatus risti/komplikasi meliputi asfiksia.

Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal tiga kali. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi. petugas kesehatan di samping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. Gambaran cakupan penanganan komplikasi neonatal per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.2%. Kemenkes RI Pencapaian cakupan penanganan neonatal komplikasi tertinggi adalah NTT 76. yaitu pada 6 jam . Kunjungan Neonatal Bayi sampai umur 28 hari merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. pada hari ke 3 – 7 hari.2010 yaitu 80%. pencegahan hipotermia. e. dan Sulawesi Tenggara.3% dan DIY 58%. pencegahan infeksi berupa perawatan mata. pemberian ASI dini dan eksklusif. Maluku. Sedangkan cakupan terendah adalah provinsi Maluku Utara.48 jam setelah lahir.10 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binakesmas.10 berikut ini GAMBAR 4. dan hari ke 8 – 28 hari. tali 69 . Dalam melaksanakan pelayanan neonatal. Sulawesi Utara 63.

11 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL (KN1) MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binakesmas. masih belum mencapai target yang diharapkan yaitu 82%.12 berikut ini. cakupan terendah adalah Provinsi Papua Barat 30%.8%.6%.5%.11 memperlihatkan cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) per provinsi di Indonesia tahun 2009. Semenjak tahun 2006 hingga 2008 cakupan KN2 selalu di atas 75%. Kemenkes RI Terdapat disparitas yang sangat lebar antar provinsi. Gambar 4. Manajemen Terpadu Balita Muda (MTBM). GAMBAR 4. kulit dan pemberian imunisasi). Maluku Utara 31%. Pencapaian target pelayanan kesehatan bayi berdasarkan laporan rutin tahun 2009 yaitu cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) yang sebesar 80. Kep.pusat. dan Jawa Tengah 94. Babel 99. dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA. pemberian vitamin K.7%. 70 .6%. Sebanyak 13 dari 33 provinsi di Indonesia telah mencapai target. cakupan KN1 tertinggi adalah Provinsi Bali 99. dan Papua 32. Kecenderungan cakupan kunjungan neonatal 2 kali (KN2) tahun 2003-2008 dapat dilihat pada Gambar 4.

Kemenkes RI Sejak tahun 2008 terjadi perubahan kebijakan waktu pelaksanaan kunjungan dari semula minimal 2 kali menjadi 3 kali. sementara cakupan yang dicapai baru sebesar 69.GAMBAR 4. GAMBAR 4.12 PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL (KN2) DI INDONESIA TAHUN 2003 – 2008 Sumber: Ditjen Binkesmas. yang mulai disosialisasikan pada tahun 2008. Pada tahun 2009 target cakupan kunjungan neonatal lengkap (KN Lengkap) adalah sebesar 75%.7%. Provinsi-provinsi yang telah mencapai target dapat dilihat pada Gambar 4.13 PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI 71 .13 berikut ini.

Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam melindungi bayi sehingga kesehatannya terjamin melalui penyediaan pelayanan kesehatan.5%. yaitu satu kali pada umur 29 hari-3 bulan. dan Banten. tempat penitipan anak. Provinsi dengan cakupan KN Lengkap tertinggi adalah Provinsi Bali 99. dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan kunjungan bayi umur 29 hari – 11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes. puskesmas. posyandu. dan Campak). 1 kali pada umur 3-6 bulan. rumah bersalin dan rumah sakit) maupun di rumah. DPT/ HB1-3. Kalimantan Barat 23. Sedangkan cakupan terendah adalah provinsi Kalimantan Tengah 21. stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi. sementara target SPM Kesehatan yang harus dicapai pada tahun 2010 sebesar 90%.14 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Kep. Kemenkes RI 72 . Polio 1-4. Jawa Timur. Jawa Tengah. Cakupan pelayanan kesehatan bayi per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.3% dan Jawa Timur 92. Sebanyak 4 provinsi telah mencapai target yaitu Bali. dan 1 kali pada umur 9-11 bulan. Pada tahun 2009 cakupan pelayanan kesehatan bayi sebesar 81. pustu. panti asuhan dan sebagainya melalui kunjungan petugas kesehatn.Sebanyak 17 provinsi telah mencapai target cakupan KN Lengkap sebesar 75%. Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG. 1 kali pada umur 6-9 bulan.3% dan Kepulauan Riau 28%. f.8%. Bangka Belitung 95. GAMBAR 4.2%. Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali dalam setahun.14 berikut ini.4%.

8%.05%.8%. sehingga provinsi yang memiliki wilayah sulit dijangkau mempunyai cakupan yang relatif rendah. Bali 79.5%.15 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Cakupan terendah adalah provinsi Papua Barat 21. Sulawesi Utara 71% dan Sumatera Barat 70.Cakupan kunjungan bayi tertinggi adalah provinsi Bali 100.15 berikut: GAMBAR 4. yaitu Provinsi Jambi 92.1%. 73 . Bengkulu. Cakupan pelayanan kesehatan anak balita per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4. dan Kalimantan Tengah.4% dan Papua 27%. Pelayanan Kesehatan pada Balita Pada tahun 2009 cakupan pelayanan kesehatan anak balita (1 .5%. dari 31 provinsi yang menyampaikan laporan sebanyak 6 provinsi yang mencapai target 70%. Pencapaian target cakupan kunjungan bayi sangat dipengaruhi oleh keaktifan posyandu tiap bulannya dan partisipasi keluarga untuk membawa bayi ke posyandu. Maluku Utara 23. Jawa Timur dan Jawa Tengah 92.4%. Sulawesi Tengah 82. Sumatera Utara 80.7%. Kemenkes RI Pencapaian cakupan pelayanan kesehatan anak balita. g.9%. Provinsi dengan cakupan terendah adalah DI Yogyakarta. sementara target yang harus dicapai 70%.4 tahun) sebesar 52.

8%.1%.8 % siswa SD menderita kecacingan.8% dan anak di atas usia 12 tahun adalah 43. mencuci tangan menggunakan sabun. sebesar 1. Hasil survei kecacingan 2009 oleh Ditjen P2PL menyebutkan 31. GAMBAR 4. Gambar 4. Beberapa masalah kesehatan yang sering dialami anak usia sekolah adalah karies gigi.9%.6% pada anak usia 10-14 tahun. Kemenkes RI 74 . Pelayanan Kesehatan Pada Siswa SD dan setingkat Berbagai data menunjukkan bahwa masalah kesehatan anak usia sekolah semakin kompleks.1% dan anak di atas usia 12 tahun sebanyak 72.1%. sebesar 21. Sedangkan anak usia 12 tahun dengan karies gigi sebanyak 36.2% mengalami kebutaan. Berdasarkan hasil Riskesdas 2007 disebutkan bahwa untuk masalah kesehatan mata.8% adapun yang obesitas 10. Pada anak usia sekolah dasar biasanya berkaitan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti menggosok gigi dengan baik dan benar. kelainan refraksi/ketajaman penglihatan dan masalah gizi. Angka anemi pada anak usia <14 tahun 9. Untuk status gizi pada anak usia >15 tahun.16 memperlihatkan persentase murid SD kelas satu yang mendapatkan pelayanan kesehatan. yang kurus 14. pada perempuan 19. kecacingan.6% terjadi pada anak usia 5-9 tahun dan 20.h. Untuk proporsi masalah kesehatan gigi dan mulut.3%.1% anak usia 6-14 tahun mengalami kelainan refraksi dan 0.16 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN MURID KELAS SATU SD/SETINGKAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas.7% dan pada laki-laki 13. Sementara karies gigi aktif yang terjadi pada anak usia 12 tahun adalah 29. sementara pada anak usia >15 tahun.

Provinsi dengan capaian cakupan penjaringan murid SD dan setingkat tertinggi adalah
Jawa Barat (97,1%), Jawa Timur (90,1%), dan DI Yogyakarta (86%). Sedangkan yang
terendah adalah Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan NTT. Pencapaian nasional tahun
2009 sebesar 67,8%.
2. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
Menurut hasil penelitian, usia subur seorang wanita biasanya antara 15 – 49 tahun.
Oleh karena itu untuk mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran,
wanita/pasangan ini lebih diprioritaskan untuk menggunakan alat/cara KB.
Tingkat pencapaian pelayanan keluarga berencana dapat dilihat dari cakupan peserta
KB yang sedang/pernah menggunakan alat kontrasepsi, tempat pelayanan KB, dan jenis
kontrasepsi yang digunakan akseptor. Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus menikah
(pasangan usia subur/PUS) yang sedang dan yang pernah menggunakan/memakai alat KB
dapat dilihat pada Gambar 4.17 berikut ini.
GAMBAR 4.17
PROPORSI WANITA BERUMUR 15-49 TAHUN BERSTATUS KAWIN
YANG SEDANG DAN YANG PERNAH MENGGUNAKAN ALAT KB
TAHUN 2004-2008

Sumber : BPS, Susenas 2008

Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus kawin yang sedang menggunakan/
memakai alat KB menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2008 sebesar 56,62%, tidak
banyak mengalami perkembangan sejak tahun 2004. Berdasarkan data BKKBN, pada tahun
2009 peserta KB aktif sebesar 75,70%. Gambar 4.18 menyajikan persentase peserta KB aktif
menurut provinsi.

75

GAMBAR 4.18
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT PROVINSI
TAHUN 2009

Sumber : BKKBN

Provinsi dengan persentase peserta KB aktif tertinggi adalah Bengkulu (85,5%), Bali
(85,1%), dan DKI Jakarta (82%). Sedangkan persentase peserta KB aktif terendah adalah
Papua (33,9%), Maluku Utara (59,5%), dan Kepulauan Riau (64,3%).
Persentase peserta KB aktif menurut metode kontrasepsi yang sedang digunakan tahun
2009 terlihat dalam Gambar 4.19 berikut ini. Pada tahun 2009 suntikan dan Pil KB masih
banyak diminati sebagai alat KB oleh pasangan usia subur yaitu masing-masing sebesar
50,2% dan 28,3%. Sebaliknya, MOP (Metode Operasi Pria) dan MOW (Metode Operasi
Wanita) merupakan metode kontrasepsi yang terendah diminati oleh para akseptor KB.
GAMBAR 4.19
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI
TAHUN 2009

Sumber: BKKBN

76

Berdasarkan metode kontrasepsi menurut provinsi, alat kontrasepsi dalam rahim
(AKDR/IUD) banyak digunakan di Provinsi Bali dan DI Yogyakarta dengan persentase jauh
di atas provinsi yang lain yaitu masing-masing 47,88% dan 25,44%, sementara untuk
persentase terendah pemakaian IUD adalah 1,78% di Kalimantan Selatan dan persentase
nasional adalah 4,3%. Begitu pula untuk metode MOW kedua provinsi tersebut relatif lebih
tinggi dibandingkan provinsi lainnya yaitu 3,79% (Bali) dan 5,10% (DI Yogyakarta). Rincian
persentase KB aktif menurut metode kontrasepsi dan provinsi terdapat pada Lampiran 4.8.
Persentase tempat pelayanan peserta KB baru tahun 2006-2009 dapat dilihat pada
gambar berikut ini.
GAMBAR 4.20
PERSENTASE TEMPAT PELAYANAN PESERTA KB BARU
DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2009

Sumber : BKKBN

Sesuai dengan data BKKBN, tempat pelayanan peserta KB baru pada tahun 2009 tidak
jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyak peserta KB baru yang memanfaatkan
klinik KB pemerintah sebagai tempat pelayanan KB (62,94%). Selain klinik KB pemerintah,
sebesar 29,65% peserta KB baru memanfaatkan bidan praktek swasta sebagai tempat
pelayanan KB.
Berdasarkan provinsi, terdapat 4 provinsi dengan pemanfaatan klinik KB pemerintah
sebagai tempat pelayanan KB lebih dari 90%, yaitu NTT (97,61%), Maluku Utara (92,73%),
Sulawesi Tenggara (92,05%), dan Sulawesi Tengah (90,69%). Sebaliknya, di Provinsi DI
Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Bali pemanfaatan klinik KB pemerintah sangat rendah, bahkan
kurang dari 40%. Ketiga provinsi tersebut lebih banyak memanfaatkan pelayanan KB swasta.
Data lebih rinci proporsi KB Baru menurut tempat pelayanan KB dan provinsi dapat dilihat
pada Lampiran 4.9.

77

3. Pelayanan Imunisasi
Bayi dan anak-anak memiliki risiko yang lebih tinggi terserang penyakit menular yang
dapat mematikan, seperti: Difteri, Tetanus, Hepatitis B, Typhus, radang selaput otak, radang
paru-paru, dan masih banyak penyakit lainnya. Untuk itu salah satu pencegahan yang terbaik
dan sangat vital agar kelompok berisiko ini terlindungi adalah melalui imunisasi.
Pada saat pertama kali kuman (antigen) masuk ke dalam tubuh, maka sebagai
reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi. Pada umumnya, reaksi
pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat, karena tubuh belum mempunyai
"pengalaman." Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai
memori untuk mengenali antigen tersebut sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam
waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak. Itulah sebabnya, pada beberapa
jenis penyakit yang dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini
dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut, atau
seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal.
Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah
pemberian kuman atau kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk
merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah imunisasi Polio atau
Campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar
antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum)
pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi
yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui
darah plasenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap Tetanus dan Campak.
a. Imunisasi Dasar pada Bayi
Program imunisasi dasar lengkap (LIL/Lima Imunisasi dasar Lengkap) pada bayi
meliputi: 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B, dan 1 dosis Campak.
Di antara penyakit pada balita yang dapat dicegah dengan imunisasi, campak adalah
penyebab utama kematian pada balita. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor
penting dalam mengurangi angka kematian balita. Dari beberapa tujuan yang disepakati
dalam pertemuan dunia mengenai anak, salah satunya adalah mempertahankan cakupan
imunisasi campak sebesar 90%. Target tersebut sejalan dengan target Renstra Kemenkes RI
yang menetapkan target cakupan imunisasi campak 90% pada tahun 2014. Di seluruh negara
ASEAN dan SEARO, imunisasi Campak diberikan pada bayi umur 9-11 bulan dan
merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada bayi di antara imunisasi wajib lainnya.
Pada tahun 2009, Indonesia telah mencapai cakupan imunisasi campak sebesar
92,09%. Dengan demikian Indonesia telah mampu mencapai target imunisasi campak yang
78

telah ditetapkan oleh WHO dan target Renstra Kementerian Kesehatan RI tahun 2014. Angka
tersebut meningkat dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 90,5%.
Gambar 4.21 berikut ini adalah peta cakupan imunisasi campak menurut provinsi
tahun 2009.
GAMBAR 4.21
PERSENTASE PENCAPAIAN IMUNISASI CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI

Dari 33 provinsi di Indonesia, 18 provinsi telah mencapai cakupan imunisasi campak
≥ 90%, 8 provinsi mencapai cakupan 80%-89,99%, dan 7 provinsi lainnya masih di bawah
80%, bahkan ada yang baru mencapai cakupan 65,64%. Dibandingkan tahun 2008 yang
terdapat 14 provinsi dengan cakupan imunisasi campak ≥ 90%, pada tahun 2009 terjadi
peningkatan cakupan provinsi yang mencapai target. Cakupan tertinggi dicapai DKI Jakarta,
DI Yogyakarta, dan Bali. Ketiga provinsi tersebut telah berhasil mencapai cakupan imunisasi
campak sebesar 100%. Sedangkan cakupan terendah adalah di Papua Barat (65,64%), Maluku
(72,76%), dan Riau (73,78%). Data mengenai cakupan imunisasi dasar pada bayi menurut
provinsi tahun 2009 terdapat pada Lampiran 4.11.
Menurut hasil Riskesdas 2007, pendidikan dan pengeluaran per kapita berhubungan
dengan persentase anak umur 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar termasuk juga
campak. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga maka semakin tinggi pula anak
mendapat imunisasi. Begitu pula dengan pengeluaran per kapita, bahwa semakin tinggi
tingkat pengeluaran per kapita semakin tinggi pula anak mendapat imunisasi dasar. Persentase
di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan. Tabel 4.1 berikut ini menjelaskan hubungan
tersebut.

79

TABEL 4.1
PERSENTASE ANAK UMUR 12-23 BULAN YANG MENDAPATKAN IMUNISASI DASAR
MENURUT KARAKTERISTIK RESPONDEN, 2007
Karakteristik responden

BCG

Polio3

Tipe daerah
Perkotaan
92,4
Perdesaan
83,5
Pendidikan Kepala Keluarga
Tidak sekolah
78,6
Tidak tamat SD
79,3
Tamat SD
84,8
Tamat SMP
88,4
Tamat SMA
92,4
Tamat PT
95,7
Tingkat pengeluaran per kapita
Kuintil 1
83,0
Kuintil 2
85,7
Kuintil 3
87,2
Kuintil 4
89,6
Kuintil 5
91,9
Sumber: Balitbangkes Kemenkes RI, Riskesdas 2007

Jenis imunisasi
DPT3
HB3

Campak

78,7
66,2

74,9
63,1

71,0
57,3

86,0
78,8

61,9
62,4
67,4
71,6
79,7
82,6

54,0
59,1
63,3
68,2
76,9
81,8

50,5
53,7
57,5
62,8
72,3
75,9

71,6
74,1
78,2
82,3
88,6
93,1

66,6
68,1
72,8
73,6
77,6

62,9
64,7
69,1
71,0
74,7

58,7
59,7
63,2
65,5
70,9

78,1
78,5
83,1
84,3
86,8

Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proksi
terhadap cakupan atas imunisasi dasar secara lengkap pada bayi (0 -11 bulan). Desa UCI
merupakan gambaran desa/kelurahan dengan ≥ 80% jumlah bayi yang ada di desa tersebut
sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun. Target UCI tahun 2009
adalah 98%. Sedangkan standar pelayanan minimal menetapkan target 100% desa/kelurahan
UCI pada tahun 2010 untuk setiap kabupaten/kota.
Gambar 4.22 berikut menyajikan persentase desa/kelurahan UCI yang belum
menunjukkan perkembangan yang bermakna selama enam tahun terakhir. Pencapaian
tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 76,23%. Capaian tahun 2009 hanya sebesar
69,76% desa/kelurahan UCI di Indonesia, lebih rendah dibandingkan tahun 2008 yang sebesar
74,02%. Provinsi dengan capaian desa/kelurahan UCI tertinggi sekaligus mencapai target
cakupan desa/kelurahan UCI tahun 2009 (98%) adalah DKI Jakarta (100%), Bali (99,58%),
dan DI Yogyakarta (98,63%). Sementara 6 provinsi memiliki cakupan desa/kelurahan UCI
<50%, yaitu Papua Barat (21,15%), Papua (23,14%), Aceh (37,97%), Sulawesi Tenggara
(38,61%), Sulawesi Barat (42,11), dan Lampung (44,86). Rincian capaian desa/kelurahan UCI
menurut provinsi tahun 2007-2009 terdapat pada Lampiran 4.10.

80

Kemenkes RI Idealnya.23. Selama enam tahun terakhir.2%.GAMBAR 4. Rincian tentang angka drop out menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4.CAMPAK PADA BAYI DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. sebagian anak tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Kemenkes RI 81 . Diasumsikan bayi yang mendapat imunisasi campak telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.23 ANGKA DROP OUT CAKUPAN IMUNISASI DPT1Hb . seorang anak mendapatkan seluruh imunisasi dasar sesuai umurnya. sehingga kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dapat optimal. provinsi dengan angka drop out terendah adalah DI Yogyakarta dan yang tertinggi adalah Maluku. Angka drop out di Indonesia tahun 2009 sebesar 5. Anak-anak inilah yang disebut dengan drop out imunisasi.22 PERSENTASE PENCAPAIAN UCI DI TINGKAT DESA/KELURAHAN DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Sebaliknya. GAMBAR 4.12. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 4. Imunisasi DPT1Hb adalah jenis imunisasi yang pertama kali diberikan pada bayi. Untuk itu maka angka drop out imunisasi bayi dapat diketahui dengan perhitungan yang didasarkan atas persentase penurunan cakupan imunisasi campak terhadap cakupan imunisasi DPT1-Hb. angka drop out nasional paling rendah terjadi pada tahun 2005 yaitu 1. imunisasi campak adalah imunisasi dasar yang terakhir diberikan pada bayi.4%. Namun kenyataannya.

Strategi yang dilakukan untuk mengeliminasi tetanus neonatorum dan maternal adalah 1) pertolongan persalinan yang aman dan bersih. Hal inilah yang bisa menimbulkan risiko ibu maupun bayinya terkena tetanus. Namun sejak dua tahun terakhir terjadi peningkatan cakupan imunisasi TT2+. Gambar 4. 2) cakupan imunisasi rutin TT yang tinggi dan merata.9% pada tahun 2008. Akan tetapi masih banyak calon ibu di masyarakat terutama yang tinggal di daerahdaerah terpencil berada dalam kondisi yang bisa disebut masih "jauh" dari kondisi steril saat persalinan. dan 3) penyelenggaraan surveilans.24 CAKUPAN TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL.52% pada tahun 2009. kemudian meningkat lagi menjadi 62. GAMBAR 4.25 82 . Imunisasi pada Ibu Hamil Tetanus disebabkan oleh toksin yang diproduksi oleh bakteri yang disebut Clostridium tetani.02%) dan terendah adalah Papua (8.24 terlihat keadaan cakupan imunisasi TT2 selama tahun 2003-2007 tidak mengalami perkembangan.56%). Beberapa permasalahan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada wanita usia subur yaitu pelaksanaan skrining yang belum optimal. Kemenkes RI Pada tahun 2009 provinsi dengan cakupan ibu hamil yang mendapat imunisasi TT2+ tertinggi adalah Provinsi Bali (101. dan cakupan imunisasi TT2 bumil jauh lebih rendah dari cakupan K4. bahkan cenderung menurun. Tetanus juga bisa menyerang pada bayi baru lahir (Tetanus Neonatorum) pada saat persalinan dan perawatan tali pusat. pencatatan yang dimulai dari kohort WUS (baik kohort ibu maupun WUS tidak hamil) belum seragam. Maternal and Neonatal Tetanus Elimination (MNTE) merupakan program eliminasi tetanus pada neonatal dan wanita usia subur termasuk ibu hamil. Dari Gambar 4. Tetanus merupakan salah satu penyebab kematian bayi di Indonesia.b. dari 26% pada tahun 2007 menjadi 42.

1. Indikator Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit biasanya dilihat dari berbagai segi yaitu tingkat pemanfaatan sarana. Berdasarkan data Ditjen Pelayanan Medik. yang salah satunya dengan imunisasi TT. persentase pasien keluar yang meninggal (Gross Death Rate/GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal ≥ 48 jam perawatan (Net Death Rate/NDR). rata-rata tempat tidur dipakai (Bed Turn Over/BTO). rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (Turn of Interval/TOI). NTT. yaitu T1-T5. tingkat pemanfaatan tempat tidur (BOR) di rumah sakit umum (yang dikelola Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Daerah) selama enam tahun terakhir cenderung meningkat setiap tahunnya walaupun pada tahun 2003-2006 83 . pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di kelas III di rumah sakit. mutu dan tingkat efisiensi pelayanan. dan lain-lain. Kemenkes RI Beberapa langkah yang perlu segera dilakukan adalah sosialisasi ke seluruh petugas lapangan agar mengacu pada kriteria Antenatal Care (ANC) berkualitas. rata-rata lama hari perawatan (Length of Stay/LOS). B. Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR).memperlihatkan bahwa dari 33 provinsi di Indonesia hanya 3 provinsi yang berhasil mencapai cakupan imunisasi TT2+ pada ibu hamil >80% yaitu Bali. Sebanyak 20 provinsi lainnya memiliki capaian <60%. cakupan pelayanan gawat darurat. Sedangkan provinsi dengan capaian 60%-80% sebanyak 10 provinsi. GAMBAR 4.25 CAKUPAN TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PPPL. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN Beberapa kegiatan pokok upaya kesehatan perorangan adalah peningkatan pelayanan kesehatan rujukan. dan Banten. dan semua sistem pencatatan dalam pelaksanaan imunisasi TT WUS termasuk ibu hamil memakai sistem pencatatan yang sama.

Dari 33 provinsi. Pada tahun 2009 BTO rumah sakit belum mencapai angka ideal. Data tentang pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit umum yang dikelola oleh swasta. yaitu Bali (45.26 berikut ini.8% pada tahun 2008 turun menjadi 58. Namun pada tahun 2009 BOR mengalami penurunan yang cukup besar. apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Idealnya dalam satu tahun. Gambar 4. TNI/POLRI.27 memperlihatkan rata-rata LOS nasional di rumah sakit umum selama tahun 2003-2009 yang berkisar antara 484 .7 kali) dan Jambi (43. Pada tahun 2007 dan 2008 BOR nasional telah mencapai angka ideal. satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali. Padahal selama enam tahun sebelumnya BTO di rumah sakit selalu berada pada kisaran 40-50 kali. berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Secara umum nilai LOS yang ideal antara 6-9 hari. LOS adalah rata-rata lama rawat (hari) seorang pasien.4 kali). Indikator ini di samping memberikan gambaran tingkat efisiensi. yaitu hanya sebesar 25 kali.7% pada tahun 2009. juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan. sebanyak 17 provinsi telah mencapai BOR ideal.26 PENCAPAIAN BOR DAN BTO RSU KEMENKES DAN PEMDA DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik. Tingkat pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit sejak tahun 2003-2009 dapat dilihat pada Gambar 4. Kemenkes RI Keterangan: BOR = Bed Occupation Rate/persentase pemanfaatan tempat tidur BTO = Bed Turn Over/rata-rata tempat tidur dipakai selama setahun BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode (biasanya satu tahun).belum mencapai angka ideal yang diharapkan (yaitu 60-85%). hanya 2 provinsi yang mencapai BTO ideal. dan BUMN lainnya tidak tersedia. Hal itu berarti jumlah rumah sakit di Indonesia untuk masing-masing provinsi relatif mencukupi kemampuannya dalam menyediakan tempat tidur bagi pasien rawat inap. Sementara tidak ada satu provinsi pun yang memiliki BOR lebih tinggi dari 85%. GAMBAR 4. Dari 31 provinsi yang menyampaikan data. dari 79.

000 pasien keluar.5 kematian per 1. Jawa Timur (49. Berdasarkan provinsi.5. Hanya pada tahun 2007 dan 2008 TOI mencapai angka ideal 1-3 hari.3 hari dan belum mencapai angka ideal.000 pasien keluar rumah sakit. Pada tahun 2009 angka GDR di Indonesia sebesar 36.8). GAMBAR 4. 85 . hanya Bali (2 hari) dan Jambi (2. Berdasarkan provinsi.27 PENCAPAIAN LOS DAN TOI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.3 hari. Kalimantan Barat memiliki LOS tertinggi (5. Dari 31 provinsi yang menyampaikan laporan.5).6 hari) yang memiliki TOI ideal. yaitu Sumatera Utara (52).2). Bangka Belitung memiliki LOS terendah (3. GDR adalah angka kematian umum untuk setiap 1.3 hari tempat tidur tidak terisi.000 penderita keluar dari rumah sakit. TOI adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah digunakan sampai saat digunakan kembali (rata-rata lama tempat tidur kosong antar pasien satu dengan pasien berikutnya). Nilai ideal GDR adalah < 45 per 1. tidak melihat berapa lama pasien berada di rumah sakit dari masuk sampai meninggal.000 pasien keluar. Selama tahun 2003-2009 TOI di rumah sakit berkisar antara 2.1 hari). Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari. Sumatera Barat (48. Pada tahun 2009 angka TOI tempat tidur rumah sakit di Indonesia memiliki selang waktu 6. dan Sulawesi Barat (48.9-6. Kemenkes RI Keterangan: LOS = Length of Stay/rata-rata hari rawat seorang pasien TOI = Turn over Interval/rata-rata tempat tidur tidak dipakai antar dua episode pemakaian Indikator pelayanan rumah sakit yang lain adalah TOI.6 hari) dan Kep. 4 provinsi memiliki GDR > 45 per 1. Pada GDR.

2. Namun jika pasien meninggal kurang dari 48 jam masa perawatan.GAMBAR 4. Dengan demikian NDR telah mencapai angka ideal yaitu < 25 per 1. Asumsinya jika pasien meninggal setelah mendapatkan perawatan 48 jam berarti ada faktor pelayanan rumah sakit yang terlibat dengan kondisi meninggalnya pasien.6 per 1. dianggap faktor keterlambatan pasien datang ke rumah sakit yang menjadi penyebab utama pasien meninggal. Nilai NDR yang ideal adalah < 25 per 1. dan telah memberikan banyak manfaat bagi peningkatan akses pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan hampir miskin di puskesmas dan jaringannya serta pelayanan kesehatan di rumah sakit.000 PASIEN KELUAR RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik. NDR sejak tahun 2003 hingga 2009 berada pada kisaran 18-23. Melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu. Kemenkes RI Keterangan: NDR = Net Death Rate (per 1. Program ini telah berjalan lima tahun.000 pasien keluar.000 pasien keluar) NDR adalah angka kematian pasien setelah dirawat ≥ 48 jam per 1. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tujuan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yaitu untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan hampir miskin agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.000 pasien keluar.000 pasien keluar. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit. menurunkan angka kematian bayi dan balita serta menurunkan angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan bagi masyarakat miskin umumnya. Sejak tahun 2005 hingga 2007 sasaran Jamkesmas (yaitu jumlah orang miskin dan hampir miskin) terus bertambah kecuali sejak tahun 2007-2009 dengan jumlah sasaran sama 86 .28 PENCAPAIAN NDR DAN GDR PER 1.000 pasien keluar.000 pasien keluar) GDR = Gross Death Rate (per 1.

Provinsi dengan jumlah sasaran terbesar adalah Jawa Tengah. 7% rumah sakit TNI/POLRI.234 unit. dan Jawa Timur. polindes/poskesdes. Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) Jamkesmas terdiri dari pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan tingkat lanjut. dan 4% balai pengobatan seperti yang terlihat pada Gambar 4. Angka tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 26. Kemenkes RI Pada tahun 2009. Pemberi pelayanan kesehatan dasar Jamkesmas adalah seluruh puskesmas dan jaringannya (pustu.4 juta jiwa.yaitu 76. 87 .20.4 juta sasaran masyarakat miskin dan hampir miskin.22 juta jiwa. Gambar 4. Jawa Barat. GAMBAR 4. pusling) yang berjumlah 8.30.60 juta memanfaatkan sarana kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama dan tingkat lanjut.29 berikut ini menyajikan realisasi program JPKM tahun 2005-2009. Sedangkan pemberi pelayanan kesehatan Jamkesmas tingkat lanjut pada tahun 2008 berjumlah 920 dengan rincian sebagai berikut: 56% rumah sakit pemerintah.29 REALISASI PROGRAM JPKM TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.19. Rincian kujungan rawat jalan tingkat pertama dan tingkat lanjut menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4.18 dan 4. sebanyak 23. 33% rumah sakit swasta. Sedangkan jumlah kunjungan rawat inap tingkat lanjut dapat dilihat pada Lampiran 4. dari 76.

4. Pengendalian Penyakit Polio Pada tahun 1988. melainkan mempunyai arti yang lebih luas lagi. Sifat virus polio yang tidak tahan lama hidup di lingkungan. Dasar pemikiran Eradikasi Polio adalah: 1. di mana Indonesia turut menandatangani kesepakatan tersebut. 3. Jika di provinsi lain. sidang ke-41 WHA (World Health Assembly) telah menetapkan program eradikasi polio secara global (global polio eradication initiative) yang ditujukan untuk mengeradikasi penyakit polio pada tahun 2000. C. Pengertian Eradikasi Polio adalah apabila tidak ditemukan virus polio liar indigenous selama 3 tahun berturut-turut di suatu region yang dibuktikan dengan surveilans AFP yang sesuai standar sertifikasi. namun di tiga provinsi tersebut mencapai lebih dari 10 juta jiwa. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT 1. 2. Jawa Tengah. Manusia satu-satunya reservoir dan tidak ada longterm carrier pada manusia. dan Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah PPK tertinggi untuk pelayanan tingkat lanjut. Besarnya jumlah PPK di tiga provinsi tersebut juga disebabkan tingginya jumlah sasaran Jamkesmas.30 PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN JAMKESMAS TINGKAT LANJUT TAHUN 2008 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. Eradikasi dalam hal ini bukan sekedar mencegah terjadinya penyakit polio. 115. yaitu masing-masing 140.GAMBAR 4. yaitu menghentikan terjadinya transmisi virus polio liar di seluruh dunia. Tersedianya vaksin yang mempunyai efektivitas > 90% dan mudah dalam pemberian. Kesepakatan ini diperkuat oleh sidang World Summit for Children pada tahun 1989. jumlah anggota masyarakat miskin dan hampir miskin kurang dari 5 juta jiwa (bahkan beberapa di antaranya kurang dari 1 juta jiwa). Kemenkes RI Provinsi Jawa Barat. 88 . dan 80 PPK. Layak dilaksanakan secara operasional.

Gambar 4. Dengan demikian sejak tahun 2003 hingga 2009 spesimen adekuat telah sesuai standar. akan dilakukan pemeriksaan spesimen tinja untuk mengetahui ada tidaknya virus Polio liar yang menyerang masyarakat. 89 . secara nasional diperoleh gambaran seperti terlihat pada Gambar 4. Kemenkes RI Setiap kasus AFP yang ditemukan dalam kegiatan intensifikasi surveilans.31 menunjukkan bahwa persentase spesimen adekuat yang dikirim untuk pemeriksaan virus Polio semakin meningkat. dengan demikian hasil pemeriksaan yang dilakukan menjadi semakin mewakili kondisi di lapangan. Sedangkan untuk standar spesimen adekuat adalah >80%. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit Polio telah dilakukan melalui gerakan imunisasi polio. untuk mencari kemungkinan adanya virus Polio liar yang berkembang di masyarakat dengan pemeriksaan spesimen tinja dari kasus AFP yang dijumpai.31 PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT DAN NON POLIO AFP RATE TAHUN 2003 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Pencapaian kinerja sampai tahun 2002 berfluktuasi.Di Indonesia. selama 10 tahun terakhir tidak ditemukan kasus AFP yang disebabkan virus Polio liar. Surveilans AFP di Indonesia dilaksanakan sejak pertengahan tahun 1995. GAMBAR 4.10%. artinya minimal 80% spesimen tinja penderita harus sesuai dengan persyaratan yaitu diambil ≤ 14 hari setelah kelumpuhan dan suhu spesimen 0-8ºC sampai di laboratorium.000 anak umur < 15 tahun. Target untuk non Polio AFP rate ditetapkan sebesar ≥ 2 per 100.31 berikut ini. kinerja menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna. namun sejak adanya tenaga khusus (surveillance officer) di tingkat provinsi. kecuali pada tahun 2006 yaitu 79. Berdasarkan kegiatan surveilans AFP pada penduduk <15 tahun selama tahun 2003 – 2009. Upaya ini juga ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans epidemiologi secara aktif terhadap kasus-kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP) kelompok umur <15 tahun dalam kurun waktu tertentu.

32a NON POLIO AFP RATE/ 100.32b PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Kemenkes RI Sumber: Ditjen PP-PL. maka proses penyembuhan TB Paru dapat berlangsung secara cepat. dapat mencapai angka 95%.43%) 90 . DOTS menekankan pentingnya pengawasan terhadap penderita TB Paru agar menelan obatnya secara teratur sesuai ketentuan sampai dinyatakan sembuh. Strategi DOTS direkomendasikan oleh WHO secara global untuk menanggulangi TB Paru. GAMBAR 4.000 ANAK UMUR < 15 TAHUN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 GAMBAR 4. Strategi DOTS memberikan angka kesembuhan yang tinggi. dan 4) sedikitnya 85% tercapai succes rate.01% dan terendah terjadi pada tahun 2001 (8. a. Gambar 4.32 berikut ini. Pengendalian TB-Paru Tujuan utama pengendalian TB Paru adalah: 1) menurunkan insidens TB Paru pada tahun 2015. Kemenkes RI 2. Selama tahun 2001-2009 persentase TB Paru BTA+ terhadap suspek TB Paru tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu 13.Provinsi yang telah memenuhi target non polio AFP rate ≥ 2 per 100. DOTS adalah strategi penyembuhan TB Paru jangka pendek dengan pengawasan secara langsung.33 memperlihatkan persentase TB Paru BTA+ terhadap suspek TB Paru selama tahun 2001-2009. 3) sedikitnya 70% kasus TB Paru BTA+ terdeteksi dan diobati melalui program DOTS (Directly Observed Treatment Shortcource Chemotherapy) atau pengobatan TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). Dengan menggunakan strategi DOTS. Hal ini dapat terlihat dari meningkatnya jumlah penderita yang ditemukan dan disembuhkan setiap tahun.000 anak umur < 15 tahun dan spesimen adekuat sesuai standar dapat dilihat pada Gambar 4. 2) menurunkan prevalensi TB Paru dan angka kematian akibat TB Paru menjadi setengahnya pada tahun 2015 dibandingkan tahun 1990. Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di antara Suspek yang diperiksa Upaya Pemerintah dalam menanggulangi TB Paru setiap tahunnya semakin menunjukkan kemajuan.

Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (negatif palsu).34 PERSENTASE PASIEN TB PARU BTA+ TERHADAP SUSPEK YANG DIPERIKSA DAHAKNYA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen PPPL. GAMBAR 4. Kemenkes RI Menurut standar. Untuk hasil proporsi pasien TB Paru BTA Positif di antara suspek yang diperiksa per provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. Berarti. petugas kesehatan mampu mendiagnosis kasus BTA+ sesuai standar. Sedangkan bila angka ini terlalu besar (> 15%) kemungkinan disebabkan penjaringan terlalu ketat atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positif palsu).33 PERSENTASE BTA POSITIF TERHADAP SUSPEK TAHUN 2001-2009 Sumber : Ditjen PP-PL. Dengan demikian. Kemenkes RI 91 . sejak tahun 2001-2009 persentase BTA+ terhadap suspek masih dalam batas yang ditolerir.GAMBAR 4. persentase BTA+ diperkirakan 10% dari suspek yang diperkirakan di masyarakat dengan nilai yang ditoleransi antara 5-15%. Bila angka ini terlalu kecil (< 5%) kemungkinan disebabkan penjaringan suspek terlalu longgar.34 berikut ini.

7%. CDR mengalami peningkatan yang berarti. dari 20% pada tahun 2000 menjadi 71.35 PERSENTASE PENEMUAN KASUS BARU DAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU DI INDONESIA TAHUN 2000-2009 Sumber : Ditjen PPPL. CDR tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 75. Dengan demikian sejak tahun 2006 sampai 2009 (kecuali tahun 2007) Indonesia telah mampu mencapai target tersebut. Gambar 4. Kemenkes RI Keberhasilan pengobatan TB paru ditentukan oleh kepatuhan dan keteraturan dalam berobat.35 menyajikan kecenderungan angka penemuan kasus baru (Case Detection Rate). b. Selama tahun 2000-2009.9% pada tahun 2009. Sementara standar CDR TB Paru sebesar 70%. pemeriksaan fisik dan laboratorium. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA+ (Case Detection Rate) dan Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate) Angka penemuan kasus TB Paru BTA+ memperlihatkan penemuan TB Paru BTA+ terhadap jumlah perkiraan TB Paru. Maluku. dan DKI Jakarta. Angka keberhasilan pengobatan semenjak 20002009 telah mencapai target keberhasilan pengobatan yang distandarkan oleh WHO yaitu minimal 85%.Sebanyak 30 provinsi dengan persentase pasien TB Paru BTA+ di antara suspek yang diperiksa per provinsi sebesar 5-15%. GAMBAR 4. Sedangkan provinsi dengan persentase pasien TB Paru BTA+ terhadap suspek yang diperiksa >15% sebanyak 3 provinsi yaitu Maluku Utara. Bahkan pada tahun 2009 keberhasilan pengobatan mencapai 91% Angka keberhasilan pengobatan penderita pada tahun 2008 menurut provinsi dapat dilihat pada gambar berikut: 92 .

Pengendalian Penyakit ISPA ISPA merupakan penyebab kematian terbesar baik pada bayi maupun pada anak balita. diketahui bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia. faringitis. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu Pneumonia berat dan Pneumonia tidak berat. Program Pemberantasan Penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu Pneumonia dan yang bukan Pneumonia.GAMBAR 4. yaitu sebanyak 22.60%. Survei yang sama juga menunjukkan bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada anak balita yaitu 23. Studi mortalitas pada Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada bayi (post neonatal) karena pneumonia sebesar 23. Maluku (97.36 PERSENTASE KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA TB PARU (SUCCESS RATE) TAHUN 2008 MENURUT PROVINSI Sumber : Ditjen PPPL. Sedangkan provinsi yang belum mencapai target SR 85% adalah Papua Barat.11%).30% dari seluruh kematian bayi. Maluku Utara. DI Yogyakarta. Penyakit batuk pilek seperti rinitis.41%).29%). dan Riau.5%. Kemenkes RI Sebanyak 28 provinsi telah berhasil mencapai target keberhasilan pengobatan 85% dengan SR tertinggi yaitu Bengkulu (97. 3.8% dan pada anak balita sebesar 15. dan Gorontalo (97. tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan Pneumonia. Papua. Hal ini dapat dilihat melalui hasil survei mortalitas subdit ISPA pada tahun 2005 di 10 provinsi. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan 93 .

Gejala Pneumonia sukar dikenali oleh orang awam maupun tenaga kesehatan yang tidak terlatih. Provinsi dengan cakupan tertinggi berikutnya adalah Jawa Barat (46. d. Kemenkes RI Cakupan penemuan penderita pneumonia tetap rendah sejak tahun 2005 hingga 2009. Pembiayaan (logistik dan operasional) terbatas. Rata-rata cakupan penemuan pneumonia pada balita tahun 2009 sebesar 22.pada balita. yang berarti masih jauh dari target yang sebesar 86%. Hambatan yang ditemui dalam meningkatkan cakupan penemuan Pneumonia balita di puskesmas yaitu: a. Program pengendalian ISPA menetapkan bahwa semua kasus yang ditemukan harus ditatalaksanakan sesuai standar.37 CAKUPAN PENEMUAN PENDERITA PNEUMONIA PADA BALITA DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber : Ditjen PPPL. Bangka Belitung (41. e. Pembinaan (bimbingan teknis. angka cakupan penemuan penderita pneumonia pada balita hingga saat ini masih belum mencapai target. semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik.37 di bawah ini.18%. Tenaga terlatih tidak melaksanakan MTBS/Tatalaksana Standar ISPA di puskesmas. dengan demikian angka penemuan kasus pneumonia juga menggambarkan penatalaksanaan kasus ISPA. c. Provinsi NTB memiliki cakupan relatif tinggi yaitu sebesar 71. monitoring dan evaluasi) secara berjenjang masih sangat kurang. seperti tampak pada Gambar 4. GAMBAR 4. ISPA merupakan pandemi yang dilupakan/tidak prioritas sedangkan masalah ISPA merupakan masalah multisektoral. 4. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS di samping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan juga diarahkan pada upaya 94 . Secara nasional.41%).45%. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin.16%) dan Kep. b.

dan 3) peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. pemantauan pada kelompok berisiko penderita Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Wanita Penjaja Seks (WPS).682 361 740 2005 875 4.487 261 479 2004 649 3.2 PENEMUAN PENDERITA HIV/AIDS DI INDONESIA TAHUN 2003 – 2009 Tahun Pengidap HIV Per tahun Kumulatif Penderita AIDS Per tahun Kumulatif Penderita AIDS Meninggal Per tahun Kumulatif 2003 168 2.969 16.141 498 2.846 2008 2009 6.720 316 1.244 2.369 4.362 3.638 5. Keberhasilan kegiatan PSN antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ). Upaya penemuan penderita dilakukan melalui skrining HIV/AIDS terhadap darah donor. TABEL 4. Hasil pelaksanaan surveilans HIV/AIDS selama tujuh tahun terakhir terlihat pada Tabel 4.947 11.195 2. 5.230 2.015 Sumber: Ditjen PPPL.110 993 3. yang tidak diketahui dengan pasti periodisasinya sehingga kelompok ini menjadi sangat potensial dalam menularkan penyakit. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia.873 8.066 2.2 berikut ini.871 2007 836 6.973 484 3.194 539 1.369 1.321 592 1.863 19. penyalahguna obat dengan suntikan (IDUs). penghuni Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) atau sesekali dilakukan penelitian pada kelompok berisiko rendah seperti ibu rumah tangga dan sebagainya.332 2006 986 5.pencegahan melalui penemuan penderita secara dini yang dilanjutkan dengan kegiatan konseling. Upaya pemberantasan vektor ini yaitu dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pemeriksaan jentik berkala. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal yaitu: 1) peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor. 95 . yang lebih utama adalah dilakukan konseling untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam ikut aktif mencegah terjadinya penularan lebih lanjut. 2) diagnosis dini dan pengobatan dini. Kemenkes RI Dalam perjalanan penyakit dari HIV positif menjadi AIDS dikenal istilah ”window periods”. Pada kelompok ini di samping dilakukan pengobatan. Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang perjalanan penyakitnya cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.

21% pada tahun 2008.39 memperlihatkan bahwa persentase kasus DBD yang ditangani meningkat setiap tahun.38 menyajikan perkembangan ABJ tahun 2004-2009.38 PERBANDINGAN ANGKA BEBAS JENTIK TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PPPL. Pengembangan sistem surveilans vektor secara berkala perlu terus dilakukan terutama dalam kaitannya dengan perubahan iklim dan pola penyebaran kasus. yakni 40% pada tahun 2006 menjadi 83. Selama jangka waktu 2004-2009 ABJ masih di bawah target 95%. penyebaran ikan pada tempat penampungan air serta kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat mencegah/memberantas nyamuk Aedes berkembang biak. Sejak tahun 2005 sampai tahun 2008 ABJ cenderung meningkat. Surveilans vektor dilakukan melalui kegiatan pemantauan jentik oleh petugas kesehatan maupun juru/kader pemantau jentik (Jumantik/Kamantik). Sejak tahun 2004 sampai dengan 2009 hanya beberapa provinsi yang melaporkan data ABJ.Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. GAMBAR 4. Kemenkes RI Gambar 4. Metode yang tepat guna untuk mencegah DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M plus (Menguras. Angka Bebas Jentik (ABJ) sebagai tolak ukur upaya pemberantasan vektor melalui PSN-3M menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD. Oleh karena itu pendekatan pemberantasan DBD yang berwawasan kepedulian masyarakat merupakan salah satu alternatif pendekatan baru. Gambar 4. namun pada tahun 2009 menurun. 96 . Menutup dan Mengubur) plus menabur larvasida. hal ini dikarenakan kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) belum menjadi prioritas kegiatan program di sebagian besar wilayah.

3) Perubahan iklim yang menyebabkan musim hujan lebih panjang dari musim kemarau. Gerakan ini merupakan embrio pengendalian malaria yang berbasis kemitraan dengan berbagai sektor dengan slogan “Ayo Berantas Malaria” . Pengendalian Penyakit Malaria Di Indonesia meningkatnya jumlah penderita malaria dan terjadinya kejadian luar biasa malaria sangat berkaitan erat dengan beberapa hal sebagai berikut: 1) Adanya perubahan lingkungan yang berakibat meluasnya tempat perindukan nyamuk penular malaria. Pemberantasan malaria digalakkan melalui gerakan masyarakat yang dikenal dengan Gerakan Berantas Kembali Malaria atau ”Gebrak Malaria” telah dicetuskan pada tahun 2000. serta 6) Menurunnya perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap upaya penanggulangan malaria secara terpadu. 5) Tidak efektifnya pengobatan karena terjadi Plasmodium falciparum resisten klorokuin dan meluasnya daerah resisten. Kemenkes RI Sejak tahun 2004 telah diperkenalkan suatu metode komunikasi/penyampaian informasi/pesan yang berdampak pada perubahan perilaku dalam pelaksanaan PSN DBD melalui pendekatan sosial budaya setempat yaitu metode Communication for Behavioral Impact (COMBI). Kegiatan PSN dengan metode pendekatan COMBI tersebut menjadi salah satu prioritas kegiatan dalam program P2DBD di masa yang akan datang. 6. 4) Krisis ekonomi yang berkepanjangan memberikan dampak pada daerah-daerah tertentu dengan adanya masyarakat yang mengalami gizi buruk sehingga lebih rentan untuk terserang malaria. yang terbebas dari penularan malaria secara bertahap sampai tahun 2030. Pengendalian malaria di Indonesia yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 293/MENKES/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi Malaria di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang hidup sehat.GAMBAR 4. Sasaran wilayah eliminasi dilaksanakan secara bertahap sebagai berikut : 97 . 2) Mobilitas penduduk yang cukup tinggi.39 CAKUPAN KASUS DBD DITANGANI TAHUN 2006 – 2008 Sumber: Ditjen PPPL.

provinsi. Pada tahun 2005 diketahui sebesar 1%. dan pulau Batam pada tahun 2010. Selama periode tahun 2004-2009 persentase pemeriksaan sediaan darah 98 . Pencapaian Pemeriksaan Sediaan Darah (Konfirmasi Laboratorium) Berdasarkan cakupan konfirmasi laboratorium belum semua penderita klinis malaria dilakukan pemeriksaan sediaan darahnya. Nias dan Nias Selatan) serta di 5 provinsi wilayah timur diketahui bahwa persentase penduduk yang menggunakan kelambu yaitu pada balita rata-rata sebesar 86.1. Pulau Kalimantan.7% dan pada ibu hamil sebesar 87. dunia usaha. Target penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria pada tahun 2009 adalah sebesar 75%. dan Papua pada tahun 2030. Sumba Barat. dan pada tahun 2006 berdasarkan survei yang dilaksanakan di NTT (Alor. dan Flores Timur) dan beberapa kabupaten di wilayah Sumatera rata-rata sebesar 24%. dan Pulau Sulawesi pada tahun 2020. Kebijakan eliminasi malaria dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh pemerintah. Beberapa capaian upaya pengendalian penyakit malaria disajikan pada uraian berikut ini. 3. b. Persentase penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria Situasi penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria diketahui berdasarkan survei penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria dengan kelambu. lembaga donor. organisasi kemasyarakatan dan masyarakat. organisasi profesi. Maluku Utara. a. dan dari satu pulau atau ke beberapa pulau sampai ke seluruh wilayah Indonesia menurut tahapan yang didasarkan pada situasi malaria dan kondisi sumber daya yang tersedia. Maluku. Persentase penderita malaria yang diobati sejak tahun 2003 hingga 2009 sebesar 100%. Pulau Bali. Sumut (Kab. 2. Pulau Sumatera (kecuali Provinsi Aceh dan Kepulauan Riau). pemerintah daerah bersama mitra kerja pembangunan termasuk LSM. Papua Barat. Pulau Jawa. Konfirmasi laboratorium 100% telah dilakukan di Jawa dan Bali. c. Provinsi Aceh. Persentase Penderita Malaria yang Diobati Persentase penderita malaria yang diobati merupakan persentase penderita malaria yang diobati sesuai pengobatan standar dalam kurun waktu 1 tahun dibandingkan dengan tersangka malaria dan atau positif malaria yang datang ke sarana pelayanan kesehatan. dan 4. Pada tahun 2008 berdasarkan survei di Aceh. berarti semua penderita tersangka malaria dan/atau positif malaria yang datang ke sarana kesehatan diobati sesuai pengobatan standar.75%. Provinsi NTT. Selain itu eliminasi dilaksanakan secara bertahap dari kabupaten/kota. Kepulauan Seribu (Provinsi DKI Jakarta). dan Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2015. Provinsi NTB.

6% dan 10.643 14.000 penduduk) 2004 3.6 2009 2. PENEMUAN KASUS BARU (NCDR) DAN PENDERITA CACAT TINGKAT II DI INDONESIA TAHUN 2004 . namun pada tahun 2008 dan 2009 terjadi kenaikan yaitu 9.6%-8. PB = Pausi Basiller.dibandingkan kasus malaria klinis cenderung meningkat. digunakan angka proporsi cacat tingkat II (cacat akibat kerusakan syaraf dan cacat terlihat).27% seperti yang diperlihatkan pada Tabel 4.40 CAKUPAN KONFIRMASI LABORATORIUM/MIKROSKOP MALARIA TAHUN 2004 . Proporsi cacat tingkat II hingga tahun 2009 belum mencapai target program yaitu < 5%. Kemenkes RI Catatan : MB = Multi Basiller.3 HASIL PEMERIKSAAN PENDUDUK.500 7.8 8.113 14. TABEL 4.328 7. Hal itu berarti penularan masih terjadi di masyarakat dan kasus ditemukan terlambat sehingga pada saat penemuan penderita sudah mengalami cacat tingkat II.957 7.615 12.2009 Sumber: Ditjen PPPL.083 7. Pada tahun 2004 sebesar 48% menjadi 76% pada tahun 2009 seperti diperlihatkan pada gambar berikut ini. NCDR = New Case Detection Rate 99 . Pengendalian Penyakit Kusta Untuk menilai kinerja petugas dalam penemuan kasus penyakit kusta. GAMBAR 4.7%).27 Sumber: Ditjen PPPL.958 13. Kemenkes RI 7.1 10.6 2005 4 056 15 639 89 87 2006 3 550 14 750 83 86 2007 3.41 9.8 8. Penderita cacat tingkat II selama tahun 2004-2007 relatif stabil (8.3. Tingginya proporsi cacat tingkat II menunjukkan keterlambatan dalam penemuan kasus atau dengan kata lain kinerja petugas yang rendah dalam menemukan kasus serta pengetahuan masyarakat yang rendah.6 2008 3.2009 Tahun Suspek Positif Penderita Cacat Tingkat II (%) PB MB NCDR (per 100.

baik untuk penentuan endemisitas maupun pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis. dan pada tahun 2009 sebesar 40. orang yang sedang sakit berat. maka kegiatan POMP filariasis harus segera dilaksanakan untuk memutus rantai penularan. Diharapkan pada tahun-tahun selanjutnya kasus klinis filariasis yang ditatalaksana meningkat lagi sebagaimana yang ditargetkan yaitu 90%.40%. 100 . Setiap penderita mempunyai status rekam medis di puskesmas dan mendapatkan kunjungan dari petugas kesehatan minimal 6 kali setahun. Pengendalian Penyakit Filariasis Program eliminasi filariasis di Indonesia dilaksanakan atas dasar kesepakatan global WHO tahun 2000 yaitu “The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem the year 2020” yang merupakan realisasi dari resolusi WHA pada tahun 1997. Satuan wilayah terkecil dalam program ini adalah kabupaten/kota. dan balita dengan marasmus/kwasiorkor dapat ditunda pengobatannya. sedangkan tahun 2008 mencapai 40. Tatalaksana kasus klinis filariasis guna mencegah dan mengurangi kecatatan. Implementation Unit (IU) yang digunakan dalam program eliminasi filariasis sejak tahun 2005 adalah Kabupaten/Kota. Bila suatu kabupaten/kota sudah endemis filariasis. Gambar 4. Tatalaksana ini bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kecacatan dan agar penderita mandiri merawat diri.41 memperlihatkan kegiatan penatalaksanaan kasus klinis filariasis yang cenderung meningkat. dengan sasaran pemberian obat adalah semua penduduk di kabupaten/kota tersebut kecuali anak berumur < 2 tahun.00%. Pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis kepada semua penduduk di kabupaten/kota endemis filariasis dengan menggunakan DEC 6 mg/kg BB dikombinasikan dengan Albendazole 400 mg sekali setahun selama 5 tahun. 2. guna memutuskan rantai penularan. ibu hamil. Kegiatan tatalaksana kasus klinis filariasis harus dilakukan pada semua penderita.13% yang ditangani. penderita kronis filariasis yang dalam serangan akut. Pada tahun 2007 kasus klinis yang ditangani sebesar 29. Program Eliminasi ini dilaksanakan melalui dua pilar kegiatan yaitu : 1.8.

baru 97 kabupaten/kota yang tersebar di 26 propinsi melaksanakan pemberian obat massal pencegahan filariasis (POMP Filariasis). Kemenkes RI Gambaran sebaran kabupaten/kota yang telah melaksanakan pengobatan massal filariasis dapat dilihat pada gambar berikut ini. baru 59 kabupaten/kota yang sasaran pengobatan massalnya seluas kabupaten/kota. GAMBAR 4.42 JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG MELAKUKAN PEMBERIAN OBAT MASSAL PENCEGAHAN (POMP) FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL.GAMBAR 4. belum semua kabupaten/kota dalam pelaksanaannya sasaran penduduknya seluas kabupaten/kota. Sejak tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan POMP Filariasis setiap tahunnya. Kemenkes RI Dari 337 kabupaten/kota endemis filariasis pada tahun 2009. Namun.41 PERSENTASE PENATALAKSANAAN KASUS KLINIS FILARIASIS TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL. 101 .

Surveilans Vektor Salah satu kegiatan yang harus diperhatikan dalam surveilans vektor adalah monitoring resistensi vektor terhadap insektisida yang dapat digunakan sebagai acuan bagi Dinas Kesehatan serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) dalam kebijakan pengendalian vektor di lapangan. TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL. target pemberian obat massal pencegahan filariasis adalah sekitar 32 juta penduduk. TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PPPL.43 KABUPATEN/KOTA ENDEMIS FILARIASIS YANG MELAKSANAKAN PENGOBATAN MASSAL DI INDONESIA. 102 . Cakupan POMP filariasis setiap tahunnya dari tahun 2005 sampai tahun 2009 terlihat ada peningkatan seperti terlihat pada Gambar 4.44 berikut ini. Kemenkes RI 9. sedangkan realisasinya sebanyak 16. GAMBAR 4.GAMBAR 4. Kemenkes RI Pada tahun 2009.44 CAKUPAN POMP FILARIASIS DI INDONESIA.3 juta penduduk (51%).

maka pengawasan atau monitoring terhadap penggunaan insektisida dan dampaknya perlu dilakukan agar hasilnya tetap efektif. meskipun upaya pengendalian dengan metode lain juga perlu dipertimbangkan. dan hasil survei jentik nyamuk demam berdarah dengue.2009 Sumber: Ditjen PPPL. demam berdarah dengue. Hasil pengendalian vektor sampai dengan tahun 2009 dapat dilihat pada beberapa gambar berikut ini. Pengendalian vektor saat ini identik dengan penggunaan insektisida. karena penggunaan di masyarakat tidak terpantau yang akan dapat mempercepat terjadinya resistensi.Pengendalian vektor yang dilakukan oleh swasta serta pemakaian insektisida rumah tangga merupakan permasalahan tersendiri yang tidak bisa diabaikan. GAMBAR 4.46 menyajikan cakupan kerentanan vektor penyakit bersumber binatang tahun 2007 – 2009. Pada Gambar 4. Kegiatan pengendalian vektor yang dilaksanakan antara lain monitoring efikasi dan resistensi serta cakupan mutu pengendalian vektor malaria dan demam berdarah dengue.45 CAKUPAN PEMBERANTASAN VEKTOR MALARIA BERDASARKAN SURVEILANS VEKTOR TAHUN 2005 . Kemenkes RI Kegiatan yang dilakukan tahun 2007-2009 meliputi monitoring kerentanan vektor dan efikasi insektisida serta evaluasi terhadap mutu pengendalian vektor malaria. Gambar 4. Dengan kondisi seperti itu. Pada tahun 2008 dan 2009 cakupan pemberantasan vektor malaria berada di bawah target pada tahun tersebut. 103 .45 terlihat bahwa terjadi penurunan kegiatan pemberantasan vektor malaria berdasarkan surveilans vektor.

karena belum semua kabupaten/kota melakukan pengendalian vektor berdasarkan fakta yaitu data entomologi dan faktor risiko lingkungan. Kemenkes RI Gambar 4.GAMBAR 4.47 CAKUPAN EVALUASI MUTU PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA TAHUN 2007 .46 CAKUPAN KERENTANAN VEKTOR PENYAKIT BERSUMBER BINATANG TAHUN 2007 . 2008 dan 2009) mutu pengendalian vektor malaria belum mencapai target. GAMBAR 4. 104 . karena belum semua kabupaten/kota melakukan pengendalian vektor berdasarkan informasi dan data entomologi. 2008 dan 2009) mutu pengendalian vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD) belum mencapai target.2009 Sumber: Ditjen PPPL.48 menunjukkan bahwa selama tiga tahun (2007.47 menunjukkan bahwa selama tiga tahun (2007. Kemenkes RI Gambar 4.2009 Sumber: Ditjen PPPL.

2009 Sumber: Ditjen PPPL. subpictus 22. An.49 berikut ini menyajikan peta penyebaran vektor malaria di Indonesia tahun 2009. An.48 CAKUPAN EVALUASI MUTU PENGENDALIAN VEKTOR DBD TAHUN 2007 .annularis 3.letifer 15.minimus 18 An.farauti 9. Dua cara tersebut dipakai untuk memastikan nyamuk yang menjadi vektor penyakit malaria di suatu wilayah. An.49 PETA PENYEBARAN VEKTOR MALARIA TAHUN 2009 18 11 19 17 22 20 25 14 16 2 14 25 13 15 23 5 21 8 9 10 16 6 15 21 12 21 1 24 1 22 3 16 20 20 17 4 20 7 21 24 Keterangan : 1. An.koliensis 11. parangensis 20. vagus 25. An. sinensis 23. An. Sampai dengan tahun 2009 jumlah vektor penyakit malaria yang tercatat di Subdit Pengendalian Vektor sebanyak 25 spesies yang dihimpun dari berbagai sumber. An. An.ludlowi 14. An.nigerimus 19.barbirostris 5. An.punctulatus 13.GAMBAR 4.karwari 10. An.An. An. An. Kemenkes RI Untuk mengetahui peta penyebaran vektor penular penyakit malaria. An.balabacensis 4. Gambar 4. kochi 12. tessellatus . An. An. GAMBAR 4. An. An. umbrosus 24. An. flavirostris 8.leucosphyrus 105 16.barbumbrosus 7. An. Maculatus 17.bancrofti 6. dilakukan kegiatan antara lain dengan melakukan pembedahan kelenjar ludah (konfirmasi saliva) dan uji elisa terhadap nyamuk Anopheles. Di Indonesia sejak tahun 1919 telah dilakukan konfirmasi vektor. An. An.aconitus 2. An. Dari 25 spesies tersebut ada 7 spesies merupakan spesies langka dan konfirmasi terakhir sebelum tahun 1960. Sundaicus 21.

dan gangguan akibat kekurangan yodium. 1.1% dan pada tahun 2007 turun menjadi 24. Pemberian Tablet Tambah Darah (Fe) Anemia gizi adalah kekurangan kadar haemoglobin (Hb) dalam darah yang disebabkan karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan Hb tersebut. Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan masalah gizi terutama anemia gizi besi. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Upaya perbaikan gizi masyarakat dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. namun meningkat pada tahun 2009. Namun demikian keadaan ini mengindikasikan bahwa anemia gizi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.D. Di Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) hingga disebut anemia kekurangan zat besi atau anemia gizi besi. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001. Cakupan Fe1 dan Fe3 tahun 2006 masing-masing sebesar 71. GAMBAR 4.50 PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT TABLET FE TAHUN 2006 . Ibu hamil mendapat tablet tambah darah 90 tablet selama kehamilannya.5% (Riskesdas. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan ditemukan beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada kelompok masyarakat antara lain anemia gizi besi. 2007).2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah (Fe) selama tahun 20062008 terlihat ada kecenderungan turun setiap tahun baik cakupan Fe1 maupun Fe3. Penanggulangan masalah anemia gizi besi saat ini terfokus pada pemberian tablet tambah darah (Fe) pada ibu hamil. prevalensi anemia ibu hamil sebesar 40.1% 106 . Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah (Fe) selama 4 tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut. kekurangan Vitamin A.

dan 64,5%, sedangkan pada tahun 2008 turun menjadi 53,1% dan 48,1%. Pada tahun 2009
cakupan pemberian Fe1 naik menjadi 76,9% dan Fe3 naik menjadi 68,7%. Sebaran cakupan
pemberian tablet tambah darah (Fe3) pada ibu hamil menurut provinsi dapat dilihat pada
Gambar 4.51 berikut ini.
GAMBAR 4.51
PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT TABLET TAMBAH DARAH (FE3)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Provinsi Bali (90,43%), Kep. Bangka
Belitung (84,85%) dan Nusa Tenggara Barat (81,51%). Sedangkan cakupan terendah adalah
Provinsi Papua (31,57%), Sulawesi Tengah (36,12%), dan Sulawesi Barat (38,19%).
Cakupan pemberian tablet tambah darah terkait erat dengan antenatal care (ANC).
Analisis cakupan K4 dengan Fe3 sering menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar,
hal ini disebabkan karena belum optimalnya koordinasi sistem pencatatan dan pelaporan antar
program terkait.
2. Pemberian Kapsul Vitamin A

Tujuan pemberian kapsul vitamin A pada balita adalah untuk menurunkan prevalensi
dan mencegah kekurangan vitamin A pada balita. Kapsul vitamin A dosis tinggi terbukti
efektif untuk mengatasi masalah kekurangan vitamin A (KVA) pada masyarakat apabila
cakupannya tinggi. Bukti-bukti lain menunjukkan peranan vitamin A dalam menurunkan
secara bermakna angka kematian anak, maka selain untuk mencegah kebutaan, pentingnya
pemberian vitamin A saat ini lebih dikaitkan dengan kelangsungan hidup, kesehatan dan
pertumbuhan anak.
107

Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, serta meningkatkan
daya tahan tubuh. Anak-anak yang mendapat cukup vitamin A, bila terkena diare, campak
atau penyakit infeksi lain, maka penyakit-penyakit tersebut tidak mudah menjadi parah,
sehingga tidak membahayakan jiwa anak.
Sasaran pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi adalah bayi (umur 6-11 bulan)
diberikan kapsul vitamin A 100.000 SI, anak balita (umur 1-4 tahun) diberikan kapsul vitamin
A 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan
memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Pada bayi (6-11 bulan) diberikan setahun
sekali pada bulan Februari atau Agustus; dan untuk anak balita enam bulan sekali, yang
diberikan secara serentak pada bulan Februari dan Agustus. Sedangkan pemberian kapsul
vitamin A pada ibu nifas, diharapkan dapat dilakukan terintegrasi dengan pelayanan
kesehatan ibu nifas. Namun dapat pula diberikan di luar pelayanan tersebut selama ibu nifas
tersebut belum mendapatkan kapsul vitamin A.
Persentase cakupan pemberian vitamin A balita dan ibu nifas, pada 3 tahun terakhir
dapat dilihat pada Gambar 4.52 berikut ini.
GAMBAR 4.52
PERSENTASE BALITA DAN IBU NIFAS YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
TAHUN 2007 - 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Cakupan pemberian vitamin A pada bayi dan balita tiga tahun terakhir sudah
menunjukkan angka diatas 80% dan relatif angka cakupannya tidak berbeda jauh dari tahun
ke tahun. Namun demikian untuk cakupan vitamin A ibu nifas angkanya masih di bawah
80%, walaupun demikian ada kecenderungan cakupannya makin meningkat selama tiga tahun
terakhir. Dengan demikian masih diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan cakupan
tersebut, antara lain melalui peningkatan integrasi pelayanan kesehatan ibu nifas, sweeping
pada daerah yang cakupannya masih rendah, dan kampanye pemberian kapsul vitamin A.
Masalah vitamin A pada balita secara klinis sudah tidak merupakan masalah kesehatan
masyarakat (prevalensi xeropthalmia < 0,5%). Hasil studi masalah gizi mikro di 10 kota pada
108

10 provinsi tahun 2006, diperoleh prevalensi xeropthalmia pada balita 0.13%, sedangkan hasil
survey vitamin A tahun 1992 menunjukkan prevalensi xeropthalmia sebesar 0,33%.
Namun demikian kekurangan vitamin A (KVA) subklinis, yaitu tingkat yang belum
menampakkan gejala nyata, masih menimpa masyarakat luas terutama kelompok balita. KVA
tingkat subklinis ini hanya dapat diketahui dengan memeriksa kadar vitamin A dalam darah di
laboratorium. Di samping itu sebaran cakupan pemberian vitamin A pada balita menurut
provinsi masih ada yang di bawah 80%. Dengan demikian kegiatan pemberian vitamin A
pada balita dan ibu nifas masih perlu dilanjutkan, karena bukan hanya untuk kesehatan mata
dan mencegah kebutaan, dan lebih penting lagi, vitamin A meningkatkan kelangsungan hidup
anak, kesehatan dan pertumbuhan anak.
Gambar berikut menyajikan persentase balita dan ibu nifas yang mendapat kapsul
vitamin A menurut provinsi.
GAMBAR 4.53
PERSENTASE BALITA YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Hasil laporan Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009, cakupan pemberian kapsul
vitamin A pada balita 83,3%. Provinsi dengan cakupan tertinggi, masing-masing: Jawa
Tengah (98,6%), DI Yogjakarta (96,1%) dan Kalimantan Selatan (93,2%). Sedangkan
provinsi yang cakupannya terendah, masing-masing: Papua Barat (29,1%), Papua (43,5%)
dan Maluku (65,0%).

109

GAMBAR 4.54
PERSENTASE IBU NIFAS YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009, cakupan pemberian kapsul
vitamin A pada Ibu Nifas sebesar 63,0%. Provinsi dengan cakupan tertinggi, masing-masing:
Riau (100,0%), Bali (91,0%), Gorontalo (87,4%) dan Jawa Tengah (87,4%). Sedangkan
Provinsi yang cakupannya terendah, masing-masing Papua Barat (27,4%), Jambi (32,4%) dan
Aceh (33,2%).
3. Cakupan Konsumsi Garam Beryodium

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala yang
timbul karena tubuh seseorang kurang unsur Iodium secara terus-menerus dalam jangka
waktu lama. Kekurangan Iodium saat ini tidak terbatas pada gondok dan kretinisme saja,
tetapi ternyata kekurangan Iodium berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia secara
luas, meliputi tumbuh kembang, termasuk perkembangan otak sehingga terjadi penurunan
potensi tingkat kecerdasan (Intelligence Quotient=IQ).
Pemantauan GAKY dilakukan melalui Ekskresi Yodium dalam Urine (EYU) sebagai
refleksi asupan yodium dan cakupan rumah tangga mengonsumsi garam beryodium. Hasil
Studi Intensifikasi Penanggulangan GAKY (IP-GAKY) tahun 2003 dan Riskesdas 2007
menunjukkan bahwa rata-rata EYU <100 µg/L sebesar 16,7% dan 12,9%, namun cakupan
rumah tangga dengan garam cukup Iodium rata-rata nasional baru mencapai 62,3%
(Riskesdas 2007). Terdapat disparitas antar daerah yang cukup tinggi seperti terlihat pada
Gambar 4.55 berikut ini.

110

GAMBAR 4.55
PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MENGKONSUMSI
GARAM BERYODIUM CUKUP MENURUT PROVINSI TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Provinsi dengan cakupan konsumsi garam cukup beryodium terendah adalah Nusa
Tenggara Barat (27,9%), Nusa Tenggara Timur (31,0%) dan Sulawesi Barat (34,2%),
sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Kep. Bangka Belitung (98,7%), Jambi
(94,4%) dan Sumatera Selatan (93,0%).
Masalah masih rendahnya cakupan konsumsi garam beryodium di masyarakat antara
lain karena belum optimalnya penggerakan masyarakat dan kampanye dalam mengkonsumsi
garam beryodium, serta dukungan regulasi yang belum memadai. Di samping itu masalah lain
adalah belum rutinnya pelaksanaan pemantauan garam beryodium di masyarakat secara terus
menerus.
4. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif

Cara pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi secara
eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak sampai
umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayi mendapat makanan pendamping ASI yang bergizi
sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.
Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia berfluktuasi selama 3
tahun terakhir. Pada Gambar 4.56 terlihat bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
0–5 bulan turun dari 62,2% tahun 2007 menjadi 56,2% pada tahun 2008, namun meningkat
lagi pada tahun 2009 menjadi 61,3%. Sedangkan cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi

111

sampai 6 bulan turun dari 28,6% pada tahun 2007 menjadi 24,3% pada tahun 2008 dan naik
lagi menjadi 34,3% pada tahun 2009.
GAMBAR 4.56
PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 0-5 BULAN DAN 6 BULAN
TAHUN 2004 - 2009

Sumber: BPS, Susenas 2009

Cakupan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi beberapa hal, terutama masih sangat
terbatasnya tenaga konselor ASI, belum adanya peraturan perundangan tentang pemberian
ASI serta belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait
pemberian ASI maupun MP-ASI, masih kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana KIE
ASI dan MP-ASI dan belum optimalnya membina kelompok pendukung ASI dan MP-ASI.
Gambar 4.57 berikut ini menyajikan persentase cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
0-5 bulan dan 6 bulan menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 4.57
PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 0-6 BULAN
MENURUT PROVINSI 2009

Sumber: BPS, Susenas 2009

112

Papua Barat (16.2%). penyediaan fasilitas menyusui di tempat kerja.8%). peningkatan dukungan keluarga dan masyarakat serta upaya untuk mengendalikan pemasaran susu formula.2%). Sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (54.2%) dan Maluku (53. Di lain pihak adanya promosi dan pemasaran yang begitu intensif terkait susu formula yang kadang sulit untuk dikendalikan.2%) dan Aceh (52.5%). Cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.58 PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 6 BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan terendah adalah Gorontalo (14. Bengkulu (54. Upaya terobosan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif antara lain melalui upaya peningkatan pengetahuan petugas tentang manfaat ASI eksklusif. Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif 0-5 bulan maupun 6 bulan dapat disebabkan karena masih kurangnya pemahaman masyarakat bahkan petugas kesehatan sekalipun tentang manfaat dan pentingnya pemberian ASI eksklusif kepada bayi usia 0-5 bulan.7%) dan Kalimantan Barat (19. Sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (78. peningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu. Selain itu perlu juga penerapan 10 (sepuluh) langkah menuju 113 .3%). Jawa Tengah (52. Bengkulu (75. dan belum atau masih rendahnya melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) serta masih bebas beredarnya susu formula di lingkungan RS. Mungkin pula masih banyak Rumah Sakit (RS) yang belum mendukung peningkatan pemberian ASI eksklusif.58 berikut ini.3%).Berdasarkan data Susenas 2009. provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif 06 bulan bulan terendah adalah Jawa Timur (48. yang dapat ditandai dengan belum melakukan rawat gabung antara ibu dan bayinya.1%).8%) dan Nusa Tenggara Timur (75. GAMBAR 4.3%).

Cakupan penimbangan balita di posyandu menurut provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. semakin tinggi cakupan imunisasi dan semakin rendah prevalensi gizi kurang. Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009 cakupan penimbangan balita di posyandu sebesar 63. 5. dan 10) mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut setelah keluar dari sarana pelayanan kesehatan. Sebagai gambaran proporsi anak 6-11 bulan yang ditimbang di posyandu 91. 8) menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi. 114 . 9) Tidak memberi dot kepada bayi.3%. Hasil Riskesdas 2007 menunjukan secara nasional cakupan penimbangan balita (anak pernah ditimbang di Posyandu sekurang-kurangnnya satu kali selama sebulan terakhir) di posyandu sebesar 74.5%. cakupan pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi serta prevalensi gizi kurang. semakin tinggi cakupan vitamin A. 4) membantu ibu untuk IMD dalam 60 menit pertama persalinan. Sepuluh langkah tersebut meliputi : 1) membuat kebijakan tentang menyusui. Frekuensi kunjungan balita ke posyandu semakin berkurang dengan semakin meningkatnya umur anak.3%. dan pada usia 24-35 bulan turun menjadi 73. pada anak usia 12-23 bulan turun menjadi 83. 5) membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu dipisah dari bayinya. 2) melatih staf pelayanan kesehatan.9%.6%. 3) KIE kepada ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui. 7) menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu (24 jam).keberhasilan menyusui (LMKM) di RS dan sarana pelayanan kesehatan lainnya yang melakukan kegiatan persalinan. Semakin tinggi cakupan D/S. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S) Cakupan penimbangan balita di posyandu (D/S) merupakan indikator yang berkaitan dengan cakupan pelayanan gizi pada balita. 6) memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis.59 berikut ini.

tanah longsor. Masalah yang berkaitan dengan kunjungan posyandu antara lain: dana operasional dan sarana prasarana untuk menggerakkan kegiatan posyandu.0%). kecelakaan industri. dan sebanyak 229.3%) dan Kalimantan Timur (39. Bencana alam yang menelan korban yang paling banyak adalah gempa bumi.59 PERSENTASE KUNJUNGAN BALITA YANG DITIMBANG DI POSYANDU (D/S) MENURUT PROVINSI 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Cakupan penimbangan balita di posyandu yang tertinggi ada di DI Yogjakarta (75.6%).GAMBAR 4. tumpahan minyak di laut. Jawa Timur (76. sedangkan bencana alam terjadi sebagai akibat aktivitas lapisan/kerak bumi/fenomena alam seperti gempa bumi. E. letusan gunung berapi. kekeringan.6%). Bencana lingkungan hidup terjadi akibat dari kerusakan lingkungan seperti banjir. kebakaran hutan dan lahan. Papua (35.706 luka ringan/rawat jalan. 37. tingkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling. dan Jawa Tengah (76. yang terjadi di 11 provinsi.7%). Sedangkan cakupan terendah ada di Provinsi Papua Barat (27. serta pelaksanaan pembinaan kader. banjir dan banjir bandang merupakan bencana yang paling sering terjadi dan melanda 23 provinsi di Indonesia.854 pengungsi.1%). 53 luka berat yang memerlukan rawat inap. badai atau angin ribut yang kejadiannya sulit diprediksi. PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA Bencana di Indonesia dapat dikategorikan menjadi 2 macam yaitu bencana lingkungan hidup dan bencana alam. Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Penanggulangan Krisis Kementerian Kesehatan pada tahun 2009. 15 korban hilang. tingkat pemahaman keluarga dan masyarakat akan manfaat posyandu. gelombang tsunami. Jumlah 115 . Jumlah korban akibat bencana banjir dan banjir bandang selama tahun 2009 sebanyak 157 meninggal.

1.210 pengungsi. 9.234 luka berat yang memerlukan rawat inap. 27 korban hilang. Demikian gambaran mengenai situasi upaya kesehatan di Indonesia sampai dengan tahun 2009.27.224 luka ringan/rawat jalan. dan sebanyak 205.korban akibat bencana gempa bumi selama tahun 2009 sebanyak 1. *** 116 .209 meninggal. Rincian kejadian bencana menurut jenis dan jumlah korban pada tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 4.

.

dan 4) pusat pelayanan kesehatan perorangan primer.704 unit dan puskesmas non perawatan sebanyak 6. tuntutan. rumah sakit (rumah sakit umum dan rumah sakit khusus). Puskesmas memiliki fungsi sebagai : 1) pusat pembangunan berwawasan kesehatan. sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). Rasio puskesmas per 100. rasio ini menunjukkan adanya peningkatan. 118 .Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas.000 penduduk pada tahun 2005 sebesar 3. pada tahun 2009 meningkat menjadi 3. tenaga kesehatan. yang diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. A. kebutuhan.1 berikut ini. Jumlah puskesmas di Indonesia sampai dengan akhir tahun 2009 sebanyak 8.000 penduduk. sumber daya kesehatan diulas dengan menyajikan gambaran keadaan sarana kesehatan. serta institusi pendidikan tenaga kesehatan. SARANA KESEHATAN Sarana kesehatan yang disajikan dalam bab ini meliputi: puskesmas.78. 1. 2) pusat pemberdayaan masyarakat. 3) pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer. harus melakukan upaya kesehatan wajib (basic six) dan beberapa upaya kesehatan pilihan yang disesuikan dengan kondisi. Dalam kurun waktu 2005 hingga 2009.033 unit. seperti terlihat pada Gambar 5. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui keterjangkauan penduduk terhadap puskesmas adalah rasio puskesmas per 100.737 unit. sarana produksi dan distribusi kefarmasian dan alat kesehatan. kemampuan dan inovasi serta kebijakan pemerintah daerah setempat. Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat atau yang biasa disebut Puskesmas merupakan salah satu unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pada bab ini.50. Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan tingkat pertama dan terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan. dengan rincian jumlah puskesmas perawatan 2. dan pembiayaan kesehatan.

Kemenkes.GAMBAR 5.077 unit pada tahun 2005 menjadi 2. yaitu tahun 2005-2009 telah terjadi peningkatan jumlah puskesmas perawatan dari 2.12. beberapa puskesmas non perawatan telah ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas perawatan. GAMBAR 5.2 RASIO PUSKESMAS PER 100. Kemenkes Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi. sedangkan rasio terendah Provinsi Banten. yaitu sebesar 14.000 PENDUDUK TAHUN 2005-2009 Sumber : Ditjen. Sedangkan rincian jumlah dan rasio puskesmas per 100.704 119 .2. Kemenkes.000 penduduk menurut provinsi menunjukkan bahwa rasio tertinggi pada tahun 2009 adalah di Provinsi Papua Barat. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.000 penduduk menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. 2010 Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat di puskesmas.1.000 PENDUDUK TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. Binkesmas.1 RASIO PUSKESMAS PER 100. yaitu sebesar 2. Gambaran rasio puskesmas menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Gambar 5.00. Kemenkes Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi. 2010 Rasio puskesmas per 100.

Bila melihat perkembangan sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.3 JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN NON PERAWATAN TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. pemerintah kabupaten/kota. puskesmas didukung oleh sarana pelayanan kesehatan berupa puskesmas pembantu (pustu). Jumlah pustu pada tahun 2009 dilaporkan sebanyak 22.unit pada tahun 2009. 2010 Untuk meningkatkan jangkauan pelayanan puskesmas terhadap masyarakat di wilayah kerjanya. baik rumah sakit umum maupun rumah sakit 120 . Rumah sakit juga berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan rujukan. Kemenkes Pusat data dan Surveilans Epidemiologi. Rumah sakit tersebut dikelola oleh Kementerian Kesehatan. TNI/POLRI. Rumah Sakit Ruang lingkup pembangunan kesehatan selain upaya promotif dan preventif.6. di dalamnya juga terdapat pembangunan kesehatan bersifat kuratif dan rehabilitatif.202 unit dan rumah sakit khusus (RSK) berjumlah 321 unit. Pada tahun 2009 jumlah rumah sakit di Indonesia sebanyak 1. GAMBAR 5. pemerintah provinsi. Rincian jumlah pustu per provinsi tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. Perkembangan jumlah puskesmas perawatan dan non perawatan pada tahun 2005-2009 dapat dilihat pada Gambar 5. kementerian lain/BUMN serta sektor swasta. maka terjadi peningkatan jumlah rumah sakit.2. Kemenkes. Rincian mengenai jumlah puskesmas perawatan dan non perawatan menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5. 2.650 unit dengan rasio pustu terhadap puskesmas 2.3. yang terdiri atas rumah sakit umum (RSU) berjumlah 1. Rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang bergerak dalam kegiatan kuratif dan rehabilitatif.523 unit.3.

Perkembangan RSU di Indonesia selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5.4.319 1.292 1.523 unit pada tahun 2009. Kemenkes.268 rumah sakit di Indonesia.523 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. jumlah ini naik 20.4 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. dan jumlah rumah sakit umum dan khusus di Indonesia menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.1 berikut menampilkan perkembangan jumlah rumah sakit (umum dan khusus) di Indonesia tahun 2005-2009. Jumlah rumah sakit umum di Indonesia menurut pengelolanya dapat dilihat pada Lampiran 5. GAMBAR 5. Sedangkan jumlah seluruh rumah sakit pada tahun 2009 menurut pengelola dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.202 unit pada tahun 2009.khusus.5. pada tahun 2005 terdapat 995 unit menjadi 1.268 1.4 berikut ini.1 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT (UMUM & KHUSUS) DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 No. Tabel 5. 2010 Selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2005-2009) jumlah rumah sakit umum baik yang dikelola oleh institusi pemerintah maupun sektor swasta mengalami peningkatan. Pengelola/Kepemilikan 2005 2006 2007 2008 2009 1 Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/Kota 452 464 477 509 552 2 TNI/POLRI 112 112 112 112 125 3 BUMN/Kementerian Lain 78 78 78 78 78 4 Swasta 626 638 652 673 768 1.4. Pada tahun 2005 terdapat 1.11% menjadi 1.372 1. TABEL 5. 2010 121 . Kemenkes.

Malang. GAMBAR 5.5 PERSENTASE RUMAH SAKIT UMUM MILIK KEMENTERIAN KESEHATAN DAN PEMERINTAH DAERAH MENURUT KELAS TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. 92 unit (19. Semarang. meningkat menjadi 321 pada tahun 2009. Dari jumlah 465 RSU.15%) kelas A.38%) kelas B. Gambar 5.78%) kelas D dan 10 unit (2. 118 unit (25. Bandung. Jakarta. Informasi lebih rinci mengenai jumlah RSU yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan. yang terdapat di 10 kota yaitu Medan. Surakarta.Dari rumah sakit umum yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah menunjukkan bahwa sebagian besar tergolong RSU kelas C. Denpasar dan Makassar.6.5 berikut ini menyajikan persentase RSU menurut kelas. Yogyakarta. Informasi lebih rinci mengenai jumlah RSU yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah menurut kelas rumah sakit dan provinsi terdapat pada Lampiran 5. Perkembangan jumlah RSK selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5. Pada tahun 2005 terdapat 273 unit rumah sakit khusus. Surabaya. terdapat 245 unit (52. pemerintah daerah. Jumlah rumah sakit khusus (RSK) baik milik pemerintah maupun swasta dalam kurun waktu tahun 2005-2009 menunjukkan adanya peningkatan. 2010 Terdapat 10 RSU milik Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah yang termasuk kelas A.7. Kemenkes.6 berikut ini. 122 . BUMN/kementerian lain dan swasta menurut kelas perawatan dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.69%) kelas C.

7. Jumlah tempat tidur pada rumah sakit umum dan rumah sakit khusus dalam 5 tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan. Kemenkes. seperti dapat dilihat pada Gambar 5.7 JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.GAMBAR 5.8. Kemenkes. Jumlah rumah sakit khusus beserta jumlah tempat tidurnya tahun 2005-2009 terdapat pada Lampiran 5. 2010 Jumlah tempat tidur suatu rumah sakit dapat digunakan untuk menggambarkan kemampuan rumah sakit tersebut dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. GAMBAR 5. Gambaran peningkatan tersebut dapat 123 . 2010 Sebagian besar rumah sakit khusus tersebut adalah RS Ibu dan Anak sebanyak 95 unit dan RS Bersalin sebanyak 60 unit.6 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.

dilihat pada Gambar 5.9 menyajikan jumlah tempat tidur dan rasio tempat tidur per 100. Kemenkes.8 di bawah ini.8 PERKEMBANGAN JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT UMUM (RSU) DAN RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. GAMBAR 5.000 penduduk dari tahun 2005-2009 juga mengalami peningkatan. rasio pada tahun 2005 sebesar 62. 2010 Rasio tempat tidur rumah sakit terhadap penduduk juga dapat menggambarkan tingkat ketersediaan sarana pelayanan kesehatan rujukan.000 PENDUDUK TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.9 JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT DAN RASIONYA PER 100. Kemenkes. Rasio tempat tidur per 100. 2010 124 .8.74 pada tahun 2009. GAMBAR 5. Rincian jumlah tempat tidur pada rumah sakit khusus dapat dilihat pada Lampiran 5. Gambar 5.000 penduduk di rumah sakit pada tahun 2005-2009.49 naik menjadi 70.

Selain tiga jenis kelas perawatan tersebut.1%. 125 . terdapat kelas VIP sebesar 7. GAMBAR 5. Sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan dapat digunakan untuk melihat kemampuan ketersediaan obat dan alat kesehatan bagi masyarakat. Jumlah sarana distribusi di Indonesia pada tahun 2009 dirinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.2% dan Kelas I sebesar 10.11.6%.10.5% dan tanpa kelas sebesar 22. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.Proporsi tempat tidur di rumah sakit umum dan rumah sakit khusus menurut kelas perawatan menunjukkan gambaran bahwa sebagian besar adalah Kelas III. yaitu sebesar 39. diikuti oleh Kelas II sebesar 20. Jumlah sarana produksi di Indonesia pada tahun 2009 dirinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Salah satu kebijakan pelaksanaan dalam Program Obat dan Perbekalan Kesehatan adalah pengendalian obat dan perbekalan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan.10.5%. Rincian mengenai jumlah dan persentase tempat tidur di RSU dan RSK menurut jenis kelas perawatan dan provinsi terdapat pada Lampiran 5. Selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir terlihat adanya kecenderungan peningkatan jumlah sarana produksi kefarmasian dan alat kesehatan. 2010 Jumlah sarana distribusi kefarmasian dan alat kesehatan selama lima tahun terakhir (2005-2009) terdapat pada Gambar 5. 3.10 JUMLAH SARANA PRODUKSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen Binfar & Alkes. Kemenkes.9.6.

11 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN 2005 -2009 Sumber: Ditjen Binfar & Alkes. Posyandu Purnama dan Posyandu Mandiri. Langkah tersebut tercermin dalam pengembangan sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). 2010 4.55 posyandu per desa/kelurahan. Informasi selengkapnya mengenai rasio posyandu menurut provinsi pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 5. Hal ini sejalan dengan konsep pemberdayaan pengembangan masyarakat. dan Pos Obat Desa (POD). Posyandu Madya. yaitu Posyandu Pratama. dengan demikian maka rasio posyandu terhadap desa/kelurahan sebesar 3.12 berikut ini. termasuk di dalamnya dengan melibatkan potensi masyarakat. 126 .827 posyandu. Kemenkes.GAMBAR 5. Pada tahun 2009 terdapat 266. Dalam menjalankan fungsinya. Salah satu jenis UKBM yang telah sejak lama dikembangkan dan mengakar di masyarakat adalah posyandu. posyandu diharapkan dapat melaksanakan 5 program prioritas yaitu kesehatan ibu dan anak. dan penanggulangan diare. Tanaman Obat Keluarga (Toga). Dalam rangka menilai kinerja dan perkembangannya. Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) di Desa Siaga. perbaikan gizi. Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat Upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dilakukan dengan menerapkan berbagai pendekatan. posyandu diklasifikasikan menjadi 4 strata. imunisasi. UKBM di antaranya terdiri dari Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). keluarga berencana.

Kemenkes. Poskesdes merupakan salah satu indikator sebuah desa disebut desa siaga.12 RASIO POSYANDU TERHADAP JUMLAH DESA/KELURAHAN TAHUN 2009 Sumber: Ditjen. lingkungan dan masalah kesehatan lainnya).69. penanganan kegawatdaruratan kesehatan dan kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan kesehatan. dengan kata lain salah satu wujud upaya untuk mempermudah akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Pelayanan yang diberikan poskesdes juga mencakup tempat pertolongan persalinan dan pelayanan KIA. Sedangkan data mengenai sarana kesehatan tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. Rasio poskesdes/desa siaga terhadap desa secara nasional pada tahun 2009 sebesar 0.GAMBAR 5.3. 2010 Poskesdes merupakan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa.13 berikut ini menyajikan rasio poskesdes menurut provinsi pada tahun 2009 (tidak termasuk Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Sumatera Barat). Jumlah desa siaga di Provinsi DKI Jakarta merupakan jumlah RW siaga dan jumlah desa siaga di Provinsi Sumatera Barat merupakan jumlah desa siaga ditambah nagari siaga. Bina Kesmas.996 unit poskesdes/desa siaga. Data menyebutkan bahwa pada tahun 2009 terdapat 51. Kegiatan utama poskesdes yaitu pengamatan dan kewaspadaan dini (surveilans perilaku berisiko. 127 . Gambar 5.

Bina Kesmas. Selain menyelenggarakan program D-III. Dalam penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan jenjang pendidikan menengah dan Diploma (D-III) yang berada di bawah pembinaan Kementerian Kesehatan dikelompokkan dalam Politeknik Kesehatan (milik Kemenkes) dan Non Poltekkes (milik Swasta. yang terdiri dari 221 jurusan/program studi (yang berada pada 33 Poltekkes) dan 919 institusi Non Poltekkes. Program pendidikan D-III institusi pendidikan tenaga kesehatan (Diknakes) saat ini berkembang dengan pesat. Kemenkes. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan juga menyelenggarakan program D-IV.TNI/POLRI dan Pemda). 2010 5. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang berkualitas tentu saja dibutuhkan proses pendidikan yang berkualitas pula. baik jenis maupun jumlah di masing-masing provinsi. Jumlah.140 institusi. 128 . Sampai dengan Desember 2009 jumlah institusi Diknakes sebanyak 1.13 RASIO POSKESDES TERHADAP JUMLAH DESA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen. Kementerian Kesehatan merupakan institusi dari sektor pemerintah yang berperan di dalam penyediaan tenaga kesehatan yang berkualitas tersebut. Jenis dan Persebaran Institusi Pembangunan kesehatan berkelanjutan membutuhkan tenaga kesehatan yang memadai baik dari segi jumlah maupun kualitas.GAMBAR 5. Perkembangan jumlah program studi (prodi) pada institusi Poltekkes dan Non Poltekkes terdapat pada Gambar 5.14 berikut ini. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan a.

Tahun 2009 terjadi penambahan 7 prodi. dari 214 prodi pada tahun 2008 menjadi 221 prodi.16 menunjukan jumlah program studi pada institusi Diknakes Non Poltekkes.14 dapat dilihat adanya peningkatan jumlah Jurusan/Prodi Poltekkes setiap tahunnya. Kemenkes. kebidanan dan kesehatan gigi. untuk prodi keterapian fisik terdiri dari fisioterapi. terapi wicara dan 129 . GAMBAR 5.GAMBAR 5.15 JUMLAH PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. 2010 Gambar 5. 2010 Pada Gambar 5. okupasi terapi. untuk prodi keperawatan terdiri dari keperawatan. hal ini sesuai dengan kebutuhan jenis tenaga kesehatan dan pemerataan produksi tenaga kesehatan.14 PERKEMBANGAN JUMLAH PROGRAM STUDI INSTITUSI DIKNAKES POLTEKKES DAN NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2002-2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. Kemenkes.

dan institusi lama yang telah habis masa berlaku akreditasinya. 2010 b.15. Untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada Poltekkes.akupunktur. mulai tahun 2004 Pusdiknakes melakukan akreditasi terhadap jurusan/program studi Poltekkes yang ada. 130 . Jika dilihat berdasarkan kepemilikan dari 919 institusi Diknakes Non Poltekkes tahun 2009 sebanyak 793 institusi (86. 96 prodi (53. Kementerian Kesehatan berusaha melakukan upaya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. Akreditasi merupakan salah satu upaya pembinaan yang dilakukan pemerintah terhadap institusi-institusi pendidikan kesehatan yang ada. selain itu juga untuk melihat kualitas dari masing-masing institusi.9%) dengan strata C.45%) telah diakreditasi dan yang belum terakreditasi sebanyak 32 prodi (18.8%) dengan strata A.16 JUMLAH PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. GAMBAR 5. Informasi selengkapnya mengenai jumlah dan persentase program studi Poltekkes yang telah terakreditasi menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. terdapat 77 prodi (42. Kemenkes. Dari jumlah yang sudah terakreditasi. Sampai tahun 2009 ada 180 prodi Poltekkes (81.29%) dengan status kepemilikan swasta sedangkan selebihnya milik TNI/POLRI dan Pemda. Akreditasi Institusi Dengan banyaknya institusi pendidikan tenaga kesehatan yang ada saat ini.55%). Pada tahun 2002. Akreditasi dilaksanakan bagi institusi baru yang telah menjalankan perkuliahan sampai dengan semester V (lima). institusi Diknakes milik Kemenkes mengalami perubahan status kelembagaan dari Akademi menjadi Poltekkes. untuk lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 5.12. Gambar 5.3%) dengan strata B dan 7 prodi (3.17 berikut ini menunjukkan persentase akreditasi program studi pada institusi Poltekkes.

2010 Akreditasi juga dilakukan pada institusi Diknakes Non Poltekkes. 428 institusi (78.41%) dan yang belum terakreditasi sebanyak 373 institusi (40. Dari jumlah yang sudah terakreditasi. Kemenkes.18 berikut ini menunjukkan persentase strata akreditasi institusi Diknakes Non Poltekkes pada tahun 2009.21%) dengan strata A. Kemenkes. 2010 Jumlah institusi Diknakes Non Poltekkes menurut status kepemilikan menunjukkan sebagian besar institusi dimiliki oleh swasta.29%. 131 . Jumlah institusi yang telah terakreditasi sebanyak 546 institusi (59. GAMBAR 5.18 PERSENTASE STRATA AKREDITASI INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.GAMBAR 5. Sedangkan informasi selengkapnya menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5. Gambar 5.59%). terdapat 72 institusi (13.53%) dengan strata B dan 46 institusi (8.14.17 PERSENTASE STRATA AKREDITASI PROGRAM STUDI POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. yaitu sebesar 86.44%) dengan strata C.

kesehatan gigi komunitas. Program D-IV mempunyai jenis institusi pendidikan yang lebih khusus bidang keilmuannya yaitu untuk jenis institusi keperawatan. selain menyelenggarakan D-III Poltekkes juga menyelenggarakan program D-IV dan Kelas Internasional.545 orang. Dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes terbanyak pada jurusan keperawatan sebanyak 29.854 orang) mengalami kenaikan sebanyak 35. Informasi lebih rinci mengenai jumlah peserta didik program D-IV menurut jenis institusi pendidikan dapat dilihat pada Lampiran 5. Jenis institusi keperawatan terdiri dari keperawatan medical bedah. Pada tahun 2009 program D-IV yang ada di seluruh Indonesia memiliki peserta didik sebanyak 2020. 132 . kesehatan gigi prothodansia.132 orang) dibanding tahun ajaran 2008/2009 (260. Sehubungan dengan hal tersebut sejak tahun 2004.014 orang (76. keperawatan gawat darurat. dental bedah mulut dan perawat gigi pendidik.26%.45% dan TNI/POLRI sebesar 3. Lulusan Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes pada tahun 2009 adalah 62. Hal ini disebabkan karena jumlah institusi pendidikan tenaga kesehatan yang juga mengalami kenaikan.5%.27.278 orang atau 13. yang terdiri dari lulusan Poltekkes adalah 14. diperlukan tenaga kesehatan yang lebih berkualitas.920 orang kemudian jurusan kebidanan sebanyak 18. Jenis institusi kebidanan terdiri dari bidan pendidik dan kebidanan komunitas.02%) dan lulusan Non Poltekkes sebanyak 48. Peserta didik Jumlah peserta didik institusi pendidikan tenaga kesehatan baik poltekes maupun non poltekkes jalur umum tahun ajaran 2009/2010 (296.15.sedangkan kepemilikan oleh Pemerintah Daerah sebesar 10. keperawatan kardiovaskuler.98%). keperawatan klinik kemahiran.357 orang (23. keperawatan jiwa. Jenis institusi kesehatan gigi terdiri dari kesehatan gigi. keperawatan anestesi. c. Informasi lebih rinci mengenai jumlah dan persentase institusi Diknakes Non Poltekkes menurut kepemilikan dapat dilihat pada Lampiran 5. keperawatan intensive dan keperawatan anestesi reanimasi. kebidanan dan kesehatan gigi. d.371 orang.

836 2. Provinsi dengan rasio tertinggi adalah Bali sebesar 33. B.371 346.712 1.722 1. Tiga provinsi yang menghasilkan lulusan tenaga kesehatan terbanyak (Poltekkes dan Non Poltekkes) tahun 2009 adalah Provinsi Jawa Tengah (9.957 6. Belum semua Provinsi mendapatkan data SDM Kesehatan dari semua Kabupaten/ Kota di wilayahnya.166 1.095 1.446 28.347 orang.366 1.685 13.659 orang).835 188.396 1. jumlah dokter umum di Indonesia sebanyak 28.200 26.000 penduduk. Sumatera Utara (8. TENAGA KESEHATAN Data Sumber Daya Masyarakat Kesehatan (SDM Kesehatan) yang terkumpul dari 33 Provinsi belum sepenuhnya dapat menggambarkan SDM Kesehatan secara lengkap.131 4.312 2.2 JUMLAH LULUSAN PROGRAM DIPLOMA III POLTEKKES DAN NON POLTEKKES TAHUN 2002-2009 Rerata Tahun Jenis Tenaga Total 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Lulusan per tahun Keperawatan 17.764 29.236 2.545 1.569 432 581 740 739 858 965 998 781 6.811 25.2 di atas terlihat bahwa rata-rata selama 8 tahun terakhir lulusan Diknakes Diploma III Poltekkes dan Non Poltekkes adalah 43.774 43.343 62.377 52.573 1.332 orang.25 dokter per 100.067 3.555 orang).722 25. Belum ada sistem yang handal yang mengatur manajemen pengumpulan data SDM di daerah.60 dokter per 100.545 68. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Salah satu unsur yang berperan dalam percepatan pembangunan kesehatan adalah tenaga kesehatan yang bertugas di sarana pelayanan kesehatan di masyarakat.329 22. Kabupaten/Kota belum memiliki data SDM Kesehatan secara lengkap. 1.TABEL 5.039 1.943 23.644 5.864 21.014 38.349 orang) dan Jawa Timur (7.689 28.400 800 Kefarmasian 1.356 49. yang tersebar di semua provinsi.425 23.948 3.691 1.347 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.085 6.131 18.139 18.923 1. Menurut pendataan Badan PPSDMK. dikarenakan: 1.855 1. 3.877 41.285 5.557 1. 2010 Dari Tabel 5.555 1. terutama data rumah sakit baik milik pemerintah. 2.488 3.951 8.453 31.553 orang).615 439 711 627 773 742 857 1166 1. dengan lulusan terbanyak adalah D-III Keperawatan (rata-rata 23.562 4.553 3.664 Kesehatan Lingkungan 1.367 3.54 dokter per 100.415 1.250 5.812 12. TNI/POLRI dan Swasta. sedangkan yang terendah adalah Banten dengan rasio 3. Rasio dokter umum terhadap 133 .983 42.515 3.693 2.694 Gizi 1.550 1. Kemenkes.870 1.121 2.519 1.923 8. dengan rasio sebesar 12.337 9.264 13.473 3.000 penduduk.094 762 Kebidanan Kesehatan Gigi Keterapian Fisik Keteknisian Medis Jumlah 3.000 penduduk.

2. 278. dengan status kepegawaian PNS.000 penduduk. Menurut Indikator Indonesia Sehat 2010. yaitu Aceh sebesar 153. Kemenkes. Persebaran Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan SDM Kesehatan di daerah terdiri dari SDM Kesehatan yang bertugas di unit kesehatan (sarana pelayanan dan non pelayanan) di Provinsi dan Kabupaten/Kota. Jumlah bidan pada tahun 2009 sebanyak 93. rasio bidan terhadap penduduk pada tahun 2010 diharapkan mencapai 100 bidan per 100. Dari data yang diterima tercatat sebanyak 519.64 dan Papua Barat sebanyak 111.000 penduduk. swasta dan TNI/POLRI.65 dokter gigi per 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. Dinas Kabupaten/Kota dan UPT.73 dokter gigi per 100.19 berikut ini. pemerintah daerah.805 tenaga medis. sedangkan terendah adalah Sumatera Selatan dengan rasio 0.000 penduduk. Pada tahun 2009 terdapat 3 provinsi yang telah mencapai rasio 100 bidan per 100.000 penduduk.000 penduduk.18 bidan per 100.332 tenaga perawat dan perawat gigi. GAMBAR 5. Jumlah tenaga kesehatan dan non kesehatan tahun 2009 menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.000 penduduk. Provinsi dengan rasio tertinggi adalah DI Yogyakarta sebesar 12.067 tenaga kesehatan dan 109.jumlah penduduk di tiap provinsi pada tahun 2009 dijelaskan pada Gambar 5. 2010 Jumlah tenaga dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 9.22 dokter gigi per 100.000 penduduk. Bengkulu sebanyak 123. rumah sakit/poliklinik dan sarana kesehatan lainnya milik pemerintah pusat. TNI/POLRI dan swasta.532 tenaga non kesehatan. PTT.221 tenaga keperawatan (184.16.19 RASIO DOKTER UMUM TERHADAP 100.3. sehingga rasionya terhadap penduduk sebesar 40.889 orang. 134 . Tenaga kesehatan terdiri dari 51.599 orang yang terdiri dari 410. SDM Kesehatan tersebut bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi dan unit pelaksana teknis (UPT).774 orang dengan rasio sebesar 4.58 bidan per 100. CPNS.

Bila dibandingkan dengan jumlah seluruh puskesmas maka dapat diartikan bahwa belum seluruh puskesmas memiliki dokter gigi.701 orang.20 RASIO DOKTER UMUM DI PUSKESMAS TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.985 tenaga keterapian fisik dan 15.93. Rasio dokter umum terhadap puskesmas tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta sebesar 13 dokter umum per puskesmas (327 dokter umum pada 25 puskesmas yang terdata). GAMBAR 5.61 dokter umum per puskesmas.13 dan Riau sebesar 3. Dari seluruh jumlah tenaga kesehatan. dokter umum yang bertugas di puskesmas sebanyak 13. 2010 Jumlah dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 6. 12. diikuti oleh Kepulauan Riau sebesar 3.141 orang. 2.535 tenaga non kesehatan.858 tenaga kesehatan masyarakat.311 orang yang bertugas di puskesmas dengan rincian 215. 135 .20 berikut ini. Bila dibandingkan antara jumlah puskesmas yang terdata tenaganya (8. Tenaga Kesehatan di Puskesmas Puskesmas yang merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan masyarakat. maka rasio dokter umum adalah 1.762 tenaga gizi. Rasio dokter umum di puskesmas terhadap jumlah puskesmas (yang terdata tenaganya) tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 5.776 tenaga kesehatan dan 29. hanya 8. terdapat 245.509 puskesmas dari 8. terutama ketersediaan tenaga kesehatan. 28.483 keteknisian medis. Pada tahun 2009. Tahun 2009 tidak semua puskesmas terdata jumlah tenaganya. Beberapa provinsi memiliki tenaga dokter spesialis yang bertugas di puskesmas.889 tenaga bidan).953 tenaga kefarmasian.03 dokter umum per puskesmas. kinerjanya sangat dipengaruhi ketersediaan sumber daya manusia yang dimiliki. Kemenkes. a.509 puskesmas) dengan jumlah dokter.737 puskesmas yang ada. 19.

Sampai dengan tahun 2009 terdapat 30. dokter gigi sejumlah 1. Provinsi dengan jumlah keberadaan dokter spesialis PTT terbanyak adalah Sumatera Utara sebanyak 8 orang dan Provinsi Kalimantan Timur sebanyak 7 orang. Jumlah perawat di seluruh puskesmas sebanyak 76. 2010 3. Kemenkes.054 orang. yaitu sejumlah 29 orang.940 orang. dokter umum. sedangkan rasio dokter umum.5%).898 orang dokter umum dan 666 orang dokter gigi. Tenaga Kesehatan dengan Status Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tenaga kesehatan dengan status PTT terdiri dari dokter spesialis.18.784 orang. Dokter spesialis PTT sebagian besar tersebar di daerah dengan kriteria Terpencil. sebagian besar dokter spesialis tersebut berada di Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah 84 orang (52. dokter gigi. Jumlah masing-masing tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Gambar 5.403 tenaga kesehatan PTT Pusat yang masih aktif bertugas di daerah dengan kriteria Biasa. sehingga rata-rata tiap puskesmas memiliki 9-10 orang perawat. Keberadaan dokter umum PTT terbanyak di Nusa Tenggara Timur sejumlah 301 orang. sedangkan untuk daerah dengan kriteria Biasa dan Sangat Terpencil masing-masing sejumlah 9 orang. dan Sangat Terpencil dengan komposisi dokter spesialis sejumlah 47 orang.518 orang. Dokter umum PTT dan dokter gigi PTT sebagian besar tersebar di wilayah dengan kriteria sangat terpencil yaitu 1.Pada tahun 2009 terdapat 160 dokter spesialis yang bertugas di puskesmas.21 JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. dokter gigi dan bidan.21 di bawah ini. Rincian jumlah tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 5. sedangkan bidan PTT sebagian besar tersebar di wilayah biasa sejumlah 16. Terpencil. diikuti oleh Sumatera Utara sejumlah 288 orang dan Aceh sejumlah 282 orang.104 orang. dan bidan sejumlah 25. perawat dan bidan terhadap jumlah puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 5. sedangkan dokter gigi PTT terbanyak bertugas di Nusa Tenggara Timur sejumlah 118 136 .17. dokter umum sejumlah 3. GAMBAR 5.

19. 5.487 orang.395 orang dan Jawa Timur 3.33.22 menampilkan keadaan tenaga PTT di Indonesia tahun 2009. Bidan PTT terbanyak bertugas di Sumatera Utara. Data selengkapnya mengenai distribusi tenaga kesehatan PTT di seluruh provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. Data selengkapnya mengenai pengangkatan tenaga kesehatan PTT di seluruh provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. dokter gigi PTT sebanyak 1.179 orang dengan pengangkatan untuk daerah dengan kriteria Terpencil 77 orang dan 1.24 menampilkan pengangkatan tenaga PTT di Indonesia tahun 2009.006 orang. DOKTER GIGI PTT DAN BIDAN PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian.23 dan 5.269 orang dan bidan PTT sejumlah 11. yaitu sejumlah 4.orang. diikuti Jawa Tengah sejumlah 4.35.807 orang. Gambar 5. Gambar 5. dan Sangat Terpencil sebanyak 16.797 orang.598 orang dengan jumlah pengangkatan untuk daerah dengan kriteria Terpencil 806 orang dan 792 orang untuk daerah dengan kriteria Biasa diikuti provinsi kedua terbanyak adalah Jawa Timur sejumlah 1. dokter umum PTT sejumlah 4. 2010 Pada tahun 2009 telah diangkat tenaga kesehatan PTT untuk daerah dengan kriteria Biasa.234 orang. 5.102 orang untuk daerah dengan kriteria Biasa. yang terdiri dari dokter spesialis PTT sejumlah 35 orang. Pengangkatan bidan PTT terbanyak berada di Provinsi Sumatera Utara sejumlah 1. GAMBAR 5.22 KEBERADAAN DOKTER UMUM PTT.21.20 dan 5. Adapun pengangkatan dokter umum PTT dan dokter gigi PTT terbanyak berada di Provinsi Maluku dengan jumlah 420 orang dan 155 orang dengan pengangkatan untuk daerah terpencil adalah sejumlah 406 orang untuk dokter umum dan 153 orang untuk dokter gigi diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan jumlah 373 dokter umum dan 149 dokter gigi. 137 . Terpencil. Kemenkes.34 dan 5. diikuti oleh Aceh sebanyak 75 orang dan Sumatera Utara sejumlah 66 orang.

Kemenkes. (260 kursi). Tidak terlihat 138 . Fasilitas Pelatihan Kesehatan Fasilitas unit pelatihan kesehatan merupakan komponen yang sangat penting dari penunjang kegiatan pelatihan. Kapasitas asrama. (50 kursi). Ketersediaan fasilitas juga menentukan performance kinerja unit pelatihan kesehatan. kapasitas kelas yang terbanyak BBPK Jakarta. masih beragam (belum standar/sama) khususnya untuk unit pelatihan kesehatan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK). 2010 GAMBAR 5. (400 kursi). kapasitas aula yang terbesar BBPK Ciloto. aula dan ruang diskusi untuk unit Pelatihan Kesehatan UPT Pusat. 2010 4. kapasitas ruang diskusi terbesar di BBPK Ciloto.24 PENGANGKATAN BIDAN PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian. kelas.GAMBAR 5. Kapasitas asrama yang terbesar di BBPK Ciloto (220). Kemenkes.23 PENGANGKATAN DOKTER UMUM PTT DAN DOKTER GIGI PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian.

ternyata Bapelkes Lemah Abang dan Bapelkes Salaman mempunyai kapasitas yang lebih besar daripada BBPK Makassar. Sebagian besar (87. ternyata 68.222 orang).89% (43.98% (3.5%) yang tidak terakreditasi (Bapelkes Jantho. Jika 139 .11% (56.78% tahun 2008).867 orang). Berdasarkan kelompok umur. Jumlah tenaga yang bekerja pada sektor kesehatan yang terlatih di Unit Pelatihan Kesehatan pada tahun 2009 adalah sebanyak 46.60% (28.86% (687 kegiatan).5% dan unit pelatihan kesehatan dengan kapasitas asrama kurang dari 100 tempat tidur sebanyak 12.38% tahun 2008) digunakan untuk kegiatan pelatihan.133 orang).29% (6.23. pelatihan prajabatan 13. Untuk unit pelatihan kesehatan UPT pusat khususnya BBPK. berturut-turut mulai dari yang terbanyak adalah pelatihan teknis kesehatan 50. dan sisanya dipergunakan oleh institusi pemerintah non Kemenkes 9.64% (23.24% tahun 2008). hanya 3 (12. dan pelatihan penjenjangan 1.5% (7. Ternyata masih ada Widyaiswara yang berpendidikan D-III sebanyak 2 orang (3 orang di tahun 2008). pelatihan fungsional 6. jumlah Widyaiswara berkisar antara 1 sampai 11 orang dengan rata-rata 5 orang.361 orang). Fasilitas sarana unit pelatihan kesehatan pada tahun 2009 sebagian besar digunakan untuk kegiatan Kemenkes yaitu 69. pelatih.84% (851 orang). Diharapkan Widyaiswara unit pelatihan kesehatan banyak di kelompok usia kurang dari 50 tahun. Jumlah peserta yang dilatih selama tahun 2009 berdasarkan 5 jenis kategori pelatihan. swasta 20.5%. pelatihan manajemen 17. jumlah terbanyak pada usia 51-60 tahun (86 orang).38% (309 kegiatan). tingkat libat 4 (tempat. penyelenggara/oc dan sc) sebanyak 26. jumlah Widyaiswara berkisar antara 6 sampai 14 orang.5%.74% tahun 2008) sedangkan non pelatihan 5.76% (2298 kegiatan). Variasi yang cukup tinggi terlihat pada unit pelatihan kesehatan UPT daerah untuk seluruh fasilitas unit pelatihan kesehatan dengan kapasitas asrama diatas atau sama dengan 100 tempat tidur ada sebanyak 87.62% tahun 2008) digunakan untuk kegiatan non pelatihan dan 31. Distribusi tingkat keterlibatan institusi diklat dalam kediklatan tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 5. dan Bapelkes Provinsi Maluku). Widyaiswara berdasarkan golongan kepangkatan jumlah terbanyak pada golongan IVA (42 orang) dan tersedikit pada golongan IVE (3 orang). Sedangkan tingkat libat 5 (perancang pelatihan) hanya sebanyak 19. Bapelkes Provinsi Kalimantan Selatan. Distribusi tenaga Widyaiswara kesehatan sangat bervariasi mulai dari yang paling sedikit yaitu 1 (satu) orang dan terbanyak 14 orang.5%) unit pelatihan kesehatan sudah diakreditasi oleh Pusdiklat SDM Kesehatan.perbedaan yang jelas antara Kapasitas yang dimiliki oleh BBPK dan Bapelkes UPT Pusat.40% (30. Dari pemanfaatan fasilitas tersebut. Sedangkan Seat Occupancy Rate (SOR) untuk kegiatan pelatihan rata-rata 34. Unit pelatihan kesehatan UPT daerah dengan kapasitas terkecil adalah Bapelkes Palu. Berdasarkan pendidikan jumlah terbanyak di kelompok pendidikan S2 (112 orang). Sedangkan unit pelatihan kesehatan UPT daerah. Pemanfaatan Unit Pelatihan Kesehatan pada tahun 2009 sebagian besar 39.8% dimanfaatkan sebagai tempat saja. tersedikit di S3 dan D-III masing-masing 2 orang.5%. dan tersedikit di usia kurang dari 40 tahun (16 orang).86% (3.136 orang. dan Bed Occupancy Rate (BOR) 28.

67 trilyun dengan realisasi Rp 6.11%).003.006 (0. Program/kegiatan yang bersifat preventif antara lain penerapan kepemerintahan yang baik.220. Informasi selengkapnya tentang alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. Berikut ini diuraikan anggaran kesehatan yang dialokasikan untuk Kementerian Kesehatan dan anggaran yang disediakan untuk pembiayaan pemeliharaan kesehatan masyarakat.57%). Distribusi anggaran menurut program/kegiatan menunjukkan bahwa alokasi terbesar untuk program yang bersifat kuratif dengan jumlah Rp 12. Pada Tahun 2005 Kementarian Kesehatan memiliki alokasi anggaran sebesar Rp 10.000 (60. PEMBIAYAAN KESEHATAN Salah satu komponen sumber daya yang diperlukan dalam menjalankan pembangunan kesehatan adalah pembiayaan kesehatan.438.dilihat berdasarkan frekuensinya.418.54 trilyun dengan realisasi Rp 16.522.491. Kementerian Kesehatan pada tahun 2009 mengalokasikan anggaran sebesar Rp 20. program obat dan perbekalan kesehatan. C.535. Pembiayaan kesehatan bersumber dari pemerintah dan pembiayaan yang bersumber dari masyarakat. yang dikelompokkan dalam 4 kelompok besar.44 trilyun (80. Realisasi anggaran tertinggi adalah program yang bersifat kuratif dengan jumlah Rp 10. Distribusi Widyaiswara di setiap institusi diklat tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 5. yaitu program/kegiatan yang bersifat promotif.31. Peningkatan tersebut dijelaskan dalam Gambar 5.737. Program/kegiatan yang bersifat promotif yaitu promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. 140 . kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan dan program pendidikan kedinasan. Anggaran Kementerian Kesehatan Anggaran Kementerian Kesehatan dibagi berdasarkan program/kegiatan kesehatan yang berjumlah 14 program/kegiatan.44%).000 (0.400.629 (80. kuratif dan preventif.723.05%). preventif.52%).52 trilyun (61.23%). datanya sama dengan berdasarkan jumlah peserta.23.513 (62. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir terdapat peningkatan alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan. Sedangkan program/kegiatan yang bersifat rehabilitatif yaitu perbaikan gizi masyarakat. sedangkan realisasi terkecil untuk program yang bersifat promotif sebesar Rp 86.403.689.000 dengan jumlah realisasi sebesar Rp 16.494. penelitian dan pengembangan kesehatan.412.25 di bawah ini. jumlah tersebut meningkat pada tahun 2009 menjadi Rp 20. program sumber daya kesehatan. Program/kegiatan yang bersifat kuratif yaitu program upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat. 1.04%). sedangkan alokasi terkecil untuk program yang bersifat promotif sebesar Rp 117. program pencegahan dan pemberantasan penyakit.229.407.

sampai Juni tahun 2010 hanya 55. Data mengenai persentase penduduk yang memiliki jaminan pembiayaan/asuransi kesehatan menurut provinsi sampai tahun 2010 terdapat pada Lampiran 5. GAMBAR 5. Pembiayaan Jaminan Kesehatan Masyarakat Menurut data Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan.26 di bawah ini menurut sumber pembiyaan sampai pertengahan tahun 2010. 2010 2.25 ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Biro Keuangan dan Perlengkapan.26 PERSENTASE PENDUDUK YANG DILINDUNGI JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT/ ASURANSI KESEHATAN DI INDONESIA PER JUNI 2010 Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.95% penduduk yang tercakup oleh jaminan pembiayaan/asuransi kesehatan. Kemenkes. 2010 141 .GAMBAR 5.32. Persentase penduduk yang memiliki jaminan pembiayaan kesehatan oleh program Jaminan pembiayaan/asuransi disajikan pada Gambar 5. Kemenkes.

27 PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. Gambar 5. Untuk pelayanan kesehatan rujukan tersedia 946 RS/Balai/Klinik yang persentase terbesarnya merupakan RS umum dan khusus milik Pemerintah sebanyak 538 RS (57%). pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan beberapa pemerintah daerah telah memberikan jaminan pelayanan kesehatan secara gratis di puskesmas dan kelas III di rumah sakit bagi peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Pada tahun 2009 terdapat 8. GAMBAR 5. diikuti RS swasta umum dan khusus 304 RS (32%). 40 Balai Kesehatan (4%) dan 63 RS TNI/POLRI (7%).Peserta Jamkesmas mendapatkan pelayanan kesehatan komprehensif dan berjenjang dari pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya hingga pelayanan kesehatan rujukan di RS.541 PPK. Jumlah penduduk yang ditanggung oleh program Jamkesmas pada tahun 2009 sebanyak 76.27 di bawah ini menunjukkan persentase pemberi pelayanan kesehatan rujukan peserta Jamkesmas tahun 2009. Kemenkes.400.000 jiwa.541 unit Puskesmas di seluruh Indonesia yang melayani peserta Jamkesmas. *** 142 . 2010 Dalam upaya meningkatkan keterjangkauan masyarakat miskin dan hampir miskin terhadap pelayanan kesehatan. Secara keseluruhan peserta Jamkesmas dilayani oleh 9.

.

Perbandingan antar negara. Maladewa (Maldives). dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggota. Indonesia termasuk dalam negara SEARO (South East Asia Region/SEARO) bersama 10 negara lainnya. Laos (Lao People's Democratic Republic). derajat kesehatan. kemajuan sosial. Berdasarkan pengelompokan negara menurut WHO. Myanmar. Sri Lanka. dilakukan untuk melihat posisi Indonesia terhadap negara-negara lain dalam kawasan yang sama. baik dengan negara-negara ASEAN maupun SEARO. India. dan Vietnam. yaitu Bangladesh. KEPENDUDUKAN Informasi tentang penduduk penting diketahui agar pembangunan dapat diarahkan sesuai kebutuhan penduduk sebagai sasaran sekaligus pelaku pembangunan. A. Thailand. dan Timor Leste. Jumlah penduduk yang besar dapat dipandang sebagai beban sekaligus juga modal dalam pembangunan.ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) merupakan sebuah organisasi geopolitik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. dan upaya kesehatan. Korea Utara (Democratic People's Republic of Korea). Singapura (Singapore). Myanmar. Bhutan. Indonesia. serta memajukan perdamaian di tingkat regional. Kamboja (Cambodia). Filipina. Anggota ASEAN ada 10 negara yaitu Brunei Darussalam. Bab ini akan membahas perbandingan antara Indonesia dengan negara ASEAN dan SEARO dari aspek yang berhubungan dengan kesehatan yaitu aspek kependudukan. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengetahui keadaan penduduk 144 . Thailand. Malaysia. Nepal.

dan Maladewa (0. 8 negara lainnya berpenduduk kurang dari 100 juta jiwa.yaitu jumlah penduduk. yaitu Bhutan (0.4 juta jiwa.3 juta jiwa (data BPS menyatakan penduduk Indonesia tahun 2009 berjumlah 231. Jumlah penduduk di kawasan ASEAN dan SEARO dapat kita lihat pada Gambar 6.3 juta). di kawasan SEARO Indonesia menempati peringkat kedua setelah India (dengan jumlah penduduk 1. Dengan wilayah negara terluas. GAMBAR 6.171 juta jiwa).1 JUMLAH PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet.2 juta jiwa. dan angka kelahiran. Jika di kawasan ASEAN. laju pertumbuhan penduduk. Indonesia selalu menempati peringkat satu negara dengan jumlah penduduk tertinggi di ASEAN. angka beban tanggungan.4 juta jiwa). Selain Bangladesh yang berpenduduk 162.486 penduduk per km2. Sedangkan Brunei Darussalam memiliki jumlah penduduk paling rendah yaitu sekitar 0. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Menurut World Populations Data Sheet 2009. 1. Singapura tercatat sebagai negara yang paling padat di kawasan ASEAN dengan kepadatan 7.7 juta). pada tahun 2009. Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak di antara negara anggota ASEAN lainnya dengan jumlah penduduk 243. Indonesia menempati peringkat pertama dengan jumlah penduduk terbesar. kepadatan penduduk. USAID. bahkan terdapat 2 negara dengan jumlah penduduk kurang dari 1 juta. 2009 Bila dilihat berdasarkan kepadatan penduduk. Angka tersebut 145 .1.

USAID. Maladewa merupakan negara dengan kepadatan penduduk tertinggi kedua di wilayah SEARO. Kepadatan penduduk di Indonesia sebesar 128 jiwa per km2.jauh di atas negara anggota ASEAN lainnya. Negara dengan kepadatan penduduk terendah adalah Bhutan yaitu 15 jiwa per km2. yaitu 1. GAMBAR 6. Indonesia di kawasan ASEAN berada pada peringkat ke lima terpadat. Di kawasan SEARO. atau peringkat ke empat untuk negara dengan kepadatan paling rendah di antara 11 negara. negara dengan kepadatan penduduk terendah adalah Laos dengan 27 penduduk per km2.2 KEPADATAN PENDUDUK DI NEGARA ASEAN & SEARO (Jiwa per km2) TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet. Sementara. Indonesia menempati peringkat ke delapan terpadat. dengan luas wilayah yang juga kecil. walaupun memiliki jumlah penduduk terkecil.127 jiwa per km2. Sedangkan di kawasan SEARO. 2. Laju Pertumbuhan Penduduk 146 .057 jiwa per km2. Tingkat kepadatan penduduk negara-negara ASEAN dan SEARO tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 6.2 di bawah ini. 2009 Secara nasional. Bangladesh memiliki kepadatan penduduk tertinggi dengan 1. Selanjutnya. kepadatan penduduk Indonesia menurut BPS tahun 2009 adalah 121 jiwa per km2.

Laju pertumbuhan penduduk di negara-negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Gambar 6. 147 . diketahui pula kebutuhan dasar penduduk di segenap bidang kehidupan termasuk di bidang kesehatan.1%. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah 1. Pada negara-negara SEARO selama periode yang sama.9%. Laju pertumbuhan penduduk terendah pada Korea Utara dan tertinggi di Timor Leste. Di kawasan ASEAN. Sedangkan bila dilihat dari kawasan SEARO. kematian dan migrasi penduduk. Indonesia menduduki peringkat ke-5 dengan laju pertumbuhan penduduk terendah dari 11 negara.3 di bawah ini.1. GAMBAR 6. Indonesia menduduki peringkat ke-3 terendah (bersama dengan Vietnam) untuk laju pertumbuhan penduduk. sedangkan Myanmar merupakan negara dengan laju pertumbuhan penduduk paling rendah yaitu 0.6% hingga 2. Laju pertumbuhan penduduk dipengaruhi tiga faktor. laju pertumbuhan penduduk per tahun yang tertinggi di antara negara anggota ASEAN adalah Brunei Darussalam dengan laju pertumbuhan penduduk 2.3%. Indikator tersebut biasa dikenal dengan laju pertumbuhan penduduk.2008 Sumber: The State of The Worlds Children.3 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK PER TAHUN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 1998 .Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk di suatu wilayah atau negara di masa yang akan datang. laju pertumbuhan penduduk berkisar antara 0. 2010 Pada periode 1998-2008. yakni kelahiran.8%. Dengan diketahuinya jumlah penduduk yang akan datang. Data kependudukan negaranegara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.

negara dengan penduduk non produktif terendah di kawasan tersebut adalah Thailand yaitu 29%. Semakin tinggi persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif (kelompok umur 0-14 tahun) dan tidak produktif lagi (kelompok umur 65 tahun keatas). Di antara negara-negara di kawasan SEARO. GAMBAR 6. yang dapat dilihat pada Gambar 6. Sebaliknya Singapura merupakan negara dengan komposisi penduduk kelompok umur non produktif terendah yaitu 27%. Laos merupakan negara yang terbesar untuk kelompok umur tersebut dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN yaitu 43% dari total penduduk. Sebaliknya. Timor Leste adalah negara dengan komposisi penduduk usia non produktif tertinggi yaitu 48%. USAID 148 . Persentase penduduk menurut kelompok umur non produktif (kelompok umur 0-14 tahun dan kelompok umur 65 tahun keatas) untuk keadaan tahun 2009. Penduduk Menurut Kelompok Umur Salah satu indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang adalah Angka Beban Tanggungan (dependency ratio).4 KOMPOSISI PENDUDUK YANG PRODUKTIF DAN NON PRODUKTIF DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet 2009.3.4 di bawah ini.

799. Menurut kategori tersebut di atas. kategori sedang. jika IPM > 0.500. yaitu Singapura dan Brunai Darussalam. Ini berarti setiap 100 penduduk usia produktif di Indonesia menanggung 54 penduduk yang belum produktif dan yang dianggap tidak produktif lagi. Komposisi penduduk menurut kelompok umur serta besar Angka Beban Tanggungan di negara-negara kawasan ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6.800 – 0. Bila dilihat dari peringkat di negara ASEAN pada tahun yang sama. Sementara Indonesia memiliki Angka Beban Tanggungan sebesar 54%. berada pada kategori IPM sedang. dan yang terendah adalah Myanmar dengan peringkat ke-138.1. sedangkan 7 negara anggota ASEAN lainnya. pada tahun 2007 terdapat 2 (dua) negara anggota ASEAN masuk dalam kategori sangat tinggi. Berdasarkan standar internasional. terdidik (diukur dari angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah) dan memiliki standar hidup yang layak (diukur dari penghasilan/pengeluaran riil per kapita). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dikategorikan sebagai berikut: kategori sangat tinggi. Laos merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan tertinggi di kawasan ASEAN yaitu 75%.900. Timor Leste merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan tertinggi yaitu 92% sedangkan Thailand merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu 41%. Di kawasan SEARO. bila dibandingkan dengan tahun 2006 IPM Indonesia mengalami peningkatan (IPM 2006 adalah 0. Sedangkan Singapura merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu 37%.Dengan distribusi penduduk seperti yang telah digambarkan di atas.734. jika IPM 0. Malaysia masuk dalam kategori tinggi. termasuk Indonesia. kategori tinggi. Singapura merupakan negara dengan peringkat IPM tertinggi yaitu pada peringkat ke-24 dari 182 negara di dunia. jika IPM <0. IPM Indonesia pada tahun 2007 sebesar 0.899. 149 . sedangkan Indonesia berada pada peringkat ke-111. Indeks Pembangunan Manusia Human Development Index (HDI) merupakan suatu ukuran gabungan tiga dimensi tentang pembangunan manusia.729).500-0. yaitu panjang umur dan menjalani hidup sehat (diukur dari usia harapan hidup). 4. jika IPM > 0. dan kategori rendah.

Perbandingan angka TFR antar negara dapat menunjukkan keberhasilan negara dalam melaksanakan pembangunan sosial ekonominya. Selain itu tentu saja menunjukkan tingkat keberhasilan program keluarga berencana yang dilaksanakan di negara tersebut.5 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Sumber: Human Development Report 2009 Pada tahun 2007 di kawasan SEARO. dan satu negara yaitu Timor Leste masuk dalam kategori rendah. Angka TFR yang tinggi merupakan cerminan rata-rata usia kawin yang rendah. 9 negara memiliki IPM dengan kategori sedang. Total Fertility Rate Angka Fertilitas Total atau Total Fertility Rate (TFR) merupakan gambaran mengenai rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan dari usia 15 sampai 49 tahun. terutama perempuannya. Data IPM negara-negara di kawasan ASEAN dan SEARO tahun 2006 2007 dapat dilihat pada Lampiran 6. tingkat pendidikan yang rendah.GAMBAR 6. tidak ada negara yang memiliki IPM dengan kategori sangat tinggi dan tinggi. 5. 150 . tingkat sosial ekonomi rendah atau tingkat kemiskinan yang tinggi.2. dari 11 negara (Korea Utara tidak ada data).

2. Key Indicators 2002).Angka Fertilitas Total suatu negara dapat dipergunakan bagi para perencana program pembangunan untuk meningkatkan rata-rata usia kawin.9.5. Sedangkan Indonesia masuk dalam kategori sedang dengan angka kesuburan wanita 2.2 .1 atau kurang. yaitu Singapura (1. Angka Fertilitas Total dapat diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan yaitu rendah. Myanmar. sedang. Dengan menggunakan klasifikasi tersebut. Kesuburan rendah terjadi ketika angka kesuburan wanita 2. Thailand. maka pada tahun 2008 ada 4 negara yang termasuk dalam kategori angka kesuburan wanita rendah. 151 .3.6 ANGKA KESUBURAN WANITA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Layer 1 Sumber: World Population Data Sheet 2009. Sedangkan Timor Leste merupakan satu-satunya negara di SEARO yang masuk dalam kategori tinggi yaitu sebesar 6. Bhutan. kesuburan sedang antara 2. dan kesuburan tinggi jika angka kesuburan wanita 4 atau lebih. Bangladesh.8). GAMBAR 6. Korea Utara dan Maladewa termasuk negara dengan Angka Fertilitas Total berkategori rendah.3).6 berikut ini. serta Brunei Darussalam dan Vietnam (masing-masing 2.2 yang berarti untuk setiap wanita di Indonesia rata-rata memiliki anak 2 sampai 3 orang selama masa suburnya.1). Sri Lanka. diantara 11 negara SEARO. USAID Data Angka Fertilitas Total di negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6. 7 negara (Indonesia. India. dan Nepal) masuk dalam kategori sedang. dan tinggi (ADB. Thailand (1. dan meningkatkan program pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan ibu hamil dan perawatan anak. Pada tahun 2008. Besaran Angka Fertilitas Total di negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Gambar 6.

7 ANGKA KELAHIRAN KASAR DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 152 .2.000 penduduk dan diikuti oleh Filipina yaitu 26 per 1. Gambar 6.7 memperlihatkan perbandingan Angka Kelahiran Kasar negara-negara kawasan ASEAN dan SEARO.000 penduduk. Singapura memiliki Angka Kelahiran Kasar terendah yaitu 10 kelahiran per 1.000 penduduk.000 penduduk. di kawasan ASEAN Indonesia menempati peringkat ke-4 tertinggi. Terendah di Thailand (15) dan Korea Utara (16) sedangkan tertinggi di Timor Leste (40) dan Nepal (29).000 penduduk. GAMBAR 6.000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama.6. Angka Kelahiran Kasar Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR) adalah angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1. Angka Kelahiran Kasar pada tahun 2008 di negara-negara ASEAN dengan kisaran 10 sampai 28 per 1.000 penduduk. Pada tahun 2008. Sedangkan Indonesia memiliki Angka Kelahiran Kasar sebesar 21 kelahiran untuk setiap 1. Angka Kelahiran Kasar di negara-negara SEARO berkisar antara 15 sampai 40 per 1. Dengan 21 kelahiran per 1.000 penduduk. sedangkan di kawasan SEARO menempati peringkat ke-6 tertinggi untuk Angka Kelahiran Kasar. Angka tertinggi terjadi di Laos dengan Angka Kelahiran Kasar 28 per 1. Data Angka Kelahiran Kasar di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.

940 per kapita).200 perkapita) diikuti oleh Singapura (US$ 47. Pendapatan Nasional Bruto perkapita tertinggi di 2008 antara negara anggota ASEAN adalah Brunei Darussalam (US$ 50.820. Jika dibandingkan dengan 19 negara di ASEAN dan SEARO. Indonesia berada di peringkat ke-6 tertinggi pendapatan nasional bruto per kapita. 153 . USAID Dari sepuluh negara di SEARO (tidak ada data untuk Korea Utara). dan terendah adalah Nepal dengan US$ 1.8 di bawah ini.290 dan US$ 1. seluruhnya memiliki Pendapatan Nasional Bruto perkapita kurang dari US$ 6. Pendapatan Nasional Bruto di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Gambar 6. yaitu masing-masing US$ 1. Sosial Ekonomi Pendapatan Nasional merupakan salah satu indikator untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu negara.120. USAID 7.830.8 PENDAPATAN NASIONAL BRUTO DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009.990. Negara dengan pendapatan nasional bruto perkapita tertinggi adalah Thailand yaitu sebesar US$ 5. Myanmar dan Kamboja merupakan negara dengan Pendapatan Nasional Bruto perkapita terendah.Sumber: World Population Data Sheet 2009.000. GAMBAR 6. Sedangkan Indonesia memiliki pendapatan nasional bruto perkapita sebesar US$ 3. beserta pendapatan yang diterima dari negara lain. Pendapatan Nasional Bruto perkapita (Gross National Income) terdiri atas sejumlah nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara.

sedang 20-49. Lima Negara masuk kategori sedang dan selebihnya.9 menunjukkan bahwa pada tahun 2008. DERAJAT KESEHATAN MORTALITAS 1. dan sangat tinggi jika AKB di atas 100 per 1. yaitu Filipina.Vietnam dan Thailand termasuk negara dengan Angka Kematian Bayi rendah.000 kelahiran hidup. 154 . Berdasarkan klasifikasi yang sama maka 2 negara di SEARO. Dari 10 negara anggota ASEAN tidak ada yang masuk dalam kelompok angka kematian bayi sangat tinggi (>100 per 1.9 ANGKA KEMATIAN BAYI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2007. lima negara ASEAN yaitu Singapura. sementara 2 negara lainnya (Kamboja dan Myanmar) masuk dalam kelompok negara yang memiliki Angka Kematian Bayi tinggi. 2010 Gambar 6. yaitu 4 negara termasuk kategori tinggi.000 kelahiran hidup. Brunei Darussalam.000 kelahiran hidup). Tiga negara. Indonesia dan Laos. termasuk kelompok sedang. Angka Kematian Bayi Angka kematian bayi diklasifikasikan menjadi empat kelompok yaitu rendah jika AKB kurang dari 20. yaitu Sri Lanka dan Thailand masuk dalam kategori negara dengan angka kematian bayi rendah dengan angka 13 per 1. USAID Sumber: World Health Statistics WHO. Malaysia. GAMBAR 6. tinggi 50-99.B.

Angka Kematian Balita Penurunan kasus kematian pada anak merupakan salah satu hal yang dianggap penting dalam tujuan pembangunan milenium. malaria.000 kelahiran hidup.2. sebaliknya di SEARO hanya 4 negara dengan AKABA kurang dari 50.000 kelahiran hidup. 2. Angka Kematian Balita terendah dicapai Singapura yaitu 3 kematian per 1. Angka Kematian Balita di SEARO berkisar antara 14 sampai 122 per 1.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. 155 . dan Laos yang memiliki Angka Kematian Balita di atas 50 per 1. hanya Myanmar. Jika di ASEAN hanya terdapat 3 negara (dari 10 negara) dengan AKABA lebih dari 50 per 1. dan malnutrisi.10 ANGKA KEMATIAN BALITA (PER 1. sedangkan yang tertinggi adalah di . pneumonia. Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 70% kematian balita disebabkan diare.000 kelahiran hidup. Kamboja. Seperti di ASEAN.Besaran Angka Kematian Bayi di negara-negara ASEAN dan SEARO berkisar antara 2 dan 75.000 KELAHIRAN HIDUP) DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Health Statistics 2010 Data yang didapat dari “World Health Statistics 2010” memperlihatkan perbedaan yang mencolok Angka Kematian Balita di antara negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2008. campak.000 kelahiran hidup. Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Balita tertinggi. Data Angka Kematian Bayi di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. Sebagian besar negara ASEAN memiliki Angka Kematian Balita kurang dari 50 per 1.Myanmar yaitu sebesar 122 kematian per 1. GAMBAR 6. Menurut sumber yang sama. Indonesia memiliki angka kematian bayi 31 per 1000 kelahiran hidup dan berada di peringkat 9 di antara 18 negara tersebut. sedangkan terendah adalah Thailand. Pada kasus kematian yang tinggi biasanya jumlah kematian terbanyak terjadi pada usia balita saat mereka rentan terhadap penyakit.

Indonesia menempati peringkat ke-4 terendah kematian balita per 1. 200-499 per 100.000. 3. dan ≥1. Indonesia menempati peringkat ke-4 tertinggi kematian balitanya. GAMBAR 6.11 ANGKA KEMATIAN MATERNAL DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2005 Sumber: World Health Statistics 2009 Pada tahun 2005 hanya 2 negara ASEAN yaitu Brunei Darussalam dan Singapura yang mencapai Angka Kematian Ibu <15 masing-masing 13 dan 14 per 100. Pada tahun yang sama.000 kelahiran hidup. Data Angka Kematian Balita di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.000 156 . Di kawasan ASEAN. pneumonia.Pada Gambar 6. Angka Kematian Ibu Berdasarkan klasifikasi Angka Kematian Ibu dari WHO adalah sebagai berikut.000 kelahiran hidup.000.2. sedangkan pada kawasan SEARO. Pada tahun 2008.000. Telah dipaparkan sebelumnya bahwa sebagian besar kematian balita disebabkan oleh diare. 15-199 per 100. Negara-negara dengan Angka Kematian Ibu > 500 di ASEAN ada 2 negara yaitu Laos (660 per 100.000 kelahiran hidup) dan Kamboja (540 per 100. dan malnutrisi.000 kelahiran hidup (menurut SDKI 2007 AKABA Indonesia adalah 44). <15 per 100. Hal itu berarti negara-negara ASEAN mungkin memiliki sanitasi dan keadaan ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara-negara SEARO. Sekitar 55% memiliki Angka Kematian Ibu 200-499 per 100.000 per 100.000 kelahiran hidup). di Indonesia terdapat 41 kematian balita per 1. negara-negara di SEARO tidak ada yang mencapai Angka Kematian Ibu <15.10 terlihat bahwa negara-negara ASEAN memiliki Angka Kematian Balita relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara SEARO. 500-999 per 100.000.000 kelahiran hidup.

kelahiran hidup. Pada umumnya penduduk tua mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda. tidak berbeda jauh dengan negara-negara di kawasan ASEAN.12 ANGKA KEMATIAN KASAR (PER 1. berdasarkan data SDKI 2007. Indonesia berada di peringkat ke-12 (dari 18 negara di ASEAN dan SEARO) untuk Angka Kematian Ibu yaitu 420 per 100. Angka nasional untuk Angka Kematian Ibu di Indonesia adalah 228 per 100.2.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. 157 . yakni sebesar 10 per 1. Data Angka Kematian Ibu di negara ASEAN dan SEARO tahun 2005 dapat dilihat pada Lampiran 6. Jika tidak ada indikator kematian yang lain angka ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan.000 penduduk. Keadaan Angka Kematian Kasar di negara-negara kawasan SEARO.000 penduduk.000 PENDUDUK) DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009. GAMBAR 6. pada tahun 2008 Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Kasar atau Crude Death Rate (CDR) tertinggi. yaitu Nepal (830) dan Bangladesh (570). Dan 18% memiliki Angka Kematian Ibu >500.000 penduduk. Angka Kematian Kasar Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1. 4. Di antara kedua kawasan tersebut. Sementara. USAID Di antara negara-negara anggota ASEAN. sementara terendah adalah Maladewa dengan 4 kematian per 1.000 penduduk. Korea Utara dan Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Kasar tertinggi yaitu 10 per 1.

Data Angka Harapan Hidup di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. Indonesia menduduki peringkat ke-2 terendah. 5. Indonesia dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir 67 tahun menempati peringkat ke-4 terendah. Maladewa merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir (Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 74 tahun. dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. GAMBAR 6. Di kawasan ASEAN. di Indonesia terdapat 6 kematian per 1. 158 . Negara yang memiliki Angka Harapan Hidup waktu lahir terendah adalah Myanmar yaitu 54 tahun. Indonesia menduduki peringkat ke-5 tertinggi Angka Kematian Kasar sedangkan di kawasan SEARO. USAID Untuk kawasan SEARO. Gambar 6.Pada tahun 2008. Negara yang memiliki umur harapan hidup waktu lahir terendah adalah Myanmar yaitu 54 tahun. Singapura merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir (Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 81 tahun. Angka Harapan Hidup Angka Harapan Hidup merupakan indikator untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya. sedangkan di kawasan SEARO menempati peringkat ke4 tertinggi.2.13 memperlihatkan bahwa pada tahun 2008 di antara sepuluh negara anggota ASEAN.2. Di kawasan ASEAN.000 penduduk.13 ANGKA HARAPAN HIDUP DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009. Data Angka Kematian Kasar di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.

000 penduduk) dan terendah adalah Maladewa (13 per 100. Sedangkan Singapura dan Brunei Darussalam memiliki prevalensi tuberkulosis di bawah 50 kasus per 100.000 penduduk. 159 . berkisar antara 13 sampai 660 per 100.000 penduduk.14 PREVALENSI DAN KEMATIAN AKIBAT TUBERKULOSIS PER 100.MORBIDITAS 1. Negara dengan prevalensi tuberkulosis tertinggi tahun 2008 adalah Timor Leste (660 per 100.000 ribu penduduk.000 PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Health Statistics 2010 Seperti halnya negara-negara di ASEAN. GAMBAR 6.000 penduduk.000 penduduk yaitu masing-masing 27 dan 43 kasus per 100. Kamboja merupakan negara dengan prevalensi tuberkulosis tertinggi di ASEAN yaitu 680 per 100.000 penduduk. Prevalensi Tuberkulosis (TBC) Data dari “World Health Statistics 2010” menunjukkan besarnya perbedaan prevalensi tuberkulosis per 100. Sedangkan kasus kematian akibat tuberkulosis terendah terjadi di Singapura dan Brunei Darussalam masing-masing 3 dan 4 kematian per 100.000 penduduk di negara-negara ASEAN dan SEARO. Masih menurut sumber yang sama. Angka prevalensi tuberkulosis pada tahun 2008 di negara-negara anggota ASEAN berkisar antara 27 sampai 680 per 100. angka prevalensi tuberkulosis pada tahun 2008 di negara-negara SEARO memiliki kesenjangan yang cukup besar.000 penduduk).000 penduduk dan kematian yang berhubungan dengan tuberkulosis per 100. kematian akibat tuberkulosis pada tahun 2008 tertinggi terjadi di Kamboja yaitu 79 per 100.000 penduduk.

Akibatnya sebanyak 18 orang harus dirawat di rumah sakit. angka kematian akibat tuberkulosis yang terendah juga di Maladewa (3 per 100. Avian Influenza pertama kali masuk ke wilayah ASEAN pada tahun 2003 melalui Vietnam. Di antara 18 negara di ASEAN dan SEARO.15 JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2003-2009 160 . Indonesia. GAMBAR 6. Seperti halnya angka prevalensi. Laos. ilmuwan meyakini penularan virus influenza dari unggas ke manusia tidak terjadi secara langsung. 2. dan 6 diantaranya meninggal dunia. Indonesia dengan prevalensi 210 per 100.4.000 penduduk. Myanmar dan Kamboja. angka kematian tertinggi akibat tuberkulosis juga terjadi di Timor Leste yaitu 83 kematian per 100. Avian Influenza Kemunculan strain virus influenza yang baru pada manusia (strain H5N1) pertama kali terdeteksi di Hongkong. Sampai dengan akhir tahun 2009. Thailand. Ditemukan fakta pertama kali bahwa virus Avian Influenza dapat menular langsung dari unggas ke manusia. 6 negara di wilayah ASEAN telah terinfeksi Avian Influenza yaitu Vietnam.00 penduduk).000 penduduk berada pada urutan ke-9 tertinggi yang dapat dilihat pada Lampiran 6. Seperti angka prevalensi tuberkulosis. 3 orang dinyatakan menderita penyakit tersebut dan seluruhnya meninggal. Sebelum tahun 1997.Sedangkan kematian akibat tuberkulosis di negara-negara kawasan SEARO berkisar antara 3 sampai 83 per 100.000 penduduk.

Sumber: WHO. terjadi peningkatan CFR menjadi 88. Tahun 2009. Di 3 negara yang pernah terjangkit virus ini (Laos. Thailand pun telah terinfeksi virus H5N1 ini.int/csr/disease/avian_influenza/country/cases_table_2010_03_16/en/index. Pada tahun tersebut selain Vietnam. virus Avian Influenza menyebar di 3 negara ASEAN.1 memperlihatkan bahwa selama 2 tahun terakhir.65%). TABEL 6. jika sebelumnya hampir 100% berakhir pada kematian.22%).who. Semenjak itu jumlah kasus Avian Influenza terus menurun. tahun 2005 dari 90 penderita 38 meninggal (42. Akhir tahun 2005 jumlah penderita dan negara yang terinfeksi Avian Influenza terus bertambah. Vietnam dan Indonesia. 90 orang menjadi korban. Pada tahun 2008 terdapat 31 kasus dari 3 negara di ASEAN dengan 25 kematian (CFR = 80.89% (27 kasus dengan 24 kematian). 2008 Gambar 6. Namun kali ini jumlah kematian bisa ditekan. yaitu Kamboja.html Ket. 161 . Myanmar dan Thailand) sudah tidak menunjukkan adanya penemuan kasus.: K = Kasus M = Meninggal Tabel 6.15 memperlihatkan jumlah kasus dan kematian akibat Avian Influenza di wilayah ASEAN sejak tahun 2003 sampai 2009. namun tidak demikian dengan angka kematiannya (CFR).1 JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA MENURUT NEGARA TAHUN 2003-2009 NEGARA Kamboja Laos Vietnam   Indonesia    Myanmar   Thailand   Bangladesh   ASEAN SEARO 2003 K M 0 0 0 0 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3 0 0 2004 K M 0 0 0 0 29 20 0 0 0 0 17 12 0 0 46 32 17 12 2005 K M 4 4 0 0 61 19 20 13 0 0 5 2 0 0 90 38 25 15 2006 K M 2 2 0 0 0 0 55 45 0 0 3 3 0 0 60 50 58 48 2007 K M 1 1 2 2 8 5 42 37 1 0 0 0 0 0 54 45 43 37 2008 K M 1 0 0 0 6 5 24 20 0 0 0 0 1 0 31 25 25 20 2009 K M 1 0 0 0 5 5 21 19 0 0 0 0 0 0 27 24 21 19 Total K M 9 7 2 2 112 57 162 134 1 0 25 17 1 0 311 217 189 151 Sumber: http://www. Kasus pertama kali menyerang Vietnam dengan 3 korban yang keseluruhannya berakhir pada kematian. Tahun 2004 jumlah kasus meningkat menjadi 46 dengan 32 kematian.

TABEL 6. Dilaporkan terdapat 1 kasus ditemukan di Laos. Tetanus Neonatorum. sebanyak 350 penduduk dari 2 negara di ASEAN yaitu Kamboja dan Indonesia terserang penyakit polio.Penyakit flu burung mulai menyerang manusia di kawasan SEARO pada tahun 2004. Penyakit-penyakit tersebut adalah Tuberkulosis. Negara-negara di SEARO yang terjangkit flu burung sejak 2004 adalah negara-negara yang juga tergabung dalam ASEAN. Campak. Namun. Tetanus. Namun. 2 penderita berasal dari Indonesia dan masing-masing 1 penderita berasal dari Kamboja dan Myanmar. 162 .2 JUMLAH KASUS POLIO PER NEGARA TAHUN 2004-2008 NEGARA 2004 2005 2006 2007 2008 Kamboja 0 1 1 0 0 Laos 1 0 0 0 0 Indonesia 0 349 2 0 0 Myanmar 0 0 1 15 0 Bangladesh 0 0 18 0 0 India 134 66 676 873 559 Nepal 0 4 5 5 6 ASEAN 1 350 4 15 0 SEARO 134 419 702 893 565 Sumber: WHO vaccine-preventable disease monitoring system. Hepatitis B. di antara penyakit-penyakit tersebut terdapat penyakit yang dapat dicegah dengan melakukan imunisasi. di antara negara-negara anggota ASEAN. Pada tahun 2007. Pada tahun 2005 jumlah kasus polio mencapai puncaknya. 349 di antaranya terjadi di Indonesia. 2009 global summary Sejak tahun 2001 kasus polio tidak ditemukan di negara-negara di ASEAN. Tahun 2006 penularan penyakit polio mulai dapat dikendalikan. Negara-negara tersebut adalah Thailand dan Indonesia. dan Polio. Indonesia yang pada tahun 2005 terjadi kejadian luar biasa dengan ditemukannya 349 kasus polio mampu mengendalikan kejadian tersebut sehingga pada sejak 2007 tidak ditemukan lagi kasus polio. POLIO Beberapa penyakit dapat berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa. 3. atau biasa disebut dengan PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi). hanya Myanmar yang masih ditemukan kasus polio bahkan jumlahnya meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya ditemukan 1 kasus menjadi 15 kasus. Difteri. Pertusis. yaitu di Thailand. sehingga hanya ditemukan 4 penderita di kawasan ini. pada tahun 2004 virus polio liar kembali menyerang penduduk di kawasan ASEAN.

Tetanus pada bayi. India mengalami penurunan 36% dari tahun sebelumnya. 2009 global summary Jika dibandingkan dengan kawasan ASEAN. di SEARO masih ditemukan sebanyak 565 kasus dari 2 negara. Tetanus Neonatorum Kasus tetanus banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan lingkungan rendah.16 JUMLAH KASUS POLIO DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2004-2008 Sumber: WHO vaccine-preventable disease monitoring system. karena umumnya terjadi pada bayi baru lahir atau usia di bawah satu bulan. namun 99% kasus di SEARO terjadi di India. Semenjak 2004 sampai 2006 jumlah kasus lambat laun kembali meningkat. yaitu India dan Nepal. GAMBAR 6. 4. kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. spora Clostridium tetani yang masuk melalui luka tali pusat. dikenal dengan istilah Tetanus Neonatorum. wilayah ASEAN sudah tidak ditemukan lagi kasus Polio. sementara Nepal mengalami kenaikan 20%. Penyebabnya. karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan. Tingginya angka kejadian ini karena kontribusi jumlah kasus yang sangat besar oleh India yang merupakan salah satu dari 4 negara endemis polio. jumlah seluruh kejadian polio di kawasan SEARO cukup tinggi sejak tahun 2002 dan tahun-tahun sebelumnya. Walau pada 2008 India telah berhasil menekan jumlah kasus polio. Tetanus adalah salah satu penyakit menular dan paling berisiko mengakibatkan kematian. 163 .Pada tahun 2008. Namun. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan.

Tidak seperti imunisasi BCG atau campak yang membutuhkan 1 dosis. Dari 22 tujuan yang disepakati dalam pertemuan dunia tentang anak. dan campak. yaitu 811 kasus. Jumlah kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi di negara-negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6. Tetanus Neonatorum terjadi di 8 negara ASEAN.Pada tahun 2008. BCG seringkali digunakan sebagai cerminan proporsi anak-anak yang dilindungi dari bentuk tuberkulosis yang parah selama 1 tahun pertama hidupnya. sementara Indonesia justru berada di urutan ke-5. tahun 2008 pada kawasan SEARO jumlah kasus tetanus neonatorum yang terjadi di India jauh melebihi kasus di negara lain di kawasan ASEAN. Imunisasi polio merupakan imunisasi untuk mencegah penyakit polio. Berdasarkan Vaccine-Preventable Disease Monitoring System 2009. BCG. campak adalah penyebab utama kematian anak. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk. angka tertinggi kasus tetanus neonatorum terjadi di Kamboja. Indonesia dan Bangladesh menempati urutan kedua dan ketiga terbesar dengan masing-masing 183 dan 152 kasus. Di Singapura dan Brunei Darussalam dilaporkan tidak ada kasus Tetanus Neonatorum. dan juga digunakan sebagai salah satu indikator akses ke pelayanan kesehatan. Di seluruh negara ASEAN dan SEARO. Akan tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. imunisasi campak 164 . Selain BCG. Thailand merupakan negara dengan kasus terendah.158. Di antara penyakit pada anak-anak yang dapat dicegah dengan imunisasi.57. Cakupan Imunisasi Imunisasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah kematian pada bayi dengan memberikan vaksin. C. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor penting dalam mengurangi angka kematian balita. Sedangkan di Bhutan. India tetap menjadi negara di urutan pertama dengan angka 1. Beberapa imunisasi yang wajib diberikan pada bayi adalah imunisasi polio. UPAYA KESEHATAN 1. Maka untuk mengukur keberhasilan upaya kesehatan yang digunakan adalah polio3 yaitu ketika bayi telah mendapatkan imunisasi polio sebanyak 3 dosis (3 kali). salah satunya adalah mempertahankan cakupan imunisasi campak sebesar 90%. vaksin lain yang wajib diberikan pada bayi adalah polio. dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia dan Filipina yang melebihi 100 orang. imunisasi polio membutuhkan 3 dosis.6. baik dari jumlah kasus maupun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Korea Utara dan Maladewa dilaporkan tidak ada kasus tetanus neonatorum.

Jika dibandingkan dengan imunisasi lainnya pada Gambar 6. Maladewa. Dengan demikian. Menurut sumber yang sama. Berarti besarnya cakupan imunisasi campak juga menggambarkan besarnya cakupan bayi yang telah mendapat imunisasi lengkap. diasumsikan bayi yang mendapatkan imunisasi campak telah mendapatkan imunisasi lengkap. Bhutan. Bangladesh.17. Korea Utara. dan Campak).17 CAKUPAN BEBERAPA IMUNISASI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber : WHO Immunization Summary. Sedangkan Timor Leste merupakan negara dengan cakupan imunisasi BCG terendah yaitu 68%. 7 dari 10 negara anggota ASEAN telah mencapai target cakupan imunisasi polio3 sebesar 90%. 6 dari 165 . cakupan imunisasi BCG pada bayi umumnya lebih tinggi.diberikan pada bayi usia 9-12 bulan dan merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada bayi di antara imunisasi wajib lainnya (BCG. Hepatitis. Negara-negara tersebut adalah Thailand. 7 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi BCG 90%. DPT. 2010: A Statistical Reference Containing Data through 2008 Pada tahun 2008. Polio. Di kawasan SEARO. Cakupan tertinggi dicapai oleh Brunei Darussalam dan Thailand yaitu 99% dan terendah adalah Laos yaitu 60%. Pada tahun 2008 cakupan imunisasi BCG tertinggi di antara negara anggota ASEAN dicapai Thailand dan Singapura 99% dan terendah Laos 68%. Hal tersebut terjadi karena jadwal pemberian imunisasi BCG yang relatif lebih awal dibandingkan dengan imunisasi yang lain—bahkan beberapa negara memberikan imunisasi BCG sesaat setelah bayi dilahirkan—sehingga bayi masih dalam pantauan petugas kesehatan. Indonesia dan Sri Lanka. GAMBAR 6.

Korea Utara. Hal tersebut berarti pencapaian kedua indikator tersebut belum mencapai target walaupun untuk angka kesembuhan hampir mencapai target. Sedangkan negara-negara lain telah mencapai imunisasi tersebut di atas 60%.67%. Cakupan imunisasi Campak di Indonesia 2008 sebesar 83%. Pada tahun yang sama. dan Malaysia (76%). Maladewa dan Sri Lanka.11 negara di kawasan SEARO telah mencapai cakupan imunisasi polio3 sebesar 90%. Di kawasan SEARO. 166 . namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi di India. dan 83% mendapatkan imunisasi campak. Cakupan imunisasi polio tertinggi adalah Thailand 99% dan terendah adalah India dengan 67%. Empat negara tersebut adalah Brunei Darussalam (87%). Negara-negara tersebut adalah Thailand. Vietnam dan Thailand. Negara-negara tersebut adalah Brunei Darussalam. Pengendalian TB Paru WHO telah menetapkan target untuk temuan kasus TB Paru melalui strategi DOTS 70% dan angka kesembuhan 85%. Cakupan 5 imunisasi dasar di ASEAN dan SEARO lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6. Sementara pencapaian secara global temuan kasus TB Paru adalah 60% dan angka kesembuhan mencapai 84%. Hampir di seluruh negara ASEAN dan SEARO imunisasi hepatitis merupakan imunisasi dasar yang diberikan pada bayi. Singapura. yaitu 21%. 4 negara ASEAN telah mencapai target penemuan penderita yang ditetapkan WHO yaitu 70%. Singapura (87%). 77% mendapatkan imunisasi polio3. Filipina. Sementara di Indonesia sebanyak 89% bayi telah mendapatkan imunisasi BCG.7. Di India imunisasi hepatitis bukan merupakan imunisasi dasar. 2.7 dapat dilihat hanya India yang merupakan negara dengan persentase rendah bayi yang mendapat imunisasi hepatitis3. Thailand merupakan negara dengan cakupan imunisasi campak tertinggi yaitu 98%. Sedangkan yang terendah adalah Laos dengan cakupan campak sebesar 52%. 5 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi Campak 90%. bahkan beberapa di antaranya telah melebihi 90%. maka pada Lampiran 6. Pada tahun 2008. Enam negara ASEAN lainnya belum mencapai target penemuan penderita penyakit paru karena masih berkisar 43% . 6 negara anggota ASEAN juga telah mencapai target imunisasi campak yaitu 90%. Sedangkan India merupakan negara dengan cakupan imunisasi Campak terendah yaitu 70%. Bhutan. Indonesia (80%). Malaysia.

Malaysia. pada tahun 2007 terdapat 6 negara di ASEAN dengan angka kesembuhan mencapai target (85%). Indonesia termasuk salah satu negara yang mencapai target untuk angka kesembuhan ini. Bangladesh yang pada tahun 2006 memiliki angka kesembuhan tertinggi (92%) turun menjadi negara dengan angka kesembuhan terendah (62%) di tahun 2007.19 terlihat bahwa Indonesia telah mencapai target yang ditetapkan terhadap indikator case detection rate (angka penemuan penderita) dan 167 . yaitu 91%. Brunei.18 PENEMUAN PENDERITA TB PARU DI NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 GAMBAR 6. Ada penurunan angka drastis pada tahun ini. Penemuan penderita tuberkulosis terendah terdapat di Timor Leste dengan cakupan 33%.18 dan 6. GAMBAR 6. Pada Gambar 6.19 ANGKA KESEMBUHAN TB PARU DI NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Sumber: World Health Statistic 2010 Sumber: World Health Statistic 2010 Menurut sumber yang sama. dari Gambar 6. Angka kesembuhan tertinggi dicapai Kamboja dengan 94% dan terendah adalah Malaysia dengan 72%. dan Thailand termasuk negara yang belum mencapai target penyembuhan penderita. Tertinggi dicapai Buthan dengan angka kesembuhan 93% dan terendah adalah Bangladesh dengan angka kesembuhan 62%.19 terlihat bahwa 7 negara di kawasan SEARO telah mencapai angka penyembuhan penderita. Sementara itu. Negara dengan angka cakupan penemuan tertinggi adalah Maladewa dengan 86%. Singapura.Dari 11 negara-negara di kawasan SEARO hanya 6 negara yang sudah mencapai target penemuan penderita Tuberkulosis.

succes rate (angka kesembuhan). Bahkan untuk angka kesembuhan, Indonesia mencapai
angka tertinggi ke-2 di kawasan SEARO.

3. Sumber Air Bersih dan Sanitasi
Pada tahun 2008, di antara 10 negara anggota ASEAN (Brunei Darussalam tidak ada
data), penduduk yang menggunakan sumber air bersih yang telah mencapai 80% atau lebih
sebanyak 6 negara. Hanya Kamboja, Laos dan Myanmar dengan persentase penduduk yang
memiliki akses terhadap air bersih kurang dari 80%. Persentase tertinggi dicapai Malaysia
dan Singapura yaitu 100% dan terendah Laos dengan 57%.
Pada tahun yang sama, di antara negara-negara di kawasan SEARO hampir seluruh
negara dengan penduduk yang menggunakan sumber air bersih 80% atau lebih, kecuali
Timor Leste dengan persentase sebesar 69%. Negara dengan persentase tertinggi adalah
Korea Utara yaitu 100%.
GAMBAR 6. 20
PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SUMBER AIR BERSIH DAN
SARANA SANITASI SEHAT DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008

Sumber: World Health Statistics 2010

Berdasarkan Gambar 6.20 di atas terlihat bahwa di antara negara-negara di ASEAN
dan SEARO terdapat perbedaan persentase yang besar antar negara dengan penduduk yang
menggunakan sarana sanitasi sehat tertinggi dan yang terendah dengan kisaran 29% dan
100%. Negara dengan cakupan 29% adalah Kamboja dan negara dengan cakupan 100%
adalah Singapura. Dibandingkan persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih,
168

maka persentase penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat relatif rendah, masih
terdapat 10 negara di kawasan ini dengan penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat
di bawah 80%. Persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih dan sarana
sanitasi sehat di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.3.

4. Pelayanan Kesehatan Ibu
Dari 10 anggota ASEAN (Brunei, Laos, Malaysia dan Singapura tidak ada data),
Indonesia merupakan negara dengan persentase pemeriksaan ibu hamil (K4) tertinggi yaitu
sebesar 81%. Sedangkan yang terendah tercatat di Kamboja yaitu sebesar 27%. Untuk
kawasan SEARO cakupan pemeriksaaan ibu hamil (K4) tertinggi dicapai oleh Korea Utara
yaitu sebesar 95%, diikuti oleh Maladewa (91%), dan yang terendah adalah Bangladesh
sebesar 21 %.
Cakupan pertolongan persalinan di negara-negara ASEAN bervariasi dengan cakupan
tertinggi di Negara Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia masing-masing sebesar
100% dan yang terendah di Laos dengan cakupan 20%. Indonesia dengan cakupan salinakes
73% berada pada peringkat ke-6 dari 10 negara. Untuk kawasan SEARO cakupan salinakes
tertinggi dicapai oleh Thailand dan Sri Lanka yaitu sebesar 99% dan yang terendah di
Bangladesh sebesar 18%.
Persentase peserta KB aktif pada wanita subur tahun 2009 di negara-negara anggota
ASEAN (Brunei Darussalam dan Malaysia tidak ada data) yang tertinggi dicapai oleh
Thailand dengan cakupan sebesar 70%, dan yang terendah di Kamboja sebesar 27%.
Indonesia dengan cakupan peserta KB aktif sebesar 57% berada pada peringkat ke-3 dari 10
negara ASEAN. Untuk negara-negara anggota SEARO cakupan peserta KB aktif tertinggi
dicapai oleh Thailand sebesar 70% dan yang terendah di Bangladesh sebesar 18%.

***

169

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2006. Estimasi Parameter Demografi SUPAS 2005. BPS, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2005. BPS, Jakarta.
___________. 2007. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2006. BPS, Jakarta.
___________. 2008. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2007. BPS, Jakarta.
___________. 2009. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2008. BPS, Jakarta.
___________. 2005. Beberapa Indikator Penting Sosial-Ekonomi Indonesia 2005. BPS,
Jakarta.
___________. 2007. Beberapa Indikator Penting mengenai Indonesia. BPS, Jakarta.
___________. 2010. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.
BPS, Jakarta.
___________. 2010. Analisis Dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan 2010. BPS, Jakarta.
___________. 2004. Statistik Indonesia 2003. BPS, Jakarta.
___________. 2005. Statistik Indonesia 2004. BPS, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Indonesia 2005/2006. BPS, Jakarta.
___________. 2007. Statistik Indonesia 2007. BPS, Jakarta.
___________. 2004. Statistik Kesehatan 2004. BPS, Jakarta.
___________. 2008.. Pedoman Millenium Development Goals. BPS, Jakarta.
___________. 2008.. Press Release BPS 2008: Jumlah Kemiskinan. www.bps.go.id, Jakarta.
___________. 2010.. Berita Resmi Statistik, BPS, No. 45/07/Th. XIII, 1 Juli 2010.
___________. 2010.. Data Strategis BPS, BPS, Jakarta.
___________. 2010.. Hasil Sensus Penduduk 2010, Data Agregat Per Provinsi, BPS, Jakarta.
170

Badan Pusat Statistik (BPS) dan Macro International, 1998. Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 1997. Calverton, Maryland, USA.
___________. 2003. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003.
Calverton, Maryland, USA.
___________. 2008. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. Macro.
Calverton, Maryland, USA.
Badan Pusat Statistik, BAPPENAS, UNFPA. 2005. Proyeksi Penduduk Indonesia (Indonesia
Population Projection 2000 - 2025). BPS, Jakarta.
Kementerian Dalam Negeri. 2010. Kode Dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
2010. Depdagri, Jakarta.
www.depdagri.goid
Kementerian Kesehatan. 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
___________. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar, RISKESDAS Indonesia Tahun
2007. Depkes, Jakarta.
___________. 2008. Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
2008. Depkes, Jakarta.
___________. 2008. Profil Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan 2007.
Depkes, Jakarta.
___________.2008. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) KIA, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
___________. 2006. Profil Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumberdaya Manusia
Kesehatan 2005. Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 1: Kegiatan Pelayanan.
Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 2: Ketenagaan. Depkes, Jakarta.
___________. 2006.Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 3:Morbiditas/Mortalitas.
Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Profil Pendidikan Tenaga Kesehatan Tahun 2006. Pusdiknakes, Depkes
RI, Jakarta.

171

___________. 2005. Publikasi Hasil Analisis Data Survei Kesehatan Nasional 2004. Badan
Litbangkes, Depkes RI, Jakarta.
___________.2005. Pencegahan dan Pemberantasan DBD di Indonesia, Dirjen PPPL
Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
___________.2000. Indonesia Sehat 2010, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
___________.1996. Publikasi Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995. Badan
Litbangkes, Jakarta.
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2010. Strategi Nasional
Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal 2004-2009. Jakarta.
USAID, 2008. The World Population Data Sheet. Population Reference Bureau.
The United Nations Development Programme. 2008. Human Development Report
2007/2008. UNDP, New York.
UNAIDS. 2008. 2008 Report on The Global AIDS Epidemic. UNAIDS/WHO.
UNICEF. 2008. The State of the World’s Children 2008. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2009. The State of the World’s Children 2009. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2008. Incidence Series Immunization 2007. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2008. Immunization Summary: The 2007 Edition. UNICEF/WHO, New York.
WHO. 2008. World Health Statistics 2007. WHO Press, Geneva.
___________. World Health Statistics 2008. WHO Press, Geneva.
___________. 2008. WHO Vaccine – Preventable Diseases, Monitoring System. WHO, New
York.

***

172

Lampiran 2.1

PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kepulauan Bangka Belitung
Kepulauan Riau
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Maluku
Maluku Utara
Papua Barat
Papua

Indonesia
Sumber: Kementerian Dalam Negeri, 2010

Kabupaten

Kota

Pembagian Wilayah
Kabupaten + Kota

Kecamatan

Kelurahan + Desa

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

18
25
12
10
9
11
9
12
6
5
1
17
29
4
29
4
8
8
20
12
13
11
10
11
10
21
10
5
5
9
7
10
28

5
8
7
2
2
4
1
2
1
2
5
9
6
1
9
4
1
2
1
2
1
2
4
4
1
3
2
1
0
2
2
1
1

23
33
19
12
11
15
10
14
7
7
6
26
35
5
38
8
9
10
21
14
14
13
14
15
11
24
12
6
5
11
9
11
29

275
408
169
153
128
217
116
206
43
59
44
625
573
78
662
154
57
116
286
175
120
151
136
150
147
301
199
65
66
76
109
149
330

399

98

497

6,543

6,420
5,649
964
1,500
1,319
2,869
1,442
2,358
361
331
267
5,827
8,577
438
8,502
1,530
698
913
2,775
1,777
1,439
1,973
1,404
1,510
1,712
2,874
1,825
595
564
898
1,041
1,291
3,583

75,226

366 634.714 118.721 5.081.446.556.569 1.578.891.876.111.149.254 16.987.626.180.572 16.393.038.998 5.578 6.845.999 237.365 4.682.791.721 1.730 3.285 119.986 18.713.526 2.851.168 2.048 1.243.783 1.284 773.441.596.740 1.075 4.158.937 2.789.420 8.265.196 1.147.225 520.700 577.855 2.110.243.299.157.054.051 2.587 1.380.478 760.547 1.834.021.551 2.338 3.440.363 100 100 98 106 105 104 105 106 108 105 103 103 99 98 97 105 102 94 99 104 109 102 111 104 105 95 101 101 101 102 105 112 113 101 .685.008 1.355.428 4.921.705.859.031 3.854.108.687 2.341.645 402.690.585 529.510.961. BPS 2.926 21.506.323.679.404 18.035.402 1.109 875.378 1.633.783 864.284.195 4.749 588.992 6.247 1.2 HASIL SENSUS PENDUDUK 2010 DAN RASIO JENIS KELAMIN MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 No Provinsi Laki-Laki Perempuan Laki-Laki dan Perempuan Rasio Jenis Kelamin (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Sensus Penduduk 2010.783 4.452.258 2.390 37.663 3.290 5.030 3.349.499 1.930.393 7.476.559 1.543.588.618 7.390 1.024 2.052 757.202.336 1.404.145.855 4.203.833 358.698 9.239 2.292 837.119 3.496.191 1.268 1.048.115 1.120.316.032.746.782 2.Lampiran 2.728.042 1.534 2.585 1.486.989 1.507.198 43.928 1.543 1.280 3.985.531.272 21.510.817 505.242.479.333 4.011 10.401 1.170 2.905.265 821.586 2.599 3.488.580 2.088.570 12.878 1.550.644.826 32.316 4.688.868.223.687 3.344 517.657.140 1.230.472 2.225 3.885 581.

742.607 1.515.68 0.743 1.70 1.919.380.816 3.86 1.534.64 61.00 72.485 537.670 3.036.257.120.479 13.298.45 1.579 353.759.496 493.20 2.531 1.646 1.868 1.782.094.316.72 664.006 481.672.744.01 35.80 1.741.463 600.2011".539 4.267 7.817.339.92 5.843.10 147.753 3.55 2.32 115.138.369 6.64 4.647 231.298 983.510 497.268 1.085.908.171.717.654.799. JUMLAH PENDUDUK DAN KEPADATAN PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Luas Wilayah (Km²) (a) (3) Jumlah Penduduk (Jiwa) [b] Laki-laki (4) Perempuan (5) Total (6) Sex Ratio Kepadatan Penduduk Per Km² Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2008-2009 (7) (8) (9) 57.31 1.725 661.725 1.246 9.223.35 Sumber: (a) http://www.50 97.554 1.309 2.841.873 37.319.363.192.83 1.69 1.780.788 486.910.369.551.177 1.662.661 4.956 1.718.137.532 2.412 3.23 204.511.06 18.794.132 3.075 20.135.223 2.018 678.50 38.501.702.34 13.009 41.695 777.06 8.572.34 1.79 2.987 18.574.097.688 16.391 4.983 1.093.994 743.307.794.834.32 48.03 31.60 1.002 1.320.047.262.851.246 3.619.75 9.799 2.931.623.564.067.058.48 38.46 1.173 1.id (b) Badan Pusat Statistik: Estimasi Penduduk Sasaran Program Kesehatan.282 4.501.3 LUAS WILAYAH.149 1.21 1.43 3.447.350 1.200 2.480.12 1.012.go.16 91.491. Depkes RI.29 46.depdagri.222.024.52 1.819.23 42.930 2.81 1.286.70 11.857 2.020 4.023.759 4. 2009.88 1.424.584 530.956.15 47.17 1.80 16.69 3.925 1. dari "Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2007 .056 1.133 1.570 3.572.010.248.755 2.565 32.787.877 16.11 1.800.602 847.087.415 389.592.695 3.527 2.199 1.118.18 46.890 1.617 1.594.07 16.133.753.306.916 7.164.66 50.814.33 34.659 2.886 18.43 19.948 1.27 319.781 3.46 1.01 3.377.666.572 4.496.89 87.934 20.980 4.444.27 1.592 100 121 1.661 1.758.165 7.05 2.10 1.78 2.792.045.939.989 1.110 6.090 2.142 2.13 0.864.978 5.389.491.716 2.520.13 2.945 115.551.914.434.982.547.588 998.945 2.43 2.313.482 99 99 97 111 104 102 103 104 112 95 96 102 99 101 98 102 102 92 99 102 109 101 110 104 104 93 97 102 102 103 102 110 108 75 182 115 61 57 79 84 216 69 185 13.118 780 1.926.981.502 974.637 1.29 0.Lampiran 2.654.035 819.353 2.863 2.217.298 9.438 737.012 614 239 95 29 14 90 15 161 40 169 56 87 62 29 30 8 7 1.228.012 4.082 2.201.650. .510.266 4.57 1.202 1.181.072.00 153.76 32.924 1.372 517.087.827.

86 1.24 2.49 3.88 2.82 1.59 2.62 4.67 2.73 2.37 1.91 1.18 2.03 0.Lampiran 2.99 1.49 1.57 1.57 1.93 2.39 5.15 4.15 1.99 1.74 1. 1990.21 1.32 4.45 2.93 2.32 0.98 3.15 1.17 2.33 2.97 1.06 0.02 0.17 0.17 2.44 3.43 2. 2000.55 1.67 2.21 3.42 2.49 1.94 1.35 1.40 3.07 3.32 4.77 3.98 1.23 3.11 1.84 2.57 1.74 3.36 1.76 2.60 2.79 3.08 0.59 0.39 1.64 2.64 1.26 1.72 5. Sensus Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995 dan Sensus Penduduk 2010 .63 4.46 1.66 1.66 2.65 3.18 0.80 1.31 2.31 3.87 1.48 3.38 2.46 1.85 1.70 3.88 2.22 1.69 2.79 2.31 1.72 2. 1980.35 1.42 3.39 2.81 1.31 3.67 2.97 0.30 3.17 2.07 2.09 2.08 1.49 Sumber : Sensus Penduduk 1971.06 1.72 0.66 1.2010 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1971-1980 Laju Pertumbuhan Penduduk 1980-1990 1990-2000 2000-2010 (3) (4) (5) (6) 2.34 3.15 1.42 1.4 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 1971 .94 0.60 2.46 1.89 0.10 1.16 5.11 4.78 2.14 4.79 2.29 2.95 2.

106 173.801 1.000 81.45 20 Kalimantan Barat 672.582.801 28.967.082 1.568.103 59.901 322.078 9.566 1.360 737.602 1.137.834.411.987 634.799 264.801 348.661 59.192.69 31 Maluku Utara 162.845.08 8 Lampung 1.499 162.899 1.228.445 1.646 8.79 29 Sulawesi Barat 156.451.298 39.801 29.245.200 69.087.833 5.299 1.657.500 97.118.402 184.079 18.092 389.262.703 265.098 7.601 151.501 3.916 49.414.792.301 683.950 1.61 23 Kalimantan Timur 462.503 760.700 525.205.563.001 1.740 1.498 1.299 11.816 48.217.309 4.647 62.308.904 22.463 1.200 930.276 4.434.045.500 4.956 48.281 1.799 308.572.901 231.133 46.118 1.507.501.182 2.800 3.454.012.047.759.605 6.260.407.480.924 4.798 1. . KELOMPOK UMUR TERTENTU.401 679.802 2.018.339.102 1.562.344.598 2.267 49.504 319.229.082 2.500 140.399 2.301 3.313.607 789.093.199 1.467 18.201 4.659 826.022 16.588 20.798 131.563.35 2.017 2.716 1.168.654.268 442.292.248.576.554 657.670 489.701 8.012 42.857 48.118.801 13.104 44.200 311.434 3.400 1.900 566.200 1.094.083.438 148.301 1.801 22.781 50.120.164.613 1.617 299.292 1.899 998.75 5 Jambi 426.743 50.069 486.397.219.67 17 Bali 423.703 159.301 108.701 2.122.301 25.601 14.020 54.500 20.901 48.499 970.661 537.049 4.061 3.504 521.111.601 24.883 1.725 298.601 234.654 4.599 48.650.939.677.902 76.997 1.799 734.499 551.47 27 Sulawesi Tenggara 352.989 112.799 113.444.802 60.260.601 2.353 403002 1.141 4.138.502 56.544.100 2.491.048.563 2.087.410.16 21 Kalimantan Tengah 318.057.400 432.001 31.434.802 6.142 52.846.006 431.407 2.255.572.369.402 11.742.357 1.373.90 7 Bengkulu 250.014.401 267.900 1.304 38.201 1.205 94.532 51.901 1.499 486.665 2.515.602 4.616 2.102 26.504 101.319 7.701 21.602 1.351 2.003 317.584 137.897.527 50.110 1.181.041 16.503 181.391 974.23 9 Kepulauan Bangka Belitung 162.508.075 1.499 669.695 359.619 78.503 50.899.701 148.806 661.510 352.277 481.282 648.401.592 47.267 353.547.819.301 13.53 28 Gorontalo 146.71 Sumatera Barat 740.316.433.727 157.657 4.21 Riau 888.501.127.869 2.223 1.298 57.843.482 48.527.34 14 DI Yogyakarta 325.299 848.807 35.500 698.203 115.424 4.654.531 904.402 75.901 156.873 37.320.803 2.863 42.937 600.952 2.510.163.412 837.925 1.357 1.26 12 Jawa Barat 5.202 262.660.286.599 42.401 2.817.097.044 847.001 28.158.527 3.663.402 47.101 2.997 3.199 75.369 655.699 350.373 1.468 3.372 283.602 327.948 49.035 2. 2009.303 214.755 711.782.748.479 53.101 2.800 1.177 1.383 3.33 31.374.939.001 233.304.753 410.723 2.010.55 13 Jawa Tengah 4.886 308.197.507.380.251 1.825 6. dari "Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2007 .591.200 316.585 1.009 37.400 2.572 729.930 1.491.23 Sumber: Badan Pusat Statistik: Estimasi Penduduk Sasaran Program Kesehatan.801 2.090.451.415.600 27.333.741.794.041 2.600 422.018 141.072.475 4.363.020.65 15 Jawa Timur 4.000 1.22 19 Nusa Tenggara Timur 772.157 2.266 7.603 17.511.223.292 1.149 468.622 517.969.385.725 2.698 115.178 20.028.945 30.100 1.200 1.570 47.69 25 Sulawesi Tengah 370.900 17.246 39.502 11.594.994 55.003 129.447.698 69.702.485 2.634 7.703 86.148.061.932 777.980 3.836.2011".800 3.934 2.251.08 26 Sulawesi Selatan 1.868 231.608 3.459.689.Lampiran 2.489 1.169.391 54.759 233.945 735.203.527.874 4.106.415 156.603 2.062.002 1.319.901 3.264.838.105 136.400 13.864.090 692.806 168.300 6.900 412.551.389.901 53.705 112.03 10 Kepulauan Riau 233.489.004 323.298.431 1.000 854.619.500 3.063 32.998 36.199 1.695 311.299 333.810.21 6 Sumatera Selatan 1.31 24 Sulawesi Utara 275.588 1. ANGKA BEBAN TANGGUNGAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Laki-laki No Provinsi Perempuan Kelompok Umur (Tahun) Laki-laki + Perempuan Kelompok Umur (Tahun) Kelompok Umur Jumlah (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 4 0-14 15-64 65+ (3) (4) (5) (6) Angka Beban Jumlah 0-14 15-64 65+ (7) (8) (9) (10) Jumlah 0-14 15-64 65+ (11) (12) (13) Tanggungan (14) (15) 678.797.496.983 958.199 660.399 1.270 3.80 32 Papua Barat 118.63 18 Nusa Tenggara Barat 693.200 1.496 210.877 11.520.574.703 1.753.223.926.300 126.719.500 1.189 2.16 22 Kalimantan Selatan 489.600 14.503 287.500 2.414 1. Kemenkes RI.370 819.504 102.494 537.178.492.503 16.300 779.115.425.110.298 14.114 493.801 30.389.906 392.496.203 2.758.202 58.795 678.5 JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN.520.672.509 9.118 530.507 2.637 50.751 983.598 62.801 70.600 815.688 5.581 6.298 49.124 2.551.273.999 1.359 743.501 2.192.699 1.201 2.318.135.565 47.87 16 Banten 1.302 5.000 5.682 497.498 738.702 42.199 617.139 5.347.246 238.171.400 237.132 45.800 1.000 165.085.907 17.902 968.326 2.964 11.149.501 1.814.186 13.085.471.579 318.984.39 33 Papua Indonesia 331.400 366.108 78.61 11 DKI Jakarta 1.302 30.100 224.203 60.165 49.222.711 4.431 1.998 153.898 81.666.611 1.138.201 23.766 41.501 141.336.901 78.056 1.201 4.350 2.700 32.802 1.601 1.988 2.260.901 127.152.794.405.801 160.635 4.100 35.028.786.978 55.221.329.908.601 1.539 467.302 27.400 1.444 7.200 3.802 625.431.876.199 501.901 661.875.827.306.788 704.799 45.203 1.101 1.546 37.200 801.00 30 Maluku 220.

00 11 9 81.00 5 5 100.46 14 3 21.33 7 2 28.86 7 3 42.00 14 10 71.00 6 0 0.64 11 8 72.45 14 5 35.20 497 199 40.33 15 2 13.78 11 7 63.67 7 1 14.73 33 Papua Indonesia 20 19 95.18 11 2 18.57 11 DKI Jakarta 6 0 0.17 24 13 54.82 Sumber: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.00 9 6 66.37 19 9 47.86 7 1 14.67 6 4 66.33 15 3 20.43 14 10 71.00 14 7 50.22 13 2 15.29 14 10 71.6 JUMLAH DAN PERSENTASE DAERAH TERTINGGAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .18 33 6 18.04 497 183 36.10 440 199 45.00 6 0 0.67 6 4 66.00 18 Nusa Tenggara Barat 9 7 77.69 26 2 7.89 10 8 80.18 33 6 18.00 30 Maluku 8 7 87.18 11 2 18.43 33 6 18.43 14 3 21.00 6 0 0.00 6 4 66.73 31 Maluku Utara 8 6 75.29 7 2 28.89 9 8 88.00 14 DI Yogyakarta 5 2 40.57 35 3 8.52 24 13 54.67 10 6 60.00 15 6 40.64 11 7 63.00 5 5 100.86 15 6 40.00 14 7 50.67 6 1 16.91 26 Sulawesi Selatan 23 13 56.Lampiran 2.00 12 8 66.57 35 3 8.82 11 9 81.00 12 Jawa Barat 25 2 8.11 9 0 0.17 24 4 16.57 23 16 69.57 9 Kepulauan Bangka Belitung 7 3 42.17 2 Sumatera Utara 25 6 24.37 19 9 47.18 11 0 0.43 14 3 21.69 13 Jawa Tengah 35 3 8.78 9 6 66.00 14 1 7.00 6 Sumatera Selatan 14 6 42.00 10 2 20.18 3 Sumatera Barat 19 9 47.00 17 Bali 9 1 11.86 7 3 42.43 14 3 21.00 8 6 75.43 21 Kalimantan Tengah 14 7 50.19 23 16 69.78 32 Papua Barat 9 7 77.67 12 8 66.00 15 6 40.00 11 2 18.00 15 7 46.00 8 2 25.11 4 Riau 11 2 18.50 9 7 77.23 465 199 42.00 11 7 63.86 7 3 42.00 29 Sulawesi Barat 5 5 100.67 12 0 0.00 6 0 0.11 9 1 11.05 38 8 21.69 26 2 7.78 9 7 77.00 5 5 100.80 495 199 40.43 24 Sulawesi Utara 9 2 22.18 12 2 16.2010 2006 No Provinsi (1) (2) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal 2007 2008 (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (8) 2009 2010 (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (11) (12) (13) (%) (14) Jumlah Kabupaten Kab/Kota Tertinggal (15) (16) (%) (3) (4) (5) (6) (7) (9) (10) 1 Aceh 21 16 76.57 35 3 8.38 13 2 15.71 14 5 35.00 5 Jambi 10 2 20.69 26 2 7.16 16 Banten 6 2 33.52 23 13 56.00 21 15 71.05 38 5 13.00 15 Jawa Timur 38 8 21.00 10 8 80.00 10 8 80.71 14 4 28.00 5 2 40.11 9 1 11.43 21 20 95.05 38 8 21.00 10 9 90.38 13 2 15.57 23 12 (17) 52.43 14 9 64.57 35 0 0.78 10 7 70.38 13 2 15.00 11 5 45.52 29 19 65.48 29 19 65.67 7 Bengkulu 9 8 88.37 19 9 47.00 14 7 50.00 5 2 40.00 25 Sulawesi Tengah 10 9 90.37 19 8 42.67 27 Sulawesi Tenggara 10 8 80.14 22 Kalimantan Selatan 13 0 0.43 21 15 71.00 8 2 25.67 6 3 50.00 10 6 60.67 12 8 66.00 26 2 7.75 20 15 75.00 13 2 15.67 9 6 66.00 21 19 90.05 38 8 21.64 11 8 72.00 5 0 0.00 5 2 40.00 28 Gorontalo 5 4 80.38 23 Kalimantan Timur 13 5 38.67 12 9 75.18 11 2 18.52 29 27 93.82 11 10 90.38 15 2 13. 2010 .57 8 2 25.00 10 7 70.00 5 5 100.00 19 Nusa Tenggara Timur 16 15 93.00 28 6 21.67 9 7 77.29 7 1 14.11 9 1 11.00 8 Lampung 10 5 50.57 23 16 69.24 20 Kalimantan Barat 12 9 75.29 10 Kepulauan Riau 6 1 16.

750 17 Bali 211.109 212.945 246.059 195.838 201.070 157.478 169.Lampiran 2.661 190.354 277.735 192.461 176.306 210.936 - 283.653 26 Sulawesi Selatan 177.843 10 Kepulauan Riau 308.224 30 Maluku 230.191 20 Kalimantan Barat 194.157 202.554 161.251 178.7 GARIS KEMISKINAN MENURUT PROVINSI DAN DAERAH (MARET 2009) No Provinsi (1) (2) Garis Kemiskinan (Rupiah/Kapita/Bulan) Perkotaan Perdesaan (3) (4) Perkotaan + Perdesaan (5) 1 Aceh 292.158 234.428 249.123 179.003 196.835 246.416 33 Papua 285.210 256.732 190. 1 Juli 2010 .546 261.596 207.751 175.317 199.772 25 Sulawesi Tengah 217.516 178.936 12 Jawa Barat 203.707 226.236 182.712 189.526 185.742 11 DKI Jakarta 316.506 24 Sulawesi Utara 193.706 211.734 188.913 199.241 189.351 210.866 163.271 184.515 14 DI Yogyakarta 228.873 162.850 156.378 266.193 191.787 261.481 5 Jambi 244.623 6 Sumatera Selatan 247.624 174.812 9 Kepulauan Bangka Belitung 272.107 199.525 201.809 261.469 4 Riau 265.617 21 Kalimantan Tengah 209.628 188.529 182.472 224.612 22 Kalimantan Selatan 216.538 181.796 142.901 156. 45/07/Th.466 18 Nusa Tenggara Barat 213.815 174.727 222.771 31 Maluku Utara 226.084 8 Lampung 224.381 7 Bengkulu 242.881 166.225 200.978 15 Jawa Timur 202.450 164.310 178.241 153.730 269.185 23 Kalimantan Timur 283.583 28 Gorontalo 173.238 198.317 16 Banten 212.898 2 Sumatera Utara 234.262 Indonesia Sumber: Berita Resmi Statistik No.XIII.168 175.478 156.025 19 Nusa Tenggara Timur 218.500 32 Papua Barat 304.189 29 Sulawesi Barat 175.872 142.312 182.985 13 Jawa Tengah 196.257 217.715 27 Sulawesi Tenggara 175.965 316.241 3 Sumatera Barat 248.

4 13.1 93.125.21 5.67 8.99 18.30 14.350.10 9.26 8.4 7.3 140.2010) Maret Tahun 2008 No Provinsi (1) (2) Perkotaan Jumlah (ribu) (3) % Jumlah (ribu) (5) (4) Maret Tahun 2010 Maret Tahun 2009 Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (7) (6) Perkotaan % Jumlah (ribu) (9) (8) Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (11) (10) % Jumlah (ribu) (13) (12) Perkotaan % Jumlah (ribu) (15) (14) Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (17) (16) % Jumlah (ribu) (19) (18) % (20) 1 Aceh 195.5 77.23 4.41 18.0 6.50 10.7 132.75 6.9 400.8 130.3 801.3 8.84 10.6 114.70 7.8 1.76 4.5 89.6 439.20 7.3 2.3 8 Lampung 365.53 10.1 83.6 19 Nusa Tenggara Timur 119.04 11.3 18.9 22.18 3.8 154.18 4.2 92.10 22.44 12.3 33.33 10.9 734.8 21.30 5.7 22.62 28.8 224.189.7 5.10 5.0 223.39 13.1 1.873.20 5.167.3 6 Sumatera Selatan 514.0 1.75 19.70 18.2 29 Sulawesi Barat 48.53 9.70 35.5 10.1 28.43 32.90 17.7 115.249.35 10.5 256.18 5.8 760.47 14.031.2 248.6 225.10 15.5 10 Kepulauan Riau 69.72 15.5 508.1 732.651.3 Sumber: Berita Resmi Statistik No.44 17.28 33.5 979.53 18.7 470.9 6.10 13.8 35.22 9.31 22.2 500.6 117.9 839.304.66 43.32 10.874.24 34.1 324.6 19.9 913.2 7.50 16.1 434.4 98.0 292.60 7.0 2.8 17.0 349.1 79.208.8 173.4 892.48 10.2 301.93 18.613.7 241.9 62.3 1.31 11.6 6.9 19.80 16.925.19 7.76 4.20 15.6 906.1 7.3 3.35 10.60 23.6 28.61 15.3 274.6 65.63 27.70 11.78 5.6 27 Sulawesi Tenggara 27.8 22 Kalimantan Selatan 23 Kalimantan Timur 81.014.90 8.0 439.3 959.556.36 21.22 18.7 31 Maluku Utara 9.5 689.023.098.369.655.25 34.0 91.7 158. 1 Juli 2010 .2 10.80 18.0 8.9 209.7 181.8 19.310.74 25.0 301.20 19.8 2.5 208.80 22.9 18 Nusa Tenggara Barat 560.6 688.2 524.3 18.6 585.0 20.50 5.0 10.76 13.2 3.3 349.99 8.93 18.73 9.98 7.9 34.00 11.00 7.8 110.0 2.9 176.8 11.705.6 50.0 21 Kalimantan Tengah 45.322.80 6.85 15.29 44.3 176.10 31.8 207.768.07 21.64 11.84 6.79 10.1 25 Sulawesi Tengah 60.62 4.0 5.910.2 23.29 12.10 24.1 11 DKI Jakarta 379.2 8.62 16.70 23.6 23.4 37.20 9.30 15.38 13.0 28.1 37.2 206.22 6.66 6.87 10.1 378.8 1.8 493.93 4.0 346.9 352.6 7.5 86.2 308.19 5.3 15.5 - - 312.8 420.7 688.725.0 22.20 19.6 16.41 14.8 552.XIII.74 16.71 25.5 861.2 110.31 15.097.9 2.0 733.61 8.15 23.051.89 11.18 6.40 5.79 6.20 20.9 7.9 76.3 474.6 312.7 8.619.16 16.7 9.6 391.1 1558.6 4.97 21.420.72 16.3 345.1 880.2 816.7 788.8 107.52 20.70 13.6 318.20 8.89 10.0 14.148.50 14.73 9.85 4.70 17.7 1.5 116.5 141.77 11.0 130.2 342.9 202.490.8 1.3 18.0 408.4 489.50 4.2 129.90 11.3 91.0 761.6 117.4 32.1 65.08 9.10 5.6 150.08 8.7 20.89 23.7 221.16 13.30 8.452.9 22.6 735.1 5.31 16.5 9.8 215.9 33 Papua Indonesia 31.90 26.7 100.7 83.2 340.2 456.43 6.03 16.022.7 1.76 19.00 14.50 9.5 26.92 7.59 5.7 17.78 4.73 14.63 9.3 2.8 323.4 45.423.1 140.6 12.1 89.21 18.9 249.3 408.17 3.2 15.7 6.20 5.0 381.6 9.7 763.70 6.96 5.3 165.3 96.20 14.Lampiran 2.9 1.6 136.3 117.0 6.1 206.06 15.258.0 218.3 192.60 12.50 46.6 25.7 8.0 33.3 20.5 12 Jawa Barat 2.6 31.0 162.226.50 7.1 428.36 14.0 181.28 18.10 27.3 3.51 12.7 35.1 321.2 164.110.82 11.7 38.41 6.591.3 67.64 2.5 106.94 14. 45/07/Th.3 1.19 6.75 9.009.40 29.09 23.8 435.7 2.499.90 12.59 8.3 323.00 3.70 12.340.7 109.72 11.7 105.529.16 46.6 3.9 378.38 7.1 1.0 128.194.18 4.4 3.7 13.5 182.89 11.5 4 Riau 245.4 9.02 9.9 47.94 22.60 19.7 107.3 4.9 1.19 13.9 4.10 15.0 701.0 429.16 7.7 246.6 - - 323.34 13.77 20.5 313.9 237.1 26 Sulawesi Selatan 150.9 9 Kepulauan Bangka Belitung 36.4 1.2 566.9 19.94 15.6 1.3 311.4 11.1 434.0 54.7 243.7 10.6 324.1 219.80 23.5 324.2 4.0 268.55 5.2 36.60 8.78 7.00 22.8 67.77 9.3 83.51 12.27 13.2 445.40 10.06 4.3 119.8 12.5 286.29 5.3 107.7 43.8 963.963.6 12.6 30 Maluku 44.5 811.983.8 54.80 7.00 6.4 758.9 1.9 16.34 10.3 - - 379.68 24.17 3.7 79.44 46.08 7.0 2 Sumatera Utara 761.10 9.4 260.00 16.8 137.3 380.9 477.6 17.530.7 20.7 1.9 430.9 697.5 520.50 11.531.3 3 Sumatera Barat 127.31 6.9 852.60 4.8 130.7 23.7 8.00 43.37 10.7 5.2 348.3 9.8 76.72 18.17 21.22 16.1 16.080.80 18.48 23.3 471.3 616.3 124.2 11.2 17 Bali 115.1 435.5 2.9 239.24 4.7 24 Sulawesi Utara 72.90 16.60 10.8 JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT PROVINSI DAN DAERAH 2008 .8 9.67 10.0 220.74 5.0 903.30 11.85 8.4 9.06 4.1 11.3 1.9 194.4 710.25 14.30 16.7 246.3 9.0 17.0 163.7 11.7 794.62 36.5 68.54 28.2 291.25 8.479.90 11.4 2.0 577.6 24.3 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 371.3 25.37 14.5 7 Bengkulu 131.18 3.72 3.9 5.85 21.773.5 130.1 28 Gorontalo 27.4 32 Papua Barat 9.5 21.4 1.0 171.60 13.617.2 2.2 62.7 256.633.0 174.43 11.8 12.10 12.05 30.178.7 5 Jambi 120.1 8.5 463.7 1.1 122.3 29.7 5.7 654.5 67.5 26.8 557.013.2 200.5 35.0 20 Kalimantan Barat 127.9 527.6 21.55 10.60 17.0 341.58 7.

94 97.43 93.68 83.14 81.18 87.57 75.64 92.19 97.89 89.89 84.15 96.35 91.9 ANGKA MELEK HURUF PENDUDUK BERUSIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2008 2009 Laki-laki Perempuan Laki + Perempuan Laki-laki Perempuan (3) (4) (5) (6) (7) 97.53 91.54 97.98 89.29 93.69 95.18 90.74 92.95 98.70 93.28 93.41 96.21 86.25 92.96 93.19 88.35 96.24 89.96 97.68 97.30 97.41 96.44 92.27 97.94 95.88 81.79 95.45 87.00 97.36 97.51 97.66 90.47 85.71 87.95 87.11 95.78 87.63 93.66 97.46 90.81 98.41 96.99 99.80 95.98 96.85 85.68 86.62 95. 2010 94.24 94.02 95.35 97.69 95.04 96.55 96.50 97.04 90.23 94.90 93.66 88.27 95.34 94.36 99.97 96.92 87.09 94.25 85.19 99.39 95.37 84.38 98.22 80.77 98.53 83.56 97.99 95.24 98.80 87.73 92. BPS.94 79.97 77.41 93.76 95.96 89.28 98.46 92.70 94.61 93.43 97.51 99.02 94.28 95.31 97.89 98.90 94.25 95.16 93.26 85.71 98.76 94.50 97.46 97.07 90.15 72.22 95.74 92.20 73.50 84.55 96.89 99.86 90.10 95.52 95.24 94.65 98.80 74.24 90.37 97.50 92.68 96.13 64.15 95.53 89.61 98.97 95.26 97.70 97.68 99.51 87.74 95.87 98.02 91.54 92.97 95.45 96.88 90.42 95.94 70.59 97.45 95.57 99.61 89.39 97.46 95.32 97.28 95.19 92.63 95.18 87.05 94.09 98.29 94.47 92.85 87.21 94.95 98.52 97.49 98.38 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.29 89.34 89.60 93.56 85.17 66.77 84.31 97.37 95.64 82.82 94.31 95.31 95.59 97.26 92.08 98.36 96.15 87.96 84.17 84.51 95.Lampiran 2.18 97.63 97.78 93.08 96.34 95.81 98.65 Laki + Perempuan (8) 94.13 98.32 98.89 95.29 92.82 99.41 97.58 .04 92.

3 9.7 6.7 7.Lampiran 2.6 8.7 7.1 8.4 8.0 7.2 7.3 6.8 8.0 7.5 6.2 7.8 8.2 7.1 7.5 7.2 6.4 8.6 7.3 6.5 7.0 8.2 8.8 7.7 6.6 6.0 8. BPS.2 7.6 8.3 8.8 8.4 8.4 6.2 8.6 8.5 8.7 7.8 8.7 7.8 7.1 7.0 8.1 10.0 8.8 7.6 7.0 6.3 7.8 7.8 8.9 7.4 6.4 8.1 7.2 8.7 7.1 7.3 8.7 7.5 8.6 7.5 6.3 7.1 7.7 7.1 6.0 6.2 8.7 7.8 9.8 7.1 8.1 8.1 8.8 7.0 6.7 7.9 8.3 8.4 7.3 7.3 6.0 7.6 8.5 7.8 9.5 7.4 7.7 8.1 6.8 7.6 7.8 7.0 8.4 8.5 7.8 8.6 7.7 7.3 7.0 7.2 7.9 7. 2010 7.4 10.1 8.8 6.2 6.6 7.7 5.8 8.3 8.7 7.2 Laki-laki+Perempuan (8) 8.8 8.9 7.6 8.2 7.2 7.0 8.2 8.3 8.7 8.1 8.8 6.2 6.4 7.7 7.7 7.5 8.9 8.8 8.2 7.0 6.6 8.5 7.6 7.3 8.1 8.9 9.9 8.4 10.9 7.1 5.8 7.8 8.6 7.3 7.4 7.1 7.8 7.2 7.3 7.4 7.1 8.4 6.5 7.5 8.6 7.6 8.1 8.6 8.1 6.9 7.6 7.1 10.2 7.6 8.4 8.9 7.6 7.2 8.5 7.0 7.5 6.6 7.0 9.2 7.5 7.2 7.9 8.0 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.0 8.7 8.5 9.1 8.9 7.10 RATA-RATA LAMA SEKOLAH (TAHUN) MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 2008 Perempuan Laki-laki+Perempuan Laki-laki 2009 Perempuan (3) (4) (5) (6) (7) 8.7 8.6 6.0 6.7 .0 7.2 7.2 7.7 8.0 7.3 8.0 9.3 8.6 9.7 7.3 7.7 8.

68 85.35 97.46 58.54 81.90 98.58 72.96 64.45 97.65 98.78 88.25 93.95 63.73 65.13 54.38 57.95 49.11 55.45 97.34 65.81 79.13 78.42 97.07 85. 2010 Catatan : *) Termasuk Paket A.80 50.39 58.02 98.59 93.50 99.86 47.07 56.69 96.31 98.92 79.22 98.75 81.67 50.25 63.98 90.75 91.71 91.57 97.17 45.30 64.46 81.36 97.06 52.42 85.48 98.83 99.40 83.52 96.02 88.73 64.09 91.00 80.65 87.27 92.58 85.28 83.51 55.57 77.71 56.95 47.11 97.80 98.47 72.13 55.76 84.10 84.10 79.07 98.89 72.68 75.53 81. Paket B dan Paket C 94.20 89.10 90.99 96.85 93.09 97.82 97.94 98.Lampiran 2.07 98.38 83.31 64.53 97.83 84.80 93.58 53.36 72.69 47.63 97.82 98.42 79.28 63.62 61.85 98.14 50.35 63.95 94.88 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.08 98.96 87.20 80.03 98.16 95.59 98. BPS.55 78.86 88.68 90.95 99.62 98.06 98.67 59.28 88.42 88.53 47.26 96.26 90.50 86.62 61.94 77.70 91.27 58.22 96.64 50.52 98.72 97.72 54.53 97.55 87.20 88.92 86.75 52.50 97.74 66.66 94.91 86.87 96.62 77.43 88.87 65.71 97.12 58.16 .19 48.71 97.47 85.73 53.85 84.83 91.55 98.30 51.83 53.43 85.70 64.84 50.44 49.84 72.75 98.23 94.31 91.29 59.26 58.76 98.12 95.38 98.92 55.15 54.87 97.88 98.11 ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH*) MENURUT PROVINSI DAN USIA SEKOLAH (%) TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 7-12 thn 2008 13-15 thn 16-18 thn 7-12 thn 2009 13-15 thn 16-18 thn (3) (4) (5) (6) (7) (8) 99.64 50.10 88.22 49.77 43.80 99.15 91.59 97.17 50.56 49.79 91.92 47.00 84.22 84.24 98.44 46.36 57.59 56.59 73.53 96.99 85.98 91.70 98.41 80.35 76.64 79.53 98.43 64.38 97.68 71.65 49.78 84.55 88.66 98.55 95.

43 62.369 1.324 100.19 685.611 24.77 247.765 50.01 4.217 2.48 40.610 18.427 232.757 100.476 375.13 3.351 3.819 958.77 1.01 5.13 5.354 64.84 1.46 53.767 7.421 100.39 358.431 44.424 3.00 100.59 173.049.215 4.11 235.97 85.66 923.539 54.201 49.484 62.393 100.237.00 576.748 0.06 343.29 1.78 1.607 432.632 75.503 52.517.12 90.953 100.43 134.22 100.29 2.86 2.852 100.041 2.325.910 57.41 3.932 23.780 82.029 3.07 276.03 564.393 16.117 13.86 814 8.59 86.474 62.105 19.518 54.72 601.783 10.854.321 17.017 1.37 499 0.710 34.931 6.312.77 101.911 22.16 13.250 1.477 9.06 279.79 32.351 0.00 3 Sumatera Barat 1.044 11.14 122.892 3.841 0.582 100.216 0.01 88.501 18.376.167 9.397 0.191 1.30 29.570 16.00 28.180 75.167 4.787 39.91 17.08 12.649 68.52 279.93 32.090 1.219 46.18 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 27.62 196.220 0.103 13.32 88.19 272.803.55 173.171 37.14 159.508 62.68 82.35 201.47 224.316.124 100.77 73.956 0.17 3.225.80 522.883 41.824 1.55 20.49 131.899 6.390 100.803.766 1.772 100.172 1.58 96.55 364.532 4.12 689.95 61.68 1.515 36.631 80.69 462.55 232.614 27.04 436.752 38.00 5.709 26.631 100.031.72 491.00 7.44 56.32 793.49 713.00 734.54 195.208 2.458 56.402 8.315 81.731 5.129 100.88 98.452 4.027.10 461 0.00 36.457 18.54 13.773 2.973.876 58.23 34.37 73.17 94.516 100.29 1.625 38.04 9.03 13.540 100.38 670.20 1.507.060 4.181 100.441 100.367 31.85 983 1.43 166.27 325 0.37 20.69 3.632 35.40 1.423.29 475.628.033.23 4.81 5.613 24.47 11.31 292 0.813 12.688 2.83 102.878 30.198 97.66 168.533 0.432 3.21 324 0.00 1.984 33.09 448.82 4.030 58.877 10.17 28.338 5.383 8.00 120.00 37.408 26.063 45.00 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 867.200.55 153.59 52.091.73 3.46 25.47 304.523 39.791 45.11 40.719 5.899 100.54 24.382 1.00 886.589 7.38 28.905 24.201 249.036 100.70 497.609 100.430 1.691 2.32 8.25 20.00 21.054 3.312 3.29 172.362.312 20.994 66.12 196.205 4.190 100.45 5.536 30 Maluku 419.311 35.88 369.134 36.00 41.728 2.66 240.00 100.20 2.70 291.14 36 0.194 201.00 2 Sumatera Utara 3.03 28.833 71.302 39.995 9.983.126.279 100.166.57 7.77 10.281 5.01 8.36 10.761 20.423 31.690 100.073 12.49 2.27 800 2.00 607.29 11.137.89 9.27 26.035.74 11.12 1.636.531 2.608 0.100 4.12 207 0.542 42.92 90.428 7.302 37.075 322.419.90 70.32 97.336 3.093 60.866 6.00 27 Sulawesi Tenggara 520.63 37.00 22.393 100.00 11.539 281.083 32.877 12.34 556.78 3.953 9.313 100.320 43.079 2.596 0.737 2.705 81.332 57.07 87.128 26.057 1.016 66.00 887.812 50.239 7.67 30.382 100.531 53.963 100.651 1.79 6.00 25 Sulawesi Tengah 457.150 1.43 15.261 44.125 22.721 284.395 6.65 9.46 4.437 0.48 306.884.868 57.945 1.00 13.29 .819 30.82 209.77 6.71 935.144 8.490 40.25 133.67 745 0.00 26 Sulawesi Selatan 1.563 290.563 256.61 242.85 127.869 6.02 737 0.24 23.40 5 0.67 984.775 14.429 4.00 6 Sumatera Selatan 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 2.44 19.061 6.09 46.842 28.649 53.17 2.285 100.417 18.81 79.824.289 16.196 28.408.674 100.14 61.43 27 0.82 1.974 1.264.22 342.547.11 611 1.270 1.862 8.825 41.621 60.348 3.207 22 Kalimantan Selatan 1.250 50.589 2.734 60.764 15.87 196.718 35.58 23.171 2.36 9 0.155 38.42 185.43 25.443 2.30 3.029.08 66.827 0.772 48.62 32 Papua Barat 180.347 58.868.338 2.637 1.20 36.225.090 2.46 25.949 535.Lampiran 2.48 5.46 2.340 65.166 201.00 341.15 37.14 31.775 0.592 4.989 38.895 32.00 1.042 276.00 23 Kalimantan Timur 24 Sulawesi Utara 582.32 1.660 48.489.19 20.05 358.101 18.59 4 Riau 5 Jambi - 35.96 10.67 1.765 10.923 100.62 779.00 48.91 7.49 1.00 21 Kalimantan Tengah 246.56 137 0.47 191.83 473.677 22.30 10.49 81.125 674.811 13.00 28 Gorontalo 267.070 1.231 17.77 27 0.84 1.939.00 1.273 61.619 67.28 746.932 611.749 67.52 9.680 24.142 8.04 31 Maluku Utara 167.269 23.338 0.627 16.11 43.28 19.19 1.01 271 0.25 543.952.29 67 3.667 2.626 0.993 93.00 8 Lampung 1.39 35.792 328.578 10.639 360.224 100.00 12 Jawa Barat 11.672 100.266 0.281 281.772 24.63 6.88 45.468 48.00 10.541 41.38 73.019 4.253 19.54 31.72 5.637 100.232 22.671 19.069 98.20 607.92 788.000 0.12 PERSENTASE KELUARGA MENURUT JENIS SARANA AIR BERSIH YANG DIGUNAKAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan No Provinsi (1) (2) Jumlah Keluarga yang Ada (3) Jumlah Keluarga Diperiksa (4) % Keluarga Diperiksa (5) Ledeng Sumur Pompa Tangan Sumur Gali Penampungan Air Hujan Air Kemasan Lainnya Total Sarana Air Bersih Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 1 Aceh 1.90 433.292.511 340.943 6.618 51.97 24.61 582.17 61.71 6.019.04 16.319 1.401 39.820 16.27 824.904 60.257 7.65 462 0.49 279 0.00 7 Bengkulu 436.432 7.42 1.16 5.793 9.70 11.86 29.00 29 Sulawesi Barat 248.59 22.725 0.11 22.05 29.27 64.672 5.85 115.35 141 0.425 5.33 253.95 13.65 5.184.199 0.46 811.

28 48.79 49.63 49.10 43.59 34.71 .66 43.79 40.54 51.35 71.51 58.08 35.85 42.53 39.92 55.47 59.46 45.00 45.96 45.01 63.03 43.18 32.77 55.15 37.75 48.02 36.89 51.47 65.71 28.44 47.64 65.31 36.Lampiran 2.38 71.97 76.20 53.60 41.16 45.59 59.76 76.81 41.29 45.22 34.51 39.12 30.42 41.50 37.28 65.13 43.46 39.13 PROPORSI PENDUDUK DENGAN AKSES TERHADAP AIR MINUM YANG AMAN MENURUT PROVINSI DAN WILAYAH TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Perkotaan (2) (3) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen P2PL.19 48.45 58.50 43.62 40.25 27.84 37.45 54.99 44.13 61.83 63.56 34.20 41.71 44.74 34.56 55.54 45.70 27.71 34.85 57.33 40.20 39.18 39.14 35.72 30.61 54.38 55.72 66.54 57.97 55.01 74.02 40.56 49.04 46.29 36.13 59.60 51.81 40.82 (5) 29.28 53.91 27.03 76.30 60.36 50.44 41.06 27.49 44.96 51.74 55.53 33. Depkes RI Perdesaan Perkotaan + Perdesaan (4) 34.04 61.12 44.19 62.

843 116.061.001 1.477 561.011.246 3 Sumatera Barat 1.423 551.22 82.58 295.80 939.876 70.023 961.80 304.383 49.139 37.010 265.734.75 310.952.754 75.141 80.607 63.646 14.474.973.031.070 929.070 237.467.93 62.60 73.37 7.995 226.620 542.08 886.300 319.504 18.654 41.001 760.166.836 79.23 73.974 1.68 86.736 170.592 4.390 163.012 414.023 12.47 21 Kalimantan Tengah 246.561 99.72 68.643.55 8.608 251.345 2.26 165.22 1.912 92.368 4.16 70.95 45.202 69.20 301.471 72.203 56.22 19 Nusa Tenggara Timur 867.91 81.438 62.050 28.00 68.640 20.370 259.460 2 Sumatera Utara 3.604 1.183 75.041 44.308 74.885 82.490 32.234 2.019 50.327 237.746.449 106.68 30.654 67.656 11 DKI Jakarta 2.258.87 109.513 7.34 67.97 295.113.552 3.55 13 Jawa Tengah 7.191.94 206.33 91.471.891 205.22 541.819 857.275 1.00 321.027 32.65 67.862 76.607 349.398 189.100.43 880.755 384.88 43.697 64.654 25.18 29 Sulawesi Barat 248.46 24.96 83.01 12.583 39.309 57.004 70.910 240.507.563 358.032 102.860 173.623 20.951 270.281 406.860 29.63 79.201 278.172 753.158 23.01 7 Bengkulu 436.92 13.55 78.27 15 Jawa Timur 16 Banten 10.15 293.291 59.21 24 Sulawesi Utara 582.17 163.71 341.17 41.317 1.722 77.59 25.675 12 Jawa Barat 14.05 88.672 47.416 83.167 4.940 1.73 30.63 79.949 492.102 76.763 64.939 157.440 61.39 357.62 5 Jambi 734.829 58.806 37.427 306.146 89.060 15.38 36.315 566.272 25.247 669.937 105.319 44.824 59.80 59.853 1.100 - - - - - 1.06 54.666 104.136 403.29 31 Maluku Utara 167.071 41.523 46.213 216.46 44.195 101.581 52.23 3.600 20.00 311.145 63.518 27.10 22 Kalimantan Selatan 17 Bali 1.316.462 340.252 74.594 58.71 45.122 8.61 14 DI Yogyakarta 887.717 177.50 2.233 76.25 65.475 32.753 558.885 51.83 335.689 238.203 (2) % KK Memiliki (5) 1.976.17 98.236 7.63 55.697 9.248 74.871 279.398 30.525 17.028.98 72.676 197.09 53.56 397.383 32.575 71.000 154.527 92.824.460 291.496.66 305.124 205.119 46.64 32 Papua Barat 180.837 699.206 74.563 216.733 35.636.693.197 15.323 35.164 6.130.659 253.809 25 Sulawesi Tengah 457.528.123 137.72 51.782 74.203 123.26 71.789.48 39.187 1.56 % Sehat % Sehat (8) 104.19 37.21 8 Lampung 1.98 62.186.514 66.088 392.143.370 254.304 58.32 69.33 37.194 202.028.382 194.05 0.01 61.501 63.047 8.88 41.92 69.47 50.847 16.207.570 20.69 23 Kalimantan Timur 686.46 659.644 64.27 391.007 232.262.85 90.173 47.90 759.336 416.68 317.22 11.18 99.511 342.803.452 109.00 59.246.16 3.43 0.227 51.11 725.723 129.39 36.814 40.14 157.64 41.980 242.265 795.967 219.90 633.63 1.938 43.287.35 55.69 661.21 74.582 72.411 252.849 75.812.21 1.520 45.639 310.49 282.904 1.475 110.069 110.50 57.32 29.652.510 73.649 15.508 1.259 30.227.32 46.430 63.738 156.18 41.669 106.328.369 1.36 63.585 73.791 131.69 27.278.78 56.78 76.64 73.778 753.992.0298 14.85 28 Gorontalo 267.651 73.88 193.721 310.83 62.428 74.34 87.861 1.643 94.488 80.427 118.996 274.29 46.441.87 73.480.044 % KK Memiliki (7) 412.455 20.82 301.075 265.41 70.28 40.97 29.21 81.243 514.23 462.69 1.837 73.339 61.485.855 113.716 172.46 56.38 14.88 42.17 2.87 341.084.180 96.997 26 Sulawesi Selatan 74.014 1.34 271.246 264.598 349.130 126.55 291.429 622.221 9.58 59.935 179.65 66.067 64.94 51.63 41.538 77.30 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 48.168 794.541 42.595 56.569 100.632.298 298.539 376.059 138.503 998.276 172.54 36.769 76.999 221.35 4.385 198.21 30 Maluku 419.14 206.549 8.231 73.35 81.26 49.188 111.46 120.32 70.625 624.203 372.884.443 2.99 49.41 27.787 1.786 171.671 79.668 14.79 19.064 2.005 5.708 239.417 387.70 48.096.06 40.034 22.166 179.858 (1) Jumlah KK Jumlah Sehat (4) 1 Aceh Provinsi Jumlah KK Memiliki Jumlah Sehat Pengelolaan Air Limbah Jumlah KK Memiliki Tempat Sampah Jumlah KK Diperiksa Jumlah KK Diperiksa Jamban No (18) 49.666 40.235 246.18 6 Sumatera Selatan 70.598 471.78 55.010 127.831 18.397 128.417 70.70 18 Nusa Tenggara Barat 1.571.965 4 Riau 713.003 8.549 270.400 50.617 1.877 8.36 27 Sulawesi Tenggara 520.22 106.42 195.131 488.21 58.345 22.945 1.647 231.264.419 370.827 59.913 205.504 77.721 104.80 34.157 24.233 146.393 49.222 .39 1.126 707.04 218.77 20 Kalimantan Barat 859.675 57.746 71.778 375.20 41.51 64.20 45.190 500.14 PERSENTASE KELUARGA DENGAN KEPEMILIKAN SARANA SANITASI DASAR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah KK Diperiksa Jumlah KK Memiliki Jumlah Sehat % KK Memiliki (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 66.60 75.680 260.25 73.910 56.464 4.345 85.999 73.986 61.387 250.99 293.01 37.898 77.545 3.192 30.733 510.688 16.97 78.78 64.691 15.237 63.981 27.40 40.539 125.164 3.18 50.962.869 96.Lampiran 2.480 265.664 196.825 99.94 87.316 (3) % Sehat (6) 619.050 200.76 48.852 29.01 32.39 6.773 129.321 123.340 822.075.95 38.86 665.551 224.71 79.499 44.678 173.461 31.10 4.565 2.517 66.292.032 106.404 1.39 287.67 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 576.59 53.618 113.73 30.71 90.198 97.85 64.180 13.20 41.919 354.55 0.815 195.49 262.906 39.863 91.04 57.151.160 343.210 28.62 28.408 147.240.816 62.982 45.133 85.

89 12.43 81.Lampiran 2.93 41.38 78.48 63.77 10.19 .45 33.58 45.35 51.47 41.03 69.50 56.39 22.19 29.31 35.03 72.51 77.35 38.51 12.73 75.78 42.12 67.41 85.80 24.17 54.17 66.63 30.99 69.59 70.83 14.49 44.60 77.10 59. Depkes RI Perdesaan Perkotaan + Perdesaan (4) 73.04 75.75 40.03 52.96 34.86 10.03 51.72 49.16 57.18 35.63 21.48 34.88 65.89 34.48 22.12 25.15 PROPORSI PENDUDUK DENGAN AKSES SANITASI DASAR YANG LAYAK MENURUT PROVINSI DAN WILAYAH TAHUN 2009 No Provinsi Perkotaan (2) (3) (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen P2PL.03 85.66 45.27 25.60 63.05 54.98 40.92 39.31 75.65 51.02 57.11 25.69 43.18 32.00 38.09 25.10 62.53 73.76 56.07 58.98 30.69 78.13 64.87 73.51 (5) 29.24 0.96 42.95 39.43 80.78 41.50 85.13 27.91 43.82 75.69 51.96 30.60 32.20 84.21 52.71 21.23 56.26 33.43 60.55 31.59 42.05 30.37 62.51 35.71 45.84 70.16 58.06 75.84 45.66 38.

58 45.198 53.93 63.75 29.666 65.582.569 344.57 37.613 280.82 31.580.61 63.580 9.14 73.70 61.56 44.123 71.41 77.56 80.634 266.48 60.29 81.90 73.236 49.78 66.16 32.603 1.22 34.888 948.Lampiran 2.96 56.611 98.437 44.883 1.181 313.559 1.717 30.063.315 744.521 332.608 97.102 148.55 66.048 2.251 522.937 2.66 53.963 116.216 1.91 50.835 705.68 62.112.515.97 55.43 91.048 222.836 347.67 61.54 54.534 150.345 208.075 88.982 380.240 479.000 242.349 1.479 116.37 71.21 58.950 224.741 270.52 64.142.09 43.13 59.368 324.390 13.85 61.90 22.102.657 303.903 178.406.57 56.343 1.53 68.36 204.866 227.003.106 375.959 3.351 716.82 35.055 523.210 516.307 175.316.782 887.267 313.35 57.160 100.978 2.578.98 26.025.098.635 1.85 39.48 66.00 41.06 61.484 4.38 29.328 687.07 49.12 34.062 894.46 62.194 1.12 51.257 1.402 170.031 311.257 161.467.420.590 230.36 35.879 494.268 128.296 122.260 55.378 500.959 775.747.71 39.427 11.33 52.263 223.74 53.371 63.592 6.035.787 23.103 468.884 196.63 40.96 53.518.475 58.26 40.482.436 228.281.059 337.19 56.549 354.722 623.577 702.648 110.706 20.204 68.291 13.463 294.01 64.487 341.84 47.185 431.49 .074.65 40.51 72.195.509 2.275 509.329 23.16 PERSENTASE RUMAH SEHAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Rumah No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Jumlah % Jumlah % Seluruhnya Diperiksa Diperiksa Sehat Sehat (3) (4) (5) (6) (7) 690.744 766.107 838.796 187.48 38.024 741.67 64.509 257.526 62.23 56.78 79.65 72.941 292.40 69.675 1.25 80.361 155.

688 1.90 6.27 1.244 918 706 76.890 1.98 13.38 1.10 1.32 9.589 9.08 17.198 68.036 228 2.399 84.559 3.840 1.385 1.766 1.35 262 253 111 43.57 19.961 2.792 69.569 1.461 1.59 11 DKI Jakarta 291 137 85 62.401 61 0.150 54.633 62.73 267 249 129 51.34 221 211 92 43.78 1.72 6.79 #VALUE! 51 20 12 60.549 3.608 3.73 16.35 6 Sumatera Selatan 190 183 165 90.15 1.140 75.26 10 Kepulauan Riau 232 169 149 88.975 1.826 8.011 1.835 81.04 5.039 75.076 2.72 1.034 5.096 62.23 236 200 93 46.912 4.286 86.165 66.897 4.17 1.55 124 87 78 89.08 13 Jawa Tengah 750 488 436 89.27 37 34 13 38.700 6.24 20 Kalimantan Barat 184 161 130 80.344 3.046 1.22 22 Kalimantan Selatan 185 125 68 54.811 72.46 32 Papua Barat 59 54 38 70.37 3.921 2.150 Jumlah Diperiksa (9) 1.354 5.656 55.92 6.963 64.91 209 202 103 50.707 5.507 1.38 2.00 365 257 157 61.41 3.976 2.346 3.647 81.633 29.490 1.309 1.21 799 563 333 59.127 64.632 1.983 60.30 56 52 32 61.40 20.840 74.211 47.855 10.273 63.12 2.170 2.178 981 663 67.40 263 196 118 60.262 81.68 20.197 2.86 .51 15 11 10 90.06 5.235 2.42 601 553 433 78.530 1.54 450 382 242 63.121 3.28 10.123 2.13 98 75 64 85.89 30 Maluku 111 104 93 89.062 79.02 14 DI Yogyakarta 314 90 89 98.143 518 45.869 1.99 3.414 839 59.407 5.539 962 574 59.54 2.35 344 318 75 23.23 720 558 231 41.425 69 369.382 43.452 8.788 13.61 138 128 70 54.00 2.11 1.56 99 65 36 55.00 278 85 31 35.366 10.348 85.94 7.52 5.65 5.933 70.34 8.92 145 138 73 52.13 27.373 2.813 30.22 3.109 15.58 155 130 44 33.00 442 346 233 67.51 28 Gorontalo - - - - #VALUE! 62.83 23.15 3.787 1.017 511 435 85.84 113 82 30 36.431 79.163 127.982 2.74 4 Riau % Sehat Jumlah Sehat (10) 1.59 2.96 72.481 1.671 4.903 40.10 1.265 38.580 2.98 4.418 66.92 9.920 9.69 12.170 67.544 66.566 64.19 8.342 831 61.308 4.870 1.356 75.623 3.514 70.018 2.770 2.59 2.49 26 Sulawesi Selatan 365 222 174 78.614 913 56.09 191 112 32 28.17 PERSENTASE TEMPAT UMUM DAN PENGELOLAAN MAKANAN (TUPM) SEHAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah yg Ada Jumlah Diperiksa Jumlah Sehat % Sehat % Sehat Jumlah Sehat Jumlah Sehat Jumlah Diperiksa Jumlah Diperiksa Jumlah yg Ada Jumlah yg Ada % Sehat (11) (12) (13) (19) (20) (21) (22) 61.75 4.20 5.536 973 63.233 15.15 572 367 187 50.33 1.776 83.52 7.830 1.27 443.298 871 67.664 6.981 1.72 654 428 270 63.235 4.224 8.366 5.322 3.129 947 83.753 64.220 1.639 4.494 64.502 1.182 1.394 1.61 #VALUE! #VALUE! 16 Banten 117 106 58 54.353 1.71 949 842 525 62.24 1.52 2.07 332 298 222 74.662 7.480 1.735 1.364 1.56 7.50 12.328 73.505 1.771 1.477 24.931 6.014 28.927 1.236 4.943 5.27 1.721 49.Lampiran 2.211 201.74 9 Kepulauan Bangka Belitung 54 42 41 97.288 5.709 65.406 5.997 266.112 1.295 4.106 2.27 23 Kalimantan Timur 438 346 302 87.332 1.977 7.69 4.365 76.520 54.414 34.279 3.691 66.364 2.065 69.055 6.613 1.182 2.252 66.160 41.85 6.407 1.848 2.89 2.72 16.282 925 72.059 794 74.87 6.656 13.22 1.42 151 107 65 60.341 1.80 10.554 80.655 6.05 24 Sulawesi Utara 208 148 123 83.09 402 383 227 59.167 83.730 5.941 1.077 1.35 811 580 445 76.946 60.008 3.32 335 243 54 22.352 980 963 98.318 1.190 1.839 2.145 749 65.219 72.308 53.958 62.437 812 56.00 101.50 19.094 2.38 31 Maluku Utara 115 110 87 79.156 71.66 1.58 42 36 27 75.247 2.60 4.26 18 Nusa Tenggara Barat 352 258 230 89.881 3.191 15.757 1.402 2.239 % Sehat (7) 86.29 7.91 236 183 115 62.98 2.315 668 50.55 27 Sulawesi Tenggara 188 140 106 75.59 1.31 1.223 65.903 45.860 Jumlah yg Ada (8) 2.806 15 Jawa Timur 523 408 364 89.337 172.06 2.387 91.219 812 66.541 87.56 3.52 6.123 1.83 760 697 97 13.474 1.57 2.96 180 132 68 51.487 79.817 1.529 936 61.15 66.928 3.445 1.56 103 88 19 21.334 61.113 51.603 57.467 9.202 1.13 34 34 24 70.04 21 Kalimantan Tengah 114 87 54 62.34 4.011 2.46 5.730 3.622 12.134 9.02 25 23 8 34.932 12.487 943 63.18 498 408 200 49.226 1.95 24.761 57.798 1.936 8.066 6.439 5.74 17 Bali 1.02 25 Sulawesi Tengah 166 128 107 83.009 34.81 12 Jawa Barat 996 680 546 80.317 3.335 2.068 56.259 1.70 4.96 9.95 2.523 1.05 2 Sumatera Utara 531 412 351 85.475 66.72 29 Sulawesi Barat 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 61 44 30 68.073 87.023 646 63.83 87.061 3.750 1.88 175 90 68 75.210 867 71.455 59.386 12.16 7 Bengkulu 108 108 107 82.763 1.22 19 Nusa Tenggara Timur 212 162 133 82.798 6.59 985 904 807 89.240 4.694 54.98 8 Lampung 133 102 86 84.37 402 402 298 74.17 8.668 4.28 3.67 2.81 3.52 2.21 3 Sumatera Barat Jumlah Sehat (6) 50 (2) (5) JUMLAH TUPM 58 (1) (4) TUPM Lainnya 149 Provinsi (3) Pasar 1 Aceh No Jumlah Diperiksa Restoran/R-Makan Jumlah yg Ada Hotel (14) (15) (16) (17) (18) 5 Jambi 144 119 98 82.62 549 462 400 86.07 441 331 217 65.988 76.58 1.62 75.641 27.75 350.51 8.973 2.75 2.087 2.124 73.

32 16.516 81.798 560 31.335 75.81 5.37 101 78 77.040 453 43 56 43.69 3.92 9.593 1.26 725 342 47.678 1.47 7.26 28 Gorontalo 749 678 90.05 447 254 56.578 84.501 711 28.412 2.34 11.202 3.160 43.214 999 82.15 11.60 2.908 60.571 40.49 10.64 22.515 64.791 1.02 163.08 1.140 38.537 3.214 4.715 55.22 - - 1.736 62.303 3.54 12 Jawa Barat 7.882 110.17 347 200 57.047 495 47.316 1.089 53.10 1.960 84 10 84.302 78.232 4.114 60.84 76.830 5.004 55.124 66.414 63.534 18.421 87 06 87.078 4 421 4.33 1 040 1.663 89.656 1.43 2.594 1.51 4.608 68.83 1.859 71.125 67.612.275 10.264 68.31 1.76 3.82 1.723 9.624 85.04 7.720 71.49 7.290 2.885 41.82 246 119 48.510 80.60 7.41 175 56 32.076 1.29 - - - - - - 84.581 73.85 3 Sumatera Barat 1.709 79.003 76.06 14 DI Yogyakarta 1.31 5.18 3.465 52.79 34.162 3.684 75.68 128.791.815 69.316 643 48.10 2 Sumatera Utara 7.57 1.842 1.889 90.76 3.373 21 Kalimantan Tengah 531 473 89.061 74.67 1.42 10.91 11.497 2.088 2.88 813 680 83.152 945 82.88 1.854 838 45.350 64.346 71.350 1.573 98 19 98.164 608 28.01 9.810 74.896 48.685 85.64 23 Kalimantan Timur 1.899 8.14 4.15 2.336 1.19 3.248 800 64.85 4.72 1.53 36 - 32 Papua Barat 352 228 64.68 4.292 1.91 3.372 45.445 1.350 1.345 1.416 680 48.169 753 64.278 2.29 2.319 457 19.072 54.39 1.47 1.678 71.220 1.906 2.092 1 806 1.474 53.93 1.378 1.624 69.03 732 503 68.380 73.072 9.956 12.43 12.85 18 Nusa Tenggara Barat 1 602 1.52 14.18 1.169 86.752 70.869 26.00 11.109 66.415 878 62.516 46.169 69.438 3 707 3.483 63.629 844 51.133 1.701 77.91 13.165 2.501 62.51 5.41 943 598 63.854 6.817 87.266 70.17 4 Riau 1.89 1.544 10.613 19.219 42.286 7.707 83 53 83.681 70.00 5.303 53.081 1.78 74 29 39.707 82.137 2.889 1.349 64.833 72.29 3.667 67.03 1.93 752 583 77.65 6.669 1.31 2.375 1.808 33.17 5.221 11 960 11.905 7.339 67.769 6.53 568 236 41.919 41.34 1.08 4.614 81.53 5 078 5.46 20 Kalimantan Barat 50.54 680 529 77.19 3.04 582 439 75.26 13 Jawa Tengah 7.39 22 Kalimantan Selatan 2.940 61.285.10 19 Nusa Tenggara Timur 1.890 69.18 PERSENTASE INSTITUSI DIBINA KESEHATAN LINGKUNGANNYA TAHUN 2009 Sarana Pendidikan Sarana Kesehatan No Sarana Ibadah Perkantoran Sarana Lain Jumlah Provinsi (1) (2) Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) 1 Aceh 2.256 86.79 311 241 77.043 6.22 1.99 5.415 8.41 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 88.689 1.060 69.370 811 59.16 1.82 8.129 840 74.660 1.055 516 48.00 34.65 17.34 3.31 59.94 27 Sulawesi Tenggara 24 Sulawesi Utara 1.28 608 327 53.27 12.20 435 304 69.585 71.653 1.084 68.755 2.198 61.23 1.73 66.40 1.139 2.495 1.075 47.985 49.73 19.370 7.79 1.86 14.499 4.097 82.618 2.10 4.301 13.88 30 Maluku 490 349 71.552 59.55 805 554 68.411 16.66 5 Jambi 899 726 6 Sumatera Selatan 1.86 3.12 653 268 41.955 45.076 5.11 2.822 2.00 4.18 3.618 2.555 71.56 2.05 31.424 71.483 4.19 8 Lampung 1.64 3.72 2.417 7.11 3.13 .567 6.98 25 Sulawesi Tengah 2.570 72.646 69.681 83.96 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 2.540 88.93 16.499 2.71 708 487 68.74 1.702 65.248 403.08 12.51 29 Sulawesi Barat 674 565 83.046 643 61.407 21.069 2.446 65.08 257 140 54.110 809 72.66 18.76 1.768 249 14.565 2.806 86 33 86.02 80.05 38.310 2.48 2.03 3.532 1.295 72.278 74.474 78.928 3.157 759 65.847 1.729 77.01 4.742 1.00 69.365 6.78 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali - - 2060 1731 - - - 1.560 3.607 1.58 7.32 1.71 578 217 37.92 7.290 153.345 4.00 1.47 293 240 81.84 5.085 737 67.02 9.602 1 573 1.63 2.670 1.074 6.274 2.516 59.543 96.06 2 092 2.595 95.77 5.93 747 461 61.218 5.86 196 147 75.165 80.842 2.19 4 438 4.79 5.52 1.887 2.15 77.25 501 311 62.02 1.603 6.56 2.20 23.367 831 60.759 56.719 77.342 6.56 14 221 14.177 8.494 83.85 116.28 11.25 537 353 65.22 96 94 97.55 467 341 73.621 48.23 3.176 1.879 41.598 2.396 59.350 39.04 26 Sulawesi Selatan 3.457 21.412 2.160 71.42 54.40 1.43 2.167 69.93 662 623 94.613 5.638 67.10 440 230 52.198 857 71.961 - 1.755 58.536 1.650 67.316 34.04 1.729 797 46.00 54.142 92.559 3.296 50.522 67.43 4.209 55.014 61.88 3.075 82.282 72.941 217 127 58.34 1.264 3.208 3.89 4.86 3.620 7.584 78.740 7 Bengkulu 1.52 261.296 237 10.278 1.77 544 355 65.653 50.01 1.148 1.11 969 730 75.26 626.354 31.67 3.54 76 9 11.007 848 42.717 70.778 73.59 9.74 25.Lampiran 2.066 86.881 62.944 1.202 69.67 31 Maluku Utara 297 232 78.690 22.644 25.82 5.623 6.082 2.767.070 9.74 18.70 24.92 641 515 80.74 5.

799 737.590 44.98 87.807 71.61 39.833 1.014 893.030 204.654 61.095 489.32 85.516 337.062 930.Lampiran 2.a.568 559.49 56.d 2.08 .04 46.39 57.096 110.518 64 936 64.58 71.23 77.148.91 20.40 7.711 90.296 116.02 50.262 418 799 418.67 64.19 PERSENTASE RUMAH/BANGUNAN YANG DIPERIKSA DAN BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah/Bangunan yang Ada (3) 921.563 1.29 64.733 173.933 148.60 54.263 305.065 98.86 29.51 46.157 4.103 468.077 178.591 291.89 68.483 t.36 59.a.616 239.57 13.900 1.749 47.494 62.67 87.578.56 70.448 838.324 795.87 66.980 9.70 14.580 9.34 t.62 17.701 55.377 19.272 28.17 51.100 3.031.22 74.45 67.11 50.d 32.92 53.623.203 170.114 375.877 170.42 82.903 81.00 41.142 86.006 74.53 47.31 62.58 81.82 41.204 58.a.38 20.704.772 75.a.27 89.580.953 3.930 194.529 103.958 t.94 21.32 12.961 321.10 39 82 39.426.696 414.99 83.784 479.665 516.826 128.747.316 1.634 266.102.919 116.93 60.35 7.005.725 36.081 734.316.598 265.376 348.589 226.64 46.283 12.096 226.934 8.29 26.846 10.53 61.081 157.44 87.d 74.349 466.08 t.768 193.024 741.503.460 39.18 48.605.877 Rumah/Bangunan Bebas Jentik Rumah/Bangunan Diperiksa Jumlah % (4) (5) 100.82 66.052 182.82 63.837 5.884 196.257 971.935 2.936 99.427 11.790.95 21.959 450.56 38 94 38.517 163 081 163.479 116.098.990 22.88 7.741 225.57 20.744 766.83 74.671 817.342 193.592 6.391 934.d 1.675 872.37 42.032 306.131 25.474 43.94 78.06 8.343 1.642 24.11 31.11 21.48 49.596 58.891 496.00 Jumlah % (6) (7) 63.690 392.47 83.368 17.

77 57.58 46.085 1.408 30.75 37.708 755.829.764 461.620 37.681 7.787 17.812 183.22 62.407 45.47 .020 91.897 108.35 50.822 302.838 21.643 112.995 1.50 42.850 276.253 233.955 738.182.774 346.750 105.57 87.18 30.537 525.301.469.09 65.94 41.Lampiran 2.91 49.848.16 49.209 244.804 13.20 PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Rumah Tangga Jumlah Dipantau Ber PHBS * (3) (4) 237.454 10.432 136.669 409.824 91.905 15.883 5.243 44.625 48.933 63.860 123.986 126.112 18.73 50.617 94.88 88.51 59.007 375.79 8.934 7.095 % (5) 111.87 21.37 52.37 61.018 93.701 19.611 47.292 56.268 140.629 91.69 65.923 330.28 61.275 17.45 17.006.973.145 85.85 43.866 6.39 39.824 407.511 881.173 66.066 22.75 55.463 39.91 36.037 115.942 42.75 25.035 855.858 108.642.02 45.649 196.984 87.026 2.685 1.28 79.248 88.349 118.861 38.97 48.45 51.236 1.235 26.331 242.38 32.49 54.

20 28.29 33.78 Jawa Timur 17.27 44.24 (3) Aceh 8.30 35.97 38.41 Bengkulu 7.I.31 23.05 35.24 47.91 45.08 Riau 7.84 Nusa Tenggara Timur 2.65 54.78 47.85 Maluku 4.53 17.12 9.41 (6) 46.20 38.23 11.76 40.45 31.16 36.64 Gorontalo 10.07 44.57 36. BPS (4) 25+ (5) 32.31 46. Yogyakarta 18.58 50.64 34.00 Lampung 6.54 36.74 31.26 35.86 .06 19.08 Sumatera Selatan 11.42 11.02 15.18 19 .72 51.21 PERSENTASE WANITA MENURUT UMUR PERKAWINAN PERTAMA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 10 .77 30.75 11.Lampiran 2.45 29.64 14.56 9.56 20.41 46.31 14.63 32.48 Sulawesi Tengah 13.05 31.08 43.03 Bali 2.84 DKI Jakarta 6.69 8.38 50.87 37.73 22.34 15.12 40.74 53.53 19.33 13.25 27.78 42.36 Jambi 11.24 33.61 8.79 36.55 36.76 54.91 36.95 22.15 11.38 23.98 24.91 Nusa Tenggara Barat 5.12 13.96 18.61 10.89 Sulawesi Utara 3.71 37.16 35.15 Umur Wanita pada Perkawinan Pertama 16 .96 35.76 47.07 18.72 25.01 Sulawesi Selatan 10.43 Banten 13.02 34.36 20.05 57.14 Kep.11 15.14 Sulawesi Barat 7.25 Kalimantan Timur 10.42 10.97 Jawa Barat 19.66 9.46 8.02 Indonesia 13.63 D.65 Jawa Tengah 3.89 47.08 Sumatera Barat 8.23 48.29 41.22 Papua 8.40 Sumatera Utara 4.Bangka Belitung 13.61 27.51 15.15 53.83 21.02 Kalimantan Selatan 18.21 21.66 9.49 Maluku Utara 5.16 49.25 Kalimantan Barat 7.93 14.60 Sulawesi Tenggara 10.02 24.37 9.96 20.88 42.86 Kalimantan Tengah 10.47 20.53 11.80 43.71 Papua Barat 10.45 Kepulauan Riau 14.97 51.29 13.40 Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.01 29.27 41.

4 67.9 68.0 63.1 69. ANGKA KEMATIAN BALITA TAHUN 2007 DAN ANGKA HARAPAN HIDUP TAHUN 2008 MENURUT PROVINSI No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Sumber: Provinsi *Angka Kematian Bayi (IMR) Estimasi *Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Harapan Hidup (eo) 2008 (2) (3) (4) (5) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia BPS.8 71.1 64.1 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI.1 69.6 70.1 69.0 66.4 67.1 73.6 61.0 71.0 . Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 * : Periode lima tahunan sebelum survei.7 72.0 65.6 67.0 68.2 69.2 69. Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008 25 46 47 37 39 42 46 43 39 43 28 39 26 19 35 46 34 72 57 46 30 58 26 35 60 41 41 52 74 59 51 41 36 34 45 67 62 47 47 52 65 55 46 58 36 49 32 22 45 58 38 92 80 59 34 75 38 43 69 53 62 69 96 93 74 62 64 44 68.1 70.1 68.5 69.4 66.6 69.4 69.0 66.5 67.8 72.9 67. AHH :BPS.8 69.3 71.2 67.Lampiran 3.

15 31 2.80 620.38 13 Jawa Tengah 70.59 30 Maluku 66.87 625.10 89.30 93.6 7.65 592.30 7.62 68.99 8 Lampung 68.80 99.00 8.00 16 Banten 64.52 74.40 13 69.71 32 61.63 615.7 8.83 24 66.18 28 1.00 97.09 69.19 628.48 63.33 71.20 91.74 68.35 17 68.60 90.55 87.45 25 Sulawesi Tengah 65.88 67.77 5 70.31 625.42 594.93 66.89 11 DKI Jakarta 72.40 7.25 6.98 69.67 628.18 6 1.90 67.75 619.41 599.05 33 Papua 67.02 70.60 14 2.96 20 Kalimantan Barat 66.6 7.81 95.57 636.15 4 73.66 7.20 23 Kalimantan Timur 70.00 63.00 99.56 70.10 95.23 9 69.35 14 DI Yogyakarta 73.55 27 2.30 8.24 633.52 92.59 71.23 86.87 7.90 75.31 625.0 8.Lampiran 3.62 6.000) (2) (3) (4) (5) (6) (1) IPM Peringkat Angka Harapan Hidup (tahun) (7) (8) (9) Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Angka Melek Huruf (%) Pengeluaran Riil / Kapita (Rp.0 6.49 7 71.40 96.4 7.80 98.82 27 65.1 8.53 16 70.70 630.70 23 1.39 1.18 631.20 8.46 29 Sulawesi Barat 67.35 70.26 7.8 7.10 621.60 97.59 639.76 17 2 Sumatera Utara 69.14 11 1.94 68.60 601.00 8.13 633.43 636.28 65.15 593.75 6.50 96.87 24 Sulawesi Utara 72.00 637.60 86.60 95.63 96.81 638.25 74.94 7.80 96.70 87.78 8 69.10 87.41 33 68.30 610.29 8 1.93 72.11 74.16 2 1.9 7.60 593.50 95.70 8.23 69.99 27 Sulawesi Tenggara 67.71 604.91 615.82 5 Jambi 68.75 71.30 630.29 24 1.40 6.03 8.28 7 Bengkulu 69.00 94.12 72.09 22 26 Sulawesi Selatan 69.0 7.70 91.90 70.73 616.68 6 69.50 95.90 95.6 8.10 95.4 8.50 623.47 7.53 70.71 69.64 73.32 7.03 1 1.86 89.17 29 21 Kalimantan Tengah 70.59 71.32 17 Bali 70.20 86.81 15 Jawa Timur 68.40 624.94 96.32 7.37 70.90 88.10 6.70 77.90 97.72 28 67.47 22 Kalimantan Selatan 62.20 8.2 8.60 96.46 12 68.74 91.30 20 1.38 18 2.74 9 Kepulauan Bangka Belitung 68.05 12 2.96 18 67.08 629.52 72.37 95.12 605.60 96.0 8.4 8.12 32 1.69 8.53 29 66.20 605.78 8.88 7 1.71 15 67.31 75.20 80.72 26 2.32 25 67.60 8.01 10 Kepulauan Riau 69.99 87.51 622.68 2 72.88 4 2.8 8.50 600.1 6.46 643.40 625.00 33 1.81 71.23 625.83 68.10 8.67 92.03 70.90 94.0 7.59 1 72.63 3 71.42 6.94 626.52 69.95 30 2.67 74.10 97.80 619.60 95. Provinsi Angka Harapan Hidup (tahun) Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Angka Melek Huruf (%) Pengeluaran Riil / Kapita (Rp.64 70.28 30 67.4 6.80 93.79 73.60 624.78 20 69.1 6.000) IPM (10) (11) (12) (13) Reduksi Peringkat Short Fall (14) (15) 1 Aceh 68.38 18 1.78 19 69.60 625.98 .55 18 Nusa Tenggara Barat 61.2008 2008 2007 No.2 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KOMPONEN MENURUT PROVINSI TAHUN 2007.60 624.80 628.00 624.39 74.96 68.60 617.66 599.90 67.60 95.18 625.60 98.44 95.86 12 Jawa Barat 67.26 96.88 74.04 68.60 95.00 97.9 10.91 2.71 89.25 71.66 72.42 31 Maluku Utara 65.90 630.47 624.50 8.0 8.80 98.53 630.91 95.01 26 63.63 70.24 7.07 72.51 97.13 67.36 31 67.28 1.50 95.85 6 Sumatera Selatan 69.17 Indonesia Sumber: Badan Pusat Statistik.66 631.34 22 66.26 69.62 21 69.69 68.65 64.94 73.15 28 Gorontalo 65.36 634.70 89.57 11 69.70 69.80 8.29 23 64.90 87.80 628.41 6.19 10 2.98 16 1.2 6.62 10 68.00 69.68 622.52 75.5 8.05 623.40 634.70 80.76 10.97 73.81 86.11 32 Papua Barat 67.6 7.10 73.00 25 2.60 97.07 67.90 3 Sumatera Barat 68. Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008 Ket: Reduksi Short Fall : Percepatan pembangunan manusia untuk mencapai angka IPM ideal 1.42 611.72 69.63 622.1 6.58 64.22 21 1.99 13 1.80 68.0 8.05 628.52 593.09 3 1.49 72.94 631.00 620.40 6.8 7.00 96.12 15 1.59 69.62 4 Riau 71.1 8.5 6.81 70.58 75.40 86.00 7.96 9 2.61 70.29 71.76 625.2 7.1 7.70 617.95 70.20 94.52 5 2.78 76.44 595.21 7.14 19 Nusa Tenggara Timur 66.3 6.99 71.92 14 71.80 96.80 98.53 626.1 7.95 87.

115 16.933 36.Lampiran 3.013 4 Demam yang sebabnya tidak diketahui 24.170 16.758 17.705 60.696 1.535 143.747 2 Demam Berdarah Dengue 60.629 121.957 24.533 21.477 35.920 16.703 234 10 Gastritis dan duodenitis 12.677 935 7 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 19.647 2365 9 Penyakit apendiks 13.396 30.334 898 3 Demam tifoid dan paratifoid 39.200 462 5 Dispepsia 18.144 36.807 28. Kemkes RI.243 49.3 10 BESAR PENYAKIT RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT TAHUN 2009 Kasus No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) Laki-laki Perempuan Total Kasus Meninggal (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 74.161 69.850 1.497 47.304 520 6 Hipertensi esensial (primer) 15.154 235 Sumber: Ditjen Yanmed.048 162 8 Pneumonia 19.262 41. 2010 .783 30.588 80.

488 46.087 275.578 245.345 133.467 234.013 223.463 122.794 781.463 52.953 247.605 153.942 99.195 135. Kemkes RI.216 488.162 220.660 203.380 52.749 .823 123.142 105.446 67.817 77.429 156.4 10 BESAR PENYAKIT RAWAT JALAN TAHUN 2009 Kasus No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) (1) (2) 1 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 2 Demam yang sebabnya tidak diketahui 3 Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya 4 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 5 Gangguan refraksi dan akomodasi 6 Dispepsia 7 Hipertensi esensial (primer) 8 Penyakit pulpa dan periapikal 9 Penyakit telinga dan prosesus mastoid 10 Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtiva Sumber: Ditjen Yanmed.004 68.318 67.269 412.231 89. 2010 Laki-laki Perempuan Total Kasus Jumlah Kunjungan (3) (4) (5) (6) 243.275 83.738 172.Lampiran 3.364 54.303 147.881 143.673 88.254 358.256 371.167 132.815 99.083 53.021 55.375 55.

196 3.843.09 6.063 51.920 4.971 686.472 1.849 102.325 12.726 10.939 2.515 1.268 701.210 26.017 13.27 .58 3.46 29.401 83.23 1.25 2.160 391 12.04 3.568 14.85 0.580 21.946 1.244.94 1.212 39.36 0.380 2.391.883 9.15 2.403 13.25 0.759 6.922 14.260.885 37.676 3.15 3.48 0.040 38.385 4.052 22.59 6.5 JUMLAH KASUS DAN ANGKA KESAKITAN PENYAKIT MALARIA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Populasi Berisiko Klinis SD Periksa Positif API (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.572 3.168 2.62 0.45 4.57 8.536.48 20.016.94 8.75 1.651 543 24 8.849 73.392 397 1.14 0.402 21.51 10.473 6.635 49.971 966.05 1.06 2.644 44. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jawa-Bali Luar Jawa-Bali Sumber: Ditjen PP & PL.841 685.675 AMI (8) 0.94 11.661.39 1.132.91 27.986 4.848 3.59 16.642.940 966.453.292 1.51 30.606 19.074 2.206.675 20.98 39.389 5.70 12.71 10.294 58.907 49.308 5.159 6.93 15.14 9.933 483 3.92 8.812 11. Kemkes RI.075 1.02 1.478 10.818 20.706.403 13.135 5.536 1.51 5.531 40.834 3.41 0.461 1.920 4.54 5.136 769 44.816 2.696.78 5.295.350.05 12.932 165.572 3.813 24.47 4.516 63.709 9.635 45.934 8.973 41.65 51.897 1.530.888 8.89 0.015 957 5.37 1.538.87 1.864.093.148 8.171 2.459 6.424 1. 2010 4.030 168.275 6.083.66 9.189 2.213 54.35 0.949 75.511 176.71 0.088 1.561 1.386 11.384.953 15.283 6.540 2.17 2.927 199.968 51.353.54 1.034.888 33.654 27.928 8.09 41.435 2.03 0.36 1.995.647 60.13 0.Lampiran 3.683 93.08 0.487 5.096 33.792 2.949 1.053 15.36 0.674 8.80 11.025.274 1.530 3.264 2.42 133.204.755.039 2.202.074.873 29.001 2.902 194.78 7.866 4.242 765.92 54.292 5.401 83.48 5.06 15.648 863.376 8.895 4.97 18.220 67 2.572 5.024 176.040 38.32 13.535 76.577 4.082 5.12 0.449 4.859 23.421.966.143.22 4.89 8.768 2.31 0.

02 0.Lampiran 3.05 0.15 0.17 Jawa-Bali Sumber: Ditjen PP & PL.37 0.03 5 Jawa Timur 0.06 0.58 3 Jawa Tengah 0.06 0. 2010 0 0.6 ANNUAL PARASITE INCIDENCE (API) MALARIA DI JAWA-BALI TAHUN 2004 .17 7 Bali 0.51 0.02 0.10 0.18 0.36 0.96 0.07 4 DI Yogyakarta 0.16 0. Kemkes RI.16 0.02 0.03 0.00 0.05 0.08 0.55 0.13 0.2009 Tahun No Provinsi (1) (2) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 (8) (9) (10) (11) (12) (13) 1 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 2 Jawa Barat 0.71 6 Banten - 0.19 0.47 0.08 0.97 0.42 0.15 0.14 .16 0.71 0.12 0.03 0.52 0.03 0.18 0.

556 2.311 9.943 951 784 7.181 1.273 9.5 44.7 45.646 4.428 2.982 21.815 5.342 6.8 30.448 2.8 59.291 7.8 38.671 2.966 16.223 2.3 42.7 66.074 61.9 60.346 5.964 34.702 1.424 9.048 4.8 48.695 25.987 1. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.156 1.165 2.345 38.559 3.989 2.941 7.499 2.010 15.989 31.7 33.813 2.609 3.397 8.6 39.407 35.694 4.054 1.482 4.1 85.6 77.598 8.380 7.200 2.731 169.325 3. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.896 10.517 3.090 4.241 39.3 33.6 66.155 22.096 7.779 1.179 2.070 4.0 70.2 32.9 65.370 942 2.897 3.562 3.3 81.701 9.732 2.433 16.065 3.8 231.5 56.6 34.213 73.988 1.588 4.227 5. HASIL CAKUPAN PENEMUAN KASUS PENYAKIT TB PARU TAHUN 2009 Cakupan No.667 11.821 2.891 2.370 294.629 3.089 3.2 34.066 2.1 51.065 13.5 41.134 1.197 7.906 1.504 638 43.6 56. 2010 Perkiraan Kasus Baru TB Paru BTA Positif Semua Kasus Kasus Baru TB Paru BTA Positif Case Detection Rate (CDR) % (3) (4) (5) (6) 6.490 4.7 51.4 31.209 16. Kemkes RI.1 .2 52.014 708 2.880 2.7.620 1.6 48.369 4.608 4. Bangka Belitung Kep.535 11.296 1.2 36.468 2.229 1.8 71.725 8.405 1.8 40.681 5.Lampiran 3.339 2.745 5.663 1.266 1.302 5.918 6.869 44.

72 55.44 38.862 1.72 59.906 1.951 614 480 4.21 38.107 247 69.79 61.433 1.891 2.59 39.439 7.47 61.370 942 2.213 .81 36.41 60.014 708 2.09 42.695 3.504 638 169.71 40.050 1.94 3.07 58.673 793 1.75 61.221 3.83 45.89 61.989 31.28 40.700 1.03 38.123 13.397 391 99.28 44.17 35.84 59.296 1.089 3.057 2.840 1.052 1.82 40.992 337 304 3.897 3.22 58.538 460 10.66 46.34 53.881 2.77 60.828 1.488 1.483 546 1.369 4.32 59.60 60.631 962 593 383 927 271 1.53 38.134 1.90 43.227 628 1.907 889 1. 2010 Perempuan (3) Jumlah (4) 2.988 1.29 59.866 17.40 39.91 57.156 1.181 1.732 2.517 3.022 9.80 61.99 59.155 22.78 41.90 61.20 38.275 (7) 34.93 41.25 38.16 40.745 5.78 39.03 34.97 65.56 61.18 59. Bangka Belitung Kep.70 64.10 56.8 JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF MENURUT JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jenis Kelamin No Laki-laki Provinsi Laki-laki+ Perempuan % Jumlah (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.377 4.227 1.428 2.368 695 12.974 606 1.83 34.23 39.207 982 2.043 4.75 44.68 40.339 2.30 35.10 38.67 41.33 58.22 60.334 777 559 1.299 1.Lampiran 3.19 63.598 8.433 16.83 64.28 55. Kemkes RI.994 9.191 787 1.797 1.01 40.880 2.938 % (5) 65.25 55.087 437 1.943 951 784 7.97 61.17 54.72 44.472 1.278 2.065 13.17 65.135 3.588 4.06 (6) 1.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.516 783 2.11 38.065 3.918 6.

828 1.797 1.517 3.155 22.745 5.394 397 220 281 519 199 463 87 48 463 2.914 Sumber: Ditjen PP & PL.992 337 304 3.520 105 2.914 561 537 369 705 194 640 150 129 1.865 91 2.491 325 86 228 228 230 61 144 85 192 115 418 148 90 57 108 19 58 14 129 475 236 74 139 266 73 284 56 29 152 996 778 86 938 194 81 129 207 210 46 92 91 241 69 342 95 38 43 100 24 23 19 2.906 1.938 69.64 P P L L P L > 65 L L Total P T (9) (15) (17) (18) (19) (10) (11) (12) (13) (14) 398 1.424 88 2.299 1. Bangka Belitung Kep.022 9.483 546 1.989 31.296 1.353 949 58 1.504 638 19.700 1.107 247 3.516 783 2.057 454 309 343 640 201 576 123 82 746 2.039 23.931 1.156 1.692 2.213 .755 99.44 45 .054 15.428 2.087 15.943 951 784 7.370 942 2.416 1.588 4.738 826 150 396 345 542 188 379 250 480 240 682 246 169 109 169 75 172 51 209 880 227 163 188 400 114 359 70 39 455 2.207 982 2.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 15 .123 13.897 3.266 215 375 405 552 175 380 280 516 222 837 254 177 140 236 110 445 120 223 1.994 9.275 169.026 12.368 695 12.433 16.191 787 1.631 962 593 383 927 271 1.488 1.011 16. JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2009 No 0 .515 4.227 628 1.580 954 128 253 279 307 111 197 174 334 128 540 224 119 71 199 85 397 92 161 943 291 172 163 334 99 330 67 71 765 3.300 574 141 351 299 530 117 275 199 406 196 653 231 122 93 150 64 99 29 169 608 173 97 159 248 92 277 37 21 220 1.369 4.277 77 2.017 162 2.087 511 86 259 241 291 123 267 132 273 143 491 156 108 72 152 38 95 28 384 1.433 1.470 1.891 2.221 3.24 25 .14 Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.377 4.866 17.052 1. Kemkes RI.057 2.481 19.695 3.397 391 1.472 1.227 1.439 7.065 3.918 6.168 273 310 248 447 148 450 82 113 918 3.181 1.076 1.907 889 1.278 2.216 799 183 245 350 341 126 229 210 320 179 611 202 121 87 197 72 361 74 811 1.34 L P L P L P (3) (4) (5) (6) (7) (8) 24 65 17 13 12 15 6 26 3 4 29 145 65 1 99 38 2 11 16 29 9 22 14 26 14 10 11 4 7 37 6 23 8 19 92 27 19 16 24 6 47 2 56 168 95 7 135 42 5 11 27 24 12 15 10 26 16 25 12 5 5 59 1 41 5 229 1.087 437 1.810 104 2.578 1.516 1.840 1.135 3.226 1.988 1.881 2.055 172 347 330 503 147 355 270 469 266 733 273 148 96 196 73 238 72 206 926 222 247 223 417 117 394 69 47 624 2.025 3.134 1.050 1.339 2.54 55 .598 8.Lampiran 3.557 103 1.762 820 107 187 271 252 93 204 159 273 134 388 187 121 65 177 79 391 87 415 1.558 6.9 JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF MENURUT KELOMPOK UMUR (TAHUN).862 1.014 708 2.538 460 10.721 14.091 8.880 2.974 606 1.182 1. 2010 K e l o m p o k U m u r ( t a h u n) 35 .951 614 480 4.673 793 1.065 13.523 13.732 2.306 1.946 428 434 345 642 178 585 113 107 936 3.660 122 2.518 115 1.043 4.089 3.334 777 559 1.072 654 117 248 244 263 113 273 166 314 161 531 199 111 87 164 54 152 38 443 2.655 1.206 340 241 206 420 131 377 82 81 1.

244 1.637 13.0 10.2 3.217 202 137.828 17.4 6.6 80.4 1.8 18.6 0.990 3.711 5.618 1.3 21.113 17.8 87.9 72.6 85.3 1.9 85.592 1.5 38.604 14.7 86.413 3.607 3.360 4.8 85.3 94.655 8.6 5.329 1.4 82.9 95.5 91.181 4.8 6.701 2.2 1.1 31.Lampiran 3.0 8.0 2.4 8.601 1.7 3.9 9.455 8.960 8.1 27. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.5 66.3 8.6 96.0 66 167 117 34 84 63 14 100 37 9 135 400 285 45 557 80 77 133 121 76 17 72 51 76 46 185 53 19 59 4 18 50 21 3.5 97.1 82.7 93.8 94.227 5.120 6.3 77.9 84.5 77.787 4.351 2.1 92.3 83.999 5.2 11.566 1.468 2.905 960 2.2 85.4 1.864 945 790 989 282 1.5 3.2 3.6 10.251 3.1 6.159 5.10 HASIL CAKUPAN PENGOBATAN TB PARU MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 Semua Kasus BTA Pos Jumlah % Jumlah % Sembuh & Pengobatan Lengkap Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 3.8 1.881 4.884 1.4 2.024 1.279 981 6.6 83.558 1.521 1.8 80.818 25.161 2. Kemkes RI.971 1.060 1.2 92.544 2.5 85.3 1.8 2.3 1.209 1.4 80.072 16.461 39.142 921 1.9 97.9 2.241 2.7 87.1 2.3 2.0 5.850 2.091 7.930 1.6 3.9 92.5 14.951 2.1 2.0 97.033 894 19.0 Cakupan Tahun 2008 No.876 3.9 7.6 88.434 3.312 1.176 1.829 4.2 88.428 835 606 7.721 1.6 92.210 1.1 6.771 958 685 8.4 69.8 67.109 540 2.1 89.4 92.4 74.3 1.8 6.3 2.0 4.4 4.048 3.271 2.5 89.831 14.1 88.1 17.329 2.8 78.478 2.709 3.376 2.2 49.088 4.134 3.3 4.894 1.0 70.1 86. 2010 Sembuh Pengobatan Lengkap Success Rate (%) Meninggal .999 84.557 35.582 6.663 15.4 2.2 1.403 3.096 813 462 5.840 1.4 91.5 32.1 12.5 82.224 2.055 4.688 5.059 1.781 8.303 2.060 47 1.1 4.189 1.461 525 166.5 85.500 25.261 1.896 3.6 1.0 90.509 547 264 408 339 173 159 131 374 406 288 215 345 197 131 90 168 677 168 13.0 16.9 1.3 89.598 7.298 2.079 450 1.8 93.8 1.9 67.141 23.752 1.9 78.1 83.399 13.860 4.8 12.158 3.243 4.1 96.315 5.724 1. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.894 370 151.7 80.7 4.858 2.1 3.452 1.093 941 21.0 92.1 80.259 298.164 2.284 1.490 61.276 4.451 1.133 5.4 3.9 16.155 2.9 4.5 87.6 1.080 1.205 2.8 90.2 3.8 13.372 30.2 52.0 2.9 238 366 377 249 195 364 62 332 22 144 1.4 13.169 27.1 83.0 2.002 2.170 2.7 93. Bangka Belitung Kep.5 89.454 93.

33 14.04 8.71 7.36 22.77 3. Kemkes RI.22 8.66 .88 0.11 JUMLAH KUMULATIF KASUS AIDS.20 1.86 11.000 PENDUDUK MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN DESEMBER 2009 Jumlah Kasus No Provinsi (1) (2) Case Rate Meninggal Kumulatif 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.36 5.21 1.91 0.67 8.93 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.91 0. MENINGGAL.828 3.06 45.78 0.Lampiran 3.05 3.35 7. DAN ANGKA KUMULATIF KASUS PER 100.000 Penduduk (3) (4) (5) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.598 717 290 3.60 2.93 133.65 0. 2010 Per 100.227 318 1.46 6.69 0.973 3.57 3.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.51 8.45 2.17 16.808 11 93 81 131 50 38 21 42 18 130 426 634 246 81 691 54 283 63 25 107 2 5 10 62 6 62 5 1 70 8 19 371 1.23 31.04 5.846 8.32 8.07 19.

Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Jumlah Sumber: Ditjen PP & PL.540 323 1.162 573 246 2.858 21.442 Triwulan IV (6) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.747 142 139 794 40 27 11 173 12 591 22 3 192 16 58 2.Lampiran 3.652 78 1.807 3. Kemkes RI.133 275 1.12 JUMLAH KASUS AIDS KUMULATIF PER TRIWULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Bangka Belitung Kep.506 107 138 730 15 27 11 173 12 143 20 3 192 10 58 2.681 18. 2010 Triwulan I (3) 30 485 234 368 165 184 52 144 111 325 2.740 3.828 3.499 16.964 Jumlah Kasus AIDS Kumulatif Triwulan II Triwulan III (4) 48 485 410 477 166 219 113 144 120 341 3.227 318 1.263 92 117 730 10 27 11 173 12 143 11 3 190 9 58 2.710 819 290 3.808 19.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.973 .770 (5) 36 485 293 371 165 219 85 144 117 333 2.233 669 247 3.811 3.598 717 290 3.

973 7.90 .10 50.30 33.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.00 35.40 23.20 45.00 70.60 16. 2010 Jumlah Kasus Jumlah Kasus Kumulatif Persentase Kasus Kumulatif Kumulatif Pada IDU Pada IDU (3) (4) (5) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.40 4.70 8.70 62.80 66.50 43.002 2.598 717 290 3.022 199 261 46 12 132 7 9 4 40 6 209 1 2 79 2 5 2 39.70 41.20 9.80 73.40 58.966 39. Kemkes RI.Lampiran 3.00 21.13 JUMLAH DAN PERSENTASE KASUS AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIKAN (IDU) MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.10 67.80 34.00 8.50 51.227 318 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.60 77.90 28.828 3.60 0.60 33.30 36.808 17 209 224 135 96 104 47 112 40 30 2.20 38.628 152 132 1.50 31.20 47.70 16.10 20.10 19.

118 72.92 5.078 13 6.660 469.491 19.657 1.16 21.578 11.458 354. Kemkes RI.552 1.319 22.491. 2010 (6) (7) 568.593 1.624 2.45 11.749 2.Lampiran 3.907 2.296 129.376 9.16 2.306.721 6.38 9.989 3.915 709 758 2.607 38 11.752 896.433 42.781 111.360 662 570 - 2.310 429.159 107.558 23.37 20.621 11.41 0.533 2.402.524 842 404 387 - 1.287 9.344 185.701 32.034 3.914 197.034 18.315 1.380 1.30 46.153 890 1.21 10.566 3.575 233.081 1.173 390.829 1.332 424.685 51 17.81 - 17.384 2.271 1.760.139 211. PKM Program Target Penemuan Pneumonia Balita (10%) < 1 Tahun 1 .868 11.83 17.15 71.914 21.14 JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.313 16.126 223 4.652 425.306 196.249 434.392 9.621 748.328 2.369 1.277 11.455 812 11.075 7.18 .370 20.735 1.925 43.655 32.866 130.387 6.881 10.521 4.431 42.226 28.701 201.256 1.819 - 494 11.846 1.176 7.70 21.666 46.16 12.349 4.062.05 3.010 67.050 136.261 732 518 258 183 - 732 16.595 30.246 35.329 589 7.671 4.438 249.96 9.912 98.083 344.766 449.014 323.880 3.191 - 56.91 13.54 5.42 10.892 252.12 5.187 69.072.034 20.175 725.977 44.56 15.873 690.32 19.985 34.130 161.91 13.20 5.191 9.82 41. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.677 372 309 1.4 Tahun Jumlah % (3) (4) (5) (8) (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.175 89.64 14. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Realisasi Penemuan Penderita Pneumonia Balita Jumlah Penduduk Usia Balita Wil.842 1.682 113.646 1.993 3.639 3.905 5.915 95.318 18.806 3.562 74.067 3.

00 51 65.00 6 651.00 35 0 9 0 17 5.12 0.55 1.42 4.17 0.04 0.04 0.05 2.29 0.00 0 13.05 0.13 0.00 14.00 47 0 33 1.15 JUMLAH KASUS BARU KUSTA.93 16.00 7 11.07 0 0.000 Penduduk (6) Cacat Tkt.05 0.51 15.01 0.02 3.00 62 1. 2010 PB MB (3) Jumlah (4) 121 37 13 44 4 20 2 24 6 3 102 208 226 13 944 65 15 51 34 7 9 12 19 85 83 233 29 19 55 72 105 108 265 3.13 0. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.559 1.44 .33 3.06 48 33 0. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.35 33.14 Tahun Jumlah % % (8) 359 163 65 151 59 200 9 87 27 7 471 1351 1348 39 4979 434 69 216 159 97 90 188 180 340 230 1003 220 174 140 325 286 139 622 480 200 78 195 63 220 11 111 33 10 573 1.01 0.00 72 219.812 (9) 0.89 6.12 0.00 3 710.07 0.69 4.08 0.12 0.13 0.15 0.00 20 15.11 0.13 0.06 0.00 1.24 0.13 0.08 14.21 0 0.03 0. Kemkes RI.260 7.236 249 193 195 397 391 247 887 11.01 40.00 206 236.98 0.00 188 151.20 11.11 0.16 6.00 31 11.18 0 0.07 0.00 25 25.63 1.00 83 1.69 0.37 (10) 40 14 6.62 19.17 0.07 0.10 0.12 0.05 0.07 0.00 21 21. CASE DETECTION RATE (CDR).09 0.13 0.10 0.923 499 84 267 193 104 99 200 199 425 313 1.17 0.30 0.15 0.00 133 17.02 0.16 0.00 14 6.00 10 24.06 0.42 2.12 0.03 10.00 18 8.56 40.10 0.06 0.00 10 10.07 7. DAN PROPORSI KASUS PADA ANAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.11 0.00 0 42.04 0 0.26 3.53 6.00 2.17 0.91 1.71 4.49 1.00 143 11.11 0.78 18.62 27.60 6.00 45 13.09 0.033 (5) Case Detection Rate Per 100.00 25 30.00 13 35.10 0.574 52 5.02 0 0.79 12.074 0.82 5.04 0.25 11.Lampiran 3. 2 Jumlah (7) 0 .06 0.05 2.85 2.08 0. KECACATAN.227 17.00 56 30.10 0.

Lampiran 3.16 JUMLAH KASUS TETANUS NEONATORUM DAN FAKTOR RISIKO MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Faktor Risiko 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Tidak Diketahui Ya Tidak Tidak Diketahui (14) 0 0 1 0 1 3 0 2 0 0 0 6 0 0 12 2 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 31 Lain-lain (13) 5 0 0 0 3 3 1 5 2 0 0 11 5 0 0 31 0 0 0 14 0 0 1 0 0 0 1 2 0 0 0 0 1 85 Bambu (12) 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5 2 0 5 4 0 0 0 2 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 21 Gunting (11) 1 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 1 0 0 6 6 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 22 Tidak Diketahui (10) 1 0 0 0 1 3 0 2 0 0 0 7 0 0 1 2 0 0 2 6 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 28 Lain-lain (9) 0 0 0 0 2 3 1 0 0 0 0 4 2 0 2 12 0 0 0 3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Tradisional (8) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 6 2 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 13 Dirawat di RS Alkohol/Iodium Dokter (7) 5 0 1 0 1 1 0 10 2 0 0 10 3 0 11 27 0 0 0 7 0 0 0 0 1 2 0 3 0 0 0 0 0 84 Pemotongan Tali Pusat Tidak Diketahui Tidak Diketahui (6) Perawatan Tali Pusat Bidan/Perawat Tidak Diimunisasi (5) TT1 Dokter Sumber: Ditjen PP & PL. 2010 1 0 1 0 2 4 0 8 0 0 0 10 3 0 15 17 0 0 2 8 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 1 0 76 TT2+ (4) 6 0 1 0 4 7 1 12 2 0 0 23 7 0 22 43 0 0 3 16 0 0 1 0 2 2 1 3 0 0 0 1 1 158 Tidak Diketahui (3) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Bara Nusa Tenggara Timur Kalimantan Bara Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tanpa pemeriksaan (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Penolong Persalinan Tradisional Meninggal (1) No Status Imunisasi Bidan/Perawat Provinsi Total Pemeriksaan Kehamilan (15) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28) 3 0 1 0 1 1 0 2 0 0 0 2 1 0 6 3 0 0 0 6 0 0 0 0 1 1 0 2 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 1 3 0 2 0 0 0 7 0 0 0 2 0 0 3 3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 23 0 0 0 0 1 0 0 5 0 0 0 3 0 0 14 9 0 0 0 3 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 37 0 0 0 0 2 3 1 3 0 0 0 0 3 0 6 16 0 0 1 10 0 0 1 0 0 0 1 3 0 0 0 0 0 50 0 0 0 0 0 1 0 2 2 0 0 11 3 0 1 17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 39 6 0 1 0 1 3 0 2 0 0 0 9 1 0 1 1 0 0 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 32 3 0 1 0 1 0 0 5 2 0 0 12 5 0 15 27 0 0 0 6 0 0 0 0 2 2 1 2 0 0 0 0 0 84 2 0 0 0 2 2 1 4 0 0 0 1 0 0 2 8 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 27 1 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 2 2 0 2 8 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 21 6 0 0 0 0 1 0 0 1 1 3 3 0 1 1 12 0 2 0 0 0 0 8 15 0 7 0 0 3 21 0 35 0 0 0 0 2 1 5 9 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 2 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 26 121 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 8 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 17 0 0 0 0 1 3 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 2 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 20 . Kemkes RI.

Lampiran 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.807 67 47 101 34 56 88 32 133 3 30 85 65 338 1 58 104 8 0 1 20 19 88 11 3 10 77 41 4 1 0 0 11 0 1.333 3.281 39 1.276 693 476 964 798 510 872 219 1.183 19 0 66 7 10 63 14 78 6 32 83 0 228 0 71 105 10 0 13 16 10 65 9 19 3 30 6 4 3 0 0 2 0 972 3 0 37 44 0 63 13 50 0 40 120 0 296 3 40 80 0 0 0 13 6 24 0 34 7 24 2 1 0 0 0 0 0 900 2 9 104 55 67 24 9 81 3 59 106 0 320 5 93 169 47 0 5 32 10 14 7 14 0 76 3 0 0 0 0 0 0 1. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.927 112 18 102 99 93 75 25 219 9 28 67 62 297 0 103 194 1 0 2 36 9 88 12 17 5 139 27 5 8 0 0 1 0 1.128 81 121 74 130 34 87 16 182 8 40 45 121 216 0 201 199 0 0 3 26 11 112 9 2 9 181 7 5 3 0 0 4 0 1. Kemkes RI.17 JUMLAH KASUS CAMPAK PER BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus per Bulan No.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 18.853 53 41 125 105 35 117 36 176 20 39 98 120 254 0 98 190 4 0 4 14 20 90 38 11 1 80 5 19 4 0 0 6 4 1.816 75 100 82 136 0 82 13 145 5 53 62 501 176 4 154 204 4 0 0 19 11 99 5 20 8 103 14 17 5 0 26 3 2 2.055 .343 51 0 66 32 86 56 15 104 6 50 0 0 400 2 63 128 49 0 9 25 1 3 0 25 16 59 0 14 0 0 0 16 0 1.314 24 0 84 49 100 46 15 71 2 67 0 0 402 0 94 178 25 0 0 22 13 3 0 9 1 100 2 15 0 0 5 16 0 1.536 43 8 62 35 29 83 10 87 7 56 130 35 219 3 58 105 12 0 0 17 15 35 0 21 7 76 20 8 0 0 2 0 0 1.197 1. 2010 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 163 132 61 72 0 88 21 121 3 39 17 429 135 21 164 138 5 0 8 18 8 72 3 16 10 45 3 16 8 0 0 0 0 1.447 72 533 813 1.

227 2. Kemkes RI.890 1.281 39 1.540 5.941 18. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.Lampiran 3. 2010 <1 1-4 10-14 5-9 > 14 Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) Total Divaksinasi Total Kasus (13) (14) 3 42 20 35 8 22 11 35 1 10 0 0 92 0 84 12 2 0 3 4 5 37 4 7 1 58 2 4 1 0 3 1 0 78 101 79 98 50 114 30 123 7 66 86 134 236 3 148 229 3 0 2 19 28 67 17 15 11 106 9 12 3 0 4 10 2 26 73 109 85 66 105 11 172 4 14 0 0 333 1 179 130 6 0 10 41 24 85 24 23 5 188 23 17 8 0 6 7 0 283 143 211 209 95 220 27 240 10 146 318 300 602 14 211 542 6 0 12 55 29 129 29 46 27 217 33 21 9 0 18 25 0 29 89 154 92 77 98 37 340 10 13 0 0 574 0 321 126 37 0 6 28 21 143 14 50 4 206 33 24 6 0 0 5 3 197 154 290 210 129 228 78 496 20 160 156 453 1277 4 374 582 39 0 16 64 30 246 19 82 21 260 46 35 7 0 6 16 3 7 12 90 46 48 67 13 188 6 11 0 0 252 0 198 43 62 0 7 18 8 78 14 11 1 159 8 14 7 0 1 0 0 72 38 169 105 97 147 44 324 12 49 97 251 672 3 250 234 71 0 13 38 13 155 14 24 9 197 25 26 7 0 5 3 0 4 17 53 22 11 44 10 109 2 6 0 0 115 0 115 18 28 0 0 7 10 4 4 14 0 142 3 4 6 0 0 2 0 63 40 215 176 139 163 40 264 23 112 156 195 494 15 214 207 46 0 2 82 33 96 15 24 9 210 17 14 6 0 0 5 1 69 233 426 280 210 336 82 844 23 54 0 0 1366 1 897 329 135 0 26 98 68 347 60 105 11 753 69 63 28 0 10 15 3 693 476 964 798 510 872 219 1.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 507 1.076 6.197 1.18 JUMLAH KASUS CAMPAK MENURUT KELOMPOK UMUR DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Tahun) No.164 750 3.447 72 533 813 1.775 4.698 1.333 3.055 . Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.369 3.

Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.34 0.93 0.80 1.64 1.61 1.10 0.83 0.00 0.60 0.46 0.50 1.77 .333 3.03 0.79 0.19 JUMLAH KASUS.10 0.88 0.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 18.63 3. DAN INCIDENCE RATE CAMPAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Laporan Rutin No.31 1.055 1.32 1.281 39 1. Kemkes RI.52 0.32 1.31 1.11 0.98 0.00 0.31 0.59 0.00 0.Lampiran 3.00 1. 2010 Meninggal (3) 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Kasus IR (per 10. MENINGGAL.36 2.197 1.000 penduduk) (4) (5) 693 476 964 798 510 872 219 1.25 0.447 72 533 813 1. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.30 0.21 1.86 0.

Kemkes RI.Lampiran 3. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.20 FREKUENSI KLB DAN JUMLAH KASUS PADA KLB CAMPAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Laporan KLB No. KLB Dgn Laporan ke Pusat Total Kasus Meninggal (3) (4) (5) (6) (7) (8) 5 5 8 1 17 8 2 24 3 0 3 26 25 6 8 8 0 0 0 1 2 2 2 6 0 4 3 3 0 1 5 4 8 190 4 3 7 1 9 8 2 20 2 0 2 20 21 6 6 7 0 0 0 1 2 2 1 4 0 4 3 3 0 0 5 2 3 148 0 1 5 0 9 4 0 20 2 0 0 17 0 4 0 7 0 0 0 1 1 2 1 4 0 4 3 2 0 0 4 2 1 94 0 1 5 0 17 4 0 24 2 0 0 23 0 4 0 8 0 0 0 1 1 2 2 6 0 4 3 3 0 0 4 4 3 121 28 38 185 5 167 70 17 409 30 0 14 280 122 50 49 221 0 0 0 17 45 20 18 63 0 30 66 26 0 2 100 68 630 2. KLB Dengan Spesimen > 5 Frek. 2010 Total KLB Frek. KLB Dengan Investigasi Penuh Frek.770 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 34 42 . Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.

Lampiran 3. 2010 (3) (4) Gabungan (Campak dan Rubella) Rubella Negatif Tanpa Spesimen Pending Lab. Kemkes RI.151 9 49 28 252 0 0 9 142 . Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 28 23 40 5 71 43 17 115 13 0 14 136 122 48 48 46 0 0 0 5 10 10 9 28 0 21 17 15 0 2 26 12 37 2 4 3 0 3 0 0 0 0 0 2 6 2 3 1 6 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 2 0 0 1 5 1 2 9 34 48 0 18 0 0 0 0 0 9 70 9 23 11 183 0 0 0 0 0 0 0 37 0 0 49 0 0 2 100 30 544 1 0 3 1 7 1 1 19 2 0 1 13 21 2 7 2 0 0 0 1 2 1 1 2 0 3 1 3 0 0 0 0 3 6 0 127 5 81 12 12 325 27 0 5 159 107 22 38 38 0 0 0 17 45 14 8 19 0 23 17 26 0 0 0 0 18 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 8 0 0 0 6 0 5 0 0 0 0 7 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 7 3 1 1 2 0 6 7 0 2 1 0 0 4 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 5 4 10 0 62 58 0 52 3 0 0 30 0 5 0 0 0 0 0 0 0 6 10 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 32 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 65 961 46 1.21 KLB CAMPAK BERDASARKAN KONFIRMASI LABORATORIUM MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Konfirmasi Laboratorium No. Provinsi (1) (2) Campak Total Darah (Serum) Sampel Frekuensi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.176 98 1.

Kemkes RI.Lampiran 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 1 1 6 0 32 1 0 0 0 2 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 8 0 60 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 5 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 0 23 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 5 0 3 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 3 12 24 0 119 4 0 0 0 4 0 4 0 0 0 10 3 0 0 0 0 0 0 Indonesia 6 53 84 29 17 189 Sumber: Ditjen PP & PL.22 JUMLAH KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Bulan) No. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 <1 1-4 5-9 10-14 > 15 Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) .

Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 3 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 9 2 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 5 0 11 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3 0 12 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 0 14 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 0 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 10 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 9 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 3 12 24 0 119 4 0 0 0 4 0 4 0 0 0 10 3 0 0 0 0 0 0 Indonesia 19 22 22 22 20 19 13 17 9 9 5 12 189 Sumber: Ditjen PP & PL. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.23 JUMLAH KASUS DIFTERI PER BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus per Bulan No. 2010 . Kemkes RI.Lampiran 3.

65 .83 2.59 3.01 2.60 2.15 2.80 2.21 2.62 2.30 2.33 4.000 penduduk (2) (3) (4) (5) (6) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.38 2.87 2.73 2.96 3.93 2.64 1.00 2.57 2.00 1.00 1.38 2. Kemkes RI.75 3.95 2.25 2.00 2.42 3.43 2.14 1.29 4.83 3.60 2.682 2. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.64 1.36 4.13 1.06 2.40 2.93 8.93 8.13 1.220 1.91 3.75 3.15 2.67 3.80 2.80 2.00 1.00 3. AFP RATE DAN NON POLIO AFP RATE MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Minimal Kasus per Tahun Jumlah Kasus AFP AFP Rate / 100.24 3.59 4.33 4.43 2.40 2.41 5.00 3.57 2.75 2.72 2.00 2.29 5.20 5.00 2.14 1.24 JUMLAH KASUS AFP. 2010 24 80 26 37 7 17 10 42 6 43 42 62 224 162 12 151 28 14 18 17 11 5 15 43 7 15 17 28 27 8 6 4 12 35 95 40 69 19 85 18 57 10 12 62 246 188 35 241 84 25 19 58 30 11 23 29 31 14 66 22 21 7 9 7 8 6 2.31 5.000 penduduk Non Polio AFP Rate / 100.95 3.60 3.Lampiran 3.21 3.96 3.

Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. Kemkes RI.Lampiran 3.636 . 2010 Virus Polio Liar Kompatibel Bukan Polio (3) (4) (5) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 35 95 40 67 12 17 18 85 9 59 55 84 234 186 34 230 30 11 21 28 31 21 13 63 7 22 25 18 56 8 7 8 7 1.25 JUMLAH KASUS AFP MENURUT KRITERIA KLASIFIKASI KLINIS DAN PROVINSI TAHUN 2009 Klasifikasi Klinis No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.

51 3.34 1.81 2.310 3. DAN INCIDENCE RATE PER 100.67 15.20 0.621 61 736 46 746 23.881 2.420 (19) 1.09 2008 M (14) 2.26 1.94 1.851 10.73 32.29 121.4 89.22 1.07 0.00 29.68 0.00 0.77 0.99 1.64 78.62 20.53 0.184 20.714 1.470 145 950 31.279 1.62 17.76 0.272 129 1.81 2.321 5.165 1.38 1.19 13.22 0.583 971 15.78 1.52 0.17 66.22 56.00 1.54 2.74 0.48 7.83 0.290 492 2.63 4.64 59.67 73.83 0.75 25.71 0.89 50.49 0.24 1.10 1.50 2.44 228.71 31.573 4.73 34.02 36.732 944 236 2 0 275 208 103 13 34 24 15 5 13 7 23 2 11 86 288 327 26 372 98 14 2 11 7 8 16 102 24 17 30 7 4 0 0 7 2 4 1.15 54.932 25.59 193.80 1.78 137.35 3.04 13.12 1.47 2.569 3.22 193.69 3.79 48.58 1.306 5.90 0.90 0.89 2.792 1.39 0.15 86.28 1.75 0.85 31.00 1.65 32.55 2007 M CFR (10) 1.62 11.402 58 969 24.89 28.3 173.35 1.53 IR (20) 36.00 4.33 0.220 491 341 3.067 948 365 2.17 3.00 19.27 0.00 16.251 2.374 2.44 42. CASE FATALITY RATE (%).19 26.36 Sumber: Ditjen PP & PL.73 1.854 260 1.44 24.98 1.861 17.75 9.82 1.90 3.375 720 518 508 696 1.78 1.80 1.06 2.38 18.64 1.05 61.7 59.865 1.59 1.15 0.563 254 1.67 0.21 10.92 170.19 0.20 0.360 339 4.20 1.75 1.01 0.8 68.01 35.00 2.72 66.612 95 302 31 0 138 128 60 43.113 5.84 3.990 2.98 35.032 37.724 28.03 4.60 1.18 16.76 6.38 3.50 1.74 0 38.01 1.48 158.19 13.69 0.54 35.72 8.29 0.07 4.926 780 2.97 0.16 0.87 47.659 513 455 2.85 1.629 623 251 2.06 0.045 3.42 114.55 0.80 1.20 25.96 74.79 316.2009 No.21 3.430 1.27 0.950 5.810 615 399 9.86 9.43 16.36 35.115 1.32 0.36 65.254 777 695 947 531 576 5.79 36.29 1.92 31.64 1.90 3.250 5.20 48.13 12.51 1.536 20.436 4.08 1.09 22.89 41.67 1.697 2. Kemkes RI.38 1.29 8.000 PENDUDUK DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD/DHF) MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .00 2.53 2.00 0.23 0.828 28.25 23.50 19.90 13.81 1.29 1.41 54.17 15.60 57.74 1.88 IR P (12) (13) 38.05 1.33 0.762 1.81 63.96 3.17 3.907 828 245 2.74 119.55 0.86 23.58 296.26 JUMLAH PENDERITA.65 39.189 795 309 3.28 0.99 1.91 1.30 0.75 29.31 1.23 0.35 2.87 108.338 2.836 30.61 29.56 3.94 27.22 0.89 68.631 5.924 2.00 2.596 1.203 18.97 1.55 25.87 21.21 1.00 0.75 1.34 0.00 2.32 3.43 1.09 95.813 1.08 33.30 1.466 18.411 692 91 149 0 384 204 196 20 58 18 27 5 6 8 20 16 14 32 307 248 15 185 70 9 4 7 171 16 20 68 20 7 23 12 2 0 0 7 2 3 0.89 31.94 23.22 1.5 44.66 0.83 32.006 172 43 0 250 510 228 32 49 11 10 9 3 1 40 22 26 231 228 21 168 53 19 4 22 32 7 11 105 16 17 27 9 4 0 0 7 2 1 1.86 30.16 1.66 48.24 0.91 1.125 1.46 11.154 1.39 167.590 6.89 0.454 1.538 1.00 0.3 65.28 2.06 1.38 1.807 34 1.480 274 4.08 5.657 1.09 0.119 17.00 2.062 735 1.89 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia P 2005 CFR IR P 2006 CFR IR P (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 629 3. 2010 14.22 0.4 13.822 758 206 27 0 24 184 183 1.599 (11) 0.60 10.74 1.361 23.92 26.12 1.341 1.42 12.54 4.80 0.36 1.66 3.65 69.00 0.01 71.15 1.44 2009 M CFR (18) 1.27 1.80 74.248 19.640 952 3.60 1.389 3.Lampiran 3.33 392.93 0.95 65.862 349 1.61 20.309 1.39 0.58 0.12 0.21 1.235 2.587 6.187 CFR P (15) (17) 1.02 758 2. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.656 1.59 6.97 26.954 6.00 0.00 1.391 2.10 0.75 31.73 2.54 115.40 103.244 1.05 18.62 0.32 1.25 29.22 28.01 13.99 1.00 2.912 1.13 0.11 0.86 158.16 0.62 64.10 0.82 0.41 1.462 25.469 1.850 353 1.04 52.6 313.59 1.65 1.57 15.99 0.03 56.98 1.37 2.27 1.73 3.09 0.22 .

00 90.00 100.43 85.00 96.00 100.00 80.63 17 22 17 10 9 9 9 10 6 4 6 26 35 5 38 6 9 8 5 10 9 13 13 9 9 21 3 6 1 0 4 0 6 355 73.43 64.00 37.50 17 22 16 11 7 12 10 11 7 5 6 26 35 5 38 8 9 7 6 14 13 13 13 11 9 22 6 5 4 0 4 5 7 384 .30 60.00 81.00 20.00 0.50 25.67 100.00 85.00 15 20 15 11 8 12 9 10 7 4 6 25 35 5 38 6 9 8 5 10 12 13 13 9 9 21 7 5 1 0 6 3 4 361 65.33 19.00 100.00 100.22 73.96 50.75 58.00 52.63 100.14 100.22 15.50 44.15 100.00 100.00 15 19 12 11 10 9 7 10 5 3 5 25 35 5 38 6 9 8 1 10 6 12 13 9 7 20 5 5 2 0 3 2 3 330 71.00 100.27 JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG TERJANGKIT DEMAM BERDARAH DENGUE MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .00 91.14 68.00 71.44 20.00 66.71 100.00 75.00 37.33 42.86 92.00 0.00 100.91 85.00 80.71 83.00 100.31 100.23 90.00 20.00 91.00 43.00 85.86 69.00 50.82 60.43 76.25 83.00 64.00 100.89 6.2009 No.31 100.71 100.00 100.00 33.33 42.82 87.00 92.29 33.33 83.00 71.91 81. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.00 100.00 100.00 100.00 100.00 88. Kemkes RI.00 70.00 100.05 77.33 89.30 58.29 77.00 100.71 100.00 90.00 100.33 100.00 70.00 92.00 22.89 25.29 100.78 100.00 75.00 0.00 100.00 86.Lampiran 3.33 100.91 100.00 100.00 100.22 71.00 90.00 88.47 90.00 63.50 22.16 100.00 64.91 73.00 85.00 80.86 100.00 92.00 83.00 0.86 60.00 100.00 40.00 75. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 Tahun Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota 2005/2006 2007 2008 2009 Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 20 440 23 28 19 11 10 15 9 11 7 6 6 26 35 5 38 7 9 9 20 14 14 13 14 13 10 23 12 6 5 9 8 9 21 465 23 30 19 11 11 15 10 11 7 7 6 26 35 5 38 7 9 10 20 14 14 13 14 15 11 24 12 6 5 11 8 9 27 483 23 33 19 12 11 15 10 14 7 7 6 26 35 5 38 8 9 10 21 14 14 13 14 15 11 24 12 6 5 11 9 11 29 497 2005 12 17 10 11 7 9 3 10 6 5 5 25 35 5 38 6 9 9 7 7 6 13 12 9 10 21 6 5 1 0 3 4 4 330 2006 2007 2008 2009 % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 57.43 78.00 25.95 100.33 83.00 100.33 100.00 100.00 71.71 57.43 50.00 0.00 100.33 20.

00 1.051 127 2.28 6.88 2.61 163 401 40 46 218 880 226 102 1.88 45 86 11 1.047 814 217 106 41 584 2.90 1.12 1.371 2.25 4.48 5.52 3.468 1.11 0.67 1.84 5.28 KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DIARE MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .38 0.50 3.00 4.79 0.41 390 1.2009 No.43 2.71 - 178 636 380 216 362 1.60 6.44 2.46 2.14 1. 2010 2005 2006 2007 2008 2009 P M CFR P M CFR P M CFR P M CFR P CFR (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (17) 267 145 95 95 148 48 1.023 130 169 1.89 0.540 0 12 2 1 9 4 1 3 2 1 13 23 18 14 106 0.24 2.05 2.223 488 50 269 177 20 133 6.443 209 2.057 104 120 163 66 293 - 7 8 3 3 3 6 11 5 - 1.38 1.68 0.36 0.26 8.28 18.26 7.44 0.00 2.98 3.51 10.07 3.53 0.147 416 437 37 423 205 605 473 6.23 1.67 0 18 1 6 3 0 4 5 3 2 1 0 1 5.00 1.75 1.68 16.54 0.194 69 133 486 6 6 1 2 1 0 26 28 13 7 37 2.756 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.51 2.28 2.661 46 1.78 15.85 8.74 .Lampiran 3. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.544 5 13 6 12 1 1 45 7 1 7 12 3 6 158 3. Kemkes RI.49 0.14 13.425 95 351 1.68 1.980 277 2.89 2.

291 117 2.Des - . 2010 Jumlah Wilayah Terjangkit P M (3) (4) 3.982 103 814 - 458 - 3.045 6.Des Jan .759 5.Nov Feb .Des Nov .622 24. Kemkes RI.Des Okt Nov .Lampiran 3.Des Des Jan .355 Periode Kab/Kota Kecamatan Desa/Kelurahan (5) (6) (7) (8) - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 1 7 7 8 7 7 2 17 1 3 - 8 24 25 2 1 1 2 - 12 88 70 2 1 2 6 - 83.Des Jan .29 JUMLAH KASUS DEMAM CHIKUNGUNYA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.862 7.098 276 - - - - - Jan .Juni Okt Jan .Mei Feb.095 1. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Kasus Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.Sept Mei .756 0 60 63 181 5.Des Apr .Feb Jan .742 8. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.Des Jan -Des Jan .609 528 12.

718 2.882 629 110 240 1. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 Jumlah Daerah Tertular Jumlah Kabupaten/Kota Jumlah Kasus Desa Kecamatan Seluruhnya Terjangkit % GHPR (3) (4) (5) (6) (7) (8) Pemberian VAR Lyssa (9) (10) Jumlah Specimen Hewan Diperiksa Positif (11) (12) 12 26 18 11 10 2 10 1 1 12 1 9 8 10 10 8 13 8 23 8 6 2 2 5 - - - - - 329 2.123 575 1. Kemkes RI.994 947 284 325 1.228 - .386 2.095 0 83 105 18.274 9 288 264 21.237 346 104 173 689 512 805 827 139 215 933 276 - 5 18 14 5 0 9 0 7 1 0 2 28 33 1 0 1 12 4 4 3 5 0 35 8 - 12 39 275 35 40 211 0 7 0 2 0 0 65 0 1 0 0 7 0 0 0 0 534 0 - - 216 - - - - 45.316 195 1.061 636 303 1.30 JUMLAH DAERAH TERTULAR RABIES DAN JUMLAH KASUS GIGITAN HEWAN PENULAR RABIES (GHPR) SERTA HASIL PEMERIKSAAN SPECIMEN HEWAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.818 653 502 2.859 605 1.518 422 1.288 276 - 294 1.466 35.825 3.806 3.Lampiran 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.

473 11. Kemkes RI. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.699 11.682 232 202 385 409 30 451 60 181 224 92 70 12 355 1.132 2.359 104 274 532 255 191 94 74 207 31 53 265 395 37 238 67 18 69 1.359 104 231 532 255 191 94 74 151 31 53 252 224 5 207 67 18 62 1.Lampiran 3.2009 No.132 2.682 253 225 385 409 30 451 60 208 224 96 70 27 985 1.359 141 274 532 257 210 94 74 207 31 53 404 395 37 219 91 18 71 1.158 10.127 2.914 .31 JUMLAH PENDERITA FILARIASIS MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .682 244 226 385 409 30 451 60 208 224 92 70 12 985 1.427 11. 2010 Tahun 2006 2007 2008 2009 (3) (4) (5) (6) 2. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.359 141 274 532 257 210 94 74 207 31 53 474 412 37 219 76 18 71 1.730 253 225 385 409 30 451 128 201 224 96 70 27 988 1.

Kemkes RI.175 0 0 0 0 . Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.Lampiran 3. 2010 Kabupaten/Kota (3) Bandung Boyolali Sleman Pasuruan - Jumlah Spesimen Diperiksa Hasil Spesimen Positif Spesimen Pool Human Rodent Human Rodent Diperiksa Positif (4) (5) (6) (7) (8) (9) 0 0 0 40 - 0 0 0 3.175 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 40 3.32 SITUASI PES MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.

33 JUMLAH KASUS. Provinsi (1) (2) 2005 2006 2007 2008 2009 K M CFR K M CFR K M CFR K M CFR K M CFR K M (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) CFR (20) 1 Aceh 0 0 0 0 0 0 49 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Jambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 Kep.08 Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. DAN CASE FATALITY RATE (CFR) LEPTOSPIROSIS MENURUT PROVINSI TAHUN 2004 .08 378 23 6. 2010 Keterangan : K= Kasus. M= Meninggal .2009 2004 No. MENINGGAL.06 114 16 14.Lampiran 3. Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 DKI Jakarta 78 6 8 62 0 0 51 0 0 470 34 7 37 2 5 8 2 25 12 Jawa Barat 7 0 0 0 0 0 0 0 0 9 1 11 0 0 0 0 0 0 13 Jawa Tengah 40 10 25 34 10 29 35 9 26 70 8 11 72 9 13 275 14 5 14 DI Yogyakarta 20 1 5 8 2 25 0 0 0 3 1 33 125 1 1 95 7 7 15 Jawa Timur 3 0 0 1 0 0 1 0 0 65 5 8 29 4 14 0 0 0 16 Banten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 34 3 9 0 0 0 0 0 0 17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 26 Sulawesi Selatan 18 8 44 9 4 44 2 2 100 16 5 31 0 0 0 0 0 0 27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 166 25 15. Kemkes RI.55 263 16 6.97 667 57 8.04 138 11 7.

Kemkes RI. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.34 JUMLAH KASUS DAN MENINGGAL FLU BURUNG MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 . M= Meninggal 2006 2007 2009 2008 2005-2009 K M K M K M K M K M K M (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 8 3 1 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 2 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 2 0 0 0 0 0 0 0 11 22 3 0 5 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 10 18 3 0 3 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 6 0 1 0 0 0 0 8 5 5 0 2 11 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 5 0 1 0 0 0 0 8 4 5 0 1 9 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 7 4 2 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 4 2 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 10 6 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 8 6 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 4 8 0 1 0 3 0 0 44 40 12 1 8 30 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 7 1 6 0 1 0 0 0 0 38 34 11 1 5 27 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 20 13 55 45 42 37 24 20 21 19 162 134 .Lampiran 3. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 Keterangan : K= Kasus.2009 2005 No.

34 43.04 34.09 30.636 931 709 542 367 1.83 39.73 17.62 18.00 100.48 23.50 80.00 100.592 1.18 26.08 7.57 2.36 18.83 39.290 821 403 1.00 100.199 4.07 31.574 617 2.169 203 3.474 7.44 24.675 678 495 438 263 765 53.74 71.470 297 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jumlah Korban Jumlah Kecelakaan Meninggal % (3) (4) (5) 608 3.687 195 573 456 341 463 289 414 474 355 366 1.159 99.69 57.21 61.44 13.28 82.90 44.07 38.07 35.30 82.929 14.213 10.878 7.00 100.91 51.278 218 218 4.35 JUMLAH KEJADIAN KECELAKAAN LALU LINTAS DAN JUMLAH KORBAN LUKA DAN MENINGGAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.106 4.610 3.15 28.00 100.07 61.035 2.341 5.038 1.210 727 4.16 33.134 381 1.83 19.00 100.15 57.050 1.167 401 447 - 58.14 31.00 100.00 100.96 42.051 318 203 158 189 - - Sumber: Ditlantas Babankam.022 1.661 499 1.16 - % 406 2.40 118 118 - 22.203 1.46 28.697 565 1. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.00 100.245 811 1.00 100.00 100.781 717 523 811 1.34 21.69 15.00 100.07 24.77 32.57 12.951 100.80 52.120 1.244 1. Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia.10 18.47 4.02 28.40 10.73 36.00 100.00 100.617 1.111 268 127 - Luka 21.466 6.91 111 85 - Berat 34.15 32.69 33.15 14.45 20.62 14.368 1.00 100.36 55.56 - 1.47 46. 2010 % Jumlah % (7) (8) (9) (10) (11) 27.35 26.09 27.21 58.00 100.313 388 665 1.885 1.580 1.97 19.278 12.00 100.00 100.00 100.00 100.10 9.00 100.147 1.46 Luka Ringan 1.00 100.170 2.00 100.397 1.07 52.02 26.08 2.44 24.499 1.61 25.50 24.448 (6) 22.00 100.61 20.28 1.013 411 409 313 164 524 61.61 35.167 20.087 1.04 25.69 45.126 2.828 984 1.035 98 108 - - 257 18.27 40.907 4.834 2.929 145 150 - 19.81 42.626 859 5.75 44.254 850 1.96 33.Lampiran 3.571 749 759 415 1.11 17.00 .407 1.485 2.83 17.013 444 339 461 226 182 360 492 348 512 252 173 20.87 12.00 100.00 100.202 12.42 27.95 48.70 51.17 18.43 44.40 42.16 - - - 378 20.735 1.047 38.00 100.79 17.456 561 2.57 30.73 69.00 100.638 1.00 100.20 28.367 1.78 39.173 1.00 100.794 792 666 848 987 513 1.43 44.

182.611 20.496 67.812 Ibu Bersalin Ditolong Nakes % Ditolong Nakes (9) (10) 85.425 28.96 85.35 83.520 12.422 71.474 176.354 139.708 73.54 .38 Ibu Nifas Kunjungan % KF3 Nifas 3 kali (9) 56.58 94.21 81.308 75.25 88.769 38.811 409.57 93.889 568.24 98.75 48 73.327 62.792 1.370 89.320 48.533 77.79 29.264 22.707.063 32.071 23.590 50.320 185.26 87.612 745.04 84.00 75.238 45.96 95.91 90.645 43.59 80.07 80.58 76 74.128.60 83.457 19.36 94.097 107.945 77.03 95.76 95.807 32.01 85.96 79.507 62.849 64.30 84. DAN PERSALINAN DITOLONG TENAGA KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Ibu Hamil No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.28 61.318 85.060 99.687 47.079 15.472 202.032 43.285 53.049 72.235 571.24 77.421 665.75 98.402 37.1 CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL K1.178 64.664 49.71 85.402 103.11 79.161 54.62 62.72 81.105 58.878 131.592 39.11 55.28 98.09 94.33 57.36 84.594 77.900 155.081 53.883 107.49 98.00 94.169 77.59 80.036 47.947 13.359 73.992 95.170 27.039 126.214 176.226 31.08 96.45 100.946 29.215 76.86 84.33 95.727 11.69 72.845 46.91 77.18 85.51 74 101.02 96.506 25.64 101.629 171.480 56.444 25.658 2.339 624.158 176.38 75 93.534 4.418 155.185 37.179 83.455 113.032 175.031 4.060 49.211 10.256 18.80 90.563 152.38 39.647 54.179 96.10 61.616 206.127 308.793 303.362 271.50 92.554 118.63 63.104 42.645 7.345 24.47 84.45 67.54 73.129 175.Lampiran 4.761 322.37 17 66.693 183.441 33.01 90.73 64 67.52 75 52.692 61.173 21.505 32.096 90.734 884.73 89.867 153.516 35.35 84 94.000 61.012 4.652 22.859 26.838 3.612 990.85 94.552 43.979 103.968 566.67 64 85.02 86.283 15.488 38.142 36.456 65.92 98.162 110.44 85.921 4.037.25 93.632 81.245 50.287 605.710 46.051 5.28 93.51 88.08 86.731 59.204 16.277 158.452 425.790 137.489 144.90 79. K4.963 29.16 51 63.517 20.763 61.275 87.686 140.205 17.51 93.03 88.410 145.428.19 92.541 67.927 102.54 81 76.898 638.08 80.719 86.423 23.032 42.766 107.04 97.374 90.198 38.239 32.29 90.31 88.823 55.11 80.678 41.799 27.711 104.833 18.595 180.09 81.21 41 87 36.07 91.91 91.788 164.73 96.054 125.064 162.58 47 71.215 83.24 100.240 25.681 65.028 75.130 108.055 290.100 68.663 14.648 62.763 611.39 89.90 92.43 102.892.017 163.551 17.637 45.53 85.723 27.36 82.550 42.412 118.67 91.412 590.516 15.65 57.257 115.898.895 47.74 86.37 99.31 92.875 39.79 93.541 967.569 168.82 93.186 26.880 42.491 24.05 93. Kemenkes RI Jumlah K1 % K1 K4 % K4 Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) (8) 113.053 177.845 143.15 84 70.213 36.80 90.22 82.87 83.464 563.114 45.04 69.555 26.817 40.443 632.864 109.73 89.757 24.804 45.75 78.68 85.358 (10) 59.371 24.678 26.067 51.74 82.02 97.450 174.76 75.23 85.261 221.

06 12.53 29.43 61.19 62.84 5.00 55.65 3.60 10.05 14.40 49.58 66.41 70.69 36.41 33.48 20.27 0.61 1.22 .51 39.07 6.76 41.82 0.15 0.65 0.88 15.54 68.74 2.39 60.58 13.85 55.15 20.64 50.98 6.40 1.62 15. Statistik Kesejahteraan Rakyat Penolong Waktu Lahir Dokter Bidan Tenaga Medis Lain Dukun Famili (3) (4) (5) (6) (7) Jumlah (8) 8.52 3.25 12.31 1.92 1.26 14.97 15.70 29.11 0.77 76.91 9.45 7.39 27.79 5.94 1.70 8.25 0.33 0.65 35.83 3.53 36.48 0.47 2.08 0.30 0.38 3.08 67.84 58.43 0.46 35.64 0.30 1.67 8.47 66.16 12.74 0.24 0.53 0.29 15.Lampiran 4.67 0.87 0.80 0.11 0.71 0.61 13.40 68.48 42.04 1.61 0.07 1.58 50.88 23.32 0.86 18.71 40.61 1.13 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 99 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 99 99 100 0.75 65.59 0.83 3.74 17.32 11.47 13.19 3.82 100 12.34 0.84 15.95 13.60 35.54 0.76 0.49 1.18 49.20 34.63 27.24 71.44 1.46 40.25 62.29 1.01 52.51 0.28 75.53 2.53 14.51 0.70 5.40 49.57 5.42 0.89 1.2 PERSENTASE BALITA MENURUT PENOLONG KELAHIRAN TERAKHIR DAN PROVINSI TAHUN 2009 Perkotaan + Perdesaan No Provinsi (1) 1 (2) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : BPS.44 27.78 0.86 13.86 21.13 0.62 62.22 47.35 30.65 0.75 31.18 0.39 9.88 8.44 16.53 32.78 42.69 0.00 64.38 9.86 1.38 0.59 48.31 15.59 12.70 12.79 21.41 0.23 57.60 37.14 10.99 0.91 2.98 54.10 23.93 33.98 16.06 1.92 63.97 61.86 0.44 13.62 0.40 8.

598 696.64 3.104 107. PELAYANAN KESEHATAN BAYI DAN ANAK BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 KUNJUNGAN NEONATUS NO PROVINSI JUMLAH BAYI (1) (2) (3) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.747 5.70 86.376 67.964 152.687 18.058 22.17 99.30 82.477 18.316 518.600 69.751 80.74 .15 86.362 48.55 73.60 68.60 81.854 150.786 269.00 30.449 130.667 30.681 170.60 77.401 104.371 33.842 534.431 80.805 78.90 64.50 78.50 74.946 3.00 90.202 66.40 85.33 28.53 66.344 171.366 23.80 80.819 15.77 80.098.741 49.386 10.57 4.505 118.01 78.25 83.670 43.98 89.663 119.278 5.20 93.90 74.114 19.582.70 35.972 99.920 44.278 688.223 27.60 82.73 91.344 31.153 8.084 133.20 73.110 426.Lampiran 4.20 75.00 75.80 23.065 93.344 92.525 157.991 87.161 77.462 15.724 54.201 40.925 196.831 153.60 92.474 155.391 132.318 273.885 170.041 54.00 94.60 82.10 83.524 51.493 14.887 38.59 68.943 21.70 99.442.865 23.10 32.503 44.714 58.970 43.20 80.303 547.752 48.040 41.819 53.60 81.888 21.101 508.25 21.50 31.90 88.20 60.244 299.632 14.857 7.222 23.70 91.576 16.422 7.30 70.71 77.70 83.310 71.095 27.60 73.391 37.00 92.574 48.584 42.807 144.30 99.00 95.80 33.653 87.91 88.80 79.70 86.40 83.50 92.434 38.763 35.31 85.59 90.75 82.80 76.661 77.765 33.68 70.85 75.971 22.3 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS.619 54.858 79.590 22.552 563.953 48.754 121.30 94.015 23.953 90.157 101.00 30.380 807.554 65.232 43.986 112. Kemenkes RI KN1 % KN1 KN LENGKAP %KN LENGKAP (4) (5) (6) (7) 98.

009 46.984 7 Bengkulu 33.86 244.659 450.91 804.20 421.072 170.50 470.00 166.94 132.111 3 Sumatera Barat 104.888 15.00 38.73 122.776 75.524 4.085 52.471 30 178.70 2.05 82.324.80 74.99 3.110 243.359 100.00 3.00 60.78 125.44 207.133 26 Sulawesi Selatan 171.526 65. Kemenkes RI 4.840 16.620 352.984 31 Maluku Utara 23.68 1.304 73 97.375 105.86 1.371 119.965 14 DI Yogyakarta 44.442.602.038 21.330 47 86.587 78.552 547.667 80.778 27 Sulawesi Tenggara 53.768 51.108.44 28.972 79.493 36.017 64.305.937 37.20 45.845 77.00 196.600 73.72 2.00 86.244 65.4 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI.124 22.067 64.946 13.80 579.84 153.338 21 Kalimantan Tengah 42.206 73.24 844.10 620.154 54.085 75.504 28 Gorontalo 19.197 7.628 - 52.844 34.121.50 2.334.515 81.704 70.00 351.741 38.031 91.171.114 40.963 39.63 242.136.508.85 117.584 79.333.131 4 Riau 118.64 260.47 195.661 Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas. ANAK BALITA.041 29.42 1.107.417 144.22 30.222 28.802.594 275.50 389.222.22 - 8.807 47.90 20.376 - 33 Papua 51.555 - 66 30.00 1.62 230.299 905.000 36 - 27.537 42.552 70.00 363.694 207.549 1.097 11 15 85.160 99.04 4.589 46 431.435.786 76.56 - 299.097 36.484 5 41.779.633 80.417 81.40 84.40 426.92 123.390 19 Nusa Tenggara Timur 121.80 66.298 73.854 23.00 1.588 16.909 115.434 15.60 1.471 - 37.556 191.714 90.623 130.617 92.726 81.26 224.272 67.649 17 Bali 49.977 65.00 3.540 48.40 80.115 39.352 29 Sulawesi Barat 21.124 78.695 20 Kalimantan Barat 99.31 300.912 45.745 169.199 8 Lampung 150.358 92.00 227.00 140.567 46.70 312.494 23.944 18.513 48.507 46.083.08 344.539 82.808 DKI Jakarta Jawa Timur 62.00 364.571 24 Sulawesi Utara 37.876 1.79 790.071 30 65.681 27.25 1.339 68.937 10 Kepulauan Riau 38.943 3.768 42.256 507.148 57.028 138.578 56.407.391 48.124.505 78.45 608.554 58.234 9 Kepulauan Bangka Belitung 22.117 180.380 196.871 79.765 14.80 200.851 26.870 32 Papua Barat 18.137 Jawa Barat Banten 46 529.829 386.514 64.093.754 84.166 66.99 81.344 41.401 242.70 574.562 42.198 80.00 140. DAN MURID SD KELAS 1 DAN SEDERAJAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO PROVINSI JUMLAH BAYI (1) (2) (3) 1 Aceh 2 Sumatera Utara CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI JUMLAH % (4) (5) JUMLAH ANAK BALITA (6) CAKUPAN PELAYANAN JUMLAH MURID CAKUPAN PELAYANAN MURID SD KELAS SATU KESEHATAN ANAK BALITA SD KELAS SATU JUMLAH % JUMLAH % (7) (8) (9) (10) 98.341 88.693 25 Sulawesi Tengah 54.455 161.326 9.819 125.219.534 38.920 522.310 30.926 38.38 388.234 23 Kalimantan Timur 65.23 206.077 70.78 5.672 18 Nusa Tenggara Barat 107.137 5.463 72.591 79.682 320.900 12 16 - 1.867 13 Jawa Tengah 563.013 32.809 23 42.571 22 88.923 18.780 821.823 67.78 .614.303 39.00 369.933 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 58.246 155.001 654.60 116.419 0 (11) - 76.952 4.061 80.527.495 27.477 5.81 101.480 60 331.676 57.198 172.141 30 Maluku 33.020 79.52 216.761 90 929.36 184.238 22 Kalimantan Selatan 71.845 10.806.935 81 86.867 92.106 84.50 232.935 29.048 66.816 76.514 71.80 169.83 432.104 49.816 137.14 268.590 120.387 217.136 7.96 411.925 54 416.927 807.10 110.11 14.Lampiran 4.902.252 811.250 82.

498 7.9 21.5 3.031 1.210 11.8 26.821 21.517 2.582 42.443 16.490 34.511 23.381 1.707 15.3 0.39 27.363 48.779 7.518 10.563 792 4.32 41.86 32.854 150.442 158.065 2.082 29.670 4.819 53.925 196. Kemenkes RI CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL KOMPLIKASI JUMLAH % (5) (6) OBSTETRI KOMPLIKASI (4) CAKUPAN PENANGANAN OBSTETRI KOMPLIKASI JUMLAH % (5) (6) 98.27 12.732 22.299 13.898 1.162 10.76 13.68 41.0 44.676 17.682 781 2.0 25.846 1.556 8.524 51.661 16.33 52.505 118.741 49.6 6.8 76.849 6.366 16.0 31.354 112.265 4.034 15.189 29.211 4.2 32.737 44.554 65.98 24.104 1.319 36.142 2.036.939 36.30 24.3 30.152 25.206 4.661 14.442.181 2.5 CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL DAN OBSTETRI KOMPLIKASI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PROVINSI JUMLAH BAYI NEONATAL KOMPLIKASI (2) (3) (4) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.073 2.122 8.621 11.7 13.50 .31 49.35 45.75 22.318 1.140 13.012 9.477 18.371 33.710 8.117 6.344 171.983 3.0 14.552 563.645 82.5 63.2 29.481 7.222 23.85 33.403 8.6 12.8 11.626 21.910 15.051 3.365 5.0 33.01 84.773 7.807 144.941 4.303 547.7 6.983 3.4 8.041 54.68 44.Lampiran 4.123 41.888 21.42 12.244 299.0 29.733 9.422 812 1.114 19.8 10.522 2.084 133.30 72.584 42.65 6.33 50.613 10.347 10.1 8.8 1.401 104.737 271 119 843 164 14 225 625 39.815 9.701 5.897 2.913 4.918 17.656 86.593 23.958 207.163 18.94 4.451 23.16 21.380 807.108 12.557 121.0 30.39 39.1 22.82 42.765 33.104 107.511 7.743 13.946 666.802 25.634 5.391 37.34 44.445 3.938 6.681 170.926 5.5 58.558 3.5 24.1 27.656 5.920 44.854 27.489 126.967 2.588 6.590 22.589 3.972 99.296 14.809 5.714 58.2 20.34 32.754 121.988 554 4.807 8.879 215 1.752 64.77 34.60 13.260 638 3.238 5.61 51.2 5.165 39.621 3.144 15.696 11.911 1.434 38.77 63.760 5.4 4.016 10.390 3.133 84.21 22.82 23.8 3.693 6.56 18.464 37.67 13.749 5.310 71.682 23.406 8.078 22.478 52.685 5.4 33.527 18.585 440.

77 23.74 15.62 20.030 1.642 119.13 69.367 8.53 81.098 6.28 78.50 70.995.501 311.41 29.057.471 386.678.67 85.45 77.203 551.88 71.030.045 92.724 117.25 22.731 726.024 5.933 89.377 139.040 1.228 1.737 66.396 367.666 138.66 73.04 81.65 75.55 70.313 7.961 106.778 6.64 70.15 17.51 75.52 27.15 9.36 64.416 24.63 21.352 72.659 2.664 35.073 554.628 43.86 13.366 261.61 18.895 37.025 549.960 157.266 1.36 33.366 1.264.78 23.793 1.404.614 71.20 29.728 584.072.12 16. 2010 Peserta KB Baru Jumlah PUS (3) Peserta KB Aktif Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) 742.311 198.26 13.211.62 80.075.487 787.836.287 5.348 638.43 79.787 179.675 75.62 18.84 18.580 432.402 352.05 9.13 17.86 43.75 69.85 74.204 128.882 198.214 20.182 575.346 287.538 642.88 23.772 75.359 882.6 JUMLAH DAN PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : BKKBN.997 284.606.526.968 915.75 17.224 391.87 59.735 63.12 16.218 46.451.445 162.354 306.093 57.Lampiran 4.60 9.581 39.099 1.813 37.667 17.271 166.286 784.668 993.85 48.076 910.504 50.876 1.31 71.910.19 67.92 55.600 37.706 164.437 1.462 418.148.487.371 493.328 368.916 455.30 16.58 33.480 305.32 78.32 17.006 392.345 424.959 653.538 101.14 85.297 315.486 592.05 15.230 39.745.073 419.34 20.70 .91 18.560 77.935 182.99 74.525 369.892 7.791 490.61 80.35 66.731 62.669.080.467 215.273.684 1.819 688.003 474.480 1.84 71.216 452.707 165.71 75.166 132.80 24.832 547.15 28.301 339.02 77.55 558.27 76.488.30 82.

18 40.33 68.652 4.68 37.990 45.208 11.684 7.94 2.781 33.470 0.813 7 Bengkulu 2.87 139.21 668.26 3.21 10.74 1.960 37.53 5.70 211 0.194 24.112 2.927 13.47 5.481 1.87 242 0.863 38.23 Sumatera Barat 6.81 2.57 39.634 30.735 9.67 24 0.48 25.337 0.577 4.510 0.243 24.359 17.54 5 Jambi 2.246 25.731 30 Maluku 823 1.18 1.733 41.03 15.382 4.560 25 Sulawesi Tengah 2.612 3.295 0.51 119 0.701 3.113 8.328 26.66 153 0.27 16.74 33.Lampiran 4.174 0.362 3.441 27.21 322 0.33 5.31 452 0.13 26.22 45.15 659 0.075 47.072 44.72 68 0.813 33 Papua 298 0.133 2.066 12.50 2.33 7.84 34.86 25.89 89.674 1.472 9 Kepulauan Bangka Belitung 589 1.06 10.09 107.10 19.37 85.953 5.08 101 0.876 5.61 38.919 12.186 2.31 54.09 10.71 37.02 537.693 6.746 6.45 92.300 4.26 65.417 59.45 22.45 23.462 7.63 28.016 42.716 50.57 2.052 51.40 1.88 809 0.349 15.39 4.70 558.793 15.643 11.208 16 Banten 17 Bali 18 1 Aceh 2 3 29.72 991 0.24 10.11 11.70 176.80 624 1.17 8.16 41.481 15.062 15.03 882.16 52.19 8.33 50 0.024 15 Jawa Timur 52.352 27 Sulawesi Tenggara 28 Gorontalo 29 819 1.03 9.85 63.42 425 0.01 Sumatera Utara 17.14 34.03 17.17 525 1.828 38.218 0.093 39 0.67 1.31 41 0.030.43 15.06 191.226 13.07 5.378 7.383 30.96 165.03 103.718 2.66 43.646 32.16 7.71 5.43 18.35 777 0.70 5.49 37.445 10.082 8.37 6.618 17.93 62.091 45.931 7.058 0.34 127.036 3.707 Nusa Tenggara Barat 6.02 130 0.14 50.10 101.16 1.05 56.642 10.18 115.88 41.158 10.990 15.07 8 Lampung 9.38 26.863 12.25 7.36 119.667 Indonesia Sumber: BKKBN.01 148.50 617.045 24 Sulawesi Utara 3.7 HASIL PELAYANAN PESERTA KB BARU MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) IUD Metode Kon trasepsi Kondom Implan Jumlah % Jumlah MOP MOW Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (11) 1.135 4.401 0.554 36.338 59.910 36.16 740 0.73 100.854.204 22 Kalimantan Selatan 1.33 5.78 16.13 20.980 40.11 10.03 4.574 6.48 158.91 6.939 4.48 733 0.430 6.010 53.44 27.991 30.614 21 Kalimantan Tengah 440 0.44 18.13 26.37 29.12 453 0.94 10.169.07 12.43 355 0.678.02 7.53 2.47 1.74 26.20 16 0.51 162.294 19.25 46.17 73 0.941 6.281 8.52 14.25 71.060 32.03 354 0.45 16.39 1.170 48.469 8.484 7.587 2.874 27.777 11.854 1.182 32.354 306.28 181 0.92 233.500 42.137 6.487 9.50 51 0.898 5.34 43.39 961 1.06 106.39 8.96 1.274 17.62 12.602 5.940 7.31 452.481 44.89 168.73 1.739 29.13 10.072 52.839 1.63 97 0.64 1.463 9.18 13.14 13.26 230 0.60 233 0.29 8.063 1.66 63.75 138.059 7.088 5.590 3.502 33.416 334.700 12 Jawa Barat 107.703 27.003 5.71 180 0.99 175.999 11.98 424.579 22.112 62.71 155 0.54 57.27 128.362 44.464 9.44 2.451.764 51.26 12.500 33.464 31.052 16.666 20 Kalimantan Barat 1.51 79.03 64.15 21.26 8.593 4.377 16.58 368.97 77.185 43.62 255 0.21 25.328 1.08 3.081 5.35 78.99 20.748 4.625 7.079 7.40 11.719 7.21 20.214 32 Papua Barat 256 1.596 7.482 (10) 16.17 28.150 16.26 54.819 52.23 85.570 19.299 45.75 512 0.21 97.39 11 10 Kepulauan Riau 1.377 10.36 1.672 5.06 5.51 352.895 2.725 37.26 27.150 60.27 3.25 3.55 752.297 2.09 6.65 9.44 853 0.961 19 Nusa Tenggara Timur 5.600 31 Maluku Utara 595 1.538 8.319 18.06 4.40 11 DKI Jakarta 27.342 18. 2010 .80 1.13 67.87 150.469 48.230 Sulawesi Barat 407 1.36 52 0.142 44.994 15.933 23 Kalimantan Timur 3.55 46.28 57.91 2.723 28.289 3.88 814 0.087 7.20 2.19 13.299 1.485 50.809 2.267 2.009 30.501 26 Sulawesi Selatan 4.77 61.422 40.05 2.905 0.87 441.62 112 0.60 80.216 0.835 1.012 34.35 12.146 28.66 226 0.62 191 0.671 51.92 72.990 1.180 1.916 0.583 23.402 0.08 18.356 0.504 17.704 5.339 33.34 112.38 13 Jawa Tengah 32.26 66.307 27.70 14 DI Yogyakarta 9.652 30.147 4.675 3.82 9.81 7.73 74 0.310 11.323 8.757 13.56 179.811 36.23 64 0.05 809 0.86 213 0.05 4 Riau 3.83 197 0.03 100.20 5.706 Suntikan Jumlah % % (12) (13) (14) Pil Jumlah % (15) (16) Total (17) 1.040 7.07 14.33 311.016 3.37 2.430 37.345 9.552 25.416 10.65 6 Sumatera Selatan 3.94 46.528 46.036 3.243 38.522 34.82 1.

216 6.305 49.272 30.12 40.341 4.404.967 5.02 445.164 5.301 71.598 391.94 9 Kepulauan Bangka Belitung 215.017 12.538 1.264 17 Bali 642.37 59.610.368 1.38 84.935 76.61 .366 117.365 5.48 4.123 1.182 67.37 76.12 6.286 1.13 21.896 13.10 113.56 2.71 16 Banten 24.613 42.128 5.059 26.910.09 232 0.273 12.645 1.782 1.88 57.063 2.70 140 0.170 36.44 5.227 35.77 293.103 5.919 39.02 7.003 71.172 0.75 26 Sulawesi Selatan 1.733 5.32 445.701 4.23 14.03 685.867 6.532 0.960 74.745.959 2.367 993.224 35.41 66.01 83 0.024 78.11 8.786 12.322 1.098 6.476 1.86 3.791 1.05 1.834.456 2.811 2.23 17.68 15 Jawa Timur 7.72 24 Sulawesi Utara 419.95 39.049 5.69 260.739 2.51 34.11 20.406 4.50 53.649 0.173 41.894 10.179 7.028 40.581 75.495 33.26 67.622 5.517 46.437 75.8 JUMLAH DAN PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Jumlah PUS (3) Peserta KB Aktif IUD Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) MOW Jumlah (8) MOP % Jumlah % (9) (10) (11) Metode Kontrasepsi Kondom Implan Jumlah % Jumlah % (12) (13) (14) Suntikan Jumlah % (15) (16) (17) Pil Jumlah % (18) (19) 742.94 1.33 2.714 16.79 2.819 575.67 22 Kalimantan Selatan 726.143 13.500 8.50 13.659 558.44 196.925 1.648 33.916 69.780 9.147 2.19 8.22 569 0.287 81.59 3 Sumatera Barat 784.480 367.145 2.381 0.485 9.33 1.35 27.896 5.07 9.13 65.997 164.11 30 Maluku 261.724 10.45 31.52 229.88 9.616.10 3.49 1.025 5.14 81.075.41 14.829 6.89 137.073 69.986 1.56 28 Gorontalo 198.383 19.52 Sumatera Utara 2.54 16.882 14.94 57.35 174.82 27 Sulawesi Tenggara 386.48 15.09 6.55 16.13 9.81 149.63 2.75 80.371 73.170 1.580 78.905 11.591 38.08 6 Sumatera Selatan 1.94 55.608 49.99 11 DKI Jakarta 1.119 3.757 3.113 46.36 111.982 8.10 23.552 41.040 80.73 19.210 43.030 5.70 3.05 4.993 55.479 40.36 2.44 22.83 1.284 45.14 436 0.28 374.884 29.82 304.772 75.21 1.324 3.805 34.212 17.45 13 Jawa Tengah 6.506 42.504 37.753 8.737 198.12 66.45 6.462 13.748 11.34 209.67 231.366 474.58 4.25 87.771 3.304 8.65 21 Kalimantan Tengah 392.564 4.42 4.80 317.566 34.71 488.87 198.78 6.278 5.031 11.496 46.520 41.04 52.519 49.85 39.650 29.072.72 384.72 7.09 549.257 1.48 329 0.31 5 Jambi 592.91 10 Kepulauan Riau 14 DI Yogyakarta 1.454 45.70 13.74 38.79 62.12 4.682 34.14 1.759 1.669.633 7.88 160.605 9.591 1.836.467 1.13 262.299 0.066 35.400 2.09 485.766 52.855 1.664 59.93 140.30 8.339 3.891 55.778 82.66 142.20 7.089 1.07 73.02 31.221 36.882 287.796 50.54 14.416 38.13 5.61 10.476 13.31 53.939 4.364 6.40 9.313 432.50 20.099 182.452 1.105 1.23 7.459 3.88 20.36 1.869 2.742 2.728 551.628 39.995 48.486 493.243.67 261.715 8.021 0.39 6.423 3.534 3.413 7.811 4.346 71.978 14.648 46.016 49.222 6.29 9.622 2.35 326.75 113.31 34.795.006 0.791 339.487 455.833.88 394.36 5.77 7.24 194.136 3.68 34.76 4.93 224 0.27 123.33 1.18 110.122 2.94 619 0.960 3.30 11.20 65.14 251.788 6.46 144.580 3.057.396 80.82 283.787 132.746 3.06 3.25 54.273.Lampiran 4.325.832 66.378 0.720 0.806 55.99 372 0.311 70.012 2.093 5.90 15.49 47.363 53.525 1.166 81.221 42.35 299.606.072 0.61 33.594 49.47 14.67 139.462 75.722 1.47 196.21 21.063 12.77 115 0.108 0.34 7.38 34.45 33.540 26.87 236.340 1.959 638.15 2.224 3.838 2.62 43.19 16.32 12 Jawa Barat 8.67 29 Sulawesi Barat 166.43 54.77 63.33 307 0.731 7.313 32.718 6.229 2.127 10.203 77.525 12.676 22.968 547.61 42.838 2.10 2.875 2.21 10.752 21.26 389.348 85.86 20 Kalimantan Barat 787.575 22.14 45.88 1.551 7.844 41.44 3.018 9.662 43.14 7 Bengkulu 369.437 26.148.863 8.684 7.882 44.07 20.69 4.42 8 Lampung 1.26 23.701 1.28 8.75 73.59 4.264.526.054 36.03 872 0.264 5.31 77.72 319.083 1.13 25 Sulawesi Tengah 490.006 554.164 2.36 16.274 1.695 34.10 134.86 103 0.40 8.995.45 1.741 3.55 118.30 186.51 3.53 1.55 19.50 303.375 25.67 409 0.64 55.996 4.297 77.84 19.689 11.73 41.71 4 Riau 688.853 9.071 39.211.27 23 Kalimantan Timur 584.38 2.731 305.65 109.749 3.339.507 0.90 284.208 1.718 8.663 0.10 8.53 61.192 0.367 1.76 92.61 22.61 2.076 74.44 98.50 47.83 19.04 211.354 1.487.48 10.14 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Sumber : BKKBN.228 315.69 711.355 7.72 149.892 33.09 477. 2010 43.901 25.080.59 334.653 1.700 0.168 1.03 40.073 418.43 7.70 30.61 221.74 5.81 420 0.80 868.31 9.99 40.37 102.567 40.91 43.56 1.19 11.239 17.317 10.488.706 70.675 33.668 64.72 18 Nusa Tenggara Barat 915.266 75.35 845.271 157.34 12.836 10.76 17.280 38.164.863 27.87 4.964 1.471 910.97 130.18 16.386 1.85 4.53 142.58 57.39 149.255 0.208 13.69 24.38 50.400 23.830 1.79 3.87 7.09 1.98 22.71 5.768 11.083 47.724 79.52 159.12 76.480 70.927 0.578 36.60 71.44 464.369 6.482 12.684 85.28 756.850.02 7.00 19 Nusa Tenggara Timur 653.25 458 0.81 171.030 0.840 3.021 2.

652 1.60 228 0.471 10.64 165.47 101.88 37.84 19.639 32.81 352.584 29.625 1.75 3.00 7 Bengkulu 71.53 19 Nusa Tenggara Timur 104.82 3.60 162.736 32.15 10.26 77.34 62.445 100.00 4.00 12 Jawa Barat 846.805 4.359 100.89 89.71 368.699 9.73 2.00 26 Sulawesi Selatan 268.56 41.03 1.23 18.68 209.163 87.771 1.699 4.958 3.22 573 2.640 87.508 2.975 2.98 5.00 31 Maluku Utara 34.32 50.51 39.79 7.46 8.090 4.028 83.590 89.88 31.89 374.818 58.354 5.79 22.38 4.57 400 0.24 25.64 1.501 100.421 3.24 708 0.550 44.47 1.41 63.600 100.00 33 Papua 27.97 3. 2010 .614 100.666 64.81 1.50 1.577 9.27 2.73 6.00 21 Kalimantan Tengah 53.717 1.652 38.73 15.24 139.94 37.94 359.282 90.80 1.12 2.204 100.18 573 1.24 9.937 17.933 100.678 67.627 45.36 8.942 82.26 2.443 3.39 504 0.972 4.76 45 0.504 100.61 416 0.22 1.52 106.631 3.133 86.66 57.707 100.179 14.416 100.82 14.989 37.507 92.71 12.00 4.218 100.061 0.47 98.96 1.308 19.199 2.92 151 0.678.00 11 DKI Jakarta 136.862 2.107 1.303 55.182 0.722 2.032 9.60 26.096 1.32 8.709 10.636 3.666 100.185 37.439 3.9 JUMLAH DAN PROPORSI PESERTA KB BARU MENURUT TEMPAT PELAYANAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Klinik KB No Provinsi (1) (2) Pemerintah Peserta % (3) Swasta Peserta (4) (5) Dokter Praktik Swasta Bidan Praktik Swasta % Peserta % Peserta % Peserta Jumlah % (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Aceh 126.50 72.581 5.32 34.00 30 Maluku 51.630 36.935 5.793 100.71 54.72 128.70 18.597 4.967 2.48 38.961 100.00 20 Kalimantan Barat 84.19 763 1.989 30.564 0.75 20.392 71.024 62.34 30.935 3.43 4.530 4.345 100.00 15 Jawa Timur 610.009 5.53 1.18 43.33 3.045 100.96 56.121 97.364 8.70 2.36 1.345 21.065 34.97 161.00 304.083 1.093 10 Kepulauan Riau 27.00 3.377 100.16 4.235 72.49 14.540 75.96 424.876 100.75 6.735 100.00 2 Sumatera Utara 273.630 2.87 37.276.569 31.451.271 1.00 100.984 61.560 100.41 4.681 7.098 92.901 31.381 3.938 11.228 21.00 23 Kalimantan Timur 51.04 2.185 3.859 74.11 1.131 6.00 13 Jawa Tengah 457.328 100.50 1.642 100.51 19.98 92.00 4 Riau 94.00 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 80.Lampiran 4.728 64.19 3.747 11.230 100.435 3.00 Indonesia Sumber: BKKBN.00 29 Sulawesi Barat 34.89 2.352 100.665 100.119 1.75 119.16 306.96 1.00 178.41 46.00 25 Sulawesi Tengah 70.930 59.402 100.00 22 Kalimantan Selatan 84.69 1.142 65.982 48.036 3.19 137.16 27.852 6.597 58.00 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 148.627 2.29 849 1.19 471.13 138.19 3.37 40.856 6.31 6.163 66.00 100.404 59.091 70.930 5.00 8 Lampung 268.813 100.05 939 1.177 10.104 4.29 20.00 14 DI Yogyakarta 18.895 28 Gorontalo 31.515 2.47 6.00 3 Sumatera Barat 93.030.731 100.388 1.833.296 70.568 17.452 3.868 6.838 2.00 24.13 12.76 1.303 57.938 32.47 30.65 71.64 1.19 36.770 58.214 100.73 1.00 27 Sulawesi Tenggara 67.216 100.116 51.456 1.316 28.00 24 Sulawesi Utara 59.760 30.65 7.787 26.34 101.00 32 Papua Barat 18.06 361.27 3.80 36.54 3.319 33.352 100.86 311.565 2.538 100.60 393 0.98 882.268 34.653 40.98 93.74 35.26 179.51 452.97 31.18 83 0.00 9 Kepulauan Bangka Belitung 29.58 3.298 25.34 1.73 45.

606 89.42 95.60 1.53 967 476 49.252 1.316 85.00 11 DKI Jakarta 282 211 74.443 67.55 1.481 881 59.48 317 222 70.84 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Sumber : Ditjen PP & PL.00 707 705 99.877 4.84 827 451 54.06 1.67 100.048 726 69.435 1.78 2.30 3.92 543 196 36.505 6.511 65.106 82.87 3.35 1.42 22 Kalimantan Selatan 1.67 5.75 1.72 715 712 99.828 3.40 6.223 76.057 69.49 1.689 69.436 2.643 4.866 2.10 PENCAPAIAN DESA/KELURAHANUNIVERSAL CHILD IMMUNIZATION (UCI) MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 .380 782 23.175 76.345 1.000 3.941 2.14 75.325 1.454 986 67.194 78.43 8.054 79.51 893 579 64.361 503 21.66 2.297 67.008 9 Kepulauan Bangka Belitung 321 269 83.508 1.965 1.167 83.419 72.94 5 Jambi 1.559 1.546 1.21 1.085 76.842 80.97 2 Sumatera Utara 5.15 1.433 86.54 1.44 2.52 438 432 98.47 7 Bengkulu 1.492 6.958 1.930 51.71 1.933 65.73 606 399 65.272 73. Kemenkes RI 496 74 14.709 1.155 54.417 828 58.86 1.012 68.369 82.096 76.96 25 Sulawesi Tengah 1.25 44.939 1.012 2.189 69.41 2.082 71.329 1.61 27 Sulawesi Tenggara 1.60 897 823 91.29 1.813 2.483 1.295 926 71.559 7.520 1.410 1.754 80.28 3.14 14 DI Yogyakarta 438 428 97.61 28 Gorontalo 493 250 50.883 87.479 1.461 1.277 65.77 1.69 683 98 14.21 1.17 885 793 89.03 333 222 66.710 1.305 83.642 935 56.065 85.68 1.745 2.380 2.603 1.310 1.98 267 267 12 Jawa Barat 5.097 72.72 438 414 94.55 5.64 8.53 26 Sulawesi Selatan 2.392 54.221 74.634 1.893 66.116 83.466 81.97 6 Sumatera Selatan 2.86 8 Lampung 2.437 3.080 67.49 20 Kalimantan Barat 1.38 1.841 28.14 71.95 1.88 1.10 558 235 42.097 70.221 448 36.38 2.80 339 294 86.444 37.51 1.75 19 Nusa Tenggara Timur 2.33 23 Kalimantan Timur 1.80 6.2009 No Provinsi (1) (2) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Jumlah Desa Desa UCI % Jumlah Desa Desa UCI % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Desa Desa UCI (9) (10) % (11) 1 Aceh 6.377 70.55 3 Sumatera Barat 3.27 1.18 1.045 71.459 83.284 4 Riau 1.45 16 Banten 1.978 4.11 1.898 2.76 6.989 768 38.81 17 Bali 702 702 100.75 78.69 3.43 24 Sulawesi Utara 1.60 5.095 86.359 5.858 1.72 1.86 8.082 717 66.405 82.253 265 21.89 13 Jawa Tengah 8.247 1.22 967 499 51.83 8.96 3.962 1.273 72.150 69.271 1.968 69.919 2.772 4.73 346 311 89.504 875 58.318 84.Lampiran 4.560 7.171 75.114 76.569 7.591 1.27 1.96 2.069 572 53.886 92.71 601 371 61.370 81.88 10 Kepulauan Riau 291 176 60.63 15 Jawa Timur 6.103 2.606 874 54.42 2.127 2.23 1.079 70.15 1.456 1.82 282 234 82.00 62.76 .161 21 Kalimantan Tengah 1.11 1.813 1.559 82.155 1.269 64.58 18 Nusa Tenggara Barat 803 700 87.199 5.389 885 63.

43 20.601 99.84 4.20 7.98 40.95 47.04 168.Lampiran 4.778 85.349 70.63 167.72 61.36 28.95 15.402 46.87 16 Banten 206.30 94.321 116.053 877.951 95.758 82.377 51.429 80.031 96.63 160.020 93.82 12 Jawa Barat 931.60 46.13 21 Kalimantan Tengah 52.607 90.201 86.30 303.10 38.789.555 18.70 62.00 19.753 78.11 40.853 96.899 77.64 36.80 47.753 97.51 20.636 102.89 49.849 93.459 86.40 13.038 100.408 94.82 64.933 99.668 94.46 4.242 10 Kepulauan Riau 38.20 2 Sumatera Utara 325.183 97.23 171.34 101.54 62.60 36.201 31.995 91.66 4 Riau 137.41 52.393 8 Lampung 173.796 95.26 20.70 22.72 73.80 88.57 86.462.743 85.221 95.872 37.74 215.611 98.95 35.30 39.01 20.308 26.66 49.08 117.183 98.88 31.534 50.78 196.28 147.39 63.060 117.15 34.480 102.040 97.453 89.15 44.906 84.95 208.46 117.149 62.176 80.405 28.605 79.45 171.046 96.921 96.554 97.92 38.88 572.697 100.67 45.238 82.870 92.305 70.47 67.904 99.86 46.48 4.662 92.821 80.05 26 Sulawesi Selatan 168.754 99.706 85.599 92.517 83.733 122.533 72.163 85.120 88.06 44.64 33 Papua 49.16 195.46 159.50 44.05 26.80 38.85 164.46 34.343 97.75 147.467 92.134 102.561 74.64 4.01 32 Papua Barat 20.25 119.84 25.143 99.706 93.09 868.23 159.04 505.83 589.604.97 21.98 97.83 45.987.536 165.73 42.148 88.990 85.663 95.791 73.18 85. 2010 .59 89.99 94.84 4.70 24.33 61.35 49.69 172.99 157.826 42.23 532.395 91.04 144.95 23.969 96.82 613.986 96.13 558.11 CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO PROVINSI (1) (2) SASARAN (3) BCG DPT/HB(1) JUMLAH % HB0 JUMLAH % (4) (5) JUMLAH % (6) (7) (8) (9) IMUNISASI PADA BAYI POLIO1 DPT/HB(3) JUMLAH % JUMLAH % (10) (11) (12) (13) POLIO3 JUMLAH % (14) (15) POLIO4 JUMLAH % (16) (17) CAMPAK JUMLAH % (18) (19) 1 Aceh 105.57 5.05 84.86 14.40 19.42 582.528 93.940 15.908 89.826 73.00 2.060 113.218 91.966 97.640 99.313 93.165 71.820 91.93 289.11 572.30 95.219 62.50 25 Sulawesi Tengah 53.943 96.20 222.144 93.737 83.429 92.627 85.137 292.971 98.96 857.012 103.890 51.281 200.176 87.46 69.67 23.38 30 Maluku 36.948 91.71 36.74 97.15 20.679 98.535 70.677 97.02 105.359 96.597 31.677 99.86 21.50 49.39 23.22 14.494 49.464 83.39 102.107 93.63 11.434 95.086 90.06 47.49 11.702 97.93 36.513 96.06 67.527 40.397 91.757 57.36 102.038 95.532 81.169 93.02 286.09 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.127 87.106 96.481 13.607 77.274 101.292 95.844 85.098 93.40 19 Nusa Tenggara Timur 127.82 212.37 874.85 81.397 56.22 86.78 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 40.934 92.28 40.65 20.773 93.83 116.36 40.449 87.761 68.898 113.62 35.618 89.875 81.733 140.607 84.980 58.60 23.705.37 72.981 21.406 80.09 11 DKI Jakarta 188.329 103.489 71.36 69.279 76.379 91.408 89.26 117.789 91.965 88.386 90.960 607.191 95.68 80.550 102.034 91.020 9.693 96.53 230.984 96.925 85.648 89.795 93.78 17 Bali 61.03 70.60 27.80 621.480.51 38.604 39.325 100.51 161.23 23 Kalimantan Timur 77.812 100.233 101.510 94.627 86.202 95.66 69.307 92.443 65.943 91.40 45.500 70.131 82.71 37.062 69.87 586.058 85.914 94.49 214.86 119.48 873.92 24.26 3 Sumatera Barat 106.075 42.408 91.23 291.429 37.19 40.916 50.907 96.12 35.948 80.219 93.670 88.566 165.440 119.12 220.138 96.199 92.08 24.28 29 Sulawesi Barat 24.25 134.569 102.399 102.89 24.157 93.98 110.27 39.192 93.96 139.395 86.972 76.931 44.873 98.99 197.02 143.305 86.76 61.663 95.333 95.97 201.994 102.959 100.487 72.41 26.868 32.56 4.170 20.31 32.20 68.937 24.51 85.88 49.204 53.025 107.18 69.822 92.660 23.212 62.21 574.619 82.282 101.813 90.39 47.121 86.661 97.982 102.76 31 Maluku Utara 23.762 83.35 83.434 88.02 23.94 86.421 39.35 90.552 79.437 61.988 80.261 90.20 598.59 112.512 69.16 37.00 230.57 156.672 43.81 2.66 27 Sulawesi Tenggara 53.21 64.647 83.78 925.804 589.242 92.929 103.736 94.128 88. Kemenkes RI.45 38.763 93.89 84.869 102.08 24 Sulawesi Utara 45.12 150.879 93.581 88.937 97.75 93.143 87.908 100.643 89.336 97.08 89.042 99.676 76.19 96.72 292.72 64.603 89.41 39.480 72.19 54.905 101.48 34.94 599.74 25.667 90.01 31.25 9 Kepulauan Bangka Belitung 24.135 93.480 97.95 24.066 66.119 90.882 122.067 99.723 83.846.00 22.86 80.487 19.186 99.99 68.66 49.64 44.188 93.33 23.61 28 Gorontalo 25.790 111.56 605.581 78.03 73.97 24.102 98.378 100.62 12.868 57.68 54.78 15 Jawa Timur 605.27 71.75 33.005 112.944 219.565 88.234 94.110 116.91 31.55 311.77 14.360 89.33 20 Kalimantan Barat 99.98 6.11 6.530.91 60.031 48.19 166.998 92.676 48.005 74.00 118.114 92.888 67.25 13 Jawa Tengah 577.317 93.298 77.627 94.681 89.978 88.81 105.067 97.156 94.09 4.036 89.370 64.732 58.79 18 Nusa Tenggara Barat 105.34 101.974 96.93 102.431 61.792 98.87 101.91 162.74 73.351 76.297 89.950 97.23 51.885 96.148 89.77 19.567 84.59 45.38 11.03 594.27 50.235 81.70 907.104 26.06 11.004 34.95 60.41 97.943 89.07 19.74 22 Kalimantan Selatan 71.80 33.19 117.03 80.00 37.07 23.172 99.66 14 DI Yogyakarta 43.207 93.747 91.374 91.065 91.861 24.020 95.16 104.87 100.582.313 4.

2 30 Maluku 5.7 9 Kepulauan Bangka Belitung - 4.9 4.1 18 Nusa Tenggara Barat 3.4 4.8 6.1 5.0 0.4 6.5 28 Gorontalo 11.8 29 Sulawesi Barat 15.2 17 Bali 8.8 (1.3 6.3 24 Sulawesi Utara 4.6 4.7 21.7 5.3 4.6 5.9 4.0 5.0 9.0 7.2 17.7 5.2 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.1) 2.1 8.1 13.2 7.3 25 Sulawesi Tengah 9.9 10 Kepulauan Riau - 10.3 4.8 7.0) 15 Jawa Timur 4.5 11 DKI Jakarta 23.2009 NO PROVINSI (1) (2) 1 Aceh 2 3 TAHUN 2006 2007 2008 (3) (4) (5) 2009 (6) 10.1 4.8 11.8 7.1 27 Sulawesi Tenggara 4.1 5.9 12 Jawa Barat 21.6 13.2 13.7 23 Kalimantan Timur 7.7 3.3 Sumatera Barat 9.0 19 Nusa Tenggara Timur - 22.2 14 DI Yogyakarta 0.2 7.1 1.3 3.5 22 Kalimantan Selatan 8.3 10.3 13 Jawa Tengah 4.6 13.6 8.5 3.2 20 Kalimantan Barat 8.3 32 Papua Barat 7.1 8 Lampung - (1.5 4.8 31 Maluku Utara 5.4 5.6 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 21.2 5.0 8.3 5.8) (0.9 3.3 7.12 DROP OUT RATE CAKUPAN IMUNISASI DPT1 .4 7.8 2.CAMPAK PADA BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .2 Sumatera Utara - 1.8 5.5 4.8 5 Jambi 1.9 3.3 21 Kalimantan Tengah 1.8 3.8 4.0 3.6 19.5) 9.3 3.5 10.7 4.0 7.2 4.4 5.8 8. 2010 .8 7.1 6.0 3.8 19.1 5.7 9.4 4.4 6.5 5.8) (1.0 4.8 12.1 2.9 6.2 6.9 4 Riau 2.4 4.2 6.6 15. Kemenkes RI.0 7.8 3.4 5.7 11.7 4.3 16 Banten 15.4 7.0 6.8 5.3 33 Papua - 21.Lampiran 4.0 26 Sulawesi Selatan 8.4 9.9 15.8 4.6 1.8 9.4 (0.4 8.8 6.

622 17.786 33.98 9.14 68.13 49.66 466.733 24.35 145.966 26.976 25.419 36.943 29.081 0.06 2.57 28.03 18.09 1.35 530 0.02 7.289 38.22 6.401 38.172 12.070 45.34 6.98 52.933 10.553 5.37 10.06 8.340 2.158 822.92 54.142 2.19 0 0.009 311.277 8.29 11.12 14.766 45.59 188.70 4.74 4.22 30 Maluku 33.521 22.177 245.43 686.961 40.351 89.10 72 0.130 1.721 1.22 29.103 51.72 962 3.33 40.00 0 0.984 35.53 8 Lampung 189.908 14.671 56.85 23 Kalimantan Timur 85.455 72.026 24.468 8.438 141.285 23.74 225 0.541 76.53 86.966 82.750 6.486 64.70 9.56 136.735 47.504 76.551 10.880 88.05 109 0.69 16.99 9 Kepulauan Bangka Belitung 26.54 247.00 0 0.799 42.024 21.45 28.32 880 0.38 3.065 7.810 102.122 49.230.174 17.567 1.10 2.930 0.294 18.909 88.035 3.721 20.812 52.270.00 20.429 35.15 10 Kepulauan Riau 41.328 76.763 39.53 34.381 44.026 67.45 1.13 CAKUPAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) Jumlah Ibu Hamil (2) (3) TT1 Ibu Hamil Diimunisasi TT3 % Jumlah TT2 Jumlah % Jumlah % Jumlah (4) (5) (6) (7) (8) (9) TT4 (10) TT5 TT2+ % Jumlah % Jumlah % (11) (12) (13) (14) (15) 1 Aceh 110.92 2.53 1.67 170 0.00 13 Jawa Tengah 924.482 3.942 66.16 3 Sumatera Barat 115.159 45.960 16.580 49.343 69.266 11.20 15.415 0.893 17.22 9.494 43.85 71.384 83.85 23.808 11.11 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 79.382 13.973 13.75 31 Maluku Utara 25.34 14.44 115.089 6.07 19.197 71.862 47.339 71.410 58.301 34.434 10.60 111.836 58.228 80.32 13.39 245 0.625 6.530 62.28 29 Sulawesi Barat 27.60 1.132 47.028 101.114 21.264 14.85 268 0.609 59.18 19.62 292 0.169 1.19 4.49 50.462 2.91 432.169 5.09 7.62 10.88 0 0.20 104 0.08 12 Jawa Barat 1.60 557.00 50.38 6.42 234.942 15.70 10.850 47.97 45.651 144.777 23.385.20 98 0.018 21.05 133.764 46.202 20.182 11.456 59.81 550 0.99 28 Gorontalo 28.670 52.641 55.28 84.99 111 0.81 680 0.85 10.56 5.658 39.32 32.032 63.53 129.40 22 Kalimantan Selatan 78.22 24 Sulawesi Utara 50.64 91.836 16.47 29.188 35.11 3.755 8.42 42.912 9.08 2.073 25.34 15.331 12.15 100.329 26.13 23.06 7.002 219.52 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.13 1.592 148.702 46.77 3.98 6.90 82.773 8.90 7.00 34.839 2.958 16.909 78.75 20 Kalimantan Barat 106.02 49.26 2.214 67.269 4.19 69.45 21.27 493.887 8.951 28.76 26 Sulawesi Selatan 198.42 14 DI Yogyakarta 48.217 13.194 40.515 121.21 29.91 33 Papua 55.84 33.16 2.28 3.754 61.029 13.675 10.571 22.681 72.093 114.318 8.333 34.44 2. 2010 .25 41.265 12.75 19.28 4.02 18 Nusa Tenggara Barat 115.335 50.09 97.171 43.72 52.09 76.965 14.41 2 Sumatera Utara 357.586.87 2.51 140 0.169 77.317 23.515 5.69 37.63 13.668 20.65 74.65 1.919 44.00 0 0.613 7.528 3.024.210 16.956 69.42 13.806 62.24 25 Sulawesi Tengah 59.64 24.270 28.05 108.59 0 0.391 9.34 11.17 4.155 27.021 4.18 13.031 32.209 0.466 49.46 2.309 67.09 406 0.88 21.210 4.53 147.818.707 19.593 4.935 54.603 0.51 12.18 16.527 56.28 47.874 12.623 53.14 12.72 605 2.22 21.Lampiran 4.41 11.56 4 Riau 151.39 21.95 11 DKI Jakarta 158.385 45.26 244.945 52.00 0 0.36 27 Sulawesi Tenggara 59.00 0 0.565 160.602 124.782 67.261 41.617 1.562 50.607 63.63 17 Bali 67.124 234.155 9.085 26.41 30.049 11.578 80.33 3.955 41.216 8.725 78.446 19.213 22.342 56.77 8.31 82.39 25.00 21 Kalimantan Tengah 56.590 32.31 5.81 1.753 1.52 44.72 15 Jawa Timur 338.99 46.321 56.089 14.88 26.69 1.03 20.89 231 0.116 49.632 31.443 8.691 4.11 1.00 147.078 103.550 5.974 155.92 753.84 29.146 55.057 69.54 10.86 199.60 286 0.89 4.207 62.78 22.79 32 Papua Barat 23. Kemenkes RI.23 37.994 7.453 12.57 58.239 48.76 18.963 10.46 78.879 65.383 66.169 77.96 16.22 16 Banten 225.88 7 Bengkulu 43.825 32.330 25.37 19 Nusa Tenggara Timur 134.43 43.921 14.

14 CAKUPAN IMUNISASI TT PADA WANITA USIA SUBUR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO JUMLAH WUS PROVINSI (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara TT1 (3) TT2 JUMLAH % JUMLAH % (4) (5) (6) (7) WANITA USIA SUBUR DIIMUNISASI TT3 JUMLAH % JUMLAH (8) (9) TT5 TT4 (10) % JUMLAH % (11) (12) (13) 913.33 2.513 181 0.135 0.866 0.789 2.08 760.87 43.695 0.540 1.868 27 Sulawesi Tenggara - - - - - - - - - - - - - - - - - 0.086 7.681 2.11 8 Lampung 1.138 12.37 33 Papua 433.530 1.12 3.06 9.544 2.33 2. Kemkes RI.870 0.14 1.51 10.06 1.42 11.14 23 Kalimantan Timur 526.544 0.32 30.984 0.174 6.74 11.17 13 0.407 0.788.110 2.033 1.100 864.371 0.40 880 15.01 25 Sulawesi Tengah 538.717 18 Nusa Tenggara Barat - - - - - - - - - - - - 1.500 0.145 0.82 13.58 23.014 1.674 0.293 1.10 9.604 0.20 789 0.134.00 0 0.09 7.122 4.044 0.43 31.34 598 0.794 101.060 2.662 1.12 216 0.839.924 4.010.04 47 0.96 2.697 0.674.934 20.933 2.266 3.126 2.043 6.649 12.46 - 6.156.09 24 Sulawesi Utara 443.03 4.09 203 0.125 1.84 1.253 0.60 1.390 3.29 12.265 3.70 2.401 6.358 1.00 0 0.046 0.688 0.438 14.362 3.28 776 0.51 7.824 7.965 989 0.373 10.997 2.88 1.94 484.844 1.020 8.19 243 4.261 0.51 780 0.055 0.46 474.99 2.83 59.345 0.428.433 1.72 31 Maluku Utara 251.88 10.82 18.48 17 Bali 715.51 0.449 - 31.815 5.665 843 0.39 980 0.174 0.833 2.86 1.58 - - 97.756 1.169 2.112 0.21 433 0.69 24.62 1.550 30.932 30.111 7.31 1.18 22 Kalimantan Selatan 673.86 4.03 65.098 0.447 1.77 Jawa Timur 5.32 13.174 0.13 8.26 2.90 7.874 2.12 127 0.093 0.68 Indonesia Sumber : Ditjen PP & PL.36 3.07 221 0.060 0.248 1.16 252 0.27 - - - - - - - - - - - 9 Kepulauan Bangka Belitung 247.547 0.766 6.021 0.23 949 0.054 0.46 36.189 2.46 61.399 0.16 196 0.81 735.33 4.387 0.46 6.62 1.13 172 0.887 1.84 - - 50.32 392 0.019 0.95 17.46 12.11 21 Kalimantan Tengah 244.072 0.38 9.03 31.20 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 691.32 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 191.127 1.036 1.019 0.43 58.13 - 28 Gorontalo 194.409 29 Sulawesi Barat 208.21 2.35 5.07 2.32 4.477 14.14 1.201 - 33.875 0.91 514 0.80 1.56 1.304 0.754 2.357 12.69 5.92 - - 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 845.58 1.609 1.869 4.58 8.162 0.160 3.25 - - 134.714 5.16 94.673 1.07 8.754 1.10 417 0.702 1.939 1.404 20.18 437 0.538 7.959 3.05 - - 19.822 2.44 442.08 10 Kepulauan Riau 387.26 901 15.84 6.42 17.037 1.097 1.503.20 345 0.109 11.966 1.81 953. 2010 .11 3.014 1.735.05 0 0.877 10.Lampiran 4.39 778.82 32 Papua Barat 148.12 12.01 30 Maluku 173.11 5.03 2.478 62.19 10.00 26 Sulawesi Selatan 1.53 798.69 11.07 130 0.271 2.24 8.39 811 14.629 4.99 10.921 2.151 0.959 1.570 0.310 38.456 0.06 2.63 2.23 1.967 228 0.401 0.84 5.557 0.871 1.264 1.53 650.66 16 Banten 2.561 7.944 508.171 0.70 1.16 2.45 7.221 7.098 4.98 23.61 18.835 1.022 2.633 0.843 2.

920 128 377 97.907 30.549 31.088 844.438 140 192.262 5.137 10.833 44.891 79.420 1.752 3.277 25.259 256.277 455 893 168 586 822 755 337 1.374 163.944 466.191 209.867 73.930 1.492 115.269 178.808 301.553 21.766 258.127 264 3.162 188.124 931.150 .651 3.810 35.098.413 405 5.210.999 92.459 809 2.247.710 510.772 2.864 153.614 4.370 189.757 8.558 4 1.707.756 212.886 118.294 505.934 2.901 52.000 182.237 185.358 161.084 331.352 185.15 JUMLAH KUNJUNGAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 No Provinsi Pasien Keluar Mati Pasien Keluar Hidup <48 jam (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.564 383.094 82.115 41.341 186.188 59.336.154.109 279.956 4.727 508 714 268 1.606 417.941 33.998 89.028.974 194.971 989 1.162 1.886 409.164 747.514 48.737 245 753 2.955 8.142 13.038 205.028 701 611 597 2.744 37.254 44 46 27.264 27.994 56.497 93.134 1.576 61.207 297.063 417.866 978.902 185.472 126.358 275.224 20.402 302.436 36.806 278.601 182.408 21.990 352.452 97.164 1.236 96.232.488 496.Lampiran 4.071 119.332 283.880 8. Kemkes RI (3) Lama Dirawat Hari Perawatan Total Kunjungan (6) (7) (8) ≥48 jam (4) (5) 37.028 11.728 1.954 1.913 35.306 1.129 43.122 1.885 5.784 443.145.338 195.550 19.539 52.292 3.280 855.987 263.626.403 472 6.409 5.704 29.223 374 812 126 492 796 652 223 748 281 909.463 23.433 65.558 614.571 206.380.252 550.372.063 1.306 316.003 130.924.442 11.886 247.850 3.239.736 225.132 1.481 1.230 46.353 11 1.750 217.019 22.893 83.074 15.806 70.

8 4 14.6 50 45.9 44 29.6 5 5.9 15 18 7 Bengkulu 45.7 20 19 82.4 8 7.9 4 4.0 4 4.1 1 12.2 2 9.4 3 8.0 58.9 6 3.5 18 20 2 Sumatera Utara 64.8 - 5.0 26 21.3 4 3.5 19 18 - Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.5 26 18 12 Jawa Barat 85.5 - 14 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 69.2 4 4.0 52.0 4 4.8 5 3.1 4 5.6 36.7 59.5 - - - 3.9 2 5.7 2 8.5 18 16 23 Kalimantan Timur 99.0 30 29 3 Sumatera Barat 57.7 63.8 3 3.2 43 34.0 54 52.16 INDIKATOR PELAYANAN RUMAH SAKIT UMUM DEPKES DAN PEMDA MENURUT PROVINSI TAHUN 2008-2009 No Bed Occupancy Rate (BOR) Provinsi (1) (2) Length of Stay (LOS) Bed Turn Over (BTO) 2008 2009 2008 2009 2008 2009 Turn Over Interval (TOI) 2008 2009 Gross Death Rate (GDR) 2008 2009 Net Death Rate (NDR) 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 2009 (14) 1 Aceh 92.1 51 35.0 15 16 21 Kalimantan Tengah 47.6 42 35.5 62.2 51 25.7 9 10 33 Papua 51.5 30 21.8 5 7.6 37 21.5 16 25 4 Riau 68.4 27 11.0 Indonesia - - 34.8 22 19 14 DI Yogyakarta 79.9 48 36.6 58 49.9 2 4.8 2 14.9 39 22.3 42.7 - - - 9.6 49.Lampiran 4.7 53.9 14 15 20 Kalimantan Barat 73.1 4 3.4 36 39.6 6 36.2 63.3 42 25.8 - - 19 - 48.6 1 11.6 1 3.9 50 26.6 35 25.1 21 23 15 Jawa Timur 96.6 46 41.2 22 - 11.8 34 35.4 58 43.3 11 9 6 Sumatera Selatan 55.3 63.9 4 3.2 41 28.0 11 14 26 Sulawesi Selatan 92.3 42 36.6 13 13 25 Sulawesi Tengah 83.7 62.8 46 27.2 8 Lampung 74.3 - 3.9 5 18.8 69.9 6 4.3 5 3.4 1 4.3 44 41.2 35 19 79.0 19 19 19 Nusa Tenggara Timur 59.5 61.2 - 12 29 - 29 - .8 28 25 16 Banten 97.4 67.0 12 14 27 Sulawesi Tenggara 71.5 30 31.0 67.3 61.8 40 18.4 2 4.7 30 30. Kemenkes RI - 60.8 4 3.2 32 40.0 59.2 40 - 33.9 15 14 9 91.7 1 8.0 42 39.9 4 10.4 34 28.4 6 3.9 4 4.6 51 28.7 4 4.0 38 31.1 5 4.8 58.5 20 14.7 1 3.1 26 17.0 4 4.0 17 19.7 57.4 39 29.4 2 2.0 52.7 5 4.0 39 29.6 3 3.9 4 - 4.1 45 19.5 75.8 8 - 19.6 45 14.0 45 35.1 22 14 17 Bali 80.3 13 10 24 Sulawesi Utara 83.0 67.6 16 28 Gorontalo - 29 Sulawesi Barat - 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 74.3 - 31.9 31 28.2 18 16 13 Jawa Tengah 69.9 24 20 18 Nusa Tenggara Barat 50.8 2 5.6 3 37.3 66.1 36 48.0 Kepulauan Bangka Belitung - 53.6 5 3.7 38 21.5 47.0 - 13 27.7 31 30.2 70.1 48.7 4 3.7 44 32.9 5 4.1 3 4.9 3 3.1 58.1 47 16.0 - - - 24.0 1 21.8 26 28.1 16 6.9 4 4.9 44 20.1 2 5.0 11 12 22 Kalimantan Selatan 76.2 3 6.6 5 3.6 40 43.8 2 5.7 45 37.8 69.8 26 11.3 4 3.7 31 32.7 2 2.7 66 29.4 18 11 5 Jambi 77.9 3 3.8 4 4.7 48 42.6 32 32.

005 826 318 2.496 1.128 3.031 35.723 531 130 61 132 181 146 567 25 107 482 80 21 2.866 1.287 4.240 656 871 3.543 1.379 1.905 720 826 2.248 7.220 121 3 1 109 439 473 235 36 433 175 23 14 14 1 881 3.950 4.030 2.356 779 3.609 709 215 517 502 611 1.082 2.423 2.967 17.494 379 3.729 8.092 2.772 15.514 17.217 6.346 9.687 1.458 1.179 769 1.565 149 661 199.891 1.617 1.614 5.302 1.477 10 9.343 420 1.899 8.744 8.814 11.760 39.270 3.980 644 4.805 15.115 1.526 5.509 79 421 83.366 553 365 589 191 174 648 87 66 1.658 1.465 1.070 1.031 8.865 334 250 123.449 3.538 1.690 4.17 PEMERIKSAAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA RUMAH SAKIT UMUM DEPKES DAN PEMDA MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 Provinsi Tumpatan Gigi Tetap Tumpatan Gigi Sulung Pengobatan Pulpa/ tumpatan Sementara Pencabutan Gigi Tetap (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1.690 413 694 2.977 5.079 108 80 1.705 737 641 3.Lampiran 4.469 698 97 494 5.619 858 407 4.694 23.069 2.949 31.550 2.217 12.939 6.273 41.422 396 106 560 48 94 26 7 159 172 4 56 1 101 15.919 3.321 408 433 1.264 1.501 17.973 4.840 1.675 686 262 130 1.006 422 373 1.035 5.416 102 124 53.294 6.749 581 1.539 1.123 1.692 1.236 23.487 1.854 1.250 1.130 1.140 994 2.708 2.106 2.956 48 225 42.871 2.049 29.873 .571 10.958 119 53 121 362 901 275 345 87 90 26 222 168.897 1.487 5.282 2.698 478 1.775 2.377 1.764 9.413 1.633 955 2.933 24 183 6 45 230 2 14 10 4 179 7 5 15 13 1 231 24 275 123 713 500 218 41 314 74 563 5.339 360 649 159 309 732 233 290 1.756 16.736 124 23.898 24.270 5.650 3.685 792 642 111 51 109 356 173 288 67 7 281 292 1.905 3 149 63.230 660 210 1.186 8 83 33.626 607 408 4.723 2.443 4. Kemenkes RI Pencabutan Pengobatan Pengobatan Gigi Periodontal Abses Sulung (7) (8) (9) Pembersihan Karang Gigi Prothese Lengkap Prothese Sebagian Prothese Cekat Orthodonsi Bedah Mulut (10) (11) (12) (13) (14) (15) 221 30 29 9 31 4 55 34 86 15 77 1 21 140 28 15 1 67 1.147 6.528 1.076 2.999 3.320 1.692 5.569 99 877 7.011 611 268 647 861 466 4.780 No Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.772 1.912 446 160 848 4.621 800 1.875 6.842 21.624 2.030 1.342 1.530 406 560 2.218 781 374 1.548 6.115 1.190 5.958 1.625 623 666 755 851 1.233 1.905 844 2.921 1.164 985 1.

295 11.680 21.756 144.306 61.166 527.363 16.679 4.711 22.139 943 277 2.193 5.161 703 302 1.224 2.225 8.376 50.073 14.321 1.154 6.689 7.252 176 1.792 Kunjungan Neonatus (KN2) (5) 249.004 577 3.139 46.18 JUMLAH KUNJUNGAN PESERTA JAMKESMAS DI PUSKESMAS TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi RJTP RITP (2) (3) (4) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2.447 36.515 5.941 279.795 30.297 - .800 7.201 28.413 1.091 5.417 11.836 14.339 478.910 46.753 20.142.892 396.609 699 1.863 4 256 2.781 547 91 2.717 5.050 487 6.285 4.212 10.705 1.517 4.708 1.268 13.953 45.364.167 2.116 743 1.804 4.872 368 3.307 1.365 6.295 247 8.855 22.429 42 25 1.204 1.342 1.772 1.023 2.309 383 396 103 1.693 - Rujukan - - - - - Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (6) (7) (8) 65.161.770 3.Lampiran 4.154 3.162 169.649 Kunjungan Ibu Hamil (K4) 253 6.025 6.754 7.763 1.939 148 50 179.260 150.556.334 70 393 1.481 3.649 151 138 18 293 - 1.182.767 822.130 - 1.593 147.968 7.467 19.644 44 118 1.131 2.301 838 98 - 393 28 414 1 414 64.821 94.850 4.201 1.417 62 343 9 343 19.564 2.121 283 914 291 1.388 392 781 1.849 1.447 567.866 421 21.134 444.121 1.040 59 194 - 87 1.058.113 402.017.575 736.500 174.438 - 130.533 130.430 340.356 7.130 292 459 21 9.058 335 2.952 210.211 3.368 16.069 4.303 766 3.154 289.827 19.962 - - - - 5 5.558 193.292 949.675 2.378 3.909 20.678 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) Keterangan: RJTP = Rawat Jalan Tingkat Pertama 1.377 876.305 7.027 68.757 655 1.

601 13.672 42.162 8.587 402.514 71.19 JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN TINGKAT LANJUT (RJTL) PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.909 81.379.450 5.750 108.870 91.972 8.418 9.197 8.450 328.Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah D.396 14.037 730.583 42.258 222.662 43.667 25.085 10.052 177.992 569.834 474.237 253.Lampiran 4.935 37.366.388 10.579 33.708 59.352 10.815 39.444 25.Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat NusaTenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat TOTAL L Jumlah Rawat Jalan Tingkat Lanjut P L+P (3) (4) (5) 111.637 82.585 160.635 4.801 22.545 55.618 38.963 94.145 21.379 52.692 21.797 17.310 15.326 38.012.642 251.958 18.351 33.426 17.554 132.627 71.896 2.591 387.451 40.723 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) .547 13.512 40.004 7.784 88.660 20.846 73.350 318.580 18.757 3.952 44.429 4.745 33.901 19.208 48.827 142.425 862.089 82.186 8.976 15.630 7.064 2.729 18.I.869 83.041 17.801 71.568 44.549 18.470 66.942 39.057 114.722 22.304 11.827 4.201 107.575 37.151 21.315 69.570 36.843 12.371 55.917 5.822 32.487 81.029 25.294 45.125 42.516 30.097 138.

398 3.008 57.398 99.396 4.773 36.029 49.297 16.749 5.501 17.171 45.231 16.948 6.948 4.768 60.494 7.863 5.441 11.492 8.756 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) .556 5.689 45.338 19.272 18.933 10.882 10.564 14.222 7.335 122.667 4.824 3.158 10.365 6.824 2.700 12.607 36.990 21.114 27.205 48.092 2.951 5.831 26.420 33.520 5.495 2.783 1.983 83.199 11.194 899 5.134.872 5.629 59.543 21.I.895 2.138 2.390 15.840 4.702 1.188 TOTAL 487.039 27.Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat NusaTenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat 26.597 5.091 13.20 JUMLAH KASUS RAWAT INAP TINGKAT LANJUT (RITL) PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 L Jumlah Rawat Inap Tingkat Lanjut P L+P (3) (4) (5) Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepualauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.981 13.874 128.051 33.630 1.Lampiran 4.096 14.818 6.612 142.633 3.057 18.382 9.215 5.608 24.981 5.376 20.278 4.985 7.701 8.Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah D.163 14.533 5.448 7.351 26.889 2.130 73.468 12.798 7.541 12.788 32.259 5.409 12.659 29.501 1.955 19.959 17.416 647.272 227.340 1.610 10.479 9.220 25.820 10.541 3.

89 84.157 8.611 223 5.25 80.04 3.28 74.493 537 225 183 166 68 213 29.98 1.03 17.13 6.89 8.20 33.743 672 308 263 244 115 177 544 43.76 90.289 1.23 72.13 62 86 71 37 58 38 8 66 12 80 419 250 14 429 64 96 58 47 18 28 70 143 19 79 76 74 47 20 60 69 2.96 65.363 403 1.87 87.03 38.22 97.808 1.07 4.21 CAKUPAN TB PARU BTA POSITIF.28 1.486 9.044 298 841 487 1.85 2.50 62.31 24.21 66. SEMBUH.82 91.08 97.05 .52 85.07 6.353 873 537 696 1.068 811 1.92 85.61 86. 2010 Cakupan TB 2008 Sembuh Pengobatan Lengkap Semua Kasus BTA Pos Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) 905 4.70 4.91 Sembuh & Pengobatan Lengkap Success Rate (%) (9) (10) 670 3.53 11.11 55.572 613 299 230 186 128 282 32.928 86.158 270 139 2.08 87.50 6.928 664 398 504 772 180 945 233 701 5.29 80.79 90.87 54.37 13.72 56.31 90.044 393 1.481 18.77 89.45 76.Lampiran 4.942 36 322 684 512 692 223 793 390 1.01 80.861 237 5.15 68.68 5.921 3.09 85.93 16.011 245 781 5.44 3.502 3.470 78.39 80.926 608 2.19 62.92 68.349 1.71 83.41 57.87 8.58 68.05 69.30 85.065 1.44 3.06 74.56 8.37 19.12 72.257 579 11.526 94.74 36.00 87.33 14.036 116 1.201 732 2.30 32.83 94.861 4.513 36 258 588 454 645 205 765 320 893 97 1.876 378 734 820 1.05 81.627 707 3.33 2.30 16.73 5.37 61.91 73.75 60.66 79.288 4.014 735 435 562 810 188 1.44 66.90 12.253 801 878 2. Kemenkes RI.93 13.91 5.84 74.064 587 1.40 5.32 76.46 87.78 68.799 325 309 6. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber: Ditjen PPPL.19 91.42 39. PENGOBATAN LENGKAP DAN SUCCES RATE (HASIL PENGOBATAN PENYAKIT TB TAHUN 2008) MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.24 4.19 93.32 51.598 8.71 4.229 276 6.334 333 1.230 760 395 320 489 209 432 1.375 868 1.08 7.19 81.80 80.77 2.

226 28.491.370 20.915 709 758 2.595 30.15 71.176 7.846 1.54 5. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PPPL.191 17.925 43.915 95.277 11.91 13.349 4.92 5.989 3.521 4.912 98.16 12.892 732 16.287 9.575 233.677 372 309 1.721 6.329 589 7. Kemenkes RI Jumlah Penduduk Usia Balita Wil.907 2.075 7.735 56.646 1.18 .458 354.050 Realisasi Penemuan Penderita Pneumonia Balita 494 11.38 9.760.749 2.81 22.246 35.332 424. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.578 11.271 1.96 9.153 890 1.313 16.083 2.392 9.20 5.072.866 130.914 197.315 1.034 3.159 107.12 5.905 5.Lampiran 4.402.433 42.524 842 404 387 252.552 1.310 429.139 211.881 10.431 42.533 2.067 3.062.175 725.985 249.4 Tahun Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) 568.701 32.249 434.914 21.701 201.306 196.655 32.256 1.21 10.657 1.014 323.173 1.118 72.081 1.566 3.829 1.22 JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.034 20.261 732 518 258 183 136. Puskesmas Program Target Penemuan Pneumonia Balita (10%) < 1 Tahun 1 .41 0.91 13.873 690.387 6.624 2.621 11.360 662 570 390.37 20.16 2.558 23.660 469.819 1.682 113.30 46.652 425.130 161.344 185.319 2.376 9.126 223 4.187 69.318 18.83 17.034 18.607 38 11.455 812 11.880 3.64 14.621 748.010 67.328 2.781 111.562 74.639 3.296 129.078 13 6.380 1.806 3.175 89.56 15.593 1.369 1.42 10.82 41.752 896.842 1.32 19.766 449.16 21.70 21.306.993 3.45 11.685 51 17.666 46.671 4.191 9.977 44.868 11.491 19.05 3.

282 38.244 53.50 38.469 49.92 63.Lampiran 4.97 71.85 56.667 106.556 58.684 76.68 76.77 95.963 10.628 199.43 92.94 74.667 115.122 3.51 84.110 148.67 90.88 39.744 25.458 64.31 31.58 78.43 75.625 58.51 55.600 34.058 76.832 46.10 76.093 27.03 68.387 162.905 180.451 48.037.97 82.23 CAKUPAN PEMBERIAN TABLET BESI (Fe) PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Cakupan Fe Ibu Hamil No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Ditjen Binkesmas.283.873 67.104 58.979 18.80 63.836 196.07 92.19 46.59 69.76 67.38 36.48 89.86 90.973 29.98 66.96 54.303 96.097 Fe-1 Fe-3 Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) 84.11 51.42 72.253 159.92 38.340 109.51 52.358 330.714 28.028 19.67 84.28 41.351 35.906 74.73 79.314 13.12 38.09 82.75 79.504 106.653 17.20 92.97 73.28 77.445 16.422 134.540 93.352 22.500 806.269 2.202 43.150 11.474 245.293 148.29 65.794 118.057 90.57 68.427 180.886 48.764 711.771 488.707 115.95 60.585 665.066 37.979 41.499 49.72 47.564 21.885 23.600 28.715 8.114 4.144 64.763 80.20 78.330 3.034 22.973 107.337 32.47 74.75 79.396 246.02 82.775 67.71 83.43 81.357 239.882 71.80 73.410 151.150 212.069 4.02 77.182 28.212 25.05 53.82 74.693 16.690 18.429 137.11 89.24 75.43 49.09 80.266 42.39 90.664 158.95 71.359 2.28 71.788 25.48 84.693 194.453 115.928 24.816 40.51 82.755 62.475 44.443 311.985 1.47 54.914 78.061 529.942 61.715 30.65 .064 60.915 75.254 45.680.782. Kemenkes RI Jumlah Ibu Hamil (3) 113.52 77.54 83.787 44.

21 21.16 81.502 75.50 374.201 87.103 63.92 510.31 56.272 39.851 118.280 504.728 90.11 31.778 26.260 462.99 306.79 81.53 40.20 83.024 75.33 192.136 87.449 74.550 168.922 206.39 12 Jawa Barat 471.31 500.14 16.238 (14) 33.622 90.020 763.884.728 77.746 24.031 17.825 33.172 41.381 301.953 35.825 901.54 28.400 74.384 85.57 276.038 104.38 382.20 4 Riau 89.484 89.760 82.05 265.998 64.377 44.37 24 Sulawesi Selatan 118.315 56.467 397.696 56.318.39 54.090 551.721 226.59 2.Lampiran 4.146 611.271 139.12 303.46 26 Sulawesi Tengah 40.098 2.423 546.31 20 Kalimantan Barat 88.409 258.570 63.121 62.082.115 73.574 185.212 68.17 23.226 51. Ditjen Bina Kesmas Kemenkes RI .358 4.351 86.22 414.055 107.800 76.90 41.207 79.617 86.604 99.63 27.38 31 Maluku Utara 8.331 77.837 47.430.358.786 2.894 93.532 86.620 81.537 51.817 224.531 11.82 171.333 73.333 72.887.955 65.604 87.458 38.561 29.241 691.231 96.054 87.622 143.668 90.434 183.69 65.084 3.21 6.815 211.08 87.976 90.671 77.253 79.473 80.434 98.82 431.29 2.013 238.86 584.00 6 Jambi 7 Sumatera Selatan 44.196 95.144 92.076.77 57.34 537.387 154.17 28 Gorontalo 16.293 71.862 23.91 318.30 148.799 51.405 46.217.178 97.028 2.46 127.491.04 1.907 24.382 75.433.442 77.05 169.559 12.13 41.489 731.186.47 15.335 114.98 11 DKI Jakarta 80.233 81.24 61.462 483.45 25 Sulawesi Barat 19.575 78.555 73.444 34.212 1.552 271.053 84.804 609.624 97.127 42.59 bln % (9) (10) Ibu Nifas Jumlah 6-59 bln % (11) (12) (13) % (4) (5) (6) 70.040 206.61 21 Kalimantan Tengah 34.104 88.027 640.137 80.443 72.11 237.276 62.718 82.39 32 Papua Barat 33 Papua INDONESIA 6.808 79.433 6.94 93.48 22 Kalimantan Selatan 40.435 393.870 957.45 143.96 19 Nusa Tenggara Timur 63.58 55.03 81.283 64.838.264 185.526 1.331 91.38 850.72 126.628 79.609 36.Bina Gizi Masyarakat.79 198.36 3 Sumatera Barat 61.446 236.601 21.594 85.714 31.228 17 Bali 35.903 247.875 83.143 96.83 180.28 871.031 15.35 23.283 88.191 40.941.22 386.120 31.025 100.795 96.750 64.050 84.835 78.59 bln 6-59 bln Cakupan Vitamin A Ibu Nifas 6-11bln % (7) (8) Balita 12 .380 55.550 73.034 70.33 245.60 102.11 23.76 9 Bengkulu 46.06 10.904 74.58 90.07 177.778 83.469 40.758 21.596 10.809 175.20 358.26 153.25 460.491 291.612 92.849 43.781 91.059 247.26 2.749.43 13.156 75.531 326.126 613.035 150.50 10 Lampung 178.926 43.090 204.01 13.247 213.244 941.603 27.830 98.825 166.689 70.15 19.035 1.210 82.504 78.950 221.871 78.176 82.026 3.866 100.382.201 53.45 23 Kalimantan Timur 48.865 118.98 Sumber: Dit.021.42 120.868 458.67 321.249 373.524 336.292 63.117 144.90 2.962 72.95 18 Nusa Tenggara Barat 60.076 77.624 74.271 79.704 84.917.15 71.86 727.091 94.057 21.449.738 29 Sulawesi Utara 24.930 170.32 112.338 10.845 45.945 82.455 79.729 74.08 13 Banten 128.397 84.40 5 Kepulauan Riau 33.080 89.896 772.225 613.69 27 Sulawesi Tenggara 33.57 30 Maluku 32.592 53.48 75.788 84.156 52.866 69.817 32.285 53.24 144.81 53.613 37.969 41.25 60.480 78.49 91.155 79.098 83.776 40.11 16 Jawa Timur 316.602 457.83 246.56 609.24 CAKUPAN DISTRIBUSI KAPSUL VITAMIN A MENURUT PROPINSI TAHUN 2009 No PROPINSI 6-11bln (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara (3) Sasaran Balita 12 .554 77.752 92.246 70.29 216.988 81.753 88.02 651.18 236.778 400.021 724.724 103.695 75.876 73.12 112.44 212.69 58.835 73.60 1.174 83.754 2.289.347.34 2.36 115.503 285.396 83.782 53.184 96.562 236.682.32 2.091 443.07 33.54 2.969 15 DI Yogyakarta 31.541 2.455 34.506.276 25.340 106.520 67.53 330.087 77.327 20.64 26.331 59.05 518.934 306.28 208.92 8 Kepulauan Bangka Belitung 13.434 26.36 770.61 440.171 384.000 86.22 360.357 81.855 74.95 141.23 35.87 595.912.615 86.494 188.842 61.19 114.98 14.603 71.982 84.147 46.514 12.693 83.11 329.754 143.767 83.541 101.21 23.655 35.079 420.057 61.142 81.625 70.040 75.43 14 Jawa Tengah 304.569 104.985 93.528 75.48 33.55 141.10 2.800 24.19 136.948 80.

46 64.30 78.21 57.14 52.81 55.45 61.50 57.18 63.44 68.26 75.02 56.32 63.27 54.Lampiran 4.14 71.15 62.35 75.22 62.79 62.67 59.75 63.20 55.19 65.64 54.25 52.65 64.755 ASI Eksklusif 0-6 bulan Jumlah (%) (4) (5) 178 424 319 141 132 204 141 150 80 67 122 390 383 52 397 112 82 162 453 144 115 157 165 103 157 375 200 84 94 141 74 58 127 5.25 PROPORSI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI UMUR 0-6 BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber : BPS.53 73.41 48.78 58.20 61.33 .6 bulan (3) 341 769 448 246 208 317 186 272 129 118 208 608 734 82 814 191 151 207 602 273 182 241 249 188 251 534 320 146 128 206 120 97 189 9.15 66.55 70.983 52.77 58. Susenas 2009 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jumlah Sampel Bayi 0 .79 67.

8 98.2 62.Lampiran 4.6 82.5 90.0 43.8 89.8 94.0 84.3 89.7 76.2 83.3 82.1 27.4 93.1 83.2 45.9 86.4 88.4 45.1 46.7 58.1 34.1 68.7 76.3 .9 31.7 89.0 90.2 62.0 69.3 58.7 45.26 PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MEMPUNYAI GARAM CUKUP YODIUM MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 No Provinsi Rumah Tangga Mempunyai Garam Cukup Yodium (1) (2) (3) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber : Riskesdas 2007 47.9 90.3 61.

210 8 Letusan Gunung Api 2 - - 9 Kecelakaan Industri 3 33 17 50 10 Kegagalan Teknologi 2 6 2 11 - - 11 Ledakan (bom. tabung gas.234 9.564 24 - 6.194 3 Banjir disertai Tanah Longsor 4 Tanah Longsor 5 Gelombang Pasang 13 1 - - - - 3.495 56.788 132 6 Angin Siklon Tropis (Angin Kencang dan Angin Puting Beliung) 13 4 31 222 1 2. dll) 3 9 60 2 - - 12 Konflik 4 16 45 12 - - 13 Kebakaran 5 2 4 60 - 10.Lampiran 4.209 1.971 7 Gempa Bumi 11 1.224 27 205.254 2 Banjir Bandang 11 127 28 3.387 .27 REKAPITULASI KEJADIAN BENCANA MENURUT JENIS BENCANA DAN JUMLAH KORBAN TAHUN 2009 No Jenis Bencana Jumlah Provinsi (1) (2) (3) Jumlah Korban Luka Berat/ Luka Ringan/ Rawat Inap Rawat Jalan Meninggal (4) (5) Pengungsi Hilang (6) (7) (8) 1 Banjir 23 30 25 33.771 2 205.513 1.600 6 4 \ 73 5 95 44 9. Kemenkes RI 75 - - - 1.651 - 89 5 72 696 459.083 14 Banjir Lahar Dingin 1 - - Jumlah Sumber : Pusat Penanggulangan Krisis.935 13 24.

18 9.60 11.60 9.06 6.73 7.79 8.75 14.82 13.88 34.33 15.55 8.26 18.86 7.15 7.50 8.87 6.64 11.46 15.04 10.60 4.00 Maluku 6.98 5.22 13.74 22.50 14.56 5.08 10.47 11.81 2227.64 6.01 20.06 27.38 10.57 19.01 29.19 20.90 13.20 15.67 12.10 11 DKI Jakarta 4.87 7.29 9.70 15.70 10.79 11.26 19.18 17.85 7.66 24.53 4 Riau 13.40 8.29 13.64 24.90 5.19 15.09 1.03 8.80 20.07 13.07 14.52 68.39 25.95 18.30 5.28 6.42 13.95 17.63 14.93 22.37 14.48 15.86 20.17 10.93 6.77 0.68 10.02 10.18 5.16 27.94 24.58 Indonesia Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.68 26.51 14.30 10.48 21.00 16.19 17 Bali 33.06 16.98 4.90 31 Maluku Utara 4.24 16.71 9.08 14.62 77.33 34.13 7.88 10.08 9.39 42.03 13.64 20 Kalimantan Barat 11.83 6.79 22.84 5.46 9.35 8.15 20.52 28.65 15.66 142.44 0.52 68.87 16.76 17.91 13.85 14.50 10.68 2.23 14.11 15.16 0.59 0.50 14.69 7.30 11.94 13.55 16.43 10 Kepulauan Riau 11.30 25.34 13.32 36.57 13 Jawa Tengah 9.37 1.43 25 Sulawesi Tengah 4.12 21.90 11.91 7.17 13.64 17.55 12.55 11.88 13.53 18.98 44.00 17.36 20.34 5.55 21.46 10.39 8.91 24.37 1.35 19.35 26.74 15.42 11.11 15.41 2.33 0.62 61.64 18.95 11.50 23.22 22.97 5.84 13.10 18 Nusa Tenggara Barat 14.76 14.89 13.64 35.80 21.76 10.49 10.18 2.37 5.54 3.80 7.05 10.76 5.10 12 Jawa Barat 8.78 16.58 28.23 10.39 48.26 19.51 10.75 0.65 601.56 17.29 14.14 23 Kalimantan Selatan 9.00 5 Jambi 10.20 15.68 16.07 18.84 18.22 5.25 19.25 24.62 42.95 24 Sulawesi Utara 5.38 16.23 10.76 4.50 16.95 7.14 2753.78 4.62 7.06 35.45 20.30 15 Jawa Timur 10.53 459.99 5.47 15.83 2.68 9.62 5.55 28.19 15.08 9.96 5.62 81.81 17.25 11.52 10.98 10.85 140.49 24.75 5.43 17.28 6 Bengkulu 9.24 12.11 12.00 13.95 18.87 7 Sumatera Selatan 7.09 10.52 0.84 10.53 4.68 97.64 14.71 8.63 7.56 22. Kemenkes RI .75 7. (1) (2) Antasida DOEN Antalgin tablet Amoksisilin Amoksisilin tablet 500 mg sirup kering 125 kapsul 500 mg Btl 60 ml Ktk @ 120 kap Btl @ 1000 tab Btl @ 1000 tab Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat Deksametason Dekstrometorfa Dekstrometorfa Difenhidramin inj 5 mg/ml – n Sirup 10 n Tab 15 mg HCl inj 10 Ktk @ 100 Btl 60 ml Btl @ 1000 tab Ktk @ 100 Gliserin Guaiakolat tab Btl @ 1000 tab Glukosa Ibuprofen tablet Kloramfenikol Larutan Infus 5 200 mg kapsul 250 mg Btl 500 ml Btl @ 100 tab Btl @ 250 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 1 Aceh 4.34 22.99 17.09 19.13 39.24 19.06 19.42 16.25 24.05 47.42 18.88 10.59 45.24 6.84 12.51 11.27 9.88 19.41 13.81 14.17 0.49 26.92 17.41 41.12 14 DI Yogyakarta 8.41 5.02 8.12 9.12 9.09 71.12 14.33 15.50 14.70 32.81 6.19 17.42 9.83 26 Sulawesi Tenggara 27 Sulawesi Selatan 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 10.20 22 Kalimantan Timur 9.06 18.02 9.89 76.21 9.53 19.46 8.83 25.28 21.79 14.14 13.93 3.83 8.50 15.75 10.56 49.71 14.00 33.56 14.07 18.03 7.81 42.98 8.70 19.15 12.08 18.68 2.42 17.08 9.73 10.10 9 Kep.28 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Provinsi No.32 12.93 12.43 33 Papua 4.25 33.43 9.89 39.05 32.48 7.45 17.41 12.58 17.84 5.39 36.64 8 Lampung 12.13 9.78 4.71 14.33 14.25 14.20 6.60 15.97 22.31 9.00 8.57 20.70 23.35 13.23 30.08 3.96 19.43 108.59 29.28 10.72 14.25 13.23 24.29 19.17 9.61 6.14 23.17 16.42 42.78 21.07 11.68 10.72 2 Sumatera Utara 9.64 3.90 5.12 6.90 32.70 3 Sumatera Barat 9.65 8.13 4.29 18.02 13.03 7.73 25.69 9.10 26.97 21.28 10.05 5.22 1006.70 17.83 16 Banten 7.90 18.94 3.67 19 Nusa Tenggara Timur 12.60 10.99 11.04 12.37 17.64 10.11 21 Kalimantan Tengah 12.06 6.56 12.17 9.67 16.51 26.35 32 Papua Barat 6. Bangka Belitung 14.87 14.15 12.98 6.21 19.12 7.23 9.26 38.91 20.73 28.55 14.Lampiran 4.44 15.33 90.52 14.

98 21.76 10.75 10.04 9.70 2.65 8.92 8.99 21.73 2.72 0.44 1.61 15.24 32.13 39.34 5.93 7. Provinsi (1) (2) Kotrimoksazol tablet 480 mg Btl @ 100 tab Kotrimoksazol tablet 120 mg Btl @ 100 tab Kotrimoksazol Sirup Btl 60 ml Klorfeniramini Kloroquin tablet Natrium Klorida Parasetamol Maleat tab 4 Tablet 500 mg Infus 0.40 Indonesia 6.43 114.00 14.92 53.94 14.42 16.96 15.27 16.68 15.81 10.70 18 Nusa Tenggara Barat 16.93 12.51 736.88 8.69 61.40 21.66 14.05 21 Kalimantan Tengah 17.30 18.84 26.62 20.38 11.67 2.89 34.48 25.31 4 Riau 5 Jambi 6 7 4.67 12.56 14.23 11.93 21.51 45.86 33.25 11.33 22.61 9.67 17.05 3.31 4.74 7.89 27 Sulawesi Selatan 23.03 11.15 Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.16 16.47 21.12 10.14 6.45 13.18 16.37 11.50 16.69 4.55 6.79 5.17 10.54 7.49 22.18 13.44 929.78 12.17 7.04 2.23 8.32 12 Jawa Barat 42.68 10.15 2.53 10.36 28.21 11.24 12.89 77.85 10.71 32 Papua Barat 6.36 12.95 18.29 9.44 18.31 17 Bali 20.34 33 Papua 16.79 2.53 13.73 18.25 11.31 58.89 13.01 26.04 3.06 5.81 139.13 18.51 12.90 57.14 16.00 17.49 4.52 6.60 7.03 28.97 23.23 16.46 10.22 16.90 18.19 48.38 11.46 2234.61 2.65 15.05 15.47 17.39 4.83 15 Jawa Timur 15.18 26 Sulawesi Tenggara 10.47 15.34 26.84 15.17 16.80 480.85 4.66 9.13 11.99 23.47 20.50 22.94 29 Sulawesi Barat 10.58 5.91 20.66 21.16 31.06 243.24 7.08 25.07 19 Nusa Tenggara Timur 14.28 7.77 5.95 7.79 9.38 9.25 9.79 11.75 5.59 8.64 12.00 23 Kalimantan Selatan 13.98 4.84 12.00 11.04 30.53 7.02 7.89 20 Kalimantan Barat 6.97 7.17 39.87 30.96 199.85 9 25.17 11.28 4.35 14.53 5.42 4.68 39.45 49.05 30.39 15.92 10.03 11.74 1.50 22 Kalimantan Timur 18.90 14.74 4.26 21.04 5.92 14.Lampiran 4.55 14.95 7.90 4.20 50.53 63.24 11.21 25.10 11.68 8.18 11.30 5.36 8.15 9.62 20.33 4.38 37.51 6.46 13.62 48.96 2.01 16 Banten 25.91 10.04 29.10 3.85 22.08 0.03 6.47 12.10 8.65 4.31 16.70 18.90 11.29 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat No.52 17.75 14.36 58.52 57.25 31 Maluku Utara 9.56 9.80 25 Sulawesi Tengah 260.9 % Tablet Tablet Btl 500 ml Btl @ 1000 tab Ringer Laktat Infus steril Btl 500 ml Vitamin B Kompleks Btl @ 1000 Retinol 200.54 13 Jawa Tengah 11.79 7.69 11.78 30.84 9.28 16.71 7.13 1 Aceh 2 Sumatera Utara 16.53 4.93 Sumatera Selatan 5.00 13.68 31.51 34.81 11.75 8.83 21.75 15.11 6.42 30 Maluku 23.69 0.26 11.05 9.72 52.05 9.00 10.61 42.22 10.64 16.61 8.40 8.08 11.54 17.55 6.57 17.06 25.93 10.06 22.47 34.98 34.22 5.77 14.86 16.60 8.88 39.31 8.13 15.78 20.69 15.00 8.38 10.85 32.66 0.03 2.83 13.52 36.35 .88 9.84 17.42 28 Gorontalo 24.10 0.55 9.61 16.58 7.89 25. Kemenkes RI 10.84 24.00 19.60 9.91 3.16 54.11 42.65 9.00 Kep.63 14.01 19.40 5.36 7.77 5.39 14.55 7.90 29.50 8.17 27.78 158.86 16.25 122.81 10.83 8.98 12.06 8 Lampung 2.83 3 Sumatera Barat 27.72 10 Kepulauan Riau 12.09 9.02 10.61 16.99 12.68 14.05 20.92 8.76 8. Bangka Belitung 10.94 4.25 5.18 8.38 7.83 141.10 10.98 17.40 4.41 193.000 IU Btl @ 30 Tablet Tambah darah Ktk @ 30 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 5.80 11.26 58.05 19.65 10.51 11 DKI Jakarta 41.65 13.98 23.42 6.08 38.70 13.74 34.63 7.75 45.35 25.46 9.52 14 DI Yogyakarta 18.33 10.05 Bengkulu 3.00 12.54 24 Sulawesi Utara 14.92 0.92 4.52 19.47 9.89 3.

81 9.00 0.00 3.48 17.18 26.00 3.50 12.36 9.79 17.09 25.33 4.00 22.16 11.92 5.42 8.81 Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.41 16.00 7.86 7.00 7.76 16.50 20.80 6.85 6.75 6.85 9.88 12.05 32.61 10.95 24.78 13.08 15.90 10.04 Pyrantel Pamoat 125 Pkt Salep 2-4 (10) 181.03 4.29 9.95 7.48 7.34 10.45 0.77 23.30 10.41 4.00 0.00 9.30 2. Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Bengkulu 7 Sumatera Selatan 8 Lampung 9 Kep.40 38.49 8.45 2.18 12.83 7.16 4.88 9.25 4.39 131.37 2.28 37.76 27.90 3.00 15.00 16.27 7.77 19.24 24.93 11.00 4.51 32.20 34.75 4.50 3.67 0.98 12.30 13.23 55.48 1.51 13.01 4.92 9.34 3.03 35.68 30.14 8.07 6.83 16.06 3.00 1.33 34.17 7.62 19.80 11.10 13.28 8.79 12.76 41.34 36.11 24.17 18.05 19.64 48.40 25.66 21.41 14.00 12.30 3.72 1.77 11.18 8.43 11.Lampiran 4.83 11.44 5.03 49.00 14.00 0.14 3.03 7.18 13.82 7.06 0.58 3.93 32.03 2.22 13.58 .63 2.54 9.00 12.13 Pkt 21.55 10.63 3.95 18.96 11.16 19.42 17.89 18.96 4.60 8.16 9.81 4.67 12.15 22.50 0.00 4.00 144.14 24.19 5.38 7.93 15.88 8.51 7.19 16. Kemenkes RI Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat OAT Kat 3 OAT Kat OAT Kat Anak Sisipan Tablet Botol Bungkus (7) (8) (9) 7.30 13.40 2.87 2.22 5.45 17.26 3.20 12.29 0.04 13.48 13.09 11.82 6.83 15.60 3.38 8.31 2.13 7.79 12.17 0.17 28.24 6.51 31.00 11.12 24.00 16.30 14.11 52.96 6.25 20.06 3.56 5.50 7.18 7.75 6.78 13.00 35.29 15.38 4.66 8.39 8.98 2.20 11.66 10.56 4.81 7.48 27.92 13. Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 22 Kalimantan Timur 23 Kalimantan Selatan 24 Sulawesi Utara 25 Sulawesi Tengah 26 Sulawesi Tenggara 27 Sulawesi Selatan 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Multivitamin Sirup Btl @ 100 tab Garam Oralit OAT Kat 1 OAT Kat 2 Btl @ 100 tab Btl 60 ml Tablet (3) (4) (5) (6) 23.00 11.70 7.32 7.20 9.08 3.53 5.73 4.22 0.16 27.27 8.41 9.50 14.96 46.69 45.02 4.63 12.72 0.37 6.00 12.93 17.68 18.19 7.55 15.83 34.76 8.49 5.87 Infus set anak Pkt Infus set dewasa Pkt (11) (12) (13) 9.63 102.79 7.11 8.36 27.44 18.98 4.50 24.16 16.71 11.99 8.05 10.49 7.63 3.23 8.94 14.52 10.85 5.30 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.13 12.16 28.58 28.40 29.39 14.30 14.20 9.00 0.38 5.24 0.00 0.93 5.03 0.98 4.83 3.28 33.50 1.29 14.85 17.85 7.50 2.63 18.36 7.62 8.02 2.39 14.26 10.51 45.21 7.85 3.37 25.06 6.62 0.57 18.18 19.29 11.87 24.93 33.67 35.46 28.12 2.14 9.83 52.12 317.36 5.79 29.20 6.68 15.55 13.68 14.41 5.36 10.82 10.58 10.53 12.89 10.

84 10.00 24.00 24.00 24.924.931.18 17.00 24.698.434 8.873.69 12.048.14 0.348 36.593 5.572 2.222 378.51 3.38 2.08 13.64 7.Lampiran 4.468.22 10.455.00 24.29 2.40 17.113.717.00 24.000 IU Btl @ 30 Kapsul Ktk @ 30 Tablet 23 Tablet Tambah darah Botol 24 Multivitamin Sirup Bungkus 25 Garam Oralit 26 OAT Kat 1 Pkt 27 OAT Kat 2 Pkt 28 OAT Kat 3 Pkt Pkt 29 OAT Kat Sisipan Pkt 30 OAT Kat Anak Btl @ 1000 Tablet 31 Pyrantel Pamoat 125 mg tablet Pot 32 Salep 2-4 Kantong 33 Infus set dewasa Kantong 34 Infus set anak Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.398 10.28 3.36 0.04 12.213 62.427 521.00 24.43 2.00 22.579 1.860 6.9 % steril Btl @ 1000 tab 19 Parasetamol Tablet 500 mg Btl 500 ml 20 Ringer Laktat Infus steril Btl @ 1000 Kapsul 21 Vitamin B Kompleks Kapsul 22 Retinol 200.00 24.275 346. Nama Obat Satuan (1) (2) (3) 1 Amoksisilin sirup kering 125 mg/ml Btl 60 ml Amoksisilin kapsul 500 mg Ktk @ 120 kap 2 Antasida DOEN tablet Btl @ 1000 tab 3 Antalgin tablet 500 mg Btl @ 1000 tab 4 Ktk @ 100 ampul 5 Deksametason inj 5 mg/ml – 2ml Btl 60 ml 6 Dekstrometorfan Sirup 10 mg/5ml Btl @ 1000 tab 7 Dekstrometorfan Tab 15 mg Ktk @ 100 ampul 8 Difenhidramin HCl inj 10 mg/ml-1ml Btl @ 1000 tab 9 Gliserin Guaiakolat tab 100 mg Btl 500 ml 10 Glukosa Larutan Infus 5 % steril Btl @ 100 tab 11 Ibuprofen tablet 200 mg Btl @ 250 Kapsul 12 Kloramfenikol kapsul 250 mg Btl @ 100 tab 13 Kotrimoksazol tablet 480 mg Btl @ 100 tab 14 Kotrimoksazol tablet 120 mg Btl 60 ml 15 Kotrimoksazol Sirup Tablet 16 Klorfeniramini Maleat tab 4 mg Tablet 17 Kloroquin tablet Btl 500 ml 18 Natrium Klorida Infus 0.338 671.792 12.94 14.00 24.145.08 2.24 2.00 24.707.977.18 9.542 77.256.68 0.798 248.92 17.25 1.119 2.310.298.21 0.486 2.98 14.81 21.65 3.00 24.263 228.32 9.96 9.168.772 4.00 24.269.304 4.858 3.48 7.977.36 15.370 1.705 7.438 7.07 0.25 24.968 2.00 24.668 795.883 12.054 582.89 10.06 3.151 464.75 0.075.40 0.37 7.58 11.44 0.17 0.758.179.234 1.728.031 134.159 419.867.848 9.827.121 11. Kemenkes RI Stok Obat Pemakaian Rata-rata/ Bulan (4) (5) 8.06 2.20 - 24.00 24.337 45.364 3.00 24.989 24.55 7.06 0.00 24.00 24.990 12.942 236.00 24.00 24.10 10.00 24.85 2.428.000 1.224.00 21.056 155.469.378 780 779 314 1.080 50.655 215.87 13.52 0.335 157.00 .782.87 12.00 24.066 560.00 24.29 24.281.63 0.00 24.31 REKAPITULASI DATA KECUKUPAN OBAT NASIONAL TAHUN 2009 Rekap Nasional No.782 6.453.58 Kisaran Tingkat Kecukupan MinMaks (Bulan) (7) 4.366 1.07 0.00 24.027.71 0.85 6.816.827 5.56 9.773 3.456.93 0.154.719.776 1.130.714.555 36.210.729.62 7.42 10.15 10.02 0.00 24.717 8.552 163.78 0.60 1.79 7.03 3.758 58.00 24.090 144.598 1.81 9.50 0.880 102.30 0.386 Tingkat Kecukupan (Bulan) (6) 1.626 19.00 24.810 1.00 24.29 2.787.83 5.911 7.074.00 24.635 80.762 2.393 67.

548 8.59 2.06 10.03 3.48 7.77 8.05 5.74 3.78 11.78 11.69 3.69 8.45 2.56 5.09 6.48 2.42 4.75 11.Lampiran 5.25 6. Kemenkes.02 7.83 6.05 7.26 4.002 871 117 929 180 112 134 253 211 163 204 192 142 145 374 153 55 66 142 64 83 246 301 495 227 183 158 278 142 253 50 59 351 999 842 120 940 194 114 142 278 224 169 214 205 144 144 395 208 73 70 153 91 96 236 309 500 242 176 163 284 167 264 55 61 339 1.40 4.35 5.008 849 119 944 196 114 145 288 229 169 213 207 159 165 395 223 75 77 135 96 105 266 6.42 4.05 4.06 4.67 6.75 3.27 8.25 3.09 7.08 4.21 3.50 2.05 8.24 3.13 6.01 3.58 3.06 3.84 2.67 3.87 7.84 2.02 3.53 2.2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jumlah Puskesmas 2005 2006 2007 2008 2009 2005 (3) (4) (5) (6) (7) (8) Rasio Puskesmas per 100.08 9.53 5.53 1.78 Sumber: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.000 Penduduk 2006 2007 2008 (9) (10) (11) 2009 (12) 266 426 214 150 135 242 113 224 47 41 335 996 853 117 919 173 110 128 228 207 134 192 187 119 139 347 139 45 50 109 56 60 168 274 445 224 154 140 249 126 235 47 45 342 999 858 117 930 177 110 130 251 205 154 201 186 130 144 362 159 55 62 125 62 81 236 311 463 228 156 148 259 140 248 51 51 341 1.91 6.68 7.40 2.85 14.53 7.56 2.92 3.08 3.53 5.65 4.23 5.88 8.32 5.21 3.35 6.52 5.22 3.52 5.85 3.00 5.01 6.66 3.44 2.73 6.91 3.92 3.49 6.21 6.54 7.22 3.22 3. 2009 .73 3.68 2.29 3.25 9.40 3.11 7.15 11.00 3.67 3.10 6.53 2.93 10.78 2.95 6.57 7.12 3.61 4.01 6.20 7.12 12.669 8.48 13.50 3.13 4.36 3.06 5.02 3.77 3.86 7.99 10.66 3.84 6.62 7.67 3.69 3.76 4.61 8.52 1.45 4.98 7.1 JUMLAH PUSKESMAS DAN RASIONYA TERHADAP PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .12 5.76 2.13 5.58 3.46 2.52 4.43 2.21 6.83 4.61 3.737 3.54 1.04 3.34 6.62 6.80 4.28 5.02 6.27 6.85 6.82 2.59 6.33 6.015 8.30 8.61 3.58 9.91 5.51 6.04 6.234 8.94 5.41 2.52 4.37 3.50 3.01 3.69 5.36 3.35 10.65 3.65 3.77 5.49 10.71 6.60 3.52 2.08 5.90 8.15 4.

033 .592 189 300 143 108 99 173 92 196 30 29 292 857 617 79 594 143 88 86 127 134 102 165 99 71 80 183 107 38 40 71 31 40 115 5.077 Sumber: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.551 235 351 159 138 107 201 107 216 36 35 297 859 610 79 548 152 90 56 209 142 122 172 109 78 77 227 145 56 48 124 64 70 191 6.537 Jumlah Puskesmas Non Perawatan 2005 2006 2007 2008 2009 (9) (10) (11) (12) (13) 177 328 150 111 92 167 89 193 33 24 285 864 635 85 609 155 87 82 156 137 99 159 117 63 80 200 94 31 31 78 39 38 104 5.110 194 371 161 125 107 204 130 213 35 37 288 837 615 78 579 150 87 65 195 135 114 167 107 87 102 190 154 53 46 87 69 69 182 6.518 186 341 144 107 89 173 105 168 32 34 291 852 602 79 564 146 89 76 142 140 109 164 110 77 81 185 105 37 42 83 34 50 114 5.Lampiran 5.2 JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN PUSKESMAS NON PERAWATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jumlah Puskesmas Perawatan Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2005 2006 2007 2008 2009 (3) (4) (5) (6) (7) 89 98 64 39 43 75 24 31 14 17 50 132 218 32 310 18 23 46 72 70 35 33 70 56 59 147 45 14 19 31 17 22 64 2.438 115 129 81 51 56 80 37 51 20 24 51 171 234 41 365 46 27 80 93 94 55 46 100 72 63 205 69 22 31 48 27 36 84 2.497 125 122 84 49 59 86 35 80 19 17 50 150 269 38 365 34 23 58 111 71 54 40 82 65 64 189 48 18 24 59 30 33 132 2. 2009 85 145 81 46 41 76 34 39 17 16 50 142 241 38 336 34 22 44 124 71 52 36 87 59 64 179 52 17 22 54 31 41 121 2.704 Puskesmas PONED 2009 (8) 50 62 73 32 43 45 23 55 10 18 17 143 145 27 217 42 29 39 61 18 26 54 41 34 54 67 29 19 16 26 16 0 6 1. Kemenkes.683 66 144 68 45 51 77 35 37 14 24 54 140 232 41 392 42 24 86 69 82 47 42 96 66 67 168 63 17 22 29 27 26 45 2.

654 46..133 5.85 0.57 12.226 3.650 2021 3660 2328 1142 854 2362 1274 1371 275 192 1176 5378 7529 420 8446 508 462 888 574 1014 410 1668 636 984 1080 2610 1008 280 79 574 211 532 50 51.57 0.42 6.048 7.442 2.41 0.97 0.58 0.28 1.825 595 564 898 1.500 1.992 5.12 2.58 4. Kemenkes.01 0.57 1.40 0.057 2.583 75.737 318 2.775 1.973 1.228 1.861 6.47 1.87 0.76 0.812 7.69 7.45 6.26 3.763 5.55 0.420 5.792 4.65 0.99 0. Bina Kesehatan Masyarakat.797 822 668 547 937 497 733 121 189 2 1.27 0.318 1.88 0.680 4.66 0.530 698 913 2.33 0.894 1.506 1.548 4.55 2.679 2.73 15.47 0.20 0.61 3.041 1.015 8.65 2.27 2.3 JUMLAH SARANA KESEHATAN MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Jumlah Desa / Kelurahan Puskesmas Pembantu Desa / Kelurahan / RW Siaga / Poskesdes Kader / Toma Terlatih Posyandu Rasio Desa Siaga/Poskesdes terhadap Desa/Kel Rasio Posyandu terhadap Desa/Kel (2) (3) (4) (6) (5) (9) (10) (11) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Ditjen.719 6.632 47.01 1.45 0.827 8.319 2.827 0.039 13.64 0.134 499 235 289 340 242 249 550 22.92 0.324 1.712 2.76 2.17 2.27 2.69 1.31 0.76 0.775 1.10 2.122 2.79 3.358 361 331 267 5.577 438 8. Kemenkes.455 2.93 3.190 45.097 2.291 3.72 2.510 1.439 1.06 2.502 1.91 0.Lampiran 5.538 4.88 0.09 2.96 0.060 9.63 2.83 5.649 964 1.41 0.404 1.55 .17 1.996 4500 3548 200 1950 4754 1878 4050 714 1059 990 4500 3750 714 4086 1800 780 2664 600 199 515 1770 4459 2520 1968 612 660 1248 360 1200 58.11 1.190 266.82 0.869 1.91 5.21 0. 2010 Pusat Promosi Kesehatan. 2010 6.373 256 503 481 846 779 745 574 613 447 702 1.14 0.441 1.874 1.28 0.480 948 903 4.777 1.63 0.82 1.262 3.65 0.226 919 1.76 6.24 6.

4 JUMLAH RUMAH SAKIT DI INDONESIA MENURUT PENGELOLA DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.523 . Kemenkes.202 321 1. 2010 Kemenkes/Pemda RS RS Jumlah Umum Khusus (3) (4) (5) RS Umum (6) TNI/POLRI RS Jumlah Khusus (7) (8) Kementerian Lain/BUMN RS RS Jumlah Umum Khusus (9) (10) (11) RS Umum Swasta RS Khusus (12) (13) Jumlah RS Umum (14) (15) Semua RS RS Jumlah Khusus (16) (17) 21 31 18 13 11 18 9 10 7 7 8 34 46 6 48 5 9 7 16 13 14 13 15 8 11 25 9 4 3 9 8 5 12 3 5 2 1 1 4 1 1 1 0 7 8 9 1 8 1 2 3 0 3 0 1 3 1 1 7 1 1 0 1 0 0 2 24 36 20 14 12 22 10 11 8 7 15 42 55 7 56 6 11 10 16 16 14 14 18 9 12 32 10 5 3 10 8 5 14 4 8 3 3 2 2 2 2 0 2 8 12 11 2 20 2 2 2 2 3 1 4 3 3 1 6 2 0 0 3 2 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 8 3 3 2 2 2 2 0 2 9 12 11 2 21 2 2 2 2 3 1 4 3 3 1 6 2 0 0 3 2 3 3 3 17 1 4 2 5 0 0 0 2 5 6 3 0 13 2 0 0 0 1 0 2 2 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 3 18 1 4 2 5 0 0 0 2 6 7 3 1 15 2 0 0 0 1 0 2 2 0 0 2 1 0 0 0 0 1 0 8 69 9 10 3 7 1 15 2 7 57 73 87 13 62 14 17 4 10 7 0 4 9 14 4 12 3 0 1 6 1 2 4 2 7 10 3 1 2 0 2 0 2 41 36 43 18 25 11 7 0 1 3 0 4 1 0 4 8 1 0 0 1 0 0 0 10 76 19 13 4 9 1 17 2 9 98 109 130 31 87 25 24 4 11 10 0 8 10 14 8 20 4 0 1 7 1 2 4 36 125 31 30 18 32 12 27 9 18 78 125 147 21 143 23 28 13 28 24 15 23 29 25 16 44 15 4 4 18 11 11 19 5 13 12 4 2 6 1 3 1 2 50 45 52 20 36 12 9 3 1 6 0 5 4 1 5 16 2 1 0 2 0 0 2 41 138 43 34 20 38 13 30 10 20 128 170 199 41 179 35 37 16 29 30 15 28 33 26 21 60 17 5 4 20 11 11 21 473 79 552 123 2 125 71 7 78 535 233 768 1.Lampiran 5.

603 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.182 43 13.605 44 14.2009 Tahun 2005 No Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Pengelola (1) (2) Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Kementerian Kesehatan 13 8.789 451 45.851 71 6.842 110 10.814 110 10.504 1.Lampiran 5.811 4 TNI/POLRI 110 10.079 128.012 118.074 467 47.285 416 47.834 43 13.044 13 9.821 5 Kementerian Lain / BUMN 71 6.295 1.880 71 6.483 13 8.836 110 10.575 375 41.202 141.643 71 6.029 3 Pemerintah Kab/Kota 322 33.747 6 Swasta 436 43.907 123 11.902 43 12. 2010 .784 13 8.364 441 43.5 JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR MENURUT PENGELOLA TAHUN 2005 .777 13 9.896 334 35. Kemenkes.266 535 52.033 122.375 345 37.286 1.131 2 Pemerintah Provinsi 43 12.827 71 6.750 1.064 995 116.

974 12 2.886 35 3.374 10.069 25 1.653 48 3 68 4 192 12 894 54 451 27 31 Maluku Utara 696 20 3 20 3 83 12 214 31 359 52 32 Papua Barat 686 53 8 22 3 66 10 445 65 100 15 33 Papua 1.041 23 9.503 16 16 Banten 3.312 350 8 442 10 1.653 21 1 98 6 229 14 824 50 481 29 Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.450 47 586 19 9 Bangka Belitung 861 32 4 52 6 211 25 377 44 189 22 10 Kepulauan Riau 1.1 .I. Yogyakarta 4.351 129 4 241 7 556 17 1.164 21 13 Jawa Tengah 23.254 123 4 291 9 563 17 1.6 33.163 46 3.909 44 542 13 4 Riau 2. Kemenkes.211 57 5 108 9 161 13 479 40 406 34 28 Gorontalo 510 35 7 24 5 81 16 204 40 166 33 29 Sulawesi Barat 279 28 10 22 8 58 21 125 45 46 16 30 Maluku 1.268 1.178 35 Sumatera Utara 13.167 37 4.651 39.936 12 5.727 322 7 588 12 840 18 2.5 36.100 20.141 323 8 506 12 911 22 1.250 22.218 85 3 284 9 642 20 1.305 7.547 48 730 22 21 Kalimantan Tengah 1.265 22 7.368 1.160 39 654 22 5 Jambi 1.448 129 5 273 11 426 17 1.404 7 2.556 24 14 D.Lampiran 5.142 11 4.319 154 5 411 12 693 21 1.542 48 665 21 25 Sulawesi Tengah 1.126 13 3.294 10 2.650 21 5.662 151 9 210 13 300 18 571 34 430 26 6 Sumatera Selatan 4.432 35 969 23 15 Jawa Timur 22.362 20 12 Jawa Barat 19.268 30 27 Sulawesi Tenggara 1.247 37 1.315 17 6.334 10 2.123 32 865 25 18 Nusa Tenggara Barat 1.544 638 5 1.6 JUMLAH TEMPAT TIDUR DI RUMAH SAKIT UMUM DAN RUMAH SAKIT KHUSUS MENURUT KELAS PERAWATAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Total Tempat Tidur (3) VIP Jumlah % (4) Kelas Perawatan Kelas II Jumlah % Kelas I Jumlah (5) % (6) (7) (8) Kelas III (9) Jumlah % (10) (11) Tanpa Kelas Jumlah % (12) (13) 3.952 45 3.491 23 7.5 17.473 392 11 457 13 636 18 1.439 247 10 230 9 464 19 994 41 504 21 23 Kalimantan Timur 3.198 46 779 16 7 Bengkulu 987 55 6 56 6 130 13 210 21 536 54 8 Lampung 3.186 16 2.523 32 5.680 12. 2010 163.983 266 9 303 10 600 20 1.998 1.602 112 7 167 10 289 18 818 51 216 13 19 Nusa Tenggara Timur 2.601 7 2.708 73 4 196 11 279 16 712 42 448 26 26 Sulawesi Selatan 7.171 10 5.094 23 3 Sumatera Barat 4.191 36 870 26 17 Bali 3.756 37 2.588 91 6 166 10 270 17 647 41 414 26 11 DKI Jakarta 16.447 473 6 764 10 1.2 64.054 92 9 88 8 150 14 394 37 330 31 22 Kalimantan Selatan 2.575 280 8 327 9 702 20 1.574 2.091 253 8 251 8 551 18 1.458 41 808 23 24 Sulawesi Utara 3.039 42 581 24 20 Kalimantan Barat 3.

203 .274 909 2.062 118 29.619 9.210 711 1.440 442 2.152 648 441 640 212 282 0 353 0 0 348 14 18 14 8 9 9 3 6 3 7 1 15 20 2 19 1 4 6 4 7 5 10 8 4 6 20 5 1 2 2 3 4 5 1.382 594 586 965 179 533 296 480 214 1.361 673 2.657 299 68 119 147 278 394 522 4 3 2 4 1 7 4 2 4 0 0 2 6 0 4 0 0 0 11 4 7 1 1 1 3 1 3 2 1 5 4 0 5 204 133 127 265 50 340 200 100 220 0 0 92 372 0 220 0 0 0 790 200 265 50 50 75 153 26 150 100 102 265 200 0 292 21 31 18 13 11 18 8 10 7 7 8 34 46 6 48 5 9 7 16 13 14 13 14 6 11 25 9 4 3 8 7 4 11 1.752 3.682 2.309 1.463 1.640 1.051 3.793 989 1.445 516 480 3.041 465 66.903 661 450 221 765 478 394 1.299 6.052 2. Kemenkes.804 1.162 10 8.809 4.793 3.031 92 5.069 245 24. 2010 Kelas B Kelas C Kelas D Total Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Tempat Tidur (12) 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 2 1 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 600 0 0 0 0 0 0 0 0 1.405 1.034 852 1.658 1.960 903 593 289 284 458 329 565 1.050 1.576 1.Lampiran 5.202 980 1.565 1.264 0 698 0 0 0 0 0 0 0 0 580 0 0 0 0 0 0 0 3 9 2 1 1 2 1 2 0 0 6 16 18 3 23 4 4 1 1 2 2 2 5 1 2 3 1 1 0 1 0 0 1 525 1.023 1.349 86 367 761 502 544 386 790 602 466 458 1.189 1.056 415 273 905 332 812 0 0 2.290 504 4.546 9.7 JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR MILIK KEMENKES/PEMDA MENURUT KELAS RUMAH SAKIT DAN PROVINSI TAHUN 2009 Kelas A No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.

446 22 2.947 286 20.427 57 1.133 22 2. 2010 .591 11 RS Khusus Lainnya 56 1.533 57 2.388 74 3.137 22 2.788 321 22.412 292 20.2009 No Jenis Rumah Sakit (1) (2) Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 RS TT RS TT RS TT RS TT RS TT (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 RS Jiwa 51 8.804 95 4.516 66 1.206 2 RS Kusta 22 2. Kemenkes.577 61 2.556 79 3.480 280 19.168 22 2.762 273 20.077 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.726 51 8.629 69 3.450 57 1.630 51 8.527 51 8.635 57 2.224 3 RS Tuberkulosa Paru 9 766 9 718 10 757 11 782 10 731 4 RS Mata 10 475 10 459 10 418 10 418 11 423 5 RS Ortopedi 1 187 1 187 1 187 1 187 1 127 6 RS Penyakit Infeksi 1 127 1 144 1 144 1 144 1 144 7 RS Jantung 2 234 2 234 2 234 2 239 2 222 8 RS Kanker 1 129 1 172 1 172 1 172 1 172 9 RS Bersalin 56 2.781 51 9.475 10 RS Ibu dan Anak 64 3.8 JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DAN TEMPAT TIDURNYA MENURUT JENIS RUMAH SAKIT TAHUN 2005 .420 57 1.Lampiran 5.458 57 2.

Kemenkes.Lampiran 5.293 125 164 214 416 507 600 515 453 492 TOTAL Sumber: Ditjen Binfar dan Alkes.9 JUMLAH SARANA PRODUKSI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2007-2009 NO PROVINSI (1) (2) Industri Farmasi Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) Industri Obat Tradisional (IOT) Perbekalan Kesehatan dan Rumah Tangga (PKRT) Produksi Alat Kesehatan Industri Kosmetika 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 2009 (20) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 0 2 2 0 4 Kepulauan Riau 0 2 2 0 5 Riau 0 0 0 0 6 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 7 Jambi 1 1 8 Bengkulu 0 9 Sumatera Selatan 10 Lampung 11 Banten 12 DKI Jakarta 22 22 23 7 7 7 28 28 116 29 37 46 84 103 120 99 20 70 13 Jawa Barat 76 77 91 32 32 32 184 184 184 49 63 80 137 162 192 108 108 107 14 Jawa Tengah 31 31 25 0 0 0 36 36 282 11 14 18 42 50 55 45 45 26 15 DI Yogyakarta 1 1 1 0 0 0 42 42 40 3 3 3 2 3 3 8 8 0 16 Jawa Timur 59 54 54 17 17 17 343 411 388 13 17 25 55 64 80 150 150 151 17 Bali 1 1 1 0 0 0 13 13 12 0 0 0 0 0 0 2 5 24 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 9 9 9 1 2 3 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 9 9 10 0 0 0 2 2 1 0 0 0 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 24 26 29 0 0 0 2 2 3 18 19 20 23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 11 15 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 8 9 9 0 0 0 2 3 3 0 0 0 25 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 26 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 27 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Sulawesi Selatan 0 0 0 0 0 0 8 10 13 0 0 0 1 1 2 0 0 0 29 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 Maluku 0 0 0 0 0 0 4 6 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 231 232 238 60 67 78 862 951 1. 2010 0 0 0 0 0 0 0 0 10 0 0 1 1 2 3 0 0 0 10 10 9 2 3 3 78 78 79 6 9 13 22 26 37 39 41 41 0 0 11 11 13 1 1 1 2 3 3 6 15 13 0 0 0 0 0 2 2 1 1 1 1 0 0 0 0 0 4 4 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 4 4 0 0 0 2 2 2 1 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 2 2 2 5 6 6 1 1 1 2 3 3 1 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 3 3 3 0 0 0 30 30 28 0 6 17 43 47 54 9 15 20 56 76 87 38 38 37 .

162 1. Kemenkes.586 1.820 361 361 361 13 17 23 0 0 0 15 DI Yogyakarta 55 42 44 123 355 359 43 52 57 3 4 5 28 96 96 16 Jawa Timur 370 461 461 890 1.816 10.821 6.743 2.746 349 732 604 435 499 618 268 268 268 13 Jawa Barat 343 365 393 1. 2010 5 5 6 36 55 61 42 41 40 0 0 0 41 25 18 123 134 134 210 468 518 451 436 116 2 2 3 59 150 150 19 13 13 62 105 109 96 165 165 0 0 0 64 90 139 3 6 6 34 34 54 25 25 29 0 0 0 12 64 42 15 18 19 47 60 59 80 125 125 0 0 0 32 62 77 .611 3.230 2.296 3.586 218 218 217 22 27 34 399 274 274 17 Bali 81 81 82 179 383 462 104 159 165 2 3 4 52 109 96 18 Nusa Tenggara Barat 31 38 38 34 162 173 100 102 102 0 0 0 6 92 92 19 Nusa Tenggara Timur 27 27 28 39 103 103 81 183 183 0 0 0 99 153 153 20 Kalimantan Barat 67 69 74 99 130 160 244 270 337 0 0 0 82 97 107 21 Kalimantan Tengah 11 14 15 80 84 126 148 162 141 0 0 0 0 49 50 22 Kalimantan Selatan 69 59 61 134 171 199 233 433 460 0 0 0 135 154 159 23 Kalimantan Timur 45 52 47 197 263 349 315 300 336 0 0 0 80 111 152 24 Sulawesi Utara 43 43 43 100 122 139 49 40 73 0 0 0 82 109 143 25 Sulawesi Barat 0 1 1 29 28 45 33 33 44 0 0 0 0 8 8 26 Sulawesi Tengah 31 23 24 41 124 148 112 112 174 0 0 0 35 102 103 27 Gorontalo 28 Sulawesi Selatan 29 Sulawesi Tenggara 30 Maluku Utara 31 Maluku 32 Papua Barat 13 13 13 57 71 75 45 44 46 0 0 0 2 2 3 33 Papua 36 38 37 83 127 142 94 13 14 0 0 0 108 151 212 2.789 2.671 5.256 420 872 872 43 58 73 295 244 244 14 Jawa Tengah 328 329 325 522 522 1.953 567 667 826 2.Lampiran 5.256 2.566 TOTAL Sumber: Ditjen Binfar dan Alkes.940 7.10 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Pedagang Besar Farmasi NO PROVINSI (1) (2) Toko Obat Apotek Penyalur Alat Kesehatan (PAK) Sub Penyalur Alat Kesehatan (Sub PAK) 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 71 4 Kepulauan Riau 20 5 Riau 44 6 Kepulauan Bangka Belitung 6 7 Jambi 31 8 Bengkulu 9 2009 (17) 58 51 52 119 170 209 534 576 560 0 0 0 98 99 125 110 103 106 386 769 768 259 738 737 10 13 15 0 128 128 74 81 193 296 295 361 482 478 0 0 0 101 57 89 28 33 98 129 160 286 336 377 2 2 2 19 38 55 81 91 269 313 346 290 328 546 2 3 5 195 235 235 10 14 46 62 70 72 79 92 2 2 2 28 30 30 47 49 121 151 166 137 167 176 0 0 0 85 44 55 17 17 19 77 96 99 104 95 90 0 0 0 64 72 72 Sumatera Selatan 88 95 95 175 225 243 97 95 114 5 5 4 91 106 106 10 Lampung 74 48 53 162 212 225 123 157 113 1 1 1 39 65 65 11 Banten 34 79 81 137 137 401 9 9 9 25 31 37 12 12 20 12 DKI Jakarta 521 279 283 807 1.915 7.931 13.

5 6.3 23.8 0.5 9. 2010 67 52 18 7 1 21 26 2 1 1 1 15 2 3 1 2 1 221 30.9 0.5 0.5 100 .Lampiran 5.5 8.11 JUMLAH INSTITUSI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES) MENURUT JURUSAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jurusan / Program Studi (1) (2) (3) (4) (6) (7) (8) (9) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Perekam Informasi Kesehatan Ortotik Prostetik Teknik Gigi Teknik Radiodiagnostik Teknik Elektromedik Akupunktur Terapi Wicara Okupasi Terapi (10) KETEKNISIAN MEDIS Analis Kesehatan KETERAPIAN FISIK GIZI Gizi Kesehatan Lingkungan Analis Farmasi & Makanan Farmasi (5) KESMAS Fisioterapi KEFARMASIAN Kesehatan Gigi Poltekkes Kebidanan No Keperawatan KEPERAWATAN (17) (18) (19) TOTAL (20) 1 Banda Aceh 3 3 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 2 Medan 1 3 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9 3 Pekanbaru 2 2 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 4 Padang 2 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 5 Jambi 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 6 Bengkulu 3 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8 7 Palembang 2 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 8 Tanjung Karang 2 2 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8 9 Jakarta I 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 4 10 Jakarta II 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 7 11 Jakarta III 3 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 12 Bandung 3 4 1 0 0 1 1 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 12 13 Tasikmalaya 2 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 14 Yogyakarta 5 3 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 13 15 Semarang 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 7 16 Surakarta 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 17 Surabaya 4 3 1 0 0 2 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 12 18 Malang 3 3 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 19 Denpasar 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 7 20 Mataram 2 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5 21 Kupang 3 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 22 Pontianak 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 23 Palangkaraya 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 24 Samarinda 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 25 Banjarmasin 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 4 26 Palu 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 27 Makassar 2 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 28 Kendari 2 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9 29 Manado 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 30 Gorontalo 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 31 Ambon 3 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 32 Ternate 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 33 Jayapura 7 2 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 TOTAL % Sumber: BPPSDM Kesehatan.2 0.4 0.5 0.8 0.5 11.1 3.5 0.9 0. Kemenkes.9 1.

48 . 2010 30 3 2 67 0 0 2 100 0 0 1 33 12 5 42 0 0 5 100 0 0 7 58 221 180 81.45 77 42.3 7 3.8 96 53.12 JUMLAH JURUSAN/PROGRAM STUDI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES) MENURUT AKREDITASI DAN STRATA TAHUN 2009 Strata No Poltekkes Jumlah Jurusan/Program Studi (1) (2) (3) Jurusan Terakreditasi Belum Terakreditasi A B C Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) (8) (9) (12) (13) (14) (15) 1 Banda Aceh 10 7 70 1 14 6 86 0 0 3 2 Medan 9 9 100 2 22 5 56 2 22 0 0 3 Pekanbaru 7 6 86 5 83 1 17 0 0 1 14 4 Padang 5 2 40 0 0 2 100 0 0 3 60 5 Jambi 4 4 100 2 50 2 50 0 0 0 0 6 Bengkulu 8 8 100 0 0 8 100 0 0 0 0 7 Palembang 6 2 33 2 100 0 0 0 0 2 33 8 Tanjung Karang 8 7 88 0 0 7 100 0 0 1 13 9 Jakarta I 4 3 75 2 67 1 33 0 0 0 0 10 Jakarta II 7 7 100 4 57 3 43 0 0 0 0 11 Jakarta III 6 6 100 6 100 0 0 0 0 0 0 12 Bandung 12 11 92 9 82 2 18 0 0 0 0 13 Tasikmalaya 5 5 100 5 100 0 0 0 0 0 0 14 Yogyakarta 6 6 100 4 67 2 33 0 0 0 0 15 Semarang 13 11 85 9 82 2 18 0 0 2 15 16 Surakarta 7 4 57 2 50 2 50 0 0 3 43 17 Surabaya 12 12 100 7 58 5 42 0 0 0 0 18 Malang 7 7 100 5 71 2 29 0 0 0 0 19 Denpasar 7 5 71 2 40 3 60 0 0 0 0 20 Mataram 5 5 100 3 60 2 40 0 0 0 0 21 Kupang 8 7 88 0 0 7 100 0 0 1 13 22 Pontianak 6 4 67 2 50 2 50 0 0 2 33 23 Palangkaraya 3 2 67 0 0 2 100 0 0 1 33 24 Samarinda 6 6 100 3 50 3 50 0 0 0 0 25 Banjarmasin 4 2 50 1 50 1 50 0 0 2 50 26 Palu 6 4 67 0 0 4 100 0 0 2 33 27 Makassar 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Kendari 4 4 100 0 0 4 100 0 0 0 0 29 Manado 9 8 89 1 13 7 88 0 0 1 11 30 Gorontalo 3 3 100 0 0 0 0 3 100 0 0 31 Ambon 6 6 100 0 0 4 67 2 33 0 0 32 Ternate 33 Jayapura Jumlah Sumber: BPPSDM Kesehatan.9 32 14. Kemenkes.Lampiran 5.

13 JUMLAH INSTITUSI NON POLITEKNIK KESEHATAN (NON-POLTEKKES) MENURUT JURUSAN/PROGRAM STUDI DAN PROVINSI TAHUN 2009 (4) (8) (9) (10) (12) (13) (14) (15) (17) (18) (19) (20) (21) (22) D-III Kardiovaskuler D-I PTTD ATEM APIKES ARO AAK ATG SMAK (16) ATRO Keteknisian Medis D-III AKUPUNTUR ATW AKFIS AKL (11) Keterapian Fisik Gizi AKZI Kesmas AKFAR (7) AKAFARMA (6) SMKF (5) SMF AKG (3) AKBID (2) (1) Kefarmasian AKPER Provinsi SPRG No SPK Keperawatan (23) (24) Jumlah (25) (26) 1 Aceh 1 0 14 33 0 0 0 1 1 1 0 2 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 57 2 Sumatera Utara 0 0 42 53 0 4 0 3 1 1 2 2 0 0 1 0 2 1 1 0 1 0 0 114 3 Sumatera Barat 0 0 13 10 0 1 0 1 3 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 2 0 0 0 34 4 Riau 0 0 7 20 0 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 34 5 Jambi 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 5 6 Sumatera Selatan 0 0 7 6 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 15 7 Bengkulu 0 0 12 16 0 1 0 0 2 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 35 8 Lampung 0 0 4 4 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 5 10 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 17 10 Kepulauan Riau 1 0 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 11 DKI Jakarta 1 2 31 21 0 8 0 2 2 1 2 2 1 0 2 1 0 1 2 2 1 1 1 84 12 Jawa Barat 0 0 14 12 0 4 40 0 2 0 0 1 0 0 0 0 2 1 1 1 0 0 0 78 13 Jawa Tengah 2 0 44 52 0 4 0 3 12 3 2 3 0 0 2 0 4 1 2 6 2 0 0 142 14 DI Yogyakarta 0 0 4 9 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 15 Jawa Timur 0 0 5 2 0 1 0 0 2 0 0 0 0 3 0 0 1 1 0 2 1 1 0 19 16 Banten 0 1 42 27 0 5 2 3 2 1 2 2 0 0 1 1 4 0 1 2 0 0 0 96 17 Bali 1 0 1 2 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 7 18 Nusa Tenggara Barat 1 0 4 7 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 16 19 Nusa Tenggara Timur 2 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 20 Kalimantan Barat 0 0 6 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 21 Kalimantan Tengah 0 0 3 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 7 22 Kalimantan Selatan 0 0 6 6 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 23 Kalimantan Timur 0 0 6 7 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 24 Sulawesi Utara 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 25 Sulawesi Tengah 0 0 5 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 26 Sulawesi Selatan 1 1 24 19 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 52 27 Sulawesi Tenggara 0 0 6 2 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 12 28 Gorontalo 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 31 Maluku Utara 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 3 10 4 319 329 1 33 44 15 43 13 9 16 1 3 8 2 22 9 8 20 7 2 1 919 JUMLAH Sumber: BPPSDM Kesehatan.Lampiran 5. Kemenkes. 2010 .

4 0 .4 546 59. 2010 78.2 428 46 8. Kemenkes.Lampiran 5.59 Jumlah Sumber: BPPSDM Kesehatan.14 JUMLAH INSTITUSI NON POLITEKNIK KESEHATAN (NON-POLTEKKES) MENURUT AKREDITASI DAN STRATA TAHUN 2009 Strata Institusi yang Belum Terakreditasi No Provinsi Jumlah Institusi (1) (2) (3) A B C telah terakreditasi Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 57 1 4 21 75 6 21 28 49 29 51 114 4 5 61 75 16 20 81 71 33 29 3 Sumatera Barat 34 2 10 16 4 Riau 34 2 13 13 76 3 14 21 62 13 38 87 0 0 15 44 19 56 5 Jambi 5 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 15 0 0 9 100 0 0 9 0 5 100 60 6 7 Bengkulu 35 3 13 15 65 5 22 23 66 40 12 34 8 Lampung 9 1 20 4 80 0 0 5 56 4 44 9 Kepulauan Bangka Belitung 17 0 0 10 91 1 9 11 65 6 35 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 4 0 0 2 100 0 0 2 50 2 50 84 7 10 65 89 1 1 73 87 11 13 12 Jawa Barat 78 3 19 13 81 0 0 16 21 62 79 13 Jawa Tengah 142 16 17 71 76 6 6 93 65 49 35 14 DI Yogyakarta 16 1 11 8 89 0 0 9 56 7 44 15 Jawa Timur 99 20 27 54 72 1 1 75 76 24 24 16 Banten 15 1 20 4 80 0 0 5 33 10 67 17 Bali 7 0 0 3 100 0 0 3 43 4 57 18 Nusa Tenggara Barat 16 1 25 3 75 0 0 4 25 12 75 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 7 0 22 Kalimantan Selatan 15 4 23 Kalimantan Timur 16 2 24 Sulawesi Utara 5 0 25 Sulawesi Tengah 7 1 26 Sulawesi Selatan 52 27 Sulawesi Tenggara 12 28 Gorontalo 2 29 Sulawesi Barat 30 5 0 0 3 100 0 0 3 60 2 40 11 2 25 6 75 0 0 8 73 3 27 0 3 100 0 0 3 43 4 57 40 6 60 0 0 10 67 5 33 25 5 63 1 13 8 50 8 50 0 4 80 1 20 5 100 0 0 14 5 71 1 14 7 100 0 0 1 5 14 74 4 21 19 37 33 63 0 0 7 100 0 0 7 58 5 42 0 0 1 100 0 0 1 50 1 50 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Maluku 1 0 0 1 100 0 0 1 100 0 0 31 Maluku Utara 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 100 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 3 0 0 1 100 0 0 1 33 2 67 919 72 13.41 373 40.

Kemenkes.45 1 0 1 0 0 0 1 0 0 3 30 3. 2010 2 69 18 0 0 89 3 16 1 3 0 23 5 234 310 1 1 551 10 319 329 4 1 663 0 0 0 2 2 3 0 0 1 4 30 44 15 40 129 33 44 15 43 135 1 1 0 0 12 12 13 13 1 1 0 0 8 8 9 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 0 1 3 20 16 0 1 3 20 1 2 0 0 0 0 0 0 0 3 96 10. Jenis Tenaga Kesehatan Pemda TNI / Polri Swasta Jumlah (2) (3) (4) (5) (6) (1) A B C D E F KEPERAWATAN 1 Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) 2 Akademi Keperawatan (AKPER) 3 Akademi Kebidanan (AKBID) 4 Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG) 5 Akademi Kesehatan Gigi (AKG) Sub Total KEFARMASIAN 1 Sekolah Menengah Farmasi (SMF) 2 SMKF 3 Akademi Analis Farmasi dan Makanan (AKAFARMA) 4 Akademi Farmasi (AKFAR) Sub Total KESEHATAN MASYARAKAT 1 Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Sub Total GIZI 1 Akademi Gizi (AKZI) Sub Total KETERAPIAN FISIK 1 Akademi Fisioterapi (AKFIS) 2 Akademi Okupasi Terapi (AOT) 3 Akademi Terapi Wicara (ATW) 4 Akademi Akupunktur Sub Total KETEKNISIAN MEDIS 1 Sekolah Menengah Analis Kesehatan (SMAK) 2 Akademi Analis Kesehatan (AAK) 3 Akademi Tekniker Gigi (ATG) 4 D-I Pendidikan Teknik Transfusi Darah (PTTD) 5 Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO) 6 Akademi Perekam Informasi Kesehatan (APIKES) 7 Akademi Teknik Elektromedik (ATEM) 8 Akademi Refraksionis Optisi (ARO) 9 Akademi Teknik Kardiovaskuler Sub Total Total % Sumber: BPPSDM Kesehatan.26 6 20 1 2 8 20 6 9 1 73 793 86.Lampiran 5.29 8 22 2 2 8 20 7 9 1 79 919 100 .15 JUMLAH INSTITUSI DIKNAKES NON-POLTEKKES MENURUT STATUS KEPEMILIKAN TAHUN 2009 No.

673 7.449 1.145 1.234 2.255 352 361 1.Lampiran 5.182 850 2.837 4.490 20.489 4.200 4.582 .542 8.775 2. Kemenkes.16 REKAPITULASI DATA SDM KESEHATAN PER PROVINSI KEADAAN DESEMBER 2009 MEDIS NO KEPERAWATAN KEFARMASIAN PROVINSI Dokter Spesialis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Gorontalo Maluku Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Perawat Gigi Bidan 6.568 6.763 840 4.307 50.948 346 1.862 12.858 285 12.456 456 988 516 437 402 435 203 236 474 305 296 337 618 728 151 139 170 451 Keterapian Fisik Keteknisian Medis Jumlah Nakes SDM Non Nakes Total SDM Kesehatan Sanitarian 467 626 523 315 118 34 27 231 20 176 1.253 952 3.796 8.364 12.247 9.303 3.657 5.165 776 789 493 532 611 673 115 255 168 236 1.234 2.951 12.762 10 2.466 4.517 28.917 3.975 563 794 1.186 1.985 129 TOTAL 9.050 410.959 20.326 21.851 3.086 3.221 106 8.337 1.798 8.582 297 370 115 176 199 90 167 269 61 59 297 64 39 62 97 36 8.193 445 493 575 416 530 831 599 352 981 233 150 172 345 203 188 1.268 13.543 13.563 3.762 12.788 Sumber : Dinas Kesehatan seluruh Indonesia.986 14.540 51.956 35.341 255 12.945 14.071 1.244 893 Sarjana Farmasi & Apoteker 460 851 204 259 132 142 94 197 42 74 758 252 1.930 17.953 253 16.705 6. 2010 984 93.917 7.686 7.473 640 632 95 112 102 168 78 101 121 204 112 228 122 133 26 45 47 208 KESMAS Tenaga Gizi Asisten Aptoteker 368 166 654 388 428 120 208 287 140 114 108 991 837 763 2.007 1.119 35 827 73 66 179 178 144 5 47 3.521 4.745 6.010 6.912 46.602 1.298 13.023 3.715 968 1.083 1.119 322 348 138 53 80 209 52 135 725 946 976 443 1.424 10.048 3.971 995 2.419 2.182 7.765 21.576 11.138 17.030 5.291 6.568 410.588 5.298 1.646 1.532 2.574 2.385 5.068 1.617 54 192 28 2.007 1.633 71.792 14.030 71.057 519.581 10.467 1.887 1.032 6.061 2.319 2.035 2.483 15.682 215 28.279 1.214 9.470 4.395 2.532 6.308 2.086 2.072 509 570 6.613 5.275 1.947 342 4.532 109.177 12.994 5.394 337 371 433 381 372 246 454 261 375 102 452 540 77 70 221 239 311 96 112 83 48 44 30 55 17 23 195 103 583 115 243 192 76 37 88 29 28 41 71 92 22 98 30 18 34 17 39 1.656 200 423 155 44 132 90 128 297 79 85 267 23 46 38 40 44 1.410 7.786 2.191 785 1.035 954 634 547 368 120 206 524 156 160 573 1.384 TOTAL PER KATEGORI 51.277 2.303 2.957 1.531 314 903 225 380 153 474 329 247 384 158 284 28 498 134 79 48 18 37 685 564 335 233 420 351 207 260 95 56 83 1.905 8.659 895 938 521 282 395 785 228 456 896 2.150 975 2.002 2.389 13.483 5.433 183 364 266 520 351 232 501 465 18 86 214 142 41 95 29 130 22.113 1.119 3.948 10.774 173.332 32 2.940 13. melalui pengumpulan data Badan PPSDMK.889 278.985 2.849 6.906 1.387 3.666 2.394 308 395 155 467 237 106 442 363 242 171 256 148 37 41 53 46 Sarjana Kesmas 1.633 27.310 5.128 3.601 9.399 6.289 53 13.077 6.291 163 11.401 294 1.153 222 380 386 604 337 243 449 332 427 326 393 450 79 75 236 102 544 729 477 293 171 203 140 241 109 106 354 946 1.050 489 109.163 4.155 1.988 1.188 258 1.985 98 15.702 7.027 2.826 6.436 2.951 583 616 361 368 299 151 103 178 90 60 180 1.662 19.956 10.379 3.458 16.917 11.025 3.446 8.663 16.067 6.575 2.755 2.499 8.399 24.706 20.545 12.480 2.036 1.801 4.908 1.683 11.436 2.317 9.957 517 298 280 674 238 25.

396 215.011 29 141 121 297 257 40 3 4.188 344 5.142 2.672 393 274 422 727 706 69 624 23.746 409 14. Kemenkes.981 300 6.968 15 Jawa Timur 942 1.248 322 4.417 290 4.259 286 2.773 10 Kepulauan Riau 64 200 60 1.835 82 1.567 36 203 143 306 256 5 160 4.517 33 Papua 287 299 70 2.109 350 6.17 JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS MENURUT JENIS DAN PROVINSI TAHUN 2010 No Provinsi Jumlah Puskesmas yang terdata tenaganya (2) (3) (1) Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Perawat Gigi Bidan Apoteker & S1 Farmasi Asisten Apoteker (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) Kesmas Sanitarian (13) (14) Keterapian Keteknisia Fisik n Medis Gizi (15) (16) (17) Jumlah JUMLAH TENAGA NON KESEHATAN TOTAL SDM KESEHATAN (19) (20) (21) 1 Aceh 291 534 97 4.461 86 1.645 34 1.772 25 Sulawesi Tengah 178 164 53 1.379 4.509 24.401 60 53 180 283 90 0 47 4.164 36 178 117 137 123 3 109 6.910 530 4.025 1.394 32.776 29.486 1.198 15 73 97 128 146 2 145 4.Lampiran 5.986 742 5.730 118 2.332 29 Sulawesi Barat 101 100 21 689 62 422 22 26 132 185 135 0 1 1.673 2 Sumatera Utara 513 1.112 28.311 TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.896 12 Jawa Barat 1.707 6 Sumatera Selatan 214 188 39 1.338 122 1.071 30 105 128 195 147 0 91 4.623 23 Kalimantan Timur 224 427 179 2.337 41 262 160 481 267 13 178 7.130 298 906 45 84 331 329 338 0 19 4.546 226 4.570 26 Sulawesi Selatan 393 318 270 2.689 7.141 76.796 165 1.728 224 1.847 77.159 196 115 57 161 189 0 60 4.421 8 Lampung 267 411 141 2.737 499 6.833 777 5.621 111 54 174 264 117 2 46 5.728 17 Bali 117 346 192 1.973 91 2.329 13 Jawa Tengah 871 1.958 20 Kalimantan Barat 227 225 58 2.177 244 5.024 886 7.064 32 Papua Barat 120 103 13 1.603 626 7.505 280 1.253 121 722 265 800 778 19 654 24.387 228 4.270 210 3.744 607 6.615 22 Kalimantan Selatan 188 256 118 1.549 11 167 76 212 86 15 178 4.053 194 2.961 30 Maluku 159 94 152 1.140 230 1.544 350 4.481 19 118 100 265 266 2 228 5.181 7.305 591 2.151 76 65 269 214 133 11 48 5.665 762 7.155 3 Sumatera Barat 245 442 207 1.862 237 2.273 306 1.049 919 3.743 5.254 78 1.115 36 564 30 54 33 49 63 3 47 2.451 66 2.509 13. 2010 .796 12 278 188 205 200 2 173 6.229 4 Riau 174 527 196 2.042 564 5.054 723 7.857 214 5.213 34 75 170 240 134 0 69 5.452 422 262 438 814 721 8 351 20.545 11 DKI Jakarta 25 327 292 582 80 535 22 63 30 52 201 5 32 2.053 16 Banten 205 379 202 1.615 158 1.252 41 577 239 268 358 36 165 13.385 129 2.659 7.820 3.393 21 622 36 26 52 75 98 0 10 2.680 158 163 552 482 277 38 203 12.817 19 Nusa Tenggara Timur 300 260 130 2.835 788 5.701 6.822 5.766 337 5.662 379 2.591 154 2.103 28 Gorontalo 61 75 35 587 36 312 22 17 52 44 45 6 23 1.370 85 221 509 365 353 44 159 7.716 957 13.995 360 1.018 799 6.744 8.236 9 Kepulauan Bangka Belitung 55 113 32 703 67 414 35 25 65 54 64 0 43 1.071 8.777 27 Sulawesi Tenggara 233 230 56 2.606 7 Bengkulu 152 173 68 2.040 228 1.133 43 20 161 123 128 3 47 4.691 133 808 18 25 30 128 174 3 13 3.067 174 2.940 7.610 24 Sulawesi Utara 165 332 46 2.405 10 104 67 233 116 1 66 3.934 14 DI Yogyakarta 120 321 169 801 237 762 90 73 78 151 137 8 221 3.480 31 Maluku Utara 105 101 18 842 23 551 50 22 137 78 119 7 23 1.092 10.889 21 Kalimantan Tengah 176 258 58 1.673 1.459 5 Jambi 163 85 85 1.346 543 5.535 245.170 788 7.440 18 Nusa Tenggara Barat 149 250 87 2.468 711 10.950 184 1.081 447 3.310 30 98 171 344 322 5 160 6.

18 RASIO DOKTER UMUM.63 8.66 8 Lampung 267 411 141 2.28 12.405 2.58 12.04 0.76 10.05 0.87 7.92 0.07 TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.025 1.385 2.13 25 Sulawesi Tengah 178 164 53 1.29 9 Bangka Belitung 55 113 32 703 414 2.99 0.44 5 Jambi 163 85 85 1.76 12.71 12.03 1.47 0.701 6.69 7.00 0.11 0.024 7.68 6.130 906 0.981 6.40 12 Jawa Barat 1.730 2.337 0.53 10 Kepulauan Riau 64 200 60 1. DOKTER GIGI.835 1.68 1.39 19.86 0.96 10.99 0.96 0.74 6.071 1.338 1.468 10.78 24 Sulawesi Utara 165 332 46 2.44 4.36 0.36 6. 2010 .01 18 Nusa Tenggara Barat 149 250 87 2.84 7.680 1.198 1.728 1.43 8.164 3.99 7.310 1.89 28 Gorontalo 61 75 35 587 312 1.57 9.188 5.14 3.52 2 Sumatera Utara 513 1.52 0.88 16 Banten 205 379 202 1.995 1.08 10.96 1.81 11 DKI Jakarta 25 327 292 582 535 13.05 7 Bengkulu 152 173 68 2.23 0.691 808 0.796 1.64 5.253 1.25 32 Papua Barat 120 103 13 1.662 2.49 27 Sulawesi Tenggara 233 230 56 2.461 1.27 13 Jawa Tengah 871 1.142 1.067 2.50 6 Sumatera Selatan 214 188 39 1.87 15.53 7.25 14 DI Yogyakarta 120 321 169 801 762 2.94 17.14 0.70 7.31 7.41 6.24 9.11 11. Kemenkes.72 9.567 1.22 4.549 0.52 21 Kalimantan Tengah 176 258 58 1.17 8.18 30 Maluku 159 94 152 1.452 1.481 0.591 2.87 26 Sulawesi Selatan 393 318 270 2.61 0.45 16.28 21.34 23 Kalimantan Timur 224 427 179 2.509 13.81 0.950 1.505 1.665 762 7.673 1.252 2.08 11.621 1.11 29 Sulawesi Barat 101 100 21 689 422 0.159 1.24 9.19 10.645 1.01 8.486 10.08 6.30 10. PERAWAT DAN BIDAN TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi Jumlah Puskesmas yang terdata tenaganya Dokter Umum Dokter Gigi (2) (3) (4) (5) (1) Perawat Bidan (6) (7) Rasio Dokter Umum Rasio Dokter Gigi Rasio Perawat Rasio Bidan (8) (9) (10) (11) 1 Aceh 291 534 97 4.80 10.87 0.33 14.84 0.64 9.040 1.41 4 Riau 174 527 196 2.370 0.35 15 Jawa Timur 942 1.181 7.74 12.85 7.02 5.78 1.13 13.115 564 3.54 0.45 12.01 0.68 23.26 10.99 0.69 8.19 3 Sumatera Barat 245 442 207 1.62 0.140 1.133 1.79 20 Kalimantan Barat 227 225 58 2.42 8.940 77.081 447 3.25 7.58 13.60 9.91 0.273 1.401 0.053 2.011 2.80 0.744 607 6.Lampiran 5.17 8.85 0.82 4.862 2.13 0.08 31 Maluku Utara 105 101 18 842 551 0.62 3.60 11.672 2.151 0.50 19 Nusa Tenggara Timur 300 260 130 2.59 0.18 8.78 7.88 0.01 6.393 622 0.04 9.141 76.18 33 Papua 287 299 70 2.40 17 Bali 117 346 192 1.62 5.52 10.68 0.21 6.213 1.59 22 Kalimantan Selatan 188 256 118 1.61 5.33 11.93 10.87 7.

184 1.898 53. 2010 0 0 28 13 184 3 187 87 215 637 18.Lampiran 5.518 .19 REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER UMUM PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) (4) Jumlah % (5) (6) 6 Bln 12 Bln (7) (8) Jumlah % (9) (10) (11) 1 Aceh 13 5 103 37 5 161 166 59 282 2 Sumatera Utara 96 33 141 49 24 27 51 18 288 3 Sumatera Barat 13 11 62 54 17 23 40 35 115 4 Riau 41 39 44 42 0 20 20 19 105 5 Jambi 20 17 54 47 0 42 42 36 116 6 Sumatera Selatan 11 19 45 76 0 3 3 5 59 7 Bengkulu 0 0 51 55 0 41 41 45 92 8 Lampung 15 17 54 62 0 18 18 21 87 9 Kepulauan Bangka Belitung 2 20 4 40 0 4 4 40 10 10 Kepulauan Riau 7 14 15 31 0 27 27 55 49 11 DKI Jakarta 14 100 0 0 0 0 0 0 14 12 Jawa Barat 63 100 0 0 0 0 0 0 63 13 Jawa Tengah 135 100 0 0 0 0 0 0 135 14 DI Yogyakarta 19 100 0 0 0 0 0 0 19 15 Jawa Timur 106 100 0 0 0 0 0 0 106 16 Banten 26 100 0 0 0 0 0 0 26 17 Bali 20 100 0 0 0 0 0 0 20 18 Nusa Tenggara Barat 8 14 30 54 0 18 18 32 56 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 28 9 29 244 273 91 301 20 Kalimantan Barat 0 0 28 22 0 99 99 78 127 21 Kalimantan Tengah 0 0 30 37 0 52 52 63 82 22 Kalimantan Selatan 0 0 51 42 0 71 71 58 122 23 Kalimantan Timur 7 9 43 54 0 30 30 38 80 24 Sulawesi Utara 0 0 45 42 0 63 63 58 108 25 Sulawesi Tengah 0 0 20 17 63 37 100 83 120 26 Sulawesi Selatan 18 22 44 53 4 17 21 25 83 27 Sulawesi Tenggara 1 1 18 11 34 116 150 89 169 28 Gorontalo 0 0 9 17 0 44 44 83 53 29 Sulawesi Barat 0 0 5 9 26 24 50 91 55 30 Maluku 2 1 10 5 174 0 174 94 186 31 Maluku Utara 0 0 8 13 55 0 55 87 63 32 Papua Barat 0 0 13 12 99 0 99 88 112 33 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.11 983 27. Kemenkes.94 714 1.95 3.

79 190 18.Lampiran 5. Kemenkes.19 1. 2010 0 0 4 20 16 0 16 80 20 198 18.20 REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER GIGI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) Jumlah (4) % (5) 6 Bln (6) 12 Bln (7) Jumlah (8) % (9) (10) (11) 1 Aceh 0 0 13 17 5 57 62 83 2 Sumatera Utara 75 15 23 38 58 4 9 13 20 66 3 Sumatera Barat 2 5 13 30 9 20 29 66 44 4 Riau 2 6 18 51 0 15 15 43 35 5 Jambi 0 0 5 20 0 20 20 80 25 6 Sumatera Selatan 0 0 4 50 0 4 4 50 8 7 Bengkulu 0 0 1 6 0 16 16 94 17 8 Lampung 3 16 7 37 0 9 9 47 19 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 2 40 0 3 3 60 5 10 Kepulauan Riau 1 4 11 46 0 12 12 50 24 11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 Jawa Barat 15 100 0 0 0 0 0 0 15 13 Jawa Tengah 30 100 0 0 0 0 0 0 30 14 DI Yogyakarta 13 100 0 0 0 0 0 0 13 15 Jawa Timur 83 100 0 0 0 0 0 0 83 16 Banten 17 Bali 18 5 100 0 0 0 0 0 0 5 14 100 0 0 0 0 0 0 14 Nusa Tenggara Barat 6 26 9 39 0 8 8 35 23 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 6 5 23 89 112 95 118 20 Kalimantan Barat 0 0 1 3 0 38 38 97 39 21 Kalimantan Tengah 0 0 1 4 0 22 22 96 23 22 Kalimantan Selatan 0 0 7 18 0 32 32 82 39 23 Kalimantan Timur 2 5 12 32 0 24 24 63 38 24 Sulawesi Utara 0 0 1 20 0 4 4 80 5 25 Sulawesi Tengah 0 0 1 4 15 8 23 96 24 26 Sulawesi Selatan 7 14 28 56 3 12 15 30 50 27 Sulawesi Tenggara 0 0 4 8 13 33 46 92 50 28 Gorontalo 0 0 1 6 0 17 17 94 18 29 Sulawesi Barat 0 0 3 9 13 16 29 91 32 30 Maluku 0 0 0 0 63 1 64 100 64 31 Maluku Utara 0 0 0 0 16 0 16 100 16 32 Papua Barat 0 0 0 0 17 0 17 100 17 33 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.054 .03 197 469 666 63.

395 14 DI Yogyakarta 220 100.93 4 7.03 14 0.00 4.70 196 0.00 10 16.95 7 2.80 11 18.56 8 32.09 1.392 99.44 271 0.33 0 0.75 0 0.40 2 0.00 1 33 Papua 0 0.17 4 Riau 260 26.00 0 0.00 25 29 Sulawesi Barat 4 1.38 198 7 Bengkulu 46 10.93 3 0.97 283 0.807 1 0.00 50 24 Sulawesi Utara 1 3.00 0 0.00 4.08 278 21 Kalimantan Tengah 1 1.72 25.91 15 6.43 3.00 350 18 Nusa Tenggara Barat 91 61.98 240 0.21 REKAPITULASI KEBERADAAN BIDAN PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) (4) Jumlah % (5) (6) Jumlah % (7) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 942 82.06 186 0.104 62.46 9.08 737 0.13 31 0.00 59 10 Kepulauan Riau 37 21.89 0 0.97 0 0.113 96.11 0 0.90 6 8.00 14 0.55 0 0.41 54 32 Papua Barat 0 0.00 0 0.00 0 0.Lampiran 5.353 2.57 5 0.00 (8) (9) 212 9.37 .00 1.00 50 0.00 18 0.82 68 22 Kalimantan Selatan 1 0.174 45.46 2.60 388 8 Lampung 1.67 48 0.97 3 1.00 175 23 Kalimantan Timur 32 64.00 997 0 0.74 5 Jambi 128 17.75 593 0.57 174 0.00 713 17 Bali 345 98.82 6 Sumatera Selatan 409 67.836 13 Jawa Tengah 4.139 0 0.14 4 0.38 1 0.00 253 427 59. 2010 0 0.036 0.96 4 2. Kemenkes.06 194 26 Sulawesi Selatan 27 Sulawesi Tenggara 28 64 25.01 0 0.00 169 11 DKI Jakarta 0 0.00 607 0.11 251 0.07 0 0.22 1.87 105 4.00 220 15 Jawa Timur 3.26 107 0.34 0 0.00 0.00 0 0.47 61 0.00 721 0.67 149 19 Nusa Tenggara Timur 5 1.01 2.784 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.22 4 0.23 2.78 0 0.83 200 0.64 245 0.30 189 0.084 89.00 0 12 Jawa Barat 1.99 0 0.234 16 Banten 468 65.00 10 185 0.78 252 20 Kalimantan Barat 4 1.33 60 31 Maluku Utara 0 0.36 0 0.28 712 Gorontalo 3 12.00 434 134 0.581 86.00 0 0.218 9 Kepulauan Bangka Belitung 55 93.495 1.633 0.00 32 25 Sulawesi Tengah 4 2.00 1 1.89 132 0.85 219 30 Maluku 1 1.07 57 0.

Kalimantan Barat 41 29 0 0 1 8 3 23 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 41 7 0 0 23 11 0 15 BPTKM Dinkes Prov.Lampung 28 0 0 22 5 1 0 14 Bapelkes Prov. Kalimantan Selatan 28 20 0 2 3 3 0 26 Bapelkes Prov. Jawa Barat 62 62 0 0 0 0 0 16 BPTPK Gombong 22 0 0 0 22 0 0 17 Bapelkes Yogja 21 5 0 1 8 7 0 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 61 26 2 1 30 2 0 19 UPTD BPKKTK Prov. Papua 19 13 0 0 0 6 0 SUB TOTAL 845 418 34 89 219 75 10 TOTAL 1052 419 36 98 279 205 15 Sumber : BPPSDM Kesehatan.22 DISTRIBUSI TINGKAT KETERLIBATAN INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA DALAM KEGIATAN KEDIKLATAN TAHUN 2009 NO INSTITUSI DIKLAT FREQUENSI PELATIHAN I II TINGKAT LIBAT (FREQ) III IV V (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) TDK Jelas (9) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 74 0 0 2 10 2 BBPK Cilandak 33 0 0 1 3 BPPK Ciloto 46 1 1 1 4 Bapelkesnas Lemahabang 16 0 1 2 8 5 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 19 0 0 3 10 6 0 6 Bapelkesnas Makasar 19 0 0 0 0 19 0 207 1 2 9 60 130 5 7 BLTKM Jantho 25 23 0 0 2 0 0 8 Bapelkes Prov.Jambi 40 1 18 13 8 0 0 12 Bapelkes Prov.Sumatera utara 36 0 0 0 30 6 0 9 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 35 6 1 17 8 1 2 25 Bapelkes Prov.Sumatera Barat 87 63 1 2 14 7 0 SUB TOTAL 58 4 32 0 0 0 42 1 10 Bapelkes Prov. Sulawesi Utara 33 24 0 5 4 0 0 27 Bapelkes Palu 29 9 1 0 1 18 0 28 Bapelkes Prov. Kemenkes. Kalimantan Tengah 24 7 0 3 14 0 0 24 Bapelkes Prov.Riau 15 4 0 5 3 3 0 11 Bapelkes Prov. Bali 25 17 0 4 3 0 1 20 Bapelkes Mataram 62 50 0 0 8 1 3 21 UPTD Pel. 2010 .Bengkulu 52 37 2 3 9 0 1 13 Bapelkes Prov.LAMPIRAN 5. Sulawesi Tenggara 20 2 3 7 8 0 0 29 Bapelkes Prov. Maluku 11 0 0 0 10 1 0 30 Bapelkes Prov. Tenaga Kes kupang 28 13 6 4 5 0 0 22 Upelkes Prov.

Maluku 1 0 0 0 1 0 30 Bapelkes Prov.Kalimantan Tengah 2 1 1 0 0 0 24 Bapelkes Prov.Sumatera utara 9 2 5 2 0 0 9 Bapelkes Prov. Kemenkes.Sulawesi Utara 5 1 3 1 0 0 27 Bapelkes Palu 2 0 0 2 0 0 28 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 4 1 1 2 0 0 25 Bapelkes Prov. Tenaga Kes kupang 6 2 1 3 0 0 22 Upelkes Prov. Kalimantan Barat 1 0 0 1 0 0 23 Bapelkes Prov. 2010 .23 DISTRIBUSI WIDYAISWARA INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA BERDASARKAN KELOMPOK UMUR TAHUN 2009 UMUR NO INSTITUSI DIKLAT JUMLAH TIDAK JELAS < 40 (1) (2) (3) 41 .50 (4) 51 .Riau 5 0 3 2 0 0 11 Bapelkes Prov.Jambi 3 0 0 3 0 0 12 Bapelkes Prov.Sumatera Barat 5 0 0 4 1 0 10 Bapelkes Prov.Lampung 10 2 1 6 0 1 14 Bapelkes Prov. Bali 2 0 0 2 0 0 20 Bapelkes Mataram 11 0 4 6 1 0 21 UPTD Pel.Papua 2 0 0 0 1 1 SUB TOTAL 114 14 30 52 11 7 TOTAL 172 16 42 86 21 7 Sumber : BPPSDM Kesehatan.Kalimantan Selatan 6 4 2 0 0 0 26 Bapelkes Prov.Sulawesi Tenggara 2 0 1 1 0 0 29 Bapelkes Prov.60 (5) KETERANGAN > 60 (6) (7) (8) (9) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 14 0 2 10 2 0 2 BBPK Cilandak 11 0 0 7 4 0 3 BPPK Ciloto 7 2 2 3 0 0 4 Bapelkesnas Lemahabang 8 0 3 5 0 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 12 0 5 6 1 0 6 Bapelkesnas Makasar 6 0 0 3 3 0 SUB TOTAL 58 2 12 34 10 0 7 BLTKM Jantho 1 0 0 1 0 0 8 Bapelkes Prov.Bengkulu 3 0 0 3 0 0 13 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 3 0 1 1 1 0 15 BPTKM Dinkes Prov. Jawa Barat 9 0 2 5 2 0 16 BPTPK Gombong 5 0 0 0 0 5 17 Bapelkes Yogja 10 0 1 6 3 0 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 7 1 4 1 1 0 19 UPTD BPKKTK Prov.LAMPIRAN 5.

Lampiran 5.24 DISTRIBUSI FREKUENSI PELATIHAN DAN JUMLAH PESERTA DI INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA BERDASARKAN JENIS DIKLAT TAHUN 2009 Total No Prajabatan Penjenjangan Manajemen Teknis Fungsional Dan Lain-lain Institusi Diklat (1) (2) Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 2385 74 752 22 204 6 453 10 396 14 557 18 23 2 BBPK Cilandak 1093 33 356 9 171 5 0 0 514 18 0 0 52 1 3 BPPK Ciloto 3438 46 2001 16 0 0 25 1 944 18 110 3 358 8 4 Bapelkesnas Lemahabang 1325 16 758 6 0 0 0 0 537 9 30 1 0 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 1549 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1549 19 6 Bapelkesnas Makasar SUB TOTAL 4 779 19 58 1 0 0 0 0 568 15 153 3 0 0 10569 207 3925 54 375 11 478 11 2959 74 850 25 1982 32 7 BLTKM Jantho 3854 25 60 1 0 0 225 6 3569 18 0 0 0 0 8 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 1420 41 198 4 0 0 30 1 1132 34 60 2 0 0 15 BPTKM Dinkes Prov. Bali 20 Bapelkes Mataram 21 UPTD Pel.Lampung 2749 28 0 0 0 0 60 2 2399 25 290 1 0 0 14 Bapelkes Prov.Kalimantan Tengah 923 24 Bapelkes Prov.Sulawesi Tenggara 565 20 0 0 0 0 0 0 394 14 171 6 0 0 29 Bapelkes Prov. Kalimantan Barat 23 Bapelkes Prov.Jambi 906 40 0 0 0 0 575 25 236 11 75 3 20 1 12 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 757 35 25 Bapelkes Prov.Kalimantan Selatan 1417 28 816 21 50 1 0 0 0 0 766 20 0 0 0 0 3327 61 401 5 42 1 606 11 1661 34 617 10 0 0 1033 25 89 3 0 0 30 1 551 12 0 0 363 9 1947 62 0 0 0 0 385 12 1157 37 30 1 375 12 666 28 0 0 0 0 209 8 457 20 0 0 0 0 1974 41 0 0 0 0 1782 36 0 0 112 3 80 2 24 0 0 0 0 140 3 160 3 623 18 0 0 0 0 35 1 387 15 195 16 30 1 110 2 161 1 0 0 145 2 1088 24 23 1 0 0 26 Bapelkes Prov.Sulawesi Utara 1070 33 86 2 115 2 71 2 798 27 0 0 0 0 27 Bapelkes Palu 1014 29 0 0 0 0 85 1 649 22 102 2 178 4 28 Bapelkes Prov.Bengkulu 1827 52 0 0 40 1 290 9 829 24 0 0 668 18 13 Bapelkes Prov. 2010 . Tenaga Kes kupang 22 Upelkes Prov.Sumatera Barat 3014 87 56 2 151 3 1239 25 913 32 78 3 577 22 10 Bapelkes Prov. Kemenkes. Jawa Barat 2355 62 961 16 0 0 0 0 1235 41 0 0 159 5 16 BPTPK Gombong 1165 22 0 0 0 0 860 12 204 7 101 3 0 0 17 Bapelkes Yogja 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 19 UPTD BPKKTK Prov.Riau 439 15 69 5 0 0 60 2 120 4 0 0 190 4 11 Bapelkes Prov.Papua 874 19 0 0 93 1 60 2 691 15 30 1 0 0 SUB TOTAL 35567 845 2208 42 476 9 7389 181 20402 478 2372 56 2720 79 TOTAL 46136 1052 6133 96 851 20 7867 192 23361 552 3222 81 4702 111 Sumber : BPPSDM Kesehatan.Maluku 356 11 0 0 0 0 0 0 356 11 0 0 0 0 30 Bapelkes Prov.Sumatera utara 1099 36 77 2 0 0 150 6 842 27 30 1 0 0 9 Bapelkes Prov.

265 2353 2.910 2065 2.156 0 7476 5298 0 1530 14.065 2065 2.350 56.402 0 615 100 0 190 0 225 0 60 0 1.25 REKAPITULASI PESERTA DIDIK POLTEKKES PERJENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN AJARAN 2009/2010 P0LTEKKES NO (1) A B C D E F JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.066 0 1105 100 0 160 0 225 0 20 0 1.800 0 125 625 750 0 125 625 750 0 125 285 410 0 375 1535 1. 2010 JUMLAH TINGKAT I TINGKAT II TINGKAT III (3) (4) (5) (6) 0 7476 5025 0 1655 14.812 0 2825 300 0 450 0 675 0 100 0 4.380 5510 5.065 1380 1.340 0 19657 13923 0 4220 37.Lampiran 5.190 13.550 21.280 . Kemenkes.610 21.868 190 50 0 40 280 190 50 40 40 320 102 80 60 0 242 482 180 100 80 842 0 1105 100 0 100 0 225 0 20 0 1.353 1250 1.510 2265 2.304 0 4705 3600 0 1035 9.250 5868 5.

100 1180 1.26 REKAPITULASI PESERTA DIDIK NON POLTEKKES PERJENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN AJARAN 2009/2010 NON POLTEKKES NO (1) A B C D E F JUMLAH JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.157 2640 5545 600 320 2150 4543 1640 2080 0 180 19.667 4465 92801 83740 1200 140 182.852 .640 1260 0 100 160 1.970 890 1890 200 160 700 1669 520 680 0 60 6.180 1020 1.360 3720 0 300 500 4.029 84.605 14123 4690 9360 28.815 1320 0 100 220 1.520 950 1950 200 160 800 1589 640 680 0 60 7.698 239.531 1425 30026 13816 400 0 45.448 4790 1490 2840 9.900 62.520 1140 0 100 120 1.725 800 1705 200 0 650 1285 480 720 0 60 5.173 1100 1. Kemenkes.Lampiran 5.769 92. 2010 TINGKAT I TINGKAT II TINGKAT III (3) (4) (5) (6) 1760 31980 28908 400 100 63.120 3320 1545 2740 7.148 1280 30795 41016 400 40 73.300 605 605 605 605 605 605 1815 1.346 6013 1655 3780 11.020 3300 3.

27 JUMLAH PESERTA DIDIK PROGRAM DIPLOMA IV BERDASARKAN JENIS INSTITUSI PENDIDIKAN TAHUN 2007.2009 Tahun No JENIS INSTITUSI (1) (2) I 2007 2008 2009 (3) (4) (5) III KEPERAWATAN Keperawatan Medical Bedah Keperawatan Gawat Darurat Keperawatan Klinik Kemahiran Keperawatan Kardiovaskuler Keperawatan Anestesi Keperawatan Jiwa Keperawatan Intensive Keperawatan Anestesi Reanimasi Sub Total KEBIDANAN Bidan Pendidik Kebidanan Komunitas Sub Total KESLING IV GIZI 30 580 280 V FISIOTERAPI 40 80 40 VI TEHNIK ELEKTROMEDIK 0 80 40 VII RADIOLOGI 40 80 40 40 160 80 0 0 20 0 0 0 0 0 0 570 0 0 0 0 0 0 2997 60 20 20 20 20 140 2020 II VIII ANALIS KESEHATAN IX PROMOSI KESEHATAN X KESEHATAN GIGI Kesehatan Gigi Kesehatan Gigi Komunitas Kesehatan Gigi Prothodansia Dental Bedah Mulut Perawat Gigi Pendidik Sub Total TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.Lampiran 5. 2010 170 70 0 0 0 0 0 0 240 657 400 40 40 40 0 0 0 1177 380 280 20 20 0 20 20 20 760 80 0 80 100 520 0 520 320 440 20 440 180 . Kemenkes.

371 30 1214 14.014 4764 62.357 .28 LULUSAN DIKNAKES POLTEKKES DAN NON POLTEKKES BERDASARKAN JENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN 2009 TAHUN 2009 NO (1) A B C D E F JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.Lampiran 5. Kemenkes. 2010 JUMLAH POLTEKKES NON POLTEKKES (3) (4) (5) 855 10111 38354 929 27906 18545 230 855 48465 80 462 542 2594 469 1259 4322 2594 549 1721 4864 973 973 712 712 1685 1685 1388 1388 424 424 1812 1812 79 50 571 650 50 30 51 781 4743 4513 129 696 64 243 181 929 23163 14032 230 30 51 652 553 1013 90 104 256 805 223 506 553 1709 154 104 499 805 404 506 30 3550 48.

030 0 159 0 0 50 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 209 14 Semarang 214 145 84 81 69 0 0 0 131 0 0 0 0 0 0 724 15 Surakarta 79 0 0 0 56 0 0 0 0 0 0 40 50 30 0 255 13 Tasikmalaya 16 Yogyakarta 48 39 198 84 0 0 82 0 0 0 0 0 0 0 0 403 17 Malang 219 385 0 108 80 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 792 18 Surabaya 270 284 85 0 31 0 86 68 0 0 0 0 0 0 0 824 19 Denpasar 99 40 35 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 220 20 Mataram 96 37 0 37 36 0 84 0 0 0 0 0 0 0 0 290 21 Kupang 265 57 60 72 34 70 0 0 0 0 0 0 0 0 0 558 99 140 67 73 0 0 50 0 0 0 0 0 0 0 0 429 23 Palangkaraya 112 34 0 30 68 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 244 24 Banjarmasin 308 37 41 56 0 0 47 0 0 0 0 0 0 0 0 489 25 Samarinda 166 171 0 0 44 0 43 0 0 0 0 0 0 0 0 424 26 Manado 100 24 20 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 163 0 165 39 0 51 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 255 138 163 47 49 0 90 0 0 0 0 0 39 0 0 0 526 29 Kendari 98 326 0 98 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 522 30 Ambon 191 0 36 47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 274 31 Ternate 90 17 0 29 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 136 32 Gorontalo 152 107 0 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 305 33 Jayapura 227 51 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 324 4743 4513 973 1388 855 462 696 181 243 64 80 79 50 30 0 14357 22 Pontianak 27 Palu 28 Makassar Jumlah Sumber : BPPSDM Kesehatan. 2010 . Kemenkes.29 JUMLAH LULUSAN POLTEKKES BERDASARKAN JURUSAN/PROGRAM STUDI INSTITUSI DIKNAKES SELURUH INDONESIA TAHUN AJARAN 2009/2010 Jurusan / Program Studi No Poltekkes (1) (2) 1 Banda Aceh 2 Keperawatan Kebidanan Kesehatan Lingkungan (3) (4) (5) Gizi Kesehatan Gigi (6) (7) Farmasi Analisis Kesehatan Teknik Elektromedik Teknik Diagnostik Teknik Gigi AKAFARMA Fisioterapi Okupasi Terapi Ortotik Prostetik Terapi Wicara (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Jumlah (18) 204 82 95 5 107 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 493 Medan 85 410 40 90 0 129 60 0 0 0 0 0 0 0 0 814 3 Padang 187 177 69 56 48 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 537 4 Pekanbaru 96 203 47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 346 5 Jambi 0 104 53 0 38 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 195 6 Bengkulu 114 181 0 74 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 369 7 Palembang 238 110 0 63 35 79 38 0 0 0 0 0 0 0 0 563 8 Tanjung Karang 159 214 17 0 37 0 90 0 0 0 0 0 0 0 0 517 9 Jakarta I 60 114 0 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 193 10 Jakarta II 0 85 0 94 0 113 112 64 80 0 0 0 0 596 11 Jakarta III 135 167 0 0 0 36 0 0 0 0 0 0 0 0 338 12 Bandung 503 211 7 177 52 0 80 0 0 0 0 0 0 0 0 1.Lampiran 5.

354 100 AKFIS 80 908 18 Nusa Tenggara Barat AKZI 51 3.Lampiran 5.420 (9) 1 10 Kepulauan Bangka Belitung 80 AKAFAR AKFAR MA 80 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 49 100 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 160 15 DI Yogyakarta 80 14 Banten 17 Bali 695 23 Kalimantan Timur 411 24 Sulawesi Utara 387 25 Sulawesi Tengah 451 26 Sulawesi Selatan 80 50 27 Sulawesi Tenggara 1.796 36 7.463 220 2.30 REKAPITULASI LULUSAN NON POLTEKKES DIKNAKES SELURUH INDONESIA BERDASARKAN JENIS DAN PROVINSI TAHUN AJARAN 2009/2010 Keperawatan No Provinsi (1) (2) Kefarmasian SPK SPRG AKPER AKBID AKG SMF (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 1.062 365 4 Riau 605 703 6 Jambi 298 50 7 Sumatera Selatan 1.361 ATEM PTTD (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) 67 120 90 60 50 39 99 (25) (26) Jumlah (27) 14 80 67 38 80 2.678 14 149 22 Kalimantan Selatan APIKES (11) 17 310 192 ARO 210 395 21 Kalimantan Tengah ATRO 60 412 490 AAK 29 1.259 30 712 424 571 0 30 51 553 109 90 1.127 63 61 23 1. 2010 929 230 23.944 3.594 469 1.032 0 2.140 179 SMAK 88 337 100 AKUPUN KTUR 35 420 19 Nusa Tenggara Timur ATW 27 502 392 AOT 58 3.105 80 26 28 KARDIOV ORTOTIK ASKULER PROSTETIK 35 83 60 80 109 50 2.043 57 8.034 60 Keteknisian Gizi AKL 28 340 568 16 Jawa Timur (10) Keterapian Kesmas 719 80 289 120 23 635 279 179 48 717 18 174 27 237 42 100 52 911 17 580 27 414 97 147 100 379 548 45 23 50 82 53 40 44 80 60 2. Kemenkes.040 554 28 Gorontalo 0 29 Maluku 0 30 Maluku Utara 0 31 Papua 49 JUMLAH Sumber : BPPSDM Kesehatan.014 .013 256 506 805 223 104 0 0 48.939 104 160 251 36 6 79 26 51 80 80 231 64 20 104 4.535 516 12 21 689 345 128 420 26 81 109 168 147 106 7 48 134 85 103 50 49 78 30 140 10 19 340 152 80 44 60 80 266 17 725 54 115 5.241 2.163 30 14.615 41 28 500 60 2.082 656 60 8 Bengkulu 372 65 79 9 Lampung 435 221 205 60 94 34 2.135 776 5 900 1.284 20 Kalimantan Barat ATG 80 3.

3 Program Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aaparatur 61.803.328.091.000 1.535.5.765 22.86 3.866.809.182.509 15.215.3.01 20.5.04 43.56 24.416.2 Pagu Revisi (Rp.000 1.638.946.000 26.1 Program Lingkungan Sehat 231.93 70.Lampiran 5.000 186.07 3.161 19.20 31.346 7.56 239.082.629 80.2.398.938.794.699 66.44 3.1 Program Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat 117.000 1.05 4.170.458.1.418.300.99 182.000.3.348.000 187.576.886 85.654 92.500.844.221.080.000 16.000 633.301 33. 2010 .43 3.500.490.884.743.994 26.000 494.482.1 Program Penelitian & Pengembangan Kesehatan 165.51 663.541.908.935.251.96 3.3.061.74 22.1 Program Pendidikan Kedinasan 1.348.046 41.854 36.000.003.44 1.491.286 47.226.728.700.290 27.) (7) % (8) 2.202.753.737.659.000.022 71.141.038.130.80 3.1.821 81.1.978 28.137.525.462.2 Program Upaya Kesehatan Masyarakat 2.445.873.563.) (4) Total Realisasi (Rp.146 63.537.2 Program Kebijakan & Manajemen Pembangunan Kesehatan 748.498.064.086.1 Program Penerapan Kepemerintahan Yang Baik 1.4 Program Perbaikan Gizi Masyarakat 449.4.385.401.006 73.1 Program Obat & Perbekalan Kesehatan 992.947.608.06 253.07 3.541.93 1.000 582.954 58.000 922.179 18.03 Program Peningkatan Pengawasan & Akuntabilitas Aparatur Negara 50.400.95 KEMENTERIAN KESEHATAN Sumber: Biro Perencanaan dan Anggaran.710 72.405.3 Program Pencegahan & Pemberantasan Penyakit 726.000 39.714 52.096.755.49 3.) % (5) (6) Sisa Anggaran (Rp.360 74.31 ALOKASI DAN REALISASI KEMENTERIAN KESEHATAN RI TRIWULAN IV TAHUN 2009 No.1 Program Upaya Kesehatan Perorangan 10.561.1 Program Sumber Daya Kesehatan 873.666.14 144.000.000 8.117.438.886.000 128.220.114 14.839 80.491 84.54 262.1.57 37.3.038.587.319.913.329. Kementerian/Fungsi/Sub Fungsi/Program/Kegiatan (1) (2) 1.1.551.181.563.483.117.797.94 4. Kemenkes.46 3.275.970.629.640 25.043.351.889.519.300.199.689.235 77.494.97 602.26 2.000 86.1.817.124.671.371 19.

000 1.67 17 Bali 3.910 - 48.021 - - - - 1.464 - - - - - - - 1.363 45.697.912 80.29 - - - - 199.32 28 Gorontalo 1.098 173.078 23.043 4.693.00 12 Jawa Barat 42.627 2.56 11 DKI Jakarta 9.764 4 Riau 5.978 3.350.014 179.535 - - - - - - - - - 0 2.473 - 565.342 473.963. Kemenkes.911 277.982 39.079.969 2.976 - 572.568 7.579.498.350.362.910.010 - - 20.172.161 60.210 - - 114.T.205 - 114.837 310.69 26 Sulawesi Selatan 7.533 942.181 - 909.395.317 3.006.476 - - 89.469.539 279.737 730.224 851.268 - - - 40 - - 170.594 - 339.318 2.072.32 DATA CAKUPAN KEPESERTAAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2010 PER JUNI 2010 Peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Jiwa) No Provinsi (1) (2) Jumlah Penduduk Jamkesmas (3) (4) Askes PNS Jpkm / Bapel (5) (6) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4.020 10.14 21 Kalimantan Tengah 2.962 521.042.569.676 9 Kepulauan Bangka Belitung Jamkesmas Non Quota (Jamkesda) Dana Sehat Asuransi Komersial TNI / POLRI Jamsostek (7) (8) (9) (10) Bapel / Uptd P.584.478 1.516.601 6.516 621.659 85.587 - - 78.098.658 76.643 - 89.09 13 Jawa Tengah 32.167 310.693.875 15.006 0 31.680 3 14.756 5.822 81.988 - - - - 4.645 431.588.853 42.732 - 6.032 - 87.670.319.792 - 323.842 234.016.129 398.952.891 111.259.473 5.259.898 43.317 449.166 44.206.647 2.491 288.074 - 10.886 - 2.432.400.099 - 107. Askes Pemda Lain-lain (11) (12) (13) (14) Total Total Jaminan Jamkesda (15) (16) % (17) 4.449.868.951 10.683 - - 10.666 21.961 79.146.422.236.24 29 Sulawesi Barat 1.391 - 534.962 1.157 1.390 939.715 924.135 95.857 - 147.510.233 - - 4.160.256.881 16.233.144.91 30 Maluku 2.396.540.002. 2010 3.472 - 21.016.211 55.193 24.558 75.231 2.290 - 217.512 132.599 99.716 136.710 88.582.01 55.549 81.663 49.774.414 48.840.871 344.057 1.760 1.175 3.60 - - - - - - 4.381.715.749 - 5.856 485.589 82.300 - 103.32 10 Kepulauan Riau 1.898.468 60.844 - - 572.488 - - 147.672 7 Bengkulu 1.25 729.35 20 Kalimantan Barat 4.870 437.261 496.700.809 84.012 2.525 1.564.506.097 2.002.849 80.440.477 - 57.904 - - 2.00 - - 18.891 - 14.829 8.434.429 - 47.230 900.034 169.281 - - - - 202.004 - 493.443 - 67.302 - - 41.370 218.358 6.163.000 - 27.102.095 - 89.002 4.498 - - - - 100.768 - 333.589.706 57.051 248.992 - - 87.717.390 1.854 4.143.517 - - 339.617 744.536 3.084 265.951 306.500 - - 14.12 3.776 328.790 64.156 - 100.649 578.002.164 - 16.252 204.483 1.505 - 545.006 4.792 18.113.349 - - 4.38 13.506 395.689 - 353.356 65.579.564 100.640.833 - 405.605 - 60.071 - 204.55 1.398 337.61 24 Sulawesi Utara 2.601. Yogyakarata 10.643 1.402.624 223.228.811 - 1.474 - 10.364 129.854 854.164.868.043 4.317.789 632.299 - 3.080 524.00 27 Sulawesi Tenggara 1.Lampiran 5.514.623 - - - - 6.800 777.202 - 80.535.001 - - 17.434.265 784.825 323.000 - 1.573 115.857 966.001 47.471 1.961 - 4.32 22 Kalimantan Selatan 3.338 2.210 1.942 57.447 205.145 - - - - 559 - - - - 0 517.964 1.308.234 27.356.268 - - - 40 - - 714.312 - 37.649.599 - 35.594 4.946.338 100.20 31 Maluku Utara 1.673 55.73 18 Nusa Tenggara Barat 4.070 1.450 55.455 11.86 15 Jawa Timur 37.388.37 19 Nusa Tenggara Timur 4.622 - 298.560.751 5.027 241.000 - 1.576 - 3.202.721 56.281.894.525 25.47 25 Sulawesi Tengah 2.I.388.870 56.581 1.351 12.535.213 - - - - 0 2.500 673.264 - - - - - - - - - 0 596.797 - 112.596.046.419 405.349 7.971 50.089 10.576.358 - - 67.454.711.95 .393 63.817 84.271 31.848 2.184 405.679 - - 366 - 7.119 5.053 2.605 - - - - 86.451 308.028.291.809 2.142.00 - - - - 13.692 6 Sumatera Selatan 7.976 2.618 - 14.577.884 - 134.953.000 537.333 81.749.166 854.225 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.13 32 Papua Barat 33 Papua Pusat NASIONAL 236.798.444 843.723 - - 1.972 277.135.38 23 Kalimantan Timur 3.067 - - 175 - 304.710.375 3.086 - 106.142 1.881 2.143 100.358.76 2.053 79.248 - - - - 0 3.399 527.175 2.474 77.000 16.804 85.941.278 613.250 3.23 1.12 16 Banten 14 D.969 - 714.005 2.000 - 167.129.108.054.207 - - 565.961 5 Jambi 2.880 - 980.912 - 708.005.016.003.793.310 - 8.540 61.225 - 60.358 2.649 - 170.770.886 3.133 98.051 2.710 - 421.427 8 Lampung 8.77 1.000 - - - 98.

794 62.00 62 13 Jawa Tengah 125 100.80 114 91.00 51 40.80 74 59.48 35 57.36 5 45.77 189 26 Sulawesi Selatan 17 16.27 104 9 Kepulauan Bangka Belitung 2 18.52 197 57.01 141 21 Kalimantan Tengah 0 0.00 15 12 Jawa Barat 62 100.62 70 57.07 59 11 DKI Jakarta 15 100.36 42 47.00 0 0.42 104 22 Kalimantan Selatan 0 0.45 75 55.50 57 55.193 26.38 122 25 Sulawesi Tengah 0 0.00 0 0.00 25 13.25 64 29 Sulawesi Barat 0 0.16 103 27 Sulawesi Tenggara 1 0.00 12 13. Kemenkes.04 139 40.00 36 9.48 12 2.81 91 30 Maluku 2 0.58 134 4 Riau 18 18.00 0 0.14 1.27 4.00 0 0.20 125 23 Kalimantan Timur 10 11.43 343 Sumatera Utara 50 16.91 88 24 Sulawesi Utara 0 0.20 125 32 Papua Barat 0 0.38 19 31.00 26 26.00 20 17 Bali 22 100.34 29 28.00 0 0.00 0 0.00 100 5 Jambi 17 11.00 22 18 Nusa Tenggara Barat 7 11.43 331 94.26 44 40.03 171 54.74 108 8 Lampung 9 8.18 4 36.00 0 0.00 56 56.00 19 5.00 12 18.97 202 90.13 199 93.81 91 29.17 312 3 Sumatera Barat 14 10.59 2.35 373 20 Kalimantan Barat 0 0.00 64 59.00 0 0.23 164 86.08 19 18.75 52 81.00 0 0.00 31 21. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali .65 76 73.00 0 0.58 67 64.00 64 16 Banten 20 100.00 125 14 DI Yogyakarta 23 100.487 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.00 11 8.39 3 5.99 110 78.00 37 35.00 0 0.33 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER UMUM PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Terpencil Sangat Terpencil Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Total (9) 7 2.86 406 96.27 143 6 Sumatera Selatan 7 13.88 51 7 Bengkulu 0 0.85 49 34.45 20 8.56 25 42.00 0 0.00 0 0.45 11 10 Kepulauan Riau 8 13.67 420 31 Maluku Utara 0 0.00 13 6.58 223 28 Gorontalo 0 0.15 61 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.73 41 80.73 36 40.87 212 33 Papua 0 0.57 350 500 11.Lampiran 5.89 77 53.65 337 90.00 0 0.19 79 86.97 45 33.00 52 42.37 26 44.00 23 15 Jawa Timur 64 100.

29 153 98.00 0 0.34 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER GIGI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) Terpencil Sangat Terpencil Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Total (9) 1 Aceh 0 0. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali .27 216 17.15 26 11 DKI Jakarta 0 0.00 9 45.00 1 2.71 33 94.00 4 40.28 72 83.44 18 8 Lampung 0 0.56 23 58.10 58 28 Gorontalo 0 0.90 54 93.00 19 95.09 31 56.50 40 21 Kalimantan Tengah 0 0.89 45 30 Maluku 0 0.11 40 88.00 30 100.45 34 66.00 15 13 Jawa Tengah 29 100.86 28 22 Kalimantan Selatan 0 0.00 5 3. Kemenkes.00 6 60.00 0 0.00 14 16.00 1 5.58 30 69.00 29 14 DI Yogyakarta 13 100.00 0 0.00 0 0.00 30 32 Papua Barat 0 0.00 46 16 Banten 6 100.60 35 81.00 2 1.97 15 38.15 12 46.86 39 55.03 32 96.67 51 4 Riau 1 2.00 5 11.00 2 40.02 910 71.55 55 27 Sulawesi Tenggara 0 0.00 8 18.33 4 66.11 38 143 11.00 2 7.00 0 0.00 5 10 Kepulauan Riau 2 7.00 0 0.50 39 97.71 1.00 1 5.46 39 5 Jambi 0 0.33 24 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.88 14 27.43 70 3 Sumatera Barat 3 5.00 3 60.67 6 25 Sulawesi Tengah 0 0.269 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.00 0 0.00 0 0.00 4 6.Lampiran 5.00 2 5.00 0 0.69 12 46.00 10 7 Bengkulu 0 0.65 11 25.00 1 3.00 0 0.00 6 17 Bali 7 100.00 11 55.00 20 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0.56 17 94.00 0 0.00 5 19.23 21 80.00 3 7.00 7 18 Nusa Tenggara Barat 5 20.77 43 24 Sulawesi Utara 0 0.00 13 15 Jawa Timur 46 100.83 11 45.00 0 0.89 35 92.77 26 6 Sumatera Selatan 0 0.00 0 0.14 26 92.00 0 12 Jawa Barat 15 100.36 144 96.71 22 31.40 43 23 Kalimantan Timur 2 4.72 86 2 Sumatera Utara 9 12.64 149 20 Kalimantan Barat 0 0.00 2 33.97 33 33 Papua 0 0.29 35 26 Sulawesi Selatan 5 9.00 20 29 Sulawesi Barat 0 0.71 155 31 Maluku Utara 0 0.00 0 0.00 0 0.83 8 33.36 19 34.

16 190 18 Nusa Tenggara Barat 55 58.77 195 8 Lampung 515 84.90 110 99.00 6 33 Papua 0 0.84 6 3.08 308 5 Jambi 59 17.00 125 26 Sulawesi Selatan 295 58.00 23 22 Kalimantan Selatan 0 0.28 1065 90.00 40 10 Kepulauan Riau 13 18.550 59.14 7 29 Sulawesi Barat 0 0.16 69 11 DKI Jakarta 0 0.00 0 0 0 12 Jawa Barat 681 83.02 606 9 Kepulauan Bangka Belitung 32 80.72 1174 2 Sumatera Utara 792 49.00 120 20 Kalimantan Barat 0 0.35 281 82.00 6 100.88 340 17 Bali 184 96.12 139 40.00 34 100.00 23 100.10 111 28 Gorontalo 3 42.00 186 21 Kalimantan Tengah 0 0.00 0 0 1732 14 DI Yogyakarta 113 100.49 94 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.00 34 32 Papua Barat 0 0.00 109 100.56 806 50.44 1598 3 Sumatera Barat 366 69.67 24 53.23 177 90.00 118 23 Kalimantan Timur 21 46.57 65 27.00 8 20.456 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.15 138 16.51 39 41.07 213 41.92 222 72.00 109 30 Maluku 0 0.00 125 100.00 29 31 Maluku Utara 0 0.00 29 100.86 4 57.00 21 100.43 237 7 Bengkulu 18 9.98 91 15.35 REKAPITULASI PENGANGKATAN BIDAN PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) Terpencil Jumlah Total Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) 1 Aceh 109 9.06 164 30.65 340 6 Sumatera Selatan 172 72.84 56 81.47 77 6.51 4.53 1179 16 Banten 201 59.00 120 100.00 0 0 113 15 Jawa Timur 1102 93.49 0 11.93 508 27 Sulawesi Tenggara 1 0.Lampiran 5.00 118 100. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali 40.94 530 4 Riau 86 27. Kemenkes.006 .00 0 0 6.00 21 25 Sulawesi Tengah 0 0.85 819 13 Jawa Tengah 1732 100.33 45 24 Sulawesi Utara 0 0.00 186 100.

36 KEADAAN DOKTER SPESIALIS PTT DEPKES YANG MASIH AKTIF SAMPAI DENGAN TAHUN 2009 PENGANGKATAN TAHUN 2008 NO PROVINSI (1) (2) APRIL PENGANGKATAN TAHUN 2009 JUNI APRIL JUNI TOTAL PERPANJANGAN APRIL TAHUN 2009 SEPTEMBER B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) B T ST ∑ (26) (27) (28) (29) 1 Aceh 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 4 1 5 2 Sumatera Utara 3 0 0 3 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 5 3 0 8 3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 5 Jambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 5 0 5 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 2 10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 Jawa Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 Jawa Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 Jawa Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 Banten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 2 0 0 0 0 1 2 3 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 0 3 0 3 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 23 Kalimantan Timur 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 3 2 0 7 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 26 Sulawesi Selatan 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 2 0 1 4 0 5 27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 2 31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 4 0 0 4 4 0 0 4 1 10 6 17 0 5 1 6 0 10 2 12 0 4 0 9 29 9 47 TOTAL Sumber : Biro Kepegawaian. Kemenkes. 2010 .Lampiran 5.

0 84.0 12 0 12 12 0 12 100.0 100.0 4 9 13 4 9 13 100.0 100.0 0 0 0 0 0 0 0.0 100.0 70.3 18 18 36 18 18 36 100.4 19 Sulawesi Selatan 16 7 23 12 7 19 75.0 19 2 21 19 2 21 100.0 0.7 100.0 100.37 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER UMUM PTT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (3) (4) (5) April Realisasi Kriteria Jumlah T ST (6) (7) (8) Persentase Kriteria Jumlah T ST (9) (10) (11) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (12) (13) (14) Juni Realisasi Kriteria Jumlah T ST (15) (16) (17) Persentase Kriteria Jumlah T ST (18) (19) (20) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (21) (22) (23) September Realisasi Kriteria Jumlah T ST (24) (25) (26) T Persentase Kriteria Jumlah ST (27) (28) (29) 1 Aceh 43 42 85 39 42 81 90.7 13 9 22 3 9 12 23.0 7 Bengkulu 28 13 41 22 13 35 78.0 100.0 4 6 10 4 6 10 100.0 6 41 47 3 41 44 50.9 98.0 100.875 96.8 99.7 57.0 100.6 97.0 100.0 92.6 12 Nusa Tenggara Timur 14 73 87 13 72 85 92.0 4 Riau 13 5 18 13 5 18 100.0 93.0 100.0 66.2 10 17 27 2 10 12 20.0 100.Lampiran 5.0 57.7 8 34 42 2 34 36 25.0 82.8 24 3 27 16 3 19 66.0 100.0 3 Sumatera Barat 22 19 41 22 16 38 100.0 73.0 84.9 18 Sulawesi Tengah 12 25 37 1 25 26 8.0 16 4 20 16 4 20 100.0 30 99 129 10 89 99 33.0 58.0 100.0 100.9 7 60 67 6 58 64 85.0 69.5 13 Kalimantan Barat 21 24 45 8 19 27 38.3 16 13 29 11 13 24 68.3 100.0 100.4 9 23 32 9 23 32 100.0 4 0 4 4 0 4 100.0 100.0 14 1 15 14 1 15 100.8% 96.1 100.0 100.0 2 37 39 2 37 39 100.0 100.0 84.0 95.3 16 20 36 7 19 26 43.0 70.0 100.0 100.0 100.0 100.3 100.0 100.8 100.9 100.8 83.5 100.7 12 54 66 8 54 62 66.1 100.0 100.0 5 Jambi 18 13 31 18 13 31 100.0 100.4 20 Sulawesi Tenggara 17 46 63 6 45 51 35.0 22 Sulawesi Barat 23 Maluku 24 Maluku Utara 25 Papua Barat 0 39 39 0 37 37 0.0 85.8 3 5 8 3 5 8 100.0 100.1 79.0 100.5 13 8 21 13 8 21 100.0 100.57704 .0 58.2 100.78363 89.1 425 Sumber : Biro Kepegawaian. Kemenkes.0 100.0 100.0 83.0 8 2 10 8 2 10 100.4 15 12 27 3 12 15 20.0 54.0 77.7 100.0 100.0 14 Kalimantan Tengah 20 17 37 9 14 23 45.0 28 1 29 28 1 29 100.0 51.0 5 22 27 5 22 27 100.0 95.0 100.0 100.3 100.3 97.0 100.3 8 5 13 8 3 11 100.0 100.0 100.6 19 5 24 12 5 17 63.6 100.0 100.7 100.6 100.9 94.0 94.2 11 6 17 4 6 10 36.7 95.0 0.0 9 Kep.6 10 9 19 5 9 14 50.8 44.0 100.1 100.7 16 Kalimantan Timur 19 15 34 14 15 29 73.0 82.0 100.0 100.8 0 2 2 0 2 2 0.9 76.4 62.0 45 25 70 40 25 65 88.0 100. Bangka Belitung 6 3 9 4 3 7 66.0 100.0 93.1 100.1 85.4 22 12 34 22 12 34 100.0 100.1 368 335 703 268 332 600 72.3 320 342 662 262 331 593 26 Papua Jumlah 81.0 100.6 21 Gorontalo 16 15 31 1 15 16 6.4 100.3 89.0 100.0 85.0 54.2 23 26 49 6 26 32 26.0 100.0 100.0 100.0 19 7 26 19 7 26 100.3 11 5 16 9 5 14 81.7 96.5 8 10 18 3 10 13 37.0 82.0 100.0 100.0 21 7 28 21 7 28 100.0 11 21 32 6 21 27 54.8 81.6 96.7 10 60 70 3 37 40 30.0 97.0 100.0 100.0 13 4 17 13 4 17 100.5 100.0 57.8 95.0 26 1 27 26 1 27 100.8 100.9 6 45 51 6 43 49 100.0 100.9 100.0 100.0 0.0 6 Sumatera Selatan 11 2 13 11 2 13 100.7 14 4 18 11 4 15 78.8 15 Kalimantan Selatan 28 18 46 14 18 32 50.8 35 21 56 11 21 32 31.0 72.0 100.0 100.0 55.9 2 Sumatera Utara 16 12 28 16 12 28 100.0 8 Lampung 26 8 34 26 8 34 100.0 61.6 3 23 26 3 23 26 100.0 100.0 65.7 22 9 31 22 9 31 100.0 100.0 95.2 92.0 100.0 17 Sulawesi Utara 27 4 31 13 4 17 48.2 60.0 100.6 0 5 5 0 5 5 0. 2010 475 900 288 460 748 67.0 61.0 0.0 100.1 14 9 23 13 9 22 92.0 100.0 93.4 100.0 84.0 100.6 21 7 28 9 7 16 42.0 70.1 35 7 42 19 7 26 54.0 100.0 100.9 100.7 100.3 100.8 10 37 47 7 37 44 70.0 87.0 9 8 17 9 8 17 100.1 2 36 38 1 36 37 50.7 100.0 100.0 12 21 33 7 21 28 58.0 10 Kepulauan Riau 11 Nusa Tenggara Barat 14 4 18 8 4 12 57.0 72.0 18 4 22 18 4 22 100.0 100.0 85.0 100.0 60.0 100.

4 0.3 4 6 10 0 2 2 0. 2010 0. Kemenkes.38 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER GIGI PTT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (3) (4) (5) April Realisasi Kriteria Jumlah T ST (6) (7) (8) Persentase Kriteria Jumlah T ST (9) (10) (11) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (12) (13) (14) Juni Realisasi Kriteria Jumlah T ST (15) (16) (17) Persentase Kriteria Jumlah T ST (18) (19) (20) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (21) (22) (23) September Realisasi Kriteria Jumlah T ST (24) (25) (26) T Persentase Kriteria Jumlah ST (27) (28) 1 Aceh 44 37 81 3 12 15 0.0 386 360 746 48 168 216 12.2 0.0 1.0 0.8 39.0 0.0 0.1 25.7 0.6 2 4 6 2 2 4 1.2 6 8 14 1 2 3 0.5 0.2 0.4 0.1 1.7 9 3 12 4 3 7 0.4 0.4 0.0 0.3 0.1 0.4 0.1 8 12 20 1 2 3 0.2 0.6 25 Papua Barat 0 13 13 0 9 9 0.5 0.3 19 Sulawesi Selatan 14 4 18 7 4 11 0.2 30 22 52 3 11 14 0.3 0.0 0.5 1.0 0.7 0.4 3 Sumatera Barat 21 13 34 2 7 9 0.5 0.3 0.1 0.1 13 0 13 6 9 Kepulauan Bangka Belitung 3 2 5 0 2 2 0.Lampiran 5.5 0.6 0 40 40 0 18 18 0.4 2 1 3 2 1 3 1.0 0.3 8 41 49 1 21 22 0.5 0.1 18 Sulawesi Tengah 16 26 42 0 5 5 0.4 1.7 6 3 9 1 3 4 0.0 12 Nusa Tenggara Timur 16 72 88 1 26 27 0.0 0.0 0.5 0.2 2 10 12 0 7 7 0.0 0.6 0.0 0.0 0.4 6 21 27 1 11 12 0.2 30 7 37 0 7 7 0.0 13 Kalimantan Barat 13 15 28 0 9 9 0.3 0.5 3 6 9 1 4 5 0.1 0.4 1.5 5 0 5 0 0 0 0.4 15 4 19 6 2 8 4 Riau 15 3 18 9 3 12 0.6 0.7 0.0 0.5 0.1 2 Sumatera Utara 15 9 24 4 6 10 0.6 0.4 0.3 17 2 19 4 1 5 0.1 9 16 25 0 7 7 0.0 0.0 0.9 0.0 0.3 0.5 17 Sulawesi Utara 22 4 26 1 1 2 0.2 12 12 24 5 8 13 0.3 0.5 0.4 0.0 0.3 2 3 0.6 0.4 0.5 0.0 5 2 7 1 7 Bengkulu 26 11 37 0 5 5 0.4 21 Gorontalo 14 8 22 0 3 3 0.3 0.2 1.0 9 4 13 1 0 1 0.6 0.0 0.4 0.7 0.1 0.4 6 0.4 0.1 14 10 24 1 8 Lampung 28 3 31 2 3 5 0.1 1.6 23 1 24 8 1 9 0.0 0.2 15 Kalimantan Selatan 34 7 41 4 4 8 0.6 0.3 29 16 45 2 16 18 0.0 1.1 0.5 0 0 5 5 10 2 5 7 0.3 0.4 1.8 0.5 1.0 0.7 1.2 6 6 12 1 5 6 0.1 13 12 25 0 4 4 0.0 0.0 0 0 0 0 10 Kepulauan Riau (29) 0.3 0.0 0.2 28 1 29 2 1 3 0.0 0.0 1.3 3 4 7 0 3 3 0.8 0.1 1.1 1.0 0.3 0.7 0.6 11 Nusa Tenggara Barat 14 4 18 2 4 6 0.2 1.0 0.2 0.2 0.3 21 9 30 0 5 5 0.0 0.3 21 25 46 2 16 18 0.4 46.0 0.8 0.7 23 Maluku 0 40 40 0 23 23 0.2 14 Kalimantan Tengah 21 22 43 0 6 6 0.0 0.2 7 7 14 2 5 7 0.4 0.7 0 0 0 0 0 0 2 13 15 0 4 4 0.1 0.4 20 2 22 9 2 11 0.1 0.0 0.2 53.4 0.0 1.3 1.6 7 2 9 4 2 6 0.3 20 11 31 0 4 4 0.2 0.4 48.3 0 6 0.0 0.1 0.1 0.0 0.5 16 Kalimantan Timur 19 18 37 4 8 12 0.0 0.1 21 11 32 0 5 5 0.6 20 Sulawesi Tenggara 11 31 42 1 13 14 0.0 219 225 444 53 121 174 24.0 24 Maluku Utara 6 5 11 0 3 3 0.2 0.5 1.3 4 0 4 0 0 0 0.2 5 13 18 0 5 5 0.2 22 Sulawesi Barat 26 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.4 16 5 21 8 4 12 0.5 0 9 9 0 9 9 1.7 0.6 0.3 3 18 21 0 1 1 0.0 .3 0.8 0.0 0.2 0.1 27 11 38 0 3 3 0.2 20 4 24 3 3 6 Sumatera Selatan 11 2 13 4 2 6 0.1 0.1 20 7 27 0 6 6 0.1 9 5 14 0 0 0 0.3 18 14 32 3 4 7 0.6 1.2 0.0 0.7 0.0 0.7 29.1 0.2 0.9 6 0.4 0.0 0.0 385 262 647 36 126 162 9.1 35 30 65 0 7 7 0.0 0.3 15 54 69 0 21 21 0.1 0.2 0.0 0.5 17 0 17 6 0 6 0.0 1.0 0.0 0.3 0.5 0.5 0.1 8 10 18 0 2 2 0.4 3 4 7 2 4 5 Jambi 12 0 12 1 0 1 0.0 0.0 0.4 6 7 0.0 0.0 0.

5 215 32.Lampiran 5.3 951 23.8 1.4 8 1.0 727 2.9 180 12.2 2007 22.3 20 3.3 173 238 26.855 3.4 3655 11.1 116 26.3 40 18.0 3393 SUBTOTAL 5 0.7 22 5.3 1 0.0 7 3.9 182 14.0 2 0.7 66 8.8 1.1 375 4.6 54 8.6 15 51.0 110 46.6 373 29.4 280 22.6 1722 20.9 9074 30 3.8 485 2 0.0 436 31 2.5 998 11.2 35 4.0 31 14.2 1909 22.3 907 DITJEN BINA BINKESMAS DITJEN BINA YANMED KANTOR PUSAT V S2 10 SUBTOTAL III % SETJEN KANTOR PUSAT II S3 2 0.6 50.3 0 0.2 82 19.9 135 3.0 1131 27.4 3815 12.9 46 3.4 1 0.2 1455 0.3 2 0.2 69 2.39 DISTRIBUSI PEGAWAI KEMENTERIAN KESEHATAN RI DIRINCI MENURUT JENIS PENDIDIKAN TAHUN 2009 PENDIDIKAN No Nama Satuan Organisasi (1) (2) I IV VI VII % SPESIALIS 1/2/AV % S1 % D III % D1 % SMA % SMP % SD % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) JUMLAH (21) 0 0.1 537 13.9 526 UPT 14 0.5 192 29.4 42 3.2 20 0.2 133 26.5 39 7.2 6.4 33 1.4 88 37.5 263 0.0 711 67.0 149 28.2 84 17.6 51 0.6 10 0.0 24 10.0 1052 0.5 13 2.0 9.7 127 3.7 8 1.1 8 1.4 123 KANTOR PUSAT 0 0.2 205 22.056 .3 31575 DITJEN PP DAN PL KANTOR PUSAT 3 0.2 4 0.0 98 18.3 1.2 23 0.498 3.326 28.6 471 0.7 212 26.6 881 26.1 3 0.5 51 9.3 37 0.2 176 33.0 262 0.5 0 0.0 SUBTOTAL 0 0.1 0 29 2.0 28 11.3 1049 11.3 11 0.0 215 BADAN PPSDM KESEHATAN KANTOR PUSAT 0 0.9 26 3.5 8 1.4 984 35.1 78 17.9 1274 4.479 18.1 38 0.6 8 0.7 1.8 1 0.8 8548 SUBTOTAL 14 0.7 1 0.9 0.1 1734 5.7 796 23.9 14.8 421 28.0 3 0.0 43 4.6 28 1.2 123 25.900 29.0 140 32.9 1 0.1 2 0.8 215 20.8 31 5.8 35 86 17.0 1077 31.7 134 31.6 395 4.1 345 10.8 237 3 0.0 INSPEKTORAT JENDERAL 266 18.7 1 0.7 0 0.4 4 0 0.1 11221 35.2 58 13.4 155 30.0 DPK/DPB 0 0. 2010 87 0.6 15 1.0 208 22.2 86 2.8 40 3.5 89 2.3 489 33.0 218 24.1 4053 DITJEN BINA KEFARMASIAN DAN ALKES 0 0.2 0 0.8 1278 4.8 6 1.9 14.6 1248 VIII BADAN LITBANGKES KANTOR PUSAT UPT SUBTOTAL TOTAL Sumber: Biro Kepegawaian.7 51 0.0 152 36.3 31067 SUBTOTAL 26 0.6 1871 20.156 12.4 3120 36.0 108 50.0 202 24. Kemenkes.7 6 1.6 4 0.1 1889 6.8 483 17.284 2.8 10845 34.0 35 16.6 160 31.5 270 21.9 422 35.0 UPT 0 0.8 75 31.1 0 0.4 322 3.6 1096 27.8 11182 36.0 1378 4.2 8 1.3 0 0.3 812 1 0.6 5 0.2 508 UPT 24 0.4 57 4.5 76 2.4 353 3.1 721 2.4 7 1.0 17 2.2 155 23.2 9 1.6 0 0.6 660 UPT 2 0.4 3296 36.4 11 40 1.6 1370 4.8 10978 34.0 233 28.9 16 3.5 560 20.7 12 1.8 2 0.6 5 1.6 1 0.7 UPT 0 0.3 12 5.7 2744 0 0.2 48 1.5 571 20.4 240 8.

4 juta jiwa .7 35 62 3 61 1.3 * 128 52 1.8 82 22 1.3 263 28 1. 2009 .280 16 Nepal 27.World Population Data Sheet.990 11 Bangladesh 162.3 86 70 2.0 74 33 0. 2010 : Laju pertumbuhan penduduk Ket: *) pada data BPS.8 132 33 0.127 27 1.200 Filipina 92.1 37 59 4 69 1.900 3 Kamboja 14.830 9 Myanmar 50.6 32 63 5 59 4.486 100 1.1 26 70 4 43 50.64 Tahun (%) Tahun 2008 1998-2008 Atas (%) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 0.The State of The Worlds Children.2 307 65 1.8 27 68 5 47 1.5 187 17 2.6 32 63 5 59 2.0 32 64 4 56 13.7 188 63 0. USAID.9 18 73 9 37 47.0 356 29 1.8 26 67 7 49 4.480 18 Timor Leste 1.9 22 71 7 41 5.940 7 Vietnam 87.3 26 67 7 49 2.290 10 Thailand 67.700 8 Indonesia 243.2 1.4 66 75 2.740 6 Singapura 5.5 312 15 0.880 13 India 1171.9 45 52 3 92 4.8 39 57 4 75 2.120 17 Sri Lanka 20.060 5 Malaysia 28.5 30 65 5 54 5.960 14 Korea Utara 22.6 32 64 4 56 1.690 Sumber : .1 PERBANDINGAN BEBERAPA DATA KEPENDUDUKAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 No Negara Jumlah Penduduk (Juta Jiwa) (1) (2) (3) 1 Brunei Darussalam 2 Kepadatan Penduduk (per Km²) Persentase Penduduk di Daerah Perkotaan (4) (5) Laju Persentase Persentase Persentase Angka Beban GNI PPP per Pertumbuhan Penduduk Usia Penduduk Usia Penduduk Usia Tanggungan kapita (US$) Penduduk 65 Tahun Ke 0-14 Tahun 15 .3 27 31 1.9 35 61 4 64 3.7 15 35 2.1 7.6 22 69 9 45 - 15 Maladewa 0.3 1.440 12 Bhutan 0. jumlah penduduk Indonesia tahun 2009 adalah 231.1 76 27 2.820 4 Laos 6.057 38 1.3 29 65 6 54 3.Lampiran 6.

584 137 0.5 28 7 53 41 48 65 58 61 660 5 Malaysia 66 0.6 25 8 58 49 54 87 75 81 440 13 India 134 0.3 10 4 3 2 2 3 2 3 14 7 Vietnam 116 0.553 63 64 63 2.543 64 65 65 2.6 21 5 7 5 6 7 6 6 62 6 Singapura 23 0.619 61 63 62 3.489 59 64 62 6.World Population Data Sheet.608 133 0. Angka kematian maternal .5 40 9 84 65 75 105 80 93 380 Sumber : . ANGKA KEMATIAN.72 115 0. USAID.7 23 7 52 53 52 65 73 69 450 14 Korea Utara - - - - 65 69 67 1.9 29 9 41 41 41 52 51 51 830 17 Sri Lanka 102 0.751 67 74 70 3.747 105 0.584 138 0.759 63 76 69 2.771 73 75 74 2.612 63 66 64 2.755 102 0.3 19 7 15 12 13 19 15 17 58 18 Timor Leste 162 0.783 87 0.8 15 9 14 11 13 16 12 14 110 11 Bangladesh 146 0.3 23 7 45 40 43 56 53 54 570 12 Bhutan 132 0. 2009 .729 111 0. DAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO No Negara Indeks Pembangunan Manusia Peringkat IPM dunia Peringkat IPM dunia 2006 (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 (3) Usia Harapan Hidup Waktu Angka Kelahiran Angka Kematian Total Fertility Lahir Kasar per 1000 Kasar per 1000 Rate (TFR) Penduduk Penduduk L P L+P Indeks Pembangunan Manusia 2007 (4) (5) Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Balita (AKABA) L P L+P L P L+P (13) (14) (15) (16) (17) (18) 2008 (6) (7) (8) (9) (10) (11) Angka Kematian Maternal (per 100.484 162 0.920 75 77 76 2.829 71 76 73 2.1 17 5 12 12 12 14 13 14 150 8 Indonesia 111 0.Human Development Report 2009: Indeks Pembangunan Manusia .593 59 64 62 2.942 24 0.734 66 69 67 * 2.2 21 6 34 28 31 * 44 37 41 * 420 * 9 Myanmar 138 0.919 30 0.Lampiran 6.765 95 0.604 134 0.1 26 5 30 22 26 38 27 30 230 3 Kamboja 137 0.619 61 65 63 2.000 lahir hidup) 2005 (12) (19) 30 0.1 16 3 5 6 5 6 7 7 13 Filipina 105 0.613 132 0.78 66 74 70 1.944 79 83 81 1.825 66 0.0 22 4 27 21 24 30 25 28 120 16 Nepal 144 0.535 148 0.9 25 8 76 62 69 97 82 89 540 4 Laos 133 0.547 144 0.3 21 10 85 66 76 133 111 122 380 10 Thailand 86 0.9 16 10 43 41 42 57 53 55 370 15 Maladewa 97 0.2 ANGKA KELAHIRAN.586 53 56 54 2.725 70 75 73 2.World Health Statistics 2010 WHO: AKABA.

WHO Penduduk Yang Menggunakan Sumber Air Bersih (%) Penduduk Yang Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat Perkotaan Perdesaan Total Perkotaan Perdesaan Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) - - - - - - 93 87 91 80 69 76 81 56 61 67 18 29 72 51 57 86 38 53 100 99 100 96 95 96 100 - 100 100 - 100 99 92 94 94 67 75 89 71 80 67 36 52 75 69 71 86 79 81 99 98 98 95 96 96 85 78 80 56 52 53 99 88 92 87 54 65 96 84 88 54 21 31 100 100 100 - - - 99 86 91 100 96 98 93 87 88 51 27 31 98 88 90 88 92 91 86 63 69 76 40 50 .3 PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SUMBER AIR BERSIH DAN YANG MENGGUNAKAN SARANA SANITASI SEHAT DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 (%) No Negara (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 Filipina 3 Kamboja 4 Laos 5 Malaysia 6 Singapura 7 Vietnam 8 Indonesia 9 Myanmar 10 Thailand 11 Bangladesh 12 Bhutan 13 India 14 Korea Utara 15 Maladewa 16 Nepal 17 Sri Lanka 18 Timor Leste Sumber : World Health Statistics 2010.Lampiran 6.

Lampiran 6. WHO Keterangan : .000 Penduduk 2008 (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 (3) (4) Kematian yang berhubungan dengan TB Paru per 100.000 Penduduk Insidens TB Paru per 100.000 Penduduk Proporsi Kasus TB Paru melalui DOTS Case Detection Rate Succes Rate 2007 2008 2008 2007 (6) (7) (8) (9) 43 65 7 4.6 73 86 18 Timor Leste 660 500 47 83 33 84 Sumber : World Health Statistics 2010.SR = Succes Rate (Angka kesembuhan) .2 87 76 Filipina 550 280 41 52 67 89 3 Kamboja 680 490 77 79 56 94 4 Laos 260 150 22 32 67 92 5 Malaysia 120 100 13 15 76 72 6 Singapura 27 39 3 2.4 PERBANDINGAN DATA TUBERKULOSIS DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007/2008 No Negara Prevalensi TB Paru per 100.5 87 81 7 Vietnam 280 200 20 34 62 92 8 Indonesia 210 190 37 27 80 91 9 Myanmar 470 400 11 57 43 85 10 Thailand 160 140 15 19 64 83 11 Bangladesh 410 220 44 50 72 62 12 Bhutan 96 160 43 15 64 93 13 India 190 170 26 23 70 87 14 Korea Utara 270 340 65 39 70 87 15 Maladewa 13 42 4 2.9 86 68 16 Nepal 170 160 22 22 64 88 17 Sri Lanka 73 66 8 9.CDR = Case Detection Rate (Penemuan kasus baru) .

25.000 ] 20.3 .000 .3.2.600 .500 [ 3.000 [ 46.000 12 Bhutan < 500 13 India 14 Korea Utara … [ <100 ] … 15 Maladewa … [ <100 ] … 16 Nepal 17 Sri Lanka 18 Timor Leste … … … … 8.700.000 8 Indonesia 270.0.000 .000 ] 280.8 ] 21.000 ] 0.200.11.1 ] … [ <100 ] … [ <100 ] < 500 2.33.3 .000 ] [ 7.000 ] 0.1 ] 2.200 [ <1.000 ] [ 7.000 .000 ] … [ < 0.300.000 [ 63.860.000 [ 190.19.000 ] 4.000 .000 ] 600.4 ] [ <1. UNAIDS/WHO … … … .000 ] 0.000 [ 12.84.000 .000 [ 52.000 .000 ] 54.400 .1 .1.0.5.0.9 .000 [ 150.000 ] … … … … … [ 1.1 [ < 0.000 ] … [ < 0.00 ] 1.700 [ 4.7 ] 17.000 .0.000 ] 0.300 ] 3.000 ] 5.000 .300 .0.1 ] [ <1000 ] 0.000 [ 170.5 [ 0.000 [ 670.13.1 .360.3.3.900 .000 .000 .000 12.000 ] 68.000 [ 51.000 ] 0.13.200 [ 5.5 [ 0.000 .1 .120.200.000 .2 [ 0.8 [ 0. Kematian Akibat AIDS Dewasa (15–49) Rate (%) Wanita (15+) Dewasa dan Anak-anak Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Brunei Darussalam … … … … … 2 Filipina 3 Kamboja 4 Laos 5 Malaysia 6 Singapura 7 Vietnam 290.000 .000 [ 400.2 9 Myanmar 240.2 ] 2.23.0.9 ] [ 0.900 [ 3.470.1 .5 ANGKA ESTIMASI HIV DAN AIDS DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 1.200 .19.0.7.000 ] 270.800 .000 [ 13.000 .900 .100 ] < 200 75.7.100 < 200 … [ <100 .000 1.1 ] 1.000 .100.34.000 ] … … 250.80.11.000 [ 190.4 .000 .7.000 [ 12.000 [ 1.100] [ 180.97.000 [ 160.000 ] [ <1000 ] 2.800.200 ] 0.1.000 ] … [ < 0.000 .800 .3.300 [ 6.000 ] 8.700 .000 ] 240.120.000 .5.000 .200 [ 1.880.3 ] … [ 0.000 .500 ] [ <100 .300 ] 4.100 ] 3.400 ] < 500 [ <1000 ] [ < 200 ] … [ <100 ] 880.<500 ] 76.400.100 .800 ] … < 500 … … … … … … … Sumber: 2008 Report on the global AIDS epidemic.000 .5 [ 0.000 ] … 5.000 .200 [ 2.000 [ 17.000 [ 67.0.000 [ 170.000 ] 70.000 .300 .370.500 .000 ] … 10 Thailand 610.400 [ 3.000 ] 8.800 [ 2.000 [ 36.3 [ 0.600 .<500 ] … [ <200 ] [ 2.99.7 .400.0.470.000 .600 .000 ] 4.2.4.5 ] [ <100 ] … [ < 0.000] 0.400.000 [ 49.000 [ 50.000 .700 [ 2.2 [ 0.120.000 .000 .Lampiran 6.2 .9 ] 20.3.000 [ 410.000 .87.1 ] 1 300 3.13. Angka Estimasi HIV No Negara (1) (2) Dewasa dan Anak-anak Dewasa (15+) 2.400 [ 1.4 11 Bangladesh 12.3 ] 1.000 … < 100 70.1 ] … [ <100 ] … [ <100 ] [ <100 ] … [ < 0.000] 0.360.000 ] 79.100 [ 2.100 ] <100 80.

151 0 S E A R O 6.633 1.477 1.502 46. 2009 .714 811 48.preventable diseases: monitoring system.016 0 11 Bangladesh 43 33 943 152 2.231 75.181 559 14 Korea Utara 0 395 0 0 82 0 15 Maladewa 0 0 0 0 0 0 16 Nepal 149 2.369 0 9 Myanmar 3 5 147 25 333 0 10 Thailand 7 18 137 5 7.297 308 53 2.660 0 12 Bhutan 0 0 7 0 7 0 13 India 6.866 431 28.6 JUMLAH KASUS PENYAKIT MENULAR YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 No Negara Difteri Pertusis Tetanus Tetanus Neonatorum Campak Polio (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1 Brunei Darussalam 2 Filipina 3 0 2 0 0 3 0 65 46 813 132 341 0 Kamboja 7 1212 324 34 4211 0 4 Laos 2 26 12 5 174 0 5 Malaysia 4 11 29 13 334 0 6 Singapura 0 33 0 0 18 0 7 Vietnam 17 280 221 34 352 0 8 Indonesia 219 - 183 183 15.081 44.089 6 17 Sri Lanka 0 9 29 1 33 0 18 Timor Leste 0 0 9 1 0 0 A S E A N 324 1.770 565 Sumber : WHO vaccine .180 3.937 5.Lampiran 6.

Lampiran 6.7 PERBANDINGAN CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 No Negara BCG (%) DPT3 (%) Polio3 (%) Campak (%) Hepatitis B3 (%) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Brunei Darussalam 96 99 99 97 99 2 Filipina 93 91 91 92 88 3 Kamboja 98 91 91 89 91 4 Laos 68 61 60 52 61 5 Malaysia 90 90 90 95 90 6 Singapura 99 97 97 95 96 7 Vietnam 92 93 93 92 87 8 Indonesia 89 77 77 83 78 9 Myanmar 88 85 85 82 84 10 Thailand 99 99 99 98 98 11 Bangladesh 98 95 95 89 95 12 Bhutan 99 96 96 99 96 13 India 87 66 67 70 21 14 Korea Utara 97 92 98 98 92 15 Maladewa 99 98 98 97 98 16 Nepal 87 82 82 79 82 17 Sri Lanka 99 98 98 98 98 18 Timor Leste 85 79 79 73 79 Sumber : WHO Immunization Summary. 2010: A Statistical Reference Containing Data through 2008 .

2009 : Persentase KB aktif . WHO .2008 2000 . USAID.2009 2000 .World Health Statistics 2010.World Population Data Sheet.Lampiran 6.2009 (3) (4) (5) (6) - - 100 - Filipina 34 78 62 34 3 Kamboja 27 27 44 66 4 Laos 29 - 20 26 5 Malaysia - - 100 - 6 Singapura 55 - 100 - 7 Vietnam 68 29 88 17 8 Indonesia 57 81 73 32 9 Myanmar 33 66 57 11 10 Thailand 70 74 99 5 11 Bangladesh 48 21 18 43 12 Bhutan 31 - 51 10 13 India 49 37 47 46 14 Korea Utara 58 95 97 65 15 Maladewa 34 91 84 10 16 Nepal 44 29 19 53 17 Sri Lanka 53 - 99 76 18 Timor Leste 9 30 19 31 Sumber : .8 PERBANDINGAN UPAYA KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2000 .2009 No Negara (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 Persentase KB aktif pada PUS Pemeriksaan antenatal kali) (4 Persalinan oleh tenaga kesehatan Anak dengan ASI eksklusif (6 bulan) 2009 2000 .

4 33.1 209 11 Bangladesh 3.5 6.6 6.7 88.4 44.5 18.9 29 71 11.1 3.7 73.9 34.2 44 9 Myanmar 1. WHO .4 14.8 3.7 958 2 Filipina 3.2 536 7 Vietnam 7.2 26.1 80.9 98 Sumber : World Health Statistics 2010.4 8 14 12 Bhutan 4.5 8.4 7. $) No Negara Persentase Keseluruhan Pengeluaran di Bidang Kesehatan terhadap Produk Domestik Bruto (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Brunei Darussalam 2.7 8.9 268 6 Singapura 3.6 15.1 26.3 60.4 81.9 11.7 65.2 73.9 PEMBIAYAAN KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Persentase Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran di Bidang Kesehatan Persentase Pengeluaran Sektor Swasta di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran di Bidang Kesehatan Persentase Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran per Kapita di Bidang Kesehatan Oleh Pemerintah (PPP int.7 10.7 29 14 Korea Utara - - - - - 15 Maladewa 9.5 6.1 32.9 81.6 67.6 66.1 39.3 10.9 2 10 Thailand 3.2 54.8 13.7 60.3 19.3 0.5 45.Lampiran 6.6 10.5 52.4 55.4 34.5 85 18 Timor Leste 13.7 72 8 Indonesia 2.7 151 13 India 4.1 39.7 45 3 Kamboja 5.2 47.3 6.6 84.2 31 4 Laos 4 18.9 21 17 Sri Lanka 4.7 16 5 Malaysia 4.5 336 16 Nepal 5.8 65.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful