P. 1
Buku Profil Kesehatan Indonesia 2009

Buku Profil Kesehatan Indonesia 2009

|Views: 1,805|Likes:
Dipublikasikan oleh Melissa

More info:

Published by: Melissa on Feb 22, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/27/2013

pdf

text

original

PROFIL

KESEHATAN INDONESIA
2009




























KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.
JAKARTA
2010




ISBN 978-602-8937-18-4
351.770212
Ind
P
















Katalog Dalam Terbitan Kementerian Kesehatan RI

Ind Indonesia. Kementerian Kesehatan. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi
Profil Kesehatan Indonesia 2009. - - J akarta :

P Kementerian Kesehatan RI 2010

I. J udul 1. PROFIL KESEHATAN INDONESIA 2009







Buku ini diterbitkan oleh
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
J alan HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav 4-9, J akarta 12950
Telepon no: 62-21-5229590, 5221432
Fax no: 62-21-5203874
E-mail: pusdatin@depkes .go.id
Web site: http://www.depkes.go.id
________________________________________________________________________

ISBN 978-602-8937-18-4
351.770212
Ind
P
TIM PENYUSUN


Pengarah
dr. Ratna Rosita, MPH.M
Sekretaris J enderal Kemenkes RI

Ketua
dr. J ane Soepardi
Kepala Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi

Editor
Hasnawati, SKM, MKes
drg. Vensya Sitohang, MEpid
Dra. Rahmaniar Brahim, Apt, MKes

Anggota
Sunaryadi, SKM,MKes; Iskandar Zulkarnain, SKM,MKes; Nuning Kurniasih, Apt,MSi;
Marlina Indah Susanti, SKM; Supriyono Pangribowo, SKM; Istiqomah, SS;
Athi Susilowati Rois, SKM; drg. Rudi Kurniawan, MKes; Margiyono, SKom;
Muslichatul Hidayah, Hanna Endang Wahyuni; Endang Kustanti; B.B. Sigit;
Sondang Tambunan; Hellena Maslinda; Doni Hadhi Kurnianto, SKom

Kontributor

dr. Leni Evanita; Lina Khasanah; dr. Rusmiyati, MQIH; Indah Susanti D,SSi,Apt;
dr. Lucas C Hermawan, MKes; Ingrat Padmosari; Mahmud Fauzi, SKM,MKes;
Linda Siti Rohaeti; drg. R. Edi Setiawan: Akhmad Rizky Taufik, SKom;
Ir. Ade Sutrisno,MKes; Astuti, SKM,MKes; dr. Theresia Hermin; Bunga Mayung DL ;
Dewi Minarni; Cipto Aris Purnomo; Indah Hartati; Heri Radison, SKM,MKM;
Nariyah Handayani; Ainol Mardhiah; Yopi Ananda; Anggi Ardhiasti, SKM;
Ira Oktaviani; Nelly Mustika Sari, SKM; Nurhayati Simanjuntak, SKom

i

D




Profil Kesehatan Indonesia merupakan sarana penyaji data dan informasi kesehatan
serta yang berkaitan, yang menggambarkan “potret” status kesehatan masyarakat dan faktor -
faktor yang mempengaruhi, dari suatu wilayah/Indonesia, dalam satu kurun waktu tertentu
dalam hal ini tahunan dengan berbagai bentuk: tercetak dan digital (cd-rom, file di website,
dll). Profil kesehatan sebagai “potret”saat ini lebih dinilai sebagai alat evaluasi daripada
sebagai alat pemantauan. J ika digunakan sebagai pemantau maka profil merupakan
pemantauan rencana jangka panjang, misal: Rencana lima tahun pembangunan kesehatan.
Sebagai bentuk penyajian, data diupayakan lengkap, baik jenis dan cakupannya. J enis
data adalah data “facility based” dan data “community based”. Penyusunan Profil Kesehatan
Indonesia Tahun 2009 ini, seperti profil kesehatan pada tahun sebelumnya, sumber data
berasal dari profil provinsi, data sarana pelayanan kesehatan yang merupakan hasil
pengolahan data oleh Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, yang berasal dari
kabupaten/kota, juga data yang berasal dari program.
Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi sebagai koordinator Penyusunan Profil
Kesehatan Indonesia bersama-sama dengan seluruh program terkait di Kementerian
Kesehatan berupaya menyusun bersama-sama, baik narasi maupun lampiran. Profil kesehatan
Tahun 2009 ini diupayakan disusun dengan tampilan yang lebih menarik, dan “eye-catching”
dan bertujuan memudahkan para pembaca dalam menggunakannya. Dalam Profil Kesehatan
Indonesia ini menggambarkan secara umum tentang kondisi derajat kesehatan, upaya
kesehatan, sumber daya kesehatan, dan faktor-faktor terkait lainnya, serta perbandingan
Indonesia dengan negara-negara anggota ASEAN dan SEARO.
Profil Kesehatan Indonesia harus tersusun secara sistematis, dimana analisis/narasi
menggunakan model/kerangka teori yaitu teori blum/teori host-environment-agent/teori lain.
Analisis diupayakan semaksimal mungkin, tidak hanya deskriptif, tetapi juga analisis
komparatif, analisis kecenderungan, analisis hubungan
Profil kesehatan harus menarik, narasi dikombinasi dengan bentuk-bentuk penyajian
lain, seperti tabel, grafik – histogram/bar chart, frekuensi poligon, line diagram, bar
diagram, pie diagram, scater diagram, pictogram, dan peta.
Data dan Informasi dalam “Profil Kesehatan Indonesia 2009” merupakan salah satu
wujud akuntabilitas dari kinerja Kementerian Kesehatan yang mencerminkan Pembangunan
Kesehatan secara menyeluruh. Tahun yang terdapat dalam judul profil kesehatan, disamakan
dengan tahun dari data dan informasi yang disajikan.
Profil Kesehatan Indonesia 2009” ini selain memuat data dan informasi kesehatan dan
faktor-faktor lain yang terkait, maka seperti profil kesehatan sebelumnya, juga memuat
kejadian-kejadian penting yang terjadi pada tahun 2009. Penyajian dalam “Profil Kesehatan
Indonesia 2009” ini masih terdapat keterbatasan karena ada beberapa indikator masih
memuat data beberapa tahun ke belakang, termasuk kontribusi dari hasil Riset Kesehatan
Dasar Tahun 2007 yang diselenggarakan Balitbangkes Depkes. Beberapa data dan informasi
tahun 2009 yang belum terdapat dalam Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini akan disajikan
dalam bentuk sajian lain, misalnya data dan informasi terplih lainnya.

KATA PENGANTAR
iv



v









KATA PENGANTAR i

SAMBUTAN SEKRETARIS JENDERAL iii

DAFTAR ISI v

DAFTAR LAMPIRAN vii

BAB I PENDAHULUAN 1

BAB II GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK 5
A. Keadaan Penduduk 6
B. Keadaan Ekonomi 9
C. Keadaan Pendidikan 14
D. Keadaan Lingkungan 19
E. Keadaan Perilaku Masyarakat 24

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN 26
A. Mortalitas 27
B. Morbiditas 33

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN 58
A. Pelayanan Kesehatan Dasar 59
B. Pelayanan Kesehatan Rujukan 83
C. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit 88
D. Perbaikan Gizi Masyarakat 106
E. Pelayanan Kesehatan dalam Situasi Bencana 115

BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN 117
A. Sarana Kesehatan 118
B. Tenaga Kesehatan 133
C. Pembiayaan Kesehatan 137



DAFTAR I SI
vi



BAB VI PERBANDINGAN INDONESIA DENGAN NEGARA ANGGOTA
ASEAN DAN SEARO 143
A. Kependudukan 144
B. Derajat Kesehatan 154
C. Upaya Kesehatan 164

DAFTAR PUSTAKA 170


LAMPIRAN



***





























vii






Lampiran 2.1 Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan Menurut Provinsi Tahun
2009
Lampiran 2.2 Hasil Sensus Penduduk 2010 dan Rasio J enis Kelamin Menurut Provinsi
Tahun 2010
Lampiran 2.3 Luas Wilayah, J umlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut
Provinsi Tahun 2009
Lampiran 2.4 Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi Tahun 1971 - 2010
Lampiran 2.5 J umlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Tertentu, Angka Beban
Tanggungan dan Provinsi Tahun 2009
Lampiran 2.6 J umlah dan Persentase Daerah Tertinggal Menurut Provinsi Tahun 2006
– 2010
Lampiran 2.7 Garis Kemiskinan Menurut Provinsi dan Daerah Tahun 2009 (Maret
2009)
Lampiran 2.8 J umlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Provinsi dan Daerah
Tahun 2009
Lampiran 2.9 Angka Melek Huruf Penduduk Berusia 15 Tahun Ke Atas Menurut
Provinsi dan J enis Kelamin Tahun 2008 - 2009
Lampiran 2.10 Rata-rata Lama Sekolah (Tahun) Menurut Provinsi dan J enis Kelamin
Tahun 2008 - 2009
Lampiran 2.11 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Provinsi dan Usia Sekolah
Tahun 2008 - 2009
Lampiran 2.12 Persentase Keluarga Menurut J enis Sarana Air Bersih yang Digunakan
Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 2.13 Proporsi Penduduk dengan Akses terhadap Air Minum yang Aman
Menurut Provinsi dan Wilayah Tahun 2009
Lampiran 2.14 Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Menurut
Provinsi Tahun 2009
Lampiran 2.15 Proporsi Penduduk dengan Akses Sanitasi Dasar yang Layak Menurut
Provinsi dan Wilayah Tahun 2009
Lampiran 2.16 Persentase Rumah Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 2.17 Persentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat
Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 2.18 Persentase Institusi Dibina kesehatan Lingkungannya Menurut Provinsi
Tahun 2009
DAFTAR LAMPI RAN
viii

Lampiran 2.19 Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas J entik Nyamuk
Aedes Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 2.20 Persentase Rumah Tangga Ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 2.21 Persentase Wanita Umur Perkawinan Pertama Menurut Provinsi Tahun
2009
Lampiran 3.1 Estimasi Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Balita Tahun 2007 dan
Angka Harapan Hidup Menurut Provinsi Tahun 2008
Lampiran 3.2 Indeks Pembangunan Manusia dan Komponen Menurut Provinsi Tahun
2007 - 2008
Lampiran 3.3 10 Besar Penyakit Rawat Inap di Rumah Sakit Tahun 2009
Lampiran 3.4 10 Besar Penyakit Rawat J alan Tahun 2009
Lampiran 3.5 J umlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Malaria Menurut Provinsi
Tahun 2009
Lampiran 3.6 Annual Parasite Incidence (API) Malaria di J awa-Bali Tahun 2004 -
2009
Lampiran 3.7 Hasil Cakupan Penemuan Kasus Penyakit TB Paru Tahun 2009
Lampiran 3.8 J umlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut J enis Kelamin dan
Provinsi Tahun 2009
Lampiran 3.9 J umlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Kelompok Umur
(Tahun), J enis Kelamin dan Provinsi Tahun 2009
Lampiran 3.10 Hasil Cakupan Pengobatan TB Paru Menurut Provinsi Tahun 2008
Lampiran 3.11 J umlah Kumulatif Kasus AIDS, Meninggal, dan Angka Kumulatif Kasus
Per 100.000 Penduduk Menurut Provinsi s.d Desember 2009
Lampiran 3.12 J umlah Kasus AIDS Kumulatif Per Triwulan Menurut Provinsi Tahun
2009
Lampiran 3.13 J umlah dan Persentase Kasus AIDS Pada Pengguna NAPZA Suntikan
(IDU) Menurut Provinsi s.d 31 Desember 2009
Lampiran 3.14 J umlah Kasus Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 3.15 J umlah Kasus Baru Kusta, Case Detection Rate (CDR), Kecacatan, dan
Proporsi Kasus pada Anak Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 3.16 J umlah Kasus Tetanus Neonatorum dan Faktor Risiko Menurut Provinsi
Tahun 2009
Lampiran 3.17 J umlah Kasus Campak Per Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 3.18 J umlah Kasus Campak Menurut Kelompok Umur dan Provinsi Tahun
2009
Lampiran 3.19 J umlah Kasus, Meninggal, dan Incidence Rate Campak Menurut
Provinsi Tahun 2009
ix

Lampiran 3.20 Frekuensi KLB dan J umlah Kasus pada KLB Campak Menurut Provinsi
Tahun 2009
Lampiran 3.21 KLB Campak Berdasarkan Konfirmasi Laboratorium Menurut Provinsi
Tahun 2009
Lampiran 3.22 J umlah Kasus Difteri Menurut Kelompok Umur dan Provinsi Tahun
2009
Lampiran 3.23 J umlah Kasus Difteri Per Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 3.24 J umlah Kasus AFP, AFP Rate, dan Non Polio AFP Rate Menurut
Provinsi Tahun 2009
Lampiran 3.25 J umlah Kasus AFP Menurut Kriteria Klasifikasi Klinis dan Provinsi
Tahun 2009
Lampiran 3.26 J umlah Penderita, Case Fatality Rate (%), dan Incidence Rate Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD/DHF) Menurut Provinsi Tahun 2005 -
2009
Lampiran 3.27 J umlah Kabupaten/Kota yang Terjangkit Demam Berdarah Dengue
Menurut Provinsi Tahun 2005 – 2009
Lampiran 3.28 Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare Menurut Provinsi Tahun 2005 - 2009
Lampiran 3.29 J umlah Kasus Demam Chikungunya Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 3.30 J umlah dan Persentase Kabupaten Terjangkit dan J umlah Kasus Gigitan
Hewan Tertular Rabies serta Hasil Pemeriksaan Specimen Hewan
Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 3.31 J umlah Penderita Filariasis Menurut Provinsi Tahun 2006 - 2009
Lampiran 3.32 Situasi Pes Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 3.33 J umlah Kasus, Meninggal, dan Case Fatality Rate (CFR) Leptospirosis
Menurut Provinsi Tahun 2004 - 2009
Lampiran 3.34 J umlah Kasus dan Meninggal Flu Burung Menurut Provinsi Tahun 2005
- 2009
Lampiran 3.35 J umlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas, J umlah Korban Luka dan
Meninggal Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.1 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1, K4, dan Persalinan Ditolong Tenaga
Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.2 Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir dan Provinsi
Tahun 2009
Lampiran 4.3 Cakupan Kunjungan Neonatus, Pelayanan Kesehatan Bayi dan Anak
Balita Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.4 Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi, Anak Balita, dan Murid SD Kelas 1
dan Sederajat Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.5 Cakupan Penanganan Neonatal dan Obstetri Komplikasi Menurut
Provinsi Tahun 2009
x

Lampiran 4.6 J umlah dan Persentase Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi
dan Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.7 Hasil Pelayanan Peserta KB Baru Menurut Metode Kontrasepsi dan
Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.8 J umlah dan Persentase Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi
dan Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.9 J umlah dan Proporsi Peserta KB Baru Menurut Tempat Pelayanan dan
Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.10 Pencapaian Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
Menurut Provinsi Tahun 2007 - 2009
Lampiran 4.11 Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.12 Drop Out Rate Cakupan Imunisasi Dpt1 - Campak pada Bayi Menurut
Provinsi Tahun 2006 - 2009
Lampiran 4.13 Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.14 Cakupan Imunisasi TT pada Wanita Usia Subur Menurut Provinsi Tahun
2009
Lampiran 4.15 J umlah Kunjungan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Menurut Provinsi
Tahun 2008
Lampiran 4.16 Indikator Pelayanan Rumah Sakit Umum Kemeterian Kesehatan dan
Pemda Menurut Provinsi Tahun 2008 - 2009
Lampiran 4.17 Pemeriksaan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Rumah Sakit Umum
Depkes dan Pemda Menurut Provinsi Tahun 2008
Lampiran 4.18 J umlah Kunjungan Peserta J amkesmas di Puskesmas Tahun 2009
Lampiran 4.19 J umlah Kunjungan Rawat J alan Tingkat Lanjut (RJ TL) Peserta
J amkesmas Tahun 2009
Lampiran 4.20 J umlah Kasus Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL) Peserta J amkesmas
Tahun 2009
Lampiran 4.21 Cakupan TB Paru BTA Positif, Sembuh, Pengobatan Lengkap dan
Success Rate (Hasil Pengobatan Penyakit TB Tahun 2008) Menurut
Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.22 J umlah Kasus Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.23 Cakupan Pemberian Tablet Besi (Fe) pada Ibu Hamil Menurut Provinsi
Tahun 2009
Lampiran 4.24 Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.25 Proporsi Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Umur 0-6 Bulan Menurut
Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.26 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Yodium
Menurut Provinsi Tahun 2007
xi

Lampiran 4.27 Rekapitulasi Kejadian Bencana Menurut J enis Bencana dan J umlah
Korban Tahun 2009
Lampiran 4.28 Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 4.29 Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 (lanjutan)
Lampiran 4.30 Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 (lanjutan)
Lampiran 4.31 Rekapitulasi Data Kecukupan Obat Nasional Tahun 2009
Lampiran 5.1 J umlah Puskesmas dan Rasionya terhadap Penduduk 'Menurut Provinsi
Tahun 2005 - 2009
Lampiran 5.2 J umlah Puskesmas Perawatan dan Puskesmas Non Perawatan Menurut
Provinsi Tahun 2005 - 2009
Lampiran 5.3 J umlah Sarana Kesehatan Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2009
Lampiran 5.4 J umlah Rumah Sakit di Indonesia Menurut Pengelola dan Provinsi
Tahun 2009
Lampiran 5.5 J umlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Menurut Pengelola
Tahun 2005 - 2009
Lampiran 5.6 J umlah Tempat Tidur di Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus
Menurut Kelas Perawatan dan Provinsi Tahun 2008
Lampiran 5.7 J umlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Milik Kemenkes/Pemda
Menurut Kelas Rumah Sakit dan Provinsi Tahun 2009
Lampiran 5.8 J umlah Rumah Sakit Khusus dan Tempat Tidurnya Menurut J enis
Rumah Sakit Tahun 2005 - 2009
Lampiran 5.9 J umlah Sarana Produksi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Menurut Provinsi Tahun 2007 - 2009
Lampiran 5.10 J umlah Sarana Distribusi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 5.11 J umlah Institusi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Menurut J urusan dan
Provinsi Tahun 2009
Lampiran 5.12 J umlah J urusan/Program Studi Politeknik Kesehatan (Poltekkes)
Menurut Akreditasi dan Strata Tahun 2009
Lampiran 5.13 J umlah Institusi Non Politeknik Kesehatan (Non-Poltekkes) Menurut
J urusan/Program Studi dan Provinsi Tahun 2009
Lampiran 5.14 J umlah Institusi Non Politeknik Kesehatan (Non-Poltekkes) Menurut
Akreditasi dan Strata Tahun 2009
Lampiran 5.15 J umlah Institusi Diknakes Non-Poltekkes Menurut Status Kepemilikan
Tahun 2009
Lampiran 5.16 Rekapitulasi Data SDM Kesehatan Per Provinsi Keadaan Desember
2009
Lampiran 5.17 J umlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Menurut J enis dan Provinsi
Tahun 2009
xii

Lampiran 5.18 Rasio Dokter, Dokter Gigi, Perawat dan Bidan terhadap J umlah
Puskesmas Menurut Provinsi Tahun 2009
Lampiran 5.19 Rekapitulasi Keberadaan Dokter Umum Pegawai Tidak Tetap (PTT)
Aktif Tahun 2009
Lampiran 5.20 Rekapitulasi Keberadaan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif
Tahun 2009
Lampiran 5.21 Rekapitulasi Keberadaan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009
Lampiran 5.22 Distribusi Tingkat Keterlibatan Institusi Diklat Kesehatan Seluruh
Indonesia dalam Kegiatan Kediklatan Tahun 2009
Lampiran 5.23 Distribusi Widyaiswara Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia
Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2009
Lampiran 5.24 Distribusi Frekuensi Pelatihan dan J umlah Peserta di Institusi Diklat
Kesehatan Seluruh Indonesia Berdasarkan J enis Diklat Tahun 2009
Lampiran 5.25 Rekapitulasi Peserta Didik Poltekkes Perjenis Tenaga Kesehatan Tahun
Ajaran 2009/2010
Lampiran 5.26 Rekapitulasi Peserta Didik Poltekkes Per J enis Tenaga Kesehatan Tahun
Ajaran 2009/2010
Lampiran 5.27 Rekapitulasi Peserta Didik Non Poltekkes Per J enis Tenaga Kesehatan
Tahun Ajaran 2009/2010
Lampiran 5.28 Lulusan Diknakes Poltekkes dan Non Poltekkes Berdasarkan J enis
Tenaga Kesehatan Tahun 2009
Lampiran 5.29 J umlah Lulusan Poltekkes Berdasarkan J urusan/Program Studi Institusi
Diknakes Seluruh Indonesia Tahun Ajaran 2009/2010
Lampiran 5.30 Rekapitulasi Lulusan Non Poltekkes Diknakes Seluruh Indonesia
Berdasarkan J enis dan Provinsi Tahun Ajaran 2009/2010
Lampiran 5.31 Alokasi dan Realisasi Kementerian Kesehatan RI Triwulan IV Tahun
2009
Lampiran 5.32 Data Cakupan Kepesertaan J aminan Kesehatan Per J uni 2010
Lampiran 5.33 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Umum Pegawai Tidak Tetap (PTT)
Aktif Tahun 2009
Lampiran 5.34 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT)
Tahun 2009
Lampiran 5.35 Rekapitulasi Pengangkatan Bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tahun
2009
Lampiran 5.36 Keadaan Dokter Spesialis PTT Kemenkes yang Masih Aktif s.d Tahun
2009
Lampiran 5.37 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Umum PTT Tahun 2009
Lampiran 5.38 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Gigi PTT Tahun 2009
xiii

Lampiran 5.39 Distribusi Pegawai Kementerian Kesehatan RI Dirinci Menurut J enis
Pendidikan Tahun 2009

Lampiran 6.1 Perbandingan Beberapa Data Kependudukan di Negara-Negara ASEAN
& SEARO Tahun 2008
Lampiran 6.2 Angka Kelahiran, Angka Kematian, dan Indeks Pembangunan Manusia
di Negara-Negara ASEAN dan SEARO
Lampiran 6.3 Penduduk yang Menggunakan Sumber Air Bersih dan yang
Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat di Negara-Negara ASEAN dan
SEARO Tahun 2007
Lampiran 6.4 Perbandingan Data Tuberkulosis di Negara-Negara ASEAN dan SEARO
Tahun 2007/2008
Lampiran 6.5 Angka Estimasi HIV dan AIDS di Negara-Negara ASEAN dan SEARO
Tahun 2008
Lampiran 6.6 J umlah Kasus Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi
di Negara-Negara ASEAN & SEARO
Lampiran 6.7 Perbandingan Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi di Negara-Negara
ASEAN & SEARO Tahun 2008
Lampiran 6.8 Perbandingan Upaya Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO
Tahun 2000-2009
Lampiran 6.9 Pembiayaan Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun
2007


***
2






Kita sadari bahwa sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih jauh dari
kondisi ideal, yaitu belum mampu menyediakan data dan informasi kesehatan yang evidence
based sehingga belum mampu menjadi alat manajemen kesehatan yang efektif. Berbagai
masalah klasik masih dihadapi dalam penyelenggaraan sistem informasi kesehatan. Di
antaranya adalah kegiatan pengelolaan data dan informasi belum terintegrasi dan
terkoordinasi dalam satu mekanisme kerjasama yang baik. Adanya “overlapping” kegiatan
dalam pengumpulan dan pengolahan data, di mana masing-masing unit mengumpulkan
datanya sendiri-sendiri dengan berbagai instrumennya di setiap unit kerja baik di pusat
maupun di daerah. Penyelenggaraan sistem informasi kesehatan itu sendiri masih belum
dilakukan secara efisien, masih terjadi redundant data, duplikasi kegiatan, dan tidak
efisiennya penggunaan sumber daya. Hal ini sebagai akibat dari adanya sistem informasi
kesehatan yang ada saat ini masih terfragmentasi.
Situasi demikian menimbulkan tersendatnya pendistribusian informasi terutama dari
sumber data di unit pelayanan kesehatan atau kabupaten/kota ke provinsi dan pusat yang
mengakibatkan terjadinya krisis informasi di berbagai unit teknis di pusat. Di samping itu,
adalah terhambatnya aliran komunikasi data baik dari sumber data di daerah ke pengguna di
pusat atau sebaliknya, serta terhambatnya aliran komunikasi data antar pengguna atau bahkan
tertutupnya sumber informasi untuk diakses oleh pengguna lain sehingga menyebabkan
sulitnya memperoleh informasi yang memadai (lack of informations). Situasi yang demikian
pada akhirnya menyulitkan dalam pengambilan keputusan berdasarkan evidence based.
Satu-satunya alat yang dimiliki Kementerian Kesehatan adalah adanya Profil
Kesehatan Indonesia, yang berisi data tahunan dari hasil pembangunan kesehatan. Sedangkan
pembangunan kesehatan adanya upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa
yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Derajat
kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator, yang meliputi indikator angka
harapan hidup, angka kematian, angka kesakitan, dan status gizi masyarakat.
3

Penyajian Profil Kesehatan Indonesia 2009, yang berasal dari profil kesehatan
provinsi ini selain sebagai alat ukur sampai dimana capaian indikator pembangunan
kesehatan setiap provinsi dibanding target nasional bahkan target MDG (Millenium
Development Goal), juga disajikan dalam bentuk peringkat dari tiap indikator, sehingga
provinsi dapat mengetahui dimana posisinya dalam setiap indikator pembangunan kesehatan
dibandingkan provinsi lainnya. Dalam penyajiannya, diusahakan untuk ditampilkan berbagai
data dan informasi yang menjawab Visi dan Misi serta berbagai data dan informasi yang
menjelaskan tentang reformasi Birokrasi, dengan menggunakan indikator yang sesuai,
dimana Kementerian Kesehatan memiliki Visi adalah Masyarakat Sehat yang Mandiri dan
berkeadilan, dengan Misinya adalah sebagai berikut.
1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat,
termasuk swasta dan madani.
2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan
paripurna, merata, bermutu, berkeadilan.
3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan.
4. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.

Reformasi Pembangunan Kesehatan tahun 2010-2014:
1. Revitalisasi pelayanan kesehatan.
2. Ketersediaan, distribusi, retensi dan mutu SDM.
3. Ketersediaan, distribusi, keamanan, mutu, efektivitas, keterjangkauan obat, vaksin,
dan alat kesehatan.
4. J aminan kesehatan masyarakat.
5. Keberpihakan pada DTPK (Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan) serta
DBK (Daerah Bermasalah Kesehatan).
6. Reformasi birokrasi.
7. World class health care.

Lima nilai Kementerian Kesehatan adalah:
1. Pro Rakyat (pro poor).
2. Inklusif (inclusive).
3. Responsif (responsive).
4. Efektif, efisien (effective, efficient).
5. Bersih (clean).

Untuk kelancaran proses Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia yang merupakan
salah satu produk dari berhasilnya sistem informasi kesehatan yang terintegrasi, di masa
mendatang maka, strategi pertama yang perlu dilakukan adalah penguatan kebijakan dan
perencanaan di bidang sistem informasi kesehatan. Penguatan kebijakan sistem informasi
kesehatan dilakukan dengan menyusun aturan-aturan yang menjamin sistem informasi
kesehatan dapat diselenggarakan dengan baik. Pada pasal 168 Undang-undang Nomor 36
Tahun 2009 tentang kesehatan telah diamanatkan bahwa penyelenggaraan sistem informasi
4

kesehatan diatur dalam peraturan pemerintah. Untuk ini, Pusat Data dan Surveilans
Epidemiologi bersama Biro Hukum dan Organisasi sedang menyiapkan bahan rancangan
peraturan pemerintah (RPP) tentang sistem informasi kesehatan. Demikian pula aturan-aturan
di bawahnya, seperti pedoman dan petunjuk teknis, sedang dalam proses penyusunan. Dalam
penguatan perencanaan sistem informasi kesehatan, juga Pusat Data dan Surveilans
Epidemiologi bersama unit-unit pengelola program dan lintas sektor terkait sedang menyusun
Rencana Strategis Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan.
Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini terdiri atas 6 (enam) bab, yaitu:
Bab I - Pendahuluan. Bab ini menyajikan tentang latar belakang diterbitkannya Profil
Kesehatan Indonesia 2009 ini serta sistimatika penyajiannya.
Bab II - Situasi Umum dan Perilaku Penduduk. Dengan telah selesai dan dipublikasikannya
hasil sensus penduduk 2010 yang diselenggarakan oleh BPS, maka juga kami masukkan data
jumlah penduduk tahun 2010. Bab ini juga menyajikan tentang gambaran umum, yang
meliputi: kependudukan, perekonomian, pendidikan, dan lingkungan fisik; serta perilaku
penduduk yang terkait dengan kesehatan.
Bab III - Situasi Derajat Kesehatan. Bab ini berisi uraian tentang hasil-hasil pembangunan
kesehatan sampai dengan tahun 2009 yang mencakup tentang angka kematian, umur harapan
hidup, angka kesakitan, dan status gizi masyarakat.
Bab IV - Situasi Upaya Kesehatan. Bab ini berisi uraian tentang upaya-upaya kesehatan yang
telah dilaksanakan oleh bidang kesehatan sampai tahun 2009, untuk tercapainya dan
berhasilnya program-program pembangunan di bidang kesehatan. Gambaran tentang upaya
kesehatan yang telah dilakukan itu meliputi pencapaian pelayanan kesehatan dasar,
pencapaian pelayanan kesehatan rujukan, pencapaian upaya pencegahan dan pemberantasan
penyakit, dan upaya perbaikan gizi masyarakat.
Bab V - Situasi Sumber Daya Kesehatan. Bab ini menguraikan tentang sumber daya
pembangunan bidang kesehatan sampai tahun 2009. Gambaran tentang keadaan sumber daya
mencakup tentang keadaan tenaga, sarana kesehatan, dan pembiayaan kesehatan.
Bab VI - Perbandingan Indonesia dengan Negara Anggota ASEAN dan SEARO. Bab ini
menyajikan perbandingan beberapa indikator yang meliputi data kependudukan, Angka
Kelahiran, Angka Kematian, Indeks Pembangunan Manusia, data tuberkulosis, angka
estimasi HIV/AIDS, kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi, cakupan
imunisasi pada bayi dan upaya kesehatan.


***
6



Indonesia terbentang antara 6
o
garis Lintang Utara sampai 11
o
garis Lintang
Selatan, dan dari 97
o
sampai 141
o
garis Bujur Timur serta terletak antara dua benua
yaitu benua Asia dan Australia. Posisi strategis ini mempunyai pengaruh yang sangat
besar terhadap kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi. Indonesia merupakan
negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara, menurut data Bakosurtanal, jumlah
pulau di Indonesia 17.504 pulau. J umlah pulau itu termasuk yang berada di muara
dan tengah sungai, serta delta. Fakta ini membuat Indonesia memiliki keragaman
budaya dan adat istiadat dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain.
Keragaman dalam berbagai aspek tersebut juga terkait dengan perilaku yang
berhubungan dengan kesehatan.
Secara administratif wilayah Indonesia pada tahun 2009 terbagi atas 33
provinsi, 497 kabupaten/kota (399 kabupaten dan 98 kota), 6.543 kecamatan dan
75.226 kelurahan/desa. J ika dibandingkan dengan jumlah kabupaten/kota yang ada
pada tahun 2008, maka selama tahun 2009 telah terjadi pembentukan 2 kabupaten
baru. Pembagian wilayah Indonesia secara administratif menurut provinsi pada tahun
2009 dapat dilihat pada Lampiran 2.1
Pada bab ini akan diuraikan gambaran umum Indonesia dan perilaku
penduduk pada tahun 2009 yang meliputi: keadaan penduduk, keadaan ekonomi,
keadaan pendidikan, keadaan lingkungan, dan perilaku penduduk yang berkaitan
dengan kesehatan.


A. KEADAAN PENDUDUK
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia
sebesar 237.556.363 orang, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783
perempuan (Lampiran 2.2). Secara nasional, rasio jenis kelamin penduduk Indonesia
tahun 2010 sebesar 101, yang artinya jumlah penduduk laki-laki satu persen lebih
banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan, atau setiap 100 perempuan
terdapat 101 laki-laki. Rasio jenis kelamin terbesar terdapat di Provinsi Papua yaitu
sebesar 113 dan yang terkecil terdapat di Nusa Tenggara Barat yaitu sebesar 94.
7
Sedangkan pada tahun 2009, berdasarkan data estimasi penduduk Badan
Pusat Statistik (SUPAS 2005), jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2009 tercatat
sebesar 231.369.592 jiwa terdiri dari 115.817.945 laki-laki dan 115.551.647
perempuan (Lampiran 2.3). Berdasarkan distribusi penduduk menurut jenis kelamin
dan kelompok umur maka kita dapat memperoleh gambaran piramida penduduk
Indonesia tahun 2009 sebagai berikut.

GAMBAR 2.1
PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2009
(dalam ribu)





Secara nasional, laju pertumbuhan penduduk Indonesia per tahun selama 2
dasawarsa terakhir adalah sebesar 1,49 persen. Laju pertumbuhan penduduk Provinsi
Papua adalah yang tertinggi dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di
Indonesia, yaitu sebesar 5,46 persen (SP 2010). Sedangkan provinsi dengan laju
pertumbuhan terendah yaitu J awa Tengah sebesar 0,37%. Laju pertumbuhan
penduduk Indonesia secara rinci sejak Sensus Penduduk tahun 1971 sampai dengan
Sensus Penduduk tahun 2010 dapat dilihat dalam Lampiran 2.4.
Secara nasional, dengan luas wilayah Indonesia 1.910.931,32 km
2
maka
tingkat kepadatan penduduk pada tahun 2009 sebesar 121 jiwa per km
2
. Tingkat
kepadatan yang tinggi masih didominasi oleh provinsi-provinsi di Pulau J awa.
Provinsi yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi adalah DKI J akarta, yaitu
sebesar 13.890 jiwa per km
2
. Provinsi J awa Barat merupakan wilayah yang memiliki
Sumber : Badan Pusat Statistik, Estimasi Penduduk Indonesia Dirinci Menurut Kelompok Umur
dan J enis Kelamin Tahun 2008
8
kepadatan penduduk tertinggi ke-2 dengan kepadatan 1.173 jiwa per km
2
. Provinsi
dengan tingkat kepadatan tertinggi ke-3 yaitu DI Yogyakarta sebesar 1.118 jiwa per
km
2
. Kepadatan penduduk terendah di Papua, yaitu hanya 7 jiwa per km
2
, Papua
Barat merupakan provinsi dengan tingkat kepadatan penduduk terendah ke-2 yaitu
sebesar 8 jiwa per km
2
, yang kemudian diikuti oleh Kalimantan Tengah dengan
kepadatan 14 jiwa per km
2
.
Dari data distribusi penduduk menurut pulau dapat diketahui terdapat
ketimpangan persebaran penduduk antar pulau yang nyata. Lebih dari separuh
penduduk Indonesia berada di Pulau J awa, yaitu sebesar 57,99%, dengan luas hanya
6,77% wilayah Indonesia. Selebihnya tersebar di Sumatera sebesar 21,44 %,
Sulawesi 7,25%, Kalimantan 5,65%, Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 5,45%,
Maluku dan Papua 2,23%. J umlah penduduk dan angka kepadatan penduduk per
provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2.3.

GAMBAR 2.2
PERSENTASE PERSEBARAN PENDUDUK INDONESIA
MENURUT KELOMPOK PULAU-PULAU BESAR TAHUN 2009


Sumber : Badan Pusat Statistik, Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2009,
http://www.depdagri.go.id.

Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur, menunjukkan
bahwa penduduk yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 26,96%, yang berusia
produktif (15-64 tahun) sebesar 67,92% dan yang berusia tua (>65 tahun) sebesar
5,12%. Dengan demikian maka Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio)
penduduk Indonesia pada tahun 2009 sebesar 47,23%.
9
Provinsi dengan persentase beban tanggungan tertinggi adalah Nusa
Tenggara Timur sebesar 59,45% diikuti oleh Sulawesi Tenggara sebesar 57,53% dan
Maluku sebesar 56,69%. Sedangkan provinsi dengan Angka Beban Tanggungan
terendah yaitu DKI J akarta sebesar 37,26% diikuti oleh DI Yogyakarta sebesar
37,65% dan J awa Timur sebesar 39,87%. Rincian jumlah penduduk menurut
kelompok umur, Angka Beban Tanggungan dan provinsi tahun 2009 dapat dilihat
pada Lampiran 2.5.

GAMBAR 2.3
ANGKA BEBAN TANGGUNGAN MENURUT PROVINSI
DI INDONESIA TAHUN 2009



Sumber: Badan Pusat Statistik, Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2009


B. KEADAAN EKONOMI
Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam
menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara. Perekonomian Indonesia
selama tahun 2006-2009 mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 5,5 persen
(2006), 6,3 persen (2007), 6,0 persen (2008) dan 4,5 persen (2009).
Mengkaji kondisi perekonomian tentu saja tidak terlepas dari tingkat inflasi,
inflasi dan pertumbuhan perekonomian sangat saling berkaitan. Apabila tingkat
inflasi tinggi, sudah dipastikan akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diprakirakan tumbuh 4,5%, inflasi tercatat sebesar
2,78%. Rendahnya tingkat inflasi ini merupakan pencapaian terbaik dalam 10 tahun
terakhir.
10
Selama tahun 2009 kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau
memberi kontribusi terbesar pada inflasi sebesar 7,81%. Kelompok lainnya dalam
tahun 2009 masing-masing kelompok sandang 6,00%, kelompok kesehatan,
kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga masing-masing memberikan kontribusi
yang sama 3,89%, kelompok bahan makanan 3,88%, perumahan, air, listrik, gas dan
bahan bakar menyumbang sebesar 1,83% pada inflasi nasional; dan kelompok
transportasi, komunikasi dan jasa keuangan -3,67%.
Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5% pada 2009, maka nilai Produk
Domestik Bruto (PDB) 2009 naik sebesar Rp 662,0 triliun. Dari Rp 4.951,4 triliun
pada 2008 menjadi sebesar Rp 5.613,4 triliun pada 2009. Pertumbuhan tertinggi
terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi 15,5%. Pertumbuhan terendah
terjadi di sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 1,1%. Sedangkan PDB
untuk non migas tumbuh 4,9%.
Untuk mengetahui tingkat pengangguran, dilakukan Survei Angkatan Kerja
Nasional (Sakernas). Sakernas merumuskan konsep pengangguran sebelum tahun
2001 sebagai angkatan kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan dan
sedang mencari pekerjaan. Sejak tahun 2001 konsep pengangguran menjadi angkatan
kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan, yang mencakup angkatan kerja
yang sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, tidak mencari pekerjaan
karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan/putus asa (sebelumnya
dikategorikan sebagai Bukan Angkatan Kerja) dan yang punya pekerjaan tetapi
belum mulai bekerja (sebelumnya dikategorikan sebagai Bekerja).
Persentase pengangguran terbuka adalah perbandingan antara jumlah pencari
kerja dengan jumlah angkatan kerja. Pengangguran terbuka disini didefinisikan
sebagai orang yang sedang mencari pekerjaan atau yang sedang mempersiapkan
usaha atau juga yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin lagi
mendapatkan pekerjaan, termasuk juga mereka yang baru mendapat kerja tetapi
belum mulai bekerja. Pengangguran terbuka tidak termasuk orang yang masih
sekolah atau mengurus rumah tangga.
Menurut Sakernas, definisi operasional Angkatan Kerja adalah penduduk usia
kerja yang bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja, dan
penganggur. Sementara Bekerja menurut definisi Sakernas adalah kegiatan ekonomi
yang dilakukan seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh
pendapatan atau keuntungan, paling sedikit satu jam (tidak terputus) dalam seminggu
yang lalu. Kegiatan itu termasuk juga kegiatan pekerja tak dibayar yang membantu
dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi.
Berdasarkan data hasil Sakernas BPS tahun 2008-2010 ada penurunan angka
pengangguran. Hal ini disebabkan bertambahnya lapangan kerja pada sektor jasa
kemasyarakatan seperti jasa pertukangan, pembantu rumah tangga, transportasi dan
11
pertanian. Perkembangan angkatan kerja, penduduk yang bekerja dan pengangguran
pada Februari 2008 - Februari 2010 adalah sebagai berikut.

TABEL 2.1
PERKEMBANGAN ANGKATAN KERJA, PENDUDUK YANG BEKERJA
DAN PENGANGGURAN TERBUKA DI INDONESIA TAHUN 2008 – 2010

Feb 2008
(juta orang)
Feb 2009
(juta orang)
Feb 2010
(juta orang)
J umlah Angkatan Kerja 111,48 113,74 115,99
J umlah penduduk yang bekerja 102,05 104,49 107,41
Pengangguran terbuka 9,43 9,26 8,59
Pengangguran terbuka (%) 8,46 8,14 7,40
Sumber: BPS, Survei Angkatan Kerja Nasional 2008-2010

Pembangunan ekonomi yang diupayakan diharapkan mampu mendorong
kemajuan, baik fisik, sosial, mental dan spiritual di segenap pelosok negeri terutama
wilayah yang tergolong daerah tertinggal. Suatu daerah dikategorikan menjadi
daerah tertinggal karena beberapa faktor penyebab, yaitu geografis, sumber daya
alam, sumber daya manusia, prasarana dan sarana, daerah rawan bencana dan konflik
sosial, dan kebijakan pembangunan. Keterbatasan prasarana terhadap berbagai
bidang termasuk di dalamnya kesehatan menyebabkan masyarakat di daerah
tertinggal mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial.
Unit terkecil daerah tertinggal yang digunakan dalam Strategi Nasional
Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (STRANAS PPDT) adalah wilayah
administrasi kabupaten. Menurut definisinya, daerah tertinggal adalah daerah
kabupaten yang relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala
nasional dan berpenduduk relatif tertinggal. Penetapan kriteria daerah tertinggal
dilakukan dengan menggunakan pendekatan berdasarkan pada perhitungan 6 (enam)
kriteria dasar yaitu: perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, prasarana
(infrastruktur), kemampuan keuangan lokal (celah fiskal), aksesibilitas dan
karakteristik daerah, serta berdasarkan kabupaten yang berada di daerah pedalaman,
kepulauan (pulau kecil dan gugus pulau), perbatasan antar negara, daerah rawan
bencana dan daerah rawan konflik dan sebagian besar wilayah daerah pesisir.
Berdasarkan pendekatan tersebut, maka ditetapkan 199 kabupaten yang
dikategorikan kabupaten tertinggal. Saat ini Indonesia memiliki 19 kabupaten
perbatasan, 33 pulau-pulau kecil terluar berpenduduk dan 183 daerah tertinggal
(termasuk terpencil). Tahun 2009 persentase daerah tertinggal adalah 40,04% dari
497 kabupaten/kota. Provinsi dengan persentase kabupaten tertinggal tertinggi
adalah Sulawesi Barat, yaitu sebesar 100%, diikuti oleh Sulawesi Tengah sebesar
81,82% dan Bengkulu 80,00%. J umlah dan persentase kabupaten tertinggal menurut
provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.6.

12
GAMBAR 2.4
PROVINSI DENGAN PERSENTASE KABUPATEN TERTINGGAL
DI INDONESIA TAHUN 2009




Kemiskinan menjadi isu yang cukup menyita perhatian berbagai kalangan
termasuk kesehatan. Keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
terkait dengan daya beli ekonomi. Kemiskinan juga menjadi hambatan besar dalam
pemenuhan kebutuhan terhadap makanan yang sehat sehingga dapat melemahkan
daya tahan tubuh yang dapat berdampak pada kerentanan untuk terserang penyakit-
penyakit tertentu. Fenomena gizi buruk dan kurang seringkali dikaitkan dengan
kondisi ekonomi yang buruk jika merujuk pada fakta bahwa keterbatasan pemenuhan
pangan dapat menyebabkan busung lapar, Kwashiorkor, penyakit kekurangan
vitamin seperti Xeropthalmia, Scorbut, dan Beri-beri.
Pada bulan Maret 2010, jumlah penduduk miskin menurun menjadi 31,02
juta (13,3%) dari 32,53 juta (14,15%) penduduk miskin pada bulan Maret 2009. Hal
ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan 1,51 juta penduduk miskin. Persentase
penduduk miskin dari tahun 2006-2010 disajikan pada Gambar 2.5 berikut ini.

GAMBAR 2.5
PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2010




Sumber: BPS, Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2010
Berita Resmi Statistik, BPS 2008, No. 45/07/Th. XIII, 1 J uli 2010
Sumber: Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal

13
Berdasarkan data jumlah penduduk miskin menurut provinsi dari BPS
(Lampiran 2.8) terdapat persebaran penduduk miskin antar pulau yang nyata
perbedaannya. Lebih dari separuh penduduk miskin di Indonesia berada di Pulau
J awa yaitu 57,1% tahun 2008 dan menjadi 55,8% tahun 2010. Selebihnya tersebar di
Sumatera 21,4%, Sulawesi 7,6%, Kalimantan 3,3%, Bali dan Kepulauan Nusa
Tenggara 7,1%, Maluku dan Papua 4,8% (tahun 2010). J umlah penduduk miskin dan
persentase penduduk miskin menurut kelompok pulau tahun 2008-2010 dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.
TABEL 2.2
PERSEBARAN DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN
MENURUT KELOMPOK BESAR PULAU DI INDONESIA TAHUN 2008 – 2010

Maret 2008 Maret 2009 Maret 2010
Kelompok Pulau
Jumlah
(juta)
%
Jumlah
(juta)
%
Jumlah
(juta)
%
Sumatera 7,3 20,9 5,3 17,3 6,7 21,4
J awa 19,9 57,1 18,1 59,1 17,3 55,8
Kalimantan 2,4 6,8 2,2 7,3 2,2 7,1
Bali dan Nusa Tenggara 1,2 3,5 1,0 3,3 1,0 3,3
Sulawesi 2,6 7,5 2,5 8,1 2,3 7,6
Maluku dan Papua 1,5 4,2 1,5 4,9 1,5 4,8
Total
34,9 15,4 32,5 14,2 31,0 13,3



Dalam roadmap reformasi kesehatan masyarakat Kementerian Kesehatan ada
7 prioritas yang harus dikerjakan untuk mencapai sasaran strategis pembangunan
kesehatan. Salah satu di antaranya adalah mengatasi permasalahan pelayanan
kesehatan di Daerah yang Bermasalah Kesehatan (DBK) dengan pendekatan spesifik
yang tidak bisa disamakan dengan daerah lainnya. Penanggulangan Daerah
Bermasalah Kesehatan (PDBK) adalah upaya kesehatan terfokus, terintegrasi,
berbasis bukti, dilakukan secara bertahap di daerah yang menjadi prioritas bersama
kementerian terkait, dalam jangka waktu tertentu, sampai mampu mandiri dalam
menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang kesehatan seluas-luasnya.
Menurut definisi, Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) adalah
keadaan/derajat kesehatan wilayah kabupaten/kota yang digambarkan melalui hasil
Riskesdas/SUSENAS dengan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM),
wilayah menurut Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Kemiskinan (Pendataan Sosial
Ekonomi/PSE BPS).
Hasil Riskesdas tahun 2007 menghasilkan instrumen pengukuran Indeks
Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM). Dengan IPKM, dapat diketahui
dimana daerah-daerah bermasalah tersebut dapat dipetakan berdasarkan peringkat
Sumber: BPS, Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2010
Berita Resmi Statistik, BPS 2008, No. 45/07/Th. XIII, 1 J uli 2010
14
kabupaten/kota. Daerah yang mempunyai IPKM <0,337 merupakan Daerah
Bermasalah Kesehatan (DBK). Besaran IPKM setiap kabupaten/kota dirumuskan
berdasarkan 20 indikator kesehatan.
Berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditetapkan di atas, dari 440
kabupaten/kota yang menjadi daerah pelaksanaan Riskesdas 2007 terdapat 117 DBK
yang berada di 22 provinsi. Tiga provinsi mempunyai jumlah kabupaten/kota DBK
terbanyak yaitu Aceh (16 kab/kota), Papua (15 kab/kota) dan Nusa Tenggara Timur
(12 kab/kota).
Kabupaten/kota bermasalah meliputi 32 DBK, 2 DBK dan Perbatasan, 71
DBK Berat dan Tertinggal, 7 DBK Berat, Tertinggal dan Kepulauan Terluar dan 5
DBK Berat, Tertinggal dan Perbatasan. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut
ini.
TABEL 2.3
JUMLAH KABUPATEN/KOTA DAERAH BERMASALAH KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2010

Kab/Kota Berat
Berat,
Perbatasan
Berat,
Tertinggal
Berat,
Tertinggal
dan
Kepulauan
Terluar
Berat,
Tertinggal
dan
Perbatasan
Jumlah
Kabupaten 14 1 71 7 5 98
Kota 18 1 0 0 0 19
Total 32 2 71 7 5 117
Jumlah Penduduk 37.741.501
Sumber: Ditjen Binkesmas, Kemenkes, 2010


C. KEADAAN PENDI DI KAN
Kondisi pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah
dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu negara. Melalui pengetahuan,
pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan. Pengetahuan yang
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pencetus yang
berperan dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku sehat.
Angka buta huruf berkorelasi dengan angka kemiskinan. Sebab, penduduk
yang tidak bisa membaca secara tidak langsung mendekatkan mereka pada
kebodohan, sedangkan kebodohan itu sendiri mendekatkan mereka pada kemiskinan.
J umlah penduduk buta huruf di Indonesia tidak hanya dialami satu generasi, tetapi
terdiri atas generasi muda dan tua.
Berdasarkan data BPS 2005-2009, persentase penduduk yang buta huruf
cenderung menurun karena akses terhadap pendidikan meningkat dalam 5 tahun
terakhir ini. Persentase terbesar penduduk yang buta huruf berada dalam kelompok
umur lebih dari 45 tahun, diikuti kelompok umur kurang dari 15 tahun. Dengan
15
demikian, pendidikan sebagai senjata utama penghapusan buta huruf itu senantiasa
harus menyentuh baik generasi muda maupun generasi tuanya.
GAMBAR 2.6
PERSENTASE PENDUDUK YANG BUTA HURUF MENURUT KELOMPOK UMUR
DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009

Sumber: BPS, www.bps.go.id

Tahun 2005-2009 persentase tertinggi penduduk yang buta huruf menurut
kelompok umur adalah penduduk dengan kelompok umur di atas 45 tahun dengan
persentase 22,83% pada tahun 2005 dan menurun setiap tahunnya menjadi 18,58%
pada tahun 2009.
Indikator pendidikan lainnya yang sejenis adalah Angka Melek Huruf (AMH)
yaitu persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis
serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Penggunaan
AMH adalah untuk (1) mengukur keberhasilan program-program pemberantasan
buta huruf, terutama di daerah perdesaan di Indonesia dimana masih tinggi jumlah
penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD. (2) menunjukkan
kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai
media. (3) menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis.
Sehingga angka melek huruf dapat berdasarkan kabupaten mencerminkan potensi
perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah.
AMH nasional adalah 92,58%; provinsi dengan persentase AMH tertinggi
adalah Sulawesi Utara (99,22%), DKI J akarta (98,94%) dan Riau (98,11%).
Sebaliknya persentase AMH yang terendah adalah Papua (70,29%), NTB (80,18%)
dan Sulawesi Selatan (87,02%). AMH secara rinci menurut provinsi dapat dilihat
dalam Lampiran 2.9.




16
GAMBAR 2.7
ANGKA MELEK HURUF PENDUDUK BERUSIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT
PROVINSI DAN JENIS KELAMIN DI INDONESIA TAHUN 2009




Rata-rata lama sekolah mayoritas penduduk di Indonesia masih relatif rendah
yaitu 7,7 tahun pada tahun 2009 atau setara dengan kelas dua SMP.
Gambar di bawah ini menunjukkan rata-rata lama sekolah menurut jenis
kelamin secara nasional. Rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas pada
tahun 2006 mencapai 7,4 tahun, sedangkan tahun 2008 mencapai 7,5 tahun. Dilihat
dari jenis kelamin, rata-rata lama sekolah laki-laki (8,2 tahun) lebih besar daripada
perempuan (7,3 tahun),
GAMBAR 2.8
RATA-RATA LAMA SEKOLAH MENURUT JENIS KELAMIN
DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2009
.

Sumber: BPS, Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia, Mei 2010
Sumber: BPS, Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia, Mei 2010
17
Rata-rata lama sekolah secara rinci menurut provinsi dapat dilihat dalam
Lampiran 2.10.
Angka Partisipasi Sekolah (APS) dari BPS secara umum dikategorikan
menjadi 3 kelompok umur, yaitu 7-12 tahun mewakili umur setingkat SD, 13-15
tahun mewakili umur setingkat SLTP, dan 16-18 tahun mewakili umur setingkat
SLTA. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin rendah APS. Persentase angka
partisipasi sekolah menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2.11.
Gambar di bawah ini merupakan APS nasional menurut usia sekolah dari
tahun 2005-2009, berdasarkan 4 kelompok umur dimana kelompok umur 19-24
tahun mewakili umur setingkat perguruan tinggi.
GAMBAR 2.9
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH MENURUT USIA SEKOLAH
DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009

Sumber: BPS, www.bps.go.id

Terdapat dua ukuran partisipasi sekolah yang utama, yaitu Angka Partisipasi
Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). Kedua ukuran tersebut mengukur
penyerapan penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan. Perbedaan di antara
keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang pendidikan.
Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan
umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan
Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah rasio jumlah siswa, berapapun
usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah
penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. APK
menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan.
APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap
penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan
Gambar di bawah ini menunjukkan persentase APK tertinggi adalah pada
tingkat pendidikan SD/MI dan persentase APK yang terendah adalah pada tingkat
18
pendidikan perguruan tinggi. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin
rendah persentase APK. Nilai APK dalam kurun waktu 2005-2009 meningkat secara
perlahan untuk tingkat pendidikan SD/MI, SLTA dan perguruan tinggi, sedangkan
APK tingkat SLTP/MTs cenderung tidak banyak perubahan.
GAMBAR 2.10
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI KASAR DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009


Sumber: BPS, www.bps.go.id
Berbeda dengan APK, Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan
banyaknya penduduk usia sekolah yang masih bersekolah pada jenjang pendidikan
yang sesuai dengan usianya. J ika dibandingkan APK, APM merupakan indikator
daya serap yang lebih baik karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia
standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut. Semakin tinggi
tingkat pendidikan, semakin rendah APM.

GAMBAR 2.11
PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI MURNI DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009

Sumber: BPS, www.bps.go.id

19
Berdasarkan Gambar 2.11 di atas persentase APM tertinggi pun terdapat pada
tingkat pendidikan SD/MI dan APM yang terendah adalah pada tingkat pendidikan
perguruan tinggi. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah
persentase APM. Nilai APM dalam kurun waktu 2005-2009 meningkat secara
perlahan untuk setiap jenjang pendidikan.
Gambar berikut di bawah ini menggambarkan perkembangan persentase
tingkat pendidikan tertinggi (TPT) yang ditamatkan. TPT bermanfaat untuk
menunjukkan pencapaian pembangunan pendidikan di suatu daerah. TPT juga
berguna untuk melakukan perencanaan penawaran tenaga kerja, terutama untuk
melihat kualifikasi pendidikan angkatan kerja di suatu wilayah. Menurut definisi,
TPT adalah persentase jumlah penduduk, baik yang masih sekolah ataupun tidak
sekolah lagi, menurut pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan.
GAMBAR 2.12
PERSENTASE PENDIDIKAN TERTINGGI YANG DITAMATKAN
PENDUDUK 10 TAHUN KE ATAS DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009


Sumber: BPS, www.bps.go.id

D. KEADAAN KESEHATAN LI NGKUNGAN
Lingkungan merupakan salah satu variabel yang kerap mendapat perhatian
khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat. Bersama dengan faktor
perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik, lingkungan menentukan baik buruknya
status derajat kesehatan masyarakat.
Untuk menggambarkan keadaan lingkungan, akan disajikan indikator-
indikator seperti; akses terhadap air bersih dan air minum yang aman, akses terhadap
sanitasi dasar, tempat umum dan pengelolaan makan (TUPM) sehat, institusi dibina
kesehatan lingkungannya, rumah sehat serta rumah/bangunan yang diperiksa dan
bebas jentik nyamuk Aedes.
20
1. Sar ana Ai r Ber si h yang Di gunak an dan Ak ses Ai r Mi num
yang Aman
Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui
persentase keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan. Secara nasional,
persentase tertinggi jenis sarana air bersih yang digunakan adalah sumur gali
(45,41%), diikuti ledeng (27,36%), sumur pompa tangan (10,11%), penampungan air
hujan (3,49%), air kemasan (2,29%), serta lain-lain (11,30%). Rincian persentase
keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan dapat dilihat dalam
Lampiran 2.12.
Proporsi penduduk yang memiliki akses terhadap sarana air minum yang
aman secara nasional adalah 47,71%, sedangkan menurut wilayah, akses air minum
yang aman di perkotaan 49,82% dan di perdesaan 45,72%. Persentase tertinggi akses
air minum yang aman terdapat di DI Yogyakarta (60,4%), Bali (60,0%), dan
Sulawesi Tenggara (59,1%). Sedangkan yang terendah terdapat di Banten (27,5%),
Aceh (30,6%) dan Bengkulu (33.0%)
Gambaran persentase akses air minum yang aman menurut provinsi dapat
dilihat dalam Gambar 2.13 di bawah ini.
GAMBAR 2.13
PERSENTASE AKSES AIR MINUM YANG AMAN
DI INDONESIA TAHUN 2009


Sumber: Ditjen P2PL, 2010
Secara rinci proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap air minum yang
aman menurut wilayah (perkotaan dan perdesaan) dan provinsi dapat dilihat dalam
Lampiran 2.13.


21
2. Sar ana dan Ak ses t er hadap Sani t asi Dasar
Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui
persentase keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar. Secara nasional,
persentase tertinggi akses keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar adalah
kepemilikan terhadap jamban (81,03%), kepemilikan pengelolaan air limbah
(73,37%) serta kepemilikan tempat sampah (72,55%). Dari seluruh sarana sanitasi
dasar tersebut yang memiliki kriteria jamban sehat 55,72%, pengelolaan air limbah
sehat 55,30% dan tempat sampah sehat 53,46%. Rincian persentase keluarga dengan
kepemilikan sarana sanitasi dasar dan sehat menurut provinsi dapat dilihat dalam
Lampiran 2.14.
Proporsi penduduk yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar yang layak
secara nasional sebesar 51,19%, sedangkan menurut wilayah, persentase akses
sanitasasi dasar yang layak sebesar 69,51% di perkotaan dan 33,96% di wilayah
perdesaan.
GAMBAR 2.14
PERSENTASE AKSES SANITASI DASAR YANG LAYAK
DI INDONESIA TAHUN 2009


Sumber: Ditjen P2PL, 2010
Secara rinci proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar
yang layak menurut wilayah dan provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.15.





22
3. Rumah Sehat
Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009, persentase rumah sehat
secara nasional sebesar 63.49%. Provinsi yang memiliki persentase tertinggi adalah
DKI J akarta (91,13%), Riau (81,51%) dan Bali (77,85%). Provinsi dengan persentase
rumah sehat yang rendah adalah Sulawesi Barat (35,21%), Papua (43,61%) dan Nusa
Tenggara Timur (50,54%).
GAMBAR 2.15
PERSENTASE RUMAH SEHAT
DI INDONESIA TAHUN 2009


Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009
Persentase rumah sehat menurut provinsi secara rinci (data dari 429 kab/kota)
disajikan pada Lampiran 2.16.

4. Tempat Umum dan Pengel ol aan Mak an (TUPM) Sehat
Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui
gambaran tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan yang sehat. Secara
nasional, dari keseluruhan TUPM, maka yang sudah diperiksa dan dinyatakan sehat
sebesar 64,84%. Sedangkan menurut jenis TUPM, persentase TUPM sehat yang
tertinggi adalah hotel sehat (84,58%), restoran/rumah makan sehat (70,69%), pasar
sehat (54,78%). dan TUPM lainnya (63,25%).
Rincian persentase tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan yang
sehat menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.17.



23
5. I nst i t usi Di bi na Kesehat an Li ngk ungannya
Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui
gambaran institusi yang diberikan pembinaan kesehatan lingkungan seperti institusi
sarana kesehatan, sarana pendidikan, sarana ibadah, perkantoran, dan sarana lainnya.
Secara nasional, dari keseluruhan institusi yang ada telah dilakukan pembinaan
terhadap kesehatan lingkungan sebesar 64,41%. Sedangkan menurut jenis institusi,
persentase tertinggi institusi yang dibina kesehatan lingkungannya adalah sarana
kesehatan (77,02%), sarana pendidikan (67,52%), perkantoran (59,15%), sarana
ibadah (58,84%) dan sarana lainnya (62,26%). Rincian persentase institusi dibina
kesehatan lingkungannya menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.18.

6. Rumah/Bangunan yang Di per i k sa dan Bebas J ent i k Nyamuk
Aedes
Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009, dari keseluruhan
rumah/bangunan yang ada, sudah dilakukan pemeriksaan terhadap 26%
rumah/bangunan. Dari seluruh rumah/bangunan yang diperiksa maka
rumah/bangunan yang sudah dinyatakan bebas jentik nyamuk Aedes sebesar 77,08%.
Provinsi yang persentase bebas jentik nyamuk Aedes tertinggi adalah DKI J akarta
(89,08%), Bali (87,98%) dan Banten (87,44%). Sedangkan yang terendah
persentasenya yaitu NTT (39,82%), Papua (46,23%) dan Bengkulu (47,22%).
GAMBAR 2.16
PERSENTASE RUMAH BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES
DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009
24
Persentase rumah/bangunan yang diperiksa dan bebas jentik nyamuk Aedes
menurut provinsi (data dari 322 kabupaten/kota) secara rinci disajikan pada
Lampiran 2.19.
E. KEADAAN PERI LAKU MASYARAKAT
Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh
terhadap kesehatan, akan disajikan beberapa indikator yaitu perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS) dan usia wanita perkawinan pertama.
1. Per i l ak u Hi dup Ber si h dan Sehat (PHBS)
Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009, persentase rumah tangga
yang ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara nasional sebesar 48,41%.
Provinsi yang memiliki persentase tertinggi adalah J awa Tengah (88,57%), DI
Yogyakarta (87,38%) dan Kalimantan Timur (79,73%). Provinsi dengan persentase
PHBS yang rendah adalah Sumatera Barat (17,97%), Banten (21,37%) dan Papua
Barat (27,34%).
GAMBAR 2.17
PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
DI INDONESIA TAHUN 2009


Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009
Persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria perilaku hidup bersih dan
sehat yang baik menurut provinsi secara rinci (data dari 373 kab/kota) disajikan pada
Lampiran 2.20.

2. Umur Per k aw i nan Per t ama
Umur perkawinan pertama adalah umur pada saat wanita melakukan
perkawinan secara hukum dan biologis yang pertama kali.
25
Secara nasional, umur wanita yang menikah/kawin yang pertama kali paling
banyak terjadi pada umur 19-24 tahun sebesar 41,33%, kemudian persentase cukup
banyak terjadi pula pada umur yang relatif masih remaja (16-18 tahun) sebesar
33,41%.
GAMBAR 2.18
PERSENTASE WANITA MENURUT UMUR PERKAWINAN PERTAMA
DI INDONESIA TAHUN 2009



Persentase wanita menurut umur perkawinan pertama menurut provinsi
secara rinci disajikan pada Lampiran 2.21.

***
Sumber: BPS, Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia, Mei 2010

27




Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor
tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan
ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi,
pendidikan, lingkungan sosial, keturunan, dan faktor lainnya.
Situasi derajat kesehatan masyarakat dapat tercermin melalui angka morbiditas,
mortalitas dan status gizi. Pada bab berikut ini situasi derajat kesehatan di Indonesia
digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA),
Angka Kematian Ibu (AKI), dan angka morbiditas beberapa penyakit.

A. MORTALI TAS

Mortalitas merupakan angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat
tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu, dapat berupa penyakit maupun sebab
lainnya. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB, AKABA, AKI, dan
Angka Kematian Kasar.

1. Angk a Kemat i an Bayi (AKB)
Angka Kematian Bayi (AKB) dapat didefinisikan sebagai banyaknya bayi yang
meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup
pada tahun yang sama.
AKB merupakan indikator yang biasanya digunakan untuk menentukan derajat
kesehatan masyarakat. Oleh karena itu banyak upaya kesehatan yang dilakukan dalam
rangka menurunkan AKB.
GAMBAR 3.1
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA TAHUN 1991 S.D TAHUN 2007


28

Sumber: BPS, Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007
Menurut hasil SDKI terjadi penurunan AKB sejak tahun 1991. Pada tahun 1991
diestimasikan AKB sebesar 68 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan hasil SDKI 2007
mengestimasikan AKB sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup. Hasil estimasi tersebut
memperhitungkan Angka Kematian Bayi dalam periode 5 tahun terakhir sebelum survei,
misalnya pada SDKI tahun 2007 diperoleh AKB untuk periode 5 tahun sebelumnya yaitu
tahun 2003-2007 sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup.
Berbagai faktor dapat menyebabkan adanya penurunan AKB seperti yang
ditampilkan pada gambar di atas, diantaranya pemerataan pelayanan kesehatan berikut
fasilitasnya. Hal ini disebabkan AKB sangat sensitif terhadap perbaikan pelayanan
kesehatan. Selain itu, perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan
masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang
berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit.
Hasil SDKI tahun 2007 juga mengestimasikan AKB pada tingkat provinsi. Provinsi
dengan AKB terendah adalah DI Yogyakarta sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup, diikuti
Aceh sebesar 25 per 1.000 kelahiran hidup, dan Kalimantan Timur serta J awa Tengah
sebesar 26 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan AKB tertinggi terdapat di Provinsi
Sulawesi Barat sebesar 74 per 1.000 kelahiran hidup, diikuti oleh Nusa Tenggara Barat
sebesar 72 per 1.000 kelahiran hidup dan Sulawesi Tengah sebesar 60 per 1.000 kelahiran
hidup. Gambaran AKB per provinsi dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut. Rincian AKB
menurut provinsi di Indonesia terdapat pada Lampiran 3.1.

GAMBAR 3.2
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2007

Sumber: BPS, Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007


29



2. Angk a Kemat i an Bal i t a (AKABA)
Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah anak yang meninggal
sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup.
AKABA merepresentasikan peluang terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan
sebelum umur 5 tahun.
Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan nilai normatif AKABA, yaitu
sangat tinggi dengan nilai >140, tinggi dengan nilai 71-140, sedang dengan nilai 20-70 dan
rendah dengan nilai <20. SDKI tahun 2007 mengestimasikan nilai AKABA sebesar 44 per
per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini merupakan estimasi untuk periode 5 tahun sebelum
survei (2003-2007).

GAMBAR 3.3
ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA) PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
DI INDONESIA TAHUN 1991 – 2007

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2008

Berdasarkan estimasi terhadap nilai AKABA pada tingkat provinsi, diketahui
bahwa provinsi dengan AKABA terendah terdapat di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 22
per 1.000 kelahiran hidup, diikuti oleh J awa Tengah sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup
dan Kalimantan Tengah sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan provinsi dengan
AKABA tertinggi adalah Sulawesi Barat sebesar 96 per 1.000 kelahiran hidup, diikuti oleh
Maluku sebesar 93 per 1.000 kelahiran hidup dan Nusa Tenggara Barat sebesar 92 per
1.000 kelahiran hidup. Gambaran AKABA menurut provinsi dapat dilihat pada gambar
berikut.





30




GAMBAR 3.4
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2007


Sumber : BPS, Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007


3. Angk a Kemat i an I bu (AKI )
Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator penting dalam
menentukan derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah wanita yang
meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau
penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan,
melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan
lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.
AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan.
Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum, pendidikan dan pelayanan selama
kehamilan dan melahirkan. Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan
menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.
AKI mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan,
persalinan, dan nifas. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007
menyebutkan bahwa AKI untuk periode 5 tahun sebelum survei (2003-2007) sebesar 228
per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini lebih rendah dibandingkan AKI hasil SDKI tahun
2002-2003 yang mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup.
Pada Gambar 3.5 berikut nampak adanya kecenderungan penurunan AKI sejak
tahun 1994 sampai dengan tahun 2007.

31

GAMBAR 3.5
ANGKA KEMATIAN IBU (PER 100.000 KELAHIRAN HIDUP)
DI INDONESIA TAHUN 1994-2007

Sumber : Badan Pusat Statistik,2008

4. Angk a Kemat i an Kasar (AKK)
Angka kematian kasar adalah jumlah kematian yang terjadi pada suatu waktu dan
tempat tertentu per 1.000 penduduk pada pertengahan tahun. Estimasi Angka Kematian
Kasar (AKK) berdasarkan hasil SUPAS 2005, menyebutkan bahwa AKK tahun 2007
sebesar 6,9 per 1.000 penduduk.

5. Angk a Kemat i an di Rumah Sak i t

Tabel berikut ini menyajikan 10 penyebab kematian terbanyak pada penderita rawat
inap di rumah sakit pada tahun 2008.
TABEL 3.1
10 PENYAKIT UTAMA PENYEBAB KEMATIAN DI RUMAH SAKIT
DI INDONESIA TAHUN 2008
No
Golongan Sebab Sakit
Pasien
Mati
CFR
(%)
1 Penyakit SistemSirkulasi Darah 23.163 11,06
2 Penyakit Infeksi dan Parasit Tertentu 16.769 2,89
3 Kondisi Tertentu yang Bermula pada Masa Perinatal 9.108 9,74
4 Penyakit SistemNapas 8,190 3,99
5 Penyakit SistemCerna 6.825 2,91
6
Cedera, Keracunan, dan Akibat Sebab Luar Tertentu
Lainnya
5.767 2,99
7 Penyakit Endokrin, Nutrisi, dan Metabolik 5.585 6,73
8 Penyakit Sistem Kemih Kelamin 4.542 3,56
9
Neoplasma

4.332 4,70
10
Gejala, Tanda & Penemuan Laboratorium, Klinik
Abnormal YTK
4.238 2,80
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemkes RI, 2009

32

Berdasarkan informasi pada tabel di atas, penyakit sistem sirkulasi darah
merupakan penyakit yang menempati urutan teratas sebagai penyakit utama penyebab
kematian di rumah sakit pada tahun 2008. Penyakit sistem sirkulasi darah pada tahun 2008
menyebabkan kematian sebanyak 23.163 orang dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar
11,06%.


6. Umur Har apan Hi dup Wak t u Lahi r
Derajat kesehatan masyarakat juga dapat diukur dengan melihat besarnya Umur
Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH). Selain itu, UHH juga menjadi salah satu indikator
yang diperhitungkan dalam menilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Kondisi UHH di
Indonesia dalam kurun waktu 2006-2008 menunjukkan peningkatan.
Berdasarkan data BPS, UHH di Indonesia pada tahun 2008 sebesar 69 tahun,
sedangkan pada tahun 2006 dan 2007 sebesar 68,5 tahun dan 68,7 tahun. Salah satu faktor
yang berperan dalam peningkatan UHH adalah upaya di bidang kesehatan sebagai bagian
dari pembangunan kesehatan.
Pada tahun 2008, provinsi dengan UHH tertinggi adalah DI Yogyakarta, yaitu
sebesar 73,1 yang diikuti oleh DKI J akarta sebesar 72,9 dan Sulawesi Utara sebesar 72,0
tahun. Sedangkan, UHH terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebesar 61,5
tahun, yang diikuti oleh Kalimantan Selatan sebesar 63,1 tahun dan Banten sebesar 64,6
tahun. Gambaran UHH pada tahun 2007 dan 2008 menurut provinsi terdapat pada
Lampiran 3.2.
GAMBAR 3.6
UMUR HARAPAN HIDUP WAKTU LAHIR
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2008

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2010

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa UHH merupakan salah satu
komponen dalam memformulasikan IPM. Berikut ini ditampilkan peringkat IPM 33
provinsi di Indonesia tahun 2008 yang disertai dengan nilai IPM.



33

GAMBAR 3.7
NILAI IPM MENUURT PROVINSI
DI INDONESIA TAHUN 2008


Sumber: BPS, 2010

Berdasarkan gambar di atas diketahui bahwa provinsi dengan IPM tertinggi adalah
DKI J akarta, Sulawesi Utara, dan Riau. Sedangkan provinsi dengan IPM terendah adalah
Papua, diikuti oleh Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.


B. MORBI DI TAS

Morbiditas dapat diartikan sebagai angka kesakitan, baik insiden maupun prevalen
dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi
pada kurun waktu tertentu. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat
kesehatan masyarakat.

1. Pol a 10 Penyak i t Ter banyak di Rumah Sak i t
Pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit tahun 2009
menurut Daftar Tabulasi Dasar (DTD) menunjukkan bahwa kasus terbanyak merupakan
penyakit infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya dengan jumlah total kasus 488.794.
Rincian mengenai 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit dapat
dilihat pada tabel berikut.







34

TABEL 3.2
POLA 10 BESAR PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT JALAN
DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009

No Daftar Tabulasi dasar (DTD)
Kasus
Total Kasus
Jumlah
Kunjungan
Laki-Laki Perempuan
1
Infeksi saluran nafas bagian atas akut
lainnya
243.578 245.216 488.794 781.881
2
Demam yang sebabnya tidak
diketahui
143.167 132.087 275.254 358.942
3
Penyakit kulit dan jaringan subkutan
lainnya
99.303 147.953 247.256 371.673
4
Diare & gastroenteritis oleh
penyebab infeksi tertentu (kolitis
infeksi)
88.275 83.738 172.013 223.318
5
Gangguan refraksi dan akomodasi
67.231 89.429 156.660 203.021
6
Dispepsia
55.817 77.345 133.162 220.375
7
Hipertensi esensial (primer)
55.446 67.823 123.269 412.364
8
Penyakit pulpa dan periapikal
54.004 68.463 122.467 234.083
9
Penyakit telinga dan prosesus
mastoid
53.463 52.142 105.605 153.488
10
Konjungtivitis dan gangguan lain
konjungtiva
46.380 52.815 99.195 135.749
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes RI, 2009

Sedangkan pada pasien rawat inap, pola gambaran 10 penyakit terbanyak menunjukkan
pola yang sedikit berbeda. Diare dan Gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis
infeksi) memiliki jumlah kasus terbanyak yaitu 143.696 kasus.

TABEL 3.3
POLA 10 PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT INAP
DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009

No Daftar Tabulasi Dasar (DTD)
Kasus
Total Kasus

Meninggal

CFR (%)
Laki-Laki Perempuan
1
Diare & gastroenteritis oleh
penyebab infeksi tertentu
(kolitis infeksi)
74.161 69.535 143.696 1.747 1,22
2 Demam berdarah dengue 60.705 60.629 121.334 898 0,74
3 Demam tifoid dan paratifoid 39.262 41.588 80.850 1.013 1,25
4
Demam yang sebabnya tidak
diketahui
24.957 24.243 49.200 462 0,94
5 Dispepsia 18.807 28.497 47.304 520 1,10
6 Hipertensi esensial (primer) 15.533 21.144 36.677 935 2,55
7
Infeksi saluran napas bagian
atas akut lainnya
19.115 16.933 36.048 162 0.45
8 Pneumonia 19.170 16.477 35.647 2.365 6,63
9 Penyakit apendiks 13.920 16.783 30.703 234 0,76
10 Gastritis dan duodenitis 12.758 17.396 30.154 235 0,78
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes RI, 2009

35


Berdasarkan CFR, penyakit yang memiliki CFR paling tinggi di antara 10 penyakit
terbanyak pada pasien rawat inap di RS adalah Pneumonia sebesar 6,63%. Sedangkan
penyakit dengan CFR terendah adalah Infeksi Saluran Napas Bagian Atas Akut Lainnya
sebesar 0,45%.


2. Penyak i t Menul ar

a. Malaria
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya
menjadi komitmen global dalam Millenium Development Goals (MDGs). Malaria
disebabkan oleh hewan bersel satu (protozoa) Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan
nyamuk Anopheles. Wilayah endemis malaria pada umumnya adalah desa-desa terpencil
dengan kondisi lingkungan yang tidak baik, sarana transportasi dan komunikasi yang sulit,
akses pelayanan kesehatan kurang, tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang
rendah, serta buruknya perilaku masyarakat terhadap kebiasaan hidup sehat.
Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratifikasi endemisitas
malaria suatu wilayah di Indonesia menjadi 4 strata yaitu :
1. Endemis Tinggi bila API >5 per 1.000 penduduk.
2. Endemis Sedang bila API berkisar antara 1 – <5 per 1.000 penduduk.
3. Endemis Rendah bila API 0 - 1 per 1.000 penduduki.
4. Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria (Daerah
pembebasan malaria) atau API =0.
GAMBAR 3.8
STRATIFIKASI ENDEMISITAS MALARIA
DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

API nasional pada tahun 2009 adalah 1,85 per 1.000 penduduk dengan kisaran
provinsi 0,02- 27,66 per 1.000 penduduk. Angka ini jauh menurun dibandingkan API tahun
1990 yaitu 4.68 per 1.000 penduduk. Dihubungkan dengan target pencapaian MDGs, angka
API 2009 sudah memenuhi target.
Kasus malaria klinis tahun 2009 di Indonesia dilaporkan sebanyak 1.143.024 kasus.
Sebesar 75,5% dari kasus tersebut diperiksa sediaan darahnya, dan dihasilkan 23,1%
sediaan darah yang positif. Relatif tingginya cakupan pemeriksaan sediaan darah di

36

laboratorium tersebut merupakan pelaksanaan kebijakan nasional pengendalian malaria
dalam mencapai eliminasi malaria, yaitu semua kasus malaria klinis harus dikonfirmasi
laboratorium.
GAMBAR 3.9
ANNUAL PARASITE INCIDENCE MALARIA (‰)
DI JAWA BALI TAHUN 2004 – 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Indikator untuk upaya penemuan penderita di wilayah J awa-Bali menggunakan
Annual Parasite Incidence (API) atau Angka Parasit Malaria per 1.000 penduduk. Pada
tahun 2009 API J awa-Bali sebesar 0,17 per 1.000 penduduk. Angka ini telah mencapai
target yang ditentukan, yaitu di bawah 0,25 per 1.000 penduduk. Pada gambar di atas
nampak bahwa dari tahun 2004-2009, API senantiasa memenuhi target.
GAMBAR 3.10
ANNUAL MALARIA INCIDENCE (‰)
DI LUAR JAWA BALI TAHUN 2004 – 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Upaya pengendalian malaria untuk wilayah di luar Jawa-Bali menggunakan Annual
Malaria Incidence (AMI). Pada gambar di atas nampak bahwa AMI di wilayah luar Jawa-Bali
pada tahun 2005-2009 menunjukkan kecenderungan penurunan. Pada tahun 2005 AMI di luar
Jawa-Bali sebesar 24,75 per 1.000 penduduk. Angka ini terus turun hingga 12,27 per 1.000
penduduk pada tahun 2009. Namun, pada tahun 2004-2009 pencapaian AMI masih belum

37

memenuhi target, karena pada kurun waktu tersebut AMI berada di atas target yang telah
ditentukan. Rincian API dan AMI menurut provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 3.5.
b. TB Paru
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi
bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang
yang telah terinfeksi basil TB. Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS, TB menjadi salah
satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs
Salah satu indikator yang digunakan dalampengendalian TB adalah Case Detection
Rate (CDR), yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati
terhadap jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.
Kementerian Kesehatan menetapkan target CDR minimal pada tahun 2009 sebesar 70%.
Berikut ini disajikan pencapaian CDR menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 3.11
CAKUPAN CASE DETECTION RATE (CDR) TB DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Pencapaian CDR pada tahun 2009 sebesar 73,1%. Angka ini telah memenuhi target
minimal yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70%. Pada tingkat provinsi, CDR tertinggi terdapat
di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 85,2%, diikuti DKI Jakarta sebesar 81% dan Banten sebesar
77,7%. Sedangkan provinsi dengan CDR terendah adalah Kalimantan Tengah sebesar 30,6%
diikuti oleh Kalimantan Timur sebesar 31,1% dan Kepulauan Riau sebesar 32,3%. Pada gambar
di atas nampak bahwa terdapat 5 provinsi yang telah memenuhi target CDR 70%, yaitu
Sulawesi Utara, DKI Jakarta, Banten, Maluku, dan Jawa Barat.
Dalam mengukur keberhasilan pengobatan TB digunakan Angka Keberhasilan
Pengobatan (SR=Success Rate) yang mengindikasikan persentase pasien baru TB paru
BTA positif yang menyelesaikan pengobatan, baik yang sembuh maupun yang menjalani
pengobatan lengkap diantara pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat. Success Rate
dapat membantu dalam mengetahui kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan
pasien pada wilayah tersebut. Berikut ini ditampilkan SR tahun 2004-2008.


38


GAMBAR 3.12
SUCCESS RATE (SR) TB
DI INDONESIA TAHUN 2004-2008

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa pencapaian Success Rate (SR) pada tahun
2004-2008 telah memenuhi target 85%. Namun demikian terjadi penurunan Success Rate (SR)
dari 91% pada tahun 2005 menjadi 87,6% pada tahun 2006. Angka ini kemudian kembali naik
menjadi 91% pada tahun 2007 dan 2008. Gambaran kasus TB dan keberhasilan pengobatannya
dapat dilihat pada Lampiran 3.7, 3.8, 3.9 dan 3.10.


c. HIV & AIDS
HIV & AIDS disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang
menyerang sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan penderita mengalami penurunan
ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain.
Penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh penderita yang terjadi melalui proses hubungan
seksual, transfusi darah, penggunaan jarumsuntik yang terkontaminasi secara bergantian, dan
penularan dari ibu ke anak dalam kandungan melalui plasenta dan kegiatan menyusui.
Kasus HIV dan AIDS menunjukkan trend peningkatan setiap tahun. Sampai dengan
Desember 2009 jumlah kumulatif kasus AIDS mencapai 19.973 kasus. Gambar berikut
menampilkan kasus baru dan kumulatif penderita AIDS yang terjadi sampai tahun 2009.













39

GAMBAR 3.13
JUMLAH KASUS BARU DAN KUMULATIF PENDERITA AIDS
YANG TERDETEKSI DARI BERBAGAI SARANA KESEHATAN
DI INDONESIA TAHUN 2001 – 2009


Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Pada gambar di atas nampak adanya peningkatan penemuan kasus baru yang cukup
signifikan pada tahun 2008, dari 2.947 kasus baru pada tahun 2007 menjadi 4.969 kasus
baru pada tahun 2008.
Besaran kasus juga dapat dilihat dengan menggunakan Case Rate AIDS yang
diperoleh dengan membandingkan jumlah kasus kumulatif terhadap jumlah penduduk per
100.000 penduduk. Pada tahun 2009, provinsi dengan Case Rate tertinggi adalah Papua
sebesar 133,1; diikuti oleh Bali sebesar 45,4; dan DKI J akarta 31,7 per 100.000 penduduk.

GAMBAR 3.14
CASE RATE AIDS MENURUT PROVINSI DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER TAHUN 2009


Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010


40

HIV/AIDS memiliki beberapa faktor risiko, yaitu hubungan seksual lawan jenis
(heteroseksual), hubungan sejenis melalui Lelaki Seks Lelaki (LSL), penggunaan Narkoba
suntik secara bergantian, transfusi darah dan perinatal. Berikut ini disajikan persentase
kasus kumulatif menurut faktor risiko.
GAMBAR 3.15
PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT CARA PENULARAN DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009











Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Berdasarkan cara penularan, persentase kasus kumulatif tertinggi adalah melalui
hubungan heteroseksual sebesar 50,3%. Sedangkan persentase terendah adalah melalui
transfusi darah sebesar 0,1%.
Meskipun penggunaan IDU menempati urutan ke-2 terbesar, namun jika kita
melihat kecenderungan kasus baru AIDS pada pengguna NAPZA suntik menunjukkan
penurunan selama tahun 2006- 2009 seperti yang nampak pada gambar berikut. Hal ini
dapat disebabkan oleh adanya upaya promosi kesehatan pada kelompok pengguna NAPZA
suntik yang menyampaikan pesan bahwa penggunaan jarum suntik secara bergantian
merupakan perilaku risiko tinggi terhadap penularan HIV.
GAMBAR 3.16
JUMLAH KASUS BARU AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIK
DI INDONESIA TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

41

Pada tahun 2009 jumlah kasus baru AIDS yang menggunakan NAPZA suntik
sebanyak 1.156 kasus. J umlah ini lebih rendah dibandingkan tahun 2008 sebesar 1.255
kasus.
Berdasarkan jenis kelamin, proporsi kasus kumulatif AIDS laki-laki lebih besar
terhadap perempuan yaitu 73,7% berbanding 25,8%.

GAMBAR 3.17
PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT JENIS KELAMIN DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009


Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Proporsi kasus kumulatif AIDS menurut kelompok umur menunjukkan gambaran
bahwa sebagian besar kasus kumulatif AIDS terdapat pada usia 20-29 tahun, 30-39 tahun,
dan 40-49 tahun. Kelompok umur tersebut memang termasuk ke dalam usia produktif yang
tentu saja juga aktif secara seksual.
GAMBAR 3.18
PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009


Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010


42

Informasi lebih rinci tentang HIV/AIDS dapat dilihat pada Lampiran 3.11, 3.12, dan
3.13.

d. Pneumonia
Pneumonia merupakan infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi
dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat
kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang
Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau
orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Pada tahun 2009, cakupan penemuan Pneumonia pada balita sebesar 22,18%
dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 390.319 kasus. Berikut ini ditampilkan
angka cakupan penemuan pneumonia balita menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 3.19
CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA BALITA
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010
Pada tingkat provinsi, dapat diketahui bahwa tiga provinsi dengan cakupan tertinggi
berturut-turut adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 71,45%, J awa Barat sebesar
46,16% dan Kepulauan Bangka Belitung sebesar 41,41%. Sedangkan tiga provinsi dengan
cakupan terendah adalah Provinsi Kepulauan Riau sebesar 0,32%, Aceh sebesar 2,16%,
dan Kalimantan Barat sebesar 2,54%. Data cakupan masing-masing provinsi terdapat pada
Lampiran 3.14.

e. Kusta
Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri
Mycobacterium leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan Kusta
menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan
mata. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut :
a. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa
b. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan
kelemahan/kelumpuhan otot.

43

c. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif).
Pada tahun 2009, dilaporkan terdapat kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 14.227
kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 3.033 dengan Newly Case Detection Rate (NCDR)
sebesar 7,49 per 100.000 penduduk. Berikut ini disajikan kecenderungan kasus baru tipe
PB dan MB serta NCDR.

GAMBAR 3.20
JUMLAH KASUS BARU KUSTA TIPE PB DAN MB
DAN NCDR PER 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Penemuan kasus baru sejak tahun 2005-2009 menunjukkan kecenderungan
penurunan. Pada tahun 2005 NCDR sebesar 8,99 per 100.000 penduduk, angka ini turun
terus hingga 7,49 per 100.000 penduduk pada tahun 2009. Kecenderungan penurunan
tersebut juga terjadi pada jumlah kasus baru kusta tipe PB dan MB.
Direktorat J enderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen
PP&PL) telah menetapkan 33 provinsi di Indonesia ke dalam 2 kelompok beban kusta,
yaitu provinsi dengan beban kusta tinggi (high endemic) dan beban kusta rendah (low
endemic). Provinsi dengan high endemic jika NCDR >10 per 100.000 penduduk atau
jumlah kasus baru lebih dari 1.000, sedangkan low endemic jika NCDR <10 per 100.000
penduduk.














44

GAMBAR 3.21
STATUS BEBAN KUSTA DI INDONESIA TAHUN 2009


Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya
proporsi cacat tingkat II, sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat
digunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru. Proporsi cacat
tingkat II pada tahun 2009 sebesar 10,37%. Sedangkan proporsi anak di antara penderita
baru pada tahun 2009 sebesar 11,44%.
GAMBAR 3.22
PROPORSI CACAT TINGKAT II DAN PROPORSI ANAK DI ANTARA KASUS BARU KUSTA
DI INDONESIA TAHUN 2001-2009


Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009
Pada kurun waktu 2002-2009 terjadi kecenderungan peningkatan proporsi cacat
tingkat II. Sedangkan proporsi kusta pada anak di antara penderita baru nampak
berfluktuasi sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2005. Kecenderunggan peningkatan
proporsi pada anak nampak dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Informasi menurut
provinsi terkait penyakit kusta terdapat pada Lampiran 3.15.


45

2. Penyak i t yang Dapat Di c egah Dengan I muni sasi (PD3I )
a.Tetanus Neonatorum
Tetanus Neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk ke
tubuh melalui luka. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir yang salah satunya disebabkan
oleh pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Kasus TN banyak ditemukan di
negara berkembang khususnya dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
rendah.
Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 158 kasus dengan jumlah meninggal 76,
dengan demikian CFR Tetanus Neonatorum pada tahun 2009 sebesar 48,1%. Pada tahun
2009 kasus TN terjadi di 20 provinsi, dan 14 provinsi melaporkan adanya kasus meninggal.
Gambaran kasus Tetanus Neonatorum beserta persentase kasus berdasarkan faktor
risiko menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.16.

b.Campak
Campak merupakan salah satu penyakit PD3I yang disebabkan oleh virus campak.
Sebagian besar kasus campak menyerang anak-anak. Penularan dapat terjadi melalui udara
yang telah terkontaminasi oleh sekret orang yang telah terinfeksi. Berikut ini ditampilkan
Incidence Rate (IR) Campak menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 3.23
INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK PER 10.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 18.055 kasus campak dengan Incidence Rate
sebesar 0,77 per 10.000 penduduk. Incidence Rate tertinggi pada tahun 2009 terdapat di
Provinsi Kepulauan Riau sebesar 3,52; diikuti oleh Sumatera Barat sebesar 2 per 10.000
penduduk, dan Kalimantan Selatan sebesar 1,98 per 10.000 penduduk. Sedangkan Maluku
dan Nusa Tenggara Barat memiliki IR sebesar 0 per 10.000 penduduk.

Informasi mengenai penyakit campak menurut provinsi terdapat pada Lampiran
3.17, 3.18, 3.19, 3.20, dan 3.21.


46


c. Difteri
Penyakit Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang
menyerang sistem pernafasan bagian atas. Penyakit ini memiliki gejala sakit leher, demam
ringan, sakit tekak. Difteri juga kerap ditandai dengan tumbuhnya membran kelabu yang
menutupi tonsil serta bagian saluran pernafasan.
J umlah kasus Difteri pada tahun 2009 sebanyak 189 kasus, dengan Incidence Rate
per 10.000 penduduk menurut kelompok umur menunjukkan umur <1 tahun memiliki IR
sebesar 0,01; umur 1-4 tahun sebesar 0,02 ; dan umur 5-14 tahun sebesar 0,02 per 10.000
penduduk.
GAMBAR 3.24
INCIDENCE RATE (IR) DIFTERI PER 10.000 PENDUDUK
MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2003-2009


Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Gambaran penyakit Difteri menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.22 dan
3.23.

d. Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut)
Polio merupakan salah satu penyakit menular yang termasuk ke dalam PD3I yang
disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf higga penderita mengalami
kelumpuhan. Penyakit yang pada umumnya menyerang anak berumur 0-3 tahun ini
ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher dan sakit di
tungkai dan lengan.
Sedangkan AFP merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami
penurunan kekuatan otot tanpa penyebab yang jelas kemudian berakibat pada kelumpuhan.
Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan indikator surveilans AFP yaitu
ditemukannya Non Polio AFP Rate minimal sebesar 2/100.0000 anak usia <15 tahun. Pada
tahun 2009 non Polio AFP Rate sebesar 2,65 per 100.000 anak <15 tahun.





47


GAMBAR 3.25
NON POLIO AFP RATE PER 100.000 ANAK < 15 TAHUN
DI INDONESIA TAHUN 2009


Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Provinsi dengan non Polio AFP Rate tertinggi adalah Gorontalo sebesar 8,4 per
100.000 anak <15 tahun, diikuti oleh DIY dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 5,67
dan 5,64 per 100.000 anak <15 tahun. Sedangkan provinsi dengan non Polio AFP Rate
terendah adalah Papua sebesar 1 per 100.000 anak <15 tahun, diikuti oleh NTB dan
Kalimantan Tengah masing-masing sebesar 1,29 dan 1,57 per 100.000 anak <15 tahun.
Informasi lebih rinci menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3.24 dan 3.25.

3. Penyak i t Pot ensi al KLB/Wabah
Terdapat beberapa penyakit yang berpotensi KLB/wabah yang sering terjadi di
Indonesia, di antaranya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD), Diare dan Chikungunya.
Seluruh penyakit potensial KLB ini banyak mengakibatkan kematian dan kerugian secara
ekonomi.

a.Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue
dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak
berumur <15 tahun, namun dapat juga menyerang orang dewasa.
Pada tahun 2009, terdapat 158.912 kasus dengan jumlah kematian 1.420 orang.
Dengan demikian, IR DBD pada tahun 2009 adalah 68,22 per 100.000 penduduk dan CFR
sebesar 0,89%. Angka-angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2008
dengan IR sebesar 59,02 per 100.000 penduduk dan CFR sebesar 0,86%.








48


GAMBAR 3.26
INCIDENCE RATE DBD PER 100.000 PENDUDUK
DAN CASE FATALITY RATE DBD
DI INDONESIA TAHUN 2005-2009


Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Meskipun CFR tahun 2009 lebih tinggi dibandingkan tahun 2008, namun sejak
tahun 2005 sampai dengan tahun 2008, nampak adanya kecenderungan penurunan CFR.
Kecenderungan penurunan tersebut tidak nampak pada IR per 100.000 penduduk.
Angka Insidens (IR) tertinggi terdapat di Provinsi DKI J akarta, yaitu 313,41 per
100.000 penduduk, diikuti oleh Kalimantan Barat sebesar 228,3 per 100.000 penduduk dan
Kalimantan Timur sebesar 173,84 per 100.000 penduduk. Sedangkan IR terendah di
Provinsi NTT sebesar 8,44 dan J ambi sebesar 8,55 per 100.000 penduduk. Provinsi Maluku
melaporkan 0 kasus.

GAMBAR 3.27
INCIDENCE RATE DBD PER 100.000 PENDUDUK
DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009



49

Pada tahun 2009, provinsi dengan CFR tertinggi adalah Kep. Bangka Belitung
sebesar 4,58%, diikuti oleh Bengkulu sebesar 3,08%, Gorontalo sebesar 2,2%. Sedangkan
CFR terendah terdapat di provinsi Sulawesi Barat, dimana tidak ada kasus meninggal, dan
DKI J akarta sebesar 0,11%.


GAMBAR 3.28
CASE FATALITY RATE DBD DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Pola perkembangan DBD pada tahun 2009 secara nasional menunjukkan terjadinya
peningkatan kasus dan kematian DBD dibandingkan tahun 2008. Puncak peningkatan
kasus tahun 2009 terjadi pada bulan J anuari, Februari dan Maret, kemudian kasus menurun
kembali setelah bulan J uli dan mencapai titik terendah pada bulan September, namun
terjadi peningkatan sedikit pada bulan November dan Desember.
J umlah kabupaten/kota terjangkit DBD sejak tahun 1968 sampai dengan 2009
cenderung mengalami peningkatan seiring dengan terjadinya pemekaran wilayah di
Indonesia. Puncak IR DBD terjadi pada tahun 1973, 1988, 1998 dan 2005. J umlah
kabupaten/kota terjangkit DBD terus meningkat sampai tahun 1998, dan sedikit menurun
di tahun 1999, kemudian meningkat kembali sampai tahun 2007. Pada tahun 2008 sebesar
73,5% kabupaten/kota terjangkit, sedangkan tahun 2009 tercatat 384 Kabupaten/kota dari
497 Kabupaten/kota yang ada atau sebesar 77,26%.

GAMBAR 3.29
PERSENTASE KABUPATEN/KOTA TERJANGKIT DBD
DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009


50

Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait dengan penyakit DBD dapat dilihat
pada Lampiran 3.26 dan Lampiran 3.27.


b. Diare
Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi feses
selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan menderita Diare bila feses lebih
berair dari biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang
berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam.
Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare terjadi di 15 provinsi dengan jumlah penderita
sebanyak 5.756 orang, jumlah kematian sebanyak 100 orang atau CFR sebesar 1,74%. CFR
tahun 2009 tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, pada tahun 2008 CFR
Diare sebesar 2,48%. Kecenderungan CFR Diare pada periode tahun 2005-2009 terdapat
pada gambar berikut.
GAMBAR 3.30
CASE FATALITY RATE (CFR) DIARE
DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemkes RI, 2010

Pada gambar di atas terlihat adanya penurunan CFR yang cukup signifikan pada
tahun 2006-2007, dari 2,52% menjadi 1,26%. Angka ini naik menjadi 2,48% pada tahun
2008. Angka ini turun menjadi 1,74% pada tahun 2009. Penurunan ini dapat disebabkan
oleh adanya perbaikan penatalaksanaan kasus Diare.
Berikut ini disajikan gambaran distribusi provinsi dengan KLB Diare pada tahun
2009.
GAMBAR 3.31
KLB DIARE DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemkes RI, 2010


51

Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait Diare dapat dilihat pada Lampiran
3.28.


c.Chikungunya
Chikungunya adalah penyakit infeksi akut yang ditandai gejala utama demam, ruam
/bercak-bercak kemerahan di kulit dan nyeri persendian, penyakit disebabkan oleh infeksi
virus Chik yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Penyakit ini kerap dijumpai terutama di daerah tropis/subtropis dan sering
menimbulkan epidemi. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya penyakit ini antara
lain rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat, kepadatan populasi nyamuk penular
karena banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim
penghujan.
Pada tahun 2008 dilaporkan di Provinsi J awa Barat, DKI J akarta, Banten, Sumbar
dan DI Yogyakarta dengan jumlah 3.592 kasus tanpa kematian. Sedangkan pada tahun
2009 dilaporkan di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, J ambi, Sumatera Selatan,
Bengkulu, Lampung, Kep. Bangka Belitung, DKI J akarta, J awa Barat, J awa Tengah, J awa
Timur, Bali, NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur dengan
jumlah 83.756 kasus tanpa kematian.
Berikut ini disajikan gambaran kasus Chikungunya menurut provinsi pada tahun
2009.
GAMBAR 3.32
JUMLAH KASUS CHIKUNGUNYA DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemkes RI, 2010

Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan kasus Chikungunya secara
signifikan pada tahun 2009 antara lain semakin banyaknya tempat-tempat perindukan
nyamuk penular, dan makin meningkatnya arus mobilisasi penduduk. Sebagaimana
diketahui bahwa pada tahun-tahun sebelumnya masih banyak daerah-daerah yang belum
melaporkan kejadian kasus Chikungunya. Gambaran kasus Chikungunya menurut provinsi
terdapat pada Lampiran 3.29.

52


d.Rabies
Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus rabies yang ditularkan
melalui gigitan hewan seperti anjing, kucing, kelelawar, kera, musang dan serigala yang di
dalam tubuhnya mengandung virus Rabies.
Penyakit dengan CFR tinggi ini terus menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia.
Sampai akhir tahun 2009, daerah tertular rabies adalah 24 provinsi dari 33 provinsi di
Indonesia. Dengan demikian hanya 9 provinsi yaitu: Kep.Bangka Belitung, DKI J akarta, DI
Yogyakarta, J awa Tengah, J awa Timur, NTB, Kalimantan Barat, Papua Barat, dan Papua
yang masih dinyatakan sebagai daerah bebas rabies.
Terdapat beberapa indikator yang digunakan dalam memantau upaya pengendalian
Rabies, yaitu : GHPR (kasus Gigitan Hewan Penular Rabies), kasus yang divaksinasi
dengan Vaksin Anti Rabies (VAR), dan Lyssa. Berikut ini disajikan gambaran GHPR,
kasus divaksinasi, dan Lyssa pada tahun 2004-2009.
GAMBAR 3.33
JUMLAH KASUS GHPR, VAR
DAN LYSSA DI INDONESIA TAHUN 2004-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemkes RI, 2010

Selama tahun 2004-2009, nampak adanya kecenderungan peningkatan jumlah kasus
GHPR dan kasus VAR. Kasus GHPR pada tahun 2004 dilaporkan sebanyak 14.996 dengan
7.895 kasus divaksinasi dan 109 kasus lyssa. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan kasus
GHPR menjadi 45.466 kasus dengan kasus divaksinasi 35.316 dan lyssa sebesar 195 kasus.
Pada tahun 2009 provinsi dengan kasus GHPR terbanyak adalah Bali, sedangkan
provinsi yang berhasil menekan jumlah lyssa menjadi 0 kasus pada tahun 2009 adalah
J ambi, Bengkulu, J awa Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Barat. Gambaran situasi
Rabies di Indonesia menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Lampiran 3.30.
Berikut ini ditampilkan peta wilayah endemis rabies tahun 2009







53

GAMBAR 3.34
WILAYAH TERTULAR RABIES DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemkes RI, 2010

Berdasarkan gambar di atas, maka provinsi yang bebas rabies pada tahun 2009 yaitu
Kep. Bangka Belitung, DKI J akarta, DI Yogyakarta, J awa Tengah, J awa Timur, NTB,
Kalimantan Barat, Papua Barat, dan Papua.

e. Filariasis
Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria, yang
terdiri dari Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Penyakit ini
menginfeksi jaringan limfe (getah bening). Filariasis menular melalui gigitan nyamuk yang
mengandung cacing filaria dalam tubuhnya. Dalam tubuh manusia, cacing tersebut tumbuh
menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe sehingga menyebabkan
pembengkakan di lengan dan organ genital.
GAMBAR 3.35
JUMLAH KASUS FILARIASI DI INDONESIA TAHUN 2003-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemkes RI, 2010
Sampai tahun 2009 jumlah kasus klinis filariasis yang dilaporkan sebanyak 11.914
yang tersebar di 401 kabupaten/kota. J umlah kasus klinis filariasis ini merupakan jumlah
kumulatif yang dilaporkan dari waktu ke waktu, baik penderita lama yang baru ditemukan
maupun penderita baru. Pada tahun 2008, jumlah kasus klinis yang dilaporkan sebanyak
11.699. Informasi lebih rinci terkait penyakit filariasis terdapat pada Lampiran 3.31.

54


f. Antraks
Penyakit Antraks adalah penyakit infeksi yang akut yang disebabkan oleh spora dari
bakteri Bacillus anthracis. Spora Bacillus anthracis dapat bertahan hidup di lingkungan
selama bertahun-tahun hingga mendapatkan host baru. Umumnya penyakit ini terjadi pada
mamalia herbivora baik yang liar maupun peliharaan, meskipun dapat juga menyerang
mamalia lain dan beberapa jenis unggas. Manusia dapat tertular Antraks melalui kontak
langsung maupun tidak langsung atau mengkonsumsi binatang yang terinfeksi atau produk
hewan yang terkontaminasi bakteri/spora Antraks.
Selama tahun 2009 telah dilaporkan kasus antraks pada manusia sebanyak 17 kasus
2 orang diantaranya meninggal (CFR 11,76%). Terdapat 2 kasus yang meninggal akibat
antraks tipe pencernaan yang bersifat sangat akut. Semua kasus berasal dari Kabupaten
Gowa Provinsi Sulawesi Selatan.

g. Pes
Penyakit pes atau bubonic plaque disebabkan oleh infeksi bakteri Pasteurella pestis
melalui hewan pengerat liar. Terdapat 4 wilayah yang merupakan wilayah fokus Pes yaitu
1. Provinsi J awa Timur di Kabupaten Pasuruan, Kecamatan Tutur Nongkojajar
2. Provinsi J awa Tengah di Kabupaten Boyolali, Kecamatan Selo dan Cepogo,
3. Provinsi DI Yogyakarta di Kabupaten Sleman, Kecamatan Cangkringan
4. Provinsi J awa Barat di Kabupaten Bandung, Kecamatan Ciwidey.
Seluruh daerah tersebut adalah merupakan daerah pegunungan (daerah ketinggian)
seperti Kecamatan Tutur Nongkojajar di kaki Gunung Bromo, Kecamatan Selo & Cepogo
serta Cangkringan di Kaki Gunung Merapi, Kecamatan Ciwidey di daerah kawah putih
Ciwidey.
Surveilans aktif dan pasif terhadap rodent dan pinjalnya masih tetap dilakukan
secara rutin di empat daerah fokus Pes tersebut untuk mengantisipasi terjadinya KLB Pes
yang biasa terjadi setiap 10 tahun. KLB Pes terakhir terjadi pada tahun 2007 di Dusun
Sulorowo, Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur Nongkojajar Kabupaten Pasuruan, Provinsi
J awa Timur. Pada tahun 2009, provinsi yang masih melaporkan kegiatan trapping hanya
J awa Timur, dimana terdapat 40 spesimen manusia dan 3.175 spesimen rodent yang
diperiksa di BLK Surabaya dan hasilnya menunjukkan negatif.
Berikut ini ditampilkan hasil surveilans aktif dan pasif pes pada manusia selama
tahun 2004-2009.





55

GAMBAR 3.36
HASIL SURVEILANS PES PADA MANUSIA
DI INDONESIA TAHUN 2004-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemkes RI, 2010

Pada gambar di atas nampak terjadi peningkatan jumlah manusia yang diperiksa
maupun yang menunjukkan hasil positif pada tahun 2004-2007. Pada tahun 2008 dan 2009
tidak ditemukan lagi kasus positif pada manusia. Data dan Informasi mengenai penyakit
pes terdapat pada Lampiran 3.32.

h. Leptospirosis
Leptospirosis ditularkan melalui urin hewan pengerat yang telah terinfeksi bakteri
penyebab Leptospirosis. Manusia dapat terinfeksi jika terpapar dengan air, tanah basah
yang telah terkontaminasi urin tersebut. Penyakit ini ditandai dengan beberapa gejala
seperti flu sampai dengan gangguan serius yang dapat menyebabkan kematian. Kasus
Leptospirosis seringkali dilaporkan dari wilayah yang terkena banjir.
Pada tahun 2009 terdapat tiga wilayah yang melaporkan adanya kasus leptospirosis
yaitu Provinsi DKI J akarta, J awa Tengah dan DI Yogyakarta. Pada tahun 2009 terjadi
peningkatan kasus Leptospirosis di J awa Tengah pada bulan J anuari sampai dengan April
2009, dimana sedang terjadi bencana banjir di wilayah tersebut. Secara nasional, pada
tahun 2009 terdapat 378 kasus dengan 23 kasus meninggal. Berikut ini ditampilkan
gambaran jumlah kasus, meninggal dan CFR Leptospirosis selama tahun 2004-2009.
GAMBAR 3.37
JUMLAH KASUS, MENINGGAL DAN CFR LEPTOSPIROSIS
DI INDONESIA TAHUN 2004-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemkes RI, 2010

56


Gambar di atas menampilkan adanya peningkatan kasus pada tahun 2007 dengan
jumlah kasus 667 dan jumlah meninggal 57. Pada tahun 2007 memang terjadi banjir di
beberapa wilayah di Indonesia, khususnya Provinsi DKI J akarta. Sedangkan CFR
menunjukkan kecenderungan penurunan pada tahun 2004-2006. Angka kematian ini naik
pada tahun 2007 dengan CFR 8,55%. Namun angka ini turun menjadi 6,08 pada tahun
2009. Informasi lebih rinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.33.

i. Flu Burung
Avian Influenza atau flu burung disebabkan oleh infeksi virus influenza tipe A
(H5N1) yang umumnya menginfeksi unggas dan sedikit kemungkinan menginfeksi babi.
Penyakit ini bisa menular kepada manusia dan dapat menimbulkan penyakit flu yang
berakibat kematian.
Kasus Flu Burung di Indonesia pada manusia pertama kali dilaporkan pada bulan
J uni tahun 2005. Berikut ini ditampilkan jumlah kasus, kasus meninggal dan CFR Flu
Burung tahun 2005-2009.

GAMBAR 3.38
JUMLAH KASUS, MENINGGAL DAN CFR FLU BURUNG
DI INDONESIA TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemkes RI, 2010

J umlah kasus Flu Burung dan jumlah meninggal dilaporkan terbanyak pada tahun
2006. Kecenderungan penurunan terjadi dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009.
Sedangkan CFR menunjukkan kecenderungan peningkatan sejak kasus pertama kali
ditemukan pada tahun 2005. Pada tahun 2009 dilaporkan kasus sebanyak 21 dengan kasus
meninggal sebanyak 19 dan CFR sebesar 90,48%. Angka CFR ini merupakan yang
tertinggi selama kurun waktu tahun 2005-2009.
J ika dilihat secara kumulatif sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, tiga
provinsi dengan jumlah kasus Flu Burung tertinggi yaitu DKI J akarta, J awa Barat dan
Banten.








57

GAMBAR 3.39
JUMLAH KASUS DAN MENINGGAL AKIBAT FLU BURUNG
DI 13 PROVINSI TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemkes RI, 2010

Berikut ini ditampilkan pemetaan kasus Flu Burung sampai dengan tahun 2009.


GAMBAR 3.40
WILAYAH PENYEBARAN KASUS FLU BURUNG
DI INDONESIA TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemkes RI, 2010

Pada gambar di atas nampak bahwa sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 2005
sampai dengan tahun 2009, flu burung telah menyebar ke beberapa Provinsi di Indonesia,
yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI
J akarta, J awa Barat, J awa Tengah, DIY, J awa Timur, Bali, dan Sulawesi Selatan.
Gambaran situasi Flu Burung menurut provinsi juga dapat dilihat pada Lampiran 3.34.


***

59





Secara umum upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama, yaitu upaya kesehatan
masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap
kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara
dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan
di masyarakat. Upaya kesehatan masyarakat mencakup upaya-upaya promosi kesehatan,
pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakit menular, pengendalian penyakit tidak menular,
penyehatan lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, kesehatan
jiwa, pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan, pengamanan penggunaan zat aditif dalam
makanan dan minuman, pengamanan narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya,
serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.
Upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan
atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah
dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. Upaya kesehatan
perorangan mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan rawat
jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihan kecacatan yang ditujukan terhadap
perorangan.
Berikut ini diuraikan situasi upaya kesehatan selama beberapa tahun terakhir, khususnya
untuk tahun 2009.

A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah penting dalam penyelenggaraan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dengan pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan
cepat, diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi. Berbagai
pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan adalah sebagai berikut ini.

1. Pel ayanan Kesehat an I bu dan Anak
Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan
perkembangan anak. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu yang sedang hamil dapat
60

mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungannya hingga kelahiran dan masa pertumbuhan
bayi dan anaknya.
Kebijakan tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir secara khusus berhubungan
dengan pelayanan antenatal, persalinan, nifas dan perawatan bayi baru lahir yang diberikan di
semua jenis fasilitas pelayanan kesehatan, dari posyandu sampai rumah sakit pemerintah
maupun fasilitas pelayanan kesehatan swasta.
Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Neonatus (AKN), Angka Kematian
Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan beberapa indikator status
kesehatan masyarakat. Dewasa ini AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi dibandingkan
dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) 2007, AKI sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup, AKB 34 per 1.000 kelahiran
hidup, AKN 19 per 1.000 kelahiran hidup, dan AKABA 44 per 1.000 kelahiran hidup.
Dalam upaya pencapaian MDG’s dan tujuan pembangunan kesehatan, peningkatan
pelayanan kesehatan ibu diprioritaskan yaitu dengan menurunkan Angka Kematian Ibu
menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100.000 kelahiran
hidup pada tahun 1992 (SKRT). Target Cakupan kesehatan ibu yang harus dicapai pada tahun
2009 masing-masing sebesar 94% untuk Akses Pelayanan Antenatal (cakupan ibu hamil K1),
84% untuk cakupan pelayanan ibu hamil sesuai standar (K4), dan 82% untuk cakupan
Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (Pn).
Upaya untuk mempercepat penurunan AKI telah dimulai sejak akhir tahun 1980-an
melalui program Safe Motherhood Initiative yang mendapat perhatian besar dan dukungan
dari berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri. Pada akhir tahun 1990-an secara
konseptual telah diperkenalkan lagi upaya untuk menajamkan strategi dan intervensi dalam
menurunkan AKI melalui Making Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan oleh pemerintah
pada tahun 2000.

a. Pel ayanan Kesehat an I bu Hami l (K1 dan K4)
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu
selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang
ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Sedangkan tenaga kesehatan yang
berkompeten memberikan pelayanan antenatal kepada ibu hamil antara lain dokter spesialis
kebidanan, dokter, bidan dan perawat.
Pelayanan antenatal yang sesuai standar meliputi timbang berat badan, pengukuran
tinggi badan, tekanan darah, nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas), tinggi fundus uteri,
menentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ), skrining status imunisasi tetanus
dan memberikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan, pemberian tablet zat besi
minimal 90 tablet selama kehamilan, test laboratorium (rutin dan khusus), tatalaksana kasus,
serta temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi
(P4K), serta KB pasca persalinan.
61

Pelayanan antenatal disebut lengkap apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan serta
memenuhi standar tersebut. Ditetapkan pula bahwa distribusi frekuensi pelayanan antenatal
adalah minimal 4 kali selama kehamilan, dengan ketentuan waktu pemberian pelayanan yang
dianjurkan yaitu: minimal 1 kali pada triwulan pertama, 1 kali pada triwulan kedua, dan 2 kali
pada triwulan ketiga. Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk menjamin
perlindungan kepada ibu hamil, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan dan penanganan
komplikasi.
Hasil pencapaian program pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan
menggunakan indikator cakupan K1 dan K4 yang dihitung dengan membagi jumlah ibu hamil
yang melakukan pemeriksaan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan (untuk
penghitungan indikator K1) atau jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan
minimal 4 kali sesuai standar oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah pada kurun waktu
tertentu (untuk penghitungan indikator K4) dengan jumlah sasaran ibu hamil yang ada di
wilayah kerja dalam 1 tahun.
Gambar 4.1 memperlihatkan cakupan kunjungan K1 dan K4 pada ibu hamil
selama enam tahun terakhir. Terlihat bahwa cakupan K1 selama tahun 2004 sampai 2009
terus mengalami peningkatan dari 88,09% pada tahun 2004 menjadi 94,51% pada tahun 2009.
Sedangkan cakupan K4 pada tahun 2004-2008 cenderung meningkat, namun pada tahun 2009
sedikit menurun dari 86,04% pada tahun 2008 menjadi 85,45% pada tahun 2009.
GAMBAR 4.1
PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K1 DAN K4
DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2009

Sumber : Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
Dari gambar tersebut di atas dapat dilihat kesenjangan yang terjadi antara cakupan K1
dan K4. Pada tahun 2004 terjadi selisih antara cakupan K1 dan K4 sebesar 11% kemudian
tahun 2006 menjadi 10% dan pada tahun 2008 semakin kecil, yaitu 6,6%. Namun, pada tahun
2009 kesenjangan kembali meningkat menjadi 9%. Kesenjangan antara cakupan K1 dan K4
menunjukkan angka drop out K1-K4; dengan kata lain jika kesenjangan K1 dan K4 kecil
maka hampir semua ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal
62

meneruskan hingga kunjungan keempat pada triwulan 3, sehingga kehamilannya dapat terus
dipantau oleh petugas kesehatan.
Gambar 4.2 menyajikan hasil pencapaian cakupan K1 tahun 2009, yang menunjukkan
pencapaian indikator K1 sebesar 94,51%, yang berarti telah mencapai target K1 tahun 2009
yaitu sebesar 94%. Kepulauan Bangka Belitung dan DKI Jakarta merupakan provinsi dengan
pencapaian K1 100%. Sedangkan Papua adalah provinsi dengan pencapaian K1 terendah,
yaitu sebesar 57,85%.
GAMBAR 4.2
CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL (K1)
TAHUN 2009

Sumber : Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
Dari 33 provinsi di Indonesia, 16 provinsi telah mencapai target cakupan K1 sebesar
94%. Sementara provinsi yang lainnya telah mencapai cakupan K1 tidak kurang dari 80%,
kecuali provinsi Papua dan Sulawesi Barat dengan pencapaian masing-masing 57,85% dan
77,22%. Oleh karena itu perlu dilakukan percepatan peningkatan pelayanan kesehatan ibu di
Provinsi Papua dan Sulawesi Barat.
Pada tahun 2009, hasil pencapaian indikator cakupan pelayanan K4 di Indonesia
sebesar 85,45% yang berarti telah mencapai target K4 tahun 2009 yang sebesar 84%.
Sebanyak 18 provinsi telah mencapai target cakupan K4. Provinsi DKI Jakarta merupakan
provinsi dengan pencapaian K4 tertinggi (96,53%), diikuti provinsi Bangka Belitung
(94,11%) dan Jawa Tengah (93,39%). Sedangkan Papua adalah provinsi dengan pencapaian
K4 terendah (29,44%), diikuti Papua Barat (55,79%) dan Sulawesi Barat (57,04%). Untuk
lebih jelasnya, dapat dilihat pada Gambar 4.3 di bawah ini.
63

GAMBAR 4.3
CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K4
TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
Sedangkan cakupan pelayanan K4 menurut provinsi dapat dilihat melalui Gambar
4.4 di bawah ini. Terlihat bahwa hanya 7 provinsi di Indonesia dengan cakupan K4 lebih dari
90%, 20 provinsi memiliki cakupan antara 75% - 90%. Sebanyak 6 provinsi lainnya memiliki
cakupan kurang dari 75% dan semuanya merupakan bagian dari Kawasan Timur Indonesia.
Provinsi-provinsi tersebut adalah NTT, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat,
dan Papua.
GAMBAR 4.4
PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K4 IBU HAMIL
TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
64

b. Per t ol ongan Per sal i nan ol eh Tenaga Kesehat an dengan Kompet ensi
Kebi danan (Pn)
Periode persalinan merupakan salah satu periode yang berkontribusi besar terhadap
Angka Kematian Ibu di Indonesia. Kematian saat bersalin dan 1 minggu pertama diperkirakan
60% dari seluruh kematian ibu (Maternal Mortality: who, when, where and why; Lancet
2006). Sedangkan dalam target MDG’s, salah satu upaya yang harus dilakukan untuk
meningkatkan kesehatan ibu adalah menurunkan angka kematian ibu menjadi 102 per
100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun
1992 (SKRT) serta meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menjadi 90%
pada tahun 2015 dari 40,7% pada tahun 1992 (BPS). Pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan
dengan kompetensi kebidanan.
Gambar 4.5 memperlihatkan cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan
sejak tahun 2004 sampai tahun 2009 yang cenderung meningkat. Pada tahun 2009 cakupan
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia telah mencapai 84,38%.
GAMBAR 4.5
PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN
OLEH TENAGA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2009

Sumber : Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan (Pn) di Indonesia pada tahun 2009 yang
sebesar 84,38%, telah mencapai target K4 tahun 2009 yang sebesar 82%. Dari indikator
cakupan Persalinan oleh Nakes tahun 2009, dapat dilihat pada Gambar 4.6 bahwa DKI Jakarta
merupakan provinsi dengan pencapaian tertinggi (100%), diikuti Provinsi Kepulauan Riau
(96,24%) dan D.I Yogyakarta (95,90%). Sedangkan Papua merupakan provinsi dengan
pencapaian Pn terendah (39,30%), diikuti Provinsi Maluku Utara (61,75%) dan Sulawesi
Barat (62,45%).

65

GAMBAR 4.6
PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN
OLEH TENAGA KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
Pada tahun 2009 sebanyak 19 provinsi di Indonesia telah mencapai target cakupan
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu 82%. Pada Gambar 4.6 terlihat bahwa
sebanyak 7 provinsi di Indonesia yang memiliki cakupan Pn di atas 90%, provinsi lainnya
memiliki pencapaian kurang sama dengan 90%. Sehingga dalam upaya peningkatan cakupan
persalinan perlu dilakukan melalui upaya pelaksanaan program unggulan kesehatan ibu, di
antaranya adalah Kemitraan Bidan Dukun, peningkatan persalinan di fasilitas Kesehatan
melalui jaminan program persalinan, model rumah tunggu di Kabupaten dengan Puskesmas di
daerah terpencil untuk pencegahan terhadap komplikasi yang terjadi selama persalinan,
revitalisasi Bidan Koordinator melalui pelaksanaan supervisi fasilitatif untuk peningkatan
mutu dan kualitas tenaga penolong persalinan, serta peningkatan kualitas surveilans kesehatan
ibu melalui pelaksanaan Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA).
Kenyataan di lapangan, masih terdapat penolong persalinan yang bukan tenaga
kesehatan dan dilakukan di luar fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan Susenas tahun
2008, masih terdapat 25,13% persalinan ditolong bukan oleh nakes dan lebih dari setengahnya
(53,9%) pertolongan persalinan dilakukan di rumah dengan fasilitas seadanya. Oleh karena itu
secara bertahap diupayakan seluruh persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten
dan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2009, sebesar 77,34%
kelahiran pada balita ditolong oleh tenaga kesehatan. Persentase penolong kelahiran pada
66

balita yang tertinggi adalah oleh bidan (61,24%), diikuti oleh dukun (21,29%) dan dokter
(15,28%). Dibandingkan dengan hasil survei yang sama pada tahun 2008, persentase
penolong kelahiran pada balita oleh tenaga kesehatan meningkat pada tahun 2009.
Perbandingan persentase penolong persalinan antara tahun 2008 dan 2009 dapat dilihat pada
Gambar 4.7 berikut ini.
GAMBAR 4.7
PERSENTASE BALITA MENURUT PENOLONG KELAHIRAN
TAHUN 2008-2009

Sumber : BPS, Susenas
Berdasarkan provinsi, persentase penolong kelahiran pada balita oleh tenaga kesehatan
di atas 90% pada tahun 2009 adalah DKI Jakarta, DI Yogyakarta, dan Bali. Sedangkan yang
terendah adalah Provinsi Maluku (42,48%), Maluku Utara (47,21%), dan Sulawesi Barat
(47,45%). Persentase balita menurut penolong kelahiran dan provinsi dapat dilihat pada
Lampiran 4.2.
c . Cak upan Pel ayanan Kesehat an I bu Ni f as (KF3)
Pelayanan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam
sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. Untuk deteksi dini komplikasi pada
ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan
kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu: 1) kunjungan nifas pertama
(KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari; 2) kunjungan nifas ke-2 (KF2) dilakukan
pada minggu ke-2 setelah persalinan; dan 3) kunjungan nifas ke-3 (KF3) dilakukan minggu
ke-6 setelah persalinan. Diupayakan kunjungan nifas ini dilakukan pada saat dilaksanakannya
kegiatan di posyandu dan dilakukan bersamaan pada kunjungan bayi.
Pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan meliputi: 1) pemeriksaan tekanan darah,
nadi, respirasi dan suhu; 2) pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya; 3)
pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan; 4) pemberian kapsul Vitamin A
200.000 IU sebanyak dua kali (2 x 24 jam); dan 5) pelayanan KB pasca persalinan.
67

Gambar 4.8 berikut ini menyajikan persentase pelayanan ibu nifas menurut provinsi di
Indonesia.
GAMBAR 4.8
PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN IBU NIFAS
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber : Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
Cakupan kunjungan ibu nifas rata-rata pada tahun 2009 adalah 71,54%. Sementara
target cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2015 adalah 90%.
Berdasarkan provinsi, Bali merupakan provinsi dengan pencapaian cakupan KF3
tertinggi (101.15%), kemudian Kep. Bangka Belitung (94.67%) dan Jawa Timur (93.51%).
Dari 30 provinsi yang melaporkan data, ketiga provinsi tersebut bahkan telah mencapai
cakupan 90% (target SPM tahun 2015). Provinsi dengan cakupan terendah adalah Riau
(16,54%), Kalimantan Timur (36,54%), dan Kalimantan Barat (40,52%). Sebanyak 14
Provinsi memiliki cakupan kunjungan ibu nifas 3 kali sebesar 50% - 75%.

d. Penanganan Kompl i k asi Obst et r i dan Neonat al
Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh tenaga bidan di desa dan Puskesmas,
ibu hamil yang memiliki risiko tinggi (risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan, karena
terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan, maka kasus tersebut perlu dilakukan
upaya rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai.
68

Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung
menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Risti/komplikasi kebidanan meliputi
Hb < 8 g%, tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg, diastole > 90 mmHg), oedeme nyata,
eklampsia, perdarahan per vaginam, ketuban pecah dini, letak lintang pada usia kehamilan >
32 minggu, letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis, dan persalinan prematur.
Gambar 4.9 memperlihatkan cakupan penanganan komplikasi kebidanan menurut
provinsi pada tahun 2009. Seluruh provinsi belum mencapai cakupan penanganan komplikasi
kebidanan 80%, kecuali Provinsi Jawa Timur yang mencapai 84,82%. Bahkan sebagian besar
provinsi memiliki cakupan kurang dari 50%.
GAMBAR 4.9
CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber : Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
Neonatus risti/komplikasi meliputi asfiksia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma lahir,
BBLR (Berat Badan Lahir < 2.500 gram), sindroma gangguan pernafasan dan kelainan
neonatal. Neonatus risti/komplikasi yang ditangani adalah neonatus risti/komplikasi yang
mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih yaitu dokter dan bidan di polindes,
puskesmas, rumah bersalin dan rumah sakit.
Pada tahun 2009 cakupan penanganan neonatal komplikasi yang dilaporkan sebesar
23,8%, dengan kisaran cakupan antar provinsi yang cukup lebar. Sementara target standar
pelayanan minimal bidang kesehatan untuk indikator tersebut yang harus dicapai pada tahun
69

2010 yaitu 80%. Gambaran cakupan penanganan komplikasi neonatal per provinsi dapat
dilihat pada Gambar 4.10 berikut ini
GAMBAR 4.10
CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber : Ditjen Binakesmas, Kemenkes RI

Pencapaian cakupan penanganan neonatal komplikasi tertinggi adalah NTT 76,2%,
Sulawesi Utara 63,3% dan DIY 58%. Sedangkan cakupan terendah adalah provinsi Maluku
Utara, Maluku, dan Sulawesi Tenggara.

e. Kunj ungan Neonat al
Bayi sampai umur 28 hari merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan
kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut
antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan
kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal tiga kali, yaitu pada 6 jam - 48 jam setelah
lahir; pada hari ke 3 – 7 hari, dan hari ke 8 – 28 hari.
Dalam melaksanakan pelayanan neonatal, petugas kesehatan di samping melakukan
pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. Pelayanan
tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan
hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali
70

pusat, kulit dan pemberian imunisasi); pemberian vitamin K; Manajemen Terpadu Balita
Muda (MTBM); dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA.
Pencapaian target pelayanan kesehatan bayi berdasarkan laporan rutin tahun 2009
yaitu cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) yang sebesar 80,6%, masih belum
mencapai target yang diharapkan yaitu 82%. Gambar 4.11 memperlihatkan cakupan
kunjungan neonatal pertama (KN1) per provinsi di Indonesia tahun 2009.
GAMBAR 4.11
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL (KN1)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binakesmas, Kemenkes RI
Terdapat disparitas yang sangat lebar antar provinsi, cakupan KN1 tertinggi adalah
Provinsi Bali 99,8%, Kep. Babel 99,6%, dan Jawa Tengah 94,7%, cakupan terendah adalah
Provinsi Papua Barat 30%, Maluku Utara 31%, dan Papua 32,5%. Sebanyak 13 dari 33
provinsi di Indonesia telah mencapai target.
Kecenderungan cakupan kunjungan neonatal 2 kali (KN2) tahun 2003-2008 dapat
dilihat pada Gambar 4.12 berikut ini. Semenjak tahun 2006 hingga 2008 cakupan KN2 selalu
di atas 75%.




71

GAMBAR 4.12
PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL (KN2)
DI INDONESIA TAHUN 2003 – 2008


Sumber: Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
Sejak tahun 2008 terjadi perubahan kebijakan waktu pelaksanaan kunjungan dari
semula minimal 2 kali menjadi 3 kali, yang mulai disosialisasikan pada tahun 2008. Pada
tahun 2009 target cakupan kunjungan neonatal lengkap (KN Lengkap) adalah sebesar 75%,
sementara cakupan yang dicapai baru sebesar 69,7%. Provinsi-provinsi yang telah mencapai
target dapat dilihat pada Gambar 4.13 berikut ini.
GAMBAR 4.13
PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI
72

Sebanyak 17 provinsi telah mencapai target cakupan KN Lengkap sebesar 75%.
Provinsi dengan cakupan KN Lengkap tertinggi adalah Provinsi Bali 99,5%, Kep. Bangka
Belitung 95,3% dan Jawa Timur 92,8%. Sedangkan cakupan terendah adalah provinsi
Kalimantan Tengah 21,2%, Kalimantan Barat 23,3% dan Kepulauan Riau 28%.
f . Pel ayanan Kesehat an Pada Bayi
Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan kunjungan bayi umur 29 hari – 11 bulan di
sarana pelayanan kesehatan (polindes, pustu, puskesmas, rumah bersalin dan rumah sakit)
maupun di rumah, posyandu, tempat penitipan anak, panti asuhan dan sebagainya melalui
kunjungan petugas kesehatn. Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali
dalam setahun, yaitu satu kali pada umur 29 hari-3 bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali
pada umur 6-9 bulan, dan 1 kali pada umur 9-11 bulan.
Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/
HB1-3, Polio 1-4, dan Campak), stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK)
bayi, dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi. Indikator ini mengukur kemampuan
manajemen program KIA dalam melindungi bayi sehingga kesehatannya terjamin melalui
penyediaan pelayanan kesehatan.
Pada tahun 2009 cakupan pelayanan kesehatan bayi sebesar 81,4%, sementara target
SPM Kesehatan yang harus dicapai pada tahun 2010 sebesar 90%. Sebanyak 4 provinsi telah
mencapai target yaitu Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Cakupan pelayanan
kesehatan bayi per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.14 berikut ini.
GAMBAR 4.14
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
73

Cakupan kunjungan bayi tertinggi adalah provinsi Bali 100,5%, Jawa Timur dan Jawa
Tengah 92,7%. Cakupan terendah adalah provinsi Papua Barat 21,8%, Maluku Utara 23,4%
dan Papua 27%. Pencapaian target cakupan kunjungan bayi sangat dipengaruhi oleh keaktifan
posyandu tiap bulannya dan partisipasi keluarga untuk membawa bayi ke posyandu, sehingga
provinsi yang memiliki wilayah sulit dijangkau mempunyai cakupan yang relatif rendah.
g. Pel ayanan Kesehat an pada Bal i t a
Pada tahun 2009 cakupan pelayanan kesehatan anak balita (1 - 4 tahun) sebesar
52,05%, sementara target yang harus dicapai 70%. Cakupan pelayanan kesehatan anak balita
per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.15 berikut:
GAMBAR 4.15
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK BALITA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
Pencapaian cakupan pelayanan kesehatan anak balita, dari 31 provinsi yang
menyampaikan laporan sebanyak 6 provinsi yang mencapai target 70%, yaitu Provinsi Jambi
92,4%, Sulawesi Tengah 82,1%, Sumatera Utara 80,5%, Bali 79,8%, Sulawesi Utara 71% dan
Sumatera Barat 70,9%. Provinsi dengan cakupan terendah adalah DI Yogyakarta, Bengkulu, dan
Kalimantan Tengah.



74

h. Pel ayanan Kesehat an Pada Si sw a SD dan set i ngk at
Berbagai data menunjukkan bahwa masalah kesehatan anak usia sekolah semakin
kompleks. Pada anak usia sekolah dasar biasanya berkaitan dengan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) seperti menggosok gigi dengan baik dan benar, mencuci tangan menggunakan
sabun. Beberapa masalah kesehatan yang sering dialami anak usia sekolah adalah karies gigi,
kecacingan, kelainan refraksi/ketajaman penglihatan dan masalah gizi.
Berdasarkan hasil Riskesdas 2007 disebutkan bahwa untuk masalah kesehatan mata,
sebesar 1,1% anak usia 6-14 tahun mengalami kelainan refraksi dan 0,2% mengalami
kebutaan. Untuk proporsi masalah kesehatan gigi dan mulut, sebesar 21,6% terjadi pada anak
usia 5-9 tahun dan 20,6% pada anak usia 10-14 tahun. Sementara karies gigi aktif yang terjadi
pada anak usia 12 tahun adalah 29,8% dan anak di atas usia 12 tahun adalah 43,9%.
Sedangkan anak usia 12 tahun dengan karies gigi sebanyak 36,1% dan anak di atas usia 12
tahun sebanyak 72,1%. Untuk status gizi pada anak usia >15 tahun, yang kurus 14,8% adapun
yang obesitas 10,3%. Angka anemi pada anak usia <14 tahun 9,8%, sementara pada anak usia
>15 tahun, pada perempuan 19,7% dan pada laki-laki 13,1%. Hasil survei kecacingan 2009
oleh Ditjen P2PL menyebutkan 31,8 % siswa SD menderita kecacingan.
Gambar 4.16 memperlihatkan persentase murid SD kelas satu yang mendapatkan
pelayanan kesehatan.
GAMBAR 4.16
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN MURID KELAS SATU SD/SETINGKAT
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
75

Provinsi dengan capaian cakupan penjaringan murid SD dan setingkat tertinggi adalah
Jawa Barat (97,1%), Jawa Timur (90,1%), dan DI Yogyakarta (86%). Sedangkan yang
terendah adalah Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan NTT. Pencapaian nasional tahun
2009 sebesar 67,8%.
2. Pel ayanan Kel uar ga Ber enc ana (KB)
Menurut hasil penelitian, usia subur seorang wanita biasanya antara 15 – 49 tahun.
Oleh karena itu untuk mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran,
wanita/pasangan ini lebih diprioritaskan untuk menggunakan alat/cara KB.
Tingkat pencapaian pelayanan keluarga berencana dapat dilihat dari cakupan peserta
KB yang sedang/pernah menggunakan alat kontrasepsi, tempat pelayanan KB, dan jenis
kontrasepsi yang digunakan akseptor. Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus menikah
(pasangan usia subur/PUS) yang sedang dan yang pernah menggunakan/memakai alat KB
dapat dilihat pada Gambar 4.17 berikut ini.
GAMBAR 4.17
PROPORSI WANITA BERUMUR 15-49 TAHUN BERSTATUS KAWIN
YANG SEDANG DAN YANG PERNAH MENGGUNAKAN ALAT KB
TAHUN 2004-2008

Sumber : BPS, Susenas 2008
Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus kawin yang sedang menggunakan/
memakai alat KB menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2008 sebesar 56,62%, tidak
banyak mengalami perkembangan sejak tahun 2004. Berdasarkan data BKKBN, pada tahun
2009 peserta KB aktif sebesar 75,70%. Gambar 4.18 menyajikan persentase peserta KB aktif
menurut provinsi.




76

GAMBAR 4.18
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT PROVINSI
TAHUN 2009

Sumber : BKKBN
Provinsi dengan persentase peserta KB aktif tertinggi adalah Bengkulu (85,5%), Bali
(85,1%), dan DKI Jakarta (82%). Sedangkan persentase peserta KB aktif terendah adalah
Papua (33,9%), Maluku Utara (59,5%), dan Kepulauan Riau (64,3%).
Persentase peserta KB aktif menurut metode kontrasepsi yang sedang digunakan tahun
2009 terlihat dalam Gambar 4.19 berikut ini. Pada tahun 2009 suntikan dan Pil KB masih
banyak diminati sebagai alat KB oleh pasangan usia subur yaitu masing-masing sebesar
50,2% dan 28,3%. Sebaliknya, MOP (Metode Operasi Pria) dan MOW (Metode Operasi
Wanita) merupakan metode kontrasepsi yang terendah diminati oleh para akseptor KB.
GAMBAR 4.19
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI
TAHUN 2009


Sumber: BKKBN
77

Berdasarkan metode kontrasepsi menurut provinsi, alat kontrasepsi dalam rahim
(AKDR/IUD) banyak digunakan di Provinsi Bali dan DI Yogyakarta dengan persentase jauh
di atas provinsi yang lain yaitu masing-masing 47,88% dan 25,44%, sementara untuk
persentase terendah pemakaian IUD adalah 1,78% di Kalimantan Selatan dan persentase
nasional adalah 4,3%. Begitu pula untuk metode MOW kedua provinsi tersebut relatif lebih
tinggi dibandingkan provinsi lainnya yaitu 3,79% (Bali) dan 5,10% (DI Yogyakarta). Rincian
persentase KB aktif menurut metode kontrasepsi dan provinsi terdapat pada Lampiran 4.8.
Persentase tempat pelayanan peserta KB baru tahun 2006-2009 dapat dilihat pada
gambar berikut ini.
GAMBAR 4.20
PERSENTASE TEMPAT PELAYANAN PESERTA KB BARU
DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2009


Sumber : BKKBN
Sesuai dengan data BKKBN, tempat pelayanan peserta KB baru pada tahun 2009 tidak
jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyak peserta KB baru yang memanfaatkan
klinik KB pemerintah sebagai tempat pelayanan KB (62,94%). Selain klinik KB pemerintah,
sebesar 29,65% peserta KB baru memanfaatkan bidan praktek swasta sebagai tempat
pelayanan KB.
Berdasarkan provinsi, terdapat 4 provinsi dengan pemanfaatan klinik KB pemerintah
sebagai tempat pelayanan KB lebih dari 90%, yaitu NTT (97,61%), Maluku Utara (92,73%),
Sulawesi Tenggara (92,05%), dan Sulawesi Tengah (90,69%). Sebaliknya, di Provinsi DI
Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Bali pemanfaatan klinik KB pemerintah sangat rendah, bahkan
kurang dari 40%. Ketiga provinsi tersebut lebih banyak memanfaatkan pelayanan KB swasta.
Data lebih rinci proporsi KB Baru menurut tempat pelayanan KB dan provinsi dapat dilihat
pada Lampiran 4.9.


78

3. Pel ayanan I muni sasi
Bayi dan anak-anak memiliki risiko yang lebih tinggi terserang penyakit menular yang
dapat mematikan, seperti: Difteri, Tetanus, Hepatitis B, Typhus, radang selaput otak, radang
paru-paru, dan masih banyak penyakit lainnya. Untuk itu salah satu pencegahan yang terbaik
dan sangat vital agar kelompok berisiko ini terlindungi adalah melalui imunisasi.
Pada saat pertama kali kuman (antigen) masuk ke dalam tubuh, maka sebagai
reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi. Pada umumnya, reaksi
pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat, karena tubuh belum mempunyai
"pengalaman." Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai
memori untuk mengenali antigen tersebut sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam
waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak. Itulah sebabnya, pada beberapa
jenis penyakit yang dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini
dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut, atau
seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal.
Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah
pemberian kuman atau kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk
merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah imunisasi Polio atau
Campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar
antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum)
pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi
yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui
darah plasenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap Tetanus dan Campak.
a. I muni sasi Dasar pada Bayi
Program imunisasi dasar lengkap (LIL/Lima Imunisasi dasar Lengkap) pada bayi
meliputi: 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B, dan 1 dosis Campak.
Di antara penyakit pada balita yang dapat dicegah dengan imunisasi, campak adalah
penyebab utama kematian pada balita. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor
penting dalam mengurangi angka kematian balita. Dari beberapa tujuan yang disepakati
dalam pertemuan dunia mengenai anak, salah satunya adalah mempertahankan cakupan
imunisasi campak sebesar 90%. Target tersebut sejalan dengan target Renstra Kemenkes RI
yang menetapkan target cakupan imunisasi campak 90% pada tahun 2014. Di seluruh negara
ASEAN dan SEARO, imunisasi Campak diberikan pada bayi umur 9-11 bulan dan
merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada bayi di antara imunisasi wajib lainnya.
Pada tahun 2009, Indonesia telah mencapai cakupan imunisasi campak sebesar
92,09%. Dengan demikian Indonesia telah mampu mencapai target imunisasi campak yang
79

telah ditetapkan oleh WHO dan target Renstra Kementerian Kesehatan RI tahun 2014. Angka
tersebut meningkat dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 90,5%.
Gambar 4.21 berikut ini adalah peta cakupan imunisasi campak menurut provinsi
tahun 2009.
GAMBAR 4.21
PERSENTASE PENCAPAIAN IMUNISASI CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009














Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI
Dari 33 provinsi di Indonesia, 18 provinsi telah mencapai cakupan imunisasi campak
≥ 90%, 8 provinsi mencapai cakupan 80%-89,99%, dan 7 provinsi lainnya masih di bawah
80%, bahkan ada yang baru mencapai cakupan 65,64%. Dibandingkan tahun 2008 yang
terdapat 14 provinsi dengan cakupan imunisasi campak ≥ 90%, pada tahun 2009 terjadi
peningkatan cakupan provinsi yang mencapai target. Cakupan tertinggi dicapai DKI Jakarta,
DI Yogyakarta, dan Bali. Ketiga provinsi tersebut telah berhasil mencapai cakupan imunisasi
campak sebesar 100%. Sedangkan cakupan terendah adalah di Papua Barat (65,64%), Maluku
(72,76%), dan Riau (73,78%). Data mengenai cakupan imunisasi dasar pada bayi menurut
provinsi tahun 2009 terdapat pada Lampiran 4.11.
Menurut hasil Riskesdas 2007, pendidikan dan pengeluaran per kapita berhubungan
dengan persentase anak umur 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar termasuk juga
campak. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga maka semakin tinggi pula anak
mendapat imunisasi. Begitu pula dengan pengeluaran per kapita, bahwa semakin tinggi
tingkat pengeluaran per kapita semakin tinggi pula anak mendapat imunisasi dasar. Persentase
di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan. Tabel 4.1 berikut ini menjelaskan hubungan
tersebut.







80

TABEL 4.1
PERSENTASE ANAK UMUR 12-23 BULAN YANG MENDAPATKAN IMUNISASI DASAR
MENURUT KARAKTERISTIK RESPONDEN, 2007
Karakteristik responden
Jenis imunisasi
BCG Polio3 DPT3 HB3 Campak
Tipe daerah
Perkotaan 92,4 78,7 74,9 71,0 86,0
Perdesaan 83,5 66,2 63,1 57,3 78,8
Pendidikan Kepala Keluarga
Tidak sekolah 78,6 61,9 54,0 50,5 71,6
Tidak tamat SD 79,3 62,4 59,1 53,7 74,1
Tamat SD 84,8 67,4 63,3 57,5 78,2
Tamat SMP 88,4 71,6 68,2 62,8 82,3
Tamat SMA 92,4 79,7 76,9 72,3 88,6
Tamat PT 95,7 82,6 81,8 75,9 93,1
Tingkat pengeluaran per kapita
Kuintil 1 83,0 66,6 62,9 58,7 78,1
Kuintil 2 85,7 68,1 64,7 59,7 78,5
Kuintil 3 87,2 72,8 69,1 63,2 83,1
Kuintil 4 89,6 73,6 71,0 65,5 84,3
Kuintil 5 91,9 77,6 74,7 70,9 86,8
Sumber: Balitbangkes Kemenkes RI, Riskesdas 2007

Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proksi
terhadap cakupan atas imunisasi dasar secara lengkap pada bayi (0 -11 bulan). Desa UCI
merupakan gambaran desa/kelurahan dengan ≥ 80% jumlah bayi yang ada di desa tersebut
sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun. Target UCI tahun 2009
adalah 98%. Sedangkan standar pelayanan minimal menetapkan target 100% desa/kelurahan
UCI pada tahun 2010 untuk setiap kabupaten/kota.
Gambar 4.22 berikut menyajikan persentase desa/kelurahan UCI yang belum
menunjukkan perkembangan yang bermakna selama enam tahun terakhir. Pencapaian
tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 76,23%. Capaian tahun 2009 hanya sebesar
69,76% desa/kelurahan UCI di Indonesia, lebih rendah dibandingkan tahun 2008 yang sebesar
74,02%. Provinsi dengan capaian desa/kelurahan UCI tertinggi sekaligus mencapai target
cakupan desa/kelurahan UCI tahun 2009 (98%) adalah DKI Jakarta (100%), Bali (99,58%),
dan DI Yogyakarta (98,63%). Sementara 6 provinsi memiliki cakupan desa/kelurahan UCI
<50%, yaitu Papua Barat (21,15%), Papua (23,14%), Aceh (37,97%), Sulawesi Tenggara
(38,61%), Sulawesi Barat (42,11), dan Lampung (44,86). Rincian capaian desa/kelurahan UCI
menurut provinsi tahun 2007-2009 terdapat pada Lampiran 4.10.



81

GAMBAR 4.22
PERSENTASE PENCAPAIAN UCI DI TINGKAT DESA/KELURAHAN
DI INDONESIA TAHUN 2004-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI
Idealnya, seorang anak mendapatkan seluruh imunisasi dasar sesuai umurnya,
sehingga kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
dapat optimal. Namun kenyataannya, sebagian anak tidak mendapatkan imunisasi dasar
secara lengkap. Anak-anak inilah yang disebut dengan drop out imunisasi. Imunisasi DPT1-
Hb adalah jenis imunisasi yang pertama kali diberikan pada bayi. Sebaliknya, imunisasi
campak adalah imunisasi dasar yang terakhir diberikan pada bayi. Diasumsikan bayi yang
mendapat imunisasi campak telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Untuk itu maka
angka drop out imunisasi bayi dapat diketahui dengan perhitungan yang didasarkan atas
persentase penurunan cakupan imunisasi campak terhadap cakupan imunisasi DPT1-Hb.
Selama enam tahun terakhir, angka drop out nasional paling rendah terjadi pada tahun
2005 yaitu 1,4%. Angka drop out di Indonesia tahun 2009 sebesar 5,2%, provinsi dengan
angka drop out terendah adalah DI Yogyakarta dan yang tertinggi adalah Maluku. Hal
tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.23. Rincian tentang angka drop out menurut provinsi
dapat dilihat pada Lampiran 4.12.
GAMBAR 4.23
ANGKA DROP OUT CAKUPAN IMUNISASI DPT1Hb - CAMPAK PADA BAYI
DI INDONESIA TAHUN 2003-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI
82

b. I muni sasi pada I bu Hami l
Tetanus disebabkan oleh toksin yang diproduksi oleh bakteri yang disebut Clostridium
tetani. Tetanus juga bisa menyerang pada bayi baru lahir (Tetanus Neonatorum) pada saat
persalinan dan perawatan tali pusat. Tetanus merupakan salah satu penyebab kematian bayi di
Indonesia.
Akan tetapi masih banyak calon ibu di masyarakat terutama yang tinggal di daerah-
daerah terpencil berada dalam kondisi yang bisa disebut masih "jauh" dari kondisi steril saat
persalinan. Hal inilah yang bisa menimbulkan risiko ibu maupun bayinya terkena tetanus.
Maternal and Neonatal Tetanus Elimination (MNTE) merupakan program eliminasi
tetanus pada neonatal dan wanita usia subur termasuk ibu hamil. Strategi yang dilakukan
untuk mengeliminasi tetanus neonatorum dan maternal adalah 1) pertolongan persalinan yang
aman dan bersih; 2) cakupan imunisasi rutin TT yang tinggi dan merata; dan 3)
penyelenggaraan surveilans.
Beberapa permasalahan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada wanita usia subur yaitu
pelaksanaan skrining yang belum optimal, pencatatan yang dimulai dari kohort WUS (baik
kohort ibu maupun WUS tidak hamil) belum seragam, dan cakupan imunisasi TT2 bumil jauh
lebih rendah dari cakupan K4.
Dari Gambar 4.24 terlihat keadaan cakupan imunisasi TT2 selama tahun 2003-2007
tidak mengalami perkembangan, bahkan cenderung menurun. Namun sejak dua tahun terakhir
terjadi peningkatan cakupan imunisasi TT2+, dari 26% pada tahun 2007 menjadi 42,9% pada
tahun 2008, kemudian meningkat lagi menjadi 62,52% pada tahun 2009.
GAMBAR 4.24
CAKUPAN TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA
TAHUN 2003-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI
Pada tahun 2009 provinsi dengan cakupan ibu hamil yang mendapat imunisasi TT2+
tertinggi adalah Provinsi Bali (101,02%) dan terendah adalah Papua (8,56%). Gambar 4.25
83

memperlihatkan bahwa dari 33 provinsi di Indonesia hanya 3 provinsi yang berhasil mencapai
cakupan imunisasi TT2+ pada ibu hamil >80% yaitu Bali, NTT, dan Banten. Sedangkan
provinsi dengan capaian 60%-80% sebanyak 10 provinsi. Sebanyak 20 provinsi lainnya
memiliki capaian <60%.
GAMBAR 4.25
CAKUPAN TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA
TAHUN 2009











Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Beberapa langkah yang perlu segera dilakukan adalah sosialisasi ke seluruh petugas
lapangan agar mengacu pada kriteria Antenatal Care (ANC) berkualitas, yang salah satunya
dengan imunisasi TT, dan semua sistem pencatatan dalam pelaksanaan imunisasi TT WUS
termasuk ibu hamil memakai sistem pencatatan yang sama, yaitu T1-T5.


B. PELAYANAN KESEHATAN RUJ UKAN
Beberapa kegiatan pokok upaya kesehatan perorangan adalah peningkatan pelayanan
kesehatan rujukan, pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di kelas III di rumah sakit,
cakupan pelayanan gawat darurat, dan lain-lain.
1. I ndi k at or Pel ayanan Kesehat an di Rumah Sak i t
Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit biasanya dilihat dari berbagai
segi yaitu tingkat pemanfaatan sarana, mutu dan tingkat efisiensi pelayanan. Beberapa
indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dipantau antara lain
pemanfaatan tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR), rata-rata lama hari perawatan (Length
of Stay/LOS), rata-rata tempat tidur dipakai (Bed Turn Over/BTO), rata-rata selang waktu
pemakaian tempat tidur (Turn of Interval/TOI), persentase pasien keluar yang meninggal
(Gross Death Rate/GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal ≥ 48 jam perawatan
(Net Death Rate/NDR).
Berdasarkan data Ditjen Pelayanan Medik, tingkat pemanfaatan tempat tidur (BOR) di
rumah sakit umum (yang dikelola Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Daerah) selama
enam tahun terakhir cenderung meningkat setiap tahunnya walaupun pada tahun 2003-2006
84

belum mencapai angka ideal yang diharapkan (yaitu 60-85%). Pada tahun 2007 dan 2008
BOR nasional telah mencapai angka ideal. Namun pada tahun 2009 BOR mengalami
penurunan yang cukup besar, dari 79,8% pada tahun 2008 turun menjadi 58,7% pada tahun
2009. Dari 33 provinsi, sebanyak 17 provinsi telah mencapai BOR ideal. Sementara tidak ada
satu provinsi pun yang memiliki BOR lebih tinggi dari 85%. Hal itu berarti jumlah rumah
sakit di Indonesia untuk masing-masing provinsi relatif mencukupi kemampuannya dalam
menyediakan tempat tidur bagi pasien rawat inap. Data tentang pemanfaatan tempat tidur di
rumah sakit umum yang dikelola oleh swasta, TNI/POLRI, dan BUMN lainnya tidak tersedia.
Tingkat pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit sejak tahun 2003-2009 dapat dilihat pada
Gambar 4.26 berikut ini.
GAMBAR 4.26
PENCAPAIAN BOR DAN BTO RSU KEMENKES DAN PEMDA
DI INDONESIA TAHUN 2003-2009

Sumber: Ditjen Pelayanan Medik, Kemenkes RI
Keterangan:
BOR = Bed Occupation Rate/persentase pemanfaatan tempat tidur
BTO = Bed Turn Over/rata-rata tempat tidur dipakai selama setahun
BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode (biasanya satu tahun),
berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahun,
satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali. Pada tahun 2009 BTO rumah sakit belum
mencapai angka ideal, yaitu hanya sebesar 25 kali. Padahal selama enam tahun sebelumnya
BTO di rumah sakit selalu berada pada kisaran 40-50 kali. Dari 31 provinsi yang
menyampaikan data, hanya 2 provinsi yang mencapai BTO ideal, yaitu Bali (45,7 kali) dan
Jambi (43,4 kali).
LOS adalah rata-rata lama rawat (hari) seorang pasien. Indikator ini di samping
memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan,
apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang
lebih lanjut. Secara umum nilai LOS yang ideal antara 6-9 hari. Gambar 4.27 memperlihatkan
rata-rata LOS nasional di rumah sakit umum selama tahun 2003-2009 yang berkisar antara 4-
85

5,3 hari dan belum mencapai angka ideal. Berdasarkan provinsi, Kalimantan Barat memiliki
LOS tertinggi (5,6 hari) dan Kep. Bangka Belitung memiliki LOS terendah (3,1 hari).
GAMBAR 4.27
PENCAPAIAN LOS DAN TOI RUMAH SAKIT DI INDONESIA
TAHUN 2003-2009

Sumber: Ditjen Pelayanan Medik, Kemenkes RI
Keterangan:
LOS = Length of Stay/rata-rata hari rawat seorang pasien
TOI = Turn over Interval/rata-rata tempat tidur tidak dipakai antar dua episode pemakaian
Indikator pelayanan rumah sakit yang lain adalah TOI. TOI adalah rata-rata hari
dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah digunakan sampai saat digunakan kembali
(rata-rata lama tempat tidur kosong antar pasien satu dengan pasien berikutnya). Idealnya
tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari. Selama tahun 2003-2009 TOI di rumah
sakit berkisar antara 2,9-6,3 hari. Hanya pada tahun 2007 dan 2008 TOI mencapai angka ideal
1-3 hari. Pada tahun 2009 angka TOI tempat tidur rumah sakit di Indonesia memiliki selang
waktu 6,3 hari tempat tidur tidak terisi. Berdasarkan provinsi, hanya Bali (2 hari) dan Jambi
(2,6 hari) yang memiliki TOI ideal.
GDR adalah angka kematian umum untuk setiap 1.000 penderita keluar dari rumah
sakit. Pada GDR, tidak melihat berapa lama pasien berada di rumah sakit dari masuk sampai
meninggal. Nilai ideal GDR adalah < 45 per 1.000 pasien keluar. Pada tahun 2009 angka
GDR di Indonesia sebesar 36,5 kematian per 1.000 pasien keluar rumah sakit. Dari 31
provinsi yang menyampaikan laporan, 4 provinsi memiliki GDR > 45 per 1.000 pasien
keluar, yaitu Sumatera Utara (52), Jawa Timur (49,8), Sumatera Barat (48,5), dan Sulawesi
Barat (48,2).




86

GAMBAR 4.28
PENCAPAIAN NDR DAN GDR PER 1.000 PASIEN KELUAR RUMAH SAKIT
DI INDONESIA TAHUN 2003-2009

Sumber: Ditjen Pelayanan Medik, Kemenkes RI
Keterangan:
NDR = Net Death Rate (per 1.000 pasien keluar)
GDR = Gross Death Rate (per 1.000 pasien keluar)
NDR adalah angka kematian pasien setelah dirawat ≥ 48 jam per 1.000 pasien keluar.
Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit. Asumsinya jika pasien
meninggal setelah mendapatkan perawatan 48 jam berarti ada faktor pelayanan rumah sakit
yang terlibat dengan kondisi meninggalnya pasien. Namun jika pasien meninggal kurang dari
48 jam masa perawatan, dianggap faktor keterlambatan pasien datang ke rumah sakit yang
menjadi penyebab utama pasien meninggal. Nilai NDR yang ideal adalah < 25 per 1.000
pasien keluar. NDR sejak tahun 2003 hingga 2009 berada pada kisaran 18-23,6 per 1.000
pasien keluar. Dengan demikian NDR telah mencapai angka ideal yaitu < 25 per 1.000 pasien
keluar.

2. Pel ayanan J ami nan Kesehat an Masyar ak at
Tujuan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yaitu untuk
meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan
hampir miskin agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan
efisien. Melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat diharapkan dapat menurunkan
angka kematian ibu, menurunkan angka kematian bayi dan balita serta menurunkan angka
kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan bagi masyarakat miskin
umumnya. Program ini telah berjalan lima tahun, dan telah memberikan banyak manfaat bagi
peningkatan akses pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan hampir miskin di puskesmas
dan jaringannya serta pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Sejak tahun 2005 hingga 2007 sasaran Jamkesmas (yaitu jumlah orang miskin dan
hampir miskin) terus bertambah kecuali sejak tahun 2007-2009 dengan jumlah sasaran sama
87

yaitu 76,4 juta jiwa. Provinsi dengan jumlah sasaran terbesar adalah Jawa Tengah, Jawa
Barat, dan Jawa Timur. Gambar 4.29 berikut ini menyajikan realisasi program JPKM tahun
2005-2009.
GAMBAR 4.29
REALISASI PROGRAM JPKM
TAHUN 2005 – 2009

Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kemenkes RI
Pada tahun 2009, dari 76,4 juta sasaran masyarakat miskin dan hampir miskin,
sebanyak 23,60 juta memanfaatkan sarana kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit
sebagai pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama dan tingkat lanjut. Angka tersebut
lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 26,22 juta jiwa.
Rincian kujungan rawat jalan tingkat pertama dan tingkat lanjut menurut provinsi dapat
dilihat pada Lampiran 4.18 dan 4.19. Sedangkan jumlah kunjungan rawat inap tingkat lanjut
dapat dilihat pada Lampiran 4.20.
Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) Jamkesmas terdiri dari pelayanan kesehatan
dasar dan pelayanan kesehatan tingkat lanjut. Pemberi pelayanan kesehatan dasar Jamkesmas
adalah seluruh puskesmas dan jaringannya (pustu, polindes/poskesdes, pusling) yang
berjumlah 8.234 unit. Sedangkan pemberi pelayanan kesehatan Jamkesmas tingkat lanjut pada
tahun 2008 berjumlah 920 dengan rincian sebagai berikut: 56% rumah sakit pemerintah, 7%
rumah sakit TNI/POLRI, 33% rumah sakit swasta, dan 4% balai pengobatan seperti yang
terlihat pada Gambar 4.30.







88

GAMBAR 4.30
PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN JAMKESMAS TINGKAT LANJUT
TAHUN 2008

Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan, Kemenkes RI
Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur merupakan provinsi dengan
jumlah PPK tertinggi untuk pelayanan tingkat lanjut, yaitu masing-masing 140, 115, dan 80
PPK. Besarnya jumlah PPK di tiga provinsi tersebut juga disebabkan tingginya jumlah
sasaran Jamkesmas. Jika di provinsi lain, jumlah anggota masyarakat miskin dan hampir
miskin kurang dari 5 juta jiwa (bahkan beberapa di antaranya kurang dari 1 juta jiwa), namun
di tiga provinsi tersebut mencapai lebih dari 10 juta jiwa.


C. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKI T
1. Pengendal i an Penyak i t Pol i o
Pada tahun 1988, sidang ke-41 WHA (World Health Assembly) telah menetapkan
program eradikasi polio secara global (global polio eradication initiative) yang ditujukan
untuk mengeradikasi penyakit polio pada tahun 2000. Kesepakatan ini diperkuat oleh sidang
World Summit for Children pada tahun 1989, di mana Indonesia turut menandatangani
kesepakatan tersebut. Eradikasi dalam hal ini bukan sekedar mencegah terjadinya penyakit
polio, melainkan mempunyai arti yang lebih luas lagi, yaitu menghentikan terjadinya
transmisi virus polio liar di seluruh dunia.
Pengertian Eradikasi Polio adalah apabila tidak ditemukan virus polio liar indigenous
selama 3 tahun berturut-turut di suatu region yang dibuktikan dengan surveilans AFP yang
sesuai standar sertifikasi. Dasar pemikiran Eradikasi Polio adalah:
1. Manusia satu-satunya reservoir dan tidak ada longterm carrier pada manusia.
2. Sifat virus polio yang tidak tahan lama hidup di lingkungan.
3. Tersedianya vaksin yang mempunyai efektivitas > 90% dan mudah dalam pemberian.
4. Layak dilaksanakan secara operasional.
89

Di Indonesia, selama 10 tahun terakhir tidak ditemukan kasus AFP yang disebabkan
virus Polio liar. Surveilans AFP di Indonesia dilaksanakan sejak pertengahan tahun 1995.
Pencapaian kinerja sampai tahun 2002 berfluktuasi, namun sejak adanya tenaga khusus
(surveillance officer) di tingkat provinsi, kinerja menunjukkan peningkatan yang cukup
bermakna.
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit Polio telah dilakukan melalui gerakan
imunisasi polio. Upaya ini juga ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans epidemiologi
secara aktif terhadap kasus-kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP) kelompok umur <15 tahun
dalam kurun waktu tertentu, untuk mencari kemungkinan adanya virus Polio liar yang
berkembang di masyarakat dengan pemeriksaan spesimen tinja dari kasus AFP yang
dijumpai. Berdasarkan kegiatan surveilans AFP pada penduduk <15 tahun selama tahun 2003
– 2009, secara nasional diperoleh gambaran seperti terlihat pada Gambar 4.31 berikut ini.
GAMBAR 4.31
PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT
DAN NON POLIO AFP RATE TAHUN 2003 – 2009


Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI
Setiap kasus AFP yang ditemukan dalam kegiatan intensifikasi surveilans, akan
dilakukan pemeriksaan spesimen tinja untuk mengetahui ada tidaknya virus Polio liar yang
menyerang masyarakat. Gambar 4.31 menunjukkan bahwa persentase spesimen adekuat yang
dikirim untuk pemeriksaan virus Polio semakin meningkat, dengan demikian hasil
pemeriksaan yang dilakukan menjadi semakin mewakili kondisi di lapangan.
Target untuk non Polio AFP rate ditetapkan sebesar ≥ 2 per 100.000 anak umur < 15
tahun. Sedangkan untuk standar spesimen adekuat adalah >80%, artinya minimal 80%
spesimen tinja penderita harus sesuai dengan persyaratan yaitu diambil ≤ 14 hari setelah
kelumpuhan dan suhu spesimen 0-8ºC sampai di laboratorium. Dengan demikian sejak tahun
2003 hingga 2009 spesimen adekuat telah sesuai standar, kecuali pada tahun 2006 yaitu
79,10%.
90

Provinsi yang telah memenuhi target non polio AFP rate ≥ 2 per 100.000 anak umur <
15 tahun dan spesimen adekuat sesuai standar dapat dilihat pada Gambar 4.32 berikut ini.
GAMBAR 4.32a
NON POLIO AFP RATE/ 100.000 ANAK UMUR < 15 TAHUN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
GAMBAR 4.32b
PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI


2. Pengendal i an TB-Par u
Tujuan utama pengendalian TB Paru adalah: 1) menurunkan insidens TB Paru pada
tahun 2015; 2) menurunkan prevalensi TB Paru dan angka kematian akibat TB Paru menjadi
setengahnya pada tahun 2015 dibandingkan tahun 1990; 3) sedikitnya 70% kasus TB Paru
BTA+ terdeteksi dan diobati melalui program DOTS (Directly Observed Treatment
Shortcource Chemotherapy) atau pengobatan TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh
Pengawas Menelan Obat (PMO); dan 4) sedikitnya 85% tercapai succes rate.
DOTS adalah strategi penyembuhan TB Paru jangka pendek dengan pengawasan
secara langsung. Dengan menggunakan strategi DOTS, maka proses penyembuhan TB Paru
dapat berlangsung secara cepat. DOTS menekankan pentingnya pengawasan terhadap
penderita TB Paru agar menelan obatnya secara teratur sesuai ketentuan sampai dinyatakan
sembuh. Strategi DOTS memberikan angka kesembuhan yang tinggi, dapat mencapai angka
95%. Strategi DOTS direkomendasikan oleh WHO secara global untuk menanggulangi TB
Paru.

a. Pr opor si Pasi en TB Par u BTA Posi t i f di ant ar a Suspek yang di per i k sa
Upaya Pemerintah dalam menanggulangi TB Paru setiap tahunnya semakin
menunjukkan kemajuan. Hal ini dapat terlihat dari meningkatnya jumlah penderita yang
ditemukan dan disembuhkan setiap tahun.
Gambar 4.33 memperlihatkan persentase TB Paru BTA+ terhadap suspek TB Paru
selama tahun 2001-2009. Selama tahun 2001-2009 persentase TB Paru BTA+ terhadap
suspek TB Paru tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu 13,01% dan terendah terjadi pada
tahun 2001 (8,43%)


91

GAMBAR 4.33
PERSENTASE BTA POSITIF TERHADAP SUSPEK
TAHUN 2001-2009

Sumber : Ditjen PP-PL, Kemenkes RI
Menurut standar, persentase BTA+ diperkirakan 10% dari suspek yang diperkirakan di
masyarakat dengan nilai yang ditoleransi antara 5-15%. Bila angka ini terlalu kecil (< 5%)
kemungkinan disebabkan penjaringan suspek terlalu longgar. Banyak orang yang tidak
memenuhi kriteria suspek atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (negatif palsu).
Sedangkan bila angka ini terlalu besar (> 15%) kemungkinan disebabkan penjaringan terlalu
ketat atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positif palsu). Dengan demikian,
sejak tahun 2001-2009 persentase BTA+ terhadap suspek masih dalam batas yang ditolerir.
Berarti, petugas kesehatan mampu mendiagnosis kasus BTA+ sesuai standar.
Untuk hasil proporsi pasien TB Paru BTA Positif di antara suspek yang diperiksa per
provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4.34 berikut ini.
GAMBAR 4.34
PERSENTASE PASIEN TB PARU BTA+ TERHADAP SUSPEK YANG DIPERIKSA DAHAKNYA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI
92

Sebanyak 30 provinsi dengan persentase pasien TB Paru BTA+ di antara suspek yang
diperiksa per provinsi sebesar 5-15%. Sedangkan provinsi dengan persentase pasien TB Paru
BTA+ terhadap suspek yang diperiksa >15% sebanyak 3 provinsi yaitu Maluku Utara,
Maluku, dan DKI Jakarta.

b. Angk a Penemuan Kasus TB Par u BTA+ (Case Det ec t i on Rat e) dan Angk a
Keber hasi l an Pengobat an (Suc c ess Rat e)
Angka penemuan kasus TB Paru BTA+ memperlihatkan penemuan TB Paru BTA+
terhadap jumlah perkiraan TB Paru. Gambar 4.35 menyajikan kecenderungan angka
penemuan kasus baru (Case Detection Rate). Selama tahun 2000-2009, CDR mengalami
peningkatan yang berarti, dari 20% pada tahun 2000 menjadi 71,9% pada tahun 2009. CDR
tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 75,7%. Sementara standar CDR TB Paru
sebesar 70%. Dengan demikian sejak tahun 2006 sampai 2009 (kecuali tahun 2007) Indonesia
telah mampu mencapai target tersebut.
GAMBAR 4.35
PERSENTASE PENEMUAN KASUS BARU DAN
KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU
DI INDONESIA TAHUN 2000-2009

Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Keberhasilan pengobatan TB paru ditentukan oleh kepatuhan dan keteraturan dalam
berobat, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Angka keberhasilan pengobatan semenjak 2000-
2009 telah mencapai target keberhasilan pengobatan yang distandarkan oleh WHO yaitu
minimal 85%. Bahkan pada tahun 2009 keberhasilan pengobatan mencapai 91%
Angka keberhasilan pengobatan penderita pada tahun 2008 menurut provinsi dapat
dilihat pada gambar berikut:



93

GAMBAR 4.36
PERSENTASE KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA TB PARU (SUCCESS RATE)
TAHUN 2008 MENURUT PROVINSI

Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI

Sebanyak 28 provinsi telah berhasil mencapai target keberhasilan pengobatan 85%
dengan SR tertinggi yaitu Bengkulu (97,41%), Maluku (97,29%), dan Gorontalo (97,11%).
Sedangkan provinsi yang belum mencapai target SR 85% adalah Papua Barat, Papua, DI
Yogyakarta, Maluku Utara, dan Riau.
3. Pengendal i an Penyak i t I SPA
ISPA merupakan penyebab kematian terbesar baik pada bayi maupun pada anak
balita. Hal ini dapat dilihat melalui hasil survei mortalitas subdit ISPA pada tahun 2005 di 10
provinsi, diketahui bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian bayi terbesar di
Indonesia, yaitu sebanyak 22,30% dari seluruh kematian bayi. Survei yang sama juga
menunjukkan bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada anak balita
yaitu 23,60%. Studi mortalitas pada Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa proporsi kematian
pada bayi (post neonatal) karena pneumonia sebesar 23,8% dan pada anak balita sebesar
15,5%.
Program Pemberantasan Penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan
yaitu Pneumonia dan yang bukan Pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya
penyakit yaitu Pneumonia berat dan Pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek seperti
rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai
bukan Pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus
dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan
94

pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga
akut harus mendapat antibiotik.
Program pengendalian ISPA menetapkan bahwa semua kasus yang ditemukan harus
ditatalaksanakan sesuai standar, dengan demikian angka penemuan kasus pneumonia juga
menggambarkan penatalaksanaan kasus ISPA.
Secara nasional, angka cakupan penemuan penderita pneumonia pada balita hingga
saat ini masih belum mencapai target, seperti tampak pada Gambar 4.37 di bawah ini.
GAMBAR 4.37
CAKUPAN PENEMUAN PENDERITA PNEUMONIA PADA BALITA
DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009

Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Cakupan penemuan penderita pneumonia tetap rendah sejak tahun 2005 hingga 2009.
Hambatan yang ditemui dalam meningkatkan cakupan penemuan Pneumonia balita di
puskesmas yaitu:
a. Tenaga terlatih tidak melaksanakan MTBS/Tatalaksana Standar ISPA di puskesmas.
b. Pembiayaan (logistik dan operasional) terbatas.
c. Pembinaan (bimbingan teknis, monitoring dan evaluasi) secara berjenjang masih sangat
kurang.
d. ISPA merupakan pandemi yang dilupakan/tidak prioritas sedangkan masalah ISPA
merupakan masalah multisektoral.
e. Gejala Pneumonia sukar dikenali oleh orang awam maupun tenaga kesehatan yang tidak
terlatih.
Rata-rata cakupan penemuan pneumonia pada balita tahun 2009 sebesar 22,18%, yang
berarti masih jauh dari target yang sebesar 86%. Provinsi NTB memiliki cakupan relatif tinggi
yaitu sebesar 71,45%. Provinsi dengan cakupan tertinggi berikutnya adalah Jawa Barat
(46,16%) dan Kep. Bangka Belitung (41,41%).

4. Penanggul angan Penyak i t HI V/AI DS dan PMS
Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS di
samping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan juga diarahkan pada upaya
95

pencegahan melalui penemuan penderita secara dini yang dilanjutkan dengan kegiatan
konseling.
Upaya penemuan penderita dilakukan melalui skrining HIV/AIDS terhadap darah
donor, pemantauan pada kelompok berisiko penderita Penyakit Menular Seksual (PMS)
seperti Wanita Penjaja Seks (WPS), penyalahguna obat dengan suntikan (IDUs), penghuni
Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) atau sesekali dilakukan penelitian pada kelompok berisiko
rendah seperti ibu rumah tangga dan sebagainya. Hasil pelaksanaan surveilans HIV/AIDS
selama tujuh tahun terakhir terlihat pada Tabel 4.2 berikut ini.
TABEL 4.2
PENEMUAN PENDERITA HIV/AIDS DI INDONESIA
TAHUN 2003 – 2009
Tahun Pengidap HIV Penderita AIDS Penderita AIDS Meninggal
Per tahun Kumulatif Per tahun Kumulatif Per tahun Kumulatif
2003 168 2.720 316 1.487 261 479
2004 649 3.369 1.195 2.682 361 740
2005 875 4.244 2.638 5.321 592 1.332
2006 986 5.230 2.873 8.194 539 1.871
2007 836 6.066 2.947 11.141 498 2.369
2008 4.969 16.110 993 3.362
2009 6.015 3.863 19.973 484 3.846
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Dalam perjalanan penyakit dari HIV positif menjadi AIDS dikenal istilah ”window
periods”, yang tidak diketahui dengan pasti periodisasinya sehingga kelompok ini menjadi
sangat potensial dalam menularkan penyakit. Pada kelompok ini di samping dilakukan
pengobatan, yang lebih utama adalah dilakukan konseling untuk menumbuhkan rasa tanggung
jawab dalam ikut aktif mencegah terjadinya penularan lebih lanjut.
5. Pengendal i an Penyak i t Demam Ber dar ah Dengue (DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang
perjalanan penyakitnya cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.
Penyakit ini merupakan penyakit menular yang sering menimbulkan kejadian luar biasa
(KLB) di Indonesia.
Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal yaitu: 1) peningkatan
kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor; 2) diagnosis dini dan pengobatan dini; dan
3) peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. Upaya pemberantasan
vektor ini yaitu dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pemeriksaan jentik berkala.
Keberhasilan kegiatan PSN antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ).
96

Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau
dikurangi.
Metode yang tepat guna untuk mencegah DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN) melalui 3M plus (Menguras, Menutup dan Mengubur) plus menabur larvasida,
penyebaran ikan pada tempat penampungan air serta kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat
mencegah/memberantas nyamuk Aedes berkembang biak.
Angka Bebas Jentik (ABJ) sebagai tolak ukur upaya pemberantasan vektor melalui
PSN-3M menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD. Oleh karena itu
pendekatan pemberantasan DBD yang berwawasan kepedulian masyarakat merupakan salah
satu alternatif pendekatan baru.
Surveilans vektor dilakukan melalui kegiatan pemantauan jentik oleh petugas
kesehatan maupun juru/kader pemantau jentik (Jumantik/Kamantik). Pengembangan sistem
surveilans vektor secara berkala perlu terus dilakukan terutama dalam kaitannya dengan
perubahan iklim dan pola penyebaran kasus. Sejak tahun 2004 sampai dengan 2009 hanya
beberapa provinsi yang melaporkan data ABJ, hal ini dikarenakan kegiatan Pemantauan
Jentik Berkala (PJB) belum menjadi prioritas kegiatan program di sebagian besar wilayah.
Gambar 4.38 menyajikan perkembangan ABJ tahun 2004-2009. Sejak tahun 2005
sampai tahun 2008 ABJ cenderung meningkat, namun pada tahun 2009 menurun. Selama
jangka waktu 2004-2009 ABJ masih di bawah target 95%.
GAMBAR 4.38
PERBANDINGAN ANGKA BEBAS JENTIK
TAHUN 2004 – 2009

Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Gambar 4.39 memperlihatkan bahwa persentase kasus DBD yang ditangani meningkat
setiap tahun, yakni 40% pada tahun 2006 menjadi 83,21% pada tahun 2008.





97

GAMBAR 4.39
CAKUPAN KASUS DBD DITANGANI
TAHUN 2006 – 2008

Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Sejak tahun 2004 telah diperkenalkan suatu metode komunikasi/penyampaian
informasi/pesan yang berdampak pada perubahan perilaku dalam pelaksanaan PSN DBD
melalui pendekatan sosial budaya setempat yaitu metode Communication for Behavioral
Impact (COMBI). Kegiatan PSN dengan metode pendekatan COMBI tersebut menjadi salah
satu prioritas kegiatan dalam program P2DBD di masa yang akan datang.
6. Pengendal i an Penyak i t Mal ar i a
Di Indonesia meningkatnya jumlah penderita malaria dan terjadinya kejadian luar
biasa malaria sangat berkaitan erat dengan beberapa hal sebagai berikut: 1) Adanya perubahan
lingkungan yang berakibat meluasnya tempat perindukan nyamuk penular malaria; 2)
Mobilitas penduduk yang cukup tinggi; 3) Perubahan iklim yang menyebabkan musim hujan
lebih panjang dari musim kemarau; 4) Krisis ekonomi yang berkepanjangan memberikan
dampak pada daerah-daerah tertentu dengan adanya masyarakat yang mengalami gizi buruk
sehingga lebih rentan untuk terserang malaria; 5) Tidak efektifnya pengobatan karena terjadi
Plasmodium falciparum resisten klorokuin dan meluasnya daerah resisten, serta 6)
Menurunnya perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap upaya penanggulangan malaria
secara terpadu.
Pemberantasan malaria digalakkan melalui gerakan masyarakat yang dikenal dengan
Gerakan Berantas Kembali Malaria atau ”Gebrak Malaria” telah dicetuskan pada tahun 2000.
Gerakan ini merupakan embrio pengendalian malaria yang berbasis kemitraan dengan
berbagai sektor dengan slogan “Ayo Berantas Malaria” .
Pengendalian malaria di Indonesia yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 293/MENKES/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang
Eliminasi Malaria di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang hidup sehat,
yang terbebas dari penularan malaria secara bertahap sampai tahun 2030. Sasaran wilayah
eliminasi dilaksanakan secara bertahap sebagai berikut :
98

1. Kepulauan Seribu (Provinsi DKI Jakarta), Pulau Bali, dan pulau Batam pada tahun 2010;
2. Pulau Jawa, Provinsi Aceh, dan Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2015;
3. Pulau Sumatera (kecuali Provinsi Aceh dan Kepulauan Riau), Provinsi NTB, Pulau
Kalimantan, dan Pulau Sulawesi pada tahun 2020; dan
4. Provinsi NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua pada tahun 2030.
Kebijakan eliminasi malaria dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh
pemerintah, pemerintah daerah bersama mitra kerja pembangunan termasuk LSM, dunia
usaha, lembaga donor, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan dan masyarakat. Selain
itu eliminasi dilaksanakan secara bertahap dari kabupaten/kota, provinsi, dan dari satu pulau
atau ke beberapa pulau sampai ke seluruh wilayah Indonesia menurut tahapan yang
didasarkan pada situasi malaria dan kondisi sumber daya yang tersedia. Beberapa capaian
upaya pengendalian penyakit malaria disajikan pada uraian berikut ini.
a. Per sent ase penduduk yang menggunak an c ar a penc egahan yang ef ek t i f
unt uk memer angi mal ar i a
Situasi penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi
malaria diketahui berdasarkan survei penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang
efektif untuk memerangi malaria dengan kelambu. Pada tahun 2005 diketahui sebesar 1%,
dan pada tahun 2006 berdasarkan survei yang dilaksanakan di NTT (Alor, Sumba Barat, dan
Flores Timur) dan beberapa kabupaten di wilayah Sumatera rata-rata sebesar 24%. Pada tahun
2008 berdasarkan survei di Aceh, Sumut (Kab. Nias dan Nias Selatan) serta di 5 provinsi
wilayah timur diketahui bahwa persentase penduduk yang menggunakan kelambu yaitu pada
balita rata-rata sebesar 86,7% dan pada ibu hamil sebesar 87,75%. Target penduduk yang
menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria pada tahun 2009 adalah
sebesar 75%.
b. Per sent ase Pender i t a Mal ar i a yang Di obat i
Persentase penderita malaria yang diobati merupakan persentase penderita malaria
yang diobati sesuai pengobatan standar dalam kurun waktu 1 tahun dibandingkan dengan
tersangka malaria dan atau positif malaria yang datang ke sarana pelayanan kesehatan.
Persentase penderita malaria yang diobati sejak tahun 2003 hingga 2009 sebesar
100%, berarti semua penderita tersangka malaria dan/atau positif malaria yang datang ke
sarana kesehatan diobati sesuai pengobatan standar.
c . Penc apai an Pemer i k saan Sedi aan Dar ah (Konf i r masi Labor at or i um)
Berdasarkan cakupan konfirmasi laboratorium belum semua penderita klinis malaria
dilakukan pemeriksaan sediaan darahnya. Konfirmasi laboratorium 100% telah dilakukan di
Jawa dan Bali. Selama periode tahun 2004-2009 persentase pemeriksaan sediaan darah
99

dibandingkan kasus malaria klinis cenderung meningkat. Pada tahun 2004 sebesar 48%
menjadi 76% pada tahun 2009 seperti diperlihatkan pada gambar berikut ini.
GAMBAR 4.40
CAKUPAN KONFIRMASI LABORATORIUM/MIKROSKOP MALARIA
TAHUN 2004 - 2009

Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI

7. Pengendal i an Penyak i t Kust a
Untuk menilai kinerja petugas dalam penemuan kasus penyakit kusta, digunakan
angka proporsi cacat tingkat II (cacat akibat kerusakan syaraf dan cacat terlihat). Tingginya
proporsi cacat tingkat II menunjukkan keterlambatan dalam penemuan kasus atau dengan kata
lain kinerja petugas yang rendah dalam menemukan kasus serta pengetahuan masyarakat yang
rendah.
Penderita cacat tingkat II selama tahun 2004-2007 relatif stabil (8,6%-8,7%), namun
pada tahun 2008 dan 2009 terjadi kenaikan yaitu 9,6% dan 10,27% seperti yang diperlihatkan
pada Tabel 4.3. Proporsi cacat tingkat II hingga tahun 2009 belum mencapai target program
yaitu < 5%. Hal itu berarti penularan masih terjadi di masyarakat dan kasus ditemukan
terlambat sehingga pada saat penemuan penderita sudah mengalami cacat tingkat II.
TABEL 4.3
HASIL PEMERIKSAAN PENDUDUK, PENEMUAN KASUS BARU (NCDR)
DAN PENDERITA CACAT TINGKAT II DI INDONESIA TAHUN 2004 - 2009


Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Catatan : MB = Multi Basiller, PB = Pausi Basiller, NCDR = New Case Detection Rate
Tahun
Suspek Positif
NCDR
(per 100.000 penduduk)
Penderita Cacat
Tingkat II (%)
PB MB
2004 3.615 12.957 7,8 8,6
2005 4 056 15 639 8 9 8 7
2006 3 550 14 750 8 3 8 6
2007 3.643 14.083 7,8 8,6
2008 3.113 14.328 7,41 9,6
2009 2.958 13.500 7,1 10,27
100

8. Pengendal i an Penyak i t Fi l ar i asi s
Program eliminasi filariasis di Indonesia dilaksanakan atas dasar kesepakatan global
WHO tahun 2000 yaitu “The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public
Health Problem the year 2020” yang merupakan realisasi dari resolusi WHA pada tahun
1997.
Program Eliminasi ini dilaksanakan melalui dua pilar kegiatan yaitu :
1. Pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis kepada semua penduduk di
kabupaten/kota endemis filariasis dengan menggunakan DEC 6 mg/kg BB
dikombinasikan dengan Albendazole 400 mg sekali setahun selama 5 tahun, guna
memutuskan rantai penularan.
2. Tatalaksana kasus klinis filariasis guna mencegah dan mengurangi kecatatan.
Implementation Unit (IU) yang digunakan dalam program eliminasi filariasis sejak
tahun 2005 adalah Kabupaten/Kota. Satuan wilayah terkecil dalam program ini adalah
kabupaten/kota, baik untuk penentuan endemisitas maupun pemberian obat massal
pencegahan (POMP) filariasis. Bila suatu kabupaten/kota sudah endemis filariasis, maka
kegiatan POMP filariasis harus segera dilaksanakan untuk memutus rantai penularan, dengan
sasaran pemberian obat adalah semua penduduk di kabupaten/kota tersebut kecuali anak
berumur < 2 tahun, ibu hamil, orang yang sedang sakit berat, penderita kronis filariasis yang
dalam serangan akut, dan balita dengan marasmus/kwasiorkor dapat ditunda pengobatannya.
Kegiatan tatalaksana kasus klinis filariasis harus dilakukan pada semua penderita.
Tatalaksana ini bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kecacatan dan agar penderita
mandiri merawat diri. Setiap penderita mempunyai status rekam medis di puskesmas dan
mendapatkan kunjungan dari petugas kesehatan minimal 6 kali setahun.
Gambar 4.41 memperlihatkan kegiatan penatalaksanaan kasus klinis filariasis yang
cenderung meningkat. Pada tahun 2007 kasus klinis yang ditangani sebesar 29,40%,
sedangkan tahun 2008 mencapai 40,13% yang ditangani, dan pada tahun 2009 sebesar
40,00%. Diharapkan pada tahun-tahun selanjutnya kasus klinis filariasis yang ditatalaksana
meningkat lagi sebagaimana yang ditargetkan yaitu 90%.








101

GAMBAR 4.41
PERSENTASE PENATALAKSANAAN KASUS KLINIS FILARIASIS
TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI

Dari 337 kabupaten/kota endemis filariasis pada tahun 2009, baru 97
kabupaten/kota yang tersebar di 26 propinsi melaksanakan pemberian obat massal
pencegahan filariasis (POMP Filariasis). Namun, belum semua kabupaten/kota dalam
pelaksanaannya sasaran penduduknya seluas kabupaten/kota, baru 59 kabupaten/kota
yang sasaran pengobatan massalnya seluas kabupaten/kota. Sejak tahun 2005 terjadi
peningkatan jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan POMP Filariasis setiap
tahunnya.
GAMBAR 4.42
JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG MELAKUKAN
PEMBERIAN OBAT MASSAL PENCEGAHAN (POMP) FILARIASIS
DI INDONESIA TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Gambaran sebaran kabupaten/kota yang telah melaksanakan pengobatan massal
filariasis dapat dilihat pada gambar berikut ini.

102

GAMBAR 4.43
KABUPATEN/KOTA ENDEMIS FILARIASIS YANG MELAKSANAKAN
PENGOBATAN MASSAL DI INDONESIA, TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI

Pada tahun 2009, target pemberian obat massal pencegahan filariasis adalah sekitar 32
juta penduduk, sedangkan realisasinya sebanyak 16,3 juta penduduk (51%). Cakupan POMP
filariasis setiap tahunnya dari tahun 2005 sampai tahun 2009 terlihat ada peningkatan seperti
terlihat pada Gambar 4.44 berikut ini.
GAMBAR 4.44
CAKUPAN POMP FILARIASIS
DI INDONESIA, TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI

9. Sur vei l ans Vek t or
Salah satu kegiatan yang harus diperhatikan dalam surveilans vektor adalah
monitoring resistensi vektor terhadap insektisida yang dapat digunakan sebagai acuan bagi
Dinas Kesehatan serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) dalam kebijakan pengendalian vektor di
lapangan.
103

Pengendalian vektor yang dilakukan oleh swasta serta pemakaian insektisida rumah
tangga merupakan permasalahan tersendiri yang tidak bisa diabaikan, karena penggunaan di
masyarakat tidak terpantau yang akan dapat mempercepat terjadinya resistensi. Pengendalian
vektor saat ini identik dengan penggunaan insektisida, meskipun upaya pengendalian dengan
metode lain juga perlu dipertimbangkan. Dengan kondisi seperti itu, maka pengawasan atau
monitoring terhadap penggunaan insektisida dan dampaknya perlu dilakukan agar hasilnya
tetap efektif.
Kegiatan pengendalian vektor yang dilaksanakan antara lain monitoring efikasi dan
resistensi serta cakupan mutu pengendalian vektor malaria dan demam berdarah dengue.
Hasil pengendalian vektor sampai dengan tahun 2009 dapat dilihat pada beberapa
gambar berikut ini.
Pada Gambar 4.45 terlihat bahwa terjadi penurunan kegiatan pemberantasan vektor
malaria berdasarkan surveilans vektor. Pada tahun 2008 dan 2009 cakupan pemberantasan
vektor malaria berada di bawah target pada tahun tersebut.
GAMBAR 4.45
CAKUPAN PEMBERANTASAN VEKTOR MALARIA
BERDASARKAN SURVEILANS VEKTOR TAHUN 2005 - 2009

Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Kegiatan yang dilakukan tahun 2007-2009 meliputi monitoring kerentanan vektor dan
efikasi insektisida serta evaluasi terhadap mutu pengendalian vektor malaria, demam berdarah
dengue, dan hasil survei jentik nyamuk demam berdarah dengue. Gambar 4.46 menyajikan
cakupan kerentanan vektor penyakit bersumber binatang tahun 2007 – 2009.




104

GAMBAR 4.46
CAKUPAN KERENTANAN VEKTOR PENYAKIT BERSUMBER BINATANG
TAHUN 2007 - 2009

Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Gambar 4.47 menunjukkan bahwa selama tiga tahun (2007, 2008 dan 2009) mutu
pengendalian vektor malaria belum mencapai target, karena belum semua kabupaten/kota
melakukan pengendalian vektor berdasarkan fakta yaitu data entomologi dan faktor risiko
lingkungan.
GAMBAR 4.47
CAKUPAN EVALUASI MUTU PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA
TAHUN 2007 - 2009

Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Gambar 4.48 menunjukkan bahwa selama tiga tahun (2007, 2008 dan 2009) mutu
pengendalian vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD) belum mencapai target, karena
belum semua kabupaten/kota melakukan pengendalian vektor berdasarkan informasi dan data
entomologi.

105

GAMBAR 4.48
CAKUPAN EVALUASI MUTU PENGENDALIAN VEKTOR DBD
TAHUN 2007 - 2009

Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Untuk mengetahui peta penyebaran vektor penular penyakit malaria, dilakukan
kegiatan antara lain dengan melakukan pembedahan kelenjar ludah (konfirmasi saliva) dan uji
elisa terhadap nyamuk Anopheles. Dua cara tersebut dipakai untuk memastikan nyamuk yang
menjadi vektor penyakit malaria di suatu wilayah. Di Indonesia sejak tahun 1919 telah
dilakukan konfirmasi vektor. Sampai dengan tahun 2009 jumlah vektor penyakit malaria yang
tercatat di Subdit Pengendalian Vektor sebanyak 25 spesies yang dihimpun dari berbagai
sumber. Dari 25 spesies tersebut ada 7 spesies merupakan spesies langka dan konfirmasi
terakhir sebelum tahun 1960. Gambar 4.49 berikut ini menyajikan peta penyebaran vektor
malaria di Indonesia tahun 2009.
GAMBAR 4.49
PETA PENYEBARAN VEKTOR MALARIA TAHUN 2009

Keterangan :
1. An.aconitus 6. An.barbumbrosus 11. An. kochi 16. An. Maculatus 21. An. subpictus
2. An.annularis 7. An. flavirostris 12. An.punctulatus 17. An.minimus 22. An. sinensis
3. An.balabacensis 8. An.farauti 13. An.ludlowi 18 An.nigerimus 23. An. umbrosus
4. An.barbirostris 9. An.karwari 14.An.letifer 19. An. parangensis 24. An. vagus
5. An.bancrofti 10. An.koliensis 15. An.leucosphyrus 20. An. Sundaicus 25. An. tessellatus
1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
14
15
15
16
16
16
17
17
18
19
20
20
20
20
21
21
21
21
22
22
23
24
24
25
25
1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
14
15
15
16
16
16
17
17
18
19
20
20
20
20
21
21
21
21
22
22
23
24
24
25
25



106

D. PERBAI KAN GI ZI MASYARAKAT
Upaya perbaikan gizi masyarakat dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi
yang dihadapi masyarakat. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan ditemukan
beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada kelompok masyarakat antara lain
anemia gizi besi, kekurangan Vitamin A, dan gangguan akibat kekurangan yodium.
1. Pember i an Tabl et Tambah Dar ah (Fe)

Anemia gizi adalah kekurangan kadar haemoglobin (Hb) dalam darah yang
disebabkan karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan Hb tersebut. Di
Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) hingga
disebut anemia kekurangan zat besi atau anemia gizi besi.
Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan masalah gizi terutama
anemia gizi besi. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001,
prevalensi anemia ibu hamil sebesar 40,1% dan pada tahun 2007 turun menjadi 24,5%
(Riskesdas, 2007). Namun demikian keadaan ini mengindikasikan bahwa anemia gizi besi
masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penanggulangan masalah anemia gizi besi saat
ini terfokus pada pemberian tablet tambah darah (Fe) pada ibu hamil. Ibu hamil mendapat
tablet tambah darah 90 tablet selama kehamilannya.
Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah (Fe) selama 4 tahun
terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.
GAMBAR 4.50
PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT TABLET FE
TAHUN 2006 - 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah (Fe) selama tahun 2006-
2008 terlihat ada kecenderungan turun setiap tahun baik cakupan Fe1 maupun Fe3, namun
meningkat pada tahun 2009. Cakupan Fe1 dan Fe3 tahun 2006 masing-masing sebesar 71,1%
107

dan 64,5%, sedangkan pada tahun 2008 turun menjadi 53,1% dan 48,1%. Pada tahun 2009
cakupan pemberian Fe1 naik menjadi 76,9% dan Fe3 naik menjadi 68,7%. Sebaran cakupan
pemberian tablet tambah darah (Fe3) pada ibu hamil menurut provinsi dapat dilihat pada
Gambar 4.51 berikut ini.
GAMBAR 4.51
PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT TABLET TAMBAH DARAH (FE3)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Provinsi Bali (90,43%), Kep. Bangka
Belitung (84,85%) dan Nusa Tenggara Barat (81,51%). Sedangkan cakupan terendah adalah
Provinsi Papua (31,57%), Sulawesi Tengah (36,12%), dan Sulawesi Barat (38,19%).
Cakupan pemberian tablet tambah darah terkait erat dengan antenatal care (ANC).
Analisis cakupan K4 dengan Fe3 sering menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar,
hal ini disebabkan karena belum optimalnya koordinasi sistem pencatatan dan pelaporan antar
program terkait.

2. Pember i an Kapsul Vi t ami n A

Tujuan pemberian kapsul vitamin A pada balita adalah untuk menurunkan prevalensi
dan mencegah kekurangan vitamin A pada balita. Kapsul vitamin A dosis tinggi terbukti
efektif untuk mengatasi masalah kekurangan vitamin A (KVA) pada masyarakat apabila
cakupannya tinggi. Bukti-bukti lain menunjukkan peranan vitamin A dalam menurunkan
secara bermakna angka kematian anak, maka selain untuk mencegah kebutaan, pentingnya
pemberian vitamin A saat ini lebih dikaitkan dengan kelangsungan hidup, kesehatan dan
pertumbuhan anak.
108

Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, serta meningkatkan
daya tahan tubuh. Anak-anak yang mendapat cukup vitamin A, bila terkena diare, campak
atau penyakit infeksi lain, maka penyakit-penyakit tersebut tidak mudah menjadi parah,
sehingga tidak membahayakan jiwa anak.
Sasaran pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi adalah bayi (umur 6-11 bulan)
diberikan kapsul vitamin A 100.000 SI, anak balita (umur 1-4 tahun) diberikan kapsul vitamin
A 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan
memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Pada bayi (6-11 bulan) diberikan setahun
sekali pada bulan Februari atau Agustus; dan untuk anak balita enam bulan sekali, yang
diberikan secara serentak pada bulan Februari dan Agustus. Sedangkan pemberian kapsul
vitamin A pada ibu nifas, diharapkan dapat dilakukan terintegrasi dengan pelayanan
kesehatan ibu nifas. Namun dapat pula diberikan di luar pelayanan tersebut selama ibu nifas
tersebut belum mendapatkan kapsul vitamin A.
Persentase cakupan pemberian vitamin A balita dan ibu nifas, pada 3 tahun terakhir
dapat dilihat pada Gambar 4.52 berikut ini.
GAMBAR 4.52
PERSENTASE BALITA DAN IBU NIFAS YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
TAHUN 2007 - 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Cakupan pemberian vitamin A pada bayi dan balita tiga tahun terakhir sudah
menunjukkan angka diatas 80% dan relatif angka cakupannya tidak berbeda jauh dari tahun
ke tahun. Namun demikian untuk cakupan vitamin A ibu nifas angkanya masih di bawah
80%, walaupun demikian ada kecenderungan cakupannya makin meningkat selama tiga tahun
terakhir. Dengan demikian masih diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan cakupan
tersebut, antara lain melalui peningkatan integrasi pelayanan kesehatan ibu nifas, sweeping
pada daerah yang cakupannya masih rendah, dan kampanye pemberian kapsul vitamin A.
Masalah vitamin A pada balita secara klinis sudah tidak merupakan masalah kesehatan
masyarakat (prevalensi xeropthalmia < 0,5%). Hasil studi masalah gizi mikro di 10 kota pada
109

10 provinsi tahun 2006, diperoleh prevalensi xeropthalmia pada balita 0.13%, sedangkan hasil
survey vitamin A tahun 1992 menunjukkan prevalensi xeropthalmia sebesar 0,33%.
Namun demikian kekurangan vitamin A (KVA) subklinis, yaitu tingkat yang belum
menampakkan gejala nyata, masih menimpa masyarakat luas terutama kelompok balita. KVA
tingkat subklinis ini hanya dapat diketahui dengan memeriksa kadar vitamin A dalam darah di
laboratorium. Di samping itu sebaran cakupan pemberian vitamin A pada balita menurut
provinsi masih ada yang di bawah 80%. Dengan demikian kegiatan pemberian vitamin A
pada balita dan ibu nifas masih perlu dilanjutkan, karena bukan hanya untuk kesehatan mata
dan mencegah kebutaan, dan lebih penting lagi, vitamin A meningkatkan kelangsungan hidup
anak, kesehatan dan pertumbuhan anak.
Gambar berikut menyajikan persentase balita dan ibu nifas yang mendapat kapsul
vitamin A menurut provinsi.
GAMBAR 4.53
PERSENTASE BALITA YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Hasil laporan Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009, cakupan pemberian kapsul
vitamin A pada balita 83,3%. Provinsi dengan cakupan tertinggi, masing-masing: Jawa
Tengah (98,6%), DI Yogjakarta (96,1%) dan Kalimantan Selatan (93,2%). Sedangkan
provinsi yang cakupannya terendah, masing-masing: Papua Barat (29,1%), Papua (43,5%)
dan Maluku (65,0%).






110

GAMBAR 4.54
PERSENTASE IBU NIFAS YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009, cakupan pemberian kapsul
vitamin A pada Ibu Nifas sebesar 63,0%. Provinsi dengan cakupan tertinggi, masing-masing:
Riau (100,0%), Bali (91,0%), Gorontalo (87,4%) dan Jawa Tengah (87,4%). Sedangkan
Provinsi yang cakupannya terendah, masing-masing Papua Barat (27,4%), Jambi (32,4%) dan
Aceh (33,2%).

3. Cak upan Konsumsi Gar am Ber yodi um

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala yang
timbul karena tubuh seseorang kurang unsur Iodium secara terus-menerus dalam jangka
waktu lama. Kekurangan Iodium saat ini tidak terbatas pada gondok dan kretinisme saja,
tetapi ternyata kekurangan Iodium berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia secara
luas, meliputi tumbuh kembang, termasuk perkembangan otak sehingga terjadi penurunan
potensi tingkat kecerdasan (Intelligence Quotient=IQ).
Pemantauan GAKY dilakukan melalui Ekskresi Yodium dalam Urine (EYU) sebagai
refleksi asupan yodium dan cakupan rumah tangga mengonsumsi garam beryodium. Hasil
Studi Intensifikasi Penanggulangan GAKY (IP-GAKY) tahun 2003 dan Riskesdas 2007
menunjukkan bahwa rata-rata EYU <100 µg/L sebesar 16,7% dan 12,9%, namun cakupan
rumah tangga dengan garam cukup Iodium rata-rata nasional baru mencapai 62,3%
(Riskesdas 2007). Terdapat disparitas antar daerah yang cukup tinggi seperti terlihat pada
Gambar 4.55 berikut ini.


111

GAMBAR 4.55
PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MENGKONSUMSI
GARAM BERYODIUM CUKUP MENURUT PROVINSI TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Provinsi dengan cakupan konsumsi garam cukup beryodium terendah adalah Nusa
Tenggara Barat (27,9%), Nusa Tenggara Timur (31,0%) dan Sulawesi Barat (34,2%),
sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Kep. Bangka Belitung (98,7%), Jambi
(94,4%) dan Sumatera Selatan (93,0%).
Masalah masih rendahnya cakupan konsumsi garam beryodium di masyarakat antara
lain karena belum optimalnya penggerakan masyarakat dan kampanye dalam mengkonsumsi
garam beryodium, serta dukungan regulasi yang belum memadai. Di samping itu masalah lain
adalah belum rutinnya pelaksanaan pemantauan garam beryodium di masyarakat secara terus
menerus.

4. Cak upan Pember i an ASI Ek sk l usi f

Cara pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi secara
eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak sampai
umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayi mendapat makanan pendamping ASI yang bergizi
sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.
Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia berfluktuasi selama 3
tahun terakhir. Pada Gambar 4.56 terlihat bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
0–5 bulan turun dari 62,2% tahun 2007 menjadi 56,2% pada tahun 2008, namun meningkat
lagi pada tahun 2009 menjadi 61,3%. Sedangkan cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
112

sampai 6 bulan turun dari 28,6% pada tahun 2007 menjadi 24,3% pada tahun 2008 dan naik
lagi menjadi 34,3% pada tahun 2009.
GAMBAR 4.56
PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 0-5 BULAN DAN 6 BULAN
TAHUN 2004 - 2009

Sumber: BPS, Susenas 2009
Cakupan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi beberapa hal, terutama masih sangat
terbatasnya tenaga konselor ASI, belum adanya peraturan perundangan tentang pemberian
ASI serta belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait
pemberian ASI maupun MP-ASI, masih kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana KIE
ASI dan MP-ASI dan belum optimalnya membina kelompok pendukung ASI dan MP-ASI.
Gambar 4.57 berikut ini menyajikan persentase cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
0-5 bulan dan 6 bulan menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 4.57
PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 0-6 BULAN
MENURUT PROVINSI 2009

Sumber: BPS, Susenas 2009
113

Berdasarkan data Susenas 2009, provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif 0-
6 bulan bulan terendah adalah Jawa Timur (48,8%), Jawa Tengah (52,2%) dan Aceh (52,2%).
Sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (78.3%),
Bengkulu (75,8%) dan Nusa Tenggara Timur (75,2%).
Cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan menurut provinsi dapat dilihat pada
Gambar 4.58 berikut ini.
GAMBAR 4.58
PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 6 BULAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI
Provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan terendah adalah Gorontalo
(14,3%), Papua Barat (16,7%) dan Kalimantan Barat (19,5%). Sedangkan provinsi dengan
cakupan tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (54.3%), Bengkulu (54,2%) dan
Maluku (53,1%).
Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif 0-5 bulan maupun 6 bulan dapat
disebabkan karena masih kurangnya pemahaman masyarakat bahkan petugas kesehatan
sekalipun tentang manfaat dan pentingnya pemberian ASI eksklusif kepada bayi usia 0-5
bulan. Di lain pihak adanya promosi dan pemasaran yang begitu intensif terkait susu formula
yang kadang sulit untuk dikendalikan. Mungkin pula masih banyak Rumah Sakit (RS) yang
belum mendukung peningkatan pemberian ASI eksklusif, yang dapat ditandai dengan belum
melakukan rawat gabung antara ibu dan bayinya, dan belum atau masih rendahnya melakukan
inisiasi menyusui dini (IMD) serta masih bebas beredarnya susu formula di lingkungan RS.
Upaya terobosan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif
antara lain melalui upaya peningkatan pengetahuan petugas tentang manfaat ASI eksklusif,
penyediaan fasilitas menyusui di tempat kerja, peningkatkan pengetahuan dan keterampilan
ibu, peningkatan dukungan keluarga dan masyarakat serta upaya untuk mengendalikan
pemasaran susu formula. Selain itu perlu juga penerapan 10 (sepuluh) langkah menuju
114

keberhasilan menyusui (LMKM) di RS dan sarana pelayanan kesehatan lainnya yang
melakukan kegiatan persalinan.
Sepuluh langkah tersebut meliputi : 1) membuat kebijakan tentang menyusui; 2)
melatih staf pelayanan kesehatan; 3) KIE kepada ibu hamil tentang manfaat dan manajemen
menyusui; 4) membantu ibu untuk IMD dalam 60 menit pertama persalinan; 5) membantu ibu
cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu dipisah dari bayinya; 6)
memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis; 7) menerapkan rawat
gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu (24 jam); 8) menganjurkan menyusui sesuai
permintaan bayi; 9) Tidak memberi dot kepada bayi; dan 10) mendorong pembentukan
kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut setelah keluar
dari sarana pelayanan kesehatan.

5. Cak upan Peni mbangan Bal i t a di Posyandu (D/S)

Cakupan penimbangan balita di posyandu (D/S) merupakan indikator yang berkaitan
dengan cakupan pelayanan gizi pada balita, cakupan pelayanan kesehatan dasar khususnya
imunisasi serta prevalensi gizi kurang. Semakin tinggi cakupan D/S, semakin tinggi cakupan
vitamin A, semakin tinggi cakupan imunisasi dan semakin rendah prevalensi gizi kurang.
Hasil Riskesdas 2007 menunjukan secara nasional cakupan penimbangan balita (anak
pernah ditimbang di Posyandu sekurang-kurangnnya satu kali selama sebulan terakhir) di
posyandu sebesar 74,5%. Frekuensi kunjungan balita ke posyandu semakin berkurang dengan
semakin meningkatnya umur anak. Sebagai gambaran proporsi anak 6-11 bulan yang
ditimbang di posyandu 91,3%, pada anak usia 12-23 bulan turun menjadi 83,6%, dan pada
usia 24-35 bulan turun menjadi 73,3%.
Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009 cakupan penimbangan
balita di posyandu sebesar 63,9%. Cakupan penimbangan balita di posyandu menurut provinsi
tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4.59 berikut ini.











115

GAMBAR 4.59
PERSENTASE KUNJUNGAN BALITA YANG DITIMBANG DI POSYANDU (D/S)
MENURUT PROVINSI 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Cakupan penimbangan balita di posyandu yang tertinggi ada di DI Yogjakarta
(75,6%), Jawa Timur (76,1%), dan Jawa Tengah (76,0%). Sedangkan cakupan terendah ada di
Provinsi Papua Barat (27,7%), Papua (35,3%) dan Kalimantan Timur (39,6%).
Masalah yang berkaitan dengan kunjungan posyandu antara lain: dana operasional dan
sarana prasarana untuk menggerakkan kegiatan posyandu; tingkat pengetahuan kader dan
kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling; tingkat pemahaman
keluarga dan masyarakat akan manfaat posyandu; serta pelaksanaan pembinaan kader.

E. PELAYANAN KESEHATAN DALAM SI TUASI BENCANA
Bencana di Indonesia dapat dikategorikan menjadi 2 macam yaitu bencana lingkungan
hidup dan bencana alam. Bencana lingkungan hidup terjadi akibat dari kerusakan lingkungan
seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, kecelakaan industri,
tumpahan minyak di laut; sedangkan bencana alam terjadi sebagai akibat aktivitas lapisan/kerak
bumi/fenomena alam seperti gempa bumi, gelombang tsunami, letusan gunung berapi, badai atau
angin ribut yang kejadiannya sulit diprediksi.
Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Penanggulangan Krisis Kementerian Kesehatan
pada tahun 2009, banjir dan banjir bandang merupakan bencana yang paling sering terjadi dan
melanda 23 provinsi di Indonesia. Jumlah korban akibat bencana banjir dan banjir bandang
selama tahun 2009 sebanyak 157 meninggal, 53 luka berat yang memerlukan rawat inap, 37.706
luka ringan/rawat jalan, 15 korban hilang, dan sebanyak 229.854 pengungsi. Bencana alam yang
menelan korban yang paling banyak adalah gempa bumi, yang terjadi di 11 provinsi. Jumlah
116

korban akibat bencana gempa bumi selama tahun 2009 sebanyak 1,209 meninggal, 1.234 luka
berat yang memerlukan rawat inap, 9.224 luka ringan/rawat jalan, 27 korban hilang, dan
sebanyak 205.210 pengungsi. Rincian kejadian bencana menurut jenis dan jumlah korban pada
tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 4.27.
Demikian gambaran mengenai situasi upaya kesehatan di Indonesia sampai dengan tahun
2009.


***


118




Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung dalam
penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas, yang diharapkan dapat meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat. Pada bab ini, sumber daya kesehatan diulas dengan
menyajikan gambaran keadaan sarana kesehatan, tenaga kesehatan, dan pembiayaan
kesehatan.

A. SARANA KESEHATAN
Sarana kesehatan yang disajikan dalam bab ini meliputi: puskesmas, rumah sakit
(rumah sakit umum dan rumah sakit khusus), sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya
Masyarakat (UKBM), sarana produksi dan distribusi kefarmasian dan alat kesehatan,
serta institusi pendidikan tenaga kesehatan.

1. Pusk esmas
Pusat Kesehatan Masyarakat atau yang biasa disebut Puskesmas merupakan salah
satu unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Puskesmas sebagai unit
pelayanan kesehatan tingkat pertama dan terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan,
harus melakukan upaya kesehatan wajib (basic six) dan beberapa upaya kesehatan pilihan
yang disesuikan dengan kondisi, kebutuhan, tuntutan, kemampuan dan inovasi serta
kebijakan pemerintah daerah setempat. Puskesmas memiliki fungsi sebagai : 1) pusat
pembangunan berwawasan kesehatan; 2) pusat pemberdayaan masyarakat; 3) pusat
pelayanan kesehatan masyarakat primer; dan 4) pusat pelayanan kesehatan perorangan
primer.
J umlah puskesmas di Indonesia sampai dengan akhir tahun 2009 sebanyak 8.737
unit, dengan rincian jumlah puskesmas perawatan 2.704 unit dan puskesmas non
perawatan sebanyak 6.033 unit. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui
keterjangkauan penduduk terhadap puskesmas adalah rasio puskesmas per 100.000
penduduk. Dalam kurun waktu 2005 hingga 2009, rasio ini menunjukkan adanya
peningkatan. Rasio puskesmas per 100.000 penduduk pada tahun 2005 sebesar 3,50, pada
tahun 2009 meningkat menjadi 3,78, seperti terlihat pada Gambar 5.1 berikut ini.






119


GAMBAR 5.1
RASIO PUSKESMAS PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2005-2009

Sumber : Ditjen. Binkesmas, Kemenkes
Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, Kemenkes, 2010

Rasio puskesmas per 100.000 penduduk menurut provinsi menunjukkan bahwa
rasio tertinggi pada tahun 2009 adalah di Provinsi Papua Barat, yaitu sebesar 14,12,
sedangkan rasio terendah Provinsi Banten, yaitu sebesar 2,00. Gambaran rasio puskesmas
menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Gambar 5.2. Sedangkan rincian jumlah
dan rasio puskesmas per 100.000 penduduk menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat
pada Lampiran 5.1.

GAMBAR 5.2
RASIO PUSKESMAS PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2009

Sumber : Ditjen Binkesmas, Kemenkes
Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, Kemenkes, 2010

Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat di puskesmas,
beberapa puskesmas non perawatan telah ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas
perawatan. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, yaitu tahun 2005-2009 telah terjadi
peningkatan jumlah puskesmas perawatan dari 2.077 unit pada tahun 2005 menjadi 2.704
120

unit pada tahun 2009. Perkembangan jumlah puskesmas perawatan dan non perawatan
pada tahun 2005-2009 dapat dilihat pada Gambar 5.3. Rincian mengenai jumlah
puskesmas perawatan dan non perawatan menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.2.

GAMBAR 5.3
JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN NON PERAWATAN
TAHUN 2005 – 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas, Kemenkes
Pusat data dan Surveilans Epidemiologi, Kemenkes, 2010

Untuk meningkatkan jangkauan pelayanan puskesmas terhadap masyarakat di
wilayah kerjanya, puskesmas didukung oleh sarana pelayanan kesehatan berupa
puskesmas pembantu (pustu). J umlah pustu pada tahun 2009 dilaporkan sebanyak 22.650
unit dengan rasio pustu terhadap puskesmas 2,6. Rincian jumlah pustu per provinsi tahun
2009 terdapat pada Lampiran 5.3.


2. Rumah Sak i t

Ruang lingkup pembangunan kesehatan selain upaya promotif dan preventif, di
dalamnya juga terdapat pembangunan kesehatan bersifat kuratif dan rehabilitatif. Rumah
sakit merupakan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang bergerak dalam kegiatan
kuratif dan rehabilitatif. Rumah sakit juga berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan
rujukan.
Pada tahun 2009 jumlah rumah sakit di Indonesia sebanyak 1.523 unit, yang
terdiri atas rumah sakit umum (RSU) berjumlah 1.202 unit dan rumah sakit khusus (RSK)
berjumlah 321 unit. Rumah sakit tersebut dikelola oleh Kementerian Kesehatan,
pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, TNI/POLRI, kementerian lain/BUMN
serta sektor swasta.
Bila melihat perkembangan sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, maka
terjadi peningkatan jumlah rumah sakit, baik rumah sakit umum maupun rumah sakit
121

khusus. Pada tahun 2005 terdapat 1.268 rumah sakit di Indonesia, jumlah ini naik 20,11%
menjadi 1.523 unit pada tahun 2009.
Tabel 5.1 berikut menampilkan perkembangan jumlah rumah sakit (umum dan
khusus) di Indonesia tahun 2005-2009. Sedangkan jumlah seluruh rumah sakit pada tahun
2009 menurut pengelola dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.4.

TABEL 5.1
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT (UMUM & KHUSUS)
DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009
No. Pengelola/Kepemilikan 2005 2006 2007 2008 2009
1 Kementerian Kesehatan
dan Pemerintah Provinsi/
Kabupaten/Kota
452 464 477 509 552
2 TNI/POLRI 112 112 112 112 125
3 BUMN/Kementerian Lain 78 78 78 78 78
4 Swasta 626 638 652 673 768
Jumlah 1.268 1.292 1.319 1.372 1.523
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes, 2010

Selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2005-2009) jumlah rumah sakit umum baik
yang dikelola oleh institusi pemerintah maupun sektor swasta mengalami peningkatan,
pada tahun 2005 terdapat 995 unit menjadi 1.202 unit pada tahun 2009. J umlah rumah
sakit umum di Indonesia menurut pengelolanya dapat dilihat pada Lampiran 5.5. dan
jumlah rumah sakit umum dan khusus di Indonesia menurut provinsi dapat dilihat pada
Lampiran 5.4. Perkembangan RSU di Indonesia selama 5 tahun terakhir dapat dilihat
pada Gambar 5.4 berikut ini.

GAMBAR 5.4
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM
DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes, 2010
122


Dari rumah sakit umum yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan
pemerintah daerah menunjukkan bahwa sebagian besar tergolong RSU kelas C. Dari
jumlah 465 RSU, terdapat 245 unit (52,69%) kelas C, 118 unit (25,38%) kelas B, 92 unit
(19,78%) kelas D dan 10 unit (2,15%) kelas A. Gambar 5.5 berikut ini menyajikan
persentase RSU menurut kelas.

GAMBAR 5.5
PERSENTASE RUMAH SAKIT UMUM
MILIK KEMENTERIAN KESEHATAN DAN PEMERINTAH DAERAH
MENURUT KELAS TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes, 2010

Terdapat 10 RSU milik Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah yang
termasuk kelas A, yang terdapat di 10 kota yaitu Medan, J akarta, Bandung, Semarang,
Surakarta, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Denpasar dan Makassar. Informasi lebih rinci
mengenai jumlah RSU yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah
menurut kelas rumah sakit dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.7. Informasi lebih rinci
mengenai jumlah RSU yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah,
BUMN/kementerian lain dan swasta menurut kelas perawatan dan provinsi terdapat pada
Lampiran 5.6.
J umlah rumah sakit khusus (RSK) baik milik pemerintah maupun swasta dalam
kurun waktu tahun 2005-2009 menunjukkan adanya peningkatan. Pada tahun 2005
terdapat 273 unit rumah sakit khusus, meningkat menjadi 321 pada tahun 2009.
Perkembangan jumlah RSK selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5.6
berikut ini.

123

GAMBAR 5.6
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS
DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes, 2010

Sebagian besar rumah sakit khusus tersebut adalah RS Ibu dan Anak sebanyak 95
unit dan RS Bersalin sebanyak 60 unit, seperti dapat dilihat pada Gambar 5.7. J umlah
rumah sakit khusus beserta jumlah tempat tidurnya tahun 2005-2009 terdapat pada
Lampiran 5.8.

GAMBAR 5.7
JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes, 2010

J umlah tempat tidur suatu rumah sakit dapat digunakan untuk menggambarkan
kemampuan rumah sakit tersebut dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat. J umlah tempat tidur pada rumah sakit umum dan rumah sakit khusus dalam
5 tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan. Gambaran peningkatan tersebut dapat
124

dilihat pada Gambar 5.8 di bawah ini. Rincian jumlah tempat tidur pada rumah sakit
khusus dapat dilihat pada Lampiran 5.8.

GAMBAR 5.8
PERKEMBANGAN JUMLAH TEMPAT TIDUR
RUMAH SAKIT UMUM (RSU) DAN RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK)
DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes, 2010

Rasio tempat tidur rumah sakit terhadap penduduk juga dapat menggambarkan
tingkat ketersediaan sarana pelayanan kesehatan rujukan. Rasio tempat tidur per 100.000
penduduk dari tahun 2005-2009 juga mengalami peningkatan, rasio pada tahun 2005
sebesar 62,49 naik menjadi 70,74 pada tahun 2009. Gambar 5.9 menyajikan jumlah
tempat tidur dan rasio tempat tidur per 100.000 penduduk di rumah sakit pada tahun
2005-2009.

GAMBAR 5.9
JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT DAN
RASIONYA PER 100.000 PENDUDUK TAHUN 2005 – 2009

Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes, 2010
125


Proporsi tempat tidur di rumah sakit umum dan rumah sakit khusus menurut kelas
perawatan menunjukkan gambaran bahwa sebagian besar adalah Kelas III, yaitu sebesar
39,5%, diikuti oleh Kelas II sebesar 20,2% dan Kelas I sebesar 10,6%. Selain tiga jenis
kelas perawatan tersebut, terdapat kelas VIP sebesar 7,5% dan tanpa kelas sebesar 22,1%.
Rincian mengenai jumlah dan persentase tempat tidur di RSU dan RSK menurut jenis
kelas perawatan dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.6.

3. Sar ana Pr oduk si dan Di st r i busi Sedi aan Far masi dan Al at Kesehat an

Salah satu kebijakan pelaksanaan dalam Program Obat dan Perbekalan Kesehatan
adalah pengendalian obat dan perbekalan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas
sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan.
Sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan dapat
digunakan untuk melihat kemampuan ketersediaan obat dan alat kesehatan bagi
masyarakat. Selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir terlihat adanya kecenderungan
peningkatan jumlah sarana produksi kefarmasian dan alat kesehatan. Hal tersebut dapat
dilihat pada Gambar 5.10. Jumlah sarana produksi di Indonesia pada tahun 2009 dirinci
menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.9.

GAMBAR 5.10
JUMLAH SARANA PRODUKSI KEFARMASIAN
DAN ALAT KESEHATAN TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen Binfar & Alkes, Kemenkes, 2010


J umlah sarana distribusi kefarmasian dan alat kesehatan selama lima tahun
terakhir (2005-2009) terdapat pada Gambar 5.11. Jumlah sarana distribusi di Indonesia
pada tahun 2009 dirinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.10.





126

GAMBAR 5.11
JUMLAH SARANA DISTRIBUSI KEFARMASIAN
DAN ALAT KESEHATAN 2005 -2009

Sumber: Ditjen Binfar & Alkes, Kemenkes, 2010


4. Upaya Kesehat an Ber sumber daya Masyar ak at
Upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dilakukan dengan menerapkan
berbagai pendekatan, termasuk di dalamnya dengan melibatkan potensi masyarakat. Hal
ini sejalan dengan konsep pemberdayaan pengembangan masyarakat. Langkah tersebut
tercermin dalam pengembangan sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM). UKBM di antaranya terdiri dari Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Pos
Kesehatan Desa (Poskesdes) di Desa Siaga, Tanaman Obat Keluarga (Toga), dan Pos
Obat Desa (POD).
Salah satu jenis UKBM yang telah sejak lama dikembangkan dan mengakar di
masyarakat adalah posyandu. Dalam menjalankan fungsinya, posyandu diharapkan dapat
melaksanakan 5 program prioritas yaitu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana,
perbaikan gizi, imunisasi, dan penanggulangan diare. Dalam rangka menilai kinerja dan
perkembangannya, posyandu diklasifikasikan menjadi 4 strata, yaitu Posyandu Pratama,
Posyandu Madya, Posyandu Purnama dan Posyandu Mandiri. Pada tahun 2009 terdapat
266.827 posyandu, dengan demikian maka rasio posyandu terhadap desa/kelurahan sebesar
3,55 posyandu per desa/kelurahan. Informasi selengkapnya mengenai rasio posyandu
menurut provinsi pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 5.12 berikut ini.









127

GAMBAR 5.12
RASIO POSYANDU TERHADAP JUMLAH DESA/KELURAHAN TAHUN 2009

Sumber: Ditjen. Bina Kesmas, Kemenkes, 2010

Poskesdes merupakan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang dibentuk
di desa dalam rangka mendekatkan penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat
desa, dengan kata lain salah satu wujud upaya untuk mempermudah akses masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan. Kegiatan utama poskesdes yaitu pengamatan dan
kewaspadaan dini (surveilans perilaku berisiko, lingkungan dan masalah kesehatan
lainnya), penanganan kegawatdaruratan kesehatan dan kesiapsiagaan terhadap bencana
serta pelayanan kesehatan. Pelayanan yang diberikan poskesdes juga mencakup tempat
pertolongan persalinan dan pelayanan KIA. Poskesdes merupakan salah satu indikator
sebuah desa disebut desa siaga. Data menyebutkan bahwa pada tahun 2009 terdapat 51.996
unit poskesdes/desa siaga. Rasio poskesdes/desa siaga terhadap desa secara nasional pada
tahun 2009 sebesar 0,69. Jumlah desa siaga di Provinsi DKI Jakarta merupakan jumlah RW
siaga dan jumlah desa siaga di Provinsi Sumatera Barat merupakan jumlah desa siaga
ditambah nagari siaga. Gambar 5.13 berikut ini menyajikan rasio poskesdes menurut
provinsi pada tahun 2009 (tidak termasuk Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Sumatera
Barat). Sedangkan data mengenai sarana kesehatan tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5.3.













128

GAMBAR 5.13
RASIO POSKESDES TERHADAP JUMLAH DESA DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen. Bina Kesmas, Kemenkes, 2010


5. I nst i t usi Pendi di k an Tenaga Kesehat an

a. J uml ah, J eni s dan Per sebar an I nst i t usi
Pembangunan kesehatan berkelanjutan membutuhkan tenaga kesehatan yang
memadai baik dari segi jumlah maupun kualitas. Untuk menghasilkan tenaga kesehatan
yang berkualitas tentu saja dibutuhkan proses pendidikan yang berkualitas pula.
Kementerian Kesehatan merupakan institusi dari sektor pemerintah yang berperan di
dalam penyediaan tenaga kesehatan yang berkualitas tersebut. Dalam penyelenggaraan
pendidikan tenaga kesehatan jenjang pendidikan menengah dan Diploma (D-III) yang
berada di bawah pembinaan Kementerian Kesehatan dikelompokkan dalam Politeknik
Kesehatan (milik Kemenkes) dan Non Poltekkes (milik Swasta,TNI/POLRI dan Pemda).
Selain menyelenggarakan program D-III, Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan, Badan
Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan juga
menyelenggarakan program D-IV.
Program pendidikan D-III institusi pendidikan tenaga kesehatan (Diknakes) saat ini
berkembang dengan pesat, baik jenis maupun jumlah di masing-masing provinsi. Sampai
dengan Desember 2009 jumlah institusi Diknakes sebanyak 1.140 institusi, yang terdiri dari
221 jurusan/program studi (yang berada pada 33 Poltekkes) dan 919 institusi Non
Poltekkes. Perkembangan jumlah program studi (prodi) pada institusi Poltekkes dan Non
Poltekkes terdapat pada Gambar 5.14 berikut ini.






129



GAMBAR 5.14
PERKEMBANGAN JUMLAH PROGRAM STUDI INSTITUSI DIKNAKES POLTEKKES DAN
NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2002-2009

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010

Pada Gambar 5.14 dapat dilihat adanya peningkatan jumlah J urusan/Prodi
Poltekkes setiap tahunnya, hal ini sesuai dengan kebutuhan jenis tenaga kesehatan dan
pemerataan produksi tenaga kesehatan. Tahun 2009 terjadi penambahan 7 prodi, dari 214
prodi pada tahun 2008 menjadi 221 prodi.

GAMBAR 5.15
JUMLAH PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI POLTEKKES
DI INDONESIA TAHUN 2009
Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010


Gambar 5.16 menunjukan jumlah program studi pada institusi Diknakes Non
Poltekkes; untuk prodi keperawatan terdiri dari keperawatan, kebidanan dan kesehatan
gigi; untuk prodi keterapian fisik terdiri dari fisioterapi, okupasi terapi, terapi wicara dan
130

akupunktur. J ika dilihat berdasarkan kepemilikan dari 919 institusi Diknakes Non
Poltekkes tahun 2009 sebanyak 793 institusi (86,29%) dengan status kepemilikan swasta
sedangkan selebihnya milik TNI/POLRI dan Pemda, untuk lebih rinci dapat dilihat pada
Lampiran 5.15.


GAMBAR 5.16
JUMLAH PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES
DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010


b. Ak r edi t asi I nst i t usi
Dengan banyaknya institusi pendidikan tenaga kesehatan yang ada saat ini,
Kementerian Kesehatan berusaha melakukan upaya untuk terus meningkatkan kualitas
pendidikan. Akreditasi merupakan salah satu upaya pembinaan yang dilakukan pemerintah
terhadap institusi-institusi pendidikan kesehatan yang ada, selain itu juga untuk melihat
kualitas dari masing-masing institusi.
Akreditasi dilaksanakan bagi institusi baru yang telah menjalankan perkuliahan
sampai dengan semester V (lima), dan institusi lama yang telah habis masa berlaku
akreditasinya. Pada tahun 2002, institusi Diknakes milik Kemenkes mengalami
perubahan status kelembagaan dari Akademi menjadi Poltekkes. Untuk melihat
perubahan-perubahan yang terjadi pada Poltekkes, mulai tahun 2004 Pusdiknakes
melakukan akreditasi terhadap jurusan/program studi Poltekkes yang ada. Sampai tahun
2009 ada 180 prodi Poltekkes (81,45%) telah diakreditasi dan yang belum terakreditasi
sebanyak 32 prodi (18,55%). Dari jumlah yang sudah terakreditasi, terdapat 77 prodi
(42,8%) dengan strata A, 96 prodi (53,3%) dengan strata B dan 7 prodi (3,9%) dengan
strata C. Gambar 5.17 berikut ini menunjukkan persentase akreditasi program studi pada
institusi Poltekkes. Informasi selengkapnya mengenai jumlah dan persentase program
studi Poltekkes yang telah terakreditasi menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran
5.12.


131



GAMBAR 5.17
PERSENTASE STRATA AKREDITASI
PROGRAM STUDI POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010

Akreditasi juga dilakukan pada institusi Diknakes Non Poltekkes. J umlah institusi
yang telah terakreditasi sebanyak 546 institusi (59,41%) dan yang belum terakreditasi
sebanyak 373 institusi (40,59%). Dari jumlah yang sudah terakreditasi, terdapat 72
institusi (13,21%) dengan strata A, 428 institusi (78,53%) dengan strata B dan 46 institusi
(8,44%) dengan strata C. Gambar 5.18 berikut ini menunjukkan persentase strata
akreditasi institusi Diknakes Non Poltekkes pada tahun 2009. Sedangkan informasi
selengkapnya menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.14.


GAMBAR 5.18
PERSENTASE STRATA AKREDITASI
INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010

J umlah institusi Diknakes Non Poltekkes menurut status kepemilikan
menunjukkan sebagian besar institusi dimiliki oleh swasta, yaitu sebesar 86,29%,
132

sedangkan kepemilikan oleh Pemerintah Daerah sebesar 10,45% dan TNI/POLRI sebesar
3,26%. Informasi lebih rinci mengenai jumlah dan persentase institusi Diknakes Non
Poltekkes menurut kepemilikan dapat dilihat pada Lampiran 5.15.

c . Peser t a di di k
J umlah peserta didik institusi pendidikan tenaga kesehatan baik poltekes maupun
non poltekkes jalur umum tahun ajaran 2009/2010 (296.132 orang) dibanding tahun
ajaran 2008/2009 (260.854 orang) mengalami kenaikan sebanyak 35.278 orang atau
13,5%. Hal ini disebabkan karena jumlah institusi pendidikan tenaga kesehatan yang juga
mengalami kenaikan.
Dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, diperlukan
tenaga kesehatan yang lebih berkualitas. Sehubungan dengan hal tersebut sejak tahun
2004, selain menyelenggarakan D-III Poltekkes juga menyelenggarakan program D-IV
dan Kelas Internasional. Pada tahun 2009 program D-IV yang ada di seluruh Indonesia
memiliki peserta didik sebanyak 2020.
Program D-IV mempunyai jenis institusi pendidikan yang lebih khusus bidang
keilmuannya yaitu untuk jenis institusi keperawatan, kebidanan dan kesehatan gigi. J enis
institusi keperawatan terdiri dari keperawatan medical bedah, keperawatan gawat darurat,
keperawatan klinik kemahiran, keperawatan kardiovaskuler, keperawatan anestesi,
keperawatan jiwa, keperawatan intensive dan keperawatan anestesi reanimasi. J enis
institusi kebidanan terdiri dari bidan pendidik dan kebidanan komunitas. J enis institusi
kesehatan gigi terdiri dari kesehatan gigi, kesehatan gigi komunitas, kesehatan gigi
prothodansia, dental bedah mulut dan perawat gigi pendidik. Informasi lebih rinci
mengenai jumlah peserta didik program D-IV menurut jenis institusi pendidikan dapat
dilihat pada Lampiran 5.27.

d. Lul usan
J umlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes pada tahun 2009 adalah 62.371
orang, yang terdiri dari lulusan Poltekkes adalah 14.357 orang (23,02%) dan lulusan Non
Poltekkes sebanyak 48.014 orang (76,98%). J umlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes
terbanyak pada jurusan keperawatan sebanyak 29.920 orang kemudian jurusan kebidanan
sebanyak 18.545 orang.
133

TABEL 5.2
JUMLAH LULUSAN PROGRAM DIPLOMA III POLTEKKES DAN NON POLTEKKES
TAHUN 2002-2009
Jenis Tenaga
Tahun
Total
Rerata
Lulusan
per
tahun
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
Keperawatan 17,139 18,722 25,329 22,943 23,811 25,200 26,446 28,835 188,425 23,553
Kebidanan 3,488 3,957 6,250 5,951 8,264 13,337 9,131 18,545 68,923 8,615
Kesehatan Gigi 439 711 627 773 742 857 1166 1,085 6,400 800
Kefarmasian 1,095 1,722 1,712 1,836 2,236 2,285 5,562 4,864 21,312 2,664
Kesehatan Lingkungan 1,573 1,691 1,923 1,855 1,557 1,396 1,870 1,685 13,550 1,694
Gizi 1,166 1,545 1,366 1,519 1,415 1,693 2,039 1,812 12,555 1,569
Keterapian Fisik 432 581 740 739 858 965 998 781 6,094 762
Keteknisian Medis 3,121 2,948 3,067 3,367 3,473 3,644 5,131 4,764 29,515 3,689
Jumlah 28,453 31,877 41,014 38,983 42,356 49,377 52,343 62,371 346,774 43,347
Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010

Dari Tabel 5.2 di atas terlihat bahwa rata-rata selama 8 tahun terakhir lulusan
Diknakes Diploma III Poltekkes dan Non Poltekkes adalah 43.347 orang, dengan lulusan
terbanyak adalah D-III Keperawatan (rata-rata 23,553 orang), yang tersebar di semua
provinsi. Tiga provinsi yang menghasilkan lulusan tenaga kesehatan terbanyak (Poltekkes
dan Non Poltekkes) tahun 2009 adalah Provinsi Jawa Tengah (9.659 orang), Sumatera
Utara (8.349 orang) dan J awa Timur (7.555 orang).

B. TENAGA KESEHATAN
Data Sumber Daya Masyarakat Kesehatan (SDM Kesehatan) yang terkumpul dari
33 Provinsi belum sepenuhnya dapat menggambarkan SDM Kesehatan secara lengkap,
dikarenakan:
1. Belum semua Provinsi mendapatkan data SDM Kesehatan dari semua Kabupaten/
Kota di wilayahnya.
2. Kabupaten/Kota belum memiliki data SDM Kesehatan secara lengkap, terutama data
rumah sakit baik milik pemerintah, TNI/POLRI dan Swasta.
3. Belum ada sistem yang handal yang mengatur manajemen pengumpulan data SDM di
daerah.

1. J uml ah dan Rasi o Tenaga Kesehat an
Salah satu unsur yang berperan dalam percepatan pembangunan kesehatan adalah
tenaga kesehatan yang bertugas di sarana pelayanan kesehatan di masyarakat. Menurut
pendataan Badan PPSDMK, jumlah dokter umum di Indonesia sebanyak 28.332 orang,
dengan rasio sebesar 12,25 dokter per 100.000 penduduk. Provinsi dengan rasio tertinggi
adalah Bali sebesar 33,60 dokter per 100.000 penduduk, sedangkan yang terendah adalah
Banten dengan rasio 3,54 dokter per 100.000 penduduk. Rasio dokter umum terhadap
134

jumlah penduduk di tiap provinsi pada tahun 2009 dijelaskan pada Gambar 5.19 berikut
ini.

GAMBAR 5.19
RASIO DOKTER UMUM TERHADAP 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010

J umlah tenaga dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 9.774 orang dengan rasio
sebesar 4,22 dokter gigi per 100.000 penduduk. Provinsi dengan rasio tertinggi adalah DI
Yogyakarta sebesar 12,65 dokter gigi per 100.000 penduduk, sedangkan terendah adalah
Sumatera Selatan dengan rasio 0,73 dokter gigi per 100.000 penduduk.
J umlah bidan pada tahun 2009 sebanyak 93.889 orang, sehingga rasionya
terhadap penduduk sebesar 40,58 bidan per 100.000 penduduk. Menurut Indikator
Indonesia Sehat 2010, rasio bidan terhadap penduduk pada tahun 2010 diharapkan
mencapai 100 bidan per 100.000 penduduk. Pada tahun 2009 terdapat 3 provinsi yang
telah mencapai rasio 100 bidan per 100.000 penduduk, yaitu Aceh sebesar 153,3,
Bengkulu sebanyak 123,64 dan Papua Barat sebanyak 111,18 bidan per 100.000
penduduk. J umlah tenaga kesehatan dan non kesehatan tahun 2009 menurut provinsi
dapat dilihat pada Lampiran 5.16.

2. Per sebar an Sumber Daya Manusi a (SDM) Kesehat an
SDM Kesehatan di daerah terdiri dari SDM Kesehatan yang bertugas di unit
kesehatan (sarana pelayanan dan non pelayanan) di Provinsi dan Kabupaten/Kota, dengan
status kepegawaian PNS, CPNS, PTT, TNI/POLRI dan swasta. SDM Kesehatan tersebut
bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi dan unit pelaksana teknis (UPT), Dinas
Kabupaten/Kota dan UPT, rumah sakit/poliklinik dan sarana kesehatan lainnya milik
pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta dan TNI/POLRI.
Dari data yang diterima tercatat sebanyak 519.599 orang yang terdiri dari 410.067
tenaga kesehatan dan 109.532 tenaga non kesehatan. Tenaga kesehatan terdiri dari 51.805
tenaga medis, 278.221 tenaga keperawatan (184.332 tenaga perawat dan perawat gigi,
135

93.889 tenaga bidan), 19.953 tenaga kefarmasian, 28.858 tenaga kesehatan masyarakat,
12.762 tenaga gizi, 2.985 tenaga keterapian fisik dan 15.483 keteknisian medis.

a. Tenaga Kesehat an di Pusk esmas
Puskesmas yang merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan masyarakat,
kinerjanya sangat dipengaruhi ketersediaan sumber daya manusia yang dimiliki, terutama
ketersediaan tenaga kesehatan. Tahun 2009 tidak semua puskesmas terdata jumlah
tenaganya, hanya 8.509 puskesmas dari 8.737 puskesmas yang ada. Pada tahun 2009,
terdapat 245.311 orang yang bertugas di puskesmas dengan rincian 215.776 tenaga
kesehatan dan 29.535 tenaga non kesehatan. Dari seluruh jumlah tenaga kesehatan, dokter
umum yang bertugas di puskesmas sebanyak 13.701 orang. Bila dibandingkan antara
jumlah puskesmas yang terdata tenaganya (8.509 puskesmas) dengan jumlah dokter, maka
rasio dokter umum adalah 1,61 dokter umum per puskesmas. Rasio dokter umum terhadap
puskesmas tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta sebesar 13 dokter umum per
puskesmas (327 dokter umum pada 25 puskesmas yang terdata), diikuti oleh Kepulauan
Riau sebesar 3,13 dan Riau sebesar 3,03 dokter umum per puskesmas. Beberapa provinsi
memiliki tenaga dokter spesialis yang bertugas di puskesmas. Rasio dokter umum di
puskesmas terhadap jumlah puskesmas (yang terdata tenaganya) tahun 2009 dapat dilihat
pada Gambar 5.20 berikut ini.

GAMBAR 5.20
RASIO DOKTER UMUM DI PUSKESMAS TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS
DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010

Jumlah dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 6.141 orang. Bila dibandingkan
dengan jumlah seluruh puskesmas maka dapat diartikan bahwa belum seluruh puskesmas
memiliki dokter gigi.
136

Pada tahun 2009 terdapat 160 dokter spesialis yang bertugas di puskesmas,
sebagian besar dokter spesialis tersebut berada di Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah 84
orang (52,5%). Jumlah perawat di seluruh puskesmas sebanyak 76.940 orang, sehingga
rata-rata tiap puskesmas memiliki 9-10 orang perawat. Jumlah masing-masing tenaga
kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Gambar 5.21 di bawah ini. Rincian jumlah
tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 5.17, sedangkan rasio dokter
umum, dokter gigi, perawat dan bidan terhadap jumlah puskesmas dapat dilihat pada
Lampiran 5.18.

GAMBAR 5.21
JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS
DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber : Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010

3. Tenaga Kesehat an dengan St at us Pegaw ai Ti dak Tet ap (PTT)
Tenaga kesehatan dengan status PTT terdiri dari dokter spesialis, dokter umum,
dokter gigi dan bidan. Sampai dengan tahun 2009 terdapat 30.403 tenaga kesehatan PTT
Pusat yang masih aktif bertugas di daerah dengan kriteria Biasa, Terpencil, dan Sangat
Terpencil dengan komposisi dokter spesialis sejumlah 47 orang, dokter umum sejumlah
3.518 orang, dokter gigi sejumlah 1.054 orang, dan bidan sejumlah 25.784 orang.
Dokter spesialis PTT sebagian besar tersebar di daerah dengan kriteria Terpencil,
yaitu sejumlah 29 orang, sedangkan untuk daerah dengan kriteria Biasa dan Sangat
Terpencil masing-masing sejumlah 9 orang. Dokter umum PTT dan dokter gigi PTT
sebagian besar tersebar di wilayah dengan kriteria sangat terpencil yaitu 1.898 orang
dokter umum dan 666 orang dokter gigi, sedangkan bidan PTT sebagian besar tersebar di
wilayah biasa sejumlah 16.104 orang.
Provinsi dengan jumlah keberadaan dokter spesialis PTT terbanyak adalah
Sumatera Utara sebanyak 8 orang dan Provinsi Kalimantan Timur sebanyak 7 orang.
Keberadaan dokter umum PTT terbanyak di Nusa Tenggara Timur sejumlah 301 orang,
diikuti oleh Sumatera Utara sejumlah 288 orang dan Aceh sejumlah 282 orang,
sedangkan dokter gigi PTT terbanyak bertugas di Nusa Tenggara Timur sejumlah 118
137

orang, diikuti oleh Aceh sebanyak 75 orang dan Sumatera Utara sejumlah 66 orang.
Bidan PTT terbanyak bertugas di Sumatera Utara, yaitu sejumlah 4.807 orang, diikuti
J awa Tengah sejumlah 4.395 orang dan J awa Timur 3.234 orang.
Gambar 5.22 menampilkan keadaan tenaga PTT di Indonesia tahun 2009. Data
selengkapnya mengenai distribusi tenaga kesehatan PTT di seluruh provinsi dapat dilihat
pada Lampiran 5.19, 5.20 dan 5.21.


GAMBAR 5.22
KEBERADAAN DOKTER UMUM PTT, DOKTER GIGI PTT DAN BIDAN PTT
DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes, 2010

Pada tahun 2009 telah diangkat tenaga kesehatan PTT untuk daerah dengan
kriteria Biasa, Terpencil, dan Sangat Terpencil sebanyak 16.797 orang, yang terdiri dari
dokter spesialis PTT sejumlah 35 orang, dokter umum PTT sejumlah 4.487 orang, dokter
gigi PTT sebanyak 1.269 orang dan bidan PTT sejumlah 11.006 orang. Adapun
pengangkatan dokter umum PTT dan dokter gigi PTT terbanyak berada di Provinsi
Maluku dengan jumlah 420 orang dan 155 orang dengan pengangkatan untuk daerah
terpencil adalah sejumlah 406 orang untuk dokter umum dan 153 orang untuk dokter gigi
diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan jumlah 373 dokter umum dan 149
dokter gigi.
Pengangkatan bidan PTT terbanyak berada di Provinsi Sumatera Utara sejumlah
1.598 orang dengan jumlah pengangkatan untuk daerah dengan kriteria Terpencil 806
orang dan 792 orang untuk daerah dengan kriteria Biasa diikuti provinsi kedua terbanyak
adalah J awa Timur sejumlah 1.179 orang dengan pengangkatan untuk daerah dengan
kriteria Terpencil 77 orang dan 1.102 orang untuk daerah dengan kriteria Biasa. Gambar
5.23 dan 5.24 menampilkan pengangkatan tenaga PTT di Indonesia tahun 2009. Data
selengkapnya mengenai pengangkatan tenaga kesehatan PTT di seluruh provinsi dapat
dilihat pada Lampiran 5.33, 5.34 dan 5.35.

138

GAMBAR 5.23
PENGANGKATAN DOKTER UMUM PTT DAN DOKTER GIGI PTT
DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes, 2010


GAMBAR 5.24
PENGANGKATAN BIDAN PTT DI INDONESIA TAHUN 2009


Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes, 2010


4. Fasi l i t as Pel at i han Kesehat an
Fasilitas unit pelatihan kesehatan merupakan komponen yang sangat penting dari
penunjang kegiatan pelatihan. Ketersediaan fasilitas juga menentukan performance
kinerja unit pelatihan kesehatan. Kapasitas asrama, kelas, aula dan ruang diskusi untuk
unit Pelatihan Kesehatan UPT Pusat, masih beragam (belum standar/sama) khususnya
untuk unit pelatihan kesehatan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK).
Kapasitas asrama yang terbesar di BBPK Ciloto (220), kapasitas kelas yang
terbanyak BBPK J akarta, (260 kursi), kapasitas aula yang terbesar BBPK Ciloto, (400
kursi), kapasitas ruang diskusi terbesar di BBPK Ciloto, (50 kursi). Tidak terlihat
139

perbedaan yang jelas antara Kapasitas yang dimiliki oleh BBPK dan Bapelkes UPT
Pusat, ternyata Bapelkes Lemah Abang dan Bapelkes Salaman mempunyai kapasitas
yang lebih besar daripada BBPK Makassar.
Variasi yang cukup tinggi terlihat pada unit pelatihan kesehatan UPT daerah
untuk seluruh fasilitas unit pelatihan kesehatan dengan kapasitas asrama diatas atau sama
dengan 100 tempat tidur ada sebanyak 87,5% dan unit pelatihan kesehatan dengan
kapasitas asrama kurang dari 100 tempat tidur sebanyak 12,5%.
Unit pelatihan kesehatan UPT daerah dengan kapasitas terkecil adalah Bapelkes
Palu. Sebagian besar (87,5%) unit pelatihan kesehatan sudah diakreditasi oleh Pusdiklat
SDM Kesehatan, hanya 3 (12,5%) yang tidak terakreditasi (Bapelkes J antho, Bapelkes
Provinsi Kalimantan Selatan, dan Bapelkes Provinsi Maluku).
Fasilitas sarana unit pelatihan kesehatan pada tahun 2009 sebagian besar
digunakan untuk kegiatan Kemenkes yaitu 69,76% (2298 kegiatan), swasta 20,86% (687
kegiatan), dan sisanya dipergunakan oleh institusi pemerintah non Kemenkes 9,38% (309
kegiatan). Dari pemanfaatan fasilitas tersebut, ternyata 68,11% (56,62% tahun 2008)
digunakan untuk kegiatan non pelatihan dan 31,89% (43,38% tahun 2008) digunakan
untuk kegiatan pelatihan. Sedangkan Seat Occupancy Rate (SOR) untuk kegiatan
pelatihan rata-rata 34,40% (30,74% tahun 2008) sedangkan non pelatihan 5,86% (3.78%
tahun 2008), dan Bed Occupancy Rate (BOR) 28,60% (28.24% tahun 2008).
Pemanfaatan Unit Pelatihan Kesehatan pada tahun 2009 sebagian besar 39,8%
dimanfaatkan sebagai tempat saja, tingkat libat 4 (tempat, pelatih, penyelenggara/oc dan
sc) sebanyak 26,5%. Sedangkan tingkat libat 5 (perancang pelatihan) hanya sebanyak
19,5%. Distribusi tingkat keterlibatan institusi diklat dalam kediklatan tahun 2009 dapat
dilihat pada Lampiran 5.23.
Distribusi tenaga Widyaiswara kesehatan sangat bervariasi mulai dari yang paling
sedikit yaitu 1 (satu) orang dan terbanyak 14 orang. Untuk unit pelatihan kesehatan UPT
pusat khususnya BBPK, jumlah Widyaiswara berkisar antara 6 sampai 14 orang.
Sedangkan unit pelatihan kesehatan UPT daerah, jumlah Widyaiswara berkisar antara 1
sampai 11 orang dengan rata-rata 5 orang.
Widyaiswara berdasarkan golongan kepangkatan jumlah terbanyak pada golongan
IVA (42 orang) dan tersedikit pada golongan IVE (3 orang). Berdasarkan kelompok
umur, jumlah terbanyak pada usia 51-60 tahun (86 orang), dan tersedikit di usia kurang
dari 40 tahun (16 orang). Diharapkan Widyaiswara unit pelatihan kesehatan banyak di
kelompok usia kurang dari 50 tahun. Berdasarkan pendidikan jumlah terbanyak di
kelompok pendidikan S2 (112 orang), tersedikit di S3 dan D-III masing-masing 2 orang.
Ternyata masih ada Widyaiswara yang berpendidikan D-III sebanyak 2 orang (3 orang di
tahun 2008).
J umlah tenaga yang bekerja pada sektor kesehatan yang terlatih di Unit Pelatihan
Kesehatan pada tahun 2009 adalah sebanyak 46.136 orang. J umlah peserta yang dilatih
selama tahun 2009 berdasarkan 5 jenis kategori pelatihan, berturut-turut mulai dari yang
terbanyak adalah pelatihan teknis kesehatan 50,64% (23.361 orang), pelatihan
manajemen 17,5% (7.867 orang), pelatihan prajabatan 13,29% (6.133 orang), pelatihan
fungsional 6,98% (3.222 orang), dan pelatihan penjenjangan 1,84% (851 orang). J ika
140

dilihat berdasarkan frekuensinya, datanya sama dengan berdasarkan jumlah peserta.
Distribusi Widyaiswara di setiap institusi diklat tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran
5.23.

C. PEMBI AYAAN KESEHATAN
Salah satu komponen sumber daya yang diperlukan dalam menjalankan
pembangunan kesehatan adalah pembiayaan kesehatan. Pembiayaan kesehatan
bersumber dari pemerintah dan pembiayaan yang bersumber dari masyarakat. Berikut ini
diuraikan anggaran kesehatan yang dialokasikan untuk Kementerian Kesehatan dan
anggaran yang disediakan untuk pembiayaan pemeliharaan kesehatan masyarakat.

1. Anggar an Kement er i an Kesehat an
Anggaran Kementerian Kesehatan dibagi berdasarkan program/kegiatan
kesehatan yang berjumlah 14 program/kegiatan, yang dikelompokkan dalam 4 kelompok
besar, yaitu program/kegiatan yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan preventif.
Program/kegiatan yang bersifat preventif antara lain penerapan kepemerintahan yang
baik, program obat dan perbekalan kesehatan, program pencegahan dan pemberantasan
penyakit, penelitian dan pengembangan kesehatan, program sumber daya kesehatan,
kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan dan program pendidikan kedinasan.
Program/kegiatan yang bersifat promotif yaitu promosi kesehatan dan pemberdayaan
masyarakat. Program/kegiatan yang bersifat kuratif yaitu program upaya kesehatan
perorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Sedangkan program/kegiatan yang bersifat
rehabilitatif yaitu perbaikan gizi masyarakat.
Kementerian Kesehatan pada tahun 2009 mengalokasikan anggaran sebesar Rp
20.535.418.220.000 dengan jumlah realisasi sebesar Rp 16.438.689.737.629 (80,05%).
Distribusi anggaran menurut program/kegiatan menunjukkan bahwa alokasi terbesar
untuk program yang bersifat kuratif dengan jumlah Rp 12.412.403.407.000 (60,44%),
sedangkan alokasi terkecil untuk program yang bersifat promotif sebesar Rp
117.494.400.000 (0,57%).
Realisasi anggaran tertinggi adalah program yang bersifat kuratif dengan jumlah
Rp 10.229.522.723.513 (62,23%), sedangkan realisasi terkecil untuk program yang
bersifat promotif sebesar Rp 86.003.491.006 (0,52%). Dalam kurun waktu 5 tahun
terakhir terdapat peningkatan alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan.
Pada Tahun 2005 Kementarian Kesehatan memiliki alokasi anggaran sebesar Rp 10,67
trilyun dengan realisasi Rp 6,52 trilyun (61,11%), jumlah tersebut meningkat pada tahun
2009 menjadi Rp 20,54 trilyun dengan realisasi Rp 16,44 trilyun (80,04%). Peningkatan
tersebut dijelaskan dalam Gambar 5.25 di bawah ini. Informasi selengkapnya tentang
alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan tahun 2009 terdapat pada
Lampiran 5.31.

141


GAMBAR 5.25
ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN
TAHUN 2005 – 2009

Sumber: Biro Keuangan dan Perlengkapan, Kemenkes, 2010

2. Pembi ayaan J ami nan Kesehat an Masyar ak at
Menurut data Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan,
sampai Juni tahun 2010 hanya 55,95% penduduk yang tercakup oleh jaminan
pembiayaan/asuransi kesehatan. Persentase penduduk yang memiliki jaminan pembiayaan
kesehatan oleh program Jaminan pembiayaan/asuransi disajikan pada Gambar 5.26 di bawah
ini menurut sumber pembiyaan sampai pertengahan tahun 2010. Data mengenai persentase
penduduk yang memiliki jaminan pembiayaan/asuransi kesehatan menurut provinsi sampai
tahun 2010 terdapat pada Lampiran 5.32.

GAMBAR 5.26
PERSENTASE PENDUDUK YANG DILINDUNGI JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT/
ASURANSI KESEHATAN DI INDONESIA PER JUNI 2010

Sumber : Pusat Pembiayaan dan J aminan Kesehatan, Kemenkes, 2010

142

Peserta J amkesmas mendapatkan pelayanan kesehatan komprehensif dan
berjenjang dari pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya hingga
pelayanan kesehatan rujukan di RS. Pada tahun 2009 terdapat 8.541 unit Puskesmas di
seluruh Indonesia yang melayani peserta J amkesmas. Untuk pelayanan kesehatan rujukan
tersedia 946 RS/Balai/Klinik yang persentase terbesarnya merupakan RS umum dan
khusus milik Pemerintah sebanyak 538 RS (57%), diikuti RS swasta umum dan khusus
304 RS (32%), 40 Balai Kesehatan (4%) dan 63 RS TNI/POLRI (7%). Secara
keseluruhan peserta J amkesmas dilayani oleh 9.541 PPK. Gambar 5.27 di bawah ini
menunjukkan persentase pemberi pelayanan kesehatan rujukan peserta J amkesmas tahun
2009.

GAMBAR 5.27
PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN PESERTA JAMKESMAS
TAHUN 2009

Sumber : Pusat Pembiayaan dan J aminan Kesehatan, Kemenkes, 2010


Dalam upaya meningkatkan keterjangkauan masyarakat miskin dan hampir
miskin terhadap pelayanan kesehatan, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan
beberapa pemerintah daerah telah memberikan jaminan pelayanan kesehatan secara gratis
di puskesmas dan kelas III di rumah sakit bagi peserta J aminan Kesehatan Masyarakat
(J amkesmas). J umlah penduduk yang ditanggung oleh program J amkesmas pada tahun
2009 sebanyak 76.400.000 jiwa.

***
144





ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) merupakan sebuah organisasi
geopolitik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang bertujuan untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan
negara-negara anggota, serta memajukan perdamaian di tingkat regional. Anggota ASEAN
ada 10 negara yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja (Cambodia), Laos
(Lao People's Democratic Republic), Malaysia, Myanmar, Singapura (Singapore), Thailand,
dan Vietnam.
Berdasarkan pengelompokan negara menurut WHO, Indonesia termasuk dalam
negara SEARO (South East Asia Region/SEARO) bersama 10 negara lainnya, yaitu
Bangladesh, Bhutan, Korea Utara (Democratic People's Republic of Korea), India, Maladewa
(Maldives), Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, dan Timor Leste.
Perbandingan antar negara, baik dengan negara-negara ASEAN maupun SEARO,
dilakukan untuk melihat posisi Indonesia terhadap negara-negara lain dalam kawasan yang
sama. Bab ini akan membahas perbandingan antara Indonesia dengan negara ASEAN dan
SEARO dari aspek yang berhubungan dengan kesehatan yaitu aspek kependudukan, derajat
kesehatan, dan upaya kesehatan.

A. KEPENDUDUKAN
Informasi tentang penduduk penting diketahui agar pembangunan dapat diarahkan
sesuai kebutuhan penduduk sebagai sasaran sekaligus pelaku pembangunan. Jumlah
penduduk yang besar dapat dipandang sebagai beban sekaligus juga modal dalam
pembangunan. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengetahui keadaan penduduk
145

yaitu jumlah penduduk, kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, angka beban
tanggungan, dan angka kelahiran.

1. J uml ah dan Kepadat an Penduduk
Menurut World Populations Data Sheet 2009, pada tahun 2009, Indonesia adalah
negara dengan penduduk terbanyak di antara negara anggota ASEAN lainnya dengan jumlah
penduduk 243,3 juta jiwa (data BPS menyatakan penduduk Indonesia tahun 2009 berjumlah
231,4 juta jiwa). Dengan wilayah negara terluas, Indonesia selalu menempati peringkat satu
negara dengan jumlah penduduk tertinggi di ASEAN. Sedangkan Brunei Darussalam
memiliki jumlah penduduk paling rendah yaitu sekitar 0,4 juta jiwa.
Jika di kawasan ASEAN, Indonesia menempati peringkat pertama dengan jumlah
penduduk terbesar, di kawasan SEARO Indonesia menempati peringkat kedua setelah India
(dengan jumlah penduduk 1.171 juta jiwa). Selain Bangladesh yang berpenduduk 162,2 juta
jiwa, 8 negara lainnya berpenduduk kurang dari 100 juta jiwa, bahkan terdapat 2 negara
dengan jumlah penduduk kurang dari 1 juta, yaitu Bhutan (0,7 juta), dan Maladewa (0,3 juta).
Jumlah penduduk di kawasan ASEAN dan SEARO dapat kita lihat pada Gambar 6.1.
GAMBAR 6.1
JUMLAH PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2009

Sumber: World Population Data Sheet, USAID, 2009
Bila dilihat berdasarkan kepadatan penduduk, Singapura tercatat sebagai negara yang
paling padat di kawasan ASEAN dengan kepadatan 7.486 penduduk per km
2
. Angka tersebut
146

jauh di atas negara anggota ASEAN lainnya. Sementara, negara dengan kepadatan penduduk
terendah adalah Laos dengan 27 penduduk per km
2
.
Di kawasan SEARO, Bangladesh memiliki kepadatan penduduk tertinggi dengan
1.127 jiwa per km
2
. Selanjutnya, walaupun memiliki jumlah penduduk terkecil, dengan luas
wilayah yang juga kecil, Maladewa merupakan negara dengan kepadatan penduduk tertinggi
kedua di wilayah SEARO, yaitu 1.057 jiwa per km
2
. Negara dengan kepadatan penduduk
terendah adalah Bhutan yaitu 15 jiwa per km
2
.
Kepadatan penduduk di Indonesia sebesar 128 jiwa per km
2
. Indonesia di kawasan ASEAN
berada pada peringkat ke lima terpadat. Sedangkan di kawasan SEARO, Indonesia
menempati peringkat ke delapan terpadat, atau peringkat ke empat untuk negara dengan
kepadatan paling rendah di antara 11 negara. Tingkat kepadatan penduduk negara-negara
ASEAN dan SEARO tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 6.2 di bawah ini.

GAMBAR 6.2
KEPADATAN PENDUDUK DI NEGARA ASEAN & SEARO (Jiwa per km
2
)
TAHUN 2009

Sumber: World Population Data Sheet, USAID, 2009

Secara nasional, kepadatan penduduk Indonesia menurut BPS tahun 2009 adalah 121
jiwa per km
2
.
2. Laj u Per t umbuhan Penduduk
147

Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah
penduduk di suatu wilayah atau negara di masa yang akan datang. Dengan diketahuinya
jumlah penduduk yang akan datang, diketahui pula kebutuhan dasar penduduk di segenap
bidang kehidupan termasuk di bidang kesehatan. Indikator tersebut biasa dikenal dengan laju
pertumbuhan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk dipengaruhi tiga faktor, yakni
kelahiran, kematian dan migrasi penduduk. Laju pertumbuhan penduduk di negara-negara
ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Gambar 6.3 di bawah ini.


GAMBAR 6.3
LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK PER TAHUN
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 1998 - 2008


Sumber: The State of The Worlds Children, 2010
Pada periode 1998-2008, laju pertumbuhan penduduk per tahun yang tertinggi di
antara negara anggota ASEAN adalah Brunei Darussalam dengan laju pertumbuhan
penduduk 2,1%, sedangkan Myanmar merupakan negara dengan laju pertumbuhan penduduk
paling rendah yaitu 0,8%.
Pada negara-negara SEARO selama periode yang sama, laju pertumbuhan penduduk
berkisar antara 0,6% hingga 2,9%. Laju pertumbuhan penduduk terendah pada Korea Utara
dan tertinggi di Timor Leste.
Laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah 1,3%. Di kawasan ASEAN, Indonesia
menduduki peringkat ke-3 terendah (bersama dengan Vietnam) untuk laju pertumbuhan
penduduk. Sedangkan bila dilihat dari kawasan SEARO, Indonesia menduduki peringkat ke-5
dengan laju pertumbuhan penduduk terendah dari 11 negara. Data kependudukan negara-
negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.1.
148



3. Penduduk Menur ut Kel ompok Umur
Salah satu indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu
negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang adalah Angka
Beban Tanggungan (dependency ratio). Semakin tinggi persentase dependency ratio
menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif
untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif (kelompok umur 0-14 tahun) dan
tidak produktif lagi (kelompok umur 65 tahun keatas).
Persentase penduduk menurut kelompok umur non produktif (kelompok umur 0-14
tahun dan kelompok umur 65 tahun keatas) untuk keadaan tahun 2009, Laos merupakan
negara yang terbesar untuk kelompok umur tersebut dibandingkan negara-negara lain di
kawasan ASEAN yaitu 43% dari total penduduk. Sebaliknya Singapura merupakan negara
dengan komposisi penduduk kelompok umur non produktif terendah yaitu 27%.
Di antara negara-negara di kawasan SEARO, Timor Leste adalah negara dengan
komposisi penduduk usia non produktif tertinggi yaitu 48%. Sebaliknya, negara dengan
penduduk non produktif terendah di kawasan tersebut adalah Thailand yaitu 29%, yang dapat
dilihat pada Gambar 6.4 di bawah ini.
GAMBAR 6.4
KOMPOSISI PENDUDUK YANG PRODUKTIF DAN NON PRODUKTIF
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2009

Sumber: World Population Data Sheet 2009, USAID
149

Dengan distribusi penduduk seperti yang telah digambarkan di atas, Laos merupakan
negara dengan Angka Beban Tanggungan tertinggi di kawasan ASEAN yaitu 75%.
Sedangkan Singapura merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu
37%.
Di kawasan SEARO, Timor Leste merupakan negara dengan Angka Beban
Tanggungan tertinggi yaitu 92% sedangkan Thailand merupakan negara dengan Angka
Beban Tanggungan terendah yaitu 41%.
Sementara Indonesia memiliki Angka Beban Tanggungan sebesar 54%. Ini berarti
setiap 100 penduduk usia produktif di Indonesia menanggung 54 penduduk yang belum
produktif dan yang dianggap tidak produktif lagi.
Komposisi penduduk menurut kelompok umur serta besar Angka Beban Tanggungan
di negara-negara kawasan ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6.1.
4. I ndek s Pembangunan Manusi a
Human Development Index (HDI) merupakan suatu ukuran gabungan tiga dimensi
tentang pembangunan manusia, yaitu panjang umur dan menjalani hidup sehat (diukur dari
usia harapan hidup), terdidik (diukur dari angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah) dan
memiliki standar hidup yang layak (diukur dari penghasilan/pengeluaran riil per kapita).
Berdasarkan standar internasional, Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
dikategorikan sebagai berikut: kategori sangat tinggi, jika IPM > 0,900; kategori tinggi, jika
IPM > 0,800 – 0,899; kategori sedang, jika IPM 0,500-0,799; dan kategori rendah, jika IPM
<0,500.
Menurut kategori tersebut di atas, pada tahun 2007 terdapat 2 (dua) negara anggota
ASEAN masuk dalam kategori sangat tinggi, yaitu Singapura dan Brunai Darussalam.
Malaysia masuk dalam kategori tinggi, sedangkan 7 negara anggota ASEAN lainnya,
termasuk Indonesia, berada pada kategori IPM sedang. Bila dilihat dari peringkat di negara
ASEAN pada tahun yang sama, Singapura merupakan negara dengan peringkat IPM tertinggi
yaitu pada peringkat ke-24 dari 182 negara di dunia, dan yang terendah adalah Myanmar
dengan peringkat ke-138; sedangkan Indonesia berada pada peringkat ke-111.
IPM Indonesia pada tahun 2007 sebesar 0,734, bila dibandingkan dengan tahun 2006
IPM Indonesia mengalami peningkatan (IPM 2006 adalah 0,729).


150




GAMBAR 6.5
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA-NEGARA
ASEAN & SEARO TAHUN 2007

















Sumber: Human Development Report 2009

Pada tahun 2007 di kawasan SEARO, dari 11 negara (Korea Utara tidak ada data),
tidak ada negara yang memiliki IPM dengan kategori sangat tinggi dan tinggi, 9 negara
memiliki IPM dengan kategori sedang, dan satu negara yaitu Timor Leste masuk dalam
kategori rendah. Data IPM negara-negara di kawasan ASEAN dan SEARO tahun 2006 -
2007 dapat dilihat pada Lampiran 6.2.


5. Tot al Fer t i l i t y Rat e
Angka Fertilitas Total atau Total Fertility Rate (TFR) merupakan gambaran mengenai
rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan dari usia 15 sampai 49 tahun.
Perbandingan angka TFR antar negara dapat menunjukkan keberhasilan negara dalam
melaksanakan pembangunan sosial ekonominya. Angka TFR yang tinggi merupakan
cerminan rata-rata usia kawin yang rendah, tingkat pendidikan yang rendah, terutama
perempuannya, tingkat sosial ekonomi rendah atau tingkat kemiskinan yang tinggi. Selain itu
tentu saja menunjukkan tingkat keberhasilan program keluarga berencana yang dilaksanakan
di negara tersebut.
151

Angka Fertilitas Total suatu negara dapat dipergunakan bagi para perencana program
pembangunan untuk meningkatkan rata-rata usia kawin, dan meningkatkan program
pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan ibu hamil dan perawatan anak.
Angka Fertilitas Total dapat diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan yaitu rendah,
sedang, dan tinggi (ADB, Key Indicators 2002). Kesuburan rendah terjadi ketika angka
kesuburan wanita 2,1 atau kurang; kesuburan sedang antara 2,2 - 3,9; dan kesuburan tinggi
jika angka kesuburan wanita 4 atau lebih.
Dengan menggunakan klasifikasi tersebut, maka pada tahun 2008 ada 4 negara yang
termasuk dalam kategori angka kesuburan wanita rendah, yaitu Singapura (1,3), Thailand
(1,8), serta Brunei Darussalam dan Vietnam (masing-masing 2,1). Sedangkan Indonesia
masuk dalam kategori sedang dengan angka kesuburan wanita 2,2 yang berarti untuk setiap
wanita di Indonesia rata-rata memiliki anak 2 sampai 3 orang selama masa suburnya.
Pada tahun 2008, diantara 11 negara SEARO, Thailand, Korea Utara dan Maladewa
termasuk negara dengan Angka Fertilitas Total berkategori rendah. 7 negara (Indonesia,
Myanmar, Sri Lanka, Bhutan, India, Bangladesh, dan Nepal) masuk dalam kategori sedang.
Sedangkan Timor Leste merupakan satu-satunya negara di SEARO yang masuk dalam
kategori tinggi yaitu sebesar 6,5. Besaran Angka Fertilitas Total di negara ASEAN dan
SEARO dapat dilihat pada Gambar 6.6 berikut ini.
GAMBAR 6.6
ANGKA KESUBURAN WANITA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2008
Layer 1


Sumber: World Population Data Sheet 2009, USAID
Data Angka Fertilitas Total di negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6.2.

152

6. Angk a Kel ahi r an Kasar
Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR) adalah angka yang menunjukkan
banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1.000 penduduk pada pertengahan tahun yang
sama.
Angka Kelahiran Kasar pada tahun 2008 di negara-negara ASEAN dengan kisaran 10
sampai 28 per 1.000 penduduk. Angka tertinggi terjadi di Laos dengan Angka Kelahiran
Kasar 28 per 1.000 penduduk dan diikuti oleh Filipina yaitu 26 per 1.000 penduduk.
Singapura memiliki Angka Kelahiran Kasar terendah yaitu 10 kelahiran per 1.000 penduduk.
Sedangkan Indonesia memiliki Angka Kelahiran Kasar sebesar 21 kelahiran untuk setiap
1.000 penduduk.
Pada tahun 2008, Angka Kelahiran Kasar di negara-negara SEARO berkisar antara 15
sampai 40 per 1.000 penduduk. Terendah di Thailand (15) dan Korea Utara (16) sedangkan
tertinggi di Timor Leste (40) dan Nepal (29).
Dengan 21 kelahiran per 1.000 penduduk, di kawasan ASEAN Indonesia menempati
peringkat ke-4 tertinggi, sedangkan di kawasan SEARO menempati peringkat ke-6 tertinggi
untuk Angka Kelahiran Kasar.
Gambar 6.7 memperlihatkan perbandingan Angka Kelahiran Kasar negara-negara
kawasan ASEAN dan SEARO. Data Angka Kelahiran Kasar di negara ASEAN dan SEARO
tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.2.

GAMBAR 6.7
ANGKA KELAHIRAN KASAR DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2008

153

Sumber: World Population Data Sheet 2009, USAID
7. Sosi al Ek onomi
Pendapatan Nasional merupakan salah satu indikator untuk mengukur pertumbuhan
ekonomi suatu negara. Pendapatan Nasional Bruto perkapita (Gross National Income) terdiri
atas sejumlah nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara, beserta pendapatan
yang diterima dari negara lain.
Pendapatan Nasional Bruto perkapita tertinggi di 2008 antara negara anggota ASEAN
adalah Brunei Darussalam (US$ 50.200 perkapita) diikuti oleh Singapura (US$ 47.940 per
kapita). Myanmar dan Kamboja merupakan negara dengan Pendapatan Nasional Bruto
perkapita terendah, yaitu masing-masing US$ 1.290 dan US$ 1.820. Sedangkan Indonesia
memiliki pendapatan nasional bruto perkapita sebesar US$ 3.830. Pendapatan Nasional Bruto
di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Gambar 6.8 di bawah ini.
GAMBAR 6.8
PENDAPATAN NASIONAL BRUTO DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO
TAHUN 2008

Sumber: World Population Data Sheet 2009, USAID

Dari sepuluh negara di SEARO (tidak ada data untuk Korea Utara), seluruhnya
memiliki Pendapatan Nasional Bruto perkapita kurang dari US$ 6.000. Negara dengan
pendapatan nasional bruto perkapita tertinggi adalah Thailand yaitu sebesar US$ 5.990, dan
terendah adalah Nepal dengan US$ 1.120. Jika dibandingkan dengan 19 negara di ASEAN
dan SEARO, Indonesia berada di peringkat ke-6 tertinggi pendapatan nasional bruto per
kapita.


154

B. DERAJ AT KESEHATAN
MORTALI TAS
1. Angk a Kemat i an Bayi
Angka kematian bayi diklasifikasikan menjadi empat kelompok yaitu rendah jika
AKB kurang dari 20; sedang 20-49; tinggi 50-99; dan sangat tinggi jika AKB di atas 100 per
1.000 kelahiran hidup.
GAMBAR 6.9
ANGKA KEMATIAN BAYI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2008











Sumber: World Population Data Sheet 2007, USAID


Sumber: World Health Statistics WHO, 2010
Gambar 6.9 menunjukkan bahwa pada tahun 2008, lima negara ASEAN yaitu
Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia,Vietnam dan Thailand termasuk negara dengan
Angka Kematian Bayi rendah. Tiga negara, yaitu Filipina, Indonesia dan Laos, termasuk
kelompok sedang, sementara 2 negara lainnya (Kamboja dan Myanmar) masuk dalam
kelompok negara yang memiliki Angka Kematian Bayi tinggi. Dari 10 negara anggota
ASEAN tidak ada yang masuk dalam kelompok angka kematian bayi sangat tinggi (>100 per
1.000 kelahiran hidup).
Berdasarkan klasifikasi yang sama maka 2 negara di SEARO, yaitu Sri Lanka dan
Thailand masuk dalam kategori negara dengan angka kematian bayi rendah dengan angka 13
per 1.000 kelahiran hidup. Lima Negara masuk kategori sedang dan selebihnya, yaitu 4
negara termasuk kategori tinggi.
155

Besaran Angka Kematian Bayi di negara-negara ASEAN dan SEARO berkisar antara
2 dan 75. Indonesia memiliki angka kematian bayi 31 per 1000 kelahiran hidup dan berada di
peringkat 9 di antara 18 negara tersebut. Data Angka Kematian Bayi di negara ASEAN dan
SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.2.

2. Angk a Kemat i an Bal i t a
Penurunan kasus kematian pada anak merupakan salah satu hal yang dianggap
penting dalam tujuan pembangunan milenium. Pada kasus kematian yang tinggi biasanya
jumlah kematian terbanyak terjadi pada usia balita saat mereka rentan terhadap penyakit.
Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 70% kematian balita disebabkan diare, pneumonia,
campak, malaria, dan malnutrisi.
GAMBAR 6.10
ANGKA KEMATIAN BALITA (PER 1.000 KELAHIRAN HIDUP)
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008

Sumber: World Health Statistics 2010
Data yang didapat dari “World Health Statistics 2010” memperlihatkan perbedaan
yang mencolok Angka Kematian Balita di antara negara-negara anggota ASEAN pada tahun
2008. Angka Kematian Balita terendah dicapai Singapura yaitu 3 kematian per 1.000
kelahiran hidup, sedangkan yang tertinggi adalah di .Myanmar yaitu sebesar 122 kematian
per 1.000 kelahiran hidup. Sebagian besar negara ASEAN memiliki Angka Kematian Balita
kurang dari 50 per 1.000 kelahiran hidup, hanya Myanmar, Kamboja, dan Laos yang
memiliki Angka Kematian Balita di atas 50 per 1.000 kelahiran hidup.
Menurut sumber yang sama, Angka Kematian Balita di SEARO berkisar antara 14
sampai 122 per 1.000 kelahiran hidup. Seperti di ASEAN, Myanmar merupakan negara
dengan Angka Kematian Balita tertinggi, sedangkan terendah adalah Thailand. Jika di
ASEAN hanya terdapat 3 negara (dari 10 negara) dengan AKABA lebih dari 50 per 1.000
kelahiran hidup, sebaliknya di SEARO hanya 4 negara dengan AKABA kurang dari 50.
156

Pada Gambar 6.10 terlihat bahwa negara-negara ASEAN memiliki Angka Kematian
Balita relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara SEARO. Telah
dipaparkan sebelumnya bahwa sebagian besar kematian balita disebabkan oleh diare,
pneumonia, dan malnutrisi. Hal itu berarti negara-negara ASEAN mungkin memiliki sanitasi
dan keadaan ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara-negara SEARO.
Pada tahun 2008, di Indonesia terdapat 41 kematian balita per 1.000 kelahiran hidup
(menurut SDKI 2007 AKABA Indonesia adalah 44). Di kawasan ASEAN, Indonesia
menempati peringkat ke-4 tertinggi kematian balitanya, sedangkan pada kawasan SEARO,
Indonesia menempati peringkat ke-4 terendah kematian balita per 1.000 kelahiran hidup.
Data Angka Kematian Balita di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada
Lampiran 6.2.

3. Angk a Kemat i an I bu
Berdasarkan klasifikasi Angka Kematian Ibu dari WHO adalah sebagai berikut; <15
per 100.000 kelahiran hidup; 15-199 per 100.000; 200-499 per 100.000; 500-999 per
100.000; dan ≥1.000 per 100.000.
GAMBAR 6.11
ANGKA KEMATIAN MATERNAL DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2005








Sumber: World Health Statistics 2009
Pada tahun 2005 hanya 2 negara ASEAN yaitu Brunei Darussalam dan Singapura
yang mencapai Angka Kematian Ibu <15 masing-masing 13 dan 14 per 100.000 kelahiran
hidup. Negara-negara dengan Angka Kematian Ibu > 500 di ASEAN ada 2 negara yaitu Laos
(660 per 100.000 kelahiran hidup) dan Kamboja (540 per 100.000 kelahiran hidup).
Pada tahun yang sama, negara-negara di SEARO tidak ada yang mencapai Angka
Kematian Ibu <15. Sekitar 55% memiliki Angka Kematian Ibu 200-499 per 100.000
157

kelahiran hidup. Dan 18% memiliki Angka Kematian Ibu >500, yaitu Nepal (830) dan
Bangladesh (570).
Di antara kedua kawasan tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-12 (dari 18
negara di ASEAN dan SEARO) untuk Angka Kematian Ibu yaitu 420 per 100.000 kelahiran
hidup. Data Angka Kematian Ibu di negara ASEAN dan SEARO tahun 2005 dapat dilihat
pada Lampiran 6.2.
Sementara, berdasarkan data SDKI 2007, Angka nasional untuk Angka Kematian Ibu
di Indonesia adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup.

4. Angk a Kemat i an Kasar
Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa
besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1.000 penduduk. Pada
umumnya penduduk tua mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan
penduduk yang masih muda. Jika tidak ada indikator kematian yang lain angka ini berguna
untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun
yang bersangkutan.
GAMBAR 6.12
ANGKA KEMATIAN KASAR (PER 1.000 PENDUDUK)
DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO TAHUN 2008

Sumber: World Population Data Sheet 2009, USAID
Di antara negara-negara anggota ASEAN, pada tahun 2008 Myanmar merupakan
negara dengan Angka Kematian Kasar atau Crude Death Rate (CDR) tertinggi, yakni sebesar
10 per 1.000 penduduk. Keadaan Angka Kematian Kasar di negara-negara kawasan SEARO,
tidak berbeda jauh dengan negara-negara di kawasan ASEAN. Korea Utara dan Myanmar
merupakan negara dengan Angka Kematian Kasar tertinggi yaitu 10 per 1.000 penduduk,
sementara terendah adalah Maladewa dengan 4 kematian per 1.000 penduduk.
158

Pada tahun 2008, di Indonesia terdapat 6 kematian per 1.000 penduduk. Di kawasan
ASEAN, Indonesia menduduki peringkat ke-5 tertinggi Angka Kematian Kasar sedangkan di
kawasan SEARO, Indonesia menduduki peringkat ke-2 terendah. Data Angka Kematian
Kasar di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.2.

5. Angk a Har apan Hi dup
Angka Harapan Hidup merupakan indikator untuk mengevaluasi kinerja pemerintah
dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat
kesehatan pada khususnya.
Gambar 6.13 memperlihatkan bahwa pada tahun 2008 di antara sepuluh negara
anggota ASEAN, Singapura merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir
(Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 81 tahun. Negara yang memiliki Angka
Harapan Hidup waktu lahir terendah adalah Myanmar yaitu 54 tahun.
GAMBAR 6.13
ANGKA HARAPAN HIDUP DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2008

Sumber: World Population Data Sheet 2009, USAID
Untuk kawasan SEARO, Maladewa merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu
lahir (Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 74 tahun. Negara yang memiliki umur
harapan hidup waktu lahir terendah adalah Myanmar yaitu 54 tahun.
Di kawasan ASEAN, Indonesia dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir 67 tahun
menempati peringkat ke-4 terendah, sedangkan di kawasan SEARO menempati peringkat ke-
4 tertinggi. Data Angka Harapan Hidup di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat
dilihat pada Lampiran 6.2.


159



MORBI DI TAS

1. Pr eval ensi Tuber k ul osi s (TBC)
Data dari “World Health Statistics 2010” menunjukkan besarnya perbedaan
prevalensi tuberkulosis per 100.000 penduduk dan kematian yang berhubungan dengan
tuberkulosis per 100.000 penduduk di negara-negara ASEAN dan SEARO. Angka prevalensi
tuberkulosis pada tahun 2008 di negara-negara anggota ASEAN berkisar antara 27 sampai
680 per 100.000 penduduk. Kamboja merupakan negara dengan prevalensi tuberkulosis
tertinggi di ASEAN yaitu 680 per 100.000 penduduk. Sedangkan Singapura dan Brunei
Darussalam memiliki prevalensi tuberkulosis di bawah 50 kasus per 100.000 penduduk yaitu
masing-masing 27 dan 43 kasus per 100.000 ribu penduduk.
Masih menurut sumber yang sama, kematian akibat tuberkulosis pada tahun 2008
tertinggi terjadi di Kamboja yaitu 79 per 100.000 penduduk. Sedangkan kasus kematian
akibat tuberkulosis terendah terjadi di Singapura dan Brunei Darussalam masing-masing 3
dan 4 kematian per 100.000 penduduk.
GAMBAR 6.14
PREVALENSI DAN KEMATIAN AKIBAT TUBERKULOSIS PER 100.000 PENDUDUK
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008

Sumber: World Health Statistics 2010
Seperti halnya negara-negara di ASEAN, angka prevalensi tuberkulosis pada tahun
2008 di negara-negara SEARO memiliki kesenjangan yang cukup besar, berkisar antara 13
sampai 660 per 100.000 penduduk. Negara dengan prevalensi tuberkulosis tertinggi tahun
2008 adalah Timor Leste (660 per 100.000 penduduk) dan terendah adalah Maladewa (13 per
100.000 penduduk).
160

Sedangkan kematian akibat tuberkulosis di negara-negara kawasan SEARO berkisar
antara 3 sampai 83 per 100.000 penduduk. Seperti angka prevalensi tuberkulosis, angka
kematian tertinggi akibat tuberkulosis juga terjadi di Timor Leste yaitu 83 kematian per
100.000 penduduk. Seperti halnya angka prevalensi, angka kematian akibat tuberkulosis yang
terendah juga di Maladewa (3 per 100.00 penduduk).
Di antara 18 negara di ASEAN dan SEARO, Indonesia dengan prevalensi 210 per
100.000 penduduk berada pada urutan ke-9 tertinggi yang dapat dilihat pada Lampiran 6.4.

2. Avi an I nf l uenza
Kemunculan strain virus influenza yang baru pada manusia (strain H5N1) pertama
kali terdeteksi di Hongkong. Akibatnya sebanyak 18 orang harus dirawat di rumah sakit, dan
6 diantaranya meninggal dunia. Ditemukan fakta pertama kali bahwa virus Avian Influenza
dapat menular langsung dari unggas ke manusia. Sebelum tahun 1997, ilmuwan meyakini
penularan virus influenza dari unggas ke manusia tidak terjadi secara langsung.
Avian Influenza pertama kali masuk ke wilayah ASEAN pada tahun 2003 melalui
Vietnam, 3 orang dinyatakan menderita penyakit tersebut dan seluruhnya meninggal. Sampai
dengan akhir tahun 2009, 6 negara di wilayah ASEAN telah terinfeksi Avian Influenza yaitu
Vietnam, Thailand, Indonesia, Laos, Myanmar dan Kamboja.
GAMBAR 6.15
JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2003-2009


161


Sumber: WHO, 2008
Gambar 6.15 memperlihatkan jumlah kasus dan kematian akibat Avian Influenza di
wilayah ASEAN sejak tahun 2003 sampai 2009. Kasus pertama kali menyerang Vietnam
dengan 3 korban yang keseluruhannya berakhir pada kematian. Tahun 2004 jumlah kasus
meningkat menjadi 46 dengan 32 kematian. Pada tahun tersebut selain Vietnam, Thailand
pun telah terinfeksi virus H5N1 ini. Akhir tahun 2005 jumlah penderita dan negara yang
terinfeksi Avian Influenza terus bertambah, 90 orang menjadi korban. Namun kali ini jumlah
kematian bisa ditekan, jika sebelumnya hampir 100% berakhir pada kematian, tahun 2005
dari 90 penderita 38 meninggal (42,22%). Semenjak itu jumlah kasus Avian Influenza terus
menurun, namun tidak demikian dengan angka kematiannya (CFR). Pada tahun 2008 terdapat
31 kasus dari 3 negara di ASEAN dengan 25 kematian (CFR = 80,65%). Tahun 2009, terjadi
peningkatan CFR menjadi 88,89% (27 kasus dengan 24 kematian).
TABEL 6.1
JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA
MENURUT NEGARA TAHUN 2003-2009
K M K M K M K M K M K M K M K M
Kamboja 0 0 0 0 4 4 2 2 1 1 1 0 1 0 9 7
Laos 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 2 2
Vietnam   3 3 29 20 61 19 0 0 8 5 6 5 5 5 112 57
Indonesia    0 0 0 0 20 13 55 45 42 37 24 20 21 19 162 134
Myanmar   0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0
Thailand   0 0 17 12 5 2 3 3 0 0 0 0 0 0 25 17
Bangladesh   0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0
ASEAN 3 3 46 32 90 38 60 50 54 45 31 25 27 24 311 217
SEARO 0 0 17 12 25 15 58 48 43 37 25 20 21 19 189 151
2008 Total 2009
NEGARA
2003 2004 2005 2006 2007

Sumber: http://www.who.int/csr/disease/avian_influenza/country/cases_table_2010_03_16/en/index.html
Ket.: K = Kasus M = Meninggal
Tabel 6.1 memperlihatkan bahwa selama 2 tahun terakhir, virus Avian Influenza
menyebar di 3 negara ASEAN, yaitu Kamboja, Vietnam dan Indonesia. Di 3 negara yang
pernah terjangkit virus ini (Laos, Myanmar dan Thailand) sudah tidak menunjukkan adanya
penemuan kasus.
162

Penyakit flu burung mulai menyerang manusia di kawasan SEARO pada tahun 2004,
yaitu di Thailand. Negara-negara di SEARO yang terjangkit flu burung sejak 2004 adalah
negara-negara yang juga tergabung dalam ASEAN. Negara-negara tersebut adalah Thailand
dan Indonesia.

3. POLI O
Beberapa penyakit dapat berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa. Namun, di
antara penyakit-penyakit tersebut terdapat penyakit yang dapat dicegah dengan melakukan
imunisasi, atau biasa disebut dengan PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi).
Penyakit-penyakit tersebut adalah Tuberkulosis, Hepatitis B, Difteri, Pertusis, Tetanus,
Tetanus Neonatorum, Campak, dan Polio.
TABEL 6.2
JUMLAH KASUS POLIO PER NEGARA
TAHUN 2004-2008
NEGARA 2004 2005 2006 2007 2008
Kamboja 0 1 1 0 0
Laos 1 0 0 0 0
Indonesia 0 349 2 0 0
Myanmar 0 0 1 15 0
Bangladesh 0 0 18 0 0
India 134 66 676 873 559
Nepal 0 4 5 5 6
ASEAN 1 350 4 15 0
SEARO 134 419 702 893 565

Sumber: WHO vaccine-preventable disease monitoring system, 2009 global summary
Sejak tahun 2001 kasus polio tidak ditemukan di negara-negara di ASEAN. Namun,
pada tahun 2004 virus polio liar kembali menyerang penduduk di kawasan ASEAN.
Dilaporkan terdapat 1 kasus ditemukan di Laos. Pada tahun 2005 jumlah kasus polio
mencapai puncaknya, sebanyak 350 penduduk dari 2 negara di ASEAN yaitu Kamboja dan
Indonesia terserang penyakit polio, 349 di antaranya terjadi di Indonesia. Tahun 2006
penularan penyakit polio mulai dapat dikendalikan, sehingga hanya ditemukan 4 penderita di
kawasan ini, 2 penderita berasal dari Indonesia dan masing-masing 1 penderita berasal dari
Kamboja dan Myanmar. Pada tahun 2007, di antara negara-negara anggota ASEAN, hanya
Myanmar yang masih ditemukan kasus polio bahkan jumlahnya meningkat dibandingkan
tahun sebelumnya yang hanya ditemukan 1 kasus menjadi 15 kasus. Indonesia yang pada
tahun 2005 terjadi kejadian luar biasa dengan ditemukannya 349 kasus polio mampu
mengendalikan kejadian tersebut sehingga pada sejak 2007 tidak ditemukan lagi kasus polio.
163

Pada tahun 2008, wilayah ASEAN sudah tidak ditemukan lagi kasus Polio. Namun, di
SEARO masih ditemukan sebanyak 565 kasus dari 2 negara, yaitu India dan Nepal. India
mengalami penurunan 36% dari tahun sebelumnya, sementara Nepal mengalami kenaikan
20%.
GAMBAR 6.16
JUMLAH KASUS POLIO DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2004-2008

Sumber: WHO vaccine-preventable disease monitoring system, 2009 global summary
Jika dibandingkan dengan kawasan ASEAN, jumlah seluruh kejadian polio di
kawasan SEARO cukup tinggi sejak tahun 2002 dan tahun-tahun sebelumnya. Semenjak
2004 sampai 2006 jumlah kasus lambat laun kembali meningkat. Tingginya angka kejadian
ini karena kontribusi jumlah kasus yang sangat besar oleh India yang merupakan salah satu
dari 4 negara endemis polio. Walau pada 2008 India telah berhasil menekan jumlah kasus
polio, namun 99% kasus di SEARO terjadi di India.

4. Tet anus Neonat or um
Kasus tetanus banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih
memiliki kondisi kesehatan lingkungan rendah. Data organisasi kesehatan dunia WHO
menunjukkan, kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi
dibanding negara maju. Tetanus adalah salah satu penyakit menular dan paling berisiko
mengakibatkan kematian.
Tetanus pada bayi, dikenal dengan istilah Tetanus Neonatorum, karena umumnya
terjadi pada bayi baru lahir atau usia di bawah satu bulan. Penyebabnya, spora Clostridium
tetani yang masuk melalui luka tali pusat, karena tindakan atau perawatan yang tidak
memenuhi syarat kebersihan.
164

Pada tahun 2008, Tetanus Neonatorum terjadi di 8 negara ASEAN, dengan jumlah
kasus tertinggi di Indonesia dan Filipina yang melebihi 100 orang. Akan tetapi jika
dibandingkan dengan jumlah penduduk, angka tertinggi kasus tetanus neonatorum terjadi di
Kamboja, sementara Indonesia justru berada di urutan ke-5. Thailand merupakan negara
dengan kasus terendah, baik dari jumlah kasus maupun jika dibandingkan dengan jumlah
penduduk. Di Singapura dan Brunei Darussalam dilaporkan tidak ada kasus Tetanus
Neonatorum.
Berdasarkan Vaccine-Preventable Disease Monitoring System 2009, tahun 2008 pada
kawasan SEARO jumlah kasus tetanus neonatorum yang terjadi di India jauh melebihi kasus
di negara lain di kawasan ASEAN, yaitu 811 kasus. Indonesia dan Bangladesh menempati
urutan kedua dan ketiga terbesar dengan masing-masing 183 dan 152 kasus. Sedangkan di
Bhutan, Korea Utara dan Maladewa dilaporkan tidak ada kasus tetanus neonatorum.
Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk, India tetap menjadi negara di urutan
pertama dengan angka 1.158,57. Jumlah kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan
imunisasi di negara-negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 secara lengkap dapat dilihat
pada Lampiran 6.6.

C. UPAYA KESEHATAN
1. Cak upan I muni sasi
Imunisasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah kematian
pada bayi dengan memberikan vaksin. Beberapa imunisasi yang wajib diberikan pada bayi
adalah imunisasi polio, BCG, dan campak. BCG seringkali digunakan sebagai cerminan
proporsi anak-anak yang dilindungi dari bentuk tuberkulosis yang parah selama 1 tahun
pertama hidupnya, dan juga digunakan sebagai salah satu indikator akses ke pelayanan
kesehatan.
Selain BCG, vaksin lain yang wajib diberikan pada bayi adalah polio. Imunisasi polio
merupakan imunisasi untuk mencegah penyakit polio. Tidak seperti imunisasi BCG atau
campak yang membutuhkan 1 dosis, imunisasi polio membutuhkan 3 dosis. Maka untuk
mengukur keberhasilan upaya kesehatan yang digunakan adalah polio3 yaitu ketika bayi telah
mendapatkan imunisasi polio sebanyak 3 dosis (3 kali).
Di antara penyakit pada anak-anak yang dapat dicegah dengan imunisasi, campak
adalah penyebab utama kematian anak. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan
faktor penting dalam mengurangi angka kematian balita. Dari 22 tujuan yang disepakati
dalam pertemuan dunia tentang anak, salah satunya adalah mempertahankan cakupan
imunisasi campak sebesar 90%. Di seluruh negara ASEAN dan SEARO, imunisasi campak
165

diberikan pada bayi usia 9-12 bulan dan merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada
bayi di antara imunisasi wajib lainnya (BCG, DPT, Polio, Hepatitis, dan Campak). Dengan
demikian, diasumsikan bayi yang mendapatkan imunisasi campak telah mendapatkan
imunisasi lengkap. Berarti besarnya cakupan imunisasi campak juga menggambarkan
besarnya cakupan bayi yang telah mendapat imunisasi lengkap.
Jika dibandingkan dengan imunisasi lainnya pada Gambar 6.17, cakupan imunisasi
BCG pada bayi umumnya lebih tinggi. Hal tersebut terjadi karena jadwal pemberian
imunisasi BCG yang relatif lebih awal dibandingkan dengan imunisasi yang lain—bahkan
beberapa negara memberikan imunisasi BCG sesaat setelah bayi dilahirkan—sehingga bayi
masih dalam pantauan petugas kesehatan. Pada tahun 2008 cakupan imunisasi BCG tertinggi
di antara negara anggota ASEAN dicapai Thailand dan Singapura 99% dan terendah Laos
68%.
Di kawasan SEARO, 7 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi BCG 90%.
Negara-negara tersebut adalah Thailand, Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, Maladewa,
Indonesia dan Sri Lanka. Sedangkan Timor Leste merupakan negara dengan cakupan
imunisasi BCG terendah yaitu 68%.
GAMBAR 6.17
CAKUPAN BEBERAPA IMUNISASI DI NEGARA-NEGARA
ASEAN & SEARO TAHUN 2008

Sumber : WHO Immunization Summary, 2010: A Statistical Reference Containing Data through 2008
Pada tahun 2008, 7 dari 10 negara anggota ASEAN telah mencapai target cakupan
imunisasi polio3 sebesar 90%. Cakupan tertinggi dicapai oleh Brunei Darussalam dan
Thailand yaitu 99% dan terendah adalah Laos yaitu 60%. Menurut sumber yang sama, 6 dari
166

11 negara di kawasan SEARO telah mencapai cakupan imunisasi polio3 sebesar 90%.
Cakupan imunisasi polio tertinggi adalah Thailand 99% dan terendah adalah India dengan
67%.
Pada tahun yang sama, 6 negara anggota ASEAN juga telah mencapai target
imunisasi campak yaitu 90%. Negara-negara tersebut adalah Brunei Darussalam, Filipina,
Malaysia, Singapura, Vietnam dan Thailand. Thailand merupakan negara dengan cakupan
imunisasi campak tertinggi yaitu 98%. Sedangkan yang terendah adalah Laos dengan
cakupan campak sebesar 52%. Cakupan imunisasi Campak di Indonesia 2008 sebesar 83%.
Di kawasan SEARO, 5 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi Campak 90%.
Negara-negara tersebut adalah Thailand, Bhutan, Korea Utara, Maladewa dan Sri Lanka.
Sedangkan India merupakan negara dengan cakupan imunisasi Campak terendah yaitu 70%.
Hampir di seluruh negara ASEAN dan SEARO imunisasi hepatitis merupakan
imunisasi dasar yang diberikan pada bayi, namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi
di India. Di India imunisasi hepatitis bukan merupakan imunisasi dasar, maka pada Lampiran
6.7 dapat dilihat hanya India yang merupakan negara dengan persentase rendah bayi yang
mendapat imunisasi hepatitis3, yaitu 21%. Sedangkan negara-negara lain telah mencapai
imunisasi tersebut di atas 60%, bahkan beberapa di antaranya telah melebihi 90%.
Sementara di Indonesia sebanyak 89% bayi telah mendapatkan imunisasi BCG, 77%
mendapatkan imunisasi polio3, dan 83% mendapatkan imunisasi campak. Cakupan 5
imunisasi dasar di ASEAN dan SEARO lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6.7.

2. Pengendal i an TB Par u
WHO telah menetapkan target untuk temuan kasus TB Paru melalui strategi DOTS
70% dan angka kesembuhan 85%. Sementara pencapaian secara global temuan kasus TB
Paru adalah 60% dan angka kesembuhan mencapai 84%. Hal tersebut berarti pencapaian
kedua indikator tersebut belum mencapai target walaupun untuk angka kesembuhan hampir
mencapai target.
Pada tahun 2008, 4 negara ASEAN telah mencapai target penemuan penderita yang
ditetapkan WHO yaitu 70%. Empat negara tersebut adalah Brunei Darussalam (87%),
Singapura (87%), Indonesia (80%), dan Malaysia (76%). Enam negara ASEAN lainnya
belum mencapai target penemuan penderita penyakit paru karena masih berkisar 43% - 67%.
167

Dari 11 negara-negara di kawasan SEARO hanya 6 negara yang sudah mencapai
target penemuan penderita Tuberkulosis. Negara dengan angka cakupan penemuan tertinggi
adalah Maladewa dengan 86%. Penemuan penderita tuberkulosis terendah terdapat di Timor
Leste dengan cakupan 33%.


GAMBAR 6.18
PENEMUAN PENDERITA TB PARU DI NEGARA ASEAN &
SEARO TAHUN 2008
GAMBAR 6.19
ANGKA KESEMBUHAN TB PARU DI NEGARA ASEAN &
SEARO TAHUN 2007





















Sumber: World Health Statistic 2010 Sumber: World Health Statistic 2010
Menurut sumber yang sama, pada tahun 2007 terdapat 6 negara di ASEAN dengan
angka kesembuhan mencapai target (85%). Indonesia termasuk salah satu negara yang
mencapai target untuk angka kesembuhan ini, yaitu 91%. Brunei, Malaysia, Singapura, dan
Thailand termasuk negara yang belum mencapai target penyembuhan penderita. Angka
kesembuhan tertinggi dicapai Kamboja dengan 94% dan terendah adalah Malaysia dengan
72%.
Pada Gambar 6.19 terlihat bahwa 7 negara di kawasan SEARO telah mencapai angka
penyembuhan penderita. Tertinggi dicapai Buthan dengan angka kesembuhan 93% dan
terendah adalah Bangladesh dengan angka kesembuhan 62%. Ada penurunan angka drastis
pada tahun ini. Bangladesh yang pada tahun 2006 memiliki angka kesembuhan tertinggi
(92%) turun menjadi negara dengan angka kesembuhan terendah (62%) di tahun 2007.
Sementara itu, dari Gambar 6.18 dan 6.19 terlihat bahwa Indonesia telah mencapai
target yang ditetapkan terhadap indikator case detection rate (angka penemuan penderita) dan
168

succes rate (angka kesembuhan). Bahkan untuk angka kesembuhan, Indonesia mencapai
angka tertinggi ke-2 di kawasan SEARO.

3. Sumber Ai r Ber si h dan Sani t asi
Pada tahun 2008, di antara 10 negara anggota ASEAN (Brunei Darussalam tidak ada
data), penduduk yang menggunakan sumber air bersih yang telah mencapai 80% atau lebih
sebanyak 6 negara. Hanya Kamboja, Laos dan Myanmar dengan persentase penduduk yang
memiliki akses terhadap air bersih kurang dari 80%. Persentase tertinggi dicapai Malaysia
dan Singapura yaitu 100% dan terendah Laos dengan 57%.
Pada tahun yang sama, di antara negara-negara di kawasan SEARO hampir seluruh
negara dengan penduduk yang menggunakan sumber air bersih 80% atau lebih, kecuali
Timor Leste dengan persentase sebesar 69%. Negara dengan persentase tertinggi adalah
Korea Utara yaitu 100%.
GAMBAR 6. 20
PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SUMBER AIR BERSIH DAN
SARANA SANITASI SEHAT DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008


Sumber: World Health Statistics 2010

Berdasarkan Gambar 6.20 di atas terlihat bahwa di antara negara-negara di ASEAN
dan SEARO terdapat perbedaan persentase yang besar antar negara dengan penduduk yang
menggunakan sarana sanitasi sehat tertinggi dan yang terendah dengan kisaran 29% dan
100%. Negara dengan cakupan 29% adalah Kamboja dan negara dengan cakupan 100%
adalah Singapura. Dibandingkan persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih,
169

maka persentase penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat relatif rendah, masih
terdapat 10 negara di kawasan ini dengan penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat
di bawah 80%. Persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih dan sarana
sanitasi sehat di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.3.

4. Pel ayanan Kesehat an I bu

Dari 10 anggota ASEAN (Brunei, Laos, Malaysia dan Singapura tidak ada data),
Indonesia merupakan negara dengan persentase pemeriksaan ibu hamil (K4) tertinggi yaitu
sebesar 81%. Sedangkan yang terendah tercatat di Kamboja yaitu sebesar 27%. Untuk
kawasan SEARO cakupan pemeriksaaan ibu hamil (K4) tertinggi dicapai oleh Korea Utara
yaitu sebesar 95%, diikuti oleh Maladewa (91%), dan yang terendah adalah Bangladesh
sebesar 21 %.

Cakupan pertolongan persalinan di negara-negara ASEAN bervariasi dengan cakupan
tertinggi di Negara Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia masing-masing sebesar
100% dan yang terendah di Laos dengan cakupan 20%. Indonesia dengan cakupan salinakes
73% berada pada peringkat ke-6 dari 10 negara. Untuk kawasan SEARO cakupan salinakes
tertinggi dicapai oleh Thailand dan Sri Lanka yaitu sebesar 99% dan yang terendah di
Bangladesh sebesar 18%.

Persentase peserta KB aktif pada wanita subur tahun 2009 di negara-negara anggota
ASEAN (Brunei Darussalam dan Malaysia tidak ada data) yang tertinggi dicapai oleh
Thailand dengan cakupan sebesar 70%, dan yang terendah di Kamboja sebesar 27%.
Indonesia dengan cakupan peserta KB aktif sebesar 57% berada pada peringkat ke-3 dari 10
negara ASEAN. Untuk negara-negara anggota SEARO cakupan peserta KB aktif tertinggi
dicapai oleh Thailand sebesar 70% dan yang terendah di Bangladesh sebesar 18%.


***
170






Badan Pusat Statistik. 2006. Estimasi Parameter Demografi SUPAS 2005. BPS, J akarta.

___________. 2006. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2005. BPS, J akarta.

___________. 2007. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2006. BPS, J akarta.

___________. 2008. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2007. BPS, J akarta.

___________. 2009. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2008. BPS, J akarta.

___________. 2005. Beberapa Indikator Penting Sosial-Ekonomi Indonesia 2005. BPS,
J akarta.

___________. 2007. Beberapa Indikator Penting mengenai Indonesia. BPS, J akarta.

___________. 2010. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.
BPS, J akarta.

___________. 2010. Analisis Dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan 2010. BPS, J akarta.

___________. 2004. Statistik Indonesia 2003. BPS, J akarta.

___________. 2005. Statistik Indonesia 2004. BPS, J akarta.

___________. 2006. Statistik Indonesia 2005/2006. BPS, J akarta.

___________. 2007. Statistik Indonesia 2007. BPS, J akarta.

___________. 2004. Statistik Kesehatan 2004. BPS, J akarta.

___________. 2008.. Pedoman Millenium Development Goals. BPS, J akarta.

___________. 2008.. Press Release BPS 2008: Jumlah Kemiskinan. www.bps.go.id, J akarta.

___________. 2010.. Berita Resmi Statistik, BPS, No. 45/07/Th. XIII, 1 J uli 2010.

___________. 2010.. Data Strategis BPS, BPS, J akarta.

___________. 2010.. Hasil Sensus Penduduk 2010, Data Agregat Per Provinsi, BPS, J akarta.
DAFTAR PUSTAKA
171


Badan Pusat Statistik (BPS) dan Macro International, 1998. Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 1997. Calverton, Maryland, USA.

___________. 2003. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003.
Calverton, Maryland, USA.

___________. 2008. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. Macro.
Calverton, Maryland, USA.

Badan Pusat Statistik, BAPPENAS, UNFPA. 2005. Proyeksi Penduduk Indonesia (Indonesia
Population Projection 2000 - 2025). BPS, J akarta.

Kementerian Dalam Negeri. 2010. Kode Dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
2010. Depdagri, J akarta. www.depdagri.goid

Kementerian Kesehatan. 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008, Departemen Kesehatan RI,
J akarta.

___________. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar, RISKESDAS Indonesia Tahun
2007. Depkes, J akarta.

___________. 2008. Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
2008. Depkes, J akarta.

___________. 2008. Profil Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan 2007.
Depkes, J akarta.

___________.2008. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) KIA, Departemen Kesehatan RI,
J akarta.

___________. 2006. Profil Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumberdaya Manusia
Kesehatan 2005. Depkes, J akarta.

___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 1: Kegiatan Pelayanan.
Depkes, J akarta.

___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 2: Ketenagaan. Depkes, J akarta.

___________. 2006.Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 3:Morbiditas/Mortalitas.
Depkes, J akarta.

___________. 2006. Profil Pendidikan Tenaga Kesehatan Tahun 2006. Pusdiknakes, Depkes
RI, J akarta.

172

___________. 2005. Publikasi Hasil Analisis Data Survei Kesehatan Nasional 2004. Badan
Litbangkes, Depkes RI, J akarta.

___________.2005. Pencegahan dan Pemberantasan DBD di Indonesia, Dirjen PPPL
Departemen Kesehatan RI, J akarta.

___________.2000. Indonesia Sehat 2010, Departemen Kesehatan RI, J akarta.

___________.1996. Publikasi Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995. Badan
Litbangkes, J akarta.

Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2010. Strategi Nasional
Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal 2004-2009. J akarta.

USAID, 2008. The World Population Data Sheet. Population Reference Bureau.

The United Nations Development Programme. 2008. Human Development Report
2007/2008. UNDP, New York.

UNAIDS. 2008. 2008 Report on The Global AIDS Epidemic. UNAIDS/WHO.

UNICEF. 2008. The State of the World’s Children 2008. UNICEF/WHO, New York.

___________. 2009. The State of the World’s Children 2009. UNICEF/WHO, New York.

___________. 2008. Incidence Series Immunization 2007. UNICEF/WHO, New York.

___________. 2008. Immunization Summary: The 2007 Edition. UNICEF/WHO, New York.

WHO. 2008. World Health Statistics 2007. WHO Press, Geneva.

___________. World Health Statistics 2008. WHO Press, Geneva.

___________. 2008. WHO Vaccine – Preventable Diseases, Monitoring System. WHO, New
York.


***
Lampiran 2.1
Kabupaten Kota Kabupaten + Kota Kecamatan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 18 5 23 275 6,420
2 Sumatera Utara 25 8 33 408 5,649
3 Sumatera Barat 12 7 19 169 964
4 Riau 10 2 12 153 1,500
5 J ambi 9 2 11 128 1,319
6 Sumatera Selatan 11 4 15 217 2,869
7 Bengkulu 9 1 10 116 1,442
8 Lampung 12 2 14 206 2,358
9 Kepulauan Bangka Belitung 6 1 7 43 361
10 Kepulauan Riau 5 2 7 59 331
11 DKI J akarta 1 5 6 44 267
12 J awa Barat 17 9 26 625 5,827
13 J awa Tengah 29 6 35 573 8,577
14 DI Yogyakarta 4 1 5 78 438
15 J awa Timur 29 9 38 662 8,502
16 Banten 4 4 8 154 1,530
17 Bali 8 1 9 57 698
18 Nusa Tenggara Barat 8 2 10 116 913
19 Nusa Tenggara Timur 20 1 21 286 2,775
20 Kalimantan Barat 12 2 14 175 1,777
21 Kalimantan Tengah 13 1 14 120 1,439
22 Kalimantan Selatan 11 2 13 151 1,973
23 Kalimantan Timur 10 4 14 136 1,404
24 Sulawesi Utara 11 4 15 150 1,510
25 Sulawesi Tengah 10 1 11 147 1,712
26 Sulawesi Selatan 21 3 24 301 2,874
27 Sulawesi Tenggara 10 2 12 199 1,825
28 Gorontalo 5 1 6 65 595
29 Sulawesi Barat 5 0 5 66 564
30 Maluku 9 2 11 76 898
31 Maluku Utara 7 2 9 109 1,041
32 Papua Barat 10 1 11 149 1,291
33 Papua 28 1 29 330 3,583
399 98 497 6,543 75,226
Sumber: Kementerian Dalam Negeri, 2010
Kelurahan + Desa
(7)
PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
Indonesia
No Provinsi
Pembagian Wilayah
Lampiran 2.2
No Provinsi Laki-Laki Perempuan Laki-Laki dan Perempuan Rasio Jenis Kelamin
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh
2,243,578 2,242,992 4,486,570 100
2 Sumatera Utara
6,479,051 6,506,024 12,985,075 100
3 Sumatera Barat
2,404,472 2,441,526 4,845,998 98
4 Riau
2,854,989 2,688,042 5,543,031 106
5 J ambi
1,578,338 1,510,280 3,088,618 105
6 Sumatera Selatan
3,789,109 3,657,292 7,446,401 104
7 Bengkulu
875,663 837,730 1,713,393 105
8 Lampung
3,905,366 3,690,749 7,596,115 106
9 Kepulauan Bangka Belitung
634,783 588,265 1,223,048 108
10 Kepulauan Riau
864,333 821,365 1,685,698 105
11 DKI J akarta
4,859,272 4,728,926 9,588,198 103
12 J awa Barat
21,876,572 21,145,254 43,021,826 103
13 J awa Tengah
16,081,140 16,299,547 32,380,687 99
14 DI Yogyakarta
1,705,404 1,746,986 3,452,390 98
15 J awa Timur
18,488,290 18,987,721 37,476,011 97
16 Banten
5,440,783 5,203,247 10,644,030 105
17 Bali
1,961,170 1,930,258 3,891,428 102
18 Nusa Tenggara Barat
2,180,168 2,316,687 4,496,855 94
19 Nusa Tenggara Timur
2,323,534 2,355,782 4,679,316 99
20 Kalimantan Barat
2,243,740 2,149,499 4,393,239 104
21 Kalimantan Tengah
1,147,878 1,054,721 2,202,599 109
22 Kalimantan Selatan
1,834,928 1,791,191 3,626,119 102
23 Kalimantan Timur
1,868,196 1,682,390 3,550,586 111
24 Sulawesi Utara
1,157,559 1,108,378 2,265,937 104
25 Sulawesi Tengah
1,349,225 1,284,195 2,633,420 105
26 Sulawesi Selatan
3,921,543 4,111,008 8,032,551 95
27 Sulawesi Tenggara
1,120,225 1,110,344 2,230,569 101
28 Gorontalo
520,885 517,700 1,038,585 101
29 Sulawesi Barat
581,284 577,052 1,158,336 101
30 Maluku
773,585 757,817 1,531,402 102
31 Maluku Utara
529,645 505,833 1,035,478 105
32 Papua Barat
402,587 358,268 760,855 112
33 Papua
1,510,285 1,341,714 2,851,999 113
119,507,580 118,048,783 237,556,363 101
Sumber: Sensus Penduduk 2010, BPS
Indonesia
HASIL SENSUS PENDUDUK 2010 DAN RASIO JENIS KELAMIN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2010
Lampiran 2.3
(1) (2)
(4)
(7)
1 Aceh 57,956.00 2,171,369 2,192,110 4,363,479 99 75 1.17
2 Sumatera Utara 72,981.23 6,594,082 6,654,309 13,248,391 99 182 1.45
3 Sumatera Barat 42,012.89 2,380,755 2,447,223 4,827,978 97 115 1.43
4 Riau 87,023.66 2,794,607 2,511,925 5,306,532 111 61 3.46
5 J ambi 50,058.16 1,444,753 1,389,412 2,834,165 104 57 1.83
6 Sumatera Selatan 91,592.43 3,650,602 3,572,035 7,222,637 102 79 1.69
7 Bengkulu 19,919.33 847,246 819,670 1,666,916 103 84 1.52
8 Lampung 34,623.80 3,819,463 3,672,485 7,491,948 104 216 1.20
9 Kepulauan Bangka Belitung 16,424.06 600,438 537,695 1,138,133 112 69 2.64
10 Kepulauan Riau 8,201.72 737,759 777,539 1,515,298 95 185 4.27
11 DKI J akarta 664.01 4,520,075 4,702,934 9,223,009 96 13,890 1.10
12 J awa Barat 35,377.76 20,926,688 20,574,877 41,501,565 102 1,173 1.68
13 J awa Tengah 32,800.69 16,316,924 16,547,646 32,864,570 99 1,002 0.57
14 DI Yogyakarta 3,133.15 1,759,886 1,741,987 3,501,873 101 1,118 1.29
15 J awa Timur 47,799.75 18,491,980 18,794,266 37,286,246 98 780 0.79
16 Banten 9,662.92 4,939,056 4,843,725 9,782,781 102 1,012 2.12
17 Bali 5,780.06 1,792,353 1,758,659 3,551,012 102 614 1.34
18 Nusa Tenggara Barat 18,572.32 2,120,090 2,313,930 4,434,020 92 239 1.13
19 Nusa Tenggara Timur 48,718.10 2,298,945 2,320,716 4,619,661 99 95 2.13
20 Kalimantan Barat 147,307.00 2,181,554 2,137,588 4,319,142 102 29 0.81
21 Kalimantan Tengah 153,564.50 1,087,617 998,199 2,085,816 109 14 1.31
22 Kalimantan Selatan 38,744.23 1,753,149 1,742,983 3,496,132 101 90 1.78
23 Kalimantan Timur 204,534.34 1,654,268 1,510,531 3,164,799 110 15 2.88
24 Sulawesi Utara 13,851.64 1,135,202 1,093,661 2,228,863 104 161 1.21
25 Sulawesi Tengah 61,841.29 1,262,695 1,217,572 2,480,267 104 40 1.46
26 Sulawesi Selatan 46,717.48 3,814,177 4,094,350 7,908,527 93 169 1.11
27 Sulawesi Tenggara 38,067.70 1,045,510 1,072,788 2,118,298 97 56 1.70
28 Gorontalo 11,257.07 497,584 486,372 983,956 102 87 1.86
29 Sulawesi Barat 16,787.18 530,018 517,725 1,047,743 102 62 1.80
30 Maluku 46,914.03 678,496 661,006 1,339,502 103 29 1.55
31 Maluku Utara 31,982.50 493,415 481,579 974,994 102 30 2.01
32 Papua Barat 97,024.27 389,989 353,868 743,857 110 8 3.43
33 Papua 319,036.05 1,087,200 1,010,282 2,097,482 108 7 2.60
115,817,945 115,551,647 231,369,592 100 121 1.35
Sumber: (a) http://www.depdagri.go.id
(b) Badan Pusat Statistik: Estimasi Penduduk Sasaran Program Kesehatan, dari "Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2007 - 2011", Depkes RI, 2009.
Indonesia
(3)
(8)
Jumlah Penduduk (Jiwa) [b]
(5) (6)
Luas
Wilayah
(Km²) (a)
Kepadatan
Penduduk
Per Km²
Sex Ratio
1,910,931.32
LUAS WILAYAH, JUMLAH PENDUDUK DAN KEPADATAN PENDUDUK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
Laju Pertumbuhan
Penduduk Tahun
2008-2009
(9)
No Provinsi
Laki-laki Perempuan Total
Lampiran 2.4
1971-1980 1980-1990 1990-2000 2000-2010
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 2.93 2.72 1.46 1.35
2 Sumatera Utara 2.60 2.06 1.32 1.11
3 Sumatera Barat 2.21 1.62 0.63 1.34
4 Riau 3.11 4.30 4.35 3.59
5 J ambi 4.07 3.40 1.84 2.55
6 Sumatera Selatan 3.32 3.15 2.39 1.85
7 Bengkulu 4.39 4.38 2.97 1.66
8 Lampung 5.77 2.67 1.17 1.23
9 Kepulauan Bangka Belitung - - 0.97 3.14
10 Kepulauan Riau - - - 4.99
11 DKI J akarta 3.93 2.42 0.17 1.39
12 J awa Barat 2.66 2.57 2.03 1.89
13 J awa Tengah 1.64 1.18 0.94 0.37
14 DI Yogyakarta 1.10 0.57 0.72 1.02
15 J awa Timur 1.49 1.08 0.70 0.76
16 Banten - - 3.21 2.79
17 Bali 1.69 1.18 1.31 2.15
18 Nusa Tenggara Barat 2.36 2.15 1.82 1.17
19 Nusa Tenggara Timur 1.95 1.79 1.64 2.06
20 Kalimantan Barat 2.31 2.65 2.29 0.91
21 Kalimantan Tengah 3.43 3.88 2.99 1.74
22 Kalimantan Selatan 2.16 2.32 1.45 1.98
23 Kalimantan Timur 5.73 4.42 2.81 3.80
24 Sulawesi Utara 2.31 1.60 1.33 1.26
25 Sulawesi Tengah 3.86 2.87 2.57 1.94
26 Sulawesi Selatan 1.74 1.42 1.49 1.17
27 Sulawesi Tenggara 3.09 3.66 3.15 2.07
28 Gorontalo - - 1.59 2.24
29 Sulawesi Barat - - - 2.67
30 Maluku 2.88 2.79 0.08 2.78
31 Maluku Utara - - 0.48 2.44
32 Papua Barat - - - 3.72
33 Papua 2.67 3.46 3.22 5.46
2.31 1.98 1.49 1.49
Sumber : Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, 2000, Sensus Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995 dan Sensus Penduduk 2010
LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK
MENURUT PROVINSI TAHUN 1971 - 2010
Indonesia
Laju Pertumbuhan Penduduk
Provinsi No
Lampiran 2.5
Angka Beban
0-14 15-64 65+ 0-14 15-64 65+ 0-14 15-64 65+ Tanggungan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15)
1 Aceh 678,602 1,410,898 81,869 2,171,369 655,199 1,434,504 102,407 2,192,110 1,333,801 2,845,402 184,276 4,363,479 53.35
2 Sumatera Utara 2,115,500 4,245,001 233,581 6,594,082 2,048,201 4,318,503 287,605 6,654,309 4,163,701 8,563,504 521,186 13,248,391 54.71
3 Sumatera Barat 740,699 1,527,705 112,351 2,380,755 711,101 1,582,998 153,124 2,447,223 1,451,800 3,110,703 265,475 4,827,978 55.21
4 Riau 888,900 1,836,200 69,507 2,794,607 789,001 1,660,598 62,326 2,511,925 1,677,901 3,496,798 131,833 5,306,532 51.75
5 J ambi 426,902 968,901 48,950 1,444,753 410,200 930,599 48,613 1,389,412 837,102 1,899,500 97,563 2,834,165 49.21
6 Sumatera Selatan 1,111,501 2,411,901 127,200 3,650,602 1,057,101 2,374,500 140,434 3,572,035 2,168,602 4,786,401 267,634 7,222,637 50.90
7 Bengkulu 250,900 566,302 30,044 847,246 238,499 551,801 29,370 819,670 489,399 1,118,103 59,414 1,666,916 49.08
8 Lampung 1,090,601 2,568,801 160,061 3,819,463 1,061,399 2,451,703 159,383 3,672,485 2,152,000 5,020,504 319,444 7,491,948 49.23
9 Kepulauan Bangka Belitung 162,900 412,601 24,937 600,438 148,400 366,801 22,494 537,695 311,300 779,402 47,431 1,138,133 46.03
10 Kepulauan Riau 233,499 486,900 17,360 737,759 233,700 525,907 17,932 777,539 467,199 1,012,807 35,292 1,515,298 49.61
11 DKI J akarta 1,106,500 3,264,701 148,874 4,520,075 1,085,800 3,454,499 162,635 4,702,934 2,192,300 6,719,200 311,509 9,223,009 37.26
12 J awa Barat 5,797,601 14,158,499 970,588 20,926,688 5,591,400 13,969,299 1,014,178 20,574,877 11,389,001 28,127,798 1,984,766 41,501,565 47.55
13 J awa Tengah 4,205,502 11,083,400 1,028,022 16,316,924 4,018,402 11,221,203 1,308,041 16,547,646 8,223,904 22,304,603 2,336,063 32,864,570 47.34
14 DI Yogyakarta 325,800 1,292,501 141,585 1,759,886 308,601 1,251,503 181,883 1,741,987 634,401 2,544,004 323,468 3,501,873 37.65
15 J awa Timur 4,062,801 13,260,100 1,169,079 18,491,980 3,876,301 13,397,498 1,520,467 18,794,266 7,939,102 26,657,598 2,689,546 37,286,246 39.87
16 Banten 1,508,501 3,273,901 156,654 4,939,056 1,459,301 3,219,000 165,424 4,843,725 2,967,802 6,492,901 322,078 9,782,781 50.67
17 Bali 423,801 1,260,301 108,251 1,792,353 403002 1,229,300 126,357 1,758,659 826,803 2,489,601 234,608 3,551,012 42.63
18 Nusa Tenggara Barat 693,201 1,347,901 78,988 2,120,090 692,002 1,527,205 94,723 2,313,930 1,385,203 2,875,106 173,711 4,434,020 54.22
19 Nusa Tenggara Timur 772,400 1,425,504 101,041 2,298,945 735,301 1,471,799 113,616 2,320,716 1,507,701 2,897,303 214,657 4,619,661 59.45
20 Kalimantan Barat 672,200 1,433,402 75,952 2,181,554 657,200 1,405,199 75,189 2,137,588 1,329,400 2,838,601 151,141 4,319,142 52.16
21 Kalimantan Tengah 318,498 738,001 31,118 1,087,617 299,499 669,801 28,899 998,199 617,997 1,407,802 60,017 2,085,816 48.16
22 Kalimantan Selatan 489,501 1,203,203 60,445 1,753,149 468,999 1,197,902 76,082 1,742,983 958,500 2,401,105 136,527 3,496,132 45.61
23 Kalimantan Timur 462,000 1,149,702 42,566 1,654,268 442,802 1,028,298 39,431 1,510,531 904,802 2,178,000 81,997 3,164,799 45.31
24 Sulawesi Utara 275,200 801,202 58,800 1,135,202 262,503 760,801 70,357 1,093,661 537,703 1,562,003 129,157 2,228,863 42.69
25 Sulawesi Tengah 370,299 848,104 44,292 1,262,695 359,600 815,599 42,373 1,217,572 729,899 1,663,703 86,665 2,480,267 49.08
26 Sulawesi Selatan 1,138,101 2,507,806 168,270 3,814,177 1,122,201 2,748,100 224,049 4,094,350 2,260,302 5,255,906 392,319 7,908,527 50.47
27 Sulawesi Tenggara 352,199 660,700 32,611 1,045,510 352,301 683,998 36,489 1,072,788 704,500 1,344,698 69,100 2,118,298 57.53
28 Gorontalo 146,299 333,603 17,682 497,584 137,602 327,701 21,069 486,372 283,901 661,304 38,751 983,956 48.79
29 Sulawesi Barat 156,699 350,201 23,118 530,018 141,801 348,302 27,622 517,725 298,500 698,503 50,740 1,047,743 50.00
30 Maluku 220,400 432,301 25,795 678,496 210,600 422,600 27,806 661,006 431,000 854,901 53,601 1,339,502 56.69
31 Maluku Utara 162,003 317,298 14,114 493,415 156,799 308,503 16,277 481,579 318,802 625,801 30,391 974,994 55.80
32 Papua Barat 118,799 264,098 7,092 389,989 112,400 237,201 4,267 353,868 231,199 501,299 11,359 743,857 48.39
33 Papua 331,799 734,500 20,901 1,087,200 316,401 679,600 14,281 1,010,282 648,200 1,414,100 35,182 2,097,482 48.33
31,810,108 78,576,139 5,431,698 115,817,945 30,563,619 78,572,825 6,415,203 115,551,647 62,373,727 157,148,964 11,846,901 231,369,592 47.23
Sumber: Badan Pusat Statistik: Estimasi Penduduk Sasaran ProgramKesehatan, dari "Data Penduduk Sasaran ProgramPembangunan Kesehatan 2007 - 2011", Kemenkes RI, 2009.
Perempuan Laki-laki + Perempuan
Kelompok Umur (Tahun)
Jumlah
Kelompok Umur (Tahun)
Jumlah
Kelompok Umur
Jumlah
Indonesia
JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN, KELOMPOK UMUR TERTENTU, ANGKA BEBAN TANGGUNGAN
DAN PROVINSI TAHUN 2009
No Provinsi
Laki-laki
Lampiran 2.6
Jumlah
Kab/Kota
Kabupaten
Tertinggal
(%)
Jumlah
Kab/Kota
Kabupaten
Tertinggal
(%)
Jumlah
Kab/Kota
Kabupaten
Tertinggal
(%)
Jumlah
Kab/Kota
Kabupaten
Tertinggal
(%)
Jumlah
Kab/Kota
Kabupaten
Tertinggal
(%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Aceh 21 16 76.19 23 16 69.57 23 16 69.57 23 16 69.57 23 12 52.17
2 Sumatera Utara 25 6 24.00 28 6 21.43 33 6 18.18 33 6 18.18 33 6 18.18
3 Sumatera Barat 19 9 47.37 19 9 47.37 19 9 47.37 19 9 47.37 19 8 42.11
4 Riau 11 2 18.18 11 2 18.18 11 2 18.18 12 2 16.67 12 0 0.00
5 J ambi 10 2 20.00 10 2 20.00 11 2 18.18 11 2 18.18 11 0 0.00
6 Sumatera Selatan 14 6 42.86 15 6 40.00 15 6 40.00 15 6 40.00 15 7 46.67
7 Bengkulu 9 8 88.89 9 8 88.89 10 8 80.00 10 8 80.00 10 6 60.00
8 Lampung 10 5 50.00 11 5 45.45 14 5 35.71 14 5 35.71 14 4 28.57
9 Kepulauan Bangka Belitung 7 3 42.86 7 3 42.86 7 3 42.86 7 3 42.86 7 1 14.29
10 Kepulauan Riau 6 1 16.67 6 1 16.67 7 1 14.29 7 1 14.29 7 2 28.57
11 DKI J akarta 6 0 0.00 6 0 0.00 6 0 0.00 6 0 0.00 6 0 0.00
12 J awa Barat 25 2 8.00 26 2 7.69 26 2 7.69 26 2 7.69 26 2 7.69
13 J awa Tengah 35 3 8.57 35 3 8.57 35 3 8.57 35 3 8.57 35 0 0.00
14 DI Yogyakarta 5 2 40.00 5 2 40.00 5 2 40.00 5 2 40.00 5 0 0.00
15 J awa Timur 38 8 21.05 38 8 21.05 38 8 21.05 38 8 21.05 38 5 13.16
16 Banten 6 2 33.33 7 2 28.57 8 2 25.00 8 2 25.00 8 2 25.00
17 Bali 9 1 11.11 9 1 11.11 9 1 11.11 9 1 11.11 9 0 0.00
18 Nusa Tenggara Barat 9 7 77.78 9 6 66.67 10 6 60.00 10 7 70.00 10 8 80.00
19 Nusa Tenggara Timur 16 15 93.75 20 15 75.00 21 15 71.43 21 15 71.43 21 20 95.24
20 Kalimantan Barat 12 9 75.00 14 10 71.43 14 10 71.43 14 9 64.29 14 10 71.43
21 Kalimantan Tengah 14 7 50.00 14 7 50.00 14 7 50.00 14 7 50.00 14 1 7.14
22 Kalimantan Selatan 13 0 0.00 13 2 15.38 13 2 15.38 13 2 15.38 13 2 15.38
23 Kalimantan Timur 13 5 38.46 14 3 21.43 14 3 21.43 14 3 21.43 14 3 21.43
24 Sulawesi Utara 9 2 22.22 13 2 15.38 15 2 13.33 15 2 13.33 15 3 20.00
25 Sulawesi Tengah 10 9 90.00 10 9 90.00 11 9 81.82 11 9 81.82 11 10 90.91
26 Sulawesi Selatan 23 13 56.52 23 13 56.52 24 13 54.17 24 13 54.17 24 4 16.67
27 Sulawesi Tenggara 10 8 80.00 12 8 66.67 12 8 66.67 12 8 66.67 12 9 75.00
28 Gorontalo 5 4 80.00 6 4 66.67 6 4 66.67 6 4 66.67 6 3 50.00
29 Sulawesi Barat 5 5 100.00 5 5 100.00 5 5 100.00 5 5 100.00 5 5 100.00
30 Maluku 8 7 87.50 9 7 77.78 11 7 63.64 11 7 63.64 11 8 72.73
31 Maluku Utara 8 6 75.00 8 6 75.00 9 6 66.67 9 6 66.67 9 7 77.78
32 Papua Barat 9 7 77.78 9 7 77.78 10 7 70.00 11 7 63.64 11 8 72.73
33 Papua 20 19 95.00 21 19 90.48 29 19 65.52 29 19 65.52 29 27 93.10
440 199 45.23 465 199 42.80 495 199 40.20 497 199 40.04 497 183 36.82
Sumber: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, 2010
Indonesia
2006
No Provinsi
JUMLAH DAN PERSENTASE DAERAH TERTINGGAL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 - 2010
2008 2007 2009 2010
Lampiran 2.7
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 292,428 249,546 261,898
2 Sumatera Utara 234,712 189,306 210,241
3 Sumatera Barat 248,525 201,257 217,469
4 Riau 265,707 226,945 246,481
5 J ambi 244,516 178,107 199,623
6 Sumatera Selatan 247,661 190,109 212,381
7 Bengkulu 242,735 192,351 210,084
8 Lampung 224,168 175,734 188,812
9 Kepulauan Bangka Belitung 272,809 261,378 266,843
10 Kepulauan Riau 308,210 256,742 283,965
11 DKI J akarta 316,936 - 316,936
12 J awa Barat 203,751 175,193 191,985
13 J awa Tengah 196,478 169,312 182,515
14 DI Yogyakarta 228,236 182,706 211,978
15 J awa Timur 202,624 174,628 188,317
16 Banten 212,310 178,238 198,750
17 Bali 211,461 176,003 196,466
18 Nusa Tenggara Barat 213,450 164,526 185,025
19 Nusa Tenggara Timur 218,796 142,478 156,191
20 Kalimantan Barat 194,881 166,815 174,617
21 Kalimantan Tengah 209,317 199,157 202,612
22 Kalimantan Selatan 216,538 181,059 195,787
23 Kalimantan Timur 283,472 224,506 261,185
24 Sulawesi Utara 193,251 178,271 184,772
25 Sulawesi Tengah 217,529 182,241 189,653
26 Sulawesi Selatan 177,872 142,241 153,715
27 Sulawesi Tenggara 175,070 157,554 161,583
28 Gorontalo 173,850 156,873 162,189
29 Sulawesi Barat 175,901 156,866 163,224
30 Maluku 230,913 199,596 207,771
31 Maluku Utara 226,732 190,838 201,500
32 Papua Barat 304,730 269,354 277,416
33 Papua 285,158 234,727 246,225
222,123 179,835 200,262
Sumber: Berita Resmi Statistik No. 45/07/Th.XIII, 1 J uli 2010
GARIS KEMISKINAN MENURUT PROVINSI DAN DAERAH (MARET 2009)
Indonesia
Provinsi No
Garis Kemiskinan (Rupiah/Kapita/Bulan)
Lampiran 2.8
Jumlah (ribu) % Jumlah (ribu) % Jumlah (ribu) % Jumlah (ribu) % Jumlah (ribu) % Jumlah (ribu) % Jumlah (ribu) % Jumlah (ribu) % Jumlah (ribu) %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
1 Aceh 195.80 16.7 763.90 26.3 959.7 23.5 182.10 15.4 710.68 24.4 892.8 21.8 173.37 14.7 688.48 23.5 861.85 21.0
2 Sumatera Utara 761.70 12.9 852.10 12.3 1,613.8 12.6 688.04 11.5 811.64 11.6 1,499.7 11.5 689.00 11.3 801.89 11.3 1,490.89 11.3
3 Sumatera Barat 127.30 8.3 349.90 11.9 477.2 10.7 115.78 7.5 313.48 10.0 429.3 9.5 106.18 6.8 323.84 10.9 430.02 9.5
4 Riau 245.10 9.1 321.60 12.2 566.7 10.6 225.60 8.0 301.89 10.9 527.5 9.5 208.92 7.2 291.34 10.2 500.26 8.7
5 J ambi 120.10 13.3 140.20 7.4 260.3 9.3 117.29 12.7 132.41 6.9 249.7 8.8 110.82 11.8 130.79 6.7 241.61 8.3
6 Sumatera Selatan 514.70 18.9 734.90 17.0 1,249.6 17.7 470.03 16.9 697.85 15.9 1,167.9 16.3 471.22 16.7 654.50 14.7 1,125.72 15.5
7 Bengkulu 131.80 22.0 220.20 19.9 352.0 20.6 117.60 19.2 206.53 18.3 324.1 18.6 117.21 18.8 207.72 18.1 324.93 18.3
8 Lampung 365.60 17.9 1,226.00 22.1 1,591.6 21.0 349.31 16.8 1,208.97 21.5 1558.28 20.2 301.73 14.3 1,178.20 20.7 1,479.93 18.9
9 Kepulauan Bangka Belitung 36.50 7.6 50.20 9.5 86.7 8.6 28.78 5.9 47.85 8.9 76.6 7.5 21.85 4.4 45.90 8.5 67.75 6.5
10 Kepulauan Riau 69.20 8.8 67.10 9.6 136.4 9.2 62.58 7.6 65.63 9.0 128.2 8.3 67.08 7.9 62.59 8.2 129.67 8.1
11 DKI J akarta 379.60 4.3 - - 379.6 4.3 323.17 3.6 - - 323.17 3.6 312.18 3.5 - - 312.18 3.5
12 J awa Barat 2,617.40 10.9 2,705.00 16.1 5,322.4 13.0 2,531.37 10.3 2,452.20 14.3 4,983.6 12.0 2,350.53 9.4 2,423.19 13.9 4,773.72 11.3
13 J awa Tengah 2,556.50 16.3 3,633.10 22.0 6,189.6 19.2 2,420.94 15.4 3,304.75 19.9 5,725.7 17.7 2,258.94 14.3 3,110.22 18.7 5,369.16 16.6
14 DI Yogyakarta 324.20 15.0 292.10 24.3 616.3 18.3 311.47 14.3 274.31 22.6 585.8 17.2 308.36 14.0 268.94 22.0 577.30 16.8
15 J awa Timur 2,310.60 13.2 4,340.60 23.6 6,651.3 18.5 2,148.51 12.2 3,874.07 21.0 6,022.6 16.7 1,873.55 10.6 3,655.76 19.7 5,529.31 15.3
16 Banten 371.00 6.2 445.70 11.2 816.7 8.2 348.74 5.6 439.33 10.7 788.1 7.6 318.29 5.0 439.87 10.4 758.16 7.2
17 Bali 115.10 5.7 100.70 6.8 215.7 6.2 92.06 4.5 89.66 6.0 181.7 5.1 83.62 4.0 91.31 6.0 174.93 4.9
18 Nusa Tenggara Barat 560.40 29.5 520.20 19.7 1,080.6 23.8 557.54 28.8 493.41 18.4 1,051.0 22.8 552.62 28.2 456.74 16.8 1,009.36 21.6
19 Nusa Tenggara Timur 119.30 15.5 979.10 27.9 1,098.3 25.7 109.41 14.0 903.74 25.4 1,013.2 23.3 107.38 13.6 906.71 25.1 1,014.09 23.0
20 Kalimantan Barat 127.50 10.0 381.30 11.5 508.8 11.1 93.98 7.2 340.79 10.1 434.8 9.3 83.43 6.3 345.32 10.1 428.75 9.0
21 Kalimantan Tengah 45.30 5.8 154.60 10.2 200.0 8.7 35.78 4.5 130.08 8.3 165.9 7.0 33.23 4.0 130.99 8.2 164.22 6.8
22 Kalimantan Selatan 81.10 5.8 137.80 7.0 218.9 6.5 68.76 4.8 107.21 5.3 176.0 5.1 65.76 4.5 116.20 5.7 181.96 5.2
23 Kalimantan Timur 110.40 5.9 176.10 15.5 286.4 9.5 77.06 4.0 162.16 13.9 239.2 7.7 79.24 4.0 163.76 13.7 243.00 7.7
24 Sulawesi Utara 72.70 7.6 150.90 12.0 223.5 10.1 79.25 8.1 140.31 11.1 219.6 9.8 76.38 7.8 130.35 10.1 206.73 9.1
25 Sulawesi Tengah 60.90 11.5 463.80 23.2 524.7 20.8 54.67 10.1 435.17 21.4 489.8 19.0 54.22 9.8 420.77 20.3 474.99 18.1
26 Sulawesi Selatan 150.80 6.1 880.90 16.8 1,031.7 13.3 124.50 4.9 839.06 15.8 963.6 12.3 119.18 4.7 794.25 14.9 913.43 11.6
27 Sulawesi Tenggara 27.20 5.3 408.70 23.8 435.9 19.5 26.19 5.0 408.15 23.1 434.3 18.9 22.18 4.1 378.52 20.9 400.70 17.1
28 Gorontalo 27.50 9.9 194.10 31.7 221.6 24.9 22.19 7.9 202.43 32.8 224.6 25.0 17.84 6.3 192.05 30.9 209.89 23.2
29 Sulawesi Barat 48.30 14.1 122.80 18.0 171.1 16.7 43.51 12.6 114.72 16.7 158.2 15.3 33.73 9.7 107.61 15.5 141.34 13.6
30 Maluku 44.70 13.0 346.70 35.6 391.3 29.7 38.77 11.0 341.24 34.3 380.0 28.2 36.35 10.2 342.28 33.9 378.63 27.7
31 Maluku Utara 9.00 3.3 96.00 14.7 105.1 11.3 8.72 3.1 89.27 13.4 98.0 10.4 7.64 2.7 83.44 12.3 91.08 9.4
32 Papua Barat 9.50 5.9 237.00 43.7 246.5 35.1 8.55 5.2 248.29 44.7 256.8 35.7 9.59 5.7 246.66 43.5 256.25 34.9
33 Papua 31.60 7.0 701.50 46.0 733.1 37.1 28.19 6.1 732.16 46.8 760.4 37.5 26.18 5.6 735.44 46.0 761.62 36.8
12,768.50 11.7 22,194.80 18.9 34,963.3 15.4 11,910.53 10.7 20,619.44 17.4 32,530.0 14.2 11,097.77 9.9 19,925.62 16.6 31,023.39 13.3
Sumber: Berita Resmi Statistik No. 45/07/Th.XIII, 1 J uli 2010
JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT PROVINSI DAN DAERAH 2008 - 2010)
No Provinsi
Maret Tahun 2008 Maret Tahun 2009
Perkotaan Perdesaan
Perkotaan +
Perdesaan
Perkotaan Perdesaan
Perkotaan +
Perdesaan
Indonesia
Maret Tahun 2010
Perkotaan Perdesaan
Perkotaan +
Perdesaan
Lampiran 2.9
Laki-laki Perempuan Laki + Perempuan Laki-laki Perempuan Laki + Perempuan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 97,71 94,28 95,94 97,95 94,99 96,36
2 Sumatera Utara 98,68 95,46 97,04 98,61 95,79 97,15
3 Sumatera Barat 97,99 95,45 96,66 98,24 95,50 96,81
4 Riau 99,00 96,50 97,76 98,95 97,25 98,11
5 J ambi 97,89 92,69 95,31 98,09 92,97 95,51
6 Sumatera Selatan 98,36 95,73 97,05 98,41 96,04 97,21
7 Bengkulu 96,98 92,18 94,60 97,46 92,35 94,90
8 Lampung 96,63 90,43 93,63 97,27 91,41 94,37
9 Kepulauan Bangka Belitung 97,32 93,24 95,34 97,65 93,16 95,41
10 Kepulauan Riau 97,57 94,18 95,81 98,68 93,38 96,08
11 DKI J akarta 99,56 97,96 98,74 99,59 98,34 98,94
12 J awa Barat 97,70 93,37 95,53 97,76 94,25 95,98
13 J awa Tengah 93,82 84,89 89,24 94,02 85,26 89,46
14 DI Yogyakarta 94,46 84,64 89,45 95,26 85,53 90,18
15 J awa Timur 92,35 82,64 87,31 92,96 83,09 87,80
16 Banten 97,54 92,88 95,21 97,74 94,14 95,95
17 Bali 92,80 81,20 86,94 92,92 81,80 87,22
18 Nusa Tenggara Barat 87,29 73,47 79,85 87,07 74,56 80,18
19 Nusa Tenggara Timur 89,78 85,68 87,66 90,24 85,85 87,96
20 Kalimantan Barat 93,32 83,55 88,52 94,13 85,35 89,70
21 Kalimantan Tengah 98,30 96,19 97,27 98,50 96,29 97,39
22 Kalimantan Selatan 97,54 92,70 95,08 97,49 93,45 95,41
23 Kalimantan Timur 97,82 94,77 96,36 98,19 95,51 96,89
24 Sulawesi Utara 99,39 98,90 99,15 99,43 99,02 99,22
25 Sulawesi Tengah 97,34 93,96 95,68 97,04 94,50 95,78
26 Sulawesi Selatan 89,23 84,15 86,53 90,29 84,19 87,02
27 Sulawesi Tenggara 94,69 87,89 91,25 94,97 88,28 91,51
28 Gorontalo 95,86 95,17 95,51 95,66 95,77 95,71
29 Sulawesi Barat 90,28 84,55 87,31 90,87 84,41 87,59
30 Maluku 98,37 96,28 97,31 98,26 96,63 97,42
31 Maluku Utara 97,61 93,24 95,44 97,62 93,88 95,74
32 Papua Barat 93,97 90,17 92,15 95,57 90,13 92,94
33 Papua 77,97 66,61 72,47 75,52 64,89 70,29
95,38 89,10 92,19 95,65 89,68 92,58
Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia, BPS, 2010
Indonesia
2009
ANGKA MELEK HURUF PENDUDUK BERUSIA 15 TAHUN KE ATAS
MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2008-2009
No Provinsi
2008
Lampiran 2.10
Laki-laki Perempuan Laki-laki+Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki+Perempuan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 8,6 7,9 8,3 9,0 8,3 8,6
2 Sumatera Utara 8,9 8,1 8,5 9,0 8,3 8,6
3 Sumatera Barat 8,4 8,1 8,3 8,6 8,3 8,5
4 Riau 8,8 8,2 8,5 8,8 8,3 8,6
5 J ambi 8,1 7,2 7,6 8,1 7,2 7,7
6 Sumatera Selatan 7,9 7,2 7,6 8,0 7,3 7,7
7 Bengkulu 8,2 7,5 7,8 8,6 7,8 8,2
8 Lampung 7,5 6,8 7,2 7,9 7,5 7,7
9 Kepulauan Bangka Belitung 7,7 7,0 7,4 7,7 7,1 7,4
10 Kepulauan Riau 8,4 7,9 8,1 8,4 7,8 8,1
11 DKI J akarta 10,7 9,7 10,2 10,8 9,8 10,3
12 J awa Barat 7,9 7,0 7,5 8,2 7,3 7,7
13 J awa Tengah 7,3 6,4 6,9 7,6 6,6 7,1
14 DI Yogyakarta 9,3 8,1 8,7 9,5 8,2 8,8
15 J awa Timur 7,5 6,4 7.0 7,8 6,6 7,2
16 Banten 8,2 7,2 7,7 8,6 7,5 8,0
17 Bali 8,6 7,0 7,8 8,6 7,1 7,8
18 Nusa Tenggara Barat 7,2 6,0 6,5 7,3 6,0 6,6
19 Nusa Tenggara Timur 6,8 6,1 6,4 6,9 6,4 6,6
20 Kalimantan Barat 7,0 6,1 6,6 7,1 6,1 6,6
21 Kalimantan Tengah 8,0 7,4 7,7 8,2 7,5 7,8
22 Kalimantan Selatan 7,8 7,0 7,4 8,0 7,1 7,5
23 Kalimantan Timur 9,1 8,2 8,7 9,1 8,3 8,7
24 Sulawesi Utara 8,8 8,7 8,7 8,8 8,7 8,8
25 Sulawesi Tengah 8,0 7,6 7,8 8,1 7,7 7,9
26 Sulawesi Selatan 7,6 7,0 7,3 7,8 7,1 7,4
27 Sulawesi Tenggara 8,3 7,2 7,7 8,4 7,5 7,9
28 Gorontalo 6,8 7,0 6,9 7,0 7,4 7,2
29 Sulawesi Barat 7,4 6,6 7,0 7,3 6,8 7,1
30 Maluku 8,8 8,2 8,5 8,8 8,3 8,6
31 Maluku Utara 8,2 7,5 7,9 8,7 7,7 8,2
32 Papua Barat 8,2 7,1 7,7 8,6 7,7 8,2
33 Papua 7,0 5,6 6,3 7,0 5,7 6,4
8,0 7,1 7,5 8,2 7,3 7,7
Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia, BPS, 2010
Indonesia
RATA-RATA LAMA SEKOLAH (TAHUN) MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN
TAHUN 2008-2009
No Provinsi
2008 2009
Lampiran 2.11
7-12 thn 13-15 thn 16-18 thn 7-12 thn 13-15 thn 16-18 thn
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 99,03 94,15 72,73 99,07 94,31 72,74
2 Sumatera Utara 98,66 91,10 65,87 98,70 91,43 66,34
3 Sumatera Barat 98,07 88,70 65,73 98,02 88,79 65,25
4 Riau 98,36 91,83 64,11 98,55 91,58 63,92
5 J ambi 97,59 84,78 55,72 98,11 85,10 55,13
6 Sumatera Selatan 97,88 84,55 54,27 97,80 84,65 54,12
7 Bengkulu 98,38 87,42 58,64 98,53 87,47 58,80
8 Lampung 98,26 85,10 50,69 98,53 85,92 50,44
9 Kepulauan Bangka Belitung 96,76 79,71 47,31 96,90 79,98 46,70
10 Kepulauan Riau 98,31 91,10 64,62 98,95 91,26 64,62
11 DKI J akarta 98,82 90,53 61,86 99,06 90,75 61,53
12 J awa Barat 98,24 81,00 47,58 98,22 81,85 47,06
13 J awa Tengah 98,83 84,27 53,36 98,80 84,59 52,84
14 DI Yogyakarta 99,62 92,91 72,46 99,65 93,42 72,26
15 J awa Timur 98,63 86,54 58,14 98,57 88,00 58,44
16 Banten 97,75 81,28 50,35 97,85 80,86 49,96
17 Bali 98,45 88,07 63,36 98,52 88,43 64,59
18 Nusa Tenggara Barat 97,25 85,57 57,22 98,12 85,81 56,92
19 Nusa Tenggara Timur 93,72 77,76 49,67 95,99 79,28 47,95
20 Kalimantan Barat 97,08 84,50 50,73 96,94 83,92 49,83
21 Kalimantan Tengah 98,45 86,42 53,64 98,50 86,64 53,65
22 Kalimantan Selatan 97,48 79,68 50,30 97,59 79,83 49,43
23 Kalimantan Timur 98,35 90,78 64,71 98,42 91,55 64,07
24 Sulawesi Utara 97,87 88,46 56,84 97,82 88,40 56,56
25 Sulawesi Tengah 97,16 81,13 50,75 97,22 83,41 49,30
26 Sulawesi Selatan 95,71 78,99 52,29 96,53 80,96 51,67
27 Sulawesi Tenggara 97,66 85,62 59,17 97,69 87,20 59,19
28 Gorontalo 94,23 77,68 50,17 96,55 80,94 48,77
29 Sulawesi Barat 94,53 75,75 45,68 95,71 77,09 43,58
30 Maluku 97,52 91,20 71,95 97,87 91,98 72,28
31 Maluku Utara 96,80 89,20 63,39 96,85 90,02 63,38
32 Papua Barat 93,38 88,55 58,15 93,35 88,59 57,95
33 Papua 83,38 78,22 54,13 76,09 73,68 47,51
97,88 84,89 55,50 97,95 85,47 55,16
Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia, BPS, 2010
Catatan : *) Termasuk Paket A, Paket B dan Paket C
Indonesia
ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH*) MENURUT PROVINSI DAN USIA SEKOLAH (%)
TAHUN 2008-2009
No Provinsi
2008 2009
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
1 Aceh 1,091,932 611,458 56.00 120,321 17.46 25,432 3.69 462,619 67.11 22,312 3.24 23,348 3.39 35,281 5.12 689,313 100.00
2 Sumatera Utara 3,031,974 1,628,649 53.72 601,752 38.88 98,061 6.34 556,718 35.97 85,425 5.52 9,608 0.62 196,073 12.67 1,547,637 100.00
3 Sumatera Barat 1,029,042 276,128 26.83 473,332 57.43 62,257 7.55 232,842 28.25 20,531 2.49 - 35,167 4.27 824,129 100.00
4 Riau 713,639 360,250 50.48 40,103 13.77 6,171 2.12 196,749 67.54 24,144 8.29 1,725 0.59 22,432 7.70 291,324 100.00
5 J ambi 734,563 256,710 34.95 61,289 16.82 4,057 1.11 235,354 64.59 52,775 14.48 5,270 1.45 5,637 1.55 364,382 100.00
6 Sumatera Selatan 1,824,070 1,376,632 75.47 224,680 24.03 28,336 3.03 564,093 60.32 88,477 9.46 4,266 0.46 25,338 2.71 935,190 100.00
7 Bengkulu 436,721 284,340 65.11 40,820 16.84 1,338 0.55 173,833 71.72 5,079 2.10 461 0.19 20,862 8.61 242,393 100.00
8 Lampung 1,952,369 1,225,508 62.77 101,383 8.27 64,731 5.28 746,734 60.93 32,691 2.67 745 0.06 279,232 22.78 1,225,516 100.00
9 Kepulauan Bangka Belitung 341,069 98,196 28.79 6,428 7.12 1,250 1.38 73,315 81.21 324 0.36 9 0.01 8,953 9.92 90,279 100.00
10 Kepulauan Riau 576,539 281,468 48.82 209,649 68.42 1,397 0.46 53,231 17.37 20,899 6.82 1,351 0.44 19,866 6.48 306,393 100.00
11 DKI J akarta 2,292,281 281,813 12.29 475,904 60.33 253,083 32.08 12,319 1.56 137 0.02 737 0.09 46,672 5.92 788,852 100.00
12 J awa Barat 11,316,592 4,489,302 39.67 984,105 19.20 1,137,911 22.20 2,035,401 39.70 11,775 0.23 34,000 0.66 923,417 18.01 5,126,609 100.00
13 J awa Tengah 7,884,443 2,868,134 36.38 670,671 19.07 276,589 7.86 2,200,484 62.55 20,220 0.57 7,626 0.22 342,167 9.73 3,517,757 100.00
14 DI Yogyakarta 887,949 535,621 60.32 97,393 16.71 6,191 1.06 343,030 58.85 115,253 19.77 27 0.00 21,029 3.61 582,923 100.00
15 J awa Timur 10,636,100 4,237,523 39.84 1,419,905 24.25 543,793 9.29 2,939,812 50.22 100,430 1.72 491,402 8.39 358,943 6.13 5,854,285 100.00
16 Banten 1,803,819 958,531 53.14 122,764 15.47 191,611 24.14 159,761 20.13 3,748 0.47 11,651 1.47 304,155 38.32 793,690 100.00
17 Bali 886,607 432,660 48.80 522,016 66.96 10,090 1.29 172,677 22.15 37,205 4.77 1,533 0.20 36,019 4.62 779,540 100.00
18 Nusa Tenggara Barat 1,264,172 1,033,705 81.77 247,878 30.54 13,766 1.70 497,273 61.27 325 0.04 16,217 2.00 36,215 4.46 811,674 100.00
19 Nusa Tenggara Timur 867,563 290,984 33.54 195,261 44.77 10,589 2.43 166,989 38.28 19,060 4.37 499 0.11 43,783 10.04 436,181 100.00
20 Kalimantan Barat 1,019,476 375,515 36.83 102,125 22.78 3,437 0.77 73,627 16.42 185,883 41.46 2,216 0.49 81,101 18.09 448,390 100.00
21 Kalimantan Tengah 246,541 41,570 16.86 29,367 31.17 28,819 30.59 22,772 24.17 2,688 2.85 983 1.04 9,578 10.17 94,207 100.00
22 Kalimantan Selatan 1,408,017 1,166,780 82.87 196,791 45.38 28,869 6.66 168,625 38.89 9,208 2.12 207 0.05 29,931 6.90 433,631 100.00
23 Kalimantan Timur 607,792 328,518 54.05 358,503 52.27 26,424 3.85 127,501 18.59 86,877 12.67 30,452 4.44 56,142 8.19 685,899 100.00
24 Sulawesi Utara 582,511 340,347 58.43 134,201 49.32 8,351 3.07 87,895 32.30 3,150 1.16 13,532 4.97 24,995 9.19 272,124 100.00
25 Sulawesi Tengah 457,201 249,539 54.58 96,408 26.12 90,613 24.55 153,825 41.68 1,199 0.32 1,596 0.43 25,395 6.88 369,036 100.00
26 Sulawesi Selatan 1,973,945 1,312,994 66.52 279,932 23.63 37,892 3.20 607,618 51.30 10,827 0.91 7,841 0.66 240,312 20.29 1,184,421 100.00
27 Sulawesi Tenggara 520,075 322,474 62.01 88,320 43.81 5,667 2.81 79,787 39.58 23,044 11.43 27 0.01 4,737 2.35 201,582 100.00
28 Gorontalo 267,194 201,180 75.29 11,117 13.40 1,728 2.08 66,631 80.31 292 0.35 141 0.17 3,054 3.68 82,963 100.00
29 Sulawesi Barat 248,427 232,993 93.79 32,457 18.69 3,773 2.17 61,632 35.49 279 0.16 5,041 2.90 70,490 40.59 173,672 100.00
30 Maluku 419,166 201,772 48.14 61,219 46.65 9,239 7.04 41,536 31.65 5,429 4.14 36 0.03 13,765 10.49 131,224 100.00
31 Maluku Utara 167,198 97,876 58.54 31,542 42.65 462 0.62
28,063
37.95 13,610 18.40 5 0.01 271 0.37 73,953 100.00
32 Papua Barat 180,910 57,423 31.74 11,269 23.11 611 1.25 13,614 27.91 17,311 35.49 1,090 2.23 4,877 10.00 48,772 100.00
33 Papua 133,868 50,709 37.88 814 5.27 800 5.18 5,811 37.63 6,824 44.19 1,125 7.29 67 0.43 15,441 100.00
57,803,765 26,507,302 45.86 8,049,719 27.36 2,983,338 10.14 13,362,171 45.41 1,027,431 3.49 674,767 2.29 3,325,956 11.30 29,423,382 100.00
Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009
Lampiran 2.12
Indonesia
PERSENTASE KELUARGA MENURUT JENIS SARANA AIR BERSIH YANG DIGUNAKAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
Penampungan Air Hujan
% Keluarga
Diperiksa
Ledeng Sumur Pompa Tangan Sumur Gali Total Sarana Air Bersih
Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan
No Provinsi
Jumlah
Keluarga
yang Ada
Jumlah
Keluarga
Diperiksa
Air Kemasan Lainnya
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 34.19 29.20 30.60
2 Sumatera Utara 62.45 41.33 51.04
3 Sumatera Barat 58.14 40.53 46.62
4 Riau 35.83 39.46 40.96
5 J ambi 63.59 45.44 51.19
6 Sumatera Selatan 59.66 41.91 48.53
7 Bengkulu 43.15 27.60 33.02
8 Lampung 37.71 41.20 40.29
9 Kepulauan Bangka Belitung 34.31 39.18 36.84
10 Kepulauan Riau 36.22 39.46 37.74
11 DKI J akarta 34.81 - 34.81
12 J awa Barat 41.04 39.77 40.51
13 J awa Tengah 61.54 55.28 58.30
14 DI Yogyakarta 57.61 65.85 60.38
15 J awa Timur 54.06 57.25 55.70
16 Banten 27.54 27.35 27.47
17 Bali 51.63 71.42 59.99
18 Nusa Tenggara Barat 49.76 41.51 44.96
19 Nusa Tenggara Timur 76.97 39.00 45.45
20 Kalimantan Barat 76.28 45.71 54.02
21 Kalimantan Tengah 53.03 28.56 36.89
22 Kalimantan Selatan 76.64 34.79 51.97
23 Kalimantan Timur 65.10 40.54 55.71
24 Sulawesi Utara 43.79 45.03 44.49
25 Sulawesi Tengah 49.01 43.13 44.36
26 Sulawesi Selatan 63.38 43.74 50.13
27 Sulawesi Tenggara 71.13 55.50 59.12
28 Gorontalo 61.47 37.18 44.85
29 Sulawesi Barat 65.01 32.28 42.92
30 Maluku 74.72 48.59 55.50
31 Maluku Utara 66.56 34.16 43.75
32 Papua Barat 55.20 45.12 48.08
33 Papua 53.56 30.29 35.44
49.82 45.72 47.71
Sumber: Ditjen P2PL, Depkes RI
Lampiran 2.13
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
Indonesia
No Provinsi
PROPORSI PENDUDUK DENGAN AKSES TERHADAP AIR MINUM
YANG AMAN MENURUT PROVINSI DAN WILAYAH TAHUN 2009
PERSENTASE KELUARGA DENGAN KEPEMILIKAN SARANA SANITASI DASAR
J
u
m
l
a
h

K
K

D
i
p
e
r
i
k
s
a
J
u
m
l
a
h

K
K

M
e
m
i
l
i
k
i
J
u
m
l
a
h

S
e
h
a
t
%

K
K

M
e
m
i
l
i
k
i
%

S
e
h
a
t
J
u
m
l
a
h

K
K

D
i
p
e
r
i
k
s
a
J
u
m
l
a
h

K
K

M
e
m
i
l
i
k
i
J
u
m
l
a
h

S
e
h
a
t
%

K
K

M
e
m
i
l
i
k
i
%

S
e
h
a
t
J
u
m
l
a
h

K
K

D
i
p
e
r
i
k
s
a
J
u
m
l
a
h

K
K

M
e
m
i
l
i
k
i
J
u
m
l
a
h

S
e
h
a
t
%

K
K

M
e
m
i
l
i
k
i
%

S
e
h
a
t
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18)
1 Aceh 1,113,858 619,203 412,316 104,044 66.59 25.23 462,860 173,173 47,139 37.41 27.22 541,010 265,133 85,460 49.01 32.23
2 Sumatera Utara 3,031,974 1,643,604 1,262,023 961,862 76.78 76.22 1,496,503 998,265 795,517 66.71 79.69 1,480,001 1,084,168 794,246 73.25 73.26
3 Sumatera Barat 1,028,608 251,717 177,007 70.32 232,390 163,980 70.56 242,276 172,965 71.39
4 Riau 713,639 310,462 340,387 250,452 109.64 73.58 295,951 270,327 237,863 91.34 87.99 293,551 224,935 179,102 76.63 79.62
5 J ambi 734,563 216,300 319,010 127,408 147.48 39.94 206,967 219,146 89,937 105.88 41.04 218,213 216,416 83,825 99.18 99.18
6 Sumatera Selatan 1,824,070 929,508 1,028,243 514,475 110.62 28.20 41,575 71,490 32,786 171.95 45.86 665,778 753,539 376,855 113.18 50.01
7 Bengkulu 436,721 310,050 200,397 128,644 64.63 41.49 282,188 111,202 69,272 25.46 24.55 291,678 173,561 99,291 59.50 57.21
8 Lampung 1,952,369 1,151,247 669,598 471,594 58.16 70.43 880,429 622,012 414,417 70.65 66.63 1,011,625 624,315 566,339 61.71 90.71
9 Kepulauan Bangka Belitung 341,069 110,449 106,746 71,869 96.65 67.33 91,999 73,323 35,836 79.70 48.87 109,141 80,520 45,231 73.78 56.17
10 Kepulauan Riau 576,539 125,000 154,004 70,203 123.20 45.59 53,986 61,157 24,618 113.28 40.25 65,032 106,475 32,656 163.73 30.67
11 DKI J akarta 2,292,281 406,190 500,398 189,321 123.19 37.83 335,001 760,195 101,995 226.92 13.42 195,837 699,569 100,675 14.39 357.22
12 J awa Barat 11,316,592 4,485,368 4,258,234 2,186,643 94.94 51.35 4,471,552 3,474,853 1,571,722 77.71 45.23 3,976,164 3,441,345 2,191,430 63.68 86.55
13 J awa Tengah 7,884,443 2,734,940 1,746,904 1,278,237 63.87 73.17 2,632,014 1,693,317 1,143,067 64.34 67.50 2,240,787 1,246,126 707,595 56.78 55.61
14 DI Yogyakarta 887,949 492,088 392,919 354,671 79.85 90.27 391,298 298,235 246,233 76.22 82.56 397,549 270,716 172,501 63.72 68.10
15 J awa Timur 10,636,100 - - - - - 4,166,545 3,227,404 1,812,538 77.46 56.16 3,652,565 2,992,861 1,507,019 50.35 81.94
16 Banten 1,803,819 857,131 488,427 306,203 56.98 62.69 661,460 291,370 259,041 44.05 88.90 633,659 253,999 221,666 40.08 87.27
17 Bali 886,607 349,423 551,996 274,939 157.97 78.68 317,753 558,246 264,816 62.96 83.34 271,336 416,124 205,398 30.60 75.70
18 Nusa Tenggara Barat 1,264,172 753,203 372,910 240,383 49.51 64.46 659,680 260,891 205,583 39.55 78.80 939,598 349,676 197,206 74.33 37.22
Lampi ran 2.14
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No Provinsi Jumlah KK
Jamban Tempat Sampah Pengelolaan Air Limbah
19 Nusa Tenggara Timur 867,563 358,778 375,059 138,666 104.54 36.97 295,736 170,581 52,675 57.68 30.88 193,145 63,345 22,027 32.80 34.77
20 Kalimantan Barat 859,417 387,647 231,769 76,827 59.79 19.82 301,513 7,187 1,064 2.38 14.80 304,438 62,034 22,623 20.38 36.47
21 Kalimantan Tengah 246,541 42,461 31,023 12,510 73.06 40.32 29,668 14,549 8,393 49.04 57.69 27,122 8,164 6,183 75.73 30.10
22 Kalimantan Selatan 1,467,733 510,755 384,689 238,754 75.32 46.75 310,032 102,906 39,236 7.01 12.66 305,697 64,455 20,464 4.39 6.69
23 Kalimantan Timur 686,419 370,871 279,664 196,849 75.41 70.39 287,382 194,843 116,654 67.80 59.87 341,385 198,723 129,829 58.21 58.21
24 Sulawesi Utara 582,511 342,370 254,809 74.43 0.00 321,708 239,837 74.55 0.00 311,233 146,440 47.05 0.00
25 Sulawesi Tengah 457,201 278,913 205,791 131,997 73.78 64.14 206,130 126,488 80,308 61.36 63.49 262,738 156,527 92,672 59.58 59.21
26 Sulawesi Selatan 1,973,945 1,096,340 822,136 403,782 74.99 49.11 725,620 542,480 265,252 74.76 48.90 759,477 561,070 237,651 73.88 42.36
27 Sulawesi Tenggara 520,075 265,160 343,123 137,773 129.40 40.15 293,411 252,180 96,345 85.95 38.20 301,815 195,721 104,763 64.85 64.85
28 Gorontalo 267,194 202,885 51,504 18,654 25.39 36.22 106,259 30,831 18,860 29.01 61.17 98,814 40,688 16,654 41.18 41.18
29 Sulawesi Barat 248,427 118,912 92,119 46,898 77.47 50.91 81,514 66,981 27,885 82.17 41.63 79,304 58,852 29,428 74.21 74.21
30 Maluku 419,166 179,669 106,585 73,824 59.32 69.26 165,248 74,227 51,319 44.92 69.14 157,582 72,938 43,523 46.29 46.29
31 Maluku Utara 167,198 97,876 70,471 48,504 72.00 68.83 62,525 17,047 8,518 27.26 49.97 77,383 32,222 29,071 41.64 41.64
32 Papua Barat 180,910 56,050 28,060 15,400 50.06 54.88 43,691 15,697 9,733 35.93 62.01 37,646 14,005 5,806 37.20 41.46
33 Papua 120,309 45,640 28,847 4,221 63.21 14.63 51,570 23,197 1,877 44.98 8.09 44,600 13,649 1,003 30.60 7.35
57,789,982 20,100,210 16,287,167 9,075,607 81.0298 55.72 20,962,158 15,207,617 8,130,499 72.55 53.46 20,528,180 15,061,275 8,328,192 73.37 55.30
Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009
Indonesia
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 73.03 29.96 42.03
2 Sumatera Utara 72.88 34.09 51.92
3 Sumatera Barat 65.73 25.19 39.21
4 Riau 75.60 29.96 52.75
5 J ambi 63.53 30.48 40.93
6 Sumatera Selatan 73.10 22.71 41.48
7 Bengkulu 59.16 21.55 34.66
8 Lampung 57.60 31.71 38.43
9 Kepulauan Bangka Belitung 77.04 45.51 60.66
10 Kepulauan Riau 75.43 12.24 45.78
11 DKI J akarta 80.37 0.00 42.03
12 J awa Barat 62.12 38.47 52.17
13 J awa Tengah 67.20 41.76 54.06
14 DI Yogyakarta 84.99 56.26 75.35
15 J awa Timur 69.51 33.63 51.07
16 Banten 77.03 30.10 58.82
17 Bali 85.72 62.60 75.95
18 Nusa Tenggara Barat 49.51 32.86 39.83
19 Nusa Tenggara Timur 35.43 10.80 14.98
20 Kalimantan Barat 81.23 24.77 40.12
21 Kalimantan Tengah 56.13 10.11 25.78
22 Kalimantan Selatan 64.31 25.05 41.16
23 Kalimantan Timur 75.69 30.69 58.48
24 Sulawesi Utara 78.84 51.89 63.59
25 Sulawesi Tengah 70.41 34.49 42.02
26 Sulawesi Selatan 85.38 44.18 57.58
27 Sulawesi Tenggara 78.87 35.98 45.91
28 Gorontalo 73.17 30.31 43.84
29 Sulawesi Barat 66.59 35.13 45.35
30 Maluku 70.50 27.27 38.69
31 Maluku Utara 85.50 25.39 43.18
32 Papua Barat 56.05 22.89 32.63
33 Papua 54.03 12.45 21.65
69.51 33.96 51.19
Sumber: Ditjen P2PL, Depkes RI
Lampiran 2.15
Indonesia
No Provinsi
PROPORSI PENDUDUK DENGAN AKSES SANITASI DASAR YANG LAYAK
MENURUT PROVINSI DAN WILAYAH TAHUN 2009
Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
Jumlah Jumlah % Jumlah %
Seluruhnya Diperiksa Diperiksa Sehat Sehat
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 690,509 380,635 55.12 204,194 53.65
2 Sumatera Utara 2,747,062 1,420,549 51.71 1,035,950 72.93
3 Sumatera Barat 894,328 354,613 39.65 224,436 63.29
4 Riau 687,315 280,048 40.75 228,257 81.51
5 J ambi 744,559 222,603 29.90 161,351 72.48
6 Sumatera Selatan 1,467,106 1,074,657 73.25 716,796 66.70
7 Bengkulu 375,675 303,722 80.85 187,521 61.74
8 Lampung 1,578,509 623,160 39.48 332,475 53.35
9 Kepulauan Bangka Belitung 257,240 100,268 38.98 58,123 57.97
10 Kepulauan Riau 479,343 128,569 26.82 71,267 55.43
11 DKI J akarta 1,098,427 344,484 31.36 313,937 91.13
12 J awa Barat 11,316,592 4,025,048 35.57 2,406,349 59.78
13 J awa Tengah 6,102,744 2,281,263 37.38 1,518,102 66.55
14 DI Yogyakarta 766,580 223,959 29.22 148,978 66.52
15 J awa Timur 9,142,216 3,195,782 34.96 2,063,378 64.57
16 Banten 1,582,107 887,941 56.12 500,866 56.41
17 Bali 838,257 292,055 34.84 227,368 77.85
18 Nusa Tenggara Barat 1,112,835 523,836 47.07 324,307 61.91
19 Nusa Tenggara Timur 705,888 347,031 49.16 175,402 50.54
20 Kalimantan Barat 948,210 311,963 32.90 170,526 54.66
21 Kalimantan Tengah 516,024 116,275 22.53 62,741 53.96
22 Kalimantan Selatan 741,959 509,181 68.63 270,590 53.14
23 Kalimantan Timur 775,879 313,487 40.40 230,000 73.37
24 Sulawesi Utara 494,251 341,059 69.01 242,345 71.06
25 Sulawesi Tengah 522,883 337,577 64.56 208,185 61.67
26 Sulawesi Selatan 1,580,103 702,463 44.46 431,903 61.48
27 Sulawesi Tenggara 468,884 294,361 62.78 178,608 60.68
28 Gorontalo 196,479 155,666 79.23 97,787 62.82
29 Sulawesi Barat 116,634 65,534 56.19 23,075 35.21
30 Maluku 266,296 150,611 56.56 88,371 58.67
31 Maluku Utara 122,648 98,437 80.26 63,329 64.33
32 Papua Barat 110,204 44,717 40.58 23,291 52.09
33 Papua 68,236 30,706 45.00 13,390 43.61
49,515,982 20,482,260 41.36 13,003,198 63.49
Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009
PERSENTASE RUMAH SEHAT MENURUT PROVINSI
Rumah
Lampiran 2.16
TAHUN 2009
No Provinsi
Indonesia
J
u
m
l
a
h

y
g

A
d
a
J
u
m
l
a
h

D
i
p
e
r
i
k
s
a
J
u
m
l
a
h

S
e
h
a
t
%

S
e
h
a
t
J
u
m
l
a
h

y
g

A
d
a
J
u
m
l
a
h

D
i
p
e
r
i
k
s
a
J
u
m
l
a
h

S
e
h
a
t
%

S
e
h
a
t
J
u
m
l
a
h

y
g

A
d
a
J
u
m
l
a
h

D
i
p
e
r
i
k
s
a
J
u
m
l
a
h

S
e
h
a
t
%

S
e
h
a
t
J
u
m
l
a
h

y
g

A
d
a
J
u
m
l
a
h

D
i
p
e
r
i
k
s
a
J
u
m
l
a
h

S
e
h
a
t
%

S
e
h
a
t
J
u
m
l
a
h

y
g

A
d
a
J
u
m
l
a
h

D
i
p
e
r
i
k
s
a
J
u
m
l
a
h

S
e
h
a
t
%

S
e
h
a
t
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22)
1 Aceh
149 58 50 86.21 2,239 1,860 1,150 61.83 760 697 97 13.92 9,055 6,608 3,983 60.28 10,936 8,236 4,946 60.05
2 Sumatera Utara
531 412 351 85.19 8,700 6,439 5,262 81.72 654 428 270 63.08 17,224 8,655 6,156 71.13 27,109 15,932 12,039 75.56
3 Sumatera Barat
99 65 36 55.38 1,178 981 663 67.58 155 130 44 33.85 6,366 5,197 2,160 41.56 7,798 6,373 2,903 45.55
4 Riau
124 87 78 89.66 1,817 1,129 947 83.88 175 90 68 75.56 3,507 1,941 1,554 80.06 5,623 3,247 2,647 81.52
5 J ambi
144 119 98 82.35 2,190 1,870 1,223 65.40 263 196 118 60.20 5,346 3,364 2,252 66.94 7,943 5,549 3,691 66.52
6 Sumatera Selatan
190 183 165 90.16 5,279 3,976 2,566 64.54 450 382 242 63.35 811 580 445 76.72 6,730 5,121 3,418 66.74
7 Bengkulu
108 108 107 82.00 442 346 233 67.34 221 211 92 43.60 4,897 4,106 2,113 51.46 5,668 4,770 2,520 54.98
8 Lampung
133 102 86 84.31 1,975 1,282 925 72.15 572 367 187 50.95 2,490 1,210 867 71.65 5,170 2,961 2,065 69.74
9 Kepulauan Bangka Belitung
54 42 41 97.62 549 462 400 86.58 42 36 27 75.00 2,112 1,226 1,073 87.52 2,757 1,766 1,541 87.26
10 Kepulauan Riau
232 169 149 88.17 1,017 511 435 85.13 98 75 64 85.33 1,341 1,059 794 74.98 2,461 1,798 1,431 79.59
11 DKI J akarta
291 137 85 62.04 5,981 1,487 943 63.42 151 107 65 60.75 4,505 1,315 668 50.80 10,928 3,046 1,761 57.81
12 J awa Barat
996 680 546 80.29 7,322 3,921 2,988 76.21 799 563 333 59.15 66,265 38,477 24,096 62.62 75,382 43,641 27,963 64.08
13 J awa Tengah
750 488 436 89.34 8,034 5,671 4,487 79.12 2,220 1,481 1,286 86.83 87,903 40,014 28,811 72.00 101,211 47,009 34,328 73.02
14 DI Yogyakarta
314 90 89 98.89 2,182 1,536 973 63.35 262 253 111 43.87 6,308 4,182 2,633 62.96 9,066 6,061 3,806 62.79
15 J awa Timur
523 408 364 89.22 - - - - 1,569 1,414 839 59.34 4,008 3,087 2,365 76.61 #VALUE! #VALUE! #VALUE! #VALUE!
16 Banten
117 106 58 54.72 1,763 1,342 831 61.92 145 138 73 52.90 6,639 4,973 2,694 54.17 8,664 6,559 3,656 55.74
Lampiran 2.17
PERSENTASE TEMPAT UMUM DAN PENGELOLAAN MAKANAN (TUPM) SEHAT MENURUT PROVINSI
TAHUN 2009
No Provinsi
Hotel Restoran/R-Makan Pasar TUPM Lainnya JUMLAH TUPM
17 Bali
1,352 980 963 98.27 1,927 1,523 1,387 91.07 332 298 222 74.50 19,622 12,855 10,776 83.83 23,233 15,656 13,348 85.26
18 Nusa Tenggara Barat
352 258 230 89.15 1,244 918 706 76.91 209 202 103 50.99 3,076 2,202 1,475 66.98 4,881 3,580 2,514 70.22
19 Nusa Tenggara Timur
212 162 133 82.10 1,840 1,143 518 45.32 335 243 54 22.22 3,848 2,787 1,603 57.52 6,235 4,335 2,308 53.24
20 Kalimantan Barat
184 161 130 80.75 2,613 1,735 1,127 64.96 180 132 68 51.52 7,707 5,344 3,544 66.32 9,977 7,240 4,709 65.04
21 Kalimantan Tengah
114 87 54 62.07 441 331 217 65.56 103 88 19 21.59 2,353 1,023 646 63.15 3,011 1,529 936 61.22
22 Kalimantan Selatan
185 125 68 54.06 2,077 1,425 69 369.00 278 85 31 35.98 13,826 8,401 61 0.72 16,366 10,036 228 2.27
23 Kalimantan Timur
438 346 302 87.28 3,123 2,259 1,835 81.23 236 200 93 46.50 12,589 9,662 7,124 73.73 16,386 12,467 9,356 75.05
24 Sulawesi Utara
208 148 123 83.11 1,632 1,219 812 66.61 138 128 70 54.69 4,317 3,235 2,165 66.92 6,295 4,730 3,170 67.02
25 Sulawesi Tengah
166 128 107 83.59 1,385 1,332 1,062 79.73 267 249 129 51.81 3,094 2,309 1,494 64.70 4,912 4,018 2,792 69.49
26 Sulawesi Selatan
365 222 174 78.38 2,318 1,688 1,219 72.23 720 558 231 41.40 20,788 13,452 8,334 61.95 24,191 15,920 9,958 62.55
27 Sulawesi Tenggara
188 140 106 75.71 949 842 525 62.35 344 318 75 23.58 1,530 1,145 749 65.41 3,011 2,445 1,455 59.51
28 Gorontalo
15 11 10 90.91 236 183 115 62.84 113 82 30 36.59 2,407 1,614 913 56.57 2,771 1,890 1,068 56.51
29 Sulawesi Barat
51 20 12 60.00 365 257 157 61.09 191 112 32 28.57 19,407 5,502 1,633 29.68 20,288 5,869 1,813 30.89
30 Maluku
111 104 93 89.42 601 553 433 78.30 56 52 32 61.54 2,982 2,474 1,840 74.37 3,402 2,839 2,140 75.38
31 Maluku Utara
115 110 87 79.09 402 383 227 59.27 37 34 13 38.24 1,364 1,298 871 67.10 1,830 1,750 1,198 68.46
32 Papua Barat
59 54 38 70.37 402 402 298 74.13 34 34 24 70.59 985 904 807 89.27 1,480 1,394 1,167 83.72
33 Papua
61 44 30 68.18 498 408 200 49.02 25 23 8 34.78 1,539 962 574 59.67 2,123 1,437 812 56.51
8,931 6,354 5,399 84.96 72,721 49,414 34,933 70.69 12,134 9,406 5,150 54.75 350,211 201,163 127,273 63.27 443,997 266,337 172,753 64.86
Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009
Indonesia
Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
1 Aceh 2,378 1,681 70.69 3,842 1,571 40.89 4,536 1,885 41.56 2,007 848 42.25 501 311 62.08 12,567 6,296 50.10
2 Sumatera Utara 7,076 5,278 74.59 9,854 6,667 67.66 18,275 10,209 55.86 3,822 2,414 63.16 1,415 878 62.05 38,644 25,446 65.85
3 Sumatera Barat 1,653 1,014 61.34 3,176 1,940 61.08 4,906 2,715 55.34 1,046 643 61.47 293 240 81.91 11,074 6,552 59.17
4 Riau 1,110 809 72.88 1,791 1,295 72.31 2,678 1,160 43.32 1,768 249 14.08 257 140 54.47 7,303 3,653 50.02
5 J ambi 899 726 80.76 3,598 2,585 71.85 4,618 2,881 62.39 1,367 831 60.79 311 241 77.49 10,620 7,264 68.40
6 Sumatera Selatan 1,740 1,540 88.51 4,537 3,584 78.99 5,232 4,663 89.12 653 268 41.04 582 439 75.43 12,544 10,494 83.66
7 Bengkulu 1,157 759 65.60 2,350 1,483 63.11 2,375 1,646 69.31 1,889 1,380 73.05 447 254 56.82 8,218 5,522 67.19
8 Lampung 1,669 1,167 69.92 7,483 4,072 54.42 10,613 5,075 47.82 5,497 2,140 38.93 1,370 811 59.20 23,956 12,465 52.03
9 Kepulauan Bangka Belitung 732 503 68.72 1,152 945 82.03 1,198 857 71.54 680 529 77.79 1,629 844 51.81 5,162 3,678 71.25
10 Kepulauan Riau 537 353 65.74 1,248 800 64.10 1,854 838 45.20 435 304 69.89 1,670 1,595 95.51 5,560 3,890 69.96
11 DKI J akarta 2,164 608 28.10 4,607 1,919 41.65 6,755 2,316 34.29 2,501 711 28.43 2,296 237 10.32 16,767.00 5,791.00 34.54
12 J awa Barat 7,830 5,778 73.79 34,690 22,349 64.42 54,869 26,621 48.52 14,043 6,985 49.74 18,905 7,879 41.68 128,285.00 69,612.00 54.26
13 J awa Tengah 7,342 6,075 82.74 25,534 18,570 72.73 66,350 39,908 60.15 11,415 8,160 71.49 7,345 4,396 59.85 116,719 77,109 66.06
14 DI Yogyakarta 1,214 999 82.29 3,412 2,424 71.04 7,214 4,702 65.18 1,129 840 74.40 1,316 643 48.86 14,070 9,608 68.29
15 J awa Timur - - - - - - - - - - - - - - - - - -
16 Banten 2060 1731 84.03 3,928 3,165 80.58 7,365 6,097 82.78 1,316 1,003 76.22 1,961 1,685 85.93 16,301 13,681 83.93
17 Bali 662 623 94.11 3,165 2,474 78.17 5,264 3,833 72.82 1,445 1,256 86.92 641 515 80.34 11,177 8,701 77.85
18 Nusa Tenggara Barat 1602 1573 9819 4438 3707 8353 5078 4421 8706 2092 1806 8633 1040 453 4356 14221 11960 8410
Sarana Pendidikan Sarana Ibadah Perkantoran Sarana Lain Jumlah
Lampiran 2.18
PERSENTASE INSTITUSI DIBINA KESEHATAN LINGKUNGANNYA
TAHUN 2009
No Provinsi
Sarana Kesehatan
18 Nusa Tenggara Barat 1,602 1,573 98.19 4,438 3,707 83.53 5,078 4,421 87.06 2,092 1,806 86.33 1,040 453 43.56 14,221 11,960 84.10
19 Nusa Tenggara Timur 1,660 1,302 78.43 4,412 2,736 62.01 4,274 2,303 53.88 3,133 1,759 56.14 4,278 1,354 31.65 17,723 9,474 53.46
20 Kalimantan Barat 1,532 1,060 69.19 3,887 2,089 53.74 5,278 2,219 42.04 1,729 797 46.10 440 230 52.27 12,603 6,373 50.57
21 Kalimantan Tengah 531 473 89.08 1,416 680 48.02 1,047 495 47.28 608 327 53.78 74 29 39.19 3,618 2,004 55.39
22 Kalimantan Selatan 2,081 1,889 90.77 5,499 4,817 87.60 7,769 6,578 84.67 1,944 1,198 61.63 2,310 2,142 92.73 19,411 16,624 85.64
23 Kalimantan Timur 1,345 1,169 86.91 3,290 2,346 71.31 5,208 3,720 71.43 2,350 1,515 64.47 1,055 516 48.91 13,072 9,266 70.88
24 Sulawesi Utara 813 680 83.64 3,082 2,335 75.76 3,499 2,581 73.76 1,689 1,124 66.55 467 341 73.02 9,417 7,061 74.98
25 Sulawesi Tengah 2,076 1,707 82.23 3,565 2,555 71.67 3,842 2,717 70.72 2,220 1,684 75.86 196 147 75.00 11,899 8,810 74.04
26 Sulawesi Selatan 3,137 2,510 80.01 9,623 6,859 71.28 11,286 7,638 67.68 4,069 2,815 69.18 3,292 1,516 46.05 31,407 21,339 67.94
27 Sulawesi Tenggara 1,593 1,543 96.86 3,088 2,516 81.48 2,148 1,709 79.56 2,495 1,752 70.22 96 94 97.92 9,370 7,614 81.26
28 Gorontalo 749 678 90.52 1,594 1,084 68.01 1,169 753 64.41 943 598 63.41 175 56 32.00 4,559 3,169 69.51
29 Sulawesi Barat 674 565 83.83 1,798 560 31.15 2,319 457 19.71 578 217 37.54 76 9 11.84 5,336 1,808 33.88
30 Maluku 490 349 71.22 1,742 1,202 69.00 1,656 1,125 67.93 747 461 61.71 708 487 68.79 5,202 3,624 69.67
31 Maluku Utara 297 232 78.11 969 730 75.34 1,085 737 67.93 752 583 77.53 36 - - 3,139 2,282 72.70
32 Papua Barat 352 228 64.77 544 355 65.26 725 342 47.17 347 200 57.64 22,613 19,941 88.18 24,457 21,066 86.13
33 Papua 217 127 58.53 568 236 41.55 805 554 68.82 246 119 48.37 101 78 77.23 1,847 1,114 60.31
59,372 45,729 77.02 163,882 110,650 67.52 261,290 153,755 58.84 76,955 45,516 59.15 77,896 48,501 62.26 626,248 403,350 64.41 Indonesia
Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009
PERSENTASE RUMAH/BANGUNAN YANG DIPERIKSA DAN BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES
Rumah/Bangunan Diperiksa
Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 921,935 100,568 10.91 63,349 62.99
2 Sumatera Utara 2,747,062 559,690 20.37 466,741 83.39
3 Sumatera Barat 930,891 392,616 42.18 225,030 57.32
4 Riau 496,081 239,711 48.32 204,772 85.42
5 J ambi 734,563 90,961 12.38 75,096 82.56
6 Sumatera Selatan 1,605,114 321,733 20.04 226,903 70.53
7 Bengkulu 375,675 173,006 46.06 81,701 47.22
8 Lampung 872,052 74,725 8.57 55,990 74.93
9 Kepulauan Bangka Belitung 182,784 36,598 20.02 22,203 60.67
10 Kepulauan Riau 479,343 265,014 50.58 170,324 64.27
11 DKI J akarta 1,098,427 893,483 81.34 795,958 89.08
12 J awa Barat 11,316,592 t.a.d t.a.d t.a.d t.a.d
13 J awa Tengah 6,102,744 2,005,589 32.86 1,503,077 74.94
14 DI Yogyakarta 766,580 226,953 29.61 178,100 78.47
15 J awa Timur 9,148,900 3,623,391 39.60 3,031,671 83.67
16 Banten 1,704,448 934,376 54.82 817,032 87.44
17 Bali 838,257 348,877 41.62 306,933 87.98
18 Nusa Tenggara Barat 971,262 170,517 17.56 148,518 87.10
19 Nusa Tenggara Timur 418 799 163 081 38 94 64 936 39 82
Lampiran 2.19
TAHUN 2009
No Provinsi
Jumlah Rumah/Bangunan
yang Ada
Rumah/Bangunan Bebas Jentik
19 Nusa Tenggara Timur 418,799 163,081 38.94 64,936 39.82
20 Kalimantan Barat 737,665 157,460 21.35 99,377 63.11
21 Kalimantan Tengah 516,024 39,065 7.57 19,654 50.31
22 Kalimantan Selatan 741,959 98,591 13.29 61,930 62.82
23 Kalimantan Timur 450,696 291,342 64.64 194,826 66.87
24 Sulawesi Utara 414,263 193,474 46.70 128,642 66.49
25 Sulawesi Tengah 305,316 43,095 14.11 24,516 56.89
26 Sulawesi Selatan 1,580,103 489,768 31.00 337,529 68.92
27 Sulawesi Tenggara 468,884 193,919 41.36 103,807 53.53
28 Gorontalo 196,479 116,131 59.11 71,368 61.45
29 Sulawesi Barat 116,634 25,596 21.95 17,272 67.48
30 Maluku 266,296 58,142 21.83 28,590 49.17
31 Maluku Utara 116,096 86,934 74.88 44,837 51.58
32 Papua Barat 110,204 8,157 7.40 5,833 71.51
33 Papua 58,749 4,283 7.29 1,980 46.23
47,790,877 12,426,846 26.00 9,578,494 77.08 Indonesia
Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009
Jumlah Dipantau Ber PHBS * %
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 237,085 111,955 47.22
2 Sumatera Utara 1,182,858 738,701 62.45
3 Sumatera Barat 108,018 19,407 17.97
4 Riau 93,812 45,750 48.77
5 J ambi 183,511 105,669 57.58
6 Sumatera Selatan 881,649 409,897 46.49
7 Bengkulu 196,708 108,007 54.91
8 Lampung 755,463 375,838 49.75
9 Kepulauan Bangka Belitung 39,112 21,866 55.91
10 Kepulauan Riau 18,764 6,850 36.51
11 DKI J akarta 461,934 276,026 59.75
12 J awa Barat 7,848,995 2,973,236 37.88
13 J awa Tengah 1,469,774 1,301,822 88.57
14 DI Yogyakarta 346,685 302,923 87.38
15 J awa Timur 1,006,824 330,984 32.87
16 Banten 407,986 87,173 21.37
Lampiran 2.20
PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT
TAHUN 2009
No Provinsi
Rumah Tangga
17 Bali 126,643 66,292 52.35
18 Nusa Tenggara Barat 112,331 56,349 50.16
19 Nusa Tenggara Timur 242,617 118,942 49.02
20 Kalimantan Barat 94,408 42,905 45.45
21 Kalimantan Tengah 30,933 15,861 51.28
22 Kalimantan Selatan 63,037 38,629 61.28
23 Kalimantan Timur 115,209 91,860 79.73
24 Sulawesi Utara 244,268 123,824 50.69
25 Sulawesi Tengah 140,035 91,537 65.37
26 Sulawesi Selatan 855,253 525,020 61.39
27 Sulawesi Tenggara 233,432 91,248 39.09
28 Gorontalo 136,243 88,804 65.18
29 Sulawesi Barat 44,145 13,620 30.85
30 Maluku 85,235 37,454 43.94
31 Maluku Utara 26,066 10,883 41.75
32 Papua Barat 22,275 5,681 25.50
33 Papua 17,787 7,611 42.79
17,829,095 8,642,625 48.47 Indonesia
Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009
10 - 15 16 - 18 19 - 24 25+
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 8,40 32,38 46,15 13,07
2 Sumatera Utara 4,08 23,61 53,78 18,53
3 Sumatera Barat 8,08 27,25 47,16 17,51
4 Riau 7,45 27,20 49,97 15,37
5 Kepulauan Riau 14,36 38,02 38,08 9,53
6 J ambi 11,08 34,24 43,07 11,61
7 Sumatera Selatan 11,14 33,96 44,29 10,61
8 Kep.Bangka Belitung 13,41 35,77 41,89 8,93
9 Bengkulu 7,00 30,95 47,58 14,47
10 Lampung 6,84 22,21 50,23 20,73
11 DKI J akarta 6,97 21,71 48,64 22,69
12 J awa Barat 19,65 37,02 34,97 8,36
13 J awa Tengah 3,63 24,55 51,26 20,56
14 D.I. Yogyakarta 18,78 36,54 35,57 9,12
15 J awa Timur 17,43 36,79 36,12 9,66
16 Banten 13,03 36,96 40,05 9,96
17 Bali 2,91 20,87 57,76 18,46
18 Nusa Tenggara Barat 5,84 37,53 47,65 8,98
19 Nusa Tenggara Timur 2,25 19,05 54,41 24,29
20 Kalimantan Barat 7,86 31,91 46,80 13,42
21 Kalimantan Tengah 10,25 36,20 43,24 10,31
22 Kalimantan Timur 10,02 28,16 47,16 14,66
23 Kalimantan Selatan 18,89 36,31 35,74 9,06
24 Sulawesi Utara 3,48 23,74 53,76 19,02
25 Sulawesi Tengah 13,01 31,05 40,78 15,15
26 Sulawesi Selatan 10,60 35,30 42,88 11,23
27 Sulawesi Tenggara 10,64 35,45 42,27 11,64
28 Gorontalo 10,14 31,45 44,31 14,11
29 Sulawesi Barat 7,85 29,83 46,76 15,56
30 Maluku 4,49 21,01 54,38 20,12
31 Maluku Utara 5,71 29,63 50,91 13,75
32 Papua Barat 10,22 32,72 45,72 11,34
33 Papua 8,02 25,29 51,27 15,42
13,40 33,41 41,33 11,86
Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia, BPS
Indonesia
Lampiran 2.21
PERSENTASE WANITA MENURUT UMUR PERKAWINAN PERTAMA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No Provinsi
Umur Wanita pada Perkawinan Pertama
Lampiran 3.1
(1) (2)
1 Aceh 25 45 68.5
2 Sumatera Utara 46 67 69,2
3 Sumatera Barat 47 62 69,0
4 Riau 37 47 71,1
5 J ambi 39 47 68,8
6 Sumatera Selatan 42 52 69,2
7 Bengkulu 46 65 69,4
8 Lampung 43 55 69,0
9 Kepulauan Bangka Belitung 39 46 68,6
10 Kepulauan Riau 43 58 69,7
11 DKI J akarta 28 36 72,9
12 J awa Barat 39 49 67,8
13 J awa Tengah 26 32 71,1
14 DI Yogyakarta 19 22 73,1
15 J awa Timur 35 45 69,1
16 Banten 46 58 64,6
17 Bali 34 38 70,6
18 Nusa Tenggara Barat 72 92 61,5
19 Nusa Tenggara Timur 57 80 67,0
20 Kalimantan Barat 46 59 66,3
21 Kalimantan Tengah 30 34 71,0
22 Kalimantan Selatan 58 75 63,1
23 Kalimantan Timur 26 38 70,8
24 Sulawesi Utara 35 43 72,0
25 Sulawesi Tengah 60 69 66,1
26 Sulawesi Selatan 41 53 69,6
27 Sulawesi Tenggara 41 62 67,4
28 Gorontalo 52 69 66,2
29 Sulawesi Barat 74 96 67,4
30 Maluku 59 93 67,0
31 Maluku Utara 51 74 65,4
32 Papua Barat 41 62 67,9
33 Papua 36 64 68,1
34 44 69,0
Sumber: BPS, Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007
* : Periode lima tahunan sebelum survei.
AHH :BPS, Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008
(eo) 2008
(5)
ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI, ANGKA KEMATIAN BALITA TAHUN 2007
DAN ANGKA HARAPAN HIDUP TAHUN 2008 MENURUT PROVINSI
No Provinsi
E s t i m a s i
*Angka Kematian Bayi *Angka Kematian Balita Angka Harapan Hidup
Indonesia
(3) (4)
(IMR) (AKABA)
Lampiran 3.2
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15)
1 Aceh 68.40 96.20 8.50 600.95 70.35 17 68.5 8,50 96,20 605,56 70,76 17 1,39
2 Sumatera Utara 69.10 97.03 8.60 624.12 72.78 8 69,2 8,60 97,08 629,97 73,29 8 1,90
3 Sumatera Barat 68.80 96.10 8.18 625.93 72.23 9 69,0 8,26 96,66 631,52 72,96 9 2,62
4 Riau 71.00 97.80 8.40 634.11 74.63 3 71,1 8,51 97,81 638,31 75,09 3 1,82
5 J ambi 68.60 96.00 7.63 622.99 71.46 12 68,8 7,63 96,05 628,25 71,99 13 1,85
6 Sumatera Selatan 69.00 96.66 7.60 617.59 71.40 13 69,2 7,60 97,05 623,49 72,05 12 2,28
7 Bengkulu 69.20 94.69 8.00 620.29 71.57 11 69,4 8,00 94,87 625,66 72,14 11 1,99
8 Lampung 68.80 93.47 7.30 610.09 69.78 20 69,0 7,30 93,63 615,03 70,30 20 1,74
9 Kepulauan Bangka Belitung 68.50 95.40 7.18 631.75 71.62 10 68,6 7,37 95,57 636,07 72,19 10 2,01
10 Kepulauan Riau 69.60 96.00 8.94 631.94 73.68 6 69,7 8,94 96,00 637,67 74,18 6 1,89
11 DKI J akarta 72.80 98.76 10.80 620.78 76.59 1 72,9 10,80 98,76 625,70 77,03 1 1,86
12 J awa Barat 67.60 95.32 7.50 623.64 70.71 15 67,8 7,50 95,53 626,81 71,12 15 1,38
13 J awa Tengah 70.90 88.62 6.80 628.53 70.92 14 71,1 6,86 89,24 633,59 71,60 14 2,35
14 DI Yogyakarta 73.10 87.78 8.59 639.88 74.15 4 73,1 8,71 89,46 643,25 74,88 4 2,81
15 J awa Timur 68.90 87.42 6.90 630.71 69.78 19 69,1 6,95 87,43 636,61 70,38 18 2,00
16 Banten 64.50 95.60 8.10 621.00 69.29 23 64,6 8,10 95,60 625,52 69,70 23 1,32
17 Bali 70.60 86.21 7.60 624.90 70.53 16 70,6 7,81 86,94 626,63 70,98 16 1,55
18 Nusa Tenggara Barat 61.20 80.10 6.70 630.48 63.71 32 61,5 6,70 80,13 633,58 64,12 32 1,14
19 Nusa Tenggara Timur 66.70 87.25 6.42 594.28 65.36 31 67,0 6,55 87,66 599,93 66,15 31 2,28
20 Kalimantan Barat 66.10 89.40 6.70 617.90 67.53 29 66,3 6,70 89,40 624,74 68,17 29 1,96
21 Kalimantan Tengah 70.90 97.50 8.00 624.79 73.49 7 71,0 8,00 97,67 628,64 73,88 7 1,47
22 Kalimantan Selatan 62.60 95.26 7.40 625.80 68.01 26 63,1 7,44 95,30 630,83 68,72 26 2,20
23 Kalimantan Timur 70.60 95.70 8.80 628.10 73.77 5 70,8 8,80 96,36 634,52 74,52 5 2,87
24 Sulawesi Utara 72.00 99.30 8.80 619.39 74.68 2 72,0 8,80 99,31 625,58 75,16 2 1,91
25 Sulawesi Tengah 65.90 94.94 7.73 616.98 69.34 22 66,1 7,81 95,68 622,35 70,09 22 2,45
26 Sulawesi Selatan 69.40 86.24 7.23 625.23 69.62 21 69,6 7,23 86,53 630,81 70,22 21 1,99
27 Sulawesi Tenggara 67.20 91.30 7.71 604.96 68.32 25 67,4 7,74 91,42 611,72 69,00 25 2,15
28 Gorontalo 65.90 95.75 6.91 615.94 68.83 24 66,2 6,91 95,75 619,70 69,29 24 1,46
29 Sulawesi Barat 67.20 86.40 6.51 622.90 67.72 28 67,4 6,99 87,31 625,04 68,55 27 2,59
30 Maluku 66.80 98.00 8.60 601.26 69.96 18 67,0 8,60 98,12 605,02 70,38 18 1,42
31 Maluku Utara 65.10 95.20 8.60 593.88 67.82 27 65,4 8,60 95,44 595,69 68,18 28 1,11
32 Papua Barat 67.60 90.32 7.65 592.07 67.28 30 67,9 7,67 92,15 593,13 67,95 30 2,05
33 Papua 67.90 75.41 6.52 593.00 63.41 33 68,1 6,52 75,41 599,65 64,00 33 1,62
68.70 91.87 7.47 624.37 70.59 69,0 7,52 92,19 628,33 71,17 1,98
Sumber: Badan Pusat Statistik, Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008
Ket: Reduksi Short Fall : Percepatan pembangunan manusia untuk mencapai angka IPM ideal
Indonesia
No. Provinsi
2007
Angka Harapan
Hidup (tahun)
Rata-rata Lama
Sekolah (tahun)
Angka Melek
Huruf (%)
Pengeluaran Riil /
Kapita (Rp.000)
IPM Peringkat
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KOMPONEN MENURUT PROVINSI TAHUN 2007- 2008
2008
Reduksi
Short Fall
Angka Harapan
Hidup (tahun)
Rata-rata Lama
Sekolah (tahun)
Angka Melek
Huruf (%)
Pengeluaran Riil /
Kapita (Rp.000)
IPM Peringkat
Lampiran 3.3
Laki-laki Perempuan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1
Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi
tertentu (kolitis infeksi)
74,161 69,535 143,696 1,747
2 Demam Berdarah Dengue
60,705 60,629 121,334 898
3 Demam tifoid dan paratifoid
39,262 41,588 80,850 1,013
4 Demam yang sebabnya tidak diketahui
24,957 24,243 49,200 462
5 Dispepsia
18,807 28,497 47,304 520
6 Hipertensi esensial (primer)
15,533 21,144 36,677 935
7 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya
19,115 16,933 36,048 162
8 Pneumonia
19,170 16,477 35,647 2365
9 Penyakit apendiks
13,920 16,783 30,703 234
10 Gastritis dan duodenitis
12,758 17,396 30,154 235
Sumber: Ditjen Yanmed, Kemkes RI, 2010
10 BESAR PENYAKIT RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT TAHUN 2009
No Daftar Tabulasi Dasar (DTD)
Kasus
Total Kasus Meninggal
Lampiran 3.4
Laki-laki Perempuan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya
243,578 245,216 488,794 781,881
2 Demam yang sebabnya tidak diketahui
143,167 132,087 275,254 358,942
3 Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya
99,303 147,953 247,256 371,673
4
Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi
tertentu (kolitis infeksi)
88,275 83,738 172,013 223,318
5 Gangguan refraksi dan akomodasi
67,231 89,429 156,660 203,021
6 Dispepsia
55,817 77,345 133,162 220,375
7 Hipertensi esensial (primer)
55,446 67,823 123,269 412,364
8 Penyakit pulpa dan periapikal
54,004 68,463 122,467 234,083
9 Penyakit telinga dan prosesus mastoid
53,463 52,142 105,605 153,488
10 Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtiva
46,380 52,815 99,195 135,749
Sumber: Ditjen Yanmed, Kemkes RI, 2010
10 BESAR PENYAKIT RAWAT JALAN TAHUN 2009
No Daftar Tabulasi Dasar (DTD)
Kasus
Total Kasus
Jumlah
Kunjungan
Lampiran 3.5
No Provinsi Populasi Berisiko Klinis SD Periksa Positif API AMI
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 4,260,934 20,849 15,953 2,039 0.48 4.89
2 Sumatera Utara 8,995,264 73,275 15,196 2,274 0.25 8.15
3 Sumatera Barat 2,453,986 6,325 3,459 1,015 0.41 2.58
4 Riau 4,132,768 12,644 6,813 957 0.23 3.06
5 J ambi 2,843,135 44,873 24,017 5,380 1.89 15.78
6 Sumatera Selatan 5,350,075 29,212 13,052 2,389 0.45 5.46
7 Bengkulu 1,353,159 39,885 22,818 5,895 4.36 29.48
8 Lampung 6,295,088 37,294 20,968 4,928 0.78 5.92
9 Kep. Bangka Belitung 1,074,949 58,148 51,759 8,461 7.87 54.09
10 Kepulauan Riau 1,244,515 8,096 6,888 1,392 1.12 6.51
11 DKI J akarta - - - - - -
12 J awa Barat 1,093,568 33,401 33,401 397 0.36 30.54
13 J awa Tengah 14,538,939 83,572 83,572 1,220 0.08 5.75
14 DI Yogyakarta 2,016,834 3,040 3,040 67 0.03 1.51
15 J awa Timur 3,755,848 38,920 38,920 2,651 0.71 10.36
16 Banten 3,864,897 4,403 4,403 543 0.14 1.14
17 Bali 1,391,449 13,635 13,635 24 0.02 9.80
18 Nusa Tenggara Barat 4,421,385 49,030 45,932 8,516 1.93 11.09
19 Nusa Tenggara Timur 4,083,866 168,478 165,572 63,792 15.62 41.25
20 Kalimantan Barat 4,025,946 10,859 5,283 2,168 0.54 2.70
21 Kalimantan Tengah 1,966,171 23,883 6,888 2,074 1.05 12.15
22 Kalimantan Selatan 2,530,536 9,922 8,308 2,676 1.06 3.92
23 Kalimantan Timur 1,706,472 14,654 5,812 3,487 2.04 8.59
24 Sulawesi Utara 1,642,001 27,063 11,580 5,530 3.37 16.48
25 Sulawesi Tengah 2,536,473 51,709 21,082 3,424 1.35 20.39
26 Sulawesi Selatan 6,202,816 9,386 5,189 1,933 0.31 1.51
27 Sulawesi Tenggara 2,204,242 11,726 2,292 483 0.22 5.32
28 Gorontalo 765,841 10,674 5,136 3,160 4.13 13.94
29 Sulawesi Barat 685,561 8,213 769 391 0.57 11.98
30 Maluku 1,384,940 54,907 44,531 12,376 8.94 39.65
31 Maluku Utara 966,268 49,683 40,949 8,606 8.91 51.42
32 Papua Barat 701,435 93,973 75,647 19,402 27.66 133.97
33 Papua 2,206,849 41,292 60,648 21,927 9.94 18.71
102,696,210 1,143,024 863,511 199,577 1.85 10.59
26,661,535 176,971 176,971 4,902 0.17 6.05
76,034,675 966,053 686,540 194,675 2.47 12.27
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Luar Jawa-Bali
JUMLAH KASUS DAN ANGKA KESAKITAN PENYAKIT MALARIA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
Indonesia
Jawa-Bali
Lampiran 3.6
(1) (2)
1 DKI J akarta 0 0 0 0 0 0
2 J awa Barat 0.16 0.96 0.52 0.37 0.58
0.36
3 J awa Tengah 0.51 0.06 0.13 0.12 0.07 0.08
4 DI Yogyakarta 0.97 0.06 0.10 0.05 0.03
0.03
5 J awa Timur 0.08 0.47 0.18 0.18 0.71 0.71
6 Banten - 0.00 0.02 0.05 0.17
0.14
7 Bali 0.03 0.02 0.55 0.42 0.03 0.02
0.15 0.15 0.19 0.16 0.16 0.17
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Jawa-Bali
2008
(12) (9) (10) (11)
2005 2006
(13) (8)
2007 2004
ANNUAL PARASITE INCIDENCE (API) MALARIA
DI JAWA-BALI TAHUN 2004 - 2009
No Provinsi
Tahun
2009
Lampiran 3.7.
Semua Kasus
Kasus Baru TB Paru BTA
Positif
Case Detection Rate (CDR) %
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 6,982 3,966 3,065 43.9
2 Sumatera Utara 21,197 16,815 13,897 65.6
3 Sumatera Barat 7,725 5,482 3,732 48.3
4 Riau 8,490 4,325 2,880 33.9
5 J ambi 4,535 3,291 2,745 60.5
6 Sumatera Selatan 11,556 7,779 5,181 44.8
7 Bengkulu 2,667 1,941 1,588 59.5
8 Lampung 11,987 7,266 4,943 41.2
9 Kep. Bangka Belitung 1,821 1,229 951 52.2
10 Kep. Riau 2,424 1,695 784 32.3
11 DKI J akarta 9,869 25,074 7,989 81.0
12 J awa Barat 44,407 61,964 31,433 70.8
13 J awa Tengah 35,165 34,671 16,906 48.1
14 DI Yogyakarta 2,241 2,345 1,155 51.5
15 J awa Timur 39,896 38,010 22,598 56.6
16 Banten 10,468 15,629 8,134 77.7
17 Bali 2,273 3,227 1,517 66.7
18 Nusa Tenggara Barat 9,311 5,346 3,089 33.2
19 Nusa Tenggara Timur 9,701 5,302 3,369 34.7
20 Kalimantan Barat 9,070 5,499 4,156 45.8
21 Kalimantan Tengah 4,380 2,090 1,339 30.6
22 Kalimantan Selatan 7,342 4,609 2,891 39.4
23 Kalimantan Timur 6,646 3,694 2,065 31.1
24 Sulawesi Utara 4,681 4,989 3,988 85.2
25 Sulawesi Tengah 5,209 2,397 1,918 36.8
26 Sulawesi Selatan 16,608 8,223 6,428 38.7
27 Sulawesi Tenggara 4,448 2,663 2,296 51.6
28 Gorontalo 2,066 1,620 1,370 66.3
29 Sulawesi Barat 2,200 1,179 942 42.8
30 Maluku 2,813 2,702 2,014 71.6
31 Maluku Utara 2,048 1,096 708 34.6
32 Papua 4,405 7,054 2,504 56.8
33 Papua Barat 1,562 1,559 638 40.8
231,370 294,731 169,213 73.1
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
HASIL CAKUPAN PENEMUAN KASUS PENYAKIT TB PARU
TAHUN 2009
Cakupan
Indonesia
No. Provinsi
Perkiraan Kasus Baru TB
Paru BTA Positif
Lampiran 3.8
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 2,022 65.97 1,043 34.03 3,065
2 Sumatera Utara 9,057 65.17 4,840 34.83 13,897
3 Sumatera Barat 2,433 65.19 1,299 34.81 3,732
4 Riau 1,828 63.47 1,052 36.53 2,880
5 J ambi 1,695 61.75 1,050 38.25 2,745
6 Sumatera Selatan 3,207 61.90 1,974 38.10 5,181
7 Bengkulu 982 61.84 606 38.16 1,588
8 Lampung 2,951 59.70 1,992 40.30 4,943
9 Kep. Bangka Belitung 614 64.56 337 35.44 951
10 Kep.Riau 480 61.22 304 38.78 784
11 DKI J akarta 4,866 60.91 3,123 39.09 7,989
12 J awa Barat 17,994 57.25 13,439 42.75 31,433
13 J awa Tengah 9,368 55.41 7,538 44.59 16,906
14 DI Yogyakarta 695 60.17 460 39.83 1,155
15 J awa Timur 12,377 54.77 10,221 45.23 22,598
16 Banten 4,907 60.33 3,227 39.67 8,134
17 Bali 889 58.60 628 41.40 1,517
18 Nusa Tenggara Barat 1,862 60.28 1,227 39.72 3,089
19 Nusa Tenggara Timur 1,881 55.83 1,488 44.17 3,369
20 Kalimantan Barat 2,673 64.32 1,483 35.68 4,156
21 Kalimantan Tengah 793 59.22 546 40.78 1,339
22 Kalimantan Selatan 1,700 58.80 1,191 41.20 2,891
23 Kalimantan Timur 1,278 61.89 787 38.11 2,065
24 Sulawesi Utara 2,472 61.99 1,516 38.01 3,988
25 Sulawesi Tengah 1,135 59.18 783 40.82 1,918
26 Sulawesi Selatan 3,797 59.07 2,631 40.93 6,428
27 Sulawesi Tenggara 1,334 58.10 962 41.90 2,296
28 Gorontalo 777 56.72 593 43.28 1,370
29 Sulawesi Barat 559 59.34 383 40.66 942
30 Maluku 1,087 53.97 927 46.03 2,014
31 Maluku Utara 437 61.72 271 38.28 708
32 Papua Barat 1,397 55.79 1,107 44.21 2,504
33 Papua 391 61.29 247 38.71 638
99,938 59.06 69,275 40.94 169,213
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
% Jumlah %
Indonesia
JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF
MENURUT JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2009
No Provinsi
Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan
Laki-laki+ Perempuan
Jumlah
Lampiran 3.9
> 65
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (17) (18) (19)
1 Aceh 24 19 229 161 415 223 398 206 443 209 384 169 129 2,022 1,043 3,065
2 Sumatera Utara 65 92 1,206 943 1,914 1,168 1,946 926 2,057 880 1,394 608 475 9,057 4,840 13,897
3 Sumatera Barat 17 27 340 291 561 273 428 222 454 227 397 173 236 2,433 1,299 3,732
4 Riau 13 19 241 172 537 310 434 247 309 163 220 97 74 1,828 1,052 2,880
5 J ambi 12 16 206 163 369 248 345 223 343 188 281 159 139 1,695 1,050 2,745
6 Sumatera Selatan 15 24 420 334 705 447 642 417 640 400 519 248 266 3,207 1,974 5,181
7 Bengkulu 6 6 131 99 194 148 178 117 201 114 199 92 73 982 606 1,588
8 Lampung 26 47 377 330 640 450 585 394 576 359 463 277 284 2,951 1,992 4,943
9 Kep. Bangka Belitung 3 - 82 67 150 82 113 69 123 70 87 37 56 614 337 951
10 Kep.Riau 4 2 81 71 129 113 107 47 82 39 48 21 29 480 304 784
11 DKI J akarta 29 56 1,025 765 1,515 918 936 624 746 455 463 220 152 4,866 3,123 7,989
12 J awa Barat 145 168 3,578 3,226 4,692 3,655 3,470 2,516 2,931 2,076 2,182 1,353 996 17,994 13,439 31,433
13 J awa Tengah 65 95 1,518 1,557 2,017 1,865 1,660 1,424 1,810 1,277 1,520 949 778 9,368 7,538 16,906
14 DI Yogyakarta 1 7 115 103 162 91 122 88 104 77 105 58 86 695 460 1,155
15 J awa Timur 99 135 1,580 1,762 2,306 2,216 2,416 2,072 2,738 2,087 2,300 1,491 938 12,377 10,221 22,598
16 Banten 38 42 954 820 1,266 799 1,055 654 826 511 574 325 194 4,907 3,227 8,134
17 Bali 2 5 128 107 215 183 172 117 150 86 141 86 81 889 628 1,517
18 Nusa Tenggara Barat 11 11 253 187 375 245 347 248 396 259 351 228 129 1,862 1,227 3,089
19 Nusa Tenggara Timur 16 27 279 271 405 350 330 244 345 241 299 228 207 1,881 1,488 3,369
20 Kalimantan Barat 29 24 307 252 552 341 503 263 542 291 530 230 210 2,673 1,483 4,156
21 Kalimantan Tengah 9 12 111 93 175 126 147 113 188 123 117 61 46 793 546 1,339
22 Kalimantan Selatan 22 15 197 204 380 229 355 273 379 267 275 144 92 1,700 1,191 2,891
23 Kalimantan Timur 14 10 174 159 280 210 270 166 250 132 199 85 91 1,278 787 2,065
24 Sulawesi Utara 26 26 334 273 516 320 469 314 480 273 406 192 241 2,472 1,516 3,988
25 Sulawesi Tengah 14 16 128 134 222 179 266 161 240 143 196 115 69 1,135 783 1,918
26 Sulawesi Selatan 10 25 540 388 837 611 733 531 682 491 653 418 342 3,797 2,631 6,428
27 Sulawesi Tenggara 11 12 224 187 254 202 273 199 246 156 231 148 95 1,334 962 2,296
28 Gorontalo 4 5 119 121 177 121 148 111 169 108 122 90 38 777 593 1,370
29 Sulawesi Barat 7 5 71 65 140 87 96 87 109 72 93 57 43 559 383 942
30 Maluku 37 59 199 177 236 197 196 164 169 152 150 108 100 1,087 927 2,014
31 Maluku Utara 6 1 85 79 110 72 73 54 75 38 64 19 24 437 271 708
32 Papua Barat 23 41 397 391 445 361 238 152 172 95 99 58 23 1,397 1,107 2,504
33 Papua 8 5 92 87 120 74 72 38 51 28 29 14 19 391 247 638
811 1,054 15,721 14,039 23,011 16,914 19,523 13,481 19,026 12,087 15,091 8,558 6,755 99,938 69,275 169,213
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
55 - 64
P P
45 - 54 0 - 14 Total
P T
35 - 44
P L L
JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF
MENURUT KELOMPOK UMUR (TAHUN), JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2009
No Provinsi
K e l o m p o k U m u r ( t a h u n)
L
25 - 34
L
15 - 24
L
Indonesia
P L P L L P
Lampiran 3.10
Semua Kasus BTA Pos Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Aceh 3,828 2,831 2,399 84.7 238 8.4 2,637 93.1 66 2.3
2 Sumatera Utara 17,133 14,158 13,241 93.5 366 2.6 13,607 96.1 167 1.2
3 Sumatera Barat 5,403 3,701 2,884 77.9 377 10.2 3,261 88.1 117 3.2
4 Riau 3,478 2,205 1,601 72.6 249 11.3 1,850 83.9 34 1.5
5 J ambi 2,960 2,227 1,860 83.5 195 8.8 2,055 92.3 84 3.8
6 Sumatera Selatan 8,284 5,244 4,566 87.1 364 6.9 4,930 94.0 63 1.2
7 Bengkulu 1,598 1,276 1,181 92.6 62 4.9 1,243 97.4 14 1.1
8 Lampung 7,592 4,771 4,096 85.9 332 7.0 4,428 92.8 100 2.1
9 Kep. Bangka Belitung 1,210 958 813 84.9 22 2.3 835 87.2 37 3.9
10 Kep. Riau 1,500 685 462 67.4 144 21.0 606 88.5 9 1.3
11 DKI J akarta 25,490 8,372 5,818 69.5 1,351 16.1 7,169 85.6 135 1.6
12 J awa Barat 61,557 30,072 25,604 85.1 2,059 6.8 27,663 92.0 400 1.3
13 J awa Tengah 35,951 16,752 14,033 83.8 1,060 6.3 15,093 90.1 285 1.7
14 DI Yogyakarta 2,461 1,141 894 78.4 47 4.1 941 82.5 45 3.9
15 J awa Timur 39,113 23,655 19,582 82.8 1,509 6.4 21,091 89.2 557 2.4
16 Banten 17,896 8,080 6,905 85.5 547 6.8 7,452 92.2 80 1.0
17 Bali 3,159 1,434 960 66.9 264 18.4 1,224 85.4 77 5.4
18 Nusa Tenggara Barat 5,688 3,134 2,468 78.7 408 13.0 2,876 91.8 133 4.2
19 Nusa Tenggara Timur 5,315 3,360 2,709 80.6 339 10.1 3,048 90.7 121 3.6
20 Kalimantan Barat 5,558 4,189 3,721 88.8 173 4.1 3,894 93.0 76 1.8
21 Kalimantan Tengah 1,881 1,251 1,002 80.1 159 12.7 1,161 92.8 17 1.4
22 Kalimantan Selatan 4,990 3,164 2,840 89.8 131 4.1 2,971 93.9 72 2.3
23 Kalimantan Timur 3,829 2,088 1,413 67.7 374 17.9 1,787 85.6 51 2.4
24 Sulawesi Utara 4,858 4,155 3,618 87.1 406 9.8 4,024 96.8 76 1.8
25 Sulawesi Tengah 2,781 2,120 1,711 80.7 288 13.6 1,999 94.3 46 2.2
26 Sulawesi Selatan 8,303 6,170 5,329 86.4 215 3.5 5,544 89.9 185 3.0
27 Sulawesi Tenggara 2,724 2,312 1,864 80.6 345 14.9 2,209 95.5 53 2.3
28 Gorontalo 1,451 1,176 945 80.4 197 16.8 1,142 97.1 19 1.6
29 Sulawesi Barat 1,298 1,060 790 74.5 131 12.4 921 86.9 59 5.6
30 Maluku 2,279 1,109 989 89.2 90 8.1 1,079 97.3 4 0.4
31 Maluku Utara 981 540 282 52.2 168 31.1 450 83.3 18 3.3
32 Papua 6,521 2,461 1,217 49.5 677 27.5 1,894 77.0 50 2.0
33 Papua Barat 1,259 525 202 38.5 168 32.0 370 70.5 21 4.0
298,329 166,376 137,999 82.9 13,455 8.1 151,454 91.0 3,271 2.0
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
HASIL CAKUPAN PENGOBATAN TB PARU MENURUT PROVINSI TAHUN 2008
Success Rate
(%)
Meninggal
Indonesia
Sembuh &
Pengobatan
Lengkap
Cakupan Tahun 2008
No. Provinsi
Sembuh Pengobatan Lengkap
Lampiran 3.11
Jumlah Kasus Case Rate
Kumulatif Per 100.000 Penduduk
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 43 11 1.05
2 Sumatera Utara 485 93 3.71
3 Sumatera Barat 330 81 7.32
4 Riau 475 131 8.36
5 J ambi 165 50 5.77
6 Sumatera Selatan 219 38 3.04
7 Bengkulu 91 21 5.20
8 Lampung 144 42 1.86
9 Kep. Bangka Belitung 117 18 11.36
10 Kepulauan Riau 333 130 22.23
11 DKI J akarta 2,828 426 31.67
12 J awa Barat 3,598 634 8.60
13 J awa Tengah 717 246 2.22
14 DI Yogyakarta 290 81 8.51
15 J awa Timur 3,227 691 8.93
16 Banten 318 54 3.06
17 Bali 1,615 283 45.45
18 Nusa Tenggara Barat 119 63 2.57
19 Nusa Tenggara Timur 138 25 3.17
20 Kalimantan Barat 794 107 16.91
21 Kalimantan Tengah 21 2 0.88
22 Kalimantan Selatan 27 5 0.78
23 Kalimantan Timur 11 10 0.35
24 Sulawesi Utara 173 62 7.69
25 Sulawesi Tengah 12 6 0.46
26 Sulawesi Selatan 591 62 6.65
27 Sulawesi Tenggara 21 5 0.91
28 Gorontalo 3 1 0.33
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 192 70 14.21
31 Maluku Utara 10 8 1.04
32 Papua Barat 58 19 8.93
33 Papua 2,808 371 133.07
19,973 3,846 8.66
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
JUMLAH KUMULATIF KASUS AIDS, MENINGGAL, DAN ANGKA KUMULATIF KASUS PER 100.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN DESEMBER 2009
Indonesia
No Provinsi Meninggal
Lampiran 3.12
Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 30 48 36 43
2 Sumatera Utara 485 485 485 485
3 Sumatera Barat 234 410 293 330
4 Riau 368 477 371 475
5 J ambi 165 166 165 165
6 Sumatera Selatan 184 219 219 219
7 Bengkulu 52 113 85 91
8 Lampung 144 144 144 144
9 Kep. Bangka Belitung 111 120 117 117
10 Kep.Riau 325 341 333 333
11 DKI J akarta 2,807 3,740 2,811 2,828
12 J awa Barat 3,162 3,710 3,233 3,598
13 J awa Tengah 573 819 669 717
14 DI Yogyakarta 246 290 247 290
15 J awa Timur 2,652 3,540 3,133 3,227
16 Banten 78 323 275 318
17 Bali 1,263 1,747 1,506 1,615
18 Nusa Tenggara Barat 92 142 107 119
19 Nusa Tenggara Timur 117 139 138 138
20 Kalimantan Barat 730 794 730 794
21 Kalimantan Tengah 10 40 15 21
22 Kalimantan Selatan 27 27 27 27
23 Kalimantan Timur 11 11 11 11
24 Sulawesi Utara 173 173 173 173
25 Sulawesi Tengah 12 12 12 12
26 Sulawesi Selatan 143 591 143 591
27 Sulawesi Tenggara 11 22 20 21
28 Gorontalo 3 3 3 3
29 Sulawesi Barat - - - -
30 Maluku 190 192 192 192
31 Maluku Utara 9 16 10 10
32 Papua Barat 58 58 58 58
33 Papua 2,499 2,858 2,681 2,808
16,964 21,770 18,442 19,973
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Jumlah Kasus AIDS Kumulatif
JUMLAH KASUS AIDS KUMULATIF PER TRIWULAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
J u m l a h
No Provinsi
Lampiran 3.13
Jumlah Kasus Jumlah Kasus Kumulatif Persentase Kasus Kumulatif
Kumulatif Pada IDU Pada IDU
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 43 17 39.50
2 Sumatera Utara 485 209 43.10
3 Sumatera Barat 330 224 67.90
4 Riau 475 135 28.40
5 J ambi 165 96 58.20
6 Sumatera Selatan 219 104 47.50
7 Bengkulu 91 47 51.60
8 Lampung 144 112 77.80
9 Kep. Bangka Belitung 117 40 34.20
10 Kepulauan Riau 333 30 9.00
11 DKI J akarta 2,828 2,002 70.80
12 J awa Barat 3,598 2,628 73.00
13 J awa Tengah 717 152 21.20
14 DI Yogyakarta 290 132 45.50
15 J awa Timur 3,227 1,022 31.70
16 Banten 318 199 62.60
17 Bali 1,615 261 16.20
18 Nusa Tenggara Barat 119 46 38.70
19 Nusa Tenggara Timur 138 12 8.70
20 Kalimantan Barat 794 132 16.60
21 Kalimantan Tengah 21 7 33.30
22 Kalimantan Selatan 27 9 33.30
23 Kalimantan Timur 11 4 36.40
24 Sulawesi Utara 173 40 23.10
25 Sulawesi Tengah 12 6 50.00
26 Sulawesi Selatan 591 209 35.40
27 Sulawesi Tenggara 21 1 4.80
28 Gorontalo 3 2 66.70
29 Sulawesi Barat - - -
30 Maluku 192 79 41.10
31 Maluku Utara 10 2 20.00
32 Papua Barat 58 5 8.60
33 Papua 2,808 2 0.10
19,973 7,966 39.90
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
JUMLAH DAN PERSENTASE KASUS AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIKAN (IDU)
MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009
Indonesia
No Provinsi
Lampiran 3.14
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 568,657 56,866 494 732 1,226 2.16
2 Sumatera Utara 1,306,660 130,666 11,271 16,905 28,176 21.56
3 Sumatera Barat 469,766 46,977 1,989 5,387 7,376 15.70
4 Riau 449,139 44,914 3,126 6,329 9,455 21.05
5 J ambi 211,873 21,187 223 589 812 3.83
6 Sumatera Selatan 690,344 69,034 4,369 7,624 11,993 17.37
7 Bengkulu 185,621 18,562 1,806 2,075 3,881 20.91
8 Lampung 748,682 74,868 3,315 7,034 10,349 13.82
9 Kep. Bangka Belitung 113,130 11,313 1,078 3,607 4,685 41.41
10 Kepulauan Riau 161,752 16,175 13 38 51 0.32
11 DKI J akarta 896,521 89,652 6,010 11,296 17,306 19.30
12 J awa Barat 4,062,083 425,985 67,621 129,034 196,655 46.16
13 J awa Tengah - - - - - -
14 DI Yogyakarta 344,384 34,438 - - - -
15 J awa Timur 2,491,593 249,159 11,566 20,721 32,287 12.96
16 Banten 1,072,458 107,246 3,552 6,328 9,880 9.21
17 Bali 354,310 35,431 1,277 2,318 3,595 10.15
18 Nusa Tenggara Barat 429,249 42,925 11,829 18,842 30,671 71.45
19 Nusa Tenggara Timur 434,332 43,433 1,677 1,915 4,846 11.16
20 Kalimantan Barat 424,914 42,491 372 709 1,081 2.54
21 Kalimantan Tengah 197,014 19,701 309 758 1,067 5.42
22 Kalimantan Selatan 323,701 32,370 1,153 2,380 3,533 10.91
23 Kalimantan Timur - - - - - -
24 Sulawesi Utara 201,175 20,118 890 1,749 2,639 13.12
25 Sulawesi Tengah - - - - - -
26 Sulawesi Selatan 725,575 72,558 1,261 2,646 3,907 5.38
27 Sulawesi Tenggara 233,915 23,392 732 1,524 2,256 9.64
28 Gorontalo 95,781 9,578 518 842 1,360 14.20
29 Sulawesi Barat 111,912 11,191 258 404 662 5.92
30 Maluku - - - - - -
31 Maluku Utara 98,191 9,819 183 387 570 5.81
32 Papua Barat - - - - - -
33 Papua - - - - - -
17,402,735 1,760,050 136,892 252,173 390,319 22.18
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Jumlah %
Indonesia
JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No. Provinsi
Jumlah Penduduk Usia
Balita Wil. PKM
Program
Target Penemuan
Pneumonia Balita
(10%)
Realisasi Penemuan Penderita Pneumonia Balita
< 1 Tahun 1 - 4 Tahun
Lampiran 3.15
Case Detection Rate
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Aceh 121 359 480 11.00 48 0.10 40 0.08
2 Sumatera Utara 37 163 200 1.55 33 0.17 14 0.07
3 Sumatera Barat 13 65 78 1.71 0.00 - 6.00 7.69
4 Riau 44 151 195 4.05 20 0.10 35 0.18
5 J ambi 4 59 63 2.26 15.00 0.24 0 0
6 Sumatera Selatan 20 200 220 3.05 47 0.21 9 0.04
7 Bengkulu 2 9 11 0.63 0 0 0 0
8 Lampung 24 87 111 1.42 33 0.30 17 0.15
9 Kep. Bangka Belitung 6 27 33 2.98 1.00 0.02 5.00 0.07
10 Kepulauan Riau 3 7 10 0.60 0 0 0 0
11 DKI J akarta 102 471 573 6.33 13.00 0.02 42.00 0.07
12 J awa Barat 208 1351 1,559 3.69 206 0.13 188 0.12
13 J awa Tengah 226 1348 1,574 4.91 236.00 0.15 151.00 0.10
14 DI Yogyakarta 13 39 52 1.51 6 0.12 3 0.06
15 J awa Timur 944 4979 5,923 15.82 651.00 0.11 710.00 0.12
16 Banten 65 434 499 5.05 83 0.17 62 0.12
17 Bali 15 69 84 2.53 1.00 0.01 1.00 0.01
18 Nusa Tenggara Barat 51 216 267 6.02 21 0.08 45 0.17
19 Nusa Tenggara Timur 34 159 193 3.85 21.00 0.11 13.00 0.07
20 Kalimantan Barat 7 97 104 2.42 7 0.07 14 0.13
21 Kalimantan Tengah 9 90 99 4.89 11.00 0.11 6.00 0.06
22 Kalimantan Selatan 12 188 200 6.16 31 0.16 10 0.05
23 Kalimantan Timur 19 180 199 6.78 11.00 0.06 10.00 0.05
24 Sulawesi Utara 85 340 425 18.79 25 0.06 56 0.13
25 Sulawesi Tengah 83 230 313 12.93 30.00 0.10 30.00 0.10
26 Sulawesi Selatan 233 1003 1,236 16.20 143 0.12 133 0.11
27 Sulawesi Tenggara 29 220 249 11.62 11.00 0.04 17.00 0.07
28 Gorontalo 19 174 193 19.08 18 0.09 25 0.13
29 Sulawesi Barat 55 140 195 14.62 8.00 0.04 25.00 0.13
30 Maluku 72 325 397 27.56 13 0.03 51 0.13
31 Maluku Utara 105 286 391 40.35 35.00 0.09 65.00 0.17
32 Papua Barat 108 139 247 33.01 10 0.04 72 0.29
33 Papua 265 622 887 40.06 24.00 0.03 219.00 0.25
3,033 14,227 17,260 7,49 1,812 10.37 2,074 11.44
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Indonesia
Jumlah
Cacat Tkt. 2 0 - 14 Tahun
Per 100.000 Penduduk Jumlah %
JUMLAH KASUS BARU KUSTA, CASE DETECTION RATE (CDR),
No. Provinsi PB MB
KECACATAN, DAN PROPORSI KASUS PADA ANAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
Jumlah %
Lampiran 3.16
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28)
1 Aceh 6 1 0 5 0 0 1 1 0 5 0 0 3 0 0 0 0 6 3 2 1 0 6 0 0
2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 Sumatera Barat 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 1 0 0
4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5 J ambi 4 2 0 1 0 2 1 0 0 3 1 0 1 1 1 2 0 1 1 2 0 1 1 2 1
6 Sumatera Selatan 7 4 0 1 0 3 3 0 1 3 3 0 1 3 0 3 1 3 0 2 2 3 3 1 3
7 Bengkulu 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0
8 Lampung 12 8 0 10 0 0 2 5 0 5 2 0 2 2 5 3 2 2 5 4 2 1 12 0 0
9 Kepulauan Bangka Belitung 2 0 0 2 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 2 0 0
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
11 DKI J akarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
12 J awa Barat 23 10 1 10 1 4 7 1 5 11 6 0 2 7 3 0 11 9 12 1 2 8 15 1 7
13 J awa Tengah 7 3 0 3 2 2 0 0 2 5 0 3 1 0 0 3 3 1 5 0 2 0 7 0 0
14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
15 J awa Timur 22 15 2 11 6 2 1 6 5 0 12 2 6 0 14 6 1 1 15 2 2 3 21 1 0
16 Banten 43 17 0 27 2 12 2 6 4 31 2 0 3 2 9 16 17 1 27 8 8 0 35 8 0
17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
18 Nusa Tenggara Bara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 3 2 0 0 1 0 2 0 0 0 3 0 0 3 0 1 0 2 0 0 1 2 1 0 2
20 Kalimantan Bara 16 8 0 7 0 3 6 0 2 14 0 0 6 3 3 10 0 3 6 5 0 5 9 1 6
21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
23 Kalimantan Timur 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0
24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
25 Sulawesi Tengah 2 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 2 0 0 0 1 1 0
26 Sulawesi Selatan 2 2 0 2 0 0 0 2 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 2 0 0 0 2 0 0
27 Sulawesi Tenggara 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0
28 Gorontalo 3 2 0 3 0 0 0 0 1 2 0 0 2 0 0 3 0 0 2 0 0 1 1 2 0
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
32 Papua Barat 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1
33 Papua 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0
158 76 3 84 13 30 28 22 21 85 31 5 30 23 37 50 39 32 84 27 21 26 121 17 20
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
T
i
d
a
k
T
i
d
a
k

D
i
k
e
t
a
h
u
i
G
u
n
t
i
n
g
T
i
d
a
k

D
i
k
e
t
a
h
u
i
Y
a
B
a
m
b
u
L
a
i
n
-
l
a
i
n
T
i
d
a
k

D
i
k
e
t
a
h
u
i
Indonesia
T
r
a
d
i
s
i
o
n
a
l
L
a
i
n
-
l
a
i
n
T
i
d
a
k

D
i
i
m
u
n
i
s
a
s
i
B
i
d
a
n
/
P
e
r
a
w
a
t
B
i
d
a
n
/
P
e
r
a
w
a
t
T
r
a
d
i
s
i
o
n
a
l
T
a
n
p
a

p
e
m
e
r
i
k
s
a
a
n
T
T
1
Perawatan Tali Pusat Pemotongan Tali Pusat Dirawat di RS
D
o
k
t
e
r
T
i
d
a
k

D
i
k
e
t
a
h
u
i
T
T
2
+
T
i
d
a
k

D
i
k
e
t
a
h
u
i
D
o
k
t
e
r
T
i
d
a
k

D
i
k
e
t
a
h
u
i
A
l
k
o
h
o
l
/
I
o
d
i
u
m
Faktor Risiko
T
o
t
a
l
M
e
n
i
n
g
g
a
l
JUMLAH KASUS TETANUS NEONATORUM DAN FAKTOR RISIKO
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No Provinsi
Pemeriksaan Kehamilan Status Imunisasi Penolong Persalinan
Lampiran 3.17
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15)
1 Aceh 163 75 81 112 53 67 43 19 3 2 24 51 693
2 Sumatera Utara 132 100 121 18 41 47 8 0 0 9 0 0 476
3 Sumatera Barat 61 82 74 102 125 101 62 66 37 104 84 66 964
4 Riau 72 136 130 99 105 34 35 7 44 55 49 32 798
5 J ambi 0 0 34 93 35 56 29 10 0 67 100 86 510
6 Sumatera Selatan 88 82 87 75 117 88 83 63 63 24 46 56 872
7 Bengkulu 21 13 16 25 36 32 10 14 13 9 15 15 219
8 Lampung 121 145 182 219 176 133 87 78 50 81 71 104 1,447
9 Kep. Bangka Belitung 3 5 8 9 20 3 7 6 0 3 2 6 72
10 Kepulauan Riau 39 53 40 28 39 30 56 32 40 59 67 50 533
11 DKI J akarta 17 62 45 67 98 85 130 83 120 106 0 0 813
12 J awa Barat 429 501 121 62 120 65 35 0 0 0 0 0 1,333
13 J awa Tengah 135 176 216 297 254 338 219 228 296 320 402 400 3,281
14 DI Yogyakarta 21 4 0 0 0 1 3 0 3 5 0 2 39
15 J awa Timur 164 154 201 103 98 58 58 71 40 93 94 63 1,197
16 Banten 138 204 199 194 190 104 105 105 80 169 178 128 1,794
17 Bali 5 4 0 1 4 8 12 10 0 47 25 49 165
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 8 0 3 2 4 1 0 13 0 5 0 9 45
20 Kalimantan Barat 18 19 26 36 14 20 17 16 13 32 22 25 258
21 Kalimantan Tengah 8 11 11 9 20 19 15 10 6 10 13 1 133
22 Kalimantan Selatan 72 99 112 88 90 88 35 65 24 14 3 3 693
23 Kalimantan Timur 3 5 9 12 38 11 0 9 0 7 0 0 94
24 Sulawesi Utara 16 20 2 17 11 3 21 19 34 14 9 25 191
25 Sulawesi Tengah 10 8 9 5 1 10 7 3 7 0 1 16 77
26 Sulawesi Selatan 45 103 181 139 80 77 76 30 24 76 100 59 990
27 Sulawesi Tenggara 3 14 7 27 5 41 20 6 2 3 2 0 130
28 Gorontalo 16 17 5 5 19 4 8 4 1 0 15 14 108
29 Sulawesi Barat 8 5 3 8 4 1 0 3 0 0 0 0 32
30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 Maluku Utara 0 26 0 0 0 0 2 0 0 0 5 0 33
32 Papua Barat 0 3 4 1 6 11 0 2 0 0 16 16 59
33 Papua 0 2 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 6
1,816 2,128 1,927 1,853 1,807 1,536 1,183 972 900 1,314 1,343 1,276 18,055
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Indonesia
Mar Apr
No. Provinsi
Jumlah Kasus per Bulan
Sep Okt Nov Jun Jul Ags
JUMLAH KASUS CAMPAK PER BULAN
Jan Des Mei Feb Total
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
Lampiran 3.18
Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 3 78 26 283 29 197 7 72 4 63 69 693
2 Sumatera Utara 42 101 73 143 89 154 12 38 17 40 233 476
3 Sumatera Barat 20 79 109 211 154 290 90 169 53 215 426 964
4 Riau 35 98 85 209 92 210 46 105 22 176 280 798
5 J ambi 8 50 66 95 77 129 48 97 11 139 210 510
6 Sumatera Selatan 22 114 105 220 98 228 67 147 44 163 336 872
7 Bengkulu 11 30 11 27 37 78 13 44 10 40 82 219
8 Lampung 35 123 172 240 340 496 188 324 109 264 844 1,447
9 Kep. Bangka Belitung 1 7 4 10 10 20 6 12 2 23 23 72
10 Kepulauan Riau 10 66 14 146 13 160 11 49 6 112 54 533
11 DKI J akarta 0 86 0 318 0 156 0 97 0 156 0 813
12 J awa Barat 0 134 0 300 0 453 0 251 0 195 0 1,333
13 J awa Tengah 92 236 333 602 574 1277 252 672 115 494 1366 3,281
14 DI Yogyakarta 0 3 1 14 0 4 0 3 0 15 1 39
15 J awa Timur 84 148 179 211 321 374 198 250 115 214 897 1,197
16 Banten 12 229 130 542 126 582 43 234 18 207 329 1,794
17 Bali 2 3 6 6 37 39 62 71 28 46 135 165
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 3 2 10 12 6 16 7 13 0 2 26 45
20 Kalimantan Barat 4 19 41 55 28 64 18 38 7 82 98 258
21 Kalimantan Tengah 5 28 24 29 21 30 8 13 10 33 68 133
22 Kalimantan Selatan 37 67 85 129 143 246 78 155 4 96 347 693
23 Kalimantan Timur 4 17 24 29 14 19 14 14 4 15 60 94
24 Sulawesi Utara 7 15 23 46 50 82 11 24 14 24 105 191
25 Sulawesi Tengah 1 11 5 27 4 21 1 9 0 9 11 77
26 Sulawesi Selatan 58 106 188 217 206 260 159 197 142 210 753 990
27 Sulawesi Tenggara 2 9 23 33 33 46 8 25 3 17 69 130
28 Gorontalo 4 12 17 21 24 35 14 26 4 14 63 108
29 Sulawesi Barat 1 3 8 9 6 7 7 7 6 6 28 32
30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 Maluku Utara 3 4 6 18 0 6 1 5 0 0 10 33
32 Papua Barat 1 10 7 25 5 16 0 3 2 5 15 59
33 Papua 0 2 0 0 3 3 0 0 0 1 3 6
507 1,890 1,775 4,227 2,540 5,698 1,369 3,164 750 3,076 6,941 18,055
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
10-14 > 14
Indonesia
JUMLAH KASUS CAMPAK
MENURUT KELOMPOK UMUR DAN PROVINSI TAHUN 2009
No. Provinsi
Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Tahun)
Total
Divaksinasi
Total Kasus
<1 1-4 5-9
Lampiran 3.19
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 0 693 1.59
2 Sumatera Utara 0 476 0.36
3 Sumatera Barat 0 964 2.00
4 Riau 0 798 1.50
5 J ambi 0 510 1.80
6 Sumatera Selatan 0 872 1.21
7 Bengkulu 0 219 1.31
8 Lampung 1 1,447 1.93
9 Kep. Bangka Belitung 0 72 0.63
10 Kepulauan Riau 0 533 3.52
11 DKI J akarta 0 813 0.88
12 J awa Barat 0 1,333 0.32
13 J awa Tengah 1 3,281 1.00
14 DI Yogyakarta 0 39 0.11
15 J awa Timur 0 1,197 0.32
16 Banten 0 1,794 1.83
17 Bali 0 165 0.46
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0.00
19 Nusa Tenggara Timur 0 45 0.10
20 Kalimantan Barat 0 258 0.60
21 Kalimantan Tengah 0 133 0.64
22 Kalimantan Selatan 0 693 1.98
23 Kalimantan Timur 0 94 0.30
24 Sulawesi Utara 0 191 0.86
25 Sulawesi Tengah 0 77 0.31
26 Sulawesi Selatan 0 990 1.25
27 Sulawesi Tenggara 0 130 0.61
28 Gorontalo 0 108 1.10
29 Sulawesi Barat 0 32 0.31
30 Maluku 0 0 0.00
31 Maluku Utara 0 33 0.34
32 Papua Barat 0 59 0.79
33 Papua 0 6 0.03
2 18,055 0.77
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Indonesia
JUMLAH KASUS, MENINGGAL, DAN INCIDENCE RATE CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No. Provinsi
Laporan Rutin
Kasus IR (per 10.000 penduduk) Meninggal
Lampiran 3.20
Frek. KLB Frek. KLB Frek. KLB Total Meninggal
Dengan Spesimen > 5 Dengan Investigasi Penuh Dgn Laporan ke Pusat Kasus
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 5 4 0 0 28 0
2 Sumatera Utara 5 3 1 1 38 0
3 Sumatera Barat 8 7 5 5 185 0
4 Riau 1 1 0 0 5 0
5 J ambi 17 9 9 17 167 0
6 Sumatera Selatan 8 8 4 4 70 0
7 Bengkulu 2 2 0 0 17 0
8 Lampung 24 20 20 24 409 0
9 Kep. Bangka Belitung 3 2 2 2 30 0
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0
11 DKI J akarta 3 2 0 0 14 0
12 J awa Barat 26 20 17 23 280 0
13 J awa Tengah 25 21 0 0 122 0
14 DI Yogyakarta 6 6 4 4 50 0
15 J awa Timur 8 6 0 0 49 0
16 Banten 8 7 7 8 221 4
17 Bali 0 0 0 0 0 0
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0
20 Kalimantan Barat 1 1 1 1 17 0
21 Kalimantan Tengah 2 2 1 1 45 0
22 Kalimantan Selatan 2 2 2 2 20 0
23 Kalimantan Timur 2 1 1 2 18 0
24 Sulawesi Utara 6 4 4 6 63 0
25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0
26 Sulawesi Selatan 4 4 4 4 30 0
27 Sulawesi Tenggara 3 3 3 3 66 0
28 Gorontalo 3 3 2 3 26 0
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 1 0 0 0 2 0
31 Maluku Utara 5 5 4 4 100 0
32 Papua Barat 4 2 2 4 68 4
33 Papua 8 3 1 3 630 34
190 148 94 121 2,770 42
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
FREKUENSI KLB DAN JUMLAH KASUS PADA KLB CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
Indonesia
Laporan KLB
Total KLB
Provinsi No.
Lampiran 3.21
Total Darah
(Serum) Sampel Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15)
1 Aceh 28 2 9 1 6 1 8 1 5 0 0 0 0
2 Sumatera Utara 23 4 34 0 0 0 0 1 4 0 0 0 0
3 Sumatera Barat 40 3 48 3 127 0 0 2 10 0 0 0 0
4 Riau 5 0 0 1 5 0 0 0 0 0 0 0 0
5 J ambi 71 3 18 7 81 1 6 6 62 0 0 0 0
6 Sumatera Selatan 43 0 0 1 12 0 0 7 58 0 0 0 0
7 Bengkulu 17 0 0 1 12 1 5 0 0 0 0 0 0
8 Lampung 115 0 0 19 325 0 0 2 52 0 0 3 32
9 Kep. Bangka Belitung 13 0 0 2 27 0 0 1 3 0 0 0 0
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
11 DKI J akarta 14 2 9 1 5 0 0 0 0 0 0 0 0
12 J awa Barat 136 6 70 13 159 1 7 4 30 0 0 2 14
13 J awa Tengah 122 2 9 21 107 2 6 0 0 0 0 0 0
14 DI Yogyakarta 48 3 23 2 22 0 0 1 5 0 0 0 0
15 J awa Timur 48 1 11 7 38 0 0 0 0 0 0 0 0
16 Banten 46 6 183 2 38 0 0 0 0 0 0 0 0
17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
20 Kalimantan Barat 5 0 0 1 17 0 0 0 0 0 0 0 0
21 Kalimantan Tengah 10 0 0 2 45 0 0 0 0 0 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 10 0 0 1 14 0 0 1 6 0 0 0 0
23 Kalimantan Timur 9 0 0 1 8 0 0 1 10 0 0 0 0
24 Sulawesi Utara 28 3 37 2 19 1 7 0 0 0 0 0 0
25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
26 Sulawesi Selatan 21 0 0 3 23 0 0 1 7 0 0 0 0
27 Sulawesi Tenggara 17 2 49 1 17 0 0 0 0 0 0 0 0
28 Gorontalo 15 0 0 3 26 0 0 0 0 0 0 0 0
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 2 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 Maluku Utara 26 5 100 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
32 Papua Barat 12 1 30 0 0 1 7 0 0 0 0 2 31
33 Papua 37 2 544 3 18 1 3 0 0 0 0 2 65
961 46 1,176 98 1,151 9 49 28 252 0 0 9 142
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Campak
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
Rubella
Gabungan (Campak
dan Rubella)
KLB CAMPAK BERDASARKAN KONFIRMASI LABORATORIUM
Indonesia
Negatif Pending Lab.
Tanpa Spesimen
Konfirmasi Laboratorium
No. Provinsi
Lampiran 3.22
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 0 0 0 0 0 0
2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0
3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0
4 Riau 0 0 0 0 0 0
5 J ambi 0 0 0 0 0 0
6 Sumatera Selatan 0 5 0 0 0 5
7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0
8 Lampung 0 1 0 0 0 1
9 Kep. Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0
11 DKI J akarta 0 1 2 0 0 3
12 J awa Barat 0 1 3 2 6 12
13 J awa Tengah 4 6 8 1 5 24
14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0
15 J awa Timur 1 32 60 23 3 119
16 Banten 1 1 1 1 0 4
17 Bali 0 0 0 0 0 0
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0
20 Kalimantan Barat 0 2 1 0 1 4
21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 0 0 1 1 2 4
23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0
24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0
25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0
26 Sulawesi Selatan 0 4 5 1 0 10
27 Sulawesi Tenggara 0 0 3 0 0 3
28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 0 0 0 0 0 0
31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0
32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0
33 Papua 0 0 0 0 0 0
6 53 84 29 17 189
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
JUMLAH KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR
No. Provinsi
Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Bulan)
> 15 Total 10-14
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
Indonesia
<1 1-4 5-9
Lampiran 3.23
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15)
1 Aceh 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5 J ambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
6 Sumatera Selatan 1 1 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 5
7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
8 Lampung 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
9 Kep. Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
11 DKI J akarta 0 1 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 3
12 J awa Barat 0 9 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 12
13 J awa Tengah 3 2 5 3 3 2 2 1 0 2 0 1 24
14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
15 J awa Timur 14 9 11 12 14 13 10 11 7 7 2 9 119
16 Banten 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 2 0 4
17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 2 4
21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 4
23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
26 Sulawesi Selatan 0 0 2 2 0 2 0 2 2 0 0 0 10
27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 3
28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 22 22 22 20 19 13 17 9 9 5 12 189
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
JUMLAH KASUS DIFTERI PER BULAN
Indonesia
Mar Apr
No. Provinsi
Jan Feb Total
Jumlah Kasus per Bulan
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
Sep Okt Nov Des Mei Jun Jul Ags
Lampiran 3.24
No Provinsi Minimal Kasus per Tahun Jumlah Kasus AFP AFP Rate / 100.000 penduduk Non Polio AFP Rate / 100.000 penduduk
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 24 35 2.80 2.80
2 Sumatera Utara 80 95 2.38 2.38
3 Sumatera Barat 26 40 2.96 2.96
4 Riau 37 69 3.83 3.72
5 J ambi 7 19 2.24 2.00
6 Sumatera Selatan 17 85 3.95 3.91
7 Bengkulu 10 18 3.60 3.60
8 Lampung 42 57 2.59 2.59
9 Kep. Bangka Belitung 6 10 4.00 3.60
10 Kepulauan Riau 43 12 3.43 3.43
11 DKI J akarta 42 62 2.95 2.62
12 J awa Barat 62 246 2.21 2.06
13 J awa Tengah 224 188 2.31 2.20
14 DI Yogyakarta 162 35 5.83 5.67
15 J awa Timur 12 241 3.15 3.01
16 Banten 151 84 2.75 2.75
17 Bali 28 25 3.13 3.13
18 Nusa Tenggara Barat 14 19 1.36 1.29
19 Nusa Tenggara Timur 18 58 4.30 4.15
20 Kalimantan Barat 17 30 2.14 2.14
21 Kalimantan Tengah 11 11 1.57 1.57
22 Kalimantan Selatan 5 23 2.42 2.21
23 Kalimantan Timur 15 29 3.41 3.29
24 Sulawesi Utara 43 31 5.64 5.64
25 Sulawesi Tengah 7 14 1.87 1.73
26 Sulawesi Selatan 15 66 2.93 2.80
27 Sulawesi Tenggara 17 22 2.93 2.93
28 Gorontalo 28 21 8.40 8.40
29 Sulawesi Barat 27 7 2.00 2.00
30 Maluku 8 9 2.25 2.00
31 Maluku Utara 6 7 2.33 2.33
32 Papua Barat 4 8 4.00 4.00
33 Papua 12 6 1.00 1.00
1,220 1,682 2.75 2.65
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Indonesia
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
JUMLAH KASUS AFP, AFP RATE DAN NON POLIO AFP RATE
Lampiran 3.25
Virus Polio Liar Kompatibel Bukan Polio
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 0 0 35
2 Sumatera Utara 0 0 95
3 Sumatera Barat 0 0 40
4 Riau 0 0 67
5 J ambi 0 0 12
6 Sumatera Selatan 0 0 17
7 Bengkulu 0 0 18
8 Lampung 0 0 85
9 Kep. Bangka Belitung 0 0 9
10 Kepulauan Riau 0 0 59
11 DKI J akarta 0 0 55
12 J awa Barat 0 0 84
13 J awa Tengah 0 0 234
14 DI Yogyakarta 0 0 186
15 J awa Timur 0 0 34
16 Banten 0 0 230
17 Bali 0 0 30
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 11
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 21
20 Kalimantan Barat 0 0 28
21 Kalimantan Tengah 0 0 31
22 Kalimantan Selatan 0 0 21
23 Kalimantan Timur 0 0 13
24 Sulawesi Utara 0 0 63
25 Sulawesi Tengah 0 0 7
26 Sulawesi Selatan 0 0 22
27 Sulawesi Tenggara 0 0 25
28 Gorontalo 0 0 18
29 Sulawesi Barat 0 0 56
30 Maluku 0 0 8
31 Maluku Utara 0 0 7
32 Papua Barat 0 0 8
33 Papua 0 0 7
0 0 1,636
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
JUMLAH KASUS AFP MENURUT KRITERIA KLASIFIKASI KLINIS
DAN PROVINSI TAHUN 2009
Indonesia
No Provinsi
Klasifikasi Klinis
Lampiran 3.26
P CFR IR P CFR IR P M CFR IR P M CFR P M CFR IR
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (17) (18) (19) (20)
1 Aceh 629 1.59 14.86 758 1.98 19.43 1,569 13 0.83 38.92 2,436 32 1.31 1,573 20 1.27 36.36
2 Sumatera Utara 3,657 1.80 30.75 2,125 1.60 16.86 3,990 34 0.85 31.66 4,454 49 1.10 4,697 58 1.23 35.7
3 Sumatera Barat 1,154 1.99 25.89 1,067 1.22 23.87 2,189 24 1.10 48.05 1,907 11 0.58 2,813 18 0.64 59.75
4 Riau 1,850 1.73 41.19 948 1.90 21.04 795 15 1.89 18.46 828 10 1.21 1,563 27 1.73 29.29
5 J ambi 353 3.12 13.38 365 3.01 13.83 309 5 1.62 11.20 245 9 3.67 254 5 1.97 8.55
6 Sumatera Selatan 1,621 0.56 18.38 2,272 0.09 32.48 3,480 13 0.37 48.17 2,360 3 0.13 1,854 6 0.32 25.67
7 Bengkulu 61 3.28 3.60 129 0.78 7.61 274 7 2.55 15.62 339 1 0.29 260 8 3.08 15.44
8 Lampung 736 1.63 10.54 1,402 1.00 20.08 4,470 23 0.51 64.01 4,807 40 0.83 1,862 20 1.07 24.85
9 Kep. Bangka Belitung 46 4.35 4.60 58 0.00 5.80 145 2 1.38 13.67 34 - 0.00 349 16 4.58 31.54
10 Kepulauan Riau 746 3.49 57.58 969 2.89 74.79 950 11 1.16 73.33 1,724 22 1.28 1,828 14 0.77 115.6
11 DKI J akarta 23,466 0.34 296.87 24,932 0.16 316.17 31,836 86 0.27 392.64 28,361 26 0.09 28,032 32 0.11 313.4
12 J awa Barat 18,590 1.53 47.50 25,851 1.06 66.08 30,536 288 0.94 78.05 23,248 231 0.99 37,861 307 0.81 89.41
13 J awa Tengah 6,583 2.29 19.61 10,924 2.01 33.72 20,391 327 1.60 61.96 19,235 228 1.19 17,881 248 1.39 54.81
14 DI Yogyakarta 971 1.24 29.44 2,184 1.05 66.22 2,462 26 1.06 74.65 2,119 21 0.99 2,203 15 0.68 63.89
15 J awa Timur 15,251 1.74 42.94 20,374 1.21 56.19 25,950 372 1.43 69.95 17,310 168 0.97 18,631 185 0.99 50.03
16 Banten 2,045 1.27 23.87 2,306 1.52 26.92 5,587 98 1.75 65.22 3,954 53 1.34 5,250 70 1.33 56.39
17 Bali 3,596 0.50 108.97 5,629 0.53 170.57 6,375 14 0.22 193.18 6,254 19 0.30 5,810 9 0.15 167.4
18 Nusa Tenggara Barat 1,062 1.41 26.62 623 0.64 15.59 720 2 0.28 16.90 777 4 0.51 615 4 0.65 13.72
19 Nusa Tenggara Timur 735 1.36 17.75 251 1.20 6.36 518 11 2.12 13.13 695 22 3.17 399 7 1.75 8.44
20 Kalimantan Barat 1,220 1.07 31.92 2,659 1.32 65.94 508 7 1.38 12.98 947 32 3.38 9,792 171 1.75 228.3
21 Kalimantan Tengah 491 0.81 26.75 513 0.78 27.42 696 8 1.15 35.54 531 7 1.32 1,309 16 1.22 65.25
22 Kalimantan Selatan 341 2.35 9.29 455 1.54 12.40 1,321 16 1.21 35.59 576 11 1.91 1,113 20 1.80 29.3
23 Kalimantan Timur 3,165 2.59 121.74 2,714 2.80 103.64 5,341 102 1.91 193.15 5,762 105 1.82 5,244 68 1.30 173.8
24 Sulawesi Utara 1,926 1.35 119.89 1,290 1.47 59.62 1,865 24 1.29 86.15 1,430 16 1.12 1,640 20 1.22 68.79
25 Sulawesi Tengah 780 1.00 31.73 492 2.24 20.01 1,338 17 1.27 54.02 1,389 17 1.22 952 7 0.74 36.5
26 Sulawesi Selatan 2,822 1.81 34.65 2,612 0.84 35.03 2,732 30 1.10 36.79 3,538 27 0.76 3,411 23 0.67 44.71
27 Sulawesi Tenggara 758 2.90 39.25 95 3.16 4.73 944 7 0.74 48.20 1,006 9 0.89 692 12 1.73 31.86
28 Gorontalo 206 0.00 23.50 302 0.66 32.90 236 4 1.69 25.71 172 4 2.33 91 2 2.20 9.19
29 Sulawesi Barat 27 2.00 2.66 31 3.23 3.06 2 0 0.00 0.20 43 0 0.00 149 0 0.00 13.74
30 Maluku 0 0.00 0.00 0 0.00 0.00 0 0 0.00 0.00 0 0 0.00 0 0 0.00 0
31 Maluku Utara 24 4.17 2.65 138 2.90 16.09 275 7 2.55 29.22 250 7 2.80 384 7 1.82 38.89
32 Papua Barat 184 3.26 32.62 128 0.00 22.69 208 2 0.96 28.76 510 2 0.39 204 2 0.98 28.21
33 Papua 183 1.09 11.02 60 0.00 3.55 103 4 3.88 6.09 228 1 0.44 196 3 1.53 10.93
95,279 1.36 43.42 114,656 1.04 52.48 158,115 1,599 1.01 71.78 137,469 1,187 0.86 158,912 1,420 0.89 68.22
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Indonesia
No. Provinsi
2005
JUMLAH PENDERITA, CASE FATALITY RATE (%), DAN INCIDENCE RATE PER 100.000 PENDUDUK DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD/DHF)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 - 2009
2007 2008 2009 2006
Lampiran 3.27
Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah
Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota 2009
2005/2006 2007 2008 2009 Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15)
1 Aceh 21 23 23 23 12 57.14 15 71.43 15 65.22 17 73.91 17
2 Sumatera Utara 25 28 30 33 17 68.00 19 76.00 20 71.43 22 73.33 22
3 Sumatera Barat 19 19 19 19 10 52.63 12 63.16 15 78.95 17 89.47 16
4 Riau 11 11 11 12 11 100.00 11 100.00 11 100.00 10 90.91 11
5 J ambi 10 10 11 11 7 70.00 10 100.00 8 80.00 9 81.82 7
6 Sumatera Selatan 14 15 15 15 9 64.29 9 64.29 12 80.00 9 60.00 12
7 Bengkulu 9 9 10 10 3 33.33 7 77.78 9 100.00 9 90.00 10
8 Lampung 10 11 11 14 10 100.00 10 100.00 10 90.91 10 90.91 11
9 Kep. Bangka Belitung 7 7 7 7 6 85.71 5 71.43 7 100.00 6 85.71 7
10 Kepulauan Riau 6 6 7 7 5 83.33 3 50.00 4 66.67 4 57.14 5
11 DKI J akarta 6 6 6 6 5 83.33 5 83.33 6 100.00 6 100.00 6
12 J awa Barat 25 26 26 26 25 100.00 25 100.00 25 96.15 26 100.00 26
13 J awa Tengah 35 35 35 35 35 100.00 35 100.00 35 100.00 35 100.00 35
14 DI Yogyakarta 5 5 5 5 5 100.00 5 100.00 5 100.00 5 100.00 5
15 J awa Timur 38 38 38 38 38 100.00 38 100.00 38 100.00 38 100.00 38
16 Banten 6 7 7 8 6 100.00 6 100.00 6 85.71 6 85.71 8
17 Bali 9 9 9 9 9 100.00 9 100.00 9 100.00 9 100.00 9
18 Nusa Tenggara Barat 9 9 10 10 9 100.00 8 88.89 8 88.89 8 80.00 7
19 Nusa Tenggara Timur 16 20 20 21 7 43.75 1 6.25 5 25.00 5 25.00 6
20 Kalimantan Barat 12 14 14 14 7 58.33 10 83.33 10 71.43 10 71.43 14
21 Kalimantan Tengah 14 14 14 14 6 42.86 6 42.86 12 85.71 9 64.29 13
22 Kalimantan Selatan 13 13 13 13 13 100.00 12 92.31 13 100.00 13 100.00 13
23 Kalimantan Timur 13 14 14 14 12 92.31 13 100.00 13 92.86 13 92.86 13
24 Sulawesi Utara 9 13 15 15 9 100.00 9 100.00 9 69.23 9 60.00 11
25 Sulawesi Tengah 10 10 11 11 10 100.00 7 70.00 9 90.00 9 81.82 9
26 Sulawesi Selatan 23 23 24 24 21 91.30 20 86.96 21 91.30 21 87.50 22
27 Sulawesi Tenggara 10 12 12 12 6 60.00 5 50.00 7 58.33 3 25.00 6
28 Gorontalo 5 6 6 6 5 100.00 5 100.00 5 83.33 6 100.00 5
29 Sulawesi Barat 5 5 5 5 1 20.00 2 40.00 1 20.00 1 20.00 4
30 Maluku 8 9 11 11 0 0.00 0 0.00 0 0.00 0 0.00 0
31 Maluku Utara 8 8 8 9 3 37.50 3 37.50 6 75.00 4 50.00 4
32 Papua Barat 9 9 9 11 4 44.44 2 22.22 3 33.33 0 0.00 5
33 Papua 20 21 27 29 4 20.00 3 15.00 4 19.05 6 22.22 7
440 465 483 497 330 75.00 330 75.00 361 77.63 355 73.50 384
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Indonesia
No. Provinsi
Tahun
2005 2006 2007 2008
JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG TERJANGKIT DEMAM BERDARAH DENGUE
MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 - 2009
Lampiran 3.28
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (17)
1 Aceh 267 6 2.25 163 5 3.07 - - - 178 0 0.00 45 6.67
2 Sumatera Utara 145 6 4.14 401 13 3.24 390 7 1.79 636 12 1.89 - -
3 Sumatera Barat - - - 40 - - - - - - - - - -
4 Riau - - - - - - - - - - - - 86 0
5 J ambi - - - - - - - - - - - - - -
6 Sumatera Selatan 95 1 1.05 46 - - - - - - - - - -
7 Bengkulu - - - 218 6 2.75 - - - - - - - -
8 Lampung 95 2 2.11 - - - - - - - - - 11 18
9 Kep. Bangka Belitung - - - - - - - - - - - - - -
10 Kepulauan Riau - - - - - - - - - - - - - -
11 DKI J akarta - - - - - - - - - - - - - -
12 J awa Barat 148 1 0.68 880 12 1.36 - - - 380 2 0.53 1,425 1
13 J awa Tengah - - - - - - - - - 216 1 0.46 95 6
14 DI Yogyakarta - - - - - - - - - - - - - -
15 J awa Timur 48 0 0.00 226 1 0.44 1,468 8 0.54 362 9 2.49 - -
16 Banten 1,371 26 1.90 - - - 1,057 3 0.28 - - - 351 3
17 Bali - - - - - - - - - 1,047 4 0.38 - -
18 Nusa Tenggara Barat - - - 102 1 0.98 - - - 814 1 0.12 1,147 0
19 Nusa Tenggara Timur 2,194 28 1.28 1,223 45 3.68 104 3 2.88 217 3 1.38 416 4
20 Kalimantan Barat - - - - - - - - - - - - - -
21 Kalimantan Tengah - - - - - - 120 3 2.50 - - - - -
22 Kalimantan Selatan - - - 488 7 1.43 163 6 3.68 - - - - -
23 Kalimantan Timur - - - - - - - - - - - - - -
24 Sulawesi Utara - - - 50 1 2.00 - - - - - - - -
25 Sulawesi Tengah 69 13 18.84 269 7 2.60 66 11 16.67 106 2 1.89 437 5
26 Sulawesi Selatan - - - - - - - - - 41 1 2.44 37 3
27 Sulawesi Tenggara - - - - - - 293 5 1.71 584 13 2.23 - -
28 Gorontalo - - - 177 12 6.78 - - - - - - - -
29 Sulawesi Barat - - - 20 3 15.00 - - - 2,023 23 1.14 423 2
30 Maluku - - - - - - - - - 130 18 13.85 - -
31 Maluku Utara 133 7 5.26 133 6 4.51 - - - 169 14 8.28 205 1
32 Papua Barat - - - - - - - - - - - - 605 0
33 Papua 486 37 7.61 6,544 158 2.41 - - - 1,540 106 6.88 473 1
5,051 127 2.51 10,980 277 2.52 3,661 46 1.26 8,443 209 2.48 5,756 1.74
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DIARE
M CFR
MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 - 2009
2005 2006 2007 2008
P M
Indonesia
CFR P
No. Provinsi
P M
2009
CFR P CFR P M CFR
Lampiran 3.29
P M Kab/Kota Kecamatan Desa/Kelurahan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 3,355 0 1 - - J an - Sept
2 Sumatera Utara 5,609 0 7 - - Mei - J uni
3 Sumatera Barat 528 0 - - - Okt
4 Riau - - - - - -
5 J ambi 12,742 0 7 8 12 J an - Nov
6 Sumatera Selatan 8,045 0 8 24 88 Feb - Des
7 Bengkulu 6,862 0 7 25 70 Apr - Des
8 Lampung 7,622 0 7 - - J an - Des
9 Kep. Bangka Belitung 24,291 0 - - - J an -Des
10 Kepulauan Riau - - - - - -
11 DKI J akarta 117 0 2 2 2 J an - Feb
12 J awa Barat 2,759 0 - - - J an - Des
13 J awa Tengah 5,095 0 17 - - J an - Des
14 DI Yogyakarta - - - - - -
15 J awa Timur 1,982 0 - - - Des
16 Banten - - - - - -
17 Bali 103 0 1 1 1 J an - Mei
18 Nusa Tenggara Barat 814 0 3 - - Feb- Des
19 Nusa Tenggara Timur - - - - - -
20 Kalimantan Barat 458 0 - 1 2 Okt
21 Kalimantan Tengah - - - - - -
22 Kalimantan Selatan 3,098 0 - - - Nov - Des
23 Kalimantan Timur 276 0 - 2 6 Nov - Des
24 Sulawesi Utara - - - - - -
25 Sulawesi Tengah - - - - - -
26 Sulawesi Selatan - - - - - -
27 Sulawesi Tenggara - - - - - -
28 Gorontalo - - - - - -
29 Sulawesi Barat - - - - - -
30 Maluku - - - - - -
31 Maluku Utara - - - - - -
32 Papua Barat - - - - - -
33 Papua - - - - - -
83,756 0 60 63 181
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Indonesia
Kasus Jumlah Wilayah Terjangkit
Periode
JUMLAH KASUS DEMAM CHIKUNGUNYA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No. Provinsi
Lampiran 3.30
Jumlah Kasus
Desa Kecamatan Seluruhnya Terjangkit % GHPR Diperiksa Positif
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Aceh 12 - - - - 329 294 5 12 -
2 Sumatera Utara 26 - - - - 2,386 1,718 18 39 -
3 Sumatera Barat 18 - - - - 2,818 2,061 14 275 -
4 Riau 11 - - - - 653 636 5 35 -
5 J ambi 10 - - - - 502 303 0 40 -
6 Sumatera Selatan 2 - - - - 2,123 1,518 9 211 -
7 Bengkulu 10 - - - - 575 422 0 0 -
8 Lampung 1 - - - - 1,274 1,095 7 7 -
9 Kep. Bangka Belitung - - - - - - - - - -
10 Kepulauan Riau 1 - - - - 9 0 1 0 -
11 DKI J akarta - - - - - - - - - -
12 J awa Barat 12 - - - - 288 83 0 2 -
13 J awa Tengah - - - - - - - - - -
14 DI Yogyakarta - - - - - - - - - -
15 J awa Timur - - - - - - - - - -
16 Banten 1 - - - - 264 105 2 0 -
17 Bali 9 - - - - 21,806 18,825 28 0 -
18 Nusa Tenggara Barat - - - - - - - - - -
19 Nusa Tenggara Timur 8 - - - - 3,882 3,237 33 65 -
20 Kalimantan Barat - - - - - - - - - -
21 Kalimantan Tengah 10 - - - - 629 346 1 0 -
22 Kalimantan Selatan 10 - - - - 110 104 0 1 -
23 Kalimantan Timur 8 - - - - 240 173 1 0 -
24 Sulawesi Utara 13 - - - - 1,859 689 12 0 -
25 Sulawesi Tengah 8 - - - - 605 512 4 7 -
26 Sulawesi Selatan 23 - - - - 1,994 805 4 0 -
27 Sulawesi Tenggara 8 - - - - 947 827 3 0 -
28 Gorontalo 6 - - - - 284 139 5 0 -
29 Sulawesi Barat 2 - - - - 325 215 0 0 -
30 Maluku 2 - - - - 1,288 933 35 534 -
31 Maluku Utara 5 - - - - 276 276 8 0 -
32 Papua Barat - - - - - - - - - -
33 Papua - - - - - - - - - -
216 - - - - 45,466 35,316 195 1,228 -
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Indonesia
JUMLAH DAERAH TERTULAR RABIES DAN JUMLAH KASUS GIGITAN HEWAN PENULAR RABIES (GHPR)
SERTA HASIL PEMERIKSAAN SPECIMEN HEWAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No. Provinsi
Jumlah Daerah Tertular Jumlah Kabupaten/Kota
Pemberian
VAR
Lyssa
Jumlah Specimen Hewan
Lampiran 3.31
2006 2007 2008 2009
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 2,359 2,359 2,359 2,359
2 Sumatera Utara 104 104 141 141
3 Sumatera Barat 231 274 274 274
4 Riau 532 532 532 532
5 J ambi 255 255 257 257
6 Sumatera Selatan 191 191 210 210
7 Bengkulu 94 94 94 94
8 Lampung 74 74 74 74
9 Kep. Bangka Belitung 151 207 207 207
10 Kepulauan Riau 31 31 31 31
11 DKI J akarta 53 53 53 53
12 J awa Barat 252 265 404 474
13 J awa Tengah 224 395 395 412
14 DI Yogyakarta 5 37 37 37
15 J awa Timur 207 238 219 219
16 Banten 67 67 91 76
17 Bali 18 18 18 18
18 Nusa Tenggara Barat 62 69 71 71
19 Nusa Tenggara Timur 1,682 1,682 1,682 1,730
20 Kalimantan Barat 232 244 253 253
21 Kalimantan Tengah 202 226 225 225
22 Kalimantan Selatan 385 385 385 385
23 Kalimantan Timur 409 409 409 409
24 Sulawesi Utara 30 30 30 30
25 Sulawesi Tengah 451 451 451 451
26 Sulawesi Selatan 60 60 60 128
27 Sulawesi Tenggara 181 208 208 201
28 Gorontalo 224 224 224 224
29 Sulawesi Barat 92 92 96 96
30 Maluku 70 70 70 70
31 Maluku Utara 12 12 27 27
32 Papua Barat 355 985 985 988
33 Papua 1,132 1,132 1,127 1,158
10,427 11,473 11,699 11,914
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Indonesia
T a h u n
JUMLAH PENDERITA FILARIASIS
MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 - 2009
No. Provinsi
Lampiran 3.32
Human Rodent Human Rodent Diperiksa Positif
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Aceh - - - - - - -
2 Sumatera Utara - - - - - - -
3 Sumatera Barat - - - - - - -
4 Riau - - - - - - -
5 J ambi - - - - - - -
6 Sumatera Selatan - - - - - - -
7 Bengkulu - - - - - - -
8 Lampung - - - - - - -
9 Kep. Bangka Belitung - - - - - - -
10 Kepulauan Riau - - - - - - -
11 DKI J akarta - - - - - - -
12 J awa Barat Bandung 0 0 0 0 0 0
13 J awa Tengah Boyolali 0 0 0 0 0 0
14 DI Yogyakarta Sleman 0 0 0 0 0 0
15 J awa Timur Pasuruan 40 3,175 0 0 0 0
16 Banten - - - - - - -
17 Bali - - - - - - -
18 Nusa Tenggara Barat - - - - - - -
19 Nusa Tenggara Timur - - - - - - -
20 Kalimantan Barat - - - - - - -
21 Kalimantan Tengah - - - - - - -
22 Kalimantan Selatan - - - - - - -
23 Kalimantan Timur - - - - - - -
24 Sulawesi Utara - - - - - - -
25 Sulawesi Tengah - - - - - - -
26 Sulawesi Selatan - - - - - - -
27 Sulawesi Tenggara - - - - - - -
28 Gorontalo - - - - - - -
29 Sulawesi Barat - - - - - - -
30 Maluku - - - - - - -
31 Maluku Utara - - - - - - -
32 Papua Barat - - - - - - -
33 Papua - - - - - - -
40 3,175 0 0 0 0
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
Indonesia
SITUASI PES MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No. Provinsi
Jumlah Spesimen Diperiksa Hasil Spesimen Positif Spesimen Pool
Kabupaten/Kota
Lampiran 3.33
K M CFR K M CFR K M CFR K M CFR K M CFR K M CFR
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
1 Aceh 0 0 0 0 0 0 49 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5 J ambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
9 Kep. Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
11 DKI J akarta 78 6 8 62 0 0 51 0 0 470 34 7 37 2 5 8 2 25
12 J awa Barat 7 0 0 0 0 0 0 0 0 9 1 11 0 0 0 0 0 0
13 J awa Tengah 40 10 25 34 10 29 35 9 26 70 8 11 72 9 13 275 14 5
14 DI Yogyakarta 20 1 5 8 2 25 0 0 0 3 1 33 125 1 1 95 7 7
15 J awa Timur 3 0 0 1 0 0 1 0 0 65 5 8 29 4 14 0 0 0
16 Banten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 34 3 9 0 0 0 0 0 0
17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
26 Sulawesi Selatan 18 8 44 9 4 44 2 2 100 16 5 31 0 0 0 0 0 0
27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
166 25 15,06 114 16 14,04 138 11 7,97 667 57 8,55 263 16 6,08 378 23 6,08
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
JUMLAH KASUS, MENINGGAL, DAN CASE FATALITY RATE (CFR) LEPTOSPIROSIS
MENURUT PROVINSI TAHUN 2004 - 2009
No. Provinsi
2004 2005 2006 2007 2008 2009
Indonesia
Keterangan : K=Kasus, M=Meninggal
Lampiran 3.34
K M K M K M K M K M K M
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 Sumatera Utara 0 0 7 6 1 1 0 0 0 0 8 7
3 Sumatera Barat 0 0 2 0 1 1 1 0 0 0 4 1
4 Riau 0 0 0 0 6 5 1 0 1 1 8 6
5 J ambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 1
7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
8 Lampung 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0
9 Kep. Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
11 DKI J akarta 8 7 11 10 8 8 7 5 10 8 44 38
12 J awa Barat 3 2 22 18 5 4 4 4 6 6 40 34
13 J awa Tengah 1 0 3 3 5 5 2 2 1 1 12 11
14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1
15 J awa Timur 0 0 5 3 2 1 0 0 1 1 8 5
16 Banten 5 4 4 4 11 9 9 9 1 1 30 27
17 Bali 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 2 2
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
26 Sulawesi Selatan 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1
27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
20 13 55 45 42 37 24 20 21 19 162 134
Sumber: Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
2009 2005-2009
Indonesia
Keterangan : K=Kasus, M=Meninggal
JUMLAH KASUS DAN MENINGGAL FLU BURUNG
MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 - 2009
No. Provinsi
2005 2006 2007 2008
Lampiran 3.35
Meninggal % Luka Berat % Luka Ringan % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 608 499 34.04 406 27.69 561 38.27 1,466 100.00
2 Sumatera Utara 3,170 1,571 25.73 2,050 33.57 2,485 40.70 6,106 100.00
3 Sumatera Barat 2,407 749 17.95 1,290 30.91 2,134 51.14 4,173 100.00
4 Riau 1,574 759 48.04 821 51.96 - - 1,580 100.00
5 J ambi 617 415 34.61 403 33.61 381 31.78 1,199 100.00
6 Sumatera Selatan 2,210 1,051 25.34 1,470 35.45 1,626 39.21 4,147 100.00
7 Bengkulu 727 318 21.57 297 20.15 859 58.28 1,474 100.00
8 Lampung 4,278 203 2.83 1,035 14.44 5,929 82.73 7,167 100.00
9 Kep. Bangka Belitung 218 158 39.40 98 24.44 145 36.16 401 100.00
10 Kepulauan Riau 218 189 42.28 108 24.16 150 33.56 447 100.00
11 DKI J akarta - - - - - - - - -
12 J awa Barat 4,126 1,592 22.10 1,397 19.40 4,213 58.50 7,202 100.00
13 J awa Tengah 2,907 1,169 9.08 1,368 10.62 10,341 80.30 12,878 100.00
14 DI Yogyakarta 4,278 203 2.83 1,035 14.44 5,929 82.73 7,167 100.00
15 J awa Timur 12,245 3,687 17.87 2,697 13.07 14,254 69.07 20,638 100.00
16 Banten 811 195 12.11 565 35.09 850 52.80 1,610 100.00
17 Bali 1,794 573 17.02 1,013 30.09 1,781 52.90 3,367 100.00
18 Nusa Tenggara Barat 792 456 28.20 444 27.46 717 44.34 1,617 100.00
19 Nusa Tenggara Timur 666 341 28.35 339 28.18 523 43.47 1,203 100.00
20 Kalimantan Barat 848 463 26.69 461 26.57 811 46.74 1,735 100.00
21 Kalimantan Tengah 987 289 15.81 226 12.36 1,313 71.83 1,828 100.00
22 Kalimantan Selatan 513 414 42.07 182 18.50 388 39.43 984 100.00
23 Kalimantan Timur 1,022 474 31.62 360 24.02 665 44.36 1,499 100.00
24 Sulawesi Utara 1,087 355 18.83 492 26.10 1,038 55.07 1,885 100.00
25 Sulawesi Tengah 1,244 366 19.96 348 18.97 1,120 61.07 1,834 100.00
26 Sulawesi Selatan 1,675 1,111 42.15 512 19.42 1,013 38.43 2,636 100.00
27 Sulawesi Tenggara 678 268 28.79 252 27.07 411 44.15 931 100.00
28 Gorontalo 495 127 17.91 173 24.40 409 57.69 709 100.00
29 Sulawesi Barat - - - - - - - - -
30 Maluku 438 111 20.48 118 21.77 313 57.75 542 100.00
31 Maluku Utara 263 85 23.16 118 32.15 164 44.69 367 100.00
32 Papua Barat - - - - - - - - -
33 Papua 765 257 22.17 378 32.61 524 45.21 1,159 100.00
53,661 18,448 18.46 20,456 20.47 61,047 61.08 99,951 100.00
Sumber: Ditlantas Babankam, Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, 2010
JUMLAH KEJADIAN KECELAKAAN LALU LINTAS DAN JUMLAH KORBAN LUKA DAN MENINGGAL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
Jumlah Korban
Indonesia
Jumlah
Kecelakaan
No. Provinsi
Lampiran 4.1
Jumlah K1 % K1 K4 % K4 Jumlah
Ditolong
Nakes
% Ditolong
Nakes
Kunjungan
Nifas 3 kali
% KF3
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (9) (10)
1 Aceh 113.761 102.793 90,36 93.055 81,80 100.127 85.362 85,25 56.327 59,28
2 Sumatera Utara 322.257 303.097 94,05 290.979 90,29 308.162 271.992 88,26 - -
3 Sumatera Barat 115.410 107.354 93,02 103.878 90,01 110.054 95.766 87,02 62.727 61,37
4 Riau 145.169 139.359 96,00 131.100 90,31 125.049 107.763 86,18 11.036 17
5 J ambi 77.320 73.129 94,58 68.064 88,03 72.158 61.867 85,74 47.063 66,58
6 Sumatera Selatan 185.060 175.637 94,91 162.880 88,01 176.845 153.402 86,74 32.239 76
7 Bengkulu 49.693 45.629 91,82 42.277 85,08 46.032 37.845 82,21 32.686 74,35
8 Lampung 183.799 171.723 93,43 158.240 86,09 175.444 143.491 81,79 140.423 84
9 Kepulauan Bangka Belitung 27.032 27.769 102,73 25.441 94,11 25.817 24.198 93,73 23.345 94,67
10 Kepulauan Riau 42.450 38.053 89,64 33.569 79,08 40.418 38.900 96,24 24.790 64
11 DKI J akarta 174.792 177.541 101,57 168.734 96,53 155.612 155.612 100,00 137.452 85,75
12 J awa Barat 1.037.443 967.339 93,24 884.412 85,25 990.287 745.464 75,28 425.811 48
13 J awa Tengah 632.590 624.664 98,75 590.804 93,39 605.238 563.032 93,03 409.505 73,38
14 DI Yogyakarta 50.421 49.898 98,96 45.235 89,71 45.763 43.889 95,90 32.968 75
15 J awa Timur 665.616 638.472 95,92 571.788 85,90 611.261 568.214 92,96 566.039 93,51
16 Banten 206.496 202.456 98,04 164.507 79,67 221.849 176.000 79,33 126.648 74
17 Bali 67.554 65.864 97,50 62.060 91,87 64.455 61.719 95,76 62.096 101,15
18 Nusa Tenggara Barat 118.412 109.883 92,80 99.028 83,63 113.711 86.370 75,96 90.422 84
19 Nusa Tenggara Timur 118.130 107.179 90,73 75.275 63,72 104.402 89.308 85,54 71.592 70,21
20 Kalimantan Barat 108.105 96.285 89,07 87.687 81,11 103.161 75.550 73,24 39.731 41
21 Kalimantan Tengah 58.533 53.708 91,76 47.178 80,60 54.945 42.681 77,68 - -
22 Kalimantan Selatan 77.215 73.594 95,31 64.541 83,59 77.215 65.692 85,08 59.838 87
23 Kalimantan Timur 83.552 77.104 92,28 67.142 80,36 76.678 61.516 80,23 3.807 36,54
24 Sulawesi Utara 43.480 42.823 98,49 36.895 84,86 41.647 35.645 85,59 32.875 81
25 Sulawesi Tengah 56.595 55.474 98,02 47.563 84,04 54.017 43.489 80,51 39.179 76,16
26 Sulawesi Selatan 180.081 176.320 97,91 152.114 84,47 163.710 144.185 88,07 83.963 51
27 Sulawesi Tenggara 53.425 48.186 90,19 45.071 84,36 46.859 37.652 80,35 29.457 63,52
28 Gorontalo 28.170 26.173 92,91 23.283 82,65 26.555 22.204 83,62 19.520 75
29 Sulawesi Barat 27.488 21.226 77,22 15.678 57,04 26.213 16.371 62,45 12.264 52,73
30 Maluku 38.506 31.611 82,09 26.833 69,69 36.757 24.663 67,10 22.516 64
31 Maluku Utara 25.256 20.551 81,37 18.211 72,11 24.205 14.947 61,75 15.645 67,58
32 Papua Barat 18.067 17.946 99,33 10.079 55,79 17.245 13.517 78,38 7.658 47
33 Papua 51.051 29.534 57,85 15.031 29,44 50.921 20.012 39,30 - -
5.182.927 4.898.374 94,51 4.428.632 85,45 4.892.812 4.128.318 84,38 2.707.358 71,54
Sumber: Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
Ibu Nifas
Indonesia
CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL K1, K4, DAN PERSALINAN DITOLONG TENAGA KESEHATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No Provinsi
Ibu Hamil Ibu Bersalin
Lampiran 4.2
Perkotaan + Perdesaan
Dokter Bidan Tenaga Medis Lain D u k u n Famili Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 8,77 76,51 0,58 13,30 0,82 100
2 Sumatera Utara 12,74 75,41 0,54 9,14 1,87 100
3 Sumatera Barat 17,29 70,58 0,99 10,44 0,53 100
4 Riau 15,67 66,43 0,61 16,53 0,27 100
5 J ambi 8,86 61,00 0,65 29,15 0,25 100
6 Sumatera Selatan 13,70 64,24 0,78 20,53 0,62 100
7 Bengkulu 12,88 71,47 0,86 14,10 0,65 100
8 Lampung 8,88 66,40 1,08 23,05 0,43 100
9 Kepulauan Bangka Belitung 15,86 68,75 0,76 14,06 0,41 100
10 Kepulauan Riau 21,46 65,25 0,74 12,44 0,11 100
11 DKI J akarta 35,44 62,00 0,69 1,70 0,11 100
12 J awa Barat 13,97 55,54 0,67 29,62 0,13 100
13 J awa Tengah 15,53 68,39 0,38 15,53 0,13 100
14 DI Yogyakarta 36,86 60,08 2,95 100
15 J awa Timur 18,84 67,01 0,48 13,35 0,18 100
16 Banten 15,60 52,84 0,42 30,91 0,06 100
17 Bali 37,70 58,19 0,33 2,44 1,32 100
18 Nusa Tenggara Barat 8,07 62,76 0,49 27,71 0,91 100
19 Nusa Tenggara Timur 6,98 41,40 1,47 40,51 9,04 99
20 Kalimantan Barat 6,70 49,98 2,38 39,65 1,15 100
21 Kalimantan Tengah 5,59 54,62 3,34 35,88 0,51 100
22 Kalimantan Selatan 12,48 62,92 0,61 23,47 0,38 100
23 Kalimantan Timur 20,75 63,18 1,31 13,98 0,71 100
24 Sulawesi Utara 31,40 49,58 1,83 16,41 0,52 100
25 Sulawesi Tengah 8,60 50,23 3,64 33,63 3,74 100
26 Sulawesi Selatan 10,84 57,78 0,86 27,64 2,59 100
27 Sulawesi Tenggara 5,61 42,22 0,89 50,60 0,61 100
28 Gorontalo 13,79 47,46 1,92 35,59 1,19 100
29 Sulawesi Barat 5,45 40,93 1,07 48,85 3,30 100
30 Maluku 7,39 33,69 1,40 55,40 1,83 100
31 Maluku Utara 9,16 36,48 1,57 49,39 3,32 100
32 Papua Barat 12,25 42,53 5,65 27,26 11,20 99
33 Papua 12,31 32,97 3,80 14,79 34,94 99
15,28 61,24 0,82 21,29 1,22 100
Sumber : BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat
Indonesia
PERSENTASE BALITA MENURUT PENOLONG KELAHIRAN TERAKHIR DAN PROVINSI
TAHUN 2009
No Provinsi
Penolong Waktu Lahir
Lampiran 4.3
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 98.244 77.318 78,70 66.786 67,98
2 Sumatera Utara 299.401 273.653 91,40 269.161 89,90
3 Sumatera Barat 104.505 87.157 83,40 77.344 74,01
4 Riau 118.714 101.619 85,60 92.953 78,30
5 J ambi 58.807 54.449 92,59 48.663 82,75
6 Sumatera Selatan 144.371 130.223 90,20 119.366 82,68
7 Bengkulu 33.854 27.391 80,91 23.986 70,85
8 Lampung 150.590 132.971 88,30 112.943 75,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 22.434 22.344 99,60 21.386 95,33
10 Kepulauan Riau 38.681 31.525 81,50 10.831 28,00
11 DKI J akarta 170.380 157.278 92,31 153.598 90,15
12 J awa Barat 807.552 688.842 85,30 696.110 86,20
13 J awa Tengah 563.920 534.201 94,73 426.887 75,70
14 DI Yogyakarta 44.303 40.316 91,00 38.101 86,00
15 J awa Timur 547.925 518.885 94,70 508.474 92,80
16 Banten 196.741 170.574 86,70 155.752 79,17
17 Bali 49.104 48.991 99,77 48.858 99,50
18 Nusa Tenggara Barat 107.754 87.065 80,80 79.953 74,20
19 Nusa Tenggara Timur 121.972 93.431 76,60 90.015 73,80
20 Kalimantan Barat 99.584 80.763 81,10 23.153 23,25
21 Kalimantan Tengah 42.310 35.202 83,20 8.970 21,20
22 Kalimantan Selatan 71.554 66.724 93,25 43.362 60,60
23 Kalimantan Timur 65.391 54.667 83,60 48.095 73,55
24 Sulawesi Utara 37.041 30.670 82,80 27.040 73,00
25 Sulawesi Tengah 54.344 43.964 80,90 41.084 75,60
26 Sulawesi Selatan 171.819 152.232 88,60 133.503 77,70
27 Sulawesi Tenggara 53.114 43.819 82,50 44.462 83,71
28 Gorontalo 19.888 15.632 78,60 15.493 77,90
29 Sulawesi Barat 21.765 14.865 68,30 14.058 64,59
30 Maluku 33.222 23.422 70,50 22.857 68,80
31 Maluku Utara 23.477 7.278 31,00 7.747 33,00
32 Papua Barat 18.524 5.576 30,10 5.687 30,70
33 Papua 51.661 16.805 32,53 18.376 35,57
4.442.946 3.582.751 80,64 3.098.600 69,74
Sumber: Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
% KN1 KN LENGKAP %KN LENGKAP
Indonesia
CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS, PELAYANAN KESEHATAN BAYI DAN ANAK BALITA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
NO PROVINSI
KUNJUNGAN NEONATUS
JUMLAH BAYI
KN1
Lampiran 4.4
CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI, ANAK BALITA, DAN MURID SD KELAS 1 DAN SEDERAJAT
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 98.244 65.823 67,00 363.556 191.085 52,56 - - -
2 Sumatera Utara 299.401 242.515 81,00 1.124.299 905.061 80,50 2.121.111 1.802.944 85,00
3 Sumatera Barat 104.505 78.776 75,38 388.594 275.552 70,91 804.131 369.900 46
4 Riau 118.714 90.816 76,50 470.387 217.507 46,24 844.933 529.097 62,62
5 J ambi 58.807 47.198 80,26 224.694 207.617 92,40 426.417 230.137 54
6 Sumatera Selatan 144.371 119.539 82,80 579.829 386.166 66,60 1.093.984 416.808 38,10
7 Bengkulu 33.854 23.339 68,94 132.845 10.136 7,63 242.199 110.927 46
8 Lampung 150.590 120.020 79,70 574.110 243.537 42,42 1.108.154 431.072 38,90
9 Kepulauan Bangka Belitung 22.434 15.704 70,00 86.567 46.937 54,22 30.471 20.001 66
10 Kepulauan Riau 38.681 27.077 70,00 140.419 0 - 37.234 30.623 82,25
11 DKI J akarta 170.380 130.256 76,45 608.620 352.148 57,86 1.107.252 811.726 73
12 J awa Barat 807.552 654.117 81,00 3.136.549 1.435.912 45,78 5.324.137 5.171.867 97,14
13 J awa Tengah 563.920 522.867 92,72 2.219.780 821.097 36,99 3.806.965 1.779.375 47
14 DI Yogyakarta 44.303 39.341 88,80 169.197 7.952 4,70 312.358 268.628 86,00
15 J awa Timur 547.925 507.926 92,70 2.083.876 1.334.514 64,04 4.333.031 3.902.761 90
16 Banten 196.741 180.589 91,79 790.659 450.676 57,00 1.407.649 929.048 66,00
17 Bali 49.104 49.359 100,52 216.198 172.591 79,83 432.672 351.935 81
18 Nusa Tenggara Barat 107.754 84.587 78,50 389.246 155.115 39,85 117.390 86.206 73,44
19 Nusa Tenggara Timur 121.972 79.526 65,20 421.028 138.013 32,78 125.695 28.809 23
20 Kalimantan Barat 99.584 79.667 80,00 364.816 137.937 37,81 101.338 42.562 42,00
21 Kalimantan Tengah 42.310 30.463 72,00 166.588 16.326 9,80 200.238 60.071 30
22 Kalimantan Selatan 71.554 58.417 81,64 260.745 169.067 64,84 153.234 65.768 42,92
23 Kalimantan Timur 65.391 48.298 73,86 244.909 115.009 46,96 411.571 123.471 30
24 Sulawesi Utara 37.041 29.633 80,00 140.160 99.514 71,00 227.693 178.124 78,23
25 Sulawesi Tengah 54.344 41.845 77,00 196.455 161.250 82,08 344.133 206.480 60
26 Sulawesi Selatan 171.819 125.600 73,10 620.682 320.768 51,68 1.222.778 331.495 27,11
27 Sulawesi Tenggara 53.114 40.085 75,47 195.786 76.963 39,31 300.504 14.484 5
28 Gorontalo 19.888 15.871 79,80 74.513 48.977 65,73 122.352 41.844 34,20
29 Sulawesi Barat 21.765 14.017 64,40 80.935 29.493 36,44 207.141 45.571 22
30 Maluku 33.222 28.106 84,60 116.578 56.540 48,50 232.984 88.534 38,00
31 Maluku Utara 23.477 5.494 23,40 84.923 18.870 22,22 105.555 38.000 36
32 Papua Barat 18.524 4.038 21,80 66.376 - - - - -
33 Papua 51.661 13.943 26,99 184.840 - - - - -
4.442.946 3.614.851 81,36 16.527.124 8.602.330 52,05 27.305.304 18.508.272 67,78
Sumber: Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
Indonesia
JUMLAH MURID
SD KELAS
SATU
CAKUPAN PELAYANAN MURID
SD KELAS SATU NO PROVINSI JUMLAH BAYI
CAKUPAN PELAYANAN
KESEHATAN BAYI
JUMLAH ANAK
BALITA
CAKUPAN PELAYANAN
KESEHATAN ANAK BALITA
Lampiran 4.5
CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL DAN OBSTETRI KOMPLIKASI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
JUMLAH % JUMLAH %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (4) (5) (6)
1 Aceh 98.244 14.737 5.743 39,0 22.752 11.144 48,98
2 Sumatera Utara 299.401 44.910 13.563 30,2 64.451 15.661 24,30
3 Sumatera Barat 104.505 15.676 792 5,1 23.082 16.815 72,85
4 Riau 118.714 17.807 4.897 27,5 29.034 9.693 33,39
5 J ambi 58.807 8.821 2.181 24,7 15.464 6.117 39,56
6 Sumatera Selatan 144.371 21.656 2.988 13,8 37.012 6.913 18,68
7 Bengkulu 33.854 5.078 554 10,9 9.939 4.403 44,30
8 Lampung 150.590 22.589 4.879 21,6 36.760 8.898 24,21
9 Kepulauan Bangka Belitung 22.434 3.365 215 6,4 5.406 1.206 22,31
10 Kepulauan Riau 38.681 5.802 1.926 33,2 8.490 4.211 49,60
11 DKI J akarta 170.380 25.557 5.165 20,2 34.958 4.656 13,32
12 J awa Barat 807.552 121.133 39.732 32,8 207.489 86.478 41,68
13 J awa Tengah 563.920 84.588 22.390 26,5 126.518 52.849 41,77
14 DI Yogyakarta 44.303 6.645 3.854 58,0 10.084 6.354 63,01
15 J awa Timur 547.925 82.189 27.122 33,0 133.123 112.918 84,82
16 Banten 196.741 29.511 8.558 29,0 41.299 17.481 42,33
17 Bali 49.104 7.366 3.238 44,0 13.511 7.108 52,61
18 Nusa Tenggara Barat 107.754 16.163 5.140 31,8 23.682 12.162 51,35
19 Nusa Tenggara Timur 121.972 18.296 13.941 76,2 23.626 10.670 45,16
20 Kalimantan Barat 99.584 14.938 4.422 29,6 21.621 4.682 21,65
21 Kalimantan Tengah 42.310 6.347 812 12,8 11.707 781 6,67
22 Kalimantan Selatan 71.554 10.733 1.260 11,7 15.443 2.073 13,42
23 Kalimantan Timur 65.391 9.809 638 6,5 16.710 2.142 12,82
24 Sulawesi Utara 37.041 5.556 3.517 63,3 8.696 2.065 23,75
25 Sulawesi Tengah 54.344 8.152 2.445 30,0 11.319 2.527 22,33
26 Sulawesi Selatan 171.819 25.773 3.737 14,5 36.016 18.104 50,27
27 Sulawesi Tenggara 53.114 7.967 271 3,4 10.685 1.318 12,34
28 Gorontalo 19.888 2.983 119 4,0 5.634 1.846 32,77
29 Sulawesi Barat 21.765 3.265 843 25,8 5.498 1.911 34,76
30 Maluku 33.222 4.983 164 3,3 7.701 1.031 13,39
31 Maluku Utara 23.477 3.522 14 0,4 5.051 1.381 27,34
32 Papua Barat 18.524 2.779 225 8,1 3.613 1.621 44,86
33 Papua 51.661 7.749 625 8,1 10.210 3.363 32,94
4.442.946 666.442 158.593 23,8 1.036.585 440.582 42,50
Sumber: Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
OBSTETRI
KOMPLIKASI
CAKUPAN PENANGANAN OBSTETRI
KOMPLIKASI
Indonesia
NO PROVINSI JUMLAH BAYI
NEONATAL
KOMPLIKASI
CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL
KOMPLIKASI
Lampiran 4.6
MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009
Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 742.659 179.328 24,15 558.437 75,19
2 Sumatera Utara 2.075.286 368.377 17,75 1.404.182 67,66
3 Sumatera Barat 784.819 139.445 17,77 575.371 73,31
4 Riau 688.486 162.642 23,62 493.003 71,61
5 J ambi 592.366 119.345 20,15 474.040 80,02
6 Sumatera Selatan 1.488.525 424.538 28,52 1.148.297 77,14
7 Bengkulu 369.228 101.216 27,41 315.684 85,50
8 Lampung 1.526.467 452.218 29,63 1.072.706 70,27
9 Kepulauan Bangka Belitung 215.997 46.093 21,34 164.935 76,36
10 Kepulauan Riau 284.099 57.402 20,20 182.668 64,30
11 DKI J akarta 1.211.367 352.793 29,12 993.778 82,04
12 J awa Barat 8.606.098 1.451.359 16,86 6.995.287 81,28
13 J awa Tengah 6.487.025 882.504 13,60 5.080.580 78,32
14 DI Yogyakarta 549.313 50.876 9,26 432.024 78,65
15 J awa Timur 7.745.030 1.030.354 13,30 5.836.266 75,35
16 Banten 1.910.538 306.735 16,05 1.273.832 66,67
17 Bali 642.968 63.707 9,91 547.348 85,13
18 Nusa Tenggara Barat 915.959 165.961 18,12 638.916 69,75
19 Nusa Tenggara Timur 653.487 106.666 16,32 455.073 69,64
20 Kalimantan Barat 787.006 138.614 17,61 554.480 70,45
21 Kalimantan Tengah 392.731 71.204 18,13 305.203 77,71
22 Kalimantan Selatan 726.728 128.933 17,74 551.462 75,88
23 Kalimantan Timur 584.073 89.045 15,25 418.301 71,62
24 Sulawesi Utara 419.791 92.560 22,05 339.396 80,85
25 Sulawesi Tengah 490.480 77.501 15,80 367.076 74,84
26 Sulawesi Selatan 1.264.471 311.352 24,62 910.346 71,99
27 Sulawesi Tenggara 386.882 72.895 18,84 287.960 74,43
28 Gorontalo 198.271 37.230 18,78 157.724 79,55
29 Sulawesi Barat 166.366 39.731 23,88 117.311 70,51
30 Maluku 261.737 62.600 23,92 198.581 75,87
31 Maluku Utara 66.628 37.214 55,85 39.664 59,53
32 Papua Barat 43.224 20.813 48,15 35.166 81,36
33 Papua 391.787 37.416 9,55 132.675 33,86
Indonesia
43.669.892 7.678.667 17,58 33.057.772 75,70
Sumber : BKKBN, 2010
Peserta KB Baru Peserta KB Aktif
JUMLAH DAN PERSENTASE PESERTA KB AKTIF
No Provinsi Jumlah PUS
Lampiran 4.7
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Aceh 1.854 1,03 354 0,20 16 0,01 29.482 16,44 2.706 1,51 79.362 44,26 65.554 36,56 179.328
2 Sumatera Utara 17.748 4,82 9.112 2,47 1.356 0,37 85.583 23,23 26.462 7,18 115.464 31,34 112.652 30,58 368.377
3 Sumatera Barat 6.577 4,72 991 0,71 180 0,13 20.990 15,05 16.919 12,13 67.469 48,38 26.319 18,87 139.445
4 Riau 3.063 1,88 814 0,50 51 0,03 9.003 5,54 10.137 6,23 85.072 52,31 54.502 33,51 162.642
5 J ambi 2.180 1,83 197 0,17 73 0,06 4.362 3,65 10.469 8,77 61.052 51,16 41.012 34,36 119.345
6 Sumatera Selatan 3.401 0,80 1.470 0,35 777 0,18 40.813 9,61 38.464 9,06 191.091 45,01 148.522 34,98 424.538
7 Bengkulu 2.186 2,16 740 0,73 74 0,07 8.040 7,94 10.377 10,25 46.299 45,74 33.500 33,10 101.216
8 Lampung 9.267 2,05 809 0,18 1.472 0,33 68.994 15,26 27.088 5,99 175.863 38,89 168.725 37,31 452.218
9 Kepulauan Bangka Belitung 589 1,28 181 0,39 11 0,02 7.349 15,94 2.300 4,99 20.481 44,43 15.182 32,94 46.093
10 Kepulauan Riau 1.297 2,26 230 0,40 39 0,07 14.243 24,81 2.382 4,15 21.828 38,03 17.383 30,28 57.402
11 DKI J akarta 27.596 7,82 1.700 0,48 733 0,21 25.378 7,19 13.036 3,70 176.716 50,09 107.634 30,51 352.793
12 J awa Barat 107.059 7,38 15.299 1,05 2.337 0,16 52.289 3,60 80.602 5,55 752.764 51,87 441.009 30,39 1.451.359
13 J awa Tengah 32.675 3,70 17.328 1,96 1.916 0,22 45.953 5,21 97.208 11,02 537.150 60,87 150.274 17,03 882.504
14 DI Yogyakarta 9.024 17,74 1.612 3,17 525 1,03 4.113 8,08 3.625 7,13 26.819 52,71 5.158 10,14 50.876
15 J awa Timur 52.208 5,07 12.839 1,25 3.510 0,34 43.939 4,26 66.941 6,50 617.338 59,92 233.579 22,67 1.030.354
16 Banten 9.701 3,16 1.295 0,42 425 0,14 13.652 4,45 22.931 7,48 158.671 51,73 100.060 32,62 306.735
17 Bali 12.570 19,73 1.718 2,70 211 0,33 5.323 8,36 1.809 2,84 34.010 53,39 8.066 12,66 63.707
18 Nusa Tenggara Barat 6.036 3,64 1.174 0,71 155 0,09 10.693 6,44 18.310 11,03 103.112 62,13 26.481 15,96 165.961
19 Nusa Tenggara Timur 5.898 5,53 2.587 2,43 355 0,33 5.704 5,35 12.643 11,85 63.417 59,45 16.062 15,06 106.666
20 Kalimantan Barat 1.990 1,44 853 0,62 112 0,08 18.757 13,53 5.593 4,03 64.528 46,55 46.781 33,75 138.614
21 Kalimantan Tengah 440 0,62 255 0,36 52 0,07 5.484 7,70 5.087 7,14 34.075 47,86 25.811 36,25 71.204
22 Kalimantan Selatan 1.481 1,15 659 0,51 119 0,09 6.672 5,17 8.430 6,54 57.072 44,26 54.500 42,27 128.933
23 Kalimantan Timur 3.016 3,39 961 1,08 101 0,11 11.927 13,39 4.147 4,66 43.170 48,48 25.723 28,89 89.045
24 Sulawesi Utara 3.590 3,88 809 0,87 242 0,26 12.226 13,21 10.999 11,88 41.142 44,45 23.552 25,45 92.560
25 Sulawesi Tengah 2.133 2,75 512 0,66 226 0,29 8.777 11,33 7.463 9,63 28.960 37,37 29.430 37,97 77.501
26 Sulawesi Selatan 4.674 1,50 2.058 0,66 153 0,05 56.342 18,10 19.746 6,34 127.733 41,03 100.646 32,33 311.352
27 Sulawesi Tenggara 819 1,12 453 0,62 191 0,26 8.863 12,16 7.416 10,17 28.243 38,74 26.910 36,92 72.895
28 Gorontalo 2.684 7,21 322 0,86 213 0,57 2.574 6,91 6.150 16,52 14.980 40,24 10.307 27,68 37.230
29 Sulawesi Barat 407 1,02 130 0,33 50 0,13 10.874 27,37 2.940 7,40 11.991 30,18 13.339 33,57 39.731
30 Maluku 823 1,31 452 0,72 68 0,11 10.052 16,06 5.281 8,44 27.185 43,43 18.739 29,93 62.600
31 Maluku Utara 595 1,60 233 0,63 97 0,26 3.487 9,37 6.618 17,78 16.990 45,65 9.194 24,71 37.214
32 Papua Barat 256 1,23 64 0,31 41 0,20 5.703 27,40 1.081 5,19 8.422 40,47 5.246 25,21 20.813
33 Papua 298 0,80 624 1,67 24 0,06 10.441 27,91 2.719 7,27 16.016 42,81 7.294 19,49 37.416
334.135 4,35 78.835 1,03 15.905 0,21 668.082 8,70 558.079 7,27 3.854.485 50,20 2.169.146 28,25 7.678.667
Sumber: BKKBN, 2010
Indonesia
HASIL PELAYANAN PESERTA KB BARU
MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009
No Provinsi
M e t o d e K o n t r a s e p s i
Implan Suntikan Pil
Total
IUD MOW MOP Kondom
Lampiran 4.8
MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
1
Aceh
742.659 558.437 75,19 11.742 2,10 3.927 0,70 140 0,03 40.684 7,29 9.452 1,69 260.648 46,67 231.844 41,52
2
Sumatera Utara
2.075.286 1.404.182 67,66 142.894 10,18 110.179 7,85 4.299 0,31 77.967 5,55 118.500 8,44 464.648 33,09 485.695 34,59
3
Sumatera Barat
784.819 575.371 73,31 53.853 9,36 16.145 2,81 420 0,07 20.741 3,60 71.063 12,35 299.766 52,10 113.383 19,71
4
Riau
688.486 493.003 71,61 33.364 6,77 7.089 1,44 3.378 0,69 24.341 4,94 55.905 11,34 209.613 42,52 159.313 32,31
5
J ambi
592.366 474.040 80,02 31.222 6,59 4.192 0,88 1.108 0,23 7.274 1,53 61.017 12,87 198.173 41,81 171.054 36,08
6
Sumatera Selatan
1.488.525 1.148.297 77,14 45.339 3,95 39.224 3,42 4.381 0,38 50.939 4,44 196.212 17,09 477.552 41,59 334.650 29,14
7
Bengkulu
369.228 315.684 85,50 20.369 6,45 6.400 2,03 872 0,28 8.229 2,61 42.476 13,46 144.454 45,76 92.884 29,42
8
Lampung
1.526.467 1.072.706 70,27 123.031 11,47 14.354 1,34 12.701 1,18 16.386 1,53 142.208 13,26 389.221 36,28 374.805 34,94
9
Kepulauan Bangka Belitung
215.997 164.935 76,36 5.746 3,48 4.960 3,01 83 0,05 4.456 2,70 13.304 8,07 73.882 44,79 62.504 37,90
10
Kepulauan Riau
284.099 182.668 64,30 11.216 6,14 1.986 1,09 232 0,13 9.164 5,02 7.996 4,38 84.496 46,26 67.578 36,99
11
DKI J akarta
1.211.367 993.778 82,04 211.752 21,31 34.534 3,48 10.925 1,10 23.959 2,41 66.788 6,72 384.280 38,67 261.540 26,32
12
J awa Barat
8.606.098 6.995.287 81,28 756.317 10,81 149.012 2,13 65.507 0,94 57.700 0,82 283.701 4,06 3.243.113 46,36 1.850.437 26,45
13
J awa Tengah
6.487.025 5.080.580 78,32 445.718 8,77 293.264 5,77 63.367 1,25 87.083 1,71 488.018 9,61 2.834.891 55,80 868.239 17,09
14
DI Yogyakarta
549.313 432.024 78,65 109.901 25,44 22.049 5,10 2.649 0,61 22.733 5,26 23.622 5,47 196.284 45,43 54.786 12,68
15
J awa Timur
7.745.030 5.836.266 75,35 845.978 14,50 303.896 5,21 21.663 0,37 59.645 1,02 445.413 7,63 2.833.995 48,56 1.325.676 22,71
16
Banten
1.910.538 1.273.832 66,67 139.836 10,98 22.368 1,76 17.964 1,41 14.208 1,12 76.829 6,03 685.363 53,80 317.264 24,91
17
Bali
642.968 547.348 85,13 262.083 47,88 20.749 3,79 2.720 0,50 13.063 2,39 6.791 1,24 194.227 35,49 47.715 8,72
18
Nusa Tenggara Barat
915.959 638.916 69,75 73.748 11,54 14.875 2,33 2.172 0,34 7.257 1,14 81.273 12,72 319.016 49,93 140.575 22,00
19
Nusa Tenggara Timur
653.487 455.073 69,64 55.482 12,19 16.771 3,69 4.653 1,02 7.855 1,73 41.605 9,14 251.993 55,37 76.714 16,86
20
Kalimantan Barat
787.006 554.480 70,45 33.867 6,11 8.759 1,58 4.030 0,73 19.119 3,45 31.128 5,61 221.071 39,87 236.506 42,65
21
Kalimantan Tengah
392.731 305.203 77,71 5.476 1,79 3.021 0,99 372 0,12 4.123 1,35 27.780 9,10 134.210 43,97 130.221 42,67
22
Kalimantan Selatan
726.728 551.462 75,88 9.830 1,78 6.722 1,22 569 0,10 8.322 1,51 34.718 6,30 186.495 33,82 304.806 55,27
23
Kalimantan Timur
584.073 418.301 71,62 43.127 10,31 9.739 2,33 1.255 0,30 8.838 2,11 20.406 4,88 160.416 38,35 174.520 41,72
24
Sulawesi Utara
419.791 339.396 80,85 39.768 11,72 7.622 2,25 458 0,13 5.105 1,50 47.143 13,89 137.028 40,37 102.272 30,13
25
Sulawesi Tengah
490.480 367.076 74,84 19.103 5,20 7.838 2,14 436 0,12 6.168 1,68 34.485 9,39 149.479 40,72 149.567 40,75
26
Sulawesi Selatan
1.264.471 910.346 71,99 40.811 4,48 15.170 1,67 409 0,04 52.365 5,75 80.863 8,88 394.662 43,35 326.066 35,82
27
Sulawesi Tenggara
386.882 287.960 74,43 7.021 2,44 5.591 1,94 619 0,21 10.757 3,74 38.462 13,36 111.591 38,75 113.919 39,56
28
Gorontalo
198.271 157.724 79,55 19.525 12,38 2.340 1,48 329 0,21 1.782 1,13 21.896 13,88 57.170 36,25 54.682 34,67
29
Sulawesi Barat
166.366 117.311 70,51 3.580 3,05 1.006 0,86 103 0,09 6.093 5,19 8.355 7,12 40.566 34,58 57.608 49,11
30
Maluku
261.737 198.581 75,87 7.459 3,76 4.147 2,09 1.072 0,54 16.982 8,55 16.753 8,44 98.305 49,50 53.863 27,12
31
Maluku Utara
66.628 39.664 59,53 1.122 2,83 1.164 2,93 224 0,56 2.278 5,74 5.882 14,83 19.594 49,40 9.400 23,70
32
Papua Barat
43.224 35.166 81,36 2.633 7,49 1.324 3,77 115 0,33 1.564 4,45 1.136 3,23 17.796 50,61 10.598 30,14
33
Papua
391.787 132.675 33,86 3.811 2,87 4.423 3,33 307 0,23 14.689 11,07 9.551 7,20 65.519 49,38 34.375 25,91
Indonesia 43.669.892 33.057.772 75,70 3.616.724 10,94 1.164.840 3,52 229.532 0,69 711.869 2,15 2.610.731 7,90 15.339.517 46,40 8.795.059 26,61
Sumber : BKKBN, 2010
JUMLAH DAN PERSENTASE PESERTA KB AKTIF
M e t o d e K o n t r a s e p s i
No Provinsi
Jumlah
PUS
Kondom Implan Suntikan Pil IUD MOW MOP
Peserta KB Aktif
Lampiran 4.9
Peserta % Peserta % Peserta % Peserta % Peserta %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Aceh 126.296 70,43 4.627 2,58 3.107 1,73 45.298 25,26 179.328 100,00
2 Sumatera Utara 273.859 74,34 30.364 8,24 9.975 2,71 54.179 14,71 368.377 100,00
3 Sumatera Barat 93.163 66,81 1.061 0,76 1.652 1,18 43.569 31,24 139.445 100,00
4 Riau 94.303 57,98 5.636 3,47 6.435 3,96 56.268 34,60 162.642 100,00
5 J ambi 80.678 67,60 393 0,33 3.958 3,32 34.316 28,75 119.345 100,00
6 Sumatera Selatan 304.392 71,70 18.530 4,36 8.388 1,98 93.228 21,96 424.538 100,00
7 Bengkulu 71.091 70,24 708 0,70 2.630 2,60 26.787 26,47 101.216 100,00
8 Lampung 268.930 59,47 30.856 6,82 14.443 3,19 137.989 30,51 452.218 100,00
9 Kepulauan Bangka Belitung 29.728 64,50 1.199 2,60 228 0,49 14.938 32,41 46.093 100,00
10 Kepulauan Riau 27.982 48,75 6.747 11,75 3.354 5,84 19.319 33,66 57.402 100,00
11 DKI J akarta 136.652 38,73 15.805 4,48 38.709 10,97 161.627 45,81 352.793 100,00
12 J awa Barat 846.770 58,34 101.131 6,97 31.722 2,19 471.736 32,50 1.451.359 100,00
13 J awa Tengah 457.116 51,80 36.699 4,16 27.036 3,06 361.653 40,98 882.504 100,00
14 DI Yogyakarta 18.989 37,32 8.937 17,57 400 0,79 22.550 44,32 50.876 100,00
15 J awa Timur 610.404 59,24 25.862 2,51 19.456 1,89 374.630 36,36 1.030.352 100,00
16 Banten 178.597 58,23 18.868 6,15 10.631 3,47 98.639 32,16 306.735 100,00
17 Bali 24.185 37,96 1.838 2,89 2.381 3,74 35.303 55,41 63.707 100,00
18 Nusa Tenggara Barat 148.590 89,53 3.508 2,11 1.182 0,71 12.681 7,64 165.961 100,00
19 Nusa Tenggara Timur 104.121 97,61 416 0,39 504 0,47 1.625 1,52 106.666 100,00
20 Kalimantan Barat 84.984 61,31 6.935 5,00 4.935 3,56 41.760 30,13 138.614 100,00
21 Kalimantan Tengah 53.540 75,19 3.581 5,03 1.515 2,13 12.568 17,65 71.204 100,00
22 Kalimantan Selatan 84.142 65,26 2.119 1,64 1.771 1,37 40.901 31,72 128.933 100,00
23 Kalimantan Timur 51.818 58,19 3.597 4,04 2.565 2,88 31.065 34,89 89.045 100,00
24 Sulawesi Utara 59.666 64,46 8.577 9,27 3.972 4,29 20.345 21,98 92.560 100,00
25 Sulawesi Tengah 70.282 90,69 1.271 1,64 1.096 1,41 4.852 6,26 77.501 100,00
26 Sulawesi Selatan 268.133 86,12 2.564 0,82 3.717 1,19 36.938 11,86 311.352 100,00
27 Sulawesi Tenggara 67.098 92,05 939 1,29 849 1,16 4.009 5,50 72.895 100,00
28 Gorontalo 31.028 83,34 1.930 5,18 573 1,54 3.699 9,94 37.230 100,00
29 Sulawesi Barat 34.640 87,19 763 1,92 151 0,38 4.177 10,51 39.731 100,00
30 Maluku 51.942 82,97 3.104 4,96 1.083 1,73 6.471 10,34 62.600 100,00
31 Maluku Utara 34.507 92,73 1.185 3,18 83 0,22 1.439 3,87 37.214 100,00
32 Papua Barat 18.163 87,27 2.032 9,76 45 0,22 573 2,75 20.813 100,00
33 Papua 27.235 72,79 7.308 19,53 1.421 3,80 1.452 3,88 37.416 100,00
Indonesia 4.833.024 62,94 359.090 4,68 209.967 2,73 2.276.584 29,65 7.678.665 100,00
Sumber: BKKBN, 2010
JUMLAH DAN PROPORSI PESERTA KB BARU
MENURUT TEMPAT PELAYANAN DAN PROVINSI TAHUN 2009
No Provinsi
Klinik KB
Dokter Praktik Swasta Bidan Praktik Swasta Jumlah
Pemerintah Swasta
Lampiran 4.10
Jumlah Desa Desa UCI
%
Jumlah Desa Desa UCI
%
Jumlah Desa Desa UCI
%
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 6.199 5.316 85,76 6.483 1.841 28,40 6.436 2.444 37,97
2 Sumatera Utara 5.643 4.097 72,60 5.772 4.079 70,67 5.978 4.150 69,42
3 Sumatera Barat 3.127 2.273 72,69 3.380 2.297 67,96 3.437 3.284 95,55
4 Riau 1.508 1.082 71,75 1.559 1.171 75,11 1.642 935 56,94
5 J ambi 1.252 1.065 85,06 1.271 1.095 86,15 1.329 1.116 83,97
6 Sumatera Selatan 2.919 2.606 89,28 3.012 2.466 81,87 3.103 2.559 82,47
7 Bengkulu 1.295 926 71,51 1.325 1.054 79,55 1.461 1.114 76,25
8 Lampung 2.155 1.883 87,38 2.310 1.511 65,41 2.247 1.008 44,86
9 Kepulauan Bangka Belitung 321 269 83,80 339 294 86,73 346 311 89,88
10 Kepulauan Riau 291 176 60,48 317 222 70,03 333 222 66,67
11 DKI J akarta 282 211 74,82 282 234 82,98 267 267 100,00
12 J awa Barat 5.828 3.893 66,80 6.000 3.933 65,55 5.877 4.754 80,89
13 J awa Tengah 8.569 7.167 83,64 8.560 7.433 86,83 8.559 7.886 92,14
14 DI Yogyakarta 438 428 97,72 438 414 94,52 438 432 98,63
15 J awa Timur 6.359 5.305 83,43 8.492 6.272 73,86 8.505 6.842 80,45
16 Banten 1.481 881 59,49 1.504 875 58,18 1.454 986 67,81
17 Bali 702 702 100,00 707 705 99,72 715 712 99,58
18 Nusa Tenggara Barat 803 700 87,17 885 793 89,60 897 823 91,75
19 Nusa Tenggara Timur 2.745 2.318 84,44 2.813 1.968 69,96 2.813 2.194 78,00
20 Kalimantan Barat 1.603 1.223 76,29 1.520 1.057 69,54 1.858 1.161 62,49
21 Kalimantan Tengah 1.389 885 63,71 1.456 1.045 71,77 1.479 1.012 68,42
22 Kalimantan Selatan 1.962 1.269 64,68 1.965 1.419 72,21 1.958 1.377 70,33
23 Kalimantan Timur 1.345 1.106 82,23 1.410 1.085 76,95 1.417 828 58,43
24 Sulawesi Utara 1.082 717 66,27 1.435 1.096 76,38 1.546 1.097 70,96
25 Sulawesi Tengah 1.591 1.080 67,88 1.634 1.221 74,72 1.710 1.189 69,53
26 Sulawesi Selatan 2.866 2.369 82,66 2.898 2.370 81,78 2.941 2.459 83,61
27 Sulawesi Tenggara 1.709 1.405 82,21 1.939 1.277 65,86 1.989 768 38,61
28 Gorontalo 493 250 50,71 601 371 61,73 606 399 65,84
29 Sulawesi Barat 496 74 14,92 543 196 36,10 558 235 42,11
30 Maluku 1.048 726 69,27 1.069 572 53,51 893 579 64,84
31 Maluku Utara 827 451 54,53 967 476 49,22 967 499 51,60
32 Papua Barat 1.221 448 36,69 683 98 14,35 1.253 265 21,15
33 Papua 1.606 874 54,42 2.361 503 21,30 3.380 782 23,14
71.155 54.175 76,14 75.930 51.443 67,75 78.392 54.689 69,76
Sumber : Ditjen PP & PL, Kemenkes RI
Indonesia
PENCAPAIAN DESA/KELURAHAN UNIVERSAL CHILD IMMUNIZATION (UCI) MENURUT PROVINSI
TAHUN 2007 - 2009
No Provinsi
Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009
Lampiran 4.11
JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
1 Aceh 105.565 88.464 83,80 33.868 32,08 89.567 84,85 81.607 77,30 95.607 90,57 86.619 82,05 84.821 80,35 83.605 79,20
2 Sumatera Utara 325.137 292.603 89,99 157.031 48,30 303.135 93,23 291.148 89,55 311.221 95,72 292.408 89,93 289.453 89,02 286.978 88,26
3 Sumatera Barat 106.599 92.305 86,59 45.826 42,99 94.434 88,59 89.517 83,98 97.379 91,35 90.844 85,22 86.532 81,18 85.988 80,66
4 Riau 137.969 96.512 69,95 60.672 43,98 110.406 80,02 105.676 76,59 112.875 81,81 105.351 76,36 102.561 74,34 101.791 73,78
5 J ambi 71.305 70.677 99,12 35.916 50,37 72.274 101,36 69.677 97,72 73.929 103,68 80.005 112,20 68.921 96,66 69.661 97,69
6 Sumatera Selatan 172.536 165.191 95,74 97.397 56,45 171.143 99,19 166.031 96,23 171.904 99,63 167.106 96,85 164.796 95,51 161.169 93,41
7 Bengkulu 40.604 39.393 97,02 23.732 58,45 38.951 95,93 36.995 91,11 40.812 100,51 38.020 93,64 36.948 91,00 37.773 93,03
8 Lampung 173.733 140.489 80,86 80.402 46,28 147.706 85,02 143.758 82,75 147.743 85,04 144.131 82,96 139.429 80,25 134.298 77,30
9 Kepulauan Bangka Belitung 24.660 23.937 97,07 19.948 80,89 24.183 98,07 23.693 96,08 24.067 97,60 23.907 96,95 23.098 93,67 23.242 94,25
10 Kepulauan Riau 38.004 34.747 91,43 20.204 53,16 37.040 97,46 34.820 91,62 35.706 93,95 35.528 93,48 34.261 90,15 34.998 92,09
11 DKI J akarta 188.944 219.321 116,08 117.149 62,00 230.882 122,20 222.060 117,53 230.733 122,12 220.110 116,49 214.898 113,74 215.060 113,82
12 J awa Barat 931.053 877.156 94,21 574.437 61,70 907.554 97,48 873.157 93,78 925.172 99,37 874.795 93,96 857.429 92,09 868.188 93,25
13 J awa Tengah 577.804 589.569 102,04 505.143 87,42 582.908 100,88 572.186 99,03 594.134 102,83 589.982 102,11 572.754 99,13 558.513 96,66
14 DI Yogyakarta 43.676 48.790 111,71 36.906 84,50 44.869 102,73 42.971 98,39 47.025 107,67 45.012 103,06 44.038 100,83 45.329 103,78
15 J awa Timur 605.960 607.378 100,23 532.127 87,82 613.233 101,20 598.679 98,80 621.480 102,56 605.601 99,94 599.102 98,87 586.974 96,87
16 Banten 206.281 200.343 97,12 150.480 72,95 208.325 100,99 197.663 95,82 212.399 102,97 201.702 97,78 196.292 95,16 195.510 94,78
17 Bali 61.212 62.550 102,19 54.908 89,70 62.994 102,91 60.933 99,54 62.636 102,33 61.042 99,72 61.067 99,76 61.697 100,79
18 Nusa Tenggara Barat 105.282 101.359 96,27 71.761 68,16 104.640 99,39 102.046 96,93 102.480 97,34 101.984 96,87 101.986 96,87 100.434 95,40
19 Nusa Tenggara Timur 127.440 119.763 93,98 40.597 31,86 119.107 93,46 117.242 92,00 118.849 93,26 117.034 91,83 116.218 91,19 117.662 92,33
20 Kalimantan Barat 99.148 88.943 89,71 37.429 37,75 93.144 93,94 86.449 87,19 96.966 97,80 88.128 88,89 84.778 85,51 85.395 86,13
21 Kalimantan Tengah 52.494 49.668 94,62 12.861 24,50 49.317 93,95 47.386 90,27 50.950 97,06 47.667 90,80 47.036 89,60 46.581 88,74
22 Kalimantan Selatan 71.062 69.183 97,36 28.421 39,99 68.020 95,72 64.086 90,18 69.792 98,21 64.943 91,39 63.120 88,82 64.119 90,23
23 Kalimantan Timur 77.165 71.307 92,41 39.377 51,03 73.333 95,03 70.789 91,74 73.663 95,46 69.813 90,47 67.176 87,06 67.965 88,08
24 Sulawesi Utara 45.527 40.618 89,22 14.201 31,19 40.681 89,36 40.648 89,28 40.643 89,27 39.201 86,10 38.607 84,80 38.925 85,50
25 Sulawesi Tengah 53.890 51.943 96,39 23.931 44,41 52.753 97,89 49.408 91,68 54.905 101,88 49.395 91,66 49.397 91,66 49.065 91,05
26 Sulawesi Selatan 168.566 165.611 98,25 119.535 70,91 162.885 96,63 160.202 95,04 168.959 100,23 159.234 94,46 159.408 94,57 156.199 92,66
27 Sulawesi Tenggara 53.534 50.736 94,77 14.104 26,35 49.467 92,40 45.627 85,23 51.853 96,86 46.121 86,15 44.238 82,64 44.762 83,61
28 Gorontalo 25.937 24.219 93,38 11.075 42,70 24.627 94,95 24.313 93,74 25.138 96,92 24.114 92,97 24.207 93,33 23.934 92,28
29 Sulawesi Barat 24.981 21.627 86,57 5.170 20,70 22.297 89,26 20.235 81,00 22.360 89,51 20.737 83,01 20.176 80,77 19.581 78,38
30 Maluku 36.405 28.753 78,98 6.555 18,01 31.459 86,41 26.533 72,88 31.163 85,60 27.972 76,84 25.500 70,05 26.487 72,76
31 Maluku Utara 23.487 19.990 85,11 6.308 26,86 21.374 91,00 19.723 83,97 21.879 93,15 20.058 85,40 19.647 83,65 20.670 88,01
32 Papua Barat 20.481 13.888 67,81 2.020 9,86 14.349 70,06 11.868 57,95 15.899 77,63 11.980 58,49 11.757 57,40 13.443 65,64
33 Papua 49.872 37.005 74,20 7.940 15,92 38.279 76,75 33.066 66,30 39.552 79,31 32.370 64,91 31.219 62,60 36.826 73,84
4.846.313 4.604.038 95,00 2.987.431 61,64 4.705.336 97,09 4.530.192 93,48 4.789.873 98,84 4.582.914 94,56 4.480.870 92,46 4.462.822 92,09
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2010
CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
NO PROVINSI SASARAN
Indonesia
POLIO1 POLIO3 POLIO4 HB0
I M U N I S A S I P A D A B A Y I
BCG DPT/HB(1) DPT/HB(3) CAMPAK
Lampiran 4.12
DROP OUT RATE CAKUPAN IMUNISASI DPT1 - CAMPAK PADA BAYI MENURUT PROVINSI
2006 2007 2008 2009
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Aceh 10,7 21,6 13,2 6,7
2 Sumatera Utara - 1,3 4,4 5,3
3 Sumatera Barat 9,9 15,0 7,8 8,9
4 Riau 2,0 7,2 6,8 7,8
5 J ambi 1,4 7,8 5,5 3,6
6 Sumatera Selatan 21,8 6,9 4,7 5,8
7 Bengkulu 3,2 17,8 4,9 3,0
8 Lampung - (1,1) 2,7 9,1
9 Kepulauan Bangka Belitung - 4,0 7,3 3,9
10 Kepulauan Riau - 10,7 9,6 5,5
11 DKI J akarta 23,0 0,6 8,2 6,9
12 J awa Barat 21,5 5,7 4,7 4,3
13 J awa Tengah 4,0 4,3 3,2 4,2
14 DI Yogyakarta 0,4 (0,8) (0.8) (1,0)
15 J awa Timur 4,8 5,9 4,3 4,3
16 Banten 15,1 1,4 5,4 6,2
17 Bali 8,5 4,5 10,8 2,1
18 Nusa Tenggara Barat 3,4 4,0 3,1 4,0
19 Nusa Tenggara Timur - 22,7 11,6 1,2
20 Kalimantan Barat 8,1 13,1 5,1 8,3
21 Kalimantan Tengah 1,7 3,3 5,4 5,5
22 Kalimantan Selatan 8,2 7,0 6,1 5,7
23 Kalimantan Timur 7,8 4,3 7,8 7,3
24 Sulawesi Utara 4,3 10,6 4,5 4,3
25 Sulawesi Tengah 9,8 11,0 8,2 7,0
26 Sulawesi Selatan 8,4 4,2 5,4 4,1
27 Sulawesi Tenggara 4,0 5,8 6,4 9,5
28 Gorontalo 11,1 6,8 7,1 2,8
29 Sulawesi Barat 15,8 (1.5) 9,8 12,2
30 Maluku 5,0 3,4 8,6 15,8
31 Maluku Utara 5,4 7,2 13,9 3,3
32 Papua Barat 7,6 19,8 19,9 6,3
33 Papua - 21,6 13,8 3,8
9,3 6,1 5,4 5,2
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2010
TAHUN 2006 - 2009
Indonesia
NO PROVINSI
TAHUN
Lampiran 4.13
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15)
1 Aceh 110.239 48.494 43,99 46.261 41,96 16.942 15,37 10.912 9,90 7.625 6,92 54.466 49,41
2 Sumatera Utara 357.651 144.961 40,53 129.419 36,19 69.707 19,49 50.965 14,25 41.266 11,54 247.343 69,16
3 Sumatera Barat 115.825 32.951 28,45 28.026 24,20 15.217 13,14 12.808 11,06 8.089 6,98 52.766 45,56
4 Riau 151.763 39.966 26,33 40.329 26,57 28.294 18,64 24.960 16,45 21.921 14,44 115.504 76,11
5 J ambi 79.641 55.057 69,13 49.806 62,54 10.172 12,77 8.551 10,74 225 0,28 47.456 59,59
6 Sumatera Selatan 188.974 155.966 82,53 147.169 77,88 0 0,00 0 0,00 0 0,00 147.169 77,88
7 Bengkulu 43.571 22.670 52,03 20.850 47,85 268 0,62 292 0,67 170 0,39 21.580 49,53
8 Lampung 189.384 83.919 44,31 82.171 43,39 25.029 13,22 21.182 11,18 16.216 8,56 136.339 71,99
9 Kepulauan Bangka Belitung 26.973 13.562 50,28 84.009 311,46 2.318 8,59 0 0,00 0 0,00 20.541 76,15
10 Kepulauan Riau 41.446 19.862 47,92 753.753 1.818,64 91.002 219,57 58.438 141,00 50.515 121,88 21.945 52,95
11 DKI J akarta 158.351 89.342 56,42 234.592 148,15 100.607 63,53 86.935 54,90 82.103 51,85 71.385 45,08
12 J awa Barat 1.024.158 822.578 80,32 13.721 1,34 11.169 1,09 7.603 0,74 4.415 0,43 686.214 67,00
13 J awa Tengah 924.124 234.976 25,43 43.593 4,72 52.169 5,65 74.773 8,09 76.443 8,27 493.623 53,42
14 DI Yogyakarta 48.210 16.984 35,23 37.909 78,63 13.155 27,29 11.285 23,41 11.317 23,47 29.754 61,72
15 J awa Timur 338.799 42.453 12,53 34.434 10,16 2.209 0,65 1.081 0,32 880 0,26 244.681 72,22
16 Banten 225.565 160.197 71,02 49.114 21,77 3.617 1,60 286 0,13 1.930 0,86 199.909 88,63
17 Bali 67.340 2.528 3,75 19.270 28,62 10.089 14,98 6.963 10,34 6.155 9,14 68.028 101,02
18 Nusa Tenggara Barat 115.810 102.880 88,84 29.073 25,10 2.839 2,45 1.567 1,35 530 0,46 78.026 67,37
19 Nusa Tenggara Timur 134.031 32.733 24,42 42.632 31,81 680 0,51 140 0,10 72 0,05 108.228 80,75
20 Kalimantan Barat 106.955 41.289 38,60 111.078 103,85 10.933 10,22 6.750 6,31 5.021 4,69 37.429 35,00
21 Kalimantan Tengah 56.401 38.956 69,07 19.301 34,22 9.622 17,06 7.908 14,02 7.265 12,88 26.735 47,40
22 Kalimantan Selatan 78.321 56.455 72,08 2.482 3,17 4.515 5,76 18.777 23,97 45.836 58,52 44.527 56,85
23 Kalimantan Timur 85.024 21.330 25,09 97.093 114,19 0 0,00 0 0,00 0 0,00 34.194 40,22
24 Sulawesi Utara 50.590 32.032 63,32 32.486 64,21 29.410 58,13 23.702 46,85 23.159 45,78 22.381 44,24
25 Sulawesi Tengah 59.764 46.725 78,18 13.213 22,11 1.130 1,89 231 0,39 245 0,41 30.335 50,76
26 Sulawesi Selatan 198.602 124.530 62,70 4.142 2,09 406 0,20 98 0,05 109 0,05 133.782 67,36
27 Sulawesi Tenggara 59.202 20.333 34,35 145.177 245,22 29.116 49,18 19.786 33,42 13.521 22,84 33.146 55,99
28 Gorontalo 28.018 21.328 76,12 14.812 52,87 2.468 8,81 1.269 4,53 1.035 3,69 16.609 59,28
29 Sulawesi Barat 27.174 17.942 66,03 18.309 67,38 3.331 12,26 2.065 7,60 1.550 5,70 10.658 39,22
30 Maluku 33.958 16.132 47,51 12.188 35,89 4.049 11,92 2.613 7,69 1.691 4,98 9.085 26,75
31 Maluku Utara 25.836 16.879 65,33 3.382 13,09 1.994 7,72 962 3,72 605 2,34 14.671 56,79
32 Papua Barat 23.210 4.721 20,34 15.383 66,28 4.668 20,11 3.264 14,06 2.874 12,38 6.943 29,91
33 Papua 55.553 5.391 9,70 9.893 17,81 550 0,99 111 0,20 104 0,19 4.755 8,56
5.230.462 2.586.122 49,44 2.385.070 45,60 557.675 10,66 466.277 8,91 432.887 8,28 3.270.207 62,52
Sumber : Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2010
TT1 TT2
CAKUPAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
TT2+
Ibu Hamil Diimunisasi
TT3 TT4 TT5
Indonesia
No Provinsi
Jumlah Ibu
Hamil
Lampiran 4.14
JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1 Aceh 913.478 62.401 6,83 59.043 6,46 36.362 3,98 23.822 2,61 18.933 2,07
2 Sumatera Utara 2.503.934 20.456 0,82 18.633 0,74 11.547 0,46 12.866 0,51 7.870 0,31
3 Sumatera Barat 953.877 10.754 1,13 8.407 0,88 10.540 1,10 9.093 0,95 17.293 1,81
4 Riau 1.010.357 12.014 1,19 10.702 1,06 9.072 0,90 7.019 0,69 5.371 0,53
5 J ambi 650.404 20.265 3,12 12.959 1,99 2.174 0,33 2.174 0,33 2.112 0,32
6 Sumatera Selatan - - - - - - - - - - -
7 Bengkulu 191.967 228 0,12 127 0,07 130 0,07 221 0,12 216 0,11
8 Lampung 1.735.373 10.151 0,58 8.044 0,46 6.145 0,35 5.570 0,32 4.604 0,27
9 Kepulauan Bangka Belitung 247.358 1.984 0,80 1.261 0,51 780 0,32 392 0,16 196 0,08
10 Kepulauan Riau 387.221 7.127 1,84 6.264 1,62 1.098 0,28 776 0,20 789 0,20
11 DKI J akarta 691.201 33.449 4,84 31.629 4,58 50.098 7,25 97.111 14,05 134.477 19,46
12 J awa Barat - - - - - - - - - - -
13 J awa Tengah 6.839.944 508.824 7,44 442.174 6,46 474.766 6,94 484.561 7,08 760.109 11,11
14 DI Yogyakarta 5.714 5.794 101,40 880 15,39 811 14,19 243 4,26 901 15,77
15 J awa Timur 5.674.310 38.875 0,69 24.345 0,43 58.248 1,03 65.835 1,16 94.036 1,66
16 Banten 2.156.550 30.756 1,43 31.433 1,46 61.789 2,87 43.681 2,03 31.871 1,48
17 Bali 715.965 989 0,14 1.162 0,16 2.688 0,38 9.447 1,32 13.717 1,92
18 Nusa Tenggara Barat - - - - - - - - - - -
19 Nusa Tenggara Timur - - - - - - - - - - -
20 Kalimantan Barat 845.020 8.401 0,99 10.939 1,29 12.014 1,42 11.966 1,42 17.833 2,11
21 Kalimantan Tengah 244.086 7.390 3,03 4.662 1,91 514 0,21 433 0,18 437 0,18
22 Kalimantan Selatan 673.932 30.869 4,58 23.266 3,45 7.125 1,06 1.544 0,23 949 0,14
23 Kalimantan Timur 526.438 14.843 2,82 13.189 2,51 10.874 2,07 8.887 1,69 11.022 2,09
24 Sulawesi Utara 443.110 2.557 0,58 1.500 0,34 598 0,13 172 0,04 47 0,01
25 Sulawesi Tengah 538.665 843 0,16 252 0,05 0 0,00 0 0,00 0 0,00
26 Sulawesi Selatan 1.428.649 12.055 0,84 5.135 0,36 3.019 0,21 2.060 0,14 1.868 0,13
27 Sulawesi Tenggara - - - - - - - - - - -
28 Gorontalo 194.924 4.544 2,33 4.126 2,12 3.033 1,56 1.674 0,86 1.409 0,72
29 Sulawesi Barat 208.513 181 0,09 203 0,10 417 0,20 345 0,17 13 0,01
30 Maluku 173.138 12.538 7,24 8.815 5,09 7.122 4,11 3.921 2,26 2.609 1,51
31 Maluku Utara 251.169 2.399 0,96 2.171 0,86 4.097 1,63 2.673 1,06 2.054 0,82
32 Papua Barat 148.844 1.046 0,70 1.253 0,84 1.304 0,88 1.530 1,03 2.037 1,37
33 Papua 433.959 3.021 0,70 2.697 0,62 1.695 0,39 980 0,23 1.387 0,32
30.788.100 864.754 2,81 735.271 2,39 778.060 2,53 798.997 2,60 1.134.160 3,68
Sumber : Ditjen PP & PL, Kemkes RI, 2010
TT5
Indonesia
CAKUPAN IMUNISASI TT PADA WANITA USIA SUBUR
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
NO PROVINSI
JUMLAH
WUS
WANITA USIA SUBUR DIIMUNISASI
TT1 TT2 TT3 TT4
Lampiran 4.15
<48 jam ≥48 jam
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 37.994 809 753 192.990 188.564 417.866
2 Sumatera Utara 56.907 2.028 2.727 352.237 383.601 978.164
3 Sumatera Barat 30.115 701 508 185.269 182.370 747.710
4 Riau 41.463 611 714 178.071 189.492 510.750
5 J ambi 23.998 597 268 119.294 115.606 217.558
6 Sumatera Selatan 89.956 2.353 1.558 505.442 417.028 614.752
7 Bengkulu 4.806 11 4 11.109 11.207 3.886
8 Lampung 70.137 1.737 1.438 279.436 297.129 409.408
9 Kepulauan Bangka Belitung 10.459 245 140 36.162 43.063 21.358
10 Kepulauan Riau
11 DKI J akarta 161.038 2.292 3.651 909.088 931.280 4.380.132
12 J awa Barat 205.736 3.409 3.885 844.954 855.122 1.707.772
13 J awa Tengah 225.264 5.403 5.413 1.239.003 1.154.886 2.924.134
14 DI Yogyakarta 27.341 472 405 130.481 118.728 1.145.850
15 J awa Timur 186.833 6.063 5.971 1.247.191 1.098.974 3.336.252
16 Banten 44.539 1.164 989 209.902 194.338 550.930
17 Bali 52.514 1.162 1.306 185.352 195.571 1.028.784
18 Nusa Tenggara Barat 48.277 1.277 1.223 185.236 206.999 443.374
19 Nusa Tenggara Timur 25.744 455 374 96.000 92.259 163.808
20 Kalimantan Barat 37.955 893 812 182.941 256.549 301.864
21 Kalimantan Tengah 8.553 168 126 33.497 31.452 153.766
22 Kalimantan Selatan 21.901 586 492 93.987 97.306 258.488
23 Kalimantan Timur 52.230 822 796 263.756 316.332 496.402
24 Sulawesi Utara 46.224 755 652 212.891 283.893 302.472
25 Sulawesi Tengah 20.576 337 223 79.358 83.806 126.944
26 Sulawesi Selatan 61.142 1.127 748 275.188 278.867 466.886
27 Sulawesi Tenggara 13.934 264 281 59.124 73.614 247.074
28 Gorontalo
29 Sulawesi Barat
30 Maluku 15.920 128 377 97.094 82.433 65.262
31 Maluku Utara
32 Papua Barat 5.254 44 46 27.704 29.550 19.084
33 Papua 331.420
1.626.810 35.913 35.880 8.232.757 8.210.019 22.372.150
Sumber: Ditjen Pelayanan Medik, Kemkes RI
Indonesia
Lama Dirawat Total Kunjungan
JUMLAH KUNJUNGAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT
MENURUT PROVINSI TAHUN 2008
No Provinsi Pasien Keluar Hidup
Pasien Keluar Mati
Hari Perawatan
Lampiran 4.16
2008 2009 2008 2009 2008 2009 2008 2009 2008 2009 2008 2009
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 92,8 69,0 4 4,7 66 29,4 2 4,4 36 39,5 18 20
2 Sumatera Utara 64,5 47,9 6 4,8 26 11,9 5 18,0 54 52,0 30 29
3 Sumatera Barat 57,1 48,0 4 4,5 30 21,4 3 8,1 36 48,5 16 25
4 Riau 68,7 59,9 3 3,8 40 18,9 4 10,0 38 31,4 18 11
5 J ambi 77,4 67,9 3 3,4 58 43,4 2 2,6 35 25,3 11 9
6 Sumatera Selatan 55,3 63,9 4 4,7 44 32,6 1 3,7 48 42,9 15 18
7 Bengkulu 45,0 58,8 3 3,9 50 26,9 2 5,6 3 37,2 13
8 Lampung 74,7 62,9 4 3,8 34 35,8 5 3,6 46 41,7 20 19
9 Kepulauan Bangka Belitung 91,0 82,6 3 3,1 26 17,1 1 12,6 42 35,9 15 14
10 Kepulauan Riau - 53,3 - 3,3 - 31,8 - 5,0 - 27,5 - 14
11 DKI J akarta 69,7 53,7 5 4,4 34 28,1 3 4,9 44 29,5 26 18
12 J awa Barat 85,7 63,9 4 4,2 41 28,8 2 5,0 39 29,2 18 16
13 J awa Tengah 69,5 62,2 4 4,4 39 29,9 2 4,7 45 37,8 22 19
14 DI Yogyakarta 79,6 49,6 5 5,1 45 19,2 2 9,0 42 39,1 21 23
15 J awa Timur 96,0 67,9 5 4,9 44 20,7 1 8,6 58 49,8 28 25
16 Banten 97,3 61,0 4 4,1 47 16,6 1 11,8 46 27,1 22 14
17 Bali 80,1 58,6 5 3,6 50 45,7 2 2,0 45 35,9 24 20
18 Nusa Tenggara Barat 50,3 66,3 4 3,6 32 32,4 1 4,6 40 43,0 19 19
19 Nusa Tenggara Timur 59,7 57,8 4 3,9 31 28,1 2 5,7 31 30,9 14 15
20 Kalimantan Barat 73,2 70,1 4 5,6 51 28,3 5 3,1 51 35,0 15 16
21 Kalimantan Tengah 47,0 52,1 4 3,5 20 14,8 4 14,8 26 28,0 11 12
22 Kalimantan Selatan 76,8 69,3 4 3,7 38 21,7 2 8,3 44 41,5 18 16
23 Kalimantan Timur 99,5 75,9 4 4,2 51 25,8 2 5,0 26 21,3 13 10
24 Sulawesi Utara 83,0 52,4 6 3,6 37 21,8 5 7,7 30 30,6 13 13
25 Sulawesi Tengah 83,3 42,7 4 3,6 45 14,8 2 14,7 31 32,0 11 14
26 Sulawesi Selatan 92,2 63,8 4 4,2 43 34,7 1 3,5 30 31,0 12 14
27 Sulawesi Tenggara 71,5 61,6 5 3,9 39 22,4 8 7,2 32 40,6 16 19
28 Gorontalo - - - - - - - - - - - -
29 Sulawesi Barat - 60,6 - 3,9 - 9,2 - 24,8 - 48,2 - 12
30 Maluku 36,0 34,5 4 4,7 22 11,0 8 19,8 40 33,2 29 29
31 Maluku Utara - - - - - - - - - - - -
32 Papua Barat 74,0 67,9 6 3,4 27 11,0 1 21,0 17 19,7 9 10
33 Papua 51,0 59,1 5 4,1 16 6,6 6 36,9 48 36,2 35 19
79,8 58,7 4 4,3 42 25,2 3 6,3 42 36,5 19 18
Sumber: Ditjen Pelayanan Medik, Kemenkes RI
INDIKATOR PELAYANAN RUMAH SAKIT UMUM DEPKES DAN PEMDA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2008-2009
Bed Occupancy Rate (BOR) Length of Stay (LOS) Bed Turn Over (BTO) Turn Over Interval (TOI) Gross Death Rate (GDR) Net Death Rate (NDR)
No Provinsi
Indonesia
Lampiran 4.17
No Provinsi
Tumpatan
Gigi
Tetap
Tumpatan
Gigi
Sulung
Pengobatan
Pulpa/
tumpatan
Sementara
Pencabutan
Gigi
Tetap
Pencabutan
Gigi
Sulung
Pengobatan
Periodontal
Pengobatan
Abses
Pembersihan
Karang
Gigi
Prothese
Lengkap
Prothese
Sebagian
Prothese
Cekat
Orthodonsi
Bedah
Mulut
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15)
1 Aceh 1.723 408 4.082 4.449 1.233 955 478 1.840 9 221 275
2 Sumatera Utara 2.690 433 2.939 3.443 1.115 2.487 1.030 1.958 21 31 30 7 123
3 Sumatera Barat 4.106 1.912 6.650 4.076 1.705 1.240 1.006 1.011 140 4 159 713
4 Riau 2.980 446 3.921 2.496 737 656 422 611 28 55 15 172 500
5 J ambi 644 160 1.999 1.270 641 871 373 268 34 4 218
6 Sumatera Selatan 4.321 848 3.973 3.458 3.633 3.698 1.320 647 29 86 1 56 41
7 Bengkulu
8 Lampung 861 108 1.494 2.377 660 1.569 698 262 15 77 1 314
9 Kepulauan Bangka Belitung 466 80 379 1.030 210 99 97 130 1 74
10 Kepulauan Riau 4.760 1.571 3.049 2.967 1.614 877 494 1.514 109 881 67 101 563
11 DKI J akarta 39.949 10.899 29.273 17.805 5.764 7.814 5.031 17.346 439 3.264 1.069 15.128 5.487
12 J awa Barat 31.694 8.871 41.898 15.501 9.294 11.217 8.526 9.217 473 1.218 2.422 3.625 5.092
13 J awa Tengah 23.950 2.343 24.147 17.287 6.413 12.875 5.897 6.539 235 781 396 623 2.854
14 DI Yogyakarta 4.842 420 6.031 4.772 1.248 6.756 1.548 1.729 36 374 106 666 1.692
15 J awa Timur 21.282 1.685 35.775 15.423 7.140 16.250 6.621 8.692 433 1.933 560 755 1.617
16 Banten 2.977 792 2.270 2.919 994 1.070 800 5.658 175 24 48 851 1.723
17 Bali 5.005 642 5.866 3.543 2.609 1.538 1.772 1.366 23 183 94 1.220 531
18 Nusa Tenggara Barat 826 111 1.905 1.356 709 1.379 1.339 553 14 6 26 121 130
19 Nusa Tenggara Timur 318 51 844 779 215 1.130 360 365 14 3 61
20 Kalimantan Barat 2.749 109 2.123 3.905 517 1.528 649 589 1 24 1 132
21 Kalimantan Tengah 581 356 1.115 720 502 1.164 159 191 181
22 Kalimantan Selatan 1.550 173 1.744 826 611 985 309 174 45 14 7 146
23 Kalimantan Timur 2.626 288 8.619 2.465 1.530 1.690 732 648 230 10 179 5 567
24 Sulawesi Utara 607 67 858 1.342 406 413 233 87 2 4 25
25 Sulawesi Tengah 408 7 407 1.190 560 694 290 66 107
26 Sulawesi Selatan 4.891 281 4.708 5.302 2.179 2.687 1.675 1.958 15 13 1 231 482
27 Sulawesi Tenggara 1.079 292 2.624 1.230 769 1.469 686 119 80
28 Gorontalo
29 Sulawesi Barat
30 Maluku 53 121 362 901 275 345 87 90 21
31 Maluku Utara
32 Papua Barat 26 8 149 334 102 79 48 3
33 Papua 222 83 661 250 124 421 225 149 10 124
168.186 33.565 199.865 123.416 53.509 83.956 42.905 63.780 2.477 9.035 5.236 23.736 23.873
Sumber: Ditjen Pelayanan Medik, Kemenkes RI
PEMERIKSAAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA RUMAH SAKIT UMUM DEPKES DAN PEMDA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2008
Indonesia
Lampiran 4.18
No Provinsi RJTP RITP Rujukan
Kunjungan Ibu Hamil
(K4)
Kunjungan Neonatus
(KN2)
Persalinan oleh
Tenaga Kesehatan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 2.364.892 249.866 65.305 1.131 1.413 743
2 Sumatera Utara 396.693 421 7.121 2.201 1.334 1.139
3 Sumatera Barat - - - - - -
4 Riau 21.593 283 253 1.004 943 703
5 J ambi 147.260 914 6.836 577 277 302
6 Sumatera Selatan 150.500 291 14.800 3.309 2.130 1.649
7 Bengkulu 174.447 1.025 7.368 383 292 151
8 Lampung 567.827 6.295 16.321 396 459 138
9 Kepulauan Bangka Belitung 19.952 247 1.968 103 21 18
10 Kepulauan Riau 210.649 8.564 7.201 1.438 9.378 293
11 DKI J akarta - - - - - -
12 J awa Barat 2.017.292 28.363 130.027 3.167 1.705 1.212
13 J awa Tengah 949.575 16.754 68.953 2.855 1.680 10.295
14 DI Yogyakarta 736.850 7.533 45.154 22.795 21.679 11.481
15 J awa Timur 4.142.121 130.211 289.376 30.154 4.675 3.863
16 Banten 1.161.558 3.050 50.909 6.772 2.872 4
17 Bali 193.430 487 20.225 1.154 368 256
18 Nusa Tenggara Barat 340.023 6.910 8.711 3.069 3.193 2.285
19 Nusa Tenggara Timur 2.556.306 46.058 22.689 4.609 5.388 4.763
20 Kalimantan Barat 61.941 335 7.365 699 392 1.757
21 Kalimantan Tengah 279.113 2.517 6.753 1.224 781 655
22 Kalimantan Selatan 402.356 4.781 20.303 2.252 1.644 1.429
23 Kalimantan Timur 7.447 547 766 176 44 42
24 Sulawesi Utara 36.134 91 3.073 - 118 25
25 Sulawesi Tengah 444.339 2.770 14.268 1.849 1.204 1.301
26 Sulawesi Selatan 478.767 3.515 13.467 1.939 1.040 838
27 Sulawesi Tenggara 822.756 5.708 19.717 148 59 98
28 Gorontalo 144.792 1.130 5.962 - 194 -
29 Sulawesi Barat - - - - - -
30 Maluku 50 87 5 62 70 28
31 Maluku Utara 179.804 1.166 5.417 343 393 414
32 Papua Barat 4.162 527.342 11.091 9 - 1
33 Papua 169.678 1.116 5.417 343 393 414
19.182.307 1.058.377 876.821 94.161 64.139 46.297
Sumber : Pusat Pembiayaan & J aminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota)
Keterangan: RJ TP =Rawat J alan Tingkat Pertama
JUMLAH KUNJUNGAN PESERTA JAMKESMAS DI PUSKESMAS
TAHUN 2009
Indonesia
Lampiran 4.19
L P L+P
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 111.201 142.057 253.258
2 Sumatera Utara 107.801 114.784 222.585
3 Sumatera Barat 71.901 88.667 160.568
4 Riau 19.197 25.352 44.549
5 Kepulauan Riau 8.310 10.041 18.351
6 J a m b i 15.470 17.627 33.097
7 Sumatera Selatan 66.635 71.450 138.085
8 Kep.Bangka Belitung 4.843 5.601 10.444
9 Bengkulu 12.662 13.208 25.870
10 Lampung 43.575 48.294 91.869
11 DKI J akarta 37.450 45.587 83.037
12 J awa Barat 328.379 402.371 730.750
13 B a n t e n 52.591 55.834 108.425
14 J awa Tengah 387.708 474.846 862.554
15 D.I.Yogyakarta 59.642 73.350 132.992
16 J awa Timur 251.516 318.029 569.545
17 B a l i 30.512 25.125 55.637
18 Nusa Tenggara Barat 40.326 42.583 82.909
19 NusaTenggara Timur 38.672 42.815 81.487
20 Kalimantan Barat 42.388 39.304 81.692
21 Kalimantan Tengah 10.801 11.151 21.952
22 Kalimantan Selatan 22.935 21.579 44.514
23 Kalimantan Timur 37.958 33.660 71.618
24 Sulawesi Utara 18.004 20.972 38.976
25 Gorontalo 7.797 8.145 15.942
26 Sulawesi Tengah 17.089 21.963 39.052
27 Sulawesi Selatan 82.917 94.630 177.547
28 Sulawesi Barat 5.729 7.722 13.451
29 Sulawesi Tenggara 18.162 22.418 40.580
30 M a l u k u 8.757 9.429 18.186
31 Maluku Utara 3.745 4.570 8.315
32 P a p u a 33.396 36.426 69.822
33 Irian J aya Barat 14.827 17.237 32.064
TOTAL 2.012.896 2.366.827 4.379.723
Sumber : Pusat Pembiayaan & J aminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota)
Jumlah Rawat Jalan Tingkat Lanjut
JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN TINGKAT LANJUT (RJTL)
PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009
No Provinsi
Lampiran 4.20
L P L+P
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 26.220 33.788 60.008
2 Sumatera Utara 25.338 32.351 57.689
3 Sumatera Barat 19.533 26.448 45.981
4 Riau 5.501 7.895 13.396
5 Kepualauan Riau 1.948 2.872 4.820
6 J a m b i 4.700 5.959 10.659
7 Sumatera Selatan 12.194 17.630 29.824
8 Kep.Bangka Belitung 899 1.259 2.158
9 Bengkulu 5.231 5.376 10.607
10 Lampung 16.092 20.889 36.981
11 DKI J akarta 2.629 2.983 5.612
12 J awa Barat 59.199 83.409 142.608
13 B a n t e n 11.398 12.874 24.272
14 J awa Tengah 99.441 128.390 227.831
15 D.I.Yogyakarta 11.205 15.130 26.335
16 J awa Timur 48.365 73.798 122.163
17 B a l i 6.096 7.955 14.051
18 Nusa Tenggara Barat 14.057 19.114 33.171
19 NusaTenggara Timur 18.272 27.501 45.773
20 Kalimantan Barat 18.398 17.824 36.222
21 Kalimantan Tengah 3.520 3.948 7.468
22 Kalimantan Selatan 5.610 6.933 12.543
23 Kalimantan Timur 10.556 10.985 21.541
24 Sulawesi Utara 5.667 7.215 12.882
25 Gorontalo 4.818 5.479 10.297
26 Sulawesi Tengah 6.990 9.039 16.029
27 Sulawesi Selatan 21.783 27.495 49.278
28 Sulawesi Barat 1.863 2.701 4.564
29 Sulawesi Tenggara 5.541 8.951 14.492
30 M a l u k u 3.702 5.138 8.840
31 Maluku Utara 1.597 2.494 4.091
32 P a p u a 5.633 7.749 13.382
33 Irian J aya Barat 3.420 5.768 9.188
487.416 647.340 1.134.756
Sumber : Pusat Pembiayaan & J aminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota)
Jumlah Rawat Inap Tingkat Lanjut
TOTAL
JUMLAH KASUS RAWAT INAP TINGKAT LANJUT (RITL)
PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009
No Provinsi
Lampiran 4.21
CAKUPAN TB PARU BTA POSITIF, SEMBUH, PENGOBATAN LENGKAP
DAN SUCCES RATE (HASIL PENGOBATAN PENYAKIT TB TAHUN 2008) MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
Semua Kasus BTA Pos Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
1 Aceh 905 707 608 86,00 62 8,77 670 94,77
2 Sumatera Utara 4.065 3.353 2.928 87,32 86 2,56 3.014 89,89
3 Sumatera Barat 1.253 873 664 76,06 71 8,13 735 84,19
4 Riau 801 537 398 74,12 37 6,89 435 81,01
5 J ambi 878 696 504 72,41 58 8,33 562 80,75
6 Sumatera Selatan 2.044 1.334 772 57,87 38 2,85 810 60,72
7 Bengkulu 393 333 180 54,05 8 2,40 188 56,46
8 Lampung 1.799 1.158 945 81,61 66 5,70 1.011 87,31
9 Kepulauan Bangka Belitung 325 270 233 86,30 12 4,44 245 90,74
10 Kepulauan Riau 309 139 - - - - - -
11 DKI J akarta 6.481 2.157 701 32,50 80 3,71 781 36,21
12 J awa Barat 18.486 8.861 5.502 62,09 419 4,73 5.921 66,82
13 J awa Tengah 9.257 4.229 3.611 85,39 250 5,91 3.861 91,30
14 DI Yogyakarta 579 276 223 80,80 14 5,07 237 85,87
15 J awa Timur 11.288 6.808 5.513 80,98 429 6,30 5.942 87,28
16 Banten 4.068 1.876 36 1,92 - - 36 1,92
17 Bali 811 378 258 68,25 64 16,93 322 85,19
18 Nusa Tenggara Barat 1.349 734 588 80,11 96 13,08 684 93,19
19 Nusa Tenggara Timur 1.289 820 454 55,37 58 7,07 512 62,44
20 Kalimantan Barat 1.363 1.044 645 61,78 47 4,50 692 66,28
21 Kalimantan Tengah 403 298 205 68,79 18 6,04 223 74,83
22 Kalimantan Selatan 1.375 841 765 90,96 28 3,33 793 94,29
23 Kalimantan Timur 868 487 320 65,71 70 14,37 390 80,08
24 Sulawesi Utara 1.201 1.064 893 83,93 143 13,44 1.036 97,37
25 Sulawesi Tengah 732 587 97 16,52 19 3,24 116 19,76
26 Sulawesi Selatan 2.230 1.743 1.493 85,66 79 4,53 1.572 90,19
27 Sulawesi Tenggara 760 672 537 79,91 76 11,31 613 91,22
28 Gorontalo 395 308 225 73,05 74 24,03 299 97,08
29 Sulawesi Barat 320 263 183 69,58 47 17,87 230 87,45
30 Maluku 489 244 166 68,03 20 8,20 186 76,23
31 Maluku Utara 209 115 - - - - - -
32 Papua Barat 432 177 68 38,42 60 33,90 128 72,32
33 Papua 1.470 544 213 39,15 69 12,68 282 51,84
INDONESIA 78.627 43.926 29.928 68,13 2.598 5,91 32.526 74,05
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI, 2010
No. Provinsi
Success Rate
(%)
Cakupan TB 2008 Sembuh Pengobatan Lengkap
Sembuh &
Pengobatan
Lengkap
Lampiran 4.22
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Aceh 568.657 56.866 494 732 1.226 2,16
2 Sumatera Utara 1.306.660 130.666 11.271 16.905 28.176 21,56
3 Sumatera Barat 469.766 46.977 1.989 5.387 7.376 15,70
4 Riau 449.139 44.914 3.126 6.329 9.455 21,05
5 J ambi 211.873 21.187 223 589 812 3,83
6 Sumatera Selatan 690.344 69.034 4.369 7.624 11.993 17,37
7 Bengkulu 185.621 18.562 1.806 2.075 3.881 20,91
8 Lampung 748.682 74.868 3.315 7.034 10.349 13,82
9 Kep. Bangka Belitung 113.130 11.313 1.078 3.607 4.685 41,41
10 Kepulauan Riau 161.752 16.175 13 38 51 0,32
11 DKI J akarta 896.521 89.652 6.010 11.296 17.306 19,30
12 J awa Barat 4.062.083 425.985 67.621 129.034 196.655 46,16
13 J awa Tengah - - - - - -
14 DI Yogyakarta - - - - - -
15 J awa Timur 2.491.593 249.159 11.566 20.721 32.287 12,96
16 Banten 1.072.458 107.246 3.552 6.328 9.880 9,21
17 Bali 354.310 35.431 1.277 2.318 3.595 10,15
18 Nusa Tenggara Barat 429.249 42.925 11.829 18.842 30.671 71,45
19 Nusa Tenggara Timur 434.332 43.433 1.677 1.915 4.846 11,16
20 Kalimantan Barat 424.914 42.491 372 709 1.081 2,54
21 Kalimantan Tengah 197.014 19.701 309 758 1.067 5,42
22 Kalimantan Selatan 323.701 32.370 1.153 2.380 3.533 10,91
23 Kalimantan Timur - - - - - -
24 Sulawesi Utara 201.175 20.118 890 1.749 2.639 13,12
25 Sulawesi Tengah - - - - - -
26 Sulawesi Selatan 725.575 72.558 1.261 2.646 3.907 5,38
27 Sulawesi Tenggara 233.915 23.392 732 1.524 2.256 9,64
28 Gorontalo 95.781 9.578 518 842 1.360 14,20
29 Sulawesi Barat 111.912 11.191 258 404 662 5,92
30 Maluku - - - - - -
31 Maluku Utara 98.191 9.819 183 387 570 5,81
32 Papua Barat - - - - - -
33 Papua - - - - - -
17.402.735 1.760.050 136.892 252.173
390.319 22,18
Sumber: Ditjen PPPL, Kemenkes RI
Indonesia
JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No. Provinsi
Jumlah Penduduk Usia
Balita Wil. Puskesmas
Program
Target Penemuan
Pneumonia Balita
(10%)
Realisasi Penemuan Penderita Pneumonia Balita
< 1 Tahun 1 - 4 Tahun Jumlah %
Lampiran 4.23

Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 113.358 84.357 74,42 73.628 64,95
2 Sumatera Utara 330.667 239.504 72,43 199.057 60,20
3 Sumatera Barat 115.410 106.453 92,24 90.340 78,28
4 Riau 151.763 115.064 75,82 109.244 71,98
5 J ambi 80.427 60.293 74,97 53.429 66,43
6 Sumatera Selatan 180.499 148.979 82,54 137.066 75,94
7 Bengkulu 49.693 41.253 83,02 37.110 74,68
8 Lampung 194.600 159.788 82,11 148.885 76,51
9 Kepulauan Bangka Belitung 28.202 25.182 89,29 23.928 84,85
10 Kepulauan Riau 43.387 28.422 65,51 24.707 56,95
11 DKI J akarta 162.985 134.500 82,52 115.764 71,03
12 J awa Barat 1.037.443 806.396 77,73 711.474 68,58
13 J awa Tengah 311.451 246.254 79,07 245.282 78,75
14 DI Yogyakarta 48.585 45.061 92,75 38.771 79,80
15 J awa Timur 665.150 529.905 79,67 488.664 73,47
16 Banten 212.873 180.458 84,77 158.942 74,67
17 Bali 67.794 64.667 95,39 61.303 90,43
18 Nusa Tenggara Barat 118.114 106.359 90,05 96.269 81,51
19 Nusa Tenggara Timur 4.973 2.684 53,97 2.775 55,80
20 Kalimantan Barat 107.556 76.886 71,48 67.787 63,02
21 Kalimantan Tengah 58.058 48.882 84,20 44.755 77,09
22 Kalimantan Selatan 76.914 71.469 92,92 62.266 80,96
23 Kalimantan Timur 78.475 49.816 63,48 42.600 54,28
24 Sulawesi Utara 44.832 40.028 89,28 34.693 77,38
25 Sulawesi Tengah 46.836 19.540 41,72 16.915 36,12
26 Sulawesi Selatan 196.625 93.337 47,47 75.715 38,51
27 Sulawesi Tenggara 58.714 32.212 54,86 30.979 52,76
28 Gorontalo 28.093 25.314 90,11 18.963 67,50
29 Sulawesi Barat 27.351 13.973 51,09 10.445 38,19
30 Maluku 35.744 29.564 82,71 16.653 46,59
31 Maluku Utara 25.352 21.150 83,43 17.715 69,88
32 Papua Barat 22.104 11.034 49,92 8.690 39,31
33 Papua 58.069 22.122 38,10 18.330 31,57
4.782.097 3.680.906 76,97 3.283.144 68,65
Sumber : Ditjen Binkesmas, Kemenkes RI
Indonesia
CAKUPAN PEMBERIAN TABLET BESI (Fe) PADA IBU HAMIL
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No Provinsi Jumlah Ibu Hamil
Cakupan Fe Ibu Hamil
Fe-1 Fe-3
Lampiran 4.24
6-11bln 12 - 59 bln 6-59 bln 6-11bln % 12 - 59 bln % 6-59 bln % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1 Aceh 70.249 373.091 443.340 106.201 53.382 75,99 306.760 82,22 360.142 81,23 35.238 33,18
2 Sumatera Utara 236.212 1.082.035 1.318.247 213.930 170.962 72,38 850.480 78,60 1.021.442 77,48 75.655 35,36
3 Sumatera Barat 61.778 400.260 462.038 104.696 56.781 91,91 318.207 79,50 374.988 81,16 81.871 78,20
4 Riau 89.090 551.027 640.117 144.866 69.331 77,82 431.504 78,31 500.835 78,24 144.866 100,00
6 J ambi 44.059 247.491 291.550 73.609 36.693 83,28 208.704 84,33 245.397 84,17 23.817 32,36
7 Sumatera Selatan 115.804 609.021 724.825 166.050 84.443 72,92 510.767 83,87 595.210 82,12 112.520 67,76
9 Bengkulu 46.271 139.574 185.845 45.057 21.837 47,19 114.718 82,19 136.555 73,48 33.115 73,50
10 Lampung 178.020 763.244 941.264 185.754 143.948 80,86 727.196 95,28 871.144 92,55 141.024 75,92
8 Kepulauan Bangka Belitung 13.569 104.865 118.434 26.559 12.080 89,03 81.728 77,94 93.808 79,21 21.620 81,40
5 Kepulauan Riau 33.035 150.434 183.469 40.758 21.283 64,42 120.271 79,95 141.554 77,15 19.147 46,98
11 DKI J akarta 80.146 611.241 691.387 154.076 77.143 96,25 460.528 75,34 537.671 77,77 57.613 37,39
12 J awa Barat 471.786 2.887.084 3.358.870 957.435 393.098 83,32 2.289.155 79,29 2.682.253 79,86 584.842 61,08
14 J awa Tengah 304.526 1.912.754 2.217.280 504.381 301.604 99,04 1.884.830 98,54 2.186.434 98,61 440.969 87,43
15 DI Yogyakarta 31.809 175.040 206.849 43.603 27.617 86,82 171.178 97,79 198.795 96,11 31.876 73,11
16 J awa Timur 316.028 2.433.098 2.749.126 613.934 306.231 96,90 2.076.384 85,34 2.382.615 86,67 321.156 52,31
13 Banten 128.896 772.825 901.721 226.851 118.612 92,02 651.982 84,36 770.594 85,46 127.228 56,08
17 Bali 35.446 236.552 271.998 64.455 34.184 96,44 212.484 89,83 246.668 90,69 58.622 90,95
18 Nusa Tenggara Barat 60.467 397.868 458.335 114.380 55.752 92,20 358.976 90,22 414.728 90,49 91.455 79,96
19 Nusa Tenggara Timur 63.079 420.462 483.541 101.592 53.053 84,11 329.575 78,38 382.628 79,13 41.969 41,31
20 Kalimantan Barat 88.602 457.423 546.025 100.315 56.292 63,53 330.333 72,22 386.625 70,81 53.782 53,61
21 Kalimantan Tengah 34.090 204.013 238.103 63.907 24.293 71,26 153.156 75,07 177.449 74,53 40.570 63,48
22 Kalimantan Selatan 40.503 285.531 326.034 70.458 38.091 94,05 265.894 93,12 303.985 93,24 61.000 86,58
23 Kalimantan Timur 48.524 336.171 384.695 75.272 39.357 81,11 237.246 70,57 276.603 71,90 41.738 55,45
29 Sulawesi Utara 24.622 143.550 168.172 41.601 21.351 86,72 126.753 88,30 148.104 88,07 33.473 80,46
26 Sulawesi Tengah 40.922 206.903 247.825 33.953 35.532 86,83 180.604 87,29 216.136 87,21 23.212 68,37
24 Sulawesi Selatan 118.225 613.489 731.714 31.331 91.087 77,05 518.788 84,56 609.875 83,35 23.400 74,69
27 Sulawesi Tenggara 33.817 224.409 258.226 51.862 23.689 70,05 169.040 75,33 192.729 74,64 26.537 51,17
28 Gorontalo 16.054 87.724 103.778 26.531 11.904 74,15 71.233 81,20 83.137 80,11 23.201 87,45
25 Sulawesi Barat 19.283 88.055 107.338 10.031 15.945 82,69 65.855 74,79 81.800 76,21 6.276 62,57
30 Maluku 32.494 188.950 221.444 34.120 31.624 97,32 112.331 59,45 143.955 65,01 13.776 40,38
31 Maluku Utara 8.624 74.176 82.800 24.433 6.502 75,39 54.333 73,25 60.835 73,47 15.057 61,63
32 Papua Barat 6.191 40.405 46.596 10.026 3.285 53,06 10.276 25,43 13.561 29,10 2.746 27,39
33 Papua 24.815 211.562 236.377 44.514 12.799 51,58 90.127 42,60 102.926 43,54 28.750 64,59
2.917.031 17.430.327 20.347.358 4.506.541 2.449.778 83,98 14.491.396 83,14 16.941.174 83,26 2.838.121 62,98
Sumber: Dit.Bina Gizi Masyarakat, Ditjen Bina Kesmas Kemenkes RI
CAKUPAN DISTRIBUSI KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROPINSI TAHUN 2009
Ibu Nifas Balita
Sasaran
Balita
Cakupan Vitamin A
INDONESIA
No P R O P I N S I
Ibu Nifas
Lampiran 4.25
Jumlah Sampel Bayi
0 - 6 bulan Jumlah (%)
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Aceh 341 178 52,20
2 Sumatera Utara 769 424 55,14
3 Sumatera Barat 448 319 71,21
4 Riau 246 141 57,32
5 J ambi 208 132 63,46
6 Sumatera Selatan 317 204 64,35
7 Bengkulu 186 141 75,81
8 Lampung 272 150 55,15
9 Kepulauan Bangka Belitung 129 80 62,02
10 Kepulauan Riau 118 67 56,78
11 DKI J akarta 208 122 58,65
12 J awa Barat 608 390 64,14
13 J awa Tengah 734 383 52,18
14 DI Yogyakarta 82 52 63,41
15 J awa Timur 814 397 48,77
16 Banten 191 112 58,64
17 Bali 151 82 54,30
18 Nusa Tenggara Barat 207 162 78,26
19 Nusa Tenggara Timur 602 453 75,25
20 Kalimantan Barat 273 144 52,75
21 Kalimantan Tengah 182 115 63,19
22 Kalimantan Selatan 241 157 65,15
23 Kalimantan Timur 249 165 66,27
24 Sulawesi Utara 188 103 54,79
25 Sulawesi Tengah 251 157 62,55
26 Sulawesi Selatan 534 375 70,22
27 Sulawesi Tenggara 320 200 62,50
28 Gorontalo 146 84 57,53
29 Sulawesi Barat 128 94 73,44
30 Maluku 206 141 68,45
31 Maluku Utara 120 74 61,67
32 Papua Barat 97 58 59,79
33 Papua 189 127 67,20
INDONESIA 9.755 5.983 61,33
Sumber : BPS, Susenas 2009
PROPORSI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI UMUR 0-6 BULAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
ASI Eksklusif 0-6 bulan
No Provinsi
Lampiran 4.26
No Provinsi Rumah Tangga Mempunyai Garam Cukup Yodium
(1) (2) (3)
1 Aceh 47,3
2 Sumatera Utara 89,9
3 Sumatera Barat 90,3
4 Riau 82,8
5 J ambi 94,4
6 Sumatera Selatan 93,0
7 Bengkulu 69,7
8 Lampung 76,8
9 Kepulauan Bangka Belitung 98,7
10 Kepulauan Riau 89,1
11 DKI J akarta 68,7
12 J awa Barat 58,3
13 J awa Tengah 58,6
14 DI Yogyakarta 82,7
15 J awa Timur 45,1
16 Banten 46,4
17 Bali 45,1
18 Nusa Tenggara Barat 27,9
19 Nusa Tenggara Timur 31,0
20 Kalimantan Barat 84,4
21 Kalimantan Tengah 88,7
22 Kalimantan Selatan 76,2
23 Kalimantan Timur 83,8
24 Sulawesi Utara 89,2
25 Sulawesi Tengah 62,3
26 Sulawesi Selatan 61,0
27 Sulawesi Tenggara 43,5
28 Gorontalo 90,1
29 Sulawesi Barat 34,2
30 Maluku 45,1
31 Maluku Utara 83,0
32 Papua Barat 90,9
33 Papua 86,2
62,3
Sumber : Riskesdas 2007
INDONESIA
PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MEMPUNYAI GARAM CUKUP YODIUM
MENURUT PROVINSI TAHUN 2007
Lampiran 4.27

Luka Berat/ Luka Ringan/
Rawat Inap Rawat Jalan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Banjir 23 30 25 33.771 2 205.254
2 Banjir Bandang 11 127 28 3.935 13 24.600
3 Banjir disertai Tanah Longsor 6 4 5 95 - 3.564
\
4 Tanah Longsor 13 73 44 9.194 24 6.788
5 Gelombang Pasang 1 - - - - 132
6 Angin Siklon Tropis (Angin Kencang dan 13 4 31 222 1 2.971
Angin Puting Beliung)
7 Gempa Bumi 11 1.209 1.234 9.224 27 205.210
8 Letusan Gunung Api 2 - - 75 - 89
9 Kecelakaan Industri 3 33 17 50 5 696
10 Kegagalan Teknologi 2 6 2 11 - -
11 Ledakan (bom, tabung gas, dll) 3 9 60 2 - -
12 Konflik 4 16 45 12 - -
13 Kebakaran 5 2 4 60 - 10.083
14 Banjir Lahar Dingin 1 - - - - -
Jumlah 1.513 1.495 56.651 72 459.387
Sumber : Pusat Penanggulangan Krisis, Kemenkes RI
REKAPITULASI KEJADIAN BENCANA MENURUT JENIS BENCANA DAN JUMLAH KORBAN
TAHUN 2009
No Jenis Bencana Jumlah Provinsi
J u m l a h K o r b a n
Pengungsi
Meninggal Hilang
Lampiran 4.28
Btl 60 ml Ktk @ 120 kap Btl @ 1000 tab Btl @ 1000 tab Ktk @ 100 Btl 60 ml Btl @ 1000 tab Ktk @ 100 Btl @ 1000 tab Btl 500 ml Btl @ 100 tab Btl @ 250
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)
1
Aceh
4,98
5,76 5,13 7,64 3,97
5,05 10,06 6,93 6,99 5,98 4,41 5,72
2
Sumatera Utara
9,55
14,64 18,56 5,38 10,19
15,37 14,15 7,29 14,12 9,39 8,79 8,70
3
Sumatera Barat
9,50
14,14 23,57 19,02 9,76
14,62 81,48 15,25 24,68 16,43 17,89 76,53
4
Riau
13,18
2,68 2,93 3,17 10,65
8,12 7,35 8,13 4,48 7,83 2,06 6,00
5
J ambi
10,94
3,75 0,17 0,07 18,68
9,44 0,29 13,59 0,25 33,90 13,77 0,28
6
Bengkulu
9,20
15,41 12,91 20,07 18,30
10,49 24,70 23,16 0,84 5,06 19,33 0,87
7
Sumatera Selatan
7,76
17,64 11,05 5,00 17,90
5,82 13,23 14,50 15,40 8,83 8,87 6,64
8
Lampung
12,56
22,83 6,25 13,09 10,17
16,55 11,71 14,99 17,76 4,81 14,95 7,10
9
Kep. Bangka Belitung
14,17
9,98 8,18 17,52 0,60
11,28 21,74 22,70 15,30 11,23 24,39 25,43
10
Kepulauan Riau
11,78
4,91 24,56 49,16 27,50
14,98 44,73 10,42 42,24 12,09 19,02 13,10
11
DKI J akarta
4,87
16,33 90,11 12,23 9,90
5,22 22,41 2,71 14,09 1,85 14,01 20,10
12
J awa Barat
8,55
8,39 48,11 15,29 18,23
10,52 68,95 11,88 10,46 9,97 22,09 71,57
13
J awa Tengah
9,71
8,75 5,80 7,91 13,84
5,70 19,07 13,03 7,08 10,03 7,12 6,12
14
DI Yogyakarta
8,19
15,02 10,15 12,62 77,03
8,95 18,55 21,34 13,47 11,52 10,81 42,30
15
J awa Timur
10,84
18,04 12,56 17,56 14,50
14,19 20,59 29,34 5,49 10,06 35,26 19,83
16
Banten
7,42
16,08 9,50 23,64 14,51
10,33 34,95 17,35 19,33 15,34 22,64 24,19
17
Bali
33,24
19,06 18,70 10,68 26,93
12,41 41,80 20,94 24,33 15,28 10,88 13,10
18
Nusa Tenggara Barat
14,50
8,89 13,53 4,08 14,33
14,36 20,64 35,42 11,52 14,90 18,78 21,67
19
Nusa Tenggara Timur
12,81
17,42 18,17 13,58 17,67
16,26 18,76 10,50 10,35 26,62 42,23 30,64
20
Kalimantan Barat
11,22
5,08 9,47 15,53 459,95
18,06 16,32 36,15 20,07 11,86 7,45 20,11
21
Kalimantan Tengah
12,37
17,60 15,58 28,30 25,46
15,74 15,14 13,75 14,44 15,26 19,97 21,20
22
Kalimantan Timur
9,19
17,55 28,88 10,45 17,50
16,63 14,31 9,26 38,64 17,51 26,79 22,14
23
Kalimantan Selatan
9,20
15,88 19,83 25,00 16,96
5,01 29,89 39,35 13,21 19,41 13,93 22,95
24
Sulawesi Utara
5,64
10,78 16,72 14,53 19,80
21,25 24,52 68,96 19,75 7,08 18,03 13,43
25
Sulawesi Tengah
4,54
3,22 1006,68 2,17 9,37
1,14 2753,86 20,81 2227,28 6,85 140,65 601,83
26
Sulawesi Tenggara
10,43
9,53 18,51 11,62 5,71
9,46 10,90 32,06 27,91 7,64 6,69 9,42
27
Sulawesi Selatan
9,12
21,15 12,48 21,12 9,90
11,73 25,25 14,04 10,38 16,42 17,39 36,00
28
Gorontalo
6,73
28,39 42,59 45,05 32,22
13,43 108,66 142,70 32,65 15,00 13,88 33,61
29
Sulawesi Barat
34,57
20,46 8,10 26,13 39,28
10,29 19,68 97,79 14,52 28,00 8,05 47,00
30
Maluku
6,84
10,24 16,25 11,79 11,18
5,55 16,99 11,29 9,30 5,21 9,12 14,90
31
Maluku Utara
4,08
3,02 8,98 6,23 10,68
10,66 24,11 15,70 17,20 6,60 9,24 6,35
32
Papua Barat
6,13
9,37 1,87 7,49 26,60
4,25 19,63 7,60 10,62 61,78 4,67 12,43
33
Papua
4,85
12,84 12,81 6,51 14,27
12,73 14,94 10,07 12,08 13,75 5,69 13,68
7,56 9,92 17,18 9,62 7,55 7,87 13,98 14,32 9,84 10,37 7,42 10,58
Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes, Kemenkes RI
Indonesia
Provinsi
Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat
REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI
TAHUN 2009
Amoksisilin
sirup kering 125
Amoksisilin
kapsul 500 mg
Antasida DOEN
tablet
Antalgin tablet
500 mg
Deksametason
inj 5 mg/ml –
Dekstrometorfa
n Sirup 10
No.
Ibuprofen tablet
200 mg
Kloramfenikol
kapsul 250 mg
Dekstrometorfa
n Tab 15 mg
Difenhidramin
HCl inj 10
Gliserin
Guaiakolat tab
Glukosa
Larutan Infus 5
Lampiran 4.29
Btl @ 100 tab Btl @ 100 tab Btl 60 ml Tablet Tablet Btl 500 ml Btl @ 1000 tab Btl 500 ml Btl @ 1000 Btl @ 30 Ktk @ 30
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1
Aceh
5,61
8,98 4,54 7,55 6,25 5,34
5,40 4,52 6,25 9,24 7,38
2
Sumatera Utara
16,39
4,61 15,83 11,53 10,00 8,66
21,25 11,85 32,83 4,53
3
Sumatera Barat
27,91
20,21 11,31 21,80 480,46 9,88
39,22 10,36 58,05 15,51 45,13
4
Riau
4,03
2,40 8,74 4,94 4,47 9,31
4,49 4,03 6,40 21,05 9,57
5
J ambi
17,62
20,61 9,10 0,21 25,11 42,72
0,24 32,08 0,06 243,04 30,05
6
Bengkulu
3,75
10,88 8,66 0,92 8,85 4,74
1,74 7,65 15,61 16,47 34,93
7
Sumatera Selatan
5,04
5,23 8,68 15,26 11,55 6,03
11,55 7,12 10,60 9,00 10,06
8
Lampung
2,04
2,75 8,52 36,35 25,76
10,70 2,50 22,85
9
Kep. Bangka Belitung
10,79
2,98 34,30 18,73 2,04 3,52
19,95 18,01 26,08 38,72 25,00
10
Kepulauan Riau
12,23
16,53 5,97 23,17 10,65 10,98
17,42 4,86 16,90 57,74 34,51
11
DKI J akarta
41,78
30,33 4,13 11,92 0,65 4,13
18,69 4,83 141,31 58,01 19,32
12
J awa Barat
42,84
24,98 21,05 19,16 54,33 10,89
77,81 11,24 12,92 8,04 29,54
13
J awa Tengah
11,48
25,77 5,31 8,61 42,28 7,10
8,90 4,36 7,61 2,06 25,52
14
DI Yogyakarta
18,38
37,55 9,18 11,41 193,63 14,79
5,93 7,47 20,42 6,75 5,83
15
J awa Timur
15,85
22,68 10,37 11,16 31,35 14,99
12,60 8,23 11,26 58,18 13,01
16
Banten
25,78
158,78 20,70 18,86 16,06
22,70 13,99 23,46 2234,36 28,31
17
Bali
20,89
34,25 11,56 14,96 199,99 21,46
13,13 39,18 16,65 9,43 114,70
18
Nusa Tenggara Barat
16,90
14,65 13,02 10,17 27,96 15,64
16,68 14,00 13,03 28,05 3,07
19
Nusa Tenggara Timur
14,62
20,69 15,93 12,03 11,98 23,81
10,08 11,00 11,75 14,22 16,89
20
Kalimantan Barat
6,84
26,63 7,73 18,38 10,44 18,46
10,88 9,56 9,14 6,52 57,05
21
Kalimantan Tengah
17,85
10,77 14,39 15,50
16,30 5,16 16,45 13,47 17,50
22
Kalimantan Timur
18,52
17,67 12,49 22,34 26,00 14,90
18,84 15,47 15,42 16,53 13,00
23
Kalimantan Selatan
13,53
63,24 11,05 20,51 34,20 50,39
14,47 21,31 16,38 9,80 11,54
24
Sulawesi Utara
14,65
8,17 7,26 21,79 9,17 11,28
16,71 7,08 25,89 3,83 8,80
25
Sulawesi Tengah
260,77
5,15 2,44 929,10 3,95
7,95 7,51 736,05 30,92 53,18
26
Sulawesi Tenggara
10,29
9,58 7,59 8,44 1,92 10,60
7,11 6,58 5,81 139,17 39,89
27
Sulawesi Selatan
23,67
2,55 14,33 22,67 17,15
9,98 12,27 16,69 61,68 31,42
28
Gorontalo
24,62
48,04 9,86 33,19 48,83 13,45
49,10 11,92 14,47 12,90 29,94
29
Sulawesi Barat
10,75
15,38 11,00 19,68 39,84 12,36
12,91 10,84 17,42 25,35
30
Maluku
23,51
6,02 7,05 9,87 30,28 4,68
8,06 5,14 16,18 8,90 11,25
31
Maluku Utara
9,69
0,38 7,66 14,17 16,22 5,76
8,92 4,89 13,75 45,54 17,71
32
Papua Barat
6,09
9,97 7,61 16,40 5,25 122,84
9,72 52,50 8,91 3,00 17,34
33
Papua
6,79
16,00 12,78 12,93
11,51 12,53 10,93 2,66 8,13
11,15 10,79 7,89 10,94 14,10 10,69 12,64 7,81 21,96 9,36 15,40
Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes, Kemenkes RI
Indonesia
Kloroquin tablet NatriumKlorida
Infus 0,9 %
Parasetamol
Tablet 500 mg
Kotrimoksazol
tablet 480 mg
Kotrimoksazol
tablet 120 mg
Kotrimoksazol
Sirup
Klorfeniramini
Maleat tab 4
Tablet Tambah
darah
REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI
Ringer Laktat
Infus steril
No. Provinsi
Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat
Vitamin B
Kompleks
Retinol
200.000 IU
TAHUN 2009
Lampiran 4.30
Btl @ 100 tab Btl @ 100 tab Btl 60 ml Tablet Tablet Botol Bungkus Pkt Pkt Pkt Pkt
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1 Aceh
23,06
4,27
9,58 8,42 5,77 5,04
2 Sumatera Utara
0,43
8,23 7,44
7,44 10,28 8,36 11,81 13,80
3 Sumatera Barat
11,68
55,75 5,01 13,00 5,48
18,50 37,87 27,76 7,77 11,79
4 Riau
18,88
4,34 4,55 0,92 27,00
12,25 24,66 41,37 19,50 29,11
5 J ambi
8,93
10,38
8,98 25,10 24,29 52,52
6 Bengkulu
15,36
7,24 20,63 3,50 1,67
35,50 4,06 13,41 9,41 10,81
7 Sumatera Selatan
5,18
6,40
6,67 9,62 9,00
8 Lampung
7,38
25,83 7,17
4,00 12,12 26,51 0,51
9 Kep. Bangka Belitung 7,57 18,26 20,00 144,00
0,29 2,82 31,40 45,68 21,93
10 Kepulauan Riau 18,37 3,29 22,29 35,87
15,95 7,20 38,50 14,16 11,39
11 DKI J akarta
11,79
2,78 11,62 14,00 2,17
7,64 9,40 7,98 4,48 8,36
12 J awa Barat
7,80
13,79 8,12
48,82 29,14 12,96 7,96 7,63
13 J awa Tengah 12,00 317,85 2,19 24,56 4,34
6,49 24,95 11,45 4,89 102,20
14 DI Yogyakarta
6,94
16,20 7,30 7,06
5,53 18,20 17,03 10,18 11,30
15 J awa Timur
14,89
9,68 3,20 3,24 3,72 1,17
5,63 12,41 49,17 12,82 13,05
16 Banten
18,07
30,62 34,30
16,83 28,16 10,16 32,96
17 Bali 19,61 14,09 0,22 4,67
12,50 52,30 28,28 27,39 46,55
18 Nusa Tenggara Barat
6,48
10,83 11,18 0,92 0,36
14,58 14,12 33,68 14,92 15,16
19 Nusa Tenggara Timur 15,99 13,90 9,33 10,54
28,50 24,75 15,48 13,96 16,39
20 Kalimantan Barat
13,25
8,76 3,16
0,49 6,76 17,13 6,79 14,19
21 Kalimantan Tengah 16,30 19,32 9,00 10,11 9,24
8,63 12,85 16,05
22 Kalimantan Timur
4,50
13,03 7,73 0,29 24,63
18,41 14,42 0,93 17,18 19,77
23 Kalimantan Selatan
2,02
35,95 4,38 0,90 2,55 1,00
4,69 17,00 32,93 19,18 23,14
24 Sulawesi Utara
2,03
24,76 8,58 10,88
45,00 3,31 33,39 8,28 9,00
25 Sulawesi Tengah 27,83 3,00
2,02 131,22 8,85 12,30
26 Sulawesi Tenggara
7,00
16,83 11,72
1,00 4,45 13,26 9,41 10,06
27 Sulawesi Selatan 11,46 0,40 0,30 0,51 0,63
4,16 10,56 14,49 3,20
28 Gorontalo 28,60 2,85 2,00 32,00
9,50 181,83 5,15 7,51 6,34
29 Sulawesi Barat 8,36
34,14 22,21 13,19 36,81
30 Maluku
15,09
9,37 3,98 3,03 3,27 7,00
3,23 8,66 7,33 5,70 4,08
31 Maluku Utara
25,03
6,98 2,86 0,14
8,60 21,16 34,13 7,85 15,38
32 Papua Barat
4,75
4,71 7,00 3,00 7,00 3,00
3,00 11,88 7,05 5,45 5,11
33 Papua
6,79
16,00 12,78 12,93
11,51 12,53 10,93 2,66 8,13
17,85
6,81 9,03 3,08 13,83 5,48
7,87 12,18 17,22 10,04 12,58
Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes, Kemenkes RI
Infus set
dewasa
Provinsi
Multivitamin
Sirup
Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat
Infus set anak Salep 2-4 OAT Kat 2
No.
Indonesia
Garam Oralit OAT Kat 1 OAT Kat
Sisipan
OAT Kat Anak Pyrantel
Pamoat 125
OAT Kat 3
REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI
TAHUN 2009
Lampiran 4.31
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Amoksisilin sirup kering 125 mg/ml Btl 60 ml 8.729.542 1.154.438 7,56 4,08 - 24,00
2 Amoksisilin kapsul 500 mg Ktk @ 120 kap 77.224.056 7.787.848 9,92 2,68 - 24,00
3 Antasida DOEN tablet Btl @ 1000 tab 155.867.080 9.074.593 17,18 0,17 - 24,00
4 Antalgin tablet 500 mg Btl @ 1000 tab 50.816.366 5.281.798 9,62 0,07 - 24,00
5 Deksametason inj 5 mg/ml – 2ml Ktk @ 100 ampul 1.873.486 248.222 7,55 0,60 - 24,00
6 Dekstrometorfan Sirup 10 mg/5ml Btl 60 ml 2.977.337 378.364 7,87 1,14 - 21,25
7 Dekstrometorfan Tab 15 mg Btl @ 1000 tab 45.698.234 3.269.031 13,98 0,29 - 24,00
8 Difenhidramin HCl inj 10 mg/ml-1ml Ktk @ 100 ampul 1.924.635 134.434 14,32 2,71 - 24,00
9 Gliserin Guaiakolat tab 100 mg Btl @ 1000 tab 80.469.968 8.179.942 9,84 0,25 - 24,00
10 Glukosa Larutan Infus 5 % steril Btl 500 ml 2.453.883 236.598 10,37 1,85 - 24,00
11 Ibuprofen tablet 200 mg Btl @ 100 tab 12.719.989 1.714.119 7,42 2,06 - 24,00
12 Kloramfenikol kapsul 250 mg Btl @ 250 Kapsul 24.455.555 2.310.773 10,58 0,28 - 24,00
13 Kotrimoksazol tablet 480 mg Btl @ 100 tab 36.298.782 3.256.066 11,15 3,75 - 24,00
14 Kotrimoksazol tablet 120 mg Btl @ 100 tab 6.048.772 560.427 10,79 0,38 - 24,00
15 Kotrimoksazol Sirup Btl 60 ml 4.113.655 521.626 7,89 2,44 - 24,00
16 Klorfeniramini Maleat tab 4 mg Tablet 215.728.121 19.717.668 10,94 0,21 - 24,00
17 Kloroquin tablet Tablet 11.210.338 795.213 14,10 0,65 - 24,00
18 Natrium Klorida Infus 0,9 % steril Btl 500 ml 671.335 62.792 10,69 3,52 - 24,00
19 Parasetamol Tablet 500 mg Btl @ 1000 tab 157.130.762 12.428.275 12,64 0,24 - 24,00
20 Ringer Laktat Infus steril Btl 500 ml 2.707.552 346.705 7,81 2,50 - 24,00
21 Vitamin B Kompleks Kapsul Btl @ 1000 Kapsul 163.977.827 7.468.054 21,96 0,06 - 24,00
22 Retinol 200.000 IU Btl @ 30 Kapsul 5.456.758 582.858 9,36 2,06 - 24,00
23 Tablet Tambah darah Ktk @ 30 Tablet 58.931.304 3.827.263 15,40 3,07 - 24,00
24 Multivitamin Sirup Botol 4.075.990 228.370 17,85 0,43 - 24,00
25 Garam Oralit Bungkus 12.145.159 1.782.860 6,81 2,78 - 24,00
26 OAT Kat 1 Pkt 419.572 6.378 9,03 0,40 - 24,00
27 OAT Kat 2 Pkt 2.398 780 3,08 0,30 - 22,29
28 OAT Kat 3 Pkt 10.776 779 13,83 0,36 - 24,00
29 OAT Kat Sisipan Pkt 1.717 314 5,48 0,63 - 24,00
30 OAT Kat Anak Pkt 8.579 1.090 7,87 0,29 - 24,00
31 Pyrantel Pamoat 125 mg tablet Btl @ 1000 Tablet 1.758.000 144.393 12,18 2,02 - 24,00
32 Salep 2-4 Pot 1.168.810 67.880 17,22 0,93 - 24,00
33 Infus set dewasa Kantong 1.027.151 102.348 10,04 0,51 - 24,00
34 Infus set anak Kantong 464.386 36.911 12,58 3,20 - 24,00
REKAPITULASI DATA KECUKUPAN OBAT NASIONAL
TAHUN 2009
Stok Obat
Pemakaian Rata-rata/
Bulan
Tingkat Kecukupan
(Bulan)
Nama Obat Satuan No.
Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes, Kemenkes RI
Kisaran Tingkat
Kecukupan Min-
Maks (Bulan)
Rekap Nasional
Lampiran 5.1
2005 2006 2007 2008 2009 2005 2006 2007 2008 2009
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Aceh 266 274 311 301 309 6,60 6,73 7,36 7,01 7,08
2 Sumatera Utara 426 445 463 495 500 3,42 3,52 3,61 3,80 3,77
3 Sumatera Barat 214 224 228 227 242 4,69 4,84 4,85 4,77 5,01
4 Riau 150 154 156 183 176 3,28 2,52 3,08 3,53 3,32
5 J ambi 135 140 148 158 163 5,12 5,22 5,40 5,67 5,75
6 Sumatera Selatan 242 249 259 278 284 3,57 3,61 3,69 3,90 3,93
7 Bengkulu 113 126 140 142 167 7,29 8,04 8,66 8,65 10,02
8 Lampung 224 235 248 253 264 3,15 3,26 3,40 3,42 3,52
9 Kepulauan Bangka Belitung 47 47 51 50 55 4,50 4,37 4,61 4,45 4,83
10 Kepulauan Riau 41 45 51 59 61 3,22 3,36 3,66 4,06 4,03
11 DKI J akarta 335 342 341 351 339 3,78 3,82 3,76 3,84 3,68
12 J awa Barat 996 999 1.002 999 1.008 2,56 2,52 2,48 2,44 2,43
13 J awa Tengah 853 858 871 842 849 2,67 2,67 2,69 2,58 2,58
14 DI Yogyakarta 117 117 117 120 119 3,50 3,45 3,41 3,46 3,40
15 J awa Timur 919 930 929 940 944 2,53 2,54 2,52 2,53 2,53
16 Banten 173 177 180 194 196 1,92 1,92 1,91 2,02 2,00
17 Bali 110 110 112 114 114 3,25 3,21 3,22 3,24 3,21
18 Nusa Tenggara Barat 128 130 134 142 145 3,06 3,05 3,12 3,25 3,27
19 Nusa Tenggara Timur 228 251 253 278 288 5,35 5,76 5,69 6,13 6,23
20 Kalimantan Barat 207 205 211 224 229 5,11 4,98 5,05 5,27 5,30
21 Kalimantan Tengah 134 154 163 169 169 7,00 7,95 8,04 8,21 8,10
22 Kalimantan Selatan 192 201 204 214 213 5,85 6,01 6,01 6,21 6,09
23 Kalimantan Timur 187 186 192 205 207 6,56 6,34 6,35 6,62 6,54
24 Sulawesi Utara 119 130 142 144 159 5,59 6,02 6,49 6,52 7,13
25 Sulawesi Tengah 139 144 145 144 165 6,06 6,13 6,05 5,91 6,65
26 Sulawesi Selatan 347 362 374 395 395 4,09 4,20 4,86 5,06 4,99
27 Sulawesi Tenggara 139 159 153 208 223 7,08 7,94 7,53 10,02 10,53
28 Gorontalo 45 55 55 73 75 4,88 5,84 5,73 7,51 7,62
29 Sulawesi Barat 50 62 66 70 77 - 6,25 6,49 6,78 7,35
30 Maluku 109 125 142 153 135 8,71 9,83 10,91 11,58 10,08
31 Maluku Utara 56 62 64 91 96 6,33 6,75 6,78 9,48 9,85
32 Papua Barat 60 81 83 96 105 - 11,77 11,59 13,15 14,12
33 Papua 168 236 246 236 266 6,67 8,87 2,05 11,48 12,68
7.669 8.015 8.234 8.548 8.737 3,50 3,61 3,65 3,74 3,78
Sumber: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, Kemenkes, 2009
JUMLAH PUSKESMAS DAN RASIONYA TERHADAP PENDUDUK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 - 2009
per 100.000 Penduduk
Indonesia
No Provinsi
Jumlah Puskesmas
Rasio Puskesmas
Lampiran 5.2
Provinsi
2005 2006 2007 2008 2009 2005 2006 2007 2008 2009
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1 Aceh 89 85 125 66 115 50 177 189 186 235 194
2 Sumatera Utara 98 145 122 144 129 62 328 300 341 351 371
3 Sumatera Barat 64 81 84 68 81 73 150 143 144 159 161
4 Riau 39 46 49 45 51 32 111 108 107 138 125
5 J ambi 43 41 59 51 56 43 92 99 89 107 107
6 Sumatera Selatan 75 76 86 77 80 45 167 173 173 201 204
7 Bengkulu 24 34 35 35 37 23 89 92 105 107 130
8 Lampung 31 39 80 37 51 55 193 196 168 216 213
9 Kepulauan Bangka Belitung 14 17 19 14 20 10 33 30 32 36 35
10 Kepulauan Riau 17 16 17 24 24 18 24 29 34 35 37
11 DKI J akarta 50 50 50 54 51 17 285 292 291 297 288
12 J awa Barat 132 142 150 140 171 143 864 857 852 859 837
13 J awa Tengah 218 241 269 232 234 145 635 617 602 610 615
14 DI Yogyakarta 32 38 38 41 41 27 85 79 79 79 78
15 J awa Timur 310 336 365 392 365 217 609 594 564 548 579
16 Banten 18 34 34 42 46 42 155 143 146 152 150
17 Bali 23 22 23 24 27 29 87 88 89 90 87
18 Nusa Tenggara Barat 46 44 58 86 80 39 82 86 76 56 65
19 Nusa Tenggara Timur 72 124 111 69 93 61 156 127 142 209 195
20 Kalimantan Barat 70 71 71 82 94 18 137 134 140 142 135
21 Kalimantan Tengah 35 52 54 47 55 26 99 102 109 122 114
22 Kalimantan Selatan 33 36 40 42 46 54 159 165 164 172 167
23 Kalimantan Timur 70 87 82 96 100 41 117 99 110 109 107
24 Sulawesi Utara 56 59 65 66 72 34 63 71 77 78 87
25 Sulawesi Tengah 59 64 64 67 63 54 80 80 81 77 102
26 Sulawesi Selatan 147 179 189 168 205 67 200 183 185 227 190
27 Sulawesi Tenggara 45 52 48 63 69 29 94 107 105 145 154
28 Gorontalo 14 17 18 17 22 19 31 38 37 56 53
29 Sulawesi Barat 19 22 24 22 31 16 31 40 42 48 46
30 Maluku 31 54 59 29 48 26 78 71 83 124 87
31 Maluku Utara 17 31 30 27 27 16 39 31 34 64 69
32 Papua Barat 22 41 33 26 36 0 38 40 50 70 69
33 Papua 64 121 132 45 84 6 104 115 114 191 182
2.077 2.497 2.683 2.438 2.704 1.537 5.592 5.518 5.551 6.110 6.033
Sumber: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi, Kemenkes, 2009
No
Indonesia
JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN PUSKESMAS NON PERAWATAN
MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 - 2009
Jumlah Puskesmas Perawatan Jumlah Puskesmas Non Perawatan
Puskesmas
PONED 2009
Lampiran 5.3
No Provinsi
Jumlah Desa /
Kelurahan
Puskesmas
Pembantu
Desa / Kelurahan /
RW Siaga /
Poskesdes
Kader / Toma
Terlatih
Posyandu
Rasio Desa
Siaga/Poskesdes
terhadap Desa/Kel
Rasio Posyandu
terhadap Desa/Kel
(1) (2) (3) (4) (6) (5) (9) (10) (11)
1 Aceh 6.420 919 2021 4500 7.039 0,31 1,10
2 Sumatera Utara 5.649 1.797 3660 3548 13.861 0,65 2,45
3 Sumatera Barat 964 822 2328 - 6.680 2,41 6,93
4 Riau 1.500 668 1142 200 4.679 0,76 3,12
5 J ambi 1.319 547 854 1950 2.992 0,65 2,27
6 Sumatera Selatan 2.869 937 2362 4754 5.775 0,82 2,01
7 Bengkulu 1.442 497 1274 1878 1.812 0,88 1,26
8 Lampung 2.358 733 1371 4050 7.480 0,58 3,17
9 Kepulauan Bangka Belitung 361 121 275 714 948 0,76 2,63
10 Kepulauan Riau 331 189 192 1059 903 0,58 2,73
11 DKI J akarta 267 2 1176 990 4.190 4,40 15,69
12 J awa Barat 5.827 1.506 5378 4500 45.632 0,92 7,83
13 J awa Tengah 8.577 1.737 7529 3750 47.763 0,88 5,57
14 DI Yogyakarta 438 318 420 714 5.654 0,96 12,91
15 J awa Timur 8.502 2.373 8446 4086 46.060 0,99 5,42
16 Banten 1.530 256 508 1800 9.548 0,33 6,24
17 Bali 698 503 462 780 4.719 0,66 6,76
18 Nusa Tenggara Barat 913 481 888 2664 6.133 0,97 6,72
19 Nusa Tenggara Timur 2.775 846 574 600 5.792 0,21 2,09
20 Kalimantan Barat 1.777 779 1014 199 4.057 0,57 2,28
21 Kalimantan Tengah 1.439 745 410 - 2.262 0,28 1,57
22 Kalimantan Selatan 1.973 574 1668 - 3.538 0,85 1,79
23 Kalimantan Timur 1.404 613 636 515 4.455 0,45 3,17
24 Sulawesi Utara 1.510 447 984 1770 2.226 0,65 1,47
25 Sulawesi Tengah 1.712 702 1080 4459 3.015 0,63 1,76
26 Sulawesi Selatan 2.874 1.134 2610 2520 8.097 0,91 2,82
27 Sulawesi Tenggara 1.825 499 1008 1968 2.324 0,55 1,27
28 Gorontalo 595 235 280 612 1.228 0,47 2,06
29 Sulawesi Barat 564 289 79 660 1.441 0,14 2,55
30 Maluku 898 340 574 1248 1.894 0,64 2,11
31 Maluku Utara 1.041 242 211 - 1.318 0,20 1,27
32 Papua Barat 1.291 249 532 360 1.122 0,41 0,87
33 Papua 3.583 550 50 1200 2.190 0,01 0,61
75.226 22.650 51.996 58.048 266.827 0,69 3,55
Ditjen. Bina Kesehatan Masyarakat, Kemenkes, 2010
Pusat Promosi Kesehatan., Kemenkes, 2010
JUMLAH SARANA KESEHATAN MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009
Indonesia
Sumber :
Lampiran 5.4
Kemenkes/Pemda TNI/POLRI Kementerian Lain/BUMN Swasta Semua RS
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Aceh 21 3 24 4 0 4 3 0 3 8 2 10 36 5 41
2 Sumatera Utara 31 5 36 8 0 8 17 1 18 69 7 76 125 13 138
3 Sumatera Barat 18 2 20 3 0 3 1 0 1 9 10 19 31 12 43
4 Riau 13 1 14 3 0 3 4 0 4 10 3 13 30 4 34
5 J ambi 11 1 12 2 0 2 2 0 2 3 1 4 18 2 20
6 Sumatera Selatan 18 4 22 2 0 2 5 0 5 7 2 9 32 6 38
7 Bengkulu 9 1 10 2 0 2 0 0 0 1 0 1 12 1 13
8 Lampung 10 1 11 2 0 2 0 0 0 15 2 17 27 3 30
9 Kepulauan Bangka Belitung 7 1 8 0 0 0 0 0 0 2 0 2 9 1 10
10 Kepulauan Riau 7 0 7 2 0 2 2 0 2 7 2 9 18 2 20
11 DKI J akarta 8 7 15 8 1 9 5 1 6 57 41 98 78 50 128
12 J awa Barat 34 8 42 12 0 12 6 1 7 73 36 109 125 45 170
13 J awa Tengah 46 9 55 11 0 11 3 0 3 87 43 130 147 52 199
14 DI Yogyakarta 6 1 7 2 0 2 0 1 1 13 18 31 21 20 41
15 J awa Timur 48 8 56 20 1 21 13 2 15 62 25 87 143 36 179
16 Banten 5 1 6 2 0 2 2 0 2 14 11 25 23 12 35
17 Bali 9 2 11 2 0 2 0 0 0 17 7 24 28 9 37
18 Nusa Tenggara Barat 7 3 10 2 0 2 0 0 0 4 0 4 13 3 16
19 Nusa Tenggara Timur 16 0 16 2 0 2 0 0 0 10 1 11 28 1 29
20 Kalimantan Barat 13 3 16 3 0 3 1 0 1 7 3 10 24 6 30
21 Kalimantan Tengah 14 0 14 1 0 1 0 0 0 0 0 0 15 0 15
22 Kalimantan Selatan 13 1 14 4 0 4 2 0 2 4 4 8 23 5 28
23 Kalimantan Timur 15 3 18 3 0 3 2 0 2 9 1 10 29 4 33
24 Sulawesi Utara 8 1 9 3 0 3 0 0 0 14 0 14 25 1 26
25 Sulawesi Tengah 11 1 12 1 0 1 0 0 0 4 4 8 16 5 21
26 Sulawesi Selatan 25 7 32 6 0 6 1 1 2 12 8 20 44 16 60
27 Sulawesi Tenggara 9 1 10 2 0 2 1 0 1 3 1 4 15 2 17
28 Gorontalo 4 1 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 1 5
29 Sulawesi Barat 3 0 3 0 0 0 0 0 0 1 0 1 4 0 4
30 Maluku 9 1 10 3 0 3 0 0 0 6 1 7 18 2 20
31 Maluku Utara 8 0 8 2 0 2 0 0 0 1 0 1 11 0 11
32 Papua Barat 5 0 5 3 0 3 1 0 1 2 0 2 11 0 11
33 Papua 12 2 14 3 0 3 0 0 0 4 0 4 19 2 21
473 79 552 123 2 125 71 7 78 535 233 768 1.202 321 1.523
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes, 2010
JUMLAH RUMAH SAKIT DI INDONESIA
Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah
RS
Umum
RS
Khusus
RS
Umum
RS
Umum
RS
Khusus
MENURUT PENGELOLA DAN PROVINSI TAHUN 2009
Indonesia
No Provinsi
Jumlah
RS
Khusus
RS
Umum
RS
Khusus
RS
Umum
RS
Khusus
Lampiran 5.5
Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Kementerian Kesehatan 13 8.483 13 8.784 13 8.777 13 9.044 13 9.131
2 Pemerintah Provinsi 43 12.902 43 12.834 43 13.182 43 13.605 44 14.029
3 Pemerintah Kab/Kota 322 33.896 334 35.375 345 37.575 375 41.285 416 47.811
4 TNI/POLRI 110 10.814 110 10.842 110 10.836 110 10.907 123 11.821
5 Kementerian Lain / BUMN 71 6.827 71 6.880 71 6.851 71 6.643 71 6.747
6 Swasta 436 43.364 441 43.789 451 45.074 467 47.266 535 52.064
995 116.286 1.012 118.504 1.033 122.295 1.079 128.750 1.202 141.603
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes, 2010
JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR
MENURUT PENGELOLA TAHUN 2005 - 2009
Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009
Jumlah
No Pengelola
Tahun 2005
Lampiran 5.6
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1 Aceh 3.351 129 4 241 7 556 17 1.247 37 1.178 35
2 Sumatera Utara 13.544 638 5 1.334 10 2.315 17 6.163 46 3.094 23
3 Sumatera Barat 4.312 350 8 442 10 1.069 25 1.909 44 542 13
4 R i a u 2.983 266 9 303 10 600 20 1.160 39 654 22
5 J a m b i 1.662 151 9 210 13 300 18 571 34 430 26
6 Sumatera Selatan 4.727 322 7 588 12 840 18 2.198 46 779 16
7 Bengkulu 987 55 6 56 6 130 13 210 21 536 54
8 Lampung 3.091 253 8 251 8 551 18 1.450 47 586 19
9 Bangka Belitung 861 32 4 52 6 211 25 377 44 189 22
10 Kepulauan Riau 1.588 91 6 166 10 270 17 647 41 414 26
11 DKI J akarta 16.998 1.974 12 2.126 13 3.650 21 5.886 35 3.362 20
12 J awa Barat 19.368 1.404 7 2.142 11 4.491 23 7.167 37 4.164 21
13 J awa Tengah 23.574 2.294 10 2.936 12 5.265 22 7.523 32 5.556 24
14 D.I. Yogyakarta 4.141 323 8 506 12 911 22 1.432 35 969 23
15 J awa Timur 22.268 1.601 7 2.171 10 5.041 23 9.952 45 3.503 16
16 Banten 3.319 154 5 411 12 693 21 1.191 36 870 26
17 B a l i 3.473 392 11 457 13 636 18 1.123 32 865 25
18 Nusa Tenggara Barat 1.602 112 7 167 10 289 18 818 51 216 13
19 Nusa Tenggara Timur 2.448 129 5 273 11 426 17 1.039 42 581 24
20 Kalimantan Barat 3.254 123 4 291 9 563 17 1.547 48 730 22
21 Kalimantan Tengah 1.054 92 9 88 8 150 14 394 37 330 31
22 Kalimantan Selatan 2.439 247 10 230 9 464 19 994 41 504 21
23 Kalimantan Timur 3.575 280 8 327 9 702 20 1.458 41 808 23
24 Sulawesi Utara 3.218 85 3 284 9 642 20 1.542 48 665 21
25 Sulawesi Tengah 1.708 73 4 196 11 279 16 712 42 448 26
26 Sulawesi Selatan 7.447 473 6 764 10 1.186 16 2.756 37 2.268 30
27 Sulawesi Tenggara 1.211 57 5 108 9 161 13 479 40 406 34
28 Gorontalo 510 35 7 24 5 81 16 204 40 166 33
29 Sulawesi Barat 279 28 10 22 8 58 21 125 45 46 16
30 Maluku 1.653 48 3 68 4 192 12 894 54 451 27
31 Maluku Utara 696 20 3 20 3 83 12 214 31 359 52
32 Papua Barat 686 53 8 22 3 66 10 445 65 100 15
33 Papua 1.653 21 1 98 6 229 14 824 50 481 29
163.680 12.305 7,5 17.374 10,6 33.100 20,2 64.651 39,5 36.250 22,1
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes, 2010
JUMLAH TEMPAT TIDUR DI RUMAH SAKIT UMUM DAN RUMAH SAKIT KHUSUS
Kelas Perawatan
V I P Kelas I Kelas II Kelas III Tanpa Kelas
MENURUT KELAS PERAWATAN DAN PROVINSI TAHUN 2009
Indonesia
Total Tempat
Tidur
No Provinsi
Lampiran 5.7
Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Aceh 0 0 3 525 14 1.023 4 204 21 1.752
2 Sumatera Utara 1 600 9 1.640 18 1.309 3 133 31 3.682
3 Sumatera Barat 0 0 2 1.056 14 1.382 2 127 18 2.565
4 Riau 0 0 1 415 8 594 4 265 13 1.274
5 J ambi 0 0 1 273 9 586 1 50 11 909
6 Sumatera Selatan 0 0 2 905 9 965 7 340 18 2.210
7 Bengkulu 0 0 1 332 3 179 4 200 8 711
8 Lampung 0 0 2 812 6 533 2 100 10 1.445
9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 0 3 296 4 220 7 516
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 7 480 0 0 7 480
11 DKI J akarta 1 1.034 6 2.051 1 214 0 0 8 3.299
12 J awa Barat 1 852 16 3.809 15 1.793 2 92 34 6.546
13 J awa Tengah 2 1.361 18 4.290 20 3.440 6 372 46 9.463
14 DI Yogyakarta 1 673 3 504 2 442 0 0 6 1.619
15 J awa Timur 2 2.264 23 4.960 19 2.349 4 220 48 9.793
16 Banten 0 0 4 903 1 86 0 0 5 989
17 Bali 1 698 4 593 4 367 0 0 9 1.658
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 1 289 6 761 0 0 7 1.050
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 1 284 4 502 11 790 16 1.576
20 Kalimantan Barat 0 0 2 458 7 544 4 200 13 1.202
21 Kalimantan Tengah 0 0 2 329 5 386 7 265 14 980
22 Kalimantan Selatan 0 0 2 565 10 790 1 50 13 1.405
23 Kalimantan Timur 0 0 5 1.152 8 602 1 50 14 1.804
24 Sulawesi Utara 0 0 1 648 4 466 1 75 6 1.189
25 Sulawesi Tengah 0 0 2 441 6 458 3 153 11 1.052
26 Sulawesi Selatan 1 580 3 640 20 1.657 1 26 25 2.903
27 Sulawesi Tenggara 0 0 1 212 5 299 3 150 9 661
28 Gorontalo 0 0 1 282 1 68 2 100 4 450
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 2 119 1 102 3 221
30 Maluku 0 0 1 353 2 147 5 265 8 765
31 Maluku Utara 0 0 0 0 3 278 4 200 7 478
32 Papua Barat 0 0 0 0 4 394 0 0 4 394
33 Papua 0 0 1 348 5 522 5 292 11 1.162
10 8.062 118 29.069 245 24.031 92 5.041 465 66.203
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes, 2010
JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR MILIK KEMENKES/PEMDA
MENURUT KELAS RUMAH SAKIT DAN PROVINSI TAHUN 2009
Kelas A Kelas B Kelas C Kelas D
No Provinsi
Total
Indonesia
Lampiran 5.8
RS TT RS TT RS TT RS TT RS TT
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 RS J iwa 51 8.527 51 8.630 51 8.726 51 8.781 51 9.206
2 RS Kusta 22 2.446 22 2.137 22 2.133 22 2.168 22 2.224
3 RS Tuberkulosa Paru 9 766 9 718 10 757 11 782 10 731
4 RS Mata 10 475 10 459 10 418 10 418 11 423
5 RS Ortopedi 1 187 1 187 1 187 1 187 1 127
6 RS Penyakit Infeksi 1 127 1 144 1 144 1 144 1 144
7 RS J antung 2 234 2 234 2 234 2 239 2 222
8 RS Kanker 1 129 1 172 1 172 1 172 1 172
9 RS Bersalin 56 2.533 57 2.458 57 2.635 57 2.577 61 2.475
10 RS Ibu dan Anak 64 3.629 69 3.388 74 3.556 79 3.804 95 4.591
11 RS Khusus Lainnya 56 1.427 57 1.420 57 1.450 57 1.516 66 1.762
273 20.480 280 19.947 286 20.412 292 20.788 321 22.077
Sumber: Ditjen Bina Yanmedik, Kemenkes, 2010
Jumlah
No Jenis Rumah Sakit
JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DAN TEMPAT TIDURNYA
MENURUT JENIS RUMAH SAKIT TAHUN 2005 - 2009
Tahun 2009 Tahun 2008 Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007
Lampiran 5.9
2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
1 Aceh 0 0 0 0 0 0 0 0 10 0 0 1 1 2 3 0 0 0
2 Sumatera Utara 10 10 9 2 3 3 78 78 79 6 9 13 22 26 37 39 41 41
3 Sumatera Barat 0 2 2 0 0 0 11 11 13 1 1 1 2 3 3 6 15 13
4 Kepulauan Riau 0 2 2 0 0 0 0 0 0 2 2 1 1 1 1 0 0 0
5 Riau 0 0 0 0 0 0 4 4 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0
6 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 1 1 0 0 0
7 J ambi 1 1 1 0 0 0 4 4 0 0 0 2 2 2 1 2 2
8 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
9 Sumatera Selatan 0 1 1 2 2 2 5 6 6 1 1 1 2 3 3 1 2 1
10 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 3 3 3 0 0 0
11 Banten 30 30 28 0 6 17 43 47 54 9 15 20 56 76 87 38 38 37
12 DKI J akarta 22 22 23 7 7 7 28 28 116 29 37 46 84 103 120 99 20 70
13 J awa Barat 76 77 91 32 32 32 184 184 184 49 63 80 137 162 192 108 108 107
14 J awa Tengah 31 31 25 0 0 0 36 36 282 11 14 18 42 50 55 45 45 26
15 DI Yogyakarta 1 1 1 0 0 0 42 42 40 3 3 3 2 3 3 8 8 0
16 J awa Timur 59 54 54 17 17 17 343 411 388 13 17 25 55 64 80 150 150 151
17 Bali 1 1 1 0 0 0 13 13 12 0 0 0 0 0 0 2 5 24
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 9 9 9 1 2 3 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0
20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 9 9 10 0 0 0 2 2 1 0 0 0
21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 24 26 29 0 0 0 2 2 3 18 19 20
23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 11 15 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0
24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 8 9 9 0 0 0 2 3 3 0 0 0
25 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
26 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
27 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
28 Sulawesi Selatan 0 0 0 0 0 0 8 10 13 0 0 0 1 1 2 0 0 0
29 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 Maluku 0 0 0 0 0 0 4 6 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0
32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
231 232 238 60 67 78 862 951 1.293 125 164 214 416 507 600 515 453 492
Sumber: Ditjen Binfar dan Alkes, Kemenkes, 2010
Produksi Alat Kesehatan
JUMLAH SARANA PRODUKSI
BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2007-2009
TOTAL
PROVINSI NO
Industri Kosmetika Industri Farmasi Industri Obat Tradisional (IOT)
Perbekalan Kesehatan dan Rumah
Tangga (PKRT)
Industri Kecil Obat Tradisional
(IKOT)
Lampiran 5.10
2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Aceh 58 51 52 119 170 209 534 576 560 0 0 0 98 99 125
2 Sumatera Utara 110 103 106 386 769 768 259 738 737 10 13 15 0 128 128
3 Sumatera Barat 71 74 81 193 296 295 361 482 478 0 0 0 101 57 89
4 Kepulauan Riau 20 28 33 98 129 160 286 336 377 2 2 2 19 38 55
5 Riau 44 81 91 269 313 346 290 328 546 2 3 5 195 235 235
6 Kepulauan Bangka Belitung 6 10 14 46 62 70 72 79 92 2 2 2 28 30 30
7 J ambi 31 47 49 121 151 166 137 167 176 0 0 0 85 44 55
8 Bengkulu 17 17 19 77 96 99 104 95 90 0 0 0 64 72 72
9 Sumatera Selatan 88 95 95 175 225 243 97 95 114 5 5 4 91 106 106
10 Lampung 74 48 53 162 212 225 123 157 113 1 1 1 39 65 65
11 Banten 34 79 81 137 137 401 9 9 9 25 31 37 12 12 20
12 DKI J akarta 521 279 283 807 1.162 1.746 349 732 604 435 499 618 268 268 268
13 J awa Barat 343 365 393 1.230 2.256 2.256 420 872 872 43 58 73 295 244 244
14 J awa Tengah 328 329 325 522 522 1.820 361 361 361 13 17 23 0 0 0
15 DI Yogyakarta 55 42 44 123 355 359 43 52 57 3 4 5 28 96 96
16 J awa Timur 370 461 461 890 1.586 1.586 218 218 217 22 27 34 399 274 274
17 Bali 81 81 82 179 383 462 104 159 165 2 3 4 52 109 96
18 Nusa Tenggara Barat 31 38 38 34 162 173 100 102 102 0 0 0 6 92 92
19 Nusa Tenggara Timur 27 27 28 39 103 103 81 183 183 0 0 0 99 153 153
20 Kalimantan Barat 67 69 74 99 130 160 244 270 337 0 0 0 82 97 107
21 Kalimantan Tengah 11 14 15 80 84 126 148 162 141 0 0 0 0 49 50
22 Kalimantan Selatan 69 59 61 134 171 199 233 433 460 0 0 0 135 154 159
23 Kalimantan Timur 45 52 47 197 263 349 315 300 336 0 0 0 80 111 152
24 Sulawesi Utara 43 43 43 100 122 139 49 40 73 0 0 0 82 109 143
25 Sulawesi Barat 0 1 1 29 28 45 33 33 44 0 0 0 0 8 8
26 Sulawesi Tengah 31 23 24 41 124 148 112 112 174 0 0 0 35 102 103
27 Gorontalo 5 5 6 36 55 61 42 41 40 0 0 0 41 25 18
28 Sulawesi Selatan 123 134 134 210 468 518 451 436 116 2 2 3 59 150 150
29 Sulawesi Tenggara 19 13 13 62 105 109 96 165 165 0 0 0 64 90 139
30 Maluku Utara 3 6 6 34 34 54 25 25 29 0 0 0 12 64 42
31 Maluku 15 18 19 47 60 59 80 125 125 0 0 0 32 62 77
32 Papua Barat 13 13 13 57 71 75 45 44 46 0 0 0 2 2 3
33 Papua 36 38 37 83 127 142 94 13 14 0 0 0 108 151 212
2.789 2.743 2.821 6.816 10.931 13.671 5.915 7.940 7.953 567 667 826 2.611 3.296 3.566
Sumber: Ditjen Binfar dan Alkes, Kemenkes, 2010
JUMLAH SARANA DISTRIBUSI
BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
TOTAL
NO PROVINSI
Pedagang Besar Farmasi Toko Obat Penyalur Alat Kesehatan (PAK)
Sub Penyalur Alat Kesehatan
(Sub PAK)
Apotek
Lampiran 5.11
KESMAS GIZI
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20)
1 Banda Aceh 3 3 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10
2 Medan 1 3 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9
3 Pekanbaru 2 2 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7
4 Padang 2 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5
5 J ambi 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4
6 Bengkulu 3 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8
7 Palembang 2 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6
8 Tanjung Karang 2 2 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8
9 J akarta I 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 4
10 J akarta II 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 7
11 J akarta III 3 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6
12 Bandung 3 4 1 0 0 1 1 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 12
13 Tasikmalaya 2 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5
14 Yogyakarta 5 3 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 13
15 Semarang 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 7
16 Surakarta 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6
17 Surabaya 4 3 1 0 0 2 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 12
18 Malang 3 3 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7
19 Denpasar 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 7
20 Mataram 2 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5
21 Kupang 3 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8
22 Pontianak 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6
23 Palangkaraya 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3
24 Samarinda 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6
25 Banjarmasin 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 4
26 Palu 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6
27 Makassar 2 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4
28 Kendari 2 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9
29 Manado 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3
30 Gorontalo 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3
31 Ambon 3 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6
32 Ternate 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3
33 J ayapura 7 2 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12
67 52 18 7 1 21 26 2 1 1 1 15 2 3 1 2 1 221
30,3 23,5 8,1 3,2 0,5 9,5 11,8 0,9 0,5 0,5 0,5 6,8 0,9 1,4 0,5 0,9 0,5 100
Sumber: BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
TOTAL
G
i
z
i
F
i
s
i
o
t
e
r
a
p
i
T
e
r
a
p
i

W
i
c
a
r
a
A
k
u
p
u
n
k
t
u
r
O
r
t
o
t
i
k











P
r
o
s
t
e
t
i
k
A
n
a
l
i
s

K
e
s
e
h
a
t
a
n
T
e
k
n
i
k

E
l
e
k
t
r
o
m
e
d
i
k
T
e
k
n
i
k

R
a
d
i
o
d
i
a
g
n
o
s
t
i
k
T
e
k
n
i
k

G
i
g
i
JUMLAH INSTITUSI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES)
MENURUT JURUSAN DAN PROVINSI TAHUN 2009
F
a
r
m
a
s
i
KEPERAWATAN KEFARMASIAN KETERAPIAN FISIK
A
n
a
l
i
s

F
a
r
m
a
s
i

&

M
a
k
a
n
a
n
K
e
s
e
h
a
t
a
n

L
i
n
g
k
u
n
g
a
n
O
k
u
p
a
s
i

T
e
r
a
p
i
K
e
s
e
h
a
t
a
n

G
i
g
i
KETEKNISIAN MEDIS
P
e
r
e
k
a
m

I
n
f
o
r
m
a
s
i

K
e
s
e
h
a
t
a
n
%
TOTAL
K
e
p
e
r
a
w
a
t
a
n
K
e
b
i
d
a
n
a
n
No Poltekkes
Jurusan / Program Studi
Lampiran 5.12
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (12) (13) (14) (15)
1 Banda Aceh 10 7 70 1 14 6 86 0 0 3 30
2 Medan 9 9 100 2 22 5 56 2 22 0 0
3 Pekanbaru 7 6 86 5 83 1 17 0 0 1 14
4 Padang 5 2 40 0 0 2 100 0 0 3 60
5 J ambi 4 4 100 2 50 2 50 0 0 0 0
6 Bengkulu 8 8 100 0 0 8 100 0 0 0 0
7 Palembang 6 2 33 2 100 0 0 0 0 2 33
8 Tanjung Karang 8 7 88 0 0 7 100 0 0 1 13
9 J akarta I 4 3 75 2 67 1 33 0 0 0 0
10 J akarta II 7 7 100 4 57 3 43 0 0 0 0
11 J akarta III 6 6 100 6 100 0 0 0 0 0 0
12 Bandung 12 11 92 9 82 2 18 0 0 0 0
13 Tasikmalaya 5 5 100 5 100 0 0 0 0 0 0
14 Yogyakarta 6 6 100 4 67 2 33 0 0 0 0
15 Semarang 13 11 85 9 82 2 18 0 0 2 15
16 Surakarta 7 4 57 2 50 2 50 0 0 3 43
17 Surabaya 12 12 100 7 58 5 42 0 0 0 0
18 Malang 7 7 100 5 71 2 29 0 0 0 0
19 Denpasar 7 5 71 2 40 3 60 0 0 0 0
20 Mataram 5 5 100 3 60 2 40 0 0 0 0
21 Kupang 8 7 88 0 0 7 100 0 0 1 13
22 Pontianak 6 4 67 2 50 2 50 0 0 2 33
23 Palangkaraya 3 2 67 0 0 2 100 0 0 1 33
24 Samarinda 6 6 100 3 50 3 50 0 0 0 0
25 Banjarmasin 4 2 50 1 50 1 50 0 0 2 50
26 Palu 6 4 67 0 0 4 100 0 0 2 33
27 Makassar 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
28 Kendari 4 4 100 0 0 4 100 0 0 0 0
29 Manado 9 8 89 1 13 7 88 0 0 1 11
30 Gorontalo 3 3 100 0 0 0 0 3 100 0 0
31 Ambon 6 6 100 0 0 4 67 2 33 0 0
32 Ternate 3 2 67 0 0 2 100 0 0 1 33
33 J ayapura 12 5 42 0 0 5 100 0 0 7 58
221 180 81,45 77 42,8 96 53,3 7 3,9 32 14,48
Sumber: BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
Jumlah
Jurusan/Program Studi
Jurusan Terakreditasi Belum Terakreditasi
JUMLAH JURUSAN/PROGRAM STUDI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES)
MENURUT AKREDITASI DAN STRATA TAHUN 2009
Jumlah
No Poltekkes
S t r a t a
A B C
Lampiran 5.13
Kesmas Gizi
S
P
K
S
P
R
G
A
K
P
E
R
A
K
B
I
D
A
K
G
S
M
F
S
M
K
F
A
K
A
F
A
R
M
A
A
K
F
A
R
A
K
L
A
K
Z
I
A
K
F
I
S
A
T
W
D
-
I
I
I

A
K
U
P
U
N
T
U
R
S
M
A
K
A
T
G
A
A
K
A
T
R
O
A
R
O
A
P
I
K
E
S
A
T
E
M
D
-
I

P
T
T
D
D
-
I
I
I

K
a
r
d
i
o
v
a
s
k
u
l
e
r
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26)
1 Aceh 1 0 14 33 0 0 0 1 1 1 0 2 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 57
2 Sumatera Utara 0 0 42 53 0 4 0 3 1 1 2 2 0 0 1 0 2 1 1 0 1 0 0 114
3 Sumatera Barat 0 0 13 10 0 1 0 1 3 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 2 0 0 0 34
4 Riau 0 0 7 20 0 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 34
5 J ambi 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 5
6 Sumatera Selatan 0 0 7 6 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 15
7 Bengkulu 0 0 12 16 0 1 0 0 2 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 35
8 Lampung 0 0 4 4 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9
9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 5 10 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 17
10 Kepulauan Riau 1 0 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4
11 DKI J akarta 1 2 31 21 0 8 0 2 2 1 2 2 1 0 2 1 0 1 2 2 1 1 1 84
12 J awa Barat 0 0 14 12 0 4 40 0 2 0 0 1 0 0 0 0 2 1 1 1 0 0 0 78
13 J awa Tengah 2 0 44 52 0 4 0 3 12 3 2 3 0 0 2 0 4 1 2 6 2 0 0 142
14 DI Yogyakarta 0 0 4 9 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15
15 J awa Timur 0 0 5 2 0 1 0 0 2 0 0 0 0 3 0 0 1 1 0 2 1 1 0 19
16 Banten 0 1 42 27 0 5 2 3 2 1 2 2 0 0 1 1 4 0 1 2 0 0 0 96
17 Bali 1 0 1 2 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 7
18 Nusa Tenggara Barat 1 0 4 7 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 16
19 Nusa Tenggara Timur 2 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5
20 Kalimantan Barat 0 0 6 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11
21 Kalimantan Tengah 0 0 3 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 7
22 Kalimantan Selatan 0 0 6 6 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15
23 Kalimantan Timur 0 0 6 7 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16
24 Sulawesi Utara 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5
25 Sulawesi Tengah 0 0 5 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7
26 Sulawesi Selatan 1 1 24 19 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 52
27 Sulawesi Tenggara 0 0 6 2 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 12
28 Gorontalo 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
31 Maluku Utara 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2
32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 3
10 4 319 329 1 33 44 15 43 13 9 16 1 3 8 2 22 9 8 20 7 2 1 919
Sumber: BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
MENURUT JURUSAN/PROGRAM STUDI DAN PROVINSI TAHUN 2009
JUMLAH INSTITUSI NON POLITEKNIK KESEHATAN (NON-POLTEKKES)
Keteknisian Medis Keterapian Fisik
Jumlah
Kefarmasian
JUMLAH
No Provinsi
Keperawatan
Lampiran 5.14
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)
1 Aceh 57 1 4 21 75 6 21 28 49 29 51
2 Sumatera Utara 114 4 5 61 75 16 20 81 71 33 29
3 Sumatera Barat 34 2 10 16 76 3 14 21 62 13 38
4 Riau 34 2 13 13 87 0 0 15 44 19 56
5 J ambi 5 0 0 0 0 0 0 0 0 5 100
6 Sumatera Selatan 15 0 0 9 100 0 0 9 60 6 40
7 Bengkulu 35 3 13 15 65 5 22 23 66 12 34
8 Lampung 9 1 20 4 80 0 0 5 56 4 44
9 Kepulauan Bangka Belitung 17 0 0 10 91 1 9 11 65 6 35
10 Kepulauan Riau 4 0 0 2 100 0 0 2 50 2 50
11 DKI J akarta 84 7 10 65 89 1 1 73 87 11 13
12 J awa Barat 78 3 19 13 81 0 0 16 21 62 79
13 J awa Tengah 142 16 17 71 76 6 6 93 65 49 35
14 DI Yogyakarta 16 1 11 8 89 0 0 9 56 7 44
15 J awa Timur 99 20 27 54 72 1 1 75 76 24 24
16 Banten 15 1 20 4 80 0 0 5 33 10 67
17 Bali 7 0 0 3 100 0 0 3 43 4 57
18 Nusa Tenggara Barat 16 1 25 3 75 0 0 4 25 12 75
19 Nusa Tenggara Timur 5 0 0 3 100 0 0 3 60 2 40
20 Kalimantan Barat 11 2 25 6 75 0 0 8 73 3 27
21 Kalimantan Tengah 7 0 0 3 100 0 0 3 43 4 57
22 Kalimantan Selatan 15 4 40 6 60 0 0 10 67 5 33
23 Kalimantan Timur 16 2 25 5 63 1 13 8 50 8 50
24 Sulawesi Utara 5 0 0 4 80 1 20 5 100 0 0
25 Sulawesi Tengah 7 1 14 5 71 1 14 7 100 0 0
26 Sulawesi Selatan 52 1 5 14 74 4 21 19 37 33 63
27 Sulawesi Tenggara 12 0 0 7 100 0 0 7 58 5 42
28 Gorontalo 2 0 0 1 100 0 0 1 50 1 50
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 1 0 0 1 100 0 0 1 100 0 0
31 Maluku Utara 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 100
32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
33 Papua 3 0 0 1 100 0 0 1 33 2 67
919 72 13,2 428 78,4 46 8,4 546 59,41 373 40,59
Sumber: BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
telah terakreditasi
JUMLAH INSTITUSI NON POLITEKNIK KESEHATAN (NON-POLTEKKES)
MENURUT AKREDITASI DAN STRATA TAHUN 2009
Belum Terakreditasi
Institusi yang
Jumlah Institusi
Jumlah
No Provinsi
S t r a t a
A B C
Lampiran 5.15
(1) (3) (4) (5) (6)
A KEPERAWATAN
1 Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) 2 3 5 10
2 Akademi Keperawatan (AKPER) 69 16 234 319
3 Akademi Kebidanan (AKBID) 18 1 310 329
4 Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG) 0 3 1 4
5 Akademi Kesehatan Gigi (AKG) 0 0 1 1
89 23 551 663
B
1 Sekolah Menengah Farmasi (SMF) 0 3 30 33
2 SMKF 0 0 44 44
3 Akademi Analis Farmasi dan Makanan (AKAFARMA) 0 0 15 15
4 Akademi Farmasi (AKFAR) 2 1 40 43
2 4 129 135
C
1 Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) 1 0 12 13
1 0 12 13
D
1 Akademi Gizi (AKZI) 1 0 8 9
1 0 8 9
E
1 Akademi Fisioterapi (AKFIS) 0 0 16 16
2 Akademi Okupasi Terapi (AOT) 0 0 0 0
3 Akademi Terapi Wicara (ATW) 0 0 1 1
4 Akademi Akupunktur 0 0 3 3
0 0 20 20
F KETEKNISIAN MEDIS
1 Sekolah Menengah Analis Kesehatan (SMAK) 1 1 6 8
2 Akademi Analis Kesehatan (AAK) 2 0 20 22
3 Akademi Tekniker Gigi (ATG) 0 1 1 2
4 D-I Pendidikan Teknik Transfusi Darah (PTTD) 0 0 2 2
5 Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO) 0 0 8 8
6 Akademi Perekam Informasi Kesehatan (APIKES) 0 0 20 20
7 Akademi Teknik Elektromedik (ATEM) 0 1 6 7
8 Akademi Refraksionis Optisi (ARO) 0 0 9 9
9 Akademi Teknik Kardiovaskuler 0 0 1 1
3 3 73 79
96 30 793 919
10,45 3,26 86,29 100
Sumber: BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
Sub Total
Pemda No. Jenis Tenaga Kesehatan Jumlah
(2)
Swasta
KEFARMASIAN
Sub Total
GIZI
Sub Total
KETERAPIAN FISIK
TNI / Polri
%
JUMLAH INSTITUSI DIKNAKES NON-POLTEKKES MENURUT STATUS KEPEMILIKAN TAHUN 2009
Total
Sub Total
Sub Total
Sub Total
KESEHATAN MASYARAKAT
Dokter
Spesialis
Dokter
Umum
Dokter Gigi Perawat Perawat Gigi Bidan
Sarjana
Farmasi &
Apoteker
Asisten
Aptoteker
Sarjana
Kesmas
Sanitarian
1 Aceh 467 1.002 188 8.905 583 6.686 460 368 1.165 685 544 311 1.035 22.399 3.234 25.633
2 Sumatera Utara 626 2.659 1.119 8.613 616 7.023 851 166 776 564 729 96 954 24.792 2.666 27.458
3 Sumatera Barat 523 895 322 5.399 361 3.563 204 654 789 335 477 112 634 14.268 2.395 16.663
4 Riau 315 938 348 6.048 368 3.186 259 388 493 233 293 83 547 13.499 2.715 16.214
5 J ambi 118 521 138 3.775 299 1.755 132 428 532 420 171 48 368 8.705 968 9.673
6 Sumatera Selatan 34 282 53 2.419 151 2.319 142 120 611 351 203 44 120 6.849 1.068 7.917
7 Bengkulu 27 395 80 2.574 103 2.061 94 208 673 207 140 30 206 6.798 1.119 7.917
8 Lampung 231 785 209 2.071 178 2.975 197 287 115 260 241 55 524 8.128 3.072 11.200
9 Kepulauan Bangka Belitung 20 228 52 1.801 90 563 42 140 255 95 109 17 156 3.568 509 4.077
10 Kepulauan Riau 176 456 135 4.067 60 794 74 114 168 56 106 23 160 6.389 570 6.959
11 DKI J akarta 1.988 896 725 6.543 180 1.317 758 108 236 83 354 195 573 13.956 6.956 20.912
12 J awa Barat 1.337 2.851 946 13.765 1.007 9.862 252 991 1.298 1.155 946 103 1.027 35.540 10.490 46.030
13 J awa Tengah 1.971 3.253 976 21.470 1.531 12.449 1.473 837 1.456 1.188 1.401 583 2.957 51.545 20.385 71.930
14 DI Yogyakarta 995 952 443 4.706 314 1.364 640 763 456 258 294 115 1.007 12.307 5.326 17.633
15 J awa Timur 2.656 3.948 1.582 20.826 903 12.025 632 2.394 988 1.153 1.394 243 1.433 50.177 21.763 71.940
16 Banten 200 346 297 6.291 225 3.086 95 308 516 222 337 192 183 12.298 840 13.138
17 Bali 423 1.193 370 6.234 380 2.275 112 395 437 380 371 76 364 13.010 4.532 17.542
18 NTB 155 445 115 2.994 153 1.308 102 155 402 386 433 37 266 6.951 2.035 8.986
19 NTT 44 493 176 5.489 474 2.908 168 467 435 604 381 88 520 12.247 2.436 14.683
20 Kalimantan Barat 132 575 199 4.303 329 1.887 78 237 203 337 372 29 351 9.032 2.150 11.182
21 Kalimantan Tengah 90 416 90 3.086 247 1.480 101 106 236 243 246 28 232 6.601 975 7.576
22 Kalimantan Selatan 128 530 167 3.588 384 2.145 121 442 474 449 454 41 501 9.424 2.521 11.945
23 Kalimantan Timur 297 831 269 5.387 158 1.467 204 363 305 332 261 71 465 10.410 4.036 14.446
24 Sulawesi Utara 79 599 61 3.602 284 1.279 112 242 296 427 375 92 18 7.466 1.191 8.657
25 Sulawesi Tengah 85 352 59 1.917 28 1.083 228 171 337 326 102 22 86 4.796 785 5.581
26 Sulawesi Selatan 267 981 297 3.436 498 1.113 122 256 618 393 452 98 214 8.745 1.957 10.702
27 Sulawesi Tenggara 23 233 64 2.906 134 1.255 133 148 728 450 540 30 142 6.786 517 7.303
28 Sulawesi Barat 46 150 39 1.182 79 352 26 37 151 79 77 18 41 2.277 298 2.575
29 Gorontalo 38 172 62 850 48 361 45 41 139 75 70 34 95 2.030 280 2.310
30 Maluku 40 345 97 2.646 18 1.244 47 53 170 236 221 17 29 5.163 674 5.837
31 Maluku Utara 44 203 36 1.951 37 893 208 46 451 102 239 39 130 4.379 238 4.617
32 Papua Barat 54 192 28 2.119 35 827 73 66 179 178 144 5 47 3.947 342 4.289
33 Papua 53 215 32 2.985 129 984 106 163 253 255 285 10 98 5.568 489 6.057
13.682 28.332 9.774 173.948 10.384 93.889 8.291 11.662 16.341 12.517 12.762 2.985 15.483 410.050 109.532
12.762 2.985 15.483 410.050 109.532 519.582
Sumber : Dinas Kesehatan seluruh Indonesia, melalui pengumpulan data Badan PPSDMK, Kemenkes, 2010
28.858
KEFARMASIAN KESMAS
Lampiran 5.16
KEPERAWATAN
REKAPITULASI DATA SDM KESEHATAN PER PROVINSI
KEADAAN DESEMBER 2009
NO PROVINSI
MEDIS
TOTAL PER KATEGORI 51.788 278.221 19.953
Total SDM
Kesehatan
TOTAL
Keterapian
Fisik
Keteknisian
Medis
Jumlah
Nakes
Tenaga Gizi
SDM Non
Nakes
Dokter
Umum
Dokter
Gigi
Perawat
Perawat
Gigi
Bidan
Apoteker
& S1
Farmasi
Asisten
Apoteker
Kesmas Sanitarian Gizi
Keterapian
Fisik
Keteknisia
n Medis
Jumlah
(1) (2) (3) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (19) (20) (21)
1 Aceh 291 534 97 4,188 344 5,680 158 163 552 482 277 38 203 12,716 957 13,673
2 Sumatera Utara 513 1,081 447 3,981 300 6,252 41 577 239 268 358 36 165 13,746 409 14,155
3 Sumatera Barat 245 442 207 1,862 237 2,796 12 278 188 205 200 2 173 6,603 626 7,229
4 R i a u 174 527 196 2,385 129 2,164 36 178 117 137 123 3 109 6,109 350 6,459
5 J a m b i 163 85 85 1,728 224 1,549 11 167 76 212 86 15 178 4,417 290 4,707
6 Sumatera Selatan 214 188 39 1,730 118 2,151 76 65 269 214 133 11 48 5,042 564 5,606
7 Bengkulu 152 173 68 2,461 86 1,621 111 54 174 264 117 2 46 5,177 244 5,421
8 Lampung 267 411 141 2,053 194 2,213 34 75 170 240 134 0 69 5,737 499 6,236
9 Kepulauan Bangka Belitung 55 113 32 703 67 414 35 25 65 54 64 0 43 1,615 158 1,773
10 Kepulauan Riau 64 200 60 1,115 36 564 30 54 33 49 63 3 47 2,259 286 2,545
11 DKI J akarta 25 327 292 582 80 535 22 63 30 52 201 5 32 2,305 591 2,896
12 J awa Barat 1,025 1,665 762 7,024 886 7,452 422 262 438 814 721 8 351 20,820 3,509 24,329
13 J awa Tengah 871 1,744 607 6,486 1,092 10,672 393 274 422 727 706 69 624 23,822 5,112 28,934
14 DI Yogyakarta 120 321 169 801 237 762 90 73 78 151 137 8 221 3,049 919 3,968
15 J awa Timur 942 1,673 1,181 7,468 711 10,253 121 722 265 800 778 19 654 24,659 7,394 32,053
16 Banten 205 379 202 1,591 154 2,133 43 20 161 123 128 3 47 4,986 742 5,728
17 B a l i 117 346 192 1,140 230 1,405 10 104 67 233 116 1 66 3,910 530 4,440
18 Nusa Tenggara Barat 149 250 87 2,067 174 2,310 30 98 171 344 322 5 160 6,018 799 6,817
19 Nusa Tenggara Timur 300 260 130 2,662 379 2,337 41 262 160 481 267 13 178 7,170 788 7,958
20 Kalimantan Barat 227 225 58 2,273 306 1,481 19 118 100 265 266 2 228 5,346 543 5,889
21 Kalimantan Tengah 176 258 58 1,950 184 1,159 196 115 57 161 189 0 60 4,387 228 4,615
22 Kalimantan Selatan 188 256 118 1,505 280 1,567 36 203 143 306 256 5 160 4,835 788 5,623
23 Kalimantan Timur 224 427 179 2,338 122 1,071 30 105 128 195 147 0 91 4,833 777 5,610
24 Sulawesi Utara 165 332 46 2,040 228 1,011 29 141 121 297 257 40 3 4,546 226 4,772
25 Sulawesi Tengah 178 164 53 1,835 82 1,401 60 53 180 283 90 0 47 4,248 322 4,570
26 Sulawesi Selatan 393 318 270 2,995 360 1,370 85 221 509 365 353 44 159 7,054 723 7,777
27 Sulawesi Tenggara 233 230 56 2,130 298 906 45 84 331 329 338 0 19 4,766 337 5,103
28 Gorontalo 61 75 35 587 36 312 22 17 52 44 45 6 23 1,254 78 1,332
29 Sulawesi Barat 101 100 21 689 62 422 22 26 132 185 135 0 1 1,796 165 1,961
30 Maluku 159 94 152 1,691 133 808 18 25 30 128 174 3 13 3,270 210 3,480
31 Maluku Utara 105 101 18 842 23 551 50 22 137 78 119 7 23 1,973 91 2,064
32 Papua Barat 120 103 13 1,393 21 622 36 26 52 75 98 0 10 2,451 66 2,517
33 Papua 287 299 70 2,645 34 1,198 15 73 97 128 146 2 145 4,857 214 5,071
8,509 13,701 6,141 76,940 7,847 77,142 2,379 4,743 5,744 8,689 7,544 350 4,396 215,776 29,535 245,311
Sumber : BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
TOTAL SDM
KESEHATAN
JUMLAH TENAGA
NON KESEHATAN
JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS
MENURUT JENIS DAN PROVINSI TAHUN 2010
Jumlah
Puskesmas
yang terdata
tenaganya
TOTAL
Lampiran 5.17
No Provinsi
No Provinsi
Jumlah Puskesmas
yang terdata
tenaganya
Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Bidan
Rasio Dokter
Umum
Rasio Dokter Gigi Rasio Perawat Rasio Bidan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 291 534 97 4.188 5.680 1,84 0,33 14,39 19,52
2 Sumatera Utara 513 1.081 447 3.981 6.252 2,11 0,87 7,76 12,19
3 Sumatera Barat 245 442 207 1.862 2.796 1,80 0,84 7,60 11,41
4 R i a u 174 527 196 2.385 2.164 3,03 1,13 13,71 12,44
5 J a m b i 163 85 85 1.728 1.549 0,52 0,52 10,60 9,50
6 Sumatera Selatan 214 188 39 1.730 2.151 0,88 0,18 8,08 10,05
7 Bengkulu 152 173 68 2.461 1.621 1,14 0,45 16,19 10,66
8 Lampung 267 411 141 2.053 2.213 1,54 0,53 7,69 8,29
9 Bangka Belitung 55 113 32 703 414 2,05 0,58 12,78 7,53
10 Kepulauan Riau 64 200 60 1.115 564 3,13 0,94 17,42 8,81
11 DKI J akarta 25 327 292 582 535 13,08 11,68 23,28 21,40
12 J awa Barat 1.025 1.665 762 7.024 7.452 1,62 0,74 6,85 7,27
13 J awa Tengah 871 1.744 607 6.486 10.672 2,00 0,70 7,45 12,25
14 DI Yogyakarta 120 321 169 801 762 2,68 1,41 6,68 6,35
15 J awa Timur 942 1.673 1.181 7.468 10.253 1,78 1,25 7,93 10,88
16 Banten 205 379 202 1.591 2.133 1,85 0,99 7,76 10,40
17 B a l i 117 346 192 1.140 1.405 2,96 1,64 9,74 12,01
18 Nusa Tenggara Barat 149 250 87 2.067 2.310 1,68 0,58 13,87 15,50
19 Nusa Tenggara Timur 300 260 130 2.662 2.337 0,87 0,43 8,87 7,79
20 Kalimantan Barat 227 225 58 2.273 1.481 0,99 0,26 10,01 6,52
21 Kalimantan Tengah 176 258 58 1.950 1.159 1,47 0,33 11,08 6,59
22 Kalimantan Selatan 188 256 118 1.505 1.567 1,36 0,63 8,01 8,34
23 Kalimantan Timur 224 427 179 2.338 1.071 1,91 0,80 10,44 4,78
24 Sulawesi Utara 165 332 46 2.040 1.011 2,01 0,28 12,36 6,13
25 Sulawesi Tengah 178 164 53 1.835 1.401 0,92 0,30 10,31 7,87
26 Sulawesi Selatan 393 318 270 2.995 1.370 0,81 0,69 7,62 3,49
27 Sulawesi Tenggara 233 230 56 2.130 906 0,99 0,24 9,14 3,89
28 Gorontalo 61 75 35 587 312 1,23 0,57 9,62 5,11
29 Sulawesi Barat 101 100 21 689 422 0,99 0,21 6,82 4,18
30 Maluku 159 94 152 1.691 808 0,59 0,96 10,64 5,08
31 Maluku Utara 105 101 18 842 551 0,96 0,17 8,02 5,25
32 Papua Barat 120 103 13 1.393 622 0,86 0,11 11,61 5,18
33 Papua 287 299 70 2.645 1.198 1,04 0,24 9,22 4,17
8.509 13.701 6.141 76.940 77.142 1,61 0,72 9,04 9,07
Sumber : BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
TOTAL
Lampiran 5.18
RASIO DOKTER UMUM, DOKTER GIGI, PERAWAT DAN BIDAN TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
Lampiran 5.19
Jumlah % Jumlah % 6 Bln 12 Bln Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 13 5 103 37 5 161 166 59 282
2 Sumatera Utara 96 33 141 49 24 27 51 18 288
3 Sumatera Barat 13 11 62 54 17 23 40 35 115
4 Riau 41 39 44 42 0 20 20 19 105
5 J ambi 20 17 54 47 0 42 42 36 116
6 Sumatera Selatan 11 19 45 76 0 3 3 5 59
7 Bengkulu 0 0 51 55 0 41 41 45 92
8 Lampung 15 17 54 62 0 18 18 21 87
9 Kepulauan Bangka Belitung 2 20 4 40 0 4 4 40 10
10 Kepulauan Riau 7 14 15 31 0 27 27 55 49
11 DKI J akarta 14 100 0 0 0 0 0 0 14
12 J awa Barat 63 100 0 0 0 0 0 0 63
13 J awa Tengah 135 100 0 0 0 0 0 0 135
14 DI Yogyakarta 19 100 0 0 0 0 0 0 19
15 J awa Timur 106 100 0 0 0 0 0 0 106
16 Banten 26 100 0 0 0 0 0 0 26
17 Bali 20 100 0 0 0 0 0 0 20
18 Nusa Tenggara Barat 8 14 30 54 0 18 18 32 56
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 28 9 29 244 273 91 301
20 Kalimantan Barat 0 0 28 22 0 99 99 78 127
21 Kalimantan Tengah 0 0 30 37 0 52 52 63 82
22 Kalimantan Selatan 0 0 51 42 0 71 71 58 122
23 Kalimantan Timur 7 9 43 54 0 30 30 38 80
24 Sulawesi Utara 0 0 45 42 0 63 63 58 108
25 Sulawesi Tengah 0 0 20 17 63 37 100 83 120
26 Sulawesi Selatan 18 22 44 53 4 17 21 25 83
27 Sulawesi Tenggara 1 1 18 11 34 116 150 89 169
28 Gorontalo 0 0 9 17 0 44 44 83 53
29 Sulawesi Barat 0 0 5 9 26 24 50 91 55
30 Maluku 2 1 10 5 174 0 174 94 186
31 Maluku Utara 0 0 8 13 55 0 55 87 63
32 Papua Barat 0 0 13 12 99 0 99 88 112
33 Papua 0 0 28 13 184 3 187 87 215
637 18,11 983 27,94 714 1.184 1.898 53,95 3.518
Sumber : Biro Kepegawaian, Kemenkes, 2010

REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER UMUM PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009
No Provinsi
Jumlah
Jumlah Total
Biasa Terpencil Sangat Terpencil
Lampiran 5.20
Jumlah % Jumlah % 6 Bln 12 Bln Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Aceh 0 0 13 17 5 57 62 83 75
2 Sumatera Utara 15 23 38 58 4 9 13 20 66
3 Sumatera Barat 2 5 13 30 9 20 29 66 44
4 Riau 2 6 18 51 0 15 15 43 35
5 J ambi 0 0 5 20 0 20 20 80 25
6 Sumatera Selatan 0 0 4 50 0 4 4 50 8
7 Bengkulu 0 0 1 6 0 16 16 94 17
8 Lampung 3 16 7 37 0 9 9 47 19
9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 2 40 0 3 3 60 5
10 Kepulauan Riau 1 4 11 46 0 12 12 50 24
11 DKI J akarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0
12 J awa Barat 15 100 0 0 0 0 0 0 15
13 J awa Tengah 30 100 0 0 0 0 0 0 30
14 DI Yogyakarta 13 100 0 0 0 0 0 0 13
15 J awa Timur 83 100 0 0 0 0 0 0 83
16 Banten 5 100 0 0 0 0 0 0 5
17 Bali 14 100 0 0 0 0 0 0 14
18 Nusa Tenggara Barat 6 26 9 39 0 8 8 35 23
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 6 5 23 89 112 95 118
20 Kalimantan Barat 0 0 1 3 0 38 38 97 39
21 Kalimantan Tengah 0 0 1 4 0 22 22 96 23
22 Kalimantan Selatan 0 0 7 18 0 32 32 82 39
23 Kalimantan Timur 2 5 12 32 0 24 24 63 38
24 Sulawesi Utara 0 0 1 20 0 4 4 80 5
25 Sulawesi Tengah 0 0 1 4 15 8 23 96 24
26 Sulawesi Selatan 7 14 28 56 3 12 15 30 50
27 Sulawesi Tenggara 0 0 4 8 13 33 46 92 50
28 Gorontalo 0 0 1 6 0 17 17 94 18
29 Sulawesi Barat 0 0 3 9 13 16 29 91 32
30 Maluku 0 0 0 0 63 1 64 100 64
31 Maluku Utara 0 0 0 0 16 0 16 100 16
32 Papua Barat 0 0 0 0 17 0 17 100 17
33 Papua 0 0 4 20 16 0 16 80 20
198 18,79 190 18,03 197 469 666 63,19 1.054
Sumber : Biro Kepegawaian, Kemenkes, 2010

REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER GIGI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009
No Provinsi
Terpencil Sangat Terpencil
Jumlah
Jumlah Total
Biasa
Lampiran 5.21
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Aceh 212 9,01 2.036 0,87 105 4,46 2.353
2 Sumatera Utara 2.174 45,23 2.633 0,55 0 0,00 4.807
3 Sumatera Barat 942 82,70 196 0,17 1 0,09 1.139
4 Riau 260 26,08 737 0,74 0 0,00 997
5 J ambi 128 17,75 593 0,82 0 0,00 721
6 Sumatera Selatan 409 67,38 198 0,33 0 0,00 607
7 Bengkulu 46 10,60 388 0,89 0 0,00 434
8 Lampung 1.084 89,00 134 0,11 0 0,00 1.218
9 Kepulauan Bangka Belitung 55 93,22 4 0,07 0 0,00 59
10 Kepulauan Riau 37 21,89 132 0,78 0 0,00 169
11 DKI J akarta 0 0,00 0 0,00 0 0,00 0
12 J awa Barat 1.581 86,11 251 0,14 4 0,22 1.836
13 J awa Tengah 4.392 99,93 3 0,00 0 0,00 4.395
14 DI Yogyakarta 220 100,00 0 0,00 0 0,00 220
15 J awa Timur 3.113 96,26 107 0,03 14 0,43 3.234
16 Banten 468 65,64 245 0,34 0 0,00 713
17 Bali 345 98,57 5 0,01 0 0,00 350
18 Nusa Tenggara Barat 91 61,07 57 0,38 1 0,67 149
19 Nusa Tenggara Timur 5 1,98 240 0,95 7 2,78 252
20 Kalimantan Barat 4 1,44 271 0,97 3 1,08 278
21 Kalimantan Tengah 1 1,47 61 0,90 6 8,82 68
22 Kalimantan Selatan 1 0,57 174 0,99 0 0,00 175
23 Kalimantan Timur 32 64,00 18 0,36 0 0,00 50
24 Sulawesi Utara 1 3,13 31 0,97 0 0,00 32
25 Sulawesi Tengah 4 2,06 186 0,96 4 2,06 194
26 Sulawesi Selatan 64 25,30 189 0,75 0 0,00 253
27 Sulawesi Tenggara 427 59,97 283 0,40 2 0,28 712
28 Gorontalo 3 12,00 14 0,56 8 32,00 25
29 Sulawesi Barat 4 1,83 200 0,91 15 6,85 219
30 Maluku 1 1,67 48 0,80 11 18,33 60
31 Maluku Utara 0 0,00 50 0,93 4 7,41 54
32 Papua Barat 0 0,00 1 1,00 0 0,00 1
33 Papua 0 0,00 10 1,00 0 0,00 10
16.104 62,46 9.495 0,37 185 0,72 25.784
Sumber : Biro Kepegawaian, Kemenkes, 2010
Jumlah Total
Jumlah

REKAPITULASI KEBERADAAN BIDAN PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009
No Provinsi
Biasa Terpencil Sangat Terpencil
FREQUENSI
PELATIHAN I II III IV V
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Pusdiklat SDM Kesehatan 74 0 0 2 10 58 4
2 BBPK Cilandak 33 0 0 1 32 0 0
3 BPPK Ciloto 46 1 1 1 0 42 1
4 Bapelkesnas Lemahabang 16 0 1 2 8 5 0
5 Bapelkesnas Salaman Magelang 19 0 0 3 10 6 0
6 Bapelkesnas Makasar 19 0 0 0 0 19 0
207 1 2 9 60 130 5
7 BLTKM J antho 25 23 0 0 2 0 0
8 Bapelkes Prov.Sumatera utara 36 0 0 0 30 6 0
9 Bapelkes Prov.Sumatera Barat 87 63 1 2 14 7 0
10 Bapelkes Prov.Riau 15 4 0 5 3 3 0
11 Bapelkes Prov.J ambi 40 1 18 13 8 0 0
12 Bapelkes Prov.Bengkulu 52 37 2 3 9 0 1
13 Bapelkes Prov.Lampung 28 0 0 22 5 1 0
14 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 41 7 0 0 23 11 0
15 BPTKM Dinkes Prov. J awa Barat 62 62 0 0 0 0 0
16 BPTPK Gombong 22 0 0 0 22 0 0
17 Bapelkes Yogja 21 5 0 1 8 7 0
18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 61 26 2 1 30 2 0
19 UPTD BPKKTK Prov. Bali 25 17 0 4 3 0 1
20 Bapelkes Mataram 62 50 0 0 8 1 3
21 UPTD Pel. Tenaga Kes kupang 28 13 6 4 5 0 0
22 Upelkes Prov. Kalimantan Barat 41 29 0 0 1 8 3
23 Bapelkes Prov. Kalimantan Tengah 24 7 0 3 14 0 0
24 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 35 6 1 17 8 1 2
25 Bapelkes Prov. Kalimantan Selatan 28 20 0 2 3 3 0
26 Bapelkes Prov. Sulawesi Utara 33 24 0 5 4 0 0
27 Bapelkes Palu 29 9 1 0 1 18 0
28 Bapelkes Prov. Sulawesi Tenggara 20 2 3 7 8 0 0
29 Bapelkes Prov. Maluku 11 0 0 0 10 1 0
30 Bapelkes Prov. Papua 19 13 0 0 0 6 0
845 418 34 89 219 75 10
1052 419 36 98 279 205 15
Sumber : BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
SUB TOTAL
SUB TOTAL
TOTAL
LAMPIRAN 5.22
DISTRIBUSI TINGKAT KETERLIBATAN INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA
DALAM KEGIATAN KEDIKLATAN TAHUN 2009
NO INSTITUSI DIKLAT
TINGKAT LIBAT (FREQ)
TDK Jelas
< 40 41 - 50 51 - 60 > 60
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Pusdiklat SDM Kesehatan 14 0 2 10 2 0
2 BBPK Cilandak 11 0 0 7 4 0
3 BPPK Ciloto 7 2 2 3 0 0
4 Bapelkesnas Lemahabang 8 0 3 5 0 0
5 Bapelkesnas Salaman Magelang 12 0 5 6 1 0
6 Bapelkesnas Makasar 6 0 0 3 3 0
58 2 12 34 10 0
7 BLTKM J antho 1 0 0 1 0 0
8 Bapelkes Prov.Sumatera utara 9 2 5 2 0 0
9 Bapelkes Prov.Sumatera Barat 5 0 0 4 1 0
10 Bapelkes Prov.Riau 5 0 3 2 0 0
11 Bapelkes Prov.J ambi 3 0 0 3 0 0
12 Bapelkes Prov.Bengkulu 3 0 0 3 0 0
13 Bapelkes Prov.Lampung 10 2 1 6 0 1
14 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 3 0 1 1 1 0
15 BPTKM Dinkes Prov. J awa Barat 9 0 2 5 2 0
16 BPTPK Gombong 5 0 0 0 0 5
17 Bapelkes Yogja 10 0 1 6 3 0
18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 7 1 4 1 1 0
19 UPTD BPKKTK Prov. Bali 2 0 0 2 0 0
20 Bapelkes Mataram 11 0 4 6 1 0
21 UPTD Pel. Tenaga Kes kupang 6 2 1 3 0 0
22 Upelkes Prov. Kalimantan Barat 1 0 0 1 0 0
23 Bapelkes Prov.Kalimantan Tengah 2 1 1 0 0 0
24 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 4 1 1 2 0 0
25 Bapelkes Prov.Kalimantan Selatan 6 4 2 0 0 0
26 Bapelkes Prov.Sulawesi Utara 5 1 3 1 0 0
27 Bapelkes Palu 2 0 0 2 0 0
28 Bapelkes Prov.Sulawesi Tenggara 2 0 1 1 0 0
29 Bapelkes Prov.Maluku 1 0 0 0 1 0
30 Bapelkes Prov.Papua 2 0 0 0 1 1
114 14 30 52 11 7
172 16 42 86 21 7
Sumber : BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
LAMPIRAN 5.23
DISTRIBUSI WIDYAISWARA INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA
BERDASARKAN KELOMPOK UMUR TAHUN 2009
NO INSTITUSI DIKLAT KETERANGAN JUMLAH
UMUR
SUB TOTAL
SUB TOTAL
TOTAL
TIDAK JELAS
Lampiran 5.24
Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16)
1 Pusdiklat SDM Kesehatan 2385 74 752 22 204 6 453 10 396 14 557 18 23 4
2 BBPK Cilandak 1093 33 356 9 171 5 0 0 514 18 0 0 52 1
3 BPPK Ciloto 3438 46 2001 16 0 0 25 1 944 18 110 3 358 8
4 Bapelkesnas Lemahabang 1325 16 758 6 0 0 0 0 537 9 30 1 0 0
5 Bapelkesnas Salaman Magelang 1549 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1549 19
6 Bapelkesnas Makasar 779 19 58 1 0 0 0 0 568 15 153 3 0 0
SUB TOTAL 10569 207 3925 54 375 11 478 11 2959 74 850 25 1982 32
7 BLTKM J antho 3854 25 60 1 0 0 225 6 3569 18 0 0 0 0
8 Bapelkes Prov.Sumatera utara 1099 36 77 2 0 0 150 6 842 27 30 1 0 0
9 Bapelkes Prov.Sumatera Barat 3014 87 56 2 151 3 1239 25 913 32 78 3 577 22
10 Bapelkes Prov.Riau 439 15 69 5 0 0 60 2 120 4 0 0 190 4
11 Bapelkes Prov.J ambi 906 40 0 0 0 0 575 25 236 11 75 3 20 1
12 Bapelkes Prov.Bengkulu 1827 52 0 0 40 1 290 9 829 24 0 0 668 18
13 Bapelkes Prov.Lampung 2749 28 0 0 0 0 60 2 2399 25 290 1 0 0
14 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 1420 41 198 4 0 0 30 1 1132 34 60 2 0 0
15 BPTKM Dinkes Prov. J awa Barat 2355 62 961 16 0 0 0 0 1235 41 0 0 159 5
16 BPTPK Gombong 1165 22 0 0 0 0 860 12 204 7 101 3 0 0
17 Bapelkes Yogja 816 21 50 1 0 0 0 0 766 20 0 0 0 0
18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 3327 61 401 5 42 1 606 11 1661 34 617 10 0 0
19 UPTD BPKKTK Prov. Bali 1033 25 89 3 0 0 30 1 551 12 0 0 363 9
20 Bapelkes Mataram 1947 62 0 0 0 0 385 12 1157 37 30 1 375 12
21 UPTD Pel. Tenaga Kes kupang 666 28 0 0 0 0 209 8 457 20 0 0 0 0
22 Upelkes Prov. Kalimantan Barat 1974 41 0 0 0 0 1782 36 0 0 112 3 80 2
23 Bapelkes Prov.Kalimantan Tengah 923 24 0 0 0 0 140 3 160 3 623 18 0 0
24 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 757 35 0 0 35 1 387 15 195 16 30 1 110 2
25 Bapelkes Prov.Kalimantan Selatan 1417 28 161 1 0 0 145 2 1088 24 23 1 0 0
26 Bapelkes Prov.Sulawesi Utara 1070 33 86 2 115 2 71 2 798 27 0 0 0 0
27 Bapelkes Palu 1014 29 0 0 0 0 85 1 649 22 102 2 178 4
28 Bapelkes Prov.Sulawesi Tenggara 565 20 0 0 0 0 0 0 394 14 171 6 0 0
29 Bapelkes Prov.Maluku 356 11 0 0 0 0 0 0 356 11 0 0 0 0
30 Bapelkes Prov.Papua 874 19 0 0 93 1 60 2 691 15 30 1 0 0
SUB TOTAL 35567 845 2208 42 476 9 7389 181 20402 478 2372 56 2720 79
TOTAL 46136 1052 6133 96 851 20 7867 192 23361 552 3222 81 4702 111
Sumber : BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
DISTRIBUSI FREKUENSI PELATIHAN DAN JUMLAH PESERTA DI INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA
BERDASARKAN JENIS DIKLAT TAHUN 2009
No Institusi Diklat
Total Prajabatan Penjenjangan Manajemen Teknis Fungsional Dan Lain-lain
Lampiran 5.25
TINGKAT I TINGKAT II TINGKAT III
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
A KEPERAWATAN
SPK 0 0 0 0
AKPER 7476 7476 4705 19657
AKBID 5025 5298 3600 13923
SPRG 0 0 0 0
AKG 1655 1530 1035 4220
14.156 14.304 9.340 37.800
B KEFARMASIAN
SMF 0 0 0 0
AKAFARMA 125 125 125 375
AKFAR 625 625 285 1535
750 750 410 1.910
C KESEHATAN MASYARAKAT
AKL 2065 2065 1380 5510
2.065 2.065 1.380 5.510
D GIZI
AKZI 2265 2353 1250 5868
2.265 2.353 1.250 5.868
E KETERAPIAN FISIK
AKFIS 190 190 102 482
AOT 50 50 80 180
ATW 0 40 60 100
AKUPUNKTUR 40 40 0 80
280 320 242 842
F KETEKNISIAN MEDIS
SMAK 0 0 0 0
AAK 1105 1105 615 2825
ATG 100 100 100 300
PTTD 0 0 0 0
ATRO 100 160 190 450
APIKES 0 0 0 0
ATEM 225 225 225 675
ARO 0 0 0 0
AOP 20 20 60 100
KARDIOVASKULER 0 0 0 0
1.550 1.610 1.190 4.350
21.066 21.402 13.812 56.280
Sumber : BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
TOTAL
REKAPITULASI PESERTA DIDIK POLTEKKES
PERJENIS TENAGA KESEHATAN
TAHUN AJARAN 2009/2010
NO JENIS PROFESI
SUB TOTAL
SUB TOTAL
SUB TOTAL
SUB TOTAL
P0LTEKKES
JUMLAH
SUB TOTAL
SUB TOTAL
Lampiran 5.26
TINGKAT I TINGKAT II TINGKAT III
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
A KEPERAWATAN
SPK 1760 1280 1425 4465
AKPER 31980 30795 30026 92801
AKBID 28908 41016 13816 83740
SPRG 400 400 400 1200
AKG 100 40 0 140
63.148 73.531 45.667 182.346
B KEFARMASIAN
SMF 6013 4790 3320 14123
AKAFARMA 1655 1490 1545 4690
AKFAR 3780 2840 2740 9360
11.448 9.120 7.605 28.173
C KESEHATAN MASYARAKAT
AKL 1100 1180 1020 3300
1.100 1.180 1.020 3.300
D GIZI
AKZI 605 605 605 1815
605 605 605 1.815
E KETERAPIAN FISIK
AKFIS 1320 1260 1140 3720
AOT 0 0 0 0
ATW 100 100 100 300
AKUPUNKTUR 220 160 120 500
1.640 1.520 1.360 4.520
F KETEKNISIAN MEDIS
SMAK 950 890 800 2640
AAK 1950 1890 1705 5545
ATG 200 200 200 600
PTTD 160 160 0 320
ATRO 800 700 650 2150
APIKES 1589 1669 1285 4543
ATEM 640 520 480 1640
ARO 680 680 720 2080
AOP 0 0 0 0
KARDIOVASKULER 60 60 60 180
7.029 6.769 5.900 19.698
84.970 92.725 62.157 239.852
Sumber : BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
TOTAL
REKAPITULASI PESERTA DIDIK NON POLTEKKES
PERJENIS TENAGA KESEHATAN
TAHUN AJARAN 2009/2010
NO JENIS PROFESI
SUB TOTAL
SUB TOTAL
SUB TOTAL
SUB TOTAL
NON POLTEKKES
JUMLAH
SUB TOTAL
SUB TOTAL
Lampiran 5.27
2007 2008 2009
(1) (2) (3) (4) (5)
I KEPERAWATAN
Keperawatan Medical Bedah 170 657 380
Keperawatan Gawat Darurat 70 400 280
Keperawatan Klinik Kemahiran 0 40 20
Keperawatan Kardiovaskuler 0 40 20
Keperawatan Anestesi 0 40 0
Keperawatan J iwa 0 0 20
Keperawatan Intensive 0 0 20
Keperawatan Anestesi Reanimasi 0 0 20
240 1177 760
II KEBIDANAN
Bidan Pendidik 80 520 440
Kebidanan Komunitas 0 0 20
80 520 440
III KESLING 100 320 180
IV GIZI 30 580 280
V FISIOTERAPI 40 80 40
VI TEHNIK ELEKTROMEDIK 0 80 40
VII RADIOLOGI 40 80 40
VIII ANALIS KESEHATAN 40 160 80
IX PROMOSI KESEHATAN 0 0 20
X KESEHATAN GIGI
Kesehatan Gigi 0 0 60
Kesehatan Gigi Komunitas 0 0 20
Kesehatan Gigi Prothodansia 0 0 20
Dental Bedah Mulut 0 0 20
Perawat Gigi Pendidik 0 0 20
0 0 140
TOTAL 570 2997 2020
Sumber : BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
Sub Total
Sub Total
Sub Total
JUMLAH PESERTA DIDIK PROGRAM DIPLOMA IV
BERDASARKAN JENIS INSTITUSI PENDIDIKAN TAHUN 2007- 2009
No JENIS INSTITUSI
Tahun
Lampiran 5.28
POLTEKKES NON POLTEKKES
(1) (2) (3) (4) (5)
A KEPERAWATAN
SPK 929 929
AKPER 4743 23163 27906
AKBID 4513 14032 18545
SPRG 230 230
AKG 855 855
10111 38354 48465
B KEFARMASIAN
SMF 2594 2594
AKAFARMA 80 469 549
AKFAR 462 1259 1721
542 4322 4864
C KESEHATAN MASYARAKAT
AKL 973 712 1685
973 712 1685
D GIZI
AKZI 1388 424 1812
1388 424 1812
E KETERAPIAN FISIK
AKFIS 79 571 650
AOT 50 50
ATW 30 30
AKUPUNKTUR 51 51
129 652 781
F KETEKNISIAN MEDIS
SMAK 553 553
AAK 696 1013 1709
ATG 64 90 154
PTTD 104 104
ATRO 243 256 499
APIKES 805 805
ATEM 181 223 404
ARO 506 506
AOP 30 30
KARDIOVASKULER
1214 3550 4764
14.357 48.014 62.371
Sumber : BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
SUB TOTAL
SUB TOTAL
SUB TOTAL
SUB TOTAL
SUB TOTAL
SUB TOTAL
TOTAL
LULUSAN DIKNAKES POLTEKKES DAN NON POLTEKKES
BERDASARKAN JENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN 2009
NO JENIS PROFESI
TAHUN 2009
JUMLAH
Lampiran 5.29
Poltekkes
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18)
1 Banda Aceh 204 82 95 5 107 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 493
2 Medan 85 410 40 90 0 129 60 0 0 0 0 0 0 0 0 814
3 Padang 187 177 69 56 48 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 537
4 Pekanbaru 96 203 47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 346
5 J ambi 0 104 53 0 38 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 195
6 Bengkulu 114 181 0 74 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 369
7 Palembang 238 110 0 63 35 79 38 0 0 0 0 0 0 0 0 563
8 Tanjung Karang 159 214 17 0 37 0 90 0 0 0 0 0 0 0 0 517
9 J akarta I 60 114 0 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 193
10 J akarta II 0 48 85 0 94 0 113 112 64 80 0 0 0 0 596
11 J akarta III 135 167 0 0 0 36 0 0 0 0 0 0 0 0 338
12 Bandung 503 211 7 177 52 0 80 0 0 0 0 0 0 0 0 1.030
13 Tasikmalaya 0 159 0 0 50 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 209
14 Semarang 214 145 84 81 69 0 0 0 131 0 0 0 0 0 0 724
15 Surakarta 79 0 0 0 56 0 0 0 0 0 0 40 50 30 0 255
16 Yogyakarta 39 198 84 0 0 82 0 0 0 0 0 0 0 0 403
17 Malang 219 385 0 108 80 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 792
18 Surabaya 270 284 85 0 31 0 86 68 0 0 0 0 0 0 0 824
19 Denpasar 99 40 35 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 220
20 Mataram 96 37 0 37 36 0 84 0 0 0 0 0 0 0 0 290
21 Kupang 265 57 60 72 34 70 0 0 0 0 0 0 0 0 0 558
22 Pontianak 99 140 67 73 0 0 50 0 0 0 0 0 0 0 0 429
23 Palangkaraya 112 34 0 30 68 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 244
24 Banjarmasin 308 37 41 56 0 0 47 0 0 0 0 0 0 0 0 489
25 Samarinda 166 171 0 0 44 0 43 0 0 0 0 0 0 0 0 424
26 Manado 100 24 20 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 163
27 Palu 0 165 39 0 51 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 255
28 Makassar 138 163 47 49 0 90 0 0 0 0 0 39 0 0 0 526
29 Kendari 98 326 0 98 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 522
30 Ambon 191 0 36 47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 274
31 Ternate 90 17 0 29 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 136
32 Gorontalo 152 107 0 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 305
33 J ayapura 227 51 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 324
4743 4513 973 1388 855 462 696 181 243 64 80 79 50 30 0 14357
Sumber : BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010
Teknik Gigi Jumlah
Jumlah
Gizi
Kesehatan
Lingkungan
Kesehatan
Gigi
Keperawatan AKAFARMA
Analisis
Kesehatan
Farmasi
Teknik
Elektromedik
Kebidanan
Teknik
Diagnostik
JUMLAH LULUSAN POLTEKKES BERDASARKAN JURUSAN/PROGRAM STUDI INSTITUSI DIKNAKES SELURUH INDONESIA
TAHUN AJARAN 2009/2010
No
Terapi
Wicara
Ortotik
Prostetik
Okupasi
Terapi
Fisioterapi
Jurusan / Program Studi
Lampiran 5.30
Kesmas Gizi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27)
1 Aceh 80 900 1.463 28 51 80 67 35 14 28 50 2.796
2 Sumatera Utara 220 2.944 3.420 340 58 27 35 120 90 80 67 38 60 36 7.535
3 Sumatera Barat 1.062 365 80 60 210 60 50 80 80 80 2.127
4 Riau 605 703 88 29 17 26 63 61 23 1.615
6 J ambi 298 50 83 41 28 500
7 Sumatera Selatan 1.082 656 60 39 99 109 60 2.105
8 Bengkulu 372 65 79 516
9 Lampung 435 221 12 21 689
10 Kepulauan Bangka Belitung 80 205 60 345
5 Kepulauan Riau 94 34 128
11 DKI J akarta 49 100 2.135 776 420 26 81 7 48 30 140 10 79 152 64 20 104 4.241
12 J awa Barat 908 502 337 49 19 104 80 44 2.043
13 J awa Tengah 160 3.034 3.354 420 109 168 340 134 85 160 251 60 80 266 57 8.678
15 DI Yogyakarta 568 78 36 26 17 725
16 J awa Timur 80 3.140 1.284 412 147 106 6 103 50 51 80 80 231 54 115 5.939
14 Banten 395 310 14 719
17 Bali 60 149 80 289
18 Nusa Tenggara Barat 100 392 120 23 635
19 Nusa Tenggara Timur 100 179 279
20 Kalimantan Barat 490 179 48 717
21 Kalimantan Tengah 192 18 27 237
22 Kalimantan Selatan 695 174 42 911
23 Kalimantan Timur 411 100 52 17 580
24 Sulawesi Utara 387 27 414
25 Sulawesi Tengah 451 97 548
26 Sulawesi Selatan 80 50 1.361 147 100 45 23 50 44 80 60 2.040
27 Sulawesi Tenggara 379 82 53 40 554
28 Gorontalo 0
29 Maluku 0
30 Maluku Utara 0
31 Papua 49 30 30 109
929 230 23.163 14.032 0 2.594 469 1.259 712 424 571 0 30 51 553 90 1.013 256 506 805 223 104 0 0 48.014
Sumber : BPPSDM Kesehatan, Kemenkes, 2010

JUMLAH
Provinsi Jumlah
PTTD
KARDIOV
ASKULER
ORTOTIK
PROSTETIK
AKUPUN
KTUR
ATRO ARO APIKES AKL AKZI AKFIS AOT
REKAPITULASI LULUSAN NON POLTEKKES DIKNAKES SELURUH INDONESIA BERDASARKAN JENIS DAN PROVINSI
TAHUN AJARAN 2009/2010
No
Keperawatan Kefarmasian
ATEM ATW SMAK ATG AAK
Keterapian Keteknisian
SPK SPRG AKPER AKBID AKG SMF AKFAR
AKAFAR
MA
Lampiran 5.31
No. Kementerian/Fungsi/Sub Fungsi/Program/Kegiatan Pagu Revisi (Rp.) Total Realisasi (Rp.) % Sisa Anggaran (Rp.) %
(1) (2) (4) (5) (6) (7) (8)
1.1.1 Program Penerapan Kepemerintahan Yang Baik 2.405.889.226.000 1.803.797.638.360 74.97 602.091.587.640 25.03
1.1.2 Program Peningkatan Pengawasan & Akuntabilitas Aparatur Negara 50.884.700.000 26.743.351.714 52.56 24.141.348.286 47.44
1.1.3 Program Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aaparatur 61.817.629.000 39.401.498.146 63.74 22.416.130.854 36.26
2.1.1 Program Lingkungan Sehat 231.462.551.000 187.576.202.821 81.04 43.886.348.179 18.96
3.1.1 Program Obat & Perbekalan Kesehatan 992.500.000.000 922.300.541.654 92.93 70.199.458.346 7.07
3.2.1 Program Upaya Kesehatan Perorangan 10.082.608.563.000 8.563.483.753.491 84.93 1.519.124.809.509 15.07
3.3.1 Program Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat 117.494.400.000 86.003.491.006 73.20 31.490.908.994 26.80
3.3.2 Program Upaya Kesehatan Masyarakat 2.329.794.844.000 1.666.038.970.022 71.51 663.755.873.978 28.49
3.3.3 Program Pencegahan & Pemberantasan Penyakit 726.946.541.000 582.561.319.839 80.14 144.385.221.161 19.86
3.3.4 Program Perbaikan Gizi Masyarakat 449.038.000.000 186.537.938.046 41.54 262.500.061.954 58.46
3.4.1 Program Penelitian & Pengembangan Kesehatan 165.181.117.000 128.137.671.235 77.57 37.043.445.765 22.43
3.5.1 Program Sumber Daya Kesehatan 873.525.251.000 633.866.080.710 72.56 239.659.170.290 27.44
3.5.2 Program Kebijakan & Manajemen Pembangunan Kesehatan 748.275.398.000 494.328.215.699 66.06 253.947.182.301 33.94
4.1.1 Program Pendidikan Kedinasan 1.300.000.000.000 1.117.913.064.886 85.99 182.086.935.114 14.01
20.535.418.220.000 16.438.689.737.629 80.05 4.096.728.482.371 19.95
Sumber: Biro Perencanaan dan Anggaran, Kemenkes, 2010
ALOKASI DAN REALISASI KEMENTERIAN KESEHATAN RI TRIWULAN IV TAHUN 2009
KEMENTERIAN KESEHATAN
Lampiran 5.32
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
1 Aceh 4.670.647 2.308.261 496.281 - - - - 202.248 - - - - 0 3.006.790 64,38
2 Sumatera Utara 13.042.317 3.946.715 924.302 - - 41.156 - 100.207 - - 565.473 - 565.473 5.577.853 42,77
3 Sumatera Barat 4.697.764 1.350.399 527.089 10.000 - - - 98.829 8.300 - 103.797 - 112.097 2.098.414 48,23
4 Riau 5.422.961 1.233.911 277.992 - - 87.910 - 48.000 - 167.175 3.774.576 - 3.941.751 5.589.564 100,00
5 J ambi 2.840.265 784.842 234.692 - - 18.732 - 6.474 - 10.080 524.391 - 534.471 1.579.211 55,60
6 Sumatera Selatan 7.259.338 2.793.317 449.672 - - - - - - 4.016.349 - - 4.016.349 7.259.338 100,00
7 Bengkulu 1.717.789 632.098 173.427 - - - - 13.488 - - 147.857 - 147.857 966.870 56,29
8 Lampung 8.129.250 3.164.184 405.676 - - - - 199.517 - - 339.594 - 339.594 4.108.971 50,55
9 Kepulauan Bangka Belitung 1.135.891 111.809 84.468 60.000 - 1.472 - 21.982 39.004 - 493.710 88.516 621.230 900.961 79,32
10 Kepulauan Riau 1.711.972 277.589 82.464 - - - - - - - 1.002.000 - 1.002.000 1.362.053 79,56
11 DKI J akarta 9.146.181 - 909.021 - - - - 1.560.213 - - - - 0 2.469.234 27,00
12 J awa Barat 42.693.951 10.700.175 2.388.067 - - 175 - 304.689 - 353.043 4.649.749 - 5.002.792 18.395.898 43,09
13 J awa Tengah 32.770.455 11.715.881 2.160.358 - - 67.792 - 323.095 - 89.390 1.079.002 4.483 1.172.875 15.440.001 47,12
14 D.I. Yogyakarata 3.434.533 942.129 398.825 323.000 - 27.477 - 57.133 98.086 - 106.071 - 204.157 1.952.721 56,86
15 J awa Timur 37.432.020 10.710.051 2.206.723 - - 1.596.912 - 708.599 - 35.070 1.256.811 - 1.291.881 16.514.166 44,12
16 Banten 10.579.005 2.910.506 395.623 - - - - 6.164 - 16.666 21.312 - 37.978 3.350.271 31,67
17 Bali 3.516.000 537.776 328.001 - - 17.032 - 87.904 - - 2.535.886 - 2.535.886 3.506.599 99,73
18 Nusa Tenggara Barat 4.434.012 2.028.491 288.679 - - 366 - 7.844 - - 572.976 - 572.976 2.898.356 65,37
19 Nusa Tenggara Timur 4.540.053 2.798.871 344.988 - - - - 4.099 - 107.870 437.505 - 545.375 3.693.333 81,35
20 Kalimantan Barat 4.319.142 1.584.451 308.587 - - 78.961 - 4.443 - 67.398 337.833 - 405.231 2.381.673 55,14
21 Kalimantan Tengah 2.236.278 613.370 218.010 - - 20.310 - 8.290 - 217.252 204.710 - 421.962 1.281.942 57,32
22 Kalimantan Selatan 3.588.444 843.837 310.680 3 14.119 5.429 - 47.624 223.351 12.617 744.880 - 980.848 2.202.540 61,38
23 Kalimantan Timur 3.016.800 777.167 310.605 - 60.393 63.622 - 298.390 939.299 - 3.364 129.964 1.072.627 2.582.804 85,61
24 Sulawesi Utara 2.228.856 485.084 265.884 - 134.078 23.202 - 80.205 - 114.210 - - 114.210 1.102.663 49,47
25 Sulawesi Tengah 2.396.224 851.027 241.074 - 10.536 3.618 - 14.849 80.716 136.573 115.768 - 333.057 1.454.161 60,69
26 Sulawesi Selatan 7.868.358 2.449.737 730.605 - - - - 86.233 - - 4.576.525 25.043 4.601.568 7.868.143 100,00
27 Sulawesi Tenggara 1.953.478 1.144.447 205.225 - 60.683 - - 10.476 - - 89.643 - 89.643 1.510.474 77,32
28 Gorontalo 1.143.645 431.659 85.145 - - - - 559 - - - - 0 517.363 45,24
29 Sulawesi Barat 1.163.342 473.817 84.498 - - - - 100.891 - 14.500 - - 14.500 673.706 57,91
30 Maluku 2.498.581 1.113.034 169.601 6.268 - - - 40 - - 714.969 - 714.969 2.003.912 80,20
31 Maluku Utara 1.046.951 306.135 95.358 6.268 - - - 40 - - 170.649 - 170.649 578.450 55,25
32 Papua Barat 729.962 521.558 75.264 - - - - - - - - - 0 596.822 81,76
33 Papua 2.640.760 1.963.014 179.535 - - - - - - - - - 0 2.142.549 81,13
Pusat - 3.894.658 - - - - 854.854 - - - - - 0 4.749.512 2,01
236.005.225 76.400.000 16.356.419 405.539 279.809 2.054.166 854.854 4.402.525 1.388.756 5.358.193 24.569.051 248.006 31.564.006 132.317.318 55,95
Sumber: Pusat Pembiayaan dan J aminan Kesehatan, Kemenkes, 2010
Jamsostek
Jamkesmas Non Quota (Jamkesda)
DATA CAKUPAN KEPESERTAAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2010
PER JUNI 2010
No Provinsi
Peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Jiwa)
Jumlah
Penduduk
Jamkesmas
NASIONAL
Dana Sehat
Asuransi
Komersial
TNI /
POLRI
Askes PNS
Jpkm /
Bapel
Total Jaminan %
Bapel / Uptd P.T. Askes Pemda Lain-lain
Total
Jamkesda
Lampiran 5.33
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Aceh 7 2,04 139 40,52 197 57,43 343
2 Sumatera Utara 50 16,03 171 54,81 91 29,17 312
3 Sumatera Barat 14 10,45 75 55,97 45 33,58 134
4 Riau 18 18,00 56 56,00 26 26,00 100
5 J ambi 17 11,89 77 53,85 49 34,27 143
6 Sumatera Selatan 7 13,73 41 80,39 3 5,88 51
7 Bengkulu 0 0,00 64 59,26 44 40,74 108
8 Lampung 9 8,65 76 73,08 19 18,27 104
9 Kepulauan Bangka Belitung 2 18,18 4 36,36 5 45,45 11
10 Kepulauan Riau 8 13,56 25 42,37 26 44,07 59
11 DKI J akarta 15 100,00 0 0,00 0 0,00 15
12 J awa Barat 62 100,00 0 0,00 0 0,00 62
13 J awa Tengah 125 100,00 0 0,00 0 0,00 125
14 DI Yogyakarta 23 100,00 0 0,00 0 0,00 23
15 J awa Timur 64 100,00 0 0,00 0 0,00 64
16 Banten 20 100,00 0 0,00 0 0,00 20
17 Bali 22 100,00 0 0,00 0 0,00 22
18 Nusa Tenggara Barat 7 11,48 35 57,38 19 31,15 61
19 Nusa Tenggara Timur 0 0,00 36 9,65 337 90,35 373
20 Kalimantan Barat 0 0,00 31 21,99 110 78,01 141
21 Kalimantan Tengah 0 0,00 37 35,58 67 64,42 104
22 Kalimantan Selatan 0 0,00 51 40,80 74 59,20 125
23 Kalimantan Timur 10 11,36 42 47,73 36 40,91 88
24 Sulawesi Utara 0 0,00 52 42,62 70 57,38 122
25 Sulawesi Tengah 0 0,00 25 13,23 164 86,77 189
26 Sulawesi Selatan 17 16,50 57 55,34 29 28,16 103
27 Sulawesi Tenggara 1 0,45 20 8,97 202 90,58 223
28 Gorontalo 0 0,00 12 18,75 52 81,25 64
29 Sulawesi Barat 0 0,00 12 13,19 79 86,81 91
30 Maluku 2 0,48 12 2,86 406 96,67 420
31 Maluku Utara 0 0,00 11 8,80 114 91,20 125
32 Papua Barat 0 0,00 13 6,13 199 93,87 212
33 Papua 0 0,00 19 5,43 331 94,57 350
500 11,14 1.193 26,59 2.794 62,27 4.487
Sumber : Biro Kepegawaian, Kemenkes, 2010
Catatan :
* Gabungan Pengangkatan +Pengangkatan Kembali

REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER UMUM PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009
No Provinsi
Biasa Terpencil Sangat Terpencil
Jumlah Total
Jumlah
Lampiran 5.34
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Aceh 0 0,00 14 16,28 72 83,72 86
2 Sumatera Utara 9 12,86 39 55,71 22 31,43 70
3 Sumatera Barat 3 5,88 14 27,45 34 66,67 51
4 Riau 1 2,56 23 58,97 15 38,46 39
5 J ambi 0 0,00 5 19,23 21 80,77 26
6 Sumatera Selatan 0 0,00 6 60,00 4 40,00 10
7 Bengkulu 0 0,00 1 5,56 17 94,44 18
8 Lampung 0 0,00 11 55,00 9 45,00 20
9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0,00 2 40,00 3 60,00 5
10 Kepulauan Riau 2 7,69 12 46,15 12 46,15 26
11 DKI J akarta 0 0,00 0 0,00 0 0,00 0
12 J awa Barat 15 100,00 0 0,00 0 0,00 15
13 J awa Tengah 29 100,00 0 0,00 0 0,00 29
14 DI Yogyakarta 13 100,00 0 0,00 0 0,00 13
15 J awa Timur 46 100,00 0 0,00 0 0,00 46
16 Banten 6 100,00 0 0,00 0 0,00 6
17 Bali 7 100,00 0 0,00 0 0,00 7
18 Nusa Tenggara Barat 5 20,83 11 45,83 8 33,33 24
19 Nusa Tenggara Timur 0 0,00 5 3,36 144 96,64 149
20 Kalimantan Barat 0 0,00 1 2,50 39 97,50 40
21 Kalimantan Tengah 0 0,00 2 7,14 26 92,86 28
22 Kalimantan Selatan 0 0,00 8 18,60 35 81,40 43
23 Kalimantan Timur 2 4,65 11 25,58 30 69,77 43
24 Sulawesi Utara 0 0,00 2 33,33 4 66,67 6
25 Sulawesi Tengah 0 0,00 2 5,71 33 94,29 35
26 Sulawesi Selatan 5 9,09 31 56,36 19 34,55 55
27 Sulawesi Tenggara 0 0,00 4 6,90 54 93,10 58
28 Gorontalo 0 0,00 1 5,00 19 95,00 20
29 Sulawesi Barat 0 0,00 5 11,11 40 88,89 45
30 Maluku 0 0,00 2 1,29 153 98,71 155
31 Maluku Utara 0 0,00 0 0,00 30 100,00 30
32 Papua Barat 0 0,00 1 3,03 32 96,97 33
33 Papua 0 0,00 3 7,89 35 92,11 38
143 11,27 216 17,02 910 71,71 1.269
Sumber : Biro Kepegawaian, Kemenkes, 2010
Catatan :
* Gabungan Pengangkatan +Pengangkatan Kembali
Jumlah

REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER GIGI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) TAHUN 2009
No Provinsi
Biasa Terpencil Sangat Terpencil
Jumlah Total
Lampiran 5.35
Jumlah % Jumlah %
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Aceh 109 9,28 1065 90,72 1174
2 Sumatera Utara 792 49,56 806 50,44 1598
3 Sumatera Barat 366 69,06 164 30,94 530
4 Riau 86 27,92 222 72,08 308
5 J ambi 59 17,35 281 82,65 340
6 Sumatera Selatan 172 72,57 65 27,43 237
7 Bengkulu 18 9,23 177 90,77 195
8 Lampung 515 84,98 91 15,02 606
9 Kepulauan Bangka Belitung 32 80,00 8 20,00 40
10 Kepulauan Riau 13 18,84 56 81,16 69
11 DKI J akarta 0 0,00 0 0 0
12 J awa Barat 681 83,15 138 16,85 819
13 J awa Tengah 1732 100,00 0 0 1732
14 DI Yogyakarta 113 100,00 0 0 113
15 J awa Timur 1102 93,47 77 6,53 1179
16 Banten 201 59,12 139 40,88 340
17 Bali 184 96,84 6 3,16 190
18 Nusa Tenggara Barat 55 58,51 39 41,49 94
19 Nusa Tenggara Timur 0 0,00 120 100,00 120
20 Kalimantan Barat 0 0,00 186 100,00 186
21 Kalimantan Tengah 0 0,00 23 100,00 23
22 Kalimantan Selatan 0 0,00 118 100,00 118
23 Kalimantan Timur 21 46,67 24 53,33 45
24 Sulawesi Utara 0 0,00 21 100,00 21
25 Sulawesi Tengah 0 0,00 125 100,00 125
26 Sulawesi Selatan 295 58,07 213 41,93 508
27 Sulawesi Tenggara 1 0,90 110 99,10 111
28 Gorontalo 3 42,86 4 57,14 7
29 Sulawesi Barat 0 0,00 109 100,00 109
30 Maluku 0 0,00 29 100,00 29
31 Maluku Utara 0 0,00 34 100,00 34
32 Papua Barat 0 0,00 6 100,00 6
33 Papua 0 0,00 0 0 0
6.550 59,51 4.456 40,49 11.006
Sumber : Biro Kepegawaian, Kemenkes, 2010
Catatan :
* Gabungan Pengangkatan +Pengangkatan Kembali
Jumlah

REKAPITULASI PENGANGKATAN BIDAN PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) TAHUN 2009
No Provinsi
Biasa Terpencil
Jumlah Total
Lampiran 5.36
B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28) (29)
1 Aceh 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 4 1 5
2 Sumatera Utara 3 0 0 3 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 5 3 0 8
3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2
5 J ambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 5 0 5
9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 2
10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
11 DKI J akarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
12 J awa Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
13 J awa Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
15 J awa Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
16 Banten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 2 0 0 0 0 1 2 3
20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 0 3 0 3
21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
23 Kalimantan Timur 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 3 2 0 7
24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1
25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1
26 Sulawesi Selatan 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 2 0 1 4 0 5
27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 2
31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2
33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2
4 0 0 4 4 0 0 4 1 10 6 17 0 5 1 6 0 10 2 12 0 4 0 9 29 9 47
Sumber : Biro Kepegawaian, Kemenkes, 2010
T ST ∑
TOTAL
APRIL JUNI SEPTEMBER
B
KEADAAN DOKTER SPESIALIS PTT DEPKES YANG MASIH AKTIF
SAMPAI DENGAN TAHUN 2009
NO PROVINSI
PENGANGKATAN TAHUN 2008 PENGANGKATAN TAHUN 2009
PERPANJANGAN APRIL
TAHUN 2009
TOTAL
APRIL JUNI
Lampiran 5.37
T ST T ST T ST T ST T ST T ST T ST T ST T ST
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28) (29)
1 Aceh 43 42 85 39 42 81 90.7 100.0 95.3 18 18 36 18 18 36 100.0 100.0 100.0 45 25 70 40 25 65 88.9 100.0 92.9
2 Sumatera Utara 16 12 28 16 12 28 100.0 100.0 100.0 28 1 29 28 1 29 100.0 100.0 100.0 18 4 22 18 4 22 100.0 100.0 100.0
3 Sumatera Barat 22 19 41 22 16 38 100.0 84.2 92.7 22 9 31 22 9 31 100.0 100.0 100.0 21 7 28 21 7 28 100.0 100.0 100.0
4 Riau 13 5 18 13 5 18 100.0 100.0 100.0 13 4 17 13 4 17 100.0 100.0 100.0 8 2 10 8 2 10 100.0 100.0 100.0
5 J ambi 18 13 31 18 13 31 100.0 100.0 100.0 19 7 26 19 7 26 100.0 100.0 100.0 19 2 21 19 2 21 100.0 100.0 100.0
6 Sumatera Selatan 11 2 13 11 2 13 100.0 100.0 100.0 12 0 12 12 0 12 100.0 0.0 100.0 4 0 4 4 0 4 100.0 0.0 100.0
7 Bengkulu 28 13 41 22 13 35 78.6 100.0 85.4 22 12 34 22 12 34 100.0 100.0 100.0 16 4 20 16 4 20 100.0 100.0 100.0
8 Lampung 26 8 34 26 8 34 100.0 100.0 100.0 26 1 27 26 1 27 100.0 100.0 100.0 14 1 15 14 1 15 100.0 100.0 100.0
9 Kep. Bangka Belitung 6 3 9 4 3 7 66.7 100.0 77.8 0 2 2 0 2 2 0.0 100.0 100.0 0 0 0 0 0 0 0.0 0.0 0.0
10 Kepulauan Riau 9 8 17 9 8 17 100.0 100.0 100.0 4 9 13 4 9 13 100.0 100.0 100.0 4 6 10 4 6 10 100.0 100.0 100.0
11 Nusa Tenggara Barat 14 4 18 8 4 12 57.1 100.0 66.7 14 4 18 11 4 15 78.6 100.0 83.3 8 5 13 8 3 11 100.0 60.0 84.6
12 Nusa Tenggara Timur 14 73 87 13 72 85 92.9 98.6 97.7 12 54 66 8 54 62 66.7 100.0 93.9 7 60 67 6 58 64 85.7 96.7 95.5
13 Kalimantan Barat 21 24 45 8 19 27 38.1 79.2 60.0 11 21 32 6 21 27 54.5 100.0 84.4 9 23 32 9 23 32 100.0 100.0 100.0
14 Kalimantan Tengah 20 17 37 9 14 23 45.0 82.4 62.2 23 26 49 6 26 32 26.1 100.0 65.3 16 13 29 11 13 24 68.8 100.0 82.8
15 Kalimantan Selatan 28 18 46 14 18 32 50.0 100.0 69.6 21 7 28 9 7 16 42.9 100.0 57.1 14 9 23 13 9 22 92.9 100.0 95.7
16 Kalimantan Timur 19 15 34 14 15 29 73.7 100.0 85.3 11 5 16 9 5 14 81.8 100.0 87.5 13 8 21 13 8 21 100.0 100.0 100.0
17 Sulawesi Utara 27 4 31 13 4 17 48.1 100.0 54.8 35 21 56 11 21 32 31.4 100.0 57.1 35 7 42 19 7 26 54.3 100.0 61.9
18 Sulawesi Tengah 12 25 37 1 25 26 8.3 100.0 70.3 16 20 36 7 19 26 43.8 95.0 72.2 10 17 27 2 10 12 20.0 58.8 44.4
19 Sulawesi Selatan 16 7 23 12 7 19 75.0 100.0 82.6 19 5 24 12 5 17 63.2 100.0 70.8 24 3 27 16 3 19 66.7 100.0 70.4
20 Sulawesi Tenggara 17 46 63 6 45 51 35.3 97.8 81.0 12 21 33 7 21 28 58.3 100.0 84.8 10 37 47 7 37 44 70.0 100.0 93.6
21 Gorontalo 16 15 31 1 15 16 6.3 100.0 51.6 10 9 19 5 9 14 50.0 100.0 73.7 13 9 22 3 9 12 23.1 100.0 54.5
22 Sulawesi Barat 8 10 18 3 10 13 37.5 100.0 72.2 11 6 17 4 6 10 36.4 100.0 58.8 3 5 8 3 5 8 100.0 100.0 100.0
23 Maluku 0 39 39 0 37 37 0.0 94.9 94.9 6 45 51 6 43 49 100.0 95.6 96.1 2 36 38 1 36 37 50.0 100.0 97.4
24 Maluku Utara 15 12 27 3 12 15 20.0 100.0 55.6 3 23 26 3 23 26 100.0 100.0 100.0 5 22 27 5 22 27 100.0 100.0 100.0
25 Papua Barat 6 41 47 3 41 44 50.0 100.0 93.6 0 5 5 0 5 5 0.0 100.0 100.0 2 37 39 2 37 39 100.0 100.0 100.0
26 Papua 30 99 129 10 89 99 33.3 89.9 76.7 8 34 42 2 34 36 25.0 100.0 85.7 10 60 70 3 37 40 30.0 61.7 57.1
425 475 900 288 460 748 67.8% 96.8 83.1 368 335 703 268 332 600 72.8 99.1 85.3 320 342 662 262 331 593 81.875 96.78363 89.57704
Sumber : Biro Kepegawaian, Kemenkes, 2010
Jumlah
Kriteria
Jumlah
Kriteria
Jumlah Jumlah
Kriteria
Jumlah
Kriteria
Persentase
Kriteria
Jumlah
Kriteria
Jumlah
Kriteria
Jumlah
Kriteria
Jumlah
Kriteria
Jumlah
REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER UMUM PTT
TAHUN 2009
No Provinsi
April Juni September
Persentase Kebutuhan Kebutuhan Realisasi Kebutuhan Realisasi Realisasi Persentase
Lampiran 5.38
T ST T ST T ST T ST T ST T ST T ST T ST T ST
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28) (29)
1 Aceh 44 37 81 3 12 15 0,1 0,3 0,2 30 22 52 3 11 14 0,1 0,5 0,3 21 25 46 2 16 18 0,1 0,6 0,4
2 Sumatera Utara 15 9 24 4 6 10 0,3 0,7 0,4 20 2 22 9 2 11 0,5 1,0 0,5 17 0 17 6 0 6 0,4 0,4
3 Sumatera Barat 21 13 34 2 7 9 0,1 0,5 0,3 29 16 45 2 16 18 0,1 1,0 0,4 15 4 19 6 2 8 0,4 0,5 0,4
4 Riau 15 3 18 9 3 12 0,6 1,0 0,7 6 3 9 1 3 4 0,2 1,0 0,4 3 4 7 2 4 6 0,7 1,0 0,9
5 J ambi 12 0 12 1 0 1 0,1 0,1 21 11 32 0 5 5 0,0 0,5 0,2 20 4 24 3 3 6 0,2 0,8 0,3
6 Sumatera Selatan 11 2 13 4 2 6 0,4 1,0 0,5 5 0 5 0 0 0 0,0 0,0 5 2 7 1 2 3 0,2 1,0 0,4
7 Bengkulu 26 11 37 0 5 5 0,0 0,5 0,1 27 11 38 0 3 3 0,0 0,3 0,1 14 10 24 1 6 7 0,1 0,6 0,3
8 Lampung 28 3 31 2 3 5 0,1 1,0 0,2 28 1 29 2 1 3 0,1 1,0 0,1 13 0 13 6 0 6 0,5 0,5
9 Kepulauan Bangka Belitung 3 2 5 0 2 2 0,0 1,0 0,4 2 1 3 2 1 3 1,0 1,0 1,0 0 0 0 0 0 0
10 Kepulauan Riau 5 5 10 2 5 7 0,4 1,0 0,7 9 3 12 4 3 7 0,4 1,0 0,6 7 2 9 4 2 6 0,6 1,0 0,7
11 Nusa Tenggara Barat 14 4 18 2 4 6 0,1 1,0 0,3 17 2 19 4 1 5 0,2 0,5 0,3 4 0 4 0 0 0 0,0 0,0
12 Nusa Tenggara Timur 16 72 88 1 26 27 0,1 0,4 0,3 15 54 69 0 21 21 0,0 0,4 0,3 8 41 49 1 21 22 0,1 0,5 0,4
13 Kalimantan Barat 13 15 28 0 9 9 0,0 0,6 0,3 20 11 31 0 4 4 0,0 0,4 0,1 13 12 25 0 4 4 0,0 0,3 0,2
14 Kalimantan Tengah 21 22 43 0 6 6 0,0 0,3 0,1 35 30 65 0 7 7 0,0 0,2 0,1 8 12 20 1 2 3 0,1 0,2 0,2
15 Kalimantan Selatan 34 7 41 4 4 8 0,1 0,6 0,2 30 7 37 0 7 7 0,0 1,0 0,2 7 7 14 2 5 7 0,3 0,7 0,5
16 Kalimantan Timur 19 18 37 4 8 12 0,2 0,4 0,3 21 9 30 0 5 5 0,0 0,6 0,2 12 12 24 5 8 13 0,4 0,7 0,5
17 Sulawesi Utara 22 4 26 1 1 2 0,0 0,3 0,1 9 5 14 0 0 0 0,0 0,0 0,0 9 4 13 1 0 1 0,1 0,0 0,1
18 Sulawesi Tengah 16 26 42 0 5 5 0,0 0,2 0,1 8 10 18 0 2 2 0,0 0,2 0,1 9 16 25 0 7 7 0,0 0,4 0,3
19 Sulawesi Selatan 14 4 18 7 4 11 0,5 1,0 0,6 23 1 24 8 1 9 0,3 1,0 0,4 16 5 21 8 4 12 0,5 0,8 0,6
20 Sulawesi Tenggara 11 31 42 1 13 14 0,1 0,4 0,3 3 4 7 0 3 3 0,0 0,8 0,4 6 21 27 1 11 12 0,2 0,5 0,4
21 Gorontalo 14 8 22 0 3 3 0,0 0,4 0,1 20 7 27 0 6 6 0,0 0,9 0,2 6 8 14 1 2 3 0,2 0,3 0,2
22 Sulawesi Barat 6 6 12 1 5 6 0,2 0,8 0,5 3 6 9 1 4 5 0,3 0,7 0,6 2 4 6 2 2 4 1,0 0,5 0,7
23 Maluku 0 40 40 0 23 23 0,6 0,6 0 40 40 0 18 18 0,5 0,5 0 9 9 0 9 9 1,0 1,0
24 Maluku Utara 6 5 11 0 3 3 0,0 0,6 0,3 4 6 10 0 2 2 0,0 0,3 0,2 2 10 12 0 7 7 0,0 0,7 0,6
25 Papua Barat 0 13 13 0 9 9 0,7 0,7 0 0 0 0 0 0 2 13 15 0 4 4 0,0 0,3 0,3
26 Papua 18 14 32 3 4 7 0,2 0,3 0,2 5 13 18 0 5 5 0,0 0,4 0,3 3 18 21 0 1 1 0,0 0,1 0,0
386 360 746 48 168 216 12,4 46,7 29,0 385 262 647 36 126 162 9,4 48,1 25,0 219 225 444 53 121 174 24,2 53,8 39,2
Sumber : Biro Kepegawaian, Kemenkes, 2010
September
Kebutuhan Persentase Kebutuhan
Jumlah
REKAPITULASI
PENGANGKATAN DOKTER GIGI PTT
TAHUN 2009
No Provinsi
April Juni
Realisasi Persentase Kebutuhan Realisasi Realisasi Persentase
Kriteria
Jumlah
Kriteria
Jumlah
Kriteria
Jumlah
Kriteria Kriteria Kriteria
Jumlah
Kriteria
Jumlah
Kriteria
Jumlah Jumlah Jumlah
Kriteria
Jumlah
Lampiran 5.39
SPESIALIS
1/2/AV
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21)
I SETJEN 0
KANTOR PUSAT 10 0,7 266 18,3 11 0,8 421 28,9 180 12,4 4 0,3 489 33,6 28 1,9 46 3,2 1455
UPT 0 0,0 7 3,0 0 0,0 110 46,4 88 37,1 0 0,0 28 11,8 2 0,8 2 0,8 237
DPK/DPB 0 0,0 711 67,6 29 2,8 40 3,8 215 20,4 11 1,0 43 4,1 3 0,3 0 0,0 1052
SUBTOTAL 10 0,4 984 35,9 40 1,5 571 20,8 483 17,6 15 0,5 560 20,4 33 1,2 48 1,7 2744
II INSPEKTORAT JENDERAL 1 0,4 123 51,3 2 0,8 75 31,3 12 5,0 0 0,0 24 10,0 2 0,8 1 0,4 240
III DITJEN BINA BINKESMAS
KANTOR PUSAT 0 0,0 152 36,0 3 0,7 134 31,8 35 8,3 1 0,2 82 19,4 7 1,7 8 1,9 422
UPT 0 0,0 86 17,7 6 1,2 84 17,3 173 35,7 1 0,2 123 25,4 8 1,6 4 0,8 485
SUBTOTAL 0 0,0 238 26,2 9 1,0 218 24,0 208 22,9 2 0,2 205 22,6 15 1,7 12 1,3 907
IV DITJEN BINA YANMED
KANTOR PUSAT 2 0,4 155 30,5 8 1,6 160 31,5 39 7,7 1 0,2 133 26,2 4 0,8 6 1,2 508
UPT 24 0,1 1734 5,6 1370 4,4 3655 11,8 11182 36,0 262 0,8 10845 34,9 1274 4,1 721 2,3 31067
SUBTOTAL 26 0,1 1889 6,0 1378 4,4 3815 12,1 11221 35,5 263 0,8 10978 34,8 1278 4,0 727 2,3 31575
V DITJEN PP DAN PL
KANTOR PUSAT 3 0,5 192 29,1 3 0,5 215 32,6 54 8,2 8 1,2 155 23,5 13 2,0 17 2,6 660
UPT 2 0,1 345 10,2 20 0,6 881 26,0 1077 31,7 127 3,7 796 23,5 76 2,2 69 2,0 3393
SUBTOTAL 5 0,1 537 13,2 23 0,6 1096 27,0 1131 27,9 135 3,3 951 23,5 89 2,2 86 2,1 4053
VI DITJEN BINA KEFARMASIAN DAN ALKES 0 0,0 108 50,2 0 0,0 35 16,3 40 18,6 0 0,0 31 14,4 1 0,5 0 0,0 215
VII BADAN PPSDM KESEHATAN
KANTOR PUSAT 0 0,0 98 18,6 1 0,2 176 33,5 51 9,7 0 0,0 149 28,3 20 3,8 31 5,9 526
UPT 14 0,2 1909 22,3 37 0,4 3120 36,5 998 11,7 51 0,6 1722 20,1 375 4,4 322 3,8 8548
SUBTOTAL 14 0,2 2007 22,1 38 0,4 3296 36,3 1049 11,6 51 0,6 1871 20,6 395 4,4 353 3,9 9074
VIII BADAN LITBANGKES
KANTOR PUSAT 30 3,7 212 26,1 8 1,0 233 28,7 66 8,1 0 0,0 202 24,9 26 3,2 35 4,3 812
UPT 1 0,2 58 13,3 0 0,0 140 32,1 116 26,6 5 1,1 78 17,9 16 3,7 22 5,0 436
SUBTOTAL 31 2,5 270 21,6 8 0,6 373 29,9 182 14,6 5 0,4 280 22,4 42 3,4 57 4,6 1248
87 0,2 6.156 12,3 1.498 3,0 9.479 18,9 14.326 28,6 471 0,9 14.900 29,8 1.855 3,7 1.284 2,6 50.056
Sumber: Biro Kepegawaian, Kemenkes, 2010
%
DISTRIBUSI PEGAWAI KEMENTERIAN KESEHATAN RI
DIRINCI MENURUT JENIS PENDIDIKAN TAHUN 2009
No Nama Satuan Organisasi
PENDIDIKAN
JUMLAH
TOTAL
D III D1 SMA S3 S2 % SD SMP % % % % S1 % % %
Lampiran 6.1
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1 Brunei Darussalam 0,4 66 75 2,1 26 70 4 43 50.200
2 Filipina 92,2 307 65 1,9 35 61 4 64 3.900
3 Kamboja 14,8 82 22 1,7 35 62 3 61 1.820
4 Laos 6,3 27 31 1,8 39 57 4 75 2.060
5 Malaysia 28,3 86 70 2,0 32 64 4 56 13.740
6 Singapura 5,1 7.486 100 1,9 18 73 9 37 47.940
7 Vietnam 87,3 263 28 1,3 26 67 7 49 2.700
8 Indonesia 243.3 * 128 52 1,3 29 65 6 54 3.830
9 Myanmar 50,0 74 33 0,8 27 68 5 47 1.290
10 Thailand 67,8 132 33 0,9 22 71 7 41 5.990
11 Bangladesh 162,2 1.127 27 1,6 32 64 4 56 1.440
12 Bhutan 0,7 15 35 2,6 32 63 5 59 4.880
13 India 1171,0 356 29 1,6 32 63 5 59 2.960
14 Korea Utara 22,7 188 63 0,6 22 69 9 45 -
15 Maladewa 0,3 1.057 38 1,5 30 65 5 54 5.280
16 Nepal 27,5 187 17 2,1 37 59 4 69 1.120
17 Sri Lanka 20,5 312 15 0,8 26 67 7 49 4.480
18 Timor Leste 1,1 76 27 2,9 45 52 3 92 4.690
Sumber : - World Population Data Sheet, USAID, 2009
- The State of The Worlds Children, 2010 : Laju pertumbuhan penduduk
Ket: *) pada data BPS, jumlah penduduk Indonesia tahun 2009 adalah 231,4 juta jiwa
Angka Beban
Tanggungan
(%)
GNI PPP per
kapita (US$)
Tahun 2008
PERBANDINGAN BEBERAPA DATA KEPENDUDUKAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
No Negara
Laju
Pertumbuhan
Penduduk
1998-2008
(%)
TAHUN 2009
Jumlah
Penduduk
(Juta Jiwa)
Kepadatan
Penduduk
(per Km²)
Persentase
Penduduk di
Daerah
Perkotaan
Persentase
Penduduk Usia
0-14 Tahun
Persentase
Penduduk Usia
15 - 64 Tahun
Persentase
Penduduk Usia
65 Tahun Ke
Atas
Lampiran 6.2
L P L+P L P L+P L P L+P
2005
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19)
1 Brunei Darussalam 30 0,919 30 0,920 75 77 76 2,1 16 3 5 6 5 6 7 7 13
2 Filipina 105 0,747 105 0,751 67 74 70 3,1 26 5 30 22 26 38 27 30 230
3 Kamboja 137 0,584 137 0,593 59 64 62 2,9 25 8 76 62 69 97 82 89 540
4 Laos 133 0,613 132 0,619 61 63 62 3,5 28 7 53 41 48 65 58 61 660
5 Malaysia 66 0,825 66 0,829 71 76 73 2.6 21 5 7 5 6 7 6 6 62
6 Singapura 23 0,942 24 0,944 79 83 81 1,3 10 4 3 2 2 3 2 3 14
7 Vietnam 116 0,72 115 0,725 70 75 73 2,1 17 5 12 12 12 14 13 14 150
8 Indonesia 111 0,729 111 0,734 66 69 67 * 2,2 21 6 34 28 31 * 44 37 41 * 420 *
9 Myanmar 138 0,584 138 0,586 53 56 54 2,3 21 10 85 66 76 133 111 122 380
10 Thailand 86 0,783 87 0,78 66 74 70 1,8 15 9 14 11 13 16 12 14 110
11 Bangladesh 146 0,535 148 0,543 64 65 65 2,3 23 7 45 40 43 56 53 54 570
12 Bhutan 132 0,608 133 0,619 61 65 63 2,6 25 8 58 49 54 87 75 81 440
13 India 134 0,604 134 0,612 63 66 64 2,7 23 7 52 53 52 65 73 69 450
14 Korea Utara - - - - 65 69 67 1,9 16 10 43 41 42 57 53 55 370
15 Maladewa 97 0,765 95 0,771 73 75 74 2,0 22 4 27 21 24 30 25 28 120
16 Nepal 144 0,547 144 0,553 63 64 63 2,9 29 9 41 41 41 52 51 51 830
17 Sri Lanka 102 0,755 102 0,759 63 76 69 2,3 19 7 15 12 13 19 15 17 58
18 Timor Leste 162 0,484 162 0,489 59 64 62 6,5 40 9 84 65 75 105 80 93 380
Sumber : - World Population Data Sheet, USAID, 2009
- Human Development Report 2009: Indeks Pembangunan Manusia
- World Health Statistics 2010 WHO: AKABA, Angka kematian maternal
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
2007
Peringkat IPM
dunia
Peringkat
IPM dunia
Indeks
Pembangunan
Manusia
2006
Angka Kematian Bayi
(AKB)
2008
ANGKA KELAHIRAN, ANGKA KEMATIAN, DAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
Angka Kematian
Maternal (per 100.000
lahir hidup)
Usia Harapan Hidup Waktu
Lahir
Angka Kematian Balita
(AKABA)
Indeks
Pembangunan
Manusia
Total Fertility
Rate (TFR)
Angka Kelahiran
Kasar per 1000
Penduduk
Angka Kematian
Kasar per 1000
Penduduk
No Negara
Lampiran 6.3
Perkotaan Perdesaan Total Perkotaan Perdesaan Total
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Brunei Darussalam
- - - - - -
2 Filipina
93 87 91 80 69 76
3 Kamboja
81 56 61 67 18 29
4 Laos
72 51 57 86 38 53
5 Malaysia
100 99 100 96 95 96
6 Singapura
100 - 100 100 - 100
7 Vietnam
99 92 94 94 67 75
8 Indonesia
89 71 80 67 36 52
9 Myanmar
75 69 71 86 79 81
10 Thailand
99 98 98 95 96 96
11 Bangladesh
85 78 80 56 52 53
12 Bhutan
99 88 92 87 54 65
13 India
96 84 88 54 21 31
14 Korea Utara
100 100 100 - - -
15 Maladewa
99 86 91 100 96 98
16 Nepal
93 87 88 51 27 31
17 Sri Lanka
98 88 90 88 92 91
18 Timor Leste
86 63 69 76 40 50
Sumber : World Health Statistics 2010, WHO
PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SUMBER AIR BERSIH DAN YANG MENGGUNAKAN SARANA SANITASI SEHAT
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008
(%) Penduduk
Yang Menggunakan Sumber Air Bersih
(%) Penduduk
Yang Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat
No Negara
Lampiran 6.4
Case Detection Rate Succes Rate
2007 2008 2008 2007
(1) (2) (3) (4) (6) (7) (8) (9)
1 Brunei Darussalam 43 65 7 4,2 87 76
2 Filipina 550 280 41 52 67 89
3 Kamboja 680 490 77 79 56 94
4 Laos 260 150 22 32 67 92
5 Malaysia 120 100 13 15 76 72
6 Singapura 27 39 3 2,5 87 81
7 Vietnam 280 200 20 34 62 92
8 Indonesia 210 190 37 27 80 91
9 Myanmar 470 400 11 57 43 85
10 Thailand 160 140 15 19 64 83
11 Bangladesh 410 220 44 50 72 62
12 Bhutan 96 160 43 15 64 93
13 India 190 170 26 23 70 87
14 Korea Utara 270 340 65 39 70 87
15 Maladewa 13 42 4 2,9 86 68
16 Nepal 170 160 22 22 64 88
17 Sri Lanka 73 66 8 9,6 73 86
18 Timor Leste 660 500 47 83 33 84
Sumber : World Health Statistics 2010, WHO
Keterangan : - CDR =Case Detection Rate (Penemuan kasus baru)
- SR = Succes Rate (Angka kesembuhan)
No
PERBANDINGAN DATA TUBERKULOSIS DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2007/2008
Prevalensi TB Paru
per 100.000 Penduduk
Insidens TB Paru
per 100.000 Penduduk
Proporsi Kasus TB Paru melalui DOTS
2008
Negara
Kematian yang berhubungan dengan TB Paru per
100.000 Penduduk
Lampiran 6.5
Estimasi
(estimasi rendah –
estimasi tinggi)
Estimasi
(estimasi rendah –
estimasi tinggi)
Estimasi
(estimasi rendah –
estimasi tinggi)
Estimasi
(estimasi rendah –
estimasi tinggi)
Estimasi
(estimasi rendah –
estimasi tinggi)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
1 Brunei Darussalam … … … … … … … … … …
2 Filipina 8.300 [ 6.000 - 11.000 ] 8.200 [ 5.900 - 11.000 ] … [ <0.1 ] 2.200 [ 1.600 - 3.100 ] <200 [ <100 - <500 ]
3 Kamboja 75.000 [ 67.000 - 84.000 ] 70.000 [ 63.000 - 80.000 ] 0,8 [ 0,7 - 0,9 ] 20.000 [ 17.000 - 23.000 ] … …
4 Laos 5.500 [ 3.300 - 13.000 ] 5.400 [ 3.300 - 13.000 ] 0,2 [ 0,1 - 0,4 ] 1 300 [ <1.000 - 3.100 ] <100 [ <200 ]
5 Malaysia 80.000 [ 52.000 - 120.000 ] 79.000 [ 51.000 - 120.000] 0,5 [ 0,3 - 0,8 ] 21.000 [ 13.000 - 34.000 ] 3.100 [ 2.100 - 4.500 ]
6 Singapura 4.200 [ 2.600 - 7.300 ] 4.100 [ 2.500 - 7.200 ] 0,2 [ 0,1 - 0,3 ] 1.200 [ <1.000 - 2.100] <200 [ <100 - <500 ]
7 Vietnam 290.000 [ 180.000 - 470.000 ] 280.000 [ 170.000 - 470.000] 0,5 [ 0,3 - 0,9 ] 76.000 [ 46.000 - 120.000 ] 20.000 [ 12.000 - 33.000 ]
8 Indonesia 270.000 [ 190.000 - 400.000 ] 270.000 [ 190.000 - 400.000 ] 0,2 [ 0,1 - 0,3 ] 54.000 [ 36.000 - 87.000 ] 8.700 [ 4.900 - 13.000 ]
9 Myanmar 240.000 [ 160.000 - 370.000 ] 240.000 [ 150.000 - 360.000 ] … … … … … …
10 Thailand 610.000 [ 410.000 - 880.000 ] 600.000 [ 400.000 - 860.00 ] 1,4 [ 0,9 - 2,1 ] 250.000 [ 170.000 - 360.000 ] … …
11 Bangladesh 12.000 [ 7.700 - 19.000 ] 12.000 [ 7.600 - 19.000 ] … [ <0,1 ] 2.000 [ 1.200 - 3.400 ] <500 [ <1000 ]
12 Bhutan <500 [ <1000 ] <500 [ <1000 ] 0,1 [ <0,1 - 0,2 ] <100 [ <200 ] … [ <100 ]
13 India 2.400.000 [ 1.800.000 - 3.200.000 ] 2.300.000 1.700.000 - 3.100.000 ] 0,3 [ 0,2 - 0,5 ] 880.000 [ 670.000 - 1.200.000 ] … …
14 Korea Utara … [ <100 ] … [ <100 ] … [ <0,1 ] … [ <100 ] … [ <100 ]
15 Maladewa … [ <100 ] … [ <100 ] … [ <0,1 ] … [ <100 ] … [ <100 ]
16 Nepal 70.000 [ 50.000 - 99.000 ] 68.000 [ 49.000 - 97.000 ] 0,5 [ 0,4 - 0,7 ] 17.000 [ 12.000 - 25.000 ] 4.900 [ 3.400 - 7.300 ]
17 Sri Lanka 3.800 [ 2.800 - 5.100 ] 3.700 [ 2.800 - 5.000 ] … [ <0,1 ] 1.400 [ 1.000 - 1.800 ] … <500
18 Timor Leste … … … … … … … … … …
Sumber: 2008 Report on the global AIDS epidemic, UNAIDS/WHO
1. Angka Estimasi HIV
Dewasa dan Anak-anak
TAHUN 2007
2. Kematian Akibat AIDS
ANGKA ESTIMASI HIV DAN AIDS DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
Dewasa dan Anak-anak Dewasa (15+) Dewasa (15–49) Rate (%) Wanita (15+)
No Negara
Lampiran 6.6
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Brunei Darussalam 0 2 0 0 3 0
2 Filipina 65 46 813 132 341 0
3 Kamboja 7 1212 324 34 4211 0
4 Laos 2 26 12 5 174 0
5 Malaysia 4 11 29 13 334 0
6 Singapura 0 33 0 0 18 0
7 Vietnam 17 280 221 34 352 0
8 Indonesia 219 - 183 183 15.369 0
9 Myanmar 3 5 147 25 333 0
10 Thailand 7 18 137 5 7.016 0
11 Bangladesh 43 33 943 152 2.660 0
12 Bhutan 0 0 7 0 7 0
13 India 6.081 44.180 3.714 811 48.181 559
14 Korea Utara 0 395 0 0 82 0
15 Maladewa 0 0 0 0 0 0
16 Nepal 149 2.297 308 53 2.089 6
17 Sri Lanka 0 9 29 1 33 0
18 Timor Leste 0 0 9 1 0 0
324 1.633 1.866 431 28.151 0
6.502 46.937 5.477 1.231 75.770 565
Sumber : WHO vaccine - preventable diseases: monitoring system, 2009
Campak Polio
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
Tetanus
Neonatorum
A S E A N
S E A R O
JUMLAH KASUS PENYAKIT MENULAR YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI
TAHUN 2008
Difteri Tetanus No Negara Pertusis
Lampiran 6.7
No Negara BCG (%) DPT3 (%) Polio3 (%) Campak (%) Hepatitis B3 (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Brunei Darussalam 96 99 99 97 99
2 Filipina 93 91 91 92 88
3 Kamboja 98 91 91 89 91
4 Laos 68 61 60 52 61
5 Malaysia 90 90 90 95 90
6 Singapura 99 97 97 95 96
7 Vietnam 92 93 93 92 87
8 Indonesia 89 77 77 83 78
9 Myanmar 88 85 85 82 84
10 Thailand 99 99 99 98 98
11 Bangladesh 98 95 95 89 95
12 Bhutan 99 96 96 99 96
13 India 87 66 67 70 21
14 Korea Utara 97 92 98 98 92
15 Maladewa 99 98 98 97 98
16 Nepal 87 82 82 79 82
17 Sri Lanka 99 98 98 98 98
18 Timor Leste 85 79 79 73 79
Sumber : WHO Immunization Summary, 2010: A Statistical Reference Containing Data through 2008
PERBANDINGAN CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI
DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008
Persentase KB aktif pada PUS
Pemeriksaan antenatal (4
kali)
Persalinan oleh tenaga
kesehatan
Anak dengan ASI eksklusif (6
bulan)
2009 2000 - 2009 2000 - 2008 2000 - 2009
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Brunei Darussalam - - 100 -
2 Filipina 34 78 62 34
3 Kamboja 27 27 44 66
4 Laos 29 - 20 26
5 Malaysia - - 100 -
6 Singapura 55 - 100 -
7 Vietnam 68 29 88 17
8 Indonesia 57 81 73 32
9 Myanmar 33 66 57 11
10 Thailand 70 74 99 5
11 Bangladesh 48 21 18 43
12 Bhutan 31 - 51 10
13 India 49 37 47 46
14 Korea Utara 58 95 97 65
15 Maladewa 34 91 84 10
16 Nepal 44 29 19 53
17 Sri Lanka 53 - 99 76
18 Timor Leste 9 30 19 31
Sumber : - World Health Statistics 2010, WHO
- World Population Data Sheet, USAID, 2009 : Persentase KB aktif
No Negara
Lampiran 6.8
PERBANDINGAN UPAYA KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2000 - 2009
No Negara
Persentase Keseluruhan
Pengeluaran di Bidang
Kesehatan terhadap Produk
Domestik Bruto
Persentase Pengeluaran
Pemerintah di Bidang
Kesehatan terhadap
Seluruh Pengeluaran di
Bidang Kesehatan
Persentase Pengeluaran
Sektor Swasta di Bidang
Kesehatan terhadap
Seluruh Pengeluaran di
Bidang Kesehatan
Persentase Pengeluaran
Pemerintah di Bidang
Kesehatan terhadap
Seluruh Pengeluaran
Pemerintah
Pengeluaran per Kapita di
Bidang Kesehatan Oleh
Pemerintah (PPP int. $)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Brunei Darussalam 2,4 81,5 18,5 6,7 958
2 Filipina 3,9 34,7 65,3 6,7 45
3 Kamboja 5,9 29 71 11,2 31
4 Laos 4 18,9 81,1 3,7 16
5 Malaysia 4,4 44,4 55,6 6,9 268
6 Singapura 3,1 32,6 67,4 7,2 536
7 Vietnam 7,1 39,3 60,7 8,7 72
8 Indonesia 2,2 54,5 45,5 6,2 44
9 Myanmar 1,9 11,7 88,3 0,9 2
10 Thailand 3,7 73,2 26,8 13,1 209
11 Bangladesh 3,4 33,6 66,4 8 14
12 Bhutan 4,1 80,3 19,7 10,7 151
13 India 4,1 26,2 73,8 3,7 29
14 Korea Utara - - - - -
15 Maladewa 9,8 65,4 34,6 10,5 336
16 Nepal 5,1 39,7 60,3 10,9 21
17 Sri Lanka 4,2 47,5 52,5 8,5 85
18 Timor Leste 13,6 84,6 15,4 14,9 98
Sumber : World Health Statistics 2010, WHO
PEMBIAYAAN KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO
TAHUN 2007
Lampiran 6.9

ISBN 978-602-8937-18-4 351.770212 Ind P

PROFIL KESEHATAN INDONESIA 2009

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I. JAKARTA 2010

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->