ISBN 978-602-8937-18-4
351.770212
Ind
P

PROFIL
KESEHATAN INDONESIA
2009

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.
JAKARTA
2010

Katalog Dalam Terbitan Kementerian Kesehatan RI
Ind

P

Indonesia. Kementerian Kesehatan. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi
Profil Kesehatan Indonesia 2009. - - Jakarta :
Kementerian Kesehatan RI 2010
I. Judul

1. PROFIL KESEHATAN INDONESIA 2009

ISBN 978-602-8937-18-4
351.770212
Ind
P

Buku ini diterbitkan oleh
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jalan HR. Rasuna Said Blok X-5 Kav 4-9, Jakarta 12950
Telepon no: 62-21-5229590, 5221432
Fax no: 62-21-5203874
E-mail: pusdatin@depkes .go.id
Web site: http://www.depkes.go.id
________________________________________________________________________

TIM PENYUSUN

Pengarah
dr. Ratna Rosita, MPH.M
Sekretaris Jenderal Kemenkes RI
Ketua
dr. Jane Soepardi
Kepala Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi
Editor
Hasnawati, SKM, MKes
drg. Vensya Sitohang, MEpid
Dra. Rahmaniar Brahim, Apt, MKes
Anggota
Sunaryadi, SKM,MKes; Iskandar Zulkarnain, SKM,MKes; Nuning Kurniasih, Apt,MSi;
Marlina Indah Susanti, SKM; Supriyono Pangribowo, SKM; Istiqomah, SS;
Athi Susilowati Rois, SKM; drg. Rudi Kurniawan, MKes; Margiyono, SKom;
Muslichatul Hidayah, Hanna Endang Wahyuni; Endang Kustanti; B.B. Sigit;
Sondang Tambunan; Hellena Maslinda; Doni Hadhi Kurnianto, SKom
Kontributor
dr. Leni Evanita; Lina Khasanah; dr. Rusmiyati, MQIH; Indah Susanti D,SSi,Apt;
dr. Lucas C Hermawan, MKes; Ingrat Padmosari; Mahmud Fauzi, SKM,MKes;
Linda Siti Rohaeti; drg. R. Edi Setiawan: Akhmad Rizky Taufik, SKom;
Ir. Ade Sutrisno,MKes; Astuti, SKM,MKes; dr. Theresia Hermin; Bunga Mayung DL ;
Dewi Minarni; Cipto Aris Purnomo; Indah Hartati; Heri Radison, SKM,MKM;
Nariyah Handayani; Ainol Mardhiah; Yopi Ananda; Anggi Ardhiasti, SKM;
Ira Oktaviani; Nelly Mustika Sari, SKM; Nurhayati Simanjuntak, SKom

.

juga memuat kejadian-kejadian penting yang terjadi pada tahun 2009. misal: Rencana lima tahun pembangunan kesehatan. analisis kecenderungan. dll). pictogram. analisis hubungan Profil kesehatan harus menarik. Data dan Informasi dalam “Profil Kesehatan Indonesia 2009” merupakan salah satu wujud akuntabilitas dari kinerja Kementerian Kesehatan yang mencerminkan Pembangunan Kesehatan secara menyeluruh. tetapi juga analisis komparatif. seperti profil kesehatan pada tahun sebelumnya. disamakan dengan tahun dari data dan informasi yang disajikan. Penyajian dalam “Profil Kesehatan Indonesia 2009” ini masih terdapat keterbatasan karena ada beberapa indikator masih memuat data beberapa tahun ke belakang. yang menggambarkan “potret” status kesehatan masyarakat dan faktor faktor yang mempengaruhi. baik narasi maupun lampiran. termasuk kontribusi dari hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007 yang diselenggarakan Balitbangkes Depkes. baik jenis dan cakupannya. bar diagram. narasi dikombinasi dengan bentuk-bentuk penyajian lain. Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2009 ini. grafik – histogram/bar chart. Profil kesehatan Tahun 2009 ini diupayakan disusun dengan tampilan yang lebih menarik. dimana analisis/narasi menggunakan model/kerangka teori yaitu teori blum/teori host-environment-agent/teori lain. Jenis data adalah data “facility based” dan data “community based”. frekuensi poligon. dan “eye-catching” dan bertujuan memudahkan para pembaca dalam menggunakannya. serta perbandingan Indonesia dengan negara-negara anggota ASEAN dan SEARO. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi sebagai koordinator Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia bersama-sama dengan seluruh program terkait di Kementerian Kesehatan berupaya menyusun bersama-sama. maka seperti profil kesehatan sebelumnya. Sebagai bentuk penyajian. yang berasal dari kabupaten/kota. Tahun yang terdapat dalam judul profil kesehatan. Jika digunakan sebagai pemantau maka profil merupakan pemantauan rencana jangka panjang. Profil kesehatan sebagai “potret”saat ini lebih dinilai sebagai alat evaluasi daripada sebagai alat pemantauan. Analisis diupayakan semaksimal mungkin. Profil Kesehatan Indonesia 2009” ini selain memuat data dan informasi kesehatan dan faktor-faktor lain yang terkait. sumber daya kesehatan. pie diagram. data diupayakan lengkap. scater diagram. juga data yang berasal dari program. seperti tabel. Dalam Profil Kesehatan Indonesia ini menggambarkan secara umum tentang kondisi derajat kesehatan. upaya kesehatan. file di website. dan peta. i . Profil Kesehatan Indonesia harus tersusun secara sistematis. dan faktor-faktor terkait lainnya. dalam satu kurun waktu tertentu dalam hal ini tahunan dengan berbagai bentuk: tercetak dan digital (cd-rom. dari suatu wilayah/Indonesia.D KATA PENGANTAR Profil Kesehatan Indonesia merupakan sarana penyaji data dan informasi kesehatan serta yang berkaitan. line diagram. Beberapa data dan informasi tahun 2009 yang belum terdapat dalam Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini akan disajikan dalam bentuk sajian lain. data sarana pelayanan kesehatan yang merupakan hasil pengolahan data oleh Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi. misalnya data dan informasi terplih lainnya. sumber data berasal dari profil provinsi. tidak hanya deskriptif.

.

.

iv .

Perbaikan Gizi Masyarakat E. Mortalitas B. Pelayanan Kesehatan dalam Situasi Bencana 58 59 83 88 106 115 BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN A. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit D. Keadaan Penduduk B. Pembiayaan Kesehatan 117 118 133 137 v . Morbiditas 26 27 33 BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN A. Keadaan Ekonomi C. Pelayanan Kesehatan Dasar B. Keadaan Lingkungan E.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i SAMBUTAN SEKRETARIS JENDERAL iii DAFTAR ISI v DAFTAR LAMPIRAN vii BAB I PENDAHULUAN 1 BAB II GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK A. Keadaan Pendidikan D. Pelayanan Kesehatan Rujukan C. Sarana Kesehatan B. Tenaga Kesehatan C. Keadaan Perilaku Masyarakat 5 6 9 14 19 24 BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN A.

Kependudukan B. Upaya Kesehatan DAFTAR PUSTAKA 143 144 154 164 170 LAMPIRAN *** vi . Derajat Kesehatan C.BAB VI PERBANDINGAN INDONESIA DENGAN NEGARA ANGGOTA ASEAN DAN SEARO A.

16 Lampiran 2.2009 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Provinsi dan Usia Sekolah Tahun 2008 .18 Pembagian Wilayah Administrasi Pemerintahan Menurut Provinsi Tahun 2009 Hasil Sensus Penduduk 2010 dan Rasio Jenis Kelamin Menurut Provinsi Tahun 2010 Luas Wilayah.3 Lampiran 2. Angka Beban Tanggungan dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Daerah Tertinggal Menurut Provinsi Tahun 2006 – 2010 Garis Kemiskinan Menurut Provinsi dan Daerah Tahun 2009 (Maret 2009) Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Provinsi dan Daerah Tahun 2009 Angka Melek Huruf Penduduk Berusia 15 Tahun Ke Atas Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2008 .5 Lampiran 2.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 2.6 Lampiran 2.12 Lampiran 2.17 Lampiran 2.1 Lampiran 2.2 Lampiran 2.9 Lampiran 2.7 Lampiran 2.2010 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Tertentu.14 Lampiran 2.4 Lampiran 2.2009 Persentase Keluarga Menurut Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Penduduk dengan Akses terhadap Air Minum yang Aman Menurut Provinsi dan Wilayah Tahun 2009 Persentase Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Penduduk dengan Akses Sanitasi Dasar yang Layak Menurut Provinsi dan Wilayah Tahun 2009 Persentase Rumah Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Institusi Dibina kesehatan Lingkungannya Menurut Provinsi Tahun 2009 vii .10 Lampiran 2.2009 Rata-rata Lama Sekolah (Tahun) Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2008 .8 Lampiran 2.13 Lampiran 2.11 Lampiran 2.15 Lampiran 2. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Provinsi Tahun 2009 Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi Tahun 1971 .

Meninggal.18 Lampiran 3.2 Lampiran 3.13 Lampiran 3.8 Lampiran 3. Meninggal.21 Lampiran 3.12 Lampiran 3.9 Lampiran 3.6 Lampiran 3.3 Lampiran 3.15 Lampiran 3.20 Lampiran 2. Angka Kematian Balita Tahun 2007 dan Angka Harapan Hidup Menurut Provinsi Tahun 2008 Indeks Pembangunan Manusia dan Komponen Menurut Provinsi Tahun 2007 .14 Lampiran 3.2008 10 Besar Penyakit Rawat Inap di Rumah Sakit Tahun 2009 10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2009 Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Malaria Menurut Provinsi Tahun 2009 Annual Parasite Incidence (API) Malaria di Jawa-Bali Tahun 2004 2009 Hasil Cakupan Penemuan Kasus Penyakit TB Paru Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru TB Paru BTA Positif Menurut Kelompok Umur (Tahun). dan Incidence Rate Campak Menurut Provinsi Tahun 2009 viii .d 31 Desember 2009 Jumlah Kasus Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Baru Kusta.4 Lampiran 3.7 Lampiran 3. Jenis Kelamin dan Provinsi Tahun 2009 Hasil Cakupan Pengobatan TB Paru Menurut Provinsi Tahun 2008 Jumlah Kumulatif Kasus AIDS.19 Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Rumah Tangga Ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Wanita Umur Perkawinan Pertama Menurut Provinsi Tahun 2009 Estimasi Angka Kematian Bayi.19 Lampiran 2.16 Lampiran 3.5 Lampiran 3.1 Lampiran 3.10 Lampiran 3.000 Penduduk Menurut Provinsi s.11 Lampiran 3. Case Detection Rate (CDR). Kecacatan.d Desember 2009 Jumlah Kasus AIDS Kumulatif Per Triwulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Kasus AIDS Pada Pengguna NAPZA Suntikan (IDU) Menurut Provinsi s. dan Angka Kumulatif Kasus Per 100.17 Lampiran 3.Lampiran 2. dan Proporsi Kasus pada Anak Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Tetanus Neonatorum dan Faktor Risiko Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Campak Per Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Campak Menurut Kelompok Umur dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus.

2009 Jumlah Kasus dan Meninggal Flu Burung Menurut Provinsi Tahun 2005 .34 Lampiran 3.21 Lampiran 3.4 Lampiran 4.28 Lampiran 3. dan Murid SD Kelas 1 dan Sederajat Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Penanganan Neonatal dan Obstetri Komplikasi Menurut Provinsi Tahun 2009 ix .Lampiran 3.20 Lampiran 3.2009 Situasi Pes Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus.35 Lampiran 4. K4. Pelayanan Kesehatan Bayi dan Anak Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi. dan Non Polio AFP Rate Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus AFP Menurut Kriteria Klasifikasi Klinis dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Penderita.29 Lampiran 3. dan Case Fatality Rate (CFR) Leptospirosis Menurut Provinsi Tahun 2004 .2009 Jumlah Kasus Demam Chikungunya Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Kabupaten Terjangkit dan Jumlah Kasus Gigitan Hewan Tertular Rabies serta Hasil Pemeriksaan Specimen Hewan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Penderita Filariasis Menurut Provinsi Tahun 2006 .25 Lampiran 3.2009 Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas. Jumlah Korban Luka dan Meninggal Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1. Case Fatality Rate (%).33 Lampiran 3. Anak Balita.30 Lampiran 3.31 Lampiran 3.2 Lampiran 4.27 Lampiran 3.24 Lampiran 3.26 Lampiran 3.32 Lampiran 3. Meninggal. AFP Rate.1 Lampiran 4.22 Lampiran 3. dan Incidence Rate Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD/DHF) Menurut Provinsi Tahun 2005 2009 Jumlah Kabupaten/Kota yang Terjangkit Demam Berdarah Dengue Menurut Provinsi Tahun 2005 – 2009 Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare Menurut Provinsi Tahun 2005 .23 Lampiran 3. dan Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Balita Menurut Penolong Kelahiran Terakhir dan Provinsi Tahun 2009 Cakupan Kunjungan Neonatus.5 Frekuensi KLB dan Jumlah Kasus pada KLB Campak Menurut Provinsi Tahun 2009 KLB Campak Berdasarkan Konfirmasi Laboratorium Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Difteri Menurut Kelompok Umur dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Difteri Per Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus AFP.3 Lampiran 4.

7 Lampiran 4.15 Lampiran 4.20 Lampiran 4.23 Lampiran 4.16 Lampiran 4.10 Lampiran 4.24 Lampiran 4.12 Lampiran 4.2009 Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Imunisasi TT pada Wanita Usia Subur Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kunjungan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Menurut Provinsi Tahun 2008 Indikator Pelayanan Rumah Sakit Umum Kemeterian Kesehatan dan Pemda Menurut Provinsi Tahun 2008 .17 Lampiran 4.18 Lampiran 4.19 Lampiran 4.Campak pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2006 .11 Lampiran 4.21 Lampiran 4.25 Lampiran 4.13 Lampiran 4.2009 Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi Menurut Provinsi Tahun 2009 Drop Out Rate Cakupan Imunisasi Dpt1 . Sembuh.14 Lampiran 4.9 Lampiran 4.26 Jumlah dan Persentase Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Hasil Pelayanan Peserta KB Baru Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Persentase Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah dan Proporsi Peserta KB Baru Menurut Tempat Pelayanan dan Provinsi Tahun 2009 Pencapaian Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Menurut Provinsi Tahun 2007 .6 Lampiran 4.22 Lampiran 4. Pengobatan Lengkap dan Success Rate (Hasil Pengobatan Penyakit TB Tahun 2008) Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Kasus Pneumonia pada Balita Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Pemberian Tablet Besi (Fe) pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2009 Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A Menurut Provinsi Tahun 2009 Proporsi Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Umur 0-6 Bulan Menurut Provinsi Tahun 2009 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Yodium Menurut Provinsi Tahun 2007 x .8 Lampiran 4.Lampiran 4.2009 Pemeriksaan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Rumah Sakit Umum Depkes dan Pemda Menurut Provinsi Tahun 2008 Jumlah Kunjungan Peserta Jamkesmas di Puskesmas Tahun 2009 Jumlah Kunjungan Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) Peserta Jamkesmas Tahun 2009 Jumlah Kasus Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL) Peserta Jamkesmas Tahun 2009 Cakupan TB Paru BTA Positif.

5 Lampiran 5.12 Lampiran 5.28 Lampiran 4.10 Lampiran 5.Lampiran 4.2009 Jumlah Puskesmas Perawatan dan Puskesmas Non Perawatan Menurut Provinsi Tahun 2005 .1 Lampiran 5.9 Lampiran 5.16 Lampiran 5.11 Lampiran 5.17 Rekapitulasi Kejadian Bencana Menurut Jenis Bencana dan Jumlah Korban Tahun 2009 Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 (lanjutan) Rekapitulasi Kecukupan Obat Menurut Provinsi Tahun 2009 (lanjutan) Rekapitulasi Data Kecukupan Obat Nasional Tahun 2009 Jumlah Puskesmas dan Rasionya terhadap Penduduk 'Menurut Provinsi Tahun 2005 .14 Lampiran 5.2009 Jumlah Tempat Tidur di Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus Menurut Kelas Perawatan dan Provinsi Tahun 2008 Jumlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Milik Kemenkes/Pemda Menurut Kelas Rumah Sakit dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit Khusus dan Tempat Tidurnya Menurut Jenis Rumah Sakit Tahun 2005 .31 Lampiran 5.8 Lampiran 5.2 Lampiran 5.2009 Jumlah Sarana Distribusi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2009 Jumlah Institusi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Menurut Jurusan dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Jurusan/Program Studi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Menurut Akreditasi dan Strata Tahun 2009 Jumlah Institusi Non Politeknik Kesehatan (Non-Poltekkes) Menurut Jurusan/Program Studi dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Institusi Non Politeknik Kesehatan (Non-Poltekkes) Menurut Akreditasi dan Strata Tahun 2009 Jumlah Institusi Diknakes Non-Poltekkes Menurut Status Kepemilikan Tahun 2009 Rekapitulasi Data SDM Kesehatan Per Provinsi Keadaan Desember 2009 Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Menurut Jenis dan Provinsi Tahun 2009 xi .30 Lampiran 4.2009 Jumlah Sarana Produksi Bidang Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menurut Provinsi Tahun 2007 .15 Lampiran 5.6 Lampiran 5.4 Lampiran 5.29 Lampiran 4.13 Lampiran 5.27 Lampiran 4.2009 Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit di Indonesia Menurut Pengelola dan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah Sakit Umum dan Tempat Tidur Menurut Pengelola Tahun 2005 .3 Lampiran 5.7 Lampiran 5.

35 Lampiran 5. Dokter Gigi.Lampiran 5.20 Lampiran 5.34 Lampiran 5.23 Lampiran 5.29 Lampiran 5.26 Lampiran 5.d Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Umum PTT Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Gigi PTT Tahun 2009 xii . Perawat dan Bidan terhadap Jumlah Puskesmas Menurut Provinsi Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Dokter Umum Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Keberadaan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Distribusi Tingkat Keterlibatan Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia dalam Kegiatan Kediklatan Tahun 2009 Distribusi Widyaiswara Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia Berdasarkan Kelompok Umur Tahun 2009 Distribusi Frekuensi Pelatihan dan Jumlah Peserta di Institusi Diklat Kesehatan Seluruh Indonesia Berdasarkan Jenis Diklat Tahun 2009 Rekapitulasi Peserta Didik Poltekkes Perjenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Peserta Didik Poltekkes Per Jenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Peserta Didik Non Poltekkes Per Jenis Tenaga Kesehatan Tahun Ajaran 2009/2010 Lulusan Diknakes Poltekkes dan Non Poltekkes Berdasarkan Jenis Tenaga Kesehatan Tahun 2009 Jumlah Lulusan Poltekkes Berdasarkan Jurusan/Program Studi Institusi Diknakes Seluruh Indonesia Tahun Ajaran 2009/2010 Rekapitulasi Lulusan Non Poltekkes Diknakes Seluruh Indonesia Berdasarkan Jenis dan Provinsi Tahun Ajaran 2009/2010 Alokasi dan Realisasi Kementerian Kesehatan RI Triwulan IV Tahun 2009 Data Cakupan Kepesertaan Jaminan Kesehatan Per Juni 2010 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Umum Pegawai Tidak Tetap (PTT) Aktif Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Dokter Gigi Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tahun 2009 Rekapitulasi Pengangkatan Bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tahun 2009 Keadaan Dokter Spesialis PTT Kemenkes yang Masih Aktif s.33 Lampiran 5.25 Lampiran 5.37 Lampiran 5.28 Lampiran 5.24 Lampiran 5.36 Lampiran 5.38 Rasio Dokter.18 Lampiran 5.19 Lampiran 5.30 Lampiran 5.22 Lampiran 5.31 Lampiran 5.27 Lampiran 5.21 Lampiran 5.32 Lampiran 5.

dan Indeks Pembangunan Manusia di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Penduduk yang Menggunakan Sumber Air Bersih dan yang Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2007 Perbandingan Data Tuberkulosis di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2007/2008 Angka Estimasi HIV dan AIDS di Negara-Negara ASEAN dan SEARO Tahun 2008 Jumlah Kasus Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi di Negara-Negara ASEAN & SEARO Perbandingan Cakupan Imunisasi Dasar pada Bayi di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2008 Perbandingan Upaya Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2000-2009 Pembiayaan Kesehatan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2007 Lampiran 6.5 Lampiran 6.7 Lampiran 6.9 *** xiii . Angka Kematian.39 Distribusi Pegawai Kementerian Kesehatan RI Dirinci Menurut Jenis Pendidikan Tahun 2009 Lampiran 6.6 Lampiran 6.3 Lampiran 6.1 Perbandingan Beberapa Data Kependudukan di Negara-Negara ASEAN & SEARO Tahun 2008 Angka Kelahiran.4 Lampiran 6.8 Lampiran 6.2 Lampiran 6.Lampiran 5.

.

di mana masing-masing unit mengumpulkan datanya sendiri-sendiri dengan berbagai instrumennya di setiap unit kerja baik di pusat maupun di daerah. Sedangkan pembangunan kesehatan adanya upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. angka kematian. Situasi yang demikian pada akhirnya menyulitkan dalam pengambilan keputusan berdasarkan evidence based. Satu-satunya alat yang dimiliki Kementerian Kesehatan adalah adanya Profil Kesehatan Indonesia. adalah terhambatnya aliran komunikasi data baik dari sumber data di daerah ke pengguna di pusat atau sebaliknya. serta terhambatnya aliran komunikasi data antar pengguna atau bahkan tertutupnya sumber informasi untuk diakses oleh pengguna lain sehingga menyebabkan sulitnya memperoleh informasi yang memadai (lack of informations). yang meliputi indikator angka harapan hidup. 2 . Situasi demikian menimbulkan tersendatnya pendistribusian informasi terutama dari sumber data di unit pelayanan kesehatan atau kabupaten/kota ke provinsi dan pusat yang mengakibatkan terjadinya krisis informasi di berbagai unit teknis di pusat. yaitu belum mampu menyediakan data dan informasi kesehatan yang evidence based sehingga belum mampu menjadi alat manajemen kesehatan yang efektif. yang berisi data tahunan dari hasil pembangunan kesehatan. Di antaranya adalah kegiatan pengelolaan data dan informasi belum terintegrasi dan terkoordinasi dalam satu mekanisme kerjasama yang baik. Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator.Kita sadari bahwa sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih jauh dari kondisi ideal. Hal ini sebagai akibat dari adanya sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih terfragmentasi. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. kemauan. Di samping itu. duplikasi kegiatan. Berbagai masalah klasik masih dihadapi dalam penyelenggaraan sistem informasi kesehatan. Adanya “overlapping” kegiatan dalam pengumpulan dan pengolahan data. angka kesakitan. dan tidak efisiennya penggunaan sumber daya. Penyelenggaraan sistem informasi kesehatan itu sendiri masih belum dilakukan secara efisien. masih terjadi redundant data. dan status gizi masyarakat.

Bersih (clean). Pro Rakyat (pro poor). Penguatan kebijakan sistem informasi kesehatan dilakukan dengan menyusun aturan-aturan yang menjamin sistem informasi kesehatan dapat diselenggarakan dengan baik. dengan Misinya adalah sebagai berikut. Dalam penyajiannya. distribusi. 4. Lima nilai Kementerian Kesehatan adalah: 1. 4. juga disajikan dalam bentuk peringkat dari tiap indikator. 1. 5. 6. vaksin. retensi dan mutu SDM. 7. 3. Jaminan kesehatan masyarakat. Reformasi birokrasi. Ketersediaan. dimana Kementerian Kesehatan memiliki Visi adalah Masyarakat Sehat yang Mandiri dan berkeadilan. 2. Reformasi Pembangunan Kesehatan tahun 2010-2014: 1. 3. Pada pasal 168 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan telah diamanatkan bahwa penyelenggaraan sistem informasi 3 . 2. 4. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan. efisien (effective. diusahakan untuk ditampilkan berbagai data dan informasi yang menjawab Visi dan Misi serta berbagai data dan informasi yang menjelaskan tentang reformasi Birokrasi. strategi pertama yang perlu dilakukan adalah penguatan kebijakan dan perencanaan di bidang sistem informasi kesehatan. merata. dan alat kesehatan. dengan menggunakan indikator yang sesuai. 2. 3. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan paripurna. berkeadilan. di masa mendatang maka. keterjangkauan obat. Untuk kelancaran proses Penyusunan Profil Kesehatan Indonesia yang merupakan salah satu produk dari berhasilnya sistem informasi kesehatan yang terintegrasi. Responsif (responsive). termasuk swasta dan madani. Inklusif (inclusive). keamanan. bermutu. Efektif. Revitalisasi pelayanan kesehatan. Ketersediaan. 5. yang berasal dari profil kesehatan provinsi ini selain sebagai alat ukur sampai dimana capaian indikator pembangunan kesehatan setiap provinsi dibanding target nasional bahkan target MDG (Millenium Development Goal). sehingga provinsi dapat mengetahui dimana posisinya dalam setiap indikator pembangunan kesehatan dibandingkan provinsi lainnya. Keberpihakan pada DTPK (Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan) serta DBK (Daerah Bermasalah Kesehatan). Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat. efektivitas. distribusi. mutu. World class health care. efficient).Penyajian Profil Kesehatan Indonesia 2009.

Situasi Upaya Kesehatan.Situasi Sumber Daya Kesehatan. perekonomian. yaitu: Bab I . pencapaian upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit. umur harapan hidup. pencapaian pelayanan kesehatan rujukan. Demikian pula aturan-aturan di bawahnya.Situasi Umum dan Perilaku Penduduk. data tuberkulosis.kesehatan diatur dalam peraturan pemerintah. Bab ini menyajikan tentang latar belakang diterbitkannya Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini serta sistimatika penyajiannya. Indeks Pembangunan Manusia. Bab II . Gambaran tentang upaya kesehatan yang telah dilakukan itu meliputi pencapaian pelayanan kesehatan dasar. juga Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi bersama unit-unit pengelola program dan lintas sektor terkait sedang menyusun Rencana Strategis Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan. sedang dalam proses penyusunan. Bab VI .Situasi Derajat Kesehatan. pendidikan. seperti pedoman dan petunjuk teknis. dan pembiayaan kesehatan. Bab ini juga menyajikan tentang gambaran umum. untuk tercapainya dan berhasilnya program-program pembangunan di bidang kesehatan. *** 4 . Dengan telah selesai dan dipublikasikannya hasil sensus penduduk 2010 yang diselenggarakan oleh BPS. cakupan imunisasi pada bayi dan upaya kesehatan. serta perilaku penduduk yang terkait dengan kesehatan. angka kesakitan. Profil Kesehatan Indonesia 2009 ini terdiri atas 6 (enam) bab. Angka Kematian. angka estimasi HIV/AIDS. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi bersama Biro Hukum dan Organisasi sedang menyiapkan bahan rancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang sistem informasi kesehatan. Bab ini berisi uraian tentang hasil-hasil pembangunan kesehatan sampai dengan tahun 2009 yang mencakup tentang angka kematian. Gambaran tentang keadaan sumber daya mencakup tentang keadaan tenaga. dan status gizi masyarakat. dan upaya perbaikan gizi masyarakat. Bab IV . Bab ini menyajikan perbandingan beberapa indikator yang meliputi data kependudukan. Angka Kelahiran. Bab ini berisi uraian tentang upaya-upaya kesehatan yang telah dilaksanakan oleh bidang kesehatan sampai tahun 2009. Bab ini menguraikan tentang sumber daya pembangunan bidang kesehatan sampai tahun 2009. maka juga kami masukkan data jumlah penduduk tahun 2010. Bab V .Perbandingan Indonesia dengan Negara Anggota ASEAN dan SEARO. dan lingkungan fisik. Bab III . kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi.Pendahuluan. Untuk ini. yang meliputi: kependudukan. sarana kesehatan. Dalam penguatan perencanaan sistem informasi kesehatan.

.

Secara nasional. 6 . Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara. menurut data Bakosurtanal.363 orang. jumlah penduduk Indonesia sebesar 237.1 Pada bab ini akan diuraikan gambaran umum Indonesia dan perilaku penduduk pada tahun 2009 yang meliputi: keadaan penduduk. 6.556.507. Secara administratif wilayah Indonesia pada tahun 2009 terbagi atas 33 provinsi. Posisi strategis ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kebudayaan.580 laki-laki dan 118. A. keadaan ekonomi.504 pulau. 497 kabupaten/kota (399 kabupaten dan 98 kota).048. politik. keadaan pendidikan. yang artinya jumlah penduduk laki-laki satu persen lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan. sosial.2). jumlah pulau di Indonesia 17. serta delta. Rasio jenis kelamin terbesar terdapat di Provinsi Papua yaitu sebesar 113 dan yang terkecil terdapat di Nusa Tenggara Barat yaitu sebesar 94. dan ekonomi. dan dari 97 o sampai 141o garis Bujur Timur serta terletak antara dua benua yaitu benua Asia dan Australia. dan perilaku penduduk yang berkaitan dengan kesehatan. Pembagian wilayah Indonesia secara administratif menurut provinsi pada tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2.543 kecamatan dan 75.226 kelurahan/desa. Jumlah pulau itu termasuk yang berada di muara dan tengah sungai.Indonesia terbentang antara 6o garis Lintang Utara sampai 11o garis Lintang Selatan. maka selama tahun 2009 telah terjadi pembentukan 2 kabupaten baru. yang terdiri dari 119. atau setiap 100 perempuan terdapat 101 laki-laki. Fakta ini membuat Indonesia memiliki keragaman budaya dan adat istiadat dengan karakteristik yang berbeda satu sama lain. Jika dibandingkan dengan jumlah kabupaten/kota yang ada pada tahun 2008. keadaan lingkungan. KEADAAN PENDUDUK Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010. rasio jenis kelamin penduduk Indonesia tahun 2010 sebesar 101.783 perempuan (Lampiran 2. Keragaman dalam berbagai aspek tersebut juga terkait dengan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan.

817. GAMBAR 2. Berdasarkan distribusi penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur maka kita dapat memperoleh gambaran piramida penduduk Indonesia tahun 2009 sebagai berikut. Estimasi Penduduk Indonesia Dirinci Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2008 Secara nasional.49 persen.369.592 jiwa terdiri dari 115. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia secara rinci sejak Sensus Penduduk tahun 1971 sampai dengan Sensus Penduduk tahun 2010 dapat dilihat dalam Lampiran 2. Tingkat kepadatan yang tinggi masih didominasi oleh provinsi-provinsi di Pulau Jawa.945 laki-laki dan 115. yaitu sebesar 13.910. Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah yang memiliki 7 .37%. dengan luas wilayah Indonesia 1. berdasarkan data estimasi penduduk Badan Pusat Statistik (SUPAS 2005).3).647 perempuan (Lampiran 2. jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2009 tercatat sebesar 231. laju pertumbuhan penduduk Indonesia per tahun selama 2 dasawarsa terakhir adalah sebesar 1.1 PIRAMIDA PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2009 (dalam ribu) Sumber : Badan Pusat Statistik.931. yaitu sebesar 5.Sedangkan pada tahun 2009.890 jiwa per km2.32 km2 maka tingkat kepadatan penduduk pada tahun 2009 sebesar 121 jiwa per km2. Laju pertumbuhan penduduk Provinsi Papua adalah yang tertinggi dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Sedangkan provinsi dengan laju pertumbuhan terendah yaitu Jawa Tengah sebesar 0.551. Provinsi yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi adalah DKI Jakarta. Secara nasional.46 persen (SP 2010).4.

92% dan yang berusia tua (> 65 tahun) sebesar 5.23%. Maluku dan Papua 2. Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur. Jumlah penduduk dan angka kepadatan penduduk per provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2. yang berusia produktif (15-64 tahun) sebesar 67. Selebihnya tersebar di Sumatera sebesar 21.25%.173 jiwa per km2. menunjukkan bahwa penduduk yang berusia muda (0-14 tahun) sebesar 26.65%. Sulawesi 7. dengan luas hanya 6.12%.96%.2 PERSENTASE PERSEBARAN PENDUDUK INDONESIA MENURUT KELOMPOK PULAU-PULAU BESAR TAHUN 2009 Sumber : Badan Pusat Statistik. Kepadatan penduduk terendah di Papua. GAMBAR 2.45%.id.go.99%.77% wilayah Indonesia.depdagri. yaitu sebesar 57. Papua Barat merupakan provinsi dengan tingkat kepadatan penduduk terendah ke-2 yaitu sebesar 8 jiwa per km2.23%. yaitu hanya 7 jiwa per km2. Kalimantan 5. yang kemudian diikuti oleh Kalimantan Tengah dengan kepadatan 14 jiwa per km2. 8 . Provinsi dengan tingkat kepadatan tertinggi ke-3 yaitu DI Yogyakarta sebesar 1.44 %. Lebih dari separuh penduduk Indonesia berada di Pulau Jawa. Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2009.118 jiwa per km2. Dari data distribusi penduduk menurut pulau dapat diketahui terdapat ketimpangan persebaran penduduk antar pulau yang nyata. Dengan demikian maka Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio) penduduk Indonesia pada tahun 2009 sebesar 47.kepadatan penduduk tertinggi ke-2 dengan kepadatan 1. Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 5. http://www.3.

Perekonomian Indonesia selama tahun 2006-2009 mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 5.65% dan Jawa Timur sebesar 39.5.53% dan Maluku sebesar 56. Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 diprakirakan tumbuh 4.69%.Provinsi dengan persentase beban tanggungan tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur sebesar 59. 9 .3 ANGKA BEBAN TANGGUNGAN MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Badan Pusat Statistik. 6. sudah dipastikan akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi. inflasi tercatat sebesar 2.26% diikuti oleh DI Yogyakarta sebesar 37.5 persen (2009).78%.5 persen (2006).45% diikuti oleh Sulawesi Tenggara sebesar 57. GAMBAR 2. Estimasi Penduduk Indonesia Tahun 2009 B. Mengkaji kondisi perekonomian tentu saja tidak terlepas dari tingkat inflasi. Sedangkan provinsi dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu DKI Jakarta sebesar 37. Rincian jumlah penduduk menurut kelompok umur.3 persen (2007). Angka Beban Tanggungan dan provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 2. KEADAAN EKONOMI Kondisi perekonomian merupakan salah satu aspek yang diukur dalam menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara. Rendahnya tingkat inflasi ini merupakan pencapaian terbaik dalam 10 tahun terakhir. 6.87%. Apabila tingkat inflasi tinggi.0 persen (2008) dan 4. inflasi dan pertumbuhan perekonomian sangat saling berkaitan.5%.

kelompok kesehatan. Sedangkan PDB untuk non migas tumbuh 4. Persentase pengangguran terbuka adalah perbandingan antara jumlah pencari kerja dengan jumlah angkatan kerja.4 triliun pada 2009. Pengangguran terbuka tidak termasuk orang yang masih sekolah atau mengurus rumah tangga. Sejak tahun 2001 konsep pengangguran menjadi angkatan kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan. perumahan.5% pada 2009. Berdasarkan data hasil Sakernas BPS tahun 2008-2010 ada penurunan angka pengangguran. minuman. yang mencakup angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan.613. termasuk juga mereka yang baru mendapat kerja tetapi belum mulai bekerja.5%. Pengangguran terbuka disini didefinisikan sebagai orang yang sedang mencari pekerjaan atau yang sedang mempersiapkan usaha atau juga yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin lagi mendapatkan pekerjaan. listrik. dilakukan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas).9%. transportasi dan 10 . tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan/putus asa (sebelumnya dikategorikan sebagai Bukan Angkatan Kerja) dan yang punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja (sebelumnya dikategorikan sebagai Bekerja). maka nilai Produk Domestik Bruto (PDB) 2009 naik sebesar Rp 662.67%. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi 15. rokok dan tembakau memberi kontribusi terbesar pada inflasi sebesar 7.89%.4 triliun pada 2008 menjadi sebesar Rp 5. kelompok pendidikan. Pertumbuhan terendah terjadi di sektor perdagangan. dan kelompok transportasi. Kelompok lainnya dalam tahun 2009 masing-masing kelompok sandang 6. mempersiapkan usaha. komunikasi dan jasa keuangan -3.88%. gas dan bahan bakar menyumbang sebesar 1.83% pada inflasi nasional.Selama tahun 2009 kelompok makanan jadi. air. paling sedikit satu jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan itu termasuk juga kegiatan pekerja tak dibayar yang membantu dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi.1%. rekreasi dan olahraga masing-masing memberikan kontribusi yang sama 3.81%. dan penganggur. Dari Rp 4. Sakernas merumuskan konsep pengangguran sebelum tahun 2001 sebagai angkatan kerja yang tidak bekerja/tidak mempunyai pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan. Menurut Sakernas. definisi operasional Angkatan Kerja adalah penduduk usia kerja yang bekerja atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja. pembantu rumah tangga. Hal ini disebabkan bertambahnya lapangan kerja pada sektor jasa kemasyarakatan seperti jasa pertukangan. Untuk mengetahui tingkat pengangguran.0 triliun. Sementara Bekerja menurut definisi Sakernas adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan.951. hotel dan restoran sebesar 1.00%. Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4. kelompok bahan makanan 3.

05 104. yaitu sebesar 100%. Perkembangan angkatan kerja. Penetapan kriteria daerah tertinggal dilakukan dengan menggunakan pendekatan berdasarkan pada perhitungan 6 (enam) kriteria dasar yaitu: perekonomian masyarakat. serta berdasarkan kabupaten yang berada di daerah pedalaman. 11 . sumber daya manusia.99 102. Suatu daerah dikategorikan menjadi daerah tertinggal karena beberapa faktor penyebab.82% dan Bengkulu 80.26 8. daerah tertinggal adalah daerah kabupaten yang relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional dan berpenduduk relatif tertinggal.48 Feb 2009 (juta orang) 113. dan kebijakan pembangunan.1 PERKEMBANGAN ANGKATAN KERJA. yaitu geografis. Jumlah dan persentase kabupaten tertinggal menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2. prasarana (infrastruktur). sumber daya alam. Berdasarkan pendekatan tersebut.6.59 Pengangguran terbuka (%) 8.40 Jumlah Angkatan Kerja Jumlah penduduk yang bekerja Sumber: BPS. Provinsi dengan persentase kabupaten tertinggal tertinggi adalah Sulawesi Barat. sosial. diikuti oleh Sulawesi Tengah sebesar 81. Menurut definisinya. daerah rawan bencana dan konflik sosial. baik fisik.41 Pengangguran terbuka 9. penduduk yang bekerja dan pengangguran pada Februari 2008 . mental dan spiritual di segenap pelosok negeri terutama wilayah yang tergolong daerah tertinggal. sumber daya manusia. daerah rawan bencana dan daerah rawan konflik dan sebagian besar wilayah daerah pesisir.Februari 2010 adalah sebagai berikut. 33 pulau-pulau kecil terluar berpenduduk dan 183 daerah tertinggal (termasuk terpencil). PENDUDUK YANG BEKERJA DAN PENGANGGURAN TERBUKA DI INDONESIA TAHUN 2008 – 2010 Feb 2008 (juta orang) 111. Keterbatasan prasarana terhadap berbagai bidang termasuk di dalamnya kesehatan menyebabkan masyarakat di daerah tertinggal mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial. kemampuan keuangan lokal (celah fiskal). prasarana dan sarana.74 Feb 2010 (juta orang) 115. kepulauan (pulau kecil dan gugus pulau).49 107. Unit terkecil daerah tertinggal yang digunakan dalam Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (STRANAS PPDT) adalah wilayah administrasi kabupaten.pertanian. perbatasan antar negara. aksesibilitas dan karakteristik daerah.00%. Saat ini Indonesia memiliki 19 kabupaten perbatasan.43 9.04% dari 497 kabupaten/kota. TABEL 2.14 7. Survei Angkatan Kerja Nasional 2008-2010 Pembangunan ekonomi yang diupayakan diharapkan mampu mendorong kemajuan.46 8. Tahun 2009 persentase daerah tertinggal adalah 40. maka ditetapkan 199 kabupaten yang dikategorikan kabupaten tertinggal.

53 juta (14. 45/07/Th.GAMBAR 2. XIII. Persentase penduduk miskin dari tahun 2006-2010 disajikan pada Gambar 2. 1 Juli 2010 12 .02 juta (13. Fenomena gizi buruk dan kurang seringkali dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang buruk jika merujuk pada fakta bahwa keterbatasan pemenuhan pangan dapat menyebabkan busung lapar. dan Beri-beri.51 juta penduduk miskin. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2010 Berita Resmi Statistik. BPS 2008. Kwashiorkor. GAMBAR 2. Kemiskinan juga menjadi hambatan besar dalam pemenuhan kebutuhan terhadap makanan yang sehat sehingga dapat melemahkan daya tahan tubuh yang dapat berdampak pada kerentanan untuk terserang penyakitpenyakit tertentu.3%) dari 32. penyakit kekurangan vitamin seperti Xeropthalmia. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan 1. jumlah penduduk miskin menurun menjadi 31.5 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2010 Sumber: BPS. Keterjangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan terkait dengan daya beli ekonomi.15%) penduduk miskin pada bulan Maret 2009. No. Scorbut. Pada bulan Maret 2010.5 berikut ini.4 PROVINSI DENGAN PERSENTASE KABUPATEN TERTINGGAL DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemiskinan menjadi isu yang cukup menyita perhatian berbagai kalangan termasuk kesehatan.

8 Kalimantan 2.Berdasarkan data jumlah penduduk miskin menurut provinsi dari BPS (Lampiran 2. dilakukan secara bertahap di daerah yang menjadi prioritas bersama kementerian terkait.3 Sulawesi 2.3 2.9 57. Salah satu di antaranya adalah mengatasi permasalahan pelayanan kesehatan di Daerah yang Bermasalah Kesehatan (DBK) dengan pendekatan spesifik yang tidak bisa disamakan dengan daerah lainnya.3 7. Selebihnya tersebar di Sumatera 21.1%. Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) adalah keadaan/derajat kesehatan wilayah kabupaten/kota yang digambarkan melalui hasil Riskesdas/SUSENAS dengan Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).3%. Jumlah penduduk miskin dan persentase penduduk miskin menurut kelompok pulau tahun 2008-2010 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.5 8.1 2.4 6.9 Maret 2009 Jumlah % (juta) 5.2 3. Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan (PDBK) adalah upaya kesehatan terfokus.7 21.9 1. sampai mampu mandiri dalam menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang kesehatan seluas-luasnya.0 3. dapat diketahui dimana daerah-daerah bermasalah tersebut dapat dipetakan berdasarkan peringkat 13 .5 1. berbasis bukti.1 59.3 55.5 4.3 1.0 13.5 4.5 4. 45/07/Th.8 2.8) terdapat persebaran penduduk miskin antar pulau yang nyata perbedaannya.8% (tahun 2010).6 7.1% tahun 2008 dan menjadi 55. TABEL 2. No. BPS 2008.1 17. Menurut definisi.3 20. terintegrasi.5 2.8 34.5 14.8% tahun 2010.1 18. Hasil Riskesdas tahun 2007 menghasilkan instrumen pengukuran Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM). dalam jangka waktu tertentu.3 Maret 2010 Jumlah % (juta) 6. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Kemiskinan (Pendataan Sosial Ekonomi/PSE BPS).2 1.9 15. 1 Juli 2010 Dalam roadmap reformasi kesehatan masyarakat Kementerian Kesehatan ada 7 prioritas yang harus dikerjakan untuk mencapai sasaran strategis pembangunan kesehatan. Lebih dari separuh penduduk miskin di Indonesia berada di Pulau Jawa yaitu 57.2 PERSEBARAN DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT KELOMPOK BESAR PULAU DI INDONESIA TAHUN 2008 – 2010 Kelompok Pulau Sumatera Jawa Maret 2008 Jumlah % (juta) 7. XIII.6%.4 19.0 3.2 31.2 7. Dengan IPKM.3 Sumber: BPS. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2010 Berita Resmi Statistik.1 Bali dan Nusa Tenggara 1.4 32. Kalimantan 3.2 7. wilayah menurut Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. Sulawesi 7.4%.6 Maluku dan Papua Total 1. Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 7. Maluku dan Papua 4.3 17.

Besaran IPKM setiap kabupaten/kota dirumuskan berdasarkan 20 indikator kesehatan. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tertinggal dan Perbatasan Jumlah Kabupaten 14 1 71 7 5 98 Kota 18 1 0 0 0 19 32 2 71 7 5 117 Jumlah Penduduk 37. Persentase terbesar penduduk yang buta huruf berada dalam kelompok umur lebih dari 45 tahun. Kemenkes. Tertinggal dan Perbatasan. Berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditetapkan di atas. 2010 C.501 Total Sumber: Ditjen Binkesmas. pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan. Tertinggal Berat. dari 440 kabupaten/kota yang menjadi daerah pelaksanaan Riskesdas 2007 terdapat 117 DBK yang berada di 22 provinsi. Melalui pengetahuan. Perbatasan Berat Berat. Daerah yang mempunyai IPKM <0. Kabupaten/kota bermasalah meliputi 32 DBK. Jumlah penduduk buta huruf di Indonesia tidak hanya dialami satu generasi. tetapi terdiri atas generasi muda dan tua.741.kabupaten/kota. Sebab. 7 DBK Berat. Tertinggal dan Kepulauan Terluar Berat. Papua (15 kab/kota) dan Nusa Tenggara Timur (12 kab/kota). TABEL 2. Angka buta huruf berkorelasi dengan angka kemiskinan.337 merupakan Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). 71 DBK Berat dan Tertinggal. Tiga provinsi mempunyai jumlah kabupaten/kota DBK terbanyak yaitu Aceh (16 kab/kota). Berdasarkan data BPS 2005-2009. persentase penduduk yang buta huruf cenderung menurun karena akses terhadap pendidikan meningkat dalam 5 tahun terakhir ini. Tertinggal dan Kepulauan Terluar dan 5 DBK Berat. sedangkan kebodohan itu sendiri mendekatkan mereka pada kemiskinan. KEADAAN PENDIDIKAN Kondisi pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu negara. 2 DBK dan Perbatasan.3 JUMLAH KABUPATEN/KOTA DAERAH BERMASALAH KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2010 Kab/Kota Berat. Dengan 14 . diikuti kelompok umur kurang dari 15 tahun. penduduk yang tidak bisa membaca secara tidak langsung mendekatkan mereka pada kebodohan. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pencetus yang berperan dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku sehat.

22%). Sebaliknya persentase AMH yang terendah adalah Papua (70. provinsi dengan persentase AMH tertinggi adalah Sulawesi Utara (99.6 PERSENTASE PENDUDUK YANG BUTA HURUF MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. terutama di daerah perdesaan di Indonesia dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD. Indikator pendidikan lainnya yang sejenis adalah Angka Melek Huruf (AMH) yaitu persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Sehingga angka melek huruf dapat berdasarkan kabupaten mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah.18%) dan Sulawesi Selatan (87.58%. (3) menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis. AMH secara rinci menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.29%). DKI Jakarta (98. www.58% pada tahun 2009. Penggunaan AMH adalah untuk (1) mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf. 15 .go.02%).id Tahun 2005-2009 persentase tertinggi penduduk yang buta huruf menurut kelompok umur adalah penduduk dengan kelompok umur di atas 45 tahun dengan persentase 22.11%).94%) dan Riau (98.83% pada tahun 2005 dan menurun setiap tahunnya menjadi 18.9. GAMBAR 2.bps. pendidikan sebagai senjata utama penghapusan buta huruf itu senantiasa harus menyentuh baik generasi muda maupun generasi tuanya. NTB (80. AMH nasional adalah 92.demikian. (2) menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media.

2 tahun) lebih besar daripada perempuan (7. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. rata-rata lama sekolah laki-laki (8. Sumber: BPS. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.5 tahun.3 tahun).7 tahun pada tahun 2009 atau setara dengan kelas dua SMP.8 RATA-RATA LAMA SEKOLAH MENURUT JENIS KELAMIN DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2009 .7 ANGKA MELEK HURUF PENDUDUK BERUSIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: BPS. GAMBAR 2. Mei 2010 Rata-rata lama sekolah mayoritas penduduk di Indonesia masih relatif rendah yaitu 7. Dilihat dari jenis kelamin. Mei 2010 16 .GAMBAR 2. Rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas pada tahun 2006 mencapai 7. Gambar di bawah ini menunjukkan rata-rata lama sekolah menurut jenis kelamin secara nasional. sedangkan tahun 2008 mencapai 7.4 tahun.

10.id Terdapat dua ukuran partisipasi sekolah yang utama. Usia standar yang dimaksud adalah rentang usia yang dianjurkan pemerintah dan umum dipakai untuk setiap jenjang pendidikan Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah rasio jumlah siswa.go. semakin rendah APS. GAMBAR 2.bps. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan Gambar di bawah ini menunjukkan persentase APK tertinggi adalah pada tingkat pendidikan SD/MI dan persentase APK yang terendah adalah pada tingkat 17 . Gambar di bawah ini merupakan APS nasional menurut usia sekolah dari tahun 2005-2009. Kedua ukuran tersebut mengukur penyerapan penduduk usia sekolah oleh sektor pendidikan. berdasarkan 4 kelompok umur dimana kelompok umur 19-24 tahun mewakili umur setingkat perguruan tinggi.11. www. Semakin tinggi tingkat pendidikan. yaitu 7-12 tahun mewakili umur setingkat SD. 13-15 tahun mewakili umur setingkat SLTP. Angka Partisipasi Sekolah (APS) dari BPS secara umum dikategorikan menjadi 3 kelompok umur.9 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH MENURUT USIA SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. dan 16-18 tahun mewakili umur setingkat SLTA. yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM).Rata-rata lama sekolah secara rinci menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. Persentase angka partisipasi sekolah menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 2. berapapun usianya. Perbedaan di antara keduanya adalah penggunaan kelompok usia "standar" di setiap jenjang pendidikan. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan.

GAMBAR 2. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah persentase APK. Semakin tinggi tingkat pendidikan. APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut.id Berbeda dengan APK.11 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI MURNI DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS.10 PERSENTASE ANGKA PARTISIPASI KASAR DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. www.go.go. Nilai APK dalam kurun waktu 2005-2009 meningkat secara perlahan untuk tingkat pendidikan SD/MI.bps. Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan banyaknya penduduk usia sekolah yang masih bersekolah pada jenjang pendidikan yang sesuai dengan usianya. semakin rendah APM. GAMBAR 2. www.id 18 . sedangkan APK tingkat SLTP/MTs cenderung tidak banyak perubahan.bps.pendidikan perguruan tinggi. Jika dibandingkan APK. SLTA dan perguruan tinggi.

TPT bermanfaat untuk menunjukkan pencapaian pembangunan pendidikan di suatu daerah. Nilai APM dalam kurun waktu 2005-2009 meningkat secara perlahan untuk setiap jenjang pendidikan. akses terhadap sanitasi dasar. KEADAAN KESEHATAN LINGKUNGAN Lingkungan merupakan salah satu variabel yang kerap mendapat perhatian khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat. rumah sehat serta rumah/bangunan yang diperiksa dan bebas jentik nyamuk Aedes. Untuk menggambarkan keadaan lingkungan. baik yang masih sekolah ataupun tidak sekolah lagi. TPT adalah persentase jumlah penduduk.12 PERSENTASE PENDIDIKAN TERTINGGI YANG DITAMATKAN PENDUDUK 10 TAHUN KE ATAS DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: BPS. terutama untuk melihat kualifikasi pendidikan angkatan kerja di suatu wilayah. menurut pendidikan tertinggi yang telah ditamatkan.Berdasarkan Gambar 2. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah persentase APM. institusi dibina kesehatan lingkungannya. pelayanan kesehatan dan genetik.id D.go.bps. Menurut definisi. GAMBAR 2. lingkungan menentukan baik buruknya status derajat kesehatan masyarakat. 19 . Gambar berikut di bawah ini menggambarkan perkembangan persentase tingkat pendidikan tertinggi (TPT) yang ditamatkan. tempat umum dan pengelolaan makan (TUPM) sehat. Bersama dengan faktor perilaku. akan disajikan indikatorindikator seperti. TPT juga berguna untuk melakukan perencanaan penawaran tenaga kerja.11 di atas persentase APM tertinggi pun terdapat pada tingkat pendidikan SD/MI dan APM yang terendah adalah pada tingkat pendidikan perguruan tinggi. akses terhadap air bersih dan air minum yang aman. www.

akses air minum yang aman di perkotaan 49.72%.36%). air kemasan (2.5%). GAMBAR 2. diikuti ledeng (27.29%).11%). Rincian persentase keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan dapat dilihat dalam Lampiran 2.0%) Gambaran persentase akses air minum yang aman menurut provinsi dapat dilihat dalam Gambar 2. Sarana Air Bersih yang Digunakan dan Akses Air Minum yang Aman Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui persentase keluarga menurut jenis sarana air bersih yang digunakan.13 PERSENTASE AKSES AIR MINUM YANG AMAN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen P2PL. Persentase tertinggi akses air minum yang aman terdapat di DI Yogyakarta (60.12. dan Sulawesi Tenggara (59.4%).13 di bawah ini.49%). penampungan air hujan (3. 20 .13.71%.1%).41%).30%). Secara nasional. serta lain-lain (11. persentase tertinggi jenis sarana air bersih yang digunakan adalah sumur gali (45. Bali (60.82% dan di perdesaan 45. sedangkan menurut wilayah.1. Aceh (30. sumur pompa tangan (10. 2010 Secara rinci proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap air minum yang aman menurut wilayah (perkotaan dan perdesaan) dan provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.0%). Sedangkan yang terendah terdapat di Banten (27.6%) dan Bengkulu (33. Proporsi penduduk yang memiliki akses terhadap sarana air minum yang aman secara nasional adalah 47.

46%.15.14 PERSENTASE AKSES SANITASI DASAR YANG LAYAK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen P2PL. kepemilikan pengelolaan air limbah (73.72%.51% di perkotaan dan 33. GAMBAR 2.55%). Dari seluruh sarana sanitasi dasar tersebut yang memiliki kriteria jamban sehat 55.96% di wilayah perdesaan.19%. Secara nasional.03%). Proporsi penduduk yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar yang layak secara nasional sebesar 51. pengelolaan air limbah sehat 55. persentase tertinggi akses keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar adalah kepemilikan terhadap jamban (81.30% dan tempat sampah sehat 53. 2010 Secara rinci proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap sanitasi dasar yang layak menurut wilayah dan provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. sedangkan menurut wilayah. 21 . persentase akses sanitasasi dasar yang layak sebesar 69.14. Rincian persentase keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar dan sehat menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.2. Sarana dan Akses terhadap Sanitasi Dasar Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui persentase keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar.37%) serta kepemilikan tempat sampah (72.

51%) dan Bali (77.69%).13%). Provinsi yang memiliki persentase tertinggi adalah DKI Jakarta (91. GAMBAR 2. Riau (81. Rincian persentase tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan yang sehat menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2. pasar sehat (54. Rumah Sehat Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009.58%). Tempat Umum dan Pengelolaan Makan (TUPM) Sehat Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui gambaran tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan yang sehat. Sedangkan menurut jenis TUPM. restoran/rumah makan sehat (70. Provinsi dengan persentase rumah sehat yang rendah adalah Sulawesi Barat (35. persentase rumah sehat secara nasional sebesar 63. 4. Papua (43.16. 22 .15 PERSENTASE RUMAH SEHAT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Persentase rumah sehat menurut provinsi secara rinci (data dari 429 kab/kota) disajikan pada Lampiran 2.85%).84%. persentase TUPM sehat yang tertinggi adalah hotel sehat (84.78%).54%).3.61%) dan Nusa Tenggara Timur (50. dan TUPM lainnya (63.25%). Secara nasional.49%. dari keseluruhan TUPM.21%).17. maka yang sudah diperiksa dan dinyatakan sehat sebesar 64.

15%). Sedangkan menurut jenis institusi. GAMBAR 2. Bali (87. Papua (46.41%. Dari seluruh rumah/bangunan yang diperiksa maka rumah/bangunan yang sudah dinyatakan bebas jentik nyamuk Aedes sebesar 77. dari keseluruhan institusi yang ada telah dilakukan pembinaan terhadap kesehatan lingkungan sebesar 64.16 PERSENTASE RUMAH BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 23 . Secara nasional. Provinsi yang persentase bebas jentik nyamuk Aedes tertinggi adalah DKI Jakarta (89. Sedangkan yang terendah persentasenya yaitu NTT (39. dan sarana lainnya. 6. perkantoran.84%) dan sarana lainnya (62. perkantoran (59.08%. sarana pendidikan (67.82%). Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Berdasarkan data profil kesehatan provinsi tahun 2009 dapat diketahui gambaran institusi yang diberikan pembinaan kesehatan lingkungan seperti institusi sarana kesehatan. sarana ibadah (58.44%).5. sudah dilakukan pemeriksaan terhadap 26% rumah/bangunan. Rincian persentase institusi dibina kesehatan lingkungannya menurut provinsi dapat dilihat dalam Lampiran 2.08%). dari keseluruhan rumah/bangunan yang ada.52%).23%) dan Bengkulu (47. persentase tertinggi institusi yang dibina kesehatan lingkungannya adalah sarana kesehatan (77.26%).02%).22%). sarana ibadah.18. Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009. sarana pendidikan.98%) dan Banten (87.

Provinsi yang memiliki persentase tertinggi adalah Jawa Tengah (88.20. akan disajikan beberapa indikator yaitu perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan usia wanita perkawinan pertama.37%) dan Papua Barat (27.Persentase rumah/bangunan yang diperiksa dan bebas jentik nyamuk Aedes menurut provinsi (data dari 322 kabupaten/kota) secara rinci disajikan pada Lampiran 2. 24 .34%).41%. DI Yogyakarta (87.38%) dan Kalimantan Timur (79. persentase rumah tangga yang ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara nasional sebesar 48.97%). Umur Perkawinan Pertama Umur perkawinan pertama adalah umur pada saat wanita melakukan perkawinan secara hukum dan biologis yang pertama kali. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap kesehatan. Banten (21. 2. 1.73%). E.19.57%).17 PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria perilaku hidup bersih dan sehat yang baik menurut provinsi secara rinci (data dari 373 kab/kota) disajikan pada Lampiran 2. GAMBAR 2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Berdasarkan profil kesehatan provinsi tahun 2009. Provinsi dengan persentase PHBS yang rendah adalah Sumatera Barat (17.

41%. Mei 2010 Persentase wanita menurut umur perkawinan pertama menurut provinsi secara rinci disajikan pada Lampiran 2. GAMBAR 2. umur wanita yang menikah/kawin yang pertama kali paling banyak terjadi pada umur 19-24 tahun sebesar 41. kemudian persentase cukup banyak terjadi pula pada umur yang relatif masih remaja (16-18 tahun) sebesar 33.21.33%.18 PERSENTASE WANITA MENURUT UMUR PERKAWINAN PERTAMA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: BPS. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.Secara nasional. *** 25 .

.

keturunan. dan Angka Kematian Kasar. dan faktor lainnya. Pada bab berikut ini situasi derajat kesehatan di Indonesia digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB). AKI. AKB merupakan indikator yang biasanya digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Angka Kematian Ibu (AKI). A.000 KELAHIRAN HIDUP DI INDONESIA TAHUN 1991 S. 1. AKABA. dan angka morbiditas beberapa penyakit. dapat berupa penyakit maupun sebab lainnya. lingkungan sosial. MORTALITAS Mortalitas merupakan angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu. mortalitas dan status gizi.Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor.D TAHUN 2007 27 . Angka Kematian Balita (AKABA). Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan. Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Bayi (AKB) dapat didefinisikan sebagai banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1. Oleh karena itu banyak upaya kesehatan yang dilakukan dalam rangka menurunkan AKB.1 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1. GAMBAR 3.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Situasi derajat kesehatan masyarakat dapat tercermin melalui angka morbiditas. melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu AKB. pendidikan.

perbaikan kondisi ekonomi yang tercermin dengan pendapatan masyarakat yang meningkat juga dapat berkontribusi melalui perbaikan gizi yang berdampak pada daya tahan terhadap infeksi penyakit.000 kelahiran hidup. diikuti oleh Nusa Tenggara Barat sebesar 72 per 1. GAMBAR 3. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 28 .000 kelahiran hidup. Provinsi dengan AKB terendah adalah DI Yogyakarta sebesar 19 per 1. Sedangkan AKB tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 74 per 1.2 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI PER 1. Selain itu. Gambaran AKB per provinsi dapat dilihat pada Gambar 3. Hasil SDKI tahun 2007 juga mengestimasikan AKB pada tingkat provinsi. Hal ini disebabkan AKB sangat sensitif terhadap perbaikan pelayanan kesehatan.000 kelahiran hidup dan Sulawesi Tengah sebesar 60 per 1. Pada tahun 1991 diestimasikan AKB sebesar 68 per 1. diikuti Aceh sebesar 25 per 1.Sumber: BPS.000 kelahiran hidup.000 KELAHIRAN HIDUP MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2007 Sumber: BPS.000 kelahiran hidup.2 berikut. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 Menurut hasil SDKI terjadi penurunan AKB sejak tahun 1991.000 kelahiran hidup. Berbagai faktor dapat menyebabkan adanya penurunan AKB seperti yang ditampilkan pada gambar di atas.000 kelahiran hidup. dan Kalimantan Timur serta Jawa Tengah sebesar 26 per 1.000 kelahiran hidup. diantaranya pemerataan pelayanan kesehatan berikut fasilitasnya. Sedangkan hasil SDKI 2007 mengestimasikan AKB sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup. misalnya pada SDKI tahun 2007 diperoleh AKB untuk periode 5 tahun sebelumnya yaitu tahun 2003-2007 sebesar 34 per 1. Rincian AKB menurut provinsi di Indonesia terdapat pada Lampiran 3. Hasil estimasi tersebut memperhitungkan Angka Kematian Bayi dalam periode 5 tahun terakhir sebelum survei.1.

000 kelahiran hidup.3 ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA) PER 1. yaitu sangat tinggi dengan nilai > 140. tinggi dengan nilai 71-140.000 kelahiran hidup. GAMBAR 3. diketahui bahwa provinsi dengan AKABA terendah terdapat di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 22 per 1. diikuti oleh Maluku sebesar 93 per 1. 2008 Berdasarkan estimasi terhadap nilai AKABA pada tingkat provinsi.000 kelahiran hidup. 29 . Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup dan Kalimantan Tengah sebesar 34 per 1. Gambaran AKABA menurut provinsi dapat dilihat pada gambar berikut.2. Sedangkan provinsi dengan AKABA tertinggi adalah Sulawesi Barat sebesar 96 per 1. Angka ini merupakan estimasi untuk periode 5 tahun sebelum survei (2003-2007). SDKI tahun 2007 mengestimasikan nilai AKABA sebesar 44 per per 1.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. sedang dengan nilai 20-70 dan rendah dengan nilai < 20.000 KELAHIRAN HIDUP DI INDONESIA TAHUN 1991 – 2007 Sumber: Badan Pusat Statistik. AKABA merepresentasikan peluang terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun.000 kelahiran hidup. diikuti oleh Jawa Tengah sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup dan Nusa Tenggara Barat sebesar 92 per 1. Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan nilai normatif AKABA.

Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.000 KELAHIRAN HIDUP MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2007 Sumber : BPS. persalinan. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum. dan nifas. 30 . Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI untuk periode 5 tahun sebelum survei (2003-2007) sebesar 228 per 100. pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan.000 kelahiran hidup. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 3. AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan. melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100. AKI mengacu pada jumlah kematian ibu yang terkait dengan masa kehamilan.GAMBAR 3.5 berikut nampak adanya kecenderungan penurunan AKI sejak tahun 1994 sampai dengan tahun 2007. Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. Angka ini lebih rendah dibandingkan AKI hasil SDKI tahun 2002-2003 yang mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup. Pada Gambar 3.4 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BALITA PER 1.000 kelahiran hidup.

000 penduduk pada pertengahan tahun. Angka Kematian di Rumah Sakit Tabel berikut ini menyajikan 10 penyebab kematian terbanyak pada penderita rawat inap di rumah sakit pada tahun 2008.1 10 PENYAKIT UTAMA PENYEBAB KEMATIAN DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2008 Golongan Sebab Sakit Pasien CFR No Mati (%) 1 Penyakit Sistem Sirkulasi Darah 23.80 9 10 Neoplasma Gejala. Keracunan.000 KELAHIRAN HIDUP) DI INDONESIA TAHUN 1994-2007 Sumber : Badan Pusat Statistik.108 9.332 4.163 11. Klinik Abnormal YTK Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. Tanda & Penemuan Laboratorium.89 3 Kondisi Tertentu yang Bermula pada Masa Perinatal 9. Angka Kematian Kasar (AKK) Angka kematian kasar adalah jumlah kematian yang terjadi pada suatu waktu dan tempat tertentu per 1.70 4.73 8 Penyakit Sistem Kemih Kelamin 4.99 7 Penyakit Endokrin.190 3. Estimasi Angka Kematian Kasar (AKK) berdasarkan hasil SUPAS 2005. 5.767 2.06 2 Penyakit Infeksi dan Parasit Tertentu 16.238 2.825 2.585 6.56 4.99 5 Penyakit Sistem Cerna 6. 2009 31 .5 ANGKA KEMATIAN IBU (PER 100.74 4 Penyakit Sistem Napas 8.GAMBAR 3.000 penduduk. dan Akibat Sebab Luar Tertentu Lainnya 5.91 6 Cedera.542 3. TABEL 3. Nutrisi. dan Metabolik 5.769 2.9 per 1. Kemkes RI. menyebutkan bahwa AKK tahun 2007 sebesar 6.2008 4.

7 tahun.163 orang dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 11. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir Derajat kesehatan masyarakat juga dapat diukur dengan melihat besarnya Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH). Gambaran UHH pada tahun 2007 dan 2008 menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3.2.6 tahun. yaitu sebesar 73. yang diikuti oleh Kalimantan Selatan sebesar 63. Pada tahun 2008. provinsi dengan UHH tertinggi adalah DI Yogyakarta. penyakit sistem sirkulasi darah merupakan penyakit yang menempati urutan teratas sebagai penyakit utama penyebab kematian di rumah sakit pada tahun 2008.Berdasarkan informasi pada tabel di atas. Berdasarkan data BPS. Berikut ini ditampilkan peringkat IPM 33 provinsi di Indonesia tahun 2008 yang disertai dengan nilai IPM. UHH terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat.9 dan Sulawesi Utara sebesar 72.0 tahun.06%. sedangkan pada tahun 2006 dan 2007 sebesar 68. GAMBAR 3.5 tahun.5 tahun dan 68. 32 . Sedangkan. 6. UHH juga menjadi salah satu indikator yang diperhitungkan dalam menilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). sebesar 61. 2010 Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa UHH merupakan salah satu komponen dalam memformulasikan IPM. Selain itu.1 tahun dan Banten sebesar 64.1 yang diikuti oleh DKI Jakarta sebesar 72. UHH di Indonesia pada tahun 2008 sebesar 69 tahun. Penyakit sistem sirkulasi darah pada tahun 2008 menyebabkan kematian sebanyak 23. Kondisi UHH di Indonesia dalam kurun waktu 2006-2008 menunjukkan peningkatan.6 UMUR HARAPAN HIDUP WAKTU LAHIR MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2008 Sumber : Badan Pusat Statistik. Salah satu faktor yang berperan dalam peningkatan UHH adalah upaya di bidang kesehatan sebagai bagian dari pembangunan kesehatan.

7 NILAI IPM MENUURT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2008 Sumber: BPS. baik insiden maupun prevalen dari suatu penyakit. 33 . Pola 10 Penyakit Terbanyak di Rumah Sakit Pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit tahun 2009 menurut Daftar Tabulasi Dasar (DTD) menunjukkan bahwa kasus terbanyak merupakan penyakit infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya dengan jumlah total kasus 488. B. Sulawesi Utara.GAMBAR 3. diikuti oleh Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sedangkan provinsi dengan IPM terendah adalah Papua.794. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat. 1. Rincian mengenai 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit dapat dilihat pada tabel berikut. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. MORBIDITAS Morbiditas dapat diartikan sebagai angka kesakitan. 2010 Berdasarkan gambar di atas diketahui bahwa provinsi dengan IPM tertinggi adalah DKI Jakarta. dan Riau.

3 POLA 10 PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009 No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) Kasus Laki-Laki Perempuan Total Kasus Meninggal CFR (%) 1 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 74.087 275.78 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.365 6.243 49.304 520 1.703 234 0.783 30.738 172.256 371.749 1 2 3 4 9 10 Penyakit telinga dan prosesus mastoid Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtiva 243.334 898 0.94 5 Dispepsia 18.578 245.22 2 Demam berdarah dengue 60.55 7 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 19. pola gambaran 10 penyakit terbanyak menunjukkan pola yang sedikit berbeda.303 147.269 412. Diare dan Gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) memiliki jumlah kasus terbanyak yaitu 143.170 16.345 133.747 1.231 89.195 135.021 6 Dispepsia 55.696 1.048 162 0.167 132.933 36.815 99.463 122.318 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.216 488.083 53.677 935 2.10 6 Hipertensi esensial (primer) 15.942 99.605 153.535 143. Kemenkes RI.696 kasus.013 1.758 17.673 88.144 36.957 24.74 3 Demam tifoid dan paratifoid 39. Kemenkes RI.660 203.161 69.850 1.013 223.497 47.794 781.705 60.488 46.396 30.429 156.817 77.920 16.TABEL 3.375 7 Hipertensi esensial (primer) 55.76 10 Gastritis dan duodenitis 12.823 123.45 8 Pneumonia 19.162 220.115 16. 2009 34 .25 4 Demam yang sebabnya tidak diketahui 24.467 234.364 8 Penyakit pulpa dan periapikal 54.275 83.154 235 0.254 358.262 41.807 28.463 52.953 247.142 105.881 143.200 462 0.2 POLA 10 BESAR PENYAKIT TERBANYAK PADA PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2009 No Kasus Daftar Tabulasi dasar (DTD) Laki-Laki Perempuan Total Kasus Jumlah Kunjungan 5 Infeksi saluran nafas bagian atas akut lainnya Demam yang sebabnya tidak diketahui Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) Gangguan refraksi dan akomodasi 67.647 2.63 9 Penyakit apendiks 13.380 52. 2009 Sedangkan pada pasien rawat inap. TABEL 3.629 121.004 68.446 67.588 80.477 35.533 21.

Penyakit Menular a.000 penduduk. 3. Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratifikasi endemisitas malaria suatu wilayah di Indonesia menjadi 4 strata yaitu : 1. 2. Endemis Sedang bila API berkisar antara 1 – < 5 per 1. Wilayah endemis malaria pada umumnya adalah desa-desa terpencil dengan kondisi lingkungan yang tidak baik. Malaria disebabkan oleh hewan bersel satu (protozoa) Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles.000 penduduk.68 per 1. Malaria Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi komitmen global dalam Millenium Development Goals (MDGs). Endemis Rendah bila API 0 . Sebesar 75.143. GAMBAR 3. Kasus malaria klinis tahun 2009 di Indonesia dilaporkan sebanyak 1.024 kasus.27.63%. tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang rendah.66 per 1.02.000 penduduk dengan kisaran provinsi 0. angka API 2009 sudah memenuhi target. Angka ini jauh menurun dibandingkan API tahun 1990 yaitu 4.5% dari kasus tersebut diperiksa sediaan darahnya. dan dihasilkan 23.1 per 1. 2010 API nasional pada tahun 2009 adalah 1.45%.000 penduduk. Kemenkes RI. akses pelayanan kesehatan kurang.85 per 1. sarana transportasi dan komunikasi yang sulit.1% sediaan darah yang positif.Berdasarkan CFR. 2. Dihubungkan dengan target pencapaian MDGs.8 STRATIFIKASI ENDEMISITAS MALARIA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.000 penduduki.000 penduduk. Endemis Tinggi bila API > 5 per 1. 4. Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria (Daerah pembebasan malaria) atau API = 0. Sedangkan penyakit dengan CFR terendah adalah Infeksi Saluran Napas Bagian Atas Akut Lainnya sebesar 0. penyakit yang memiliki CFR paling tinggi di antara 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di RS adalah Pneumonia sebesar 6. Relatif tingginya cakupan pemeriksaan sediaan darah di 35 . serta buruknya perilaku masyarakat terhadap kebiasaan hidup sehat.

000 penduduk pada tahun 2009. yaitu di bawah 0.laboratorium tersebut merupakan pelaksanaan kebijakan nasional pengendalian malaria dalam mencapai eliminasi malaria. Namun. yaitu semua kasus malaria klinis harus dikonfirmasi laboratorium. 2010 Indikator untuk upaya penemuan penderita di wilayah Jawa-Bali menggunakan Annual Parasite Incidence (API) atau Angka Parasit Malaria per 1.000 penduduk. Pada gambar di atas nampak bahwa AMI di wilayah luar Jawa-Bali pada tahun 2005-2009 menunjukkan kecenderungan penurunan. Kemenkes RI. API senantiasa memenuhi target. Angka ini terus turun hingga 12. GAMBAR 3.000 penduduk.000 penduduk. Pada gambar di atas nampak bahwa dari tahun 2004-2009. Angka ini telah mencapai target yang ditentukan.25 per 1.17 per 1.75 per 1.000 penduduk.9 ANNUAL PARASITE INCIDENCE MALARIA (‰) DI JAWA BALI TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Pada tahun 2009 API Jawa-Bali sebesar 0. GAMBAR 3. Kemenkes RI. Pada tahun 2005 AMI di luar Jawa-Bali sebesar 24.10 ANNUAL MALARIA INCIDENCE (‰) DI LUAR JAWA BALI TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 2010 Upaya pengendalian malaria untuk wilayah di luar Jawa-Bali menggunakan Annual Malaria Incidence (AMI).27 per 1. pada tahun 2004-2009 pencapaian AMI masih belum 36 .

Kemenkes RI. yaitu Sulawesi Utara. GAMBAR 3.5. yaitu proporsi jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.7%. CDR tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 85. b. Angka ini telah memenuhi target minimal yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70%. karena pada kurun waktu tersebut AMI berada di atas target yang telah ditentukan. Maluku.1% dan Kepulauan Riau sebesar 32.3%. 37 . Kementerian Kesehatan menetapkan target CDR minimal pada tahun 2009 sebesar 70%. TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR). Berikut ini disajikan pencapaian CDR menurut provinsi tahun 2009. Sedangkan provinsi dengan CDR terendah adalah Kalimantan Tengah sebesar 30. Pada tingkat provinsi.1%. Rincian API dan AMI menurut provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 3. Banten. Bersama dengan Malaria dan HIV/AIDS. Pada gambar di atas nampak bahwa terdapat 5 provinsi yang telah memenuhi target CDR 70%. Berikut ini ditampilkan SR tahun 2004-2008. baik yang sembuh maupun yang menjalani pengobatan lengkap diantara pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat.6% diikuti oleh Kalimantan Timur sebesar 31. 2010 Pencapaian CDR pada tahun 2009 sebesar 73.2%. TB Paru Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.11 CAKUPAN CASE DETECTION RATE (CDR) TB DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.memenuhi target. Dalam mengukur keberhasilan pengobatan TB digunakan Angka Keberhasilan Pengobatan (SR=Success Rate) yang mengindikasikan persentase pasien baru TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan. Success Rate dapat membantu dalam mengetahui kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. DKI Jakarta. dan Jawa Barat. diikuti DKI Jakarta sebesar 81% dan Banten sebesar 77.

6% pada tahun 2006. penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi secara bergantian.GAMBAR 3. Gambaran kasus TB dan keberhasilan pengobatannya dapat dilihat pada Lampiran 3. Gambar berikut menampilkan kasus baru dan kumulatif penderita AIDS yang terjadi sampai tahun 2009.10. Kasus HIV dan AIDS menunjukkan trend peningkatan setiap tahun. 2010 Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa pencapaian Success Rate (SR) pada tahun 2004-2008 telah memenuhi target 85%.973 kasus. 3.12 SUCCESS RATE (SR) TB DI INDONESIA TAHUN 2004-2008 Sumber: Ditjen PP-PL. Namun demikian terjadi penurunan Success Rate (SR) dari 91% pada tahun 2005 menjadi 87. HIV & AIDS HIV & AIDS disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. c.9 dan 3. Angka ini kemudian kembali naik menjadi 91% pada tahun 2007 dan 2008. 38 . Kemenkes RI. transfusi darah.8. 3. dan penularan dari ibu ke anak dalam kandungan melalui plasenta dan kegiatan menyusui. Penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh penderita yang terjadi melalui proses hubungan seksual. Sampai dengan Desember 2009 jumlah kumulatif kasus AIDS mencapai 19.7.

7 per 100. Besaran kasus juga dapat dilihat dengan menggunakan Case Rate AIDS yang diperoleh dengan membandingkan jumlah kasus kumulatif terhadap jumlah penduduk per 100.4. provinsi dengan Case Rate tertinggi adalah Papua sebesar 133.13 JUMLAH KASUS BARU DAN KUMULATIF PENDERITA AIDS YANG TERDETEKSI DARI BERBAGAI SARANA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2001 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Kemenkes RI. dari 2. 2010 39 . dan DKI Jakarta 31. GAMBAR 3. diikuti oleh Bali sebesar 45.14 CASE RATE AIDS MENURUT PROVINSI DI INDONESIA SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.000 penduduk.000 penduduk.947 kasus baru pada tahun 2007 menjadi 4.969 kasus baru pada tahun 2008. Pada tahun 2009.GAMBAR 3. Kemenkes RI.1. 2010 Pada gambar di atas nampak adanya peningkatan penemuan kasus baru yang cukup signifikan pada tahun 2008.

Kemenkes RI. Kemenkes RI. hubungan sejenis melalui Lelaki Seks Lelaki (LSL). Sedangkan persentase terendah adalah melalui transfusi darah sebesar 0.16 JUMLAH KASUS BARU AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIK DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. namun jika kita melihat kecenderungan kasus baru AIDS pada pengguna NAPZA suntik menunjukkan penurunan selama tahun 2006.3%. 2010 40 .2009 seperti yang nampak pada gambar berikut. yaitu hubungan seksual lawan jenis (heteroseksual). GAMBAR 3. Meskipun penggunaan IDU menempati urutan ke-2 terbesar. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya upaya promosi kesehatan pada kelompok pengguna NAPZA suntik yang menyampaikan pesan bahwa penggunaan jarum suntik secara bergantian merupakan perilaku risiko tinggi terhadap penularan HIV. 2010 Berdasarkan cara penularan. GAMBAR 3. penggunaan Narkoba suntik secara bergantian. persentase kasus kumulatif tertinggi adalah melalui hubungan heteroseksual sebesar 50. transfusi darah dan perinatal.HIV/AIDS memiliki beberapa faktor risiko. Berikut ini disajikan persentase kasus kumulatif menurut faktor risiko.15 PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT CARA PENULARAN DI INDONESIA SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.1%.

Pada tahun 2009 jumlah kasus baru AIDS yang menggunakan NAPZA suntik
sebanyak 1.156 kasus. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan tahun 2008 sebesar 1.255
kasus.
Berdasarkan jenis kelamin, proporsi kasus kumulatif AIDS laki-laki lebih besar
terhadap perempuan yaitu 73,7% berbanding 25,8%.
GAMBAR 3.17
PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT JENIS KELAMIN DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Proporsi kasus kumulatif AIDS menurut kelompok umur menunjukkan gambaran
bahwa sebagian besar kasus kumulatif AIDS terdapat pada usia 20-29 tahun, 30-39 tahun,
dan 40-49 tahun. Kelompok umur tersebut memang termasuk ke dalam usia produktif yang
tentu saja juga aktif secara seksual.
GAMBAR 3.18
PERSENTASE KASUS KUMULATIF AIDS MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

41

Informasi lebih rinci tentang HIV/AIDS dapat dilihat pada Lampiran 3.11, 3.12, dan
3.13.
d. Pneumonia

Pneumonia merupakan infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi
dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia juga dapat terjadi akibat
kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang
Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau
orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Pada tahun 2009, cakupan penemuan Pneumonia pada balita sebesar 22,18%
dengan jumlah kasus yang ditemukan sebanyak 390.319 kasus. Berikut ini ditampilkan
angka cakupan penemuan pneumonia balita menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 3.19
CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA BALITA
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Pada tingkat provinsi, dapat diketahui bahwa tiga provinsi dengan cakupan tertinggi
berturut-turut adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 71,45%, Jawa Barat sebesar
46,16% dan Kepulauan Bangka Belitung sebesar 41,41%. Sedangkan tiga provinsi dengan
cakupan terendah adalah Provinsi Kepulauan Riau sebesar 0,32%, Aceh sebesar 2,16%,
dan Kalimantan Barat sebesar 2,54%. Data cakupan masing-masing provinsi terdapat pada
Lampiran 3.14.
e. Kusta

Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri
Mycobacterium leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan Kusta
menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan
mata. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut :
a. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa
b. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan
kelemahan/kelumpuhan otot.
42

c. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif).
Pada tahun 2009, dilaporkan terdapat kasus baru tipe Multi Basiler sebanyak 14.227
kasus dan tipe Pausi Basiler sebanyak 3.033 dengan Newly Case Detection Rate (NCDR)
sebesar 7,49 per 100.000 penduduk. Berikut ini disajikan kecenderungan kasus baru tipe
PB dan MB serta NCDR.
GAMBAR 3.20
JUMLAH KASUS BARU KUSTA TIPE PB DAN MB
DAN NCDR PER 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2005-2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Penemuan kasus baru sejak tahun 2005-2009 menunjukkan kecenderungan
penurunan. Pada tahun 2005 NCDR sebesar 8,99 per 100.000 penduduk, angka ini turun
terus hingga 7,49 per 100.000 penduduk pada tahun 2009. Kecenderungan penurunan
tersebut juga terjadi pada jumlah kasus baru kusta tipe PB dan MB.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen
PP&PL) telah menetapkan 33 provinsi di Indonesia ke dalam 2 kelompok beban kusta,
yaitu provinsi dengan beban kusta tinggi (high endemic) dan beban kusta rendah (low
endemic). Provinsi dengan high endemic jika NCDR > 10 per 100.000 penduduk atau
jumlah kasus baru lebih dari 1.000, sedangkan low endemic jika NCDR < 10 per 100.000
penduduk.

43

GAMBAR 3.21
STATUS BEBAN KUSTA DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI, 2010

Keberhasilan dalam mendeteksi kasus baru dapat diukur dari tinggi rendahnya
proporsi cacat tingkat II, sedangkan untuk mengetahui tingkat penularan di masyarakat
digunakan indikator proporsi anak (0-14 tahun) di antara penderita baru. Proporsi cacat
tingkat II pada tahun 2009 sebesar 10,37%. Sedangkan proporsi anak di antara penderita
baru pada tahun 2009 sebesar 11,44%.
GAMBAR 3.22
PROPORSI CACAT TINGKAT II DAN PROPORSI ANAK DI ANTARA KASUS BARU KUSTA
DI INDONESIA TAHUN 2001-2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Pada kurun waktu 2002-2009 terjadi kecenderungan peningkatan proporsi cacat
tingkat II. Sedangkan proporsi kusta pada anak di antara penderita baru nampak
berfluktuasi sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2005. Kecenderunggan peningkatan
proporsi pada anak nampak dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Informasi menurut
provinsi terkait penyakit kusta terdapat pada Lampiran 3.15.

44

2. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
a.Tetanus Neonatorum

Tetanus Neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk ke
tubuh melalui luka. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir yang salah satunya disebabkan
oleh pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Kasus TN banyak ditemukan di
negara berkembang khususnya dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
rendah.
Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 158 kasus dengan jumlah meninggal 76,
dengan demikian CFR Tetanus Neonatorum pada tahun 2009 sebesar 48,1%. Pada tahun
2009 kasus TN terjadi di 20 provinsi, dan 14 provinsi melaporkan adanya kasus meninggal.
Gambaran kasus Tetanus Neonatorum beserta persentase kasus berdasarkan faktor
risiko menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.16.
b.Campak

Campak merupakan salah satu penyakit PD3I yang disebabkan oleh virus campak.
Sebagian besar kasus campak menyerang anak-anak. Penularan dapat terjadi melalui udara
yang telah terkontaminasi oleh sekret orang yang telah terinfeksi. Berikut ini ditampilkan
Incidence Rate (IR) Campak menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 3.23
INCIDENCE RATE (IR) CAMPAK PER 10.000 PENDUDUK
MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Pada tahun 2009 dilaporkan terdapat 18.055 kasus campak dengan Incidence Rate
sebesar 0,77 per 10.000 penduduk. Incidence Rate tertinggi pada tahun 2009 terdapat di
Provinsi Kepulauan Riau sebesar 3,52; diikuti oleh Sumatera Barat sebesar 2 per 10.000
penduduk, dan Kalimantan Selatan sebesar 1,98 per 10.000 penduduk. Sedangkan Maluku
dan Nusa Tenggara Barat memiliki IR sebesar 0 per 10.000 penduduk.
Informasi mengenai penyakit campak menurut provinsi terdapat pada Lampiran
3.17, 3.18, 3.19, 3.20, dan 3.21.
45

c. Difteri

Penyakit Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang
menyerang sistem pernafasan bagian atas. Penyakit ini memiliki gejala sakit leher, demam
ringan, sakit tekak. Difteri juga kerap ditandai dengan tumbuhnya membran kelabu yang
menutupi tonsil serta bagian saluran pernafasan.
Jumlah kasus Difteri pada tahun 2009 sebanyak 189 kasus, dengan Incidence Rate
per 10.000 penduduk menurut kelompok umur menunjukkan umur < 1 tahun memiliki IR
sebesar 0,01; umur 1-4 tahun sebesar 0,02 ; dan umur 5-14 tahun sebesar 0,02 per 10.000
penduduk.
GAMBAR 3.24
INCIDENCE RATE (IR) DIFTERI PER 10.000 PENDUDUK
MENURUT KELOMPOK UMUR DI INDONESIA TAHUN 2003-2009

Sumber: Ditjen PP&PL, Kemenkes RI 2009

Gambaran penyakit Difteri menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.22 dan
3.23.
d. Polio dan AFP (Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu Akut)

Polio merupakan salah satu penyakit menular yang termasuk ke dalam PD3I yang
disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf higga penderita mengalami
kelumpuhan. Penyakit yang pada umumnya menyerang anak berumur 0-3 tahun ini
ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher dan sakit di
tungkai dan lengan.
Sedangkan AFP merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami
penurunan kekuatan otot tanpa penyebab yang jelas kemudian berakibat pada kelumpuhan.
Ditjen PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan indikator surveilans AFP yaitu
ditemukannya Non Polio AFP Rate minimal sebesar 2/100.0000 anak usia < 15 tahun. Pada
tahun 2009 non Polio AFP Rate sebesar 2,65 per 100.000 anak < 15 tahun.

46

IR DBD pada tahun 2009 adalah 68.24 dan 3. Diare dan Chikungunya.000 anak < 15 tahun. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur < 15 tahun. Seluruh penyakit potensial KLB ini banyak mengakibatkan kematian dan kerugian secara ekonomi.57 per 100.000 anak < 15 tahun. diikuti oleh NTB dan Kalimantan Tengah masing-masing sebesar 1.000 anak < 15 tahun.25 NON POLIO AFP RATE PER 100.000 ANAK < 15 TAHUN DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. Pada tahun 2009. a.64 per 100.000 anak < 15 tahun.000 penduduk dan CFR sebesar 0. namun dapat juga menyerang orang dewasa. di antaranya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Angka-angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2008 dengan IR sebesar 59.25.02 per 100.420 orang.29 dan 1.86%. terdapat 158.22 per 100.912 kasus dengan jumlah kematian 1. Informasi lebih rinci menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3. 3. 47 . Kemenkes RI 2009 Provinsi dengan non Polio AFP Rate tertinggi adalah Gorontalo sebesar 8. diikuti oleh DIY dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 5.89%. Sedangkan provinsi dengan non Polio AFP Rate terendah adalah Papua sebesar 1 per 100.Demam Berdarah Dengue (DBD) Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty.4 per 100. Dengan demikian. Penyakit Potensial KLB/Wabah Terdapat beberapa penyakit yang berpotensi KLB/wabah yang sering terjadi di Indonesia.67 dan 5.GAMBAR 3.000 penduduk dan CFR sebesar 0.

000 penduduk.000 penduduk. GAMBAR 3. Provinsi Maluku melaporkan 0 kasus.84 per 100. yaitu 313. Kecenderungan penurunan tersebut tidak nampak pada IR per 100.27 INCIDENCE RATE DBD PER 100.000 penduduk. namun sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2008. diikuti oleh Kalimantan Barat sebesar 228.41 per 100.000 penduduk dan Kalimantan Timur sebesar 173. Kemenkes RI 2009 Meskipun CFR tahun 2009 lebih tinggi dibandingkan tahun 2008. Kemenkes RI 2009 48 .26 INCIDENCE RATE DBD PER 100.44 dan Jambi sebesar 8. Angka Insidens (IR) tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta.000 penduduk.55 per 100.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. nampak adanya kecenderungan penurunan CFR. Sedangkan IR terendah di Provinsi NTT sebesar 8.000 PENDUDUK DAN CASE FATALITY RATE DBD DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP&PL.3 per 100.GAMBAR 3.

GAMBAR 3.5% kabupaten/kota terjangkit.Pada tahun 2009. 1998 dan 2005. Puncak peningkatan kasus tahun 2009 terjadi pada bulan Januari. Puncak IR DBD terjadi pada tahun 1973. dan DKI Jakarta sebesar 0.08%. dan sedikit menurun di tahun 1999. namun terjadi peningkatan sedikit pada bulan November dan Desember. GAMBAR 3.26%. 1988. Bangka Belitung sebesar 4. provinsi dengan CFR tertinggi adalah Kep.28 CASE FATALITY RATE DBD DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. Sedangkan CFR terendah terdapat di provinsi Sulawesi Barat. dimana tidak ada kasus meninggal. kemudian kasus menurun kembali setelah bulan Juli dan mencapai titik terendah pada bulan September. Pada tahun 2008 sebesar 73. kemudian meningkat kembali sampai tahun 2007.58%. diikuti oleh Bengkulu sebesar 3.11%.29 PERSENTASE KABUPATEN/KOTA TERJANGKIT DBD DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP&PL. Februari dan Maret. Kemenkes RI 2009 Pola perkembangan DBD pada tahun 2009 secara nasional menunjukkan terjadinya peningkatan kasus dan kematian DBD dibandingkan tahun 2008. Kemenkes RI 2009 49 . Jumlah kabupaten/kota terjangkit DBD sejak tahun 1968 sampai dengan 2009 cenderung mengalami peningkatan seiring dengan terjadinya pemekaran wilayah di Indonesia. Gorontalo sebesar 2.2%. sedangkan tahun 2009 tercatat 384 Kabupaten/kota dari 497 Kabupaten/kota yang ada atau sebesar 77. Jumlah kabupaten/kota terjangkit DBD terus meningkat sampai tahun 1998.

52% menjadi 1. CFR tahun 2009 tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. GAMBAR 3. dari 2. jumlah kematian sebanyak 100 orang atau CFR sebesar 1.74% pada tahun 2009. Kejadian Luar Biasa (KLB) Diare terjadi di 15 provinsi dengan jumlah penderita sebanyak 5.31 KLB DIARE DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.26%. Angka ini naik menjadi 2.756 orang. Seseorang dikatakan menderita Diare bila feses lebih berair dari biasanya.48%. b. Kecenderungan CFR Diare pada periode tahun 2005-2009 terdapat pada gambar berikut. Penurunan ini dapat disebabkan oleh adanya perbaikan penatalaksanaan kasus Diare.26 dan Lampiran 3. 2010 50 . atau bila buang air besar tiga kali atau lebih.48% pada tahun 2008. pada tahun 2008 CFR Diare sebesar 2.74%. Angka ini turun menjadi 1.30 CASE FATALITY RATE (CFR) DIARE DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam. Kemkes RI. GAMBAR 3.Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait dengan penyakit DBD dapat dilihat pada Lampiran 3.27. Berikut ini disajikan gambaran distribusi provinsi dengan KLB Diare pada tahun 2009. Diare Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Kemkes RI. 2010 Pada gambar di atas terlihat adanya penurunan CFR yang cukup signifikan pada tahun 2006-2007.

Bangka Belitung. Sumatera Selatan. Kemkes RI. Jawa Barat. Banten. DKI Jakarta. Jawa Tengah. Sumatera Barat. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya penyakit ini antara lain rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat. Penyakit ini kerap dijumpai terutama di daerah tropis/subtropis dan sering menimbulkan epidemi. Jambi. Kalimantan Selatan. NTB. Sumatera Utara.28. Bengkulu. 2010 Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan kasus Chikungunya secara signifikan pada tahun 2009 antara lain semakin banyaknya tempat-tempat perindukan nyamuk penular.Informasi lebih rinci menurut provinsi terkait Diare dapat dilihat pada Lampiran 3. Pada tahun 2008 dilaporkan di Provinsi Jawa Barat. Kalimantan Barat. Kep. 51 .592 kasus tanpa kematian. Sedangkan pada tahun 2009 dilaporkan di Aceh.756 kasus tanpa kematian.29. kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan. Jawa Timur. Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun-tahun sebelumnya masih banyak daerah-daerah yang belum melaporkan kejadian kasus Chikungunya. Sumbar dan DI Yogyakarta dengan jumlah 3. dan makin meningkatnya arus mobilisasi penduduk. Bali. DKI Jakarta. Berikut ini disajikan gambaran kasus Chikungunya menurut provinsi pada tahun 2009. ruam /bercak-bercak kemerahan di kulit dan nyeri persendian. GAMBAR 3. penyakit disebabkan oleh infeksi virus Chik yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.Chikungunya Chikungunya adalah penyakit infeksi akut yang ditandai gejala utama demam. c.32 JUMLAH KASUS CHIKUNGUNYA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Gambaran kasus Chikungunya menurut provinsi terdapat pada Lampiran 3. Lampung. dan Kalimantan Timur dengan jumlah 83.

Bangka Belitung. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan kasus GHPR menjadi 45. DKI Jakarta. Bengkulu. DI Yogyakarta.d. kera. yaitu : GHPR (kasus Gigitan Hewan Penular Rabies). daerah tertular rabies adalah 24 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia.996 dengan 7. dan Lyssa. GAMBAR 3. kucing. 2010 Selama tahun 2004-2009. dan Lyssa pada tahun 2004-2009. Jawa Tengah.30. Gambaran situasi Rabies di Indonesia menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Lampiran 3. kelelawar. dan Papua yang masih dinyatakan sebagai daerah bebas rabies. Jawa Timur.316 dan lyssa sebesar 195 kasus. kasus yang divaksinasi dengan Vaksin Anti Rabies (VAR). VAR DAN LYSSA DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Kalimantan Selatan dan Sulawesi Barat. kasus divaksinasi. Jawa Barat. Pada tahun 2009 provinsi dengan kasus GHPR terbanyak adalah Bali. NTB. Sampai akhir tahun 2009. Penyakit dengan CFR tinggi ini terus menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia.Rabies Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus rabies yang ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing. Berikut ini ditampilkan peta wilayah endemis rabies tahun 2009 52 .33 JUMLAH KASUS GHPR. Berikut ini disajikan gambaran GHPR. sedangkan provinsi yang berhasil menekan jumlah lyssa menjadi 0 kasus pada tahun 2009 adalah Jambi. Dengan demikian hanya 9 provinsi yaitu: Kep. Papua Barat. musang dan serigala yang di dalam tubuhnya mengandung virus Rabies. nampak adanya kecenderungan peningkatan jumlah kasus GHPR dan kasus VAR. Terdapat beberapa indikator yang digunakan dalam memantau upaya pengendalian Rabies. Kasus GHPR pada tahun 2004 dilaporkan sebanyak 14. Kalimantan Barat. Kemkes RI.466 kasus dengan kasus divaksinasi 35.895 kasus divaksinasi dan 109 kasus lyssa.

Kalimantan Barat. Papua Barat. Bangka Belitung. Kemkes RI. Jawa Tengah. Brugia malayi dan Brugia timori.699.GAMBAR 3. Penyakit ini menginfeksi jaringan limfe (getah bening).31. yang terdiri dari Wuchereria bancrofti.34 WILAYAH TERTULAR RABIES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. cacing tersebut tumbuh menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe sehingga menyebabkan pembengkakan di lengan dan organ genital. Dalam tubuh manusia. 2010 Sampai tahun 2009 jumlah kasus klinis filariasis yang dilaporkan sebanyak 11. DKI Jakarta. maka provinsi yang bebas rabies pada tahun 2009 yaitu Kep. jumlah kasus klinis yang dilaporkan sebanyak 11. GAMBAR 3. NTB. dan Papua. Filariasis Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filaria. Informasi lebih rinci terkait penyakit filariasis terdapat pada Lampiran 3.35 JUMLAH KASUS FILARIASI DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Pada tahun 2008. 2010 Berdasarkan gambar di atas. Filariasis menular melalui gigitan nyamuk yang mengandung cacing filaria dalam tubuhnya. Kemkes RI.914 yang tersebar di 401 kabupaten/kota. Jawa Timur. 53 . baik penderita lama yang baru ditemukan maupun penderita baru. Jumlah kasus klinis filariasis ini merupakan jumlah kumulatif yang dilaporkan dari waktu ke waktu. e. DI Yogyakarta.

Kecamatan Selo & Cepogo serta Cangkringan di Kaki Gunung Merapi. KLB Pes terakhir terjadi pada tahun 2007 di Dusun Sulorowo. Kecamatan Tutur Nongkojajar 2. Desa Kayukebek. Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Boyolali. Terdapat 2 kasus yang meninggal akibat antraks tipe pencernaan yang bersifat sangat akut. dimana terdapat 40 spesimen manusia dan 3. Provinsi Jawa Timur di Kabupaten Pasuruan.76%). Provinsi Jawa Barat di Kabupaten Bandung. Kecamatan Selo dan Cepogo. Terdapat 4 wilayah yang merupakan wilayah fokus Pes yaitu 1. Selama tahun 2009 telah dilaporkan kasus antraks pada manusia sebanyak 17 kasus 2 orang diantaranya meninggal (CFR 11. g. Kecamatan Ciwidey di daerah kawah putih Ciwidey. meskipun dapat juga menyerang mamalia lain dan beberapa jenis unggas. Kecamatan Tutur Nongkojajar Kabupaten Pasuruan. Berikut ini ditampilkan hasil surveilans aktif dan pasif pes pada manusia selama tahun 2004-2009. Kecamatan Cangkringan 4. Semua kasus berasal dari Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Surveilans aktif dan pasif terhadap rodent dan pinjalnya masih tetap dilakukan secara rutin di empat daerah fokus Pes tersebut untuk mengantisipasi terjadinya KLB Pes yang biasa terjadi setiap 10 tahun. 54 . 3. Antraks Penyakit Antraks adalah penyakit infeksi yang akut yang disebabkan oleh spora dari bakteri Bacillus anthracis. Provinsi DI Yogyakarta di Kabupaten Sleman. Seluruh daerah tersebut adalah merupakan daerah pegunungan (daerah ketinggian) seperti Kecamatan Tutur Nongkojajar di kaki Gunung Bromo. Pada tahun 2009. provinsi yang masih melaporkan kegiatan trapping hanya Jawa Timur. Spora Bacillus anthracis dapat bertahan hidup di lingkungan selama bertahun-tahun hingga mendapatkan host baru. Umumnya penyakit ini terjadi pada mamalia herbivora baik yang liar maupun peliharaan. Manusia dapat tertular Antraks melalui kontak langsung maupun tidak langsung atau mengkonsumsi binatang yang terinfeksi atau produk hewan yang terkontaminasi bakteri/spora Antraks. Kecamatan Ciwidey. Pes Penyakit pes atau bubonic plaque disebabkan oleh infeksi bakteri Pasteurella pestis melalui hewan pengerat liar.f.175 spesimen rodent yang diperiksa di BLK Surabaya dan hasilnya menunjukkan negatif. Provinsi Jawa Timur.

Pada tahun 2009 terdapat tiga wilayah yang melaporkan adanya kasus leptospirosis yaitu Provinsi DKI Jakarta. Berikut ini ditampilkan gambaran jumlah kasus. Pada tahun 2008 dan 2009 tidak ditemukan lagi kasus positif pada manusia. h. Manusia dapat terinfeksi jika terpapar dengan air. dimana sedang terjadi bencana banjir di wilayah tersebut. Secara nasional. MENINGGAL DAN CFR LEPTOSPIROSIS DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. pada tahun 2009 terdapat 378 kasus dengan 23 kasus meninggal. Pada tahun 2009 terjadi peningkatan kasus Leptospirosis di Jawa Tengah pada bulan Januari sampai dengan April 2009. 2010 55 . meninggal dan CFR Leptospirosis selama tahun 2004-2009.36 HASIL SURVEILANS PES PADA MANUSIA DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Penyakit ini ditandai dengan beberapa gejala seperti flu sampai dengan gangguan serius yang dapat menyebabkan kematian. GAMBAR 3. Kemkes RI.37 JUMLAH KASUS.32. Data dan Informasi mengenai penyakit pes terdapat pada Lampiran 3. Leptospirosis Leptospirosis ditularkan melalui urin hewan pengerat yang telah terinfeksi bakteri penyebab Leptospirosis. 2010 Pada gambar di atas nampak terjadi peningkatan jumlah manusia yang diperiksa maupun yang menunjukkan hasil positif pada tahun 2004-2007. Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Kasus Leptospirosis seringkali dilaporkan dari wilayah yang terkena banjir. tanah basah yang telah terkontaminasi urin tersebut. Kemkes RI.GAMBAR 3.

Berikut ini ditampilkan jumlah kasus.Gambar di atas menampilkan adanya peningkatan kasus pada tahun 2007 dengan jumlah kasus 667 dan jumlah meninggal 57. Angka CFR ini merupakan yang tertinggi selama kurun waktu tahun 2005-2009. kasus meninggal dan CFR Flu Burung tahun 2005-2009. Pada tahun 2009 dilaporkan kasus sebanyak 21 dengan kasus meninggal sebanyak 19 dan CFR sebesar 90.08 pada tahun 2009. Angka kematian ini naik pada tahun 2007 dengan CFR 8. Flu Burung Avian Influenza atau flu burung disebabkan oleh infeksi virus influenza tipe A (H5N1) yang umumnya menginfeksi unggas dan sedikit kemungkinan menginfeksi babi. 56 . Namun angka ini turun menjadi 6.48%. Sedangkan CFR menunjukkan kecenderungan penurunan pada tahun 2004-2006. tiga provinsi dengan jumlah kasus Flu Burung tertinggi yaitu DKI Jakarta. Kemkes RI. Penyakit ini bisa menular kepada manusia dan dapat menimbulkan penyakit flu yang berakibat kematian. Pada tahun 2007 memang terjadi banjir di beberapa wilayah di Indonesia. Kecenderungan penurunan terjadi dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009.33. Kasus Flu Burung di Indonesia pada manusia pertama kali dilaporkan pada bulan Juni tahun 2005. Sedangkan CFR menunjukkan kecenderungan peningkatan sejak kasus pertama kali ditemukan pada tahun 2005. i. khususnya Provinsi DKI Jakarta. MENINGGAL DAN CFR FLU BURUNG DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 2010 Jumlah kasus Flu Burung dan jumlah meninggal dilaporkan terbanyak pada tahun 2006.38 JUMLAH KASUS. GAMBAR 3. Jika dilihat secara kumulatif sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Jawa Barat dan Banten.55%. Informasi lebih rinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 3.

DKI Jakarta. 2010 Berikut ini ditampilkan pemetaan kasus Flu Burung sampai dengan tahun 2009. Jawa Barat.34. Bali. *** 57 . Riau. flu burung telah menyebar ke beberapa Provinsi di Indonesia. Gambaran situasi Flu Burung menurut provinsi juga dapat dilihat pada Lampiran 3.GAMBAR 3. Jawa Timur. yaitu Sumatera Utara. Sumatera Barat. GAMBAR 3. Kemkes RI. dan Sulawesi Selatan. Lampung. Kemkes RI.39 JUMLAH KASUS DAN MENINGGAL AKIBAT FLU BURUNG DI 13 PROVINSI TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL.40 WILAYAH PENYEBARAN KASUS FLU BURUNG DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. 2010 Pada gambar di atas nampak bahwa sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Jawa Tengah. Sumatera Selatan. Banten. DIY.

.

pemberantasan penyakit menular. 1. kesehatan jiwa. A. pengamanan penggunaan zat aditif dalam makanan dan minuman. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar di dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan anak. pengobatan rawat inap.Secara umum upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama. khususnya untuk tahun 2009. pengobatan rawat jalan. zat adiktif dan bahan berbahaya. serta penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan. yaitu upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. pengamanan narkotika. PELAYANAN KESEHATAN DASAR Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah penting dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. pembatasan dan pemulihan kecacatan yang ditujukan terhadap perorangan. Berikut ini diuraikan situasi upaya kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Gangguan kesehatan yang dialami seorang ibu yang sedang hamil dapat 59 . untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. Upaya kesehatan perorangan mencakup upaya-upaya promosi kesehatan. untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat. pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan. penyehatan lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar. perbaikan gizi masyarakat. Dengan pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan cepat. Upaya kesehatan masyarakat mencakup upaya-upaya promosi kesehatan. pemeliharaan kesehatan. Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta. diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi. pengendalian penyakit tidak menular. Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan adalah sebagai berikut ini. pencegahan penyakit. psikotropika. Upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta.

000 kelahiran hidup. tekanan darah. 84% untuk cakupan pelayanan ibu hamil sesuai standar (K4). skrining status imunisasi tetanus dan memberikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan. test laboratorium (rutin dan khusus). dokter. Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. tatalaksana kasus. peningkatan pelayanan kesehatan ibu diprioritaskan yaitu dengan menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 102 per 100. tinggi fundus uteri. bidan dan perawat. AKB 34 per 1. 60 . termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Upaya untuk mempercepat penurunan AKI telah dimulai sejak akhir tahun 1980-an melalui program Safe Motherhood Initiative yang mendapat perhatian besar dan dukungan dari berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri. AKI sebesar 228 per 100. dari posyandu sampai rumah sakit pemerintah maupun fasilitas pelayanan kesehatan swasta. dan 82% untuk cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (Pn). dan Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan beberapa indikator status kesehatan masyarakat. Target Cakupan kesehatan ibu yang harus dicapai pada tahun 2009 masing-masing sebesar 94% untuk Akses Pelayanan Antenatal (cakupan ibu hamil K1). menentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ). pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan. Dalam upaya pencapaian MDG’s dan tujuan pembangunan kesehatan. Angka Kematian Neonatus (AKN). nifas dan perawatan bayi baru lahir yang diberikan di semua jenis fasilitas pelayanan kesehatan.000 kelahiran hidup. Pada akhir tahun 1990-an secara konseptual telah diperkenalkan lagi upaya untuk menajamkan strategi dan intervensi dalam menurunkan AKI melalui Making Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2000. nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas). dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (K1 dan K4) Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya.000 kelahiran hidup. persalinan. Angka Kematian Ibu (AKI).000 kelahiran hidup pada tahun 1992 (SKRT). pengukuran tinggi badan.mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungannya hingga kelahiran dan masa pertumbuhan bayi dan anaknya. Pelayanan antenatal yang sesuai standar meliputi timbang berat badan. serta temu wicara (konseling).000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100. AKN 19 per 1. Sedangkan tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelayanan antenatal kepada ibu hamil antara lain dokter spesialis kebidanan. a. Angka Kematian Bayi (AKB).000 kelahiran hidup. dan AKABA 44 per 1. serta KB pasca persalinan. Dewasa ini AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Kebijakan tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir secara khusus berhubungan dengan pelayanan antenatal.

1 kali pada triwulan kedua. Kesenjangan antara cakupan K1 dan K4 menunjukkan angka drop out K1-K4. dengan kata lain jika kesenjangan K1 dan K4 kecil maka hampir semua ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal 61 .51% pada tahun 2009.45% pada tahun 2009.09% pada tahun 2004 menjadi 94.1 memperlihatkan cakupan kunjungan K1 dan K4 pada ibu hamil selama enam tahun terakhir. Pada tahun 2004 terjadi selisih antara cakupan K1 dan K4 sebesar 11% kemudian tahun 2006 menjadi 10% dan pada tahun 2008 semakin kecil. pencegahan dan penanganan komplikasi. namun pada tahun 2009 sedikit menurun dari 86. Namun.Pelayanan antenatal disebut lengkap apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan serta memenuhi standar tersebut. Terlihat bahwa cakupan K1 selama tahun 2004 sampai 2009 terus mengalami peningkatan dari 88. Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan kepada ibu hamil.04% pada tahun 2008 menjadi 85. dengan ketentuan waktu pemberian pelayanan yang dianjurkan yaitu: minimal 1 kali pada triwulan pertama. pada tahun 2009 kesenjangan kembali meningkat menjadi 9%. dan 2 kali pada triwulan ketiga. Kemenkes RI Dari gambar tersebut di atas dapat dilihat kesenjangan yang terjadi antara cakupan K1 dan K4.1 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K1 DAN K4 DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. Sedangkan cakupan K4 pada tahun 2004-2008 cenderung meningkat. Gambar 4.6%. GAMBAR 4. Ditetapkan pula bahwa distribusi frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan. yaitu 6. Hasil pencapaian program pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dinilai dengan menggunakan indikator cakupan K1 dan K4 yang dihitung dengan membagi jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan (untuk penghitungan indikator K1) atau jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali sesuai standar oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu (untuk penghitungan indikator K4) dengan jumlah sasaran ibu hamil yang ada di wilayah kerja dalam 1 tahun. berupa deteksi dini faktor risiko.

Pada tahun 2009. sehingga kehamilannya dapat terus dipantau oleh petugas kesehatan.45% yang berarti telah mencapai target K4 tahun 2009 yang sebesar 84%.3 di bawah ini. Gambar 4. 62 . dapat dilihat pada Gambar 4. yang berarti telah mencapai target K1 tahun 2009 yaitu sebesar 94%. diikuti Papua Barat (55. Oleh karena itu perlu dilakukan percepatan peningkatan pelayanan kesehatan ibu di Provinsi Papua dan Sulawesi Barat.79%) dan Sulawesi Barat (57. Kemenkes RI Dari 33 provinsi di Indonesia.22%. Sedangkan Papua adalah provinsi dengan pencapaian K1 terendah. Sebanyak 18 provinsi telah mencapai target cakupan K4. hasil pencapaian indikator cakupan pelayanan K4 di Indonesia sebesar 85.85% dan 77.2 CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL (K1) TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas.51%. Untuk lebih jelasnya. Sementara provinsi yang lainnya telah mencapai cakupan K1 tidak kurang dari 80%.44%). Sedangkan Papua adalah provinsi dengan pencapaian K4 terendah (29. Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian K4 tertinggi (96.04%).85%. Kepulauan Bangka Belitung dan DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian K1 100%.meneruskan hingga kunjungan keempat pada triwulan 3.2 menyajikan hasil pencapaian cakupan K1 tahun 2009.53%). GAMBAR 4. 16 provinsi telah mencapai target cakupan K1 sebesar 94%. kecuali provinsi Papua dan Sulawesi Barat dengan pencapaian masing-masing 57. diikuti provinsi Bangka Belitung (94. yaitu sebesar 57.11%) dan Jawa Tengah (93. yang menunjukkan pencapaian indikator K1 sebesar 94.39%).

4 di bawah ini.GAMBAR 4. Kemenkes RI Sedangkan cakupan pelayanan K4 menurut provinsi dapat dilihat melalui Gambar 4. Sulawesi Barat.4 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN K4 IBU HAMIL TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Sebanyak 6 provinsi lainnya memiliki cakupan kurang dari 75% dan semuanya merupakan bagian dari Kawasan Timur Indonesia. 20 provinsi memiliki cakupan antara 75% . Papua Barat. Kemenkes RI 63 . Maluku Utara. dan Papua. Provinsi-provinsi tersebut adalah NTT.90%. GAMBAR 4. Terlihat bahwa hanya 7 provinsi di Indonesia dengan cakupan K4 lebih dari 90%. Maluku.3 CAKUPAN PELAYANAN IBU HAMIL K4 TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas.

000 kelahiran hidup pada tahun 1992 (SKRT) serta meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menjadi 90% pada tahun 2015 dari 40. Lancet 2006). dapat dilihat pada Gambar 4.90%). diikuti Provinsi Maluku Utara (61. Pada tahun 2009 cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Indonesia telah mencapai 84. diikuti Provinsi Kepulauan Riau (96. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan.30%). GAMBAR 4.6 bahwa DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pencapaian tertinggi (100%). Kematian saat bersalin dan 1 minggu pertama diperkirakan 60% dari seluruh kematian ibu (Maternal Mortality: who.5 PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN DI INDONESIA TAHUN 2004 – 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. Dari indikator cakupan Persalinan oleh Nakes tahun 2009.I Yogyakarta (95.7% pada tahun 1992 (BPS). where and why. telah mencapai target K4 tahun 2009 yang sebesar 82%.38%.38%. when.45%). Gambar 4.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dari 425 per 100. Sedangkan Papua merupakan provinsi dengan pencapaian Pn terendah (39. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan (Pn) Periode persalinan merupakan salah satu periode yang berkontribusi besar terhadap Angka Kematian Ibu di Indonesia. Sedangkan dalam target MDG’s.24%) dan D.5 memperlihatkan cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan sejak tahun 2004 sampai tahun 2009 yang cenderung meningkat. salah satu upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah menurunkan angka kematian ibu menjadi 102 per 100.75%) dan Sulawesi Barat (62. 64 .b. Kemenkes RI Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan (Pn) di Indonesia pada tahun 2009 yang sebesar 84.

Kenyataan di lapangan. Persentase penolong kelahiran pada 65 . Berdasarkan Susenas tahun 2008. revitalisasi Bidan Koordinator melalui pelaksanaan supervisi fasilitatif untuk peningkatan mutu dan kualitas tenaga penolong persalinan. Pada Gambar 4. Kemenkes RI Pada tahun 2009 sebanyak 19 provinsi di Indonesia telah mencapai target cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu 82%.6 terlihat bahwa sebanyak 7 provinsi di Indonesia yang memiliki cakupan Pn di atas 90%. peningkatan persalinan di fasilitas Kesehatan melalui jaminan program persalinan.34% kelahiran pada balita ditolong oleh tenaga kesehatan. serta peningkatan kualitas surveilans kesehatan ibu melalui pelaksanaan Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS KIA). masih terdapat penolong persalinan yang bukan tenaga kesehatan dan dilakukan di luar fasilitas pelayanan kesehatan.6 PERSENTASE CAKUPAN PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas.GAMBAR 4. Oleh karena itu secara bertahap diupayakan seluruh persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan.9%) pertolongan persalinan dilakukan di rumah dengan fasilitas seadanya. masih terdapat 25. di antaranya adalah Kemitraan Bidan Dukun. sebesar 77.13% persalinan ditolong bukan oleh nakes dan lebih dari setengahnya (53. Sehingga dalam upaya peningkatan cakupan persalinan perlu dilakukan melalui upaya pelaksanaan program unggulan kesehatan ibu. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2009. model rumah tunggu di Kabupaten dengan Puskesmas di daerah terpencil untuk pencegahan terhadap komplikasi yang terjadi selama persalinan. provinsi lainnya memiliki pencapaian kurang sama dengan 90%.

Persentase balita menurut penolong kelahiran dan provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4.24%). GAMBAR 4. Diupayakan kunjungan nifas ini dilakukan pada saat dilaksanakannya kegiatan di posyandu dan dilakukan bersamaan pada kunjungan bayi. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu: 1) kunjungan nifas pertama (KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari. 3) pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan. 66 . Maluku Utara (47. DI Yogyakarta.7 berikut ini. dan Sulawesi Barat (47.7 PERSENTASE BALITA MENURUT PENOLONG KELAHIRAN TAHUN 2008-2009 Sumber : BPS.2. persentase penolong kelahiran pada balita oleh tenaga kesehatan di atas 90% pada tahun 2009 adalah DKI Jakarta. dan 5) pelayanan KB pasca persalinan. 2) kunjungan nifas ke-2 (KF2) dilakukan pada minggu ke-2 setelah persalinan. 2) pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya. dan Bali. Susenas Berdasarkan provinsi. Pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan meliputi: 1) pemeriksaan tekanan darah.21%).000 IU sebanyak dua kali (2 x 24 jam).29%) dan dokter (15.48%). Perbandingan persentase penolong persalinan antara tahun 2008 dan 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. Dibandingkan dengan hasil survei yang sama pada tahun 2008. nadi. Sedangkan yang terendah adalah Provinsi Maluku (42. c. 4) pemberian kapsul Vitamin A 200. diikuti oleh dukun (21. persentase penolong kelahiran pada balita oleh tenaga kesehatan meningkat pada tahun 2009. dan 3) kunjungan nifas ke-3 (KF3) dilakukan minggu ke-6 setelah persalinan. respirasi dan suhu.balita yang tertinggi adalah oleh bidan (61. Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas (KF3) Pelayanan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan.28%).45%).

maka kasus tersebut perlu dilakukan upaya rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Bangka Belitung (94.51%).52%). Sementara target cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2015 adalah 90%. Bali merupakan provinsi dengan pencapaian cakupan KF3 tertinggi (101. 67 . Kalimantan Timur (36.54%.Gambar 4. d.8 PERSENTASE CAKUPAN PELAYANAN IBU NIFAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. ibu hamil yang memiliki risiko tinggi (risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan. Berdasarkan provinsi. kemudian Kep. karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan.54%).54%). ketiga provinsi tersebut bahkan telah mencapai cakupan 90% (target SPM tahun 2015).67%) dan Jawa Timur (93. Sebanyak 14 Provinsi memiliki cakupan kunjungan ibu nifas 3 kali sebesar 50% . dan Kalimantan Barat (40. Provinsi dengan cakupan terendah adalah Riau (16. GAMBAR 4. Penanganan Komplikasi Obstetri dan Neonatal Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh tenaga bidan di desa dan Puskesmas. Dari 30 provinsi yang melaporkan data.8 berikut ini menyajikan persentase pelayanan ibu nifas menurut provinsi di Indonesia.15%).75%. Kemenkes RI Cakupan kunjungan ibu nifas rata-rata pada tahun 2009 adalah 71.

dan persalinan prematur. diastole > 90 mmHg). sindroma gangguan pernafasan dan kelainan neonatal. perdarahan per vaginam. sepsis.82%. kecuali Provinsi Jawa Timur yang mencapai 84. letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu.500 gram). tetanus neonatorum. oedeme nyata. dengan kisaran cakupan antar provinsi yang cukup lebar. rumah bersalin dan rumah sakit. Risti/komplikasi kebidanan meliputi Hb < 8 g%. BBLR (Berat Badan Lahir < 2. eklampsia. ketuban pecah dini. letak sungsang pada primigravida.9 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas. trauma lahir. Seluruh provinsi belum mencapai cakupan penanganan komplikasi kebidanan 80%. yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi.9 memperlihatkan cakupan penanganan komplikasi kebidanan menurut provinsi pada tahun 2009. Sementara target standar pelayanan minimal bidang kesehatan untuk indikator tersebut yang harus dicapai pada tahun 68 . Kemenkes RI Neonatus risti/komplikasi meliputi asfiksia. puskesmas.Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal. infeksi berat/sepsis. Neonatus risti/komplikasi yang ditangani adalah neonatus risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih yaitu dokter dan bidan di polindes. GAMBAR 4. Pada tahun 2009 cakupan penanganan neonatal komplikasi yang dilaporkan sebesar 23.8%. Bahkan sebagian besar provinsi memiliki cakupan kurang dari 50%. Gambar 4. tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg.

2%.2010 yaitu 80%. pada hari ke 3 – 7 hari.3% dan DIY 58%.10 CAKUPAN PENANGANAN KOMPLIKASI NEONATAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binakesmas. Gambaran cakupan penanganan komplikasi neonatal per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4. Kunjungan Neonatal Bayi sampai umur 28 hari merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Sedangkan cakupan terendah adalah provinsi Maluku Utara. Dalam melaksanakan pelayanan neonatal. dan Sulawesi Tenggara. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi. tali 69 . Kemenkes RI Pencapaian cakupan penanganan neonatal komplikasi tertinggi adalah NTT 76. Maluku. pemberian ASI dini dan eksklusif. pencegahan hipotermia. petugas kesehatan di samping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. yaitu pada 6 jam .48 jam setelah lahir. pencegahan infeksi berupa perawatan mata. Sulawesi Utara 63.10 berikut ini GAMBAR 4. dan hari ke 8 – 28 hari. e. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal tiga kali.

dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA. Manajemen Terpadu Balita Muda (MTBM).7%. masih belum mencapai target yang diharapkan yaitu 82%. dan Papua 32. Pencapaian target pelayanan kesehatan bayi berdasarkan laporan rutin tahun 2009 yaitu cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) yang sebesar 80. cakupan terendah adalah Provinsi Papua Barat 30%. GAMBAR 4. Kep.pusat. cakupan KN1 tertinggi adalah Provinsi Bali 99.12 berikut ini. pemberian vitamin K. Gambar 4.8%.6%.5%. kulit dan pemberian imunisasi).6%. Kecenderungan cakupan kunjungan neonatal 2 kali (KN2) tahun 2003-2008 dapat dilihat pada Gambar 4. Sebanyak 13 dari 33 provinsi di Indonesia telah mencapai target.11 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL (KN1) MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binakesmas. 70 . Kemenkes RI Terdapat disparitas yang sangat lebar antar provinsi. Babel 99.11 memperlihatkan cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) per provinsi di Indonesia tahun 2009. Semenjak tahun 2006 hingga 2008 cakupan KN2 selalu di atas 75%. dan Jawa Tengah 94. Maluku Utara 31%.

12 PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL (KN2) DI INDONESIA TAHUN 2003 – 2008 Sumber: Ditjen Binkesmas. yang mulai disosialisasikan pada tahun 2008.7%.GAMBAR 4.13 PERSENTASE CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL LENGKAP MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI 71 . Kemenkes RI Sejak tahun 2008 terjadi perubahan kebijakan waktu pelaksanaan kunjungan dari semula minimal 2 kali menjadi 3 kali. Provinsi-provinsi yang telah mencapai target dapat dilihat pada Gambar 4. Pada tahun 2009 target cakupan kunjungan neonatal lengkap (KN Lengkap) adalah sebesar 75%. GAMBAR 4.13 berikut ini. sementara cakupan yang dicapai baru sebesar 69.

Sebanyak 17 provinsi telah mencapai target cakupan KN Lengkap sebesar 75%. DPT/ HB1-3. Kalimantan Barat 23. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan kunjungan bayi umur 29 hari – 11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes.3% dan Kepulauan Riau 28%. dan Campak). Jawa Timur. stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi. Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG. GAMBAR 4. Jawa Tengah.8%. 1 kali pada umur 3-6 bulan. dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi. f. Bangka Belitung 95. sementara target SPM Kesehatan yang harus dicapai pada tahun 2010 sebesar 90%. Kemenkes RI 72 . 1 kali pada umur 6-9 bulan. panti asuhan dan sebagainya melalui kunjungan petugas kesehatn. Sedangkan cakupan terendah adalah provinsi Kalimantan Tengah 21.4%. Provinsi dengan cakupan KN Lengkap tertinggi adalah Provinsi Bali 99. rumah bersalin dan rumah sakit) maupun di rumah. Cakupan pelayanan kesehatan bayi per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4. yaitu satu kali pada umur 29 hari-3 bulan. Kep. Polio 1-4.5%.2%. Pada tahun 2009 cakupan pelayanan kesehatan bayi sebesar 81. pustu.3% dan Jawa Timur 92. tempat penitipan anak.14 berikut ini. Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam melindungi bayi sehingga kesehatannya terjamin melalui penyediaan pelayanan kesehatan.14 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali dalam setahun. posyandu. puskesmas. dan 1 kali pada umur 9-11 bulan. Sebanyak 4 provinsi telah mencapai target yaitu Bali. dan Banten.

Cakupan terendah adalah provinsi Papua Barat 21. Pelayanan Kesehatan pada Balita Pada tahun 2009 cakupan pelayanan kesehatan anak balita (1 .1%. sementara target yang harus dicapai 70%.15 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas.5%. Kemenkes RI Pencapaian cakupan pelayanan kesehatan anak balita.4% dan Papua 27%. dan Kalimantan Tengah. Jawa Timur dan Jawa Tengah 92. sehingga provinsi yang memiliki wilayah sulit dijangkau mempunyai cakupan yang relatif rendah. Cakupan pelayanan kesehatan anak balita per provinsi dapat dilihat pada Gambar 4.05%. Bengkulu.9%.8%.Cakupan kunjungan bayi tertinggi adalah provinsi Bali 100. Bali 79. 73 .15 berikut: GAMBAR 4. Provinsi dengan cakupan terendah adalah DI Yogyakarta.4%. Maluku Utara 23. dari 31 provinsi yang menyampaikan laporan sebanyak 6 provinsi yang mencapai target 70%.8%. Pencapaian target cakupan kunjungan bayi sangat dipengaruhi oleh keaktifan posyandu tiap bulannya dan partisipasi keluarga untuk membawa bayi ke posyandu. Sumatera Utara 80. yaitu Provinsi Jambi 92.5%. g.7%.4 tahun) sebesar 52. Sulawesi Tengah 82. Sulawesi Utara 71% dan Sumatera Barat 70.

9%.1% anak usia 6-14 tahun mengalami kelainan refraksi dan 0.2% mengalami kebutaan.3%.6% terjadi pada anak usia 5-9 tahun dan 20.8%.6% pada anak usia 10-14 tahun.1%. Sedangkan anak usia 12 tahun dengan karies gigi sebanyak 36. sebesar 1.8 % siswa SD menderita kecacingan.h. Pelayanan Kesehatan Pada Siswa SD dan setingkat Berbagai data menunjukkan bahwa masalah kesehatan anak usia sekolah semakin kompleks. Sementara karies gigi aktif yang terjadi pada anak usia 12 tahun adalah 29.8% adapun yang obesitas 10. Angka anemi pada anak usia <14 tahun 9. Untuk status gizi pada anak usia >15 tahun.8% dan anak di atas usia 12 tahun adalah 43. Untuk proporsi masalah kesehatan gigi dan mulut.16 memperlihatkan persentase murid SD kelas satu yang mendapatkan pelayanan kesehatan.7% dan pada laki-laki 13.1% dan anak di atas usia 12 tahun sebanyak 72. sementara pada anak usia >15 tahun. kecacingan. yang kurus 14. pada perempuan 19. Pada anak usia sekolah dasar biasanya berkaitan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti menggosok gigi dengan baik dan benar. GAMBAR 4. Kemenkes RI 74 . Beberapa masalah kesehatan yang sering dialami anak usia sekolah adalah karies gigi. kelainan refraksi/ketajaman penglihatan dan masalah gizi. sebesar 21.1%. mencuci tangan menggunakan sabun. Hasil survei kecacingan 2009 oleh Ditjen P2PL menyebutkan 31. Gambar 4. Berdasarkan hasil Riskesdas 2007 disebutkan bahwa untuk masalah kesehatan mata.16 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN MURID KELAS SATU SD/SETINGKAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas.

Provinsi dengan capaian cakupan penjaringan murid SD dan setingkat tertinggi adalah
Jawa Barat (97,1%), Jawa Timur (90,1%), dan DI Yogyakarta (86%). Sedangkan yang
terendah adalah Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan NTT. Pencapaian nasional tahun
2009 sebesar 67,8%.
2. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
Menurut hasil penelitian, usia subur seorang wanita biasanya antara 15 – 49 tahun.
Oleh karena itu untuk mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran,
wanita/pasangan ini lebih diprioritaskan untuk menggunakan alat/cara KB.
Tingkat pencapaian pelayanan keluarga berencana dapat dilihat dari cakupan peserta
KB yang sedang/pernah menggunakan alat kontrasepsi, tempat pelayanan KB, dan jenis
kontrasepsi yang digunakan akseptor. Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus menikah
(pasangan usia subur/PUS) yang sedang dan yang pernah menggunakan/memakai alat KB
dapat dilihat pada Gambar 4.17 berikut ini.
GAMBAR 4.17
PROPORSI WANITA BERUMUR 15-49 TAHUN BERSTATUS KAWIN
YANG SEDANG DAN YANG PERNAH MENGGUNAKAN ALAT KB
TAHUN 2004-2008

Sumber : BPS, Susenas 2008

Proporsi wanita umur 15-49 tahun berstatus kawin yang sedang menggunakan/
memakai alat KB menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2008 sebesar 56,62%, tidak
banyak mengalami perkembangan sejak tahun 2004. Berdasarkan data BKKBN, pada tahun
2009 peserta KB aktif sebesar 75,70%. Gambar 4.18 menyajikan persentase peserta KB aktif
menurut provinsi.

75

GAMBAR 4.18
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT PROVINSI
TAHUN 2009

Sumber : BKKBN

Provinsi dengan persentase peserta KB aktif tertinggi adalah Bengkulu (85,5%), Bali
(85,1%), dan DKI Jakarta (82%). Sedangkan persentase peserta KB aktif terendah adalah
Papua (33,9%), Maluku Utara (59,5%), dan Kepulauan Riau (64,3%).
Persentase peserta KB aktif menurut metode kontrasepsi yang sedang digunakan tahun
2009 terlihat dalam Gambar 4.19 berikut ini. Pada tahun 2009 suntikan dan Pil KB masih
banyak diminati sebagai alat KB oleh pasangan usia subur yaitu masing-masing sebesar
50,2% dan 28,3%. Sebaliknya, MOP (Metode Operasi Pria) dan MOW (Metode Operasi
Wanita) merupakan metode kontrasepsi yang terendah diminati oleh para akseptor KB.
GAMBAR 4.19
PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI
TAHUN 2009

Sumber: BKKBN

76

Berdasarkan metode kontrasepsi menurut provinsi, alat kontrasepsi dalam rahim
(AKDR/IUD) banyak digunakan di Provinsi Bali dan DI Yogyakarta dengan persentase jauh
di atas provinsi yang lain yaitu masing-masing 47,88% dan 25,44%, sementara untuk
persentase terendah pemakaian IUD adalah 1,78% di Kalimantan Selatan dan persentase
nasional adalah 4,3%. Begitu pula untuk metode MOW kedua provinsi tersebut relatif lebih
tinggi dibandingkan provinsi lainnya yaitu 3,79% (Bali) dan 5,10% (DI Yogyakarta). Rincian
persentase KB aktif menurut metode kontrasepsi dan provinsi terdapat pada Lampiran 4.8.
Persentase tempat pelayanan peserta KB baru tahun 2006-2009 dapat dilihat pada
gambar berikut ini.
GAMBAR 4.20
PERSENTASE TEMPAT PELAYANAN PESERTA KB BARU
DI INDONESIA TAHUN 2006 – 2009

Sumber : BKKBN

Sesuai dengan data BKKBN, tempat pelayanan peserta KB baru pada tahun 2009 tidak
jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Banyak peserta KB baru yang memanfaatkan
klinik KB pemerintah sebagai tempat pelayanan KB (62,94%). Selain klinik KB pemerintah,
sebesar 29,65% peserta KB baru memanfaatkan bidan praktek swasta sebagai tempat
pelayanan KB.
Berdasarkan provinsi, terdapat 4 provinsi dengan pemanfaatan klinik KB pemerintah
sebagai tempat pelayanan KB lebih dari 90%, yaitu NTT (97,61%), Maluku Utara (92,73%),
Sulawesi Tenggara (92,05%), dan Sulawesi Tengah (90,69%). Sebaliknya, di Provinsi DI
Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Bali pemanfaatan klinik KB pemerintah sangat rendah, bahkan
kurang dari 40%. Ketiga provinsi tersebut lebih banyak memanfaatkan pelayanan KB swasta.
Data lebih rinci proporsi KB Baru menurut tempat pelayanan KB dan provinsi dapat dilihat
pada Lampiran 4.9.

77

3. Pelayanan Imunisasi
Bayi dan anak-anak memiliki risiko yang lebih tinggi terserang penyakit menular yang
dapat mematikan, seperti: Difteri, Tetanus, Hepatitis B, Typhus, radang selaput otak, radang
paru-paru, dan masih banyak penyakit lainnya. Untuk itu salah satu pencegahan yang terbaik
dan sangat vital agar kelompok berisiko ini terlindungi adalah melalui imunisasi.
Pada saat pertama kali kuman (antigen) masuk ke dalam tubuh, maka sebagai
reaksinya tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi. Pada umumnya, reaksi
pertama tubuh untuk membentuk antibodi tidak terlalu kuat, karena tubuh belum mempunyai
"pengalaman." Tetapi pada reaksi yang ke-2, ke-3 dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai
memori untuk mengenali antigen tersebut sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam
waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak. Itulah sebabnya, pada beberapa
jenis penyakit yang dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini
dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut, atau
seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal.
Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah
pemberian kuman atau kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk
merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah imunisasi Polio atau
Campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar
antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum)
pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi
yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui
darah plasenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap Tetanus dan Campak.
a. Imunisasi Dasar pada Bayi
Program imunisasi dasar lengkap (LIL/Lima Imunisasi dasar Lengkap) pada bayi
meliputi: 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B, dan 1 dosis Campak.
Di antara penyakit pada balita yang dapat dicegah dengan imunisasi, campak adalah
penyebab utama kematian pada balita. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor
penting dalam mengurangi angka kematian balita. Dari beberapa tujuan yang disepakati
dalam pertemuan dunia mengenai anak, salah satunya adalah mempertahankan cakupan
imunisasi campak sebesar 90%. Target tersebut sejalan dengan target Renstra Kemenkes RI
yang menetapkan target cakupan imunisasi campak 90% pada tahun 2014. Di seluruh negara
ASEAN dan SEARO, imunisasi Campak diberikan pada bayi umur 9-11 bulan dan
merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada bayi di antara imunisasi wajib lainnya.
Pada tahun 2009, Indonesia telah mencapai cakupan imunisasi campak sebesar
92,09%. Dengan demikian Indonesia telah mampu mencapai target imunisasi campak yang
78

telah ditetapkan oleh WHO dan target Renstra Kementerian Kesehatan RI tahun 2014. Angka
tersebut meningkat dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 90,5%.
Gambar 4.21 berikut ini adalah peta cakupan imunisasi campak menurut provinsi
tahun 2009.
GAMBAR 4.21
PERSENTASE PENCAPAIAN IMUNISASI CAMPAK
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen PP-PL, Kemenkes RI

Dari 33 provinsi di Indonesia, 18 provinsi telah mencapai cakupan imunisasi campak
≥ 90%, 8 provinsi mencapai cakupan 80%-89,99%, dan 7 provinsi lainnya masih di bawah
80%, bahkan ada yang baru mencapai cakupan 65,64%. Dibandingkan tahun 2008 yang
terdapat 14 provinsi dengan cakupan imunisasi campak ≥ 90%, pada tahun 2009 terjadi
peningkatan cakupan provinsi yang mencapai target. Cakupan tertinggi dicapai DKI Jakarta,
DI Yogyakarta, dan Bali. Ketiga provinsi tersebut telah berhasil mencapai cakupan imunisasi
campak sebesar 100%. Sedangkan cakupan terendah adalah di Papua Barat (65,64%), Maluku
(72,76%), dan Riau (73,78%). Data mengenai cakupan imunisasi dasar pada bayi menurut
provinsi tahun 2009 terdapat pada Lampiran 4.11.
Menurut hasil Riskesdas 2007, pendidikan dan pengeluaran per kapita berhubungan
dengan persentase anak umur 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar termasuk juga
campak. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga maka semakin tinggi pula anak
mendapat imunisasi. Begitu pula dengan pengeluaran per kapita, bahwa semakin tinggi
tingkat pengeluaran per kapita semakin tinggi pula anak mendapat imunisasi dasar. Persentase
di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan. Tabel 4.1 berikut ini menjelaskan hubungan
tersebut.

79

TABEL 4.1
PERSENTASE ANAK UMUR 12-23 BULAN YANG MENDAPATKAN IMUNISASI DASAR
MENURUT KARAKTERISTIK RESPONDEN, 2007
Karakteristik responden

BCG

Polio3

Tipe daerah
Perkotaan
92,4
Perdesaan
83,5
Pendidikan Kepala Keluarga
Tidak sekolah
78,6
Tidak tamat SD
79,3
Tamat SD
84,8
Tamat SMP
88,4
Tamat SMA
92,4
Tamat PT
95,7
Tingkat pengeluaran per kapita
Kuintil 1
83,0
Kuintil 2
85,7
Kuintil 3
87,2
Kuintil 4
89,6
Kuintil 5
91,9
Sumber: Balitbangkes Kemenkes RI, Riskesdas 2007

Jenis imunisasi
DPT3
HB3

Campak

78,7
66,2

74,9
63,1

71,0
57,3

86,0
78,8

61,9
62,4
67,4
71,6
79,7
82,6

54,0
59,1
63,3
68,2
76,9
81,8

50,5
53,7
57,5
62,8
72,3
75,9

71,6
74,1
78,2
82,3
88,6
93,1

66,6
68,1
72,8
73,6
77,6

62,9
64,7
69,1
71,0
74,7

58,7
59,7
63,2
65,5
70,9

78,1
78,5
83,1
84,3
86,8

Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proksi
terhadap cakupan atas imunisasi dasar secara lengkap pada bayi (0 -11 bulan). Desa UCI
merupakan gambaran desa/kelurahan dengan ≥ 80% jumlah bayi yang ada di desa tersebut
sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun. Target UCI tahun 2009
adalah 98%. Sedangkan standar pelayanan minimal menetapkan target 100% desa/kelurahan
UCI pada tahun 2010 untuk setiap kabupaten/kota.
Gambar 4.22 berikut menyajikan persentase desa/kelurahan UCI yang belum
menunjukkan perkembangan yang bermakna selama enam tahun terakhir. Pencapaian
tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 76,23%. Capaian tahun 2009 hanya sebesar
69,76% desa/kelurahan UCI di Indonesia, lebih rendah dibandingkan tahun 2008 yang sebesar
74,02%. Provinsi dengan capaian desa/kelurahan UCI tertinggi sekaligus mencapai target
cakupan desa/kelurahan UCI tahun 2009 (98%) adalah DKI Jakarta (100%), Bali (99,58%),
dan DI Yogyakarta (98,63%). Sementara 6 provinsi memiliki cakupan desa/kelurahan UCI
<50%, yaitu Papua Barat (21,15%), Papua (23,14%), Aceh (37,97%), Sulawesi Tenggara
(38,61%), Sulawesi Barat (42,11), dan Lampung (44,86). Rincian capaian desa/kelurahan UCI
menurut provinsi tahun 2007-2009 terdapat pada Lampiran 4.10.

80

Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 4. Kemenkes RI Idealnya.4%.GAMBAR 4.23.CAMPAK PADA BAYI DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. seorang anak mendapatkan seluruh imunisasi dasar sesuai umurnya.2%. Rincian tentang angka drop out menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4. Diasumsikan bayi yang mendapat imunisasi campak telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.12. sebagian anak tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Untuk itu maka angka drop out imunisasi bayi dapat diketahui dengan perhitungan yang didasarkan atas persentase penurunan cakupan imunisasi campak terhadap cakupan imunisasi DPT1-Hb. GAMBAR 4. Angka drop out di Indonesia tahun 2009 sebesar 5. sehingga kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dapat optimal. Sebaliknya.22 PERSENTASE PENCAPAIAN UCI DI TINGKAT DESA/KELURAHAN DI INDONESIA TAHUN 2004-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. provinsi dengan angka drop out terendah adalah DI Yogyakarta dan yang tertinggi adalah Maluku.23 ANGKA DROP OUT CAKUPAN IMUNISASI DPT1Hb . Kemenkes RI 81 . Anak-anak inilah yang disebut dengan drop out imunisasi. Namun kenyataannya. imunisasi campak adalah imunisasi dasar yang terakhir diberikan pada bayi. Selama enam tahun terakhir. Imunisasi DPT1Hb adalah jenis imunisasi yang pertama kali diberikan pada bayi. angka drop out nasional paling rendah terjadi pada tahun 2005 yaitu 1.

kemudian meningkat lagi menjadi 62. dari 26% pada tahun 2007 menjadi 42. Strategi yang dilakukan untuk mengeliminasi tetanus neonatorum dan maternal adalah 1) pertolongan persalinan yang aman dan bersih. Gambar 4. Namun sejak dua tahun terakhir terjadi peningkatan cakupan imunisasi TT2+. Akan tetapi masih banyak calon ibu di masyarakat terutama yang tinggal di daerahdaerah terpencil berada dalam kondisi yang bisa disebut masih "jauh" dari kondisi steril saat persalinan.52% pada tahun 2009. GAMBAR 4.56%). Maternal and Neonatal Tetanus Elimination (MNTE) merupakan program eliminasi tetanus pada neonatal dan wanita usia subur termasuk ibu hamil.24 terlihat keadaan cakupan imunisasi TT2 selama tahun 2003-2007 tidak mengalami perkembangan.02%) dan terendah adalah Papua (8. 2) cakupan imunisasi rutin TT yang tinggi dan merata. Dari Gambar 4. Tetanus juga bisa menyerang pada bayi baru lahir (Tetanus Neonatorum) pada saat persalinan dan perawatan tali pusat. Imunisasi pada Ibu Hamil Tetanus disebabkan oleh toksin yang diproduksi oleh bakteri yang disebut Clostridium tetani. pencatatan yang dimulai dari kohort WUS (baik kohort ibu maupun WUS tidak hamil) belum seragam.b. bahkan cenderung menurun.25 82 . Tetanus merupakan salah satu penyebab kematian bayi di Indonesia.9% pada tahun 2008. Hal inilah yang bisa menimbulkan risiko ibu maupun bayinya terkena tetanus.24 CAKUPAN TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen PP-PL. dan 3) penyelenggaraan surveilans. Kemenkes RI Pada tahun 2009 provinsi dengan cakupan ibu hamil yang mendapat imunisasi TT2+ tertinggi adalah Provinsi Bali (101. Beberapa permasalahan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada wanita usia subur yaitu pelaksanaan skrining yang belum optimal. dan cakupan imunisasi TT2 bumil jauh lebih rendah dari cakupan K4.

PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN Beberapa kegiatan pokok upaya kesehatan perorangan adalah peningkatan pelayanan kesehatan rujukan. pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di kelas III di rumah sakit. Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (Bed Occupancy Rate/BOR). Indikator Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Penilaian tingkat keberhasilan pelayanan di rumah sakit biasanya dilihat dari berbagai segi yaitu tingkat pemanfaatan sarana. persentase pasien keluar yang meninggal (Gross Death Rate/GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal ≥ 48 jam perawatan (Net Death Rate/NDR). Berdasarkan data Ditjen Pelayanan Medik. yaitu T1-T5. yang salah satunya dengan imunisasi TT.25 CAKUPAN TT2+ PADA IBU HAMIL DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PPPL. dan Banten. Sedangkan provinsi dengan capaian 60%-80% sebanyak 10 provinsi. rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (Turn of Interval/TOI). GAMBAR 4. mutu dan tingkat efisiensi pelayanan. Kemenkes RI Beberapa langkah yang perlu segera dilakukan adalah sosialisasi ke seluruh petugas lapangan agar mengacu pada kriteria Antenatal Care (ANC) berkualitas. 1. cakupan pelayanan gawat darurat. dan semua sistem pencatatan dalam pelaksanaan imunisasi TT WUS termasuk ibu hamil memakai sistem pencatatan yang sama. tingkat pemanfaatan tempat tidur (BOR) di rumah sakit umum (yang dikelola Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Daerah) selama enam tahun terakhir cenderung meningkat setiap tahunnya walaupun pada tahun 2003-2006 83 . rata-rata tempat tidur dipakai (Bed Turn Over/BTO). NTT. B. dan lain-lain. rata-rata lama hari perawatan (Length of Stay/LOS). Sebanyak 20 provinsi lainnya memiliki capaian <60%.memperlihatkan bahwa dari 33 provinsi di Indonesia hanya 3 provinsi yang berhasil mencapai cakupan imunisasi TT2+ pada ibu hamil >80% yaitu Bali.

Tingkat pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit sejak tahun 2003-2009 dapat dilihat pada Gambar 4. TNI/POLRI. LOS adalah rata-rata lama rawat (hari) seorang pasien. sebanyak 17 provinsi telah mencapai BOR ideal. hanya 2 provinsi yang mencapai BTO ideal. Dari 33 provinsi. Pada tahun 2007 dan 2008 BOR nasional telah mencapai angka ideal. berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Indikator ini di samping memberikan gambaran tingkat efisiensi. dan BUMN lainnya tidak tersedia. Hal itu berarti jumlah rumah sakit di Indonesia untuk masing-masing provinsi relatif mencukupi kemampuannya dalam menyediakan tempat tidur bagi pasien rawat inap. Data tentang pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit umum yang dikelola oleh swasta. satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.7 kali) dan Jambi (43. yaitu Bali (45.8% pada tahun 2008 turun menjadi 58.7% pada tahun 2009. apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. GAMBAR 4. Gambar 4. dari 79. juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan. Dari 31 provinsi yang menyampaikan data.belum mencapai angka ideal yang diharapkan (yaitu 60-85%).27 memperlihatkan rata-rata LOS nasional di rumah sakit umum selama tahun 2003-2009 yang berkisar antara 484 . Kemenkes RI Keterangan: BOR = Bed Occupation Rate/persentase pemanfaatan tempat tidur BTO = Bed Turn Over/rata-rata tempat tidur dipakai selama setahun BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode (biasanya satu tahun).26 berikut ini.26 PENCAPAIAN BOR DAN BTO RSU KEMENKES DAN PEMDA DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik. Padahal selama enam tahun sebelumnya BTO di rumah sakit selalu berada pada kisaran 40-50 kali. Pada tahun 2009 BTO rumah sakit belum mencapai angka ideal. Secara umum nilai LOS yang ideal antara 6-9 hari. Idealnya dalam satu tahun. yaitu hanya sebesar 25 kali. Namun pada tahun 2009 BOR mengalami penurunan yang cukup besar.4 kali). Sementara tidak ada satu provinsi pun yang memiliki BOR lebih tinggi dari 85%.

Nilai ideal GDR adalah < 45 per 1. 4 provinsi memiliki GDR > 45 per 1.5. Hanya pada tahun 2007 dan 2008 TOI mencapai angka ideal 1-3 hari.3 hari dan belum mencapai angka ideal.6 hari) dan Kep.000 pasien keluar. Jawa Timur (49.1 hari). Selama tahun 2003-2009 TOI di rumah sakit berkisar antara 2.5).9-6. Pada GDR. GDR adalah angka kematian umum untuk setiap 1. tidak melihat berapa lama pasien berada di rumah sakit dari masuk sampai meninggal. GAMBAR 4.000 penderita keluar dari rumah sakit.27 PENCAPAIAN LOS DAN TOI RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik. Kemenkes RI Keterangan: LOS = Length of Stay/rata-rata hari rawat seorang pasien TOI = Turn over Interval/rata-rata tempat tidur tidak dipakai antar dua episode pemakaian Indikator pelayanan rumah sakit yang lain adalah TOI.3 hari.8).000 pasien keluar rumah sakit. hanya Bali (2 hari) dan Jambi (2. Berdasarkan provinsi. Pada tahun 2009 angka GDR di Indonesia sebesar 36.6 hari) yang memiliki TOI ideal. Sumatera Barat (48. Idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3 hari. Kalimantan Barat memiliki LOS tertinggi (5. TOI adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah digunakan sampai saat digunakan kembali (rata-rata lama tempat tidur kosong antar pasien satu dengan pasien berikutnya).3 hari tempat tidur tidak terisi. Berdasarkan provinsi. dan Sulawesi Barat (48. Pada tahun 2009 angka TOI tempat tidur rumah sakit di Indonesia memiliki selang waktu 6. 85 .000 pasien keluar.5 kematian per 1. yaitu Sumatera Utara (52). Bangka Belitung memiliki LOS terendah (3.2). Dari 31 provinsi yang menyampaikan laporan.

Namun jika pasien meninggal kurang dari 48 jam masa perawatan. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tujuan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yaitu untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan hampir miskin agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.000 pasien keluar. Dengan demikian NDR telah mencapai angka ideal yaitu < 25 per 1. Indikator ini memberikan gambaran mutu pelayanan di rumah sakit. menurunkan angka kematian bayi dan balita serta menurunkan angka kelahiran di samping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan bagi masyarakat miskin umumnya. Nilai NDR yang ideal adalah < 25 per 1.GAMBAR 4. Kemenkes RI Keterangan: NDR = Net Death Rate (per 1.6 per 1.28 PENCAPAIAN NDR DAN GDR PER 1. 2.000 pasien keluar. Asumsinya jika pasien meninggal setelah mendapatkan perawatan 48 jam berarti ada faktor pelayanan rumah sakit yang terlibat dengan kondisi meninggalnya pasien. dianggap faktor keterlambatan pasien datang ke rumah sakit yang menjadi penyebab utama pasien meninggal.000 pasien keluar.000 pasien keluar) GDR = Gross Death Rate (per 1. Sejak tahun 2005 hingga 2007 sasaran Jamkesmas (yaitu jumlah orang miskin dan hampir miskin) terus bertambah kecuali sejak tahun 2007-2009 dengan jumlah sasaran sama 86 . Program ini telah berjalan lima tahun. dan telah memberikan banyak manfaat bagi peningkatan akses pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan hampir miskin di puskesmas dan jaringannya serta pelayanan kesehatan di rumah sakit. NDR sejak tahun 2003 hingga 2009 berada pada kisaran 18-23.000 pasien keluar.000 PASIEN KELUAR RUMAH SAKIT DI INDONESIA TAHUN 2003-2009 Sumber: Ditjen Pelayanan Medik. Melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu.000 pasien keluar) NDR adalah angka kematian pasien setelah dirawat ≥ 48 jam per 1.

Provinsi dengan jumlah sasaran terbesar adalah Jawa Tengah. polindes/poskesdes. dan Jawa Timur. dan 4% balai pengobatan seperti yang terlihat pada Gambar 4. Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) Jamkesmas terdiri dari pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan tingkat lanjut. dari 76. 7% rumah sakit TNI/POLRI.19.18 dan 4. pusling) yang berjumlah 8.234 unit. Sedangkan pemberi pelayanan kesehatan Jamkesmas tingkat lanjut pada tahun 2008 berjumlah 920 dengan rincian sebagai berikut: 56% rumah sakit pemerintah.29 berikut ini menyajikan realisasi program JPKM tahun 2005-2009. Gambar 4.60 juta memanfaatkan sarana kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit sebagai pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama dan tingkat lanjut. Angka tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 26. sebanyak 23. GAMBAR 4. Sedangkan jumlah kunjungan rawat inap tingkat lanjut dapat dilihat pada Lampiran 4.22 juta jiwa.4 juta jiwa. 33% rumah sakit swasta. Pemberi pelayanan kesehatan dasar Jamkesmas adalah seluruh puskesmas dan jaringannya (pustu. Jawa Barat.30. 87 .29 REALISASI PROGRAM JPKM TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.20.4 juta sasaran masyarakat miskin dan hampir miskin.yaitu 76. Kemenkes RI Pada tahun 2009. Rincian kujungan rawat jalan tingkat pertama dan tingkat lanjut menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 4.

Pengertian Eradikasi Polio adalah apabila tidak ditemukan virus polio liar indigenous selama 3 tahun berturut-turut di suatu region yang dibuktikan dengan surveilans AFP yang sesuai standar sertifikasi. 3. Manusia satu-satunya reservoir dan tidak ada longterm carrier pada manusia. Tersedianya vaksin yang mempunyai efektivitas > 90% dan mudah dalam pemberian. namun di tiga provinsi tersebut mencapai lebih dari 10 juta jiwa. Sifat virus polio yang tidak tahan lama hidup di lingkungan. 4. Kesepakatan ini diperkuat oleh sidang World Summit for Children pada tahun 1989. Eradikasi dalam hal ini bukan sekedar mencegah terjadinya penyakit polio. Pengendalian Penyakit Polio Pada tahun 1988. melainkan mempunyai arti yang lebih luas lagi. Dasar pemikiran Eradikasi Polio adalah: 1. 88 . Layak dilaksanakan secara operasional. sidang ke-41 WHA (World Health Assembly) telah menetapkan program eradikasi polio secara global (global polio eradication initiative) yang ditujukan untuk mengeradikasi penyakit polio pada tahun 2000. yaitu masing-masing 140. di mana Indonesia turut menandatangani kesepakatan tersebut. yaitu menghentikan terjadinya transmisi virus polio liar di seluruh dunia. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT 1. C. Jika di provinsi lain.30 PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN JAMKESMAS TINGKAT LANJUT TAHUN 2008 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. 2. dan Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah PPK tertinggi untuk pelayanan tingkat lanjut. Besarnya jumlah PPK di tiga provinsi tersebut juga disebabkan tingginya jumlah sasaran Jamkesmas. 115.GAMBAR 4. Jawa Tengah. jumlah anggota masyarakat miskin dan hampir miskin kurang dari 5 juta jiwa (bahkan beberapa di antaranya kurang dari 1 juta jiwa). dan 80 PPK. Kemenkes RI Provinsi Jawa Barat.

dengan demikian hasil pemeriksaan yang dilakukan menjadi semakin mewakili kondisi di lapangan.31 menunjukkan bahwa persentase spesimen adekuat yang dikirim untuk pemeriksaan virus Polio semakin meningkat.10%.000 anak umur < 15 tahun. Dengan demikian sejak tahun 2003 hingga 2009 spesimen adekuat telah sesuai standar. selama 10 tahun terakhir tidak ditemukan kasus AFP yang disebabkan virus Polio liar. Berdasarkan kegiatan surveilans AFP pada penduduk <15 tahun selama tahun 2003 – 2009. Target untuk non Polio AFP rate ditetapkan sebesar ≥ 2 per 100. kinerja menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna. GAMBAR 4. Upaya ini juga ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans epidemiologi secara aktif terhadap kasus-kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP) kelompok umur <15 tahun dalam kurun waktu tertentu. kecuali pada tahun 2006 yaitu 79. akan dilakukan pemeriksaan spesimen tinja untuk mengetahui ada tidaknya virus Polio liar yang menyerang masyarakat. namun sejak adanya tenaga khusus (surveillance officer) di tingkat provinsi.31 PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT DAN NON POLIO AFP RATE TAHUN 2003 – 2009 Sumber: Ditjen PP-PL. Kemenkes RI Setiap kasus AFP yang ditemukan dalam kegiatan intensifikasi surveilans. Surveilans AFP di Indonesia dilaksanakan sejak pertengahan tahun 1995. untuk mencari kemungkinan adanya virus Polio liar yang berkembang di masyarakat dengan pemeriksaan spesimen tinja dari kasus AFP yang dijumpai. artinya minimal 80% spesimen tinja penderita harus sesuai dengan persyaratan yaitu diambil ≤ 14 hari setelah kelumpuhan dan suhu spesimen 0-8ºC sampai di laboratorium. Sedangkan untuk standar spesimen adekuat adalah >80%. 89 .31 berikut ini. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit Polio telah dilakukan melalui gerakan imunisasi polio. Pencapaian kinerja sampai tahun 2002 berfluktuasi.Di Indonesia. secara nasional diperoleh gambaran seperti terlihat pada Gambar 4. Gambar 4.

Hal ini dapat terlihat dari meningkatnya jumlah penderita yang ditemukan dan disembuhkan setiap tahun. 3) sedikitnya 70% kasus TB Paru BTA+ terdeteksi dan diobati melalui program DOTS (Directly Observed Treatment Shortcource Chemotherapy) atau pengobatan TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). Kemenkes RI 2. GAMBAR 4. Strategi DOTS direkomendasikan oleh WHO secara global untuk menanggulangi TB Paru. a. Kemenkes RI Sumber: Ditjen PP-PL.32a NON POLIO AFP RATE/ 100. dan 4) sedikitnya 85% tercapai succes rate. Gambar 4. Pengendalian TB-Paru Tujuan utama pengendalian TB Paru adalah: 1) menurunkan insidens TB Paru pada tahun 2015. 2) menurunkan prevalensi TB Paru dan angka kematian akibat TB Paru menjadi setengahnya pada tahun 2015 dibandingkan tahun 1990.32 berikut ini. DOTS menekankan pentingnya pengawasan terhadap penderita TB Paru agar menelan obatnya secara teratur sesuai ketentuan sampai dinyatakan sembuh. maka proses penyembuhan TB Paru dapat berlangsung secara cepat. Strategi DOTS memberikan angka kesembuhan yang tinggi. Dengan menggunakan strategi DOTS. dapat mencapai angka 95%. Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif di antara Suspek yang diperiksa Upaya Pemerintah dalam menanggulangi TB Paru setiap tahunnya semakin menunjukkan kemajuan. DOTS adalah strategi penyembuhan TB Paru jangka pendek dengan pengawasan secara langsung.000 anak umur < 15 tahun dan spesimen adekuat sesuai standar dapat dilihat pada Gambar 4.43%) 90 .01% dan terendah terjadi pada tahun 2001 (8. Selama tahun 2001-2009 persentase TB Paru BTA+ terhadap suspek TB Paru tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu 13.Provinsi yang telah memenuhi target non polio AFP rate ≥ 2 per 100.32b PERSENTASE HASIL PENGIRIMAN SPESIMEN ADEKUAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PP-PL.33 memperlihatkan persentase TB Paru BTA+ terhadap suspek TB Paru selama tahun 2001-2009.000 ANAK UMUR < 15 TAHUN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 GAMBAR 4.

petugas kesehatan mampu mendiagnosis kasus BTA+ sesuai standar. Kemenkes RI 91 . Kemenkes RI Menurut standar. Sedangkan bila angka ini terlalu besar (> 15%) kemungkinan disebabkan penjaringan terlalu ketat atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (positif palsu). GAMBAR 4.34 berikut ini.33 PERSENTASE BTA POSITIF TERHADAP SUSPEK TAHUN 2001-2009 Sumber : Ditjen PP-PL. Dengan demikian.34 PERSENTASE PASIEN TB PARU BTA+ TERHADAP SUSPEK YANG DIPERIKSA DAHAKNYA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber : Ditjen PPPL.GAMBAR 4. persentase BTA+ diperkirakan 10% dari suspek yang diperkirakan di masyarakat dengan nilai yang ditoleransi antara 5-15%. sejak tahun 2001-2009 persentase BTA+ terhadap suspek masih dalam batas yang ditolerir. Berarti. Bila angka ini terlalu kecil (< 5%) kemungkinan disebabkan penjaringan suspek terlalu longgar. Untuk hasil proporsi pasien TB Paru BTA Positif di antara suspek yang diperiksa per provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. Banyak orang yang tidak memenuhi kriteria suspek atau ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium (negatif palsu).

Kemenkes RI Keberhasilan pengobatan TB paru ditentukan oleh kepatuhan dan keteraturan dalam berobat.Sebanyak 30 provinsi dengan persentase pasien TB Paru BTA+ di antara suspek yang diperiksa per provinsi sebesar 5-15%. Angka keberhasilan pengobatan semenjak 20002009 telah mencapai target keberhasilan pengobatan yang distandarkan oleh WHO yaitu minimal 85%.35 menyajikan kecenderungan angka penemuan kasus baru (Case Detection Rate). Sedangkan provinsi dengan persentase pasien TB Paru BTA+ terhadap suspek yang diperiksa >15% sebanyak 3 provinsi yaitu Maluku Utara. pemeriksaan fisik dan laboratorium. GAMBAR 4. Sementara standar CDR TB Paru sebesar 70%.9% pada tahun 2009.7%. Bahkan pada tahun 2009 keberhasilan pengobatan mencapai 91% Angka keberhasilan pengobatan penderita pada tahun 2008 menurut provinsi dapat dilihat pada gambar berikut: 92 . b. Dengan demikian sejak tahun 2006 sampai 2009 (kecuali tahun 2007) Indonesia telah mampu mencapai target tersebut. CDR mengalami peningkatan yang berarti. dan DKI Jakarta. Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA+ (Case Detection Rate) dan Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate) Angka penemuan kasus TB Paru BTA+ memperlihatkan penemuan TB Paru BTA+ terhadap jumlah perkiraan TB Paru. Gambar 4. Maluku. dari 20% pada tahun 2000 menjadi 71. Selama tahun 2000-2009.35 PERSENTASE PENEMUAN KASUS BARU DAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU DI INDONESIA TAHUN 2000-2009 Sumber : Ditjen PPPL. CDR tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 75.

41%). dan Gorontalo (97. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan 93 . DI Yogyakarta. Papua. Kemenkes RI Sebanyak 28 provinsi telah berhasil mencapai target keberhasilan pengobatan 85% dengan SR tertinggi yaitu Bengkulu (97. 3.8% dan pada anak balita sebesar 15. faringitis.60%. Studi mortalitas pada Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada bayi (post neonatal) karena pneumonia sebesar 23. Program Pemberantasan Penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu Pneumonia dan yang bukan Pneumonia.29%). Hal ini dapat dilihat melalui hasil survei mortalitas subdit ISPA pada tahun 2005 di 10 provinsi. tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan Pneumonia. Maluku (97. Survei yang sama juga menunjukkan bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada anak balita yaitu 23. Penyakit batuk pilek seperti rinitis. Maluku Utara.GAMBAR 4.5%. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu Pneumonia berat dan Pneumonia tidak berat. Pengendalian Penyakit ISPA ISPA merupakan penyebab kematian terbesar baik pada bayi maupun pada anak balita. Sedangkan provinsi yang belum mencapai target SR 85% adalah Papua Barat. yaitu sebanyak 22.11%). diketahui bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia. dan Riau.36 PERSENTASE KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA TB PARU (SUCCESS RATE) TAHUN 2008 MENURUT PROVINSI Sumber : Ditjen PPPL.30% dari seluruh kematian bayi.

pada balita.41%). Pembiayaan (logistik dan operasional) terbatas. Bangka Belitung (41. c. Provinsi NTB memiliki cakupan relatif tinggi yaitu sebesar 71. Tenaga terlatih tidak melaksanakan MTBS/Tatalaksana Standar ISPA di puskesmas. e. semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik. dengan demikian angka penemuan kasus pneumonia juga menggambarkan penatalaksanaan kasus ISPA. ISPA merupakan pandemi yang dilupakan/tidak prioritas sedangkan masalah ISPA merupakan masalah multisektoral. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS di samping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan juga diarahkan pada upaya 94 .37 CAKUPAN PENEMUAN PENDERITA PNEUMONIA PADA BALITA DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber : Ditjen PPPL. Pembinaan (bimbingan teknis. Gejala Pneumonia sukar dikenali oleh orang awam maupun tenaga kesehatan yang tidak terlatih. Rata-rata cakupan penemuan pneumonia pada balita tahun 2009 sebesar 22. Secara nasional. monitoring dan evaluasi) secara berjenjang masih sangat kurang. 4. Hambatan yang ditemui dalam meningkatkan cakupan penemuan Pneumonia balita di puskesmas yaitu: a. Provinsi dengan cakupan tertinggi berikutnya adalah Jawa Barat (46. d.45%. yang berarti masih jauh dari target yang sebesar 86%. b. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin.18%.16%) dan Kep. GAMBAR 4. angka cakupan penemuan penderita pneumonia pada balita hingga saat ini masih belum mencapai target. seperti tampak pada Gambar 4.37 di bawah ini. Kemenkes RI Cakupan penemuan penderita pneumonia tetap rendah sejak tahun 2005 hingga 2009. Program pengendalian ISPA menetapkan bahwa semua kasus yang ditemukan harus ditatalaksanakan sesuai standar.

638 5. 95 . Upaya penemuan penderita dilakukan melalui skrining HIV/AIDS terhadap darah donor.141 498 2.871 2007 836 6. Keberhasilan kegiatan PSN antara lain dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ). 2) diagnosis dini dan pengobatan dini.720 316 1.369 4.863 19.2 berikut ini.947 11.015 Sumber: Ditjen PPPL. 5.332 2006 986 5.321 592 1. penghuni Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) atau sesekali dilakukan penelitian pada kelompok berisiko rendah seperti ibu rumah tangga dan sebagainya.195 2. TABEL 4.066 2.pencegahan melalui penemuan penderita secara dini yang dilanjutkan dengan kegiatan konseling.969 16.110 993 3.194 539 1.369 1. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal yaitu: 1) peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor.682 361 740 2005 875 4. Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang perjalanan penyakitnya cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. yang tidak diketahui dengan pasti periodisasinya sehingga kelompok ini menjadi sangat potensial dalam menularkan penyakit. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia. pemantauan pada kelompok berisiko penderita Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti Wanita Penjaja Seks (WPS). penyalahguna obat dengan suntikan (IDUs).873 8. Pada kelompok ini di samping dilakukan pengobatan.230 2.973 484 3.244 2.487 261 479 2004 649 3. dan 3) peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD.846 2008 2009 6.362 3. Hasil pelaksanaan surveilans HIV/AIDS selama tujuh tahun terakhir terlihat pada Tabel 4.2 PENEMUAN PENDERITA HIV/AIDS DI INDONESIA TAHUN 2003 – 2009 Tahun Pengidap HIV Per tahun Kumulatif Penderita AIDS Per tahun Kumulatif Penderita AIDS Meninggal Per tahun Kumulatif 2003 168 2. Kemenkes RI Dalam perjalanan penyakit dari HIV positif menjadi AIDS dikenal istilah ”window periods”. Upaya pemberantasan vektor ini yaitu dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan pemeriksaan jentik berkala. yang lebih utama adalah dilakukan konseling untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam ikut aktif mencegah terjadinya penularan lebih lanjut.

Selama jangka waktu 2004-2009 ABJ masih di bawah target 95%. namun pada tahun 2009 menurun. Gambar 4. Kemenkes RI Gambar 4. penyebaran ikan pada tempat penampungan air serta kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat mencegah/memberantas nyamuk Aedes berkembang biak. Oleh karena itu pendekatan pemberantasan DBD yang berwawasan kepedulian masyarakat merupakan salah satu alternatif pendekatan baru. GAMBAR 4. hal ini dikarenakan kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) belum menjadi prioritas kegiatan program di sebagian besar wilayah.38 menyajikan perkembangan ABJ tahun 2004-2009.39 memperlihatkan bahwa persentase kasus DBD yang ditangani meningkat setiap tahun.21% pada tahun 2008. Sejak tahun 2004 sampai dengan 2009 hanya beberapa provinsi yang melaporkan data ABJ. Surveilans vektor dilakukan melalui kegiatan pemantauan jentik oleh petugas kesehatan maupun juru/kader pemantau jentik (Jumantik/Kamantik). Pengembangan sistem surveilans vektor secara berkala perlu terus dilakukan terutama dalam kaitannya dengan perubahan iklim dan pola penyebaran kasus.Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. Angka Bebas Jentik (ABJ) sebagai tolak ukur upaya pemberantasan vektor melalui PSN-3M menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD. 96 . Metode yang tepat guna untuk mencegah DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M plus (Menguras.38 PERBANDINGAN ANGKA BEBAS JENTIK TAHUN 2004 – 2009 Sumber: Ditjen PPPL. Sejak tahun 2005 sampai tahun 2008 ABJ cenderung meningkat. yakni 40% pada tahun 2006 menjadi 83. Menutup dan Mengubur) plus menabur larvasida.

GAMBAR 4.39 CAKUPAN KASUS DBD DITANGANI TAHUN 2006 – 2008 Sumber: Ditjen PPPL. Sasaran wilayah eliminasi dilaksanakan secara bertahap sebagai berikut : 97 . Pemberantasan malaria digalakkan melalui gerakan masyarakat yang dikenal dengan Gerakan Berantas Kembali Malaria atau ”Gebrak Malaria” telah dicetuskan pada tahun 2000. yang terbebas dari penularan malaria secara bertahap sampai tahun 2030. 6. 5) Tidak efektifnya pengobatan karena terjadi Plasmodium falciparum resisten klorokuin dan meluasnya daerah resisten. 4) Krisis ekonomi yang berkepanjangan memberikan dampak pada daerah-daerah tertentu dengan adanya masyarakat yang mengalami gizi buruk sehingga lebih rentan untuk terserang malaria. 2) Mobilitas penduduk yang cukup tinggi. Gerakan ini merupakan embrio pengendalian malaria yang berbasis kemitraan dengan berbagai sektor dengan slogan “Ayo Berantas Malaria” . Pengendalian malaria di Indonesia yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 293/MENKES/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi Malaria di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang hidup sehat. 3) Perubahan iklim yang menyebabkan musim hujan lebih panjang dari musim kemarau. Pengendalian Penyakit Malaria Di Indonesia meningkatnya jumlah penderita malaria dan terjadinya kejadian luar biasa malaria sangat berkaitan erat dengan beberapa hal sebagai berikut: 1) Adanya perubahan lingkungan yang berakibat meluasnya tempat perindukan nyamuk penular malaria. serta 6) Menurunnya perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap upaya penanggulangan malaria secara terpadu. Kemenkes RI Sejak tahun 2004 telah diperkenalkan suatu metode komunikasi/penyampaian informasi/pesan yang berdampak pada perubahan perilaku dalam pelaksanaan PSN DBD melalui pendekatan sosial budaya setempat yaitu metode Communication for Behavioral Impact (COMBI). Kegiatan PSN dengan metode pendekatan COMBI tersebut menjadi salah satu prioritas kegiatan dalam program P2DBD di masa yang akan datang.

a. Provinsi Aceh. Persentase Penderita Malaria yang Diobati Persentase penderita malaria yang diobati merupakan persentase penderita malaria yang diobati sesuai pengobatan standar dalam kurun waktu 1 tahun dibandingkan dengan tersangka malaria dan atau positif malaria yang datang ke sarana pelayanan kesehatan. dan Papua pada tahun 2030. dan Pulau Sulawesi pada tahun 2020. Sumba Barat. Selama periode tahun 2004-2009 persentase pemeriksaan sediaan darah 98 .75%.1. Pulau Jawa. 2. dan pulau Batam pada tahun 2010. Nias dan Nias Selatan) serta di 5 provinsi wilayah timur diketahui bahwa persentase penduduk yang menggunakan kelambu yaitu pada balita rata-rata sebesar 86. Kepulauan Seribu (Provinsi DKI Jakarta). b. Pulau Kalimantan. Maluku Utara. organisasi kemasyarakatan dan masyarakat. Target penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria pada tahun 2009 adalah sebesar 75%. dan Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2015. Konfirmasi laboratorium 100% telah dilakukan di Jawa dan Bali. Pulau Sumatera (kecuali Provinsi Aceh dan Kepulauan Riau). Selain itu eliminasi dilaksanakan secara bertahap dari kabupaten/kota. Kebijakan eliminasi malaria dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh pemerintah. Pada tahun 2008 berdasarkan survei di Aceh. pemerintah daerah bersama mitra kerja pembangunan termasuk LSM. lembaga donor. Provinsi NTB. c. Pencapaian Pemeriksaan Sediaan Darah (Konfirmasi Laboratorium) Berdasarkan cakupan konfirmasi laboratorium belum semua penderita klinis malaria dilakukan pemeriksaan sediaan darahnya. dan Flores Timur) dan beberapa kabupaten di wilayah Sumatera rata-rata sebesar 24%. Pulau Bali.7% dan pada ibu hamil sebesar 87. Beberapa capaian upaya pengendalian penyakit malaria disajikan pada uraian berikut ini. Sumut (Kab. Provinsi NTT. Pada tahun 2005 diketahui sebesar 1%. Maluku. berarti semua penderita tersangka malaria dan/atau positif malaria yang datang ke sarana kesehatan diobati sesuai pengobatan standar. 3. provinsi. dan 4. dan dari satu pulau atau ke beberapa pulau sampai ke seluruh wilayah Indonesia menurut tahapan yang didasarkan pada situasi malaria dan kondisi sumber daya yang tersedia. dunia usaha. dan pada tahun 2006 berdasarkan survei yang dilaksanakan di NTT (Alor. Persentase penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria Situasi penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria diketahui berdasarkan survei penduduk yang menggunakan cara pencegahan yang efektif untuk memerangi malaria dengan kelambu. Persentase penderita malaria yang diobati sejak tahun 2003 hingga 2009 sebesar 100%. organisasi profesi. Papua Barat.

2009 Sumber: Ditjen PPPL. GAMBAR 4. Hal itu berarti penularan masih terjadi di masyarakat dan kasus ditemukan terlambat sehingga pada saat penemuan penderita sudah mengalami cacat tingkat II. NCDR = New Case Detection Rate 99 .500 7. Pada tahun 2004 sebesar 48% menjadi 76% pada tahun 2009 seperti diperlihatkan pada gambar berikut ini.643 14.000 penduduk) 2004 3. Kemenkes RI Catatan : MB = Multi Basiller.113 14. Tingginya proporsi cacat tingkat II menunjukkan keterlambatan dalam penemuan kasus atau dengan kata lain kinerja petugas yang rendah dalam menemukan kasus serta pengetahuan masyarakat yang rendah.27% seperti yang diperlihatkan pada Tabel 4.27 Sumber: Ditjen PPPL.8 8.3 HASIL PEMERIKSAAN PENDUDUK. PB = Pausi Basiller. TABEL 4.6 2008 3.41 9.6 2009 2.083 7.6% dan 10.958 13.8 8.1 10. namun pada tahun 2008 dan 2009 terjadi kenaikan yaitu 9.957 7.6 2005 4 056 15 639 89 87 2006 3 550 14 750 83 86 2007 3.615 12.6%-8.2009 Tahun Suspek Positif Penderita Cacat Tingkat II (%) PB MB NCDR (per 100.3.40 CAKUPAN KONFIRMASI LABORATORIUM/MIKROSKOP MALARIA TAHUN 2004 . Penderita cacat tingkat II selama tahun 2004-2007 relatif stabil (8. Pengendalian Penyakit Kusta Untuk menilai kinerja petugas dalam penemuan kasus penyakit kusta. PENEMUAN KASUS BARU (NCDR) DAN PENDERITA CACAT TINGKAT II DI INDONESIA TAHUN 2004 . Proporsi cacat tingkat II hingga tahun 2009 belum mencapai target program yaitu < 5%. digunakan angka proporsi cacat tingkat II (cacat akibat kerusakan syaraf dan cacat terlihat).dibandingkan kasus malaria klinis cenderung meningkat.328 7. Kemenkes RI 7.7%).

Pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis kepada semua penduduk di kabupaten/kota endemis filariasis dengan menggunakan DEC 6 mg/kg BB dikombinasikan dengan Albendazole 400 mg sekali setahun selama 5 tahun. Satuan wilayah terkecil dalam program ini adalah kabupaten/kota. baik untuk penentuan endemisitas maupun pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis.40%. Pada tahun 2007 kasus klinis yang ditangani sebesar 29. maka kegiatan POMP filariasis harus segera dilaksanakan untuk memutus rantai penularan. Bila suatu kabupaten/kota sudah endemis filariasis. Program Eliminasi ini dilaksanakan melalui dua pilar kegiatan yaitu : 1. 100 . dan pada tahun 2009 sebesar 40. dan balita dengan marasmus/kwasiorkor dapat ditunda pengobatannya. 2. dengan sasaran pemberian obat adalah semua penduduk di kabupaten/kota tersebut kecuali anak berumur < 2 tahun. orang yang sedang sakit berat. guna memutuskan rantai penularan.41 memperlihatkan kegiatan penatalaksanaan kasus klinis filariasis yang cenderung meningkat.13% yang ditangani. Setiap penderita mempunyai status rekam medis di puskesmas dan mendapatkan kunjungan dari petugas kesehatan minimal 6 kali setahun. penderita kronis filariasis yang dalam serangan akut. Pengendalian Penyakit Filariasis Program eliminasi filariasis di Indonesia dilaksanakan atas dasar kesepakatan global WHO tahun 2000 yaitu “The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem the year 2020” yang merupakan realisasi dari resolusi WHA pada tahun 1997. ibu hamil. Diharapkan pada tahun-tahun selanjutnya kasus klinis filariasis yang ditatalaksana meningkat lagi sebagaimana yang ditargetkan yaitu 90%. Tatalaksana kasus klinis filariasis guna mencegah dan mengurangi kecatatan. sedangkan tahun 2008 mencapai 40.8. Kegiatan tatalaksana kasus klinis filariasis harus dilakukan pada semua penderita. Gambar 4.00%. Tatalaksana ini bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kecacatan dan agar penderita mandiri merawat diri. Implementation Unit (IU) yang digunakan dalam program eliminasi filariasis sejak tahun 2005 adalah Kabupaten/Kota.

Namun. Kemenkes RI Gambaran sebaran kabupaten/kota yang telah melaksanakan pengobatan massal filariasis dapat dilihat pada gambar berikut ini. Kemenkes RI Dari 337 kabupaten/kota endemis filariasis pada tahun 2009. GAMBAR 4.GAMBAR 4.42 JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG MELAKUKAN PEMBERIAN OBAT MASSAL PENCEGAHAN (POMP) FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL. baru 59 kabupaten/kota yang sasaran pengobatan massalnya seluas kabupaten/kota.41 PERSENTASE PENATALAKSANAAN KASUS KLINIS FILARIASIS TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL. Sejak tahun 2005 terjadi peningkatan jumlah kabupaten/kota yang melaksanakan POMP Filariasis setiap tahunnya. 101 . belum semua kabupaten/kota dalam pelaksanaannya sasaran penduduknya seluas kabupaten/kota. baru 97 kabupaten/kota yang tersebar di 26 propinsi melaksanakan pemberian obat massal pencegahan filariasis (POMP Filariasis).

Cakupan POMP filariasis setiap tahunnya dari tahun 2005 sampai tahun 2009 terlihat ada peningkatan seperti terlihat pada Gambar 4.44 berikut ini. Kemenkes RI 9. Kemenkes RI Pada tahun 2009.GAMBAR 4. 102 . sedangkan realisasinya sebanyak 16. Surveilans Vektor Salah satu kegiatan yang harus diperhatikan dalam surveilans vektor adalah monitoring resistensi vektor terhadap insektisida yang dapat digunakan sebagai acuan bagi Dinas Kesehatan serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) dalam kebijakan pengendalian vektor di lapangan.43 KABUPATEN/KOTA ENDEMIS FILARIASIS YANG MELAKSANAKAN PENGOBATAN MASSAL DI INDONESIA.44 CAKUPAN POMP FILARIASIS DI INDONESIA. GAMBAR 4. TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen PPPL. target pemberian obat massal pencegahan filariasis adalah sekitar 32 juta penduduk. TAHUN 2009 Sumber: Ditjen PPPL.3 juta penduduk (51%).

Pada Gambar 4. Kemenkes RI Kegiatan yang dilakukan tahun 2007-2009 meliputi monitoring kerentanan vektor dan efikasi insektisida serta evaluasi terhadap mutu pengendalian vektor malaria. demam berdarah dengue.46 menyajikan cakupan kerentanan vektor penyakit bersumber binatang tahun 2007 – 2009. Kegiatan pengendalian vektor yang dilaksanakan antara lain monitoring efikasi dan resistensi serta cakupan mutu pengendalian vektor malaria dan demam berdarah dengue. maka pengawasan atau monitoring terhadap penggunaan insektisida dan dampaknya perlu dilakukan agar hasilnya tetap efektif. meskipun upaya pengendalian dengan metode lain juga perlu dipertimbangkan.45 terlihat bahwa terjadi penurunan kegiatan pemberantasan vektor malaria berdasarkan surveilans vektor. GAMBAR 4. Pada tahun 2008 dan 2009 cakupan pemberantasan vektor malaria berada di bawah target pada tahun tersebut. Dengan kondisi seperti itu.2009 Sumber: Ditjen PPPL.45 CAKUPAN PEMBERANTASAN VEKTOR MALARIA BERDASARKAN SURVEILANS VEKTOR TAHUN 2005 . Hasil pengendalian vektor sampai dengan tahun 2009 dapat dilihat pada beberapa gambar berikut ini. Pengendalian vektor saat ini identik dengan penggunaan insektisida. karena penggunaan di masyarakat tidak terpantau yang akan dapat mempercepat terjadinya resistensi. dan hasil survei jentik nyamuk demam berdarah dengue.Pengendalian vektor yang dilakukan oleh swasta serta pemakaian insektisida rumah tangga merupakan permasalahan tersendiri yang tidak bisa diabaikan. Gambar 4. 103 .

46 CAKUPAN KERENTANAN VEKTOR PENYAKIT BERSUMBER BINATANG TAHUN 2007 . 2008 dan 2009) mutu pengendalian vektor malaria belum mencapai target.2009 Sumber: Ditjen PPPL.48 menunjukkan bahwa selama tiga tahun (2007. karena belum semua kabupaten/kota melakukan pengendalian vektor berdasarkan fakta yaitu data entomologi dan faktor risiko lingkungan. GAMBAR 4.47 CAKUPAN EVALUASI MUTU PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA TAHUN 2007 .47 menunjukkan bahwa selama tiga tahun (2007. Kemenkes RI Gambar 4. karena belum semua kabupaten/kota melakukan pengendalian vektor berdasarkan informasi dan data entomologi. 2008 dan 2009) mutu pengendalian vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD) belum mencapai target. 104 .GAMBAR 4. Kemenkes RI Gambar 4.2009 Sumber: Ditjen PPPL.

Dua cara tersebut dipakai untuk memastikan nyamuk yang menjadi vektor penyakit malaria di suatu wilayah. An.punctulatus 13. Sundaicus 21. An. An. subpictus 22.bancrofti 6.An. An. An. An.49 PETA PENYEBARAN VEKTOR MALARIA TAHUN 2009 18 11 19 17 22 20 25 14 16 2 14 25 13 15 23 5 21 8 9 10 16 6 15 21 12 21 1 24 1 22 3 16 20 20 17 4 20 7 21 24 Keterangan : 1.letifer 15. kochi 12. Kemenkes RI Untuk mengetahui peta penyebaran vektor penular penyakit malaria. parangensis 20. An. An. tessellatus . Sampai dengan tahun 2009 jumlah vektor penyakit malaria yang tercatat di Subdit Pengendalian Vektor sebanyak 25 spesies yang dihimpun dari berbagai sumber. An. sinensis 23. An. An. An.karwari 10. vagus 25. An. An. An. An. Di Indonesia sejak tahun 1919 telah dilakukan konfirmasi vektor. An.aconitus 2.49 berikut ini menyajikan peta penyebaran vektor malaria di Indonesia tahun 2009.annularis 3. Dari 25 spesies tersebut ada 7 spesies merupakan spesies langka dan konfirmasi terakhir sebelum tahun 1960. An. Maculatus 17.ludlowi 14. An.barbirostris 5. flavirostris 8.48 CAKUPAN EVALUASI MUTU PENGENDALIAN VEKTOR DBD TAHUN 2007 .farauti 9. An. An. dilakukan kegiatan antara lain dengan melakukan pembedahan kelenjar ludah (konfirmasi saliva) dan uji elisa terhadap nyamuk Anopheles. An.2009 Sumber: Ditjen PPPL. An. Gambar 4.leucosphyrus 105 16.nigerimus 19.barbumbrosus 7. umbrosus 24.balabacensis 4.minimus 18 An. GAMBAR 4.GAMBAR 4.koliensis 11.

D. Ibu hamil mendapat tablet tambah darah 90 tablet selama kehamilannya. dan gangguan akibat kekurangan yodium. 1. Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan masalah gizi terutama anemia gizi besi. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Upaya perbaikan gizi masyarakat dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat.5% (Riskesdas. Namun demikian keadaan ini mengindikasikan bahwa anemia gizi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan ditemukan beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai pada kelompok masyarakat antara lain anemia gizi besi. Cakupan Fe1 dan Fe3 tahun 2006 masing-masing sebesar 71. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001. prevalensi anemia ibu hamil sebesar 40. namun meningkat pada tahun 2009. GAMBAR 4.2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah (Fe) selama tahun 20062008 terlihat ada kecenderungan turun setiap tahun baik cakupan Fe1 maupun Fe3.1% dan pada tahun 2007 turun menjadi 24. Penanggulangan masalah anemia gizi besi saat ini terfokus pada pemberian tablet tambah darah (Fe) pada ibu hamil. kekurangan Vitamin A. 2007).1% 106 .50 PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT TABLET FE TAHUN 2006 . Di Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) hingga disebut anemia kekurangan zat besi atau anemia gizi besi. Pemberian Tablet Tambah Darah (Fe) Anemia gizi adalah kekurangan kadar haemoglobin (Hb) dalam darah yang disebabkan karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan Hb tersebut. Cakupan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah (Fe) selama 4 tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.

dan 64,5%, sedangkan pada tahun 2008 turun menjadi 53,1% dan 48,1%. Pada tahun 2009
cakupan pemberian Fe1 naik menjadi 76,9% dan Fe3 naik menjadi 68,7%. Sebaran cakupan
pemberian tablet tambah darah (Fe3) pada ibu hamil menurut provinsi dapat dilihat pada
Gambar 4.51 berikut ini.
GAMBAR 4.51
PERSENTASE IBU HAMIL YANG MENDAPAT TABLET TAMBAH DARAH (FE3)
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Provinsi Bali (90,43%), Kep. Bangka
Belitung (84,85%) dan Nusa Tenggara Barat (81,51%). Sedangkan cakupan terendah adalah
Provinsi Papua (31,57%), Sulawesi Tengah (36,12%), dan Sulawesi Barat (38,19%).
Cakupan pemberian tablet tambah darah terkait erat dengan antenatal care (ANC).
Analisis cakupan K4 dengan Fe3 sering menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar,
hal ini disebabkan karena belum optimalnya koordinasi sistem pencatatan dan pelaporan antar
program terkait.
2. Pemberian Kapsul Vitamin A

Tujuan pemberian kapsul vitamin A pada balita adalah untuk menurunkan prevalensi
dan mencegah kekurangan vitamin A pada balita. Kapsul vitamin A dosis tinggi terbukti
efektif untuk mengatasi masalah kekurangan vitamin A (KVA) pada masyarakat apabila
cakupannya tinggi. Bukti-bukti lain menunjukkan peranan vitamin A dalam menurunkan
secara bermakna angka kematian anak, maka selain untuk mencegah kebutaan, pentingnya
pemberian vitamin A saat ini lebih dikaitkan dengan kelangsungan hidup, kesehatan dan
pertumbuhan anak.
107

Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, serta meningkatkan
daya tahan tubuh. Anak-anak yang mendapat cukup vitamin A, bila terkena diare, campak
atau penyakit infeksi lain, maka penyakit-penyakit tersebut tidak mudah menjadi parah,
sehingga tidak membahayakan jiwa anak.
Sasaran pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi adalah bayi (umur 6-11 bulan)
diberikan kapsul vitamin A 100.000 SI, anak balita (umur 1-4 tahun) diberikan kapsul vitamin
A 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan
memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Pada bayi (6-11 bulan) diberikan setahun
sekali pada bulan Februari atau Agustus; dan untuk anak balita enam bulan sekali, yang
diberikan secara serentak pada bulan Februari dan Agustus. Sedangkan pemberian kapsul
vitamin A pada ibu nifas, diharapkan dapat dilakukan terintegrasi dengan pelayanan
kesehatan ibu nifas. Namun dapat pula diberikan di luar pelayanan tersebut selama ibu nifas
tersebut belum mendapatkan kapsul vitamin A.
Persentase cakupan pemberian vitamin A balita dan ibu nifas, pada 3 tahun terakhir
dapat dilihat pada Gambar 4.52 berikut ini.
GAMBAR 4.52
PERSENTASE BALITA DAN IBU NIFAS YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
TAHUN 2007 - 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Cakupan pemberian vitamin A pada bayi dan balita tiga tahun terakhir sudah
menunjukkan angka diatas 80% dan relatif angka cakupannya tidak berbeda jauh dari tahun
ke tahun. Namun demikian untuk cakupan vitamin A ibu nifas angkanya masih di bawah
80%, walaupun demikian ada kecenderungan cakupannya makin meningkat selama tiga tahun
terakhir. Dengan demikian masih diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan cakupan
tersebut, antara lain melalui peningkatan integrasi pelayanan kesehatan ibu nifas, sweeping
pada daerah yang cakupannya masih rendah, dan kampanye pemberian kapsul vitamin A.
Masalah vitamin A pada balita secara klinis sudah tidak merupakan masalah kesehatan
masyarakat (prevalensi xeropthalmia < 0,5%). Hasil studi masalah gizi mikro di 10 kota pada
108

10 provinsi tahun 2006, diperoleh prevalensi xeropthalmia pada balita 0.13%, sedangkan hasil
survey vitamin A tahun 1992 menunjukkan prevalensi xeropthalmia sebesar 0,33%.
Namun demikian kekurangan vitamin A (KVA) subklinis, yaitu tingkat yang belum
menampakkan gejala nyata, masih menimpa masyarakat luas terutama kelompok balita. KVA
tingkat subklinis ini hanya dapat diketahui dengan memeriksa kadar vitamin A dalam darah di
laboratorium. Di samping itu sebaran cakupan pemberian vitamin A pada balita menurut
provinsi masih ada yang di bawah 80%. Dengan demikian kegiatan pemberian vitamin A
pada balita dan ibu nifas masih perlu dilanjutkan, karena bukan hanya untuk kesehatan mata
dan mencegah kebutaan, dan lebih penting lagi, vitamin A meningkatkan kelangsungan hidup
anak, kesehatan dan pertumbuhan anak.
Gambar berikut menyajikan persentase balita dan ibu nifas yang mendapat kapsul
vitamin A menurut provinsi.
GAMBAR 4.53
PERSENTASE BALITA YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Hasil laporan Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009, cakupan pemberian kapsul
vitamin A pada balita 83,3%. Provinsi dengan cakupan tertinggi, masing-masing: Jawa
Tengah (98,6%), DI Yogjakarta (96,1%) dan Kalimantan Selatan (93,2%). Sedangkan
provinsi yang cakupannya terendah, masing-masing: Papua Barat (29,1%), Papua (43,5%)
dan Maluku (65,0%).

109

GAMBAR 4.54
PERSENTASE IBU NIFAS YANG MENDAPAT KAPSUL VITAMIN A
MENURUT PROVINSI TAHUN 2009

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009, cakupan pemberian kapsul
vitamin A pada Ibu Nifas sebesar 63,0%. Provinsi dengan cakupan tertinggi, masing-masing:
Riau (100,0%), Bali (91,0%), Gorontalo (87,4%) dan Jawa Tengah (87,4%). Sedangkan
Provinsi yang cakupannya terendah, masing-masing Papua Barat (27,4%), Jambi (32,4%) dan
Aceh (33,2%).
3. Cakupan Konsumsi Garam Beryodium

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala yang
timbul karena tubuh seseorang kurang unsur Iodium secara terus-menerus dalam jangka
waktu lama. Kekurangan Iodium saat ini tidak terbatas pada gondok dan kretinisme saja,
tetapi ternyata kekurangan Iodium berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia secara
luas, meliputi tumbuh kembang, termasuk perkembangan otak sehingga terjadi penurunan
potensi tingkat kecerdasan (Intelligence Quotient=IQ).
Pemantauan GAKY dilakukan melalui Ekskresi Yodium dalam Urine (EYU) sebagai
refleksi asupan yodium dan cakupan rumah tangga mengonsumsi garam beryodium. Hasil
Studi Intensifikasi Penanggulangan GAKY (IP-GAKY) tahun 2003 dan Riskesdas 2007
menunjukkan bahwa rata-rata EYU <100 µg/L sebesar 16,7% dan 12,9%, namun cakupan
rumah tangga dengan garam cukup Iodium rata-rata nasional baru mencapai 62,3%
(Riskesdas 2007). Terdapat disparitas antar daerah yang cukup tinggi seperti terlihat pada
Gambar 4.55 berikut ini.

110

GAMBAR 4.55
PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MENGKONSUMSI
GARAM BERYODIUM CUKUP MENURUT PROVINSI TAHUN 2007

Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI

Provinsi dengan cakupan konsumsi garam cukup beryodium terendah adalah Nusa
Tenggara Barat (27,9%), Nusa Tenggara Timur (31,0%) dan Sulawesi Barat (34,2%),
sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi adalah Kep. Bangka Belitung (98,7%), Jambi
(94,4%) dan Sumatera Selatan (93,0%).
Masalah masih rendahnya cakupan konsumsi garam beryodium di masyarakat antara
lain karena belum optimalnya penggerakan masyarakat dan kampanye dalam mengkonsumsi
garam beryodium, serta dukungan regulasi yang belum memadai. Di samping itu masalah lain
adalah belum rutinnya pelaksanaan pemantauan garam beryodium di masyarakat secara terus
menerus.
4. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif

Cara pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi secara
eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak sampai
umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayi mendapat makanan pendamping ASI yang bergizi
sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.
Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia berfluktuasi selama 3
tahun terakhir. Pada Gambar 4.56 terlihat bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
0–5 bulan turun dari 62,2% tahun 2007 menjadi 56,2% pada tahun 2008, namun meningkat
lagi pada tahun 2009 menjadi 61,3%. Sedangkan cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi

111

sampai 6 bulan turun dari 28,6% pada tahun 2007 menjadi 24,3% pada tahun 2008 dan naik
lagi menjadi 34,3% pada tahun 2009.
GAMBAR 4.56
PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 0-5 BULAN DAN 6 BULAN
TAHUN 2004 - 2009

Sumber: BPS, Susenas 2009

Cakupan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi beberapa hal, terutama masih sangat
terbatasnya tenaga konselor ASI, belum adanya peraturan perundangan tentang pemberian
ASI serta belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait
pemberian ASI maupun MP-ASI, masih kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana KIE
ASI dan MP-ASI dan belum optimalnya membina kelompok pendukung ASI dan MP-ASI.
Gambar 4.57 berikut ini menyajikan persentase cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi
0-5 bulan dan 6 bulan menurut provinsi tahun 2009.
GAMBAR 4.57
PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 0-6 BULAN
MENURUT PROVINSI 2009

Sumber: BPS, Susenas 2009

112

3%). Bengkulu (54. Cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 4. peningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu.Berdasarkan data Susenas 2009.58 PERSENTASE PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 6 BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif 6 bulan terendah adalah Gorontalo (14.7%) dan Kalimantan Barat (19. Jawa Tengah (52. penyediaan fasilitas menyusui di tempat kerja. Papua Barat (16. GAMBAR 4. Di lain pihak adanya promosi dan pemasaran yang begitu intensif terkait susu formula yang kadang sulit untuk dikendalikan.8%) dan Nusa Tenggara Timur (75.58 berikut ini. peningkatan dukungan keluarga dan masyarakat serta upaya untuk mengendalikan pemasaran susu formula.2%). Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif 0-5 bulan maupun 6 bulan dapat disebabkan karena masih kurangnya pemahaman masyarakat bahkan petugas kesehatan sekalipun tentang manfaat dan pentingnya pemberian ASI eksklusif kepada bayi usia 0-5 bulan.2%) dan Aceh (52. Mungkin pula masih banyak Rumah Sakit (RS) yang belum mendukung peningkatan pemberian ASI eksklusif. Sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (54. Sedangkan provinsi dengan cakupan tertinggi ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (78. yang dapat ditandai dengan belum melakukan rawat gabung antara ibu dan bayinya. Selain itu perlu juga penerapan 10 (sepuluh) langkah menuju 113 .8%). Upaya terobosan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif antara lain melalui upaya peningkatan pengetahuan petugas tentang manfaat ASI eksklusif.1%).3%). dan belum atau masih rendahnya melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) serta masih bebas beredarnya susu formula di lingkungan RS.2%) dan Maluku (53. provinsi dengan cakupan pemberian ASI eksklusif 06 bulan bulan terendah adalah Jawa Timur (48.3%). Bengkulu (75.5%).2%).

Sebagai gambaran proporsi anak 6-11 bulan yang ditimbang di posyandu 91.3%. Frekuensi kunjungan balita ke posyandu semakin berkurang dengan semakin meningkatnya umur anak. Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2009 cakupan penimbangan balita di posyandu sebesar 63. Semakin tinggi cakupan D/S. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S) Cakupan penimbangan balita di posyandu (D/S) merupakan indikator yang berkaitan dengan cakupan pelayanan gizi pada balita. 2) melatih staf pelayanan kesehatan. 4) membantu ibu untuk IMD dalam 60 menit pertama persalinan. Hasil Riskesdas 2007 menunjukan secara nasional cakupan penimbangan balita (anak pernah ditimbang di Posyandu sekurang-kurangnnya satu kali selama sebulan terakhir) di posyandu sebesar 74. 3) KIE kepada ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui. cakupan pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi serta prevalensi gizi kurang.keberhasilan menyusui (LMKM) di RS dan sarana pelayanan kesehatan lainnya yang melakukan kegiatan persalinan.59 berikut ini.6%. 8) menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi. 5) membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu dipisah dari bayinya. semakin tinggi cakupan vitamin A. dan pada usia 24-35 bulan turun menjadi 73. 7) menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu (24 jam). Sepuluh langkah tersebut meliputi : 1) membuat kebijakan tentang menyusui. 114 . 5.3%. Cakupan penimbangan balita di posyandu menurut provinsi tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 4. pada anak usia 12-23 bulan turun menjadi 83. 9) Tidak memberi dot kepada bayi. 6) memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis.5%. dan 10) mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut setelah keluar dari sarana pelayanan kesehatan. semakin tinggi cakupan imunisasi dan semakin rendah prevalensi gizi kurang.9%.

1%). yang terjadi di 11 provinsi. Bencana lingkungan hidup terjadi akibat dari kerusakan lingkungan seperti banjir. Jawa Timur (76. tumpahan minyak di laut. 15 korban hilang. 53 luka berat yang memerlukan rawat inap. kekeringan.59 PERSENTASE KUNJUNGAN BALITA YANG DITIMBANG DI POSYANDU (D/S) MENURUT PROVINSI 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas Kemenkes RI Cakupan penimbangan balita di posyandu yang tertinggi ada di DI Yogjakarta (75. Bencana alam yang menelan korban yang paling banyak adalah gempa bumi.GAMBAR 4. Masalah yang berkaitan dengan kunjungan posyandu antara lain: dana operasional dan sarana prasarana untuk menggerakkan kegiatan posyandu. Jumlah korban akibat bencana banjir dan banjir bandang selama tahun 2009 sebanyak 157 meninggal.706 luka ringan/rawat jalan. sedangkan bencana alam terjadi sebagai akibat aktivitas lapisan/kerak bumi/fenomena alam seperti gempa bumi. banjir dan banjir bandang merupakan bencana yang paling sering terjadi dan melanda 23 provinsi di Indonesia.854 pengungsi. Jumlah 115 . Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Penanggulangan Krisis Kementerian Kesehatan pada tahun 2009. kebakaran hutan dan lahan.7%).6%). dan sebanyak 229. gelombang tsunami. PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA Bencana di Indonesia dapat dikategorikan menjadi 2 macam yaitu bencana lingkungan hidup dan bencana alam.0%). kecelakaan industri. E. badai atau angin ribut yang kejadiannya sulit diprediksi. dan Jawa Tengah (76. letusan gunung berapi. tingkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling.3%) dan Kalimantan Timur (39. tingkat pemahaman keluarga dan masyarakat akan manfaat posyandu.6%). Sedangkan cakupan terendah ada di Provinsi Papua Barat (27. 37. tanah longsor. Papua (35. serta pelaksanaan pembinaan kader.

224 luka ringan/rawat jalan. Rincian kejadian bencana menurut jenis dan jumlah korban pada tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 4. 27 korban hilang.234 luka berat yang memerlukan rawat inap. dan sebanyak 205. 9.209 meninggal. *** 116 .27. 1.korban akibat bencana gempa bumi selama tahun 2009 sebanyak 1. Demikian gambaran mengenai situasi upaya kesehatan di Indonesia sampai dengan tahun 2009.210 pengungsi.

.

Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan tingkat pertama dan terdepan dalam sistem pelayanan kesehatan. seperti terlihat pada Gambar 5. 2) pusat pemberdayaan masyarakat. dengan rincian jumlah puskesmas perawatan 2. Puskesmas memiliki fungsi sebagai : 1) pusat pembangunan berwawasan kesehatan.Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas. dan 4) pusat pelayanan kesehatan perorangan primer. sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). sarana produksi dan distribusi kefarmasian dan alat kesehatan.50.000 penduduk pada tahun 2005 sebesar 3. Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat atau yang biasa disebut Puskesmas merupakan salah satu unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.78. 3) pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer. tuntutan. Dalam kurun waktu 2005 hingga 2009.000 penduduk. dan pembiayaan kesehatan. kebutuhan. A.033 unit. pada tahun 2009 meningkat menjadi 3. harus melakukan upaya kesehatan wajib (basic six) dan beberapa upaya kesehatan pilihan yang disesuikan dengan kondisi. 1. serta institusi pendidikan tenaga kesehatan. tenaga kesehatan. Jumlah puskesmas di Indonesia sampai dengan akhir tahun 2009 sebanyak 8.1 berikut ini. rasio ini menunjukkan adanya peningkatan. 118 . Rasio puskesmas per 100. kemampuan dan inovasi serta kebijakan pemerintah daerah setempat.737 unit. sumber daya kesehatan diulas dengan menyajikan gambaran keadaan sarana kesehatan. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui keterjangkauan penduduk terhadap puskesmas adalah rasio puskesmas per 100.704 unit dan puskesmas non perawatan sebanyak 6. Pada bab ini. rumah sakit (rumah sakit umum dan rumah sakit khusus). SARANA KESEHATAN Sarana kesehatan yang disajikan dalam bab ini meliputi: puskesmas. yang diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

GAMBAR 5. Kemenkes Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi. Kemenkes.704 119 .000 PENDUDUK TAHUN 2005-2009 Sumber : Ditjen. Gambaran rasio puskesmas menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Gambar 5.000 penduduk menurut provinsi menunjukkan bahwa rasio tertinggi pada tahun 2009 adalah di Provinsi Papua Barat. Kemenkes Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.GAMBAR 5.1 RASIO PUSKESMAS PER 100.000 penduduk menurut provinsi pada tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. 2010 Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat di puskesmas.2 RASIO PUSKESMAS PER 100. Binkesmas.000 PENDUDUK TAHUN 2009 Sumber : Ditjen Binkesmas.2. yaitu sebesar 14. sedangkan rasio terendah Provinsi Banten.077 unit pada tahun 2005 menjadi 2.00. yaitu sebesar 2. 2010 Rasio puskesmas per 100. yaitu tahun 2005-2009 telah terjadi peningkatan jumlah puskesmas perawatan dari 2. Sedangkan rincian jumlah dan rasio puskesmas per 100. Kemenkes.1. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. beberapa puskesmas non perawatan telah ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas perawatan.12.

Rumah sakit tersebut dikelola oleh Kementerian Kesehatan.202 unit dan rumah sakit khusus (RSK) berjumlah 321 unit.3.650 unit dengan rasio pustu terhadap puskesmas 2. maka terjadi peningkatan jumlah rumah sakit. Perkembangan jumlah puskesmas perawatan dan non perawatan pada tahun 2005-2009 dapat dilihat pada Gambar 5. Rumah sakit juga berfungsi sebagai sarana pelayanan kesehatan rujukan.523 unit. 2. GAMBAR 5.3. pemerintah provinsi.2. 2010 Untuk meningkatkan jangkauan pelayanan puskesmas terhadap masyarakat di wilayah kerjanya. baik rumah sakit umum maupun rumah sakit 120 . Rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang bergerak dalam kegiatan kuratif dan rehabilitatif. yang terdiri atas rumah sakit umum (RSU) berjumlah 1.unit pada tahun 2009. pemerintah kabupaten/kota. Kemenkes Pusat data dan Surveilans Epidemiologi. kementerian lain/BUMN serta sektor swasta. Pada tahun 2009 jumlah rumah sakit di Indonesia sebanyak 1. di dalamnya juga terdapat pembangunan kesehatan bersifat kuratif dan rehabilitatif. Rincian jumlah pustu per provinsi tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5. Rincian mengenai jumlah puskesmas perawatan dan non perawatan menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5. puskesmas didukung oleh sarana pelayanan kesehatan berupa puskesmas pembantu (pustu). Kemenkes. TNI/POLRI. Jumlah pustu pada tahun 2009 dilaporkan sebanyak 22.6.3 JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN NON PERAWATAN TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Binkesmas. Bila melihat perkembangan sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Rumah Sakit Ruang lingkup pembangunan kesehatan selain upaya promotif dan preventif.

2010 121 .4.319 1.1 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT (UMUM & KHUSUS) DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 No.523 unit pada tahun 2009. Sedangkan jumlah seluruh rumah sakit pada tahun 2009 menurut pengelola dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.4 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.292 1. Pada tahun 2005 terdapat 1.202 unit pada tahun 2009.5. Perkembangan RSU di Indonesia selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5.khusus. Kemenkes. TABEL 5. Kemenkes. GAMBAR 5. Tabel 5.268 rumah sakit di Indonesia. pada tahun 2005 terdapat 995 unit menjadi 1. dan jumlah rumah sakit umum dan khusus di Indonesia menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. Jumlah rumah sakit umum di Indonesia menurut pengelolanya dapat dilihat pada Lampiran 5. jumlah ini naik 20.4 berikut ini.523 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.268 1.372 1. 2010 Selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2005-2009) jumlah rumah sakit umum baik yang dikelola oleh institusi pemerintah maupun sektor swasta mengalami peningkatan. Pengelola/Kepemilikan 2005 2006 2007 2008 2009 1 Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/Kota 452 464 477 509 552 2 TNI/POLRI 112 112 112 112 125 3 BUMN/Kementerian Lain 78 78 78 78 78 4 Swasta 626 638 652 673 768 1.1 berikut menampilkan perkembangan jumlah rumah sakit (umum dan khusus) di Indonesia tahun 2005-2009.11% menjadi 1.4.

38%) kelas B. Gambar 5. Informasi lebih rinci mengenai jumlah RSU yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah menurut kelas rumah sakit dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.5 PERSENTASE RUMAH SAKIT UMUM MILIK KEMENTERIAN KESEHATAN DAN PEMERINTAH DAERAH MENURUT KELAS TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. Dari jumlah 465 RSU. 122 . 2010 Terdapat 10 RSU milik Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah yang termasuk kelas A. meningkat menjadi 321 pada tahun 2009. Denpasar dan Makassar. Jumlah rumah sakit khusus (RSK) baik milik pemerintah maupun swasta dalam kurun waktu tahun 2005-2009 menunjukkan adanya peningkatan. pemerintah daerah.6 berikut ini.78%) kelas D dan 10 unit (2. Informasi lebih rinci mengenai jumlah RSU yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan. Surabaya.69%) kelas C. 118 unit (25. Pada tahun 2005 terdapat 273 unit rumah sakit khusus. GAMBAR 5.15%) kelas A. 92 unit (19. Perkembangan jumlah RSK selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 5. Yogyakarta. Bandung. terdapat 245 unit (52. Semarang. yang terdapat di 10 kota yaitu Medan. Kemenkes. Surakarta. BUMN/kementerian lain dan swasta menurut kelas perawatan dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.7. Jakarta.Dari rumah sakit umum yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah menunjukkan bahwa sebagian besar tergolong RSU kelas C. Malang.6.5 berikut ini menyajikan persentase RSU menurut kelas.

8. Jumlah tempat tidur pada rumah sakit umum dan rumah sakit khusus dalam 5 tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan. GAMBAR 5. 2010 Sebagian besar rumah sakit khusus tersebut adalah RS Ibu dan Anak sebanyak 95 unit dan RS Bersalin sebanyak 60 unit. Kemenkes. Gambaran peningkatan tersebut dapat 123 .6 PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.7. seperti dapat dilihat pada Gambar 5. 2010 Jumlah tempat tidur suatu rumah sakit dapat digunakan untuk menggambarkan kemampuan rumah sakit tersebut dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.7 JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. Kemenkes.GAMBAR 5. Jumlah rumah sakit khusus beserta jumlah tempat tidurnya tahun 2005-2009 terdapat pada Lampiran 5.

Kemenkes.8 PERKEMBANGAN JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT UMUM (RSU) DAN RUMAH SAKIT KHUSUS (RSK) DI INDONESIA TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. 2010 Rasio tempat tidur rumah sakit terhadap penduduk juga dapat menggambarkan tingkat ketersediaan sarana pelayanan kesehatan rujukan. Gambar 5.74 pada tahun 2009. Kemenkes. GAMBAR 5. rasio pada tahun 2005 sebesar 62. GAMBAR 5.49 naik menjadi 70.000 PENDUDUK TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Ditjen Bina Yanmedik. Rincian jumlah tempat tidur pada rumah sakit khusus dapat dilihat pada Lampiran 5. 2010 124 .9 JUMLAH TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT DAN RASIONYA PER 100.000 penduduk di rumah sakit pada tahun 2005-2009.8.000 penduduk dari tahun 2005-2009 juga mengalami peningkatan.dilihat pada Gambar 5. Rasio tempat tidur per 100.9 menyajikan jumlah tempat tidur dan rasio tempat tidur per 100.8 di bawah ini.

Proporsi tempat tidur di rumah sakit umum dan rumah sakit khusus menurut kelas perawatan menunjukkan gambaran bahwa sebagian besar adalah Kelas III. Sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan dapat digunakan untuk melihat kemampuan ketersediaan obat dan alat kesehatan bagi masyarakat. 125 .10 JUMLAH SARANA PRODUKSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN TAHUN 2005-2009 Sumber: Ditjen Binfar & Alkes.1%. 3. Kemenkes. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Salah satu kebijakan pelaksanaan dalam Program Obat dan Perbekalan Kesehatan adalah pengendalian obat dan perbekalan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan.5% dan tanpa kelas sebesar 22. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 5. Rincian mengenai jumlah dan persentase tempat tidur di RSU dan RSK menurut jenis kelas perawatan dan provinsi terdapat pada Lampiran 5.10.6%. terdapat kelas VIP sebesar 7.6. yaitu sebesar 39. Jumlah sarana distribusi di Indonesia pada tahun 2009 dirinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.9.5%.11. GAMBAR 5. Selain tiga jenis kelas perawatan tersebut.10. Jumlah sarana produksi di Indonesia pada tahun 2009 dirinci menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.2% dan Kelas I sebesar 10. diikuti oleh Kelas II sebesar 20. Selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir terlihat adanya kecenderungan peningkatan jumlah sarana produksi kefarmasian dan alat kesehatan. 2010 Jumlah sarana distribusi kefarmasian dan alat kesehatan selama lima tahun terakhir (2005-2009) terdapat pada Gambar 5.

yaitu Posyandu Pratama. Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat Upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dilakukan dengan menerapkan berbagai pendekatan. dengan demikian maka rasio posyandu terhadap desa/kelurahan sebesar 3. posyandu diharapkan dapat melaksanakan 5 program prioritas yaitu kesehatan ibu dan anak. termasuk di dalamnya dengan melibatkan potensi masyarakat. Posyandu Purnama dan Posyandu Mandiri. Pada tahun 2009 terdapat 266. Hal ini sejalan dengan konsep pemberdayaan pengembangan masyarakat. Dalam rangka menilai kinerja dan perkembangannya. perbaikan gizi. Kemenkes. 2010 4. Tanaman Obat Keluarga (Toga). 126 . dan penanggulangan diare. Dalam menjalankan fungsinya. Informasi selengkapnya mengenai rasio posyandu menurut provinsi pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 5. imunisasi.11 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN 2005 -2009 Sumber: Ditjen Binfar & Alkes.827 posyandu. posyandu diklasifikasikan menjadi 4 strata.GAMBAR 5. dan Pos Obat Desa (POD). Posyandu Madya.55 posyandu per desa/kelurahan.12 berikut ini. keluarga berencana. Langkah tersebut tercermin dalam pengembangan sarana Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). UKBM di antaranya terdiri dari Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Salah satu jenis UKBM yang telah sejak lama dikembangkan dan mengakar di masyarakat adalah posyandu. Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) di Desa Siaga.

Pelayanan yang diberikan poskesdes juga mencakup tempat pertolongan persalinan dan pelayanan KIA.996 unit poskesdes/desa siaga. Bina Kesmas. dengan kata lain salah satu wujud upaya untuk mempermudah akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. 2010 Poskesdes merupakan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan penyediaan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. Kegiatan utama poskesdes yaitu pengamatan dan kewaspadaan dini (surveilans perilaku berisiko. Kemenkes. Gambar 5.69. Poskesdes merupakan salah satu indikator sebuah desa disebut desa siaga. lingkungan dan masalah kesehatan lainnya). Data menyebutkan bahwa pada tahun 2009 terdapat 51. 127 . Jumlah desa siaga di Provinsi DKI Jakarta merupakan jumlah RW siaga dan jumlah desa siaga di Provinsi Sumatera Barat merupakan jumlah desa siaga ditambah nagari siaga.3.12 RASIO POSYANDU TERHADAP JUMLAH DESA/KELURAHAN TAHUN 2009 Sumber: Ditjen. Rasio poskesdes/desa siaga terhadap desa secara nasional pada tahun 2009 sebesar 0. Sedangkan data mengenai sarana kesehatan tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5.13 berikut ini menyajikan rasio poskesdes menurut provinsi pada tahun 2009 (tidak termasuk Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Sumatera Barat). penanganan kegawatdaruratan kesehatan dan kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan kesehatan.GAMBAR 5.

13 RASIO POSKESDES TERHADAP JUMLAH DESA DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Ditjen. Jumlah. Perkembangan jumlah program studi (prodi) pada institusi Poltekkes dan Non Poltekkes terdapat pada Gambar 5. yang terdiri dari 221 jurusan/program studi (yang berada pada 33 Poltekkes) dan 919 institusi Non Poltekkes. Program pendidikan D-III institusi pendidikan tenaga kesehatan (Diknakes) saat ini berkembang dengan pesat. Sampai dengan Desember 2009 jumlah institusi Diknakes sebanyak 1. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan juga menyelenggarakan program D-IV. Jenis dan Persebaran Institusi Pembangunan kesehatan berkelanjutan membutuhkan tenaga kesehatan yang memadai baik dari segi jumlah maupun kualitas. Selain menyelenggarakan program D-III.14 berikut ini. Kementerian Kesehatan merupakan institusi dari sektor pemerintah yang berperan di dalam penyediaan tenaga kesehatan yang berkualitas tersebut. Bina Kesmas.TNI/POLRI dan Pemda). Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. 2010 5.140 institusi. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan a. Untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang berkualitas tentu saja dibutuhkan proses pendidikan yang berkualitas pula. baik jenis maupun jumlah di masing-masing provinsi. 128 . Dalam penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan jenjang pendidikan menengah dan Diploma (D-III) yang berada di bawah pembinaan Kementerian Kesehatan dikelompokkan dalam Politeknik Kesehatan (milik Kemenkes) dan Non Poltekkes (milik Swasta.GAMBAR 5. Kemenkes.

2010 Pada Gambar 5. kebidanan dan kesehatan gigi.GAMBAR 5. Kemenkes. terapi wicara dan 129 . 2010 Gambar 5. Tahun 2009 terjadi penambahan 7 prodi. hal ini sesuai dengan kebutuhan jenis tenaga kesehatan dan pemerataan produksi tenaga kesehatan.14 PERKEMBANGAN JUMLAH PROGRAM STUDI INSTITUSI DIKNAKES POLTEKKES DAN NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2002-2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. untuk prodi keperawatan terdiri dari keperawatan.14 dapat dilihat adanya peningkatan jumlah Jurusan/Prodi Poltekkes setiap tahunnya. dari 214 prodi pada tahun 2008 menjadi 221 prodi. GAMBAR 5. okupasi terapi.16 menunjukan jumlah program studi pada institusi Diknakes Non Poltekkes. Kemenkes.15 JUMLAH PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. untuk prodi keterapian fisik terdiri dari fisioterapi.

Informasi selengkapnya mengenai jumlah dan persentase program studi Poltekkes yang telah terakreditasi menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. Akreditasi dilaksanakan bagi institusi baru yang telah menjalankan perkuliahan sampai dengan semester V (lima). GAMBAR 5. untuk lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran 5.9%) dengan strata C. 96 prodi (53. terdapat 77 prodi (42. mulai tahun 2004 Pusdiknakes melakukan akreditasi terhadap jurusan/program studi Poltekkes yang ada.akupunktur. Kementerian Kesehatan berusaha melakukan upaya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. institusi Diknakes milik Kemenkes mengalami perubahan status kelembagaan dari Akademi menjadi Poltekkes. 2010 b. Untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada Poltekkes. Akreditasi Institusi Dengan banyaknya institusi pendidikan tenaga kesehatan yang ada saat ini. Dari jumlah yang sudah terakreditasi. Gambar 5.29%) dengan status kepemilikan swasta sedangkan selebihnya milik TNI/POLRI dan Pemda. Jika dilihat berdasarkan kepemilikan dari 919 institusi Diknakes Non Poltekkes tahun 2009 sebanyak 793 institusi (86. dan institusi lama yang telah habis masa berlaku akreditasinya.3%) dengan strata B dan 7 prodi (3. Kemenkes.15. 130 .55%).12. selain itu juga untuk melihat kualitas dari masing-masing institusi.8%) dengan strata A. Sampai tahun 2009 ada 180 prodi Poltekkes (81.45%) telah diakreditasi dan yang belum terakreditasi sebanyak 32 prodi (18. Akreditasi merupakan salah satu upaya pembinaan yang dilakukan pemerintah terhadap institusi-institusi pendidikan kesehatan yang ada.17 berikut ini menunjukkan persentase akreditasi program studi pada institusi Poltekkes.16 JUMLAH PROGRAM STUDI PADA INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. Pada tahun 2002.

Jumlah institusi yang telah terakreditasi sebanyak 546 institusi (59.21%) dengan strata A. Gambar 5.14. Kemenkes. terdapat 72 institusi (13.29%. 2010 Jumlah institusi Diknakes Non Poltekkes menurut status kepemilikan menunjukkan sebagian besar institusi dimiliki oleh swasta.GAMBAR 5.18 PERSENTASE STRATA AKREDITASI INSTITUSI DIKNAKES NON POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.53%) dengan strata B dan 46 institusi (8. 428 institusi (78. GAMBAR 5. 131 .18 berikut ini menunjukkan persentase strata akreditasi institusi Diknakes Non Poltekkes pada tahun 2009. Sedangkan informasi selengkapnya menurut provinsi terdapat pada Lampiran 5.59%).44%) dengan strata C. Kemenkes.41%) dan yang belum terakreditasi sebanyak 373 institusi (40. yaitu sebesar 86.17 PERSENTASE STRATA AKREDITASI PROGRAM STUDI POLTEKKES DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. Dari jumlah yang sudah terakreditasi. 2010 Akreditasi juga dilakukan pada institusi Diknakes Non Poltekkes.

98%). Sehubungan dengan hal tersebut sejak tahun 2004. Jenis institusi kebidanan terdiri dari bidan pendidik dan kebidanan komunitas. kesehatan gigi prothodansia. Informasi lebih rinci mengenai jumlah peserta didik program D-IV menurut jenis institusi pendidikan dapat dilihat pada Lampiran 5. keperawatan anestesi. Peserta didik Jumlah peserta didik institusi pendidikan tenaga kesehatan baik poltekes maupun non poltekkes jalur umum tahun ajaran 2009/2010 (296.27. keperawatan gawat darurat. keperawatan kardiovaskuler. kebidanan dan kesehatan gigi.45% dan TNI/POLRI sebesar 3.15.278 orang atau 13. Program D-IV mempunyai jenis institusi pendidikan yang lebih khusus bidang keilmuannya yaitu untuk jenis institusi keperawatan. selain menyelenggarakan D-III Poltekkes juga menyelenggarakan program D-IV dan Kelas Internasional.02%) dan lulusan Non Poltekkes sebanyak 48.357 orang (23. dental bedah mulut dan perawat gigi pendidik. yang terdiri dari lulusan Poltekkes adalah 14. 132 . Lulusan Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes pada tahun 2009 adalah 62. Dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.371 orang. keperawatan klinik kemahiran. c.sedangkan kepemilikan oleh Pemerintah Daerah sebesar 10. keperawatan intensive dan keperawatan anestesi reanimasi. d.014 orang (76.545 orang.26%.5%. Jenis institusi keperawatan terdiri dari keperawatan medical bedah. keperawatan jiwa.920 orang kemudian jurusan kebidanan sebanyak 18. Hal ini disebabkan karena jumlah institusi pendidikan tenaga kesehatan yang juga mengalami kenaikan. Jenis institusi kesehatan gigi terdiri dari kesehatan gigi.854 orang) mengalami kenaikan sebanyak 35. Pada tahun 2009 program D-IV yang ada di seluruh Indonesia memiliki peserta didik sebanyak 2020. Informasi lebih rinci mengenai jumlah dan persentase institusi Diknakes Non Poltekkes menurut kepemilikan dapat dilihat pada Lampiran 5. kesehatan gigi komunitas.132 orang) dibanding tahun ajaran 2008/2009 (260. Jumlah lulusan Poltekkes dan Non Poltekkes terbanyak pada jurusan keperawatan sebanyak 29. diperlukan tenaga kesehatan yang lebih berkualitas.

356 49.TABEL 5.545 1.095 1.951 8.835 188.085 6. 2. Sumatera Utara (8. TNI/POLRI dan Swasta.691 1.371 346.400 800 Kefarmasian 1.337 9.811 25.774 43.366 1.415 1. 2010 Dari Tabel 5.923 1.367 3.25 dokter per 100.557 1.131 18.550 1.519 1. dengan lulusan terbanyak adalah D-III Keperawatan (rata-rata 23.166 1.425 23.855 1.139 18. Tiga provinsi yang menghasilkan lulusan tenaga kesehatan terbanyak (Poltekkes dan Non Poltekkes) tahun 2009 adalah Provinsi Jawa Tengah (9.312 2.200 26.644 5.488 3.764 29.515 3.343 62. Rasio dokter umum terhadap 133 .094 762 Kebidanan Kesehatan Gigi Keterapian Fisik Keteknisian Medis Jumlah 3. Kabupaten/Kota belum memiliki data SDM Kesehatan secara lengkap.54 dokter per 100.712 1.573 1. 1. Provinsi dengan rasio tertinggi adalah Bali sebesar 33.836 2.332 orang.555 1. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan Salah satu unsur yang berperan dalam percepatan pembangunan kesehatan adalah tenaga kesehatan yang bertugas di sarana pelayanan kesehatan di masyarakat.685 13.553 orang).347 orang.812 12.377 52.694 Gizi 1.396 1.014 38.236 2.948 3.659 orang). Kemenkes.473 3. terutama data rumah sakit baik milik pemerintah. jumlah dokter umum di Indonesia sebanyak 28.446 28.569 432 581 740 739 858 965 998 781 6.131 4.453 31.60 dokter per 100. Belum semua Provinsi mendapatkan data SDM Kesehatan dari semua Kabupaten/ Kota di wilayahnya.870 1.067 3.923 8.689 28.349 orang) dan Jawa Timur (7.264 13.329 22.2 JUMLAH LULUSAN PROGRAM DIPLOMA III POLTEKKES DAN NON POLTEKKES TAHUN 2002-2009 Rerata Tahun Jenis Tenaga Total 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Lulusan per tahun Keperawatan 17.2 di atas terlihat bahwa rata-rata selama 8 tahun terakhir lulusan Diknakes Diploma III Poltekkes dan Non Poltekkes adalah 43. sedangkan yang terendah adalah Banten dengan rasio 3.121 2. dikarenakan: 1. Belum ada sistem yang handal yang mengatur manajemen pengumpulan data SDM di daerah.664 Kesehatan Lingkungan 1.957 6. TENAGA KESEHATAN Data Sumber Daya Masyarakat Kesehatan (SDM Kesehatan) yang terkumpul dari 33 Provinsi belum sepenuhnya dapat menggambarkan SDM Kesehatan secara lengkap.000 penduduk. dengan rasio sebesar 12.615 439 711 627 773 742 857 1166 1. 3.983 42.000 penduduk.545 68.039 1.555 orang).722 1. Menurut pendataan Badan PPSDMK.562 4.285 5.250 5.722 25.553 3.347 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.943 23.693 2.864 21. B.000 penduduk.877 41. yang tersebar di semua provinsi.

jumlah penduduk di tiap provinsi pada tahun 2009 dijelaskan pada Gambar 5.000 penduduk.65 dokter gigi per 100.3. Persebaran Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan SDM Kesehatan di daerah terdiri dari SDM Kesehatan yang bertugas di unit kesehatan (sarana pelayanan dan non pelayanan) di Provinsi dan Kabupaten/Kota.73 dokter gigi per 100.889 orang. Kemenkes.000 penduduk. Dinas Kabupaten/Kota dan UPT.000 penduduk. 278.000 penduduk.000 PENDUDUK DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. 2.774 orang dengan rasio sebesar 4.18 bidan per 100. Provinsi dengan rasio tertinggi adalah DI Yogyakarta sebesar 12. Pada tahun 2009 terdapat 3 provinsi yang telah mencapai rasio 100 bidan per 100.332 tenaga perawat dan perawat gigi.19 RASIO DOKTER UMUM TERHADAP 100.58 bidan per 100. sedangkan terendah adalah Sumatera Selatan dengan rasio 0. TNI/POLRI dan swasta. GAMBAR 5. Jumlah tenaga kesehatan dan non kesehatan tahun 2009 menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5. pemerintah daerah. rasio bidan terhadap penduduk pada tahun 2010 diharapkan mencapai 100 bidan per 100. yaitu Aceh sebesar 153.000 penduduk.16. PTT.64 dan Papua Barat sebanyak 111. swasta dan TNI/POLRI.19 berikut ini. Jumlah bidan pada tahun 2009 sebanyak 93. rumah sakit/poliklinik dan sarana kesehatan lainnya milik pemerintah pusat. Tenaga kesehatan terdiri dari 51. Dari data yang diterima tercatat sebanyak 519. SDM Kesehatan tersebut bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi dan unit pelaksana teknis (UPT).805 tenaga medis. 2010 Jumlah tenaga dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 9.221 tenaga keperawatan (184. sehingga rasionya terhadap penduduk sebesar 40. 134 . dengan status kepegawaian PNS.599 orang yang terdiri dari 410.000 penduduk.532 tenaga non kesehatan.22 dokter gigi per 100. Menurut Indikator Indonesia Sehat 2010.067 tenaga kesehatan dan 109.000 penduduk. Bengkulu sebanyak 123. CPNS.

GAMBAR 5. Rasio dokter umum di puskesmas terhadap jumlah puskesmas (yang terdata tenaganya) tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 5. kinerjanya sangat dipengaruhi ketersediaan sumber daya manusia yang dimiliki. a. 2010 Jumlah dokter gigi pada tahun 2009 sebanyak 6. hanya 8.93.141 orang.311 orang yang bertugas di puskesmas dengan rincian 215. terdapat 245.13 dan Riau sebesar 3. dokter umum yang bertugas di puskesmas sebanyak 13. Tenaga Kesehatan di Puskesmas Puskesmas yang merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Bila dibandingkan antara jumlah puskesmas yang terdata tenaganya (8.985 tenaga keterapian fisik dan 15.776 tenaga kesehatan dan 29.20 berikut ini. 28. 2.509 puskesmas dari 8.953 tenaga kefarmasian. Bila dibandingkan dengan jumlah seluruh puskesmas maka dapat diartikan bahwa belum seluruh puskesmas memiliki dokter gigi.889 tenaga bidan).762 tenaga gizi.509 puskesmas) dengan jumlah dokter. 19. diikuti oleh Kepulauan Riau sebesar 3.701 orang. Tahun 2009 tidak semua puskesmas terdata jumlah tenaganya.20 RASIO DOKTER UMUM DI PUSKESMAS TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan.858 tenaga kesehatan masyarakat. terutama ketersediaan tenaga kesehatan. Beberapa provinsi memiliki tenaga dokter spesialis yang bertugas di puskesmas.61 dokter umum per puskesmas.535 tenaga non kesehatan. 135 . Kemenkes. Dari seluruh jumlah tenaga kesehatan. Rasio dokter umum terhadap puskesmas tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta sebesar 13 dokter umum per puskesmas (327 dokter umum pada 25 puskesmas yang terdata). maka rasio dokter umum adalah 1. Pada tahun 2009.483 keteknisian medis. 12.03 dokter umum per puskesmas.737 puskesmas yang ada.

sedangkan untuk daerah dengan kriteria Biasa dan Sangat Terpencil masing-masing sejumlah 9 orang. Provinsi dengan jumlah keberadaan dokter spesialis PTT terbanyak adalah Sumatera Utara sebanyak 8 orang dan Provinsi Kalimantan Timur sebanyak 7 orang.940 orang. Dokter spesialis PTT sebagian besar tersebar di daerah dengan kriteria Terpencil. Sampai dengan tahun 2009 terdapat 30.104 orang.Pada tahun 2009 terdapat 160 dokter spesialis yang bertugas di puskesmas.784 orang.18.5%). Keberadaan dokter umum PTT terbanyak di Nusa Tenggara Timur sejumlah 301 orang. yaitu sejumlah 29 orang. Jumlah masing-masing tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Gambar 5. perawat dan bidan terhadap jumlah puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 5.21 JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber : Badan PPSDM Kesehatan. Terpencil.054 orang.403 tenaga kesehatan PTT Pusat yang masih aktif bertugas di daerah dengan kriteria Biasa. dokter umum. dan bidan sejumlah 25.518 orang. sedangkan dokter gigi PTT terbanyak bertugas di Nusa Tenggara Timur sejumlah 118 136 . GAMBAR 5. Rincian jumlah tenaga kesehatan di puskesmas dapat dilihat pada Lampiran 5. dokter umum sejumlah 3.21 di bawah ini. Dokter umum PTT dan dokter gigi PTT sebagian besar tersebar di wilayah dengan kriteria sangat terpencil yaitu 1. diikuti oleh Sumatera Utara sejumlah 288 orang dan Aceh sejumlah 282 orang.17. Jumlah perawat di seluruh puskesmas sebanyak 76. Kemenkes. Tenaga Kesehatan dengan Status Pegawai Tidak Tetap (PTT) Tenaga kesehatan dengan status PTT terdiri dari dokter spesialis. dokter gigi sejumlah 1. sedangkan rasio dokter umum. dokter gigi.898 orang dokter umum dan 666 orang dokter gigi. dan Sangat Terpencil dengan komposisi dokter spesialis sejumlah 47 orang. sedangkan bidan PTT sebagian besar tersebar di wilayah biasa sejumlah 16. sehingga rata-rata tiap puskesmas memiliki 9-10 orang perawat. sebagian besar dokter spesialis tersebut berada di Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah 84 orang (52. 2010 3. dokter gigi dan bidan.

dan Sangat Terpencil sebanyak 16.487 orang. 2010 Pada tahun 2009 telah diangkat tenaga kesehatan PTT untuk daerah dengan kriteria Biasa. GAMBAR 5. diikuti oleh Aceh sebanyak 75 orang dan Sumatera Utara sejumlah 66 orang. dokter umum PTT sejumlah 4.orang. Data selengkapnya mengenai pengangkatan tenaga kesehatan PTT di seluruh provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.22 KEBERADAAN DOKTER UMUM PTT.102 orang untuk daerah dengan kriteria Biasa. yaitu sejumlah 4.33.234 orang.269 orang dan bidan PTT sejumlah 11. Terpencil.21. 137 . DOKTER GIGI PTT DAN BIDAN PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian. Kemenkes. yang terdiri dari dokter spesialis PTT sejumlah 35 orang.807 orang.23 dan 5.35. Gambar 5. Bidan PTT terbanyak bertugas di Sumatera Utara. dokter gigi PTT sebanyak 1. diikuti Jawa Tengah sejumlah 4.598 orang dengan jumlah pengangkatan untuk daerah dengan kriteria Terpencil 806 orang dan 792 orang untuk daerah dengan kriteria Biasa diikuti provinsi kedua terbanyak adalah Jawa Timur sejumlah 1. Data selengkapnya mengenai distribusi tenaga kesehatan PTT di seluruh provinsi dapat dilihat pada Lampiran 5.24 menampilkan pengangkatan tenaga PTT di Indonesia tahun 2009. Gambar 5. Pengangkatan bidan PTT terbanyak berada di Provinsi Sumatera Utara sejumlah 1.19. Adapun pengangkatan dokter umum PTT dan dokter gigi PTT terbanyak berada di Provinsi Maluku dengan jumlah 420 orang dan 155 orang dengan pengangkatan untuk daerah terpencil adalah sejumlah 406 orang untuk dokter umum dan 153 orang untuk dokter gigi diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan jumlah 373 dokter umum dan 149 dokter gigi.797 orang.22 menampilkan keadaan tenaga PTT di Indonesia tahun 2009.20 dan 5.395 orang dan Jawa Timur 3.006 orang. 5.34 dan 5.179 orang dengan pengangkatan untuk daerah dengan kriteria Terpencil 77 orang dan 1. 5.

(400 kursi). kelas. Kapasitas asrama. Kemenkes. 2010 4. Fasilitas Pelatihan Kesehatan Fasilitas unit pelatihan kesehatan merupakan komponen yang sangat penting dari penunjang kegiatan pelatihan. kapasitas aula yang terbesar BBPK Ciloto.24 PENGANGKATAN BIDAN PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian. Ketersediaan fasilitas juga menentukan performance kinerja unit pelatihan kesehatan. (50 kursi). kapasitas ruang diskusi terbesar di BBPK Ciloto. Kapasitas asrama yang terbesar di BBPK Ciloto (220). Tidak terlihat 138 . (260 kursi).GAMBAR 5. kapasitas kelas yang terbanyak BBPK Jakarta. masih beragam (belum standar/sama) khususnya untuk unit pelatihan kesehatan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK). aula dan ruang diskusi untuk unit Pelatihan Kesehatan UPT Pusat. 2010 GAMBAR 5. Kemenkes.23 PENGANGKATAN DOKTER UMUM PTT DAN DOKTER GIGI PTT DI INDONESIA TAHUN 2009 Sumber: Biro Kepegawaian.

jumlah terbanyak pada usia 51-60 tahun (86 orang). dan Bapelkes Provinsi Maluku). dan pelatihan penjenjangan 1.62% tahun 2008) digunakan untuk kegiatan non pelatihan dan 31. Fasilitas sarana unit pelatihan kesehatan pada tahun 2009 sebagian besar digunakan untuk kegiatan Kemenkes yaitu 69.5%. pelatih.133 orang).86% (3. dan tersedikit di usia kurang dari 40 tahun (16 orang).78% tahun 2008). Jika 139 . tingkat libat 4 (tempat.64% (23.5%) yang tidak terakreditasi (Bapelkes Jantho.60% (28.361 orang).5%) unit pelatihan kesehatan sudah diakreditasi oleh Pusdiklat SDM Kesehatan. pelatihan manajemen 17. dan sisanya dipergunakan oleh institusi pemerintah non Kemenkes 9.84% (851 orang). Berdasarkan pendidikan jumlah terbanyak di kelompok pendidikan S2 (112 orang). berturut-turut mulai dari yang terbanyak adalah pelatihan teknis kesehatan 50. Sedangkan unit pelatihan kesehatan UPT daerah. Variasi yang cukup tinggi terlihat pada unit pelatihan kesehatan UPT daerah untuk seluruh fasilitas unit pelatihan kesehatan dengan kapasitas asrama diatas atau sama dengan 100 tempat tidur ada sebanyak 87.89% (43. Bapelkes Provinsi Kalimantan Selatan. Sedangkan tingkat libat 5 (perancang pelatihan) hanya sebanyak 19. Distribusi tingkat keterlibatan institusi diklat dalam kediklatan tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 5.38% (309 kegiatan).76% (2298 kegiatan). penyelenggara/oc dan sc) sebanyak 26. ternyata Bapelkes Lemah Abang dan Bapelkes Salaman mempunyai kapasitas yang lebih besar daripada BBPK Makassar.136 orang.5%.5%. Jumlah tenaga yang bekerja pada sektor kesehatan yang terlatih di Unit Pelatihan Kesehatan pada tahun 2009 adalah sebanyak 46. pelatihan prajabatan 13.perbedaan yang jelas antara Kapasitas yang dimiliki oleh BBPK dan Bapelkes UPT Pusat. Ternyata masih ada Widyaiswara yang berpendidikan D-III sebanyak 2 orang (3 orang di tahun 2008). tersedikit di S3 dan D-III masing-masing 2 orang.8% dimanfaatkan sebagai tempat saja.867 orang).86% (687 kegiatan).40% (30. Dari pemanfaatan fasilitas tersebut.11% (56. Unit pelatihan kesehatan UPT daerah dengan kapasitas terkecil adalah Bapelkes Palu. jumlah Widyaiswara berkisar antara 6 sampai 14 orang. Diharapkan Widyaiswara unit pelatihan kesehatan banyak di kelompok usia kurang dari 50 tahun.38% tahun 2008) digunakan untuk kegiatan pelatihan. ternyata 68. Berdasarkan kelompok umur.222 orang). hanya 3 (12. Pemanfaatan Unit Pelatihan Kesehatan pada tahun 2009 sebagian besar 39.29% (6.74% tahun 2008) sedangkan non pelatihan 5. Distribusi tenaga Widyaiswara kesehatan sangat bervariasi mulai dari yang paling sedikit yaitu 1 (satu) orang dan terbanyak 14 orang.5% dan unit pelatihan kesehatan dengan kapasitas asrama kurang dari 100 tempat tidur sebanyak 12.5% (7. Sedangkan Seat Occupancy Rate (SOR) untuk kegiatan pelatihan rata-rata 34.23. jumlah Widyaiswara berkisar antara 1 sampai 11 orang dengan rata-rata 5 orang. swasta 20. dan Bed Occupancy Rate (BOR) 28.24% tahun 2008). pelatihan fungsional 6. Widyaiswara berdasarkan golongan kepangkatan jumlah terbanyak pada golongan IVA (42 orang) dan tersedikit pada golongan IVE (3 orang).98% (3. Untuk unit pelatihan kesehatan UPT pusat khususnya BBPK. Sebagian besar (87. Jumlah peserta yang dilatih selama tahun 2009 berdasarkan 5 jenis kategori pelatihan.

C.44%).438. Anggaran Kementerian Kesehatan Anggaran Kementerian Kesehatan dibagi berdasarkan program/kegiatan kesehatan yang berjumlah 14 program/kegiatan.05%).689. Pembiayaan kesehatan bersumber dari pemerintah dan pembiayaan yang bersumber dari masyarakat. Program/kegiatan yang bersifat kuratif yaitu program upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat.403.723. Program/kegiatan yang bersifat preventif antara lain penerapan kepemerintahan yang baik. jumlah tersebut meningkat pada tahun 2009 menjadi Rp 20.412.000 (0.44 trilyun (80. kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan dan program pendidikan kedinasan. Informasi selengkapnya tentang alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan tahun 2009 terdapat pada Lampiran 5.31.535. Sedangkan program/kegiatan yang bersifat rehabilitatif yaitu perbaikan gizi masyarakat.522.04%).418. Pada Tahun 2005 Kementarian Kesehatan memiliki alokasi anggaran sebesar Rp 10. Program/kegiatan yang bersifat promotif yaitu promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Distribusi Widyaiswara di setiap institusi diklat tahun 2009 dapat dilihat pada Lampiran 5.491.67 trilyun dengan realisasi Rp 6. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir terdapat peningkatan alokasi dan realisasi anggaran Kementerian Kesehatan. program pencegahan dan pemberantasan penyakit.25 di bawah ini.400. 140 .220.407.52 trilyun (61.513 (62.000 (60.000 dengan jumlah realisasi sebesar Rp 16.11%).003.dilihat berdasarkan frekuensinya. yaitu program/kegiatan yang bersifat promotif. Realisasi anggaran tertinggi adalah program yang bersifat kuratif dengan jumlah Rp 10. Peningkatan tersebut dijelaskan dalam Gambar 5. Distribusi anggaran menurut program/kegiatan menunjukkan bahwa alokasi terbesar untuk program yang bersifat kuratif dengan jumlah Rp 12. datanya sama dengan berdasarkan jumlah peserta. Berikut ini diuraikan anggaran kesehatan yang dialokasikan untuk Kementerian Kesehatan dan anggaran yang disediakan untuk pembiayaan pemeliharaan kesehatan masyarakat. penelitian dan pengembangan kesehatan.737.629 (80.54 trilyun dengan realisasi Rp 16. Kementerian Kesehatan pada tahun 2009 mengalokasikan anggaran sebesar Rp 20. PEMBIAYAAN KESEHATAN Salah satu komponen sumber daya yang diperlukan dalam menjalankan pembangunan kesehatan adalah pembiayaan kesehatan. kuratif dan preventif. 1. program sumber daya kesehatan. yang dikelompokkan dalam 4 kelompok besar. sedangkan realisasi terkecil untuk program yang bersifat promotif sebesar Rp 86.229. program obat dan perbekalan kesehatan.57%).23%). sedangkan alokasi terkecil untuk program yang bersifat promotif sebesar Rp 117.006 (0.52%).23. preventif.494.

GAMBAR 5. Persentase penduduk yang memiliki jaminan pembiayaan kesehatan oleh program Jaminan pembiayaan/asuransi disajikan pada Gambar 5.95% penduduk yang tercakup oleh jaminan pembiayaan/asuransi kesehatan. Kemenkes.25 ALOKASI DAN REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN KESEHATAN TAHUN 2005 – 2009 Sumber: Biro Keuangan dan Perlengkapan.26 di bawah ini menurut sumber pembiyaan sampai pertengahan tahun 2010.26 PERSENTASE PENDUDUK YANG DILINDUNGI JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT/ ASURANSI KESEHATAN DI INDONESIA PER JUNI 2010 Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. Data mengenai persentase penduduk yang memiliki jaminan pembiayaan/asuransi kesehatan menurut provinsi sampai tahun 2010 terdapat pada Lampiran 5. Kemenkes. 2010 141 . sampai Juni tahun 2010 hanya 55.GAMBAR 5. Pembiayaan Jaminan Kesehatan Masyarakat Menurut data Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan. 2010 2.32.

*** 142 . 2010 Dalam upaya meningkatkan keterjangkauan masyarakat miskin dan hampir miskin terhadap pelayanan kesehatan.Peserta Jamkesmas mendapatkan pelayanan kesehatan komprehensif dan berjenjang dari pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya hingga pelayanan kesehatan rujukan di RS. Untuk pelayanan kesehatan rujukan tersedia 946 RS/Balai/Klinik yang persentase terbesarnya merupakan RS umum dan khusus milik Pemerintah sebanyak 538 RS (57%). Gambar 5. GAMBAR 5.541 unit Puskesmas di seluruh Indonesia yang melayani peserta Jamkesmas. Kemenkes.27 PEMBERI PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 Sumber : Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.27 di bawah ini menunjukkan persentase pemberi pelayanan kesehatan rujukan peserta Jamkesmas tahun 2009. Pada tahun 2009 terdapat 8. 40 Balai Kesehatan (4%) dan 63 RS TNI/POLRI (7%).400.000 jiwa. Jumlah penduduk yang ditanggung oleh program Jamkesmas pada tahun 2009 sebanyak 76. pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan beberapa pemerintah daerah telah memberikan jaminan pelayanan kesehatan secara gratis di puskesmas dan kelas III di rumah sakit bagi peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). diikuti RS swasta umum dan khusus 304 RS (32%). Secara keseluruhan peserta Jamkesmas dilayani oleh 9.541 PPK.

.

kemajuan sosial. dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggota. Nepal. derajat kesehatan.ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) merupakan sebuah organisasi geopolitik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. baik dengan negara-negara ASEAN maupun SEARO. Perbandingan antar negara. Anggota ASEAN ada 10 negara yaitu Brunei Darussalam. serta memajukan perdamaian di tingkat regional. dan Timor Leste. Filipina. A. Malaysia. Sri Lanka. Myanmar. dan upaya kesehatan. Myanmar. Thailand. Jumlah penduduk yang besar dapat dipandang sebagai beban sekaligus juga modal dalam pembangunan. Berdasarkan pengelompokan negara menurut WHO. Bhutan. yaitu Bangladesh. India. dan Vietnam. Korea Utara (Democratic People's Republic of Korea). Indonesia termasuk dalam negara SEARO (South East Asia Region/SEARO) bersama 10 negara lainnya. Maladewa (Maldives). Beberapa indikator yang digunakan untuk mengetahui keadaan penduduk 144 . dilakukan untuk melihat posisi Indonesia terhadap negara-negara lain dalam kawasan yang sama. Kamboja (Cambodia). Singapura (Singapore). KEPENDUDUKAN Informasi tentang penduduk penting diketahui agar pembangunan dapat diarahkan sesuai kebutuhan penduduk sebagai sasaran sekaligus pelaku pembangunan. Thailand. Bab ini akan membahas perbandingan antara Indonesia dengan negara ASEAN dan SEARO dari aspek yang berhubungan dengan kesehatan yaitu aspek kependudukan. Laos (Lao People's Democratic Republic). Indonesia.

di kawasan SEARO Indonesia menempati peringkat kedua setelah India (dengan jumlah penduduk 1. dan angka kelahiran. yaitu Bhutan (0. 8 negara lainnya berpenduduk kurang dari 100 juta jiwa. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Menurut World Populations Data Sheet 2009. Indonesia menempati peringkat pertama dengan jumlah penduduk terbesar. angka beban tanggungan. dan Maladewa (0. Selain Bangladesh yang berpenduduk 162.171 juta jiwa). 2009 Bila dilihat berdasarkan kepadatan penduduk. GAMBAR 6.1.4 juta jiwa. Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak di antara negara anggota ASEAN lainnya dengan jumlah penduduk 243.3 juta jiwa (data BPS menyatakan penduduk Indonesia tahun 2009 berjumlah 231. Jumlah penduduk di kawasan ASEAN dan SEARO dapat kita lihat pada Gambar 6.yaitu jumlah penduduk.7 juta).1 JUMLAH PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet. kepadatan penduduk. Angka tersebut 145 . Singapura tercatat sebagai negara yang paling padat di kawasan ASEAN dengan kepadatan 7. 1. bahkan terdapat 2 negara dengan jumlah penduduk kurang dari 1 juta. Jika di kawasan ASEAN.4 juta jiwa).3 juta). Indonesia selalu menempati peringkat satu negara dengan jumlah penduduk tertinggi di ASEAN. Sedangkan Brunei Darussalam memiliki jumlah penduduk paling rendah yaitu sekitar 0.486 penduduk per km2. laju pertumbuhan penduduk. pada tahun 2009.2 juta jiwa. USAID. Dengan wilayah negara terluas.

2009 Secara nasional. kepadatan penduduk Indonesia menurut BPS tahun 2009 adalah 121 jiwa per km2.057 jiwa per km2. 2.jauh di atas negara anggota ASEAN lainnya. Sedangkan di kawasan SEARO. Negara dengan kepadatan penduduk terendah adalah Bhutan yaitu 15 jiwa per km2. Kepadatan penduduk di Indonesia sebesar 128 jiwa per km2. Bangladesh memiliki kepadatan penduduk tertinggi dengan 1. dengan luas wilayah yang juga kecil. Sementara. atau peringkat ke empat untuk negara dengan kepadatan paling rendah di antara 11 negara. Indonesia menempati peringkat ke delapan terpadat.2 KEPADATAN PENDUDUK DI NEGARA ASEAN & SEARO (Jiwa per km2) TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet. Maladewa merupakan negara dengan kepadatan penduduk tertinggi kedua di wilayah SEARO. yaitu 1. USAID. Selanjutnya. Di kawasan SEARO.127 jiwa per km2. Tingkat kepadatan penduduk negara-negara ASEAN dan SEARO tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 6. Laju Pertumbuhan Penduduk 146 . walaupun memiliki jumlah penduduk terkecil. negara dengan kepadatan penduduk terendah adalah Laos dengan 27 penduduk per km2. GAMBAR 6. Indonesia di kawasan ASEAN berada pada peringkat ke lima terpadat.2 di bawah ini.

147 . diketahui pula kebutuhan dasar penduduk di segenap bidang kehidupan termasuk di bidang kesehatan. sedangkan Myanmar merupakan negara dengan laju pertumbuhan penduduk paling rendah yaitu 0.8%.2008 Sumber: The State of The Worlds Children. Sedangkan bila dilihat dari kawasan SEARO.9%. Pada negara-negara SEARO selama periode yang sama. Indonesia menduduki peringkat ke-3 terendah (bersama dengan Vietnam) untuk laju pertumbuhan penduduk.1%.1. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah 1. Laju pertumbuhan penduduk terendah pada Korea Utara dan tertinggi di Timor Leste. GAMBAR 6. Indonesia menduduki peringkat ke-5 dengan laju pertumbuhan penduduk terendah dari 11 negara. Dengan diketahuinya jumlah penduduk yang akan datang. yakni kelahiran.3 di bawah ini. kematian dan migrasi penduduk.3 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK PER TAHUN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 1998 . laju pertumbuhan penduduk per tahun yang tertinggi di antara negara anggota ASEAN adalah Brunei Darussalam dengan laju pertumbuhan penduduk 2. Laju pertumbuhan penduduk dipengaruhi tiga faktor. Laju pertumbuhan penduduk di negara-negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Gambar 6.Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk di suatu wilayah atau negara di masa yang akan datang. Data kependudukan negaranegara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. 2010 Pada periode 1998-2008.6% hingga 2. Indikator tersebut biasa dikenal dengan laju pertumbuhan penduduk.3%. laju pertumbuhan penduduk berkisar antara 0. Di kawasan ASEAN.

yang dapat dilihat pada Gambar 6. Sebaliknya Singapura merupakan negara dengan komposisi penduduk kelompok umur non produktif terendah yaitu 27%. Semakin tinggi persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif (kelompok umur 0-14 tahun) dan tidak produktif lagi (kelompok umur 65 tahun keatas). Laos merupakan negara yang terbesar untuk kelompok umur tersebut dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN yaitu 43% dari total penduduk. Penduduk Menurut Kelompok Umur Salah satu indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang adalah Angka Beban Tanggungan (dependency ratio). negara dengan penduduk non produktif terendah di kawasan tersebut adalah Thailand yaitu 29%. Timor Leste adalah negara dengan komposisi penduduk usia non produktif tertinggi yaitu 48%. GAMBAR 6.4 di bawah ini.3. Persentase penduduk menurut kelompok umur non produktif (kelompok umur 0-14 tahun dan kelompok umur 65 tahun keatas) untuk keadaan tahun 2009. Sebaliknya. USAID 148 . Di antara negara-negara di kawasan SEARO.4 KOMPOSISI PENDUDUK YANG PRODUKTIF DAN NON PRODUKTIF DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 Sumber: World Population Data Sheet 2009.

Sementara Indonesia memiliki Angka Beban Tanggungan sebesar 54%.500. terdidik (diukur dari angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah) dan memiliki standar hidup yang layak (diukur dari penghasilan/pengeluaran riil per kapita). kategori sedang.1. sedangkan 7 negara anggota ASEAN lainnya. bila dibandingkan dengan tahun 2006 IPM Indonesia mengalami peningkatan (IPM 2006 adalah 0. Indeks Pembangunan Manusia Human Development Index (HDI) merupakan suatu ukuran gabungan tiga dimensi tentang pembangunan manusia. kategori tinggi. 149 . jika IPM > 0.799. Laos merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan tertinggi di kawasan ASEAN yaitu 75%. Singapura merupakan negara dengan peringkat IPM tertinggi yaitu pada peringkat ke-24 dari 182 negara di dunia. Sedangkan Singapura merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu 37%. yaitu panjang umur dan menjalani hidup sehat (diukur dari usia harapan hidup). jika IPM <0. dan yang terendah adalah Myanmar dengan peringkat ke-138. Berdasarkan standar internasional. berada pada kategori IPM sedang.500-0. Komposisi penduduk menurut kelompok umur serta besar Angka Beban Tanggungan di negara-negara kawasan ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6.800 – 0. termasuk Indonesia.899. Di kawasan SEARO. sedangkan Indonesia berada pada peringkat ke-111.Dengan distribusi penduduk seperti yang telah digambarkan di atas. Timor Leste merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan tertinggi yaitu 92% sedangkan Thailand merupakan negara dengan Angka Beban Tanggungan terendah yaitu 41%. jika IPM > 0.734. 4.729). dan kategori rendah. IPM Indonesia pada tahun 2007 sebesar 0.900. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dikategorikan sebagai berikut: kategori sangat tinggi. jika IPM 0. Malaysia masuk dalam kategori tinggi. Menurut kategori tersebut di atas. yaitu Singapura dan Brunai Darussalam. Ini berarti setiap 100 penduduk usia produktif di Indonesia menanggung 54 penduduk yang belum produktif dan yang dianggap tidak produktif lagi. Bila dilihat dari peringkat di negara ASEAN pada tahun yang sama. pada tahun 2007 terdapat 2 (dua) negara anggota ASEAN masuk dalam kategori sangat tinggi.

tingkat sosial ekonomi rendah atau tingkat kemiskinan yang tinggi. 150 . Total Fertility Rate Angka Fertilitas Total atau Total Fertility Rate (TFR) merupakan gambaran mengenai rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan dari usia 15 sampai 49 tahun.GAMBAR 6. 9 negara memiliki IPM dengan kategori sedang. 5.2. terutama perempuannya. Selain itu tentu saja menunjukkan tingkat keberhasilan program keluarga berencana yang dilaksanakan di negara tersebut. dan satu negara yaitu Timor Leste masuk dalam kategori rendah. Angka TFR yang tinggi merupakan cerminan rata-rata usia kawin yang rendah.5 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Sumber: Human Development Report 2009 Pada tahun 2007 di kawasan SEARO. tingkat pendidikan yang rendah. tidak ada negara yang memiliki IPM dengan kategori sangat tinggi dan tinggi. Data IPM negara-negara di kawasan ASEAN dan SEARO tahun 2006 2007 dapat dilihat pada Lampiran 6. dari 11 negara (Korea Utara tidak ada data). Perbandingan angka TFR antar negara dapat menunjukkan keberhasilan negara dalam melaksanakan pembangunan sosial ekonominya.

sedang. Kesuburan rendah terjadi ketika angka kesuburan wanita 2. Thailand.3.2.3).6 berikut ini. 7 negara (Indonesia. Bangladesh. dan kesuburan tinggi jika angka kesuburan wanita 4 atau lebih. Pada tahun 2008.1). dan tinggi (ADB. Besaran Angka Fertilitas Total di negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Gambar 6.2 yang berarti untuk setiap wanita di Indonesia rata-rata memiliki anak 2 sampai 3 orang selama masa suburnya.9. dan Nepal) masuk dalam kategori sedang. Sri Lanka. Myanmar. USAID Data Angka Fertilitas Total di negara ASEAN dan SEARO dapat dilihat pada Lampiran 6. dan meningkatkan program pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan ibu hamil dan perawatan anak. 151 . India.5.2 . Korea Utara dan Maladewa termasuk negara dengan Angka Fertilitas Total berkategori rendah. kesuburan sedang antara 2. maka pada tahun 2008 ada 4 negara yang termasuk dalam kategori angka kesuburan wanita rendah. GAMBAR 6. Bhutan. Thailand (1. Sedangkan Timor Leste merupakan satu-satunya negara di SEARO yang masuk dalam kategori tinggi yaitu sebesar 6.8).6 ANGKA KESUBURAN WANITA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Layer 1 Sumber: World Population Data Sheet 2009. Sedangkan Indonesia masuk dalam kategori sedang dengan angka kesuburan wanita 2. Key Indicators 2002). Dengan menggunakan klasifikasi tersebut.Angka Fertilitas Total suatu negara dapat dipergunakan bagi para perencana program pembangunan untuk meningkatkan rata-rata usia kawin. diantara 11 negara SEARO.1 atau kurang. serta Brunei Darussalam dan Vietnam (masing-masing 2. Angka Fertilitas Total dapat diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan yaitu rendah. yaitu Singapura (1.

Terendah di Thailand (15) dan Korea Utara (16) sedangkan tertinggi di Timor Leste (40) dan Nepal (29).2. Angka Kelahiran Kasar Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR) adalah angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1. Singapura memiliki Angka Kelahiran Kasar terendah yaitu 10 kelahiran per 1.000 penduduk.000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Gambar 6.7 memperlihatkan perbandingan Angka Kelahiran Kasar negara-negara kawasan ASEAN dan SEARO. Angka Kelahiran Kasar di negara-negara SEARO berkisar antara 15 sampai 40 per 1. GAMBAR 6.000 penduduk dan diikuti oleh Filipina yaitu 26 per 1. di kawasan ASEAN Indonesia menempati peringkat ke-4 tertinggi. Angka tertinggi terjadi di Laos dengan Angka Kelahiran Kasar 28 per 1.6. Data Angka Kelahiran Kasar di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. sedangkan di kawasan SEARO menempati peringkat ke-6 tertinggi untuk Angka Kelahiran Kasar.000 penduduk.000 penduduk. Angka Kelahiran Kasar pada tahun 2008 di negara-negara ASEAN dengan kisaran 10 sampai 28 per 1.000 penduduk. Dengan 21 kelahiran per 1.000 penduduk. Pada tahun 2008.000 penduduk. Sedangkan Indonesia memiliki Angka Kelahiran Kasar sebesar 21 kelahiran untuk setiap 1.7 ANGKA KELAHIRAN KASAR DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 152 .

000. Pendapatan Nasional Bruto perkapita (Gross National Income) terdiri atas sejumlah nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara. GAMBAR 6.940 per kapita). USAID 7. Pendapatan Nasional Bruto di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Gambar 6. yaitu masing-masing US$ 1.290 dan US$ 1. Pendapatan Nasional Bruto perkapita tertinggi di 2008 antara negara anggota ASEAN adalah Brunei Darussalam (US$ 50.830.120. Sedangkan Indonesia memiliki pendapatan nasional bruto perkapita sebesar US$ 3.8 PENDAPATAN NASIONAL BRUTO DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009. Sosial Ekonomi Pendapatan Nasional merupakan salah satu indikator untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu negara.Sumber: World Population Data Sheet 2009. Myanmar dan Kamboja merupakan negara dengan Pendapatan Nasional Bruto perkapita terendah.8 di bawah ini. dan terendah adalah Nepal dengan US$ 1. Indonesia berada di peringkat ke-6 tertinggi pendapatan nasional bruto per kapita. beserta pendapatan yang diterima dari negara lain. seluruhnya memiliki Pendapatan Nasional Bruto perkapita kurang dari US$ 6. Negara dengan pendapatan nasional bruto perkapita tertinggi adalah Thailand yaitu sebesar US$ 5. USAID Dari sepuluh negara di SEARO (tidak ada data untuk Korea Utara). Jika dibandingkan dengan 19 negara di ASEAN dan SEARO.820. 153 .990.200 perkapita) diikuti oleh Singapura (US$ 47.

sedang 20-49. Indonesia dan Laos.9 menunjukkan bahwa pada tahun 2008. Brunei Darussalam.000 kelahiran hidup). yaitu 4 negara termasuk kategori tinggi. Dari 10 negara anggota ASEAN tidak ada yang masuk dalam kelompok angka kematian bayi sangat tinggi (>100 per 1. yaitu Sri Lanka dan Thailand masuk dalam kategori negara dengan angka kematian bayi rendah dengan angka 13 per 1.9 ANGKA KEMATIAN BAYI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2007. USAID Sumber: World Health Statistics WHO. tinggi 50-99. 154 . termasuk kelompok sedang. dan sangat tinggi jika AKB di atas 100 per 1. DERAJAT KESEHATAN MORTALITAS 1. Angka Kematian Bayi Angka kematian bayi diklasifikasikan menjadi empat kelompok yaitu rendah jika AKB kurang dari 20.B. Malaysia.Vietnam dan Thailand termasuk negara dengan Angka Kematian Bayi rendah. yaitu Filipina. Berdasarkan klasifikasi yang sama maka 2 negara di SEARO. GAMBAR 6.000 kelahiran hidup. 2010 Gambar 6. sementara 2 negara lainnya (Kamboja dan Myanmar) masuk dalam kelompok negara yang memiliki Angka Kematian Bayi tinggi. lima negara ASEAN yaitu Singapura. Lima Negara masuk kategori sedang dan selebihnya. Tiga negara.000 kelahiran hidup.

sebaliknya di SEARO hanya 4 negara dengan AKABA kurang dari 50. Menurut sumber yang sama. Angka Kematian Balita di SEARO berkisar antara 14 sampai 122 per 1. Angka Kematian Balita Penurunan kasus kematian pada anak merupakan salah satu hal yang dianggap penting dalam tujuan pembangunan milenium. malaria.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. dan malnutrisi. Data Angka Kematian Bayi di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. GAMBAR 6.000 kelahiran hidup. Sebagian besar negara ASEAN memiliki Angka Kematian Balita kurang dari 50 per 1. Angka Kematian Balita terendah dicapai Singapura yaitu 3 kematian per 1. pneumonia. Kamboja.10 ANGKA KEMATIAN BALITA (PER 1. dan Laos yang memiliki Angka Kematian Balita di atas 50 per 1. Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Balita tertinggi. campak. hanya Myanmar. 155 . sedangkan terendah adalah Thailand.2. Jika di ASEAN hanya terdapat 3 negara (dari 10 negara) dengan AKABA lebih dari 50 per 1. sedangkan yang tertinggi adalah di . Pada kasus kematian yang tinggi biasanya jumlah kematian terbanyak terjadi pada usia balita saat mereka rentan terhadap penyakit. Indonesia memiliki angka kematian bayi 31 per 1000 kelahiran hidup dan berada di peringkat 9 di antara 18 negara tersebut.Myanmar yaitu sebesar 122 kematian per 1. Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 70% kematian balita disebabkan diare.Besaran Angka Kematian Bayi di negara-negara ASEAN dan SEARO berkisar antara 2 dan 75.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup. Seperti di ASEAN. 2.000 KELAHIRAN HIDUP) DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Health Statistics 2010 Data yang didapat dari “World Health Statistics 2010” memperlihatkan perbedaan yang mencolok Angka Kematian Balita di antara negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2008.000 kelahiran hidup.

Pada Gambar 6. pneumonia.000 156 .000.000. Indonesia menempati peringkat ke-4 terendah kematian balita per 1.000 kelahiran hidup (menurut SDKI 2007 AKABA Indonesia adalah 44). 200-499 per 100.2.000.000. Telah dipaparkan sebelumnya bahwa sebagian besar kematian balita disebabkan oleh diare. 500-999 per 100.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup) dan Kamboja (540 per 100.11 ANGKA KEMATIAN MATERNAL DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2005 Sumber: World Health Statistics 2009 Pada tahun 2005 hanya 2 negara ASEAN yaitu Brunei Darussalam dan Singapura yang mencapai Angka Kematian Ibu <15 masing-masing 13 dan 14 per 100. Sekitar 55% memiliki Angka Kematian Ibu 200-499 per 100. Hal itu berarti negara-negara ASEAN mungkin memiliki sanitasi dan keadaan ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara-negara SEARO. Negara-negara dengan Angka Kematian Ibu > 500 di ASEAN ada 2 negara yaitu Laos (660 per 100. Indonesia menempati peringkat ke-4 tertinggi kematian balitanya. Angka Kematian Ibu Berdasarkan klasifikasi Angka Kematian Ibu dari WHO adalah sebagai berikut. Data Angka Kematian Balita di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. dan malnutrisi.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup). sedangkan pada kawasan SEARO.000 kelahiran hidup. GAMBAR 6. <15 per 100. 3. Pada tahun 2008.10 terlihat bahwa negara-negara ASEAN memiliki Angka Kematian Balita relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara SEARO. 15-199 per 100. Di kawasan ASEAN.000 per 100. di Indonesia terdapat 41 kematian balita per 1. dan ≥1. negara-negara di SEARO tidak ada yang mencapai Angka Kematian Ibu <15. Pada tahun yang sama.

Angka nasional untuk Angka Kematian Ibu di Indonesia adalah 228 per 100. Di antara kedua kawasan tersebut.000 kelahiran hidup.12 ANGKA KEMATIAN KASAR (PER 1. 157 .000 penduduk.000 PENDUDUK) DI NEGARA ANGGOTA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009.2. Keadaan Angka Kematian Kasar di negara-negara kawasan SEARO.000 penduduk. Jika tidak ada indikator kematian yang lain angka ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan. Indonesia berada di peringkat ke-12 (dari 18 negara di ASEAN dan SEARO) untuk Angka Kematian Ibu yaitu 420 per 100. Sementara.000 penduduk. yaitu Nepal (830) dan Bangladesh (570). berdasarkan data SDKI 2007. USAID Di antara negara-negara anggota ASEAN.000 kelahiran hidup. Data Angka Kematian Ibu di negara ASEAN dan SEARO tahun 2005 dapat dilihat pada Lampiran 6. tidak berbeda jauh dengan negara-negara di kawasan ASEAN. yakni sebesar 10 per 1. Korea Utara dan Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Kasar tertinggi yaitu 10 per 1. 4. Angka Kematian Kasar Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1. Dan 18% memiliki Angka Kematian Ibu >500. sementara terendah adalah Maladewa dengan 4 kematian per 1. GAMBAR 6. pada tahun 2008 Myanmar merupakan negara dengan Angka Kematian Kasar atau Crude Death Rate (CDR) tertinggi.000 penduduk.kelahiran hidup. Pada umumnya penduduk tua mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda.

dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Indonesia dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir 67 tahun menempati peringkat ke-4 terendah. Indonesia menduduki peringkat ke-5 tertinggi Angka Kematian Kasar sedangkan di kawasan SEARO. Negara yang memiliki umur harapan hidup waktu lahir terendah adalah Myanmar yaitu 54 tahun. sedangkan di kawasan SEARO menempati peringkat ke4 tertinggi.2. Indonesia menduduki peringkat ke-2 terendah. Data Angka Harapan Hidup di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6. Singapura merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir (Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 81 tahun. Maladewa merupakan negara dengan Angka Harapan Hidup waktu lahir (Expectation of Life at Birth) paling tinggi yaitu 74 tahun. 5. Angka Harapan Hidup Angka Harapan Hidup merupakan indikator untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya.Pada tahun 2008.000 penduduk.13 memperlihatkan bahwa pada tahun 2008 di antara sepuluh negara anggota ASEAN. Gambar 6. di Indonesia terdapat 6 kematian per 1. GAMBAR 6. Di kawasan ASEAN.13 ANGKA HARAPAN HIDUP DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Population Data Sheet 2009. Negara yang memiliki Angka Harapan Hidup waktu lahir terendah adalah Myanmar yaitu 54 tahun. Di kawasan ASEAN. 158 . Data Angka Kematian Kasar di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.2. USAID Untuk kawasan SEARO.

Kamboja merupakan negara dengan prevalensi tuberkulosis tertinggi di ASEAN yaitu 680 per 100. Sedangkan Singapura dan Brunei Darussalam memiliki prevalensi tuberkulosis di bawah 50 kasus per 100.MORBIDITAS 1. angka prevalensi tuberkulosis pada tahun 2008 di negara-negara SEARO memiliki kesenjangan yang cukup besar.000 ribu penduduk.000 penduduk.000 penduduk. Prevalensi Tuberkulosis (TBC) Data dari “World Health Statistics 2010” menunjukkan besarnya perbedaan prevalensi tuberkulosis per 100. Sedangkan kasus kematian akibat tuberkulosis terendah terjadi di Singapura dan Brunei Darussalam masing-masing 3 dan 4 kematian per 100. kematian akibat tuberkulosis pada tahun 2008 tertinggi terjadi di Kamboja yaitu 79 per 100.000 penduduk yaitu masing-masing 27 dan 43 kasus per 100.000 penduduk di negara-negara ASEAN dan SEARO.000 penduduk).000 penduduk.000 penduduk.14 PREVALENSI DAN KEMATIAN AKIBAT TUBERKULOSIS PER 100. berkisar antara 13 sampai 660 per 100.000 penduduk) dan terendah adalah Maladewa (13 per 100. Negara dengan prevalensi tuberkulosis tertinggi tahun 2008 adalah Timor Leste (660 per 100. GAMBAR 6. 159 . Angka prevalensi tuberkulosis pada tahun 2008 di negara-negara anggota ASEAN berkisar antara 27 sampai 680 per 100. Masih menurut sumber yang sama.000 penduduk.000 penduduk dan kematian yang berhubungan dengan tuberkulosis per 100.000 PENDUDUK DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber: World Health Statistics 2010 Seperti halnya negara-negara di ASEAN.

000 penduduk berada pada urutan ke-9 tertinggi yang dapat dilihat pada Lampiran 6. angka kematian tertinggi akibat tuberkulosis juga terjadi di Timor Leste yaitu 83 kematian per 100. Avian Influenza pertama kali masuk ke wilayah ASEAN pada tahun 2003 melalui Vietnam. Myanmar dan Kamboja.15 JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2003-2009 160 .000 penduduk.000 penduduk.Sedangkan kematian akibat tuberkulosis di negara-negara kawasan SEARO berkisar antara 3 sampai 83 per 100. Laos. ilmuwan meyakini penularan virus influenza dari unggas ke manusia tidak terjadi secara langsung. 3 orang dinyatakan menderita penyakit tersebut dan seluruhnya meninggal.00 penduduk). Seperti angka prevalensi tuberkulosis. dan 6 diantaranya meninggal dunia. Sebelum tahun 1997. Akibatnya sebanyak 18 orang harus dirawat di rumah sakit. Indonesia dengan prevalensi 210 per 100. Ditemukan fakta pertama kali bahwa virus Avian Influenza dapat menular langsung dari unggas ke manusia. Indonesia. Seperti halnya angka prevalensi. 2. Di antara 18 negara di ASEAN dan SEARO. Sampai dengan akhir tahun 2009. Thailand. GAMBAR 6. 6 negara di wilayah ASEAN telah terinfeksi Avian Influenza yaitu Vietnam. angka kematian akibat tuberkulosis yang terendah juga di Maladewa (3 per 100.4. Avian Influenza Kemunculan strain virus influenza yang baru pada manusia (strain H5N1) pertama kali terdeteksi di Hongkong.

2008 Gambar 6. TABEL 6. tahun 2005 dari 90 penderita 38 meninggal (42.1 JUMLAH KASUS DAN KEMATIAN AKIBAT AVIAN INFLUENZA MENURUT NEGARA TAHUN 2003-2009 NEGARA Kamboja Laos Vietnam   Indonesia    Myanmar   Thailand   Bangladesh   ASEAN SEARO 2003 K M 0 0 0 0 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3 0 0 2004 K M 0 0 0 0 29 20 0 0 0 0 17 12 0 0 46 32 17 12 2005 K M 4 4 0 0 61 19 20 13 0 0 5 2 0 0 90 38 25 15 2006 K M 2 2 0 0 0 0 55 45 0 0 3 3 0 0 60 50 58 48 2007 K M 1 1 2 2 8 5 42 37 1 0 0 0 0 0 54 45 43 37 2008 K M 1 0 0 0 6 5 24 20 0 0 0 0 1 0 31 25 25 20 2009 K M 1 0 0 0 5 5 21 19 0 0 0 0 0 0 27 24 21 19 Total K M 9 7 2 2 112 57 162 134 1 0 25 17 1 0 311 217 189 151 Sumber: http://www.who.html Ket. yaitu Kamboja. Pada tahun tersebut selain Vietnam.22%).65%). namun tidak demikian dengan angka kematiannya (CFR). Semenjak itu jumlah kasus Avian Influenza terus menurun. terjadi peningkatan CFR menjadi 88. 90 orang menjadi korban. Thailand pun telah terinfeksi virus H5N1 ini. jika sebelumnya hampir 100% berakhir pada kematian. 161 .15 memperlihatkan jumlah kasus dan kematian akibat Avian Influenza di wilayah ASEAN sejak tahun 2003 sampai 2009. Kasus pertama kali menyerang Vietnam dengan 3 korban yang keseluruhannya berakhir pada kematian.1 memperlihatkan bahwa selama 2 tahun terakhir. Tahun 2004 jumlah kasus meningkat menjadi 46 dengan 32 kematian. Akhir tahun 2005 jumlah penderita dan negara yang terinfeksi Avian Influenza terus bertambah. Vietnam dan Indonesia.89% (27 kasus dengan 24 kematian). Myanmar dan Thailand) sudah tidak menunjukkan adanya penemuan kasus. Namun kali ini jumlah kematian bisa ditekan. Tahun 2009. Di 3 negara yang pernah terjangkit virus ini (Laos.Sumber: WHO.: K = Kasus M = Meninggal Tabel 6. Pada tahun 2008 terdapat 31 kasus dari 3 negara di ASEAN dengan 25 kematian (CFR = 80.int/csr/disease/avian_influenza/country/cases_table_2010_03_16/en/index. virus Avian Influenza menyebar di 3 negara ASEAN.

Penyakit flu burung mulai menyerang manusia di kawasan SEARO pada tahun 2004. Pertusis. sehingga hanya ditemukan 4 penderita di kawasan ini. Tetanus. Namun. Namun. Negara-negara di SEARO yang terjangkit flu burung sejak 2004 adalah negara-negara yang juga tergabung dalam ASEAN. yaitu di Thailand. sebanyak 350 penduduk dari 2 negara di ASEAN yaitu Kamboja dan Indonesia terserang penyakit polio. 3. Indonesia yang pada tahun 2005 terjadi kejadian luar biasa dengan ditemukannya 349 kasus polio mampu mengendalikan kejadian tersebut sehingga pada sejak 2007 tidak ditemukan lagi kasus polio. atau biasa disebut dengan PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi). Dilaporkan terdapat 1 kasus ditemukan di Laos. Hepatitis B. Pada tahun 2007. Pada tahun 2005 jumlah kasus polio mencapai puncaknya. di antara penyakit-penyakit tersebut terdapat penyakit yang dapat dicegah dengan melakukan imunisasi. hanya Myanmar yang masih ditemukan kasus polio bahkan jumlahnya meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya ditemukan 1 kasus menjadi 15 kasus. pada tahun 2004 virus polio liar kembali menyerang penduduk di kawasan ASEAN. Negara-negara tersebut adalah Thailand dan Indonesia. TABEL 6. Campak. Difteri. 2 penderita berasal dari Indonesia dan masing-masing 1 penderita berasal dari Kamboja dan Myanmar. Penyakit-penyakit tersebut adalah Tuberkulosis. 2009 global summary Sejak tahun 2001 kasus polio tidak ditemukan di negara-negara di ASEAN. Tahun 2006 penularan penyakit polio mulai dapat dikendalikan. di antara negara-negara anggota ASEAN. dan Polio. Tetanus Neonatorum. POLIO Beberapa penyakit dapat berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa.2 JUMLAH KASUS POLIO PER NEGARA TAHUN 2004-2008 NEGARA 2004 2005 2006 2007 2008 Kamboja 0 1 1 0 0 Laos 1 0 0 0 0 Indonesia 0 349 2 0 0 Myanmar 0 0 1 15 0 Bangladesh 0 0 18 0 0 India 134 66 676 873 559 Nepal 0 4 5 5 6 ASEAN 1 350 4 15 0 SEARO 134 419 702 893 565 Sumber: WHO vaccine-preventable disease monitoring system. 162 . 349 di antaranya terjadi di Indonesia.

Tetanus adalah salah satu penyakit menular dan paling berisiko mengakibatkan kematian. Tetanus pada bayi. GAMBAR 6. karena umumnya terjadi pada bayi baru lahir atau usia di bawah satu bulan. Namun. wilayah ASEAN sudah tidak ditemukan lagi kasus Polio. India mengalami penurunan 36% dari tahun sebelumnya.16 JUMLAH KASUS POLIO DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2004-2008 Sumber: WHO vaccine-preventable disease monitoring system. karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan. di SEARO masih ditemukan sebanyak 565 kasus dari 2 negara. Tetanus Neonatorum Kasus tetanus banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan lingkungan rendah. 163 . sementara Nepal mengalami kenaikan 20%. Semenjak 2004 sampai 2006 jumlah kasus lambat laun kembali meningkat. 2009 global summary Jika dibandingkan dengan kawasan ASEAN. spora Clostridium tetani yang masuk melalui luka tali pusat.Pada tahun 2008. 4. dikenal dengan istilah Tetanus Neonatorum. Tingginya angka kejadian ini karena kontribusi jumlah kasus yang sangat besar oleh India yang merupakan salah satu dari 4 negara endemis polio. Penyebabnya. namun 99% kasus di SEARO terjadi di India. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan. yaitu India dan Nepal. jumlah seluruh kejadian polio di kawasan SEARO cukup tinggi sejak tahun 2002 dan tahun-tahun sebelumnya. kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. Walau pada 2008 India telah berhasil menekan jumlah kasus polio.

158. Tetanus Neonatorum terjadi di 8 negara ASEAN. dan campak. Sedangkan di Bhutan. sementara Indonesia justru berada di urutan ke-5. C. tahun 2008 pada kawasan SEARO jumlah kasus tetanus neonatorum yang terjadi di India jauh melebihi kasus di negara lain di kawasan ASEAN. angka tertinggi kasus tetanus neonatorum terjadi di Kamboja. campak adalah penyebab utama kematian anak. Imunisasi polio merupakan imunisasi untuk mencegah penyakit polio.Pada tahun 2008.57. Tidak seperti imunisasi BCG atau campak yang membutuhkan 1 dosis. imunisasi polio membutuhkan 3 dosis. Cakupan Imunisasi Imunisasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah kematian pada bayi dengan memberikan vaksin. Maka untuk mengukur keberhasilan upaya kesehatan yang digunakan adalah polio3 yaitu ketika bayi telah mendapatkan imunisasi polio sebanyak 3 dosis (3 kali). BCG seringkali digunakan sebagai cerminan proporsi anak-anak yang dilindungi dari bentuk tuberkulosis yang parah selama 1 tahun pertama hidupnya. Di Singapura dan Brunei Darussalam dilaporkan tidak ada kasus Tetanus Neonatorum. Oleh karena itu pencegahan campak merupakan faktor penting dalam mengurangi angka kematian balita. Indonesia dan Bangladesh menempati urutan kedua dan ketiga terbesar dengan masing-masing 183 dan 152 kasus.6. Di antara penyakit pada anak-anak yang dapat dicegah dengan imunisasi. Berdasarkan Vaccine-Preventable Disease Monitoring System 2009. Thailand merupakan negara dengan kasus terendah. dan juga digunakan sebagai salah satu indikator akses ke pelayanan kesehatan. vaksin lain yang wajib diberikan pada bayi adalah polio. yaitu 811 kasus. Selain BCG. Korea Utara dan Maladewa dilaporkan tidak ada kasus tetanus neonatorum. salah satunya adalah mempertahankan cakupan imunisasi campak sebesar 90%. Jumlah kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi di negara-negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6. Dari 22 tujuan yang disepakati dalam pertemuan dunia tentang anak. dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia dan Filipina yang melebihi 100 orang. Di seluruh negara ASEAN dan SEARO. India tetap menjadi negara di urutan pertama dengan angka 1. BCG. UPAYA KESEHATAN 1. baik dari jumlah kasus maupun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. imunisasi campak 164 . Akan tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk. Beberapa imunisasi yang wajib diberikan pada bayi adalah imunisasi polio.

Maladewa.17 CAKUPAN BEBERAPA IMUNISASI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 Sumber : WHO Immunization Summary. Cakupan tertinggi dicapai oleh Brunei Darussalam dan Thailand yaitu 99% dan terendah adalah Laos yaitu 60%. 7 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi BCG 90%. 6 dari 165 . GAMBAR 6. cakupan imunisasi BCG pada bayi umumnya lebih tinggi. Indonesia dan Sri Lanka. Bangladesh.17. Hal tersebut terjadi karena jadwal pemberian imunisasi BCG yang relatif lebih awal dibandingkan dengan imunisasi yang lain—bahkan beberapa negara memberikan imunisasi BCG sesaat setelah bayi dilahirkan—sehingga bayi masih dalam pantauan petugas kesehatan. Korea Utara. DPT. Menurut sumber yang sama. dan Campak). Di kawasan SEARO. Negara-negara tersebut adalah Thailand. Dengan demikian. Sedangkan Timor Leste merupakan negara dengan cakupan imunisasi BCG terendah yaitu 68%. Hepatitis. Polio. Berarti besarnya cakupan imunisasi campak juga menggambarkan besarnya cakupan bayi yang telah mendapat imunisasi lengkap. 2010: A Statistical Reference Containing Data through 2008 Pada tahun 2008. Bhutan. Jika dibandingkan dengan imunisasi lainnya pada Gambar 6.diberikan pada bayi usia 9-12 bulan dan merupakan imunisasi terakhir yang diberikan kepada bayi di antara imunisasi wajib lainnya (BCG. 7 dari 10 negara anggota ASEAN telah mencapai target cakupan imunisasi polio3 sebesar 90%. diasumsikan bayi yang mendapatkan imunisasi campak telah mendapatkan imunisasi lengkap. Pada tahun 2008 cakupan imunisasi BCG tertinggi di antara negara anggota ASEAN dicapai Thailand dan Singapura 99% dan terendah Laos 68%.

Singapura (87%).67%.7. 2.7 dapat dilihat hanya India yang merupakan negara dengan persentase rendah bayi yang mendapat imunisasi hepatitis3. Pengendalian TB Paru WHO telah menetapkan target untuk temuan kasus TB Paru melalui strategi DOTS 70% dan angka kesembuhan 85%. dan Malaysia (76%). 166 .11 negara di kawasan SEARO telah mencapai cakupan imunisasi polio3 sebesar 90%. 4 negara ASEAN telah mencapai target penemuan penderita yang ditetapkan WHO yaitu 70%. yaitu 21%. Maladewa dan Sri Lanka. Sementara pencapaian secara global temuan kasus TB Paru adalah 60% dan angka kesembuhan mencapai 84%. bahkan beberapa di antaranya telah melebihi 90%. Vietnam dan Thailand. Pada tahun yang sama. Hal tersebut berarti pencapaian kedua indikator tersebut belum mencapai target walaupun untuk angka kesembuhan hampir mencapai target. Korea Utara. 5 dari 11 negara mencapai cakupan imunisasi Campak 90%. Negara-negara tersebut adalah Thailand. Thailand merupakan negara dengan cakupan imunisasi campak tertinggi yaitu 98%. Malaysia. Di kawasan SEARO. Enam negara ASEAN lainnya belum mencapai target penemuan penderita penyakit paru karena masih berkisar 43% . Sedangkan negara-negara lain telah mencapai imunisasi tersebut di atas 60%. Cakupan imunisasi Campak di Indonesia 2008 sebesar 83%. namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi di India. 6 negara anggota ASEAN juga telah mencapai target imunisasi campak yaitu 90%. Negara-negara tersebut adalah Brunei Darussalam. Hampir di seluruh negara ASEAN dan SEARO imunisasi hepatitis merupakan imunisasi dasar yang diberikan pada bayi. Empat negara tersebut adalah Brunei Darussalam (87%). Filipina. Sedangkan yang terendah adalah Laos dengan cakupan campak sebesar 52%. Singapura. Bhutan. 77% mendapatkan imunisasi polio3. Cakupan 5 imunisasi dasar di ASEAN dan SEARO lebih lengkap dapat dilihat pada Lampiran 6. maka pada Lampiran 6. Indonesia (80%). Cakupan imunisasi polio tertinggi adalah Thailand 99% dan terendah adalah India dengan 67%. Pada tahun 2008. dan 83% mendapatkan imunisasi campak. Sementara di Indonesia sebanyak 89% bayi telah mendapatkan imunisasi BCG. Di India imunisasi hepatitis bukan merupakan imunisasi dasar. Sedangkan India merupakan negara dengan cakupan imunisasi Campak terendah yaitu 70%.

19 terlihat bahwa Indonesia telah mencapai target yang ditetapkan terhadap indikator case detection rate (angka penemuan penderita) dan 167 . Angka kesembuhan tertinggi dicapai Kamboja dengan 94% dan terendah adalah Malaysia dengan 72%. Brunei. Singapura.19 terlihat bahwa 7 negara di kawasan SEARO telah mencapai angka penyembuhan penderita.18 PENEMUAN PENDERITA TB PARU DI NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 GAMBAR 6. yaitu 91%. Ada penurunan angka drastis pada tahun ini. Penemuan penderita tuberkulosis terendah terdapat di Timor Leste dengan cakupan 33%. Sementara itu. dan Thailand termasuk negara yang belum mencapai target penyembuhan penderita.18 dan 6. Indonesia termasuk salah satu negara yang mencapai target untuk angka kesembuhan ini.Dari 11 negara-negara di kawasan SEARO hanya 6 negara yang sudah mencapai target penemuan penderita Tuberkulosis. Bangladesh yang pada tahun 2006 memiliki angka kesembuhan tertinggi (92%) turun menjadi negara dengan angka kesembuhan terendah (62%) di tahun 2007. pada tahun 2007 terdapat 6 negara di ASEAN dengan angka kesembuhan mencapai target (85%). GAMBAR 6. dari Gambar 6. Negara dengan angka cakupan penemuan tertinggi adalah Maladewa dengan 86%. Tertinggi dicapai Buthan dengan angka kesembuhan 93% dan terendah adalah Bangladesh dengan angka kesembuhan 62%. Malaysia.19 ANGKA KESEMBUHAN TB PARU DI NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Sumber: World Health Statistic 2010 Sumber: World Health Statistic 2010 Menurut sumber yang sama. Pada Gambar 6.

succes rate (angka kesembuhan). Bahkan untuk angka kesembuhan, Indonesia mencapai
angka tertinggi ke-2 di kawasan SEARO.

3. Sumber Air Bersih dan Sanitasi
Pada tahun 2008, di antara 10 negara anggota ASEAN (Brunei Darussalam tidak ada
data), penduduk yang menggunakan sumber air bersih yang telah mencapai 80% atau lebih
sebanyak 6 negara. Hanya Kamboja, Laos dan Myanmar dengan persentase penduduk yang
memiliki akses terhadap air bersih kurang dari 80%. Persentase tertinggi dicapai Malaysia
dan Singapura yaitu 100% dan terendah Laos dengan 57%.
Pada tahun yang sama, di antara negara-negara di kawasan SEARO hampir seluruh
negara dengan penduduk yang menggunakan sumber air bersih 80% atau lebih, kecuali
Timor Leste dengan persentase sebesar 69%. Negara dengan persentase tertinggi adalah
Korea Utara yaitu 100%.
GAMBAR 6. 20
PERSENTASE PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SUMBER AIR BERSIH DAN
SARANA SANITASI SEHAT DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008

Sumber: World Health Statistics 2010

Berdasarkan Gambar 6.20 di atas terlihat bahwa di antara negara-negara di ASEAN
dan SEARO terdapat perbedaan persentase yang besar antar negara dengan penduduk yang
menggunakan sarana sanitasi sehat tertinggi dan yang terendah dengan kisaran 29% dan
100%. Negara dengan cakupan 29% adalah Kamboja dan negara dengan cakupan 100%
adalah Singapura. Dibandingkan persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih,
168

maka persentase penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat relatif rendah, masih
terdapat 10 negara di kawasan ini dengan penduduk yang menggunakan sarana sanitasi sehat
di bawah 80%. Persentase penduduk yang menggunakan sumber air bersih dan sarana
sanitasi sehat di negara ASEAN dan SEARO tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 6.3.

4. Pelayanan Kesehatan Ibu
Dari 10 anggota ASEAN (Brunei, Laos, Malaysia dan Singapura tidak ada data),
Indonesia merupakan negara dengan persentase pemeriksaan ibu hamil (K4) tertinggi yaitu
sebesar 81%. Sedangkan yang terendah tercatat di Kamboja yaitu sebesar 27%. Untuk
kawasan SEARO cakupan pemeriksaaan ibu hamil (K4) tertinggi dicapai oleh Korea Utara
yaitu sebesar 95%, diikuti oleh Maladewa (91%), dan yang terendah adalah Bangladesh
sebesar 21 %.
Cakupan pertolongan persalinan di negara-negara ASEAN bervariasi dengan cakupan
tertinggi di Negara Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia masing-masing sebesar
100% dan yang terendah di Laos dengan cakupan 20%. Indonesia dengan cakupan salinakes
73% berada pada peringkat ke-6 dari 10 negara. Untuk kawasan SEARO cakupan salinakes
tertinggi dicapai oleh Thailand dan Sri Lanka yaitu sebesar 99% dan yang terendah di
Bangladesh sebesar 18%.
Persentase peserta KB aktif pada wanita subur tahun 2009 di negara-negara anggota
ASEAN (Brunei Darussalam dan Malaysia tidak ada data) yang tertinggi dicapai oleh
Thailand dengan cakupan sebesar 70%, dan yang terendah di Kamboja sebesar 27%.
Indonesia dengan cakupan peserta KB aktif sebesar 57% berada pada peringkat ke-3 dari 10
negara ASEAN. Untuk negara-negara anggota SEARO cakupan peserta KB aktif tertinggi
dicapai oleh Thailand sebesar 70% dan yang terendah di Bangladesh sebesar 18%.

***

169

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2006. Estimasi Parameter Demografi SUPAS 2005. BPS, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2005. BPS, Jakarta.
___________. 2007. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2006. BPS, Jakarta.
___________. 2008. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2007. BPS, Jakarta.
___________. 2009. Statistik Kesejahtraan Rakyat 2008. BPS, Jakarta.
___________. 2005. Beberapa Indikator Penting Sosial-Ekonomi Indonesia 2005. BPS,
Jakarta.
___________. 2007. Beberapa Indikator Penting mengenai Indonesia. BPS, Jakarta.
___________. 2010. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.
BPS, Jakarta.
___________. 2010. Analisis Dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan 2010. BPS, Jakarta.
___________. 2004. Statistik Indonesia 2003. BPS, Jakarta.
___________. 2005. Statistik Indonesia 2004. BPS, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Indonesia 2005/2006. BPS, Jakarta.
___________. 2007. Statistik Indonesia 2007. BPS, Jakarta.
___________. 2004. Statistik Kesehatan 2004. BPS, Jakarta.
___________. 2008.. Pedoman Millenium Development Goals. BPS, Jakarta.
___________. 2008.. Press Release BPS 2008: Jumlah Kemiskinan. www.bps.go.id, Jakarta.
___________. 2010.. Berita Resmi Statistik, BPS, No. 45/07/Th. XIII, 1 Juli 2010.
___________. 2010.. Data Strategis BPS, BPS, Jakarta.
___________. 2010.. Hasil Sensus Penduduk 2010, Data Agregat Per Provinsi, BPS, Jakarta.
170

Badan Pusat Statistik (BPS) dan Macro International, 1998. Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 1997. Calverton, Maryland, USA.
___________. 2003. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003.
Calverton, Maryland, USA.
___________. 2008. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007. Macro.
Calverton, Maryland, USA.
Badan Pusat Statistik, BAPPENAS, UNFPA. 2005. Proyeksi Penduduk Indonesia (Indonesia
Population Projection 2000 - 2025). BPS, Jakarta.
Kementerian Dalam Negeri. 2010. Kode Dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
2010. Depdagri, Jakarta.
www.depdagri.goid
Kementerian Kesehatan. 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
___________. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar, RISKESDAS Indonesia Tahun
2007. Depkes, Jakarta.
___________. 2008. Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
2008. Depkes, Jakarta.
___________. 2008. Profil Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan 2007.
Depkes, Jakarta.
___________.2008. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) KIA, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
___________. 2006. Profil Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumberdaya Manusia
Kesehatan 2005. Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 1: Kegiatan Pelayanan.
Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 2: Ketenagaan. Depkes, Jakarta.
___________. 2006.Statistik Rumah Sakit Di Indonesia Seri 3:Morbiditas/Mortalitas.
Depkes, Jakarta.
___________. 2006. Profil Pendidikan Tenaga Kesehatan Tahun 2006. Pusdiknakes, Depkes
RI, Jakarta.

171

___________. 2005. Publikasi Hasil Analisis Data Survei Kesehatan Nasional 2004. Badan
Litbangkes, Depkes RI, Jakarta.
___________.2005. Pencegahan dan Pemberantasan DBD di Indonesia, Dirjen PPPL
Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
___________.2000. Indonesia Sehat 2010, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
___________.1996. Publikasi Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995. Badan
Litbangkes, Jakarta.
Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal RI, 2010. Strategi Nasional
Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal 2004-2009. Jakarta.
USAID, 2008. The World Population Data Sheet. Population Reference Bureau.
The United Nations Development Programme. 2008. Human Development Report
2007/2008. UNDP, New York.
UNAIDS. 2008. 2008 Report on The Global AIDS Epidemic. UNAIDS/WHO.
UNICEF. 2008. The State of the World’s Children 2008. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2009. The State of the World’s Children 2009. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2008. Incidence Series Immunization 2007. UNICEF/WHO, New York.
___________. 2008. Immunization Summary: The 2007 Edition. UNICEF/WHO, New York.
WHO. 2008. World Health Statistics 2007. WHO Press, Geneva.
___________. World Health Statistics 2008. WHO Press, Geneva.
___________. 2008. WHO Vaccine – Preventable Diseases, Monitoring System. WHO, New
York.

***

172

Lampiran 2.1

PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRASI PEMERINTAHAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009
No

Provinsi

(1)

(2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kepulauan Bangka Belitung
Kepulauan Riau
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Maluku
Maluku Utara
Papua Barat
Papua

Indonesia
Sumber: Kementerian Dalam Negeri, 2010

Kabupaten

Kota

Pembagian Wilayah
Kabupaten + Kota

Kecamatan

Kelurahan + Desa

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

18
25
12
10
9
11
9
12
6
5
1
17
29
4
29
4
8
8
20
12
13
11
10
11
10
21
10
5
5
9
7
10
28

5
8
7
2
2
4
1
2
1
2
5
9
6
1
9
4
1
2
1
2
1
2
4
4
1
3
2
1
0
2
2
1
1

23
33
19
12
11
15
10
14
7
7
6
26
35
5
38
8
9
10
21
14
14
13
14
15
11
24
12
6
5
11
9
11
29

275
408
169
153
128
217
116
206
43
59
44
625
573
78
662
154
57
116
286
175
120
151
136
150
147
301
199
65
66
76
109
149
330

399

98

497

6,543

6,420
5,649
964
1,500
1,319
2,869
1,442
2,358
361
331
267
5,827
8,577
438
8,502
1,530
698
913
2,775
1,777
1,439
1,973
1,404
1,510
1,712
2,874
1,825
595
564
898
1,041
1,291
3,583

75,226

195 4.115 1.626.Lampiran 2.685.390 37.420 8.075 4.316.120.740 1.088.531.851.284.987.299.157.587 1.292 837.547 1.380.618 7.478 760.149.868.543.048.054.140 1.198 43.024 2.876.440.854.333 4.782 2.479.284 773. BPS 2.506.721 5.721 1.783 1.885 581.687 2.265.147.534 2.363 100 100 98 106 105 104 105 106 108 105 103 103 99 98 97 105 102 94 99 104 109 102 111 104 105 95 101 101 101 102 105 112 113 101 .855 2.021.930.645 402.290 5.268 1.355.323.833 358.705.572 16.728.499 1.746.891.008 1.441.158.992 6.272 21.011 10.111.402 1.486.845.570 12.989 1.031 3.476.690.170 2.713.052 757.030 3.110.679.393 7.042 1.855 4.258 2.051 2.390 1.585 529.644.633.203.243.928 1.569 1.338 3.404 18.393.404.446.378 1.349.789.191 1.986 18.657.783 864.119 3.510.586 2.243.428 4.730 3.905.239 2.242.596.783 4.714 118.585 1.038.937 2.859.202.2 HASIL SENSUS PENDUDUK 2010 DAN RASIO JENIS KELAMIN MENURUT PROVINSI TAHUN 2010 No Provinsi Laki-Laki Perempuan Laki-Laki dan Perempuan Rasio Jenis Kelamin (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Sensus Penduduk 2010.180.196 1.366 634.108.985.926 21.791.578.247 1.145.878 1.817 505.682.998 5.401 1.336 1.316 4.588.599 3.365 4.230.999 237.254 16.168 2.921.688.507.510.285 119.687 3.225 3.035.749 588.488.280 3.556.265 821.109 875.081.048 1.578 6.559 1.834.341.543 1.032.223.700 577.472 2.344 517.551 2.225 520.550.526 2.826 32.663 3.698 9.496.961.580 2.452.

978 5.257.983 1.depdagri.623.246 3.282 4.372 517.11 1.262.69 1.118 780 1.982.864.01 35.248.66 50.2011".592 100 121 1.485 537.781 3.200 2.32 115.910.id (b) Badan Pusat Statistik: Estimasi Penduduk Sasaran Program Kesehatan.377.989 1.27 1.350 1.886 18.223 2.29 0.527 2.173 1.877 16.133 1.64 4.165 7.788 486.118.34 13.814.520.981.01 3.532 2.926.554 1.177 1.994 743.03 31.201.018 678.572.075 20.267 7.510 497.564.058.759 4.931.18 46.339.670 3.89 87.369 6.654.319.661 4.15 47.309 2.539 4.92 5.565 32.688 16.142 2.890 1.491.908.86 1.035 819. Depkes RI.81 1.023.607 1.012 614 239 95 29 14 90 15 161 40 169 56 87 62 29 30 8 7 1.816 3.956 1.138.945 115.434.012.424.873 37.46 1.758.619. dari "Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2007 .27 319.584 530.090 2.572 4.744.43 3.Lampiran 2.753.759.go.695 777.087.33 34.438 737.841.05 2.827.88 1.217.097.787.009 41.717.857 2.369.79 2.948 1.637 1.662.646 1. .010.222.782.298 9.286.266 4.834.579 353.024.110 6.661 1.531 1.819.792.34 1.602 847.930 2.48 38. JUMLAH PENDUDUK DAN KEPADATAN PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Luas Wilayah (Km²) (a) (3) Jumlah Penduduk (Jiwa) [b] Laki-laki (4) Perempuan (5) Total (6) Sex Ratio Kepadatan Penduduk Per Km² Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2008-2009 (7) (8) (9) 57.463 600.363.391 4.447.094.164.10 1.934 20.137.181.316.482 99 99 97 111 104 102 103 104 112 95 96 102 99 101 98 102 102 92 99 102 109 101 110 104 104 93 97 102 102 103 102 110 108 75 182 115 61 57 79 84 216 69 185 13.755 2.149 1.036.76 32.650.702.753 3.843.006 481.501.002 1.502 974.085.914.725 1.23 204.666.12 1.70 1.57 1.647 231.202 1.32 48.45 1.056 1.718.695 3.192.047.794.570 3.306.939.496 493.68 0.50 97.353 2.268 1.067.799 2.925 1.501.480.987 18.52 1.659 2.20 2.551.06 18.46 1.479 13.60 1.510.574.50 38.919.868 1.223.31 1.43 2.444.13 2.672.246 9.725 661.654.511.780.80 16.75 9.00 153.389.16 91.135.07 16.307.534.716 2.298 983.83 1.80 1.799.916 7.00 72.743 1.55 2.851.29 46.547.491.3 LUAS WILAYAH.412 3.23 42.045.496.13 0.10 147.800.924 1.945 2.120.133.380.320.956.551.020 4.594.087.35 Sumber: (a) http://www.082 2.592.06 8. 2009.741.794.298.572.415 389.228.64 61.313.199 1.742.43 19.17 1.817.617 1.72 664.515.171.980 4.588 998.69 3.132 3.78 2.21 1.072.093.863 2.70 11.012 4.

79 3.40 3.63 4.32 4.98 3.76 2.11 1.42 1.81 1.79 2.03 0.46 1.10 1.72 0.31 2.42 2.07 2.18 0.2010 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1971-1980 Laju Pertumbuhan Penduduk 1980-1990 1990-2000 2000-2010 (3) (4) (5) (6) 2.70 3.93 2.15 1.98 1.21 3.67 2.43 2.21 1.59 0.93 2.97 0.16 5.86 1.95 2.94 1.07 3.99 1. 1990.78 2.31 3.77 3.18 2.42 3.06 1.17 2.97 1.88 2.36 1.66 1.17 0.08 1.24 2.89 0.23 3.39 1.72 2.74 1.45 2.60 2.94 0.87 1.49 Sumber : Sensus Penduduk 1971.35 1.65 3.08 0.34 3.15 1.06 0.73 2.99 1.31 1.32 4.72 5.31 3.49 1. Sensus Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995 dan Sensus Penduduk 2010 .44 3.14 4.39 5.15 4.26 1.49 1.64 2.4 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 1971 .46 1.57 1.66 1.Lampiran 2.62 4.88 2.35 1.15 1.57 1.33 2.64 1.60 2. 2000.69 2.67 2.11 4.32 0.48 3.84 2.85 1.38 2.66 2. 1980.09 2.59 2.57 1.49 3.67 2.22 1.37 1.91 1.46 1.02 0.79 2.82 1.74 3.17 2.80 1.30 3.17 2.55 1.39 2.29 2.

616 2.877 11.197.925 1.087.964 11.601 14.997 1.26 12 Jawa Barat 5.75 5 Jambi 426.049 4.988 2.788 704.998 153.801 29.380.563.304 38.602 327.411.228.414 1.391 54.55 13 Jawa Tengah 4.400 1.120.202 58.251.45 20 Kalimantan Barat 672.171.901 48.900 17.223.661 59.677.000 165.152.902 968.092 389.801 13.391 974.650.199 1.400 13.165 49.35 2.806 168.401 2.002 1.105 136.000 1.698 69.843.223.798 131.598 62.372 283.061.672.603 2.554 657.302 27.660.122.431 1.607 789.562.21 6 Sumatera Selatan 1.600 422.654.637 50.118.599 42.137.801 70.801 30.901 156.502 11.572 729.000 854.000 81.444 7.810.899.601 151.984.500 2.100 1.268 442.751 983.902 76.266 7.200 311.802 2.104 44.500 1.012 42.741.806 661.582.164.028.836.400 237.838.199 660.000 5.901 78.018.056 1.082 1.916 49.659 826.515.313.503 16.798 1.264.969.373 1.619.69 31 Maluku Utara 162.124 2.041 16.479 53.510 352.500 698.101 2. ANGKA BEBAN TANGGUNGAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Laki-laki No Provinsi Perempuan Kelompok Umur (Tahun) Laki-laki + Perempuan Kelompok Umur (Tahun) Kelompok Umur Jumlah (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 4 0-14 15-64 65+ (3) (4) (5) (6) Angka Beban Jumlah 0-14 15-64 65+ (7) (8) (9) (10) Jumlah 0-14 15-64 65+ (11) (12) (13) Tanggungan (14) (15) 678.61 23 Kalimantan Timur 462.309 4.594.845.308.103 59.292.205 94.511.503 181.2011".400 2.353 403002 1.299 1.989 112.63 18 Nusa Tenggara Barat 693.608 3.901 1.200 3.276 4.544.34 14 DI Yogyakarta 325.468 3.003 317.350 2.500 4.044 847.292 1.602 4.900 1.445 1.108 78.415 156.527.613 1.192.579 318.666.498 738.766 41.400 366.801 348.886 308.716 1.001 233.454.118.357 1.158.699 1. Kemenkes RI.695 311.492.802 625.177 1.611 1.500 140.063 32.551.800 3.262.748.924 4.205.360 737.306.438 148.507 2.33 31.53 28 Gorontalo 146.802 1.359 743.598 2.869 2.405.199 501.482 48.199 1.956 48.087.827.908.576.572.014.097.200 316.527 3.075 1.602 1.298 14.100 224.260.496 210.203 60.106.082 2.200 1.602 1.904 22.978 55.414.799 734.711 4.23 9 Kepulauan Bangka Belitung 162.433.203 115.277 481.900 412.16 22 Kalimantan Selatan 489.320.527 50.698 115.001 1.489.69 25 Sulawesi Tengah 370.570 47.501.819.102 26.39 33 Papua Indonesia 331.229.221.501 2.23 Sumber: Badan Pusat Statistik: Estimasi Penduduk Sasaran Program Kesehatan.801 28.695 359.260.980 3.200 1.898 81.00 30 Maluku 220.316.753.504 521.47 27 Sulawesi Tenggara 352.072.801 1.407 2.301 3.223 1.401 679.825 6.298 39.329.794.300 779.868 231.833 5.501.500 97.507.142 52.181.301 683.65 15 Jawa Timur 4.703 86.727 157.020 54.802 60.028.987 634.997 3.584 137.864.389.504 319.897.434.502 56.061 3.499 551.814.689.401 267.163.467 18.901 231.149.499 162.546 37.663.08 8 Lampung 1.251 1.508.471.301 1.399 1.336.326 2.601 1.022 16.301 108.742.373.999 1.21 Riau 888.048.357 1.402 11.127.499 669.551.703 1.635 4.133 46.617 299.799 264.083.273.948 49.079 18.494 537.451.906 392.781 50.106 173.415.565 47.539 467.71 Sumatera Barat 740.799 113.901 661.260.661 537.101 1.281 1.701 8.267 49.444.093.503 760.817.563.795 678.489 1.665 2.563 2.425. dari "Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2007 .647 62.304.302 5.189 2.141 4.801 160.319 7.157 2.581 6.Lampiran 2.801 2.939.389.219.703 159.248.801 22.952 2.846.246 238.485 2.282 648.138.622 517.246 39.402 75.568.186 13.90 7 Bengkulu 250.699 350.020.499 486.937 600.794.899 998.434 3.369.318.79 29 Sulawesi Barat 156.370 819.402 184.057.5 JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN.480.114 493.018 141.292 1.983 958.017 2.424 4.090 692.759.004 323.118 1.496.797.168.397.369 655.532 51.599 48.786.182 2.192.600 14.118 530.945 735.201 1.410.203 1.062.527.531 904.200 930.80 32 Papua Barat 118.876.950 1.501 1.503 50.759 233.654 4.758.520.286.932 777.447.412 837.901 53.875.463 1.907 17.333.500 20.344.045.753 410.945 30.800 1.132 45.200 801.201 23.385.078 9.035 2.591.012.139 5.998 36.383 3.363.047.61 11 DKI Jakarta 1.857 48.200 1.574.203.792.374.800 3.491.339.501 3.834.874 4.201 2.670 489.926.601 1.600 815.743 50.401.588 20.006 431.703 265.592 47.994 55.740 1.300 6.520.723 2.299 11. .201 4.003 129.803 2.199 75.110 1.755 711.115.547.634 7.298 49.503 287.094.009 37.702 42.400 432.863 42.302 30.135.725 2.400 1.901 127.22 19 Nusa Tenggara Timur 772.299 848.883 1.654.085.301 25.402 47.87 16 Banten 1.600 27.509 9.149 468.799 45.298 57.601 24.507.407.138.510.619 78.67 17 Bali 423.646 8.03 10 Kepulauan Riau 233.399 2.700 32.041 2.270 3.010.255.873 37.719.701 148.199 617.901 3.110.459.102 1.939.100 2.431 1.111.930 1.347.301 13. KELOMPOK UMUR TERTENTU.001 31.657 4.504 102.100 35.498 1.245.491.201 4.431.303 214.802 6.702.901 322.16 21 Kalimantan Tengah 318.101 2.601 234.451.499 970.501 141.178 20.300 126.298.782.299 333.799 308.222.169.701 2.200 69.725 298.657.202 262.434.688 5.601 2.090.178.500 3.900 566.203 2.496.085.605 6.585 1.08 26 Sulawesi Selatan 1.504 101.098 7.800 1.934 2.700 525.31 24 Sulawesi Utara 275.475 4.588 1.967.148.217.899 1.069 486.319.001 28.807 35.572.603 17.705 112.351 2.701 21.267 353.566 1. 2009.816 48.682 497.

00 15 6 40.00 11 5 45.43 21 20 95.18 11 0 0.43 24 Sulawesi Utara 9 2 22.43 14 3 21.82 11 10 90.86 7 3 42.18 33 6 18.00 28 6 21.69 13 Jawa Tengah 35 3 8.37 19 9 47.48 29 19 65.05 38 8 21.00 10 8 80.18 33 6 18.38 13 2 15. 2010 .67 9 6 66.69 26 2 7.29 7 2 28.17 24 13 54.00 13 2 15.67 6 4 66.00 17 Bali 9 1 11.00 9 6 66.00 14 10 71.17 2 Sumatera Utara 25 6 24.52 24 13 54.00 6 0 0.00 14 7 50.67 10 6 60.64 11 8 72.00 6 0 0.29 14 10 71.33 7 2 28.57 11 DKI Jakarta 6 0 0.67 9 7 77.29 10 Kepulauan Riau 6 1 16.38 23 Kalimantan Timur 13 5 38.89 10 8 80.23 465 199 42.71 14 4 28.6 JUMLAH DAN PERSENTASE DAERAH TERTINGGAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .00 15 7 46.00 26 2 7.Lampiran 2.00 15 6 40.00 28 Gorontalo 5 4 80.00 11 9 81.57 8 2 25.00 21 15 71.00 6 4 66.71 14 5 35.43 14 3 21.00 6 0 0.00 6 0 0.11 9 0 0.37 19 8 42.86 7 1 14.45 14 5 35.78 11 7 63.05 38 5 13.00 14 DI Yogyakarta 5 2 40.00 29 Sulawesi Barat 5 5 100.29 7 1 14.37 19 9 47.04 497 183 36.11 9 1 11.86 7 3 42.57 35 0 0.86 7 3 42.00 25 Sulawesi Tengah 10 9 90.16 16 Banten 6 2 33.00 14 7 50.24 20 Kalimantan Barat 12 9 75.05 38 8 21.00 5 Jambi 10 2 20.00 12 8 66.00 10 6 60.52 29 27 93.43 14 3 21.18 11 2 18.00 8 Lampung 10 5 50.00 14 1 7.18 12 2 16.57 9 Kepulauan Bangka Belitung 7 3 42.00 15 Jawa Timur 38 8 21.67 12 9 75.67 12 8 66.43 33 6 18.67 6 4 66.57 23 16 69.00 30 Maluku 8 7 87.67 12 0 0.43 14 10 71.89 9 8 88.00 5 2 40.52 29 19 65.00 5 5 100.52 23 13 56.38 13 2 15.00 11 7 63.18 11 2 18.75 20 15 75.57 23 16 69.00 11 2 18.33 15 3 20.78 9 6 66.73 33 Papua Indonesia 20 19 95.82 Sumber: Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.2010 2006 No Provinsi (1) (2) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal 2007 2008 (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (8) 2009 2010 (%) Jumlah Kab/Kota Kabupaten Tertinggal (11) (12) (13) (%) (14) Jumlah Kabupaten Kab/Kota Tertinggal (15) (16) (%) (3) (4) (5) (6) (7) (9) (10) 1 Aceh 21 16 76.57 35 3 8.18 11 2 18.10 440 199 45.67 12 8 66.67 7 Bengkulu 9 8 88.19 23 16 69.05 38 8 21.43 21 15 71.00 8 2 25.00 5 2 40.73 31 Maluku Utara 8 6 75.00 10 2 20.86 15 6 40.38 15 2 13.78 10 7 70.50 9 7 77.17 24 4 16.67 7 1 14.00 5 5 100.38 13 2 15.00 5 2 40.00 18 Nusa Tenggara Barat 9 7 77.67 27 Sulawesi Tenggara 10 8 80.00 6 Sumatera Selatan 14 6 42.57 35 3 8.80 495 199 40.69 26 2 7.37 19 9 47.00 5 5 100.82 11 9 81.00 19 Nusa Tenggara Timur 16 15 93.00 10 7 70.00 5 5 100.64 11 8 72.00 8 2 25.00 10 9 90.18 3 Sumatera Barat 19 9 47.11 9 1 11.91 26 Sulawesi Selatan 23 13 56.43 21 Kalimantan Tengah 14 7 50.67 6 1 16.22 13 2 15.64 11 7 63.43 14 9 64.57 23 12 (17) 52.67 6 3 50.46 14 3 21.11 9 1 11.69 26 2 7.57 35 3 8.00 10 8 80.20 497 199 40.11 4 Riau 11 2 18.00 8 6 75.00 21 19 90.14 22 Kalimantan Selatan 13 0 0.33 15 2 13.78 9 7 77.00 14 7 50.00 5 0 0.78 32 Papua Barat 9 7 77.00 12 Jawa Barat 25 2 8.

210 256.546 261.241 153.317 16 Banten 212.712 189.866 163.478 169.554 161.XIII.351 210.241 189.732 190.850 156.225 200.771 31 Maluku Utara 226.185 23 Kalimantan Timur 283.107 199.843 10 Kepulauan Riau 308.193 191.428 249.236 182.985 13 Jawa Tengah 196.025 19 Nusa Tenggara Timur 218. 1 Juli 2010 .901 156.238 198.838 201.478 156.526 185.727 222.815 174.312 182.812 9 Kepulauan Bangka Belitung 272.158 234.450 164.796 142.661 190.306 210.873 162.734 188.003 196.059 195.525 201.224 30 Maluku 230.835 246.529 182.Lampiran 2.257 217.965 316.516 178.628 188.416 33 Papua 285.612 22 Kalimantan Selatan 216.189 29 Sulawesi Barat 175.7 GARIS KEMISKINAN MENURUT PROVINSI DAN DAERAH (MARET 2009) No Provinsi (1) (2) Garis Kemiskinan (Rupiah/Kapita/Bulan) Perkotaan Perdesaan (3) (4) Perkotaan + Perdesaan (5) 1 Aceh 292.742 11 DKI Jakarta 316.653 26 Sulawesi Selatan 177.787 261.750 17 Bali 211.706 211.707 226.623 6 Sumatera Selatan 247.596 207.472 224.481 5 Jambi 244.506 24 Sulawesi Utara 193.772 25 Sulawesi Tengah 217.809 261.583 28 Gorontalo 173.109 212.751 175.251 178.466 18 Nusa Tenggara Barat 213.241 3 Sumatera Barat 248.378 266.317 199.469 4 Riau 265.945 246.123 179.310 178.084 8 Lampung 224.538 181.191 20 Kalimantan Barat 194. 45/07/Th.978 15 Jawa Timur 202.872 142.617 21 Kalimantan Tengah 209.262 Indonesia Sumber: Berita Resmi Statistik No.381 7 Bengkulu 242.936 12 Jawa Barat 203.354 277.624 174.730 269.881 166.735 192.168 175.157 202.515 14 DI Yogyakarta 228.271 184.070 157.715 27 Sulawesi Tenggara 175.461 176.936 - 283.898 2 Sumatera Utara 234.913 199.500 32 Papua Barat 304.

7 763.7 23.5 77.5 208.3 124.3 323.7 654.44 12.1 7.7 107.3 20.79 10.62 4.8 17.1 11.20 19.10 5.0 381.3 9.6 439.6 688.7 1.9 7.3 119.5 324.1 16.60 4.3 33.28 33.31 11.61 15.7 1.0 761.3 1.3 2.2 301.2 62.0 6.3 15.0 2 Sumatera Utara 761.9 237.226.7 688.80 22.40 29.9 4.2 348.9 5.5 67.0 174.7 115.7 109.031.9 477.9 734.0 163.6 19.9 1.2 566.4 260.7 794.6 4.93 18.79 6.3 311.1 140.9 239.8 1.40 5.3 18.31 15.0 701.3 25.10 31.3 - - 379.6 906.70 18.167.58 7.479.4 45.3 96.80 6.43 6.023.1 65.10 5.0 349.4 98.5 811.78 4.7 5 Jambi 120.6 1.08 9.0 28.9 22.22 9.0 408.62 16.8 557.17 3.8 1.7 43.633.5 2.7 5.59 5.2 92.70 35.00 3.8 12.258.423.5 26.75 19.1 1558.7 31 Maluku Utara 9.5 116.16 7.7 1.7 5.3 1. 45/07/Th.9 176.963.2 15.2 29 Sulawesi Barat 48.41 6.2 340.90 16.20 19.29 5.310.6 585.350.20 14.5 89.7 256.27 13.6 - - 323.6 312.96 5.10 13.30 5.9 852.22 18.6 17.30 8.66 6.1 324.00 6.7 8.72 11.768.Lampiran 2.4 9.35 10.4 1.16 13.1 1.2 456.014.022.36 14.2 36.61 8.8 76.0 577.3 1.2 206.0 218.50 7.5 4 Riau 245.0 14.60 17.25 14.77 11.8 130.2 10.92 7.9 76.72 3.41 14.31 22.3 408.8 JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT PROVINSI DAN DAERAH 2008 .7 132.60 7.55 10.8 435.7 470.3 4.7 20.2 7.5 182.64 11.77 9.3 345.18 3.4 9.1 1.6 21.20 20.4 758.7 38.5 520.39 13.490.80 18.619.17 3.6 117.2010) Maret Tahun 2008 No Provinsi (1) (2) Perkotaan Jumlah (ribu) (3) % Jumlah (ribu) (5) (4) Maret Tahun 2010 Maret Tahun 2009 Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (7) (6) Perkotaan % Jumlah (ribu) (9) (8) Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (11) (10) % Jumlah (ribu) (13) (12) Perkotaan % Jumlah (ribu) (15) (14) Perkotaan + Perdesaan Perdesaan % Jumlah (ribu) (17) (16) % Jumlah (ribu) (19) (18) % (20) 1 Aceh 195.0 268.9 22.5 256.70 6.50 10.1 434.0 10.322. 1 Juli 2010 .0 181.3 616.4 489.85 15.90 11.70 13.8 2.0 292.4 13.62 28.8 35.7 11.3 3 Sumatera Barat 127.5 141.1 83.19 6.9 209.0 22.30 14.6 136.06 4.9 18 Nusa Tenggara Barat 560.9 2.60 8.1 434.4 11.1 206.6 735.76 4.2 200.452.18 3.7 17.8 130.44 17.5 21.6 117.25 8.0 2.94 14.8 963.3 Sumber: Berita Resmi Statistik No.9 1.7 22.7 35.051.00 11.68 24.6 28.5 689.80 16.2 164.54 28.70 11.591.50 14.07 21.9 430.8 552.249.340.9 697.75 9.19 7.7 13.3 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 371.0 171.7 105.8 215.0 2.3 959.33 10.59 8.3 18.0 162.76 19.89 23.48 23.6 324.6 150.1 11 DKI Jakarta 379.32 10.73 9.44 46.6 114.3 140.05 30.5 - - 312.8 110.6 12.53 18.0 5.82 11.78 5.84 10.53 10.2 17 Bali 115.7 5.3 9.2 291.5 68.38 13.72 15.5 7 Bengkulu 131.7 241.3 474.62 36.10 22.3 18.29 12.705.2 4.50 11.6 225.89 10.10 9.369.0 20.0 903.21 5.1 93.5 86.17 21.70 7.4 32 Papua Barat 9.7 8.8 21.3 117.89 11.72 18.7 221.013.16 46.531.1 26 Sulawesi Selatan 150.0 223.20 5.10 15.74 5.9 913.02 9.0 220.99 8.34 13.3 192.9 378.4 37.873.9 202.1 5.0 429.9 19.50 5.8 107.8 154.47 14.080.18 4.72 16.18 5.29 44.2 248.50 4.90 26.8 11.51 12.5 26.9 400.7 83.3 6 Sumatera Selatan 514.63 9.19 13.2 3.098.78 7.9 9 Kepulauan Bangka Belitung 36.31 6.910.67 8.1 28 Gorontalo 27.98 7.499.1 79.7 6.0 21 Kalimantan Tengah 45.63 27.1 435.3 3.60 23.3 176.304.2 11.0 439.94 22.2 8.77 20.2 23.43 11.48 10.2 500.9 62.613.110.64 2.90 8.651.4 3.1 28.10 15.9 33 Papua Indonesia 31.3 471.6 19 Nusa Tenggara Timur 119.0 341.90 11.3 380.6 3.73 9.1 880.18 6.7 1.70 17.53 9.6 12.76 4.24 4.9 249.0 346.15 23.87 10.67 10.5 106.3 165.0 1.9 194.16 16.3 8.1 122.8 19.4 7.8 173.0 33.60 12.3 3.8 224.983.7 788.37 10.22 6.70 23.1 321.7 181.925.556.20 8.73 14.617.74 25.097.1 219.7 8.85 21.1 428.0 8.6 23.4 710.5 286.41 18.9 839.8 1.8 9.6 30 Maluku 44.99 18.8 207.5 10 Kepulauan Riau 69.03 16.1 732.5 10.530.5 313.7 100.6 50.1 37.0 54.1 89.00 22.00 14.773.2 816.3 349.6 24.18 4.7 20.20 5.8 137.5 9.194.2 308.06 15.3 8 Lampung 365.8 323.8 493.20 9.06 4.3 2.725.30 11.93 4.7 10.208.9 1.3 67.7 158.2 110.70 12.9 352.529.5 463.00 43.9 34.08 7.75 6.0 6.3 29.148.5 35.21 18.8 22 Kalimantan Selatan 23 Kalimantan Timur 81.00 16.8 67.60 10.85 4.76 13.37 14.7 2.3 91.9 16.6 9.84 6.55 5.09 23.10 27.XIII.9 19.9 527.7 79.009.80 18.26 8.50 46.0 733.24 34.74 16.9 47.2 2.8 420.7 246.80 7.4 2.00 7.2 342.5 130.5 12 Jawa Barat 2.5 979.36 21.189.60 13.8 12.34 10.93 18.2 129.5 508.10 12.4 892.20 15.3 107.25 34.4 1.5 861.9 6.08 8.0 130.7 9.3 83.1 25 Sulawesi Tengah 60.23 4.7 24 Sulawesi Utara 72.60 19.43 32.6 65.51 12.94 15.6 31.1 378.40 10.3 801.6 16.7 243.6 27 Sulawesi Tenggara 27.90 17.0 17.22 16.420.04 11.71 25.85 8.178.6 7.20 7.0 301.89 11.28 18.50 9.2 524.52 20.50 16.0 128.2 445.80 23.19 5.125.0 20 Kalimantan Barat 127.7 246.6 6.3 274.6 391.31 16.10 9.8 54.10 24.90 12.38 7.1 8.66 43.35 10.655.4 32.30 15.97 21.874.8 760.0 91.6 318.6 25.30 16.

89 95.41 96.31 95.66 90.13 64.68 83.76 95.24 94.78 93.30 97.20 73.64 82.35 96.50 92.61 93.71 87.24 90.31 97.25 85.39 95.55 96.61 98.43 97. 2010 94.99 95.47 85.34 95.88 81.59 97.9 ANGKA MELEK HURUF PENDUDUK BERUSIA 15 TAHUN KE ATAS MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2008 2009 Laki-laki Perempuan Laki + Perempuan Laki-laki Perempuan (3) (4) (5) (6) (7) 97.45 96.94 79.94 70.71 98.68 97.56 85.27 95.08 98.56 97.15 95.90 94.51 87.53 91.04 92.68 99.55 96.82 94.63 97.74 92.19 99.62 95.81 98.94 95.49 98.19 92.09 98.97 95.78 87.54 92.10 95.50 84.32 97.13 98.42 95.46 97.74 95.41 96.15 87.28 98.70 94.18 97.82 99.16 93.90 93.11 95.80 74.32 98.97 95.61 89.66 97.37 84.60 93.29 94.63 93.95 98.46 90.65 Laki + Perempuan (8) 94.21 86.36 97.89 99.41 96.85 85.80 95.74 92.76 94.68 96.50 97.38 98.47 92.22 95.69 95.02 95.05 94.18 87.98 96.54 97.53 89.21 94.28 93.97 77.43 93.39 97.34 89.98 89.51 95.38 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.64 92.92 87.46 95.23 94.96 93.17 66.85 87.17 84.29 89.89 89.52 97.66 88.88 90.46 92.96 89.79 95.24 98.77 84.31 97.97 96.81 98.80 87.73 92.44 92.28 95.07 90.24 94.18 87.45 87.04 96.51 99.36 99.69 95.08 96.37 97.86 90.63 95.19 97.15 96.26 92.99 99.28 95. BPS.29 93.95 87.35 91.35 97.41 97.53 83.70 93.04 90.77 98.41 93.89 98.52 95.96 97.24 89.37 95.00 97.14 81.57 99.59 97.15 72.34 94.68 86.57 75.18 90.25 92.36 96.25 95.96 84.94 97.31 95.Lampiran 2.70 97.02 94.45 95.87 98.02 91.09 94.50 97.58 .51 97.29 92.95 98.27 97.19 88.89 84.22 80.26 97.65 98.26 85.

9 8.4 7.9 8.2 7.3 8.1 8.6 7.8 6.9 8.0 8.5 7.5 6.6 6.7 8.5 7.5 8.3 7.7 8.0 6.6 7.2 8.5 7.3 8. 2010 7.8 9.3 7.0 7.6 8.7 5.2 7.0 8.5 7.5 6.2 7.1 8.0 7.1 8.7 7.1 8.4 7. BPS.4 10.10 RATA-RATA LAMA SEKOLAH (TAHUN) MENURUT PROVINSI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Laki-laki 2008 Perempuan Laki-laki+Perempuan Laki-laki 2009 Perempuan (3) (4) (5) (6) (7) 8.1 7.9 7.4 8.6 8.1 7.2 8.6 7.6 6.8 6.7 7.7 7.7 7.9 7.0 8.2 7.8 8.6 9.4 7.1 8.6 8.2 7.8 7.7 7.3 8.2 7.1 10.5 8.2 6.4 8.5 6.2 8.0 6.2 7.8 7.5 7.2 7.9 7.8 7.0 8.1 7.2 Laki-laki+Perempuan (8) 8.6 7.1 5.1 10.7 7.2 8.8 8.2 7.6 7.3 7.1 7.6 7.1 6.2 7.6 8.1 7.8 7.8 7.8 9.0 7.8 7.6 7.3 6.7 8.6 8.3 8.5 8.2 7.0 6.8 8.7 7.3 8.7 .2 7.9 7.3 8.0 9.4 7.6 8.3 7.4 8.7 8.3 6.7 7.8 7.0 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.9 8.0 6.8 8.4 7.8 8.5 7.1 8.1 6.1 7.7 7.7 7.3 6.1 8.0 8.6 7.0 7.5 7.4 6.8 8.2 7.6 8.2 6.7 6.1 6.2 8.8 7.9 7.2 8.3 9.5 7.7 8.8 7.3 7.9 7.7 6.4 8.9 7.0 6.7 7.6 7.0 7.6 7.4 6.5 7.1 8.0 7.7 7.7 7.0 9.7 8.8 7.1 8.2 6.3 7.6 8.9 9.8 8.8 8.0 8.Lampiran 2.1 8.2 7.4 8.4 10.8 8.8 8.6 8.5 8.7 7.3 8.0 7.6 7.4 8.4 6.6 7.0 8.5 9.3 7.3 8.

26 90.53 47.48 98.26 58.50 97.45 97.85 84.72 54.66 94.56 49.11 ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH*) MENURUT PROVINSI DAN USIA SEKOLAH (%) TAHUN 2008-2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 7-12 thn 2008 13-15 thn 16-18 thn 7-12 thn 2009 13-15 thn 16-18 thn (3) (4) (5) (6) (7) (8) 99.58 85.53 97.03 98.74 66.73 53.43 85.83 99.42 79.07 98.83 84.28 83.65 49.36 72.68 85.62 77.22 98.95 63.47 72.80 93.82 98.85 98.06 98.71 56.38 98.96 64.42 97.80 99.85 93.52 96.36 57.46 58.30 51.38 83.91 86.94 98.00 80.79 91.10 84.07 56.58 53.78 84.44 49.28 88.95 99.69 96.46 81.45 97.47 85.59 98.98 91.67 59.95 94.23 94.64 50.66 98.25 63.53 81.83 91.07 85.62 98.15 54.52 98.26 96.81 79.40 83.71 97.10 79.54 81.43 64.70 91.58 72.42 88.06 52.80 98.76 84.35 97.07 98.68 75.70 98.13 78.75 81.42 85.17 45.36 97.53 97.98 90.22 96.55 78.31 98.17 50.95 47.53 96.22 49.80 50.25 93.27 58.70 64. BPS.20 88.16 .50 99.09 97.64 79.50 86.59 56.62 61.67 50.59 97.16 95.35 76.44 46.35 63.15 91.84 72.71 97.92 55.10 88.75 91.14 50.20 80.Lampiran 2.71 91.87 65.75 52. Paket B dan Paket C 94.27 92.55 87.20 89.22 84.57 97.30 64.92 86.84 50.88 98.55 95.68 90.63 97.13 55.77 43.92 79.86 88.69 47.75 98.11 97.31 91.65 87.62 61.73 65.34 65.92 47.72 97.41 80.29 59.95 49.10 90.55 98.00 84.99 85.87 97.59 73.02 88.53 98.43 88.59 93.12 58.08 98.73 64.57 77.78 88.09 91.13 54.68 71.12 95.65 98.19 48.82 97.87 96.28 63.64 50.96 87.39 58.24 98.90 98.38 57.76 98.83 53.86 47.94 77.89 72.55 88.02 98.88 Sumber : Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. 2010 Catatan : *) Termasuk Paket A.51 55.31 64.11 55.99 96.38 97.

016 66.075 322.292.649 68.14 122.70 497.224 100.953 100.710 34.54 24.035.811 13.841 0.457 18.205 4.81 79.27 824.00 7 Bengkulu 436.531 53.95 61.347 58.32 97.00 37.332 57.90 70.632 35.079 2.279 100.842 28.63 6.00 29 Sulawesi Barat 248.00 5.651 1.74 11.993 93.989 38.539 281.00 21.061 6.033.47 304.77 6.430 1.84 1.85 127.71 6.38 670.348 3.618 51.432 7.019.541 41.748 0.00 36.547.324 100.23 4.03 564.66 240.72 5.973.899 100.58 96.382 100.30 3.923 100.425 5.688 2.766 1.20 607.100 4.614 27.150 1.14 61.91 7.62 32 Papua Barat 180.627 16.48 5.142 8.984 33.00 28.12 207 0.281 5.217 2.939.155 38.17 2.429 4.270 1.08 66.994 66.46 811.01 4.67 1.862 8.340 65.44 56.59 86.421 100.49 1.04 9.11 40.77 247.866 6.531 2.16 5.201 249.68 82.320 43.42 1.13 3.22 342.43 27 0.316.49 279 0.974 1.91 17.611 24.77 10.250 1.86 2.878 30.060 4.963 100.12 1.30 10.200.476 375.501 18.00 1.32 8.93 32.128 26.88 45.910 57.621 60.125 674.00 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 867.042 276.95 13.257 7.172 1.96 10.28 19.67 984.56 137 0.06 343.17 28.29 475.825 41.351 3.59 173.582 100.489.77 73.59 22.367 31.21 324 0.72 601.54 31.45 5.25 20.00 27 Sulawesi Tenggara 520.266 0.338 5.00 1.619 67.43 166.49 713.765 10.00 7.419.72 491.65 9.14 159.705 81.057 1.719 5.00 26 Sulawesi Selatan 1.46 25.20 2.484 62.55 173.607 432.10 461 0.390 100.52 279.38 73.441 100.184.490 40.11 43.423.134 36.029.181 100.775 0.315 81.35 201.41 3.631 80.905 24.956 0.780 82.43 15.983.932 611.00 23 Kalimantan Timur 24 Sulawesi Utara 582.39 358.895 32.09 46.772 100.11 611 1.194 201.82 1.88 369.44 19.46 25.00 886.932 23.00 8 Lampung 1.27 325 0.81 5.40 1.03 13.62 779.216 0.793 9.46 53.137.23 34.637 1.05 29.17 3.19 685.570 16.637 100.054 3.428 7.752 38.523 39.00 21 Kalimantan Tengah 246.273 61.589 7.00 25 Sulawesi Tengah 457.82 4.04 31 Maluku Utara 167.503 52.737 2.393 16.953 9.812 50.824.721 284.06 279.126.20 1.61 582.458 56.24 23.86 814 8.84 1.338 2.14 36 0.852 100.674 100.105 19.49 131.424 3.877 10.718 35.325.563 290.34 556.431 44.044 11.37 499 0.57 7.199 0.63 37.180 75.00 11.376.319 1.77 1.20 36.00 734.608 0.27 26.239 7.43 25.819 30.070 1.911 22.47 191.083 32.08 12.219 46.931 6.507.540 100.66 168.69 3.397 0.791 45.632 75.00 887.201 49.18 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 27.383 8.417 18.29 2.12 90.29 1.00 607.757 100.452 4.093 60.30 29.85 983 1.36 9 0.091.46 4.671 19.468 48.29 67 3.83 102.66 923.167 4.761 20.52 9.773 2.68 1.67 745 0.00 28 Gorontalo 267.54 13.00 13.592 4.29 .82 209.62 196.65 5.351 0.29 1.402 8.767 7.11 235.92 90.12 PERSENTASE KELUARGA MENURUT JENIS SARANA AIR BERSIH YANG DIGUNAKAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan No Provinsi (1) (2) Jumlah Keluarga yang Ada (3) Jumlah Keluarga Diperiksa (4) % Keluarga Diperiksa (5) Ledeng Sumur Pompa Tangan Sumur Gali Penampungan Air Hujan Air Kemasan Lainnya Total Sarana Air Bersih Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 1 Aceh 1.01 271 0.32 1.42 185.563 256.672 100.289 16.437 0.49 2.943 6.65 462 0.43 134.198 97.949 535.29 172.542 42.22 100.88 98.48 40.01 5.78 3.36 10.215 4.16 13.820 16.00 41.02 737 0.47 11.884.792 328.25 133.536 30 Maluku 419.167 9.29 11.672 5.869 6.13 5.71 935.32 88.19 20.77 27 0.639 360.677 22.89 9.54 195.628.129 100.01 88.423 31.19 1.631 100.995 9.171 37.46 2.17 61.369 1.069 98.833 71.285 100.Lampiran 2.03 28.017 1.55 232.281 281.041 2.92 788.854.395 6.00 48.237.124 100.48 306.427 232.649 53.00 1.876 58.220 0.32 793.073 12.103 13.336 3.772 24.408 26.000 0.063 45.00 100.393 100.58 23.90 433.55 153.00 341.382 1.25 543.00 22.12 196.474 62.231 17.539 54.80 522.312 3.07 276.532 4.17 94.19 272.609 100.43 62.73 3.166.354 64.533 0.37 20.78 1.813 12.59 52.338 0.824 1.680 24.393 100.090 1.70 291.264.250 50.225.33 253.787 39.70 11.515 36.31 292 0.232 22.86 29.302 37.691 2.38 28.518 54.125 22.772 48.517.667 2.312.589 2.709 26.69 462.87 196.408.803.749 67.945 1.05 358.101 18.97 24.79 32.728 2.610 18.443 2.362.97 85.11 22.15 37.166 201.827 0.00 576.090 2.37 73.031.432 3.775 14.899 6.029 3.00 120.613 24.261 44.59 4 Riau 5 Jambi - 35.207 22 Kalimantan Selatan 1.401 39.312 20.04 16.049.190 100.253 19.00 100.225.030 58.40 5 0.77 101.765 50.00 2 Sumatera Utara 3.511 340.477 9.596 0.578 10.117 13.313 100.55 364.61 242.04 436.660 48.67 30.28 746.731 5.00 12 Jawa Barat 11.883 41.904 60.764 15.144 8.07 87.819 958.508 62.14 31.019 4.85 115.79 6.311 35.01 8.516 100.09 448.877 12.626 0.734 60.00 10.892 3.83 473.196 28.269 23.625 38.00 3 Sumatera Barat 1.208 2.00 6 Sumatera Selatan 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 2.302 39.868 57.27 64.171 2.27 800 2.39 35.783 10.027.036 100.803.55 20.191 1.12 689.636.952.47 224.321 17.49 81.35 141 0.868.725 0.690 100.

61 54.38 55.45 54.71 34.13 43.15 37.42 41.46 39.28 65.25 27.47 65.71 28.82 (5) 29.14 35.20 41.04 46.53 39.62 40.50 37.63 49.56 34.96 51.51 39.33 40.20 39.99 44.70 27.44 41.30 60. Depkes RI Perdesaan Perkotaan + Perdesaan (4) 34.08 35.60 41.53 33.79 40.72 66.97 55.64 65.71 .81 40.22 34.84 37.03 43.02 40.31 36.60 51.10 43.54 57.Lampiran 2.18 39.97 76.36 50.59 59.18 32.77 55.56 55.03 76.35 71.74 34.75 48.19 48.01 74.85 42.59 34.29 45.16 45.76 76.89 51.51 58.66 43.44 47.91 27.06 27.96 45.00 45.74 55.12 44.50 43.71 44.28 53.28 48.01 63.02 36.13 PROPORSI PENDUDUK DENGAN AKSES TERHADAP AIR MINUM YANG AMAN MENURUT PROVINSI DAN WILAYAH TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Perkotaan (2) (3) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen P2PL.45 58.72 30.20 53.19 62.49 44.79 49.29 36.54 45.92 55.47 59.56 49.04 61.83 63.85 57.12 30.54 51.46 45.13 61.38 71.81 41.13 59.

122 8.860 173.717 177.860 29.014 1.370 254.100 - - - - - 1.21 58.36 63.17 41.668 14.151.604 1.39 6.35 81.58 59.669 106.00 321.202 69.18 41.79 19.64 73.671 79.82 301.19 37.01 37.281 406.00 311.42 195.582 72.471.246.Lampiran 2.910 240.93 62.815 195.693.088 392.01 12.563 216.623 20.146 89.390 163.136 403.194 202.78 76.275 1.084.654 67.63 1.246 3 Sumatera Barat 1.69 23 Kalimantan Timur 686.27 15 Jawa Timur 16 Banten 10.999 221.62 5 Jambi 734.523 46.00 68.55 291.21 1.55 78.945 1.518 27.075 265.60 75.183 75.585 73.235 246.05 88.417 70.22 106.38 14.746 71.876 70.33 37.141 80.976.88 43.636.98 62.824.319 44.16 70.096.967 219.345 85.133 85.000 154.672 47.34 67.83 335.503 998.77 20 Kalimantan Barat 859.40 40.656 11 DKI Jakarta 2.397 128.997 26 Sulawesi Selatan 74.18 50.787 1.594 58.620 542.345 2.315 566.46 659.292.539 125.855 113.010 265.938 43.97 29.87 109.499 44.08 886.561 99.460 2 Sumatera Utara 3.652.67 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 576.910 56.88 193.678 173.949 492.227 51.86 665.539 376.816 62.59 53.34 87.75 310.126 707.913 205.258.167 4.005 5.87 341.640 20.14 157.691 15.102 76.858 (1) Jumlah KK Jumlah Sehat (4) 1 Aceh Provinsi Jumlah KK Memiliki Jumlah Sehat Pengelolaan Air Limbah Jumlah KK Memiliki Tempat Sampah Jumlah KK Diperiksa Jumlah KK Diperiksa Jamban No (18) 49.061.119 46.309 57.754 75.237 63.501 63.92 69.43 0.382 194.643 94.649 15.234 2.92 13.191.221 9.736 170.398 189.36 27 Sulawesi Tenggara 520.18 99.316.243 514.646 14.308 74.35 55.63 41.21 81.995 226.166.186.203 56.188 111.203 372.837 73.291 59.180 13.485.26 49.66 305.541 42.98 72.044 % KK Memiliki (7) 412.778 753.58 295.317 1.654 41.259 30.168 794.180 96.064 2.32 29.773 129.56 397.65 67.85 90.460 291.25 65.265 795.449 106.78 55.233 76.231 73.20 45.22 19 Nusa Tenggara Timur 867.644 64.581 52.471 72.16 3.157 24.393 49.598 349.980 242.172 753.80 304.019 50.680 260.951 270.264.746.50 57.10 4.664 196.982 45.939 157.723 129.370 259.96 83.906 39.441.001 1.508 1.203 123.80 34.41 27.01 7 Bengkulu 436.520 45.898 77.22 541.885 82.70 18 Nusa Tenggara Barat 1.853 1.452 109.443 2.877 8.11 725.571.29 31 Maluku Utara 167.206 74.10 22 Kalimantan Selatan 17 Bali 1.400 50.20 301.885 51.17 163.30 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 48.411 252.517 66.124 205.100.462 340.545 3.64 41.70 48.028.207.689 238.166 179.778 375.25 73.06 54.54 36.23 462.419 370.50 2.398 30.552 3.187 1.46 44.236 7.782 74.935 179.965 4 Riau 713.27 391.862 76.113.721 104.139 37.23 73.76 48.21 30 Maluku 419.891 205.050 200.639 310.023 12.39 36.85 28 Gorontalo 267.321 123.996 274.490 32.198 97.027 32.598 471.65 66.39 287.575 71.71 45.328.55 8.01 61.32 70.912 92.461 31.023 961.488 80.210 28.755 384.919 354.233 146.514 66.72 68.287.69 27.791 131.64 32 Papua Barat 180.88 42.070 237.474.733 35.050 28.592 4.011.173 47.007 232.511 342.809 25 Sulawesi Tengah 457.60 73.69 661.69 1.323 35.94 51.23 3.336 416.595 56.304 58.252 74.849 75.26 165.676 197.18 29 Sulawesi Barat 248.247 669.438 62.387 250.04 218.17 2.525 17.46 24.195 101.843 116.477 561.97 78.20 41.190 500.583 39.538 77.763 64.201 278.625 624.345 22.032 106.549 270.075.527 92.863 91.160 343.423 551.789.824 59.467.659 253.607 63.666 40.507.504 77.047 8.059 138.012 414.88 41.827 59.09 53.203 (2) % KK Memiliki (5) 1.812.429 622.22 11.408 147.51 64.496.94 87.68 30.00 59.32 46.37 7.63 79.416 83.73 30.164 6.067 64.28 40.272 25.80 59.72 51.78 56.55 0.551 224.145 63.227.248 74.513 7.262.32 69.71 79.632.78 64.90 759.600 20.39 1.565 2.861 1.278.276 172.56 % Sehat % Sehat (8) 104.769 76.041 44.028.607 349.003 8.570 20.427 118.05 0.385 198.316 (3) % Sehat (6) 619.417 387.831 18.869 96.17 98.618 113.143.83 62.973.49 282.18 6 Sumatera Selatan 70.73 30.34 271.71 90.688 16.68 317.68 86.974 1.884.464 4.786 171.71 341.721 310.91 81.192 30.847 16.85 64.697 9.26 71.480.475 110.29 46.643.675 12 Jawa Barat 14.21 8 Lampung 1.123 137.130 126.62 28.14 206.475 32.300 319.197 15.617 1.480 265.21 24 Sulawesi Utara 582.90 633.47 21 Kalimantan Tengah 246.952.158 23.87 73.060 15.647 231.734.222 .383 32.95 38.130.937 105.55 13 Jawa Tengah 7.21 74.814 40.962.213 216.94 206.427 306.010 127.33 91.99 293.032 102.455 20.368 4.716 172.20 41.569 100.22 82.14 PERSENTASE KELUARGA DENGAN KEPEMILIKAN SARANA SANITASI DASAR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah KK Diperiksa Jumlah KK Memiliki Jumlah Sehat % KK Memiliki (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) 66.428 74.246 264.654 25.563 358.298 298.430 63.836 79.339 61.510 73.504 18.753 558.99 49.35 4.38 36.819 857.59 25.80 939.46 56.608 251.48 39.0298 14.666 104.164 3.806 37.39 357.675 57.49 262.999 73.651 73.369 1.04 57.95 45.15 293.528.404 1.63 79.61 14 DI Yogyakarta 887.240.981 27.41 70.06 40.733 510.070 929.837 699.904 1.722 77.986 61.97 295.63 55.940 1.034 22.697 64.440 61.43 880.340 822.871 279.01 32.131 488.004 70.071 41.803.069 110.327 237.031.46 120.383 49.738 156.549 8.825 99.852 29.992.22 1.829 58.47 50.001 760.708 239.

31 75.51 35.48 63.87 73.43 80.51 77.05 54.89 34.03 72.60 32.98 30.98 40.78 42.26 33.15 PROPORSI PENDUDUK DENGAN AKSES SANITASI DASAR YANG LAYAK MENURUT PROVINSI DAN WILAYAH TAHUN 2009 No Provinsi Perkotaan (2) (3) (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen P2PL.59 42.92 39.60 63.02 57.41 85.19 .88 65.69 43.07 58.10 59.65 51.18 32.86 10.35 38.58 45.23 56.63 30.49 44.35 51.17 66.69 51.71 45.99 69.13 64.73 75.48 22.09 25.82 75.96 42.43 60.50 85.20 84.19 29.16 57.16 58.10 62.38 78.76 56.45 33.37 62.84 45.06 75.66 38.60 77.96 30.91 43.53 73.12 67.39 22.43 81.66 45.00 38.27 25.Lampiran 2.12 25.84 70.72 49.89 12.04 75.69 78.17 54.80 24.77 10.55 31.18 35.96 34.83 14.93 41.59 70.03 52. Depkes RI Perdesaan Perkotaan + Perdesaan (4) 73.50 56.78 41.48 34.51 12.11 25.13 27.03 85.31 35.03 51.71 21.21 52.24 0.47 41.51 (5) 29.75 40.03 69.63 21.95 39.05 30.

107 838.260 55.85 61.75 29.43 91.51 72.16 PERSENTASE RUMAH SEHAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Rumah No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Jumlah % Jumlah % Seluruhnya Diperiksa Diperiksa Sehat Sehat (3) (4) (5) (6) (7) 690.959 775.41 77.307 175.055 523.390 13.204 68.91 50.57 56.57 37.257 1.36 204.12 34.268 128.216 1.406.603 1.402 170.123 71.024 741.744 766.263 223.40 69.378 500.059 337.65 72.46 62.236 49.63 40.436 228.371 63.21 58.634 266.487 341.78 79.38 29.48 66.35 57.666 65.345 208.657 303.963 116.106 375.00 41.717 30.482.61 63.09 43.879 494.590 230.275 509.580 9.613 280.420.479 116.82 31.031 311.569 344.835 705.70 61.194 1.003.78 66.160 100.37 71.368 324.526 62.82 35.281.349 1.648 110.48 60.075 88.741 270.84 47.291 13.062 894.509 2.559 1.000 242.675 1.06 61.467.210 516.074.142.25 80.185 431.52 64.71 39.941 292.549 354.883 1.578.56 44.048 222.98 26.90 22.65 40.315 744.29 81.267 313.611 98.22 34.26 40.592 6.836 347.316.577 702.959 3.93 63.07 49.515.55 66.112.97 55.67 61.58 45.580.54 54.888 948.181 313.978 2.343 1.53 68.048 2.475 58.103 468.582.950 224.195.23 56.937 2.521 332.96 53.67 64.787 23.240 479.328 687.Lampiran 2.518.063.48 38.884 196.90 73.36 35.01 64.257 161.14 73.722 623.608 97.251 522.437 44.484 4.96 56.351 716.74 53.025.035.866 227.198 53.85 39.16 32.427 11.463 294.903 178.361 155.68 62.13 59.33 52.747.635 1.66 53.534 150.509 257.706 20.102 148.19 56.49 .296 122.56 80.098.782 887.982 380.329 23.102.12 51.796 187.

51 28 Gorontalo - - - - #VALUE! 62.92 9.59 985 904 807 89.541 87.224 8.247 2.798 6.74 17 Bali 1.56 99 65 36 55.046 1.941 1.07 332 298 222 74.38 1.202 1.487 79.60 4.84 113 82 30 36.04 5.73 267 249 129 51.27 23 Kalimantan Timur 438 346 302 87.912 4.933 70.145 749 65.91 209 202 103 50.15 1.170 2.385 1.40 20.75 350.399 84.62 75.694 54.505 1.869 1.352 980 963 98.958 62.67 2.112 1.35 6 Sumatera Selatan 190 183 165 90.123 2.21 3 Sumatera Barat Jumlah Sehat (6) 50 (2) (5) JUMLAH TUPM 58 (1) (4) TUPM Lainnya 149 Provinsi (3) Pasar 1 Aceh No Jumlah Diperiksa Restoran/R-Makan Jumlah yg Ada Hotel (14) (15) (16) (17) (18) 5 Jambi 144 119 98 82.236 4.928 3.354 5.34 8.431 79.589 9.92 145 138 73 52.507 1.09 402 383 227 59.52 2.08 17.382 43.22 22 Kalimantan Selatan 185 125 68 54.502 1.226 1.69 12.10 1.337 172.38 2.530 1.96 180 132 68 51.315 668 50.00 101.308 4.240 4.840 1.830 1.13 27.11 1.262 81.33 1.252 66.418 66.52 6.603 57.065 69.210 867 71.05 24 Sulawesi Utara 208 148 123 83.973 2.036 228 2.18 498 408 200 49.02 25 23 8 34.963 64.328 73.073 87.16 7 Bengkulu 108 108 107 82.931 6.79 #VALUE! 51 20 12 60.98 8 Lampung 133 102 86 84.10 1.655 6.00 365 257 157 61.160 41.58 42 36 27 75.539 962 574 59.353 1.96 9.632 1.664 6.08 13 Jawa Tengah 750 488 436 89.71 949 842 525 62.220 1.98 2.656 13.536 973 63.54 450 382 242 63.608 3.233 15.57 19.983 60.342 831 61.481 1.295 4.72 16.757 1.178 981 663 67.806 15 Jawa Timur 523 408 364 89.641 27.37 3.414 34.182 1.17 8.42 601 553 433 78.113 51.288 5.22 1.59 11 DKI Jakarta 291 137 85 62.903 40.691 66.46 5.04 21 Kalimantan Tengah 114 87 54 62.077 1.163 127.477 24.494 64.346 3.034 5.78 1.190 1.57 2.982 2.961 2.936 8.55 124 87 78 89.211 47.90 6.976 2.Lampiran 2.066 6.870 1.770 2.56 7.28 3.72 654 428 270 63.00 2.839 2.322 3.75 4.997 266.70 4.51 8.927 1.235 2.72 29 Sulawesi Barat 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 61 44 30 68.662 7.707 5.95 2.946 60.317 3.239 % Sehat (7) 86.798 1.366 10.062 79.365 76.554 80.265 38.813 30.31 1.27 443.83 23.445 1.480 1.061 3.656 55.56 3.123 1.56 103 88 19 21.811 72.920 9.59 2.076 2.235 4.614 913 56.41 3.475 66.134 9.826 8.244 918 706 76.21 799 563 333 59.96 72.014 28.977 7.335 2.406 5.348 85.023 646 63.150 Jumlah Diperiksa (9) 1.490 1.99 3.437 812 56.282 925 72.569 1.61 #VALUE! #VALUE! 16 Banten 117 106 58 54.22 3.259 1.170 67.514 70.32 9.23 720 558 231 41.24 20 Kalimantan Barat 184 161 130 80.943 5.95 24.688 1.74 4 Riau % Sehat Jumlah Sehat (10) 1.124 73.730 3.008 3.92 6.51 15 11 10 90.401 61 0.86 .341 1.27 1.89 2.15 572 367 187 50.30 56 52 32 61.903 45.129 947 83.386 12.647 81.98 13.34 221 211 92 43.09 191 112 32 28.167 83.334 61.273 63.50 12.394 1.467 9.309 1.58 1.89 30 Maluku 111 104 93 89.83 87.50 19.096 62.182 2.69 4.580 2.40 263 196 118 60.753 64.308 53.06 5.730 5.981 1.106 2.633 62.211 201.364 2.72 6.94 7.197 2.17 1.094 2.455 59.318 1.700 6.474 1.059 794 74.91 236 183 115 62.735 1.988 76.121 3.00 278 85 31 35.344 3.83 760 697 97 13.88 175 90 68 75.29 7.461 1.387 91.27 1.165 66.766 1.792 69.46 32 Papua Barat 59 54 38 70.15 66.286 86.98 4.59 1.750 1.009 34.150 54.74 9 Kepulauan Bangka Belitung 54 42 41 97.07 441 331 217 65.37 402 402 298 74.017 511 435 85.127 64.00 442 346 233 67.373 2.81 12 Jawa Barat 996 680 546 80.38 31 Maluku Utara 115 110 87 79.087 2.855 10.24 1.840 74.62 549 462 400 86.055 6.671 4.73 16.27 37 34 13 38.613 1.34 4.35 811 580 445 76.848 2.356 75.761 57.298 871 67.219 812 66.366 5.414 839 59.068 56.35 262 253 111 43.364 1.721 49.529 936 61.02 14 DI Yogyakarta 314 90 89 98.15 3.61 138 128 70 54.143 518 45.788 13.58 155 130 44 33.439 5.566 64.407 5.20 5.039 75.52 2.12 2.72 1.49 26 Sulawesi Selatan 365 222 174 78.17 PERSENTASE TEMPAT UMUM DAN PENGELOLAAN MAKANAN (TUPM) SEHAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah yg Ada Jumlah Diperiksa Jumlah Sehat % Sehat % Sehat Jumlah Sehat Jumlah Sehat Jumlah Diperiksa Jumlah Diperiksa Jumlah yg Ada Jumlah yg Ada % Sehat (11) (12) (13) (19) (20) (21) (22) 61.219 72.709 65.544 66.198 68.763 1.011 1.156 71.559 3.23 236 200 93 46.22 19 Nusa Tenggara Timur 212 162 133 82.835 81.817 1.191 15.06 2.02 25 Sulawesi Tengah 166 128 107 83.13 34 34 24 70.35 344 318 75 23.975 1.407 1.921 2.402 2.622 12.633 29.59 2.223 65.771 1.787 1.68 20.109 15.32 335 243 54 22.26 18 Nusa Tenggara Barat 352 258 230 89.890 1.279 3.42 151 107 65 60.55 27 Sulawesi Tenggara 188 140 106 75.80 10.75 2.19 8.776 83.87 6.520 54.487 943 63.668 4.52 5.65 5.523 1.932 12.05 2 Sumatera Utara 531 412 351 85.54 2.26 10 Kepulauan Riau 232 169 149 88.452 8.13 98 75 64 85.332 1.66 1.81 3.140 75.623 3.85 6.52 7.897 4.881 3.549 3.639 4.425 69 369.28 10.860 Jumlah yg Ada (8) 2.011 2.018 2.

10 2 Sumatera Utara 7.060 69.960 84 10 84.66 18.82 8.59 9.47 7.137 2.808 33.78 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali - - 2060 1731 - - - 1.08 12.79 1.264 68.11 969 730 75.67 3.620 7.349 64.944 1.81 5.68 4.19 8 Lampung 1.681 83.22 1.15 11.614 81.275 10.03 732 503 68.93 747 461 61.560 3.303 53.815 69.881 62.25 537 353 65.412 2.65 17.769 6.32 1.685 85.350 1.17 347 200 57.346 71.624 85.00 69.33 1 040 1.887 2.438 3 707 3.516 81.266 70.581 73.854 838 45.84 5.160 71.955 45.709 79.483 4.882 110.607 1.88 813 680 83.169 69.08 1.717 70.63 2.05 38.43 2.71 578 217 37.729 797 46.684 75.719 77.74 5.415 8.565 2.37 101 78 77.64 22.26 13 Jawa Tengah 7.092 1 806 1.534 18.515 64.081 1.411 16.335 75.879 41.074 6.646 69.162 3.537 3.18 1.10 440 230 52.285.06 2 092 2.67 31 Maluku Utara 297 232 78.345 4.295 72.165 2.148 1.51 29 Sulawesi Barat 674 565 83.602 1 573 1.79 34.559 3.286 7.890 69.089 53.532 1.598 2.544 10.15 77.89 4.613 19.32 16.72 2.555 71.00 4.109 66.03 1.125 67.54 12 Jawa Barat 7.729 77.380 73.310 2.445 1.11 2.906 2.99 5.653 1.47 293 240 81.82 5.421 87 06 87.961 - 1.497 2.55 467 341 73.52 1.86 3.905 7.22 - - 1.29 2.34 1.097 82.414 63.85 18 Nusa Tenggara Barat 1 602 1.516 59.613 5.854 6.43 4.60 7.169 753 64.78 74 29 39.339 67.26 28 Gorontalo 749 678 90.076 5.378 1.928 3.82 1.365 6.209 55.31 1.66 5 Jambi 899 726 6 Sumatera Selatan 1.76 3.302 78.08 4.367 831 60.73 19.10 1.707 83 53 83.13 .084 68.859 71.303 3.278 1.93 662 623 94.79 5.618 2.264 3.624 69.12 653 268 41.43 12.42 10.160 43.798 560 31.755 58.31 5.336 1.46 20 Kalimantan Barat 50.522 67.316 1.19 3.072 54.345 1.00 11.26 626.142 92.85 116.72 1.350 39.070 9.003 76.220 1.92 7.176 1.752 70.603 6.061 74.350 1.28 11.082 2.066 86.499 4.585 71.31 2.93 752 583 77.82 246 119 48.05 447 254 56.74 1.483 63.02 1.736 62.043 6.678 71.54 680 529 77.567 6.71 708 487 68.055 516 48.075 47.93 1.08 257 140 54.889 90.842 1.18 3.98 25 Sulawesi Tengah 2.18 PERSENTASE INSTITUSI DIBINA KESEHATAN LINGKUNGANNYA TAHUN 2009 Sarana Pendidikan Sarana Kesehatan No Sarana Ibadah Perkantoran Sarana Lain Jumlah Provinsi (1) (2) Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % Jumlah Dibina % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) 1 Aceh 2.19 4 438 4.157 759 65.29 3.623 6.885 41.19 3.350 64.20 435 304 69.608 68.11 3.169 86.77 544 355 65.198 61.214 999 82.58 7.48 2.296 237 10.501 711 28.667 67.56 14 221 14.01 9.03 3.290 2.23 3.02 80.232 4.593 1.00 34.072 9.01 1.114 60.248 800 64.29 - - - - - - 84.896 48.742 1.248 403.110 809 72.41 33 Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 88.078 4 421 4.43 2.164 608 28.817 87.85 3 Sumatera Barat 1.219 42.274 2.375 1.701 77.494 83.570 72.822 2.830 5.139 2.52 14.129 840 74.644 25.612.046 643 61.15 2.540 88.86 14.040 453 43 56 43.543 96.41 943 598 63.202 3.04 582 439 75.40 1.51 4.316 34.047 495 47.76 3.17 5.53 5 078 5.656 1.34 3.417 7.96 9 Kepulauan Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 2.495 1.53 36 - 32 Papua Barat 352 228 64.396 59.723 9.60 2.715 55.214 4.007 848 42.282 72.124 66.84 76.92 641 515 80.27 12.57 1.34 11.085 737 67.501 62.34 1.584 78.354 31.075 82.373 21 Kalimantan Tengah 531 473 89.571 40.22 96 94 97.94 27 Sulawesi Tenggara 24 Sulawesi Utara 1.20 23.167 69.833 72.292 1.536 1.55 805 554 68.02 9.39 22 Kalimantan Selatan 2.133 1.847 1.14 4.278 2.594 1.40 1.18 3.04 1.256 86.86 196 147 75.014 61.140 38.26 725 342 47.73 66.91 11.678 1.412 2.702 65.52 261.842 2.Lampiran 2.720 71.778 73.510 80.370 7.91 13.076 1.316 643 48.791 1.806 86 33 86.319 457 19.629 844 51.06 14 DI Yogyakarta 1.64 3.165 80.663 89.638 67.889 1.64 23 Kalimantan Timur 1.004 55.767.152 945 82.416 680 48.56 2.290 153.00 1.415 878 62.278 74.76 1.516 46.424 71.91 3.621 48.67 1.51 5.650 67.707 82.17 4 Riau 1.04 7.791.618 2.208 3.25 501 311 62.899 8.42 54.10 19 Nusa Tenggara Timur 1.86 3.177 8.301 13.218 5.89 1.202 69.810 74.01 4.74 18.70 24.689 1.88 3.457 21.088 2.370 811 59.342 6.02 163.669 1.956 12.68 128.53 568 236 41.768 249 14.47 1.446 65.00 5.39 1.54 76 9 11.069 2.660 1.56 2.690 22.77 5.940 61.31 59.79 311 241 77.74 25.16 1.869 26.465 52.372 45.88 1.573 98 19 98.65 6.10 4.474 53.92 9.28 608 327 53.221 11 960 11.595 95.93 16.908 60.985 49.296 50.49 10.578 84.407 21.41 175 56 32.69 3.00 54.759 56.653 50.474 78.04 26 Sulawesi Selatan 3.740 7 Bengkulu 1.755 2.941 217 127 58.670 1.198 857 71.85 4.681 70.23 1.552 59.05 31.88 30 Maluku 490 349 71.49 7.499 2.83 1.919 41.

807 71.00 Jumlah % (6) (7) 63.11 31.592 6.d 32.53 61.57 20.10 39 82 39.024 741.67 64.634 266.17 51.32 85.40 7.095 489.665 516.052 182.833 1.324 795.448 838.272 28.95 21.27 89.877 170.077 178.591 291.030 204.08 .903 81.283 12.58 71.096 226.426.725 36.701 55.690 392.580 9.203 170.34 t.45 67.006 74.877 Rumah/Bangunan Bebas Jentik Rumah/Bangunan Diperiksa Jumlah % (4) (5) 100.04 46.826 128.296 116.884 196.590 44.368 17.60 54.22 74.61 39.08 t.919 116.784 479.a.262 418 799 418.616 239.94 21.596 58.516 337.18 48.065 98.837 5.427 11.936 99.70 14.93 60.91 20.257 971.204 58.747.Lampiran 2.87 66.958 t.891 496.263 305.11 21.d 1.51 46.032 306.114 375.959 450.696 414.56 70.772 75.d 74.38 20.131 25.483 t.529 103.934 8.92 53.460 39.a.57 13.081 157.39 57.88 7.35 7.479 116.32 12.316.605.53 47.342 193.83 74.568 559.148.49 56.23 77.990 22.589 226.102.580.89 68.99 83.157 4.29 64.58 81.06 8.675 872.103 468.42 82.704.67 87.100 3.933 148.82 41.518 64 936 64.86 29.82 63.a.36 59.349 466.654 61.98 87.64 46.733 173.02 50.935 2.31 62.47 83.19 PERSENTASE RUMAH/BANGUNAN YANG DIPERIKSA DAN BEBAS JENTIK NYAMUK AEDES TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Jumlah Rumah/Bangunan yang Ada (3) 921.517 163 081 163.014 893.142 86.37 42.578.961 321.711 90.376 348.096 110.846 10.11 50.598 265.563 1.081 734.790.098.749 47.a.900 1.82 66.980 9.005.316 1.d 2.642 24.44 87.799 737.768 193.494 62.29 26.391 934.744 766.56 38 94 38.671 817.62 17.623.953 3.377 19.062 930.474 43.94 78.343 1.503.48 49.741 225.031.00 41.930 194.

701 19.708 755.28 79.57 87.408 30.007 375.77 57.764 461.838 21.629 91.69 65.511 881.685 1.454 10.38 32.995 1.248 88.611 47.235 26.268 140.58 46.787 17.897 108.37 52.035 855.94 41.09 65.22 62.861 38.923 330.275 17.037 115.883 5.095 % (5) 111.085 1.16 49.45 17.75 55.006.51 59.866 6.145 85.35 50.407 45.824 91.20 PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Profil Kesehatan Provinsi Tahun 2009 Rumah Tangga Jumlah Dipantau Ber PHBS * (3) (4) 237.49 54.463 39.848.75 37.860 123.625 48.79 8.91 36.349 118.331 242.253 233.75 25.933 63.905 15.620 37.617 94.642.850 276.934 7.88 88.28 61.822 302.87 21.47 .50 42.112 18.955 738.812 183.669 409.182.301.292 56.858 108.649 196.986 126.018 93.973.209 244.97 48.39 39.774 346.243 44.681 7.18 30.Lampiran 2.942 42.643 112.750 105.829.824 407.85 43.73 50.026 2.469.91 49.804 13.45 51.236 1.984 87.02 45.173 66.37 61.066 22.432 136.020 91.537 525.

26 35.02 Kalimantan Selatan 18.36 Jambi 11.91 45. BPS (4) 25+ (5) 32.66 9.91 Nusa Tenggara Barat 5.02 15.73 22.05 35.41 (6) 46.24 (3) Aceh 8.21 PERSENTASE WANITA MENURUT UMUR PERKAWINAN PERTAMA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 10 .07 44.33 13.02 24.72 51.38 23.29 33.41 46.96 20.37 9.27 44.86 .38 50.89 47.45 29.24 33.87 37.91 36.96 18.74 53.66 9.34 15.23 48.65 Jawa Tengah 3.53 19.27 41.76 54.25 Kalimantan Barat 7.79 36.12 13.18 19 .16 36.85 Maluku 4.25 Kalimantan Timur 10.56 20.63 D.93 14.24 47.78 47.31 46.72 25.42 10.23 11.01 29.00 Lampung 6.51 15.61 8.54 36.98 24.15 53.03 Bali 2.74 31.58 50.71 Papua Barat 10.95 22.49 Maluku Utara 5.12 40.53 11.15 Umur Wanita pada Perkawinan Pertama 16 .80 43.97 Jawa Barat 19. Yogyakarta 18.40 Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia.41 Bengkulu 7.20 38.56 9.86 Kalimantan Tengah 10.65 54.29 41.89 Sulawesi Utara 3.12 9.21 21.45 Kepulauan Riau 14.01 Sulawesi Selatan 10.20 28.46 8.08 Riau 7.Bangka Belitung 13.42 11.36 20.84 DKI Jakarta 6.97 51.47 20.53 17.15 11.07 18.22 Papua 8.55 36.31 14.76 40.16 49.77 30.61 27.16 35.05 57.83 21.43 Banten 13.02 Indonesia 13.48 Sulawesi Tengah 13.08 43.Lampiran 2.I.30 35.11 15.14 Sulawesi Barat 7.76 47.69 8.60 Sulawesi Tenggara 10.08 Sumatera Selatan 11.45 31.40 Sumatera Utara 4.96 35.02 34.31 23.14 Kep.78 Jawa Timur 17.78 42.64 34.29 13.61 10.88 42.08 Sumatera Barat 8.63 32.64 14.25 27.97 38.06 19.71 37.84 Nusa Tenggara Timur 2.05 31.64 Gorontalo 10.57 36.75 11.

2 69.6 67.1 73.Lampiran 3.4 67. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 * : Periode lima tahunan sebelum survei.7 72.5 69.4 69.6 69.0 68. AHH :BPS. ANGKA KEMATIAN BALITA TAHUN 2007 DAN ANGKA HARAPAN HIDUP TAHUN 2008 MENURUT PROVINSI No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Sumber: Provinsi *Angka Kematian Bayi (IMR) Estimasi *Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Harapan Hidup (eo) 2008 (2) (3) (4) (5) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia BPS.6 70.1 68.4 66.9 68.0 63.0 .0 66.8 72.0 71.8 69.1 69.5 67.6 61.1 ESTIMASI ANGKA KEMATIAN BAYI.9 67.2 67.1 69.1 70.8 71.0 66. Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008 25 46 47 37 39 42 46 43 39 43 28 39 26 19 35 46 34 72 57 46 30 58 26 35 60 41 41 52 74 59 51 41 36 34 45 67 62 47 47 52 65 55 46 58 36 49 32 22 45 58 38 92 80 59 34 75 38 43 69 53 62 69 96 93 74 62 64 44 68.3 71.1 64.0 65.1 69.4 67.2 69.

77 5 70.42 611.41 599.30 630.29 24 1.0 6.10 87.32 25 67.31 625.28 7 Bengkulu 69.10 97.85 6 Sumatera Selatan 69.20 80.47 22 Kalimantan Selatan 62.70 89.1 6.71 32 61.20 8.62 21 69.12 605.63 622.4 7. Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008 Ket: Reduksi Short Fall : Percepatan pembangunan manusia untuk mencapai angka IPM ideal 1.70 23 1.28 65.80 619.20 605.00 94.14 19 Nusa Tenggara Timur 66.88 74.81 15 Jawa Timur 68.11 32 Papua Barat 67.79 73.000) (2) (3) (4) (5) (6) (1) IPM Peringkat Angka Harapan Hidup (tahun) (7) (8) (9) Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Angka Melek Huruf (%) Pengeluaran Riil / Kapita (Rp.76 10.39 1.52 75.00 63.96 20 Kalimantan Barat 66.05 12 2.53 630.00 69.97 73.21 7.33 71.78 76.30 93.89 11 DKI Jakarta 72.91 2.01 10 Kepulauan Riau 69.03 70.7 8.70 69.86 89.99 87.2 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KOMPONEN MENURUT PROVINSI TAHUN 2007.69 68.67 92.19 10 2.52 74.70 617.47 624.00 7.30 7.36 634.80 98.0 7.96 9 2.60 625.59 69.80 628.60 95.94 96.49 7 71.66 599.52 92.23 625.10 73.25 74.Lampiran 3.99 8 Lampung 68.00 8.6 7.74 91.63 615.6 8.30 610.57 636.50 96.78 8 69.40 13 69.43 636.94 631.9 10.60 97.80 620.00 8.40 96.4 8.63 3 71.20 94.15 31 2.38 18 1.93 66.09 22 26 Sulawesi Selatan 69.0 7.60 97.52 5 2.41 6.4 8.60 624.90 70.20 23 Kalimantan Timur 70.60 96.92 14 71.60 601.70 87.38 18 2.51 97.94 626.42 6.9 7.07 72.80 68.78 19 69.1 8.2 8.74 9 Kepulauan Bangka Belitung 68.13 67.02 70.90 67.47 7.53 29 66.61 70.52 72.81 638. Provinsi Angka Harapan Hidup (tahun) Rata-rata Lama Sekolah (tahun) Angka Melek Huruf (%) Pengeluaran Riil / Kapita (Rp.81 86.80 99.63 70.70 80.17 Indonesia Sumber: Badan Pusat Statistik.52 593.69 8.18 28 1.0 8.04 68.68 6 69.87 625.75 71.90 97.6 7.55 18 Nusa Tenggara Barat 61.24 633.10 621.38 13 Jawa Tengah 70.32 17 Bali 70.90 630.58 64.01 26 63.15 4 73.50 8.05 33 Papua 67.90 94.64 70.00 99.16 2 1.60 98.55 87.0 8.28 1.53 70.70 77.25 6.96 18 67.88 7 1.13 633.35 17 68.62 6.10 8.40 6.26 69.67 628.60 14 2.5 8.71 604.8 7.91 615.80 8.5 6.2 7.12 15 1.80 98.35 14 DI Yogyakarta 73.65 64.87 24 Sulawesi Utara 72.32 7.26 7.93 72.94 68.45 25 Sulawesi Tengah 65.46 643.82 5 Jambi 68.46 29 Sulawesi Barat 67.15 28 Gorontalo 65.53 626.00 97.00 637.81 71.88 67.1 7.99 13 1.91 95.2008 2008 2007 No.00 620.10 6.8 8.71 89.8 7.73 616.72 69.62 4 Riau 71.80 628.35 70.98 .83 68.99 71.00 96.18 625.78 8.10 95.18 6 1.95 30 2.57 11 69.60 624.88 4 2.60 617.0 8.90 67.50 623.49 72.20 86.78 20 69.17 29 21 Kalimantan Tengah 70.3 6.12 32 1.6 7.1 6.64 73.29 23 64.28 30 67.44 95.60 8.20 91.90 75.76 17 2 Sumatera Utara 69.41 33 68.59 30 Maluku 66.000) IPM (10) (11) (12) (13) Reduksi Peringkat Short Fall (14) (15) 1 Aceh 68.87 7.29 8 1.30 20 1.80 96.44 595.40 634.05 623.1 8.23 9 69.50 95.82 27 65.63 96.96 68.12 72.31 625.58 75.95 87.68 2 72.80 96.40 624.10 89.98 69.65 592.05 628.66 72.08 629.62 68.09 69.14 11 1.34 22 66.76 625.50 95.71 15 67.50 600.55 27 2.11 74.59 639.98 16 1.48 63.60 593.00 25 2.42 31 Maluku Utara 65.53 16 70.40 86.37 95.51 622.00 33 1.72 28 67.75 6.60 95.40 6.29 71.94 73.4 6.72 26 2.1 6.23 69.71 69.1 7.2 6.86 12 Jawa Barat 67.80 98.00 97.66 7.00 16 Banten 64.52 69.03 8.60 95.37 70.42 594.60 90.24 7.70 8.19 628.60 95.59 71.59 71.40 625.99 27 Sulawesi Tenggara 67.31 75.39 74.03 1 1.26 96.80 93.25 71.0 8.90 87.20 8.94 7.22 21 1.70 91.30 8.40 7.56 70.50 95.07 67.68 622.70 630.95 70.36 31 67.00 624.90 88.66 631.59 1 72.90 95.23 86.18 631.90 3 Sumatera Barat 68.81 95.09 3 1.67 74.46 12 68.60 96.74 68.15 593.81 70.10 95.60 86.83 24 66.62 10 68.75 619.32 7.

920 16.3 10 BESAR PENYAKIT RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT TAHUN 2009 Kasus No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) Laki-laki Perempuan Total Kasus Meninggal (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 74.396 30.304 520 6 Hipertensi esensial (primer) 15.Lampiran 3.200 462 5 Dispepsia 18.677 935 7 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 19. 2010 .243 49.807 28.535 143.144 36.703 234 10 Gastritis dan duodenitis 12.933 36.334 898 3 Demam tifoid dan paratifoid 39.161 69.154 235 Sumber: Ditjen Yanmed.747 2 Demam Berdarah Dengue 60.477 35.850 1.533 21.758 17.013 4 Demam yang sebabnya tidak diketahui 24.497 47.783 30.705 60.170 16.588 80.647 2365 9 Penyakit apendiks 13.262 41. Kemkes RI.696 1.629 121.957 24.048 162 8 Pneumonia 19.115 16.

673 88.467 234. 2010 Laki-laki Perempuan Total Kasus Jumlah Kunjungan (3) (4) (5) (6) 243.749 .216 488.380 52.823 123.817 77.167 132.429 156.083 53.195 135.605 153.953 247.375 55.021 55.942 99.738 172.463 52.303 147.364 54.815 99.881 143.578 245.446 67. Kemkes RI.794 781.254 358.087 275.275 83.4 10 BESAR PENYAKIT RAWAT JALAN TAHUN 2009 Kasus No Daftar Tabulasi Dasar (DTD) (1) (2) 1 Infeksi saluran napas bagian atas akut lainnya 2 Demam yang sebabnya tidak diketahui 3 Penyakit kulit dan jaringan subkutan lainnya 4 Diare & gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu (kolitis infeksi) 5 Gangguan refraksi dan akomodasi 6 Dispepsia 7 Hipertensi esensial (primer) 8 Penyakit pulpa dan periapikal 9 Penyakit telinga dan prosesus mastoid 10 Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtiva Sumber: Ditjen Yanmed.463 122.660 203.004 68.Lampiran 3.162 220.318 67.345 133.231 89.256 371.269 412.013 223.142 105.488 46.

92 54.024 176.91 27.834 3.48 5.189 2.42 133.968 51.14 0.376 8.696.04 3.385 4.040 38.654 27.54 5.674 8.063 51.325 12.030 168.135 5.053 15.17 2.897 1.78 5.168 2.642.635 49.97 18.953 15.940 966.907 49.895 4.888 33.54 1.392 397 1.459 6.939 2.759 6.768 2.973 41.308 5.292 1.210 26.644 44.25 0.13 0.885 37.572 5.213 54.920 4.922 14.5 JUMLAH KASUS DAN ANGKA KESAKITAN PENYAKIT MALARIA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Populasi Berisiko Klinis SD Periksa Positif API (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.928 8.66 9.039 2.606 19.511 176.995.949 1.15 3.274 1.986 4.294 58.403 13.435 2.536.204.22 4. Kemkes RI.487 5. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jawa-Bali Luar Jawa-Bali Sumber: Ditjen PP & PL.661.572 3.58 3.403 13.15 2.36 0.516 63.132.206.568 14.535 76.389 5.927 199.651 543 24 8.531 40.841 685.39 1.017 13.159 6.515 1.14 9.94 8.94 11.676 3.966.888 8.48 20.401 83.424 1.025.949 75. 2010 4.98 39.792 2.920 4.675 AMI (8) 0.040 38.260.971 966.391.51 10.648 863.034.478 10.816 2.202.160 391 12.65 51.866 4.540 2.31 0.088 1.09 6.016.530 3.843.818 20.813 24.220 67 2.45 4.449 4.572 3.35 0.902 194.70 12.934 8.864.883 9.933 483 3.80 11.242 765.264 2.849 102.461 1.05 1.292 5.51 30.89 8.27 .62 0.46 29.92 8.59 16.971 686.706.001 2.848 3.93 15.096 33.48 0.05 12.75 1.32 13.196 3.36 1.577 4.473 6.859 23.71 10.41 0.075 1.136 769 44.36 0.052 22.94 1.23 1.51 5.530.283 6.083.093.932 165.275 6.015 957 5.171 2.536 1.09 41.87 1.12 0.453.635 45.647 60.082 5.726 10.380 2.386 11.538.85 0.402 21.06 15.472 1.244.Lampiran 3.25 2.074 2.02 1.755.350.873 29.849 73.78 7.59 6.268 701.675 20.47 4.57 8.89 0.561 1.353.384.683 93.06 2.148 8.709 9.295.580 21.401 83.08 0.812 11.03 0.71 0.212 39.143.421.37 1.946 1.074.

2010 0 0.02 0.19 0.37 0.71 6 Banten - 0.03 5 Jawa Timur 0.6 ANNUAL PARASITE INCIDENCE (API) MALARIA DI JAWA-BALI TAHUN 2004 .03 0.16 0.47 0.Lampiran 3.36 0.08 0.05 0.52 0.08 0.02 0.00 0.06 0.16 0.42 0.12 0.03 0.03 0.17 7 Bali 0.06 0.71 0.16 0.58 3 Jawa Tengah 0.96 0.17 Jawa-Bali Sumber: Ditjen PP & PL.51 0.05 0.15 0.18 0.15 0.10 0. Kemkes RI.2009 Tahun No Provinsi (1) (2) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 (8) (9) (10) (11) (12) (13) 1 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 2 Jawa Barat 0.02 0.14 .13 0.97 0.07 4 DI Yogyakarta 0.55 0.18 0.

405 1.200 2.964 34.562 3.433 16.482 4.943 951 784 7.629 3.273 9.339 2.620 1.428 2.6 77.089 3.065 13.663 1.906 1.266 1.370 942 2.048 4.731 169.066 2.1 .499 2.821 2.325 3.9 65.090 4.608 4.987 1.054 1.014 708 2.732 2.7 33.2 34.223 2.7 66.241 39.3 42.156 1. 2010 Perkiraan Kasus Baru TB Paru BTA Positif Semua Kasus Kasus Baru TB Paru BTA Positif Case Detection Rate (CDR) % (3) (4) (5) (6) 6.8 48.370 294.701 9.671 2.1 51.745 5.311 9.8 59.695 25.5 56.2 52.4 31.302 5.897 3.096 7.609 3.694 4.779 1.813 2.7.8 231.8 40.296 1.556 2.380 7.989 2.407 35. HASIL CAKUPAN PENEMUAN KASUS PENYAKIT TB PARU TAHUN 2009 Cakupan No. Kemkes RI.209 16.918 6.0 70.725 8.490 4.941 7.369 4.070 4.989 31.346 5.448 2.681 5.1 85. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.815 5.880 2.559 3.424 9. Bangka Belitung Kep.982 21.3 33.6 39.896 10.667 11.2 32.213 73.535 11.Lampiran 3.197 7.8 38.869 44.229 1.6 48.468 2.2 36.074 61.966 16.7 45.646 4.065 3.345 38.3 81.165 2.6 56.8 30.397 8.179 2.588 4.291 7.8 71.5 41.988 1. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.504 638 43.134 1.891 2.6 66.342 6.010 15.517 3.181 1.5 44.155 22.227 5.6 34.9 60.702 1.598 8.7 51.

866 17.72 55.221 3.56 61.156 1.83 34.90 61.745 5.06 (6) 1.97 61.44 38.70 64.992 337 304 3.25 38.Lampiran 3.66 46.77 60.17 35.881 2. Kemkes RI.22 58.988 1.943 951 784 7.087 437 1.155 22.673 793 1.296 1.47 61.433 1.278 2.28 40.370 942 2.75 61.67 41.17 65.433 16.951 614 480 4.483 546 1.732 2.53 38.83 45.68 40.71 40.94 3.135 3.01 40.488 1.050 1.275 (7) 34.79 61.516 783 2.891 2.828 1.72 59.022 9.11 38.18 59.78 39.33 58.90 43.897 3.369 4.75 44.700 1.207 982 2.19 63.10 56.181 1.78 41.880 2.014 708 2.134 1.21 38.631 962 593 383 927 271 1.40 39.974 606 1.107 247 69.81 36.994 9.03 34. 2010 Perempuan (3) Jumlah (4) 2.299 1.439 7.84 59.20 38.339 2.28 55.03 38.377 4.91 57.07 58.16 40.695 3.72 44.428 2.052 1.30 35.8 JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF MENURUT JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jenis Kelamin No Laki-laki Provinsi Laki-laki+ Perempuan % Jumlah (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.907 889 1.862 1.840 1.29 59.25 55.227 1.41 60.989 31.906 1.83 64.32 59.538 460 10.089 3.60 60.472 1.397 391 99.28 44.22 60.918 6.93 41.89 61.82 40.598 8.043 4.191 787 1.17 54.10 38.368 695 12.09 42.80 61.517 3. Bangka Belitung Kep.334 777 559 1.99 59.123 13.588 4.34 53.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.213 .227 628 1.065 3.504 638 169.97 65.59 39.057 2.797 1.938 % (5) 65.065 13.23 39.

516 783 2.54 55 .755 99.938 69.518 115 1.065 13.520 105 2.135 3.216 799 183 245 350 341 126 229 210 320 179 611 202 121 87 197 72 361 74 811 1.631 962 593 383 927 271 1.943 951 784 7.206 340 241 206 420 131 377 82 81 1.107 247 3.988 1.091 8.914 561 537 369 705 194 640 150 129 1.881 2.227 628 1.578 1.043 4.673 793 1.050 1.226 1.266 215 375 405 552 175 380 280 516 222 837 254 177 140 236 110 445 120 223 1.866 17.299 1. 2010 K e l o m p o k U m u r ( t a h u n) 35 .191 787 1.738 826 150 396 345 542 188 379 250 480 240 682 246 169 109 169 75 172 51 209 880 227 163 188 400 114 359 70 39 455 2.517 3.369 4.580 954 128 253 279 307 111 197 174 334 128 540 224 119 71 199 85 397 92 161 943 291 172 163 334 99 330 67 71 765 3.014 708 2.156 1.24 25 .433 1.278 2.089 3.862 1.087 15.762 820 107 187 271 252 93 204 159 273 134 388 187 121 65 177 79 391 87 415 1.810 104 2.052 1.368 695 12.994 9.34 L P L P L P (3) (4) (5) (6) (7) (8) 24 65 17 13 12 15 6 26 3 4 29 145 65 1 99 38 2 11 16 29 9 22 14 26 14 10 11 4 7 37 6 23 8 19 92 27 19 16 24 6 47 2 56 168 95 7 135 42 5 11 27 24 12 15 10 26 16 25 12 5 5 59 1 41 5 229 1.914 Sumber: Ditjen PP & PL.065 3.439 7.054 15.840 1.394 397 220 281 519 199 463 87 48 463 2.974 606 1.416 1.891 2.655 1.057 454 309 343 640 201 576 123 82 746 2.951 614 480 4.428 2.433 16.296 1.039 23.797 1.9 JUMLAH KASUS BARU TB PARU BTA POSITIF MENURUT KELOMPOK UMUR (TAHUN).181 1.397 391 1.598 8.072 654 117 248 244 263 113 273 166 314 161 531 199 111 87 164 54 152 38 443 2.334 777 559 1.488 1.076 1.011 16.353 949 58 1.491 325 86 228 228 230 61 144 85 192 115 418 148 90 57 108 19 58 14 129 475 236 74 139 266 73 284 56 29 152 996 778 86 938 194 81 129 207 210 46 92 91 241 69 342 95 38 43 100 24 23 19 2. Bangka Belitung Kep.865 91 2.377 4.123 13.557 103 1.472 1.213 . Kemkes RI.992 337 304 3.182 1.025 3.906 1.087 511 86 259 241 291 123 267 132 273 143 491 156 108 72 152 38 95 28 384 1.155 22.946 428 434 345 642 178 585 113 107 936 3.339 2.026 12.Lampiran 3.64 P P L L P L > 65 L L Total P T (9) (15) (17) (18) (19) (10) (11) (12) (13) (14) 398 1.44 45 .221 3.057 2.300 574 141 351 299 530 117 275 199 406 196 653 231 122 93 150 64 99 29 169 608 173 97 159 248 92 277 37 21 220 1.538 460 10.660 122 2.134 1.828 1.277 77 2.14 Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.424 88 2.897 3.306 1.931 1.470 1.989 31.880 2.207 982 2.918 6.907 889 1.745 5.504 638 19.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 15 .732 2.017 162 2. JENIS KELAMIN DAN PROVINSI TAHUN 2009 No 0 .700 1.022 9.515 4.692 2.227 1.087 437 1.481 19.055 172 347 330 503 147 355 270 469 266 733 273 148 96 196 73 238 72 206 926 222 247 223 417 117 394 69 47 624 2.523 13.168 273 310 248 447 148 450 82 113 918 3.483 546 1.695 3.275 169.516 1.588 4.370 942 2.558 6.721 14.

2 1.1 27.1 4.0 70. Bangka Belitung Kep.721 1.315 5.142 921 1.9 84.9 16.2 3.2 85.0 16.9 95.8 1.2 49.059 1.3 83.4 1.6 5.3 1.1 6.7 93.5 38.850 2.999 84.500 25.3 2.478 2.8 13.618 1.271 2.461 39.1 86.9 9.2 92.905 960 2.5 91.0 2.2 3.7 4.413 3.399 13.7 87. 2010 Sembuh Pengobatan Lengkap Success Rate (%) Meninggal .6 3.Lampiran 3.0 2.0 8.4 91.1 82.109 540 2.6 85.3 1.209 1.8 94.024 1.093 941 21.860 4.0 Cakupan Tahun 2008 No.971 1.6 0.259 298.159 5.2 3.951 2.372 30.663 15.072 16.8 1.5 87.351 2.5 97.376 2. Kemkes RI.557 35.1 83.2 88.4 3.048 3.276 4.5 77.1 88.607 3.452 1.858 2.8 90.451 1.4 74.244 1.096 813 462 5.133 5.6 80.3 2.1 89.8 85.999 5.1 2.312 1.601 1.298 2.3 89.876 3.9 238 366 377 249 195 364 62 332 22 144 1.5 66.881 4. Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.701 2.1 83.828 17.688 5.9 97.6 96.8 78.091 7.360 4.818 25.0 10.5 14.582 6.3 77.4 82.141 23.831 14.4 8.592 1.9 92.033 894 19.711 5.521 1.079 450 1.829 4.8 80.454 93.060 47 1.5 3.434 3.0 90.1 12.9 72.0 66 167 117 34 84 63 14 100 37 9 135 400 285 45 557 80 77 133 121 76 17 72 51 76 46 185 53 19 59 4 18 50 21 3.4 92.6 83.210 1.864 945 790 989 282 1.080 1.261 1.7 93.6 92.4 4.461 525 166.6 1.5 85.1 3.896 3.598 7.217 202 137.9 67.164 2.241 2.566 1.5 85.8 93.544 2.0 97.724 1.088 4.509 547 264 408 339 173 159 131 374 406 288 215 345 197 131 90 168 677 168 13.0 92.5 82.3 1.227 5.9 7.5 32.455 8.8 18.189 1.7 86.604 14.4 2.9 4.158 3.8 6.490 61.9 2.4 80.1 6.8 67.155 2.329 1.8 12.6 1.1 31.3 94.181 4.781 8.771 958 685 8.960 8.990 3.170 2.4 13.5 89.8 87.709 3.0 5.4 69.7 80.224 2.176 1.8 2. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.3 1.6 88.840 1.2 1.558 1.120 6.428 835 606 7.8 6.329 2.403 3.3 4.1 96.060 1.279 981 6.3 8.205 2.055 4.3 21.655 8.884 1.5 89.2 52.161 2.894 1.0 4.468 2.2 11.303 2.930 1.1 17.284 1.1 92.4 2.9 78.787 4.9 1.4 1.894 370 151.134 3.9 85.113 17.0 2.10 HASIL CAKUPAN PENGOBATAN TB PARU MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 Semua Kasus BTA Pos Jumlah % Jumlah % Sembuh & Pengobatan Lengkap Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 3.251 3.1 80.637 13.1 2.7 3.4 6.752 1.169 27.243 4.6 10.002 2.

66 .23 31.91 0.91 0.17 16.86 11.67 8.227 318 1.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.04 5.60 2.973 3.36 22. Kemkes RI.Lampiran 3.11 JUMLAH KUMULATIF KASUS AIDS.07 19.35 7.000 PENDUDUK MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN DESEMBER 2009 Jumlah Kasus No Provinsi (1) (2) Case Rate Meninggal Kumulatif 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.846 8. MENINGGAL. DAN ANGKA KUMULATIF KASUS PER 100.69 0.93 3.46 6.65 0.93 133.808 11 93 81 131 50 38 21 42 18 130 426 634 246 81 691 54 283 63 25 107 2 5 10 62 6 62 5 1 70 8 19 371 1.000 Penduduk (3) (4) (5) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.77 3.33 14.32 8.36 5.45 2.598 717 290 3.88 0.04 8.05 3.71 7.51 8.828 3.06 45.57 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.78 0.21 1.20 1.22 8. 2010 Per 100.

652 78 1.540 323 1.506 107 138 730 15 27 11 173 12 143 20 3 192 10 58 2.747 142 139 794 40 27 11 173 12 591 22 3 192 16 58 2.162 573 246 2.808 19.681 18.Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Jumlah Sumber: Ditjen PP & PL.442 Triwulan IV (6) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.227 318 1.263 92 117 730 10 27 11 173 12 143 11 3 190 9 58 2.598 717 290 3. Bangka Belitung Kep.807 3.12 JUMLAH KASUS AIDS KUMULATIF PER TRIWULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.Lampiran 3.740 3.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.858 21.973 .133 275 1.710 819 290 3.233 669 247 3. 2010 Triwulan I (3) 30 485 234 368 165 184 52 144 111 325 2.499 16.964 Jumlah Kasus AIDS Kumulatif Triwulan II Triwulan III (4) 48 485 410 477 166 219 113 144 120 341 3.828 3.770 (5) 36 485 293 371 165 219 85 144 117 333 2. Kemkes RI.811 3.

30 33.40 23.973 7.80 66.90 28.966 39.20 45.10 67.70 62.20 38.40 4.022 199 261 46 12 132 7 9 4 40 6 209 1 2 79 2 5 2 39.60 77.90 .00 70.60 16.50 31.50 51.808 17 209 224 135 96 104 47 112 40 30 2.70 41.628 152 132 1.002 2.828 3.00 21.80 34.00 35.30 36.227 318 1.60 33.00 8.13 JUMLAH DAN PERSENTASE KASUS AIDS PADA PENGGUNA NAPZA SUNTIKAN (IDU) MENURUT PROVINSI SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.50 43. 2010 Jumlah Kasus Jumlah Kasus Kumulatif Persentase Kasus Kumulatif Kumulatif Pada IDU Pada IDU (3) (4) (5) 43 485 330 475 165 219 91 144 117 333 2.Lampiran 3.20 47.70 8.10 50.70 16.60 0.40 58.615 119 138 794 21 27 11 173 12 591 21 3 192 10 58 2.10 19.80 73.598 717 290 3.20 9. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.10 20. Kemkes RI.

18 .175 725.139 211.438 249.072. Kemkes RI.37 20.806 3.261 732 518 258 183 - 732 16.846 1.781 111.38 9.062.925 43.20 5.050 136.249 434.083 344.187 69.989 3.735 1.402.701 201.384 2.392 9.56 15.842 1.682 113.4 Tahun Jumlah % (3) (4) (5) (8) (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.153 890 1.431 42.380 1.646 1.595 30.880 3.271 1. 2010 (6) (7) 568.458 354.905 5.575 233.32 19.752 896.70 21.829 1.701 32.081 1.246 35.907 2.310 429.319 22.126 223 4.175 89.16 21.433 42.306 196.760.621 11.766 449.819 - 494 11.256 1.010 67. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.14 JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.558 23.173 390.034 3.652 425. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Realisasi Penemuan Penderita Pneumonia Balita Jumlah Penduduk Usia Balita Wil.067 3.491.677 372 309 1.313 16.360 662 570 - 2.455 812 11.344 185.034 18.914 21.521 4.64 14.977 44.83 17.191 - 56.92 5.749 2.533 2.491 19.176 7.524 842 404 387 - 1.329 589 7.915 95.685 51 17.578 11.332 424.287 9.82 41.54 5.91 13.16 2.81 - 17.369 1.12 5.552 1.Lampiran 3.993 3.328 2.868 11.42 10. PKM Program Target Penemuan Pneumonia Balita (10%) < 1 Tahun 1 .315 1.866 130.118 72.657 1.30 46.387 6.915 709 758 2.660 469.639 3.159 107.621 748.881 10.45 11.624 2.15 71.21 10.349 4.306.912 98.914 197.277 11.96 9.671 4.014 323.05 3.318 18.721 6.034 20.16 12.985 34.296 129.41 0.130 161.078 13 6.370 20.655 32.376 9.075 7.91 13.191 9.593 1.666 46.607 38 11.562 74.873 690.566 3.226 28.892 252.

(1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.00 143 11.574 52 5.00 206 236.04 0.00 6 651.00 31 11.12 0.01 0.00 0 13.01 0.04 0.08 0.07 0.00 56 30. 2 Jumlah (7) 0 .60 6.260 7.62 27.63 1.08 14.93 16.10 0.00 47 0 33 1.05 0.00 62 1.85 2.15 JUMLAH KASUS BARU KUSTA.82 5.000 Penduduk (6) Cacat Tkt.44 .55 1.53 6.78 18.29 0.71 4. KECACATAN.559 1.13 0.09 0.00 20 15.03 10.17 0.56 40.79 12.00 14.07 7.00 51 65.17 0.236 249 193 195 397 391 247 887 11.00 10 24.00 83 1.00 35 0 9 0 17 5.00 14 6.00 0 42.923 499 84 267 193 104 99 200 199 425 313 1.51 15.17 0.Lampiran 3.13 0.11 0.69 0.10 0.06 0.25 11.06 0.26 3. DAN PROPORSI KASUS PADA ANAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.49 1.05 0.10 0.11 0.00 21 21.02 0 0.812 (9) 0.05 2.98 0.00 45 13.16 0.17 0.69 4.12 0.00 1.12 0.09 0.033 (5) Case Detection Rate Per 100.02 0.06 0.00 13 35.00 2.10 0.12 0.07 0.21 0 0.00 10 10.12 0.00 3 710.62 19. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.06 48 33 0.33 3.42 2.42 4.11 0.20 11.37 (10) 40 14 6. Kemkes RI.01 40.08 0.13 0.05 2.10 0.074 0.24 0.13 0.00 188 151.00 133 17.00 7 11.227 17.00 25 25.15 0.07 0.15 0.16 6. CASE DETECTION RATE (CDR).18 0 0.04 0.30 0.89 6.91 1.00 72 219. 2010 PB MB (3) Jumlah (4) 121 37 13 44 4 20 2 24 6 3 102 208 226 13 944 65 15 51 34 7 9 12 19 85 83 233 29 19 55 72 105 108 265 3.07 0.13 0.14 Tahun Jumlah % % (8) 359 163 65 151 59 200 9 87 27 7 471 1351 1348 39 4979 434 69 216 159 97 90 188 180 340 230 1003 220 174 140 325 286 139 622 480 200 78 195 63 220 11 111 33 10 573 1.04 0 0.02 3.11 0.03 0.13 0.35 33.05 0.06 0.00 25 30.07 0 0.00 18 8.

Kemkes RI.Lampiran 3. 2010 1 0 1 0 2 4 0 8 0 0 0 10 3 0 15 17 0 0 2 8 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 1 0 76 TT2+ (4) 6 0 1 0 4 7 1 12 2 0 0 23 7 0 22 43 0 0 3 16 0 0 1 0 2 2 1 3 0 0 0 1 1 158 Tidak Diketahui (3) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Bara Nusa Tenggara Timur Kalimantan Bara Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Tanpa pemeriksaan (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Penolong Persalinan Tradisional Meninggal (1) No Status Imunisasi Bidan/Perawat Provinsi Total Pemeriksaan Kehamilan (15) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28) 3 0 1 0 1 1 0 2 0 0 0 2 1 0 6 3 0 0 0 6 0 0 0 0 1 1 0 2 0 0 0 0 0 30 0 0 0 0 1 3 0 2 0 0 0 7 0 0 0 2 0 0 3 3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 23 0 0 0 0 1 0 0 5 0 0 0 3 0 0 14 9 0 0 0 3 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 37 0 0 0 0 2 3 1 3 0 0 0 0 3 0 6 16 0 0 1 10 0 0 1 0 0 0 1 3 0 0 0 0 0 50 0 0 0 0 0 1 0 2 2 0 0 11 3 0 1 17 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 39 6 0 1 0 1 3 0 2 0 0 0 9 1 0 1 1 0 0 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 32 3 0 1 0 1 0 0 5 2 0 0 12 5 0 15 27 0 0 0 6 0 0 0 0 2 2 1 2 0 0 0 0 0 84 2 0 0 0 2 2 1 4 0 0 0 1 0 0 2 8 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 27 1 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 2 2 0 2 8 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 21 6 0 0 0 0 1 0 0 1 1 3 3 0 1 1 12 0 2 0 0 0 0 8 15 0 7 0 0 3 21 0 35 0 0 0 0 2 1 5 9 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 2 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 26 121 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 8 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 17 0 0 0 0 1 3 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 2 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 20 .16 JUMLAH KASUS TETANUS NEONATORUM DAN FAKTOR RISIKO MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Faktor Risiko 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Tidak Diketahui Ya Tidak Tidak Diketahui (14) 0 0 1 0 1 3 0 2 0 0 0 6 0 0 12 2 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 31 Lain-lain (13) 5 0 0 0 3 3 1 5 2 0 0 11 5 0 0 31 0 0 0 14 0 0 1 0 0 0 1 2 0 0 0 0 1 85 Bambu (12) 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5 2 0 5 4 0 0 0 2 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 21 Gunting (11) 1 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 1 0 0 6 6 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 22 Tidak Diketahui (10) 1 0 0 0 1 3 0 2 0 0 0 7 0 0 1 2 0 0 2 6 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 28 Lain-lain (9) 0 0 0 0 2 3 1 0 0 0 0 4 2 0 2 12 0 0 0 3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Tradisional (8) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 6 2 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 13 Dirawat di RS Alkohol/Iodium Dokter (7) 5 0 1 0 1 1 0 10 2 0 0 10 3 0 11 27 0 0 0 7 0 0 0 0 1 2 0 3 0 0 0 0 0 84 Pemotongan Tali Pusat Tidak Diketahui Tidak Diketahui (6) Perawatan Tali Pusat Bidan/Perawat Tidak Diimunisasi (5) TT1 Dokter Sumber: Ditjen PP & PL.

536 43 8 62 35 29 83 10 87 7 56 130 35 219 3 58 105 12 0 0 17 15 35 0 21 7 76 20 8 0 0 2 0 0 1.333 3.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 18.816 75 100 82 136 0 82 13 145 5 53 62 501 176 4 154 204 4 0 0 19 11 99 5 20 8 103 14 17 5 0 26 3 2 2.276 693 476 964 798 510 872 219 1.314 24 0 84 49 100 46 15 71 2 67 0 0 402 0 94 178 25 0 0 22 13 3 0 9 1 100 2 15 0 0 5 16 0 1. 2010 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 163 132 61 72 0 88 21 121 3 39 17 429 135 21 164 138 5 0 8 18 8 72 3 16 10 45 3 16 8 0 0 0 0 1.281 39 1.128 81 121 74 130 34 87 16 182 8 40 45 121 216 0 201 199 0 0 3 26 11 112 9 2 9 181 7 5 3 0 0 4 0 1.447 72 533 813 1.Lampiran 3. Kemkes RI.807 67 47 101 34 56 88 32 133 3 30 85 65 338 1 58 104 8 0 1 20 19 88 11 3 10 77 41 4 1 0 0 11 0 1.853 53 41 125 105 35 117 36 176 20 39 98 120 254 0 98 190 4 0 4 14 20 90 38 11 1 80 5 19 4 0 0 6 4 1.343 51 0 66 32 86 56 15 104 6 50 0 0 400 2 63 128 49 0 9 25 1 3 0 25 16 59 0 14 0 0 0 16 0 1.197 1.17 JUMLAH KASUS CAMPAK PER BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus per Bulan No.183 19 0 66 7 10 63 14 78 6 32 83 0 228 0 71 105 10 0 13 16 10 65 9 19 3 30 6 4 3 0 0 2 0 972 3 0 37 44 0 63 13 50 0 40 120 0 296 3 40 80 0 0 0 13 6 24 0 34 7 24 2 1 0 0 0 0 0 900 2 9 104 55 67 24 9 81 3 59 106 0 320 5 93 169 47 0 5 32 10 14 7 14 0 76 3 0 0 0 0 0 0 1. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.927 112 18 102 99 93 75 25 219 9 28 67 62 297 0 103 194 1 0 2 36 9 88 12 17 5 139 27 5 8 0 0 1 0 1.055 .

164 750 3. 2010 <1 1-4 10-14 5-9 > 14 Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total Divaksinasi Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) Total Divaksinasi Total Kasus (13) (14) 3 42 20 35 8 22 11 35 1 10 0 0 92 0 84 12 2 0 3 4 5 37 4 7 1 58 2 4 1 0 3 1 0 78 101 79 98 50 114 30 123 7 66 86 134 236 3 148 229 3 0 2 19 28 67 17 15 11 106 9 12 3 0 4 10 2 26 73 109 85 66 105 11 172 4 14 0 0 333 1 179 130 6 0 10 41 24 85 24 23 5 188 23 17 8 0 6 7 0 283 143 211 209 95 220 27 240 10 146 318 300 602 14 211 542 6 0 12 55 29 129 29 46 27 217 33 21 9 0 18 25 0 29 89 154 92 77 98 37 340 10 13 0 0 574 0 321 126 37 0 6 28 21 143 14 50 4 206 33 24 6 0 0 5 3 197 154 290 210 129 228 78 496 20 160 156 453 1277 4 374 582 39 0 16 64 30 246 19 82 21 260 46 35 7 0 6 16 3 7 12 90 46 48 67 13 188 6 11 0 0 252 0 198 43 62 0 7 18 8 78 14 11 1 159 8 14 7 0 1 0 0 72 38 169 105 97 147 44 324 12 49 97 251 672 3 250 234 71 0 13 38 13 155 14 24 9 197 25 26 7 0 5 3 0 4 17 53 22 11 44 10 109 2 6 0 0 115 0 115 18 28 0 0 7 10 4 4 14 0 142 3 4 6 0 0 2 0 63 40 215 176 139 163 40 264 23 112 156 195 494 15 214 207 46 0 2 82 33 96 15 24 9 210 17 14 6 0 0 5 1 69 233 426 280 210 336 82 844 23 54 0 0 1366 1 897 329 135 0 26 98 68 347 60 105 11 753 69 63 28 0 10 15 3 693 476 964 798 510 872 219 1.369 3.698 1. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 507 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.890 1.Lampiran 3.775 4.333 3.227 2.447 72 533 813 1. Kemkes RI.18 JUMLAH KASUS CAMPAK MENURUT KELOMPOK UMUR DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Tahun) No.055 .076 6.540 5.197 1.281 39 1.941 18.

Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.50 1. 2010 Meninggal (3) 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Kasus IR (per 10.60 0. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.59 0.86 0.10 0.61 1.79 0.64 1.00 0.36 2.281 39 1.52 0.794 165 0 45 258 133 693 94 191 77 990 130 108 32 0 33 59 6 18.30 0.055 1.93 0.21 1. DAN INCIDENCE RATE CAMPAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Laporan Rutin No.00 1.00 0.19 JUMLAH KASUS.11 0.63 3.34 0.98 0.197 1.32 1.80 1.00 0.31 0.32 1.77 .000 penduduk) (4) (5) 693 476 964 798 510 872 219 1.333 3.447 72 533 813 1.31 1.46 0.Lampiran 3.10 0.03 0. Kemkes RI.31 1.83 0.25 0. MENINGGAL.88 0.

Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. Kemkes RI. KLB Dengan Spesimen > 5 Frek. KLB Dengan Investigasi Penuh Frek. 2010 Total KLB Frek.770 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 34 42 .Lampiran 3. KLB Dgn Laporan ke Pusat Total Kasus Meninggal (3) (4) (5) (6) (7) (8) 5 5 8 1 17 8 2 24 3 0 3 26 25 6 8 8 0 0 0 1 2 2 2 6 0 4 3 3 0 1 5 4 8 190 4 3 7 1 9 8 2 20 2 0 2 20 21 6 6 7 0 0 0 1 2 2 1 4 0 4 3 3 0 0 5 2 3 148 0 1 5 0 9 4 0 20 2 0 0 17 0 4 0 7 0 0 0 1 1 2 1 4 0 4 3 2 0 0 4 2 1 94 0 1 5 0 17 4 0 24 2 0 0 23 0 4 0 8 0 0 0 1 1 2 2 6 0 4 3 3 0 0 4 4 3 121 28 38 185 5 167 70 17 409 30 0 14 280 122 50 49 221 0 0 0 17 45 20 18 63 0 30 66 26 0 2 100 68 630 2.20 FREKUENSI KLB DAN JUMLAH KASUS PADA KLB CAMPAK MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Laporan KLB No. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.

151 9 49 28 252 0 0 9 142 .176 98 1.Lampiran 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. Kemkes RI. Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus Frekuensi Kasus (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 28 23 40 5 71 43 17 115 13 0 14 136 122 48 48 46 0 0 0 5 10 10 9 28 0 21 17 15 0 2 26 12 37 2 4 3 0 3 0 0 0 0 0 2 6 2 3 1 6 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 2 0 0 1 5 1 2 9 34 48 0 18 0 0 0 0 0 9 70 9 23 11 183 0 0 0 0 0 0 0 37 0 0 49 0 0 2 100 30 544 1 0 3 1 7 1 1 19 2 0 1 13 21 2 7 2 0 0 0 1 2 1 1 2 0 3 1 3 0 0 0 0 3 6 0 127 5 81 12 12 325 27 0 5 159 107 22 38 38 0 0 0 17 45 14 8 19 0 23 17 26 0 0 0 0 18 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 8 0 0 0 6 0 5 0 0 0 0 7 6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 7 3 1 1 2 0 6 7 0 2 1 0 0 4 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 5 4 10 0 62 58 0 52 3 0 0 30 0 5 0 0 0 0 0 0 0 6 10 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 32 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 65 961 46 1. Provinsi (1) (2) Campak Total Darah (Serum) Sampel Frekuensi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 (3) (4) Gabungan (Campak dan Rubella) Rubella Negatif Tanpa Spesimen Pending Lab.21 KLB CAMPAK BERDASARKAN KONFIRMASI LABORATORIUM MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Konfirmasi Laboratorium No.

Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.22 JUMLAH KASUS DIFTERI MENURUT KELOMPOK UMUR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus Menurut Kelompok Umur (Bulan) No. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 1 1 6 0 32 1 0 0 0 2 0 0 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 8 0 60 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 5 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 0 23 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 5 0 3 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 3 12 24 0 119 4 0 0 0 4 0 4 0 0 0 10 3 0 0 0 0 0 0 Indonesia 6 53 84 29 17 189 Sumber: Ditjen PP & PL.Lampiran 3. 2010 <1 1-4 5-9 10-14 > 15 Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) . Kemkes RI.

23 JUMLAH KASUS DIFTERI PER BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Jumlah Kasus per Bulan No. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 . Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 3 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 9 2 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 5 0 11 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3 0 12 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 0 14 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 0 13 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 10 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 9 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0 1 0 0 3 12 24 0 119 4 0 0 0 4 0 4 0 0 0 10 3 0 0 0 0 0 0 Indonesia 19 22 22 22 20 19 13 17 9 9 5 12 189 Sumber: Ditjen PP & PL. Kemkes RI.Lampiran 3.

95 3.00 3.29 5.80 2.20 5.96 3.96 3.40 2.01 2.43 2.93 2. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.25 2.15 2.00 2.59 3.21 3.00 1.682 2.43 2.00 2.93 8.75 3.93 8.220 1.65 .000 penduduk Non Polio AFP Rate / 100.42 3.00 3.06 2.87 2.91 3. Kemkes RI.Lampiran 3.75 3.40 2.57 2.33 4.24 JUMLAH KASUS AFP.41 5. 2010 24 80 26 37 7 17 10 42 6 43 42 62 224 162 12 151 28 14 18 17 11 5 15 43 7 15 17 28 27 8 6 4 12 35 95 40 69 19 85 18 57 10 12 62 246 188 35 241 84 25 19 58 30 11 23 29 31 14 66 22 21 7 9 7 8 6 2.64 1.59 4.95 2.75 2.29 4.14 1.60 2.24 3.72 2.15 2.80 2.38 2.83 2.80 2.60 3.31 5.00 1.13 1.64 1. AFP RATE DAN NON POLIO AFP RATE MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Minimal Kasus per Tahun Jumlah Kasus AFP AFP Rate / 100.30 2.14 1.21 2.33 4.57 2.73 2.000 penduduk (2) (3) (4) (5) (6) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.38 2.00 2.36 4.60 2.62 2.67 3.00 1.83 3.00 2.13 1.

Kemkes RI.Lampiran 3.636 . Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. 2010 Virus Polio Liar Kompatibel Bukan Polio (3) (4) (5) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 35 95 40 67 12 17 18 85 9 59 55 84 234 186 34 230 30 11 21 28 31 21 13 63 7 22 25 18 56 8 7 8 7 1.25 JUMLAH KASUS AFP MENURUT KRITERIA KLASIFIKASI KLINIS DAN PROVINSI TAHUN 2009 Klasifikasi Klinis No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.

65 69.50 1.62 17. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.184 20.00 2.58 0.10 1.714 1.44 24.659 513 455 2.38 1.13 0.631 5.01 0.23 0.20 25.82 0.65 39.79 316.411 692 91 149 0 384 204 196 20 58 18 27 5 6 8 20 16 14 32 307 248 15 185 70 9 4 7 171 16 20 68 20 7 23 12 2 0 0 7 2 3 0.375 720 518 508 696 1.045 3.807 34 1.90 0.724 28.20 1.466 18.41 54.64 1.95 65.926 780 2.09 0.06 1.119 17.16 1.60 10.189 795 309 3.26 1.420 (19) 1.72 66.97 0.07 0.85 1.28 0.15 54.813 1.321 5.38 1.220 491 341 3.22 56.20 0.865 1.34 0.46 11.22 1.59 1.29 1.00 2.881 2.629 623 251 2.621 61 736 46 746 23.187 CFR P (15) (17) 1.480 274 4.000 PENDUDUK DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD/DHF) MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .76 6.65 32.47 2.80 74.00 29.599 (11) 0.89 2.950 5.697 2.00 2.29 0.05 18.44 2009 M CFR (18) 1.4 89.82 1.00 0.01 71.99 1.86 30.22 0.80 0.38 1.75 31.22 0.74 0.97 1.81 2.00 2.389 3.862 349 1.402 58 969 24.19 13.62 64.27 0.16 0.00 0.4 13.24 1.250 5.12 0.73 34.00 16.854 260 1.360 339 4.71 0.272 129 1.3 65.251 2.98 35.90 13.60 1.3 173.87 108.17 3.203 18.92 170.09 0.59 1.01 13.32 3.88 IR P (12) (13) 38.02 758 2.612 95 302 31 0 138 128 60 43.58 296.74 1.244 1.50 2.01 35.06 2.19 13.640 952 3.94 27.24 0.2009 No.04 13.52 0.10 0.032 37.59 6.54 4.54 115.762 1.94 1.254 777 695 947 531 576 5.656 1.32 0.64 1.61 20.28 2.62 11.18 16.73 3.89 28.09 95.73 32.60 1.22 193.596 1.75 9.22 0.00 19.25 23.83 0.03 56.15 1.00 0.92 31.43 1.29 1.17 66.587 6.89 41.36 65.125 1.75 25.33 0.00 2.67 15.80 1.39 0.53 2.99 0.81 1.86 9.62 20.00 0.44 42.53 IR (20) 36.42 114.6 313.430 1.28 1.29 8.08 1.76 0.97 26.79 36.91 1.49 0.05 1.16 0.22 .36 Sumber: Ditjen PP & PL.54 35.538 1.338 2.62 0.59 193.Lampiran 3.09 22.43 16.35 3.89 0.22 28.54 2.67 73.36 1.31 1.89 31.01 1.436 4.05 61.00 0.89 68.02 36.08 33.81 2.55 25.279 1.00 0.51 3.86 158.462 25.75 1.92 26.06 0.00 2.006 172 43 0 250 510 228 32 49 11 10 9 3 1 40 22 26 231 228 21 168 53 19 4 22 32 7 11 105 16 17 27 9 4 0 0 7 2 1 1.22 1.454 1.42 12.96 74.7 59.27 1.21 1.27 1.89 50.66 48.113 5. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia P 2005 CFR IR P 2006 CFR IR P (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 629 3.21 10.93 0.990 2. 2010 14.469 1. CASE FATALITY RATE (%).23 0.75 0.55 0.00 1.66 3.78 1.374 2.810 615 399 9.569 3.86 23.13 12.50 19.38 18.03 4.20 0.00 1.07 4.33 0.73 1.87 47.836 30.68 0.290 492 2.19 0.954 6.17 3.87 21.12 1.73 2.85 31.657 1.74 119.90 3.08 5.19 26.64 59.17 15.25 29.94 23.35 1.89 1.78 1.732 944 236 2 0 275 208 103 13 34 24 15 5 13 7 23 2 11 86 288 327 26 372 98 14 2 11 7 8 16 102 24 17 30 7 4 0 0 7 2 4 1.361 23.21 3.44 228.583 971 15.470 145 950 31.53 0.90 3.81 63.56 3.75 29.391 2.10 0.907 828 245 2.115 1.34 1.00 1.27 0.74 0 38.91 1.69 3.341 1.83 0.822 758 206 27 0 24 184 183 1.861 17.20 48.04 52.55 2007 M CFR (10) 1.563 254 1.828 28.51 1.57 15.99 1.590 6.35 2.60 57.61 29.850 353 1.96 3.21 1.00 4. Kemkes RI.90 0.09 2008 M (14) 2.58 1.48 7.33 392.062 735 1.38 3.77 0.912 1.30 0.573 4.75 1.41 1.84 3.5 44.64 78.37 2.309 1.98 1.36 35.80 1.72 8.8 68.310 3.98 1.15 0.932 25.851 10.99 1.248 19.80 1.536 20.63 4.30 1.11 0.83 32.48 158.32 1.39 0.924 2.79 48.67 1.66 0.67 0.55 0.65 1.26 JUMLAH PENDERITA.71 31.15 86. DAN INCIDENCE RATE PER 100.39 167.78 137.40 103.067 948 365 2.235 2.69 0.12 1.74 1.306 5.154 1.165 1.29 121.792 1.

00 63.00 50.00 37.00 88.00 64.00 0.00 83.44 20.00 22.00 100.22 71.00 71.00 100.05 77.33 89.00 80.00 100.00 100.00 100.00 75.43 78.00 100.00 90.27 JUMLAH KABUPATEN/KOTA YANG TERJANGKIT DEMAM BERDARAH DENGUE MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .22 73.89 6.50 17 22 16 11 7 12 10 11 7 5 6 26 35 5 38 8 9 7 6 14 13 13 13 11 9 22 6 5 4 0 4 5 7 384 .00 96.00 0.00 70.30 60.63 17 22 17 10 9 9 9 10 6 4 6 26 35 5 38 6 9 8 5 10 9 13 13 9 9 21 3 6 1 0 4 0 6 355 73.82 60.31 100.00 92.30 58.00 100.00 100.63 100.71 57.00 15 19 12 11 10 9 7 10 5 3 5 25 35 5 38 6 9 8 1 10 6 12 13 9 7 20 5 5 2 0 3 2 3 330 71.00 100. Kemkes RI.14 68.33 100.00 85.00 100.00 100.86 92.00 0.00 0.16 100.15 100.71 100.82 87.00 85.29 33.91 73.50 25.00 100.89 25.33 83.00 20.33 20.00 20.33 42.00 90.43 50.00 91.25 83.47 90. 2010 Tahun Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota Kab/Kota 2005/2006 2007 2008 2009 Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 20 440 23 28 19 11 10 15 9 11 7 6 6 26 35 5 38 7 9 9 20 14 14 13 14 13 10 23 12 6 5 9 8 9 21 465 23 30 19 11 11 15 10 11 7 7 6 26 35 5 38 7 9 10 20 14 14 13 14 15 11 24 12 6 5 11 8 9 27 483 23 33 19 12 11 15 10 14 7 7 6 26 35 5 38 8 9 10 21 14 14 13 14 15 11 24 12 6 5 11 9 11 29 497 2005 12 17 10 11 7 9 3 10 6 5 5 25 35 5 38 6 9 9 7 7 6 13 12 9 10 21 6 5 1 0 3 4 4 330 2006 2007 2008 2009 % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) 57.00 86.00 100.00 66.00 90.2009 No.43 64.71 100.00 80.29 100.00 64.00 100.00 43.14 100.71 83.00 92.91 85.00 88.00 25.86 100.86 60.00 85.00 33.71 100.22 15.00 40.00 100.86 69.00 37.00 100.00 0.33 42.33 100.00 100.Lampiran 3.00 75.23 90.00 100.00 100.91 100.00 100.75 58. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.00 100.29 77.00 80.43 76.33 83.95 100.00 81.00 91.00 52.00 70.00 15 20 15 11 8 12 9 10 7 4 6 25 35 5 38 6 9 8 5 10 12 13 13 9 9 21 7 5 1 0 6 3 4 361 65.00 92.31 100.50 44.33 100.91 81.00 100.43 85.00 71.00 75.67 100. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.50 22.00 71.96 50.00 100.33 19.00 100.78 100.

60 6.51 2.78 15.89 2.61 163 401 40 46 218 880 226 102 1.425 95 351 1.223 488 50 269 177 20 133 6.12 1.38 0.44 0.46 2.980 277 2.51 10.88 2.25 4.443 209 2. Kemkes RI.54 0.52 3.50 3.28 2.00 4.71 - 178 636 380 216 362 1.67 1.147 416 437 37 423 205 605 473 6.28 18.38 1.371 2.89 0.468 1.24 2.26 8.68 16.79 0.14 1.68 1.67 0 18 1 6 3 0 4 5 3 2 1 0 1 5. 2010 2005 2006 2007 2008 2009 P M CFR P M CFR P M CFR P M CFR P CFR (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (17) 267 145 95 95 148 48 1.05 2.057 104 120 163 66 293 - 7 8 3 3 3 6 11 5 - 1.047 814 217 106 41 584 2.90 1.44 2.28 6.544 5 13 6 12 1 1 45 7 1 7 12 3 6 158 3.194 69 133 486 6 6 1 2 1 0 26 28 13 7 37 2.85 8.88 45 86 11 1.2009 No.84 5.14 13.11 0.00 1.Lampiran 3.48 5.540 0 12 2 1 9 4 1 3 2 1 13 23 18 14 106 0.28 KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DIARE MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .74 .41 390 1.49 0.26 7.98 3.00 1.36 0.023 130 169 1.661 46 1.68 0.756 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.23 1.051 127 2.00 2. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.43 2.53 0.07 3.75 1.

609 528 12.Des Okt Nov .Des Jan -Des Jan .622 24.759 5.Des Jan .045 6.Des - .Nov Feb .742 8.095 1.Des Apr .Des Des Jan .Sept Mei .Lampiran 3. Kemkes RI. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Kasus Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.291 117 2.982 103 814 - 458 - 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.Des Jan .Feb Jan .862 7.Mei Feb.756 0 60 63 181 5.098 276 - - - - - Jan .29 JUMLAH KASUS DEMAM CHIKUNGUNYA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.Juni Okt Jan .355 Periode Kab/Kota Kecamatan Desa/Kelurahan (5) (6) (7) (8) - 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 - 1 7 7 8 7 7 2 17 1 3 - 8 24 25 2 1 1 2 - 12 88 70 2 1 2 6 - 83. 2010 Jumlah Wilayah Terjangkit P M (3) (4) 3.Des Nov .

518 422 1. 2010 Jumlah Daerah Tertular Jumlah Kabupaten/Kota Jumlah Kasus Desa Kecamatan Seluruhnya Terjangkit % GHPR (3) (4) (5) (6) (7) (8) Pemberian VAR Lyssa (9) (10) Jumlah Specimen Hewan Diperiksa Positif (11) (12) 12 26 18 11 10 2 10 1 1 12 1 9 8 10 10 8 13 8 23 8 6 2 2 5 - - - - - 329 2.288 276 - 294 1.274 9 288 264 21.825 3.818 653 502 2.882 629 110 240 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.228 - .859 605 1.Lampiran 3.466 35. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.386 2. Kemkes RI.316 195 1.30 JUMLAH DAERAH TERTULAR RABIES DAN JUMLAH KASUS GIGITAN HEWAN PENULAR RABIES (GHPR) SERTA HASIL PEMERIKSAAN SPECIMEN HEWAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.123 575 1.806 3.237 346 104 173 689 512 805 827 139 215 933 276 - 5 18 14 5 0 9 0 7 1 0 2 28 33 1 0 1 12 4 4 3 5 0 35 8 - 12 39 275 35 40 211 0 7 0 2 0 0 65 0 1 0 0 7 0 0 0 0 534 0 - - 216 - - - - 45.095 0 83 105 18.994 947 284 325 1.061 636 303 1.718 2.

359 104 231 532 255 191 94 74 151 31 53 252 224 5 207 67 18 62 1. 2010 Tahun 2006 2007 2008 2009 (3) (4) (5) (6) 2.359 104 274 532 255 191 94 74 207 31 53 265 395 37 238 67 18 69 1.682 253 225 385 409 30 451 60 208 224 96 70 27 985 1.127 2.2009 No. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.682 232 202 385 409 30 451 60 181 224 92 70 12 355 1.473 11.914 .359 141 274 532 257 210 94 74 207 31 53 404 395 37 219 91 18 71 1. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL.Lampiran 3.132 2.427 11.31 JUMLAH PENDERITA FILARIASIS MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .682 244 226 385 409 30 451 60 208 224 92 70 12 985 1.730 253 225 385 409 30 451 128 201 224 96 70 27 988 1. Kemkes RI.132 2.699 11.359 141 274 532 257 210 94 74 207 31 53 474 412 37 219 76 18 71 1.158 10.

(1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. 2010 Kabupaten/Kota (3) Bandung Boyolali Sleman Pasuruan - Jumlah Spesimen Diperiksa Hasil Spesimen Positif Spesimen Pool Human Rodent Human Rodent Diperiksa Positif (4) (5) (6) (7) (8) (9) 0 0 0 40 - 0 0 0 3.32 SITUASI PES MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.175 0 0 0 0 .Lampiran 3. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. Kemkes RI.175 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 0 0 0 0 - 40 3.

2009 2004 No.08 378 23 6.55 263 16 6. 2010 Keterangan : K= Kasus.Lampiran 3. Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 DKI Jakarta 78 6 8 62 0 0 51 0 0 470 34 7 37 2 5 8 2 25 12 Jawa Barat 7 0 0 0 0 0 0 0 0 9 1 11 0 0 0 0 0 0 13 Jawa Tengah 40 10 25 34 10 29 35 9 26 70 8 11 72 9 13 275 14 5 14 DI Yogyakarta 20 1 5 8 2 25 0 0 0 3 1 33 125 1 1 95 7 7 15 Jawa Timur 3 0 0 1 0 0 1 0 0 65 5 8 29 4 14 0 0 0 16 Banten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 34 3 9 0 0 0 0 0 0 17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 26 Sulawesi Selatan 18 8 44 9 4 44 2 2 100 16 5 31 0 0 0 0 0 0 27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 166 25 15. Kemkes RI.04 138 11 7.33 JUMLAH KASUS.06 114 16 14.08 Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. M= Meninggal . Provinsi (1) (2) 2005 2006 2007 2008 2009 K M CFR K M CFR K M CFR K M CFR K M CFR K M (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) CFR (20) 1 Aceh 0 0 0 0 0 0 49 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Sumatera Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Jambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 Kep. DAN CASE FATALITY RATE (CFR) LEPTOSPIROSIS MENURUT PROVINSI TAHUN 2004 . MENINGGAL.97 667 57 8.

2010 Keterangan : K= Kasus. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PP & PL. Kemkes RI. M= Meninggal 2006 2007 2009 2008 2005-2009 K M K M K M K M K M K M (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 8 3 1 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 2 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 2 0 0 0 0 0 0 0 11 22 3 0 5 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0 0 0 10 18 3 0 3 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 6 0 1 0 0 0 0 8 5 5 0 2 11 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 5 0 1 0 0 0 0 8 4 5 0 1 9 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 7 4 2 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 4 2 0 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 10 6 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 8 6 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 4 8 0 1 0 3 0 0 44 40 12 1 8 30 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 7 1 6 0 1 0 0 0 0 38 34 11 1 5 27 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 20 13 55 45 42 37 24 20 21 19 162 134 .34 JUMLAH KASUS DAN MENINGGAL FLU BURUNG MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .2009 2005 No.Lampiran 3.

07 61.120 1.Lampiran 3.474 7.15 57.35 26.00 100.45 20.08 2.202 12.00 100.00 100.173 1.73 17.90 44.35 JUMLAH KEJADIAN KECELAKAAN LALU LINTAS DAN JUMLAH KORBAN LUKA DAN MENINGGAL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.466 6.213 10.21 61.00 100.00 100.42 27.09 30.07 52.40 42.00 100.97 19.013 444 339 461 226 182 360 492 348 512 252 173 20.00 100.485 2.592 1.661 499 1.00 100.16 - % 406 2.167 20.62 18.77 32.83 17.70 51.367 1.456 561 2.885 1.907 4.448 (6) 22.047 38. 2010 % Jumlah % (7) (8) (9) (10) (11) 27.397 1.00 100.80 52.46 Luka Ringan 1.30 82.00 100.50 80.83 39.10 18.34 21.07 31.75 44.62 14.834 2.44 13.07 35.79 17.929 145 150 - 19.09 27.126 2.00 100.78 39.878 7.244 1.638 1.07 38.050 1.278 218 218 4.313 388 665 1.00 100.00 100.290 821 403 1.69 15.36 18.610 3.735 1.470 297 1.00 100.013 411 409 313 164 524 61.74 71.245 811 1.00 100.04 25.038 1.00 100.28 1.574 617 2.106 4.16 33.28 82.11 17.828 984 1.96 42.00 .44 24.00 100.00 100.00 100.617 1.15 32.111 268 127 - Luka 21.43 44.17 18.571 749 759 415 1.00 100.368 1.341 5.73 36.48 23.61 35.83 39.44 24.00 100.47 46.15 28.022 1.43 44.636 931 709 542 367 1.00 100.15 14.929 14.91 111 85 - Berat 34.499 1.18 26.61 25.00 100.00 100.407 1.20 28.02 28.08 7.69 33.69 45. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jumlah Korban Jumlah Kecelakaan Meninggal % (3) (4) (5) 608 3.00 100.81 42.00 100.035 98 108 - - 257 18.57 12.675 678 495 438 263 765 53.57 30.91 51.147 1.14 31.87 12.34 43.781 717 523 811 1.56 - 1.04 34.159 99.57 2.254 850 1.83 19.134 381 1.035 2.170 2.95 48.580 1.73 69.051 318 203 158 189 - - Sumber: Ditlantas Babankam.27 40.169 203 3.199 4.21 58.07 24.02 26.46 28.47 4.794 792 666 848 987 513 1.167 401 447 - 58.00 100.087 1.61 20.278 12.36 55.69 57.203 1.50 24.687 195 573 456 341 463 289 414 474 355 366 1.210 727 4.951 100. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.10 9.40 10.16 - - - 378 20.697 565 1. Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia.40 118 118 - 22.00 100.96 33.00 100.626 859 5.00 100.

308 75.37 99.33 95.849 64.162 110.01 90.371 24.31 88.02 86.456 65.60 83.75 98.105 58.790 137.52 75 52.505 32.130 108.647 54.69 72.05 93.590 50.455 113.91 77.541 967.226 31.91 91.47 84.80 90.63 63.664 49.833 18.534 4.205 17.51 93.79 93.21 41 87 36.555 26.82 93.28 61.823 55.464 563.213 36.892.25 93.992 95.421 665. Kemenkes RI Jumlah K1 % K1 K4 % K4 Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) (8) 113.496 67.75 48 73.04 69.734 884.11 80.24 100.723 27.215 76.374 90.710 46.489 144.161 54.472 202.257 115.26 87.761 322.807 32.443 632.85 94.889 568.792 1.74 82.708 73.632 81.681 65.01 85.474 176.000 61.517 20.320 185.275 87.979 103.763 611.73 89.49 98.00 75.880 42.76 75.182.35 83.541 67.04 97.80 90.28 98.96 79.637 45.457 19.516 15.766 107.595 180.422 71.07 80.898.612 745.283 15.616 206.875 39.611 20.179 96.38 Ibu Nifas Kunjungan % KF3 Nifas 3 kali (9) 56. K4.594 77.898 638.506 25.320 48.032 42.104 42.845 46.214 176.731 59.658 2.96 85.036 47.032 175.051 5.51 74 101.711 104.663 14.169 77.707.18 85.73 64 67.678 41.08 86.037.158 176.28 93.507 62.67 64 85.878 131.358 (10) 59.079 15.264 22.799 27.23 85.33 57.687 47.678 26.410 145.22 82.09 94.370 89.1 CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL K1.00 94.645 7.24 98.362 271.883 107.096 90.Lampiran 4.59 80.968 566.412 590.73 96.817 40.90 79.804 45.055 290.58 94.423 23.450 174.35 84 94.285 53.36 94.45 67.693 183.238 45.629 171.114 45.359 73.049 72.09 81.592 39.763 61.24 77.039 126.402 103.028 75.170 27.012 4.211 10.402 37.864 109.895 47.845 143.51 88.16 51 63.100 68.946 29.491 24.19 92.127 308.645 43.552 43.11 55.428.235 571.418 155.071 23.03 88.87 83.031 4.39 89.57 93.128.867 153.198 38.30 84.08 96.37 17 66.79 29.788 164.017 163.10 61.488 38.425 28.71 85.838 3.38 39.551 17.25 88.963 29.215 83.900 155.859 26.318 85.02 96.45 100.72 81.452 425.339 624.516 35.412 118.186 26.21 81.793 303.441 33.43 102.64 101.612 990.92 98.927 102.686 140.96 95.68 85.86 84.554 118.480 56.921 4.067 51.053 177.354 139.727 11.032 43.50 92.142 36.520 12.945 77.44 85.652 22.62 62.54 81 76.73 89.239 32.060 99.173 21.54 .31 92.812 Ibu Bersalin Ditolong Nakes % Ditolong Nakes (9) (10) 85.04 84.185 37.533 77.444 25.03 95.58 76 74.757 24.256 18.719 86.769 38.811 409.76 95.947 13.204 16.54 73.91 90.277 158.081 53.58 47 71.90 92.38 75 93.129 175.178 64.097 107.08 80.67 91.240 25.287 605.15 84 70.648 62.75 78.261 221.064 162.179 83.245 50.054 125.11 79.060 49.063 32.36 82.692 61.29 90.59 80.345 24.550 42.36 84.569 168.74 86.07 91.65 57.563 152. DAN PERSALINAN DITOLONG TENAGA KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Ibu Hamil No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.53 85.327 62.02 97.

53 36.88 8.13 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 99 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 99 99 100 0.86 13.86 21.13 0.31 1.99 0.62 0.33 0.91 9.49 1.69 0.61 1.74 0.19 3.34 0.53 14.61 1.16 12.84 15. Statistik Kesejahteraan Rakyat Penolong Waktu Lahir Dokter Bidan Tenaga Medis Lain Dukun Famili (3) (4) (5) (6) (7) Jumlah (8) 8.84 5.39 9.95 13.40 49.86 1.11 0.42 0.45 7.32 11.47 66.00 64.85 55.54 68.51 0.60 10.44 27.41 0.22 47.41 33.52 3.19 62.74 17.59 48.60 35.40 49.79 21.38 0.25 12.84 58.62 62.83 3.07 1.74 2.76 41.44 1.86 0.46 40.14 10.67 0.97 15.32 0.78 42.59 12.64 0.18 0.01 52.94 1.82 0.57 5.93 33.98 6.92 63.25 62.65 35.39 60.86 18.44 16.62 15.40 68.10 23.15 20.20 34.18 49.47 2.15 0.04 1.38 3.44 13.38 9.53 2.60 37.25 0.91 2.31 15.39 27.70 29.71 0.46 35.77 76.22 .27 0.43 0.63 27.26 14.65 3.80 0.00 55.79 5.Lampiran 4.53 0.2 PERSENTASE BALITA MENURUT PENOLONG KELAHIRAN TERAKHIR DAN PROVINSI TAHUN 2009 Perkotaan + Perdesaan No Provinsi (1) 1 (2) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : BPS.71 40.69 36.64 50.11 0.53 32.87 0.08 67.75 65.70 12.78 0.75 31.41 70.29 1.88 23.48 0.40 1.98 16.58 13.83 3.58 50.48 20.59 0.92 1.58 66.47 13.54 0.70 5.28 75.61 0.29 15.53 29.06 12.23 57.40 8.35 30.97 61.24 71.43 61.65 0.51 0.82 100 12.67 8.98 54.06 1.30 0.30 1.89 1.65 0.70 8.51 39.24 0.76 0.08 0.88 15.61 13.48 42.07 6.05 14.

60 82.991 87.344 92.60 73.70 91.819 15.Lampiran 4.344 31.244 299.065 93.70 83.318 273.60 81.70 99.33 28.90 74.161 77.391 37.971 22.747 5.724 54.434 38.98 89.17 99.754 121.60 82.00 30.943 21.30 94.15 86.31 85.157 101.40 83.401 104.01 78.40 85.751 80.20 60.70 35.041 54.741 49.584 42.104 107.858 79.084 133.50 92.50 31.00 92.431 80.953 90.920 44.953 48.661 77.422 7.714 58.972 99.77 80.75 82.101 508.865 23.25 83.687 18.232 43.80 76.391 132.80 23.223 27.058 22. PELAYANAN KESEHATAN BAYI DAN ANAK BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 KUNJUNGAN NEONATUS NO PROVINSI JUMLAH BAYI (1) (2) (3) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.25 21.376 67.00 75.600 69.477 18.505 118.598 696.222 23.80 80.60 92.970 43.524 51.786 269.202 66.442.60 77.71 77.819 53.60 68.576 16.574 48.303 547.00 94.10 83.925 196.278 688.30 99.20 73.73 91.670 43.663 119.310 71.20 93.64 3.667 30.74 .681 170.462 15.57 4.885 170.00 95.91 88.887 38.68 70.201 40.00 90.70 86.362 48.964 152.30 82.857 7.80 33.114 19.85 75.554 65. Kemenkes RI KN1 % KN1 KN LENGKAP %KN LENGKAP (4) (5) (6) (7) 98.763 35.00 30.503 44.098.80 79.90 64.854 150.50 74.040 41.449 130.366 23.3 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATUS.552 563.60 81.752 48.095 27.765 33.986 112.805 78.316 518.807 144.493 14.371 33.946 3.590 22.110 426.90 88.53 66.474 155.619 54.20 75.70 86.10 32.831 153.344 171.50 78.278 5.888 21.380 807.632 14.525 157.153 8.55 73.582.59 68.30 70.842 534.59 90.386 10.015 23.653 87.20 80.

681 27.70 2.659 450.05 82.137 5.198 80.085 75.816 76.40 80.148 57.083.333.578 56.137 Jawa Barat Banten 46 529.22 - 8.571 24 Sulawesi Utara 37.246 155.244 65.808 DKI Jakarta Jawa Timur 62.480 60 331.199 8 Lampung 150.14 268.614.25 1.623 130.876 1.391 48.222.305.963 39.04 4.330 47 86.401 242.92 123.984 7 Bengkulu 33.540 48.031 91.339 68.10 620.933 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 58.507 46.44 28.104 49.124 22.819 125.80 74.667 80.252 811.344 41.946 13.298 73.944 18.417 81.70 312.111 3 Sumatera Barat 104.067 64.000 36 - 27.514 64.829 386.26 224.937 37.62 230.925 54 416.38 388.539 82.131 4 Riau 118.806.99 81.78 125.85 117.117 180.984 31 Maluku Utara 23.45 608.935 29.620 352.20 421.08 344.272 67.072 170.80 200.00 3.061 80.00 60.80 66.484 5 41.549 1.038 21.84 153.219.588 16.552 547.871 79.78 .00 369.013 32.534 38.617 92.358 92.234 9 Kepulauan Bangka Belitung 22.133 26 Sulawesi Selatan 171.79 790.694 207.00 351.097 11 15 85.64 260.602.419 0 (11) - 76.977 65.754 84.085 52.359 100.63 242.071 30 65.80 169.334.00 227.870 32 Papua Barat 18.256 507.943 3.048 66.726 81.761 90 929.554 58.093.136 7.714 90.86 1.11 14.78 5.927 807.338 21 Kalimantan Tengah 42.505 78.524 4.80 579.326 9.124.768 51.567 46.198 172.504 28 Gorontalo 19.24 844.238 22 Kalimantan Selatan 71.222 28.50 232.22 30.676 57.923 18.695 20 Kalimantan Barat 99.166 66.786 76.693 25 Sulawesi Tengah 54.375 105.920 522.672 18 Nusa Tenggara Barat 107.72 2.70 574.23 206.600 73.584 79.00 38.376 - 33 Papua 51.477 5.108.845 77.299 905.417 144.107.515 81.097 36.633 80.589 46 431.115 39.514 71.310 30.851 26.552 70.387 217.68 1.591 79.537 42.840 16.823 67.00 196.704 70. Kemenkes RI 4.00 166.527.197 7.009 46.00 1.304 73 97.407.888 15.844 34.494 23.442.10 110.809 23 42.628 - 52.171.00 3.47 195.972 79.077 70.020 79.56 - 299.206 73.50 389.768 42.587 78.562 42.341 88.136.390 19 Nusa Tenggara Timur 121.40 84.90 20. ANAK BALITA.435.99 3.952 4.324. DAN MURID SD KELAS 1 DAN SEDERAJAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO PROVINSI JUMLAH BAYI (1) (2) (3) 1 Aceh 2 Sumatera Utara CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI JUMLAH % (4) (5) JUMLAH ANAK BALITA (6) CAKUPAN PELAYANAN JUMLAH MURID CAKUPAN PELAYANAN MURID SD KELAS SATU KESEHATAN ANAK BALITA SD KELAS SATU JUMLAH % JUMLAH % (7) (8) (9) (10) 98.60 1.935 81 86.965 14 DI Yogyakarta 44.802.4 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI.867 13 Jawa Tengah 563.017 64.73 122.807 47.867 92.380 196.902.00 140.31 300.110 243.00 364.776 75.96 411.86 244.471 - 37.60 116.937 10 Kepulauan Riau 38.141 30 Maluku 33.Lampiran 4.42 1.780 821.909 115.661 Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.114 40.513 48.91 804.471 30 178.854 23.50 470.041 29.154 54.94 132.455 161.00 1.50 2.594 275.44 207.028 138.779.649 17 Bali 49.556 191.40 426.555 - 66 30.900 12 16 - 1.121.81 101.495 27.124 78.52 216.926 38.571 22 88.250 82.20 45.463 72.816 137.371 119.36 184.765 14.00 86.745 169.526 65.508.234 23 Kalimantan Timur 65.434 15.83 432.352 29 Sulawesi Barat 21.00 140.493 36.160 99.682 320.778 27 Sulawesi Tenggara 53.590 120.001 654.303 39.912 45.845 10.741 38.00 363.106 84.

701 5.39 39.741 49.732 22.238 5.98 24.988 554 4.2 5.4 33.524 51.117 6.661 16.94 4.749 5.670 4.390 3.1 8.0 14.32 41.582 42.065 2.0 31.422 812 1.104 1.9 21.163 18.710 8.8 11.888 21.299 13.142 2.910 15.434 38.593 23.0 44.527 18.442.656 5.354 112.563 792 4.958 207.754 121.779 7.626 21.913 4.802 25.696 11.7 13.165 39.4 8.016 10.031 1.972 99.35 45.50 .073 2.925 196.144 15.3 30.041 54.380 807.693 6.034 15.34 32.133 84.809 5.6 12.371 33.406 8.68 44.443 16.807 144.39 27.445 3.707 15.67 13.0 33.104 107.522 2.8 10.489 126.4 4.084 133.33 52.8 76.481 7.911 1.946 666.27 12.983 3.490 34.85 33.61 51.511 23.2 29.122 8.661 14.34 44.265 4.310 71.210 11.401 104.140 13.30 24.036.68 41.681 170.16 21.162 10.33 50.2 32.477 18.260 638 3.898 1.5 24.498 7.347 10.621 11.363 48.Lampiran 4.621 3.737 44.815 9.938 6.31 49.821 21.926 5.078 22.464 37.634 5.77 63.518 10.2 20.645 82.3 0.552 563.517 2.76 13.0 29.206 4.296 14.051 3.897 2.846 1.737 271 119 843 164 14 225 625 39.344 171.6 6.65 6.303 547.505 118.849 6.556 8.77 34.211 4.222 23.676 17.879 215 1.60 13.5 CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL DAN OBSTETRI KOMPLIKASI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PROVINSI JUMLAH BAYI NEONATAL KOMPLIKASI (2) (3) (4) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Binkesmas.1 22.75 22.819 53.584 42.983 3.5 58.941 4.012 9.318 1.854 150.0 30.967 2.123 41.733 9.682 781 2.854 27.442 158.114 19.807 8.391 37.21 22.554 65.918 17.403 8.82 23.685 5.181 2.152 25.585 440.244 299.8 3.773 7.558 3.366 16.478 52.589 3.8 1.920 44. Kemenkes RI CAKUPAN PENANGANAN NEONATAL KOMPLIKASI JUMLAH % (5) (6) OBSTETRI KOMPLIKASI (4) CAKUPAN PENANGANAN OBSTETRI KOMPLIKASI JUMLAH % (5) (6) 98.8 26.5 63.86 32.082 29.381 1.714 58.451 23.82 42.1 27.108 12.56 18.189 29.752 64.613 10.42 12.5 3.01 84.765 33.557 121.743 13.682 23.511 7.7 6.319 36.0 25.939 36.588 6.30 72.656 86.365 5.760 5.590 22.

61 80.668 993.614 71.819 688.62 18.85 74.098 6.52 27.36 33.099 1.15 9.961 106.30 82.20 29.025 549.480 1.895 37.12 16.080.793 1.77 23.311 198.667 17.371 493.65 75.724 117.664 35.148.057.71 75.882 198.471 386.451.66 73.910.27 76.791 490.402 352.669.264.55 558.030 1.166 132.488.88 71.313 7.02 77.628 43.6 JUMLAH DAN PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : BKKBN.91 18.832 547.487.030.61 18.50 70.75 69.354 306.25 22.093 57.74 15.228 1.15 28.666 138.836.377 139.28 78.487 787.352 72.486 592.642 119.731 726.706 164.218 46.70 .78 23.772 75.55 70.813 37.072.15 17.367 8.560 77.04 81.35 66.216 452.286 784.51 75. 2010 Peserta KB Baru Jumlah PUS (3) Peserta KB Aktif Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) 742.737 66.580 432.36 64.297 315.92 55.735 63.26 13.073 554.204 128.876 1.13 69.538 642.600 37.404.073 419.606.301 339.31 71.62 80.416 24.745.581 39.43 79.659 2.935 182.86 13.214 20.045 92.968 915.040 1.003 474.366 1.53 81.230 39.467 215.273.32 17.58 33.997 284.88 23.678.45 77.526.525 369.995.675 75.14 85.05 15.075.30 16.346 287.366 261.84 18.504 50.076 910.99 74.80 24.266 1.006 392.024 5.62 20.211.348 638.86 43.731 62.63 21.501 311.271 166.05 9.85 48.959 653.12 16.75 17.41 29.462 418.203 551.13 17.345 424.19 67.396 367.437 1.778 6.684 1.67 85.480 305.Lampiran 4.707 165.960 157.328 368.359 882.32 78.87 59.287 5.34 20.445 162.224 391.787 179.64 70.182 575.892 7.728 584.538 101.60 9.933 89.916 455.84 71.

81 2.464 9.21 322 0.382 4.003 5.75 138.960 37.08 101 0.45 16.916 0.38 26.23 64 0.38 13 Jawa Tengah 32.781 33.03 17.34 112.060 32.045 24 Sulawesi Utara 3.26 12.53 2.94 10.16 41.48 158.009 30.462 7.577 4.552 25.51 162.80 1.06 106.024 15 Jawa Timur 52.7 HASIL PELAYANAN PESERTA KB BARU MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) IUD Metode Kon trasepsi Kondom Implan Jumlah % Jumlah MOP MOW Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (11) 1.07 5.26 66.26 8.03 103.898 5.338 59.37 29.13 20.72 991 0.267 2.079 7.472 9 Kepulauan Bangka Belitung 589 1.49 37.062 15.299 1.058 0.50 51 0.927 13.39 1.422 40.133 2.030.522 34.20 16 0.243 38.377 16.828 38.65 6 Sumatera Selatan 3.310 11.34 127.33 5.63 28.16 1.21 25.17 73 0.28 57.036 3.87 150.25 3.764 51.14 34.953 5.13 26.731 30 Maluku 823 1.21 20.402 0.910 36.28 181 0.464 31.13 10.146 28.793 15.33 7.03 64.10 101.504 17.230 Sulawesi Barat 407 1.86 25.482 (10) 16.113 8.362 44.735 9.12 453 0.45 92.602 5.088 5.675 3.701 3.Lampiran 4.63 97 0.91 6.15 659 0.876 5.072 52.65 9.142 44.70 558.31 452 0.150 16.718 2.27 16.21 668.43 15.528 46.18 1.33 68.60 80.18 115.37 2.88 41.813 7 Bengkulu 2.06 5.08 3.246 25.39 8.55 46.294 19. 2010 .700 12 Jawa Barat 107.469 8.03 354 0.652 30.70 5.416 334.25 71.36 119.678.186 2.19 13.634 30.538 8.05 56.684 7.463 9.58 368.430 37.216 0.06 4.19 8.417 59.02 537.383 30.03 882.99 20.328 1.625 7.600 31 Maluku Utara 595 1.135 4.642 10.075 47.85 63.62 112 0.214 32 Papua Barat 256 1.40 11 DKI Jakarta 27.94 2.17 8.25 7.451.33 5.39 11 10 Kepulauan Riau 1.036 3.78 16.26 27.961 19 Nusa Tenggara Timur 5.811 36.11 10.87 242 0.54 57.81 7.51 352.082 8.51 79.401 0.323 8.62 12.26 54.66 43.87 441.289 3.300 4.485 50.34 43.15 21.328 26.059 7.14 13.62 191 0.863 38.13 26.112 2.47 5.469 48.081 5.80 624 1.999 11.61 38.614 21 Kalimantan Tengah 440 0.693 6.777 11.137 6.71 155 0.430 6.583 23.356 0.23 85.84 34.941 6.574 6.905 0.18 13.05 809 0.295 0.147 4.707 Nusa Tenggara Barat 6.204 22 Kalimantan Selatan 1.91 2.226 13.012 34.560 25 Sulawesi Tengah 2.940 7.672 5.94 46.667 Indonesia Sumber: BKKBN.71 5.92 72.70 176.39 961 1.89 168.17 525 1.21 10.087 7.25 46.03 4.182 32.980 40.57 2.052 16.671 51.487 9.185 43.87 139.72 68 0.307 27.218 0.73 1.093 39 0.09 10.40 11.416 10.587 2.43 18.706 Suntikan Jumlah % % (12) (13) (14) Pil Jumlah % (15) (16) Total (17) 1.01 Sumatera Utara 17.643 11.484 7.26 65.48 733 0.24 10.62 255 0.73 100.31 41 0.37 6.674 1.27 128.991 30.757 13.481 44.22 45.819 52.03 9.733 41.03 15.89 89.500 42.36 52 0.07 8 Lampung 9.35 777 0.26 230 0.895 2.02 130 0.98 424.939 4.063 1.345 9.99 175.73 74 0.10 19.83 197 0.281 8.55 752.481 1.09 6.42 425 0.835 1.481 15.05 2.09 107.666 20 Kalimantan Barat 1.874 27.07 12.44 18.20 2.16 52.208 16 Banten 17 Bali 18 1 Aceh 2 3 29.45 22.596 7.208 11.47 1.010 53.92 233.64 1.354 306.96 165.40 1.08 18.441 27.319 18.719 7.35 78.174 0.704 5.646 32.66 153 0.352 27 Sulawesi Tenggara 28 Gorontalo 29 819 1.33 50 0.13 67.17 28.27 3.990 1.274 17.854.703 27.066 12.590 3.16 7.337 0.510 0.378 7.377 10.88 809 0.746 6.339 33.839 1.82 1.809 2.97 77.612 3.994 15.150 60.75 512 0.20 5.44 853 0.813 33 Papua 298 0.71 37.593 4.072 44.502 33.44 2.48 25.50 617.500 33.06 10.36 1.716 50.70 211 0.652 4.03 100.44 27.501 26 Sulawesi Selatan 4.931 7.60 233 0.45 23.748 4.342 18.933 23 Kalimantan Timur 3.570 19.158 10.70 14 DI Yogyakarta 9.618 17.52 14.93 62.470 0.854 1.359 17.863 12.445 10.579 22.26 3.86 213 0.74 26.299 45.39 4.990 15.77 61.554 36.51 119 0.71 180 0.35 12.06 191.07 14.88 814 0.091 45.67 1.040 7.21 97.31 452.57 39.74 1.74 33.56 179.919 12.50 2.31 54.725 37.170 48.66 63.54 5 Jambi 2.362 3.29 8.23 Sumatera Barat 6.723 28.016 3.16 740 0.01 148.66 226 0.33 311.112 62.349 15.016 42.82 9.18 40.990 45.14 50.297 2.194 24.02 7.43 355 0.243 24.180 1.739 29.67 24 0.53 5.37 85.05 4 Riau 3.68 37.052 51.169.11 11.96 1.

61 22.143 13.67 139.028 40.066 35.456 2.76 92.77 63.487 455.905 11.324 3.170 36.75 26 Sulawesi Selatan 1.14 81.496 46.55 19.58 57.071 39.18 16.51 3.71 5.12 76.52 159.354 1.325.164.41 14.29 9.69 260.14 7 Bengkulu 369.838 2.61 2.264 5.179 7.257 1.52 229.97 130.09 232 0.166 81.772 75.09 549.575 22.025 5.365 5.192 0.41 66.56 28 Gorontalo 198.119 3.311 70.063 12.606.21 1.487.884 29.23 14.77 7.017 12.148.05 4.659 558.633 7.68 34.581 75.811 2.71 16 Banten 24.594 49.675 33.927 0.69 4.083 1.10 23.916 69.787 132.88 394.50 20.39 149.25 54.172 0.11 20.221 36.37 76.11 8.757 3.37 102.083 47.896 5.50 303.967 5.255 0.896 13.02 31.13 5.02 445.58 4.43 7.35 27.07 73.400 23.168 1.580 3.731 7.648 46.72 384.54 16.650 29.507 0.059 26.452 1.71 488.88 57.737 198.93 140.437 75.806 55.404.745.304 8.788 6.45 1.88 9.81 149.462 13.56 2.53 61.128 5.76 4.67 22 Kalimantan Selatan 726.45 33.34 12.749 3.45 6.836.83 19.62 43.378 0.67 231.222 6.09 477.91 10 Kepulauan Riau 14 DI Yogyakarta 1.55 16.486 493.42 8 Lampung 1.021 0.724 79.016 49.88 160.94 55.12 6.098 6.30 11.684 7.81 420 0.423 3.23 7.662 43.73 19.995.84 19.14 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Sumber : BKKBN.830 1.13 65.894 10.526.049 5.72 7.649 0.65 109.367 993.69 24.94 1.14 251.718 6.462 75.10 134.580 78.834.437 26.598 391.79 2.741 3.79 3.271 157.70 30.663 0.30 8.12 66.479 40.500 8.61 .301 71.733 5.753 8.369 6.791 1.855 1.317 10.566 34.653 1.771 3.103 5.70 140 0.564 4.37 59.340 1.50 53.74 5.278 5.14 45.08 6 Sumatera Selatan 1.25 458 0.264.82 304.381 0.24 194.089 1.42 4.105 1.Lampiran 4.366 117.73 41.55 118.06 3.15 2.53 142.60 71.33 1.35 299.982 8.03 685.48 10.728 551.525 1.83 1.50 47.75 73.36 111.85 39.04 211.86 20 Kalimantan Barat 787.668 64.875 2.480 70.35 174.66 142.063 2.766 52.23 17.018 9.72 18 Nusa Tenggara Barat 915.31 77.30 186.208 1.286 1.829 6.040 80.628 39.28 8.02 7.229 2.87 4.919 39.532 0.578 36.482 12.99 40.36 5.383 19.13 21.44 22.075.853 9.506 42.844 41.791 339.27 123.93 224 0.613 42.03 40.49 1.925 1.386 1.978 14.36 16.995 48.79 62.882 287.87 198.31 5 Jambi 592.080.682 34.59 334.467 1.21 10.70 3.86 3.520 41.01 83 0.20 65.71 4 Riau 688.22 569 0.49 47.50 13.75 113.34 7.72 149.768 11.136 3.836 10.127 10.47 14.297 77.10 8.057.20 7.94 619 0.480 367.05 1.61 221.76 17.780 9.073 418.997 164.863 8.759 1.476 13.731 305.714 16.82 27 Sulawesi Tenggara 386.939 4.80 317. 2010 43.19 8.39 6.012 2.030 5.13 9.299 0.70 13.882 14.67 261.003 71.517 46.695 34.18 110.78 6.367 1.86 103 0.77 115 0.608 49.525 12.75 80.031 11.72 24 Sulawesi Utara 419.48 329 0.778 82.182 67.243.093 5.21 21.935 76.986 1.07 9.054 36.364 6.31 53.68 15 Jawa Timur 7.32 445.996 4.40 9.25 87.46 144.123 1.07 20.676 22.534 3.689 11.645 1.610.108 0.145 2.211.341 4.722 1.61 33.495 33.006 0.44 464.48 15.10 3.221 42.838 2.43 54.485 9.540 26.400 2.40 8.47 196.19 16.173 41.782 1.348 85.272 30.227 35.210 43.59 3 Sumatera Barat 784.38 50.80 868.216 6.968 547.752 21.786 12.811 4.95 39.024 78.88 20.287 81.02 7.993 55.684 85.355 7.366 474.14 1.8 JUMLAH DAN PERSENTASE PESERTA KB AKTIF MENURUT METODE KONTRASEPSI DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Jumlah PUS (3) Peserta KB Aktif IUD Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) MOW Jumlah (8) MOP % Jumlah % (9) (10) (11) Metode Kontrasepsi Kondom Implan Jumlah % Jumlah % (12) (13) (14) Suntikan Jumlah % (15) (16) (17) Pil Jumlah % (18) (19) 742.09 1.67 409 0.832 66.89 137.26 67.26 389.413 7.471 910.48 4.64 55.605 9.224 3.94 9 Kepulauan Bangka Belitung 215.616.892 33.38 34.305 49.74 38.224 35.552 41.591 38.61 10.72 319.45 13 Jawa Tengah 6.368 1.819 575.551 7.35 845.664 59.891 55.701 1.648 33.94 57.959 638.959 2.622 2.266 75.00 19 Nusa Tenggara Timur 653.35 326.706 70.030 0.208 13.375 25.700 0.45 31.13 25 Sulawesi Tengah 490.33 2.228 315.371 73.90 284.03 872 0.91 43.964 1.280 38.81 171.28 374.239 17.44 3.718 8.77 293.339 3.33 1.882 44.840 3.454 45.910.36 1.476 1.622 5.746 3.85 4.504 37.701 4.122 2.901 25.59 4.669.44 196.10 2.27 23 Kalimantan Timur 584.313 432.363 53.28 756.284 45.13 262.164 5.591 1.742 2.406 4.099 182.416 38.795.99 372 0.26 23.170 1.748 11.346 71.04 52.12 4.212 17.44 5.98 22.63 2.65 21 Kalimantan Tengah 392.53 1.339.51 34.960 74.724 10.14 436 0.519 49.87 236.11 30 Maluku 261.715 8.34 209.488.720 0.82 283.072 0.61 42.203 77.538 1.805 34.273.99 11 DKI Jakarta 1.869 2.09 485.073 69.076 74.38 2.09 6.44 98.36 2.739 2.88 1.31 9.021 2.322 1.90 15.12 40.56 1.19 11.313 32.273 12.38 84.164 2.264 17 Bali 642.147 2.396 80.863 27.33 307 0.796 50.10 113.960 3.274 1.52 Sumatera Utara 2.113 46.54 14.69 711.459 3.006 554.072.32 12 Jawa Barat 8.567 40.867 6.31 34.87 7.833.67 29 Sulawesi Barat 166.850.

19 3.16 4.9 JUMLAH DAN PROPORSI PESERTA KB BARU MENURUT TEMPAT PELAYANAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Klinik KB No Provinsi (1) (2) Pemerintah Peserta % (3) Swasta Peserta (4) (5) Dokter Praktik Swasta Bidan Praktik Swasta % Peserta % Peserta % Peserta Jumlah % (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Aceh 126.584 29.381 3.00 21 Kalimantan Tengah 53.982 48.97 3.707 100.876 100.48 38.303 55.54 3.00 178.29 849 1.771 1.00 4.06 361.00 2 Sumatera Utara 273.96 1.862 2.793 100.24 139.65 7.107 1.72 128.76 45 0.73 6.024 62.24 25.435 3.18 573 1.34 101.036 3.51 452.53 19 Nusa Tenggara Timur 104.00 29 Sulawesi Barat 34.89 89. 2010 .564 0.12 2.32 50.41 4.104 4.416 100.421 3.590 89.22 1.04 2.061 0.443 3.88 31.185 37.630 2.19 471.18 43.235 72.29 20.94 37.678 67.760 30.942 82.00 100.38 4.00 32 Papua Barat 18.098 92.64 1.75 3.97 31.131 6.989 37.377 100.508 2.32 34.540 75.282 90.47 6.82 3.185 3.00 23 Kalimantan Timur 51.16 27.34 30.119 1.577 9.36 1.36 8.43 4.18 83 0.00 14 DI Yogyakarta 18.00 4 Riau 94.699 4.13 12.614 100.268 34.73 2.316 28.276.76 1.23 18.452 3.00 Indonesia Sumber: BKKBN.736 32.868 6.00 3 Sumatera Barat 93.935 3.569 31.538 100.98 93.163 87.204 100.98 92.00 8 Lampung 268.00 100.972 4.60 393 0.530 4.00 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 80.19 137.80 1.33 3.05 939 1.392 71.22 573 2.364 8.961 100.747 11.214 100.71 54.11 1.57 400 0.24 9.045 100.96 1.58 3.00 3.597 4.975 2.65 71.093 10 Kepulauan Riau 27.00 26 Sulawesi Selatan 268.359 100.89 374.84 19.352 100.87 37.652 38.901 31.639 32.856 6.00 12 Jawa Barat 846.121 97.26 77.818 58.271 1.47 98.179 14.81 352.116 51.82 14.71 12.73 1.216 100.504 100.60 26.64 1.568 17.636 3.445 100.930 5.859 74.00 33 Papua 27.678.303 57.50 1.15 10.00 15 Jawa Timur 610.581 5.352 100.989 30.16 306.31 6.142 65.70 18.19 36.00 24.13 138.298 25.345 100.80 36.787 26.665 100.47 1.00 13 Jawa Tengah 457.89 2.345 21.51 39.133 86.833.46 8.895 28 Gorontalo 31.028 83.402 100.699 9.27 2.24 708 0.030.308 19.065 34.52 106.60 228 0.728 64.71 368.64 165.096 1.00 24 Sulawesi Utara 59.228 21.66 57.182 0.507 92.935 5.68 209.805 4.984 61.938 11.39 504 0.319 33.218 100.03 1.32 8.838 2.032 9.456 1.388 1.00 31 Maluku Utara 34.627 45.79 7.00 22 Kalimantan Selatan 84.515 2.61 416 0.51 19.79 22.666 100.296 70.597 58.74 35.933 100.47 101.550 44.53 1.00 30 Maluku 51.94 359.00 25 Sulawesi Tengah 70.41 63.70 2.56 41.60 162.Lampiran 4.177 10.96 56.34 1.560 100.199 2.75 20.709 10.00 11 DKI Jakarta 136.666 64.451.26 2.600 100.00 7 Bengkulu 71.00 4.813 100.98 5.717 1.471 10.00 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 148.627 2.98 882.501 100.75 6.81 1.009 5.96 424.69 1.630 36.00 27 Sulawesi Tenggara 67.631 3.00 304.722 2.00 20 Kalimantan Barat 84.938 32.930 59.34 62.86 311.653 40.681 7.19 3.652 1.731 100.735 100.37 40.967 2.50 1.404 59.090 4.354 5.92 151 0.937 17.230 100.642 100.565 2.163 66.770 58.88 37.00 9 Kepulauan Bangka Belitung 29.958 3.47 30.640 87.852 6.328 100.439 3.27 3.97 161.083 1.49 14.19 763 1.75 119.26 179.091 70.625 1.73 15.50 72.73 45.41 46.

86 8.21 1.55 3 Sumatera Barat 3.247 1.103 2.15 1.77 1.55 5.419 72.86 1.968 69.813 1.86 8 Lampung 2.546 1.60 5.15 1.52 438 432 98.466 81.978 4.61 27 Sulawesi Tenggara 1.199 5.98 267 267 12 Jawa Barat 5.405 82.329 1.75 19 Nusa Tenggara Timur 2.389 885 63.097 72.377 70.53 967 476 49.097 70.14 75.479 1.64 8.96 2.114 76.11 1.325 1.30 3.61 28 Gorontalo 493 250 50.520 1.54 1.012 2.73 606 399 65.456 1.444 37.080 67.97 2 Sumatera Utara 5.2009 No Provinsi (1) (2) Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Jumlah Desa Desa UCI % Jumlah Desa Desa UCI % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Desa Desa UCI (9) (10) % (11) 1 Aceh 6.40 6.10 PENCAPAIAN DESA/KELURAHANUNIVERSAL CHILD IMMUNIZATION (UCI) MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 .82 282 234 82.72 438 414 94.065 85.51 1.96 3.435 1.43 24 Sulawesi Utara 1.23 1.745 2.18 1.95 1.359 5.171 75.883 87.189 69.310 1.559 7.772 4.603 1.710 1.754 80.80 6.42 2.877 4.858 1.380 2.273 72.75 78.271 1.22 967 499 51.965 1.94 5 Jambi 1.436 2.095 86.898 2.045 71.941 2.42 22 Kalimantan Selatan 1.155 1.569 7.559 82.443 67.361 503 21.92 543 196 36.35 1.269 64.930 51.505 6.369 82.78 2.069 572 53.47 7 Bengkulu 1.643 4.88 1.83 8.42 95.962 1.057 69.60 897 823 91.116 83.28 3.277 65.43 8.459 83.560 7.11 1.297 67.082 71.481 881 59.284 4 Riau 1.492 6.841 28.14 14 DI Yogyakarta 438 428 97.25 44.97 6 Sumatera Selatan 2.606 874 54.461 1.433 86.58 18 Nusa Tenggara Barat 803 700 87.73 346 311 89.989 768 38.272 73.38 2.096 76.642 935 56.84 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Sumber : Ditjen PP & PL.167 83.00 62.76 .51 893 579 64.71 1.370 81.048 726 69.012 68.48 317 222 70.175 76.054 79.504 875 58.69 3.49 20 Kalimantan Barat 1.53 26 Sulawesi Selatan 2.27 1.079 70.223 76.483 1.591 1.866 2.252 1.939 1. Kemenkes RI 496 74 14.194 78.68 1.417 828 58.437 3.316 85.345 1.813 2.00 707 705 99.305 83.14 71.96 25 Sulawesi Tengah 1.88 10 Kepulauan Riau 291 176 60.008 9 Kepulauan Bangka Belitung 321 269 83.295 926 71.919 2.89 13 Jawa Tengah 8.893 66.085 76.69 683 98 14.21 1.72 1.27 1.958 1.38 1.41 2.63 15 Jawa Timur 6.886 92.67 5.161 21 Kalimantan Tengah 1.318 84.Lampiran 4.17 885 793 89.06 1.000 3.84 827 451 54.454 986 67.933 65.253 265 21.559 1.81 17 Bali 702 702 100.44 2.127 2.55 1.29 1.10 558 235 42.67 100.221 448 36.689 69.392 54.828 3.508 1.66 2.72 715 712 99.082 717 66.709 1.80 339 294 86.842 80.45 16 Banten 1.49 1.60 1.00 11 DKI Jakarta 282 211 74.155 54.71 601 371 61.76 6.221 74.106 82.75 1.606 89.410 1.634 1.87 3.150 69.380 782 23.33 23 Kalimantan Timur 1.511 65.03 333 222 66.

034 91.40 45.88 31.50 49.937 24.038 100.533 72.16 195.38 30 Maluku 36.07 23.135 93.307 92.517 83.282 101.53 230.329 103.65 20.85 164.489 71.705.790 111.04 168.80 88.627 86.648 89.63 167.94 599.757 57.046 96.46 117.754 99.12 220.98 6.66 4 Riau 137.15 44. Kemenkes RI.84 4.54 62.86 46.45 38.70 62.395 86.40 19 Nusa Tenggara Timur 127.82 64.743 85.39 63.20 222.053 877.92 24.46 34.640 99.57 86.510 94.176 80.950 97.19 166.34 101.020 9.898 113.36 102.78 17 Bali 61.663 95.581 78.09 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.791 73.561 74.597 31.95 35.604.19 117.020 93.81 2.78 196.995 91.09 4.582.81 105.03 80.26 3 Sumatera Barat 106.50 44.904 99.429 37.679 98.60 36.08 24.134 102.804 589.102 98.359 96.994 102.20 7.41 39.42 582.402 46.944 219.05 26 Sulawesi Selatan 168.62 35.93 289.119 90.660 23.773 93.60 46.931 44.69 172.48 873.820 91.399 102.82 12 Jawa Barat 931.861 24.67 45.192 93.702 97.00 118.405 28.96 857.374 91.221 95.058 85.020 95.981 21.406 80.408 91.94 86.933 99.70 24.747 91.212 62.08 117.09 868.106 96.99 94.464 83.41 52.951 95.481 13.948 91.64 36.68 80.370 64.11 40.943 96.157 93.76 31 Maluku Utara 23.86 14.89 49.61 28 Gorontalo 25.19 40.86 21. 2010 .138 96.107 93.72 292.934 92.23 532.148 89.378 100.421 39.74 22 Kalimantan Selatan 71.662 92.873 98.35 90.899 77.165 71.012 103.879 93.462.33 23.737 83.619 82.313 93.317 93.82 613.882 122.736 94.87 100.172 99.998 92.681 89.846.128 88.51 161.13 558.57 5.643 89.98 97.487 72.530.88 572.235 81.79 18 Nusa Tenggara Barat 105.890 51.987.73 42.80 621.93 36.536 165.88 49.974 96.74 25.948 80.59 89.668 94.63 11.429 80.233 101.98 40.581 88.038 95.148 88.219 93.15 20.36 40.06 44.20 68.95 24.06 11.098 93.480 102.64 33 Papua 49.84 4.91 162.56 4.667 90.87 16 Banten 206.853 96.11 CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO PROVINSI (1) (2) SASARAN (3) BCG DPT/HB(1) JUMLAH % HB0 JUMLAH % (4) (5) JUMLAH % (6) (7) (8) (9) IMUNISASI PADA BAYI POLIO1 DPT/HB(3) JUMLAH % JUMLAH % (10) (11) (12) (13) POLIO3 JUMLAH % (14) (15) POLIO4 JUMLAH % (16) (17) CAMPAK JUMLAH % (18) (19) 1 Aceh 105.170 20.972 76.607 84.92 38.127 87.984 96.77 14.333 95.971 98.26 117.39 102.64 44.885 96.067 97.66 69.325 100.554 97.50 25 Sulawesi Tengah 53.46 4.183 98.01 32 Papua Barat 20.86 119.706 85.40 19.434 95.110 116.27 71.80 33.56 605.065 91.706 93.75 93.49 11.408 94.202 95.99 68.527 40.408 89.11 6.00 37.64 4.36 69.279 76.104 26.156 94.21 574.916 50.261 90.19 96.550 102.908 89.80 38.86 80.242 10 Kepulauan Riau 38.23 291.242 92.48 34.67 23.43 20.01 31.11 572.80 47.82 212.25 119.826 42.234 94.63 160.33 61.978 88.36 28.55 311.036 89.308 26.143 99.99 197.19 54.565 88.26 20.663 95.68 54.20 598.753 97.16 104.12 35.792 98.13 21 Kalimantan Tengah 52.08 24 Sulawesi Utara 45.440 119.605 79.075 42.30 95.60 27.75 33.869 102.169 93.01 20.21 64.48 4.569 102.449 87.57 156.74 215.72 61.813 90.647 83.28 29 Sulawesi Barat 24.986 96.905 101.868 32.83 45.321 116.607 77.988 80.607 90.83 116.23 171.37 874.72 64.02 105.95 47.789.943 89.78 925.85 81.480 72.676 76.40 13.176 87.763 93.305 86.99 157.672 43.22 86.30 39.238 82.305 70.532 81.77 19.59 112.38 11.872 37.929 103.97 24.480.567 84.31 32.93 102.00 22.031 48.437 61.201 31.849 93.02 286.89 24.566 165.351 76.349 70.78 15 Jawa Timur 605.990 85.35 49.05 26.534 50.76 61.41 26.188 93.982 102.732 58.46 159.35 83.25 13 Jawa Tengah 577.39 23.149 62.66 49.204 53.66 49.966 97.552 79.292 95.131 82.22 14.98 110.39 47.41 97.281 200.313 4.Lampiran 4.274 101.500 70.10 38.00 2.191 95.821 80.066 66.360 89.84 25.59 45.604 39.676 48.183 97.218 91.89 84.03 594.95 15.91 31.03 73.144 93.921 96.03 70.377 51.28 147.965 88.120 88.535 70.298 77.031 96.09 11 DKI Jakarta 188.75 147.30 303.12 150.00 19.74 73.601 99.778 85.163 85.72 73.49 214.697 100.66 27 Sulawesi Tenggara 53.067 99.16 37.18 85.95 23.60 23.397 91.789 91.137 292.08 89.431 61.23 159.397 56.459 86.960 607.086 90.219 62.661 97.62 12.18 69.27 39.96 139.670 88.07 19.47 67.980 58.00 230.70 907.959 100.627 85.28 40.95 208.870 92.512 69.875 81.30 94.528 93.762 83.908 100.51 20.04 144.925 85.004 34.429 92.795 93.494 49.812 100.04 505.25 9 Kepulauan Bangka Belitung 24.46 69.23 23 Kalimantan Timur 77.042 99.868 57.06 47.33 20 Kalimantan Barat 99.733 122.95 60.71 36.186 99.937 97.393 8 Lampung 173.199 92.443 65.114 92.753 78.603 89.336 97.97 21.395 91.97 201.618 89.70 22.34 101.453 89.599 92.379 91.555 18.480 97.386 90.943 91.693 96.758 82.627 94.906 84.51 85.45 171.23 51.297 89.723 83.66 14 DI Yogyakarta 43.062 69.51 38.822 92.87 101.78 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 40.06 67.201 86.888 67.611 98.677 99.969 96.005 74.487 19.83 589.907 96.513 96.040 97.914 94.940 15.02 23.25 134.05 84.71 37.143 87.733 140.91 60.343 97.826 73.025 107.060 117.796 95.87 586.636 102.677 97.434 88.37 72.060 113.15 34.844 85.02 143.761 68.121 86.74 97.207 93.20 2 Sumatera Utara 325.005 112.467 92.27 50.

1 27 Sulawesi Tenggara 4.5) 9.0 4.3 3.2 17.1 18 Nusa Tenggara Barat 3.8 3.0 7.Lampiran 4.3 16 Banten 15.CAMPAK PADA BAYI MENURUT PROVINSI TAHUN 2006 .0 9.8 6.8 3.7 4.4 9.2 4.4 5.0) 15 Jawa Timur 4.4 4.8 (1.5 4.12 DROP OUT RATE CAKUPAN IMUNISASI DPT1 .8 2.2009 NO PROVINSI (1) (2) 1 Aceh 2 3 TAHUN 2006 2007 2008 (3) (4) (5) 2009 (6) 10.1 8.6 13.0 0.2 13.2 6.1 8 Lampung - (1.2 5.7 11.2 20 Kalimantan Barat 8.9 4 Riau 2.3 13 Jawa Tengah 4.8 9.3 25 Sulawesi Tengah 9.8 7.4 7.5 22 Kalimantan Selatan 8.3 4.2 6.9 4.8) (0.3 21 Kalimantan Tengah 1.8 11.1 5.2 Sumatera Utara - 1.1 6. 2010 .3 10.8 19.3 6.2 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.4 (0.1 5.2 7.8 6.5 28 Gorontalo 11.3 33 Papua - 21.0 6.8 7.6 8.9 10 Kepulauan Riau - 10.0 3.3 5.1 13.3 Sumatera Barat 9. Kemenkes RI.3 32 Papua Barat 7.7 5.5 11 DKI Jakarta 23.4 5.6 4.0 26 Sulawesi Selatan 8.9 4.4 6.8) (1.7 23 Kalimantan Timur 7.8 4.8 7.7 21.8 12.2 7.3 7.6 15.7 9.0 3.8 5.2 17 Bali 8.6 19.7 4.2 30 Maluku 5.1 2.4 7.6 13.9 15.2 14 DI Yogyakarta 0.5 4.7 3.1 1.1) 2.6 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 21.1 5.8 31 Maluku Utara 5.0 7.8 8.9 3.0 7.9 3.0 5.7 9 Kepulauan Bangka Belitung - 4.5 3.9 12 Jawa Barat 21.6 5.6 1.3 4.5 10.3 3.4 5.0 19 Nusa Tenggara Timur - 22.7 5.4 4.1 4.4 4.8 5 Jambi 1.8 4.4 8.9 6.5 5.8 29 Sulawesi Barat 15.8 5.4 6.3 24 Sulawesi Utara 4.0 8.

02 49.27 493.26 2.00 0 0.99 28 Gorontalo 28.74 4.10 72 0.64 24.81 1.919 44.95 11 DKI Jakarta 158.09 7.09 76.00 13 Jawa Tengah 924.84 29.17 4.515 121.98 52.580 49.47 29.209 0.87 2. 2010 .318 8.874 12.668 20.34 11.65 74.06 7.43 43.675 10.08 2.49 50.565 160.207 62.057 69.065 7.456 59.59 0 0.07 19.116 49.08 12 Jawa Barat 1.25 41.385.553 5.22 29.22 21.00 20.28 3.586.750 6.06 2.330 25.943 29.72 15 Jawa Timur 338.132 47.114 21.230.174 17.961 40.468 8.103 51.03 18.99 46.45 21.78 22.00 147.733 24.155 27.Lampiran 4.721 20.965 14.92 2.03 20.443 8.85 71.590 32.766 45.124 234.32 32.69 1.09 406 0.862 47.46 78.05 109 0.10 2.20 104 0.342 56.049 11.735 47.90 82.810 102.155 9.22 30 Maluku 33.202 20.702 46.00 0 0.35 530 0.158 822.16 3 Sumatera Barat 115.551 10.72 605 2.214 67.976 25.88 26.455 72.41 2 Sumatera Utara 357.955 41.76 26 Sulawesi Selatan 198.67 170 0.085 26.081 0.70 10.966 82.20 98 0.419 36.56 5.024 21.11 1.301 34.335 50.216 8.562 50.806 62.18 19.52 Indonesia Sumber : Ditjen PPPL.951 28.24 25 Sulawesi Tengah 59.76 18.764 46.11 3.88 7 Bengkulu 43.763 39.51 140 0.385 45.285 23.88 0 0.159 45.277 8.607 63.60 111.070 45.34 15.515 5.343 69.309 67.641 55.43 686.265 12.00 0 0.210 4.339 71.00 50.09 1.887 8.486 64.85 268 0.84 33.06 8.85 23 Kalimantan Timur 85.089 6.146 55.956 69.681 72.45 28.79 32 Papua Barat 23.721 1.391 9.850 47.51 12.210 16.527 56.13 49.00 0 0.88 21.921 14.53 129.462 2.958 16.86 199.966 26.20 15.799 42.613 7.808 11.317 23.81 550 0.122 49.42 13.39 21.45 1.66 466.893 17.333 34.935 54.603 0.239 48.09 97.294 18.270 28.839 2.64 91.19 69.024.194 40.670 52.994 7.825 32.261 41.34 14.035 3.340 2.90 7.77 8.753 1.60 286 0.381 44.39 25.909 88.930 0.85 10.46 2.36 27 Sulawesi Tenggara 59.11 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 79.12 14.754 61.415 0.632 31.609 59.92 753.75 19.15 10 Kepulauan Riau 41.755 8.18 16.53 86.75 31 Maluku Utara 25.59 188.89 231 0.54 247.571 22.270.22 24 Sulawesi Utara 50.142 2.91 432.725 78.984 35.960 16.009 311.172 12.33 40.38 3.384 83.14 12.32 880 0.169 5.42 14 DI Yogyakarta 48.578 80.026 67.541 76.53 147.19 4.974 155.35 145.625 6.99 111 0.169 1.69 16.13 CAKUPAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) Jumlah Ibu Hamil (2) (3) TT1 Ibu Hamil Diimunisasi TT3 % Jumlah TT2 Jumlah % Jumlah % Jumlah (4) (5) (6) (7) (8) (9) TT4 (10) TT5 TT2+ % Jumlah % Jumlah % (11) (12) (13) (14) (15) 1 Aceh 110.177 245.42 234.691 4.032 63.818.169 77.39 245 0.622 17.41 11.909 78.31 82.72 52.651 144.40 22 Kalimantan Selatan 78.328 76.777 23.02 7.62 292 0.97 45.623 53.658 39.592 148.879 65.089 14.96 16.521 22.321 56.89 4.56 136.269 4.56 4 Riau 151.31 5.530 62.453 12.401 38.528 3.22 9.16 2.567 1.13 23.945 52.98 6.05 108. Kemenkes RI.57 28.812 52.836 16.37 19 Nusa Tenggara Timur 134.438 141.446 19.26 244.912 9.550 5.72 962 3.32 13.228 80.671 56.351 89.33 3.54 10.53 34.188 35.429 35.029 13.81 680 0.53 8 Lampung 189.75 20 Kalimantan Barat 106.28 4.02 18 Nusa Tenggara Barat 115.34 6.171 43.44 2.963 10.182 11.773 8.53 1.382 13.266 11.331 12.85 23.18 13.60 1.19 0 0.77 3.29 11.973 13.98 9.15 100.028 101.602 124.169 77.880 88.42 42.52 44.41 30.933 10.078 103.60 557.28 29 Sulawesi Barat 27.002 219.69 37.018 21.62 10.28 84.99 9 Kepulauan Bangka Belitung 26.434 10.38 6.707 19.383 66.28 47.504 76.021 4.00 0 0.63 13.942 15.130 1.264 14.786 33.329 26.942 66.482 3.782 67.289 38.908 14.63 17 Bali 67.617 1.37 10.44 115.494 43.026 24.21 29.13 1.70 4.197 71.92 54.217 13.22 16 Banten 225.836 58.91 33 Papua 55.65 1.70 9.00 21 Kalimantan Tengah 56.213 22.05 133.073 25.23 37.593 4.74 225 0.22 6.410 58.57 58.093 114.00 34.031 32.14 68.466 49.

38 9.174 0.03 31.054 0.868 27 Sulawesi Tenggara - - - - - - - - - - - - - - - - - 0.020 8.23 1.13 - 28 Gorontalo 194.109 11.122 4.171 0.11 8 Lampung 1.609 1.604 0.304 0.036 1.46 - 6.717 18 Nusa Tenggara Barat - - - - - - - - - - - - 1.56 1.51 7.34 598 0.629 4.84 6.547 0.557 0.665 843 0.060 2.997 2.174 0.271 2.835 1.933 2.358 1.674 0.26 2.135 0.07 2.77 Jawa Timur 5.06 9.046 0.51 780 0.74 11.06 2.310 38.86 4.23 949 0.94 484.201 - 33.401 6.021 0.25 - - 134.32 392 0.51 10.714 5.293 1.266 3.13 8.544 0.939 1.766 6.62 1.72 31 Maluku Utara 251.100 864.33 4.984 0.043 6.151 0.477 14.70 2.99 10.037 1.16 2.125 1.99 2.407 0.20 789 0.839.033 1.11 3.88 1.09 7.92 - - 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 845.503.887 1.07 130 0.174 6.46 474.264 1.788.32 13.14 1.959 1.40 880 15.794 101.80 1.921 2.12 3.20 345 0.08 760.478 62.63 2.156.754 1.37 33 Papua 433.756 1.46 36.869 4.086 7.967 228 0.371 0.42 11.62 1.513 181 0.253 0.966 1.69 11.05 - - 19.01 30 Maluku 173.87 43.28 776 0.58 1.399 0.688 0.265 3.58 - - 97.Lampiran 4.03 2.345 0.13 172 0.20 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 691.060 0.11 21 Kalimantan Tengah 244.03 65.39 778.58 23.88 10.959 3.27 - - - - - - - - - - - 9 Kepulauan Bangka Belitung 247.21 2.36 3.00 26 Sulawesi Selatan 1.16 252 0.702 1.46 6.387 0.19 10.03 4.68 Indonesia Sumber : Ditjen PP & PL.01 25 Sulawesi Tengah 538.18 437 0.022 2.169 2.46 12.81 735.433 1.055 0.82 13.404 20.06 1.844 1.11 5.91 514 0.362 3.530 1.093 0.48 17 Bali 715.044 0.870 0.00 0 0.390 3.261 0.82 32 Papua Barat 148.39 811 14.10 417 0.014 1.08 10 Kepulauan Riau 387.10 9.014 1.09 203 0.66 16 Banten 2.61 18.14 1.561 7.90 7.662 1.70 1.46 61.072 0.162 0.789 2.58 8.33 2.05 0 0.357 12.754 2.409 29 Sulawesi Barat 208.138 12.14 23 Kalimantan Timur 526.43 31.965 989 0.12 216 0.735.871 1.112 0.822 2.83 59.24 8.373 10.82 18.81 953.134.16 94.875 0.221 7.695 0.544 2.95 17.33 2. 2010 .673 1.932 30.51 0.69 5.428.649 12.019 0.874 2.697 0.96 2.145 0.29 12.248 1.14 CAKUPAN IMUNISASI TT PADA WANITA USIA SUBUR MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 NO JUMLAH WUS PROVINSI (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara TT1 (3) TT2 JUMLAH % JUMLAH % (4) (5) (6) (7) WANITA USIA SUBUR DIIMUNISASI TT3 JUMLAH % JUMLAH (8) (9) TT5 TT4 (10) % JUMLAH % (11) (12) (13) 913.60 1.42 17.843 2.824 7.674.944 508.126 2.010.111 7.32 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Sumatera Selatan 7 Bengkulu 191.681 2.07 8.39 980 0.19 243 4.32 30.449 - 31.12 12.097 1.189 2.45 7.160 3.00 0 0.833 2.43 58.12 127 0.84 1.16 196 0.69 24. Kemkes RI.09 24 Sulawesi Utara 443.44 442.84 5.18 22 Kalimantan Selatan 673.866 0.098 4.31 1.550 30.815 5.500 0.98 23.098 0.633 0.53 798.540 1.877 10.53 650.438 14.04 47 0.21 433 0.447 1.110 2.07 221 0.401 0.35 5.538 7.86 1.17 13 0.924 4.570 0.456 0.127 1.32 4.84 - - 50.934 20.26 901 15.019 0.

038 205.571 206.850 3.Lampiran 4.408 21.941 33.606 417.913 35.164 747.472 126.864 153.744 37. Kemkes RI (3) Lama Dirawat Hari Perawatan Total Kunjungan (6) (7) (8) ≥48 jam (4) (5) 37.336.372.162 188.269 178.990 352.893 83.766 258.338 195.150 .727 508 714 268 1.954 1.109 279.142 13.930 1.549 31.294 505.358 275.094 82.880 8.901 52.162 1.750 217.614 4.084 331.436 36.987 263.497 93.028 701 611 597 2.736 225.452 97.341 186.071 119.353 11 1.358 161.210.934 2.306 1.492 115.380.514 48.902 185.808 301.955 8.550 19.463 23.003 130.553 21.332 283.756 212.772 2.710 510.806 70.374 163.564 383.994 56.188 59.098.088 844.442 11.488 496.370 189.924.558 4 1.402 302.999 92.191 209.277 455 893 168 586 822 755 337 1.433 65.115 41.413 405 5.539 52.223 374 812 126 492 796 652 223 748 281 909.277 25.254 44 46 27.164 1.601 182.280 855.886 409.704 29.907 30.122 1.403 472 6.558 614.886 247.576 61.810 35.063 1.737 245 753 2.15 JUMLAH KUNJUNGAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 No Provinsi Pasien Keluar Mati Pasien Keluar Hidup <48 jam (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.409 5.259 256.252 550.028.459 809 2.651 3.352 185.867 73.866 978.944 466.232.998 89.132 1.784 443.145.707.236 96.063 417.207 297.752 3.728 1.129 43.971 989 1.230 46.262 5.074 15.154.956 4.000 182.481 1.920 128 377 97.264 27.247.885 5.891 79.438 140 192.124 931.886 118.127 264 3.974 194.833 44.137 10.224 20.019 22.806 278.626.237 185.757 8.292 3.420 1.028 11.306 316.239.134 1.

3 13 10 24 Sulawesi Utara 83.9 50 26.3 4 3.Lampiran 4.7 57.8 22 19 14 DI Yogyakarta 79.8 2 5.2 4 4.6 1 3.3 61.8 26 11.9 14 15 20 Kalimantan Barat 73.7 31 30.6 50 45.7 1 3.4 34 28.9 4 10.0 4 4.1 36 48.8 4 4.5 30 21.6 3 3.0 4 4.4 36 39.1 26 17.8 28 25 16 Banten 97.9 3 3.4 18 11 5 Jambi 77.1 58.1 3 4.7 31 32.8 5 3.0 39 29.8 46 27.6 5 3.4 3 8.6 42 35.0 Indonesia - - 34.5 62.0 11 14 26 Sulawesi Selatan 92.2 63.8 40 18.5 20 14.8 69.1 21 23 15 Jawa Timur 96.7 2 2.5 16 25 4 Riau 68.6 5 3.2 70.0 42 39.6 37 21.0 67.2 18 16 13 Jawa Tengah 69.7 9 10 33 Papua 51.9 4 4.0 11 12 22 Kalimantan Selatan 76.2 51 25.4 58 43.0 4 4.9 31 28.1 16 6.9 4 - 4.0 12 14 27 Sulawesi Tenggara 71.6 35 25.7 4 4.4 2 2.5 47.0 52.7 66 29.2 3 6.1 4 5.8 4 14.0 26 21.6 32 32.9 5 18.8 5 7.6 46 41.0 45 35.9 2 5.6 16 28 Gorontalo - 29 Sulawesi Barat - 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 74.6 58 49.3 42.3 44 41.2 - 12 29 - 29 - .7 63.8 - 5.0 - 13 27.2 43 34.5 61.4 6 3.8 26 28.6 40 43.3 42 25.5 75.4 67.3 - 31.0 15 16 21 Kalimantan Tengah 47.7 53.2 41 28.6 51 28.4 8 7.8 58.9 15 18 7 Bengkulu 45.5 30 31.4 2 4.9 6 3.3 5 3.7 59.5 - 14 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 69.1 2 5.0 17 19.1 4 3.6 5 5.9 44 20.6 1 11.1 1 12.0 Kepulauan Bangka Belitung - 53.0 59.7 30 30.8 69.3 63.2 2 9.9 15 14 9 91.5 - - - 3.0 30 29 3 Sumatera Barat 57.9 4 3.9 24 20 18 Nusa Tenggara Barat 50.9 4 4.5 18 16 23 Kalimantan Timur 99.1 51 35.4 27 11.8 - - 19 - 48.0 38 31.7 20 19 82.6 13 13 25 Sulawesi Tengah 83.6 36.7 5 4.16 INDIKATOR PELAYANAN RUMAH SAKIT UMUM DEPKES DAN PEMDA MENURUT PROVINSI TAHUN 2008-2009 No Bed Occupancy Rate (BOR) Provinsi (1) (2) Length of Stay (LOS) Bed Turn Over (BTO) 2008 2009 2008 2009 2008 2009 Turn Over Interval (TOI) 2008 2009 Gross Death Rate (GDR) 2008 2009 Net Death Rate (NDR) 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 2009 (14) 1 Aceh 92.5 26 18 12 Jawa Barat 85.5 19 18 - Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.2 32 40.5 18 20 2 Sumatera Utara 64.6 49.7 45 37.7 - - - 9.8 2 5.2 8 Lampung 74.1 48.8 2 14.0 1 21.2 40 - 33.1 22 14 17 Bali 80.3 66.2 22 - 11.9 48 36.8 4 3.7 44 32. Kemenkes RI - 60.0 58.9 3 3.7 4 3.8 8 - 19.3 4 3.1 5 4.9 4 4.0 19 19 19 Nusa Tenggara Timur 59.6 3 37.8 34 35.1 47 16.4 39 29.0 - - - 24.0 52.4 1 4.9 44 29.7 38 21.7 1 8.1 45 19.9 2 4.2 35 19 79.3 42 36.7 2 8.6 6 36.9 5 4.3 11 9 6 Sumatera Selatan 55.7 48 42.7 62.0 54 52.9 6 4.3 - 3.8 3 3.9 39 22.6 45 14.0 67.

449 3.030 2.760 39.186 8 83 33.264 1.218 781 374 1.899 8.106 2.871 2.624 2.339 360 649 159 309 732 233 290 1.487 1. Kemenkes RI Pencabutan Pengobatan Pengobatan Gigi Periodontal Abses Sulung (7) (8) (9) Pembersihan Karang Gigi Prothese Lengkap Prothese Sebagian Prothese Cekat Orthodonsi Bedah Mulut (10) (11) (12) (13) (14) (15) 221 30 29 9 31 4 55 34 86 15 77 1 21 140 28 15 1 67 1.805 15.854 1.528 1.147 6.875 6.650 3.130 1.082 2.919 3.729 8.609 709 215 517 502 611 1.356 779 3.501 17.115 1.973 4.625 623 666 755 851 1.487 5.905 844 2.236 23.865 334 250 123.690 4.423 2.548 6.543 1.164 985 1.076 2.248 7.905 3 149 63.614 5.092 2.233 1.069 2.772 15.366 553 365 589 191 174 648 87 66 1.708 2.377 1.633 955 2.764 9.723 2.270 5.140 994 2.539 1.626 607 408 4.912 446 160 848 4.958 1.496 1.230 660 210 1.282 2.494 379 3.458 1.509 79 421 83.873 .705 737 641 3.070 1.287 4.049 29.685 792 642 111 51 109 356 173 288 67 7 281 292 1.949 31.123 1.571 10.749 581 1.956 48 225 42.469 698 97 494 5.736 124 23.658 1.526 5.687 1.294 6.217 12.465 1.179 769 1.756 16.342 1.079 108 80 1.891 1.933 24 183 6 45 230 2 14 10 4 179 7 5 15 13 1 231 24 275 123 713 500 218 41 314 74 563 5.320 1.775 2.538 1.550 2.967 17.694 23.477 10 9.321 408 433 1.898 24.011 611 268 647 861 466 4.744 8.950 4.031 35.619 858 407 4.220 121 3 1 109 439 473 235 36 433 175 23 14 14 1 881 3.569 99 877 7.422 396 106 560 48 94 26 7 159 172 4 56 1 101 15.413 1.772 1.128 3.921 1.866 1.690 413 694 2.031 8.723 531 130 61 132 181 146 567 25 107 482 80 21 2.897 1.346 9.302 1.939 6.006 422 373 1.240 656 871 3.035 5.977 5.692 5.217 6.617 1.190 5.814 11.692 1.270 3.379 1.842 21.840 1.698 478 1.250 1.Lampiran 4.443 4.905 720 826 2.780 No Sumber: Ditjen Pelayanan Medik.416 102 124 53.980 644 4.17 PEMERIKSAAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA RUMAH SAKIT UMUM DEPKES DAN PEMDA MENURUT PROVINSI TAHUN 2008 Provinsi Tumpatan Gigi Tetap Tumpatan Gigi Sulung Pengobatan Pulpa/ tumpatan Sementara Pencabutan Gigi Tetap (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1.005 826 318 2.675 686 262 130 1.530 406 560 2.343 420 1.115 1.565 149 661 199.621 800 1.273 41.958 119 53 121 362 901 275 345 87 90 26 222 168.999 3.030 1.514 17.

027 68.073 14.717 5.680 21.058.321 1.781 547 91 2.339 478.295 11.154 3.295 247 8.154 6.556.792 Kunjungan Neonatus (KN2) (5) 249.941 279.909 20.225 8.772 1.953 45.356 7.004 577 3.533 130.515 5.363 16.821 94.388 392 781 1.162 169.968 7.193 5.167 2.303 766 3.116 743 1.Lampiran 4.365 6.142.800 7.558 193.693 - Rujukan - - - - - Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (6) (7) (8) 65.069 4.517 4.309 383 396 103 1.166 527.134 444.368 16.467 19.850 4.182.268 13.161.866 421 21.675 2.770 3.285 4.378 3.795 30.364.376 50.050 487 6.753 20.017.224 2.481 3.804 4.417 11.430 340.161 703 302 1.827 19.139 46.342 1.130 - 1.121 1.593 147.377 876.297 - .939 148 50 179.678 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) Keterangan: RJTP = Rawat Jalan Tingkat Pertama 1.334 70 393 1.609 699 1.429 42 25 1.211 3.292 949.757 655 1.754 7.575 736.438 - 130.849 1.910 46.307 1.649 Kunjungan Ibu Hamil (K4) 253 6.644 44 118 1.962 - - - - 5 5.705 1.260 150.679 4.447 567.711 22.500 174.305 7.413 1.301 838 98 - 393 28 414 1 414 64.154 289.139 943 277 2.564 2.855 22.756 144.863 4 256 2.649 151 138 18 293 - 1.025 6.201 28.212 10.952 210.689 7.131 2.040 59 194 - 87 1.130 292 459 21 9.204 1.18 JUMLAH KUNJUNGAN PESERTA JAMKESMAS DI PUSKESMAS TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi RJTP RITP (2) (3) (4) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2.417 62 343 9 343 19.201 1.091 5.306 61.252 176 1.872 368 3.836 14.892 396.058 335 2.121 283 914 291 1.023 2.113 402.447 36.767 822.763 1.708 1.

591 387.004 7.085 10.901 19.601 13.545 55.162 8.896 2.097 138.379.352 10.822 32.396 14.125 42.784 88.310 15.827 142.909 81.575 37.554 132.012.089 82.801 22.470 66.366.19 JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN TINGKAT LANJUT (RJTL) PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.145 21.570 36.426 17.516 30.304 11.708 59.549 18.935 37.451 40.745 33.151 21.834 474.627 71.450 328.371 55.662 43.186 8.963 94.972 8.958 18.064 2.418 9.512 40.801 71.351 33.667 25.722 22.757 3.797 17.729 18.379 52.585 160.917 5.487 81.294 45.637 82.I.723 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) .815 39.952 44.579 33.350 318.942 39.029 25.Lampiran 4.827 4.450 5.870 91.692 21.514 71.672 42.630 7.326 38.197 8.580 18.635 4.057 114.315 69.846 73.618 38.976 15.869 83.642 251.568 44.429 4.444 25.041 17.587 402.037 730.843 12.660 20.Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah D.258 222.750 108.Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat NusaTenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat TOTAL L Jumlah Rawat Jalan Tingkat Lanjut P L+P (3) (4) (5) 111.425 862.388 10.201 107.237 253.547 13.992 569.208 48.583 42.052 177.

158 10.278 4.057 18.701 8.222 7.Lampiran 4.788 32.Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat NusaTenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Irian Jaya Barat 26.492 8.501 17.874 128.863 5.351 26.689 45.541 12.194 899 5.365 6.610 10.872 5.700 12.Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah D.501 1.494 7.756 Sumber : Pusat Pembiayaan & Jaminan Kesehatan Kemenkes RI (dari 284 kabupaten/kota) .092 2.188 TOTAL 487.543 21.556 5.607 36.008 57.420 33.130 73.824 3.798 7.629 59.818 6.231 16.205 48.468 12.981 5.831 26.I.259 5.114 27.659 29.390 15.564 14.990 21.985 7.630 1.882 10.416 647.335 122.382 9.340 1.039 27.096 14.773 36.768 60.20 JUMLAH KASUS RAWAT INAP TINGKAT LANJUT (RITL) PESERTA JAMKESMAS TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 L Jumlah Rawat Inap Tingkat Lanjut P L+P (3) (4) (5) Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepualauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep.272 227.134.955 19.448 7.633 3.933 10.783 1.029 49.702 1.338 19.889 2.163 14.091 13.376 20.840 4.272 18.820 10.297 16.983 83.895 2.520 5.409 12.215 5.441 11.608 24.541 3.981 13.479 9.138 2.948 4.220 25.612 142.951 5.959 17.495 2.667 4.597 5.051 33.199 11.171 45.396 4.533 5.398 99.749 5.398 3.948 6.824 2.

07 4.157 8.044 393 1.15 68.66 79.28 74.481 18.09 85.598 8.37 13.04 3.572 613 299 230 186 128 282 32.33 2.230 760 395 320 489 209 432 1.158 270 139 2.79 90.91 Sembuh & Pengobatan Lengkap Success Rate (%) (9) (10) 670 3.05 .23 72.44 66.30 32.72 56.353 873 537 696 1.Lampiran 4.46 87.44 3.068 811 1.19 62.05 69.349 1.29 80.627 707 3.01 80.065 1.19 91.375 868 1.71 4.22 97.93 16.73 5.42 39.526 94.13 62 86 71 37 58 38 8 66 12 80 419 250 14 429 64 96 58 47 18 28 70 143 19 79 76 74 47 20 60 69 2.91 5.257 579 11. PENGOBATAN LENGKAP DAN SUCCES RATE (HASIL PENGOBATAN PENYAKIT TB TAHUN 2008) MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.30 85.861 237 5.11 55.71 83.78 68.40 5.90 12.93 13.24 4.942 36 322 684 512 692 223 793 390 1.83 94.799 325 309 6.05 81.014 735 435 562 810 188 1.201 732 2.21 66.011 245 781 5.19 93.77 2.45 76.808 1. Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber: Ditjen PPPL.32 76.876 378 734 820 1. SEMBUH.493 537 225 183 166 68 213 29.52 85.486 9.44 3.50 62.064 587 1.89 8.80 80.75 60.30 16.50 6.13 6.70 4.92 85.926 608 2.289 1.036 116 1.25 80.044 298 841 487 1.928 664 398 504 772 180 945 233 701 5.288 4.20 33.37 61.28 1.87 87.58 68.921 3.470 78.84 74.513 36 258 588 454 645 205 765 320 893 97 1.611 223 5.363 403 1.77 89.253 801 878 2.61 86.68 5.03 38.03 17.98 1.53 11.08 97.00 87.32 51.12 72.21 CAKUPAN TB PARU BTA POSITIF.82 91.334 333 1.33 14.39 80. 2010 Cakupan TB 2008 Sembuh Pengobatan Lengkap Semua Kasus BTA Pos Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) 905 4.08 7.31 24.07 6.861 4.56 8. Kemenkes RI.74 36.08 87.92 68.31 90.502 3.89 84.76 90.96 65.87 54.91 73.37 19.229 276 6.85 2.928 86.743 672 308 263 244 115 177 544 43.19 81.06 74.41 57.87 8.

905 5.915 95.402.30 46.701 201.677 372 309 1.15 71.977 44.187 69.766 449.781 111.721 6.685 51 17.376 9.621 748.54 5. Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen PPPL.455 812 11.652 425.907 2.925 43.42 10.173 1.521 4. (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.491.881 10.344 185.989 3.246 35.624 2.666 46.380 1.126 223 4.277 11.16 12.191 17.41 0.873 690.191 9.175 89.318 18.249 434.310 429.034 3.819 1.621 11.139 211.37 20.607 38 11.256 1.319 2.533 2.458 354.370 20.552 1.660 469.010 67.034 18.83 17.868 11.915 709 758 2.332 424.05 3.578 11.067 3. Kemenkes RI Jumlah Penduduk Usia Balita Wil.369 1.078 13 6.45 11.062.050 Realisasi Penemuan Penderita Pneumonia Balita 494 11.072.226 28.313 16.64 14.Lampiran 4.431 42. Puskesmas Program Target Penemuan Pneumonia Balita (10%) < 1 Tahun 1 .22 JUMLAH KASUS PNEUMONIA PADA BALITA MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.842 1.271 1.657 1.646 1.806 3.752 896.562 74.153 890 1.749 2.433 42.81 22.82 41.014 323.360 662 570 390.735 56.18 .880 3.176 7.392 9.91 13.96 9.081 1.296 129.655 32.639 3.034 20.20 5.866 130.575 233.993 3.16 2.595 30.914 21.682 113.38 9.306 196.287 9.491 19.566 3.70 21.329 589 7.593 1.914 197.32 19.261 732 518 258 183 136.912 98.701 32.328 2.558 23.4 Tahun Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) 568.985 249.671 4.91 13.083 2.760.829 1.315 1.524 842 404 387 252.349 4.175 725.846 1.21 10.159 107.12 5.56 15.075 7.306.92 5.16 21.892 732 16.118 72.387 6.130 161.

928 24.979 18.97 73.97 82.92 63.680.093 27.47 74.628 199.150 11.73 79.43 92.458 64.451 48.54 83.443 311.942 61.293 148.985 1.03 68.684 76.625 58.314 13.253 159.653 17.600 34.65 .028 19.11 89.097 Fe-1 Fe-3 Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) 84.504 106.763 80.150 212.104 58.500 806.67 90.254 45.973 29.266 42.07 92.80 73.755 62.303 96.51 84.88 39.744 25.72 47.069 4.68 76.788 25.715 8.359 2.10 76.110 148.979 41.77 95.585 665.787 44.47 54.351 35.429 137.445 16.715 30.43 75.037.600 28.873 67.882 71.48 84.29 65.474 245.202 43.667 106.794 118.95 71.122 3.76 67.43 81.114 4.337 32.422 134.12 38.02 82.24 75.782.28 41.714 28.358 330.556 58.92 38.31 31.75 79.066 37.453 115.915 75.95 60.885 23. Kemenkes RI Jumlah Ibu Hamil (3) 113.28 71.973 107.667 115.775 67.52 77.212 25.94 74.244 53.832 46.97 71.20 78.02 77.564 21.86 90.42 72.963 10.269 2.11 51.43 49.836 196.886 48.39 90.19 46.061 529.357 239.96 54.75 79.57 68.540 93.764 711.282 38.05 53.387 162.816 40.057 90.Lampiran 4.82 74.352 22.396 246.80 63.410 151.182 28.71 83.48 89.905 180.28 77.144 64.98 66.906 74.914 78.85 56.693 194.058 76.51 55.09 82.51 52.58 78.09 80.707 115.475 44.034 22.330 3.283.469 49.064 60.664 158.51 82.427 180.23 CAKUPAN PEMBERIAN TABLET BESI (Fe) PADA IBU HAMIL MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Cakupan Fe Ibu Hamil No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Ditjen Binkesmas.693 16.50 38.340 109.771 488.690 18.67 84.499 49.59 69.20 92.38 36.

283 64.382.541 2.080 89.11 237.331 59.025 100.228 17 Bali 35.601 21.467 397.079 420.32 112.69 65.293 71.988 81.054 87.671 77.613 37.682.07 33.53 330.264 185.866 100.347.147 46.67 321.554 77.561 29.36 770.865 118.728 77.58 90.276 25.103 63.569 104.60 1.142 81.82 171.276 62.02 651.45 25 Sulawesi Barat 19.98 11 DKI Jakarta 80.335 114.655 35.532 86.622 143.473 80.031 17.61 440.602 457.333 73.825 901.95 18 Nusa Tenggara Barat 60.57 30 Maluku 32.384 85.12 303.26 2.59 bln 6-59 bln Cakupan Vitamin A Ibu Nifas 6-11bln % (7) (8) Balita 12 .50 374.782 53.851 118.04 1.34 537.01 13.280 504.917.Lampiran 4.714 31.035 150.604 99.77 57.44 212.825 166.842 61.817 224.99 306.24 61.22 360.86 727.117 144.430.845 45.24 144.903 247.120 31.528 75.433 6.624 97.040 75.43 14 Jawa Tengah 304.458 38.28 208.617 86.550 73.082.758 21.08 87.39 54.91 318.25 460.800 76.622 90.32 2.11 23.729 74.480 78.397 84.25 60.19 136.767 83.231 96.143 96.835 78.055 107.37 24 Sulawesi Selatan 118.11 16 Jawa Timur 316.29 216.13 41.400 74.087 77.31 56.387 154.39 12 Jawa Barat 471.455 34.555 73.721 226.126 613.524 336.592 53.934 306.502 75.434 98.922 206.21 23.05 265.00 6 Jambi 7 Sumatera Selatan 44.244 941.90 41.718 82.87 595.596 10.434 183.289.026 3.752 92.628 79.469 40.210 82.06 10.174 83.808 79.69 27 Sulawesi Tenggara 33.Bina Gizi Masyarakat.433.982 84.976 90.738 29 Sulawesi Utara 24.33 192.930 170.58 55.86 584.382 75.624 74.36 115.625 70.098 2.57 276.20 358.778 83.689 70.953 35.31 500.396 83.728 90.537 51.69 58.704 84.795 96.969 41.090 204.612 92.351 86.283 88.091 94.340 106.331 77.837 47.035 1.862 23.570 63.446 236.024 75.409 258.594 85.98 Sumber: Dit.19 114.225 613.423 546.315 56.955 65.136 87.54 28.72 126.894 93.696 56.104 88.835 73.788 84.48 22 Kalimantan Selatan 40.121 62.876 73.318.79 198.484 89.83 246.449 74.809 175.292 63.358.26 153.749.253 79.531 11.603 27.17 23.896 772.14 16.17 28 Gorontalo 16.92 8 Kepulauan Bangka Belitung 13.754 143.90 2.127 42.904 74.21 21.144 92.724 103.98 14.56 609.405 46.950 221.20 4 Riau 89.156 52.076.444 34.50 10 Lampung 178.868 458.550 168.05 518.226 51.804 609.786 2.338 10.506.171 384.29 2.620 81.38 850.07 177.038 104.35 23.45 143.381 301.817 32.217.778 26.830 98.907 24.59 2.30 148.238 (14) 33.034 70.562 236.54 2.48 75.520 67.926 43.377 44.887.36 3 Sumatera Barat 61.246 70.021 724.449.95 141.695 75.098 83.380 55.491.753 88.42 120.212 1.212 68.33 245.184 96.912.05 169.155 79.96 19 Nusa Tenggara Timur 63.552 271.760 82.443 72.24 CAKUPAN DISTRIBUSI KAPSUL VITAMIN A MENURUT PROPINSI TAHUN 2009 No PROPINSI 6-11bln (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara (3) Sasaran Balita 12 .668 90.271 139.825 33.53 40.79 81.609 36.146 611.750 64.815 211.693 83.941.38 31 Maluku Utara 8.040 206.11 31.11 329.233 81.15 71.48 33.455 79.28 871.76 9 Bengkulu 46.985 93.176 82.027 640.603 71.575 78.489 731.884.46 26 Sulawesi Tengah 40.43 13.201 87.16 81.776 40.34 2.526 1.494 188.849 43.053 84.172 41.60 102.434 26.855 74.021.559 12.871 78.754 2.781 91.45 23 Kalimantan Timur 48.358 4.201 53.574 185.22 414.057 21.875 83.46 127.050 84.866 69.091 443.49 91.94 93.531 326.541 101.38 382.271 79.028 2.013 238.272 39.47 15.22 386.64 26.92 510.333 72.503 285.186.442 77.514 12.800 24.63 27.156 75.948 80.057 61.331 91.23 35.090 551.285 53.61 21 Kalimantan Tengah 34.000 86.137 80.969 15 DI Yogyakarta 31.20 83.241 691.83 180.82 431. Ditjen Bina Kesmas Kemenkes RI .998 64.462 483.15 19.260 462.778 400.059 247.491 291.03 81.962 72.08 13 Banten 128.21 6.031 15.196 95.81 53.604 87.55 141.327 20.31 20 Kalimantan Barat 88.504 78.39 32 Papua Barat 33 Papua INDONESIA 6.084 3.020 763.207 79.40 5 Kepulauan Riau 33.746 24.076 77.945 82.870 957.615 86.838.191 40.59 bln % (9) (10) Ibu Nifas Jumlah 6-59 bln % (11) (12) (13) % (4) (5) (6) 70.178 97.249 373.18 236.357 81.10 2.799 51.435 393.247 213.115 73.12 112.

65 64.41 48.15 62.15 66.27 54.14 52. Susenas 2009 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jumlah Sampel Bayi 0 .32 63.22 62.25 PROPORSI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI UMUR 0-6 BULAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No (1) Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber : BPS.50 57.79 67.02 56.64 54.53 73.14 71.46 64.Lampiran 4.21 57.75 63.6 bulan (3) 341 769 448 246 208 317 186 272 129 118 208 608 734 82 814 191 151 207 602 273 182 241 249 188 251 534 320 146 128 206 120 97 189 9.26 75.35 75.19 65.33 .20 55.755 ASI Eksklusif 0-6 bulan Jumlah (%) (4) (5) 178 424 319 141 132 204 141 150 80 67 122 390 383 52 397 112 82 162 453 144 115 157 165 103 157 375 200 84 94 141 74 58 127 5.55 70.30 78.81 55.79 62.25 52.77 58.18 63.983 52.78 58.45 61.67 59.20 61.44 68.

9 90.4 93.9 86.7 45.0 43.3 .3 89.2 83.7 89.8 94.4 88.3 82.1 34.2 45.9 31.5 90.1 83.3 61.1 46.1 68.8 89.2 62.7 76.7 76.4 45.8 98.0 84.26 PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MEMPUNYAI GARAM CUKUP YODIUM MENURUT PROVINSI TAHUN 2007 No Provinsi Rumah Tangga Mempunyai Garam Cukup Yodium (1) (2) (3) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Sumber : Riskesdas 2007 47.7 58.2 62.6 82.3 58.Lampiran 4.0 69.1 27.0 90.

Lampiran 4.194 3 Banjir disertai Tanah Longsor 4 Tanah Longsor 5 Gelombang Pasang 13 1 - - - - 3.935 13 24.224 27 205.209 1.27 REKAPITULASI KEJADIAN BENCANA MENURUT JENIS BENCANA DAN JUMLAH KORBAN TAHUN 2009 No Jenis Bencana Jumlah Provinsi (1) (2) (3) Jumlah Korban Luka Berat/ Luka Ringan/ Rawat Inap Rawat Jalan Meninggal (4) (5) Pengungsi Hilang (6) (7) (8) 1 Banjir 23 30 25 33.210 8 Letusan Gunung Api 2 - - 9 Kecelakaan Industri 3 33 17 50 10 Kegagalan Teknologi 2 6 2 11 - - 11 Ledakan (bom.234 9.495 56.971 7 Gempa Bumi 11 1. tabung gas.513 1.651 - 89 5 72 696 459. Kemenkes RI 75 - - - 1.771 2 205.788 132 6 Angin Siklon Tropis (Angin Kencang dan Angin Puting Beliung) 13 4 31 222 1 2.254 2 Banjir Bandang 11 127 28 3.387 .600 6 4 \ 73 5 95 44 9.564 24 - 6. dll) 3 9 60 2 - - 12 Konflik 4 16 45 12 - - 13 Kebakaran 5 2 4 60 - 10.083 14 Banjir Lahar Dingin 1 - - Jumlah Sumber : Pusat Penanggulangan Krisis.

64 10.06 18.64 3.17 9.49 24.55 28.08 9.37 17.61 6.28 21.70 19.80 20.33 14.90 5.33 34.38 16.76 4.08 9.91 13.58 28.07 13.22 22.07 14.11 15.95 18.05 47.25 14.21 19.57 20.95 7.98 4.25 13.35 26.70 3 Sumatera Barat 9.63 7.63 14.55 21.06 35.43 10 Kepulauan Riau 11.51 10.58 17.62 61.99 11.00 16.41 12.24 16.87 7.06 6.08 10.96 19.75 0.53 18.26 19.78 21.76 17.98 10.25 19.42 17.88 10.92 17.33 15.25 24.97 5.35 8.42 16.24 6.83 2.10 18 Nusa Tenggara Barat 14.50 14.43 9.12 21.44 15.57 19.68 2.70 23.62 5.41 5.08 18.68 26.28 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Provinsi No.83 26 Sulawesi Tenggara 27 Sulawesi Selatan 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 10.39 8.09 71.94 3.16 27.07 11.56 22.26 38.35 13.91 24.70 15.55 12.37 1.49 26.76 5.56 5.84 5.19 20.30 10.70 17.73 10.43 17.06 19.52 68.14 23 Kalimantan Selatan 9.29 14.84 10.89 13.02 13.68 97.59 29.78 4.31 9.15 12.65 601.00 13.17 13.82 13.53 4.19 17.12 14 DI Yogyakarta 8.13 4.27 9.12 9.13 7.62 7.02 9.52 28.45 17.47 15.62 81.52 10.66 24.32 36.28 6.51 14.50 14.14 13.84 12.00 33.73 28.59 0.39 36.55 11.69 9.03 7.64 8 Lampung 12.90 32.68 9.88 13.24 19.86 7.66 142.75 14.81 14.43 33 Papua 4.25 33.79 22.42 11.11 12.07 18.41 41.53 4 Riau 13.13 9.17 9.76 14.11 15.80 7.49 10.93 6.23 10.75 7.71 14.64 17.07 18.75 10.67 19 Nusa Tenggara Timur 12.90 31 Maluku Utara 4.20 15.90 13.93 3.83 8.17 10.05 5.05 10.84 18.37 5.95 24 Sulawesi Utara 5.75 5.00 17.50 8.37 14.29 18.86 20.90 5.06 6.65 15.15 12.99 5.25 24.95 17.09 10.28 10.33 0.98 44. (1) (2) Antasida DOEN Antalgin tablet Amoksisilin Amoksisilin tablet 500 mg sirup kering 125 kapsul 500 mg Btl 60 ml Ktk @ 120 kap Btl @ 1000 tab Btl @ 1000 tab Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat Deksametason Dekstrometorfa Dekstrometorfa Difenhidramin inj 5 mg/ml – n Sirup 10 n Tab 15 mg HCl inj 10 Ktk @ 100 Btl 60 ml Btl @ 1000 tab Ktk @ 100 Gliserin Guaiakolat tab Btl @ 1000 tab Glukosa Ibuprofen tablet Kloramfenikol Larutan Infus 5 200 mg kapsul 250 mg Btl 500 ml Btl @ 100 tab Btl @ 250 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) 1 Aceh 4.70 32.41 2.22 1006.53 459.48 7.18 9.56 12.76 10.08 3.52 14.37 1.17 16.64 20 Kalimantan Barat 11.06 27.11 21 Kalimantan Tengah 12.60 9.73 7.15 20.41 13.08 14.26 19.79 11.78 4.77 0.87 16.83 16 Banten 7.46 8.81 17.46 15.09 19.83 25.50 15.55 16.18 17.03 7.68 10.72 2 Sumatera Utara 9.67 16.88 19.98 6.60 11.22 13.98 8.69 7.62 42.79 14.57 13 Jawa Tengah 9.03 13.95 11.29 13.94 24.02 10.30 11.50 23.71 14.68 2.60 10.87 6.56 49.10 9 Kep.70 10.91 7.85 140.74 15.54 3.89 39.68 16.30 25.64 18.50 10.81 2227.87 7 Sumatera Selatan 7.71 9.36 20.18 5.99 17.12 14.13 39.55 8. Kemenkes RI .19 15.90 18.29 9.28 10.32 12.33 90.46 10.50 14.28 6 Bengkulu 9.19 15.40 8.29 19.00 5 Jambi 10.48 15.25 11.84 5.30 5.01 20.97 21.04 12.10 12 Jawa Barat 8.93 22.97 22.12 6.39 25.26 18. Bangka Belitung 14.48 21.52 0.89 76.00 Maluku 6.02 8.60 4.14 23.72 14.87 14.39 48.90 11.20 22 Kalimantan Timur 9.43 25 Sulawesi Tengah 4.64 24.98 5.20 6.80 21.68 10.47 11.34 5.24 12.23 9.85 14.88 34.12 7.18 2.06 16.83 6.03 8.59 45.23 24.96 5.64 6.Lampiran 4.45 20.60 15.79 8.43 108.52 68.09 1.74 22.39 42.73 25.91 20.23 10.81 42.21 9.67 12.50 16.95 18.23 30.05 32.78 16.12 9.85 7.42 13.42 42.01 29.53 19.35 19.42 9.17 0.34 22.10 11 DKI Jakarta 4.64 14.56 14.56 17.20 15.38 10.44 0.19 17 Bali 33.22 5.88 10.71 8.65 8.35 32 Papua Barat 6.84 13.94 13.64 35.16 0.93 12.58 Indonesia Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.62 77.30 15 Jawa Timur 10.55 14.42 18.33 15.04 10.64 11.14 2753.46 9.10 26.51 11.51 26.08 9.00 8.34 13.15 7.23 14.81 6.

64 12.51 45.52 36.81 10.99 23.13 18. Bangka Belitung 10.76 8.47 9.01 26.46 9.27 16.05 30.42 16.38 11.49 4.03 6.61 16.42 6.31 17 Bali 20.85 32.17 39.61 2.55 7.70 18.38 9.61 42.10 3.16 54.05 3.79 11.60 9.70 18 Nusa Tenggara Barat 16.03 28.9 % Tablet Tablet Btl 500 ml Btl @ 1000 tab Ringer Laktat Infus steril Btl 500 ml Vitamin B Kompleks Btl @ 1000 Retinol 200.22 5.75 10.65 9.90 18.72 52.68 31.56 9.96 2.05 Bengkulu 3.18 26 Sulawesi Tenggara 10.40 8.69 11.33 4.50 22.94 14.78 30.16 31.34 33 Papua 16.06 25.60 8.37 11.52 6.66 21.98 4.29 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat No.06 8 Lampung 2.72 10 Kepulauan Riau 12.93 21.91 3.50 8.06 22.55 6.79 9.59 8.24 32.88 8.81 139.75 5.39 15.77 5.05 20.89 13.67 12.78 12.04 2.31 4 Riau 5 Jambi 6 7 4.83 21. Kemenkes RI 10.83 13.99 21.92 53.51 34.98 12.08 11.47 17.87 30.31 58.30 18.83 8.69 61. Provinsi (1) (2) Kotrimoksazol tablet 480 mg Btl @ 100 tab Kotrimoksazol tablet 120 mg Btl @ 100 tab Kotrimoksazol Sirup Btl 60 ml Klorfeniramini Kloroquin tablet Natrium Klorida Parasetamol Maleat tab 4 Tablet 500 mg Infus 0.89 20 Kalimantan Barat 6.00 11.78 158.84 15.14 16.41 193.18 13.56 14.18 11.66 9.92 8.89 25.31 4.84 12.36 58.65 15.10 8.10 10.45 13.23 16.05 15.90 14.00 8.75 15.05 9.38 11.92 4.61 16.05 9.76 10.92 0.93 12.21 25.36 8.46 2234.92 10.91 20.34 26.53 63.51 6.10 0.31 16.03 11.81 11.86 16.00 14.68 15.45 49.88 9.55 14.53 10.25 11.38 7.34 5.40 5.80 25 Sulawesi Tengah 260.74 1.51 736.21 11.00 10.61 15.22 16.63 7.05 21 Kalimantan Tengah 17.90 4.26 11.58 7.83 3 Sumatera Barat 27.72 0.11 42.13 11.89 27 Sulawesi Selatan 23.69 0.75 45.44 18.65 10.13 1 Aceh 2 Sumatera Utara 16.53 4.80 480.54 7.44 1.95 7.25 9.44 929.25 5.28 4.84 17.38 10.13 39.25 122.74 4.52 14 DI Yogyakarta 18.15 2.66 0.85 10.84 9.79 7.52 17.49 22.20 50.68 14.33 22.54 17.62 20.71 7.01 19.77 14.17 7.47 12.00 Kep.40 21.42 4.89 34.00 19.73 2.35 .25 31 Maluku Utara 9.81 10.93 7.24 12.54 13 Jawa Tengah 11.74 7.98 21.47 15.18 16.48 25.58 5.89 3.43 114.98 17.32 12 Jawa Barat 42.16 16.79 5.97 23.90 11.75 8.93 Sumatera Selatan 5.29 9.17 11.36 12.73 18.06 5.69 15.24 7.35 25.53 13.39 4.65 4.88 39.51 12.14 6.55 9.17 10.04 9.46 13.85 4.94 29 Sulawesi Barat 10.83 141.96 15.24 11.25 11.68 10.02 10.Lampiran 4.23 8.60 7.51 11 DKI Jakarta 41.28 16.04 29.96 199.62 48.08 0.61 9.42 30 Maluku 23.36 7.40 4.36 28.01 16 Banten 25.08 25.70 2.53 7.00 13.80 11.52 19.04 3.06 243.35 14.71 32 Papua Barat 6.50 16.15 Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.53 5.00 17.99 12.79 2.66 14.67 17.67 2.92 8.50 22 Kalimantan Timur 18.57 17.04 30.12 10.33 10.05 19.75 14.65 13.92 14.31 8.08 38.10 11.47 21.26 21.95 7.04 5.93 10.17 16.91 10.47 34.23 11.62 20.64 16.61 8.89 77.02 7.68 39.77 5.46 10.86 16.42 28 Gorontalo 24.84 24.68 8.98 34.11 6.94 4.95 18.85 9 25.78 20.69 4.03 11.40 Indonesia 6.70 13.38 37.90 29.52 57.15 9.55 6.00 23 Kalimantan Selatan 13.39 14.09 9.30 5.07 19 Nusa Tenggara Timur 14.63 14.86 33.83 15 Jawa Timur 15.22 10.65 8.13 15.84 26.90 57.47 20.17 27.000 IU Btl @ 30 Tablet Tambah darah Ktk @ 30 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 5.18 8.28 7.03 2.74 34.85 22.98 23.26 58.19 48.00 12.97 7.54 24 Sulawesi Utara 14.

25 20.37 2.34 36.30 14.08 3.37 6.00 12.27 7.Lampiran 4.86 7.46 28.39 8.16 11.70 7.00 4.66 21.78 13.36 7.00 12.18 19.48 1.51 31.54 9.00 16.39 131.67 0.04 Pyrantel Pamoat 125 Pkt Salep 2-4 (10) 181.40 2.00 11.88 9.83 15.83 52.00 35.98 4.95 7.57 18.21 7.81 7.24 0.04 13.20 6.13 7.96 6.50 7.62 19. Bangka Belitung 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 14 DI Yogyakarta 15 Jawa Timur 16 Banten 17 Bali 18 Nusa Tenggara Barat 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 22 Kalimantan Timur 23 Kalimantan Selatan 24 Sulawesi Utara 25 Sulawesi Tengah 26 Sulawesi Tenggara 27 Sulawesi Selatan 28 Gorontalo 29 Sulawesi Barat 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Indonesia Multivitamin Sirup Btl @ 100 tab Garam Oralit OAT Kat 1 OAT Kat 2 Btl @ 100 tab Btl 60 ml Tablet (3) (4) (5) (6) 23.24 24.60 3.00 3.76 8.00 0.11 52.20 9.12 2.49 7.75 6.02 4.75 4.16 9.82 10.39 14.37 25.85 9.55 13.29 0.50 14.23 55.41 5.40 29.41 16.00 144.16 4.17 0.19 5.62 0.82 7.66 10.72 0.63 102.16 28.85 3.93 32.73 4.22 13.63 2.36 9.67 12.24 6.75 6.52 10.81 4.30 2. Kemenkes RI Tingkat Kecukupan Obat (Bulan) per Jenis Obat OAT Kat 3 OAT Kat OAT Kat Anak Sisipan Tablet Botol Bungkus (7) (8) (9) 7.55 15.19 7.18 7.49 5.98 12.29 9.13 12.82 6.05 32.00 14.76 16.96 11.26 3.64 48.98 2.14 3.11 8.85 6.93 33.03 7.58 28.00 3.90 3.20 11.20 12.06 0.50 3.17 18.48 17.79 29.95 24.80 6.33 34.16 27.56 4.09 25.23 8.07 6.38 8.08 15.30 13.05 10. Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4 Riau 5 Jambi 6 Bengkulu 7 Sumatera Selatan 8 Lampung 9 Kep.83 11.51 45.41 14.36 5.90 10.92 13.89 10.93 15.22 5.30 13.15 22.03 0.95 18.55 10.68 14.40 38.87 Infus set anak Pkt Infus set dewasa Pkt (11) (12) (13) 9.00 22.63 12.10 13.63 3.14 8.45 17.50 0.41 4.00 12.09 11.02 2.36 10.83 34.00 7.36 27.79 7.58 .93 11.50 20.50 24.41 9.76 27.77 19.88 8.48 27.45 0.78 13.27 8.03 2.28 8.12 317.85 5.85 7.16 16.48 7.06 6.79 17.00 11.00 16.17 28.18 8.28 37.72 1.38 5.00 0.67 35.34 3.16 19.61 10.29 11.00 7.29 14.22 0.96 46.20 34.62 8.50 1.01 4.81 Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.92 9.00 0.30 REKAPITULASI KECUKUPAN OBAT MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No.42 8.14 24.44 18.32 7.69 45.58 10.00 0.28 33.66 8.68 15.34 10.03 49.53 12.00 9.13 Pkt 21.83 16.00 0.19 16.44 5.99 8.89 18.51 32.05 19.58 3.96 4.03 35.45 2.42 17.56 5.49 8.76 41.00 1.68 30.40 25.85 17.31 2.18 26.33 4.63 3.30 14.25 4.12 24.17 7.30 10.06 3.98 4.60 8.38 7.51 7.93 5.38 4.77 11.06 3.30 3.87 24.79 12.18 12.53 5.83 3.93 17.87 2.77 23.26 10.81 9.43 11.14 9.00 4.71 11.48 13.63 18.18 13.80 11.92 5.00 15.50 2.29 15.51 13.11 24.20 9.50 12.83 7.94 14.88 12.79 12.39 14.03 4.68 18.

924.469.75 0.29 2.94 14.00 21.40 17.17 0.427 521.717.04 12.378 780 779 314 1.179.58 11.00 24.364 3.338 671.32 9.393 67.772 4.776 1.151 464.00 24.00 24.85 2.090 144.655 215.031 134.03 3.386 Tingkat Kecukupan (Bulan) (6) 1.00 24.366 1.69 12.000 1.990 12. Kemenkes RI Stok Obat Pemakaian Rata-rata/ Bulan (4) (5) 8.65 3.298.22 10.55 7.453.98 14.00 24.717 8.40 0.572 2.729.71 0.20 - 24.719.18 17.52 0.977.29 24.256.10 10.24 2.428.00 24.758.00 24.310.48 7.00 24.00 24.224.598 1.00 24.64 7.968 2.438 7.68 0.00 22.00 24.468.860 6.00 24.87 12.168.44 0.281.02 0.398 10.056 155.074.159 419.87 13.075.00 24.827 5.15 10.06 0.00 24.58 Kisaran Tingkat Kecukupan MinMaks (Bulan) (7) 4.85 6.31 REKAPITULASI DATA KECUKUPAN OBAT NASIONAL TAHUN 2009 Rekap Nasional No.269.816.213 62.792 12.456.00 24.635 80.234 1.78 0.121 11.50 0.25 24.07 0.63 0.00 24.080 50.782 6.28 3.56 9.787.00 24.93 0.79 7.00 24.880 102.977.62 7.848 9.130.25 1.43 2.00 24.96 9.29 2.08 13.42 10.00 .810 1.304 4.873.370 1.593 5.00 24.762 2.06 3.555 36.14 0.92 17.705 7.00 24.210.00 24.348 36.698.08 2.911 7.931.486 2.81 21.048.942 236.883 12.81 9.434 8. Nama Obat Satuan (1) (2) (3) 1 Amoksisilin sirup kering 125 mg/ml Btl 60 ml Amoksisilin kapsul 500 mg Ktk @ 120 kap 2 Antasida DOEN tablet Btl @ 1000 tab 3 Antalgin tablet 500 mg Btl @ 1000 tab 4 Ktk @ 100 ampul 5 Deksametason inj 5 mg/ml – 2ml Btl 60 ml 6 Dekstrometorfan Sirup 10 mg/5ml Btl @ 1000 tab 7 Dekstrometorfan Tab 15 mg Ktk @ 100 ampul 8 Difenhidramin HCl inj 10 mg/ml-1ml Btl @ 1000 tab 9 Gliserin Guaiakolat tab 100 mg Btl 500 ml 10 Glukosa Larutan Infus 5 % steril Btl @ 100 tab 11 Ibuprofen tablet 200 mg Btl @ 250 Kapsul 12 Kloramfenikol kapsul 250 mg Btl @ 100 tab 13 Kotrimoksazol tablet 480 mg Btl @ 100 tab 14 Kotrimoksazol tablet 120 mg Btl 60 ml 15 Kotrimoksazol Sirup Tablet 16 Klorfeniramini Maleat tab 4 mg Tablet 17 Kloroquin tablet Btl 500 ml 18 Natrium Klorida Infus 0.542 77.9 % steril Btl @ 1000 tab 19 Parasetamol Tablet 500 mg Btl 500 ml 20 Ringer Laktat Infus steril Btl @ 1000 Kapsul 21 Vitamin B Kompleks Kapsul 22 Retinol 200.827.626 19.113.06 2.054 582.119 2.552 163.758 58.89 10.21 0.38 2.798 248.275 346.668 795.728.84 10.60 1.154.027.00 24.36 0.782.066 560.00 24.222 378.07 0.51 3.579 1.707.00 24.263 228.867.83 5.773 3.337 45.36 15.335 157.00 24.37 7.30 0.145.714.000 IU Btl @ 30 Kapsul Ktk @ 30 Tablet 23 Tablet Tambah darah Botol 24 Multivitamin Sirup Bungkus 25 Garam Oralit 26 OAT Kat 1 Pkt 27 OAT Kat 2 Pkt 28 OAT Kat 3 Pkt Pkt 29 OAT Kat Sisipan Pkt 30 OAT Kat Anak Btl @ 1000 Tablet 31 Pyrantel Pamoat 125 mg tablet Pot 32 Salep 2-4 Kantong 33 Infus set dewasa Kantong 34 Infus set anak Sumber: Ditjen Bina Kefarmasian dan Alkes.00 24.858 3.989 24.Lampiran 4.455.00 24.00 24.18 9.

69 3.40 2.08 3.65 3.93 10.00 3.61 3. 2009 .01 6.77 3.98 7.57 7.21 6.22 3.27 6.25 6.27 8.002 871 117 929 180 112 134 253 211 163 204 192 142 145 374 153 55 66 142 64 83 246 301 495 227 183 158 278 142 253 50 59 351 999 842 120 940 194 114 142 278 224 169 214 205 144 144 395 208 73 70 153 91 96 236 309 500 242 176 163 284 167 264 55 61 339 1.75 3.68 7.62 7.53 5.45 4.33 6.83 4.58 3.44 2.69 3.22 3.08 5.12 12.28 5.54 7.35 5.09 7.30 8.09 6.35 10.94 5.67 6.48 13.48 2.71 6.78 11.78 11.92 3.05 8.02 3.04 6.58 9.669 8.34 6.23 5.000 Penduduk 2006 2007 2008 (9) (10) (11) 2009 (12) 266 426 214 150 135 242 113 224 47 41 335 996 853 117 919 173 110 128 228 207 134 192 187 119 139 347 139 45 50 109 56 60 168 274 445 224 154 140 249 126 235 47 45 342 999 858 117 930 177 110 130 251 205 154 201 186 130 144 362 159 55 62 125 62 81 236 311 463 228 156 148 259 140 248 51 51 341 1.36 3.90 8.52 4.20 7.13 4.10 6.61 3.48 7.40 3.69 5.21 3.45 2.008 849 119 944 196 114 145 288 229 169 213 207 159 165 395 223 75 77 135 96 105 266 6.12 5.234 8.78 2.25 9.41 2.74 3.59 2.2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Jumlah Puskesmas 2005 2006 2007 2008 2009 2005 (3) (4) (5) (6) (7) (8) Rasio Puskesmas per 100.06 5.24 3.02 7.67 3.76 4.60 3.52 5.02 6.52 1.06 10.25 3.59 6.51 6.08 9.88 8.73 3.32 5.42 4.92 3.11 7.54 1.26 4.08 4.21 6.76 2.42 4.66 3.46 2.87 7.05 5.99 10.02 3.40 4.22 3.01 6.62 6.52 2.85 6.43 2.52 5.49 6.Lampiran 5.015 8.53 2.53 7.91 5.36 3.61 4. Kemenkes.85 3.61 8.69 8.37 3.00 5.04 3.05 7.737 3.50 3.85 14.67 3.65 4.53 2.80 4.03 3.67 3.53 5.56 2.86 7.66 3.50 2.68 2.75 11.50 3.78 Sumber: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.06 4.35 6.13 6.77 8.56 5.52 4.91 3.05 4.15 4.49 10.73 6.82 2.15 11.91 6.13 5.12 3.53 1.01 3.06 3.21 3.58 3.1 JUMLAH PUSKESMAS DAN RASIONYA TERHADAP PENDUDUK MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .84 6.95 6.84 2.01 3.65 3.29 3.548 8.84 2.77 5.83 6.

704 Puskesmas PONED 2009 (8) 50 62 73 32 43 45 23 55 10 18 17 143 145 27 217 42 29 39 61 18 26 54 41 34 54 67 29 19 16 26 16 0 6 1. Kemenkes.077 Sumber: Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi.Lampiran 5.2 JUMLAH PUSKESMAS PERAWATAN DAN PUSKESMAS NON PERAWATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2005 .537 Jumlah Puskesmas Non Perawatan 2005 2006 2007 2008 2009 (9) (10) (11) (12) (13) 177 328 150 111 92 167 89 193 33 24 285 864 635 85 609 155 87 82 156 137 99 159 117 63 80 200 94 31 31 78 39 38 104 5.592 189 300 143 108 99 173 92 196 30 29 292 857 617 79 594 143 88 86 127 134 102 165 99 71 80 183 107 38 40 71 31 40 115 5. 2009 85 145 81 46 41 76 34 39 17 16 50 142 241 38 336 34 22 44 124 71 52 36 87 59 64 179 52 17 22 54 31 41 121 2.518 186 341 144 107 89 173 105 168 32 34 291 852 602 79 564 146 89 76 142 140 109 164 110 77 81 185 105 37 42 83 34 50 114 5.438 115 129 81 51 56 80 37 51 20 24 51 171 234 41 365 46 27 80 93 94 55 46 100 72 63 205 69 22 31 48 27 36 84 2.497 125 122 84 49 59 86 35 80 19 17 50 150 269 38 365 34 23 58 111 71 54 40 82 65 64 189 48 18 24 59 30 33 132 2.2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Jumlah Puskesmas Perawatan Provinsi (2) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2005 2006 2007 2008 2009 (3) (4) (5) (6) (7) 89 98 64 39 43 75 24 31 14 17 50 132 218 32 310 18 23 46 72 70 35 33 70 56 59 147 45 14 19 31 17 22 64 2.551 235 351 159 138 107 201 107 216 36 35 297 859 610 79 548 152 90 56 209 142 122 172 109 78 77 227 145 56 48 124 64 70 191 6.033 .110 194 371 161 125 107 204 130 213 35 37 288 837 615 78 579 150 87 65 195 135 114 167 107 87 102 190 154 53 46 87 69 69 182 6.683 66 144 68 45 51 77 35 37 14 24 54 140 232 41 392 42 24 86 69 82 47 42 96 66 67 168 63 17 22 29 27 26 45 2.

719 6.72 2.63 0.61 3.048 7.58 4.63 2.548 4.69 7.041 1. Kemenkes.79 3.14 0.420 5.88 0.64 0.583 75.55 .82 1.45 0.76 0.712 2.27 2.650 2021 3660 2328 1142 854 2362 1274 1371 275 192 1176 5378 7529 420 8446 508 462 888 574 1014 410 1668 636 984 1080 2610 1008 280 79 574 211 532 50 51. Kemenkes.358 361 331 267 5..861 6.812 7.874 1.85 0.190 266.134 499 235 289 340 242 249 550 22. 2010 Pusat Promosi Kesehatan.45 6.262 3.679 2.577 438 8.65 0.76 6.47 1.92 0.777 1.28 0.324 1.291 3.76 2.015 8.24 6.538 4.66 0.91 5.11 1.992 5.827 0.775 1.65 2.06 2.506 1.27 0.96 0.060 9.649 964 1.99 0.775 1.226 3.869 1.21 0.530 698 913 2.69 1.057 2.73 15.27 2.404 1.12 2.41 0.228 1.57 12. 2010 6.318 1.17 1.33 0.442 2.480 948 903 4.88 0.441 1.82 0.510 1.319 2. Bina Kesehatan Masyarakat.91 0.500 1.83 5.373 256 503 481 846 779 745 574 613 447 702 1.680 4.57 0.226 919 1.133 5.40 0.17 2.3 JUMLAH SARANA KESEHATAN MENURUT PROVINSI DI INDONESIA TAHUN 2009 No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Jumlah Desa / Kelurahan Puskesmas Pembantu Desa / Kelurahan / RW Siaga / Poskesdes Kader / Toma Terlatih Posyandu Rasio Desa Siaga/Poskesdes terhadap Desa/Kel Rasio Posyandu terhadap Desa/Kel (2) (3) (4) (6) (5) (9) (10) (11) Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber : Ditjen.039 13.41 0.Lampiran 5.894 1.42 6.28 1.01 0.55 0.763 5.827 8.996 4500 3548 200 1950 4754 1878 4050 714 1059 990 4500 3750 714 4086 1800 780 2664 600 199 515 1770 4459 2520 1968 612 660 1248 360 1200 58.97 0.93 3.47 0.122 2.76 0.20 0.502 1.10 2.65 0.654 46.792 4.825 595 564 898 1.26 3.09 2.797 822 668 547 937 497 733 121 189 2 1.455 2.31 0.439 1.01 1.87 0.57 1.58 0.097 2.632 47.55 2.737 318 2.190 45.973 1.

2010 Kemenkes/Pemda RS RS Jumlah Umum Khusus (3) (4) (5) RS Umum (6) TNI/POLRI RS Jumlah Khusus (7) (8) Kementerian Lain/BUMN RS RS Jumlah Umum Khusus (9) (10) (11) RS Umum Swasta RS Khusus (12) (13) Jumlah RS Umum (14) (15) Semua RS RS Jumlah Khusus (16) (17) 21 31 18 13 11 18 9 10 7 7 8 34 46 6 48 5 9 7 16 13 14 13 15 8 11 25 9 4 3 9 8 5 12 3 5 2 1 1 4 1 1 1 0 7 8 9 1 8 1 2 3 0 3 0 1 3 1 1 7 1 1 0 1 0 0 2 24 36 20 14 12 22 10 11 8 7 15 42 55 7 56 6 11 10 16 16 14 14 18 9 12 32 10 5 3 10 8 5 14 4 8 3 3 2 2 2 2 0 2 8 12 11 2 20 2 2 2 2 3 1 4 3 3 1 6 2 0 0 3 2 3 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 8 3 3 2 2 2 2 0 2 9 12 11 2 21 2 2 2 2 3 1 4 3 3 1 6 2 0 0 3 2 3 3 3 17 1 4 2 5 0 0 0 2 5 6 3 0 13 2 0 0 0 1 0 2 2 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 3 18 1 4 2 5 0 0 0 2 6 7 3 1 15 2 0 0 0 1 0 2 2 0 0 2 1 0 0 0 0 1 0 8 69 9 10 3 7 1 15 2 7 57 73 87 13 62 14 17 4 10 7 0 4 9 14 4 12 3 0 1 6 1 2 4 2 7 10 3 1 2 0 2 0 2 41 36 43 18 25 11 7 0 1 3 0 4 1 0 4 8 1 0 0 1 0 0 0 10 76 19 13 4 9 1 17 2 9 98 109 130 31 87 25 24 4 11 10 0 8 10 14 8 20 4 0 1 7 1 2 4 36 125 31 30 18 32 12 27 9 18 78 125 147 21 143 23 28 13 28 24 15 23 29 25 16 44 15 4 4 18 11 11 19 5 13 12 4 2 6 1 3 1 2 50 45 52 20 36 12 9 3 1 6 0 5 4 1 5 16 2 1 0 2 0 0 2 41 138 43 34 20 38 13 30 10 20 128 170 199 41 179 35 37 16 29 30 15 28 33 26 21 60 17 5 4 20 11 11 21 473 79 552 123 2 125 71 7 78 535 233 768 1.523 . Kemenkes.202 321 1.Lampiran 5.4 JUMLAH RUMAH SAKIT DI INDONESIA MENURUT PENGELOLA DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.

842 110 10.827 71 6.182 43 13.851 71 6.079 128.902 43 12.5 JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR MENURUT PENGELOLA TAHUN 2005 .896 334 35.814 110 10.364 441 43.074 467 47.044 13 9.777 13 9.033 122.295 1.286 1.575 375 41.603 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.285 416 47.750 1.811 4 TNI/POLRI 110 10.2009 Tahun 2005 No Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Pengelola (1) (2) Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Kementerian Kesehatan 13 8.375 345 37.Lampiran 5.029 3 Pemerintah Kab/Kota 322 33.821 5 Kementerian Lain / BUMN 71 6.784 13 8.266 535 52.907 123 11. Kemenkes.789 451 45.483 13 8.836 110 10.643 71 6.202 141.605 44 14. 2010 .834 43 13.747 6 Swasta 436 43.064 995 116.504 1.012 118.880 71 6.131 2 Pemerintah Provinsi 43 12.

091 253 8 251 8 551 18 1.983 266 9 303 10 600 20 1. 2010 163. Kemenkes.039 42 581 24 20 Kalimantan Barat 3.368 1.439 247 10 230 9 464 19 994 41 504 21 23 Kalimantan Timur 3.123 32 865 25 18 Nusa Tenggara Barat 1.601 7 2.1 .450 47 586 19 9 Bangka Belitung 861 32 4 52 6 211 25 377 44 189 22 10 Kepulauan Riau 1.164 21 13 Jawa Tengah 23.2 64.998 1.294 10 2.574 2.211 57 5 108 9 161 13 479 40 406 34 28 Gorontalo 510 35 7 24 5 81 16 204 40 166 33 29 Sulawesi Barat 279 28 10 22 8 58 21 125 45 46 16 30 Maluku 1.544 638 5 1.315 17 6.404 7 2.362 20 12 Jawa Barat 19.247 37 1.374 10.351 129 4 241 7 556 17 1.218 85 3 284 9 642 20 1.167 37 4.5 17. Yogyakarta 4.163 46 3.312 350 8 442 10 1.305 7.171 10 5.503 16 16 Banten 3.254 123 4 291 9 563 17 1.054 92 9 88 8 150 14 394 37 330 31 22 Kalimantan Selatan 2.653 21 1 98 6 229 14 824 50 481 29 Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.458 41 808 23 24 Sulawesi Utara 3.094 23 3 Sumatera Barat 4.334 10 2.727 322 7 588 12 840 18 2.186 16 2.448 129 5 273 11 426 17 1.974 12 2.198 46 779 16 7 Bengkulu 987 55 6 56 6 130 13 210 21 536 54 8 Lampung 3.651 39.6 JUMLAH TEMPAT TIDUR DI RUMAH SAKIT UMUM DAN RUMAH SAKIT KHUSUS MENURUT KELAS PERAWATAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Total Tempat Tidur (3) VIP Jumlah % (4) Kelas Perawatan Kelas II Jumlah % Kelas I Jumlah (5) % (6) (7) (8) Kelas III (9) Jumlah % (10) (11) Tanpa Kelas Jumlah % (12) (13) 3.250 22.708 73 4 196 11 279 16 712 42 448 26 26 Sulawesi Selatan 7.952 45 3.178 35 Sumatera Utara 13.432 35 969 23 15 Jawa Timur 22.160 39 654 22 5 Jambi 1.268 30 27 Sulawesi Tenggara 1.I.447 473 6 764 10 1.575 280 8 327 9 702 20 1.556 24 14 D.Lampiran 5.653 48 3 68 4 192 12 894 54 451 27 31 Maluku Utara 696 20 3 20 3 83 12 214 31 359 52 32 Papua Barat 686 53 8 22 3 66 10 445 65 100 15 33 Papua 1.319 154 5 411 12 693 21 1.5 36.491 23 7.268 1.265 22 7.473 392 11 457 13 636 18 1.936 12 5.662 151 9 210 13 300 18 571 34 430 26 6 Sumatera Selatan 4.100 20.650 21 5.6 33.756 37 2.041 23 9.191 36 870 26 17 Bali 3.602 112 7 167 10 289 18 818 51 216 13 19 Nusa Tenggara Timur 2.141 323 8 506 12 911 22 1.523 32 5.680 12.588 91 6 166 10 270 17 647 41 414 26 11 DKI Jakarta 16.142 11 4.886 35 3.126 13 3.069 25 1.542 48 665 21 25 Sulawesi Tengah 1.547 48 730 22 21 Kalimantan Tengah 1.909 44 542 13 4 Riau 2.

7 JUMLAH RUMAH SAKIT UMUM DAN TEMPAT TIDUR MILIK KEMENKES/PEMDA MENURUT KELAS RUMAH SAKIT DAN PROVINSI TAHUN 2009 Kelas A No Provinsi (1) (2) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.031 92 5. Kemenkes.903 661 450 221 765 478 394 1.445 516 480 3.274 909 2.565 1.793 989 1.576 1.682 2.349 86 367 761 502 544 386 790 602 466 458 1.405 1.361 673 2.023 1.152 648 441 640 212 282 0 353 0 0 348 14 18 14 8 9 9 3 6 3 7 1 15 20 2 19 1 4 6 4 7 5 10 8 4 6 20 5 1 2 2 3 4 5 1.382 594 586 965 179 533 296 480 214 1.960 903 593 289 284 458 329 565 1.640 1.162 10 8.752 3.069 245 24. 2010 Kelas B Kelas C Kelas D Total Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah Tempat Tidur Jumlah (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) Tempat Tidur (12) 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 2 1 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 600 0 0 0 0 0 0 0 0 1.189 1.202 980 1.804 1.440 442 2.809 4.546 9.793 3.619 9.034 852 1.299 6.463 1.050 1.052 2.658 1.309 1.210 711 1.264 0 698 0 0 0 0 0 0 0 0 580 0 0 0 0 0 0 0 3 9 2 1 1 2 1 2 0 0 6 16 18 3 23 4 4 1 1 2 2 2 5 1 2 3 1 1 0 1 0 0 1 525 1.290 504 4.041 465 66.Lampiran 5.051 3.657 299 68 119 147 278 394 522 4 3 2 4 1 7 4 2 4 0 0 2 6 0 4 0 0 0 11 4 7 1 1 1 3 1 3 2 1 5 4 0 5 204 133 127 265 50 340 200 100 220 0 0 92 372 0 220 0 0 0 790 200 265 50 50 75 153 26 150 100 102 265 200 0 292 21 31 18 13 11 18 8 10 7 7 8 34 46 6 48 5 9 7 16 13 14 13 14 6 11 25 9 4 3 8 7 4 11 1.203 .062 118 29.056 415 273 905 332 812 0 0 2.

450 57 1.206 2 RS Kusta 22 2.2009 No Jenis Rumah Sakit (1) (2) Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 RS TT RS TT RS TT RS TT RS TT (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 RS Jiwa 51 8.556 79 3.458 57 2.781 51 9.133 22 2.8 JUMLAH RUMAH SAKIT KHUSUS DAN TEMPAT TIDURNYA MENURUT JENIS RUMAH SAKIT TAHUN 2005 .224 3 RS Tuberkulosa Paru 9 766 9 718 10 757 11 782 10 731 4 RS Mata 10 475 10 459 10 418 10 418 11 423 5 RS Ortopedi 1 187 1 187 1 187 1 187 1 127 6 RS Penyakit Infeksi 1 127 1 144 1 144 1 144 1 144 7 RS Jantung 2 234 2 234 2 234 2 239 2 222 8 RS Kanker 1 129 1 172 1 172 1 172 1 172 9 RS Bersalin 56 2.762 273 20.388 74 3.635 57 2.137 22 2.516 66 1.630 51 8.475 10 RS Ibu dan Anak 64 3.446 22 2.527 51 8.788 321 22. Kemenkes.726 51 8.427 57 1.168 22 2.480 280 19. 2010 .577 61 2.420 57 1.629 69 3.412 292 20.533 57 2.947 286 20.804 95 4.591 11 RS Khusus Lainnya 56 1.077 Jumlah Sumber: Ditjen Bina Yanmedik.Lampiran 5.

Lampiran 5.293 125 164 214 416 507 600 515 453 492 TOTAL Sumber: Ditjen Binfar dan Alkes. Kemenkes. 2010 0 0 0 0 0 0 0 0 10 0 0 1 1 2 3 0 0 0 10 10 9 2 3 3 78 78 79 6 9 13 22 26 37 39 41 41 0 0 11 11 13 1 1 1 2 3 3 6 15 13 0 0 0 0 0 2 2 1 1 1 1 0 0 0 0 0 4 4 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 1 1 0 0 0 1 0 0 0 4 4 0 0 0 2 2 2 1 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 2 2 2 5 6 6 1 1 1 2 3 3 1 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 3 3 3 0 0 0 30 30 28 0 6 17 43 47 54 9 15 20 56 76 87 38 38 37 .9 JUMLAH SARANA PRODUKSI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2007-2009 NO PROVINSI (1) (2) Industri Farmasi Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) Industri Obat Tradisional (IOT) Perbekalan Kesehatan dan Rumah Tangga (PKRT) Produksi Alat Kesehatan Industri Kosmetika 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) 2009 (20) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 0 2 2 0 4 Kepulauan Riau 0 2 2 0 5 Riau 0 0 0 0 6 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 7 Jambi 1 1 8 Bengkulu 0 9 Sumatera Selatan 10 Lampung 11 Banten 12 DKI Jakarta 22 22 23 7 7 7 28 28 116 29 37 46 84 103 120 99 20 70 13 Jawa Barat 76 77 91 32 32 32 184 184 184 49 63 80 137 162 192 108 108 107 14 Jawa Tengah 31 31 25 0 0 0 36 36 282 11 14 18 42 50 55 45 45 26 15 DI Yogyakarta 1 1 1 0 0 0 42 42 40 3 3 3 2 3 3 8 8 0 16 Jawa Timur 59 54 54 17 17 17 343 411 388 13 17 25 55 64 80 150 150 151 17 Bali 1 1 1 0 0 0 13 13 12 0 0 0 0 0 0 2 5 24 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 9 9 9 1 2 3 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 9 9 10 0 0 0 2 2 1 0 0 0 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 24 26 29 0 0 0 2 2 3 18 19 20 23 Kalimantan Timur 0 0 0 0 0 0 11 15 15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 8 9 9 0 0 0 2 3 3 0 0 0 25 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 26 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 27 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Sulawesi Selatan 0 0 0 0 0 0 8 10 13 0 0 0 1 1 2 0 0 0 29 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 31 Maluku 0 0 0 0 0 0 4 6 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 231 232 238 60 67 78 862 951 1.

586 218 218 217 22 27 34 399 274 274 17 Bali 81 81 82 179 383 462 104 159 165 2 3 4 52 109 96 18 Nusa Tenggara Barat 31 38 38 34 162 173 100 102 102 0 0 0 6 92 92 19 Nusa Tenggara Timur 27 27 28 39 103 103 81 183 183 0 0 0 99 153 153 20 Kalimantan Barat 67 69 74 99 130 160 244 270 337 0 0 0 82 97 107 21 Kalimantan Tengah 11 14 15 80 84 126 148 162 141 0 0 0 0 49 50 22 Kalimantan Selatan 69 59 61 134 171 199 233 433 460 0 0 0 135 154 159 23 Kalimantan Timur 45 52 47 197 263 349 315 300 336 0 0 0 80 111 152 24 Sulawesi Utara 43 43 43 100 122 139 49 40 73 0 0 0 82 109 143 25 Sulawesi Barat 0 1 1 29 28 45 33 33 44 0 0 0 0 8 8 26 Sulawesi Tengah 31 23 24 41 124 148 112 112 174 0 0 0 35 102 103 27 Gorontalo 28 Sulawesi Selatan 29 Sulawesi Tenggara 30 Maluku Utara 31 Maluku 32 Papua Barat 13 13 13 57 71 75 45 44 46 0 0 0 2 2 3 33 Papua 36 38 37 83 127 142 94 13 14 0 0 0 108 151 212 2.820 361 361 361 13 17 23 0 0 0 15 DI Yogyakarta 55 42 44 123 355 359 43 52 57 3 4 5 28 96 96 16 Jawa Timur 370 461 461 890 1.611 3.296 3.940 7.586 1. 2010 5 5 6 36 55 61 42 41 40 0 0 0 41 25 18 123 134 134 210 468 518 451 436 116 2 2 3 59 150 150 19 13 13 62 105 109 96 165 165 0 0 0 64 90 139 3 6 6 34 34 54 25 25 29 0 0 0 12 64 42 15 18 19 47 60 59 80 125 125 0 0 0 32 62 77 . Kemenkes.10 JUMLAH SARANA DISTRIBUSI BIDANG KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 Pedagang Besar Farmasi NO PROVINSI (1) (2) Toko Obat Apotek Penyalur Alat Kesehatan (PAK) Sub Penyalur Alat Kesehatan (Sub PAK) 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 2009 2007 2008 (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 71 4 Kepulauan Riau 20 5 Riau 44 6 Kepulauan Bangka Belitung 6 7 Jambi 31 8 Bengkulu 9 2009 (17) 58 51 52 119 170 209 534 576 560 0 0 0 98 99 125 110 103 106 386 769 768 259 738 737 10 13 15 0 128 128 74 81 193 296 295 361 482 478 0 0 0 101 57 89 28 33 98 129 160 286 336 377 2 2 2 19 38 55 81 91 269 313 346 290 328 546 2 3 5 195 235 235 10 14 46 62 70 72 79 92 2 2 2 28 30 30 47 49 121 151 166 137 167 176 0 0 0 85 44 55 17 17 19 77 96 99 104 95 90 0 0 0 64 72 72 Sumatera Selatan 88 95 95 175 225 243 97 95 114 5 5 4 91 106 106 10 Lampung 74 48 53 162 212 225 123 157 113 1 1 1 39 65 65 11 Banten 34 79 81 137 137 401 9 9 9 25 31 37 12 12 20 12 DKI Jakarta 521 279 283 807 1.230 2.915 7.256 420 872 872 43 58 73 295 244 244 14 Jawa Tengah 328 329 325 522 522 1.256 2.953 567 667 826 2.816 10.746 349 732 604 435 499 618 268 268 268 13 Jawa Barat 343 365 393 1.566 TOTAL Sumber: Ditjen Binfar dan Alkes.931 13.671 5.743 2.162 1.789 2.821 6.Lampiran 5.

5 6.4 0.8 0.2 0.5 0.11 JUMLAH INSTITUSI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES) MENURUT JURUSAN DAN PROVINSI TAHUN 2009 Jurusan / Program Studi (1) (2) (3) (4) (6) (7) (8) (9) (11) (12) (13) (14) (15) (16) Perekam Informasi Kesehatan Ortotik Prostetik Teknik Gigi Teknik Radiodiagnostik Teknik Elektromedik Akupunktur Terapi Wicara Okupasi Terapi (10) KETEKNISIAN MEDIS Analis Kesehatan KETERAPIAN FISIK GIZI Gizi Kesehatan Lingkungan Analis Farmasi & Makanan Farmasi (5) KESMAS Fisioterapi KEFARMASIAN Kesehatan Gigi Poltekkes Kebidanan No Keperawatan KEPERAWATAN (17) (18) (19) TOTAL (20) 1 Banda Aceh 3 3 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10 2 Medan 1 3 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9 3 Pekanbaru 2 2 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 4 Padang 2 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 5 Jambi 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 6 Bengkulu 3 1 1 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8 7 Palembang 2 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 8 Tanjung Karang 2 2 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 8 9 Jakarta I 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 4 10 Jakarta II 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 7 11 Jakarta III 3 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 12 Bandung 3 4 1 0 0 1 1 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 12 13 Tasikmalaya 2 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 14 Yogyakarta 5 3 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 13 15 Semarang 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 7 16 Surakarta 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 17 Surabaya 4 3 1 0 0 2 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 12 18 Malang 3 3 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 19 Denpasar 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 7 20 Mataram 2 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 5 21 Kupang 3 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 22 Pontianak 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 23 Palangkaraya 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 24 Samarinda 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 6 25 Banjarmasin 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 4 26 Palu 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 27 Makassar 2 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 28 Kendari 2 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9 29 Manado 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 30 Gorontalo 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 31 Ambon 3 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 32 Ternate 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 33 Jayapura 7 2 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 TOTAL % Sumber: BPPSDM Kesehatan.9 0.5 100 .Lampiran 5.5 8.5 0.5 0. Kemenkes.9 1.5 9.3 23.1 3.5 11.8 0. 2010 67 52 18 7 1 21 26 2 1 1 1 15 2 3 1 2 1 221 30.9 0.

9 32 14. Kemenkes.48 .45 77 42.12 JUMLAH JURUSAN/PROGRAM STUDI POLITEKNIK KESEHATAN (POLTEKKES) MENURUT AKREDITASI DAN STRATA TAHUN 2009 Strata No Poltekkes Jumlah Jurusan/Program Studi (1) (2) (3) Jurusan Terakreditasi Belum Terakreditasi A B C Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) (8) (9) (12) (13) (14) (15) 1 Banda Aceh 10 7 70 1 14 6 86 0 0 3 2 Medan 9 9 100 2 22 5 56 2 22 0 0 3 Pekanbaru 7 6 86 5 83 1 17 0 0 1 14 4 Padang 5 2 40 0 0 2 100 0 0 3 60 5 Jambi 4 4 100 2 50 2 50 0 0 0 0 6 Bengkulu 8 8 100 0 0 8 100 0 0 0 0 7 Palembang 6 2 33 2 100 0 0 0 0 2 33 8 Tanjung Karang 8 7 88 0 0 7 100 0 0 1 13 9 Jakarta I 4 3 75 2 67 1 33 0 0 0 0 10 Jakarta II 7 7 100 4 57 3 43 0 0 0 0 11 Jakarta III 6 6 100 6 100 0 0 0 0 0 0 12 Bandung 12 11 92 9 82 2 18 0 0 0 0 13 Tasikmalaya 5 5 100 5 100 0 0 0 0 0 0 14 Yogyakarta 6 6 100 4 67 2 33 0 0 0 0 15 Semarang 13 11 85 9 82 2 18 0 0 2 15 16 Surakarta 7 4 57 2 50 2 50 0 0 3 43 17 Surabaya 12 12 100 7 58 5 42 0 0 0 0 18 Malang 7 7 100 5 71 2 29 0 0 0 0 19 Denpasar 7 5 71 2 40 3 60 0 0 0 0 20 Mataram 5 5 100 3 60 2 40 0 0 0 0 21 Kupang 8 7 88 0 0 7 100 0 0 1 13 22 Pontianak 6 4 67 2 50 2 50 0 0 2 33 23 Palangkaraya 3 2 67 0 0 2 100 0 0 1 33 24 Samarinda 6 6 100 3 50 3 50 0 0 0 0 25 Banjarmasin 4 2 50 1 50 1 50 0 0 2 50 26 Palu 6 4 67 0 0 4 100 0 0 2 33 27 Makassar 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Kendari 4 4 100 0 0 4 100 0 0 0 0 29 Manado 9 8 89 1 13 7 88 0 0 1 11 30 Gorontalo 3 3 100 0 0 0 0 3 100 0 0 31 Ambon 6 6 100 0 0 4 67 2 33 0 0 32 Ternate 33 Jayapura Jumlah Sumber: BPPSDM Kesehatan.8 96 53.Lampiran 5.3 7 3. 2010 30 3 2 67 0 0 2 100 0 0 1 33 12 5 42 0 0 5 100 0 0 7 58 221 180 81.

2010 .13 JUMLAH INSTITUSI NON POLITEKNIK KESEHATAN (NON-POLTEKKES) MENURUT JURUSAN/PROGRAM STUDI DAN PROVINSI TAHUN 2009 (4) (8) (9) (10) (12) (13) (14) (15) (17) (18) (19) (20) (21) (22) D-III Kardiovaskuler D-I PTTD ATEM APIKES ARO AAK ATG SMAK (16) ATRO Keteknisian Medis D-III AKUPUNTUR ATW AKFIS AKL (11) Keterapian Fisik Gizi AKZI Kesmas AKFAR (7) AKAFARMA (6) SMKF (5) SMF AKG (3) AKBID (2) (1) Kefarmasian AKPER Provinsi SPRG No SPK Keperawatan (23) (24) Jumlah (25) (26) 1 Aceh 1 0 14 33 0 0 0 1 1 1 0 2 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 57 2 Sumatera Utara 0 0 42 53 0 4 0 3 1 1 2 2 0 0 1 0 2 1 1 0 1 0 0 114 3 Sumatera Barat 0 0 13 10 0 1 0 1 3 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 2 0 0 0 34 4 Riau 0 0 7 20 0 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 34 5 Jambi 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 5 6 Sumatera Selatan 0 0 7 6 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 15 7 Bengkulu 0 0 12 16 0 1 0 0 2 2 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 35 8 Lampung 0 0 4 4 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 5 10 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 17 10 Kepulauan Riau 1 0 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 11 DKI Jakarta 1 2 31 21 0 8 0 2 2 1 2 2 1 0 2 1 0 1 2 2 1 1 1 84 12 Jawa Barat 0 0 14 12 0 4 40 0 2 0 0 1 0 0 0 0 2 1 1 1 0 0 0 78 13 Jawa Tengah 2 0 44 52 0 4 0 3 12 3 2 3 0 0 2 0 4 1 2 6 2 0 0 142 14 DI Yogyakarta 0 0 4 9 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 15 Jawa Timur 0 0 5 2 0 1 0 0 2 0 0 0 0 3 0 0 1 1 0 2 1 1 0 19 16 Banten 0 1 42 27 0 5 2 3 2 1 2 2 0 0 1 1 4 0 1 2 0 0 0 96 17 Bali 1 0 1 2 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 7 18 Nusa Tenggara Barat 1 0 4 7 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 16 19 Nusa Tenggara Timur 2 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 20 Kalimantan Barat 0 0 6 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 21 Kalimantan Tengah 0 0 3 2 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 7 22 Kalimantan Selatan 0 0 6 6 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 23 Kalimantan Timur 0 0 6 7 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 24 Sulawesi Utara 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 25 Sulawesi Tengah 0 0 5 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 26 Sulawesi Selatan 1 1 24 19 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 52 27 Sulawesi Tenggara 0 0 6 2 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 12 28 Gorontalo 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 31 Maluku Utara 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 3 10 4 319 329 1 33 44 15 43 13 9 16 1 3 8 2 22 9 8 20 7 2 1 919 JUMLAH Sumber: BPPSDM Kesehatan.Lampiran 5. Kemenkes.

Lampiran 5.59 Jumlah Sumber: BPPSDM Kesehatan.4 546 59. Kemenkes.4 0 .41 373 40. 2010 78.2 428 46 8.14 JUMLAH INSTITUSI NON POLITEKNIK KESEHATAN (NON-POLTEKKES) MENURUT AKREDITASI DAN STRATA TAHUN 2009 Strata Institusi yang Belum Terakreditasi No Provinsi Jumlah Institusi (1) (2) (3) A B C telah terakreditasi Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 57 1 4 21 75 6 21 28 49 29 51 114 4 5 61 75 16 20 81 71 33 29 3 Sumatera Barat 34 2 10 16 4 Riau 34 2 13 13 76 3 14 21 62 13 38 87 0 0 15 44 19 56 5 Jambi 5 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 15 0 0 9 100 0 0 9 0 5 100 60 6 7 Bengkulu 35 3 13 15 65 5 22 23 66 40 12 34 8 Lampung 9 1 20 4 80 0 0 5 56 4 44 9 Kepulauan Bangka Belitung 17 0 0 10 91 1 9 11 65 6 35 10 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 4 0 0 2 100 0 0 2 50 2 50 84 7 10 65 89 1 1 73 87 11 13 12 Jawa Barat 78 3 19 13 81 0 0 16 21 62 79 13 Jawa Tengah 142 16 17 71 76 6 6 93 65 49 35 14 DI Yogyakarta 16 1 11 8 89 0 0 9 56 7 44 15 Jawa Timur 99 20 27 54 72 1 1 75 76 24 24 16 Banten 15 1 20 4 80 0 0 5 33 10 67 17 Bali 7 0 0 3 100 0 0 3 43 4 57 18 Nusa Tenggara Barat 16 1 25 3 75 0 0 4 25 12 75 19 Nusa Tenggara Timur 20 Kalimantan Barat 21 Kalimantan Tengah 7 0 22 Kalimantan Selatan 15 4 23 Kalimantan Timur 16 2 24 Sulawesi Utara 5 0 25 Sulawesi Tengah 7 1 26 Sulawesi Selatan 52 27 Sulawesi Tenggara 12 28 Gorontalo 2 29 Sulawesi Barat 30 5 0 0 3 100 0 0 3 60 2 40 11 2 25 6 75 0 0 8 73 3 27 0 3 100 0 0 3 43 4 57 40 6 60 0 0 10 67 5 33 25 5 63 1 13 8 50 8 50 0 4 80 1 20 5 100 0 0 14 5 71 1 14 7 100 0 0 1 5 14 74 4 21 19 37 33 63 0 0 7 100 0 0 7 58 5 42 0 0 1 100 0 0 1 50 1 50 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Maluku 1 0 0 1 100 0 0 1 100 0 0 31 Maluku Utara 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 100 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 33 Papua 3 0 0 1 100 0 0 1 33 2 67 919 72 13.

Kemenkes.45 1 0 1 0 0 0 1 0 0 3 30 3. 2010 2 69 18 0 0 89 3 16 1 3 0 23 5 234 310 1 1 551 10 319 329 4 1 663 0 0 0 2 2 3 0 0 1 4 30 44 15 40 129 33 44 15 43 135 1 1 0 0 12 12 13 13 1 1 0 0 8 8 9 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 0 1 3 20 16 0 1 3 20 1 2 0 0 0 0 0 0 0 3 96 10.29 8 22 2 2 8 20 7 9 1 79 919 100 .26 6 20 1 2 8 20 6 9 1 73 793 86. Jenis Tenaga Kesehatan Pemda TNI / Polri Swasta Jumlah (2) (3) (4) (5) (6) (1) A B C D E F KEPERAWATAN 1 Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) 2 Akademi Keperawatan (AKPER) 3 Akademi Kebidanan (AKBID) 4 Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG) 5 Akademi Kesehatan Gigi (AKG) Sub Total KEFARMASIAN 1 Sekolah Menengah Farmasi (SMF) 2 SMKF 3 Akademi Analis Farmasi dan Makanan (AKAFARMA) 4 Akademi Farmasi (AKFAR) Sub Total KESEHATAN MASYARAKAT 1 Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Sub Total GIZI 1 Akademi Gizi (AKZI) Sub Total KETERAPIAN FISIK 1 Akademi Fisioterapi (AKFIS) 2 Akademi Okupasi Terapi (AOT) 3 Akademi Terapi Wicara (ATW) 4 Akademi Akupunktur Sub Total KETEKNISIAN MEDIS 1 Sekolah Menengah Analis Kesehatan (SMAK) 2 Akademi Analis Kesehatan (AAK) 3 Akademi Tekniker Gigi (ATG) 4 D-I Pendidikan Teknik Transfusi Darah (PTTD) 5 Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO) 6 Akademi Perekam Informasi Kesehatan (APIKES) 7 Akademi Teknik Elektromedik (ATEM) 8 Akademi Refraksionis Optisi (ARO) 9 Akademi Teknik Kardiovaskuler Sub Total Total % Sumber: BPPSDM Kesehatan.15 JUMLAH INSTITUSI DIKNAKES NON-POLTEKKES MENURUT STATUS KEPEMILIKAN TAHUN 2009 No.Lampiran 5.

Kemenkes.574 2.467 1.959 20.788 Sumber : Dinas Kesehatan seluruh Indonesia.113 1.948 346 1.951 583 616 361 368 299 151 103 178 90 60 180 1.762 10 2.337 1.499 8.298 1.291 163 11.956 35.048 3.399 24.706 20.303 3.119 35 827 73 66 179 178 144 5 47 3.298 13.247 9.030 5.234 2.849 6.673 7.387 3.715 968 1.165 776 789 493 532 611 673 115 255 168 236 1.917 3.792 14.796 8.851 3.988 1.458 16.602 1.930 17.682 215 28.326 21.947 342 4.436 2.007 1.826 6.887 1.277 2.279 1.521 4.532 6.563 3.582 .775 2.253 952 3.077 6.083 1.656 200 423 155 44 132 90 128 297 79 85 267 23 46 38 40 44 1.948 10.163 4.071 1.030 71.214 9.050 410.446 8.657 5.617 54 192 28 2.765 21.786 2.16 REKAPITULASI DATA SDM KESEHATAN PER PROVINSI KEADAAN DESEMBER 2009 MEDIS NO KEPERAWATAN KEFARMASIAN PROVINSI Dokter Spesialis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Gorontalo Maluku Maluku Utara 32 Papua Barat 33 Papua Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Perawat Gigi Bidan 6.889 278.975 563 794 1.067 6. 2010 984 93.532 2.153 222 380 386 604 337 243 449 332 427 326 393 450 79 75 236 102 544 729 477 293 171 203 140 241 109 106 354 946 1.Lampiran 5.531 314 903 225 380 153 474 329 247 384 158 284 28 498 134 79 48 18 37 685 564 335 233 420 351 207 260 95 56 83 1.985 98 15.994 5.319 2.517 28.023 3.862 12.036 1.543 13.310 5.027 2.308 2.291 6.200 4.483 15.532 109.908 1.762 12.986 14.705 6.956 10.957 1.633 27.662 19.385 5.683 11.686 7.188 258 1.456 456 988 516 437 402 435 203 236 474 305 296 337 618 728 151 139 170 451 Keterapian Fisik Keteknisian Medis Jumlah Nakes SDM Non Nakes Total SDM Kesehatan Sanitarian 467 626 523 315 118 34 27 231 20 176 1.774 173.341 255 12.576 11.659 895 938 521 282 395 785 228 456 896 2.255 352 361 1.473 640 632 95 112 102 168 78 101 121 204 112 228 122 133 26 45 47 208 KESMAS Tenaga Gizi Asisten Aptoteker 368 166 654 388 428 120 208 287 140 114 108 991 837 763 2.410 7.582 297 370 115 176 199 90 167 269 61 59 297 64 39 62 97 36 8.155 1.177 12.483 5.540 51.436 2.985 2.470 4.086 3.542 8.912 46.633 71.763 840 4.449 1.025 3.666 2.057 519.917 7.424 10.119 3.138 17.858 285 12.119 322 348 138 53 80 209 52 135 725 946 976 443 1.837 4.394 337 371 433 381 372 246 454 261 375 102 452 540 77 70 221 239 311 96 112 83 48 44 30 55 17 23 195 103 583 115 243 192 76 37 88 29 28 41 71 92 22 98 30 18 34 17 39 1.663 16.303 2.061 2.985 129 TOTAL 9.182 7.394 308 395 155 467 237 106 442 363 242 171 256 148 37 41 53 46 Sarjana Kesmas 1.957 517 298 280 674 238 25.289 53 13.466 4.906 1.191 785 1.905 8.971 995 2.755 2.068 1.221 106 8.801 4.193 445 493 575 416 530 831 599 352 981 233 150 172 345 203 188 1.032 6.268 13.433 183 364 266 520 351 232 501 465 18 86 214 142 41 95 29 130 22.490 20.384 TOTAL PER KATEGORI 51.150 975 2.399 6.182 850 2.945 14.545 12.953 253 16.395 2.588 5.086 2.275 1.317 9.389 13.951 12.745 6.035 954 634 547 368 120 206 524 156 160 573 1.581 10.307 50.234 2.072 509 570 6.419 2.186 1.244 893 Sarjana Farmasi & Apoteker 460 851 204 259 132 142 94 197 42 74 758 252 1. melalui pengumpulan data Badan PPSDMK.010 6.145 1.917 11.401 294 1.613 5.379 3.007 1.646 1.489 4.332 32 2.568 410.568 6.702 7.601 9.575 2.364 12.798 8.480 2.050 489 109.035 2.128 3.002 2.940 13.

773 10 Kepulauan Riau 64 200 60 1.509 24.Lampiran 5.621 111 54 174 264 117 2 46 5.567 36 203 143 306 256 5 160 4.346 543 5.958 20 Kalimantan Barat 227 225 58 2.509 13.623 23 Kalimantan Timur 224 427 179 2.737 499 6.910 530 4.746 409 14.379 4.615 158 1.776 29.253 121 722 265 800 778 19 654 24.252 41 577 239 268 358 36 165 13.744 607 6.610 24 Sulawesi Utara 165 332 46 2.259 286 2.645 34 1.417 290 4.570 26 Sulawesi Selatan 393 318 270 2.481 19 118 100 265 266 2 228 5.229 4 Riau 174 527 196 2.743 5.109 350 6.505 280 1.054 723 7.468 711 10.459 5 Jambi 163 85 85 1.181 7.689 7.151 76 65 269 214 133 11 48 5.040 228 1.396 215.311 TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.822 5.672 393 274 422 727 706 69 624 23.950 184 1.728 224 1.659 7.164 36 178 117 137 123 3 109 6.981 300 6.103 28 Gorontalo 61 75 35 587 36 312 22 17 52 44 45 6 23 1.141 76.133 43 20 161 123 128 3 47 4.673 1.549 11 167 76 212 86 15 178 4.615 22 Kalimantan Selatan 188 256 118 1.461 86 1.213 34 75 170 240 134 0 69 5.393 21 622 36 26 52 75 98 0 10 2.716 957 13.270 210 3.777 27 Sulawesi Tenggara 233 230 56 2.329 13 Jawa Tengah 871 1.940 7.071 30 105 128 195 147 0 91 4.338 122 1.092 10.142 2.188 344 5.452 422 262 438 814 721 8 351 20.847 77.691 133 808 18 25 30 128 174 3 13 3.486 1.857 214 5.662 379 2. 2010 .796 165 1.159 196 115 57 161 189 0 60 4.130 298 906 45 84 331 329 338 0 19 4.603 626 7.817 19 Nusa Tenggara Timur 300 260 130 2.995 360 1.606 7 Bengkulu 152 173 68 2.451 66 2.067 174 2.310 30 98 171 344 322 5 160 6.248 322 4.545 11 DKI Jakarta 25 327 292 582 80 535 22 63 30 52 201 5 32 2.385 129 2.517 33 Papua 287 299 70 2.961 30 Maluku 159 94 152 1.480 31 Maluku Utara 105 101 18 842 23 551 50 22 137 78 119 7 23 1.728 17 Bali 117 346 192 1.544 350 4.305 591 2.177 244 5.401 60 53 180 283 90 0 47 4.370 85 221 509 365 353 44 159 7.053 194 2.155 3 Sumatera Barat 245 442 207 1.421 8 Lampung 267 411 141 2.665 762 7.680 158 163 552 482 277 38 203 12.405 10 104 67 233 116 1 66 3.254 78 1.986 742 5.833 777 5.071 8.934 14 DI Yogyakarta 120 321 169 801 237 762 90 73 78 151 137 8 221 3.042 564 5.064 32 Papua Barat 120 103 13 1.973 91 2.394 32.17 JUMLAH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS MENURUT JENIS DAN PROVINSI TAHUN 2010 No Provinsi Jumlah Puskesmas yang terdata tenaganya (2) (3) (1) Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Perawat Gigi Bidan Apoteker & S1 Farmasi Asisten Apoteker (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) Kesmas Sanitarian (13) (14) Keterapian Keteknisia Fisik n Medis Gizi (15) (16) (17) Jumlah JUMLAH TENAGA NON KESEHATAN TOTAL SDM KESEHATAN (19) (20) (21) 1 Aceh 291 534 97 4.081 447 3.889 21 Kalimantan Tengah 176 258 58 1.673 2 Sumatera Utara 513 1.049 919 3.018 799 6.772 25 Sulawesi Tengah 178 164 53 1.701 6.236 9 Kepulauan Bangka Belitung 55 113 32 703 67 414 35 25 65 54 64 0 43 1.337 41 262 160 481 267 13 178 7.707 6 Sumatera Selatan 214 188 39 1.968 15 Jawa Timur 942 1.273 306 1.115 36 564 30 54 33 49 63 3 47 2.796 12 278 188 205 200 2 173 6.024 886 7. Kemenkes.140 230 1.730 118 2.862 237 2.198 15 73 97 128 146 2 145 4.766 337 5.835 82 1.332 29 Sulawesi Barat 101 100 21 689 62 422 22 26 132 185 135 0 1 1.011 29 141 121 297 257 40 3 4.440 18 Nusa Tenggara Barat 149 250 87 2.835 788 5.744 8.591 154 2.820 3.387 228 4.170 788 7.535 245.896 12 Jawa Barat 1.112 28.025 1.053 16 Banten 205 379 202 1.546 226 4.

213 1.Lampiran 5. Kemenkes.01 18 Nusa Tenggara Barat 149 250 87 2.393 622 0.68 0.84 0.96 1. 2010 .68 6.64 5.85 0.45 16.23 0.44 5 Jambi 163 85 85 1.31 7.01 0.13 13.34 23 Kalimantan Timur 224 427 179 2.310 1.61 0.50 6 Sumatera Selatan 214 188 39 1.273 1.85 7.862 2.01 6.24 9.41 6.481 0.36 0.08 11.662 2.672 2.13 0.130 906 0.68 23.04 0.401 0.59 0.151 0.52 10.11 0.338 1.78 1.486 10.01 8.52 21 Kalimantan Tengah 176 258 58 1.053 2.645 1.29 9 Bangka Belitung 55 113 32 703 414 2.591 2.509 13.17 8.730 2.58 13.337 0.60 9.835 1.461 1.08 10.796 1.49 27 Sulawesi Tenggara 233 230 56 2.47 0.88 0.198 1.728 1.11 11.69 8.72 9.181 7.28 12.40 12 Jawa Barat 1.05 7 Bengkulu 152 173 68 2.701 6.24 9.76 12.505 1.33 11.62 3.81 11 DKI Jakarta 25 327 292 582 535 13.70 7.52 2 Sumatera Utara 513 1.87 7.995 1.07 TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.25 32 Papua Barat 120 103 13 1.50 19 Nusa Tenggara Timur 300 260 130 2.188 5.61 5.99 0.93 10.08 6.62 5.18 30 Maluku 159 94 152 1.30 10.00 0.42 8.62 0.40 17 Bali 117 346 192 1.13 25 Sulawesi Tengah 178 164 53 1.981 6.14 3.02 5.53 10 Kepulauan Riau 64 200 60 1.142 1.744 607 6.011 2.82 4.74 12.87 7.44 4.03 1.89 28 Gorontalo 61 75 35 587 312 1.452 1.040 1.468 10.78 7.025 1. PERAWAT DAN BIDAN TERHADAP JUMLAH PUSKESMAS MENURUT PROVINSI TAHUN 2009 No Provinsi Jumlah Puskesmas yang terdata tenaganya Dokter Umum Dokter Gigi (2) (3) (4) (5) (1) Perawat Bidan (6) (7) Rasio Dokter Umum Rasio Dokter Gigi Rasio Perawat Rasio Bidan (8) (9) (10) (11) 1 Aceh 291 534 97 4.26 10.96 10.76 10.17 8.159 1.66 8 Lampung 267 411 141 2.87 0.370 0.950 1.33 14.45 12.99 0.68 1.60 11.621 1.84 7.19 3 Sumatera Barat 245 442 207 1.99 0.08 31 Maluku Utara 105 101 18 842 551 0.69 7.58 12.665 762 7.91 0.96 0.99 7.05 0.11 29 Sulawesi Barat 101 100 21 689 422 0.673 1.57 9.63 8.74 6.25 14 DI Yogyakarta 120 321 169 801 762 2.04 9.140 1.36 6.21 6.88 16 Banten 205 379 202 1.14 0.405 2.691 808 0.22 4.64 9.133 1.53 7.87 26 Sulawesi Selatan 393 318 270 2.18 33 Papua 287 299 70 2.253 1.94 17.28 21.081 447 3.81 0.87 15.024 7.86 0.567 1.067 2.071 1.549 0.141 76.71 12.54 0.41 4 Riau 174 527 196 2.80 0.27 13 Jawa Tengah 871 1.19 10.92 0.940 77.18 8.35 15 Jawa Timur 942 1.39 19. DOKTER GIGI.18 RASIO DOKTER UMUM.52 0.680 1.80 10.25 7.385 2.78 24 Sulawesi Utara 165 332 46 2.252 2.59 22 Kalimantan Selatan 188 256 118 1.79 20 Kalimantan Barat 227 225 58 2.164 3.115 564 3.43 8.

Kemenkes.94 714 1.Lampiran 5.11 983 27.184 1.95 3. 2010 0 0 28 13 184 3 187 87 215 637 18.898 53.518 .19 REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER UMUM PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) (4) Jumlah % (5) (6) 6 Bln 12 Bln (7) (8) Jumlah % (9) (10) (11) 1 Aceh 13 5 103 37 5 161 166 59 282 2 Sumatera Utara 96 33 141 49 24 27 51 18 288 3 Sumatera Barat 13 11 62 54 17 23 40 35 115 4 Riau 41 39 44 42 0 20 20 19 105 5 Jambi 20 17 54 47 0 42 42 36 116 6 Sumatera Selatan 11 19 45 76 0 3 3 5 59 7 Bengkulu 0 0 51 55 0 41 41 45 92 8 Lampung 15 17 54 62 0 18 18 21 87 9 Kepulauan Bangka Belitung 2 20 4 40 0 4 4 40 10 10 Kepulauan Riau 7 14 15 31 0 27 27 55 49 11 DKI Jakarta 14 100 0 0 0 0 0 0 14 12 Jawa Barat 63 100 0 0 0 0 0 0 63 13 Jawa Tengah 135 100 0 0 0 0 0 0 135 14 DI Yogyakarta 19 100 0 0 0 0 0 0 19 15 Jawa Timur 106 100 0 0 0 0 0 0 106 16 Banten 26 100 0 0 0 0 0 0 26 17 Bali 20 100 0 0 0 0 0 0 20 18 Nusa Tenggara Barat 8 14 30 54 0 18 18 32 56 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 28 9 29 244 273 91 301 20 Kalimantan Barat 0 0 28 22 0 99 99 78 127 21 Kalimantan Tengah 0 0 30 37 0 52 52 63 82 22 Kalimantan Selatan 0 0 51 42 0 71 71 58 122 23 Kalimantan Timur 7 9 43 54 0 30 30 38 80 24 Sulawesi Utara 0 0 45 42 0 63 63 58 108 25 Sulawesi Tengah 0 0 20 17 63 37 100 83 120 26 Sulawesi Selatan 18 22 44 53 4 17 21 25 83 27 Sulawesi Tenggara 1 1 18 11 34 116 150 89 169 28 Gorontalo 0 0 9 17 0 44 44 83 53 29 Sulawesi Barat 0 0 5 9 26 24 50 91 55 30 Maluku 2 1 10 5 174 0 174 94 186 31 Maluku Utara 0 0 8 13 55 0 55 87 63 32 Papua Barat 0 0 13 12 99 0 99 88 112 33 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.

20 REKAPITULASI KEBERADAAN DOKTER GIGI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) Jumlah (4) % (5) 6 Bln (6) 12 Bln (7) Jumlah (8) % (9) (10) (11) 1 Aceh 0 0 13 17 5 57 62 83 2 Sumatera Utara 75 15 23 38 58 4 9 13 20 66 3 Sumatera Barat 2 5 13 30 9 20 29 66 44 4 Riau 2 6 18 51 0 15 15 43 35 5 Jambi 0 0 5 20 0 20 20 80 25 6 Sumatera Selatan 0 0 4 50 0 4 4 50 8 7 Bengkulu 0 0 1 6 0 16 16 94 17 8 Lampung 3 16 7 37 0 9 9 47 19 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 2 40 0 3 3 60 5 10 Kepulauan Riau 1 4 11 46 0 12 12 50 24 11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 Jawa Barat 15 100 0 0 0 0 0 0 15 13 Jawa Tengah 30 100 0 0 0 0 0 0 30 14 DI Yogyakarta 13 100 0 0 0 0 0 0 13 15 Jawa Timur 83 100 0 0 0 0 0 0 83 16 Banten 17 Bali 18 5 100 0 0 0 0 0 0 5 14 100 0 0 0 0 0 0 14 Nusa Tenggara Barat 6 26 9 39 0 8 8 35 23 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 6 5 23 89 112 95 118 20 Kalimantan Barat 0 0 1 3 0 38 38 97 39 21 Kalimantan Tengah 0 0 1 4 0 22 22 96 23 22 Kalimantan Selatan 0 0 7 18 0 32 32 82 39 23 Kalimantan Timur 2 5 12 32 0 24 24 63 38 24 Sulawesi Utara 0 0 1 20 0 4 4 80 5 25 Sulawesi Tengah 0 0 1 4 15 8 23 96 24 26 Sulawesi Selatan 7 14 28 56 3 12 15 30 50 27 Sulawesi Tenggara 0 0 4 8 13 33 46 92 50 28 Gorontalo 0 0 1 6 0 17 17 94 18 29 Sulawesi Barat 0 0 3 9 13 16 29 91 32 30 Maluku 0 0 0 0 63 1 64 100 64 31 Maluku Utara 0 0 0 0 16 0 16 100 16 32 Papua Barat 0 0 0 0 17 0 17 100 17 33 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.79 190 18.03 197 469 666 63. Kemenkes.054 .19 1. 2010 0 0 4 20 16 0 16 80 20 198 18.Lampiran 5.

00 997 0 0.93 3 0.11 251 0.00 14 0.36 0 0.23 2.00 434 134 0.75 0 0.00 4.96 4 2.00 50 0.95 7 2.57 5 0.06 186 0.17 4 Riau 260 26.218 9 Kepulauan Bangka Belitung 55 93.00 1.395 14 DI Yogyakarta 220 100.07 0 0.91 15 6.00 0 12 Jawa Barat 1.33 60 31 Maluku Utara 0 0.26 107 0.56 8 32.00 0 0.00 721 0.38 1 0.00 1 33 Papua 0 0.75 593 0.98 240 0.72 25.22 4 0.495 1.00 (8) (9) 212 9.00 1 1.11 0 0.38 198 7 Bengkulu 46 10.93 4 7.14 4 0.08 278 21 Kalimantan Tengah 1 1.392 99.57 174 0.30 189 0.89 132 0.13 31 0.67 149 19 Nusa Tenggara Timur 5 1.07 57 0.00 10 16.00 0 0.64 245 0.60 388 8 Lampung 1.21 REKAPITULASI KEBERADAAN BIDAN PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 Biasa No Terpencil Sangat Terpencil Provinsi Jumlah Total Jumlah (1) (2) % (3) (4) Jumlah % (5) (6) Jumlah % (7) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 942 82.55 0 0.28 712 Gorontalo 3 12.01 2. 2010 0 0.41 54 32 Papua Barat 0 0.06 194 26 Sulawesi Selatan 27 Sulawesi Tenggara 28 64 25.00 0 0.00 0 0.633 0.084 89.00 713 17 Bali 345 98.00 0 0.80 11 18.174 45.234 16 Banten 468 65.00 10 185 0.00 50 24 Sulawesi Utara 1 3.44 271 0.87 105 4.581 86.97 283 0.00 4.00 169 11 DKI Jakarta 0 0.22 1.139 0 0.46 2.113 96.00 32 25 Sulawesi Tengah 4 2.74 5 Jambi 128 17. Kemenkes.00 59 10 Kepulauan Riau 37 21.00 350 18 Nusa Tenggara Barat 91 61.37 .97 3 1.104 62.82 68 22 Kalimantan Selatan 1 0.46 9.90 6 8.00 175 23 Kalimantan Timur 32 64.01 0 0.33 0 0.807 1 0.08 737 0.836 13 Jawa Tengah 4.43 3.67 48 0.353 2.09 1.99 0 0.00 220 15 Jawa Timur 3.03 14 0.00 607 0.97 0 0.00 253 427 59.34 0 0.78 252 20 Kalimantan Barat 4 1.036 0.784 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.00 25 29 Sulawesi Barat 4 1.82 6 Sumatera Selatan 409 67.78 0 0.89 0 0.00 0.40 2 0.47 61 0.00 18 0.83 200 0.85 219 30 Maluku 1 1.Lampiran 5.00 0 0.70 196 0.

Kalimantan Tengah 24 7 0 3 14 0 0 24 Bapelkes Prov.Lampung 28 0 0 22 5 1 0 14 Bapelkes Prov.Sumatera utara 36 0 0 0 30 6 0 9 Bapelkes Prov.Riau 15 4 0 5 3 3 0 11 Bapelkes Prov.LAMPIRAN 5. Papua 19 13 0 0 0 6 0 SUB TOTAL 845 418 34 89 219 75 10 TOTAL 1052 419 36 98 279 205 15 Sumber : BPPSDM Kesehatan.Sumatera Selatan 41 7 0 0 23 11 0 15 BPTKM Dinkes Prov.Bengkulu 52 37 2 3 9 0 1 13 Bapelkes Prov. Sulawesi Utara 33 24 0 5 4 0 0 27 Bapelkes Palu 29 9 1 0 1 18 0 28 Bapelkes Prov.22 DISTRIBUSI TINGKAT KETERLIBATAN INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA DALAM KEGIATAN KEDIKLATAN TAHUN 2009 NO INSTITUSI DIKLAT FREQUENSI PELATIHAN I II TINGKAT LIBAT (FREQ) III IV V (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) TDK Jelas (9) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 74 0 0 2 10 2 BBPK Cilandak 33 0 0 1 3 BPPK Ciloto 46 1 1 1 4 Bapelkesnas Lemahabang 16 0 1 2 8 5 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 19 0 0 3 10 6 0 6 Bapelkesnas Makasar 19 0 0 0 0 19 0 207 1 2 9 60 130 5 7 BLTKM Jantho 25 23 0 0 2 0 0 8 Bapelkes Prov. Kalimantan Selatan 28 20 0 2 3 3 0 26 Bapelkes Prov. Tenaga Kes kupang 28 13 6 4 5 0 0 22 Upelkes Prov. 2010 . Maluku 11 0 0 0 10 1 0 30 Bapelkes Prov. Jawa Barat 62 62 0 0 0 0 0 16 BPTPK Gombong 22 0 0 0 22 0 0 17 Bapelkes Yogja 21 5 0 1 8 7 0 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 61 26 2 1 30 2 0 19 UPTD BPKKTK Prov.Sumatera Barat 87 63 1 2 14 7 0 SUB TOTAL 58 4 32 0 0 0 42 1 10 Bapelkes Prov. Kalimantan Barat 41 29 0 0 1 8 3 23 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 35 6 1 17 8 1 2 25 Bapelkes Prov. Kemenkes. Bali 25 17 0 4 3 0 1 20 Bapelkes Mataram 62 50 0 0 8 1 3 21 UPTD Pel. Sulawesi Tenggara 20 2 3 7 8 0 0 29 Bapelkes Prov.Jambi 40 1 18 13 8 0 0 12 Bapelkes Prov.

Kalimantan Barat 1 0 0 1 0 0 23 Bapelkes Prov. Bali 2 0 0 2 0 0 20 Bapelkes Mataram 11 0 4 6 1 0 21 UPTD Pel.23 DISTRIBUSI WIDYAISWARA INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA BERDASARKAN KELOMPOK UMUR TAHUN 2009 UMUR NO INSTITUSI DIKLAT JUMLAH TIDAK JELAS < 40 (1) (2) (3) 41 .Kalimantan Selatan 6 4 2 0 0 0 26 Bapelkes Prov.Lampung 10 2 1 6 0 1 14 Bapelkes Prov.50 (4) 51 .Kalimantan Tengah 2 1 1 0 0 0 24 Bapelkes Prov.LAMPIRAN 5.Maluku 1 0 0 0 1 0 30 Bapelkes Prov.Sumatera Selatan 3 0 1 1 1 0 15 BPTKM Dinkes Prov. Jawa Barat 9 0 2 5 2 0 16 BPTPK Gombong 5 0 0 0 0 5 17 Bapelkes Yogja 10 0 1 6 3 0 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 7 1 4 1 1 0 19 UPTD BPKKTK Prov. Kemenkes.Papua 2 0 0 0 1 1 SUB TOTAL 114 14 30 52 11 7 TOTAL 172 16 42 86 21 7 Sumber : BPPSDM Kesehatan.Jambi 3 0 0 3 0 0 12 Bapelkes Prov.Sumatera Barat 5 0 0 4 1 0 10 Bapelkes Prov. Tenaga Kes kupang 6 2 1 3 0 0 22 Upelkes Prov.Sulawesi Tenggara 2 0 1 1 0 0 29 Bapelkes Prov.Sumatera utara 9 2 5 2 0 0 9 Bapelkes Prov.Bengkulu 3 0 0 3 0 0 13 Bapelkes Prov.Riau 5 0 3 2 0 0 11 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 4 1 1 2 0 0 25 Bapelkes Prov.60 (5) KETERANGAN > 60 (6) (7) (8) (9) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 14 0 2 10 2 0 2 BBPK Cilandak 11 0 0 7 4 0 3 BPPK Ciloto 7 2 2 3 0 0 4 Bapelkesnas Lemahabang 8 0 3 5 0 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 12 0 5 6 1 0 6 Bapelkesnas Makasar 6 0 0 3 3 0 SUB TOTAL 58 2 12 34 10 0 7 BLTKM Jantho 1 0 0 1 0 0 8 Bapelkes Prov. 2010 .Sulawesi Utara 5 1 3 1 0 0 27 Bapelkes Palu 2 0 0 2 0 0 28 Bapelkes Prov.

Lampung 2749 28 0 0 0 0 60 2 2399 25 290 1 0 0 14 Bapelkes Prov.Lampiran 5.Riau 439 15 69 5 0 0 60 2 120 4 0 0 190 4 11 Bapelkes Prov.Sulawesi Tenggara 565 20 0 0 0 0 0 0 394 14 171 6 0 0 29 Bapelkes Prov. Kalimantan Barat 23 Bapelkes Prov. Tenaga Kes kupang 22 Upelkes Prov. Bali 20 Bapelkes Mataram 21 UPTD Pel.Sumatera Selatan 1420 41 198 4 0 0 30 1 1132 34 60 2 0 0 15 BPTKM Dinkes Prov.Papua 874 19 0 0 93 1 60 2 691 15 30 1 0 0 SUB TOTAL 35567 845 2208 42 476 9 7389 181 20402 478 2372 56 2720 79 TOTAL 46136 1052 6133 96 851 20 7867 192 23361 552 3222 81 4702 111 Sumber : BPPSDM Kesehatan. Kemenkes.Bengkulu 1827 52 0 0 40 1 290 9 829 24 0 0 668 18 13 Bapelkes Prov.Sumatera utara 1099 36 77 2 0 0 150 6 842 27 30 1 0 0 9 Bapelkes Prov.Sulawesi Utara 1070 33 86 2 115 2 71 2 798 27 0 0 0 0 27 Bapelkes Palu 1014 29 0 0 0 0 85 1 649 22 102 2 178 4 28 Bapelkes Prov.Sumatera Barat 3014 87 56 2 151 3 1239 25 913 32 78 3 577 22 10 Bapelkes Prov.Kalimantan Selatan 1417 28 816 21 50 1 0 0 0 0 766 20 0 0 0 0 3327 61 401 5 42 1 606 11 1661 34 617 10 0 0 1033 25 89 3 0 0 30 1 551 12 0 0 363 9 1947 62 0 0 0 0 385 12 1157 37 30 1 375 12 666 28 0 0 0 0 209 8 457 20 0 0 0 0 1974 41 0 0 0 0 1782 36 0 0 112 3 80 2 24 0 0 0 0 140 3 160 3 623 18 0 0 0 0 35 1 387 15 195 16 30 1 110 2 161 1 0 0 145 2 1088 24 23 1 0 0 26 Bapelkes Prov.24 DISTRIBUSI FREKUENSI PELATIHAN DAN JUMLAH PESERTA DI INSTITUSI DIKLAT KESEHATAN SELURUH INDONESIA BERDASARKAN JENIS DIKLAT TAHUN 2009 Total No Prajabatan Penjenjangan Manajemen Teknis Fungsional Dan Lain-lain Institusi Diklat (1) (2) Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) 1 Pusdiklat SDM Kesehatan 2385 74 752 22 204 6 453 10 396 14 557 18 23 2 BBPK Cilandak 1093 33 356 9 171 5 0 0 514 18 0 0 52 1 3 BPPK Ciloto 3438 46 2001 16 0 0 25 1 944 18 110 3 358 8 4 Bapelkesnas Lemahabang 1325 16 758 6 0 0 0 0 537 9 30 1 0 0 5 Bapelkesnas Salaman Magelang 1549 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1549 19 6 Bapelkesnas Makasar SUB TOTAL 4 779 19 58 1 0 0 0 0 568 15 153 3 0 0 10569 207 3925 54 375 11 478 11 2959 74 850 25 1982 32 7 BLTKM Jantho 3854 25 60 1 0 0 225 6 3569 18 0 0 0 0 8 Bapelkes Prov.Maluku 356 11 0 0 0 0 0 0 356 11 0 0 0 0 30 Bapelkes Prov.Jambi 906 40 0 0 0 0 575 25 236 11 75 3 20 1 12 Bapelkes Prov. 2010 .Kalimantan Tengah 923 24 Bapelkes Prov. Kalimantan Timur 757 35 25 Bapelkes Prov. Jawa Barat 2355 62 961 16 0 0 0 0 1235 41 0 0 159 5 16 BPTPK Gombong 1165 22 0 0 0 0 860 12 204 7 101 3 0 0 17 Bapelkes Yogja 18 Bapelkes Bendul Merisi Murnajati 19 UPTD BPKKTK Prov.

812 0 2825 300 0 450 0 675 0 100 0 4.868 190 50 0 40 280 190 50 40 40 320 102 80 60 0 242 482 180 100 80 842 0 1105 100 0 100 0 225 0 20 0 1.304 0 4705 3600 0 1035 9.550 21.265 2353 2.402 0 615 100 0 190 0 225 0 60 0 1.910 2065 2. 2010 JUMLAH TINGKAT I TINGKAT II TINGKAT III (3) (4) (5) (6) 0 7476 5025 0 1655 14.280 .610 21.800 0 125 625 750 0 125 625 750 0 125 285 410 0 375 1535 1.066 0 1105 100 0 160 0 225 0 20 0 1.353 1250 1.510 2265 2. Kemenkes.156 0 7476 5298 0 1530 14.340 0 19657 13923 0 4220 37.380 5510 5.065 2065 2.065 1380 1.250 5868 5.350 56.Lampiran 5.190 13.25 REKAPITULASI PESERTA DIDIK POLTEKKES PERJENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN AJARAN 2009/2010 P0LTEKKES NO (1) A B C D E F JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.

970 890 1890 200 160 700 1669 520 680 0 60 6.698 239.26 REKAPITULASI PESERTA DIDIK NON POLTEKKES PERJENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN AJARAN 2009/2010 NON POLTEKKES NO (1) A B C D E F JUMLAH JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.029 84.520 1140 0 100 120 1.346 6013 1655 3780 11.531 1425 30026 13816 400 0 45.815 1320 0 100 220 1.173 1100 1. 2010 TINGKAT I TINGKAT II TINGKAT III (3) (4) (5) (6) 1760 31980 28908 400 100 63.900 62.300 605 605 605 605 605 605 1815 1.020 3300 3.852 .100 1180 1. Kemenkes.520 950 1950 200 160 800 1589 640 680 0 60 7.769 92.180 1020 1.448 4790 1490 2840 9.725 800 1705 200 0 650 1285 480 720 0 60 5.148 1280 30795 41016 400 40 73.640 1260 0 100 160 1.360 3720 0 300 500 4.605 14123 4690 9360 28.Lampiran 5.667 4465 92801 83740 1200 140 182.157 2640 5545 600 320 2150 4543 1640 2080 0 180 19.120 3320 1545 2740 7.

2010 170 70 0 0 0 0 0 0 240 657 400 40 40 40 0 0 0 1177 380 280 20 20 0 20 20 20 760 80 0 80 100 520 0 520 320 440 20 440 180 .2009 Tahun No JENIS INSTITUSI (1) (2) I 2007 2008 2009 (3) (4) (5) III KEPERAWATAN Keperawatan Medical Bedah Keperawatan Gawat Darurat Keperawatan Klinik Kemahiran Keperawatan Kardiovaskuler Keperawatan Anestesi Keperawatan Jiwa Keperawatan Intensive Keperawatan Anestesi Reanimasi Sub Total KEBIDANAN Bidan Pendidik Kebidanan Komunitas Sub Total KESLING IV GIZI 30 580 280 V FISIOTERAPI 40 80 40 VI TEHNIK ELEKTROMEDIK 0 80 40 VII RADIOLOGI 40 80 40 40 160 80 0 0 20 0 0 0 0 0 0 570 0 0 0 0 0 0 2997 60 20 20 20 20 140 2020 II VIII ANALIS KESEHATAN IX PROMOSI KESEHATAN X KESEHATAN GIGI Kesehatan Gigi Kesehatan Gigi Komunitas Kesehatan Gigi Prothodansia Dental Bedah Mulut Perawat Gigi Pendidik Sub Total TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.Lampiran 5.27 JUMLAH PESERTA DIDIK PROGRAM DIPLOMA IV BERDASARKAN JENIS INSTITUSI PENDIDIKAN TAHUN 2007. Kemenkes.

371 30 1214 14. 2010 JUMLAH POLTEKKES NON POLTEKKES (3) (4) (5) 855 10111 38354 929 27906 18545 230 855 48465 80 462 542 2594 469 1259 4322 2594 549 1721 4864 973 973 712 712 1685 1685 1388 1388 424 424 1812 1812 79 50 571 650 50 30 51 781 4743 4513 129 696 64 243 181 929 23163 14032 230 30 51 652 553 1013 90 104 256 805 223 506 553 1709 154 104 499 805 404 506 30 3550 48. Kemenkes.357 .28 LULUSAN DIKNAKES POLTEKKES DAN NON POLTEKKES BERDASARKAN JENIS TENAGA KESEHATAN TAHUN 2009 TAHUN 2009 NO (1) A B C D E F JENIS PROFESI (2) KEPERAWATAN SPK AKPER AKBID SPRG AKG SUB TOTAL KEFARMASIAN SMF AKAFARMA AKFAR SUB TOTAL KESEHATAN MASYARAKAT AKL SUB TOTAL GIZI AKZI SUB TOTAL KETERAPIAN FISIK AKFIS AOT ATW AKUPUNKTUR SUB TOTAL KETEKNISIAN MEDIS SMAK AAK ATG PTTD ATRO APIKES ATEM ARO AOP KARDIOVASKULER SUB TOTAL TOTAL Sumber : BPPSDM Kesehatan.014 4764 62.Lampiran 5.

Lampiran 5.29 JUMLAH LULUSAN POLTEKKES BERDASARKAN JURUSAN/PROGRAM STUDI INSTITUSI DIKNAKES SELURUH INDONESIA TAHUN AJARAN 2009/2010 Jurusan / Program Studi No Poltekkes (1) (2) 1 Banda Aceh 2 Keperawatan Kebidanan Kesehatan Lingkungan (3) (4) (5) Gizi Kesehatan Gigi (6) (7) Farmasi Analisis Kesehatan Teknik Elektromedik Teknik Diagnostik Teknik Gigi AKAFARMA Fisioterapi Okupasi Terapi Ortotik Prostetik Terapi Wicara (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) Jumlah (18) 204 82 95 5 107 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 493 Medan 85 410 40 90 0 129 60 0 0 0 0 0 0 0 0 814 3 Padang 187 177 69 56 48 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 537 4 Pekanbaru 96 203 47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 346 5 Jambi 0 104 53 0 38 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 195 6 Bengkulu 114 181 0 74 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 369 7 Palembang 238 110 0 63 35 79 38 0 0 0 0 0 0 0 0 563 8 Tanjung Karang 159 214 17 0 37 0 90 0 0 0 0 0 0 0 0 517 9 Jakarta I 60 114 0 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 193 10 Jakarta II 0 85 0 94 0 113 112 64 80 0 0 0 0 596 11 Jakarta III 135 167 0 0 0 36 0 0 0 0 0 0 0 0 338 12 Bandung 503 211 7 177 52 0 80 0 0 0 0 0 0 0 0 1. Kemenkes. 2010 .030 0 159 0 0 50 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 209 14 Semarang 214 145 84 81 69 0 0 0 131 0 0 0 0 0 0 724 15 Surakarta 79 0 0 0 56 0 0 0 0 0 0 40 50 30 0 255 13 Tasikmalaya 16 Yogyakarta 48 39 198 84 0 0 82 0 0 0 0 0 0 0 0 403 17 Malang 219 385 0 108 80 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 792 18 Surabaya 270 284 85 0 31 0 86 68 0 0 0 0 0 0 0 824 19 Denpasar 99 40 35 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 220 20 Mataram 96 37 0 37 36 0 84 0 0 0 0 0 0 0 0 290 21 Kupang 265 57 60 72 34 70 0 0 0 0 0 0 0 0 0 558 99 140 67 73 0 0 50 0 0 0 0 0 0 0 0 429 23 Palangkaraya 112 34 0 30 68 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 244 24 Banjarmasin 308 37 41 56 0 0 47 0 0 0 0 0 0 0 0 489 25 Samarinda 166 171 0 0 44 0 43 0 0 0 0 0 0 0 0 424 26 Manado 100 24 20 19 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 163 0 165 39 0 51 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 255 138 163 47 49 0 90 0 0 0 0 0 39 0 0 0 526 29 Kendari 98 326 0 98 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 522 30 Ambon 191 0 36 47 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 274 31 Ternate 90 17 0 29 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 136 32 Gorontalo 152 107 0 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 305 33 Jayapura 227 51 46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 324 4743 4513 973 1388 855 462 696 181 243 64 80 79 50 30 0 14357 22 Pontianak 27 Palu 28 Makassar Jumlah Sumber : BPPSDM Kesehatan.

043 57 8.30 REKAPITULASI LULUSAN NON POLTEKKES DIKNAKES SELURUH INDONESIA BERDASARKAN JENIS DAN PROVINSI TAHUN AJARAN 2009/2010 Keperawatan No Provinsi (1) (2) Kefarmasian SPK SPRG AKPER AKBID AKG SMF (3) (4) (5) (6) (7) (8) Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 1.420 (9) 1 10 Kepulauan Bangka Belitung 80 AKAFAR AKFAR MA 80 Kepulauan Riau 11 DKI Jakarta 49 100 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 160 15 DI Yogyakarta 80 14 Banten 17 Bali 695 23 Kalimantan Timur 411 24 Sulawesi Utara 387 25 Sulawesi Tengah 451 26 Sulawesi Selatan 80 50 27 Sulawesi Tenggara 1.140 179 SMAK 88 337 100 AKUPUN KTUR 35 420 19 Nusa Tenggara Timur ATW 27 502 392 AOT 58 3.135 776 5 900 1.127 63 61 23 1.678 14 149 22 Kalimantan Selatan APIKES (11) 17 310 192 ARO 210 395 21 Kalimantan Tengah ATRO 60 412 490 AAK 29 1.615 41 28 500 60 2. Kemenkes.062 365 4 Riau 605 703 6 Jambi 298 50 7 Sumatera Selatan 1.535 516 12 21 689 345 128 420 26 81 109 168 147 106 7 48 134 85 103 50 49 78 30 140 10 19 340 152 80 44 60 80 266 17 725 54 115 5.361 ATEM PTTD (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) 67 120 90 60 50 39 99 (25) (26) Jumlah (27) 14 80 67 38 80 2.040 554 28 Gorontalo 0 29 Maluku 0 30 Maluku Utara 0 31 Papua 49 JUMLAH Sumber : BPPSDM Kesehatan.939 104 160 251 36 6 79 26 51 80 80 231 64 20 104 4.Lampiran 5.463 220 2.354 100 AKFIS 80 908 18 Nusa Tenggara Barat AKZI 51 3.259 30 712 424 571 0 30 51 553 109 90 1.796 36 7.032 0 2.284 20 Kalimantan Barat ATG 80 3.594 469 1.163 30 14.013 256 506 805 223 104 0 0 48. 2010 929 230 23.082 656 60 8 Bengkulu 372 65 79 9 Lampung 435 221 205 60 94 34 2.241 2.105 80 26 28 KARDIOV ORTOTIK ASKULER PROSTETIK 35 83 60 80 109 50 2.014 .944 3.034 60 Keteknisian Gizi AKL 28 340 568 16 Jawa Timur (10) Keterapian Kesmas 719 80 289 120 23 635 279 179 48 717 18 174 27 237 42 100 52 911 17 580 27 414 97 147 100 379 548 45 23 50 82 53 40 44 80 60 2.

866.000 582.97 602.05 4.1 Program Penelitian & Pengembangan Kesehatan 165.000 86.1.) % (5) (6) Sisa Anggaran (Rp.74 22.003.Lampiran 5.251.000.4.587.3 Program Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aaparatur 61.913.541.329.699 66.753.458.93 70.970.535.938.290 27. Kementerian/Fungsi/Sub Fungsi/Program/Kegiatan (1) (2) 1.4 Program Perbaikan Gizi Masyarakat 449.56 239.398.137.000 1.728.1 Program Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat 117.93 1.1 Program Obat & Perbekalan Kesehatan 992.509 15.700.1 Program Sumber Daya Kesehatan 873.000 26.935.608.418.629 80.220.873.000 1.3.537.346 7.654 92.082.659.06 253.064.371 19.563.405.130.844.54 262.640 25.629.000 633.141.1.743.483.080.215.46 3.000.1 Program Lingkungan Sehat 231.821 81.49 3.3.) (7) % (8) 2.179 18.01 20.31 ALOKASI DAN REALISASI KEMENTERIAN KESEHATAN RI TRIWULAN IV TAHUN 2009 No.360 74.947.755.563.57 37.000 39.5.438.2.500.1.000 1.300.000 187.809.671.3.07 3.385.2 Program Upaya Kesehatan Masyarakat 2.275.202.000 16.038.886 85.638.114 14. 2010 .086.04 43.319.170.221.710 72.44 1.061.994 26.51 663.886.043.07 3. Kemenkes.351.182.95 KEMENTERIAN KESEHATAN Sumber: Biro Perencanaan dan Anggaran.491 84.44 3.839 80.1.99 182.046 41.946.038.498.854 36.3.117.56 24.301 33.000 8.2 Pagu Revisi (Rp.1.03 Program Peningkatan Pengawasan & Akuntabilitas Aparatur Negara 50.146 63.000 128.43 3.94 4.006 73.86 3.2 Program Kebijakan & Manajemen Pembangunan Kesehatan 748.797.000.) (4) Total Realisasi (Rp.445.541.300.20 31.908.1 Program Penerapan Kepemerintahan Yang Baik 1.000 922.000 494.022 71.181.954 58.494.14 144.400.235 77.328.978 28.889.714 52.5.091.3 Program Pencegahan & Pemberantasan Penyakit 726.803.794.519.482.765 22.490.401.226.000 186.000.096.124.416.737.117.348.689.26 2.1.576.1 Program Pendidikan Kedinasan 1.462.80 3.96 3.500.348.1 Program Upaya Kesehatan Perorangan 10.286 47.491.551.161 19.817.561.666.884.199.525.

281.067 - - 175 - 304.55 1.514.498.549 81.29 - - - - 199.576.721 56.09 13 Jawa Tengah 32.356.573 115.290 - 217.12 3.265 784.992 - - 87.912 80.250 3.129 398.23 1.184 405.210 - - 114.25 729.849 80.953.422.622 - 298.961 - 4.193 24.477 - 57.871 344.32 22 Kalimantan Selatan 3.166 44.264 - - - - - - - - - 0 596.00 27 Sulawesi Tenggara 1.941.982 39.912 - 708.643 - 89.516 621.252 204.898 43.098.095 - 89.910.016.020 10.000 - 1.535 - - - - - - - - - 0 2.884 - 134.601 6.789 632.014 179.000 1.021 - - - - 1.053 2.474 - 10.135.444 843.969 2.38 13.051 248.205 - 114.732 - 6.034 169.13 32 Papua Barat 33 Papua Pusat NASIONAL 236.333 81.388.002.663 49.594 - 339.978 3.856 485.56 11 DKI Jakarta 9.32 DATA CAKUPAN KEPESERTAAN JAMINAN KESEHATAN TAHUN 2010 PER JUNI 2010 Peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (Jiwa) No Provinsi (1) (2) Jumlah Penduduk Jamkesmas (3) (4) Askes PNS Jpkm / Bapel (5) (6) 1 Aceh 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat 4.533 942.32 10 Kepulauan Riau 1.666 21.259.756 5.516.35 20 Kalimantan Barat 4.568 7.399 527.133 98.001 47.231 2.988 - - - - 4.268 - - - 40 - - 714.00 - - 18.774.175 2.086 - 106.673 55.080 524.47 25 Sulawesi Tengah 2.976 2.624 223.535.312 - 37.427 8 Lampung 8.837 310.338 100.358.164 - 16.207 - - 565.001 - - 17.003.962 1.161 60.809 2.898.640.12 16 Banten 14 D.097 2.206.77 1.833 - 405.589 82.910 - 48.737 730.658 76. 2010 3.143.010 - - 20.792 - 323.599 99.356 65.842 234.388.310 - 8.129.680 3 14.569.042.672 7 Bengkulu 1.800 777.560.455 11.506.963.146.710.627 2.645 431.302 - - 41.300 - 103.710 - 421.676 9 Kepulauan Bangka Belitung Jamkesmas Non Quota (Jamkesda) Dana Sehat Asuransi Komersial TNI / POLRI Jamsostek (7) (8) (9) (10) Bapel / Uptd P.108.24 29 Sulawesi Barat 1.693.473 5.234 27.525 1.539 279.102.952.000 - 27.308.402.649 - 170.166 854.027 241. Kemenkes.969 - 714.797 - 112.349 7.32 28 Gorontalo 1.854 4.536 3.623 - - - - 6.588.375 3.73 18 Nusa Tenggara Barat 4. Askes Pemda Lain-lain (11) (12) (13) (14) Total Total Jaminan Jamkesda (15) (16) % (17) 4.886 3.679 - - 366 - 7.143 100.160.233.393 63.61 24 Sulawesi Utara 2.951 10.881 2.299 - 3.317 449.000 537.14 21 Kalimantan Tengah 2.230 900.564.880 - 980.558 75.751 5.454.649.113.032 - 87.848 2.451 308.Lampiran 5.443 - 67.070 1.233 - - 4.157 1.605 - 60.211 55.046.006 0 31.95 .971 50.012 2.028.483 1.338 2.911 277.236.213 - - - - 0 2.I.172.144.491 288.419 405.135 95.844 - - 572.447 205.473 - 565.584.964 1.793.692 6 Sumatera Selatan 7.358 6.358 2.715 924.670.700.005.60 - - - - - - 4.711.000 - 1.804 85.074 - 10.390 1.875 15.268 - - - 40 - - 170.776 328.525 25.362.798.449.770.840.476 - - 89.500 673.854 854.535.432.469.429 - 47.764 4 Riau 5.317.825 323.870 437.181 - 909.853 42.163.043 4.006 4.396.693.084 265.942 57.450 55.505 - 545.119 5.398 337.072.579.400.000 - 167.749.349 - - 4.506 395.468 60.370 218.202.004 - 493.464 - - - - - - - 1.67 17 Bali 3.271 31.474 77.364 129.225 - 60.002.202 - 80.649 578.659 85.976 - 572.647 2.717.210 1.145 - - - - 559 - - - - 0 517.792 18.002.350.540 61.809 84.472 - 21.259.817 84.440.350.078 23.870 56.228.248 - - - - 0 3.098 173.20 31 Maluku Utara 1.261 496. Yogyakarata 10.512 132.716 136.005 2.904 - - 2.051 2.706 57.643 1.86 15 Jawa Timur 37.715.01 55.089 10.868.434.478 1.577.395.951 306.617 744.822 81.894.510.053 79.594 4.000 16.142.224 851.142 1.156 - 100.057 1.000 - - - 98.175 3.434.683 - - 10.390 939.857 - 147.891 - 14.500 - - 14.76 2.596.689 - 353.710 88.69 26 Sulawesi Selatan 7.363 45.517 - - 339.002 4.071 - 204.016.891 111.881 16.278 613.488 - - 147.164.T.167 310.768 - 333.318 2.319.471 1.605 - - - - 86.829 8.006.697.589.043 4.587 - - 78.599 - 35.414 48.886 - 2.358 - - 67.054.317 3.576 - 3.291.256.381.581 1.016.391 - 534.760 1.582.498 - - - - 100.868.749 - 5.564 100.946.618 - 14.37 19 Nusa Tenggara Timur 4.00 12 Jawa Barat 42.601.961 5 Jambi 2.00 - - - - 13.225 Sumber: Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan.972 277.351 12.281 - - - - 202.961 79.811 - 1.579.342 473.723 - - 1.857 966.790 64.962 521.099 - 107.079.38 23 Kalimantan Timur 3.91 30 Maluku 2.540.

81 91 30 Maluku 2 0.00 0 0.00 12 13.00 19 5.26 44 40.37 26 44.00 51 40.99 110 78.80 74 59.01 141 21 Kalimantan Tengah 0 0.58 134 4 Riau 18 18.00 0 0. Kemenkes.00 0 0.77 189 26 Sulawesi Selatan 17 16. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali .45 11 10 Kepulauan Riau 8 13.00 11 8.75 52 81.89 77 53.43 343 Sumatera Utara 50 16.16 103 27 Sulawesi Tenggara 1 0.45 20 8.42 104 22 Kalimantan Selatan 0 0.35 373 20 Kalimantan Barat 0 0.04 139 40.56 25 42.00 64 59.57 350 500 11.00 12 18.07 59 11 DKI Jakarta 15 100.00 0 0.00 0 0.97 202 90.36 42 47.08 19 18.67 420 31 Maluku Utara 0 0.13 199 93.20 125 23 Kalimantan Timur 10 11.80 114 91.87 212 33 Papua 0 0.85 49 34.00 0 0.59 2.00 31 21.73 41 80.15 61 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.00 64 16 Banten 20 100.48 35 57.36 5 45.74 108 8 Lampung 9 8.73 36 40.00 52 42.00 15 12 Jawa Barat 62 100.193 26.86 406 96.34 29 28.00 36 9.Lampiran 5.00 25 13.00 23 15 Jawa Timur 64 100.00 100 5 Jambi 17 11.50 57 55.00 0 0.65 76 73.18 4 36.00 20 17 Bali 22 100.58 223 28 Gorontalo 0 0.00 13 6.25 64 29 Sulawesi Barat 0 0.00 0 0.52 197 57.00 62 13 Jawa Tengah 125 100.00 0 0.38 19 31.62 70 57.97 45 33.88 51 7 Bengkulu 0 0.487 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.00 0 0.00 0 0.14 1.00 0 0.23 164 86.20 125 32 Papua Barat 0 0.38 122 25 Sulawesi Tengah 0 0.17 312 3 Sumatera Barat 14 10.27 143 6 Sumatera Selatan 7 13.33 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER UMUM PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) AKTIF TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) 1 Aceh 2 Terpencil Sangat Terpencil Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Total (9) 7 2.794 62.48 12 2.00 0 0.39 3 5.00 0 0.00 56 56.58 67 64.65 337 90.00 26 26.45 75 55.91 88 24 Sulawesi Utara 0 0.43 331 94.00 37 35.27 104 9 Kepulauan Bangka Belitung 2 18.00 22 18 Nusa Tenggara Barat 7 11.00 125 14 DI Yogyakarta 23 100.27 4.81 91 29.03 171 54.19 79 86.

29 35 26 Sulawesi Selatan 5 9.11 38 143 11.11 40 88.00 15 13 Jawa Tengah 29 100.67 51 4 Riau 1 2.00 1 3.269 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.33 24 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.50 40 21 Kalimantan Tengah 0 0.71 1.23 21 80.00 5 11.00 30 100.00 2 1.02 910 71.00 6 17 Bali 7 100.00 1 5.00 4 40.65 11 25.00 0 0.97 15 38.00 0 0.43 70 3 Sumatera Barat 3 5.00 7 18 Nusa Tenggara Barat 5 20.00 0 0.00 10 7 Bengkulu 0 0.15 26 11 DKI Jakarta 0 0.00 0 0.00 0 0.14 26 92.88 14 27.90 54 93.00 0 0.00 0 0.34 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER GIGI PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) Terpencil Sangat Terpencil Jumlah % Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) (8) Jumlah Total (9) 1 Aceh 0 0.00 20 29 Sulawesi Barat 0 0.00 30 32 Papua Barat 0 0.40 43 23 Kalimantan Timur 2 4.97 33 33 Papua 0 0.00 5 3.00 0 0.00 6 60.10 58 28 Gorontalo 0 0.00 1 2.15 12 46.00 0 0.00 0 0.86 28 22 Kalimantan Selatan 0 0.00 19 95.00 0 0.33 4 66.60 35 81.00 13 15 Jawa Timur 46 100.67 6 25 Sulawesi Tengah 0 0.00 9 45. Kemenkes.03 32 96.77 43 24 Sulawesi Utara 0 0.Lampiran 5.00 46 16 Banten 6 100.00 0 0.00 2 7.72 86 2 Sumatera Utara 9 12.00 3 60.00 0 0.00 5 10 Kepulauan Riau 2 7.00 5 19.64 149 20 Kalimantan Barat 0 0.00 14 16. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali .36 144 96.00 1 5.86 39 55.83 8 33.89 45 30 Maluku 0 0.27 216 17.09 31 56.55 55 27 Sulawesi Tenggara 0 0.29 153 98.00 29 14 DI Yogyakarta 13 100.58 30 69.00 0 12 Jawa Barat 15 100.77 26 6 Sumatera Selatan 0 0.28 72 83.46 39 5 Jambi 0 0.00 11 55.00 8 18.00 2 33.56 23 58.71 155 31 Maluku Utara 0 0.00 3 7.71 22 31.44 18 8 Lampung 0 0.00 2 5.50 39 97.00 4 6.36 19 34.71 33 94.45 34 66.69 12 46.89 35 92.00 20 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0.00 0 0.00 2 40.56 17 94.00 0 0.83 11 45.

00 0 0 113 15 Jawa Timur 1102 93.43 237 7 Bengkulu 18 9.00 109 100.08 308 5 Jambi 59 17.00 6 100.00 109 30 Maluku 0 0.65 340 6 Sumatera Selatan 172 72.00 21 100.28 1065 90.84 56 81.51 39 41.67 24 53.14 7 29 Sulawesi Barat 0 0.00 0 0 0 12 Jawa Barat 681 83.12 139 40.00 21 25 Sulawesi Tengah 0 0.00 125 100.06 164 30.86 4 57.35 REKAPITULASI PENGANGKATAN BIDAN PEGAWAI TIDAK TETAP (PTT) TAHUN 2009 No Biasa Provinsi (1) (2) Terpencil Jumlah Total Jumlah % Jumlah % (3) (4) (5) (6) (7) 1 Aceh 109 9.00 120 100.85 819 13 Jawa Tengah 1732 100.77 195 8 Lampung 515 84.00 40 10 Kepulauan Riau 13 18.Lampiran 5.49 0 11.47 77 6.00 29 100.456 Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.44 1598 3 Sumatera Barat 366 69.00 118 23 Kalimantan Timur 21 46.02 606 9 Kepulauan Bangka Belitung 32 80.90 110 99.00 23 100.00 186 100.00 118 100.16 190 18 Nusa Tenggara Barat 55 58.16 69 11 DKI Jakarta 0 0.00 34 100.00 0 0 6.23 177 90.15 138 16.49 94 19 Nusa Tenggara Timur 0 0.88 340 17 Bali 184 96.51 4.00 8 20.35 281 82. 2010 Catatan : * Gabungan Pengangkatan + Pengangkatan Kembali 40.53 1179 16 Banten 201 59.84 6 3.00 125 26 Sulawesi Selatan 295 58.92 222 72.57 65 27.93 508 27 Sulawesi Tenggara 1 0.550 59.00 34 32 Papua Barat 0 0.006 .07 213 41.98 91 15. Kemenkes.00 0 0 1732 14 DI Yogyakarta 113 100.00 6 33 Papua 0 0.00 186 21 Kalimantan Tengah 0 0.72 1174 2 Sumatera Utara 792 49.00 120 20 Kalimantan Barat 0 0.56 806 50.33 45 24 Sulawesi Utara 0 0.00 23 22 Kalimantan Selatan 0 0.10 111 28 Gorontalo 3 42.00 29 31 Maluku Utara 0 0.94 530 4 Riau 86 27.

Kemenkes. 2010 .36 KEADAAN DOKTER SPESIALIS PTT DEPKES YANG MASIH AKTIF SAMPAI DENGAN TAHUN 2009 PENGANGKATAN TAHUN 2008 NO PROVINSI (1) (2) APRIL PENGANGKATAN TAHUN 2009 JUNI APRIL JUNI TOTAL PERPANJANGAN APRIL TAHUN 2009 SEPTEMBER B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST JML B T ST (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) B T ST ∑ (26) (27) (28) (29) 1 Aceh 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 0 4 1 5 2 Sumatera Utara 3 0 0 3 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 5 3 0 8 3 Sumatera Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 5 Jambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 Sumatera Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 Bengkulu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 Lampung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 5 0 5 9 Kepulauan Bangka Belitung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 2 10 Kepulauan Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 DKI Jakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12 Jawa Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13 Jawa Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 14 DI Yogyakarta 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 Jawa Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 16 Banten 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 17 Bali 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 19 Nusa Tenggara Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 2 0 0 0 0 1 2 3 20 Kalimantan Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 0 3 0 3 21 Kalimantan Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 22 Kalimantan Selatan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 23 Kalimantan Timur 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 3 2 0 7 24 Sulawesi Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 25 Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 26 Sulawesi Selatan 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 2 0 1 4 0 5 27 Sulawesi Tenggara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 28 Gorontalo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 29 Sulawesi Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 30 Maluku 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 2 31 Maluku Utara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 32 Papua Barat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2 33 Papua 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 4 0 0 4 4 0 0 4 1 10 6 17 0 5 1 6 0 10 2 12 0 4 0 9 29 9 47 TOTAL Sumber : Biro Kepegawaian.Lampiran 5.

3 8 5 13 8 3 11 100.0 100.7 8 34 42 2 34 36 25.0 100.8 100.0 65.4 20 Sulawesi Tenggara 17 46 63 6 45 51 35.7 96.0 95.1 85.6 10 9 19 5 9 14 50.0 100.5 13 Kalimantan Barat 21 24 45 8 19 27 38.0 84.0 93.0 13 4 17 13 4 17 100.4 19 Sulawesi Selatan 16 7 23 12 7 19 75.0 100.1 35 7 42 19 7 26 54.2 11 6 17 4 6 10 36.0 12 21 33 7 21 28 58.0 8 Lampung 26 8 34 26 8 34 100.0 100. Bangka Belitung 6 3 9 4 3 7 66.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.6 100.0 18 4 22 18 4 22 100.0 0 0 0 0 0 0 0.0 0.0 58.0 100.3 100.3 100.0 82.0 84.0 22 Sulawesi Barat 23 Maluku 24 Maluku Utara 25 Papua Barat 0 39 39 0 37 37 0.875 96.0 51.7 12 54 66 8 54 62 66.0 100.6 3 23 26 3 23 26 100.6 97.2 92.7 10 60 70 3 37 40 30.1 100.0 100.0 57.8 3 5 8 3 5 8 100.5 100.5 100.0 100.0 100.9 100.78363 89.2 100.0 100.7 16 Kalimantan Timur 19 15 34 14 15 29 73.0 100.0 100.2 10 17 27 2 10 12 20.0 9 Kep.8 35 21 56 11 21 32 31.0 61.0 4 9 13 4 9 13 100.0 70.0 100.0 100.0 16 4 20 16 4 20 100.9 94.0 5 22 27 5 22 27 100.1 100.0 72.2 60.0 100.0 57.0 100.0 6 Sumatera Selatan 11 2 13 11 2 13 100.0 17 Sulawesi Utara 27 4 31 13 4 17 48.0 100.0 100.0 61.8 81.1 79.0 100.0 100.0 21 7 28 21 7 28 100.9 100.1 14 9 23 13 9 22 92.6 100.0 100.3 100.0 83.0 2 37 39 2 37 39 100.8 83.0 100.8 100.3 100.0 100.0 26 1 27 26 1 27 100.0 100.0 45 25 70 40 25 65 88.0 100.0 100.0 92.6 12 Nusa Tenggara Timur 14 73 87 13 72 85 92.7 100.0 100.8 44.7 13 9 22 3 9 12 23.7 100.0 100.6 0 5 5 0 5 5 0.0 100.Lampiran 5.0 58.8 0 2 2 0 2 2 0.9 76.0 100.6 21 7 28 9 7 16 42.0 69.0 93.0 54.3 97.0 10 Kepulauan Riau 11 Nusa Tenggara Barat 14 4 18 8 4 12 57.0 100. Kemenkes.8 15 Kalimantan Selatan 28 18 46 14 18 32 50.0 100.0 19 2 21 19 2 21 100.37 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER UMUM PTT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (3) (4) (5) April Realisasi Kriteria Jumlah T ST (6) (7) (8) Persentase Kriteria Jumlah T ST (9) (10) (11) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (12) (13) (14) Juni Realisasi Kriteria Jumlah T ST (15) (16) (17) Persentase Kriteria Jumlah T ST (18) (19) (20) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (21) (22) (23) September Realisasi Kriteria Jumlah T ST (24) (25) (26) T Persentase Kriteria Jumlah ST (27) (28) (29) 1 Aceh 43 42 85 39 42 81 90.0 84.0 77.7 22 9 31 22 9 31 100.7 100.4 100.0 72.0 85.0 7 Bengkulu 28 13 41 22 13 35 78.0 3 Sumatera Barat 22 19 41 22 16 38 100.0 95.0 100.0 100.8% 96.0 100.0 100.0 85.0 100.0 100.9 6 45 51 6 43 49 100.8 99.7 100.0 100.8 95.7 57.3 320 342 662 262 331 593 26 Papua Jumlah 81.0 82.0 100.0 100.4 15 12 27 3 12 15 20.1 100.0 0.0 100.0 100.9 98.0 14 Kalimantan Tengah 20 17 37 9 14 23 45.0 84.0 4 Riau 13 5 18 13 5 18 100.9 7 60 67 6 58 64 85.0 70.0 14 1 15 14 1 15 100.0 94.0 4 0 4 4 0 4 100.4 9 23 32 9 23 32 100.0 100.4 22 12 34 22 12 34 100.3 16 20 36 7 19 26 43.7 14 4 18 11 4 15 78.2 23 26 49 6 26 32 26. 2010 475 900 288 460 748 67.0 54.0 9 8 17 9 8 17 100.0 60.0 4 6 10 4 6 10 100.0 28 1 29 28 1 29 100.0 0.3 16 13 29 11 13 24 68.0 100.4 62.0 93.6 19 5 24 12 5 17 63.1 425 Sumber : Biro Kepegawaian.3 89.0 100.0 100.1 100.1 368 335 703 268 332 600 72.0 8 2 10 8 2 10 100.0 66.0 11 21 32 6 21 27 54.0 12 0 12 12 0 12 100.9 2 Sumatera Utara 16 12 28 16 12 28 100.1 2 36 38 1 36 37 50.0 100.3 18 18 36 18 18 36 100.0 82.8 24 3 27 16 3 19 66.6 21 Gorontalo 16 15 31 1 15 16 6.0 97.0 100.7 95.5 8 10 18 3 10 13 37.0 19 7 26 19 7 26 100.0 5 Jambi 18 13 31 18 13 31 100.7 100.0 100.0 100.0 100.0 73.5 13 8 21 13 8 21 100.0 100.3 11 5 16 9 5 14 81.0 100.0 100.0 100.0 70.9 18 Sulawesi Tengah 12 25 37 1 25 26 8.0 87.8 10 37 47 7 37 44 70.0 100.0 6 41 47 3 41 44 50.0 85.0 100.0 30 99 129 10 89 99 33.6 96.4 100.0 0.0 100.0 100.0 100.0 95.9 100.0 100.57704 .0 55.

2 0.6 0.2 20 4 24 3 3 6 Sumatera Selatan 11 2 13 4 2 6 0.5 1.5 0.1 2 Sumatera Utara 15 9 24 4 6 10 0.6 1.3 20 11 31 0 4 4 0.1 1.1 0.7 9 3 12 4 3 7 0.4 48.5 0 0 5 5 10 2 5 7 0.0 0.5 0.0 0.0 0.8 0.7 0.0 0.4 0.0 12 Nusa Tenggara Timur 16 72 88 1 26 27 0.1 0.0 9 4 13 1 0 1 0.1 9 16 25 0 7 7 0.0 0.2 14 Kalimantan Tengah 21 22 43 0 6 6 0.7 1.5 3 6 9 1 4 5 0.1 13 12 25 0 4 4 0.0 0.4 0.0 386 360 746 48 168 216 12.3 0.3 0.6 0.2 6 8 14 1 2 3 0.1 0.2 6 6 12 1 5 6 0.5 0.1 1.1 0.0 0.2 0.3 2 3 0.6 25 Papua Barat 0 13 13 0 9 9 0.3 17 2 19 4 1 5 0.1 0.4 0.4 0.6 2 4 6 2 2 4 1.0 0.0 0.4 6 21 27 1 11 12 0.0 0.2 5 13 18 0 5 5 0.6 0.4 0.7 0.4 0.3 0.1 25.0 0.0 0.2 0.3 0.7 0.0 0.5 0.1 20 7 27 0 6 6 0.2 0.1 14 10 24 1 8 Lampung 28 3 31 2 3 5 0.0 0.3 29 16 45 2 16 18 0.0 0.0 1.3 0 6 0.2 0.7 23 Maluku 0 40 40 0 23 23 0.2 0.4 3 4 7 2 4 5 Jambi 12 0 12 1 0 1 0.0 0.2 0.2 53.3 0.3 18 14 32 3 4 7 0.0 0.1 0.1 13 0 13 6 9 Kepulauan Bangka Belitung 3 2 5 0 2 2 0.7 0.6 11 Nusa Tenggara Barat 14 4 18 2 4 6 0.1 1.4 1.3 0.0 0.3 0.0 13 Kalimantan Barat 13 15 28 0 9 9 0.4 15 4 19 6 2 8 4 Riau 15 3 18 9 3 12 0.1 21 11 32 0 5 5 0.1 0.8 39.4 0.2 0.3 4 0 4 0 0 0 0.7 0.1 8 10 18 0 2 2 0.0 0.0 0.3 3 4 7 0 3 3 0. Kemenkes.5 0.38 REKAPITULASI PENGANGKATAN DOKTER GIGI PTT TAHUN 2009 No Provinsi (1) (2) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (3) (4) (5) April Realisasi Kriteria Jumlah T ST (6) (7) (8) Persentase Kriteria Jumlah T ST (9) (10) (11) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (12) (13) (14) Juni Realisasi Kriteria Jumlah T ST (15) (16) (17) Persentase Kriteria Jumlah T ST (18) (19) (20) Kebutuhan Kriteria Jumlah T ST (21) (22) (23) September Realisasi Kriteria Jumlah T ST (24) (25) (26) T Persentase Kriteria Jumlah ST (27) (28) 1 Aceh 44 37 81 3 12 15 0.1 0.0 385 262 647 36 126 162 9.1 9 5 14 0 0 0 0.4 0.5 17 Sulawesi Utara 22 4 26 1 1 2 0.7 0.0 5 2 7 1 7 Bengkulu 26 11 37 0 5 5 0.6 7 2 9 4 2 6 0.5 5 0 5 0 0 0 0.1 35 30 65 0 7 7 0.4 16 5 21 8 4 12 0.1 8 12 20 1 2 3 0.3 0.5 1.0 0.3 19 Sulawesi Selatan 14 4 18 7 4 11 0.4 21 Gorontalo 14 8 22 0 3 3 0.0 0.0 0.9 0.0 0.3 21 9 30 0 5 5 0.2 7 7 14 2 5 7 0.0 0.0 0 0 0 0 10 Kepulauan Riau (29) 0.3 21 25 46 2 16 18 0.0 0.4 0.1 1.4 6 0.2 1.0 1.1 27 11 38 0 3 3 0.3 0.5 0.2 1.5 1.0 0.2 22 Sulawesi Barat 26 Papua Jumlah Sumber : Biro Kepegawaian.0 0.2 28 1 29 2 1 3 0.7 29.5 0.5 17 0 17 6 0 6 0.5 0.4 2 1 3 2 1 3 1.0 1.5 0.3 8 41 49 1 21 22 0.3 4 6 10 0 2 2 0.3 3 18 21 0 1 1 0.0 0.8 0.4 1.0 1.5 0.0 0.3 0.0 0.0 0.0 0.0 219 225 444 53 121 174 24.6 20 Sulawesi Tenggara 11 31 42 1 13 14 0.1 0. 2010 0.6 0 40 40 0 18 18 0.6 23 1 24 8 1 9 0.Lampiran 5.3 0.2 0.8 0.0 0.0 0.4 0.0 0.1 0.0 0.8 0.4 3 Sumatera Barat 21 13 34 2 7 9 0.2 0.4 0.6 0.5 0.5 0 9 9 0 9 9 1.4 6 7 0.2 30 7 37 0 7 7 0.4 0.3 0.2 0.5 16 Kalimantan Timur 19 18 37 4 8 12 0.2 30 22 52 3 11 14 0.0 24 Maluku Utara 6 5 11 0 3 3 0.0 0.7 0 0 0 0 0 0 2 13 15 0 4 4 0.0 0.0 0.3 15 54 69 0 21 21 0.9 6 0.1 0.0 0.0 0.3 1.4 0.2 12 12 24 5 8 13 0.7 6 3 9 1 3 4 0.0 0.6 0.0 1.4 20 2 22 9 2 11 0.4 1.0 .0 0.1 18 Sulawesi Tengah 16 26 42 0 5 5 0.2 15 Kalimantan Selatan 34 7 41 4 4 8 0.6 0.6 0.2 2 10 12 0 7 7 0.4 46.1 0.7 0.

1 1889 6.7 134 31.9 1 0.8 1278 4.3 173 238 26.1 375 4.7 2744 0 0.5 39 7.056 .6 4 0.6 373 29.2 69 2.1 3 0.8 483 17.2 4 0.0 2 0.479 18.6 660 UPT 2 0. Kemenkes.4 353 3.4 3296 36.1 537 13.498 3.0 24 10.9 182 14.2 20 0.6 1096 27.5 51 9.156 12.1 4053 DITJEN BINA KEFARMASIAN DAN ALKES 0 0.9 26 3.6 50.0 218 24.0 149 28.8 1.3 11 0.4 7 1.6 1248 VIII BADAN LITBANGKES KANTOR PUSAT UPT SUBTOTAL TOTAL Sumber: Biro Kepegawaian.6 160 31.900 29.39 DISTRIBUSI PEGAWAI KEMENTERIAN KESEHATAN RI DIRINCI MENURUT JENIS PENDIDIKAN TAHUN 2009 PENDIDIKAN No Nama Satuan Organisasi (1) (2) I IV VI VII % SPESIALIS 1/2/AV % S1 % D III % D1 % SMA % SMP % SD % (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) JUMLAH (21) 0 0.2 0 0.7 6 1.2 48 1.6 881 26.284 2.0 215 BADAN PPSDM KESEHATAN KANTOR PUSAT 0 0.326 28.0 1077 31.3 12 5.3 0 0.4 984 35.7 8 1.2 123 25.8 421 28.0 202 24.5 0 0.2 176 33.2 9 1.9 526 UPT 14 0.7 1 0.4 3655 11.4 322 3.4 8 1.Lampiran 5.2 508 UPT 24 0.0 SUBTOTAL 0 0.2 1455 0.6 0 0.3 1049 11.2 82 19.7 22 5.8 485 2 0.9 180 12.2 1909 22.4 42 3.0 17 2.0 1131 27.9 135 3. 2010 87 0.8 6 1.8 31 5.4 3120 36.5 270 21.2 6.0 43 4.6 1871 20.4 33 1.8 237 3 0.7 51 0.6 28 1.6 15 1.5 215 32.6 8 0.8 75 31.1 11221 35.0 DPK/DPB 0 0.4 3815 12.3 812 1 0.9 0.0 1378 4.2 58 13.8 10978 34.0 1052 0.0 7 3.5 89 2.8 2 0.3 951 23.3 0 0.2 205 22.8 10845 34.9 14.1 2 0.7 0 0.6 395 4.2 35 4.0 108 50.3 1 0.0 436 31 2.6 10 0.4 1 0.0 711 67.3 2 0.1 78 17.1 721 2.7 127 3.5 76 2.3 489 33.4 155 30.1 0 0.1 116 26.2 23 0.4 240 8.0 262 0.7 1.1 1734 5.0 208 22.5 263 0.2 8 1.4 88 37.0 727 2.0 28 11.8 35 86 17.6 5 1.0 233 28.0 INSPEKTORAT JENDERAL 266 18.8 40 3.6 5 0.7 796 23.3 20 3.7 1 0.7 212 26.0 110 46.2 84 17.1 38 0.3 31067 SUBTOTAL 26 0.6 1 0.6 1722 20.0 152 36.0 3393 SUBTOTAL 5 0.1 345 10.4 11 40 1.5 13 2.6 15 51.0 98 18.7 66 8.4 57 4.3 37 0.3 1.2 2007 22.2 155 23.6 54 8.5 998 11.6 471 0.2 86 2.0 140 32.7 UPT 0 0.1 8 1.855 3.9 1274 4.7 12 1.6 1370 4.4 123 KANTOR PUSAT 0 0.9 46 3.5 571 20.0 3 0.5 8 1.3 40 18.8 1 0.9 16 3.5 192 29.3 31575 DITJEN PP DAN PL KANTOR PUSAT 3 0.3 907 DITJEN BINA BINKESMAS DITJEN BINA YANMED KANTOR PUSAT V S2 10 SUBTOTAL III % SETJEN KANTOR PUSAT II S3 2 0.0 UPT 0 0.9 14.4 4 0 0.2 133 26.0 9.4 280 22.5 560 20.0 35 16.8 1.8 11182 36.9 422 35.8 215 20.1 0 29 2.9 9074 30 3.6 51 0.0 31 14.8 8548 SUBTOTAL 14 0.

990 11 Bangladesh 162.0 74 33 0.6 32 64 4 56 1.700 8 Indonesia 243.6 32 63 5 59 4.8 39 57 4 75 2.3 86 70 2.120 17 Sri Lanka 20. 2010 : Laju pertumbuhan penduduk Ket: *) pada data BPS.8 132 33 0.8 82 22 1.900 3 Kamboja 14.0 356 29 1. USAID.9 45 52 3 92 4.2 1.127 27 1.690 Sumber : .280 16 Nepal 27.960 14 Korea Utara 22.7 188 63 0.060 5 Malaysia 28.9 22 71 7 41 5.880 13 India 1171.Lampiran 6.1 7.9 18 73 9 37 47.7 15 35 2.64 Tahun (%) Tahun 2008 1998-2008 Atas (%) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 0.5 312 15 0.3 27 31 1.486 100 1.3 263 28 1.3 26 67 7 49 2.440 12 Bhutan 0.9 35 61 4 64 3.The State of The Worlds Children. jumlah penduduk Indonesia tahun 2009 adalah 231.6 32 63 5 59 2.7 35 62 3 61 1.290 10 Thailand 67.4 66 75 2.480 18 Timor Leste 1.830 9 Myanmar 50. 2009 .6 22 69 9 45 - 15 Maladewa 0.940 7 Vietnam 87.8 27 68 5 47 1.3 29 65 6 54 3.740 6 Singapura 5.3 1.1 26 70 4 43 50.5 30 65 5 54 5.4 juta jiwa .820 4 Laos 6.0 32 64 4 56 13.057 38 1.2 307 65 1.5 187 17 2.1 76 27 2.8 26 67 7 49 4.200 Filipina 92.3 * 128 52 1.1 PERBANDINGAN BEBERAPA DATA KEPENDUDUKAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2009 No Negara Jumlah Penduduk (Juta Jiwa) (1) (2) (3) 1 Brunei Darussalam 2 Kepadatan Penduduk (per Km²) Persentase Penduduk di Daerah Perkotaan (4) (5) Laju Persentase Persentase Persentase Angka Beban GNI PPP per Pertumbuhan Penduduk Usia Penduduk Usia Penduduk Usia Tanggungan kapita (US$) Penduduk 65 Tahun Ke 0-14 Tahun 15 .World Population Data Sheet.1 37 59 4 69 1.

489 59 64 62 6.604 134 0.543 64 65 65 2.000 lahir hidup) 2005 (12) (19) 30 0.920 75 77 76 2.Lampiran 6.944 79 83 81 1.919 30 0.608 133 0.584 137 0.729 111 0.755 102 0.3 23 7 45 40 43 56 53 54 570 12 Bhutan 132 0.751 67 74 70 3.World Population Data Sheet.829 71 76 73 2.5 28 7 53 41 48 65 58 61 660 5 Malaysia 66 0.759 63 76 69 2.6 21 5 7 5 6 7 6 6 62 6 Singapura 23 0.1 16 3 5 6 5 6 7 7 13 Filipina 105 0.3 10 4 3 2 2 3 2 3 14 7 Vietnam 116 0.3 19 7 15 12 13 19 15 17 58 18 Timor Leste 162 0.535 148 0.8 15 9 14 11 13 16 12 14 110 11 Bangladesh 146 0. 2009 . Angka kematian maternal .9 29 9 41 41 41 52 51 51 830 17 Sri Lanka 102 0.1 17 5 12 12 12 14 13 14 150 8 Indonesia 111 0.771 73 75 74 2.553 63 64 63 2.2 21 6 34 28 31 * 44 37 41 * 420 * 9 Myanmar 138 0.825 66 0.3 21 10 85 66 76 133 111 122 380 10 Thailand 86 0.9 25 8 76 62 69 97 82 89 540 4 Laos 133 0.78 66 74 70 1. DAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO No Negara Indeks Pembangunan Manusia Peringkat IPM dunia Peringkat IPM dunia 2006 (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 (3) Usia Harapan Hidup Waktu Angka Kelahiran Angka Kematian Total Fertility Lahir Kasar per 1000 Kasar per 1000 Rate (TFR) Penduduk Penduduk L P L+P Indeks Pembangunan Manusia 2007 (4) (5) Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Balita (AKABA) L P L+P L P L+P (13) (14) (15) (16) (17) (18) 2008 (6) (7) (8) (9) (10) (11) Angka Kematian Maternal (per 100.619 61 65 63 2.747 105 0.5 40 9 84 65 75 105 80 93 380 Sumber : .612 63 66 64 2.765 95 0.1 26 5 30 22 26 38 27 30 230 3 Kamboja 137 0.593 59 64 62 2.2 ANGKA KELAHIRAN. USAID.547 144 0.734 66 69 67 * 2.9 16 10 43 41 42 57 53 55 370 15 Maladewa 97 0.World Health Statistics 2010 WHO: AKABA.72 115 0. ANGKA KEMATIAN.725 70 75 73 2.619 61 63 62 3.6 25 8 58 49 54 87 75 81 440 13 India 134 0.0 22 4 27 21 24 30 25 28 120 16 Nepal 144 0.783 87 0.Human Development Report 2009: Indeks Pembangunan Manusia .613 132 0.584 138 0.942 24 0.7 23 7 52 53 52 65 73 69 450 14 Korea Utara - - - - 65 69 67 1.484 162 0.586 53 56 54 2.

Lampiran 6.3 PENDUDUK YANG MENGGUNAKAN SUMBER AIR BERSIH DAN YANG MENGGUNAKAN SARANA SANITASI SEHAT DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 (%) No Negara (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 Filipina 3 Kamboja 4 Laos 5 Malaysia 6 Singapura 7 Vietnam 8 Indonesia 9 Myanmar 10 Thailand 11 Bangladesh 12 Bhutan 13 India 14 Korea Utara 15 Maladewa 16 Nepal 17 Sri Lanka 18 Timor Leste Sumber : World Health Statistics 2010. WHO Penduduk Yang Menggunakan Sumber Air Bersih (%) Penduduk Yang Menggunakan Sarana Sanitasi Sehat Perkotaan Perdesaan Total Perkotaan Perdesaan Total (3) (4) (5) (6) (7) (8) - - - - - - 93 87 91 80 69 76 81 56 61 67 18 29 72 51 57 86 38 53 100 99 100 96 95 96 100 - 100 100 - 100 99 92 94 94 67 75 89 71 80 67 36 52 75 69 71 86 79 81 99 98 98 95 96 96 85 78 80 56 52 53 99 88 92 87 54 65 96 84 88 54 21 31 100 100 100 - - - 99 86 91 100 96 98 93 87 88 51 27 31 98 88 90 88 92 91 86 63 69 76 40 50 .

9 86 68 16 Nepal 170 160 22 22 64 88 17 Sri Lanka 73 66 8 9.000 Penduduk Insidens TB Paru per 100.2 87 76 Filipina 550 280 41 52 67 89 3 Kamboja 680 490 77 79 56 94 4 Laos 260 150 22 32 67 92 5 Malaysia 120 100 13 15 76 72 6 Singapura 27 39 3 2.6 73 86 18 Timor Leste 660 500 47 83 33 84 Sumber : World Health Statistics 2010.CDR = Case Detection Rate (Penemuan kasus baru) .000 Penduduk Proporsi Kasus TB Paru melalui DOTS Case Detection Rate Succes Rate 2007 2008 2008 2007 (6) (7) (8) (9) 43 65 7 4. WHO Keterangan : .000 Penduduk 2008 (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 (3) (4) Kematian yang berhubungan dengan TB Paru per 100.5 87 81 7 Vietnam 280 200 20 34 62 92 8 Indonesia 210 190 37 27 80 91 9 Myanmar 470 400 11 57 43 85 10 Thailand 160 140 15 19 64 83 11 Bangladesh 410 220 44 50 72 62 12 Bhutan 96 160 43 15 64 93 13 India 190 170 26 23 70 87 14 Korea Utara 270 340 65 39 70 87 15 Maladewa 13 42 4 2.Lampiran 6.4 PERBANDINGAN DATA TUBERKULOSIS DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007/2008 No Negara Prevalensi TB Paru per 100.SR = Succes Rate (Angka kesembuhan) .

23.300.000 ] … [ < 0.300 ] 4.000 .000 1.1 .200.000 ] 0.1 ] … [ <100 ] … [ <100 ] [ <100 ] … [ < 0.0.100 ] 3.000 .000 … < 100 70.9 ] [ 0.9 .1 ] 2.000 .000 .13.600 .3 [ 0.000 [ 13.000 [ 67.100 ] <100 80.000 12.000 ] … 10 Thailand 610.2 .360.3 ] 1.470.120.880. Kematian Akibat AIDS Dewasa (15–49) Rate (%) Wanita (15+) Dewasa dan Anak-anak Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) Estimasi (estimasi rendah – estimasi tinggi) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) 1 Brunei Darussalam … … … … … 2 Filipina 3 Kamboja 4 Laos 5 Malaysia 6 Singapura 7 Vietnam 290.2 [ 0.000 [ 12.400.700 .000 [ 17.500 .7 .000 ] 240.000 .000 [ 52.000 ] … [ < 0.000 .3.7.000 .11.800 [ 2.000 .370.000 .3.200 [ <1.000 ] 0.84.360.900 [ 3.000 [ 170.4 ] [ <1.300 .2.00 ] 1.000 .300 .0.200 [ 2.000 ] [ 7.000 ] … [ < 0.000 .1 .000 ] 8.000 .700.120.800 .5 [ 0.000 ] 8.000 ] … … 250.800.0.000 ] … 5.000 ] 5.97.300 ] 3.1 ] 1 300 3.000 ] 270.500 ] [ <100 .000 ] 4.33.13.1 .19.000 [ 51.000 [ 46.470.3.000 .000 .<500 ] 76.000 [ 160.Lampiran 6.700 [ 2.99.800 ] … < 500 … … … … … … … Sumber: 2008 Report on the global AIDS epidemic.<500 ] … [ <200 ] [ 2.2 [ 0. Angka Estimasi HIV No Negara (1) (2) Dewasa dan Anak-anak Dewasa (15+) 2.5.400.13.0.100 [ 2.1.000 [ 410.8 [ 0.000 .34.800 .300 [ 6.5 [ 0.5 ANGKA ESTIMASI HIV DAN AIDS DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 1.000 ] … … … … … [ 1.000 .400 .000 .000 [ 670.3.000 ] 70.5 ] [ <100 ] … [ < 0.0.8 ] 21.600 .000 .400 ] < 500 [ <1000 ] [ < 200 ] … [ <100 ] 880.000 ] 79.11.4 .0.0.9 ] 20.400 [ 1.000 .1 .2 ] 2.0.000 ] 0.000 ] 4.2 9 Myanmar 240.000 ] 68.1 ] … [ <100 ] … [ <100 ] < 500 2.87.80.5.000 ] 20.19.4 11 Bangladesh 12.200 . UNAIDS/WHO … … … .7 ] 17.2.100.700 [ 4.200 ] 0.120.000 8 Indonesia 270.000 ] [ 7.3 .000 .000 .000 ] [ <1000 ] 2.860.000 ] 600.000 [ 36.200.0.000 .000 [ 1.000 .000 .3 ] … [ 0.000 ] 0.4.000 [ 190.400 [ 3.000 [ 49.500 [ 3.3.000 [ 150.100] [ 180.200 [ 5.7.7.000 [ 12.000 ] 0.25.000 ] 54.000 .5 [ 0.000] 0.600 .000 [ 190.000 .100 .900 .000] 0.100 ] < 200 75.900 .400.1 [ < 0.000 .000 12 Bhutan < 500 13 India 14 Korea Utara … [ <100 ] … 15 Maladewa … [ <100 ] … 16 Nepal 17 Sri Lanka 18 Timor Leste … … … … 8.200 [ 1.100 < 200 … [ <100 .000 [ 170.1 ] [ <1000 ] 0.000 [ 50.1 ] 1.000 .000 [ 400.000 [ 63.3 .1.000 ] 280.

180 3.660 0 12 Bhutan 0 0 7 0 7 0 13 India 6.714 811 48.937 5.297 308 53 2.016 0 11 Bangladesh 43 33 943 152 2.770 565 Sumber : WHO vaccine .369 0 9 Myanmar 3 5 147 25 333 0 10 Thailand 7 18 137 5 7.181 559 14 Korea Utara 0 395 0 0 82 0 15 Maladewa 0 0 0 0 0 0 16 Nepal 149 2.6 JUMLAH KASUS PENYAKIT MENULAR YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 No Negara Difteri Pertusis Tetanus Tetanus Neonatorum Campak Polio (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1 Brunei Darussalam 2 Filipina 3 0 2 0 0 3 0 65 46 813 132 341 0 Kamboja 7 1212 324 34 4211 0 4 Laos 2 26 12 5 174 0 5 Malaysia 4 11 29 13 334 0 6 Singapura 0 33 0 0 18 0 7 Vietnam 17 280 221 34 352 0 8 Indonesia 219 - 183 183 15.preventable diseases: monitoring system.Lampiran 6.502 46. 2009 .089 6 17 Sri Lanka 0 9 29 1 33 0 18 Timor Leste 0 0 9 1 0 0 A S E A N 324 1.633 1.866 431 28.151 0 S E A R O 6.081 44.231 75.477 1.

2010: A Statistical Reference Containing Data through 2008 .Lampiran 6.7 PERBANDINGAN CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2008 No Negara BCG (%) DPT3 (%) Polio3 (%) Campak (%) Hepatitis B3 (%) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Brunei Darussalam 96 99 99 97 99 2 Filipina 93 91 91 92 88 3 Kamboja 98 91 91 89 91 4 Laos 68 61 60 52 61 5 Malaysia 90 90 90 95 90 6 Singapura 99 97 97 95 96 7 Vietnam 92 93 93 92 87 8 Indonesia 89 77 77 83 78 9 Myanmar 88 85 85 82 84 10 Thailand 99 99 99 98 98 11 Bangladesh 98 95 95 89 95 12 Bhutan 99 96 96 99 96 13 India 87 66 67 70 21 14 Korea Utara 97 92 98 98 92 15 Maladewa 99 98 98 97 98 16 Nepal 87 82 82 79 82 17 Sri Lanka 99 98 98 98 98 18 Timor Leste 85 79 79 73 79 Sumber : WHO Immunization Summary.

World Health Statistics 2010.2009 2000 .Lampiran 6.2009 No Negara (1) (2) 1 Brunei Darussalam 2 Persentase KB aktif pada PUS Pemeriksaan antenatal kali) (4 Persalinan oleh tenaga kesehatan Anak dengan ASI eksklusif (6 bulan) 2009 2000 . USAID.2008 2000 .2009 (3) (4) (5) (6) - - 100 - Filipina 34 78 62 34 3 Kamboja 27 27 44 66 4 Laos 29 - 20 26 5 Malaysia - - 100 - 6 Singapura 55 - 100 - 7 Vietnam 68 29 88 17 8 Indonesia 57 81 73 32 9 Myanmar 33 66 57 11 10 Thailand 70 74 99 5 11 Bangladesh 48 21 18 43 12 Bhutan 31 - 51 10 13 India 49 37 47 46 14 Korea Utara 58 95 97 65 15 Maladewa 34 91 84 10 16 Nepal 44 29 19 53 17 Sri Lanka 53 - 99 76 18 Timor Leste 9 30 19 31 Sumber : .8 PERBANDINGAN UPAYA KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2000 .World Population Data Sheet. 2009 : Persentase KB aktif . WHO .

2 73.5 45.3 6.3 0.8 13.7 10.4 8 14 12 Bhutan 4.4 34.7 73.2 54.2 31 4 Laos 4 18.7 29 14 Korea Utara - - - - - 15 Maladewa 9.4 44.3 60.3 19.5 336 16 Nepal 5.7 65.6 10.5 6.7 72 8 Indonesia 2.1 3.5 52.2 44 9 Myanmar 1.2 536 7 Vietnam 7.8 65.5 8.4 7.7 958 2 Filipina 3.9 98 Sumber : World Health Statistics 2010.3 10.Lampiran 6.9 81.9 29 71 11.9 34. $) No Negara Persentase Keseluruhan Pengeluaran di Bidang Kesehatan terhadap Produk Domestik Bruto (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 1 Brunei Darussalam 2.6 66.1 26.4 55.1 32.5 18.4 81.7 88.7 45 3 Kamboja 5.9 11.6 6.9 PEMBIAYAAN KESEHATAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN & SEARO TAHUN 2007 Persentase Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran di Bidang Kesehatan Persentase Pengeluaran Sektor Swasta di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran di Bidang Kesehatan Persentase Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan terhadap Seluruh Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran per Kapita di Bidang Kesehatan Oleh Pemerintah (PPP int.5 85 18 Timor Leste 13. WHO .2 26.1 80.9 2 10 Thailand 3.7 151 13 India 4.6 67.9 268 6 Singapura 3.7 8.5 6.6 84.1 39.1 39.7 16 5 Malaysia 4.6 15.1 209 11 Bangladesh 3.4 33.8 3.7 60.4 14.9 21 17 Sri Lanka 4.2 47.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful