Anda di halaman 1dari 20

1

I. TUJUAN PERCOBAAN
Mahasiswa mampu menerapkan sokletasi, rekristalisasi, dan identifikasi
piperin dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).
II. DASAR TEORI
2.1 Klasifikasi Piper nigrum dan deskripsinya
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledone
Ordo : Piperales
Family : Piperaceae
Genus : Piper
Spesies : Piper nigrum
Pemerian :Bau aromatik khas; rasa pedas.
Makroskopik : Buah berbentuk hampir bulat; warna cokelat kelabu
sampai hitam kecokelatan; garis tengah 2,5-6 mm;
permukaan berkeriput, kasar, dalam, serupa jala; pada
irisan membujur tampak perikarp yang tipis, sempit, dan
berwarna gelap menyelubungi inti biji yang putih
Kandungan : minyak atsiri mengandung felantren, dipenten,
kariopilen, enthoksilin, alkaloid piperina
Khasiat : karminatif, iritasi lokal (Anonim, 1980).
Rumus bangun : (Anonim a, 2011)

2.2 Soxhletasi
Prinsip dari soxhletasi adalah penyarian yang berulang ulang sehingga
hasil yang didapat sempurna dengan menggunakan pelarut yang sedikit.
Apabila proses penyarian ini telah selesai, maka pelarutnya diuapkan
kembali dan sisanya adalah zat yang tersari. Metode soxhletasi
2

menggunakan suatu pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan
senyawa organik yang terlarut pada bahan tersebut tetapi tidak melarutkan
zat padat yang tidak diinginkan. Metode ini berguna jika kuantitas senyawa
yang akan dipisahkan dalam satuan gram, tetapi tidak dapat digunakan untuk
pemisahan secara sempurna karena senyawa sama dapat ditemukan dalam
berbagai fraksi.
Bahan padat yang akan diesktraksi mula-mula dimasukkan ke dalam
tabung berpori (yang dapat dibuat dari kertas saring dengan ukuran yang
sesuai) kemudian ditempatkan pada bagian dalam alat Soxhlet. Alat ini
kemudian dipasang pada sebuah labu bundar yang berisi pelarut dan batu
didih, sedangkan pada bagian atasnya dipasang kolom pendingin
(kondensor). Pada saat pelarut dididihkan, uap pelarut akan melewati pipa
samping alat Soxhlet dan mengalami pendinginan stelah sampai pada
kondensor. Pelarut yang telah terkondensasitersebut akan jatuh pada bagian
dalam alat Soxhlet tempat diletakkannya bahan yang akan diperiksayang
kemudian akan mengisi seluruh bagian dalam alat tersebut hingga mencapai
bagian atas tabung sifon. Selanjutnya seluruh bagian linarut tersebut akan
tertarik dan segera tertampung pada labu tempat awal pelarut tadi. Proses ini
terjadi secara berulang-ulang hingga diperoleh hasil ekstraksi yang
dikehendaki (Kusmardiyani, 1992).

2.3 Rekristalisasi
Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat yang
jamak digunakan, dimana zat tersebut dilarutkan dalam pelarut kemudian
dikristalkan kembali. Prinsip Rekristalisasi adalah dua atau lebih senyawa
memiliki kelarutan yang berbeda pada pelarut yang sama. Dan hanya
molekul-molekul yang sama yang mudah masuk ke dalam struktur kisi-kisi
kristal, sedangkan molekul-molekul lain/pengotor akan tetap di dalam
larutan atau berada di luar kristalnya (Anonim b, tt).


3

2.4 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Metode pemisahan ini menggunakan lapian tipis adsoben sebagai media
pemisahan, yang kadang-kadang disebut kromatografi, yang kadang-kadang
disebut juga sebagai kromatografi kolom terbuka (Kusmardiyani, 1992).
Pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapis tipis, fase diamnya
berupa lapisan yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang
didukung oleh lempeng kaca, pelat alumunium, atau pelat plastik. Fase
gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak sepanjang
fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik
(ascending), atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangansecara
menurun (descending) (Gandjar, 2007).
Pelat KLT yang siap untuk dikembangkan umumnya dimasukkan
secara vertikal ke dalam bejana komatografi dan pengembangan dikerjakan
secara menaik. Harga Rf antara lain dipengaruhi oleh derajat kejenuhan
ruangan di dalam bejana kromatografi. Untuk itu dinding sebelah dalam
bejana dilapisi dengan kertas saring yang telah dibasahi dengan sistem
pelarut sehingga udara di dalam bejana tersebut tetap jenuh pelarut. Pada
KLT, pelarut bergerak dengan cepat pada pelat dan biasanya diperlukan
jarak rambat 10-12 cm dari titik penotolan (Kusmardiyani, 1992).
Bercak pemisahan pada KLT umumnya merupakan bercak yang tidak
berwarna. Untuk penentuannya dapat dilakukan secara kimia, fisika, mauun
biologi. Cara kimia yang biasa digunakan adalah dengan mereaksikan
bercak dengan suatu pereaksi melalui cara penyemprotan sehingga bercak
menjadi jelas. Cara fisika yang dapat digunakan untuk menampakkan bercak
adalah dengan pencacahan radioaktif atau fluorosensi sinar ultraviolet
(Gandjar, 2007). Kemudian dari pelat KLT dapat dihitung nilai Rf nya.
Perhitungan nilai Rf :
R


}aiak yang uitempuh oleh komponen
}aiak yang uitempuh oleh pelaiut



4

III. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
- 1 set alat soklet
- Alat-alat gelas
- Plat KLT
- Lampu UV 254 nm dan 366 nm
- Cawan porselin
- Kertas saring
- Chamber
- Water Bath
b. Bahan
- Etanol 96%
- N-Hexana
- Etil Asetat
- Serbuk Piperis nigri
- KOH Alkoholis 10%

IV. PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan Ekstrak
Ditimbang 10 gram serbuk lada hitam (Piperis nigri).

Dibungkus dengan kertas saring kemudian dilakukan sokletasi dengan 100 ml
etanol 96%.

Proses sokletasi dilakukan kurang lebih 2 jam (kurang lebih 6 sirkulasi).

Larutan yang diperoleh disaring dan diuapkan di atas water bath
menggunakan cawan porselin (yang sudah ditimbang sebelum digunakan)
sampai didapat ekstrak kental.

Ditimbang ekstrak kental yang diperoleh.
5

2. Rekristalisasi
Ekstrak kental ditambah 10 ml KOH alkoholis 10% sedikit demi sedikit dalam
kondisi panas.

Kristal yang terbentuk disaring dengan kertas saring (yang sebelumnya telah
ditimbang bobotnya).

Kertas saring didiamkan pada suhu kamar di udara terbuka sampai kering.

Ditimbang bobot Kristal yang diperoleh.

3. Identifikasi Piperin
Kristal dilarutkan dalam 2 ml etanol 96%.

Ditotolkan 10 pada plat KLT silika gel GF
254
yang telah dicuci dengan
metanol dan diaktivasi pada suhu 110 selama 30 menit.

Plat KLT dimasukkan ke dalam chamber yang telah dijenuhkan fase gerak N-
hexana : etil asetat (70 : 30).


Dielusi sampai 1 cm dari atas tepi plat KLT.

Plat diangin-anginkan selama 10 menit.

Diamati di bawah sinar UV pada panjang gelombang 254 nm dan 366 nm.
Tandai spot/nada yang berwarna biru diduga sebagai piperin.


6

V. HASIL
a. Bobot serbuk lada hitam : 100 gr
b. Volume etanol 96% yang digunakan untuk sokletasi : 200 ml
c. Jumlah sirkulasi yang terjadi selama proses sokletasi : 10 kali
d. Bobot kristal piperin yang diperoleh : 1,3141 gr
e. Rf dan warna spot piperin :

1. Data Pengamatan Sokletasi
a. Pengambilan Bahan
No. Nama Bahan Jumlah Paraf
1.
2.
3.

Serbuk lada hitam (Piperis nigri)
Cawan porselin
Etanol 96%
10 gr
67,0025 gr
200 ml


b. Siklus Sokletasi
No. Siklus Waktu Perubahan Warna Paraf
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Sirkulasi I
Sirkulasi II
Sirkulasi III
Sirkulasi IV
Sirkulasi V
Sirkulasi VI
Sirkulasi VII
Sirkulasi VIII
Sirkulasi IX
Sirkulasi X
99 menit
12 menit
13 menit
8 menit
11 menit
15 menit
10 menit
9 menit
10 menit
9 menit
Kuning kehijauan
Kuning
Kuning bening**
Kuning bening*
Kuning muda bening*****
Kuning muda bening****
Kuning muda bening***
Kuning muda bening**
Kuning muda bening*
Kuning muda bening

Ket : * = semakin pekat

7

2. Data Pengamatan Rekristalisasi
No Nama Bahan Jumlah Paraf
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Kertas saring
KOH
Etanol 95%
Cawan kosong I
Cawan kosong II
KOH alkoholis 10%
Kertas saring + kristal
Kristal
0,9489 gram
1 gram
10 ml
67,00225 gram
72,3066 gram
10 ml
2,263 gram
1,3141 gram


3. Data Pengamatan Identifikasi Piperin
Pengambilan Bahan
No Nama Bahan Jumlah Paraf
1.
2.
3.
Etanol 96 %
N-hexana
Etil asetat
7 ml
7 ml
3 ml

Nb : jumlah eluen yang dibuat adalah 10 ml.

Tabel Hasil Pengelusian Solute Piperin
No
Jarak
Pelarut
Jarak
Spot
Rf hRf
Deteksi Warna
UV 254 UV 366
Sinar
matahari
1. 8 cm 2,25 cm 0,28 28 - Biru -
2. 8 cm 2,2 cm 0,275 27,5 Gelap - -
3. 8 cm - - - - -
Garis
kuning



8

VI. PERHITUNGAN
1. Pembuatan Larutan KOH Alkoholis 10%
Menurut FI III halaman 698: Kalium hidroksida etanol P, larutan kalium
hidroksida P 10,0 % b/v dalam etanol (95%) .

10,0% b/v


ml
giam
Jadi KOH yang diambil sebanyak 1 gram dan etanol 95% ditambahan
hingga volume 10 ml.
Cara kerja pembuatan KOH Alkoholis 10% :
Ditimbang sebanyak 1 gram KOH lalu diletakkan di dalam beaker glass.

Ditambahkan sedikit etanol 95% pada beaker glass lalu diaduk hingga
homogen dan larut.
Larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml, ditabahkan etanol 95%
hingga volume 10 ml, kocok homogen.
2. Pembuatan Larutan Eluen (Fase Gerak)
Diketahui:
y Larutan fase gerak yang ingin dibuat: 10 ml
y Perbandingan N-hexana : etil asetat (70:30)
Ditanya: Volume yang harus diambil:.?
Jawab:
a. N-hexana

ml

b. Etil asetat=

ml


9

3. Perhitungan Harga Rf dan hRf
a. Pengamatan spot pada sinar UV 254
Diketahui:
y Jarak pelarut dari titik awal = 8cm
y Jarak spot = 2,2 cm
Ditanya: Harga Rf dan hRf=.?
Jawab:
Rf
}aiak yang uitempuh oleh komponen
}aiak yang uitempuh oleh pelaiut


cm
cm

= 0,275
hRf = Rf
hRf = 0,275
b. Pengamatan spot pada sinar UV 366
Rf
}aiak yang uitempuh oleh komponen
}aiak yang uitempuh oleh pelaiut


cm
cm


hRf = Rf
hRf = 0,28
VII. PEMBAHASAN
Analisis kualitatif merupakan analisis untuk melakukan identifikasi
elemen, spesies, dan/atau senyawa-senyawa yang ada di dalam sampel.
10

Dengan kata lain, analisis kualitatif berkaitan dengan cara mengetahui ada
atau tidaknya suatu analit yang dituju dalam suatu sampel (Gandjar, 2007).
Praktikum kali ini mengidentifikasi secara kualitatif adanya senyawa piperin
dalam serbuk Piperis nigri. Teknik analisis yang dilakukan adalah dengan
mengunakan metode ekstraksi cara panas (soxhletasi), metode pemurnian
(rekristalisasi), dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).
Pada metode ekstraksi cara panas (soxhletasi), senyawa piperin
dipisahkan dari senyawa-senyawa lain yang terkandung dalam serbuk Piperis
nigri. Pemilihan metode ekstraksi yang tepat tergantung dari tekstur dan
kandungan air bahan tumbuhan yang akan diekstraksi dan jenis senyawa yang
akan diisolasi (Kusmardiyani, 1992). Penggunaan metode soxhletasi
didasarkan atas sifat fisiko kimia dari serbuk Piperis nigri yang memiliki titik
leleh 128C-130C (Peter, 2000). 10 gram serbuk Piperis nigri dibungkus
dengan dua lapis kertas saring yang sebelumnya sudah dipotong dengan
ukuran sebesar tabung sifon (tinggi dan diameter tabung digunakan sebagai
acuan untuk memotong kertas saring). Untuk bahan yang bobot jenisnya
rendah agar bagian atas tabung tabung kertas saring diusahakan lebih tinggi
dari tabung sifon, karena jika tidak demikian dapat menyebabkan bahan padat
ikut tertarik ke dalam labu penampung (Kusmardiyani, 1992). Kertas saring
berfungsi untuk menyaring dan mencegah masuknya senyawa-senyawa padat
yang tidak diinginkan ke dalam labu penampung. Pelarut yang digunakan
pada proses soxhletasi serbuk Piperis nigri adalah etanol 96% sebanyak 200
ml. Etanol memiliki titik didih yang rendah yaitu 78,5C (Myers, 2007) serta
sifat mudah menguap sehingga baik digunakan untuk cairan penyari (pelarut)
dalam proses soxhletasi. Hal ini disebabkan oleh tidak diperlukan suhu yang
terlalu tinggi untuk menguapkan etanol sehingga mencegah dekomposisi
senyawa oleh pengaruh suhu. Selain itu faktor lain yang menentukan
pemilihan etanol sebagai cairan penyari adalah berdasarkan sifat fisiko kimia
serbuk Piperis nigri yang tidak larut dalam air dan larut dalam 30 bagian
alkohol pada suhu 15Cdan dalam 1 bagian alkohol yang dipanaskan
(Anggrianti, 2008). Penentuan volume pelarut berdasarkan volume alat soxlet
11

dimana pelarut yang digunakan harus memiliki volume 1,5 kali volume alat
soxhlet untuk mencegah habisnya pelarut akibat penguapan. Dalam proses
soxhletasi harus menggunakan pelarut murni agar didapatkan penguapan yang
maksimal. Adanya pelarut lain yang tercampur akan mempengaruhi sifat
fisiko kimia bahan pelarut yang akan mempengaruhi mekanisme penarikan
analit dari simplisianya
Serbuk Piperis nigri yang sudah dibungkus dengan kertas saring
ditempatkan pada bagian dalam alat soxhlet. Alat ini kemudian dipasang pada
sebuah labu bundar yang berisi pelarut dan batu didih, sedangkan bagian
atasnya dipasang kolom pendingin (kondensor). Batu didih berfungsi untuk
menyerap panas berlebih saat labu bundar dipanaskan di atas penangas. Batu
didih akan menyerap panas melalui pori-porinya sehingga mencegah
terjadinya bumping (gelembung-gelembung). Pada saat pelarut (etanol 96%)
dididihkan uap pelarut akan melewati pipa samping alat soxhlet dan
mengalami pendinginan setelah sampai pada kondensor. Pelarut yang telah
terkondensasi tersebut akan jatuh pada bagian dalam alat soxhlet tempat
diletakkannya serbuk Piperis nigri yang kemudian akan mengisi seluruh
bagian dalam alat tersebut hingga mencapai bagian atas tabung sifon.
Selanjutnya seluruh bagian linarut tersebut akan tertarik dan segera
tertampung pada labu tempat awal pelarut tadi (Kusmardiyani, 1992). Proses
ini terjadi secara berulang sehingga diperoleh hasil yang dikehendaki.
Proses soxhletasi setidaknya dilakukan sebanyak 6-8 sirkulasi,
sedangkan ekstraksi sempurna ditandai apabila sirkulasi telah mencapai 20-25
kali. Dalam praktikum kali ini diperoleh sebanyak 10 kali sirkulasi dengan
200 ml etanol. Sirkulasi I terjadi setelah 99 menit, sirkulasi II berlangsung
setelah 12 menit, sirkulasi III berlangsung setelah 13 menit, sirkulasi IV
berlangsung setelah 8 menit, sirkulasi V berlangsung setelah 11 menit,
sirkulasi VI berlangsung setelah 15 menit, sirkulasi VII berlangsung setelah
10 menit, sirkulasi VIII berlangsung setelah 9 menit, sirkulasi IX berlangsung
setelah 10 menit, dan sirkulasi X berlangsung setelah 10 menit. Sirkulasi I
memerlukan waktu paling lama hal ini dikarenakan pada sirkulasi pertama
12

dibutuhkan waktu untuk membuat cairan penyari mendidih sebelum akhirnya
mengalami penguapan. Selain itu proses penjenuhan bahan ekstraksi oleh uap
air dalam tabung soxhletasi memerlukan waktu yang lama. Kecepatan tiap
sirkulasi ini juga dipengaruhi oleh pemanasan pelarut pada labu didih, tebal
lapisan pembungkus (semakin tipis, sirkuasi semakin cepat), dan pendinginan
oleh kondensor (semakin rendah suhu kondensor, semakin cepat uap
mengalami kondensasi dan berubah menjadi molekul air, semakin cepat
simplisia dibasahi dan semakin cepat sirkulasi).
Setelah proses sirkulasi selesai alat soxhlet dibuka dan ekstrak yang
telah tertampung di dalam labu penampung disaring menggunakan kertas
saring untuk memastikan hasil soxhletasi bebas dari senyawa-senyawa
pengotor. Selanjutnya ekstrak disimpan di dalam wadah tertutup rapat.
Tahap selanjutnya adalah metode pemurnian dengan cara rekristalisasi.
Rekristalisasi merupakan suatu metode pemurnian senyawa dengan
pembentukan kristal untuk memisahkan senyawa dari pengotornya. Larutan
atau ekstrak hasil soxhletasi diuapkan diatas penangas dengan menggunakan
cawan porselen. Pemanasan dilakukan dengan suhu penangas sebesar 500C.
Ekstrak cair di dalam cawan porselen diaduk hingga terbentuk ekstrak kental.
Kemudian ektrak kental dilarutkan dengan 10 ml KOH alkoholis 10% b/v.
Piperin merupakan senyawa amida basa lemah yang dapat membentuk garam
dengan asam mineral kuat. Piperin bisa dihidrolisis dengan KOH-etanolik
yang akan menghasilkan kalium piperinat dan piperidin. Pada proses isolasi
pemberian KOH-etanolik tidak boleh berlebihan dan harus dalam keadaan
panas (Anggrianti, 2008). KOH akan mengidrolisis ekstrak menjadi kalium
piperinat dan piperidin sedangkan etanol akan melarutkan pengotor-pengotor
yang terdapat dalam ekstrak. Larutan KOH alkoholis 10% b/v ditambahkan
sedikit demi sedikit ke dalam ekstrak kental, hal ini bertujuan agar pelarutan
ekstrak maksimal (tidak ada ektrak yang tertinggal dalam cawan porselen dan
batang pengaduk), dan tidak terbentuk kristal yang kecil-kecil yang dapat
mengabsorpsi pengotor dan juga agar pengotor tidak masuk ke strukur latik
kristal yang nantinya akan mempengaruhi kemurnian kristal.
13

Setelah penambahan KOH alkoholis larutan didiamkan dalam penangas
es agar proses pengkristalan bisa terjadi. Ekstrak piperin yang sudah
mengkristal tidak akan bisa larut kembali pada suhu dingin, sedangkan
pengotor akan terlarut pada suhu dingin. Kristal tersebut kemudian disaring
dengan kertang saring yang sebelumnya sudah dibasahi dengan etanol yang
bertujuan untuk membersihkan kertas saring tersebut. Kristal akan tertinggal
di atas kertas saring sedangkan larutan yang mengandung pengotor akan
tersaring melewati kertas saring. Kertas saring yang mengandung kristal
kemudian diuapkan pada suhu kamar di udara terbuka hingga kering. Kristal
kemudian ditimbang dan didapat bobot kristal sebesar 1,3141 gram.
Tahap selanjutnya adalah mengidentifikasi senyawa piperin dengan
metode kromatografi lapis tipis (KLT). Pemilihan KLT sebagai metode untuk
mengidentifikasi piperin berdasarkan keuntungan penggunaan KLT terutama
mengenai kecepatan dan sensitivitasnya. KLT menghasilkan pemisahan yang
paling jelas (dibandingkan kromatografi kertas), waktu yang lebih cepat (15-
20 menit), dan jumlah bahan yang diperlukan lebih sedikit. Sensitivitas KLT
dapat dilihat dari kemampuannya memisahkan zat dalam skala g
(Kusmardiyani, 1992). Pada proses ini digunakan plat Silica Gel GF
254
sebagai
fase diam dan larutan N-heksana : etil asetat (70:30) sebagai fase geraknya.
Fase diam yang berupa silica merupakan komponen yang bersifat polar.
Bahan lapis tipis yang berupa silica gel adalah senyawa-senyawa yang tidak
bereaksi dengan pereaksi-pereaksi yang lebih reaktif seperti asam sulfat
(Gandjar, 2007). Pemilihan sistem pengembang (fase gerak) tergantung pada
sifat campuran senyawa yang akan dipisahkan dan media pemisahan yang
digunakan. Pada umumnya polaritas pelarut dan polaritas senyawa
disesuaikan untuk mendapatkan sistem pengembang yang yang akan
digunakan. Pelarut yang bersifat lebih polar umumnya memberikan daya
migrasi yang lebih besar, di samping itu penggunaan kombinasi dua pelarut
atau lebih akan memberikan hasil pemisahan lebih baik dari pelarut tunggal
(Gandjar, 2007). Fase gerak berupa larutan N-heksana daan etil asetat bersifat
nonpolar. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti
14

silika gel, polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solute yang
berarti juga menentukan nilai Rf (Gandjar, 2007).
Kristal yang sudah didapatkan melalui proses rekristalisasi, dilarutkan
dalam 7 ml etanol 96%. Kertas saring yang berisi Kristal dipotong-potong
dengan ukuran kecil kemudian dilarutkan dengan etanol 96%. Hasil ekstrak
kemudian disaring dan ditempatkan dalam botol vial.
Penyiapan atau preparasi fase diam yang berupa plat silika gel GF
254

dilakukan dengan pemotongan plat dengan ukuran 10cm 5cm. Pemotongan
plat dilakukan dengan menggunakan cutter dengan cara plat dibalik sehingga
permukaan silika berada di bawah. Sebelumnya lapisi permukaaan bawah
silika dengan kertas bersih. Hal ini bertujuan agar permukaan silika tidak
terkelupas saat pemotongan sehingga tidak mengganggu proses
pengembangan sampel. Pada teori yang sebenarnya harus dilakukan pencucian
plat sebelum dilakukan penotolan. Namun karena keterbatasan waktu proses
ini tidak dilakukan pleh praktikan. Proses pencucian plat bertujuan untuk
membersihkan plat dari pengotor-pengotor yang menempel pada plat.
Pencucian dilakukan dengan cara mengisi chamber dengan metanol kemudian
plat KLT ditempatkan di dalam chamber dan tutup chamber. Bagian atas plat
dilapisi dengan tisu yang berfungsi untuk menangkap pengotor pada saat
proses pengelusian plat. Sebelumnya plat diberi tanda batas atas dan tanda
batas bawah. Tanda batas bawah sebagai batas atau tempat penotolan sampel
dan tanda batas atas sebagai penanda diakhirinya proses pengelusian. Metanol
digunakan dalam proses pencucian karena metanol merupakan pelarut yang
mudah menguap sehingga mudah dihilangkan setelah proses pencucian
selesai. Setelah proses pencucian selesai plat silika gel GF
254
diaktivasi pada
suhu 110C selama 30 menit yang bertujuan untuk menjaga kelembaban dan
menghilangkan sedikit kandungan air (plat menjadi aktif) agar tidak
mempengaruhi proses pengelusian. Pengaktivasian plat tidak boleh dilakukan
pada suhu lebih dari 110C karena hal tersebut akan merusak plat. Plat silika
gel memiliki gugus OH sehingga apabila diaktivasi pada suhu tinggi, akan
15

menyebabkan plat kehilangan sejumlah kandungan air yang akan membuat
permukaan plat terkelupas sehingga tidak bisa dilakukan proses penotolan.
Fase gerak disiapkan dengan mencampur 7 ml N-heksana dan 3 ml etil
asetat. Fase gerak kemudian dimasukkan ke dalam chamber. Setelah
campuran homogen, fase gerak kemudian dijenuhkan di dalam chamber.
Kertas saring sebagai indikator penjenuhan dimasukkan ke dalam chamber,
dengan cara menempelkan pada dinding chamber. Penjenuhan dilakukan
untuk memperoleh uap dan tekanan yang merata/homogen di dalam chamber
yang nantinya berfungsi untuk membuat pengelusian berjalan baik dan hasil
yang didapat dari pengelusian diharapkan mampu untuk mengidentifikasi
senyawa yang terkandung di dalam sampel yang di uji. Apabila cairan dalam
chamber telah merambat naik secara sempurna pada kertas saring maka dapat
dikatakan chamber telah jenuh.
Proses penotolan pada plat KLT dilakukan saat proses penjenuhan
chamber. Sampel biasanya ditotolkan sebagai bercak bulat atau garis 1,5-2 cm
dari tepi bawah. Pada penotolan sampel jarak penotolan antara sampel yang
satu dengan sampel yang lain adalah 1 cm. Pemisahan pada kromatografi lapis
tipis yang optimal akan diperoleh hanya jika menotolkan sampel dengan
ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin (Gandjar, 2007). Bercak
sebaiknya berukuran 3-6 mm. Penotolan dapat dilakukan dengan mikropipet
atau microsyiringe, biasanya diperlukan 1-20 l Praktikan melakukan 5 kali
penotolan karena yang ditotolkan sebanyak 10 l sedangkan mikropipet
memiliki kapasitas 2 l sekali penotolan (5 kali penotolan pada titik yang
sama). Penotolan harus dilakukan secara bertahap dengan dilakukan
pengeringan antar totolan. Sebagaimana dalam prosedur kromatografi yang
lain, jika sampel yang digunakan terlalu banyak maka akan menurunkan
resolusi. Penotolan sampel yang tidak tepat akan menyebabkab bercak yang
menyebar dan puncak ganda serta terbentuknya tailing (pemisahan yang
berekor) (Gandjar, 2007). Kelebihan beban menyebabkan bercak asimetri
dan perubahan harga Rf (Stahl, 1985).
16

Bila sampel telah ditotolkan maka tahap selanjutnya adalah
mengembangkan sampel tersebut dalam chamber yang telah jenuh. Tepi
bagian bawah plat yang telah ditotoli sampel dicelupkan ke dalam fase gerak
kurang lebih 0,5-1 cm. Tinggi fase gerak dalam chamber harus di bawah plat
yang berisi totolan sampel untuk mencegah adanya reaksi yang terjadi antara
fase gerak dan totolan. Selama proses pengelusian, chamber ditutup rapat
untuk menjaga kestabilan fase gerak yang ada di dalamnya. Chamber harus
tertutup rapat dan sedapat mungkin menggunakan sedikit fase gerak (akan
tetapi harus mampu mengelusi lempeng hingga ketinggian yang ditentukan)
untuk memaksimalkan dan efesiensi proses pengelusian (Gandjar, 2007). Fase
diam silika gel yang bersifat polar akan menjerap fase gerak yang bersifat
nonpolar yang nantinya mampu menggerakkan senyawa yang bersifat
nonpolar sehingga terjadi pergerakan senyawa dari titik asalnya. Pergerakan
senyawa ini diakibatkan oleh adanya perbedaan afinitas dan pengaruh kapiler
pada pengembangan secara menaik (ascending). Kromatografi lapis tipis
adalah suatu metode pemisahan yang didasarkan atas afinitas suatu analit
terhadap fase diam dan fase gerak yang diukur berdasarkan kepolaran Setelah
proses pengelusian selesai plat dikeluarkan dari dalam chamber kemudian
diangin-anginkan selama 10 menit agar eluen yang digunakan menguap.
Spot (bercak) pemisahan pada KLT merupakan spot yang tidak
berwarna. Saat diamati di bawah sinar matahari pada plat ditemukan garis
berwarna kuning namun kurang jelas. Untuk mengetahui spot secara pasti plat
kemudian diamati di bawah sinar UV 254 dan 366. Pada saat pengamatan di
bawah sinar UV 254 didapatkan bercak dengan pemadaman fluoresensi
(bercak berwarna gelap) dengan plat yang berwarna hijau terang. Pada sinar
UV 366 diperoleh bercak berwarna biru. Pada UV 254 hasil flurosensi
menampakkan adanya 1 spot berwarna gelap dengan jarak 2,2 cm dari tempat
penotolan. Pada UV 366 hasil fluoresensi menampakkan 1 spot berwarna biru
dengan jarak 2,25 dari tempat penotolan. Hasil spot yang didapat kemudian di
salin dengan kertas kalkir untuk mempermudah perhitungan hRf. Spot pada
UV 254 memiliki harga Rf 0,28 dan harga hRf 28, sedangkan spot yang
17

diamati pada sinar UV 366 memiliki harga Rf 0,275 dan harga hRf 27,5.
Menurut pustaka, senyawa yang mengandung piperin memiliki harga Rf 0,27
dan hRf 27 dengan warna bercak kuning hijau dan menunjukkan fluoresensi
biru (Anonim, 1980). Dengan membandingkan harga Rf dan fluoresensi
warna pada spot yang diperoleh dengan pustaka, maka senyawa yang diuji
diduga mengandung piperin. Ketidaksesuaian harga Rf antara pustaka dengan
hasil percobaan disebabkan oleh kondisi praktikum yang berbeda (suhu,
kelembaban, pH). Hasil yang kurang sesuai dengan pustaka juga dapat
disebabkan oleh perbedaan eluen yang digunakan pada saat pengembangan
sampel, kualitas pelarut, kualitas adsorben, ketebalan lapisan adsorben,
kejenuhan bejana, dan proses preparasi KLT (waktu aktivasi, waktu
penjenuhan).

UV 254

















18



UV 366




























19

VIII. KESIMPULAN
1. Soxhletasi merupakan proses penyarian simplisia secara
berkesinambungan dengan cara ekstraksi cair padat dengan menggunakan
alat-alat soxhlet.
2. Rekristalisasi adalah suatu teknik pemurnian zat dengan prinsip dua atau
lebih senyawa memiliki kelarutan berbeda pada pelarut yang sama dan
hanya molekul-molekul yang sama yang mudah masuk ke dalam struktur
latik kristal sedangkan molekul lain (pengotor) akan tetap di dalam larutan
atau berada di luar kristal.
3. Kromatografi lapis tipis adalah suatu metode pemisahan yang didasarkan
atas afinitas suatu analit terhadap fase diam dan fase gerak yang diukur
berdasarkan kepolaran.
4. Berdasarkan hasil identifikasi sampel dengan menggunakan metode KLT
dan dilihat di bawah sinar UV 254 dan 366 dapat disimpulkan bahwa
sampel tersebut diduga mengandung piperin. Hal ini berdasarkan harga Rf
0,28 dan harga hRf 28 pada pengamatan UV 254 serta harga Rf 0,275 dan
hRf 27,5 pada pengamatan di bawah sinar UV 366 dan ditemukannya
fluoresensi bercak berwarna biru pada UV 366. Terdapat sedikit perbedaan
harga Rf dengan pustaka, hal ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi
praktikum yang berbeda (suhu, kelembaban, pH), perbedaan eluen yang
digunakan pada saat pengembangan sampel, kualitas pelarut, kualitas
adsorben, ketebalan lapisan adsorben, kejenuhan bejana, dan proses
preparasi KLT (waktu aktivasi, waktu penjenuhan).





20

IX. DAFTAR PUSTAKA

Anonim a. 2011. Piperin Structure (cited 2011 Okt, 15). Available from:
walthers-home.de/papa/Bilder/Bild_Pfeffer_Piperin.jpg&imgrefurl=
Anonim b. tt. Rekristalisasi, Pembuatan Aspirin Dan Penentuan Titik Leleh.
(cited 2011 okt,15). Available from :
://www.scribd.com/doc/56150497/REKRISTALISASI. Diunduh 15 Oktober
2011.
Anonim. 1980. Materia Medika Indonesia. Jilid IV. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Gandjar, Ibnu Gholib,dkk. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar
Kusmardiyani, Siti. 1992. Kimia Bahan Alam. Jakarta : Pusat Antar Universitas
Bidang Ilmu Hayati.
Myers, Richard L. 2007. The 100 Most Important chemical Compound. USA:
Greenwood Press.
Peter, KV. 2000. Handbook of Herb Spices. Volume I. England: Woodhead
Publishing Limited.
Stahl, Egon. 1985. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. Bandung:
ITB