Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

UJI KETELITIAN PIPETASI


Tanggal Praktikum : 26 September 2011 Kelompok : Senin Siang

Disusun Oleh : 1. Anti Marianti 2.Herlianda Bianti 3. Resti Febriliza 4.Anindita Fadhila P. 5. Aidil Noviansyah 6.Pranita Kusumawarni 7.Widi Wijayakusuma 8.Robby Oktabaren 260110080092 ( Alat, Bahan, Prosedur ) 260110080093 ( Print, Jilid ) 260110080094 ( Pembahasan, Kesimpulan ) 260110080095 ( Tujuan, Prinsip ) 260110080097 ( Editor, Data Pengamatan ) 260110080099 ( Teori ) 260110080100( Teori ) 260110080101 ( Pembahasan, Kesimpulan )

LABORATORIUM KIMIA KLINIK FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

UJI KETELITIAN PIPETASI I. TUJUAN 1. Mengetahui cara menggunakan pipet piston (clinipette), serta membandingkan ketelitiannya dengan pipet gelas. 2. Mengetahui cara mengukur konsentrasi sampel dengan menggunakan alat spektrofotometer. II. PRINSIP 1. Hukum Lambert Beer Konsentrasi suatu zat berbanding lurus dengan jumlah cahaya yang diabsorpsi (absorbansi) dan berbanding terbalik dengan logaritma cahaya yang ditransmisikan. A = a.b.c = 100 log %t T Dimana: a = absorptivitas b = tebal kuvet c = konsentrasi sampel A = absorbansi T = transmitan 2. Suatu senyawa bila dikenai REM pada tertentu akan mengalami eksitasi ke keadaan yang lebih tinggi. Pada saat terjadi eksitasi molekul menyerap energi yang disebut sebagai nilai absorbansi (A). A = Io I Dimana: Io = cahaya yang masuk I = cahaya yang ditransmisikan

III. TEORI Pipet digunakan untuk memindahkan sejumlah larutan secara akurat dari suatu wadah (biasanya beker) ke dalam tabung reaksi untuk pengenceran atau penetapan kadar, biasanya bersama-sama dengan pengisi pipet (pipette fillers). Pipet ini bukanlah sedotan minuman, dan sebaiknya jangan pernah ditempatkan dalam mulut, atau digunakan untuk larutan pipet mulut. Praktik ini berbahaya dan tidak higienis. Ada dua jenis pipet yang utama (Cairns, 2009). Pipet Pindah Pipet ini hanya memiliki satu penanda volume dan digunakan untuk memindahkan larutan sebanyak volume tersebut. Ukuran-ukuran yang biasa digunakan adalah 10, 20, dan 50 ml. Pipet ini diisi hingga sedikit di atas tanda dengan menggunakan pompa atau bola pipet. Pompa ini dilepaskan dan larutan dibiarkan terus mengalir keluar hingga mencapai tanda, dan aliran larutan tersebut dikendalikan dengan menggunakan jari telunjuk pada bagian ujung pipet. Sebagian besar pipet pindah dikalibrasi untuk membiarkan sedikit larutan tetap tinggal pada ujung pipet begitu pipet dikeringkan dan larutan tersebut sebaiknya tidak ditiup keluar dari ujung pipet. Jenis pipet ini digunakan untuk semua prosedu kimia analitik (Cairns, 2009). Pemasukan pipet ke dalam pengisi pipet (pipette filler) harus dilakukan secara hati-hati. Jika pipet dihubungkan dengan pompa, dan terdorong ke dalam pengisi pipet, batang pipet dapat pecah dan operator mungkin terluka. Ketika memasukkan pipet ke dalam pengisi pipet, pipet harus selalu dipegang pada bagian yang dekat dengan ujungnya untuk mencegah semua kecelakaan yang sering terjadi ini (Cairns, 2009). Pipet Ukur Pipet ukur merupakan alat untuk memindahkan larutan dengan volume yang diketahui. Tersedia berbagai macam ukuran kapasitas pipet ukur, diantaranya pipet berukuran 1 ml, 5 ml dan 10 ml. Cara penggunaanya adalah cairan disedot dengan

pipet ukur dengan bantuan filler sampai dengan volume yang diingini. Volume yang dipindahkan dikeluarkan menikuti skala yang tersedia (dilihat bahwa skala harus tepat sejajar dengan mensikus cekung cairan) dengan cara menyamakan tekanan filler dengan udara sekitar (Awang, 2010).

Pipet ukur mempunyai fungsi hampir sama dengan pipet tetes biasa, kecuali : 1. Garis skala volum pada pipet ukur tidak hanya satu tapi ada beberapa skala, volum pipet seukuran hanya ada satu. 2. Tingkat ketelitian pengukuran pipet ukur lebih kecil dari tingkat ketelitian pengukuran pipet seukuran (Maya, 2010). Cara kalibrasi pipet ukur dilakukan terhadap sekelompok volum tertentu, misalnya untuk pipet ukur dengan kapasitas 25 mL, kalibrasi dilakukan pada volum 5 mL, 10 mL, 15 mL, 20 mL, dan 25 mL. Kalau memang diinginkan dan tersedia waktu luang, boleh juga dilakukan kalibrasi pada volum diluar yang disebut diatas (Maya, 2010). Pipet ukur dikalibrasi untuk memungkinkan sebuah alat gelas memindahkan satu interval volume, dan ukurannya yang umum adalah 1 ml dan 10 ml. Pipet ini kurang akurat bila dibandingkan dengan pipet pindah, dan pipet ini tidak digunakan di dalam laboratorium kimia analitik. Jika ingin memindahkan suatu larutan dengan volume sangat kecil, digunakan alat suntik gelas yang akurat (misalnya, alat suntik Hamilton) atau mikropipet otomatis (Cairns, 2009). Mikropipet

Mikropipet adalah alat untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya kurang dari 1000 l. Banyak pilihan kapasitas dalam mikropipet, misalnya mikropipet yang dapat diatur volume pengambilannya (adjustable volume pipette) antara 1l sampai 20 l, atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya, hanya tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5 l. dalam penggunaannya, mukropipet memerlukan tip (Awang, 2010). Mikropipet digunakan untuk memindahkan secara akurat suatu larutan/cairan dalam volume kecil. Pipet biasa seperti pipet gelas tidak memiliki keakuratan pada volume kurang dari 1 mililiter (1 ml), sedangkan mikropipet memiliki keakuratan dan ketepatan pada volume kurang dari 1 mililiter (1 ml) (Umam, 2010). Dalam menggunakan mikropipet, yang perlu diperhatikan adalah volume cairan yang akan dipindahkan. Ada beberapa jenis mikropipet berdasarkan volumenya, jenis mikropipet yang sering digunakan memiliki kisaran 10-100 mikro liter (l) dan 100-1000 mikro liter (l). Pada penggunaanya, biasanya dilakukan kombinasi pemakaian kedua jenis mikropipet ini, misalnya untuk memindahkan 1030 l cairan, maka digunakan pipet jenis pertama untuk memindahkan 30 l dan pipet jenis kedua untuk memindahkan cairan sebanyak 1000 l. Pemilihan jenis pipet yang tepat ini penting untuk menghemat waktu (Umam, 2010).

Cara Penggunaan : 1. Sebelum digunakan Thumb Knob sebaiknya ditekan berkali-kali untuk memastikan lancarnya mikropipet. 2. Masukkan Tip bersih ke dalam Nozzle / ujung mikropipet.

3. Tekan Thumb Knob sampai hambatan pertama / first stop, jangan ditekan lebih ke dalam lagi. 4. Masukkan tip ke dalam cairan sedalam 3-4 mm. 5. Tahan pipet dalam posisi vertikal kemudian lepaskan tekanan dari Thumb Knob maka cairan akan masuk ke tip. 6. Pindahkan ujung tip ke tempat penampung yang diinginkan. 7. Tekan Thumb Knob sampai hambatan kedua / second stop atau tekan semaksimal mungkin maka semua cairan akan keluar dari ujung tip. 8. Jika ingin melepas tip putar Thumb Knob searah jarum jam dan ditekan maka tip akan terdorong keluar dengan sendirinya, atau menggunakan alat tambahan yang berfungsi mendorong tip keluar (Awang, 2010).

Spektrofotometri Ulraviolet-Cahaya Tampak (UV-VIS) Spektrum elektronik senyawa dalam fase uap kadang-kadang menunjukkan struktur halus dimana sumbangan vibrasi individu dapat teramati, namun dalam fase-fase mampat, tingkat energi molekul demikian terganggu oleh tetanggatetangga dekatnya, sehingga seringkali hanya tampak pita lebar. Semua molekul dapat mengabsorbsi radiasi dalam daerah UV-tampak karena mereka mengandung elektronik sekutu maupun menyendiri yang dapat dieksitasikan ke tingkat energi yang lebih tinggi. Panjang gelombang dimana absorbsi itu terjadi, bergantung pada berapa kuat elektron itu terikat dalam molekul itu. Elektron dalam suatu ikatan kovalen tunggal terikat dengan kuat, dan diperlukan radiasi berenergi tinggi atau panjang gelombang pendek, untuk eksitasinya. Misalnya alkana, yang mengandung hanya ikatan tunggal C-H dan C-C tak menunjukkan absorpsi di atas 160 nm. Metana menunjukkan suatu puncak pada 122 nm. Ini berarti bahwa suatu elektron dalam orbital ikatan (bonding) sigma dieksitasikan ke orbital anti-ikatan (antibonding) sigma (Day & Underwood, 2002). Instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis

Spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran di daerah spektrum ultraviolet dan sinar tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan kemampuan menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang gelombang 200-800 nm (Sudjadi, 2007). Suatu diagram sederhana spektrofotometer UV-Vis ditunjukkan oleh gambar berikut dengan komponen-komponennya meliputi sumber-sumber sinar, monokromator, dan sistem optik. Celah (slit) Celah (slit) Detektor

Sumber lampu

MonokromatorWadah sampel

1. Sumber-sumber lampu Lampu deuterium digunakan untuk daerah UV pada panjang gelombang dari 190-350 nm, sementara lampu halogen kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visibel (pada panjang gelombang antara 350-900). 2. Monokromator Digunakan untuk mendispersikan sinar ke dalam komponen-komponen panjang gelombangnya yang selanjutnya akan dipilih oleh celah (slit). Monokromator berputar sedemikian rupa sehingga kisaran panjang gelombang dilewatkan pada sampel sebagai scan instrumen melewati spektrum. 3. Optik-optik Dapat didesain untuk memecah sumber sinar sehingga sumber sinar melewati 2 kompartemen, dan sebagaimana dalam spektrofotometer berkas ganda (double beam), suatu larutan blanko dapat digunakan dalam satu kompartemen untuk mengkoreksi pembacaan atau spektrum sampel. Yang paling sering digunakan sebagai blanko dalam spektrofotometri adalah

semua pelarut yang digunakan untuk melarutkan sampel atau pereaksi (Sudjadi, 2007). Ada tiga macam proses penyerapan energi ultraviolet dan sinar tampak yaitu: 1. Penyerapan oleh transisi elektron ikatan dan elektron anti ikatan (elektron sigma, elektron phi, dan elektron yang tidak berikatan atau non bonding elektron) 2. Penyerapan yang melibatkan elektron d dan f a. Penyerapan oleh ion-ion golongan lantanida dan aktinida b. Penyerapan oleh logam-logam golongan transisi pertama dan kedua 3. Penyerapan karena perpindahan muatan (Sudjadi, 2007). Transisi-transisi elektronik yang terjadi diantara tingkat-tingkat energi di dalam suatu molekul ada 4, yaitu transisi sigma-sigma star, tramsisi n-sigma star, transisi n-phi star, dan transisi phi-phi star. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: 1. Efek pelarut pada transisi Pelarut dapat mempengaruhi transisi n* dan *. Hal ini berkaitan dengan adanya perbedaan kemampuan pelarut untuk mensolvasi antara keadaan dasar dengan keadaan tereksitasi. 2. Kromofor-kromofor organik Kromofor merupakan suatu gugus atau atom dalam senyawa organik yang mampu menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak. 3. Pengaruh peristiwa konjugasi terhadap puncak serapan Ikatan terkonjugasi merupakan ikatan rangkap yang berselang-seling dengan satu ikatan tunggal. Dalam orbital molekul, elektron-elektron phi mengalami delokalisasi lanjut dengan adanya ikatan terkonjugasi. Adanya efek delokalisasi ini akan menyebabkan penurunan tingkat energi * dan memberikan pengurangan karakter anti ikatan. Sebagai konsekuensinya panjang gelombang molekul yang mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi akan mengalami pergeseran batokromik (Sudjadi, 2007). Spektroskopi ultraviolet-visible atau spektrofotometri ultraviolet-visible (UV-Vis atau UV / Vis) melibatkan spektroskopi dari foton dalam daerah UV-

terlihat. Ini berarti menggunakan cahaya dalam terlihat dan berdekatan (dekat ultraviolet (UV) dan dekat dengan inframerah (NIR)) kisaran. Penyerapan dalam rentang yang terlihat secara langsung mempengaruhi warna bahan kimia yang terlibat (Hosniah, 2010). Untuk mengukur risiko dari usul investasi digunakan standar deviasi, nilai bobot, dan koefisien variasi. Semakin besar standar deviasi dibandingkan nilai bobot berarti semakin besar risiko yang terkandung dalam usul investasi. Semakin tinggi koefisien variasi semakin tinggi tingkat risiko investasi. Dalam memilih investasi diambil tingkat koefisien variasi yang rendah atau tingkat risiko investasi yang rendah walaupun metode nilai sekarang bersih menunjukkan tingkat positif yang tinggi (Nafarin, 2007). Hukum Beer-Lambert menyatakan bahwa absorbansi larutan berbanding lurus dengan konsentrasi spesies menyerap dalam larutan dan panjang jalan. Jadi, untuk tetap jalan panjang, UV / VIS spektroskopi dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi dalam larutan penyerap. Perlu untuk mengetahui seberapa cepat perubahan absorbansi dengan konsentrasi. Ini dapat diambil dari referensi (tabel koefisien molar kepunahan), atau lebih tepatnya, ditentukan dari kurva kalibrasi (Hosniah, 2010). Para instrumen yang digunakan dalam spektroskopi ultraviolet-visible disebut UV / vis spektrofotometer. Itu mengukur intensitas cahaya yang melewati sebuah sampel (I), dan membandingkannya dengan intensitas cahaya sebelum melewati sampel (I o). Perbandingan I / I o disebut pengiriman, dan biasanya dinyatakan sebagai persentase (% T). The Absorbansi, A, didasarkan pada pengiriman: A = - l o g (% T / 100%) (Hosniah, 2010). Bagian dasar dari sebuah Spektrofotometer adalah sumber cahaya, pemegang sampel, sebuah kisi difraksi atau monochromator untuk memisahkan berbagai panjang gelombang cahaya, dan sebuah detektor. Sumber radiasi seringkali merupakan Tungsten filamen (300-2500 nm), sebuah lampu busur deuterium yang kontinu di atas daerah ultraviolet (190-400 nm), dan lebih barubaru ini memancarkan dioda cahaya (LED) dan Xenon Arc Lamps untuk panjang

gelombang yang terlihat. Detektor biasanya sebuah fotodioda atau CCD. Photodiodes digunakan dengan monochromators, yang menyaring cahaya sehingga hanya cahaya dari panjang gelombang tunggal mencapai detektor. Kisi-kisi difraksi digunakan dengan CCD, yang mengumpulkan cahaya pada berbagai panjang gelombang yang berbeda piksel. Spektrofotometer dapat berupa sinar tunggal atau sinar ganda. Dalam berkas satu instrumen (seperti Spectronic 20), semua cahaya melewati sel sampel. I o harus diukur dengan membuang sampel. Ini adalah desain awal, tetapi masih umum digunakan baik dalam pengajaran dan laboratorium industry (Hosniah, 2010). Dalam berkas ganda instrumen, cahaya dibagi menjadi dua berkas sebelum mencapai sampel. Satu berkas digunakan sebagai acuan, yang lain melewati sinar sampel. Beberapa instrumen double-beam memiliki dua detektor (photodiodes), dan sampel dan berkas referensi diukur pada waktu yang sama. Dalam instrumen lain, kedua balok melewati sebuah balok helikopter, yang menghambat satu berkas pada suatu waktu. Detektor-ubah antara mengukur sampel balok dan balok referensi (Hosniah, 2010). Sampel untuk UV / Vis spektrofotometri yang paling sering cairan, meskipun absorbansi gas dan bahkan padatan juga dapat diukur. Sampel biasanya ditempatkan dalam transparan sel, yang dikenal sebagai cuvette. Cuvettes biasanya berbentuk persegi panjang, biasanya dengan lebar internal dari 1 cm. (Ini menjadi jalan lebar panjang, L, dalam hukum Beer-Lambert.) Uji tabung juga dapat digunakan sebagai cuvettes dalam beberapa instrumen. Jenis wadah sampel yang digunakan harus membiarkan radiasi untuk lewat di atas wilayah spektrum kepentingan. Yang paling banyak diterapkan cuvettes terbuat berkualitas tinggi leburan silika atau kuarsa kaca karena ini adalah transparan seluruh UV, yang kelihatan dan inframerah dekat daerah. Cuvettes kaca dan plastik juga umum, meskipun sebagian besar plastik kaca dan menyerap di UV, yang membatasi kegunaannya untuk terlihat panjang gelombang. Sebuah spektrum ultraviolet-pada dasarnya adalah sebuah grafik cahaya versus absorbansi panjang gelombang dalam berbagai ultraviolet atau terlihat daerah. Seperti spektrum sering dapat diproduksi langsung oleh spektrofotometer yang lebih canggih, atau data dapat dikumpulkan

satu panjang gelombang pada suatu saat dengan instrumen sederhana. Panjang gelombang sering diwakili oleh simbol . Demikian pula, untuk suatu substansi, grafik standar dari kepunahan koefisien () vs panjang gelombang () dapat dibuat atau digunakan jika salah satu sudah tersedia. Seperti grafik standar akan efektif "konsentrasi-dikoreksi" dan dengan demikian tergantung pada konsentrasi (Hosniah, 2010). Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Spektrofotometri UV-Vis Spektra UV-Vis dapat digunakan untuk informasi kualitatif dan sekaligus dapat digunakan untuk analisis kuantitatif. 1. Aspek kualitatif Data spektra UV-Vis secara tersendiri tidak dapat digunakan untuk identifikasi kualitatif obat atau metabolitnya. Akan tetapi jika digabung dengan cara lain seperti spektroskopi inframerah, resonansi magnet inti, dan spektroskopi massa, maka dapat digunakan untuk maksud identifikasi/analisis kualitatif suatu senyawa tersebut. Data yang diperoleh dari spektroskopi UV dan Vis adalah panjang gelombang maksimal, intensitas, efek pH, dan pelarut yang kesemuanya itu dapat diperbandingkan dengan data yang sudah dipublikasikan. 2. Aspek kuantitatif Dalam aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya. Radiasi yang diserap oleh cuplikan ditentukan dengan membandingkan intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar yang diserap jika tidak ada spesies penyerap lainnya (Sudjadi, 2007). Aplikasi UV / Vis spektroskopi secara rutin digunakan dalam kuantitatif penentuan solusi dari logam transisi ion dan sangat dikonjugasikan senyawa organik. Solusi ion logam transisi dapat berwarna (misalnya, menyerap cahaya) karena d elektron dalam atom logam dapat tertarik dari satu negara

elektronik lainnya. Warna larutan ion logam sangat dipengaruhi oleh kehadiran spesies lain, seperti anion tertentu atau ligan. Sebagai contoh, warna larutan encer tembaga sulfat adalah biru yang sangat terang; menambahkan amonia meningkat dan perubahan warna panjang gelombang serapan maksimum ( max) (Hosniah, 2010). Senyawa organik, terutama mereka yang memiliki tingkat tinggi konjugasi, juga menyerap cahaya pada daerah UV atau terlihat dari spektrum elektromagnetik. pelarut untuk penentuan ini sering air untuk senyawa larut dalam air, atau etanol untuk senyawa organik yang larut. (Pelarut organik mungkin memiliki penyerapan sinar UV yang signifikan; tidak semua pelarut yang cocok untuk digunakan dalam spektroskopi UV. Ethanol menyerap sangat lemah di paling panjang gelombang.) Solvent polaritas dan pH dapat mempengaruhi penyerapan spektrum senyawa organik. Tirosin, misalnya, peningkatan penyerapan maksimum dan koefisien molar kepunahan ketika pH meningkat 6-13 atau ketika polaritas pelarut berkurang (Hosniah, 2010). Sementara kompleks transfer biaya juga menimbulkan warna, warna sering terlalu kuat untuk digunakan untuk pengukuran kuantitatif (Hosniah, 2010).

IV. ALAT DAN BAHAN A. Alat 1. Kuvet

2. Labu ukur 3. Pipet gelas (volume pipette) 4. Pipet piston (clinipette) 5. Spektrofotometer UV-Visibel B. Bahan 1.
2.

Aquades KMnO4

V. PROSEDUR Pada praktikum kali ini, prosedur pertama yang dilakukan adalah pembuatan larutan baku induk KMnO4 dengan konsentrasi tertentu sehingga didapat absorbansi (A) larutan sebesar 0.8-1.0. Kemudian dibuat berbagai pengenceran larutan KMnO4 dengan menggunakan pipet gelas dan pipet piston pada kuvet masing-masing sebanyak 10 kuvet dengan perbandingan sebagai berikut:
Bahan Laruan Baku Induk KMnO4 Aquadest Pengenceran I 100 l 1000 l Pengenceran II 200 l 1000 l Pengenceran III 500 l 1000 l

Setelah itu absorbansinya diukur untuk setiap pengenceran pada panjang gelombang () 546 nm. Absorbansi dari setiap cara pemipetan dibandingkan dengan melihat harga standar deviasi (SD) atau koefisien variasinya. Kemudian data yang diperoleh dibuat grafik pemantapan ketelitian dengan menentukan batas peringatan ( x + 2SD) dan batas kontrolnya (x + 3SD).

VI. DATA PENGAMATAN

1.Pengenceran Larutan KMnO4

-Kelompok I

: Larutan baku KMnO4 Aquadest

: 100 l : 1000 l : 200 l : 1000 l : 500 l : 1000 l

-Kelompok II

: Larutan baku KMnO4 Aquadest

-Kelompok III

: Larutan baku KMnO4 Aquadest

2. Tabel hasil pengukuran dan perhitungan data absorbansi


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata Standar deviasi Koefisien korelasi Absorbansi (Pipet gelas) I II III 0.141 0.234 0.473 0.154 0.258 0.466 0.15 0.229 0.473 0.15 0.229 0.526 0.141 0.225 0.483 0.185 0.242 0.47 0.148 0.225 0.444 0.146 0.269 0.468 0.139 0.24 0.481 0.148 0.231 0.471 0.1502 0.2382 0.4755 0.0131 0.0147 0.0206 13 03 52 8.73 6.4417 4.343 Absorbansi (Pipet piston) I II III 0.188 0.177 0.614 0.186 0.145 0.567 0.174 0.119 0.599 0.169 0.201 0.594 0.164 0.17 0.578 0.168 0.241 0.551 0.208 0.252 0.593 0.158 0.161 0.551 0.153 0.169 0.596 0.157 0.23 0.465 0.1725 0.1865 0.5708 0.0170 0.0434 0.0426 64 11 51 23.276 9.855 7 7.463

3. Perhitungan

Pengenceran 1 o Pipet Piston

o Pipet Gelas

Pengenceran 2 o Pipet Piston

o Pipet Gelas

Pengenceran 3

o Pipet Piston

o Pipet Gelas

4. Grafik

VII.

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini yaitu uji ketelitian pipetasi yang bertujuan untuk mengetahui cara menggunakan pipet piston (clinipette) serta membandingkan ketelitiannya dengan pipet gelas dan untuk mengetahui cara mengukur konsentrasi sampel dengan menggunakan alat spekttrofotometer. Keahlian dan ketelitian dalam menggunakan pipet sangat penting dalam bidang kimia klinik karena perbedaan volume yang sedikit saja dapat memberikan hasil yang berbeda sehingga salah dalam menginterpretasikan hasil yang diperoleh. Oleh karana itu, dilakukan percobaan untuk membandingkan ketelitian dari pipet gelas dan pipet piston. Sebuah pipet (juga disebut pipet penetes, pipettor atau kimia) merupakan instrumen laboratorium yang digunakan untuk mengangkut volume cairan yang diukur. Pipet piston merupakan jenis yang paling tepat dan akurat pipet, mereka beroperasi oleh piston yang digerakkan oleh perpindahan udara. Sebuah vakum yang dihasilkan oleh perjalanan vertikal dari logam atau piston keramik dalam sebuah lengan kedap udara. Seperti piston bergerak ke atas, didorong oleh depresi plunger, vakum dibuat dalam ruang kiri kosong oleh piston. Udara dari ujung naik untuk mengisi ruang kiri kosong, dan udara tip kemudian digantikan oleh cairan,

yang disusun ke ujung dan demikian tersedia untuk transportasi dan pengeluaran lain. Percobaan ini dilakukan dengan bantuan spektrofotometer. Bahan yang digunakan adalah Kalium Permanganat (KMnO4). Larutan baku induk kalium permanganat yang sudah ada, kemudian dibuat seri dari larutan baku tersebut dengan pengenceran 1 (100 L), pengenceran 2 (200 L), dan pengenceran 3 (1000 L). Pengenceran dibuat masing-masing sebanyak 10 kuvet dengan menggunakan pipet piston dan pipet gelas. Masing-masing absorbansi larutan pada tiap pengenceran diukur pada panjang gelombang maksimum 546 nm. Kalium permanganat merupakan senyawa yang berwana ungu. Oleh karena itu, pengukuran dilakukan pada panjang gelombang visible tepat pada 546 nm. Pada pipet piston sudah ada pengaturan volume yang akan diambil sehingga sudah terkalibrasi dengan baik. Namun, jika penggunaan pipet piston masih salah maka hasilnya tidak optimal atau volume yang diambil tidak sesuai. Agar penggunaan pipet piston optimal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti:

Konsisten speed dan kelancaran saat menekan dan melepaskan tombolnya Konsisten tekanan pada plunger pada pertama Konsisten dan cukup saat memasukkan tip ke dalam cairan Posisi tip pada cairan Posisinya Hampir Vertikal dari pipet

Menghindari semua gelembung udara Tidak pernah meletakkan pada side pipet atau pipet membalikkan jika cairan di ujung. Pada pipet gelas, tergantung pada pembacaan skala. Orang yang menggunakan pipet (praktikan) sangat berpengaruh dengan hasil yang didapat. Pada pipet gelas harus tepat dalam pembacaan skala sedangkan pada pipet piston harus diperhatikan hal-hal yang sebelumnya telah disebutkan diatas agar diperoleh hasil yang optimal. Seharusnya pemipetan dilakukan oleh satu orang yang sama untuk semua pengenceran, tetapi pada praktikum kali ini, tiap pengenceran dilakukan oleh orang yang berbeda. Diperoleh absorbansi tiap pengenceran dengan menggunakan pipet piston dan pipet gelas, seperti dalam tabel pada data pengamatan. Kemudian dihitung rata-

rata (

, standar deviasi (SD), dan koefisien variasi (KV). Nilai standar deviasi

(SD) dapat diperoleh dengan perhitungan:

Dan koefisien variasi (KV) dapat diperoleh dengan perhitungan:

Nilai standar deviasi digunakan untuk mengetahui presisi dan akurasi yang didapatkan. Akurasi adalah ukuran seberapa dekat suatu angka hasil pengukuran terhadap angka sebenarnya (true value atau reference value). Presisi adalah ukuran seberapa dekat suatu hasil pengukuran satu dengan yang lainnya. Makin kecil nilai SD dan KV yang didapatkan, maka ketelitian makin baik. Berdasarkan hasil pengamatan, ketelitian pipet gelas lebih baik dibanding dengan pipet piston pada semua pengenceran yaitu pada pengenceran. Pada pengenceran 1 (1 (100 L) didapat nilai SD sebesar 0,017 pada pipet piston dan 0,013 pada pipet gelas, pada pengenceran 2 (200 L) didapat nilai SD sebesar 0,0434 pada pipet piston dan 0,0147 pada pipet gelas dan pada pengenceran 3 (500 L) didapat nilai SD sebesar 0,0426 pada pipet piston dan 0,026 pada pipet gelas. Dari hasil pengukuran nilai SD pipet piston menyebabkan perhitungan serta hasil pada nilai KV yang lebih tinggi dibandingkan nilai KV pada pipet gelas. Hal ini berbeda dengan hasil yang seharusnya didapat berdasarkan literatur. Sehingga pada percobaan ini dinyatakan bahwa ketelitian pipet piston tidak lebih baik dari ketelitian pipet gelas. Perbedaan hasil ini kemungkinan disebabkan karena praktikan tidak optimal dalam penggunaan pipet piston, atau lebih optimal dalam penggunaan pipet gelas, dapat juga disebabkan karena factor praktikan yang berbeda-beda, sehingga menimbulkan ketidaktepatan dalam pembacaan pipet gelas dan kesalahan dalam memperhatikan volema cairan yang akan dipipet karena salah dalam pemilihan range volume pipet. VIII. KESIMPULAN

1. Berdasarkan hasil pengamatan, ketelitian pipet gelas lebih baik dibandingkan dengan pipet piston. Dapat dilihat dari nilai SD dan KV pipet gelas lebih kecil dari pipet piston. Nilai SD dan KV untuk : pengenceran 100 L - Pipet piston, SD =0,017 ; KV = 9,855 - Pipet gelas, SD =0,013; KV = 8,37 pengenceran 200 L - Pipet piston, SD =0,0434 ; KV = 23,27 - Pipet gelas, SD = 0,0147 ; KV = 6,4417 pengenceran 500 L - Pipet piston, SD =0,0426 ; KV = 7,463 - Pipet gelas, SD =0,0206 ; KV = 4,343 2. Konsentrasi sampel dapat diketahui dengan menggunakan alat spektrofotometer dengan menggunakan data absorbansi (A).

DAFTAR PUSTAKA

Awang.

2010.

Pengenalan

Alat.

http://ekmon-saurus.com/2008/11/bab-1-

pengenalan-alat.html [diakses pada tanggal 28 September 2011] Cairns, D. 2009. Intisari Kimia Farmasi. Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Day, R. A & A. L, Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam. Erlangga. Jakarta. Hosniah. 2010. Spektroskopi Ultrviolet-Visibel. http://hoshhosh.com/2010/02/spektroskopi-ultraviolet-visible.html [diakses pada tanggal 16 Oktober 2010] Maya, Novi. 2010. Kaliberasi Pipet Ukur. http://catatankimia.com/catatan/kalibrasipipet-seukuran-dan-pipet-ukur.html [diakses pada tanggal 28 September 2011] Nafarin, M. 2007. Penganggaran perusahaan. Edisi Ketiga. Penerbit Salemba Empat. Jakarta. Sudjadi. 2007. Kimia Framasi Analisis. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Umam, Khoirul. 2010. Penggunaan Mikropipet. http://khoirulumam.com/foodtechothermenu-27/177-penggunaan-mikropipet September 2011] [diakses pada tanggal 28