Anda di halaman 1dari 2

3.

Tafsir AL-Misbah
N~E}@O- ]ON`O~ O>4N
g7.=Og)4- E) _ +.-
__u4 _O>4N *u4 .E)4
W-OE^ ;}g` )_g4O^` _
eE)UO 7e4-gL~ egEO
U^O4Ug E) E^gEO +.- _
/--4 4pOC` ;-EeO=e
;-OOg O}-NOu--4 O)
;7__E^- O}-O+)O;g-4 W
up) :4LuC E W-O7l>
O}jgOU4N EO):Ec Ep) -.- ]~E
1)U4N -LOO): ^@j
34. kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena
mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita
yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh
karena Allah telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya,
Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah
mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk
menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
M. quraish Shihab mengutip pendapat Alexis Carrel, antara pria dan wanita terdapat
perbedaan bukan hanya pada bentuk fisik mereka, akan tetapi juga dari segi psikis, perbedaan
itu berkaitan dengan kelenjar elemen darah masing-masing kelamin. Selanjutnya laki-laki
dinyatakan dalam ayat diatas sebagai pemimpin terhadap kaum wanita dalam hidup berumah
tangga. Kepemimpinan itu untuk setiap unit merupakan hal yang mutlak, terlebih dalam
sebuah keluarga, karena mereka selalu bersama dan merasa memiliki pasangan. (M. Quraish
Shihab, 1996:310)
Hak kepemimpinan dalam surat An-Nisa ayat 34 dibebankan kepada pria (suami). Hal
ini karena dalam rumah tangga deferensiasi kerja atau deferensiasi tanggung jawab antara
suami dan isteri. Perbedaan itu lebih dititik beratkan kepada perbedaan fisik yang akan lebih
menunjang terhadap keberhasilan kepemimpinan rumah tangga dibanding dengan wanita
sebagai isteri, dengan konsekuensi selain bertanggung jawab terhadap nafkah dan
perlindungan terhadap anggota keluarganya sehingga Allah melebihkan kaum laki-laki
terhadap kaum wanita. Walaupun diakui ada saja wanita yang memiliki kemampuan berfikir
dan materi melebihi suaminya, tetapi semua itu merupakan kasus yang tidak dapat dijadikan
dasar untuk menetapkan suatu kaidah yang bersifat umum (M. Quraish Shihab, 1996:311).