Anda di halaman 1dari 2

Penerapan Game Theory Dalam Keputusan Bisnis

Salah satu penerapan game theory dalam keputusan bisnis khususnya yang bersifat noncooperative antara lain dalam persaingan pasar yang bersifat oligopoly (beberapa perusahaan didalamnya bersaing satu sama lain). Salah satu contohnya adalah industri semen.Seorang pemain (perusahaan) tidak akan mengubah suatu strategi bersaingnya tanpa memperhitungkan apa yang akan dilakukan oleh pesaingnya yang lain. Misalnya, ketika perusahaan semen A akan melakukan penurunan harga semennya maka penjualan akan meningkat dengan pangsa pasar yang lebih besar. Namun, hal ini tidak akan berlangsung lama karena pemain (perusahaan semen) lain tentunya juga akan menurunkan harga semennya dan begitu seterusnya sampai laba perusahaan akan menurun drastis karena terjadi penurunan harga terus menerus dalam jangka panjang. Tentu hal ini merugikan beberapa perusahaan itu dan perusahaan akan berpikir ulang untuk melakukan aksi. Jadi, dalam membuat keputusan bisnis pada kasus oligopoly, tindakan pemain lain akan diikuti oleh pemain lainnya dan terjadi terus menerus sehingga perlu dipikirkan lagi aksi yang akan dilakukan kemudian.

Penerapan Game Theory Dalam Keputusan Sosial Salah satu penerapan nash equilibrium bisa digambarkan dengan isu kemacetan. Macet disebabkan oleh banyaknya pengguna kendaraan pribadi dibandingkan dengan jalan raya yang ada. Bila dilihat dari jumlah kendaraan umum dengan pengguna jalan jumlahnya masih minim, belum lagi fasilitas yang diberikan kendaraan umum masih jauh dari harapan. Apabila semua pengguna kendaraan pribadi berpikir rasional bahwa kemacetan akan bisa berkurang seiring dengan berkurangnya kendaraan pribadi, maka kemacetan pun akan bisa diatasi dengan sendirinya. Namun, itu hanya menjadi suatu hal yang tidak terealisasi jika semua orang berpikir hal yang sama lebih menguntungkan dengan menggunakan kendaraan pribadi yang aman dan nyaman maka tidak ada yang mengurangi kendaraan pribadi sehingga macet pun tak terhindarkan. Mereka berpikir untuk apa mengalami rugi sendirian, apabila yang lain tidak ikut melakukannya demi mengurangi kemacetan. Jadi, seorang pemain dalam hal ini pengguna kendaraan pribadi tidak akan mendapatkan keuntungan (tidak macet) jika pemain lain (pengguna

kendaraan pribadi lainnya) tidak bertindak untuk menggunakan kendaraan umum, itulah nash equilibrium. Sama halnya jika agen pemain yang dimisalkan yaitu pengguna kendaraan pribadi dengan pemerintah daerah setempat. Jika pemerintah daerah selaku pembuat kebijakan akan mengendalikan kemacetan dengan memperbaiki moda transportasi umum yang lebih bisa memberikan fasilitas kenyamanan dan keamanan bagi pengguna, salah satu realisasinya akan dibangun MRT (Mass Rapid Transportation) maka apabila di kemudian hari selesai pembangunannya, angkutan umum ini juga tidak bisa mengurangi kemacetan jikalau pengguna kendaraan pribadi tidak mengambil tindakan untuk beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Semuanya akan bergantung dari tindakan para agen atau pemain. Pemerintah daerah setempat tidak akan bisa mengurangi kemacetan sementara pengguna kendaraan pribadi akan terus mengalami kemacetan jika mereka tetap menggunakan kendaraan pribadi.

Itulah merupakan salah satu contoh penerapan game theory sebagai pembuat keputusan setidaknya dapat memberikan gambaran jika pengguna kendaraan pribadi ingin menggunakan jalan sebagai public goods yang bebas macet. Selain itu, game theory juga bisa digunakan dalam membuat keputusan pada persaingan pasar oligopoly dimana apabila salah satu perusahaan bertindak akan membuat perusahaan lain juga bertindak yang nantinya bisa saja merugikan perusahaan tersebut. Jadi, jelas bahwa game theory dapat digunakan pada berbagai bidang khususnya sebagai pembuat keputusan bisnis dan sosial.