Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN Hipotiroidisme merupakan suatu penyakit akibat kekurangan produksi hormon tiroid atau adanya defek pada

reseptornya. Kelainan tersebut dapat ditemukan sejak lahir yang sering dikenal sebagai hipotiroid kongenital, namun bila tampak gejala-gejala setelah periode fungsi tiroid yang tampaknya normal maka kelainan ini merupakan kelainan yang didapat yang biasanya akibat defek kongenital karena manifestasi defisiensinya terlambat. Hipotiroid merupakan penyakit yang ditemukan dengan perbandingan 1 : 5000 dari kelahiran hidup dan biasanya ditemukan 80 90 % pada bayi dengan usia < 3 bulan, lebih sering mengenai perempuan dengan perbandingan antara perempuan dan laki-laki 2 : 1. Hipotiroid seringkali dikelompokkan berdasarkan organ:[3][4] Type Origin Kelenjar tiroid Description Bentuk yang paling sering dijumpai adalah Hashimotos Thyroiditis dan terapi radioyodium untuk hipertiroid.

Primer

Terjadi bila kelenjar pituitary tidak menghasilkan TSH Sekunder Kelenjar Pituitari Yang cukup untuk merangsang produksi thyroxine dan Triiodothyronine. Biasanya hal ini disebabkan karena Kerusakan kelenjar pituitary oleh beberapa hal, seperti Tumor, radiasi, atau operasi. Hipotala mus Terjadi bila hipotalamus gagal memproduksi cukup TRH

Tersier

BAB II KELENJAR TIROID dan HORMON TIROID

I. ANATOMI KELENJAR TIROID 1 Kelenjar tiroid terletak di leher antara fasia koli media dan fasia pravertebralis. Dibelakangnya terdapat kelenjar paratiroid, arteri carotis komunis, arteri jugularis interna dan n. vagus terletak bersama dalam sarung tertutup di latero dorsal tiroid. Kelenjar tiroid terdiri dari 3 lobus yaitu lobus lateralis kanan dan kiri serta yang ditengah disebut isthmus. Kelenjar tiroid memperoleh darah dari arteri thyroidea superior dan arteri thyroidea inferior. Kadang dijumpai a.tiroidea cabang dari trunkus brakiosefalika yang sering menimbulkan perdarahan pada waktu trakeostomi.

Gambar anatomi kelenjar tiroid anterior 2 II. HISTOLOGI KELENJAR TIROID 1 Kelenjar tiroid terdiri dari nodul nodul yang tersusun dari folikel folikel kecil yang dipisahkan satu dengan yang lainnya oleh suatu jaringan ikat. Folikel folikel tiroid dibatasi oleh epitel kubus dan lumennya terisi oleh koloid. Sel epitel folikel merupakan tempat sintesis hormone dan mengaktifkan pelepasannya ke dalam sirkulasi. Zat koloid tirolobulin merupakan tempat hormone tiroid sintesis dan pada akhirnya di simpan. Dua hormone utama yang diproduksi folikel adalah tiroksin (T4) dan triyodotironin (T3). Sel penyekresi hormone lain dalam kelenjar tiroid yaitu sel parafolikular atau sel C yang terdapat pada dasar folikel dan berhubungan dengan membrane folikel, sel ini menyekresi kalsitonin.

III. FISIOLOGI KELENJAR TIROID 1 Kelenjar tiroid menghasilkan hormone tiroid ( T4 dan T3 ) yang membantu mengatur temperature tubuh, metabolisme energi dan protein juga membantu pengaturan fungsi normal sistem kardiovascular dan sistem saraf pusat. Selain itu tiroid juga menghasilkan kalsitonin yang berfungsi mengatur jumlah kalsium di dalam darah. 2

Hormone T3 sebagian besar berasal dari konversi T4 menjadi T3 yang berlangsung diluar kelenjar tiroid. Tirotropin Releasing Factor ( TRF ) yang dihasilkan hypothalamus akan merangsang kelenjar hipofise mengeluarkan tirotropin (TSH). Tirotropin juga akan merangsang pertumbuhan kelenjar tiroid. Tiroksin ( T4 ) menunjukkan pengaturan timbal balik negatif dari sekresi TSH dengan bekerja langsung pada tirotropin hipofisis. Beberapa obat dan keadaan dapat mengubah sintesis, pelepasan dan metabolisme hormon tiroid. Obat obat seperti perklorat dan tiosianat dapat menghambat sintesis tiroksin. Sebagai akibatnya, menyebabkan penurunan kadar tiroksin dan melalui rangsangan timbal balik negatif, meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hipofisis.

Fisiologi kelenjar tiroid3 IV. HORMON TIROID Hormon-hormon tiroid meningkatkan konsumsi oksigen, merangsang sintesis protein, mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi, dan mempengaruhi metabolisme karbohidrat, lipid, dan vitamin. Hormon-hormon bebas memasuki sel, tempat T4 dapat dikonversi menjadi T3 dengan deyodinasi. T3 intraseluler kemudian masuk nukleus, untuk melekat pada reseptor hormon tiroid.4 Hormon tiroid mempunyai fungsi untuk mengkatalisasi reaksi oksidasi dan kecepatan metabolisme.5 Tiroid diatur oleh hormon perangsang tiroid (TSH) yaitu suatu glikoprotein yang diproduksi dan disekresi oleh kelenjar pituitaria anterior. Hormon ini mengaktifkan adenilat siklase pada kelenjar tiroid untuk mempengaruhi pelepasan hormon tiroid. Sintesis dan pelepasan TSH distimulasi oleh hormon pelepas-TSH (TRH) yang disintesis dalam hipotalamus dan disekresi kedalam kelenjar pituitaria.4

Pada keadaan produksi hormon tiroid menurun, TSH dan TRH meningkat yang mengakibatkan hipertrofi dan hiperplasia sel-sel tiroid, penangkapan yodium meningkat, dan sintesis hormon tiroid meningkat. Peningkatan sintesis hormon tiroid menghambat produksi TSH dan TRH, kecuali pada neonatus dimana kadar TRH dalam serum sangat rendah.4

Fisiologis hormon tiroid6

BAB III HIPOTIROID Hipotiroid adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada salah satu tingkat dari aksis hipotalamus-hipofisis-tiroid-end organ, dengan akibat terjadinya defisiensi hormon tiroid, ataupun gangguan respon jaringan terhadap hormon tiroid. Menurut onsetnya, hipotiroid pada anak dibedakan menjadi 2 :7 4

1. Hipotiroid kongenital. 2. Hipotiroid dapatan. I. PATOFISIOLOGI 7 Hipotiroid dapat disebabkan oleh gangguan sintesis hormon tiroid atau gangguan pada respon jaringan terhadap hormon tiroid. Sintesis hormon tiroid diatur sebagai berikut : o Hipotalamus membuat thyrotropin releasing hormone (TRH) yang merangsang hipofisis anterior. o Hipofisis anterior mensintesis thyrotropin (thyroid stimulating hormone = TSH) yang merangsang kelenjar tiroid. o Kelenjar tiroid mensintesis hormone tiroid (triiodothyronin = T3 dan tetraiodothyronin = T4 = thyroxin) yang merangsang metabolisme jaringan yang meliputi : konsumsi oksigen, produksi panas tubuh, fungsi syaraf, metabolisme protrein, karbohidrat, lemak, dan vitamin-vitamin, serta kerja daripada hormonhormon lain. II. HIPOTIROID KONGENITAL Penyebab hipotiroid kongenital dapat sporadis/ familial, gondok atau non gondok. Pada banyak kasus, defisiensi hormon tiroid berat, dan gejala-gejala berkembang pada umur beberapa minggu awal. Pada kasus lain, tingkat defisiensi yang lebih rendah terjadi dan manifestasi dapat terlambat selama beberapa bulan atau beberapa tahun.4 Angka kejadian di beberapa negara sangat bervariasi dengan kisaran antara 40006000 kelahiran hidup. Hipotiroid kongenital merupakan salah satu penyebab retardasi mental dan kegagalan pertumbuhan yang dapat dihindari bila ditemukan dan diobati sebelum usia 1 bulan. Oleh karena itu banyak negara maju melakukan screening saat kelahiran.8 II.1. ETIOLOGI 4 A. Disgenesis Tiroid Defek perkembangan (disgenesis tiroid) merupakan 90% dari bayi yang terdeteksi hipotiroidisme. Pada sekitar sepertiga bayi tidak ditemukan adanya sisa jaringan tiroid (aplasia), sedangkan duapertiga lainnya jaringan tiroid yang tidak sempurna ditemukan pada lokasi ektopik, dari dasar lidah (tiroid lidah) sampai posisi normalnya di leher. 5

Kebanyakan bayi dengan hipotiroidisme kongenital pada saat lahir tidak bergejala walaupun ada agenesis total kelenjar tiroid. Situasi ini dianggap berasal dari perpindahan transplasenta sejumlah sedang tiroksin ibu (T4) yang memberikan kadar janin 25-50% normal pada saat lahir. Kadar T4 serum yang rendah ini dan secara bersamaan kadar TSH meningkat memungkinkan pendeteksian neonatus dengan hipotiroid. Jaringan tiroid ektopik (lidah, bawah lidah, subhioid)dapat memberikan jumlah hormon tiroid yang cukup selama bertahun-tahun atau dapat gagal pada masa anak-anak. Anak yang terkena biasanya datang karena tumbuh massa pada dasar lidah atau pada linea mediana leher, biasanya setinggi hioid. Kadang-kadang disertai dengan kista duktus tiroglossus. Pengambilan secara bedah jaringan tiroid ektopik dari individu eutiroid dapat mengakibatkan hipotiroidisme karena tidak memiliki jaringan tiroid yang lain. B. Antibodi Penyekat-Reseptor Tirotropin (TRBAb) TRBAb dahulu disebut penghambat imunoglobulin pengikat tiroid (TBII). Penyebab hipotiroidisme kongenital sementara yang tidak biasa adalah antibodi ibu yang lewat secara transplasenta yang menghambat pengikatan TSH pada reseptornya pada neonatus. Frekuensinya adalah 1 dalam 50.000100.000 bayi. Harus dicurigai adanya riwayat penyakit tiroid autoimun ibu termasuk tiroiditis Hashimoto, penyakit Graves, hipotiroidisme pada terapi penggantian, ng hipotiroidisme kongenital berulang yang bersifat sementara pada saudara kandung berikutnya. Diagnosis yang benar dalam kasus ini adalah mencegah pengobatan berkepanjangan yang tidak perlu, waspada klinis terhadap kemungkinan berulang pada kehamilan berikutnya, dan menawarkan prognosis yang baik pada orang tua. C. Sintesis Tiroksin yang Kurang Sempurna Berbagai defek pada biosintesis hormon tiroid dapat mengakibatkan hipotiroidisme kongenital, dan bila defeknya tidak sempurna akan terjadi kompensasi dan mulainya hipotiroidisme dapat terlambat selama beberapa tahun. Defek ini ditentukan secara genetik dan dipindahkan dengan cara autosom resesif. D. Radioyodium Hipotiroidisme telah dilaporkan akibat dari pemberian radioyodium secara tidak sengaja selama kehamilan untuk pengobatan kanker tiroid atau 6

hipertiroidism. Pemberian yodium radioaktif pada wanita yang sedang menyusui juga terkontraindikasi karena dengan mudah dieksresikan dalam susu. E. Defisiensi Tirotropin Defisiensi TSH dan hipotiroidisme dapat terjadi pada keadaan apapun yang terkait dengan defek perkembangan kelenjar pituitaria atau hipotalamus. Lebih sering pada keadaan ini, defisiensi TSH akibat defisiensi hormon pelepas tiroropin (TRH). Mayoritas bayi yang terkena memiliki defisiensi kelenjar pituitaria multipel dan datang dengan hipoglikemi, ikterus persisten, dan mikropenis bersama dengan displasia septo-optik, celah bibir linea mediana, hipoplasia wajah tengah, dan anomali wajah linea mediana yang lain. F. Ketidaktanggapan Hormon Tirotropin Hipotiroidisme kongenital ringan telah dideteksi pada bayi baru lahir yang selanjutnya terbukti menderita pseudohipoparatiroidisme tipe Ia. Penyebab molekular resistensi terhadap TSH pada penderita ini adalah gangguan menyeluruh aktivasi cAMP yang disebabkan oleh defisiensi genetik subunit guanin nukleotid pengatur protein. Keadaan ketidaktanggapan TSH murni yang telah dideteksi, yaitu kadar T4 serum rendah, kadar TSH serum dengan radioimmunoassay dan bioassay meningkat, dan tidak ada respon terhadap pemberian TSH eksogen. G. Ketidaktanggapan Hormon Tiroid Semakin bertambah jumlah penderita yang ditemukan yang menderita resistensi terhadap kerja endogen dan eksogen T4 dan T3. Kebanyakan penderita menderita gondok, dan kadar T4, T3, T4 bebas, dan T3 bebas meningkat. Ketidaktanggapan ini dapat bervariasi di antara jaringan. Mungkin ada tanda klinis hipotiroidisme yang tidak terlihat, termasuk retardasi mental, retardasi pertumbuhan, dan maturasi skeleton terlambat ringan serta satu manifestasi neurologis yaitu peningkatan hubungan gangguan hiperaktivitas defisit perhatian. H. Penyebab Lain Hipotiroid (Obat) Hipotiroidisme kongenital dapat merupakan akibat dari paparan janin terhadap yodium atau obat antitiroid yang berlebihan. Keadaan ini bersifat sementara dan tidak boleh keliru dengan bentuk-bentuk hipotiroidisme lain. Pada neonatus, penggunaan antiseptik mengandung yodium topikal pada kamar perawatan anak dan oleh ahli bedah juga dapat menyebabkan 7

hipotiroidisme kongenital sementara, terutama pada bayi dengan BBLR. Sedangkan pada anak yang lebih besar, sumber yodium biasanya dalam sediaan paten yang digunakan untuk mengobati asthma. II.2. MANIFESTASI KLINIS Hipotiroidisme kongenital lebih sering terjadi pada anak perempuan dibanding anak laki-laki. Sebelum program skrining neonatus, hipotiroidisme kongenital jarang dikenali pada bayi yang baru lahir karena tanda-tanda dan gejalagejalanya biasanya tidak cukup berkembang. Hipotiroidisme ini dapat dicurigai dan diagnosis ditegakkan selama umur umur minggu-minggu awal jika terdapat manifestasi awal tetapi kurang khas dikenali. Bayi dengan tampak tenang dan mempunyai badan yang relatif gemuk biasanya lambat didiagnosa.4 Riwayat dan gejala pada neonatus dan bayi : 3. Fontanella mayor yang lebar dan fontanella posterior yang terbuka. - Suhu rektal < 35,5C dalam 0-45 jam pasca lahir. - Berat badan lahir > 3500 gram; masa kehamilan > 40 minggu. - Suara besar dan parau, tidak belajar berbicara. - Hernia umbilikalis. - Riwayat ikterus lebih dari 3 hari, karotenemia - Miksedema (kulit kelopak mata, punggung tangan, dan genitalia eksterna) - Makroglosi. - Riwayat BAB pertama > 20 jam setelah lahir dan sembelit (< 1 kali/hari). - Kulit kering, dingin, dan motling (berbercak-bercak, terutama tungkai). - Letargi. - Gangguan minum dan menghisap - Bradikardia (< 100/menit). - Penampilan fisik sekilas seperti sindrom Down, namun pada sindrom Down bayi lebih aktif. Hipotonia Tidur yang berlebihan, sedikit menangis, tidak selera makan, biasanya lamban. Mata terpisah lebar Jembatan hidung sempit

Diagnosis dan pengobatan dini penting untuk mencegah mental yang permanen pada penderita. 8

Gejala pada anak besar :7 Dengan goiter maupun tanpa goiter. Gangguan pertumbuhan (kerdil). Gangguan perkembangan motorik, mental, gigi, tulang, dan pubertas. Ganguan perkembangan mental permanen terutama bila onset terjadi sebelum umur 3 th. Aktivitas berkurang, lambat. Kulit kering. Miksedema. Tekanan darah rendah, metabolisme rendah. Intoleransi terhadap dingin.

II.3. PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS 3,5 A. Anamnesis : o o o o Apakah berasal dari daerah gondok endemik? Struma pada ibu. Apakah ibu diberi KI, PTU waktu hamil? Adakah keluarga yang struma? Perkembangan anak.

B. Gejala klinis : Dicurigai adanya hipotiroid bila skor Apgar hipotiroid kongenital > 5; tetapi tidak adanya gejala atau tanda yang tampak, tidak menyingkirkan kemungkinan hipotiroid kongenital.

Tabel : Skor Apgar pada hipotiroid kongenital Gejala klinis Hernia umbilicalis Kromosom Y tidak ada (wanita) Pucat, dingin, hipotermi Tipe wajah khas edematus Makroglosi Hipotoni Ikterus lebih dari 3 hari Skore 2 1 1 2 1 1 1 9

Kulit kasar, kering Fontanella posterior terbuka (>3cm) Konstipasi Berat badan lahir > 3,5 kg Kehamilan > 40 minggu Total C. Laboratorium :

1 1 1 1 1 15

o Pemeriksaan fungsi tiroid T4 dan TSH dilakukan untuk memastikan diagnosis, apabila ditemukan kadar T4 rendah disertai TSH meningkat maka diagnosis sudah dapat ditegakkan. o Pemeriksaan darah perifer lengkap, air kemih, tinja, kolesterol serum (biasanya meningkat pada anak > 2 tahun). o Apabila ibu dicurigai menderita hipotiroid maka bayi perlu diperiksa antibodi antitiroid. Kadar TBG diperiksa bila ada dugaan defisiensi TBG yaitu bila dengan pengobatan hormon tiroid tidak ada respon.

Name

Normal Value

Results Hypothyroidism High Low Low Normal or Low Normal or Low

inResults Hyperthyroidism Low High High High High

in

Thyroid Stimulating 0.3 5.0U/mL or Hormone (TSH) Total Immunoassay Free T4 Index Total Immunoassay Free T3 Index 0.3 5.0 mU/L T4 5 11g/dL or 64 142 nmol/L 6.5 12.5 T3 95 190 ng/dL or 1.5 2.9 nmol/L 20 63

D. Radiologis : USG atau CT scan tiroid. 10

Tiroid

scintigrafi,

membantu

memperjelas

penyebab

yang

mendasari bayi dengan hipotiroidisme kongenital. Pasien meminum radioaktif yodium atau technetium dan ditunggu hingga substansi tersebut ada pada kelenjar tiroid. Jika tiroid berfungsi maka akan terlihat level penyerapan yang sama pada seluruh kelenjar tiroid. Bila ada aktivitas berlebih akan terlihat daerah berwarana putih. Sedangkan area yang kurang aktif akan terlihat lebih gelap. Umur tulang (bone age), adanya retardasi perkembangan tulang misalnya disgenesis epifise atau deformitas veterbra. X-foto tengkorak, menunjukkan adanya fontanella besar dan sutura yang melebar, tulang antar sutura (wormian) biasanya ada, terlihatnya sella tursika yang membesar dan bulat, dan mungkin terlihat adanya erosi dan penipisan. II.4. DIAGNOSIS BANDING 7 Mongolisme Sering disertai hipotiroid kongenital, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan faal tiroid secara rutin. Pada mongolisme terdapat: epikantus (+), makroglosi (+), miksedema (-), retardasi motorik dan mental serta adanya kariotyping dan trisomi 21. Dysmorphogenetic chromosomal syndromes Infeksi kongenital 11

Intrauterine drug exposure Intestinal obstruction Ikterus fisiologis Miopatik kongenital

II.5. TATALAKSANA 3,5,7 Hormon tiroid Obat pilihan adalah Sodium L-Thyroxine, diberikan sedini mungkin. 1. Bila fasilitas untuk mengukur faal tiroid ada, diberikan dosis seperti tabel berikut : Umur 0-3 bulan 3-6 bulan 6-12 bulan 1-5 tahun 2-12 tahun Dosis g/kg BB/hari 10-15 8-10 6-8 5-6 4-5

> 12 tahun 2-3 Kadar T4 dipertahankan di atas pertengahan nilai normal. 3. Bila fasilitas untuk mengukur faal tiroid tidak ada, dapat dilakukan therapeutic trial sampai usia 3 tahun dimulai dengan dosis rendah dalam 2-3 minggu; bila ada perbaikan klinis, dosis dapat ditingkatkan bertahap atau dengan dosis pemberian + 100 g/m2/hari. Penyesuaian dosis tiroksin berdasarkan respon klinik dari uji fungsi tiroid T3, T4, dan TSH yang dapat berbeda tergantung dari etiologi hipotiroid. 4. Penundaan atau keterlambatan pengobatan akan meningkatkan risiko komplikasi 5. Monitoring pengobatan harus dilakukan setiap bulan pada tahun pertama dan selanjutnya setiap 2-3 bulan 6. Pemantauan tumbuh kembang yang optimal namun hindari overtreatment 7. Kasus transien hipotiroid kongenital boleh tidak diobati, namun jika penurunan T4 dan peningkatan TSH menetap harus segera diobati. II.6. PEMANTAUAN 7,8 A. Terapi 12

Kemungkinan terjadinya hipertiroidisme perlu diwaspadai. Dosis yang berlebihan dapat mengakibatkan takikardia, kecemasan berlebihan, gangguan tidur, dan gejala tirotoksikosis yang lain. Pemberian tiroksin berlebihan jangka lama mengakibatkan kraniosinostosis. Anak yang sedang dalam pengobatan hipotiroid kongenital harus dievaluasi secara teratur stiap beberapa bulan sampai paling tidak hingga 3 tahun pertama kehidupan. Menurut American academy of pediatric, serumT4 atau T4 bebas dan Tes darah TSH harus dilakukan menurut jadwal:
2-4 minggu setelah Setiap Setiap Setiap

pengobatan T4

1-2 bulan hingga 6 bulan pertama kehidupan 3-4 bulan, mulai 6 bln hingga 3 tahun pertama kehidupan 6 -12 bulan hingga pertumbuhan normal tercapai perubahan dosis sering bila ditemukan hasil yang abnormal

Dua minggu setelah Evaluasi lebih

Apabila fase perkembangan otak sudah dilalui, pemantauan dapat dilakukan 3 bulan sampai 6 bulan sekali dengan mengevaluasi pertumbuhan linear, berat badan, perkembangan motorik dan bahasa serta kemampuan akademis untuk yang sudah bersekolah. Umur tulang dipantau tiap tahun. Karena levothyroxine identik dengan thyroxine yang dihasilkan badan, efek samping jarang ditemukan. Namun bila dosis terlalu kecil atau terlalu besar akan terjadi efek samping seperti tertulis di tabel berikut.6 Gejala dosis kurang atau berlebih dari Levothyroxine Dosis Dosis berlebih kurang Lemas Gejala kardiovaskuler (detak jantung cepat, berkeringat, varian denyut

nadi yang luas, angina atau congestive heart failure) Ketumpulan Agitasi (tremor, nervousness, insomnia, keringat berlebih) mental Merasa Sakit kepala dan nyeri otot

kedinginan Kram otot Gejala intestinal dan metabolic (pperubahan nafsu makan, diare, penurunan BB) Demam dan intoleransi terhadap panas

13

B. Tumbuh Kembang Hipotiroid kongenital sangat mengganggu tumbuh kembanganak apabila tidak terdiagnosis secara dini ataupun bila pengobatan dilakukan tidak benar. Apabila hipotiroid diobati dini dengan dosis adekuat, proses pertumbuhan linier pada sebagian besar kasus mengalami kejar tumbuh yang optimal sehingga mencapai tinggi badan normal. Pengobatan yang dilakukan setelah usia 3 bulan akan mengakibatkan taraf IQ subnormal atau lebih rendah. II.7. PROGNOSIS 1,2 Dengan adanya program skrining neonatus untuk mendeteksi hipotiroidisme kongenital, prognosis untuk bayi yang terkena telah baik secara dramatis. Diagnosis awal dan pengobatan yang cukup sejak umur minggu-minggu pertama memungkinkan pertumbuhan linier yang normal dan intelegensianya setingkat dengan saudara kandung yang tidak terkena. Tanpa pengobatan dini akan terjadi sekuale neurologis berupa

retardasi mental koordinasi motorik yang lemah hipotonia muskuler ataxia Dengan pengobatan dini retardasi mental dapat dihindari. Lebih dini

pengobatan prognosis akan lebih baik. Bahkan dengan pengobatan komplikasi disfungsi psikomotor seperti gangguan belajar masih dapat dijumpai.

III. HIPOTIROID DIDAPAT 1,5 III.1. ETIOLOGI A. Tiroiditis Limfositik. Tiroiditis limfositik merupakan penyebab paling lazim terjadinya hipotiroidisme didapat. Meskipun secara khas ditemukan pada remaja, keadaan ini terjadi seawal pada usia 2 tahun. Penyakit ini merupakan suatu penyakit autoimun yang ditandai secara histologis infiltrasi tiroid dengan limfosit.

14

Setiap bentuk autoimun tiroiditis secara tipikal dimulai dengan sel T dan B:

Sel T dan B menginfiltrasi kelenjar tiroid dalam jumlah yang setara. Kedua sel ini berperan dalam respon primer terhadap infeksi. Sel T mengidentifikasi molekul invasive (cth: virus) dan membantu sel B untuk memproduksi antibodi.

Pada kasus autoimunitas, sel T mengira molekul badan kita sebagai molekul invasive. Sehingga sel B memproduksi antibodi yang disebut autoantibody. Antibodi kemudian menyerang protein tiroid yang disebut thyroid peroxidase yang menyebabkan kehancuran dari sel tiroid. Ada beberapa teori yang menjelaskan mengapa sel T dan B menhancurkan sel tiroid, antara lain:

Salah satu teori mengatakan selama infeksi sel T menginduksi sel B untuk mengeluarkan antibodi guna melawan invasi virus. Namun tanpa diduga, sel T juga menginduksi sel B untuk menghancurkan protein tiroid yang serupa.

Faktor genetic paling berperan pada autoimun tiroiditis. Sebagai contoh, pasien dengan hashimotos tiroiditis memiliki gen yang disebut fas Gen, yang berinteraksi dengan sel tiroid dan merangsang proses yang disebut apoptosis, yang memulai terjadinya kehancuran sel.

Pada beberapa wanita, autoimunitas terjadi ketika sedang mengandung. Dalam hal ini sel fetal terakumulasi di kelenjar tiroid ibu, merangsang respon imun.

15

Pada hashimotos tiroiditis antibodi memblok reseptor pada sel tiroid yang mengikat TSH. Efek ini lebih menjelaskan perburukan dari kelainan ini, tapi tidak menjelaskan sebab awal terjadinya kehancuran sel tiroid..

Beberapa penelitian membuktikan intake yodium yang berlebihan berhubungan dengan terjadinya hashimotos tiroiditis

B. Tiroidektomi Subtotal Tiroidektomi subtotal pada tirotoksikosis atau kanker dapat menyebabkan hipotiroidisme, sama seperti halnya dengan pengambilan jaringan tiroid ektopik misalnya tiroid lidah, tiroid subhioid media, atau jaringan tiroid pada kista duktus tiroglossus merupakan satu-satunya sumber hormon tiroid, dan pemotongan menyebabkan terjadinya hipotiroidisme. C. Sistinosis Nefropati Anak dengan keadaan seperti ini ditandai dengan penyimpanan sistin intralisosom dalam jaringan tubuh, mengalami gangguan fungsi tiroid. Hipotiroidisme dapat jelas, tetapi bentuk yang terkompensasi lebih lazim, dan penilaian berkala kadar TSH terindikasi. Pada usia 13 tahun, duapertiga penderita ini memerlukan penggantian tiroksin. D. Infiltrasi Histiosit Yaitu terjadi pada anak dengan histiositosis sel Langerhans dapat menyebabkan hipotiroidisme. E. Iradiasi Iradiasi daerah tiroid yang merupakan kejadian pada pengobatan penyakit Hodgkin atau malignansi lain atau yang diberikan sebelum transplantasi sumsum tulang sering menyebabkan kerusakan tiroid. Pada sekitar sepertiga anak tersebut terjadi kenaikkan kadar TSH dalam setahun setelah terapi, dan 15-20% menjadi hipotiroidisme dalam 5-7 tahun. F. Obat-obatan

16

Penelanan obat-obatan yang mengandung yodium yang lama dapat menyebabkan hipotiroidisme, biasanya disertai dengan gondok. Amiodaron, obat yang digunakan untuk aritmia jantung 37% beratnya terdiri dari yodium sehingga menyebabkan hipotiroidisme pada sekitar 20% anak yang diobati. Ini mempengaruhi fungsi tiroid secara langsung karena kandungan yodiumnya yang tinggi juga karena hambatan 5-deiodinase yang mengubah T4 menjadi T3, anak yang mendapat pengobatan ini harus dilakukan pengukuran T4, T3, dan TSH seri. G. Subklinis hipotiroid Subklinis hipotoiroid terjadi ketika kadar TSH tinggi tetapi kadar T3 dan T4 normal. Para ahli masih meragukan bagaimana subklinis hipotiroid mempengaruhi metabolisme selular karena kadar dari hormone yang normal. Cochrane collaboration menemukan bahwa tidak ada kegunaan dari terapi penggantian hormone. III.2. MANIFESTASI KLINIS Perlambatan pertumbuhan biasanya merupakan manifestasi klinis pertama, tetapi tanda ini sering lewat tanpa diketahui. Perubahan miksedematosa kulit, konstipasi, intoleransi dingin, energi menurun, bertambahnya kebutuhan untuk tidur berkembang secara diam-diam. Namun, tugas sekolah dan nilai biasanya tidak terpengaruh bahkan pada anak yang menderita hipotiroid berat sekalipun. Maturasi tulang terlambat, sering secara mencolok yang merupakan petunjuk lamanya hipotiroidisme. Beberapa anak datang dengan nyeri kepala, masalah penglihatan, pubertas prekoks, atau galaktorrea. Anak-anak ini biasanya mengalami pembesaran hiperplastik kelenjar pituitaria, seringkali dengan perluasan suprasella, setelah hipotiroidisme yang lama; keadaan ini dapat keliru dengan tumor kelenjar pituitaria. III.3. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK dan PENGOBATAN Pemeriksaan diagnostik dan pengobatan adalah sama seperti yang diuraikan pada hipotiroidisme kongenital. Pengukuran antibodi antiroglobulin dan antiperoksidase (dahulu antimikrosom) dapat mengarah pada tiroiditis autoimun sebagai penyebab. Selama tahun pertama pengobatan, penjelekkan tugas sekolah, kebiasaan tidur yang buruk, kegelisahan, waktu perhatian yang pendek, dan masalah-masalah perilaku dapat terjadi, tetapi hal ini sementara. 17

III.4. KOMPLIKASI 7 Kondisi Emergensi Koma myxedema, merupakan komplikasi yang mengancam jiwa bila hipotiroid tidak diobati. Gejalanya antara lain meliputi penurunan suhu tubuh yang drastis (hypothermi), delirium, penurunan fungsi paru, perlambatan denyut jantung, konstipasi, retensi urin, kejang, stupor dan akhirrnya koma. Jarang terjadi, tetapi lebih sering ditemukan pada pasien yang mendapat paparan stresss yang berat, seperti infeksi, operasi, atau cuaca yang terlalu dingin. Obat-obatan tertentu ( seperti sedative, penghilang nyeri, amiodarone, narkotik dan litium) dapat meningkatkan resiko.Tingkat mortalitas tinggi (30-60%) terutama pada orang tua dan penderita hipoternia persisten atau kelainan jantung. Suppurative Thyroiditis. Biasanya diawali dengan infeksi saluaran nafas atas. Gejala meliputi demam, nyeri leher, rash, dan kesulitan mengunyah dan berbicara. Efek hipotiroid pada anak dan balita Anak yang dilahirkan dari ibu yang tidak mendapat pengobatan. Anak ini memiliki resiko cacat mental termasuk gangguan konsentrasi dan verbal. Efek hipotiroid selama masa balita. Walaupun sementara, pada kasus yang berat dapat menyebabkan gangguan perkembangan neurologist dan mental. Bayi yang dilahirkan dengan hipotiroid congenital. Harus segera mendapat pengobatan untuk mencegah retardasi mental, pertumbuhan yang terhambat, dan perkembanagan abnormal lainnya ( sindrom yang disebut kretinisme). Sudah diperkirakan bahwa anak yang tidak diobati akan mengalami penurunan IQ tiga hingga lima poin per bulan selama tahun pertama. Tetapi walau bagaimanapun, bahakn dengan terapi awal, gangguan ringan dalam hal memori, perhatian, dan perkembangan mental dapat tetap ada hingga dewasa. Efek yang terjadi bila onset hipotiroid > 2 tahun. Ancaman mental retardasi berkurang namun pertumbuhan fisik menjadi lebih pelan dan pertumbuhan gigi jadi terlambat.

18

BAB IV PENUTUP Hipotiroidisme merupakan salah satu penyakit endokrin yang diakibatkan oleh kekurangan produksi hormon tiroid atau defek pada reseptornya. Kelainan tersebut dapat nampak sejak lahir atau yang dikenal sebagai hipotiroidisme kongenital dan kelainan yang didapat (hipotiroidisme didapat) yang merupakan akibat dari salah satu variasi defek kongenital karena manifestasi defisiensinya terlambat. Prinsip penatalaksanaan hipotiroid adalah dengan pemberian tiroksin (natrium-Ltiroksin) secara oral. Karena 80% T3 yang bersirkulasi dibentuk oleh monodeiodinasi T4, kadar T4 dan T3 serum pada bayi yang diobati kembali normal. Demikian hal pada otak, dimana 80% T3 yang dibutuhkan dihasilkan dari T4 secara lokal. Dalam pemberian tiroksin perlu adanya konfirmasi diagnosis yang diperlukan untuk mengesampingkan adanya kemungkinan hipotiroidisme sementara. Namun, perlu diingat bahwa tiroksin mempunyai pengaruh yang berbahaya terkait dengan dosisnya, dimana terkadang anak yang lebih tua (8-13 th) dengan hipotiroidisme didapat akan menjadi pseudomotor otak dalam 4 bulan pengobatan pertama. Peranan orang tua sangat dibutuhkan dalam pengobatan hipotiroidisme untuk memperhatikan setiap perubahan yang terjadi pada anak mereka selama pengobatan dilakukan karena pengobatan hipotiroidisme adalah seumur hidup. Sampai saat ini, dengan melakukan pengobatan yang rutin prognosis hipotiroidisme adalah baik karena gejala-gejala yang timbul perlahan-lahan akan berkurang, namun tetap perlu diperhatikan perkembangan mental dan pertumbuhannya karena dengan adanya hipotiroidisme dapat menyebabkan terjadinya retardasi mental.

19

DAFTAR PUSTAKA 1. Digeorge, A. Hipotiroidisme. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Vol 3. Jakarta : EGC. 2000 2. Guyton, A. Hormon Metabolik Tiroid. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta : EGC. 1997 3. Rose, S. R. Update Newborn Screening and Therapy for Congenital Hypothyroidism. Off. J of AAP. Pediatrics. 2006 4. Bettendorf M. Thyroid disorders in children from birth to adolescence. Eur J Nucl Med. 2002 5. Ogilvy-Stuart AL. Neonatal thyroid disorders. Arch Dis Child Fetal Neonatal. 2008 6. Faizi M. Hipotiroid .www.pediatrik.com. 2009. diakses tanggal 23 Februari 2012 7. Raven, P. Anatomi Manusia. Atlas Anatomi, Jakarta : Djambatan, 2005 8. Postellon, D.Congenital. Hypothyroidism.Emedicinearticle.www.emedicine.com. 2010 diakses tanggal 23 Februari 2012

20