Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Rumusan Masalah Makalah ini dibuat untuk membahas, memaparkan sekaligus memberi wawasan mengenai apa yang akan dibahas, yaitu mengenai Sistem Produksi Just In Time dan konsep Backflushing. Mulai dari definisinya, karakteristik, manfaat dan tujuan, serta contoh dari kedua pokok bahasan itu sendiri. Penulis juga mencoba untuk menarik minat para pembaca agar dapat memahami kedua konsep ini dengan baik. Karena kedua konsep ini biasanya digunakan oleh perusahaan-perusahaan dan merupakan bagian dari pokok bahasan dalam materi perkuliahan, yakni Akuntansi Biaya. Rumusan masalah yang akan di bahas dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Membahas konsep tentang Just In Time dan Backflushing 2. Kedua konsep ini merupakan konsep yang biasa digunakan dalam sistem produksi di perusahaan namun belum banyak yang memahami konsep ini. Oleh karena itu, akan dipaparkan dan dibahas contoh kasus dari kedua konsep tersebut. B. Tujuan Yang Akan Dicapai Maksud dan tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Mengenal konsep Just In Time dan Backflushing. Memahami dengan baik kedua konsep tersebut diatas. Melatih untuk berpikir secara kritis dan sistematis dengan belajar menemukan masalah, mengumpulkan data, menganalisanya, dan menulis buah pikirannya dalam bentuk karya ilmiah. C. Metode Yang Digunakan Secara umum, metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah :

1.

Studi Kepustakaan (Literatur Study) Yakni usaha untuk memperoleh informasi dengan membaca berbagai buku, jurnal, majalah, mencari di internet dan sebagainya. Usaha ini dimaksudkan untuk mencari data atau informasi yang sejenis sebagai hasil penelitian orang lain, dan mencari landasan teoritis yang berguna dalam melakukan analisis terhadap data penelitian. Dalam menganalisis data, kami menggunakan metode kualitatif, yaitu metode analisis data yang tidak mendasar kepada angka-angka (non statistik). Penarikan kesimpulan dalam metode ini berdasarkan kepada kualitas atau intensitas isi dari informasi atau data.

D. Sistematika Uraian Untuk lebih memudahkan dalam memahami dan memperjelas makalah ini, maka saya membuat sistematika uraian yang utuh dan sistematis. Adapun susunannya adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Bab ini berisi mengenai latar belakang masalah dan rumusan masalah, tujuan yang akan dicapai, metode yang digunakan, dan sistematika uraian. BAB II : PEMBAHASAN Dalam bab ini dibahas mengenai sistem produksi Just In Time dan Backflushing agar lebih dipahami secara mendalam BAB III : PENUTUP Dalam bab ini kami menarik kesimpulan dari masalah yang telah dibahas.

BAB II PEMBAHASAN

A. Sistem Produksi Just In Time Perusahaan-perusahaan yang menggunakan Just In Time(JIT) membuat perubahan besar pada are-area produksinya. Just In Time Production adalah suatu sistem dimana tiap kmponen pada lini produksi sesegera sesuai yang dibutuhkan oleh langkah berikutnya dalam sebuah lini produksi. Didalam lini produksi JIT, kegiatan pabrikasi pada workstation tertentu ditandai dengan pemakaian keluaran stasiun tersebut pada stasiun kerja hilir. Idealnya, penjualan satu unit barang jadi menggerakkan penyelesaian satu unit dalam perakitan akhir, dan seterusnya, kembali ke belakang dalam urutan langkahlangkah pabrikasi seluruh cara untuk mengangkut bahan baku. Karakteristik ini sering disebut ciri demand pull dari jalur produksi JIT. Di Hewlett-Packard (HP), pekerja dan manajer seringkali menyebut slogan demand pull berikut: Never build nothing, nowhere, for nobody, unless they ask you for it. JIT merupakan filosofi pemanufakturan yang memiliki impilkasi penting dalam manajemen biaya. Ide dasar JIT sangat sederhana, yaitu produksi hanya apabila ada permintaan (pull sistem) atau dengan kata lain hanya memproduksi sesuatu yang diminta dan hanya sebesar kuatitas yang diminta. Filosofi JIT digunakan pertama kali oleh Toyota dan kemudian diadopsi oleh banyak perusahaan manufaktur dijepang. Bila JIT merupakan suatau filosofi manajemen operasi yang berusaha untuk menghilangkan pemborosan pada semua aspek dari kegiatan-kegiatan produksi perusahaan. Sasaran utama JIT adalah meningkatkan produktivitas sistem produksi atau operasi dengan cara nenghilangkan semua macam kegiatan yang tidak menembah nilai bagi suatui produk.Just in Time (JIT) mendasarkan pada delapan kunci utama, yaitu: 1. Menghasilakn produk yang sesuai dengan jadwal yang didasarkan pada permintaan. 2. Memproduksi dengan jumlah kecil

3. Menghilangkan pemborosan 4. Memperbaiki aliran produksi 5. Menyempurnakan kualitas produk 6. Orang-orang yang tanggap 7. Menghilangkan ketidakpastian 8. Penekananan pada pemeliharaan jangka panjang. Karakterisrik Just In Time Terdapat dua karakteristik dalam konsep Just In Time, yaitu: 1. Pengurangan biaya melalui eliminasi persediaan. 2. Eliminasi persediaan dapat tercapai bila bahan baku siap saat dibutuhkan dan barang jadi siap saat konsumen menginginkan. Persyaratan-persyaratan JIT Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi pemerapan JIT: 1. Organisasi Pabrik : Pabrik dengan sisitem JIT berusaha untuk mengatur layout berdasarkan produk. Semua proses yang diperlukan untuk membuat produk tertentu diletakkan dalam satu lokasi. 2. Pelatihan/Tim/keterampilan : JIT memerlukan tambahan pelatihan yang lebih banyak bila dibandingkan dengan sistem tradisional. Karyawan diberi pelatihan mengenai bagaimana menghadapi perubahanyang dilakukan dari sistem tradisional dan bagaimana cara kerja JIT yaitu: Membentuk Aliran/Penyederhanaan : Idealnya suatu lini produksi yang baru dapat di setup sebagai batu ujian untuk membentuk aliran produksi, menyeimbangkan aliran tersebut, dan memecahkan masalah awal. Kanbal Pull Sistem : Kanbal merupakan sistem manajemen suatu pengendalian perusahaan, karena itu kanbal memiliki beberapa aturan yang perlu diperhatikan. Jangan mengirim produk rusak ke prosess berikutnya.

Proses berikutnya hanya mengambil apa yang dibutuhkan pada saat dibutuhkan. Memproduksi hanya sejumlah proses berikutnya. Meratakan beban produksi. Menaati instruktur kanban pada saat fine tuning. Melakukan stabilisasi dan rasionalisasi proses.

3. Visibiltas/ pengendalian visual : Salah satu kekuatan JIT adalah sistemnya yang merupakan sistem visual. Melacaknya apa yang terjadi dalam sistem tradisional sulit dilakukan karena para karyawan mondar-mandir mengurus kelebihan barang dalam prosess dan banyak rute produksi yang saling bersilangan. 4. Eliminasi Kemacetan : Untuk menghapus kemcetan, baik dalam fase setup maupun dalam masa produksi, perlu dilakukan beberapa pendekatan yang melibatkan tim fungsi silang. Tim ini terdiri dari berabagi departemen, seperti perekayasaan, manufaktur, keuangan dan departemen lainnya yang relevan. 5. Ukuran Lot Kecil Dan Pengurangan Waktu Setup : Ukuran lot yang ideal bukan ukuran yang terbesar, tetapi ukuran lot yang terkecil. Pendekatan ini pendekatan ini esuai bila nesin-mesin digunakan untuk menghasilkan berbagai bagian atau komponen yang berbeda yang digunakan proses berikutnya dalam tahap produksi. 6. Total Productive Maintance : TPM merupakan suatu keharusan dalam sisitem JIT. Mesi-mesin membersihkan dan diberi pelumas secara rutin, biasanya dilakukan oleh operator yang menjalankan mesin tersebut. 7. Kemampuan Proses, Statistical Proses Control (SPC), Dan Perbaikan Berkesinambungan. Kemampuan proses, SPC, dan perbaikan berkesinambungan harus ada dalam pemanufakturan JIT, karena beberapa hal: Pertama, segala sesuatu harus bekerja sesuai dengan harapan dan mendekati sempurna. Kedua, dalam JIT tidak ada bahan cadangan untuk kemacetan perusahaan dan Ketiga, semua kondisi mesin harus bekerja dengan prima.

Strategi Penerapan Just in Time Ada beberapa strategi dalam mengimplementasikan JIT dalam perusahaan, antara lain: 1. Startegi Penerapan Pembelian Just in Time. Dukungan, yaitu dari semua pihak terutama yang berkaitan dengan kegiatan pembelian, dan khususnya dukungan dari pimpinan. Tanpa ada komitmen dari pinpinan tersebut JIt tidak dapat terlaksana. Mengubah sistem, yaitu mengubah cara mengadakan pembelian, yaitu dengan membuat kontrak jangka panjang dengan pemasok sehingga perusahaan cukup hanya memesan sekali untuk jangka panjang, selanjutnya barang akan dating sesuai kebutuhan atau proses produksi perubahan kita. 2. Startegi Penerapan Just in Time dalam sistem produksi.

Penemuan sistem produksi yang tepa, yaitu dengan sistem tarik yang bertujuan memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan dengan menghilangkan sebanyakmungkin pemborosan. Penemuan lini produksi yaitu dalam satu lini produksi harus dibuat bermacam-macam barang, sehingga semua kebutuhanpelanggan yang berbeda-beda itu dapat terpenuhi. Selain itu lini produksi tersebut dapat menghemat biaya, biaya bahan, persediaan, dan sebagainya. JIT bukan hanya sekedar metode pengedalian persediaan, tetapi juga merupakan sistem produksi sistem produksi yang saling berkaitan dengan semua fungsi dan aktivitas.

Manfaat-Manfaat Keuangan dari JIT JIT akan mendorong beberapa manfaat keuangan, meliputi: Investasi yang lebih rendah dalam persediaan Mengurangi biaya membawa dan menangani persediaan Mengurangi resiko keusangan persediaan 4. Investasi yang lebih rendah dalam ruang pabrik untuk persediaan dan produksi

5. 6.

Pengurangan dalam toral biaya pabrikasi Pengurangan dalam paperwork

Pengurangan dalam paperwork dapat dramatis. Misalnya, pabrik manufaktur Taiwan memproses 10.000 pesanan pembelian, laporan penerimaan barang, dan permintaan bahan baku per minggu. Setelah beralih pada JIT, berkembang sistem akuntansi yang lebih sederhana. Di beberapa pabrik JIT, tidak ada pesanan pembelian, tidak ada laporan penerimaan, tidak ada permintaan bahan, ataupun penelusuran tenaga kerja pabrikasi sebagai satu kategori biaya langsung terpisah. JIT cenderung memfokuskan secara luas kepada pengendalian atas total biaya pabrikasi dan bukan biaya individual seperti tenaga kerja langsung pabrikasi. Misalnya, waktu menganggur akan timbul karena lini produksi memakan bahan baku lebih sering daripada sebelumnya. Meskipun demikian, banyak biaya overhead pabrikasi akan berkurang, seperti biaya penanganan bahan baku dan biaya pengawas khusus pengendali mutu. Studi Kasus Dalam Just In Time PT. Tri Dharma Wisesa merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang memasok brake system untuk pelanggan-pelanggan seperti Yamaha, Toyota, Daihatsu, baik di dalam maupun luar negeri. Salah satu lini produksi yang ada adalah lini produksi disc brake untuk konsumen tunggal yaitu Yamaha. Pada sistem sekarang, lini ini masih menggunakan push system dan menghadapi masalah-masalah seperti volume kegiatan Departemen Production Planning & Control yang besar, ketidakcocokan rencana dan produksi aktual, kurang adaptif terhadap perubahan permintaan, mekanisme informasi yang kurang baik, dan inventori yang menumpuk. Tindakan yang diusulkan untuk menjawab permasalahan tersebut adalah merancang sistem produksi JIT (Just In Time) untuk menggantikan sistem produksi sekarang. Perancangan yang dilakukan dibagi menjadi 4 tahap, yaitu (1) perhitungan alokasi MPS (Master Production Schedule) ke tiap stasiun kerja yang ada di bagian-bagian produksi, (2) perhitungan jumlah kanban di bagianbagian

produksi, (3) penerapan kanban supplier, dan (4) penjadwalan produksi dengan mixed scheduling. Masalah yang dihadapi adalah bagaimana Algoritma Distribusi Beban Kerja untuk stasiun-stasiun kerja, rencana produksi di tiap stasiun kerja yang ada, jumlah kanban di bagian produksi dan kanban supplier, model rancangan sistem produksi JIT beserta aliran material dan informasi, dan algoritma perencanaan sistem produksi JIT. Dalam alokasi MPS ke stasiun kerja tidak digunakan proporsi historis, melainkan dilakukan perhitungan dengan Algoritma Distribusi Beban Kerja yang diusulkan agar tiap stasiun kerja menerima beban kerja yang lebih berimbang. Kanban digunakan sebagai alat yang sah untuk melakukan penarikan ataupun produksi suatu produk. Kanban supplier diterapkan untuk semua komponen penyusun disc brake tiap tipe dan raw material dari supplier. Penjadwalan dilakukan dengan mixed scheduling agar dapat lebih adaptif terhadap fluktuasi permintaan. Dari hasil penelitian tersebut, sistem perancangan baru (berdasarkan JIT) layak diterapkan karena penggunaan biaya dan kuantitas persediaan yang lebih kecil dibandingkan dengan sistem yang sekarang dipakai perusahaan.

B. Sistem Backflushing Disebut juga perhitungan biaya backflush (backflush costing), menguraikan suatu sistem kalkulasi biaya yang menunda pencatatan perubahan dalam produk yang diproduksi sampai uint-unit selesai yang sempurna terlihat; ini kemudian memakai biaya yang dianggarkan atau biaya standar untuk mengerjakan ke belakang untuk membagikan biaya pabrikasi kepada unit yang diproduksi. Biasanya tidak ada catatan barang dalam proses dalam sistem akuntansi. Backflush Costing seringkali menyertai sistem produksi JIT, meskipun backflush dapat dipakai bersama dengan sistem produksi yang lain. Istilah backflush mungkin timbul disebabkan titik penggerak (trigger point) untuk entri kalkulasi harga pokok persediaan dapat ditunda selambat mungkin

sampai saat penjualan. Harga pokok akhirnya dikilas balik melalui sistem akuntansi. Perusahaan-perusahaan yang menggunakan backflush costing biasanya memenuhi tiga kondisi berikut: 1. Manajemen menginginkan sebuah sistem akuntansi yang sederhana. Tidak ada penelusuran terinci atas jumlah aktual biaya bahan baku langsung atau biaya tenaga kerja langsung pabrikasi yang melalui serangkaian operasi, langkah demi langkah sampai pada titik penyelesaian. 2. 3. Masing-masing produk memiliki sekumpulan Hasil keuangan dari backflush costing mendekati biaya yang dianggarkan atau biaya standar. hasil yang diperoleh dengan penelusuran rangkaian. Jika persediaan rendah, biaya pabrikasi yang banyak akan langsung masuk ke dalam Harga Pokok Penjualan dan tidak ditunda dalam persediaan. Karena itu, para manajer tidak percaya adalah bermanfaat menghabiskan sumber daya biaya penelusuran melalui Barang dalam Proses, Barang Jadi, dan Harga Pokok Penjualan. Backflush Costing, karena itu, terutama menarik dalam perusahaan yang memiliki persediaan rendah akibat dari JIT. Bahkan meskipun tingkat persediaan tinggi, kalau persediaan relatif stabil, squential tracking dan backflush costing akan memberikan hasil yang kira-kira sama. Jumlah biaya yang konstan akan ditahan dalam persediaan masing-masing periode.

Karakteristik Backflushing Ada beberapa karakteristik dari backflushing antara lain: 1. manufaktur. 2. Sebagai jawaban atas cepatnya produksi yang mendahului pencatatan akuntansi tradisional. Mempersingkat aliran biaya pada perusahaan

3. produksi dengan JIT 4.

Backflushing digunakan untuk mengimbangi Ditandai dengan rendahnya work in process

sebagai akibat tidak terhentinya produksi. Contoh Kasus dalam Backflushing Contoh ini mengilustrasikan bagaimana backflushing dapat mengurangi kebutuhan pada perkiraan Barang dalam Proses yang terpisah. Sebuah perusahaan hipotesis, Citra Computer (CC), memiliki dua titik penggerak, yaitu Pembelian Bahan Baku dan Barang Jadi, yang ditempatkan dalam operasi dimana ayat jurnal dibuat dalam sistem akuntansi. CC memproduksi keyboard untuk personal komputer. Untuk bulan April, tidak ada persediaan awal bahan baku. Selain itu, persediaan awal dan akhir barang dalam proses adalah nol. CC hanya memiliki satu kategori biaya langsung pabrikasi (bahan baku langsung, disebut singkat bahan) dan satu kategori biaya tidak langsung pabrikasi (biaya konversi). Semua biaya tenaga kerja pada fasilitas pabrikasi dimasukkan dalam biaya konversi. Biaya bahan baku langsung standar bulan April per unit keyboard sebesar RP. 38.000; biaya konvensi standar sebesar Rp.24.000. CC memiliki dua/perkiraan persediaan: Jenis Kombinasi antara bahan baku dan barang dalam proses Barang Jadi Judul Perkiraan Persediaan: Pengendalian Bahan Baku dan dalamProses Pengendali Barang Jadi

Titik penggerak 1 terjadi ketika bahan baku dibeli. Biaya-biaya tersebut dibebankan kepada persediaan: Pengendali Bahan Baku dan dalam Proses. Biaya konversi aktual dicatat saat dikeluarkan berdasar backflush costing, seperti dalam sistem kalkulasi biaya yang lain. Biaya konversi dialokasikan kepada

10

produk pada titik penggerak 2 transfer unit ke Barang Jadi. Contoh ini mengasumsikan bahwa kurang alokasi biaya konversi dipertahankan dan tidak dihapuskan sampai akhir tahun. CC mengambil langkah-langkah berikut saat membagikan biaya kepada unit terjual dan kepada persediaan. Langkah 1: CATAT BAHAN BAKU LANGSUNG DALAM PERIODE PELAPORAN. Anggaplah pembelian pada bulan April sebesar Rp.3.900.000.000: Jurnal (a) Persediaan: Pengendali Bahan Baku dan dalam Proses 3.900.000.000 3.900.000.000 Pengendali Hutang Upah

Langkah 2: CATAT PENGELUARAN BIAYA KONVERSI SELAMA PERIODE PELAPORAN. Anggaplah biaya konversi sebesar Rp.2.520.000.000: Jurnal (b) Pengendali Biaya Konversi 2.520.000.000 Berbagai perkiraan (seperti pengendali Hutang Usaha dan Pengendali Hutang Upah) 2.520.000.000

Langkah 3: TENTUKAN JUMLAH UNIT SELESAI YANG DIPRODUKSI SELAMA PERIODE PELAPORAN. Anggaplah bahwa 100.000 unit keyboard diproduksi dalam bulan April. Langkah 4: HITUNG BIAYA YANG DIANGGARKAN ATAU BIAYA STANDAR UNTUK MASING-MASING UNIT YANG SELESAI. Langkah ini biasanya memerlukan bill of material (deskripsi jenis dan kuantitas bahan baku) dan daftar operasi (deskripsi operasi yang dijalankan) atau catatan yang serupa. Untuk CC, biaya standar adalah Rp.62.000 (bahan baku Rp38.000 + biaya konversi Rp24.000) per unit. Langkah 5: CATAT HARGA POKOK BARANG JADI YANG SELESAI DALAM PERIODE PELAPORAN. (100.000 unit x Rp62.000 = Rp6.200.000.000).

11

Langkah ini dinamakan backflushing. Sampai titik ini dalam operasi, biayabiaya tidak dicatat sesuai dengan arus produk sepanjang lini produksinya. Sebagai gantinya, penggerak keluaran menjangkau dan memasukkan kembali biaya-biaya dari Persediaan: Bahan Baku dan dalam Proses. Jurnal (c) Pengendali Barang Jadi Dalam Proses Biaya Konversi yang Dialokasikan Rp 6.200.000.000 Rp 3.800.000.000 Rp 2.400.000.000 Persediaan: Pengendali Bahan Baku dan

Langkah 6: CATAT HARGA POKOK PENJUALAN DALAM PERIODE PELAPORAN. Anggaplah bahwa 99.000 unit telah terjual pada bulan April (99.000 unit x Rp 62.000 = Rp 6.138.000.000) Jurnal (d) Harga Pokok Penjualan Pengendali Barang Jadi Rp 6.138.000.000 Rp. 6.138.000.000

Saldo akhir persediaan bulan April adalah sebagai berikut: Persediaan: Bahan Baku dan dalam Proses Barang Jadi, 1.000 unit x Rp 62.000 Total persediaan Rp 100.000.000 Rp 62.000.000 Rp 162.000.000

Satu daya tarik backflushing adalah kesederhanaannya. Sistem yang sederhana, akan tetapi, umumnya tidak memberikan informasi yang lebih banyak dibandingkan sistem yang lebih komplek. Kecaman backflushing ditujukan sebagian besar pada ketiadaan penelusuran audit-kemampuan sistem akuntansi untuk menunjukkan dengan tepat pemakaian sumber daya pada tiap langkah proses produksi. Para manajer, bagaimanapun, menelusuri jalur operasi dengan pengamatan, pemantauan komputer, dan ukuran-ukuran non keuangan. Disamping itu, kuantitas bahan aktual, biaya konversi, dan barang sisa dapat diidentifikasikan dengan departemen individu dan area aktifitas individual. Unit sempurna diproduksi dan dicatat. Anggaran atau biaya standar yang diperbolehkan juga diukur. Variance dihitung pada tingkatan departemen atau area aktifitas sekurang-kurangnya tiap bulan dan kadangkala setiap hari.

12

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

13

Sistem produksi Just In Time atau yang disingkat dengan JIT adalah suatu sistem dimana tiap kmponen pada lini produksi sesegera sesuai yang dibutuhkan oleh langkah berikutnya dalam sebuah lini produksi. JIT merupakan filosofi pemanufakturan yang memiliki impilkasi penting dalam manajemen biaya. Ide dasar JIT sangat sederhana, yaitu produksi hanya apabila ada permintaan (pull sistem) atau dengan kata lain hanya memproduksi sesuatu yang diminta dan hanya sebesar kuatitas yang diminta. Sasaran utama dari sistem produksi ini adalah meningkatkan produktivitas sistem produksi atau operasi dengan cara nenghilangkan semua macam kegiatan yang tidak menembah nilai bagi suatu produk. JIT cenderung memfokuskan secara luas kepada pengendalian atas total biaya pabrikasi dan bukan biaya individual seperti tenaga kerja langsung pabrikasi. Namun dibalik semua keuntungan yang diperoleh dari pemanfaatan sistem produksi JIT, sistem produksi ini memiliki keterbatasan dalam penerapannya pada pola permintaan yang berbeda. A p a b i l a p e r m i n t a a n c u k u p stabil dari periode ke periode, JIT merupakan sistem yang ideal. Apabila permintaan berfluktuasi cukup besar dari jam ke jam dan hari ke hari, maka JIT kurang praktis untuk diterapkan. Tanpa persediaan yang dapat dipakai sebagai persediaan penyangga (buffer )antara tingkat produksi dengan tingkat permintaan, suatu pabrik harusmenolak permintaan pelanggan atau memiliki cukup banyak karyawan danperalatan untuk menangani permintaan pada tingkat tertinggi. Jika permintaan rata-rata merupakan sebagian kecil dari total permintaan ditingkat tertinggi, JIT menyebabkan pemborosan yang besar atas kapasitas atau kegagalan penjualan, dimana keduanya sangat mahal. Backflush Costing seringkali menyertai sistem produksi JIT, yang digunakan untuk mengimbangi produksi dengan Just In Time, meskipun backflush dapat dipakai bersama dengan sistem produksi yang lain. Dengan menggunakan backflushing, aliran biaya pada perusahaan manufaktur dapat dipersingkat sebagaimana backflusing dapat mengurangi kebutuhan pada perkiraan Barang dalam Proses yang terpisah. Inti dari perhitungan biaya dengan menggunakan backflushing adalah untuk mengurangi jumlah kejadian yang diukur dan dicatat dalam sistem akutansi . Dibandingkan dengan perhitungan biaya berdasarkan

14

pesanan dan perhitungan biaya berdasarkan proses, perhitungan biaya backflush terkenal atas kurangnya penelusuran terinciatas biaya WIP.

DAFTAR PUSTAKA Susilaningtyas, Endah SE, MBA., Akuntansi Biaya: Dengan Penekanan Manajerial, Indonesia: Pretince-Hall, 1994.

15

www.wikipedia.com www.google.com

16