Anda di halaman 1dari 29

FLAVONOID

DEFINISI
Flavonoid Adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbanyak terdapat di alam. Senyawa aromatik ini mengandung cincin karboaromatik yaitu cincin aromatik yang hanya terdiri dari atom karbon seperti benzen, naftalen, dan antrasen. Cincin karbonaromatik ini biasanya tersubstitusi oleh satu atau lebih gugus hidroksil atau gugus lainnya yang ekivalen ditinjau dari segi biogenetik. Oleh karena itu senyawa bahan alam aromatik ini sering disebut sebagai senyawasenyawa fenol walaupun sebagian diantaranya bersifat netral karena tidak mengandung gugus fenol dalam keadaan bebas. Flavonoids (atau bioflavonoids) adalah kelas tanaman metabolites sekunder. Flavonoid adalah salah satu jenis senyawa yang bersifat racun/aleopati terdapat pada kulit jeruk manis, merupakan persenyawaan glucoside yang terdiri dari gula yang terikat dengan flavon. Flavonoid yang tidak ada rasanya disebut hesperidin, sedangkan limonin menyebabkan rasa pahit. Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzen (C6 ) terikat pada suatu rantai propana (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Semua flavonoid, menurut strukturnya, merupakan turunan senyawa induk flavon yang terdapat berupa tepung putih pada tumbuhan dan semuanya mempunyai sejumlah sifat yang sama. STRUKTUR DAN PENAMAAN FLAVONOID Dalam tumbuhan, aglikon flavonoid (yaitu flavonoid tanpa gula terikat) terdapat dalam berbagai bentuk struktur. Semuanya mengadung 15 atom karbon dalam inti dasarnya, yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6, yaitu dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang dapat atau tak dapat membentuk cincin ketiga. Agar mudah, cincin diberi tanda A, B, dan C; atom karbon dinomori menurut sistem penomoran yang menggunakan angka biasa untuk

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 1

3' cincin A dan C, serta angka beraksen untuk cincin B. Sistem penomoran untuk 1 turunan flavonoid diberikan 8 bawah : di O 7 6 5 4 2 A C 3 2' B 6' 4'

1'

5'

Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C6-C3-C6. Artinya, kerangka karbonyya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzena tersubtitusi) disambungkan oleh rantai alifatik tiga-karbon.
c c c

Kerangka Flavonoid Kelas-kelas yang berlainan dalam golongan ini dibedakan berdasarkan cincin herosiklik-oksigen tambahan dan gugus hidroksil yang tersebar menurut pola yang berlainan. Flavonoid sering terdapat sebagai glikosida. Golongan terbesar flavonoid berciri mempunyai cincin piran yang menghubungkan rantai tiga karbon dengan salah satu dari cincin benzena. Di antara flavonoid khas yang mempunyai kerangka seperti di atas berbagai jenis dibedakan berdasarkan tahana oksidasi keragaman lain pada rantai C3. Semua varian flavonoid saling berkaitan karena alur biosintesis yang sama yang memasukkan prazat dari alur sikimat dan alur asetat-malonat (Hahbrock & Grisebach, 1975; Wong. 1976), flavonoid pertama dihasilkan segera setelah kedua alur itu bertemu (gambar 1.1). Sekarang, flavonoid yang dianggap pertama kali terbentuk pada biosintesis ialah Khalkon (Hahlbrock, 1980), dan semua bentuk lain diturunankan darinya melalui berbagai alur (gambar 1.1). Modifikasi flavonoid lebih lanjut mungkin terjadi pada berbagai tahap dan menghasilkan; penambahan atau pengurangan) hidroksilasi; metilasi gugus hidroksil atau inti flavonoid; isolasi prenilasi gugus hidroksil atau inti flavonoid; metilenasi gugus orto-dihidroksil; dimerisasi (pembentukkan biflavonoid); pembentukkan bisulfat; dan yang terpenting, glikosilasi gugus hidroksil (pembentukkan flavonoid O-glikosida) atau inti flavonoid (pembentukkan flavonoid C-glikosida). Jadi, cakupan flavonoid yang sudah diketahui luas sekali, dan daftar varian yang telah diketahui telah diterbitkan

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 2

(Harborne dkk., 1975), yang baru-baru telah diperbarui (Harborne dan Mabry, 1982).

Gambar1.1 Antar hubungan antara jenis monomer flavonoid yang diusulkan pada saat ini (didukung oleh berbagai tingkat bukti uji kaji, lihat Wong, 1976)

Menurut IUPAC tata nama, [1] mereka dapat diklasifikasikan ke dalam: 1. flavonoids, berasal dari 2-phenyl chromen-4-one (2-phenyl-1, 4 benzopyrone) struktur

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 3

2. isoflavonoids, berasal dari 3-phenyl chromen-4-satu (3-phenyl-1, 4 benzopyrone) struktur 3. neoflavonoids, berasal dari 4-phenyl coumarine (4-phenyl-1, 2 benzopyrone) struktur.

Molekular struktur flavone tulang punggung (2-phenyl-1 ,4-benzopyrone) JENIS DAN KLASIFIKASI FLAVONOID Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk campuran, jarang sekali dijumpai berupa senyawa tunggal. Disamping itu sering ditemukan campuran yang terdiri dari flavonoid yang berbeda kelas. Misalnya antosianin dalam mahkota bunga yang berwarna merah, hampir selalu disertai oleh flavon atau flavonol yan tak berwarna. Flavonoida mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzen (C6) terikat oleh suatu rantaipropana (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Susunan ini dapat menghasilkan tiga jenis stuktur senyawa flavonoida yaitu : 1. Flavonoida atau 1,3-diarilpropana
B 3

2. Isoflavonoida atau 1-2-diarilpropana


A

3 2

3. Neoflavonoida atau 1,1-diarilpropana


A 1 3 2

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 4

Istilah flavonoida diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kata flavon, yaitu nama dari salah satu jenis flavonoida yang terbesar jumlahnya dalam tumbuhan. Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai kerangka 2fenilkroman, dimana posisi orto dari cincin A dan atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1,3-diarolpropana dihubungkan oleh jembatan oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (cincin C). Senyawa-senyawa flavonoida terdiri atas dari beberapa jenis tergantung pda tingkat oksidasi dari rantai propana dari sistem 1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan antosianin adalah jenis yang banyak ditemukan di alam sehingga sering disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilasi atau glikosilasi dari struktur tersebut. Senyawa-senyawa isoflavonoida dan neoflavonoida hanya ditemukan dalam berbagai beberapa jenis tumbuhan, terutama suku Leguminosae. Masing-masing jenis senyawa flavonoida mempunyai struktur dasar tertentu. Flavonoida mempunyai beberapa ciri stuktur yaitu : cincin A dari struktur flavonoida mempunyai pola oksigenasi yang berselang-seling yaitu pada posisi 2, 4, dan 6. cincin B flavonoida mempunyai satu gugus fungsi oksigen pada posisi para atau dua pada posisi para dan meta atau tiga pada posisi satu di para dan dua di meta. Cincin A selalu mempunyai gugus hidroksil yang letaknya sedemikian rupa sehingga memberikan kemungkinan untuk terbentuk cincin heterosiklik dalam senyawa trisiklis. Beberapa senyawa flavonoida adalah sebagai berikut : Cincin A- COCH2CH2 Cincin B Cincin A- COCH2CHOH Cincin B Cincin A- COCH2CO Cincin B Cincin A- CH2COCO Cincin B Cincin A- COCOCH2 Cincin B Hidrokarbon Flavanon, kalkon Flavon Antosianin Auron

Flavonoid dapat dikelompokkan berdasarkan rantai C3, antara lain :

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 5

1. Katekin dan Proantosianidin


Katekin dan proantosianidin adalah dua golongan senyawa yang mempunyai banyak kesamaan. Semuanya senyawa tanwarna, terdapat pada seluruh dunia tumbuhan tetapi terutama pada tumbuhan berkayu. Proantosianidin telah ditemukan dalam paku-pakuan dan dua spesies Equisetum. Senyawa ini ternyata tidak terdapat dalam Psilofita, Lycopodium spp., dan lumut. Kita hanya mengenal tiga jenis katekin, perbedaannya hanya pada jumlah gugus hidroksil pada cincin B. Senyawa ini mempunyai dua atom karbon kiral (ditandai dengan bintang) dan karena itu mungkin terdapat 4 isomer :

Katekin (+) dan katekin (-) hidrogen-2 dan hidrogen-3-nya trans, sedangkan pada epikatekin cis. Kebanyakan konfigurasi senyawa alam pada C-2 ialah R. Telah ditemukan satu epikatekin glukosida, dan beberapa katekin terdapat sebagai ester asam galat. Satuan katekin terdapat sebagai bagian dari berbagai senyawa oligomer dengan jenis lain fenilpropanoid, misalnya pada proantosianidin. Proantosianidin dipilah ke dalam tiga kelompok : 1. Leukoantosianidin klasik adalah flavan-3,4-diol monomer, atau, meskipun jarang, flavan-4-ol, kadang-kadang dengan sedikit keragaman. Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 6

Leukoantosianidin jarang terdapat sebagai glikosida tetapi dikenal beberapa berbentuk glikosida. Beberapa strukturnya sebagai berikut :

2.

Struktur dimer yang pada pemanasan dengan asam menghasilkan

satu molekul katekin dan satu molekul antosianidin ditambah hasil sekunder rumit yang lain. Dimer jenis-A disambungkan melalui baik ikatan eter 2-7 maupun ikatan karbon-karbon 4-8 atau 4-6. Dimer jenis-B hanya mempunyai ikatan karbon-karbon. Oksidasi kimia dapat mengubah jenis-B menjadi jenis-A. Contoh berikut jenis-A berasal dari horse chestnut :

3.

Polimer, yang kadang-kadang hanya terdiri atas monomer flavonoid,

tetapi yang lainnya mungkin membentuk ikatan glikosida dengan polisakarida. Polimer ini tersusun dengan menyambungkan monomer dari C-4 ke C-8 atau C6, sering dengan ikatan eter tambahan. Bobot molekul dapat merentang mulai 3000 sampai 12000, dan polimer besar dapat bercabang dengan ikatan pada kedua atom C-6 dan C-8. Polimer tidak larut dalam air atau etil asetat, tetapi dapat diekstraksi dengan aseton. Senyawa yang disebut tanin katekol atau tanin kondensasi mungkin identik dengan golongan ini, atau sekurangkurangnya sangat tumpang tindih. Menurut definisi, proantosianidin adalah senyawa yang membentuk antosianidin jika dipanaskan dengan asam; tetapi dalam proses ini banyak senyawa Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 7

lain yang terbentuk; dan hasil terbaik antosianidin yang diperoleh (dengan sesepora ion logam) kurang dari 60%. Perlakuan dengan asam dingin menghasilkan polimer yang menyerupai tanin kondensasi alam. Perlakuan lebih keras (asam panas, oksigen) reaksi berjalan lebih jauh dengan pembentukan sedikit antosianidin. Reaksi yang menghasilkan antosianidin untuk flavan-3,4-diol dapat ditulis sebagai berikut :

Reaksi ini bersifat oksidasi, mencakup baik pelepasan atom hydrogen maupun dehidrasi. Dalam kondisi lebih kuat ini proantosianidin dimer menghasilkan sianidin, epikatekin, dan hasil lain. Oksidasi senyawa yang semula berupa polimer tanwarna menghasilkan polimer berwarna yang dikenal sebagai flobafen atau merah tanin yang strukturnya sebagian besar tak diketahui. Pada pemanasan dengan asam katekin membentuk polimer serupa berwarna coklat. Ikhtisar reaksi yang rumit ialah sebagai berikut :

Epicatechin meningkatkan aliran darah dan dengan itu tampaknya baik untuk jantung sehat. Kakao, bahan utama dari gelap coklat, berisi jumlah relatif tinggi dan epicatechin telah ditemukan telah hampir dua kali Antioxidant isi anggur merah dan sampai tiga kali dengan teh hijau in-vitro di tes. Namun dalam ujian yang dijelaskan di atas sekarang muncul yang bermanfaat Antioxidant efek minimal adalah sebagai antioksidan yang pesat excreted dari badan.

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 8

Epicatechin Asam katekutanat yang tidak jelas merupakan hasil dehidrasi katekin atau polimer katekin, barangkali sebagai berikut :

Selain sebagai senyawa jadian senyawa seperti flobafen mungkin terdapat di alam. Warna merah yang semula ada pada tumbuhan atau dihasilkan pada pemanasan dengan asam jangan dianggap disebabkan oleh antosianidin sebelum ada kepastian bahwa tidak ada flobafen. Proanthocyanidins pharmacological. ekstrak menunjukkan berbagai kegiatan Mereka termasuk meningkatkan efek intracellular vitamin C

tingkat penurunan kapiler permeabilitas dan kerapuhan, scavenging oxidants dan radikal bebas, dan inhibiting kerusakan kolagen, yang paling banyak protein dalam tubuh.

2. Flavanon dan Flavanonol


Senyawa ini terdapat hanya sedikit sekali jika dibandingkan dengan flavonoid lain. Mereka tanwarna atau kuning sedikit. Karena konsentrasinya rendah dan tidak berwarna maka sebagian besar diabaikan. Flavanon (atau dihidroflavon) sering terjadi sebagai aglikon tetapi beberapa glikosidanya dikenal sebagai, misalnya, hesperidin dan naringin dari kulit buah jeruk. (Aklikonnya hesperetin dan naringenin). Flavanonol (atau dihidroflavonol) barangkali merupakan flavonoid yang paling kurang dikenal, dan yang diasetilasi dikenal karena rasanya yang sangat manis. Tidak seperti leukoantosianidin, senyawa ini stabil dalam asam klorida panas tetapi terurai oleh basa hangat menjadi kalkon. Satuan jenis flavanon barangkali terdapat dalam lignin ampas. Satuan monomer lignin ini disebut flavonolignan.

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 9

Tabel 1. Beberapa Flavanon dan Flavanonol, Struktur dan Tumbuhan Sumber

3. Flavon, Flavonol, Isoflavon


Flavon dan flavonol barangkali merupakan senyawa yang paling tersebar luas dari semua pigmen tumbuhan kuning Flavones yang dibagi menjadi empat grup:
Skeleton Kelompok Grup Keterangan fungsional 32,3Struktural rumus Contoh

hydroxyl dihydro

2Flav satu phenylchromen - 4-satu

Luteolin, Apigenin, Tangeritin

Flav pada ol atau 3hydroxy flav satu 3-hydroxy - 2phenylchromen - 4-satu

Quercetin, Kaempferol, Myricetin, Fisetin, Isorhamnetin, Pachypodol, Rhamnazin

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 10

Hesperetin, Flav yang satu 2,3-dihydro - 2phenylchromen - 4-satu Naringenin, Eriodictyol, Homoeriodicty ol Flav yang pada ol atau 3Hydroxy satu atau 2,3dihydro flav pada ol 3-hydroxy phenylchromen - 4-satu flav yang 2,3-dihydro - 2Taxifolin (atau Dihydroquercet in), Dihydrokaemp ferol

Senyawa ini biasanya larut dalam air panas dan alkohol meskipun beberapa flavonoid yang sangat termetilasi tidak larut dalam air. Mereka beragam dalam derajat hidroksilasi mulai dari flavon sendiri yang terdapat berupa serbuk pada bungan sejenis ros, Primula spp., sampai nobiletin pada jeruk (citrus nobilis).

Flavon

nobiletin

Akan tetapi, senyawa turunan yang paling umum ialah hidroksilasi 5 dan/atau 7 pada cincin A dan hidroksilasi 4 pada cincin B. cincin B hanya dihidroksilasi pada posisi 3 dan 5 jika posisi 4 dihidroksilasi juga. Hidroksilasi 2 jarang ditemukan. Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 11

Keragaman tambahan berupa metilasi gugus hidroksil membentuk eter atau metilenasi dua gugus hidroksil yang berdampingan membentuk turunan metilendioksi, terutama di antara isoflavonoid gugus isopentenil (atau isopentenil atau isopentenil yang dimodifikasi) sering dijumpai pada posisi 6 dan/atau 8. Bagian pula yang terikat secara glikosida dapat dijumpai hampir pada semua posisi, meskipun glikosida-4 langka dan glikosida-6 belum dikenal. Pada flavon dan isoflavon yang paling umum ialah glikosida-7 dan pada flavonol glikosida-3. Gula yang biasanya dijumpai pada glikosida ialah glukosa, galaktosa, dan ramnosa meskipun gula langka ditemukan juga. Disakarida kadang-kadang ada dalam apa yang disebut biosida. Berlawanan dengan pada antosianin (lihat di bawah), tidak pernah terjadi dua bagian gula terikat pada gugus hidroksil yang berlainan. Ada pendapat yang dikemukakan bahwa secara umum glikosida terdapat di dalam sel dan aglikon sebagai hasil ekskresi. Beberapa aglikon mungkin berperan pada proses pembintilan tumbuhan polong. Telah ditemukan pula turunan sulfat dan ester organic dari turunan bagian gula, turunan sulfat biasanya terdapat dalam tumbuhan yang habitatnya air. Dikenal pula beberapa turunan flavon-gula yang bagian gulanya terikat melalui ikatan karbon-karbon bukan ikatan glikosida. Senyawa jenis ini yang paling dikenal ialah viteksin, turunan gula dari apigenin :

Dikenal juga beberapa senayawa lain dari glikoflavonoid ini, dan kebanyakan flavon; tetapi ada juga beberapa senyawa dari golongan flavonoid lain.

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 12

Glikosida sudah tentu kurang larut dalam pelarut organik dan lebih mudah larut dalam air ketimbang aglikonnya. Warnanya pun tidak sekuat aglikonnya, beberapa glikosida dalam larutan netral atau asam tidak berwarna. Akan tetapi, mereka menjadi kuning terang atau jingga dalam larutan basa dan dapat dideteksi jika bagian tumbuhan yang tanwarna diuapi ammonia. Timbulnya warna ini disebabkan oleh pembentukan garam dan terbentuknya struktur kuinoid pada cincin B.

Larutan flavonol dalam suasana basa (tetapi flavon tidak) dioksidasi oleh udara tetapi tidak begitu cepat sehingga penggunaan basa pada pengerjaannya masih dapat dilakukan. Tabel 2 mengikhtisarkan pola hidroksilasi beberapa flavon, flavonol, dan isoflavon terkenal. Struktur beberapa senyawa turunan yang lain diberikan dalam tabel 3 untuk menggambarkan beberapa ragam metilasi dan glikosida yang ditemukan. Beberapa dimer flavon dan flavonol telah diisolasi terutam dari Gymnospermae dan lumut tetapi dari tumbuhan lain ada juga.

Tabel 2 Pola Hidoksilasi Beberapa Flavonoid

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 13

Tabel 3 Beberapa Falvon, Flavonol, dan Isoflavon

Quercetin

Nama formal Kimia (IUPAC) 2 - (3,4-dihydroxyphenyl) - 3,5,7-trihydroxy4H-chromen satu-4 Quercetin adalah flavonoid, dan agar lebih spesifik, yang flavonol. Ini merupakan bentuk aglycone sejumlah flavonoid glycosides lainnya, seperti rutin dan quercitrin, ditemukan dalam buah jeruk, soba dan bawang. Quercetin membentuk glycosides quercitrin rutin dan bersama-sama dengan rhamnose dan rutinose, masing-masing. Hal itu banyak ditemukan dalam suplemen diet, dapat juga membantu untuk mencegah beberapa jenis kanker, namun saat ini ada lebih banyak riset diperlukan di daerah ini. Quercetin ditemukan untuk menjadi yang paling aktif yang flavonoids dalam studi, dan tanaman obat banyak berhutang banyak dari mereka aktivitas mereka tinggi quercetin konten. Quercetin signifikan telah menunjukkan aktivitas

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 14

anti-kobaran karena langsung dari beberapa inhibisi awal proses peradangan. Sebagai contoh, ia inhibits baik manufaktur dan rilis histamine dan lainnya alergi / kobaran mediator. Selain itu, kegiatan Antioxidant exerts ampuh dan vitamin Ctindakan hemat. Quercetin mungkin memiliki efek positif dalam memerangi atau membantu mencegah kanker, prostatitis, penyakit jantung, katarak, alergi / inflammations, dan penyakit pernapasan seperti bronkitis dan asma.

4. Antosianin
Antosianin ialah pigmen daun bunga merah sampai biru yang biasa (meskipun apigeninidin kuning), banyaknya sampai 30% bobot kering dalam beberapa bunga. Antosianin terdapat juga dalam bagian lain tumbuhan tinggi dan diseluruh dunia tumbuhan kecuali fungus. Tidak seperti golongan flavonoid yang lain, tampaknya antosianin selalu terdapat sebagai glikosida kecuali sesepora aglikon antosianidin. Hidrolisis dapat terjadi selama autolisis jaringan tumbuhan atau pada saat isolasi pigmen, sehingga antosianidin ditemukan sebagai senyawa jadian. Pada pH yang lebih rendah dari 2 antosianin berada sebagai kation (ion flavilium); tetapi pada pH sel vakuol yang sedikit asam, bentuk kuinonoid lain terdapat juga. Salah satu dari kemungkinan reaksi yang terjadi pada pH lebih tinggi ditunjukkan dibawah; tetapi tergantung pada pola hidrolisis, banyak kemungkinan lain dapat terjadi :

Bentuk kuinoid dioksidasi dengan cepat oleh udara dan rusak. Oleh karena itu, antosianin paling aman juga dikerjakan pada larutan yang sedikit asam. Jika dibiarkan atau dipanaskan dalam larutan air netral atau sedikit asam terbentuk isomer (pseudobasa atau basa karbinol) tanwarna, dan isomer ini sampai batas tertentu terdapat dalam tumbuhan : Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 15

Pseudobasa mungkin juga berkesetimbangan dengan struktur kalkon. Beberapa antosianin yang diesterkan tidak membentuk pseudobasa. Pola hidroksilasi antosianin sangat mirip dengan pola hidroksilasi flavon. Tiga jenis dasar antosianin, seperti katekin, bergantung pada hidroksilasi cincin B. semuanya menunjukkan hidroksilasi-5,7 (atau metoksilasi) pada cincin A.

Pelargodinin

sianidin

delfinidin

Keragaman tambahan terjadi karena metilasi, menghasilkan struktur :

Seperti disebutkan diatas, hirsutidin mempunyai cincin-B seperti pada malvidin dengan penambahan gugus metoksi-7. Apigenin dan luteolinidin tidak mengandung gugus hidroksil-3.

Apigeninidin

luteolinidin

Metilasi biasanya terbatas pada gugus hidroksil 3 dan 5. Glikosilasi pun pada antosianin lebih terbatas ketimbang flavonoid lain. Jika hanya ada satu gula yang terikat, biasanya terikat pada C-3 (atau pada C-5 jika senyawa tidak mengandung oksigen pada C-3). Jika ada dua hidroksil yan glikosilasi (ini tidak pernah terjadi pada flavon), hal ini hampir selalu pada posisi 3 dan 5. DiglikosidaMarya Ulfa (14) |FLAVONOID 16

3,5 ini merupakan antosianin yang paling umum. Glikosida-3,7 dan glikosida-7 memang ada tetapi langka. Kita mengenal juga contoh yang lebih langka dengan gula pada 3 atau 4. Jenis gula yang diglikosilasi tampaknya sama dengan gula yang dipakai pada glikosida flavon. Kadang-kadang terdapat asam yang mengesterkan gugus hidroksil gula yang paling umum adalah asam malonat, tetapi asam lain pun ada seperti asam-kumarat, sinapat, malat, suksinat dan sebagainya. Pengesteran dengan asam dwi karboksilat menghasilkan antosianin bersifat Zwitterion yang dapat dibedakan berdasarkan sifat ini. Beberapa kaedah umum mengenai ketergantungan warna pada metalasi dan glikosilasi dapat diberikan. Metilasi meningkatkan kemerahan, sedangkan peningkatan jumlah gugus hidroksil bebas atau penambahan gugus glikosida-5 meningkatkan kebiruan (artinya terjadi geser batokrom pada maksimum serapan dan intensitas meningkat). Akan tetapi, ketergantungan pada pH dan keberadaan kopigmen dan kation logam menyebabkan kaedah ini tidak ada harganya kecuali jika kita menghadapi pigmen murni. Kopigmen organik yang penting ialah berbagai senayawa fenol, termasuk flavonoid lain; dan ion logam yang sering ditemukan mengubah warna ialah magnesium dan aluminium. Tabel 4 menyajikan beberapa antosianin yang terkenal dengan glikosilasi khasnya dan sumber tumbuhannya. Sudah tentu, banyak dari senyawa itu yang ditemukan pada lebih dari satu tumbuhannya. Antosianin paku-pakuan dan lumut, khas berupa glukosida apigeninidin dan luteolinidin, sebagai flavonnya apigenin dan luteolin. Sfagnorubin adalah antosianin tidak biasa yang terdapat dalam dinding sel membran sphagnum dalam musim gugur. Cincin A antosianinnya dilebur pada 5,6 dengan cincin naftalena.
Table 4 Beberapa Antosianin Terkenal

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 17

4. Kalkon dan Dihidrokalkon


Kesepakatan penomoran senyawa ini berada dengan penomoran flavonoid yang mengandung cincin piran :

Kita hanya mengenal beberapa senyawa alam ini, sehingga terlalu dini untuk memberikan rampatan yang luas mengenai strukturnya. Akan tetapi, pola hidroksilasi kebanyakan sama dengan pola hidroksilasi flavonoid lain : gugus hidroksil selalu terdapat pada posisi-2, sesuai dengan heteroatom oksigen pada flavanon dan sebagainya. Pada kenyataannya, pengubahan kalkon menjadi flavanon terjadi dengan mudah dalam larutan asam dan reaksi kebalikannya dalam basa. Proses pengubahan yang satu menjadi yang lainnya ini ditunjukkan untuk kalkon butein dan flavanon butin :

Butein

Butin

Reaksi ini mudah diamati karena kalkon warnanya jauh lebih kuat daripada warna flavanon, terutama dalam larutan basa, warnanya merah jingga. Oleh karena reaksi ini, hidrolisis glikosida kalkon dalam suasana asam menghasilkan aglikon flavanon sebagai senyawa jadian, bukan kalkon. Salah satu senyawa paling menarik diantara senyaw yang agak langka ini ialah florizin, bentuk glikosida dari hidrokalkon floretin, yang menimbulkan glikosuria pada hewan. Efek ini dapat terjadi melalui perantara AMP siklik. Florizin dilaporkan juga mempunyai efek pengaturan pertumbuhan terhadap kecambah apel

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 18

dan biarkan apel. Penyebaran alamnya terbatas pada genus Malus, tetapi dihidrokalkon yang lain terdapat dalam berbagai tumbuhan.

Florizin Struktur beberapa kalkon lain dengan sumber tumbuhannya ialah sebagai berikut :

Senyawa yang strukturnya sejenis tetapi gugus karbonilnya direduksi menjadi metilena terdapat dalam kayu cocobolo dan meracuni berbagai makhluk. Contoh langka senyawa isohidrokalkon ialah angolensin yang terdapat dalam kayu cendana (Pterocarpus Angolensis).

5. Auron
Auron atau sistem cincin benzalkumaranon dinomori sebagai berikut :

Auron berupa pigmen kuning emas terdapat dalam bunga tertentu dan bryofita. Dikenal hanya lima aglikon, tetapi pola hidroksilasi senyawa ini umumnya

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 19

serupa dengan pola pada flavonoid lain begitu pula bentuk yang dijumpai ialah bentuk glikosida dan eter metil. Dalam larutan basa senyawa ini menjadi merah ros. Beberapa contoh auron dan glikosidanya terdapat dalam tabel 5.

Tabel 5 Beberapa Auron, Struktur, dan Tumbuhan Sumber

6. Aneka Senyawa
Beberapa komponen kimia tumbuhan yang tidak biasa tampil dengan struktur yang secara biogenesis berkaitan dengan flavonoid tetapi dengan kerumitan tambahan. Senyawa ini akan dibahas secara singkat tetapi tidak termasuk pada kelompok yang tersebar luas. Beberapa senyawa dapat dimasukkan ke dalam golongan furanokumarin atau golongan flavonoid. Kumerol merupakan senyawa paling dikenal dalam golongan ini, dikenal sebagai kumestan atau kumeston. Pakirizin dari buah yang strukturnya berkaitan dengan struktur kumestrol :

Senyawa dengan kerangka cincin karbon-oksigen yang sama seperti kumeston tetapi tidak mengandung gugus karbonil dikenal sebagai pterokarpanoid, nama yang diturunkan dari senyawa induk, pterokarpin :

Pakirizin

(-)-pterokarpin

Dikenal sekitar dua puluh pterokarpanoid, beberapa menunjukkan efek fungisida, alergen, dan estrogen yang menarik. Senyawa penting lain yang Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 20

strukturnya sejenis ialah insektisida rotenon dari akar Derris. Rotenoid adalah inhibitor khas oksidasi mitokondiria.

Neoflavonoid dapat dianggap sebagai flavonoid dengan cincin B terikat pada C-4 atau sebagai 4-fenilkumarin. Contohnya ialah kalofilolida dari Calophyllum Inophyllum :

Dalbergin mempunyai struktur serupa, tanpa isoprenoid pada rantai samping. Zat warna kayu Haematoxylon Campechianum (hematoksilin) kayu brazil, Caesalpinia sp. (brazilin) tampaknya berkaitan dengan golongan ini tetapi mempunyai atom karbon tambahan :

Turunan stilbena ditemukan dalam beberapa tumbuhan yang tidak berkaitan. Dari segi struktur, senyawa ini termasuk golongan C6-C2-C6. Pada hidroksilasinya menunjukkan dengan kuat bahwa, seperti flavonoid, satu cincin terbentuk dari asetat dan cincin yang lainnya dari asam sikimat. Makna utamanya terletak pada daya racunnya yang kuat terhadap fungus, ikan, serangga, dan hewan tinggi. Rapontigenin (Rheum sp.)

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 21

Piseatanol (Picea sp.)I

Pinosilvin (Pinus sylvestris)

Pterostilbena (Santalum album)

Tabel 6 Beberapa Stilbena, Struktur, dan Tumbuhan Sumber

Dihidrostilbena (bibenzil) dan dimernya terdapat dalam lumut hati. Salah satu dari senyawa ini, asam lunilarat, bekerja sebagai penghambat pertumbuhan yang serupa dengan asam absisat pada tumbuhan tinggi.

Asam lunularat Dihirdostilbena yang serupa ialah penghambat pertumbuhan fungus yang terdapat dalam dioscorea sp, dan senyawa antimiroba dalam Amorpha fruiticosa. Pendimeran stilbena menghasilkan turunan 9,10-dihidrofenantrena yang dapat dibedakan dari fenantrena terpenoid berdasarkan perbedaan pola hidroksilasinya. Senyawa ini menonjol terutama dalam keluarga Orchidaceae dan beberapa senyawa menjadi penyebab mengapa tumbuhan ini mengiritasi kulit. Turunan benzofenon telah ditemukan juga dalam beberapa tumbuhan. Senyawa ini dapat dianggap sebagai golongan C6-C1-C6, dan seperti stilbena. Anggota terpenting golongan ini ialah xanton, yang telah digunakan sebagai zat warna selama beratus-ratus tahun. Senyawa ini struktur dasarnya dan sistem penomorannya seperti ditunjukkan di bawah ini :

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 22

Beberapa ratus xanton dan glikosidanya diketahui berasal dari tumbuhan berbunga, dari keluarga Guttiferae saja hampir 200. Semuanya turunan senyawa hidroksi. Xanton yang paling terkenal ialah pigmen kuning gensitin yang berasal dari akar Gentiana lutea dan glukosa-C mangiferin berasal dari akar Mangifera indica :

Senyawa anggota golongan ini menunjukkan aktivitas sebagai senyawa antitumor dan inhibitor monoamina oksidase. Benzofenon alam lainnya tidak mengandung cincin oksigen heterosiklik seperti xanton tetapi yang lainnya sama. Maklurin yang berasal dari Maclura Pomifera dan kayu Chlorophora tinctoria telah digunakan sebagai zat warna kuning. Beberapa senyawa turunan kotoin yang berasal dari kulit batang Aniba coto digunakan dalam pengobatan sebagai stringen. Turunan hidroksibenzofenon kadang-kadang dimasukkan ke dalam tanin kondensasi

Maklurin (Maclura pomifera)

kotoin (Aniba coto)

Keluarga Guttiferae dikenal mengandung benzofenon yang disubstitusi dengan beberapa rantao samping isoprenil sama seperti pada xanton yang berasal dari keluarga ini. SIFAT KIMIA FLAVONOID

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 23

Senyawa-senyawa flavonoid cenderung mudah larut dalam air karena umumnya mereka sering kali berikatan dengan gula sebagai glikosida. Bagi biokimiawan tumbuhan, senyawa fenol-tumbuhan seperti flavonoid dapat menimbulkan gangguan besar karena kemampuannya membentuk kompleks dengan protein melalui ikatan hidrogen. Bila kandungan sel tumbuhan bercampur dan membran menjadi rusak selama proses isolasi, senyawa fenol cepat sekali membentuk kompleks dengan protein. Akibatnya sering terjadi hambatan terhadap kerja enzim pada ekstrak tumbuhan kasar. Sebaliknya, fenol sendiri sangat peka terhadap oksidasi enzim fenolase yang terdapat dalam tumbuhan. Ekstraksi senyawa fenol-tumbuhan dengan etanol mendidih biasanya mencegah terjadinya oksidasi enzim, dan prosedur ini seharusnya dilakukan secara rutin. Aglikon flavonoid adalah polifenol dan karena itu mempunyai sifat kimia senyawa fenol, yaitu bersifat agak asam sehingga dapat larut dalam basa. Tetapi harus diingat, bila di biarkan dalam larutan basa, dan disamping itu terdapat oksigen, banyak yang akan terurai. Karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil yang tak tersulih, atau suatu gula, flavonoid merupakan senyawa polar, dan seperti kata pepatah lama suatu golongan akan melarutkan golongannya sendiri, maka umumnya flavonoid larut cukupan dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol, aseton, dimetilsulfoksida, dimetilformamida, dan air. Adanya gula yang terikat pada flavonoid (bentuk yang umum ditemukan) cenderung menyebabkan flavonoid lebih mudah larut dalam air dan dengan demikian campuran pelarut di atas air merupakan pelarut yang lebih baik untuk glikosida. Sebaliknya, aglikon yang kurang polar seperti isoflavon, flavanon, dan flavon yang termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti eter, dan kloroform. BIOSINTESIS FLAVONOID Pola biosintesa pertama kali disarankan oleh Birch, yaitu : pada tahap-tahap pertama flavonoida suatu unit C6-C3 berkombinasi dengan tiga unit C2 menghasilkan unit C6-C3-(C2+C2+C2). Kerangka C15 yang dihasilkan dari kombinasi ini telah mengandung gugus-gugus fungsi oksigen pada posisi-posisi yang diperlukan. Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 24

Cincin A dari struktur flavonoida berasal dari jalur poliketida, yaitu kondensasi dati tiga unit sasetat atau malonat, sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propana berasal dari jalur fenilpropanoida (jalur shikimat). Sehingga kerangka dasar karbon dari flavonoida dihasilkan dari kombinasi antara dua jenis biosintesa utama untuk cincin aromatik yaitu jalur shikimat dan jalur asetat-malonat. Sebagai akibat dari berbagai perubahan yang disebabkan oleh enzim, ketiga atom karbon seperti dari rantai propana dapart menghasilkan berbagai gugus fungsi seperti ikatan rangkap, gugus hidroksil, gugus karbonil dan sebagainya. Flavonoid terdapat secara universal pada tanaman sebagai kelompok tunggal senyawa cincin oksigen yang terbesar. Terdapat dalam berbagai warna pada jaringan tanaman, dan retenoid misalnya, memiliki sifat insektisidal. Kerangka dasarnya terdapat pada flavon, seperti (5.104); kebanyakkan variasinya pada pola itu adalah berasal dari hidroksilasi (dan O-metilasi dan pembentukkan glukoside), dan oksidasi cincin B, seperti terdapat pada anthosianidin [seperti (5.111)]. Beberapa variasi berikutnya berkaitan dengan pengaturan ulang pada cincin B yang terdapat pada flavon [seperti (5.117)], dan retenon [seperti (5.118)]. Pola oksigenasi yang diperlihatkan pada (5.104) sifat karakteristik dan dapat dirunut kembali ke asalnya sistem itu, yang tiga unit asetat yang tergabung kepalake-ekor (cincin A) dan suatu fragmen p-kuomaril [seperti (5.100): cincin C dan B). Tahapan kunci dalam biosintesis semua flavonoid dicapai dengan pembentukan suatu zat antara kalkon [seperti (5.102)] flavon [seperti (5.103)].

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 25

Pelabelan serta bukti-bukti enzim yang berkaitan dengan pembentukan khalkon, berlangsung melalui kondensasi p-koumaril koenzim A dengan tiga unit malonil KoA ( asetil KoA); kalkon adalah zat antara pertama yang teridentifikasi (skema 5.15). Interkonversi kalkon-flavanon diperlihatkan bersifat streospesifik seperti diperlihatkan dalam skema 5.15. Suatu jenis kalkon yaitu ekinatin (5.113), memperlihatkan pola hidroksilasi yang tidak umum, karena fungsi keton tak jenuh dalam kalkon normal telah mengalami pertukaran (transpose); transposisi terjadi pada kalkon (5.112). Pola hidroksilasi kalkon dapat dibedakan yaitu yang dengan gugus-gugus hidroksi seperti (5.102) yang dikonversi ke 5,7-dihidroksi flavonoid [seperti (5.104)], dan yang dengan gugus-gugus hidroksi pada C-2 dan C-4 saja [misalnya satu oksigen hilang dari C-6 pembentukkan kalkon, lihat (5.102)] secara selektif menghasilkan 7-hidroksi-flavonoid [lihat (5.104)]. Pengikatan kalkon ke flavonoid telah dibuktikan menggunakan prekursor berlabel ganda. Bukti-bukti dari eksperimen pemberian prekursor menunjukkan bahwa gugus hidroksi ekstra yang terdapat pada cincin C, misalnya pada kuersitin (5.109) diintroduksikan setelah tahapan biosintesis khalkon. Namun penelitian dengan enzim yang diisolasi, menunjukkan bahwa beberapa kalkon sintetase menerima baik ester KoA p-kuomaric-acid dan kafeat sebagai substrat dan penerima beberapa substrat, tergantung pada pH. Siklisasi khalkon [seperti (5.102)] menghasilkan flavanon [seperti (5.103)] dikatalis oleh khalkon isomerase. Hidroksilasi pada C-3 flavanon, misalnya naringenin (5.103) yang menghasilkan dihidrokaempferol (5.106) secara streospesifik, dikatalis oleh suatu oksigenasi yang spesifik; substrat dengan suatu gugus hidroksi tambahan, pada C-3 [lihat (5.103)], juga dapat diterima.

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 26

Penyelidikan dengan kultur suspensi sel yang dilakukan pada suatu jenis tanaman yang bernama parsley memberikan informasi tentang enzim yang terlibat di dalam biosintesis apiin (5.105) dari fenilalanin. Alur yang berlangsung melalui flavanon (5.103) digambarkan pada akema di atas. Dihidroflavonol [seperti (5.106)] merupakan zat antara telah dikonfirmasikan flavonoid lainnya. Ini disajikan untuk biosintesis sianidin [seperti (5.111)] dan kuersitin [seperti (5.109)] dalam skema; dihidrokaemferol [seperti (5.106)] merupakan prekursor yang sangat bagus dan peranannya sebagai zat antara telah dikonfirmasikan dalam eksperimen-eksperimen yang menggunakan kultur sel. Katekin [seperti (5.108)] serta metabolit-metabolit yang terkait dibiosintesis seperti tampak pada skema di atas. Klorflavonin [seperti (5.115)] adalah suatu falvonoid baru yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus candidus. Biosintesisnya berbeda sekali dengan flavonoid tanaman. Asam benzoat tampaknya berfungsi sebagai unit starter yang ditambah dengan empat unit asetat [seperti (5.114)].

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 27

Pembentukkan

isoflavonoid,

misalnya

genistein

[seperti

(5.117)],

menyangkut suatu penyusunan tulang kerangka flavonoid terlihat dalam misalnya, naringenin [seperti (5.103)]. Hal ini dibuktikan berlangsung dengan pergeseran 1,2 intramolekuler dari cincin C [seperti (5.103)]. Aktivitas isoflavon sintetase dapat mempengaruhi langkah biosintetik yang menonjol ini, misalnya (5.103) ke (107) didapat. Enzim itu adalah suatu monooksidase yang membutuhkan oksigen molekuler dan NADPH sebagai kofaktor. Pengaturan ulangnya diperkirakan terjadi seperti terlihat pada skema 1.6; (5.116) telah diidentifikasi secara tentatif sebagai suatu zat antara dehidrasinya menghasilkan genistein (5.117).

Rotenon (5.118) dan amorfirgenin (5.119) berasal dari alur flavanonisoflavon (skema 5.15 dan 5.16) dengan langkah-langkah khusus di atas zatantara isoflavon sederhana. Pelabelan rotenon [(5.118); O, =
14

C] oleh fenilalanin

(melalui asam sinamat dan p-Coumaric acid) seperti yang digambarkan. Pekerjaan Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 28

yang hati-hati telah memungkinkan pengungkapan yang dirinci atas alur biosintetik rotenoid, misalnya (5.118). Atom karbon ekstra secara oksidatif berasal dari suatu gugus metoksi, misalnya (5.120) adalah suatu zatantara. Rotenon (5.118) adalah prekursor untuk amorfirgenin (5.119).

DAFTAR PUSTAKA http://d.scribd.com/docs/1a1meenrsfe50qxr3lb.pdf ( Diakses pada 30 april 2012 ) http://www.chem.qmul.ac.uk/iubmb/enzyme/reaction/phenol/flavonoid.html. ( Diakses pada 2 april 2012 ) Markham, K.R.. 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Bandung : ITB.

Marya Ulfa (14) |FLAVONOID 29