Anda di halaman 1dari 3

Sistem Renin Angiotensin Aldosteron

a. Komponen-Komponen Sistem Renin Angiotensin Renin disintesis dan disimpan dalam bentuk inaktif yang disebut prorenin di dalam sel-sel juxtaglomerular di ginjal. Sel juxtaglomerular merupakan modifikasi dari sel-sel otot polos yang terletak di dinding arteriol aferen, tepat di proksimal glomeruli. Bila tekanan arteri turun, reaksi intrinsik di dalam ginjal itu sendiri menyebabkan banyak molekul prorenin di dalam sel juxtaglomerular terurai dan melepaskan renin. Renin bekerja secara enzimatik pada protein plasma lain, yaitu globulin yang disebut substrat renin (atau angiotensinogen) untuk melepaskan peptida 10 asam amino, yaitu angiotensin I. Angiotensin I memiliki sifat vasokonstriktor ringan. Renin menetap dalam darah selama 30 menit sampai 1 jam dan terus menyebabkan pembentukan angiotensin I yang lebih banyak selama waktu tersebut. Dalam beberapa detik hingga beberapa menit setelah pembentukan angiotensin I, terdapat dua asam amino yang dipecah dari angiotensin I untuk pembentukan angiotensin II, yaitu peptida dengan 8 asam amino. Perubahan ini hampir seluruhnya terjadi di paru sementara darah yang mengalir melalui pembuluh kecil di paru, dikatalisis oleh suatu enzim yaitu angiotensin converting enzyme (ACE), yang terdapat pada endotelium pembuluh paru. Angiotensin II adalah vasokonstriktor yang sangat kuat dan dapat mempengaruhi fungsi sirkulasi. Angiotensin II hanya menetap dalam darah selama 1 atau 2 menit karena angiotensin II secara cepat akan diinaktivasi oleh berbagai enzim darah dan jaringan yang secara bersama-sama disebut angiotensinase. Selama angiotensin II ada di dalam darah, maka angiotensin II memiliki dua pengaruh utama yang dapat meningkatkan tekanan arteri, yaitu vasokontriksi di berbagai daerah di tubuh terutama di arteriol dan jauh lebih lemah di vena, dan dengan meurunkan ekskresi garam dan air oleh ginjal.

b. Pengaruh Sistem Renin Angiotensin terhadap Fungsi Ginjal Peningkatan pembentukan angiotensin II membantu mengembalikan tekanan darah dan volume ekstrasel menjadi normal dengan meningkatkan reabsorpsi natrium dan air dari tubulus ginjal melalui tiga efek utama, yaitu: 1. Angiotensin II merangsang sekresi aldosteron yang dapat meningkatkan reabsorpsi natrium, yaitu dengan cara merangsang pompa natrium kalium ATPase pada sisi

basolateral dari membran tubulus koligentes kortikalis. Aldosteron juga meningkatkan permeabilitas natrium pada sisi luminal membran. 2. Angiotensin II mengkonstriksikan arteriol pada ginjal, dengan demikian menurunkan aliran darah yang melalui ginjal. Sebagai hasilnya, lebih sedikit cairan yang disaring melalui glomerulus masu ke dalam tubulus. Selain itu aliran darah yang lambat menurunkan tekanan di kapiler peritubulus, yang menyebabkan reabsorpsi cairan yang cepat yang berasal dari tubulus. 3. Angiotensin II secara langsung merangsang reabsorpsi natrium di tubulus proksimal, lengkung Henle, tubulus distal dan tubulus koligentes. Salah satu efek langsung dari angiotensin II adalah merangsang pompa natrium kalium ATPase pada membran basolateral sel epitel tubulus. Efek kedua adalah merangsang pertukaran natrium hidrogen dalam membran luminal, terutama dalam tubulus proksimal.

c. Pengaruh Sistem Renin Angiotensin terhadap Variasi Asupan Garam Pengaruh awal kenaikan asupan garam adalah terjadinya kenaikan volume cairan ekstrasel yang dapat meningkatkan tekanan arteri. Kemudian kenaikan tekanan arteri akan menyebabkan meningkatnya aliran darah yang melalui ginjal, yang mengurangi kecepatan sekresi renin sampai ke kadar yang sangat rendah dan secara berurutan akan menurunkan retensi garam dan air oleh ginjal, mengembalikan cairan ekstrasel hampir ke normal, dan akhirnya mengembalikan tekanan arteri juga hampir ke normal. Bila asupan natrium meningkat di atas normal, sekresi renin menurun, menyebabkan penurunan pembentukan angiotensin II. Penurunan pembentukan angiotensin II ini menurunkan reabsorpsi natrium dan air oleh tubulus, sehingga meningkatkan ekskresi natrium dan air oleh ginjal. Hasil akhirnya adalah memperkecil peningkatan volume cairan ekstrasel dan tekanan arteri yang akan terjadi bila asupan natrium meningkat. Penurunan pembentukan angiotensin II mengurangi pembentukan aldosteron sehingga menurunkan reabsorpsi tubulus, dan membuat ginjal mengekskresikan natrium dalam jumlah yang lebih besar. Sebaliknya, bila asupan natrium menurun di bawah normal, peningkatan kadar angiotensin II menyebabkan retensi natrium dan air, dan menghindari penurunan tekanan darah arteri. Peningkatan kadar angiotensin II juga merangsang peningkatan sekresi aldosteron, yang kemudian membantu untuk menurunkan ekskresi natrium dalam urin. Jadi, sistem renin angiotensin merupakan mekanisme umpan balik otomatis yang membantu mempertahankan tekanan arteri pada nilai normal atau yang mendekati nilai

normal apabila asupan garam meningkat atau apabila asupan garam menurun hingga di bawah normal, akan terjadi efek yang berlawanan.

Sumber: Guyton, A.C., Hall, J.E. (2008). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11. Jakarta : EGC Tortora, G.J., Derrickson, B. (2009). Principles of Anatomy and Physiology, 12th Ed. New Jersey : John Wiley & Sons, Inc