Anda di halaman 1dari 10

I.

1 Latar belakang Kestabilan suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal ini penting mengingat suatu obat atau sediaan farmasi biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan memerlukan waktu yang lama sampai ketenangan pasien yang membutuhkannya. Obat yang disimpan dalam jangka waktu yang lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan hasil urai dari zat tersebut bersifat toksik sehingga dapat membahayakan dan dampak negatif bagi jiwa pasien. Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kestabilan suatu zat dapat sehingga dapat dipilih suatu kondisi dimana kestabilan obat optimum. Penjelasan diatas menjelaskan kepada kita betapa pentingnya kita mengetahui pada keadaan yang bagaiman suatu obat tersebut aman dapat tahan atau bertahan lama, sehingga obat tersebut dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama tanpa menurunkan khasiat obat tersebut. Olah karena itu pada percobaan ini dilakukan atau dimaksudkan dalam salah satu percobaan pada paraktikum farmasi fisika, sehingga setelah melakukan percobaan stabilitas obat, praktikum dapat mengetahui bagaimana karateristik obat tersebut, atau pada keadaan yang bagaimana suatu obat dapat bertahan lebih lama, serta mampu memperkirakan kadaluarsa suatu obat. II.1 Teori umum Pada umunya penentuan kestabilan suatu zat dapat dilakukan dengan cara kinetika kimia. Cara ini tidak memerlukan waktu yang lama sehingga praktis digunakan dalam bidang farmasi. Hal-hal yang penting diperhatikan dalam penentuan kestabilan suatu zat dengan cara kinetika kimia adalah (Anonim, 2004) : 1. Kecepatan reaksi 2. Farktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi

3. Tingkat reaksi dengan cara penentuannya Stabilitas suatu obat adalah suatu pengertian yang mencakup masalah kadar obat yang berkhasiat. Batas kadar obat yang masih bersisa 90% tidak dapat lagi disebut sub standar waktu diperlukan hingga tinggal 90% disebut umur obat. ( Alfred Martin, 1983 ) Ada bebrapa pendekan untuk kestabilan dari preparat-preparat farmasi yang mengandung obat-obat yang cenderung mengurai dengan hidrolisis. Barang kali paling nyata adalah reduksi atau eliminasi air dari sistem farmasi. Bahkan bentuk-bentuk sediaan padat yang mengandung obat-obat labil dalam air dari harus dilindungi dari kelembaban atmosfer. Ini dapat dibantu dengan menggunakan suatu penyalutan pelindung tahan air menyelimuti tablet atau dengan menutup dan menjaga obat dalam wadah yang tertutup rapat. (Lachman, 1994) Suatu obat kestabilannya dapat dipengaruhi juga oleh pH, dimana reaksi penguraian dari larutan obat dapat dipercepat dengan penambahan asam (H+) atau basa (OH-) dengan menggunakan katalisator yang dapat mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi dan tidak mempengaruhi hasil dari reaksi. (Ansel, 1989) Kestabilan dari suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal itu penting mengingat sediaannya biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan juga memrlukan waktu yang lama untuk sampai ketangan pasien yang membutuhkannya. Oabt yang disimpan dalam jangka waktu yang lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan hasil urai dari zat tersebut bersifat toksik sehingga dapat membahaykan jiwa pasien. Oleh karena itu, perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kestabilan suatu zat hingga dapat dipilih suatu kondisi dimana kestabilan obat tersebut optimum. (Anonim, 2004)

Stabilitas fisik dan kimia bahan obat baik dan trsendiri dengan bahan bahan dari formulasi yang merupakan kriteria paling penting untuk menentukan suatu stabilitas kimia dan farmasi serta mempersatukannya sebelum memformulasikan menjadi bentuk-bentuk sediaan. (Ansel, 1989) Untuk obat-obat tertentu 1 bentuk kristal atau polimorf mungkin lebih stabil dari pada lainnya, hal ini penting supaya obat dipastikan murni sebelum diprakarsai percobaan uji stabilitasnya dan suatu ketidakmurnian mungkin merupakan katalisator pada kerusakan obat atau mungkin menjadikan dirinya tidak akan stabil dalam mengubah penampilan fisik bahan obat. (Parrot, 1968) Kestabilan suatu sediaan farmasi dapat dievaluasi dengan test stabilitas dipercepat dengan mengamati perubahan kosentrasi pada suhu yang tinggi. (Lachman, 1994) Kestabilan suatu obat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktore antara lain panas, cahaya, oksigen, kelembaban, pengaruh pH dan mikroorganisme. Disini kestabilan suatu obat dapat dipercepat dengan meningkatkan suhunya. Dengan demikian batas waktu kadaluarsa dari suatu obat dapat diketahui dengan tepat. (Anonim, 2004) Interkonversi bentuk hidrat dan anhidrat dari ampicilin dapat memiliki efek yang berkaitan pada laju pelarutan dari formulasi berarti berkaitan dengan ketersediaan hayati. Bentuk dari anhidrat lebih larut dibandingkan dengan berat murni kelarutannya pada suhu 37o C telah ditentikan bagian fungsi dari pil untuk ke suatu bentuk kristal. (A.C. Kenneth, 1991) Perbedaan bahan obat karena susunan kimianya masing-masing memasukkan pengaruhnya dalam sistem biologi. Beberapa bulan dihubungkan dengan lainnya secara kimiawi dan memasukkan pengaruh yang sama. Modifikasi bahan obat yang ada secara kimia dapat menghasilkan senyawa baru dengan kelebihan-kelebihan terapeutiknya dibandingkan dengan

senyawa-senyawa yang paten. Jadi suatu ciri senyawa mungkin diolah secara sintesis dari suatu susunan aktifitas dasar farmakologi untuk mendapatkan bahan-bahan obat yang lebih baik dalam satu kelompok senyawa . senyawa-senyawa yang mempunyai kelebihan terhadap lainnya akan didahulukan pengembangan & pemakaian.(Ansel, 1989) PEMBAHASAN Suatu sediaan farmasi dalam hal ini adealah obat sangat perlu ndiketahui kestabilannya, disebabkan obat biasanya diproduksi dalam jumlah yang sangat banyak dan memerlukan waktu yang lama untuk sampai ketangan pasien (masyarakat), sehingga dikhawatirkan dalam jangka waktu ya ng lama tersebut, obat ini akan mengalami penguraian yang mana zat urai tersebut dapat bersifat toksik sehingga dapat membahayakan jiwa pasien. Oleh karena itu perlu diketahui faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi kestabilan suatu zat sehingga dapat dipilih suatu kondisi dimana kestabilan obat tersebut optimum. Percobaan stabilitas obat ini menggunakan Ampicilin dry sirup, dengan melihat pengaruh yang disebabkan oleh perbedaan suhu, berdasarkan percobaan Ampicilin dapat terurai pada suhu yang tinggi, sebab pada suhu tinggi reaksi dari degradasi atau penguraian akan berlangsung dengan cepat. Pada percobaan ini, ampicilin dry sirup dilarutkan dalam larutan dapar pH 8 sampai homogen (sebanyak 50 ml), lalu diambil sebanyak 4 ml kemudian dicukupkan sampai 100 ml. Hal ini dimaksudkan untuk dapat menentukan pengaruh suhu terhadap kestabilan suatu obat. Adapun tujuan dilakukan pada berbagai suhu yaitu pada suhu 40oC, 60oC, dan 80oC. Ini dimaksudkan untuk membedaklan atau mengetahui pada suhu berapa obat dapat stabil dengan baik dan pada suhu berapa obat akan terurai dengan cepat.

Penggunaan indikator kanji pada saat titrasi yaitu untuk menentukan titik akhir titrasi dari ampicilin dimana larutan kanji dengan iodium yang dititrasi dengan larutan baku Na2S2O3 dapat membentuk suatu senyawa absorbsi dengan memberikan perubahan warna dari kuning kecoklatan menjadi bening. Percobaan ini menggunakan iodium bertujuan untuk mempercepat terjadinya reaksi sehingga akan ada keseimbangan antara iodium dengan iodida, yang mana iodida merupakan suatu pereduksi yang diproduksi dari titrasi dengan larutan baku Na2S2O3 yang dapat membentuk iodium. Percobaan ini menggunakan berbagai bahan diantaranya adalah dapar pH untuk mempertahankan harga pH, NaOH dapat memberikan suasana basa dan HCl dapat memberikan suasana asam dan menetralkan kelebihan basa dari NaOH. Tujuan diberikannya suasana asam dan basa karena ampicilin dry sirup dapat mengalami hidrolisis terkatalisis pada asam umum dan basa umum, menyebabkan reaksi terjadi dengan cepat. Alasan menggunakan suhu yang tinggi, karena bila kita ingin mengetahui batas kestabilan suatu obat (batas kadaluarsanya), maka obat harus disimpan dalam waktu yang lama sampai obat tersebut berubah, hal in tentu tidak bisa karena keterbatasan waktu, maka digunakanlah suhu tinggi karena uji kestabilan obat dapat dipercepat dengan menggunakan perubahan suhu atau menggunakan suhu yang tinggi. Percobaan ini menggunalkan titrasi tidak langsung disebabkan karena penambahan indikator dilakukan pada saat sebelum tiutk akhir titrasi dimana warna kuninghampir memucat disababkan kanji membentuk senyawa yang kompleks.
..

Pembahasan Pada percobaan ini larutan titran dibuat dengan mencampurkan asetosal 4% dan Asam sitrat 10% dalam 100ml. Larutan dibuat sebanyak 1000 ml tanpa mengurangi kadar tersebut yang telah ditentukan. Larutan dibuat dengan melarutkan asetosal dengan etanol secukupnya kemudian dicampurkan dengan larutan natrium sitrat (natrium sitrat dilarutkan dengan aquadest) dan di-add-

kan dengan aquadest sampai 1000ml. Asetosal yang berupa serbuk hablur putih dilarutkan dalam alkohol bukan dalam aquadest karena asetosal sukar larut dalam aquadest tetapi mudah larut dalam etanol. Sedangkan Natrium sitrat berupa hablur tidak berwarna atau serbuk halus putih dilarutkan dengan pembawa aquadest bukan dengan etanol karena Natrium sitrat dalam etanol praktis tidak larut tetapi mudah larut dalam air. Larutan dibuat dalam labu ukur 1000 ml agar volumenya lebih tepat dan lebih akurat karena labu ukur merupakan alat kimia yang mempunyai nilai akurasi tinggi dibandingkan dengan gelas beaker. Penentuan stabilitas obat dilakukan dengan melakukan titrasi zat uji dengan larutan baku NaOH. Sebelum dititrasi larutan titer (sampel) dipanaskan terlebih dahulu dalam penangas air sampai suhu 30oC. Pemanasan dilakukan bukan dengan api langsung melainkan dengan penangas air karena jika dilakukan dengan api langsung akan menyebabkan kenaikan suhu yang sangat cepat, sementara dalam praktikum ini dibutuhkan suhu yang konstan. Indikator yang digunakan adalah indikator fenolftalein yang memiliki rentang pH 8,0-10,0. Titrasi dihentikan apabila telah mencapai titik akhir titrasi yang ditandai dengan berubahnya warna larutan dari tidak berwarna menjadi warna merah muda atau pink-rose yang konstan. Perubahan warna ini merupakan tanda bahwa larutan baku primer telah bereaksi sempurna dengan larutan baku sekunder. Titrasi dilakukan duplo untuk memperoleh data yang lebih akurat. Berdasarkan teori volume titrasi pertama dengan volume titrasi kedua tidak boleh mempunyai rentang atau selisih diatas 0,5ml. Oleh karena itu titrasi harus dilakukan dengan benar-benar teliti sehingga hasil yang diperoleh semaksimal atau seakurat mungkin. Sebelum digunakan NaOH terlebih dahulu dibakukan dengan asam oksalat 0,1N dan indikator fenolftalein, hal ini bertujuan untuk mengetahui kadar sebenarnya dari NaOH yang digunakan, yang nantinya digunakan dalam perhitungan. Titrasi larutan zat uji dilakukan dengan suhu yang tetap (30oC) tetapi dengan waktu pemanasan yang berbeda (0menit, 30menit, 60menit, 90menit, dan 120menit). Tujuan dari perbedaan waktu pemanasan ini adalah untuk mengetahui seberapa besar energi aktivasi yang diperlukan untuk masing-masing zat uji. Energi aktivasi dapat digunakan untuk memperkirakan kestabilan dari komponen titer atau sampel (Aspirin). Dari data pengamatan yang diperoleh, volume titran yang dibutuhkan untuk menitrasi masing-masing larutan zat uji tidak jauh berbeda satu sama lain atau hanya mempunyai selisih antara 0-0,5 ml hal ini dikarenakan zat uji yang digunakan/dititrasi adalah sama baik dalam volume maupun suhu hanya yang membedakan adalah lama pemanasan. Metode pengujian stabilitas obat dengan kenaikan temperatur tidak dapat diterapkan untuk semua jenis sediaan terutama untuk produk yang mengandung bahan pensuspensi seperti metilselulosa yang menggumpal pada pemanasan, protein yang mungkin didenaturasi, salep dan suppositoria yang yang meleleh pada kondisi temperatur yang sedikit dinaikkan. Oleh karena itu, praktikan harus teliti dalam memilih metode pengujian stabilitas suatu obat atau suatu sediaan obat. Selain temperatur, stabilitas obat dapat dipengaruhi juga oleh efek pengemasan dan penyimpanan. Sediaan berupa larutan masa simpannya relatif lebih singkat dibandingkan dengan bentuk sediaan padat, karena sediaan larutan mudah terurai dan bereaksi dengan keadaan sekitarnya atau lingkungannya (suhu dan cahaya). Misalnya, Jika suatu larutan obat disimpan dalam kondisi terlalu panas, ada kemungkinan botol(yang merupakan wadah umum untuk larutan) berinteraksi atau

bereaksi dengan obat-obat yang terdapat di dalam botol tersebut. Selain itu perlu diperhatikan juga, bahwa jika suatu sediaan obat berupa larutan telah dibuka dari kemasannya atau wadahnya, stabilitas obat tersebut tidak sama lagi seperti stabilitas obat semula yang masih tersegel(masih dalam kemasan) sehingga waktu kadaluarsanya pun tidak akan sama persis seperti yang tertera pada kemasan obat tersebut karena obat yang telah dibuka segelnya (wadahnya/botolnya) akan berinteraksi langsung dengan udara luar dan keadaan sekitarnya yang akan menurunkan kestabilan obat tersebut. Kesimpulan Dari data pengamatan dan pembahasan yang ada diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa: Stabilitas obat sangat di pengaruhi oleh perubahan suhu, semakin tinggi suhu maka stabilitas suatu obat menurun. Semakin lama pemanasan maka semakin turun stabilitas obat DAFTARPUSTAKA Alfred Martin, James Swarbrick, dan Arthur Cammarata. 2008. Farmasi Fisik: Dasar-Dasar Farmasi Fisik Dalam Ilmu Farmasetika Edisi Ketiga, Jilid 2. Jakarta: UI-Press Anonym. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan Indonesia Giancoli, Douglas C. 1998. Fisika Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta : Erlangga Lachman Leon. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jilid III. Edisi III. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Prof. Dr. Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. Jakarta : Rineka Cipta SK Dogra, S. Dogra. 1990. Kimia Fisika dan Soal-Soal. Jakarta : UI-Press
Definisi stabilitas Stabilitas adalah kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan. Bagaimana sih cara menentukan tanggal kadaluarsa suatu obat? Uji stabilitas ini bertujuan untuk membuktikan bagaimana mutu zat aktif atau produk obat berubah seiring waktu, dibawah pengaruh faktor lingkungan seperti temperatur, kelembaban, dan cahaya. Uji stabilitas sendiri ada 2 jenis, yaitu uji stabilitas dipercepat dan uji stabilitas jangka panjang. Pada uji stabilitas dipercepat, obat disimpan pada kondisi ekstrim di suatu lemari uji yang disebut climatic chamber, obat dalam kemasan aslinya dipaparkan pada suhu 40 2oC dan kelembanban 75 5% sedangkan uji stabilitas jangka panjang, obat dipaparkan pada suhu 2520C dan kelembaban 605%. Pada bulanbulan tertentu, obat yang disimpan dalam lemari climatic chamber (pada uji stabilitas dipercepat) maupun pada uji stabilitas jangka panjang, akan diuji kualitas fisika, kimia maupun mikrobiologinya. Data hasil pengujian tersebut akan diolah secara statistika,

sampai akhirnya kita menemukan tanggal kadaluarsa (masa edar) secara kuantitatif, dan tanggal tersebutlah yang akan dijadikan patokan kadaluarsa obat yang nantinya harus dicantumkan dalam kemasan obat

Suatu sediaan dibuat dalam bentuk tablet adalah untuk memberikan obat melalui mulut dalam bentuk yang memadai, dalam jumlah yang tepat atau melalui waktu yang tepat, ditampat yang diinginkan serta mempunyai integritas kimia yang dilindungi. DASAR TEORI Pada pembuatan obat harus diketahui waktu paro suatu obat. Waktu paro suatu obat dapat memberikan gambaran stabilitas obat, yaitu gambaran kecepatan terurainya obat atau kecepatan degradasi kimiawinya. Panas, asam-asam, alkali-alkali, oksigen, cahaya, dan faktor-faktor lain dapat menyebabkan rusaknya obat. Mekanisme degradasi dapat disebabkan oleh pecahnya suatu ikatan, pergantian spesies, atau perpindahan atom-atom dan ion-ion jika dua molekul bertabrakan dalam tabung reaksi (Moechtar, 1989). Ada dua hal yang menyebabkan ketidakstabilan obat, yang pertama adalah labilitas dari bahan obat dan bahan pembantu, termasuk struktur kimia masing-masing bahan dan sifat kimia fisika dari masing-masing bahan. Yang kedua adalah faktor-faktor luar, seperti suhu, cahaya, kelembaban, dan udara, yang mampu menginduksi atau mempercepat reaksi degradasi bahan. Skala kualitas yang penting untuk menilai kestabilan suatu bahan obat adalah kandungan bahan aktif, keadaan galenik, termasuk sifat yang terlihat secara sensorik, secara miktobiologis, toksikologis, dan aktivitas terapetis bahan itu sendiri. Skala perubahan yang diijinkan ditetapkan untuk obat yang terdaftar dalam farmakope. Kandungan bahan aktif yang bersangkutan secara internasional ditolerir suatu penurunan sebanyak 10% dari kandungan sebenarnya (Voight, R., 1994) Proses laju merupakan hal dasar yang perlu diperhatikan bagi setiap orang yang berkaitan dengan bidang kefarmasian. Beberapa prinsip dan proses laju yang berkaitan dimasukkan dalam rantai peristiwa ini: a. Kestabilan dan tak tercampurkan Proses laju umumnya adalah sesuatu yang menyebabkan ketidakaktifan obat melalui penguraian obat, atau melalui hilangnya khasiat obat karena perubahan bentuk fisik dan kima yang kurang diinginkan dari obat tersebut. b. Disolusi Yang perlu diperhatikan dari faktor disolusi adalah kecepatan berubahnya obat dalam bentuk sediaan padat menjadi bentuk larutan molekular. c. Proses absorpsi, distribusi, dan eliminasi Beberapa proses ini berkaitan dengan laju absorbs obat ke dalam tubuh, laju distribusi obat dalam tubuh, dan laju pengeluaran obat setalah proses ditribusi dengan berbagai faktor, seperti metabolisme, penyimpanan dalam organ tubuh, dan melalui jalur-jalur pelepasan. d. Kerja obat pada tingkat molekular obat Obat dapat dibuat dalam bentuk yang tepat dengan menganggap timbulnya respon dari obat merupakan suatu proses laju. (Martin, 1990)

PEMBAHASAN Percobaan stabilitas obat yang dilakukan pada praktikum kali ini tidak menggunakan UV Spektrometer tetapi menggunakan metode titrasi bertingkat dengan tujuan mengukur konsentrasi bahan obat yang terurai dengan pengaruh pemanasan, dalam hal ini asetosal menjadi asam salisilat. Menurut Farmakope Indonesia edisi III, prosedur penetapan kadar asetosal adalah sebagai berikut: Timbang seksama asetosal 500 mg, larutkan dalam 10 ml etanol 95% P. Titrasi dengan NaOH 0,1 N dan dengan indikator larutan PP (Anonim, 1979). Titik akhir titrasi dengan NaOH tercapai saat terbentuk warna merah jambu yang mantap pada larutan. Warna ini disebabkan oleh terbentuknya Senyawa Natrium Salisilat hasil reaksi asetosal (asam asetilsalisilat) dengan NaOH yang menyebabkan pH larutan menjadi basa lemah, sehingga indikator PP memberikan perubahan warna (Indikator PP berubah warna menjadi merah jambu pada rentang pH basa lemah, yaitu 8-10). Pada pemanasan, larutan Natrium salisilat akan terurai menjadi asam salisilat sebagai salah satu produknya yang diukur konsenstrasinya dalam praktikum kali ini. Penambahan NaOH berlebih sebelum pemanasan bertujuan untuk mereaksikan asam salisilat dengan NaOH bebas tersebut. Jika konsentrasi asam salisilat dibandingkan terhadap suhu pemanasan dan lama pemanasan, kemudian diplotkan dalam grafik, maka grafik yang terbentuk adalah sebagai berikut: Konsentrasi asam salisilat dalam larutan mengalami peningkatan dengan adanya pemanasan dan peningkatan temperatur, terbukti konsentrasi asam salisilat pada pemanasan suhu 60oC selama 60 menit merupakan konsentrasi tertinggi (1,09%). Dalam pemanasan, sebagian molekul NaOH berikatan dengan molekul asam salisilat yang terbentuk dalam larutan. Pada titrasi setelah pemanasan dengan baku sekunder H2SO4, volume H2SO4 yang diperlukan sampai TAT kedua merupakan volume NaOH bebas yang tidak bereaksi dengan molekul asam salisilat, sehingga molekul tersebut bereaksi dengan molekul H2SO4, sehingga volume NaOH yang bereaksi dengan asam salisilat dapt dihitung dengan mengurangi volume NaOH berlebih yang ditambahkan sebelum pemanasan dengan volume H2SO4 yang digunakan. Volume NaOH yang bereaksi dengan asam salisilat dapat digunakan untuk menghitung konsentrasi asam salisilat. Suhu pemanasan dan konsentrasi asam salisilat pada grafik konsentrasinya seharusnya membentuk suatu grafik yang linear (kenaikan suhu dan kenaikan konsentrasi berbanding lurus), jika grafik tidak linear, bisa dipastikan terjadi beberapa kesalahan dalam percobaan, misalnya salah melihat meniskus pada buret, kesalahan dalam pemipetan larutan, dan kesalahan dalam titrasi (misalnya: buret bocor). Konsentrasi asam salisilat harus dihitung untuk mengetahui jumlah asetosal yang terurai karena jumlah asetosal yang terurai adalah jumlah asam salisliat, dengan kata lain konsentrasi asam salisilat yang dihitung merupakan konsentrasi asetosal yang terurai. Asetosal yang terurai pada pemanasan menghasilkan asam salisilat dan air sebagai produk uraiannya. Fungsi asetosal sebagai bahan obat adalah sebagai analgetik antipiretik. Natriun tetraborat merupakan larutan baku primer asam sulfat yang juga berfungsi sebagai antiseptik ekstern, sedangkan asam oksalat merupakan larutan baku primer dari NaOH. Pada prosedur resmi pembakuan NaOH Farmakope Indonesia edisi III, digunakan larutan Kalium Biftalat sebagai larutan baku primer, namun pada praktikum ini digunakan asam

oksalat karena jauh lebih mudah didapat dan lebih murah. 7. KESIMPULAN Stabilitas dan degradasi kimiawi obat dipengaruhi beberapa faktor, antara lain: sifat fisika kimia bahan obat, suhu, cahaya, adanya penambahan senyawa-senyawa kimia lain, dan perubahan pH pada bahan obat. 8. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Martin. A, 1993, Farmasi Fisika, Edisi III, Jilid II, Indonesia University Press. Moechtar, 1989, Farmasi Fisika : Bagian Larutan dan Sistem Dispersi, Gadjah Mada University Press, Jogjakarta. Voight, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Gadjah Mada University Press, Jogjakarta