Anda di halaman 1dari 5

Penerbitan SP2D

Satker dapat memonitor penyelesaian SP2D sebagaimana tersaji dibawah ini. Penyelesaian SP2D hanya membutuhkan waktu satu jam apabila SPM yang disampaikan benar dan bukti pendukungnya lengkap dan benar. SPM yang diajukan ke KPPN digunakan sebagai dasar penerbitan SP2D. Petugas FO yang menerima SPM beserta lampirannya akan mengajukan pengujian seperti dibawah ini. jika SPM satker setelah pengujian tersebut tidak ditemukan permasalahan maka akan langsung diproses menjadi SP2D paling lama 1 jam, tentunya jika ditemukan permasalahan maka akan dikembalikan untuk diperbaiki.

A. Pengujian SPM dilaksanakan oleh KPPN mencakup pengujian yang bersifat substansif dan formal.
1.
o o o o

Pengujian substantif dilakukan untuk: menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM; menguji ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang menguji dokumen sebagai dasar penagihan (Ringkasan Kontrak/SPK, Surat menguji surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau

ditunjuk dalam SPM tersebut; Keputusan, Daftar Nominatif Perjalanan Dinas); pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran;
o

menguji faktur pajak beserta SSP-nya; Pengujian formal dilakukan untuk: mencocokkan tanda tangan pejabat penandatangan SPM dengan spesimen memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf; memeriksa kebenaran dalam penulisan, termasuk tidak boleh terdapat cacat

2.
o

tandatangan;
o o

dalam penulisan.

B. Keputusan hasil pengujian ditindak lanjuti dengan :


1.
o

Penerbitan SP2D bilamana SPM yang diajukan memenuhi syarat yang ditentukan; Penerbitan SP2D wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai

berikut:

SP2D Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja sebelum awal

bulan pembayaran gaji. SP2D Non Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja setelah diterima
o o

SPM secara lengkap. SP2D UP/TUP/GUP dan LS paling lambat satu hari kerja setelah diterima SP2D ditandatangani oleh Seksi Perbendaharaan dan Seksi Bank/Giro Pos atau SP2D ditebitkan dalam rangkap 3 (tiga) yang disampaikan kepada: Lembar 1 : Kepada Bank Operasional. Lembar 2 : Kepada penerbit SPM dengan dilampiri SPM yang telah Lembar 3 : Sebagai pertinggal di KPPN (Seksi Verifikasi dan Akuntansi), Pengembaliaan SPM kepada penerbit SPM, apabila tidak memenuhi syarat untuk

SPM secara lengkap. Seksi Bendum.

dibubuhi Cap Telah diterbitkan SP2D tanggal . Nomor ). dilengkapi lembar ke-1 SPM dan dokumen pendukungnya. 2. diterbitkan SP2D. Pengembalian SPM sebagaimana dimaksud diatur sebagai berikut:
o

SPM Belanja Pegawai Non Gaji Induk dikembalikan paling lambat tiga hari kerja

setelah SPM diterima; SPM UP/TUP/GUP dan LS dikembalikan paling lambat satu hari kerja setelah SPM diterima.

Pengecekan Penerbitan SP2D


Satker dipersilahkan mengecek penerbitan SP2D dengan cara : 1. 2. Untuk penerbitan hari ini, apabila berada di KPPN Rantauprapat silahkan memantau Untuk SP2D hari sebelumnya atau hari ini jika petugas satker tidak di KPPN

melalui monitor penyelesaian SP2D yang tersedia di ruang Front Office; Rantauprapat silahkan melakukan permintaan melalui SMS Service kami. Untuk mengetahui status SPM yang diajukan, apakah masih proses atau sudah menjadi SP2D silahkan : Ketik : spm#kode satker#nomor karwas#nomor spm yang diminta#password Contoh : spm#527709#0001#00009#password

Rencana bahasan
1.jumlah sp2d yg diterbitkan selama 2011 2. identifikasi lama waktu penerbitan (bisa buat rata2 waktu penerbitan yg dibutuhkan) 3. sajian data2 pndukung knp ada sp2d terbit terlalu cepat atau terlalu lama 4. melihat faktor satkernya

5. pembanding negara lain 6.analisis kenyataan dng SOP.

Masalah keterlambatan tuh biasanya di akhir tahun cz volume spm masuk sangat banyak Ama spm yg masuknya mepet2 gitu Sama pemahaman satker dalam implementasi per-66

Kita mulai dengan munguak topik ini dengan melihat peraturan dasar yang digunakan oleh KPPN yaitu Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor : 66 tahun 2005 Tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara. Untuk lebih detilnya pembahasan ini akan kita bagi menjadi 2 tahap: PADA TINGKAT KANTOR / SATUAN KERJA Pada tingkat satker sendiri sebenarnya ada 2 tahap namun bagian ini sangat tipis jaraknya namun demikian sebenarnya perannya sangat vital sekali. Pejabat Pembuat Komitmen/Kuasa Pengguna Anggaran (PPK/KPA) Pada Perdirjen 66 tahun 2005 Bab III tentang Prosedur Penerbitan SPP Dan Pengajuan SPM pasal 4 dan pasal 5 dijelaskan tentang syarat - syarat persiapan dan pengajuan SPP kepada Pejabat Penandatangan SPM. SPP yang diterbitkan oleh KPA harus memenuhi beberapa syarat yang tersebut pada perdirjen diatas. Jadi semua administrasi mulai dari bukti pengerluaran berupa kuitansi, bukti setoran pajak berupa SSP, Kontrak kepada rekanan beserta Resume/Ringkasan Kontrak, BA Penyelesaian Pekerjaan, BA Serah Terima Pekerjaan/Barang, BA Pembayaran, dan semua arsip yang berkaitan dengan pencairan dana di proses/disiapkan pada tingkat PPK, Pejabat Penguji dan Penandatangan SPM (PP-SPM) Pada saat SPP dan kelengkapan telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku maka PP-SPM akan menerima dan menguji SPP tersebut yang di uji yaitu : 1. Menguji besarnya tagihan melebihi pagu dana DIPA atau tidak dan Prosentase Uang Persediaan (sudah diatas 75% apa belum) berarti dalam hal ini PP-SPM harus mempunyai kartu pengawasan UP dan Pengawasan Belanja masing - masing Mata Anggaran Pengeluran / AKUN (lampiran 14-1 dan 14-2 Perdirjen 66 tahun 2005; 2. Menguji prosentase pelaksanaan pekerjaan (kontrak) sudah sesuai atau belum dengan yang di tagihkan dalam SPP, dalam hal ini PP-SPM harus mempunyai kartu pengawasan kontrak yang terbagi dalam kolom pagu di antaranya nilai kontrak, uang muka kontrak, tagihan bulan lalu, tagihan bulan ini, tagihan sd bulan ini, sisa kontrak (lampiran 15 Perdirjen 66 tahun 2005);

3. Menguji setiap SPP Gaji Induk beserta kelengkapannya, dalam hal ini PP-SPM harus menggunakan Kartu Pengawasan Gaji Perpegawai (yang dapat dicetak dari aplikasi gaji GPP2009); 4.Menguji besarnya pajak (SPP GU) yang sudah disetor ke bank lewat SSP sudah sesuai apa belum besarnya pajak yang telah disetor. Sedangkan untuk SPP - LS kepada rekanan di hitung PPN dan PPh nya untuk kemudian buatkan SSP yang akan diikuti dengan pemotongan langsung lewat SPM yang diterbitkannya. (Jadi PP-SPM bertindak langsung sebagai pemotong pajak terhadap SPP yang bersifat Langsung/kepada Rekanan); Untuk selanjutnya Pengguna Anggaran/Kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan SPM beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy (disket) melalui Front Office untuk diterima dan di uji sesuai dengan ketentuan yang berlaku. PADA TINGKAT KPPN Setelah SPM dan beserta kelengkapannya di ajukan ke KPPN melalui Front Office KPPN untuk di uji oleh petugas Front Office, Pengujian SPM yang dilaksanakan oleh Petugas Front Office mencakup: Pengujian bersifat substansif : menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM; 1. menguji ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM tersebut; 2. menguji dokumen sebagai dasar penagihan (Ringkasan Kontrak/SPK, Surat Keputusan, Daftar Nominatif Perjalanan Dinas); 3. menguji SPTB dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran; 4. menguji faktur pajak beserta SSP-nya sudah sesuai dengan yang tertera pada SPM atau tidak; 5. Menguji ADK dengan hardcopy.

Pengujian formal dilakukan untuk: 1.mencocokkan tanda tangan pejabat penandatangan SPM dengan spesimen tandatangan; 2.memeriksa kebenaran dalam penulisan, termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan SPM.

Dari 2 cakupan tersebut akan menghasilkan : 1.Jika SPM Salah maka KPPN akan segera mengembalikan SPM tersebut dengan sekaligus dijelaskan perbaikannya seperti apa. 2.Jika SPM Benar maka SPM akan segera diproses menjadi SP2D yang akan segera diterbitkan dalam waktu 1 jam untuk SPM yang bersifat LS.