Anda di halaman 1dari 6

ITRAKONAZOL ASAL DAN KIMIA Itrakonazol merupakan antijamur sistemik turunan triazol, aktivitas antijamurnya lebih lebar sedangkan

efek sampingnya lebih kecil dibandingkan dengan ketokonazol. AKTIVITAS ANTIJAMUR Efektif terhadap Dermatophytes, Candida, Malassezia dan infeksi jamur sistemik antara lain Histoplasma, Aspergillus, Coccidiodomycosis, Chromoblastomycosis. Obat ini berikatan dengan sitokrom P-450 jamur sehingga menghambat sintesa ergosterol dalam jamur. Ergosterol merupakan komponen penting dalam membran sel fungi. Akibatnya permeabilitas dinding sel jamur terganggu. FARMAKOKINETIK Itrakonazol diserap maksimal bila diberikan bersama makanan yang mengandung lemak dan minuman yang bersifat asam (seperti jus jeruk). Dosis tunggal 100 mg akan memberikan kadar puncak plasma sebesar 150 - 250 ug/l dalam 1.5 - 4 jam. Kadar steady-state tercapai setelah pemberian obat selama 2 minggu. Obat ini didistribusikan ke berbagai bagian tubuh dengan kadar yang berlainan. Kadarnya dalam kulit mencapai 3-10 kali lebih banyak daripada kadarnya dalam darah. Tetapi penetrasinya ke cairan serebrospinal, urine dan peritonium adalah dalam kadar yang rendah. Sembilan puluh lima persen obat terikat protein. Itrakonazol dimetabolisme secara ekstensif di hati lalu dikeluarkan melalui hati dan empedu. Masa paruh eliminasinya sekitar 20 jam. Eliminasi itrakonazol pada jaringan lebih lambat dari pada di dalam plasma.. Itrakonazol masih terdeteksi pada stratum korneum kulit setelah 4 minggu penghentian obat, sedangkan dalam kuku masih bertahan sampai 1 tahun. Peringatan dan Perhatian: Itrakonazol terutama dimetabolisme hati walaupun dalam penelitian tidak ditemukan gangguan fungsi hati, namun dianjurkan untuk tidak memberikan obat pada penderita yang pernah menderita penyakit hati atau pasien yang pernah menderita hepatotoksitas dengan obat-obat lain. Ibu yang menyusui, tidak dianjurkan untuk menyusui selama pengobatan dengan obat ini.

Pemakaian pada pediatrik belum dipelajari secara teliti, oleh karena itu tidak digunakan pada pasien-pasien pediatrik. Pada pasien dengan fungsi ginjal yang tidak normal tidak diperlukan penyesuaian dosis.

EFEK SAMPING Efek samping yang sering terjadi 1. Nausea 2. Rash 3. urticaria, angioedema 4. pusing, sakit kepala 5. mual, sakit perut 6. dispepsia 7. pruritus 8. neuropati perifer 9. sindroma Steven-Johnsons 10. hepatitis, peningkatan kadar enzim hati yang reversibel 11. hipokalemia 12. rambut rontok. INDIKASI 1. Kandidiasis vulvovaginal : 2 x 100 mg/hari selama 1 hari atau 1 x 200 mg/hari selama 3 hari 2. Kandidiasis oral : 1 x 100 mg/hari selama 15 hari 3. Tinea corporis, Tinea cruris : 1 x 100 mg/hah selama 15 hari 4. Tinea pedis, Tinea manus : 1 x 100 mg/hari selama 30 hari 5. Tinea versicolor : 1 x 200 mg/hari selama 7 hari 6. Keratitis fungus : 1 x 200 mg/hari selama 21 hari 7. Tinea Unguinum : 2 x 200 mg/hari selama 7 hari. Pengulangan dilakukan setelah 21 hari bebas obat. Lama pengobatan untuk jari tangan biasanya 2 bulan, sedangkan untuk kuku kaki biasanya 3-4 bulan. KONTRAINDIKASI 1. Penderita yang hipersensitif terhadap Itrakonazol dan triazol yang lain.

2. Kehamilan dan wanita dalam masa subur yang tidak menggunakan kontrasepsi yang adekuat. 3. Bila diberikan pada masa subur harus disertai dengan pencegahan kehamilan yang pemberiannya dilanjutkan selama 1 siklus haid setelah terapi dihentikan. 4. Pemberian bersamaan dengan Terfenadin dan Astemizol. INTERAKSI OBAT Pemberian itrakonazol bersama dengan : 1. Rifampisin, fenitoin. dan fenobarbital dapat mengakibatkan turunnya kadar Itrakonazol dalam darah. 2. Siklosporin dapat mengakibatkan meningkatnya kadar siktosporin dalam darah. 3. Terfenadin dapat menaikkan kadar Terfenadin dalam plasma dan dapat menyebabkan efek samping serius terhadap kardiovaskuler seperti takikardi ventrikuler dan kematian. 4. Itrakonazol menghambat metabolisme Astemizol dan metabolitnya (desmetilastemizol) yang mungkin memperpanjang interval QT. 5. Itrakonazol dapat berinteraksi dengan Warfarin dan Digoxin Pemberian dengan antasid,adsorben,atau histamin H2 -antagonis dapat menurunkan absorbsi Itrakonazol POSOLOGI 1. Kapsul 100 mg. Sporax 2. Suspensi 10 mg/hari. Dosis 2 x 100 mg sehari, dikumur dulu sebelum ditelan untuk mengoptimalkan efek topikalnya. 3. Laruran IV 10 mg/ml. Diberikan pada infeksi berat melalui infus dengan dosis muat 2 kali 200 mg sehari, diikuti satu kali 200 mg sehari selama 12 hari.infus diberikan dalam waktu 1 jam.

CICLOPIROX ASAL DAN KIMIA Ciclopirox merupakan antijamur topikal yang mengandung ciclopirox olamine, suatu senyawa hydroxypyridone yang tidak terkait dengan struktur antijamur yang lain. AKTIVITAS ANTIJAMUR Antijamur topikal ini untuk dermatofitosis superfisial, Candida dan infeksi jamur. Mekanisme kerjanya sedikit sekali dimengerti, beberapa teori menyebutkan bahwa ciclopirox mengganggu dalam produksi energi intraseluler jamur. Ciclopirox menghambat uptake nutrien yang menyebabkan jamur mengalami kekurangan asam amino dan nukleotida dan mengurangi pembentukan protein. FARMAKOKINETIK Ciclopirox nail lacquer mengalami penetrasi pada lempeng kuku melalui sistem tranungual. Ketika mengalami evaporasi kadar ciclopirox naik dari 8% menjadi 34.8%, sedikit sekali kadar ciclopirox yang beredar dalam sistemik, yakni hanya sekitar 5% dari kadar yang diberikan. EFEK SAMPING Efek samping yang sering terjadi : 1. Gatal 2. Rasa terbakar 3. Radang 4. Pusing 5. Kesulitan bernapas INDIKASI 1. Tinea corporis 2. Tinea cruris 3. Tinea pedis 4. Tinea versicolor 5. Candidiasis, cutaneous 6. Onychomycosis

Pada dewasa : Ciclopirox 1% lotion, gel atau cream pada lesi 2 x sehari. Ciclopirox 8% nail lacquer digunakan seminggu sekali, bisa sampai 48 minggu bila diperlukan. Pada anak-anak : tidak boleh digunakan pada usia < 10 tahun. Cara menggunakan ciclopirox : 1. Bersihkan area yang akan diberi ciclopirox 2. Gunakan aplikator untuk mengoleskan aplikator pada area yang diinginkan. Pada kuku, usahakan untuk memberikan ciclopirox sampai daerah di bawah kuku 3. Biarkan selama 30 menit 4. Setiap minggu sekali bersihkan ciclopirox pada tempat semula dengan menggunakan alkohol. Bila terdapat kuku yang rusak atau memanjang, kuku dapat dipotong. KONTRAINDIKASI Orang yang mempunyai hipersensitivitas terhadap ciclopirox. INTERAKSI OBAT Ciclopirox tidak mempunyai interaksi dengan obat sistemik lain. POSOLOGI 1. Nail lacquer solution: Ciclopirox olamine 8% . Penlac Nail Lacquer 2. Topical Gel: Ciclopirox olamine 1%. Loprox 3. Cream: Ciclopirox olamine 1%. Loprox 4. Lotion: Ciclopirox olamine 1%. Loprox

Indikasi terapi sistemik antifungal : 1. Terapi topikal tidak adekuat 2. Lesi luas 3. Untuk infeksi pada kuku dan rambut

DAFTAR PUSTAKA Gunawan, S.G. 2007. Farmakologi dan Terapi Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Edisi 5. Jakarta : Gaya Baru http://dermnetnz.org/treatments/itraconazole.html http://www.mims.com/Indonesia/drug/info/itraconazole/?type=full&mtype=generic# Actions http://www.drugbank.ca/drugs/DB01167 http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/meds/a604021.html http://www.toenailfungustreatmenthq.com/cure-fungal-nails-prescriptionmedication/ciclopirox-penlac-8-nail-lacquer/ http://www.skintherapyletter.com/2005/10.7/1.html http://www.fungalguide.com/treatments/ciclopirox.html http://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/topical-antifungalmedications-for-fungal-nail-infections