Anda di halaman 1dari 10

Antifungi dan struktur kimiawinya

Golongan Azol

Golongan Polien

Golongan Lain

Imidazol (2N)
Topikal dan sistemik
- ketokonazol
- mikonazol
Topikal
- clotrimazol
- econazol
- sulconazol

Amfoterisin B
Nistatin

Flusitosin
Griseofulvin
Terbinafin

Triazol (3N)
Sistemik
- flukonazol
- itrakonazol

Golongan Obat Imidazol


1. Jenis Sistemik dan topikal
KETOKONAZOL

Mekanisme kerja
Seperti azole jenis yang lain, ketoconazole berinterferensi dengan biosintesis
ergosterol, sehingga menyebabkan perubahan sejumlah fungsi sel yang berhubungan
dengan membran.
Farmakokinetik
- Absorbsi
: diserap baik melalui saluran cerna dan menghasilkan kadar
plasma yang cukup untuk menekan aktivitas berbagai jenis jamur. Penyerapan
melalui saluran cerna akan berkurang pada penderita dengan pH lambung yang
tinggi,pada pemberian bersama antasid.
- Distribusi
: ketokonazol setelah diserap belum banyak diketahui.
- Ekskresi
: Diduga ketokonazol diekskresikan bersama cairan empedu ke
lumen usus dan hanya sebagian kecil saja yang dikeluarkan bersama urin,
semuanya dalam bentuk metabolit yang tidak aktif.
Efek samping
Efek toksik lebih ringan daripada Amfoterisin B.
Mual dan muntah merupakan ESO paling sering dijumpai

ESO jarang : sakit kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia, parestesia, gusi berdarah,
erupsi kulit, dan trombositopenia.
Indikasi
Ketokonazol terutama efektif untuk histoplasmosis paru, tulang, sendi dan
jaringan lemak.
Kehamilan dan laktasi
Obat ini sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil karena pada tikus, dosis 80
mg/kgBB/hari menimbulkan cacat pada jari hewan coba tersebut.

FLUKONAZOL

Farmakokinetik
Obat ini diserap sempurna melalui saluran cerna tanpa dipengaruhi adanya
makanan ataupun keasaman lambung. Kadar puncak 4-8 g dicapai setelah beberapa kali
pemberian 100 mg.Waktu paruh eliminasi 25 jam sedangkan ekskresi melalui ginjal
melebihi 90% bersihan ginjal.
Sediaan dan dosis
Flukonazol tersedia untuk pemakaian per oral dalam kapsul yang mengandung 50
dan 150mg. Dosis yang disarankan 100-400 mg per hari. Kandisiasis vaginal dapat
diobati dengan dosis tunggal 150 mg.
Efek samping
Gangguan saluran cerna merupakan ESO paling banyak
Reaksi alergi pada kulit, eosinofilia, sindrom stevensJohnson.
Indikasi
Flukonazol dapat mencegah relaps meningitis oleh kriptokokus pada penderita
AIDS setelah pengobatan dengan Amfoterisin B. Obat ini juga efektif untuk pengobatan
kandidiasis mulut dan tenggorokan pada penderita AIDS.

MIKONAZOL
Mikonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang relatif stabil, mempunyai spektrum ani
jamur yang lebar baik terhadap jamur sistemik maupun jamur dermatofit.

Mekanisme Kerja
Mikonazol menghambat sintesis ergosterol yang menyebabkan permeabilitas
membran sel jamur meningkat

Farmakokinetik
- Daya absorbsi Miconazole melalui pengobatan oral kurang baik..
- Miconazole sangat terikat oleh protein di dalam serum. Konsentrasi di dalam CSF
tidak begitu banyak, tetapi mampu melakukan penetrasi yang baik ke dalam
peritoneal dan cairan persendian.

Kurang dari 1% dosis parenteral diekskresi di dalam urin dengan komposisi yang
tidak berubah, namun 40% dari total dosis oral dieliminasi melalui kotoran
dengan komposisi yang tidak berubah pula.
- Miconazole dimetabolisme oleh liver dan metabolitnya diekskresi di dalam usus
dan urin. Tidak satupun dari metabolit yang dihasilkan bersifat aktif
Indikasi
Diindikasikan untuk dermatofitosis, tinea versikolor, dan kandidiasis mukokutan.
Efek samping
Berupa iritasi dan rasa terbakar dan maserasi memerlukan penghentian terapi.
Sediaan dan dosis
Obat ini tersedia dalam bentuk krem 2% dan bedak tabur yang digunakan 2 kali
sehari selama 2-4 minggu.
Indikasi
Krem 2 % untuk penggunaan intravaginal diberikan sekali sehari pada malam hari
untuk mendapatkan retensi selama 7 hari.
Gel 2% tersedia pula untuk kandidiasis oral.

2. Jenis Topikal
CLOTRIMAZOL

Cara Kerja Obat:


Clotrimazole merupakan suatu anti jamur berspektrum luas turunan imidazol. Obat ini
akan menembus chitin dari dinding sel jamur dan menaikkan permeabilitas membran sel
yang selanjutnya akan menyebabkan kebocoran kation natrium dan kalium serta
komponen intraseluler yang lain. Gangguan ini mengganggu enzim mitokondria dan
peroksimal yang akan mengakibatkan nekrosis seluler. Selain itu juga efektif melawan
bakteri gram positif.
Indikasi:
Infeksi jamur pada kulit dan kuku yang disebabkan oleh dermatofit, kandida, ragi-ragi
dan jamur lainnya seperti:
- Jamur pada lipatan-lipatan kulit seperti lipatan paha (Tinea Cruris)
- Jamur pada sela-sela jari kaki/kutu air (tinea pedis)
- Jamur pada tubuh seperti panu dan kadas (Tinea versicolor, Tinea corporis)
- Jamur pada kulit kepala (Tinea capitis)
- Jamur pada kuku (Tinea unguium)
- Jamur pada janggut (Tinea barbae)
- Kandidiasis pada kulit dan kuku
Dan karena memiliki khasiat antibakteri terhadap bakteri gram positif maka dapat
digunakan pada mikosis dengan infeksi sekunder oleh bakteri tersebut.

Kontra Indikasi:
Penderita yang hipersensitif terhadap Clotrimazole.
Komposisi:
Mengandung Clotrimazole 1%
Aturan Pakai:
Oleskan krim atau taburkan bedak secukupnya 2 - 3 kali sehari pada bagian yang sakit
selama 10 - 14 hari secara teratur dan tidak terhenti. Infeksi pada sela-sela jari kaki
membutuhkan waktu membutuhkan waktu 1 bulan pengobatan dengan tekun dan teratur.
Untuk infeksi pada kuku, terlebih dahulu potong kuku sependek mungkin.
Efek Samping:
Pada penderita yang hipersensitif dapat terjadi eritema, vesikasi, deskuamasi, edema,
pruritus, urtikaria dan iritasi.

TRIAZOL
Termasuk dalam obat anti jamur golongan Azol yang bekerja dengan menghambat sistesis
ergosterol. Berdasarkan susunan kimianya, obat anti jamur golongan Azol dengan 3 N disebut
Triazol, yang termasuk dalam Triazol adalah:
1. Flukonazol
2. Itrakonazol
FLUKONAZOL
Obat ini dapat diserap sempurna melalui saluran cerna baik dengan makanan ataupun tanpa
makanan, tersebar rata ke dalam cairan tubuh juga dalam sputum dan saliva. Waktu paruh 25 jam
dengan eksresi melalui ginjal 90%.
Dosis yang disarankan: 100-400 mg/hari. Untuk kandidiasis vaginal dapat diobati dengan dosis
tunggal 150mg.
Indikasi: relaps meningitis oleh kriptokokus pada AIDS, kandidiasis mulut dan tenggorokan pada
AIDS
Kontra Indikasi: Hipersensitifitas, Kehamilan
Efek Samping: Gangguan saluran cerna, sakit kepala, mual/muntah, diare, reaksi alergi pada
kulit

ITRAKONAZOL
Diserap lebih sempurna melalui saluran cerna bila diberikan bersama makanan, dibandingkan
ketokonazol memberi aktifitas anti jamur yang lebih lebar dengan efek samping lebih kecil.
Waktu paruh sekitar 36 jam
Dosis yang disarankan: untuk dermatofitosis 1 x 100 mg/hari selama 2-8 minggu, kandidiasis
vaginalis 1 x 200 mg/hari selama 3 hari, pitiriasis versikolor 1 x 200 mg/hari selama 5 hari,
infeksi berat hingga 400 mg/hari.
Indikasi: blastomikosis, histoplasmosis, kandidiasis mulut dan tenggorokan, tinea versikolor
Kontra Indikasi: Hipersensitifitas, CHF
Efek Samping: mual/muntah, kemerahan, pruritus, lesu, pusing, pedal edema, parestesia

Obat Golongan Polien


AMFOTERISIN B

AKTIFITAS
Menyerang sel yang sedang tumbuh dan sel yang matang. Aktifitas antijamur
nyata pada pH 6,0-7,5 tetapi berkurang pada pH yang lebih rendah. Bersifat fungistatik
atau fungisidal tergantung pada dosis dan sensitifitas jamur yang dipengaruhi.
MEKANISME KERJA
Berikatan kuat dengan ergosterol (membrane sel jamur) menyebabkan
membrane sel bocor terjadi kehilangan beberapa bahan intrasel mengakibatkan
kerusakan tetap pada sel
FARMAKOKINETIK
Sedikit sekali diserap melalui saluran cerna. Waktu paruh obat ini kira-kira 2448jam pada dosis awal, yang diikuti oleh eliminasi fase kedua dengan waktu paruh kirakira 15hari sehingga kadar mantapnya baru akan tercapai setelah beb erapa bulan
kemudian.
Kira-kira 95% obat beredar dalam plasma, terikat pada lipoprotein. Ekskresi obat
ini melalui ginjal berlangsung lambat sekali, hanya 3% dari jumlah yang diberikan
selama 24jam sebelumnya ditemukan dalam urin.
EFEK SAMPING
- kulit panas
- keringatan
- sakit kepala
- demam
- menggigil

- lesu
- anoreksia
- nyeri otot
- Flebitis
- kejang
- penurunan fungsi ginjal
INDIKASI
Terapi awal untuk infeksi jamur seperti, koksidiomikosis, parakoksidiomikosis,
aspergilosis, kromoblastomikosis, dan kandidiosis.
SEDIAAN
1. Untuk injeksi, tersedia dalam bentuk Vial 50mg bubuk liofilik, dilarutkan dengan
10mL aquades steril, lalu diencerkan dengan larutan dekstrosa 5% dalam air
sehingga didapatkan kadar 0,1mg/mL
2. Amfoterisin B formulasi disperse koloid, dosis: 3-4mg/kgBB/hari diberikan
dalam bentuk infus 3-4 jam
3. Amfoterisin B formulasi vesikel unilamelar, dosis : 3mg/kgBB/hari
4. Amfoterisin B kompleks lipid, dosis : 5mg/kgBB/hari dalam infuse dekstrosa 5%
selama 2 jam
5. Krim, losio, dan salep, 3% amfoterisin B

NISTATIN

AKTIFITAS
Menghambat pertumbuhan berbagai jamur dan ragi tetapi tidak aktif terhadap
bakteri, protozoa dan virus
MEKANISME KERJA
Adanya ikatan dengan sterol (pada membrane sel jamur atau ragi) terjadi
perubahan permeabilitas membran sel sehingga sel kehilangan berbagai molekul kecil
INDIKASI
Infeksi kandida di kulit, selaput lendir, dan saluran cerna.
EFEK SAMPING
Mual, muntah, diare ringan. Jarang ditemukan
POSOLOGI
1. Obat tetes, mengandung 100.000 unit nistatin per gram atau per mL
2. Tablet, 250,000 dan 500,000 unit
3. Tablet vagina, 100,000 unit
Untuk kandidiasis mulut dan esophagus pada pasien dewasa diberikan 500,000-1,000,000
unit, 3-4x sehari
Pemakaian pada kulit disarankan 2-3x sehari
Pemakaian tablet vagina 1-2x sehari selama 14hari

Golongan Lain
GRISEOFULVIN
Merupakan antijamur yang menyebabkan susut dan mengecilnya hifa yang disebut
sebagai curling factor.

Aktivitas
Efektif terhadap jenis jamur dermatofit seperti Tricophyton, Epidermophyton dan
Microsporum. Griseofulvin bersifat fungisidal terhadap sel muda, akan menggangu
sintesis dan polimerasi asam nukleat.
Farmakokinetik
Kurang baik penyerapannya pada saluran cerna bagian atas karena obat ini tidak
larut air. Apsorbsinya meningkat jika diberikan bersamaan dengan makanan berlemak.
Obat ini dimetabolisme di hati, waktu paruhnya kira-kira 24 jam. Muncul bersama
sel baru berdiferensiasi dan terikat kuat dengan keratin. Keratin yang mengandung jamur
akan terkelupas dan diganti oleh sel normal.
Efek Samping
Leukopenia dan granulositopenia dapat terjadi pada pemakaian dosis besar dalam
waktu lama. Sakit kepala merupakan efek samping utama, akan hilang dengan sendirinya.
Efek lainnya adalah altralgia, neuritis perifer, demam, pandangan kabur, insomnia,
berkurangnya fungsi motorik, pusing dan sinkop. Mulut kering, mual, muntah, diare,
flatulensi. Mungkin terjadi albuminurea dan silinderuria. Pada kulit dapat terjadi
urtikaria, reaksi fotosensitifitas, eritema multiform. Vesikula dan erupsi.
Griseofulvin menginduksi enzim mikrosom sehingga terjadi peningkatan
metabolism warfarin. Juga beberapa obat kontrasepsi oral. Griseofulvin akan dihambat
penyerapannya oleh barbiturate.

Indikasi
Penyakit jamur di kulit, rambut dan kuku. Gejala akan berkurang dalam 58-96
jam setelah pengobatan. Biakan jamur menjadi negative dlaam 1-2 minggu tapi
pengobatan sebaiknya dilanjutkan sampai 3-4 minggu. Infeksi pada telapak bereksi lebih
lambat dua kali lipat. Infeksi kuku tangan membutuhkan waktu 4-6 bulan, kuku kaki 6-12
bulan.
Dosis sangat tinggi bersifat karsinogenik dan teratogenik, sehingga dermatofitosis
ringan tidak perlu diberikan oral. cukup dengan preparat topical.

Posologi
Bentuk sediaan tablet mikrokristal 125 dan 500 mg. Tablet ultramikrokristal 330
mg. Dosis anak diberikan 5-15mg/kgBB/hari, dewasa 500-1000/hari dosis tunggal.

FLUSITOSIN
Merupakan antijamur sintetik yang berasal dari fluorionasi pirimidin. Obat ini berbentuk
Kristal putih tidak berbau, sedikit larut dalam air, mudah larut dalam alcohol.

Mekanisme Kerja.
Flusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan bantuan sitosin deaminase dan dalam
sitoplasma akan bergabung dengan RNA setelah mengalami deaminasi menjadi 5fluorourasil dan fosforilasi. Sintesis protein sel jamur terganggu akibat penghambatan
langsung sintesis DNA oleh metabolit flourourasil.

Farmakokinetik
Diserap cepat dan baik melalui saluran cerna. Pemberian bersama makanan
memperlambat penyerapan tapi tidak mengurangi jumlah yang diserap. Pemberian
bersama suspense almunium hidroksida/magnesium hidroksida dan dengan neomisin juga
memperlambat.
Waktu paruh eliminasi obat ini adalah 3-6 jam tapi akan memanjang sampai 200
jam pada pasien isufisiensi ginjal.
Efek Samping
Flusitosin kurang toksik dibanding amfoterisin B, namun dapat menimbulkan
anemia, leucopenia, dan trombositopenia terutama pada pasien dengan kelainan
hematologik
Efek samping lainnya adalah mual, muntah, diare dan enterokolitis hebat; 5%
pasien mengalami peninggian enzim SGOT & SGPT, dapat pula hepatomegali. Akan
hilang jika obat dihentikan.
Kadang dapat terjadi sakit kepala, kebingungan, pusing, mengantuk dan
halusinasi. Tidak bersifat nefrotoksik. Sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil.

Indikasi
Untuk infeksi sistemik flusitosin kurang toksik dibanding ampfoterisin B, dapat di
berikan per oral, namun cepat menjadi resisten. Karena itu pengobatan tunggal hanya
untuk infeksi Cryptococcus neoformans, beberapa Candida dan kromoblastomikosis.
Untuk infeksi lain dikombinasikan dengan amfeterisin B, misalnya untuk
meningitis oleh Cryptoccocus 100-150 mg/kgBB/hari flusitosin + 0,3 mg/kgBB/hari
amfoterisin B. dapat juga dikombinasi dengan itrakonazol.

Posologi

Tersedia dalam sediaan kapsul 250 mg dan 500 mg. Dosis anjuran adalah 50
150 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam 4 dosis. Dosis ini harus dikurang pada pasien
dengan insufisiensi ginjal.

TERBINAFIN
Merupakan suatu derivat alilamin sintetik, digunakan untuk terapi dermatofitosis
terutama onikomikosis. Namun pada pengobatan kandidiasis kutaneus dan tinea versikolor,
biasanya terbinafin di kombinasi dengan golongan imodazol atau triazol, karena mono terapi
kurang efektif.

Farmakokinetik
Diserap melalui saluran cerna, di metabolism di hati. Obat ini terikat dengan
protein plasma lebih dari 99% dan terakumulasi di kulit, kuku dan jaringan lemak. Waktu
paruh awal adalah sekitar 12 jam dan berkisar antara 200-400 jam bila sudah mencapai
kadar mantap.

Mekanisme Kerja
Bersifat keratolitik dan fungisidal. Obat ini mempengaruhi biosintesis ergosterol
dinding sel jamur melalui penghambatan enzim skualen epoksidase pada jamur

Indikasi
Digunakan untuk teraapi dermatofitosis terutama onikomikosis. Namun pada
pengobatan kandidiasis kutaneus dan tinea versikolor, biasanya terbinafin di kombinasi
dengan golongan imodazol atau triazol, karena mono terapi kurang efektif.

Efek Samping
Jarang terjadi, biasanya berupa gangguan saluran cerna, sakit kepala, atau rash,
hepatotoksisitas, nefropenia berat, sindroma steven Johnson, atau nekrolisis epidermal
toksik dapat terjadi. Ibu menyusui sebaiknya menghaindari penggunaan obat ini. Belum
ada obat yang berinteraksi secara signifikan dengan terbinafin

Posologi
Tersedia dalam sediaan tablet oral 250 mg. Diberikan 1 x sehari untuk pengobatan
onikomikosis sama efektifnya dengan itrakonazol 200 mg sehari dan lebih efektif
daripada terapi itrakonazol berkala.

Terbinafin topical tersedia dalam bentuk krim 1% dan gel 1%, digunakan untuk
pengobatan tinea korporis dan kruris diberikan 1-2 kali sehari selama 1-2 minggu

Daftar pustaka
http://reference.medscape.com/drug/diflucan-fluconazole-342587#4
http://reference.medscape.com/drug/sporanox-omnel-itraconazole-342591#5
Syarif, Amir et al. (2007). Farmakologi dan terapi. Ed 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI