Anda di halaman 1dari 39

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kalsium Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat dalam tubuh.

Sekita 99% total kalsium terdapat dalam tubuh di temukan dalam jaringan keras yaitu tulang dan gigi terutama dalam bentuk hidroksiapati, hanya sebagian kecil dalam plasma ciran ekstravaskuler (Almatsir,2006). Serum kalsium terdapat dalam tiga fraksi,yaitu ion kalsium ( 50%), kalsium yang terikat protein (40%),dan sejumlah kecil kalsium kompleks terutama ion sitrat dan ion phospat. Serum kalsium di pertahan pada tingkat yang seimbang dengan pengaturan oleh beberapa hormon terutama parathyroid hormone dan calcitonim (Baker et al,1999). Kalsium tulang berada dalam keadaan seimbang dengan kalsium plasma pada

konsentrasi sekitar 2,25-2,60 mmol/L (9-10,4 mg/100 ml) (Garrow dan james, 1993). Keseimbangan kalsium terutama diatur oleh parathyroid homone, growth hormone, calcitonin, dan vitamin D. Hormin-hormon tersebut bekerja pada temapat di mana kalsium memasuki tubuh (gastrointestinal), pada tempat ekskresi (ginjal) dan tempat penyimpanan (rangka/tulang) dimana kalsium dapat di simpan dan di ambil tergantung dari kebutuhan individu. Jumlah kalsium dalam tulang berubah menurut umur,ukuran, dan komposisi tubuh dan akan mengalami perununan pertumbuhan umur (Almatsier, 2006). Garrow dan jemas (1993), menyebutkan bahwa keseimbangan kalsium eksternal seperti perbedaan antara intake dan aotput ditentukan oleh perubahan diantara tulang, usus halus, dan ginjal. Perubahan tersebut diatur aktivitas hormon calciotrophic parathyiroid masa tulang sejalan dengan

hormone, vitamin D aktif (1,25(OH2)D3), dan calcitonim.selaim itu,juga di pengaruhi oleh hormon seks 9estrogen dan testosteron), hormon pertumbuhan, corticosteroid, dan

10

berbagai hormon lokal. Perubahan fisiologis keseimbangan kalsium terjadi selama masa pertumbuhan ,kehamilan,menyusui,dan bertambah nya usia. Telah disebutkan bahwa metabolisme kalsium dipengaruhi oleh vitamin D

aktif(1,25(OH2)D3). Vitamin D disitesis di dalam kulit di

bawah pengaruh sinar

ektraviolet.dan hanya jika seserorang terekspose sinAR ekstraviolet,kulit akan mengubah vitamin D menjadi zat gizi yang esensial(Garrow dan james,1993). Viatmin D dalam bentuk metabolit meningkatkan kelsium plasma dengan merangsang penyerapan gastrointestinal, mengurangi ekskresi, dan meningkatkan resopsi tulang, tetapi merangsang matriks tulang transpor kalsium dalam tubuh (Sidartawan,2004 dalam Syafiq et al,2004). Jadi, secara sederhana dapat di katakan bahwa hormon parathyroid daN calcitonim mempunyai efek yang berlawanan,sedangkan vatamin D walaupun sebagian aktifitasnya tergantung pada hormon lain yaitu parathyroid,tetapi memiliki beberapa efek regulasi seperti parathyroid. Karena peranannya tersebut,vitamin D lebih tepat disebut hormon (Garrow dan james,1993). Hormon yang mengatur kalsium dalam tubuh secara tidak langsung dalam proses penyarapan di usus halus, dan secara langsung, mempunyai efek reabsorpsi kalsium di ginjal serta resorpsi tulang adalah parathyroid hormone (PTH). Sekresi dan sentesis PTH diatur olah berbagai tahap metabolisme oleh konsentrasi plasma kalsium. Hormon parathyroid disekresi bila terjadi kekurangan ion kalsium dan berfungsi untuk meningkatkan kadar kalsium tingkat normal dengan mengambilnya dari

tulang,meningkatkan penyerapan dalam usus,dan reobsorsi dari ginjal, hormon parathyroid juga meningkatkan ekskresi fosfat dalam urin (Almatsier,2006). Hormon lain yang berperan dalam mengatur kalsium plasma meningkat dan berpungsi untuk menurunkan dengan mengurangi kalsium tulang dan meningkatkan ekskresi ginjal (sidartawan,2000 dalam syafiq et al,2004).

11

1. Absorpsi dan ekskresi kalsium Winarno (1997), mengatakn bahwa penyerapan kalsium sangat bervariasi tergantung umur dan kondisi tubuh. Pada waktu anak-anak waktu pertumbuhan, sekitar 50-70% kalsium yang dicerna diserap,tetapi waktu dewasa hanya sekitar 10-40% yang di serap. Dalam keadaan normal kalsium yang di konsumsi dapat di absorpsi oleh tubuh sebanyak 30-50% kemampuan absorpsi lebih tinggi pada massa pertumbuhan dan menurun pada proses penuaan.kemampuan absorpsi pada laki-laki lebih tinnggi dari pada perempuan pada semua golongan usia. Absorpsi kalsium terutama terjadi pada bagian atas usus halus yang duodium. Kalsium membutuhkan pH 6 agar berada dalam keadaan terlarut. Absorpsi kalsium paling banyak terjadi dalam keadaan asam dan asam klorida yang dikeluarkan lambung dapat memebantu absopsi dengan cara menurunkan pH di bagian atas duodenum. Selain itu, absorpsi kalsium di lakukan secara aktif dengan menggunakan alat angkut protein-peningkat kalsium dan absorpsi pasif terjadi pada permukaan saluran cerna( Almatser, 2006). Absorpsi kalsium dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya kalsium hanya bisa absorpsi bila terdapat dalam bentuk larut air dan tidak mengendap karena unsur makanan laIn seperti oksalat. Kalsium yang dapat di absorpsi dikeluarkan melalui fases. Jumlah kalsium yang diekskresi melalui urin mencerminkan jumlah kalsium yang di absorpsi. Kehilangan kalsium melalui urin meningkatkan pada keadaan asidosis dan pada konsumsi fosfor tinggi. Kehilangan kalsium juga terjadi melalui sekresi cairan yang masuk ke dalam saluran cerna dan melalui keringat ( Almatser, 2006). Krumel (1996), mengatakan bahwa absorpsi kalsium akan meningkat dan efisien pada orang yuang minum sepplemen < 400-500 mg/kali konsumsi, minum supplemen dengan makan dan tidak minum bersama dengan substasi lain dalam jumlah besar.

12

Selain faktor lain yang dapat meningkatkan Absorpsi kalsium adalah pertumbuhan, kehamilan, menyusui, defesiensi kalsium, dan tingkat aktifitas fisik yang meningkatkan densitas tulang. Semakin tinggi kebutuhan dan semakin rendah

cadangan kalsium dalam tubuh, maka semakin efesien Absorpsi kalsium. Dengan demikian, jumlah kalsium yang di konsumsi mempengaruhi Absorpsi kalsium ( Almatser, 2006). Vitamin D dalam bentuk aktif berpengaruh penting dalam penyerapan kalsium, Yang secara langsung mempengaruhi kemempuan sel-sel mukosa usus dalam menyerap kalsium. Keberadaan vitamin D menyebabkan absorpsi kalsium meningkat 10-30 %. Jika seseorang kekurangan vitamin D aktif, kemampuan absorpsi kalsiumnya akan menurun/terhambat. Seperti yang telah disebutkan, vitamin D dalam bentuk aktif hanya terjadi jika sesorang terpapar sinar ultraviolet (Garrow dan James, 1993). Menurut Sediaoetama (2006), perbandingan kalsium dan fosfor berpengaruh erat dalam proses absorpsi kalsium unruk absorpsi kalsium yang baik diperlukan perbandingan Ca : P di dalam rongga usus (dalam hidangan) adalah 1:1 sampai 1:3 perbandingan Ca : P yang lebih besar dari 1:3 akan menghambat penyerapan Ca sehingga akan menimbulkan defisiensi kalsium, yaitu rakhitis. Dalam suasana basa bersama fosfor, kalsium membentuk kalsium fosfat yang tidak larut air sehingga menghambat absorpsi. Rasio fosfor terhadap kalsium yang tinggi dalam makanan dapat menurunkan absorpsi kalsium karena pembentukan garam kalsium oksalat yang tidak larut air. Dengan demikian,anjuran rasio kalsium : fosfor dalam makanan agar kalsium dan fosfor dapat dimanfaatkan secara optimal adalah antara 1 : 1 dan 2 : 1 (Almatsier, 2006). Asam oksalat yang terdapat dalam bayam dan sayuran lain serta cokelat dapat membentuk garam oksalat yang tidak larut sehingga menghambat absorpsi kalsium.

13

Begitu pula dengan asam fitat, ikatan yang mengandung mengandung fosfor terdapat dalam serealia akan membentuk kalsium fosfat yang tidak larut sehingga tidak dapat diabsorpsi. Selain itu, konsumsi tinggi serat dapat menurunkan absorpsi kalsium. Diduga, karena serat menurunkan waktu transit makanan dalam saluran cerna sehingga mengurangi kesempatan untuk absorpsi (Almitsier, 2006). Faktor lain yang dapat menghambat absorpsi kalsium adalah ketidakstabilan emosional yang dapat mempengaruhi efisiensi absorpsi kalsium, seperti stres, tekanan, dan kecemasan. Suatu penelitian menunjukan bahwa pada kelompok wanita muda yang mengalami stres emosional, kebutuhan intake kalsium lebih tinggi untuk mempertahankan keseimbangan kalsium dari pada kelompok yang lebih bahagia dan santai. Studi lain pada kelompok laki-laki ditemukan adanya penurunan efisiensi absorpsi dan meningkatkan ekskresi kalsium dalam kondisi stres, misalnya pada saat ujian. Kurangnya latihan fisik atau olah raga seperti jarang berjalan atau pada orang yang kurang bergerak karena sakit atau terbanring dalam waktu lama dapat menyebabkan kehilangan kalsium tulang 0,5% setiap bulan dan mengurangi kemampuan untuk menggantinya kembali (Guthire dan Picciano, 1995). Disamping itu kopi dan teh juga merupakan makanan yang dapat menghambat absorpsi kalsium. Kopi mengandung kaffein,biasanya berhubungan dengan faktor gaya hidup yang dapat menyebabkan osteoporosis, tapi sebenarnya memiliki resiko yang sangat kecil. Satu cangkir kopi dapat menyebabkan kalsium tidak terserap sekitar 3,5 mg (Krummel, 1996). Satu cangkir kopi mengandung 1 unit kaffein untuk yang meminum kopi 1,5 2,0 unit perhari dapat menimbulkan resiko osteoporosis yang tidak signifikan, bagi orang yang meminum lebih dari 2,5 unit perhari dapat mrnimbulkan osteoporosis, hal ini menunjukan orang yang meminum kopi lebih dari 2 gelas perhari meningkatkan resiko terjadi osteoporosis, sedangkan orang yang

14

meminum kopi lebih dari 3 cangkir perhari meningkatakan resiko hingga 82%. Kopi yang diminum hanya satu cangkir perhari tidak menimbulkan resiko osteoporosis dan kejiadan patah tulang (Kiel et al,1990). Teh mengandung zat besi, berbeda dengan kalsium yang dapat dibuang melalui urin dan feses jika kelebihan, kelebihan zat besi akan menyebabkan persoalan. Kelebihan pasokan zat besi akan disimpan di beberapa bagian tubuh, dihati, jantung, pangkreas, persendian, dan lain-lain. Pada akhirnya hal ini akan menyebabkan kerusakan jaringan secara permanen (Surono, 1990 dalam Sulistriyoni, 2004). Teh selain mengandung zat besi juga mengandung kafeinkan , satu cangkir teh sebanding dengan setengah unit kafein, maka jika dikonsumsi leih dari lima cangkir perhari dapat menimbulkan osteoporosis di kemudian hari (Kiel et al, 1990). 2. fungsi kalsium Kalsium mempunyai peran yang penting dalam tubuh, yaitu dalam pembentukan tulang dan gigi. Dalam cairan ekstraseluler dan intraseluler kalsium memegang peranan penting dalam mengatur fungsi sel, seperti tranmisi saraf, kontraksi otot, penggumpalan darah, dan menjaga permebilitas membran sel. Selain itu, kalsium juga mengatur pekerjaan hormon-hormon dan faktor pertumbuhan (Almatsier, 2006). a. Pembentukan tulang Menurut Almatsier (2006), kalsium dalam tulang mempunyai dua fungsi : (a) sebagai bagian integral dari struktur tulang; (b) sebagai tempat menyimpan kalsium. Menurut Krummel (1996), faktor yang mempengaruhi penulangan adalah genetik (untuk menentukan masa tulang), hormon seks dan aktivitas fisik (mempengaruhi metabolisme tulang). Proses pembentukan tulang dimulai pada awal perkembangan janin, dengan membentuk matriks yang kuat, tetapi masih lunak dan lentur yang merupakan

15

cikal bakal tulang tubuh. Matriks yang merupakan sepertiga bagian dari tulang terdiri atas serabut yang terbuat dari protein kolagen yang diselubungi oleh bahan gelatin. Segera setelah lahir matriks mulai menjadi kuat dan mengeras melalui proses kalsifikasi, yaitu terbentuknya kristal mineral yang mengandung senyawa kalsium. Kristal ini terdiri atas kalsium fosfat atau kombinasi kalsium fosfat dan kalsium hidroksida yang dinamakan hidroksiapatit [(3Ca(PO4)2.Ca(OH)2]. Karena kalsium dan fosfor merupakan mineral yang utama dalam ikatan ini, keduanya harus berada dalam jumlah yang cukup di dalam cairan yang mengelilingi matriks tulang. Batang tulang yang merupakan bagian kertas matriks, mengandung kalsium, fosfat, magnesium, seng. Natrium karbonat, dan flour, selain hidroksiapatit (Almatsier, 2006). Selama pertumbuhan, proses kalsifikasi tulang berlangsung terus dengan cepat sehingga pada saat anak siap berjalan, tulang-tulang dapat menyangga berat tubuh. Pada ujung tulang panjang terdapat bagian yang berpori yang disebut trabekula, yang menyediakan suplai kalsium siap pakai untuk mempertahankan konsentrasi kalsium normal dalam darah. Selama kehidupan, tulang selalu mengalami perubahan baik dalam bentuk maupun kepadatan, sesuai dengan usia dan perubahan berat badan (Almatsier, 2006). Tulang merupakan jaringan pengikat yang sangat khusus bentuknya. Telah dijelaskan bahwa tulang dibentuk dalam dua proses yang terpisah, pembentukan matriks dan penempatan mineral ke dalam matriks tersebut. Tiga jenis komponen seluler terlibat di dalam nya dengan fungsi yang berbeda-beda, yaitu osteoblas dalam pembentukan tulang, osteocyte dalam pemeliharan tulang, dan osteoclast dalam penyerapan kembali (resorpsi) tulang (Winarno, 1997).

16

Kalsium dalam tubuh akan bekerja efektif setelah kulit terkena sengatan singkat radiasi sinar ultraviolet B, karena paparan sinar matahari dapat merangsang produksi Vitamin D. Vitamin ini berfungsi sebagai pembuka kalsium masuk ke dalam aliran darah, sampai akhirnya bersatu dengan tulang. Namun, pada umumnya orang menghindari sinar matahari karena takut menjadi hitam sehingga diduga hal ini menjadi salah satu penyebab tingginya kasus osteoporosis di Indonesia, padahal Indonesia termasuk daerah tropis. Ketakutan tersebut ditambah dengan pola orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan yang kurang mendapat sinar matahari (Suroso, 1999 dalam Syafiq et al, 2004). b. Pembentukan Gigi Mineral yang membentuk dentin dan email yang merupakan bagian tengah dan luar gigi adalah mineral yang sama dengan pembentukan tulang, yaitu hidroksiapatit. Namun, kristal dalam gigi lebih padat dan kadar airnya lebih rendah. Protein dalam email gigi sedikit sekali mengalami perubahan setelah muncul dalam rongga mulut. Pertukaran antara kalsium gigi dan kalsium tubuh berlangsung dengan lambat dan terbatas pada kalsium yang terdapat dalam lapisan dentin. Sedikit pertukaran kalsium mungkin juga terjadi antara saliva dan email gigi. Kalsifikasi gigi susu (gigi tidak tetap yang kemudigian diganti) mterjadi pada minggu kedua puluh tahap janin dan selesai sebelum gigi keluar.gigi permanen mulai mengalami kalsifikasi ketika anak berumur antara tiga bulan dan tiga tahun. Gigi yang terahir keluar mengalami kalsifikasi saat anak berumur delapan tahun hingga sepuluh tahun. Gigi lengkap pada dewasa hanya mengandung 1% jumlah kalsium tubuh. Gigi boleh dikatakan tidak mampu memmperbaiki dari setelah keluar di mulut. Kekurangan kalsium selama masa

17

pembentukan gigi dapat menyebabkan meningkatnya kerentanan tarhadap kerusakan gigi (Almatsier,2006). c. Pertumbuhan Kalsium secara nyata diperlukan untuk pertumbuhan karena merupakan bagian penting dalam pembentukan tulang dan gigi, juga dibutuhkan dalam jumlah yang lebih kecil untuk mendukung fungsi sel dalam tubuh.vDiet rendah kalsium berarti rendah protein, dan protein juga dibutuhkan untuk pertumbuhan termasuk pembentukan tulang. Namun, secara jelas belum dapat dibuktikan bawa kekurangan kalsium menyebabkan gagal petumbuhan karena banyak faktor mepengaruhinya (Gutrhie dan Picciano,1995). Dalam masa pertumbuhan ukuran tulang kandungan kalsium dan kebutuhan kalsium meningkat. Setelah pertumbuhan terhenti, kemungkinan fase dimana penambahan jumlah tulang dan kalsium (puncak penambahan massa tulang/ peak bone mass) bersama akan tetapi bertambah sampai usia sekitar 30 tahun. Namun, hal ini masih diperdebatkan.. setelah peak bone mass tercapai, jumlah tulang akan menurun yang akan menyebabkan ketidakseimbangan antara resorpsi dan pembuntukan tulang Garrow dan James, 1993).
d. Pembekuan Darah

Bila terjadi luka, ion kalsium di dalam darah merangsang pembebasan fosfolipida tromboplastin dari platet darah yang terluka. Tromboplastin ini mengkatalis perubahan protombin bagian darah normal menjadi trombin kemudian membantu perubahan fibrinogen menjadi fibrin yang merupakan gumpalan darah (Almatsier, 2006).
e. Katalisator Reaksi-reaksi Biologik

18

Kalsium berfungsi sebagai katalisator baerbagai reaksi biologik, seperti absorpsi vitamin B12, tindakan enzim pemecah lemak, lipase pankreas, ekskresi insulin oleh pankreas, pembentukan dan pemecahan asetilkolin, yaitu bahan yang diperlukan dalam transmisi suatu rangsangan dari suatu serabut saraf ke serabut saraf yang lain. Kalsium yang diperlukan untuk mengkatalis reaksi-reaksi ini diambil dari persedian kalsium dalam tubuh (Almatsier, 2006).
f. Kontraksi Otot

Dalam proses kontraksi otot, rangsangan yang menghasilkan kontraksi otot merupakan impuls listrik yang diangkut oleh serabut urat saraf. Diperkirakan stimulasi kimia dari ujung saraf ke tenunan otot yang meyebabkan terjadinya kontraksi adalah lepasnya ion-ion kalsium dari tempat penyimpanannya dalam sel. Keluarnya ion kalsium menstimulasi enzim ATP-ase dalam myosin, yang mengakibatkan pecahnya ATP yang Menghasilkan energi dan terbentuknya ikatan silang antara myosin dan aktin yang disebut aktimiosin dan terjadilah kontraksi. Setelah terjadi pengendoran otot, ion kalsium dipompa kembali ke tempat penyimpanannya dalam sel (Winarno, 1997). Pada waktu otot berkontraksi, kalsium berperan dalam interaksi protein didalam otot, yaitu aktin dan myosin. Bila kalsium dalam darah kurang, otot tidak bisa mengendur sesudah kontraksi. Tubuh akan kaku dan dapat meninmbulkan kejang (Almatsier, 2006).

g. Meringankan Gejala PMS Selain fungsi-fungsi diatas, peran kalsium terutama pada perempuan adalah dapat meringankan gejala sindrom pramenstruasi (PMS). Hal ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Susan Thys-Jacobs (2000), pakar kelenjar

19

endokrin bersama rekan-rekannya terhadap 500 wanita penderita PMS. Secara acak, sebagian dari 500 wanita tersebut diberi 1200 mg kalsium perhari. Ternyata pada siklus haid ketiga, PMS bisa dikurangi 48% pada wanita yang diberi suplemen kalsium. h. Transmisi Otak Beberapa fungsi kalsium lain adalah meningkatkan fungsi transport membran sel, kemungkinan dengan bertindak sebagai stabilitator membrane, dan transmisi ion melalui membrane organel sel (Almatsier, 2006). 3. Efek Kekurangan Kalsium Kurang asupan kalsium dapat berakibat buruk terhadap tubuh. Akibat defisiensi kalsium adalah sebagai berikut : a. Osteoporosis Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 1994, mendefinisikan osteoporosis sebagai suatu penyakit tulang sistematik dengan karakteristik yang khas yaitu rendahnya massa tulang disertai perubahan-perubahan mikroarsitektur dan mundurnya kualitas jaringan pada tulang. Kejadian osteoporosis diawali terlebih dahulu dengan terjadinya osteopenia yang biasa menyerang pada usia 1935 tahun dan bila keadaan terus berlanjut menyebabkan terjadinya osteoporosis. Osteoporosis merupakan penyakit tersembunyi, terkadang tanpa gejala dan tidak terdeteksi, sampai timbul gejala nyeri karena microfracture atau karena patah tulang anggota gerak (Nuhonni, 2000). Osteoporosis merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat menyebabkan kecacatan yang serius. Osteoporosis adalah penyakit sistem skeletal dan memiliki karakteristik rendahnya massa tulang dan terjadinya kemunduran fungsi jaringan tulang. Penyakit ini diestimasi menyerang hampir 10 juta orang dan hampir 24

20

juta lebih diestimasi memiliki massa tulang yang rendah, sehingga menempatkan mereka dalam kondisi yang tinggi risiko frakturnya (Kaufman, 2007 dalam Tsania, 2008). Menurut Junaidi (2007) dalam Tsania (2008), penyebab osteoporosis secara garis besarnya dikelompokan kedalam dua kategori : 1) Penyebab primer : Menopause, usia lanjut, dan penyebab lain yang tidak diketahui 2) Penyebab Sekunder : Pemakaian obat kortikosteroid, gangguan

metabolisme, gizi buruk, penyerapan yang buruk, penyakit tulang sumsum, gangguan fungsi ginjal, penyakit hepar, penyakit paru kronis, cedera urat saraf tulang belakang, rematik, dan transplantasi organ. Selain itu, osteoporosis juga dapat dikelompokan berdasarkan penyebab penyakit atau keadaan dasarnya : 1) Osteoporosis postmenopause terjadi karena kurangnya hormon estrogen (hormon utama pada perempuan), yang membantu mengatur pengangkatan kalsium kedalam tulang pada perempuan. Biasanya gejala timbul pada perempuan berusia 51-75 tahun, tetapi dapat muncul lebih cepat atau lebih lambat. Tidak semua perempuan kulit putih dan daerah timur lebih rentan menderita penyakit ini daripada perempuan kulit hitam.
2) Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan

kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan antara kecepatan hancurnya tulang (osteoklas) dan pembentukan tulang baru (osteoblas). Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang-orang yang berusia diatas 70 tahun

21

dan 2 kali lebih sering menyerang perempuan. Perempuan seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal. Osteoporosis adalah kondisi dimana berkurangnya massa tulang yang mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan rawan mengalami fraktur (Almatsier, 2006). Menurut Muchtadi (2009), osteoporosis disebabkan oleh penurunan massa tulang akibat absorpsi kalsium yang kurang baik, kurangnya jumlah kalsium dalam makanan yang berlangsung lama, proses resorpsi tulang (keluarnya kalsium dari tulang) yang meningkat dan proses kalsifikasi (masuknya kalsium kedalam matriks tulang) tulang yang terhambat. Penyebab terjadinya dua hal terakhir tersebut adalah abnormalitas kerja kelenjar paratiroid dalam resorpsi tulang, kegaglan sintesis matriks kolagen, imobilitas atau kehilangan stimulus estrogen dalam kalsifikasi tulang. Pada kejadian osteoporosis, laju pembentukan tulang kemungkinan juga normal, namun terjadi percepatan resorpsi tulang sehingga massa tulang berkurang. Resorpsi tulang tersebut terjadi untuk mempertahankan kadar kalsium didalam darah agar tetap normal. Hal tersebut terjadi bila kadar kalsium dalam makanan yang dikonsumsi rendah atau penyerapan kalsium rendah (Muchtadi, 2009). Menurut Lau (2004), dalam Suryono (2007), faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis ialah IMT yang rendah, asupan kalsium yang rendah, sejarah keluarga menderita osteoporosis, aktivitas fisik rendah, merokok, konsumsi alkohol, usia dan obat-obatan tertentu. Menurut Kartono dan Soekatri (2004), kekurangan kalsium dapat meningkatkan risiko osteoporosis pada orang dewasa yaitu gangguan yang menyebabkan penurunan secara bertahap jumlah dan kekuatan jaringan tulang. Penurunan itu disebabkan oleh terjadinya demineralisasi yaitu tubuh yang kekurangan kalsium

22

akan mengambil simpanan kalsium yang ada pada tulang dan gigi. Pada masa pertumbuhan, kekurangan kalsium dapat menyebabkan pengurangan pada massa dan kekerasan tulang yang sedang dibentuk. Cara paling efektif untuk mencegah atau setidaknya menimbulkan terjadinya osteoporosis adalah dengan mencukupi kebutuhan kalsium sepanjang hidup, berolahraga, tidak merokok, dan kecukupan hormonal, misalnya penggunaan terapi pengganti esterogen (Esterogen Replacement Therapy -ERT) setelah menopause (Guthrie dan Picciano, 1995). Kejadian osteoprosis sering dialami oleh perempuan dibandingkan pria. Kenyataanya 1 dari 2 orang perempuan dan 1 dari 4 pria berusia 50 tahun keatas mengalami fraktur akibat osteoporosis sepanjang hidupnya (Nieves, 2005). Menurut Purwoastuti (2008) dalam Agustin (2009), massa tulang pada wanita lebih cepat berkurang daripada laki-laki. Karena pada wanita mengalami menopause, sehingga terjadi penurunan hormon estrogen yang menyebabkan aktivitas sel osteoblas menurun sedangkan osteoklas meningkat. Selain itu, umumnya ras campuran Afrika-Amerika memiliki massa tulang tertinggi, sedangkan ras kulit putih, khususnya keturunan dari Eropa Utara, memiliki massa tulang rendah. Massa tulang ras campuran Asia-Amerika berada diantara keduanya. Konsumsi makanan/minuman kaya kalsium sepanjang hidup membantu mengoptimalkan puncak pembentukan massa tulang, memperlambat resorpsi tulang, dan mengurangi risiko osteoporosis (Miller et al, 2001). b. Osteomalasia Osteomalasia ialah kondisi penurunan kualitas tulang. Keadaan ini sering ditemukan pada wanita yang tinggal didaerah subtropis dimana intensitas sinar

23

matahari rendah dan jarang keluar rumah (jarang terkena sinar matahari), mengkonsumsi obat-obatan anticonvulsive, atau kekurangan cadangan mineral kalsium akibat kehamilan atau menyusui dalam waktu lama. Meskipun osteomalasia berhubungan dengan kadar fosfor rendah, namun lebih dipengaruhi oleh kadar kalsium didalam darah yang rendah (Muchtadi, 2009). c. Kanker Kolon Beberapa studi menunjukan korelasi terbalik antara kejadian asupan kalsium dengan kejadian kanker kolon, meningkatkan asupan kalsium mampu mengurangi risiko terkena kanker kolon yaitu dengan mengurangi konsentrasi asam empedu bebas fekal dan asam lemak bebas, sehingga mengurangi sitotoksisitas. Selain itu suplementasi kalsium dan vitamin D dapat mengurangi risiko kanker kolon dengan mengurangi proliferasi sel epitel kolon (Guthrie dan Picciano, 1995). Setiap kenaikan 1000 mg kalsium sehari atau lebih akan mampu mengurangi 15% risiko dari kanker usus pada wanita dan 10% pada pria. Dalam publikasinya, Dr. Eunyong Cho mengatakan melalui data yang didapatnya bahwa konsumsi susu dan kalsium bisa mengurangi risiko dari terkena kanker usus (Winarno dan Fernandez, 2007). d. Tetani Kadar kalsium darah yang sangat rendah dapat menyebabkan tetani atau kejang. Kepekaan serabut saraf dan pusat saraf terhadap rangsangan meningkat, sehingga terjadi kejang otot misalnya pada kaki. Tetani dapat terjadi pada ibu hamil yang makanannya terlalu sedikit mengandung kalsium dan terlalu tinggi mengandur fosfor (Almatsier, 2006). 4. Efek Kelebihan Kalsium

24

Konsumsi kalsium tidak lebih dari 2500 mg/hari masih bisa ditoleransi oleh tubuh, dengan cara mengeluarkan melalui keringat, urin dan feses. Namun, jika konsumsi kalsium melebihi 2500 mg sehari dapat menimbulkan batu ginjal atau gangguan ginjal. Disamping itu, dapat menyebabkan konstipasi (susah buang air besar). Kelebihan kalsium bisa terjadi bila menggunakan suplemen kalsium berupa tablet atau bentuk lain (Almatsier, 2006). Suatu penelitian terhadap orang yang mengkonsumsi kalsium rata-rata 2150 mg kalsium setiap hari, ditemukan angka kejadian batu ginjal sampai 17%. Oleh sebab itu, orang yang minum tablet kalsium perlu dibarengi dengan minum segelas air (Tandra, 2009). B. Remaja Kata remaja (adolescence) berasal dari bahasa latin adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh dewasa (Hurlock, 1985 dalam Surasno, 2008). Menurut Brown et al (2005), remaja adalah sebuah periode kehidupan antara usia 11 dan 21 tahun. Pada masa ini terjadi perubahan yang dignifikan baik fisik, psikososial maupun kognitif. Masa remaja dikenal dengan masa pubertas dan merupakan suatu periode kehidupan yang sangat dinamis. Gejolak perasaan atau emosi yang diwujudkan dalam tingkah laku yang sangat ekstrem merupakan karakteristik dan gaya hidup remaja (Khomsan, 2004). Untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal tergantung pada potensi biologiknya. Tingkat tercapainya potensi biologik seorang remaja, merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan biofisikopsikososial (Soetjiningsih, 2004). Menurut Brown et al (2005), masa remaja dibagi dalam tiga periode yaitu early

adolescence, middle adolescence, dan late adolescence. Ketiga periode tersebut memiliki karakter fisik dan psikososial yang berbeda seperti terlihat pada tabel 2.1. Tabel 2.1 Karakteristik Fisik dan Psikososial serta Periode Perkembangan Remaja

25

Periode Early Adolescence (11-14 tahun)

Karakter Fisik Perubahan biologis yang pesat (bentuk ukuran) terkait pubertas

Middle Adolescence (15-17 tahun)

Karakter Emosional Penyesuaian diri terhadap pencitraan tubuh baru, adaptasi terhadap kemunculan tandatanda sekunder seksual. Pertumbuhan Pembentukan fisik hampir emosional yang selesai terpisah dari orang tua.

Karakter Karakter Kognitif Sosial Berpikir konkrit, Pengaruh kemampuan peer group terbatas untuk yang kuat. memahami issue kesehatan dan gizi, dan konsep moral awal Peningkatan perilaku kesehatan yang berisiko, ketertarikan terhadap lawan jenis, perencanaan permintaan (visi hidup) yang terlalu dini. Kontrol diri meningkat, timbul kepedulian sosial, pembentukan kemampuan pada peminatan.

Late Adolescence (18-21 tahun)

Pertumbuhan dan perkembangan berakhir membesar

Berpikir abstrak, mulai memahami hubungan antara perilaku sehat dan kesehatan di masa depan, perluasan kemampuan verbal, penyesuaian diri terhadap peningkatan permintaan sekolah. Pembentukan Perkembangan identitas pribadi, abstrak, berpikir semakin terpisah kompleks. dari orang tua

Sumber : Brown et al (2005) Berdasarkan umur kronologis dan berbagai kepentingan, terdapat berbagai definisi tentang remaja, yaitu (Soetjiningsih, 2004) : 1. Pada buku-buku pediatri, pada umumnya mendefinisikan remaja adalah apabila seorang anak telah mencapai umur 10-18 tahun untuk anak perempuan dan 12-20 tahun untuk anak laki-laki. 2. Menurut Undang-Undang No.4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah individu yang belum mencapai 21 tahun dan belum nikah

26

3. Menurut Undang-Undang Perburuan, anak dianggap remaja apabila telah mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat untuk tinggal. 4. Menurut Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun 1974, anak dianggap sudah remaja apabila cukup matang untuk menikah, yaitu umur 16 tahun untuk anak perempuan dan 19 tahun untuk anak laki-laki. 5. Menurut Diknas, anak dianggap remaja apabila sudah berumur 18 tahun, yang sesuai dengan saat lulus sekolah menengah. 6. Menurut WHO, anak dianggap remaja apabila anak telah mencapai umur 10-18 tahun. Menurut Worthington-Robert (2000), dalam kehidupan manusia akan mengalami suatu periode antara masa pubertas dan kematangan penuh yang merupakan masa transisi dari anak-anak ke dewasa yang disebut periode remaja. Periode ini merupakan tahap yang relatif pendek yang ditandai dengan perubahan fisik, biokimia dan mental/emosional yang cepat. Perubahan fisik, biokimia dan mental pada remaja menyebabkan kebutuhan nutrisinya meningkat, untuk mendukung petumbuhannya. Selain itu, terjadinya growth spurt dimana pertumbuhan TB mencapai maksimal (Peak Height Velocity/ PHV) dan penambahan BB yang optimal (Peak Weight Velocity/ PWV ) serta puncak pertumbuhan tulang (Peak Bone Mass / PBM) dan otot yang pesat, juga terjadinya perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan yang mempengaruhi intake nutrisi, menyebabkan kebutuhan nutrisinya lebih tinggi dibanding fase kehidupan lainnya. Kebutuhan nutrisi tersebut terutama energi, protein, vitamin dan mineral. Sekitar 15-20% tinggi badan orang dewasa dicapai dalam masa remaja, terutama masa growth spurt yang berlangsung selama 24-36 bulan. Sebelum masa pubertas, anak perempuan akan mengalami pertambahan tinggi badan secara tetap 5,5 cm/tahun (4,0-7,5 cm/tahun). Terjadinya growth spurt pada perempuan bervariasi antara 9,5-14,5 tahun, tapi biasanya terjadi pada usia 10,5 tahun. Pada anak laki-laki, growth spurt itu terjadi 2 tahun

27

lebih lambat. Masa percepatan pertumbuhan tertinggi (PHV/Peak Height Velocity) pada anak perempuan terjadi rata-rata pada usia 11,5 tahun, dengan percepatan pertumbuhan antara 6,0-10,5 cm/tahun. Sedangkan pada anak laki-laki PHV terjadi lebih lambat, namun rata-rata tinggi badannya lebih tinggi (176,8 cm) dibanding anak perempuan (163,8 cm). Perbedaan ini disebabkan karena lebih rendahnya PHV anak perempuan dan anak perempuan berhenti tumbuh lebih awal (16 tahun dibandingkan anak laki-laki 18 tahun) (Krummel, 1996). 1. Kebutuhan Kalsium Remaja Asupan kalsium yang adekuat selama masa remaja penting untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik. Kalsium memainkan peranan dalam massa tulang. Sebab kirakira seperempat dari peak bone mass diperoleh selama masa remaja. Asupan kalsium sangat penting untuk perkembangan kepadatan massa tulang dan menurunkan risiko patah tulang dan osteoporosis (Brown et al, 2005). Menurut Worthington-Robert (2000), menyebutkan bahwa Dietary Reference Intake (DRI) untuk kalsium pada remaja adalah 1300 mg, dimana kebutuhan kalsium ini menggambarkan intake yang adekuat yang dapat memenuhi kebutuhan remaja individu dalam kelompok ini. Sedangkan, The National Institute of Health (NIH) tahun 1994, merekomendasikan bahwa intake kalsium yang optimal adalah 12001500 mg/hari bagi remaja usia 11-24 tahun. Siti Fatimah Moeis, dokter dan ahli gizi, menyebutkan angka kecukupan kalsium ratarata yang dianjurkan di Indonesia adalah 500-800 mg/hari (Surono, 1999 dalam Syafiq et al, 2004). Sebelumnya kecukupan kalsium menurut AKG 1998 untuk remaja usia 13-15 tahun adalah 700 mg/hari, dan remaja usia 16-19 tahun adalah 600 mg/hari (LIPI, 1998). Tetapi sekarang di indonesia, hasil Widyakarya Pangan dan Gizi tahun 2004 menetapkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk kebutuhan

28

kalsium bagi remaja usia 16-18 tahun sebesar 1.000 mg/hari (Kartono dan Soekatri, 2004). Tabel 2.2 Angka Kecukupan Gizi untuk Kalsium Pada Remaja Umur 16-18 Tahun No Kelompok umur (16-18 tahun) 1 Laki-laki 2 Perempuan Sumber : WNPG, 2004 Kalsium (mg/hari) 1000 1000

Kebutuhan kalsium pada remaja lebih besar daripada anak-anak atau dewasa, karena efisiensi penyerapan kalsium meningkat selama masa remaja/pubertas, kemudian pembentukan tulang terbesar terjadi pada periode ini dan kira-kira 45% masa skeletal dan 20% tinggi badan yang dicapai orang dewasa dibentuk pada saat remaja. Selain itu, pada saat puncak terjadinya growth spurt, deposit kalsium setiap hari mencapai 2 kali lebih besar pada remaja usia 12-20 tahun, serta sebanyak 99% total kalsium tubuh ditemukan dalam tulang dan gigi. Itulah alasan mengapa suplai kalsium yang adekuat dari makanan sangat penting untuk menjaga keseimbangan kalsium tubuh yang optimal selama fase aktif pertumbuhan remaja dan untuk meningkatkan Peak Bone Mass (Baker et al, 1999). 2. Sumber Kalsium Sumber utama kalsium dalam makanan terdapat pada susu dan hasil olahannya, seperti keju, yoghurt. Sumber kalsium selain susu juga penting untuk memenuhi kebutuhan kalsium sampai 1000 mg/hari, yang berasal dari hewani maupun nabati/tumbuhan. Yang berasal dari hewani, seperti ikan yang dimakan dengan tulang termasuk ikan-ikan kering merupakan sumber kalsium yang baik. Sereal, kacangkacangan dan hasil olahannya (tahu, tempe) dan sayuran hijau merupakan sumber kalsium yang cukup baik, namun karena pada umumnya bahan makanan ini mengandung zat yang menghambat penyerapan seperti serat, asam fitat dan oksalat,

29

yang menyebabkan biovailabilitasnya menjadi rendah terutama pada bayam mengandung oksalat yang cukup tinggi (Almatsier, 2006). Sumber kalsium lain yang baik adalah sayuran hijau, kacang-kacangan, dan ikan yang dikalengkan. Roti dan biji-bijian menyumbang intake kalsium yang nyata karena sering dikonsumsi. Ikan dan makanan sumber laut mengandung kalsium lebih banyak dibanding daging sapi maupun ayam (Kartono dan Soekatri, 2004). Adapun kandungan kalsium beberapa bahan makanan dapat dilihat pada tabel 2.3 dibawah ini : Tabel 2.3 Nilai Kalsium Berbagai Bahan Makanan (mg/100 gram) Bahan Makanan mg Bahan Makanan Tepung Susu 904 Kacang kedelai kering Keju 777 Tempe kedelai murni Susu sapi segar 143 Tahu Yoghurt 120 Kacang merah Udang kering 1209 Kacang tanah Teri kering 1200 Oncom Teri nasi 1000 Tepung kacang kedelai Teri segar 500 Bayam Belut air tawar 390 Sawi Sardines (kaleng) 354 Daun melinjo Telur bebek 56 katuk Telur bebek asin 120 Selada air Telur ayam 54 Daun singkong Daging ayam 14 Ketela pohon Daging sapi 11 kentang Susu kental manis 275 Jagung kuning, pipil Sumber : Daftar Komposisi Bahan Makanan, Depkes, 1996. C. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Konsumsi Kalsium Pada Remaja 1. Konsumsi Kalsium Gopalan (1994), menyebutkan bahwa intake kalsium pada masyarakat miskin di Asia masih sangat rendah dibawah kecukupan yang dianjurkan, yaitu hanya 300 mg kalsium perhari. Hal ini terjadi karena diet orang Asia didominasi oleh makanan yang berasal dari sereal dan makanan yang banyak mengandung phitat yang menyebabkan mg 227 129 124 80 58 96 195 265 220 219 204 182 165 33 11 10

30

biovailabilitas kalsium menjadi rendah. Sementara itu, intake susu dan hasil olahannya sebagai sumber utama kalsium masih sangat rendah, begitu pula dengan intake sayuran berdaun hijau yang merupakan sumber kalsium yang baik masih kurang. Hasil survei konsumsi memperlihatkan bahwa intake mineral terutama kalsium dan fe pada remaja masih kurang. Hal ini disebabkan oleh perilaku makan mereka yang lebih memilih makanan populer seperti soft drinks, fast food, dan snacksnack yang banyak mengandung gula dan lemak jenuh (Worthington-Robert, 2000). Kebutuhan kalsium yang optimal bagi remaja menurut National Institute of Health (NIH) adalah 1.200-1.500 mgCa/hari (Worthington-Robert, 2000). Menurut Jackman et al (1997), intake kalsium yang tinggi sangat diperlukan pada awal kehidupan dan masa pertumbuhan remaja untuk meningkatkan densitas tulang. Pencapain retensi kalsium yang maksimal selama remaja dapat mempengaruhi Peak Bone Mass dan mencegah risiko osteoporosis. Retensi kalsium secara umum dianggap mencapai keseimbangan pada intake kalsium yang cukup. Diperkirakan sekitar 51% Peak Bone Mass terakumulasi selama pertumbuhan pubertas pada perempuan. Hasil penelitian cross sectional tentang total mineral pada wanita usia 11-31 tahun, menyebutkan bahwa total mineral tulang dicapai pada usia rata-rata 20 tahun. Sementara itu, penelitian yang dilakukan secara longitudinal pada wanita usia 18,5-26 tahun, diketahui bahwa total mineral tulang meningkat rata-rata 1,2 persen/tahun selama tiga dekade kehidupan dan mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. Pemberian suplemen kalsium pada anak-anak dan remaja terbukti dapat meningkatkan penambahan kalsium tulang (Jackman et al, 1997). Yayasan Gizi di India melakukan studi terhadap pola pertumbuhan gadis remaja (1218 tahun) yang berasal dari populasi orang kaya yang dihubungkan dengan intake kalsium. Hasil studi menunjukan bahwa pertumbuhan remaja tersebut sesuai dengan

31

50 th persentil terhadap NCHS (National Center for Health Statistics) sampai usia 12 tahun dan kemudian penambahan tinggi badan gadis-gadis india tersebut secara signifikan kurang dari TB remaja putri Amerika. Faktor yang membedakan antara TB perempuan Amerika dengan perempuan india tersebut adalah pada saat perkembangan selama remaja. Peneliti berpendapat bahwa meskipun intake kalsium dari makanan dengan makanan utama orang India adalah sereal mungkin adekuat untuk mencapai pertumbuhan optimal untuk anak-anak, tetapi itu tidak cukup untuk periode remaja dimana kebutuhan kalsium untuk pertumbuhan skeletal lebih tinggi (Gopalan, 1994). Menurut penelitian Puslitbang Gizi dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2002), rata-rata orang indonesia hanya mengkonsumsi kalsium sebesar 254 mg/orang/hari. Baru mencapai sekitar seperempat dari angka kecukupan kalsium yang dianjurkan. Padahal hasil Widyakarya Pangan dan Gizi tahun 2004 menetapkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk kebutuhan kalsium bagi remaja usia 16-18 tahun sebesar 1.000 mg/hari (Kartono dan Soekatri, 2004). Penelitian Syafiq dan Fikawati (2004), pada remaja di 10 SMUN di Kota Bogor Jawa Barat menunjukan bahwa asupan kalsium yang berasal dari susu dan hasil olahannya ditambah suplemen kalsium pada remaja masih kurang dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan, yaitu hanya sebesar 526,9 mg/hari atau 52,7% dari angka kecukupan gizi tahun 2004. Jika dibandingkan dengan konsumsi kalsium tanpa suplemen, maka angkanya lebih rendah yaitu hanya 379 mg/hari atau 37,9% dari angka kecukupan gizi tahun 2004. Sementara itu, studi konsumsi kalsium lainnya di Kota Bandung berdasarkan penelitian Puspasari (2004), juga menunjukan hasil yang tidak jauh berbeda, konsumsi kalsium mereka hanya 559,05 mg/hari atau 55,9% dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan tahun 2004 (dengan memperhitungkan konsumsi suplemen

32

kalsium). Bila tidak memperhitungkan konsumsi suplemen kalsium, rata-rata asupannya lebih rendah lagi yaitu hanya 517,23 mg/hari atau 51,7% dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan tahun 2004. 2. Jenis Kalsium Kebutuhan zat gizi anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan dan biasanya lebih tinggi karena anak laki-laki memiliki aktivitas fisik yang lebih tinggi. Menurut Apriadji (1986), jenis kelamin menentukan besar kecilnya kebutuhan gizi bagi seseorang, remaja laki-laki banyak makan daripada remaja puteri. Selain itu, Khumadi (1989), menyebutkan bahwa anak laki-laki biasanya mendapatkan prioritas yang lebih tinggi dalam hal makanan dibandingkan anak perempuan. Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa kekurangan gizi lebih banyak terdapat pada anak perempuan daripada anak laki-laki. Studi yang dilakukan oleh Eck dan Kackett dalam Krummel (1996), menggunakan data NHANES (National Health and Nutrition Examination Survey) untuk menilai asupan kalsium pada remaja menemukan bahwa remaja laki-laki mempunyai asupan yang lebih tinggi dibanding perempuan. Worthington-Robert (2000), juga menyebutkan bahwa remaja terutama perempuan memiliki risiko terbesar terhadap ketidakcukupan intake kalsium. Selain itu, ditemukan bahwa remaja perempuan pada usia 9-17 tahun cenderung menurun intake kalsiumnya. Asupan kalsium yang tidak adekuat pada remaja perempuan merupakan masalah yang potensial karena akan menyebabkan berkurangnya cadangan kalsium dalam tulang. Hasil penelitian terhadap siswa-siswi SMUN di Kota Bandung menunjukan adanya perbedaan yang bermakna antara asupan kalsium pada anak perempuan dan anak laki-laki. Asupan kalsium yang kurang lebih banyak ditemukan pada anak perempuan (79,4%) dibandingkan pada anak laki-laki (72,9%) dengan odds rasio sebesar 1,44

33

artinya remaja putri mempunyai peluang memiliki asupan kalsium yang kurang sebesar 1,44 kali dibanding remaja laki-laki (Puspasari, 2004). Penelitian terhadap siswa-siswi SMUN di Kota Bogor tidak menunjukan hasil yang berbeda, rata-rata asupan kalsium pada anak perempuan lebih rendah daripada anak laki-laki yaitu masing-masing sebesar 501,7 mg/hari dan 546,6 mg/hari (Syafiq et al, 2004). Perempuan memerlukan kalsium yang cukup untuk menguatkan tulang (mencapai Peak Bone Mass/ PBM maksimal) dan mencegah serta mengurangi risiko osteoporosis atau masalah yang berhubungan dengan kesehatan tulang dimasa dewasa atau lansia nanti. Hal ini dikarenakan perempuan akan mengalami menopause yang diiringi dengan menurunnya kadar estrogen, keadaan tersebut akan mengakibatkan peningkatan bone turn over dimana lebih banyak terjadi resorpsi tulang daripada pembentukan tulang, sehingga menyebabkan peningkatan terjadinya pengeroposan tulang (Sidartawan, 2000 dalam Syafiq et al, 2004). Oleh karena itu konsumsi kalsium pada perempuan harus lebih sering daripada laki-laki. Akan tetapi bukan tidak mungkin laki-laki terkena osteoporosis. Menurut Campion dan Maricic (2003) dalam Suryono (2007), sekitar 30% osteoporosis terjadi pada pria dan 1 dari 8 pria yang berusia diatas 50 tahun menderita kerapuhan tulang karena osteoporosis. Walaupun kejadian kerapuhan tulang pada pria terjadi 10 tahun lebih lambat daripada wanita, akan tetapi angka mortalitas akibat patah tulang panggul pada pria lebih tinggi daripada wanita, yaitu pada pria 31% dan pada wanita 17%. Oleh karena itu, kepadatan tulang harus diperhatikan dengan baik pada remaja laki-laki. Kepadatan tulang sangat terkait dengan asupan kalsium yang diperoleh khususnya dari pangan yang dikonsumsi. 3. Pengetahuan Tentang Kalsium

34

Pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003) merupakan hasil tahu dan hal ini terjadi saat orang tersebut melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu melalui pancaindera manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan perabaan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk tebentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif ini terdiri dari enam tingkatan yaitu tahu (know), memahami (comprehension), aplikasi

(application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation). Menurut Suhardjo (2003), pengetahuan gizi adalah pengetahuan atau pemahaman masyarakat tentang gizi didasarkan pada tiga kenyataan : a. b. Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya

mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan dan energi c. Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat

belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi. Pengetahuan gizi bertujuan untuk merubah perilaku masyarakat kearah konsumsi pangan yang sehat dan bergizi. Jika pengetahuan gizi tinggi, maka ada kecenderungan untuk memilih makanan yang lebih murah dengan nilai gizi yang lebih tinggi. Kurangnya pengetahuan dan salah persepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi. Sebab lain yang penting dari gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan seharihari (Suhardjo, 2003).

35

Husaini (1985) dalam Puspasari (2004), mengatakan bahwa kurangnya pengetahuan gizi, masa bodoh dan curiga terhadap bahan makanan tertentu dapat menimbulkan kurang gizi walaupun bahan makanan yang tersedia cukup. Lain halnya jika seseorang mempunyai pengetahuan gizi yang cukup, maka ia dapat berperilaku positif terhadap pengetahuan gizi yang ada apanya. Selain itu, tingkat pengetahuan seseorang akan mempengaruhi perilakunya, makin tinggi pengetahuan seseorang maka makin tinggi kesadaran seseorang untuk berperan serta dalam bidang kesehatan terutama bidang gizi. Pengetahuan kalsium merupakan langkah awal untuk meningkatkan konsumsi bahan makanan sumber kalsium. Dengan pengetahuan gizi yang cukup diharapkan remaja dapat meningkatkan konsumsi bahan makanan sumber kalsium. Sebagaimana dinyatakan oleh Miller et al (2001), mereka yang mengetahui bahwa kalsium penting bagi kesehatan tulang, mengkonsumsi lebih banyak dari pada mereka yang tidak mengetahuinya. Kurangnya pengetahuan tentang berapa banyak kalsium yang diperlukan dan apa saja sumber kalsium merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi konsumsi kalsium. Sebuah survei di Rhode Island Amerika Serikat pada 1.117 remaja ditemukan bahwa mereka yang mengetahui tentang kalsium mengkonsumsi lebih banyak sumber kalsium daripada remaja yang tidak mengetahuinya. Studi tentang pengetahuan terkait kalsium dan kesehatan tulang tersebut mengungkap beberapa penemuan menarik. Ketika remaja ditanyakan manfaat kalsium bagi kesehatan tubuh, 92% tahu bahwa kalsium dibutuhkan untuk memperkuat tulang, 51% tahu bahwa kalsium diperlukan untuk mencegah osteoporosis, 60% tahu bahwa kalsium dibutuhkan untuk kesehatan gigi, 60% menyadari bahwa kalsium dibutuhkan pada remaja karena masa remaja merupakan periode kritis untuk perkembangan puncak

36

massa tulang. Akan tetapi hanya 19% remaja yang mengetahui bahwa konsumsi susu, produk susu, atau susu kedelai dianjurkan 4 kali (1200 mg) per hari untuk remaja seusia mereka (Harel et al, 1998). Pengetahuan tentang kalsium terutama yang berasal dari makanan dan sumbersumbernya merupakan langkah awal untuk meningkatkan asupan kalsium, karena remaja yang asupan kalsiumnya kurang masih memerlukan informasi spesifik mengenai sumber-sumber kalsium (Puspasari, 2004). 4. Aktivitas Olahraga Aktivitas fisik atau disebut juga aktivitas eksternal adalah sesuatu yang menggunakan tenaga atau energi untuk melakukan berbagai kegiatan fisik, seperti berjalan, berlari, berolahraga, dan lain-lain. Setiap kegiatan fisik membutuhkan energi yang berbeda menurut lamanya intensitas dan sifat kerja otot. Latihan fisik dapat meningkatkan kemampuan fungsional kardiovaskular dan menurunkan kebutuhan oksigen otot jantung yang diperlukan pada setiap penurunan aktivitas fisik seseorang (William Son, 1993 dalam Nugroho, 1999). Kebutuhan kalsium akan meningkat pada orang yang tingkat aktivitas fisiknya (olahraga) cukup dengan jenis olahraga yang dapat meningkatkan densitas tulang, seperti basket, sepak bola, lari, jalan kaki, dan lain-lain. Dengan meningkatnya aktivitas fisik olahraga, diharapkan konsumsi kalsium juga akan meningkat sehingga kebutuhan kalsiumnya dapat terpenuhi. Selain itu, tingkat aktivitas fisik seseorang berpengaruh baik terhadap absorpsi kalsium. Stres fisik dan mental cenderung menurunkan absorpsi kalsium dalam usus halus dan meningkatkan ekskresi kalsium dalam urin (Almatsier, 2006). Untuk menilai pengaruh aktivitas fisik, merokok dan intake kalsium pada remaja, Valimaki et al (1994), melakukan penelitian terhadap 264 remaja umur 9-18 tahun

37

dan diikuti secara kohort selama 10-11 tahun. Hasil penelitian menunjukan bahwa ketiga faktor tersebut berpengaruh terhadap pencapaian Peak Bone Mass yang maksimal. Latihan yang teratur selama 30 menit dalam 3 kali seminggu berhubungan secara positif terhadap densitas mineral tulang terutama pada tulang femur. Berdasarkan hasil penelitian Puspasari (2004), didapatkan 31,1% siswa yang aktivitas olahraganya cukup, maka asupan kalsiumnya baik. Sedangkan 77,5% siswa yang aktivitas olahraganya kurang, ternyata asupan kalsiumnya juga masih kurang. Secara statistik didapatkan adanya perbedaan asupan kalsium yang signifikan antara aktivitas olahraga siswa yang cukup dengan aktivitas olahraga siswa yang kurang. Berdasarkan nilai odds rasio dapat disimpulkan bahwa remaja yang aktivitas olahraganya kurang mempunyai peluang terhadap asupan kalsium yang tidak adekuat sebesar 1,56 kali dibandingkan remaja yang aktivitas olahraganya cukup. Berdasarkan hal tersebut maka remaja dengan aktivitas olahraga yang kurang, akan kurang memperoleh rangsangan untuk memenuhi kebutuhan kalsium yang tinggi, dengan asumsi bahwa jika aktivitas olahraga seseorang tinggi maka akan memperoleh rangsangan untuk memenuhi kebutuhan kalsiumnya dengan berusaha mengkonsumsi makanan sumber kalsium.
5. Kebiasaan Konsumsi Soft Drinks

Kebiasaan konsumsi soft drinks adalah tindakan atau perbuatan mengenai sering tidaknya mengkonsumsi minuman bersoda dihitung perminggu (Malik, 2006). Pada dasarnya, perilaku konsumsi makanan maupun minuman merupakan bentuk penerapan kebiasaan makan yang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu pengetahuan dan sikap terhadap makanan (Suhardjo, 1989). Kebiasaan makan adalah perilaku yang berhubungan dengan makanan dan makan, seperti tata krama makan, frekuensi makan seseorang, pola makan, kepercayaan

38

tentang makanan, distribusi makanan diantara anggota keluarga, penerimaan terhadap makanan, suka atau tidak suka, dan cara pemilihan bahan makanan yang dimakan. Kebiasaan makan merupakan cara individu atau kelompok individu memilih pangan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologik, psikologik, sosial dan budaya (Suhardjo, 1989). Konsumsi soft drinks dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan kalsium karena mengandung tinggi fosfor, kalsium membentuk kalsium fosfat yang tidak larut air, sehingga menghambat absorpsi kalsium. Agar kalsium dan fosfor dapat dimanfaatkan secara optimal, maka dianjurkan rasio kalsium dan fosfor dalam makanan antara 1:1 dan 2:1 (Almatsier, 2006). Rasio fosfor dan kalsium yang lebih dari 2:1 dalam makanan dapat meningkatkan hormon parathyroid yang menyebabkan demineralisasi tulang yang merupakan faktor penting terhadap penurunan kepadatan tulang (Linder, 1992 dalam Dilapanga, 2008). Menurut Grosvenor dan Smolin (2002) dalam Dilapanga (2008), rasio kalsium dan fosfor pada rata-rata soft drinks (seperti coca-cola, pepsi, tea instant dan orange drink carbonated) adalah 1:3, sehingga menyebabkan terhambatnya penyerapan kalsium meskipun dikonsumsi secara tidak reguler. Hal ini sejalan dengan klasifikasi konsumsi soft drinks yang dikemukakan oleh Malik (2006), yaitu sering jika mengkonsumsi soft drinks lebih dari atau sama dengan 2 kali dalam seminggu dan jarang jika mengkonsumsi soft drinks kurang dari 2 kali dalam seminggu. 6. Pengaruh Teman Pengaruh teman sebaya sangat kuat pada masa remaja awal. Remaja belum sepenuhnya matang, baik secara fisik, kognitif dan psikososial. Dalam masa ini, remaja cepat sekali terpengaruh lingkungan dan sangat menyadari penampilan fisik dan perilaku sosial mereka dan selalu berusaha menyesuaikan dengan kelompoknya.

39

Kebutuhan untuk menyamakan diri dengan kelompoknya dapat mempengaruhi intake gizi remaja (Brown et al, 2005). Seiring dengan bertambahnya umur, kendali orang tua terhadap pilihan makan remaja akan semakin kecil dan pengaruh teman menjadi lebih besar (Miller et al, 2001). Aktivitas yang banyak dilakukan di luar rumah membuat individu sering dipengaruhi teman sebayanya. Pemilihan makanan tidak lagi didasarkan pada kandungan gizi tetapi sekedar bersosialisasi, untuk kesenangan, dan supaya tidak kehilangan status (Khomsan, 2003 dalam Mulyani, 2009). Menurut Sartiningsih (1993) dalam Mulyani (2009), menyebutkan bahwa pola konsumsi remaja sangat dipengaruhi oleh pola konsumsi teman sebaya. Selain itu, remaja juga akan merasa senang apabila makan bersama dengan orang terdekat, dimana remaja lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah bersama dengan teman-teman sebayanya di dalam kelompok yang mengakibatkan pengaruh teman sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku lebih kuat daripada pengaruh keluarga (Murniawan, 2006). Keluarga menjadi tidak begitu penting dibandingkan dengan lingkungan sosial dan teman-teman sebayanya (Hanseil dan Mechanic, 1990 dalam Dilapanga, 2008). Pada umumnya dikatakan ketergantungan dan kelekatan seseorang individu dengan orang tuanya pada masa anak-anak dan masa awal sekolah akan berubah menjadi kesadaran dan keinginan untuk berinteraksi dengan teman-teman sebayanya pada masa sekolah, dan akhirnya akan asyik dengan penerimaan teman sebaya dan kemandirian selama masa remaja (La Greca, 1998 dalam Dilapanga, 2008). Pilihan makanan dan kesehatan pada remaja merupakan refleksi pendapat dan sikap kelompok teman sebaya mereka. Jika teman sebaya mengatakan minum susu

40

merupakan kebiasaan anak kecil, maka remaja akan cenderung memilih soft drinks dari pada susu (Whitney et al, 2005). 7. Kesukaan Terhadap Pangan Sumber Kalsium Menurut Pilgrin dalam Suhardjo (1989), preferensi makanan dan minuman (food preferences) adalah sebagai tindakan/ukuran suka atau tidak sukanya terhadap makanan dan minuman. Sikap seseorang terhadap makanan dan minuman, suka atau tidak suka akan berpengaruh terhadap konsumsinya. Oleh karena itu, merupakan hal penting untuk mempelajari pangan yang disukai atau tidak disukai dan menelusuri sebab-sebab yang melatarbelakanginya. Kesukaan atau pilihan terhadap makanan tentu saja akan berpengaruh terhadap konsumsi pangan dan kebiasaan makan seseorang (Zahrulianingdyah, 1998 dalam Dilapanga, 2008). Rasa merupakan hal penting yang menentukan keinginan seseorang dalam memilih makanan. Mereka yang menyukai rasa bahan makanan sumber kalsium maka akan lebih sering mengkonsumsi makanan tersebut. Berdasarkan penelitian Smart et al (1998) dalam Miller et al (2001), yang dilakukan selama dua tahun mengenai efek intake kalsium terhadap kesehatan tulang remaja perempuan, menunjukan bahwa rasa merupakan alasan utama seseorang untuk suka atau tidak suka dalam mengkonsumsi bahan makanan sumber kalsium. Selain itu, studi lain yang dilakukan Novotny et al (1999) dalam Miller et al (2001), menyatakan bahwa rasa merupakan faktor utama yang mempengaruhi konsumsi bahan makanan sumber kalsium pada remaja Asia di Hawai. 8. Pendapatan Keluarga Faktor yang berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang adalah tingkat sosial ekonomi, dalam hal ini adalah daya beli keluarga. Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung pada besar kecilnya pendapatan

41

keluarga, harga bahan makanan itu sendiri, serta tingkat pengelolaan sumber daya lahan dan pekarangan. Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya terutama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya (Apriadji, 1986) Menurut Berg (1986), uang tentu saja akan mempengaruhi apa yang akan dimakan. Tingkatan pendapatan juga menentukan pola makanan apa yang dibeli dengan uang tersebut. Dengan demikian, pendapatan keluarga merupakan faktor yang paling menentukan kuantitas dan kualitas makanan. Terdapat hubungan yang erat antara pendapatan dan gizi didorong oleh pengaruh menguntungkan dari pendapatan yang meningkat bagi perbaikan kesehatan dan masalah keluarga lainnya yang berkaitan dengan keadaan gizi hampir berlaku umum terhadap semua tingkat pertambahan pendapatan, juga jelas kalau rendahnya peningkatan pendapatan orang-orang miskin dan lemahnya daya beli mereka tidak memungkinkannya untuk mengatasi kebiasaan makan dan cara-cara tertentu yang menghalangi perbaikan gizi yang efektif. Dengan kata lain semakin tinggi penghasilan, semakin besar pula persentase dari penghasilan tersebut untuk membeli buah, sayuran dan jenis bahan makanan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian Mulyani (2009), menunjukan adanya perbedaan yang bermakna antara pendapatan orang tua dengan konsumsi kalsium pada remaja. Remaja dengan pendapatan orang tuanya rendah yang konsumsi kalsiumnya kurang ternyata lebih banyak yaitu sebesar 62,2% dibandingkan yang konsumsi kalsiumnya baik yaitu 37,8%. Dilihat dari nilai Odds rasio sebesar 2,899, maka dapat disimpulkan bahwa remaja yang pendapatan orang tuanya rendah mempunyai peluang 2,9 kali mengkonsumsi kalsium yang tidak adekuat dibandingkan remaja yang pendapatan orang tuanya tinggi. 9. Kebiasaan Makan Sumber Kalsium

42

Menurut

Suhardjo

(1989),

kebiasaan

makan

adalah

suatu

istilah

untuk

menggambarkan kebiasaan dan perilaku yang berhubungan dengan makanan dan makan, seperti frekuensi makan seseorang, pola makanan yang dimakan, suka atau tidak suka terhadap makanan dan cara pemilihan makanan yang hendak dimakan. Orang biasanya memiliki ikatan batin, loyalitas dan sensitifitas yang kuat terhadap kebiasaan makannya. Pola makan yang sudah ada mempunyai ikatan yang kuat dengan tradisi kehidupan masyarakat. Dari segi gizi, kebiasaan makan ada yang baik, yaitu menunjang terpenuhinya kecukupan zat gizi, tetapi ada pula yang kurang baik, yaitu yang menghambat terpenuhinya kecukupan gizi (Khumaidi, 1989). Pembentukan kebiasaan makan seseorang bergantung pada kemampuan dan taraf hidupnya, pada umumnya makin baik taraf hidupnya makin meningkat daya belinya dan makin tinggi mutu makanan yang tersedia untuk keluarga sebagai konsumen, dibutuhkan keterampilan untuk memilih bahan yang murah dan sesuai dengan kebutuhan keluarga, meskipun selera masih menjadi maslah yang utama (Suhardjo, 1989). Menurut Suhardjo (1989), faktor pribadi dan kesukaan yang mempengaruhi jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi antara lain : a. Banyaknya informasi yang dimiliki seseorang tentang kebutuhan tubuh

akan gizi b. Kemampuan seseorang untuk menerapkan pengetahuan gizi ke dalam

pemilihan pangan dan pengenmbangan cara pemanfaatan pangan yang sesuai c. Hubungan keadaan kesehatan seseorang dengan kebutuhan akan pangan

untuk pemeliharaan kesehatan dan pengobatan penyakit. D. Metode Pengukuran Konsumsi Makanan Tingkat Individu
1. Metode Food Recall 24 Jam

43

Prinsip metode

recall 24 jam dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah

bahan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Responden ibu atau pengasuh (bila anak masih kecil) disuruh menceritakan semua yang dimakan dan diminum selama 24 jam yang lalu (kemarin) (Supariasa et al, 2001). Metode recall adalah metode penelitian konsumsi pangan, dimana pewawancara

menanyakan apa yang telah dikonsumsi oleh responden. Wawancara dilakukan berdasarkan suatu daftar pertanyaan atau kesioner yang telah disiapkan terlebih dahulu. Ditanyakan dengan lengkap apa yang telah dikonsumsi ketika makan pagi, siang, malam dan selingan / makanan kecil di luar waktu makan, biasanya 1-3 hari dari waktu wawancara. Tanggal dan waktu makan serta besar porsi setiap makanan dicatat dengan teliti. Hasil pencatatan wawancara kemudian diolah, dikembalikan pada bentuk bahan mentah dan dihitung zat-zat gizinya berdasarkan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) yang berlaku. Jumlah masing-masing zat gizi dijumlahkan dan dihitung rata-rata konsumsi setiap

hari ( Sediaoetama,2006). Apabila pengukuran hanya dilakukan 1 kali (1 kali 24 jam), maka data yang diperoleh kurang reprsentatif untuk menggambarkan kebiasaan makanan

individu. Oleh karena itu, recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya tidak berturut-turut (supariasa et al,2002). Beberapa penelitian

menunjukan bahwa minimal 2 kali recall 24 jam tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan asupan zat gizi lebih optimal dan memberikan variasi yang lebih besar tentang intake harian individu (sanjur, 1997 dalam Supariasa et al, 2001). Supariasa et al (2001), menjelaskan bahwa metode recall 24 jam ini mempunyai beberapa kelebihan yaitu :
a.

Mudah melaksanakannya serta tidak terlalu membebani responden.

44 b.

Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan khusus dan wawanara.

tempat luas untuk c.


d.

Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden. Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi

individu sehingga dapat dihitung intake zat gizi. Selain kelebihan, metode recall 24 jam juga memiliki kekurangan, yaitu (Supariasa,2001):
a. Tidak

dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari, bila hanya

dilakukan recall satu hari.


b. Ketepatannya

sangat tergantung pada daya ingat responden, sehingga pada anak usia dibawah 7 tahun, orang tua

metode ini tidak dilakukan

berusia diatas 70 tahun dan orang yang pelupa.


c. The Flat Slope Syndrome, yaitu kecenderungan bagi responden yang kurus

untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak

(over estimate) dan bagi

responden yang gemuk cenderung melaporkan lebih sedikit (under estimate).


d. Membutuhkan tenaga atau

petugas yang terlatih atau terampil dalam

mengunakan alat-alat bantu Ukuran Rumah Tangga (URT) dan ketepatan alat bantu yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat.
e. Responden harus diberi motivasi dan penjelasan tentang tujuan dari

penelitian.
f. Recall jangan dilakukan pada saat panen, hari pasar, akhir pekan, pada saat

melakukan upacara keagamaan, selamatan dan lain-lain.


2. Metode Frekuensi Makanan (food Frequency)

Metedo Frekuensi makanan adalah untuk memperoleh data tentang frerkuensi makanan sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu

45

seperti hari, minggu, bulan atau tahun. Selain itu, metode frekuensi makanan dapat memperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara kualitatif, tapi karena periode pengamatannya lebih lama dan dapat membedakan individu berdasarkan ranking tingkat konsumsi zt gizi, maka cara ini paling sering digunakan dalam penelitian epidemiologi gzi (Supariasa et al, 2001). Food frequency questionnaire (FFQ) semikuantitatif terdiri dari 3 komponen, yaitu: daftar nama makanan, frekuensi makan untuk setiap nama makanan dan ukuran porsi. Daftar nama makanan yang tercantum dalam FFQ harus memiliki tiga karakteristik, yaitu (Wallet, 1998): a. Makanan tersebut merupakan makanan yang sering dikonsumsi oleh

individu, b. makanan tersebut memiliki nilai gizi sesuai dengan kebutuhan

penelitian, dan
c.

Makanan

tersebut

dapat

mendiskriminasi

asupan

setiap

orang,

misalnya wortel tidak dapat membedakan individu berdasarkan asupan karoten jika semua orang mengonsumsi wortel setiap harinya. Dengan

demikian tidak perlu memasukan wortel ke dalam daftar nama makanan FFQ. Sebaliknya bayam, sering dihindari atau disukai dan sering dimakan , akan memberikan informasi yang berarti meskipun rendah kand

karotnnya dan rata-rata jarang dikonsumsi. Untuk mengumpulkan nama-nama makanan apa saja yang akan dimasukakan ke dalam daftar, dapat dilakukan beberapa pendekatan. Pendekatan paling sederhana yaitu dengan melihat daftar komposisi bahan makanan dan

mengidentifikasi makanan atau bahan makanan apa yang memiliki kandungan zat gizi sesuai dengan kebutuhan penelitian. Pendekatan lain adalah dengan

46

daftar semua nama

makanan yang mungkin Memiliki

kandungan zat gizi

penting kemudian secara sistematis mengurangi daftar nama makanan. Daftar nama makanan dapat diambil dari daftar komposisi bahan makanan atau dengan bantuan dienticiten. Untuk mengurangi daftar nama makanan dapat dilakukan pilot test kuesioner. Pendekatan berikutnya adalah dengan

menggunakan data terbuka ( walett, 1998). Sedangkan, ukuran porsi dapat memberikan informasi tentang jumlah asupan makanan trtentu. Metode FFq semikuantitatif ini memerlukan adanya

persamaan persepsi dalam menggunakan ukuran porsi antara penelitian dengan responden (walett, 1998). Menurut metode Food Frequency adalah: a. Dapat diisi sendiri oleh rsponden. Kuesioner Frekuensi makanan Supariasa et al(2001), kelebihan dari

berisi daftar sejumlah bahan makanan dalam periode tertentu ( hari, minggu, bulan) dan mampu membedakan berdasarkan peringkat tingkat konsumsi tingkat gizi. b. c.
d.

Relati murah untuk jumlah sampel yang besar. Tidak membutuhkan latihan khusus. Umumnya digunakan uuntuk melihat hubungan antara diet dan

penyakit. Hal itu berasarkan pada hipotesis bahwa jumlah konsumssi zat gizi pada masa lalu apabila dikaitkan dengan risiko sakit jauh lebih

penting daripada apa yang dimakan pada saat itu. Sedangkan kekurangan dari metode Food Frequency ini antara lain:
a.

Tidak dapat menghitung intake zat gizi sehari. Sulit mengembangkan kuesioner pengumpulan data. Cukup menjemukkan bagi pewawancara.

b. c.

47

d.

perlu membuat percobaan pendahuluaan untuk jenis bahan makanan

yang akan masuk dalam daftar kuesioner.


e.

Responden harus jujur dan mempunyai motivasi tinggi (Supariasa

et al,2001). Bagan 2.1 kerangka teori

a. Jenis Kelamin b. Pengetahuan tentang Kalsium c. Aktivitas Olahraga d. Kebiasaan Konsumsi soft drinks
e. Pengaruh Teman

Konsumsi Kalsium pada Siswa/Siswi SMA/SMK di Pondok Pesantren Al-Ittihad

f. Kesukaan terhadap Pangan Sumber Kalsium g. Pendapatan Keluarga h. Kebiasaan Makan Sumber Kalsium