Anda di halaman 1dari 81

Hubungan Obesitas dengan

Diabetes Melitus, Dislipidemia


dan Penyakit Jantung Koroner

DR. ARIF LIANTO LIE, SP.PD


SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RS MARDI RAHAYU KUDUS
Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai
akibat dari penimbunan lemak tubuh yang
berlebihan.

Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih


tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya
yang normal dianggap mengalami obesitas.
Cara mengukur tingkat Obesitas
Mengapa bisa timbul obesitas ?
Obesitas timbul karena jumlah
kalori yang masuk melalui
makanan lebih banyak daripada
kalori yang dibakar.
Keadaan ini dapat mengakibatkan
penumpukan jaringan lemak yang
berlebihan dalam tubuh sehingga
terjadi obesitas
Faktor lain penyebab obesitas
1. Genetik
2. Pola makan berlebihan
3. Psikis
4. Lingkungan
Gejala obesitas
Timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas,
meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang
ringan.
• Selalu merasa ngantuk
• Kadang sering ditemukan kelainan kulit
• Nyeri punggung bawah
Begitu seseorang mengalami
kelebihan berat badan, maka akan
terjadi perubahan dalam
keseimbangan metabolisme Obesitas selalu disertai oleh
tubuhnya dan akan lebih sulit RESISTENSI INSULIN, yang
baginya untuk kembali pada menyebabkan hiperinsulinemia
(kadar insulin yang berlebih di dalam
keseimbangan yang normal. darah). Resistensi insulin proporsinya
berbanding lurus dengan jumlah
lemak pada organ dalam tubuh
(visceral body fat). Artinya, lemak
tubuh meningkat → resistensi insulin
juga meningkat
Apa penyebab DM ?
Apakah DM penyakit keturunan ?
Siapa saja yang bisa
terkena DM ?
Apa bahayanya bila DM
dibiarkan dan tidak diobati ?
Bagaimana cara
mengobati DM ?

Apakah DM bisa disembuhkan ?


Apakah obat DM tidak berbahaya
bila diminum terus menerus ?
Bagaimana cara
mencegahnya ?
Apa penyebab DM ??
Berkurangnya kadar dan atau
kemampuan insulin (dihasilkan
oleh kelenjar pankreas) dalam hal
menormalkan kadar gula darah.
Klasifikasi DM
prevalensi ± 10%, seringkali terdiagnosis
DM tipe 1
pada usia anak-anak, dan seumur
hidupnya tergantung dengan insulin
DM tipe 2
prevalensi ± 90%, pada usia dewasa

DM tipe lain : tumor, infeksi, obat-obatan, penyakit sistem imune

DM gestasional : DM saat kehamilan


Siapa saja yang bisa terkena DM ?

1. Usia ≥ 45 tahun
2. Usia < 45 tahun, terutama dengan kegemukan, yang disertai dengan
faktor resiko :
• kebiasaan tidak aktif
• turunan pertama dari orang tua dengan DM
• riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi > 4000 gram, atau
riwayat DM gestasional
• hipertensi (≥ 140/90 mmHg)
• kolesterol HDL ≤ 35 mg/dL dan atau trigliserida ≥ 250 mg/dL
• menderita polycystic ovarial syndrome (PCOs) atau keadaan lain
yang terkait dengan resistensi insulin
• adanya riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa
darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya → Prediabetes
• memiliki riwayat penyakit jantung
Bagaimana diagnosis DM ditegakkan ?
1. Gejala klasik DM + GDA  200 mg/dL
atau
2. Gejala klasik DM
+
GDP  126 mg/dL dengan puasa 8 jam
atau
3. 2 jam PP TTGO  200 mg/dL
TTGO dengan beban 75 g glukosa

Keluhan klasik DM : rasa haus yang berlebihan, sering kencing terutama malam hari
dan berat badan menurun dengan cepat.
Keluhan lain dapat berupa lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, gairah seks
menurun, luka sukar sembuh.
Penatalaksanaan DM
Terapi diabetes mellitus

1. Diit 2. Olah raga

3. Pengendalian BB 4. Obat : Pil / Insulin 5. Kontrol teratur


MANAJEMEN DIABETES MELLITUS TIPE 2

Kendali Glukosa Kendali Penyakit Penyerta Penapisan/Pengelolaan


Diet/gaya hisup sehat Dislipidemia Komplikasi
Aktifitas jasmani Hipertensi Retinopati
Obat/insulin Obesitas Nefropati
Penyakit jantung koroner Neuropati
Peny.kardiovaskular
Komplikasi lain
Jenis obat-obat diabetes

1. Obat anti diabetes (OAD) dalam bentuk tablet


2. Insulin

Apabila dokter menyarankan


anda menggunakan insulin,
maka bukan berarti penyakit
Diabetes anda memburuk.
Melainkan, semata-mata untuk
mencapai target glukosa darah.
Perilaku Sehat bagi Penderita
Diabetes
Mengikuti pola makan sehat

Meningkatkan kegiatan jasmani


(3-4x/mgg, sedikitnya selama 150 menit/mgg dengan lat. aerobik sedang atau 90
menit/mgg dengan lat. aerobik berat)

Menggunakan obat diabetes dan obat-obatan pada keadaan khusus secara aman dan
teratur

Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM)


Perilaku Sehat bagi Penderita Diabetes
Melakukan perawatan kaki secara berkala

Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan sakit akut dengan tepat
(mis. hipoglilkemia)

Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yg sederhana dan mau bergabung dengan


kelompok diabetisi serta mengajak keluarga untuk mengerti pengelolaan diabetes

Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada


Monitoring Glukosa Darah
Self monitoring blood glucose monitoring (SMBG) atau pemantauan glukosa darah
mandiri
HbA1C
HIPOGLIKEMIA
suatu keadaan dimana kadar glukosa darah di bawah normal hingga
mencapai < 70 mg/dl.

Tanda dan gejala :


1. Segera periksa kadar glukosa darah
dengan alat blood glucose meter

2. Segera makan atau minum seperti permen, jus buah, gula


atau madu

3. Apabila hasil GD < 70 mg/dl, 15 menit setelah


makan/minum manis, periksa kembali kadar glukosa darah
anda.

4. Apabila selain tanda ringan hipoglikemia dan anda merasa


bingung segeraminta orang lain untuk mengantar a ke
pusat kesehatan atau RS.
Dislipidemia pada Diabetes
• Gangguan lemak darah pada diabetisi lebih meningkatkan resiko
timbulnya penyakit jantung

• Perlu pemeriksaan profil lemak darah saat diagnosis DM ditegakkan


dan dilakukan pemeriksaan secara berkala

Kolesterol LDL → berbahaya


Kolesterol HDL → tidak berbahaya
Trigliserida
dipengaruhi kegemukan, konsumsi gula,
alkohol, makanan berlemak
Dyslipidemia in Indonesia

26
RISKESDAS 2013
SCORE Chart
Countries with High CV Risk

• Paduan Tatalaksana
Dislipidemia PERKI memakai
sistem SCORE untuk estimasi
risiko kardiovaskular karena
panduan yang digunakan
ESC/EAS
• Estimasi risiko kardiovaskular
total menggunakan sistem
SCORE dianjurkan bagi
mereka yang berumur ≥ 40
tahun yang tidak mempunyai
bukti PJK, DM, PGK, dan
hiperkolesterolemia familial
Paduan Tatalaksana Dislipidemia 2017 - PERKI
Concept of Risk Age
Lipid targets
Level of risk Primary target Secondary target
Very high LDL-C <70 mg/dL Non-HDL-C <100 mg/dL
Or Or
≥50% ↓ if baseline 70−135 mg/dL ApoB <80 mg/dL
High LDL-C <100 mg/dL Non-HDL-C <130 mg/dL
Or Or
≥50% ↓ if baseline 100−200 mg/dL ApoB <100 mg/dL
Moderate & Low LDL-C <115 mg/dL Non-HDL-C <145 mg/dL

Pharmacological treatment for hypercholesterolemia


■ Statin to highest recommended dose or highest tolerable dose: Class I, Level A
■ Statin intolerance: ezetimibe ± bile acid sequestrant : Class IIa, Level C
■ Goal not reached: statin + cholesterol-absorption inhibitor: Class IIa, Level B
■ Goal not reached: statin + bile acid sequestrant: Class IIb, Level C
■ Very high-risk patient, high LDL-C despite maximal tolerated statin + ezetimibe
(or statin intolerance): consider PCSK9 inhibitor: Class IIb, Level C
30 PCSK9=protein convertase subtilisin/kexin type 9
Catapano AL et al. Atherosclerosis.2016;253:281-344
Dislipidemia pada Diabetes

Kadar lemak darah yang baik :

LDL < 100 mg/dL


(Pend. DM + penyakit jantung : LDL < 70 mg/dL)
HDL > 50 mg/dL
Trigliserida < 150 mg/dL
Statin Intensity
ACC/AHA guidelines for statin therapy

High-intensity therapy* Moderate-intensity therapy† Low-intensity therapy‡

Atorvastatin 40–80 mg Atorvastatin 10–20 mg Simvastatin 10 mg

Rosuvastatin 20–40 mg Rosuvastatin 5–10 mg Pravastatin 10–20 mg

Simvastatin 20–40 mg Lovastatin 20 mg

Pravastatin 40–80 mg Fluvastatin 20–40 mg

Lovastatin 40 mg Pitavastatin 1 mg

Fluvastatin XL 80 mg

Fluvastatin 40 mg BID

Pitavastatin 2–4 mg

*LDL-C reduced by ≈≥50%; Reprinted from J Am Coll Cardiol, ePub ahead of print, Stone NJ, Robinson J, Lichtenstein AH,
†LDL-C reduced ≈30–50%; Bairey Merz CN, et al., 2013 ACC/AHA Guideline on the Treatment of Blood Cholesterol to
‡ LDL-C reduced ≈<30% Reduce Atherosclerotic Cardiovascular Risk in Adults: A Report of the American College of
Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines. Copyright (2013),
BID, twice daily dosing 32
with 2013
Adapted from Stone NJ, et al. J Am Coll Cardiol permission
Nov 7.from
EpubElsevier
ahead
of print
Dislipidemia pada Diabetes

Perubahan perilaku meliputi :


Pengurangan asupan kolesterol dan asam lemak jenuh
Peningkatan aktifitas fisik

Memperbaiki profil lemak darah

Dipertimbangkan untuk memberikan obat-obatan sedini mungkin


bagi diabetisi yang disertai gangguan lemak darah
Manfaat pemantauan glukosa darah
mandiri
Penyesuain diet

vs
Perawatan Kaki Diabetes
Kelainan kaki pada diabetes dapat disebabkan oleh :
• infeksi / septik,
• neuropati,
• gangguan aliran darah atau
• kombinasi antara ketiganya.
Perawatan kaki diabetes
Kriteria Pengendalian DM

TARGET
GD puasa (mg/dL) 80 – 130
GD 2 jam PP (mg/dL) < 180
A1C (%) <7
Kolesterol total (mg/dL) < 200
Kolesterol LDL (mg/dL) < 100 / < 70
Kolesterol HDL (mg/dL) > 45
Trigliserida (mg/dL) < 150
IMT (kg/m2) 18.5 – 23
Tekanan darah (mmHg) ≤130/80
HIPERTENSI
(TEKANAN DARAH TINGGI)
Apa itu TEKANAN DARAH TINGGI?
Meningkatnya tekanan darah dalam jangka waktu lama dengan Tekanan darah lebih dari 120/80
mmHg.
Kapan disebut hipertensi ?
Bila tekanan darah Bila tekanan darah > 140/90
mmHg mmHg dari 3 kali pemeriksaan terpisah dari 3
kali pemeriksaan terpisah (jarak 1 –– 2 minggu )
Diperiksa dalam keadaan santai santai
Bila tinggi sekali tidak tidak perlu beberapa kali
Gejala Tekanan darah tinggi
Sakit kepala
Sakit kuduk
Sulit Tidur
Kelelahan
Mual
Muntah
Sesak nafas
Gelisah
Pandangan
kabur
Penyebab Hipertensi primer
90 % tidak diketahui penyebabnya
Hipertensi sekunder
Ginjal : Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor
Vascular : Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli
kolestrol, Vaskulitis
Kelainan endokrin : DM, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme
Saraf : Stroke, Ensepalitis
Obat – obatan : Kortikosteroid
Kehamilan
Faktor Risiko Tekanan darah tinggi
Usia
Diet
Faktor Risiko Tekanan darah tinggi
Stress
Keturunan
Merokok
Kegemukan
Kurang aktivitas fisik/ berolahraga
Konsumsi minuman keras
Kelainan ginjal, dll
JNC-7 Blood Pressure Classification
Blood Pressure Classification Systolic blood pressure Diastolic blood pressure
(mm Hg) (mm Hg)

Normal < 120 < 80

Pre-hypertension 120-139 80-89

Stage 1 hypertension 140-159 90-99

Stage 2 hypertension > 160 > 100


Chobanian AV et al. JAMA 2003;289:2560-72.
Perjalanan penyakit
l Konfensasi
ETIOLOGI Penyempitan
pembuluh ventrikel kiri
darah memompa Volum
dengan keras darah
kurang
TD meningkat/CO menurun

Pandangan berkunang2, lemas, kaku


kuduk, cepat marah, nyeri kepala,
mual atau muntah
Penatalaksanaan

❖ Pengaturan Diet : Rendah garam, konsumsi banyak


buah, rendah kolestrol, tidak minum alkohol.
❖ Olahraga Teratur : minimal 30 menit sehari
❖ Penurunan Berat Badan
❖ obat antihipertensi : thiazide, beta-blocker dan
kombinasi alpha dan beta blocker, calcium channel
blockers, ACE inhibitor, angiotensin receptor
blocker dan vasodilator seperti hydralazine.
Apa yang harus dilakukan jika mengalami TEKANAN
DARAH TINGGI?
➢ Minum obat anti darah tinggi sesuai nasehat Dokter
➢ Turunkan kelebihan berat badan
➢ Makan makanan yang rendah garam (maks 1 sdt)
➢ Hentikan konsumsi Kopi, Merokok dan minuman keras!
➢ Istirahat yang cukup
➢ Hindari makan-makanan olahan Daging sapi/kerbau/ kambing (tinggi lemak)
➢ Pola makan yang seimbang
➢ Olahraga
AKIBAT TEKANAN DARAH TINGGI
SERANGAN JANTUNG GAGAL GINJAL

STROKE KEBUTAAN
Penyakit Jantung
Koroner (PJK)
PENYAKIT JANTUNG KORONER
Pembunuh No. 1 di Dunia

PJK 15 JUTA

DIARE 5 JUTA

KANKER 4,8 JUTA

TBC 3 JUTA

Angka Kematian / Tahun


Definisi Penyakit
Riskesdas 2013
Penyakit jantung koroner adalah gangguan fungsi jantung akibat otot jantung kekurangan darah
karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner.

Secara klinis, ditandai dengan nyeri dada atau terasa tidak nyaman di dada atau dada terasa
tertekan berat ketika sedang mendaki/kerja berat ataupun berjalan terburu-buru pada saat
berjalan di jalan datar atau berjalan jauh.
Faktor risiko yang dapat dimodifikasi :
1.Hipertensi
2.Diabetes Melitus
3.Dislipidemia
4.Kurang aktivitas fisik
5.Diet tidak sehat
6.Stres
7.Perokok pasif
Faktor resiko PJK adalah radikal bebas. Radikal bebas adalah ion molekul
tanpa pasangan yang mengikat molekul lain yang mengakibatkan
molekul/zat tadi menjadi rusak atau berubah sifat. Misalnya sel-sel
pembuluh darah menjadi cepat mati atau pembuluh darah jadi
menyempit. Sel-sel yang berubah sifat contohnya adalah sel-sel kanker.
Sumber radikal bebas antara lain :
asap rokok
polusi udara
pulusi kimiawi/ lingkungan (misalnya semprotan nyamuk, inteksida, cat)
polusi elektromagnetik (misalnya dari handphone, layar tv, layar monitor)
polusi dari tubuh sendiri (misalnya penyakit kronis seperti diabetes)
Namun, penyebab dasar jantung koroner pada hakikatnya adalah karena
kelainan metabolisme.
Perjalanan Penyakit Jantung Koroner
Kolesterol yang menimbun di dinding bagian dalam
pembuluh darah, dapat mengakibatkan pembuluh
darah mengalami penyempitan dan aliran darahpun
menjadi tersumbat.
Akibatnya, fungsi jantung terganggu karena harus
bekerja lebih keras untuk memompa aliran darah.
Seiring perjalanan waktu, arteri-arteri koroner makin
sempit dan mengeras. Inilah yang disebut
aterosklerosis.
Ateroma pada arteri koronaria akan menyebabkan stenosis, yang dapat
mengganggu aliran koroner dan menyebabkan iskemia miokard. Penelitian
menunjukkan bahwa stenosis sebesar 60% atau lebih menyebabkan
iskemia miokard, yang oleh penderita dinyatakan sebagai nyeri yang khas
disebut angina pektoris.
APAKAH GEJALA SEORANG MENDERITA
PENYAKIT JANTUNG KORONER

Sakit dada sebelah kiri (kdg


menjalar keleher dan lengan
kiri)
Sesak Napas/Payah Jantung
Perasaan denyut jantung
tidak teratur
Mati Mendadak
Gejala Serangan Jantung
→ Nyeri dada khas
Lokasi :
Dibelakang tulang dada, Dada sebelah kiri
Kualitas:
seperti ditekan/ditindih benda berat,
dibakar, diremas, ditusuk, diiris, tercekik
Penjalaran:
Leher, Rahang bawah, Bahu,Punggung,
pergelangan s/d jari-jari, Ulu hati.
Gejala penyerta:
Rasa sukar hirup/ sesak napas
Keringat dingin, Pucat
Dibelakang Dibelakang tulang Dari dada menjalar
dada menjalar ke ke bahu dan lengan
tulang dada leher

Dari dada menjalar Didada bawah di ulu hati Didareah punnggung


ke rahang (sering ditafsirkan di antara kedua belikat
sebagai penyakit maag)
Diagnosis ditegakkan, bila:
( 2 dari 3 indikator )
kriteria WHO terpenuhi, yaitu

• Keluhan klinis
• Gambaran khas elektrokardiografi (EKG)
• Peningkatan kadar enzim jantung :
(CK, CKMB dan troponin)
Berhenti merokok
Untuk perokok aktif maka sebaiknya mulailah
berhenti merokok.
Karena merokok sangat tidak baik untuk
kesehatan jantung, maka sebaiknya hentikan
kebiasaan ini untuk membantu memelihara
kesehatan jantung.
Menghindari stress
Stress merupakan salah satu pemicu timbulnya berbagai
macam penyakit. Stress memang merupakan salah satu hal
yang sangat susah untuk dihindari.
Disaat stress terjadi, tubuh akan mengeluarkan hormon
cortisol yang bisa mengakibatkan otot menjadi kaku. Dan
hormon norepinephrine yang akan dihasilkan oleh tubuh
disaat sedang mengalami stress yang pada akhirnya
mengakibatkan tekanan darah menjadi naik.
Maka menjadi hal yang sangat baik dengan cara mengatasi
stress.
Penyakit hipertensi :
Penyakit jantung koroner dan pengobatannya harus
diatasi dengan menghindari masalah penyakit
hipertensi atau tekanan darah tinggi. Karena penyakit
ini bisa mengakibatkan terjadinya penyakit jantung.
Hal ini disebabkan karena penyakit hipertensi bisa
melukai bagian dinding arteri dan bisa memungkinkan
kolesterol LDL untuk memasuki saluran arteri dan bisa
meningkatkan terjadinya penimbunan lemak didalam
darah.
Obesitas
Penyakit jantung koroner dan pengobatannya dengan
menghindari obesitas. Kelebihan dari berat badan atau
obesitas yang bisa meningkatkan terjadinya resiko tekanan
darah tinggi dan juga masalah ketidaknormalan lemak.
Menghindari atau juga mengobati obesitas serta kegemukan
merupakan salah satu cara yang paling utama dalam
mencegah penyakit diabetes.
Penyakit diabetes yang bisa meningkatkan resiko penyakit
jantung koroner dan bisa meningkatkan suatu resiko pada
terjadinya serangan jantung.
Melakukan olahraga secara teratur
Penyakit jantung coroner pencegahannya dengan
olahraga secara teratur. Anda harus melakukan olahraga
misalnya seperti berjalan kaki, berjalan cepat atau juga
jogging.
Kegiatan olahraga yang bukan bersifat seperti kompetisi
dan juga tidak dilakukan dengan berlebihan akan
membantu dalam menguatkan kerja jantung serta
membantu melancarkan sistem peredaran darah
menuju ke seluruh tubuh.
Simpulan
1. Obesitas,dyslipidemia, DM, hipertensi dan merokok
merupakan factor risiko penyakit jantung coroner
2. Mengurangi berat badan yang berlebihan, menurunkan
kadar kolesterol tinggi, menjaga kestabilan gula darah dan
tekanan darah
3. Serta menghentikan kebiasaan merokok akan menurunkan
risiko penyakit jantung coroner.
4. Olahraga teratur akan meningkatkan kesehatan jantung