Anda di halaman 1dari 15

BAB I Pendahuluan

Komplikasi luka operasi masih dapat dijumpai, walaupun dewasa ini obat-obatan anti infeksi sudah sangat baik. Hal ini terjadi karena komplikasi luka dipengaruhi oleh banyak factor. Mulai dari jenis opersinya,lokasi target organ, teknik operasi, adanya penyakit lain yang menyertai keadaan pasien secara umum, perilaku pasien, sampai kompetensi dokter yang melakukan operasi. Selain komplikasi dari luka, kadang masalah lain juga bisa timbul, misalnya susah buang air,dll. Masalah berkemih pasca persalinan memang jarang ditemui, namun jika ditemui gejalagejala susah berkemih atau berkemih yang terlalu sering sehingga frekuensi ke kamar kecil yang bertambah, harus segera diberikan terapi yang tepat, untuk mencegah terjadinya komplikasi. Umumnya terapi yang dipakai adalah fisioterapi. Bladder Training merupakan salah satu penatalaksanaan pada pasien yang mempunyai masalah dengan pengaturan berkemih. Dengan atau tanpa bantuan obat-obatan, terapi ini cukup efektif untuk mengatur fungsi berkemih, walaupun kadang membutuhkan waktu terapi ( 3-12 minggu) yang relatif lama. Ada beberapa macam bladder training, yang bisa dilakukan sendiri, dengan bantuan partner dan dengan bantuan alat.

BAB II ISI

A. BLADDER TRAINING

1. Definisi

Bladder training adalah suatu cara atau latihan untuk mengatur pengeluaran urin.

2. Pembagian
Ada tiga metode Bladder Training yang biasa digunakan, yaitu: a. Kegel Exercices Latihan ini dapat membantu menguatkan otot pelvis yang kita gunakan untuk berkemih. Otot ini dapat melemah pada keadaan ibu hamil, setelah melahirkan dan kegemukan.

Cara melakukan Kegel Exercise adalah dengan menarik kedalam atau mengkontraksikan otot pelvis (seperti ketika mencoba untuk menghentikan aliran kencing). Tahan selama 10 detik kemudian lepaskan. Lakukan latihan ini 10 set, masing-masing 20 kali kontraksi setiap hari. Sabar dan lanjutkan terus latihan ini. Butuh waktu untuk menguatkan otot pelvis, sama seperti ketika kita menguatkan otot lengan, kaki,atau perut kita. Latihan ini bisa membutuhkan waktu 6 sampai 12 minggu, tetapi beberapa wanita sudah dapat merasakan hasilnya hanya dalam beberapa hari.

b. Delay Urination

Latihan ini dilakukan dengan cara menahan kencing selama 5 menit untuk tiap kali perasaan ingin berkemih. Jika waktu 5 menit sudah terasa mudah, tingkatkan waktunya menjadi 10 menit sampai anda bisa berkemih setiap 3 sampai 4 jam sekali. Bila merasa ingin berkemih sebelum waktunya, lakukan teknik relaksasi. Tarik napas secara perlahan dan dalam. Konsentrasi pada pernapasan sampai keinginan untuk berkemih menjadi hilang.

c. Scheduled Bathroom Trips

Dilakukan dengan berkemih secara teratur atau terjadwal. Misalnya dengan berkemih setiap 1 jam sekali. Ini dilakukan pada saat ingin berkemih maupun tidak ingin berkemih.

d. Pelvic Floor Exercise

Untuk melakukan Pelvic floor exercise kita memerlukan seorang partner. Pelvic floor exercise terdiri atas 2 gerakan, yaitu:
1. Dengan menekuk sendi lutut dan paha, kemudian coba tarik kearah perut. Tangan

partner menahan atau melawan gerakan pasien dengan memegang pada lutut pasien. Gerakan ini dilakukan +/- 5 detik untuk masing masing gerakan, dan dilakukan sebanyak 5 set. 2. Caranya sama, dengan menekuk sendi lutut dan paha, namun gerakannya kearah luar dan kedalam. Partner menahan gerakan pasien dengan kekuatan sedang, dilakukan +/- 5 detik sebanyak 5 set.

3.

Metode Lain

3.1.

Shortwave Diathermy (SWD)

Terapi ini menggunakan alat listrik yang mampu menghasilkan frekuensi radio yang tinggi. Gelombang elektromagnetik yang biasa digunakan adalah 27.12 MHz, selama 20-30 menit dengan suhu antara 40o sampai 500 C. Efek yang biasanya timbul adalah hiperemi, sedasi dan analgesia. Tujuan dari terapi ini adalah meningkatkan aliran pembuluh darah pada daerah yang diterapi sehingga mengurangi spasme otot dan otot akan relaksasi.

3.2.

Microwave Diathermy (MWD)

Frekuensi yang biasa digunakan pada terapi ini adalah 915 MHz dan 2456 MHz. efek yang ditimbulkan sama dengan efek yang ditimbulkan SWD yaitu hiperemi, sedasi, dan analgesik.

3.3.

Ultrasonography

Adalah teknik penghangatan yang dalam dengan menggunakan frekuensi 0.8-1.0 MHz. terapi ini membutuhkan waktu 5-10 menit. Efek yang ditimbulkan antara lain: a. Temporary analgesia b. Meningkatkan aliran darah perifer c. Meningkatkan vaskularisasi sehingga timbul hiperemi/radang d. Meningkatkan permeabilitas membrane sel e. Berkurangnya spasme otot

B. PENYEMBUHAN LUKA
Dibagi 3 fase : 1. Fase inflamasi : rubor,kalor, dolor, tumor, fungsiolaesa ( 1-3 hari)
2. Fase proliferasi : tumbuhnya jaringan grnulasi ( 1-2 minggu)

3. Fase penyudahan : jaringan parut ( 2 minggu- 3 bulan)

Penyebab gangguan penyembuhan luka: 1. Endogen : gangguan system imun, gizi buruk ( kekurangan protein), malarbsorpsi,dll. 2. Eksogen : pascaradiasi, obat imunosupresan,infeksi bakteri, virus dan jamur,dll.

C. PERAWATAN LUKA INSISI


Luka insisi dibersihkan dengan antiseptic dan larutan suci hama ( larutan betadine dan sebagainya), lalu ditutup dengan kain penutup luka. Secara periodic pembalut luka diganti dan dibersihkan

Dibuat pula catatan kapan benang dilepaskan Diperhatikan pula apakah luka sembuh dengan baik atau dibawah luka terdapat eksudat

Komplikasi luka insisi: Sebagian luka sembuh dan tertutup baik, sebagian lagi dengan eksudat dalam jumlah sedang atau banyak dan keluar melalui lubang-lubang ( fistel) dan terinfeksi Luka terbuka sebagian, bernanah dan terinfeksi Luka terbuka seluruhnya dan usus kelihatan atau keluar

Untuk pencegahan terjadinya infeksi: Membiarkan tetap terbukanya suatu luka infeksi (drainage yang baik) Menghilangkan rongga yang tertutup (dead space) Membuang semua hasil-hasil infeksi, dan jaringan yang mati (debridement)

Infeksi luka operasi: Jenis operasi yang dikerjakan Lokasi target organ yang dioperasi Teknik operasi yang dilakukan Kemampuan dokter bedah yang melakukan operasi Perilaku pasien

BAB III LAPORAN KASUS

1. Nama

: Ny. S

Umur Alamat Pekerjaan Agama Suku Bangsa Tanggal Masuk Tanggal Keluar

: 28 tahun : Jl. Duku RT 05 / RW 04 Wonoasih : IRT : Islam : Madura : 27 Januari 2009 : 13 Februari 2009

2. Anamnesa ( tanggal 27 Januari 2009):

Kiriman puskesmas wonoasih dengan partus lama. Dating dengan terpasang infuse D5%

3. Pemeriksaan (tanggal 27 Januari 2009) Keadaan umum: lemah Oedem : -/Palpasi Auskultasi VT : tfu 3 jari dibawah procesus xyphoydeus (35 cm) puka, letkep : DJJ + 15-15-12x/ menit, ireguler : pembukaan lengkap, ket -, kepala Hodge III, caput +

4. Diagnosa Masuk: G3 P2 Ab0 H2 hamil aterm, inpartu, dengan kala II lama.

5. Follow up

: (27-01-2009) 11.45 Telah dikerjakan SC+MOW a/i kala II lama dengan anastesi GA

11.57 Bayi lahir jk laki-laki, AS : 1-5-7, B/P 2950gr/46cm, S:36,2o C, ketuban campur darah.

Tanggal/Jam 27-1-09

Dokter Instruksi post op: Obs TVI : 15- 1jam 30- 6jam 1jam-24jam Cek lab Drip synto 20 u, 30tetes/mnt Diet/mobilisasi 6jam post op- minum Obat: Cefotaxime 3x1 Gentamycine 2x80 Alinamin F 3x1 Vit c 3x1 Kaltrofen 3x1 Kalnex3x1

Tanggal/Jam 27-1-09 20.00

Perawat/bidan Kel:nyeri lop+, uc baik,mobilisasi+ Hb:12,5gr/dl

28-1-09

k/u baik, kel: nyeri lop+, uc baik,mobilisasi+ dr visite: tx teruskan k/u baik, kel nyeri lop, uc baik, lochea rubra,diit nasi

08.00 12.00

16.00

k/u baik,panas-, kel:nyeri lop,lochea rubra,diit nasi tktp, tx inj. kel: nyeri baik,mobilisasi+ lop,uc

20.00

inj. Cefotaxime 1gr, gentamycine 80mg, kalnex 1amp, vit c 500mg, kaltrofen supp.

28-1-09

Tx teruskan

29-1-09 k/u baik, panas-, uc baik,diit

29-1-09

Cefotaxime 3x1 Clindamycine 3x1 As. Mefenamat 3x500

04.00

nasi tktp. DC sdh di aff k/u baik, kel nyeri lop, lochea rubra,mobilisasi+,blast penuh,ibu tidak bisa BAK sendiri. Dipasang cateterurin 2 bengkok. k/u cukup,kel : lop kadang msh nyeri,uc baik, lop dirawat-baik. Kel -, uc baik, mobilsasi +,tx oral, diit ns

08.00

30-1-09

Tx : teruskan

30-1-09 08.00

20.00

31-1-09

Tx : -teruskan -Bladder training

31-1-09 08.00

Kel:perut mules dan tdk bisa BAK sejak kemarin sore. k/u cukup,asi +, tfu 1 jr bawah pst, uc agak lembek,blast penuh,BAK-, lochea sanguenolenta,mobilisasi+, motivasi BAK+ Ibu mengatakan BAK sedikit2,motivasi ibu lebih banyak minum air putih dan mengajarkan cara senam otot2 panggul(bladder training) k/u baik, kel: lop kadang nyeri, uc baik,lochea sanguinolenta, mobilisasi+,tdk bisa BAK,pasang DC buka tutup,cateterisasi 2 bengkok kel: -, uc baik, diit ns tktp, tx oral, BAK+, lop aj -

08.15

16.00

1-2-09 08.00

baik. Dr visite: BLPL k/u baik kel; sedikit, uc mobilisasi+. kencing baik,

16.00

Px tidak bisa BAK- psg DC buka tutup.

23.00 Kel-, uc baik,diit ns tktp, aj sisa baik. 2-2-09 2-2-09 Boleh pulang 08.00 Tfu setinggi pst,lochea sanguenolenta,DC buka tutup aff+,

1. Anamnesa ( tanggal 3 -2-2009) : Pasien kiriman pkm wonoasih post SC hari VII dengan partus lama, selama 3 hari kencing tidak lancar. Sore tanggal 3 februari 2009, usus pasien keluar.

2. Pemeriksaan (tanggal 3 -2- 2009) :

Terdapat luka bekas operasi di perut +/- 15 cm, usus keluar +/- 5 cm

Tensi : 120/70 mmHg Nadi : 88x/menit

Suhu : 37,50 C RR : 20x/menit

3. Diagnosa masuk: P3 Ab0 H3 post SC dengan infeksi luka operasi

FOLLOW UP: (3-2-2009) telah dilakukan repair luka operasi oleh dr.Aminuddin,SpOG dengan SAB.

Tanggal/ jam 3-2-09

Dokter Obs. TVI: 15-1 jam 30- 6 jam 1 jam- 24 jam Cek lab lengkap besok Inf D5/RL

Tamggal/ jam 3-2-09 21.25

Perawat/bidan k/u ckp, kel-,anemis-, luka op tertutup kasa,terpasang DC: 120 cc ditampung. Tx: inj.

4-2-09 12.00

k/u ckp, nyeri lop+, mss+, tx inj. Hb 10 gr/dl k/u ckp, kel nyeri lop, lop taa,uc baik,mobilisasi+ k/u ckp, kel: nyeri lop, batuk +, mobilisasi+

Diet/mobilisasi- 6 jam post 22.00 op. 5-2-09 Obat: 08.00

Cefotaxime 3x1 (1 gr) Gentamycine 3x1 (80mg) Kaltrofen supp 3x1 (1gr) Alin F 3x1 amp Vit C 3x500mg 20.00 16.00

tx : teruskan k/u ckp, kel: nyeri lop,diit ns tktp,inj: cefotaxime, alin f,kaltrofen, kel:nyeri batuk+,mobilisasi+. Aff infuse,aff DC lop,

4-2-09 5-2-09

Tx :teruskan Tx : teruskan

21.00 6-2-09 08.00 16.00

Pasang DC buka tutup k/u ckp, panas-, mobilisasi+, lop GBbaik,DC buka tutup+ k/u ckp,kel-mobilisasi+, lop taa, tx: oral k/u ckp,kel-, mobilisasi+,l lop baik fisiotx berlatih BAK kel-,uc baik,mobilisasi+, diit nasi tktp,tx oral, meneteki+ kel-, uc baik, diit nasi tktp,tx oral, mobilisasi+, lop GB- baik, DC buka tutup+ k/u baik, kel -, meneteki +, mobilisasi+, DC buka tutup+ diit nasi tktp, tx oral, DC buka tutup+ dr.visite, fisioterapi. tx oral,

7-2-09

Tx : teruskan Cefotaxime 3x1 Clindamycine 3x1 As. Mefenamat 3x1 Fisioterapi

7-2-09 11.00

16.00 8-2-09 08.00

20.00

9-2-09 Tx : teruskan Bladder training

9-2-09 06.00 08.00

16.00

k/u baik, kel-, mob+, diit

20.00

nasi tktp, tx oral,DC aff coba BAK sendiri k/u baik, kel-, meneteki+, mob+, motivasi minum bnyk,blm BAK

10-2-09 Bladder training

10-2-09 08.00

k/u baik, kel: blm bisa BAK, mobilisasi+, pasang DC buka tutup dr visite: bladder training

20.00

kel-,meneteki+, mobilisasi+, DC tutup+

buka

11-2-09 Tx : teruskan

11-2-09 16.00

kel-, lop taa, DC buka tutup+, tx oral, fisioterapi kel-, mob+, DC aff, belajar BAK sendiri- BAKkel: tidak bisa kencing, extra minum+

12-2-09 Tx : teruskan

12-2-09 08.00

11.00

Kel-, BAK+ lancar, diit nasi tktp, GB- baik, tx oral,mob+ Kel-, uc baik, BAK lancar, meneteki, tx diteruskan

13-2-09 Boleh pulang

13-2-09 08.00

4. Diagnosa Keluar: Pasca repair luka operasi

PEMBAHASAN Komplikasi luka insisi pasca bedah cukup sering dijumpai, namun dengan perawatan dan obat-obatan sekarang ini komplikasi yang lebih berat dapat dicegah. Namun dalam beberapa kasus, komplikasi yang lebih berat dapat timbul misalnya pada kasus ini. Dimana komplikasi yang timbul adalah perforasi atau luka terbuka dan usus kelihatan atau keluar. Ada banyak factor yang mempengaruhi infeksi luka operasi, 1.jenis operasi,2.lokasi target organ yang dioperasi, 3.teknik operasi, 4.kompetensi dokter, 5.perilaku pasien. Dari lembar follow rumah sakit, tidak didapat adanya informasi bahwa komplikasi yang terjadi, bersumber dari factor tenaga medis, atau lingkungan rumah sakit, karena selama perawatan keadaan luka operasi baik. Jadi kemungkinan komplikasi yang terjadi berasal dari perilaku pasien di rumah, misalnya tidak menjaga kebersihan luka, melakukan pekerjaan yang memaksa otot perut untuk berkontraksi, atau dengan tidak mengkonsumsi diet yang benar. Pada pasien ini juga didapatkan keluhan susah BAK yang sebenarnya sudah timbul pasca operasi SC dan pasien juga mengeluhkannya saat periksa ke puskesmas wonoasih. Kemudian pada hari ke dua pasca repair luka operasi, pasien kembali mengeluhkan tidak bisa BAK. Oleh fisioterapis dianjurkan minum lebih banyak dan melakukan Bladder Training (scheduled bathroom trips dan pelvic floor exercise). Selama 5 hari melakukan Bladder Training, pasien belum mampu untuk BAK sendiri. Hal ini tejadi karena pasien tidak mengikuti anjuran fisioterpis dengan benar, dimana pasien hanya melakukan Bladder Training pada saat kunjungan fisioterapis( sekali sehari). Dimana seharusnya latihan dilakukan 10 kali dalam sehari. Pasien juga tidak minum lebih banyak air, sebagaimana aljuran dari fisioterpis. Kemudian fisioterapis melakukan Shortwave Diathermy (SWD) untuk membantu pasien agar mampu BAK sendiri. Terapi ini dilakukan dengan alat yang mampu mengeluarkan frekuensi gelombang 27.12 MHz, selama 15 menit. Terapi ini dilakukan karena SWD mampu menembus lapisan otot yang lebih dalam dan menghangatkannya, sehingga lapisan otot yang lebih dalam ini mendapat vaskularisasi yang lebih banyak dan akan mengurangi spasme di daerah tersebut. Setelah dilakukan terapi SWD selama 2 hari, hasilnya sudah terlihat dimana pasien tidak lagi mengeluh susah BAK.

DAFTAR PUSTAKA

1. Bladder Control. www.ucsfmedicalcenter.com 2. Urinary Incontinence. www.eMedicineHealth.com 3. Urinary Incontinence: Bladder Training. www.familydoctor.org 4. Mudik Nyaman Bagi Si Beser. www.suarakaryaonline 5. Deep Heat. www.emedcine.com