Anda di halaman 1dari 34

PSIKOEDUKA

PRASANGKA
Arti, ragam jenis, sebab dan akibatnya
Achmanto Mendatu 2010

SINOPSIS: Tidak kurang dari 80% manusia berprasangka. Salah satunya mungkin anda. Nah, ebook ini akan mengupas tuntas prasangka seperti yang anda alami. Akan dikupas arti dan makna prasangka, sebab-sebab orang berprasangka, jenis-jenis prasangka, akibat-akibat prasangka sampai upaya mengurangi dampak negatif dari prasangka. Singkatnya, berbagai hal tentang prasangka dapat anda temukan dalam ebook ini.

@ 2007, Achmanto Mendatu Judul Penulis Penerbit Tahun : : : : Prasangka: Arti, ragam jenis, sebab dan akibatnya Achmanto Mendatu Psikoeduka (dipublikasikan bebas di Internet) 2007, 2010

Perhatian: Tulisan dalam ebook ini tidak dimaksudkan sebagai bahan referensi tulisan ilmiah. Anda bebas menggunakan ebook ini untuk kepentingan apapun sepanjang bukan untuk kepentingan komersial, akan tetapi Anda tetap wajib mencantumkan sumber referensi ebook ini dan penulisnya.
Sebagian tulisan dalam ebook ini ada di dalam ebook Prasangka Etnik, yang ditulis oleh penulis yang sama

Daftar Isi
Bab 1. Mengartikan prasangka
Apakah arti prasangka? Komponen yang ada dalam prasangka Apa beda prasangka dan curiga? Apakah stereotip sebagai dasar prasangka? Bagaimana jarak sosial antara orang berprasangka? Apakah diskriminasi selalu ada dalam prasangka?

Bab 2. Mengapa berprasangka


Apa sebab prasangka? Faktor individual penyebab prasangka Faktor sosial penyebab prasangka Apakah faktor genetika menjadi penyebab prasangka?

Bab 3. Ragam jenis prasangka


Berapa banyak ragam prasangka? Prasangka etnik Prasangka agama Prasangka seks dan gender Prasangka politik Prasangka kelas sosial Prasangka terhadap kaum difabel Bab 4. Mengurangi prasangka Mengapa mengurangi prasangka penting? Mengurangi prasangka melalui hubungan antar kelompok Mengurangi prasangka melalui sosialisasi Mengurangi prasangka melalui rekayasa sosial Mengurangi prasangka melalui penyadaran pribadi

Bab 5. Prasangka dan kehidupan sosial


Apakah prasangka merupakan fakta sosial dalam hidup sehari-hari? Apakah efek prasangka terhadap hubungan sosial? Apakah prasangka bisa dibenarkan secara moral?

Apa kaitan prasangka dan pengkambinghitaman?

Bab 1 Mengartikan Prasangka


Apakah arti prasangka? Komponen yang ada dalam prasangka Apa beda prasangka dan curiga? Apakah stereotip sebagai dasar prasangka? Bagaimana jarak sosial antara orang berprasangka? Apakah diskriminasi selalu ada dalam prasangka?

Apakah arti prasangka? Pernahkah suatu kali ketika jalan-jalan, anda bertemu dengan seseorang yang brewokan, rambut panjang kusut masai, berpakaian kumal, dan juga berkumis tebal? Apakah anda merasa waswas, dan menduga bahwa orang itu bukan orang baik-baik? Jika ya, maka anda telah berprasangka. Pada saat tetangga susah, datang seseorang yang berbeda agama dengan tetangga anda itu, dan berniat menolongnya. Kebetulan agama anda sama dengan tetangga anda. Apa yang anda rasakan? Apakah anda curiga bahwa seseorang itu akan mempengaruhi tetangga anda untuk berpindah agama? Jika ya, sekali lagi anda telah berprasangka. Begitu banyak hal dalam hidup kita yang bisa kita prasangkai. Pendek kata, prasangka adalah bagian dari hidup kita sehari-hari. Lalu apakah sebenarnya prasangka itu? Prasangka adalah sikap terhadap orang lain semata-mata karena orang itu dianggap anggota kelompok tertentu. Adapun keanggotaan dalam sebuah kelompok tidak bisa diartikan secara konvensional. Kelompok bisa berupa apapun. Tidak hanya geng, pertemanan, organisasi pertetanggaan, etnik dan semacam itu. Tidak juga harus memiliki kartu keanggotaan. Kelompok bisa berarti gaya hidup yang sama, hobi yang sama, cara berpakaian yang sama, pekerjaan yang sama, kelas sosial yang sama, sampai jenis kelamin yang sama. Misalnya Bondan diprasangkai berandalan karena rambut dipotong ala mohawk dan memakai anting di kedua telinga. Ia diprasangkai berandal karena dianggap sebagai anggota geng berandalan yang berciri khas gaya rambut mohawk dan memakai anting di telinga. Padahal Bondan sama sekali tidak ikut geng apapun. Gaya rambut mohawk dan anting sekedar untuk bergaya saja. Sebuah kelompok bisa tercipta sangat mudah. Ciri-ciri yang dilekatkan pada kelompok itupun bisa tidak ada dalam realita alias tidak benar. Misalnya, sebelum ada pemboman di Bali, orang tidak menilai adanya kelompok orang berjanggut. Tapi setelah pemberitaan besar-besaran di media, bahwa yang melakukan pemboman adalah orang berjanggut, maka orang kemudian mengelompokkan pria berjanggut sebagai kelompok tersendiri. Jika dulu tidak ada asosiasi antara pria berjanggut dengan teror bom, maka lalu mereka yang berjanggut diasosiasikan dengan teror bom. Mereka yang berjanggut diprasangkai memiliki itikad buruk untuk meneror. Padahal, mereka yang berjanggut sangat boleh jadi adalah penentang utama pemboman. Jika anda mencurigai para pria berjanggut punya itikad meneror, maka anda berprasangka. Pendek kata, prasangka juga bisa diartikan sebagai sikap terhadap orang lain berdasarkan fakta yang tidak benar.

Prasangka bisa positif bisa negatif. Prasangka anda merupakan prasangka positif jika mengira mereka yang ikut pengajian agama adalah orang baik semua. Demikian juga saat anda curiga bahwa amplop sumbangan uang sangat besar tanpa nama yang anda terima saat anda tertimpa musibah, adalah berasal dari tetangga anda. Prasangka terhadap dokter juga prasangka positif. Buktinya anda membolehkan sang dokter untuk memberikan suntikan pada anda. Apakah anda tidak curiga kalau sang dokter akan memberikan suntikan maut pada anda? Anda toh berprasangka bahwa sang dokter akan mengobati anda karena sebagai dokter, sudah merupakan tugasnya mengobati orang. Jika anda berprasangka negatif, anda tidak akan mau disuntik bukan?! Anda akan disebut memiliki prasangka negatif jika isi prasangka anda terhadap orang lain sesuatu yang negatif. Misalnya karena tamu anda beragama lain, maka anda berprasangka bahwa sang tamu akan mengajak anda berpindah agama. Lalu misalnya karena seseorang berbeda jenis kelamin dengan anda, maka anda curiga kalau seseorang itu akan merayu anda melakukan dosa. Prasangka negatif adalah prasangka yang paling banyak dikaji dan dibicarakan karena memiliki efek merusak dalam kehidupan manusia. Begitupun jenis prasangka inilah yang akan banyak dibahas dalam buku ini. Komponen yang ada dalam prasangka Kita tahu bahwa prasangka adalah sebuah sikap. Nah, sebagai sebuah sikap, sebagaimana jenis sikap yang lain, prasangka mengandung tiga komponen dasar sikap. Ketiganya yaitu perasaan (feeling), kecenderungan untuk melakukan tindakan (Behavioral tendention), dan adanya suatu pengetahuan yang diyakini mengenai objek prasangka (beliefs). Tiga komponen tersebut selalu ada dalam sebuah prasangka. Perasaan yang dimiliki seseorang yang berprasangka tergantung pada apakah ia berprasangka positif atau negatif. Mereka yang berprasangka positif juga memiliki perasaan yang positif. Misalnya perasaan yang muncul pada seorang dokter yang anda percayai tentunya perasaan yang positif, sekurang-kurangnya netral. Akan tetapi, karena umumnya prasangka adalah negatif, maka pada umumnya perasaan yang terkandung dalam prasangka adalah perasaan negatif atau tidak suka bahkan kadangkala cenderung benci. Pada saat anda berprasangka pada pemeluk seseorang, apa perasaan anda? Kecenderungan tindakan yang menyertai prasangka biasanya keinginan untuk melakukan diskriminasi, melakukan pelecehan verbal seperti menggunjing, dan berbagai tindakan negatif lainnya. Misalnya jika anda berprasangka pada orang lain agama akan mengindoktrinasi anda agar pindah agama, maka mungkin anda akan menolaknya ketika ia datang bertamu, menolak bantuan darinya atau bisa jadi anda juga menyebarkan gosip jelek tentangnya. Kalaupun anda belum melakukan apa-apa, maka kecenderungan untuk melakukan sesuatu tetap ada. Coba anda ingat-ingat, kecenderungan tindakan apa yang anda ingin lakukan pada saat anda berprasangka. Pengetahuan mengenai objek prasangka biasanya berupa informasi-informasi, yang seringkali tidak berdasar, mengenai latar belakang objek yang diprasangkai. Misalnya anda berprasangka pada waria, maka anda mesti memiliki pengetahuan yang diyakini benar mengenai waria, terlepas pengetahuan itu sesungguhnya benar atau tidak. Misalnya, yakin bahwa waria adalah korban kutukan, percaya bahwa waria melakukan seks bebas dan semacamnya. Sebagian merupakan stereotip belaka. Namun begitu, adakalanya informasi tentang objek yang diprasangkai memang benar.

Jadi, jika anda berprasangka, maka tiga hal di atas akan anda alami. Misalnya anda berprasangka pada seorang janda kembang tetangga anda. Anda menaruh khawatir padanya akan mengganggu suami-suami orang di lingkungan anda. Apa perasaan anda? Mungkin anda tidak suka padanya. Apa tindakan yang cenderung anda lakukan? Mungkin anda menghindari bertemu atau mengobrol dengannya, atau menggosipkan dia. Terakhir apa yang anda yakini tentangnya? Mungkin anda yakin bahwa janda muda pasti penggoda, janda pasti butuh uang sehingga menggoda suami orang, atau janda muda masih sangat memerlukan seks, sehingga menggoda adalah sewajarnya dilakukan oeh sang janda. Apakah beda prasangka dan curiga? Anda mungkin sedikit bingung kapan sesuatu disebut prasangka dan kapan sesuatu disebut curiga karena keduanya identik. Begini, prasangka adalah sikap yang muncul karena keanggotaan seseorang dalam kelompok tertentu semata-mata. Sikapnya bisa negatif maupun positif. Curiga, adalah sikap yang muncul karena merasa ada yang tidak beres atau tidak benar pada diri seseorang. Tentu saja curiga hanya bersifat negatif. Selain itu curiga tidak hanya muncul karena seseorang merupakan anggota kelompok tertentu. Bisa saja curiga muncul karena faktor-faktor lain, seperti kecenderungan perilaku, kepibadian, dan lainnya. Jika anda memiliki teman yang berbeda etnik dengan anda, lantas anda merasa ada yang tidak beres dengan teman anda itu karena bertingkah aneh. Maka bila anda tidak pernah mengaitkan dengan etnisitasnya, maka anda curiga, bukan prasangka. Biasanya, curiga muncul setelah ada pertimbangan-pertimbangan tertentu. Misalnya tingkah laku yang aneh dan tidak biasa atau adanya kejanggalan. Sedangkan prasangka terjadi lebih spontan. Tanpa sempat memikirkannya, anda akan langsung berprasangka begitu saja Apakah stereotip sebagai dasar prasangka? Apa yang anda ingat tentang orang Minang? Mungkin pintar berdagang. Apa yang anda ingat tentang mahasiswa perguruan tinggi ternama? Mungkin, pintar. Apa yang anda ingat tentang anak jalanan? Mungkin, tanpa aturan. Apa yang anda ingat tentang orang Jawa? Mungkin, santun dan penurut. Nah, pintar berdagang, pintar, tanpa aturan serta santun dan penurut dalam konteks di atas, adalah stereotip, yakni ciri-ciri yang dilekatkan pada kelompok tertentu. Secara umum stereotip memiliki arti keyakinan mengenai ciri, sifat, dan perilaku anggota kelompok tertentu. Apakah stereotip benar? Tentu saja stereotip bisa benar, namun bisa juga salah. Stereotip adalah generalisasi kesan. Ciri beberapa orang dalam kelompok dianggap sebagai ciri keseluruhan orang-orang dalam kelompok itu. Misalnya stereotip etnis Jawa yang tidak suka berterus terang memiliki kebenaran cukup tinggi karena umumnya etnis Jawa memang kurang suka berterus terang. Namun tentu saja terdapat pengecualian-pengecualian karena banyak juga etnis Jawa yang suka berterus terang. Lalu jika anda memiliki stereotip mahasiswa perguruan tinggi ternama pintar, mungkin tidak seluruhnya benar, karena meskipun umumnya pintar, tapi ada juga yang kurang pintar. Stereotip biasanya muncul pada orang yang tidak benar-benar mengenal kelompok yang dilekati stereotip. Apakah anda benar-benar mengenal orang Cina, padahal anda memiliki stereotip pelit terhadap mereka? Apakah anda benar-benar mengenal orang Madura, sehingga anda memiliki stereotip agresif pada mereka? Stereotip bahkan bisa diwariskan dari generasi ke generasi tanpa adanya kontak

dengan objek stereotip karena stereotip bisa ditimbulkan, diperkuat dan diwariskan melalui media massa, film, obrolan sehari-hari, dan lainnya. Sangat boleh jadi, seseorang yang belum pernah bertemu sama sekali dengan orang Arab, masih tetap memiliki stereotip tentang orang Arab. Misalnya mereka memiliki nafsu seksual yang besar. Dari mana stereotip yang dimiliki berasal? Mungkin dari film, buku-buku, majalah, koran, atau dari obrolan sehari-hari yang didengar. Dibalik stereotip yang kita lekatkan pada kelompok tertentu, tergantung harapan peran yang akan dilakukan anggota kelompok tersebut pada kita. Misalnya, karena kita memiliki stereotip orang Minang pintar berdagang, maka mereka yang orang Minang diharapkan menunjukkan kepintarannya dalam berdagang, lebih dari orang lain. Lalu kalau kita memiliki stereotip orang Jawa sopan, maka kita pun berharap bahwa setiap orang Jawa yang kita temui memiliki sifat sopan. Melalui stereotip pula kita bertindak menurut apa yang sekiranya sesuai terhadap kelompok lain. Misalnya etnis Jawa memiliki stereotip lemah lembut dan kurang suka berterus terang, maka kita akan bertindak berdasarkan stereotip itu dengan bersikap selembut-lembutnya dan berusaha untuk tidak mempercayai begitu saja apa yang diucapkan seorang etnis Jawa kepada kita. Stereotip mendasari terbentuknya prasangka. Dasar informasi yang diyakini benar tentang objek yang diprasangkai, biasanya merupakan stereotip. Misalnya anda percaya bahwa orang beragama lain yang berniat membantu pasti tidak tulus. Mereka membantu karena bermaksud menyebarkan agama. Nah, keyakinan itu adalah stereotip. Tentu saja stereotip itu tidak benar, karena tidak semua yang membantu tidak tulus hatinya. Lalu pada saat anda tahu ada seorang yang beragama lain membantu anda, maka anda menyimpan prasangka padanya. Bagaimana jarak sosial antara orang berprasangka? Seberapa dekat hubungan yang anda rasakan pada seseorang yang anda prasangkai? Pasti, anda tidak merasa dekat. Anda akan merasa lebih dekat dengan mereka yang tidak anda prasangkai. Lalu apakah anda memiliki keinginan kuat untuk memiliki hubungan yang akrab dengan yang anda prasangkai? Sudah tentu tidak. Anda tidak ingin melakukannya. Nah, antara anda dan yang anda prasangkai terdapat jarak sosial yang jauh. Jarak sosial adalah suatu jarak psikologis yang terdapat di antara dua orang atau lebih yang berpengaruh terhadap keinginan untuk melakukan kontak sosial yang akrab. Jika anda merasa cukup dekat dengan kekasih anda, yang sudah semestinya, maka anda memiliki jarak sosial yang dekat. Sedangkan bila anda enggan melakukan kontak sosial dengan seseorang, maka berarti anda memiliki jarak sosial yang jauh dengannya. Coba anda ingat-ingat, mungkin anda sering bertemu dengan orang yang enggan anda temui, alih-alih ingin menjalin hubungan dengan akrab. Nah, pada orang-orang itu, sudah pasti jarak sosial anda tidak dekat. Bagaimana mendeteksi jauh dekatnya jarak sosial yang dimiliki? Bayangkan seseorang yang jarak sosialnya dengan anda akan dideteksi. Bayangkan apakah anda memiliki keinginan-keinginan berikut; 1) keinginan untuk saling berbagi dengannya, 2) keinginan untuk tinggal dalam pertetanggaan dengannya, 3) keinginan untuk bekerja bersama, 4) keinginan yang berhubungan dengan pernikahan bersamanya. Jika tidak ada satu pun keinginan itu ada, maka jarak sosial yang anda miliki cukup jauh. Prasangka umumnya lahir dalam kondisi ketika jarak sosial yang ada di antara berbagai kelompok cukup rendah. Apabila dua etnis dalam suatu wilayah tidak

berbaur secara akrab, maka kemungkinan terdapat prasangka dalam wilayah tersebut cukup besar. Demikian juga jika antara pemeluk agama tidak bergaul cukup akrab, maka prasangka antar pemeluk agama akan cukup besar. Prasangka juga melahirkan adanya jarak sosial. Semakin besar prasangka yang timbul maka semakin besar jarak sosial yang terjadi. Anda tentu tidak ingin berakrab ria dengan mereka yang anda prasangkai. Jadi antara prasangka dan jarak sosial terjadi lingkaran setan. Jarak sosial melahirkan prasangka, dan prasangka melahirkan jarak sosial, begitu seterusnya. Salah satu contoh masih adanya jarak sosial yang tinggi antar kelompok adalah masih mudah ditemui adanya keengganan orangtua bila anak-anaknya menikah dengan orang yang berbeda kelompok, misalnya berbeda kelompok etnik. Masih mudah pula ditemui orangtua yang membatasi pilihan anak-anaknya hanya boleh menikah dengan etnis sendiri atau beberapa etnis tertentu saja, sementara beberapa etnis yang lain dilarang. Kenyataan seperti itu merupakan cerminan dari adanya prasangka antar etnik. Saya pernah mendengar secara langsung ada petuah orang tua pada anaknya laki-laki, yang kebetulan etnis Jawa, untuk tidak mencari jodoh etnis Dayak, etnis Minang, dan etnis Sunda. Di luar ketiga etnis itu dipersilakan, tetapi lebih disukai apabila sesama etnis Jawa. Tidak jarang, ada orangtua yang melarang anak lelakinya untuk menjalin hubungan dengan gadis yang bekerja di tempat hiburan malam, atau sebaliknya. Mereka berprasangka bahwa orang-orang yang bekerja pada malam hari, di tempat hiburan pula, pastilah bukan orang baik-baik. Hal ini berarti bahwa adanya prasangka terhadap orang-orang yang bekerja malam hari di tempat hiburan menimbulkan jarak sosial kepada mereka. Apakah diskriminasi selalu ada dalam prasangka? Tidak selalu ada diskriminasi dalam prasangka. Boleh jadi mereka yang berprasangka tidak melakukan diskriminasi apapun. Namun, diskriminasi yang terjadi, bisa menjadi penanda adanya prasangka. Selalu terjadi kecenderungan kuat bahwa prasangka melahirkan diskriminasi. Prasangka menjadi sebab diskriminasi manakala digunakan sebagai rasionalisasi diskriminasi. Artinya prasangka yang dimiliki terhadap kelompok tertentu menjadi alasan untuk mendiskriminasikan kelompok tersebut. Coba anda ingat-ingat, bukankah pada saat berprasangka maka anda cenderung ingin mendiskriminasikan yang anda prasangkai? Diskriminasi adalah perilaku menerima atau menolak seseorang semata-mata berdasarkan keanggotaannya dalam kelompok. Misalnya banyak perusahaan yang menolak mempekerjakan karyawan dari etnik tertentu. Lalu ada organisasi yang hanya mau menerima anggota dari etnik tertentu saja meskipun jelas-jelas organisasi itu sebagai organisasi publik yang terbuka untuk umum. Contoh paling terkenal dan ekstrem dalam kasus diskriminasi etnik dan ras terjadi di Afrika Selatan pada tahun 80-an. Politik aphartheid yang dijalankan pemerintah Afrika Selatan membatasi akses kulit hitam dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya. Diskriminasi ras itu dikukuhkan secara legal melalui berbagai peraturan yang sangat diskriminatif terhadap kulit hitam. Misalnya anak-anak kulit hitam tidak boleh bersekolah di sekolah untuk kulit putih, kulit hitam tidak boleh berada di tempat-tempat tertentu seperti hotel, restoran dan tempat publik lainnya. Kulit hitam juga tidak boleh naik kendaraan umum untuk kulit putih, dan bahkan tidak boleh memasuki wilayah pemukiman kulit putih.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Alo Liliweri pada tahun 1994 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, berhasil menemukan adanya diskriminasi etnik di sana. Perumahan, asrama, penginapan ada yang khusus diperuntukkan bagi etnik tertentu saja. Di sana, etnik-etnik tertentu terkonsentrasi di pemukiman tertentu dan memiliki konsentrasi pada jenis pekerjaan, unit dan satuan kerja tertentu. Sebagai misal, mayoritas pegawai kantor gubernur adalah orang Flores, sedangkan di Universitas Cendana mayoritas pegawainya orang Rote dan Sabu. Akan sulit orang Flores masuk menjadi pegawai di Universitas Cendana, demikian juga sebaliknya. Pertanyaannya, apakah ada prasangka antar etnik di sana? Sangat mungkin ada.

Bab 2 Mengapa berprasangka


Apa sebab prasangka? Faktor individual penyebab prasangka Faktor sosial penyebab prasangka Apakah faktor genetika menjadi penyebab prasangka?

Apa sebab prasangka? Prasangka merupakan fenomena yang hanya bisa ditemui dalam kehidupan sosial. Jika seseorang tidak pernah bertemu orang lain seumur hidupnya, mustahil ia memiliki prasangka. Munculnya prasangka merupakan akibat dari adanya kontakkontak sosial antara berbagai individu di dalam masyarakat. Seseorang tidak mungkin berprasangka bila tidak pernah mengalami kontak sosial dengan individu lain. Pendek kata, anda harus menjadi anggota masyarakat untuk bisa memiliki prasangka. Nah, anda pasti merupakan anggota masyarakat saat ini, jadi sangat mungkin anda memiliki prasangka. Terdapat 2 faktor, yakni faktor sosial dan faktor individual yang menyebabkan munculnya prasangka. Beberapa situasi sosial yang bisa memunculkan prasangka setidaknya bisa dikategorikan ke dalam enam hal, yakni akibat konflik sosial antar individu dan antar kelompok, akibat perubahan sosial, akibat struktur sosial yang kaku, akibat keadaan sosial yang tidak adil, akibat terbatasnya sumber daya, dan adanya politisasi pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari adanya prasangka. Selain situasi sosial di atas, ada peranan faktor individual dalam memunculkan prasangka. Beberapa hal pada diri seseorang yang bisa menyebabkan prasangka adalah cara berpikir, kepribadian, pengaruh belajar sosial, dan psikodinamika kepribadian. Masing-masing memberikan sumbangan bagi kemunculan prasangka pada diri seseorang. Faktor individual penyebab prasangka Mungkin anda sering menemui orang yang begitu mudah berprasangka. Mungkin anda juga sering menemui orang yang sangat rendah tingkat prasangkanya. Seolah ada kecenderungan individu tertentu lebih berprasangka daripada individu yang lain. Mengapa hal itu terjadi? Di sinilah faktor individual berperan dalam memicu prasangka. Ada beberapa hal dalam individu yang bisa membuat seorang individu bisa berprasangka yakni adanya proses kognitif tertentu, adanya pengaruh belajar sosial, adanya tipe kepribadian tertentu dan adanya psikodimanika kepribadian. Berikut penjelasannya masing-masing. 1. Faktor kognitif penyebab prasangka Terdapat 2 cara berpikir mendasar dalam diri manusia yang bisa menyebabkan terjadinya prasangka, yakni kategorisasi dan atribusi. Masing-masing terbukti menjadi landasan bagi terbentuknya prasangka. Kategorisasi. Pada saat anda bertemu seseorang di dalam sebuah kapal, apa yang anda lakukan pertama kali? Anda melakukan kategorisasi! Mungkin mula-mula anda akan menggolongkannya berdasarkan jenis kelamin. Ia laki-laki atau

perempuan. Lalu mengkategorisasikannya berdasar umur, ia tua, setengah tua atau muda. Kemudian berdasarkan penampakan fisik, cantik, kurang cantik atau jelek. Lalu berdasarkan tinggi badan, ia pendek, tinggi atau sedang. Kemudian berdasarkan panjang rambut, berambut panjang, sebahu, atau pendek. Begitu seterusnya. Anda tahu, dunia sangat kompleks. Hanya dengan kategorisasi kita bisa membuatnya menjadi sederhana dan bisa kita mengerti. Melalui kategorisasi kita membedakan diri kita dengan orang lain, keluarga kita dengan keluarga lain, kelompok kita dengan kelompok lain, etnik kita dengan etnik lain. Stereotip kelompok (ciri yang dianggap ada pada kelompok tertentu) muncul karena adanya proses berpikir kategorisasi. Ketika anda bertemu dengan orang yang berbeda dengan anda, mungkin anda mengkategorisasikannya sebagai orang asing, seram, tidak terlihat baik dan penampilannya tidak biasa. Akibat kategorisasi itu, muncullah prasangka dalam diri anda. Kategorisasi bisa berdasarkan persamaan atau perbedaan. Misalnya persamaan tempat tinggal, garis keturunan, warna kulit, pekerjaan, kekayaan yang relatif sama dan sebagainya akan dikategorikan dalam kelompok yang sama. Sedangkan perbedaan dalam agama, gaya hidup, usia, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan, tingkat pendidikan dan lainnya maka dikategorikan dalam kelompok yang berbeda. Mereka yang memiliki kesamaan dengan diri kita akan dinilai satu kelompok dengan kita atau ingroup. Sedangkan mereka yang berbeda dengan kita akan dikategorikan sebagai outgroup. Seseorang pada saat yang sama bisa dikategorikan dalam ingroup ataupun outgroup sekaligus. Misalnya Sandi adalah tetangga kita, jadi sama-sama sebagai anggota kelompok pertetanggaan lingkungan RT. Pada saat yang sama ia merupakan lawan kita karena ia bekerja pada perusahaan saingan kita. Jadi, Sandi termasuk satu kelompok dengan kita (ingroup) sekaligus bukan sekelompok dengan kita (outgroup) Kategorisasi memiliki dua efek mendasar, yakni melebih-lebihkan perbedaan antar kelompok dan meningkatkan kesamaan kelompok sendiri. Perbedaan antar kelompok yang ada cenderung dibesar-besarkan. Perbedaan itupun sering di ungkapkan. Sementara itu, kesamaan yang ada cenderung untuk diabaikan. Misalnya, bukankah anda cenderung menganggap bahwa perbedaan antara 2 pemeluk agama sangatlah besar. Sebaliknya menganggap sesama pemeluk agama sangatlah mirip (padahal setiap agama juga memiliki sekte-sekte yang berbeda satu sama lainnya) Pada sisi lain, kesamaan yang dimiliki oleh kelompok sendiri cenderung sangat dilebih-lebihkan. Kesamaan itu selalu didengungkan. Sementara itu, perbedaan yang ada cenderung diabaikan. Sebagai contoh perbedaan antara etnik Jawa dan etnik Batak akan cenderung di lebih-lebihkan, misalnya dalam bertutur kata dimana etnis Jawa lembut dan etnis Batak kasar. Lalu, orang-orang se-etnis cenderung untuk merasa sangat identik satu sama lain padahal sebenarnya diantara mereka relatif cukup berbeda. Bukankah antara orang Jawa Banyumasan (ngapak) dengan Surakartan (bukan ngapak), sangat berbeda dalam bahasa dan adat? Tapi toh mereka merasa satu sebagai orang Jawa. Ukuran kelompok adalah faktor penting dalam menilai apakah diantara anggota-anggotanya relatif sama ataukah plural. Kelompok minoritas menilai dirinya lebih similar dalam kelompok, sementara kelompok mayoritas menilai dirinya kurang similar. Anggota kelompok minoritas juga mengidentifikasikan diri lebih kuat ke dalam kelompok ketimbang anggota kelompok yang lebih besar. Kelompok minoritas menilai dirinya lebih berada dalam ancaman dibanding kelompok yang lebih besar.

Keadaan ini menyebabkan kelompok minoritas tidak mudah percaya, sangat berhatihati dan lebih mudah berprasangka terhadap kelompok mayoritas. Kecemasan berlebih itu tidak kondusif dalam harmonisasi hubungan sosial. Karena hubungan yang cenderung meningkatkan kecemasan akan mengurangi sikap yang baik terhadap kelompok lain, halmana sangat potensial menyebabkan prasangka. Pengkategorian cenderung mengkontraskan antara dua pihak yang berbeda. Jika yang satu dinilai baik maka kelompok lain cenderung dinilai buruk. Kelompok sendiri biasanya akan dinilai baik, superior, dan layak dibanggakan untuk meningkatkan harga diri. Sementara itu di saat yang sama, kelompok lain cenderung dianggap buruk, dan inferior. Keadaan seperti itu, baik terbuka ataupun tidak, melahirkan prasangka. Atribusi. Proses kognitif lain yang berperan dalam membentuk prasangka adalah atribusi, yakni upaya menerangkan sebab dari tingkah laku seseorang. Biasanya, pada saat seseorang mengalami kesenangan dan keberhasilan, maka mereka menilai bahwa penyebab utama adalah diri sendiri. Orang lain yang mendukung adalah faktor tambahan belaka. Sebaliknya, pada saat seseorang mengalami situasi yang buruk atau tidak menyenangkan, maka sumber penyebabnya dicari dari pihak lain. Nah, pada situasi yang buruk inilah, seseorang akan berupaya mencari pihak yang bisa disalahkan. Upaya mencari seseorang untuk disalahkan atas situasi yang buruk membuat seseorang lebih berprasangka pada yang lain. Misalnya para pengungsi yang mengalami situasi pengungsian yang buruk akan lebih berprasangka. Mereka merasa bahwa nasib mereka ditelantarkan oleh pihak-pihak tertentu. Akibatnya pihak-pihak yang dianggap sebagai sumber kesulitan akan diprasangkai. 2. Pengaruh belajar sosial Prasangka dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui proses sosialisasi. Apabila suatu keluarga memiliki prasangka yang tinggi terhadap kelompok lain, maka itulah yang cenderung ditanamkan pada anak-anak dalam keluarga itu melalui idiom-idiom bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. Keadaan ini membuat kecenderungan kuat bahwa orangtua yang berprasangka akan melahirkan anak-anak berprasangka. Anak-anak belajar melalui identifikasi atau imitasi, atau melalui pembiasaan. Apa yang dilakukan orangtua, anggota keluarga lain dan semua yang dilihat anakanak akan ditiru. Misalnya bila orang tua sering mengata-ngatai tetangganya yang beretnis Batak dengan kata-kata dasar Batak, maka sang anak juga akan meniru dan mengembangkan perasaan tidak suka terhadap etnik Batak secara keseluruhan. Terdapat bukti bahwa anak pada usia 3 tahun sudah sadar akan kategorisasi sosial utama yakni gender dan etnik. Anak-anak sudah mengenal kategori-kategori dan bersikap serta bertindak berdasarkan kategori-kategori itu. Pengkategorian itu mendasarkan pada berbagai informasi yang telah diterima anak-anak dari keluarganya. Informasi yang penuh dengan stereotip negatif dan berprasangka akan membuat anak-anak bertindak sesuai dengan stereotip dan prasangka yang dimiliki terhadap kelompok lain. Media massa merupakan salah satu alat dalam belajar sosial yang penting. Banyak pengetahuan mengenai kelompok lain diperoleh melalui berita-berita di media massa. Akibatnya opini yang terbentuk mengenai kelompok lain tergantung pada isi pemberitaan media massa. Misalnya bila kelompok tertentu dalam berita

diposisikan sebagai ekstremis, suka kekerasan, dan teroris maka prasangka terhadap kelompok itu di masyarakat akan menguat. 3. Tipe kepribadian Setidaknya ada 3 tipe kepribadian yang cenderung lebih berprasangka ketimbang yang lain. Pertama, tipe kepribadian otoritarian, yakni pribadi yang sangat menekankan pada kekuasaan otoriter. Kedua, kepribadian dogmatik, yakni pribadi yang sangat kukuh membela suatu keyakinan tertentu. Ketiga, pribadi yang keras hati. Kepribadian otoritarian. Pada tataran individu, faktor kepribadian otoritarian merupakan faktor pemicu prasangka yang terpenting. Seseorang yang memiliki kepribadian otoritarian dipastikan mudah berprasangka. Adapun ciri-ciri dari kepribadian otoritarian adalah; 1. Mempersepsi dunia secara bipolar, yakni selalu mengkontraskan segala sesuatu dalam dua kutub yang berlawanan; jika tidak hitam pasti putih, jika tidak benar pasti salah, jika tidak baik pasti buruk, jika tidak indah pasti jelek dan semacamnya. 2. Tidak mampu toleran terhadap perbedaan, yakni tidak bisa menerima adanya orang-orang yang berbeda dari dirinya. Perbedaan yang ditemui akan menimbulkan kecemasan. Karenanya orang bertipe ini menuntut kesamaan sebesar-besarnya dari orang lain. Orang dengan ciri ini cenderung untuk selalu bersikap negatif terhadap orang-orang yang berbeda dengan dirinya. 3. Permusuhan berlebihan terhadap seseorang yang belum nyata anggota sebuah kelompok. Seseorang yang memiliki ciri ini memiliki kecurigaan tinggi terhadap orang-orang asing dan orang-orang yang belum jelas dikategorikan masuk kelompok mana. 4. Hormat berlebihan dan memiliki kebutuhan kuat untuk mengidentifikasikan diri pada figur otoritarian. Orang dengan ciri ini akan sangat patuh dan merasa cemas jika pimpinan mengabaikannya. Para penjilat masuk dalam kategori ini. Mereka berupaya agar pimpinan selalu menyadari kehadirannya, dan berharap agar pimpinan lebih memperhatikannya ketimbang kepada orang lain. 5. Tidak dapat mempercayai orang lain. Mereka biasanya menaruh curiga terhadap pihak lain. 6. Mereka merasa lemah yang oleh karenanya mereka sangat yakin bahwa sangat penting bagi mereka memiliki pemimpin yang sangat berkuasa atau menjadi bagian dari kelompok yang berkuasa. Mereka hanya nyaman jika menjadi bagian dari kelompok yang terbaik, misalnya perusahaan terbaik, tim sepakbola terbaik, dan seterusnya. 7. Etnosentrik. Mereka mengira bahwa kelompok mereka sendirilah yang paling baik. Kepribadian dogmatik. Tipe kepribadian dogmatik juga merupakan salah satu tipe kepribadian yang memiliki kecenderungan kuat untuk berprasangka. Orangorang dengan kepribadian dogmatik memiliki pola pemikiran yang sempit (closedmind). Mereka sangat mempercayai sistem yang anti terhadap perubahan informasi dan ditandai penggunaan daya tarik atau kekuatan wewenang untuk menjustifikasi apa yang mereka kira benar. Jadi, jika berkuasa, maka ia akan berusaha dengan seluruh kekuasaannya untuk menolak ide-ide baru.

Dogmatisme memproposisikan bahwa orang yang dogmatik lebih banyak melakukan penolakan terhadap orang lain yang tidak sepaham dengan dirinya daripada ia menolak orang lain karena identitas kelompok (ras, etnik) mereka. Jika seseorang yang membawa ide baru adalah orang berbeda agama dan ideologi, lebih besar peluang ditolak daripada mereka yang berbeda etnik. Secara umum orang dengan kepribadian dogmatik ini sangat konvensional. Mereka menentang setiap upaya perubahan yang terjadi jika mengakibatkan perubahan mendasar terhadap apa yang telah lama diyakininya. Mereka tidak segan menggunakan kekuasaan yang dimiliki untuk membenarkan apa yang diyakininya. Pada titik ekstrim, orang dengan kepribadian dogmatik ini menganggap hanya yang diyakinilah yang benar. Pribadi yang keras hati. Jenis kepribadian lain yang mudah menderita prasangka adalah orang yang memiliki kepribadian yang keras hati atau cenderung kaku. Mereka yang keras hati ini lebih mampu memahami adanya ekstremitas, misalnya membenarkan terorisme. Mereka kurang terpengaruh keluarga dan lingkungan sosial dalam menentukan pilihan politik. Karakteristik orang berprasangka secara umum bermental kaku (rigidity), dan memiliki infleksibilitas pikiran. 4. Psikodinamika kepribadian Menurut teori psikodinamika dalam ilmu psikologi, prasangka dianggap sebagai hasil perkembangan dari ketegangan motivasional dari dalam diri individu. Prasangka muncul karena menguntungkan secara psikologis, yakni meningkatkan perasaan superioritas. Anda mungkin pernah merasakan kepuasan bila mengetahui ada orang lain mengalami kegagalan. Hal ini merupakan cermin dari adanya tuntutan untuk merasakan superioritas atas orang lain. Prasangka berfungsi membantu memenuhi kebutuhan itu. Kita tahu bahwa prasangka tumbuh lebih subur pada masyarakat yang kondisi sosial ekonominya rendah, berada di bawah ancaman, dan pada kelompok minoritas. Mengapa? Menurut teori psikodinamika, mereka memiliki kebutuhan untuk menjadi superior yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas keadaan mereka yang inferior. Lalu prasangka memberikan mereka rasa superior. Teori psikodinamika mencakup teori frustrasi-agresi yang menyebutkan prasangka sebagai hasil dari agresi yang dialihkan (displacement). Displacement adalah kecenderungan untuk mengarahkan kekejaman secara langsung kepada target yang tidak dapat secara nyata ditunjukkan sebagai sumber kesulitan. Artinya seseorang tidak dapat membuktikan bahwa seseorang atau sekelompok orang merupakan sumber dari kesulitan yang dideritanya. Akan tetapi ia merasa bahwa merekalah sumber kesulitan yang dideritanya. Sebagai kompensasi karena ia tidak bisa melakukan tindakan apa-apa terhadap sumber kesulitan maka ia memunculkan prasangka. Pada diri seseorang terdapat kecenderungan untuk memproyeksikan karakteristik internal kepada orang atau objek lain. Misalnya sifat-sifat kasar yang dimiliki diproyeksikan kepada anggota kelompok lain. Dianggapnya kelompok lainlah yang memiliki sifat kasar, padahal sesungguhnya merupakan sifat-sifat kasar kelompok sendiri. Proyeksi umumnya hanya ada pada kelompok mayoritas. Kekejaman terhadap ingroup (kelompok sendiri) biasanya diproyeksikan terhadap outgroup (kelompok lain). Misalnya etnis Jawa membenci dan kejam terhadap etnis Cina, dalam perspektif teori dinamika hal ini karena etnis Jawa memproyeksikan

sifat-sifat buasnya kepada etnis Cina. Lalu, etnis Cina mungkin jadi tidak menyukai etnis Jawa karena etnis Jawa memproyeksikan impuls buasnya pada mereka Penggunaan proyeksi terhadap target kelompok minoritas dan juga displacement sering ditunjukkan dalam bentuk-bentuk ekstrem oleh orang-orang yang menderita sakit mental, sadis dan paranoid. Mereka menggunakan prasangka untuk merasionalisasi dan menerangkan perilaku menyimpang mereka. Misalnya prasangka yang dimiliki dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan terhadap kelompok yang diprasangkai. Faktor sosial penyebab prasangka Prasangka merupakan hasil dari adanya interaksi sosial, maka cukup mudah menemukan sebab-sebab prasangka dalam kehidupan sosial. Faktor sosial yang menciptakan prasangka antar kelompok setidaknya bisa dikategorikan ke dalam enam hal, yakni: akibat konflik sosial antar individu dan antar kelompok, akibat perubahan sosial, akibat struktur sosial yang kaku, akibat keadaan sosial yang tidak adil, akibat terbatasnya sumber daya, dan adanya politisasi pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari adanya prasangka. Bagaimana faktor sosial di atas bisa menyebabkan munculnya prasangka dan mengapa prasangka muncul dalam interaksi sosial? Ada beberapa teori dalam ilmu psikologi yang bisa menjelaskan hal tersebut, yakni karena adanya perbandingan sosial, adanya identitas sosial, adanya deprivasi relatif, adanya konflik-realistis dan adanya frustrasi. Berikut penjelasannya masing-masing : 1. Identitas sosial Anda apa? Jika anda menjawab pengacara (karena anda pengacara), maka itulah identitas sosial anda. Jika anda menjawab muslim (karena anda muslim), maka itulah identitas sosial anda. Identitas sosial adalah identitas yang anda pakai dengan penuh penghayatan karena anda anggota kelompok sosial tertentu. Artinya, seseorang memiliki kelekatan emosional terhadap kelompok sosialnya. Orang memakai identitas sosialnya sebagai sumber dari kebanggaan diri dan harga diri. Semakin positif kelompok dinilai, maka semakin kuat identitas kelompok yang dimiliki dan akan memperkuat harga diri. Sebaliknya jika kelompok yang dimiliki dinilai memiliki prestise yang rendah maka hal itu juga akan menimbulkan identifikasi yang rendah terhadap kelompok. Apabila terjadi sesuatu yang mengancam harga diri maka kelekatan terhadap kelompok akan meningkat dan perasaan tidak suka terhadap kelompok lain juga meningkat. Demikanlah, akhirnya prasangka diperkuat. Sebagai upaya meningkatkan harga diri, seseorang akan selalu berusaha untuk memperoleh identitas sosial yang positif. Upaya meningkatkan identitas sosial yang positif itu diantaranya dengan membesar-besarkan kualitas kelompok sendiri sementara kelompok lain dianggap kelompok yang inferior. Secara alamiah memang selalu terjadi ingroup bias yakni kecenderungan untuk menganggap kelompok lain lebih memiliki sifat-sifat negatif atau kurang baik dibandingkan kelompok sendiri. Tidak setiap orang memiliki derajat identifikasi yang sama terhadap kelompok. Ada yang kuat identifikasinya dan ada pula yang kurang kuat. Orang dengan identifikasi sosial yang kuat terhadap kelompok cenderung untuk lebih berprasangka daripada orang yang identifikasinya terhadap kelompok rendah. Secara umum derajat identifikasi seseorang terhadap kelompok dibedakan menjadi dua yakni high identifiers dan low identifiers. High identifiers mengidentifikasikan diri

sangat kuat, bangga, dan rela berkorban demi kelompok. Hal ini misalnya ditunjukkan dengan melindungi dan membela kelompok kala mendapatkan imej yang buruk. Dalam situasi yang mengancam kelompok, orang dengan high identifiers akan menyusun strategi kolektif untuk menghadapi ancaman tersebut. Sebaliknya low identifiers kurang kuat mengidentifikasikan ke dalam kelompok. Orang dengan identifikasi rendah terhadap kelompok ini akan membiarkan kelompok terpecah-pecah dan melepaskan diri mereka dari kelompok ketika berada di bawah ancaman. Mereka juga merasa bahwa anggota-anggota kelompok kurang homogen. 2. Perbandingan sosial Pernahkah anda tidak membandingkan diri anda dengan orang lain? Meskipun tidak sering, anda pasti pernah melakukannya. Merupakan hal alamiah, kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain dan kelompok kita dengan kelompok lain. Hal-hal yang dibandingkan hampir semua yang kita miliki, mulai dari status sosial, status ekonomi, kecantikan, karakter kepribadian dan sebagainya. Konsekuensi dari pembandingan adalah adanya penilaian sesuatu lebih baik atau lebih buruk dari yang lain. Apakah anda merasa lebih baik dibandingkan orang lain? Dalam hal apa anda merasa lebih baik? Melalui perbandingan sosial kita menyadari posisi diri kita di mata orang lain dan masyarakat. Kita menjadi sadar kelas sosial kita, sadar prestise dan reputasi kita, serta sadar sikap oang lain terhadap kita. Kesadaran akan posisi ini tidak akan melahirkan prasangka bila kita menilai orang lain relatif memiliki posisi yang sama. Prasangka terlahir ketika orang menilai adanya perbedaan yang mencolok. Artinya keadaan status yang tidak seimbanglah yang akan melahirkan prasangka. Pada masyarakat yang perbedaan kekayaan anggotanya begitu tajam prasangka cenderung sangat kuat. Sebaliknya bila status sosial ekonomi relatif setara prasangka yang ada kurang kuat. Para sosiolog menyebutkan bahwa prasangka dan diskriminasi adalah hasil dari stratifikasi sosial yang didasarkan distribusi kekuasaan, status, dan kekayaan yang tidak seimbang di antara kelompok-kelompok yang bertentangan. Pada masyarakat yang terstruktur dalam stratifikasi yang ketat, kelompok dominan dapat menggunakan kekuasaan mereka untuk memaksakan ideologi yang menjustifikasi praktek diskriminasi untuk mempertahankan posisi menguntungkan mereka dalam kelompok sosial. Hal ini membuat kelompok dominan berprasangka terhadap pihakpihak yang dinilai bisa menggoyahkan hegemoni mereka. Sementara itu kelompok yang didominasi berprasangka terhadap kelompok dominan karena kecemasan akan dieksploitasi. 3. Deprivasi relatif Deprivasi relatif adalah keadaan psikologis dimana seseorang merasakan ketidakpuasan atas kesenjangan/kekurangan subjektif yang dirasakannya pada saat keadaan diri dan kelompoknya dibandingkan dengan orang atau kelompok lain. Keadaan deprivasi bisa menimbulkan persepsi adanya suatu ketidakadilan. Sedangkan perasaan mengalami ketidakadilan yang muncul karena deprivasi akan mendorong adanya prasangka. Misalnya di suatu wilayah, sekelompok etnis A bermata pencaharian sebagai petani padi sawah. Masing-masing keluarga etnik tersebut mengerjakan sawah seluas 2 ha. Rata-rata hasil panenan yang didapatkan setiap kali panen (1 kali setahun) adalah 8 ton padi. Mereka sangat puas dengan hasil

tersebut dan merasa beruntung. Kemudian datanglah sekelompok etnis B yang juga mengerjakan sawah di wilayah itu dengan luas 2 ha per keluarga. Ternyata, hasil panenan kelompok etnis B jauh lebih banyak (14 ton sekali panen). Sejak itu muncullah ketidakpuasan etnis A terhadap hasil panenannya karena mengetahui bahwa etnis B bisa panen lebih banyak. Ketidakpuasan yang dialami etnis A itu merupakan deprivasi relatif. Pada awal kedatangan etnis B, mereka disambut baik oleh etnis A. Akan tetapi setelah etnis B berhasil memanen padi di sawah barunya, mulailah timbul ketidaksukaan etnis A terhadap etnis B. Etnis A menuduh etnis B berkolusi dengan petugas pengairan sehingga mendapatkan pengairan yang lebih baik karenanya hasil panenannya lebih baik. Etnis A mulai merasakan adanya perlakuan yang tidak adil dari petugas pengairan terhadap mereka, meski sebenarnya tidak ada pembedaan perlakuan dari petugas tersebut. Tidak hanya itu, dalam berbagai hal etnis A pun jadi berprasangka terhadap etnis B, dan mulai tidak menerima kehadiran etnis B. Ilustrasi di atas menggambarkan timbulnya prasangka akibat dari deprivasi relatif. Hal demikian seringkali terjadi terutama di daerah-daerah dimana terdapat penduduk asli dan penduduk pendatang dalam jumlah besar. Contoh paling bagus adalah daerah transmigrasi dimana penduduk asli tinggal tidak jauh dari daerah itu. Sepanjang kondisi ekonomi penduduk asli masih lebih baik daripada transmigran, penerimaan penduduk asli terhadap transmigran akan berjalan baik. Akan tetapi begitu kondisi ekonomi pendatang menjadi lebih baik daripada penduduk asli maka mulai timbullah deprivasi relatif dari penduduk asli, halmana mulai menimbulkan prasangka dan berbagai gejolak lainnya. 4. Konflik-Realistis Menurut teori konflik-realistik (Realistic Conflict Theory), prasangka timbul karena kompetisi yang terjadi antara berbagai kelompok sosial yang berbeda untuk meraih kesempatan atau sumber daya yang terbatas. Prasangka bisa muncul dan berkembang sebagai efek samping perjuangan berbagai kelompok memperebutkan pekerjaan, perumahan yang memadai, sekolah yang baik, lahan pertanian, dan lainnya. Apabila kesempatan dan sumber daya melimpah, umumnya prasangka antar kelompok rendah karena orang-orang tidak perlu bersaing keras mendapatkannya. Sedangkan apabila kesempatan dan sumber daya yang tersedia sangat terbatas jumlahnya, biasanya prasangka di daerah tersebut cukup tinggi. Terjadinya prasangka di daerah-daerah pertambangan rakyat, seperti pertambangan emas di Kalimantan, di Rejang Lebong, dan di beberapa tempat lain umumnya didorong oleh adanya konflik kepentingan untuk berebut sumberdaya tambang yang ada. Demikian juga prasangka antara warga asli dengan warga pendatang di daerah-daerah yang dijadikan pemukiman transmigrasi umumnya karena adanya perebutan sumberdaya ekonomi yang terbatas.

Sikap negatif terhadap lawan

Kecenderungan untuk memandang kelompok sendiri memiliki moralitas yang paling baik. Kompetisi memperebutkan Sumber daya yang terbatas Kecenderungan untuk menganggap lawan sebagai outgroup (biasanya dimulai dengan mengucapkan kata mereka untuk kelompok lawan) Mengembangkan prasangka yang kuat.

Perasaaan negatif terhadap lawan Prasangka sebagai hasil dari konflik antar kelompok (Baron & Byrne, 1991)

Persaingan memperebutkan sumberdaya yang terbatas seringkali berujung pada timbulnya konflik. Konflik-konflik itu seringkali dipicu oleh prasangka. Sebaliknya, konflik antar kelompok yang membesar akan menyebarkan prasangka dan diskriminasi. Jadi, prasangka merupakan pemicu konflik sekaligus sebagai hasil dari konflik. Prasangka memicu konflik karena prasangka menciptakan kondisi hubungan sosial yang penuh ketegangan. Prasangka sebagai hasil konflik karena konsekuensi munculnya sikap permusuhan terhadap kelompok lain. Pada saat kerusuhan dan kekerasan antarkelompok terjadi, prasangka antara kelompok bertikai menguat. Semakin besar skala kerusuhan yang terjadi, prasangka yang timbul cenderung semakin besar. Sebagai contoh, kekerasan antara etnis Dayak dan etnis Madura di Kalimantan, seperti tragedi Sampit dan tragedi Sambas, telah menyebarkan prasangka diantara etnis Dayak terhadap etnis Madura dan sebaliknya diantara etnis Madura terhadap etnis Dayak. Padahal mungkin saja sebelum kerusuhan banyak diantara mereka memiliki hubungan yang sangat baik. 5. Frustrasi Prasangka bisa muncul sebagai hasil dari adanya frustrasi (frustrationagression hypothesis), dimana pencapaian tujuan mungkin dihalangi pihak lain. Seseorang yang dalam mencapai tujuan dihalangi pihak lain ini akan cenderung berprasangka terhadap pihak-pihak yang dianggap menghalangi itu. Dalam hal ini prasangka mungkin merupakan mekanisme mempertinggi harga diri atau untuk mengalahkan dan mengalihkan ancaman terhadap harga diri. Jadi, ketika seseorang merasa tidak akan mencapai sesuatu, ia tidak ingin tampak sebagai orang gagal karena kegagalan membuat harga dirinya terancam. Maka ia akan berprasangka pada orang-orang atau kelompok lain agar harga dirinya tidak terancam.

Frustrasi seringkali menimbulkan agresi meski tidak selalu berbentuk agresi terbuka. Namun kadangkala karena sumber frustrasi tidak mungkin menjadi sasaran agresi maka agresinya dialihkan kepada pihak lain. Pengalihan agresi ini biasa dikenal sebagai pengkambinghitaman yang merupakan bentuk dari prasangka. Biasanya sasaran pengkambinghitaman adalah kelompok-kelompok yang subordinat dan lemah, atau kelompok minoritas. Sebagai contoh pada tahun 1997/1998 di saat negara kita mengalami krisis ekonomi, etnis Cina dituding sebagai biang keladinya. Pada saat itu prasangka terhadap etnis Cina meningkat dan sebaliknya etnis Cina juga menjadi lebih berprasangka terhadap etnis lainnya. Struktur sosial yang kaku merupakan salah satu penyebab frustrasi karena mobilitas sosial vertikal yang terhambat. Misalnya anda seorang sarjana yang bekerja mula-mula sebagai resepsionis di hotel. Jika selamanya tidak akan ada peningkatan karir dan penghasilan, bukankah anda bisa frustrasi?! Pada banyak negara yang menerapkan sistem pemerintahan otoriter dan tertutup dimana mobilitas sosial masyarakatnya sangat terbatas, aspirasi untuk maju dan berkembang warganya sulit diwujudkan, biasanya prasangka yang ada di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat cukup tinggi. Antar kelompok saling prasangka memprasangkai. Berdasarkan teori frustrasi-agresi, prasangka yang muncul merupakan akibat dari timbulnya frustrasi atas keadaan sosial yang tidak memfasilitasi keinginan individu ataupun kelompok untuk maju dan berkembang. Apakah faktor genetika menjadi penyebab prasangka? Menurut sebagian ahli, prasangka memiliki dasar biologis. Kecenderungan tidak menyukai kelompok lain dan hal-hal lain yang bukan milik sendiri, dianggap sebagai warisan genetik. Pendekatan ini diistilahkan sebagai genetic similarity theory. Asumsinya, gen akan memastikan kelestariannya dengan mendorong reproduksi gen yang paling baik, yakni yang memiliki kesamaan. Buktinya kita dan nenek moyang kita memiliki kesamaan gen, sehingga bisa dilacak. Maka, menurut teori ini, orangorang yang mirip satu sama lain atau yang menunjukkan pola sifat yang mirip sangat mungkin memiliki gen-gen yang lebih serupa dibandingkan dengan yang tidak mirip. Misalnya orang-orang yang berasal dari etnik yang sama memiliki gen yang relatif lebih mirip daripada dengan orang dari etnik yang berbeda. Menurut teori kesamaan gen, faktor kesamaan gen dalam satu etnik dimungkinkan sebagai faktor yang menyebabkan individu berperilaku lebih murah hati terhadap anggota etniknya daripada kepada etnis yang berbeda. Ketakutan dan kekurangpercayaan terhadap orang asing juga telah terpetakan dalam gen, sebab meskipun orang asing tidak membahayakan sama sekali, kecenderungan curiga dan tidak percaya tetap ada. Hal ini memberikan kontribusi nyata terhadap munculnya prasangka.

Bab 3 Ragam Jenis Prasangka


Berapa banyak ragam prasangka? Prasangka etnik Prasangka agama Prasangka seks dan gender Prasangka politik Prasangka kelas sosial Prasangka terhadap kaum difabel

Berapa banyak ragam prasangka? Kita tahu bahwa prasangka adalah sikap kita terhadap orang lain semata-mata karena keanggotaannya dalam sebuah kelompok. Oleh karenanya, ragam prasangka yang ada, mestinya sebanyak kelompok yang ada. Karena jumlah kelompok yang ada sangatlah banyak, maka sangat banyak pula ragam prasangkanya. Oleh karena itu tidak mungkin untuk mendaftar di sini ragam jenis prasangka yang ada secara lengkap. Namun demikian, beragam jenis prasangka bisa dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok besar, seperti prasangka etnik, prasangka ras, prasangka agama, prasangka seks dan seterusnya. Pada bab ini, kita hanya akan membicarakan ragam jenis prasangka yang paling sering muncul dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebab, membicarakan ragam jenis prasangka yang ada di luar konteks kehidupan kita sehari-hari akan menjadi kurang relevan. Beberapa ragam jenis prasangka yang akan kita bicarakan adalah tentang prasangka etnik, prasangka seks & gender, prasangka agama, prasangka politik, prasangka kelas sosial, dan prasangka terhadap kaum difabel. Prasangka etnik Saat ini Indonesia merupakan negara dengan lebih dari 500 etnik. Namun demikian tidak lebih dari 20 etnik yang memiliki anggota cukup besar. Sebagian besar hanya memiliki anggota yang relatif kecil. Berturut-berturut dari yang paling banyak anggotanya adalah etnik Jawa ( 47%), etnik Sunda ( 16%), etnik Madura ( 7%), etnik Minangkabau ( 3,36%), etnik Bugis ( 3%), etnik Tionghoa ( 2,8 %), etnik Batak ( 2%), etnik Bali ( 1,88%) dan seterusnya. Artinya, masyarakat Indonesia, termasuk anda, semestinya terbiasa dengan perbedaan etnik. Oleh karenanya pula, mungkin terbiasa mengalami prasangka etnik. Prasangka etnik di dalam suatu masyarakat bisa dilihat melalui ada tidaknya stereotip etnis negatif yang berkembang di masyarakat. Stereotip-stereotip negatif yang dilekatkan pada etnik tertentu merupakan wujud dari adanya prasangka karena stereotip yang menjadi dasar prasangka. Sebagai contoh, stereotip etnis Jawa oleh etnis Cina adalah aji mumpung, santai dan lamban, serta munafik. Etnis Jawa dianggap poligamis dan sering kawin cerai. Stereotip etnis Madura di Kalimantan diantaranya bertemperamen keras dan kasar, arogan, keras, mudah tersinggung, angkuh, pendendam, suka carok karena balas dendam. Stereotip Dayak diantaranya percaya pada hal-hal gaib dan kurang kepercayaan diri. Stereotip Bugis memiliki sikap keras, solidaritas tinggi, dan suka melibatkan diri dalam konflik dalam membela

keluarga dan kerabat. Stereotip Minang adalah pedagang, perantau, ulet, dan licik. Stereotip etnik Batak keras, kasar, penggertak, dan lainnya. Penulis pernah tinggal di kota Jember selama setahun, banyak pengalaman menarik mengenai stereotip etnik ditemukan di sana. Jember adalah sebuah kota kecil yang berpenduduk etnis Jawa dan Madura. Di kota Jember sendiri, mayoritas penduduk menggunakan bahasa Madura, meskipun pada umumnya mereka juga menguasai bahasa Jawa. Artinya bahasa Jawa dan bahasa Madura dipergunakan sebagai bahasa pengantar bersama-sama. Namun meski demikian, stereotip etnik ternyata masih ada di antara kedua etnik tersebut. Hampir tidak berbeda dengan stereotip orang Madura di Kalimantan, orang Madura di Jember juga memiliki stereotip negatif keras, mudah tersinggung, arogan, dan mau menang sendiri. Sementara stereotip negatif etnis Jawa adalah pemalas dan suka menjilat. Dan stereotip orang Sumatera (yang diwakili profil mahasiswa dari Sumatera di Jember) adalah tidak tahu sopan santun, berterus terang, dan sombong. Sepanjang yang saya ingat, di Jember pula saya mendengar prasangka yang dialamatkan pada Masyarakat Osing di Banyuwangi, terutama untuk kaum mudanya. Dari cerita-cerita yang beredar diantara mahasiswa di kota Jember, masyarakat Osing memiliki suatu ilmu pengasihan semacam pelet asmara yang ampuh. Siapapun yang terkena aji pengasihan itu sudah dipastikan akan jatuh cinta kepada yang memberi aji pengasihan tersebut. Strategi ini kerap digunakan kaum muda masyarakat Osing untuk memikat seseorang yang disukainya jika cara konvensional gagal. Hal itu biasanya juga didorong oleh orangtua agar anaknya lekas mendapat jodoh. Terlepas dari benar tidaknya gambaran itu, efeknya sangat jelas. Umumnya mereka yang hendak pergi ke daerah Masyarakat Osing melengkapi diri dengan berbagai azimat agar tidak terkena aji pengasihan. Mereka, para mahasiswa, juga enggan untuk dekat dengan mahasiswa dari masyarakat Osing. Namun bagi yang sedikit nakal, mereka memanfaatkan teman dari Osing untuk mencarikan pengasihan buat mereka sendiri. Jadi, prasangka akan dikenai aji pengasihan menjadi sebab mereka enggan berakrab ria dengan masyarakat Osing. Untuk menggambarkan stereotip sebagai manifestasi dari adanya prasangka etnik di suatu daerah, saya akan menggunakan contoh sebuah daerah dimana saya berasal yakni Mukomuko, Bengkulu. Mukomuko merupakan wilayah yang terbuka terhadap pendatang, bahkan disinyalir lebih dari 60% penduduk Mukomuko saat ini adalah pendatang yang berada di Mukomuko kurang dari 20 tahun, baik perpindahan karena program transmigrasi maupun perpindahan biasa. Karenanya tidak mengherankan bila wilayah ini cukup plural. Berbagai etnik ada di wilayah ini, mulai dari etnik Batak dengan berbagai marga, etnik Bali, etnik Jawa, etnik Sunda, etnik Madura, etnik Minangkabau dan warga asli yang lebih dekat dikategorikn sebagai etnik Minangkabau atau Melayu. Saat ini Mukomuko telah menjadi kabupaten tersendiri yang mencakup beberapa Kecamatan. Untuk memfokuskan perhatian, kita hanya akan melihat fenomena di tiga kecamatan, yakni kecamatan Teras Terunjam, kecamatan Lubuk Pinang, dan kecamatan Mukomuko yang dulu tergabung ke dalam kecamatan Mukomuko Utara. Di daerah Teras Terunjam, Mukomuko, dan Lubuk Pinang, etnis Jawa masih banyak yang menyebut warga asli dengan Wong Mbilung, yang bermakna orang yang tidak tahu aturan. Hal itu menggambarkan bahwa etnis Jawa merasa memiliki harkat yang lebih tinggi, setidaknya memiliki tata-krama dan tata nilai yang lebih luhur. Dalam kacamata kosmologi Jawa, perilaku warga asli yang cenderung lebih bebas dan terbuka baik dalam berkata-kata maupun dalam bertindak memang

seringkali terasa keluar dari aturan, tidak sopan, dan terbelakang. Tapi kalau melihat dari kosmologi setempat, hal itu masih dalam tata aturan. Secara khusus, seorang etnis Jawa, dan kemudian dikuatkan oleh pernyataan beberapa orang lainnya mengatakan bahwa dalam berdagang, etnis asli suka main kayu atau curang. Jadi harus berhati-hati bila berbisnis dengan mereka. Demikian juga bila ada urusan apapun sebaiknya berhati-hati karena warga asli kurang bisa dipercaya. Ada juga satu cerita yang sedikit mengerikan mengenai warga asli, yakni cerita tentang racun. Menurut cerita dari beberapa orang etnis Jawa yang saya temui, mereka selalu berhati-hati menerima suguhan minuman dari warga asli karena kadangkala minuman itu dicampur racun apabila sang tuan rumah kurang senang dengan sang tamu. Dari pernyataan itu, jelaslah terdapat adanya prasangka terhadap warga asli oleh etnis Jawa. Orang Jawa itu pekerja keras, pintar, dan sopan, akan tetapi ia tidak bisa diberi hati sedikit saja demikian ucap salah seorang tokoh terkemuka di Mukomuko. Maksud perkataannya adalah bila orang Jawa di beri berbagai kesempatan yang luas, dibiarkan terlalu dekat, maka ia bisa jadi akan nglunjak atau meminta kompensasi yang jauh lebih luas lagi. Artinya mungkin saja orang Jawa akan menikam dari belakang. Hal itu digambarkan dengan sangat jelas melalui peribahasa kecil disayang-sayang, besar menikam dari belakang. Pernyataan sang tokoh di atas menggambarkan adanya sikap hati-hati terhadap etnis Jawa, justru karena penilaian bahwa etnis Jawa pintar. Tokoh tadi berargumen bahwa ketidakterusterangan orang Jawa seringkali tidak mampu dipahami oleh mereka. Sehingga mereka hanya bisa menangkap apa yang memang dinyatakan orang Jawa. Tapi sementara itu, di sisi lain, orang Jawa justru bisa berbuat lain dari yang diungkapkan sebagaimana yang dipahami mereka. Pernyataan tokoh tadi juga menyiratkan adanya suatu kekhawatiran yang mendalam mengenai keberlangsungan kehidupan warga asli karena akan didesak oleh kehadiran orang Jawa (pendatang). Pengakuan bahwa orang Jawa pintar sekaligus dirasakan sebagai ancaman terhadap posisi warga asli, baik kehidupan ekonomis, kultural maupun politis. Bagi masyarakat awam, kekhawatiran itu mewujud ke dalam adanya prasangka terhadap etnis pendatang. Oleh karenanya tidak mengherankan bila etnis pendatang cenderung ditolak bila menduduki jabatan strategis. Apalagi ternyata di sekolah-sekolah yang muridnya campuran berbagai etnis, faktual, mereka yang masuk kategori juara berasal dari warga pendatang. Saya ingat betul, di SMU Negeri satu-satunya di kecamatan Lubuk Pinang (pada tahun 2000), hampir tidak ada satupun warga asli yang bisa menduduki juara. Alasan yang selalu dipakai pelajar warga asli kepada orangtuanya untuk menjelaskan prestasinya yang pas-pasan biasanya berkisar pada pernyataan seperti Orang Jawa (pendatang) pintar-pintar, saya bisa dapat rangking saja sudah untung. Sebagai catatan, warga asli umumnya tidak membedakan etnis-etnis diantara warga pendatang. Semua yang berasal dari Jawa, akan disebut orang Jawa meskipun mungkin ia etnis Madura, etnis Sunda, atau Jawa asli. Akan tetapi warga pendatang biasanya mengkategorikan sesama warga pendatang berdasarkan etnisnya. Oleh karena itu ada stereotip etnis Madura, etnis Jawa, etnis Sunda, etnis Bali oleh etnis lainnya. Misalnya etnis Sunda digambarkan sebagai etnis yang suka kawin cerai. Perempuan etnis Sunda dianggap perempuan gampangan, artinya mudah diajak laki-laki. Etnis Bali digambarkan sebagai etnis yang keras hati dan kasar. Etnis Madura digambarkan mudah tersinggung dan temperamental serta mau menang sendiri. Etnis Jawa digambarkan bermuka dua dan suka menjilat.

Masih di daerah Bengkulu, ada terdapat etnik Rejang yang juga dilekati stereotip negatif. Etnis Rejang dinilai temperamental, suka main tujah (menusuk dengan senjata kecil semacam badik), dan suka mencari kesempatan dalam kesempitan orang. Bahkan menurut cerita seorang teman, di daerah Bengkulu Selatan masih ada pertentangan antara warga Manna dengan orang Rejang. Teman saya mengaku bahwa orangtuanya memperbolehkan untuk menikah dengan orang dari manapun terkecuali dengan orang Rejang. Menurut teman saya, orang Rejang begitu pula terhadap kelompok teman saya itu. Ada seorang kawan yang orangtuanya etnis Jawa baru menikah setelah umurnya lebih dari 30 tahun karena selalu gagal mendapat restu orang tua. Apa pasal? Ternyata orang tuanya tidak setuju kalau teman saya menikah dengan perempuan Minang. Ironisnya, teman saya selalu jatuh cinta dan punya pacar orang Minang karena ia memang tinggal dan bekerja di kota Padang. Pernah saya bertemu dengan orang tua teman saya itu dan berbincang-bincang. Mereka bilang bahwa kalau menikah dengan perempuan Minang, mereka takut akan kehilangan anaknya. Menurut mereka, teman saya akan dikuasai sang istri dan akan lupa dengan keluarganya sendiri. Semua harta benda yang diperoleh nantinya akan jadi hak istri, dan teman saya tidak akan mendapatkan apa-apa. Kalau nantinya ada masalah dan bercerai, teman saya akan pergi hanya membawa kain di badan saja. Mereka juga bercerita kalau perempuan Minang memiliki ilmu yang bernama cirik berendang yang bisa membuat laki-laki setelah menikah tunduk padanya. Mereka tidak rela anaknya akan jadi abdi bagi istrinya kelak. Tapi toh akhirnya teman saya menikah dengan orang Minang karena orang tuanya merasa anaknya sudah terlalu terlambat untuk menikah sedangkan calon yang dikenalkan selalu orang Minang. Mereka pada akhirnya menyerah dengan keputusan teman saya. Itupun, kalau tidak salah, setelah pacar keenam atau ketujuh yang dikenalkan. Dari cerita orangtua teman saya di atas, jelas sekali kalau mereka berprasangka terhadap orang Minang. Cerita negatif itu saya dengar setahun sebelum teman saya menikah. Ketika saya bertemu lagi dengan orang tua teman setahun setelah pernikahan, pendapat mereka tentang orang Minang sudah sama sekali berubah. Rupanya setelah bergaul lebih akrab dengan menantunya yang orang Minang, mereka jadi sadar bahwa prasangka mereka terhadap orang Minang sesuatu yang salah. Beralih ke Kalimantan, beberapa etnis Jawa yang saya temui di Jawa dan pernah ke Kalimantan membawa cerita mistis yang sedikit mengerikan mengenai etnis Dayak. Salah satu ceritanya, bila menikah dengan perempuan etnis Dayak maka tidak ada peluang lagi untuk menikah, sebab perempuan etnis Dayak memiliki ilmu yang bisa membuat senjata laki-laki mengecil atau bahkan hilang. Entah benar atau tidak tapi ada yang bercerita bahwa dirinya (si pencerita) bersama temannya pernah pergi ke salah seorang warga Dayak. Karena kemalaman ia menginap di sana. Kebetulan warga Dayak itu memiliki anak perempuan yang cantik. Malamnya, sebelum tidur, sang teman mengaku pada si pencerita, bahwa ia tertarik dengan anak gadisnya. Tapi tentu saja itu tidak disampaikan kepada empu rumah. Pagi-pagi ketika bangun tidur, si pencerita bersama temannya hendak buang air kecil. Tiba-tiba sang teman berteriak bahwa alat vitalnya tidak ada. Setengah mati ketakutan, sang teman menghadap ke empu rumah. Oleh si empu rumah dipersilahkan makan. Ketika membuka tutup makanan ia menemukan alat vitalnya ada di sana. Saya tidak yakin cerita itu benar. Lagipula si pencerita juga tidak mengatakan etnik Dayak yang mana. Seringkali cerita semacam merupakan hasil dibesar-

besarkannya sebuah kisah sederhana dan biasa saja. Dengan tambahan bumbu di sana-sini jadilah cerita itu menarik. Bagi saya yang menarik justru bukan ceritanya tetapi makna dari cerita itu. Berkembangnya cerita semacam itu menjelaskan adanya prasangka yang besar terhadap etnis Dayak. Kalau cerita itu semakin berkembang luas maka masyarakat juga akan semakin berprasangka terhadap etnik Dayak. Mereka jadi enggan dan takut untuk berhubungan dengan etnis Dayak halmana semakin mengukuhkan prasangka yang dimiliki. Adanya stereotip, terutama stereotip negatif sebagai cermin utama adanya prasangka, sangat tidak menguntungkan untuk kehidupan sosial, terutama bila stereotip itu dilekatkan pada kelompok etnik minoritas. Etnik Dayak Meratus di Kalimantan sampai sekarang terisolasi tidak lain karena adanya stereotip negatif atau prasangka yang dialamatkan pada mereka. Mereka dianggap tidak bersahabat, menakutkan bahkan dianggap belum beradab. Stereotip menyakitkan itu sampai kini tetap terasa bahkan masyarakat kota Banjarmasin pun masih menjuluki mereka sebagai orang Bukit. Masyarakat kota di Banjarmasin, apalagi di luar pulau Kalimantan, masih menganggap berkunjung ke pedalaman Dayak tidak aman. Berkunjung ke Balai (rumah adat Dayak Meratus) bisa-bisa tidak dapat pulang karena orang-orang Dayak dianggap mempunyai kekuatan magis yang bisa digunakan untuk keperluan jahat (Kompas, 7 Oktober 2003). Joke atau anekdot yang berkait dengan etnik juga bisa menggambarkan adanya prasangka etnik bila isi dari joke-joke itu memojokkan etnik tertentu. Misalnya saja joke tentang etnik Jawa, etnik Minang dan etnik Cina. Pada suatu hari ada tiga orang dari tiga etnik berbeda itu jalan-jalan di pasar malam. Ketika sampai di rumah hantu mereka bersepakat untuk masuk ke dalam. Didalam terdapat tiga patung Nyi Roro Kidul. Giliran pertama orang Jawa. Setelah masuk selama 15 menit, ia keluar dan membisikkan sesuatu pada kedua temannya ssssttttt, aku ambil kacamata dipatung Nyi Roro Kidul. Kemudian giliran etnis Minang, ketika keluar iapun berbisik pada dua temannya Sssst aku ambil kacamata dan kain yang dipakai Nyi Roro Kidul. Terakhir, giliran etnis Cina. Ketika keluar tampak pakaiannya menggelembung dan ia berbisik pada rekan-rekannya Ssssttt, aku ambil kacamata, kain dan sekaligus patung Nyi Roro Kidul. Prasangka agama Mungkin anda pernah mendengar ada sebuah desa yang kekurangan air bersih menolak bantuan pengeboran sumur artesis. Sebabnya, karena sang pemberi bantuan adalah kelompok beragama lain. Padahal, mereka akan mengecek sumur itu hanya setahun sekali atau kalau ada kerusakan saja. Warga desa beralasan bahwa jika diberikan ijin, nanti akan menjadi sarana dakwah bagi mereka. Apa yang anda pikirkan tentang kasus di atas? Tentu saja warga desa berprasangka terhadap pemeluk agama lain. Mereka bahkan menghindarkan diri dari kemudahan karena prasangka itu. Bukankah, akan jauh lebih mudah bagi kehidupan warga desa jika ada sumur artesis?! Tapi begitulah prasangka. Prasangka agama laten terjadi. Sejak era Musa dan Firaaun, sampai saat ini, kerap terjadi perselisihan antar agama yang bersumber dari prasangka agama. Penganut kristiani berprasangka terhadap kaum muslim, sebaliknya kaum muslim berprasangka terhadap kaum kristian. Mereka juga berprasangka pada kaum yahudi. Sebaliknya kaum yahudi juga berprasangka kepada kaum kristian dan kaum muslim. Saat ini, prasangka agama, sering dikompori dengan pemberitaan media-media yang

sangat memihak agama tertentu. Sangat mudah menemukan media-media yang potensial menyebarkan prasangka agama di masyarakat. Tidak jarang prasangka agama tidak kepada pemeluk agama lain, tapi justru kepada mereka yang mengaku satu agama. Contohnya, cukup banyak penganut muslim yang mengaku NU, Muhammadiyah dan Wahabisme, saling gontok-gontokkan dan saling serang. Terjadi pertentangan di antara mereka. Prasangka seks dan gender Apa yang anda pikirkan tentang seorang janda kembang cantik yang baru bercerai dengan suaminya? Ada macam-macam pikiran yang muncul tentang sang janda kembang. Beberapa pikiran menunjukkan prasangka padanya. Misalnya beberapa orang berpikir sang janda akan menjadi penggoda bagi laki-laki di lingkungan sekitar. Beberapa yang lain berpikir sang janda akan merusak moral anak muda di sekitarnya karena sang janda akan memuaskan nafsu seksualnya dengan menggoda anak-anak muda itu. Lalu, untuk menghidupi dirinya, ia akan menjual diri. Pendeknya, macam-macam saja prasangka yang akan dihadapi sang janda. Sungguh tidak beruntung mereka yang janda, masih muda, dan cantik pula. Mereka banyak mendapatkan diskriminasi. Para suami dilarang bergaul dengan janda sebab istri-istri takut suaminya tergoda. Begitupun beberapa pekerjaan jarang diberikan kepada janda, misalnya pengasuh anak dan pembantu rumah tangga, karena para istri khawatir suaminya dekat dengan sang janda. Status janda juga menyebabkan lebih banyak digoda orang. Ada saja yang melemparkan siulan atau kerlingan mata nakal. Tidak lain, semua itu karena prasangka kepada janda, bahwa mereka adalah perempuan gampangan. Sungguh tidak mudah menjadi janda untuk bebas dari prasangka. Prasangka kepada janda merupakan salah satu jenis prasangka gender. Prasangka ini sangat luas mewabah dalam masyarakat. Termasuk dalam prasangka jenis ini adalah prasangka tentang adanya perbedaan kualitas dan kemampuan antara pria dan wanita. Misalnya, perempuan tidak mampu menjadi pemimpin. Perempuan suka memfitnah. Tidak ada laki-laki setia. Laki-laki pasti buaya. Perempuan lebih pandai berbohong. Laki-laki menyukai tantangan. Laki-laki pasti penuh tanggungjawab, dan sebagainya. Prasangka yang terkait dengan seksualitas juga sangat banyak. Misalnya, mereka yang memiliki bokong besar dianggap pasti hebat di atas tempat tidur. Perempuan yang berambut ikal dan berkumis dikatakan memiliki nafsu seksual yang besar. Kemaluan laki-laki bisa dilihat dari besarnya jempol kaki kiri yang dimiliki. Ukuran vagina mirip dengan ukuran bibir. Orang Arab memiliki, maaf, penis besar. Orang Madura memiliki ramuan rahasia yang membuat kaum perempuannya sangat memuaskan ketika berhubungan seksual, dan sebagainya. Prasangka politik Anda tentu tahu adanya sebuah peristiwa besar di negeri ini pada tahun 19651966. Pada saat itu, sebagai ekses adanya pembunuhan para jenderal TNI-AD, ratusan ribu orang meninggal karena dituduh sebagai anggota PKI. Disinyalir korban bahkan mencapai 2 juta orang. Suatu jumlah yang sangat besar. Setelah tahun-tahun itu, berbagai kebijakan pemerintah dan indoktrinasi intensif kepada masyarakat membuat mereka-mereka yang diduga terkait dengan PKI, berikut seluruh anggota keluarganya didiskriminasikan dalam seluruh sektor kehidupan. Anak dan cucu seseorang yang dulunya dianggap anggota PKI, tidak boleh bekerja sebagai pegawai

negeri. Jika sudah menjabat, maka dipecat. Jika mereka mendirikan usaha, maka usaha mereka dihalang-halangi. Mereka dicap sebagai tidak bersih lingkungan. Mereka dianggap sebagai ancaman terhadap masyarakat. KTP mereka juga diberi tanda khusus. Prasangka politis seperti di atas, merupakan hal yang umum terjadi. Tidak hanya diskriminasi, pelarangan buku-buku juga dilakukan. Buku-buku novel karangan Pramoedya Ananta Toer, yang isinya tidak ada kaitan dengan komunisme dilarang beredar. Mereka yang berusaha membaca dan mendiskusikannya akan ditangkap dan dipenjara. Tidak ada buku-buku tentang marxisme yang boleh beredar. Dulu, tahun-tahun 90-an, setiap anak sekolah diberitahu tentang ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan (ATHG) terhadap kehidupan masyarakat dan berbangsa. Bentuk ATHG-nya adalah SARA dan komunisme. Jadi, segala sesuatu yang berbau SARA (suku, agama, ras, antar golongan) dan komunisme tidak boleh diungkapkan apalagi dibicarakan. Siapa yang membicarakannya akan ditindak oleh aparat pemerintah karena mengganggu kehidupan masyarakat. Nah, rupa-rupanya keberagaman dan isu-isu keberagaman diprasangkai akan menimbulkan kekacauan di masyarakat. Oleh karenanya ditekan. Masyarakat jadi takut membicarakannya karena akan berhadapan dengan aparat pemerintah. Masyarakat pun akan berprasangka kepada siapapun yang vokal sebagai ancaman terhadap masyarakat. Salah satu prasangka politik yang umum terjadi adalah terhadap aparat pemerintah, baik pegawai negeri maupun TNI-Polri. Misalnya, jika ada maling tertangkap, warga akan menghakimi sendiri, karena mereka tidak percaya pada polisi akan mampu menyelesaikan atau mengurangi kasus kemalingan. Begitupun jika ada operasi surat kendaraan bermotor, denda yang dijatuhkan kepada pelanggar diprasangkai akan digunakan polisi untuk kepentingan pribadi. Sebagian masyarakat juga percaya bahwa tempat perjudian banyak yang dibeking oleh aparat. Begitupun tindak penyeludupan barang. Oleh karenanya keduanya sangat sulit diberantas. Sulitnya pemberantasan itu karena memang dibeking aparat. Prasangka kelas sosial Apa kelas sosial anda? Pernahkah anda memiliki prasangka terhadap mereka yang memiliki kelas sosial di atas atau di bawah anda? Jika pernah, maka itulah prasangka kelas sosial, yakni prasangka yang diarahkan pada kelas sosial tertentu di masyarakat. Bentuk prasangkanya beragam. Prasangka kelas sosial paling mudah ditemui pada mereka yang miskin kepada yang kaya dan sebaliknya dari si kaya kepada si miskin. Orang kaya berprasangka pada si miskin bahwa mereka miskin karena malas dan tidak mau bekerja keras. Orang miskin ditengarai akan mencuri sesuatu jika dibiarkan bebas. Para pemulung biasanya dilarang memasuki daerah orang kaya prasangka itu. Orang miskin berprasangka bahwa orang kaya sombong dan hanya mengutamakan kesenangan diri. Orang kaya tidak sensitif terhadap lingkungan sekitar dan maunya menangnya sendiri. Mereka yang kaya diprasangkai menggunakan cara-cara tidak halal, seperti menipu, pesugihan (mengabdi setan untuk mendapat kekayaan), dan lainnya. Jika ada orang kaya datang dengan mobil dan perhiasan, mereka diprasangkai sedang pamer kekayaan. Pendek kata, mereka diprasangkai habis-habisan.

Prasangka terhadap kaum difabel Kaum difabel atau penderita cacat tak kurang mendapatkan prasangka dari mereka-mereka yang normal. Banyak penderita cacat mengalami diskriminasi karena prasangka terhadap mereka. Misalnya, hanya karena seseorang buta, maka ia tidak boleh masuk kuliah jurusan sastra. Padahal, kebutaan tidak akan menghalangi si buta dalam proses kuliah. Mereka yang buta dianggap tidak akan mampu mengikuti pendidikan sewajarnya. Banyak tempat menolak mempekerjakan orang-orang yang memiliki cacat. Mereka dianggap tidak akan mampu bekerja. Namun lebih dari itu, mereka dianggap sebagai biang masyarakat. Mereka tidak diterima kerja, lebih karena mereka cacat sehingga dianggap mengurangi prestise tempat kerja. Bahkan, mereka yang memiliki pancaindra lengkap, alias hanya mengalami cacat fisik sedikit, pun mengalami diskriminasi serupa. Mereka yang cacat namun mencatat sukses, biasanya tetap diprasangkai karena ditolong oleh banyak orang dan diberi kemudahan dari sanasini. Mereka tetap tidak dianggap berprestasi karena kerja keras sendiri. Ada-ada saja orang yang mencibir kesuksesan mereka. Kita tahu, banyak anak cacat, baik cacat mental maupun fisik, sering mengalami olok-olok dari teman-teman yang lain. Tidak jarang ada orangtua yang melarang anak-anaknya bergaul dengan mereka yang cacat karena dianggap membawa sial. Penderita cacat juga sering menjadi objek kekerasan. Mereka tidak diterima di banyak tempat. Jadi, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Begitulah orang cacat menjadi sasaran prasangka.

Bab 4 Mengurangi Prasangka


Mengapa mengurangi prasangka penting? Mengurangi prasangka melalui hubungan antar kelompok Mengurangi prasangka melalui sosialisasi Mengurangi prasangka melalui rekayasa sosial Mengurangi prasangka melalui penyadaran pribadi

Mengapa mengurangi prasangka penting? Prasangka merupakan faktor yang potensial menciptakan konflik dalam kehidupan sosial. Tidak akan ada kehidupan sosial yang damai dan saling dukung bila prasangka hadir di tengah masyarakat. Anda tentu juga tidak akan nyaman jika terus menerus dirundung prasangka terhadap orang lain. Kekerasan sangat mungkin muncul jika prasangka dibiarkan. Dalam rangka membentuk sebuah kehidupan bersama yang nir kekerasan dan damai, rendahnya prasangka merupakan prasyarat penting. Bayangkan kehidupan dimana setiap orang berprasangka pada yang lain. Tidak ada percaya di antara sesama anggota masyarakat. Pasti chaos yang terjadi. Kita tahu, bahwa prasangka akan muncul dalam kondisi rendahnya pemahaman lintas budaya di masyarakat. Sementara itu, pemahaman lintas budaya adalah sendi dari sebuah masyarakat multietnik yang sehat, ketika setiap orang sadar akan perbedaan dan menghargai perbedaan itu. Pemahaman lintas budaya merupakan kemampuan seseorang untuk memahami perbedaan dan sadar akan adanya perbedaan budaya, serta mampu menerima adanya perbedaan itu. Pada hakekatnya mengurangi prasangka sama artinya dengan menumbuhkan pemahaman lintas budaya. Menumbuhkan pemahaman lintas budaya dan upaya-upaya mengurangi prasangka lainnya, bisa dilakukan di segenap aspek kehidupan, dimulai dari keluarga, lingkungan pertetanggaan, sekolah, organisasi, dan masyarakat secara lebih luas. Upaya mengurangi prasangka bisa dilakukan dalam banyak cara. Sekurangnya ada empat strategi yang bisa digunakan. Pertama, melalui rekayasa dalam hubungan antar kelompok. Kedua, melalui sosialisasi anti prasangka dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan. Ketiga, melalui rekayasa sosial. Terakhir, melalui penyadaran diri pribadi. Semua strategi tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam bab ini. Mengurangi prasangka melalui hubungan antar kelompok Menurut salah satu teori hubungan antar kelompok yakni the contact hypothesis, diasumsikan bahwa anggota kelompok yang berbeda bila melakukan interaksi satu sama lain akan mengurangi banyak prasangka antara mereka, dan menghasilkan sikap antar kelompok dan stereotip yang lebih positif. Semakin banyak dan erat interaksi yang terjadi maka prasangka dan stereotip negatif akan semakin berkurang. Tidak semua interaksi bisa mengurangi prasangka. Interaksi yang mengurangi prasangka harus memenuhi setidaknya empat syarat berikut :

1. Adanya dukungan sosial dan dukungan institusional. Adanya kerangka sosial dan dukungan institusional bisa mendorong kontak lebih erat antara kelompok yang berlainan. Dukungan diberikan oleh pihak otoritas yang berwenang, dalam hal ini bisa pemerintah, sekolah, pemimpin organisasi, orangtua, dan lain-lain. Otoritas biasanya berada dalam posisi bisa memberi sanksi (dan rewards) untuk tindakan berprasangka. Jadi, misalnya ada anak berprasangka terhadap kelompok lain, orangtua bisa memberikan hukuman. Selain itu adanya peraturan yang tegas dari pihak otoritas tentang anti-diskriminasi, akan memaksa orang untuk berperilaku dalam perilaku yang tidak berprasangka. 2. Ada potensi untuk saling mengenal Orang Cina itu pelit, sombong, nggak mau bergaul, seringkali licik ujar Vivi, seorang etnis Jawa berkomentar tentang etnik Cina Kecuali Dewi dan Diana, mereka baik, tidak seperti orang Cina lainnya tambahnya melanjutkan. Dewi dan Diana adalah dua orang teman dekat Vivi yang beretnis Cina. Apa yang dikatakan Vivi merupakan tipikal yang umumnya dilakukan oleh orang-orang. Mereka memiliki stereotip negatif terhadap kelompok lain, tetapi menolak bila orang yang dikenalnya secara akrab, yang berasal dari kelompok bersangkutan memiliki stereotip-stereotip itu. Cerita itu menggambarkan bahwa stereotip negatif dan prasangka tumbuh karena ketiadaan pergaulan yang erat dan akrab antar pribadi di antara kelompok yang berbeda. Hubungan antar etnik yang memungkinkan saling mengenal secara pribadi antar anggota kelompok yang berlainan bisa mengurangi prasangka secara signifikan. Hubungan itu mesti dalam waktu yang cukup, dengan frekuensi yang tinggi, dan adanya kedekatan yang memungkinkan peluang membangun hubungan erat dan bermakna antara anggota kelompok yang berkaitan. Apabila hubungan antar anggota kelompok tidak memungkinkan terjalinnya hubungan akrab maka kurang bisa mengurangi prasangka antar kelompok. Ada tiga alasan mengapa potensi untuk saling mengenal penting guna mengurangi prasangka. Pertama, membangun hubungan interpersonal yang fair dan dekat menimbulkan pikiran untuk menghargai orang lain secara positif, dan diharapkan digeneralisasikan ke keseluruhan kelompok. Kedua, akan memungkinkan menerima info baru yang lebih akurat tentang kelompok lain yang menjadikan orang sadar bahwa kenyataannya ada banyak kesamaan antara kelompok yang berbeda. Menurut hipotesis similarity-attraction, kesamaan-kesamaan yang dipersepsi seseorang dengan orang lain dari kelompok lain akan meningkatkan kesukaan pada kelompok tersebut. Ketiga, seseorang akan menemukan bahwa stereotip negatif kelompok lain tidak benar. Hal mana akan mengubah pandangan seseorang terhadap kelompok lain. 3. Adanya status yang setara antara pihak-pihak yang berinteraksi Dalam masyarakat, organisasi, sekolah, atau yang lain, harus ada status yang setara antara pihak-pihak yang berprasangka sebelum terjadi interaksi. Jika satu kelompok lebih dominan dibanding kelompok lain, maka interaksi antar kelompok belum tentu dapat mengurangi prasangka. Misalnya bila satu kelompok selalu berada dalam posisi berkuasa dan selalu menjadi bos, sedangkan yang lain yang dikuasai maka hubungan antar kelompok kurang bisa mengurangi prasangka.

4. Adanya kerjasama Sebuah interaksi akan mengurangi prasangka jika interaksi yang terjadi berbentuk kerjasama bukannya konflik. Dalam kerjasama itu, juga harus terjadi ketergantungan. Mendasarkan pada teori realistic-group conflict theory, harus ada alasan instrumental untuk bekerjasama dan membangun persahabatan. Tujuan bersama biasanya harus konkret, skala kecil, dan bisa dilakukan bersama-sama. Contohnya pada saat banjir, semua orang bekerja sama untuk menanggulangi. Interaksi semacam ini bisa mengurangi prasangka. Mengurangi prasangka melalui sosialisasi Sosialisasi nilai-nilai nir prasangka bisa dilakukan di rumah atau keluarga, di sekolah maupun di masyarakat. Salah satu media sosialisasi nilai-nilai toleransi adalah media massa, baik berupa TV, radio, internet, media cetak seperti buku, majalah, koran, buletin dan lainnya. Prasangka antar kelompok akan berkurang jika media-media itu mampu memberikan informasi yang positif tentang berbagai kelompok dalam masyarakat. Sayangnya, banyak media malah berperilaku buruk dengan menjelek-jelekkan kelompok tertentu. Akibatnya prasangka antar kelompok bisa tambah menguat. Keluarga adalah faktor yang sangat penting dalam sosialisasi nilai-nilai yang mendorong anak-anak tidak berprasangka. Hanya memang, keluarga tidak menjadi satu-satunya faktor yang dominan. Bisa jadi keluarga yang telah mendorong sikap berprasangka tetap tidak berhasil membuat anak tidak berprasangka karena sekolah atau teman-teman sebayanya tidak mendukung upaya itu. Demikian juga sebaliknya, upaya sekolah untuk mengurangi prasangka mungkin tidak akan berhasil jika di rumah situasi keluarga tidak mendukung. Keluarga yang memiliki prasangka tinggi terhadap kelompok lain akan cenderung melahirkan anak-anak berprasangka. Idiom-idiom bahasa penuh prasangka yang digunakan dalam komunikasi menjadi sarana pewarisan prasangka. Sebagai misal, meskipun anak-anak etnis Jawa tidak pernah bertemu dengan agama lain, tetapi bila sang orangtua terus menerus mengatakan pada anak-anak secara negatif tentang agama lain maka anak-anak juga akan mengembangkan perasaan negatif pada agama lain itu. Anak-anak belajar melalui identifikasi atau imitasi, atau melalui pembiasaan. Apa yang dilakukan orangtua, anggota keluarga lain dan semua yang dilihat anakanak akan ditiru. Misalnya orang tua sering mengata-ngatai tetangganya yang waria dengan kata-kata dasar bencong, maka sang anak juga akan meniru dan mengembangkan perasaan tidak suka terhadap waria secara keseluruhan. Ada beberapa cara yang mungkin berguna dalam upaya mendidik anak-anak dalam keluarga agar memiliki pemahaman lintas budaya yang tinggi, yang pada gilirannya akan mengurangi prasangka, yaitu : 1. Berkata tidak pada komentar yang merendahkan etnis tertentu. Orangtua harus tegas menyatakan sikap tidak senang, kalau perlu disertai hukuman secara konsisten atas kata-kata rasis-diskriminatif-etnosentris yang diucapkan anakanak. misalnya menegur anak-anak yang berkata-kata mengumpat teman lainnya dengan kata-kata menghina berdasarkan agama, seperti dasar kristen,dasar islam, dan lain-lain. 2. Menyediakan bacaan yang berpotensi menumbuhkan kesadaran akan pluralitas, misalnya dongeng-dongeng dari berbagai etnik dari seluruh nusantara.

3. Lebih mendorong dengan pujian jika anak berhasil menjalin hubungan perkawanan dengan anak dari kelompok lain, misalnya dari etnik lain dan agama lain. 4. Tidak mentoleransi adanya perlakuan diskriminatif oleh anak-anak pada temantemannya hanya karena didasarkan pada latar belakang kelompoknya. Misalnya mendiskriminasi orang cacat atau agama lain harus diberi teguran keras, kalau perlu hukuman. Mengurangi prasangka melalui rekayasa sosial Prasangka antar kelompok tidak hanya disebabkan oleh faktor psikologis semata, tapi juga oleh faktor lainnya, seperti sejarah, ekonomi, politik, budaya, dan struktur sosial. Karenanya diperlukan adanya political will yang kuat dari pemerintah untuk melakukan upaya-upaya mengurangi prasangka. Sebab hanya pemerintah yang memiliki kemampuan melakukan rekayasa sosial secara luas dan memaksa, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial. Misalnya, tidak dapat dipungkiri, pemberlakuan desentralisasi politik menguatkan semangat kedaerahan, dan etnosentrisme. Keadaan ini dapat menimbulkan dan memperkuat prasangka etnik. Semangat penonjolan identitas etnik itu perlu diberi ruang partisipasi dalam tatanan kebijakan publik. Kita tahu, ekonomi memainkan peran hubungan antar kelompok dalam masyarakat. Pola-pola hubungan ekonomi yang tidak adil bisa menimbulkan prasangka. Penguasaan kelompok tertentu akan sumber daya ekonomi bisa menggiring kelompok lain untuk berprasangka, dan berpotensi menimbulkan konflik. Oleh karena itu pemerintah harus merencanakan pemberdayaan ekonomi rakyat secara adil. Pada sisi lain, prasangka tetap lestari karena adanya pihak-pihak yang mengambil keuntungan darinya. Seperti yang telah dikemukakan di muka, keuntungan itu bisa bersifat ekonomis maupun politis. Misalnya saja, adanya prasangka terhadap etnis lain mencegah etnis tersebut menerima kerjasama dari etnis lain itu, dan hal ini menguntungkan pihak-pihak tertentu yang mendapatkan kerjasama dan fasilitas dari etnis bersangkutan. Akibatnya pihak yang diuntungkan itu akan berusaha memelihara prasangka yang berkembang di masyarakat. Mengurangi prasangka melalui penyadaran pribadi Beberapa hal berikut akan membantu kita mengurangi prasangka yang kita miliki : 1. Mengakui bahwa kita berprasangka dan bertekad untuk menguranginya. 2. Mengidentifikasi stereotip yang merefleksikan atau menggambarkan prasangka kita dan mengubahnya. 3. Mengidentifikasi tindakan-tindakan yang merefleksikan atau menggambarkan prasangka kita dan mengubahnya. 4. Mencari umpan Balik dari teman dan rekan yang berbeda-beda latar belakangnya tentang seberapa baik cara kita berkomunikasi, apakah terlihat cukup respek pada mereka dan menghargai perbedaan yang ada.

Bab 5 Prasangka dan Kehidupan Sosial


Apakah prasangka merupakan fakta sosial dalam hidup sehari-hari? Apakah efek prasangka terhadap hubungan sosial? Apakah prasangka bisa dibenarkan secara moral? Apa kaitan prasangka dan pengambinghitaman?

Apakah prasangka merupakan fakta sosial dalam hidup sehari-hari? Sebuah penelitian menunjukkan bahwa tidak kurang dari 80% manusia berprasangka terhadap kelompok lain. Ada yang memprasangkai kelompok tertentu saja, ada juga yang berprasangka terhadap beberapa kelompok sekaligus. Coba anda ingat-ingat, kepada siapa saja prasangka anda ditujukan. Bisa saja kepada pemeluk agama lain, kepada warga desa tetangga, kepada warga RT sebelah, kepada penghuni rumah sebelah, kepada mantan tahanan politik, kepada mantan narapidana, kepada perempuan, kepada laki-laki, kepada dukun, kepada politisi, kepada aparat kepolisian, kepada waria, kepada gay, kepada etnik lain, kepada pegawai perusahaan lain, kepada warga daerah tertentu, kepada jenis usaha tertentu, dan lainnya. Pendek kata, semua kelompok yang ada bisa diprasangkai. Jadi, tentu saja prasangka ada dalam hidup kita sehari-hari. Sebagai sebuah sikap, bagaimana prasangka dalam suatu masyarakat bisa dilihat? Apakah diperlukan suatu pengukuran sikap sebagaimana yang biasa dilakukan psikolog? Mengetahui prasangka yang berkembang dalam suatu masyarakat tidaklah harus serumit itu. Secara sederhana, kita bisa mengetahui adanya prasangka melalui berbagai bentuk manifestasinya, seperti berkembangnya stereotip buruk terhadap kelompok lain, diskriminasi dan pengucilan, penolakan terhadap kelompok lain, dan berbagai ungkapan lainnya. Semua hal itu bisa diobservasi di lapangan. Stereotip negatif misalnya bisa dilihat melalui ungkapan verbal yang biasa ditujukan terhadap suatu kelompok tertentu, melalui joke-joke yang beredar dan juga melalui tulisan-tulisan. Apakah efek prasangka terhadap hubungan sosial? Bagaimana prasangka mempengaruhi perilaku sosial kita? Setidaknya ada tiga bentuk tindakan sebagai respon terhadap adanya prasangka, yakni penghindaran, perlawanan dan penerimaan. Pertama, penghindaran. Sebagai contoh anda mungkin sering mendengar bahwa etnis Cina eksklusif, tidak mau bergaul, rumahnya selalu tertutup dan seterusnya. Hal itu merupakan efek prasangka. Seorang etnis Cina yang berprasangka terhadap etnis lain cenderung untuk tidak mau bergaul dalam lingkungan sosial. Mereka menarik diri dari pergaulan sosial. Efek Baliknya adalah penguatan prasangka yang dimiliki etnis lain terhadap etnis Cina. Sebaliknya prasangka etnis Cina terhadap etnis lain dilestarikan karena kurangnya kontak yang akrab antar etnis. Prasangka menyebabkan seseorang enggan bertemu dengan yang diprasangkai. Penghindaran itu beraneka macam, misalnya menghindari jalan-jalan yang banyak digunakan oleh kelompok lain, tidak mau bekerja sama dengan kelompok lain, selalu menutup pintu rumah, tidak mau berbicara dengan kelompok lain, menghindari terjadinya pernikahan dengan kelompok lain, dan lainnya.

Akibatnya tidak pernah terjalin keakraban sosial antar kelompok. Maka, menghindari terhadap objek prasangka semakin meneguhkan prasangka yang ada. Kedua, perlawanan. Bentuk respon kedua terhadap prasangka adalah perlawanan, yang berarti melakukan tindakan negatif tertentu yang diarahkan pada kelompok yang diprasangkai. Kelompok yang menjadi objek prasangka akan dilawan melalui tindakan agresif seperti menyerang, memaki, menghina, dan lainnya. Mereka secara konfrontatif menghadapi pihak-pihak yang diprasangkai. Sering terjadinya konflik antar kelompok, baik berupa konflik terbuka maupun konflik tertutup merupakan penanda penting bahwa terdapat prasangka yang tinggi di sana. Ketiga, penerimaan. Respon ketiga terhadap prasangka adalah penerimaan, yaitu kondisi dimana pihak-pihak yang berprasangka menerima dan mengakui adanya prasangka di antara mereka. Anda mengakui diri anda berprasangka, orang lain juga mengakui berprasangka. Kehadiran kelompok yang diprasangkai diterima karena tak terhindarkan dalam pergaulan sosial. Dalam kondisi ketiga ini, prasangka terpelihara namun tidak menimbulkan konflik secara terbuka dengan etnik lain. Dalam posisi penerimaan ini pula prasangka bisa dikurangi karena adanya kesadaran masing-masing bahwa satu sama lain saling mencurigai tanpa dasar yang jelas. Apakah prasangka bisa dibenarkan secara moral? Tidak ada tata moralitas manapun yang membenarkan prasangka. Nyaris semua tatanan moral menyebutnya sebagai keburukan manusia. Tidak ada toleransi moral terhadapnya. Artinya, prasangka memang sebuah keburukan yang harus dihindari. Moralitas agama-agama malah menyebutnya sebagai dosa. Prasangka disebutkan sebagai penyakit hati. Dalam kehidupan sehari-hari, padanan kata prasangka minimal ada 3, yakni curiga, buruk sangka, dan suudzon (berasal dari bahasa arab). Semuanya dinilai buruk. Setiap orang diharapkan untuk berlaku sebaliknya, yakni percaya, baik sangka dan uznudzon. Tapi toh, meski demikian, prasangka adalah sesuatu yang masif terjadi dalam kehidupan sosial. Jika penelitian yang menunjukkan 80% orang berprasangka itu memang benar, hanya kurang dari 20% manusia yang tidak berprasangka. Merekalah, yang 20% itu, yang mampu menjadi penyeimbang dalam kehidupan sosial. Sejumlah 20% orang yang tidak berprasangka akan menjadi wasit bagi mereka yang berprasangka. Perbandingannya 1 berbanding 5. Jika yang 4 orang berprasangka, maka ada satu orang yang diharapkan bisa meredamnya. Bisa dengan cara mengingatkan jika orang berprasangka, memberi contoh tindakan penuh toleransi tanpa prasangka, atau yang lain. Apa kaitan prasangka dan pengkambinghitaman? Pada bab 2 di atas, telah dibahas tentang frustrasi yang bisa menimbulkan prasangka. Nah, prasangka bisa menimbulkan pengkambinghitaman. Anda menyalahkan pihak lain sebagai penyebab keadaan diri anda yang tidak memuaskan. Pernahkah anda menyalahkan seseorang karena kesulitan yang anda derita? Bisa jadi anda menyalahkan dirinya tanpa ada bukti apa-apa. Misalnya karena anda rugi dalam berusaha, lantas anda menyalahkan pembantu-pembantu anda yang kebetulan berbeda agama dengan anda. Anda mengira mereka bersekongkol karena tidak suka anda yang agamanya berbeda dengan mereka. Pembantu anda adalah kambing hitam atas kegagalan anda, semata-mata karena mereka anda prasangkai.

Pengkambinghitaman biasa terjadi dalam kehidupan sosial. Adanya kerusuhan, lantas mengkambinghitamkan kelompok yang diprasangkai sering berbuat onar. Padahal kelompok yang diprasangkai tidak tahu apa-apa. Adanya bencana, lantas mengkambinghitamkan kelompok yang diprasangkai telah banyak melakukan dosa. Padahal, tentu saja tidak ada hubungannya antara bencana dengan dosa. Misalnya, pada saat gempa bumi melanda Yogyakarta, ada saja yang mengkambinghitamkan pelaku selingkuh dan waria sebagai penyebab karena merekalah para pelaku dosa.