Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Sebagai salah satu komponen yang penting dalam keperawatan adalahkeluarga. Keluarga merupakan unit terkecil setelah individu yang menjadi kliendalam keperawatan (sebagai penerima asuhan keperawatan). Keluarga berperandalam menentukan cara pemberian asuhan yang dibutuhkan oleh anggota yangmembutuhkan.Keluarga menempati posisi di antara individu dan masyarakat sehinggadalam memberikan asuhan keperawatan pada keluarga perawat memperoleh 2 sisipenting yaitu memenuhi kebutuhan perawatan pada individu yang menjadianggota keluarga dan memenuhi perawatan keluarga yang menjadi bagian darimasyarakat. Untuk itu dalam memberikan asuhan keperawatan perawat perlu jugamemperhatikan hal-hal penting antar lain nilai-nilai dan budaya yang di anut olehkeluarga sehingga keluarga dapat menerima dan bekerja sama dangan petugaskesehatan dalam hal ini adalah perawat dalam mencapai tujuan asuhan yang telahditetapkan.Asuhan keperawatan keluarga merupakan salah satu bentuk pelayanankesehatan yang di laksanakan oleh perawat yang di berikan di rumah atau tempattinggal klien.bagi klien beserta keluarga sehingga klien dan keluarga tetapmemiliki otonomi untuk memutuskan hal-hal yang berkaitan dangan masalahkesehatan yang di hadapinya. Perawat yang melakukan asuhan bertanggung jawab Asuhan Keperawatan Keluarga Child Bearing terhadap peningkatan kemampuan keluarga dalam mencegah timbulnya penyakit,meningkatan dan memelihara kesehatan, serta mengatasi masalah kesehatan.Friedman (2002) menyatakan hingga sepuluh tahun terakhir, tidak banyak perhatian yang diberikan kepada keluarga sebagai objek studi yang sistematik dalam keperawatan. Tetapi sejalan dengan perkembangan ilmu, pengetahuan danteknologi keperawatan, maka pada saat sekarang keluarga dipandang sebagaiklien yang penting dalam mengupayakan peningkatan derajat kesehatanmasyarakat secara keseluruhan.Asuhan keperawatan dilakukan berdasarkan tahap perkembangan keluargayang telah dicapai. Hal ini dilakukan dikarenakan setiap tahap perkembangankeluarga berhubungan dengan tugas perkembangan keluarga dan masalahkesehatan yang berbeda di setiap tahap tingkatannya. Perbedaan ini yangmenimbulkan aktivitas asuhan, pendekatan dan target pencapaian menjadi berbedapula.Keluarga baru (Childbearing Family) merupakan tahap perkembangankeluarga ke II, Friedman (2002), yang dimulai dengan kelahiran anak pertama danberlanjut sampai bayi berusia 30 bulan. Menurut sebagian besar

orangmenyatakan bahwa tahap ini merupakan tahap penuh stressor karena merupakantahap transisi menjadi orang tua. Sebuah ketidakseimbangan bisa terjadi sehinggabisa menimbulkan krisis keluarga yang dapat berakhir dengan perasaan tidak memadai menjadi orang tua dan menyebabkan gangguan dalam hubunganpernikahan. Berdasarkan paparan di atas, maka penulis akan memaparkan mengenaiAsuhan Keperawatan Keluarga pada Keluarga Childbearing yang dilakukan olehperawat untuk mengelola stressor yang mungkin timbul dan bersama keluargamenentukan pemecahan permasalahan tersebut, sehingga keluarga mampu secaramandiri menyelesaikan tugas perkembangannya, mengenali dan menyelesaikanmasalah kesehatannya dan pada akhirnya mampu tampil sebagai sebuah keluargamandiri, sejahtera, produktif dan menjalankan dapat seluruh fungsi keluarga ini

denganbaik.1.1.MasalahPermasalahan

yang

dirumuskan

dalam

makalah

adalahbagaimana gambaran pemberian asuhan keperawatan pada keluarga Childbearing 1.2.TujuanTujuan penulisan makalah ini adalah :1.2.1. Tujuan UmumTujuan umum adalah untuk mendapatkan gambaran dari asuhankeperawatan pada keluarga Childbearing 1.2.2.Tujuan KhususTujuan khususnya adalah : 1.Menggambarkan konsep keluarga Childbearing 2.Menggambarkan pengkajian yang dilakukan pada keluarga Childbearing 3.Menggambarkan diagnosis keperawatan pada keluarga Childbearing 4.Menggambarkan perencanaan keperawatan pada keluarga Chilbearing

BAB II TINJAUAN PUSTAKAA.

KONSEP KELUARGA 1.Pengertian Keluarga adalah dua atau lebih yang tergabung karena hubungan darah,hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumahtangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam peranannya masing-masing danmenciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan (Bailon & Maglaya, 1989).Alasan keluarga sebagai unit pelayanan keperawatan menurut Friedman,(2002) keluarga adalah sebagai unit utama dari masyarakat dan merupakanlembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat. Keluarga sebagai kelompok dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan atau memperbaiki masalah-masalahkesehatan keluarga dalam kelompoknya sendiri, masalah kesehatan dalamkeluarga saling berkaitan, penyakit pada salah satu anggota keluarga juga akanmempengaruhi seluruh keluarga tersebut. Keluarga merupakan perantara yangefektif dan mudah untuk berbagai usaha kesehatan masyarakat, perawat dapatmenjangkau seluruh masyarakat melalui keluarga. Dalam memelihara kliensebagai individu keluarga tetap berperan dalam pengambilan keputusan dalammelakukan pemeliharaan anggota keluarga. Keluarga merupakan lingkungan yangserasi untuk mengembangkan potensi tiap individu yang menjadi anggota dalam keluarga. Sedangkan tujuan perawatan kesehatan keluarga adalah memungkinkankeluarga untuk mengelola masalah kesehatan dan mempertahankan fungsi danmelindungi keluarga serta memperkuat pelayanan kepada masyarakat tentangperawatan kesehatan. 2.Tipe-tipe Keluarga a.Keluarga inti ( Nuclear Family) yaitu keluarga yang terdiri dari ayah,ibu dan anak-anaknya dalam satu rumah.

b.Keluarga besar ( Extended Family) yaitu keluarga inti di tambah dengansanak saudara, misalnya kakek, nenek, bibi, keponakan, saudara sepupu dll.

c.Keluarga berantai (Serial Family) yaitu keluarga yang terdiri dariwanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satukeluarga inti.

d.Keluarga duda/ janda (Single Family)yaitu keluarga yang terjadiperceraian atau kematian.

e.Keluarga berkomposisi (Composite) yaitu keluarga yang perkawinanyaberpoligami dan hidup bersama. f.Keluarga kabitas(Cohabitation) yaitu dua orang yang menjadi satutanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga

3.Asuhan Keperawatan Keluarga Menurut Setyowati dan Murwarni (2008), asuhan keperawatan keluargaadalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan melalui praktek keperawatankepada keluarga, untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan keluargatersebut dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.Tujuan umum asuhan keluarga adalah ditingkatkannya kemampuankeluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya secara mandiri dalam mengenalmasalah kesehatan keluarga, memutuskan tindakan yang tepat untuk mengatasimasalah kesehatan keluarga, melakukan tindakan keperawatan kesehatan kepadaanggota keluarga yang sakit, mempunyai gangguan fungsi tubuh, dan atau yangmembutuhkan bantuan/asuhan keperawatan, memelihara lingkungan (fisik, psikisdan sosial) sehingga menunjang peningkatan kesehatan keluarga, memanfaatkansumber daya yang ada di masyarakat misalnya : puskesmas, puskesmaspembantu, kartu sehat, dan posyandu untuk memperoleh pelayanan kesehatan. a.Pengkajian keluarga dan individu di dalam keluargaYang termasuk pada pengkajian keluarga adalah : 1)Mengidentifikasi data demografi dan sosiokultural 2)Data lingkungan 3)Struktur dan fungsi keluarga 4)Stress dan strategi koping yang digunakan keluarga 5)Perkembangan keluargaSedangkan yang termasuk pada pengkajian terhadap individu sebagaianggota keluarga, adalah pengkajian fisik, mental, emosi, sosial danspiritual.

b.Diagnosis Diagnosis keperawatan keluarga dianalisis dari hasil pengkajian terhadapadanya masalah dalam tahap perkembangan keluarga, lingkungan keluarga,struktur keluarga, fungsi fungsi keluarga

dan koping keluarga, baik yangbersifat aktual, resiko maupun sejahtera dimana perawat memilikikewenangan dan tanggung jawab untuk melaksanakan tindakan keperawatanbersama sama dengan keluarga dan berdasarkan kemampuan dan sumberdaya keluarga (Setyowati dan Murwarni, 2008). Diagnosis keperawatan adalah keputusan tentang respon keluarga tentangmasalah kesehatan aktual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensikeperawatan untuk mencapai tujuann asuhan keperawatan keluargasesuai dengan kewenangan perawat (Setiadi, 2008). Tahap dalam diagnosis keperawatan keluarga antara lain analisis data,perumusan masalah dan prioritas masalah.Komponen diagnosis keperawatan keluarga meliputi problem, etiologidan sign/simpton. Perumusan diagnosis keperawatan keluarga samadengan diagnosis klinik yang dapat dibedakan menjadi 5 (lima) kategoriyaitu : a.Aktual (terjadi defisit/gangguan kesehatan) b.Resiko (ancaman kesehatan c.Wellness (keadaan sejahtera) d.Sindrom Prioritas dari diagnosa keperawatan yang ditemukan dilakukan jikadiagnosis keperawatan ditemukan dihitung dengan menggunakan skalaprioritas (Skala Baylon dan Maglaya) sebagai berikut:

No Kriteria BobotSkor1. Sifat masalah 1 Aktual = 3Resiko = 2Potensial = 12. Kemungkinan masalahuntuk dipecahkan2 Mudah = 2Sebagian = 1Tidak dapat = 03. Potensi masalah untuk dicegah1 Tinggi = 3Cukup = 2Rendah = 14. Menonjolnya masalah 1 Segera diatasi = 2Tidak segera diatasi = 1Tidak dirasakan adanya masalah= 0

PerencanaanPerencanaan diawali dengan merumuskan tujuan yang ingin dicapai sertarencana tindakan untuk mengatasi masalah yang ada. Tujuan di rumuskanuntuk mengatasi atau meminimalkan stressor dan intervensi dirancangberdasarkan tiga tingkat pencegahan.Tujuan terdiri dari tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek.Penetapan tujuan jangka panjang ( tujuan umum ) mengacu pada bagaimana mengatasi problem atau masalah di keluarga, sedangkan penetapan tujuan jangka pendek (tujuan khusus) mengacu pada bagaimana mengatasi etiologi.Contoh pembuatan rencana keperawatan keluarga seperti pada tabel dibawah ini

DiagnosisKeperawatan

Tujuan

Evaluasi Criteria STANDAR

RencanaIntervensi

D. Implementasi merupakan langkah yang dilakukan setelah perencanaanprogram. Program dibuat untuk menciptakan keinginan berubah darikeluarga, dan memandirikan keluarga. Pada tahap ini perawat tidak bekerjasendiri, tetapi perlu melibatkan secara integrasi semua profesi kesehatanyang menjadi tim perawatan kesehatan di rumah E. EvaluasiEvaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan. Evaluasimerupakan sekumpulan informasi yang sistematik berkenaan denganprogram kerja dan efektivitas dari serangkaian program yang digunakanterkait program kegiatan, karakteristik dan hasil yang telah dicapai.Evaluasi dilaksanakan dengan tujuan mendapatkan informasi tentang : 1)Efektifitas dan efisiensi program 2)Kesesuaian program dengan rencana dan tuntutan keluarga 3)Pencapaian tujuan yang telah ditetapkan 4)Masalah yang muncul dalam pengembangan program dan penyelesaiannya.

4.Peran Perawat Dalam Asuhan Keperawatan Keluarga

Menurut Setiadi (2008) dalam memberikan asuhan keperawatankesehatan keluarga, ada beberapa peranan yang dapat dilakukan oleh perawatantara lain adalah : a.Pengenal kesehatan (health monitor) b.Pemberi pelayanan pada anggota keluarga yang sakit c.Koordinator pelayanan kesehatan dan keperawatan kesehatan keluarga d.Fasilitator e.Pendidik kesehatan f.Penyuluh dan konsultan

5.Level/Tingkatan Praktik Keperawatan Keluarga Terdapat beberapa level / tingkatan keperawatan keluarga menurutBozzet, 1987 dalam Friedman (1998) yang dikutip Achjar, H (2010) yaitu : a.Level 1 Individu merupakan fokus intervensi dan keluarga sebagai background.Keluarga dipandang sebagai konteks bagi klien yang merupakan latarbelakang atau fokus sekunder, sedangkan individu merupakan bagian terdepanatau fokus primer yang berkaitan dengan pengkajian dan intervensikeperawatan. Dalam hal ini perawat keluarga, dapat menganggap keluargasebagai bagian sistem pendukung sosial klien tetapi hanya dengan sedikitketerlibatan keluarga dalam rencana perawatan klien. b.Level 2 Keluarga sebagai penjumlahan dari anggota anggotanya (keluarga sebagaikumpulan dari anggota keluarga). Dalam praktek keperawatan keluarga, Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan secara umum bahwa keluarga Childbearing adalah keluarga yang berada pada tahap perkembanganke II mulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan.

2. Tugas Perkembangan Keluarga Childbearing Masa ini merupakan transisi menjadi orang tua yang akan menimbulkankrisis keluarga. Studi klasik Le Master (1957) dalam Friedman (2002) dari 46orang tua dinyatakan 17% tidak bermasalah, dan selebihnya bermasalah dalamhal suami merasa diabaikan, peningkatan perselisihan dan argumen, interupsidalam jadual kontinyu dan kehidupan seksual dan sosial terganggu danmenurun.Menurut Duvall & Miller (1985) dan Charter & McGoldrick (1988)dalam Friedman (2002), tugas perkembangan keluarga tahap ini antara lainadalah:

1.Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap(mengintegrasikan bayi baru ke keluarga) 2.Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhananggota keluarga 3.Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan denganpasangan 4.Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkanperan orangtua dan kakek nenek dalam pengasuhan.

Menurut Spradley tugas perkembangan keluarga Childbearing adalah : persiapan untuk bayi ,penataan role masing-masing dan tanggung jawab ,persiapan biaya , adaptasi dengan pola hubungan seksual , pengetahuan tentangkehamilan, persalinan dan menjadi orang tua.

3.Perhatian Pelayanan Kesehatan Perhatian pelayanan kesehatan yang menjadi fokus utama asuhankeperawatan pada keluarga childbearing menurut Friedman (2002), adalah : a.Persiapan untuk pengalaman melahirkan Kehamilan dan kelahiran bayi perlu dipersiapkan pasangan suami istri. SaatKehamilan terjadi adaptasi maternal yang merupakan proses sosial dankognitif yang kompleks bukan hanya berdasarkan naluri tetapi dipelajari.Awal kehamilan istri biasanya banyak tidur dan mempunyai keinginan untuk berhenti dari aktivitas sehari hari yang penuh tuntutan dan rutinitas.Trimester ke II mulai mengalihkan perhatian ke dalam kandungannya.Trimester III perlambatan aktivitas dan waktu terasa cepat berlalu sehinggaaktivitas dibatasi. Istri mulai mengubah konsep dirinya menjadi siap menjadi orang tua.

b.Transisi menjadi orang tuaPerawat perlu memfasilitasi hubungan orang tua dan bayi yang positif danhangat, sehingga jalinan kasih sayang antara bayi dan orang tua tercapai. Ibudan Ayah kadang kadang secara tiba tiba berselisih dengan semua peranyang mengasyikan yang telah dipercayakan. c.Perawatan bayi yang sehat

Ibu yang pertama kali mempunyai anak akan banyak meminta bantuan didalam proses perawatan bayinya. Banyaknya nasehat dari orang tua,tetangga, teman dan lingkungan terkadang membuat ibu baru merasakebingungan. Kelelahan secara fisik dan emosional dapat membuat ibu barumengalami post partum blues dan perasaan tidak berdaya. d.Mengenali secara dini dan menangani masalah masalah kesehatan fisik anak dengan tepat Keluarga baru belum mempunyai pengalaman mengenai proses pengasuhandan perawatan anak terutama mengenai tanda dan gejala suatu kondisi sakit.Mereka banyak membutuhkan bantuan untuk melakukan tindakanmendapatkan pelayanan kesehatan. Kebanyakan belajar dan mendapatkanpengetahuan dari orang tua atau teman yang telah lebih dulu mempunyaianak

e.Imunisasi Keluarga baru banyak yang sudah memahami pentingnya mengimunisasikanbayinya. Tetapi pada sebagian budaya yang menolak untuk melakukantindakan ini dikarenakan kepercayaan imunisasi akan menimbulkan sakit.Penyuluhan dan bantuan layanan kesehatan juga dibutuhkan oleh keluarga.

f.Pertumbuhan dan perkembangan yang normal Pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi perhatian yang penting. Padamasa ini anak sedang berada pada proses interaksi dan adaptasi denganlingkungan baru. Keluarga perlu diberitahukan untuk melakukanpengawasan terhadap tumbuh kembang anak dengan secara teraturmembawa anak ke pelayanan kesehatan seperti posyandu, puskesmas atau petugas kesehatan terdekat. Sehingga dapat teridentifikasi kondisi gangguandari tumbuh kembang anak.

4. Masalah Yang Lazim Terjadi Pada Keluarga Childbearing Tahap ini dimulai dengan kehamilan dan kelahiran anak pertama danberlanjut sampai bayi berusia 30 bulan. Transisi menjadi orang tua adalah salahsatu kunci dalam siklus kehidupan keluarga, dan sistem permanen dalam keluargamulai terbentuk. Masa menjadi orang tua ini bagi sebagian orang merupakanmasa transisi kehidupan yang penuh stress, periode krisis

ketidakseimbangan,memerlukan keluarga,perasaan tidak

banyak jadi

perubahan orang

yang tua,

dapat dan

menyebabkan

memadai

menyebabkan

gangguan

hubunganpernikahan.Stressor yang paling sering adalah kehilangan kebebasan personal akibattanggung jawab menjadi orang tua, kurangnya waktu dan hubungan persahabatandalam pernikahan sering teridentifikasi.Penyesuaian menjadi orang tua menjadi hal penting karena kehadiranbayi sebagai anggota baru membutuhkan perubahan yang tiba tiba sampaimenuntut peran yang tidak henti hentinya. Perasaan tidak memadai, kurangnyabantuan dari keluarga dan teman, saran yang bertentangan dan professional pelayanan kesehatan. Ibu biasanya sangat kelelahan baik secara fisik maupun psikologis danterbebani dengan tugas rumah tangga dan mungkin oleh tanggung jawabpekerjaan.Pola komunikasi pernikahan yang baru, berkembang dengan hadirnyaseorang anak, pola hubungan antar pasangan dan sebagai orang tua menunjukkanpola transaksional yang berubah drastis.Friedman, (2002) mengobservasi bahwa orang tua bayi sedikit berbicarasatu sama lain, sedikit memiliki kesenangan, kurang menstimulasi percakapandan kualitas pernikahan menurun sehingga pada tahap ini kebahagiaanpernikahan lebih rendah.Penyesuaian dengan keluarga besar dan teman teman juga terjadi, aksesterhadap jaringan kerja dan sistem dukungan sosial untuk menerima kepuasandan memiliki perasaan positif tentang kehidupan keluarga, keluarga muda jugaperlu mengetahui kapan mereka membutuhkan bantuan dan dari mana merekamendapatkannya serta kapan mereka harus bergantung pada sumber sumberdan kekuatan dari dalam diri mereka sendiri.Hubungan pernikahan yang kuat dan aktif turut berperan dalamkestabilan dan moralitas keluarga. Hubungan suami istri yang memuaskan akanmemberikan kekuatan dan energi pada pasangan untuk diberikan kepada bayinya. 5.

Kehamilan Berdasarkan definisi bahwa keluarga Childbearing adalahkeluarga yang dimulai dengan kehamilan sampai kelahiran hingga anak pertama berusia 30 bulan, maka perlu juga pembahasan tentang kehamilaN. dan perubahan peran apa saja yang terjadi dalam keluarga terkait dengankehamilan.Ibu Hamil ( Maternal

) adalah: suatu kondisi dimana seorangperempuan mengalami suatu kondisi kehamilan. Kehamilan adalah suatukondisi yang terjadi bila ada pertemuan dan persenyawaan antara sel telur( ovum ) dan sel mani ( spermatozoa ).Kehamilan terbagi atas trimester I (1 14 minggu), trimester II (14 28minggu), trimester III (28 42 minggu).Masalah-masalah yang sering terjadi pada ibu hamil adalah :1.

Respon terhadap perubahan citra tubuhPerubahan fisiologis kehamilan menimbulkan perubahan bentuk tubuh yang cepat dan nyata. Selama trimester I bentuk tubuhsedikit berubah, tetapi pada trimester II pembesaran abdomen yangnyata, penebalan pinggang dan pembesaran payudara memastikanstatus kehamilan. Wanita merasa seluruh tubuhnya bertambahbesar dan menyita ruang yang lebih luas. Perasaan ini semakin kuatseiring bertambahnya usia kehamilan. Secara bertahap terjadikehilangan batasan batasan fisik secara pasti, yang berfungsimemisahkan diri sendiri dari orang lain dan memberi rasa aman.Sikap wanita terhadap tubuhnya di duga dipengaruhi oleh nilai nilai yang diyakininya dan sifat pribadinya. Sikap ini seringberubah seiring kemajuan kehamilan. Sikap positif terhadap tubuh biasanya terlihat selama trimester I. Namun, seiring kemajuankehamilan, perasaan tersebut menjadi lebih negatif. Padakebanyakan wanita perasaan suka atau tidak suka terhadap tubuhmereka dalam keadaan hamil bersifat sementara dan tidak menyebabkan perubahan persepsi yang permanen tentang dirimereka.2.

Ambivalensi selama masa hamilAmbivalensi didefinisikan sebagai konflik perasaan yang simultan,seperti cinta dan benci terhadap seseorang, sesuatu, atau suatukeadaan. Ambivalensi adalah respon normal yang dialami individuyang mempersiapkan diri untuk suatu peran baru. Kebanyakanwanita memiliki sedikit perasaan ambivalen selama hamil. Bahkanwanita yang bahagia dengan kehamilannya, dari waktu ke waktudapat memiliki sikap bermusuhan terhadap kehamilan atau janin.Pernyataan pasangan tentang kecantikan seorang wanita yang tidak hamil atau peristiwa promosi seorang kolega ketika keputusanuntuk memiliki seorang anak berarti melepaskan pekerjaan dapatmeningkatkan rasa ambivalen. Sensasi tubuh, perasaan

bergantung,dan kenyataan tanggung jawab dalam merawat anak dapat memicuperasaan tersebut. Perasaan ambivalen berat yang menetap sampaitrimester III dapat mengindikasikan bahwa konflik peran sebagaiibu belum diatasi (Lederman, 1984). Setelah kelahiran seorangbayi yang sehat, kenangan akan perasaan ambivalen ini biasanya

Asuhan Keperawatan Keluarga Child Bearing lenyap. Apabila bayi yang lahir cacat, seorang wanitakemungkinan akan mengingat kembali saat saat ia tidak menginginkan anak tersebut dan merasa sangat bersalah. Tanpapenyuluhan dan dukungan yang memadai, ia dapat menjadi yakinbahwa perasaan ambivalennya telah menyebabkan anaknya cacat.3.

Hubungan seksualEkspresi seksual selama masa hamil bersifat individual Beberapapasangan menyatakan puas dengan hubungan seksual mereka,sedangkan yang lain mengatakan sebaliknya. Perasaan yangberbeda beda ini dipengaruhi oleh faktor faktor fisik, emosi,dan interaksi, termasuk takhayul tentang seks selama masa hamil,masalah disfungsi seksual, dan perubahan fisik pada wanita.Dengan berlanjutnya kehamilan, perubahan bentuk tubuh, citratubuh, dan rasa tidak nyaman mempengaruhi keinginan keduabelah pihak untuk menyatakan seksualitas mereka. Selamatrimester I seringkali keinginan seksual wanita menurun, terutama jika ia merasa mual, letih, dan mengantuk. Saat memasukitrimester II

kombinasi antara perasaan sejahteranya dan kongestipelvis yang meningkat dapat sangat meningkatkan keinginannyauntuk melampiaskan seksualitasnya. Pada trimester III

peningkatankeluhan somatik (tubuh) dan ukuran tubuh dapat menyebabkankenikmatan dan rasa tertarik terhadap seks menurun (Rynerson,Lowdermilk, 1993). Pasangan tersebut perlu merasa bebas untuk membahas hubungan seksual mereka selama masa hamil.Kepekaan individu yang satu terhadap yang lain dan keinginanuntuk berbagi masalah dapat menguatkan hubungan seksualmereka. Komunikasi antara pasangan merupakan hal yang penting.Pasangan yang tidak memahami perubahan fisiologis dan emosi,yang terjadi dengan cepat selama masa hamil, dapat menjadibingung saat melihat perilaku pasangannya. Dengan membicarakanperubahan perubahan yang mereka alami, pasangan dapatmendefinisikan masalah mereka dan menawarkan dukungan yangdiperlukan. Perawat dapat memperlancar komunikasi antarpasangan dengan berbicara kepada pasangan tentang perubahanperasaan dan perilaku yang mungkin dialami wanita selama masahamil (Rynerson, Lowdermilk, 1993)4.

Kekhawatiran tentang janinKekhawatiran orang tua terhadap kesehatan anak berbeda bedaselama masa hamil (Gaffney, 1988). Kekhawatiran pertama timbulpada trimester I dan berkaitan dengan kemungkinan terjadinyakeguguran. Banyak wanita yang sengaja tidak maumemberitahukan kehamilannya kepada orang lain sampai periodeini berlalu. Ketika janin menjadi semakin jelas, yang terlihatdengan adanya gerakan dan denyut jantung, Kecemasan orang tuayang terutama ialah kemungkinan cacat pada anaknya. Orang tuamungkin akan membicarakan rasa cemasnya ini secara terbuka dan berusaha untuk memperoleh kepastian bahwa anaknya dalamkeadaan sempurna. Pada tahap lanjut kehamilan, rasa takut bahwaanaknya dapat meninggal semakin melemah.

Kemungkinankematian ini terbukti semakin tidak dipikirkan orang tua.Tugas Perkembangan Ibu Hamil ( Maternal ) :1.

Menerima KehamilanLangkah pertama dalam beradaptasi terhadap peran ibu ialahmenerima ide kehamilan dan mengasimilasi status hamil ke dalamgaya hidup wanita tersebut (Lederman, 1984). Tingkat penerimaandicerminkan dalam kesiapan wanita dan respons emosionalnyadalam menerima kehamilan. Kesiapan menyambut kehamilanKetersediaan keluarga berencana mengandung makna bahwakehamilan bagi banyak wanita merupakan suatu komitmentanggung jawab bersama pasangan. Namun, merencanakan suatukehamilan tidak selalu berarti menerima kehamilan (Entwistle,Doering, 1981).Wanita lain memandang kehamilan sebagai suatuhasil alami hubungan perkawinan, baik diinginkan maupun tidak diinginkan, bergantung pada keadaan. Wanita yang siap menerimasuatu kehamilan akan dipicu gejala - gejala awal untuk mencarivalidasi medis tentang kehamilannya. Beberapa wanita yang memiliki perasaan kuat, seperti tidak sekarang, bukan saya, dan tidak yakin, mungkin menunda mencari pengawasan dan perawatan (Rubin, 1970). Namun , beberapa wanita menundavalidasi medis karena akses keperawatan terbatas, merasa malu,atau alasan budaya. Untuk orang lain, kehamilan dipandangsebagai suatu peristiwa alami, sehingga tidak perlu mencarivalidasi medis dini. Setelah kehamilan dipastikan respon emosiwanita dapat bervariasi, dari perasaan sangat gembira sampaisyok, tidak yakin, dan putus asa. Reaksi yang diperlihatkan banyak wanita ialah respon suatu hari nanti, tetapi tidak sekarang. Wanita lain dengan sederhana menerima kehamilan sebagaikehendak alam. Banyak wanita mulamula terkejut ketikamendapatkan diri mereka hamil. Namun, seiring

meningkatnyapenerimaan terhadap kehadiran seorang anak, akhirnya merekamenerima kehamilan. Tidak menerima kehamilan tidak dapatdisamakan dengan menolak anak. Seorang wanita mungkin tidak menyukai kenyataan dirinya hamil, tetapi agar anak itu dilahirkan.Respon Emosional Wanita yang bahagia dan senang dengankehamilannya sering memandang hal tersebut sebagai pemenuhanbiologis dan merupakan bagian dari rencana hidupnya. Merekamemiliki harga diri yang tinggi dan cenderung percaya diri akanhasil akhir untuk dirinya sendiri, untuk bayinya, dan untuk anggota keluarga yang lain. Meskipun secara umum keadaanmereka baik, namun kelabilan emosional yang terlihat padaperubahan mood yang cepat untuk dijumpai pada wanita hamil.

Asuhan Keperawatan Keluarga Child Bearing

biasanya membawa keberhasilan. Rasa senang yang timbul karenamemikirkan anak yang akan lahir dan perasaan dekat dengan anak membantu menyesuaikan diri terhadap rasa tidak nyaman ini.Pada beberapa keadaan wanita yang biasanya mengeluhkanketidak nyamanan fisik dapat mencari bantuan untuk mengatasikonflik peran ibu dan tanggung jawabnya. Pengkajian lebih lanjuttentang toleransi dan kemampuan koping perlu dilakukan(Lederman, 1984)2.

Mengenal peran ibuProses mengidentifikasi peran ibu dimulai pada awal setiapkehidupan seorang wanita, yakni melalui memori - memori ketikaia, sebagai seorang anak, diasuh oleh ibunya. Persepsi kelompok sosialnya mengenai peran feminim juga membuatnya

condongmemilih peran sebagai ibu atau wanita karir, menikah atau tidak menikah, dan mandiri dari pada interdependen. Peran - peran batuloncatan, seperti bermain dengan boneka, menjaga bayi, danmerawat adik - adik, dapat meningkatkan pemahaman tentang artimenjadi seorang ibu. Banyak wanita selalu menginginkan seorangbayi, menyukai anak - anak, dan menanti untuk menjadi seorangibu. Mereka sangat dimotivasi untuk menjadi orang tua. Hal inimempengaruhi penerimaan mereka terhadap kehamilan danakhirnya terhadap adaptasi prenatal dan adaptasi menjadi orangtua (Grossman, Eichler, Winckooff,1980 ;Lederman, 1984

Wanita yang lain tidak mempertimbangkan dengan terinci artimenjadi seorang ibu bagi diri mereka sendiri. Konflik selama masahamil, seperti tidak menginginkan kehamilan dan keputusan -keputusan yang berkaitan denga karir dan anak harus diselesaikan,3.

Hubungan Ibu Anak Ikatan emosional dengan anak mulai timbul pada periode prenatal,yakni ketika wanita mulai membayangkan dan melamunkandirinya menjadi ibu (Rubin, 1975; Gaffney, 1988a). Mereka mulaiberpikir seakan-akan dirinya adalah seorang ibu danmembayangkan kualitas ibu seperti apa yang mereka miliki. Orangtua yang sedang menantikan bayi berkeinginan untuk menjadiorang tua yang hangat, penuh cinta, dan dekat dengan anaknya.Mereka mencoba untuk mengantisipasi perubahan - perubahanyang mungkin terjadi pada kehidupannya akibat kehadiran sanganak dan membayangkan apakah mereka bisa tahan terhadapkebisingan, kekacauan, kurangnya kebebasan, dan bentuk perawatan yang harus mereka berikan. Mereka mempertanyakankemampuan mereka untuk membagi kasih mereka kepada anak yang belum dilahirkan ini. Rubin (1967) menemukan bahwa

wanita menerapkan dan menguji perannya sebagai ibu denganmengambil contoh ibunya sendiri atau wanita lain pengganti ibuyang memberi pelayanan, dukungan, atau berperan sebagaisumber informasi dan pengalaman. Hubungan ibu - anak terus berlangsung sepanjang masa hamil sebagai suatu prosesperkembangan(Rubin, 1975)4.

Persiapan melahirkanBanyak wanita khususnya Nulipara, secara aktif mempersiapkandiri untuk menghadapi persalinan. Mereka membaca buku,menghadiri kelas untuk orang tua, dan berkomunikasi denganwanita lain (ibu, saudara perempuan, teman, orang yang

tidak dikenal).Mereka akan mencari orang terbaik untuk memberinasihat, arahan, dan perawatan (Patterson, Freese, Goldenberg,1990). Rasa cemas dapat timbul akibat kekhawatiran akan proseskelahiran yang aman untuk dirinya dan anaknya (Rubin, 1975).5.

Hubungan dengan PasanganOrang yang paling penting bagi seorang wanita hamil biasanyaialah ayah sang anak (Richardson,1983). Semakin banyak buktimenunjukkan bahwa wanita yang diperhatikan dan dikasihi olehpasangan prianya selama hamil akan menunjukkan lebih sedikitgejala emosi dan fisik, lebih sedikit komplikasi persalinan, danlebih mudah melakukan penyesuaian selama masa nifas(Grossman,Eichler,Winckoff,1980; May,1982). Ada 2

kebutuhanutama yang ditunjukkan wanita selama ia hamil(Richardson,1983). Kebutuhan pertama ialah menerima tanda tanda bahwa ia dicintai dan dihargai. Kebutuhan kedua ialahmerasa yakin akan penerimaan pasangannya terhadap sang anak dan mengasimilasi bayi tersebut ke dalam kelurga. Rubin (1975)menyatakan bahwa wanita hamil harus memastikan tersedianya akomodasi sosial dan fisik dalam keluarga dan rumah tangga untuk anggota baru tersebut. Hubungan pernikahan tidak tetap, tetapi berubah dari waktu ke waktu. Bertambahnya seorang anak akan mengubah sifat ikatan pasangan untuk selama

lamanya.Lederman (1984) melaporkan bahwa hubungan istri dan suamibertambah dekat selama masa hamil. Dalam studinya, iamengatakan bahwa kehamilan berdampak mematangkanhubungan suami istri akibat peran dan aspek aspek baru yangditemukan dalam diri masing masing pasangan.6.

Kesiapan untuk melahirkanMenjelang akhir trimester III, wanita akan mengalami kesulitannapas dan gerakan janin menjadi cukup kuat sehinggamengganggu tidur ibu. Nyeri pinggang, sering berkemih,keinginan untuk berkemih, konstipasi, dan timbulnya varies dapatsangat mengganggu. Ukuran tubuh yang besar dan rasa canggungmengganggu kemampuannya melakukan pekerjaan rumah tanggarutin, dan mengambil posisi yang nyaman untuk tidur danistirahat. Pada saat ini kebanyakan wanita akan tidak sabar untuk menjalani persalinan, apakah disertai rasa suka cita, rasa takut,atau campuran keduanya. Keinginan yang kuat untuk melihat hasil

Asuhan Keperawatan Keluarga Child Bearing akhir kehamilannya dan untuk segera menyelesaikannya membuatwanita siap masuk ke tahap persalinan.