Anda di halaman 1dari 31

MALLOPHAGA DAN ANOPLURA

Walaupun Mallophaga dan Anoplura biasanya ditempatkan pada ordo terpisah. Tetapi pada prinsipnya mempunyai kemiripan struktur dan siklus hidup yang sama. Mallophaga dan Anoplura adalah kelompok insekta yang tidak bersayap dengan bentuk tubuh yang pipih, antena pendek dengan tiga sampai lima segmen dan mata mereduksi atau tidak ada. Toraks bersegmen yang tidak jelas dan mengandung sepasang spirakulum. Kaki pendek mempunyai tarsus yang cakarnya digunakan untuk berpegangan pada bulu atau rambut. Abdomen selalu tanpa sersi dan umumnya mengandung enam pasang spirakulum. Umumnya kutu tinggal selama hidup pada tubuh inang. Infestasi antara inang terjadi memlalui kontak langsung. Infestasi biasanya terjadi pada golongan aves/ unggas dan mamalia. Perbedaan antara Mallophaga dan Anoplura adalah pada bagian kepala. Mallophaga mempunyai kepala lebar, paling sedikit sama lebar dengan toraks. Anoplura mempunyai kepala yang lebih sempit daripada toraks. Struktur mulut yang demikian disesuaikan dengan aktifitas makan kedua ordo kutu tersebut. Oleh karena itu Anoplura digolongkan ke dalam jenis kutu pengisap dan Mallophaga sebagai kutu penggigit. Anoplura disesuaikan untuk mengisap darah atau cairan jaringan dan Mallophaga alat mulut disesuaikan untuk mengunyah struktur epitel kulit inangnya. Gambaran lain yang memudahkan perbedaan adalah mandibula Mallophaga yang mengalami sklerotisasi dan berpigmen. Siklus hidup Mallophaga dan Anoplura tergolong sederhana dengan metamorfosis bertingkat. Stadium nimfa pertama berkembang di dalam telur, secara struktural mirip dengan stadium dewasa dan perbedaan hanya pada ukuran tubuh yang lebih kecil, tidak berwarna serta organ kelamin belum berkembang. Setelah mengalami empat kali ekdisis nimfa berkembang menjadi dewasa.

MALLOPHAGA Umumnya Mallophaga adalah kutu penggigit pada jenis aves dan mamalia. Ukuran panjang tubuh kutu ini bervariasi dari 1 mm sampai 10 mm. Alat-alat mulut yang disesuaikan untuk mengunyah bulu dan epitel kulit, dapat menimbulkan peradangan dan lesi-lesi pada kulit. Jenis unggas yang terserang menjadi kurang

istirahat sehingga dapat menurunkan berat badan dan juga produksi telur. Pada ternak dapat mengakibatkan mutu wool dan produksi susu menurun. Aktifitas garukan menyebabkan luka dan lesi-lesi. Gejala yang lain adalah bulu kusam dan kasar akibat iritasi. Diagnosis dapat ditegakkan dengan menemukan telur, nimfa atau kutu dewasa pada bulu dan kulit.

Kutu Penggigit pada Unggas dan Mamalia Beberapa jenis kutu penggigit yang sering menyerang unggas adalah Menopon gallinae, Menacanthus stramineus, Holomenopon leucoxanthum dan Trinoton anserinum dari subordo Amblycera. Liperus heterographus, Lipeurus caponis, Goniodes gigas, Goniocotes gallinae, Columbicola columbae dan Anaticola crassicornis dari subordo Ischnocera. Kutu penggigit pada mamalia adalah jenis Gyropus ovalis, Gliricola porcelli, Trimenopon hispidum dan Heterodoxus sp dari subordo Amblycera. Damalinia sp, Bovicola sp, Trichodectes canis dan Felicola subrostratus dari subordo Ischnocera.

ANOPLURA Spesies dari ordo ini tergolong kutu pengisap dan biasanya ukuran tubuh lebih besar dibandingkan kutu penggigit. Kutu ini tidak bersayap dan hidup sebagai ektoparasit pada mamalia. Mulut disesuaikan untuk mengisap darah dan cairan jaringan inangnya. Sepasang antena terletak pada sisi kepala dan bersegmen. Mata kecil atau tidak ada dan pasangan kaki ketiga umumnya lebar dan pipih. Setiap tarsus hanya mempunyai satu cakar. Toraks kecil, bersegmen dan bersatu. Sepasang spirakulum toraks membuka di sisi dorsal mesotoraks. Abdomen relatif besar yang terdiri atas 7-9 segmen. Siklus hidup mirip seperti pada kutu penggigit. Telur biasanya ditemukan pada rambut atau bulu inang dan menetas nimfa dalam waktu 1-3 minggu (rata-rata 12 hari). Setelah mengalami tiga kali ekdisis nimfa berkembang menjadi dewasa dan mencapai matang seksual dalam waktu 1-3 hari. Kutu pengisap termasuk golongan insekta yang mempunyai inang spesifik. Ada tiga famili yang sangat penting dan berkaitan dengan bidang veteriner dan manusia yaitu; Haematopinidae, Linognathidae dan Pediculidae. Kutu pengisap famili Haematopinidae dicirikan dengan kepala yang memanjang dibelakang

antena, toraks lebar dan ditandai adanya keping parategral serta baris spina pada tiap segmen abdomen. Kutu pengisap famili ini meliputi H. tuberculatus (pada kerbau), H. suis (pada babi) dan H. quadripertusus yang menyerang genus Haematopinus asini yang menyerang kuda, H. bufali dan sapi. Famili Linognathidae dicirikan dengan abdomen tergolong membranosa dan ditumbuhi oleh bulu-bulu pada tiap segmen. Hampir seluruh spesies dari famili ini adalah ektoparasit pada hewan ungulata. Genus dari famili ini adalah Linognathus sp, Solenopetes sp dan Microthoracius sp. Famili pediculidae ditandai dengan mata yang berkembang baik dan berpigmen dan abdomen mempunyai keping paratergal. Kutu pengisap dari famili ini umumnya manusia dan primata seperti Pediculus humanus dan Phthirus pubis. Gejala klinis yang ditimbulkannya pada inang adalah iritasi karena garukan akibat rasa gatal dan reaksi alergi, hewan tidak dapat istirahat dan aktifitas makan terganggu. Pada saat mengisap darah atau cairan tubuh air liur dinjeksikan ke dalam luka untuk mencegah koagulasi darah inang. Reaksi inang terhadap air liur kutu mengakibatkan gejala iritasi pada inang. Reaksi peradangan kulit disertai dengan penebalan epidermis dan peningkatan jumlah limfosit, monosit, sel mast dan fibrolas jaringan. Lesi-lesi pada kulit dapat menyebabkan infeksi sekunder. Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan menemukan telur, nimfa dan kutu dewasa pada bulu dan kulit inang.

Pengendalian Pengendalian Mallophaga dan Anoplura ektoparasit pada unggas dapat dilakukan dengan insektisida dengan teknik penyemprotan dan dust. Golongan insektisida yang digunakan adalah carbaryl 5%, coumaphos 0,06%, Hexachlorcyclohexane 0,1%. Pada ternak sapi biasa digunakan powder atau penyemprotan dengan konsentrasi organophosphate 3%, coumaphos 0,06% yang diulang 7-10 hari. Pyrethroid sentetik seperti Cypermethrin dapat digunakan dalam aplikasi dipping dan penyemprotan dengan konsentrasi 150 ppm. Pengendalian kutu pada domba dengan teknik dipping golongan coumaphos 0.125%.

MYIASIS Myiasis adalah infestasi larva lalat (Diptera) ke dalam jaringan atau organ tubuh manusia atau hewan. Larva ini hidup dari jaringan mati dan/ atau jaringan hidup, cairan tubuh atau makanan di dalam saluran pencernaan inangnya paling kurang dalam suatu periode waktu tertentu. Myiasis adalah penyakit yang biasanya dianggap sebagai kontaminasi larva lalat ke dalam luka. Invasi dari larva ini dapat menimbulkan gangguan dari stadium ringan sampai berat bahkan menyebabkan kematian pada inangnya. Berbagai istilah telah digunakan untuk menunjukkan lokasi penyerangan pada inang dari larva ini atau lebih dikenal dengan indikasi secara klinis. Indikasi klinis memudahkan untuk melakukan identifikasi spesies larva lalat yang berguna dalam menegakkan diagnosis. Berdasarkan lokasi penyerangan/predileksi pada tubuh inang maka myiasis digolongkan ke dalam : Gastric, intestinal atau enteric (sistem pencernaan) myiasis Rectal; urinary, urogenital (sistem urogenital) myiasis Auricular (telinga) myiasis Ophthalmic (mata) myiasis Dermal, subdermal dan cutaneus (kulit) myiasis Nasopharyngeal (hidung dan faring) myiasis Traumatica myiasis Furuncular myiasis Creeping myiasis Klasifikasi myiasis secara klinis, cara infestasi dan larva diptera penyebab dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Klasifikasi myiasis secara klinik. Jenis Myiasis Myiasis kutaneus Myiasis pengisap darah (sanguinivorous myiasis) Furuncular myiasis Creeping myiasis Infestasi alami Larva menyerang kulit dan mengisap darah atau menggigit Larva menembus kulit dan membuat pembengkakan akibat radang Larva membuat terowongan pada epidermis tetapi tidak mengalami perkembangan sempurna Genus-genus lalat Calliphora dan Tabanus Dermatobiahominis dan Wohlfahrtia magnifica Hypoderma bovis dan Gasterophilus haemorrhoidalis

Traumatica myiasis Accidental myiasis Accidental enteric myiasis Accidental rectal myiasis Urogenital myiasis Body capity myiasis Nasopharyngeal, aurucular, paru-paru dan opthalmomyiasis Urinary myiasis Gasterophilus Enteric Myiasis

Larva berkembang dalam luka atau lesis-lesi Infestasi diakibatkan karena tertelan larva atau telur bersama makanan Infestasi melalui anal Lalat dewasa tertarik untuk menginfeksi jaringan inang

Calliphora, Sarcophaga, Musca, Fannidae Musca domestica, Fania scalaris Fania scalaris, Fania canucularis Calliphora, Sarcophaga, Musca, Fannidae

Telur atau larva diletakkan pada telinga, mata, Musca, Oestrus, Phoridae hidung, sinus-sinus dan rongga pharyngeal Larva masuk melalui orifisium inang Larva masuk melalui mulut dan hidung Musca domestica, Fania scalaris Gasterophilus intestinal (horse bot fly)

Menurut sifat larva lalat sebagai parasit, myiasis dibagi menjadi : 1. Myiasis spesifik (obligat). Pada myiasis ini larva lalat hanya dapat hidup pada jaringan tubuh manusia atau hewan. Telur diletakkan pada kulit yang utuh, luka, jaringan sakit atau bulu inang. Contoh: larva Callitroga macellaria. 2. Myiasis fakultatif. Pada myiasis ini larva lalat selain dapat hidup pada daging busuk dan sayuran busuk, juga dapat hidup pada jaringan tubuh manusia dan hewan. Contoh : Wohlfahrtia magnifica. 3. Myiasis accidental. Pada myiasis ini telur tidak diletakkan pada jaringan tubuh inang, tetapi pada makanan atau minuman, yang secara kebetulan tertelan lalu di saluran pencernaan tumbuh menjadi larva. Contoh : Musca domestica, Fania canicularis.

Diagnosis Diagnosis dibuat dengan menemukan larva lalat yang dikeluarkan dari jaringan tubuh, lubang tubuh atau tinja. Dilanjutkan dengan diagnosis spesies yaitu dengan cara melakukan identifikasi spirakel posterior larva.

Pencegahan dan pengobatan Pengendalian myiasis dengan 3 pertimbangan

1. Kontrol atau eradikasi populasi lalat. Melalui pengembangan program vaksinasi (Jika memungkinkan). 2. Mencegah terjadinya infestasi pada inang. Dengan mempelajari biologi dan perilaku lalat agen myiasis, intake makanan yang cukup, kebersihan dan penutupan pada luka serta sanitasi kandang. 3. Jika infestasi telah telah akibat kurangnya pengontrolan dan pencegahan. Perlakuan didasarkan pada pengangkatan larva dan pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri dan virus.

Larva pada kasus furuncular myiasis dapat dirangsang untuk meninggalkan luka dengan menambahkan petroleum jelly, lemak atau air sehingga larva sukar bernapas. Larva yang tampak dikeluarkan dengan forcep. Untuk mencegah rasa nyeri pada saat pengangkatan dapat dinjeksi dengan Lidocain terutama pada kasus myiasis yang disebabkan oleh larva Dermatobia. Larva dalam luka atau pada bagian tubuh yang terbuka dapat diangkat dengan tampon yang dibasahi dengan chloroform atau ether.

Contoh Kasus: Gasterophilus Enteric Myiasis Disebabkan oleh tempayak (larva) lalat yang disebut Gasterophilus sp Banyak terdapat pada kuda, keledai, bagal, zebra dan hewan lainnya. Lalat ini masuk famili Oestridae diantaranya adalah G. haemorrhoidalis, G. intestinalis dan G. nasalis Panjang larva 1-2 cm, tebal 1cm, badan cembung, cincin

sekeliling badan, berduri dan berkait. Infestasi larva ditemukan di dalam hidung, lambung, duodenum dan rektum kuda dan hewan lainnya. Lalat betina dewasa mampu menghasilkan telur sebanyak 1000 butir, telurtelur ini berwarna kuning terang dan biasanya menyerang pada daerah rambut/bulu kuda di sekitar kaki depan, permukaan lutut bagian dalam, perut, flank, bahu dan bagian tubuh lainnya. Bentuk telur seperti tong dengan ukuran 1,5 mm. Dari telur ke luar larva, dan karena gatal hewan menjilat-jilat atau larva aktif bergerak. Melalui mulut larva tertelan dan masuk ke lambung dan melakukan molting menjadi larva instar dua dan tiga. Sampai menunggu musim panas larva tetap berada di dalam lambung selama 10 bulan dan mengaitkan diri dengan alat kait yang kuat pada mukosa, sehingga menyebabkan perforasi dan peritonitis.

Gejala klinis Hewan yang diserang terutama ialah hewan (kuda) yang digembalakan di lapangan atau kuda tarik. Gejala timbul jika larva banyak di lambung, terutama pada hewan muda. Gejala klinis yang dapat diamati adalah radang lambung, napsu makan kurang, kurus, anemi, kadang-kadang kolik, diare atau obstipasi. Bila terjadi perforasi maka menyebabkan peritonitis. Keberadaan telur dan larva pada bagian permukaan tubuh menyebabkan rasa gatal. Hewan sering menggerak-gerakkan ekor dan kakinya.

Diagnosa : Dilakukan dengan pengamatan secara klinis dan ditemukannya larva bersama tinja, mukosa anus atau isi perut (jika muntah).

Pengendalian dan pengobatan Larva, belatung atau tempayak yang diangkat dari liang-liang kulit dibinasakan. Rambut yang mengandung telur dicukur dan dibakar. Pengobatan dengan senyawa karbontetraklor ( CCl4), tetraklor ethyl (C2H2Cl4). Pengobatan dilakukan setelah dipuasakan untuk merangsang mukosa, pemberian dikombinasikan dengan minyak atau dalam kapsul. Dosis pada anak kuda ; 10-15 gram, kuda dewasa ; 30-100 gr (CCl4), 1014 gr (C2H2Cl4). Pengobatan diulang setelah 8 hari. Larva keluar setelah 2-4 hari.

PINJAL Pinjal adalah insekta dari ordo Siphonaptera dan tergolong ektoparasit pengisap darah terutama pada stadium dewasa. Diklasifikasikan ke dalam; Phylum Class : Arthropoda : Insecta

Ordo Superfamili Famili Genus

: Siphonaptera : Pulicoidea : Pullicidae : Ctenocephalides Cediopsylla Xenopsylla Pulex Echinophaga Famili Genus Spesies : Tungidae : Tunga : T. penetrans

Spesies

: C. canis, C. felis, P. irritans, E. gallinacea dan X. cheopis Ektoparasit ini termasuk insekta tidak bersayap dan mengalami metamorfosis sempurna (holometabola).

Bentuk tubuh pipih kedua sisi lateral dengan sejumlah bulu (bristle) dan tampak jelas, warna bervariasi dari kuning kecoklatan sampai gelap. Pinjal dewasa adalah ektoparasit obligat pengisap darah hewan vertebrata dan 94% telah diketahui ektoparasit pada mamalia dan sisanya pada unggas. Larva memanjang, mata tidak berkembang baik dan kaki ditutupi oleh seta-seta yang panjang. Secara larva adalah non parasitik dan sebagai sumber makanan berasal dari material organik dalam sarang inangnya, termasuk bekuan-bekuan darah yang dihasilkan oleh pinjal dewasa sedang makan. Pupasi berada dalam kokon yang berbentuk seperti sendok setelah melalui proses larva instar ketiga.

Inang dan lokasi penyerangan Inang yang diserang adalah manusia, babi, anjing, kucing, tikus dan hewan peliharaan lainnya. Pinjal dewasa makan dan mengisap darah pada permukaan tubuh/ kulit inangnya. Stadium larva tergolong non parasitik.

Morfologi Seperti halnya golongan insekta lain tubuh pinjal terdiri atas kepala, toraks dan abdomen. Panjang tubuh 1,5-4 mm dan bagian kepala digunakan untuk membedakan antara genus-genus dan spesies pinjal. Tubuh

dibungkus oleh lapisan chitin yang tebal dan berwarna gelap. Bagian tengah tubuh membentuk kurva. Mata majemuk atau tidak ada, tetapi pada beberapa spesies memiliki mata sederhana yang berukuran besar atau kecil. Abdomen mempunyai sepuluh segmen dan pada segmen ke-sembilan baik pada jantan atau betina dilengkapi oleh keping dorsal yang disebut sensillum atau pygidium dan dibungkus oleh seta-seta sensori. Tergum dari kesembilan abdominal pada jantan mengalami modikasi membentuk clasper atau alat penjepit yang dipergunakan pada saat kopulasi. Penis atau aedeagus terbungkus chitin dan berbentuk kumparan. Kaki panjang, kuat , mempunyai cakar dan ruas pertama setiap kakinya (koksa) besar sehingga diadaptasikan untuk meloncat. Ciri khas tersebut memungkinkan pinjal meloncat dari satu inang ke inang yang lain. Pada beberapa spesies seperti pinjal anjing dan kucing Ctenocephalides canis dan C. felis banyak ditutupi oleh spina-spina besar terutama daerah kepala dan toraks yang dikenal dengan ctenidia (sisir). Pada daerha pipi ditumbuhi oleh sisi gena dan pada tepi posterior segmen toraks pertama ditumbuhi oleh sisir pronotal. Antena pada pinjal jantan hampir selalu lebih panjang dibanding pada yang betina. Selama kopulasi jantan berada di bawah betina dan memegang erat dengan antena nya dari bawah. Spina yang mengelilingi mulut berguna untuk mencegah bulu atau rambut inang mengganggu aktifitas makan pinjal. Tubuh bagian ujung posterior jantan seperti tombak dan mengarah ke atas, pada betina berakhir bulat. Spermateka merupakan struktur alat kelamin paling penting pada pinjal betina, terdiri atas kepala yang lebar atau reservoir dan bagian terminal berbentuk sosis panjang berekor atau appendiks.

Siklus hidup Siklus hidup pinjal termasuk metamorfosis sempurna dimulai dari telur, larva, pupa dan dewasa. Pinjal betina mampu sekali bertelur sebanyak 20 butir dan kira-kira 400-500 butir selama hidupnya. Bentuk telur ovoid, besar, licin, jernih dan berukuran 0,5 mm. Biasanya telur diletakkan pada debu, kotoran atau pada tubuh inangnya. Telur menetas dalam 7-10 hari pada kondisi suhu optimal 25 oC. Pada suhu 35oC-37oC perkembangan telur lebih lambat. Kelembaban relatif 65%-95% sangat dibutuhkan untuk perkembangan dan kelangsungan hidup larva. Telur dan larva mudah ditemukan pada lantai kandang, karpet, sarang atau tempat inang tidur/ istirahat.

Larva bentuknya memanjang, tanpa kaki dan ditutupi oleh bulu bristle yang jarang. Bahan makanan bagi larva berupa bekuan darah, kotoran dan tinja dari pinjal dewasa. Larva mengalami molting dua kali sampai mencapai instar ketiga yang diselesaikan dalam masa 9-15 hari. Larva instar ketiga membentuk kokon selama pupasi dan menjadi dewasa dalam masa 7 hari atau 300 hari bila suhu lingkungan terlalu ekstrim. Umumnya masa siklus hidup dari telur sampai berkembang menjadi dewasa berlangsung selama 63-77 hari.

Patogenesis dan gejala klinis Infeksi yang paling substansial akibat infestasi pinjal pada inang terutama menurunnya kondisi tubuh berupa kelemahan dan kekurusan. Inang kurang istirahat, bulu kusam dan terlihat lesi-lesi akibat garukan dan bekas gigitan pinjal. Reaksi terhadap gigitan pinjal ditentukan oleh stadium sensitivitas hewan terutama disebabkan oleh saliva pinjal. Hapten dalam saliva pinjal merupakan immunogenik melalui fiksasi dengan kolagen kulit. Hal ini akan menggertak serangkaian reaksi dari stadium reaksi tidak teramati sampai reaksi tipe intermediate yang ditandai dengan meningkatnya immunoglobulin E dan eosinofil pada titik reaksi. Reaksi sensitivitas akibat gigitan pinjal bergantung jenis hewan yang diserang. Pada anjing dan kucing tidak menunjukkan hipersensitivitas terhadap reaksi saliva yang dikeluarkan oleh pinjal, kecuali pruritus ringan. Walaupun pada hewan lain dapat menyebabkan pruritus berat badan akut, terutama daerah lumbo-sacral, abdomen, sisi dalam kaki belakang dan leher. Gambaran lain adalah lesi-lesi, papula-papula, ulserasi, dermatitis, eksim basah yang dapat menyebabkan infeksi sekunder. Acanthosis, hiperpigmentasi, hiperkeratinisasi adalah gejala yang mudah ditemukan. Selain efek langsung akibat gigitan pinjal, juga berperan sebagar agen penular penyakit. Contoh klasik adalah penyakit pes bubo (Yersinia pestis) salah satu penyakit bakterial pada manusia yang dibawa oleh Xynopsylla chopis. Endemic atau tifus murine exanthematosa (Rickettsia mooseri) pada manusia juga disebarkan oleh pinjal tikus rumah. Rickettsia mooseri mengalami perbanyakan di dalam saluran pencernaan dan diekskresi melalui tinja pinjal dan menulari hewan. Penyakit lain yang diketahui berkaitan dengan pinjal meliputi tularemia, salmonellosis, myxomatosis. Stadium sisteserkoid beberapa cacing pita (Dipylidium

caninum dan Hymenolepis diminuta) dan filaria dari cacing Dipetalonema reconditum pada anjing dan kucing juga dibawa oleh pinjal Ctenocephalides canis, C. felis dan Pulex irritans.

Diagnosis Penegakan diagnosis berdasarkan gejala klinis dan dengan menemukan telur, larva dan pinjal dewasa pada tubuh hewan yang terserang. Identifikasi spesies dengan menggunakan kunci determinasi spesies terutama membedakan bagian struktur kepala pinjal.

Pengendalian pengobatan Pengendalian meliputi perlakuan pada hewan yang terserang untuk membunuh pinjal, eliminasi stadium perkembangannya pada lingkungan hidup hewan dan mencegah reinfestasi yang bersumber dari lingkungan. Pengobatan umumnya menggunakan insektisida dalam bentuk aplikasi powder, penyemprotan atau shampoo pada hewan yang dilakukan dalam interval waktu seminggu. Insektisida yang digunakan adalah dari golongan organophosphate, Chlorinate hidrocarbon dan pyrethroid sintetik seperti permethrin. TUNGAU Tungau merupakan ektoparasit berukuran kecil bervariasi dari 0,5 mm-2 mm termasuk kelompok parasit obligat. Badan tidak beruas, mempunyai thorak, abdomen, 4 pasang anggota gerak. Ukuran tungau jantan lebih kecil dari betina dan tungan betina mampu bertelur 20-100 butir dan telur berbentuk oval. Tungau diklasifikasikan ke dalam; Filum Sub Filum Kelas Subkelas Ordo Subordo Famili : Arthropoda : Chelicerata : Arachnida : Acarina : Acari : Trombidiforme : Demodicidae

Genus Subordo Famili Genus Famili Genus

: Demodex canis : Sarcoptiformes : Sarcoptidae : Sarcoptes scabiei, Notoedres dan Knemidocoptes : Psoroptidae : Psoroptes, Chorioptes

Inang dan lokasi penyerangan Tungau adalah ektoparasit pada manusia, sapi, kambing, domba, kuda, anjing, kucing, babi, unggas dan kelinci. Pada permukaan kulit membuat terowongan/ liang, mengisap darah dan cairan jaringan sehingga menyebabkan peradangan pada kulit inangnya. Penyakit yang disebabkan oleh ektoparasit ini dinamakan dengan scabiosis. Berdasarkan lokasi penyerangan pada kulit inangnya ada dua spesies tungau ini yang dikenal tipe tungau yang membuat terowongan dalam dan yang tidak. Tipe tungau membuat terowongan meliputi Sarcoptes, Notoedres, Demodex dan Knemidokoptes dan yang tidak membuat terowongan kulit adalah , Psoroptes dan Chorioptes.

Tipe tungau pembuat terowongan pada kulit (Sarcoptes, Knemidocoptes, Demodex dan Notoedres) Sarcoptes scabiei. Morfologi Bentuk tubuh Sarcoptes scabiei, bulat dengan diameter tubuh 0,4 mm, memiliki kaki-kaki yang pendek dan penjuluran bristle yang jarang di bagian tepi tubuh. Pada bagian dorsal tubuh terdapat sisik-sisik triangular.

Inang: Menyerang manusia dan semua hewan mamalia peliharaan.

Siklus hidup

Siklus hidup dimulai dari telur, larva. nimfa dan dewasa. Betina membuat liang berkelok-kelok pada lapisan epidermis, makan cairan dari jaringan yang telah rusak. Telur diletakkan dalam terowongan tersebut dan menetas dalam 3-4 hari menjadi larva berkaki enam dilengkapi cakar. Larva membuat terowongan pada bagian superfisial kulit dan diikuti proses molting berubah menjadi nimfa serta diikuti molting berikutnya untuk menjadi dewasa. Seluruh siklus dari telur sampai dewasa membutuhkan 17-21 hari.

Predileksi dan gejala klinis Pada anjing predileksi Sarcoptes scabiei adalah pada daerah telinga, hidung, muka, dan siku, tetapi kasus infestasi berat dapat menyebar ke seluruh tubuh. Gejala yang tampak diawali dengan erythema, bentukbentuk papula dan diikuti dengan terbentuknya sisik dan keropeng serta alopecia. Pada infestasi awal anjing sering menggaruk-garuk dan terlihat lesi-lesi pada bekas garukan. Pada kucing daerah bagian tubuh yang diserang adalah pada bagian telinga, muka, leher dan abdomen. Ternak ruminansia seperti sap sering menyerang pada daerah leher dan ekor, tetapi pada kasus berat dapat menyerang bagian tubuh yang lain. Pada infestasi ringan kulit yang terserang terbentuk sisik, penebalan kulit dan bulu rontok, diikuiti dengan terbentuknya keropeng. Pada domba bagian tubuh yang diserang pada bagian tubuh yang tidak berbulu seperti, telinga, muka, lipatan bagian dalam kaki/ paha. Pada kasus berat dapat menyerang ke seluruh tubuh. Pada daerah yang terserang terlihat erythema dan kudisan. Sedangkan pada kambing daerah yang diserangyaitu pada daerah mata, muka dan telinga. Gejala yang tampak adalah, terbentuk sisik, keropeng/penebalan pembentukan nodul pada kulit yang terserang. Aktifitas menggosok-gosok pada bagian yang gatal mengakibatkan iritasi kulit sehingga terbentuk lesi-lesi (kudis).

Notoedres sp Spesies: N. cati dan N. muris. Inang dan lokasi penyerangan.

Tungau ini umunya menyerang kucing, kelinci dan tikus terutama pada daerah telinga, punggung dan leher. Pada kasus berat dapat menyebar pada bagian muka, kaki, pangkal cakar dan seluruh tubuh.

Morfologi Tubuh globular dengan garis-garis putus, bersisik, mempunyai spina dan dua seta pada dorsal tubuh. Kaki pendek, pedicle tidak bersegmen dan mempunyai alat pengisap serta bristle pada kaki-kakinya seperti pada tungau Sarcoptes.

Siklus hidup gambarannya sama seperti genus Sarcoptes.

Patogenessis dan gejala klinis Tungau membuat terowongan di bawah kulit sehingga menyebabkan lesi-lesi yang ditandai dengan lapisan kulit menjadi kekuningan. Lesi-lesi terlihat pada daerah telinga dan leher dan akhirnya lapisan kulit menebal serta terbentuk keropeng.

Knemidocoptes sp Spesies: K. gallinae, K. pilae dan K. mutans

Inang dan lokasi penyerangan Tungau ini menyerang bangsa unggas seperti ayam dan jenis burung pada darah bulu dan kaki. Morfologi Tubuh globular atau sirkuler, pendek dengan kaki-kaki dan pedicle gemuk, pendek (tumpul). Bagian tubuh bergaris-garis membentuk sisik dan tidak mempunyai spina. Alat pengisap tarsal terdapat pada seluruh pasangan kaki-kaki tungau jantan, pada tungau betina tidak ditemukan.

Siklus hidup dengan gambaran yang sama seperti Sarcoptes.

Patogenesis dan gejala klinis Pada unggas tungau K. mutan membuat terowongan bawah sisik kulit kaki sehingga sisik kaki terbuka dan terlepas. Gambaran yang sama juga ditemukan pada tungkai dan jari-jari kaki. Kaki dan cakar yang terserang terlihat pincang dan distorsi. Tungau K. gallinae umumnya menyerang dan membuat terowongan pada pangkal bulu sehingga terjadi peradangan dan unggas sering mematuk-matuk bulunya.

Demodex sp Tungau ini termasuk tipe pembuat terowongan dalam kulit inangnya. Hewan yang diserang semua mamalia termasuk manusia dan distribusi telah menyebar ke seluruh negara. Penyakit yang disebabkan oleh infestasi tungau ini dinamaka demodecosis. Lokasi penyerangan adalah pada folikel bulu atau rambut dan kelenjar sebasea. Spesies tungau dari Demodex antara lain D. canis (pada anjing), D. bovis (pada sapi), D. equi (pada kuda), D. phylloides (pada babi) dan D. folliculorum pada manusia.

Morfologi Demodex sp berukuran 0,2 mm dengan 4 pasang kaki yang terletak pada bagian anterior. Bentuk tubuh memanjang seperti serutu. Mempunyai kepala, toraks dilengkapi oleh 4 pasang kaki yang tumpul. Abdomen memanjang dan bergaris transversal mulai dari dorsal sampai ke ventral tubuh. Bagian mulut terdiri atas sepasang palpi, kelisera dan hipostoma tunggal. Penis menonjol pada sisi dorsal toraks jantan dan vulva tungau betina terletak di bagian ventral tubuh. Telur berbentuk spindel.

Siklus hidup Siklus hidup dimulai dari telur, larva, protonimfa, deutronimfa dan dewasa dan berlangsung selama 1824 hari. Tungau jantan biasanya berada pada permukaan kulit sehingga memudahkan membuahi telur yang dikeluarkan oleh betina. Tungau betina mampu bertelur 20-24 butir dan diletakkan pada folikel rambut inangnya. Larva dan nimfa bergerak ke dalam folikel rambut dan berkembang menjadi dewasa

Patogenesis dan gejala klinis Infeksi ditularkan secara kontak langsung dengan hewan penderita. Pada anjing infeksi awal terlihat bulu rontok disekitar muka dan kaki depan, diikuti penebalan kulit dan terbuntuk kudis. Lesi-lesi dapat menyebar ke seluruh tubuh. Ada 2 tipe demodecosis pada anjing: 1. Tipe demodecosis squamosa. Ditandai dengan adanya erythema, desquamasi dan penebalan kulit serta alopecia. Penularan kepada hewan lain melalui kontak kulit. Pada tipe ini daerah yang sering diserang adalah bagian muka dan kaki. 2. Tipe pustula atau demodecosis follicular. Kulit terlihat bersisik dan mengalami penebalan; terbentuk pustula yang berisi serum, pus dan darah. Lesi-lesi kulit mengeluarkan bau busuk.

Tipe tungau tidak membuat terowongan pada kulit (Psoroptes dan Chorioptes) Spesies: Psoroptes ovis, P. canis, P. equi dan P. cuniculi Inang dan lokasi penyerangan: Menginfestasi domba, sapi, kuda dan kelinci dan sering menyerang daerah axilla, lipatan paha, fossa infraorbitalis dan telinga.

Morfologi Tubuh oval, berukuran di atas 0,75 mm, mulut berbentuk kerucut, pada jantan terbentuk tuberkel pada bagian abdomen, pedicel terdiri atas 3 sendi dan dilengkapi dengan corong-corong pengisap seperti mangkuk pada pasangan kaki pertama, kedua dan ketiga. Tungau jantan memiliki alat pengisap copulatory pada sisiventran tubuh dan dilengkapi bulu-bulu bristle. Tungau betina mempunyai alat pengisap yang berhubungan dengan pedicle pasangan kaki pertama, kedua dan keempat. Bagian dorsal tubuh bersisik dan dilengkapi dengan spina-spina serta garis-garis tubuh.

Siklus hidup Telur diletakkan pada kulit di sisi lesi-lesi dan menetas 1-3 hari. Larva mulai makan setelah 2-3 hari setelah ditetaskan. Diikuti dengan molting menjadi stadiun nimfa setelah 12 jam kemudian. Stadium nimfa akhir terjadi pada hari ketiga dan keempat kemudian berkembang menjadi dewasa. Total siklus hidup dari telur sampai menghasilkan telur selanjutnya adalah 12 hari. Patogenesis dan gejala klinis Tungau menghancurkan epidermis dan mengisap cairan limfe serta merangsang terbentuknya peradangan lokal disertai infiltrasi cairan serum. Bekas daerah infeksi mengalami eksudasi, koagulasi dan akhirnya terbentuk keropeng-keropeng. Pada kulit yang terserang hewan sering menggosok-gosokkan daerah yang gatal, sehingga terbentuk lesi-lesi, papula atau kudisan. Lesi-lesi kulit disebabkan oleh gigitan tungau dan Hewan kurang istirahat, napsu makan dan berat badan menurun. Psoroptes sangat aktif pada lapisan keratin kulit dan menyebabkan kerusakan langsung pada kulit. Infeksi awal terbentuk peradangan dengan vesikula-vesikula kecil dan exudate serousa serta lesi-lesi cepat menyebar. Bentukan keropeng sering berwarna kuning. Domba yang terserang ditandai dengan bulu kusam dan mudah rontok, menggosok-gosok badannya pada dinding kandang sehingga kualitas wool menjadi rendah. Hewan kurang istirahat dan mengganggu aktifitas makan sehinggga berat badan menurun. Choriptes sp Spesies: C. bovis, C. equi, C. ovis, C. cuniculi dan C. caprae Inang dan lokasi penyerangan: Menyerang sapi, kambing, domba, kelinci dan kuda serta predileksi pada daerah kepala, leher, ambing, skrotum dan kaki. Hidup dan mengalami perbanyakan pada kulit yang ditutupi oleh bulu atau rambut inangnya.

Morfologi:

Bentuk tubuh mirip dengan Psoroptes, kecuali alat pengisap tarsal (kaki) tidak mempunyai sendi-sendi pedicle. Pada tungau jantan alat pengisap tarsal terdapat pada semua pasangan kaki. Pada tungau betina alat pengiasap tarsal hanya pada pasangan kaki pertama, kedua dan keempat. Bagian abdomen tungau jantan mempunyai lobus abdominal yang dilengkapi oleh bulu-bulu bristle. Alat pengisap adanal terletak pada dasar lobus abdominal dan tubercle copulatory berada pada bagian dorsal posterior.

Patogenesis dan gejala klinis Umumnya tungau Choriptes sp menyerang pada daerah kepala, leher, ambing, skrotum dan kaki. Infestasi pada kuda biasanya daerah tubuh yang banyak ditumbuhi rambut/ bulu. Kuda yang terserang sering menggosok-gosokkan tubuhnya, menghentak-hentakan kaki/ menendang serta mengggigit pada daerah yang terserang. Daerah kulit yang terinfeksi terlihat adanya papula-papula dan akhirnya menjadi kudis. Pada hewan ruminansia sering menyerang daerah pangkal ekor, menyebar ke sakrum dan bagian tubuh lainnya. Pada domba terutama daerah skrotum dan kulit yang terserang bersisik.

Otodectes cyotis Inang dan lokasi penyerangan Bagian tubuh yang terserang adalah telinga golongan carnivora seperti anjing, serigala, racoon dan kucing. Dinamakan juga dengan tungau telinga. Morfologi Tungau ini mirip dengan Chorioptes. Mempunyai alat pengisap tarsal pada pasangan kaki pertama dan kedua pada tungau betina dan pada seluruh pasangan kaki pada tungau jantan serta tidak berhubungan dengan pedicle. Alat pengisap copulatory jantan kurang jelas demikian juga lobus abdominalnya.

Siklus hidup

Siklus hidup hampir sama seperti genus Psoroptes. Tungau menghabiskan selama hidupnya pada permukaan tubuh inang terutama bagian telinga. Tungau memakan jaringan epidermis dengan cara mengunyah. Cara lain adalah dengan menusuk kulit dan mengisap cairan tubuh inang.

Patogenesis dan gejala klinis Hewan yang terinfeksi oleh spesies tungau ini sering menggoyang-goyangkan kepala serta menggosokgosoknya. Pada kasus infeksi paling parah telinga menjadi paralisis dan terbentuk radang purulenta dan hematoma. Pada kasus radang purulenta, bagian luar telinga seringkali menyebabkan radan tympani telinga.

Diagnosis dan teknik pengamatan Diagnosis dengan inspeksi gejala klinis dan membuat preparat kerokan kulit (Superficial Shave Biopsy). Kerokan kulit dibuat dari arah kulit yang sehat ke arah kulit yang terinfeksi. Hasil kerokan diletakkan pada obyek gelas dan ditambah larutan KOH/ NaOH 10%, diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat jenis tungau. Cara lain adalah melakukan pemeriksaan dengan uji tinta (Burrow Ink Test) khususnya tipe tungau pembuat terowongan dibawah kulit. Diagnosis skabies dengan tinta telah lama diaplikasikan di Rumah Sakit Saint-Louis, Prancis sejak abad ke-17.

Pengendalian dan pengobatan Tungau dapat menular dengan cepat dari satu ke hewan lain melalui kontak langsung. Oleh karena itu penanganan cara tepat terutama dalam pengobatan sangat penting. Pengamatan hewan yang diduga terinfeksi sebelum disatukan dengan hewan lain sangat dianjurkan termasuk mengkarantinakan hewan yang telah sakit. Beberapa senyawa yang digunakan untuk pemberantasan penyakit ini adalah HCH (Lindane) yang diaplikasikan dengan berendam (dipping) dan penyemprotan (spraying). Konsentrasi larutan 0,25%, pengobatan diulang 2-3 hari dengan interval waktu 10-14 hari. Coumaphos 50% WP dengan pengenceran 1% efektif membunuh berbagai jenis telur dan tungau pada hewan. Golongan organophophate digunakan dengan

konsentrasi 10% Tetraethylthiuram monosulfide 5% dalam bentuk dipping dan spraying. Campuran Benzyl benzoate dalam emulsi juga digunakan dalam penyembuhan penyakit skabies. Injeksi subkutan dengan Ivermectin/ Avermectin 1% sangat efektif mengobati penyakit ini dan juga endoparasit.

CAPLAK

Spesies caplak terdiri dari caplak keras Ixodidae dan caplak lunak Argasidae. Caplak keras ditandai dengan adanya chitin skutum yang keras pembungkus dorsal tubuh. Pada caplak betina, larva dan nimfa skutum hanya menutupi sebagian kecil permukaan dorsal tubuh. Mulut terletak pada ujung anterior tubuh sehingga mudah diamati dari sisi dorsa, stigmata terletak pada bagian posterior sampai ke koksa keempat. Caplak lunak Argasidae dengan lapisan skutum yang kurang berkembang dan menutupi dorsal tubuh. Bagian mulut terletak sisi ventral tubuh dan tidak terlihat jelas dari sisi pandangan dorsal, stigmata terletak antara koksa ketiga dan keempat. Caplak digolongkan ke dalam :

Filum Sub Filum Kelas Subkelas Ordo Famili Genus

: Arthropoda : Chelicerata : Arachnida : Acarina : Acari : Ixodidae : Ixodes, Amblyomma, Haemaphysalis, Boophilus, Rhipicephalus,

Dermacentor, Rhipicentor dan Anocentor Famili : Argasidae

Genus

: Argas, Ornithodoros, Antricola dan Otobius

Caplak termasuk spesies ektoparasit hematofagus, sumber makanan berupa darah dan cairan jaringan inangnya. Hewan yang terserang adalah golongan mamalia, reptil dan unggas. Kesemuanya merupakan parasit obligat.

Morfologi Famili Ixodidae Bagian mulut terletak pada ujung anterior tubuh, sepasang mata pada sisi lateral skutum dan sepasang stigmata/ spirakel yang berada pada sisi postero-lateral sampai koksa keempat kaki. Pada basis kapitulum terdapat bagian alat-alat mulut, palpi, kelisera dan hipostoma. Skutum memiliki servik bilateral dan lekuk lateral yang bervariasi kedalamannya menurut spesies caplak. Tubuh betina mempunyai sepasang lekuk marginal pada sisi lateral di belakang skutum. Sedangkan pada sisi postero-lateral terdapat lekuk median. Bagian akhir posterior tubuh membentuk suatu keping barisan yang disebut festoon, pada Boophilus tidak ditemukan. Lubang alat kelamin berada pada ventral mid-line dan anus di bagian posterior. Beberapa spesies caplak terdapat ornata baik pada jantan dan betina. Anggota gerak terdiri atas koksa, trokanter, femur, tibia, pretarsus, tarsus, pulvilus dan cakar.

Siklus hidup Setelah kenyang darah caplak betina bertelur dan meletakkan telur-telurnya pada tempat yang terlindung seperti; sela-sela batu, liang tanah dan pohon serta pada celah dinding kandang. Telur berukuran kecil, spherical, berwarna kuning kecoklatan sampai gelap dan dikeluarkan dalam massa yang besar. Caplak betina meletakkan telur-telur dalam suatu kumpulan dan mampu menghasilkan telur sebanyak 3000-18000 butir. Setelah telur menetas dan menghasilkan larva, maka larva bergerak ke ujung-ujung rumput dan menunggu munculnya inang yang sesuai. Pada tubuh inang larva makan/ mengisap darah dan diikuti dengan molting dan berubah menjadi stadium nimfa. Integumen nimfa mengalami pengerasan dan selanjutnya mencari inang, mengisap darah sampai kenyang, molting dan menjadi caplak dewasa. Setelah pengerasan integumen

caplak dewasa melakukan kopulasi yang dapat terjadi pada permukaan tubuh inang atau diatas tanah. Caplak jantan selesai kopulasi akan mati dan betina sesudah oviposisi selesai. Menurut jumlah kebutuhan inang selama masa siklus hidupnya caplak dapat dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu; berinang satu, dua dan tiga. Berinduk semang satu terutama caplak Boophilus sp. Selama siklus hidup larva keluar dari telur (eclosion) berparasit/makan pada tubuh hewan dan berkembang sampai dewasa. Betina dewasa kenyang darah dan jatuh dari tubuh inang serta bertelur di tanah. Berinduk semang dua seperti caplak Rhipicephalus evertsi. Selama siklus hidupnya, stadium larva nenaiki inang dan mengisap darah hingga kenyang dan jatuh ke tanah serta molting menjadi stadium nimfa. Nimfa lapar naik pada inang yang berbeda atau sama, makan kenyang dan molting menjadi dewasa pada tubuh inang. Berinduk semang tiga. Selama siklus larva menaiki tubuh inang makan kenyang jatuh dan molting menjadi nimfa. Selanjutnya nimfa menaiki tubuh inang yang sama atau beda, makan kenyang dan jatuh ke tanah diikuti molting sehingga menjadi stadium dewasa. Dewasa lapar naik pada inang yang sama atau berbeda dan makan kenyang. Kemudian jatuh ke tanah untuk bertelur. Contoh caplak berinduk semang tiga adalah Rhipicephalus sanguineus, Rhipicephalus appendiculatus, Ixodes ricinus dan Dermacentor andersoni.

Patogenesis dan gejala klinis Caplak keras merupakan ektoparasit obligat, mulai stadium larva, nimfa dan dewasa mengisap darah inangnya. Hampir seluruh permukaan tubuh inang merupakan tempat pelekatan caplak dan mengisap darah, termasuk rongga tubuh seperti lubang telinga. Beberapa gangguan dan penyakit akibat infestasi capalk keras adalah (1) Dermatosis, peradangan, kudis, pembengkakan, ulcerasi dan lesi-lesi pada bekas gigitan. (2) Eksanguinasi yang merupakan suatu kondisi serius yang menyebabkan inang kehilangan sejumlah darah/ anemia. (3) Otoacariasis, infestasi di dalam lubang telinga dapat menyebabkan kerusakan pada organ telinga. (4). Tick paralysis, disebabkan oleh beberapa genus caplak seperti Ixodes holocyclus, I. hirsti dan I. cornuatus. Kelumpuhan motorik, kesulitan bernapas dan menelan dapat terjadi pada kelompok hewan seperti kuda, anjing, kucing, sapi, kambing, domba dan unggas. Kelumpuhan disebabkan reaksi toksin yang disekresi oleh kelenjar

ludah caplak pada saat mengisap darah inangnya. Paralysis mempengaruhi myonueral jungtions saraf sehingga hantaran impuls terganggu. Beberapa penyakit juga dapat ditularkan oleh caplak yang berperan sebagai vektor. Penyakit yang disebabkan protozoa darah seperti piroplasmosis, theileriosis, anaplasmosis umumnya ditularkan oleh caplak. Penyakit Texas cattle fever (Rickettsia), Borreliosis (Borrelia sp), Rocky Mountain spotted fever (virus), tularemia ole bakteri dan filaria dari cacing nematoda juga ditularkan oleh spesies caplak.

Famili Argasidae Umumnya famili argasidae menyerang bangsa unggas seperti ayam, itik dan burung. Beberapa genus dari caplak lunak ini yang dilaporkan sebagai ektoparasit obligat adalah Argas persicus, A. reflexus, A. mianensis, Otobius dan Ornithodoros.

Morfologi Caplak dewasa berukuran panjang 4-10 mm dan lebar 2,5-6 mm, tubuh bulat dan menyempit ke arah anterior. Sisi-sisi tubuh tajam, pada lapar tubuh berwarna kekuningan dan status kenyang berwarna kebiruan. Identifikasi antara caplak jantan dan betina agak sulit. Perbedaan mudah diamati pada alat kelamin luar. Pada betina lubang alat kelamin mengarak ke anterior pada bagian sisi dorsal dan ukurannya lebih besar dibandingkan caplak jantan.

Siklus hidup Caplak betina meletakkan telur di celah-celah bulu inang, selain itu di celah pohon dan tanah. Bentuk telur spherical, berwarna abu-abu dan telur dikeluarkan dalam suatu massa kira-kira 20-100 butir. Larva ditetaskan setelah tiga minggu atau lebih, tubuh bulat dengan kaki-kaki sebanyak enam pasang, setelah kenyang darah menjadi spherical. Larva melekat pada bawah sayap dan mengisap darah selama lima hari. Setelah kenyang jatuh dan molting nimfa stadium pertama dan kedua yang berlangsung selama 1 minggu. Stadium nimfa dan dewasa biasanya menyerang inang pada malam hari dan makan selama dua hari.

Patogenesis dan gejala klinis Infestasi berlangsung pada malam hari atau pada saat inang istirahat. Bekas gigitan menyebabkan iritasi dan peradangan. Pada kasus berat menyebabkan anemia akibat kehilangan sejumlah darah. Hewan kurus dan kurang napsu makan serta pertambahan berat badan terganggu.

Diagnosis Penegakan diagnosis pada kasus infestasi caplak keras dan caplak lunak adalah berdasarkan gejala klinis dan dengan menemukan larva, nimfa dan caplak dewasa pada permukaan kulit inang. Identifikasi dengan mengamati struktur tubuh dan kunci determinasi spesies caplak.

Pengendalian dan pengobatan Pemberantasan dilakukan dengan acarisida dari golongan HCH 15-20%, Organophosphate, coumaphos 0,05%. Golongan pyrethroid sintetik seperti permethrin juga dapat digunakan dengan konsentrasi 30-70 ppm. Aplikasi dengan cara dipping (perendaman) dan penyemprotan.

ARTHROPODA SEBAGAI AGEN PENULAR PENYAKIT ARTHROPOD

Protozoa

Helminth

Bakteri

Virus

PROTOZOA
E. histolytica Kecoa Plasmodium Anopheles Babesia Anaplasma Caplak Theileria Trypanosoma Tabanus Leishmania Phlebotomus Leucocytozoon Black fly

HELMINTH
Cestoda Trematoda Tabanus, Simulium,

BAKTERI
Salmonella B. anthracis Borrelia, Lalat Lalat Tabanus

VIRUS
Avipoxvirus Bunyavirus Vesiculovirus Chikungunya Argas Nyamuk Nyamuk dan Phlebotomus Nyamuk

Bagaimana Arthropoda terinfeksi ? 1. Transmisi vertical (Disebut juga tipe heriditas) Penularan infeksi secara langsung dari induk dan diturunkan kepada keturunannya Umumnya agen infeksi berada dalam oosit induk ------- Transmisi Transovarial 2. Transmisi horizontal

Arthropoda mendapat agen patogen melalui makanan dari induk semang yang telah terinfeksi Bagaimana perkembangan agen patogen dalam tubuh arthropoda ? 1. Transmisi mekanik Vektor berperan sebagai karier menularkan patogen melalui kontak dengan mulut, kaki atau melalukan patogen tanpa diikuti perubahan bentuk agen 2. Transmisi biologik a. Cyclopropagative transmission Agen penyakit mengalami perubahan siklus dan multifikasi dalam tubuh athropoda Contoh: ---------b. Cyclodevelomental transmission Bila organisme penyebab mengalami perubahan siklus, tetapi tidak mengalami multifikasi. Contoh ------c. Propagative transmission Bila organisem penyebab tidak mengalami perubahan siklus, tetapi menglami multifikasi Contoh ---------

METODE PENGENDALIAN ARTHROPODA

Proteksi individual Manipulasi Lingkungan Zona barir, Karantina A. Proteksi individual 1. Barir fisik antara inang dan arthropoda 2. Barir kimiawi berfungsi sebagai bahan penolak 3. Toksikan diaplikasi langsung pada inang- Bahan yang digunakan adalah Insektisida/ acarisida *Aplikasi spesial - Sistemik - Fumigasi - Regulator pertumbuhan/perkembangan Formula insektisida a. Ultralow Volume (ULV) b. Emulsifiable Concentrates (EC) c. Dust (d) d. Bait (b) Teknik aplikasi di lapangan - Spraying - Trapping

Biological Control

e. Solutions (s) f. Wettable Powders (wp) g. Granules (g) h. Formulasi spesial - Briket/ kapsul - Mineral blok

- Dipping - Dusting

B. Manipulasi lingkungan Contoh--------C. Zona barir dan karantina Contoh--------D. Biological control (Pengendalian biologik) Contoh---------

Skema Perkembangan Organisme Patogen Di Dalam Tubuh Arthropoda


1. Patogen, darah dan jaringan inang dimakan 2. Patogen dalam lumen usus mungkin inaktif (didigesti/diasdsorpsi) atau mengalami multifikasi. Contoh Bacillus dalam tubuh Pinjal, Leishmania pada Phlebotomus 3. Dilewatkan langsung melalui dinding usus (cacing Filaria pada lalat, Spirocheta pada kutu dan caplak) 4. Transportasi melalui hemolimf ke jaringan 5. Konsentrasi jaringan seperti : - Konsentrasi kel. saliva pada sporozoit - Invasi sistem reproduksi pada kasus transmisi transovarial 6. Introduksi ke jaringan tubuh inang dengan - Pengisapan bagian mulut, kel. saliva pada saat makan - Lepasnya patogen melalui dinding tubuh (Filaria) - Kontaminasi gagian mulut pada permukaan organ tubuh inang Contoh : Tularemia pada Chrysops 7. Feses terinfeksi diletakkan pada kulit inang (Trypanosoma) 8. Cairan infektif diekskresi melalui kel. saliva 9. Inang terinfeksi karena memakan serangga terinfeksi.

DIPTERA

NEMATOCERA CYCLORRHAPHA

BRACHYCERA

TABANIDAE

CERATOPOGONIDAE

SIMULIIDAE

PSYCHODIDAE

CULICIDAE

MUSCIDAE

CALLIPHORIDAE

HIPPOBOSCIDAE

OESTRIDAE

A. Family Ceratopoginidae Cullicoides Inang: Semua hewan dan manusia Spesies: > 800 spesies Morfologi: Panjang 1,5-5 mm, thorax berpunuk, kepala kecil, sayap burik, abdomen coklat hitam. Antena jelas, kaki relatif pendek, bagian mulut kecil dan tergantung secara vertikal. Probosis pendek berfungsi sebagai penggigit dengan labrum yang tajam, 2 maxilla dan mandibula, 1 hipopharynx labium gempal yang tidat turut masuk ke dalam kulit pada saat menggigit. Pada jantan antena panjang berbulu (tipe plumosa). Pada betina antene pendek (tipe pilosa). Rambut halus menutupi permukaan sayap. Siklus hidup. Telur berwarna coklat atau hitam, silindris atau bentuk pisang dan panjang 0,5 mm, diletakkan di tanah yang lembab atau pada tumbuhan humus yang agak basah. Penetasan terjadi dalam 2-9 hari tergantung spesies dan temperatur. Selama siklus terdapat 4 tahap perkembangan larva yang dicirikan dengan bentuk kepala kecil dan gelap, ada segmentasi tubuh dan insang anal. Larva berenang dalam air dan makanhumus. Perkembangan larva secara sempurna berlangsung 14- 25 hari, tetapi dapat tertunda sampai > 7 bulan. Panjang pupa 2-4 mmsering ditemukan pada permukaan air. Memiliki sepasang alat respirasi seperti trompet pada daerah sepalotoraks dan sepasang tanduk terminal agar pupa mudah bergerak. Lalat dewasa keluar dari pupa dalam 3-10 hari dan mengisap darah. Peran parasit dan vektor patogen: Sebagai lalat pengganggu dan segabai vektor penular penyakit lidah biru (bluetongue), nematoda filaria , Dipetalonema spp dan Onchocerca reticulata, O. gibsoni. Kontrol. Spraying dan repelent screen mengandung insektisida. B. Family Simuliidae: Simulium spp ( Blacklies/ Buffalo gnats)

Inang: Semua hewan dan manusia


Distribusi: Seluh dunia kecuali Selandia baru dan Hawaii Morfologi: Sesuai nama lalat ini berwarna hitam dan berpunuk pada thorax. Panjang 1,5-5 mm, badan kokoh dan sayap agak transparan dengan venasi sangat jelas serta berbentuk mata gunting pada saat istirahat. Jantan dengan mata tipe holoptic dan betina dichoptic.

Siklus hidup: Tergolong Holometabola. Panjang telur 0,1-0,4 mm bertangkai dalam jumlah ratusan dan diletakkan pada tumbuhan atau batu di air yang mengalir. Penetasan dalam beberapa hari. Larva melalui 8 tahap perkembangan. Larva instar akhir dengan panjang 5-13 mm, berwarna terang dan kurang bersegmen. Tubuh pada bagian posterior dalam air dan daerah kepala mempunyai kaki-kaki pengait. Larva dewasa berkembang dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan. Pupa berbentuk sandal dan mempunyai insang yang dijulurkan berwarna kecoklatan. Periode pupa 2-6 hari dan lalat dewasa keluar dari pupa. Peran parasit dan vektor patogen: Simulium dewasa umumnya menyerang ternak seperti sapi, kuda dan unggas. Sapi yang terserang dicirikan dengan sindrom akut dan petechi hemoragi pada kulit, oedema pada larynx dan dinding abdomen. Produktivitas menurun. Pada kuda dan unggas sering menyerang pada daerah telinga dan menyebabkan anemia. Vektor penyakit meliputi virus yang menyebabkan Equine encephalitis dan vesicular stomatitis. Pada unggas menularkan Leucocytozooni. Dan pada sapi menularkan Onchocerca gutturosa. Kontrol: Insektisida golongan organochlorine atau organophosphate yang dialirkan ke dalam air yang mengalir untuk membunuh larva. Pada breeding farm dilakukan dengan dusting ataupun secara topikal pada tubuh ternak. Family Psychodidae (Sandflies) Phlebotomus Inang : Semua mammalia, reptil, burung dan manusia. Distribusi: Daerah tropis, subtropis terutama savana dan hutan. Morfologi: Tergolong lalat kecil tetapi ada sampai berukuran 5 mm. Dicirikan dengan bulu-bulu yang banyak di seluruh tubuh, mata hitam dan besar, kaki jangkung/ panjang. Sayap tipe lanceolate dan tergolong lalt pengisap dan penggigit. Siklus hidup. Telur ovoid dan dikeluarkan seratusan dengan panjang 0,3-0,4 berwarna coklat atau hitam. Telur dikeluarkan pada celah atau lubang tanah, lantai kandang atau lembaram daun. Telur menetas dalam 1-2 minggu, mirip ulat dan dapat berenang. Terdapat 3-4 tahap perkembangan larva. Larva instra akhir dengan panjang 4-6 mm ditandai dengan warna kepala yang hitam dan tubuh bersegmen ditumbuhi bulu-bulu dan berwarna abu-abu. Lalat dewasa keluar dari pupa setelah 1-2 minggu. Menyelesaikan seluruh siklus 30-100 hri. Peran sebagai vektor penyakit.menularkan Leishmania spp pada saat mengiasap darah inangnya. Kontrol: Spraying dengan insektisida pada daerah kandang Family tabanidae : Horseflies (Tabanus, Chrysops dan Haematopota terdapat > 3000 spesies Inang: Umumnya hewan besar, satwa liar dan manusia kadang-kadang hewan kecil dan unggas juga terserang. Penyebaran: Seluruh dunia, Haematopota spp tidak terdap di Australia dan Amerika Utara. Morfologi Merupakan lalat berukuran sedang sampai besar. Ukuran biasanya > 2,5 cm dan panjang sayap . 6,5 cm. Umumnya berwarna gelap dengan variasi garis-garis pada abdomen dan thorax serta daerah mata. Tipe mata pada jantan holocoptic dan betina dichoptic serta berwarna. Perbedaan warna pada sayap memudahkan identikasi pada ketiga genus. Pada Tabanus sayap kecoklatan, Chrysops pita-pita berwarna gelap selang-seling.

Pada Haematopota burik/ berbintik-bintik. Pada antena bersegmen tiga, pendek dan kokoh serta tidak mempunyai arista. Mulut pendek, kuat dan mengarah ke bawah. Labium kokoh dan pendek serta melekuk ke dorsal. Mempunyai sepasang labella berbentuk tabung dan berguna untuk mengisap darah atau cairan luka. Mulut berfungsi sebagai pembuat luka yang terdiri dari 6 elemen; yaitu labrum atas yang tajam, hipopharynx dengan saluran saliva, sepasang maksilla dan mandibula. Pada jantan tidak mempunyai mandibula sehingga tida*k memakan darah. Siklus hidup. Setelah mengisap darah lalat betina bertelur dan dikeluarkan dalam himpunan/ gerombolan telur (ratusan) berwarna krim putih atau abu-abu berbentuk cerutu.dengan panjang < 2,5 mmdiletakan pada vegetasi. Atau tanah lembab. Telur menetas dalam 1-2 minggu. Panjang larva < 6 cm , kepala hitam dan mempunyai anggota gerak semu serta mempunyai Organ Grabers yang berfungsi sebagai sensori. Sumber makanan berupa kotoran organik atau sisa-sisa pemangsaan serangga lain. Perkembangan optimal larva berlangsung 3 bulan. Pada masa hibernasi mampu > 3 tahun. Pupa ditemukan pada lubang tanah. Lalat dewasa keluar dari pupa 1-3 minggu kemudian. Penyelesaian seluruh siklus normal mencapai 4-5 bulan. Populasi meningkat pada musim hujan. Peran parasit dan vektor patogen: Lalat betina menggigit dan memakan darah inang dan menimbulkan luka serta nyeri pada daerah gigitan. Lalat makan selama 3-4 hari . Berperan sebagai vektor penyakit anthrax, pasteurellosis, trypanosomiais, anaplasmosis, filariasis pada manusia. Kontrol: Penyemprotan dengan insektisida pada kandang atau screen. FAMILY; MUSCIDAE Musca domestica dan M. autumnalis (lalat wajah) Distribusi. Seluruh dunia. Morfologi ; Lalat dewasa dengan panjang 5,5-7,5 mm berwarna terang sampai abu-abu. Terdapat 4 garis-garis gelap pada daerah thorax dan abu-abu pada abdomen. Mulut lengkap berbentuk spon dan dijulurkan pada saat makan. Identifikasi venasi sayap berguna untuk membedakan dengan lalat Fania, Muscina, Morellia. Morfologi organ yang penting lainnya adalah bulu-bulu yang terdapat pada ujung cakar. Berguna untuk melekat pada permukaan yang licin. Berperan sebagai gen penular penyakit baktrial patogen pada saat makan pada daerah luka / borok ataupun tinja . Siklus hidup Lalat betina mengeluarkan telur dalam bentuk himpunan/ gerombolan yang mengandung ratusan telur, berwarna putih sampai krim, panjang 1 mm dan berbentuk seperti pisang. Telur menetas > 12-24 jam. Larva berwarna putih, bersegmen, silindris. Pada bagian anterior terdapat pengait. Perkembangan larva tiga tahap sebelum pupasi dengan panjang akhir 1-1,5 cm. Selama 3-7 hari. Panjang pupa 6 mm dan lalat dewasa keluar dari pupa setelh < 26 hari. Peran parasit dan vektor patogen: Penyebar penyakit mastitis, konjungtivitis, anthrax. Telur cacing Habronema dapat terbawa oleh lalat pasaa saat makan tinja kuda. Atau Raillietina pada tinja ayam. Lalat muka M. autumnalis mengambil makanan berupa sekreta dari cairan hidung, mata dan mulut sapi., sehingga menyebabkan penyakit Pink eye. Kontrol: Perbaikan sanitasi kandang. Pemakainan insektisida yang dikemas dalam bentuk pembalut. Pemasangan pada daerah telinga dan ekor

Stomoxys calcitrans (lalat penggigit) Inang: semua hewan Penyebaran : Seluruh dunia. Morfologi ; Mirip dengan lalat rumah M. domestica. Perbedaan terletak pada probosis, pada Stomoxys probosis menyolok dan terjulur . Siklus hidup. Lalat jantan dan betina makan darah . betina mengeluarkan telur dalam bentuk himpunan (25-30 butir telur) diletakkan pada tumbuhan busuk dan alat-alat yang terkontaminasi dengan urine. Telur menetas 1-4 hari (siklus hampir sama dengan lalat rumah). Setelah lalat dewasa keluar dari pupa, lalat betina membutuhkan darah sebelum bertelur kembali. Total siklus hidup adalah 12-60 hari. Peran sebagai Vektor: Penetrasi kulit dengan probosis akan rasa nyri dan luka. Pada saat menggigit lalat menularkan penyakit yaitu Trypanosoma dan Habronema. Kontrol; Spraying dengan insektisida dan perbaikan sanitasi. Haematobia H. irritans Horn fly dan h. exigua Boffalo fly Inang: sapi dan kerbau Morfologi: Dewasa panjang > 4 mm termasuk lalat pengisap, berwarna abu-abu dengan garis-garis gelap pada thorax. Probosis terjulur dan palpi kokoh dan panjang. Siklus hidup Telur 1-1,5 mm dan diletakkan pada tinja segar. Setelah menetas larva berkembang sempurna dalam waktu 4 hari. Periode pupa 6-8 hari. Peran sebagai parasit dan vektor patogen Lalat ini dapat ditemukan dalam jumlah ribuan pada daerah punggung, sisi dan ventral abdomen. Cenderung berkelompok dan membuat kubangan darah pada dareah luka sebelum mengisap darah. Menyebabkan iritasi atau luka pada kulit. Vektor penularan penyakit stephanofilariais. Pada sapi Glossina Inang: mamalia, reptil dan burung Morfologi: Panjang 5-15mm, berwarna kuning sampai coklat gelap, probosis kasar dan terjulur. Pada saat istirahat sayap menutupi abdomen seperti gunting tertutup. Tidak mempunyai maksila dan mandibula, probosis digunakan untuk menggigit atau mengisap, labium berbentuk letter U . Siklus Hidup : Jantan dan betina pengisap darah. Betina tergolong vivipara. Dan hanya menghasilkan 1 larva sekali. Total larva 8-12. Pematangan tetap di dalam uterus dan panjangnya 8-10mm. Larva III disimpan di dalam uterus selama 10 hari. Pada stadium ini larva berwarna putih, bersegmen. Larva yang dikeluarkan ditanah akan berkembang dan menjadi pupa yang bentuknya seperti tong. Peranan vektor ; Penyebab Trypanosomiasis pada inang.