Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM MENGHITUNG DEBIT AIR DENGAN METODE PELAMPUNG

30APR2011Tinggalkan Sebuah Komentar


by risky handayani (kiki) in Uncategorized

LAPORAN PRAKTIKUM MENGHITUNG DEBIT AIR DENGAN METODE PELAMPUNG

MATA KULIAH Manajemen Kualitas Air

OLEH KELOMPOK 3 BENONI KADUNG BASRAH CARKAYA RISKY HANDAYANI PIETER DAVID SAIYA OKTAVIANUS. M. TETRAPOIK

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN JOINT PROGRAM PPPPTK SEAMOLEC 2011

JUDUL Menghitung Debit Air dengan Metode Pelampung

TUJUAN PRAKTIKUM Dari kegiatan praktikum yang dilakukan maka tujuannya adalah untuk menentukan debit air saluran air yang ada di Departemen Perikanan Budidaya.

HASIL PRAKTIKUM

Diketahui 1. waktu tempuh (t) = 50 detik 2. jarak antara penampang I dengan II (D) = 25 meter 3. kedalaman air rata-rata (d) I : d1 = 45 cm d2 = 42 cm d1 + d2 + d3 + d4 + d5 rata-rata = 5 d3 = 46 cm = 45 + 42 + 46 + 51 + 43 d4 = 51 cm 5 d5 = 43 cm d1 =45, 4 cm = 0, 454 meter 4. kedalaman air rata-rata (d) II d1 = 45 cm d1 + d2 + d3 + d4 + d5 rata-rata = 5 d2 = 42 cm = 45 + 42 + 55 + 38 + 33 d3 = 55 cm 5 d4 = 38 cm d5 = 33 cm d2 =42, 6 cm = 0, 426 meter 5. lebar saluran pertama (l 1) = 1,26 meter 6. lebar saluran pertama (l 2) = 1,50 meter Ditanya berapa debit air yang mengalir pada aliran air (Q dalam satuan m3/ detik) maka : Q =V x A dimana V (kecepatan aliran air yang mengalir m/detik) D V= t 25 meter = 50 detik = 0,5 meter/detik Kemudian A (luas penampang basah m2) A1 = l1xd1

= 1, 26 meter x 0,454 meter = A2 = l2xd2 = 1, 50 meter x 0,426 meter = jadi rata-rata luas penampang = A 1 + A 2 A1+A2 A= 2 = 0, 57 meter + 0,64 meter 2 = Q =V x A = 0,5 meter/detik x = / detik = 0,5 m3/ detik

PEMBAHASAN Debit (discharge ) dinyatakan sebagai volume yang mengalir pada selang waktu tertentu, biasanya dinyatakan dalam m3/detik. (Hefni Effendi, 2003 hal 28) Sedangkan menurut Slamet soeseno, 1971 hal 13 yang dimaksud debit saluran adalah jumlah riil yang mengalir dalam saliran tersebut yang dinyatakan dengan ukuran liter perdetik. Dalam Hidrologi dikemukakan, debit air sungai adalah tinggi permukaan air sungai yang terukur oleh alat ukur permukaan air sungai. Pengukurannya dilakukan tiap hari, atau dengan pengertian yang lain debit atau aliran sungai adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. Dalam system SI besarnya debit dinyatakan dalam satuan kubik per detik (m 3/detik). Berikut tabel parameter kualitas air budidaya ikan

Sumber : Gusrina. Budidaya ikan jilid I. tahun 2008 hal 87 Dilihat dari table diatas untuk debit air nilai kisaran untuk budidaya ikan ada dua jenis kolam, pada kolam air deras debit yang berkisar 50 liter/detik dan untuk kolam air tenang berkisar antara 0,5 5 liter/detik. Kemudian dari hasil praktikum yang dilaksanakan pengukuran dilakukan pada aliran air di Departemen Perikanan Budidaya. Dimana aliran tersebut dapat dikatakan sebagai aliran air kolam air tenang. Hasil pengukuran yang kami lakukan diketahui debit air (Q) sebesar 0,445 m3/detik atau jika di lakukan pembulatan 1 desimal dibelakang koma maka Q = 0,5 m3/detik. Artinya jika melihat tabel kualitas air (sumberGusrina. Budidaya ikan jilid I. tahun 2008 hal 87) kemudian melihat hasil praktikum pengkuran debit air ada persamaan persepsi yaitu artinya dalam tabel air tenang Q = 0,5 5 liter/detik sedangkan pada praktik yang kami lakukan hasil pengukuran debit air (Q) = 0,445 m3/ detik. Dilihat dari hasil makan aliran kolam perairan di Departemen Perikanan Budidaya dapat dikatakan baik untuk budidaya dilihat dari debit airnya. Selanjutnya dari hasil Q = 0,445 m3/ detik jika kita terjemahkan menurut pengertian pada buku Hefni Effendi 2003 hal 28 volume yang mengalir pada aliran air sebesar 0,445 m3/ detik Kemudian dalam praktik tersebut perlu secara hakikatnya debit air waktu ke waktu dalam kurun hari bahkan bulanan. Menurut diskusi kelompok kami debit air yang dihasilkan oleh sumber air ditentukan oleh beberapa faktor sebagai berikut : 1. Curah hujan

Curah hujan mempengaruhi debit air pada suatu perairan semakin tinggi curah hujan maka akan menyebabkan debit air akan meningkat, hal ini dikarenakan aliran sungai atau aliran akan semakin deras sehingga debit yang dihasilkan akan tinggi dalam satuan meterkubik/detik. 1. Pergangtian hutan menjadi lahan pertanian/penggundulan hutan

Jika hutan ditebang kemudian hutan menjadi gundul maka kemungkinan besar akan terjadi erosi. Karena jika terjadi hujan yang tinggi maka air pada endapan tanah tidak ada yang menyerap. Hal ini terjadi kerana subjek penyerapan air (tumbuhan/pepohonan) sudah tidak ada lagi sedangkan penurunan debit air dapat terjadi jika terjadinya erosi akibat penggundulan hutan. 1. Evaporasi dan transpirasi

Menurut Hefni Effendi 2003 hal 26 Evaporasi transpirasi adalah adalah proses penguapan air sungai, danau, dan lautan. Sehingga yang dihasilkan nantinya berupa uap air dan dari uap air maka naik ke udara mengasilkan uap air diudara maka memicu terjadinya hujan, dengan adanya hujan maka akan menyebabkan akan bertambahnya debit suatu perairan. Hal ini sangat berhubungan dengan factor diatas yaitu curah hujan.

KESIMPULAN Dari hasil praktik pengukuran debit air pada aliran air di Departemen Perikanan budidaya ada beberapa kesimpulan :

1. 2. 3.

Hasil pengkuran debit air (Q) sebesar 0,445 m3/ detik atau 0,5 m3/ detik Aliran air di Departemen Perikanan Budidaya sudah bisa digunakan untuk budidaya dilihat dari debit air sudah sesuai standar optimal dalam budidaya yaitu untuk kolam air tenang berkisar 0,5 5 liter/detik Hasil diskusi bahwa debit air perairan dipengaruhi oleh tiga factor yaitu : 1. 2. 3. Curah hujan Pergangtian hutan menjadi lahan pertanian/penggundulan hutan dan proses Evaporasi dan transpirasi

DAFTAR PUSTA Gusrina. 2008. Budidaya

Ikan Jilid 1 untuk SMK . Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan,

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kenesius, Yogyakarta. Soeseno, Slamet. 1971. Pemeliharaan Ikan Di kolam Pekarangan . Kanesius, Yogyakarta.