Anda di halaman 1dari 3

Patofisiologi Kejang Otak merupakan pusat penerima pesan (impuls sensorik) dan sekaligus merupakan pusat pengirim pesan

(impuls motorik). Otak ialah rangkaian berjuta-juta neuron. Padahal hakikatnya tugas neuron ialah menyalurkan dan mengolah aktivitas listrik saraf yang berhubungan satu dengan yang lain melalui sinaps. Dalam sinaps terdapat zat yang dinamakan neurotransmiter. Asetilkolin dan norepinefrin ialah neurotransmiter eksitatif, sedangkan zat lain yakni GABA (gama-amino-butiric-acid) bersifat inhibitif terhadap penyaluran aktivitas listrik saraf dalam sinaps.Tiap neuron yang aktif melepaskan muatan listriknya. Fenomena elektrik ini adalah wajar. Manifestasi biologiknya ialah merupakan gerak otot atau suatu modalitas sensorik, tergantung dari neuron kortikal mana yang melepaskan muatan listriknya. Bilamana neuron somato sensorik yang melepaskan muatannya, timbullah perasaan protopatik atau propioseptif. Demikian pula akan timbul perasaan panca indera apabila neuron daerah korteks panca indera melepaskan muatan listriknya. Secara fisiologis, suatu kejang merupakan akibat dari serangan muatan listrik terhadap neuron yang rentan di daerah fokus epileptogenik. Diketahui bahwa neuron-neuron ini sangat peka dan untuk alasan yang belum jelas tetap berada dalam keadaan terdepolarisasi. Neuron-neuron di sekitar fokus epileptogenik bersifat GABA-nergik dan hiperpolarisasi, yangmenghambat neuron epileptogenik. Pada suatusaat ketika neuron-neuron epileptogenik melebihi pengaruh penghambat di sekitarnya,

menyebar ke struktur korteks sekitarnya dan kemudian ke subkortikal dan struktur batang otak. Dalam keadaan fisiologik neuron melepaskan muatan listriknya oleh karena potensial membrannya direndahkan oleh potensial postsinaptik yang tiba pada dendrit. Pada keadaan patologik, gaya yang bersifat mekanik atau toksik dapat menur unkan potensial membrane neuron, sehingga neuron melepaskan muatan listriknya dan terjadi kejang. Dari fokus ini aktivitas listrik akan menyebar melalui sinaps dan dendrit ke neron-neron disekitarnya dan demikian seterusnya sehingga seluruh belahan hemisfer otak dapat mengalami muatan listrik berlebih (depolarisasi). Pada keadaan demikian akan terlihat kejang yang mula-mula setempat selanjutnya akan menyebar ke bagian tubuh/anggota gerak yang lain pada satu sisi tanpa disertai hilangnya kesadaran. Dari belahan hemisfer yang mengalami depolarisasi, aktivitas listrik dapat merangsang substansia retikularis dan inti pada talamusyang selanjutnya akan menyebarkan impuls-impuls ke belahan otak yang lain dan dengandemikian akan terlihat manifestasi kejangumum yang disertai penur unan kesadaran.Pada skenario, terjadi gejala-gejala seperti alat gerak kak udan mata melirik ke atasyang mer upakan gejala kejang tonik.K ejang tonik biasanya terdiri atas fase fleksi yanghebat, diik uti fase ekstensi yang lebih lama, disertai gangguan kesadaran. Fleksi biasanyadimulai dari wajah (mata terbuka, bola mata terputar ke atas, mulut terbuka kak u), leher (semifleksi kak u), dan badan (dada tertek uk ke pelvis). Fasefleksi menyebar ke selur uhekstremitas, meliputi lenganlebihtampak daripada tungkai, dan otot-otot proksimallebihtampak daripada otototot distal. Lengan terangkat, mengalami aduksi, dan

berotasi eksternal.Tungkai dan panggul terfiksir, mengalami aduksi, dan berotasi secara eksternal. (Browne &Holmes, 2004)