Anda di halaman 1dari 124

Dengan memajatkan puji syukur Kehadirat Allah Swt, dengan

ini saya berikan : Risalah Insan Kamil mu Kamil , ini kepada Sdr (i) :

Nama Alamat

: : .

Sebagai pelengkap dari apa yang telah kami sampaikan, untuk dapat dipelajari dan diamaliyahkan pada kehidupan sehariharinya Semoga Allah Swt Ridho dan senantiasa mencurahkan Rahmat dan Nikmatnya kepada kita semua, Amin yaa robbal alamin. Dikeluarkan di : Balikpapan. Pada tanggal : 5 Syawal 1430 H Oleh

Adhie Shinantra

Daftar isi
Pengantar Pengajian Mutiara Ilmu Tawassul Ilmu Pengantar Perjalanan Diri o Fropil Maqom kedelapan Pendahuluan Pasal Kejadian Bab Asal Muasal Diri o Pasal Nama-Nama Diri Bab Mengenal Diri o Maqom Tuhan yang Sesungguhnya Pasal Sholat atau Sembahyang o o o o o o o o o o Asal Muasal Sholat Asal Waktu Sholat Pemaknaan Al-Hamdu Pasal tentang Suratul Fatekha 7 Bismillah dalam Kitab Barencong Musabab jumlah rakaat Sholat Ashrarus Sholah Rukun 13 Muqaranah Niat 4 Hal dalam Takbiratul Ikhram 1 5 10 11 13 16 20 28 36 39 53 58 59 61 65 65 68 69 70 74 76 79 81 84 84

Bab Mematikan Diri Garis besar Sifat 20 dan Tasawwuf Sifat 20

Tasawwuf Tauhid Bab Amaliyah o o o o o o o o o o o o o Mendudukkan diri Tobat, Syahadat Dzikir, Takbir Tata cara beramalan Pintu Hijab 10 Pintu Syurga 8 Kesempurnaan Suami Istri Cara ber-KB Amalan supaya bertemu Nabi Khaidir.As Doa untuk bertemu Nabi Khaidir.As Mandi Junub/ Janabat Mandi 9 Kisar Ruh pada diri kita 7 Nathar yang ada pada diri kita

89 92 94 94 95 97 97 98 98 99 99 100 100 101 101 101 103 104 113

Penutup Dasar-dasar Rujukan Daftar Istilah

Khusus untuk kalangan sendiri, tidak untuk diperbanyak

dan diperjual belikan dengan dalih dan alasan apapun


1

Pengantar pengajian
Syareat dengan tiada hakekat adalah hampa, Begitu pula sebaliknya Hakekat dengan tiada Syareat Bathal (Sia-Sia Saja)

Risalah ini adalah sebuah risalah yang Bermadzhab Syafii, yang


didalam Amaliyahnya senantiasa berisikan 2 (dua) pandangan, yaitu : Pandangan umum yang berdasarkan aturan-aturan hukum Syari (Hukum-hukum syareat/ hukum-hukum fikih) yang mengatur semua bentuk peribadatan dan amaliyah manusia didalam hidup dan kehidupan ini, baik antar sesama makhluk hidup (manusia), alam maupun yang bersifat khusus, yaitu sang pencipta (Khaliq). Pandangan khusus ( hikmah/tahkik ), pandangan yang tersirat, dan tersembunyi dibalik semua bentuk peribadatan dan amaliyah umat manusia didalam mencapai hakikat kesempurnaan hidup dan kehidupan yang tertinggi dengan menyelarasaskan 2 ilmu disetiap bentuk peribadatannya, yaitu ilmu-ilmu yang bersifat lahiriyah serta ilmu-ilmu yang bersifat batiniyah. Risalah ini merupakan risalah rapat mupakat dari Akhli Sunnah wal jamaah, yang turun temurun hingga saat ini sampai kepada kita semua. Diatas disebutkan bahwa, Risalah ini bermadzhaf syafii, yaitu suatu Madzhaf yang dibawakan, disusun dan didirikan oleh Imam Muhammad bin Idris As-syafii, murid dan sahabat dari Imam Malik, pendiri madzhaf Maliki.

Sejarah singkat As-syafii.

As-syafii lahir di Kuuzzah, pada tahun 150 H dan meninggal dunia di


Mesir tahun 204 H, diusia 7 tahun Ia telah hafal Al-Quran, usia 10 tahun 2 Ia telah hafal kitab gurunya Al-Muwattaha , walaupun pada saat itu Ia sendiri belum pernah bertemu dengan Imam Malik, baru diusianya yang ke 20, kemudian ia berangkat ke Madinah dan belajar langsung kepada pengarang kitab Al-Muwattaha, yang telah dihapalnya itu. Dalam beberapa masalah, Ia berbeda pendapat dengan para Imam lainnya, bahkan Ia sendiri telah mengoreksi pendapat-pendapat mereka dan menggantinya dengan pendapat yang baru yang disebut Qaulul Qadim (pendapat lama) dan Qaulul Djadid (pendapat baru). Oleh sebab itu Ia menyatakan bahwa : Madzhaf-Ku adalah Hadits yang syah. Ia berkata : Apa saja pendapat pribadiku yang tidak sesuai dengan Hadits yang syah, silahkan dibuang saja . Penginkut Madzhaf As-syafii, bertebaran diseluruh penjuru dunia, beberapa diantaranya, ialah : Mesir, Kurdistan, Indonesia, Malaysia, Yaman, India (Gujarat), dan negri Afrika. Wahai Saudaraku..! Sekedar untuk saudaraku diketahui bahwasannya didalam Islam itu nantinya akan ada 73 (tujuh puluh tiga) golongan atau firqoh.

Rosulullah Saw bersabda :


Telah berfirkah-firkah orang Yahudi, menjadi 71 Firkah dan orang Nasrani seperti itu pula, dan akan berrfirkah umat-Ku menjadi 73 Firkah (HR. Tarmidzi dari Abu Hurairah.ra) Bahwasannya Bani Israil, telah berfirkah-firkah sebanyak 72 millah (firkah), dan akan berfirkah umat-Ku sebanyak 73 firkah, semuanya masuk Neraka, kecuali satu Para sahabat bertanya : Siapakah yang satu itu, ya Rosulullah ?. Rosulullah Saw pun menjawab : Yang satu itu adalah orang yang berpegang (beriitiqad) dengan

pegangan-Ku (Iitiqad-Ku) dan sahabat-sahabat-Ku (HR, Tarmidzi. Ra) 3 Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad ditangan-Nya, akan berfirkah umat-Ku sebanyak 73 firkah, yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk Neraka Bertanya para sahabat : Siapakah firkah (yang tidak masuk Neraka) itu yaRosulullah ? Rosulullah Saw menjawab : Ahlussunnah wal jamaah (HR, Thabrani) Akan ada segolongan dari umat-Ku yang tetap atas kebenaran sampai hari qiyamat dan mereka tetap atas kebenaran itu (HR, Bukhori) Barang siapa yang hidup (lebih lama) diantaramu, niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak, ketika itu pegang teguhlah sunah-Ku dan sunah Khalifah Rasyidin yang diberi hidayah, pegang teguh itu dan gigitlah dengan gerahammu (HR, Abu Dawud.) Demikian yang telah diingatkan oleh Rosulullah Saw ketika itu dan peringatan itu akan tetap berlaku hingga sampai akhir zaman. 73 golongan/ firqoh yang dimaksudkan Rosulullah Saw itu, asalnya adalah 15 golongan (kaum), yaitu : 1. Syiah 2. Khawarij 3. Murjiah 4. Mutazillah 5. Qadariyah 6. Jabariyah 7. Najariyah 8. Musyabbihah 9. Ibnu Taimiyah 10.Bahaiyyah 11.Ahmadiyah 12.Wahabi (Muhammadiyah) 13.Islam Jamaah 14.Islam Liberal 15.Kaum Sunny (Ahlussunah wal jamaah)

Untuk selanjutnya kemudian diadakan penyusutan sehingga hanya menjadi 9 kaum (golongan) saja, yaitu : 4 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kaum Syiah, terbagi dalam 22 firqoh Kaum Khawarij, terbagi dalam 20 firqoh Kaum Mutazillah, terbagi dalam 20 firqoh Kaum Murjiah, terbagi dalam 5 firqoh Kaum Najariyah, terbagi dalam 3 firqoh Kaum Jabariyah Kaum Musyabbihah Kaum Sunny (Ahlussunah wal jamaah)

Keterangan ini tersebut didalam Kitab Bugyatul Mustaryidin, karangan Mufti Syeikh Sayid Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar (beliau termashur bergelar Baalawi) (Keterangan lebih lanjut mengenai golongan-golongan yang kami sebutkan diatas tadi, akan kami himpunkan diluar dari risalah ini sebagai pendamping dari risalah yang ada ini).

-----------------------------------------------------------------------------------------

Tidaklah ada yang kita dapatkan seumur kita ini,

selain dengan mengumpulkan pendapat dan kata-kata sifulan dan sifuat . 5

Mutiara Ilmu
Sahabat, ..
Jadikanlah Marifat, sebagai modal yang tiada akan pernah rugi, dan akal fikiran sebagai tempat berpijak untuk mengayunkan langkah, sedangkan keridhoan adalah tujuan akhirnya.

Sahabat,
Cinta itu nafas kehidupan, sedangkan rindu adalah alat untuk datang pada-Nya.

Sahabat, .
Jadikanlah duka sebagai kawan setiamu, keteguhan adalah perbendaharaan yang tiada akan pernah susut sedangkan kefakiran patut menjadi kebanggaan.

Sahabat, .
Jadikanlah perjuangan untuk membela kebenaran sebagai perangaimu sehari-hari, sedangkan ilmu adalah senjata yang ampuh untuk meraih kemenangan, Sesungguhnya pakaian kebesaran yang mulia didalam pandangan-Nya adalah ketabahan.

Sedangkan hidangan yang lezat dan abadi adalah keyaqinan. Sahabat,. Pekerjaan yang paling menguntungkan adalah menahan diri, sedangkan wakil atau perantaranya yang terpuji adalah kejujuran. Ketaatan adalah ukuran yang pasti. sedangkan percakapan yang mengasyikkan dan menggairahkan ada didalam sholatmu.

Sahabat,
Jika ini kau pahami, maka teranglah sudah jalanmu, labuhkan dan tambatkan simpul bahteramu pada marifatullah, itulah kemuliaan yang sebenarnya.

-----------------------------------------------------------------------------------------Hai orang-orang yang beriman, ikutilah perintah Allah dan perintah Rosul dan orang yang menjadi Ulil Amri dari kamu, dan apabila berselisih, maka kembalilah kepada perintah Allah dan perintah Rosul

(QS, An-Nisa : 59) 7

Ku awali menulis Risalah ini dengan menyebut Asma Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang. Semoga Rahmat dan Nikmat Allah Swt senantiasa tercurahkan dari-Nya untuk kita semua, semoga pula kita didalam mengarungi hidup dan kehidupan ini senantiasa didalam petunjuk dan bimbingan-Nya, dengan satu harapan, agar seluruh aktivitas yang menghiasi dan mengiringi perjalanan hidup dan kehidupan ini senantiasa bernilai Ibadah sehingga tidak satupun yang sia-sia,.Amin ya robbal alamin. Al-hamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt, Tuhan seru sekalian alam, raja diraja yang menguasai segalanya, tempat seluruh makhluk menggantungkan diri dari segala harapan dan pengharapan, hidup dan kehidupan, hingga kelak pada suatu masa sebagaimana yang telah ditentukan dan ditetapkan-Nya, maka hanya kepada-Nya-pulalah kita semua akan kembali untuk mempertanggung jawabkan seluruh amanahNya yang telah dipertaruhkan atas diri kita. Salawat serta salam, tak lupa pula kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad Saw, penghulu sekaligus penutup para Nabi dan Rosul yang diutus oleh Allah Swt sebagai penyempurna Akhlaq dan Rahmat bagi semesta alam. Demikian pula kepada para sahabat dan keluarga Beliau, yang dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan hati, rela berkorban dan mengorbankan segalanya, Nyawa, darah serta harta, hanya semata-mata demi untuk tegaknya kalimah Tauhid Laa Ilaha Illallah (Tiada Tuhan selain Allah) keseluruh penjuru dunia, semoga Allah Swt Ridho atas mereka dan menempatkan mereka semua pada satu tempat yang layak disisi-Nya Ila yaumil qiyamah (hingga hari Qiyamat). Saudara-saudaraku sekalian! Risalah yang tertulis disini, adalah sebuah risalah yang amat Akbar, yaitu sebuah risalah yang menyatakan kepada kita semua tentang kebenaran, kebenaran yang telah dipertaruhkan oleh Allah Swt atas dirikita.

Kebenaran itulah yang merupakan kesudahan Ilmu bagi orang tahkik yang marifat kepada Allah Swt. 8 Oleh sebab itu, maka tidak akan ada yang dapat diperoleh lebih dari pada itu walau ambiya Allah sekalipun, untuk itu renungkan olehmu baik-baik, karna perkataan yang sedikit itu, jika kamu paham dan mengerti, maka maknanya amat besar sekali bagi hidup dan kehidupanmu baik didunia maupun diakhirat kelak. Wahai saudaraku sekalian.!, Risalah ini sengaja kami himpun dan kami tulis semata-mata hanya karna mengharapkan ridho Allah, karna kami sendiri yaqin bahwa hanya dengan ridho-Nya lah, maka risalah ini insya Allah akan membawa mamfaat dan kebaikan bagi kita semua, sehingga didalam mempelajari dan memahaminya kita semua akan senantiasa mendapatkan petunjuk dan hidayah dari-Nya, diberikannya Ilmu pengetahuan dan diberikannya kemudahan-kemudahan dalam segala urusan terutama dalam menyingkap rahasia-rahasia-Nya. Wahai saudara-saudaraku semua.! Pada bagian-bagian tertentu didalam risalah ini nantinya saudaraku akan banyak dihadapkan dengan perkataan-perkataan dan pernyataanpernyataan yang amat musykil dan tidak layak serta tidak pantas rasanya untuk diutarakan dan diperbincangkan, untuk itu demi kebenaran yang sesungguhnya, maka sebelumnya izinkanlah kami memohon ampun dan maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan kami ini serta berpesan kepada saudaraku semua agar : Janganlah kamu angkat bicara dan membicarakan risalah yang ada ini, terkecuali jika memang kamu sepaham dan sependapat dengannya, karna apa yang kami sampaikan didalam risalah ini cara pakainya bukan untuk pakaian jahir semata (pakaian luar), akan tetapi merupakan pakaian batin (pakaian dalam yang tersembunyi didalam yang jahir), sifatnya sangat rahasia sekali, cukup dirimu saja yang boleh tau, karna jika ini terungkap dan keluar dari dirimu, dikhawatirkan akan dapat menimbulkan fitnah yang amat besar nantinya dikalanganmu sendiri, untuk itu berhati-hatilah wahai saudaraku, jangan sampai kita bercerai-berai hanya karna perbedaan pandangan dan perbedaan pendapat, karna jika kita mengetahui dan paham akan maksudnya maka sesungguhnya sudah tidak akan ada lagi yang harus dipertentangkan dan dipermasalahkan serta diperdebatkan.

Pandai-pandailah membawa diri, gunakan waktu yang tersisa pada diri mu itu dengan sebaik-baiknya, niscaya Allah Swt akan senantiasa 9 mencurahkan Rahmat dan Nikmatnya serta membukakan seluruh pintupintu hijab, menghalau kebimbangan dan keragu-raguan yang ada atas dirimu, karna sesungguhnya memang tidak ada yang patut dan pantas untuk dibimbangkan dan diragukan lagi, semua nyata dan jelas jika kamu sudah mengetahuinya. Jangan kamu berfikir dan memikirkan serta mencari akan Dzat Allah, niscaya kamu tidak akan pernah menemukannya, karna Ia sudah Laitsya atas dirimu, baginya tiada jarak, tiada ruang dan waktu serta tiada tempat atas dirimu dan alam semesta ini, tugasmu hanya sekedar memikirkan dan merenungkan saja, apa sesungguhnya mamfaat yang dapat kamu peroleh dengan adanya Dzat Allah taala itu bagi hidup dan kehidupan dirimu.

Peringatan
Camkan dan perhatikanlah wasiatku ini baik-baik wahai saudaraku semua.! Berhati-hatilah didalam menuntut dan mempelajari Ilmu tentang Pengenalan Diri ini, perhatikan dan renungkan serta bertanyalah jika memang kamu tidak memahami dan mengetahuinya, itu akan lebih baik dan mamfaat bagimu. Ilmu pengenalan diri ini laksana Air dan minyak didalam satu bejana, air dan minyak tidak akan pernah bersatu, ada jarak dan sekat pemisah yang sangat tipis sekali, Salah ketika kamu menggerak minyaknya, maka airpun akan ikut bergerak. Untuk itu maka carilah olehmu guru atau pembimbing yang benar, mintalah petunjuk padanya agar ketika minyak digerak, air tidak akan ikut tergerak.

Untuk itu sekali lagi kami berpesan benar-benar, berhati-hatilah didalam menuntutnya..
10

Tawassul Ilmu
o Ila Hadratin Nabiyil Mustafa, Rosulillah Saw, Syaiul lillahi lahumul Fatekha.(Fatekha 1x) o Abu Bakar wa Umar wa Utsman wa Ali waan qulli sahabati Rosulillah Saw o Wabil khusus, Balia Ibnu Mulkan Ismul Khaidir As o o o o o o o o o o o o o o Wa Syachona Abdul Qodir Al-Jailani Wa Syachona Muhammad saman Al-Madani Wa Syachona Junaid Al-Bagdadi Wa Syachona Ahmad At-tizani Wa Syachona Muhammad Arsyad Al-Banjari wa jurriyatihim Wa Syachona Djaini bin Abdul ghoni Wa Syachona Muhammad Nafis Wa Syachona Abdus Shomat Al-Palembangi Wa Syachona Abina Ibrahim bin Muhammad Wa Syachona Sohibul wafa tajul Arifin Wa Auliya ika ya Allah, minal masyrik wal magrib Wal Kutub wal Ghaus wal abdhol iya wan nijam Wa jasad war ruh wa taubatan nasuha Walijamiil Muslimin wal Muslimat, wal Muminin wal muminat min ummati Muhammadin Saw

o Wa ala hajjihin Niat Bibarkati Syaidina Rosulillah Saw, Al-Fatekha (Fatekha 1x)

Keterangan : Masukkan niat ketika sampai pada wa ala hajjijin niat


11

Pengantar Perjalanan Diri


Al-Insanul Kamil Mu kamil , demikianlah kami memberikan
Nama pada risalah ini.

Allah Swt, telah berfirman :


Aku ciptakan Manusia itu dalam bentuk yang paling sempurna, apa bila ia ingkar kepada-Ku, maka akan Aku lemparkan ia kesuatu tempat yang amat hina, bahkan lebih hina dari pada yang hina . Pada fitrahnya, sesungguhnya anak manusia itu ketika terlahirkan ia sudah dipandang sempurna oleh Allah Swt, seandainya pada saat itu ia dipandang belum sempurna oleh Allah Swt, maka sekali-kali ia tidak akan pernah terlahirkan kemuka bumi ini. Kehadiran dalam bentuk yang sempurna itulah, maka disebut ia Insan Kamil, yaitu Insan yang telah sempurna menurut Hukum Allah Swt, akan tetapi kesempurnaannya belum lagi Mukamil ( diatas kesempurnaan). Agar dapat Ia mencapai derajat sempurna diatas dari kesempurnaan, maka padanya dibebankan tugas dan amanah yang harus ia laksanakan tahap demi tahap secara kontinyu dan berkesinambungan sampai menjadi terang baginya kesempurnaan itu. Bila didalam perjalanannya ia berhasil dan sukses meraih kesempurnaan itu, maka Allah Swt akan senantiasa menjamin dirinya, hingga suatu masa apa bila ia kembali kepada Allah Swt, iapun akan kembali dalam keadaan yang sempurna. Maksudnya : Ia akan kembali kepada awalnya, yaitu : Dari tiada Kemudian diadakan Pada akhirnya kelak ia akan kembali pada ketiadaan tanpa ada yang tertinggal dan ditinggalkan walau sehelai rambutpun. Perumpamaan atau itibarnya adalah Sbb :

Ketika kita akan keluar dari alam rahim, Allah Swt membekali kita tugas dan kewajiban yang harus kita kerjakan dan harus selesai batas waktu yang telah ditentukan dan kita menyepakatinya, apabila batasan waktu itu habis, sementara tugas dan kewajiban yang dibebankan kepada kita itu juga 12 semuanya telah terselesaikan dengan baik, maka ia akan kembali keasal dengan tanpa meninggalkan bekas sedikitpun (lenyap), namun apabila tugas dan kewajiban itu tidak terselesaikan dengan baik, sekalipun ia kembali keasal tapi ada saja bagian dari tubuhnya yang tertinggal (tidak lenyap) Para Sufi mengklasipikasikan orang-orang yang kembali kerahmattullah itu berdasarkan pekerjaannya didalam menyelesaikan tugas dan kewajibannya yang telah Allah Swt amanahkan atas dirinya, Sbb : Orang Syareat matinya hancur (tubuhnya rusak dan berbau) yang tersisa hanya tulang belulang saja Orang Tarekat matinya kurus kering dan kotor karna ketika menjelang ajal ia selalu buang-buang air dan kotoran, kotoran yang ia keluarkan sudah tidak bisa ia tempatkan lagi pada tempat yang semestinya. Orang Hakekat matinya tidak rusak, bila suatu saat kuburnya dibongkar maka akan ditemukan jasadnya itu utuh tanpa ada yang kurang atau berubah sebagaimana ketika ia dikuburkan dulu. Orang Marifat matinya hilang lenyap tanpa meninggalkan bekas dan jejak walau sehelai rambutpun, artinya ia kembali pada asalnya yaitu dari tiada kemudian ada dan pada akhirnya kembali pada ketidak adaan (Sempurna). Silahkan anda mempertanyakannya pada diri anda sendiri, kira-kira saat ini anda duduknya dimana : Disyareatkah, ditarekatkah, dihakekatkah atau dimarifatkah.?, Jawabnya, hanya anda sendiri saja yang tau. Untuk mencapai derajat kesempurnaan (Insan kamil mu kamil), hanya ada 3 (tiga) jalan yang bisa dipergunakan sebagai rujukannya, yaitu : 1. Mengenal asal muasal diri 2. Mengenal diri 3. Mematikan diri Ketiga jalan itu berisikan Tauhid sebagai pokok dan landasan serta dasar dari sebuat nilai kebenaran, yang Allah Swt pertaruhkan atas diri kita ini.

Risalah yang ada ini, kami kaji dan kami telaah dari sudut pandang maqom kedelapan, yaitu suatu maqom tentang rahasia ilmu Haq Allah taala.
1 3

Profil Maqom kedelapan


( Maqom Syara ul Hisab ) Maqom ke delapan, begitulah kami menyebutkannya didalam ilmu,
sesungguhnya sebutan itu hanya sebatas nama saja, atau sebatas keterangan yang menerangkan tentang identitas formal jati diri yang sesungguhnya, dalam rangka mengekspresikan maksud dan tujuan, yang tersurat maupun yang tersirat, yang nyata maupun yang tersembunyi pada pernyataan dan kenyataan diri kita yang sebenarnya, dengan satu harapan kiranya diri ini dapat terhantarkan hingga sampai pada hakikat kesempurnaan hidup yang sebenarnya. Maqom ke delapan juga bukan suatu maqom yang khusus dan istimewa, sebab kelak bila kita telah mencapai pemahaman yang sebenarnya, maka maqom itupun akan lenyap dengan sendirinya, kembali kepada arti awalnya yaitu hanya sebuah nama dalam sebutan saja. Maqom kedelapan, juga disebut Maqom Perjalanan Syaraul Hisab atau Maqom perjalanan Rahasia ilmu Haq Allah taala , atau dapat juga disebut dengan Maqom Perjalanan Baginda Rosulullah Saw, kedudukannya satu tingkat diatas maqom Ladduni (maqom ke-tujuh) didalam perjalanan 99. Disebut Maqom Ilmu Haq Allah taala oleh karna apa yang dikaji dan dibicarakan pada maqom ini adalah sesuatu yang sifatnya Haq bagi Allah, sedangkan jika dikatakan Maqom Perjalanan Baginda Rosulullah Saw, oleh karna didalam amaliyahnya, apa yang telah diperintahkan, dianjurkan dan dicontohkan oleh Baginda Rosulullah Saw, itulah yang senantiasa diterapkan (dikerjakan dan dilaksanakan) didalam hidup dan kehidupan ini. Ini mengisyaratkan kepada kita bahwa maqom kedelapan adalah maqom tertinggi atau maqom terakhir.

Allah Swt, berfirman :

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu Suri Tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Qiyamat dan Ia banyak menyebut (Nama) Allah (QS, Al-Ahzab : 21) 14

Rosulullah Saw, berpesan :


Aku tinggalkan dua pusaka atas diri kalian semua, yang mana apabila kalian semua berpegang teguh atasnya, maka selamanya kalian semua tidak akan pernah sesat, kedua pusaka itu ialah Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnattullah (Al-Hadits)

Allah Swt, juga mengingatkan kepada kita :


Sesungguhnya Agama yang syah dan benar pada pandangan Allah, ialah Islam ( QS, Ali Imran : 19 ) Barang siapa mencari Agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklahakan diterima (Agama itu) dari pada-Nya, dan diakhirat (mereka) termasuk orang-orang yang rugi ( QS, Ali Imran : 85 ) Adapun pokok-pokok kajian yang diulas dan dibahas pada maqom kedelapan ini berkisar pada permasalahan yang pokok dan mendasar sekali, yaitu mencari dan mengenal jati diri yang sesungguhnya. Sebab apabila hal ini tidak kita ketahui, maka sesungguhnya kita termasuk didalam golongan orang-orang yang merugi.

Allah Swt, berfirman :


Demi masa sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, terkecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh yang saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat kepada kesabaran (QS, Al-Ashr : 1 3) Dalam perjalanannya, pokok-pokok kajian itu di klasifikasikan menjadi 3 (tiga) bagian atau tahapan, Tahaf pertama, yaitu mengetahui akan asal muasa diri kita yang sesungguhnya, (dari tiada, kemudian diadakan untuk kemudian kembali ditiadakan).

Allah Swt, berfirman :


Hendaklah kamu (manusia) memikirkan akan asal kejadian dirimu 15 Tahaf kedua, yaitu mengenal diri, siapa sebenarnya diri kita ini (diri yang sebenar-benarnya diri yang hidup dan tidak akan pernah mati).

Rosulullah Saw, bersabda :


Barang siapa mengenal akan dirinya, niscaya ia akan kenal Tuhannya, Kenal Tuhannya maka binasalah Jasadnya Tahaf ketiga, mengetahui asal muasal diri, juga mengetahui akan diri yang sebenar-benarnya diri, maka perjalanan akan berakhir pada proses mematikan diri (belajar mati), mati yang dimaksud adalah mati secara manawiyah bukan mati Hissiyah atau mati jasad laksana jenazah. Rasakanlah mati sebelum engkau mati Jika ketiga tahapan itu mampu dikuasai dengan baik dan benar, maka dipandang sempurnalah sudah Iitiqtnya dan sempurnalah dirinya, seluruh aktivitas kesehariannya baik itu yang disengaja maupun yang tidak disengaja, yang nyata maupun yang tersembunyi, dari membuka mata sampai kembali akan menutup mata (tidur) bahkan selama dalam ingat maupun tidak ingat, seluruhnya akan bernilai ibadah dalam pandanganNya (tidak ada yang sia-sia).

Allah Swt berfirman :


Tidak Ku ciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (QS.Adz Dzariyaat, ayat 56)

Rosulullah Saw, bersabda :


Sesungguhnya diri anak Adam itu adalah dosa yang besar, terkecuali ia mengetahuinya

Dem ikian sekilas tentang Profil Maqom Kedelapan yang dapat kami sampaikan sebagai bagian dari pengantar Perjalanan mengenal diri.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebagai sarana informasi, silahkan kunjungi wab site Air Setitik

http://airsetitik.tk
16

Pendahuluan
B ermula Agama itu, ialah
AWALUDDIN MARIFATULLAH (Awal Agama ialah mengenal Allah) (Hadits Rosulullah Saw)

Tidaklah

seseorang itu dipandang beragama, bila ia tidak tau dan kenal akan Allah, hendak diaqadkan (idzab qobul) kemana seluruh akitivitas peribadatannya, sementara keyaqinan dan keimanan yang ada dirinya hanya sebatas bualan saja, bersyahadat, tetapi syahadatnya hanya sekedar pemanis bibir saja, palsu, kosong dan dusta belaka saja (taqlid buta). Ia tau dan kenal akan Allah hanya sekedar dengar-dengar saja, dari kata si A dan Si B atau dari sebab-sebab lainnya. Jika ditanya apa agamamu, tanpa rasa malu ia berucap Islam sementara keilmuan tentang Islam yang ia miliki cetek dan dangkal sekali bahkan hampir-hampir tidak ada. Islam yang ia anut hanya Islam ikut-ikutan atau Islam keturunan saja, kakek dan nenek, ayah dan ibunya Islam lalu ia mengaku sudah Islam, betapa naifnya dan hinanya hal itu andai kata terjadi atas diri kita, maka sangat wajar dan lumrah jika keberadaan akan Allah itu hanya ada dalam persangkaannya semata, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt didalam hadits Qudsy : Aku ada hanya dalam sangka-sangka hamba-Ku saja Betapa rugi dan celakanya, jika kita mempunyai Aqidah dan keyaqinan yang keliru dan salah, menganggap Tuhan, apa yang sebenarnya bukan

Tuhan, menganggap Nabi, apa yang sebenarnya bukan Nabi, begitu pula dengan Rosul, Al-Quran dan hari Akhir. Dengan penuh keangkuhan dan kesombong diri, ia berani berikrar dan berani angkat saksi, mengikrarkan dan mempersaksikan sesuatu yang ia sendiri tidak mengetahui akan kebenarannya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi pula, bahwa Muhammad itu benar pesuruh dan utusan Allah 17 Mempersaksikan tentang Tuhan sedangkan Tuhan yang ia persaksikan itu hanya ada dalam ilusi dan imaginasi fikirnya saja, begitu pula dengan persaksiannya tentang Muhammad hanya isapan jempol semata. Bukankah ini artinya suatu kebohongan besar yang telah ia cipatakan dan ia lakukan tanpa ia sadari. Misalkan ia didudukkan didalam sebuah persidangan dalam kasus pembunuhan, kemudian ia dihadirkan sebagai saksi, oleh yang berwenang ia diminta untuk bersaksi atas kasus pembunuhan itu, kemudian saksi yang ia berikan itu bohong, rekayasa, dusta dan palsu, kira-kira apa yang akan terjadi atas dirinya? Jangan-jangan dirinyalah yang akan tervonis sebagai tersangka akibat kebohongan dan kepalsuan yang ia ciptakan sendiri. Apakah yang seperti ini yang dikatakan Islam, seandainya memang demikian kenyataannya yang terjadi, maka sesungguhnya kitalah orangnya yang ingkar dan lalai itu, sebagai mana yang telah difirmankan oleh Allah Swt didalam Al-Quran :

Demi masa sesungguhnya manusia itu senantiasa sidalam kerugian


Sangat wajar sekali jika keimanan dan keislamannya diragukan dan dipertanyakan, Naudzu billahi mindzalik,Summa naudzu billah. Terlepas dari itu, hal lain yang perlu juga untuk diketahui adalah ketika kita akan menafsirkan akan ayat-ayat Allah atau firman-firman Allah, perlu 2 (dua) hal yang harus kita ketahui, yaitu : Penafsiran secara Jahiriyah atau tafsir jahir (tersurat) Penafsiran secara Batiniyah atau tafsir batin (tersirat)

Allah Swt, menegaskan dalam firmannya :


Segala sesuatu itu aku ciptakan saling berpasang-pasangan Tidak satupun yang Allah ciptakan didunia ini, yang tidak saling berpasangan semua saling berpasangan, ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada hidup dan ada mati, begitu seterusnya semua saling berpasangan-pasangan. 18 Sebagian ulama mengatakan, bahwa dari kedua penafsiran itu, maka penafsiran secara batiniyah atau tafsir batin itulah yang kebanyakan akan menyalahi kaidah-kaidah umum secara jahirnya, karna bukan yang tersurat yang diambilnya, tetapi justru hikmah yang tersiratlah yang diambil dan dijadikan pegangan batinnya, maka apabila kamu akan masuk pada penafsiran secara batiniyah maka tinggalkan olehmu akan kaidah-kaidah jahir (tinggalkan olehmu pandangan-pandangan jahiriyah yang bersifat umum) itu sebabnya mereka yang mau masuk kebatin itu tidak banyak jumlahnya, jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang hanya masuk pada permukaan atau jahir saja. Didalam Islam pun, kita juga mengenal akan adanya beberapa tingkatantingkatan, seperti : o Tingkat Awam, o Tingkat Khawas o Tingkat Khawasul Khawas. Ketiga tingkatan itu, satu dengan yang lainnya sangat jauh perbedaannya. apa kiranya yang dicari oleh orang-orang Arif Billah itu, pastilah akan menyalahi dan bertolak belakang dengan apa yang dicari oleh kebanyakan orang, maka tidaklah mengherankan jika mereka yang mau masuk kebatin itu jumlahnya tidak sebanyak dan seramai seperti mereka-mereka yang hanya masuk kejahirnya saja, sebagai mana yang kami sebutkan tadi. Bagi mereka-mereka yang sudah mencapai maqom Arif Billah (kenal kepada Allah), maka bicaranya bukan pada lidah lagi, juga bukan pada hati, bukan pada Ruh dan juga bukan pada Sirr lagi, akan tetapi yang ada hanya diam saja, karna memang sudah tidak akan ada lagi yang mau dibicarakannya, apa lagi mengenai hamba, karna sesungguhnya hamba itu sendiri pun tidak ada.

Berbeda dengan mereka orang-orang jahir, bicaranya hanya sebatas lisan saja, masukkah sudah kehati.?, Belum. Dan jika pembicaraan yang keluar itu kuwalitetnya hanya sebatas lisan saja, maka pembicaraan itu tidak akan pernah memberikan bekas, minimal pembicaraan itu bersumber dari hati, sehingga pembicaraan itu akan memberikan bekas dan mamfaat, itulah yang sesungguhnya. Kembali kita kepada Awwaluddin Marifatullah 19

AwalA wal Agama, ialah mengenal Allah atau awal Agama ialah
mengetahui akan Sirr Allah, yaitu Sirr Allah (Rahasia Allah) yang ada atas dirimu (Rahasia yang telah Allah letakkan dan pertaruhkan atas dirimu) tidak kamu ketahui, maka selama itu pula kamu belum lagi dipandang orang yang beragama dan selama itu pula seluruh aktivitas peribadatanmu yang dulu, sekarang dan yang akan datang seluruhnya tetap dipandang tidak syah dan sia-sia saja.

Rosulullah Saw, bersabda :


Barang siapa menyembah Allah, dan ia tidak tahu dengan yang empunya nama Allah itu, maka dihukumkan bagi mereka itu, seperti hanya menyembah nama saja, bukan menyembah siempunya nama B arang siapa menyembah nama, tiada ia mengetahui dengan yang empunya nama, maka orang itu kafir lagi jahil, dan barang siapa menyembah-nyembah nama Allah, tetapi ia tidak tau dengan yang empunya nama Allah itu, maka ia dihukumkan batal perkataan, yaitu sia-sia saja Diri anak Adam itu dosa yang besar, terkecuali ia mengetahuinya Menyikapi hal itu, Rosulullah Saw, memberikan solusi. Menuntut Ilmu itu Hukumnya wajib, bagi setiap laki-laki Muslim dan perempuan Muslim Tuntutlah ilmu itu, walau sampai kenegri Cina Tuntutlah ilmu itu dari buaian hingga keliang lahat Pada profil maqom kedelapan, disebutkan bahwa, ada 3 (tiga) tahapan, yaitu :

Mengetahui asal muasal diri, Mengenal diri yang sebenar-benarnya diri, dan Mematikan diri (mati dalam pengertian manawiyah). Sebagai pembuka sebelum kita sampai pada tahapan yang pertama yaitu mengetahui akan asal muasal diri, maka kita mulai pembicaraan dan pengkajian ini dengan terlebih dahulu membicarakan tentang pasal kejadian sebagai mana tersebut dibawah ini : 20

Pasal Kejadian
Bermula yang sebenar-benarnya asal kejadian dari pada Nur Muhammad
itu, berlangsung didalam alam yang kosong (kekosongan), artinya kosong tiada siapa-siapa, pada saat itu Tuhan-pun belum lagi bernama Allah, Aras dan Qursy juga belum ada, langit, bumi, syurga dan neraka serta firman pun juga belum ada, semua kosong, semua hening dan semua hampa.. Dalam kondisi demikian itu, lalu Tuhan (ketika itu belum lagi bernama Allah) menjahirkan untuk yang pertama kali dengan ilmu-Nya ialah Nur, yang kemudian kita kenal dengan nama Nur Muhammad yaitu dari pada Nur Zat-Nya. Penjahiran Nur Muhammad kala itu, berlangsung didalam satu alam yang bernama Alam Satiyaril Ghaib (Satiyaul Buhti). Keterangan : Ketika Nur Muhammad itu dijahirkan dari pada Nur Zat-Nya, proses itu berlangsung didalam satu alam dan dihari yang ghaib (Alam hari Zat Zatul Buhti), jadi bukan dialam dunia, akan tetapi disuatu alam yang dialam itu nama Zat Wajibal Wujud-pun juga belum ada (Nurul Bahtinul lati namanya). Setelah itu barulah kemudian Nur Muhammad itu diturunkan kealam Sir Zat Ilbuhgti, yaitu alam rahasia yang ada dibagian diri Tuhan, (ketika itu masih belum bernama Allah, bahkan awal nama-Nya pun masih gaib dan tersembunyi), setelah Nur Muhammad diturunkan lagi kealam Ilmu (Alam pengetahuan), untuk selanjutnya kemudian Nur Muhammad itu diturunkan kealam dunia.

Ketika sudah berada dialam dunia (dunia yang dimaksud disini bukan dunia seperti yang kita tempati seperti sekarang ini tetapi dunianya Nur Muhammad itu sendiri) barulah Ia tajalli, dan ketika itu Ia tidak melihat siapa-siapa melainkan hanya dirinya sendiri. Ia pun berkata :

Asyhadu Anla Ilaha Illallah


Tiada yang ada hanya Aku (Inilah Syahadat Nur Muhammad ketika dialam Zatul Buhti) 21 Berkatalah Nur Muhammad dengan lantangnya tanpa ada sedikitpun keraguan atas dirinya Akulah Tuhan Hal ini wajar-wajar saja, sebab memang pada saat itu, Ia tidak melihat siapa-siapa, melihat keatas, kebawah, kedepan, kebelakang, kekanan dan kekiri tidak ada siapapun yang besertanya, yang ada hanya dirinya sendiri. Pengakuan Nur Muhammad itu ternyata mendapat respon dari Tuhan yang ketika itu masih belum lagi bernama Allah : Asyhadu Anna Muhammadar Rosulullah Ya Nur, diri engkau itu kujadikan dari pada Nur Zat-Ku, kelak sekalian alam ini akan jadi dari pada engkau wahai Nur kekasih-Ku (Inilah Syahadat Zat Wajibal Wujud, dan inilah asal dari pada kejadian Syahadat seperti yang kita ketahui saat ini) Betapa terkejut dan tersentaknya Nur Muhammad ketika itu, kala Ia mendengar perkataan dari Nur Zat Allah. Ia pun berkata : Ternyata bukan diriku yang awal (pertama), ada yang lebih awal dari diriku, seraya Ia bermunajat kepada Nur Zat Allah, dengan mengangkat Zikir Awal (Zikir awal Nur Muhammad) dan Salawat Awal (Salawat awal Nur Muhammad) sebagai permohonan dan permintaan doa, Ia kepada Nur Zat Allah.

Laa Ilaha Illallah Muhammaddur Rosulullah


Tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah, hai Tuhan-ku bahwasannya diriku ini dari pada Ujud diri-Mu (Inilah asal kejadian Zikir )

Nurul Haqqullah Air Laa Ilaha Illallah


Tiada yang disembah melainkan Allah, hai Tuhanku bahwasannya diriku ini dari pada Air Nuktah cahaya diri-Mu

Laa Ilaha Illallah Muhammaddun Astagfirullah


Tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah, hai Tuhanku bahwasannya aku minta ampun, bertaubat aku kepada engkau yang telah engkau terima (Inilah asal kejadiannya Taubat)

22 Kun Sholli Ala Muhammad


Jadilah, maka jadilah diriku sebagai mana yang telah engkau kehendaki, jadilah atas diriku (Inilah asal kejadiannya Salawat) Kemudian Nur Zat Allah taala berkata kepada Nur Muhammad :
o

Ketahuilah olehmu hai Nur, bahwasannya :


Aku jadikan Zat-Ku itu untuk menjadi Nyawa kepadamu. Aku jadikan Sifat-Ku itu untuk menjadi Tubuh kepadamu Aku jadikan Asma-Ku itu untuk menjadi Nama kepadamu Aku jadikan Afal-Ku itu untuk menjadi Kelakuan kepadamu

o Ya Nur, asal kejadian dirimu itu dari pada Zat-Ku, dan asal kejadian dirimu itu akan menjadikan seluruh ummat-mu. o Ya Nur, Aku berpesan kepadamu bahwasannya : Jadikanlah nyawamu itu, menjadi rahasia kepada ummatmu, Jadikanlah tubuhmu itu, menjadi ruh kepada umatmu, Jadikanlah kelakuanmu itu, menjadi hati kepada ummatmu, Apabila Aku memuliakan dirimu, maka itu sama juga Aku memuliakan atas ummatmu.

o Ya Nur, Aku wajibkan atas ummatmu itu untuk ia mengenal akan asal kejadian dirinya dan Aku wajibkan pula atas ummatmu itu agar

ia mengenal akan Agama-Ku dan Aku wajibkan pula atas ummatmu itu untuk mengenal akan dirinya dengan sungguh-sungguh (dengan sebaik-baiknya pengenalan). o Ya Nur, titikkanlah air nuktahmu itu untuk menjadikan malaikat yang 4 (empat), Titikkan yang pertama, bernama Nur Mada, Titikkan yang kedua, bernama Nur Madi, Titikkan yang ketiga, bernama Nur Mani Titikkan yang yang keempat, bernama Nur Manikam Apabila engkau berucap, Iya Kun jadi Jibril, maka jadilah ia Jibril. 23 Apabila engkau berucap, Iya Kun Fayakun jadi Mikail, maka jadilah ia Mikail, Apabila engkau berucap, Iya Kun Fayakun Jadi Isrofil, maka jadilah ia Isrofil Apabila engkau berucap, Iya Kun Fayakun jadi Idzroil, maka jadilah ia Idzroil. o Ya Nur, perintahkan olehmu : Malaikat Jibril, agar anasirnya menjadikan Bumi (tanah) Malaikat Mikail, agar anasirnya menjadikan Air Malaikat Isrofil, agar anasirnya menjadikan Angin Malaikat Idzroil, agar anasirnya menjadikan Api

Selanjutnya perintahkan pula olehmu wahai Nur, kepada : Malaikat Jibril, mengambil Tanah dialam Akbar lembaga Adam. Malaikat Mikail, mengambil Air dialam Mualaq lembaga Adam Malaikat Isrofil, mengambil Angin dialam Izzati lembaga Adam Malaikat Idzrail, mengambil Api dialam Amarah lembaga Adam. untuk kujadikan untuk kujadikan untuk kujadikan untuk kujadikan

o Ya Nur, Aku gaibkan diri-Ku dengan kehendak-Ku, dan setelah itu Aku gaibkan pula engkau hai Nur, maka gaiblah engkau kealam

Sirr, Alam Ruh, Alam Nur, baru setelah itu Aku jadikan dunia ini, akan tetapi masih dalam keadaan kosong dan belum ada isinya. Kemudian tajallilah 4 (empat ) huruf yang awal, yang pada perjalanan 99 menjadikan cikal bakal dan keterangan dari maqom kedelapan, 4 huruf awal itu ialah: : Huruf Alif ( ) Huruf Mim ( ) Huruf Nun ( ) Huruf Tha ( )

Huruf Alif ( ) ,
Dari huruf Alif, akan menjadikan titik-titik yang jumlahnya 9999 titik, untuk kemudian jahir kedunia yang kosong dan belum ada isinya ini, 24 hanya 99 titik saja, sisanya 9900 titik tertinggal dialam baqa dan hanya milik Allah semata. 99 titik yang jahir itulah yang akan menjadikan perjalanan 99 (Perjalanan Syaraul Asgah), Dengan Nas Qurannya, berbunyi :

Man Khalaqal Insanu Min Thin, atau Man Kholaqal Insanu Min Nutfatin
Sesungguhnya Insan itu berasal dari pada tanah / sesungguhnya Insan itu berasal dari Nuktah ( setetes air ) Maqom tertinggi didalam perjalanan 99 ini, ialah Maqom ke tujuh (7), yaitu Maqom Laduni, yang jika disebutkan kaumnya, maka inilah Kaum

Mupassirin. Huruf Nun ( ) ,


Dari huruf Nun, akan menjadikan titik-titik yang jumlahnya 8888 titik, untuk kemudian jahir kedunia yang kosong dan belum ada isinya ini hanya 88 titik saja, sisanya 8800 titik, tertinggal dialam baqa dan hanya milik Allah semata.

88 titik yang jahir itulah yang akan menjadikan Perjalanan Syaraul Hisab. Dengan Nas Qurannya berbunyi :

Huwal Awwalu Man Kholaqallahu taala An- Nur


Yang pertama kali dijadikan oleh Allah taala itu adalah Nur Inilah Maqom kedelapan (8), Maqom Khas atau Maqom Rahasia, yaitu Maqom Rahasia Perjalanan Ilmu Haq Allah taala , atau Maqom Perjalanan Baginda Rosulullah Saw, jika mau disebutkan kaumnya, maka inilah Kaum Mudjtatahidin.

Huruf Mim ( ) ,
Dari huruf Mim, akan mengadakan titik-titik yang jumlahnya 7777 titik, untuk kemudian jahir kedunia yang kosong dan belum ada isinya ini hanya 25 77 titik saja, sisanya 7700 titik tertinggal dialam baqa dan hanya milik Allah semata. 77 titik yang jahir itu, pada kenyataan hanya 73 titik saja yang diketahui orang dan menjadikan Itiqat yang 73, berarti masih ada 4 buah titik lagi yang tersembunyi, kemana kiranya yang 4 titik itu.............? 4 titik sisanya yang tersembunyi itulah yang menjadikan Dzikir 4 didalam perjalanan Rahasia Ilmu Haq Allah taala, yaitu : o o o o Taubat Syahadat Zikir Takbir

Untuk selanjutnya dijadikan Istinja pada maqom kedelapan, yaitu Istinja jahir dan Istinja batin (keterangan mengenai Istinja Jahir dan Istinja Batin akan dibahas Khusus).

Huruf Tha ( ) ,
Dari huruf Tha, akan mengadakan titik-titik yang jumlahnya 6666 titik, untuk kemudian jahir kedunia yang kosong dan belum ada isinya ini hanya 66 titik saja, sisanya 6600 titik tertinggal dialam baqa dan hanya milik Allah semata.

66 titik yang jahir itu, pada kenyataannya hanya 63 titik saja yang diketahui orang, dan menjadikan Kaidul Iman yang 63, berarti masih ada 3 titik lagi yang tersembunyi, kemana kiranya yang 3 titik itu....? 3 titik sisanya yang tersembunyi itu jatuh kepada huruf yang 3, yaitu Huruf A, huruf I dan huruf U, isinya :
o o o

A( ) : Aku Asal dari pada Allah taala. I ( ) : Aku (I) karna Allah taala U ( ) : Aku ujud Allah taala yang (I) tiada mati

Ke 3 (tiga) huruf itu, pada Maqom kedelapan, dipakai untuk mendudukan diri (diri yang sebenar-benarnya diri)

Allah taala, berfirman :


Bikanu Makanu Wabiyakunu Mayakunu Sebelum terjadi bumi dan langit, Arsy dan Kursy sudah sedia- Nya Aku 26 Kemudian tajallilah Allah taala pada Gaibul Mutallaq, disini Allah taala membawa : o o o o Zat Sifat Asma Afal.

Kemudian tajalli lagi Allah taala pada Gaibul Hawiyah, dengan membawa : o o o o Huruf Alif ( ) Huruf Lam Awal ( ) Huruf Lam Akhir ( ) Huruf Ha ( )

Baru setelah itu, Allah taala mengadakan Sifat Nur, dan juga mengadakan dua (2) nama, yaitu : Kun Sa dan Kun Zat. Keterangan :

o Kun Sa,

Kun Sa adalah titik dari Nur Muhammad yang berada diatas Arsy, yang meliputi 7 petala langit, dan mengadakan nama, yaitu : Nama Awal-Awal Nur Muhammad (zzh) inilah Nama dari Ibu Bapaknya sekalian Amal dan Pahala.

o Kun Zat
Kun Zat adalah titik dari Nur Muhammad yang berada dibawah Arsy, yang meliputi 7 petala bumi, dan mengadakan nama, yaitu Nama Awal-Awal Ummat (Anth), inilah Sulbi Ifrait. Setelah itu, baru : o o o o Zat maujud kepada huruf Alif ( ) Sifat maujud kepada huruf Lam Awal ( ) Asma maujud kepada huruf Lam Akhir ( ) Afal maujud kepada huruf Ha ) )

Allah taala, berfirman :


Hai Nur, engkau yang menunjukkan Aku, Aku yang engkau tunjukan. 27 Hai Nur, engkaulah ganti diri-Ku. Hai Nur, engkaulah yang bernama Allah. Hai Nur, semesta sekalian alam ini terjadi dari pada Nur-Mu dengan serta-Ku jua. Ketika itu tajallilah Nur sembari mengata AK, dan bersuaralah Nur Ya Allah, ya Tuhanku, ya Syaidi, ya Maulana, bagaimana aku menunjukkan Tuhanku.....? Ya Allah, ya Tuhanku, ya Syaidi, ya Maulana, bagaimana aku menggantikan Tuhanku....? Ya Allah, ya Tuhanku, ya Syaidi, ya Maulana, kenapa aku yang bernama Allah...? Ya Allah, ya Tuhanku, ya Syaidi, ya Maulana, bagaimana aku mengadakan semesta sekalian alam ini dengan Nur-ku dan serta-Mu jua.

Lalu Allah taala, berkata :


An- nurril mausufi bittakadduni wal waliyah

Hai Nur, Aku sudah laitsya pada diri-Mu, jangan kau cari lagi Aku, karna Aku tiada bertempat Aku tidak di-bulu, Aku tidak di-kulit, Aku tidak di-daging, Aku tidak didarah, Aku tidak di-urat, Aku tidak di-tulang, Aku tidak di-otak -dan Aku tidak di-sumsum, hanya batin pada rahasia-mu, yang berkata-kata itu Aku.

Berkata, Allah taala, selanjutnya :


Barang siapa ummat-Mu, mendawakan Aku: zahir pada hatinya, bahwa yang berkata-kata itu Aku, maka Kafir Munafiq-lah ia, dan barang siapa ummat-Mu, mendawa Aku : zahir pada lidahnya yang berkata-kata itu Aku, maka Kafir Zindik-lah ia

28

Bab Asal Muasal Diri


B ermula asal muasal kejadian diri itu ada 2 perkara,
yaitu : Perkara pertama, ialah Asal muasal kejadian Hamba, Perkara kedua, ialah Asal muasal kejadian Insan. Asal Muasal Hamba dan Asal Muasal Insan, dipandang menurut anasirnya jelas berbeda :

Anasir hamba, berasal dari :


Tanah Air Angin Api

(Sebagaimana yang kita ketahui pada proses penciptaan Nabi Adam As).

Anasir Insan (manusia), berasal dari :

Mada Madi Mani Manikam

Perbedaan inilah yang menyebabkan timbulnya 2 sifat yang berbeda dalam satu kesatuan ujud menurut pandangan umumnya :

Sifat Hamba berisikan :


Tanah Air Angin Api

Sifat Insan (Manusia) berisikan :


Mada Madi Mani Manikam 29

----Untuk

diketahui----------------------------------

Sifat Hayat, berisikan :


o o o o o o o Bulu Kulit Daging Urat Tulang Otak Sumsum

Sifat Ilmu, berisikan :


o Pengrasa o Hawa o Nafsu

o o o o

Akal Fikir Ilmu pengetahuan Rahasia

Sifat Tuhan, berisikan :


o o o o Zat Sifat Asma Afal

Sifat Allah, berisikan :


o o o o Iman Islam Tauhid Marifat

Sifat Taala, berisikan :


o o o o Tauhiduz dzat Tauhidus sifat Tauhidu asma Tauhidu afal 30

Sifat Muhammad, berisikan :


o o o o Hidup Tahu Berkehendak Bergerak

Kembali kepokok masalah .


Lihat kembali proses penciptaan Nabi Adam As, ketika lembaganya akan diadakan oleh Allah Swt, Allah Swt berseru kepada malaikat yang empat untuk mengambil tanah, air, angin dan api dialamnya masing-masing (Pasal Kejadian), kemudian perbandingkan pula olehmu dengan proses penciptaan Insan (manusia)

Proses penciptaan Nabi Adam As, adalah Sbb :


Thuraq = Tanah asal Thin = Tanah dan zat air Hama = Tanah dan zat hawa (angin) Fakhar = Tanah dan zat panas (api) Shalsa = Bagan (bentuk) Akhsanu taqwin = Bentuk sempurna Ruh = Jiwa.

Proses kejadian/Penciptaan Insan, adalah Sbb :


Sulalah Min Thin = Rangkaian Tanah asal Nuktah = Air Mani laki-laki Alaqah = Percampuran sperma Mudgoh = Segumpal darah Inham = Tulang belulang Haham = Daging pembungkus Khalkan Akhar = Ruh.

Pandangan apa yang anda dapatkan setelah melihar proses penciptaan tersebut diatas, secara umum tentu berbeda bukan, tapi benarkah berbeda ?, 31 Silahkan saudaraku renungkan sendiri kemudian bandingkan dengan keterang yang ada dalam risalah ini. Wahai saudara-saudaraku sekalian...! Dari 7 rangkaian tersebut diatas, sesungguhnya mengisyaratkan kepada kita tentang penciptaan Allah Swt yang serba tujuh, yaitu : o o o o o o o o 7 Sifat yang ada pada diri manusia 7 Anggota didalam sembahyang 7 Ayat pada suratul fatekha 7 Huruf yang tidak boleh salah pengucapannya ketika membaca suratul fatekha 7 Jumlah hari dalam seminggu 7 Bintang yang besar 7 Lautan yang besar 7 Lapisan langit

o o o o

7 Lapisan bumi 7 Keajaiban yang ada didunia 7 Syurga 7 Neraka

Allah Swt didalam mencipta sesuatu itu cukup dengan satu kali
penciptaan saja hingga dunia ini Qiyamat tidak berulang-ulang, untuk selanjutnya hasil dari ciptaannya itulah yang akan berkembang dengan sendirinya berdasarkan Qudrat dan Iradat-Nya, sehingga jadilah jumlah yang banyak, berkaum-kaum, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, namun jika ditelaah dengan baik, maka dari yang banyak itu pada hakekatnya satu jua adanya. Pandanglah olehmu yang banyak itu kepada yang satu, dan pandang pula olehmu yang satu itu kepada yang banyak, maka pandanganmu akan terhenti kepada memandang yang satu kepada yang satu saja Keterangan-keterangan tersebut diatas, menyimpulkan dan mengisyaratkan bahwa, baik Hamba maupun Insan (Manusia) pada penciptaannya sesungguhnya berasal dari unsur yang satu jua adanya. Kalau diatas tadi disebutkan bahwa Adam As itu Asal dari tanah, air, angin dan api sedangkan Insan (manusia) asalnya dari mada, madi, mani dan manikam, penjelasannya adalah sebagai berikut : Proses penciptaan Insan (manusia) itu sesungguhnya bermula dan berawal dari kedua orang tua kita, yaitu Bapak dan Ibu kita. 32 Berkumpulnya kedua insan itu (bapak dan ibu) itulah yang menyebabkan adanya anasir yang 4, yaitu : o o o o Nur Mada Nur Madi Nur Mani Nur Manikam.

Dari keempat anasir itu, hanya Nur manikam-lah yang berlanjut hingga sampai menjadi seorang janin, cikal bakal anak manusia, keturunan Nabi Adam As, Umat Nabi Muhammad Saw yang penuh dengan Rahmat dan Nikmat, Fiddunyya wal Akhirat. Namun tidaklah Ia disebut Manikam apabila Nur Manikam itu tidak jatuh pada rahim seorang perempuan yang bernama Taraib

Manikam itu adalah Hidayatul Amanah dari pada Allah taala, dan istananya ada pada otak laki-laki, tidak ada pada otak
perempuan, sehingga inilah yang membedakan antara laki-laki dengan perempuan. Lihat dan perhatikan kedudukan Manikam didalam otak seorang laki-laki, sebagaimana ilustrasi gambar dibawah ini, betapa maha sempurnanya Allah taala didalam mencipta dan meletakkan amanahnya atas diri kita, tertutup dan tersembunyi oleh lapisan-lapisan yang sangat kokoh sehingga menjadikan benteng yang hebat dan sangat kokoh terhadap rusaknya Amanah itu .
1

2 3 4

33 Keterangan Nomer pada gambar


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Otak Lemak Minyak Nur Nur Aqly Hijabun Nur Manikam.

Didalam Otak laki-laki itu ada lemak, didalam lemak itu ada minyak, didalam minyak itu ada Nur, didalam Nur itu ada Nur Aqly, didalam Nur Aqly itu ada Hijabun Nur dan didalam Hijabun Nur itulah letak Manikam.

Masa Manikam itu 40 hari, yaitu :


o 7 hari pertama, Manikam itu berada didalam istananya, yaitu didalam otak laki-laki, o 7 hari kemudian, Ia turun pada tulang belakang dan bertahan pada punggung, o 7 hari selanjutnya, Ia berpindah pada tulang dada, o 7 hari selanjutnya, Ia turun lagi kepusat, o 7 hari kemudian, Ia turun pada sulbi, dan o 5 hari kemudian, ia berpindah pada kalam/ zakar , untuk selanjutnya jatuh kerahim seorang perempuan yang bernama taraib untuk selanjutnya dikandung selama 9 bulan 9 hari lamanya. Manikan bernama Mada, apabila ia sampai pada awal kalam, bernama Madi apabila ia sampai pada tengah kalam dan bernama Mani apabila ia berada diujung kalam kemudian terpancar keluar. ketika ia jatuh pada rahim perempuan barulah ia bernama Manikam, Maka jadilah ia Nur Muhammad atau Roh Idhofi atau syahadat. Tatkala manikam itu 40 hari umurnya berada didalam taraib, maka berhentilah darah haid yang biasa dialami oleh seorang perempuan, oleh sebab seluruh permukaan peranakan tertutup oleh Manikam. Pada bulan ke 4 barulah kemudian ia bernyawa (bergerak), darah haid ang berhenti oleh karna seluruh peranakan tertutup manikam, pada bulan ke 5 akan menjadikan Upik kanak-kanak atau tembuni. 34 Sedangkan darah haid yang berhenti, 40 hari sebelum manikam itu bernyawa, maka itulah yang akan menjadi darah nifas (darah kotor yang keluar bersamaan dengan proses persalinan). Semasa Manikam itu berada didalam kandungan, maka o o o o o o o Pada usia 1 hari 1 malam, ia sudah memuji, pijiannya Hu Pada usia 3 hari 3 malam, pujiannya Allah Pada usia 7 hari 7 malam, pujinya Innallah Pada usia 40 hari 40 malam, pujinya Surobbun Nur Pada usia 4 bulan 4 hari, pujinya Subhanallah Pada usia 6 bulan 6 hari, pujinya Al-hamdulillah Pada usia 8 bulan 8 hari, pujinya Allahu Akbar

o Pada usia 9 bulan 9 hari, pujinya Inna Ana Amana (belum Ia keluar). Keterangan :

Inna : Sesungguhnya Ana : Saya (aku) Amana : Iman (aman)

Inilah asalnya :

Kejadian Air Zatullah Akbar, atau Air Nur Zat Allah


Catatan :

Mada : Ada rasa tiada rupa ------------------------------Nafas. Madi : Tiada rasa dan tiada rupa tapi ada ------------Bayangan. Mani : Rasa dan rupa kita ini Manikam : Rasa dan ujud kita ini.
Dasar-dasar yang melandasi tentang asal muasal diri itu, diantaranya, adalah :

Abdullah Ibnu Abbas. Ra, dari Rosulullah Saw :


Bahwa sesungguhnya Allah taala menjadikan dahulu dari pada segala sesuatu itu, yaitu dari Nur Nabi-mu. 35

Syech Abdul Wahab As-syarani. Ra, berkata :


Sesungguhnya Allah taala menjadikan ruh nabi Muhammad itu dari pada Nur Zat-Nya dan dijadikan ruh sekalian alam ini dari pada Nur Muhammad

Rosulullah Saw bersabda :


Aku bapak dari sekalian ruh dan Adam itu bapak dari sekalian batang tubuh.

Allah Swt berfirman :

Aku jadikan insan Adam itu dari pada tanah, dan tanah itu dari pada air, dan air itu dari pada angin, dan angin itu dari pada api, dan api itu dari pada Nur Muhammad. Bahwa sesungguhnya telah datang kepadamu dari Allah taala, Nur Dan kepada Nur itulah perhentian perjalanan segala Aulia dan Ambiya Allah yang mursalin mengenal Allah taala, bila sudah sampai kepada Nur, maka fanakanlah Nur itu kepada Zat yang wajibal wujud, supaya jangan sampai hamba itu semata-mata bertuhan kepada Nur, tetapi tetap bertuhankan kepada Allah taala, Zat yang wajibal wujud. Dengan begitu, maka nyatalah kalau Nur itu hanya sebagai wasilah untuk supaya dapat sampai kepada Allah taala.

Allah Swt, berfirman :


Hai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan carilah olehmu wasilah (perantara) yang bisa menyampaikan kamu kepada-Ku, dan hendaklah kamu bersungguh-sungguh dijalannya, supaya kamu dapat kejayaan (QS, Al-maaidah : 35)

36

Pasal Nama-nama diri


(Nama diri ketika dialam Rahim Ibu)

Untuk menyempurnakan pengenalan kita tentang asal muasal kejadian


diri, maka ketahui pula olehmu wahai saudaraku akan nama-nama diri kita ketika masih berada dialam rahim, yaitu Sbb : Sebelum Kun bernama Ia, Air Setitik ( Nama sandi ). Waktu Kun bernama Ia, Roh Samar Putih. Dari Kun ke Fayakun bernama Ia, Awal-awal Nur Muhammad

Waktu Fayakun bernama Ia, Nukkirullah. Waktu dialam sagir bernama Ia, Sirrullah Waktu diterima oleh Muhammad bernama Ia, Insyirrullah Waktu turun diujung Arsy, bernama Ia, Nur Kalamullah Sebelum dititikkan, bernama Ia, PN ( ini nama sandi saja, mengingat nama ini tidak boleh diucapkan dengan suara penuh sebanyak 2x didalam hidup kita ) Waktu dititikkan, bernama Ia, Air Setitik ( nama sandi ) Waktu diterima oleh perempuan, bernama Ia, Nur Mani Allah Ketika jadi segumpal darah, bernama Ia, Bayang-bayang Allah Ketika jadi mata, bernama Ia, Insan Kamil Ketika jadi sumsum dan otak, bernama Ia, Air Maning Mengkudu Allah Ketika jadi Tulang dan urat, bernama Ia, Air Nur Malinang Allah Ketika jadi daging dan darah, bernama Ia, Tikmapullah Ketika jadi kulit dan bulu, bernama Ia, Air Nur Lak Putih Setelah cukup sifatnya barulah Ia, bernama Ahmad. Saat didalam kandungan perempuan, usia 1 bulan 10 hari, bernama Ia, Nurrullah Ketika berumur 3 bulan 10 hari, bernama Ia, Allah Ketika berumur 4 bulan 10 hari, bernama Ia, Pancarullah Ketika berumur 5 bulan 10 hari, bernama Ia, Sinarullah Ketika berumur 6 bulan 10 hari, bernama Ia, Asmarrullah Ketika berumur 7 bulan 7 hari 7 jam 7 menit dan 7 detik, bernama Ia, Zat Zanubah Ketika berumur 8 bulan 10 hari, bernama Ia, Taala Ketika berumur 9 bulan 10 hari, bernama Ia, Antahfi Saat keluar dari rahim perempuan, bernama Ia, Nur Basyariah. 37

Nama-nama, selain Nama tersebut diatas :


o Lendir pertama yang keluar sebelum Air ketuban keluar, itulah Uri, ia bernama Uriah (sahabat Insan) o Ketuban pecah dan air ketuban keluar, itulah tuban, bernama ia Tubaniyah ( Sahabat Insan ) o Tembuni yang keluar baik diawal atau diakhir ketika bersalin, bernama ia Tambuniyah (sahabat Insan)

o Darah yang keluar pada proses persalinan, bernama ia Comariyah (sahabat Insan) o Tangkai pusat atau tali pusat bernama Pancariahn dan pusatnya bernama Fitriyah o Pembungkus bayi atau kuli ari-ari, bernama Arsistawa, bayinya yang keluar itu bernama Waliyullah. Demikian Nama-Nama Diri kita ketika dialam rahim (kandungan Ibu) untuk diketahui dan sebagai pelengkap pengenal kita tentang asal muasal kejadian akan diri, keterangan lain yang masih berkenaan dan berkaitan erat dengan asal muasal kejadian diri yang perlu juga untuk kita ketahui, yaitu unsur-unsur atau anasir-anasir yang tidak dapat disepelekan dan amat menentukan, terlepas dari unsur-unsur atau anasir-anasir yang kami sebutkan diatas, yaitu :

Anasir Tuhan kepada Muhammad, meliputi :


Sirr Budi Cinta Rasa

Anasir Tuhan kepada Bapak, meliputi :


Urat Tulang Otak Sumsum 38

Anasir Tuhan kepada Ibu, meliputi :


Darah Daging Kulit Bulu.

Itulah sifat diri kita dari Allah taala, yaitu dari Muhammad, dari Bapak dan dari ibu, dan inilah yang sebenar-benarnya Itiqat, ini pula yang

dipakai agar kita dapat sampai pada Baqa Billah ( Kekal dan lenyap kedalam Allah ), tiada itiqat lain dari padanya.

(Intisari Pengenalan Asal Muasal diri dan cara pakai akan disampaikan langsung secara lisan, tidak di sertakan dalam risalah ini untuk menjaga kerahasiaannya)

39

Bab Mengenal Diri


(Diri yang sebenar-benarnya Diri) Rosulullah Saw, bersabda :
Menuntut Ilmu itu wajib atas tiap-tiap muslim laki-laki dan muslim perempuan

Ketahuilah olehmu wahai saudaraku sekalian akan Ilmu Marifat Allah itu dengan yaqin. Marifat menurut logat (bahasa), yaitu mengetahui atau mengenal akan Zat Allah taala, baik yang berhubungan dengan dalil, ataupun dengan Itiqad jazam lagi putus. Marifat menurut Hakekat ialah mengetahui akan sekalian yang ada ini, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, itu semua adalah semata-mata adalah haq-Nya jua tiada yang lain.

Laa Maujuudun Bihaqqi Ilallah


Tiada yang ada melaikan Haq Allah taala jua adanya Keterangan mengenai Jazam dalam Itiqad menurut pembicaraan Ilmu, dibagi menjadi 4 bagian, yaitu : Jazam, mupakat dengan Haq tetapi dengan dalil, maka inilah yang dikatakan Marifat. Jazam, mupakat pada Haq akan tetapi tidak dengan dalil, maka inilah yang dinamakan Taklik Shohih. Jazam, tiada mupakad pada Haq tetapi dengan dalil, maka inilah yang dinamakan Jahil mukarrab. Jazam, tiada mupakat pada Haq dan tiada pula dengan dalil, maka inilah yang dinamakan Taklik Buta.

Allah Swt, berfirman :


Insan itu rahasia-Ku, Akulah rahasianya, Rahasia-Ku itu kenyataan sifat-Ku dan sifat-Ku itu tiada lain dari pada Aku Sesungguhnya didalam kejadian bumi dan langit, yang bersalahan antara siang dan malam itu, adalah merupakan suatu petunjuk yang nyata bagi orang-orang yang berakal 40

Al-Haq, adalah sesuatu yang harus ada dan ujud, tidak boleh Tidak
(hukumnya harus/wajib). Itulah diri yang sebenar-benarnya diri, awalnya tanpa ada permulaan atau yang mengawali dan akhirnyapun tanpa dengan berkesudahan tiada yang menyudahi, jahirnya tanpa ada yang menjahirkan begitu pula batinnya tanpa ada yang tersembunyi dan disembunyikan. Itulah yang sebenar-benarnya diri, jangan kamu ragu dan bimbang dengan ini, sebab jika keraguan dan kebimbangan itu ada walau sedikit, maka batallah seluruhnya.

Al-Haq itu adalah Al-Hayat, dan bukan Al-Hayyun. Al-Hayat itu adalah Hidup, hidup yang tidak akan pernah mati, itulah
diri yang se-zat-I-Nya diri. Keterangan : Sesuatu yang mati, apabila padanya masuk/ dimasukan Al-Hayat, maka yang mati itu akan menjadi hidup dan mempunyai kehidupan, hukumhukum kehidupanpun akan berlaku atasnya, Ia akan dapat melihat, dapat mendengar, dapat berkata-kata, kuasa, berkehendak, hidup dan dapat merasa, namun suatu masa sesuai ketentuannya, apabila Al-Hayat itu pergi meninggalkannya (keluar dari padanya), maka Ia akan kembali kepada asalnya, yaitu Mati....!!!. Ia tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi, tidak dapat melihat meskipun matanya ada dan masih lengkap, tidak dapat mendengar meskipun telinganya ada dan masih lengkap, tidak dapat berkata-kata meskipun mulutnya ada dan masih lengkap, tidak lagi ia dapat berkuasa, tidak lagi Ia dapat berkehendak sekalipun sarana dan prasarana semuanya masih ada padanya, tidak lagi Ia dikatakan Hidup sekalipun jasadnya masih lengkap, semua akan kembali keasalnya, Ia akan rusak, busuk dan berbau hingga pada akhirnya ia akan hancur berkeping-keping laksana daun kering yang usang tertiup angin, terbang kesana kemari tanpa tentu arah dan tujuan. Itulah Haqnya Manusia, yaitu Hidup. Maksudnya : Seluruh anggota dirinya hanya semata-mata mengikuti kehendak dan kemauan si Haq semata, tanpa ada perbantahan apapun. Ketika Al-Haq itu mau melihat, terpaksa atau tidak, maka mata harus melihat, ketika Al-Haq itu mau mendengar, terpaksa atau tidak maka 41 telinga harus mendengar, ketika Al-Haq itu mau berkata-kata, terpaksa atau tidak maka bibir atau mulut ini harus berkata-kata, begitu seterusnya. Begitu pula dengan seluruh aktivitas dan pergerakan kita didalam kesehariannya, baik yang nyata, tampak oleh kita maupun sesuatu yang tersembunyi jauh didasar lubuk hati kita yang paling dalam, yang orang lain tidak mengetahuinya, keseluruhan itu tidak lain dan tidak bukan oleh sebab ada Al-Hayat atas diri kita, dengan demikian maka tidak akan

diragukan lagi bahwa diri yang sebenar-benarnya diri itu tidak lain adalah Al-Hayat atau Al-Haq.

Siapa Al-Hayat (Al-Haq) itu sesungguhnya ....? Allah Swt, berfirman didalam Hadits Qudsy :
Kenalilah dirimu Niscaya kamu akan kenal dengan Tuhanmu, Kenal dengan Tuhanmu, maka binasalah jasadmu Sesuatu yang ada disisimu akan lenyap, dan apa saja yang ada disisi Allah adalah kekal (QS, An- nahl :96) Bermula yang sebenar-benarnya diri itu adalah Ruh, yang sebenarbenarnya Ruh itu adalah Nyawa, yang sebenar-benarnya Nyawa itu adalah Sifat, yang sebenar-benarnya Sifat itu adalah Nur Muhammad, dan yang sebenar-benarnya Nur Muhammad itu adalah Zat Hayat (AlHayat) bukan Zat Hayyun (Al-Hayyun), itulah yang sebenarnya diri. Tatkala Ruh itu masuk pada tubuh, Nyawa nama-nya, Tatkala Ia keluar masuk, Nafas nama-nya, Tatkala Ia berkehendak pada sesuatu, Ikhtiar nama-nya, Tatkala Ia ingin sesuatu Nafsu nama-nya, Tatkala Ia ingat, Arif/Kenal nama-nya, Tatkala Ia percaya, Iman Nama-nya, Tatkala Ia dapat mengesakan, Tauhid nama-nya Tatkala Ia dapat berbuat sesutu, Akal nama-nya Pohon Akal itu Ilmu, itulah diri yang sebenar-benarnya diri dan kepada diri itulah jahir Tuhan-ku.

Allah Swt berfirman :


Aku disisi sangka hamba-Ku, dengan dia Aku 42 Maksudnya : Sekiranya hamba itu tidak menyangka Aku, berarti Aku tidak akan pernah ada, akan tetapi, oleh sebab hamba itu berkata Itu Allah (Allah itu ada), maka nyatalah Aku ada. Kesimpulannya :

Jika Allah itu ada, maka hamba tidak akan pernah ada, demikian pula sebaliknya jika hamba itu ada, maka Allah tidak akan pernah ada. Sebab jika kita hamba, mana Allah atau kebalikannya jika kita Allah mana hamba....?. Selanjutnya Zat maujud kepada huruf Alif Sifat maujud kepada huruf Lam Awal Asma maujud kepada huruf Lam Akhir Afal maujud kepada huruf Ha

Himpunan huruf-huruf itulah yang menyebabkan bunyi Allah, o Alif itu Zat bagi Allah, menjadikan rahasia kepada Muhammad dan menjadikan cahaya kepada kita. o Lam Awal itu Sifat bagi Allah, menjadikan Tubuh kepada Muhammad dan menjadikan ruh kepada kita. o Lam Akhir itu Asma bagi Allah, menjadikan Ilmu kepada Muhammad dan menjadikan hati kepada kita. o Ha itu Afal bagi Allah, menjadikan Kelakuan kepada Muhammad dan menjadikan jasad pada kita.

Sebenarnya Zat itu adalah diri-Nya (Ujud-Nya) Sebenarnya Sifat itu adalah rupa-Nya (Wajah-Nya) Sebenarnya Asma itu adalah nama-Nya (Hati-Nya) Sebenarnya Afal itu adalah kelakuan-Nya (Fiil-Nya)

Itulah yang bernama Allah, yaitu hanya sekedar nama saja. 43 Jika masih hendak dicari lagi, siapa sesungguhnya yang punya nama Allah itu, maka leburkan Nama itu supaya nyata keadaannya sekalipun nama Allah itu sesungguhnya tidak akan pernah bisa dihilangkan, sebab Ia sudah menjadikan : Dzikirnya para Malaikat, Dzikirnya para burung-burung, Dzikirnya para binatang melata,

Dzikirnya tumbuh-tumbuhan, Dzikirnya Nasar yang 4 (Tanah, Air, Angin dan Api) serta dzikirnya semua makhluk yang ada pada tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit, dan juga yang berada diantara keduanya itu. (lihat Al-Quran, surah At-thalaq, ayat : 1). Allah itu adalah sebuah nama, ada nama sudah barang tentu ada bendanya (si-empunya nama itu), begitu pula sebaliknya ada benda sudah pasti ada namanya, mustahil ada benda akan tetapi tidak ada namanya dan mustahil pula ada nama tapi bendanya tidak ada, karna antara benda dan namanya itu adalah satu jua adanya (Esa). Dalam rangka pencarian jati diri yang sesungguhnya, maka bukan hanya sekedar namanya saja yang harus kita ketahui, akan tetapi justru yang pertama dan utama sekali adalah bendanya, (orangnya si-empunya nama tersebut), sebab antara nama dan si-empunya nama itu satu dan tidak bisa dipisahkan, Ada benda pasti ada namanya, ada nama sudah pasti ada bendanya. Ketahuilah olehmu wahai saudaraku sekalian.......!, Bunyi Allah itu merupakan himpunan atau gabungan dari hurufhuruf hijaiyah, seandainya salah satu saja huruf dihilangkan maka Ia tidak akan berbunyi Allah lagi. Agar semua nyata, senyata-nyatanya, maka silahkan saudaraku cari cara, bagai mana agar semuanya bisa menjadi terang dan jelas.. Salah satu cara yang dapat kami sampaikan disini, ialah dengan mengadakan pengguguran atau peleburan lapald Allah itu satu persatu atau huruf demi huruf sebagai mana tersebut dibawah ini.

Allah adalah sebuah nama, sedangkan Tuhan itu adalah pangkatnya,


sebelum kita memulai pengguguran huruf demi huruf pada lapald Allah, 44 ada baiknya untuk saudaraku ketahui bahwa nama Allah itu sungguh banyak sekali. Tertulis didalam kitab Taurat saja, nama dzat yang maha esa itu banyaknya ada 300, ditulis menurut bahasa Taurat, pada kitab Zabur juga ada 300, juga ditulis menurut bahasa Zabur, dalam kitab Inzil juga ada 300 juga ditulis menurut bahasa Inzil dan pada kitab Al-Quran ada 99, tertulis dalam bahasa arab.

Jika dihitung maka, nama dzat yang maha esa itu berjumlah 999 nama yang tertulis berdasarkan versinya. Dari jumlah tersebut itu, sesungguhnya hanya satu saja nama dari dzat yang maha esa itu, yaitu Allah, sedangkan yang 998 nama itu adalah nama dari pada sifat dzat yang maha esa. Diterangkan juga didalam Kitab Fathurrahman, halaman 523 berbahasa arab, disana disebutkan bahwa nama Allah itu tertulis dalam AlQuran sebanyak 2.696 tempat. Apa kiranya hikmah yang dapat kita ambil, mengapa begitu banyaknya nama Allah.

Allah Swt, pun berpesan :


Wahai hambaku, janganlah kamu sekalian lupa kepada nama-Ku Maksudnya : Allah itu nama-Ku dan dzat-Ku, dan tidak akan pernah bercerai, nama-Ku dan dzat-ku itu satu. Allah juga telah menurunkan 100 kitab kepada para nabi-nabinya, kemudian ditambahnya 4 kitab lagi, dengan demikian maka kitab yang telah diturunkannya itu berjumlah 104 buah kitab, 103 kitab rahasianya terhimpun didalam satu kitab saja, yaitu Al-Qurannul karim, dan rahasia Al-Qurannul karim itu rahasianya terletak pada kalimah Allah. Begitu pula dengan kalimah tauhid (La ilaha illallah), jika dituliskan dalam bahasa arab maka jumlah hurufnya ada 12 huruf, 8 huruf diawal digugurkan maka akan tersisa 4 huruf saja, yaitu Allah. Mana dan hikmah kalimah atau lapald Allah itu hanya sebatas nama saja, sekalipun digugurkan hurufnya satu persatu tidak akan mengurangi, 45 bahkan akan mengandung mana dan arti yang sangat mendalam dan mengandung rahasia penting bagi hidup dan kehidupan kita selaku makhluk ciptaannya yang sempurna. Lapald Allah atau bunyi Allah itu jika diarabkan, maka akan berhuruf Alif, Lam Awal, Lam Akhir dan Ha.

Jika salah satu dari hurufnya itu dihilangkan maka ia tidak berbunyi dan berlapald Allah lagi, coba saudaraku perhatikan pengguguran bunyi atau lapald Allah dibawah ini, perhatikan baik-baik. Pertama, jika digugurkan (dihilangkan) huruf Alif-nya, maka akan tersisa 3 huruf saja, bunyinya tidak Allah lagi tetapi akan berbunyi lillah, artinya bagi Allah, dari Allah, kepada Allah-lah kembalinya segala makhluk. Kedua, gugurkan (hilangkan) huruf keduanya (lam awal), maka akan tersisa 2 huruf saja dan bunyi-nya tidak lillah lagi, tapi akan berbunyi Lahu. Lahu mafissamawati wal Ard (Bagi Allah segala apa yang ada dilangit dan dibumi). Ketiga, gugurkan (hilangkan) huruf ketiganya (lam Akhir), maka akan tersisa 1 huruf saja dan bunyi-nya tidak lahu lagi tetapi akan berbunyi Hu. Huwal hayyul qayyum (zat Allah yang hidup dan berdiri dengan sendiri-nya) Kalimah Hu ringkasnya dari kalimah Huwa, dan sebenarnya setiap kalimah Huwa artinya Dzat. Misal : Qul Huwa-llah Ahad, artinya : Dzat yang bersifat kesempurnaan yang dinamai Allah. Itu sebabnya para sufi mengatakan bahwa, nafas kita yang keluar masuk semasa kita masih hidup ini, akan berisikan Amal Batin, yaitu Hu ketika nafas masuk (naik) dan begitu keluar (turun) 46 diisi dengan kalimah Allah, sehingga nafas yang naik turun itu akan berisi Hu Allah , Kebawah tiada berbatas dan keatas tiada terhingga.

Perhatikan pula olehmu wahai saudaraku, beberapa pengguguran dibawah, sebagai penegas pengguguran tersebut diatas : Jika kalimah Allah itu kita gugurkan Lam Awal dan Lam Akhirnya, maka tinggallah 2 huruf, diawal dan diakhir (Huruf Alif dan huruf Ha), dibaca AH. Kalimah AH ini tidak dibaca lagi bengan nafas yang keluar masuk, juga tidak dibaca lagi dengan nafas keatas atau kebawah, tetapi hanya dibaca dengan titik. Kalimah AH, jika diarabkan terdiri atas 2 huruf (dalam bahasa disebutkan INTAHA, artinya kesudahan atau keakhiran. Jika huruf Alif dan huruf Ha (awal dan akhir) digugurkan atau dihilangkan, maka akan tersisa 2 huruf ditengah yaitu huruf Lam Awal (Lam Alif) dan huruf Lam Akhir (Lam Nafiah), qaedahnya menurut para sufi menyatakan tujuan, yaitu jika berkata La (tidak ada Tuhan), Illa (ada Tuhan). Nafi mengandung isbat, isbat mengandung nafi, tidak bercerai dan berpisah nafi dan isbat itu. Jika huruf Lam Akhir dan huruf Hu digugurkan atau dihilangkan, maka yang tertinggal juga 2 huruf, yaitu huruf Alifdan huruf Lam Awal , kedua huruf yang tertinggal itu dinamai Alif Lam Latif , kedua huruf itu menunjukkan dzat Allah, Marifat se-marifat-nya dalam artian yang mendalam bahwa kalimah Allah bukan Nakirah, kalimah Allah adalah marifat (Isyarat dari huruf alif dan huruf lam awal pada kalimah Allah) Jika 3 huruf sekaligus digugurkan atau dihilangkan (Lam Awal, Lam Akhir dan Ha), maka sisanya adalah 1 huruf yang paling tunggal dari segala yang tunggal, yaitu huruf Alif (tunggal dan berdiri dengan sendirinya), kemudian berilah tanda pada huruf alif yang tunggal itu dengan tanda atas, bawah dan depan maka akan berbunyi A.I.U, setiap bunyi A kita fahamkan bahwa ada dzat Allah, begitu pula dengan huruf I dan U, jika semua huruf itu difahamkan ada dzat Allah, maka ini berarti bahwa semua bunyi di dalam alam ini, baik yang terbit atau keluarnya dari alam nasar yang 47 4 (tanah, air, angin dan api), maupun yang keluar dari mulut makhluk, ini menyatakan bahwa ada dzat Allah.

Penegasannya menyatakan bahwa semua suara atau bunyi yang datang dan terbit dari apa saja, kesemuanya itu berbunyi Allah (nama dzat Allah yang maha esa). Huruf alif itu adalah dasarnya, semua huruf yang jumlahnya ada 28 kesemuanya bersumber dari huruf alif, maka jika kita melihat huruf alif itu sama dengan kita melihat huruf yang banyaknya 28, begitu pula sebaliknya, jika kita melihat huruf yang banyaknya 28 itu maka itu sama artinya kita melihat huruf Alif.

Isyarat ini bisa kita samakan jika kita memandang atau melihat sebuah biji dari salah satu jenis tumbuhan, melihat biji itu sama artinya kita sudah melihat akar, batang, dahan, ranting, daun dan buahnya, kesemua itu karna kita melihat biji sebagai sumbernya. Syuhudul wahdah fil kasyrah, syuhudul kasyrah fil wahdah, syuhudul wahdah fil wahdah
Pandang yang satu kepada yang banyak, pandang yang banyak kepada yang satu, maka yang banyak dan yang satu itu sesungguhnya satu jua adanya Itulah isyarat bagi dzat, dari dzat itulah datangnya seluruh alam semesta ini beserta isinya. Begitu pula isyarat yang ada pada Al-Quran yang jumlah ayatnya ada 6666 ayat, semuanya akan terhimpun hanya kepada 7 ayat (suratul Fatekha), begitu pula suratul fatekha itu akan terhimpun pada kalimah Basmallah, basmallah-pun akan terhimpun pada huruf Ba dan huruf Ba terhimpun pada titiknya (Nuktah), karna sesungguhnya yang 6666 ayat itu jika kita tilik dengan jeli maka ia akan berasal dari titik saja, terlihat banyak padahal satu saja, terlihat satu padahal ia banyak. Jika seluruh huruf Allah itu digugurkan atau hilangkan, maka tinggallah 4 huruf yang ada diatas lapald Allah, yaitu huruf Tasydid. 48

bergigi 3 (terdiri dari 3 huruf alif), ditambah 1 lagi alif yang ada diatas tasydid-nya. Keempat huruf tasydid itu adalah isyarat yang menyatakan bahwa Allah itu ada, untuk itu maka wajib bagi kita untuk mentauhidkan dzatnya, sifatnya, asmanya dan afalnya. Jika keseluruhan yang ada pada lapald Allah itu dihilangkan , maka yang tinggal adalah kosong, hurufnya tidak ada maka bunyinya pun tidak ada, artinya tidak ada apa-apa lagi semua diam semua kosong dan semua hening, semua akan menjadi rahasia yaitu rahasia didalam rahasia itulah diri kita yang sebenar-benarnya.

La sautin wala hurufin


Tidak ada huruf dan tidak ada suara Inilah qalam Allah yang qadim, tidak bercerai dan berpisah dzat dengan sifat. Meninggalkan yang selain Allah, dzat Allah saja yang ada (tidak ada yang ada, hanya Allah). Iktibarnya Adalah Sbb :

Semua

orang ingin mencintai Tuhan, namun pada kenyataannya diriku telah lebur didalam cinta Tuhan-ku, Semua orang ingin taat kepada Tuhan, namun ke-taatan-ku itu telah menyatu denganku didalam hati dan seluruh perasaanku. Semua orang ingin menjadi wali Allah, tetapi bagiku cukuplah Allah yang menjadi waliku, bagiku tiada dinding dan hijab didalam memandang akan kebesaran dan keagungan-Nya, Kemana saja aku menolehkan pandangan hanya kasihku saja yang terlihat, kemana saja aku arahkan pandanganku, hadapku dan seluruh persendianku, maka disanalah dzat Allah, sifat Allah, fiil Allah, wujud dan wajah Allah. Hilang dan lenyaplah aku didalam Jibu, kini aku yang dulu telah terganti mana, kini aku adalah aku dalam segala hal dan keadaan, kini aku-ku yang haq ini telah gaib, kedalam pandangan rahasia. (bukan gaib dalam pandangan nafsu akan tetapi gaib-ku didalam gaibku sendiri) sehingga bila aku masuk kedalam alam gaib, maka seluruh yang gaib itu akan nyata dalam pandangan Basyariah Rahasiaku. 49

Kini akulah yang bernama Rahasia Insan itu, dan Rahasia Insan itu adalah Rahasia Allah, semua yang berlaku dalam keadaanku ini adalah Rahasia Allah jua adanya, tiada yang lain lagi.

Muhammad Arsyad Al-Banjari.


(dalam pagar/ Martapura, kalimantan selatan) mengatakan : Diri itu Hayat, Hayat itu Ruh, Ruh itu Nafas, Nafas itu Rahasia, Rahasia itu Nur Muhammad dan Nur Muhammad itulah Ujud kita ini.

Datu Sanggul.
(Tanah Muning/Tatakan Rantau, Kalimantan Selatan), menjelaskan Bahwa yang sebenar-benarnya Diri Rohani itu, ialah Allah taala, untuk itu, maka diri Rohani itu jangan dicari lagi, oleh karna yang bernama Allah itu sudah menjadi Nyawa segala makhluk. Kesimpulannya : Semua makhluk itu khaliq, jangan dicari lagi, oleh karna Ia sudah Laitsya Kamitslihi Syaiun. Sekiranya hal ini sudah kamu ketahui dan yaqini dengan jelas akan rahasianya, maka rahasiakanlah ini kepada orang-orang yang memang belum mencapai kepada maqam ilmu hakekat ini, karna dikhawatirkan akan membuat fitnah besar nantinya ditengah umum. Ditambahkan lagi oleh beliau bahwa, yang sebenar-benarnya diri itu adalah Hayat atau ruh, akan tetapi hendaknya jangan engkau itu berhenti pada ruh saja, teruskan dan tembuskan pandanganmu itu kepada hal dan sifat Allah taala, jika pandanganmu itu berhenti hanya kepada Nyawa saja, maka sesungguhnya kita telah salah dalam memahami dalil yang menyebutkan bahwa, Diri itu Ruh Tatkala Ia nasab kepada sekalian tubuh, Nyawa namanya, Tatkala Ia keluar masuk, Nafas namanya Tatkala Ia berkehendak, Hati namanya Tatkala Ia percaya akan sesuatu, Iman namanya Tatkala Ia dapat memperbuat sesuatu, maka Akal namanya,

Inilah yang disebut dengan sebenar-benarnya diri, jika demikian keadaannya, maka sekarang ini kita sebenarnya hanya bertubuhkan Ruh 50

semata. apa sebabnya hingga kita sekarang ini disebutkan bertubuhkan Ruh semata....? Karna Ruh itu sendiri sudah fana lahir dan batin, sehingga didalam kondisi yang seperti ini jangan diartikan, bahwa kita yang memfanakan diri, akan tetapi fana itu sendiri datangnya dari Allah jua adanya Sedangkan kata-kata Kita pada keterangan diatas tadi pun sudah lebur jua kedalam fana itu sendiri.

Syech Abdus somad


(Bakumpul, Kalimantan Selatan), Beliau mengatakan : Adapun badan rohani itu sesungguhnya adalah Allah taala jua, maka itu hendaknya jangan dicari lagi, karna Ia sudah menja dikan rahasia kepada kita semua. Kata-kata rahasia itu pun ada 2 pengertiannya, yaitu : Rahasia Insan Rahasia Allah

Al-Insanu Sirri Wa Ana Sirrahu


Insan itu Rahasia-Ku dan Aku-pun adalaha Rahasianya Maksudnya :

Rahasia Insan itu adalah rahasia Allah jua, tiada yang lain, jika kamu dapat memahami akan hal ini, maka sesungguhnya tugasmu hanya tinggal menggugurkan atau melaksanakannya saja, karna apapun jua yang datang kepadamu itu, sesungguhnya semua itu datangnya dari rahasia Allah jua adanya dan janganlah kamu sekali-kali memahami, bahwa ada perbuatan lain atas dirimu, jika ada yang lain, maka sesungguhnya tanpa kamu sadari, kamu telah masuk didalam
51

kesyirikan, yaitu kesyirikan yang sangat halus, karna sesungguhnya kamu itu sendiri sebenarnya sudah : Wahua Ma Akum Ainama Kuntum
Tuhan ada bersama kamu, dimana saja kamu itu berada

Maksudnya : Sudah berbarengan siang dan malam, demikianlah adanya supaya kamu itu paham dan mengerti betul dengan yang sebenarnya.
Syech Muhammad Hassan.
(Nagara, Kabupaten Kandangan-Kalimantan Selatan), Beliau mengatakan : Kalimah La Ilaha Illallah itu masuknya pada :
o o o o

La masuknya pada Hayat Ilaha itu masuknya pada Ruh Illa itu masuknya pada Nafas Allah itu masuknya pada Nyawa.

Nyawa itu adalah Nur Muhammad dan Nur Muhammad itu adalah Sifat dan Sifat itu adalah Hayat. Hayat itu Ruh Tuhan Robbul alamin. Akan tetapi ingatlah olehmu baik-baik bahwasannya :

Ruh itu bukan Tuhan, tetapi tiada lain dari pada Tuhan, asalkan saja engkau teruskan kepada Zat dan Sifatnya. Seandainya ini sudah kamu pahami benar-benar, maka jangan kamu cari
lagi, sehingga keraguan saja nantinya yang akan timbul yang akan mengiringi kehidupanmu selamanya.

Syech Jamaluddin Surgi Mufti.


(Sungai Jingah, Banjarmasin-Kalimantan Selatan) 52

Beliau mengatakan yang sembahyang itu adalah jahir Allah taala jua. ditambahkan oleh beliau : bahwa siapa-siapa yang menganggap bahwa manusialah semata-mata yang berzikir, maka zikirnya itu haram, semakin banyak ia berzikir, maka semakin bertambah haramlah ia. Catatan :

Syech Jamaluddin Surgi Mufti, ini adalah seorang wali besar dikota
Banjarmasin, beliau juga keturunan dalam Pagar, Martapura Kalimantan Selatan

Allah Swt, berfirman :


Maka barang siapa yang berharap berjumpa dengan Tuhan-nya, maka hendaklah dia melakukan tindak kesolehan dan tidak menyekutukan Tuhan-nya dalam peribadatan (QS, Al- kahfi : 110) Barang siapa telah buta hatinya dialam dunia ini, maka niscaya ia buta juga hatinya dialam akhirat dan lebih tersesatlah perjalanannya (QS, Al-israa : 72) Kemanapun wajahmu kamu hadapkan, maka (hakikatnya) kamu menghadap kepada Allah (QS, Al-baqarah : 115) Dan menyertaimu dimanapun kamu berada (QS, Al-hadid : 3) Dan Dia (dzat Allah) beserta kamu sekalian dimana saja kamu berada dan Allah tetap melihat apa-apa yang kamu kerjakan (QS, Al-hadid : 4) Dan Kami (dzat Allah) terlebih hamper dari padamu sekalian, akan tetapi mengapa tiada kamu ketahui dan selidiki adanya (QS, Al-waqiyah : 85) Dan Kami (dzat Allah) terlebih hamper dari pada urat nadimu (QS, Al-qoof : 16) 53

Dan jika hamba-hambaku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka jawablah bahwa Aku ini dekat (QS, Al baqaraah : 186)

Maqom Tuhan Sesungguhnya


(Rahasia didalam Rahasia)

Yang

Maqom Tuhan yang sebenarnya, disebut juga dengan Maqom


Penelanjangan Tuhan, oleh karna pada maqom ini tidak ada lagi katakata perintah, Hukum pun sudah tidak berlaku lagi. Mengapa sampai demikian itu adanya .? Ini disebabkan oleh karna asyiknya yang teramat sangat ketika berada pada maqom ini, siapa saja yang apabila telah sampai pada maqom ini, pastilah ia tidak akan mengatakan kata-kata Syareat lagi. Karna baginya Syareat itu hanya untuk dunia saja, sedangkan untuk akhiratnya tidak lagi, Syareat itu akan hancur kedalam Hakekat, Syareat itu hanya diperuntukkan bagi orang Awam / Umum (dunia) saja, sedangkan orang-orang akhli Akhirat (Akhli Hakekat), Ia tidak akan berhakekat lagi, begitu pula bagi akhli Marifat, ia pun tidak akan bermarifat lagi . Seseorang yang telah sampai kepada Tuhan-nya, maka baginya harga emas dan harga pasir itu sama saja, Syurga dan Neraka juga sama saja, Ia tidak tau lagi siapa dirinya dan ia-pun tidak akan tau lagi siapa Tuhannya, Ia lebih senang diam, karna baginya diam itu sesungguhnya kedudukan Tuhan yang maha Agung dan maha Mulia serta maha Tinggi. Wahai saudaraku perhatikan olehmu iktibar dibawah ini : Tuhan didalam mencipta, baik itu manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan semua yang ada dialam dunia ini, cukup dengan hanya satu kali cipta saja, setelah itu Ia tidak akan pernah mencipta lagi sampai dunia ini Qiyamat. Sebagai contohnya, Manusia Tuhan didalam menciptakan manusia cukup hanya dengan satu kali cipta saja, (Nabi Adam As), selanjutnya nabi Adam itu sendirilah yang akan berkembang biak hingga sampai pada diri kita sekarang ini.

54 Jika dipertanyakan bagai mana halnya dengan penciptaan Sitti Hawa........? Didalam mengadakan siti hawa, Allah Swt hanya mengambil sebagian saja dari peralatan tubuh Adam, yaitu tulang rusuk Adam yang sebelah kiri , ini juga bisa diartikan satu kali saja, karna perkakasnya sudah ada tinggal diambilkan saja untuk memenuhi kebutuhan siti hawa, bukan sesuatu yang baru lagi, jadi tidak terhitung dua atau tiga kali. Menciptakan hewan juga cukup satu kali saja, selanjutnya hewan itu sendirilah yang akan berkembang biak, menciptakan tumbuhan juga cukup hanya dengan satu kali saja, untuk selanjutnya cukup tumbuhan itu sendiri yang akan berkembang biak. Tuhan juga didalam menciptakan air, cukup hanya dengan satu kali cipta saja, namun seumur dunia ini, air itu tidak akan pernah habis-habisnya, demikian pula dengan penciptaan bulan, bintang dan matahari, cukup hanya dengan satu kali cipta saja. Coba lihat dan perhatikanlah olehmu wahai saudaraku, tentang ruh-ruh manusia, hanya dengan satu kali cipta saja bukan....?, dan ruh-ruh itu tidak akan bertambah ataupun berkurang. Segala-galanya itu cukup hanya dengan satu kali cipta saja, tidak berulangulang dan tidak berbilang-bilang, oleh sebab itu maka bagi mereka, yaitu orang-orang yang duduk pada maqom akhli akhirat ,baginya satu kali sujud sudah cukup, satu kali masyuk sudah cukup, satu kali mati sudah cukup, satu kali tahu sudah cukup, semuanya serba satu saja, tidak serba dua atau tiga lagi -----------------------------------------------------(Itulah Esa). Semua pekerjaan itu baik, semua ibadat itu baik, semua Tuhan itu baik, apapun saja baik, tidak ada jahatnya, tidak ada Neraka, tidak ada Syurga, tidak ada itu dan tidak ada ini. Semua tidak ada apa-apa, semua langgeng, semua Rahmat, semua Nikmat, semua Allah, semua Tuhan, semua Nur, semua Zat, semua Aku, aku dan aku hingga pada akhirnya menjadi sunyi tiada huruf, tiada suara, semua kembali keasalnya.

Tiada hurup dan tiada suara


Asal Tuhan itu tidak bernama, tiada berhuruf, tiada bersuara, bukan cahaya, bukan benda dan bukan materi, bukan Zat, bukan Sifat, bukan

55 Asma dan juga bukan Afal, bukan Allah, bukan Muhammad, bukan Adam, semuanya bukan. Jika demikian kenyataannya, maka ikutilah olehmu dengan sebaikbaiknya apa yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Secara untuh dan menyeluruh jangan hanya setengah-setengah, apa yang telah diajarankan oleh Baginda Rosulullah Saw itu, adalah ajaran yang mengandung Syareat dan Hakekat (lahir dan batin, dunia dan akhirat). Sebab jika beramal hanya dengan ilmu Syareat semata, sesat saja adanya, demikian pula dengan Ilmu Hakekat, jika tidak diamalkan dan tidak dimesrakan, akan membawa kehampaan saja sesungguhnya. Adanya Syareat itu karna Rosulullah Saw,

amalkan ilmu hakekat itu jika sekiranya dirimu itu tidak lagi berdiri pada keaku-anmu, dan peliharalah Syareat Muhammad dengan sebaik-baiknya supaya kamu dikasihi oleh Muhammad, dengan begitu maka sesungguhnya engkaulah yang bernama Muhammad itu dan bila engkau bernama Muhammad berarti dirimu itu Rahasia Muhammad, bila engkau menjadi Rahasia Muhammad, berarti engkaulah rahasia Allah itu.
Jika sudah se-rahasia dengan Allah, maka engkaulah yang bernama Khalifatullah didalam dunia ini dan sekiranya titel kekhalifahan itu diserahkan kepadamu, maka engkaulah yang berkuasa atas alam ini beserta seluruh isi-nya. Untuk itu bertindaklah kamu dengan pimpinan dan petunjuk Allah atasmu, dan berlaku Adillah kamu dengan sesamamu, karna keadilan dan kebijakkanmu itulah sesungguhnya Agama yang Haq (Islam) Katakan olehmu yang haq itu adalah haq, sekalipun maut tantangannya, (inilah Aqidah/pendirian), karna sesungguhnya mati itu adalah suatu jalan yang terbaik bagi orang-orang yang telah bulat Tawaqqalnya kepada Allah.

Maqom penelanjangan Tuhan ini adalah maqom yang paling tinggi.

56

Rosulullah Saw, bersabda : Aku adalah bapak dari segala Ruh, dan Adam itu bapak dari sekalian Batang tubuh
Batang tubuh manusia itu dijadikan oleh Allah taala dari pada tanah, tanah itu dari pada air, dan air itu dijadikan dari pada Nur Muhammad.oleh karna itu maka ingatlah olehmu wahai saudaraku, bahwa : Batang tubuh dan ruh kita ini jadi dari pada Nur Muhammad, maka Muhammad jualah namanya tiada yang lain. Tubuh kasar ini tidak akan dapat mengenal Allah taala melainkan dengan Nur Muhammad jua, oleh sebab itu maka tubuh kita itu disebut Pohon Bustah, artinya yang hampir pada ujud-Nya (serupa tapi tidak sama), oleh sebab itu maka diri kita inilah yang dinamakan Ujud Allah taala jangan sekali-kali ada ujud yang lain dari pada ujudnya. Inilah yang sebenar-benarnya diri, begitu pula dengan kelakuan jangan ada kelakuan yang lain, sebab jika ada yang lain maka akan menjadi hamba jua namanya.

Faqad Arafah itu, tidak akan menerima salah satu atau yang lainnya,
melainkan suci jahir dan Batin. Zat, artinya Ujud Allah taala semata-mata, itulah yang sebenar-benarnya diri kita. jangan kiranya kita syak atau ragu lagi pada kata-kata ini, baik saat berjalan itu ujud Allah, melihat itu Basyar Allah, berkata-kata itu Kalam Allah dan seterusnya dan seterusnya. Itulah yang sebenarnya, jangan ada ujud yang lain, karna jika ada yang lain dari pada itu, maka seluruh pengenalanmu itu akan batal dan sia-sia saja.

Allah Swt, berfirman :


Aku itu berada didalam sangka-sangka hambaku Dengan demikian, maka lengkaplah sudah akan ujud kita ini, yaitu ujud Allah taala namanya, sebab yang dikatakan dzat itu, ialah diri (Ujud), inilah yang sebenarnya diri. adapun yang bernama rahasia atau sirr itu, adalah sirr atau rahasia Allah taala jua adanya.

57

Inilah kesudahan Ilmu, artinya tiada lagi yang akan disebut atau
diterangkan didalam kitab manapun jua. Wahai saudaraku....! Sesungguhnya kita ini bertubuhkan Muhammad jahir dan batin, artinya bertubuhkan ruh namanya, maka tiada yang kita kenang-kenang lagi hati dan tubuh ini, hanya bertubuh batin saja, artinya Muhammad jualah yang Menjadi tubuh kita, dengan demikian, hakekat kita ini bertubuhkan Ruh Idhofi namanya. Allah berdiri diatas hukum dan muhammad itulah yang menjalankan hukum, dengan demikian, maka berlakulah hukum sebagai mana adanya. (Allah berkehendak, Muhammad berlaku). Ulama berkata : Antara diri dengan Tuhannya sedang asyik pandang memandang dengan Nyawa, tiada akan berkesudahan lagi, Nyawapun demikian pula, tiada berkeputusan dan tiada berkedudukan lagi pandang dan pujinya kepada Allah, sedikitpun tiada lupa pandangannya kepada Allah, apa yang dipandang oleh diri itu sejauh ia melepaskan pandangannya, hanya Allah taala saja yang dilihat dan didengarnya, tiada yang berlaku dikanan dan dikirinya, keatas dan kebawah, jahir maupun batin, yang dirasa hanya puji bagi puji kepada Allah seluruh alam semesta ini. Inilah yang pernah dikatakan oleh ulama yang Muhaqqiqin atau yang sudah maujud, seluruh yang berlaku pada pandanganmu itu adalah tauladan, puji atau zikrullah yang berlaku bagi seluruh alam semesta ini, karna dirinya itu mengandung kalimah (berahasia kepada Allah). Ilmu inilah yang dinamakan laut ujudullah yang amat luas dan amat dalam, yang tiada dapat dicapai oleh akal siapapun dan tiada tersurat lagi oleh tulisan dan tiada terucapkan lagi dengan kalam.

Bila Harfin wala Sautin


Tiada suara dan tiada huruf

Laya ripunaka Ilallah


Tiada yang mengenal Allah melainkan Allah jua Aku kenal Tuhan-ku, dengan pengenalan Tuhan-ku jua

58 Jika demikian, maka pengenalan diri itu ialah yang tiada di-Hakekat-kan dan tiada pula dimarifatkan lagi, tetapi hanya berlaku dengan sendirinya. Kita mengenal itu bukan berarti kita atau jasad yang baharu ini, sama sekali bukan....., akan tetapi yang mengenal itu, ialah yang Hidup dan tiada akan pernah mati, itulah diri yang sebenar-benarnya diri.

Pasal sembahyang

Sholat

atau

(Dalam Hakekat mengenal Diri)


HOLAT, sesungguhnya sudah ada jauh sebelum Rosulullah Saw

melakukan Miraj, yaitu ketika Allah Swt telah selesai menjadikan tubuh nabi Adam As, ketika itu Allah Swt berseru dan memerintahkan kepada seluruh penghuni Syurga untuk sujud kepada nabi Adam As. Perintah sujud itu kemudian dipertegas kembali oleh Allah Swt lewat perantara Nabi Muhammad Saw, yaitu ketika beliau diberangkatkan oleh Allah Swt untuk melakukan Miraj kelangit yang ketujuh, kemudian keSidrat Al-Muntaha, disinilah nabi Muhammad Saw menerima perintah sholat itu. Istilah sujudnya para penghuni syurga kala itu, dipertegas kembali oleh Allah Swt dengan sebutan sholat atau sembahyang sebagaimana yang kita ketahui sekarang ini.

Allah Swt, berseru kepada seluruh penghuni syurga :


Wahai sekalian penghuni Syurga, Ku perintahkan kepadamu, sujudlah engkau semua kepada Adam. Perintah Allah Swt kala itu mengandung iktibar dan rahasia yang sangat besar bagi kita yang beriman kepada-Nya, coba saja kita renungkan baikbaik, mengapa kala itu Allah Swt berkata demikian, tidak sebaliknya : Wahai sekalian penghuni Syurga dan engkau wahai Adam, sujudlah kamu semua kepada-Ku

Perintah Allah Swt saat itu mengisyaratkan kepada kita semua, bahwa sesungguhnya telah ada satu risalah dan rahasia yang teramat besar, yang telah dipertaruhkan oleh Allah Swt terhadap diri Adam kala itu, ini juga 59 berlaku atas diri kita, sebab antara Allah, Muhammad, Adam dan diri kita sesungguhnya merupakan satu kesatuan yang utuh serta tidak dapat dipisah-pisahkan.

Rosulullah Saw, bersabda :


Aku adalah bapak dari sekalian Ruh, dan Adam itu adalah bapak dari pada sekalian Batang tubuh

Allah Swt, juga telah berfirman :


Aku ciptakan manusia itu dalam bentuk yang paling sempurna, tapi apabila ia lalai dan ingkar kepada-Ku, maka akan Aku lemparkan ia ketempat yang paling hina, bahkan amat hina dari yang paling hina Rahasia apa kiranya yang melatar belakangi terciptanya manusia ini, sehingga diri kita tercipta dalam bentuk yang paling sempurna, inilah yang hendaknya kita cari tau, agar kita tidak termaksud dalam golongan orangorang yang lalai dan ingkar, terutama sekali ketika kita sedang didalam beribadah.

Allah Swt berfirman :


Tidak Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepadaku (QS, Adz Dzaariyat : 56) kecelakaan besarlah bagi mereka yang sholat,namun mereka lalai didalam sholatnya (QS, Al-maun : 4-5)

Asal muasal Sholat


Ketahuilah olehmu, wahai saudaraku sekalian...! Bahwa sahabat Rosulullah Saw, yaitu Syaidina Umar bin Khotob. ra, pernah bertanya kepada Rosulullah Saw : Ya Junjungan-ku, apakah asalnya sembahyang itu...?

Rosulullah Saw, menjawab :


Asalnya adalah dari Nama-ku, yaitu Akhmad 60

Akhmad

( )

Alif () , itu martabatnya............................................................ Api


Api itu sifatnya cagat, menjilat keatas ......... Artinya : Berdiri tegak atau berdiri betul, ini mencerminkan akan sifat kebesaran Allah taala (Sifat Jalalullah), yaitu menjadikan Kuat dan Lemah

Kha ( ) , itu martabatnya ............................................................. Angin.


Angin itu sifatnya Condong (bertiup horisontal) Artinya merunduk atau Ruku, ini mencerminkan akan sifat kekerasan Allah taala (Qaharullah), yaitu menjadikan Hidup dan mati.

Mim ( ) , itu Martabatnya ................................................................... Air.


Air itu sifatnya meleleh (selalu mencari tempat yang rendah) Artinya tersungkur atau Sujud, ini mencerminkan akan sifat keelokan Allah taala (Jamalullah), yaitu menjadikan Tua dan Muda

Dal ( ) , itu martabatnya . Tanah.


Tanah itu sifatnya Diam (tidak bergerak) Artinya Bersimpuh atau duduk, ini mencerminkan akan sifat kesempurnaan Allah taala (Kamalullah), yaitu menjadikan Ada dan tiada. Sedangkan sholat 5 waktu itu terbitnya dari pada kalimah :

( Al-Hamdu = segala puji )

61

Asal waktu Sholat


Hari yang pertama sekali dijadikan oleh Allah Swt, adalah hari Ahad dan dijadikan-Nya Haq Allah taala itu pada waktu Djuhur.(inilah asalnya waktu)

I . Tajalli-nya huruf Alif pada lafald Al-Hamdu, akan menjadikan asal mulanya waktu djuhur (4 rakaat), karna meliputi :
4 (empat) perkara atas diri kita, yaitu :
Suhud Jauhar Budi Nur

4 (empat) perkara juga pengenalan kita, yaitu :


Iman Islam Tauhid Marifat

4 (empat) perkara juga yang jahir atas diri kita, yaitu :


2 buah mata, 2 buah telinga.

4 (empat) perkara juga yang batin atas diri kita, yaitu :


Urat Tulang Otak

Sumsum

II . Tajalli-nya huruf Lam pada lafald Al-Hamdu, akan menjadikan asal mulanya waktu Ashar (4 rakaat), karna meliputi :
62

4 (empat) perkara atas diri kita, yaitu :


Wada Wadi Mani Manikam

4 (empat) perkara juga pengenalan kita, yaitu :


Rahasia Tubuh Hati Nyawa

4 (empat) perkara pula yang jahir atas diri kita, yaitu :


2 buah kaki 2 buah tangan.

4 (empat) perkara pula yang batin atas diri kita, yaitu :


Darah Daging Kulit Bulu atau Rambut

III . Tajalli-nya huruf Kha pada lafald Al-Hamdu, akan menjadikan asal muasal waktu Magrib (3 rakaat), karna meliputi :
3 (tiga) perkara atas diri kita, yaitu :

Zat Muhammad Adam

3 (tiga) perkara juga pengenalan kita, yaitu :


Wajib 63 Harus Mustakhil

3 (tiga) perkara pula yang jahir atas diri kita, yaitu :


Jernih (Cahaya Sumsum) Suci (Cahaya Darah) Hening (Cahaya Otak)

IV . Tajalli-nya huruf Mim pada lafald Al-hamdu, akan menjadikan asal muasal waktu Isya (4 rakaat), karna meliputi :
4 (empat) perkara atas diri kita, yaitu :
Roh Nurani Roh Rohani Roh Idhofi Roh Robbani

4 (empat) perkara juga pengenalannya atas diri kita, yaitu :


Diri terdiri Diri terjeli Diri terperi Diri yang diperikan.

4 (empat) perkara pula yang jahir atas diri kita, yaitu :

2 buah susu 2 buah lutut.

4 (empat) perkara pula yang batin atas diri kita, yaitu :


Hati sanubari Hati Manawi Hati Nurani Hati Mumin. 64

V. Tajalli-nya huruf Dal pada lafald Al-hamdu, akan menjadikan asal muasal waktu Subuh (2 rakaat), karna meliputi :
2 (dua) perkara atas diri kita, yaitu :
Nurani Rohani

2 (dua) perkara juga yang pengenalan atas diri kita, yaitu


Qodim Muhaddas

2 (dua) perkara juga yangJahir atas diri kita, yaitu :


Laki-laki Perempuan

2 (dua) perkara juga yang batin atas diri kita, yaitu :


Rahmat Nilmat Catatan : Ketahui pula olehmu wahai saudaraku, bahwa asal diri kita ini, adalah dari 2, perkara, yaitu : o Awal dari Bapak o Awal dari Ibu

Dan ketahui pula olehmu wahai saudaraku, bahwa yang awal dari bapak itu, ialah : o Ajal o Maut o Yaqin Sedangkan yang awal dari ibu itu, ialah : Hidup. Dan bila keduanya itu bersama, maka inilah yang akan menjadikan

Nyawa dan Badan.


65

Pemaknaan Al-Hamdu
Ketahui pula olehmu wahai saudara-saudaraku.......! Arti dan pemaknaan serta Rahasia lafald Al-hamdu itu, agar kamu semua didalam sholat itu dapat mencapai kesempurnaan dan tidak sia-sia. Lapald Al-Hamdu diambil dari ayat pertama Surah Al-Fatekha, yaitu pada kalimah Al-hamdu- illahi robbil alamin . Segala puji- bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam Itu sebabnya Suratul Fatekha menjadi salah satu rukun dari 13 rukun yang ada dan wajib untuk kita ketahui. Tidak dipandang syah sholatmu apabila suratul Fatekha tidak ada didalamnya, juga tidak dipandang sempurna sholatmu bila salah dan keliru didalam pengucapan-nya

Huruf Alif --- Sholat Dzohor --- Nabinya Ibrahim As --- Malaikatnya
Jibril --- Sahabatnya Syaidina Abu Bakar Siddiq --- Kepala.

Huruf Lam --- Sholat Ashar --- Nabinya Yunus As --- Malaikatnya
Mikail --- Sahabatnya Syaidina Umar bin Khatab --- Tubuh.

Huruf Kha --- Sholat Magrib --- Nabinya Musa As --- Malaikatnya
Isrofil --- Sahabatnya Syaidina Usman bin Affan --- Tangan.

Huruf Mim --- Sholat Isya --- Nabinya Isa As --- Malaikatnya Izrail --Sahabatnya Syaidina Ali bin Abi Tholib --- Pinggang.

Huruf Dal --- Sholat Subuh --- Nabinya Adam As --- Malaikatnya
Rahmani/Harun --- Sahabatnya tidak ada --- Kaki. Keterangan :

Nabi Adam As, tidak mempunyai sahabat karna Nabi Adam As itu
adalah Bapak dari batang tubuh manusia. 66

Pasal tentang Suratul Fatekha


( Dalam Hakekat )
Bismillahir rohmanir rohim. Ya Muhammad, bahwasannya Allah taala itu Esa, Esa pada Dzat-Nya, Esa pada Sifat-Nya, Esa pada Asma-Nya dan Esa pada Afal-Nya, tiada sekutu bagi-Nya. Al-hamdulillahi robbil alamin. Ya Muhammad, bermula sembahyang itu adalah Esa Dzat-Ku, Aku memuji diri-Ku sendiri, Aku menjadikan jahir dan batin dan Aku-lah yang memeliharanya. Arrohmanir rohim. Ya Muhammad, yang membaca Fatekha itu Aku, Aku memuji diri-Ku sendiri, kasih sayang-Ku kepada diri-Ku. Maliqiyaumiddin. Ya Muhammad, engkau itu ganti kerajaan-Ku yang maha besar, karna engkau itu adalah Aku tiada yang lain. Iyyaqana budhu wa iyyaka nastain. Ya Muhammad, bermula kehambaan itu adalah sifat-Ku, maka yang menghadap kepada-Ku jahir dan batin itu, Aku jua tiada yang lain. Ikhdinas sirotol mustaqim.

Ya Muhammad, tiada yang tahu, engkaulah yang mengetahui Dzat-Ku, karna engkau itu adalah rahasia jalan untuk mengenal-Ku. Shirotol ladzina anamtha alaihim. Ya Muhammad, semuanya itu nikmat dari pada-Ku, maka kembalilah dan berhadaplah kepada-Ku sekaliannya. Ghairil maghdu bhi alaihim waladholin. Ya Muhammad, tidaklah Aku marah kepada ummatmu, Aku menyatakan rahasia-Ku, kasih sayang-Ku kepadamu dan kepada ummatmu. Amin. Ya Muhammad, engkau itu sifat-Ku didalam ke-elokan, kekerasan dan kesempurnaan-Ku, Aku perkenankan apa-apa maksudmu kepada-Ku, karna tiada lain yang kaya dan berkehendak itu melainkan Aku jua adanya, 67 Bismillah = Allah menamai Diri-Nya Ar-rahman = Ya Muhammad, Aku menciptakan engkau Ar-rahim = Ya Muhammad, Aku mengatakan rahasia-Ku kepadamu Al-hamdulillah = Ya Muhammad, Sembahyang-Ku itu ganti sembahyangmu menuju diri-Ku Robbil alamin = Ya Muhammad, Aku tahu dzahir dan batinmu Ar-rohmanir rohim = Ya Muhammad, yang membaca fatekha itu Aku dan sembahyang itu memuji diri-Ku Maliqiyau middhin = Ya Muhammad, Aku Tuhan yang maha besar yang isi sekalian alam ini, kamu ganti kerajaan-Ku Iyyakana budhu = Ya Muhammad, tiada lain yang sembahyang itu, Aku memuji diri-Ku Wa iyyaka nastain = Ya Muhammad, yang gaib itu Aku, tiada Aku engkau ganti kerajaan-Ku Ikhdinas syirotol mustaqim = Ya Muhammad, tiada yang tahu, engkau jua yang mengetahui Aku Shirotolladzina an amtha alaihim = Ya Muhammad, tiada murka-Ku kepadamu, Aku kasih sayang

kepadamu, sebab Aku sungguh kasih akan sekalian umatmu. Ghairil magdhubi alaihim = Ya Muhammad, tiada murka-Ku kepadamu, tiada nyata Aku jika tiada engkau. Waladholin = Ya Muhammad, jika tiada kasih-Ku, tidak adalah engkau dan tiada rahasia-Ku sekalian Nya Amin = Ya Muhammad, adamu itu ganti rahasia-Ku. Itulah keterangan yang menerangkan tentang Asal mula Sholat, waktu sholat, jumlah rakaat sholat dan tafsir hakekat suratul fatekha didalam sholat. 68

7 Bismillah Barencong
Bismillah

dalam

Kitab

7 Bismillah dari kitab Barencong (ilmu turunan dari Datu Sanggul, Tanah Muning-Kalimantan Selatan)
Allah itu tajalli kepada Hayat, Hu itu ruh, ruh itu nafas, nafas itu nyawa. (ini pegangan datu sanggul, barang siapa berlepas dari ini, matinya sama dengan binatang)

Bismillah
Allah tajalli kepada Hayat, Hayat tajalli kepada Nur Muhammad, Nur Muhammad itu tubuh kita.

Bismillah
Ilmu sudah rapat mupakat Akhlussunnah wal jamaah. Hayat itu menjadi nyawa, nyawa itu menjadi Muhammad, maka jangan lepas dari ini. (H.Abd. Hasan, Negara Kalimantan Selatan)

Bismillah
Ilmu sudah rapat mupakat Akhlissunnah wal jamaah,

Adapun sebenar-benarnya diri itu adalah hayat dan sebenarbenarnya hayat itu adalah ruh, dan sebenar-benarnya ruh itu adalah nafas, dan sebenar-benarnya nafas itu adalah rahasia, dan sebenarbenarnya rahasia itu adalah nur Muhammad, dan sebenar-benarnya Nur Muhammad itu adalah tubuh kita. (H. Muhammad Arsyad Al-banjari, dalam pagar-MartapuraKalimantan Selatan)

Bismillah
LA itu Hayat, ILA itu Ruh, ILAHA itu dinafas, ALLAH itu Nyawa.

Bismillah
Badan Rohani itu ialah Allah. selanjutnya Allah taala itu jangan dicari lagi sebab Ia sudah menjadi segala nyawa, Ia sudah menjadi nama kita didalam rahani adanya. (H. Abd. Samad Bakumpat- Kalimantan Selatan)

BismillahAllah taala jangan dicari lagi, karna sudah menjadi


sekalian Nyawa (Laitsya kamitslihi syaiun) 69

Musabab Jumlah Rakaat Sholat

Subuh, 2 rakaat, oleh sebab tajalli-nya Allah taala pada 2


perkara, yaitu :

o Zat o Sifat yang maujud

Djuhur, 4 rakaat, oleh sebab tajallinya Allah taala pada 4


perkara, yaitu : Ujud Ilmu Nur Suhud

o o o o

Ashar, 4 rakaat, oleh sebab tajallinya Allah taala pada 4 perkara, yaitu : o Api o Angin

o Air o Tanah Magrib, 3 rakaat, oleh sebab tajallinya Allah taala pada 3 perkara, yaitu : o Ahdat ( Allah ) o Wahdat ( Muhammad ) o Wahidiyat ( Adam )

Rosulullah Saw, berkata :


Barang siapa mengetahui yang 3 perkara ini, maka sempurnalah sembahyangnya, dan jika 3 perkara ini tidak diketahuinya maka adalah didalam dosa

Isya, 4 rakaat, oleh sebab tajalli Allah taala pada 4 perkara, yaitu
Mada Madi Mani Manikam 70

o o o o

Ashrarus Sholah
(Rahasia didalam Sembahyang)

Ashrarus Sholah, artinya rahasia didalam sholat (sembahyang),


maka hendaklah kamu mengetahui segala rahasia yang ada didalam sholat (sembahyang) itu. Adapun yang dimaksud rahasia itu, ialah hakikat dan marifat didalam Sholat (sembahyang). Hakikat itu adalah batinnya Syareat

Ulama ahli hakekat, mengatakan :


Ketahuilah olehmu, bahwasannya hakekat sembahyang itu, asalnya atas 4 (empat) perkara, yaitu : 1. Mengetahui hakekat didalam berdiri, 2. Mengetahui hakekat didalam ruku, 3. Mengetahui hakekat didalam sujud

4. Mengetahui hakekat didalam duduk.

Hakekat berdiri itu kepada huruf Alif, asalnya dari Api. Api yang dimaksud disini, bukan api pelita atau api bara sebagaimana
yang kita ketahui, akan tetapi api yang dimaksud itu adalah merupakan satu Itibar yang menyatakan akan sifat dari api, yaitu cagat menjilat keatas yang mengisyaratkan akan berdiri tegak (berdiri betul) ujung atasnya menguasai 7 petala langit dan ujung bawahnya menguasai 7 petala bumi, sebagai perlambang akan sifat kebesaran Allah taala (Sifat Jalallullah). Sifat Kebesaran Allah taala itu, duduknya pada 2 (dua) perkara, yaitu : o Kuat o Lemah Adapun yang kuat dan yang lemah itu adalah Iradat (kehendak)-Nya jua

Allah Swt, berfirman :


Allah Swt itu berbuat sekehendak-Nya, sedangkan hamba itu sekali-kali tidak mempunyai kuat dan lemah 71 Sebab kekuatan dan kelemahan hamba itu sesungguhnya, dikuatkan dan dilemahkan oleh Allah taala. Inilah yang difanakan didalam berdiri tegak atau berdiri betul, bahwa segala perbuatan yang baharu itu menyatakan perbuatan yang Qodim jua adanya.

Arifbillah, mengatakan :
Tiada ku perbuat didalam sembahyang itu, jahir maupun batin, melainkan Allah Swt jua yang berbuat

Hakekat Ruku itu kepada huruf Lam, asalnya dari Angin Angin yang.dimaksud disini, bukan angin timur atau angin barat seperti
yang kita ketahui, akan tetapi angin yang dimaksud itu juga merupakan satu itibar yang menyatakan akan sifat angin, yaitu condong atau bertiup horisontal, ini mengisyaratkan kondisi menunduk (Ruku), sebagai perlambang akan sifat keelokan Allah taala (Sifat Jamalullah).

Sifat Keelokan Allah taala itu, duduknya pada 2 (dua) perkara juga, yaitu : o Tua o Muda Adapun tua dan muda itu juga iradat (kehendak)-Nya jua. Hamba itu tiada sekali-kali mempunyai tua dan muda, adapun tua dan muda itu oleh karna Dituakan dan dimudakan oleh Allah taala. Inilah yang difanakan didalam merunduk (Ruku), bahwa semua nama kita yang baharu itu akan lenyap, yang ada hanyalah nama Allah taala jua adanya.

Arifbillah, berkata :
Tiada nama yang lain didalam sembahyang itu, jahir maupun batin, melainkan Nama Allah jua adanya Mengapa demikian, karna nama dengan yang empunya nama itu satu jua adanya, baik jahir maupun batin tiada nama lain selain nama-Nya.

Hakekat Sujud itu kepada huruf Lam Akhir, asalnya dari Air.
72

Air yang dimaksud disini, bukan air laut atau air sungai seperti yang
kita ketahui, akan tetapi air yang dimaksud disini juga merupakan satu itibar yang menyatakan akan sifat air, yaitu senantiasa mencari tempat yang rendah, yang mengisyaratkan posisi sujud, sebagai perlambang sifat kekerasan Allah taala (Sifat Qaharullah). Sifat Kekerasan Allah taala itu, duduknya pada 2 (dua) perkara juga, yaitu : o Hidup o Mati Adapun hidup dan mati itu, juga iradat (kehendak)-Nya jua. Hamba itu tiada sekali-kali mempunyai hidup dan mati, sebab hidup dan matinya hamba itu, dihidupkan dan dimatikan oleh Allah taala, Inilah yang difanakan ketika sujud, segala sifat kita yang baharu akan lenyap dan yang ada hanya sifat Allah taala jua adanya.

Arifbillah, berkata :
Tiada rupa yang lain didalam sembahyang itu, selain rupanya jua adanya Sifat dengan yang empunya sifat itu satu jua adanya, baik jahir maupun batin.

Adapun pengertian Sifat disini, yaitu :


o o o o o o o Tiada yang hidup, Tiada yang tahu, Tiada yang kuasa, Tiada yang berkehendak, Tiada yang mendengar, Tiada yang melihat Tiada yang berkat-kata, melainkan Allah Swt jua adanya.

Hakekat Duduk itu kepada huruf Ha, asalnya dari Tanah. Tanah yang dimaksud disini, bukan tanah pasir atau tanah lumpur seperti
yang kita ketahui, tetapi tanah yang dimaksud itu juga merupakan satu itibar yang menyatakan sifat tanah, yaitu diam yang mengisyaratkan 73 posisi duduk, sebagai perlambang sifat kesempurnaan Allah taala (Sifat Kamalullah). Sifat kesempurnaan Allah taala itu, duduknya pada 2 (dua) perkara yaitu o Ada o Tiada Hamba itu sekali-kali tiada memiliki ada dan tiada, sebab ada dan tiadanya itu, diadakan dan ditiadakan oleh Allah taala. Inilah yang difanakan ketika duduk, tiada ujud kita yang baharu melainkan Ujud Allah jua adanya.

Arifbillah, berkata :
Tiada ujud yang lain didalam sembahyang itu, melainkan hanya ujud Allah jua adanya jahir dan batin

Inilah hakekat yang ada didalam sembahyang, oleh karena itu maka Hakekat maupun Marifat kita harus benar-benar bersih dan suci dari 3 perkara, yaitu : Suci dari pada Syirik Suci dari pada Niddun ( Jangan bertimbang ) Suci dar pada Dhiddun ( Jangan berlawanan )

Allah Swt, berfirman :


Dahulu Allah dengan tiada mendahului akan Dia, dan yang kemudian dengan tiada yang kemudian dari pada-Nya, Jahir Allah itu dengan tiada yang menjahirkan akan Dia, dan bathin Allah itu dengan tiada yang tersembunyi Maksudnya : Bermula Ia yang awal dan yang akhir, Ia yang jahir dan yang batin, tiada yang lain dari padanya, itulah tauhid dan itulah marifat yang sempurna. Jika tidak demikian, maka sesungguhnya kita sembahyang itu tidak ubahnya hanya menyembah berhala saja. Dan sesungguhnya berhala yang besar itu, adalah anak dan istri serta semua hartamu, sedangkan berhala yang kecil itu adalah nafsunafsumu yang ada didalam dirimu sendiri.

74

Rukun 13
Selanjutnya ketahui pula olehmu wahai saudaraku, Rukun 13 (tiga belas) yang wajib, jangan sampai engkau tidak mengetahuinya, dan jangan pula engkau tidak dapat membedakan mana yang wajib dan mana yang sunah, karna itu akan merusak sholatmu.

Adapun Rukun wajib yang 13 (tiga belas) itu, adalah Sbb :


o o o o o o Niat Berdiri betul Takbiratul Ikhram Fatekha Ruku Itidal

o o o o o o o

Sujud Duduk antara 2 sujud Tahyat Awal Tahyat Akhir Salawat Salam Tertib.

Rukun 13 (tiga belas) itu jika ia berhimpun dalam satu laku dan perbuatan, maka ia akan membentuk sebuah isyarat kalimah, yaitu kalimah ALLAH , sebab : o o o o Berdiri itu, mengisyaratkan huruf Alif, Ruku itu, mengisyaratkan huruf Lam awal, Sujud itu, mengisyaratkan huruf Lam akhir Duduk itu, mengisyarat huruf Haa.

Rukun 13 (tiga belas) didalam sholat itu, merupakan sebuah tahapantahapan dari suatu pekerjaan yang diwajibkan atas semua manusia yang beriman, tidak wajib bagi mereka yang tidak beriman. Rukun 13 (tiga belas) yang wajib itu, dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 3 (tiga) rukun saja, yaitu : o Rukun Qolbu, o Rukun Qouli o Rukun Fili. 75

Rukun Qolbu , takluknya pada Hati (duduknya pada Hati),


meliputi 2 perkara, yaitu : 1. Niat 2. Tertib

Rukun Qauli, takluknya pada lidah atau bacaan, meliputi 5


perkara, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Takbiratul Ikhram Fatekha Tahyat Awal Salawat Salam

Rukun Fili, takluknya pada laku (pekerjaan), meliputi 6 perkara,


yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Berdiri betul Ruku Itidal Sujud Duduk antara 2 sujud Duduk tahyat Akhir.

Selanjutnya rukun 13 (tiga belas) itu, dihimpunkan lagi menjadi 3 (tiga) Rukun saja didalam satu gerak/perbuatan, yaitu pada ketika mengangkat Takbir pertama (takbiratul ikhram), isinya : o Qasad o Taarad o Tayin

Qasad,
Qasad itu, tubuh kita yang menyatakan Niat dan perbuatan yang sempurna. Adapun Niat yang sebenar-benarnya Niat itu, ialah : Tiada berhuruf, Tiada bersuara Tiada bertempat Itulah Zat Allah taala yang mutlak, Ia-lah yang melemahkan sekalian yang maujud dan melingkupi sekalian yang maujud dialam ini. 76

Taarad,
Taarad itu, menyatakan Fardhu. Adapun Fardhu yang sebenar-benarnya itu, ialah Sifat Allah taala. Ayan tsabitha itu ialah Nur Muhammad, wujud dan tempatnya pada sekalian ruh manusia.

Tayin,
Tayin itu, Nyata Afal Allah taala pada alam malakut (jasad Adam), itulah tubuh kita.

Muqaranah Niat

(Didalam Takbiratul Ikhram)


Pasal ini, adalah pasal yang menyatakan tentang Muqaranah Niat didalam Takbiratul Ikhram pada sekalian Ahli Fikih dan Itikat akhli sunnah wal jamaah pada mazhab Imam Syafei yang diberi oleh Allah rahmat atasnya. Muqaranah niat didalam takbiratul ikhram itu, wajib atas tiap-tiap Islam laki-laki dan Islam perempuan untuk mengetahuinya,

Imam Nawawi ra, berkata :


Wajib dimuqaranahkan niat itu pada takbiratul ikhram Hakekat Niat itu, ialah Iradat (kehendak) dari Allah taala pada martabat Alam Lahut, dinamai Ia Sirrul Chafi, artinya yang tersembunyi, tiada seorangpun yang mengetahui akan Ia, itulah hakikatnya Zat pada sekalian yang maujud ini.

Allah Swt, berfirman :


Bahwasannya Aku jua yang mengetahui, yang nyata dan yang tersembunyi Kemudian turun kealam Asmaari, yaitu kepada rahasia kita, maka dinamakan akan Ia Adzam .

Allah Swt, berfirman :


Bahwasannya yang demikian itulah dari pada sebaik-baiknya cita-cita sekalian pekerjaan dan kebajikan 77 Kemudian, untuk melengkapi kepada hati serta diperbuat Anggotanya, maka inilah yang dinamai akan dia itu Niat . oleh

Rosulullah Saw, bersabda :


Bahwasannya tiada syah segala amal itu, melainkan dengan Niat Segala amal yang berlaku pada syareat itu, tiada akan sempurna tanpa dengan Niat. Muqaranah Niat pada waktu Takbiratul Ikhram itu, diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) perkara, yaitu :

o Muqaranah Urufiyah o Muqaranah Tauziijah o Muqaranah Basthiah.

Muqaranah Urufiyah, adalah pakaian segala Ahlul-islam dan itiqat


segala Ahlussunnah wal jamaah, syah pada maqom Imam Syafii. ra , maka syahlah sembahyang dengan dia. Sedangkan untuk kaifiat Muqaranah Urufiyah itu, dihimpunkan pada rukun yang 13, yang meliputi : o Rukun Qolbi o Rukun Qauli o Rukun Fili Untuk kemudian dihimpunkan lagi didalam Takbiratul Ikhram, yang meliputi : o Qasad o Taarad Yaitu ketika berkata Allahu Akbar Ia ingat didalamnya : Aku perbuat fardhu itu atau sembahyang fardhu ini . Muqaranah Niat itu, jangan terdahulu dan jangan kemudian dari pada huruf Alif Allah, bersamaan dengan mengangkat tangan sembari mengucap kalimah Allahu Akbar, begitu pula dengan hati turut mengucap, maka nyatalah disana segala perbuatan didalam sembahyang itu. 78 Memulainya yaitu pada Alif Allah dan menyudahinya pada Ra Akbar, jika tepat kita meletakkannya, maka sempurnalah niat itu dan sempurnalah sembahyangnya.

Muqaranah Tauziiyah, ialah Muqaranah yang sia-sia lagi tidak syah


Sembahyangnya dengan dia, yaitu menetapkan Qasad, Taarad dan tayin yang hadir didalam hatinya tatkala lidahnya berucap atau Allahu Akbar , hatinya menyebut : Aku sembahyang Fardhu Zuhur, asar atau yang lainnya

Yang demikian itu tidak syah pada Mazhab Imam Syafii, karna mengulang Niat.

Muqaranah Basthiah, ialah Muqaranahnya segala Nabi dan sekalian


Wali-waliyullah, dan atas mereka itu rahmat Allah dan salam-Nya. Muqaranah Basthiah inilah Muqaranah yang sempurna, oleh sebab Tauhid dan Marifat mereka kepada Allah Swt sudah sempurna, namun bagi kita berhati-hatilah memakainya, karna dikhawatirkan kalau kita ini belum lagi sampai kepada maqom Fana, itu sebabnya kita tidak boleh memakai Muqaranah Basthiah, akan tetapi bila kita telah sampai kepada maqom fana itu (hapus segala sifat-sifat basyariah), maka dapatlah kita memakainya. Adapun kaifiyat memakai muqaranah basthiah itu, dihadirkan niat itu tatkala mengambil air wudhu atau air sembahyang dan berkekalan hingga salam. Dihadirkan niat itu tatkala mengucap Allahu Akbar, difanakan segala ujudnya dan segala sifatnya dan segala Asmanya serta Afalnya dari pada keakuan dirinya, sekali-kali ia tidak merasa lagi akan dirinya, melainkan akuan Allah semata yang berdiri, ruku, sujud dan duduk, inilah perbuatan orang yang Akullah.

79

4 Hal didalam takbiratul Ikhram


1. MiRaj, artinya lenyap.... maksudnya bahwa kita ini tidak ada mempunyai diri atau tubuh lagi, melainkan hanya Allah taala dan kita ini adalah hambanya.

2. Ikhram, artinya tercengang-cengan (tafaqur sesaat)..... maksudnya tiada kita mengetahui akan diri dan tidak akan tahu Tuhannya, hanya bertemu gaib didalam gaib. 3. Munajat, artinya berkata-kata..... yang berkata-kata itu adalah Allah taala dan kita ini adalah hambanya. 4. Tubaddil, artinya terganti...... bahwa kita ini tidak ada mempunyai ujud lagi melainkan hanya ujud Allah taala, dan kita ini adalah hambanya. o Qasad : Menyenghaja sesuatu perbuatan o Qalbi : Perbuatan hati (Menyenghaja) o Taarad : Menentukan Fardhu o Qauli : Perbuatan Lidah (Fardhu) o Tayin : Menentukan waktu o Fili : Perbuatan Tubuh (Waktu)

Rosulullah Saw, bersabda :


Pada Hakekatnya yang bertakbiratul Ikhram itu hanya Allah jua semata-mata Qasad itu, tubuh kita ini yang menyatakan Niat yang sebenarbenarnya niat, tempatnya pada Dzat Allah taala yang mutlaq (Laitsya kamitslihi syaiun), itulah yang melingkupi Ilmu.. Taarad itu, menyatakan Fardhu dan yang sebenar-benarnya fardhu itu Sifat Dzat Allah taala, yaitu Nur Muhammad (Tayin Awal) namanya.Nur Muhammad itu tempat tajallinya segala Roh Tayin itu, menyatakan perbuatan Sholat, artinya Afal Allah taala pada Alam Malakut (jasad Adam itu tubuh kita), Tayin itu menentukan masuknya waktu Sholat. 80

Rosulullah Saw, bersabda : Barang siapa yang meninggalkan sembahyang lima waktu, maka ia akan dibebankan seperti tersebut dibawah ini :

Syahadatnya tidak diterima dan harus dibunuh Mayatnya jangan dimandikan dan ditanam dijalanan Jangan dimakan binatang sembelihannya Jangan bergaul dengan mereka, karna mereka lebih najis dari pada anjing dan babi.

-----------------------------------------------------------------------------------------Janganlah kamu berjalan dimuka bumi ini dengan sombong (QS, Luqman : 18) 81

Bab Mematikan Diri


(Mati dalam Manawiyah
Antal Mautu Qoblal Mautu

Rasakanlah mati sebelum engkau mati Mati tidak lebih dari suatu peristiwa yang jiwa ini berhenti memakai perkakasnya, perkakasnya itu ialah anggota jiwa. Jiwa itu Jauhar, bukan jisim atau aradh Jauhar jiwa, berlainan dengan jauhar tubuh, jauhar jiwa bersifat halus dan gaib sedangkan jauhar tubuh bersifat kasar, itu sebabnya maka berbeda, kelakuannya, berbeda sifatnya dan berbeda pula perangainya. Jau har Jiwa tidak mati, akan tetapi ia akan kembali kepada kekekalannya dan terlepas dari seluruh ikatan-ikatan alam lahiriyah, ia tidak akan fana selama ia masih jauhar, dzatnya juga tidak akan pernah habis, sedangkan yang habis dan bertukar-tukar itu ialah aradh yang datang kemudian. Demikian sekelumit pengantar tentang mati sebagai pembuka kata, dalam konteks perjalannan diri didalam mencari dan memahami akan hakekat diri kita yang sesungguhnya, yaitu diri yang sebenar-benarnya diri, yang hidup dan tiada akan pernah mati. Mematikan diri yang dimaksud pada pasal ini, adalah mati dalam arti mana atau mati manawiyah, bukan mati hissiyah atau mati jasad (jisim) seperti layaknya jenajah. Didalam melakukan perjalanan batin, mematikan diri itu merupakan jalan terakhir dari semua perjalanan yang ada, yang dapat menghantarkan diri seseorang untuk sampai pada Ujudul Haq. Tanpa dengan jalan mati sebagaimana yang kami maksudkan itu, seseorang tidak akan pernah sampai pada tujuan akhir. Adapun mati dalam mana itu, ialah : Tiada hamba itu Kuasa Tiada hamba itu Berkehendak 82 Tiada hamba itu Mendengar Tiada hamba itu Melihat Tiada hamba itu Hidup Tiada hamba itu Tahu Tiada hamba itu berkata-kata.

Karna memang sesungguhnya hamba itu sama sekali tidak memiliki apaapa, wujudnya saja kalau tidak diwujudkan tidak akan pernah ada, begitu pula dengan yang kami sebutkan diatas tadi, kesemuanya itu mutlak milik Allah dan sekali-kali hamba itu tidak berhak memiliki, jangankan memiliki mengakui saja hamba itu tidak diperkenankan. Apa lagi kiranya yang mau dibicarakan tentang hamba itu, karna sesungguhnya memang hamba itu tidak ada dan tidak akan pernah ada. Kuasa itu Qodrat-nya Allah, Kehendak itu Iradat-nya Allah, Mendengar itu Sama-nya Allah, Melihat itu Basyar-nya Allah, Hidup itu Hayat-nya Allah, Tahu itu Ilmu-nya Allah, Perkataan itu kalam-nya Allah, begitu pula dengan Dzat, Sifat, Asma dan Afal. Dzat itu diri-Nya, Sifat itu rupa-Nya, Asma itu nama-Nya dan Afal itu perbuatan-Nya, lantas yang mana milik hamba..? Silahkan saudaraku renungkan sendiri, sebab yang bisa menjawabnya adalah saudaraku sendiri!!! Dengan adanya kenyataan itu, kira-kira pantaskah jika didalam hidup dan kehidupan ini kita menyombongkan diri, lantas apa juga yang mau disombongkan. adanya kenyataan itu, kira-kira pantaskah jika kita menyombongkan diri, apa pula yang mau kita sombongkan Hidup kita ini, sesungguhnya karna kita dihidupkan, sekiranya kita tidak dihidupkan, mungkinkah kita hidup, tentu tidak bukan?. Kita dapat melihat itu, sesungguhnya karna kita diperlihatkan, sekiranya kita tidak diperlihatkan, mungkinkah kita dapat melihat, tentu tidak bukan? Kita dapat mendengar itu, sesungguhnya karna kita didengarkan, sekiranya kita tidak didengarkan, mungkinkah kita dapat mendengar, tentu tidak bukan.?. begitu seterusnya.dan seterusnya. Jika demikian kenyataan yang sebenarnya, maka sesungguhnya : 83 Yang Hidup itu bukan kita, tetapi yang maha Hidup, Yang Kuasa itu bukan kita, tetapi yang maha Kuasa, Yang Berkehendak itu bukan kita, tetapi yang maha berkehendak, Yang Tahu itu bukan kita, tetapi yang maha Tahu, Yang Melihat itu bukan kita, tetapi yang maha Melihat,

Yang mendengar itu bukan kita, tetapi yang maha mendengar, Yang Berkata-kata itu bukan kita tetapi yang maha berkata-kata.

------------------------------------------------------------------------------------------

Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat untuk (keselamatan) dirinya sendiri dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri, dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang Rosul (QS, Al-israa : 15)
84

Garis besar

tentang Sifat 20 dan Tasawwuf


Sifat 20
Berbicara mengenai pengenalan diri, yaitu diri yang sebenar-benarnya diri, tentunya tidak akan lepas dari 2 ilmu Allah yang utama, yaitu : Sifat 20 Tasawwuf Bagi orang awam, mengkaji sifat 20 dan tasawwuf itu sangat berbahaya dan menakutkan, sebab katanya bias membuat orang menjadi gila, ketakutan dan kekhawatiran itu sangat beralasan karna didalam perjalananannya, hal seperti itu mungkin saja bisa terjadi tetapi mungkin juga tidak. Hal ini sangat tergantung, bisa saja hal seperti itu terjadi oleh karena apa yang dikaji, lepas dari rel dan ketentuan dari apa yang dimaksudkan atau bisa juga karna penyampainya yang kurang menguasai bahan kajian, sehingga didalam materi pengkajiannya menjadi sangat membingungkan, berbelit-belit dan tidak ada satu kesimpulan yang dapat dijadikan patokan dan pegangan didalam hidup dan kehidupan ini. Pandangan yang menganggap bahwa ilmu sifat 20 dan tasawwuf itu bisa membuat orang menjadi gila itu sangat keliru besar! Islam sendiri sangat menganjurkan kepada kita semua untuk memahami dan mempelajari kedua Ilmu tersebut, karna hanya dengan pemahaman dan pengajaran yang benar terhadap kedua ilmu Allah itu seseorang akan sampai pada apa yang ia kehendaki, yaitu dapat menghantarkan dirinya untuk mengadakan pengenalan, baik itu pengenalan pada dirinya sendiri terlebih lagi pengenalan terhadap diri Tuhannya. Tanpa dengan kedua Ilmu Allah tersebut, dapat dipastikan seseorang itu tidak akan pernah sampai pada maqom tertinggi disisi Allah, karna kedua ilmu itu adalah pintu atau gerbang utama yang harus dilalui untuk sampai kepada Allah. 85

Rosulullah bersabda :
Kenalilah dirimu niscaya kamu akan kenal akan Tuhanmu, kenal akan Tuhanmu binasalah dirimu Sesungguhnya diri anak Adam itu adalah dosa yang besar, terkecuali ia mengetahui Barang siapa menuntut jalan kepada Allah dengan lain dari pada mengenal akan diri dengan sebenar-benarnya pengenalan, sesungguhnya kesesatan yang amat jauhlah ia dengan Tuhannya Aku Adalah gudang yang tersembunyi, Aku suka jika Aku dikenal, lalu Aku ciptakan makhluk supaya ia mengenal akan Aku Ketahuilah olehmu wahai saudara-saudaraku sekalian. Bermula mengenal diri itu adalah, ketahui dahulu olehmu akan sifat-sifat yang wajib bagi Allah, jalannya adalah Tasawwuf. Sifat wajib bagi Allah ada 13, seiring dengan adanya ilmu tentang diri melaui tasawwuf, maka para ulama tahkik menambahnya 7 sifat lagi sehingga genaplah menjadi 20 sifat jumlahnya sebagaimana seperti yang kita ketahui sekarang ini. 13 Sifat utama itu mutlak milik Allah, sedangkan yang 7 berikutnya itu dipertaruhkan Allah atas diri manusia.

13 sifat utama itu, ialah :


Wujud (Ada) Qidam (Dahulu) Baqa (Kekal) Mukhalafah lil hawadits (Berbeda dengan semua makhluk) Qiyamuhu taala binafsih (Berdiri sendiri) Wahdaniyat (Maha Esa) Qudrat (Kuasa) Iradat (Berkehendak) Ilmu (Tahu) Hayat (Hidup) Sama (Mendengar) Basyhar (Melihat) Kalam (berfirman/berkata).

86 Sedangkan 7 sifat berikutnya yang dipertaruhkan Allah atas diri manusia itu, sesungguhnya merupakan pengulangan dari 7 sifatnya yang wajib tersebut diatas, Yaitu : o o o o o o o Sifat Qudrat menjadi Qadirun Sifat Iradat menjadi Muridun Sifat Ilmu menjadi Alimun Sifat Hayat menjadi Hayyun Sifat Sama menjadi Samiun Sifat Basyhar menjadi Basyhirun Sifat Kalam menjadi Mutakallimun.

20 sifat wajib bagi Allah itu didalam perjalanannya akan diklasifikasikan menjadi 4 Sifat, ini untuk mempermudah pemahaman kita tentang Tuhan itu sendiri, yaitu : o o o o Sifat Nafsiyah Sifat Salbiyah Sifat Maani Sifat Manawiyah

Sifat Nafsiyah.
Sifat Nafsiyah artinya sifat yang wajib bagi dzat, atau sifat yang wajib bagi diri dzat, Nafs itu artinya diri (diri dari dzat itu sendiri), ini yang harus ada atau ujud, mustakhil tidak ujud (ada diri pasti ada ujud dari diri itu). Sifat nafsiyah itu masuknya pada Sifat Wujud (Ada) Jika ada sifat Nafsiyah, tentunya juga akan ada diri Nafsiyah, bagai mana menurut saudaraku didalam memahami ini.?

Allah Swt berfirman :


Dan didalam terjadinya bumi menjadi bukti bagi orang-orang yang mempunyai keyaqinan (keimanan) tentang adanya Tuhan (QS, Adz-dzariyaat : 20) Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, dzat yang hidup dan berdiri sendiri (QS, Al-Baqarah : 255)

87 Dialah Allah, dzat yang terdahulu dan yang terakhir (QS, Al-Hadid : 3)

Sifat Salbiyah.
Sifat Salbiyah, artinya Sifat menolak yang tiada layak bagi dzat, yaitu : Qidam (Dahulu) Baqa (Kekal) Mukhalafatuhu lil hawadits (Berbeda makhluknya) Qiyamuhu taala binafsih (Berdiri sendiri) Wahdaniyat (Maha Esa)

dengan

semua

Allah Swt, berfirman :


Dialah Allah, dzat yang terdahulu dan yang terakhir (QS, Al-Hadid : 3) Segala sesuatu itu akan rusak, kecuali dzat Tuhan sendiri (QS, Al-Qashas : 88) Dan kekallah dzat Tuhanmu, yang Maha Agung lagi Mulia (QS, Ar-Rahman : 27) Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Tuhan (apalagi sama) (QS, Asy- Syura :11) Dialah Allah tidak ada Tuhan kecuali Dia, dzat yang hidup dan berdiri sendiri (QS, Al- Baqarah : 255) Katakanlah Muhammad, Dia Allah dzat yang Maha Esa (QS, Al-Ikhlas : 1) Jika ada sifat Salbiyah, tentunya juga akan ada diri Salbiyah, bagai mana menurut saudaraku didalam memahami ini.?

Sifat Maani.
Sifat Maani, artinya ia kepada yang mawujud, yaitu : Qudrat (Kuasa) Iradat (berkehendak)

Ilmu (Maha mengetahui) 88 Hayat (Hidup) Sama (Maha mendengar) Basyar (Maha melihat) Kalam (Maha berkata-kata)

Allah Swt berfirman :


Sesungguhnya Allah itu atas segala sesuatu berkuasa (QS, Al-Baqarah : 20) Allah melakukan apa saja yang Ia kehendaki (QS, Al-Baqarah : 253) Ketahuilah sesungguhnya Allah itu maha mengetahui (QS, Al-Baqarah : 231) Sesungguhnya Allah itu maha mendengar lagi maha mengetahui (QS, Al-Anfal : 42) Jika ada sifat Maani, tentunya juga akan ada diri Maani, bagai mana menurut saudaraku didalam memahami ini.?

Sifat Manawiyah
Sifat Manawiyah, artinya yang wajib bagi Zat, dikarenakan dengan suatu sebab, yaitu : Qadirun (yang maha kuasa) Muridun (yang maha berkehendak) Alimun (yang maha tahu) Samiun (yang maha mendengar) Basyirun (yang maha melihat) Mutakallimun (yang maha berkata-kata)

Dasar rujukannya sama seperti pada sifat Maani, karna sifat Manawiyah ini diambil dari sifat Maani, kemudian dipertaruhkan kepada manusia sehingga secara Syari, manusia dan Tuhan seperti sama (serupa tapi tidak akan pernah sama).

Jika ada sifat Maani, tentunya juga akan ada diri Maani, bagai mana menurut saudaraku didalam memahami akan ini sebagaimana pada 89 keterangan tersebut diatas, disana disebutkan bahwa, jika ada sifat Nafsiyah, sifat Salbiyah, sifat Maani dan sifat Manawiyah, tentulah juga akan ada diri Nafsiyah, diri Salbiyah, diri Maani dan juga diri Manawiyah.

Tasawwuf.
Apakah Tasawwuf itu..? Tasawwuf itu adalah suatu cara atau jalan untuk membersihkan diri dari
sesuatu yang tidak baik, yang dapat mendindingi diri (Hijab) untuk sampai pada Allah. Tasawwuf itu adalah satu ilmu yang dapat menghantarkan diri kita dari kegelapan menuju pada keterangan, dari samara-samar hingga menjadi jelas, dari hanya sangka-sangka hingga menjadi nyata.

Kata tasawwuf itu memiliki 4 huruf dasar, yaitu :


o o o o Huruf Tha Huruf Shot Huruf Waw Huruf Fha

Iktibar huruf-huruf dasar itu adalah sebagai berikut :

Huruf Tha
Huruf Tha, menjadikan kata Tajrid, artinya menghilangkan. Apa yang dihilangkan itu?, Yang dihilangkan adalah : o Tajrid kepada dunia o Tajrid kepada manusia o Tajrid kepada hawa nafsu

Huruf Shot

Huruf Shot, menjadikan kata Shafa, artinya bersih. 90 Apa yang dibersihkan ..?, Yang dibersihkan adalah : o Bersih dari keinginan dunia o Bersih dari pada amarah dan senantiasa bersyukur, sabar dan tabah o Bersih dari dawa sangka dari pada selain Allah Swt.

Huruf Waw.
Huruf waw, menjadikan kata Wafa, artinya memelihara, Apa yang dipelihara ..? Yang dipelihara adalah : o Memelihara Syareat o Memelihara/ menuntut pahala o Memelihara pengenalan selain kepada Allah Swt.

Huruf Fha.
Huruf Fha, menjadikan kata Fana, artinya lenyap atau hapus. Apa yang dilenyapkan/ dihapuskan .? Yang dilenyapkan atau dihapuskan adalah : o o o o o o o Fana Ilmu Fana Ain Fana Haq Fana Afal Fana Asma Fana Sifat Fana Dzat

Tasawwuf itu sendiri tidak ubahnya seperti proses huruf Djim, Kha dan kho, bentuk hurufnya sama Cuma beda pada penempatan titiknya saja.

Huruf Djim.
Huruf Djim itu memiliki titik yang berada didalam huruf, ini mengisyaratkan bahwa diri manusia itu senantiasa bergelimang dosa

(bergelimang dengan nafsu-nafsu keakuan), sehingga seluruh aktivitas hidup dan kehidupan ini buah karya atau hasil pekerjaan manusia semata. 91 Merasa seakan ia yang kuasa Merasa seakan ia yang berkehendak Merasa seakan ia yang tau Merasa seakan ia yang hidup Merasa seakan ia yang melihat Merasa seakan ia yang mendengar Merasa seakan ia yang berkata-kata.

Perasaan-perasaan ini akan timbul dan muncul dalam ujud keakuan manusia oleh sebab kebodohan manusia itu sendiri yang tidak tau siapa dirinya yang sesungguhnya.

Huruf Kha.
Huruf Kha itu sama sekali tidak memiliki tanda (titik) baik didalam huruf maupun diluar huruf, ini mengisyaratkan kepada kita akan perasaan bimbangan dan ragu didalam satu keimanan kepada Allah sehingga padanya timbul satu pertanyaan besar lagi mendasar. Siapa sebenarnya Tuhan itu ?, dan siapa sebenarnya diri ini ..?, Seandainya aku Tuhan, dimanakah hamba itu?, Seandainya aku Hamba, dimanakah Tuhan itu ..?

Huruf Kho.
Huruf Kho itu titiknya berada diluar huruf, ini mengisyaratkan kepada kita bahwa apabila rahasia Allah itu telah sampai dan terbuka atas diri kita, maka seluruh perasaan bimbang dan keragu-raguan itu sirna dengan sendirinya (kembali keasal), semua menjadi pasti dan nyata.

Kesimpulannya :
Tasawwuf itu adalah suatu jalan untuk datang kepada Allah taala, hingga akhirnya lenyap dengan-Nya. Diharapkan juga dengan tasawwuf maka akan menghantarkan diri ini

Men- dzat-di-Faqir.
Faqir maksudnya :

Fha itu Fana (hapus) Qop itu Qonaah (rutin) Ra itu Ridho (ikhlas) 92

Tauhid
Wahai hamba-Ku, engkau tiada memiliki sesuatu apapun,
kecuali yang Aku kehendaki untuk menjadi milikmu. Tiada juga memiliki dirimu, karna Aku-lah maha Penciptanya, tiada pula engkau memiliki jasadmu, Aku-lah yang membentuknya, hanya dengan pertolongan-Ku, engkau dapat berdiri dan dengan kalimah-Ku engkau datang kedunia ini.

Wahai hamba-Ku, katakanlah tiada Tuhan melainkan Aku,


kemudian tegaklah berdiri dijalan yang benar, tiada Tuhan lain melainkan aku, tiada pula wujud yang sebenarnya kecuali untuk-Ku, dan segala yang lain selain dari pada-Ku, adalah dari buatan tangan-Ku dan dari tiupan ruh-Ku.

Wahai hamba-Ku, segala sesuatu itu adalah kepunyaan-Ku,


bagi-Ku dan untuk-Ku, jangan sekali-kali engkau merebut apaapa yang menjadi kepunyaan-Ku, kembalikan segala sesuatunya itu kepada-Ku, niscaya Aku akan buahkan pengembalianmu dengan tangan-Ku, dan Ku-tambahkan padanya dengan kemurahan-Ku, serahkanlah segala sesuatu itu kepada-Ku, niscaya Aku selamatkan engkau dari segala sesuatu.

Ketahuilah olehmu wahai hamba-Ku, sesungguhnya


engkau mengenal siapa yang telah engkau lihat, dan kepadaKu-lah engkau akan kembali, kemudian Aku ciptakan segala sesuatu untukmu, dan Aku labuhkan tirai (hijab) atasmu, lalu engkaupun tertutup dengan tirai dirimu sendiri, kemudian Aku menghijab engkau dengan diri-diri yang lain, yang mana diri-diri yang lain itu menyeru pada dirinya dan menjadi penghijab dari pada-Ku, maka telitilah dirimu, setelah engkau mempercayai diri-Ku, sudahkah engkau mengembalikan segala

sesuatu itu kepada-Ku, dan sudahkah engkau memenuhi perjanjian yang telah engkau buat dengan-Ku
93

Wahai hamba-Ku, Ku-ciptakan segala sesuatu itu untukmu,


maka bagaimana Aku akan rela kalau engkau peruntukkan Dirimu bagi sesuatuitu, sesungguhnya Aku melarang engkau untuk menggantungkan dirimu pada sesuatu selain Aku.

Wahai hamba-Ku, Aku tidak rela engkau peruntukkan


dirimu bagi sesuatu, walau harapanmu akan Syurga sekalipun, karna sesungguhnya Aku ciptakan engkau hanya untuk-Ku supaya engkau berada disisi-Ku.

Wahai hamba-Ku, Ku-ciptakan engkau atas pola gambar-Ku


seorang diri, tunggal, melihat, mendengar dan berkemauan untuk menyatakan nama-nama-Ku dan tempat untuk pemeliharaan-Ku.

Wahai hamba-Ku sekalian, engkau adalah sasaran


pandangan-Ku, tiada dinding penghalang yang memisahkan antara-Ku dan antaramu, engkau teman duduk semajelis dengan-Ku, maka tiada pembatas antara-Ku dengan antaramu, Aku lebih dekat kepadamu dari pada ucapan lisanmu, maka pandanglah kepada-Ku, karna Aku senang memandang kepadamu.

94

Bab Amaliyah
Mendudukkan Diri
Mendudukkan diri adalah sesuatu yang sangat penting didalam kita melasanakan atau melakukan seluruh aktivitas kita didalam keseharian, baik itu aktivitas yang kita sadari (sengaja) maupun yang tidak kita sadari (tidak sengaja), maksud dan tujuannya supaya segala sesuatunya itu jangan terakui. Seluruh Aktivitas keseharian kita, dari kita bangun tidur sampai kita akan kembali tidur bahkan selama didalam kita tidur, semuanya akan bernilai ibadah apabila diri ini telah kita dudukkan sesuai dengan kedudukannya.

Allah Swt, berfirman :


Tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku (QS, Adz dzariyaat : 56) Mengapa demikian ....? Karna seluruh aktivitas dan pergerakkan kita dari yang kecil hingga yang besar, yang tersembunyi atau yang nyata, disengaja atau tidak disengaja yang terjadi itu sudah merupakan Qudrat dan Iradatnya Allah, asalkan diri ini didudukkan sebagaimana mestinya. Bermula mendudukkan diri itu adalah Sbb : A--- Aku Asal dari pada Allah taala I---- Aku (...?..) Karna Allah taala U--- Aku ujud Allah taala, yang (..?...), tiada mati.

A , I , U : Aku (I) ujud Allah taala yang (I) tiada mati.


Siapa (I) itu .......................?

(I) itu adalah Diri yang sebenar-benarnya diri kita.

(I) itu adalah Haq Allah taala (I) itu adalah Batin kita
95

(I) itu adalah Sirr/ Rahasia kita (I) itu adalah Sirr/ Rahasia Allah (I) itu adalah ujud Allah taala. (I) bisa juga disebut Tubuh Ilmu.

Sedangkan Hidup itu adalah Haq manusia, senantiasa mengikut saja apa yang dikehendak dan dimaui oleh yang memberi hidup. Adapun seluruh rasa yang dapat kita rasakan disetiap waktu, baik itu melihat, mendengar, berkata dan sebagainya itu sesungguhnya Haq-nya Rosulullah Saw.

Tobat, Syahadat, Dzikir, Takbir


Tobat, Syahadat, Dzikir dan Takbir itu akan menjadikan Istinja Jahir dan Istinja Batin, apabila didalam pemakaiannya bisa sudah sudah Se-bulu, Se-kulit, Se-daging, Se-darah, Se-urat, Se-tulang, Se-otak, Se-sumsum, Sebatin dan Se-rahasia, karna : Tobat itu akan merenggangkan tanah pada lubang kubur Syahadat itu akan mendudukkan diri kita dengan kehormatannya sendiri Dzikir itu akan mendirikan diri kita dengan segala keelokannya Takbir itu akan memperjalankan diri kita ini dengan tiada atau tanpa dengan sepengetahuannya. Tobat itu juga akan mensyahkan bagi Islam kita Syahadat itu juga akan meyaqinkan bagi Islam kita Dzikir itu juga akan mengikhlaskan bagi Islam kita Takbir itu juga akan menyempurnakan Islam kita.

Yang Wajib mengenal : Taubat itu, Ialah Achmad Syahadat itu, Ialah Muhammad Dzikir itu, Ialah Aminullah Takbir itu, ialah Diri kita.

Tobat, Syahadat, Dzikir dan Takbir itu adalah sebagai Pembasuh atau Pembersih, untuk membersihkan : 96 o o o o o Hadats Kecil Hadats Besar Zunub Zanabat Istinja diri kita

Membersihkan dari :
o o o o o o o Bulu Kuli Daging Urat Tulang Otak Sumsum

Juga mensucikan :
o o o o o o o Pengrasa Hawa Nafsu Akal Fikir Ilmu Rahasia

Untuk itu maka lajimkan dan mesrakanlah pada setiap waktu, mengucapnya dengan hikmat, mengerti, paham dan tahu pembagian huruf dan sifatnya pada batang tubuh, maka telah sucilah diri kita zahir dan batin.

97

Tata cara beramalan


Auzu billahiminas syaitonir rojim Bismillahir rohmanir rohim Tobat, syahadat, Dzikir dan Takbir Dudukkan diri, yaitu diri yang sebenar-benarnya diri

A.I.U = Aku (I) Ujud Allah taala, yang (I) tiada mati
Tarik nafas = R Keluarkan nafas = N Masukkan Niat : Aku beramalan ,sebanyak ,untuk (Tarik nafas disertai puji R , Ingat (I) yang berhadiah, (I) yang dihadiahi ). Keluarkan nafas dengan puji N , kemudian langsung beramalan. Akhiri semuanya dengan doa.

PINTU HIJAB 10
Ubun-ubun ( Air setitik 33 x ) Huruf ke 6 dan 7 dihilangkan jika hati menyebutnya. Mata Kanan ( Tismarullah 33 x ) Mata Kiri ( Tishu Izat 33 x ) Telinga Kanan ( Tismarasa Allah 33 x )

Telinga Kiri ( Tismajenah 33 x ) Hidung Kanan ( Tiszat Zat mullah 33 x ), Nama yang sudah merdeka, dimerdekakan lagi. Hidung Kiri ( Tismakullah 33 x ) Mulut ( Tismalullah 33 x ) Kola-kola (jakun) ( Tissimpullah 33 x ) Ulu hati ( Tik (I) Mullah 33 x ) Terhimpun pada nama : MADMANHU 333 x Amalan pembuka Pintu Hijab : RABBUHA WAROB BUKA 1117 x 98

PINTU SYURGA 8
Kalam ( Tismaullah 33 x ) Kola-kola ( Tismallah 33 x ) Hidung kanan ( Tasrikullah 33 x ) Hidung kiri ( Tikmapullah 33 x ) Telinga kanan ( Tiszatmullah 33 x ) Telinga kiri ( Tahsirrullah 33 x ) Mata kanan ( Siti sarikullah 33 x ) Mata kiri ( Tismancarmullah 33 x ) Terhimpun pada nama : AMARRULLAH ( Titik Ke- 8

Kesempurnaan Suami Istri


Pada waktu mulai berlaku
Suami -------------- Asyhadu Alla Ilahaillah Istri ----------------- Asyhadu anna Muhammadar Rosulullah

Pada waktu berlaku


Suami ------------------------------------ Hu Istri --------------------------------------- Allah

Pada waktu hendak menitikkan


Suami ------------------------------------- Asyhadu Istri ---------------------------------------- Al

Pada waktu menitikkan

Suami -------- Ammarullah/ Air Setitik jika sudah dapat Istri ----------- Insyirrullah/ Air Setitik jika sudah dapat

Sesudah menitikkan
Suami --------------------------- R Istri ------------------------------ N

Mandi/ Bersuci (masih didalam), Suami dan Istri mengucap :


Suci Allah, Suci Sifatku, suci dengan tempat-tempatku, Allah berkehendak, Muhammad berlaku 99

Zunub dan Zanabat (masih didalam), Suami dan istri


mengucap : Rahmattullah, Nikmatullah, La maujud Illallah, sirrullah ( Langsung Cabut )

Sesudah diluar, Suami dan Istri membaca : Taubat, Syahadat, Dzikir dan Taubat

Pelaksanaan bersuci ketika selesai berkumpul itu dilaksanakan sebelum kelamin saling berpisah, seandainya setelah itu kita akan berpulang kerahmatullah, maka kita berpulang dalam keadaan suci tidak dalam keadaan berhadats.

Cara ber- KB (Supaya tidak Hamil)


Ketika akan menitikkan, diingat atau dibaca dalam hati : Waddu Wadi Mani Manikam, Mada Madi Mata Mati Ketika sudah berada diluar, kunci dipusat Istri dengan ibu jari tangan kanan, sambil membaca lafald diatas tadi. Membukanya : Sebelum berhubungan badan, buka dahulu di pusat Istri yang telah dikunci tadi dengan ibu jari tangan kanan sambil membaca : Marrabbuka Muhappapah Inni Muhaddadah

Catatan : o Mengunci putar kekanan o Membuka putar kekiri (berlawanan)

Amalan supaya bertemu Nabi Khaidir. As


Allahumma Subba Alayna Rahmatika, Kama Sholaitha Sirratun Naamun Balyun Balyasun Tawajjaha Khaidir Malakullah Adjmain Birohmatika ya Arhamar rohimin
100

Doa untuk bertemu Nabi Khaidir. As


Allahumma inna Kun-sa, yaa Astagfiruka min sururuhim minal Jannah, wa antalladji salahim wal ulli minal arhamhu yaa Amarullah. Asyhadu Alla Ilahaillallah Maujud Muhammad Rosulullah. Dibersihkan sifat menyifatku, disucikan dari sekalian kotoran, Inur, Inut, Irun wabi nafsih, antal Zabul Zat Zanubah arhamar rohimin, lahudu yaa Madmanhu. Laa ilaha illallah Muhammaddur Rosulullah

Mandi Junub/ Janabat


Ketika akan selesai :
Taawwuj Basmallah Lakhaula Tobat, Syahadat, Dzikir dan Takbir Dudukkan diri Salam kepada penjaga Air Niat : Aku niat mandi bersih/ mandi suci untuk membersihkan dan mensucikan diriku dari sifat menyifat dan untuk

menyempurnakan perjalanan diriku dari negri dunia hingga negri akhirat kelak (Dalam hati tidak dilisankan) Kemudian tarik nafas dengan R Tahan sebentar senbari mengingat : I yang bersuci, dan I yang disucikan. Keluarkan nafas dengan N

Hakekatkan :
o o o o Sempurna diri bagi diri Suci ruh bagi ruh Suci nyawa bagi nyawa Suci rahasia bagi rahasia (Air pertama) 101 o o o o Halusnya api menghilangkan rupa Halusnya angin menghilangkan bau Halusnya air menghilangkan rasa Halusnya tanah menghilangkan kotoran (Air kedua) raga

o Nur Muhammad yang mensucikan jiwa Muhammad, dan Muhammad yang disucikan. (Air ketiga)

Mandi 9
Depan 3x -------------------------- Air Setitik Kanan 3x -------------------------- Awal-awal Nur Muhammad Kiri 3x ----------------------------- Awal-awal Ummat

Kisar ruh pada kita


Jam 5.00 (subuh) s/d jam 11.00, Ruh berkisar pada Sulbi, warnanya putih, Nabinya Adam As

Jam 11.00 s/d jam 17.00, Ruh berkisar pada Pusat, warnanya kuning, Nabinya Ibrahim As Jam 17.00 s/d jam 23.00, Ruh berkisar pada Jantung (hati), warnanya merah, Nabinya Yusuf As Jam 23.00 s/d jam 5.00, Ruh berkisar pada Otak (ubun-ubun), warnanya hitam, Nabinya Musa As.

7 Nathar yang ada pada diri kita


Nathar Rububiah (Rabbani) : Gerak Tuhan yang tanpa huruf dan tanpa suara. Nathar Rahman : Gerak Tuhan yang maha kasih dan maha sayang. 102 Nathar Ululiyah : Gerak Tuhan yang tiada berubah . Nathar Malaikat/Ruh : Gerak Tuhan yang selalu berbuat kebajikan (tasbih) Nathar Aqli (akal) : Gerak Tuhan yang selalu menimbangnimbang sesuatu perbuatan. Nathar Nafsu : Gerak Tuhan yang selalu condong kepada dunia (sombong) Nathar Syetan : Gerak Tuhan yang pekerjaannya selalu menghalangi kebaikan.

103

Penutup

Assalamu alaikum Wr.wab,


Al-hamdulillahi robbil alamin, berkat Rahmat, Taufiq dan Hidayah serta Inayah-Nya pulalah, maka pada hari ini : Minggu, 27 September 2009. M, bertepatan dengan tanggal, 7 Syawal 1430. H, (pukul 15.10), menjelang sholat Ashar, waktu Balikpapan, maka selesailah sudah kami menghimpun risalah ini :

Insan Kamil Mu Kamil

Semoga dengan selesainya Risalah ini, kiranya dapat membawa mamfaat bagi kita semua, terlebih khusus lagi bagi diri saya pribadiAmin yaa robbal alamin. Kami menyadari, bahwa risalah ini tentunya jauh dari pada sempurna, untuk itu ralat serta pembetulan pada bagianbagian yang memang memerlukan pembetulan (perbaikan), sangat kami harapkan demi sempurnanya risalah ini. Akhirul kalam billahi taufiq wal hidayah Assalamu alaikum Wr.wb.
Balikpapan, 27 Ramadhan 1430 H Hormat kami

Adhie Shinantra
104

DASAR-DASAR RUJUKAN
Aku adalah Gudang yang tersembunyi, Aku suka jika aku dikenal, lalu Aku ciptakan makhluk supaya ia mengenal kepada-Ku Barang siapa mengenal akan dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhan-nya, barang siapa mengenal Tuhan-nya maka binasalah ujud dirinya Hai Insan carilah Aku (kata Allah), bilamana engkau temukan Aku, maka Ku bunuh engkau dan matilah engkau, setelah itu akan Aku gantikan dirimu dengan diri-Ku Aku kenal akan Tuhan-Ku dengan pengenalan Tuhan-Ku jua Hendaklah kamu (manusia), memikirkan

asal kejadian dirimu Katakanlah oleh-Mu ya Muhammad, yang disembah dan yang menyembah itu Satu jua adanya Tidaklah syah sembahyangnya melainkan dengan mengenal Allah jahir Tuhan itu ada didalam batin hamba Katakanlah, bahwa Aku (Allah) berperangai manusia seperti halnya kamu Aku-lah Allah, telah Ku ciptakan kamu (manusia) dari ilmuKu, barang siapa Ku kehendaki kebaikan, Ku bekali ia dengan akhlak yang baik dan barang siapa Ku kehendaki keburukan, Ku bekali ia dengan akhlak yang buruk pula
105

Hai kekasih-Ku, ada Ku itu kepada-mu dan ada-mu itu kepada-Ku, karna Aku didalam hukum-Ku dan engkau didalam hukum-Ku Hai kekasih-Ku, yang dikatakan nyawa itu adalah Sifat-Ku Aku berada didalam sangka-sangka hamba-Ku Insan itu rahasia-Ku, dan Aku rahasianya Keluarlah engkau dari Nafs-mu dan hati-mu dan nyawa-mu dan tubuh-mu, hingga engkau keluar dari amar dan hukumKu, maka sampailah engkau kepada-Ku Insan itu rahasia-Ku, Rahasia-Ku itu adalah sifat-Ku dan sifat-Ku itu tiada lain dari pada-Ku, tiada yang ada kecuali hanya Aku

Hai sifat-Ku, engkau adalah sifat-Ku dan Aku adalah Zat-mu, Muhammad itu sifat-Ku yang jahir, engkau ganti-Ku dan Akulah yang empunya sifat itu, Aku-lah yang bernama Muhammad dan Akulah yang bernama Tuhan Hai Muhammad, pandanglah oleh-mu akan sifat-mu, niscaya bertemulah engkau dengan-Ku, karna Aku berlindung dengan engkau, itulah yang sebenarnya, maka Aku jadikan engkau, engkau jadi sifat-Ku sebagaimana halnya itu karna Aku ada Aku jadikan engkau ya Muhammad itu karna Aku, dan Aku jadikan semesta alam ini karna engkau ya Muhammad Allah telah menjadikan ia akan ruh nabi Muhammad itu dari pada Dzat-Nya dan menjadikan ia akan sekalian alam ini dari pada Nur Muhammad Sesungguhnya Allah taala memuji dirinya pada lisan hambanya
106

Adam itu adalah bapak dari sekalian batang tubuh manusia dan Muhammad itu adalah bapak dari sekalian ruh manusia Sembahlah olehmu akan Aku seakan-akan kamu melihatku, namun jika kamu tidak dapat melihat-Ku, yaqinlah Aku melihat-mu Mereka bertanya kepada-mu (Muhammad) tentang ruh, maka katakanlah bahwa ruh itu urusan Tuhan-ku, kamu hanya diberi pengetahuan tentang ruh itu sedikit sekali Barang siapa mengeluarkan nafas-nya dengan tidak dzikir Allah, maka ia mati sebagai binatang, bukan sapi tetapi babi LA ILAHA ILLALLAH adalah benteng-Ku, barang siapa masuk berlindung didalam benteng-Ku, niscaya ia Ku lindungi dan terhindar ia dari azab-Ku

Telah datang kepadamu dari Allah taala, Nur Nur Allah langit dan Bumi Bagi (Allah) cahaya langit dan bumi Allah taala meliputi luar dan dalam Sebaik-baiknya (sebenar-benarnya) dzikir ialah mengetahuiLa Ilaha Illallah Sesungguhnya Agama yang syah pada pandangan Allah ialah Islam (QS, Ali Imraan : 19) Barang siapa mencari Agama selain agama Islam, maka sekali-kali ia tidaklah akan diterima (agama itu) dari pada-Nya dan diakherat ia termasuk orang-orang yang rugi (QS, Ali Imraan : 85)
107

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu didalam hati-mu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS, Al-Araaf : 205) Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebut (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung (QS, Al-anfaal : 45) Bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang maha besar (QS, Al-waqiyaah : 74) Bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang (QS, Al-ahzab : 42)

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah, tiada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti akan tasbih mereka (QS, Al-israa : 44) Seseungguhnya jika kamu bersyukur, pastilah Kami akan menambah (nikmat), dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih (QS, Ibrahim : 7) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (QS, Ar-raad : 28) Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya (QS, Al- ahzab : 41)
108

Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari (QS, Al-ahzab : 41) Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memperkenankan doa itu bagimu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari memohon kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina (QS, Al-mumin : 60) Allah mempunyai Asmaul Husnah, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husnah itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) akan nama-Nya (QS, Al-araaf : 180)

Sesungguhnya Allah mengetahui apa-apa yang gaib dilangit dan dibumi, dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan (QS, Al-hujaarat : 18) Dan bahwasannya seseorang manusia itu tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya dan bahwasannya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna (QS, An-najm : 39-41) Tiada satupun yang gaib dilangit dan dibumi, melainkan (terdaftar) dalam kitab yang nyata (lauhil mahfuz) (QS, An-nahl : 75) Apa saja yang Allah anugrahkan kepada manusia (yang) berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menolaknya, dan apa saja yang telah ditahan oleh Allah, maka tidak seorangpun juga yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu, Dia yang maha perkasa lagi maha bijaksana (QS, Al-fathir : 2)
109

Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat untuk (keselamatan) dirinya sendiri dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri, dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang Rosul (QS, Al-israa : 15) Taqwalah kamu kepadaku hai orang-orang yang berakal (QS, Al-Baqarah : 197) Didalam terjadinya langit dan bumi serta pergantian siang dan malam, sesungguhnya menjadikan tanda kebesaran Tuhanmu bagi mereka yang berfikir (QS, Ali Imran : 190). Sesungguhnya Allah dan para malaikat bersalawat (memberi

rahmat) untuk Nabi, hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepada-Nya (QS, Al-ahzaab : 56) Allah tidak akan dapat dicapai oleh penglihatan-penglihatan dan Dia dapat mencapai penglihatan-penglihatan itu, dan Dia adalah maha halus lagi waspada (QS, Al-anam : 103) Dari Ibnu Masud .Ra, Ia berkata : telah bersabda Rosulullah Saw, bahwasannya orang yang paling hampir kepada-Ku dihari Qiyamat (ialah) yang paling banyak bersalawat atasKu Dari Abu Hurairah Ra, Ia berkata : telah bersabda Rosulullah Saw, tidak duduk satu golongan disuatu majelis yang mereka sebut Allah padanya, melainkan dikelilingi mereka oleh Malaikat dan dicurahi mereka dengan rahmat dan Allah menyebut mereka didalam (daftar) orang-orang yang hamper kepada-Nya
110

Dari Abu Hurairah Ra, Ia berkata, telah bersabda Rosulullah Saw, Allah berfirman: Aku beserta hamba-hambaku selama ia menyebut dan bergerak kedua bibirnya (menyebut) Ku Hai hamba-Ku, berobatlah, sesungguhnya Allah taala tidaklah menjadikan penyakit melainkan dijadikan-Nya pula obatnya, terkecuali penyakit tua Tidaklah Allah menurunkan akan penyakit, melainkan diturunkan-Nya pula obatnya Janganlah kamu memikirkan dzat-Nya, tetapi pikirkanlah Faedahnya Dan tolong menolonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan

pelanggaran (QS, Al-Maaidah : 2) Janganlah kamu berjalan dimuka bumi ini dengan sombong (QS, Luqman : 18) Rosulullah Saw bersabda :
Telah berfirkah-firkah orang Yahudi, menjadi 71 Firkah dan orang Nasrani seperti itu pula, dan akan berrfirkah umat-Ku menjadi 73 Firkah (HR. Tarmidzi dari Abu Hurairah.ra) Bahwasannya Bani Israil, telah berfirkah-firkah sebanyak 72 millah (firkah), dan akan berfirkah umat-Ku sebanyak 73 firkah, semuanya masuk Neraka, kecuali satu Para sahabat bertanya : Siapakah yang satu itu, ya Rosulullah ?. Rosulullah Saw pun menjawab : Yang satu itu adalah orang yang berpegang (beriitiqad) dengan pegangan-Ku (Iitiqad-Ku) dan sahabat-sahabat-Ku (HR, Tarmidzi. Ra) 111 Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad ditangan-Nya, akan berfirkah umat-Ku sebanyak 73 firkah, yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk Neraka Bertanya para sahabat : Siapakah firkah (yang tidak masuk Neraka) itu yaRosulullah ? Rosulullah Saw menjawab : Ahlussunnah wal jamaah (HR, Thabrani) Akan ada segolongan dari umat-Ku yang tetap atas kebenaran sampai hari qiyamat dan mereka tetap atas kebenaran itu (HR, Bukhori) Barang siapa yang hidup (lebih lama) diantaramu, niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak, ketika itu pegang teguhlah sunah-Ku dan sunah Khalifah Rasyidin yang diberi hidayah, pegang teguh itu dan gigitlah dengan gerahammu (HR, Abu Dawud.)

Allah Swt, berfirman :


Maka barang siapa yang berharap berjumpa dengan Tuhan-nya, maka hendaklah dia melakukan tindak kesolehan dan tidak menyekutukan Tuhan-nya dalam peribadatan (QS, Al- kahfi : 110) Barang siapa telah buta hatinya dialam dunia ini, maka niscaya ia buta juga hatinya dialam akhirat dan lebih tersesatlah perjalanannya (QS, Al-israa : 72) Kemanapun wajahmu kamu hadapkan, maka (hakikatnya) kamu menghadap kepada Allah (QS, Al-baqarah : 115) Dan menyertaimu dimanapun kamu berada (QS, Al-hadid : 3) Dan Dia (dzat Allah) beserta kamu sekalian dimana saja kamu berada dan Allah tetap melihat apa-apa yang kamu kerjakan (QS, Al-hadid : 4) Dan Kami (dzat Allah) terlebih hamper dari padamu sekalian, akan tetapi mengapa tiada kamu ketahui dan selidiki adanya (QS, Al-waqiyah : 85) 112 Dan Kami (dzat Allah) terlebih hamper dari pada urat nadimu (QS, Al-qoof : 16) Dan jika hamba-hambaku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka jawablah bahwa Aku ini dekat (QS, Al baqaraah : 186) Dan(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan, anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadaf (nafs) mereka seraya berfirman : Bukankah Aku ini Rabb-mu, mereka menjawab betul, kami menjadi saksi (QS, Al-araaf : 172)

113

Daftar Istilah
Adam Alam Al-Hiss Alam Malakut Alam Mulk Alam Quds Alam Syahadah : Ketiadaan (non Existence) : Alam indra. : Alam malaikat, alam rohani, alam atas, alam cahayawi. : Alam duniawi. : Alam qudus, alam kesucian. : Alam kasar, alam yang dapat disaksikan.

Alim Billah Aql Aqli Arbab Aradh Arifin (Arif) Arsy Arbabul Basair Asyiq

: Orang yang memperoleh ilmu tentang Allah dengan perkenannya jua. : Akal : Yang berhubungan dengan akal. : Kata jamak dari Rabb, yaitu pemilik, pelindung atau pemelihara. : Bagian yang berubah-ubah dari sesuatu. : yang memperoleh dari marifat. : Singgasana, sering digunakan sebagai kiasan tentang kekuasaan Allah Swt : Orang yang memandang mata hatinya, yang tercurahan hati nuraninya. : Orang yang mengalami, yang cinta sangat. 114

Azali Al Wadi Al Muqaddas Arif Basirah Fana Firqoh Fadaniah Al Mahdna Isyq

: Sejak dahulu kala, sejak permulaan zaman : Lembah yang disucikan. : Orang yang beroleh marifat. : Penglihatan mata hati, penglihatan aqal. : Meniadakan diri. : Paham, pemahaman. : Ketunggalan yang murni : Rindu, pada makhluk dinamai asyiq

dan pada Allah dinamai masyuq. Ikhlas Ittihad Ibadah Iitiqat Jaiz : Suci murni, tulus, tanpa pamrih. : Kebersatuan, keadaan menyatu, persatuan. : Pengabdian, penghambaan kepada Allah : Keimanan, kepercayaan. : Boleh dilakukan dan boleh ditinggalkan dalam istilah ilmu kalam (teologi berarti boleh ada dan boleh pula tidak ada. : Anggota, tubuh atau benda. : Subtansi, dzat, bagian yang tidak berubah. : Kiasan tentang kekuasaan dan pengetahuan Allah yang meliputi segalanya. 115 Kasat mata Khawas/ Khas Khawas al- khawas Khalifah Khalilullah Nafs Musyahadah Muraqabah : Dapat dilihat, kongkrit. : Orang istimewa. : Khusus dari yang khusus. : Pengganti, yang menggantikan orang lain dalam kedudukan : Sahabat Allah (julukan bagi nabi-nabi) : Jiwa, nafsu manusia. : Keadaan menyaksikan sesuatu. : Senantiasa mengintip dan mengintai dari dekat apa-apa yang mesti, yang

Jisim Jauhar/ Jawahir Kursy

harus dilakukan dalam menuju Allah. Muhasabah : Memperhitungkan keadaan diri sendiri supaya mendapat kekayaan. jika menjadi murid (penuntut) dihitung apa kesalahan, apa kelalaian dan apa kekurangannya sehingga dengan demikian bertambah naiklah diri itu dari satu tingkatan yang lebih tinggi, menempuh tingkat itu disebut maqomat : Ada, sesuatu yang benar-benar ada. : Segala sesuatu yang benar-benar ada, segala yang dijadikan Allah taala. : Lubang yang masuk kedinding tetapi tidak tembus sampai kesebelahnya yang lain, biasanya untuk tempat meletakkan pelita. : Kelompok penganut aliran tajsim (yang menyatakan bahwa Tuhan itu berjisim, bertubuh ) : Persingkapan hal-hal gaib secara spiritual, biasa dialami oleh orang yang telah mencurahkan nuraninya. 116 Mulhid Muqaddas Muqarrab Mahjub Mahjubin Mahsus : Atheis, orang yang mengaku tidak ada Tuhan. : Yang tersucikan, yang terkuduskan. : Yang didekatkan kepada Allah atau kepada raja. : Terhijab, tertutup, terdinding. : Kata jamak dari orang yang mahjub. : Sesuatu yang dapat dirasakan atau Dapat dicapai indra

Maujud Maujudat Miskat

Mujassimah

Mukasyafah

Majaz Qodim Rubiyyah

: Kiasan. : Dalam istilah teologi islam berarti : sesuatu yang ada tanpa permulaan. : Pengakuan bahwa Allah Swt adalah yang maha pemelihara, pelindung dan pengatur alam semesta dan sebagai penciptanya. : Sesuatu kekuatan khusus yang Diberikan Allah Swt kepada makhluknya misalnya ruh kehidupan. : Latihan. : Perjalanan menuju kesempurnaan

Ruh

Riadah Suluk batin Taaqquli Tajarrud

atau mencari hakekat : Ialah yang dapt ditumbangkan dengan akal. : Melepaskan segala ikatan apapun jua yang akan merintangi diri di dalam menuju jalan itu.

117 Tajalli : Allah Swt bertajalli, menyatakan Kemaujutannya, tersingkapnya hijab Allah Swt secara spiritual bagi makhluknya dengan suatu tanda. : Yang bersifat ibadah semata-mata. : Penetapan kebenaran sesuatu dengan bukti-bukti pasti. : Perasaan hati ( hati )

Taabbudi Tahkik Wijdan

Waham Waro

: Persangkaan, perkiraan yang keliru. : Kebersihan jiwa, sikap hati-hati agar tidak terjerumus dalam maksiat (pelanggaran) : Cita rasa batiniyah yang amat halus : Orang-orang yang telah sampai ketujuan dalam istilah tasawuf berarti orang yang telah mencapai puncak hakekat dan marifat.

Zauq Wasitilun