Anda di halaman 1dari 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Alat Pengolahan Tanah Primer Peralatan yang digunakan oleh petani untuk memecah dan meremahkan tanah sampai suatu kedalaman dari 6 sampai 36 inci (15,2 sampai 91,4 cm) dikenal dengan alat pengolah tanah primer, yang mencakup bajak singkal, bajak piringan, putar, pahat, dan bajak bawah tanah (Smith dan Wilkes, 1990). Alat pengolah tanah pertama adalah alat-alat yang pertama sekali digunakan yaitu untuk memotong, memecah dan membalik tanah. Alat-alat tersebut ada dikenal beberapa macam, yaitu bajak singkal. bajak piring, bajak pisau berputar, dan bajak chisel (Daywin dkk, 2008). 2.1.1 Bajak singkal (mold board plow) Bajak singkal termasuk jenis bajak yang paling tua. Di Indonesia jenis bajak singkal inilah yang paling umum digunakan oleh petani untuk melakukan pengolahan tanah mereka, dengan menggunakan tenaga ternak hela sapi atau kerbau, sebagai sumber daya penariknya. Sering dijumpai beberapa bentuk rancangan bajak singkal, hal ini dimaksudkan untuk dapat memperoleh penyesuaian antara kondisi tanah dengan tujuan pembajakan. Aneka ragam rancangan yang dijumpai selain pada bentuk mata bajak, juga di bagian perlengkapannya. Mata bajak adalah bagian dari bajak yang berfungsi aktif untuk mengolah tanah. Bajak singkal ini dapat digunakan untuk bermacam-macam jenis tanah dan sangat baik untuk membalik tanah. Bagian dari bajak singkal yang memotong dan membalik tanah disebut bottom. Suatu bajak dapat terdiri dari satu bottom atau lebih. Bottom ini dibangun dari bagian-bagian utama, yaitu : 1) singkal (moldboard), 2) pisau (share), dan 3) penahan samping (landside). Ketiga bagian utama tersebut diikat pada bagian yang disebut pernyatu (frog). Unit ini dihubungkan dengan rangka (frame) melalui batang penarik (beam). Bagian-bagian dari bajak singkal satu bottom secara terperinci dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Bagian Bajak Singkal Satu Bottom

Bajak singkal secara umum dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu: 1. Bajak singkal satu arah (one way moldboard plow), adalah jenis bajak singkal dimana pada waktu mengerjakan pengolahan tanah akan melempar dan membalik tanah hanya dalam satu arah. Lemparan atau pembalikan tanahnya biasanya dilakukan ke arah kanan. 2. Bajak singkal dua arah ( two way / reversible moldboard plow ), adalah jenis bajak singkal dimana pada waktu mengerjakan pengolahan tanah, arah pelemparan atau pembalikan tanahnya dapat diatur dua arah yaitu ke kiri maupun ke arah kanan. Jenis bajak ini mempunyai mata bajak yang kedudukannya dirancang untuk dapat diputar ke kanan ataupun ke kiri dengan cepat, sesuai dengan arah pelemparan ataupun pembalikan tanah yang dikehendaki. Penggunaan bajak singkal dua arah mempunyai beberapa kelebihan akan menghasilkan pembalikan tanah yang seragam untuk seluruh petak tanah yang diolah, praktis untuk pengolahan tanah sistem kontur dari hasil kerjanya tidak akan berbentuk alur mati (dead-furrow) ataupun alur punggung (back-furrow), sehingga pembajakan dapat teratur dan rata. Namun kelemahannya adalah konstruksinya lebih berat dan lebih rumit, untuk ukuran bajak yang besar perlu dilengkapi sistem hidrolis untuk pemutaran mata bajaknya, perlu keterampilan yang lebih baik dari pengemudinya.

Bagian-bagian bajak singkal Bagian bajak singkal yang aktif untuk mengolah tanah terdiri atas: 1) Pisau bajak (share) berfungsi untuk memotong tanah secara horizontal. Oleh karenanya biasaya bajak ini terbuat dari logam yang berbentuk tajam. 2) Singkal (moldboard) berfungsi untuk mengangkat, menghancurkan dan membalik tanah yang telah dipotong oleh pisau bajak. Karena bentuknya yanng melengkung, pada waktu bajak bergerak maju, tanah yang telah terpotong akan terangkat ke atas kemudian akan dibalik dan dilempar sesuai dengan arah pembalikan bajak. 3) Penstabil bajak (land side), berfungsi untuk mempertahankan gerakan maju bajak agar tetap lurus. Dengan jalan menahan atau mengimbangi gaya ke samping yang diterima oleh bajak singkal, pada waktu bajak tersebut digunakan untuk memotong dan membalik tanah.Bagian penstabil bajak ini akan selalu bergerak sejajar dan menempel pada dinding alur pembajakan. Untuk penyempurnaan hasil kerjanya, disamping bagian-bagian utama di atas, bajak singkal sering dilengkapi dengan perlengkapan tambahan, antara lain adalah: a) roda alur penstabil (furrow wheel), berfungsi sebagai pembantu alas penstabil bajak dalam menjaga kestabilan pembajakan. b) roda dukung (land wheel), berfungsi untuk mengatur kedalaman pembajakan. Dengan alat ini diharapkan pengolahan tanah dapat dilakukan dengan kedalaman yang relatif konstan. c) kolter, berfungsi untuk memotong seresah dan memotong tanah ke arah vertikal. Dengan alat ini diharapkan kerja pembalikan tanah akan lebih ringan. Kolter biasanya dipasang di depan bajak dan terletak sedikit di atas mata bajak. d) jointer, berfungsi untuk memungkinkan penutupan seresah lebih sempurna dalam pembajakan. Alat ini bentuknya menyerupai bajak singkal namun dengan ukuran yang lebih kecil. Dalam pemasangan umumnya berada di atas pisau bajak, ke arah tanah yang belum dibajak dengan kedalaman kerja lebih kurang 5 cm. Dengan alat ini rumput-rumput atau seresah sebelum dibalik, struktur akar sudah dirusak atau dipotong, sehingga pada

waktu tertimbun tanah tidak ada kemungkinan untuk menembus tanah dan tumbuh kembali. e) kerangka (beam), seluruh bagian-bagian bajak di atas pada penggunaannya dipasang pada kerangka yang kuat. Pada kerangka ini pula terpasang titik penggandengan bajak. Pada titik-titik penggandengan ini bajak dapat dirangkaikan dengan sumberdaya penariknya. 2. Bajak piringan ( disk plow). 2.2 Pola Pengolahan Tanah Menurut Rizaldi (2006), pola pengolahan lahan tanah erat hubungannya dengan waktu yang hilang karena belokan selama pengolahan tanah. Pola pengolahan harus dipilih dengan tujuan untuk memperkecil sebanyak mungkin pengangkatan alat. Karena pada waktu diangkat alat tidak bekerja. Oleh karena itu harus diusahakan bajak atau garu tetap bekerja selama waktu operasi di lapangan. Makin banyak pengangkatan alat sewaktu belok, makin rendah efisiensi kerjanya. Pola pengolahan tanah yang banyak dikenal dan dilakukan adalah pola spiral, pola tepi, pola tengah dan pola alfa. Pola spiral paling banyak digunakan karena pembajakan dilakukan terus-menerus tanpa pengangkatan alat. Menurut Tas (2008), dalam melakukan pengolahan tanah, perlu menggunakan pola-pola tertentu. Tujuan dari pola pengolahan tanah ini adalah agar lebih efektif dan efisien. Dengan menggunakan pola yang sesuai, diharapkan waktu yang terbuang pada saat pengolahan tanah (pada saat implemen pengolahan tanah diangkat) sesedikit mungkin, lahan yang diolah tidak diolah lagi sehingga diharapkan pekerjaan pengolahan tanah bisa lebih efisien. Hasil pengolahan tanah (khususnya untuk pembajakan) bisa merata. Bagian lahan yang diangkat tanahnya akan ditimbun kembali dari alur berikutnya. Sehingga diharapkan pekerjaan pengolahan tanah bisa lebih efektif. Belok di ujung atau di sudut suatu lapang menghasilkan suatu kehilangan waktu yang seringkali sangat berarti, terutama pada lapang-lapang pendek. Tidak peduli apakah suatu lapang dikerjakan pulang balik, dari tepi ke tengah ataukah digarap dengan mengelilingi titik pusatnya, jumlah waktu belok per satuan luas untuk sebuah alat dengan lebar tertentu akan berbanding terbalik dengan panjang

lapang. Untuk suatu lapang persegi tertentu digarap searah panjangnya ataukah memutarinya, jumlah putaran perjalanan yang diperlukan akan sama pada ketiga cara di atas. Menggarap secara pulang balik memerlukan 2 kali belokan 1800 per putaran, sedang kedua cara lainnya mencakup empat belokan 900 per putaran. Waktu yang diperlukan untuk belok pada pengerjaan bolak-balik juga dipengaruhi oleh ketidak teraturan bentuk lapang, besarnya ruang belok di head land, kekasaran daerah belok dan lebar alat (Siregar, 2010). Pada pengolahan lahan dengan menggunakan pola tengah, pembajakan dilakukan dari tengah membujur lahan. Pembajakan kedua pada sebelah hasil pembajakan pertama. Traktor diputar ke kanan dan membajak rapat dengan hasil pembajakan pertama. Pembajakan berikutnya dengan cara berputar ke kanan sampai ke tepi lahan. Pola ini cocok untuk lahan yang memanjang dan sempit. Diperlukan lahan untuk berbelok (head land) pada kedua ujung lahan. Ujung lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 3 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang tidak terbajak (pada ujung lahan), diolah dengan cara manual (dengan cangkul). Dengan pola ini akan menghasilkan alur balik ( back furrow), yaitu alur bajakan yang saling berhadapan satu sama lain. Sehingga akan terjadi penumpukan lemparan hasil pembajakan, memanjang di tengah lahan. Pada tepi lahan alur hasil pembajakan tidak tertutup oleh lemparan hasil pembajakan (Tas, 2008). Pembajakan dengan pola tepi dilakukan dari tepi membujur lahan, lemparan hasil pembajakan ke arah luar lahan. Pembajakan kedua pada sisi lain pembajakan pertama. Traktor diputar ke kiri dan membajak dari tepi lahan dengan arah sebaliknya. Pembajakan berikutnya dengan cara berputar ke kiri sampai ke tengah lahan. Pola ini juga cocok untuk lahan yang memanjang dan sempit. Diperlukan lahan untuk berbelok (head land) pada kedua ujung lahan. Ujung lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 3 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang tidak terbajak (pada ujung lahan), diolah dengan cara manual (dengan cangkul). Dengan pola ini akan menghasilkan alur mati ( dead furrow)., yaitu alur bajakan yang saling berdampingan satu sama lain. Sehingga akan terjadi alur yang tidak tertutup oleh lemparan hasil pembajakan, memanjang di tengah lahan. Pada tepi

lahan lemparan hasil pembajakan tidak jatuh pada alur hasil pembajakan (Tas, 2008). Membajak dengan sistem balik rapat dapat dilakukan dengan cara berikut. 1. Pada tanah kering mula-mula harus dibuat scratch pada kedua ujung petakan. Pada tanah basah tidak perlu dibuat karena akan menyebabkan selipnya traktor. Pada tanah basah scratch nya hanya dibuat dengan membajak secara dangkal. 2. Membajak dimulai dari salah satu tepi petakan, pada tanah ditinggalkan strip (garis) selebar 2 jejak. Garis ini berguna untuk jalannya traktor pada waktu akan mengerjakan head land. 3. Apabila pekerjaan sudah selesai, pembajakan dilakukan pada salah satu head land. Kalau head land yang pertama selesai dikerjakan, maka kerjakan pula head land yang lain dengan sekaligus membajak strip tanah yang dibuat pada langkah pertama tadi. 4. Untuk menghindari kecelakaan terbaliknya traktor, pada waktu menjalankan apabila menyeberangi petakan atau bagian-bagian lain sawah yang tidak sama tingginya, kalau jalannya menurun traktor harus berjalan mundur, tapi kalau jalannya naik, traktor harus maju. Membajak dengan sistem berkeliling dapat dilakukan sebagai berikut: 1. Putaran keliling sebaiknya berlawanan arah dengan jarum jam. 2. Pada putaran pertama, pembajakan tanah dilakukan pada tepi petakan dan diusahakan betul-betul rapat dengan pematang. Slice dilemparkan kearah kiri atau kearah tengah petakan. 3. Pada putaran kedua sampai keempat cara berbelok berpusing kearah lebih dalam. Slice dilemparkan kearah kanan atau kearah pematang. 4. Pada putaran kelima dan selanjutnya cara berbelok biasa tidak seperti putaran sebelumnya. Traktor meninggalkan petakan dengan meninggalkan open furrow/dead furrow (Sugeng, 1998). Pada pengolahan lahan dengan pola keliling tengah, pengolahan tanah dilakukan dari titik tengah lahan. Berputar ke kanan sejajar sisi lahan, sampai ke tepi lahan. Lemparan pembajakan ke arah dalam lahan. Pada awal pengolahan, operator akan kesulitan dalam membelokan traktor. Pola ini cocok untuk lahan

yang berbentuk bujur sangkar, dan lahan tidak terlalu luas. Diperlukan lahan untuk berbelok pada kedua diagonal lahan. Lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 sampai 4 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang tidak terbajak, diolah dengan cara manual (dengan cangkul) (Tas, 2008). Pada pengolahan tanah dengan pola keliling tepi, pengolahan tanah dilakukan dari salah satu titik sudut lahan. Berputar ke kiri sejajar sisi lahan, sampai ke tengah lahan. Lemparan pembajakan ke arah luar lahan. Pada akhir pengolahan, operator akan kesulitan dalam mebelokan traktor. Pola ini cocok untuk lahan yang berbentuk bujur sangkar, dan lahan tidak terlalu luas. Diperlukan lahan untuk berbelok pada kedua diagonal lahan. Lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 4 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang tidak terbajak, diolah dengan cara manual (dengan cangkul) (Tas, 2008). 2.3 Kapasitas Pengolahan Tanah Penerapan alat dan mesin pertanian pada dasarnya adalah untuk memberikan kontribusi pada peningkatan efisiensi produksi tersebut. Ketidakselarasan antara desain dan ukuran alsintan dengan kondisi spesifik wilayah penerapannya akan mengakibatkan rendahnya kapasitas kerja alsintan yang akhirnya akan memperbesar inefisiensi penggunaan sumber daya. Dalam pengolahan tanah, hingga saat ini pemilihan tipe penggerak maupun implement yang digunakan belum sepenuhnya didasarkan atas pertimbangan teknis (soil-tools interaction) dan ekologi wilayah. Sebagai akibatnya, hal tersebut mengarah pada kurang maksimalnya unjuk kerja alsintan yang digunakan, yang akhirnya mengarah pada rendahnya efisiensi penggunaan sumber daya dan tingginya biaya operasional per luas penggarapan (Hendriadi dkk, 2002). Kapasitas optimum dari peralatan pertanian tergantung dari faktor-faktor: 1. Jumlah hari kering untuk bekerja. 2. Kecepatan kerja. 3. Waktu yang tersedia untuk operasi lapang. 4. Persentase keuntungan yang bakal didapat.

Kapasitas lapang suatu alat/mesin dibagi menjadi dua yaitu kapasitas lapang teoritis atau kemampuan kerja suatu alat di dalam sebidang tanah jika berjalan maju sepenuhnya, waktunya 100 % dan alat tersebut bekerja dalam lebar maksimum (100%) serta kapasitas lapang efektif yaitu rata-rata kerja dari alat di lapangan untuk menyelesaikan suatu bidang tanah dengan luas lahan yang diolah dengan waktu kerja total (Darun, 1990). Persamaan untuk menentukan kapasitas lapang adalah sebagai berikut : KLT = W . V......................................................................... (1) dimana : KLT = Kapasitas lapang teoritis (m2/jam) W = Lebar kerja alat (m) V = Kecepatan (m/jam) KLE = L/T........................................................................ (2) dimana : KLE = Kapasitas lapang efektif (ha/jam) L = Luas lahan (ha) T = Total waktu tempuh (jam) (Yunus, 2004). 2.3.1 Efisiensi Traktor Efisiensi suatu traktor tergantung dari kapasitas lapang teoritis dan kapasitas lapang efektif. Karena efisiensi merupakan perbandingan antara kapasitas lapang efektif dengan kapasitas lapang teoritis yang dinyatakan dalam bentuk (%). Persamaan yang digunakan untuk mengetahui efisiensi pengolahan tanah adalah sebagai berikut : Efisiensi : (KLE/KLT) x 100% (3) Dimana : KLE = Kapasitas lapang efektif KLT = Kapasitas lapang teoritis (Yunus, 2004).

Pada saat mengolah tanah menggunakan traktor dan alat bajak maka akan diperoleh tanah terolah dengan luas tertentu dan selesai ditempuh dalam waktu tertentu, sehingga kemampuan kerja lapang mengolah tanah tersebut atau yang dapat dinyatakan dalam satuan luas tanah terolah persatuan waktu. Semakin luas tanah yang diselesaikan dalam waktu yang semakin singkat maka dikatakan bahwa pekerjaan mengolah tanah tersebut mempunyai efisiensi tanah yang tinggi (Yunus, 2004). Untuk mendapatkan efisiensi yang tinggi hendaknya dilakukan: a. Pemeliharaan traktor dan alat-alatnya dengan seksama b. Pemilihan operator/driver yang berpengalaman c. Pengerjaan dilakukan berdasarkan areal lapangan (Daywin dkk, 2008). 2.3.2 Slip Roda Traktor Berdasarkan SNI 0738:2010, slip roda dapat dihitung dengan rumus: Slip roda = (L1 L2) / L1.(4) Dimana: L1 = Jarak yang ditempuh untuk 5 kali putaran roda traktor tanpa mengolah tanah L2 = Jarak yang ditempuh untuk 5 kali putaran roda traktor dengan mengolah tanah 2.4 Perhitungan Perhitungan Pada Traktor 2.4.1 Kecepatan Aktual Pengukuran kecepatan dari traktor dalam mengolah tanah dapat dilakukan dengan menentukan panjang lintasan atau jarak tempuh traktor. Kecepatan dalam pengolahan tanah dapat diukur dengan menggunakan rumus (Santosa,2005a) V akt = S / T ..(1) Dimana : V akt S T = Kecepatan aktual (m/detik), = Panjang lintasan (m), = Waktu tempuh (detik).

2.4.2 Kapasitas Kerja Teoritis Untuk pengukuran kapasitas kerja teoritis traktor digunakan rumus\ (Santosa,2005a) KKteo = 0,36 x Vteo x w ........(2) Dimana: KKteo = Kapasitas kerja teoritis (ha/jam) Vteo w = Kecepatan kerja teoritis (m/detik) = Lebar kerja pengolahan tanah (m). Hubungan antara kecepatan teoritis dan kecepatan aktual adalah: Vteo = Vakt / ( 1 S ) ............................................(3) Dengan: S = Slip roda (desimal).

2.4.3 Kapasitas Kerja Efektif Kapasitas kerja efektif alat dapat ditentukan dengan menentukan waktu total operasi alat pada lintasan tertentu. Waktu total ini juga termasuk waktu yang hilang saat membelok, istirahat, penyetelan alat dan lainnya. Untuk pengukuran kapasitas kerja efektif digunakan rumus (Santosa,2005a) KKe = A / T .......(4) Dimana : KKe A T = Kapasitas kerja efektif (ha/jam) = Luas petakan (ha) = Waktu total pengoperasian (jam).

2.4.4 Efisiensi Lapang Untuk pengukuran efisiensi lapang digunakan rumus (Santosa,2005a) ...(5) Dimana : E = Efisiensi kerja lapang (%)