Anda di halaman 1dari 17

Bajak Singkal

Bajak singkal merupakan salah satu di antara alat pertanian tertua dan umumnya
dianggap sebagai alat yang paling penting. Pembajakan menyerap tenaga traksi lebih
besar dibanding semua pengerjaan lapang lainnya. Meskipun pengkajian terhadap
hasil panen telah memberi petunjuk bahwa pada keadaan tertentu pada beberapa
tanaman budidaya tertentu tidak terlihat adanya keuntungan dari dilakukannya
pembajakan, bajak singkal sejauh ini masih merupakan alat yang paling banyak
digunakan untuk olah tanah pertama pada penyiapan persemaian.
Di Indonesia jenis bajak singkal inilah yang paling umum digunakan oleh petani
untuk melakukan pengolahan tanah mereka, dengan menggunakan tenaga ternak hela
sapi atau kerbau, sebagai sumber daya penariknya.

Gambar 1. Bajak Singkal


Sering dijumpai beberapa bentuk rancangan bajak singkal, hal ini dimaksudkan untuk
dapat memperoleh penyesuaian antara kondisi tanah dengan tujuan pembajakan.
Aneka ragam rancangan yang dijumpai selain pada bentuk mata bajak, juga di bagian
perlengkapannya. Mata bajak adalah bagian dari bajak yang berfungsi aktif untuk
mengolah tanah.
Bajak singkal secara umum dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
1. Bajak singkal satu arah (one way moldboard plow), adalah jenis bajak singkal
dimana pada waktu mengerjakan pengolahan tanah akan melempar dan

membalik tanah hanya dalam satu arah. Lemparan atau pembalikan tanahnya
biasanya dilakukan ke arah kanan.
2. Bajak singkal dua arah ( two way / reversible moldboard plow), adalah jenis
bajak singkal dimana pada waktu mengerjakan pengolahan tanah, arah
pelemparan atau pembalikan tanahnya dapat diatur dua arah yaitu ke kiri
maupun ke arah kanan. Jenis bajak ini mempunyai mata bajak yang
kedudukannya dirancang untuk dapat diputar ke kanan ataupun ke kiri dengan
cepat, sesuai dengan arah pelemparan ataupun pembalikan tanah yang
dikehendaki. Jenis bajak ini mempunyai mata bajak yang kedudukannya
dirancang untuk dapat diputar ke kanan ataupun ke kiri dengan cepat, sesuai
dengan arah pelemparan ataupun pembalikan tanah yang dikehendaki.
Penggunaan bajak singkal dua arah mempunyai beberapa kelebihan akan
menghasilkan pembalikan tanah yang seragam untuk seluruh petak tanah yang
diolah, praktis untuk pengolahan tanah sistem kontur dari hasil kerjanya tidak
akan berbentuk alur mati (dead-furrow) ataupun alur punggung (back-furrow),
sehingga pembajakan dapat teratur dan rata. Namun kelemahannya adalah
konstruksinya lebih berat dan lebih rumit, untuk ukuran bajak yang besar
perlu dilengkapi sistem hidrolis untuk pemutaran mata bajaknya, perlu
keterampilan yang lebih baik dari pengemudinya. Kebanyakan bajak singkal
dirancang untuk membalik tanah hanya ke arah kanan. Sebaliknya, bajak dua
arah mempunyai dua kelompok mata bajak yang bertolak belakang yang dapat
digunakan salah satunya secara bergantian, tergantung keinginan. Dengan
susunan seperti itu, semua alur dapat dibalik ke satu sisi yang sama pada satu
lapang dengan menggunakan mata arah kanan pada satu arah pembajakan dan
menggunakan mata arah kiri pada perjalanan baliknya. Kedua kelompok mata
bajak digendongkan pada rangka biasa yang dapat diputar 180 derajat pada
sumbu membujurnya untuk mengganti kelompok yang satu dengan yang
lainnya. Seringkali pemutaran tersebut dilakukan menggunakan silinder
hidrolika yang merupakan bagian dari bajak tersebut. Mata bajak diputar
sampai 90 derajat pada langkah tarik, dan akan melampaui titik pusatnya

karena kelembaman geraknya sendiri, kemudian didorong turun ke sisi


lainnya pada langkah desak. Roda penara dan roda palir belakang akan secara
otomatis berubah posisinya pada saat rangka mata bajak berputar, kecuali jika
masing-masing kelompok mata bajak memiliki rodanya sendiri. Karena
dibutuhkan dua set mata, bajak dua arah akan lebih mahal dibanding bajak
satu arah dan tentu saja akan lebih berat. Bajak satu arah akan meninggalkan
bekas yang khas di satu lapang, dimulai dengan alur punggung (dua balikan
tanah yang tertumpuk bersebelahan) dan berakhir dengan alur mati (dua alur
yang terbuka). Bajak 2 arah akan meniadakan kedua gejala tersebut dan
menghasilkan lapang yang lebih rata guna keperluan irigasi atau pengatusan.
Bajak 2 arah juga menguntungkan untuk lapang yang berteras atau untuk
pembajakan searah garis tinggi dan untuk lapang kecil yang bentuknya tak
teratur
Penggunaan bajak singkal dua arah mempunyai beberapa kelebihan akan
menghasilkan pembalikan tanah yang seragam untuk seluruh petak tanah yang diolah,
praktis untuk pengolahan tanah sistem kontur dari hasil kerjanya tidak akan berbentuk
alur mati (dead-furrow) ataupun alur punggung (back-furrow), sehingga pembajakan
dapat teratur dan rata. Namun kelemahannya adalah konstruksinya lebih berat dan
lebih rumit, untuk ukuran bajak yang besar perlu dilengkapi sistem hidrolis untuk
pemutaran mata bajaknya, perlu keterampilan yang lebih baik dari pengemudinya.
Bagian-bagian yang membentuk mata bajak singkal adalah mata bajak, sisi tanah
dan singkal. Ketiga bagian ini terpasang pada sepotong logam yang tak beraturan
bentuknya yang disebut badan bajak (Frog). Rangka bajak dapat juga dipasang pada
badan tersebut. Pada waktu suatu alas bajak digunakan untuk membalik tanah, tanah
terpotong membentuk suatu saluran (Trench) yang disebut alur pasak (Forraw) selapis
tanah yang terpotong, terangkat dan terlempar kesamping disebut potongan alur
(Furrow slince) bial pembajakan dimulai dari tengah lahan, suatu alur pasak dibuat
melintang lapangan, kemudian traktor dan bajak diputar, dan pada arah perjalanan
kembali lapisan alur baru mendidih lapisan alur sebelumnya. Ini menghasilkan gigir
tanah yag sedikit lebih tinggi dari roda lapisan-lapisan alur kedua ketiga dan

selanjutnya lapisan alur yang terangkat ini disebut pengguna alur. Bila 2 alur lahan
selesai dibajak, dua potongan terakhir telapak bajak meninggalkan suatu alur yang
lebarnya kira-kira 2 kali lebar telapak bajak, alur terbuka ini disebut alur mati. Sisi
alur yang tidak terpotong disebut: diding alur (Forrow Wall). Bila lahan terbuka oleh
jajaran alur dengan lapisan tanah alur yang satu menutupi yang lain secara kontinu
lahan dikatakan laur yang bergantian dengan alur mati. Mata lahan dikerakan
berjudul. Pada umumnya, ada tiga macam bahan yang digunakan dalam pembuatan
singkal, yaitu baja-lunak-tangah. Baja tuang mutu tinggi dan besi tuang yang
diperkeras dengan pendingin mendadak. Singkal baja lunak tengah terbaik digunakan
dibawah segala kondisi, sebab sebagian besar tanah akan meluncurkan lebih baik
pada tipe bahan ini. Untuk daerah barat tengah Amerika Serikat, bajak baja
tampaknya

dapat memberikan kepuasan hampir dimana-mana. Disebabkan

kualitasnya yang tahan aus. Akibat kerasnya bahan yang digunakan, bajak besi tuang
yang diperkeras lebih baik digunakan untuk tanah pasir, tanah kerikil halus dan tanah
kerikil. Bajak besi tuang diperkeras dapat disesuaikan untuk daerah-daerah di selatan,
dimana banyak terdapat lahan berpasir.
Kebanyakan bajak singkal dirancang untuk membalik tanah hanya ke arah
kanan. Sebaliknya, bajak dua arah mempunyai dua kelompok mata bajak yang
bertolak belakang yang dapat digunakan salah satunya secara bergantian, tergantung
keinginan. Dengan susunan seperti itu, semua alur dapat dibalik ke satu sisi yang
sama pada satu lapang dengan menggunakan mata arah kanan pada satu arah
pembajakan dan menggunakan mata arah kiri pada perjalanan baliknya. Kedua
kelompok mata bajak digendongkan pada rangka biasa yang dapat diputar 180 derajat
pada sumbu membujurnya untuk mengganti kelompok yang satu dengan yang
lainnya. Seringkali pemutaran tersebut dilakukan menggunakan silinder hidrolika
yang merupakan bagian dari bajak tersebut. Mata bajak diputar sampai 90 derajat
pada langkah tarik, dan akan melampaui titik pusatnya karena kelembaman geraknya
sendiri, kemudian didorong turun ke sisi lainnya pada langkah desak. Roda penara
dan roda palir belakang akan secara otomatis berubah posisinya pada saat rangka
mata bajak berputar, kecuali jika masing-masing kelompok mata bajak memiliki

rodanya sendiri (yang biasanya terdapat pada kebanyakan bajak gendong. Bajak
gendong dua arah biasanya memiliki 2 4 mata 36 cm atau 41 cm per kelompok.
Bajak semi gendong atau gandengan jarang mempunyai lebih dari 5 mata, namun
biasanya ukurannya 41 cm atau 46 cm. Karena dibutuhkan dua set mata, bajak dua
arah akan lebih mahal dibanding bajak satu arah dan tentu saja akan lebih berat.
Bajak satu arah akan meninggalkan bekas yang khas di satu lapang, dimulai dengan
alur punggung (dua balikan tanah yang tertumpuk bersebelahan) dan berakhir dengan
alur mati (dua alur yang terbuka). Bajak 2 arah akan meniadakan kedua gejala
tersebut dan menghasilkan lapang yang lebih rata guna keperluan irigasi atau
pengatusan. Bajak 2 arah juga menguntungkan untuk lapang yang berteras atau untuk
pembajakan searah garis tinggi dan untuk lapang kecil yang bentuknya tak teratur.

Bagian-bagian bajak singkal


Bagian utama dari bajak singkal :

Gambar 2. Bagian-bagian bajak singkal

1. Pisau bajak (share) berfungsi untuk memotong tanah secara horizontal. Oleh
karenanya biasaya bajak ini terbuat dari logam yang berbentuk tajam.

2. Singkal (moldboard) berfungsi untuk mengangkat, menghancurkan dan


membalik tanah yang telah dipotong oleh pisau bajak. Karena bentuknya
yanng melengkung, pada waktu bajak bergerak maju, tanah yang telah
terpotong akan terangkat ke atas kemudian akan dibalik dan dilempar sesuai
dengan arah pembalikan bajak.
3. Penstabil

bajak/penahan

samping

(land

side),

berfungsi

untuk

mempertahankan gerakan maju bajak agar tetap lurus. Dengan jalan


menahan atau mengimbangi gaya ke samping yang diterima oleh bajak
singkal, pada waktu bajak tersebut digunakan untuk memotong dan
membalik tanah.Bagian penstabil bajak ini akan selalu bergerak sejajar dan
menempel pada dinding alur pembajakan.
Ketiga bagian utama tersebut diikat pada bagian yang disebut pernyatu
(frog).Unit ini dihubungkan dengan rangka (frame) melalui batang penarik (beam).
Penggunaan bajak singkal ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain : pembalikan
tanah lebih seragam pada tiap petak tanah yang diolah, lebih praktis untuk
pengolahan tanah sistem kontur, tidak menimbulkan alur mati (dead furrow) atau alur
punggung (back furrow) sehingga pembajakan lebih rata. Bajak singkal dapat
dipergunakan untuk mengait dan mencacah gulma, serta pembajakan di bawah
vegetasi hijau yang tinggi.Bajak ini bekerja dengan ditarik oleh penggandeng
misalnya traktor
Untuk penyempurnaan hasil kerjanya, disamping bagian-bagian utama di atas,
bajak singkal sering dilengkapi dengan perlengkapan tambahan, antara lain adalah:
1. Roda alur penstabil (furrow wheel), berfungsi sebagai pembantu alas penstabil
bajak dalam menjaga kestabilan pembajakan.
2. Roda dukung (land wheel), berfungsi untuk mengatur kedalaman pembajakan.
Dengan alat ini diharapkan pengolahan tanah dapat dilakukan dengan kedalaman
yang relatif konstan.
3. Kolter, berfungsi untuk memotong seresah dan memotong tanah ke arah vertikal.
Dengan alat ini diharapkan kerja pembalikan tanah akan lebih ringan. Kolter
biasanya dipasang di depan bajak dan terletak sedikit di atas mata bajak.

4. Jointer, berfungsi untuk memungkinkan penutupan seresah lebih sempurna dalam


pembajakan. Alat ini bentuknya menyerupai bajak singkal namun dengan ukuran
yang lebih kecil. Dalam pemasangan umumnya berada di atas pisau bajak, ke arah
tanah yang belum dibajak dengan kedalaman kerja lebih kurang 5 cm. Dengan alat
ini rumput-rumput atau seresah sebelum dibalik, struktur akar sudah dirusak atau
dipotong, sehingga pada waktu tertimbun tanah tidak ada kemungkinan untuk
menembus tanah dan tumbuh kembali.
5. Kerangka (beam), seluruh bagian-bagian bajak di atas pada penggunaannya
dipasang pada kerangka yang kuat. Pada kerangka ini pula terpasang titik
penggandengan bajak. Pada titik-titik penggandengan ini bajak dapat dirangkaikan
dengan sumberdaya penariknya.
Mata Bajak
Mata bajak singkal ialah sisi yang melaksanakan pemotongan. Bagian-bagian utama
mata bajak adalah, ujung, sayap, sisi pemotongan, dan sisi samping. Jenis-jenis mata
bajak yang dikenal adalah: yang umum sisi samping yang terdiri atas dua bagian dan
yang lurus. Dua yang terakhir dirancang sedemikian rupa. Sehingga bila mata bajak
itu telah tumpul, lebih ekonomis untuk mengganti mata bajak itu dengan yang baru
dari pada mencoba untuk menajamkan kembali.
Mata bajak besi tuas yang diperkeras dapat ditajamkan kembali dengan
mengerinda.
Tusukan vertikal atau tusukan ke bawah dalah seberapa jauh mata bajak harus ke
dalam tanah agar dapat memotong tanah sampai ke dalaman yang tepat pada waktu
bajak ditarik melaju. Dalam tusukan aka beruariasi dari 1/8 sampai 3/16 inci (3,2
sampai 7,9 mm) yang bergantung pada gata bajak yang digunakan untuk bekerja pada
tanah itu.
Tusukan horizontal atau tusukan lahan, adalah sejauh mana ujung mata bajak
dibongkarkan menyimpang dari garis dengan sisi tanah sasaran tusukan ini adalah
agar bajak membuat alur dengan lebar yang tepat.

Pada intinya, mata bajak singkal berupa baji tiga sisi, dengan tamping dan bidang
mendatar sisi pemotong kejen sebagai sisi datarnya, sedangkan bagian atas kejen dan
singkal berkedudukan sebagai sisi lengkungnya. Fungsi utama mata bajak tersebut
adalah untuk memotong tanah, meremukkan, serta membaliknya untuk menutupi
sampahan. Ukuran mata singkal ialah lebar pemotongan alur terancangnya.
Pada saat bajak bergerak maju, maka pisau (share) memotong tanah dan.
mengarahkan potongan/keratan tanah (furrow slice) tersebut ke bagian singkal.
Singkal akan menerima potongan tanah, dan karena kelengkungannya maka potongan
tanah akan dibalik dan pecah. Kelengkungan singkal ini berbeda untuk kondisi dan
jenis tanah yang berbeda agar diperoleh pembalikan dan pemecahan tanah yang baik.
Penahan samping adalah bagian yang berfungsi untuk menahan tekanan samping
dari keratan tanah pada singkal, disamping sekaligus menjaga kestabilan jalannya
bajak sewaktu bekerja. Bagian yang paling banyak bersinggungan dengan tanah dari
bagian ini adalah bagian belakang yang disebut tumit (heel). Untuk menjaga keausan
karena gesekan dengan tanah, bagian tumit ini dalam pembuatannya diperkeras.
Selain dari bagian-bagian diatas, bajak singkal diperlengkapi dengan alat yang
disebut pisau pemotong (coulter). Bagian ini berfungsi untuk membelah tanah atau
tumbuhan atau sampah-sampah yang ada diatas tanah sebelum pisau bajak memotong
tanah. Dengan demikian sisa-sisa tumbuhan diatas tanah dapat dibalik dengan baik
dan memperingan pekerjaan pisau bajak. Ada dua bentuk pisau pemotong, yaitu pisau
pemotong stasioner (stationary knife) dan pisau pemotong berputar (rolling coulter).

Gambar 3. Stationary knife

Gambar 4. Rolling coulter

Ukuran bajak adalah lebar bajak, dinyatakan dalam satuan panjang. Ukuran dari
satu bajak adalah dengan mengukur jarak dari sayap (wing) sampai penahan samping.
Secara teoritis ukuran ini dapat dianggap sebagai lebar pembajakan atau lebar
pemotong tanah.
Telapak Bajak Singkal
Bagian bajak yang sesungguhnya memecah tanah disebut alas atau telapak .
Bagian ini tersusun atas bagian-bagian yang diperlukan untuk struktur tegar yang
dipersyaratkan untuk memotong, mengangkat dan membelikkan tanah. Bagian-bagian
yang membentuk mata bajak singkal adalah mata bajak, sisi tanah dan singkal. Ketiga
bagian ini terpasang pada sepotong logam yang tak beraturan bentuknya yang disebut
badan bajak (Frog). Rangka bajak dapat juga dipasang pada badan tersebut.
Pada waktu suatu alas bajak digunakan untuk membalik tanah, tanah
terpotong membentuk suatu saluran (Trench) yang disebut alur pasak (Forraw) selapis
tanah yang terpotong, terangkat dan terlempar kesamping disebut potongan alur
(Furrow slince) bial pembajakan dimulai dari tengah lahan, suatu alur pasak dibuat
melintang lapangan, kemudian traktor dan bajak diputar, dan pada arah perjalanan
kembali lapisan alur baru mendidih lapisan alur sebelumnya. Ini menghasilkan gigir
tanah yag sedikit lebih tinggi dari roda lapisan-lapisan alur kedua ketiga dan
selanjutnya lapisan alur yang terangkat ini disebut pengguna alur. Bila 2 alur lahan
selesai dibajak, dua potongan terakhir telapak bajak meninggalkan suatu alur yang
lebarnya kira-kira 2 kali lebar telapak bajak, alur terbuka ini disebut alur mati. Sisi
alur yang tidak terpotong disebut: diding alur (Forrow Wall). Bila lahan terbuka oleh
jajaran alur dengan lapisan tanah alur yang satu menutupi yang lain secara kontinu
lahan dikatakan laur yang bergantian dengan alur mati. Mata lahan dikerakan
berjudul atau berlaci.
Singkal adalah bagian bajak yang terletak langsung dibelakang mata bajak
(kojen). Bagian ini menerima potongan tanah dari kejen dan membalikkan. Bila
ditinjau dari segi kegiatan bajak terhadap tanah, singkal merupakanbagian bajak yang
terpenting, sebab oleh singkal itulah lapisan tanah terpecah, dihancurkan dan

dilembutkan. Pada sementara singkal ditambahkan suatu perluasan untuk


membalikkan tanah dengan cara lebih gradual dan lebih sempurna.
Tanah yang berlainan membutuhkan singkal dengan bentuk yang berbeda
untuk mencapai tingkat kehancuran yang sama. Dengan dasar ini, singkal dibagi
dalam beberapa kelas, yaitu bajak untuk: lahan dengan tunggul jerami, serba guna,
tanah hitam, pemecah dan kecepatan tinggi. Dalam mengklasifikasikan singkal, harus
selalu diingat bahwa dari setiap kelas terdapat ratusan bentuk. Keaneka ragaman
bentuk seperti ini berakibatkan pabrik-pabrik berupa untuk membuat bajak yang akan
bekerja dengan berhasil disegala tempat masih harus dibuat. Suatu bentuk khusus
yang disebut telapak tanah. Hitam. Digunakan secara luas di Texas dan ditempattempat lain di mana tanah tidak mengores dan dibiarkan permukaan singkal bersih
dan terpoles.
Singkal serba guna merupakan kombinasi tipe-tipe untuk lahan berumput dan
sisa-sisa tunggul jerami serta dapat digunakan dengan mudah untuk lahan berumput
atas lahan dengan sisa-sisa jerami. Singkal ini mempunyai lengkung yang lebih
rendah dari pada singkal untuk lahan dengan tunggul jerami sehingga disebut bajak
serba guna.
Tipe singkal untuk lahan tunggul jerami (gambar 9-2) lebih besar dan melengkung
lebih mendadak pada sisi atasnya. Hal ini mengakibatkan tanah potongan alur
terlempar lebih cepat, dan dihancurkan lebih baik dari pada oleh tipe-tipe singkal
lainnya. Tipe ini cocok sekali untuk bekerja di tanah yang telah dibudidayakan dari
tahun ke tahun. Dikenal dengan tanah bertanggul jerami karena adanya kenyataan
bahwa tunggul tanaman yang dulu masih tertinggal pada lahan tadi. Berbeda dengan
bajak rumput gebalan. Lapisan tanah alur mendidih lapisan yang lain.
Telapak bajak pemecah dirancang untuk bekerja di lahan berumput dan
dilahan yang dibiarkan tidak ditanami untuk beberapa tahun lamanya.
Bajak berkecepatan tinggi mempunyai singkal yang lengkungnya bagian atasnya
sedikit lebih rendah dari pada yang dimiliki singkal serba guna. Singkal ini dirancang
untuk melempar lapisan tanah cukup jauh untuk dapat menutupi lapisan tanah dari

alur sebelumnya. Singkal berusuk (slat moldboard) sering kali digunakan ditempat
yang tanahnya lengket tidak mau lepas dari singkal.
Pada umumnya, ada tiga macam bahan yang digunakan dalam pembuatan
singkal, yaitu baja-lunak-tangah. Baja tuang mutu tinggi dan besi tuang yang
diperkeras dengan pendingin mendadak. Singkal baja lunak tengah terbaik digunakan
dibawah segala kondisi, sebab sebagian besar tanah akan meluncurkan lebih baik
pada tipe bahan ini. Untuk daerah barat tengah Amerika Serikat, bajak baja
tampaknya

dapat memberikan kepuasan hampir dimana-mana. Disebabkan

kualitasnya yang tahan aus. Akibat kerasnya bahan yang digunakan, bajak besi tuang
yang diperkeras lebih baik digunakan untuk tanah pasir, tanah kerikil halus dan tanah
kerikil. Bajak besi tuang diperkeras dapat disesuaikan untuk daerah-daerah di selatan,
dimana banyak terdapat lahan berpasir.
Fungsi bajak singkal yaitu :

mengubah struktur tanah dengan cara ditarik,


bajak akan memotong,
membalik dan memecah tanah sekaligus menutup gulma, dan
akan menjadikan kompos di dalam tanah.

Bagian yang paling penting dari bajak singkal adalah share,singkal dan land side,
bagian share memotong tanah, kemudian meneruskan kebagian singkal. Kemudian
singkal mengangkut , membalikkan serta memecah tanah. Landside bersentuhan
dengan dinding alur yang menahan tekanan dari samping, share adalah untuk
memotong tanah dan gulma pada saat singkal bekerja membalikkan tanah bajak
bergerak maju tanah terpotong oleh pisau (share) potongan alur (furrow sslice) akan
mengarah kesisi singkal (landside) bagian atas singkal dank arena kelengkungannya
maka potongan tanah akan terbalik dan pecah.
Garu Piring

Gambar 5. Garu Piring


Sebagian

besar operasi

penyiapan

lahan

diawali

oleh

pembajakan

menggunakan bajak singkal atau bajak piring. Hasil pembajakan dengan kedua bajak
ini masih berbongkah-bongkah dan belum siap untuk ditanami. Oleh karena itu,
pengolahan tanah perlu dilanjutkan hingga lahan benar-benar siap untuk ditanami.
Operasi pengolahan tanah setelah pembajakan dinamakan pengolahan tanah sekunder.
Untuk mencapai kondisi lahan siap tanam masih ada beberapa tahap pengolahan
tanah sekunder. Biasanya dimulai dengan penggaruan dan berakhir dengan
pembuatan bedengan (guludan).
Alat pengolahan tanah sekunder yang paling banyak diketahui yaitu bajak
piring. Setelah itu garu-garu lain seperti garu bergigi paku, garu bergigi pegas, dan
garu putar. Sebagai alat pengolah tanah sekunder, garu-garu tersebut digunakan untuk
menghancurkan lebih lanjut bongkah-bongkah tanah hasil pengolahan tanah primer,
menggemburkan dan meratakannya, serta memusnahkan tanaman pengganggu.
Garu piringan (disk-harror), pada prinsipnya peralatan pengolah tanah ini
hampir menyerupai bajak piringan, khususnya bajak piringan vertikal. Perbedaannya
hanya terletak pada ukuran, kecekungan dan jumlah piringannya. Garu piringan
mempunyai ukuran dan kecekungan piringan yang lebih kecil dibandingkan dengan
bajak, hal ini disebabkan pengolahan tanah kedua dilakukan lebih dangkal dan tidak
diperlukan pernbalikan tanah yang efektif seperti pengolahan tanah pertama.
Selanjutnya karena draft penggaruan lebih kecil dari draft partibajakan, maka dengan
besar daya penarikan yang sama lebar kerja garu akan lebih besar dibandingkan
dengan lebar kerja bajak, dengan demikian jumlah piringan garu piringan dengan
sendirinya akan lebih banyak dibandingkan dengan bajak piringan .

Seperti bajak piringan, bagian bagian-bagian utarna dan garu piringan terdiri atas :
1.
2.
3.
4.

Piringan
Poros piringan
Penggarak piringan
Kerangka.

Kadang kala dilengkapi pula dengan roda dukung, apabila sistim penggandengan
dengan daya penariknya menggunakan sistem hela trailing.Garu piringan biasanya
tidak dilengkapi dengan roda alur penstabil. Beberapa piringan dan garu piringan
dirangkai menjadi satu rangkaian dengan menggunakan satu poros, rangkaianrangkaian ini biasa disebut sebagai rangkaian piringan (disk gang). Konstruksi garu
piringan umumnya terdiri atas dua rangkaian piringan atau empat rangkaian piringan.
Ditinjau dan proses penghancuran tanah, langkah penggaruan dapat dibedakan atas :
1. Penggaruan satu aksi (single action)
2. Penggaruan dua aksi (double action).
Didasarkan atas uraian di atas, garu piringan dibedakan atas garu piringan dua
rangkaian satu aksi (single action two gang-dlisk barrow) garu piringan dua rangkaian
dua aksi (double ion two anq disk harrow) garu piringan empat rangkaian dua aksi
atau biasanya disebut tandem (tandem disk-harrow).
Bagian-bagian dari garu piring adalah :

piringan (disk),
as (gang/arbor bolt),
rangka (frame),
bantalan (bearing),
bumper,
kotak pemberat, dan
pembersih tanah (scaper).
Piringan dapat bersisi rata atau bergerigl Piringan yang bergerigi biasanya

digunakan pada lahan yang mempunyai banyak sisa-sisa tanaman. Ukuran umum
berkisar antara 45 sampai 60 cm, sedangkan untuk tugas berat (heavy duty) antara 65
sampai 70 cm.Piringan dipasang pada suatu as yang berbentuk persegi dengan jarak
antara 15 sampai 22 cm, atau 25 sampai 30 untuk tugas berat dan masing-maing
dipisahkan oleh gelondong (spool).

Masing-masing as (gang) diikat ke rangka melalui standar yang berdiri pada


bantalan. Untuk garu yang ringan satu as mempunyai dua bantalan, sedangkan yang
berat lebih dari dua bantalan. Pada ujung as di bagian cembung piringan ditempatkan
bumber berupa besi tuang yang eukup berat untuk menambah tekanan ke samp ing.
Apabila garu piring tidak cukup berat untuk memecah tanah, maka dapat ditambah
beban yang ditempatkan pada kotak pemberat. Untuk membersihkan tanah yang
melekat pada piringan, biasanya setiap piringan dilengkapi dengan pengeruk tanah
(scraper) yang diikat pada rangka.
Setiap piringan dari garu piringan biasanya dilengkapi dengan pengeruk
(scraper) yang berguna selain untuk membersihkan tanah yang lengket pada piringan,
juga membantu dalam pembalikan potongan tanah. Untuk menahan tekanan samping
yang terjadi saat bajak memotong tanah, bajak piring dilengkapi dengan roda alur
belakang (rear furrow wheel).

Gambar 6. Hasil pembajakan menggunakan garu piring


Kegunaan Garu Piring yaitu :

sebagai pengolah tanah untuk perbaikan struktur butir-butir tanah,


memperbesar persediaan air,
memperbaiki peresapan air dan aerasi tata udara tanah,
mengurangi evaporasi tanah,
mempercepat pelapukan akar sisa tanaman dan mempermudah perkembangan

akar,
memperbaiki kehidupan mikroba aerob tanah dan memberantas gulma.

Keunggulan Baik dan efisien untuk kebun seluas 2,5 - 5 Ha Sangat cocok untuk
usaha tani lahan kering seperti tanaman hortikultura dan palawija. Dapat
digandengkan dengan traktor mini bertenaga min 15 HP.
Kelebihan dari garu ini dapat bekerja ditanah keras dan kering (tanah yang
lengket, berbatu, berakar, dan tanah yang memerlukan pengerjaan yang dalam).
Kelemahan dari alat ini yaitu tidak dapat menutup sisa tanaman/rumput yang telah
terpotong, bekas pembajakan tidak betul-betul rata, dan hasil pengolahan tanahnya
masih berupa bongkahan-bongkahan. Garu piring sendiri memiliki macam-macam
jenis yaitu yang bergerigi dan yang tidak bergerigi (piringan).
Dalam susunan rangkanya garu piring ada beberapa jenis yaitu :
1. one way,
One way yaitu rangka yang hanya memiliki satu rangka pada satu rangkaian
garu.
2. two way,
Two way yaitu rangka yang memiliki dua rangka pada satu rangkaian garu.
3. off site.
4. Off site yaitu rangka yang memiliki dua rangka namun berbentuk seperti V
yaitu memiliki sudut antar 150-300. Untuk pengolahan tanah pada kondisi
miring sebaiknya tidak menggunakan garu yang off site, karena akan
membuat traktor berjalan memutar.
Ada tiga jenis bajak piring yang ditarik dengan traktor, yaitu ;

tipe tarik (trailing),


tipe hubungan langsung (direct-connected), dan
tipe diangkat sepenuhnya (integral mounted)

Tipe tarik dapat dibagi lagi atas biasa (reguler) dan satu arah (one way).
1. Reguler trailing disk plow ditarik di belakang traktor. Alat ini dilengkapi
dengan roda yaitu 2 buah roda alur (furrow wheel) dan satu buah roda lahan
(land wheel). Kedua roda alur (furrow wheel), berperan untuk menstabilkan
jalannya bajak. Pada tanah-tanah berat digunakan heavy way disk plow untuk
mendapatkan pengolahan yang dalam.

2. One way disk plow adalah piring bajak yang di susun dalam satu gang melalui
suatu poros. Jarak antara piringan adalah 8 sampai 10 inci. Jumlah piringan
dapat beragam dari 2 sampai 35 buah dengan ukuran diameter piring dari 20
sampai 26 inci.
Tipe hubungan langsung atau disebut juga semi mounted disk plow di bagian
depannya dapat diangkat menggunakan sistem hidrolik traktor sehingga memudahkan
alat sewaktu berputar. Alat ini dapat berputar pada areal yang sempit dan juga dapat
mundur.
Tipe diangkat sepenuhnya ditarik dibelakang traktor dipasang pada tiga titik
gandeng dan keseluruhannya dapat diangkat menggunakan sistem hidrolik traktor,
sehingga sangat mudah dalam transportasi. Tipe one way disk plow yang kecil dapat
juga termasuk Integral mounted, bila dapat diangkat keseluruhannya dengan hidrolik
traktor.

DAFTAR PUSTAKA
Akhmad Fauzi, A. 2012 . Bajak Singkal. : http : // uzymozy . blogspot . com / 2012 /
09 / bajak - singkal. Diakses pada tanggal 04 Oktober 2016
Hamris, Moh, 2010. Bagian- Bagian dari Traktor. www.Blogspot_Hamris.com.
Diakses tanggal 04 Oktober 2016
Paktas . 2008 . Pengantar Mata Kuliah Mesin Peralatan Pertanian . http : //
teknoperta . wordpress . com / 2008 / 09 / 18 / pengantar mk mesin
peralatan pertanian 2 / . Diakses pada tanggal 04 Oktober 2016
Sitohang, Benidiktus.2010. Bajak Singkal. : http : // ideelok . com / alat - dan mesin /
bajak singkal. Diakses pada tanggal 04 Oktober 2016
Soeprodjo, P., 1974. Cara-Cara Menentukan Ukuran Utama Traktor Untuk
Pengolahan Tanah. Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah
Mada: Yogyakarta.
Wijanto, M.S., 1996, Memilih; Menggunakan; Dan Merawat Traktor Tangan. Bumi
Aksara : Jakarta