Anda di halaman 1dari 17

LIBRARY MANAGER DATE SIGNATURE

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN REFERAT AGUSTUS 2008

TRAUMA LISTRIK

OLEH : M.LEO TAHRIUM HUTRI YUNUS FREZZY S.SAMUEL TAUFIQURACHMAN PEMBIMBING : dr. DENNY MATHIUS SUPERVISOR : Prof. Dr. dr. Johanna M. Kandow, SpPA(K), DFM, SpF DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK DI BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2008 C 111 01 071 C 111 02 072 C 111 03 058 C 111 03 141

TRAUMA LISTRIK
PENDAHULUAN
Luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh yang terjadi akibat kekerasan. Dalam kesempatan kali ini kami akan membahas tentang luka bakar khususnya luka bakar yang disebabkan oleh sengatan listrik. (1) Luka bakar adalah suatu trauma yang dapat disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia, petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan-jaringan yang lebih dalam. Dalamnya luka bakar tergantung tinggi panasnya, penyebab dan lamanya kontak dengan kulit. (2) Luka listrik adalah salah satu jenis luka karena peristiwa fisika. Trauma listrik terjadi saat seseorang menjadi bagian dari sebuah perputaran aliran listrik atau disebabkan oleh terkenanya pada saat berada dekat dengan sumber listrik. Rangkaian listrik dalam hal ini adalah suatu kumpulan elemen atau komponen listrik yang saling dihubungkan dengan cara-cara tertentu. Elemen atau komponen memiliki dua buah terminal atau kutub pada kedua ujungnya. Pembatasan elemen atau komponen listrik pada Rangkaian Listrik dapat dikelompokkan kedalam elemen atau komponen aktif dan pasif. Elemen aktif adalah elemen yang menghasilkan energi dalam hal ini adalah sumber tegangan dan sumber arus. Elemen lain adalah elemen pasif dimana elemen ini tidak dapat menghasilkan energi, dapat dikelompokkan menjadi elemen yang hanya dapat menyerap energi dalam hal ini hanya terdapat pada komponen resistor atau banyak juga yang menyebutkan tahanan atau hambatan dengan simbol R.(2,3) Cedera Akibat Listrik merupakan kerusakan yang terjadi jika arus listrik mengalir ke dalam tubuh manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan terganggunya fungsi suatu organ dalam. Tubuh manusia adalah penghantar listrik yang baik. Kontak langsung dengan arus listrik bisa berakibat fatal. Arus listrik yang mengalir ke dalam tubuh manusia akan menghasilkan panas yang dapat membakar dan menghancurkan jaringan tubuh. Meskipun luka bakar listrik tampak ringan, tetapi mungkin saja telah terjadi kerusakan organ dalam yang serius, terutama pada jantung, otot atau otak. (14)

Luka yang diakibatkan oleh arus listrik yang fatal umumnya disebabkan oleh kecelakaan, dan lebih sering pada arus bolak-balik (AC) daripada searah (DC). Kerusakan yang diakibatkan oleh trauma listrik disebabkan oleh dua mekanisme yaitu terjadinya pemanasan dan aliran listrik itu sendiri yang melewati jaringan. Pemanasan akan menyebabkan nekrosis koagulatif dan aliran listrik pada jaringan akan menyebabkan kerusakan membran sel. Kerusakan terbesar biasanya pada sel-sel saraf pembuluh darah dan otot. (2) Faktor-faktor yang berperan didalam terjadinya luka akibat arus listrik adalah (4,5,6,7,8) : 1. Tegangan (volt), tegangan rendah (600 volt atau kurang dari 600 volt), tegangan tinggi ( lebih dari 600 volt). 2. Kuat arus (ampere), makin besar arus, makin berbahaya bagi kelangsungan hidup. 3. Jenis arus listrik, sensitifitas terhadap arus listrik bolak balik (AC) 4-6 kali lebih besar dibandingkan arus listrik searah (DC). 4. Tahanan kulit (ohm), tahanan dari tubuh yang terbesar adalah kulit, tulang, lemak. 5. Arah aliran listrik , mematikan bila melintasi otak atau jantung; misalnya arah aliran dari kepala ke kaki atau lengan ke lengan 6. Luas permukaan kontak, Luas 50 cm2 dapat mematikan tanpa menimbulkan jejas listrik 7. Lama kontak, waktu lamanya seseorang kontak dengan benda yang beraliran listrik menentikan kecepatan datangnya kematian. Sebagai contoh, bila intensitas sekitar 70-300mA, maka kematian akan terjadi dalam waktu 5 detik; sedangkan pada intensitas sekitar 200-700 mA akan terjadi dalam waktu 1 detik. 8. Keadaan korban o Kesadaran korban saat mendapatkan trauma listrik o Riwayat penyakit korban sebelumnya o Pekerjaan

ETIOLOGI
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, trauma listrik terjadi saat seseorang menjadi bagian dari sebuah perputaran aliran listrik atau bisa disebabkan pada saat berada dekat dengan sumber listrik. Klasifikasi yang paling sering untuk membagi trauma karena listrik adalah karena petir, Aliran listrik tegangan rendah arus bolak balik (AC), aliran listrik tegangan tinggi arus bolak balik (AC) dan arus searah (4) Petir Petir/lightening, adalah muatan listrik statis dalam awan dengan voltase sampai 10 mega volt dan kekuatan arus listrik sampai seratus ribu ampere yang dalam waktu 1/1000-1 detik dilepaskan kebumi.(6) Luka karena petir biasanya terjadi saat seseorang menjadi bagian atau bearada dekat dengan terjadinya petir, secara umum, biasanya pasien menjdi objek yang paling tinggi dibandingkan sekitarnya atau berada dekat dengan objek yang tinggi misalnya pohon. Pada saat petir menyambar, biasanya langit terlihat bersih.(4) Seseorang yang disambar petir pada tubuhnya terdapat kelainan yang disebabkan oleh faktor arus listrik, faktor panas dan faktor pemindahan udara.(6) 1. Efek Listrik o Ada tanda listrik (electrick mark) o Aborecence mark : gambaran seperti percabangan pohon oleh karena vasodilatasi pembuluh darah vena pada kulit akibat bersentuhan dengan petir, gambaran ini akan menghilang setelah beberapa jam 2. Efek panas o Rambut, pakaian,sepatu, bahkan seluruh tubuh akan terbakar/hangus o Metalisasi : Logam yang dikenakan korban akan meleleh ( perhiasan, arloji) 3. Efef ledakan (pemindahan udara) o Setelah kilat udara setempat menjadi vacum lalu diisi oleh udara kembali sehingga timbul suara menggelegar/guntur

o Akibat pemindahan udara ini, pakaian korban koyak, korban terlontar sehingga terdapat luka akibat persentuhan dengan benda tumpul, misalnya abrasi, kontusi, patah tulang tengkorak, epidural/subdural bleeding o Bile tidak meninggal mungkin didapatkan : lumpuh, tuli, buta yang sifatnya sementara. Listrik tegangan Tinggi AC Pada kasus ini tegangan listrik lebih dari 600 volt. Luka listrik karena tegangan tinggi sering terjadi pada saat terdapat objek yang bersifat konduktif disentuh yang tersambung dengan sumber listrik bertegangan tinggi. (4) Listrik tegangan rendah AC Tegangan rendah adalah 600 volt atau kurang dari 600 volt. Secara umum, ada 2 tipe luka listrik tegangan rendah dengan arus bolak-balik yang memungkinkan : Anak yang menggigit kawat listrik yang bisa menyebabkan luka berat pada bibir, wajah, dan lidah, kemudian anak-anak atau orang dewasa yang terjatuh saat menyentuh objek yang dialiri energi listrik. (4) Arus searah (DC) Luka listrik karena arus searah biasanya terjadi saat laki-laki usia muda secara tidak sengaja menyentuh rel kereta dari sebuah kereta listrik yang sedang berjalan. Arus searah (DC) kurang berbahaya dibanding arus bolak-balik (AC); arus dari 50-80 mA AC dapat mematikan dalam hitungan detik, dimana 250 mA DC dalam waktu yang sama sering dapat selamat. Arus bolak-balik adalah 4-6 kali menyebabkan kematian, sebagian karena efek bertahan, yang merupakan hasill dari spasme otot tetanoid dan mencegah korban lepas dari konduktor hidup.(4)

PATOFISIOLOGI

Secara umum, energi listrik membutuhkan aliran energi (elektron-elektron) dalam perjalanannya ke objek. Semua objek bisa bersifat konduktor (menghantarkan listrik) atau resistor (menghambat arus listrik). Kulit berperan sebagai penghambat arus listrik yang alami dari sebuah aliran listrik. Kulit yang kering memiliki resistensi sebesar 40.000-100.000 ohm. Kulit yang basah memiliki resistensi sekitar 1000 ohm, dan kulit yang tebal kira-kira sebesar 2.000.000 ohm. Anak dengan kulit yang tipis dan kadar air tinggi akan menurunkun resistensi, dibandingkan orang dewasa. Tahanan dari alat-alat tubuh bagian dalam diperkirakan sekitar 500-1000 ohm, termasuk tulang, tendon, dan lemak memproduksi tahanan dari arus listrik. Pembuluh darah, sel saraf, membran mukosa, dan otot adalah penghantar listrik yang baik. Dengan adanya luka listrik , pada sayatan melintang akan memperlihatkan kerusakan jaringan.(7,9) Elektron akan mengalir secara abnormal melewati tubuh yang menyebabkan perlukaan ataupun kematian dengan cara depolarisasi otot dan saraf, menginisiasi aliran listrik abnormal yang dapat menggangu irama jantung dan otak, atau produksi energi listrik menyebabkan luka listrik dengan cara pemanasan yang menyebabkan nekrosis dan membentuk porasi (membentuk lubang di membran sel). (5) Aliran sel yang melewati otak, baik tegangan tinggi atau tegangan rendah, dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan secara langsung menyebabkan depolarisasi selsel saraf otak. Arus bolak balik dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel jika aliran listrik melewati daerah dada. Hal ini dapat terjadi saat aliran listrik mengalir dari tangan ke tangan, tangan ke kaki, atau dari kepala ke tangan/kaki. (4,9)

GEJALA KLINIK
Banyaknya penyebab dari kasus luka listrik, sehingga anamnesa yang menunjang sangat diperlukan baik riwayat penyakit sebelumnya maupun hal-hal spesifik yang berhubungan dengan kejadian saat seseorang terkena aliran listrik. Arah aliran listrik penting untuk mengetahui munculnya luka listrik, arah vertikal dapat menjadi lebih berbahaya daripada arah horizontal. (9)

Ada 3 derajat dari beratnya luka bakar pada luka akibat listrik (1,10) :

1. Luka Bakar Derajat I Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (superficial) Kulit kering, hiperemis berupa eritem Tidak dijumpai bulla Nyeri karena ujung-ujung saraf sensoris teriritasi Sembuh spontan dalam 5-10 hari

2.

Luka bakar derajat II Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi Dijumpai bulla Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi Dasar luka berwarna merah atau pucat sering terletak lebih tinggi di atas kulit normal. Dibedakan menjadi dua : a. Derajat dua A (Superficial) Kerusakan mengenai bagian superficial dari dermis. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebasea masih utuh. Penyembuhan secara spontan dalam 10-14 hari.

b. Derajat dua B (Deep) Kerusakan hampir seluruh bagian dermis Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih ada. Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung dari biji epitel yang tersisa. (biasanya lebih satu bulan)

3. Luka Bakar Derajat III Kerusakan seluruh tebal dermis dan lapisan yang lebih dalam. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea rusak. Tidak dijumpai bulla

Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat karena kering letaknya lebih rendah dibanding kulit sekitar.

Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis. Penyembuhan luka terjadi lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan dari dasar luka.

Nyeri (-), dan hilang sensasi karena ujung-ujung saraf sensorik rusak.

Luka listrik karena tegangan tinggi ataupun karena petir biasanya menyebabkan luka bakar karena suhu yang mencapai 5000C, dan luka bakarnya biasanya cukup berat. Petir juga dapat menyebabkan henti jantung secara tiba-tiba yang menyebabkan asistolik atau henti napas. Depolarisasi pada jantung menyebabkan asistolik. Depolarisasi otak dapat menyebabkan kehilangan kesadaran, amnesia, dan koma. Luka listrik juga dapat menyebabkan disritmia jantung. Kematian mendadak juga bisa diakibat arus listrik bolak balik bertegangan tinggi karena terjadinya fibrilasi ventrikel. Fibrilasi ventrikel 3 kali lebih sering terjadi pada aliran yang melewati tangan ke tangan.(7,9,11)

(a)

(b)

Gambar (a) Luka listrik pada telapak tangan4 Gambar (b) luka lustrik pada daerah dada9

Kematian akibat petir dapat terjadi karena efek arus listrik, efek panas dan efek ledakan gas panas yang timbul. Secara makroskopik akan ditemukan aborescent mark (kemerahan kulit seperti percabangan pohon), metalisasi (perpindahan metal dari benda yang dipakai ke dalam kulit, magnetisasi ( benda metal yang dipakai berubah menjadi magnet). Pakaian sering terbakar dan compang camping akibat efek ledakan panas (blast effect)(8)

(c)

(d)

Gambar (c) Luka bakar listrik dengan tepi yang meninggi Gambar (d) Luka akibat petir, gambar seperti percabangan , aborescent markings

Pada pemeriksaan otopsi, dikarenakan tidak ada penemuan khusus pada luka listrik, sehingga tidak jarang penyebab kematian tidak jelas. (11,12) Pada pemeriksaan luar pemeriksa mencari electric mark. Electric mark adalah kelainan yang dapat dijumpai pada tempat dimana listrik masuk ke dalam tubuh. Electric mark berbentuk bundar atau oval dengan bagian yang datar dan rendah di tengah, dikeliilingi oleh kulit yang menimbul. Bagian tersebut biasanya pucat dan kulit diluar elektrik mark akan menunjukkan hiperemis. Bentuk dan ukurannya tergantung dari benda yang berarus lisrtrik yang mengenai tubuh. (6) Namun demikian, pada kasus terkenanya arus listrik pada bak mandi misalnya, tidak ditemukan electric mark. (11, 12)

(e)

(f)

Gambar (e) luka listrik yang menembus sepatu disekitar sol karet. Pada tegangan tinggi (7600V) 4 Gambar (f) memperlihatkan luka listrik, pada tegangan 120 votl, lutut 4

Joule burn (endogenous burn) dapat terjadi bilamana kontak antara tubuh dengan benda yang mengandung arus listrik cukup lama, dengan demikian bagian tengah yang dangkal dan pucat pada electric mark dapat menjadi hitam hangus terbakar. Exogenous burn, dapat terjadi bila tubuh manusia terkena benda yang berarus listrik dengan tegangan tinggi, yang memang sudah mengandung panas; misalnya pada tegangan di atas 330 volt. Tubuh korban hangus terbakar dengan kerusakan yang sangat berat, yang tidak jarang disertai patahnya tulang-tulang. Selain itu pemeriksa harus mencari adanya gelembung berisi cairan seperti kulit yang seolah tersentuh api listrik ; kulit yang hangus, jaringan otot yang ikut hangus, tulang yang ikut meleleh dan membentuk butir kalium fosfat; dan kawat yang menguap dan berkondensasi di kulit. (6) Penyebab kematian pada trauma listrik berupa fibrilasi ventrikel, dan kelumpuhan otot dan pusat pernapasan.(6,13) Pada kematian akibat fibrilasi ventrikel, dalam autopsi akan ditemukan dilatasi dari bilik jantung , kadang-kadang dengan peteki dibawah perikardium dan endokardium ventrikel, ada kongesti dari vena aferent dan pulmonal sianosis. (6)

TERAPI
Terlebih dahulu, sebelum penderita ditangani, arus listrik harus diputus. Harus diingat bahwa penderita mengandung muatan listrik bila masih berhubungan dengan sumber arus. Kemudian, kalau perlu, dilakukan resusitasi jantung dengan masase jantung dan napas buatan mulut ke mulut. Cairan parenteral harus diberikan. Kadang luka bakar di kulit luar tampak ringan, tetapi kerusakan jaringan yang lebih banyak dari yang diperkirakan sebab sering kerusakan jauh lebih luas dari pada yang disangka. Kalau banyak terjadi kerusakan otot , urin akan berwarna gelap oleh mioglobin, penderita ini perlu diberi manitol dengan dosis awal 25 gr disusul dosis rumat 12,5 gr/jam. Kalau perlu manitol diberikan sampai enam kali, untuk memperbaiki filtrasi ginjal dan mencegah gagal ginjal. Bila ada udem otak dapat diberikan diuretik dan kortikosteroid. (1) Pada luka bakar yang dalam dan berat, perlu pembersihan jaringan mati secara bertahap karena tidak semua jaringan mati jelas tampak pada hari pertama. Bila luka pada ekstermitas, mungkin perlu fisiotomi pada hari pertama untuk mencegah sindrom kompartemen. Selanjutnya dilakukan rekonstruksi kulit. (1)

ASPEK MEDIKOLEGAL
Didalam melakukan pemeriksaan terhadap orang yang menderita luka akibat kekerasan, pada hakikatnya dokter diwajibkan untuk dapat memberikan kejelasan dari permasalahan sebagai berikut (6) : a. Jenis luka apakah yang terjadi ? b. Jenis kekerasan /senjata apakah yang menyebabkan luka? c. Bagaimanakah kualifikasi luka itu?

Pasal 351 (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah

(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama tahun; (3) Jika mengakibatkan mati, dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun; (4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan; (5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 352 (1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.Pidana dapat ditambahka sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau menjadi bawahannya. (2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 90 Luka berarti : = Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut. = Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencaharian; = Kehilangan salah satu panca indera; = Mendapat cacat berat : = Menderita sakit lumpuh; = Terganggunya daya pikir selama 4 minggu lebih;

= Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan Dari pasal-pasal tersebut dapat dibedakan empat jenis tindakan pidana; yaitu : 1. penganiayaan ringan; 2. penganiayaan; 3. penganiayaan yang mengakibatkan luka berat; 4. penganiayaan yang mengkibatkan kematian. Penganiayaan ringan, yaitu penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian; di dalam ilmu kedokteran forensik pengertiannya menjadi ; luka yang tidak berakibat penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian . Luka ini dinamakan luka derjat pertama Bila akibat penganiayaan seseorang itu mendapat luka atau menimbulkan penyakit atau halangan di dalam melakukan pekerjaan jabatan atau pencaharian, akan tetapu hanya untuk sementara waktu saj, maka luka ini dinamakan luka derajat kedua Apabila penganiayaan tersebut mengakibatkan luka berat seperti yang dimaksud dalam pasal 90 KUHP, luka tersebut dinamalan lika derajat tiga Suatu hal yang penting yang harus diingat di dalam menentukan ada tidaknya luka akibat kekerasan adalah adanya kenyataan bahwasanya tidak selamanya kekerasan itu akan meninggalkan bekas/luka. Kenyataan tersebut antara lain disebabkan adanya faktor yang menentukan terbentuknya lika akibat kekerasan suatu benda, yaitu luas permukaan benda yang bersentuhan dengan tubuh. Bila luas permukaan benda yang bersentuhan dengan tubuh itu cukup besar, yang berarti kekuatan untuk dapat merusak menimbulkan luka lebih kecil bila dibandingkan dengan benda yang mempunyai luas permukaan yang mengenai tubuh lebih kecil. Faktor lain yang juga harus diingat adalah faktor waktu, oleh karena dengan berjalannya waktu maka suatu luka dapat menyembuh dan tidak ditemukan pada saat dilakukan pemeriksaan. Dalam hal yang demikian penulisan di dalam kesimpulan Visum et Repertum juga berbunyi : tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.

Kekerasan yang menyebabkan luka dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : luka karena kekerasan mekanik (benda tajam, tumpul dan senjata api), luka karena kekerasan fisik (luka karena arus listrik, petir, suhu tinggi dan suhu rendah), dan luka karena kekerasan kimiawi (asam organik, asam anorganik, kaustik alkali dan karena logam berat).(6)

DAFTAR PUSTAKA 1. Mansjoer, Arif, et all, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, 2000; p 218, 222-223 2. Sjamsuhidajat R, Wim De Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, ECG, Jakarta, 2004; p 75-83 3. Babik J, Sandor, Sopko., Electrical Burn Injuries [online] [cited on 2008 March 26th]; Annals of Burns and Fire Disasters vol.11.no.3;p153 available at :http:// www.medbc.com/annals/review/vol_11/num_3/text/vol11n3p153.htm - 18k 4. Ramdhani M., Konsep Rangkaian Listrik. [online] [cited on 2008 April 5 th] available at : http://www.bsn.or.id/files/sni/SNI04-6267.446-2003.pdf 5. Wright RK., Electrical Injuries [online] July 25th 2007 [cited on 2008 March 26th] available at : http:// www.emedicine.com/EMERG/topic162.htm - 105k 6. Subrahmanyam., Electrical Burn Injuries [online] [cited on 2008 March 26th]; Annals of Burns and Fire Disasters vol.17.no.3;p9 available at : http:// www.medbc.com/annals/review/vol_17/num_1/text/vol17n1p9.asp 7. Idries, Abdul Munim., Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, Binarupa Aksara, Jakarta, 2002; p 86-91,108-17 8. Howard E, Jarvis., Electrical and Lightening Injuries in Emergency Medicine Manual, edisi 6, McGrawHill, Boston, 2004; p. 593. 9. Mansyoer Arif, dkk: Luka akibat listrik dalam Kapita Selekta Kedokteran Jilid II, Edisi 3, Media Aesculapius, Jakarta, 2001; p.222-3 10. Benson BE., Electrical Burns [online] October 3rd 2006 [cited on 2008 March 26th] available at : http:// www.emedicine.com/PED/topic2734.htm 109k 11. Anonym., Electrical Burns [online] [cited on 2008 March 26th] available at : http:// www.healthsquare.com/mc/fgmc1422.htm - 49k Edisi 1,

12.

Gatewood MO., Zane RD., Lightening Injuries [online] 2004 [cited on 2008 March 26th] available at : http:// www.emc.2004/02/002/lighteninginuries.pdf

13.

Bockholt B, Schneider V., Death by electrocaution in the bathub [online] 2003 [cited on 2008 March 26th] available at : http:// www.medline.ru

14.

Cooper, Mari Ann.,Price TG., Electrical and Lightening Injuries [online] [cited on 2008 March 26th] available at : http:// www.uic.edu/labs/lightninginjury/Electr&Ltn.pdf

15.

Cedera

Akibat

Listrik

[online]

[cited

on

2008

April

18th]

http://Fund0c.multiply.com