Anda di halaman 1dari 8

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

LAPORAN KASUS Agustus 2013

VERUKA VULGARIS

OLEH : Sartika Akib 10542 0048 08

PEMBIMBING : dr. Hj.St.Musafirah, Sp.KK

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2013

PENDAHULUAN

Verruca vulgaris sering dikenal sebagai common wart adalah proliferasi jinak dari kulit dan mukosa yang disebabkan infeksi human papillomavirus (HPV).1,2,3 Dari usia pasien, lebih sering terjadi pada anak dan dewasa muda dengan insidensi sebanyak 10% terutama antara usia 5 - 20 tahun dan hanya 15% terjadi setelah usia 35 tahun.2,3,4,5 Di negara-negara dengan layanan medis yang sangat maju, tingkat rujukan kutil ke klinik dermatologi telah sangat meningkat dalam 50 tahun terakhir.4 Virus ini bereplikasi pada sel-sel epidermis dan ditularkan dari orang-orang. Penyakit ini juga menular dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh pasien yang sama dengan cara autoinokulasi. Virus ini akan menular pada orang tertentu yang tidak memiliki imunitas spesifik terhadap virus ini pada kulitnya. Imunitas pada kutil ini belum jelas dimengerti.1 Pertumbuhan jinak ini disebabkan human papiloma virus, ini terjadi di berbagai permukaan kulit yang dilapisi epitel. HPV-1, -2, -4, -27, -57, dan -63 menyebabkan common wart.
1

Verucca vulgaris dengan klinis lesi hiperkeratotik, eksopitik dan

berbentuk papula atau nodul terutama terletak pada jari, tangan, lutut, siku atau lainnya pada situs trauma. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan adanya hiperplasia dari semua lapisan epidermis. Perubahan seluler yang disebut koilocytosis, merupakan karakteristik infeksi HPV.1,4 Sebenarnya, sebagian veruka dapat mengalami involusi (sembuh) spontan dalam masa 1 atau 2 tahun. Pengobatan dapat berupa tindakan bedah atau non bedah. Tindakan bedah antara lain bedah beku N2 cair (Cryoteraphy), bedah listrik, dan bedah laser. Cara non bedah antara lain dengan bahan keratolitik, misalnya asam salisilat ; bahan kaustik misalnya asam triklorasetat, dan bahan lain misalnya kantaridin. 1,2,3,4,5 Common wart tunggal dapat bertahan dan tidak berubah selama berbulan-bulan hingga tahun, bahkan besar mungkin berkembang dengan cepat sesuai dengan interval waktu. Tingkat penyembuhan secara spontan dilaporkan dalam anak-anak 23% pada 2 bulan, 30% di 3 bulan, 65% sampai 78% pada 2 tahun, dan 90% selama 5 tahun.4

KASUS - Nama - Umur - Alamat :R : 10 tahun 9 bulan : Jl. Darul Maarif No. 12

Anamnesis Keluhan Utama

: Autoanamnesis : Tonjolan di telapak tangan

Anamnesis Terpimpin : Tonjolan muncul sejak 1 bulan yang lalu pada telapak tangan kiri. Awalnya kecil dan lama kelamaan bertambah besar. Tonjolan tersebut tidak nyeri dan tidak gatal. Pasien tidak pernah menggunakan salep ataupun obat-obatan lainnya untuk menghilangkan tonjolan tersebut. Riwayat penyakit dahulu, pasien tidak pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya. Dari riwayat penyakit keluarga, pasien juga mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang mengalami gejala yang sama. Status Dermatologi Lokasi Ukuran Efloresensi : : Telapak tangan kiri : Lentikular : Lesi solitar, berbatas tegas, berupa nodul yang kasar dan

berwarna abu abu kecoklatan.

Gambar 1 : Lesi solitar lentikular, berbatas tegas, berupa nodul kasar berwarna abu abu kecoklatan.

Diagnosis Banding

: Veruka Plana dan Prurigo nodulus

Diagnosis akhir

: Veruka Vulgaris

Anjuran pemeriksaan : Histopatologi

Penatalaksanaan

: Elektrokauterisasi

Gambar 2 : Hasil setelah dilakukan elektrokauterisasi.

Gambar 3 : Hasil pengangkatan nodul. Terapi Sistemik Topikal : : asam mefenamat 2 x tab : Fuson

Prognosis residif (berulang)

: At bonam karena dapat sembuh sempurna meskipun sering

RESUME

Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun 9 bulan datang ke Balai Kesehatan Kulit dan Kelamin dengan keluhan timbulnya tonjolan bulat di telapak tangan kiri sejak 1 bulan yang lalu. Tonjolan timbul secara tiba tiba, awalnya kecil dan lama kelamaan bertambah besar. Pasien tidak merasa nyeri dan gatal pada tonjolan tersebut. Pasien tidak pernah menggunakan salep ataupun obat-obatan lainnya untuk menghilangkan tonjolan tersebut. Riwayat penyakit dahulu, pasien tidak pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya. Dari riwayat penyakit keluarga pasien juga mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang mengalami gejala yang sama. Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran komposmentis dan pemeriksaan tanda-tanda vital tidak dilakukan. Untuk status dermatologisnya ditemukan telapak tangan kiri pasien terdapat lesi solitar berbentuk lentikular, berbatas tegas, dan lesi yang ditemukan berupa nodul kasar berwarna abu abu kecoklatan. Diagnosis yang diberikan adalah veruka vulgaris dan diagnosis banding veruka plana dan Prurigo Nodularis. Pemeriksaan penunjang tidak dilakukan. Diagnosis kerja yang ditegakkan adalah veruka vulgaris. Penatalaksanaan berupa bedah listrik atau elektrokauterisasi, dan terapi yang diberikan asam mefenamat 2 x tab dan Fuson. Prognosis pasien ini bonam karena dapat sembuh sempurna meskipun sering residif (berulang). Anjuran yang disarankan adalah menjaga higienitas (kebersihan) diri.

DISKUSI

Diagnosis veruka vulgaris pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada anamnesis diketahui keluhan utama yang dialami pasien ini adalah timbulnya tonjolan bulat di telapak tangan sebelah kiri sejak 1 bulan yang lalu. Tonjolan timbul secara tiba tiba, awalnya kecil dan lama kelamaan bertambah besar. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya lesi solitar berbentuk lentikular, berbatas tegas, dan lesi yang ditemukan berupa nodul kasar berwarna abu-abu kecoklatan. Manifestasi klinis yang ditemukan pada pasien sesuai dengan kepustakaan. veruka biasanya muncul dalam 2 sampai 9 bulan setelah inokulasi.1 Lesi dimulai dari papul kecil yang kemudian membesar, dan menjadi bentuk verrucous kemudian dengan diameter beberapa milimeter sampai sentimeter.5 Kutil ini berbentuk bulat berwarna abu abu, atau kecoklatan, besar lentikular atau kalau berkonfluensi berbentuk plakat, permukaan kasar (verukosa). Dengan goresan dapat timbul autoinokulasi sepanjang goresan (fenomena kobner). Permukaan yang kasar dari kutil dapat merusak kulit yang berdekatan dan memungkinkan inokulasi virus ke lokasi yang berdekatan, dengan perkembangan kutil yang baru dalam periode minggu sampai bulan. Tiap lesi yang baru diakibatkan paparan insial atau penyebaran dari kutil yang lain. Autoinokulasi virus pada kulit yang berlawanan seringkali terlihat pada jari-jari yang berdekatan.2,3 Tempat predileksinya terutama di ekstremitas bagian ekstensor, seperti jari, tangan, lutut, atau siku. Walaupun demikian penyebarannya dapat ke bagian lain tubuh termasuk mukosa mulut dan hidung.2,3,5 Tidak ada informasi yang dapat dipercaya tentang infektivitas dari common wart. Cara transmisi kutil menyebar dengan kontak langsung atau tidak langsung. Penurunan fungsi penghalang epitel, oleh trauma (termasuk lecet ringan), maserasi atau keduanya, sebagai predisposisi untuk inokulasi virus, dan umumnya diasumsikan sebagai cara masuknya infeksi paling tidak pada lapisan keratin kulit.4 Diagnosis banding pada kasus ini ialah Veruka plana dan Prurigo nodulus. Veruka plana berupa kutil yang besarnya miliar atau lentikular, warna sama dengan warna kulit atau agak kecoklatan. Penyebarannya terutama didaerah wajah dan leher, bisa terdapat pada dorsum manus dan pedis, pergelangan tangan, serta lutut. Permukaan

licin, juga terdapat fenomena kobner dan termasuk penyakit yang sembuh sendiri tanpa pengobatan. Terutama terdapat pada anak dan usia muda, walaupun juga dapat ditemukan pada orang tua.2,3 Prurigo Nodulus lesinya berupa nodus, dapat tunggal atau multiple, mengenai ekstremitas terutama permukaan anterior paha dan tungkai bawah, lesi sebesar kacang polong atau lebih besar, keras, berwarna kecoklatan dan gatal. Terdapat beberapa persamaan Veruka Vulgaris pada gambaran histologinya memperlihatkan penebalan epidermis, sehingga tampak hiperkeratosis, hipergranulosis.2,3 Penatalaksanaan berupa bedah listrik atau elektrokauterisasi, dan terapi yang diberikan asam mefenamat 2 x tab dan Fuson salep dioleskan 3x sehari. Sesuai dengan kepustakaan, penatalaksanaan veruka vulgaris terdiri dari penatalaksanaan secara khusus yaitu dapat diberikan terapi topikal seperti bahan kaustik misalnya larutan Ag NO3 25%, asam trikloroasetat 50%, dan fenol likuifaktum, atau tindakan bedah seperti bedah listrik, dan bisa juga bedah lainnya berupa bedah skalpel, bedah beku, dan bedah laser.1,2,3,4 Sedangkan penatalaksanaan secara umum yaitu menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit pasien bukan penyakit keturunan, dan tidak dicetuskan oleh makanan tertentu. Penyakit ini timbul akibat penyakit infeksi menular yang dapat timbul berulang. Penyakit ini sering residif walaupun diberikan pengobatan yang adekuat.2,3

REFERENSI

1. Androphy, Elliot J., Rowy, Douglas R. Wart : Human Papiloma Virus, Common Wart edited by Klaus Wolff, Lowell A. Goldsmith, etc. in Fitzpatricks Dermatology In General Medicine, 7th Ed. McGraw-Hill: New York; 2008, p.1914-1922. 2. Djuanda, A. (2008). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal 109-110. 3. Harahap, M, (2000). Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : Hipokrates. Hal 101 102. 4. Sterling, J.C. Viral Infection: Human Papiloma Virus, Common Wart in Rooks Textbook of Dermatology 7th Ed. Blackwell Publishing Inc. USA: 2004, p.33.37-33.51. 5. James, William D., Timothy G. Berger, and Dirk M. Elston. Viral Disease: Papovarirus Group in Andrews Diseases of The Skin Clinical Dermatology, 10th Ed. Saunders Elsevier Inc. Canada; 2006, p.403-413. 6. Buxton, Paul, K., Wart Viruses. In ABC Of Dermatology. 4ed . BMJ Books : 2003. P.94-95.