Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang penting,

hampir separuh hidup manusia akan berada di rumah, sehingga kualitas rumah akan berdampak terhadap kondisi kesehatannya, karena itu lingkungan rumah sebaiknya terhindar dari faktor yang merugikan kesehatan (Hindarto, 2007). Kondisi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor resiko penularan berbagai penyakit, khususnya penyakit berbasis lingkungan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi rumah yang tidak sehat mempunyai hubungan terhadap kejadian penyakit. Penelitian Wahyuni (2005) menemukan bahwa balita yang menderita demam berdarah (DBD) 64% bertempat tinggal di rumah yang mempunyai sarana pembuangan air limbah tidak memenuhi syarat. Yuwono (2008) menemukan lingkungan fisik rumah yang tidak memenuhi syarat merupakan faktor risiko terjadinya pneumonia pada balita. Wulandari (2009) menemukan sanitasi rumah yang buruk dapat menyebabkan balita terkena diare. Keman (2005) menyatakan bahwa penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan tuberkulosis erat kaitannya dengan kondisi ventilasi rumah yang tidak sehat. Penyediaan air bersih dan dan sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat menjadi faktor resiko terhadap penyakit diare. Disamping penyakit cacingan yang menyebabkan produktivitas kerja menurun, serta angka kejadian

penyakit yang ditularkan oleh vektor penular penyakit demam berdarah, malaria, pes dan filariasis yang masih tinggi. Upaya pengendalian faktor resiko yang mempengaruhi timbulnya ancaman kesehatan telah diatur dalam Kepmenkes RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan perumahan. Dalam penilaian rumah sehat menurut Kepmenkes terdapat parameter rumah yang dinilai, meliputi 3 (tiga) kelompok komponen penilaian, yaitu: kelompok komponen rumah, kelompok sarana sanitasi, kelompok perilaku penghuni. Persentase keluarga yang menghuni rumah sehat merupakan salah satu indikator Indonesia Sehat 2010 dan target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015. Target rumah sehat yang hendak dicapai telah ditentukan sebesar 80% (Depkes RI, 2003). Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2010, presentase rumah sehat secara nasional hanya sekitar 24,9%, jumlah ini dibawah target yang telah ditetapkan, kondisi ini juga terjadi di Jawa Tengah yang hanya memiliki presentase 18,8% (Profil Kesehatan Indonesia, 2010). Kabupaten Banyumas 2010, persentase rumah sehat mencapai angka 61,91% (Profil Kesehatan Banyumas, 2010). Lubis (2002) menemukan tingkat pendidikan menunjukkan tingkat bermakna terhadap kepemilikan rumah sehat. Bila pendidikan rendah maka pengetahuan cara hidup sehat belum dipahami dengan baik. Sastra (2005) salah satu kendala dalam pembangunan perumahan dan permukiman yang terjadi di Indonesia antara lain, kondisi sosial ekonomi masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah, diperparah kurang pahamnya masyarakat akan pentingnya

pemeliharaan lingkungan yang bersih bagi kesehatan mereka. Sudjarwo dalam Azwar (2007) menyatakan sikap positif terhadap sesuatu mencerminkan perilaku positif. Ada beberapa alasan seseorang berperilaku negatif, peneliti menduga bahwa karakteristik individu berperan dalam pembentukan perilaku kesehatan seseorang, namun juga dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan seperti ada tidaknya sarana yang mendukung untuk berperilaku sehat. Hilman (2008) untuk memperoleh ventilasi yang baik harus diperhatikan orientasi letak

bangunan/rumah terhadap arah mata angin. Untuk memperoleh perasaan nyaman yang optimum di suatu ruangan harus diperhatikan pula jalannya sinar matahari. Kecamatan kembaran merupakan kecamatan di Kabupaten Banyumas dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi diantara kecamatan lainnya yaitu 9,076 /km2. Desa Bojongsari adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Kembaran, dan masuk kedalam wilayah kerja Puskesmas II Kembaran. Menurut data dari Puskesmas, Bojongsari merupakan daerah endemis Demam Berdarah. Dimana faktor penyebabnya adalah lingkungan/sanitasi rumah yang kurang sehat. Hasil survei pendahuluan didapat bahwa jumlah penduduk 5636 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 1695 KK dengan keadaan pemukiman yang padat. Terdapat pula pengalihan fungsi bangunan rumah sebagai tempat usaha pengumpulan barang bekas sehingga kebersihan kurang diperhatikan. Hal ini mendasari peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara karakteristik keluarga (pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, pendapatan), perilaku keluarga dan letak bangunan terhadap kondisi kesehatan rumah.

B.

Perumusan Masalah Pencapaian rumah sehat di Indonesia masih dibawah target yang ditetapkan

yaitu sekitar 80%. Kondisi ini juga terjadi di Propinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Banyumas. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian ini diantaranya karakteristik keluarga, perilaku keluarga, serta letak bangunan. Desa Bojongsari adalah desa di Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas, merupakan daerah endemis demam berdarah. Dimana faktor penyebab terjadinya demam berdarah salah satunya adalah faktor lingkungan/sanitasi rumah yang kurang memenuhi syarat kesehatan. Dengan keadaan pemukiman yang padat dan juga terdapat pengalihan fungsi rumah sebagai tempat usaha pengumpulan barang bekas sehingga kebersihan rumah dan lingkungan menjadi kurang terpelihara. Dari temuan-temuan tersebut maka diteliti lebih lanjut Apakah ada hubungan karakteristik keluarga, perilaku keluarga dan letak bangunan terhadap kondisi kesehatan rumah di Desa Bojongsari Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas.

C.

Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui hubungan karakteristik keluarga, perilaku keluarga dan letak bangunan terhadap kondisi kesehatan rumah di Desa Bojongsari Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui gambaran karakteristik (pendidikan, pengetahuan,

pekerjaan, pendapatan) keluarga di Desa Bojongsari. b. Mengetahui gambaran perilaku keluarga di Desa Bojongsari. c. Mengetahui gambaran letak bangunan perumahan di Desa Bojongsari. d. Mengetahui persentase rumah sehat di Desa Bojongsari. e. Untuk mengetahui hubungan karakteristik (pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, pendapatan) keluarga terhadap kondisi kesehatan rumah di Desa Bojongsari. f. Untuk mengetahui hubungan perilaku keluarga terhadap kondisi kesehatan rumah di Desa Bojongsari. g. Untuk mengetahui hubungan letak bangunan rumah terhadap kondisi kesehatan rumah di Desa Bojongsari. h. Mengetahui faktor yang paling dominan yang berpengaruh terhadap kondisi kesehatan rumah di Desa Bojongsari.

D.

Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Sebagai proses dalam menambah pengetahuan dan wawasan peneliti tentang rumah yang sehat. 2. Bagi Masyarakat Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai pentingnya memiliki rumah yang sehat dan bagaimana kriteria rumah yang dikatakan sehat sehingga masyarakat mampu mengupayakan agar tempat tinggal mereka termasuk rumah yang sehat. 3. Bagi Petugas Diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi petugas kesehatan untuk meningkatkan kegiatan penyuluhan tentang rumah sehat. 4. Bagi Dinas Terkait Sebagai bahan pertimbangan bagi Dinas Kesehatan serta Lembaga terkait dalam menyusun kebijakan guna meningkatkan keberadaan rumah sehat.

E.

Penelitian Terkait Tarigan (2010), melakukan penelitian survei analitik dengan pendekatan

cross sectional bertujuan mengetahui hubungan karakteristik, pengetahuan, dan sikap kepala keluarga dengan kepemilikan rumah sehat di Kelurahan Pekan Selesei Kecamatan Selesei Kabupaten Langkat. Hasil uji menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel status pekerjaan, pendapatan, pendidikan, pengetahuan, sikap dengan kepemilikan rumah sehat. Faisal (2011), melakukan penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional bertujuan menganalisis pengaruh karakteristik masyarakat terhadap penerapan rumah sehat pada masyarakat pesisir di Desa Pusong Lama Kota Lhokseumawe. Hasil penelitian menunjukkan variabel pendapatan keluarga, jarak rumah dengan pantai, pengetahuan dan sikap berpengaruh terhadap penerapan rumah sehat. Berdasarkan uji regresi logistik menunjukkan variabel pengetahuan merupakan variabel paling dominan memengaruhi penerapan rumah sehat. Siburian (2010), melakukan penelitian survei deskriptif dengan pendekatan cross sectional bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan kepala keluarga mengenai sanitasi dasar dan rumah sehat serta untuk mengetahui jumlah kepala keluarga yang memiliki rumah sehat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi dari responden menyebabkan rendahnya tindakan responden untuk dapat mewujudkan kondisi sanitasi dasar dan rumah yang sehat. Penelitian yang dilaksanakan observasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara

karakteristik, perilaku keluarga, dan letak bangunan terhadap kondisi kesehatan rumah. Tempat penelitian di Desa Bojongsari Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas, dengan pertimbangan telah terjadi endemis demam berdarah di daerah tersebut. Dimana faktor penyebab terjadinya demam berdarah salah satunya adalah faktor lingkungan/sanitasi rumah yang kurang memenuhi syarat kesehatan. Dengan keadaan pemukiman padat dan juga terdapat pengalihan fungsi rumah sebagai tempat usaha pengumpulan barang bekas sehingga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar menjadi kurang terpelihara. Persamaan penelitian yang dilakukan dengan penelitian sebelumnya adalah terdapat variabel karakteristik dan perilaku sedangkan perbedaannya pada penelitian ini telah ditambahkan variabel letak bangunan, berbeda metode, tempat penelitian serta sampel penelitian.