Anda di halaman 1dari 14

Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS

YM
RANGKUMAN CB
TOPIK 1 : PENGANTAR KECERDASAN SPIRITUAL
A. Latar Belakang Istilah Kecerdasan Spiritual
1. Munculnya Istilah Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan spiritual mampu mengatasi berbagai persoalan actual yang menghantui
dimensi spiritual manusia dalam masyarakat manusia dewasa ini.
Kecerdasan spiritual sangat penting bagi manusia dalam menghayati kehidupannya.
Peran penting kecerdasan spiritual adalah untuk mengembangkan IQ dan EQ.
EQ dan IQ digunakan untuk mencari sebuah titik temu yang mengakomodasi segala
potensi/kemampuan manusia sampai ke titik maksimal yakni terciptanya
keseimbangan antara badan, mind, dan jiwa.
EQ bekerja mengolah yang ada di dalam emosi, IQ bekerja melihat keluar melalui
mata pikiran, SQ menunjuk pusat diri seseorang.
Kecerdasan spiritual tidak harus berkaitan dengan agama, tradisi, nilai, primordial,
dan sebagainya.
Kecerdasan spiritual tidak mengikuti suatu nilai yang sudah ada di dalam tradisi dan
agama, tetapi lebih dari itu justru berperan menciptakan dan membuka peluang bagi
pembukaan dan penemuan nilai-nilai baru dalam realitas kehidupan.
2. Kecerdasan Spiritual sebagai Kecerdasan Umum Manusia
Pendekatan kecerdasan spiritual tetap berorientasi pada aspek humanism sebagai
sebuah kenyataan unik yang ada pada pribadi manusia itu sendiri. Pendekatan ini
mengeksplorasi potensi dan daya-daya positif manusia agar berkembang maksimal
bagi kebaikan kemanusiaan secara menyeluruh.
Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan umum manusia yang ada pada segala
jenis orang dari budaya apa saja, dari etnis mana saja, dari agama mana saja, dari
bangsa apa saja, dari aliran kepercayaan, dari segala profesi, dan orang yang tidak
punya agama sekalipun.
3. Kecerdasan Spiritual sebagai Kritik atas Egoisme Manusia
Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS
YM
Kecerdasan spiritual mampu membawa manusia mencapai kebahagiaan dalam
realitas kehidupan.
Kehidupan yang bodoh secara spiritual ditandai dengan adanya gejala materialisme,
egoism, kehilangan makna hidup, dan komitmen.
Kecerdasan spiritual bermaksud memberikan perspektif baru berupa rangsangan
intelektual dan sentuhan emosional bagi manusia modern agar berani melakukan
pembongkaran atas keegoisan dan ketidak pedulian dalam menghayati hidup.
Kecerdasan spiritual diharapkan mampu membuat manusia semakin sadar diri
dalam kesatuan dengan elemen lain di dalam dunia dan membangun sikap respek
dan hormat terhadap elemen lain.
Kecerdasan spiritual tampil sebagai kekuatan kritik atas cara hidup manusia modern
yang cenderung egoistic dan individualistic.
Kecerdasan spiritual mendorong kesadaran manusia untuk terlibat dalam sebuah
kesadaran dan partisipasi universal dalam dunia menuju masa depan yang lebih
baik.
B. Pengertian Operasional Kecerdasan Spiritual
1. Kecerdasan Spiritual Tidak Sama dengan Sepiritual Quotient
Kecerdasan spiritual adalah pemaknaan secara operasional agar kita memiliki
gambaran pemahaman yang seragam dalam memahami istilah kecerdasan.
Kecerdasan spiritual tidak menggunakan kata Quotient sebagai mana penerapannya
dalam IQ,EQ,SQ. Karena Quotient adalah angka dari hasil pembagian. Kecerdasan
spiritual bukan merupakan kajian ilmiah-matematis.
2. Pengertian Kecerdasan
Menurut KBBI: kecerdasan yaitu perbuatan mencerdaskan, kesempurnaan
perkembangan akal budi manusia seperti kepandaian, ketajaman pikiran,dll.
Kecerdasan dapat diartikan sebagai kemampuan menalar, menginterpretasi, berpikir
memahami dan menemukan makna atau arti dari sesuatu objek yang dipikirkan.
3. Pengertian Spiritual
Spiritual dalam pemakaian sehari-hari dikenal dengan spiritualisme metafisik yang
mengandung pengertian: pandangan untuk landasan realitas adalah roh/jiwa dunia
Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS
YM
yang meresapi alam semesta pada semua tingkat kegiatannya dan pandangan
bahwa yang ada hanyalah roh absolut.
Dari bahasa inggris yaitu spirit (roh) yang diartikan sebagai semangat yang
menggerakkan manusia dalam bertindak.
Menurut Webster international yang berasala dari kata latin spiritus yang berarti
nafas dan kata kerja spirare yang berarti bernafas.
4. Pengertian Operasional Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan spiritual membuat manusia hidup secara sadar diri dalam relasinya
dengan makhluk lain.
Kecerdasan spiritual merangkum semua unsur sejauh mungkin, seluas mungkin yang
disadari tiap individu manusia dalam kenyataan eksistensinya sebagai manusia.

C. Manusia sebagai Makhluk Spiritual
1. Dimensi Jiwa Manusia
Tubuh tanpa jiwa adalah mati, karena jiwa adalah pronsip yang menggerakkan tubuh
untuk beraktivitas dan dari jiwalah manusia mampu mengenal hal-hal spiritual
dalam kenyataan hidupnya.
Jiwa dan badan bekerjasama untuk menghasilkan pengalaman-pengalaman spiritual
manusia. Jiwa butuh badan dan badan butuh jiwa. Keduanya komplementer, saling
melengkapi dalam mengembangkan pribadi manusia.
2. Menuju Realitas Spiritual
Realitas spiritual identic dengan hal-hal yang berhubungan dengan dunia kebatinan,
ruang internal pribadi manusia itu sendiri.
Realitas spiritual dapat berupa kesadaran, inspirasi, pencerahan atau dorongan hati
yang begitu kuat untuk melaksanakan hal-hal spiritual.
Realitas spiritual adalah realitas misterius di dalam diri kita.
Kualitas jiwa manusia sudah menyiapkan manusia untuk bergerak menuju realitas
spiritualnya. Yang penting manusia membuka diri, sadar diri, peka untuk merasakan
nuansa spiritual itu dan bergerak memasuki kenyataan spiritual itu.
Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS
YM
Realitas spiritual dimaknai oleh orang beragama dengan pengalaman penyatuan
dengan kekuatan ilahi dalam doa-doa yang disampaikan kepada Tuhan.
Realitas spiritual juga dialami oleh orang non beragama yang merasakan
kegembiraan luar biasa saat melakukan tugas kesehariannya.
3. Ciri Manusia yang Cerdas Spiritual
Mampu memaknai realitas kehidupannya dalam rumusan nilai-nilai tertentu
Tampak senang dan bahagia menjalankan kehidupannya.
Suka berbuat baik kepada sesama.
Cepat menolong orang lain
Telah menemukan tujuan hidupnya.
Merasa terhubung dengan kekuatan semesta
Memiliki sense of humor yang baik dalam relasi dengan orang lain di sekitarnya.

D. Tanggung Jawab Manusia sebagai Makhluk Spiritual
Melakukan segala usaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan nilai-nilai
spiritual dalam tubuh.
Mengaktualisasikan dan merealisasikan hal-hal spiritual sepanjang hidupnya.
Mengolah hidup secara spiritual.
Mengembangkan diri secara spiritual dalam totalitas ziarah hidupnya di atas dunia
ini agar tidak mudah terjebak untuk mengidentifikasikan dirinya secara rendah dan
inferior.

TOPIK 2 : AGAMA DAN SPIRITUALISME
A. Memahami Agama dan Spiritualisme
1. Ruang Lingkup Agama
Agama dimaknai sebagai keyakinan religious dan sacral yang dipersepsikan dalam
konteks antropomorfis ketuhanan, akan suatu kekuatan tertinggi yang melampaui
kemampuan manusia.
Semua penganut agama mengakui adanya suatu kekuatan impersonal yang disebut
Tuhan.
Agama memberikan semacam asuransi atau jaminan keselamatan dan kebahagiaan
abadi untuk para penganutnya.
Agama menjadi dimensi penting dalam realitas social manusia sebagai kenyataan
yang tersebar luas, dihayati pada tingkat individu maupun komunal di lingkungan
keluarga, di tempat kerja hingga di lingkungan masyarakat serta publik luas.
Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS
YM
Agama menjadi sumber etika moral dalam sikap dan perilaku. Etika agama ini diakui
kebenarannya dan diwujudkan dalam sikap dan tingkah laku yang baik di dalam
kehidupan.
2. Titik Kesamaan Substansi Agama
Tylor mendefinisikan agama sebagai kepercayaan kepada wujud-wujud spiritual, ia
mengatakan walaupun agama memiliki banyak perbedaan, namun agama-agama
semua sama dalam satu hal yakni bahwa terdapat roh-roh di alam ini yang bisa
berpikir, bertindan dan merasakan seperti halnya manusia.
Comte mendefinisikan agama sebagai rangkaian akidah-akidah yang tersebar dalam
bagian-bagian masyarakat dan juga menganggapnya sebagai factor koheren
masyarakat.
3. Asal Usul Agama
Para rasialisme meyakini perbedaan mendasar diantara ras-ras yang ada dan
menganggap ras satu memiliki derajat yang lebih tinggi dari ras lainnya sampai
terjadi kejadian-kejadian tragis yang sangat disesalkan.
Para intelektualisme bangkit dan menentang pandanagn tersebut kemudian
meyakini bahwa manusia memiliki potensi-potensi yang sama.
Para intelektualisme memunculkan kesatuan psikis yang memberikan sebuah asumsi
bahwa agama adalam seluruh ruang dan waktu, selain perbedaan-perbedaan yang
dimilikinya, juga memiliki fenomena yang sama bahkan bersumber dari substansi
yang satu.
4. Karakteristik Agama
Memiliki kepercayaan agama: menentukan disposisi batin orang yang menghayati
agama. Jika orang meyakini agamanya secara kukuh dan tidak tergoncangkan, ia
akan konsisten untuk mendalami agama itu secara mendalam dan akan merasa
aman,damai,bahagia dalam agama itu dan sebaliknya.
Memiliki symbol agama : symbol agama hanya dipahami dan dimengerti secara
eksklusif oleh kelompok penganut agama yang bersangkutan. Symbol biasanya
berkaitan dengan filosofi atau cara pandang para penganut agama berkaitan dengan
Tuhan yang mereka sembah dan bersifat kudus,suci,sacral,istimewa,dan unik.
Memiliki praktek agama : praktek agama ini dilakukan sebagai sikap dasar ketaatan
untuk melakukan praktek itu dengan penuh ketaatan dan loyalitas.
Memiliki umat agama : umat agama ini adalah orang-orang yang bergabung dalam
agama tertentu yang menghayati praktek keagamaan dalam suasana
kebersamaan,persaudaraan,dan keakraban satu sama lain.
Memiliki pengalaman keagamaan : Pengalaman keagamaan ini sering menjadi tolak
ukur untuk menentukan kadar kedalaman hububungan orang beragama dengan
Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS
YM
Tuhan. Semakin dalam hubungan dengan Tuhan, seseorang akan mudah mengalami
pengalaman keagamaan dan sebaliknya.
5. Kategori Agama
Pengelompokkan agama ada 2 kelompok yaitu natural religion yang merupakan
kreasi manusia dan muncul di lingkungan tempar mereka hidup seperti agama
Hindu, Budha, Kong Hu Cu, dan Shinto. Revealed relegions adalah agama yang
diturunkan dari Allah sebagai petunjuk bagi manusia seperti agama islam, Nasrani
dan Yahudi.
6. Membaca dan Memaknai Agama
Dengan model pembacaan dan pemaknaan agama yang tidak terjebak pada symbol
dan homogenitas, maka umat beragama dapat diharapkan menjalankan
keberagaman baru yang humanis dan membebaskan.
Umat beragama diharapkan dapat saling hidup bersama dengan menghargai
perbedaan, melakukan dialog antar intra iman, serta giat bekerjasama untuk
memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan dan menggalakkan demokratisasi
dalam konteks hdiup berbangsa dan bernegara.
Dekonstruksi memungkinkan kita untuk membongkar monopoli tafsir atas otoritas
tertentu yang menegaskan mengenai kebenaran atau nama Tuhan, Negara atau
penguasa.
7. Aliran-Aliran Spiritualisme
Aliran yang termasuk dalam filsafat spiritualisme:
o Aliran idealism yang para penganutnya memberi tempat tertinggi pada ide
o Aliran spiritualisme yang memberi tempat tertinggi pada aspek jiwa manusia
o Aliran rasionalisme yang memberi tempat tertinggi pada akal budi manusia.
Aliran spiritualisme dapat dikategorikan sebagai berikut:
o Spiritualisme tradisional: misalnya animisme, dinamisme, dan spiritisme
o Spiritualisme Natural: Misalnya agama natural, horoskop,fengshui
o Spiritualisme Sekular: misalnya humanism dan new age.
Aliran spiritualisme bertumbuh dan berkembang dari konteks budaya, tradisi, adat
serta kebiasaan-kebiasaan sehari-hari.
Spiritualisme tidak berhubungan dengan agama yang telah ada yang diakui di
Indonesia.

8. Karakteristik Spiritualisme
Spiritualisme merupakan aliran yang tidak memasukkan diri ke dalam salah satu
kelompok agama tertentu.
Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS
YM
Para ilmuan social memandang spiritualisme sebagai pencarian kekudusan dalam
bentuk berbagai aktivitas dan kegiatan social manusiawi yang dimaknai secara
spiritual.
Spiritualisme umumnya berkarakter individual dan mementingkan penghayatan
yang bersifat pribadi. Lebih focus kepada pencarian ruang batin yang hening dan
sunyi.
Spiritualisme berikhtiar membuat hidup manusia mencapai keseimbangan dan
perkembangan maksimal dalam pencarian nilai spiritual dalam hidup dan bercita-
cita membentuk pribadi manusia yang baik, bermoral, dan beretika dalam hidup ini
dengan mengandalkan eksplorasi ruang batiniah manusia yang terdalam.

B. Relasi Agama dan Spiritualisme
1. Identik tapi Disting
Agama mengutamakan ritual artifisial fisik, menonjolkan dimensi fisik-lahiriah,
dijalankan dalam nuansa kebersamaan, dan berurusan dengan ruang public.
Spiritual menekankan aspek batiniah, mengutamakan dimensi rohani-batiniah,
dijalankan dalam keheningan,meditasi, dan berurusan dengan ruang privasi internal
batiniah.
Agama dan Spiritualisme identik dalam hal usaha bersama mencari nilai-nilai
universal dan hakiki dalam kehidupan ini berkaitan dengan Tuhan. Sama-sama
mengikhtiarkan kedamaian, kebaikan, keharmonisan, keselarasan,keseimbangan
dalam realitas kehidupan ini dan membawa manusia hidup baik dan benar dalam
tatanan alam semesta dalam kesatuan dengan semua makhluk yang ada.
2. Saling Melengkapi dan Saling Mendukung
Agama dan Spiritualisme merupakan dua unsur yang saling mengandaikan.
Keduanya saling melengkapi dan saling mendukung dalam mengemban visi dan
tujuan masing-masing.
Agam adan spiritualisme tidak bertentangan namun sama-sama berurusan dengan
wilayah nilai rohani sebagai petunjuk etis moral bagi manusia dalam bertidak dan
berperilaku serta membuat manusia semakin baik dan bahagia dalam hidup.
Agama dapat mengadopsi kekuatan-kekuatan spiritualisme untuk meneguhkan
eksistensinya dalam membuat manusia lebih baik lagi menghayati imannya akan
Tuhan.

C. Peran Agama dan Spiritualisme
1. Membentuk Pribadi yang Religius dan Spiritual
Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS
YM
Agama membentuk pribadi yang religius, beriman, yang percaya teguh pada Tuhan.
Pribadi yang religius adalah pribadi yang menghargai nilai-nilai rohani dan nilai-nilai
ke-Tuhanan dalam hidup.
Spiritualisme berperan membentuk pribadi spiritual yang mengutamakan nilai-nilai
ketenangan, kedamaian, keharmonisan, kepekaan batin yang mendalam terhadap
sesame makhluk ciptaan Tuhan yang lain dalam kehidupan ini.
2. Membentuk Pribadi yang Bermoral
Teori perkembangan moral Kohlberg dapat dijabarkan dalam tiga tingkatan berikut:
o Level Moralitas Prakonvensional (0-9 tahun) dimana individu menyesuaikan
diri dengan aturan-aturan social. Level ini meliputi hukuman dan orientasi
ketaatan serta perubahan kepentingan diri.
o Level Moralitas Konvensional (usia remaja) dimana individu mulai mengerti,
menerima, dan melaksanakan aturan dana harapan social yang ditentukan
oleh otoritas. Level ini meliputi menjaga interpersonal yang baik dan
menjaga system social yang baik.
o Level Moralitas Postkonvensional yang dicapai hanya sebagian orang. Tahap
ini terdiri dari moralitas kontrak social dan hak individu serta moralitas
berdasarkan prinsip etika universal.
3. Membentuk Pribadi Arif dan Bijaksana
Pribadi yang bijaksana akan penuh pertimbangan dalam melakukan aktivitas dalam
hidup.
Hati nurani perlu didengarkan karena ia memberikan peran penting bagi manusia
dan menjadi petunjuk bagi manusia untuk menilai suatu tindakan.

TOPIK 3 : PENGALAMAN SPIRITUAL
A. Pengertian Pengalaman Spiritual
1. Pengertian Pengalaman Keagamaan
Pengalaman keagamaan dapat diartikan sebagai segalam macam kejadian dan
peristiwa religius yang dialami oleh penganut agama dalam kehidupan sehari-hari
sesuai konteks agama yang dianutnya.
Pengalaman keagamaan dapat berkembang menjadi pengalaman iman yang
mendorong orang untuk semakin menghayati agama yang dianutnya secara baik dan
benar.


B. Tipologi Pengalaman Puncak Keagamaan
1. Menurut Gordon Alport
Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS
YM
Pertama sentiment yang membuat orang beragama mulai sadar bahwa ia harus
bertahan ketika agamanya dikritik oleh orang lain. Kedua berkait erat dengan
tekanan emosi yang begitu kuat. Ketiga adalah konsistensi dari konsekuensi moral
manusia berhadapan dengan pengalaman konkret yang dihadapi oleh manusia
beragama. Keempat mengedepankan prinsip toleransi antarumat beragama. Kelima
menemukan keharmonisan sesuai dengan tujuan awal. Keenam sikap heuristic yang
terdapat dalam pribadi manusia.
2. Menurut William James
Kematangan keagamaan tampak dalam unsur-unsur berikut:
o Sensibilitas akan eksistensi
o Kontinuitas dalam relasi dengan Tuhan dan sikap pasrah diri.
o Adanya perubahan emosi yang terdalam
o Perasaan bahagia,afeksi dan keharmonisan semakin berkembang.
3. Pendapat Wiemans
Standar kematangan beragama sesuai dengan tingkatannya dibawah ini:
o Tujuan hidup layak ditinjau dari perspektif humanism
o Loyalitas yang sempurna oleh manusia
o Efisiensi mencapai tujuan
o Sensitifitas dalam memandang nilai.
o Loyalitas yang terus berkembang
o Loyalitas social yang diekspresikan di kehidupan sehari-hari
4. Pendapat Abraham Maslow
Pribadi yang terpisah dari realitas fisik dan satu dengan kekuatan transenden.

C. Pengalaman Spiritual Puncak
Penganut aliran spiritualisme biasanya mencapai hasil akhir yang baik dalam aktivitas
spiritual yang dihayati. Setiap bentuk ibadat, doa, meditasi, yoga, tapa ataupun istilah lain
dalam konteks spiritualisme tentu bermuara pada hasil maksimal dan positif yang
diharapkan tercapai. Di sini kita berbicara mengenai tingkat pengalaman spiritual:
Ekstasi
Individual atau berkelompok.
Singkat dan cepat.
Bersamaan dengan aktivitas rutin.
Ada banyak filsuf yang berbicara tentang Allah seperti Friedrich Nietsche sebagai,
Thomas Aquinas, Charles Darwin, Spinoza, Max Planc, Al-Kindi, Ibnu Rusyd, Al-
Hallaj dll

Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS
YM
Meskipun mepunyai hasil berpikir yang berbeda, tapi ini membuktikan bahwa
mereka juga percaya akan Tuhan dalam kehidupan.
Topik 4 : MENGEMBANGKAN KECERDASAN SPIRITUAL
A. Pentingnya mengembangkan kecerdasan spiritual
1.Akal budi penting dalam mengembangkan kecerdasan spiritual
Akal budi adalah rahmat Tuhan yang luar biasa bagi manusia yang berperan untuk
mengembangkan kecerdasan spiritualnya juga merupakan unsur khas manusaiawi
yang penting dan sangat menentukan eksistensi(keberadaan) setiap manusia.
Filsuf aristoteles(yunani) menyebut manusia (animal rationale/hewan berakal budi).
Rene Descartes (perancis)menyebut akal budi bagian diri manusia.cogito ergo
sum=berpikir maka aku ada.

Guna akal budi ada 2 hal:
a) Berpikir integralistik
Arti: berpikir dengan menghubungkan subjek pribadi dengan segala unsur pada
alam semesta.contoh: makan anggur, kita akan berpikir siapa yg menanam,tanah
yang dipakai,waktu yang dibutuhkan dan penyertaan Tuhan sehingga anggur bisa
sampai ke mulut kita.sehingga mempukan manusia untuk menghormati dan
menghargai segala yang ada pada alam semesta.
b) Berpikir reflektif
Artinya : manusia harus mampu berpikir secara mendalam tentang makna dan
nilai spiritual mendasar dalam hidup.
Misal merenung perjalanan hidup manusia itu selama hidupnya tentang
kesuksesan dan kegagalannya yang akan membuatnya semakin berkembang
sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
B. Manfaat mengembangkan kecerdasan spiritual
Setiap bentuk usaha yang dilakukan manusia bernilai guna bernilai guna jika
membawa manfaat praktis dan positif baik bagi diri sendiri maupun orang
lain.Beberapa hal dapat dikatakan sebagai manfaat mengembangkan kecerdasan
spiritual yakni:
Memiliki kepekaan hidup social yang baik.
Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS
YM
Memiliki kesadaran diri yang optimal.
Memiliki kekayaan spiritual yang memadai.
Mengolah ruang batin secara maksimal.
Aktif dan produktif dalam hidup.
C. Buah-buah mengembangkan kecerdasan spiritual
Rasa haus spiritual memotivasi orang terus hidup secara penuh dan bermakna.
Buah-buah yang dihasilkan:
Menjadi pribadi integrative
Pribadi yang mampu menyatukan berbagai hal berbeda menjadi satu. Selalu
mengusahakan hal yang baik, damai, dan memelihara persatuan bersama.
Menjadi pribadi spiritual
Orang yang mampu terbuka dan membuka diri pada hal-hal yang spiritual dalam
hidupnya.yang tidak bosan serta kreatif dalam menjalani hidup.
Menjadi pribadi yang bermoral dan beretika
Pribadi yang bermoral adalah mampu berpikir dan berpikir hal-hal yang
berkaitan dengan kebaikan dalam hidup.Pribadi beretika adalah orang yang terus
belaar tentang hal-hal baik dalam hidup.
Kita menjadi pribadi yang gembira dan bahagia
Orang yang cerdas spiritual akan menikmati hidup secara baik sehingga ia
tampak sebagai orang yang berkepribadian gembira dan bahagia.pribadi yang
cerdas bersyukur dengan sangat atas momen kehidupannya.
Pribadi yang menjaga keseimbangan dan keharmonisan
Orang yang cerdas spiritual menciptakan kedamaian dalam segala situasi dalam
keadaan apa saja.ia adalah pribadi yang menjaga kelestarian alam dan
menghayati sikap dan perilaku yang pro terhadap lingkungan hidup.
D. Cara mengembangkan kecerdasan spiritual
Langkah-langkah:
1. Menyadari keberadaan diri sekarang
2. Merasakan dengan sangat kuat bahwa kita ingin berubah
3. Merenungkan pusat diri dan motivasi yang paling dalam
4. Menemukan dan mengatasi rintangan di dalam diri
5. Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju
6. Menetapkan hati pada sebuah jalan spiritual
Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS
YM
7. Terbuka hati untuk sadar bahwa ada banyak jalan spiritual
E. Agama sebagai sarana pengembangan kecerdasan spiritual
1. Aktivitas berdoa.
Doa: Alat komunikasi dengan Tuhan yang melibatkan seluruh unsur diri manusia
yang membutuhkan konsenterasi tinggi dan totalitas keterarahan hati.
2. Praktik ritual.
Setiap agama memiliki praktik agama yang berguna untuk mengembangkan dimensi
spiritual para penganutnya baik praktik secara pribadi maupun bersama-sama.
Dalam praktik ritual dilakukan doa, penyembahan, penghormatan,nyanyian, himne
dan renungan rohani.hasilnya akhir yang diharapkan adalah mendapat pahala,
berkat, rahmat dari Tuhan.
3. Tulisan kitab suci.
Kitab suci berisikan ajaran moral dan etika yang berfungsi sebagai pedoman dan
petunjuk manusia dalam berpikir, berperilaku dan bersikap.dapat dikatakan isi kitab
suci adalah kristalisasi ajaran dan nilai spiritual yang berguna bagi penganut agam
dalam menjalankan tanggung jawab religious.
4. Ajaran iman agama.

Semua agama mengenal ajaran berisi hal mendasar tentang mengembangkan
kecerdasan spiritual.ajaran tersebut biasanya dibuat oleh para pendahulu.berupa
nasihat, ajakan, imabuan, perintah, larangan,ataupun bisa dalam bentuk hukum-
hukum yang harus dilakukan para penganut agama.
TOPIK 5 : KESADARAN UNTUK PEDULI
A. Pengertian sadar.
Kesadaran bukan sadar dalam melakukan aktivitas juga bukan sebatas keyakinan ,
pengetahuan intelektual, ilham, atau mimpi tapi sesuatu yang dialami sendiri.level
kesadaran tiap orang berbeda dan kesadaran bisa dikembangkan . kesadaran
merupakan kekuatan yang memampukan kita untuk insaf, bangkit, dan mengubah
masalah-masalah yang ada dalm hidup.
B. Dimensi spiritualitas manusia.
Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS
YM
Conscienta(turut mengetahui).kesadaran diri (self consciousness) adalah kesadaran
pikiran mengenai keberadaan pribadi seseorang di tengah lingkungannya.private self
consciousness yang dirasakan diri sendiri,public self consciousness yang diamati
orang lain.orang yang memiliki private self consciousness sadar akan aliran
persepsi,persaan, angan-angan, pengetahun, yang dipikkirkannya , sehingga tahu
bagaimana harus menempatkan diri.
Dalam kesadaran spirirtual selalu terdapat kesadaran tentang moral yang
membedakan baik dan buruk sehubungan tingkah laku kita.
Ada 2 bentuk orientasi nurani:
1) Retrospektif memberi nilai tentang perbuatan yang telah berlangsung di masa
lampau.
2) Prospektif melihat kemasa depan, mengajak atau melarang untuk melakukan
sesuatu
Namun sebenarnya hati nurani bekerja menyangkut perbuatan yang sedang
dilakukan kini dan disini.
Hati nurani bersifat personal dan diwarnai oleh kepribadian kita , berkembang
bersama dengan perkembangan seluruh kepribadian.
Kesadaran pikiran adalah kesadaran kerja kita yang melahirkan pengetahuan dari
bahasa matematika dan sebagainya yang berguna untuk mendapatkan apa yang kita
mau.
Rasio / nalar/ akal budi tercakup dalam kesadaran pikiran berfungsi mengetahui
atau memahami secara logis, menyimpulkan, dan merencana.
Bawah sadar atau kesadaran terpendam adalah kesadaran yang terdalam.
Tingkat kebebasan yang dimiliki kesadaran pikiran kita sesungguhnya sangat
terbatas.
Terdapat muatan kesadaran berupa konstruksi mental yang mengikuti kesadaran
bagai bayangan. Ada positif(tahu malu, perhatian, keyakinan,dll) dan negative(tidak
tahu malu, serakah, benci dan delusi).
C. Menyadari relasi semua makhluk.
Kesadaran spiritual membuat kita keluar dari kungkungan keakuan (egois).
Rangkuman CB untuk pembelajaran UTS
YM
Manusia tidak dapat hidup sendiri, yang satu selalu terkait dengan yang lain, selalu
ada interaksi dan interpendensi.manusia adalah bagian integral dari keseluruhan
masyarakat dan jagat raya.
Hidup ditandai saling ketergantungan dan saling mempengaruhi,tidak suatupun
keberadaan yang berada diri sendiri.setiap orang melepas dan menerima budi orang
lain.karena memiliki kesadaran seseorang mampu mengenali dan menempatkan
dirinya serta berinteraksi dengan orang lain secara baik atau normal.kesadaran itu
juga menggeser keinginan untuk mendapatkan menjadi keinginan untuk berbagi.

D. Melayani seluruh makhluk hidup.
Kita perlu sepenuhnya hadir memperhatikan secara sadar setiap momen yang kita
hadapi.agar peduli dan mampu melindungi seluruh makhluk.
Vini, vidi, vici: aku datang, aku lihat, aku menang.
Apa yang disebut kepedulian dilihat dari bagaimana kita hidup dalam kekinian
bersama orang-orang disekitar kita dan membantunya mengurangi penderitaan
mereka. Tentu baik sekali kalau kita bisa menolong orang yang jauh dari kita tetapi
kita sering lupa orang yang dekat kita harus dibahagiakan lebih dulu.
E. Mencintai dengan tulus.
Seperti bunda Theresa dan master chen yeng yang menolong orang tanpa melihat
agama suku dan ras serta tanpa membedakan kaya dan miskin yang ada hanya cinta
dan belas kasih itu adalah cinta yang tulus.
Vitalisasi spiritualitas menempatkan agama bukan hanya sebagai sumber yang
memberi inspirasi tetapi betul-betul menghidupkan dan mengisi kehidupan.