Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada saat ini ilmu kedokteran banyak melakukan percobaan dalam
berbagai hal tentang pengobatan dan ilmu kesehatan serta ilmu kedokteran
guna penyidikan sebab-sebab kematian manusia yang dirasakan tidak wajar
dengan metode membedah atau meneliti bagian dalam tubuh manusia tersebut
atau yang lebih dikenal dengan istilah otopsi. Otopsi adalah suatu pemeriksaan
bagian luar dan bagian dalam dengan menggunakan cara-cara yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh ahli yang berkompeten.
1
Berdasarkan tujuannya, otopsi terbgai menjadi tiga, yakni otopsi
anatomik, otopsi klinik, dan otopsi forensik. Otopsi forensik dilakukan
terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal akibat suatu sebab yang
tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan, pembunuhan, maupun bunuh diri.
Otopsi ini dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan dengan adanya
penyidikan suatu perkara.
2

Hal ini sesuai dengan pasal 134 KUHAP yang berbunyi Dalam hal
sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembukitan bedah mayat tidak
mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu
kepada keluarga korban. Keterangan visum dan otopsi pada korban yang
telah mati yang dikerjakan oleh seorang dokter merupakan salah satu cara
untuk membuktikan perkara pidana. Otopsi ini berperan menentukan sebab
pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat kematian.
2
Di dalam melakukan tugas-tugasnya pada proses pemeriksaan untuk
mempermudah proses penyidikan, dokter sering sekali mendapat hambatan-
hambatan dalam pemeriksaannya, seperti keterbatasan fasilitas dan keberatan
dari keluarga. Alasan-alasan yang sering dilontarkan oleh pihak keluarga
menolak untuk dilakukannya otopsi adalah ketakutan perusakan dari tubuh
mayat, prosedur otopsi yang akan memperlama waktu penguburan, penolakan
didasarkan agama, kurangnya pengetahuan mengenai prosedur otopsi, dan
2

berpikiran bahwa mayat akan mengalami penderitaan. Selain itu, masalah
biaya, kurangya hubungan komunikasi dengan dokter, stres mengenai
kematian, kurangnya musyawarah dengan anggota keluarga yang lain
mengenai prosedur otopsi juga pernah dilaporkan sebagai hambatan atau
kendala dalam memperoleh persetujuan otopsi dari sanak keluarga.
3

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk
menyusun referat dengan judul aspek medikolegal dari otopsi, kepentingan
otopsi bagi aparat penegak hukum, dan kendala atau hambatan dari pihak ahli
waris untuk pelaksanaan otopsi.
1.2 Batasan masalah
Referat ini membahas tentang definisi, macam-macam, prosedur
persiapan otopsi, teknik otopsi, aspek medikolegal dari otopsi, kepentingan
otopsi bagi aparat penegak hukum, dan kendala atau hambatan dari pihak ahli
waris untuk pelaksanaan otopsi.
1.3 Metode Penulisan

Metode yang dipakai pada penulisan makalah ini adalah melalui
tinjauan kepustakaan yang merujuk kepada berbagai literatur.

1.4 Tujuan Penulisan
Referat ini bertujuan untuk mengetahui definisi, macam-macam,
prosedur persiapan otopsi, teknik otopsi, aspek medikolegal dari otopsi,
kepentingan otopsi bagi aparat penegak hukum, dan kendala atau hambatan
dari pihak ahli waris untuk pelaksanaan otopsi.




3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Otopsi
2.1.1 Definisi
Otopsi berasal dari kata auto yang berarti sendiri dan opsis yang berarti
melihat. Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, meliputi
pemeriksaan bagian luar maupun bagian dalam, dengan tujuan menemukan
proses penyakit atau adanya cedera, melainkan interpretasi atas penemuan-
penemuan tersebut, menerangka penyebabnya serta mencari hubungan sebab
akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.
4


2.1.2 Macam-macam otopsi
Berdasarkan tujuannya, otopsi terbagi atas :
1. Otopsi Anatomi
Otopsi ini dilakukan untuk keperluan pendidikan mahasiswa fakultas
kedokteran. Bahan yang dipakai adalah mayat yang dikirim ke rumah sakit
yang setelah disimpan 2 x 24 jam di laboratorium ilmu kedokteran
kehakiman tidak ada ahli waris yang mengakuinya. Setelah diawetkan di
laboratorium anatomi, mayat disimpan sekurang-kurangnya satu tahun
sebelum digunakan untuk praktikum anatomi. Menurut hukum, hal ini
dapat dipertanggungjawabkan sebab warisan yang tak ada yang
mengakuinya menjadi milik negara setelah tiga tahun (KUHPerdata pasal
1129). Ada kalanya, seseorang mewariskan mayatnya setelah ia meninggal
pada fakultas kedokteran, hal ini haruslah sesuai dengan KUHPerdata
pasal 935.
2
2. Otopsi Klinik
Otopsi ini dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga terjadi akibat
suatu penyakit. Tujuannya untuk menentukan penyebab kematian yang
pasti, menganalisa kesesuaian antara diagnosis klinis dan diagnosis
postmortem, mengetahui korelasi proses penyakit yang ditemukan dengan
4

diagnosis klinik dan gejala-gejala klinik, menentukan efektifitas
pengobatan, mempelajari perjalanan lazim suatu penyakit. Otopsi klinis
dilakukan dengan persetujuan tertulis ahli waris, ada kalanya ahli waris
sendiri yang memintanya. Otopsi klinik dilengkapi dengan pemeriksaan
histopatologi, bakteriologi, serologi, dan lain-lain. Hasil otopsi klinik ini
dengan persetujuan tertulis ahli waris dapat diminta untuk dijadikan visum
et repertum atas permohonan penyidik.
2
3. Otopsi Forensik/Medikolegal.
Otopsi ini dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal
akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan,
pembunuhan, maupun bunuh diri. Otopsi ini dilakukan atas permintaan
penyidik sehubungan dengan adanya penyidikan suatu perkara. Tujuan
dari otopsi medikolegal adalah :
o Untuk memastikan identitas mayat yang tidak diketahui atau belum
jelas.
o Untuk menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian,
dan saat kematian.
o Untuk mengumpulkan dan memeriksa tanda bukti untuk penentuan
identitas benda penyebab dan pelaku kejahatan.
o Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam
bentuk visum et repertum.
o Melindungi orang yang tidak bersalah dan membantu dalam
menentukan identitas serta penentuan terhadap orang yang
bersalah.
2


2.1.3 Otopsi Medikolegal
Otopsi medikolegal dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan
dengan adanya penyidikan suatu perkara. Hasil pemeriksaan adalah
temuan obyektif pada korban, yang diperoleh dari pemeriksaan medis.
5
5

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada otopsi medikolegal :
1. Tempat untuk melakukan otopsi adalah pada kamar jenazah.
2. Otopsi hanya dilakukan jika ada permintaan untuk otopsi oleh pihak yang
berwenang.
3. Otopsi harus segera dilakukan begitu mendapat surat permintaan untuk
otopsi.
4. Hal-hal yang berhubungan dengan penyebab kematian harus dikumpulkan
dahulu sebelum memulai otopsi. Tetapi kesimpulan harus berdasarkan
temuan-temuan dari pemeriksaan fisik.
5. Pencahayaan yang baik sangat penting pada tindakan otopsi.
6. Identitas korban yang sesuai dengan pernyataan polisi harus dicatat pada
laporan. Pada kasus jenazah yang tidak dikenal, maka tanda-tanda
identifikasi, photo, sidik jari, dan lain-lain harus diperoleh.
7. Ketika dilakukan otopsi tidak boleh disaksikan oleh orang yang tidak
berwenang.
8. Pencatatan perincian pada saat tindakan otopsi dilakukan oleh asisten.
9. Pada laporan otopsi tidak boleh ada bagian yang dihapus.
10. Jenazah yang sudah membusuk juga bisa diotopsi.
5

2.1.4 Prosedur Persiapan Otopsi
Adapun persiapan yang dilakukan sebelum melakukan otopsi
forensik/medikolegal adalah:
1. Melengkapi surat-surat yang berkaitan dengan otopsi yang akan dilakukan,
termasuk surat izin keluarga, surat permintaan pemeriksaan/pembuatan
visum et repertum.
2. Memastikan mayat yang akan diotopsi adalah mayat yang dimaksud dalam
surat tersebut.
3. Mengumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya kematian
selengkap mungkin untuk membantu memberi petunjuk pemeriksaan dan
jenis pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan.
6

4. Memastikan alat-alat yang akan dipergunakan telah tersedia. Untuk otopsi
tidak diperlukan alat-alat khusus dan mahal, cukup :
o Timbangan besar untuk menimbang mayat.
o Timbangan kecil untuk menimbang organ.
o Pisau, dapat dipakai pisau belati atau pisau dapur yang tajam.
o Gunting, berujung runcing dan tumpul.
o Pinset anatomi dan bedah.
o Gergaji, gergaji besi yang biasanya dipakai di bengkel.
o Forseps atau cunam untuk melepaskan duramater.
o Gelas takar 1 liter.
o Pahat.
o Palu.
o Meteran.
o Jarum dan benang.
o Sarung tangan.
o Baskom dan ember.
o Air yang mengalir
5,6

5. Mempersiapkan format otopsi, hal ini penting untuk memudahkan dalam
pembuatan laporan otopsi.
2.1.5 Teknik Otopsi
Teknik otopsi terdiri atas: pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam
a. Pemeriksaan Luar
Bagian pertama dari teknik otopsi adalah pemeriksaan luar. Sistematika
pemeriksaan luar adalah :
1. Memeriksa label mayat (dari pihak kepolisian) yang biasanya diikatkan
pada jempol kaki mayat. Gunting pada tali pengikat, simpan bersama
berkas pemeriksaan. Catat warna, bahan, dan isi label selengkap
7

mungkin. Sedangkan label rumah sakit, untuk identifikasi di kamar
jenazah, harus tetap ada pada tubuh mayat.
2. Mencatat jenis/bahan, warna, corak, serta kondisi (ada tidaknya
bercak/pengotoran) dari penutup mayat.
3. Mencatat jenis/bahan, warna, corak, serta kondisi (ada tidaknya
bercak/pengotoran) dari bungkus mayat. Catat tali pengikatnya bila ada.
4. Mencatat pakaian mayat dengan teliti mulai dari yang dikenakan di atas
sampai di bawah, dari yang terluar sampai terdalam. Pencatatan
meliputi bahan, warna dasar, warna dan corak tekstil, bentuk/model
pakaian, ukuran, merk penjahit, cap binatu, monogram/inisial, dan
tambalan/tisikan bila ada. Catat juga letak dan ukuran pakaian bila ada
tidaknya bercak/pengotoran atau robekan. Saku diperiksa dan dicatat
isinya.
5. Mencatat perhiasan mayat, meliputi jenis, bahan, warna, merek, bentuk
serta ukiran nama/inisial pada benda perhiasan tersebut.
6. Mencatat benda di samping mayat.
7. Mencatat perubahan tanatologi :
o Lebam mayat; letak/distribusi, warna, dan intensitas lebam.
o Kaku mayat; distribusi, derajat kekakuan pada beberapa sendi, dan
ada tidaknya spasme kadaverik.
o Suhu tubuh mayat; memakai termometer rektal dam dicatat juga
suhu ruangan pada saat tersebut.
o Pembusukan.
o Lain-lain; misalnya mumifikasi atau adiposera.
8. Mencatat identitas mayat, seperti jenis kelamin, bangsa/ras, perkiraan
umur, warna kulit, status gizi, tinggi badan, berat badan,
disirkumsisi/tidak, striae albicantes pada dinding perut.
9. Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas
khusus, meliputi rajah/tatoo, jaringan parut, kapalan, kelainan kulit,
anomali dan cacat pada tubuh.
8

10. Memeriksa distribusi, warna, keadaan tumbuh, dan sifat dari rambut.
Rambut kepala harus diperiksa, contoh rambut diperoleh dengan cara
memotong dan mencabut sampai ke akarnya, paling sedikit dari 6 lokasi
kulit kepala yang berbeda. Potongan rambut ini disimpan dalam
kantungan yang telah ditandai sesuai tempat pengambilannya.
11. Memeriksa mata, seperti apakah kelopak terbuka atau tertutup, tanda
kekerasan, kelainan. Periksa selaput lendir kelopak mata dan bola mata,
warna, cari pembuluh darah yang melebar, bintik perdarahan, atau
bercak perdarahan. Kornea jernih/tidak, adanya kelainan fisiologik atau
patologik. Catat keadaan dan warna iris serta kelainan lensa mata. Catat
ukuran pupil, bandingkan kiri dan kanan.
12. Mencatat bentuk dan kelainan/anomali pada daun telinga dan hidung.
13. Memeriksa bibir, lidah, rongga mulut, dan gigi geligi. Catat gigi geligi
dengan lengkap, termasuk jumlah, hilang/patah/tambalan, gigi palsu,
kelainan letak, pewarnaan, dan sebagainya.
14. Bagian leher diperiksa jika ada memar, bekas pencekikan atau
pelebaran pembuluh darah. Kelenjar tiroid dan getah bening juga
diperiksa secara menyeluruh.
15. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan. Pada pria dicatat
kelainan bawaan yang ditemukan, keluarnya cairan, kelainan lainnya.
Pada wanita dicatat keadaan selaput darah dan komisura posterior,
periksa sekret liang sanggama. Perhatikan bentuk lubang pelepasan,
perhatikan adanya luka, benda asing, darah dan lain-lain.
16. Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya tanda perbendungan,
ikterus, sianosis, edema, bekas pengobatan, bercak lumpur atau
pengotoran lain pada tubuh.
17. Bila terdapat tanda-tanda kekerasan/luka harus dicatat lengkap. Setiap
luka pada tubuh harus diperinci dengan lengkap, yaitu perkiraan
penyebab luka, lokasi, ukuran, dll. Dalam luka diukur dan panjang luka
diukur setelah kedua tepi ditautkan. Lokalisasi luka dilukis dengan
mengambil beberapa patokan, antara lain : garis tengah melalui tulang
9

dada, garis tengah melalui tulang belakang, garis mendatar melalui
kedua puting susu, dan garis mendatar melalui pusat.
18. Pemeriksaan ada tidaknya patah tulang, serta jenis/sifatnya.
2,5,6

b. Pemeriksaan Dalam
Pemeriksaan dalam bisa dilakukan dengan beberapa cara berikut ini :
Insisi I dimulai di bawah tulang rawan krikoid di garis tengah sampai
prosesus xifoideus kemudian 2 jari paramedian kiri dari puat sampai
simfisis, dengan demikian tidak perlu melingkari pusat.
Insisi Y, merupakan salah satu tehnik khusus otopsi dan akan dijelaskan
kemudian.
Insisi melalui lekukan suprastenal menuju simfisis pubis, lalu dari lekukan
suprasternal ini dibuat sayatan melingkari bagian leher.
5,6

Pada pemeriksaan dalam, organ tubuh diambil satu persatu dengan hati-hati
dan dicatat :
1. Ukuran : Pengukuran secara langsung adalah dengan menggunakan pita
pengukur. Secara tidak langsung dilihat adanya penumpulan pada batas
inferior organ. Organ hati yang mengeras juga menunjukkan adanya
pembesaran.
2. Bentuk.
3. Permukaan : Pada umumnya organ tubuh mempunyai permukaan yang
lembut, berkilat dengan kapsul pembungkus yang bening. Carilah jika
terdapat penebalan, permukaan yang kasar , penumpulan atau kekeruhan.
4. Konsistensi: Diperkirakan dengan cara menekan jari ke organ tubuh
tersebut.
5. Kohesi: Merupakan kekuatan daya regang anatar jaringan pada organ itu.
Caranya dengan memperkirakan kekuatan daya regang organ tubuh pada
saat ditarik. Jaringan yang mudah teregang (robek) menunjukkan kohesi
10

yang rendah sedangkan jaringan yang susah menunjukkan kohesi yang
kuat.
6. Potongan penampang melintang: Disini dicatat warna dan struktur
permukaan penampang organ yang dipotong. Pada umumnya warna organ
tubuh adalah keabu-abuan, tapi hal ini juga dipengaruhi oleh jumlah darah
yang terdapat pada organ tersebut. Warna kekuningan, infiltrasi lemak,
lipofisi, hemosiferin atau bahan pigmen bisa merubah warna organ. Warna
yang pucat merupakan tanda anemia.
Struktur organ juga bisa berubah dengan adanya penyakit. Pemeriksaan
khusus juga bisa dilakukan terhadap sistem organ tertentu, tergantung dari
dugaan penyebab kematian. Insisi pada masing-masing bagian-bagian tubuh
yaitu :
1. Dada :
o Seksi Jantung :
Jantung dibuka menurut aliran darah : pisau dimasukkan ke vena
kava inferior sampai keluar di vena superior dan bagian ini
dipotong. Ujung pisau dimasukkan melalui katup trikuspidalis
keluar di insisi bilik kanan dan bagian ini dipotong. Ujung pisau
lalu dimasukkan arteri pulmonalis dan otot jantung mulai dari
apeks dipotong sejajar dengan septum interventrikulorum.
Ujung pisau dimasukkan ke vena pulmonalis kanan keluar ke vena
pulmonalis kiri dan bagian ini dipotong. Ujung pisau dimasukkan
melalui katup mitral keluar di insisi bilik kiri dan bagian ini
dipotong. Ujung pisau kemudian dimasukkan melalui katup aorta
dan otot jantung dari apeks dipotong sejajar dengan septum
inetrventrikulorum. Jantung sekarang sudah terbuka, diperiksa
katup, otot kapiler, chorda tendinea, foramen ovale, septum
interventrikulorum.
Arteri koronaria diiris dengan pisau yang tajam sepanjang 4-5 mm
mulai dari lubang dikatup aorta. Otot jantung bilik kiri diiris di
11

pertengahan sejajar dengan epikardium dan endokardium,
demikian pula dengan septum interventrikulorum.
o Paru-paru :
Paru-paru kanan dan kiri dilepaskan dengan memotong bronkhi
dan pembuluh darah di hilus, setelah perkardium diambil. Vena
pulmonalis dibuka dengan gunting, kemudian bronkhi dan terakhir
arteri pulmonalis. Paru-paru diiris longitudinal dari apeks ke basis.
Tulang dada diangkat dengan memotong tulang rawan iga 1 cm
dari sambungannya dengan cara pisau dipegang dengan tangan
kanan dengan bagian tajam horizontal diarahkan pada tulang rawan
iga dan dengan tangan yang lain menekan pada punggung pisau.
Pemotongan dimulai dari tulang rawan iga no. 2. Tulang dada
diangkat dan dilepaskan dari diafragma kanan dan kiri kemudian
dilepaskan mediastinum anterior. Rongga paru-paru diperiksa
adanya perlengketan, darah, pus atau cairan lain kemudian diukur.
Kemudian pisau dengan tangan kanan dimasukkan dalam rongga
paru-paru, bagian tajam tegak lurus diarahkan ke tulang rawan no.1
dan tulang rawan dipotong sedikit ke lateral, kemudian bagian
tajam pisau diarahkan ke sendi sternoklavikularis dengan
menggerak-gerakkan sternum, sendi dipisahkan. Prosedur diulang
untuk sendi yang lainnya.
Mediastinum anterior diperiksa adanya timus persistens.
Perikardium dibuka dengan Y terbalik, diperiksa cairan
perikardium, normal sebanyak kurang lebih 50 cc dengan warna
agak kuning. Apeks jantung diangkat, dibuat insisi di bilik dan
serambi kanan diperiksa adanya embolus yang menutup arteri
pulmonalis. Kemudian dibuat insisi di bilik dan serambi kiri.
Jantung dilepaskan dengan memotong pembuluh besar dekat
perikardium.
12

2. Perut :
o Esofagus-Lambung-Doudenum-Hati :
Semua organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit.
Esofagus diikat ganda dan dipotong. Diafragma dilepaskan dari
hati dan esofagus dan unit tadi dapat diangkat. Sebelum diangkat,
anak ginjal kanan yang biasanya melekat pada hati dilepaskan
terlebih dahulu.
Esofagus dibuka terus ke kurvatura mayor, terus ke duodenum.
Perhatikan isi lambung, dapat membantu penentuan saat kematian.
Kandung empedu ditekan, bulu empedu akan menonjol kemudian
dibuka dengan gunting ke arah papila Vater, kemudian dibuka ke
arah hati, lalu kandung empedu dibuka. Perhatikan mukosa dan
adanya batu.
Buluh kelenjar ludah diperut dibuka dari papila Vater ke pankreas.
Pankreas dilepaskan dari duodenum dan dipotong-potong
transversal.
Hati : perhatikan tepi hati, permukaan hati, perlekatan, kemudian
dipotong longitudinal.
Usus halus dan usus besar dibuka dengan gunting ujung tumpul,
perhatikan mukosa dan isinya, cacing.
o Ginjal, Ureter, Rektum, dan Kandung Urine:
Organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit. Ginjal dengan
suatu insisi lateral dapat diangkat dan dilepaskan dengan
memotong pembuluh darah di hilus, kemudian ureter dilepaskan
sampai panggul kecil. Kandung urine dan rektum dilepaskan
dengan cara memasukkan jari telunjuk lateral dari kandung urine
dan dengan cara tumpul membuat jalan sampai ke belakang
rektum. Kemudian dilakukan sama pada bagian sebelahnya.
13

Tempat bertemunya kedua jari telunjuk dibesarkan sehingga 4 jari
kanan dan kiri dapat bertemu, kemudian jari kelingking dinaikkan
ke atas dengan demikian rektum lepas dari sakrum. Rektum dan
kandung urine dipotong sejauh dekat diafragma pelvis.
Anak ginjal dipotong transversal. Ginjal dibuka dengan irisan
longitudinal dari lateral ke hilus. Ureter dibuka dengan gunting
sampai kandung urine, kapsul ginjal dilepas dan perhatikan
permukaannya. Pada laki-laki rektum dibuka dari belakang dan
kandung urine melalui uretra dari muka. Rektum dilepaskan dari
prostat dan dengan demikian terlihat vesika seminalis. Prostat
dipotong transversal, perhatikan besarnya penampang.
Testis dikeluarkan melalui kanalis spermatikus dan diiris
longitudinal, perhatikan besarnya, konsistensi, infeksi, normal,
tubuli semineferi dapat ditarik seperti benang.
o Urogenital Perempuan :
Kandung urine dibuka dan dilepaskan dari vagina. Vagina dan
uterus dibuka dengan insisi longitudinal dan dari pertengahan
uterus insisi ke kanan dan ke kiri. Ke kornu. Tuba diperiksa dengan
mengiris tegak lurus pada jarak 1-1,5 cm. Ovarium diinsisi
longitudinal.
Pada abortus provokatus kriminalis yang dilakukan dengan
menusuk ke dalam uterus, seluruhnya : kandung urine, uterus dan
vagina, rektum difiksasi dalam formalin 10% selama 7 hari, setelah
itu dibuat irisan tegak lurus pada sumbu rektum setebal 1,25 cm,
kemudian semuanya direndam dalam alkohol selama 24 jam.
Saluran tusuk akan terlihat sebagai noda merah, hiperemis. Dari
noda merah ini dibuat sediaan histopatologi.
Usus halus dipisahkan dari mesenterium, usus besar dilepaskan,
duodenum dan rektum diikat ganda kemudian dipotong.
14

Limpa : dipotong di hilus, diiris longitudinal, perhatikan parenkim,
folikel, dan septa.
3. Leher :
Lidah, laring, trakea, esofagus, palatum molle, faring dan tonsil
dikeluarkan sebagai satu unit. Perhatikan obstruksi di saluran nafas,
kelenjar gondok dan tonsil. Pada kasus pencekikan tulang lidah
harus dibersihkan dan diperiksa adanya patah tulang.
4. Kepala :
Kulit kepala diiris dari prosesus mastoideus kanan sampai yang kiri
dengan mata pisau menghadap keluar supaya tidak memotong
rambut terlalu banyak. Kulit kepala kemudian dikelupas ke muka
dan ke belakang dan tempurung tengkorak dilepaskan dengan
menggergajinya. Pahat dimasukkan dalam bekas mata gergaji dan
dengan beberapa ketukan tempurung lepas dan dapat dipisahkan.
Durameter diinsisi paralel dengan bekas mata gergaji. Falx serebri
digunting dibagian muka. Otak dipisah dengan memotong
pembuluh darah dan saraf dari muka ke belakang dan kemudian
medula oblongata. Tentorium serebri diinsisi di belakang tulang
karang dan sekarang otak dapat diangkat. Selaput tebal otak ditarik
lepas dengan cunam. Otak kecil dipisah dan diiris horisontal,
terlihat nukleus dentatus. Medula oblongata diiris transversal,
demikiaan pula otak besar setebal 2,5 cm. Pada trauma kepala
perhatikan adanya edema, kontusio, laserasi serebri.
5. Tengkorak Neonatus :
Kulit kepala dibuka seperti biasa, tengkorak dibuka dengan
menggunting sutura yang masih terbuka dan tulang ditekan ke luar,
sehingga otak dengan mudah dapat diangkat. (3)

15

Pemeriksaan Khusus
Pada beberapa keadaan tertentu, diperlukan berbagai prosedur khusus
dalam tindakan otopsi, antara lain : insisi Y, insisi pada kasus dengan
kelainan leher, tes emboli udara, tes apung paru, tes pada pneumothorax,
dan tes alphanaphthylamine.
Insisi Y
1. Insisi yang dilakukan dangkal (shallow incision) yang dilakukan
pada tubuh pria.
Buat sayatan yang letaknya tepat di bawah tulang selangka
dan sejajar dengan tulang tersebut, kiri dan kanan, sehingga
bertemu pada bagian tengah (incisura jugularis).
Lanjutkan sayatan, dimulai dari incisura jugularis ke arah
bawah tepat di garis pertengahan sampai ke sympisis os
pubis menghindari daerah umbilikus.
Kulit daerah leher dilepaskan secara hati-hati sampai ke
rahang bawah; tindakan ini dimulai dari sayatan yang telah
dibuat pertama kali.
Dengan kulit daerah leher dan dada bagian atas tetap utuh,
alat-alat dalam rongga mulut dan leher dikeluarkan.
Tindakan selanjutnya sama dengan tindakan pada bedah
mayat yang biasa.
2. Insisi yang lebih dalam (deep incision), yang dilakukan untuk
kaum wanita.
Buat sayatan yang letaknya tepat di bawah buah dada,
dimulai dari bagian lateral menuju bagaian medial (proc.
Xiphoideus); bagian lateral disini dapat dimulai dari ketiak,
ke arah bawah sesuai dengan arah garis ketiak depan (linea
axillaris anterior), hal yang sama juga dilakukan untuk sisi
yang lain (kiri dan kanan).
16

Lanjutkan sayatan ke arah bawah seperti biasa, sampai
simphisis os pubis, dengan demikian pengeluaran dan
pemeriksaan alat-alat yang berada dalam rongga mulut,
leher, dan rongga dada lebih sulit bila dibandingkan dengan
insisi Y yang dangkal.
Insisi Y, dilakukan semata-mata untuk alasan kosmetik, sehingga
jenazah yang sudah diberi pakaian, tidak memperlihatkan adanya jahitan
setelah dilakukan bedah mayat. Ada dua macam insisi Y, yaitu :
Insisi pada Kasus dengan Kelainan di Daerah Leher
o Buat insisi I, yang dimulai dari incisura jugularis, ke arah bawah
seperti biasa, sampai ke simpisis os pubis.
o Buka rongga dada, dengan jalan memotong tulang dada dan iga-
iga.
o Keluarkan jantung, dengan menggunting mulai dari v.cava inferior,
vv.pulmonalis, a.pulmonalis, v.cava superior dan terakhir aorta.
o Buka rongga tengkorak, dan keluarkan organ otaknya.
o Dengan adanya bantalan kayu pada daerah punggung, maka daerah
leher akan bersih dari darah, oleh karena darah telah mengalir ke
atas ke arah tengkorak dan ke bawah, ke arah rongga dada; dengan
demikian pemeriksaan dapat dimulai.
Insisi ini dimaksudkan agar daerah leher dapat bersih dari darah, sehingga
kelainan yang minimalpun dapat terlihat; misalnya pada kasus pencekikan,
penjeratan, dan penggantungan. Prinsip dari teknik ini adalah pemeriksaan
daerah dilakukan paling akhir.
Tes emboli udara
o buat sayatan I, dimulai dari incisura jugularis, ke arah bawah
sampai ke symphisis pubis,
17

o potong rawan iga mulai dari iga ke-3 kiri dan kanan, pisahkan
rawan iga dan tulang dada keatas sampai ke perbatasan antara iga
ke-2 dan iga ke-3,
o potong tulang dada setinggi perbatasan antara tulang iga ke-2 dan
ke-3,
o setelah kandung jantung tampak, buat insisi pada bagian depan
kandung jantung dengan insisi I, sepanjang kira-kira 5-7
sentimeter; kedua ujung sayatan tersebut dijepit dan diangkat
dengan pinset (untuk mencegah air yang keluar),
o masukkan air ke dalam kandung jantung, melalui insisi yang telah
dibuat tadi, sampai jantung terbenam; akan tetapi bila jantung tetap
terapung, maka hal ini merupakan pertanda adanya udara dalam
bilik jantung,
o tusuk dengan pisau organ yang runcing, tepat di daerah bilik
jantung kanan, yang berbatasan dengan pangkal a. Pulmonalis,
kemudian putar pisau itu 90 derajat; gelembung-gelembung udara
yang keluar menandakan tes emboli hasilnya positif,
o bila tidak jelas atau ragu-ragu, lakukan pengurutan pada a.
Pulmonalis, ke arah bilik jantung, untuk melihat keluarnya
gelembung udara,
o bila kasus yang dihadapi adalah kasus abortus, maka pemeriksaan
dengan prinsip yang sama, dilakukan mulai dari rahim dan berakhir
pada jantung,
o semua yang disebut di atas adalah untuk melakukan tes emboli
pulmoner, untuk tes emboli sistemik, pada prinsipnya sama, letak
perbedaannya adalah : pada tes emboli sistemik tidak dilakukan
penusukan ventrikel, tetapi sayatan melintang pada a. Coronaria
sinistra ramus desenden, secara serial beberapa tempat, dan
diadakan pengurutan atas nadi tersebut, agar tampak gelembung
kecil yang keluar,
18

o dosis fatal untuk emboli udara pulmoner 150-130 ml, sedangkan
untuk emboli sistemik hanya beberapa ml.
Emboli udara, baik yang sistemik maupun emboli udara pulmoner,
tidak jarang terjadi.
Pada emboli sistemik udara masuk melalui pembuluh vena yang ada
di paru-paru, misalnya pada trauma dada dan trauma daerah mediastinum
yang merobek paru-paru dan merobek pembuluh venanya.
Emboli pulmoner adalah emboli yang tersering, udara masuk melalui
pembuluh-pembuluh vena besar yang terfiksasi, misalnya pada daerah
leher bagian bawah, lipat paha atau daerah sekitar rahim (yang sedang
hamil); dapat pula pada daerah lain, misalnya pembuluh vena pergelangan
tangan sewaktu diinfus, dan udara masuk melalui jarum infus tadi. Fiksasi
ini penting, mengingat bahwa tekanan vena lebih kecil dari tekanan udara
luar, sehingga jika ada robekan pada vena, vena tersebut akan menguncup,
hal ini ditambah lagi dengan pergerakan pernapasan, yang menyedot.
Tes Apung Paru-paru
o Keluarkan alat-alat dalam rongga mulut, leher dan rongga dada
dalam satu kesatuan, pangkal dari esophagus dan trakea boleh
diikat.
o Apungkan seluruh alat-alat tersebut pada bak yang berisi air.
o Bila terapung lepaskan organ paru-paru, baik yang kiri maupun
yang kanan.
o Apungkan kedua organ paru-paru tadi, bila terapung lanjutkan
dengan pemisahan masing-masing lobus, kanan terdapat lima lobus
dan kiri dua lobus.
o Apungkan semua lobus tersebut, catat yang mana yang tenggelam
dan mana yang terapung.
19

o Lobus yang terapung diambil sebagian, yaitu tiap-tiap lobus 5
potong dengan ukuran 5 mm x 5 mm, dari tempat yang terpisah
dan perifer.
o Apungkan ke 25 potongan kecil-kecil tersebut, bila terapung,
letakkan potongan tersebu pada dua karton, dan lakukan
penginjakan dengan menggunakan berat badan, kemudian
dimasukkan kembali ke dalam air.
o Bila terapung berarti tes apung paru positif, paru-paru mengandung
udara, bayi tersebut pernah dilahirkan hidup.
o Bila hanya sebagian yang terapung, kemungkinan terjadi
pernafasan partial, bayi tetap pernah dilahirkan hidup.
Tes apung paru-paru dikerjakan untuk mengtahui apakah bayi yang
diperiksa itu pernah hidup. Untuk melaksanakan test ini, persyaratannya
sama dengan test emboli udara, yakni mayatnya harus segar. Cara
melakukan tes apung paru-paru:
Tes Pada Pneumothoraks
o buka kulit dinding dada pada bagian yang tertinggi dari dada, yaitu
sekitar iga ke 4 dan 5 ( udara akan berada pada tempat yang
tertinggi ),
o buat kantung dari kulit dada tersebut mengelilingi separuhnya
dari daerah iga 4 dan 5 ( sekitar 10 x 5 cm )
o pada kantung tersebut kemudian diisi air, dan selanjutnya tusuk
dengan pisau, adanya gelembung udara yang keluar berarti ada
pneumothorax; dan bila diperiksa paru-parunya, paru-paru tersebut
tampak kollaps,
o cara lain; setelah dibuat kantung , kantung ditusuk dengan spuit
besar dengan jarum besar yang berisi air separuhnya pada spuit
tersebut; bila ada pneumothorax, tampak gelembung-gelembung
udara pada spuit tadi.
20

Pada trauma di daerah dada, ada kemungkinan jaringan paru robek,
sedemikian rupa sehingga terjadi mekanisme ventil di mana udara yang
masuk ke paru-paru akan diteruskan ke dalam rongga dada, dan tidak
dapat keluar kembali, sehingga terjadi kumulasi udara, dengan akibat
paru-paru akan kolaps dan korban akan mati.
Diagnosa pneumothorax yang fatal semata-mata atas dasar test ini, bila
test ini tidak dilakukan, diagnosa sifatnya hanya dugaan. Cara melakukan
test ini adalah sebagai berikut:
Tes Alpha Naphthylamine
o kertas saring Whatman direndam dalam larutan alpha-
naphthylamine, dan keringkan dalamoven, hindari jangan sampai
terkena sinar matahari,
o pakaian yang akan diperiksa, yaitu yang diduga mengandung butir-
butir mesiu, dipotong dan di atasnya diletakkan kertas saring yang
telah diberi alpha-naphthylamine,
o di atas kertas saring yang mengandung alpha-naphthylamine tadi
ditaruh lagi kertas saring yang dibasahi oleh aquadest,
o keringkan dengan cara menyeterika tumpukan tersebut, yaitu kain
yang akan diperiksa, kertas yang mengandung alpha-
naphthylamine dan kertas saring yang basah,
o test yang positif akan terbentuk warna merah jambu (pink colour),
pada kertas saring yang mengandung alpha-naphthylamine; bintik-
bintik merah jambu tadi sesuai dengan penyebaran butir-butir
mesiu pada pakaian.
2

Test ini dilakukan untuk mengetahui adanya butir-butir mesiu khususnya
pada pakaian korban penembakan,
Setelah otopsi selesai, semua organ tubuh dimasukkan kembali ke dalam
rongga tubuh. Lidah dikembalikan ke dalam rongga mulut sedangkan
jaringan otak dikembalikan ke dalam rongga tengkorak. Jahitkan kembali
tulang dada dan iga yang dilepaskan pada saat membuka rongga dada.
21

Jahitkan kulit dengan rapi menggunakan benang yang kuat, mulai dari
dagu sampai ke daerah simfisis. Atap tengkorak diletakkan kembali pada
tempatnya dan difiksasi dengan menjahit otot temporalis, baru kemudian
kulit kepala dijahit dengan rapi. Bersihkan tubuh mayat dari darah
sebelum mayat diserahkan kembali pada pihak keluarga.
2
Pemeriksaan Penunjang
Pada otopsi juga dilakukan prosedur laboratorium yaitu :
1. Sediaan histopatologi dari masing-masing organ.
Dari tiap organ diambil sediaan sebesar 2 x 2 x1 cm kubik dan difiksasi
dalam formalin 10%.Organ yang diambil adalah: paru-paru, hati, limpa,
pankreas, otot jantung, arteri koronaria, kelenjar gondok, ginjal, prostat,
uterus, korteks otak, basal ganglia dan dari bagian lain yang menunjukkan
adanya kelainan.
2. Pemeriksaan toksikologi.
o Lambung dan isinya.
o Seluruh usus dan isinya dengan membuat sekat dengan ikatan-
ikatan pada pada usus setiap jarak sekitar 60 cm.
o Darah, yang berasal dari sentral (jantung) dan yang berasal dari
perifer (v,jugularis; a.femoralis, dan sebagainya), masing-masing
50 ml dan dibagi dua, yang satu diberi bahan pengawet dan yang
lain tidak diberi bahan pengawet.
o Hati, sebagai tempat detoksifikasi , diambil sebanyak 500 gram.
o Ginjal, diambil keduanya yaitu pada kasus keracunan logam berat
khususnya atau bila urine tidak tersedia.
o Otak, diambil 500 gram. Khusus untuk keracunan chloroform dan
sianida, dimungkinkan karena otak terdiri dari jaringan lipoid yang
mempunyai kemampuan untuk meretensi racun walaupun telah
mengalami pembususkan.
22

o Urine, diambil seluruhnya. Karena pada umunya racun akan
diekskresikan melalui urine, khususnya pada test penyaring untuk
keracunan narkotika, alkohol dan stimulan.
o Empedu, diambil karena tempat ekskresi berbagai racun.
o Pada kasus khusus dapat diambil: jaringan sekitar suntikan,
jaringan otot, lemak di bawah kulit dinding perut, rambut, kuku
dan cairan otak.
Prinsip pengambilan sampel pada kasus keracunan adalah diambil
sebanyak-banyaknya setelah kita sisihkan untuk cadangan dan untuk
pemeriksaan histopatolgik. Secara umum sampel yang harus diambil
adalah:
Pada pemeriksaan intoksikasi, digunakan alkohol dan larutan garam jenuh
pada sampel padat atau organ. NaF 1% dan campuran NaF dan Na sitrat
digunakan untuk sampel cair. Sedangkan natrium benzoate dan phenyl
mercuric nitrate khusus untuk pengawet urine.
3. Pemeriksaan bakteriologi.
Dalam hal ada dugaan sepsis diambil darah dari jantung dan sediaan limpa
untuk pembiakan kuman. Permukaan jantung dibakar dengan
menempelkan spatel yang dipanaskan sampai merah, kemudiaan darah
jantung diambil dengan tabung injeksi yang steril dan dipindah dalam
tabung reagen yang steril. Permukaan limpa dibakar dengan cara tersebut
di atas dan dengan pinset dan gunting yang steril diambil sepotong limpa
dan dimasukkan dalam tabung reagen yang steril dan kedua tabung dikirim
ke laboratorium bakteriologi.
4. Sediaan apus bagian korteks otak, limpa dan hati. Mungkin perlu
dilakukan untuk melihat parasit malaria.Sediaan hapus lainnya adalah dari
tukak sifilis atau cairan mukosa.
5. Darah dan cairan cerebrospinalis diambil untuk pemeriksaan analisa
biokimia.
23

6. Pemeriksaan urine dan feces.
7. Usapan vagina dan anus, utamanya pada kasus kejahatan seksual.
8. Cairan uretra.
5,6


2.2 Aspek medikolegal otopsi

Aspek hukum dari pelaksanaan otopsi :
7
a. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
Pasal 133 KUHAP
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani
seorang korban baik luka, keracunan, ataupun mati yang diduga
karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang
mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaiman dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan secara tertulis yang dalam surat itu disebutkan dengan
tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau
pemeriksaan bedah mayat.
(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter pada rumah sakit harus diperlakukan baik dengan penuh
penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang
memuat identitas mayat diberi cap jabatan yang dilekatkan pada
ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Pasal 134 KUHAP
(1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembukitan
bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib
memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban.
(2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan
sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya
pembedahan tersebut.
24

(3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari
pihak keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak ditemukan,
penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.

b. Undang-Undang Kesehatan No.36 Tahun 2009
8


Pasal 118
(1) Mayat yang tidak dikenal harus dilakukan upaya identifikasi
(2) Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat bertanggungjawab
atas upaya identifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai upaya identifikasi mayat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan menteri.

Pasal 122
(1) Untuk kepentingan penegakkan hukum dapat dilakukan bedah mayat
forensik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Bedah mayat forensik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
oleh dokter ahli forensik, atau oleh dokter lain apabila tidak ada dokter
ahli forensik dan perujukan ke tempat yang ada dokter ahli
forensiknya tidak dimungkinkan.
(3) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas
tersedianya pelayanan bedah mayat forensik di wilayahnya.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan bedah mayat forensik
diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 124
(1) Tindakan bedah mayat oleh tenaga kesehatan harus dilakukan sesuai
dengan norma agama, norma kesusilaan, dan etika profesi.



25

2.3 Kepentingan otopsi bagi aparat penegak hukum

Terbentuknya keyakinan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana
didasarkan pada hasil pemeriksaan alat-alat bukti yang dikemukakan pada
proses persidangan. Cara yang dapat dilakukan untuk pembuktian perkara
pidana antara lain adalah meminta bantuan dokter sebagai saksi yang dapat
membuat keterangan visum pada korban dan otopsi pada korban yang telah
mati.
9


Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila
dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh
keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa
terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Pasal 184 KUHAP
(1) Alat bukti yang sah ialah :
a. Keterangan saksi;
b. Keterangan ahli;
c. Surat;
d. Petunjuk;
e. Keterangan terdakwa.

Pasal 186 KUHAP
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang
pengadilan.

Pasal 1 KUHAP
(28) Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang
memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat
terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.

26

Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh dokter, ahli atau dokter
ahli kehakiman (forensik) dalam membantu menjernihkan suatu perkara
pidana adalah visum et repertum. Menurut pasal 10 Surat Keputusan Menteri
Kehakiman No.M04.UM.01.06 Tahun 1983 menyatakan bahwa hasil
pemeriksaan ilmu kedokteran kehakiman disebut sebagai visum et repertum.
Dengan demikian menurut KUHAP keterangan ahli yang diberikan oleh ahli
kedokteran kehakiman atau dokter ahli atau ahli lainnya disebut visum et
repertum.
Dokter berperan utama sebagai pelaksana pembuatan visum et
repertum, khususnya dalam kasus-kasus kematian seseorang yang diduga
sebagai korban tindak pidana yang memerlukan dilakukannya tindakan bedah
mayat forensik (otopsi) untuk memastikan penyebab kematian korban,
kedudukan dokter adalah sebagai pembuat visum et repertum.
Pembuatan visum et repertum dilakukan oleh dokter sepenuhnya
sebagai pelaksana di lapangan untuk membantu hakim menemukan
kebenaran materiil dalam memutuskan perkara pidana. Dokter dilibatkan
untuk turut memberikan pendapatnya berdasarkan ilmu pengetahuan yang
dimiliki dalam pemeriksaan perkara pidana, apabila alat bukti yang ada
berupa tubuh manusia atau bagian dari tubuh manusia.
Peranan hasil pemeriksaan berupa visum et repertum yang dibuat oleh
dokter ahli kehakiman atau psikiatri kehakiman dalam banyak perkara
kejahatan sangat banyak membantu dalam proses persidangan pengadilan,
terutama apabila dalam perkara tersebut hanya dijumpai alat-alat bukti yang
minim (bewijs minimum).
10

2.4 Kendala atau hambatan pelaksanaan otopsi

Di dalam melakukan tugas-tugasnya pada proses pemeriksaan untuk
mempermudah proses penyidikan, dokter sering sekali mendapat hambatan-
hambatan dalam pemeriksaannya, hambatan-hambatan tersebut antara lain :


27

a. Keterbatasan fasilitas
Ilmu Forensik di Indonesia dapat dikatakan masih jauh tertinggal dengan
negara-negara maju, padahal yang seperti diketahui bahwa ilmu forensik
ini sangat penting terlebih banyak kasus-kasus kejahatan yang
membutuhkan keahlian dalam bidan ini. Sarana pendukungnya juga tidak
difasilitasi dengan baik oleh pemerintah.
11

b. Keberatan dari Pihak Keluarga Korban

Alasan-alasan yang sering dilontarkan oleh pihak keluarga menolak
untuk dilakukannya otopsi adalah ketakutan perusakan dari tubuh mayat,
prosedur otopsi yang akan memperlama waktu penguburan, penolakan
didasarkan agama, kurangnya pengetahun mengenai prosedur otopsi, dan
berpikiran bahwa mayat akan mengalami penderitaan. Selain itu, masalah
biaya, kurangya hubungan komunikasi dengan dokter, stres mengenai
kematian, kurangnya musyawarah dengan anggota keluarga yang lain
mengenai prosedur otopsi juga pernah dilaporkan sebagai hambatan atau
kendala dalam memperoleh persetujuan otopsi dari sanak keluarga.
3
Apabila keluarga korban keberatan untuk dilakukan pemeriksaan
bedah mayat, maka penyidik harus menjelaskan bahwa pemeriksaan ini
harus segera dilakukan. Disamping mayat adalah merupakan barang bukti
untuk memperlancar proses pemeriksaan juga tidak menutup kemungkinan
bahwa keluarga itu sendiri pembunuhnya dan dengan sendirinya dilakukan
bedah mayat.
Aturan-aturan hukum di Indonesia mengenai otopsi :
Pasal 134 KUHAP
(1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian
bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib
memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban
(2) Dalam hal keluarga korban keberatan, penyidik wajib menerangkan
dengan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukan
pembedahan tersebut
28

(3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari pihak
keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak ditemukan, penyidik
segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal
133 ayat (3) undang-undang ini.

Pasal 133 KUHAP
(1) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter
pada rumah sakit harus dilakukan secara baik dengan penuh
penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat
identitas mayat, diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki
atau bagian lain badan mayat.

Indonesia adalah negara dengan penduduknya mayoritas beragama
Islam. Jika alasan pihak keluarga adalah bahwa bedah mayat tersebut
bertentangan dengan ajaran agama islam, maka hal itu adalah tidak tepat.
Seperti yang telah diputuskan oleh Majelis Pertimbangan Kesehatan dan
Syra Departemen Kesehatan yang berupa Fatwa No.4/1995 yang
berbunyi :
(1) Bedah mayat itu mubah/boleh hukumnya untuk kepentingan ilmu
pengetahuan, pendidikan dokter dan penegakan keadilan diantara
umat manusia
(2) Membatasi kemubahan ini sekedar darurat saja menurut kadar
yang tidak boleh tidak harus dilakukan untu mencapai tujuan-
tujuan tersebut.








29

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Otopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, meliputi
pemeriksaan bagian luar maupun bagian dalam, dengan tujuan menemukan
proses penyakit atau adanya cedera, melainkan interpretasi atas penemuan-
penemuan tersebut, menerangka penyebabnya serta mencari hubungan sebab
akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.
Otopsi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh seorang
dokter untuk membuktian perkara pidana. Aspek medikolegal dari
pelaksanaan otopsi adalah KUHAP padal 133, 134, Undang-undang
Kesehatan No.36 Tahun 2009 pasal 118, 122, dan 124.
Di dalam melakukan tugas-tugasnya pada proses pemeriksaan untuk
mempermudah proses penyidikan, dokter sering sekali mendapat hambatan-
hambatan dalam pemeriksaannya diantaranya adalah keberatan dari pihak
keluarga yang dapat dilatarbelakangi oleh pandangan keluarga mengenai
prosedur otopsi yang akan memperlama waktu penguburan, penolakan
didasarkan agama, kurangnya pengetahun mengenai prosedur otopsi, dan
berpikiran bahwa mayat akan mengalami penderitaan.